1 PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN IPA TERPADU

advertisement
PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN IPA TERPADU
DENGAN TEMA PEREDARAN SARI MAKANAN UNTUK
SISWA KELAS VIII SMP INTERNASIONAL LABORATORIUM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Silvia Nur Imamiasih, Hadi Suwono, dan Umie Lestari
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang
Jalan Semarang No. 05 Malang
E-mail: [email protected]; [email protected];
[email protected]
Abstract: The Research and Development of Science Learning Integrative Module
for 8th grade student of Secondary International Laboratory School University of
Malang to learn human digestive and circulatory system had been conducted on
August-September 2013. The integration of these system was connected by nutrient
distribution system theme. The Research and Development by using modification
development model of 4-D Thiagarajan, define, design, develop and disseminate.
The first prototipe was validated by contents and education experts and also
practician. The result of product validation showed the content was valid with
percentage of 100%. Validation result from education expert and practician showed
valid criteria with percentage of 88,31% for teacher’s module and 85,98% for
student’s module. The revised prototipe after validated then was tried out in 8th
grade student of Secondary International Laboratory School University of Malang.
Based on the tried out data, the average of student cognitive test score was 83,88;
average of student affective test score was 74,28 in good criteria; and average of
student psychomotor score was 87,50 also in good criteria. Learning by using
connected science learning module has been made meaningful learning and also use
learning time efficiently.
Key Words : Learning Material, Learning Module, Connected Science
Secara umum IPA di tingkat pendidikan jenjang SMP/MTs meliputi mata pelajaran
fisika, kimia dan biologi yang membantu siswa memahami fenomena dan gejala
alam. Perolehan keutuhan belajar IPA tentang kehidupan dunia nyata dan fenomena
alam dapat direfleksikan melalui pembelajaran IPA terpadu (BSNP, 2006). Menurut
Shoemaker (1989) dalam Forgaty (1991), kurikulum terpadu merupakan pendidikan
yang diorganisasikan sedemikian rupa antar bidang ilmu, menggabungkan berbagai
bidang ilmu/mata pelajaran sekolah dalam hubungan yang bermakna. Pengertian ini
melihat belajar mengajar secara holistik dan merefleksikan dunia nyata yang bersifat
interaktif.
1
2
Sesuai dengan pedoman pendidikan yang ada dalam Badan Standar Nasional
Pendidikan (BSNP), seharusnya substansi matapelajaran IPA di SMP/MTs
merupakan IPA terpadu. Namun berdasarkan fakta hasil observasi penulis pada
beberapa sekolah menengah pertama di kota Malang, belum keseluruhan sekolah
menengah pertama menggunakan kurikulum IPA terpadu. Berdasarkan hasil
observasi terhadap guru mata pelajaran IPA di Secondary International Laboratory
School University of Malang (UM Lab School) diketahui bahwa siswa masih belum
menggunakan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Artinya, kedalaman
dan keluasan materi bahan ajar yang digunakan oleh siswa belum sesuai dengan
tingkat kognitif siswa di sekolah tersebut. Siswa di UM Lab School menggunakan
worksheet yang didesain khusus untuk siswa namun bahan ajar penunjang worksheet
masih belum ada.
Alternatif solusi yang diajukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah
mengembangkan perangkat pembelajaran serta bahan ajar, salah satunya yaitu dengan
mengembangkan bahan ajar berupa modul pembelajaran IPA terpadu. Hal ini
didasarkan pada belum adanya bahan ajar penunjang worksheet di UM Lab School
serta dibuat pembelajaran IPA terpadu dengan alasan bahwa pembelajaran IPA
terpadu dengan memadukan topik-topik yang saling berkaitan akan menjadikan
pembelajaran lebih bermakna karena selama ini pembelajaran sistem dalam
kehidupan manusia masih terkesan terpisah-pisah antara sistem yang satu dengan
yang lain sehingga seakan-akan tidak ada hubungan di dalamnya.
Kompetensi dasar yang akan dikembangkan dalam pengembangan modul IPA
terpadu merupakan kompetensi dasar hasil pemaduan yang bertemakan ”peredaran
sari makanan”. Sesuai dengan kurikulum terpadu connected, pengajaran dilakukan
dengan mengintegrasikan dua kompetensi dasar yang saling berkaitan (Forgaty,
1991). Pemilihan tema sudah diusahakan dipilih secara berhati-hati agar nantinya
bisa relevan, bermakna dan dengan isi/pengetahuan yang tepat. Dalam tema
peredaran sari makanan ini peneliti mengintegrasikan materi sistem pencernaan dan
peredaran darah. Tema peredaran sari makanan dipilih peneliti dengan alasan bahwa
3
makanan merupakan sesuatu yang dekat dengan kehidupan riil siswa sehingga
diharapkan siswa langsung bisa memahami kedua materi yang diintegrasikan.
Setelah pemilihan Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD) dan
akhirnya penentuan tema materi yang berjudul peredaran sari makanan, peneliti
kemudian merancang indikator dan tujuan pembelajaran yang nantinya diharapkan
tercapai. Setelah silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan
digunakan dalam pembelajaran dirancang, kemudian dibuat kerangka penyusunan
modul IPA terpadu. Materi yang dikembangkan dalam modul IPA terpadu
disesuaikan dengan indikator dan tujuan pembelajaran yang telah dirancang
sebelumnya. Selanjutnya menyusun kegiatan belajar siswa berupa worksheet dan
evaluation sheet yang digunakan sebagai umpan balik untuk mengetahui pemahaman
siswa terhadap materi.
Sebelumnya juga pernah dilakukan pengembangan modul oleh Kumalasari
(2011) dan hasil validasi modul menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan
tersebut memperoleh kriteria sangat valid pada modul guru sebesar 88,04% dan
modul siswa sebesar 87,6%. Selain itu, pengembangan modul tentang keterpaduan
IPA juga pernah dilakukan oleh Setyorini (2009) dan hasil validasi yang dilakukan
oleh ahli materi, ahli media, dan guru terhadap modul tersebut memperoleh nilai
78,14349%; 60,7153%; dan 88,93%. Data menunjukkan bahwa modul yang
dikembangkan bersifat valid dan tidak perlu direvisi. Uji terapan dengan responden
siswa kelas IX MTs Hidayatul Mubtadi’in Malang mendapatkan nilai 85,46%.
METODE
Metode pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
model pengembangan 4-D Thiagarajan. Menurut model pengembangan yang
diusulkan oleh Thiagarajan (1974), tahap pertama yaitu penentuan (define) dimana
kegiatan pengembangan yang dilakukan adalah menganalisis permasalahan, serta
kebutuhan yang diperlukan dengan sebelum penyusunan draft modul. Tahap kedua
yaitu perancangan (design) dimana kegiatan yang dilakukan adalah merumuskan
rancangan pembelajaran dan perangkat sehingga diperoleh garis besar/draft awal
4
pembelajaran. Tahap ketiga yaitu pengembangan (develop) dimana di dalamnya
dilakukan pengembangan dan penulisan produk yang dikembangkan yaitu modul IPA
terpadu itu sendiri, validasi modul, ujicoba produk, revisi dan dihasilkan produk akhir
hasil pengembangan modul IPA terpadu. Tahap pengembangan yang terakhir yaitu
tahapan disseminate tidak dilakukan oleh pengembang karena pengembang hanya
mengembangkan produk awalnya saja. Untuk penyebarluasan produk bisa dilakukan
oleh pengembang selanjutnya dengan ujicoba lebih lanjut tentunya dalam skala luas
yang lebih luas.
Validasi modul meliputi penilaian modul oleh ahli materi, ahli pendidikan,
dan ahli penerapan lapangan serta siswa. Validasi yang dilakukan oleh ahli materi
yaitu Umie Lestari adalah untuk menguji isi/materi yang ada di dalam modul apakah
kedalaman dan keluasan materi yang disajikan sudah sesuai dengan tingkat kognitif
siswa, sedangkan validasi yang dilakukan oleh ahli pendidikan I yaitu Hadi Suwono
dan ahli pendidikan II yaitu Herawati Susilo dilakukan untuk menguji bagaimana
kesesuaian modul dengan kebutuhan siswa, komponen-komponen modul, serta
penggunaan bahasa dalam modul. Validasi oleh ahli penerapan lapangan yaitu Ndaru
Restyana dan siswa dilakukan untuk melihat keterpakaian modul dalam pembelajaran
di kelas.
Uji coba dilakukan dalam pembelajaran dengan menggunakan modul IPA
terpadu yang telah dirancang kepada responden yakni sebanyak 6 siswa kelas VIII
UM Lab School dengan kemampuan akademis yang hampir sama. Proses uji coba
dilakukan melalui kegiatan pembelajaran secara langsung sesuai dengan yang tertera
dalam RPP yaitu sebanyak tiga kali pertemuan dengan alokasi waktu setiap jam
pelajarannya yaitu 40 menit. Pada akhir pembelajaran, responden diminta mengisi
angket penilaian modul pembelajaran IPA terpadu.
Ujicoba pertama berlangsung selama 60 menit dan peneliti bertindak sebagai
guru. Pada pertemuan pertama guru meminta siswa untuk mengerjakan worksheet 1
yang berisi kegiatan observasi tentang organ peredaran sari makanan. Guru membagi
kelas menjadi dua kelompok dalam pengamatan, namun dalam mengerjakan soal-soal
diskusi siswa bekerja secara individual. Setelah mengerjakan kegiatan observasi,
5
siswa langsung mengerjakan Activity 1 yang berisi pertanyaan tentang struktur dan
fungsi organ peredaran sari makanan.
Ujicoba kedua berlangsung selama 120 menit, peneliti juga bertindak sebagai
guru. Pada awal pembelajaran guru memberikan penjelasan disertai review materi
pertemuan sebelumnya, kemudian siswa melanjutkan mengerjakan Activity 2.
Selanjutnya pada pertemuan ketiga berlangsung selama 80 menit. Siswa mengerjakan
wosksheet di Activity 3 dan apabila selesai berlanjut pada evaluation sheet.
Setelah dilakukan validasi dan ujicoba maka diperoleh data kuantitatif berupa
skor angket penilaian dari validator, skor angket penilaian sikap siswa, dan nilai
worksheet siswa; serta data kualitatif berupa saran dan komentar dari validator dan
siswa sebagai pengguna modul. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah
angket validasi produk, lembar kegiatan siswa, dan angket sikap siswa.
Teknik analisis data yang digunakan untuk data kuantitatif dari hasil validasi
adalah dengan menghitung presentase jawaban. Rumus yang digunakan untuk
mengolah data adalah jumlah jawaban responden dalam 1 ikon dibagi dengan jumlah
nilai ideal dalam 1 item, kemudian dikali dengan 100% (Arikunto, 2008). Prosentase
yang telah diperoleh tersebut lalu dicocokkan dengan kriteria kevalidan. Bila skala
nilai berkisar 85,94% - 100%, maka termasuk kategori valid. Kriteria 67,19% 85,93% termasuk cukup valid, kriteria 48,44% - 67,18% termasuk kurang valid, dan
kriteria 25% - 48,43% termasuk tidak valid (Suryabrata (1983) dalam Ismail, 2007).
Apabila nilai kevalidan termasuk valid dan cukup valid maka produk yang dihasilkan
tidak perlu direvisi. Namun, bila termasuk kurang valid dan tidak valid maka perlu
direvisi.
Sedangkan hasil belajar kognitif dianalisis dengan rumus jumlah skor yang
dicapai siswa dibagi dengan jumlah skor maksimum, kemudian dikali dengan 100%.
Kriteria keberhasilan belajar dapat dilihat dari perbandingan dengan KKM
perseorangan dan klasikal. Secara perseorangan siswa telah tuntas belajar apabila
nilainya mencapai ≥ 80. Sedangkan kriteria ketuntasan klasikal mencapai ≥ 80% (≥
80% siswa memperoleh nilai ≥ 80).
6
Ketercapaian hasil belajar afektif siswa dalam pembelajaran diukur dengan
menggunakan tes skala likert. Sikap dan minat siswa terhadap pembelajaran IPA
terpadu dengan membagi skor yang diperoleh dengan skor maksimum dan dikalikan
100% seperti pada rumus berikut (Arikunto, 2008). Penentuan kategori hasil
pengukuran sikap atau minat menurut Suryabrata (1983) dalam Ismail (2007) adalah
skala nilai 80,0-100 termasuk baik (A), skala nilai 56,3-79,9 termasuk cukup baik
(B), skala nilai 37,5-56,2 termasuk kurang baik (C), dan skala nilai 18,75-37,4
termasuk tidak baik (D).
Hasil belajar psikomotor siswa didapatkan dari hasil kegiatan observasi siswa
terhadap organ-organ beserta saluran sistem peredaran sari-sari makanan. Dari hasil
kegiatan observasi tersebut kemudian didapatkan skor yang kemudian dibandingkan
dengan kategori psikomotor siswa yang diadaptasi dari Sugiyono (2011). Apabila
didapatkan prosentase nilai 85,00-100,0 maka termasuk dalam kriteria sangat
tinggi/sangat baik, untuk rentang skala 70,00-84,00 termasuk dalam kriteria
tinggi/baik, skala nilai 55,00-69,00 termasuk dalam kriteria cukup, skala nilai 40,0054,00 termasuk dalam kategori rendah/kurang dan jika skala nilai yang diperoleh
berkisar antara 25,00-39,00 maka termasuk dalam kategori sangat rendah/sangat
kurang.
HASIL PENELITIAN
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang dijadikan
pedoman dalam pengembangan modul pembelajaran IPA terpadu ini mengacu pada
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tahun 2006 tentang Standar isi. SK yang
dipilih adalah SK 1 mata pelajaran IPA/Biologi untuk SMP kelas VIII, yaitu
memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia. KD yang dipilih untuk
dipadukan yaitu KD 1.4 mendeskripsiakan sistem pencernaan makanan pada manusia
dan hubungannya dengan kesehatan dan KD 1.6 mendeskripsikan sistem peredaran
darah pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan.
Pada pengembangan modul IPA terpadu yang dilakukan, materi antara kedua
sistem pencernaan dan sistem peredaran darah dipadukan dengan model pemaduan
7
connected dalam satu bidang kajian. Untuk memudahkan siswa memahami materi
perpaduan tersebut, maka dipilih satu tema materi yaitu ”human nutrient distribution
system”. Karena materi yang akan disajikan dalam modul IPA terpadu ini hanya
materi keterpaduannya saja, maka materi yang dibahas akan menyempit.
Hasil pengembangan berupa modul IPA terpadu yang terdiri dari modul guru
sebagai petunjuk guru dan modul siswa yang digunakan oleh siswa dalam proses
pembelajaran. Komponen modul guru yang dikembangkan terdiri dari: halaman
sampul (cover); kata pengantar; daftar isi; pendahuluan; petunjuk penggunaan modul;
silabus; RPP; kompetensi yang terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, dan
indikator kompetensi; uraian materi; lembar kegiatan siswa; kunci jawaban lembar
kegiatan siswa, serta lembar evaluasi yang terdiri dari kisi-kisi soal, soal evaluasi, dan
kunci jawaban evaluasi. Sedangkan komponen modul siswa terdiri dari: halaman
sampul (cover); kata pengantar; daftar isi; pendahuluan; petunjuk penggunaan modul
untuk siswa; kompetensi yang terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, dan
indikator kompetensi; uraian materi; lembar kegiatan siswa yag berisi tujuan
pembelajaran dan kegiatan belajar; lembar evaluasi beserta kunci jawaban evaluasi;
lembar umpan balik, serta kunci jawaban lembar kegiatan siswa.
Proses validasi modul pembelajaran IPA terpadu ini dilakukan lebih dari
sekali kemudian direvisi berulang-ulang hingga nilai yang diperoleh pada tiap-tiap
komponen penyusun modul menunjukkan kriteria valid atau cukup valid sehingga
layak digunakan. Pelaksanaan validasi yang dilakukan oleh ahli pendidikan dan ahli
penerapan lapangan masing-masing dilakukan sebanyak dua kali hingga diperoleh
kriteria valid untuk masing-masing komponen penyusun modul IPA terpadu. Validasi
oleh ahli materi dilakukan sebanyak lima kali hingga konsep materi dalam modul IPA
terpadu tersebut dikatakan valid.
Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data hasil validasi produk dan
data hasil uji coba. Proses validasi dilakukan lebih dari sekali hingga nilai yang
diperoleh menunjukkan kriteria valid atau cukup valid. Data hasil validasi yang
diperoleh terbagi menjadi dua macam yakni data kuantitatif dan data kualitatif. Data
kuantitatif berupa persentase yang didapatkan dari perhitungan skor angket penilaian
8
oleh validator. Hasil validasi modul guru dan modul siswa oleh ahli pendidikan, ahli
penerapan lapangan, dan ahli materi serta penilaian produk oleh siswa dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.
Tabel 1
Ringkasan Data Hasil Validasi Modul Guru oleh Ahli Pendidikan dan Ahli Penerapan
Lapangan
Rata-rata (%)
Aspek yang Dinilai
Kriteria
Validasi pertama Validasi kedua
1. Cover
66,67
80,56
Cukup valid
2. Kata pengantar
83,33
91,67
Valid
3. Daftar isi/table
83,33
94,44
Valid
4. Panduan penggunaan modul
83,33
83,33
Cukup valid
5. Pendahuluan
75,00
79,17
Cukup valid
6. Kompetensi
88,89
88,89
Valid
7. Uraian materi
91,67
100
Valid
8. Alokasi waktu
75,00
83,33
Cukup valid
9. Silabus
86,11
87,50
Valid
10. Rencana Pelaksanaan
87,50
87,50
Valid
Pembelajaran (RPP)
11. Lembar penilaian
94,44
94,44
Valid
12. Kunci jawaban
88,89
88,89
Valid
Jumlah
1004,16
1059,72
Rata-rata
83,68
88,31
Valid
Tabel 2
Ringkasan Data Hasil Validasi Modul Siswa oleh Ahli Pendidikan dan ahli Penerapan
Lapangan
Rata-rata (%)
Aspek yang Dinilai
Kriteria
Validasi pertama Validasi kedua
Komponen Kelayakan Isi
1. Cover
69,44
80,56
Cukup valid
2. Kata pengantar
87,50
87,50
Cukup valid
3. Daftar isi/tabel
83,33
94,44
Valid
4. Panduan penggunaan modul
83,33
83,33
Cukup valid
5. Kompetensi
86,11
94,44
Valid
6. Tujuan pembelajaran
91,67
91,67
Valid
7. Uraian materi
87,50
87,50
Valid
8. Kegiatan belajar siswa
88,20
88,20
Valid
(worksheet)
9. Gambar
91,67
91,67
Valid
10. Uji kompetensi
83,33
83,33
Cukup valid
11. Daftar rujukan
75,00
83,33
Cukup valid
Komponen Kebahasaan
1. Sesuai dengan tingkat
83,33
83,33
Cukup valid
perkembangan peserta didik
2. Komunikatif dan interaktif
83,33
83,33
Cukup valid
3. Lugas
80,56
80,56
Cukup valid
4. Kesesuaian dengan bahasa
75,00
79,17
Cukup valid
Inggris
5. Penggunaan istilah
79,17
83,33
Cukup valid
Jumlah
1328,47
1375,69
Rata-rata
83,03
85,98
Valid
9
Tabel 3 Ringkasan Data Hasil Validasi Modul pembelajaran IPA terpadu oleh Ahli Materi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
Aspek yang Dinilai
Tujuan dan indikator pembelajaran dinyatakan secara jelas
Kesesuaian tujuan pembelajaran dengan indikator
kompetensi
Kesesuaian tujuan pembelajaran dengan indikator
kompetensi
Kesesuaian keterpaduan KD 1.4 (Sistem Pencernaan) dan
KD 1.6 (Sistem Peredaran Darah)
Kesesuaian kegiatan pembelajaran dengan rumusan
indikator
Kesesuaian kegiatan pembelajaran dengan tujuan
pembelajaran
Keluasan dan kedalaman isi materi yang disajikan sesuai
dengan indikator kompetensi
Kejelasan materi yang disajikan
Ketepatan judul bab dengan isi materi
Kebenaran substansi materi
Kebenaran teori dan konsep dalam bidang keilmuan
Kesesuaian gambar dengan isi materi
Ketepatan gambar dalam memperjelas materi
Pengorganisasian materi menggambarkan satuan materi
yang utuh dan saling terpadu
Materi tersusun secara sistematis
Pembelajaran memiliki kesesuaian dengan kebutuhan
siswa kelas VIII SMP
Tugas worksheet yang diberikan relevan dengan cakupan
materi
Soal evaluasi relevan dengan cakupan materi
Tingkat kesulitan soal relevan dengan kemampuan siswa
SMP Kelas VIII
Jumlah
Rata-rata
Rata-rata (%)
100
100
Kriteria
Valid
Valid
100
Valid
100
Valid
100
Valid
100
Valid
100
Valid
100
100
100
100
100
100
100
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
100
100
Valid
Valid
100
Valid
100
100
Valid
Valid
1900
100
Valid
Berdasarkan hasil validasi modul oleh ahli pendidikan dan penerapan
lapangan, secara umum modul pembelajaran IPA terpadu dengan tema peredaran sari
makanan untuk guru sudah termasuk dalam kategori valid dengan prosentase 88,31%,
sedangkan untuk modul pembelajaran IPA terpadu untuk siswa termasuk dalam
kategori valid dengan prosentase 85,98%. Validasi modul oleh ahli materi
menunjukkan bahwa materi keterpaduan antara sistem pencernaan dan peredaran sari
makanan ini menunjukkan hasil yang valid dengan presentase 100%. Hal ini
mengindikasikan bahwa materi keterpaduan dalam modul tersebut sudah sesuai untuk
siswa kelas VII SMP SBI.
10
Meskipun secara menyeluruh komponen modul pembelajaran IPA terpadu
untuk guru dan siswa ini tergolong valid, namun tetap perlu dilakukan perbaikan pada
beberapa komponen berdasarkan saran dan komentar dari ahli pendidikan, ahli
penerapan lapangan, ahli materi dan juga penilaian dari pengguna modul yang dalam
hal ini adalah siswa kelas VIII UM Lab School. Komentar dan saran dari validator
serta dari pengguna modul pembelajaran IPA terpadu (siswa) selanjutnya akan
menjadi pertimbangan dalam perbaikan dan revisi produk akhir hasil pengembangan.
Tabel 4 Komentar dan Saran Validator Ahli Pendidikan dan Ahli Lapangan untuk Modul Guru
Aspek yang Dinilai
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Komentar dan Saran
 Ganti gambar cover dengan gambar yang berhubungan
Cover
dengan materi/bahasan
 Gambar sampul worksheet tidak sesuai dengan bahasan
 Perlu perbakan grammar
Kata pengantar
 Perbaiki struktur kalimat sesuai dengan kaidah kalimat
bahasa Inggris
 Urutan daftar isi apa sudah pas atau belum
Daftar isi/tabel
 Ada judul daftar isi yang perlu diperbaiki
 Perlu diperbaiki bahasa dan grammarnya
Panduan penggunaan modul
 Cari contoh Panduan yang dalam bahasa Inggris asli
 Perbaiki struktur kalimat
Pendahuluan
 Lihat contoh asli yang ditulis dalam bahasa Inggris
Kompetensi
 Perbaiki bahasa dan grammar dalam penulisannya
 Perlu diujicoba dulu
Alokasi waktu
 Alokasi waktu disesuaikan dengan JP
Silabus
 Perbaiki grammar
RPP
 Waktu disesuaikan dengan JP
Tabel 5 Komentar dan Saran Validator Ahli Pendidikan dan Ahli Lapangan untuk Modul
Siswa
Aspek yang Dinilai
1.
Cover
2.
3.
Kata pengantar
Panduan penggunaan modul
4.
Kegiatan belajar siswa (worksheet)
5.
Gambar
Komentar dan Saran
 Gambar kurang menarik karena tidak sesuai dengan
yang dibahas
 Cover worksheet disesuaikan dengan bahasan
 Perbaiki grammar
 Susunan kalimat diperjelas
 Pertanyaan kurang konstruktivis di bagian awal
pembelajaran
 Beri tambahan angka/huruf
Berdasarkan saran dan komentar dari ahli pendidikan dapat diketahui bahwa
pemilihan kata, susunan kalimat dan grammar yang digunakan dalam modul guru dan
11
modul siswa masih perlu diperbaiki. Begitu juga saran dan komentar dari siswa
tentang bahasa yang digunakan terutama pada evaluation sheet. Bahasa yang
digunakan banyak terdapat istilah biologi sehingga siswa sulit menangkap maksud
dari soal yang disajikan. Namun, secara keseluruhan kegiatan siswa dalam modul ini
sudah dapat membantu siswa memahami materi yang disajikan.
Berdasarkan hasil validasi oleh ahli materi banyak hal yang masih perlu
diperbaiki, diantaranya: uraian materi jangan terlalu luas dan terlalu dalam,
sederhanakan materi agar bisa dengan mudah dipahami oleh siswa, Penjelasan materi
langsung dibuat proses peredaran sari makanan dengan sederhana, tidak perlu dibuat
perbagian organ, fungsi, proses, dan kelainan/gangguan, Penjelasan proses
pencernaan makanan dikaitkan dengan peredaran sari makanan melalui pembuluh
darah di vili usus halus, prosesnya jangan dipisah sendiri-sendiri antar sistem
pencernaan dan peredaran darah karena keterpaduan konsep materi menjadi tidak
begitu jelas serta Gambar-gambar dari sumber online harus jelas dan tidak terlalu
banyak keterangan bagiannya, usahakan memakai sumber dari textbook atau ebook
yang relevan dengan materi yang diuraikan, gambar lebih dari satu beri kode A, B, C,
dst.. Setelah dilakukan revisi terhadap komentar dan saran dari ahli materi,
didapatkan hasil yang sangat valid dan sudah sesuai keterpaduannya dengan level
kognitif siswa SMP SBI. Penggunaan bahasa dan struktur kalimat dalam modul ini
menurut ahli pendidikan dan ahli penerapan lapangan perlu dilakukan revisi. Saran
dan komentar dari validator dan penilaian dari siswa digunakan sebagai acuan dalam
merevisi produk demi tercapainya kesempurnaan modul pembelajaran IPA terpadu
yang dikembangkan.
Setelah dilakukan validasi, selanjutnya dilakukan tahap revisi modul
pembelajaran IPA terpadu berdasarkan saran dan komentar validator. Setelah itu
dilakukan uji coba di kelas VIII UM Lab School dengan subjek penelitian berjumlah
6 orang. Proses pembelajaran mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) yang telah dirancang yaitu sebanyak tiga kali pertemuan.
Berikut ini hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor siswa setelah dilakukan
ujicoba kelas riil (nyata) sebanyak tiga kali pertemuan.
12
Tabel 6 Ringkasan Data Nilai Kognitif Siswa
No
1
2
3
4
5
6
Nama
A
B
C
D
E
F
Jumlah
Rerata
Worksheet
Unit 1
80
80
85
81
90
91
Worksheet
Unit 2
83
81
80
81
90
90
Worksheet
Unit 3
80
80
80
80
85
80
Evaluation
sheet
84
88
80
84
92
88
Rerata
81,75
82,25
81,25
81,50
89,25
87,25
503,25
83,88
Berdasarkan data di atas, persentase siswa yang mengalami ketuntasan belajar
sebesar 100% dengan rata-rata nilai kelas yaitu 83,88. Kriteria ketuntasan minimal
siswa yang diterapkan di UM Lab School adalah ≥ 80. Bila nilai worksheet yang
diperoleh siswa <80, maka siswa mengulang kembali materi dalam worksheet dengan
menggunakan bantuan materi dalam modul dan sumber pustaka lain yang
mendukung. Bila nilai worksheet siswa ≥80, siswa dapat mengerjakan worksheet
selanjutnya. Pada akhir pembelajaran, apabila siswa sudah mengerjakan semua
worksheet dan tuntas secara keseluruhan maka siswa diperbolehkan meminta
evaluation sheet kepada guru.
Hasil belajar afektif siswa dilihat dari hasil tes sikap skala Likert. Tes sikap ini
diberikan setelah kegiatan pembelajaran selesai dilaksanakan. Berdasarkan data hasil
skor tes sikap, diketahui bahwa siswa menunjukkan kriteria sikap baik dengan ratarata sebesar 74,28 dengan kriteria A.
Tabel 7 Ringkasan Data Hasil Angket Sikap/Afektif Siswa
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Nama
A
B
C
D
E
F
Rata-rata
Total Skor Afektif
Kriteria
71,42
87,14
65,71
81,42
85,71
54,28
74,28
B
A
B
A
A
C
A
13
Hasil data afektif siswa yang diperoleh berdasarkan Tabel 7 menunjukkan
bahwa pembelajaran menggunakan modul pembelajaran IPA terpadu dapat
meningkatkan sikap/minat siswa. Rata-rata nilai sikap siswa yaitu sebesar 74,28%.
Setelah dilakukan ujicoba, komentar dan saran siswa terhadap modul pembelajaran
IPA terpadu berbahasa Inggris ini yaitu banyak bahasa/istilah Biologi sehingga siswa
kesulitan untuk memulai mengerjakan modul, namun demikian pembelajaran
menggunakan modul IPA tepadu berbahasa Inggris ini menurut siswa menantang
untuk dipelajari.
Nilai psikomotor siswa diperoleh dari kegiatan observasi pada pertemuan
pertama. Rata-rata siswa memperoleh nilai psikomotor sebesar 87,50. Nilai
psikomotor siswa dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Ringkasan Data Nilai Psikomotorik Siswa
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Nama
A
B
C
D
E
F
Jumlah
Rata-rata
A
3
3
3
3
3
3
Skor siswa
B
C
2
3
2
3
2
3
3
2
3
2
3
2
D
2
2
2
3
3
3
Total skor
83,33
83,33
83,33
91,67
91,67
91,67
525
87,50
PEMBAHASAN
Produk akhir dari penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar berupa
modul pembelajaran IPA terpadu dengan tema peredaran sari makanan. Pembuatan
modul pembelajaran IPA terpadu ini didasarkan pada hasil observasi kelas dan
wawancara guru Biologi SBI di UM Lab School yang menyatakan bahwa
pelaksanaan pembelajaran IPA belum dilakukan secara terpadu dan bahan ajar yang
sesuai dengan siswa belum ada dan yang ada hanyalah penggalan-penggalan
worksheet. Pembelajaran IPA secara terpadu seperti pada materi sistem pencernaan
dan sistem peredaran daurah dapat mempermudah pemahaman siswa terhadap kedua
materi yang dianggap sulit tersebut. Dengan adanya pembelajaran IPA terpadu,
14
materi yang saling berhubungan dalam suatu bidang kajian dibahas secara terpadu
sehingga tidak terkesan terpisah-pisah antar sistem dalam tubuh manusia karena pada
dasarnay memang saling berhubungan satu sama lain. Dengan modul pembelajaran
IPA terpadu ini materi yang saling berhubungan dibahas saling terkait sehingga dapat
lebih bermakna. Dengan adanya modul pembelajaran IPA terpadu berbahasa Inggris,
siswa maupun guru dapat lebih mudah memahami materi IPA terpadu sekaligus
meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.
Modul pembelajaran IPA terpadu dengan tema peredaran sari makanan ini
telah melalui proses validasi dari ahli materi, ahli pendidikan, dan ahli penerapan
lapangan. Berdasarkan hasil validasi dari ahli materi diperoleh nilai sebesar 100%.
Artinya uraian materi penyusun modul pembelajaran ini termasuk kriteria valid.
Sedangkan berdasarkan hasil validasi dari ahli pendidikan dan ahli penerapan
lapangan, modul untuk guru memperoleh prosentase kevalidan sebesar 88,31% yang
termasuk dalam kriteria valid dan untuk modul siswa mendapatkan prosentase
kevalidan sebesar 85,98% dengan kriteria valid.
Sebelumnya juga pernah dilakukan pengembangan modul oleh Kumalasari
(2011). Validasi modul sebagai hasil pengembangan bahan ajar menunjukkan bahwa
modul yang dikembangkan tersebut memperoleh kriteria sangat valid pada modul
guru sebesar 88,04% dan modul siswa sebesar 87,6%. Selain itu, pengembangan
modul tentang keterpaduan IPA juga pernah dilakukan oleh Setyorini (2009). Hasil
validasi yang dilakukan oleh ahli materi, ahli media, dan guru terhadap modul
tersebut memperoleh nilai 78,14349%; 60,7153%; dan 88,93%. Data menunjukkan
bahwa modul yang dikembangkan bersifat valid dan tidak perlu direvisi. Uji terapan
dengan responden siswa kelas IX MTs Hidayatul Mubtadi’in Malang mendapatkan
nilai 85,46%.
Revisi produk dilakukan atas dasar penilaian, saran dan komentar dari
validator ahli dan dari penilaian pengguna produk yaitu siswa itu sendiri. Produk
yang telah valid kemudian diujicobakan di kelas VIII UM Lab School. Revisi yang
dilakukan setelah uji coba menghasilkan produk yang sudah jadi dan valid.
Komponen dari modul pembelajaran IPA terpadu untuk guru terdiri dari: halaman
15
sampul (cover), kata pengantar, daftar isi, panduan penggunaan modul guru,
pendahuluan (introduction), kompetensi, materi, silabus, rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP), soal evaluasi beserta kisi-kisi soal, lembar penilaian beserta
kunci jawabannya. Sedangkan komponen penyusun modul pembelajaran IPA terpadu
untuk siswa tidak jauh beda dengan modul guru. Komponen penyusun modul siswa
terdiri dari: halaman sampul (cover), kata pengantar, daftar isi, panduan penggunaan
modul, kompetensi, uraian materi, glosarium, kegaitan belajar siswa (worksheet),
evaluation sheet, beserta kunci jawaban worksheet.
Banyak sekali kelebihan modul dalam pembelajaran. Adapun kelebihan
pembelajaran dengan modul menurut Widiyastutik (2008) antara lain: memberikan
umpan balik (feed back) secara langsung, segera setelah siswa menyelesaikan sebuah
modul sehingga siswa mengetahui sesegera mungkin tingkat taraf penguasaannya
terhadap suatu modul; penguasaan tuntas (mastery learning) yang merupakan suatu
standar penguasaan minimal yang akan menentukan diperbolehkan atau tidaknya
seorang siswa melanjutkan ke modul berikutnya; modul memiliki tujuan
pembelajaran yang jelas dan spesifik, artinya dalam modul telah disusun suatu tujuan
yang jelas yang akan dicapai siswa sehingga siswa akan lebih terarah
pembelajarannya; pembelajaran dengan modul merupakan suatu bentuk dari
pengajaran individual yang sangat menghargai perbedaan individu. Setiap siswa
memiliki cara belajar, tingkat kecerdasan dan kecepatan yang berbeda sehingga setiap
siswa memiliki kesempatan untuk menyelesaikan studinya dengan waktu yang lebih
pendek; mengurangi rasa persaingan karena setiap siswa mendapatkan kesempatan
yang sama untuk mendapatan hasil yang maksimal; adanya program remidial yang
memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki hasil belajaranya dan
lebih mendalami materi yang dicapai dalam sebuah modul; serta memberikan rasa
kepuasan kepada siswa karena mereka mampu menemukan kesalahan dan
kekurangannya sendiri melalui evaluasi yang telah ditetapkan.
Keunggulan dari produk yang dikembangkan ini merupakan bahan ajar berupa
modul yang di dalamnya berisi materi yang memadukan materi pencernaan dengan
sistem peredaran darah. Selain itu, produk ini dirancang dengan menggunakan bahasa
16
Inggris karena modul pembelajaran IPA terpadu ini ditujukan kepada siswa SBI.
Modul pembelajaran IPA terpadu ini telah diujicobakan di kelas nyata yaitu kelas
VIII UM Lab School dan terbukti mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
Pembelajaran dengan memadukan keterkaitan materi sistem pencernaan dan sistem
peredaran darah yang disajikan dalam modul pembelajan ini memudahkan siswa
dalam menguasai konsep keterkaitan antara fisiologi tubuh manusia yang saling
terkait. Tanpa adanya pemaduan sistem organ maka pemahaman tentang fungsional
tubuh secara menyeluruh kurang bermakna. Pokok-pokok bahasan lain yang penting
diketahui oleh siswa namun tidak termuat dalam modul ini bisa dijadikan sebagai
bahan pengayaan di akhir materi.
Pada umumnya siswa SMP SBI menggunakan buku ajar Biologi Cambridge
IGCSE, namun pada sekolah tempat ujicoba digunakan buku Cambridge Secondary
Lower yang susah didapatkan di lapangan. Modul IPA terpadu dengan tema
peredaran sari makanan ini dikembangkan untuk mengatasi ketidaktersediaan modul
berbahasa Inggris yang menggabungkan kurikulum KTSP dan kurikulum Cambridge
IGCSE.
KESIMPULAN
Hasil validasi produk menunjukkan kriteria valid dari segi pendidikan dan
penerapan lapangan dengan skor 88,31% untuk modul guru dan skor 85,98% untuk
modul siswa, begitu pula dari segi materi menunjukkan kriteria yang valid dengan
skor 100%. Berdasarkan data uji coba, rerata nilai kognitif siswa secara klasikal
adalah 83,88; rerata nilai hasil belajar afektif siswa secara klasikal adalah 74,28
dengan kriteria A (sangat baik); dan rerata hasil belajar psikomotor siswa secara
klasikal adalah 87,50. Pembelajaran dengan menggunakan modul pembelajaran IPA
terpadu dapat mengefisiensikan waktu pembelajaran dan membuat pembelajaran
lebih bermakna.
17
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsini. 2008. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik pEdisi
Revisi VI. Yogyakarta: Rineka Cipta.
BSNP. 2006. Standar Isi. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan.
Forgaty, R. 1991. How to Integrate the Curricula. Pallatine Illionis: IRI/Skylight
Publising Inc.
Ismail, T. 2007. Pengembangan Modul Ekosistem untuk Pembelajaran Sains di SMP
kelas VII dengan Model Siklus Belajar (Learning Cycle) yang
Berorientasikan Konstruktivisme. Skripsi tidak diterbitkan. Malang:
Universitas Negeri Malang.
Kumalasari, Dewi. 2011. Pengembangan Modul Biologi Sistem Reproduksi Manusia
Model Siklus Belajar (Learning Cycle) 5E untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Malang. Skripsi tidak diterbitkan.
Malang: Universtas Negeri Malang.
Setyorini, O. 2009. Pengembangan Modul Pembelajaran IPA Terpadu Model Direct
Instruction melalui Teknik QUEST (Questions that Stimulate Thinking) untuk
Siswa SMP/MTs dengan Tema Benda Optik. Skripsi tidak diterbitkan.
Malang: Universitas Negeri Malang.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung :
Alfabeta.
Thiagarajan, et al.,1974. Instructional Development for Training Teachers of
Exceptional Children: A Sourcebook. Indiana: Indiana University
Widiyastutik, Sischa. 2008. Studi Tentang Faktor Pendukung dan Penghambat Siswa
dalam Pembelajaran dengan Menggunakan Modul SD Labratoium
Universitas Negeri Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Download