Teori Kepribadian - Universitas Mercu Buana

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Teori
Kepribadian
Pengantar Psikologi
Kepribadian
Fakultas
Program Studi
Fakultas Psikologi
S1 Psikologi
Tatap Muka
01
Kode MK
Disusun Oleh
Putri R. Wulandari, M.Psi, Psi.
Abstract
Kompetensi
Penjelasan Dasar-dasar psikologi
kepribadian: teori psikologi
kepribadian, perkembangan dari
masa ke masa
Mahasiswa dapat memahami dan
menjelaskan mengenai teori dan definisi
kepribadian, pengertian teori, pokokpokok perbedaan paradigma psikologi,
dan perkembangan sejarah teori
kepribadian
Teori
Pengertian umum
Pembahasan haruslah dimulai dengan memahami terlebih dahulu apa itu “teori”. Secara umum, teori
dapat dipahami sebagai sekumpulan asumsi yang berasal dari sebuah kesepakatan mengenai
fenomena tertentu, dan sekumpulan definisi empiris yang menghubungkan sebuah teori yang bersifat
abstrak kepada observasi yang bersifat konkrit.
Dalam kamus Merriam-Webster teori didefinisikan sebagai “an idea or set of ideas that is intended to
explain facts or events”. Bila diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia diperoleh
definisi bahwa teori adalah sebuah ide atau sekumpulan ide yang ditujukan untuk menjelaskan fakta
atau kejadian (fenomena)
Hall, et al., (1985) menjelaskan bahwa teori adalah oposisi dari fakta. Teori adalah sebuah hipotesis
mengenai kebenaran, ia adalah sebuah spekulasi mengenai realita, ia adalah sesuatu yang belum
diketahui kebenarannya. Teori haruslah dapat diuji saat data yang cukup telah dikumpulkan dan
dianalisa. Namun demikian, pengujian atas sebuah teori tidak dilakukan untuk membenarkan atau
menyalahkan teori yang bersangkutan. Melainkan ditujukan pada dampak dari teori tersebut dan
turunannya yang dapat dinyatakan terbukti atau tidak terbukti.
Dari dua penjelasan mengenai teori di atas, dapat disimpulkan secara sederhana bahwa teori adalah
ide atau sekumpulan ide yang ditujukan untuk menjelaskan fenomena. Teori bukanlah fakta, sehingga
kemampuan sebuah teori untuk menjelaskan fenomena harus dapat diuji. Pengujian teori dilakukan
untuk mengetahui sejauh apa teori tersebut dapat menjelaskan fenomena, bukan untuk
membenarkan atau menyalahkan.
Bagaimana teori dibentuk
Teori adalah sekumpulan ide yang diciptakan oleh pembuat teori (theorist); teori bukanlah sesuatu
yang secara otomatis didapatkan dari fenomena alamiah atau data. Teori adalah sebuah cara untuk
menjelaskan fenomena yang dipilih sendiri oleh seorang pembuat teori. Oleh karenanya, teori yang
dibuat oleh theorist merupakan sebuah produk kreativitas, yang dapat disejajarkan seperti plot cerita
yang dibuat oleh novelis atau sketsa yang dibuat oleh pelukis. Perbedaannya hanya terletak pada
data yang mendasarinya dan sejauh apa kemampuan teori dalam menjelaskan fenomena dapat
dibuktikan.
Karena teori adalah karya pribadi dari seorang theorist, maka tidak ada prinsip utama yang mendasari
sebuah teori. Sederhananya, teori adalah cara seseorang (theorist) untuk menjelaskan sebuah
fenomena. Menggunakan teori seseorang untuk menjelaskan fenomena sama saja dengan
meminjam kacamata orang tersebut untuk memandang fenomena tersebut.
2015
2
Teori Kepribadian
Putri R. Wulandari, M.Psi, Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Komponen teori
Idealnya, sebuah teori terdiri dari (1) sekumpulan asumsi yang relevan dengan fenomena yang
dibahas dan secara sistematis berhubungan satu sama lain, dan (2) sekumpulan definisi empiris yang
menghubungkan asumsi-asumsi tersebut dengan fenomena yang terjadi secara riil.
Komponen teori yang pertama memiliki pengertian bahwa sebuah asumsi yang dibuat dalam sebuah
teori persepsi haruslah menjelaskan proses persepsi, dan asumsi dalam teori motivasi haruslah
menjelaskan proses motivasi. Asumsi-asumsi tersebut dapat saja sangat umum atau sebaliknya
cukup spesifik, tergantung pada si pembuat teori. Sebagai contoh, sebuah teori dapat mengajukan
asumsi bahwa semua tingkah laku dilandasi oleh dorongan motivasi (umum); atau pada contoh lain
sebuah teori berasumsi bahwa meningkatnya kecemasan akan menurunkan kinerja motorik
seseorang (spesifik)
Asumsi-asumsi dalam sebuah teori tidak hanya harus jelas, tapi juga harus berhubungan satu sama
lain. Agar asumsi-asumsi dalam sebuah teori konsisten dan logis, maka mereka harus memiliki
sebuah syntax, sebuah aturan yang menjelaskan hubungan sistematis antara asumsi dan konsep
dalam sebuah teori. Tanpa adanya syntax/aturan maka teori tersebut tidak akan dapat menjelaskan
data empiris. Sebagai contoh, bila kita menambahkan asumsi baru “keberhargan diri dapat
meningkatkan kinerja motorik” pada asumsi sebelumnya yang menjelaskan bahwa “kecemasan dapat
menurunkan kinerja motorik”, maka sebelumnya harus dijelaskan bagaimana hubungan antara
“kecemasan” dan “keberhargaan diri”. Bila hal ini tidak dilakukan maka teori akan sulit untuk
menjelaskan fenomena kinerja motorik secara riil, karena di dunia nyata kecemasan dan
keberhargaan diri adalah variabel yang dapat muncul bersamaan dan terus berubah intensitasnya.
Definisi empiris, atau juga disebut sebagai definisi operasional berfungsi untuk menspesifikkan aspekaspek operasional sebuah dalam teori, sehingga dapat ditentukan bagaimana cara mengukur aspekaspek tersebut secara riil. Melalui definisi operasional lah sebuah teori dapat berhubungan langsung
dengan fenomena di dunia nyata. Pembuatan definisi operasional disatu sisi harus akurat tetapi di sisi
lain juga harus fleksibel. Hal ini menjadi penting agar pengambilan data benar-benar dapat
merepresentasikan fenomena. Sebagai contoh bila kecemasan hanya didefinisikan sebagai
perubahan simtom-simptom fisik seperti tekanan darah, detak jantung dan pernapasan (dapat diukur
dengan akurasi tinggi), maka kita akan kehilangan aspek-aspek lain yang mencirikan kecemasan,
seperti sulit konsentrasi dan rasa takut (sulit diukur dengan akurat
Teori Kepribadian
Penggunaan istilah kepribadian secara awam umumnya mempunyai dua ciri, yaitu:
(1) Mengarah pada konotasi evaluatif, dengan kata lain istilah kepribadian digunakan untuk
memberikan penilaian atas diri seseorang. Umumnya merujuk pada kemampuan sosial, kharisma
atau kesan yang diberikan oleh seseorang.
2015
3
Teori Kepribadian
Putri R. Wulandari, M.Psi, Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
(2) Mendeskripsikan sifat dominan, saat seseorang dikatakan memiliki kepribadian yang tertutup,
besar kemungkinan disebabkan karena orang tersebut lebih banyak diam saat berada di lingkungan
sosial, lebih suka situasi tenang dan sendiri.
Sementara itu, para praktisi psikologi (seperti yang akan dibahas pada mata kuliah ini), cenderung
memiliki cara pandang yang lebih luas dan rumit untuk mendefinisikan kepribadian. Penelitian Allport
pada tahun 1937 (dalam Hall, et al., 1985) menunjukkan ada lebih dari lima puluh definisi kepribadian
yang digunakan saat itu. Dengan asumsi bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang, maka dapat
diyakini bahwa saat ini definisi kepribadian sudah bertambah banyak dan (bisa jadi) bertambah rumit,
dibandingkan saat penelitian Allport dilakukan.
Namun demikian, untuk memberikan gambaran umum mengenai pengertian kepribadian dalam
lingkup ilmu psikologi, ada baiknya membahas beberapa konsep kunci dari kepribadian menurut
beberapa definisi.
(1) Biososial, beberapa teori mendefinisikan kepribadian sebagai reaksi orang lain terhadap individu.
Dengan kata lain, seperti pada pengertian awam, kepribadian seseorang adalah penilaian orang lain
terhadapnya.
(2) Biofisik, beberapa teori lain mengambil pandangan berlawanan, bahwa kepribadian memiliki
komponen organik dan terberi sejak awal. Pandangan ini mengkaitkan kepribadian dengan atributatribut yang dapat diukur secara objektif seperti bentuk tubuh.
(3) Komprehensif, sebagian teori mendefinisikan kepribadian dengan mengumpulkan seluruh
konsep yang dianggap penting untuk menggambarkan seseorang.
(4) Integratif, memandang kepribadian sebagai sebuah struktur atau pola tingkah laku
(5) Kepribadian juga dipandang oleh beberapa teori sebagai upaya adaptasi seseorang dengan
lingkungannya.
(6) Pembeda, kepribadian didefinisikan sebagai sesuatu yang membedakan antara satu individu
dengan individu yang lain
(7) Hakikat, memandang bahwa kepribadian adalah yang mendefinisikan individu, apa yang menjadi
ciri atau karakteristik orang tersebut.
Dalam mengkaji psikologi kepribadian, seseorang tidak dapat mengelak dari membahas definisidefinisi yang mengambil sudut pandang-sudut pandang berbeda di atas. Namun, perlu di ingat bahwa
tidak ada satupun definisi di atas yang merupakan sebuah definisi kepribadian mutlak. Hal ini
disebabkan karena, seorang tokoh mendefinisikan kepribadian dengan memasukkan aspek-aspek
yang dianggapnya penting dan sesuai dengan teorinya sendiri. Oleh karena itu, sangat
memungkinkan bila dua tokoh dengan teorinya masing-masing dapat saling tumpang tindih atau
berbeda sama sekali dalam mendefinisikan kepribadian.
2015
4
Teori Kepribadian
Putri R. Wulandari, M.Psi, Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Dimensi Teori Kepribadian
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa teori adalah asumsi seorang pembuat teori (theorist)
untuk melihat dan menjelaskan sebuah fenomena. Asumsi-asumsi ini merefleksikan posisi masingmasing pembuat teori terkait beberapa isu mengenai kepribadian yang masih menjadi perdebatan
sampai saat ini. Sebagai contoh, adalah isu ketidaksadaran vs. Kesadaran, area mana yang lebih
besar mempengaruhi motivasi dan tingkah laku manusia? Atau keturunan (nature) vs. lingkungan
(nurture), mana yang lebih besar dalam mempengaruhi kepribadian Gambar 2. (Heredity vs
environment, Nature vs nurture) manusia?
Isu-isu tersebut dapat dipandang seperti dua kutub yang saling berlawanan, dan memang ada
pembuat teori yang menempatkan dirinya pada salah satu dari dua kutub yang berlawanan tersebut.
Namun, dua kutub tersebut juga dapat dipandang sebagai ujung dari sebuah kontinum. Sehingga
banyak pembuat teori menempatkan dirinya, bukan dikutub ekstrim, tetapi pada sebuah titik diantara
kedua kutub tersebut.
Berikut ini adalah penjelasan mengenai beberapa isu yang sering dipersepsikan sebagai kutub yang
saling berlawanan dalam teori kepribadian.
(1) Kesadaran Vs. Ketidaksadaran, pertanyaan mendasar pada isu ini adalah “apakah tingkah laku
manusia dikontrol oleh proses rasional yang kita sadari (proses kesadaran) atau oleh faktor irasional
yang tidak kita sadari (proses ketidaksadaran). Kebanyakan pembuat teori mengakui adanya kedua
faktor tersebut, kesadaran dan ketidaksadaran, tetapi mengambil posisi dengan menyatakan salah
satunya memiliki pengaruh lebih dominan. Pembuat teori yang mengambil posisi ditengah-tengah
berpendapat bahwa peran ketidaksadaran lebih besar pengaruhnya pada orang-orang yang
mengalami gangguan (abnormal) dan peran kesadaran lebih besar pengaruhnya pada orang-orang
normal.
(2) Penguasaan Vs. Proses belajar, untuk beberapa teoris, proses belajar, atau bagaimana
seseorang sebuah tingkah laku dimodifikasi memegang peran kunci untuk semua fenomena tingkah
laku. Sementara untuk beberapa teoris lain, penguasaan atau struktur kepribadian sebagai hasil
belajarlah yang menjadi titik tekan.
(3) Hereditas Vs. Lingkungan, pertanyaan mendasar dari isu ini adalah “diantara faktor hereditas
dan lingkungan, manakah yang lebih dominan dalam mempengaruhi perilaku manusia?” hampir tidak
ada teoris yang menolak pengaruh faktor keturunan pada tingkah laku, tetepi kebanyakan teoris
berpendapat bahwa tingkah laku dapat dipahami tanpa harus melibatkan faktor-faktor genetis dan
biologis. Namun demikian, penelitian kontemporer dalam bidang genetic behavior, membenarkan
bahwa kecenderungan-kecenderungan yang diwariskan memiliki pengaruh yang cukup signifikan
pada kepribadian manusia
(4) Masa lalu Vs. Masa kini, untuk beberapa teoris, kunci untuk memahami tingkah laku seorang
dewasa terletak pada kejadian-kejadian yang dialami orang tersebut dimasa kanak-kanaknya; dengan
kata lain, masa lalunya. Bagi teoris dengan pandangan seperti ini, kejadian-kejadian masa lalu yang
jauh (masa kanak-kanak/balita) menjadi lebih penting daripada kejadian masa kini, untuk
menjelaskan tingkah laku. Namun untuk beberapa teoris lain, tingkah laku dapt dijelaskan dengan
2015
5
Teori Kepribadian
Putri R. Wulandari, M.Psi, Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
mengambil referensi dari kejadian-kejadian kekinian: hari ini, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu
atau setahun yang lalu.
(5) Holistik Vs. Analitik, Pandangan Holistik berpendapat bahwa tingkah laku manusi tidak dapat
dilepaskan dari konteks dimana tingkah laku tersebut muncul. Pandangan ini memiliki dua asusmsi
dasar: (1) bahwa tingkah laku individu tidak hanya terkait dengan sesuatu yang dilakukan (tingkah
laku) itu sendiri, tetapi juga aspek fisiologis dan biologis individu yang beersangkutan, (2) bahwa
tingkah laku hanya dapat dipahami dengan mengaitkannya pada field, aspek lingkungan atau
konteks dimana tingkah laku tersebut muncul. Sekalipun aspek tingkah laku yang dipelajari sangat
spesifik, tetap tingkah laku spesifik tersebut harus dikaitkan dengan konteks, untuk dapat memahami
tingkah laku tersebut seutuhnya. Sementara pandangan Analitik berpendapat bahwa cara terbaik
untuk memahami tingkah laku adalah dengan memulainya dari komponen tingkah laku yang kecil dan
spesifik, barulah setelah itu pemahaman dikembangkan dalam komponen yang lebih besar dan
kompleks.
(6) Person Vs. Situation, perdebatan pada isu ini didasari oleh pertanyaan apakah tingkah laku
merupakan produk dari manusia itu sendiri dan proses-proses dalam dirinya ataukah produk dari
situasi/lingkungan tempat dimana manusia itu berada. Kebanyakan teoris saat ini mengambil posisi
ditengah, yaitu bahwa tingkah laku adalah produk dari interaksi antara proses dalam diri dan
lingkungan manusia. Namun demikian, tetap ada teoris yang menempatkan dirinya pada satu dari
dua kutub ekstrim. Sebagai contoh, Skinner yang berpendapat bahwa seluruh faktor yang memicu
munculnya tingkah laku berasal dari lingkungan (eksternal) dan Binswanger dan Boss yang
berpendapat bahwa penentu tingkah laku adalah dari manusia itu sendiri (internal.
(7) Purposif Vs. Mekanistik, beberapa teoris seperti Adler berpendapat bahwa tujuan, dan upaya
mencapai tujuan, merupakan aspek sentral dari tingkah laku manusia. Dalam pandang ini tingkah
laku manusia adalah purposif (bertujuan), bahwa secara alami, manusia akan terus membuat
sebuah tujuan dalam hidup, dan tingkah laku yang dimunculkannya adalah sebuah upaya untuk
mencapai tujuan tersebut. Namun beberapa teoris lain berpendapat bahwa tingkah laku mencapai
tujuan hanya “terlihat seperti” sebuah upaya mencapai tujuan, namun sebenarnya faktor pendorong
yang melatar belakangi individu untuk bertingkah laku bukanlah terletak dimasa depan (tujuan, citacita) melainkan dimasa lalu. Seperti juga Skinner yang menyatakan bahwa tujuan bukanlah faktor
penentu tingkah laku. Pandangan seperti ini sering disebut sebagai pandangan deterministik atau
Mekanistik. Pandangan mekanistik berpendapat bahwa tingkah laku dapat dijelaskan seluruhnya
oleh kejadian yang mendahului perilaku tersebut (antecedant). Asumsi yang mendasari pandangan ini
adalah tingkah laku dapat dikenakan hukum sebab-akibat seperti pada hukum fisika dan prinsipprinsip ilmu pengetahuan alam lainnya.
(8) Beberapa Motif Vs. Banyak Motif, beberapa teoris berpendapat bahwa hanya satu atau dua
konsep motivasi yang diperlukan untuk menjelaskan seluruh tingkah laku. Sebagai contoh adalah
Maslow yang berpendapat bahwa motif aktualisasi diri adalah motif utama yang mendasari semua
tingkah laku manusia. Sementara bagi George Kelly, perkembangan sistem pengetahuan manusialah
2015
6
Teori Kepribadian
Putri R. Wulandari, M.Psi, Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
yang melandasi tingkah laku manusia. Bagi kebanyakan teoris, tingkah laku dipengaruhi oleh lebih
dari satu motif. Namun perbedaan terjadi pada jumlah dari motif-motif tersebut, ada yang
menyebutkan sedikit saja motif, namun juga ada yang menyebutkan banyak sekali motif. Sebagai
contoh adalah Murray yang mendefinisikan 20 kebutuhan dasar manusia dan Allport yang
menyatakan bahwa motivasi manusia jumlahnya tidak terbatas.
(9) Normal Vs. Abnormal, beberapa teoris mengembangkan teori kepribadiannya dengan
mempelajari populasi abnormal atau populasi individu dengan gangguan psikologis. Pandangan ini
berpendapat bahwa mempelajari individu gangguan adalah kunci untuk memahami individu normal.
Dengan mempelajari apa yang abnormal barulah dapat diketahui apa yang disebut sebagai normal.
Sementara teoris lain berfokus mempelajari populasi normal untuk mempelajari kepribadian.
Pandangan ini menganggap bahwa tidak sepatutnya sebuah teori kepribadian yang dikembangkan
dari individu dengan gangguan, digunakan untuk menjelaskan kepribadian individu yang sehat.
Bahwa ada perbedaan kualitas antara orang-orang yang sehat (normal) dan terganggun (abnormal)
Istilah yg berkaitan dgn kata “Kepribadian”
Karakter

suatu
kualitas
atau
sifat
yang
terus-menerus
dan
kekal
yang
dapat
dijadikan
mengidentifikasikan individu.
Watak
Allport, (dalam Suryabrata, 1995 : 2)

Beranggapan bahwa watak (character) dan kepribadian (personality) adalah satu dan sama,
akan tetapi dipandang dari segi yang berlainan.

Jika sso mengadakan penilaian dengan menggunakan norma maka menggunakan istilah
“watak”

Jika tidak memeberikan penilaian, menggambarkan apa adanya maka menggunakan istilah
“kepribadian”
Maka dapat dikatakan seseorang dikatakan mempunyai watak jika sikap, tingkah laku dan
perbuatannya dipandang dari segi norma-norma sosial adalah baik, sedangkan seseorang
dikatakan tidak berwatak jika sikap tingkah laku dan perbuatannya dipandang dari segi normanorma sosial adalah buruk (Suryabrata, 1995)
2015
7
Teori Kepribadian
Putri R. Wulandari, M.Psi, Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Disposisi

Kecenderungan psikofisik individu untuk mereaksi suatu hal.

Satu sikap emosional yang berlangsung terus-menerus

Sikap,
pendirian,
sifat
bawaan,
naluri,
dorongan,
reaksi
yang
terlalu
berkuasa
kecenderungan, kebiasan, dan temperamen.

Digunakan oleh psikolog untuk menerangkan sifat-sifat yang sifatnya terus-menerus, atau
menerangkan kualitas yang menetap & konsekuensi dari tingkah laku.
(Chaplin, 2008 : 142)
Temperamen

Disposisi reaktif seseorang

Temper : kemarahan, sifat, watak, tabiat

Temperamen sinonim dg disposisi

Keseluruhan cara (gaya, sikap) dimana individu bertingkah laku seperti bergantung pd
perubahan-perubahan metabolis yang terus-menerus berlangsung dalam jaringan jasmaniah
(Chaplin, 2008 : 503)
-
Sifat batin yang tetap mempengaruhi perbuatan, perasaan, dan pikiran spt periang, penyedih
(Kamus Bahasa Indonesia, 2002 : 1168)
Sikap

Perbuatan berdasarkan pada pendirian/ keyakinan. Gerak-gerik, perilaku
(Kamus Bahasa Indonesia, 2002 : 1063)
Sifat

Dasar watak (dibawa sejak lahir); tabiat

Ciri khas yang ada pada sesuatu (untuk membedakan dari yang lain)
(Kamus Bahasa Indonesia, 2002 : 1062) \
-
respon yang senada (sama) terhadap sekelompok stimuli yang mirip, berlangsung dalam
kurun waktu yang (relatif) lama.
Tipe/ciri
aspek yang yang mengkategorikan manusia menjadi beberapa jenis model atau jenis tingkah laku.
2015
8
Teori Kepribadian
Putri R. Wulandari, M.Psi, Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Kebiasaan / habit
respon yang sama untuk stimulus yang sama pula dan cenderung berulan
Hakikat Kepribadian

Kepribadian bersifat dinamis, artinya kepribadian itu adalah sesuatu yang berubah &
berkembang membentuk suatu sikap & tindakan ttn.

Perubahan sesuai dg waktu & pengalaman yang dilalui.
Contoh : Seseorang yg plin-plan mjd seorang yg teguh pendirian  ia belajar bhw bersikap plin-plan
membuat kesulitan dalam hidup sehingga ia mengubah sikap
Kepribadian yang sehat
1.
Mampu menilai diri sendiri secara realistis, apa adanya ttg kelebihan & kekurangan fisik,
keterampilan, dsb.
2. Mampu menilai situasi secara realistis, dpt menghadapi situasi/ kondisi kehidupan yg dialami
secara wajar, tdk mengharap kondisi kehidupan yg terlalu sempurna
3. Mampu menilai prestasi yang diraih secara realistik, menilai, mereaksi prestasi
secara
rasional  tdk mjd sombong.
4. Menerima tanggung jawab keyakinan untuk mengatasi masalah kehidupan
5. Dapat mengontrol emosi, menghadapi situasi frustasi, depresi atau tres scr positif
6. Memiliki sifat kemandirian : dlm cara berpikir, bertindak, membuat keputusan, menyesuaikan
diri dg norma.
7. Berorientasi tujuan, merumuskan tujuan yg matang dlm setiap aktivitas, dg cara
mengembangkan kepribadian, pengetahuan, keterampilan.
8. Berorientasi keluar, memiliki kepedulian dg masalah lingkungan.
9. Penerimaan sosial, mau berhubungan dg orang lain & memiliki sikap bersahabat.
10. Memiliki falsafah hidup yg berasal dari keyakinannya.
11. Berbahagia, suasana kehidupan diwarnai dg kebahagiaan yg didukung faktor prestasi & kasih
sayang.
Kepribadian yang tidak sehat
1.
2015
Mudah marah/ tersinggung
9
Teori Kepribadian
Putri R. Wulandari, M.Psi, Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2. Khawatir dan cemas
3. Merasa tertekan (stres/ depresi)
4. Bersikap kejam
5. Ketidakmampuan utk menghindar dari perilaku yg menyimpang meskipun sdh dihukum
6. Kebiasaan berbohong
7. Hiperaktif
8. Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
9. Senang mengkritik/ mencemooh orang lain
10. Sulit tidur.
11. Kurang memiliki rasa tanggungjwb
12. Sering mengalami pusing kepala
13. Kurang mematuhi ajaran agama
14. Pesimis menghadapi kehidupan
15. Kurang bergairah & bermuram menghadapi kehidupan
Paradigma Psikologi
1. Aliran psikoanalisa : mengabaikan potensi – potensi yang ada pada diri manusia, melihat dari sisi
negatif individu, alam bawah sadar, mimpi dan masa lalu.
2. Aliran behaviorisme : mengabaikan potensi – potensi yang ada pada diri manusia, menusia di
perlakukan sebagai mesin yang artinya manusia sebagai satu sistem kompleks yang bertingkah laku
menurut cara yang sesuai hukum.
3. Aliran humanistik : tidak mengabaikan potensi – potensi yang ada pada diri manusia, percaya pada
kodrat individu, artinya individu pasti dapat dan harus mengatasi masa lampau atau psikoanalisis,
secara kodrat biologis dan lingkungan.
5. Aliran transpersonal
Psikologi kepribadian awalnya bukanlah ilmu yang scientific
1.
Prenology ( Bentuk tengkorak )
Bahwa ada hubungan dengan otak yang ada didalamnya. Tengkorak yang besar tentu berisi otak
yang banyak, otak yang banyak tentu berat. Otak yang berat tentu dapat menyelesaikan hal - hal
yang berat , adalah orang yang pandai dan sebaliknya, bahwa tengkorak yang kecil , orangnya tentu
tidak begitu pandai.
2. Grafology ( Tulsan tangan )
Bahwa ada hubungan antara tulisan tangan dengan watak penulisnya
2015
10
Teori Kepribadian
Putri R. Wulandari, M.Psi, Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
3. Astronomy ( Ilmu perbintangan )
Pendapat yang menghubungkan tata bintang dengan dengan musim, bernama astronomi, dalam
hubungannya dengan watak orang yang dilahirkan pada musim itu (astrolog)
4. Psyognomy ( Ilmu wajah )
Menerangkan bahwa wajah yang bulat menandakan orang yang sabar, lembut dan tenang. Sedang
wajah yang bulat panjang, orangnya tentu lincah, banyak cakap , periang dan sebagainya
5. Chirology / Palmistry ( Ilmu gurat tangan )
Mengajarkan bahwa gurat tangan ada hubungannya dengan nasib orangny
6. Tipologi
Tipologi menurut ilmu Psikologi terdiri dari 2 komponen, yaitu :
a. Sifat atau karakter yang dibentuk oleh faktor lingkungan, misalnya : malas, rajin, usil, tertutup,
terbuka
b. Watak atau disebut juga temperamen, dibentuk oleh faktor genetika, misalnya kebanyakan orang
yang
berasal dari luar pulau wataknya keras dan pemarah.
Ada 2 aliran yang membedakannya, yaitu aliran
NATURALISME dan NATIVISME
 Tokoh Schoupenhour dari aliran Naturalisme mengatakan bahwa segala yang suci ada
ditangan Tuhan, namun segala yang rusak ditangan manusia,  faktor lingkungan lebih
kuat daripada faktor bawaan
 sedangkan J.J.Rousseau dari aliran Nativisme berpedapat bahwa faktor bawaan lebih kuat
daripada faktor luar.
Contoh parapsikologi/ilmu psikologi yang tidak scientific
1. Empodacles – unsur kehidupan
2. Hipokrates – sanguin, melankolis, plegmatis, koleris
Empedokles
2015
11
Hipokrates
Teori Kepribadian
Putri R. Wulandari, M.Psi, Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Unsur
dominan
tipologi
sifat
Api
darah
Sanguin
Panas
Bakat/handal
–
ekspansif,
Salesman,
Guru,
Pidato,
Lincah, Riang, Optimis,
berpeluang menjadi seorang
Mudah tersenyum, Tidak
pemimpin
putus asa, Mudah marah,
Sensasi,
Cepat
jatuh
cinta dan melupakannya.
Limpa/
Udara
Tenang, Dingin, Sabar,
Akuntan, Diplomat, Peneliti
kelenjar
Tak mudah perpengaruh,
dan sebagainya
hati / lendir
tidak mudah tersenyum,
Plegmatis
sombong, Teliti
Tanah
Empedu
Choleric
Garang,
Lekas
marah,
Tersinggung,
kuning
Pemimpin,
Pendendam,
banyak,
sesuatu
Hobinya
Penjahat,
Memperalat orang
Melakukan
yang
selalu
menguntungkan
untuk
dirinya
Produser, Eksekutif, Jendral,
sendiri,
Kurang
mempunyai karya seni,
Emosi kuat, Serius
Empedu
Air
Melankolis
hitam
Kaku, Muram, Penakut,
Seniman, musikus, penemu,
Pesimis,
filsafat
Membiarkan
perbuatan jahat, Pasrah.
3. Plato – tiga fungsi jiwa dari pembagian bagian tubuh
Plato membedakan 3 fungsi jiwa, yaitu :
1. Pikiran yang berkedudukan dalam kepala Bahwa pikiran itu sumber kebijaksanaan.
 Berpikir - Otak - Logisticon
2. Kemauan, berkedudukan dalam dada Bahwa kemauan itu sumber keberanian 
Berkehendak - Dada - Thumeticon
3. Perasaan, berkedudukan dalam tubuh bagian bawah Bahwa sumber kekuatan
menahan hawa nafsu. Berkeinginan  Perut  Abdomen
2015
12
Teori Kepribadian
Putri R. Wulandari, M.Psi, Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
4. WH Sheldon – tipe bentuk tubuh manusia
Tipologi
Ciri-ciri
Sifat
Endomorph,
Gemuk, Lembut, Berat badan
Orang yang relaks, Suka hiburan,
kurang, artinya orang tersebut
Gemar makan – makan, tidur nyenyak,
kelihatannya gemuk tetapi setelah
butuh orang lain saat menghadapi
ditimbang
kesukaran
berat
badan
yang
dimiliki kurang.
Kuat, Kokoh , Tahan sakit
Mesomorph
Gagah, Perkasa, Aktif, Terus terang,
Suara lantang, Dewasa menghadapi
kesukaran, Butuh gerakan tertentu.
Ectomorph
Jangkung, Dada pipih, Lemah,
Sikap ragu – ragu, Reaksi cepat,
Otot tidak kelihatan
Menarik diri, Kurang berani berbicara
dengan orang banyak, Mempunyai
kebiasaan tetap, Suara kurang bebas,
Tidur kurang nyenyak, Awet muda ,
Menyendiri
5. E. Spranger – 6 nilai kebudayaan
Tipologi
Sifat
Tipe ekonomi
senang bekerja, Senang mengumpulkan harta, Agak kikir, Bangga dengan
hartanya
Tipe politik
Ingin berkuasa, Tidak ingin kaya, Berusaha menguasai orang lain, Kurang
mencintai kebenaran.
Tipe sosial
Senang berkorban, Senang mengabdi kepada Tuhan,
masyarakat dan,Pandai bergaul
2015
13
Teori Kepribadian
Putri R. Wulandari, M.Psi, Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Mencintai
Manusia pengetahuan
Senang membaca, Gemar berfikir dan belajar, Tidak ingin kaya, Ingin serba
tahu
Manusia seni
Hidup bersahaja, Senang menikmati keindahan, Gemar mencipta, Mudah
bergaul dengan siapa saja.
Manusia agama
Hidupnya hanya untuk Tuhan dan akherat, Senang memuja, Kurang
senang harta, Senang menolong orang lain.
Daftar Pustaka
Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press
Boeree, C.G. (2005). Personality theories (cetakan ke II). Yogyakarta: Primashopie
Feist, J., & Fiest, G. J. (2009). Theories of Personality (7th ed). New York: MGraw-Hill
Hall, C. S., Lindzey, G., Leohlin, J. C., Manosevitz, M., & Locke, V. O. (1985). Introduction to theories
of personality. Singapore: John Wiley & Sons, Inc.
Schultz, D.P., & Schultz, S.E. (2009). Theories of Personality (9th edition). Belmont, CA:
Wasdworth/Cengange Learning
2015
14
Teori Kepribadian
Putri R. Wulandari, M.Psi, Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download