201311458 – Novya Tiara Suhartini

advertisement
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat serta hidayah-Nya sehingga saya bisa
menyelesaikan tugas makalah ini tepat waktu.
Makalah yang berjudul “Ekonomi Makro di Era Reformasi di Indonesia” diharapkan dapat
memperdalam dan menambah informasi tentang perkembangan kebijakan-kebijakan ekonomi
makro di negara Indonesia dan masalah ekonomi yang sering terjadi pada masa reformasi.
Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini sehingga hambatan yang saya temui dalam pembuatan makalah ini bisa
teratasi. Terima kasih saya ucapkan terutama kepada ibu Lia Amalia selaku dosen mata kuliah
makroekonomi yang terus membimbing saya.
Saya sadari bahwa makalah ini belum sempurna dikarenakan keterbatasan teori dan praktek.
Oleh karenanya kritik dan saran yang positif sangat saya harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Semoga Allah SWT selalu meridhai kita dan semoga makalah ini bisa bermanfaat untuk
kita. Aamiin.
1
DAFTAR ISI
Bab
Halaman
Kata Pengantar ___________________________________________________________1
Daftar Isi ________________________________________________________________2
I.
Pendahuluan _____________________________________________________________3
1.1. Latar Belakang ________________________________________________________3
1.2. Rumusan Masalah ______________________________________________________3
1.3. Identifikasi Masalah ____________________________________________________4
1.4. Tujuan _______________________________________________________________4
II. Tinjauan Teori ____________________________________________________________5
2.1. Teori Ekonomi Makro __________________________________________________5
2.1.1. Teori Ekonomi Klasik_______________________________________________5
2.1.2. Teori Ekonomi Neo-Klasik___________________________________________6
2.2. Ekonomi Makro Di Indonesia_____________________________________________7
2.2.1. Kondisi Perekonomian Indonesia Sebelum Reformasi _____________________7
2.2.2. Sejarah Perekonomian Indonesia Era Reformasi Dan Kebijakan Yang Diambil __8
III. Implikasi Judul ___________________________________________________________15
IV. Kesimpulan dan Saran _____________________________________________________15
V. Daftar Pustaka ____________________________________________________________16
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ilmu ekonomi merupakan ilmu yang tidak lepas dengan aktivitas manusia karena selalu
berkaitan dengan aktivitas produksi, distribusi dan konsumsi. Analisis dasar dalam ilmu ekonomi
dibedakan menjadi dua yaitu mikroekonomi dan makroekonomi.
Makroekonomi mempelajari variabel-variabel ekonomi secara global baik dari ruang
lingkup maupun titik fokus analisisnya seperti perubahan keseluruhan kegiatan ekonomi, investasi
total, pengeluaran konsumsi nasional dan tabungan masyarakat.
Analisa mengenai penentuan tingkat kegiatan yang dicapai suatu perekonomian merupakan
bagian terpenting dari analisa makroekonomi. Analisa tersebut menunjukkan bagaimana permintaan
agregat dan penawaran agregat akan menentukan tingkat kegiatan suatu perekonomian dalam suatu
periode tertentu dan pendapatan nasional atau produksi nasional yang tercipta.
Pertumbuhan ekonomi di Indonesia sendiri mengalami fluktuasi dari berbagai era. Seperti
tahun 1997 nilai rupiah terhadap dollar Amerika semakin menurun sehingga berimbas pada
merosotnya perekonomian Indonesia.
Daya beli menjadi rendah dan sejalan dengan itu pemerintah harus menanggung beban
keuangan yang besar. Krisis ekonomi yang melanda menjadi salah satu faktor pendorong lahirnya
gerakan reformasi.
1.2 Rumusan Masalah
Melihat latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah yaitu :
1. Bagaiman keadaan perekonomian Indonesia pada masa sebelum reformasi?
2. Bagaimana sejarah perekonomian Indonesia di era reformasi dan apa saja kebijakankebijakan yang ditempuh untuk mengatasi permasalahan ekonomi di era reformasi?
3
1.3 Identifikasi Masalah
2. Hutang Luar Negeri
Pemerintah tidak memiliki mekanisme pengawasan terhadap hutang yang dibuat oleh
sektor swasta yang umumnya berjangka pendek. Hal ini diperburuk oleh menteri di bidang
ekonomi maupun masyarakat yang cenderung mengabaikan dalam menghadapi besarnya
dan persyaratan hutang swasta tersebut
3. Lemahnya System Perbankan Indonesia
Mekanisme pengawasan dan pengendalian pemerintah tidak efektif khususnya dalam
kasus peminjaman ke kelompok bisnisnya sendiri, konsentrasi pinjaman pada pihak tertentu
dan pelanggaran kriteria layak kredit.
4. System Pemerintahan Sentralistik
System pemerintahan Orde Baru sangat sentralistik sehingga semua kebijakan
ditentukan dari Jakarta. Begitu krisis menghantam, maka kemampuan kelembagaan
pemerintah berkurang untuk bertindak cepat, adil dan efektif.
5. Perkembangan Situasi Politik
Kegagalan dalam mengembalikan stabilitas sosial telah mempersulit kinerja ekonomi
dalam mencapai momentum pemulihan secara mantap dan berkesinambungan.
1.4 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui keadaan perekonomian di Indonesia pada masa sebelum reformasi
2. Untuk mengetahui sejarah perekonomian Indonesia era reformasi dan kebijakan – kebijakan
yang diambil untuk mengatasi permasalahan ekonomi yang terjadi.
4
BAB II
TNJAUAN TEORI
2.1. Teori Ekonomi Makro
2.1.1.
Teori Ekonomi Klasik
Dalam pemikiran kaum klasik, perekonomian makro akan tumbuh dan
berkembang apabila perekonomian diserahkan kepada pasar. Peran pemerintah terbatas
kepada
masalah
penegakan
hukum,
menjaga
keamanan
dan
pembangunan
infrastruktur.
Jean Baptiste Say (1767-1832) berpendapat supply creates its own demand
sehingga tidak akan ada kelebihan produksi. Adam Smith (1723-1790) juga
berpendapat bahwa ada invisible hands yang akan membimbing individu untuk
mempromosikan kepentingan masyarakat.
Washington Consensus berpendapat bahwa peran pemerintah di dalam
pembangunan harus lebih dititikberatkan kepada penertiban APBN dan pemanfaatan
kekuatan pasar. Peran pemerintah dalam pembangunan harus dibatasi dan berorientasi
kepada pembangunan infrastruktur, kesehatan dan pendidikan. Campur tangan
pemerintah yang berkelebihan dalam perencanaan pembangunan dikhawatirkan
menimbulkan Government Failure seperti birokrasi yang berlebihan, KKN dan lain
sebagainya.
Membatasi APBN dapat mengurangi defisit karena akan menimbulkan
ketidakstabilan di dalam ekonomi. Pemanfaatan kekuatan pasar yaitu mengembangkan
pasar yang efisien, bebas dari monopoli, oligopoli, dan eksternal disekonomis. Oleh
karena itu kebijakan harus bersifat Market Friendly. Suku bunga dan nilai tukar asing
harus ditentukan oleh pasar. Harga yang dibentuk pasar dianggap sebagai harga yang
sebenarnya. Pasar dianggap lebih efisien daripada pemerintah yang menggarap sektor
perekonomian sehingga perekonomian lebih optimal.
Adam Smith dalam buku “The Wealth of Nations” lebih jauh menjelaskan harga
pasaran dapat berbeda dengan harga alami di mana akan menyesuaikan dengan
5
keadaan penawaran dan permintaan atas barang yang bersangkutan. Demikian pula
atas dasar pertimbangan tertentu, adanya peraturan pemerintah yang dapat
menghalangi penyesuaian harga alami dengan harga pasaran.
2.1.2. Teori Ekonomi Neo-Klasik
Alfred Marshall (1842-1924) berpendapat bahwa selain faktor biaya, harga juga
dibentuk oleh unsur subjektif lainnya, baik dari pihak konsumen maupun produsen.
Unsur subjektif dari pihak produsen misalnya
keadaan keuangan perusahaan.
Sedangkan unsur subjektif dari pihak konsumen misalnya pendapatan (dayabeli).
Nilai dan harga barang dipasar dipengaruhi oleh konsumen maupun produsen.
Permintaan bersumber pada marginal utility yang ditentukan oleh penilaian subjektif
konsumen. Hal itu tercermin pada harga permintaan (demand price) dipasar yang
ditentukan oleh konsumen. Demand price tersebut terletak pada suatu tingkat harga
tertentu. Pada tingkat harga tertentu itu, barangnya akan diminta dalam sejumlah
tertentu oleh pihak pembeli.
Teori Ekonomi Neo-Klasik mengenai perkembangan ekonomi menganggap:
1.
Akumulasi modal merupakan faktor penting dalam perkembangan ekonomi
2.
Perkembangan itu merupakan proses yang gradual
3. Perkembangan merupakan proses yang harmonis dan kumulatif
4. Aliran ekonomi Neo Klasik optimis terhadap perkembangan ekonomi
5. Adanya aspek international dalam perkembangan tersebut.
Dalam perspektif teori ekonomi Neo-Klasik, akumulasi modal berkaitan dengan
tingkat bunga dan tingkat pendapatan. Dengan tingkat bunga yang rendah, maka akan
menentukan tingginya tingkat investasi dan mendorong aktivitas ekonomi produktif
meningkat,
yang
pada
gilirannya
akan
mampu
meningkatkan
pendapatan.
Perkembangan ekonomi yang demikian berproses secara gradual dan berkelanjutan.
Dari perspektif yang lain, teori ekonomi
Neo-Klasik optimis bahwa
perkembangan ekonomi tidak akan berhenti karena terbatasnya SDA karena ada
kemampuan manusia untuk mengatasi terbatasnya pertumbuhan itu, sehingga berbeda
6
dengan pandangan teori ekonomi klasik bahwa pertumbuhan ekonomi akan terhenti
karena keterbatasan SDA.
Kemudian Blinder dan Fischer (1981 dalam Zijp,1990) menggunakan
penyesuaian bertahap dari stok barang untuk mencapai suatu model Neo-Klasik yang
menghasilkan siklus bisnis. Dalam konteks tersebut diperkenalkan istilah efek
kapasitas. Mereka menyatakan bahwa pada awalnya investasi akan meningkat tajam
setelah shock, akan tetapi sesudah itu menurun secara bertahap. Hal ini disebabkan,
perusahaan tidak dapat mengurangi secara drastis kapasitas terpasang dari produksi
yang telah ada.
Namun, hal ini tidak sesuai dengan bukti-bukti empiris yang menunjukkan bahwa
investasi dan output meningkat selama beberapa periode sebelum menurun. Dua
penjelasan dapat diberikan untuk ini. Pertama, lag informasi mungkin lebih dari satu
periode. Kedua, proyek investasi melibatkan perencanaan, sehingga terdapat lag yang
panjang dari perencanaan untuk meningkatkan stok kapital sampai ketika kapital baru
tersebut mulai berproduksi.
2.2. Ekonomi Makro di Indonesia
2.2.1. Kondisi Perekonomian Sebelum Reformasi
Indonesia berada pada masa Orde Baru dimana Presiden Soeharto berhasil
membenahi perekonomian Indonesia yang sempat terpuruk. Soeharto menekan
inflasi dari 650% menjadi di bawah 15%. Karena inflasi yang rendah ini, kreditur
asing tertarik meminjamkan modalnya termasuk IMF dan Bank Dunia.
Banyak perusahaan Indonesia meminjam dollar Amerika. Kemudian ketika
rupiah menguat terhadap dollar, level efektivitas hutang mereka dan biaya financial
telah berkurang. Saat Thailand mengambangkan Baht di bulan Juli 1997, Ototritas
Moneter Indonesia melebarkan jalur perdagangan dari 8% ke 12% dan rupiah mulai
terserang kuat di Agustus. IMF memberi bantuan sebesar 23 miliar dollar namun
rupiah jatuh lebih dalam lagi karena ketakutan dari hutang perusahaan, penjualan
7
rupiah dan permintaan dollar yang kuat. Rupiah dan Bursa Saham Jakarta mencapai
titik terendah pada September.
2.2.2. Sejarah Perekonomian Indonesia Era Reformasi dan Kebijakan yang Diambil
Pada masa krisis ekonomi ditandai dengan tumbangnya pemerintahan Orde
Baru kemudian disusul dengan era Reformasi yang dimulai oleh pemerintahan
Presiden Habibie. Pada masa ini tidak hanya hal ketatanegaraan yang mengalami
perubahan, namun juga kebijakan ekonomi.
1. Masa kepemimpinan B.J. Habibie
Masa kepimpinan Habibie dimulai dengan kerjasama dengan Dana Moneter
Internasional untuk membantu proses pemulihan ekonomi. Selain itu Habibie juga
melonggarkan pengawasan terhadap media massa dan kebebasan berekspresi.
Di bidang ekonomi ia berhasil memotong nilai tukar rupiah terhadap dollar hingga
level Rp 6.500,00 per dollar AS. Ia juga memulai menerapkan independensi Bank
Indonesia agar lebih fokus mengurusi perekonomian.
Untuk menyelesaikan krisis moneter dan perbaikan ekonomi Indonesia, BJ
Habibie melakukan langkah-langkah berikut:

Melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan melalui pembentukan BPPN
(Badan Penyehatan Perbankan Nasional) dan unit Pengelola Aset Negara

Melikuidasi beberapa bank yang bermasalah

Menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga di bawah Rp. 10.000,00

Membentuk lembaga pemantau dan penyelesaian masalah utang luar negeri

Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang disyaratkan IMF

Mengesahkan UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan
Persaingan yang Tidak Sehat

Mengesahkan UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
2. Masa kepimpinan K.H. Abdurrahman Wahid
8
Kondisi perekonomian Indonesia mulai menunjukkan adanya perbaikan. Laju
pertumbuhan PDB mulai positif walaupun tidak jauh dari 0% dan pada tahun 2000
proses pemulihan perekonomian Indonesia jauh lebih baik lagi dengan laju
pertumbuhan hampir mencapai 5%. Selain pertumbuhan PDB, laju inflasi dan tingkat
suku bunga (SBI) juga rendah yang mencerminkan kondisi moneter dalam negeri
sudah mulai stabil.
Namun praktek KKN semakin intensif. Hubungan pemerintah Indonesia
dibawah pimpinan Abdurrahman Wahid dengan IMF juga tidak baik, terutama karena
masalah amandemen UU No. 23 tahun 1999 mengenai Bank Indonesia, Otonomi
daerah terutama kebebasan daerah untuk pinjam uang dari luar negeri dan revisi
APBN 2001 yang terus tertunda pelaksanaannya. Tidak tuntasnya revisi tersebut
mengakibatkan IMF menunda pencairan bantuannya kepada Indonesia. Bahkan Bank
Dunia juga sempat mengancam akan menghentikan pinjaman baru jika kesepakatan
IMF dengan Indonesia macet.
Ketidakstabilan politik dan social yang tidak surut menaikkan tingkat country
risk Indonesia. Hal ini membuat pelaku-pelaku bisnis, termasuk investor asing,
menjadi enggan melakukan kegiatan bisnis atau menanamkan modalnya di Indonesia.
Akibatnya, kondisi perekonomian nasional pada masa pemerintahan reformasi
cenderung lebih buruk. Bahkan, lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investor
Service mengkonfirmasikan bertambah buruknya country risk Indonesia. Meskipun
beberapa indikator ekonomi makro mengalami perbaikan, namun karena kekhawatiran
kondisi politik dan sosial, lembaga rating lainnya (seperti Standard & Poors)
menurunkan prospek jangka panjang Indonesia dari stabil ke negative.
Pemerintah tidak menunjukkan keinginan yang sungguh-sungguh untuk
menyelesaikan krisis ekonomi hingga tuntas dengan prinsip once and for all.
Pemerintah cenderung menyederhanakan krisis ekonomi dewasa ini dengan
menganggap persoalannya hanya terbatas pada agenda masalah amandemen UU Bank
Indonesia, desentralisasi fiskal, restrukturisasi utang, dan divestasi BCA dan Bank
Niaga. Munculnya berbagai kebijakan pemerintah yang controversial dan inkonsistens,
9
termasuk pengenaan bea masuk impor mobil mewah untuk kegiatan KTT G-15 yang
hanya 5% (nominalnya 75%) dan pembebasan pajak atas pinjaman luar negeri dan
hibah, menunjukkan tidak adanya sense of crisis terhadap kondisi riil perekonomian
Negara.
Fenomena makin rumitnya persoalan ekonomi ditunjukkan oleh beberapa
indikator ekonomi. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) antara 30
Maret 2000 hingga 8 Maret 2001 menunjukkan growth trend yang negative. Selama
periode tersebut IHSG merosot hingga lebih dari 300 poin yang disebabkan oleh lebih
besarnya kegiatan penjualan daripada kegiatan pembelian dalam perdagangan saham
di dalam negeri. Hal ini mencerminkan semakin tidak percayanya pelaku bisnis dan
masyarakat terhadap prospek perekonomian Indonesia setidaknya untuk periode
jangka pendek.
Indicator kedua adalah pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Seperti
yang dapat kita lihat pada grafik di bawah ini, pada awal tahun 2000 kurs rupiah
sekitar Rp7.000,- per dolar AS dan pada tanggal 9 Maret 2001 tercatat sebagai hari
bersejarah sebagai awal kejatuhan rupiah, menembus level Rp10.000,- per dolar AS.
Untuk menahan penurunan lebih lanjut, Bank Indonesia secara agresif terus
melakukan intervensi pasar dengan melepas puluhan juta dolar AS per hari melalui
bank-bank pemerintah. Namun, pada tanggal 12 Maret 2001, ketika Istana Presiden
dikepung para demonstran yang menuntut Presiden Soeharto mundur, nilai tukar
rupiah semakin merosot.
Pada bulan April 2001 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menyentuh
Rp12.000,- per dolar AS.
10
Lemah dan tidak stabilnya nilai tukar rupiah tersebut sangat berdampak negatif
terhadap roda perekonomian nasional yang bisa menghambat usaha pemulihan,
bahkan bisa membawa Indonesia ke krisis kedua yang dampaknya lebih besar
daripada krisis pertama. Dampak negatif ini terutama karena dua hal. Pertama,
perekonomian Indonesia masih sangat tergantung pada impor, baik untuk barangbarang modal dan pembantu, komponen dan bahan baku, maupun barang-barang
konsumsi. Kedua, utang luar negeri (ULN) Indonesia dalam nilai dolar AS, baik dari
sektor swasta maupun pemerintah, sangat besar.
3. Masa kepimpinan Megawati Soekarno Putri
Masalah-masalah yang mendesak untuk dipecahkan adalah pemulihan ekonomi
dan penegakan hukum. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi
persoalan-persoalan ekonomi antara lain :

Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar pada pertemuan Paris
Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116.3 triliun.
11

Kebijakan privatisasi BUMN. Kekuatan politik dan mengurangi beban negara. Namun
kebijakan ini memicu banyak kontroversi, karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke
perusahaan asing.

Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi),
tetapi belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi. Padahal keberadaan
korupsi membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di
Indonesia dan mengganggu jalannya pembangunan nasional.
4. Masa kepimpinan Susilo Bambang Yudhoyono 1
Terdapat kebijakan kontroversial yaitu mengurangi subsidi BBM atau
menaikkan harga BBM. Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya harga minyak
dunia. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan,
serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial
kedua, yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebanyakan
BLT tidak sampai ke tangan yang berhak, dan pembagiannya menimbulkan berbagai
masalah sosial. Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita
adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki
iklim investasi. Salah satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit
pada bulan November 2006 lalu yang mempertemukan para investor dengan kepalakepala daerah.
Menurut Keynes, investasi merupakan faktor utama untuk menentukan
kesempatan kerja. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan
untuk memberi kemudahan bagi investor terutama investor asing, yang salah satunya
adalah revisi undang-undang ketenagakerjaan. Jika semakin banyak investasi asing di
Indonesia, diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah.
Selain itu pada periode ini pemerintah melaksanakan beberapa program baru
yang dimaksudkan untuk membantu ekonomi masyarakat kecil diantaranya PNPM
Mandiri dan Jamkesmas.
12
Pada pertengahan bulan Oktober 2006 , Indonesia melunasi seluruh sisa utang
pada IMF sebesar 3,2 miliar dolar AS. Dengan ini, maka diharapkan Indonesia tak lagi
mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negeri. Namun
wacana untuk berhutang lagi pada luar negri kembali mencuat, setelah keluarnya
laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin menajam, dan
jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 jiwa di bulan Februari 2005 menjadi
39,05 juta jiwa pada bulan Maret 200
Hal ini disebabkan karena beberapa hal. Antara lain karena pengucuran kredit
perbankan ke sector riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana
di SBI), sehingga kinerja sector riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi.
Selain itu, birokrasi pemerintahan terlalu kental, sehingga menyebabkan kecilnya
realisasi belanja Negara dan daya serap karena inefisiensi pengelolaan anggaran. Jadi
di satu sisi pemerintah berupaya mengundang investor dari luar negri, tapi di lain
pihak kondisi dalam negeri masih kurang kondusif.
Namun selama masa pemerintahan SBY, perekonomian Indonesia memang
berada pada masa keemasannya. Indikator yang cukup menyita perhatian adalah
inflasi. Sejak tahun 2005-2009, inflasi berhasil ditekan pada single digit. Dari 17,11%
pada tahun 2005 menjadi 6,96% pada tahun 2009. Tagline strategi pembangunan
ekonomi SBY yang berbunyi pro-poor, pro-job, dan pro growth (dan kemudian
ditambahkan dengan pro environment) mendorong pertumbuhan PDB. Diwujudkan
dengan turunnya angka kemiskinan dari 36,1 juta pada tahun 2005, menjadi 31,02 juta
orang pada 2010. Artinya, hampir sebanyak 6 juta orang telah lepas dari jerat
kemiskinan dalam kurun waktu 5 tahun.
Imbas dari pertumbuhan PDB yang berkelanjutan adalah peningkatan
konsumsi masyarakat yang memberikan efek pada peningkatan kapasitas produksi di
sector riil yang tentu saja banyak membuka lapangan kerja baru. Memasuki tahun ke
dua masa jabatannya, SBY hadir dengan terobosan pembangunannya berupa master
plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3 EI). Melalui
langkah MP3EI, percepatan pembangunan ekonomi akan dapat menempatkan
13
Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2025 dengan pendapatan perkapita antara
UsS 14.250-USS 15.500, dengan nilai total perekonomian (PDB) berkisar antara USS
4,0-4,5 triliun.
5.
Masa pemerintahan susilo bambang yudhoyono 2
Pada periode ini, pemerintah khususnya melalui Bank Indonesia menetapkan 4
kebijakaan untk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional Negara yaitu :
1. BI rate
2. Nilai tukar
3. Operasi moneter
4. Kebijakan
makroprudensial
untuk
pengelolaan
likuiditas
dan
makroprudensial lalu lintas modal.
Dengan kebijakan-kebijakan ekonomi diatas, diharapkan pemerintah dapat
meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara yang akan berpengaruh pula pada
meningkatnya kesejahteraan masyarakat Indonesia. Beberapa pengamat ekonomi
bahkan berpendapat kekuatan ekonomi Indonesia sekarang pantas disejajarkan dengan
4 raksasa kekuatan baru perekonomian dunia yang terkenal dengan nama BIRC
(Brazil, Rusia, India, dan China).
Krisis global yang terjadi pada tahun 2008 semakin membuktikan ketangguhan
perekonomian Indonesia. Di saat negara-negara superpower seperti Amerika Serikat
dan Jepang berjatuhan, Indonesia justru mampu mencetak pertumbuhan yang positif
sebesar 4,5% pada tahun 2009.
Gemilangnya fondasi perekonomian Indonesia direspon dunia internasional
dengan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara pilihan tempat berinvestasi.
Dua efeknya yang sangat terasa adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
mencapai rekor tertingginya sepanjang sejarah dengan berhasil menembus angka
3.800.
14
BAB III
IMPLIKASI JUDUL
Ekonomi makro Indonesia Era reformasi dimulai ketika orde baru berakhir. B. J. Habibie
yang mengawali masa reformasi membuat kebijakan yang diutamakan untuk mengendalikan
stabilitas politik. Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid , belum ada tindakan
berarti untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan. Padahal berbagai persoalan ekonomi yang
diwariskan orde baru harus dihadapi, antara lain masalah KKN, pemulihan ekonomi, kinerja
BUMN, pengendalian inflasi, dan mempertahankan kurs rupiah.
Pemerintahan dilanjutkan oleh Megawati Soekarnoputri yang mengalami masalah-masalah
mendesak untuk dipecahkan, yaitu pemulihan ekonomi dan penegakan hukum. Pada masa
kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, terdapat kebijakan kontroversial, yaitu mengurangi
subsidi BBM dan Bantuan Langung Tunai (BLT). Kebijakan untuk meningkatkan pendapatan
perkapita ditempuh dengan cara mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada masa reformasi ini perekonomian Indonesia ditandai dengan adanya krisis moneter
yang berlanjut menjadi krisis ekonomi yang sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda ke
arah pemulihan. Walaupun ada pertumbuhan ekonomi sekitar 6% untuk tahun 1997 dan 5,5% untuk
tahun 1998 dimana inflasi sudah diperhitungkan namun laju inflasi masih cukup tinggi yaitu sekitar
100%. Pada tahun 1998 hampir seluruh sektor mengalami pertumbuhan negatif, hal ini berbeda
dengan kondisi ekonomi tahun 1999.
15
Namun sejak masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, perekonomian Indonesia
mulai membaik. Krisis global tahun 2008 membuktikan ketangguhan perekonomian Indonesia. Di
saat negara-negara superpower seperti Amerika Serikat dan Jepang berjatuhan, Indonesia justru
mampu mencetak pertumbuhan yang positif sebesar 4,5% pada tahun 2009.
Kemajuan perekonomian di era Reformasi ini merupakan suatu bentuk perbaikan di segala
bidang sehingga belum menemukan suatu arah yang jelas. Pembangunan masih tarik-menarik mana
yang harus didahulukan. Namun setidaknya reformasi telah membawa Indonesia untuk menjadi
lebih baik dalam merubah nasibnya.
Saat ini Indonesia sudah mulai berorientasi ke luar dalam hal menjalin kerjasama dengan
dunia luar di bidang ekonomi. Memang pada kenyataannya, apabila Indonesia menerapkan
pembangunan dalam bidang ekonomi yang berorientasi ke luar, hal tersebut bisa merubah tatanan
baru dan menciptakan stabilitas perekonomian di Indonesia, walaupun tidak sepenuhnya stabil
dalam aspek-aspek lainnya.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
http://labuank.blogspot.com
www.bi.go.id
Sukirno Sadono (2011). Teori Pengantar Makroekonomi edisi ketiga.Jakarta: Rajawali Pers
http://heroekaputra.blogspot.com/2010/12/perkembangan-pemikiran-makroekonomi.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_makro
http://speunand.blogspot.com/2011/01/mazhab-neo-klasik.html
http://www.neraca.co.id/article/16213/Mengintip-Perkembangan-IHSG
16
Download