Rekam Medis Alat Bukti Hukum

advertisement
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5(3), Sept 2013
Review Buku
Rekam Medis Alat Bukti Hukum
Tjen D.W1
1
Penulis Buku “Aspek Hukum dan Etika Rumah Sakit jilid Dasar dan Lanjut”, karangan Tjen D.W.
Hp: 08161413650.
Pendahuluan
Rekam medis yang diselenggarakan secara bertanggungjawab, merupakan alat bukti yang sah dan mejadi alat
pembelaan hukum dan pembenaran (justification) bagi
profesi medis, dalam proses pembuktian di pengadilan
atas kasus tuntutan hukum perdata maupun pidana.
Rekam medis dan tanggung-jawab
Pengertian tanggung-jawab terkait dengan tanggung
jawab dalam hubungan hukum atau aspek hukum
penyelenggaraan rekam medis. Walaupun pada
prinsipnya pengelolaan rekam medis dapat dilaksanakan
sesuai dengan organisasi dan tata kerja sarana pelayanan
kesehatan, akan tetapi ada norma hukum yang harus
dipatuhi dalam penyelenggaraan rekam medis. Aspek
hukum rekam medis secara sederhana disampaikan
dalam UU No.29/2004 tentang Praktik Kedokteran pasal
79 poin b : ”Dipidana dengan pidana kurungan paling
lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak
Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), setiap dokter
atau dokter gigi yang dengan sengaja tidak membuat
rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat
(1)”. Aspek hukum di bidang kesehatan adalah segala
kemungkinan seseorang (kepala rumah sakit, tenaga
kesehatan khususnya dokter) atau suatu badan hukum
yang mewakili pemilik rumah sakit, dituntut secara
hukum oleh pasien/keluarnya, karena pasien merasa
dirugikan secara materi atau fisik, yang diakibatkan oleh
pelayanan kesehatan atau tindakan medis, yang diterima
atau diberikan oleh dokter atau dilakukan di fasilitas
pelayanan kesehatan. Walaupun dalam hubungan hukum
belum pernah ada tuntutan secara perdata maupun pidana
yang mempermasalah penyelenggraan rekam medis
secara tunggal kecuali terkait rahasia kedokteran, tetapi
dalam proses pembuktian kasus hukum perdata, pidana,
maupun administrasi di pengadilan, jika terbukti bahwa
dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan tidak
melaksanakan
penyelenggaraan
rekam
medis
sebagaimana diamanatkan dalam kebijakan di bidang
rekam medis (misalnya Permenkes
RI No.
269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis),
maka hukuman yang ditetapkan atas pelanggaran norma
hukum di bidang rekam medis akan memperberat
hukuman atas kasus perdata atau pidana terkait kerugian
yang diderita pasien.
Aspek hukum penyelenggaraan rekam medis
Aspek hukum penyelenggaraan rekam medis terkait
dengan:
1. Pertanggung-jawaban terhadap Rekam Medis
a. Tanggung Jawab Pelayanan Kesehatan atau
Rumah Sakit, terkait dengan tanggung jawab
dalam memelihara rekam medis, dan melindungi
informasi yang ada di dalamnya, terhadap
kemungkinan hilangnya keterangan atau pun
memalsukan data yang ada didalam berkas rekam
medis atau dipergunakan oleh orang yang tidak
berwenang menggunakannya.
b. Tanggung Jawab Dokter, Dokter Gigi dan Tenaga
Kesehatan Yang Merawat adalah terkait dengan
kelengkapan dan kebenaran pengisian rekam
medis.
c. Tanggung Jawab Petugas Rekam Medis, adalah
terkait dengan pelaksanaan penyelenggaraan
rekam medis yang sesuai kebijakan dan peraturan
yang ditetapkan oleh Pemerintah, pimpinan rumah
sakit, staf medik dan berbagai organisasi, misalnya
persatuan profesi yang resmi, serta melakukan
analisa kuantitatif atas kelengkapan formulir dalam
berkas rekam medis dan analisa kuantitatif guna
membantu dokter dalam kegiatan pencatatan dan
pengisian berkas rekam medis yang lengkap dan
akurat.
d. Tanggung Jawab Pimpinan Rumah Sakit adalah
terkait pertanggung-jawaban atas koordinasi dan
penyelenggaraan seluruh kegiatan rekam medis.
e. Tanggung Jawab Staf Medik, adalah mengatur
para anggota staf medik serta membentuk komisi
khusus, misalnya Subkomite Rekam Medis untuk
mengembangkan formulir rekam medis yang
dibutuhkan agar dapat mendukung efektifitas
kegiatan pelayanan medik di rumah sakit.
2. Pemilikan Rekam Medis, adalah terkait dengan isi
rekam medis yang menjadi milik pasien, dalam
bentuk ringkasan atau resume yang harus berisi
ringkasan tentang penemuan-penemuan, kejadian
penting selama pasien menerima pelayanan kesehatan
atau tindakan medis, keadaan saat pulang, saran dan
rencana pengobatan selanjutnya.
3. Kerahasiaan Rekam Medis, adalah terkait dengan
konsep kerahasiaan isi rekam medis dan
pengecualiannya. Informasi apa dan bagi siapa rekam
medis itu dirahasiakan?, Dalam keadaan bagaimana
rekam medis dirahasiakan?
4. Persetujuan Tindakan Medis (Informed Consent),
adalah terkait informasi yang wajib diberikan sebelum
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5(3), Sept 2013
penanda-tanganan Persetujuan Tindakan Medis
(Informed Consent), yang diartikan sebagai
kesepakatan atau perjanjian dalam hubungan hukum
dan dikenal sebagai transaksi terapeutik; (10-16, 27-28)
5. Pemberian Informasi Rekam Medis adalah terkait
dengan prosedur pemberian informasi, informasi yang
dapat diberikan, serta siapa yang berhak menerima
informasi.
6. Rekam Medis di Pengadilan, adalah terkait dengan
setiap informasi di dalam rekam medis yang dapat
dipakai sebagai bukti sah dalam proses pembuktian di
pengadilan, serta pejabat penanggung-jawab terkait
yang berhak menentukan kapan rekam medis dapat
dibawa ke pengadilan.
Penyelenggaraan rekam medis
Tujuan penyelenggaraan rekam medis adalah menunjang
tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya
peningkatan mutu pelayanan kesehatan di fasilitas
pelayanan kesehatan, dan dihasilkannya surveilans data
dan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar
pembuatan laporan dan statistik kesehatan maupun dalam
rangka perencanaan, pengambilan keputusan dan alat
kontrol dan penetapan regulasi atau peraturan di bidang
kesehatan. Dalam artian sederhana rekam medis hanya
merupakan catatan dan dokumen yang berisi tentang
kondisi keadaan pasien, tetapi jika dikaji lebih mendalam
rekam medis mempunyai makna yang lebih kompleks
tidak hanya catatan biasa, karena di dalam catatan
tersebut sudah tercermin segala informasi menyangkut
seorang pasien, yang dapat dijadikan dasar dalam
menentukan tindakan lebih lanjut dalam upaya pelayanan
maupun tindakan medis lainnya kepada seorang pasien
yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan, dan
dibutuhkan peran seluruh pihak terkait serta dukungan
pimpinan, mengingat data dan informasi dari proses
penyelenggaraan rekam medis mampu mewakili tentang
efektifitas dan efisiensi serta luasnya cakupan layanan
kesehatan oleh suatu fasilitas pelayanan kesehatan.
Rekam medis mempunyai kegunaan yang sangat luas,
tidak hanya menyangkut catatan tentang hubungan antara
pasien dengan pemberi/fasilitas pelayanan kesehatan
saja, seperti:
1. Aspek Administrasi, bahwa isi yang terkandung di
dalam berkas rekam medis adalah tentang pelayanan
kesehatan dan tindakan medis yang dilaksanakan
berdasarkan wewenang dan tanggung jawab sebagai
tenaga medis dan paramedis dalam mencapai tujuan
pelayanan kesehatan, sehingga dapat dijadikan
sebagai alat komunikasi diantara para dokter atau
tenaga ahli lainnya yang ikut ambil bagian didalam
proses pemberian pelayanan, pengobatan, dan
perawatan kepada pasien;
2. Aspek Medis, bahwa catatan dalam rekam medis
dapat
dipergunakan
sebagai
dasar
untuk
merencanakan pengobatan/perawatan yang diberikan
kepada seorang pasien, dan dalam rangka
mempertahankan serta meningkatkan mutu pelayanan
3.
4.
5.
6.
7.
melalui kegiatan audit medis, manajemen risiko klinis
serta keamanan/keselamatan pasien dan kendali biaya;
Aspek Hukum, bahwa catatan dalam rekam medis
merupakan bukti tertulis maupun terekam atas segala
tindakan pelayanan, pengobatan dan perkembangan
penyakit selama pasien meneriman pelayanan
kesehatan atau tindakan medis di fasilitas pelyanan
kesehatan, sehingga mampu dijadikan bukti yang sah
dalam rangka memberi jaminan dan kepastian hukum
dalam usaha menegakkan hukum.
Aspek Keuangan, catatan dalam rekam medis
mengandung data/informasi yang dapat dipergunakan
sebagai dasar dalam perhitungan biaya atas pelayanan
kesehatan dan tidakan medis yang diterima oleh
pasien;
Aspek Penelitian, data dan informasi suatu berkas
rekam medis dapat dipergunakan sebagai pendukung
penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan di
bidang kesehatan, khususnya untuk analisis, dan
evaluasi terhadap kualitas pelayanan yang telah
diberikan kepada pasien;
Aspek Pendidikan, data dan informasi suatu berkas
rekam medis yang menyangkut perkembangan dan
kronologis kegiatan pelayanan kesehatan maupun
tindakan medis pasien, dapat dipergunakan sebagai
bahan/referensi pengajaran di bidang profesi
kesehatan; dan
Aspek Dokumentasi, dokumentasi data dan informasi
suatu berkas rekam medis dapat menjadi sumber
ingatan dan dipakai sebagai bahan pertanggung
jawaban serta laporan fasilitas pelayanan kesehatan.
Penyelenggaraan rekam medis yang bertanggung jawab
terkait dengan mutu rekam medis, yang dapat diukur
berdasarkan indikator:
1. Akurat, yaitu rekam medis yang mampu
menggambarkan proses dan hasil akhir produk
pelayanan kesehatan, dan ukurannya adalah ketepatan
catatan rekam medis yang harus memuat semua data
pasien, dan diisi/ditulis dengan teliti, cermat, seksama
dan benar atau sesuai keadaan pasien yang
sesungguhnya, serta sesuai norma hukum di bidang
rekam medis, urutan dalam standar prosedur
operasional, kewajiban/standar profesi, dan kebutuhan
medis pasien termasuk menjaga rahasia kedokteran;
2. Lengkap, yaitu rekam medis yang sesuai dengan
ketentuan isi rekam medis dan jenis pelayanan yang
diberikan; kelengkapan rekam medis juga mencakup
seluruh kekhususan pasien dan sistem yang
dibutuhkan
dalam
rangka
analisis
hasil
penyelenggaraan rekam medis terkait ukuran
kelengkapannya;
3. Terpercaya, yaitu rekam medis yang dilaksanakan
secara bertanggung jawab oleh para pihak yang
terkait, sesuai pedoman/norma hukum/kebijakan di
bidang rekam medis, sehingga dapat digunakan untuk
berbagai kepentingan khususnya sebagai alat bukti
dan pembelaan bagi dokter dan fasilitas pelayanan
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5(3), Sept 2013
kesehatan di pengadilan, bila terjadi peristiwa hukum
dalam pelayanan kesehatan. Setiap catatan rekam
medis harus dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan
petugas yang memberikan pelayanan atau tindakan.
Apabila dalam pencatatan rekam medis menggunakan
teknologi informasi elektronik, kewajiban membubuhi
tanda tangan dapat diganti dengan menggunakan
nomor identitas pribadi (personal identification
number);
4. Valid atau sah, yaitu rekam medis yang dan sesuai
dengan gambaran proses pelayanan dan produk akhir
hasil dapat diukur berdasarkan norma hukum atau
kebijakan di bidang rekam medis, sehingga mampu
menjadi alat bukti hukum yang sah dan diakui dalam
proses pengadilan jika terjadi peristiwa hukum.
Dalam hal terjadi kesalahan dalam melakukan
pencatatan pada rekam medis, berkas dan catatan
tidak boleh dihilangkan atau dihapus dengan cara apa
pun. Perubahan catatan atau kesalahan dalam rekam
medis hanya dapat dilakukan dengan pencoretan dan
dibubuhi paraf petugas yang bersangkutan, dan bahwa
rekam medis telah disimpan dan dijaga
kerahasiaannya oleh dokter atau dokter gigi dan
pimpinan sarana pelayanan kesehatan; dan
5. Tepat waktu, yaitu rekam medis segera dilengkapi
setelah pasien selesai menerima pelayanan kesehatan
atau tindakan medis, sehingga mampu mendukung
pengolahan, pelaporan, serta surveilans data dan
informasi kesehatan.
Rekam Medis dan Pembelaan Profesi Medis
Rekam Medis yang diselenggarakan secara bertanggungjawab oleh semua pihak yang terlibat, dapat dijadikan
alat bukti hukum yang sah, selain itu rekam medis juga
dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembelaan bagi
profesi medis/rumah sakit jika terjadi berbagai masalah
gugatan hukum perdata maupun pidana.
1. Dari sudut pembuktian hukum perdata di pengadilan
terkait kesalahan di bidang kesehatan:
a. Yang diutamakan dalam proses pembuktian
perkara perdata di pengadilan adalah kebenaran
formil, artinya
pembuktian yang hanya
memerlukan bukti-bukti tertulis;
b. Pihak manapun yang dapat membuktikan dalildalil kebenaran dalam persidangan secara formil,
maka orang yang bersangkutanlah yang
dimenangkan oleh pengadilan.
c. Rekam medis mempunyai kedudukan yang kuat
untuk dijadikan bukti tertulis untuk pembelaan di
hadapan hukum, keseluruhan atau sebagian dari
informasinya dapat dijadikan bukti untuk
mendukung upaya pembelaan bagi rumah sakit dan
tenaga kesehatan khususnya dokter.
d. Gugatan perdata terkait dengan perbuatan
melanggar hukum dan ganti rugi, karena adanya
unsur kesalahan/kelalaian ringan yang dilakukan
dokter, dan perbuatan dokter menjadi penyebab
langsung atas terjadinya kerugian/cedera ringan
yang diderita pasien.
2. Dari sudut pembuktian hukum pidana di pengadilan
terkait kesalahan di bidang kesehatan:
a. Yang diutamakan dalam proses pembuktian
perkara pidana di pengadilan adalah kebenaran
materiil atau kebenaran sesungguhnya, artinya
pembuktian tidak hanya memerlukan bukti-bukti
tertulis tetapi harus dikuatkan oleh saksi ahli;
b. Seperti pada pembuktian kasus perdata, maka
keseluruhan atau sebagian dari informasinya dapat
dijadikan bukti untuk mendukung upaya
pembelaan bagi rumah sakit dan tenaga kesehatan
khususnya dokter;
c. Saksi ahli dalam memberikan kesaksian selain
harus jujur karena disumpah, juga harus dapat
membuktikan bahwa kesaksiannya tersebut
beralasan secara keilmuan dan dapat dibuktikan
dengan adanya keseluruhan atau sebagian dari
informasi di dalam rekam medis pasien terkait;
d. Alat-alat bukti berupa rekam medis dan kesaksian
saksi ahli yang sudah disumpah akan menjadi
bahan pertimbangan hakim, dalam memutuskan
kasus
atas
gugatan
ada
tidaknya
kesalahan/kelalaian dokter;
e. Gugatan
atas
perbuatan
pidana,
karena
kesalahan/kelalaian yang diperkuat dengan adanya
unsur kesengajaan dan kehendak dari dokter,
maupaun
kelalaian
karena
dokter
tidak
mempersiapkan
segala
sesuatu
untuk
mengantisipasi risiko yang sudah dapat
diperhitungkan akan terjadi/timbul dengan
tindakannya tersebut, sehingga menyebabkan
pasien menderita cedera serius atau fatal bahkan
sampai menyebabkan cacat atau meninggal;
3. Untuk melakukan gugatan terhadap dokter, baik
gugatan perdata maupun pidana harus memenuhi
persyaratan yang sudah diatur dalam KUHAP maupun
KUHAPER, selain itu para hakim dalam memutus
perkara.
4. Hakim dapat mempertimbangkan fakta-fakta dan
bukti yang ada maupun keterangan saksi ahli, sebagai
alasan-alasan yang dapat meniadakan kesalahan
dalam bentuk alasan pembenar maupun menjadi
alasan pemaaf atas kesalahan yang terjadi
berdasarkan teori dan ajaran dalam bentuk
jurisprudensi maupun literatur yang dapat
dibuktikan kebenaran dan relevansinya dengan
kasus terkait berdasarkan pertimbangan moral
bahwa cedera yang terjadi pada pasien umumnya
terjadi akibat kelalaian dan jarang terjadi karena
kesengajaan/kehendak dokter (walaupun tidak
menutup kemungkinan ada) maupun pertimbangan
hukum yang dinyatakan bahwa Dokter atau dokter
gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran
mempunyai hak memperoleh perlindungan hukum
sepanjang melaksanakan tugas dan kewajibannya
Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5(3), Sept 2013
sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur
operasional.
Syarat Hukum Rekam Medis
Rekam medis yang dapat dibawa ke pengadilan harus
memenuhi syarat hukum, yaitu:
1. Rekam medis tidak ditulis dengan pensil;
2. Tidak ada penghapusan;
3. Coretan, ralat hanya dapat dilakukan pada saat itu
juga dan diberi paraf;
4. Tulisan jelas dan terbaca;
5. Ada tanda tangan dan nama petugas;
6. Ada tanggal dan waktu pemeriksaan maupun
tindakan;
7. Ada lembar persetujuan tindakan medis;
Kesimpulan
Kewajiban dokter dan dokter gigi dalam melaksanakan
praktek kedokteran, seperti diatur dalam pasal 51 UU
No.29/2004 adalah terkait pengisian rekam medis yang
harus sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur
operasional serta kebutuhan medis pasien, menjaga
rahasia kedokteran dan memberikan pelayanan selalu
mengacu pada etika kedokteran yang berlaku. Dengan
adanya norma hukum yang mengatur rekam medis dan
perlindungan hukum untuk rumah sakit maupun tenaga
kesehatan sesuai profesinya khususnya dokter, maka
rekam medis mempunyai kedudukan yang kuat, untuk
dijadikan sebagai alat bukti tertulis di hadapan hukum,
khususnya pada kasus gugatan hukum di bidang
kesehatan. Oleh karena itu keseluruhan atau sebagian
dari informasinya dapat dijadikan bukti yang memenuhi
persyaratan dan karenanya rekam medis harus dijaga
kerapihan, kebersihan dan kerahasiaannnya. Apabila di
kemudian hari terjadi suatu tuntutan dugaan malpraktik
medis terhadap dokter dan rumah sakit, maka dalam
proses pembuktian rekam medis dan Persetujuan
Tindakan Medis/ Informed Consent yang dilaksanakan
secara bertanggung jawab dapat dijadikan bukti
pembenaran di pengadilan terhadap tindakan yang telah
kita lakukan.
Mengingat pasien dapat menuntut ganti rugi terhadap
seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau penyelenggara
kesehatan, maka aspek hukum di bidang rekam medis
harus dijadikan rambu-rambu hukum bagi para pihak
yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam
penyelenggaraan atau pengelolaan rekam medis di
fasilitas bidang kesehatan, dikatakan tidak langsung
karena pimpinan rumah sakit dapat dimintakan
pertanggung-jwabannya secara hukum atas segala
kejadian di rumah sakit atau kesalahan dan kelalaian
personilnya yang telah menyebabkan pasien/keluarganya
merasa dirugikan secara fisik atau materi.
Download