AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH MODAL SAHAM

advertisement
AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH
MODAL SAHAM
Disusun Oleh:
Kelas AK – 2A
Galuh Adi Saryansyah
Kurnia Dyah Ayu Listyani
Lia Chintia Primasari
(08)
(09)
(10)
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
TAHUN AKADEMIK 2015 / 2016
MODAL SAHAM
Dalam ilmu keuangan modal diartikan sebagai seluruh kekayaan yang dimiliki oleh
suatu perusahaan. Menurut pengertian hukum, modal merupakan bagian dari kekayaan
pemegang saham yang disetorkan kedalam perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh
hasil dari modal yang ditanamkan tersebut. sedangkan dalam artian akuntansinya, modal
adalah kekayaan pemegang saham atau kekayaan pemilik.
Pemilik perusahaan menanggung risiko dan ketidakpastian dan menerima hasil dari
opersasi perusahaan. Kepentingannya dalam perusahaan diukur sebesar perbedaan antara
aset dengan utang perusahaan. Ada dua sumber utama modal perusahaan perseroan, yaitu :
(1) Kontribusi oleh para pemegang saham (modal disetor)
(2) Laba yang ditahan oleh perusahaan
MODAL SAHAM
Modal pemegang saham yang ditanamkan dalam perusahaan biasanya dibuktikan
dengan lembar-lembar saham. Penanaman modal dalam saham dapat dilakukan dalam
bentuk saham biasa atau saham prioritas. Baik saham biasa maupun saham prioritas,
masing-masing mempunyai hak yang pasti maupun hak istimewa sesuai dengan yang
ditentukan dalam kontrak. Hak-hak yang melekat pada saham, antara lain:
(1) Menerima pembagian laba dalam bentuk deviden kas atau tambahan lembar
saham atau menanggung rugi secara proporsional
(2) Memberikan suara yang mempengaruhi pengambilan keputusan manajemen
(3) Mempunyai andil atas pembagian kekayaan perusahaan jika terjadi likuidasi
JENIS – JENIS SAHAM
1. Sahambiasa
Sahambiasaadlahsaham
yang
menempatkanpemiliknya
paling
terakhirterhadappembagiandividendanhakatashartakekayaanperusahaanapabilaperusah
aantersebut di likuidasi. Hal inidisebabkanpemiliksahambiasatidakmemilikihak –
hakistimewa.
Pemiliksahambiasajugatidakakanmemperolehpembayarandevidenselamaperusahaantid
akmemperolehlaba.
Setiappemiliksahammemilikihaksuaradalamrapatumumpemegangsaham
(RUPS)
denganketentuan
one
share
one
vote.
Pemegangsahambiasamemilikitanggungjawabterbatasterhadapklienpihak
lain
sebesarproporsisahamnyadanmemilikihakuntukmengalihkankepemilikansahamnyapad
a orang lain.
2. SahamPreferen
Saham preferen (preferred stock) adalah saham dengan kelas khusus yang
ditetapkan sebagai “preferen” (istimewa) karena saham ini memiliki beberapa
preferensi atau kelebihan yang tidak dimiliki oleh saham biasa. Karakteristik berikut
merupakan yang paling sering berkaitan dengan penerbitan saham preferen yaitu:
a. Keistimewaan dalam pembagian dividen
b. Keistimewaan dalam pembagian aset pada saat perusahaan dilikuidasi
c. Dapat dikonversi dengan saham biasa
d. Dapat ditebus pada opsi perseroan
e. Tidak mempunyai hak suara (nonvoting)
Saham preferen biasanya diterbitkan dengan nilai nominal dan dividennya
dinyatakan dalam bentuk persentase dari nilai nominal. Dalam hal saham preferen
tanpa nilai nominal, devidennya dinyatakan dalam jumlah rupiah per lembar.
Preferensi terhadap dividen tidak berarti dividen tersebut harus dibayar. Preferensinya
terletak pada urutan pembayaran, jumlah dividen saham preferen harus dibayar
terlebih dahulu sebelum dibayarkan kepada saham biasa.
Contoh Pertanyaan:
Modal pemegang saham PT. Liesti di neraca tertanggal 31 Des 2011 adalah sebagai
berikut :
Modal Pemegang Saham
Saham Preferen (nominal Rp 200, 10% kumulatif, nonvoting,
10.000 saham diotorisasi, ditempatkan dan beredar) (Rp 200 x
10.000)
Saham biasa (nominal Rp 50, 100.000 lembar saham diotorisasi,
60.000 ditempatkan, dan beredar
(Rp 50 x 60.000)
Agio Saham (Rp200-Rp50)x10.000
Jumlah Modal Disetor
Laba di tahan (Rp 50 x 100.000)
Jumlah Modal Pemegang Saham
Rp 2.000.000
Rp 3.000.000
= Rp 1.500.000
Rp 6.500.000
Rp 5.000.000
Rp11.500.000
Pada tanggal 31 Desember 2011 Dewan direktur PT. Liesti mengumumkan dividen
berjumlah Rp 1.000.000 yang akan dibayar pada tgl 31 Januari 2012 untuk pemegang
saham yang tercatat tgl 15 Januari 2012. Untuk tiga tahun sebelumnya tidak dibagikan
dividen.
Jawaban :
A.
DIVIDEN SAHAM PREFEREN KUMULATIF
Artinya perusahaan diwajibkan membayar terlebih dahulu saham preferen, termasuk
dividen tahun sebelumnya yang belum dibayar (dividen tunggakan), sebelum dividen
dibagikan kepada pemegang saham biasa.
Perhitungan jumlah dividen untuk tiap-tiap jenis saham adalah sebagai berikut :
Preferen
Biasa
Jumlah
Dividen tunggakan :
10% x Rp 2.000.000 x 3
Rp 600.000
Rp 600.000
Dividen Tahun ini
10% x Rp 2.000.000
Rp 200.000
Rp 200.000
Sisanya untuk saham biasa
(1.000.000 – (600.000+200.000)
Rp 200.000
Rp 200.000
Jumlah
Rp 800.000
Rp 200.000
Rp 1.000.000
Dividen per lembar saham
Preferen : Rp 800.000 / 10.000lb
Biasa : Rp 200.000 / 100.000lb
Rp 80
Rp 2
Jurnal yang dibuat pda tanggal 31 Desember 2011 (tanggal pengumuman ) :
Laba di tahan
Rp 1.000.000
Utang Dividen saham preferen
Utang Dividen Saham Biasa
Rp 800.000
Rp 200.000
Jurnal yang dibuat pada tanggal 31 Januari 2012 (tanggal pembayaran)
Utang DIviden saham preferen
Rp 800.000
Utang dividen saham biasa
Rp 200.000
Kas
B.
Rp 1.000.000
DEVIDEN SAHAM PREFEREN TIDAK KUMULATIF
Karena saham preferen bersifat komulatif, maka saham tersebut berhak atas dividen tahun
sekarang saja (tahun diumumkannya deviden), dan sisanya merupakan dividen saham
biasa.. untuk saham preferen jenis ini tidak ada istilah deviden tertunggak.
Preferen
10% x Rp 2.000.000
Sisanya untuk saham biasa
(1.000.000 – 200.000)
Jumlah
Biasa
Jumlah
Rp 200.000
Rp 200.000
Dividen per lembar saham
Preferen : Rp 200.000 / 10.000lb
Biasa : Rp 800.000 / 100.000lb
Rp 200.000
Rp 800.000
Rp 800.000
Rp 800.000
Rp 1.000.000
Rp 20
Rp 8
Jurnal yang dibuat pda tanggal 31 Desember 2011 (tanggal pengumuman ) :
Laba di tahan
Rp 1.000.000
Utang Dividen saham preferen
Utang Dividen Saham Biasa
Rp 200.000
Rp 800.000
Jurnal yang dibuat pada tanggal 31 Januari 2012 (tanggal pembayaran)
Utang DIviden saham preferen
Rp 200.000
Utang dividen saham biasa
Rp 800.000
Kas
C.
Rp 1.000.000
DIVIDEN SAHAM PREFEREN BERPARTISIPASI
Saham preferen dapat berpartisipasi penih, berpartisipasi terbatas atau tidak berpartisipasi
sama sekali.
Partisipasi adalah tambahan dividen setelah masing-masing mendapatkan deviden
permulaan (initial dividend). Deviden permulaan adalah jumlah deviden hasil perkalian
antara presentase deviden saham preferen dengan nilai saham, yang dapat dirumuskan
sebagai berikut :
-
Deviden permulaan Saham Preferen = % deviden SP x Jumlah Nilai Nominal
Saham Preferen
-
Deviden permulaan Saham Biasa = % deviden Sp x jumlah Nilai Nominal Saham
Biasa
-
Deviden tambahan untuk saham preferen diatas deviden permulaan, tergantung
sifat patisipasinya, apakah berpartisipasi penuh atau berpasrtisipasi terbatas.
Contoh :
Diasumsikan tidak ada tunggakan deviden untuk tahun sebelumnya, dan saham preferen
berpartisipasi penuh.
Preferen
Deviden Tahun ini,
Saham Preferen : (10% x 2.000.000)
Saham Biasa : (10% x 3.000.000)
Deviden Partisipasi
Saham Preferen, : (10% x Rp 2juta)
Saham Biasa : (10% x 3 juta)
Jumlah
Biasa
Rp 200.000
Rp 300.000
Rp 200.000
Rp 400.000
Rp 300.000
Rp 600.000
Cara Mengitung persentase Deviden Partisipasi :
Deviden Tahun ini :
Preferen, 10% x Rp 2.000.000
Rp 200.000
Biasa, 10% x Rp3.000.000
Rp 300.000
Rp 500.000
Jumlah yang tersedia untuk partisipasi
(Rp 1.000.000 – Rp 500.000)
Rp 500.000
Nominal Saham yang partisipasi :
Preferen
Rp 2.000.000
Biasa
Rp 3.000.000
Jumlah
Rp 5.000.000
Tarif Partisipasi :
(500.000/5.000.000)
10%
Deviden Partisipasi,
Preferen :10% x 2.000.000
Rp 200.000
Biasa : 10% x 3.000.000
Rp 300.000
Jumlah
Rp 500.000
Dividen per lembar saham
Preferen : Rp 400.000 / 10.000lb
Rp 40
Biasa : Rp 600.000 / 100.000lb
Jurnal yang dibuat pda tanggal 31 Desember 2011 (tanggal pengumuman ) :
Laba di tahan
Rp 1.000.000
Utang Dividen saham preferen
Utang Dividen Saham Biasa
Rp 400.000
Rp 600.000
Jurnal yang dibuat pada tanggal 31 Januari 2012 (tanggal pembayaran)
Utang DIviden saham preferen
Rp 400.000
Utang dividen saham biasa
Rp 600.000
Kas
Rp 1.000.000
Rp 6
D.
SAHAM PREFEREN BERPASRTISIPASI PENUH
Devien tertunggak
Deviden tahun ini, 10%
Deviden partisipasi, 6%
Jumlah
Deviden partisipasi dihitung sbb :
Deviden tertunggak selama 1 tahun
Preferen, 10% x 2juta x1th = Rp 200.000
Deviden tahun ini :
Preferen, 10% x 2juta = Rp 200.000
Biasa, 10% x 3juta
= Rp 300.000
Rp 500.000
Jumlah yg tersedia untuk partisipasi
(1juta -200.000-500.000) = Rp 300.000
Nominal saham yang berpartisipasi :
Preferen
Rp 2juta
Biasa
Rp 3juta
Rp 5 juta
Tarif Partisipasi :
(300.000/5juta = 6%)
Deviden Partisipasi :
Preferen, 6% x 2juta
= 120.000
Biasa, 6% x 3juta
= 180.000
Jumlah
=
300.000
Preferen
Biasa
Jumlah
Rp 200.000
Rp 200.000
Rp 120.000
Rp 520.000
Rp
0
Rp 300.000
Rp 180.000
Rp 480.000
Rp 200.000
Rp 500.000
Rp 300.000
Rp 1.000.000
Rp 52
Dividen per lembar saham
Preferen : Rp 520.000 / 10.000lb
Biasa : Rp 480.000 / 100.000lb
Rp 4.8
Jurnal yang dibuat pda tanggal 31 Desember 2011 (tanggal pengumuman ) :
Laba di tahan
Rp 1.000.000
Utang Dividen saham preferen
Utang Dividen Saham Biasa
Rp 520.000
Rp 480.000
Jurnal yang dibuat pada tanggal 31 Januari 2012 (tanggal pembayaran)
Utang DIviden saham preferen
Rp 520.000
Utang dividen saham biasa
Rp 480.000
Kas
Rp 1.000.000
E.
SAHAM PREFEREN BERPARTISIPASI TERBATAS
Untuk saham pereferen jenis ini, berhak atas deviden tambahan diatas dividen permulaan
hanya sampai bats presentase ttn.
Contoh : diasumsikan sahm preferen 5% berpartisipasi dengan saham biasa sampai batas
maksimum 12% termasuk deviden preferensi. Tidak ada tunggakan deviden pada tahuntahun sebelumnya.
Preferen
Deviden tahun ini, 10%
Deviden partisipasi, 6%
Jumlah
Deviden partisipasi dihitung sbb :
Deviden tahun ini :
Preferen, 10% x 2juta Rp 200.000
Biasa, 10% x 3juta
Rp 300.000
Rp 500.000
Jumlah yg tersedia untuk partisipasi
(1juta – Rp 500.000)
Rp 500.000
Nominal saham yang berpartisipasi :
Preferen
Rp 2juta
Biasa
Rp 3juta
Rp 5 juta
Tarif Partisipasi :
(500.000/5juta = 10%)
Deviden Partisipasi :
Preferen terbatas s.d 7% (12%-5%)
, 7% x 2juta
= Rp 140.000
Biasa, (500rb-140rb = Rp 360.000
Jumlah
Rp 500.000
Rp 200.000
Rp 140.000
Rp 340.000
Dividen per lembar saham
Preferen : Rp 340.000 / 10.000lb
Biasa : Rp 660.000 / 100.000lb
Biasa
Rp 300.000
Rp 360.000
Rp 660.000
Jumlah
Rp 500.000
Rp 500.000
Rp 1.000.000
Rp 34
Rp 6.6
Jurnal yang dibuat pda tanggal 31 Desember 2011 (tanggal pengumuman ) :
Laba di tahan
Rp 1.000.000
Utang Dividen saham preferen
Utang Dividen Saham Biasa
Rp 340.000
Rp 660.000
Jurnal yang dibuat pada tanggal 31 Januari 2012 (tanggal pembayaran)
Utang DIviden saham preferen
Rp 340.000
Utang dividen saham biasa
Rp 660.000
Kas
Rp 1.000.000
F. SAHAM PREFEREN BERPARTISIPASI DENGAN SAHAM BIASA SAMPAI
BATAS MAKSIMUM
CONTOH :
Diasumsikan saham preferen 6% berpartisipasi dengan saham biasa sampai batas
maksimum 15% termasuk deviden preferensi. Tidak ada tunggakan deviden pada tahuntahun sebelumnya.
Preferen
Biasa
Deviden tahun ini, 10%
Rp 200.000
Deviden partisipasi,
Rp 0
Rp 200.000
Jumlah
Deviden partisipasi dihitung sbb :
Deviden tahun ini :
Preferen, 10% x 2juta Rp 200.000
Biasa, 10% x 3juta
Rp 300.000
Rp 500.000
Jumlah yg tersedia untuk partisipasi
(1juta -500.000)
Rp 500.000
Nominal saham yang berpartisipasi :
Preferen
Rp 2juta
Biasa
Rp 3juta
Rp 5 juta
Tarif Partisipasi :
(500.000/5juta = 10%)
Deviden Partisipasi :
Preferen, terbatas s.d 10% (15%-5%)
Dalam hal ini tarif partisipasi tertinggi
adalah 10% maka partisipasinya adalah
0% (10%-10%)
Preferen, 0% x 2juta
=0
Biasa, (500.000-0)
= 500.000
Jumlah
= 500.000
300.000
500.000
800.000
Dividen per lembar saham
Preferen : Rp 200.000 / 10.000lb
Biasa : Rp 800.000 / 100.000lb
Jumlah
Rp 500.000
Rp 500.000
Rp 1.000.000
Rp 20
Rp 8
Jurnal yang dibuat pda tanggal 31 Desember 2011 (tanggal pengumuman ) :
Laba di tahan
Rp 1.000.000
Utang Dividen saham preferen
Utang Dividen Saham Biasa
Rp 200.000
Rp 800.000
Jurnal yang dibuat pada tanggal 31 Januari 2012 (tanggal pembayaran)
Utang DIviden saham preferen
Rp 200.000
Utang dividen saham biasa
Rp 800.000
Kas
Rp 1.000.000
AKUNTANSI PENGELUARAN SAHAM
Perseroan memperoleh dana dari para pemegang sahamannya melalui serangkaian
transaksi. Yang pertama, saham harus diotorisasi oleh pemerintah umumnya dalam
anggaran dasar perusahaan. Berikutnya, saham ditawarkan untuk dijual dan kontrak
penjualan saham ditandatangani. Akhirnya, pembayaran –pembayaran diterima dan lembar
– lembar saham diterbitkan. Masalah akuntansi yang timbul dalam pengeluaran saham
adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Pengeluaran saham dengan nilai nominal
Pengeluaran saham tanpa nilai nominal
Penjuaan saham dengan cara pesanan
Pengeluaran saham kombinasi dengan surat berharga lainnya (penjualan lumpsum)
Pengeluaran saham dengan transaksi non kas
Akuntansi untuk biaya pengeluaran saham
SAHAM DENGAN NILAI NOMINAL
Nilai nominal saham adalah nilai yang tercantum dalam tiap - tiap lembar saham,
yaitu nilai yang ditetapkan untuk masing – masing lembar saham. Nilai nominal saham
tidak mempunyai hubungan dengan harga pasar saham. Nilai nominal hanya diperlukan
untuk kepentingan hukum.
Untuk dapat menyediakan informasi yangdiperlukan sehubungan dengan
penerbitan saham dengan nilai nominal, akuntan harus menyelenggarakan rekening –
rekening berikut ini :
a. Modal Saham Prioritas atau Saham Biasa : digunakan untuk mencatat nominal
saham yang diterbitkan. Rekening ini dikredit pada saat saham mula – mula
diterbitkan. Tidak diperlukan jurnal tambahan terhadap rekening ini kecuali ada
penerbitan saham tambahan atau pembatalan saham.
b. Modal disetor Kelebihan Di atas Nilai Nominal atau Tambahan Modal Disetor
(Agio Saham) : digunakan untuk mencatat kelebihan pembayaran harga saham oleh
pembeli saham di atas nilai nominal. Kelebihan pembayaran harga saham di atas niai
nominal merupakan bagian dari modal disetor dan pemegang saham secara individual
tidak memiliki klaim yang lebih besar dibanding pemegang saham lainnya atas jumlah
tersebut.
c. Disagio Saham : digunakan untuk mencatat kekurangan pembayaran harga saham
dibawah nilai nominalnya.
Contoh penggunaan rekening – rekening diatas, misalnya PT BANGKIT
menjual 1.000 lembar saham nominal Rp 50 per lembar dengan harga jual keseluruhan
Rp 110.000
Jurnal saat pengeluaran dan penjualan saham :
Kas
110.000
Agio Saham Biasa
Modal Saham Siasa
50.000
60.000
Jika saham di atas dijual seluruhnya dengan harga Rp 40.000 jurnal yang dibuat :
Kas
40.000
Disagio Saham Biasa
10.000
Modal Saham Biasa
50.000
SAHAM TANPA NILAI NOMINAL
Merupakan saham yang dikeluarkan perusahaan yang tidak mempunyai nilai
tercetak dalam sertifikat saham. Alasan pengeluaran saham tanpa nilai nominal adalah:
(1) untuk menghindari kemungkinan timbulnya utang bersyarat jika saham dikeluarkan
dengan harga dibawah nominal (disagio)
(2) untuk menghindari kerancauan hubungan antara nilai nominal dengan nilai pasar
saham.
Akuntansi pengeluaran saham tanpa nilai nominal seperti halnya saham dengan
nilai nominal, tetapi dalam saham tanpa nlai nominal tidak diperlukan pencatatan dalam
rekening agio atau disagio saham.
Contoh:
PT TEGUH JAYA yang bergerak dalam bidang elektronik didirikan dengan saham
yang diotorisasi 10.000 lembar tanpa nilai nominal. 500 lembar saham dijual secara tunai
dengan harga Rp 1.000 perlembar.
Jurnal yang dibuat PT TEGUH JAYA:
 Saat otorisasi saham hanya dicatat dalam memorandum
 Jika 500 lembar saham dijual secara tunai dengan harga Rp 1.000 per lembar:
Kas
500.000
Modal Saham Biasa-Tanpa Nilai Nominal
500.000
 Jika 500 lembar saham dijual secara tunai dengan harga Rp 1.500 per lembar:
Kas
750.000
Modal Saham Biasa-Tanpa Nilai Nominal
750.000
Apabila saham tanpa nilai nominal diterbitkan dengan nilai ditetapkan, yaitu jumlah
minimum yang harus dibayar untuk penerbitan sahm, perlakuan terhadap pengeluaran
saham dengan nilai ditetapkan tersebut sama dengan pengeluaran saham dengan nominal.
Penjualan Saham Atas Dasar Pesanan
Penjualan saham dengan dasar pesanan biasanya dilakukan oleh perusahaan kecil
yang baru melakukan go publik atau jika saham ditawarkan kepada para karyawan agar
karyawan ikut berpartisipasi dalam pemilikan saham perusahaan.
Akuntansi Saham Pesanan
Ada dua rekening baru yang digunakan jika saham dijual atas dasar pesanan:
Modal Saham biasa atau saham prioritas pesanan: menunjukan kewajiban
perusahaan untuk menyerahkan sejumlah lembar saham kepada orang yang telah memesan
saham. Segera setelah harga pesanan dibayar penuh, lembar saham yang dipesan
diserahkan. Jurnal untuk mencatat penyerahan lembar saham yang dipesan adalah:
Rekening Modal Saham Biasa atau Saham Prioritas Dipesan didebit dan rekening Modal
Saham Biasa atau Saham Proiritas dikredit.
Piutang Pesanan Saham: menunjukan jumlah harga saham dipesan yang belum
dilunasi. Akuntansi untuk pesanan saham yang baru sebagian dibayar adalah: rekening
Piutang Pesanan Saham didebit dan rekening Modal Saham Dipesan dikredit. Rekening
piutang saham dipesan disajikan sebagai pengurang modal disetor.
Contoh:
Diterima pesanan 500 lembar saham biasa nominal Rp 10.000 dengan kurs 110, dibayar
tunai 75% dan sisanya dilunasi 30 hari kemudian.
Jurnal yang dibuat saat menerima pesanan:
Piutang Pesanan Saham
Modal Saham Biasa Dipesan
Agio Saham Biasa
Jurnal untuk mencatat penerimaan uang muka:
Kas
Piutang Pesanan Saham
Jurnal untuk pelunasan sisa harga pesanan 25%:
Kas
Piutang Pesanan Saham
5.500.000
5.000.000
500.000
4.125.000
4.125.000
1.375.000
1.375.000
Jurnal unutk mencatat pengeluaran 500 lembar saham dipesan yang telah lunas:
Modal Saham Biasa Dipesan
5.000.000
Modal Saham Biasa
5.000.000
Pembatalan Pesanan Saham
Apabila pemesan tidak dapat melunasi kekurangan pembayarannya, maka
perusahaan dapat mengambil salah satu dai empat kemungkinan berikut ini terhadap uang
muka yang telah diterimanya:
(a) Uang yang telah diterima dikembalikan kepada pemesan. Dimisalkan dalam contoh
di atas, pemesan tidak dapat melunasi kekurangan harga 100 lembar saham. Saham
yang dibatalkan dijual kembali oleh perusahaan dengan kurs 105.
Jurnal pengembalian uang muka:
Modal Saham Dipesan
Agio Saham Biasa
Piutang Pesanan Saham
Kas
Jurnal Penjualan kembali 100 lembar saham:
Kas
Modal Saham Biasa
Agio Saham Biasa
1.000.000
100.000
275.000
825.000
1.050.000
1.000.000
50.000
(b) Uang muka yang telah diterima dikembalikan kepada pemesan setelah dikurangi
biaya atau kerugian penjualan kembali saham.
Modal Saham Dipesan
1.000.000
Agio Saham Biasa
100.000
Piutang Pesanan Saham
275.000
Utang Kepada Pemesan Saham
825.000
Jurnal penjualan kembali 100 lembar saham:
Kas
Utang Kepada Pemesan Saham
Modal Saham Biasa
Agio Saham Biasa
1.050.000
50.000
1.000.000
100.000
Pengembalian uang muka setelah dipotong selisih harga pembelian:
Utang Kepada Pemesan Saham
775.000
Kas
775.000
(c) Uang yang telah diterima tidak dikembalikan:
Modal Saham Biasa Dipesan
Agio Saham Biasa
Piutang Pesanan Saham
Modal Dari Pembatalan Pesanan Saham
Penjualan kembali 100 lembar saham:
1.000.000
100.000
275.000
825.000
Kas
1.050.000
Modal Saham Biasa
Agio Saham Biasa
1.000.000
50.000
(d) Mengeluarkan saham yang nilainya sama dengan jumlah uang yang telah diterima:
Perhitungan:
Jumlah uang yang telah diterima (75%x110%xRp10.000x100 lb)
825.000
Jumlah harga pesanan per lembar
1.100
Jumlah lembar yang diserahkan
75 lb
Modal Saham Dipesan
1.000.000
Agio Saham Biasa
25.000
Modal Saham Biasa
Piutang Pesanan Saham
Penjual kembali 25 lembar saham yang dibatalkan:
Kas
262.500
Modal Saham
Agio Saham
750.000
275.000
250.000
12.500
Penjualan Saham Sacara Lump Sum
Terjadi apabila dua atau lebih sekuritas dijual dengan sejumlah pembayaran, yaitu
masalah akuntansi penerbitan secara lup sum adalah alokasi penerimaan dari penjualan
kepada setiap sekuritas. Ada dua metode alokasi yang dapat digunakan, yaitu:
(a) Metode Incremental : Metode ini dipakai apabila hanya salah satu saham yang
diketahui harga pasarnya
(b) Metode Proporsional : Metode ini dipakai apabila nilai pasar untuk kedua jenis
saham yang dijual untuk menentukan nilai relative setiap jenis saham diketahui.
Misalnya:
PT A menjual 5.000 unit saham dengan harga Rp.16.000 / unit saham. Tiap unit saham
terdiri dari satu lembar saham biasa dengan nominal Rp10.000/lembar dan satu lembar
saham prioritas dengan nilai nominal Rp.5.000/lembar. Buatlah jurnal untuk mencatat
penjualan saham, jika diketahui:
1. Harga pasar saham prioritas/lembar pada saat penjualan sebesar Rp.5.000.
2. Harga pasar saham prioritas/lembar pada saat penjualan sebesar Rp.6.000 dan harga
pasar saham biasa sebesar Rp.11.000/lembar.
1. Harga jual 5.000 unit saham : 5.000 x Rp.16.000 =
Harga pasar saham prioritas:5.000 x 1 x Rp.5.000 =
Nilai saham biasa
Nilai nominal saham biasa: 5.000 x 1 x Rp.10.000=
Agio saham biasa
Rp. 80.000.000
Rp. 25.000.000 –
Rp.55.000.000
Rp.50.000.000 –
Rp. 5.000.000
Harga pasar saham prioritas
Nilai nominal saham prioritas:5.000 x 1 x Rp.5.000:
Rp. 25.000.000
Rp. 25.000.000 –
0
Jurnal:
Kas
Modal saham biasa
Agio saham biasa
Modal saham prioritas
Rp.80.000.000
Rp.50.000.000
Rp. 5.000.000
Rp.25.000.000
2. Harga pasar saham prioritas:5.000 x 1 x Rp.6.000:
Rp.30.000.000
Harga pasar saham biasa:5.000 x 1 x Rp.11.000:
Rp.55.000.000 +
Jumlah
Rp.85.000.000
Alokasi harga jual saham
30.000.000
Saham prioritas:
x Rp.80.000.000 : Rp. 28.235.294,12
85.000.000
Saham biasa : Rp.80.000.000 – Rp.28.235.294,12 :
Nilai nominal saham biasa
Agio saham biasa
Harga jual saham prioritas
Nilai nominal saham prioritas
Agio saham prioritas
Jurnal:
Kas
Modal saham biasa
Agio saham biasa
Modal saham prioritas
Agio saham prioritas
Rp. 51.764.705,88
Rp. 50.000.000
Rp. 1.764.705,88
-
Rp. 28.235.294,12
Rp. 25.000.000 –
Rp. 3.235.294,12
Rp.80.000.000
Rp.50.000.000
Rp.1.764.705,88
Rp.25.000.000
Rp. 3.235.294,12
Pengeluaran Saham Dengan Transaksi Non Kas
Sering terjadi saham perusahaan diterbitkan dengan penukar aktiva selain kas,
misalnya barang, jasa atau bentuk harta lain selain kas. Akuntansi pengeluaran saham
untuk barang atau jasa menimbulka masalah dalam penilaian. Pedoman umum yang harus
diterapkan apaila saham dikeluarkan untuk aktiva selain kas adalah barang atau jasa yang
diterima dicatat sebesar nilai pasar barang atau jasa tersebut atau nilai pasar saham yang
diterbitkan, mana yang lebih dapat ditentukan.
Jika nilai pasar barang atau jasa mudah ditentukan, maka nilai tersebut
digunakan sebagai dasar pencatatan. Jika nilai barang atau jasa tidak dapat ditentukan
tetapi nilai pasar saham yang diterbitkan dapat ditentukan, maka transaksi tersebut dicatat
pada nilai pasar saham. Jika keduanya dapat ditentukan dan transaksi tersebut merupakan
pertukaran bebas, kemungkinan perbedaan kedua nilai tersebut sangat kecil. Dalam kasus
seperti ini, dapat digunakan salah satu nilai pasar sebagai dasar pencatatan. Jika nilai pasar
barang atau jasa yang diterima maupun nilai pasar saham yang diterbitkan tidak dapat
ditentukan, nilai yang dicatat biasanya ditentukan oleh dewan direksi dengan bantuan
penilai bebas. Pengguaan nilai buku, nilai nominal, atau nilai yang ditetapkan sebagai
dasar penilaian transaksi tersebut harus dihindarkan.
Sebagai contoh, misalnya diterbitkan 10.000 lembar saham biasa nominal Rp 10.000
per lembar sebagai penukar sebidang tanah:
 Jika nilai pasar tanah tidak dapat ditentukan, tetapi nilai pasar saham diketahui Rp
150.000.000 jutnal unutk mencatat transaksi tersebut:
Tanah
Rp 150.000.000
Modal Saham Biasa
Rp. 100.000.000
Agio Saham Biasa
Rp 50.000.000
 Jika nilai pasar saham tidak dapat ditentukan, tapi harga pasar tanah diketahui sebesar
Rp 200.000.000 jurnal untuk mencatat transaksi tersebut:
Tanah
Rp 200.000.000
Modal Saham Biasa
Rp 100.000.000
Agio Saham Biasa
Rp 100.000.000
 Jika nilai pasar saham maupun tanah tidak dapat ditentukan. Konsultan menaksir nilai
tanah sebesar Rp 175.000.000 dan dewan direksi menyetujui penilaian tersebut. jurnal
untuk mencatat transaksi tersebut:
Tanah
Rp 175.000.000
Modal Saham Biasa
Rp 100.000.000
Agio Saham Biasa
Rp 75.000.000
PENGELUARAN SAHAM UNTUK MEMBELI PERUSAHAAN
Membeli perusahaan lain & digabung
PT A
PT B, CV B, Fa C
Dibayar dengan saham PT A. Jml saham
tergantung harga pasar aktiva perusahaan
Yang dibeli.
Harga beli perusahaan > harga pasar aktiva perusahaan yang dibeli.
Harga beli perusahaan
xxxx
Harga pasar aktiva perusahaan yang dibeli
xxxx Goodwill
xxxx
PT B
+
PT A bergabung
+
PT C
Fa atau CV atau UD
berganti bentuk
hukumnya
PT Baru
PT
Jika Fa, CV berganti bentuk hukumnya menjadi PT maka masing-masing anggota akan
menerima saham sebanding dengan modal yang dimilikinya. Dalam keadaan seperti ini ada
dua cara pencatatan:
1. Buku-buku perusahaan lama dilanjutkan sebagai buku perusahaan baru.
2. Buku-buku perusahaan lama ditutup dan dibuat buku baru untuk perusahaan baru.
Fa Ta’idz beranggotakan yogy dan Egy membagi laba – rugi dengan perbandingan yang
sama. Pada tanggal 1 Juni 2009, berganti bentuk perusahaannya menjadi PT Ta’idz.
Neraca Fa Ta’idz per, 1 Juni 2009 sbb:
Fa Ta’idz
Neraca per, 1 Juni2009
(dalam ribuan Rp.)
Kas
10.000 Utang dagang
4.000
Piutang dagang 20.000
Cad kerugian
Piutang
2.000 18.000
Persediaan barang
40.000
Tanah
40.000
Gedung
100.000
Akumulasi
4.000
Utang obligasi
Depresiasi
Gedung
20.000 80.000
Modal Yogy
90.000
Modal Egy
90.000
188.000
188.000
PT yang baru diberi nama PT Ta’idz dengan modal saham biasa sebanyak 20.000 lembar
dengan nilai nominal Rp.25.000/lembar. Seluruh aktiva Fa Ta’idz diserahkan kepada PT
Ta’idz dan utang Fa Ta’idz dilunasi PT Ta’idz. Fa Ta’idz menerima 10.000 lembar saham
biasa (Yogy =5.000 lembar dan Egy = 5.000 lembar) dari PT Ta’idz sebagai penukar
perusahaannya. Pengeluaran sisa saham sbb:
1. 5.000 lembar dijual tunai dengan harga Rp.25.500/lembar
2. 5.000 lembar ditukar dengan mesin produksi. Harga pasar saham biasa pada saat
pertukaran sebesar Rp.26.000/lembar.
Dalam pengantian bentuk perusahaan ini, Oleh PT Ta’idz diadakan beberapa penyesuaian
terhadap catatan Fa Ta’idz sbb:
1. Cadangan kerugian piutang dinaikan menjadi Rp.4.200.000
2. Persediaan barang dinilai sebesar Rp.44.000.000
3. Gedung dinilai kembali menjadi Rp.140.000.000 dan akumulasi depresiasi gedung
sebesar Rp. 34.000.000.
4. Tanah dinilai sebesar Rp.44.000.000
Diminta:
1. Buatlah jurnal yang diperlukan dalam penggantian bentuk perusahaan, jika:
a. Buku Fa Ta’idz dilanjutkan sebagai buku PT Ta’idz
b. Buku Fa Ta’idz ditutup dan dibuat buku baru PT Ta’idz
2.Susunlah neraca PT Ta’idz per, 1 Juni 2009
1. a. Buku Fa Ta’idz dilanjutkan sebagai buku PT Ta’idz
a) Jurnal untuk mencatat perubahan aktiva
Persediaan barang
Rp. 4.000.000
Gedung
Rp.40.000.000
Tanah
Rp. 4.000.000
Cadangan kerugian piutang
Rp. 2.200.000
Akumulasi depresiasi gedung
Rp.14.000.000
Modal Yogy
Rp.15.900.000
Modal Egy
Rp.15.900.000
Yogy & Egy modalnya bertambah sebesar :1/2 x Rp.31.800.000=Rp.15.900.000
b) Jurnal untuk mencatat goodwill
Harga saham yang diterima Fa Ta’idz:10.000 x Rp.25.000= Rp. 250.000.000
Nilai aktiva yang ditransfer ke PT Ta’idz:
Kas
Rp.10.000.000
Piutang dagang
Rp.20.000.000
Cad kerugian piutang Rp. 4.200.000 Rp.15.800.000
Persediaan barang
Rp.44.000.000
Tanah
Rp.44.000.000
Gedung
Rp.140.000.000
Akumulasi depreSiasi gedung
Rp. 34.000.000 –
Rp.106.000.000+
Rp. 219.800.000
Utang dagang Rp. 4.000.000
Utang obligasi Rp. 4.000.000 +
Rp. 8.000.000 –
Rp.211.800.000 Goodwill
Rp. 38.200.000
Modal Yogy : ½ x Rp.38.200.000 = Rp. 19.100.000
Modal Egy : ½ x Rp.38.200.000 = Rp.19.100.000
Jurnal:
Goodwill
Modal Yogy
Modal Egy
Rp. 38.200.000
-
Rp. 19.100.000
Rp. 19.100.000
c) Jurnal untuk mencatat pembagian saham:
Yogy = 5.000 x Rp.25.000 = Rp.125.000.000
Egy = 5.000 x Rp.25.000 = Rp.125.000.000
Jurnal:
Modal Yogy
Rp.125.000.000
Modal Egy
Rp.125.000.000
Modal saham biasa
-
Rp.250.000.000
d). Jurnal untuk mencatat penjualan saham
Harga jual saham biasa :5.000 x Rp.25.500 = Rp. 127.500.000
Nilai nominal saham biasa: 5.000 x Rp.25.000= Rp.125.000.000 –
Agio saham biasa
Rp. 2.500.000
Jurnal:
Kas
Rp.127.500.000
Modal saham biasa
Rp.125.000.000
Agio saham biasa
Rp. 2.500.000
e). Jurnal untuk mencatat pertukaran saham
Harga pasar saham biasa (nilai mesin produksi ):
5.000 x Rp.26.000=
Rp. 130.000.000
Nilai nominal saham biasa: 5.000 x Rp.25.000 =
Rp. 125.000.000 –
Agio saham biasa
Rp.
5.000.000
Jurnal:
Mesin Produksi
Rp.130.000.000
Modal saham biasa
Rp.125.000.000
Agio saham biasa
Rp. 5.000.000
1.b.Buku Fa Ta’idz ditutup dan dibuat buku baru PT Ta’idz
Jurnal Fa Ta’idz untuk menutup rekening aktiva, utang dan modal.
Utang dagang
Rp. 4.000.000
Utang obligasi
Rp. 4.000.000
Cadangan kerugian piutang
Rp. 2.000.000
Akumulasi depresiasi gedung
Rp.20.000.000
Modal Yogy
Rp.90.000.000
Modal Egy
Rp.90.000.000
Kas
Piutang dagang
Persediaan barang
Tanah
Gedung
-
Rp. 10.000.000
Rp. 20.000.000
Rp. 40.000.000
Rp. 40.000.000
Rp.100.000.000
Jurnal PT Ta’idz
a).Jurnal untuk mencatat penerimaan aktiva, utang dari Fa Ta’idz
Kas
Rp. 10.000.000
Piutang dagang
Rp. 20.000.000
Persediaan barang
Rp. 44.000.000
Tanah
Rp . 44.000.000
Gedung
Rp.140.000.000
Goodwill
Rp. 38.200.000
Utang dagang
Rp.
Utang obligasi
Rp.
Cadangan kerugian piutang
Rp.
4.000.000
4.000.000
4.200.000
Akumulasi depresiasi gedung
Utang Yogy & Egy
b).Jurnal untuk mencatat
Rp.25.000/lembar.
Utang Yogy & Egy
Modal saham biasa
-
pengeluaran
saham
Rp. 34.000.000
Rp.250.000.000
biasa
10.000
Rp.250.000.000
-
lembar,
nominal
Rp.250.000.000
c). Jurnal untuk mencatat penjualan saham
Harga jual saham biasa :5.000 x Rp.25.500 = Rp. 127.500.000
Nilai nominal saham biasa: 5.000 x Rp.25.000= Rp.125.000.000 –
Agio saham biasa
Rp. 2.500.000
Jurnal:
Kas
Rp.127.500.000
Modal saham biasa
Rp.125.000.000
Agio saham biasa
Rp. 2.500.000
d). Jurnal untuk mencatat pertukaran saham
Harga pasar saham biasa (nilai mesin produksi ):
5.000 x Rp.26.000=
Rp. 130.000.000
Nilai nominal saham biasa: 5.000 x Rp.25.000 =
Rp. 125.000.000 –
Agio saham biasa
Rp. 5.000.000
Jurnal:
Mesin Produksi
Rp.130.000.000
Modal saham biasa
Rp.125.000.000
Agio saham biasa
Rp. 5.000.000
2.Neraca
Kas
Piutang dagang 20.000
Cad kerugian
Piutang
4.200 Persediaan barang
Tanah
Gedung
140.000
Akumulasi
Depresiasi
Gedung
34.000 –
Mesin produksi
Goodwill
PT Ta’idz
Neraca per, 1 Juni2009
(dalam ribuan Rp.)
137.500 Utang dagang
4.000
15.800
44.000
44.000
Utang obligasi
4.000
106.000
130.000 Modal saham biasa
38.200 Agio saham biasa
515.500
500.000
7.500
515.500
http://fansbuku.blogspot.co.id/2012/01/akuntansi-keuangan-menengah-2.html
http://tama-anindita.blogspot.co.id/2014/04/perseroan-modal-disetor.html
Download