1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang Minyak bumi

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
I.1
Latar belakang
Minyak bumi merupakan salah satu sumber energi tak terbarukan yang
berasal dari fosil yang terbentuk selama berjuta-juta tahun. Di Indonesia,
kebutuhan minyak bumi diperkirakan akan meningkat lebih dari 3 kali lipat
dengan pertumbuhan rata-rata 3,3% per tahun dari 297 juta barel (2013) menjadi
980 juta barel (2050) [1]. Apabila tidak ditemukan cadangan minyak bumi baru
dan kebutuhan minyak bumi dunia terus meningkat maka cadangan minyak bumi
dunia akan semakin berkurang dan habis dalam waktu puluhan tahun tertentu.
Hasil dari pengolahan minyak bumi berjenis bahan bakar minyak tercatat
mendominasi kebutuhkan energi dari tahun 2000 sampai dengan 2013 [1]. Salah
satu bahan bakar minyak yang menyumbang besar dalam peningkatan kebutuhan
energi di bidang transportasi adalah minyak solar. Pada tahun 2013, total
konsumsi minyak solar mencapai urutan pertama sebesar 45,4% dari total jenis
bahan bakar minyak yang dikonsumsi. Minyak solar digunakan sebagai salah satu
bahan bakar mesin diesel seperti truk, bus, dan mesin diesel lainnya.
Minyak solar termasuk turunan olahan hasil minyak bumi yang akan terus
berkurang jumlahnya seiring dengan bertambahnya kendaraan transportasi. Selain
itu, penggunaan minyak solar dalam jangka waktu panjang akan menyumbang
dalam peningkatan laju emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu pemerintah telah
mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak
dengan menggunakan bahan bakar yang berasal dari sumber energi baru dan
terbarukan. Pemerintah telah mengeluarkan Kebijakan Energi Nasional (KEN)
dalam Peraturan Pemerintah No.73 tahun 2014 untuk memanfaatkan energi baru
terbarukan minimal sebesar 23% [1]. Berkaitan dengan solar, pemerintah telah
mengeluarkan kebijakan untuk menggunakan bahan bakar nabati yang dapat
menggantikan dan atau dicampur dengan minyak solar (diversifikasi energi).
Alternatif bahan bakar pengganti atau pencampur solar yang telah dikembangkan
di Indonesia yaitu biodiesel. Berkaitan dengan biodiesel dan untuk mendorong
1
2
peningkatan pemanfaatan biofuel, kementerian ESDM telah menetapkan Permen
ESDM No.12/2015 yang menetapkan bahwa penggunaan campuran biodiesel
mencapai 15% (usaha mikro, transportasi, dan industri) dan 25% untuk
pembangkit listrik pada April 2015 meningkat menjadi 30% mulai Januari 2015
[1].
Biodiesel sebagai pengganti atau pencampur solar umumnya diproduksi
dengan reaksi transesterifikasi antara trigliserida, alkohol, dan dengan bantuan
katalis. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif untuk mesin diesel yang
dihasilkan oleh reaksi kimia lemak minyak nabati atau hewani dengan alkohol
seperti metanol [2]. Reaksi kimia biodiesel membutuhkan katalis, umumnya basa
kuat seperti natrium atau kalium hidroksida serta menghasilkan senyawa kimia
baru yang disebut metil ester [2].
Keunggulan biodiesel jika digunakan sebagai bahan bakar antara lain
dapat diperbaharui, biodegradable, tidak beracun, efisiensi pembakaran yang
tinggi, menghasilkan emisi gas (sulfur, sulfat, dan karbon monoksida) yang
rendah. Sifat lubrikasi yang lebih baik dibanding dengan petrodiesel, dan
memiliki flash point yang tinggi [3].
Dari ratusan jenis tanaman berkayu yang tumbuh di Indonesia, kemiri
sunan (Reutealis trisperma) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak
nabati yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Minyak
nabati dihasilkan dari biji kemiri sunan yang didalamnya terkandung racun
sehingga apabila digunakan untuk bahan baku biodiesel tidak akan bersaing
dengan sumber bahan pangan. Tanaman kemiri minyak (Reutealis trisperma
(Blanco) Airy Shaw) menghasilkan biji yang kandungan minyaknya dapat
mencapai 50% sehingga potensial untuk dijadikan sebagai sumber bahan bakar
nabati [4]. Minyak biji kemiri sunan merupakan trigliserida yang tersusun dari
asam palmiat, asam oleat, asam linoleat, dan asam α-eleostearat [4].
Pada
umumnya
pembuatan
biodiesel
dilakukan
dengan
metode
transesterifikasi. Biji kemiri sunan mengandung asam lemak bebas atau bilangan
asam yang tinggi yaitu lebih dari 2 mg KOH/g minyak sehingga perlu dilakukan
proses esterifikasi terlebih dahulu. Berdasarkan hasil pengamatan, rata-rata
3
bilangan asam varietas populasi Cinunuk dan Banyuresmi serta populasi Jumat
berturut-turut adalah 4,6 mg KOH/g sampai dengan 7,79 mg KOH/g dan 2,40 mg
KOH/g sampai dengan 6,30 mg KOH/g [5].
Esterifikasi merupakan metode yang digunakan untuk menurunkan
bilangan asam dan menghasilkan senyawa ester. Esterifikasi adalah reaksi
pengubahan dari suatu asam karboksilat dan alkohol menjadi suatu ester dengan
menggunakan katalis asam [6]. Ester adalah suatu senyawa yang mengandung
gugus COOR dengan R dapat berbentuk alkil atau aril [6].
Penggunaan metode esterifikasi dilakukan dengan menggunakan feed
stock minyak dari hasil ekstraksi sedangkan pada penelitian ini digunakan metode
in-situ esterifikasi dengan feed stock dari biji kemiri sunan. Oleh karena itu
dengan metode in-situ esterifikasi yang digunakan diharapkan dapat menurunkan
bilangan asam minyak kemiri sunan dan memperoleh biodiesel secara langsung
dari biji kemiri sunan sehingga dapat mempersingkat tahap pembuatan biodiesel.
Metode in-situ esterifikasi dengan biji kemiri sunan dilakukan dengan cara
mereaksikan serbuk dari biji kemiri sunan dengan alkohol dan katalis asam.
Alkohol yang digunakan pada penelitian ini adalah campuran metanol dan
isopropanol sedangkan katalis asam yang digunakan adalah asam sulfat. Metanol
merupakan pelarut yang lebih polar dibanding dengan isopropanol, sehingga
selain bereaksi membentuk metil ester, metanol membantu mempermudah proses
pemisahan minyak biodiesel. Isopropanol merupakan pelarut yang lebih non polar
untuk mengekstrak minyak dari serbuk biji kemiri sunan. Oleh karena itu, pada
penelitian ini diharapkan dengan memvariasikan variabel-variabel
yang
berpengaruh pada proses pembuatan biodiesel dapat dihasilkan yield tinggi dan
bilangan asam rendah atau dapat memenuhi standar biodiesel seperti standar SNI
04-7182, ASTM D6715, dan EN 14214. Response Surface Methodology dengan
Central Composite Design digunakan untuk membuat desain eksperimen dan
menentukan kondisi optimum proses. Variabel pada proses in-situ esterifikasi
antara lain perbandingan volume campuran metanol dan isopropanol terhadap
massa biji kemiri sunan, perbandingan volume metanol terhadap volume
4
campuran metanol dan isopropanol, persen massa katalis asam sulfat, dan waktu
reaksi.
I.2
Perumusan masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Berapa nilai perbandingan volume campuran metanol dan isopropanol
terhadap massa biji kemiri sunan, perbandingan volume metanol
terhadap volume campuran metanol dan isopropanol, persen massa
katalis asam sulfat, dan waktu reaksi yang diperlukan agar proses insitu esterifikasi menghasilkan yield tinggi dan bilangan asam rendah?
2. Bagaimana pengaruh dari variabel proses dan interaksi antar variabel
proses yang meliputi perbandingan volume campuran metanol dan
isopropanol terhadap massa biji kemiri sunan, perbandingan volume
metanol terhadap volume campuran metanol dan isopropanol, persen
massa katalis asam sulfat, dan waktu reaksi terhadap respon yield dan
bilangan asam?
I.3
Batasan masalah
Batasan masalah pada penelitiaan ini adalah sebagai berikut:
1. Kajian terhadap aspek ekonomi dan keselamatan tidak dilakukan.
2. Proses pembuatan biodiesel dilakukan dalam skala laboratorium
dengan sistem batch.
3. Sampel biji kemiri sunan yang digunakan diperoleh dari Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (PUSLITBANGBUN)
Bogor.
4. Bahan kimia yang digunakan adalah metanol (pro teknis), isopropanol
(pro teknis), n-Heksana (pro teknis), asam sulfat (pro analis), kalium
hidroksida (pro analis), phenolptalein (pro analis), toluene (pro analis),
dan akuades.
5. Respon penelitian yang dikaji adalah yield dan bilangan asam.
5
6. Temperatur, kecepatan pengadukan, serta volume campuran metanol
dan isopropanol pada reaksi in-situ esterifikasi dijaga konstan yaitu
65°C, 1250 rpm, serta 150 mL.
7. Eksperimen in-situ esterifikasi yang dilakukan berdasarkan desain
eksperimen
24 full
factorial
central
composite
yang
diolah
menggunakan perangkat lunak Statgraphics Centurion 16.
8. Analisis variansi yang dikaji yaitu analisis variansi untuk satu variabel
bebas dan interaksi dua variabel bebas.
I.4
Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:.
1. Melakukan pembuatan biodiesel dari biji kemiri sunan dengan metode
in-situ esterifikasi menggunakan campuran metanol dan isopropanol
dengan katalis asam sulfat.
2. Menentukan kondisi optimum pada proses in-situ esterifikasi dengan
cara memvariasikan beberapa variabel yang berpengaruh terhadap
proses in-situ esterifikasi, yaitu perbandingan volume campuran
metanol dan isopropanol terhadap massa biji kemiri sunan,
perbandingan volume metanol terhadap volume campuran metanol dan
isopropanol, persen massa katalis asam sulfat, dan waktu reaksi.
Kondisi optimum yang dimaksud adalah kondisi proses in-situ
esterifikasi yang menghasilkan biodiesel dengan yield tinggi dan
bilangan asam yang rendah.
I.5
Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai referensi untuk peneliti yang akan melanjutkan penelitian ini.
2. Sebagai referensi bagi para peneliti dan para usahawan di bidang
industri biodiesel.
6
3. Menambah pengetahuan baru mengenai pembuatan biodiesel dan
kondisi optimum pada proses in-situ esterifikasi biji kemiri sunan
menggunakan campuran metanol dan isopropanol dengan katalis asam
sulfat.
Download