27 BAB II PEMBELAJARAN KITABNAṢĀ`IḤUL ҅IBĀD DAN AKHLAK

advertisement
BAB II
PEMBELAJARAN KITABNAṢĀ’IḤUL ҅IBĀD
DAN AKHLAK SANTRI
A. Pengertian Pembelajaran Kitab Naṣā’iḥul ҅Ibād
1. Pengertian pembelajaran kitab Naṣā’iḥul ҅Ibād
Pembelajaran menurut
sebagai
Kokom Komalasari didefinisikan
suatu sistem atau proses membelajarkan subyek didik /
pembelajar yang direncakan atau di desain, dilaksanakan, dan di
evaluasi secara sistematis agar subyek didik/ pembelajar dapat
mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.1
Pandangan yang sudah berlangsung lama yang menempatkan
pembelajaran sebagai pusat transfer informasi atau transfer of
knowledge dari guru kepada siswa semakin banyak menambah
kritikan. Dalam proses pembelajaran, pengenalan terhadap diri sendiri
atau kepribadian diri merupakan hal yang sangat penting dalam upayaupaya pemberdayaan diri (self empowering). Pengenalan terhadap diri
berarti pula kita mengenal kelebihan-kelebihan atau kekuatan yang kita
miliki.2Basyiruddin Usman mengemukakan dalam pembelajaran
terdapat asas-asas yang penting yaitu:
1
Dr. Kokom Komalasari. M.Pd. Pembelajaran Kontekstual (Konsep dan Aplikasi). PT.
Rafika Aditama: Jakarta, 2011. Hlm.3
2
Dr. Aunurrahman, M.Pd, Belajar dan Pembelajaran, Alfabeta : Bandung, 2010, hlm 11
27
28
a. Peragaan
Peragaan
ialah
suatu
cara
yang
diperagakan
oleh
gurundengan maksud memberikan kejelasan secara realita
terhadap pesan yang di sampaikan sehingga dapat dimengerti
atau di pahami oleh para sisiwa.
b. Minat dan Perhatian
Minat dan perhatian merupakan suatu gejala siswa yang
saling bertautan. Seorang siswa yang memiliki niat dalam
belajarakan timbul perhatianya terhadap pelajaran yang
diminati tersebut.
c. Motivasi
Dorongan yang timbul dari dalam diri seorang disebut
motivasi, di mana seorang memperoleh daya jiwa yang
mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang timbul dari dalm
dirinya sendir dinamakn motivasi intrinsik. Sedangkan
dorongan yang timbul yang disebabkan oleh adanya pengaruh
luar disebut motivasi ekstrinsik.
d. Apersepsi
Ahli psikologi mendefinisikan apersepsi yaitu bersatunya
memori yang lama dengan yang baru pada saat tertentu.
29
e. Korelasi dan konsentrasi
Hubungan satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain
yang
berfungsi
dapat
menambah
kematangan
yang
pengetahuan yang dimiliki siswa.
f. Kooperasi
Yang dimaksud kooperasi yaitu belajar atau bekerja sama
(kelompok).
g. Individualisasi
Azas individualisasi pada hakikatnya bukan lawan dari azas
kooperasi. Azas ini dilatar belakangi oleh perbedaan siswa.
h. Evaluasi
Evaluasi yaitu penilaian seorang guru terhadap proses atau
kegiatan belajar-mengajar.3
Selain
azas
pembelajaran
pembelajaran
diatas
juga
ada
yang harus diperhatikan (Riyanto,
tahapan
2001)
membagi tahapat tersebut sebagai berikut :
1. Tahap pemula (Pra-Intruksional) adalah tahapan persiapan
guru sebelum kegiatan pembelajaran di mulai.
2. Tahap Pengajaran (intruksional)Yaitu langkah-langkah
yang dilakukan saat pembelajaran berlangsung.
3
Drs, M. Basyiruddin Usman, M.Pd, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Ciputa Pres : Jakarta,
2002, hlm 7-16
30
3. Tahap Penilaian dan tindak lanjut ialah penilaian atas hasil
belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dan tindak
lanjutnya.4
Kitab kitabNaṣā’iḥul ҅Ibād adalah Kitab Hadits yang sangat
terkenal di dunia pesantren kitab yang di dalamnya banyak
mengulas tentang perilaku-perilaku luhur para hamba yang
bersumber pada sunnah, atsar, khabar. yang beberapa tahun yang
lalu dibahas secara bergantian oleh Alm. KH Mudzakkir Ma’ruf
dan KH Masrikhan (dari Masjid Jami Mojokerto) dan disiarkan
berbagai radio swasta di Jawa Timur. Kitab itu adalah syarah dari
kitabnya Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani. Buah karya dari syeikh
Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al-jawi. Menurut buku yang
ditulis oleh Samsul Munir Amin dengan judul Sayyid Ulama’
Hijaz: Biografi Syaikh Nawawi al-Bantani.Beliau adalah salah satu
ulama besar dari Nusantara yang banyak berjasa dalam
perkembangan ajaran islam melewati aktivitas dakwah dan
pemikiran-pemikirannya yang mendunia.
Jadi pembelajaran kitab Naṣā’iḥul ҅Ibād dapat disimpulkan
sebagai suatu sistem atau proses membelajarkan subyek didik /
pembelajar yang direncakan atau di desain, dilaksanakan, dan di
evaluasi secara sistematis agar subyek didik/ pembelajar dapat
mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien dengan
4
Prof. Dr. H. Yatim Riyanto, M.Pd, Paradigma Baru Pembelajaran, Prenada Media : Jakarta, 2010,
Hlm. 132-133
31
menggunakankitab Naṣā’iḥul ҅Ibādsebagai sumber belajarnya
2. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah kemampuan (kompetensi) atau
keterampilan yang dapat dimiliki oleh siswa setelah mereka melakukan
proses pembelajaran tertentu. Hal ini seperti dikemukakan oleh Dick
dan Carey : The instructional goal is statement that describe what it is
that student will be able to do after they have completed. Tujuan
pembelajaran itu juga biasa di istilahkan dengan indikator
hasil
belajar. Artinya, apa hasil yang diperoleh siswa setelah mereka
mengikuti proses pembelajaran. Ada empat komponen pokok yang
harus tampak dalam rumusan indikator hasil belajar sperti yang
digambarkan dalam pertanyaan berikut :
a. Siapa yang belajar atau yang diharapkan dapat mencapai
tujuan atau mencapai hasil belajar itu?
b. Tingkah laku atau hasil belajar yang bagaimana yang
diharapkan dapat dicapai itu?
c. Dalam
kondisi
bagaimana
hasil
belajar
itu
dapat
ditampilkan?
d. Seberapa jauh hasil belajar itu bisa diperoleh?
Pertanyaaan pertama, berhubungangan dengan subyek
belajar. Pertanyaan kedua, berhubungan dengan tingkah laku
yang harus muncul sebagai indikator hasil belajar setelah
32
subyek mengikuti atau melaksanakan proses pembelajaran.
Pertanyaan ketiga, berhubungan dengan kondisi atau dalam
situasi dimana subyek dapat menunjukkan kemampuanya.
Pertanyaan keempat, berhubungan dengan standar kualitas dan
kuantitas hasil belajar.5
3. Metode pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran di pondok pesantren dilakukan
secara bertahap, dari kitab-kitab yang dasar yang merupakan kitabkitab pendek dan sederhana, kemudian ketingkat lanjutan menengah
dan baru setelah selesai menginjak kepada kitab-kitab takhasus, dan
dalam pengajarannya dipergunakan metode-metode seperti, sorogan,
bandongan, hafalan, mudzakaroh dan majlis ta’lim.
Untuk lebih jelasnya akan penulis paparkan masing-masing
metode tersebut sebagaimana berikut :
1. Metode Hafalan
Metode hafalan adalah metode pembelajaran dengan
mengharuskan santri membaca dan menghafalkan teks-teks kitab
yang berbahasa arab secara individual, biasanya digunakan untuk
teks kitab nadhom, seperti aqidat al-awam, awamil, imrithi, alfiyah
dan lain-lain.
5
Dr. Wina Sanjaya, M.Pd. Strategi Pembejaran, Kencana : Jakarta, 2007, hlm 86-87
33
Untuk memahami maksud dari kitab itu guru menjelaskan
arti kata demi kata dan baru dijelaskan maksud dari bait-bait dalam
kitab nadhom. Dan untuk hafalan, biasanya digunakan istilah setor,
yang mana ditentukan jumlahnya, bahkan kadang lama waktunya.
2. Metode Weton / Bandongan
Metode ini disebut weton, karena pengajiannya atas inisiatif
kyai sendiri, baik dalam menentukan kitab, tempat, waktunya, dan
disebut
bandongan,
karena
pengajian
diberikan
secara
berkelompok yang diikuti oleh seluruh santri.6
Proses metode pengajaran ini adalah santri berbondongbondong datang ke tempat yang sudah ditentukan oleh kyai, kyai
membaca suatu kitab alam waktu tertentu, dan santri membawa
kitab yang sama sambil mendengarkan dan menyimak bacaan kyai,
mencatat terjemahan dan keterangan kyai pada kitab itu yang
disebut dengan istilah maknani, ngasahi atau njenggoti. Pengajian
seperti ini dilakukan secara bebas, tidak terikat pada absensi, dan
lama belajarnya, hingga tamatnya kitab yang di baca, tidak ada
ujian, sehingga tidak bisa diketahui apakah santri sudah memahami
atau belum tentang apa yang di baca oleh kyai.
3. Metode Sorogan
Metode ini, adalah metode pengajaran dengan sistem
6
Dr.dr. Wahjoetomo, op.cit.,hlm. 83
34
individual, prosesnya adalah santri dan biasanya yang sudah
pandai, menyodorkan sebuah kitab kepada kyai untuk dibaca di
depan kyai, dan kalau ada salahnya, kesalahan itu langsung
dibetulkan oleh kyai.7
Di pondok pesantren, metode ini dilakukan hanya oleh
beberapa santri saja, yang biasanya terdiri dari keluarga kyai atau
santri-santri tertentu yang sudah dekat dengan kyai atau yang
sudah dianggap pandai oleh kyai dan diharapkan di kemudian hari
menjadi orang alim.
Dari segi teori pendidikan, metode ini sebenarnya metode
modern, karena kalau kita pahami prosesnya, ada beberapa
kelebihan di antaranya, antara kyai-santri saling kenal mengenal,
kyai memperhatikan perkembangan belajar santri, dan santri juga
berusaha untuk belajar aktif dan selalu mempersiapkan diri. Di
samping kyai mengetahui materi dan metode yang sesuai untuk
santrinya.Dan dalam belajar dengan metode ini tidak ada unsur
paksaan, karena timbul dari kebutuhan santri sendiri.
4. Metode Mudzakaroh / Musyawarah.
Metode mudzakaroh atau musyawarah adalah sistem
pengajaran dengan bentuk seminar untuk membahas setiap
7
Prof. Dr. H.A. Mukti Ali, Beberapa Persoalan Agama Dewasa ini, Jakarta : Rajawali,
1981, hlm. 19
35
masalah keagamaan atau berhubungan dengan pelajaran santri,
biasanya hanya untuk santri tingkat tinggi.8
Metode ini menuntut keaktifan santri, prosesnya santri di
sodori masalah keagamaan tertentu atau kitab tertentu, kemudian
santri
diperintahkan
untuk
mengkajinya
sendiri
secara
berkelompok, peran kyai hanya menyerahkan dan memberi
bimbingan sepenuhnya.
5. Metode Majlis ta’lim
Metode ini biasanya bersifat umum, sebagai suatu media
untuk menyampaikan ajaran Islam secara terbuka, diikuti oleh
jamaah yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, juga berlatar
belakang pengetahuan bermacam-macam dan tidak dibatasi oleh
tingkatan usia atau perbedaan kelamin. Pengajian ini dilakukan
secara rutin atau waktu-waktu tertentu.
4. Manfaat pembelajaran kitab Naṣā’iḥul ҅Ibād
Materi pembelajaran kitab Naṣā’iḥul ҅Ibādyang banyak mengulas
tentang nasehat-nasehat kebaikan para hamba yang bersumber pada
sunnah, atsar, dan khabar sangat efektif untuk menyadarkan para santri
akan pentingnya Akhlak dan membentuk suatu pribadi yang
berakhlaqul karimah. Sehubungan dengan hal itu kitab Naṣā’iḥul
҅Ibādmerupakan kitab karangan ulama asli indonesia yaitu syeikh
8
Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, op.cit.,hlm. 104
36
Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al-jawi dengan begitu berarti kita
melestarikan dan menghargai jerih payah ulama kita dalam hal dakwah
dan ilmu pengetahuan terutama dalam hal berbudi pekerti luhur/
akhlaqul karimah yang berjiwa iman , islam, dan ihsan untuk
mencapai kemaslahatan umat dalam bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara di dunia dan akhirat.
B. Akhlak Santri
1. Pengertian Akhlak santri
Secara
etimologi Akhlak berasal dari bahasa arab (Khuluqun)
jamak dari kata (Akhlaqu) yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku
atau tabiat.9Kata akhlak di sini juga mengandung persesuaian dengan kata
artinya kejadian yang juga erat hubungannya dengan yang berarti pencipta,
demikian juga dengan kata yang berarti yang diciptakan.Perumusan ini
dapat diambil pengertian bahwa akhlak sebagai media yangmemungkinkan
adanya hubungan baik antara khaliq dengan makhluk dan antara makhluk
dengan makhluk.10
Secara
terminologi, akhlak didefinisikan oleh Ahmad Amin
sebagai kebiasaan kehendak, yang berarti bila kehendak itu dibiasakan,
maka kebiasaan itu akan disebut sebagai akhlak.11Pengertian di atas, perlu
9
Drs. H. Hamzah Ya’kub, Etika Islam, Bandung : Diponegoro, 1983, hlm.11
10
Drs. Djasuri ”Pengajaran Akhlak” dalam Drs. Chabib Thoha, dkk., ( Tiem Perumus ),
Metodologi Pengajaran Agama, Semarang : Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo bekerjasama
dengan pustaka Pelajar, 1999, hlm. 109-110.
11
Prof. Dr. Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), Jakarta : Bulan Bintang, 1991, hlm. 63.
37
dijelaskan yang dimaksud kebiasaan adalah perbuatan yang dilakukan
secara berulang-ulang. Sedang untuk mengerjakannya mempunyai dua
syarat : Pertama ; ada kecenderungan hati kepadanya ; Kedua, ada
pengulangan yang cukup banyak ; sehingga mudah mengerjakannya tanpa
memerlukan fikiran lagi. Sedangkan yang dimaksud dengan kehendak
adalah menangnya keinginan manusia setelah di bimbing. Proses
terjadinya melalui ; Pertama, timbul keinginan setelah adanya stimulanstimulan melalui indra-indranya, Kedua ; timbul kebimbangan mana yang
harus dipilih di antara keinginan-keinginan yang banyak itu ; Ketiga;
mengambil keputusan, menentukan keinginan yang dipilih di atara
keinginan-keinginan tersebut.12
Imam al-Ghazali mengemukakan dalam kitabnya Ihya’ Ulum alDin bahwa :13
َ ِ ‫ِع َب َار ٌة َع ْن َه ْيثَ ٍة ِِف النَّ ْف ِس َر‬
‫ُْس‬
ٍ ْ ‫اِس ٌة َع ْْنَا ت َْصدُ ُر ا َالفْ َع ُل ب ُِسه ُْو َ ٍَل َوي‬
.‫ِ ْن َ ْ ِ َ اا ٍة ِا َ ِف ْ ٍ َو ُر ْ َ ٍة‬
12
Prof. Dr. H. Rachmat Djatmiko, Sistem Etika Islam, Jakarta : Pustaka Paji Mas, 1992,
hlm.27-28.
13
Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz III, Beirut : Darul Fikr, 1979, hlm. 58.
38
Artinya: ”Akhlak adalah suatu keterangan kesediaan jiwa yang (relatif)
tetapi yang dari padanya muncul perbuatan-perbuatan yang mudah dan
gampang tanpa disertai pikir dan pertumbuhan”.
Dari pengertian yang diberikan oleh al-Ghazali dapat diketahui
bahwa hakekat akhlak itu harus memenuhi dua syarat :
a. Perbuatan itu harus konstan, yaitu dilakukan berulangkali, kontinu,
dalam bentuk sama sehingga dapat menjadi kebiasaan (habit forming).
b. Perbuatan yang konstan itu harus tumbuh dengan mudah sebagai
wujud refleksi dari jiwanya tanpa pertimbangan dan pemikiran, yakni
bukan karena adanya tekanan-tekanan, paksaan dari orang lain atau
pengaruh-pengaruh
dan
bujukan-bujukan
yang
indah
dan
sebagainya.14Sedangkan Elizabeth B. Hurlock memberikan batasan
tentang akhlak dalam bukunya Child Development sebagai berikut :
Behaviour which may be called “Have Morality” not only conforms to
social standards but also Is carried out varuntarily, Is comes whith the
transition from external to internal outority and consists of conduct
regulated from writhin.15
Artinya: ”Tingkah laku yang boleh dikatakan sebagai moral yang
sebenarnya itu buka hanya sesuai dengan standar masyarakat
tetapi juga harus dilaksanakan dengan sukarela. Tingkah laku itu
terjadi melalui transisi dari kekuatan yang ada di luar (diri) ke
dalam (diri) dan ada ketetapan hal dalam bertindak yang diatur
dari dalam (diri)”.
Jadi, pengertian akhlak dapat disimpulkan sebagai kehendak
14
Drs. Zainuddin, dkk.,Seluk-beluk Pendidikan dari al-Ghazali, Jakarta : Bumi Aksara,
1991, hlm.102.
15
386.
Elisabeth B. Hurlock, Child Development, Edisi VI, Tokyo: MC. GrowHill , 1978, hlm.
39
jiwa manusia, (tanpa adanya paksaan dan tekanan maupun bujukan)
yang dapat menimbulkan perbuatan dengan mudah dan gampang
karena sudah dibiasakan dan dilakukan berulang-ulang, sehingga
sewaktu-waktu perbuatan itu akan muncul tanpa memerlukan
pertumbuhan dan pemikiran terlebih dahulu.
Dalam pembahasan akhlak, juga ada beberapa istilah yang
sering digunakan sebagai persamaan dengan istilah akhlak, istilahistilah itu adalah :
a. Etika
Etika atau akhlak adalah berasal dari bahasa Yunani Kuno
yaitu dari kata ”Ethos” dalam bentuk tunggal mempunyai banyak
arti, yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang,
kebiasaan adat, akhlak, wata’, perasaan, sikap, cara berfikir.
Sedangkan dalam bentuk jamak ”ta etha” mempunyai arti adat
kebiasaan.16Dalam Ensiklopedia Pendidikan diterangkan bahwa
etika adalah filsafat tentang nilai, kesusilaan tentang baik dan
buruk, kecuali etika mempelajari nilai-nilai, ia juga merupakan
pengetahuan tentang nilai-nilai itu sendiri.17Menurut Frans Magnis
Suseno, etika adalah keseluruhan norma dan penilaian yang
dipergunakan
mengetahui
98.
oleh
masyarakat
bagaimana
manusia
yang
bersangkutan
seharusnya
untuk
menjalankan
16
K. Bertens, Etika, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1993, hlm. 4.
17
Soeganda poerbakawatja, Ensiklopedia Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung, 1976, hlm.
40
kehidupannya.18Sedangkan Hamzah Ya’kub mendefinisikan etika
sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang
buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang
dapat diketahui oleh akal fikiran.19
Dengan demikian, etika dapat diartikan sebagai salah satu
cabang ilmu filsafat yang mempelajari dan menyelidiki tingkah
laku manusia untuk menentukan nilai dari perbuatan tersebut, baik
atau buruk menurut ukuran akal, atau dengan kata lain akal
manusia yang dapat menentukan baik buruknya suatu perbuatan,
baik karena akal menganggap dan menentukannya baik dan jelek
karena akal menilainya jelek.
b. Moral
Kata moral berasal dari bahasa latin ”Mores” kata jamak dari
kata mos yang berarti adat istiadat.20Dan dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia dikatakan bahwa moral adalah baik buruk yang diterima
umum mengenai perbuatan atau kelakuan.21Salah satu pengertian
moral sebagaimana disebutkan dalam Ensiklopedi Pendidikan bahwa
moral adalah nilai dasar dalam masyarakat untuk memilih antara nilai
18
Drs. Frans Mognis Suseno, Etika Jawa, Jakarta : Gramedia, 1985, hlm. 6.
19
A.M. H. Hamzah Ya’kub, Op.Cit.,hlm. 13.
20
Ibid, hlm . 14.
21
592.
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : PN Balai Pustaka, 1993, hlm.
41
hidup (moral) juga adat istiadat yang menjadi dasar untuk menentukan
baik atau buruk.22
Pengertian yang hampir sama, juga diberikan oleh K. Bertens,
bahwa etika merupakan nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi
pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur
tingkah laku.23Lebih jelas lagi definisi yang diungkapkan oleh Frans
Magnis Suseno bahwa norma-norma moral adalah tolak ukur untuk
menentukan betul salahnya sikap atau tindakan manusia dilihat dari
segi baik buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran
tertentu dan terbatas.24Dari berbagai pengertian di atas, dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan moral adalah dasar, nilai
yang dapat dijadikan pedoman, tolak ukur untuk menentukan baik
buruknya, betul salahnya suatu perbuatan manusia dalam satu lingkup
masyarakat, sehingga persesuaiannya adalah dengan adat istiadat yang
diterima oleh masyarakat yang meliputi kesatuan sosial atau
lingkungan tertentu.
c. Kesusilaan
Untuk membicarakan mengenai tingkah laku manusia, juga
bisa digunakan istilah kesusilaan, kata kesusilaan berasal dari kata
“susila” yang termasuk dalam kosa kata Bahasa Sansekerta, kata
22
Soeganda poerbakawatja, Op.Cit.,hlm. 186.
23
K. Bertens, Op.Cit.,hlm. 7.
24
Dr. Frans Magnis Suseno, Etika Dasar,Jakarta., Kanisius,1989,hlm.19.
42
susila ini berasal dari penggabungan kata ”su” yang berarti baik,
bagus dan kata ”sila” yang berarti dasar, prinsip, peraturan hidup,
norma.25Jadi, yang dimaksud dengan kesusilaan adalah dasar atau
prinsip tentang baik dan bagusnya tingkah laku manusia. Di sisi lain,
pengertian ini dapat memberikan bimbingan agar manusia dapat hidup
sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam tata kehidupan
manusia.
d. Budi Pekerti
Budi pekerti dalam Bahasa Indonesia merupakan kata
majemuk dari kata ”budi” dan ”pekerti”. Budi berasal dari Bahasa
Sansekerta
yang
berarti
sadar,
menyadarkan
atau
alat
kesadaran.Sedangkan pekerti berasal dari bahasa Indonesia yang
berarti kelakuan.Secara istilah, budi dapat diartikan sebagai sesuatu
yang ada pada manusia, yang berhubungan dengan kesadaran, yang
didorong oleh pemikiran, ratio yang disebut dengan karakter. Dan
pekerti diartikan sebagai apa yang terlihat pada manusia, karena
didorong oleh perasaan hati yang disebut dengan behaviour. Jadi yang
dimaksud dengan budi pekerti adalah perpaduan dari hasil rasio dan
rasa yang bermanivestasi pada karsa dan tingkah laku manusia.26
Istilah ”santri” mempunyai dua konotasi atau pengertian, yang
pertama; di konotasikan dengan orang-orang yang taat menjalankan
25
Drs. M. Said, Etik Masyarakat Indonesia, Jakarta : Pradya Paramita, 1976, hlm. 74.
26
Prof. Dr. Rahmat Djatnika, Op.Cit.,hlm. 26.
43
dan melaksanakan perintah agama Islam, atau dalam terminologi lain
sering disebut sebagai ”muslim ortodoks”. Yang dibedakan secara
kontras dengan kelompok abangan, yakni orang-orang yang lebih
dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya jawa pra Islam, khususnya nilainilai yang berasal dari mistisisme Hindu dan Budha.27Yang kedua;
dikonotasikan dengan orang-orang yang tengah menuntut ilmu di
lembaga pendidikan pesantren.Keduanya jelas berbeda, tetapi jelas
pula kesamaannya, yakni sama-sama taat dalam menjalankan syariat
Islam.28
Dalam dunia pesantren santri dikelompokkan menjadi dua
macam, yaitu :
1. Santri mukim
Adalah santri yang selama menuntut ilmu tinggal di dalam pondok
yang disediakan pesantren, biasanya mereka tinggal dalam satu
kompleks yang berwujud kamar-kamar.Satu kamar biasanya di isi
lebih dari tiga orang, bahkan terkadang sampai 10 orang lebih.
2. Santri kalong
Adalah santri yang tinggal di luar komplek pesantren, baik
di rumah sendiri maupun di rumah-rumah penduduk di sekitar
27
Bakhtiar Efendy, ”Nilai-nilai Kaum Santri” dalam Dawan Raharjo (ed), Pergulatan
Dunia pesantren Membangun dari Bawah, Jakarata : LP3M, 1986. hlm. 37
28
Drs. Imama Bawani, M.A., op.cit.,hlm. 93
44
lokasi pesantren, biasanya mereka datang ke pesantren pada waktu
ada pengajian atau kegiatan-kegiatan pesantren yang lain.29
Para santri yang belajar dalam satu pondok biasanya
memiliki rasa solidaritas dan kekeluargaan yang kuat baik antara
santri dengan santri maupun antara santri dengan kyai. Situasi
sosial yang berkembang di antara para santri menumbuhkan sistem
sosial tersendiri, di dalam pesantren mereka belajar untuk hidup
bermasyarakat, berorganisasi, memimpin dan dipimpin, dan juga
dituntut untuk dapat mentaati dan meneladani kehidupan kyai, di
samping bersedia menjalankan tugas apapun yang diberikan oleh
kyai, hal ini sangat dimungkinkan karena mereka hidup dan tinggal
di dalam satu komplek.Dalam kehidupan kesehariannya mereka
hidup dalam nuansa religius, karena penuh dengan amaliah
keagamaan, seperti puasa, sholat malam dan sejenisnya, nuansa
kemandirian karena harus mencuci, memasak makanan sendiri,
nuansa kesederhanaan karena harus berpakaian dan tidur dengan
apa adanya. Serta nuansa kedisiplinan yang tinggi, karena adanya
peraturan-peraturan yang harus dipegang teguh setiap saat, bila ada
yang melannggarnya akan dikenai hukuman, atau lebih dikenal
dengan istilah ta’zirat seperti di gundul, membersihkan kamar
mandi dan lain sebagainya.
29
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam,op.cit., hlm.105
45
Maka dari Uraian
pengertian Akhlak dan Santri diatas
dapat disimpulkan bahwa akhlak santri ialah perangai atau perilaku
yang dimiliki oleh santri dalam proses atau hasil belajarnya di
Pondok Pesantren.
2. Ciri – ciri Akhlak
Ciri-ciri Akhlakqul Karimahantara lain:
1.
Jujur
2.
Memelihara amanah
3.
Bersifat adil
4.
Bersifat kasih sayang
5.
Bersifat hemat
6.
Bersifat berani
7.
Bersifat kuat
8.
Bersifat malu
9.
Memelihara kesucian diri
10. Menepati janji30
3. Fungsi dan manfaat akhlak
a.
Fungsi akhlak
Saat ini kita berad ditengah-tengah pusaran hegemoni media,
revolusi iptek tidak hanya mampu menghadirkan sejumlah kemudahan
dan kenyamanan hidup bagi manusia modern, melainkan juga
mengandung serentetan permasalahan dan kekhawatiran. Urgensi
akhlak semaikin terasa jika dikaitkan maraknya aksi perampokan,
penjambretan, penodongan, korupsi, manipulasi dan berbagai upaya
untuk cepat kaya tanpa kerja keras. Untuk mengatasi semua kenyataan
30
Drs. M. Yatimin Abdullah, M. A, Studi Akhlak Dalam Perspektif Al-Qur an, jakarta,
Amzah,2007, Hlm. 16
46
tersebut dilakukan tindakan represif melalui penanaman akhlakul
karimah. Tanpa upaya preventif, segala bentuk upaya represif tidak
akan mampu menyelesaikan masalah karena semua pelaku kejahatan
selalu patah tumbuh hilang kembali.31
b. Manfaat akhlak
Besar harapan sesorang yang mempelajari akhlak akan
menjadi orang yang baik budi pekertinya. Ia menjadi anggota
masyarakat yang berarti dan berjasa. Ilmu akhlak tidak memberi
jaminan sesorang menjadi baik dan berbudi pekerti luhur. Namun
mempelajari akhlak dapat membuka mata hati seseorang untuk
mengetahui yang baik dan buruk. Begitu pula memberi pengertian apa
faedahnya jika berbuat baik dan apa bahayanya jika berbuat
kejahatan.32
5. Proses terbentuknya Akhlak akhlak santri
Pembentukan akhlak yang dimiliki snatri tidak terlepas dari metode
pembentukan akhlak yang diterapkan . Metode-metode yang dapat
digunakan dalam pembentukan akhlak antara lain, adalah :
1. Metode Keteladanan
Akhlak adalah bentuk perilaku yang dapat diperoleh
melalui pergaulan, pergaulan merupakan bentuk komunikasi
manusia secara langsung, yang menyebabkan terjadinya saling
mengambil contoh, meniru dan pengaruh mempengaruhi antara
31
Nur Hidayat, M.Ag, Akhlak Tasawuf, Jakarta, Ombak, 2013, Hlm 27-28
Drs. M. Yatimin Abdullah, M. A, Op.ciy, hlm 16
32
47
satu dengan yang lain.
Sebagai guru, yang kapasitasnya sebagai pendidik harus
dapat memberikan contoh teladan (uswah hasanah), jika ingin anak
didiknya memiliki akhlak yang baik, karena segala perilaku yang
ada pada pendidik akan selalu direkam dan diperhatikan oleh anak
didik, sehingga metode keteladanan ini merupakan metode yang
trebaik dalam pendidikan akhlak, sebagaimana difirmankan Allah
dalam al-Qur'an :
ِ َّ ِ‫لَقَدْ ََك َن لَ ُ ُْك ِِف َر ُسول‬
‫اَّلل َوالْ َي ْو َم‬
َ َّ ‫اَّلل ُأ ْس َو ٌة َح َس نَ ٌة ِل َم ْن ََك َن يَ ْ ُجو‬
‫ااآل ِ َ َو َ َ َ َّ َاَّلل َ ِث ًري ا‬
Artinya : ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu
suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang
yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (alAkhzab : 21)33
Dalam metode keteladanan, juga dituntut untuk bersikap
konsisten dan kontinyu dalam memberikan contoh perbuatan dan budi
pekerti yang baik. Karena sekali saja, pendidik melakukan hal yang
tidak baik, maka akan dapat mencoreng seluruh budi pekerti yang telah
diteladankannya.34
33
34
Depag RI, Op.Cit.,hlm. 670.
Khatib Ahmad Santhut, Menumbuhkan Sikap Sosial, Moral dan Spiritual anak dalam
Keluarga Muslim, (terj. Ibnu burdas), Jakarta : Mitra Pustaka, 1998, hlm. 85.
48
2. Metode Mujahadah dan Riyadhoh
Metode mujahadah dan riyadhoh ini merupakan metode
praktek dengan melatih dan membiasakan anak didik untuk berbuat
dan bertindak dengan sungguh-sungguh sesuai dengan yang
diharapkan, seperti misal anak didik diarahkan agar memiliki sifat
pemurah, maka diusahakan sesering mungkin anak didik diajak untuk
seringkali bersedekah, sehingga lambat laun anak didik akan mudah
untuk melakukan sedekah dan tidak merasa takut.
Anak didik yang dipraktekan dan dilatih untuk berbuat sesuatu,
dan dibiasakan, akan terbentuklah sikap dan tabiat yang kuat dengan
apa yang dilakukannya akhirnya tidak tergoyahkan lagi dan masuk
menjadi bagian dari pribadinya.
3. Metode Kisah dan Cerita
Dalam pendidikan Islam, kisah dan cerita mempunyai fungsi
edukatif yang memiliki dampak psikologis yang cukup kuat terhadap
anak didik. Kisah dan cerita akan dapat membekas pada diri seseorang
apabila benar-benar dapat menyentuh hati nurani anak didik yang
peka. Karena cerita atau kisah yang baik dapat merangsang,
menggugah dan mendorong anak didik untuk bertindak sesuai dengan
apa yang terkandung dalam isi cerita, sehingga anak didik akan
melakukan apa yang sesuai dengan hatinya dan menyingkirkan apa
49
yang tidak sesuai dengan dikehendaki, metode ini juga dikenal dengan
metode historis.35
Metode ini juga digunakan al-Qur'an dalam mengarahkan
manusia
ke
arah
mengemukakan
yang
kisah-kisah,
dikehendaki-Nya,
seringkali
al-Qur'an
dengan
dalam
menonjolkan
kelemahan dan kelebihan dari orang masa lalu, namun kisah tersebut
juga disertai dengan digaris bawahi akibat dari kelemahan dan
kelebihan tersebut.36Agar orang yang mendengarkan tahu akan cerita
itu dan dapat mengambil pelajaran dari isi kandungan cerita
tersebut.Sebagaimana firman Allah :
‫ِ اِ َ اَْي َ ْيَنَ اِاَْي َ ا َ َ ااااْي ُ ْي َآا‬
‫َا‬
َ َ ‫ُّص ا ََْي َ اَ ْي َ َ اااْي‬
ِِ‫ا ِ ا ََن ِ ِااَ ِ اااْي َ ا‬
َ ‫َ ْي ْي‬
ُ ‫َْي ُ ا ََن‬
‫ا َ ِ ْيآا ُ ْي‬
Artinya : ”Kami menceritakan kepadamu kisah kasih yang
paling baik dengan mewahyukan al-Qur'an ini
kepadamu”.dan sesungguhnya kamu sebelum (kami
mewahyukan-Nya) adalah termasuk orang-orang
yang belum mengetahui”. (QS.Yusuf:3 )37Dan juga :
ِ ‫اََ ْيدا َ َآ ِاِفا َ ِ ِهما ِْيَن ةٌاأل ِِلااألاْي‬
‫با َ ا َ َآا َ ِديثً ا‬
َ
َ ‫َ ْي‬
ِ ‫يَن ْيفتَن ىا اَ ِك اتَ ِد‬
‫اش ْيي ٍءا َ ُ ًدىا‬
َ ‫يقاااَّ يابََن ْي َ ايَ َديْيِا َ تََن ْيف ِ َلا ُ ِّل‬
َ ‫ُ َ َ َ ْي ْي‬
‫َ َر ْيْحَةًااَِ ْيوٍمايَنُ ْيؤِ ُوآ‬
35
Dr. Muhammad Fadhil al-Jamaly, Konsep Pendidikan Qur’ani, diterj Oleh Drs. Judi alFalasani, M.A., Solo : Ramadhani, 1993, hlm. 132.
36
Dr.M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur'an, Bandung : Mizan, 1994, hlm .175.
37
Depag RI, Ibid.,hlm. 348.
50
Artinya : ”Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat
pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”.
(QS.Yusuf : 111 )38
Ayat tersebut di atas, menjelaskan kepada kita bahwa dalam alQur'an banyak sekali kisah dan cerita yang dapat digunakan untuk
mendidik anak dalam menanamkan akhlak yang baik, di samping
cerita-cerita simbolik dan fiktif yang mengandung materi pendidikan
yang baik.
4. Metode Targhib dan Tahdzib
Metode targhib dan tahdzib adalah metode pendidikan akhlak
dengan membuat anak senang dan takut.Untuk membuat senang ini
adalah dengan memberikan penghargaan hadiah dan serupanya bagi
anak didik yang melaksanakan perilaku baik, dan juga mengancam dan
menghukum terhadap anak melakukan kesalahan atau berperilaku
yang tidak baik.Metode ini dapat dipraktekkan dengan membuat
peraturan-peraturan dan tata tertib, yang berisi kewajiban dan larangan
disertai aturan hukuman bagi yang melanggar.Peraturan dan tata tertib
ini harus diterapkan kepada semua anak didik, atau kalau dalam
keluarga, tentunya kepada seluruh anggota keluarga agar tidak ada
diskriminasi antara satu dengan yang lainnya.
Selain keempat metode tersebut di atas, juga masih ada
beberapa metode yang dapat digunakan dalam pendidikan secara
berkesinambungan dan terkait dengan metode-metode tersebut, di
38
Depag RI, ibid ,hlm. 366.
51
antaranya adalah metode pemberian nasehat dan dorongan, metode
penilaian rasional, pengawasan dan lain sebagainya, kesemua metode
tersebut adalah digunakan dalam rangka untuk mencapai tujuan
pembentukan watak, pribadi yang karimah, sesuai dengan tatanan
nilai-nilai agama Islam.
Dari penjelasan mengenai istilah-istilah di atas, maka bila
dikaitkan
dengan
akhlak,
perbedaan.Persamaannya
ada
adalah
beberapa
kesemua
perasamaan
istilah
dan
sama-sama
membahas perilaku manusia dan menilai dan menentukan tentang baik
buruknya perbuatan tersebut.Perbedaannya adalah terletak pada
sumber titik pangkal tata aturannya.Akhlak dalam menilai perilaku
manusia didasarkan pada sumber ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan
hadits sehingga memiliki manivestasi yang lebih mendalam, yaitu
untuk mencapai kedamaian dunia akherat. Sedangkan etika, moral
kesusilaan, budi pekerti memandang tingkah laku manusia memakai
tolak ukur dan pertimbangan akal fikiran, adat istiadat atau segala apa
yang menjadi tatanan nilai yang dihasilkan di suatu masyarakat.39
39
hlm. 9.
Drs. Asmaran AS., M.A., Pengantar Studi Akhlak, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1994,
Download