BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI

advertisement
BAB III
RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN
KEUANGAN DAERAH
Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah dan Kebijakan Keuangan Daerah
menguraikan kondisi perekonomian Kabupaten Banyuwangi tahun 2012 dan
perkiraan tahun
2013 serta proyeksi
tahun
2014.
Beberapa
indikator
pembangunan ekonomi yang ditelaah meliputi indikator pertumbuhan ekonomi
daerah,
sumber-sumber
pendapatan,
dan kebijakan
pemerintah daerah
mengenai pengelolaan keuangan daerah seperti pendapatan daerah, belanja
daerah, dan pembiayaan daerah.
3.1.
Arah Kebijakan Ekonomi Daerah
Kondisi perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang cukup baik
pada tahun 2012, meskipun perekonomian global masih diselimuti oleh berbagai
ketidakpastian, seperti prospek pemulihan ekonomi di kawasan Eropa (terutama
di negara yang mengalami krisis hutang, yaitu Yunani, Italia, Irlandia, Potugal
dan Spanyol) dan ancaman jurang fiskal (fiscal cliff) di AS. Hal tersebut dapat
dilihat dari perkembangan pertumbuhan ekonomi dunia, Eropa, Indonesia, dan
beberapa negara berikut.
Tabel 3. 1
Proyeksi Indikator Perekonomian Global (%)
WEO-IMF
2012
Oct'11
Jan'12
Apr'12
July'12
Oct'12
Jan'13
Apr'13
Oct'12
Jan'13
Apr'13
World
3.2
4.5
3.9
4.1
3.9
3.6
3.5
3.3
4.1
4.1
4
US
2.2
2.5
2.2
2.4
2.3
2.1
2
1.9
2.9
3
3
-0.6
1.5
0.8
0.9
0.7
0.2
-0.2
-0.3
1.2
1
1.1
7.8
9.5
8.8
8.8
8.5
8.2
8.2
8
8.5
8.5
8.2
4
8.1
7.3
7.3
6.5
6
5.9
5.7
6.4
6.4
6.2
ASEAN-5
6.1
5.8
5.6
6.2
6.1
5.8
5.5
5.9
5.7
5.7
5.5
Indonesia
6.2
6.7
n.a.
6.1
6.6
6.3
n.a.
6.3
n.a.
n.a.
6.4
Trade
2.5
6.4
5.4
5.6
Vol.
World
Sumber: Kementrian Keuangan, 2013
5.1
4.5
3.8
3.6
5.8
5.5
5.3
Europe
China
India
Pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju dan kawasan Eropa
selama tahun terakhir mengalami perlambatan. Perlambatan ekonomi tersebut
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 1
berdampak langsung terhadap pelemahan kinerja ekspor Indonesia, tetapi bisa
melalui mitra dagang negara berkembang Indonesia. Permintaan China dan
India terhadap ekspor Indonesia, antara lain sebagai bahan baku, juga
mengalami penurunan. Dari sisi moneter, pelonggaran kebijakan moneter di
negara negara maju akan menimbulkan likuiditas yang besar di pasar global.
Dengan masih terdapatnya ketidakpastian, arus modal tentu dapat
mengganggu keseimbangan pasar uang di nilai tukar diberbagai negara. Secara
ringkas, perkembangan perekonomian global sampai dengan bulan Maret 2013
adalah sebagai berikut.
Tabel 3. 2
Perkembangan Perekonomian Global Sampai dengan Bulan Maret 2013
Eurozone
 Pada Q4-2012 perekonomian
Eropa mengalami kontraksi
sebesar 0,6% (qoq) atau
0,9% (yoy).
 Sepanjang tahun 2012,
ekonomi Eropa menglami
kontraksi 0,6% turun dari
tahun 2011 yang tumbuh
sebesar 1,4%.
 Januari 2013 : Pengangguran
Eropa sebesar 11,9%.
Tingkat pengangguran
Spanyol mencapai 26,2%.
 Kebijakan terkini:
1.
Program outright
monetary transaction
(OMT) ECB
2.
ESM gantikan EFSF,
total dana €500 miliar
3.
Bailout Yunani 2013
telah disetujui IMF (€
3,24 miliar) dan zona
Eropa (€9,2 miliar).
Amerika Serikat
Asia
 Perekonomian China tumbuh
7,9% (yoy) di Q4-2012 lebih
 Perekonomian AS di Q4-2012
tinggi dari Q3-2012 sebesar
tumbuh 0,1% (qoq) melambat
7,4% (yoy). Sepanjang 2012
dibandingkan Q3 2012 yang
China tumbuh sebesar 7,8%
tumbuh sebesar 3,1%
(yoy).
(qoq).Sepanjang tahun 2012,
perekonomian AS tumbuh
 Pada Q4-2012 India tumbuh
2,2% lebih tinggi dari tahun
sebesar 4,5% (yoy) melambat
2011 sebesar 1,8%
dari Q3-2012 sebesar 5,3%
(yoy). Sepanjang tahun 2012
 The Fed memangkas
India tumbuh sebesar 5,1%
perkiraan pertumbuhan AS
melambat dibandingkan 2011
pada 2013 antara 2,3%- 3,0%
sebesar 7,3%.
lebih rendah dari perkiraan
pada September lalu (2,5%  Selama 2012 negara-negara
3,0%).
Asia lainnya tumbuh positif.
Pertumbuhan Singapura 1,3%
 The Fed memutuskan untuk
(yoy), Vietnam tumbuh 5,0%
tetap mempertahankan
(yoy), Filipina sebesar 6,6%
program QE3 dengan nilai
(yoy), Thailand tumbuh 6,4%
rata-rata US$85 miliar per
dan Malaysia tumbuh 5,6%.
bulan, namun The Fed
 Beberapa kebijakan negaramempertimbangkan untuk
negara Asia terkini
mengurangi nilai tersebut.
 Di samping itu Kongres AS
juga telah menyetujui
kenaikan pagu utang dengan
penundaan hingga 19 Mei
2013
 BoJ menambah dana
pembelian aset untuk ke-3x
dalam 4 bulan (66 triliun
yen76 triliun yen):
 Jepang menambah stimulus
fiskal sebesar 10,3 triliun yen
 Pemerintah AS telah
atau sebesar US$116 miliar.
menandatangani kesepakatan
pemangkasan belanja
 BOJ menetapkan target inflasi
otomatis sebesar US$85
sebesar 2% (sebelumnya 1%)
miliar selama tahun 2013.
dan menyatakan akan
Pemangkasan ini akan terus
menerapkan program
berlanjut dengan total
pembelian aset tanpa batas.
sebesar US$1,2 triliun hingga
sepuluh tahun kedepan.
 Pemerintah India
menargetkan defisit anggaran
sebesar 4,8% terhadap PDB
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 2
Eurozone
Amerika Serikat
Asia
pada tahun fiskal April 2013
hingga Maret 2014. Upaya ini
dilakukan melalui kenaikan
pajak, penjualan aset dan
pemangkasan subsidi.
Sumber: Dirjen Perimbangan Keuangan, Kemenkeu 2013
Imbas dari krisis tersebut mengarah pada penurunan permintaan
eksternal dan perlambatan aktivitas perekonomian di Asia, termasuk China dan
India. Indonesia dengan karakteristik ekonomi nasional yang ditopang oleh
konsumsi domestik dan pembentukan modal tetap bruto (investasi) masih dapat
bertahan terhadap terpaan krisis keuangan global. Hal ini dapat dilihat dari
perkembangan PDB dan Konsumsi Rumah Tangga dan Pemerintah serta PMTB
sebagaimana berikut.
Tabel 3. 3
Perkiraan pertumbuhan PDB dan Konsumsi Rumah Tangga dan
Pemerintah serta PMTB 2012 – 2014
Uraian
2011
2012
2013
2014*
Produk Domestik Bruto (%)
6,5
6,23
6,6– 6,8
6,7 – 7,2
Konsumsi Rumah Tangga (%)
4,7
5,28
5,7 – 5,9
7,0 – 7,5
Konsumsi Pemerintah (%)
3,2
1,25
7,5 – 7,8
6,9 – 7,4
Pemb modal Tetap bruto (%)
8,8
9,81
11,5 – 12
12,4 – 12,9
Sumber: Dirjen Perimbangan Keuangan, Kemenkeu 2013 dan *2014 merupakan proyeksi Bank
Indonesia
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa konsumsi rumah tangga
Indonesia diprediksi mengalami peningkatan pada tahun 2013, dengan capaian
5,7 – 5,9 persen, dimana pada tahun sebelumnya 2012, capaiannya sebesar
5,28 persen. Hal ini merupkan salah satu indikasi dari meningkatnya daya beli
masyarakat di tengah pemulihan ekonomi dunia yang berjalan lambat. Begitu
pula dengan tahun 2014, yang mana pada tahun ini Bank Indonesia
memproyeksikan capaiannya sebesar 7,0 – 7,5. Peningkatan konsumsi rumah
tangga ini juga diimbangi dengan peningkatan konsumsi pemerintah di tahun
2013 maupun 2014. Pada tahun 2013, konsumsi pemerintah diprediksi mencapai
7,5 – 7,8 persen (Kemekeu). Nilai ini mengalami peningkatan yang cukup besar
jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 1,25 persen.
Senada dengan peningkatan konsumsi pemerintah dan rumah tangga, PMTB
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 3
juga diproyeksikan mengalami peningkatan pada tahun 2013 dan 2014, dengan
capaian masing-masing sebesar 11,5 – 12 persen dan 12,4 – 12,9 persen.
Proyeksi dan perencanaan pembangunan pemerintah daerah harus
mempertimbangkan asumsi dasar ekonomi makro nasional, dimana merupakan
dasar bagi Pemerintah dalam menyusun postur APBN jangka menengah, dan
menjadi basis perhitungan untuk memperkirakan besaran pendapatan negara
dan hibah, belanja negara, defisit/surplus dan pembiayaan anggaran dalam tiga
tahun ke depan.
Ringkasan asumsi dasar ekonomi makro tahun 2013 termuat dalam
APBN 2013 telah disepakati bersama Dewan Perwakilan Rakyat. Kesepakatan
tersebut tertuang dalam UU No.19 Tahun 2012 Tentang APBN Tahun 2013.
Ringkasan proyeksi perekonomian nasional dinyatakan sebagai berikut:
a. pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 %;
b. tingkat inflasi sebesar 4,9 %;
c. Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan sebesar 5,0 %;
d. Nilai Tukar Rupiah adalah Rp. 9.300/US$;
e. dan Rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar USD 100
per barel dengan lifting minyak sebesar 900 ribu barel per hari dan lifting
gas 1.360 MBOEPD
Secara ringkas, perkiraan pemerintah atas asumsi makro dalam
beberapa tahun ke depan dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 3. 4
Proyeksi Asumsi Makro Nasional 2012-2014
Uraian
Pertumbuhan Ekonomi (%)
Inflasi (%)
Suku Bunga SPN 3 bulan (%)
Nilai Tukar Rupiah (Rp/US$)
Harga Minyak (US$/barel)
Lifting Minyak (ribu barel/hari)
2012
APBN-P
6,5
6,8
5,0
9000
105
930
2012
APBN
6,2
4,3
3,2
9384
112,7
860,6
2013 *
2014**
PRAKIRAAN MAJU
6,6 - 6,8
6,4 - 6,9
4,9 - 5,3
3,5 - 5,5
3,2 – 5,0
4,5 - 5,5
9300 - 9700
9.600 - 9.800
100 - 110
100 - 120
840 - 900
900 - 930
Sumber: Dirjen Perimbangan Keuangan, Kemenkeu dan Bappenas 2013
*Tahun 2013=Outlook asumsi 2013 berdasarkan kesepakatan antara Kemen ESDM, Bappenas, Bank
Indonesia, DJA, BKF per 8 Februari 2013
**Tahun 2014 merupakan proyeksi dasar ekonomi makro 2014, Kementrian Keuangan RI
Dalam menghadapi perekonomian mendatang, berdasarkan paparan
Prioritas Pembangunan Nasional 2014 dan Penguatan Sinergi Pusat-Daerah
Indonesia dihadapkan pada tantangan dan peluang baik dari sisi internal maupun
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 4
eksternal. Dari sisi internal, tantangan yang dihadapi meliputi (i) iklim investasi
dan usaha masih perlu perbaikan; (ii) isu ketenagakerjaan; (iii) keterbatasan
infrastruktur; (iv) keterbatasan fiskal dan penyerapan anggaran; (v) pengelolaan
BBM dalam negeri; (vi) stabilitas politik terkait pemilu. Sedangkan peluang dari
sisi internal meliputi (i) potensi domestik yang besar; (ii) Pemanfaatan jumlah
midle class yang besar dan terus naik; (iii) Pemilu mendorong kegiatan
perekonomian domestik.
Dari sisi eksternal (luar negeri dan dunia), tantangan yang perlu
diperhatikan diantaranya (i) Di tahun 2013 pemulihan ekonomi dunia diperkirakan
berjalan lambat; (ii) Pemulihan harga komoditas yang masih lambat; (iii)
Kecenderungan peningkatan hambatan non tarif. Sedangkan peluang yang ada
diantaranya (i) Krisis utang Eropa mereda; (ii) Resesi ekonomi AS akibat jurang
fiskal dapat dihindari; dan (iii) Perekonomian China mulai menguat (Bappenas,
2013).
Tema penyusunan Rencana Kerja Pembangunan (RKP) Nasional Tahun
2014
adalah
Memantapkan
Perekonomian
Nasional
Bagi
Peningkatan
Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan. Sedangkan unsur-unsur pokok dalam
(RKP) tahun 2014 antara lain:
1. Pemantapan Perekonomian Nasional;

Peningkatan daya saing;

Peningkatan ketahanan ekonomi;

Mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
2. Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan;

Pembangunan SDM;

Penurunan kemiskinan dan pengangguran;

Mitigasi bencana;

Peningkatan kesejahteraan rakyat lainnya.
3. Pemeliharaan Stabilitas Sosial dan Politik.

Membaiknya kinerja birokrasi dan pemberantasan korupsi;

Memantapkan penegakan hukum, pertahanan, dan pelaksanaan
Pemilu 2014.
Sedangkan pada konteks Provinsi Jawa Timur, dengan memperhatikan
target capaian indikator kinerja utama yang termuat dalam RPJMD Provinsi Jawa
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 5
Timur Tahun 2009-2014 dan capaian tahun 2012 maka ditetapkan target kinerja
pembangunan Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 adalah:
Tabel 3. 5
Justifikasi Target Indikator Kinerja Utama RKPD Provinsi Jawa Timur
Tahun 2014
Target RPJMD
Justifikasi Target
RKPD
Tkt Pengangguran Terbuka (%)
5,20 - 5,40
3,5 - 4,0
Kemiskinan (%)
13,5 - 14,0
11,0 - 12,0
Pertumbuhan Ekonomi (%)
5,50 - 6,00
7,5 - 7,7
113,50 - 113,80
112
Indikator Kinerja Utama
Indeks Disparitas
Indeks Pembangunan Manusia
70,50 - 71,00
Sumber: RKPD Provinsi Jawa Timur Tahun 2014
73 - 73,15
3.1.1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2012 dan Perkiraan Tahun
2013
Kondisi perekonomian Kabupaten Banyuwangi salah satunya
dapat dilihat dari pertumbuhan ekonominya. Pertumbuhan ekonomi yang
terjadi di Kabupaten Banyuwangi tidak lepas dari pertumbuhan sektoral
dalam PDRB. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi tahun 2010
mengalami peningkatan yang cukup signifikan dengan capaian 6,22%
dan 7,02% pada tahun 2011. Peningkatan tersebut terus terjadi sampai
awal tahun 2013 yang diperkirakan mencapai angka 7.2%. Peningkatan
ini mengindikasikan adanya peningkatan kondisi perekonomian daerah,
yang perlu untuk dipertahankan dan ditingkatkan.
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 6
Gambar 3. 1.
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Banyuwangi dan Jawa Timur
Tahun 2009-2013
Sumber: Bappeda Kabupaten Banyuwangi, 2013
*Tahun 2013 merupakan angka sementara
Selama kurun beberapa tahun terakhir, besaran PDRB ADHB
menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Namun peningkatan ini
lebih dipengaruhi oleh kenaikan harga barang dan jasa pada masingmasing kegiatan ekonomi, sehingga diperlukan suatu pengkajian dengan
mempertimbangkan besaran PDRB atas dasar harga konstan (ADHK)
dalam kurun waktu tersebut. PDRB ADHK Kabupaten Banyuwangi tahun
2009 sampai dengan tahun 2012 berada pada besaran yang relatif stabil.
Dilihat dari kondisi ini berarti potensi ekonomi di Kabupaten Banyuwangi
lebih dipengaruhi oleh perkembangan harga dibandingkan dengan
pertumbuhan ekonomi.
Dengan kondisi tersebut, maka prospek perekonomian Kabupaten
Banyuwangi dapat dilihat dalam indikator ekonomi sebagai berikut.
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 7
Tabel 3. 6
Prospek dan Prediksi Perekonomian Kabupaten Banyuwangi
Tahun 2013
Indikator
Pertumbuhan Ekonomi (%)
PDRB ADHB (Juta Rupiah)
PDRB ADHK (Juta Rupiah)
PDRB per Kapita (Juta
Rupiah)
TPT (%)
IPM (%)
Inflasi (%)
Penduduk di atas Garis
Kemiskinan (%)
Realisasi
Proyeksi
2010
2011
2012*
2013
6.22
7.02
7.18
7.20
23,558,420.84 26,367,387.40 30,213,893.31 32,260,942.99
11,015,195.17 11,788,649.35 12,634,554.00 13,494,381.87
15,139,614.36 16,849,968,91 19,254,035.46 21,049,977.26
3.92
68.80
7.47
4.01-5.01
69.24
4.90
3.64-4.64
69.8
5.25
3.31-4.31
70.24
5.00±1
79.86
81.34
82.72
84.10
Sumber: Bappeda Kabupaten Banyuwangi, 2012, 2013 dan proyeksi
*angka sementara
3.1.2. Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2013
dan Tahun 2014
Situasi perekonomian global saat ini berada dalam ketidakpastian.
Hal tersebut disebabkan oleh pemulihan ekonomi di kawasan Eropa dan
ancaman jurang fiskal (fiscal cliff) di AS, sehingga mengakibatkan
penurunan
permintaan
eksternal
dan
perlambatan
aktivitas
perekonomian di Asia, termasuk China dan India. Di sisi lain, dengan
perekonomian global yang penuh ketidakpastian, Indonesia sebagai
negara dengan perekonomian nomor 16 di dunia, nomor 4 di Asia
setelah China, Jepang dan India, serta terbesar di Asia Tenggara,
mempunyai prospek yang semakin menjanjikan dengan melimpahnya
sumber daya alam, pertumbuhan konsumsi swasta dan iklim investasi
yang kondusif. Namun, tantangan besar Indonesia saat ini adalah
bagaimana meningkatkan daya saing (competitiveness) yang saat ini
berada pada peringkat 50 dari 144 negara, khususnya yang berkaitan
dengan peningkatan infrastruktur, kesehatan dan pendidikan, efisiensi
pasar
tenaga
kerja,
penguasaan
teknologi
dan
inovasi,
serta
kelembagaan.
Adanya tantangan dan prospek perekonomian dunia tersebut,
Kabupaten Banyuwangi diharapkan dapat mempertahankan dan
meningkatkan kondisi perekonomian melalui pemanfaatan sumber daya
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 8
yang dimilki secara optimal. Untuk menjaga stabilitas pertumbuhan
ekonomi 2014 diperlukan berbagai langkah dan upaya terpadu. Salah
satu upaya tersebut diantaranya adalah melalui peningkatan value
added dalam produk-produk pertanian melaui kerjasama dengan
berbagai pihak merupakan salah satu langkah dalam peningkatan
pertumbuhan perekonomian daerah. Disamping itu, pemanfaatan
kekayaan dan sumber daya alam melalui promosi pariwisata merupakan
langkah strategis dalam peningkatan perekonomian. Untuk mendukung
hal
tersebut,
maka
penyediaan
dan
peningkatan
infrastruktur
perekonomian sangat penting dalam perannya menunjang pertumbuhan
dan distribusi ekonomi daerah.
Dengan berbagai tantangan dan peluang tersebut, maka prospek
perekonomian Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2013 sampai 2015
dapat dilihat dalam indikator ekonomi sebagai berikut.
Tabel 3. 7
Prospek dan Prediksi Perekonomian Kabupaten Banyuwangi
Tahun 2014-2015
Indikator
Pertumbuhan Ekonomi (%)
PDRB ADHB (Juta Rupiah)
PDRB ADHK (Juta Rupiah)
PDRB per Kapita (Juta Rupiah)
TPT (%)
IPM (%)
Inflasi %)
Penduduk di atas Garis
Kemiskinan (%)
2013
7.2-7.4
34,260,942.99
13,494,381.87
21,049,977.26
3.31-4.31
70.24
5.00±1
Proyeksi*
2014
7.2-7.4
37,850,081.39
14,412,724.18
23,252,292.29
3.31-4.31
70.50
5.00±1
2015
7.2-7.4
40,053,919.50
15,393,563.07
24,603,144.66
3.31-4.31
71.02
5.00±1
84.10
85.02
85.94
Sumber : Proyeksi Capaian Indikator Kabupaten Banyuwangi
Melihat proyeksi capaian indikator kinerja tersebut, tantangan dan
Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2014 adalah sebagai berikut.
1. MENJAGA STABILITAS EKONOMI. Perhatian akan diberikan
pada langkah-langkah yang terpadu untuk menjaga stabilitas
perekonomian domestik, yang dihadapkan pada tingginya resiko
harga komoditi, serta pengendalian perdagangan yang dapat
membahayakan perekonomian sehingga tidak masuk dalam
kondisi defisit.
2. MENDORONG
Dorongan
PERCEPATAN
akan
diberikan
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
PERTUMBUHAN
pada
peningkatan
EKONOMI.
investasi,
III - 9
pembangunan industri pengolahan dan industry strategis berbasis
pertanian, peningkatan daya saing daerah, peningkatan efektivitas
penerimaaan daerah, penguatan penyerapan belanja daerah, serta
pemantapan ketahanan pangan.
3. MEMPERCEPAT
PENGURANGAN
PENGANGGURAN
DAN
KEMISKINAN. Langkah-langkah akan dipusatkan pada upayaupaya yang mampu menciptakan lapangan kerja yang lebih besar
serta menjangkau masyarakat yang masih hidup di bawah garis
kemiskinan dengan program-program pemberdayaan secara tepat.
3.2.
Arah Kebijakan Keuangan Daerah
Arah kebijakan keuangan daerah menguraikan kebijakan yang akan
ditempuh
oleh
Pemerintah
Kabupaten
Banyuwangi
berkaitan
dengan
pendapatan daerah, pembiayaan daerah, dan belanja daerah.
3.2.1. Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri Nomor 13
Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 21 Tahun 2011, pengelolaan keuangan daerah adalah
keseluruhan
kegiatan
yang
meliputi
perencanaan,
pelaksanaan,
penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan
keuangan daerah. Penyusunan APBD sesuai dengan peraturan
perundangan
diawali
dengan
proses
Musyawarah
Perencanaan
Pembangunan Daerah (Musrenbangda) yang hasilnya dituangkan
dalam
dokumen
Rencana
Kerja
Pemerintah
Daerah
(RKPD),
selanjutnya dipergunakan sebagai dasar penyusunan Kebijakan Umum
Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS).
Berdasarkan Undang - undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dan Undang - undang Nomor 33 Tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dinyatakan bahwa
anggaran pemerintah daerah bersumber dari Pendapatan Asli Daerah
(PAD), Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah.
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 10
PAD Kabupaten Banyuwangi terdiri dari Hasil Pajak Daerah, Hasil
Retribusi
Daerah,
Hasil
Pengelolaan
Kekayaan
Daerah
yang
Dipisahkan, dan Lain-lain PAD yang sah. Dana Perimbangan bersumber
dari Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi
Khusus (DAK). Pengalokasian anggaran yang dilakukan diharapkan
efektif dengan memberi kepuasan kepada masyarakat, dan dapat
mengimplementasikan strategi RPJMD Kabupaten Banyuwangi 20102015 yang pro growth, pro job, pro poor dan pro environment.
Sehingga, dalam memproyeksikan pendapatan daerah pada
tahun 2014 diperlukan beberapa asumsi sebagai berikut:
1. Tingkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi dengan
tingkat yang moderat pada tahun 2013 diperkirakan sebesar 7,207,40.
2. Tingkat inflasi Daerah pada tahun 2012 diperkirakan sebesar
5,00±1%;
3. Adanya pengalihan pajak dari pusat ke daerah akan meningkatkan
pendapatan asli daerah lebih dari 15% - 20%.
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 11
Tabel 3. 8
Realisasi dan Proyeksi/Target Pendapatan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2010 s.d tahun 2015
REALISASI 2010
REALISASI 2011
JUMLAH
REALISASI 2012
ANGGARAN 2013
PENDAPATAN ASLI DAERAH
87.091.140.847,23
113.262.269.757,87
140.326.556.339,19
119.657.070.444,00
1.1.1.
Pajak Daerah
21.116.165.210,00
32.449.080.866,10
40.769.833.221,00
33.649.909.104,00
1.1.2.
Retribusi Daerah
19.755.863.642,00
21.621.743.609,84
24.818.889.408,00
16.522.891.370,00
10.481.591.613,23
9.983.335.503,89
14.503.063.660,51
14.964.736.000,00
35.737.520.382,00
49.208.109.778,04
60.234.770.049,68
54.519.533.970,00
DANA PERIMBANGAN
906.774.713.137,00
982.023.260.117,00
1.198.575.211.872,00
1.170.038.124.021,00
1.2.1.
Bagi Hasil Pajak / Bukan Pajak
63.282.331.137,00
84.955.081.117,00
100.701.984.872,00
72.164.897.021,00
1.2.2.
Dana Alokasi Umum
761.897.082.000,00
815.156.279.000,00
1.030.217.037.000,00
1.030.217.037.000,00
1.2.3.
Dana Alokasi Khusus
81.595.300.000,00
81.911.900.000,00
67.656.190.000,00
67.656.190.000,00
LAIN -LAIN PENDAPATAN YANG
SAH
172.892.966.219,00
354.933.058.492,00
351.542.446.031,00
212.500.928.424,00
1.896.531.568,00
0,00
0,00
0,00
0
0,00
0,00
0,00
50.659.095.851,00
87.622.916.704,00
82.167.898.760,00
73.443.059.304,00
101.364.381.600,00
231.980.466.862,00
210.000.496.000,00
138.194.821.920,00
18.972.957.200,00
35.329.674.926,00
59.374.051.271,00
863.047.200,00
1.143.706.248.557,05
1.143.706.248.557,05
1.143.692.289.989,91
1.690.444.214.242,19
KODE
1.
1.1.
1.1.3.
1.1.4.
1.2.
1.3.
URAIAN
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah
Yang Dipisahkan
Lain - Lain Pendapatan Asli Daerah
Yang Sah
1.3.1.
Pendapatan Hibah
1.3.2.
Dana Darurat
1.3.3.
1.3.4.
1.3.5.
TARGET 2014
TARGET 2015
131.552.458.033,27
148.953.166.536,71
43.596.686.721,36
51.004.200.054,76
28.082.787.451,33
30.585.226.492,25
16.718.053.414,58
19.486.397.363,57
43.154.930.446,01
47.877.342.626,13
1.292.046.644.543,85
1.367.732.605.127,02
272.418.396.985,69
276.302.354.393,19
PENDAPATAN
Dana Bagi Hasil Pajak dari Propinsi
atau Pemda Lainnya
Dana Penyesuaian dan Otonomi
Khusus
Bantuan Keuangan dari Propinsi atau
Pemda Lainnya
JUMLAH PENDAPATAN
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 12
-
-
3.2.2. Arah Kebijakan Keuangan Daerah
Sub bab ini menjelaskan mengenai kebijakan yang akan ditempuh oleh
pemerintah daerah Kabupaten Banyuwangi berkaitan dengan pendapatan daerah,
pembiayaan daerah, dan belanja daerah, berdasarkan hasil analisis dan prediksi
perekonomian dan kerangka pendanaannya.
3.2.2.1.
Arah Kebijakan Pendapatan Daerah
Kebijakan perencanaan pendapatan daerah Kabupaten Banyuwangi
2014 diarahkan pada optimalisasi penerimaan PAD, dengan melakukan
diversifikasi, intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber PAD, dimana
sebagian besar potensinya berbasis sektor primer. Adapun arah kebijakan
pendapatan daerah Kabupaten Banyuwangi adalah sebagai berikut:
1. Diversifikasi sumber pendapatan daerah;
2. Meningkatkan intensifikasi dan ekstensifikasi penggalian sumber sumber pendapatan daerah, terutama melalui usaha daerah dan
pendayagunaan aset daerah, termasuk pendapatan dari pihak ketiga;
3. Meningkatkan kemampuan dan optimalisasi organisasi di bidang
pendapatan atau organisasi penghasil;
4. Memantapkan Kelembagaan dan Sistem Operasional Pemungutan
Pendapatan Daerah;
5. Meningkatkan pengelolaan aset dan keuangan daerah;
6. Meningkatkan pendataan terkait sumber daya alam sebagai salah
satu komponen perhitungan dana perimbangan daerah;
7. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pembayaran pajak
dan retribusi daerah.
8. Penguatan Local Taxing Power dengan strategi Memperluas Basis
Pungutan Dan Diskresi Penetapan Tarif. Hal ini dapat dilakukan
dengan kebijakan yang antara lain meliputi:
a. Memperluas Objek (Pajak Hotel, Pajak Restoran)
b. Menambah Jenis (Pajak Sarang Burung Walet, Pajak Rokok,
BPHTB, PBB-Perkotaan dan Perdesaan)
c. Menaikkan Tarif Maksimum (Pajak Mineral Bukan Logam dan
Batuan, Pajak parkir, Pajak Hiburan)
d. Diskresi
Penetapan Tarif (Daerah bebas menetapkan tarif
dalam batas tarif minimum dan maksimum yang ditetapkan
dalam UU)
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 13
3.2.2.2.
Arah Kebijakan Belanja Daerah
Belanja daerah terdiri dari dua jenis belanja yaitu belanja tidak
langsung dan belanja langsung. Belanja tidak langsung terdiri dari belanja
pegawai, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan
sosial, belanja bagi hasil kepada provinsi/kabupaten kota dan pemerintah
desa, serta belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan
pemerintahan desa.
Sedangkan belanja langsung merupakan belanja yang secara
langsung untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kebijakan untuk Tahun
2014 belanja langsung digunakan untuk belanja yang terkait langsung
dengan program dan kegiatan. Kebijakan pembangunan daerah untuk Tahun
2014 berpedoman pada RPJMD 2010-2015 dengan tetap melaksanakan
program kegiatan sesuai dengan skala prioritas daerah. Pencapaian hasilhasil pembangunan dalam tahun anggaran sebelumnya akan terus
ditingkatkan sesuai kemampuan keuangan daerah.
Arah kebijakan belanja daerah Kabupaten Banyuwangi adalah
sebagai berikut:
1. Penentuan dan penggunaan anggaran belanja daerah didasarkan
pada hubungan antara alokasi belanja tidak langsung dan belanja
langsung dengan pencapaian Visi dan Misi Pemerintah Kabupaten
Banyuwangi, serta memperhatikan sinergitasnya dengan prioritas
pembangunan Nasional dan prioritas pembangunan Provinsi Jawa
Timur;
2. Peningkatan alokasi belanja yang mengarah pada program yang
berorientasi
pada
kesejahteraan
masyarakat,
terutama
pada
kepentingan publik;
3. Meningkatkan kualitas anggaran belanja daerah melalui pola
penganggaran yang berbasis kinerja dengan pendekatan tematik
pembangunan
yang
disertai
sistem
pelaporan
yang
semakin
akuntabel;
4. Peningkatan efektifitas penggunaan alokasi belanja daerah sesuai
dengan TUPOKSI dan fungsi masing-masing SKPD;
5. Sesuai dengan amanat UU No. 28/2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi
Daerah,
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
akan
dialokasikan
anggaran
untuk
III - 14
bidang
infrastruktur jalan dan transportasi minimal 10% dari perolehan pajak
kendaraan bermotor dan bahan bakar kendaraan bermotor;
6. Mendayagunakan penggunaan belanja daerah untuk menstimulasi
tumbuh
kembangnya
partisipasi
sektor
swasta
dan
masyarakat dalam pembangunan daerah.
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 15
swadaya
Tabel 3. 9
Realisasi dan Proyeksi/Target Belanja Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2010 s.d tahun 2015
KODE
2.
2.1.
URAIAN
BELANJA DAERAH
BELANJA TIDAK
LANGSUNG
JUMLAH
REALISASI 2010
REALISASI 2011
REALISASI 2012
TARGET 2013
TARGET 2014
TARGET 2015
922.857.329.644,00
956.935.147.324,13
1.086.820.824.132,0
1.181.087.895.771,0
1.169.481.737.884
1.284.211.081.275
712.838.363.669,00
791.455.675.678,25
919.880.835.377,00
1.001.645.235.771,00
945.203.700.103
1.049.922.607.491
9.698.506,57
0,00
0,00
0,00
0
0
0,00
0,00
0,00
0,00
70.715.008.976
75.660.050.064
2.1.1.
Belanja Pegawai
2.1.2.
Belanja Bunga
2.1.3.
Belanja Subsidi
2.1.4.
Belanja Hibah
90.855.265.092,00
51.989.911.826,00
70.523.019.415,00
60.887.580.000,00
91.133.184.372
94.400.239.476
2.1.5.
Belanja Bantuan Sosial
50.275.116.001,00
64.718.188.229,88
22.830.673.000,00
23.271.330.000,00
54.790.892.758
55.290.892.758
2.1.6.
Belanja Bagi Hasil
33.272.600,00
41.513.750,00
1.780.517.950,00
1.933.750.000,00
134.576.497
139.145.432
2.1.7.
Belanja Bantuan Keuangan
63.968.949.976,24
47.127.607.840,00
71.805.778.390,00
88.350.000.000,00
7.504.375.178
8.798.146.053
2.1.8.
Belanja Tidak Terduga
4.876.663.800,00
1.602.250.000,00
0,00
5.000.000.000,00
BELANJA LANGSUNG
279.302.580.985,
486.076.536.498,06
596.185.640.981,97
555.006.943.776,00
647.410.343.106,4
659.762.949.740
10.248.975.200,00
29.099.471.573,00
34.536.247.450,00
31.765.497.260,00
14.915.815.748,4
17.658.123.697
2.2.
2.2.1.
Belanja Pegawai
2.2.2.
Belanja Barang dan Jasa
132.535.116.309,75
206.129.849.687,06
205.837.086.906,97
191.410.346.197,00
121.906.106.305,7
127.995.261.21
2.2.3.
Belanja Modal
136.518.489.475,96
250.847.215.238,00
355.812.306.625,00
331.831.100.319,00
510.588.421.052,1
517.109.564.82
1.170.748.674.749,50
1.202.159.910.630,52
1.683.006.465.113,9
1.736.094.839.547,00
7.437.749.128,22 2
233.898.716.658,00
JUMLAH BELANJA
SURPLUS / (DEFISIT) TAHUN
BERJALAN
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 16
3.2.2.3.
Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah
Pembiayaan daerah meliputi penerimaan daerah dan pengeluaran
daerah. Kebijakan pembiayaan yang timbul karena jumlah pengeluaran lebih
besar daripada penerimaan sehingga terdapat defisit. Sumber penerimaan
daerah berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu, penerimaan
pinjaman daerah, dan penerimaaan piutang daerah. Sedangkan untuk
pengeluaran pembiayaan direncanakan antara lain terdiri dari pembayaran
pokok pengeluaran pihak ketiga.
Kebijakan yang disepakati dalam pos pembiayaan berfungsi sebagai
penunjang terhadap pencapaian sasaran dan tujuan yang diinginkan serta
disepakati dalam Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah. Kebijakan Umum Pembiayaan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi
adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan Manajemen Pembiayaan Daerah dalam rangka akurasi,
efisiensi, efektifitas, dan profitabilitas;
2. Mengoptimalkan sisa lebih perhitungan anggaran (SILPA) yang
bersumber dari pelampauan penerimaan pendapatan daerah maupun
sisa penghematan belanja;
3. Alokasi pengeluaran pembiayaan diprioritaskan untuk pembayaran
utang pokok yang jatuh tempo;
4. Apabila APBD dalam keadaan surplus, kebijakan yang diambil adalah
melakukan transfer ke persediaan Kas Daerah dalam bentuk
Giro/Deposito, Penyertaan Modal, atau sisa lebih perhitungan
anggaran tahun berjalan;
5.
Apabila APBD dalam keadaan defisit, kebijakan yang diambil adalah
memanfaatkan anggaran yang berasal dari sisa lebih perhitungan
anggaran tahun lalu, rasionalisasi belanja, pinjaman daerah, atau
memperluas kemitraan.
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
III - 17
Tabel 3. 10
Realisasi dan Proyeksi/Target Pembiayaan Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2010 s.d tahun 2015
KODE
3.1
3.1.1
3.1.2
3.1.3
3.1.4
3.1.5
3.1.6
3.1.76
3.2
3.2.1
3.2.2
3.2.3
3.2.4
3.2.5
URAIAN
Penerimaan Pembiayaan
Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran Tahun
Sebelumnya (SiLPA)
Pencairan Dana Cadangan
Hasil Penjualan Kekayaan
Daerah Yang Dipisahkan
Penerimaan Pinjaman
Daerah
Penerimaan Kembali
Pemberian Pinjaman
Penerimaan Piutang Daerah
Penerimaan Dana Talangan
Pengeluaran Pembiayaan
Pembentukan Dana
Cadangan
Penyertaan Modal (Investasi)
Daerah
Pembayaran Pokok Utang
Pemberian Pinjaman Daerah
Pengeluaran Dana Talangan
JUMLAH PEMBIAYAAN
NETTO
SILPA
RKPD Kabupaten Banyuwangi 2014
2010
Realisasi
2011
221.232.088.197,57
2012
228.536.239.404,25
220.755.627.297,57
228.139.377.204,25
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
476.460.900,00
396.862.200,00
0,00
0,00
401.899.250,00
0,00
0,00
34.201.356.063,00
0,00
35.200.000.000,00
0,00
0,00
0,00
0,00
34.000.000.000,00
34.000.000.000,00
0,00
0,00
401.899.250,00
201.356.063,00
0,00
0,00
0,00
0,00
1.200.000.000,00
20.830.188.947,57
194.334.883.341,25
233.898.716.658,00
201.765.632.469,47
0,00
III - 18
Target
2014
2013
2015
Download