217 POLA JARINGAN SOSIAL EKONOMI MIGRAN BUGIS SEBAGAI

advertisement
POLA JARINGAN SOSIAL EKONOMI MIGRAN BUGIS SEBAGAI
PEDAGANG SAYUR (Studi di Pasar Baruga Kota Kendari)
Oleh: Nilam Sari, Muh. Arsyad, dan Bakri Yusuf
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui jarinag sosial
ekonomi migran Bugis sebagai pedagang sayur di pasar Baruga Kota
Kendari. (2) Untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang mendorong
dan penghambat masyarakat Bugis migran memilih menjadi pedagang
sayur di Pasar Baruga Kota Kendari. Penelitian ini dilaksanakan di Pasar
Baruga Kota Kendari. Penentuan informasi dilakukan secara purposive
sampling yaitu teknik penentuan informan secara sengaja yang berjumlah
16 orang dan data penelitian ini diperoleh melalui observasi dan
interview serta dianalisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini
menunjukan bahwa jaringan sosial ekonomi migran di Pasar Baruga Kota
Kendari berjalan dengan baik dan faktor-faktor yang memengaruhi
adalah faktor keinginan dan kondisi sosial ekonomi.
Kata Kunci: Jaringan Sosial, Migran, Etnis Bugis.
PENDAHULUAN
Migrasi penduduk merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan
proses berkembangnya pembangunan di Indonesia. Fenomena migrasi yang
berlangsung dalam suatu negara banyak terlihat di berbagai wilayah Indonesia.
Salah satu daerah yang mencerminkan adanya fenomena migrasi antar daerah
(interprovincial migration) maupun migrasi internasional (international migration).
Pekerja migran internal (dalam negeri) adalah orang yang bermigrasi dari
tempat asalnya untuk bekerja di tempat lain yang masih termasuk dalam
wilayah Indonesia. Karena perpindahan penduduk umumnya dari desa ke Kota
(rural-to-urban migration), maka pekerja migran internal seringkali diidentikan
dengan orang desa yang bekerja di kota.
Jaringan sosial yang dikembangkan dan dipelihara di antara sesama
migrant sedesa asal tersebut antara lain dapat ditelusuri sejak migran yang
bersangkutan pertama kali berangkat bermigrasi, karena sejak awal
keberangkatan seseorang bermigrasi tidak lepas hubungannya dengan sesama
migran se-desa asal. Penelitian terhadap migran ini menemukan bahwa
umumnya ketika pertama kali seorang migran baru bermigrasi ke kota, ia tidak
berangkat seorang diri, melainkan selalu ada migran yang telah lebih dahulu
bermigrasi yang mengajak atau membawanya.
Secara historis, sebagian besar suku bugis turun temurun telah merantau
mencari keberuntungan di daerah yang baru dahulu sangat bergantung
terhadap sektor pertanian untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
217
Penggunaan lahan mayoritas digunakan untuk sektor agraris/pertanian yang
merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang mereka, seperti: padi,
jagung, kacang, dan lain sebagainya. Serta di sektor peternakan.Akan tetapi,
saat ini kondisi tersebut sudah mengalami perubahan seiring perkembangan
zaman (kemajuan IPTEK), perubahan iklim, dan bertambahnya jumlah
penduduk yang cukup pesat.Pada perkembangannya, pengelolaan pertanian
menjadi kurang maksimal, dan berdampak pada hasil panen yang seringkali
mengalami pemerosotan harga. Selain itu, juga terjadi pengalih-fungsian lahan
sabagai lahan pemukiman baru dan sarana-sarana umum seperti: sarana
pendidikan, balai desa, dan lain-lain. Berdasarkan kondisi itulah (kondisi lahan
pertanian yang kurang menjanjikan akibat permainan harga pasar dan
munculnya masalah social ekonomi yang menjadi faktor pendorong mereka
untuk merantau ke daerah lain.
Bugis merupakan kelompok etnik dari wilayah asal Sulawesi Selatan ini
mempunyai ciri utama adalah bahasa dan adat-istiadat. Berdasarkan sensus
penduduk Indonesia tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak sekitar enam
juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi
Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, dan daerah di Indonesia lainnya maupun
di manca Negara. Kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi samudra cukup
dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka. Awal orang-orang Bugis ke
daerah lain di Nusantara hingga ke Sulawesi tenggara adalah adanya semangat
untuk merantau (massompe’). Orang-Orang Bugis selalu berupaya mencari
tempat yang dianggap layak bagi dirinya untuk tinggal, bekerja, bermasyarakat
dan lain-lain. Selama hal tersebut belum dicapai, perantauan tidak akan pernah
berakhir. Perantauan orang Bugis ini juga dimotivasi budaya siri’ yang menjadi
pandangan hidup orang Bugis.Merantau bagi orang Bugis dianggap menjadi
jalan memperbaiki hidup dan meningkatkan harkat dan martabat, baik harga
diri maupun kelompok.Karena itulah Bugis lebih berhasil, disebabkan oleh
situasi historis dan keunikan orang-orang Bugis untuk melakukan
pembaharuan.
Migran orang Bugis sebagai pendatang yang secara tidak lansung
berusaha untuk mempersatukan dirinya dengan kehidupan setempat, pada
akhirnya dipaksa untuk beradaptasi dengan linkungan adat istiadat, walaupun
dalam bentuknya yang paling sederhana.
Adaptasi dengan adat istiadat merupakan suatu masalah karena hal
tersebut mengalami peroses yang membutuhkan jangka waktu yang relatif
lama.Waktu yang di butuhkan tersebut sangat relative yaitu sepanjang dengan
masa dimana para migran merasa betah untuk tinggal dan menganggap
linkungan itu menjadi miliknya. Sebab itu maka dalam proses tersebut,
seseorang akan mengadaptasi bagian yang paling sederhana dalam adat istiadat
218
simbol yang di gunakan berhubungan dalam masyarakat seperti bahasa, isyarat,
warna dan aneka tingkahlaku yang dipolakan untuk memberikan pengertian
tertentu dan telah di ketahui secara menyeluruh dalam kelompok tersebut.
Migran Bugis khususnya yang ada di Kota Kendari segala cara akan
dilakukannya untuk meningkatkan perekonomiaanya, diantaranya berdagang
dan nelayan. Dimana jika berbicara tentang pedagang sayur di Kota Kendari
pusatnya yaitu di pasar Baruga, tempat pusat bongkar muat segala jenis sayuran
yang dibutuhkan dalam kota Kendari. Suku Bugis yang berdangang sayur di
Kota Kendari khususnya yang ada di Pasar Baruga Kendari sebanyak 70%
sedangkan yang lainnya adalah suku Tolaki, Muna dan Jawa sebanyak 30%. Ini
berarti bahwa yang berdagang di Pasar Baruga mayoritas suku Bugis yang
berdatangan dari berbagai daerah.Oleh karena itu penulis bermaksud untuk
mengkaji secara cermat tentang pola jaringan sosial ekonomi migran Bugis
yang berperan sebagai pedagang sayur.
METODE PENELITIAN
Peneliti ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, karena Metode
penelitian kualitatif ini melalui observasi, wawancara (interview) pada informan
secara langsung dan dokumentasi. Jadi data yang diperoleh valid dan mudah di
analisis. Subjek utama dalam penelitian ini adalah migran Bugis yang sengaja
datang di pasar Baruga Kota Kendari untuk berdagang sayur sebanyak 16
(enam belas) orang. Informan penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
tehnik purposive sampling (sengaja) dengan pertimbangan bahwa informan
penelitian benar benar memahami subtansi masalah yang paham untuk
memberikan keterangan guna menjawab permasalahan dalam penelitian.
Sumber data yang utama dalam metode penelitian kualitatif adalah
perkataan, tindakan dan sebagai tambahan data dari dokumen-dokumen dan
arsip-arsip mengenai pedagang sayur yang ada di pasar Baruga melalui data
statistik. Ada juga jenis-jenis data yang diperlukan: (1). Data primer, yaitu
merupakan data yang paling utama yang digunakan oleh peneliti dalam
pengumpulan data untuk dianalisis diberikan informan yang di wawancara
secara langsung. Seperti, para migran Bugis yang berprofesi sebagai pedagang
sayur di pasar Baruga Kota Kendari, para pemilik lapak. (2). Data Sekunder,
yaitu data penunjang yang diperoleh dari dokumentasi. Data ini digunakan
sebagai pelengkap data yang harus diperoleh oleh peneliti.
Penelitian yang menggunakan metode penelitian kualitatif ada tiga cara
untuk mendapatkan yaitu sebagai berikut: (1). Observasi yaitu, merupakan
salah satu teknik yang dilakukan dalam pencarian data pada penelitian
kualitatif. Pengamatan dilakukan dengan melihat mata telanjang untuk melihat
kondisi maupun suasana tempat yang ingin dilakukan penelitian. Pada
219
observasi berlangsung, peneliti bisa memberikan gambaran awal tentang data
yang akan digunakan sebagai bahan analisis masalah yang ada dalam penelitian
ini. Observasi berlangsung di Pasar baruga di Kota Kendari, Peneliti juga
melakukan pengamatan kondisi lingkungan pedagang sayur serta pengamatan
terhadap ekonomi, dan hubungan sosial antara pedagang yang satu dengan
yang lainnya. (2). Interview, atau wawancara dilakukan dengan proses
wawancara kepada informan secara langsung, Pencarian informasi dengan cara
wawancara terlebih dahulu ditentukan key-informan (informan kunci). Dalam
peneliatian ini yang menjadi informan adalah orang-orang yang sudah lama
menjadi pedagang sayur, kepala pasar, tokoh masyarakat migran Bugis.(3).
Dokumentasi yaitu, merupakan pencarian data yang berbentuk gambar, arsip
dan data-data yang tertulis. Karena peneliti perlu mengambil gambar selama
proses penelitian berlangsung untuk memberikan bukti secara riil yang ada di
pasar Baruga Kota Kendari. Arsip-arsip dan data-data lainnya digunakan untuk
mendukung data dari hasil observasi dan interview.
PEMBAHASAN
1. Pola Jaringan Sosial Ekonomi
Jaringan sosial ekonomi merupakan hubungan-hubungan yang tercipta
antar banyak individu dalam suatu kelompok ataupun antar suatu kelompok
dengan kelompok lainnya. Hubungan-hubungan yang terjadi bisa dalam
bentuk yang formal maupun bentuk informal. Hubungan sosial adalah
gambaran atau cerminan dari kerjasama dan kordinasi antar warga yang
didasari oleh ikatan sosial yang aktif dan bersifat resiprosikal (Damsar, 2002).
a. Hubungan Antara Sesama Pedagang
Hasil wawancara tersebut menunjukan bahwa hubungan antara pedagang
dengan sesama pedagang di Pasar Baruga Kota Kendari. Semua pedagang di
sisni tentunya berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga yaitu
kebutuhan ekonomi. Untuk bisa bertahan berdagang disini pastinya kami
saling menghargai antara sesama pedagang, para pedagang sangat menjaga
hubungan keakraban sesama mereka terkadang saling membantu
membersihkan sekeliling tempat penjualan. Kenyamanan dan keamanan juga
pedagang jaga bersama demi terciptanya hubungan yang harmonis dari semua
pedagang sampai sekarang.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas menunjukan bahwa
hubungan pedagang dengan pedagang di Pasar Baruga, hubungan pedagang di
sini sangat baik selama berdagang di pasar tidak ada diantara para pedagang
yang saling menjelek-jelekan satu sama lain. Terkadang para pewdagang juga
saling bercanda kalau sementar menjual, semua kewajiban berkaitan dengan
220
maslah kenyamanan dan kebersihan pasar juga para pedagang sangat
menjaganya demi terciptanya hubungan yang harmonis dari semua pedagang.
b. Hubungan antara Pedagang Dengan Pedagang Grosiran
Semua jenis perdagangan akan berkembang besar dan dapat bersaing di
pasar duni tentunya harus mengutamakan kualitas hasil produk barang
dagangan harus memuaskan pelanggan dan pola hubungan antara pedagang
juga harus dijaga demi terjalinya keharmonisan para pedagang.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas menunjukan bahwa
hubungan pedagang dengan pedagang grosiran di Pasar Baruga Kota Kendari.
pedagang grosiran sangat menjaga hubungan dengan pedagang lain karena
menjual dalam jumlah besar tentunya mengharapkan jumlah pembeli yang
banyak juga nah kalau hubungan antara para kurang baik maka pembelinya
juga akan berkurang. Tetapi selama menjual di pasar hubungan para
pedagang dengan para pelanggan adalah hal yang paling utama. Allhamdullilah
sampai sekarang masih menjual di Pasar dan mendapat keuntungan besar
karena banyak yang berbelanja ditempatnya.
c. Hubungan Pedagang Dengan Pelanggan
Sebuah keberhasilan dalam pergagangan tentunya semua pihak yang
menjalankan perdagangan itu harus menjalin hubungan yang baik antara
sesame baik itu hubungan antara sesame pedagang, hubunagn pedagang
dengan grosiran dan hubungan pedagang dengan pembeli. Berdasarkan hasil
weawancara tersebut di atas menunjukan bahwa hubungan antara pedagang
dengan pelanggan, hubungan diantara keduanya sangat baik biasanya pedagang
menjual dagangannya kepada langganannya itu agak murah karena pembeli
sering datang belanja disini jadi pedagang harus menjaga hubunagan ini agar
tetap baik karena biasanya pembeli sering memborong hasil dagangannya.
Beradasarkan hasil wawancara tersebut di atas menunjukan bahwa
hubungan antara keduanya sangat baik biasanya kalau pembeli datang disini
pedagang selalu jual murah supaya pelanggan datang lagi belanja di tempatnya,
sebabnya pedagang selalu menjaga hubungan ini agar tetap terjalin dengan baik
karena apabila pedagang menjual dagangannya lebih mahal bukan pembeli lain
saja yang kurang tetapi pelanggan juga pun akan pergi belanja di tempat lain
yang mereka anggap lebih murah.
2. Faktor-Faktor Yang Mendorong Masyarakat Memilih Berdagang
Sayur
Perdagangan merupakan faktor penting guna merangsang pertumbuhan
ekonomi. Perdagangan memperbesar kapasitas konsumsi suatu negara,
meningkatkan output dunia, serta menyajikan akses ke sumber-sumberdaya
yang langka dan pasar-pasar internasional yang potensial untuk berbagai
produk yang hasilnya merupakan bekal utama yang jika tidak tersedia negara221
negara miskin tidak akan mampu mengembangkan kegiatan dan kehidupan
perekonomian nasionalnya. Perdagangan membantu semua warga negara
dalam menjalankan usaha-usaha pembangunan mereka melalui promosi serta
pegutamaan sektor-sektor ekonomi yang mengandung keuntungan komperatif
(Todaro, 2000).
Pada dasarnya kegiatan perdagangan timbul karena adanya keinginan
oleh pihak pihak yang terlibat didalamya untuk memperoleh manfaat/
keuntungan tambahan yang dapat diperoleh dari kegiatan perdagangan
tersebut. Oleh karena itu motif manusia melakukan perdagangan adalah untuk
memperoleh manfaat/keuntungan dari pelaksanaan kegiatan tersebut
(Boediono, 1992).
a. Faktor Ekonomi
Kebutuhan masyharakat yang paling pokok adalah masalah makanan.
Semua masyarakat akan mampu menjalankan hidup sehari-hari apa bila di
tunjang dengan kondisi ekonomi yang baik pula. Berdasarkan hasil wawancara
tersebut di atas menunjukan bahwa faktor pendodrong masyarakat memilih
menjadi pedagang sayaur yaitu karna faktor ekonomi. pedagang mengatakan
ekonominya meningkat semenjak berdagang dan sangat membantu bagi
kelangsungan hidup keluarga. Walaupun hasilya tidak terlalu banyak tapi
Alhamdulillah kebutuhan terpenuhi dengan baik.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas menunjukan bahwa faktor
yang mempengaruhi masyarakat menjadi pedagang sayur yaitu faktor ekonomi,
masyarakat memilih menjadi pedagang sayur karena tidak mempunyai modal
yang banyak sedangkan berdagang sayur dengan modal rendah suda bisa
menjual dan Alhmdulillah penghsilnya cukup memenuhi kebutuhan.
b. Faktor Keinginan
Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas menunjukan bahwa faktor
yang mendorong masyarakat memilih menjadi pedagang sayur yaitu faktor
keinginan. Awalnya berdagang sayur hanya mencoba-coba tapi setelah
menjalankan sangat senang karena cukup mendapatkan untung banyak dan
hinga sekarang pun dengan berdagan sayur bisa menyekolakan anakanya
hingga keperguruan tinggi.
Berdasarkan hasil wawancara tersebutdi atas menunjukan bahwa faktor
yang menyebabkan masyarakat memilih berdagang sayur yaitu faktor
keinginan. awalnya berdagang hanya sekedar ikut-ikutan sama tetangga tetapi
setelah menjalaninya ternyata hasilnya lumayan memuaskan dari pada tiggal
dirumah nda ada pekerjaan mending berdagang sayur dan hasilnya juga ikut
membentu untuk keperluan rumah tangga bukan hanya suaminya pun juga ikut
membentu akhirnya sampai saat ini masih menjalankanp pekerjaan ini.
222
Berdasarakan hasil wawancara tersebut di atas menunjukan bahwa faktor
yang menorong masyarakat memilih berdagang sayur yaitu faktor keinginan.
Dulu hanya menanam dan terus menanam kamudian hasilnya suaminya yang
jual tetapi setelah lama kelamaan termotivasi dengan penghasilan yang
didapatnya Karena berpikir kalau haya suami yang menjual tidak akan terlalu
banyak penghasilanya jadi harus mambantunya akhirnya sampai sekaranng
sudah kurang lebih empat tahun menjalamni pekerjaan sabagai penjual dan
allhamdulliha hasilnya memuaskan sekali. Bisa mancukupi biaya hidup anakanak kuliah.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian pada bab sebelumnya maka peneliti menarik
kesimpulan bahwa:
1. Jaringan sosial ekonomi migran bugis sebagai pedagang sayur.
a. Hubungan antara sesama pedagang. Semua pedagang menjalin
hubungan sosial yang erat antara sesama mereka tidak ada yang saling
mennjatuhkan satu sama lain.
b. hubungan pedagang dengan pedagang grosiran. Jaringan sosial yang
terjalin antara keduanya berjalan dengan baik dan saling kerja sama
dalam meningkatkan penghasilan dari masing-masing pedagang.
c. Hubungan pedagang dengan pelanggan, berjalan dengan baik pelanggan
harus diutamakan agar bias memperoleh keuntungan yang banyak.
2. Faktor-faktor penyebeb meayarakat memilih menjadi pedagang sayur
a. Faktor ekonomi keadaan ekonomi yang masih sangat kekurangan
namun dengan berdagang sayur kondisi perekonomian mereka ikut
terbantu.
b. Faktor keinginan. Kodisi yang tidak ada pekerjaan lain sehingga mereka
ingin melakukan pekerjaan manjual sayur.
Saran
Saran yang dapat diajukan dengan melihat jaringan sosial ekonomi
migrant Bugis sbagai pedagang sayur di Pasar Barga Kota Kendari adalah:
a. Kepada Pedagang agar dapat mengelolah dengan baik hasil atau
pendapatan yang diperoleh supaya dapat meningkatkan usaha yang
dijalankan begitupun hubungan sosial sesama pedagang agar tetap terjaga.
b. Dengan peneliti ini diharapkan masyarakat Pedagang migrant Bugis supaya
lebih professional dan penuh tanggung jawab dalam menjaga dan
melestarikan hubungan-hubungan sosial dagang yang telah terbangun.
223
c. Kepada peneliti selanjuntnya agar lebih memperdalam aspek kajian tentang
jaringan sosial ekonomi Migran Bugis sebagai Pedagang Sayur di Pasar
Baruga di Kota Kendari.
DAFTAR PUSTAKA
Salim, Agus. 2001. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yokyakarta: PT Tiara
Wacana.
Akhmad. 2005. Studi Perubahan Ekonomi Papua. Yogyakarta: Bigraf Publishing.
Boediono. 1982. Ekonomi Mikro. Yogyakarta: BPFE.
Boissevain, Jeremy. 1974. Friends of Friends: Networks, Manipulators and Coalitions.
Oxford: Basil Blackwell.
Cyril,S Belshaw. 1981. Tukar Menukar Tradisional dan Pasar Moderen. Jakarta:
Gramedia.
Damsar. 2002. Pengantar Sosiologi Ekonomi. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
The Kian Wie. 1981. Pemeratan Kemiskinan Ketimpangan Beberapa Pemikiran
Tentang Pertumbuhan Ekonomi Peebnrbit Sinar Harapan. Jakarta: Djaya
Pirusa.
Edward L. Poelinggomang. 2002. Studi Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim.
Makassar Abad XIX. Jakarta: Gramedia.
Lukas David, Peter Mcdonald, Elspeth Youg. 1982. Pengantar Kependudukan.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Koentjaraningrat. 1990. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia.
Muhammad. 2011. Metode Penelitian Bahasa. Jogjakarta: AR-Ruzz Media.
Mantra Ida Bagus. 1985. Pengantar Studu Demografi. Yogyakarta: Nur Cahya.
Mitchell, J. Clyde. 1969. The Concept and Use of Social Network” dalam Social
Networks in Urban Situation: Analysis of Personal Relationships in Central
Africa Town (ed. Mitchell), hlm 1-50. Manchester: University of
Manchester Press.
Koetjaranigrat. 2010. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Said Rusdi. 2005. Pengantar Ilmu Kependuduka. Jakarta: LP3ES.
Sunarto, Hs. 1985. Penduduk Indonesia Dalam Dinamika Migrasi 1971-1980.
Dua Dimensi. Yogyakarta.
Suparlan, Parsudi. 1982. Jaringan Sosial”, dalam Media IKA Februari, No. 8/X,
hlm. 29-47. Jakarta: Ikatan Kekerabatan Antropologi Fakultas
Sastra UI.
224
Download