PIMPINAN CABANG IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH (Muhammadiyah Students Association) MALANG RAYA Jln. Gajayana, PDM Kota Malang, Jawa timur, Telp. 082334238063 SURAT KEPUTUSAN Nomor :020/A-1/XIII-2/2016 TENTANG: DESAIN PERKADERAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH MALANG RAYA Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya, setelah: Menimbang : 1. Bahwa IMM adalah organisasi kader yang bergerak dalam bidang keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan dalam rangka mencapai tujuan muhammadiyah; 2. Bahwa Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) dipandang perlu diturunkan atau diterjemahkan sesuai dengan kondisi kaderisasi yang ada di IMM Malang Raya; 3. Bahwa permasalahan kaderisasi merupakan hal yang penting bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang Raya untuk diselesaikan serta meminimalisir ketimpangan kualitas kaderisasi yang ada; 4. Bahwa untuk meminimalisir permasalahan kaderisasi yang ada di IMM Malang Raya dibutuhkan Desain Perkaderan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya; 5. Bahwahasil rumusan Desain Perkaderan IMM Malang Raya yang disepakati dalam Lokakarya Perkaderan IMM Malang Raya, perlu untuk ditetapkan dengan Surat Keputusan, agar dilaksanakan semua pihak. Mengingat : 1. Anggaran Rumah Tangga, BAB VIII Pasal 29 Tentang Peraturan Khusus dan Pedoman Kerja; 2. Surat Keputusan Tentang Sistem Perkaderan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Tahun 2010; 3. Tanfidz Musyawarah Cabang Tahun 2016. Memperhatikan : Hasil Lokakarya Perkaderan IMM Malang Raya, pada tanggal 4 – 7 Agustus 2016. PIMPINAN CABANG IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH (Muhammadiyah Students Association) MALANG RAYA Jln. Gajayana, PDM Kota Malang, Jawa timur, Telp. 082334238063 Sekapur Sirih1 Lahirnya IMM tentulah dengan cita-cita yang mulia, yang dengan gagah menjalankan dakwah amar ma’ruh nahi mungkar bersama dengan ortom yang lain di bawah naungan Muhammadiyah. Cita-cita harus terus diperjuangkan, harus di capai dan selalu memiliki sarat nilai yang dapat dirasakan oleh seluruh manusia. Teringat dengan kalimat Buya Syafi’i Ma’arif menyerukan bahwa jangan hanya jadi kader pesrsyerikatan, melainkan jadilah kader kemanusiaan. Jika dimaknai secara mendalam, pesan dari kalimat ini tidak lah hanya sebatas seruan belaka, melainkan pengingat kepada kita selaku kader bahwasanya Kader IMM yang sejatinya adalah Kader Muhammadiyah harus memberikan kehidupannya untuk kemaslahatan manusia. Butuh waktu yang lama bagi IMM untuk mampu mengenggam cita-citanya. Hingga saat ini, apa yang dicita-citakan oleh IMM rasa-rasanya masih terlampau jauh dari genggaman tangan, butuh waktu yang lebih lama dari umur manusia untuk mencapai cita-cita itu, sehingga tiap detik berjalannya kehidupan IMM harus terus beregenarasi, menciptakan generasi penerus yang terus berjuang untuk mencapai cita-cita yang mulia itu. Kaderisasi menjadi jalan utama yang ditempuh oleh IMM untuk melahirkan generasi penerusnya. Menancapkan ideologi sebagai ruh perjuangan menjadi hal pokok untuk mengawali lahirnya kader-kader IMM sebagai penerus estafet perjuangan para pendahulunya. Kaderisasi adalah ruh organisasi, hal itu telah diamini sejak lama oleh seluruh kader Muhammadiyah, apalagi IMM. Dengan kaderisasi, IMM mampu melahirkan generasi yang ditempa untuk berjuang mewujudkan IMM. Yaitu menjadi “Menjadi Akademisi Muslim yang berakhlak Mulia demi Tercapainya Cita-Cita Muhammadiyah, Yaitu Masyarakat Islam yang Sebenar-Benarnya”. Sungguh tidak mudah menjalankan kaderisasi, banyak rintangan, lelah dan keputus asaan mungkin akan selalu menghampiri, tetapi bila kita sudah berada di lingkaran IMM, maka pantang mundur sebelum menyelesaikan perjuangan. Itulah prinsip yang harus dipegang teguh oleh kader IMM. Terlebih bagi IMM Malang Raya, harus terus menjadikan dirinya sebagai panutan perjuangan bagi IMM yang lain, berani mengambil langkah yang tepat, dan berkreasi terus-menerus untuk melahirkan kader-kader militan yang bernilai mutiara. Bila hal itu mampu dilahirkan oleh Kaderisasi IMM Malang Raya, maka bukan lagi kalimat “katanya, IMM Malang Raya itu perkaderannya nomor satu ”, melainkan kalimat “jika bicara perkaderan, maka IMM Malang Raya adalah tempatnya”. Hal ini pun akan terwujud bila kaderisasi di Malang Raya mampu dan konsisten melahirkan mutiara-mutiara yang akan memimpin bangsa ini dan secara langsung mampu mengamalkan gerakan pembebasan dan keberpihakan sebagaimana ciri khas yang dimiliki oleh Kader IMM Malang Raya. Kami selaku Bidang Kader PC. IMM Malang Raya menaruh harapan yang besar pada apa yang telah dirumuskan bersama pada Lokakarya Perkaderan, yang telah diselenggarakan pada tanggal 4-7 Agustus 2016 dan menghasilkan Desain Perkaderan IMM Malang Raya yang sangat diharapkan mampu menjadi pedoman dan pegangan khusus dalam menjalankan kaderisasi. Ini merupakan sebuah prestasi untuk IMM Malang Raya yang mampu memberikan sumbangsih besar untuk merekonstruksi kaderisasi IMM Malang Raya agar menjadi lebih progresif. Harapan terbesar kami adalah IMM Malang Raya tidak hanya menjadi patronase perkaderan semata, melainkan mampu melahirkan kader-kader bernilai mutiara yang memiliki 1 Bidang Kader IMM Malang Raya 1 militansi yang tinggi, semangat yang tak pernah redup, dan kekayaan potensinya mampu menjadikan IMM sebagai organisasi rahmatan lil ‘alamin, baik bagi organisasi yang lain maupun bagi manusia. Jaya IMM, Billahi Fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khairat. Malang, 11 Agustus 2016 Bidang Kader PC. IMM Malang Raya Rudi Suhartono & Nur Alim Mubin AM. 2 DESAIN PERKADERAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH MALANG RAYA A. PENDAHULUAN Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan organisasi yang berada dalam naungan Muhammadiyah sebagai organisasi induknya. IMM dalam melakukan aktivitasnya tetap mengacu kepada tujuan organisasinya yaitu Mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan muhammadiyah. Serta dalam pembinaan terhadap kadernya tetap mengacu pada pada Tri Kompetensi Dasar atau tiga kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh kader yaitu: Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas, serta dalam bentuk implementasinya tetap melihat lahan garapnya yaitu : Keagamaan, Kemahasiswaan dan Kemasyarakatan. Itulah aktivitas konkret yang harus dilakukan IMM. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan organisasi perkaderan yang bergerak sesuai dengan tujuan organisasi induknya, yaitu Muhammadiyah. Sesuai dengan yang ada di SPI, Perkaderan dalam ikatan merupakan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kader dalam kehidupan, baik bersama ikatan maupun ketika sudah berada diluar struktural, sedangkan kaderisasi itu sendiri yaitu melaksanakan proses perkaderan sesuai dengan tujuan organisasi. Dalam Sistem Perkaderan Ikatan (SPI), secara akumulasinya proses perkaderan yang dilakukan akan diarahkan dalam rangka transformasi dan regenerasi kepemimpinan IMM disetiap level kepemimpinannya, sesuai dengan spesifikasi profesi yang ditekuni, kritis, logis, terampil dinamis dan utuh. Dan dalam menjalankan kaderisasi haruslah secara berkesinambungan (Kontinyu) dan mengikat, karena dalam proses kaderisasi ini berjalan secara terus menerus sesuai dengan sistem perkaderan yang ada saat ini. Jika kita melihat situasi yang ada di IMM Malang Raya bahwa permasalahan kaderisasi kalau di tinjau dari beberapa periode terakhir yaitu terkait dengan Arah Perkaderan yang berbeda dalam setiap komisariat-komisariat dan bahkan ada komisariat yang belum mempunyai arah perkaderan secara konkret, perbedaan arah perkaderan ini yang justru menjadi penyebab ketimpangan kualitas kaderisasi yang ada karena arah perkaderan ini yang akan mendeterminasi sampai ke metodologi perkaderan sehingga kualitas kader yang dihasilkan pun berbeda-beda, ini dikarenakan terlalu umumnya arah perkaderan yang ada di SPI. Kalau kita melihat paragraf sebelumnya bahwa esensi perkaderan adalah diarahkan pada proses transformasi dan regenerasi kepemimpinan disetiap level kepemimpinan, namun realitas yang terjadi dilapangan hal ini belum bisa maksimal terwujud dikarenakan ketimpangan kualitas kaderisasi yang ada di 21 komisariat yang ada di Malang. Secara fakta, memang regenerasi yang ada ditataran komisariat berjalan, namun secara kualitas belum lah maksimal dikarenakan ketimpangan kualitas yang terjadi dan penyebabnya adalah arah Perkaderan yang berbeda-beda, materi-materi yang diberikan juga berbeda, dan pendampingan yang masih belum maksimal. Permasalahan-permasalahan yang terjadi tersebut sangatlah mendeterminasi dari satu hingga ke yang lainnya, arah Perkaderan menjadi hal yang paling pokok dan fundamental karena dari arah perkaderan ini yang akan melahirkan materi-materi atau wacana-wacana yang akan di berikan kepada kader. Kemudian untuk menjalankan materi itu dibutuhkanlah perangkat kaderisasi atau komposisi-komposisi yang akan menjalankan tugas dalam menjalankan konsepsi-konsepsi kaderisasi mulai dari arah dan juga materi-materi 3 yang akan diberikan. Itulah konsepsi perkaderan, semuanya saling berhubungan dalam rangka merekayasa manusia agar mencapai tujuan organsisasi. Desain Perkaderan IMM Malang Raya merupakan sebuah panduan khusus kaderisasi yang ada di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya untuk mengatur terkait dengan konsep-konsep Perkaderan atau pola kaderisasi yang akan dijalankan sebagai bentuk atau langkah konkret untuk mejalankan kaderisasi yang sesuai dengan kebutuhan atau kondisi yang ada dan tetap mengacu kepada tujuan organisasi. Hal ini dilakukan untuk merapikan kaderisasi yang ada di Malang Raya di karenakan Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) yang sampai saat ini dirasa masih terlalu umum dan tidak konkret dalam menjawab permasalahan kaderisasi yang ada. Desain Perkaderan IMM Malang Raya ini sebagai bentuk kontekstualisasi Konkret Perkaderan yang ada di SPI dan tentunya melihat situasi konkret perkaderan yang ada di malang. Maka dari itu kedudukan Desain Perkaderan ini berada di bawah SPI, karena Desain Perkaderan ini merupakan turunan atau terjemahan dari SPI yang kemudian di benturkan dengan kondisi perkaderan yang ada di Malang Raya sehingga mampu menjawab permasalahan-permasalahan kaderisasi di IMM Malang Raya. Desain Perkaderan ini berisi : - - - - Islam sebagai ideologi Esensi kelahiran Organisasi o Kajian Historis Muhammadiyah o Kajian Historis IMM Situasi umum Masyarakat Indonesia Perkaderan dalam Muhammadiyah dan IMM serta situasi Perkaderan IMM Malang Raya o Perkaderan Muhammadiyah o Perkaderan Ikatan o Situasi Perkaderan IMM Malang Raya Pola Perkaderan IMM Malang Raya o Arah Perkaderan IMM Malang Raya o Target Perkaderan IMM Malang Raya o Strategi Pencapaian o Muatan Perkaderan o Metodologi Strategi Pencapaian o Prinsip Kaderisasi Perangkat Kaderisasi IMM Malang Raya Pedoman Pelaksana Perkaderan Utama (DAD) dan Khusus (LIK) 4 BAB I ISLAM SEBAGAI IDEOLOGI A. PENDAHULUAN Ideologi Muhammadiyah dan IMM secara spiritual dapat menguatkan ghiroh, azam atau tekad bermuhammadiyah yang kuat dan ikhlas untuk mendapat ridho Allah SWT. Dan tidak dapat digoyahkan oleh kekuatan-kekuatan yang semata-mata bersifat manusiawi; kedua, ideologi Muhammadiyah dan IMM berfungsi untuk membentuk karakter kolektif yang bersih, yang nantinya akan sangat menentukan terwujudnya kolegisitas yang kuat, nyaman dan damai dalam menggerakkan Muhammadiyah dan IMM; Ketiga, ideologi Muhammadiyah dan IMM berfungsi menyusun dan menerbitkan langkah-langkah Muhammadiyah dan IMM, serta seluruh amal usaha yang dimiliki oleh Muhammadiyah; Keempat, ideologi Muhammadiyah dan IMM berfungsi dalam membentengi Muhammadiyah dan IMM dari pengaruh aliran pemikiran agama yang sesat. Dari situlah sangat penting sekali dalam mengkaji islam sebagai ideolgi untuk merumuskan desain perkaderan, agar setiap kader mengetahui apa? bagaimana? untuk apa? kita berjuang. Maka dari itu mengkaji islam sebagai ideologi adalah suatu keharusan dikarenakan ini menjadi style atau prinsip dalam setiap aktivitas kaderisasi yang dijalankan nantinya B. KAJIAN ISLAM SEBAGAI IDEOLOGI Di hadapan kemiskinan dan merebaknya teror kemanusiaan dalam wajah penindasan, sebagai individu beragama dan sehat dengan keberagamaannya tentu akan tergerak nurani dan rasio akal budinya untuk ikut terlibat dalam sebuah refleksi dan pilihan perjuangan membebaskan mereka yang teraniaya secara sosio-eko-pol tersebut. Dalam konteks Indonesia saat ini, kemiskinan, keterbelakangan, minimnya akses pengetahuan karena mahalnya biaya pendidikan, dan korupsi, telah menjadi halaman depan kebudayaan kita yang tak berkesudahan. Banyak pihak saling tuding, saling menyalahkan, dan saling gebuk satu sama lain sebagai biang dari kegagalan masa transisi demokrasi yang disebut dengan era reformasi. Namun pertanyaan mendasar kita sesungguhnya adalah dimana posisi dan rasa keberagamaan kita ditengah huruhara sosial politik tersebut? Di wajah-wajah yang diseka air mata, luka yang terlanjur menganga, ratapan derita anak bangsa, dan perempuan-peremuan yang disetrika dan diperkosa di luar negri, dimanakah agama? Apakah agama (Islam) adalah sebuah entitas yang terlahir sebagai pengalaman iman yang suci-soliter dengan tuhan ataukah agama tersebut bagian dari dialektika-resiprokal antar berbagai pengalaman dan kepentingan dunia? Apakah teologi yang membebaskan itu ada dalam Islam? Ada dua pernyataan yang datang dari sosiolog jerman yang menggambarkan pernyataan-pernyataan diatas, setiap ritual-ritual agama pasti ada korelasinya dengan sosial (Max Weber). Kedua, agama adalah candu masyarakat (Karl Marx). Dua pernyataan sangat kontradiksi sekali Weber menggambarkan agama yang seharusnya, sedangkan Marx menggambarkan agama secara realita yang terjadi pada waktu itu. Pernyataan-pernyataan di muka lah yang akan menuntun tulisan ini selanjutnya. Agama sebagai ideologi sering kali diartikan sebagai suatu keyakinan yang dipilih secara sadar untuk menjawab keperluan-keperluan yang timbul dan memecahkan masalahmasalah dalam masyarakat. Ideologi dibutuhkan, untuk mengarahkan suatu masyarakat atau bangsa dalam mencapai cita-cita dan alat perjuangan. Ideologi dipilih untuk mengubah dan 5 merombak status quo secara fundamental. Munculnya agama sebagai ideologi dimulai ketika para Nabi muncul di tengah-tengah suku-suku dan pemimpin gerakan-gerakan historis untuk membangun dan menyadarkan masyarakat. Ketika para nabi itu memproklamirkan semboyansemboyah tertentu dalam membantu massa kemanusiaan, maka para pengikut Nabi kemudian mengelilingi nabi dan menyatakan untuk turut bersama-sama Nabi dengan sukarela. Islam sebagai ideologi yang diusung oleh Muhammad membawa orde sosial baru yang disandarkan kepada prinsip keadilan dan persamaan dalam struktur sosial masyarakat. Islam yang demikian sangat menarik masyarakat Arab yang sudah lama muak dengan bentuk aristokrasi lama yang memerintah dengan tirani, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan monopolisme. Masyarakat kala itu, mulai menemukan semboyan-semboyan ideologi sebagai obat penyembuhan dari penderitaan dan kesulitan akibat sistem tirani. Islam sebagai ideologi mampu memberikan keyakinan baru yang berbasis kepada kemauan bebas manusia untuk melepaskan diri dari jeratan sistem sosial dan politik tiranik. Islam lahir secara progresif dalam upaya merespon problem-problem masyarakat dan memimpin masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuan dan cita-cita yang berharga. Dalam hal ini, Islam dipahami sebagai sebuah pandangan dunia yang komprehensif, dan diposisikan sebagai “agama pembebasan” yang concern dengan isu-isu sosial-politik seperti penindasan, diskriminasi, ketidakadilan dan sebagainya. Semangat Islam sebagai ideologi pembebasan mendorong terjadinya revolusi masyarakat Islam untuk membangun konstruksi peradaban baru yang progresif, partisipatif, tanpa penindasan dan ketidakadilan. Untuk membebaskan massa dari krisis yang membawa mereka mencapai negara yang merdeka dan berkeadilan sosialekonomi, bukan melalui Liberalisme, Kapitalisme, ataupun Sosialisme, namun yang bisa mengobati penyakit ini hanyalah Islam. Islam merupakan satu-satunya solusi yang akan menyelamatkan negeri Muslim dari segala bentuk tekanan dan penindasan. Hal ini sangat masuk akal jika Eko Prasetyo mengartikan Islam sebagai gerakan alternatif. Dengan latar belakang historis pada waktu itu ketimpangan sosial dimana-mana, sistem sosial-politik yang menindas dengan kondisi yang seperti itu islam datang dengan solusi, serta mampu membawa perubahan terhadap masyarakat lebih beradab. Untuk mengkonstruksi Islam sebagai sebuah ideologi, mula-mula harus melakukan redifinisi tentang pemahaman ideologi itu sendiri bahwa ideologi terdiri dari kata “ideo” yang berarti pemikiran, gagasan, konsep, keyakinan dan lain-lain, dan kata “logi” yang berarti logika, ilmu atau pengetahuan. Sehingga ideologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang keyakinan dan cita-cita. Menurut pengertian ini seorang ideolog adalah seorang pembela suatu ideologi atau keyakinan tertentu. Dalam kaitan ini, ideologi terdiri dari berbagai keyakinan dan cita-cita yang dipeluk oleh suatu kelompok tertentu, suatu kelas sosial atau suatu bangsa. Ideologi meliputi suatu kepercayaan dan pengetahuan tentangnya. Ideologi diperlukan agar seseorang mempunyai kesadaran dan sikap khusus dalam hubungannya dengan dirinya sendiri, posisi kelasnya, dasar sosial, situasi nasional, dunia dan tujuan sejarah seperti halnya tujuan masyarakat sebagai tempat bergantung. Oleh karena itu, ideologi adalah suatu sistem kepercayaan yang menginterpretasikan kondisi sosial, rasionalitas dan orientasi kelas seseorang seperti halnya sistem nilai, orde sosial, format individu ideal, hidup manusia dan situasi sosial dalam berbagai dimensinya. Ideologi menjawab pertanyaan: Apa yang kamu sukai? Apa yang kamu lakukan? Apa yang kamu harus lakukan? Harus menjadi apa? Di sisi yang berbeda, ideologi menuntut seorang cendekiawan untuk memihak. Bagi seorang ideolog, ideologinya adalah suatu kepentingan yang mutlak. Setiap ideologi memulai dengan tahap kritis, kritis terhadap status quo, kritis terhadap masyarakat dengan berbagai 6 aspek kultural, ekonomi, politik dan moral yang cenderung melawan perubahan-perubahan yang diinginkan. Berbeda dengan filsafat maupun ilmu yang sama sekali tidak mempunyai komitmen seperti itu, ia hanya menggambarkan realitas seperti apa adanya dengan tidak membedakan apakah ia menolak atau menerima realitas tersebut. Inilah perbedaan yang menyolok antara ilmu, filsafat dan ideologi. Dengan kata lain, agar ideologi mampu memposisikan dirinya menjadi landasan perjuangan, maka keberpihakannya harus jelas. Pada wilayah politik, ia harus mengabdi sehingga mampu memberikan doktrin-doktrin politik. Pada kekuasaan politik ia harus bisa menyerang. Inilah sebenarnya makna sesungguhnya dari ideologi, yang berarti bukan konsep, landasan berfikir, filsafat, apalagi ilmu. Ideologi adalah kata lain dari keberpihakan. Baik ilmu maupun filsafat tidak pernah melahirkan revolusi dalam sejarah walaupun keduanya selalu menunjukkan perbedaan-perbedaan dalam perjalanan waktu. Adalah ideologiideologi, yang senantiasa memberikan inspirasi, mengarahkan dan mengorganisir pemberontakan-pemberontakan menakjubkan yang membutuhkan pengorbanan-pengorbanan dalam sejarah manusia di berbagai belahan dunia. Hal ini karena ideologi pada hakekatnya mencakup keyakinan, tanggungjawab, keterlibatan dan komitmen. Ideologi menuntut agar kaum intelektual bersikap setia (commited). Ideologilah yang mampu merubah masyarakat, sementara ilmu dan filsafat tidak, karena sifat dan keharusan ideologi meliputi keyakinan, tanggungjawab dan keterlibatan untuk komitmen. Sejarah mengatakan, revolusi, pemberontakan hanya dapat digerakkan oleh ideologi. Urgensi perubahan hanya dapat digerakkan oleh masyarakat yang mempunyai ideologi kokoh. Dalam kondisi keterpurukan untuk konteks Indonesia, Seharusnya Islam mampu menjadi penggerak kesadaran masyarakat. Islam perlu lebih dipahami sebagai sebuah pandangan dunia komprehensif, sebuah rencana untuk merealisasikan potensi manusia sepenuhnya, baik secara perseorangan maupun kolektif, untuk tujuan makhluq secara keseluruhan. Di sinilah letaknya bahwa Islam berfungsi sebagai ideologi. Biasanya ideologi-ideologi yang berbasis agama memiliki akar pada teologi dari agamaagama yang bersangkutan. Dilingkungan umat islam dikenal ideologi Islam, yang memiliki keterkaitan dengan karakter islam sebagai agama. Ideologi Islam berbeda dengan Marxisme, Sosialisme dan Kapitalisme, maupun ideologi yang lainnya yang tidak memiliki basis teologis. Pandangan tentang kebebasan, persaudaraan, kesamaan, kemanusiaan dan relasi-relasi sosial dalam ideologi Islam memiliki basis pada pandangan filosofis tentang teologi Islam, sehingga memiliki pijakan yang kokoh. Ada dua watak islam yang nyaris dilupakan oleh ummat islam dewasa ini yaitu, pertama al-Islam ad-Diinu al-Hadharah (islam adalah agama peradaban), kedua al-Islam ad-Diinu asSyahadah (Islam adalah agama kesaksian, pembuktian). Kalau kita perhatikan salah satu ayat suci al-Qur’an yang terkait ibadah maka akan terlihat jelas adanya pesan islam yang sangat kuat bagi kita ummat islam untuk menampilkan dalam dua watak tadi yaitu, al-Islam ad-Diinu al-Hadharah & al-Islam ad-Diinu as-Syahadah, yang terkandung dalam surat al-Jum’ah ayat 910 maknanya secara ringkas adalah, bahwa kita perlu menegakkan hablunminallah dengan ibadah-ibadah yang kita lakukan seperti shalat, tetapi setelah itu kita harus mengembangkan kebudayaan (hablunminannas), hablunminannas tidak hanya sekedar berhubungan baik dengan sesama manusia dalam kesopanan, kesantunan, interaksi dan relasi sosial kita, tapi hablunminannas juga mengandung arti kerjasama dan kebersamaan dalam membangun kebudayaan. Maka harus ada korelasi positif antara ibadat dan muamalat, antara ibadat dan kebudayaan yang kita bangun, dan inilah masalah besar ummat islam dewasa ini. Kita tidak 7 mampu menghubungkan, menarik korelasi positif antara ibadat dan muamalat. Sering ibadat kita seolah-olah intensif, seolah-olah tinggi, namun tidak menjelma dalam kehidupan berbagai aspeknya baik sosial, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. 8 BAB II ESSENSI KELAHIRAN MUHAMMADIYAH DAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH A. PENDAHULUAN Sebagai organisasi perkaderan tentunya aktivitas yang dilakukan haruslah sesuai dengan khittah organisasinya, mulai dari sejarah atau historis lahirnya organisasi ini pun harus kita ketahui bersama. Muhammadiyah merupakan induk organisasi dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, maka sudah pasti bahwa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah lahir untuk membantu perjuangan dari Muhammadiyah. Untuk itu dalam pembahasan esensi kelahiran ini kita mulai dari organisasi induknya yaitu Muhammadiyah. Orientasi mencari essensi kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yakni untuk mendapatkan gambaran apa yang seharusnya dilakukan oleh organisasi ini. Sehingga dalam aktivitas perkaderan yang dilakukan akan tetap berkesinambungan atau berkesesuaian. Hal ini tentu harus kita pahami bahwasanya perkaderan berlangsung adalah tetap linier menuju arah gerak organisasi. sehingga aktivitas yang dilakukan pun untuk mencapai tujuan organisasi. B. KAJIAN HISTORIS LAHIRNYA MUHAMMADIYAH Kemegahan peradaban Islam berakhir bersamaan dengan serbuan tentara Mongol pada pertengahan abad ke-13 yang meluluhlantahkan kota Baghdad dan seiring dengan tumbuhnya benih-benih kebangkitan kembali Eropa melalui aliran ‘renaissance’nya. Adapun umat Islam memasuki masa-masa kegelapan sampai pada awal abad ke-19 karena sebagian besar daerah kekuasaan Islam telah menjadi daerah kekuasaan imperialisme Eropa sebagai wujud dari kebangkitan Eropa. Masa kegelapan Islam baru berakhir pada awal abad ke-19 dan tanda-tanda kebangkitan itu akhirnya muncul kembali. Hal itu seiring dengan lahirnya tokoh-tokoh pembaharu Islam dan berbagai gerakan Islam di semenanjung Arab. Gerakan ini muncul di Negara Mesir (Afrika) yang dipelopori tiga tokoh, yaitu (1) Jamaluddin al-Afghani yang berkebangsaan Afghanistan dijuluki sebagai ‘tokoh Renaissance Islam’; (2) Muhammad Abduh yang berkebangsan Mesir dengan cita-cita mewujudkan kejayaan dan kemuliaan umat Islam di negeri mana pun; serta (3) Rasyid Ridho dan Muhammad Iqbal. Namun demikian, sebelum keberadaan tokoh-tokoh tersebut terlebih dahulu tumbuh benih-benih kebangkitan Islam melalui tokoh-tokoh lain seperti Ibnu Taimiyah dan Abdul Wahab dengan gerakan wahabinya (Islam murni). Mata rantai pembaharuan Islam tersebut akhirnya sampai juga ke penjuru nusantara melalui pemikiran para ulama yang belajar di Arab. Gerakan pembaharuan Islam yang berkembang di Arab mengusung cita-cita mengembalikan ajaran Islam ke jalan sesungguhnya dengan merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah. Tujuan ini sebagai solusi keterbelakangan terhadap umat Islam. Dengan kembali kepada sumber ajaran Islam yang sesungguhnya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, umat Islam di seluruh dunia bisa keluar dari perbedaan interpretasi ajaran yang bias dengan beberapa aliran teologi yang menjadi sumber perpecahan umat Islam. 9 Uraian histori tersebut di atas menjadi salah satu dorongan atau tumpuan berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah. Di samping itu, ada beberapa faktor lain yang mengharuskan lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah, antara lain dipaparkan sebagai berikut. 1. Kondisi internal a. Keinginan KH. Ahmad Dahlan untuk mendirikan organisasi yang dapat dijadikan sebagai alat perjuangan dan dakwah untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar yang bersumber pada Al-Qur’an, terutama dalam Surat Ali Imron ayat 104 dan surat Al-Ma’un sebagai sumber bagi gerakan sosial-praktis untuk mewujudkan gerakan tauhid. b. Ketidakmurnian ajaran Islam yang dipahami oleh sebagian umat Islam Indonesia sebagai bentuk ‘adaptasi tidak tuntas’, yaitu antara tradisi Islam dan tradisi lokal nusantara awal yang bermuatan paham animisme (kepercayaan pada roh-roh halus yang mendiami semua benda mati) dan dinamisme (kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup). Hal ini menyebabkan umat Islam di Indoneia dalam praktiknya memperlihatkan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam, terutama yang berhubungan dengan prinsip aqidah Islam yang menolak segala bentuk kemusryikan, taqlid, bid’ah dan khurafat. Oleh karena itu, purifikasi (pemurnian) ajaran menjadi pilihan mutlak bagi umat Islam Indonesia. c. Keterbelakangan umat Islam Indonesia di segala segi kehidupan menjadi sumber keprihatinan untuk mencarikan solusi agar dapat keluar dari keterbelakangan. Keterbelakangan umat Islam dalam dunia pendidikan menjadi sumber utama keterbelakangan dalam peradaban. Pesantren tidak bisa selamanya dianggap menjadi sumber lahirrnya generasi baru muda Islam yang berpikiran modern. Kesejahteraan umat Islam akan tetap berada di bawah garis kemiskinan jika ‘kebodohan’ masih melingkupi umat Islam Indonesia. Gerakan tajdid (pembaharuan) menjadi cara agar umat Islam menjadi umat yang berkemajuan, menjadi masyarakat madani yang mendasarkan pada permasalahan kekinian. 2. Kondisi eksternal a. Maraknya kristenisasi di Indonesia sebagai efek domino dari imperialisme Eropa ke dunia timur yang mayoritas beragama Islam. Proyek kristenisasi satu paket dengan proyek imperialisme dan modernisasi bangsa Eropa. Hal ini menjadi tendensi lain di samping keinginan untuk memeperluas daerah koloni dalam memasarkan produkproduk hasil revolusi industri yang melanda Eropa. b. Imperialisme Eropa tidak hanya membonceng gerilya gerejawan dan para penginjil untuk menyampaikan ‘ajaran jesus’ untuk menyapa umat manusia di seluruh dunia untuk ‘mengikuti’ ajaran jesus, akan tetapi juga membawa angin modernisasi yang sedang melanda Eropa. Modernisasi yang berhembus melalui model pendidikan barat (Belanda) di Indonesia mengusung paham-paham yang melahirkan modernisasi Eropa, seperti sekulerisme, individuisme, libelarisme, dan rasionalisme. Jika penetrasi ini tidak dihentikan maka akan lahir generasi baru Islam yang rasional tetapi liberal dan sekuler. Mereka akan ‘memminggirkan’ Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup paling utama. 10 Arti Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan (semasa kecil bernama Darwis) bersama anak didiknya mendirikan Muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912 M. (8 Dzulhijjah 1330 H.) di Kauman, Yogyakarta. Secara etimologis Muhammadiyah diartikan sebagai “pengikut Nabi Muhammad SAW”, yang terdiri dari kata ‘Muhammad’ dan ‘ya nisbiyah’ yang artinya para pengikut. Dengan demikian, secara tersirat pada dasarnya setiap orang yang meyakini dan menjadi pengikut Muhammad SAW adalah orang Muhammadiyah tanpa dibatasi oleh ideologi golongan, bangsa, dan organisasi. Sementara itu secara terminologi, Muhammadiyah adalah gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar berasas Islam dan bersumber Al Qur’an dan As-Sunnah demi terwujudnya baldhatun thayibatun warobbul ghofur, yang bersumber pada QS. Ali Imron: 104. Maksud dan Tujuan Muhammadiyah Rumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah secara lengkap terdapat dalam anggaran dasar (AD) Muhammadiyah yang berbunyi: “Menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran agama islam sehingga terwujudnya masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridhoi Allah SWT” Maksud dan tujuan Muhammadiyah tersebut diwujudkan secara praksis dalam realita kehidupan keagamaan dan sosial umat, antara lain dijabarkan sebagai berikut. 1. Bidang Keagamaan Tantangan modernitas dan tradisi (bermuatan tahayul, bid’ah, dan kurafat) menjadi dua persoalan keagamaan yang dihadapi oleh Muhammadiyah. Purifikasi atau pemurnian dan gerakan tajdid adalah 2 hal yang menjadi ciri gerakan dakwah keagamaan Muhammadiyah. Dengan demikian, Muhammadiyah juga merumuskan pedoman ubudiyah, muamalah, hisab, dan sebagainya melalui keputusan tarjih Muhammadiyah yang berisikan para ulama andal. 2. Bidang Pendidikan Kepedulian Muhammadiyah terhadap dimensi pendidikan dibuktikan dengan mendirikan lembaga pendidikan formal dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Konsep yang dianut Muhammadiyah yakni dengan menggabungkan (mengintegrasikan) antara pendidikan agama dan pendidikan umum sebagai jembatan untuk menuntaskan kebodohan yang sedang diidap oleh umat Islam Indonesia. Tujuan mulianya tidak lain untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, “tuntutlah ilmu pengetahuan (dunia) seolah-olah kamu hidup selama-selamanya dan tuntutlah ilmu agama (akhirat) seolah-olah kamu akan mati esok hari.” 3. Bidang Sosial Kemasyarakatan Salah satu peran umat Islam sebagai rahmatan lil alamin adalah bergerak di dunia muamalah (sosial kemasyarakatan). Demi memenuhi kebutuhan umat dan untuk keperluan 11 dakwah, maka Muhammadiyah menjadi pelopor pergerakan dengan mendirikan rumah sakit, panti asuhan, balai pengobatan, klinik, apotek, percetakan, lembaga peyuluhan, dan lain-lain. Tujuannya tentu ingin mensejahterakan umat manusia di muka bumi. 4. Bidang Politik Kenegaraan Muhammadiyah berperan besar dalam pergerakan menjelang kemerdekaan, pascakemerdekaan, maupun dalam menjaga kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam negara kesatuan republik Indonesia. Namun, Muhammadiyah secara organisasi tidak terlibat dalam agenda politik praktis. Inilah yang oleh pimpinan Muhammadiyah disebut sebagai politik tingkat tinggi (high politic) yaitu kemampuan berpolitik di atas politik praktis. Muhammadiyah selalu mengawal dan mengkritisi arah kebijakan politik pemerintahan dengan sebutan pressure politic. Ciri Perjuangan Muhammadiyah 1. Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Gerakan Islam dijadikan sebagai ciri perjuangan Muhammadiyah sebagai telaah terhadap QS Ali Imron: 104 serta 17 ayat Al-Qur’an lainnya yang di dalamnya tergambar dengan jelas asal-usul roh, jiwa, nafas, semangat Muhammadiyah dalam pengabdiannya kepada Allah SWT. Segala hal yang dilakukan oleh Muhammadiyah di segala bidang semata-mata untuk merealisasikan prinsip-prinsip ajaran Islam menuju masyarakat utama yang rahmatan lil‘alamin (rahmat bagi seluruh alam raya dan seisinya). 2. Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar QS. Ali Imron: 104 menjadi khittah dan sumber strategi perjuangan Muhammadiyah, yakni dakwah (amar ma’ruf nahi munkar, dengan masyarakat sebagai objek perjuangannya). Semua amal usaha Muhammadiyah merupakan media gerakan dakwah Islamiyah. 3. Muhammadiyah sebagai Gerakan Tajdid (Pembaharuan) dan Purifikasi (Pemurnian) Gerakan Muhammadiyah sebenarnya tidaklah hanya sebatas upaya memurnikan ajaran Islam dari berbagai penyimpangan ajaran Islam yang sesungguhnya, tetapi juga upaya melakukan berbagai pembaharuan tata cara pelaksanaan ajaran Islam, dalam realita sosial kemasyarakatan, dan lain sebagainya dalam konteks kekinian (kontemporer). Hal ini dikarenakan kondisi dan situasi zaman dahulu dan sekarang sudah banyak mengalami perubahan dan perkembangan. Oleh karenanya, perlu adanya pembaharuan tetapi tetap bersifat purifikasi. Kedua hal tersebut menjadi satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan oleh warga Muhammadiyah dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. C. Ideologi Muhammadiyah K.H Ahmad Dahlan, dalam “falsafah ajaranya,” berpesan,” Kita, manusia ini, hidup di dunia hanya sekali, kita akan mendapatkan kebahagiankah atau kesengsaraankah ?”. Lalu beliau mengutip ujaran klasik, yang artinya “ Manusia itu semua mati ( mati perasaanya) kecuali para ulama, yaitu orang-orang yang berilmu. Dan para ulama pun itu dalam kebingungan, kecuali mereka yang beramal. Dan mereka yang beramal pun dalam kekhawatiran, kecuali mereka yang ikhlas atau bersih ”. Falsafah ajaran K.H Ahmad Dahlan di atas menggambarkan bahwa dalam menjalani hidup manusia haruslah memiliki sikap yang jelas dan mendasar.bahwa dalam kehidupan, apapun yang dilakukan harus jelas bingkai dan 12 arahnya, tidak hidup asal hidup, tidak beraktivitas asal beraktivitas. Itulah hidup dengan idealisme bukan hanya kegiatan praksis. Bagi siapapun yang mengkalim bahwa dirinya adalah seorang muslim, harus jelas apa yang menjadi pijakan dan arahnya atu tujuanya. Secara sederhana untuk menggambarkan uraian di atas Allah bertanya pada kalimat “ Fa’aina tadzhabun? (maka kemana kalian akan pergi?)”, dimana hidup manusia itu lebih-lebih seorang muslim adalah menjalankan fungsi ibadah (QS. Al-Jariyat:56) dan kekhalifahan (QS. Al-Baqarah:30) agar selamat dunia dan ahirat (QS. Al-Baqarah) untuk meraih keridhaan dan karunia Allah (QS. Al-Fath:29). Disini jelas bahwa bagi setiap muslim apapun yang dilakukan menurut perspektif Islam haruslah jelas idealisme atau filosofinya, sihingga hidup itu bermakna, maslahat, dan meraih keutamaan sebagaimana diamanatkan Allah. Tak terkecuali bagi Muhammadiyah yang menyatakan diri sebagai gerakan Islam itu sendiri. Sebagai organisasi yang telah menyataka diri sebagai gerakan Islam, sudah semestinya aktivis atau anggota Muhammadiyah dalam melaksnakan segala aktivitasnya memiliki pijakan dan tujuan yang jelas. Bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam sejak didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan hingga saat ini dan masa yang akan datang memiliki idealisme atau filosofi yang jelas dalam seluruh aktifitasnya. Muhammadiyah itu gerakan Islam yang menjalankan gerakan dakwah tajdid melalui berbagai usaha yang terorganisasi, sehingga seluruh lini dan proses geraknya bersandar pada idealisme atau filosofi yang jelas sebagai gerakan sosialkeagamaan. Seperti jamak kita ketehui bahwa tujuan Muhammadiyah adalah menegakan dan menjunjung tinggi agama Islam yang sebenar-benarnya. Adapun untuk menjalankan maksud dan tujuan yang mulia itu dilakukan dengan berbagi usaha, program, dan kegiatan yang tersistemasi. Semua itu tidak lain sebagai pengejawantahan mengemban misi untuk kejayaan Islam dan umat Islam, serta menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam di muka bumi. Meningat demikaian mendasar, penting, dan strategis gerakan Muhammadiyah maka, Muhammadiyah dalam gerakanya memiliki sistem yang jelas, di mana dicerminkan melalui ideologi. Sebagi mana dituliskan ketua umum PP Muhammadiyah (Dr. H Haedar Nashir, M.Si) ideologi Muhammadiyah adalah paham agama dan sistem perjuangan yang bertumpu pada AlQuran dan Sunnah Nabi yang sahis atau makbulah,dibingkai memlaui pemikiran-pemikiran yang mendasar seperti Muqaddimah Anggaran Dasar, Kepribadian, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup, Khittah, Pedoman Hidup Islami, dan sebagainya yang menjadi prinsip gerakan Muhammadiyah. A. Bagian 1 Apa ideologi Muhammadiyah? Pertanyaan tersebut hampir pasti ada dalam setiap diskusi ketika mengangkat tema “ ber-Muhammadiyah”. Haedar Nashir (2007, bagian II:17) menjelaskan bahwa secara subtansi (isi) banyak pernyataan pikira formal dalam Muhammadiyah yang bersentuhan atau mengandung ideologi Muhammadiyah, lebih khusus dalam langkah-langkah per-periode. Dalam “naskah akademik” makalah pada Muktamar ke-37 tahun 1968 bahkan ideologi Muhammadiyah dikaitkan langsung dengan pemikiran dan idealisme K.H Ahmad Dahlan ketika melahirkan Muhammadiyah. Adapun secara formal yang mengandung pemikiran yang lengkap mengenai ideologo Muhammadiyah ialah, Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah yang disusun oleh Ki bagus Hadikusuma dengan bantuan para sahabatnya pada tahun 1945, yang kemudian sisahkan pada Tanwir tahun 1961. Sedangkan konsep yang secara lebih jelas menyatakan ideologi tetapi dengan istilah “keyakinan dan cita-cita hidup” ialah Matan Keyakinan dan 13 Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) yang dibahas dalam Muktamar ke-37 tahun 1968 dan kemudian ditindaklanjuti dan dihasilkan dalam Tanwir di Ponorogo tahun 1969. B. Bagian 2 Kelahiran Muhammadiyah memiliki persentuhan dengan “ ideologi”, yakni ide dan cita-cita tentang Islam dari K.H Ahmad Dahlan, yang membentuk alam pikiran sekaligus usaha untuk mewujudkanya dalam kehidupan. Idiologi adalah” ajaran atau ilmu pengtahuan yang secara sistematis dan menyeluruh membahas mengenai gagasan, caracara, angan-angan atau gambaran dalam pikiran untuk mendapatkan keyakinan mengenai hidup dan kehidupan yang benar dan tepat”. Dinyatakan pula bahwa ideologi merupakan “keyakinan hidup” yang mencangkup : 1) Pandangan hidup. 2) Tujuan hidup, dan 3) Ajaran dan cara yang dipergunakan untuk melaksanakan pandangan hidup dalam mencapai tujuan hidup tersebut”. (Rumusan Pokok-Pokok Persoalan tentang Ideologi Keyakinan Hidup Muhammadiyah yang disusun oleh Panitia Tajdid seksi “Ideologi Keyakinan Hidup Muhammadiyah” dalam Muktamar ke-37 tahun 1968). Dari pemaknaan di atas maka ideologi bukan hanya sekedar seperangkat “paham” atau pemikiran belaka, tetapi juga “teori dan strategi perjuangan” untuk mewujudkan paham tersebut dalam kehidupan. Sehingga jika dikatakan “Ideologi Muhammadiyah”, maka yang dimaksudkan ialah “ sistem keyakinan, cita-cita, dan perjuanan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Adapun isi atau kandungan ideologi Muhammadiyah tersebut adalah : 1) Paham Islam atau paham agama dalam Muhammadiyah, 2) Hakikat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dan 3) Misi dan strategi perjuangan Muhammadiyah. Dalam Muhammadiyah, ideologi memiliki kedudukan dan fungsi yang penting dalam geraknya, yaitu: 1. Menjalankan dan menanamkan pandangan dunia (world view), sebutlah idiom yang selama ini berlaku dalam Muhammadiyah tentang “Islam Agamaku, Muhammadiyah Gerakanku” 2. Membangun komitmen idealisme untuk menjalankan misi dan cita-cita gerakan; sehingga anggota Muhammadiyah tidak hanya sekedar aktif dan berada dalam lingkungan Persyarikatan secara fisik, dan praktis (prakmatis) 3. Mengingat solidaritas kolektif yang kokoh, sehingga tampak satu kesatuan sistem gerakan Muhammadiyah 4. Menyusun dan melaksanakan garis perjuangan dan strategi perjuanan sesuai dengan sistem paham atau ideologi Muhammadiyah 5. Mobilisasi angoota untuk mencapai tujuan Muhammadiyah melalui bebagai usaha, dan 6. Membelala atau menjaga keutuhan (eksistensi) organisasi dari berbagai pengeroposan paham dari dalam maupun dari luar sesuai dengan prinsip Muhammadiyah. Ideologi Muhammadiyah sebagimana dibahas dalam “Suara Muhammadiyah” nomor 16/2007 secara subtansi mengandung tiga unsur penting yaitu: 1. Paham Agama dalam Muhammadiyah Dilihat dari aspek kesejarahan, paham agama dalam Muhammadiyah memiliki akar pada K.H Ahmad Dahlan tentang Isalam. Setelah Tarjih dibentuk tahun 1927, paham agama dalam Muhammadiyah dikodifikasi menjadi pandangan resmi organisasi, yang menjadi rujukan warga Muhammadiyah. Dari berbagai rujukan yang diperoleh, dapat ditemukan butir-butir mendasar dari paham agama dalam Muhammadiyah sebagai unsur penting dalam Muhammadiyah : Pertama: Muhammadiyah memandang Islam sebagai satu mata-rantai ajaran Allah yang dibawa 14 oleh para Nabi hingga Nabi Muhammad yang mengoreksi dan menyempurnakan sehingga menjadi risalah Islam yang terahir hingga ahir zaman, sebagai satu-satunya agama yang benar dan diridhai Allah. Kedua: Muhammadiyah memiliki pandangan yang luas tentang kandungan ajaran Islam yaitu sebagaimana disebutkan dalam kitab Masalah Lima bahwa agama, yakni agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ialah apa yang diturunkan Allah dalam Al-Quran dan yang disebut dalam Sunnah yang shahih, berupa perintah-perintah, larangan-larangan dan petunjuk-petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat. Ketiga: Muhammadiyah dalam paham agamanya bersumberkan pada Al-Quran dan As-Sunnah yang makbulah dengan menggunakan akal pikiran yang sesuai jiwa ajaran Islam. Keempat: Muhammadiyah memandang Islam sebagai agama yang komprehensif atau menyeluruh. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang : a) Aqidah, b) Akhlak, c) Ibadah, dan d) Mu’amalah Duniawiyat. Islam adalah agama untuk menyerahkan diri semata-mata karena Allah, agama semua Nabi, agama yang sesuai fitrah manusia, agama yang menjadi petunjuk bagi manusia, agama yang mengatur hubungan, dan agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Kelima: Muhammadiyah dalam memaknai Tajdid mengandung dua pengertian, yakni pemurnian (purifikasi) dan pembaharuan (dinamisasi). 2. Hakikat Muhammadiyah Menurut Pak AR Fakhruddin, Muhammadiyah adalah organisasi Islam di Indonesia yang mempunyai dasar Islam dan sifatnya sebagai gerakan. Hal tersebut mempertegas bahwa Muhammadiyah bukan hanya sekedar paham agama tertapi juga sistem gerakan. (Islam Agamaku, Muhammadiyah Gerakanku). Setidaknya ada lima poin untuk menguraiakan hakikat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam : Pertama: Muhammadiyah sejatinya merupakan gerakan Islam yang bersumber pad Al-Quran dan As-Sunnah, dengan mengembangkan ijtihad atau akal pikiran yang sesui jiwa ajaran Islam, yang membedakanya dari gerakan Islam lain yang bermadzab maupun yang tidak mengembangkan ijtihat atau akal pikiran, juga berbeda dengan gerakan yang sekuler. Kedua: Muhammadiyah berasas Islam, sehingga Islam menjadi sumber nilai, landasan, dan pusat orientasi seluruh gerakanya. Ketiga: Muhammadiyah bergerak Melaksanakan dakwah sekaligus tajdid dari seluruh usahanya, karena itu sealin dakwah tajdidpun menjadi komitmen utama gerakan Muhammadiyah. Keempat: Muhammadiyah begerak untuk membentuk masyarakat dan bukan membentuk negara, yakni masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Kelima: Muhammadiyah dalam gerakanya memiliki prinsip-prinsip dan identitas diri yang kuat bagaimana tercantum dalam Muqaddimh Anggaran dasar, Kepribadian, khittah, pedoman hidup islami, dan pemikiran-pemikiran formal lainya termasuk AD/ ART Muhammadiyah serta peraturan-peraturan organisasi lainya yang menjadi tatanan resmi gerakan Muhammadiyah. 3. Fungsi-strategi Muhammadiyah Berangkat dari misi ideal gerakan Islam yaitu menegakan tauhid yang murni dengan menyebarkan Islam yang bersumber pada Al-Quran dan As-Sunnah untuk mewujudkan amal Islami dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan Masyarakat maka Muhammadiyah Menyatakan bahwa “Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan negara Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil, makmur dan diridhai Allah : “Baldatun Thayyi-batun Wa Rabbun Ghafur”. Kendatipun Muhammadiyah bergerak dalam segala bidang, dalam 15 strategi Muhammadiah tidak menempuh jalur politik praktis. Hal ini berdasarkan Khittah pejuangan Muhammadiyah, yakni kebulatan sikap (tekat) Muhammadiyah sesuai dengan hasil Tanwir tahun 1967 untuk menetapkan diri sebagai “Gerakan Dakwah Islam dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di dalam bidang Masyarakat”. Khittah perjuangan tahun 1971 di Ujung Pandang yang kemudian disempurnakan dan menjadi satu kesatuan dengan Khittah Perjuangan Muhammadiyah tahun 1978 di Surabaya dalam Muktamar ke-40 mengandung dua esensi perjuangan Muhammadiyah : Pertama: Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Islam yang beramal dalam segala bidang kehidupan manusia dan masyarakat, tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan dan tidak merupakan afiliasi dari suatu Partai Politik atau organisasi apapun. Kedua: setiap anggota Muhammadiyah sesuai dengan hak asasinya dapat memasuki atau tidak memasuki organisasi lain sepanjang tidak menyimpang dari Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan ketentuan-ketentuan lainya yang belaku dalam persyarikatan Muhammadiyah. C. Bagian 3 Dengan ideologi Muhammadiyah yang mengandung paham agama, hakikat gerakan, serta fungsi, misi dan strtegi perjuangan sebagaimana terjabarkan di atas, maka jelaslah karakter, posisi dan fungsi Muhammadiyah. Pertanyaan tentang “apa” ideologi Muhammadiyah perlahan harus bergeser kepada pemaknaan “bagaimana”. Bukan untuk menghindari sebuah pertanyaan, namun jelas pertanyaan “apa” hanya akan mendapat jawaban definitif-normatif yang tidak berdampak apapun dan bahkan hanya akan menunjukan jadi diri. Jati diri sebagai “pemalas” karna hanya ingin tahu yang berhenti pada alam pikir, jika kita merubah pertanyaan menjadi “bagaimana” maka refleksi kita akan mengarah pada bentuk gerak dan segala hal tentang upaya dan kerja. Dalam menjawab “bagaimana” ideologi Muhammadiyah maka kita akan melihat berbagai rumusan seperti Muqaddimah AD, MKCH, AD/ ART, dan lain-lain yang mana dari kesemuanya akan menjadi pondasi sekaligus pagar dalam usaha mencapai tujuan. MenjadiMuhammadiyah memang bukan perkara mudah, seperti yang diungkapkan Panglima Besar Tentara Keamanan ke-1 (12 November 1945 – 29 Januari 1950) Jendral Besar Raden Soedirman yang menyatakan “sungguh berat menjadi kader Muhammadiyah, ragu dan bimbang lebih baik pulang”. Buku Rujukan: - Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Suara Muhammadiyah. Edisi 16-31 Desember 2012. Hambali, Hamdan. 2010. Ideologi dan Strategi Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammdiyah-PT Surya Sarana Utama. Nugroho, Adi. 2010. Biografi Singkat K.H. Ahmad Dahlan. Yogyakarta: Garasi House of Book-Ar-Ruz Media Group. D. KAJIAN HISTORIS IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan sebuah organisasi otonom (ortom) muhammadiyah yang telah berkembang pesat hingga saat ini. Dalam perjalanannya pun lahirnya IMM tidak pernah lepas dari proses perjalanan yang telah dilakukan oleh induk IMM itu sendiri yaitu Muhammadiyah. Sehingga setiap kegiatan yang dilakukan oleh IMM pun juga merupakan perwujudan dari cita-cita muhammadiyah. 16 Dalam kelahiranya, IMM yang merupakan organisasi otonom dalam wilayah kemahasiswaan ini tidak lepas dari aspek-aspek sosio politik yang terjadi saat itu. Karena dipungkiri atau tidak, IMM lahir untuk merespon permasalahan-permasalahan umat dan keadaan kebangsaan pada saat itu. Untuk itu, cepat atau lambat sebuah wadah kemahasiswaan yang terdiri dari kader-kader Muhammadiyah dari kalangan Mahasiswa pun pasti akan terbentuk. Karena IMM adalah respon dari sebuah masalah keummatan maka kelahiran IMM merupakan sebuah keharusan sejarah, ditengah keadaan yang serba problematis. Keadaankeadaan yang mengharuskan kemunculan IMM pada waktu itu digolongkan menjadi 3 hal, yaitu : 1. Keadaan kehidupan umat dan bangsa. 2. Keadaan kehidupan kemahasiswaan. 3. Keadaan kehidupan Muhammadiyah Kemudian dalam bukunya, farid fatoni menjabarkan keadaan tersebut menjadi 8 poin yang merupakan faktor-faktor yang mendsak kelahiran IMM, yaitu2 : 1. Situasi bangsa yang tidak adil , pemerintahan yang otoriter dan tunggal di Indonesia. 2. Terpecahnya umat islam dan bentuk saling curiga dan fitnah serta kondisi politik umat islam yang semakin buruk. 3. Terbingkainya kehidupan mahasiswa yang berorientasi pada kepentingan politik praksis. 4. Masih membekasnya imbas dari Imperialisme yaitu kebodohan dan kemiskinan. 5. Merosotnya kehidupan beragama dan akidah ummat serta kehidupan materialistikindividualis. 6. Sedikitnya pembinaan agama di lingkup kampus dan masih tingginya budaya sekuler. 7. Masih maraknya praktik-praktik bid’ah, syirik dan misionaris kristen. 8. Kehidupan ekonomi sosial dan politik semakin memburuk. Beberapa faktor di atas menjadi semangat mengapa IMM harus lahir dan diadakan untuk menjawab permasalahan yang ada. Meski pada mulanya mahasiswa anggota Muhammadiyah cukup dimasukan dalam wadah Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul aisyiah , namun hal itu dirasa kurang karena memang lahan garapan yang berbeda dan tidak langsung menyentuh dalam area masyarakat mahasiswa secara umum. Sehingga pada muktamar ke 25 di jakarta pada tahun 1936 yang diketuai KH. Hisyam (1934-1937) mulai muncul bibit untuk diadakanya organisasi otonom dalam tataran masyarakat mahasiswa. Ide itu dimunculkan karena adanya keinginan Muhammadiyah untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah. Maka pasca muktamar ke-25 tersebut dikatakan adanya penghimpunan mahasiswa yang sehaluan dengan arah dan tujuan muhammadiyah.3 Adapun maksud dan tujuan berdirinya organisasi kemahasiswaan yang searah dengan muhammadiyah (nantinya disebut IMM ) adalah :4 1. Turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa. 2. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam. 3. Sebagai upaya menopang melangsungkan dan meneruskan cita-cita pendirian Muhammadiyah. 4. Sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha amal usaha Muhammadiyah. 2 Farid Fathoni : Kelahiran Yang dipersoalkan, 1990: 102 NoorChozin Idgham : Trikopentesi dasar, Peneguhan Jati Diri Ikatan ,2007 : 3 4 Farid Fathoni : Kelahiran Yang dipersoalkan, 1990: 103 3 17 5. Membina, meningkatkan dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa umat dan persyarikatan. Namun demikian upaya untuk menghimpun dan membina mahasiswa muhammadiyah itu vakum, dan tidak berjalan dengan lancar karena Muhammadiyah belum memiliki perguruan tinggi Muhammadiyah. Sehingga para kader Muhammadiyah yang sekolah diperguruan tingi negeri maupun swasta tetap diwadahi oleh ortom yang sudah ada yaitu Pemuda Muhammadiyah (PM), Nasyiatul Aisyiah (NA) maupun hisbul wathan (HW). Kemudian pada perkembanganya, para mahasiswa yang tergabung dalam ke-3 ortom tersebut merasa perlu untuk berkumpul dengan kalangan mahasiswa tersendiri. Sehingga alternatif yang dijalankan adalah bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sehingga sempat terdapat isu yang bergulir bahwa HMI adalah anak dari Muhammadiyah yang membawa misi kusus dari Muhammadiyah, karena pada waktu itu di tubuh HMI di pimpin dan banyak di isi oleh tokohtokoh muhammadiyah dan kader-kader muhammadiyah.5 Serta kalau kita tilik sejarahnya,ada satu hubungan yang tidak kentara anta HMI dan Muhammadiyah, hubungan dekat yang tak kentara ini selanjutnya sangat mempengaruhi terhadap perjalanan IMM. Hubungan kedua organisasi ini bisa dilihat dalam perjalanan organisasinya, misal sewaktu lafrane pane mau menjajaki pendirian HMI, dia bertukar pikiran dengan prof. Abdul Kahar Mudzakir (tokoh muhammadiyah pusat) dan beliau sangat setuju. Pendiri HMI yang lain adalah maisarah hilal (cucu KHA. Dahlan) juga aktivis Nasyiatul Aisyah, yusdi Ghozali, anton timur jaelani, dll. Bila praduga ini benar adanya maka benar asumsinya “bila muhammadiyah pada waktu itu tidak perlu menghimpun atau membina langsung sebab sudah ada HMI, artinya pengkaderan itu bisa dititipkan HMI.6 Namun seiring perkembangan zaman dengan adanya aliran-aliran isma seperti pemikiran asy syari’at, syiah, muktazillah, nasionalisme, sekularisme, pluralisme yang mewarnai tubuh HMI. Dan di dukung dengan kondisi terdesaknya HMI setelah adanya CGMI yang dianggap underbow dari PKI untuk memaksa untuk HMI dibubarkan. Melihat fenomena tersebut maka Pimpinan pusat Muhammadiyah membuat sebuah kebijakan untuk menarik semua kader-kader muhammadiyah dari HMI, dalam upaya menyelamatkan kader muhammadiyah di tingkatan sekolah menegah atas dan perguruan tinggi.7 Kelahiran IMM memang cukup panjang dan pada saatnya memang tidak dapat ditunda lagi kelahirannya, setelah melihat beberapa faktor yang melingkupinnya. Muhammadiyah mulai sadar, bahwa HMI yang semula wadah alternatif dari penitipan pembinaan kadernya secara tidk langsung ternyata mempunyai arah tersendiri. Kesimpulannya bahwa proses kaderisasi ternyata tidak dapat dititipkan begitu saja kepada pihak lain. Bahwa bagaimana pun proses kaderisasi pada akhirnya melahirkan satu proses kristalisasi pemikiran, sikap sebagai akibat dari proses pengumulan ide dan perilaku.8 Sehingga pada 18 juli 1955 keinginan muhammadiyah untuk membentuk perguruan tinggi Muhammadiyah melalui struktur kepemimpinan membentuk departemen pelajar dan mahasiswa yang menampung aspirasi aktif dari pelajar dan mahasiswa telah terwujud yaitu dengan didirikanya PTM di Padang Panjang yang memiliki dua fakultas yaitu hukum dan filsafat, namun karena pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) maka ke-dua fakultas tersebut vakum. Kemudian berdiri kembali PTM di jakarta yang 5 NoorChozin Idgham : Trikopentesi dasar, Peneguhan Jati Diri Ikatan ,2007 : 4 Farid Fathoni : Kelahiran yang dipersoalkan, 1990 : 94 7 NoorChozin Idgham : Trikopentesi dasar, Peneguhan Jati Diri Ikatan ,2007 : 5 8 Farid Fathoni : kelahiran yang dipersoalkan, 1990 : 105 6 18 kemudian diganti nama menjadi IKIP. Diteruskan pada 1958 mulai dirintis fakultas serupa di Surakarta, di Yogyakarta dan Jakarta berdiri juga fakultas ilmu sosial. Karena semenjak tahu 1958 perguruan tinggi Muhammadiyah mulai berkembang pesat maka ide-ide untuk mengembangkan IMM semakin kuat pada tahun 1960 an. Ketika Pemuda Muhammadiyah melakukan muktamar pertama di palembang pada tahun 1956, PP Muhammadiyah memberikan amanah untuk membuat study group untuk mahasiswamahasiswa dari Malang, Yogya, Surabaya, Padang, Ujung Pandang, dan Jakarta . menjelang muktamar muhammadiyah muhammadiyah di Jakarta pada tahun 1962, sekaligus diadakan kongres mahasiswa muhammadiyah di yogyakarta pasca muktamar jakarta untuk melepaskan departemen kemahasiswaan untuk berdiri sendiri. Pada tahun 15 desember 1963 Djzas Alkindi menggagas untuk adanya penjajagan kepada mahasiswa-mahasiswa yang searah dengan muhamadiyah, hal itu dimulai dengan didirikanya dakwah mahasiswa yang dikordinir oleh : 1. Ir. Margono 2. Dr. Sudibyo Markoes 3. Drs. Rosyad Saleh Kemudian adanya desakan-desakan untuk membentuk organisasi Muhammadiyah dalam tataran Mahasiswa di Jakarta, semakin memperkuat PP Muhammadiyah untuk segera membentuk Organisasi ke-Muhammadiyahan yang berbasis pada mahasiswa. Setelah beberapa desakan dari kalangan mahasiswa, maka dengan restu PP Muhammadiyah yang waktu itu diketuai oleh H. A. Badawi, mengizinkan untuk didirikan organisasi Mahasiswa Muhammadiyah yang diketuai oleh Drs. Moh. Dzazman Al-Kindi, dan beranggotakan M. Husni Tamrin, Rosyad Shaleh, Sudibjo Markoes, Moh. Arief , dan lain-lain. Kemudian pada tanggal 14 maret 1964 Dzazman Al-Kindi menetapkan nama untuk organisasi mahasiswa muhammadiyah dengan nama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Yogyakarta yang diresmikan oleh PP Muhammadiyah yang diketuai H. A. Badawi dan disaksikan oleh badan pembantu pemerintahan DIY yaitu H. Tanhawi. Adapun peresmian tersebut ada dengan ditanda tanganinya 6 penegasan IMM oleh H. A. Badawi, yang berisi : 1. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan Mahasiswa Islam. 2. Menegaskan bahwa kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM. 3. Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam muhammadiyah. 4. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, dan falsafah negara yang berlaku. 5. Menegaskan bahwa Ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah. 6. Menegaskan bahwa amal IMM dilahirkan dan di abdikan untuk kepentingan rakyat. Kemudian pada tanggal 1-5 Mei 1965 dilakukan Muktamar pertama kali IMM di kota Barat, Solo dan menghasilkan deklarasi Solo, yang berisi prinsip gerakan IMM sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. IMM adalah gerakan Mahasiswa Islam. Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM. Fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam muhammadiyah. Ilmu adalah amaliah IMM, dan amal adalah ilmiah IMM. IMM adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, dan falsafah negara yang berlaku. 19 6. Amal IMM dilahirkan dan di abdikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa. Identitas IMM - - - Ikatan mahasiswa muhammadiyah adalah organisasi kader yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan dalam rangka mencapai tujuan muhammadiyah. Sesuai dengan gerakan Muhammadiyah, maka Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memantapkan gerakan dakwah ditengah-tengah masyarakat khususnya kalangan mahasiswa. Setiap anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah harus mampu memadukan kemampuan ilmiah dan akidahnya Oleh karena itu setiap anggota harus tertib dalam ibadah, tekun dalam studi dan mengamalkan ilmunya untuk menyatalaksanakan ketakwaan dan pengabdiannya kepada Allah SWT. Trilogi IMM - Keagamaan Kemahasiswaan Kemasyarakatan Tri kompetensi dasar - Religiusitas Intelektualitas Humanitas Nilai dasar Ikatan - - IMM adalah gerakan mahasiswa yang bergerak tiga bidang keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan Segala bentuk gerakan IMM tetap berlandaskan pada agama islam yang hanif dan berkarakter rahmat bagi sekalian alam Segala bentuk keadilan, kesewenang-wenangan dan kemungkaran adalah lawan besar gerakan IMM perlawanan terhadapnya adalah kewajiban kader IMM. Sebagai gerakan mahasiswa yang berlandaskan islam dan berangkat individu-individu mukmin, maka kesadaran melakukan syariat islam adalah suatu kewajiban dan sekaligus mempunyai tanggung jawab untuk mendakwahkan kebenaran di tengah masyarakat. Kader IMM merupakan inti masyarakat utama yang selalu menyebarkan cita-cita kemerdekaan, kemuliaan dan kemaslahatan masyarakat sesuai dengan semangat pembebasan dan pencerahan yang dilakukan Nabiyullah Muhammad Saw. Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui, bahwa IMM lahir adalah sebagai gerakan yang menjadi respon atas permasalahan bangsa pada waktu itu. Dan dengan adanya berbagai permasalaha baik di kalangan mahasiswa, masyarakat dan agama, maka maksud IMM didirikan adalah sebagai alat pembebas dan perjuangan dakwah untuk membela bangsa, negara, agama dan persyarikatan. 20 BAB III SITUASI UMUM MASYARAKAT INDONESIA A. PENDAHULUAN Setelah mengkaji terkait essensi kelahiran organisasi Muhammadiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, tentunya kita sudah mengetahui bagaimana khittah organisasi kita yang sebenarnya. Namun setelah kita tuntas di wilayah essensi kelahiran organisasi kita harus melihat situasi masyarakat indonesia saat ini, ini bertujuan agar aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berkesesuain dengan realita yang ada. Melihat situasi umum masyarakat indonesia saat ini merupakan sebuah keharusan bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. karena kalau kita lihat dari essensi kelahiran dari Muhammadiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sangat di pengaruhi oleh kondisi sosial masyarakat. Dalam menentukan arah gerak perkaderan, selain pemahaman mengenai essensi kelahiran Muhammadiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Pemahaman mengenai situasi masyarakat indonesia benar-benar menjadi kebutuhan, karena bagaimana pun permasalahanpermasalahan yang ada IMM haruslah ikut andil dalam menyelesaikan problem masyarakat itu. Hal ini tentunya sangat berpengaruh dalam perkaderan, dan yang pasti sesuai dengan kelahirannya IMM bukan hanya berperan untuk dirinya sendiri akan tetapi IMM juga berperan terhadap permasalahan sosial. Begitu juga dengan perkaderan, aktivitas konkret yang dilakukan dalam kaderisasi haruslah lah sesuai dengan realitas kehidupan saat ini, dalam membantu menyelesaikan masalah-masalah yang ada di masyarakat. B. Situasi Umum Masyarakat Indonesia Keadaan Alam Indonesia Indonesia adalah sebuah negeri yang terdapat dalam gugusan kepulauan berpegunungan besar yang terbentang di antara 6 LU - 11 LS dan 95 - 141 BT. Dengan kedudukannya di sepanjang khatuliswa, maka Indonesia tergolong sebagai negeri tropis yang mengalami dua musim dalam satu tahun. Keadaan iklim yang demikian membuat kepulauan Indonesia sangat bersahabat dengan segala macam jenis tanaman pangan dan non-pangan untuk hidup dan berkembang. Disamping itu, terdapat tiga negara yang berbatasan langsung dengan daratan Indonesia, yaitu: Papua New Guinea di Pulau Papua, Malaysia (Sabah dan Serawak) di Pulau Kalimantan, dan Timor Leste di Nusa Tenggara Timur. Sementara wilayah Indonesia yang berbatasan dengan negeri lain di wilayah perairan adalah: Malaysia, Singapura, Filipina, dan Laut Cina Selatan (utara); Australia dan Samudra Indonesia (selatan); Samudra Indonesia (barat); dan Samudra Pasifik (timur). Dua samudra besar dunia, Samudra Pasifik dan Indonesia, dan dua benua, Benua Asia dan Australia, juga mengapit Kepulauan Indonesia. Posisi ini yang membuat negeri Indonesia memiliki nilai penting strategis dalam tata lalu lintas dunia (terutama angkutan maritim). Di Indonesia terdapat lima pulau besar, yaitu: Papua, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Jawa, beserta ribuan pulau lain (baik yang berpenghuni manusia atau tidak) dengan jumlah total 17.508 pulau9. Indonesia adalah negeri kepulauan terbesar di dunia yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia, yaitu: 54.716 km10. Dari lima pulau terbesar tersebut terdapat beberapa gunung besar yang aktif maupun tidak aktif, yaitu: Sumatra dengan Pegunungan Barisan, Jawa 9 CIA - The World Factbook CIA - The World Factbook 10 21 dengan Pegunungan Sewu dan Semeru, Papua dengan Pegunungan Jaya Wijaya, Kalimantan dengan Pegunungan Kapuas Hulu dan Sulawesi dengan Pegunugan Latumojong11. Total secara keseluruhan pegunungan besar di Indonesia berjumlah 102 dimana 45 diantaranya merupakan gunung berapi. Jumlah pegunungan dan gunung tersebut membawa sebagian besar pulau di Indonesia memiliki tanah daratan yang subur dan cocok sebagai areal pertanian bagi berbagai macam jenis tanaman pangan dan non-pangan. Indonesia berada dalam posisi pertemuan sejumlah lempeng tektonik, meliputi Lempeng Eurasia, Indo-Asutralia dan Lempeng Pasifik. Kedudukan yang demikian itu, menempatkan wilayah Indonesia berada dalam kawasan dengan potensi dan intensitas gempa bumi yang tinggi. Pertemuan tiga lempeng tektonik tersebut juga mendatangkan kekayaan alam yang berlimpah. Busur magmatik di sepanjang Sumatera-JawaNusa Tenggara mengandung penyebaran kekayaan tembaga, timbal, emas, perak, molybdenum, seng, timah, dan tungsten. Ofiolit di bekas-bekas jalur subduksi atau obduksi seperti di Sulawesi dan Halmahera kaya akan nikel dan kromium. Emas, polymetallic suphide, platinum, perak benar-benar tersebar mengikuti tepi lempeng. Gejala volkanisme dari Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi Utara membawa energi geotermal. Lempeng tektonik juga menghadirkan kekayaan akan minyak dan gasbumi, serta batubara di cekungan-cekungan sedimen di Indonesia Barat maupun Indonesia Timur. Lempeng tektonik juga menyebabkan diversitas fauna dan flora di Indonesia menjadi begitu memukau. Indonesia memiliki luas daratan sebesar 1.811.569 km212 dan perairan 3.257.483 km2, dengan total luas wilayah adalah 5.069.051 km2. Dari total luas daratan yang digunakan untuk lahan pertanian 485.000 km2, hutan 847.522 km213 dan perkebunan yang diperkirakan mencapai 20 juta Ha (200.000 km2)14. Di pegunungan, baik pulau besar maupun pulau kecil memiliki jalur-jalur sungai panjang dan lebar. Kesuburan tanah dan keramahan iklimnya membuat tanah-tanah subur cocok untuk pertanian pangan dan bahan baku industri. Hutan menyediakan disamping perkayuan, cadangan oksigen untuk keseimbangan iklim juga meliputi cadangan minyak dan mineral yang luar biasa. Garis pantai dan perairan laut disamping memiliki cadangan sumber daya maritim juga menyimpan sumber daya minyak dan mineral yang besar. Sungai-sungai besar di Indonesia (lebih kurang 350 sungai besar) saat ini utamanya hanya untuk digunakan sebagai transportasi, belum dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk irigasi bagi pertanian dan sumber tenaga listrik bagi setiap pelosok negeri. Ratusan pelabuhan di seluruh pulau kecil dan besar di Indonesia, dimasa depan seharusnya bisa diubah sebagai pusat-pusat industri maritim. Semua kekayaan alam di Indonesia seharusnya tidak memberikan syarat-syarat objektif bagi keadaan Indonesia hari ini yang miskin dan terbelakang. Namun pada kenyataannya, bagi rakyat indonesia dari kalangan buruh, tani, pemuda, nelayan serta kaum miskin kota yang menghuni nusantara Indonesia saat ini, kekayaan alam yang berlimpah ruah tersebut ternyata tidak mendatangkan kemakmuran bagi mereka. Masyarakat Indonesia Jumlah masyarakat indonesia terus mengalami perkembangan dalam setiap tahunnya, hingga bulan juli 2015 jumlah masyarakat indonesia sebesar 255. 993. 674 jiwa15, yang terdiri dari : 11 Wikipedia CIA - The World Factbook 13 Badan Pusat Statistik tahun 2010 14 Release Bappenas tahun 2008 15 CIA - The World Factbook 12 22 Usia 0-14 tahun : 25,8 % 15-24 tahun : 17,07 % 25-54 tahun : 42,31 % 55-64 tahun : 8.18 % 65 tahun – keatas : 6,62 % TOTAL Laki-Laki 33.651.533 jiwa 22.238.735 jiwa 55.196.144 jiwa 9.608.548 jiwa 7.368.764 jiwa 128.063.724 jiwa Perempuan 32.442.996 jiwa 21.454.563 jiwa 53.124.591 jiwa 11.328.421 jiwa 9.579.379 jiwa 127.929.920 jiwa *) sumber: CIA The World Factbook Dengan komposisi buruh sebanyak 20%, kaum tani sebanyak 65%, dan rakyat pekerja di luar buruh dan kaum tani sebanyak 10%. Jumlah Pemodal Sedang sekitar 4% dan Pemodal Besar dan Tuan Tanah Besar hanya 1%. Jumlah rakyat pekerja ini menunjukkan besarnya cadangan tenaga produktif untuk membangun negeri ini menjadi lebih maju dan sejahtera. Namun kehidupan klas-klas pekerja yang menjadi tenaga produktif utama teresebut pada kenyataannya menderita dalam kemiskinan dan keterbelakangan yang mendalam. Sementara segelintir klas penguasa, borjuasi besar dan tuan tanah besar, hidup dalam gelimang kemewahan dengan menindas dan menghisap klas pekerja. Jumlah sukubangsa yang mendiami Indonesia sebanyak 1.128 suku bangsa 16 dengan 746 Bahasa Daerah 17 atau sekitar 10 persen dari 7000 bahasa di dunia. Terdiri dari suku bangsa Jawa 40,1 %, Sunda 15,5 %, Malayu 3,7 %, Batak 3,6 %, Madura 3 %, Betawi 2,9 %, Minangkabau 2,7 %, Bugis 2,7 %, Banten 2 %, Banjar 1,7 %, Bali 1,7 %, Aceh 1,4 %, Dayak 1,4 %, Sasak 1,3 %, Tionghoa 1,2 % suku bangsa lainnya 15 %.18 Terdapat beberapa agama dan kepercayaan yang dianut penduduk Indonesia, meliputi: Islam 87,2 %, Kristen Protestan 7 %, Kristen Katholik 2,9 %, Hindu 1,7 %, sisanya 0,9 % (sudah termasuk budha).19 Jumlah suku bangsa, pemeluk agama dan bahasa yang sedemikian itu, rentan terhadap provokasi klas penguasa untuk memecah belah rakyat, walaupun suku bangsa terbesar (suku bangsa Jawa) telah tersegregasi ke dalam komunitas-komunitas sosial di berbagai pulau, berikut penggunaan Bahasa Indonesia yang berbasiskan Bahasa Melayu membuat persatuan suku bangsa (nasional) menjadi lebih mudah. Namun, sekali lagi provokasi klas penguasa untuk memecah persatuan rakyat dapat terjadi dalam bentuk sentimen chauvisme suku bangsa besar, chauvinisme suku bangsa kecil maupun sentimen keagamaan. Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan secara umum, bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya raya, namun klas pekerjanya hidup menderita oleh kemiskinan dan terpecahpecah akibat dari dominasi klas penguasa asing dan dalam negeri yang menindas dan menghisap. Bila seluruh rakyat Indonesia bisa merdeka tanpa adanya penindasan dan penghisapan, maka seluruh kekayaan bumi Indonesia akan dikuasai dan digunakan dengan sepenuh-penuhnya untuk membangun keseluruhan negeri. Kedudukan Indonesia dan Problem Pokoknya Keadaan Indonesia hari memiliki kedudukan sebagai negeri Semi Kolonial (Setengah Jajahan) dan Semi Feudal (Setengah Feodal). Sebuah keadaan dimana basis feodalisme masih meluas di seleuruh negeri yang dicirikan dengan praktek monopoli tanah dan bersamaan dengan itu industri dan klas proletariat tumbuh secara terbatas. Belum beranjak dari 16 Badan Pusat Statistik 2010 Pusat Bahasa Depdiknas 2011 18 CIA. Fatcbook 19 CIA. Fatcbook 17 23 kedudukannya di masa kolonialisme, keadaan Setengah Jajahan dan Setengah Feodal ini menempatkan Indonesia sebagai : 1. 2. 3. 4. Daerah sumber bahan mentah. Sumber penyedia tenaga kerja murah. Pasar bagi produk-produk imperialis. Sasaran ekspor kapital o Setengah Jajahan Karakter setengah jajahan muncul sebagai akibat dominasi imperialisme20—khususnya imperialisme Amerika Serikat—terhadap rakyat Indonesia baik secara ekonomi, politik, militer dan kebudayaan yang bersandarkan kekuasaan monopoli tanah oleh borjuasi besar komprador dan tuan tanah besar. Negara Republik Indonesia mendapatkan kemerdekaan formil dalam menyelenggarakan sendiri pemerintahannya, melaksanakan Pemilu, membentuk tentaranya sendiri, mempunyai bendera dan lagu kebangsaannya sendiri. Namun demikian Republik Indonesia berada dalam dominasi dan kontrol Imperialisme -khususnya Imperialisme ASdalam lapangan ekonomi, politik, militer dan kebudayaan. Aspek setengah jajahan ini diperkuat dengan banyaknya perusahaan imperialis –termaksud Amerika Serikat- di Indonesia. Diantara perusahaan-perusahaan itu adalah: No 1 Nama Perusahaan Exxon Bidang Pengeboran Minyak Pertambangan Emas dan Tembaga Sepatu Ritel Transportasi Asal Perusahaan Amerika Serikat 2 Freeport McMoran Amerika Serikat 4 5 6 Adidas Carrefour Honda 7 Conoco Phillips Minyak/Gas Bumi&panas bumi Amerika Serikat 8 9 10 11 12 Avon The Coca-Cola Company Virginia Indonesia Company Chevron Unilever Kosmetik Minuman Bersoda Pengeboran Minyak Pengeboran Minyak Manufaktur Perancis Amerika Serikat Virginia Amerika Serikat Belanda Jerman Perancis Jepang (dari berbagai Sumber) Keberadaan perusahaan-perusahaan Imperialis ini berkesesuaian dengan fungsi Indonesia dalam menyediakan tenaga kerja murah, pasar-pasar produk imperialis serta sebagai sasaran ekspor kapital. Politik upah murah yang dijalankan klas penguasa sejak di era lampau ditujukan untuk melapangkan masuknya investasi ke dalam negeri. Ekonomi Indonesia sudah sejak lama bergantung pada masuknya investasi asing atau ekspor kapital dari negeri-negeri imperialis. Demi melayani kepetingan imperialis tersebut, Republik Indonesia (RI) secara kontinu mempertahankan politik upah murah bagi klas buruh. Disamping itu, dengan berbagai kesepakatan perdagangan, RI menyediakan pasar dalam negerinya sebagai sasaran produk-produk Imperialis. Maka membanjirlah berbagai merk produk Imperialis di seluruh jenis kebutuhan dalam negeri, mulai dari kebutuhan pangan, semisal kedelai yang 20 Tahapan tertinggi dari kapitalisme, dengan salah satu ciri utamanya adalah monopoli seluas-luasnya segala aspek komoditi. 24 diimpor dari Amerika, barang-barang elektronik, ponsel, kebutuhan sehari-hari, sampai dengan otomotif. Dominasi imperialisme Amerika Serikat (AS) dapat terjadi karena persekutuan mereka dengan klas reaksioner lokal dalam bentuk kediktatoran bersama antara Borjuasi Besar Komprador dan Tuan Tanah, yang menjadi boneka dan penjaga kepentingan mereka. Imperialisme bersekutu dengan tuan tanah besar—yang juga borjuasi komprador—untuk mendapatkan penguasaan secara monopoli atas tanah dan kekayaan alam lainnya. Negara Republik Indonesia sebagai negara klas Borjuasi Besar Komprodor dan Tuan Tanah menyediakan regulasi dan aturan hukum untuk melapangkan jalan Imperialisme di Indonesia. Semisal Undang-Undang Penanaman Modal Asing, Undang-Undang Migas, Undang-Undang Sumber Daya Air, Undang-Undang Perbankan, Undang-Undang Ketenagakerjaan dan lainlain. Menurut pernyataan salah satu legislator pada Agustus 2010 21 terdapat 76 UndangUndang yang draftnya dilakukan untuk kepentingan pihak asing. Imperialisme sendiri merupakan tahap tertinggi dari perkembangan kapitalisme. Imperialisme mengakhiri peridode pasar persaingan sempurna dimasa lampau menjadi era kapitalisme monopoli. Adapun ciri-ciri dari Imperialisme adalah sbb: 1) Konsentrasi produksi dan kapital telah berkembang pada tahapan tertinggi sehingga menciptakan monopoli yang memegang peran penting dalam kehidupan ekonomi. 2) Perpaduan antara kapital bank dengan kapital industri dan penciptaan basis bagi apa yang dinamakan kapital finans. 3) Ekspor kapital yang berbeda dengan ekspor komoditi. 4) Pembentukan formasi kapitalisme monopoli internasional dan pembagian dunia di antara mereka. 5) Pembagian teritori di seluruh dunia di antara kekuatan kapitalis besar telah selesai. Imperialisme AS saat ini menjadi kekuatan kapitalisme monopoli Internasional yang paling kuat dan memegang peranan memimpin di antara kekuatan-kekuatan imperialisme dunia yang lain seperti Inggris, Jerman, Jepang dan kutub kekuatan imperialisme baru seperti China dan Russia. Kekuatan ekonomi politik imperialisme AS menjadi segi yang berdominasi di dunia melalui lembaga-lembaga multinasional yang dikendalikan oleh AS seperti International Monetery Fund (IMF), World Bank, World Trade Organization (WTO) dan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Kelembagaan dunia tersebut menjadi instrumen bagi AS untuk memaksakan kebijakan-kebijakan ekonomi politik imperialisme kepada negeri-negeri jajahan dan setengah jajahan. Seperti IMF bertindak sebagai lembaga keuangan yang memastikan skema penyesuaian struktur (Structural Adjusment Program/SAP) ekonomi politik berdasarkan kepentingan AS melalui mekanisme hutang luar negeri yang menjerat. Sementara WTO adalah organisasi perdagangan dunia yang bertugas menjamin pelaksanaan liberalisasi perdagangan yang akan lebih menguntungkan bagi negeri imperialis khususnya AS. Demikian juga PBB menjadi organisasi internasional yang setiap waktu dapat digunakan oleh imperialis AS untuk mengesahkan kebijakan-kebijakannya, seperti yang terjadi ketika AS melakukan agresi imperialisnya ke Irak. 21 Tempo.co , 20 Agustus 2010 25 Imperialisme AS adalah musuh utama bagi seluruh bangsa khususnya di negeri-negeri jajahan dan setengah jajahan. Sejarah mencatat bagaimana imperialisme AS mendukung klasklas reaksioner lokal di berbagai belahan dunia untuk melakukan penindasan terhadap massa rakyat di negeri-negeri tersebut. Dan itu terbukti misalnya dengan dukungan AS terhadap rezim anti rakyat di benua Asia seperti rezim Indonesia, Philipina, Thailand, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Nepal, dan Pakistan. Demikian juga di benua Afrika seperti di Kongo, Mozambik, Chad, Guinea Khatulistiwa, Sudan, Camerun dan Zaire. Sementara di Amerika Latin seperti di Argentina, Meksiko, Chili, Peru, Uruguay, Kolombia, Puertorico, Bolivia, Honduras dan Elsalvador. Dan memiliki pengaruh kuat terhadap beberapa rezim reaksioner di negara-negara lainnya. Demi menjaga dominasinya Amerika Serikat terlibat dalam pembangunan kompleks industri militer di negaranya sendiri dan di berbagai negara. Melakukan ekspor peralatan militer dengan teknologi tinggi ke seluruh dunia. Amerika adalah pemimpin pasar dalam seluk beluk industri persenjataan. Komplek industri militer adalah komponen utama politik luar negeri Amerika Serikat dalam melakukan agresi imperialisnya. Berbekal kekuataan militernya tersebut, AS melancarkan Perang Agresi sebagaimana yang mereka lalukan semisal di Iraq dan Afghanistan. Di samping itu Amerika membangun pangkalan militer di hampir seluruh negara jajahan, setengah jajahan dan sekutu imperialisnya sejak berakhirnya Perang Dunia II. o Setengah Feodal Sejak bangsa asing melakukan ekploitasi di Indonesia pertama kali, baik VOC, Sistem Tanam Paksa, dan masa neo-kolonialisme, kaum feodal-tuan tanah merupakan pendukung mereka yang paling setia. Artinya tidak ada imperialisme yang begitu kuat di Indonesia tanpa dukungan dari mereka. Feodalisme intinya adalah monopoli penguasaan tanah dan alat kerjanya berada di tangan tuan tanah. Mereka tidak berpartisipasi dalam produksi karena mempekerjakan buruh tani, petani miskin dan petani sedang bawah, akan tetapi keuntungan terbesar hasil produksi diambil oleh mereka untuk keperluan hidupnya. Feodalisme telah membantu imperialisme sehingga dapat mengambil tanah rakyat dengan mudah, memobilisasi tenaga kerja dan memperoleh sumber bahan mentah untuk kepentingan industri kapitalis dengan murah dan melimpah. Praktek monopoli tanah telah menggencet kaum tani dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Sebagaimana yang dilansir oleh berbagai media, bahwa 56% aset nasional dikuasai oleh hanya 0,2% penduduk. Dari aset nasional yang dikuasai oleh segelintir orang tersebut, 87%-nya berupa tanah22. Sementara data pertanian di tahun 2013 menyebutkan 40 juta keluarga petani hanya menguasai lahan 0,3 hektar23. Ketidaksediaan lahan yang cukup bagi lapisan terbawah dari kaum tani dan buruh tani melahirkan kemiskinan semakin beranakpinak di seluruh pedesaan. Kemiskinan inilah yang mengantarkan keluarga petani atau anakanak mereka ber-urbanisasi ke kota atau sebagian lagi menjadi TKI di luar negeri. Sementara industri yang tidak meluas di perkotaan, hanya terpusat di kota-kota tertentu, mengakibatkan menumpuknya para pencari kerja atau angkatan cadangan produksi. Jumlah permintaan akan lapangan kerja yang tinggi, sedang penawaran yang tersedia sangat terbatas, berlakulah kemudian hukum supply and demand dalam pasar tenaga kerja. Upah tenaga kerja kemudian berada jatuh pada kisaran yang sangat rendah. Kembali kepada kedudukan Indonesia sebagai 22 23 Joyo Winoto, mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) dalam berbagai kesempatan wawancara Rusman Heriawan, Wakil Menteri Pertanian, 2013 26 negeri semi feudal atau setengah feodal, yang tentu memiliki perbedaan dengan bentuk feodalisme itu sendiri. Adapun persamaan dan perbedaan ciri diantara keduanya adalah sbb 1. Basis Sosial 2. Klas Penguasa Feodal 1. Monopoli tanah. 2. Ekonomi mencukupi kebutuhan sendiri. 3. Produksi skala kecil dan bebas secara relatif. Setengah Feodal 1. Monopoli tanah 2. Ekonomi mencukupi kebutuhan sendiri diganti dengan ekonomi barang-dagangan (komoditi) namun tidak hancur sepenuhnya. 3. Produksi dalam skala besar (perkebunan dll) lebih dominan daripada produksi berskala kecil. Tuan tanah. Borjuasi Besar (Komprador), Tuan Tanah Besar, Kapitalis-birokrat, dan (bila ada pendudukan imperialisme) imperialis. Kedudukan proletariat, kaum tani, dan lapisan bawah borjuasi (borjuasi kecil) menjadi klas yang tertindas dan terhisap. Sedangkan borjuasi sedang menjadi strata klas menengah. Kedudukan klas-klas yang lain, seperti borjuasi, kaum tani, dan proletariat menjadi klas yang tertindas dan terhisap. 3. Sistem Politik Menggunakan sistem pemerintahan kerajaan/monarkhi Sistem pemerintahan yang digunakan adalah lazimnya sistem demokrasi borjuis (presidensial, parlementer, atau monarkhi-parlementer). Pertanian terbelakang dengan basis monopoli tanah oleh tuan tanah dan klas borjuasi komprador kemudian dipraktekkan demi memproduksi bahan mentah bagi industri imperialis dan pasar imperialis (export oriented). Bahan mentah tersebut tidak ada gunannya bagi rakyat Indonesia karena ketiadaan industri nasional yang mengolahnya. Pertanian adalah lahan bagi imperialis, borjuasi besar komprador dan tuan tanah untuk memperoleh keuntungan besar hampir tanpa investasi. Dominasi produksi pertanian semacam ini di pedesaan yang luas menyebabkan keterbelakangan tenaga produktif. Demi menyediakan kebutuhan bahan baku (raw materials) bagi tuan imperialis-nya, perkebunan-perkebunan skala luas berdiri di berbagai wilayah pedesaan di Indonesia dikuasai Tuan Tanah dan Borjuasi Besar Komprador. Perkebunan sawit, karet, kakao, cokelat meluas di berbagai pulau di Indonesia. Perkebunanperkebunan skala luas ini ditopang oleh RI dengan kemudahan berupa pengeluaran Hak Guna Usaha dan Hak Pengelolahan Hutan. Sehingga tidak mengherankan Neraca Perdagangan RI sangat bergantung selain kepada ekspor mineral, terlebih kepada ekspor bahan mentah pertanian-perkebunan. Diantara mereka yang melakukan praktek monopoli tanah itu adalah: a. Sinar Mas Grup melalui Sinar Mas Agro-Resources&Technology (Keluarga Eka Tjipta Wijaya). Menguasai sekitar 1,3 juta ha lahan untuk perkebunan 27 b. Astra Agro Lestari sekitar 500 ribu ha (Keluarga Wiliam Suryajaya) c. Raja Garuda Mas (Sukanto Tanoto) 777,9 ribu Ha d. Barito Pasific (Prajo Pangestu) menguasai 555.617 Ha, e. Indofood Sukses Makmur (Keluarga Liem Siu Liong) 467 ribu Ha f. Wilmar Grup (Keluarga Sitorus) 500 ribu Ha g. London Sumatera 128.763 Ha h. Bakri Sumatera Plantation 166 ribu Ha i. Sampurna Agro 90.055 Ha j. Gudang Garam memiliki 14 anak perusahaan perkebunan sawit. k. Ada ribuan lainnya yang menguasai tanah ratusan dan ribuan hektar secara perorangan. o Praktek Kapitalisme Birokrat Kapitalisme birokrasi, pada dasarnya adalah penyalahgunaan kekuasaan oleh kaum birokrat karena memegang simpul-simpul kekuasaan untuk diri sendiri dan keluarga dan klik kekuasaannya dengan memberikan fasilitas serta sumber daya terutama ekonomi kepada mereka yang mendukung posisinya. Dalam kekuasaan politik Indonesia perkembangan klas kapitalis birokrat ini bertumbuh dengan pesat dari hari ke hari. Sepanjang kekuasaan rezimrezim boneka imperialis mulai Suharto hingga hari ini, mereka kerap kali membentuk lembagalembaga negara baru, baik karena gagasannya sendiri maupun untuk merespon kritik rakyat, misalnya lembaga untuk pemberantasan korupsi, pengawasan persaingan usaha, lembaga pengawasan penyaiaran dan lain sebagainya. Lembaga-lembaga tersebut seringkali diperuntukkan untuk menampung teman-teman sejawatnya, keluarga dan kolega-kolega lainnya yang tidak memiliki kapasitas untuk menjalankan pekerjaan, sekaligus untuk membangun sumber legitimasi politik baru. Bentuk lain dari kapitalis birokrat ini adalah perangkapan jabatan. Di Indonesia sudah dianggap biasa seseorang yang mempunyai jabatan menteri, panglima militer, gubernur, bupati hingga camat dan kepala desa, juga memegang beberapa jabatan lainnya, dengan tujuan agar prestise organisasi atau sumber keuangannya terjamin. Menteri tertentu dalam kabinet merangkap sebagai ketua persatuan olahraga tertentu, bahkan menggunakan politik uang agar bisa terpilih. Jenderal militer merangkap komisaris atau direksi sebuah perusahaan negara ataupun swasta, terutama perusahaan konglomerat. Hampir jarang ditemui seorang birokrat baik sipil maupun militer tidak melakukan rangkap jabatan, yang pada hakekatnya diluar kapasitasnya untuk menjalankan akan tetapi demi maksud mengumpulkan kekayaan dan mencari legitimasi politik. Praktek politik uang untuk meraih promosi jabatan sudah lazim dilakukan oleh klas penguasa. Mulai dari jabatan Direksi BUMN, Direktur Jenderal sampai Gubernur BI. Praktek memfasilitasi parta pengusaha yang menjadi bagian dari klik kekuasaannya dengan menggunakan anggaran negara dan memberikan proyek-proyek pemerintah tanpa melalui tender yang sudah diatur adalah bentuk dari kapitalis birokrat yang semakin telanjang mata. 28 Berbagai proyek yang didanai APBN sering menjadi bancaan korupsi. Anggaran yang mustinya dipergunakan oleh rakyat untuk meningkatkan taraf kehidupannya justru digunakan untuk kepetingan klik pengusa. Dengan begitu bisa disimpulkan beberapa bentuk pokok dari praktek kapitalis birokrat hari ini yaitu: 1. Melakukan tindakan korupsi, menerima pemberian dari siapapun diluar gaji yang seharusnya. Meminta imbalan tanda tangan, meminta bagian dari proyek pemerintah maupun swasta diluar ketentuan untuk diri sendiri.Temasuk memberikan proyek kepada keluarganya, teman-temannya, dan klik kekuasaan yang mendukungnya tanpa melalui tender terbuka atau melalui tender yang sudah direkayasa. 2. Melakukan politik uang untuk memperoleh sebuah jabatan politik di pemerintahan. 3. Membuat lembaga negara baru, dengan berbagai fasilitas akan tetapi tidak berfungsi. Hal ini hanya memboroskan keuangan negara. 4. Membuat lembaga baru dengan mengangkat keluarga, teman-temannya, dan klik politiknya dengan maksud membuat sumber legitimasi politik baru. 5. Pejabat sipil maupun militer melakukan perangkapan jabatan, terutama dalam pemerintahan sendiri, menjadi komisaris di perusahaan-perusahan negara dan swasta, serta di berbagai organisasi sosial, olahraga dengan maksud membiayai organisasi tersebut untuk memperoleh dukungan politik. 6. Melakukan sogok atau suap untuk kenaikan pangkat kepada atasan. 7. Menggunakan fasilitas dinas untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan klik kekuasaannya (partai, golongan dll), di luar kepentingan dinas. 8. Memberikan bintang pernghargaan dan jasa kepada keluarga, teman dan klik kekuasaannya tanpa pertimbangan yang jelas. 9. Menjalankan bisnis dengan memanfaatkan jabatannya sebagai pimpinan, menjadi beking bagi siapa saja yang bisa membayar. 10. Menggunakan jabatan untuk memaksa bank untuk memberikan kredit kepada pihak tertentu dan dia mendapat bagian dari kredit tersebut. 11. Serta beberapa bentuk lain yang semakin canggih dan berkembang dari waktu ke waktu, mencuri uang negara dan fasilitas negara untuk kekayaan pribadi serta klik yang mendukungnya (partai, kelompok, gang, bandit, dll) bertahan di jabatan tersebut dalam pemerintahan Sebagaimana diuraikan sebelumnya, negeri Indonesia adalah negeri yang kaya-raya, berlimpah ruah sumber daya alam dan didukung berjuta-juta tenaga produktif yang terlatih bekerja keras. Segala potensi objektif itu hingga sekarang nyatanya belum bisa didorong untuk mengantarkan mayoritas rakyat Indonesia menuju kepada kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan. Terdapat penghambat rakyat Indonesia untuk menggapai takdir historisnya yang makmur dan sejahtera. Rakyat Indonesia tersekap dalam problem-problem pokok berupa: 1. Imperialisme, 2. Feodalisme dan 3. Kapitalisme Birokrat. Melihat realitas yang diatas, maka sudah seharusnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berperan ditengah-tengah masyarakat untuk ikut andil dalam menyelesaikan problem-problem masyarakat yang ada. Karena kemampuan-kemampuan yang dimiliki kader sudah seharusnya diterapkan dimasyarakat, untuk ikut menyelesaikan problem pokok masyarakat. 29 BAB IV PERKADERAN DALAM MUHAMMADIYAH DAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH SERTA SITUASI PERKADERAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH MALANG RAYA A. PENDAHULUAN Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan organisasi perkaderan yang mana di orientasikan transformasi dan regenerasi kepemimpinan IMM disetiap level kepemimpinan Kader merupakan orang yang didik untuk senantiasa meneruskan tampuk kepemimpinan organisasi. Untuk menciptakan kader yang berkualitas, Muhammadiyah mengatur tersendiri standarisasinya dalam hal perkaderan ini bertujuan agar kaderisasi yang dilaksanakan tetap menuju ke arah perjuangan organisasinya. Begitu juga dengan IMM yang mempunyai sistem perkaderan ikatan yang tetap mengacu kepada sistem perkaderan muhammadiyah. Hal ini agar proses kaderisasi yang dilakukan tetap sejalan dengan organisasi induknya. B. PERKADERAN MUHAMMADIYAH Muhammadiyah sebagai organisasi yang sampai hari ini masih istikamah sebagai gerakan dakwah sosial “amal ma’ruf nahi munkar” yang selalu mampu menempatkan diri dalam perubahan dan kemajuan kondisi sosial masyarakat sangat menyadari bahwa sebuah organisasi yang sehat adalah organisasi yang terus bergerak secara dinamis, yang kemudian pergerakan itu di tentukan oleh faktor internal dari organisasi tersebut. Maka dari itu perihal regenerasi kepemimpinan merupakan bagian yang harus di bahas secara serius di dalam tubuh organisasi agar keberlangsungan kepemimpinan organisasi tidak mengalami staknasi. Dapat di katakan bahwa kader merupakan poros kekuatan utama dalam menjalankan dan meneruskan roda organisasi, yang kemudian Muhammadiyah membentuk sebuah sistem yang secara holistik berbicara dan mengatur terkait perkaderan yang ada di dalam tubuh organisasi Muhammadiyah yang di sebut Sistem Perkaderan Muhammadiyah. Sistem Perkaderan Muhammadiyah yang kemudian dapat di sebut (SPM) adalah “Seperangkat unsur dan keseluruhan komponen yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas yang berhubungan dengan kader dan kaderisasi di Muhammadiyah”. Sebagai sebuah sistem, unsur-unsur yang terkandng dalam SPM mencakup beberapa hal, antara lain adalah; Tujuan Perkaderan Muhammadiyah; Arah Perkaderan Muhammadiyah; Profil Kader Muhammadiyah; Jenis dan Bentuk Perkaderan; Struktur Penjenjangan Kader; Kurikulum Perkaderan; dan Pengorganisasian Perkaderan. Dalam hal ini, sistem perkaderan di miliki ortom Muhammadiyah, juga merupakan bagian dari Sistem Perkaderan Muhammadiyah yang tidak dapat di pisahkan. Perkaderan Sebagai Sebuah Sistem Sebagai sebuah sistem dan satu kesatuan yang utuh, maka Sistem Perkaderan Muhammadiyah berlaku bagi seluruh jajarn dan komponen yang ada di dalam Muhammadiyah, yang kemudian di atur di dalam SPM seluruh bentuk dan jenis kaderisasi, dan pelatihan yang ada di Muhammadiyah dalam upaya pelaksanaan perkaderannya yang secara keseluruhan hal tersebut berlaku baik secara vertikal maupun horizontal. Yang dimaksud berlaku secara vertikal adalah SPM berlaku bagi seluruh pimpinan Muhammadiyah mulai dari level ranting 30 sampai dengan pusat, sebagai acuan dan pola pelaksanaan kaderisasi secara otimal sesuai dengan tingkatan masing-masing. Sedangkan yang di maksud berlaku secara horizontal adalah SPM berlaku dan mengikat seluruh Unsur Pembantu Pimpinan (majelis dan lembaga), ORTOM, dan Amal Usaha Muhammadiyah di seluruh jenjang kepemimpinan untuk dilaksanakan sebagai acuan dan pola kaderisasi. Karena memiliki sifat yang mengikat dan menyeluruh seperti hal yang sudah di jelaskan sebelumnya, makan sistem perkaderan yang di miliki masing-masing ortom menjadi bagian dari Sistem Perkaderan Muhammadiyah. Masing-masing ortom melaksanakan dan program dan kegiatan perkaderannya berdasarkan pada kekhasan masing-masing dengan tetap mengacu dan mengindahkan konsep dasar, prinsip dan kurikulum yang ada di SPM secara konsisten. Tujuan Perkaderan Muhammadiyah Terbentuknya kader Muhammadiyah yang memiliki ruh (spirit) serta integritas dan kompetensi untuk berperan di Persyarikatan, dalam kehidupan ummat dan dinamika bangsa serta kontek global Arah Perkaderan Muhammadiyah Secara hakikat perkaderan merupakan pembinaan individu-individu anggota organisasi dan pimpinan secara terprogram dengan tujuan tertentu bagi persyarikatan Muhamadiyah. Dalam Muhammadiyah perkaderan di titik beratkan pada pembinaan idelogi; pembinaan kepemimpinan; membangun kekuatan dan kualitas gerakan; ideologi gerakan dan mengoptimalkan sistem kaderisasi yang menyeluruh dan berorientasi ke masa depan. Dengan demikian, perkaderan Muhammadiyah menjadi upaya dalam penanaman nilai, sikap dan cara berpikir, serta peningkatan kompetensi dan integritas terutuma dalam aspek ideologi, kualitas kepemimpinan, ilmu pengetahuan, dan wawasan bagi seluruh anggota organisasi. Dengan lain, dalam perkaderan haruslah terjadi proses penyadaran, peneguhan, dan mengayaan. Profil Kader Muhammadiyah Kader Muhammadiyah sebagai hasil dari proses perkaderan merupakan anggota inti yang di organisir secara permanen dan berkemampunan dalam menjalankan tugas serta misi organisasi, ummat, dan bangsa guna mencapai tujuan Muhammadiyah. Karena dari itu hakikat kader muhammadiyah bersifat tunggal, dalam arti hanya ada satu kader Muhammadiyah. Sedangkan fungsi dan tugasnya bersifat majemuk dan berdimensi luas yakni sebagai kader persyarikatan, kader ummat, dan kader bangsa. Profil Kader Muhammadiyah harus mampu menunjukkan integritas dan kompetensi antara kompetensi akademis dan intelektual, kompetensi keberagamaan dan kompetensi sosialkemanusiaan guna menghadapi tantangan organisasi di masa yang akan datang. Integritas dan kompetensi kader Muhammadiyah dalam tiga aspek tersebut dapat di pahami dalam nilai-nilai dan indikatornya sebagai berikut: 1. Kompetensi Keberagamaan, dicirikan dengan nilai-nilai: Kemurnian aqidah Ketekunan beribadah Keikhlasan 31 Shidiq Amanah Berjiwa gerakan 2. Kompetensi Akademis dan Intelektual, dicirikan dengan nilai-nilai: Fathonah Tajdid Istiqamah Etos Moderat 3. Kompetensi Sosial Kemanusiaan, dicirikan dengan nilai-nilai: Kesalehan soisal Kepedulian sosial Suka beramal Tabligh Dalam menngemban amanah perjuangan di dalam persyarikatan Muhammadiyah dimanapun dan dalam suasana apapun, dengan tiga jenis kompetensi itu setiap kader Muhammadiyah hendaknya mempunyai cara berpikir, sikap mental, dan kesadaran berorganisasi, serta keikhlasan. C. PERKADERAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH Perkaderan ikatan merupakan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kader ikatan dalam kehidupan, baik bersama ikatan ataupun ketika sudah berada diluar struktur ikatan. Sistem perkaderan ikatan secara filosofis merupakan penerjemahan perkaderan yang dilakukan oleh rasulullah. Hal tersebut, dapat dilihat dari nama perkaderan yakni Darul Arqam. Filosofi perkaderan yang dilakukan oleh rasul, yakni penanaman nilai-nilai islam secara kaffah, dengan cara mengubah kesadaran jahiliyah sehingga menjadi al syaksiyah faa fadli (hablum minallah dan hablum minannas). Proses tersebut dilalui dengan cara kristalisasi kader sehingga terbentuknya kader islam. Sedangkan kaderisasi yakni dengan melaksanakan proses perkaderan sesuai dengan tujuan IMM, terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia untuk mencapai tujuan Muhammadiyah. Selanjutnya konsolidasi yang dilakukan oleh ikatan dengan proses penggunaan identitas simbolik dan identitas substansial. Identitas simbolik yakni dengan cara memahami makna simbolnya, sedangkan identitas substansi merupakan kerangka berpikir anggota ikatan dalam menjalankan aktivitasnya. Dalam proses konsolidasi ikatan terdapat juga proses individuasi kader yang dilakukan untuk melahirkan kolektivitas gerakan, ataupun sebaliknya, kolektivitas ikatan mapu melakukan individuasi. Orientasi kaderisasi IMM diarahkan pada terbentuknya kader yang siap berkembang sesuai spesifikasi profesi yang ditekuninnya, kritis, logis, terampil, dinamis, utuh. Kualitas kader yang demikian ditransformulasikan dalam tiga lahan aktualisasi yakni : persyarikatan, umat dan bangsa. Secara substansial, arah perkaderan IMM adalah penciptaan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas akademik yang memadai sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman, yang berakhlakul karimah dengan proyeksi sikap individual yang mandiri, bertanggungjawab dan memiliki komitmen serta kompetisi perjuangan dakwah islam amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan falsafah perkaderan IMM yang mengembangkan nilainilai uswah, pedagogi-kritis, dan hikmah untuk mewujudkan gerakan IMM sesuai dengan falsafahnya yakni IMM sebagai gerakan intelektual dengan penjelasan sebagai 32 pemaksimalan akal dalam membaca fenomena untuk mencari kebenaran yang bersumber pada al Qur’an dan Sunnah terformulasikan dalam humanisasi, liberasi, trasendensi sebagai ruh dalam setiap perkaderan yang dilakukan oleh IMM. sebagai sebuah proses organisasi, perkaderan IMM diarahkan pada upaya transformasi ideologis dalam bentuk pembinaan dan pengembangan kader, baik kerangka ideologis maupun teknis manajerial. Dalam tahapan yang lebih praktis, akumulasi proses perkaderan diarahkan dalam rangka transformasi dan regenerasi kepemimpinan IMM disetiap level kepemimpinan. Sementara itu, target perkaderan di proyeksikan untuk terbentuknya sumber daya kader struktural dan fungsional yang profesional. Dalam perkaderan IMM terdapat 3 perkaderan yaitu : perkaderan Utama, Perkaderan khusus, perkaderan pendukung. Dan dalam pelaksanaannya ketiga jenis perkaderan itu mempunyai targetan masing-masing. Target perkaderan utama adalah terinternalisasikan nilai-nilai perjuangan visi dan misi IMM dan sekaligus terciptanya kader pimpinan yang memiliki kompetensi dan wawasan yang sesuai dengan level/tingkatan kepemimpinan masing-masing. Target perkaderan khusus diproyeksikan pada terbentuknya pengelola perkaderan (instruktur) yang profesional. Target Perkaderan pendukung adalah meningkatnya kualitas sumber daya kader menurut minat, bakat, profesi, keterampilan dan keahlian pada bidang tertentu. Dalam melakukan proses perkaderan IMM harus tetap sesuai dengan khitah organisasinya yakni harus sesuai dengan Tujuan IMM, Enam penegasan, Identitas IMM, Trilogi, Tri Kompetensi Dasar, Slogan IMM, dan Nilai Dasar Ikatan. Sehingga kader yang dihasilkan akan sesuai dengan yang diinginkan, yang sudah tercantum dalam Profil kader Ikatan, berikut isi dari Profil Kader Ikatan : 1. Memiliki keyakinan dan sikap keagamaan yang tinggi agar keberadaan ikatan di masa yang akan datang mampu memberi warna masyarakat yang mulai meninggalkan nilainilai agamawi. 2. Memiliki wawasan dan kecakapan memimpin karena keberadaan kader ikatan bagaimanapun merupakan potensi umat dan kepemimpinan. 3. Memiliki kecendekiawanan, mengingat spesialisasi dan profesionalisasi mempersempit cakrawala berpikir dalam sub bidang kehidupan yang sempit. 4. Memiliki wawasan ketrampilan berkomunikasi, mengingat bahwa masa yang akan datang industri informasi akan mendominasi sistem budaya kita. Hal ini juga inhern dengan watak islam yang dalam keadaan apapun juga selalub siap melaksanaloan amar ma’ruf Nahi Munkar sebagai essensi dari komunikasi islamisasi. D. SITUASI UMUM PERKADERAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH MALANG RAYA IMM Malang raya merupakan teritori organisasi di daerah malang yang terdapat 21 komisariat dengan komposisi 10 Komisariat di kampus UMM, 3 Komisariat di kampus UIN, 3 Komisariat di kampus UM, 3 Komisariat di kampus UB, 1 Komisariat di kampus Budi Utomo, dan 1 komisariat di kampus Kanjuruhan. Dengan banyaknya komisariat yang ada tentunya sangat mempengaruhi culture/budaya di masing-masing komisariat karena kondisi dimasing-masing sektor/kampus itu sangatlah berbeda. 33 Permasalahan kaderisasi yang ada di malang sangatlah bervariatif atau dalam artian kompleks di karenakan kontrol kaderisasi yang kurang maksimal di 21 komisariat di periode-periode sebelumnya, hal itu sangatlah mempengaruhi dengan kondisi kaderisasi saat ini yang mengalami banyak ketimpangan antar komisariat, hal ini disebabkan karena : - Arah perkaderan/grand desain perkaderan yang berbeda-beda di masingmasing komisariat dan ada beberapa komisariat yang belum punya grand desain perkaderan. - Kedudukan dan tugas antara instruktur cabang dan instruktur komisariat yang tumpang tindih. - Perangkat perkaderan (instruktur dan PH Komisariat) yang kurang memahami tugas, pokok dan fungsinya. Dari problematika kaderisasi yang ada di malang yang tertera diatas adalah kesimpulan secara umum yang didapatkan ketika workshop perkaderan yang dilakukan cabang periode kemarin dan juga situasi atau fenomena konkret yang ditemukan dilapangan. Melihat situasi seperti itu merupakan sebuah keharusan IMM Malang Raya memperbaiki kaderisasinya terutama dalam hal arah perkaderan di karenakan itu merupakan sebuah pondasi berjalanannya organisasi untuk mencapai tujuannya 34 BAB V POLA PERKADERAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH MALANG RAYA A. KERANGKA MUNCULNYA POLA PERKADERAN Tujuan IMM Lahan Garap/Trilogi IMM : - Keagamaan - Kemahasiswaan - Kemasyarakatan Tri Kompetensi Dasar IMM : - Religiusitas - Intelektualitas - Humanitas Pola Perkaderan IMM Malang Raya Profil Kader Ikatan Gambar diatas merupakan bagan mengenai munculnya pola perkaderan yang didalamnya nanti menjelaskan mengenai arah perkaderan, target perkaderan, strategi pencapaian, muatan perkaderan, metodologi strategi pencapaian, prinsip kaderisasi. Yang nantinya akan dibahas dalam Bab ini mengenai pola perkaderan. A. ARAH PERKADERAN IKATAN MAHASISWA MALANG RAYA Kalau kita lihat secara normatif yang ada di SPI, bahwa secara substansial arah perkaderan IMM adalah penciptaan sumber daya manusia yang memiliki kapasitas akademik yang memadai sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman, yang berakhlakul karimah dengan proyeksi sikap individual yang mandiri, bertanggungjawab dan memiliki komitmen serta kompetisi perjuangan dakwah islam amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan falsafah perkaderan IMM yang mengembangkan nilai-nilai uswah, pedagogi-kritis, dan hikmah untuk mewujudkan gerakan IMM sesuai dengan falsafahnya yakni IMM sebagai gerakan intelektual dengan penjelasan sebagai pemaksimalan akal dalam membaca fenomena untuk mencari kebenaran yang bersumber pada al Qur’an dan Sunnah terformulasikan dalam humanisasi, liberasi, trasendensi sebagai ruh dalam setiap perkaderan yang dilakukan oleh IMM. Serta dalam SPI dijelaskan bahwa akumulasi dari kaderisasi yang dijalankan diarahkan dalam rangka transformasi dan regenerasi kepemimpinan IMM disetiap level kepemimpinan. Namun seperti yang kita ketahui arah perkaderan IMM yang ada SPI sangatlah umum, sehingga IMM Malang Raya mengerucutkan dan mempertegas arah perkaderannya secara konkret lagi, hal ini pun tidak bertentangan hanya saja mempertegas arah perkaderannya agar muatan-muatan 35 kaderisasi yang ada di komisariat bisa sama untuk meminimalisir ketimpangan kualitas kaderisasi yang ada. Oleh karena itu, melihat realitas yang terjadi saat ini sesuai dengan penjelasan yang ada di atas kader-kader IMM harus benar-benar kritis melihat situasi yang ada, pembacaan situasi dan kondisi tentunya harus didasari dengan pengetahuan-pengetahuan yang kuat sehingga bisa ikut serta berperan dalam menyelesaikan problem yang terjadi saat ini di masyarakat,. Maka Melihat beberapa tinjauan yakni esensi lahirnya Muhammadiyah dan IMM, situasi umum masyarakat indonesia, dan Tanfidz Musycab, Maka IMM Malang Raya tegas mengarakan Perkaderannya secara konkret pada Penguatan nilai-nilai ideologi yang secara dinamis mampu menempatkan diri sebagai pelaku gerakan pembebasan dan keberpihakan terhadap Umat dan Bangsa. sesuai dengan tafsiran mengenai ideologi muhammadiyah dan tujuan muhammadiyah. Arah Perkaderan ini yang akan menjadi pondasi bergeraknya IMM sebagai organisasi progresif yang mampu mengambil peran penting dalam setiap dakwah dan perjuangan dalam menegakkan islam yang hudan rahmatan lil’alamin (petunjuk dan rahmat bagi seluruh alam). B. TARGET PERKADERAN Target perkaderan merupakan hasil yang ingin dicapai dalam melakukan proses kaderisasi yang dilakukan. target perkaderan ini sesuai dengan arah perkaderan yaitu Penguatan nilai-nilai Ideologis yang secara dinamis mampu menempatkan diri sebagai pelaku gerakan pembebasan dan keberpihakan terhadap Umat dan Bangsa. Sehingga target perkaderannya adalah : - Terwujudnya kader yang berfikir kritis yakni mampu memberikan pandangan atau pemikirannya berdasarkan landasan yang jelas. - Terwujudnya kader yang ideologis yakni mampu menerapkan nilai-nilai ideologis dalam setiap aktivitas organisasi maupun keseharian, sehingga dalam aktivitas organisasi diarahkan pada penguatan nilai-nilai ideologis. - Terwujudnya kader yang bertanggung jawab yakni memliki kesadaran untuk menjalankan tugas-tugasnya sebagai kader serta melaksanakan keputusan organisasi - Terwujudya kader yang mempunyai kapasitas dalam memimpin dan mengorganisir yakni memiliki kemampuan dalam memimpin dan mengorganisir anggota organisasi - Terwujudnya kader yang memiliki kepedulian sosial yakni mampu menyesuaikan diri dengan kondisi dan lingkungan, serta mampu memberikan tanggapan atau responnya atas permasalahan-permasalahan sosial yang berkaitan dengan lingkungan dan kondisi masyarakat. - Terwujudnya kader yang memiliki kecakapan berdakwah ditengah-tengah masyarakat yakni mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tri kompetensi dasar ditengah-tengah Masyarakat - Terwujudnya kader yang memiliki loyalitas dan militansi terhadap organisasi yakni memiliki rasa kepemilikan terhadap organisasi dan rela berkorban demi kemajuan organisasi C. STRATEGI PENCAPAIAN Strategi pencapaian ini merupakan langkah-langkah umum yang harus dijalankan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang raya dalam rangka menjalankan kaderisasi sesuai dengan arah kaderisasi. Strategi ini diwujudkan dalam 3 (tiga) aspek pokok pembangunan organisasi. yaitu aspek Ideologi, Politik dan Organisasi. 36 IDEOLOGI Strategi umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang raya dalam pembangunan aspek ideologi, meliputi: o Pemahaman agama islam sebagai ideologi o Pendalaman mengenai Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan o Pembangunan kerangka berfikir yang ilmiah, melalui pengembangan ilmu pengetahuan baik itu pada wilayah teori-teori maju lainnya yang dapat mendukung pengembangan pengetahuan. POLITIK Strategi umum Ikatan Mahasiswa muhammadiyah Malang Raya dalam pembangunan aspek politik, melitputi: o Penguatan metode sistem analisa sosial dalam rangka menganalisa permasalahan-permasalahan yang ada pada masyarakat. o Responsif (Pengkajian dan Penyikapan) terhadap kebijakan-kebijakan pubik yang dikeluarkan oleh pemerintahan yang memiliki keterhubungan langsung dengan problem pokok masyarakat indonesia saat ini. ORGANISASI Strategi umum Ikatan mahasiswa Muhammadiyah malang raya dalam aspek pembangunan organisasi, meliputi: o Pemahaman prinsip-prinsip dasar pembangunan organisasi : Dalam organisasi tidak bisa dipisahkan persoalan teori dan praktek. Ia merupakan kesatuan yang utuh tak terpisah-pisah. Dalam segala pekerjaan organisasi, tiap-tiap kader harus memahami prnjelasan teoritik dari pekerjaan tersebut dan memiliki pengalaman berpraktek langsung atas pekerjaan tersebut. Pemahaman atas teori hanya dapat diukur dari kecocokannya dalam menjalankan hal tersebut dalam berpraktek. Begitu pula sebaliknya, satu praktek yang baik, pasti dibimbing dan atau menghasilkan teori yang tepat pula. Kesenjangan antara salah satu hal dari kedua hal tersebut adanya akan menghasilkan intelektualisme di satu sisi ataupun aktivisme maupun heroisme belaka disisi yang lain. Kader organisasi harus cakap dalam memberikan jalan keluar/solusi atas persoalan yang terdapat dalam organisasi atau masalah yang berada ditengah-tengah masyarakat. Atau dengan kata lain, kader organisasi harus cakap dalam menghadapi segala bentuk situasi apapun dan mampu memberikan jalan keluar/solusi. Dalam organisasi pimpinan atau pengorganisir harus memiliki hubungan erat dengan kader. Ia tidak boleh ekslusif ataupun terisolasi dari kader, Ia harus mampu menyerap sebanyak mungkin segala hal dari kader, mulai dari pendapat dan pandangan-pandangan kader, informasi, dukungan sukarela (tenaga maupun logistik) dan sebagainya. Selanjutnya semua yang didapat dari kader dianalisa dengan cara berfikir yang benar sehingga kemudian menghasilkan satu rancangan solusi untuk tindakan bersama. Selanjutnya, rancangan solusi didiskusikan lagi dengan kader sampai terwujudnya pemahaman dalam bertindak. Dalam setiap keputusan dan pekerjaan organisasi yang telah dijalankan haruslah dlakukan proses evaluasi atau penilaian dan koreksi terhadap kekurangan, kesalahan-kesalahan atau segi-segi negatif, maupun keberhasilan-keberhasilan, kemajuan atau segi-segi positif dari keputusan yang telah diambil dan pekerjaan yang telah dilakukan. Penilaian atau 37 penilaian ini tidak boleh berat sebelah. Tidak tepat untuk membesar-besar keberhasilan maupun mebesar-besar kesalahan. Begitu pula sebaliknya. Penilain atau evaluasi ini juga dapat dilakukan menyangkut perilaku atau tindakan individu anggota organisasi yang dianggap butuh dinilai kaitannya dengan keberadaan organisasi. evaluasi ini juga harus menjauhkan diri dari prasangka-prasangka maupun praduga subjektif. evaluasi harus dijalankan secara reguler dan terus menerus secara ketat untuk kemajuan organisasi. Dalam menjalankan aktivitas organisasi kita dituntut untuk bekerja bersama, dalam artian kita harus saling membantu sesama anggota organisasi untuk dapat menyelesaiakan pekerjaannya. Membantu disini mempunyai batasan yakni memahamkan serta membimbing kawan kita untuk menyelesaikan pekerjaannya ketika belum paham. Jadi membantu disini bukanlah mengambil alih tanggung jawab akan tetapi membantu dalam artian mengarahkan dan memahamkan agar keja-kerja organisasi bisa lebih efektif. o Pemahaman Prinsip pengambilan Kebijakan Organisasi : Prinsip pembimbing kita dalam membentuk dan menjalankan organisasi kita. Prinsip ini menjamin bahwa kita akan bergerak sebagai kesatuan yang akan terorganisir. Dalam pengambilan kebijakan pimpinan organisasi harus memperhitungkan segala sesuatu berdasarkan keseluruhan kepentingan dan kondisi organisasi. kebijakan yang baik dari organisasi adalah berasal dari partisipasi aktif seluruh anggota dan mengambil bagian didalamnya. Keputusan-keputusan yang djalankan dalam organisasi secara bersama diputuskan atas dan didasarkan kepada kepentingan umum yang kemudian nanti tetap di tarik dengan tujuan organisasi. Dengan cara demikian kita membuat keputusan-keputusan, rencana-rencana dan program yag benar dan secara efektif menuntaskannya. Mempraktekkan prinsip itu adalah satu cara untuk menjamin keberhasilan kita. o Pemahaman mengenai administrasi organisasi. D. MUATAN PERKADERAN Perkaderan Utama (Darul Arqam Dasar) Klasifikasi Materi Materi Materi Ideologi Ke-islaman Ke-Muhammadiyahan Ke- IMMan 38 Uraian materi Pelaksanaan DAD Tauhid . makna syahadatain . konsekuensi syahadatain Hakikat Islam, . islam rahmatan lil alamin. Ibadah . konsep dan hakikat ibadah dalam Islam . Sejarah Muhammadiyah (sampai muhammadiyah terbentuk) . Ciri Perjuangan Muhammadiyah . Strategi dakwah Muhammadiyah . Sejarah kelahiran IMM . Tujuan IMM . Enam penegasan . Identitas IMM . Trilogi IMM . Tri Kompetensi Dasar . Slogan IMM . Nilai Dasar Ikatan Materi Keorganisasian Materi Wawasan Materi Terapan . Profil Kader Ikatan . Kontekstualisasi Ideologi Gerakan IMM kekinian . Hakikat Organisasi Keorganisasian . Prinsip pembangunan organisasi . Pengantar filsafat Filsafat . Ciri-ciri berfikir filsafat . Sejarah gerakan mahasiswa Indonesia Gerakan Mahasiswa . tanggung jawab intelektual . Pengantar Gender Gender . Sejarah Retorika Retorika . Definisi . Bentuk retorika . Fungsi retorika . Cara beretorika . Tujuan Aksi Manajemen Aksi . Bentuk-bentuk Aksi . Pentingnya Aksi Musyawarah dan . Definisi Musyawarah dan Persidangan . Tujuan Musyawarah dan Persidangan Teknik Persidangan . Bentuk Persidangan . Mekanisme Persidangan Perkaderan Khusus (Latihan Instruktur Komisariat) Klasifikasi Materi Materi Uraian materi Pelaksanaan LIK Materi Ideologi Sistem Perkaderan . Sejarah Sistem Perkaderan Rasulullah . Strategi Sistem Perkaderan Rasulullah Rasulullah (SPR) . Sasaran Perkaderan Rasul . Muatan Perkaderan Rasul Sistem Perkaderan . Filosofi Perkaderan Muhammadiyah Muhammadiyah (SPM) . Strategi Perkaderan Muhammadiyah . Muatan Perkaderan Muhammadiyah Sistem Perkaderan . Sistem Perkaderan Ikatan . Desain Perkaderan IMM Malang Raya Ikatan (SPI) . Filosofi Instruktur dalam Perkaderan Materi Keinstrukturan Ke-Instrukturan . Tugas dan fungsi instruktur Komisariat . Perangkat Perkaderan Materi Wawasan Strategi Pendampingan . Pengertian goal setting . Prinsip-prinsip goal setting dan Goal Setting . Langkah-langkah strtaegi pendampingan . Prinsip dan metode pendampingan . Pola pendampingan Sistem Monitoring dan . Fungsi Monitoring dan Evaluasi . Teknik-Teknik Monitoring dan Evaluasi Evaluasi . Prinsip Monitoring dan Evaluasi . Tahapan Monitoring dan Evaluasi . Lembar Monitoring dan Evaluasi . Klasifikasi keaktifan kader Analisa dan . Metode analisa data dan pengolahan data Pengembangan Potensi kader . Teknik pengembangan potensi kader Kader . Konsep POAC (Planning, Organizing, Materi Terapan Manajemen Pelatihan Actuating, Controling) . Desain Pelatihan . Rekayasa Forum Manajemen Forum 39 Micro Teaching Aktivitas non materi Kajian ayat-ayat . Psikologi forum . Media Pembelajaran . Metode Pengajaran . Ice Breaking . Kajian ayat-ayat Perkaderan Perkaderan Pendukung Perkaderan pendukung merupakan perkaderan yang dilaksanakan untuk meningkatkan potensi kader sesuai dengan minat, bakat, ketrapilan dan kemampuan dalam rangka mendukung keberhasilan proses kaderisasi ikatan. Perkaderan pendukung bisa dilaksanakan dalam bentuk agenda apapun selain perkaderan khusus dan utama. Yang terpenting agenda perkaderan pendukung dilaksanaka sesuai dengan kebutuhan komisariat. Kemudian untuk muatan tetap mengacu kepada strategi pencapaian, agar aktivitas yang dilakukan tetep berkesesuaian dengan arah perkaderan. E. METODOLOGI STRATEGI PENCAPAIAN Merupakan metode berdasarkan strategi pencapaian diatas : Ideologi: o Diskusi dan Kajian Intensif Merupakan metode yang digunakan untuk menanamkan kerangka berpikir termasuk wacana-wacana yang berupa pemahaman teoritis akan diberikan terhadap kader. Politik: o Studi Kasus Merupakan metode yang digunakan dalam rangka pendalaman sistem analisa sosial serta dalam menyelesaikan permasalahan yang ada dalam masyarakat yang dilakukan oleh kader. o Penyikapan Merupakan metodologi yang digunakan sebagai bentuk respon atas kondisi sosial yang ada, bentuk respon ini pun bermacam yakni aksi massa, bakti sosial dan advokasi. Organisasi o Familiarisasi tugas-tugas pimpinan Merupakan bentuk pengenalan atau pemahaman kepada kader terkait tugastugas pimpinan. o Penugasan Merupakan bentuk pengikatan melalui tugas yang diberikan kader. penugasan ini bisa berbentuk kepanitiaan. o Pengikatan secara formal Bentuk pengikatan keorganisasian yang bersifat formal, seperti diklat, seminar dan sejenisnya F. PRINSIP KADERISASI Sesuai dengan yang ada di SPI bahwa prinsip dalam kaderisasi adalah Kontinyu dan Mengikat, yang dimaksud kontinyu dan mengikat adalah kaderisasi berjalan secara terusmenerus atau berkesinambungan sesuai dengan perkaderan yang dijalankan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang Raya, serta dalam menjalankan prinsip kaderisasi tetap berpanduan 40 pada prinsip-prinsip dasar pembangunan organisasi dan prinsip pengambilan kebijakan organisasi. G. KETENTUAN LAIN 1. Dalam melakukan aktivitas kaderisasi yang dilakukan komisariat harus berdasarkan strategi pencapaian (haluan muatan secara umum) dan disesuaikan dengan kemampuan komisariat, namun dalam berjalannya aktivitas kaderisasi agar bisa maksimal sesuai dengan strategi pencapaian (haluan muatan secara umum) akan didampingi oleh pimpinan cabang. 2. Indikator keberhasilan yang ada dalam target perkaderan, dapat diukur melalui program kerja yang ada di komisariat. 41 BAB VI PERANGKAT KADERISASI IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH MALANG RAYA A. PENGERTIAN Perangkat kaderisasi adalah susunan komposisi-komposisi yang terlibat dalam menjalankan kaderisasi, bisa di katakan bahwasannya perangkat kaderisasi ini merupakan penentu dari konsepsi-konsepsi yang digagas mengenai perkaderan. Perangkat kaderisasi dalam IMM merupakan susunan komposisi yang akan menjalankan konsepsi-konsepsi perkaderan. Seperti yag kita ketahui bersama bahwasanya dalam IMM mempunyai 3 perkaderan yatu perkaderan utama, perkaderan khusus dan perkaderan pendukung. B. ANALISIS KEBUTUHAN PERANGKAT KADERISASI Seperti yang sudah dijalaskan bahwasannya dalam melakukan perkaderan dibutuhkan perangkat atau unsur-unsur dalam melakukan perkaderan yang akan dilakukan. Dilingkup IMM Malang raya secara normatif sudah ada perangkat kaderisasi yakni : Pimpinan Cabang, Pimpinan Komisariat, dan Instruktur Cabang. Namun kondisi dimalang raya terdapat tambahan perangkat kaderisasi yakni Instruktur Komisariat. Secara historis kelahiran Instruktur Komisariat dikarenakan Instruktur cabang tidak maksimal dalam melakukan kaderisasi di komisariat, dengan dihadapakan kondisi seperti itu komisariat-komisariat mulai bermunculan membuat instruktur komisariat. Hal ini sudah dilaksanakan bertahun-tahun sehingga menjadi budaya bagi komisariat untuk membuat instruktur komisariat. Hal ini pun tentunya mengalami tumpang tindah antara tugas instruktur cabang dan instruktur komisariat. Melihat situasi yang ada di IMM Malang Raya, Pimpinan Cabang mengeluarkan keputusan untuk tetap membutuhkan Instruktur Komisariat dikarenakan sudah menjadi kebutuhan di komisariat-komisariat untuk melakukan kaderisasi. Namun agar pelaksanaan kaderisasi di malang raya bisa berjalan dengan maksimal haruslah diatur tugas yang sangat jelas agar kerja perangkat kaderisasi ini bisa berjalan dengan optimal terutama Instruktur Cabang dan Instruktur Komisariat. Maka dari itu di poin selanjutnya akan diatur mengenai peranan dari masing-masing perangkat kaderisasi. C. PERANGKAT KADERISASI Untuk memaksimalkan kerja kaderisasi yang dilakukan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang Raya menentukan perangkat kaderisasi yang akan menjalankan perkaderan sehingga terbentuknya kader yang berkualitas. Perangkat Kaderisasi : - Pimpinan Cabang Merupakan pimpinan tertinggi yang berada ditingkatan level diatas komisariat yang bertanggung jawab dalam membuat kebijakan organisasi di tataran cabang yang sesuai 42 dengan kebutuhan dari komisariat serta melakukan pendampingan kepada pimpinan komisariat agar dalam menjalankan kaderisasi yang ada di komisariat bisa maksimal. - Pimpinan Komisariat Merupakan pimpinan yang berada dibawah cabang yang bertanggung jawab untuk melakukan pendampingan kepada kader dimasing-masing komisariat, serta selalu senantiasa turun ke ke kader untuk mengetahui kondisi sehingga kebijakan yang di keluarkan oleh komisariat sesuai dengan kebutuhan kader yang di tarik kepada tujuan organisasi, sehingga kaderisasi yang dilakukan bisa makssimal. - Instruktur Cabang Merupakan perpanjangan tangan dari Bidang Kader Cabang yang bertanggungjawab dalam membantu mengontrol muatan perkaderan yang dilakukan. Muatan yang dikontrol mulai dari penurunan konsep perkaderan dari desain perkaderan malang raya sampai ke komisariat, kontrol dalam pemberian materi ke peserta dalam proses perkaderan serta melakukan kontrol muatan dalam follow up yang dilakukan oleh komisariat. Namun dalam melakukan kontrol yang lebih jauh ke komisariat terutama ikut mengontrol instruktur komisariat harus melewati komunikasi antara Bdang Kader Cabang dengan Bidang Kader Komisariat. - Instruktur Komisariat Merupakan perpanjangan tangan dari Bidang Kader Komisariat yang bertanggung jawab dalam pengelolaan perkaderan yang dilakukan di komiariat masing-masing, serta bertanggungjawab terhadap follow up perkaderan. D. BAGAN POLA PENDAMPINGAN PIMPINAN CABANG BIDANG KADER CABANG PIMPINAN KOMISARIAT INSTRUKTUR CABANG BIDANG KADER KOMISARIAT INSTRUKTUR KOMISARIAT KADER BARU 43 Penjelasan : Dalam memaksimalkan jalannya kaderisasi yang ada di IMM Malang Raya maka dibutuhkanlah pola pendampingan dari semua perangkat kaderisasi yang ada. Seperti yang sudah tertera di bagan pola pendampingan di atas bahwasanya Pimpinan Cabang harus melakukan pendampingan ke Pimpinan Komisariat. Pimpinan cabang yang dimaksud adalah Bidang-bidang yang ada di Pimpinan Cabang harus melakukan pendampingan kepada bidangbidang yang ada di Pimpinan komisariat. Untuk Bidang Kader bersama Instruktur Cabang melakukan pendampingan kepada bidang kader komisariat bersama instruktur komisariat dalam hal kontrol muatan perkaderan yang dijalankan. Kemudian Pimpinan Komisariat bersama instruktur komisariat melakukan pendampingan kepada kader baru. Hal ini dilakukan agar terwujudnya sinergisitas Pimpinan Cabang dan Pimpinan Komisariat dalam melakukan Perkaderan 44 BAB VII PEDOMAN PELAKSANAAN DARUL ARQAM DASAR (DAD) DAN LATIHAN INSTRUKTUR KOMISARIAT (LIK) IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH MALANG RAYA A. PENDAHULUAN Pedoman pelaksanaan adalah pedoman yang sangat khusus yang mengatur pelaksanaan perkaderan yang tentunya sesuai dengan kondisi IMM Malang Raya yang merupakan penurunan dari SOP (Standard Operational Procedure) yang ada di Sistem Perkaderan Ikatan. Pedoman Pelaksanaan ini diatur dikarenakan kondisi di Malang Raya terdapat perbedaan dalam melakukan Perkaderan Utama dan Perkaderan Khusus yaitu DAD dan LIK terutama dalam aspek Materi yang diberikan, Pengorganisasian dan Evaluasinya. Pedoman Pelaksanaan ini diatur dikarenakan kondisi di Malang Raya tidak bisa jika dalam pelaksanan DAD langsung di samakan dengan panduan di SOP yang ada dalam SPI dikarenakan ada kondisi yang berbeda di aspek keinstrukturannya. Kondisi khusus mengenai adanya instruktur komisariat yang sudah menjadi kebutuhan di Malang Raya ini yang menjadi pembeda karena Instruktur Komisariat ini juga berperan di aspek pengelolaan perkaderan. Dan juga kalau kita lihat materi-materi yang ada di silabus DAD yang ada di SPI perlu kita benturkan lagi dengan kondisi dan kebutuhan organisasi, ini bertujuan agar proses perkaderan yang dilakukan bisa sesuai dengan realitas yang ada tidak hanya normatif belaka. Maka dari itu dibuatlah pedoman pelaksanaan untuk mengatur hal-hal secara khusus dalam perkaderan. B. PEDOMAN PELAKSANAAN DARUL ARQAM DASAR Latar Belakang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan organisasi perkaderan yang dalam pelaksanaannya selalu menjunjung tinggi arah perkaderan yang menjadi orientasinya untuk mecapai tujuan organisasinya yaitu Mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Sebagai organisasi perkaderan sudah pasti orientasi yang paling dasar adalah mencetak regenerasi baru untuk melanjutkan dan memajukan jalannya roda organisasi, karena sebagai organisasi perkaderan hal itu sudah pasti menjadi kebutuhan. Dalam melakukan kaderisasi untuk mencetak regenerasi baru untuk melanjutkan dan memajukan jalannya roda organisai, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah melakukan perekrutan calon anggota di setiap tahunnya. Dalam melakukan hal itu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah mempunyai sistem perkaderan yang mengaturnya secara jenjang. Dalam hal untuk mengesahkan anggota organisasi yang baru Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah mempunyai perkaderan yang dinamakan Darul Arqam Dasar (DAD). Secara etimologi, Darul Arqam Dasar berasal dari kata Darul Arqam yang artinya adalah Rumah Arqam, yaitu rumah salah satu sahabat Rasulullah SAW yang digunakan sebagai tempat perkaderan Islam di masa-masa pertama. Dari rumah ini muncul tokoh-tokoh besar Islam yang pernah dikader oleh Rasulullah SAW, seperti Abu Bakar, Ali Bin Abi 45 Thalib dan Siti Khadijah. Darul Arqam Dasar dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan tingkat dasar yang berbentuk pelatihan, dari tiga tingkatan perkaderan utama yang ada ditubuh organisasi dan merupakan salah satu syarat untuk menjadi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Sebagai perkaderan dalam tingkatan yang paling dasar Darul Arqam Dasar harus mampu memberikan kesan pertama yang mampu memberikan stimulus untuk terus belajar dan berproses di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Tentunya dalam melakukan hal itu dibutuhkan materi-materi yang nantinya akan diberikan kepada calon kader sebagai injeksi awal untuk menstimulus agar kader mampu terus menjalankan kaderisasi sesuai dengan arah kaderisasi sehingga nanti akan tercapai tujuan organisasi. kalau kita tinjau dengan yang ada di SPI, Darul Arqam Dasar secara muatan yang harus diberikan kepada calon kader yakni Internalisasi dasar-dasar Islam dan meletakkan dasar pemahaman intelektualitas, sebagai bentuk gerakan cendekiawan berpribadi dengan ilmu amaliyah dan amal ilmiah. Kalau kita melihat kondisi yang ada di Ikatan Mahasiswa Malang Raya, Arah perkaderan yang berbeda-beda dari komisariat-komisariat membuat materi-materi yang diberikan kepada kader juga berbeda-beda termasuk materi Darul Arqam Dasar itu sendiri. Perbedaan itupun sangat beragam ada yang sama persis dengan SPI tanpa melihat kondisi dan kebutuhan komisariatnya (Arah Perkaderan), ada juga yang melihat SPI kemudian di pertimbangkan dengan kondisi dan kebutuhan komisariatnya (Arah Perkaderan). Hal itupun harus kita akui bahwa realita yang ada dilapangan bahwasanya arah perkaderan menentukan materi-materi perkaderan yang akan diberikan kepada sasaran. Perkaderan Utama dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan perkaderan yang pokok untuk dilaksanakan dan memberikan injeksi materi atau wacana kepada kader. seperti halnya yang ada di SPI bahwasanya Perkaderan utama tingkatan paling dasar yaitu Darul Arqam Dasar (DAD) merupakan perkaderan yang memberikan injeksi muatan Internalisasi dasar-dasar islam dan meletakkan dasar pemahaman inteektualitas. Agar kaderisasi yang dilakukan bisa berjalan secara maksimal dan juga bisa meminimalisir permasalahan-permasalahan perkaderan utama tingkatan dasar sebelumnya, maka pelaksanaan Darul Arqam Dasar dalam rangka injeksi muatan internalisasi dasar-dasar islam dan meletakkan dasar pemahaman intelektualitas harus melihat pedoman perkaderan yang ada di Sistem Perkaderan Ikatan namun harus dipertimbangkan dengan arah perkaderan yang ada. Agar pelaksanaan Darul Arqam Dasar (DAD) bisa maksimal sesuai dengan muatan yang akan diberikan, maka perlu disusun manajerial yang tepat mulai dari Pra pelaksanaan, Pelaksanaan dan Pasca Pelaksanaan agar muatan dalam perkaderan utama bisa tercapai. Tujuan Menginternalisasikan dasar-dasar islam dan meletakkan dasar pemahaman intelektualitas sebagai bentuk penanaman awal kepada kader sehingga dalam orientasi ke depannya mampu melanjutkan tampuk kepemimpinan. Targetan - Terinternalisasikannya nilai-nilai ideologi - Tertananamnya dasar-dasar pemahaman intelektualitas Konsep Materi Klasifikasi Materi Materi Uraian materi Pelaksanaan DAD Tauhid Materi Ideologi Ke-islaman . makna syahadatain . konsekuensi syahadatain 46 Materi Keorganisasian Materi Wawasan Materi Terapan Hakikat Islam, . islam rahmatan lil alamin. Ibadah . konsep dan hakikat ibadah dalam Islam Ke-Muhammadiyahan . Sejarah Muhammadiyah (sampai muhammadiyah terbentuk) . Ciri-ciri Perjuangan Muhammadiyah . Strategi dakwah Muhammadiyah . Sejarah kelahiran IMM Ke- IMMan . Tujuan IMM . Enam penegasan . Identitas IMM . Trilogi IMM . Tri Kompetensi Dasar . Slogan IMM . Nilai Dasar Ikatan . Profil Kader Ikatan . Kontekstualisasi Ideologi Gerakan IMM kekinian . Hakikat Organisasi Keorganisasian . Prinsip pembangunan organisasi . Pengantar filsafat Filsafat . Ciri-ciri berfikir filsafat . Sejarah gerakan mahasiswa Indonesia Gerakan Mahasiswa . tanggung jawab intelektual . Pengantar Gender Gender . Sejarah Retorika Retorika . Definisi . Bentuk retorika . Fungsi retorika . Cara beretorika . Tujuan Aksi Manajemen Aksi . Bentuk-bentuk Aksi . Pentingnya Aksi Musyawarah dan . Definisi Musyawarah dan Persidangan . Tujuan Musyawarah dan Persidangan Teknik Persidangan . Bentuk Persidangan . Mekanisme Persidangan Pengorganisasian Darul Arqam Dasar Pengorganisiran Darul Arqam Dasar tersusun hierarkis sebagai berikut : Penanggungjawab Yaitu Pimpinan Ikatan yng bertanggung jawab langsung secara keseluruhan terhadap penyelenggaraan perkaderan. Dalam Darul Arqam Dasar (DAD) penanggung jawabnya adalah Pimpinan Komisariat. Tim Instruktur o Master of Training (MOT) Yaitu seseorang yang mendapat tugas memimpin dan secara umum bertanggungjawab atas pelaksanaan keinstrukturan. o Vice Master of Training (Vice MOT) 47 Yaitu sesorang yang membantu MOT dalam menjalankan dalam menjalankan tugas. o Imam Training (IT) Seseorang yang mendapat tugas memandu keinstrukturan dalam aspek ibadah keislaman o Observer Yaitu sekelompok orang yang bertugas monitoring dan evaluasi perkembangan peserta secara personal dan kelompok yang menunjukan pelatihan sesuai dengan targetannya. o Anggota Instruktur Yaitu instruktur yang membantu tugas dari Master of Training, Imam Training dan Observer. Nara Sumber Nara sumber dalam kegiatan perkaderan IMM adalah para ahli yang kompeten di bidangnya yang akan disajikan dalam proses perkaderan. Nara sumber harus memiliki komitmen islam yang jelas, menguasai materi, berpengalaman dan sesuai dengan orientasi perkaderan. Panitia Pelaksana Adalah tim petugas yang bersifat teknis yang bertugas menjadi penanggungjawab pelaksana perkaderan sesuai kepentingan teknis, panitia pelaksana dibentuk oleh penanggung jawab kegiatan. Deskripsi Tugas-Tugas Instruktur 1. Bertanggung jawab secara penuh terhadap standart kualitas pelaksanaan perkaderan dari awal sampai akhir 2. Melakukan orientasi awal, kontol materi, evaluasi harian, evaluasi non materi, dan evaluasi akhir 3. Membuat laporan terhadap pelaksanaan proses perkaderan Tugas Khusus Instruktur Cabang Dalam Darul Arqam Dasar (DAD), Instruktur Cabang berperan mulai dari Pra Pelaksanaan, Pelaksanaan, dan Pasca Pelaksanaan. Pra Pelaksanaan o Mendampingi Pimpinan Komisariat atau Instruktur Komisariat dalam pembuatan konsep DAD yang merupakan terjemahan dari standarisasi perkaderan yang disepakati dalam Lokakarya Perkaderan. Pelaksanaan o Melakukan kontrol muatan perkaderan agar tetap sesuai dengan standarisasi perkaderan, kontrol muatan ini bisa dilaksanakan dengan ikut membantu dalam pengelolaan DAD atau koordinasi secara masif dengan bidang kader atau instruktur komisariat terkait dengan muatan perkaderan yang diberikan kepada peserta. Semua tugas dalam pelaksanaan tersebut dapat dilaksanakan melewati koordinasi yang dilakukan oleh bidang kader cabang dengan bidang kader komisariat. Pasca Pelaksanaan o Bersama Bidang Kader Cabang melakukan kontrol muatan perkaderan, agar pendampingan yang dilakukan oleh Pimpinan Komisariat/Instruktur Komisariat tetap mengarah pada Target Perkaderan. Ketentuan Instruktur 1. Master of Training dianjurkan dari Instruktur Cabang, namun keputusan tetap berada di Pimpinan Komisariat selaku penanggung jawab dengan melihat situasi dan kondisi organisasi. 48 2. Keanggotaan instruktur di serahkan kembali kepada Pimpinan Komisariat, diprioritaskan sudah mengikuti LIK atau LID. 3. Jika keanggotaan instruktur tidak mencukupi dapat ditambah dengan Instruktur Cabang. 4. Pelaksanaan DAD didampingi oleh 2 orang Instruktur Cabang/Pimpinan Cabang IMM Malang Raya. Evaluasi Evaluasi ini merupakan penilaian keberhasilan terhadap jalannya perkaderan. Hal-hal yang di evaluasi dalam pelaksanaan DAD meliputi : evaluasi peserta, evaluasi Instruktur, evaluasi Pemateri, evaluasi panitia dan evaluasi keseluruhan. Evaluasi Peserta Evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui sejauhmana perkembangan peserta dalam mengikuti proses perkaderan (DAD). Aspek-aspek yang dinilai yakni untuk Materi dan non Materi. Untuk materi : a. Tingkat keseriusan b. Daya tangkap c. Wawasan d. Partisipasi e. Kehadiran Untuk non Materi : a. Ibadah b. Kemandirian c. Akhlak Evaluasi Instruktur Merupakan evaluasi yang diperuntukkan untuk instruktur dalam mengelola proses perkaderan. Aspek yang dievaluasi terhadap instruktur meliputi : a. Kemampuan dalam mengendalikan forum b. Kemampuan mengkoordinasikan semua perangkat yang terlibat dalam perkaderan (DAD) c. Pencapaian target harian DAD Evaluasi Pemateri/Nara Sumber Merupakan evaluasi yang dilakukan terhadap pemateri dalam memberikan materi kepada peserta. Aspek-aspek yang dievaluasi terhadap pemateri meliputi : a. Penguasaan Materi b. Kesesuaian materi yang disampaikan dengan silabus atau uraian materi c. Penguasaan forum Evaluasi Panitia Merupakan evaluasi yang diperuntukkan kepada panitia dalam menjalankan teknis perkaderan. Aspek-aspek yang dievaluasi terhadap panitia meliputi : a. Kerja kepanitiaan yang terbagi dalam sie. Evaluasi Kesuluruhan Merupakan evaluasi dari serangkaian prosesi kegiatan perkaderan (DAD). Evaluasi ini meliputi : a. Kesesuaian dengan rencana awal dengan realisasi di pelaksanaan b. Hubungan antar perangkat dalam DAD. c. Ketercapain taget DAD. 49 Kepesertaan Persyaratan peserta Darul Arqom Dasar adalah : 1. Memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh panitia penyelenggara, sesuai kebutuhan 2. Sudah mengenal IMM 3. Berada dalam tahap usia dewasa awal 4. Jenjang pendidikan relative masih rendah 5. Sifat, persepsi dan motivasi masih beragam 6. Jumlah peserta harus ideal antara 20 – 40 peserta, agar kualitas perkaderan dapat terjaga, serta memenuhi standar perbandingan instruktur-peserta 1 : 5. Ketentuan Lain 1. Materi DAD yang sudah sepakati di Lokakarya Perkaderan sedapat mungkin untuk dilaksanakan dikarenakan sudah menjadi standarisasi Perkaderan (DAD) IMM Malang Raya 2. Pimpinan Komisariat harus melaporkan rencana penyelenggaraan DAD selambatlambatnya 1 bulan sebelum pelaksanaan DAD 3. Pimpinan Komisariat harus melaporkan hasil penyelenggaraan DAD paling lambat 2 minggu setelah penyelenggaraan kepada Pimpinan Cabang. C. PEDOMAN PELAKSANAAN LATIHAN INSTRUKTUR KOMISARIAT (LIK) Latar Belakang IMM merupakan organisasi yang berada di bawah naungan Muhammadiyah sebagai organisasi induknya. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memiliki tujuan organisasi yakni Membentuk akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk mencapai tujuannya menggunakan stategi perkaderan, yang mana dalam strategi perkaderan ini diorientasikan untuk membentuk sumber daya kader yang sesuai dengan yang di inginkan IMM yang tertuang dalam profil kader ikatan. Dalam melakukan aktivitas perkaderan, IMM mempunyai tenaga-tenaga dalam mendidik kader yakni instruktur, seperti yang ada di SPI bahwa instruktur adalah tim yang bertugas memandu dan memegang kendali orientasi, materi dan kualitas acara perkaderan sebagai proses melahirkan ekstrainer yang ideal. Secara normatif yang ada di SPI bahwa kehadiran instruktur di tataran paling dasar adalah di instruktur cabang, yang mana secara tugas instruktur cabang sesuai dengan yang ada di SPI meelaksanakan tingkat perkaderan yang ada di komisariat. Namun kalau kita lihat kondisi realitas yang ada di malang raya bahwasannya ada perbedaan dengan normatif sesuai yang ada di SPI yang merupakan sebagai rujukan melakukan pekaderan. Adanya instruktur komisariat yang menjadi tambahan perangkat kaderisasi di IMM Malang raya, hal ini disebabkan karena pada awalnya instruktur cabang yang kurang maksimal dalam melakukan kaderisasi di tingkatan komisariat, sehingga dengan kondisi seperti itu munculah instruktur dari masing-masing komisariat yang melakukan kaderisasi di masing-masing komisarit. Hal itu sudah menjadi kebutuhan di 50 masing-masing komisariat karena proses kaderisasi bukanlah hanyalah sekedar di perkaderan formal namun sampai di follow up perkaderan. Maka melihat realitas yang terjadi di malang raya, Pimpinan Cabang IMM Malang Raya mengeluarkan kebijakan untuk mempertegas peran Instruktur cabang dan Instruktur Komisariat, hal ini dilakukan agar tidak tumpang tindih dalam pelaksanaan kaderisasi. Seperti penjelasan yang ada di perangkat perkaderan IMM Malang Raya, Intruktur cabang yakni bertanggungjawab dalam membantu mengontrol muatan perkaderan yang dilakukan komisariat. Muatan yang dikontrol mulai dari penurunan konsep perkaderan dari desain perkaderan malang raya sampai ke komisariat, kontrol dalam pemberian materi ke peserta dalam proses perkaderan serta melakukan kontrol muatan dalam follow up yang dilakukan oleh komisariat. Sementara itu untuk instruktur komisariat mempunyai tugas bertanggung jawab dalam pengelolaan perkaderan yang dilakukan di komiariat masing-masing, serta bertanggungjawab terhadap follow up perkaderan. Maka dari itu Pimpinan Cabang membuat pedoman pelaksanaan dalam Latihan Instruktur Komisariat (LIK), hal ini agar pelaksanaan LIK tetap berada dalam koridor standarisasi instruktur, dan juga bisa maksimal dalam pelaksanaan kaderisasi nantinya. Tujuan Memberikan wacana untuk meningkatkan kualitas kader dalam pengelolaan perkaderan dan follow up perkaderan Target Terciptanya tenaga-tenaga Instruktur Komisariat yang memiliki kemampuan dalam mengelola perkaderan dan menjalankan follow up perkaderan. Konsep Materi Klasifikasi Materi Materi Ideologi Materi Keinstrukturan Materi Wawasan Materi Uraian materi Pelaksanaan LIK Sistem Perkaderan . Sejarah Sistem Perkaderan Rasulullah . Strategi Sistem Perkaderan Rasulullah Rasulullah (SPR) . Sasaran Perkaderan Rasul . Muatan Perkaderan Rasul Sistem Perkaderan . Filosofi Perkaderan Muhammadiyah Muhammadiyah (SPM) . Strategi Perkaderan Muhammadiyah . Muatan Perkaderan Muhammadiyah Sistem Perkaderan . Sistem Perkaderan Ikatan . Desain Perkaderan IMM Malang Raya Ikatan (SPI) . Filosofi Instruktur dalam Perkaderan Ke-Instrukturan . Tugas dan fungsi instruktur Komisariat . Perangkat Perkaderan Strategi Pendampingan . Pengertian goal setting . Prinsip-prinsip goal setting dan Goal Setting . Langkah-langkah strtaegi pendampingan . Prinsip dan metode pendampingan . Pola pendampingan Sistem Monitoring dan . Fungsi Monitoring dan Evaluasi . Teknik-Teknik Monitoring dan Evaluasi Evaluasi . Prinsip Monitoring dan Evaluasi . Tahapan Monitoring dan Evaluasi . Lembar Monitoring dan Evaluasi . Klasifikasi keaktifan kader Analisa dan . Metode analisa data dan pengolahan data Pengembangan Potensi kader . Teknik pengembangan potensi kader Kader 51 Materi Terapan Manajemen Pelatihan Manajemen Forum Micro Teaching Aktivitas non materi Kajian ayat-ayat . Konsep POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controling) . Desain Pelatihan . Rekayasa Forum . Psikologi forum . Media Pembelajaran . Metode Pengajaran . Ice Breaking . Kajian ayat-ayat Perkaderan Pengorganisasian LIK Penanggungjawab Yaitu Pimpinan Ikatan yng bertanggung jawab langsung secara keseluruhan terhadap penyelenggaraan perkaderan. Latihan Instruktur Komisariat (LIK) penanggung jawabnya adalah Pimpinan Komisariat. Tim Instruktur Pelaksana LIK o Master of Training (MOT) Yaitu seseorang yang mendapat tugas memimpin dan secara umum bertanggungjawab atas pelaksanaan keinstrukturan. o Vice Master of Training (Vice MOT) Yaitu sesorang yang membantu MOT dalam menjalankan dalam menjalankan tugas. o Imam Training (IT) Seseorang yang mendapat tugas memandu keinstrukturan dalam aspek ibadah keislaman o Observer Yaitu sekelompok orang yang bertugas monitoring dan evaluasi perkembangan peserta secara personal dan kelompok yang menunjukan pelatihan sesuai dengan targetannya. o Anggota Instruktur Yaitu instruktur yang membantu tugas dari Master of Training, Imam Training dan Observer. Nara Sumber Nara sumber dalam kegiatan perkaderan IMM adalah para ahli yang kompeten di bidangnya yang akan disajikan dalam proses perkaderan. Nara sumber harus memiliki komitmen islam yang jelas, menguasai materi, berpengalaman dan sesuai dengan orientasi perkaderan. Panitia Pelaksana Adalah tim petugas yang bersifat teknis yang bertugas menjadi penanggungjawab pelaksana perkaderan sesuai kepentingan teknis, panitia pelaksana dibentuk oleh penanggung jawab kegiatan. Deskripsi Tugas-Tugas Instruktur Pelaksana LIK 1) Bertanggung jawab secara penuh terhadap standart kualitas pelaksanaan perkaderan (LIK) dari awal sampai akhir 2) Melakukan orientasi awal, kontol materi, evaluasi harian, evaluasi non materi, dan evaluasi akhir 3) Membuat laporan terhadap pelaksanaan proses perkaderan (LIK) Tugas Khusus Instruktur Cabang Dalam pelaksanaan Perkaderan LIK, Instruktur Cabang berperan mulai dari Pra Pelaksanaan, Pelaksanaan, dan Pasca Pelaksanaan. 52 Pra Pelaksanaan o Mendampingi Pimpinan Komisariat atau Instruktur Pelaksana LIK dalam pembuatan konsep LIK yang merupakan terjemahan dari standarisasi perkaderan yang disepakati dalam Lokakarya Perkaderan. Pelaksanaan o Melakukan kontrol muatan perkaderan agar tetap sesuai dengan standarisasi perkaderan, kontrol muatan ini bisa dilaksanakan dengan ikut membantu dalam pengelolaan LIK atau koordinasi secara masif dengan bidang kader atau instruktur pelaksana LIK terkait dengan muatan perkaderan yang diberikan kepada peserta. Semua tugas dalam pelaksanaan tersebut dapat dilaksanakan melewati koordinasi yang dilakukan oleh bidang kader cabang dengan bidang kader komisariat. Pasca Pelaksanaan o Bersama Bidang Kader Cabang melakukan kontrol terhadap bidang kader dan instruktur komisariat yang sudah terbentuk dalam melaksanakan tugas sebagai pengelola perkaderan dan follow up perkaderan. Ketentuan Instruktur Pelaksana LIK 1. Master of Training dianjurkan dari Instruktur Cabang, namun keputusan tetap berada di Pimpinan Komisariat selaku penanggung jawab dengan melihat situasi dan kondisi organisasi. 2. Keanggotaan instruktur di serahkan kembali kepada Pimpinan Komisariat, diprioritaskan pernah menjadi instruktur komisariat atau instruktur cabang. 3. Jika keanggotaan instruktur tidak mencukupi dapat ditambah dengan Instruktur Cabang. 4. Pelaksanaan LIK didampingi oleh 2 orang Instruktur Cabang/Pimpinan Cabang IMM Malang Raya. Evaluasi Evaluasi ini merupakan penilaian keberhasilan terhadap jalannya perkaderan. Hal-hal yang di evaluasi dalam pelaksanaan LIK meliputi : evaluasi peserta, evaluasi Instruktur Pelaksana LIK, evaluasi Pemateri, evaluasi panitia dan evaluasi keseluruhan. Evaluasi Peserta Evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui sejauhmana perkembangan peserta dalam mengikuti proses perkaderan (LIK). Aspek-aspek yang dinilai yakni untuk Materi dan non Materi. Untuk materi : a) Tingkat keseriusan b) Daya tangkap c) Wawasan d) Partisipasi e) Kehadiran Untuk non Materi : a) Ibadah b) Kemandirian c) Akhlak Evaluasi Instruktur Pelaksana LIK Merupakan evaluasi yang diperuntukkan untuk instruktur pelaksana LIK dalam mengelola proses perkaderan. Aspek yang dievaluasi terhadap instruktur meliputi : d. Kemampuan dalam mengendalikan forum 53 e. Kemampuan mengkoordinasikan semua perangkat yang terlibat dalam perkaderan (LIK) f. Pencapaian target harian LIK Evaluasi Pemateri/Nara Sumber Merupakan evaluasi yang dilakukan terhadap pemateri dalam memberikan materi kepada peserta. Aspek-aspek yang dievaluasi terhadap pemateri meliputi : d. Penguasaan Materi e. Kesesuaian materi yang disampaikan dengan silabus atau uraian materi f. Penguasaan forum Evaluasi Panitia Merupakan evaluasi yang diperuntukkan kepada panitia dalam menjalankan teknis perkaderan. Aspek-aspek yang dievaluasi terhadap panitia meliputi : b. Kerja kepanitiaan yang terbagi dalam sie. Evaluasi Kesuluruhan Merupakan evaluasi dari serangkaian prosesi kegiatan perkaderan (LIK). Evaluasi ini meliputi : d. Kesesuaian dengan rencana awal dengan realisasi di pelaksanaan e. Hubungan antar perangkat dalam LIK. f. Ketercapain taget LIK. Kepesertaan Persyaratan peserta Darul Arqom Dasar adalah : 1) Sudah mengikuti DAD 2) Memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh panitia penyelenggara, sesuai kebutuhan Ketentuan Lain 1) Materi LIK yang sudah sepakati di Lokakarya Perkaderan sedapat mungkin untuk dilaksanakan dikarenakan sudah menjadi standarisasi Perkaderan (LIK) IMM Malang Raya 2) Pimpinan Komisariat harus melaporkan rencana penyelenggaraan LIK selambatlambatnya 1 bulan sebelum pelaksanaan LIK 3) Pimpinan Komisariat harus melaporkan hasil penyelenggaraan LIK paling lambat 2 minggu setelah penyelenggaraan kepada Pimpinan Cabang. 54 PENUTUP Desain Perkaderan ini dibuat dan sudah disepakati dalam forum Lokakarya Perkaderan IMM Malang Raya sebagai upaya untuk memperbaiki perkaderan IMM Malang Raya yang sejauh ini masih mengalami ketimpangan kualitas dalam hal melakukan proses kaderisasi. Desain Perkaderan ini sebagai bentuk penyatuan frame terkait perkaderan IMM Malang Raya. Desain Perkaderan ini akan menjadi panduan khusus yang diturunkan dari SPI agar kaderisasi yang di jalankan 21 komisariat yang ada di Malang Raya bisa sejalan dan searah. Maka dari itu dibutuhkan kolektivitas dari semua pihak untuk membangun kaderisasi yang ada di Malang Raya. Sekian dari kami Pimpinan Cabang IMM Malang Raya semoga dengan adanya Desain Perkaderan IMM Malang raya ini kaderisasi yang dilakukan akan jauh lebih Progressif lagi. 55 56 PENDAHULUAN Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan organisasi berada dibawah naungan Muhammadiyah yang menggunakan strategi perkaderan untuk mencapai tujuannya yakni mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam mencapai tujuan Muhammadiyah. Dalam rangka mencapai tujuannya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya membuat standarisasi materi-materi yang disepakati dalam Lokakarya Perkaderan IMM Malang Raya untuk meminimalisir perbedaan materi-materi dalam melakukan Perkaderan Utama dan Khusus. Materi-materi yang disusun ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Desain Perkaderan IMM Malang Raya terutama dalam Bab Pedoman Pelaksanaan DAD dan LIK. Dalam materi-materi Perkaderan Utama (DAD) yang disusun ini, tetap mengacu pada Sistem Perkaderan Ikatan dan melihat kondisi Realitas yang ada di IMM Malang Raya. Dalam pelaksanaannya nanti komisariat-komisariat saat melakukan perkaderan utama (DAD) haruslah mengacu pada materi-materi yang sudah di sepakati dalam lokakarya perkaderan ini karena sudah menjadi Standarisasi Materi Perkaderan Utama (DAD), dan materi-materi yang sudah disepakati ini bisa dikembangkan oleh komisariat-komisariat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan komisariat masing-masing. Seperti yang kita ketahui bersama bahwannya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya mempunyai kondisi yang berbeda dalam melaksakan kaderisasi terutama dalam hal keinstrukturannya, seperti yang sudah dijelaskan dalam Bab Perangkat Kaderisasi dalam Desain Perkaderan bahwasanya di IMM Malang raya ini mempunyai Instruktur Komisariat, seperti yang sudah dibahas saat Lokakarya Perkaderan bahwasannya tugas Instruktur Komisariat adalah Pengelolaan Perkaderan dan Follow up Perkaderan. Serta dalam menciptakan instruktur komisariat, Komisariat-komisariat di berikan kewenangan untuk melaksanakan Latihan Instruktur Komisariat (LIK). Untuk mengatur agar komisariat-komisariat dalam melaksanakan Latihan Instruktur Komisariat (LIK) tetap sesuai dengan tugas-tugas yang sudah disepakati dalam Lokakarya Perkaderan. Maka dari itu diaturlah materi-materi Perkaderan Khusus (LIK) yang menjadi standarisasi. Dalam pelaksanaannya nanti komisariat-komisariat saat melakukan Perkaderan Khusus (LIK) haruslah mengacu pada materi-materi ini, dan materi-materi ini bisa dikembangkan oleh komisariat-komisariat sesuai dengan kodisi dan kebutuhan komisariat masing-masing. Dalam hand book materi-materi Perkaderan Khusus (LIK) yang disusun ini yang tidak dicantumkan adalah materi Sistem Perkaderan Ikatan karena dalam materi ini sudah ada dalam buku SPI. Materi-materi Perkaderan Utama (DAD) dan Perkaderan Khusus (LIK) disusun sebagai salah satu upaya untuk meminimalisir perbedaan materi-materi dalam pelaksanaan DAD dan LIK yang nantinya akan berkesinambungan dengan follow up yang dijalankan. Maka dari itu 57 dibutuhkan kolektivitas dari semua pihak untuk memperbaiki kaderisasi yang ada di IMM Malang Raya. 58 MATERI-MATERI DARUL ARQAM DASAR (DAD) 59 MATERI I KE-ISLAMAN TAUHID Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya”. Pembagian Tauhid Dari hasil pengkajian terhadap dalil-dalil tauhid yang dilakukan para ulama sejak dahulu hingga sekarang, mereka menyimpulkan bahwa ada tauhid terbagi menjadi tiga[1] Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Al Asma Was Shifat.Yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb, Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang zhahir maupun batin. Sedangkan Tauhid Al Asma’ was Sifat adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang Ia tetapkan bagi diri-Nya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. PENGERTIAN SYAHADAT Kalimat Syahadat yang pertama mengandung dua unsur penting, yaitu: pertama, membebaskan diri dari segala sesembahan yang bathil, dan kedua, pernyataan setia kepada sesembahan yang haq, yaitu Allah swt. Kalimat syahadat yang kedua bermakna penetapan bahwa Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul Allah swt. MAKNA SYAHADATAIN Pengakuan ketauhidan. Seorang muslim hanya mempercayai Allah sebagai satu-satunya Allah dan tiada tuhan yang lain selain Allah. Allah adalah Tuhan dalam arti sesuatu yang menjadi motivasi atau menjadi tujuan seseorang. Dengan mengikrarkan kalimat pertama, seorang muslim memantapkan diri untuk menjadikan hanya Allah sebagai tujuan, motivasi, dan jalan hidup. Pengakuan kerasulan. Dengan mengikrarkan kalimat ini seorang muslim memantapkan diri untuk meyakini ajaran Allah yang disampaikan melalui seorang 'Rasul Allah,' Muhammad. 60 KONSEKUENSI SYAHADATAIN Konsekuensi yang harus dipegag teguh oleh seseorang yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat. Pertama, harus Mengimani bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak dan wajib disembah. Allah swt berfirman: اَم َ َََََ َاس مََّر ََ رَاَس َا ر إَ ر َ ِ َا ر َََّاِ هِ قَ نْ ااِ َحُ قََِ رإ َْ مَانْا َْ قَََِْ قَ نْ مَاَس لَس رَْا Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu (Muhammad), melainkan kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25) Kedua, harus meniadakan segala sesembahan selain Allah swt. إاشر َ َ سَِِر ْ مَ ر اش َاس َح نت َُ ََََّ اَ رَّ َََْ رإ اَ رَّ مَْن ا رل َت اأِْ ََ َْ ََ رإلُس Artinya: “Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia.” (QS. Al-An’am: 151) Ketiga, tidak mensejajarkan sesuatu pun dengan Allah swt. َلَ َن َلر َ َاِْ َ نتَ مَ را ََُْْ ََمَ راَلِلا رَّ َ ر ََ اتِم Artinya: “Maka janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan untuk Allah, sedangkan kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 22) Keempat, meyakini bahwa Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul Allah swt. sekaligus penutup para Nabi dan Rasul tersebut. ََ ََاَ س َ ََّ ِْانََإكإ َ ََ َأسمَ ن اِِ ن ََ َا ََ اَشك َ َََّ َََْإ ُتس رُ هء َاس َأسمَ اا َه نت ا مَََس مَ َح ه َا ر ََّ َاسَِ اَ رَّ َََِ ََ ر Artinya: “Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang diantara kamu, tetapi ia adalah utusan Allah dan penutup para Nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40). 61 َا َتإ ُس إاشر َس مَ َهَس ِْانسرا قَاكُ َََّاِ اِ ن َََّ قََِ رإ اَ ر Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua.” (QS. Al-A’raf: 158). Kelima, harus mencintai Nabi Muhammad saw melebihi orang tua, anak dan seluruh manusia. Rasulullah saw bersabda, إَنِ ن ن َ َُ ََسر مَار َت َ إ َ إَس َِ إَس َِ ِْان َا َََْ رإ َْ ََ َََن ََّ َْ ا ر َا ا مَ َح ا اأ رَّ َحَلِلنِ مَ اأِمَ مَ َحَّن قََِ رإ َْ َا ر َََِْ َ َْ ر مَاَ ه َ َأ ََ َََِ َ َأ ََِْان Artinya: “Dari Anas, ia berkata, “Nabi saw bersabda, “Tidak beriman salah seorang kamu, sebelum aku (Muhammad) lebih dia cintai dari pada orang tua, anak-anak, dan manusia lain keseluruhannya.” Keenam, harus menjadikan Rasulullah saw sebagai contoh teladan dalam segala aspek kehidupan, terutama aspek ibadah. Allah swt berfirman, ََ ََ رِْإَِر َُ ْ ر َا َت ََ َ َأ َت ن ََ ما رَ َِخا َح ََاََا َِ َت ر َأسمَ َتر ااِ ن رَّ لَُ َََّاِ َِ ن َََ َأيَإتُ َِْكَ ر َأسمَ َِ ا Artinya: “Sungguh telah ada pada diri Rasululah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21). ََ لَس ن ََ اِاَُ اهر ََ رَ اَ اَّ ن إاشر قَ رم اأ راَلِلا رَّ ا َهََِمَ ن َا Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran: 31). Ada 6 poin sebagai konsekuensi dua kalimat syahadat bagi siapa saja yang telah mengikrarkannya yaitu: 1. Mengimani bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang berhak dan wajib disembah. 2. Meniadakan segala sesembahan selain Allah swt. 3. Tidak mensejajarkan sesuatu pun dengan Allah swt. 4. Meyakini bahwa Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul Allah swt. sekaligus penutup para Nabi dan Rasul tersebut. 5. Mencintai Nabi Muhammad saw melebihi orang tua, anak dan seluruh manusia. 6. Menjadikan Rasulullah saw sebagai contoh teladan dalam segala aspek kehidupan, terutama aspek ibadah 62 Demikianlah makna dan konsekuensi-konsekuensi dari dua kalimat syahadat bagi siapa saja yang telah dengan sukarela mengikrarkannya dan meyakininya. Referensi [1]. Purnama, yulian. https://muslim.or.id/6615-makna-tauhid.html [2]. Al Manar (site admin) (13 Desember 2012). "Syahadatain dan Revolusi Diri [3]. Hadits riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang shohih [4]. Ustadz Sigit Pranowo (via Rukun Islam) (12 Juni 2014). "Apakah Syahadat Bisa Batal? [5]. Shalla, Aulia Abdan Idza. http://putmppmuhammadiyah.org/makna-dan-konsekuensi-duakalimat-syahadat-dalam-islam-bagi-para-pemeluknya/#more-234 ISLAM SEBAGAI RAHMATAN LIL ‘ALAMIN Islam merupakan agama yang diturunkan oleh Allah SWT sejak manusia pertama yaitu Nabi Adam AS . Islam tidak langsung diturunkan secara utuh kepada umatnya, melainkan diturunkan secara bertahap melalui wahyu-wahyu ataupun kitab-kitab Allah yang diberikan kepada para nabi dan rosulnya hingga pada masa kerasulan Muhammad SAW. Awal mula Rasulullah menyebarkan islam tidaklah berjalan lancar, banyak halangan dan rintangan yang beliau hadapi. Mulai dari cacian, hingga penentangan. Namun Rasulullah tidak pernah menyerah dan tidak pernah putus asa. Di dalam sebuah hadist digambarkan bahwa Islam datangnya dianggap asing dan akan kembali dianggap asing. Berbahagialah mereka yang dianggap asing karena telah berada di jalan yang benar yaitu jalan Allah SWT. Kata Islam berarti damai, selamat, penyerahan diri, tunduk, dan patuh. Islam adalah kata yang berasal dari bahasa arab yaitu “sailama” yang dimasdarkan menjadi “islaman” yang berarti damai. Islam disebut sebagai agama rahmatan lil alamin. [Dan tiadalah mengutus kamu (ya Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil 'alamin) QS Al-Anbiya' ayat 107]. Rahmatan lil 'alamin adalah istilah qurani. Dan, istilah itu sudah terdapat dalam Alquran, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Anbiya' di atas. Rahmatan lil 'alamin berarti ''kasih sayang bagi semesta alam". Karena itu, yang dimaksud dengan Islam rahmatan lil 'alamin adalah Islam yang kehadirannya di tengah kehidupan 63 masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam. Pesan kerahmatan dalam Islam benar-benar tersebar dalam teks-teks Islam, baik Alquran maupun hadist. Kata 'rahman' yang berarti kasih sayang, berikut derivasinya, disebut berulangulang dalam jumlah yang begitu besar, lebih dari 90 ayat dalam Alquran. Bahkan, dua kata rahman dan rahim yang diambil dari kata 'rahmat' dan selalu disebut-sebut kaum Muslim setiap hari adalah nama-nama Allah SWT sendiri ( asmaul husna ). Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Sayangilah siapa saja yang ada di muka bumi niscaya Allah SWT menyanyanginya." Alquran memiliki posisi yang amat vital dan terhormat dalam masyarakat Muslim di seluruh dunia. Di samping sebagai sumber hukum, pedoman moral, bimbingan ibadah, dan doktrin keimanan, Alquran juga merupakan sumber peradaban yang bersifat historis dan universal. Alquran, sumber Islam paling otoritatif, menyebutkan misi kerahmatan ini, wama ar salnaka illa rahmantan lil'alamin (Aku tidak mengutus Muhammad, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta). Ibnu Abbas, ahli tafsir awal, mengatakan bahwa kerahmatan Allah meliputi orangorang Mukmin dan orang kafir. Alquran juga menegaskan, rahmat Allah meliputi segala hal. Karena itu, para ahli tafsir sepakat bahwa rahmat Allah mencakup orang-orang Mukmin dan orang-orang kafir, orang baik ( al-birr ) dan yang jahat ( al-fajir ), serta semua makhluk Allah. Apabila ajaran Islam dilaksanakan secara benar, rahman dan rahim Allah akan turun semua. Dengan demikian, berlakulah sunatullah; baik muslim maupun nonmuslim, kalau melakukan hal-hal yang diperlukan oleh kerahmanan, mereka akan mendapatkannya. Atas prinsip persamaan itu, maka setiap orang mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Islam tidak memberi hak-hak istimewa bagi seseorang atau golongan lainnya, baik dalam bidang kerohanian, maupun dalam bidang politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan. Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam kehidupan masyarakat, dan masyarakat mempunyai kewajiban bersama atas kesejahteraan tiap-tiap anggotanya. Islam menentang setiap bentuk diskriminasi, baik diskriminasi secara keturunan, maupun karena warna kulit, kesukuan, kebangsaan, kekayaan dan lain sebagainya. Bahkan Nabi Muhammad bersabda “Tidak beriman seorang kamu sehingga kamu mencintai saudaramu sebagaimana mencintai dirimu sendiri”. Dari sinilah konsep ajaran Islam dapat diketahui dan dipelajari. Persaudaraan manusia semakin dikembangkan, karena sesama manusia bukan hanya berasal dari satu bapak satu ibu (Adam dan Hawa) tetapi karena satu sama lain saling membutuhkan, saling menghargai dan saling menghormati. Pada akhirnya terciptalah kehidupan yang tenteram dan sejahtera. Itulah hakikat Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin. Wallahu a’lamu bis shawab. Ukhuwah 64 Kata ukhuwah berarti persaudaraan, maksudnya adanya perasaan simpati dan empati antara dua orang atau lebih. Masing-masing pihak memiliki perasaan yang sama baik dalam keadaan suka maupun duka, bisa diartikan mereka ikut merasakan perasaan pihak lain. Dengan adanya ukhuwah ini, timbullah timbal balik untuk saling membantu jika ada yang mengalami kesulitan dan turut membagi kebahagiaan kepada orang lain jika mendapat kesenangan. Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Manusia yang baik adalah manusia yang bisa menjalin dan mempererat persaudaraan antar sesama manusia. Ada 3 macam persaudaraan (ukhuwah): 1. Ukhuwah Islamiyah, yang berarti persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar keagamaan (Islam) baik dalam skala lokal, nasional, maupun internasional, selama aqidahnya sama (laa ilaaha illallah) maka itu adalah saudara kita dan harus kita jalin dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam Alquran surat Al Hujurat ayat 10, yang artiya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah saudara, oleh karena itu pereratlah simpul persaudaraan diantara kamu dan bertaqwalah kepada Allah SWT, mudah-mudahan kamu mendapatkan rahmat”. 2. Ukhuwah wathaniyyah, yang berarti persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar kebangsaan, tanpa membedakan agama, suku, warna kulit, adat istiadat, budaya, dan aspek-aspek kekhususan lainnya. Rasulullah pernah bersabda “hubbul wathon minal iman” artinya: Cinta sesama saudara setanan air termasuk sebagian dari iman. 3. Ukhuwah Basyariyyah/ Insaniyah, yang berarti persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar kemanusiaan, berlaku pada semua manusia secara universal tanpa membedakan agama, suku, ras, dan aspek-aspek kekhususan lainnya. Ukhuwah ini harus dilandasi bahwa semua manusia adalah sama, samasama makhluk Allah yang tidak boleh dibeda-bedakan. Meskipun Allah menunjukkan ajaran yang benar kepada umat manusia yaitu Islam, Allah membebaskan manusia memilih jalannya sendiri berdasarkan atas pertimbangan rasionya. Ketiga macam ukhuwah tersebut harus diwujudkan secara seimbang menurut posisi masingmasing. Satu dan lainnya tidak boleh dipertentangkan. Sebab hanya melalui 3 dimensi ukhuwah itulah rahmatan lil alamin akan terealisasikan. Apabila ketiga ukhuwah terjadi secara bersamaan, maka yang harus kita prioritaskan adalah ukhuwah Islamiyah, karena ukhuwah ini menyangkut kehidupan dunia dan akherat. 65 Rasulullah SAW memberikan contoh hidup damai dan penuh toleransi dalam lingkungan yang plural. Ketika di Madinah, beliau mendeklarasikan Piagam Madinah yang berisi jaminan hidup bersama secara damai dengan umat beragama yang lain. Begitu juga ketika menaklukan Makkah, beliau menjamin setiap orang,termasuk musuh yang ditaklukan agar tetap merasa aman dan nyaman. Gerera-gereja dan sinagoge-sinagoge boleh menyelenggaran peribadatan tanpa ketakukan. Selama hampir 23 tahun perjuangan kenabiannya, Rasulullah SAW menggunakan pendekatan dialog secara konsisten sehingga misi kerahmatan lintas suku,budaya dan agama dapat dicapai dengan baik. Rasulullah meminta kepada para sahabat untuk tetap bersabar,tidak menggunakan kekerasan dan paksaan,apalagi pembunuhan. Bahkan untuk menjaga keselamatan kaum muslimin, beliau memutuskan untuk berhijrah ke Medinah. Menurut Imam Hasan Al-Banna, Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah. Hakekat Ukhuwah Islamiyah: 1. Nikmat Allah 2. Perumpamaan tali tasbih 3. Merupakan arahan Rabbani 4. Merupakan cermin kekuatan iman Perbedaan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Jahiliyah adalah Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi dan universal karena berdasarkan aqidah dan syariat Islam. Sedangkan Ukhuwah Jahiliyah bersifat temporer (terbatas pada waktu dan tempat), yaitu ikatan selain ikatan aqidah (misal: ikatan keturunan [orang tua-anak], perkawinan, nasionalisme, kesukuan, kebangsaan, dan kepentingan pribadi). Hal-hal yang menguatkan Ukhuwah Islamiyah: 1. Memberitahukan kecintaan pada yang kita cintai 2. Memohon dido’akan bila berpisah 3. Menunjukkan kegembiraan & senyuman bila berjumpa 4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim) 5. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan 6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu 7. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara) 8. Memperhatikan saudaranya & membantu keperluannya 9. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya 66 Buah Ukhuwah Islamiyah: 1. Merasakan lezatnya iman 2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi) 3. Mendapatkan tempat khusus di syurga Urgensi Ukhuwah Di jaman modern seperti saat ini, ukhuwah menjadi hal yang urgen untuk dibangun demi terciptanya masyarakat yang rukun dan damai. Urgensi ukhuwah antara lain: a. Ukhuwah menjadi pilar kekuatan Islam. Tegaknya dan terjalinnya ukhuwah menjadi syarat utama kekuatan Islam. Jika umat Islam saling bermusuhan, maka Islam akan lemah dan tidak punya kekuatan. b. Bangunan ukhuwah yang solid akan mempermudah membangun masyarakat madani. Masyarakat madani merupakan masyarakat yang ideal dan memiliki karasteristik. c. Ukhuwah merupakan bagian terpenting dari iman. Ukhuwah dan iman merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ukhuwah tanpa iman bisa menjadikan manusia serakah yang hanya memikirkan kepentingan pribadi atau kelompok kesukuan. d. Ukhuwah merupakan benteng dalam menghadapi musuh-musuh Islam. Orang-orang non muslim mempunyai misi yang sama yaitu menghancurkan Islam (QS. Al Baqarah: 120). Kita sebagai masyarakat muslim harus bersatu dengan barisan ukhuwah yang rapi dan kuat tanpa ada permusuhan. Apabila kita sesama muslim bermusuhan, maka mereka semakin mudah untuk menghancurkan Islam. KONSEP DAN HAKIKAT IBADAH DALAM ISLAM Pembagian Ibadah Ditinjau[1] dari segi ruang lingkupnya, ibadah dibagi menjadi dua bagian: 1. `Ibâdah khâshshah (ibadah khusus), yaitu ibadah yang ketentuannya telah ditetapkan oleh nash, seperti: shalat, zakat, puasa, haji, dan semacamnya. 67 2. `Ibâdah `âmmah (ibadah umum), yaitu semua perbuatan baik yang dilakukan dengan niat karena Allah SWT. semata, misalnya: berdakwah, melakukan amar ma`ruf nahi munkar di berbagai bidang, menuntut ilmu, bekerja, rekreasi dan lain-lain yang semuanya itu diniatkan semata-mata karena Allah SWT dan ingin mendekatkan diri kepada-Nya. Prinsip Ibadah Supaya manusia bisa diterima amalan ibadahnya oleh Allah SWT dan selamat ketika dipanggil kembali untuk bertemu dengan Allah, maka ada 6 prinsip ibadah yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam beribadah. Dari keenam prinsip tersebut bisa diperas ke dalam satu prinsip utama yaitu: Ibadah harus sesuai dengan tuntunan[1]. Allah SWT berfirman: ُْ إسَِهُ س َََْ ا رل َت رأََ َ ََس ََ َخ َََّك َهكَ َح َ ُ“ لَ َت را ََساَإَتر ااِر َِكَس َء َََّك َهََ رَإَ ر َت رَ َ َتنBarangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal shalih dan ia jangan mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.”(QS.Al-Kahfi/18: 110) Arti kata shâlih adalah baik karena sesuai. Seseorang dikatakan beramal shaleh bila dalam beribadah kepada Allah sesuai dengan cara yang disyari`atkan Allah melalui Nabi-Nya, bukan dengan cara yang dibuat oleh manusia sendiri. Syarat ibadah yang dikatakan sesuai dengan tuntunan Allah melalui Rasul-Nya adalah: 1. Dilakukan secara ikhlas. Murni hanya menyembah kepada Allah semata (QS. Al-Fâtihah/1: 5; Al-Nisâ’/4: 36; alBayyinah/98: 5; al-An’âm/6: 162) dan murni hanya karena mengharap ridla-Nya. Keikhlasan harus ada dalam seluruh ibadah, karena keikhlasan inilah jiwa dari ibadah. Tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin ada ibadah yang sesungguhnya. Beribadah secara ikhlas didasarkan pada firman Allah SWT: َ إِ َاهر إَس َ َِ َا َتس َإَََن َه َتَ ركسِ َ سَِ َت رإ َ نان َ ََ ََنَ َإ َِاا ا َ “ إا رKatakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ (QS. Al-An‘âm/6: 162) Bahkan, ibadah tanpa diserati dengan keikhlasan maka tidak akan diterima oleh Allah SWT. Hal ini karena Nabi saw pernah menyatakan bahwa setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya (Muttafaq ‘alayh). 2. Tata caranya harus sesuai Tuntunan Allah dan Rasul-Nya Dalam hal shalat, Nabi Muhammad saw. bersabda: إَكُ )َََّْسَُِّسَّص َ )إََِْ َأ َتس ََّمَ رَلِلا اتِاَإك ا َ “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari, dari Malik bin Al-Huwairits) Nabi Muhammad saw telah mengajarkan tentang tata cara shalat secara lengkap melalui hadis-hadisnya yang maqbûl, dari sejak niat yang tidak dilafalkan, bagaimana gerakan dan bacaan shalat sejak takbir hingga salam, berapa jumlah raka`at, kapan saja waktu-waktu shalat, dan lain-lain. Referensi [1]. H. Syakir Jamaluddin, S.Ag., MA. (http://malang.muhammadiyah.or.id/content-89sdet-falsafah-makna-dan-prinsip-ibadah.html) 68 MATERI II Kemuhammadiyahan Setting Historis Munculnya Muhammadiyah Sebenernya, munculnya gerakan dakwah keagamaan ala Muhammadiyah di atas panggung sejarah keagamaan islam di Indonesia merupakan peristiwa sosial-budaya biasa. Yakni peristiwa sosial-budaya bernapaskan keagamaan Islam yang merupakan eksperimen sejarah yang cukup spektakuler, khususnya, untuk ukuran saat ini. Tantangan zaman yang menghimpit ummat islam saat berdirinya Muhammadiyah pada 1912 dapat disebutkan antara lain: umat Islam hampir di seluruh duni berada dibawah belenggu cengkraman penjajahan, kebekuan pemikiran keagamaan, rendahnya mutu pendidikan, terlebih-lebih lagi jika dibandingkan dengan dunia pendidikan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah Hindia Belanda dan yayasan-yayasan Katolik dan Protestan.hal ini tidak saja yang menyangkut bidang pendidikan, tetapi juga dalam pelayanan sosial, seperti rumah sakit, panti asuhan, rumah jompo, dan lain sebagainya. Belum lagi menyebut situasi umum umat Islam yang sangat mudah dijumpai di sana-sini seperti kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan. Dalam situasi yang sangat menghimpit seperti itu, muncullah gagasan untuk membentuk suatu “Persyarikatan” (Organisasi) keagamaan yang berupaya sebisa-bisanya merespons tantangan zaman tersebut. Usaha umat Islam untuk merespons tantangan zaman dan diwujudkan dalam bentuk pendirian sebuah organisasi di lingkungan Muhammadiyah lebih dikenal dengan istilah Persyarikatan, adalah ciri khas model gerakan pembaruan keagamaan di Indonesia. Untuk lingkungan Indonesia, gerakan sosial keagamaan dalam wujudnya yang terorganisir, boleh dikata, Muhammadiyah merupakan pionir, di samping Sarekat Islam. Pemilihan wadah perjuangan dan aktivitas keagamaan dalam bentuk organisasi sosial keagamaan bukan organisasi sosial-politik merupakan pilihan jenius. Terlebih lagi, pilihan itu bukan didasarkan pada hasil cermatan kajian literatur Islam klasik dan juga tidak memperoleh inspirasi dari konsep-konsep teologis atau kalam klasik yang telah lama baku dan mapan dalam literatur-literatur khazanah intelektual Islam lama. Entah disadari entah tidak oleh generasi pertama para pendiri Muhammadiyah, bahwa wilayah kegiatan keagamaan yang mereka masuki, dengan cara membentuk sebuah organisasi, dengan sederet program aksi dan sistem pertanggungjawab pengurus dengan serius, sebenernya, adalah wilayah praksis sosial keagamaan. Tidak terlalu jauh, barangkali, jika langkah Muhammadiyah tersebut lebih kena jika disebut a faith in action. Dalam bahasa warga Muhammadiyah, wilayah praksis keagamaan lebih dikenal dengan istilah da’wah bil hal (ajakan dan imbuan lewat amalan dan tindakan konkret), bukan lagi da’wah bil lisan (ajakan atau imbuan lewat panggung atau podium). Gerakan keagamaan yang memasuki wilayah praksis sosial tentu tidak lagi berkutat dan terjerat oleh persoalan ide-ide, konsep-konsep, dan gagasan-gagasan belaka. Corak gerkan 69 keagamaan Islam yang menonjolkan sifat praksis sosial ini akan tampak sosok penampilannya, jika dibandingkan dengan corak pembaruan pemikiran Islam ditempat lain. Jamaluddin AlAfghani, misalnya, mengambil langkah pergerakannya dengan menyebarkan gagasan dan ideide pan-Islam-isme. Dengan begitu dimensi konseptualnya jauh lebih tajam daripada dimensi praksis-sosial. Muhammad Abduh lebih menonjolkan perlunya pembaruan dalam wilayah pendidikan. Muhammad bin Abdul Wahhab, lebih sempit lagi, lantaran cuma terkait dengan aspek akidah, dan kemudian menyatu juga dengan gerakan politik, dengan hal ini menyaatu juga dengan ideologi kerajaan. Kemal Ataturk, jelas-jelas bercorak sangat politis lantaran ide pembaruannya berujung pada pembaruan sistem kekhalifahan era kekaisaran Ottoman di Istanbul menjadi Republik Turki Modern. Juga berbeda dari corak pemikiran pembaruan keagamaan yang dikemukakan oleh A. Hasan maupun Ahmad Syurkati. Entah karena belajar dari bangsa lain, entah karena faktor kebetulan, yang jelasbentuk perjuangan sosial-keagamaan Muhammadiyah memiliki corak dan warna yang lain sama sekali. Sejak awal mulanya, dengan sangat sadat, Muhammadiyah tidak melibatkan diri dalam gerakan politik-praktis, meskipun orang-orangnya memahami persis liku-liku persoalan politik. Dalam era penjajahan, barangkali tarikan-tarikan untuk mendirikan organisasi keagamaan yang bernuansa politik-praktis, sebenarnya, sangat tepat momentumnya. Lebihlebih ika dimotivasi oleh doktrin-keagamaan Islam. Tetapi hal itu tidak dilakukan oleh Muhammadiyah. Sampai setelah kemerdekaan pun, Muhammadiyah tetap istiqamah untuk tidak mengubah jati dirinya menjadi organisasi politik islam. Meskipun godaan ke arah itu sangatlah bermacam-macam dan saling timbul tenggelam. Ciri-ciri Perjuangan Muhammadiyah Dengan melihat sejarah pertumbuhan dan perkembangan persyarikatan Muhammadiyah sejak kelahirannya, memperhatikan faktor-faktor yang melatarbelakangi berdirinya, aspirasi, motif, dan cita-citanya serta amal usaha dan gerakannya, nyata sekali bahwa didalammya terdapat ciri-ciri khusus yang menjadi identitas dari hakikat atau jati diri Persyarikatan Muhammadiyah. Secara jelas dapat diamati dengan mudah oleh siapapun yang secara sepintas mau memperhatikan ciri-ciri perjuangan Muhammdiyah itu adalah sebagai berikut: 1. Muhammadiyah adalah gerakan Islam 2. Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar 3. Muhammadiyah adalah gerakan tajdid 70 A. Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Telah diuraikan dalam bab terdahulu bahwa Persyarikatan Muhammadiyah dibangun oleh KH Ahmad Dahlan sebagi hasil kongkrit dari telaah dan pendalaman (tadabbur) terhadap Alquranul Karim. Faktor inilah yang sebenarnya paling utama yang mendorong berdirinya Muhammadiyah, sedang faktor-faktor lainnya dapat dikatakan sebagai faktor penunjang atau faktor perangsang semata. Dengan ketelitiannya yang sangat memadai pada setiap mengkaji ayat-ayat Alquran, khususnya ketika menelaah surat Ali Imran, ayat:104, maka akhirnya dilahirkan amalan kongkret, yaitu lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah. Kajian serupa ini telah dikembangkan sehingga dari hasil kajian ayat-ayat tersebut oleh KHR Hadjid dinamakan “Ajaran KH Ahmad Dahlan dengan kelompok 17, kelompok ayat-ayat Alquran”, yang didalammya tergambar secara jelas asal-usul ruh, jiwa, nafas, semangat Muhammadiyah dalam pengabdiyannya kepada Allah SWT. Dari latar belakang berdirinya Muhammadiyah seperti di atas jelaslah bahwa sesungguhnya kelahiran Muhammadiyah itu tidak lain karena diilhami, dimotivasi, dan disemangati oleh ajaran-ajaran Al-Qur’an karena itupula seluruh gerakannya tidak ada motif lain kecuali semata-mata untuk merealisasikan prinsip-prinsip ajaran Islam. Segala yang dilakukan Muhammadiyah, baik dalam bidang pendidikan dan pengajaran, kemasyarakatan, kerumahtanggaan, perekonomian, dan sebagainya tidak dapat dilepaskan dari usaha untuk mewujudkan dan melaksankan ajaran Islam. Tegasnya gerakan Muhammadiyah hendak berusaha untuk menampilkan wajah Islam dalam wujud yang riil, kongkret, dan nyata, yang dapat dihayati, dirasakan, dan dinikmati oleh umat sebagai rahmatan lil’alamin. B. Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah Islam Ciri kedua dari gerakan Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan dakwah Islamiyah. Ciri yang kedua ini muncul sejak dari kelahirannya dan tetap melekat tidak terpisahkan dalam jati diri Muahammadiyah. Sebagaimana telah diuraikan dalam bab terdahulu bahwa faktor utama yang mendorong berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah berasal dari pendalaman KHA Dahlan terdapat ayat-ayat Alquran Alkarim, terutama sekali surat Ali Imran, Ayat:104. Berdasarkan Surat Ali Imran, ayat : 104 inilah Muhammadiyah meletakkan khittah atau strategi dasar perjuangannya, yaitu dakwah (menyeru, mengajak) Islam, amar ma’ruf nahi munkar dengan masyarakat sebagai medan juangnya. Gerakan Muhammadiyah berkiprah di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia dengan membangun berbagai ragam amal usaha yang benar-benar dapat menyentuh hajat orang banyak seperti berbagai ragam lembaga pendidikan sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, membangun sekian banyak rumah sakit, panti-panti asuhan dan sebagainya. Semua amal usaha Muhammadiyah seperti itu tidak lain merupakan suatu 71 manifestasi dakwah islamiyah. Semua amal usaha diadakan dengan niat dan tujuan tunggal, yaitu untuk dijadikan sarana dan wahana dakwah Islamiyah. C. Muhammadiyah sebagi Gerakan Tajdid Ciri ke tiga yang melekat pada Persyarikatan Muhammadiyah adalah sebagai Gerakan Tajdid atau Gerakan Reformasi. Muhammadiyah sejak semula menempatkan diri sebagai salah satu organisasi yang berkhidmat menyebarluaskan ajaran Agama Islam sebagaimana yang tercantum dalam Alquran dan Assunah, sekaligus memebersihkan berbagai amalan umat yang terang-trangan menyimpang dari ajaran Islam, baik berupa khurafat, syirik, maupun bid’ah lewat gerakan dakwah. Muhammadiyah sebagai salah satu mata rantai dari gerakan tajdid yang diawali oleh ulama besar Ibnu Taimiyah sudah barang tentu ada kesamaaan nafas, yaitu memerangi secara total berbagai penyimpangan ajaran Islam seperti syirik, khurafat, bid’ah dan tajdid, sbab semua itu merupakan benalu yang dapat merusak akidah dan ibadah seseorang. Sifat Tajdid yang dikenakan pada gerakan Muhammadiyah sebenarnya tidak hanya sebatas pengertian upaya memurnikan ajaran Islam dari berbagai kotoran yang menempel pada tubuhnya, melainkan juga termasuk upaya Muhammadiyah melakukan berbagai pembaharuan cara-cara pelaksanaan Islam dalam kehidupan bermasyarakat, semacam memperbaharui cara penyelenggaraan pendidikan, cara penyantunan terhadap fakir miskin dan anak yatim, cara pengelolaan zakat fitrah dan zakat harta benda, cara pengelolaan rumah sakit, pelaksanaan sholat Id dan pelaksanaan kurba dan sebagainya. Untuk membedakan antara keduanya maka tajdid dalam pengertian pemurnian dapat disebut purifikasi (purification) dan tajdid dalam pembaharuan dapat disebut reformasi (reformation). Dalam hubungan dengan salah satu ciri Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid, maka Muhammadiyah dapat dinyatakan sebagai Gerakan Purifikasi dan Gerakan Reformasi. Strategi Dakwah Muhammadiyah Kata adagium berbahasa Arab, al-thariqah khairu min al-madah, bahwa cara itu lebih baik daripada isi. Artinya banyak pesan, materi, dan apa yang dibawa dalam kegiatan dakwah atau apapun meskipun baik tetapi karena cara menyampaikan, memberikan, dan melakukannya kurang atau tidak baik, maka hasilnya akan buruk atau tidak baik. Sebaliknya, sesuatu yang kurang bagus tetapi dikemas dan dibawakan dengan baik maka menghasilkan tanggapan dan hasil yang justru baik. Di sinilah pentingnya cara, metode, atau strategi dalam dakwah Muhammadiyah. Dakwah Muhammadiyah saat ini, baik dakwah bil-lisan (perkataan, tulisan, media) maupun bil-hal (perbuatan, amaliah), sungguh memerlukan perbaikan atau pembaruan strategi seiring dengan masalah, tantangan dan perkembangan sasaran dakwah yang dihadapi. 72 Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah selama satu abad lebih sungguh telah melakukan berbagai upaya untuk menyebarluaskan dan mewujudkan ajaran Islam dengan menggunakan berbagai pendekatan sesuai sasaran dakwah. Dakwah Muhammadiyah terhadap orang atau kelompok yang telah beriman bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan keislaman, sedangkan terhadap mereka yang belum beriman bertujuan unutk mengajak menjadi Muslim. Pendekatan dakwah yang dilakukan menggunakan cara secara hikmah (bilhikmah), edukasi (wa al-mauidhat al-hasanah), dan dialog (wa jadil-hum billaty hiya ahsan) sebagaimana terkandung dalam al-Qur’an (QS. an-Nahl : 125). Heterogenitas Masyarakat Muhammadiyah memiliki kesadaran baru yang lebih kuat untuk berdakwah di kalangan kelompok sosial menengah dan atas maupun kelompok marjinal sebagaimana diputuskan pada Tanwir Bandung. Kedua kelompok sasaran dakwah tersebut ama pentingnya untuk didekati dan menjadi bagian dari dakwah Muhammadiyah. Jadi, tidak benar kalau dikaakan Muhammadiyah saat ini terlalu sibuk dengan isu dan dakwah bagi kaum dhu’afa-mustadl’afin (lemah dan terlemahkan). Sebaliknya tidak benar juga anggapan yang menyatakan Muhammadiyah terlalu elitis dalam gerakannnya, sebab apa yang dilakukan oleh almarhum Dr (HC) Said Tuhuleley bersama Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) menunjukkan fakta gerak ke bawah. Dalam pemikiran dakwah untuk kaum elit dan marjinal yang dibahas dan diputuskan di Tanwir Muhammadiyah Bandung tahun 2012 dinyatakan secara gamblang sebagai berikut. Bahwa dalam kondisi sekarang, perlu ada perubahan strategi yang relevan dengan dinamika masyarakat kontemporer yang terkait dengan status sosial-ekonomi yang selama ini belum menjadi perhatian yang sungguh-sungguh. Perbedaan status sosial-ekonomi telah terbukti menjadi faktor perbedaan pola hidup dan cara berfikir, dan dakwah akan menjadi efektif jika mempertimbangkan faktor itu. Karena itu, Muhammadiyah perlu merumuskan langkahlangkah strategis untuk menjadikan dakwah lebih efektif baik bagi kalangan kelas menengah atau elit (malak) maupun kalangan bawah (dhu’afa dan mustadl’afin). Nabi Muhammad selain memperhatikan kaum atas juga diperintahkan untuk menyantuni kaum bawah sebagaimana peristiwa turunnya Surat Abasa dalam al-Qur’an, Nabi bersama para sahabat dan kaum Muslimin menjadikan kaum dhu’afa sebagai bagian dari pembinaan umat dan risalah dakwah Islam. Pembebasan para budak seperti Bilal dan kawan-kawan, dihimpunnya mereka yang memerlukan santunan Nabi dan para dermawan di Dar Ash-Shufah, mengangkat martabat kaum perempuan, dan berbagai usaha dakwah lain merupakan wujud dari kehadiran Islam dan risalah Nabi akhir zaman sebagai pembawa misi pembebasan. Islam yang bertumpu pada tauhid dijadikan sebagai agama yang berperan untuk menegakkan keadilan dan membebaskan kaum lemah. Islam dan risalah Nabi yang demikian membawa misi 73 pencerahan (tanwir) yang bersifat membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan ke arah yang lebih baik, unggul, dan utama dalam peradaban rahmatan lil-’alamin. Muhammadiyah generasi awal yang dipimpin Kiai Haji Ahmad Dahlan telah memelopori dakwah bagi komunitas kaum lemah (dhu’afa mustadl’afin). Gagasan awal untuk mendirikan Muhammadiyah yang bersifat membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kaum dhu’afa secara inspiratif lahir dalam surat al-Ma’un. Kisah pelajaran al-Ma’un oleh Kiai Dahlan kepada para muridnya telah melegenda dalam sejarah Muhammadiyah. Fakta tersebut menunjukkan Muhammadiyah peduli dengan dakwah komunitas menengah ke atas (malak), sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan dakwahnya untuk mencerahkan kehidupan yang dijiwai dan disinari nilai-nilai ajaran Islam. Pada Tanwir Bandung juga dibahas, bahwa di samping soal dakwah untuk kelompok sosial atas dan bawah, sasaran dakwah (mad’u) juga dapat dibagi berdasarkan kategori jenis kelamin, umur, pendidikan, dan lain sebagainya. Kategorisasi seperti itu diperlukan untuk menentukan strategi dakwah yang tepat sesuai dengan problem yang dihadapi, gaya hidup (lifestyle) dan cara berfikir (mode of thinking) masing-masing. Menyadari bahwa masyarakat itu dapat dibagi dengan berbagai macam kategori, maka dalam agenda strategis ini difokuskan pembahasan pada sasaran dakwah dalam dua golongan sosial masyarakat. Pertama adalah masyarakat marjinal. Kedua adalah masyarakat menengah ke atas. Kedua kelompok ini dipandang penting karena selama ini Muhammadiyah belum memberikan perhatian yang cukup terfokus terhadap dakwah sesuai dengan status sosial-ekonomi itu. Dakwah Muhammadiyah secara luas dan terpola belum masuk secara intensif ke dalam kelompok marjinal, baik di perkotaan maupun pedesaan. Masyarakat yang terpinggirkan ini lebih banyak diberikan advokasi oleh beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan kelompok dakwah lainnya. Sementara itu, dakwah Muhammadiyah saat ini juga dipandang belum masuk secara spesifik dan intensif ke dalam masyarakat menengah ke atas di kota-kota besar, seperti di Jakarta dan kota-kota mteropolitan lainnya. Dakwah di kalangan kelas menengah ke atas kurang fokus dilaksanakan oleh Muhammadiyah. Harus diakui dakwah Muhammadiyah kurang dirasakan di tempat-tempat dengan jamaah kelompok strategis, seperti perkantoran lembaga-lembaga penyelenggara negara, perusahaan-perusahaan besar, hotelhotel berbintang, pusat-pusat perbelanjaan, perumahan mewah, dan tempat-tempat elit lainnya. Dakwah di tempat-tempat di atas lebih banyak diisi oleh kelompok-kelompok dakwah baru dengan nama dan kemasan baru. Karenanya menjadi penting pengembangan strategi dakwah Muhammadiyah bagi kelompok masyarakat marjinal serta kelompok menengah atas. 74 Perubahan Strategi Perkembangan lain menunjukkan, baik di kalangan bawah maupun menengah ke atas, terdapat kecenderungan baru yaitu mekarnya berbagai kelompok sosial yang dikenal sebagai komunitas khusus yang menggambarkan dinamika sosial baru di lingkungan perumahanperumahan tumbuh pesat di tanah air, yang semakin menambah segmentasi sosial dalam masyarakat. Demikian pertumbuhan daerah desa-kota yang memperluas kawasan sosial menjadi pedesaan (rural), perkotaan (urban), dan peralihan atau semi desa-kota (rurban) dengan ciri-ciri sosial yang berbeda satu sama lain. Perkembangan mutakhir ialah lahirnya komunitas dalam dunia sosial media yang sangat masif atau meluas jaringan dan strukturnya, sehingga melahirkan kelompok komunitas baru dalam kehidupan masyarakat yang bersifat kategorisasinya maya (cyber, virtual) tetapi nyata. Komunitas sosial media (sosmed) bahkan memiliki pengaruh yang luas dan kuat dalam relasi sosial baru, yang daya jelajahnya masuk ke ranah nasional dan global. Maka menjadi penting perubahan strategi dakwah Muhammadiyah lima tahun ke depan. Perubahan dan perkembangan masyarakat memerlukan perubahan dan perkembangan model dakwah sesuai dengan prinsip dakwah ‘ala uqulihim, yakni berdakwah dengan memahami dan menyesuaikan pada keadaan masyarakat yang didakwahi. Model strategi, metode, media, isi, dan sasaran dakwah konvensional yang selama ini dilakukan oleh Muhammadiyah tentu harus tetap berjalan karena dalam situasi tertentu dan bagi masyarakat tertentu masih dipandang tetap relevan. Namun pada saat yang sama model dakwah yang nonkonvensional atau bersifat baru juga sangat diperlukan agar Muhammadiyah mampu memasuki kawasan-kawasan komunitas baru sebagai ajang dakwah pencerahan yang strategis. Karena itu, diperlukan penguatan dan penajaman strategi dakwah yang relevan untuk setiap segmen sosial baik pada kalangan umat ijabah maupun umat dakwah, yakni melalui dakwah komunitas. Dalam pengembangan dakwah komunitas atau jamaah (community based) penting untuk dikembangkan pendekatan baru. Pendekatan dakwah kultural hasil Tanwir Denpasar (2002) dan Makassar (2003) perlu menjadi rujukan para penggerak Muhammadiyah dari tingkat Pusat hingga Ranting. Pendekatan dakwah kultural itu bukan membenarkan TBC seperti yang disalah artikan oleh sebagian kalangan, tetapi untuk memperkaya cara dan proses dalam berdakwah yang berusaha memahami alam pikiran masyarakat setempat (‘ala ‘uqulihim). Pemikiran dan pendekatan dakwah kultural sejalan dengan prinsip “bil himah”, “wa al-mauidhat al-hasanah”, “wa jadil-hum bi-laty hiya ahsan” (QS. an-Nahl : 125). Dalam buku Dakwah Kultural (2004) yang ditanfidzkan PP Muhammadiyah disebutkan bahwa, Dakwah Kultural ialah “upaya menanamkan nilai-nilai Islam dalam seluruh dimensi kehidupan dengan memerhatikan potensi dan kecenderungan manusia sebagai makhluk budaya secara luas, dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. 75 Secara sosiologis dalam mengembangkan dakwah kultural maupun dakwah komunitas berbasis gerakan, meniscayakan pendekatan atau strategi Pengembangan Masyarakat (Community Development) yang terpadu sebagaimana dipergunakan dalam Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ). Dalam pendekatan baru tersebut dua hal dijadikan pertimbangan dalam membangun masyarakat berbasis komunitas, yaitu pertama kebutuhan manusia untuk dapat hidup harmonis dengan sesamanya, yang kedua, manusia dapat hidup harmonis dengan lingkungannya. Dalam konteks dakwah Islam, ditambah satu dimensi lagi yang sifatnya utama, yaitu dimensi tauhid agar manusia menjalin habluminallah dengan sebaik-baiknya. Menurut perspektif Islam, bahwa kehidupan manusia akan mengalami kehancuran atau kerusakan jika kehilangan dua relasi yaitu habluminallah dan habluminannas (QS. ali-Imran : 112). Karenanya penting dalam dakwah pengembangan masyarakat dibangun harmonisasi manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam sekitarnya, sehingga terjadi keseimbangan yang holistik. Dalam konteks makro pendekatan dakwah yang berfokus pada model dakwah komunitas dengan pendekatan Community Development yang semakin dipertajam, bagi Muhammadiyah merupakan pilihan strategis dalam mewujudkan pemikiran dan langkah gerakan pencerahan yang dicanangkan untuk memasuki abad kedua. Muhammadiyah pada abad kedua berkomitmen kuat untuk melakukan gerakan pencerahan. Gerakan pencerahan (tanwir) merupakan praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Muhammadiyah dalam melakukan gerakan pencerahan berikhtiar mengembangkan strategi dari revitalisasi (penguatan kembali) ke transformasi (perubahan dinamis) untuk melahirkan amal usaha dan aksi-aksi sosial kemasyarakatan yang memihak kaum dhu’afa dan mustadh’afin serta memperkuat civil society (masyarakat madani) bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Dalam gerakan pencerahan, Muhammadiyah memaknai dan mengaktualisasikan jihad sebagai ikhtiar mengerahkan segala kemampuan (badlul-juhdi) untuk mewujudkan kehidupan seluruh umat manusia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat. Jihad dalam pandangan Muhammadiyah bukanlah perjuangan dengan kekerasan, konflik, dan permusuhan. Umat Islam dalam berhadapan dengan berbagai permasalahan dan tantangan kehidupan yang kompleks dituntut untuk melakukan perubahan strategi dari perjuangan melawan sesuatu (aljihadi li-al-muaradhah) kepada perjuangan menghadapi sesuatu (al-jihad li-al-muwajahah) dalam wujud memberikan jawaban-jawaban alternatif yang terbaik untuk muweujudkan kehidupan yang lebih utama. Disinilah pentingnya gerakan pencerahan diaktualisasikan dalm model dan strategi baru dalam pelaksanaan dakwah Muhammadiyah memasuki abad kedua. 76 Referensi o Intelektualisme Muhammadiyah Menyongsong Era Baru, Kuntowijoyo dkk, Miza o http://www.muhammadiyah.or.id/content-176-det-ciri-perjuangan.html o http://sangpencerah.com/2015/08/pembaruan-strategi-dakwah-muhammadiya.html 77 MATERI III IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH A. Pengantar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan sebuah organisasi otonom(ortom) muhammadiyah yang semenjak kelahirannya sampai dengan hari ini terus berusaha berbenah diri demi mewujudkan cita-cita besar yang di amanahkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Sehingga Dalam perjalanan kesejarahannya sampai dengan hari ini setiap bentuk gerak yang dilakukan oleh IMM merupakan perwujudan dari cita-cita muhammadiyah. Semenjak awal kelahirannya IMM telah menancapkan tujuan organisasinya yaitu sebagai upaya ”mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan muhammadiyah”, yang kemudian dari tujuan tersebut di jabarkan dalam bentuk misi yang harus di emban oleh seluruh anggota organisasi IMM, misi yang harus di emban tersebut terdapat dalam tiga ranah yaitu keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan. Namun sebelum lebih jauh kita membahas mengenai subtansi dari IMM itu sendiri, ada baiknya kita terlebih dahulu menelisik sejarahan dari lahirnya organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah itu sendiri. B. Sejarah IMM Sebelum menjabarkan subtansi yang ingin di sampaikan, dataam sesi ini penulis akan memulai pembahasan dengan melempar sebuah opini terkait kelahiran organisasi IMM, antara lain sebagai berikut : “Bahwa kelahiran dari organisasi IMM ditentukan oleh faktor internal yang ada di dalamnya, maka dalam hal ini kita semua tidak dapat memisahkan persyarikatan muhammadiyah sebagai induk dari IMM. atau dalam bahasa lain kelahiran IMM searah dengan faktor mengapa persyarikatan muhammadiyah di dirikan. Maka dari itu segala bentuk upaya yang di lakukan oleh persyarikatan muhammadiyah (termasuk dengan mendirikan IMM) merupakan bentuk gerak demi mencapai citacita persyarikatan muhammadiyah itu sendiri” Namun tidak adil rasanya jikalau penulis memaksa untuk memahami apa yang menjadi opini pribadi. Maka dari itu akan di paparkan keadaan-keadaan yang mengharuskan didirikannya organisasi IMM pada waktu itu, secara umum dapat digolongkan menjadi 3 hal, yaitu : 1. Keadaan kehidupan Muhammadiyah 2. Keadaan kehidupan umat dan bangsa. 3. Keadaan kehidupan kemahasiswaan. 78 Kemudian dalam bukunya, Kakanda Farid Fatoni menjabarkan keadaan tersebut menjadi 8 poin yang merupakan faktor-faktor yang mendesak kelahiran IMM pada saat itu, yaitu sebagai berikut24 : 1. Situasi bangsa yang tidak adil , pemerintahan yang otoriter dan tunggal di Indonesia. 2. Terpecahnya umat islam dan bentuk saling curiga dan fitnah serta kondisi politik umat islam yang semakin buruk. 3. Terbingkainya kehidupan mahasiswa yang berorientasi pada kepentingan politik praksis. 4. Masih membekasnya imbas dari Imperialisme yaitu kebodohan dan kemiskinan. 5. Merosotnya kehidupan beragama dan akidah ummat serta kehidupan materialistikindividualis. 6. Sedikitnya pembinaan agama di lingkup kampus dan masih tingginya budaya sekuler. 7. Masih maraknya praktik-praktik bid’ah, syirik dan misionaris kristen. 8. Kehidupan ekonomi sosial dan politik semakin memburuk. Beberapa faktor di atas menjadi semangat mengapa IMM harus lahir dan diadakan untuk menjawab permasalahan yang ada. Meski pada mulanya mahasiswa anggota Muhammadiyah cukup dimasukan dalam wadah Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul aisyiah , namun hal itu dirasa kurang karena memang lahan garapan yang berbeda dan tidak langsung menyentuh dalam area masyarakat mahasiswa secara umum. Sehingga pada muktamar ke 25 di jakarta pada tahun 1936 yang diketuai KH. Hisyam (1934-1937) mulai muncul bibit untuk diadakanya organisasi otonom dalam tataran masyarakat mahasiswa.Ide itu dimunculkan karena adanya keinginan Muhammadiyah untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah.Maka pasca muktamar ke-25 tersebut dikatakan adanya penghimpunan mahasiswa yang sehaluan dengan arah dan tujuan muhammadiyah.25 Adapun maksud dan tujuan berdirinya organisasi kemahasiswaan yang searah dengan muhammadiyah (nantinya disebut IMM ) adalah :26 1. Turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa. 2. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam. 3. Sebagai upaya menopang melangsungkan dan meneruskan cita-cita pendirian Muhammadiyah. 4. Sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna amal Muhammadiyah. 24 Farid Fathoni : Kelahiran Yang dipersoalkan, 1990: 102 NoorChozin Idgham : Trikopentesi dasar, Peneguhan Jati Diri Ikatan ,2007 : 3 26 Farid Fathoni : Kelahiran Yang dipersoalkan, 1990: 103 25 79 usaha amal usaha 5. Membina, meningkatkan dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa umat dan persyarikatan. Namun demikian upaya untuk menghimpun dan membina mahasiswa muhammadiyah itu vakum, dan tidak berjalan dengan lancar karena Muhammadiyah belum memiliki perguruan tinggi Muhammadiyah.Sehingga para kader Muhammadiyah yang sekolah diperguruan tingi negeri maupun swasta tetap diwadahi oleh ortom yang sudah ada yaitu Pemuda Muhammadiyah (PM), Nasyiatul Aisyiah (NA) maupun hisbul wathan (HW). Kemudian pada perkembanganya , para mahasiswa yang tergabung dalam ke-3 ortom tersebut merasa perlu untuk berkumpul dengan kalangan mahasiswa tersendiri. Sehingga alternatif yang dijalankan adalah bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sehingga sempat terdapat isu yang bergulir bahwa HMI adalah anak dari Muhammadiyah yang membawa misi kusus dari Muhammadiyah, karena pada waktu itu di tubuh HMI di pimpin dan banyak di isi oleh tokohtokoh muhammadiyah dan kader-kader muhammadiyah.27 Serta kalau kita tilik sejarahnya,ada satu hubungan yang tidak kentara anta HMI dan Muhammadiyah, hubungan dekat yang tak kentara ini selanjutnya sangat mempengaruhi terhadap perjalanan IMM. Hubungan kedua organisasi ini bisa dilihat dalam perjalanan organisasinya, misal sewaktu lafrane pane mau menjajaki pendirian HMI, dia bertukar pikiran dengan prof. Abdul Kahar Mudzakir (tokoh muhammadiyah pusat) dan beliau sangat setuju. Pendiri HMI yang lain adalah maisarah hilal (cucu KHA. Dahlan) juga aktivis Nasyiatul Aisyah, yusdi Ghozali, anton timur jaelani, dll. Bila praduga ini benar adanya maka benar asumsinya “bila muhammadiyah pada waktu itu tidak perlu menghimpun atau membina langsung sebab sudah ada HMI, artinya pengkaderan itu bisa dititipkan HMI.28 Namun seiring perkembangan zaman dengan adanya aliran-aliran isma seperti pemikiran asy syari’at, syiah, muktazillah, nasionalisme, sekularisme, pluralisme yang mewarnai tubuh HMI. Dan di dukung dengan kondisi terdesaknya HMI setelah adanya CGMI yang dianggap underbow dari PKI untuk memaksa untuk HMI dibubarkan. Melihat fenomena tersebut maka Pimpinan pusat Muhammadiyah membuat sebuah kebijakan untuk menarik semua kader-kader muhammadiyah dari HMI, dalam upaya menyelamatkan kader muhammadiyah di tingkatan sekolah menegah atas dan perguruan tinggi.29 Kelahiran IMM memang cukup panjang dan pada saatnya memang tidak dapat ditunda lagi kelahirannya, setelah melihat beberapa faktor yang melingkupinnya.Muhammadiyah mulai sadar, bahwa HMI yang semula wadah alternatif dari penitipan pembinaan kadernya secara tidk langsung ternyata mempunyai arah tersendiri. Kesimpulannya bahwa proses 27 NoorChozin Idgham : Trikopentesi dasar, Peneguhan Jati Diri Ikatan ,2007 : 4 Farid Fathoni : Kelahiran yang dipersoalkan, 1990 : 94 29 NoorChozin Idgham : Trikopentesi dasar, Peneguhan Jati Diri Ikatan ,2007 : 5 28 80 kaderisasi ternyata tidak dapat dititipkan begitu saja kepada pihak lain. Bahwa bagaimana pun proses kaderisasi pada akhirnya melahirkan satu proses kristalisasi pemikiran, sikap sebagai akibat dari proses pengumulan ide dan perilaku.30 Sehingga pada 18 juli 1955 keinginan muhammadiyah untuk membentuk perguruan tinggi Muhammadiyah melalui struktur kepemimpinan membentuk departemen pelajar dan mahasiswa yang menampung aspirasi aktif dari pelajar dan mahasiswa telah terwujud yaitu dengan didirikanya PTM di Padang Panjang yang memiliki dua fakultas yaitu hukum dan filsafat, namun karena pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) maka ke-dua fakultas tersebut vakum. Kemudian berdiri kembali PTM di jakarta yang kemudian diganti nama menjadi IKIP. Diteruskan pada 1958 mulai dirintis fakultas serupa di Surakarta, di Yogyakarta dan Jakarta berdiri juga fakultas ilmu sosial.Karena semenjak tahu 1958 perguruan tinggi Muhammadiyah mulai berkembang pesat maka ide-ide untuk mengembangkan IMM semakin kuat pada tahun 1960 an. Ketika Pemuda Muhammadiyah melakukan muktamar pertama di palembang pada tahun 1956, PP Muhammadiyah memberikan amanah untuk membuat study group untuk mahasiswa-mahasiswa dari Malang, Yogya, Surabaya, Padang, Ujung Pandang, dan Jakarta . menjelang muktamar muhammadiyah muhammadiyah di Jakarta pada tahun 1962, sekaligus diadakan kongres mahasiswa muhammadiyah di yogyakarta pasca muktamar jakarta untuk melepaskan departemen kemahasiswaan untuk berdiri sendiri. Pada tahun 15 desember 1963 Djzasman Al-kindi menggagas untuk adanya penjajakan kepada mahasiswa-mahasiswa yang searah dengan muhamadiyah, hal itu dimulai dengan didirikanya dakwah mahasiswa yang dikordinir oleh : 1. Ir. Margono 2. Dr. Sudibyo Markoes 3. Drs. Rosyad Saleh Kemudian adanya desakan-desakan untuk membentuk organisasi Muhammadiyah dalam tataran Mahasiswa di Jakarta, semakin memperkuat PP Muhammadiyah untuk segera membentuk Organisasi ke-Muhammadiyahan yang berbasis pada mahasiswa. Setelah beberapa desakan dari kalangan mahasiswa, maka dengan restu PP Muhammadiyah yang waktu itu diketuai oleh H. A. Badawi, mengizinkan untuk didirikan organisasi Mahasiswa Muhammadiyah yang diketuai oleh Drs. Moh. Dzazman Al-Kindi, dan beranggotakan M. Husni Tamrin, Rosyad Shaleh, Sudibjo Markoes, Moh. Arief , dan lain-lain. Kemudian pada tanggal 14 maret 1964 Dzazman Al-Kindi menetapkan nama untuk organisasi mahasiswa muhammadiyah dengan nama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Yogyakarta yang 30 Farid Fathoni : kelahiran yang dipersoalkan, 1990 : 105 81 diresmikan oleh PP Muhammadiyah yang diketuai H. A. Badawi dan disaksikan oleh badan pembantu pemerintahan DIY yaitu H. Tanhawi. Adapun peresmian tersebut ada dengan ditanda tanganinya 6 penegasan IMM oleh H. A. Badawi, yang berisi : 1. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan Mahasiswa Islam. 2. Menegaskan bahwa kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM. 3. Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam muhammadiyah. 4. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, dan falsafah negara yang berlaku. 5. Menegaskan bahwa Ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah. 6. Menegaskan bahwa amal IMM dilahirkan dan di abdikan untuk kepentingan rakyat. Kemudian pada tanggal 1-5 Mei 1965 dilakukan Muktamar pertama kali IMM di kota Barat, Solo dan menghasilkan deklarasi Solo, yang berisi prinsip gerakan IMM sebagai berikut : 1. IMM adalah gerakan Mahasiswa Islam. 2. Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM. 3. Fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam muhammadiyah. 4. Ilmu adalah amaliah IMM, dan amal adalah ilmiah IMM. 5. IMM adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, dan falsafah negara yang berlaku. 6. Amal IMM dilahirkan dan di abdikan untuk kepentingan agama, nusa dan bangsa. C. Ide Dasar gerakan IMM Layaknya seperti organisasi pergerakan lainnya, IMM merupakan sebuah wadah untuk membangun kesadaran berpikir dan menumbuhkan idiealisme gerakan bagi seorang mahasiswa. Walaupun dengan tafsir yang berbeda-beda, dan beragam dalam gerakan praksisnya, namun disanalah keistimawaan dan keunikan yang di miliki oleh mahasiswa yang aktif dalam wadah yang modelnya seperti organisasi IMM. Namun secara umum sebenarnya tidak ada yang membedakan gerakan yang di lakukan oleh IMM dengan organisasi-organisasi mahasiswa lainnya jika IMM tidak memiliki karakter kusus yang kemudian melekat dalam diri tiap anggota organisasinya. Maka dari itu organisasi IMM memiliki karakter dalam geraknya, yang kemudian tercermin pada kader-kader ikatan progresif. Karakter gerakan IMM tersebut tertuang dalam ide dasar gerakan IMM yaitu Vision, Value, dan Courage, adapun tafsir dari ke-tiga ide dasar gerakan IMM tersebut sebagai berikut : Vision : 82 membangun tradisi intelektual dan wacana pemikiran melalui intelectual enligthement (pencerahan intelektual) dan intelectual enrichment (pengkayaan intelektual). Hal ini menjadi sangat wajar dan sangat fundamental karena IMM bergerak dalam ranah kemahasiswaan, dimana seorang mahasiswa bagian dari masyarakat intelektual. Maka ikatan melakukan pembinaan untuk memunculkan kantong-kantong intelektual muda yang progresif dengan kajian dan bacaan yang beragam. Sehingga menjadi pertanyaan besar apabila seorang kader ikatan yang menolak kadernya untuk berwacana, sejatinya sebuah gerakan berawal dari wacana yang terus di gulirkan dan dibicarakan. Masih sangat disayangkan kegiatan-kegiatan yang mendorong untuk tercapainya ide dasar gerakan ikatan ini sekarang sangat jarang kita temui. Bahkan pada tataran akar rumput (baca-komisariat) mereka sangat jarang menyadari hal ini. Fakta dilapangan dapan kita lihat bagaimana kegiatan-kegiatan ikatan banyak yang terjebak pada kegiatan pragmatis. Hal ini akan berakibat fatal bagi sebuah gerakan mahasiswa karena sudah keluar dari visi besar sebuah ikatan. Membaca dan mengkaji literatur ataupun fenomena yang terjadi dimasyarakat sudah jarang dilakukan padahal ini sangat dibutuhkan untuk mempertajam pisau analisis seorang kader (mahasiswa). Disini seharusnya ikatan dapat menjawab problem yang muncul dimasyarakat baik dalam ranah pemahaman keagamaan maupun dalam ranah fiqih sosial. Maka kehadiran organisasi akan dirasakan oleh masyarakat, dengan pembelaan kaum-kaum tertindas. Value : usaha untuk mempertajam hati nurani melalui penanaman nilai-nilai moral agama sehingga pemikiran dan konseptual yang mendapatkan pembenaran dari Al Qur’an. Kematangan intelektual memang sudah menjadi kebutuhan primer bagi seorang mahasiswa (kader ikatan). Maka dengan memiliki banyak gagasan maka analisis dan kepekaannya tidak akan mandul. Namun hal itu masih belum cukup untuk menjadi seorang kader ikatan ada satu hal pokok yaitu hati nurani sebagai pondasi dalam melakukan aksi intelektual dan pemikiran. Dimana nilai-nilai ketuhanan terintergrasi dalam jiwa seorang kader dan dapat diejawantahkan dalam gerakan praksis dilapangan. IMM yang berideologi Islam tentunya segala gerakan harus disandarkan pada dalil normatif teologis ini menjadi keunggulan kader ikatan, selain pembinaan wacana intelektual dan pemikiran dibina juga untuk hubungannya dengan Tuhan(transenden). Dengan bergerak dan berfikir untuk kemajuan Islam, walau kita sadari bahwa tidak semua kader ikatan bisa seperti itu. Namun dengan cara-cara untuk 83 sampai kearah hal itu terus dilakukan. Agar kejumudan berfikir dikalangan kader ikatan mulai terkikis dengan mendapatkan nutrisi informasi dan pengetahuan keagamaan. Sehingga agama tidak hanya dipahami sebagai sebuah teori dan dalil tetapi dapat dirasakan oleh semua umat manusia, oleh karena itu Islam bersifat rahmatalil alamin. Courage : keberanian dalam melakukan aktualisai program. Tidak jarang kita menemuai sebuah organisasi yang memiliki begitu banyak program kerja untuk mewujudkan visinya. Namun kadang tidak selalu dapat dilaksanakan dengan baik kadang hanya beberapa persen saja yang dapat terlaksana dengan baik. Bahkan tidak jarang kita temuai program kerja hanya menjadi hiasan lemari arsip. Tanpa tahu kapan akan dilaksanakan. Disinilah butuh seorang pemikir yang bisa menginternalisasikan sebuah program kerja menjadi wujud nyata. Jangan hanya merasa mapan dengan kedudukan yang sedang diembannya namun harus juga ditunaikan tanggung jawabnya sebagai seorang yang beriman yang memiliki kepercayaan akan adanya yaumul hisab. Kader ikatan yang progresif akan melaksanakan program dengan sungguhsungguh karena bukan hanya sebuah kewajiban akan tetapi seubuah keharusan. Manusia yang menjadi khalifah Allah di bumi harus menunaikan amanahnya sebagai khalifah dan bentuk menunaikannya adalah dengan mengaktualisasikan pemahaman keagaman kedalam aksi nyata. Sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang dimiliki yang diwujudkan langsung, hal ini akan didapat dengan wacana yang berubah menjadi gerakan nyata. D. Tujuan IMM “ Mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan muhammadiyah” E. Identitas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Dalam sejarah kelahirannya organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pun merumuskan idientitas dari organisasi IMM yang kemudian seharusnya hal tersebut seharusnya melekat dalam setiap perkembangan organisasi. Adapun idientias IMM sebagai berikut : - Ikatan mahasiswa muhammadiyah adalah organisasi kader yang bergerak di bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan dalam rangka mencapai tujuan muhammadiyah. 84 - Sesuai dengan gerakan Muhammadiyah, maka Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memantapkan gerakan dakwah ditengah-tengah masyarakat khususnya kalangan mahasiswa. - Setiap anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah harus mampu memadukan kemampuan ilmiah dan akidahnya - Oleh karena itu setiap anggota harus tertib dalam ibadah, tekun dalam studi dan mengamalkan ilmunya untuk menyatalaksanakan ketakwaan dan pengabdiannya kepada Allah SWT. F. Trilogi IMM - Keagamaan - Kemahasiswaan - Kemasyarakatan G. Tri kompetensi dasar - Religiusitas - Intelektualitas - Humanitas H. Slogan IMM “Anggun Dalam Moral, Unggul Dalam Intelektual, Billahi Fi Sabilillhaq, Fastabiqul Khairat” I. Nilai dasar Ikatan - IMM adalah gerakan mahasiswa yang bergerak tiga bidang keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan - Segala bentuk gerakan IMM tetap berlandaskan pada agama islam yang hanif dan berkarakter rahmat bagi sekalian alam - Segala bentuk keadilan, kesewenang-wenangan dan kemungkaran adalah lawan besar gerakan IMM perlawanan terhadapnya adalah kewajiban kader IMM. - Sebagai gerakan mahasiswa yang berlandaskan islam dan berangkat individu-individu mukmin, maka kesadaran melakukan syariat islam adalah suatu kewajiban dan sekaligus mempunyai tanggung jawab untuk mendakwahkan kebenaran di tengah masyarakat. - Kader IMM merupakan inti masyarakat utama yang selalu menyebarkan cita-cita kemerdekaan, kemuliaan dan kemaslahatan masyarakat sesuai dengan semangat pembebasan dan pencerahan yang dilakukan Nabiyullah Muhammad Saw. J. Profil Kader Ikatan - Memiliki keyakinan dan sikap keagamaan yang tinggi agar keberadaan di Ikatan di masa yang akan datang mampu memberi warna masyarakat yang mulai meninggakan nilai-nilai agamawi. 85 - Memiliki wawasan dan kecakapan memimpin karena keberadaan kader ikatan bagaimanapun merupakan potensi kepemimpinan umat dan kepemimpinan. - Memiliki kecendikiawanan, mengingat spesialisasi dan profesionalisasi mempersempit cakrawala berpikir dalam sub bidang kehidupan yang sempit. - Memiliki wawasan dan ketrampilan berkomunikasi, mengingat bahwa masa yang akan datang industri informasi akan mendominasi sistem budaya kita. Hal ini juga inhern dengan watak Islam yang dalam keadaan apapun juga selalu siap melaksanakan amar ma’ruf Nahi Munkar sebagai essensi dari komunikasi Islamisasi. 86 MATERI IV ORGANISASI Definisi Organisasi Organisasi (Yunani: ὄργανον, organon - alat) adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama. Organisasi secara etimologi atau arti bahasa di ambil dari kata Organon yaitu alat music dan Organum yang pada pertengahan abad ke 14 yaitu suatu bagian tubuh yang memiliki kemampuan atau fungsi tertentu, organon dapat juga berarti wadah atau tempat, yang mendapat imbuhan –isasi yang berarti penerapan prinsipnya atau prosesinya. Sehingga secara terminologi organisasi merupakan suatu wadah yang terdiri dari beberapa orang yang memiliki tujuan bersama, yang menjadikannya sebagai alat untuk mencapai tujuan bersama tersebut. Unsur-unsur pembentuk organisasi Secara hakikat organisasi merupakan kesatuan dari beberapa unsur pembentuknya yakni: - baik unsur sumber daya manusianya atau anggotanya; - sistem yang ada didalamnya termasuk struktur dan fungsinya; - tujuan yang ingin dicapai; - pemimpin atau pimpinan dalam organisasi; serta unsur-unsur lainnya yang dimana setiap unsur tersebut memiliki saling keterhubungan yang erat, oleh karena itu dalam berorganisasi kita akan mengenal suatu hubungan atau interaksi seperti halnya kita melakukan keterhubungan dan interaksi sosial dalam bermasyarakat namun tentunya dalam lingkup yang lebih kecil. Maka dari itu organisasi merupakan tempat belajar untuk mempersiapkan diri dalam berkehidupan dimasyarakat, atau bisa dikatakan organisasi merupakan sekolah bagi rakyat. Prinsip-prinsip pembangunan organisasi Dalam organisasi tidak bisa dipisahkan persoalan teori dan praktek. Ia merupakan kesatuan yang utuh tak terpisah-pisah. Dalam segala pekerjaan organisasi, tiap-tiap kader harus memahami prnjelasan teoritik dari pekerjaan tersebut dan memiliki pengalaman berpraktek langsung atas pekerjaan tersebut. Pemahaman atas teori hanya dapat diukur dari kecocokannya dalam menjalankan hal tersebut dalam berpraktek. Begitu pula sebaliknya, satu praktek yang baik, pasti dibimbing dan atau menghasilkan teori yang tepat pula. Kesenjangan antara salah satu hal dari kedua hal tersebut adanya akan menghasilkan intelektualisme di satu sisi ataupun aktivisme maupun heroisme belaka disisi yang lain. Kader organisasi harus cakap dalam memberikan jalan keluar/solusi atas persoalan yang terdapat dalam organisasi atau masalah yang berada ditengah-tengah masyarakat. Atau 87 dengan kata lain, kader organisasi harus cakap dalam menghadapi segala bentuk situasi apapun dan mampu memberikan jalan keluar/solusi. Dalam organisasi pimpinan atau pengorganisir harus memiliki hubungan erat dengan kader. Ia tidak boleh ekslusif ataupun terisolasi dari kader, Ia harus mampu menyerap sebanyak mungkin segala hal dari kader, mulai dari pendapat dan pandangan-pandangan kader, informasi, dukungan sukarela (tenaga maupun logistik) dan sebagainya. Selanjutnya semua yang didapat dari kader dianalisa dengan cara berfikir yang benar sehingga kemudian menghasilkan satu rancangan solusi untuk tindakan bersama. Selanjutnya, rancangan solusi didiskusikan lagi dengan kader sampai terwujudnya pemahaman dalam bertindak. Dalam setiap keputusan dan pekerjaan organisasi yang telah dijalankan haruslah dlakukan proses evaluasi atau penilaian dan koreksi terhadap kekurangan, kesalahan-kesalahan atau segi-segi negatif, maupun keberhasilan-keberhasilan, kemajuan atau segi-segi positif dari keputusan yang telah diambil dan pekerjaan yang telah dilakukan. Penilaian atau penilaian ini tidak boleh berat sebelah. Tidak tepat untuk membesar-besar keberhasilan maupun mebesar-besar kesalahan. Begitu pula sebaliknya. Penilain atau evaluasi ini juga dapat dilakukan menyangkut perilaku atau tindakan individu anggota organisasi yang dianggap butuh dinilai kaitannya dengan keberadaan organisasi. evaluasi ini juga harus menjauhkan diri dari prasangka-prasangka maupun praduga subjektif. evaluasi harus dijalankan secara reguler dan terus menerus secara ketat untuk kemajuan organisasi. Dalam menjalankan aktivitas organisasi kita dituntut untuk bekerja bersama, dalam artian kita harus saling membantu sesama anggota organisasi untuk dapat menyelesaiakan pekerjaannya. Membantu disini mempunyai batasan yakni memahamkan serta membimbing kawan kita untuk menyelesaikan pekerjaannya ketika belum paham. Jadi membantu disini bukanlah mengambil alih tanggung jawab akan tetapi membantu dalam artian mengarahkan dan memahamkan agar keja-kerja organisasi bisa lebih efektif. Referensi: - Buku hasil pembahasan forum bidang kader IMM UMM 2015-2016. 88 MATERI V PENGANTAR FILSAFAT Manusia dengan potensi akal sehat dan kemampuan bernalarnya, cenderung terdorong untuk mempertanyakan segala sesuatu. Baik yang tampak/ indrawi, maupun sesuatu yang mungkin ada dibalik nyata. Kecenderungan untuk terus “mempertanyakan” tersebut adalah konsekuensi logis dari kepemilikan manusia atas akal sehatnya yang merupakan sebuah keniscayaan, manusiawi, anugerah atau bisa juga sebagai musibah. Potensi nalar atau akal sehat merupakan hal yang paling merata dan alami di dunia, sebab setiap orang merasa cukup memilikinya. Sebagai bukti, tidak ada orang yang sudi apabila dikatakan bahwa “Aku lebih berakal sehat/ lebih bernalar daripada Kau”, hal tersebut menunjukkan bahwa kepemimilikan manusia atas akal sehat/ nalar adalah setara dan terjadi secara alami. Dengan demikian, keaneragaman pendapat muncul bukan karena orang yang satu lebih bernalar daripada yang lain, melainkan semata – mata terjadi karena keberbedaan cara bernalar dan cara menimbang. Rene Descartes (2015) mengatakan bahwa kelebihan atau kekurangan tentang ide dan tindakan hanyalah menyangkut hal – hal sekunder, dan sama sekali tidak terletak dalam substansi, atau kodrat individu – individu dari jenis yang sama. Manusia terlahir memiliki dualitas dimensi, antara dimensi superioritas dan inferioritas. Dimensi superioritas manusia merupakan bahan mentah yang tidak mungkin didapatkan dengan sulap, melainkan harus dicapai dengan proses yang berat (memang betul, manusia itu superioritas, tetapi apabila dibandingkan dengan binatang dan makhluk lain), melalui potensi akalnya. Artinya, sesungguhnya ketika manusia dilahirkan ke dunia, ia adalah “binatang” yang lemah dan inferior. Akan tetapi, manusia akan terus tumbuh untuk selalu mencapai dimensi superior dengan kemampuan bernalarnya. Begitu banyak rahasia dalam alam Tuhan ini. Manusia tidak tahu, tetapi ingin selalu tahu. Langit lazuardi yang megah berwarna biru bagaikan selimut, bintang – bintang cakrawala, matahari yang hangat menyengat, rembulan yang indah bagai puisi, angin sepoi sepoi yang basah, hujan rintik yang memanenkan tanaman, tampak semua apabila kita menengadah ke atas. Apabila kita tukikkan pandangan kebawah, tampak lautan yang luas, tanah yang subur, ribuan tumbuhan yang sumilir, binatang – binatang buas, semut, kelinci, microorganism dan margasatwa yang hidup diatas hamparan bumi. Lalu, terlihat pula bangsa manusia sendiri, hidup berkelompok membangun masyarakat, seorang Ibu menyusui anaknya, seorang Bapak payah mencari makan, maka lebih dekat tampak pulalah diri kita sendiri, dengan keajaiban dan keunikannya. Gelisah, heran, takjub dan terasa bahwa diri kita dipenuhi oleh tanda tanya, seribu tanda tanya: Apakah itu?, dari manakah datangnya?, ke manakah sesudahnya? _ rahasia dan penuh rahasia_ Bila sedang berpikir hendak menyelidiki, hendak tahu apakah rahasia itu, kembalilah segala tanda tanya yang sulit tadi kepada yang bertanya: mengapa saya bertanya?, 89 untuk apa saya bertanya?, apa hakikat bertanya?, dan siapa saya?_rahasia_. Semua orang berkeinginan untuk memecahkan semua rahasia – rahasia besar itu. Sebab itu, sesungguhnya semua manusia hakikatnya adalah calon filosof yang gemar dan akan selalu berfilsafat. Sejak zaman Yunani kira – kira 2.000 tahun yang lalu, manusia telah mengenal kata filsafat, atau falsafah, falsafah atau philosofie. Kata – kata itu terdiri dari dua suku kata yang dijadikan satu, yaitu philos dan sofos, philos artinya penggemar dan sofos artinya kebijaksanaan, ilmu, dan hikmah. Sedangkan hikmah dalam bahasa Arab, boleh diartikan ke dalam bahasa Indonesia sebagai rahasia (Hamka, 2015). Tanah Yunani adalah sumber pertama daripada orang – orang yang memusatkan perhatian kepada rahasia – rahasia itu, meskipun secara kronologis, tanah Mesir telah meninggalkan bengkalai – bengkalai soal – soal filsafat yang belum tuntas. Di Miletos, tempat perantauan orang yunani, di sanalah awal mula munculnya filsafat. Mula – mula jejak sejarah awal filsafat ini, ditandai dengan munculnya tokoh – tokoh pemikir besar pada zamannya, seperti Thales, Anaximandros dan Anaximanes. Thaleslah yang pertama kali mempersoalkan “substansi terdalam dari segala sesuatu”, dan dari sanalah munculnya pengertian – pengertian tentang kebenaran yang hakiki. Para filsuf kuno yang datang kemudian seperti Heraclitus, Permenides, Zeno, Demokritus dan lainnya, asyik dalam perburuan yang tiada tepi itu. Kemudian sampailah pada zaman Socrates, yang hidup sekitar abad ke 4 sebelum masehi, Sang tokoh abadi ini telah mengubah jalannya sejarah filsafat. Dialh filsuf pertama yang membumikan filsafat dari penjelajahannya di “awang – awang”. “Kenalilah dirimu sendiri, siapakah kita ini, manusia makhluk kecil yang nampak tiada berarti di tengah alam raya yang luas?” Pertanyaan besar yang diajukan oleh Socrates ini menjadi padang perburuan baru pemikiran kefilsafatan yang datang kemudian. Dilanjutkan oleh muridnya Plato, lalu Aristoteles, dan akhirnya berkembang hingga cabang – cabangnya yang terkecil, sejak masa filsafat yang pertama, masa pertengahan, hingga alam pikiran filsuf modern. Dari orientasi pemikiran terhadap diri manusia inilah munculnya orientasi pemikiran terhadap segala alam yang maujud, untuk diabdikan bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Tujuan dari filsafat adalah untuk membebaskan diri manusia terhadap segala bentuk pengkerdilan dan perbudakan akali (Louis, 1992). Secara umum, tujuan filsafat adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia akan “jawaban” tentang segala yang ada dan ataupun segala yang ada dibalik “ada”. Kemudian, fungsi filsafat bagi manusia secara lebih operasional adalah sebagai berikut: (a) Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan tindakan, (b) Filsafat memberikan jawaban benar sebagaimana adanya benar, (c) filsafat mendorong manusia untuk melakukan penilaian terhadap semua bentuk kenyataan, (d) filsafat mengumpulkan 90 pengetahuan manusia sebanyak mungkin, (e) Filsafat akan menemukan hakikat, (f) Filsafat memberikan kerangka berfikir yang rigit. Pada ahirnya, dalam penulisan pengantar filsafat ini, saya meyakini apa yang saya tulis di lembar kertas ini tidak mampu secara mutlak mewakili apa yang ada didalam akal saya, dan mungkin berbeda pula dengan apa yang ada dibenak anda. Namun harapannya, sebagai pengantar, dengan penulisan ini, setidaknya mampu memberikan inspirasi untuk anda agar selalu gemar menjelajahi ruang kefilsafatan dan sedikit penerang dari apapun yang membuat anda buntu. Karena kebuntuan nalar, merupakan sesuatu yang menyedihkan. “SESUNGGUHNYA, perbudakan akali jauh lebih menyedihkan ketimbang perbudakan ragawi. Apabila seseorang diperbudak secara ragawi, setidaknya tubuhnya akan mendapat perawatan sedemikian rupa sehingga ia mampu bekerja. Tapi, apabila seseorang diperbudak secara akali maka segala cara dan tindakan akan diperbuat untuk mengauskan akal pikrannya, sehingga akal pikiran tersebut tidak dapat bekerja lagi dan teramat sulit untuk disembuhkan. Referensi Kattsoff, Louis. 1992. Pengantar Filsafat. (Penerjemah Soejono Soemargono). Banten: Tiara WacanaYogya Descartes, Rene’.2015. Diskursus dan Metode: Mencari Kebenaran dalam Ilmu Pengetahuan. (Penerjemah Ahmad Faridl). Yogyakarta: IRCISoD Foucault, Michel. 2012. Arkeologi Pengetahuan. (Penerjemah Inyiak Ridwan). Yogyakarta: IRCISod Hamka. 2015. Falsafah hidup. Jakarta: Republika Penerbit 91 MATERI VI Gerakan Mahasiswa Sejarah Gerakan Mahasiswa. Sembari merefleksikan dan mengingat bagaimana proses sejarah perlawanan terhadap kolonialisme dan kapitalisme yang terjadi dibangsa ini, penjajahan yang dilakukan oleh kolonial Belanda selama kurang lebih tiga setengah abad lamanya rakyat indonesia diekplotasi dan menjadi budak dinegeri sendiri. Akan tetapi dengan adanya kesadara dan penyadaran yang diprakarsai oleh kaum intelektual yang mana itu lahir dari kaum pemuda terpelajar, dengan melahirkan tokoh-tokoh revolusioner seperti Soekarno, Hatta, Tan Malaka,Sjahrir, jend.Sudirman, Bung Tomo, Ahmad Dahlan,KH.Hasyim Asyari, Kie Hajar diwantoro dll. Dengan lahirnya kaum terpelajar tersebut bangsa indonesia mampu bersatu, yang mana awalnya bangsa indonesia masih tercerai berai dengan adanya gerakan sektarian (kedaerahan) dan watak primordiaslisme yang masih menjadi virus yang ampuh untuk dimanfaatkan oleh penjajah, kaum bujuasi atau tuan tanah dijadikan alat untuk penindasan dan penghisapan terhadap rakyat nya sendiri, itu tidak lepas dari cengkraman kolonial untuk merubah mental mental rakyat semakin tunduk melalui tawaran tawaran kesejahteraan terhadap bangsawan dan tuan tanah yang masih banyak bercokol pada saat itu, akan tetapi dengan lahir nya kaum terpelajar (intelektual organik) yang sadar dalam melakukan penyadaran terhadap rakyat, dengan membentuk organisasi seperti Boedi Oetomo, kaum pelajar mampu meleburkan diri menjadi satu kesatuan bersama garis massa rakyat utuk melawan penjajahan. Peran-peran intelektual ini tidak bisa dikatakan sedikit dalam pergolakan kemerdekaan BangsaIndonesia dari jajahan Belanda dan Jepang. Meski toh pada akhirnya mereka dilengserkan, pemikiran-pemikirannya dicekal dan karyanya dilarang terbit, bahkan beberapa dari mereka tidak diperkenalkan dalam kurikulum pendidikan dasar sebagai tokoh pejuang sejarah kemerdekaan Indonesia. Pelajar dilevel mahasiswa sebagai agent of change and agent of control harusnya menjadi motor dari perubahan demi terwujudnya masyarakat sejahtera dan berkeadilan sosial. Bukannya menjadi “anjing penjilat” dari kebijakan-kebijakan pemerintah demi keuntungan minoritas belaka. Tentunya pada pra kemerdekaan lahir tokoh-tokoh seperti yang sudah disebutkan diatas,peran-peran intelektual ini tidak bisa dikatakan sedikit dalam pergolakan kemerdekaan BangsaIndonesia dari jajahan Belanda dan Jepang. Meski toh pada akhirnya mereka dilengserkan, pemikiran-pemikirannya dicekal dan karyanya dilarang terbit, bahkan beberapa dari mereka tidak diperkenalkan dalam kurikulum pendidikan dasar sebagai tokoh pejuang sejarah kemerdekaan Indonesia. 92 Dalam kamus ilmiah bahasa Indonesia kata maha berarti besar, paling, sangat sedangkan siswa berarti pelajar dalam terminologinya mahasiswa biasa diartikan kaum tepelajar atau kaum intelektual. Tulisan ini akan membagi fase-fase gerakan sang bintang lapangan yang terekam jejak oleh bangsa ini. Gerakan mahasiswa pra kemerdekaan. Sejarah gerakan mahasiswa yang paling awal bisa dilihat ketika pemerintah Belanda membuat kebijakan“politik etis”. Secara sederhana politik etis bisa kita maknai sebagai bentuk balas budi atau lebih tepatnya ganti rugi atas penderitaan rakyat Indonesia selama masa kolonialisme Belanda. Kebijakan ini juga bernuansa politis karena pemerintah Belanda juga ingin menunjukkan pada dunia luar bahwa mereka memimpin dengan semangat humanisme. 20 mei 1908 merupakan awal dari keseluruhan yang ada hingga dewasa ini, beberapa orang mahasiswa kedokteran STOVIA, siswa pertanian dan kehewanan Bogor dan sekolahsekolah pribumi kemudian sepakat membentuk sebuah organisasi yang dinamakan Boedi Oetomo. Gerakan mahasiswa angkatan 45 Gerakan mahasiswa pada fase ini dilatar belakangi karena adanya tekanan atau pemerintahan pendudukan Jepang atas Indonesia, yang mana pelarangan keras terhadap aktivitas pemuda ditandai dengan pembubaran organisasi pemuda, pelajar dan mahasiswa, partai politik dan banyak penutupan perguruan tinggi.31 Di fase paska kemerdekaan Indonsia kiprah mahasiswa tidak begitu Nampak, lebih diwarnai oleh hingar binger pergerakan partai politik, walaupun ada sebagian mahasiswa atau pemuda yang lebih menyibukkan gerakankan nya dengan kegiatan pembetukan pers mahasiswa, dengan demikian gerakan mahasiswa dalam bergerak melalui propaganda melalui tulisan tulisan yang disebarluaskan dengan tuntutan tuntutan mereka mengenai kemerdekaan secara utuh. Pada decade 1947-1950 pergerakan mahasiswa mulai gencar disuarakan ketika Belanda kembali masuk ke Indonesia melalui agresinya sehingga ibu kota Indonesia pindah ke Jogjakarta, perjuangan kembali meluas ke daerah daerah pinggiran, banyak pemuda pelajar membentuk aliansi dalam menyatukan semangat perjuangan kemerdekan seperti dibentuknya Persatuan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia,32ketika belanda kembali meninggalkan Negeri ini pemerintah mulai membenah dalam penataan system pemerintahan yang ditinggalkan Belanda, disini mahasiswa kembali dengan kondisi kebimbangan nya sehingga pemuda 31Rudianto 32Rudianto Rudi, “Gerakan Mahasiswa” Golden Terayon Press, Jakarta 2010. Hal 41 Rudi, “Gerakan Mahasiswa” Golden Terayon Press, Jakarta 2010. Ibid Hal 42 93 kembali masuk dalam pemerintahan dan berafeliasi dengan partai politik dan pada masa Demokrasi palementer praktis tidak gerakan mahasiswa dalam kancah politik yang kritis terhadap pemrintah, ketika ada kegiatan gerakan mahasiswa yang mengkritisi pemerintah Presiden Soekarno segera memanggil pimpinan mahasiswa yang disebut “Kelompok 10”untuk melakukan dialog pada tanggal 18 januari 1950 di istana Negara Jakarta, gerakan mahasiswa seperti menjadi satu visi dengan presiden Soekarno. Dimasa 1955 kegiatan mahasiswa lebih mengembangkan tuntutan aspirasinya melalui tulisan dengan membentuk komunitas pers mahasiswa yang mulai berkembang seperti di Jakarta muncul pers Mahasiswa, Forum, Akademika, Vivat, Fidusia, Pemuda Masyarakat, PTD-Cournier, Ut Ommes Umum SinT, Aesculapium (kedokteran) dll.33Dangan adanya pers mahasiwa tersebut ada inisiatif tersendiri dari Majalah Gema untuk mengadakan konfrensi prtama pers mashasiswa Indonesia (KPPI) yang dilangsungkan di Jogjakarta pada tanggal 8 agustus 1955. Kurun waktu dua tahun (19 juli 1958) pers mahasiswa mulai melakukan konfrensi ke II, yang mana IWMI (Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia) dan SPMI (Serikat Pers Mahasiswa Indonesia) di lebur menjadi satu wadah yaitu IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia) dan pada tahun 1957 konfrensi pers Mahasiswa tingkat Asia yang dilaksanakan di Manila SPMI dan IWMI pernah mengirimkan delegasi nya pada konfrensi tersebut yang dihadiri oleh 10 negara di Asia, yang mana dari hasil konfrensi itu menghasilkan rekomendasi atas Negara negara berkembang dituntut untuk peran aktif nya melakukan pembangun bangsa yang ber karakter (nation character building), dari pernyataan itu sering dilontarkan oleh Presiden Soekarno dalam pidatonya. Gerakan mahasiswa tahun 1966. Gerakan mahasiswa padatahun 1966 yang dipelopori oleh mahasiswa sejatinya ditunggangi oleh militer yang pada saat itu resah dengan presiden Soekarno yang semakin dekat dengan PKI dan secara ideologis bersebrangan dengan kepentingan militer.Gerakan mahasiswa ini oleh bung Karno telah ditunggangi oleh nekolim dan CIA. Dukungan tentara pada aksi-aksi mahasiswa ini bukan secara ikhlas, melainkan mahasiswa hanya dijadikan sebagai pion untuk melumpuhkan Soekarno. Kepentingan militer dalam gerakan mahasiswa ini dengan terang-terangan diucapkan sendiri dalam percakapannya dengan Komandan Kostrad Kemal Idris.34 Keberhasilan mereka dalam pelengseran Soekarno akhirnya membawa Indonesia pada Rezim Orde Baru dibawah pimpinan Soeharto. Setelah kemenangan ini berbagai hadiah diberikan pada aktivis mahasiswa tahun 66,menjelang turunnya Soekarno februari 1967 seluruh anggota parlemen dan partai yang berhubungan dengan PKI digantikan dengan 108 33 Rudianto Rudi, “Gerakan Mahasiswa” Golden Terayon Press, Jakarta 2010. Hal 43 Mahendra K. Bergerak Bersama Rakyat. Resist Book.2007 34Suharsih&Ign 94 anggota baru, diantara 108 anggota baru itu 13 diantaranya diambil dari mahasiswa antara lain; Fahmi Idris, Johny Simanjuntak, David Napitupulu, Mar’ie Muhammad, Liem Bian Koen, Soegeng Sarjani, Nono Anwar Marakim, Yozar Anwar, Cosmas Batubara, dan Slamet Sukirnanto.35 Gerakan mahasiswa tahun 1974. Setelah G30S gerakan mahasiswa lebih menggunakan taktik gerakan moral, yang artinya hanya tampil sebagai gerakan politik ketika kondisi sedang krisis dan gerakan ini tidak membawa ideology alternative sebagai dasar perjuangan.Arief Budiman menyebut gerakan ini dengan istilah Gerakan Koreksi. Gerakan ini dimotori oleh Arief Budiman, Victor D, Sjahrir dan Julius Usman. Ditahun ini pula terjadi insiden 15januari atau yang lebih dikenal dengan insiden Malari.Dalam peristiwa Malari ini ditandai dengan penolakan kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka pada tanggal 14-17 Januari 1974) dimana pendemo mengakibatkan proyek pasar senen terbakar ludes, tercatat 807 mobil dan 187 sepeda motor buatan Jepang dibakar dimana mana, dan jatuh nya korban 11 oang meninggal, 300 orang luka luka, 775 orang ditahan, 144 bangunan rumah rusak berat dan 160 kg emas dijarah dari toko perhiasan.36 Gerakan mahasiswa tahun 1978 (GEMA 77/78). Gerakan mahasiswa yang mengkristal sejak lahirnya Ikrar Mahasiswa Indonesia yang di cetuskan di Bandung yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1977, di awala dengan di lontarkannya stetmen politik Dewan Mahasiswa ITB, yang mana pada massa ini banyak aktivis mahasiswa yang ditangkap oleh Rezim penguasa dengan tindakan represif dan para aktivis di tuding mengganggu keamanan dan tuduhan melakukan tindakan Subversib dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara. Banyak langkah langkah yang dilakukan oleh mahasiswa dalam melawan penguasa orde baru seperti Grakan Anti Kebodohan yang dipelopori oleh Rizal Ramli dari DM ITB ,gerakan Ekstra parlementer merupakan bagian dari gerakan social, pergerakan massa dalam jumlah besar untuk menekan DPR dan pemerintah yang bernuansa kekuatan oposisi bertolak pada ketidakpercayaan terhadap DPR pemerintah penguasa. Dari buah hasil pemikiran Grakan Ekstraparlmenter ini yang mampu menggerakkan gerakan mahasiswa atau menggerakkan DM/SM se Indonesia untuk melakukan aksi ekstraparlementer, walaupun dipandang masih tabu oleh penguasa atau pemerintah. Ditahun inilah diberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) serta diberlakukannya system kredit semester (SKS) 35Ibid.hal76 36Rudianto Rudi, “Gerakan Mahasiswa” Golden Terayon Press, Jakarta 2010. Hal 77 95 sehingga mahasiswa dipaksakan hanya untuk segera menyelesaikan studinya dengan indeks prestasi(IP) yang tinggi sebagai upaya pemerintah untuk mengeliminasi mahasiswa dari kegiatan politik. Kebijakan ini sangat ditentang oleh banyak Organisasi Mahasiswa, hubungan kegiatan kemahasiswaan dengan pihak kampuspun hanya yang di perbolehkan dalam menyelenggarakan kegiatan melalui mekanisme control pemerintah dan Dekanat dan Rektorat. Apa yang disebut dengan Student Government sudah tidak ada lagi, semua berada dibawah control rezim penguasa secara ketat.37 Tidak hanya itu, Pencekalan terhadap tokoh-tokoh seperti Pramoedya Ananta Toer, Ali Sadikin, Arief Budiman, Emha Ainun Najib dll, dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk memerangi buah pemikiran mereka yang mengembang dikalangan mahasiswa. Semakin terhimpitnya ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan aspirasi mereka inilah membuat para mahasiswa harus menemukan format baru dalam gerakannya. Ruang baru tersebut dinamai Kelompok Studi (KS), yang berfungsi sebagai wadah untuk mengasah kemampuan kritis mereka atas persoalan social dan politik. Gerakan mahasiswa tahun 1998. Diawalijatuhnya mata uang Thailand (Bath) dan kemudian menyapu seluruh Asia Tenggara menuju Asia dan seluruh dunia. Ini terjadi karena over produksi kapitalis diseluruh dunia sedangkan daya beli masyarakat rendah. Pada bulan Juli 1997 nilai tukar rupiah menurun jadi 2.400, yang kemudian meruntuhkan ekonomi yang telah dibangun oleh “bapak pembangunan” yang secara otomatis berimplikasi pada melonjaknya pengangguran, industry bangkrut, perdagangan macet. Akhirnya mahasiswa menemukan momentumnyaseiring dengan resesi ekonomi, diawali dengan tuntutan penurunan harga-harga. Isu ekonomis ini berhasil dimajukan menjadi isu politis dengan tuntutan turunkan Soeharto dan pencabutan dwi fungsi ABRI.Tuntutan dan gerakan ini merebak diberbagai belahan tanah air dengan memajukan isu yang diusung yang awalnya bersifat ekonomis menjadi politis. Sampai pada proses yang panjang dengan tahapan yang tidak mudah dengan berbagai represi, intimidasi serta black propaganda akhirnya gerakan mahasiswa disambut dengan massa rakyat melengserkan “bapak pembangunan” yang telah berkuasa selama 32 tahun pada 21 mei 1998. Tentunya aksi massa ini terjadi tidak tanpa pengorbanan,baik materi, waktu, tenaga dan bahkan banyak diantara para aktivis hilang sampai sekarang tidak ditemukan. 37Rudianto Rudi, “Gerakan Mahasiswa” Golden Terayon Press, Jakarta 2010. Hal 116 96 Gerakan mahasiswa kini. Empat belas tahun pasca reformasi Negri ini masih menderita wabah korupsi yang kian hari kian marak diwartakan di media masa, semangat reformasi yang diusung dengan tumpahan perjuangan kini terasa hambar.Dimana sang bintang lapangan yang menurunkan rezim orde baru? Siapa jika bukan mahasiswa yang akan menyuarakan jeritan kesengsaraan rakyat? Kini mahasiswa dengan segala kemudahan akses tekhnologi dan informasi semakin tereduksi kedalam politik praktis, sibuk dengan kuliah dan pada akhirnya lupa akan fungsinya sebagai intelektual. ini senada dengan yang disebut Eko Prasetyo dalam karyanya jadilah intelektual progresif ; Kaitan ilmuwan dengan massa ini menghancurkan mythos istana gading yang disandang oleh para intelektual. Mereka yang begitu angkuh menyatakan kalau apa yang diperolehnya merupakan hasil jerih payah sendiri… intelektual semacam ini bukan lagi berkhianat pada amanat rakyat tapi juga mengingkari proses kelahirannya. Karena pendidikan pada masyarakat tertindas seperti sekarang ini, disamping memiliki mandat untuk melahirkan kaum borjuasi, juga punya tujuan perubahan social. Perubahan social ini memberikan amanat bagi para terpelajarnya untuk selalu berkaca dan belajar bersama rakyat. Sebuah sikap intelektual yang kian menjauh seiring diringkusnya pendidikan sekedar jadi mesin pencipta budak-budak pasar.38 Menjawab Stagnasi Gerakan Mahasiswa. Banyak orang menyatakan bahwa Gerakan Mahasiswa kini telah kehilangan taringnya, mahasiswa kini telah kembalik ke barak sibuk dengan aktivitas akademisnya, bahkan yang paling ekstrim anggapan bahwa gelombang aksi massa tak lagi menarik dan sia-sia. Pandangan yang terlalu sempit dan bahkan kesalahan dalam memahami Gerakan Mahasiswa ini akan membawa pada runtuhnya semangat untuk mengatakan tidak dalam ketidak adilan. Bahkan bagi saya pernyataan-pernyataan diatas dilontarkan oleh orang-orang yang sengaja ingin menggembosi Gerakan Mahasiswa, atau oleh mahasiswa berwatak culas dan oportunis. 38Eko Prasetyo:2007 Jadilah Intelektual Progresif. Resist Book.Hal.25 97 Berbicara tentang gerakan mahasiswa di Indonesia, kita tidak bisa melepaskan aspek sejarah Negara ini merdeka. Pada 20 mei 1908 lahirlah organisasi yang bernama Boedi Oetomo yang dalam bahasa jawa berarti usaha bagus atau usaha mulia.39Ikrar sumpah pemuda tahun 1928 tak lepas dari peran para pemuda dan mahahsiswa, kemudian kita melihat aksi-aksi mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan sebelum tahun 1940-an dan juga ketika revolusi kemerdekaan 1945 dicetuskan. (ingat, Soekarno dan Hatta diculik oleh para pemuda ke rengas dengklok). Sekalipun dalam beberapa pandangan tidak ada sebuah perubahan yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa karena pada hakikatnya yang ada ialah gerakan massa rakyat. Tapi dalam beberapa peristiwa bersejarah di Indonesia, gerakan mahahasiswa memicu lahirnya gerakan massa rakyat untuk berjuang bersama merebut kemerdekaan dan menggulingkan rejim berkuasa. Jika kita hanya melihat dalam ruang lingkup yang sempit maka yang ada hanya penggembosan pada gerakan mahasiswa itu sendiri. Jika kita lihat lagi gerakan mahasiswa 66 dan 98 mereka hanya hadir ketika kondisi dan situasi Negara dalam keadaan kritis, selebihnya mereka kembali menuaikan tugas belajar. Tapi gelombang aksi yang demikian besar sehingga mampu menurunkan rezim yang berkuasa tidak terjadi tanpa pengorganisiran serta strategi dan taktik yang mereka usung. Pilihan tuntutan dan momentum dalam melakukan gelombang aksi masa menentukan keberhasilan dari visi dan misi yang mereka usung. Ikhwal stagnasi ini terjadi tidak lepas dari kesalahan mahasiswa dalam memandang musuh bersama mereka. Jika musuh bersama hanya dimaknai sebuah rezim yang despotic saja maka ketika rezim ini turun gerakan yang tadinya progresif akan menjadi pasif dan dekaden. Perlu diingat, bahwa tidak ada kemerdekaan satu bangsa pun yang dilakukan tanpa gelombang aksi massa, dan bahwa gelombang aksi masaa itu merupakan produk sejarah dari masyarakat bukan saja gerakan artificial belaka.40 IDENTITAS SEORANG INTELEKTUAL. “Gerakan intelektual untuk ilmu dan Gerakan intelektual untuk perubahan”, atau dalam bahasa kita sehari-hari ilmu yang bersifat analitis dan ilmu yang bersifat praktis. Dalam kaitannya dengan perubahan social ilmu dipakai sebagai sarana untuk melakukan perubahan social yang tak terpisah dari realitas social disekelilingnya. Hal ini serupa dalam tulisan pada buku tersebut yang menyatakan: intelektual dengan massa menghancurkan mythos istana gading yang disandang oleh para intelektual. mereka yang 39Gamal 40Rosa Komandoko:2008 Boedi Oetomo.Med Press.Hal.15 Luxemburg: 2000 Pemogokan Massa.Gelombang Pasang.Hal.23 98 begitu angkuh menyatakan kalau apa yang diperolehnya merupakan hasil jerih payah sendiri… intelektual semacam ini bukan lagi berkhianat pada amanat rakyat tapi juga mengingkari proses kelahirannya.41 Intelektual yang lupa diri hakikatnya telah membuang kesempatan yang diberikan padanya oleh rakyat miskin. Karena posisi intelektual yang mampu mengenyam pendidikan formal setinggi mungkin dan mendapatkan pengetahuan dan ilmu tanpa mengabdikannya pada rakyat miskin. Sudah menjadi hal yang lumrah ketika intelektual akan lupa pada massa karena system pendidikan yang ada hanya menghasilkan intelektual-intelektual borjuis, intelektual cerdas tapi bermental budak. Tentunya aforisme tersebut akan menimbulkan pro dan kontra dikalangan pendukungnya masing-masing, karena determinisme diawal sudah terlihat dari pembagian gerakan intelektual untuk ilmu atau gerakan intelektual untuk perubahan. Dalam pandangan Gramsci, seorang marxis dari Italia merumuskan dua tipe intelektual dalam tataran teoritis yaitu tipe intelektual organic dan intelektual tradisional. Intelektual organic adalah intelektual yang telah sadar diri dan begabung dengan massa, sedangkan intelektual tradisional adalah intelektual yang belum sadar akan fungsinya dan belum menggabungkan dirinya dengan massa. Intelektual organic adalah intelektual yang berasal dari klas tertentu bisa jadi berasal dari klas borjuis dan memihak mereka, bisa juga dari klas buruh dan berpihak pada perjuangan kaum buruh itu.42 Sedangkan intelektual tradisional dapat dikategorikan sebagai intelektual otonom dan merdeka dari kelompok social dominan. Karena ketidak menentuan dari posisinya, maka bagi Gramsci tugas seorang intelektual tradisional adalah segera memutuskan ketidak menentuan sikap dan bergabung bersama-sama klas yang revolusioner. Intelektual harus secara organis berhubungan dengan klas buruh, menjadi bagian dari organisasi yang memang menyediakan kepemimpinan untuk klas tertindas itu.43 Atau dalam bahasa Syariati pertautan intelektual dengan massa merupakan identitas sekaligus definisi yang tepat dalam kondisi saat ini.44 Di era yang serba modern seperti dewasa ini tidak mengherankan jika kaum intelektual terpaksa berdamai dengan situasi yang menuntut pemenuhan kebutuhan pokok mereka atau dalam bahasa yang sedikit sarkasme, pelacuran yang dipelopori kaum intelektual pada masa kapitalisme seperti dewasa ini menjadi hal yang tak terhindarkan. Disnilah terlihat bahwa 41 Eko Prasetyo: 2007. Jadilah Intelektual Progresif. Yogyakarta. Resist Book. Hal.25 Nezar Patria&Andi Arief: 2003. Gramsci. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Hal.161 43 Ibid.hal.163 44 Op.Cit. Hal.9 42 99 produk-produk dari pendidikan klas borjuis yang hanya mampu meghasilkan orang-orang pandai tapi tidak memiliki nyali untuk bertarung dengan keadaan. Jika kita melihat jauh pada masa Sokrates hidup dimana industri-industri maju belum berdiri dan feodalisme masih berkuasa, sudah terjadi penghianatan oleh kaum sophis yang memperjual-belikan ilmu pengetahuan, serta menjadi pelayan para penguasa untuk melanggengkan dominasi mereka. Socrates seperti kaum sophis pada umumnya mengarahkan perhatiannya pada manusia sebagai objek pemikiran filsafatnya. Berbeda dengan kaum sophis yang mengajarkan pengetahuannya dengan memungut bayaran, ia tak pernah memungut sepeserpun dari murid-muridnya. Sayangnya Socrates harus mengakhiri kisah hidupnya secara tragis dengan menenggak racun karena dianggap merusak moral, menyesatkan generasi muda Athena dan menentang kepercayaan Negara.45 Banyak lagi sejarah para kaum intelektual yang akhir hayatnya berujung dengan kematian tragis dan hilang tanpa jejak, sebut saja Rosa Luxemburg, Che Guevara, Trotsky, Tan Malaka, Ali Syariati dll. Dari kisah-kisah kaum intelektual diatas dapat disimpulkan, bahwa sejatinya tidak ada intelektual yang hidup dalam kenyamanan karena pada dasarnya intelektual harus menyatu dengan massa rakyat serta memahami penderitaan yang mereka alami. Seperti halnya Gramsci yang membagi dua tipologi intelektual, pada hakikatnya seorang intelektual memang seharusnya mampu bahkan menjiwai dan merasakan secara actual penderitaan yang dialami oleh rakyat. Tahapan perjuangan guna menyadarkan mayoritas kelas tertindas ini bisa dilalui dalam beberapa aspek, yaitu, penyadaran, pendidikan, pengorganisiran, mobilisasi serta aksi. Kenapa intelektual hari ini lebih diasosiasikan pada mahasiswa??? Karena tidak semua orang memiliki kesempatan dalam melalui pendidikan formal yang ada. Komersialisasi pendidikan lewat undang-undang BHP merupakan fase yang secara halus memungkinkan tidak/belum disadari oleh kalangan mayoritas rakyat. Pada awalnya ketika UU ini disyahkan merupakan bentuk jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, yang pada akhirnya mayoritas rakyat yang tidak/belum sadar akan menghadapi realita dan mengeluh akan mahalnya biaya pendidikan. Implikasi dalam hubungan social bahwa ini akan memunculkan watak individual dalam manusia modern dan menjauhkan ilmu dari si miskin. Aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa terkait UU BHP dipropaganda oleh penguasa via media cetak maupun elektronik dengan menampilkan gambaran-gambaran kerusuhan sehingga memaksa mayoritas orang yang menonton acara tersebut menyimpulkan bahwa aksi mahasiswa cenderung bersifat “anarkis” dan berujung pada sikap apatis atau lebih parah lagi sikap tidak simpatik terhadap aksi-aksi mahasiswa. 45 Ali Maksum:2008. Pengantar Filsafat. Yogyakarta. AR-Ruzz Media. Hal.58 100 Bahkan lebih jauh lagi penguasaan terhadap kekuasaan Negara bisa jadi turun temurun atau terwariskan seperti hal nya raja-raja di tanah Jawa dulu atau Di Eropa pada Abad pertengahan. Hal ini tentu saja bisa terjadi karena nantinya masyarakat akan dengan secara sukarela memberikan legitimasi kekuasaan negara terhadap orang-orang berpendidikan/intelek atau dalam bahasa Plato Raja Filsuf. Pemberian legitimasi ini hakikatnya tidak secara suka rela, why??? Karena masyarakat terpisahkan atau lebih tepatnya dipisahkan dengan ilmu dan pengetahuan yang secara sistemik dilakukan oleh kelas minoritas dengan menaikkan biaya pendidikan untuk mengenyam pendidikan formal, maka sudah lumrah jika nantinya masyarakat akan terbodohkan dan tidak memiliki daya kritis terhadap kondisi social dan politik. Keterbatasan ilmu yang dimiliki mayoritas rakyat ini kemudian membawa masyarakat pada sikap pasrah pada realita politik, yang kemudian dengan mudahnya disisipi kepentingan elit politik. Dengan kondisi yang seperti ini bagaimana kita/kaum intelektual melepaskan kungkungan dari kondisi yang ada??? Gramsci dalam tulisannya sudah merumuskan dua cara melawan control social yang dilakukan oleh kelas minoritas/kelas penguasa. Pertama, dengan melakukan War of Posision atau perang posisi, kedua War of manuver atau perang siasat. Pada situasi dewasa ini, Negara melakukan penindasan tidak dengan cara-cara vulgar yang pada akhirnya memunculkan aksi penolakan dari berbagai kalangan. Melainkan dengan cara-cara soft kolonialisasi atau dalam istilah Gramscian disebut dengan Hegemoni, yang menutup kemungkinan disadari oleh banyak kalangan dan efeknya tidak akan banyak menimbulkan gelombang aksi massa yang besar. Dengan system pendidikan yang kian sulit dijangkau pada nilai ekonomis maka sudah menjadi sebuah keniscayaan akan melahirkan intelektual-intelektual yang berhati baja dan bermental budak. Intelektual semacam ini sudah dapat kita temui ketika kembali membaca literature-literatur sejarah filsafat pada masa Yunani maupun pada masa revolusi Prancis. Kini kita akan jumpai secara nyata pada realita kehidupan dewasa ini. Dalam tulisan Gramsci pilihan keberpihakan kaum intelektual sejatinya hanya untuk melakukan pembebasan dan berpihak pada kelas tertindas. Sekalipun Gramsci membagi tipe intelektual organic dan intelektual tradisional pada hakikatnya terjelaskan secara eksplisit bahwa intelektual tradisonal adalah “dapat dikategorikan sebagai intelektual otonom dan merdeka dari kelompok social dominan. Karena ketidak menentuan dari posisinya, maka bagi Gramsci tugas seorang intelektual tradisional adalah segera memutuskan ketidak menentuan sikap dan bergabung bersama-sama klas yang revolusioner. Intelektual harus secara organis 101 berhubungan dengan klas buruh, menjadi bagian dari organisasi yang memang menyediakan kepemimpinan untuk klas tertindas itu”.46 Tidak ada alasan bagi seorang intelektual untuk melakukan penghianatan terhadap amanat yang telah diberikan rakyat dan yang telah disematkan oleh banyak kalangan sebagai agent of change. 46 Nezar Patria&Andi Arief: 2003. Antonio Gramsci Negara & Hegemoni. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Hal.163 102 MATERI VII GENDER A. Pengantar Kata gender sekarang sudah tidak asing lagi merasuk kedalam setiap diskusi dan tulisan di Indonesia. Gender bila dalam bahasa Indonesia masih menemui ketidakjelasannya dengan definisi sex. Untuk memahami konsep gender tersebut maka pemahaman akan definisi dan perbedaan kedua konsep tersebut sangat diperlukan. Sebelum memahami pengertian mengenai gender, perlu dipahami mengenai penciptaan manusia dalam Al-Qur’an. Berikut adalah Surah An-Nisa yang didalamnya mengandung mengenai pemaknaan penciptaan manusia. “Wahai Manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu, yang telah menciptakan kamu dari diri yang sutu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri) Nya; Dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan, bertaqwalah kepada Allah, yang dengan namaNya, kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya, Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” Menurut Buya Hamka, ada dua penafsiran dari ayat tersebut. Tafsir pertama menerangkan pada awalnya, Allah hanya menciptakan satu diri saja, yaitu Adam. Kemudian dari diri yang satu itulah Allah menciptakan untuknya seorang istri, yaitu Hawa. Dalam sebuah Hadist dari Ibnu Abbas diterangkan bahwa bagian diri Adam yang dijadikan untuk tubuh istrinya ialah satu dari tulang rusuknya, namun, bahwa Nafsin Wahidatin, bukanlah semata-mata tubuh yang kasar, melainkan diri. Diri manusia pada hakikatnya adalah satu, kemudian dibagi dua menjadi bagian laki-laki dan bagian perempuan. Dengan demikian meskipun dua coraknya berbeda hakikat jenisnya tetap satu, yaitu manusia. 1. Pengertian Gender dan Sex Banyak tokoh yang berpendapat mengenai pengertian gender. menurut Mansour Fakih, gender di jelaskan sebagai suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang di kontruksi secara sosial maupun kultural, sedangkan sex merupakan pensifatan atau pembagian manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu dimana secara permanen tidak bisa diubah atau sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan atau kodrat47. Mufidah CH juga berpendapat mengenai pengertian gender, dimana gender adalah pembedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki 47 Fakih, Mansour. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Februari 1999. hal: 8. 103 yang dihasilkan dari konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman atau dapat dipahami sebagai jenis kelamin sosial, sedangkan sex diartikan sebagai perbedaan biologis laki-laki dan perempuan berikut fungsi dan reproduksinnya48. 2. Perbedaan Gender dan Sex Terdapat beberapa perbedaan antara gender dan sex, dimana Mufidah CH membedakan gender dan sex dalam beberapa hal: 1) Gender lebih mengacu pada peran-peran yang dikontruksikan dan dibebankan kepada perempuan dan laki-laki oleh masyarakat, sedangkan sex mengacu pada fungsi reproduksi baik laki-laki maupun perempuan 2) Peran Gender yang berubah dari waktu ke waktu serta bervariasi di dalam dan diantara berbagai budaya, sex bersifat permanen seperti jenis kelamin. 3) Identitas gender diperoleh secara sosial, sedangkan identitas sex ditentukan oleh ciri-ciri genetika dan anatomi. B. KONSTRUK SOSIAL GENDER Perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang. Oleh karena itu terbentuknya perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan di konstruksi secara sosial maupun kultural melalui ajaran keagamaan maupun negara. Hal ini mempengaruhi konstruksi sosial gender, baik laki-laki maupun perempuan. Kaum lakilaki harus bersifat kuat dan agresif maka kaum laki-laki termotivasi menuju sifat gender yang ditentukan oleh masyarakat yaitu secara fisik lebih kuat dan lebih besar. sebaliknya, kaum perempuan harus lemah lembut, maka sejak kecil proses sosialisasi tersebut berpengaruh pada perkembangan emosi, fisik, dan biologis perempuan. Karena melalui proses sosialisasi dan konstruksi yang panjang akhirnya menjadi sulit dibedakan apa saja sifat-sifat gender itu. Proses konstruksi sosial dalam masyarakat, disebabkan oleh beberapa faktor: 1) Budaya Patriarki, sistem yang bercirikan laki-laki dimana laki-laki lebih berkuasa untuk menentukan, mengatur, dan mengambil keputusan. 2) Interpretasi bias gender teks agama, pemahaman parsial yang kurang mencerminkan pesan-pesan agama yang menghargai perempuan atau penafsiran terhadap teks yang kurang tepat sehingga menghasilkan pandangan keagamaan yang diskriminatif. 3) Kebijakan Pemerintah, yakni berupa undang-undang maupun manajemen pemerintahan yang tidak berbasiskan pengarusutamaan gender. 48 CH, Mufidah. Bingkai Sosial Gender Islam Strukturasi, dan Konstruksi Sosial. Malang: UIN Maliki Press. 2010. hal: 5 104 C. KETIDAKADILAN GENDER 1. Porsi dan kedudukan laki-laki dan perempuan Gender memandang porsi dan kedudukan yakni dalam artian tidak harus sama dalam mencapai keadilan, masing-masing memiliki porsi yang sesuai. Dalam konstruksi sosial gender (Gender Differences) tidak menjadi sebuah masalah apabila tidak melahirkan ketidakadilan gender (Gender inequalities), tapi yang terjadi perbedaan gender melahirkan ketidakadilan bagi kaum laki-laki dan perempuan dikarenakan pembiasan pemahaman mengenai gender. Berikut adalah permasalahan yang muncul: 1) Stereotip Gender, yaitu pelabelan terhadap jenis kelamin laki-laki atau perempuan yang selalu berkonotasi negatif sehingga menimbulkan masalah. 2) Subordinasi, yaitu penempatan salah satu jenis kelamin baik perempuan maupun laki-laki yang lebih unggul dari jenis kelamin lainnya dalam aspek status, peran, dan relasi yang tidak setara. Stereotip gender dapat menghambat akses partisipasi dan kontrol terutama dalam aspek peran pengambilan keputusan dan pemanfaatan sumber daya. 3) Marginalisasi, yaitu proses peminggiran secara sistemik baik disengaja maupun tidak, terhadap jenis kelamin tertentu. 4) Beban kerja berlipat, berupa pemaksaan dan pengabaian salah satu jenis kelamin untuk menanggung beban aktivitas berlebih. 5) Kekerasan (violence) berbasis gender, yaitu kekerasan yang dilakukan oleh jenis kelamin berbeda yang disebabkan pandangan bias gender yang menempatkan salah satu jenis kelamin lebih superior dan yang lainnya bersifat inferior. 2. Gender mainstreaming (Pengarusutamaan Gender) Dalam mengaplikasikan pemikiran mengenai gender yang berkeadilan, maka diperlukan peran perempuan maupun laki-laki yang paham akan ketidakadilan tersebut dan mau merubah pola fikirnya serta kemudian secara perlahan dapat mereduksi konstruk sosial yang ada. Sehingga dalam berprilaku sehari-hari dapat diterapkan pola fikir berkeadilan gender. Penerapan pola fikir yang berkeadilan gender dapat berupa peran aktif kedua jenis kelamin baik perempuan maupun laki-laki dalam berbagai peran baik peran publik maupun domestik. Pembagian ranah kerja yang sesuai dengan khittah nya ini diperlukan agar tidak adanya diskriminasi salah satu jenis kelamin, seperti yang telah dijelaskan dalam Surah An-Nisa ayat pertama tersebut diatas. 105 MATERI VIII RETORIKA Sejarah Retorika Sejarah retorika sudah ada sejak manusia lahir. Namun, sebagai seni yang dipelajari mulai abad 5 sebelum Masehi (SM) ketika kaum sofis di Yunani mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan pengetahuan tentang politik dan pemerintahan dengan penekanan terutama pada kemampuan berpidato. Pemerintah perlu usaha membujuk rakyat demi kemengangan dalam pemilihan. Berkembanglah seni pidato yang membenarkan pemutarbalikan kenyataan demi tercapainya tujuan. Khalayak bisa tertarik dan terbujuk. Retorika dipelajari, diawali, dan dilaksanakan di negara-negara yang menganut demokrasi langsung, yakni Yunani dan Romawi. Pada waktu itu, retorika memiliki beberapa fungsi49, yakni untuk mencapai kebenaran/kemenangan bagi seseorang atau golongan dalam masyarakat; untuk meraih kesuksesan, yakni mencapai kemenangan seseorang atau kelompok dengan pemeo ‘siapa yang menang dialah yang berkuasa’; sebagai alat persuasi yang digunakan untuk mempengaruhi manusia lain.50 Pengertian Retorika Retorika berasal dari bahasa Inggris “rhetoric” dan bersumber dari perkataan Latin “rhetorica” yang berarti ilmu bicara. Retorika sebagai suatu ilmu memiliki sifat-sifat rasional, empiris, umum dan akumulatif51. Rasional, apa yang disampaikan olehh seorang pembicara harus tersusun secara sistematis dan logis. Empiris berarti menyajikan fakta-fakta yang dapat diverifikasi oleh panca indra. Umum artinya kebenaran yang disampaikan tidak bersifat rahasia dan tidak dirahasiakan karena memiliki nilai sosial. Akumulatif merupakan perkembangan dari ilmu yang sudah ada sebelumnya, yaitu penggunaan bahasa secara lisan maupun tulisan. Retorika secara sistematis dan metodologis telah dipelajari, diteliti, dan dipraktikan oleh Sokrates dan penerusnya. Ada juga yang memberi pengertian retorika sebagai seni penggunaan bahasa yang efektif. Yang lain mengatakan retorika sebagai public speaking atau berbicara di depan umum. Pengertian retorika secara sempit adalah hanya mengenai bicara, sedang secara luas tentang penggunaan bahasa lisan dan tulisan. Menurut Sunarjo52, pengertian retorika dapat dilihat dari tinjauan filosofis dan tinjauan ilmu komunikasi. 49 Sunarjo dalam Rajiyem, Jurnal Humaniora 2005;144 Untuk tahu lebih lanjut seputar tokoh-tokoh di bidang retorika, baca Jurnal Humaniora Volume 17, No. 2, Juni 2005 halaman 144 51 Harsoyo dalam Rajiyem, Jurnal Humaniora 2005;142 52 Dalam jurnal Humaniora 2005; 142 50 106 Secara filosofis, retorika dapat dirunut dari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Filsuf Aristoteles mempertegas bahwa emosi manusia bervariasi dan ini dapat dipergunakan oleh seorang orator atau pembicara untuk mempengaruhi audiensnya. Aristoteles pun memberikan pengertian bahwa retorika sebagai seni yang memiliki nilai-nilai tertentu. Nilai itu adalah kebenaran dan keadilan yang mempunyai kekuasaan dan kekuatan dalam masyarakat. Bagi Aristoteles, retorika memiliki beberapa fungsi, yaitu pengetahuan yang mendalam tentang retorika dan latihan-latihan yang dilakukan bisa mencegah retorika digunakan sebagai alat penipuan; retorika sangat berguna sebagai sarana untuk menyampaikan instruksi; retorika sama halnya dengan dialektik yang dapat memaksa orang untuk berpikir dan mengajukan pertanyaan. Dalam ilmu komunikasi, retorika dan public speaking tidak terlalu dibedakan pengertiannya. Beberapa pendapat dikemukakan sebagai berikut. a. Public speaking atau retorika adalah sautu komunikasi tempat komunikator berhadapan langsung dengan massa atau berhadapan dengan dengan komunikan atau audiens. Public speaking atau retorika dibedakan dengan komunikasi massa. Alasannya komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang menggunakan media massa, sedang public speaking atau retorika adalah komunikasi langsung dengan massa. b. Public speaking atau retorika digolongkan pada komunikasi massa. Alasannya bahwa public speaking atau retorika harus dibedakan dengan pidato-pidato lain. Public speaking adalah bentuk komunikasi berupa pembicaraan yang diucapkan seseorang di depan orang banyak/massa mengenai sesuatu masalah sosial. Public speaking atau retorika mempunyai ciri-ciri khusus, yakni public speaking harus diucapkan di depan orang banyak/massa; yang menjadi topik dalam pembicaraan adalah menyangkut orang banyak, menyangkut masalah sosial. Public speaking atau retorika tidak mungkin membicarakan masalah perorangan kecuali masalah tersebut menyangkut orang banyak. Pada dasarnya, terdapat perbedaan antara pidato-pidato yang diucapkan di depan kelompok kecil atau kelompok yang terbatas dengan public speaking atau retorika. Pidato di di depan kelompok kecil/terbatas sudah mempunyai nama sendirisendiri, misalnya ceramah, kuliah, breafing, dan sebagainya. c. Tujuan public speaking atau retorika digunakan untuk menyadarkan dan membangkitkan orang banyak atau mengenai masalah sosial sehingga tidak perlu digunakan suatu uraian ilmiah rasional. Tujuan retorika terutama berusaha mempengaruhi audiens atau komunikan. Yang perlu diperhatikan ialah retorika merupakan teknik pemakaian bahasa secara efektif yang berarti keterampilan atau kemahiran dalam memilih kata-kata yang dapat mempengaruhi komunikan sesuai dengan kondisi dan situasi komunikan tersebut. 107 d. Retorika dan pidato dibedakan sebagai berikut. Pertama, retorika diidentikan dengan public speaking, yakni salah satu bentuk komunikasi dengan audiens yang cukup banyak, bahkan ada yang menggolongkan retorika sebagai komunikasi massa. Kedua, pidato dapat terjadi dalam suatu grup communication (komunikasi kelompok keci misalnya ceramah dalam kelas) atau large group communication (komunikasi kelompok besar, misalnya pada waktu seseorang memberi informasi sebelum ada pertunjukan sandiwara di alun-alun). Ketiga, retorika dan seni pidato tidak ada perbedaan yang mendasar. Pengertian retorika pun berkembang sesuai zamannya. Pengertian retorika dewasa ini mencakup beberapa hal53, yaitu: prinsip-prinsip mengenai komposisi yang efektif dan persuasif dan efektif serta keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang ahli pidato (orator); prinsip-prinsip mengenai komposisi prosa pada umumnya (secara lisan atau tertulis dan fiktif atau ilmiah); kumpulan ajaran teoritis mengenai seni komposisi verbal (prosa atau puisi) beserta cara-cara yang dipergunakan dalam prosa atau puisi. Menurut orator Richard Crable, retorika bisa dipandang sebagai suatu yang bombastis, suatu konotasi ketidakjujuran, retorika dapat diperluas dalam ‘teks book’ mengenai penggunaan bahasa dan komposisi, pengetahuan pemakaian bahasa untuk mempengaruhi orang lain. Sementara Hendrikus memberi pengertian sebagai berikut: a. Retorika sebagai kesenian untuk berbicara baik yang dipergunakan dalam proses komunikasi antar manusia. Kesenian berbicara baik ini bukan berarti berbicara lancar tanpa pikiran yang jelas dan berisi melainkan kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat, dan mengesankan. b. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian, dan kesanggupan berbicara. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat, dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat. c. Dalam bahasa percakapan atau popular, retorika berarti pada tempat yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar, dan mengesankan. Artinya, orang yang harus dapat berbicara jelas, singkat, dan efektif. Jelas supaya mudah dimengerti, singkat untuk menghemat waktu, dan efektif memiliki pengaruh atau efek pada khalayak. Tahap Penyusunan Retorika Aristoteles. Dia mengatakan bahwa retorika sebagai filsafat, sedang tikih yang lain menekankan sebagai seni. Menurut Aristoteles, tujuan retorika adalah membuktikan maksud 53 Aly dalam Rajiyem, Jurnal Humaniora Hal 143 108 pembicaraan atau menampakan pembuktian. Ini terdapat pada logika. Keindahan bahasa hanya digunakan untuk membenarkan, memerintah, mendorong, dan mempertahankan sesuatu. Aristoteles merupakan murid plato yang paling cerdas. Pada usia 17 tahun, ia sudah mengajar di Akademi yang didirkan Plato. Ia menulis tiga jilid buku berjudul De Arte Rhetorica, yang diantaranya berisi lima tahap penyusunan suatu pidato. Tahapan itu dikenal dengan lima hukuk retorika atau The five canons of rhetoric54 yang meliputi hal-hal sebagai berikut. a. Inventio (penemuan) Pada tahap ini pembicaraan menggali topik dan meneliti khalayak untuk mengetahui metode persuasi yang paling tepat. Pembicaraan juga merumuskan tujuan dan mengumpulkan bahan (argumen) yang sesuai dengan kebutuhan khalayak. b. Dispositio (penyusunan) Pada tahap ini pembicara menyusun pidato atau mengorganisasikan pesan. Pesan dibagi ke dalam beberapa bagian yang berkaitan secara logis. Susunan tersebut mengikuti kebiasaan berpikir manusia yang terdiri dari: pengantar, pernyataan, argumen, dan epilog. Bagi Aristoteles, pengantar berfungsi menarik perhatian, menumbuhkan kredibilitas dan menjelaskan tujuan. c. Memoria (memori) Pada tahap ini, pembicara harus mengingat apa yang ingin disampaikannya dengan mengatur bahan-bahan pembicaraannya. d. Pronuntatio (Penyampaian) Pada tahap ini, pembicara menyampaiakan pesannya secara lisan. Pembicara harus memperhatikan olah suara dan gerakan anggota badan. 54 Rakhmat dalam Rajiyem, Jurnal Humaniora halaman 145 109 MATERI IX MANAJEMEN AKSI I. Tentang Manajemen Aksi Manajemen Secara umum Manajemen memiliki pengertian pengelola potensi atau isi di dalam sebuah wadah atau komunitas. Aksi Aksi berasal dari kata “Action” yang bermakna “Gerak”, Gerakan adalah berpindahnya energi, volume, tempat dan waktu dari kondisi semula menuju kondisi kemudian. Aksi di dalam dunia organisasi pergerakan dapat diterjemahkan sebagai segala pikiran dan perbuatan/tindakan yang mengarah pada capaian-capaian terhadap tujuan perjuangan itu sendiri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa manajemen aksi merupakan suatu cara yang digunakan untuk mengatur suatu massa aksi agar tetap terkoordinir dan sesuai dengan rencana dan target awal hingga mencapai hasil yang diinginkan. II. Tujuan Manajemen Aksi Agar tujuan dari aksi yang dilakukan dapat tersampaikan ke publik Agar aksi yang dilakukan lebih terorganisir dan terkomando dalam satu kesatuan massa aksi III. Landasan Hukum Aksi Indonesia sebagai sebuah negara hukum telah mengatur adanya jaminan terhadap kebebasan untuk berserikat dan berkumpul serta kebebasan untuk menyampaikan pendapat baik lisan maupun tulisan dalam UUD 1945 pasal 28 dan UU Nomor 9 Tahun 1998 Tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. Dalam UU Nomor 9 Tahun 1998 Pasal 1 ayat 1 dan 3 disebutkan bahwa : Ayat 1 : Kemerdekaan menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas dan bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ayat 3 : Unjukrasa atau demontrasi adalah kegiatan yang dilakukan seorang atau lebih untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara demonstratif di muka umum. 110 IV. Bentuk-bentuk Aksi Aksi Informatif, adalah bentuk interpretasi gerakan melalui symbol-symbol untuk memberikan informasi terhadap masyarakat. Contoh : Panggung kesenian, Diskusi Publik, Mimbar Bebas, Pamflet, Spanduk, dll. Aksi Massa, adalah suatu gerakan yang dilakukan dengan menyertakan massa sebagai subyek atau pelaku dalam sebuah aksi sebagai bentuk penyadaran dan pencapaian suatu kepentingan. Contoh : Demonstrasi, Sabotase, Pemogokan Massalo, dll V. Target dan Sasaran Aksi Target Aksi : Propaganda Massa, Blow Up Media, Birokrasi > Mediasi, Negosiasi, dll Sasaran Aksi : Mahasiswa, Masyarakat, Birokrasi, Media 111 MATERI X PERMUSYAWARATAN DAN TEKNIK PERSIDANGAN PERMUSYAWARATAN Adalah Mekanisme yang digunakan untuk mengambil sebuah keputusan untuk mencapai kata mufakat dalam setiap permasalahan yang timbul serta memunculkan kebijakan baru dalam suatu organisasi. Negara yang berbasis dan menganut paham demokrasi, menggunakan mekanisme permusyawaratan dalam hal memecahkan permasalahan untuk mencapai keputusan dan selanjutnya dijadikan landasan atau peraturan. Sebenarnya mekanisme permusyawaratan sudah di pakai sejak dulu, pada zaman para Nabi, dalam mengambil setiap keputusan atau mencari sebuah solusi dalan setiap permasalahan mereka mengundang perwakilan (utusan), atau para tokoh masyarakat untuk bermusyawarah (berembuk), membicarakan untuk memecahkan satu permasalahan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman yang artinya : Artinya : “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan sholat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada mereka” (QS. Asy. Syuura : 38) Keputusan Musyawarah dalam IMM: 1. Keputusan Permusyawaratan diusahakan diambil dengan musyawarah untuk mufakat. 2. Apabila keputusan permusyawaratan terpaksa dilakukan dengan pemungutan suara, maka keputusan diambil dengan suara terbanyak mutlak, yaitu setengah lebih satu dari jumlah peserta yang memberikan hak suara. 3. Pemungutan suara atas seseorang atau masalah yang penting dapat dilakukan secara tertulis dan rahasia, atau secara langsung. 4. Apabila dalam pemungutan suara terdapat jumlah suara yang sama banyak, maka pemungutan suara diulangi dengan memberi kesempatan masing-masing pihak untuk menambah penjelasan. Apabila setelah tiga kali pemungutan suara ternyata hasilnya tetap sama atau tidak memenuhi syarat pengambilan keputusan pembicaraan dihentikan tanpa suatu keputusan, atau diserahkan kepada pimpinan di atasnya, sedangkan untuk Muktamar atau Tanwir diserahkan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 5. Apabila keputusan telah diambil, maka seluruh peserta musyawarah harus menerima keputusan tersebut dengan ikhlas dan tetap bertawakal kepada Allah SWT. 112 TEKNIK PERSIDANGAN Teknik persidangan umumnya digunakan dalam forum-forum resmi organisasi berbasis massa dan digunakan sebagai media demokrasi dalam menyuarakan pendapat. Dapat dibayangkan apabila forum-forum resmi tersebut tanpa mekanisme yang jelas, maka yang terjadi bukanlah kelancaran sidang, melainkan kekacauan karena bemtuknya yang bersifat menghadirkan banyak orang dengan keinginan yang berbeda-beda. A. PESERTA SIDANG Peserta sidang adalah orang-orang yang berhak mengikuti jalannya sidang, baik karena diundang ataupun karena haknya sebagai anggota organisasi yang melaksanakan sidang, peserta dibagi menjadi dua: a. Peserta Peserta sidang yang mempunyai hak suara dan hak bicara selama dalam persidangan, hak bicara peserta diperbolehkan untuk menyampaikan pendapat, ide, maupun keberatan dengan seizin pimpinan sidang. Dam mempunyai hak untuk memilih bila terjadi voting, serta memilih dan dipilih dalam pemilihan. b. Peninjau Peserta sidang yang hanya mempunyai hak bicara, dalam hal ini termasuk juga para undangan yang menghadiri jalannya sidang, tentunya dengan seizin pimpinan sidang dan tidak mempunyai hak suara, serta hak memilih dan dipilih. B. MACAM-MACAM SIDANG 1. Sidang Komisi Sidang ini hanya diikuti oleh anggota komisi saja untuk memudahkan perumusan dan pengambilan kebijakan sementara sehingga pembahasan bidang yang telah ditentukan lebih terfokus serta untuk pematangan materi sebelum diplenokan (membahas lebih spesifik,rinci,detail pada pokok permasalahan masing-masing komisi yang telah ditentukan pada sidang pleno). Dipimpin oleh Ketua komisi serta dibantu sekretaris. Ketua komisi dipilih dari dan oleh anggota Komisi dalam Komisi tersebut Sidang komisi beranggotakan peserta dan peninjau yang ditentukan oleh sidang pleno 113 Keputusan pada sidang komisi bersifat non permanen (dapat berubah) kemudian dibawa kedalam sidang pleno untuk mendapat keputusan terakhir. Sidang sub komisi :Sidang ini lebih terbatas dalam sidang komisi guna mematangkan materi lanjut. 2. Sidang Pleno Biasa disebut sidang besar yang diikuti oleh seluruh peserta sidang tanpa kecuali (peserta dan peninjau). Sidang Pleno dipimpin oleh Presidium Sidang Sidang Pleno biasanya dipandu oleh Steering Committee Sidang Pleno membahas dan memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan Permusyawaratan Sidang pleno dilakukan untuk memberi keputusan final agenda sidang yang telah dirumuskan sebelumnya pada sidang komisi. Termasuk kedalam kategori sidang ini adalah Sidang pendahuluan yang biasanya untuk menetapkan jadual, tata tertib, pembahasan agenda dan pemilihan presidium sidang. Sidang mengesahkan laporan pertanggung jawabanyang dipimpin oleh presidium sidang. 3. Sidang paripurna Sidang Paripurna diikuti oleh seluruh peserta dan peninjau Permusyawaratan Sidang Paripurna dipimpin oleh Presidium Sidang Sidang Paripurna mengesahkan segala ketetapan dan keputusan yang berhubungan dengan Permusyawaratan biasanya berisi tentang pengesahan akhir hasil-hasil sidang C. PIMPINAN SIDANG Pimpinan sidang adalah orang yang bertindak memimpin persidangan, ia wajib mengatur jalannya persidangan. Seorang pemimpin sidang dituntut untuk bersikap adil dan bijaksana dalam menyikapi pendapat-pendapat yang berkembang dalam persidangan. Ditangannyalah kesepakatan-kesepakatan dalam persidangan ditetapkan. 114 Jumlah pimpinan sidang haruslah berjumlah ganjil, karena adakalanya forum membutuhkan suara pimpinan sidang dalam pengambilan keputusan, jumlah minimal 3 orang dan maksimal berapapun asalkan ganjil dan sesuai kesepakatan peserta sidang. Pimpinan sidang memiliki hak yang sama dengan peserta sidang. Pimpinan sidang terbagi menjadi 2 macam, antara lain; a. Steering Commitee 1. Steering Committee dibentuk oleh lembaga atau organisasi yang memiliki kepetingan suatu acara. 2. Steering Committee bertugas memimpin sidang sampai terpilihnya Presidium Sidang. b. Presidium Sidang 1. Presidium Sidang terdiri dari atas tiga orang yang dipilih oleh peserta yang mempunyai hak suara. 2. Presidium Sidang bertugas memimpin dan mengatur jalannya persidangan mulai dari awal ditetapkan sampai akhir persidangan. Hak dan Kewajiban Pimpinan sidang a. Pimpinan Sidang I bertindak sebagai pimpinan sidang. Apabila dalam proses persidangan pemimpin sidang tidak dapat memimpin persidangan, maka pimpinan sidang digantikan oleh presidium II. b. Pimpinan Sidang tidak boleh berpihak pada salah satu pihak peserta c. Tugas dan kewajiban pimpinan sidang: i. Pimpinan Sidang berhak dan bertanggung jawab mengendalikan dan mengarahkan persidangan sesuai tata tertib ii. Pimpinan Sidang menyerahkan hasil sidang secara tertulis untuk setiap suatu ketetapan dan keputusan iii. Pimpinan Sidang berkewajiban mengesahkan dan menetapkan hasil sidang d. Pimpinan Sidang dapat digantikan apabila: i. Meninggal dunia, ii. Berhalangan, iii. Tidak mampu memimpin sidang memihak salah satu pihak. Tugas Pimpinan Sidang A. Pimpinan Sidang I 1. Tidak Subjektif (Bersifat Netral) 2. Menghargai Setiap Pendapat 3. Merespon Setiap Pendapat 4. Menasehati Peserta Yang Tidak Beretika 115 5. Memutuskan Setiap Keputusan Dengan Bijak B. Pimpinan Sidang II 1. Memberi Masukan Kepada Presidium sidang I 2. Memberi informasi-informasi tentang jalannya persidangan kepada Presidium sidang I C. Pimpinan Sidang III 1. Mencatat Setiap Pendapat dari peserta 2. Memberi Masukan Kepada Pimpinan Sidang I C. PERANGKAT PERSIDANGAN a. Tema b. Peserta c. Tempat Pelaksanaan d. Jumlah Sidang e. Agenda Acara f. Draf Persidangan g. Palu Sidang h. Serta hal lain yang diperlukan D. KETUKAN PALU 1. Satu kali ketukan, digunakan untuk : a. Memutuskan suatu ketetapan yang merupakan bagian dari keseluruhan yang akan diputuskan. b. Menskorsing atau mencabut skorsing sidang dalam waktu maksimal 30 menit (misal 2x15 menit). c. Perpindahan palu pimpinan sidang. 2. Dua Kali ketukan, digunakan untuk : a. Memutuskan suatu ketetapan yang menyeluruh. b. Menskorsing atau mencabut skorsing sidang lebih dari 30 menit (misal 2x20 menit). 3. Tiga kali, digunakan untuk: Membuka dan menutup persidangan. 4. Lebih dari tiga kali digunakan untuk menenangkan forum atau mengkondisikan forum agar bisa focus pada persidangan. 116 E. INTERUPSI Interupsi digunakan oleh peserta sidang sebagai alat untuk menyampaikan pendapat atau unek-unek dengan seizin pimpinan sidang. Adapun interupsi yang digunakan adalah : 1. Interupsi Point of Clarification Digunakan untuk memperbaiki kesalah pahaman dalam penafsiran peserta sidang maupun pimpinan sidang. 2. Interupsi Point of Information Digunakan apabila peserta merasa perlu untuk memberikan infomasi guna melancarkan persidangan dan memberi penjelasan. 3. Interupsi Point of Order Digunakan sebagai usulan atau memberi pendapat yang baru dengan disertai argumen atau penjelasan dan adanya suatu peryataan terkait persidangan. 4. Interupsi Point of Jastification Digunakan untuk sekala pernyataan sikap ego peserta, demi mempertahankan pendapat dan argumennya. F. PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN Dalam mengambil sebuah keputusan ada tiga proses : a. Kesepakatan Bila forum mempunyai pemikiran dan pendapat yang sama dalam membahas suatu hal, tapi jika tidak terjadi kesepakatan maka dilakukan proses lobying. b. Lobbying Adalah proses perlindungan, ada dua atau lebih pihak yang berbeda pendapat dan keinginan untuk mencapai suatu kesepakatan, atau disebut juga tawar-menawar, dan apabila tidak terjadi kesepakatan kembali, maka dilakukan proses voting. c. Voting Adalah proses pengambilan kesepakatan dengan mencari dukungan yang lebih banyak, atau bisa dikatakan proses demokrasi. 117 G. MEKANISME PENAMBAHAN POIN dan PENINJAUAN KEMBALI Pembahasan mengenai penambahan poin dan peninjauan kembali (PK) akan dilakukan setelah setiap draft selesai dibahas dengan melalui penawaran dari pimpinan sidang. Mekanisme penawaran didahulukan pada penambahan poin dan dilanjutkan dengan peninjauan kembali. H. QUORUM Quorum adalah syarat sahnya sidang untuk dapat diadakan, karena tingkat qauorum menunjukkan sejauh mana tingkat representasi dari peserta sidang. Semakin tinggi jumlah quorum, semakin tinggi pula tingkat representasi dari sidang tersebut. 118 MATERI-MATERI LATIHAN INSTRUKTUR KOMISARIAT (LIK) 119 MATERI I SISTEM PERKADERAN RASULULLAH Rasulullah SAW merupakan mutiara yang berada di tengah-tengah manusia yang menjelma sebagai manusia dengan islam yang tertancap di hati beliau. Kehidupan Rasulullah senantiasa dihiasi dengan perjuangan yang selalu menumpahkan darah dan menghabiskan harta benda, bersama keluarga dan para sahabat tidak pernah mundur dari perjuangan, karena alasan mereka berjuang adalah tegaknya agama islam sebagai rahmatan lil alamin. Hal ini dikarenakan islam ketika tegak dengan lantang ditengah kehidupan manusia akan melahirkan kedamaian yang telah lama dicita-citakan, kesejahteraan yang selama ini menjadi sebab pertumpahan darah, keadilan yang merembes di kehidupan masyarakat, dan kebebasan untuk hidup tanpa belenggu dari kelompok tertentu. Setelah 23 tahun berdakwah, tepat tiga bulan sebelum Muhammad sang rasul meninggal, cita-cita islam dengan lantang berdiri akhirnya menjadi kenyataan, dalam sejarah mengatakan bahwa sebanayk 10.000 pasukan muslim berhasil menduduki mekkah sebagai tempat islam membangun peradaban di kemudian hari. Sebagaimana pencapaian Muhammad, hal tersebut tidak terwujud dalam waktu yang singkat. Muhammad membutuhkan 23 tahun lamanya untuk mencapai cita-cita yang diamanatkan padanya, dalam sejarah terdapat 2 periode Muhammad melakukan perjuangan bersama para sahabat dan keluarganya, yang kita kenal dengan priode Mekkah dan priode Madinah. Sebelum islam berdiri dengan kokoh di tengah masyarakat Arab waktu itu, Muhammad menjalankan dakwahnya ke banyak golongan agar umatnya, terkhusus keluarganya sendiri berkenan untuk masuk ke dalam agama yang diridhai oleh Allah, yaitu Islam. Dakwah ini yang menjadi cara pertama yang dilakukan oleh Muhammad agar manusia paham dengan cita-cita beliau untuk manusia, terkhusus untuk bangsa Arab waktu itu. Abdul Fattah berkata bahwa di utusnya Muhammad ke bumi memang untuk membawa risalah Allah dan diajarkan kepada umatnya. Melalui pendidikan yang diberikan oleh Muhammad kepada para sahabatnya, risalah tersebut sampai dan diamalkan oleh sahabat dalam kehidupan sehari-hari, baik itu hal yang kecil seperti tidur atau bertamu hingga ke persoalan yang besar seperti perang. Nabi Muhammad sudah melakukan dan memberikan pendidikan terbaiknya kepada para sahabat hingga melahirkan orang-orang besar seperti, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, Amr Bin Ash, Khalid Bin Walid, Said, Salamah, dan sahabat yang lain yang menjadi partner penting bagi beliau dalam mensyiarkan agama islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Hal ini memberikan bukti bahwa Muhammad telah memberikan pendidikan kepada para keluarga dan sahabatnya semasa beliau hidup. Lahirnya Abu Bakar sebagai Khalifah merupakan bukti bagaimana Muhammad memberikan pendidikan yang sanagat baik kepada 120 sahabatnya itu. Tidak hanya pada ketokohan Abu Bakar saja, Ibnu Ishaq berkata bahwa budi pekerti yang dimiliki oleh Abu Bakar sebagai seorang individu pun membuatnya di segani oleh banyak orang sehingga diangkat oleh kabilah Muhajir dan Anshar sebagai khalifah pengganti Nabi dalam memimpin umat islam, dan yang paling kita ketahui adalah bagaimana keberanian Abu Bakar memerdekakan Bilal bin Rabah yang pada waktu itu menjadi budak dari Abu Jahal. Melihat dari apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, bisa dipersepsi bahwa ketika Muhammad memberikan pendidikan kepada sahabatnya, beliau tidak hanya mengajarkan bagaimana beribadah, atau hanya mengajarkan apa yang wajib dilakukan seorang islam sebagai hamba Allah, melainkan juga Muhammad memberikan pembelajaran kepada para sahabatnya untuk tahu cara bermanfaat bagi orang lain. Dari kisah ini kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan ala Rasulullah memiliki dampak yang sangat luar biasa bagi para muridnya (Sahabat & keluarga). Kembali Abdul Fattah dalam bukunya yang berjudul ‘Mendidik dan Mengajar ala Rasulullah’ mengatakan bahwa ada beberapa metode sederhana yang dilakukan oleh Rasulullah dalam mengajar para muridmuridnya, metode yang pertama adalah metode tanya jawab (diskusi). Metode ini dilakukan oleh Muhammad agar para murid atau para sahabatnya berkesempatan untuk mengutarakan gagasana atau buah pemikiran yang dimilikinya, sehingga mengajarkan para sahabat untuk mau menggunakan akal pikirannya dalam mengatasi masalah dan tidak bergantung hanya pada pikiran orang lain semata. Hal ini juga dilakukan oleh Muhammad agar tidak terlihat menggurui para sahabat, melainkan mengajak untuk berpikir demi kemaslahatan bersama. Metode pengajaran ini bisa kita lihat salah satunya pada saat umat islam hendak berperang melawan kaum kafir quraish, kala itu Muhammad kemudian mengajak para sahabat untuk berdiskusi dan mencari solusi agar kaum quraish yang hendak menyerang umat muslim tidak sampai ke Madinah, dari proses diskusi tersebut salah seorang sahabat mengusulkan untuk membat parit dengan tujuan menghalangi musuh agar tidak sampai atau masuk ke wilayah Madinah. Setelah disepakati, para sahabat kemudian bekerja sama untuk membuat parit sebagaimana yang disepakati bersama-sama. Disini kita dapat melihat bahwa begitu terbukanya Rasulullah untuk berdiskusi dengan sahabatnya, tidak ada kesan Muhammad menggurui, meskipun beliau memang orang yang cerdas, melainkan dengan metode diskusi ternyata mampu melahirkan sebuah ide yang cemerlang untuk menghalangi kaum kafir menyerang kaum muslim di Madinah. Selain metode diskusi, Muhammad juga dalam mendidik dan memberikan pengajaran dengan metode perumpamaan atau analogi dari sebuah kisah dan cerita-cerita singkat kepada para muridnya. Hal ini dilakukan Nabi agar para sahabat atau muridnya juga mau menggunakan pikirannya dalam meyelesaikan persoalan yang ada, atau memperjelas hal-hal yang belum jelas dipikiran para sahabat. Menyampaikan cerita-cerita adalah salah satu cara Muhammad dalam mengumpamakan sesuatu yang tidak jelas agar menjadi jelas bagi para muridnya. Selain itu 121 Muhammad menggunakan cerita dalam pengajarannya untuk memberikan peringatan kepada para sahabatnya agar tidak semena-mena dalam berbuat, melainkan berbuat dengan pemikiran yang matang agar menuai banyak manfaat bagi kehidupan banyak orang. Rasulullah dalam memberikan pendidikan kepada muridnya selalu menggunakan banyak metode sesuai dengan keefektifan materi itu menggunakan metode apa. Rasulullah melakukan pengajarannya dengan tujuan lahirnya generasi yang mampu membawa islam menjadi rahmat bagi umat manusia. Hal ini telah ditegaskan Allah dalam Al-Quran yang berbunyi ‘inna arsalnaka Illa Rahmatan Lil ‘alamin’. Meskipun ada beberapa ulama tafsir yang berbeda berpendapat dengan tafsiran pada saah satu bagian kata dari ayat tersebut yang mengatakan bahwa Ka dalam kata arsalnaka adalah merujuk pada Muhammad sang Rasul, namun ulama yang lain juga berpendapat bahwa Ka dalam kata tersebut adalah islam. Dua pendapat ini samasama memiliki maksud yang sama jika ditelaah mendalam. Ketika kita mengambil pendapat yang pertama, yang mana rasul adalah rahmatan lil alamin, maka sebab rahmatan lil alamin dari seorang Muhammad tidak terletak keturunan atau latar bekalangnya dia sebagai seorang manusia, melainkan seorang Rasul yang dibebankan oleh Allah untuk mensyiarkan agama Islam kepada seluruh umat manusia. Hanya saja, penulis tidak menjelaskan mendetail bagaimana keterkaitan pendapat para ulama tafsit tersebut. Intinya kedua pendapat mengenai tafsik kata Ka merujuk pada Muhammad sebagai yang membawakan dan mensyiarkan Islam dan Islam sebagai objek yang disyiarkan oleh Rasulullah. Muhammad dalam mengajar juga selalu memberikan tauladan kepada para sahabatnya. Keteladanan yang diperlihatkan Nabi tak pernah lepas dari kehidupan yang dia jalankan dalam kesehariannya, terlebih ketika dia dalam memberikan pembelajaran kepada para sahabatnya. Ketauladanan nabi merupakan salah satu model beliau dalam mendidik para sahabatnya. Keteladanan Muhammad dipraktekkan dengan cara mengatakan apa yang dilakukan dan kemudian menyerukan kepada para sahabat. inilah salah satu alasan mengapa nabi dijuluki sebagai al-amin (orang yang dapat dipercaya). Dari sikapnya itulah Muhammad sangat dipercaya dan banyak orang yang mau mengikuti seruannya. Hingga pada waktu peletakan hajar aswad, kala Muhammad belum menjadi nabi, beliau dipercaya sebagai orang yang meletakkan hajar aswad ditempatnya, dengan kebijaksanaan beliau akhirnya bersama pemimpin kabilah untuk bersama-sama meletakkan hajar aswad pada tempatnya. Dampaknya adalah, kabilah-kabilah yang ada pada waktu itu tidak berseteru dan berdamai karena merasa semua sudah mendapatkan haknya masing-masing untuk meletakkan hajar aswad pada tempatnya. Dari pendidikan yang dilakukan oleh Muhammad, dengan hasil lahirnya para penerus beliau yang sangat disegani dan mampu menjadi penerus yang tetap kokoh dan mampu mensyiarkan islam, kita bisa mengambil contoh bagaimana dalam mendidik umat agar mampu menjadi umat 122 yang melanjutkan perjuangan nabi di kemudian hari. Pendidikan yang mampu melahirkan karakter yang kuat sebagaimana Umar bin Khattab, generasi yang cerdas seperti Ali bin Abi Thalib, generasi yang lemah lembut seperti Abu Bakar dan Usman yang kesemuanya bisa menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah mengajarkan kita untuk menjadi teladan bagi orang lain, dan itu sebaik-baik cara dalam melakukan pendidikan. Allah menegaskan pula dalam firmannya dalam al-quran mengenai hal ini. Oleh karena itu, metode diskusi, perumpamaan, ceramah atau metode yang lain sebaiknya diikuti dengan keteladanan. Muhammad tak pernah memberikan pendidikan tanpa adanya keteladan dari beliau. Sebagai penutup, pendidikan ala Rasulullah memang selalu diberikan dengan metode yang menyesuaikan dengan kondisi yang dihadapi. Akan tetapi tetap bermuara pada nilai-nilai keTuhan-an yang disampaikan Allah kepada Rasul. Nabi Muhammad adalah seorang pendidik yang ulung, dia (Muhammad) pun bersabda ‘sesungguhnya Aku di utus sebagai seorang pendidik. Nabi kita telah mendidik dan membina para sahabat dan muridnya dalam rumah AlArqom, disanalah mereka para sahabat dan muridnya memperoleh bimbingan dan ilmu dari nabi. Melalui pendidikan yang dijalankan semasa hidupnya, nabi Muhammad tidak hanya mampu melahirkan banyak tokoh besar yang menjadi pemimpin islam. Melainkan juga telah melahirkan orang-orang atau generasi yang mampu membawa dan menjaga ajaran yang dibawa oleh beliau hingga di tengah-tengah zaman yang tidak lagi tradisional seperti saat ini. Rasulullah sanagt paham bagaimana pentingnya menyiapkan generasi untuk masa depan, tidak hanya untuk memperjuangkan islam sebagai agama semata, tapi juga sebagai suatu gerakan yang dengan kehadirannya mampu menciptakan keadilan, kesejahteraan, kedamaian dan kebersamaan yang penuh dengan keberkahan ilahi di dalam kehidupan bermasyarakat. Pentingnya untuk membina calon generasi pelanjut merupakan salah satu perintah Allah yang termaktub di dalam surah An-Nisa : 9. Kala nabi Muhammad telah berhasil memberikan conroh kepada kita sang penerus dengan kisah-kisah para sahabat beliau, maka bukan alasan bagi kita untuk berhenti melakukan pendidikan untuk para penerus masa depan, melalui sebuah sistem yang kita sebut dengan kaderisasi adalah jembatan penting yang harus terus dipertahankan, agar terus lahir generasi yang mampu meneruskan perjuangan hingga pada puncak yang dicita-citakan. Billahi Fii Sabili Haq, Fastabiqul Khoirot. Refrensi : Terjemahan oleh Fadli Bahri. (2002). Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 dan 2. Abdul Fattah. (2015). Mengajar ala Rasulullah. Yogyakarta; LC. Mediatama Yogyakarta. 123 MATERI II SISTEM PERKADERAN MUHAMMADIYAH A. Pendahuluan Muhammadiyah berdiri tidak hanya sebagai organisasi gerakan islam yang hanya memberantas Tahayyul, Bid’ah dan Kurafat (TBC), melainkan gerakan kemanusiaan yang juga memiliki orientasi untuk kesejahteraan, kebebasan dan kedaulatan. Menapaki abad ke-2 Muhammadiyah semenjak berdirinya tidak bisa dilepaskan dari budaya organisasi dan dinamika Muhammadiyah. Sehingga sangat etis bila Muhammadiyah saat ini tidak akan lepas dari halhal perkaderan yang nantinya akan terus mengembangkan program Muhammadiyah agar semakin maju sebagai ciri Muhammadiyah sebagai organisasi yang dinamis dan bersifat moderat. Maka tidak heran jika Muhammadiyah sangat gentir untuk terus memperbaharui sistem perkaderannya agar tetap bisa membumi di dalam warga Muhammadiyah. Hal tersebut terdapat pada tiga anasir ciri pengembangan yang dapat dilihat dari Muhammadiyah, yaitu : 1. Sistem Gerakan, yaitu menguatnya ideologi dan visi gerakan Muhammadiyah. 2. Jaringan, yaitu menguatnya peran dan jaringan keummatan, kebangsaan dan kemanusiaan secara universal serta menguatknya amal usaha, kegiatan sosial dan perangkat persyerikatan 3. Sumberdaya, yaitu menguatnya sistem kaderisasi dalam Muhammadiyah yang dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan. Ketiga hal tersebut menjadi ciri berkembangnya Muhammadiyah selama satu abad sejak kelahirannya. Bagi Muhammadiyah perkaderan menjadi budaya organisasi yang dilakukan terus menerus dan sebagai kebijakan strategis yang berjangka panjang. Karena Muhammadiyah adalah organisasi yang bergerak membangun kemajuan yang terus bereksistensi di gerakan dakwah amar ma’ruf dan nahi mungkar serta gerakan tajdid sehingga menjadikan kaderisasi sebagai program yang sangat penting untuk dijalankan. Karena dengan adanya kaderisasi maka lahir generasi yang tidak hanya sebagai pelanjut perjuangan, melainkan penambah personil di tubuh Muhammadiyah yang memperkuat basis gerakan dakwah yang teroganisir. Di samping itu, kaderirasi diharapkan menjadi jembatan bagi para ader untuk mengembangkan program sesuai dengan potensi dan minatbakat kader. Dengan demikian maka perkaderan dalam Muhammadiyah dijadikan sebuah sistem yang mengatur kaderisasi Muhammadiyah yang memiliki konsep dasar yang mencakup penegasan 124 tentang defenisi dan posisi kader, defenisi SPM, visi dan misi perkaderan, tujuan perkaderan, penitikberatan perkaderan Muhammadiyah dan profil kader Muhammadiyah. Sebagai suatu kesatuan sistem yang utuh, maka sistem perkaderan Muhammadiyah (SPM) berlaku menyeluruh bagi seluruh komponen perkaderan di persyerikatan. Karena bersifat mengikat dan menyeluruh maka sistem perkaderan yang dimiliki oleh ortom Muhammadiyah menjadi bagian dari SPM. Artinya SPM dan sistem perkaderan yang terdapat di dalam ortom terintergrasi, meskipun tetap diberikan keleluasaan untuk menjalankan kaderisasi sesuai dengan ciri khas pada masing-masing ortom dan tetap mengacu pada SPM, konsep dasar dan kurikulum yang ada. Dalam kaderisasi Muhammadiyah, ada yang namanya revitalisasi kader yang merupakan langkah penataan, peningkatan, dan pengembangan anggota inti peryerikatan yang dapat melaksanakan misi, usaha, dan pencapaian tujuan. Tujuan dilakukannya revitalisasi ini adalah agar berkembangnya jumlah dan kualitas kader yang berperan aktif dalam ranah persyerikatan, umat, bangsa dan kemanusiaan sebagai perwujudan pelaku dakwah dan tajdid. Dengan revitalisasi kader ini diharapkan agar perkaderan tidak berkutat pada rekrutmen saja, tapi mampu berkembang pada pengembangan kader yang benar-benar memiliki komitmen terhadap organisasi secara menyeluruh dan konsisten yang didukung dengan sumber dana, jaringan dan dukungan yang optimal. Sebagai organisasi yang berdiri sejak 102 tahun yang lalu yang didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan yang mendorong kadernya agar mampu mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan adanya kesadaran atas dinamika lingkungan strategis yang dihadapi oleh Muhammadiyah untuk mampu dan terus bisa mengambil peran dalam bermasyarakat. Usaha tersebut bisa dilihat dari uraian berikut, Pertama Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid yang terus melakukan pemurnian ajaran islam dan pengmbangan pemikiran dala berbagai masalah. Kedua Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid terus mendorong untuk melakukan pengembangan pemikiran diberbagai bidang. Ketiga, Muhammadiyah terus mengupayakan tercapainya cita-cita bangsa Indonesia, karena Muhammadiyah adalah salah satu komponen dari negara Indonesia. Keempat, Muhammadiyah juga bertanggung jawab atas kemajuan umat islam di segala bidang kehidupan, keterasingan, keterbelakangan, dan hegemoni dari dampak era globalisasi yang tidak memihak. 125 Kelima, Muhammadiyah tetap bertanggung jawab atas terciptanya tatanan masyarkat dunia yang adil, sejahtera dan berperadaban tinggi dalam mencapai misi rahmatan lil alamin. B. Jenis dan Bentuk Perkaderan dalam Muhammadiyah Dalam melakukan kaderisasi, Muhammadiyah melakukannya dengan berbagai bentuk perkaderan, beberapa jenis tersebut adalah : 1. Perkaderan Utama Perkaderan utama dalam Muhammadiyah adalah perkaderan yang dilakukan untuk menyatukan visi dan idologi Muhammadiyah agar satu pemahaman. Ada dua jenis dalam perkaderan utama, yaitu Baitul Arqam dan Darul Arqam. 2. Perkaderan Fungsional Perkaderan fungsional dilakukan dalam bentuk pelatihan, diklat atau kursus yang tidak ada standar bakunya dan dilakukan sesuai dengan kebutuhan kader dan dilakukan sebagaimana kreativitas dari pimpinan yang melakukan. Salah satu perkaderan funsional yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah sekolah kader, pengajian, diskusi ideopolitor atau kajian pimpinan. Perkaderan yang dilakukan Muhammadiyah tetap berorientasi pada tujuan yang dimiliki Muhammadiyah. Kapasitas kader yang dikembangkan menjadi jembatan agar tujuan Muhammadiyah dapat terus diperjuangkan hingga pada titik yang telah dicita-citakan oleh Muhammadiyah sebagai organisasi. Referensi :MPK PP Muhammadiyah. Sistem Perkaderan Muhammadiyah. Jakarta 126 MATERI III KE-INSTRUKTURAN 1. Pengertian Instruktur Instruktur adalah in·struk·tur/ n orang yang bertugas mengajarkan sesuatu dan sekaligus memberikan latihan dan bimbingannya; pengajar; pelatih; pengasuh:55 2. Keberadaan Instruktur dalam perkaderan IMM Tim Instruktur56 Yaitu tim yang bertugas memadu dan memegang kendali orientasi, materi dan kualitas acara perkaderan sebagai proses melahirkan ekstrainer yang ideal. Tim instruktur adalah kelompok instruktur yang dari segi keinstrukturan dan perkaderan memenuhi persyaratan sebagai pengelola perkaderan dengan tugas khusus disamping tugas umum. Tim Instruktur terdiri dari : - Master Of Training Yaitu seorang yang mendapat tugas memimpin dan secara umumbertanggung jawab atas pelaksanaan keinstrukturan dalam proses perkaderan. Jika diperlukan dapat mengangkat vice moot yang bertugas membantu atau dalam keadaan tertentu dapat menggantikan MOT. - Imam Training Yaitu seseorang yang mendapat tugas memandu keinstrukturan dalam aspek pelaksanaan syariat Islam dan akhlaq karimah. Observer Yaitu sekelompok orang yang bertugas mengevaluasi perkembangan peserta secara personal dan kolektif yang menunjukan pelatihan sesuai dengan targetnya. - Observer Yaitu sekelompok orang yang bertugas mengevaluasi perkembangan peserta secara personal dan kolektif yang menunjukan pelatihan sesuai dengan targetnya. - Anggota tim instruktur Yaitu sekelompok orang yang secara bersama-sama menjalankan tugas keinstrukturan dan masing-masing bertanggungjawab terhadap aspek-aspek tertentu dari materi perkaderan. 55 Kbbi (kamus besar bahasa indonesia) BAB II SPI (Sistem perkaderan ikatan) poin pengorganisasian 56 127 Sebagai mana setiap instruktur memiliki spesifikasi dalam hal tertentu yang diarahkan pada pada tujuan dalam perkaderan. 3. Tugas Pokok dan fungsi instruktur57 Dalam melakukan perkaderan dalam ikatan mahasiswa muhammadiyah di bagi menjadi 3 perkaderan yaitu perkaderan utama, khusus dan pendukung. A. Perkaderan Utama terbagi menjadi 3 sesuai dengan jenjang level perkaderannya yaitu : Darul Arqam adalah bagian utama sistem perkaderan IMM yang diselenggarakan dalam kesatuan waktu tertentu dan berjenjang. Nama Darul Arqam asalnya berarti rumah Arqam, dinisbatkan kepada pemilik Arqam Ibn Abil Arqam yang digunakan oleh Rasulullah SAW. Sebagai tempat perkaderan Islam di masa-masa pertama. Darul Arqam itulah lahir tokoh-tokoh Islam generasi pertama seperti Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Siti Khodijah, Saad bin Abi Waqas dan lain-lain. - DAD (Darul Arqam Dasar) Yaitu perkaderan utama tingkat pertama dari tiga tingkat perkaderan, dan merupakan prasyarat bagi calon pimpinan IMM tingkat Komisariat. Instruktur Instruktur DAD adalah tim instruktur yang ditetapkan oleh PC IMM dan terdiri dari sekurangkurangnya : 1. 1 (satu) orang Master Of Training 2. 2 (satu) orang Imam Training 3. 3 (dua) orang observer 4. 4 (tiga) orang anggota Instruktur - DAM (Darul Arqam Madya) Yaitu perkaderan utama tingkat kedua dari tiga tingkat perkaderan, dan merupakan prasyarat bagi calon pimpinan IMM tingkat Daerah. Instruktur Instruktur DAM adalah Tim Instruktur yang dibentuk oleh DPD IMM dan terdiri dari sekurangkurangnya : 57 BAB III SPI (Sistem Perkaderan Ikatan tentang Komponen dan jenjang perkaderan 128 1. 1 (satu) orang Mater Of Trainning 2. 1 (satu) orang Imam Training 3. 2 (dua) orang observer 4. 3 (tiga) orang anggota Instruktur - DAP (Darul Arqam Paripurna) Yaitu perkaderan utama tingkat ketiga dari tiga tingkatan perkaderan, dan merupakan prasyarat bagi calon pimpinan IMM tingkat daerah dan pusat. Instruktur Instruktur Darul Arqam Paripurna adalah tim instruktur yang ditetapkan oleh DPP IMM dan terdiri dari sekurang-kurangnya : 1. 1 (satu) orang Master Of Trainning 2. 1 (satu) orang Imam Trainning 3. 2 (dua) orang observer. 4. 3 (tiga) anggota instruktur Persyaratan untuk dapat menjadi instruktur DAP adalah minimal telah lulus latihan Instruktur Paripurna. B. Perkaderan Khusus juga terbagi menjadi 3 sesuai dengan tingkatan kepemimpinan : Latihan Instruktur adalah perkaderan khusus yang menjadi fasilitas didik resmi dan disusun secara berjenjang sebagai upaya untuk meningkatkan kualifikasi kader secara bertahap agar memperoleh kompotensi dalam mengelola perkaderen Ikatan. - LID (Latihan Instruktur Dasar) Latihan InstrukturDasar (LID) adalah kegiatan perkaderan khusus yang dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan tenaga-tenaga instruktur tingkat Cabang, yang memiliki kewenangan mengelola perkaderan dalam lingkup wilayah kepemimpinan komisariat. Instruktur Instruktur LID adalah tim Instruktur yang telah ditetapkan oleh PC IMM dan terdiri dari sekurang-kurangnya : 1. 1 (satu) orang Master Of Trainning 2. 1 (satu) orang Imam Trainning 3. 2 (dua) orang observer 129 4. 3 (tiga) orang anggota instruktur. Persyaratan untuk dapat menjadi instruktur LID adalah telah lulus Latihan Instruktur Madya dengan rasio 1:3 - LIM (Latihan Instruktur Madya) Latihan Instruktur Madya (LIM) adalah kegiatan perkaderan khusus yang dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan tenaga-tenaga instruktur tingakat Daerah, yang memiliki kewenangan mengelola perkaderan utama dalam lingkup wilayah kepemimpinan Pimpinan Daerah IMM. Instruktur Instruktur LIM adalah tim Instruktur yang ditetapkan oleh DPD IMM dan terdiri dari sekurangkurangnya : 1. 1 (satu) orang Master Of Trainning 2. 1 (satu) orang Imam Trainning 3. 2 (dua) orang observer 4. 3 (tiga) orang anggota instruktur. Persyaratan untuk dapat menjadi instruktur LIM adalah minim al telah lulus Latihan Instruktur Paripurna (LIP) dengan rasio 1 : 4 - LIP (Latihan Instruktur Paripurna) Latihan Instruktur Paripurna (LIP) adalah kegiatan perkaderan khusus yang dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan tenaga-tenaga instruktur tingakat Pusat, yang memiliki kewenangan mengelola perkaderan utama dalam lingkup wilayah kepemimpinan Pimpinan Pusat IMM. Instruktur Instruktur LIP adalah tim Instruktur yang ditetapkan oleh DPP IMM dan terdiri dari sekurangkurangnya : 1. 1 (satu) orang Master Of Trainning 2. 1 (satu) orang Imam Trainning 3. 2 (dua) orang observer 3. 3 (tiga) orang anggota instruktur. Persyaratan untuk dapat menjadiinstruktur LIP adalah minimal telah lulus Latihan Instruktur Paripurna dengan rasio 1 : 5 130 C. Perkaderan Pendukung Yaitu komponen perkaderan yang dilaksanakan untuk meningkatkan potensi kader sesuai dengan minat, bakat, ketrampilan, keahlian dan kemampuan dalam rangka mendukung keberhasilan proses kaderisasi ikatan. Komponen perkaderan pendukung dilaksanakan secara integral dengan pelaksanakan aktivitas dan program organisasi itu sendiri. Komponen perkaderan pendukung terdiri dari : - Perkaderan Pendukung Pokok Adalah perkaderan yang dilaksanakan secara sistematik yang diatur, dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing bidang. Sebagai contoh : Pelatihan Jurnalistik, Pelatihan Kewirausahaan, Pelatihan Penelitian dan penulisankarya Ilmiah, pendidikan wanita dan lain-lain. - Perkaderan pendukung tambahan Adalah semua bentuk dan proses kaderisasi yang tidak di atur secara khusus (terbuka dan bebas). Sebagai contoh adalah kelompok studi, penokohan kader, forum kajian dan lainlain 4. Follow up (tindak lanjut)58 IMM menetapkan pola perkaderan sebagai upaya pokok aktifitas kelembagaan yang menjadi urat nadi kegiatan. Segala bentuk kegiatan IMM pada dasarnya direfleksikan dalam bentuk-bentuk konstruk perkaderan yang dititikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia muda, khususnya mahasiswa. Kegiatan resmi perkaderan dalam setiap komponen dan jenjang tidak berakhir dalam satuan waktu tertentu yang terbatas dan insidental. Upaya itu mesti dilanjutkan dengan program pasca latihan sebagai upaya pembinaan dan pengembangan kualitas anggota secara kontinu dan terprogram. Hal ini merupakan konsekuensi logis komitmen kekaderan IMM. Disadari bahwa mengandalkan pembinaan kualitas kader melalui perkaderan utama saja tidak cukup dan sangat terbatas. Dengan demikian setiap struktur kepemimpinan IMM bertanggungjawab untuk melaksanakan proses tindak lanjut perkaderan di lingkungannya. A. PRINSIP FOLLOW UP Proses tindak lanjut (follow up) perkaderan utama (DAD, DAM, dan DAP) dilaksanakan dengan prinsip kontinyu dan mengikat. B. SIFAT DAN FUNGSI 58 BAB IV SPI (Sistem Perkaderan Ikatan) tentang Tindak lanjut perkaderan 131 Tindak lanjut perkaderan dilaksanakan dengan sifat : 1. Silaturrahim, baik secara personal maupun kelompok. 2. Jaringan informal kualitatif, baik antara personal maupun profesional. 3. Promosi dan transformasi kader di kawasan persyarikatan, umat dan bangsa. Tidak lanjut perkaderan dilaksanakan dengan fungsi; 1. Kristalisasi 2. Kaderisasi 3. Konsolidasi C. MATERI DAN BENTUK TINDAK LANJUT Materi tindak lanjut (follow up) perkaderan berupa : materi keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan, yang disesuaikkan dalam setiap jenjang perkaderan utamaBentuk follow up terbagi menjadi dua; wajib dan pilihan 1. Wajib; Kajian yang terprogram dengan kurikulum terlampir 2. Pilihan; a. Pendampingan b. Pelatihan c. Pemagangan d. Monitoring e. Silaturrahim f. Penugasan 132 MATERI IV STRATEGI PENDAMPINGAN DAN GOAL SETTING 1. Pengertian Goal Setting Teori penetapan tujuan atau goal setting theory awalnya dikemukakan oleh Dr. Edwin Locke pada akhir tahun 1960. Lewat publikasi artikelnya ‘Toward a Theory of Task Motivation and Incentives’ tahun 1968, Locke menunjukkan adanya keterkaitan antara tujuan dan kinerja seseorang terhadap tugas. Locke mengusulkan model kognitif, yang dinamakan teori tujuan, yang mencoba menjelaskan hubungan-hubungan antara niat/intentions (tujuan-tujuan) dengan perilaku. Teori ini secara relatif lempang dan sederhana. Aturan dasarnya ialah penetapan dari tujuantujuan secara sadar. Menurut Locke, tujuan-tujuan yang cukup sulit, khusus dan yang pernyataannya jelas dan dapat diterima oleh tenaga kerja, akan menghasilkan unjuk-kerja yang lebih tinggi daripada tujuan-tujuan yang taksa, tidak khusus, dan yang mudah dicapai. Teori tujuan, sebagaimana dengan teori keadilan didasarkan pada intuitif yang solid. Penelitian-penelitian yang didasarkan pada teori ini menggambarkan kemanfaatannya bagi organisasi. Manajemen Berdasarkan Sasaran (Management By Objectives =MBO) menggunakan teori penetapan tujuan ini. Berdasarkan tujuan-tujuan perusahaan, secara berurutan, disusun tujuan-tujuan untuk divisi, bagian sampai satuan kerja yang terkecil untuk diakhiri penetapan sasaran kerja untuk setiap karyawan dalam kurun waktu tertentu. Penetapan tujuan juga dapat ditemukan dalam teori motivasi harapan. Individu menetapkan sasaran pribadi yang ingin dicapai. Sasaran-sasaran pribadi memiliki nilai kepentingan pribadi (valence) yang berbeda-beda. Proses penetapan tujuan (goal setting) dapat dilakukan berdasarkan prakarsa sendiri, dapat seperti MBO, diwajibkan oleh organisasi sebagai satu kebijakan peusahaan. Bila didasarkan oleh prakarsa sendiri dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja individu bercorak proaktif dan ia akan memiliki keterikatan (commitment) besar untuk berusaha mencapai tujuan-tujuan yang telah ia tetapkan. Bila seorang tenaga kerja memiliki motivasi kerja yang lebih bercorak reaktif, pada saat ia diberi tugas untuk menetapkan sasaran-sasaran kerjanya untuk kurun waktu tertentu dapat terjadi bahwa keterikatan terhadap usaha mencapai tujuan tersebut tidak terlalu besar. 133 Dia menemukan bahwa tujuan spesifik dan sulit menyebabkan kinerja tugas lebih baik dari tujuan yang mudah. Beberapa tahun setelah Locke menerbitkan artikelnya, penelitian lain yang dilakukan Dr. Gary Latham, yang mempelajari efek dari penetapan tujuan di tempat kerja. Penelitiannya mendukung persis apa yang telah dikemukakan oleh Locke mengenai hubungan tak terpisahkan antara penetapan tujuan dan kinerja. Pada tahun 1990, Locke dan Latham menerbitkan karya bersama mereka, ‘A Theory of Goal Setting and Task Performance’. Dalam buku ini, mereka memperkuat argumen kebutuhan untuk menetapkan tujuan spesifik dan sulit. Edwin A. Locke. Courtesy: leansystemsinstitute.com 2. Prinsip-prinsip Goal Setting A. Kejelasan. Tujuan harus jelas terukur, tidak ambigu, dan ada jangka waktu tertentu yang ditetapkan untuk penyelesaian tugas. Manfaatnya ketika ada sedikit kesalahpahaman dalam perilaku maka orang masih akan tetap menghargai atau toleran. Orang tahu apa yang diharapkan, dan orang dapat menggunakan hasil spesifik sebagai sumber motivasi. B. Tantangan. Salah satu karakteristik yang paling penting dari tujuan adalah tingkat tantangan. Orang sering termotivasi oleh prestasi, dan mereka akan menilai tujuan berdasarkan pentingnya sebuah pencapaian yang telah diantisipasi. Ketika orang tahu bahwa apa yang mereka lakukan akan diterima dengan baik, akan ada motivasi alami untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Dengan catatan sangat penting untuk memperhatikan keseimbangan yang tepat antara tujuan yang menantang dan tujuan yang realistis. C. Komitmen. Tujuan harus dipahami agar efektif. Karyawan lebih cenderung memiliki tujuan jika mereka merasa mereka adalah bagian dari penciptaan tujuan tersebut. Gagasan manajemen partisipatif terletak pada ide melibatkan karyawan dalam menetapkan tujuan dan membuat keputusan. Mendorong karyawan untuk mengembangkan tujuan-tujuan mereka sendiri, dan mereka menjadi berinisiatif memperoleh informasi tentang apa yang terjadi di tempat lain dalam organisasi. Dengan cara ini, mereka dapat yakin bahwa tujuan mereka konsisten dengan visi keseluruhan dan organisasi. D. Umpan balik (feedback). 134 Umpan balik memberikan kesempatan untuk mengklarifikasi harapan, menyesuaikan kesulitan sasaran, dan mendapatkan pengakuan. Sangat penting untuk memberikan kesempatan benchmark atau target, sehingga individu dapat menentukan sendiri bagaimana mereka melakukan tugas. E. Kompleksitas tugas. Faktor terakhir dalam teori penetapan tujuan memperkenalkan dua persyaratan lebih untuk sukses. Untuk tujuan atau tugas yang sangat kompleks, manajer perlu berhati-hati untuk memastikan bahwa pekerjaan tidak menjadi terlalu berlebihan. Orang-orang yang bekerja dalam peran yang kompleks mungkin sudah memiliki motivasi tingkat tinggi. Namun, mereka sering mendorong diri terlalu keras jika tindakan tidak dibangun ke dalam harapan tujuan untuk menjelaskan kompleksitas tugas, karena itu penting untuk memberikan orang waktu yang cukup untuk memenuhi tujuan atau meningkatkan kinerja. Sediakan waktu yang cukup bagi orang untuk berlatih atau mempelajari apa yang diharapkan dan diperlukan untuk sukses. Inti dari penetapan tujuan adalah untuk memfasilitasi keberhasilan. Oleh karena itu pastikan bahwa kondisi sekitar tujuan tidak menyebabkan frustrasi atau menghambat orang untuk mencapai tujuan mereka. Penentuan tujuan adalah sesuatu yang diperlukan untuk kesuksesan. Dengan pemahaman teori penetapan tujuan, kemudian dapat secara efektif menerapkan prinsipprinsip untuk tujuan yang akan ditetapkan. Implikasi Teori Teori ini jelas mempengaruhi cara organisasi mengukur kinerjanya. Dengan menggunakan konsep penetapan tujuan yaitu adanya kejelasan, tujuan yang menantang, dan berkomitmen untuk mencapainya. Memberikan umpan balik pada kinerja. Mempertimbangkan kompleksitas tugas. Memungkinkan manajemen untuk melakukan diagnosis kesiapan, misalnya apakah tenaga kerja, organisasi dan teknologi sesuai dengan program goal setting. Mempersiapkan tenaga kerja berkenaan dengan interaksi antara individu, komunikasi, pelatihan (training) dan perencanaan. Penekanan pada sasaran yang harus diketahui dan dimengerti oleh manajer dan bawahannya Mengevaluasi tindak lanjut untuk penyesuaian sasaran yang ditentukan. Tinjauan akhir untuk memeriksa cara pengerjaan dan modifikasi yang ditentukan. Manajemen berdasarkan sasaran memberi kesempatan kepada tenaga kerja untuk membuat penilaiannya sendiri mengenai hasil-hasil operasi, artinya jika ia membicarakan hasil maka sebenarnya individu tersebut menilai dirinya sendiri dan 135 mungkin sekali mendapatkan wawasan mendalam bagaimana ia harus memperbaiki sikapnya. cara-caranya atau kelakuannya. 3. Pendampingan Upaya terus menerus dan sistematis dalam mendampingi (menfasilitasi) individu, kelompok maupun komunitas dalam mengatasi permasalahan dan menyesuaikan diri dengan kesulitan hidup yang dialami sehingga mereka dapat mengatasi permasalahan tersebut dan mencapai perubahan hidup ke arah yang lebih baik. (Yayasan Pulih, 2011) Pendampingan merupakan proses interaksi timbal balik (tidak satu arah) antara individu/ kelompok/ komunitas yang mendampingi dan individu/ kelompok/ komunitas yang didampingi yang bertujuan memotivasi dan mengorganisir individu/ kelompok/ komunitas dalam mengembangkan sumber daya dan potensi orang yang didampingi dan tidak menimbulkan ketergantungan terhadap orang yang mendampingi (mendorong kemandirian). (Yayasan Pulih, 2011) Pendampingan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk maupun situasi dengan pendekatan yang beragam baik formal maupun non formal, individu, kelompok maupun komunitas. A. Langkah-langkah Pendampingan Fase pendampingan Keterangan Persiapan Fasilitator harus mengetahui: 1. Gambaran umum komunitas 2. Kebiasaan 3. Kondisi sosio demografis 4. Isu bersama Pengembangan kontak Fasilitator harus membangun kontak dengan calon dampingannya. Ia harus memastikan bahwa hubungan mereka dapat mengarah kepada relasi yang konstruktif. Fase ini akan mempengaruhi pada kerja-kerja pendampingan selanjutnya. Mengumpulkan data dan Setelah melewati fase kontak, hal terpenting dalam suatu informasi aktifitas pendampingan ialah bagaimana mengumpulkan datadata baik kuantitatif maupun secara kualitatif terhadap masalah-masalah riil komunitas 136 Perencanaan dan analisa Ajaklah anggota terlibat mendiskusikan pokok-pokok masalah yang sedang mereka hadapi. Pada fase ini, komunitas mendiskusikan: 1. Menentukan tujuan khusus objektif dari aktifitas dan mereka lakukan 2. Alternatif tindakan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan Pelaksanaan Setelah perencanaan matang, maka fase berikutnya ialah bagaimana rencana-rencana komunitas itu dilaksanakan secara konsisten B. Prinsip-prinsip dalam pendampingan Ada beberapa prinsip-prinsip penting dalam pendampingan komunitas sebagai berikut: 1. Pemberdayaan (Empowering). Pemberdayaan diartikan sebagai pengembangan konsep diri agar lebih positif, serta konstruksi pemahaman yang lebih kritis dan analitis mengenai kondisi lingkungan sekitar. Dalam hal ini komunitas dalam menjalankan aktivitasnya mencoba berpijak pada aktivitas “pemberdayaan” bukan melakukan “penjinakan” atau “pembodohan” apalagi “penindasan” baik secara fisik maupun psikis. 2. Kesetaraan Kesetaraan dimaknai sebagai adanya ruang kebebasan secara bersama dimana dalam komunitas memiliki hak-hak dan kewajiban yang tidak dibeda-bedakan. Artinya masing-masing anggota komunitas memiliki posisi yang setara dalam kelompok. 3. Partisipasi (Participation). Partisipasi diartikan sebagai proses keikutsertaan untuk ambil bagian. Partisipasi ini adalah sebuah kemutlakan bagi setiap warga komunitas. Hal ini akan berimplikasi terhadap penganutan azas egaliterianisme dalam menjalankan komunitas. Dalam bahasa Freire-an terkenal adagium : Semua Orang adalah Guru dan Semua Orang adalah Murid. 4. Aktivitas (Activity). 137 Pendampingan dalam komunitas meniscayakan adanya aktivitas sebagai prosesi pencapaian goal setting. Aktivitas dalam komunitas dapat dirumuskan oleh warga komunitas itu sendiri (Fasilitator dan Peserta). Aktivitas tersebut hendaknya merupakan aktivitas yang kreatif dan inovatif serta memiliki keberlanjutan (dilakukan secara rutin) demi pencapaian tujuan dan target pendampingan. C. Metode dan Teknik Pendampingan Metode yang dikembangkan dalam aktivitas pendampingan antara lain adalah: 1. Koordinasi dialogis dengan pendekatan andragogi (pembelajaran untuk orang dewasa) koordinasi diselenggarakan melalui komunikasi dialogis dengan mengedepankan pertukaran ide, pikiran, dan gagasan secara demokratis berdasarkan prinsip pembelajaran untuk orang dewasa. 2. Partisipatif melalui model diskusi kelompok terarah (focus group discussion). Pengambilan keputusan dilakukan secara partisipatif sehingga tercapai suasana demokratis dan kesetaraan sesuai dengan aspirasi masyarakat untuk mengatasi permasalahannya. 3. Demokratis, keterbukaan dan bertanggungjawab. 4. Pendekatan Sosio-Teknis dalam proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, memperhatikan aspek soaial dan teknik yang sudah berlaku dan dilaksanakan masyarakat setempat. 5. Pendekatan Budaya setempat dan lingkungan. Dalam proses pendampingan perlu dipertimbangkan aspek lingkungan dan budaya setempat D. Model Pendampingan Model pendampingan yang dimaksud disini merupakan sebuah konsep yang dirancang oleh pimpinan organisasi untuk mendampingi kader. dalam hal menentukan model pendampingan diharuskan melihat sebuah konsep kaderisasinya karena semuanya akan bermuara pada hasil yang diinginkan oleh organisasi. ada beberapa model-model pendampingan yang sudah pernah dilakukan beberapa organisasi namun dibawah ini model yang sering digunakan yakni model pendampingan clustering, berikut penjelasannya : - Clustering Yakni merupakan pendampingan dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil untuk mempermudah batasan sasaran yang akan diedukasi atau didampingi. Yang mana dalam kelompok kecil ini nantinya akan ada instruktur dan pimpinan komisariat yang akan mendampingi beberapa kader. 138 Contoh : 1 pimpinan dan 1 instruktur mendampingi 5 kader. Referensi : Buku hasil kajian forum Bidang Kader IMM UMM 2015-2016, Strategi pendampingan dan goal setting 139 MATERI V SISTEM MONITORING DAN EVALUASI Kaderisasi dalam keorganisasian secara umum pada hakekaktnya adalah totalitas upaya pembelajaran dan pemberdayaan yang dilakukan secara sistematis, terpadu, terukur, dan berkelanjutan dalam rangka melakukan pembinaan dan pengembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik setiap individu. Sebuah organisasi tentunya ingin agar segala yang direncanakan diawal berjalan sesuai dengan apa yang ditargetkan, akan tetapi pasti akan ada hal-hal yang dapat menghambat jalannya perencanaan tersebut, hal ini tentunya membutuhkan curahan waktu dan tenaga yang besar. Itulah kenapa dalam menjalankannya harus senantiasa menjaga prinsip kerja kolektif dengan arah yang jelas, bukan kerja serampangan. Harus ada targetan, harus ada sasaran, harus terprogram, harus terlaporkan, dan harus senantiasa di autokritik (evaluasi) untuk memperkaya strategi dan taktik serta sebagai tolak ukur keberhasilan atau kegagalan perkaderan maupun pengkaderan didalam sebuah proses kaderisasi. Dalam menuju kerja massa yang komprehensif, propaganda luas keseluruh unit organisasi dari tataran pimpinan da massa (kader) haruslah dijalankan secara merata dengan tetap bersandar pada prinsip kerja kolektif. Untuk itu dalam menjalankan praktik kerja massa kita harus senantiasa memiliki form kerja massa dalam proses perkaderan maupun pengkaderan yang dijalankan. Hal in tentunya bertujuan untuk senantiasa menjaga prinsip terprogram dan terlaporkan atas sebuah program yang direncanakan dalam melakukan kaderisasi dengan sebuah konsep monitoring dan evaluasi. Monitorig dan evaluasi adalah pengukuran dan perbaikan terhadap pelaksanaan fungsi kerja tertentu, agar rencana-rencana yang telah disusun dapat mencapai sasaran. A. Monitoring Monitoring adalah proses pengamatan, pengumpulan, dan analisa data yang diteliti dari informasi yang didapat sesuai dengan indikator serta memperbandingkan hasil aktual yang diperoleh dengan hasil yang diharapkan dari program yang dirancang diawal. Proses monitoring dilakukan untuk memperoleh fakta-fakta, data dan informasi dalam proses pencapaian tujuan. Monitoring menghendaki pemonitor untuk secara langsung melihat proses yang terjadi, juga dengan dukungan dokumen-dokumen dan pendapatpendapat dari yang dimonitor, hal ini dilakukan sebgai validasi proses monitoring. Datadata dan fakta tersebut selanjutnya dijadikan sebgai rujukan untuk melakukan evaluasi terhadap ptaktik kerja yag telah dilakukan, program yag disiapkan atau bahkan sampai pada titik rencana yang sudah dibuat. 1. Fungsi-Fungsi Monitoring 140 Menurut William N. Dunn59, monitoring mempunyai 4 fungsi, yaitu : 1. Ketaatan (compliance), monitoring menentukan apakah tindakan administrator, staf, dan semua yang terlibat mengkuti standar dan prosedur yang telah ditetapkan. 2. Pemeriksaan (auditing), monnitoring menetapkan apakah sumber dan layananan yang diperuntukkan bagi pihak tertentu (target) telah mencapai mereka. 3. Laporan (accounting), monitoring menghasilkan informasi yang membantu “menghitung” hasil perubahan sosial dan masyarakat sebagai akibat implementasi kebijaksanaan sesudah periode waktu tertentu. 4. Penjelasan (explanation), monitoring menghasilkan informasi yang membantu menjelaskan bagaimana akibat kebijaksanaan dan mengapa antara perencenaan dan pelaksanaannya tidak cocok. 2. Prinsip-Prinsip Monitoring 1. Monitoring harus dilakuakn secara terus-menerus. 2. Monitoring harus menjadi umpan terhadap perbaikan kegiatan program organisasi. 3. Monitoring harus memberi manfaat baik terhadap organisasi maupun terhadap pengguna produk atau layanan. 4. Monitoring harus dapat memotivasi staf dan sumber daya lainnya untuk berprestasi. 5. Monitoring harus berorientasikan pada peratura yag berlaku. 6. Monitoring harus obyektif, dan 7. Monitoring harus berorientasikan pada tujuan program. 3. Teknik-Teknik Monitoring 1. Observasi, adalah kunjuangan ke tempat kegiatan secara langsung, sehingga semua kegiatan yang sedamg berlangsung atau obyek yang ada diobservasi dan dapat silihat. Semua kegiatan dan obyek yang ada serta kondisi penunjang yang ada mendapat perhatian secara langsung. 2. Wawancara dan angket, adalah cara yang dilakukan bila monitoring ditujukan pada seorang. Instrumen wawancara adalah pedoman wawancara. Wawancara ada dua macam yaitu wawancara langsung dan wawancara tidak langsung. 3. Focus Group Disscusion (FGD), adalah proses menyamakan persepsi mulai urun rembug terhadap sebuah permasalahan atau substansi tertentu sehingga diperoleh satu kesamaan (frame) dalam melihat dan menyikapi hal-hal yang dimaksud. B. Evaluasi Evaluasi adalah Assesment atau penilaian terhadap proses yang sedang berlangsung sesuai program yang direncanakan diawal. Assesment juga merupakan bentuk analisa, dan analisa pun amatlah penting dalam praktik kerja massa, sebab program dan rencana kita didasarkan pada analisa kondisi yang senantiasa berubah dan berkembang. Dengan analisa 59 Seorang pakar manajemen, 1981 141 kita mengklarifikasi, mengurai satu persatu dengan rinci bagaiman melaksanakan tugas dengan baik dan menuntaskan pekerjaan dengan tepat. Dalam proses evaluasi atau assesment ada 2 jenis yang bisa dilakukan, yakni assesment kerja dan assesment situasi. 1. Assesment Kerja Assesment Kerja merupakan analisa yang mengukur kondisi-kondisi, syarat-syarat atau perkembangan implementasi sebuah program dan rencana yang dijalankan dalam suatu proses kaderisasi. Contoh Assesment Kerja adalah assesment programatik yang biasanya diadakan dengan pemaparan report (laporan tertulis) yang sudah dipersiapkan dari hasil investigasi dan informasi yang juga didapat dari setiap praktik massa yang telah dilakukan. 2. Assesment Situasi Assesment situasi di pihak lain merupakan analisa ciri-ciri situasi dan segala kondisi sumber daya manusia atau para organizer. Assesment situasi mengklarifikasi kapasitas kita dalam meningkatkan kaderisasi. Contoh assesment Situasi adalah assesment yang menganalisa kekuatan dari internal para organizer dalam meningkatkan kapasitas diri berserta melakukan perbaikan diri. Hal ini tentunya hatus senantiasa di autokritik untuk memperkaya strategi dan taktik kaderisasi. Assesment akan menunjukan apa yang kurang sehingga dapat kita tambahkan kelemahan atau kekurangan yang harus kita atasi, yang harus kita perbaiki dan untuk tugastugas yang harus kita lakukan hi hari esok. Dengan assesment kita akan memperjelas kebutuhan-kebutuhan dan tanggung jawab-tanggung jawab yang perlu ditingkatkan. Hal ini akan menunjukkan bahwa kita awas dengan situasi dan peristiwa-peristiwa setiap program kaderisasi. Assesment akan memberi kita petunjuk yang tepat, segera, dan rincidalam pembuatan planning pelaksanaan tugas kita secara benar dan tepat dari pra pelaksanaan, pelaksanaan hingga pasca pelaksanaan60. 1. Fungsi Evaluasi Evaluasi menurut Moh. Rifai adaah sebagai kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dari kegiatan monitoring, yang memiliki fungsi sebagai berikut : 1. Evaluasi sebagai pengukur kemajuan 2. Evaluasi sebagai alat perencanaa, dan 3. Evaluasi sebagai alat perbaikan. 2. Kriteria Evaluasi a. Impact : Perubahan apa yang dihasilakn oleh kegiatan dan apakah ada perubahan yang tidak diharapkan atau tidak direncanakan atas sebuah program. 60 Sistem perkaderan Ikatan (SPI) 142 b. Efektifitas : Aspek ketercapaian tujuan dan apakah outputan hasil mengarah pada dampak yang diharapkan diawal ketikan perencanaan program. c. Efesiensi : apakah kebutuhan tersedia dalam waktu dan kuantitas maupun kualitasnya. d. Keberlanjutan : apakah keuntungan dapat dijaga untuk beberapa periode yang diharapkan setelah program telah selesai. e. Relevansi : apakah tujuan kegiatan konsistensi dengan kebutuhan. 3. Prinsip-Prinsip Evaluasi Evaluasi program kaderisasi harus bersifat akurat. Untuk itu terdapat 5 kriteria yang digunakan dalam mengukur efektifitas evaluasi, yaitu : A. Validitas, validitas berkaitan dengan apa yang akan diukur dan instrument apa yang akan digunakan untuk pengukuran (indikator), ada 4 tipe : A.1. Validitas isi Berkenaan dengan kesanggupan indikator atau alat penilaian dalam mengukr isi materi yang seharusnya diukur A.2. Validitas Bangun Pengertian Berkenaan dengan kesanggupan indikator atau alat penilaian untuk mengukur pengertian-pengertian yang terkandung dalam materi yang diukur, contoh : sebuah konsep tentang hubungan sosial perlu diuraikan indikator empirisnya seperti : dapat bergaul, menerima pendapat orang lain dan sebagainya. A.3. Validitas Ramalan Apakah indikator atau alat penilaian tersebut dapat digunakan untuk meramal ciri, pelaku tertentu atau kriteria tertentu yang diinginkan, misalnya alat penilaian untuk memotivasi belajar, apakah dapat digunakan untuk meramal prestasi kerja, artinya apakah terdapat hubungan yang positif antara motivasi dan prestasi belajar. A.4. Validitas Kongruen Adalah validitas yang diperoleh dari perbandingan antara hasil test dengan hasil pengamatan. B. Realibilitas/Sahih, realibilitas menunjuk pada konsistensi dan stabilitas pengukuran , dengan kata lain evaluasi dikatakan realible atau sahih jika memiliki hasil yang konsisten. Evaluasi dikatakan realible jika nilai sektor atau skor tidak menunjukan perubahan meskipun dilakukan pada waktu yang berbeda. C. Utilitas, metode evaluasi yang dipilih tidak hanya valid dan memiliki variable lebih lengkap akan tetapi juga harus mudah ketika digunakan. D. Kontinuitas/berkesinambungan, artinya evaluasi harus senantiasa dilakukan secara berlanjut atau kontinyu. E. Holistik/Menyeluruh, artinya keseluruhan aspek dan komponen program harus serta dievaluasi. 143 4. Proses Perkaderan IMM a. Evaluasi Pra Perkaderan Yaitu evaluasi yang menyangkut input (peserta) dan perangkat keras perkaderan. Tujuan evaluasi ini adalah : 1. Mendapatkan gambaran tentang kesiapan teknis pengelolaan perkaderan dalam penyelenggaraan sebuah program. 2. Mendapatkan gambaran kemampuan awal dan kesiapan perserta perkaderan. 3. Memperoleh kejelasan tujuan program perkaderan. Variabel-variabel yang perlu dievaluasi: a. Kesiapan administrasi program perkaderan, meliputi : 1. Ketersediaan bahan dan alat belajar. 2. Ketersediaan materi/modul belajar. 3. Ketersediaan ruang belajar dan penataan ruangnya. 4. Kesiapan lembar monitoring dan tenaga pembamat/monitoring forum. 5. Instrument : monitoring dan checklist. b. Kemampuan awal peserta perkaderan, meliputi : 1. Latar belakang kemampuan organisasi. 2. Latar belakang ideologi/paham keagamaan. 3. Latar belakang pendidikan. 4. Minat, bakat dan prestasi yang telah diraih. 5. Pelatihan dan perkaderan yang pernah diikuti. 6. Kemampuan pengetahuan, wawasan, dan bacaan. 7. Penguasaan keterampilan yang berkenaan dengan substansi perkaderan. 8. Aspek ibadah. 9. Kelebihan dan kekurangan peserta. 10. Instrumen : mintoring dan checklist. c. Perumusan tujuan program, meliputi : 1. Sejauh mana program perkaderan telah dirumuskan secara spesifik atau bersifat khusus. 2. Sejauh mana program perkaderan telah dirumuskan secara realistik. 3. Sejauh mana program perkaderan dapat devaluasi hasil capainya nanti setelah selesai pelaksanaan pengkaderan (evaluasi dampak perkaderan). 4. Instrumen :monitoring dan checklist. b. Evaluasi saat perkaderan Yaitu evaluasi yang menyangkut alur perkaderan, materi, perkembangan peserta, internal instruktur dan pemateri dalam perkaderan. Tujuan evaluasi ini adalah : 144 a. Mendapatkan pengetahuan tentang proses belajar mengajar dalam program perkaderam. b. Menilai daya serap peserta. c. Menilai aktivitas diluar sesi materi seperti : kedisiplinan, ibadah, kerjasama, dan kepemimpinan. d. Penentuan kelulusan peserta perkaderan. Variabel-variabel yang dievaluasi : 1. Kemampuan tenaga pengajar, meliputi : a) Keterampilan membuka pelajaran. b) Keterampilan menguraikan materi. c) Ketersesiaan bertanya. d) Ketersediaan menjawab pertannyaan. e) Penguasaan materi. f) Keterampilan menggunakan metode. g) Kemampuan memberikan penguatan. h) Penampilan didepan forum. i) Kemampuan menarik perhatian di depan peserta. j) Keterampilan membimbing diskusi. k) Keterampilan menutup pelajaran. l) Instrumen : monitoring, checklist, dan quisioner (untuk peserta). 2. Daya serap peserta perkaderan, meliputi : a) Penguasaan materi yang telah diberikan, instrumen : pre-test, post-test, dan penugasan. b) Penguasaan keterampilan yang telah diberikan. c) Penguasaan sikap yang telah diberikan. d) Tingkat keaktifan, prakarsa, dan kemimpian, instrumen : monitoring. 3. Aktivitas non sesi materi, meliputi : a) Kedisiplinan. b) Ibadah. c) Kerjasama. d) Kepemimpinan. e) Kemampuan khusus. f) Instrumen : monitoring. c. Evaluasi Pasca Perkaderan Yaitu evaluasi yang menyangkut penyusunan hasil perkaderan oleh instruktur termasuk rekomendasi dan follow up serta laporan hasil pengelolaan. Tujuan evaluasi : 145 - Mendapatkan gambaran tentang efek perkaderan bagi peningkatan kemampuan individu peserta perkaderan pasca pelaksanaan. - Mendapatkan gambaran tentag dampak perkaderan bagi peningkatan kualitas organisasi. Variabel yang dievaluasi, meliputi: - Kemampuan peserta perkaderan - Dampak pelatihan terhadap peningkatan kualitas organisasi. C. Kesatuan Monitoring dan Evaluasi61 Indikator keberhasilan sebuah organisasi dalam menjalankan programnya dilihat dari kesesuaian proses dengan apa yang direncanakan, kesesuaian dalam encapaian tujuan, penggunaan dan pemanfaatan sumber daya yang efektif dan efesien, serta kemampuan dalam memberikan jaminan terhadap kesesuaian proses dan pencapaian tujuan melalui satu mekanisme kendali yang harmonis dan melekat utuh dalam sistem monitoring dan evaluasi. Mekanisme kendali yang dimaksudkan adalah subuah upaya sistemik yang merupakan bagian dari manajemen untuk mengamankan sistem dimana setiap komponen dari sistem memiliki satu keterpaduan dari tidak terjadi penyimpangan yang besar dari rencana yang sudah dibuat. Sebagai sebuah mekanisme, kendali yang terjadi memadukan antara tuntutantuntutan atas pelaksanaan standar pekerjaan dan kedewasaan secara psikologi sebagai bagian dari tanggung jawab anggota organisasi. Ada perbedaan yang signifikan antara monitring dan evaluasi. Jika monitoring digunakan untuk menelusuri/membandingkan indikator yang ada dengan capaian/targetan yang sudah ditentukan secara spesifik maka evaluasi cakupannya lebih luas lagi, yaitu mempertimbangkan kemajuan yag ada dengan tujuan yang telah ditentukan, the logic of the initiative, dan konsekuensi-konsekuensinya. Meski demikian, kedua-duanya diperlukan untuk mengelola kebijakan dan program/kegiatan agar lebih baik lagi. Monev (Monitoring dan Evaluasi) yang efektif adalah dengan melihat bahwa monitoring dan evaluasi bukanlan suatu sistem yang terpisah, melaikan sebagai satu kesatuan yanh komplementer. Sifat komplementer ini dapat dijelaskan sebagai berikut : ketika tujuan monitoring adalah menjelaskan tujuan programmaka tujuan evaluasi adalah menganalisis mengapa hasil bisa di capai atau tidak bisa dicapai. Ketika tujuan monitoring adalah mengaitkan aktivitas dan sumber daya dengan tujuan yang akan dicapai maka tujuan evaluasi adalah menilai efektiftas dari asing-masing aktivitas terhadap program yang disusun. Ketika tujuan monitoring adalah menurunkan tujuan menjadi kinerja pelaksanaan dan target maka tujuan evaluasi adalah mengkaji proses pelaksanaannya. Ketka tujuan monitoring adalah secara reguler mengumpulkan data dari 61 Bekerja secara ceroboh , sehingga serampangan dalam bekerja, berbual dengan panjang lebar tanpa adanya report (data tertulis) dan puas akan pengetahuan yang dangkal karena belum teruji dengan praktik nyata adalah efek yang seakan akan menganggap remeh akan pentingnya proses monitoring dan investigasi. Hal ini senantiasa membuat semakin jauh meninggalkan esensi dari evaluasi itu sendiri. 146 indikator suatu target da membandingkan hasil dengan target maka tujuan evaluasi adalah mengeksplorasi potensi efek sampingnya. Dan ketika tujuan monitoring melaporkan kemajuan dan masalah pada pengelolaan program, maka tujuan evaluasi adalah menyediakan informasi pembelajaran, capaian dan penjelasan terkait serta menawarkan solusi atas permasalahan yang didapat. Kegiatan monitoring senantiasa berbasis pada data atau fakta yang ada, berpedoman pada proses kerja yang berlaku dan pada pencapaian rencana kerja. Evaluasi hanya bisa dilakuakn jika hasil monitoring telah didapatkan. Jika pencapaian kerja tidak dapat diukur maka rrencana kerja tidak dapat dikendalikan. Jika tidak dapat dikendalikan maka tidak dapat diperbaiki. Jika tidak dapat diperbaiki maka tidak dapat bersaing. Jika tidak dapat bersaing maka tidak dapat bertahan. D. Contoh Form Monitoring dan Evaluasi. Form monev pemateri Nama instruktur : Nama pemateri : Penilaian Pemahamanmateri Sistematikapenyampaiansesuaisilabus Penguasaan Materi Contoh-contoh yang diberikan Ket Nilai Indikator : Baik : Mampu menyampaikan secara sistematis silabus yang ada, serta mampu menjelaskan dan mengambangkan materi Cukup : Tidak sistematis, tapi mampu menjelaskan dan mengembangkan materi atau sebaliknya Kurang : tidak sistematis dan ada point silabus yang tidak tersampaikan 147 Pembawaan forum Interaksidenganpesertakeseluruhan Indikator : Baik : Pemateri mampu berkomunikasi 2 arah (Interaktif dengan peserta) Cukup : Pemateri minim interaksi (sekali dua kali saja) dengan peserta Kurang : Tidak ada interaksi dengan peserta Form monev peserta Nama instruktur : Namapeserta Ke-aktifan (berpendapat, Tingkahlaku menyampaikanpandangan) (kontrakbelajar) 148 Referensi Buku hasil kajian forum Bidang Kader IMM UMM 2015-2016, Sistem Monitoring dan EvaluasI 149 MATERI VI ANALISA DAN PENGEMBANGAN POTENSI KADER Materi ini merujuk pada SPI yang mengatakan bahwa salah satu tujuan kaderisasi adalah mengembangkan kapasitas seorang individu. Berbicara kapasitas salah satu kaitan eratnya adalah tidak bisa lepas dari kompetensi yang dimiliki oleh seorang individu. Kompetensi atau keahlian yang dimiliki oleh manusia memang harus menjadi perhatian utama dari seroang intrukutur agar mampu menjadi jembatan bagi para kadernya dalam mengembangkan kapasitas atau kompetensi yang dimilikinya. Untuk melakukan hal itu, membutuhkan proses yang sangat panjang dan persiapan yang matang. Agar kita tahu dan mampu melakukan hal itu, sekiranya kita melakukan tahapan demi tahapan berikut ini 1. Seorang instruktur harus menganalisa potensi-potensi dari kadernya. Hal ini daapat dilakukan dengan cara melihat kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh kader, minat, atau bakat yang dimiliki, contoh minat membaca, berbakat dalam retorika dll. Analisa yang dilakukan itu nantinya akan menghasilkan sebuah bentuk kompetensi seperti, kompetensi dalam bidang olah raga, memimpin dan kompetensi yang lain. 2. Setelah melakukan proses analisa pada kader, yang dilakukan oleh seorang inrtuktur adalah mebgkategorikan semua kompetensi yang telah dianalisa dan disimpulkan. Kategori ini dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan seorang intruktur dalam mewadahi perkembangan dari komptensi setiap kader. 3. Menyiapkan wadah pengembangan bagi kader yang akan dikembangkan komptensinya. Wadah tersebut merupakan ruang-ruang bagi kader untuk melatih kompetensinya agar terasah dengan baik sehingga nanti dapat digunakan untuk berdakwah atau pun digunakan untuk hal-hal yang diperlukan dalam ikatan. Untuk dapat melakukan hal itu, seorang intruktur pun harus memiliki kompetensi agar proses ini bisa berjalan dengan baik. Kemampuan monitoring, analisis dan pemahaman dan kemampuan dalam mengembangkan potensi minimal dengan mampunya isntruktur mneyediakan lahan aktualisasi bagi kader sangat penting dimiliki. Karena dengan kompetensi itu nantinya yang akan membantu kader dalam mengembangkan potensi kadernya. 150 MATERI VII MANAJEMEN PELATIHAN Pelatihan dilaksanakan guna mengajarkan sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dibutuhkan anggota / kader penggerak suatu organisasi atau untuk peningkatan kemampuan dalam menjalankan aktivitas tertentu. Telah banyak metode pelatihan yang telah dikenal, antara lain program pelatihan di tempat kerja (On the job training), pelatihan di kelas, dan pelatihan vestibule (balai)—sejenis pelatihan dengan simulasi menggunakan peralatan dalam laboratory setting. Saat ini telah dikembangkan pula pelatihan di alam terbuka (outdoor) misalnya outbond management training, yaitumetode pelatihan di alam terbuka dengan penekanan pada pengembangan kemampuan di bidang manajemen organisasi dan pengembangan diri (personal development) yang disimulasikan melalui permainan-permainan yang secara langsung bisa dirasakan oleh peserta dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri (personal development), berpikir kreatif (inovasi), rasa kebersamaan, saling percaya (trust) dll. Setiap pengelola pelatihan tidak dapat menggantungkan keberhasilan pelatihan dari satu atau dua aspek saja, tetapi harus melihat secara komprehensif semua faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan pelatihan tersebut. Salah satu aspek yang sangat penting tersebut adalah aspek manajemen, yaitu bagaimana sebuah pelatihan dikelola dan diarahkan pada pencapaian tujuan. Manajemen Pelatihan Manajemen pelatihan mencakup semua kegiatan yang secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan pelatihan. Prosesnya terbagi kedalam 3 (tiga) tahapan, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan serta tahap evaluasi dan tindak lanjut (follow up). Pada tahap perencanaan, hal yang penting untuk diperhatikan adalah pembuatan desain pelatihan yang harus disesuaikan dengan analisis kebutuhan pelatihan (Training Need analisis). Selain itu, langkah-langkah antisipatif juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang tidak diduga seperti pembicara yang berhalangan hadir, peubahan jadwal acara, input peserta tidak cocok dsb. Prinsip yang harus dipegang dalam mempersiapkan langkah antisipatif ini adalah Be Prepared Event The Worst. Untuk penyusunan pelatihan umumnya melewati langkah-langkah sebagai berikut : 1. Identifikasi kebutuhan pelatihan 151 2. Penetapan tujuan dan sasaran pelatihan 3. Penetapan kriteria keberhasilan beserta alat ukurannya 4. Penetapan metode/desain pelatihan Pada tahap pelaksanaan, prinsip yang harus dipegang adalah konsistensi (taat azas). Pelaksanaan sering tidak sesuai dengan perencanaan karena penerapan fleksibilitas yang berlebihan, sehingga pada tahapan ini kontrol dari Master of Training harus dilakukan secara intensif terhadap setiap komponen pendukung pelatihan. Evaluasi dilakukan setelah semua proses pelatihan dilewati dengan menggunakan alat evaluasi yang disiapkan sebelumnya. Hasil evaluasi yang didapatkan akan digunakan sebagai acuan untuk pelaksanaan follow up yang akan dijalankan pasca pelatihan. Untuk itu perangkat evaluasi yang valid dibutuhkan untuk dapat mengukur dan memetakan kapasitas peserta, sehingga kegiatan follow up yang diberikan tepat dengan hasil yang dicapai oleh masingmasing peserta. Untuk kriteria keberhasilan lazimnya digunakan empat kriteria evaluasi , yaitu : 1. Kriteria pendapat, yaitu kriteria yang didasarkan atas pendapat peserta pelatihan (melalui kuisioner) mengenai program pelatihan yang tellah dilakukan. 2. Kriteria belajar, yang diperoleh melalui tes pengetahuan dan keterampilan 3. Kriteria prilaku, yang didapat dengan menggunakan tes keterampilan atau mengamati secara langsung perubahan perilaku peserta. 4. Kriteria hasil, yang dihubungkan dengan hasil yang diperoleh pasca pelatihan Proses sebuah pelatihan dapat digambarkan dalam tahapan seperti Rincian tahapan perencanaan, pelaksanaan dan tindak lanjut (follow up) pelatihan a. Tahap perencanaan 152 berikut : 1. Persiapan yang dilakukan oleh penanggungjawab (pengurus) Rapat ditingkat pengurus/pimpinan penanggungjawab untuk penentuan rencana dan langkah pelaksanaan Menyampaikan informasi Menyiapkan tim instruktur/stering dan panitia pelaksana 2. Persiapan yang dilakukan tim stering/pemandu Menyusun rencana pengelolaan pelatihan Pengadaan pengelolaan Identifikasi calon peserta Penetapan jadwal Pembagian kerja (job description) 3. Persiapan yang dilakukan panitia pelaksana Penyediaan makalah dan kelengkapan forum Penyiapan fasilitas 4. Final check b. Tahap Pelaksanaan 1. Pelaksanaan acara Mengupayakan urutan-urutan jadwal sesuai dengan rencana Jika tidak mungkin, maka materi dapat bergeser sepanjang urutan penyajiannya tetap logis (sesuai alur logika pelatihan) Bila pemateri tidak hadir, maka acara diisi oleh instruktur/pimpinan organisasi, olehnya instruktur/pimpinan organisasi harus senantiasa siap. 2. Pengelolaan dan pengembangan peserta pelatihan, baik secara kelompok atau individual 3. Evaluasi peserta, penceramah dan tim instruktur 153 4. Evaluasi pelaksanaan pelatihan c. Tahap tindak lanjut (follow up) 1. Evaluasi tingkat keberhasilan peserta 2. Penugasan peserta/tugas pasca 3. Pertemuan berkala 4. Monitoring aktivitas peserta dan pengembangannya. Contoh Program pelatihan yang didesain untuk menyiapkan atau meningkatkan kemampuan peserta dalam memfasilitasi suatu pelatihan (fasilitator) serta pengelolaannya. Dalam manajemen pelatihan tidaklah sederhana hanya mengenal persiapan, pelaksanaan dan Pasca pelaksanaan. Namun dalam manajemen pelatihan kita harus mengetahui bagaimana suatu agenda itu bisa berbentuk pelatihan, maka dari itu kita harus menganalisannya. Dalam sebuah kegiatan bentuk pelatihan merupakan turunan dari konsep sebuah program kerja karena berbicara bentuk pelatihan kita sudah berbicara ke tahap eksekusi program kerja. Ada beberapa hal yang harus dipahami dalam menentukan bentuk pelatihan yakni kita harus paham muncul dari program kerja tersebut, sekalipun eksekutor dilapangan maka suatu keharusan untuk paham kenapa program kerja itu ada. Dalam skemanya bisa bisa seperti ini : Membuat proker harus memperhatikan : - Tujuan organisasi/visi misi organisasi - Kondisi internal organisasi (Pengorganisir, massa) - Kondisi eksternal organisasi PROGRAM KERJA Bentuk agenda (Pelatihan, Diskusi, study lapangan) Petunjuk Pelaksana dan Petunjuk Teknis 154 Bentuk agenda merupakan tindak lanjut dari konsep program kerja, berbicara bentuk agenda sangat banyak ada yang berupa pendidikan-pelatihan (DIKLAT), Diskusi, Studi lapangan, dll. Namun untuk saat ini kita akan membahas secara detail terkait dengan bentuk pendidikan dan pelatihan. Bentuk pendidikan dan pelatihan (Diklat) merupakan suatu pola pelatihan yang disusun secara sistematis mulai dari pra pelatihan pelatihan pasca pelatihan. Dalam bentuk pelatihan ini akan dibahas juga mengenai alaur atau tahapan-tahapan dalam pelatihan ini dengan tujuan dalam pelatihan ini bisa lebih efektif karena sudah melalui tahap POAC dengan baik. Seperti yang sudah disampaikan diatas bahwasannya berbicara alur kegiatasn dimulai dari pra sampai pasca. Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan secara matang di tiap fasenya : - Menentukan bentuk dari agenda atau kegiatan. Dalam menentukan bentuk kegiatan ini harus lah sesuai dengan apa yang diinginkan dari konsepan program kerja, dalam menentukan bentuk kegiatan ini ada beberapa faktor yang harus di analisis : o Faktor internal Kondisi pengorganisir dalam hal kesiapan Kondisi sasaran Kondisi keuangan organisasi Schedule organisasi o Faktor eksternal Kampus Ex : tugas, aktivitas perkuliahan Keluarga Ex : pulang kampung, acara keluarga Beberapa faktor diatas haruslah dianalisis lebih mendalam sehingga bentuk kegiatan yang dihasilkan bisa tepat dan nantinya dalam hal pemobilisasian massa untuk ke agenda bisa lebih maksimal. Namun untuk pembahasan yang kita kali ini kita akan pilih bentuk agenda yakni pendidika-pelatihan atau bentuk Diklat - Alur pelatihan o Assesment, yaitupenilaian awal terhadap kondisi calon peserta secara umum yang akan mengikuti pelatihan atau prosesi perkaderan o Penjaringan (Sesuai kebutuhan), yaitu sebuah prosesi yang akan menjadi stimulus awal kepada sasaran untuk mengikuti/mendaftar prosesi pelatihan. 155 o Pra Pelatihan Merupakan pengondisian awal untuk mengetahui orientasi peserta dan peserta sebelum pelatihan. Dalam pra pelatihan ini kawan-kawan terkadeng menggunakan metode screening. Dalam menggunakan metode screening bisa juga dipecah lagi menjadi pra screening dan screening, dalam pra screening biasanya yang menjadi pembahasan : latar belakang organisasi (kalau untuk DAD), alasan, kosekuensi, menumbuhkan kepercayaan diri. Kalau pas screening biasanya lebih mengarah ke stimulus materi, dan informasi diklat (kelengkapan, penyakit, keberangkatan) o Pelatihan Merupakan tahapan pokok perkaderan yang mana dalam tahapan ini pemberian pemahaman terkait materi-materi pelatihan melalui elemen-elemen dalam pelatihan Metode Ceramah partisipatoris Diskusi Workshop Dll (sesuai kondisi peserta) Kualifikasi Materi Materi ideologi Materi keorganisasian Materi wawasan Materi terapan Muatan Lokal Waktu Merupakan alokasi waktu dalam pelatihan yakni mulai aktivitas : Kegiatan belajar (mendapatkan materi, diskusi) Istirahat o Pasca Pelatihan Bentuk follow up sesuai SPI terbagi menjadi dua ; wajib dan pilihan 1. Wajib; Kajian yang terprogram 2. Pilihan ; a. Pendampingan b. Pelatihan c. Pemagangan 156 d. Monitoring e. Silaturrahim f. Penugasan o Evaluasi Evaluasi yang dimaksud disini adalah untuk mengukur keberhasilam perkaderan sebagai intropeksi dari setiap tahapan perkaderan Pra pelaksanaan Yaitu evaluasi yang menyangkut input (peserta) dan perangkat dalam perkaderan. Pelaksanaan Yaitu evaluasi yang menyangkut pelaksanaan keseluruhan kegiatan seperti alur perkaderan, materi, perkembangan, instruktur, panitia, dan pemateri dalam perkaderan Pasca Pelaksanaan Yaitu evaluasi yang menyangkut penyusunan hasil perkaderan oleh instruktur termasuk rekomendasi dan follow-uup serta laporan panitia penyelenggara. - Perangkat Pelatihan o Penanggung jawab : Yaitu struktur pimpinan ikatan yang bertanggungjawab langsung secara keseluruhan terhadap penyelenggaraan perkadera. o Master of Training (MOT) Adalah seseorang yang mendapat tugas memimpin dan secara umum bertanggungjawab atas pelaksanaan prosesi kegiatan. o Vice of Training (VOT)/Vice moot Adalah seseorang yang mendapatkan tugas membantu MOT dalam pelaksanaan prosesi kegiatan dan bertanggungjawab atas pelaksanaan keinstrukturan. o Imam of Training (IOT) Adalah orang yang diberi tanggung jawab memandu pelaksanaan ibadah keislaman dan pelatihan. o Instruktur Adalah sekelompok orang yang diberi tanggungjawab secara langsung atas keseluruhan prosesi dalam perkaderan. o Panitia Adalah tim teknis yang bertanggungjawab pelaksanaan perkaderan sesuai kepentingan teknis. Juklak juknis (petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis) 157 Petunjuk pelaksana kegiatan adalah pengaturan yang memuat cara pelaksanaan kegiatan, termasuk urutan pelaksanaannya. Meliputi : - Peserta kegiatan Pra agenda - Rapat pimpinan (dengan pembahasan-pembahasannya) - Kualifikasi peserta - Syarat pendaftaran - Biaya pendaftaran - Screening o Prosedur screening o Tugas eksekutor penyecreening - Waktu pelaksanaan - Panitia pelaksana o Sie-sie yang dibutuhkan o Tugas masing-masing Sie Agenda - Materi - Workshop - RTL Pasca Agenda - Evaluasi program dan pelaksanaan Petunjuk teknis pengaturan yang memuat hal-hal berkaitan dengan teknis kegiatan, tidak menyangkut wewenang dan prosedur. Pra agenda - Pelaksanaan rapat pimpinan - Screening o Waktu o Eksekutor - Panitia pelaksana o Nama-nama panitia 158 o Waktu pengerjaan (biasanya ada time line) Agenda - Materi o Macam-macam materi - Workshop o Macam-macam workshop - RTL o Waktu RTL Pasca - Evaluasi palaksanaan dan program o Waktu evaluasi Referensi : Buku hasil kajian forum bidang kader IMM UMM 2015-2016, Manajemen Pelatihan 159 MATERI VIII MANEJEMEN KELAS/FORUM Manjemen Forum/kelas merupakan salah satu materi yang tujuannya melatih instruktur dalam menjalankan proses pembelajaran di kelas. Manejemen kelas meliputi tata ruang di dalam kelas, manejemen forum dan media yang diperlukan sebagai alat bantu dalam prosesi pembelajaran. Selain itu kita juga harus mengetahui perangkat perangkat apas aja yang ada di dalam foru/kelas. Adapun perangkat forum secara umum yang dimaksud antara lain. 1. Moderator sebagai orang yang mengontrol jalannya suatu diskusi atau rapat 2. Pemateri sebagai orang yang menyampaikan materi 3. Anggota forum Manajemen dapat diarikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan penggnaan smber daya secara efektif, sedangkan forum dapat diartikan sebagai wadah untuk membicarakan atau menyeleaikan sesuat dan yang membicarakan adalah orang banyak. Etika forum untuk interupsi dalam forum dikelompokkan menjadi: 1. Point Interruption of Privilege, ijin menyela forum apabila ada keperluan mendadak dan bersifat mendesak. 2. Point Interruption of Information, ijin menyela forum apabila ada informasi aau berita mengenai perkembangan opini atau fakta di dalam mapun diluar forum. 3. Point Interruption of Clarification, ijin menyela forum apabila ada suatu alasan yang perlu disampaikan oleh peserta. 4. Point Interruption of Justification, ijin menyela forum apabila ada suatu alasan, informasi atau bukti tambahan yang perlu disampaikan. 5. Point Interruption of Order, ijin menyela forum apabila ada usulan baru atau usulan tambahan. Pengambilan keputusan dalam forum: 1. Keputusan perseorangan: pimpinan forum yang mengambil keputusan terakhir. 2. Keputusan demokratis: keputusan diambil dengan setengah jumlah suara ditambah satu. 3. Keputusan dengan suara terbanyak: diambil berdasar 2/3 suara terbanyak. 160 4. Keputusan dengan Hak Veto: satu suara tidak setuju maka berlaku sebagai pembatalan keputusan. 5. Prinsip Aklamasi: satu keputusan bisa disahkan bila semua anggota sidang menyetujuinya. 6. Keputusan Kompromi: bukan saja akibat dari suatu usul akan tetapi juga saling mempengaruhi antara suatu kesepakatan dan usul itu sendiri juga didiskusikan. Usul ini mengalami perubahan sedemikian rupa sehingga mendapat persetujuan dari mereka yang berkepentingan. 7. Prinsip Mufakat: satu usul dapat diterima apabila tidak seorangpun mempunyai keberatan yang mendasar/prinsipil terhadap usul tersebut. Referensi : Edi Kurniawan. S.hum. Manajemen Forum, Disampaikan dalam LKMMNas XII PSMKGI 161 MATERI IX PELATIHAN MICRO TEACHING Sebagai seorang instruktur, salah yang menjadi tugas utama yang harus diajalankan adalah menyusun sebuah strategi pembelajaran yang efektif dan bisa berjalan dengan lancar. Jika seorang instruktur mampu menyusun hal itu, maka muatan-muatan dalam pembelajaran (kaderisasi) yang dilakukan bisa disampaikan dengan baik pada subjek kaderisasi. Secara praktik, hal itu bisa dilakukan dengan micro teaching. Micro teaching adalah pembelajaran yang dilakukan denganc ara melatih seorang instruktur agar mampu menguasai komponen kaderisasi yang ada. Bentuk terpenting dari micro teaching adalah praktik mengajar sebagai bentuk ditampilkannya seorang instruktur dalam menyampaikan bekal yang telah diberikan. Dalam hal ini bentuknya berupa materi-materi yang ada dalam kaderirasi dan bekal yang lainnya yang telah dilatih. Untuk melatih kemapuan micro teaching ini, maka ada tahapan yang harus dilaksanakan oleh intruktur agar bisa menguasai komptensi MT ini. 1. Penyusunan RPP (Rencana Program Pembelajaran) Suatu aktivitas akan berhasil bisa memiliki perencanaan yang matang. Dalam dunia pendidikan, perencanaan pembelajaran menggunakan istilah RPP sebagai perencanaan pembelajaran yang akan diberikan. Penyususnan RPP bagi seorang istruktur sangat penting untuk dikuasai, karena akan memuat perencanaan-perencanaan yang nantinya akan dipakai dalam menjalankan kaderirasi. 2. Kemampuan membuka materi Dalam melakukan sebuah pembelajaran dengan model MT atau dengan model apapun maka seorang intrukutur dalam meyampaikan materi harus tahu untuk membuka atau memuali pembelajaran tersebut agar peserta atau kader yang akan dididik bisa dan meyiapkan metalnya untuk menerima pembelajaran yang diberikan. Biasanya dalam membuka sebuah pembelajaran ini dilakukan dalam bentuk salam, berdoa bersama, pengantar materi yang dibawakan atau hal-hal yang memiliki kaitan dengan mental peserta dan materi yang dibawakan. 3. Kemampuan menjelaskan Kemampuan menjelaskan erat kaitannya dengan bagaimana seorang instruktur mampu memberikan informasi kepada peserta didik dengan baik dan mudah dipahami. Faktor penguasaan bahasa sangat penting untuk dimiliki oleh instruktur agar mampu menyampaikan sebuah materi (informasi) dengan jelas dan mudah dipahami. Selain itu, keterampilan ini akan bisa dikuasai bila didukung juga dengan kemampuan komunikasi yang baik dan penguasaan materi yang disampaikan. Kemampuan ini juga menitikberatkan seorang instruktur agar dalam menjelaskan sebuah materi atau dalam 162 menyampaikan informasi mampu memilah bahasa yang sebisa mungkin dipahami, sehingga subtansi dari apa yang disampaikan sampai dan dipahami oleh peserta 4. Kemampuan memberikan penguatan Keterampilan ini sangat penting dimiliki oleh seorang instruktur karena akan bermanfaat pada bagaimana cara instruktur meumbuhkan perhatian peserta, menumbuhkan dan memelihara motivasi, memudahkan pembelajaran dan meminimalisisr perilaku negatif dari peserta. 5. Kemampuan menggunakan alat dan media untuk kaderisasi Keterampilan ini sangat berguna untuk membantu seorang instruktur dalam memahamkan materi kepada peserta, menyusun atau memperjelas konsep yang abstrak agar menjadi kongkret. Hal ini juga akan membantu peserta mengingat materi dalam waktu yang lama karena belajar menggunakan panca indera penglihatan. 6. Keterampilan mengevaluasi Instruktur dipaksa untuk mampu mengevaluasi pembelajaran yang diberiikan dengan tujuan untuk bisa dikembeangkan di kemudian hari sehingga menjadi lebih efektif. 163 MATERI X MATERI KAJIAN AYAT LATIHAN INSTRUKTUR KOMISARIAT Materi ini diberikan kepada calon istruktur tingkat komisariat dengan tujuan memberikan bekal kepada mereka mengenai ayat-ayat yang diajarkan di dalam perkaderan nantinya, Terkhusus untuk Darul Arqam Dasar. 1. Alfatihah ayat 1-7 Alfatihah memiliki banyak kandungan pengetahuan yang sangat penting untuk diketahui oleh kader Muhammadiyah. Alfatihah adalah surah yang menjelaskan tentang tiga macam tauhid yang kita kenal dengan tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan asma wa sifat. Selain itu, kandungan lain dari surah alfatihah adalah adanya tiga tahapan yang bisa menjadi falsafah hidup seorang manusia dalam kehidupan sehari-harinya, yaitu memuji Tuhan dengan mu’jizat dan sifat yang dimilikinya, berpasrah pada apa yang ditetapkan oleh Allah kepada ciptaannya dan ketiga mengenai doa yang dipanjatkan oleh hamba Allah agar tidak menjadi individu yang sesat dan tak diberi petunjuk oleh Allah. 2. Ali Imran ayat 104 dan 110 Ayat ini mengajarkan kepada kita mengenai pentingnya sebuah organisasi (sebuah kelompom diantara kalian) untuk melakukan gerakan amar ma’ruf nahi mungkar sebagai tujuan dalam berdakwah. Dengan adanya organisasi yang dibangun dengan tujuan dakwah tadi akan melahirkan sebaik-baik umat di antara taburan manusia yang ada di bumi Allah ini. 3. An Nisa ayat 9 Ayat ini memiliki sebuah kandungan yang amat penting bagi setiap generasi-generasi pada manusia. Ayat ini memerintahkan kepada generasi untuk tidak meninggalkan sebuah generasi tanpa bekal. Ayat ini sebenarnya mengajarkan kita untuk terus berkontribusi untuk melahirkan generasi yang mampu meneruskan perjuangan. 4. Al Mau’un 1-7 Mengantarkan peserta tahu makna dan mampun memaknai kandungan surat alma’un 5. Al Baqarah ayat 30, dan Surat ini berisi mengenai tugas manusia di bumi ini, yaitu sebagai Khalifah. Ayat inidiberikan agar istruktur mampu memberikan penjelasan mengenai tuigas manusia diturunkan di muka bumi 164