MAKALAH ILMU ALAMIAH DASAR “ Bagaimana Pengaruh Suhu

advertisement
MAKALAH ILMU ALAMIAH DASAR
“ Bagaimana Pengaruh Suhu terhadap Kelarutan Zat Padat
dalam Zat Cair”
Oleh :
Fitria Anjar Sari
124254074
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN PMPKN
KELAS PPKn C
2012
Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkaan kepada Allah SWT karena atas berkat, rahmat,
hidayah serta inayah-Nya makalah yang berjudul “ Bagaimana Pengaruh Suhu terhadap
Kelarutan Zat Padat dalam Zat Cair” telah berhasil disusun.
Penulis menyusun makalah ini bertujuan untuk melengkapi tugas Ilmu Dasar
Pendidikan semester genap. Sesuai dengan pepatah “Tiada Gading Yang Retak”, penulis
menyadari tidak ada yang sempurna di dunia ini. Banyak terdapat kekurangan dalam karya
tulis ini. Penulis mengharap kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
penyempurnaan pada kegiatan selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca.
Surabaya, 12 April 2013
Penulis
I
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ……………………………………………………………….
i
Daftar isi ……………………………………………………………………..
ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang ……………………………………………………….
1
Rumusan masalah …………………………………………………….
2
Tujuan ………………………………………………………………..
2
BAB II KAJIAN PUSTAKA ………………………………………………..
3
BAB III PEMBAHASAN
Peranan Sekolah sebagai Agen Pembaharuan Kebudayaan …………
9
Pengaruh Timbal Balik Antara Sekolah dan Masyarakat……………
12
Pengaruh Globalisasi Budaya ……………………………………….
19
Daya Tangkal Budaya Terhadap Pengaruh Globalisasi ……………..
20
BAB IV PENUTUP
Simpulan …………………………………………………………….
23
Saran …………………………………………………………………
23
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Kelarutan adalah jumlah zat yang dapat larut dalam sejumlah pelarut sampai
membentuk larutan jenuh. Apabila suatu larutan suhunya diubah, maka hasil kelarutannya
juga akan berubah. Larutan ada yang jenuh, tidak jenuh dan lewat jenuh. Larutan dikatakan
jenuh pada temperatur tertentu, bila larutan tidak dapat melarutkan lebih banyak zat terlarut.
Bila jumlah zat terlarut kurang dari larutan jenuh disebut larutan tidak jenuh. Dan bila jumlah
zat terlarut lebih dari larutan jenuh disebut larutan lewat jenuh. Daya larut suatu zat dalam zat
lain, dipengaruhi oleh jenis zat pelarut, temperatur dan sedikit tekanan.
Pengaruh suhu terhadap kelarutan dapat dilihat pada peristiwa sederhana yang terjadi pada
kehidupan sehari-hari yaitu kelarutan gula dalam air. Gula yang dilarutkan ke dalam air
panas, dan satu lagi ke dalam air dingin, maka gula akan lebih cepat larut pada air panas
karena semakin besar suhu semakin besar pula kelarutannya. Aplikasi kelarutan dalam dunia
industri adalah pada pembuatan reaktor kimia, pada proses pemisahan dengan cara
pengkristalan integral, selain itu juga dapat digunakan untuk dasar atau ilmu dalam proses
pembuatan granul-granul pada industri baja. Oleh karena aplikasi kelarutan yang bermanfaat
dan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan maka praktikum kelarutan zat padat
dalam cairan perlu dilakukan.
I.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh suhu terhadap kelarutan zat padat dalam cairan?
Dalam rumusan masalah diatas, dapat dikemukakan beberapa variabel :

Variabel manipulasi : “suhu” karena pada eksperimen tersebut variabel yang
sengaja dirubah adalah “besaran suhu” yakni 110oC,- 20oC, air mineral.

Variabel respon: “kelarutan zat padat dalam cairan”, karena pada eksperimen
tersebut yang akan berakibat dari perubahan variabel manipulasi adalah
kelarutan zat padat dalam cairan.

Variabel kontrol : “volume air yang digunakan dalanm setiap gelas, jumlah
pengadukan gula, gaya yang dihasilkan dalam proses pengadukan” semuanya
harus dalam jumlah yang sama.
I.3 Hipotesis
1. Semakin tinggi suhu suatu zat cair, semakin cepat proses pelarutan gula dalam
cairan
2. Semakin tinggi suhu suatu zat cair, semakin sedikit endapan zat padat(gula) yang
tersisa dalam zat cair.
3. Semakin rendah suhu suatu zat cair, semakin lambat proses pelarutan zat padat
dalam zat cair
4. Semakin renbdah suhu zat cair, semakin banyak endapan zat padat(gula) yang
tersisa dalam zat cair
I.4 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menjelaskan pengaruh suhu terhadap
kelarutan suatu zat pada suhu tertentu
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Ringkas
Secara garis besar, Solutiones atau larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu
atau lebih zat kimia yang terlarut.
Larutan terdiri atas zat yang dilarutkan atau solute dan pelarut/solvent. Larutan ada
yang jenuh, tidak jenuh, dan lewat jenuh. Larutan disebut jenuh pada temperatur tertentu, bila
larutan tidak dapat melarutkan lebih banyak zat terlarut. Bila jumlah zat terlarut kurang dari
ini, disebut larutan tidak jenuh dan bila lebih disebut lewat jenuh. Zat yang dapat membentuk
larutan lewat jenuh misalnya Natrium tiosulfat.
Pengaruh temperatur tergantung dari panas pelarutan. Bila panas pelarutan (∆H)
negatif, daya larut turun dengan naiknya temperatur. Bila panas pelarutan (∆H) positif, daya
larut naik dengan naiknya temperatur.
Kelarutan didefinisikan sebagai jumlah maksimum zat terlarut yang akan melarut
dalam sejumlah tertentu pelarut pada suhu tertentu. Untuk kebanyakan zat, suhu
mempengaruhi kelarutan. Secara umum, meskipun tidak semua, kelarutan zat padatan
meningkat dengan meningkatnya suhu. Namun, tidak ada korelasi yang jelas antara tanda dari
∆H larutan dengan variasi kelarutan terhadap suhu
Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan
pelarut, juga bergantung pada factor temperatur. Tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang
lebih kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut.
Kelarutan dapat digambarkan secara benar dengan menggunakan aturan fase Gibbs,
yaitu :
F=C–P+2
Dimana F adalah jumlah derajat kebebasan, yaitu jumlah variable bebas (biasanya
temperatur, tekanan, dan konsentrasi) yang harus ditetapkan untuk menentukan system secara
sempurna. C adalah jumlah komponen terkecil yang cukup untuk menggambarkan komposisi
kimia dari setiap fase, dan P adalah jumlah fase.
Aturan fase ini berguna untuk menghubungkan pengaruh dari jumlah terkecil variable
bebas (misalnya temperatur, tekanan, dan konsentrasi). Pada berbagai fase (padat, cair, dan
gas) yang dapat berada dalam system kesetimbangan yang berisi komponen dalam jumlah
tertentu. Suatu larutan lewat jenuh merupakan kesetimbangan dinamis. Kesetimbangan itu
akan dapat bergeser bila suhu dinaikkan. Pada umumnya kelarutan zat padat dalam larutan
bertambah bila suhu dinaikkan, karena umumnya proses pelarutan bersifat endotermik. Akan
tetapi ada zat yang sebaliknya, yaitu eksotermik dalam melarut seperti Ce2 (SO4)3
Pengaruh kenaikan suhu pada kelarutan zat berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan
itu dapat dipakai untuk memisahkan campuran dua zat atau lebih dengan cara rekristalisasi
bertingkat. Jika kelarutan zat padat bertambah dengan kenaikan suhu, maka kelarutan gas
berkurang bila suhu dinaikkan, katrena gas menguap dan meninggalkan pelarut.
Pengaruh kenaikan suhu pada kelarutan zat berbeda-beda antara yang satu dengan yang
lainnya. Tetapi pada umumnya kelarutan zat padat dalam cairan bertambah dengan naiknya
suhu, karena kebanyakan proses pembentukan larutannya bersifat endoterm. Sebagai
perkecualian ada beberapa zat yang kelarutannya menurun dengan naiknya suhu seperti
serium sulfat dan natrium sulfat, karena proses pelarutannya bersifat eksoterm, bahkan ada
zat yang hamper tidak dipengaruhi oleh suhu seperti natrium klorida.
Pengaruh bertambahnya temperatur terhadap bertambahnya hasil reaksi terdapat
dalam reaksi endotherm atau terhadap zat yang direaksikan pada reaksi eksotherm.Dengan
adanya pertambahan temperatur yang berubah-ubah, maka akan terjadi perubahan dari
kecepatan reaksi dalam kesetimbangan. Hal ini akan menambah hasil reaksi bila perubahan
tersebut bersifat mengurangi temperatur pada reaksi eksotermis, dan akibatnya kecepatan
reaksi dalam mencapai kesetimbangan akan berkurang dengan lain perkataan konstanta
kesetimbangan berharga sangat kecil.
BAB III
Cara Kerja
1. Alat dan bahan
 3 gelas berukuran sama
 Air mineral
 Es batu balok
 Air mendidih
 Gula pasir
 Sendok pengaduk
 Termometer
2. Langkah Kerja
 Siapkan 3 gelas yang berukuran sama
 Tuang gula pasir dengan volume yang sama (3 sendok makan) pada setiap gelas
 Isi gelas 1 dengan air mineral
 Isi gelas 2 dengan air yang sudah mendidih
 Isi gelas 3 dengan air dan beli es batu balok
 Aduk setiap gelas dengan gaya dan frekuensi yang sama
 Amati dan catat yang terjadi
3. Hasil Pengamatan
Gelas
suhu
Endapan
Gelas 1
40oC
Terdapat sedikit
endapan
Gelas 2
110oC
Tidak terdapat
endapan
Gelas 3
-20oC
Terdapat banyak
endapan
BAB IV
Kesimpulan
Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa suhu sangat berpengaruh terhadap proses
pelarutan suatu zat padat di dalam zat cair. Semakin tinggi suhu/temperatus suatu zat cair
semakin cepat proses pelarutan suatu zat padat (larutan) sehingga semakin sedikit atau
bahkan tidak ada endapan yang tersisa. Sebaliknya, semakin rendah suhu/temperatur suatu
zat cair semakin lambat proses pelarutan suatu zat padat (larutan) sehingga masih banyak
endaopan yang tersisa di zat cair tersebut. Ini terjadi karena pada suhu tinggi, molekulmolekul air bergerak lebih cepat. Sehingga lebih sering menumbuk molekul (gula) dan
melarutkannya. Sedangkan pada suhu rendah, molekul air bergerak lebih lambat, dan
membuat jumlah tumbukannya dengan molekul gula menjadi lebih sedikit, dan gula menjadi
lambat larutnya.
Download