1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa merupakan

advertisement
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan salah satu media dalam interaksi antar sesama. Dengan
adanya bahasa, orang-orang di setiap negara dapat saling berkomunikasi dan
bersosialisasi satu sama lain. Bahasa menjadi media yang penting sebagai
penghubung antar sesama. Setiap bahasa di berbagai negara tentunya berbeda-beda.
Setiap bahasa memiliki karakter dan ciri khas tersendiri sehingga memiliki
keunikannya masing-masing. Dari keunikan itulah bahasa menjadi satu hal yang
menarik untuk dipelajari. Sangat banyak orang-orang yang menjadi tertarik untuk
mempelajari bahasa asing selain bahasa sendiri.
Tentu saja setiap bahasa memiliki tingkat kesulitan tersendiri untuk dipelajari,
baik dari segi penulisan, pengucapan, intonasi, dan lain sebagainya. Adanya tingkat
kesulitan yang berbeda dalam setiap bahasa menjadi keunikan dan daya tarik
tersendiri bagi orang-orang yang ingin mempelajari bahasa.
Setiap bahasa memiliki karakteristik yang masing-masing berbeda di dalam
pengucapannya, termasuk bahasa Jepang. Karakteristik lisan dan tulisan bahasa
Jepang dapat dikatakan unik. Berbeda dengan karakteristik penyusunan kalimat pada
umumnya seperti dalam bahasa Indonesia yaitu Subjek-Predikat-Objek (SPO),
kalimat dalam bahasa Jepang menggunakan karakteristik terbalik yaitu SubjekObjek-Predikat (SOP). Makino dan Tsutsui (1986:16) mengatakan :
“Japanese is typologically classified as an SOV (Subject + Object + Verb) language,
whereas English is classified as SVO. An important fact about Japanese word order is
that each sentence ends in a verb, an adjective or a form of the copula, and that the
order of the other sentence elements is relatively free, except for the topic noun or
noun phrase, which normally comes at sentence-initial position.”
Terjemahan:
“Bahasa Jepang secara bentuknya digolongkan sebagai bahasa dengan SOV (Subjek
+ Objek + Predikat), sedangkan bahasa Inggris digolongkan dengan SVO. Fakta
penting mengenai urutan kata bahasa Jepang adalah bahwa setiap kalimat diakhiri
1
2
dengan kata kerja, kata sifat atau kata kerja penghubung, dan bahwa urutan dari
unsur kalimat lain bersifat bebas secara keseluruhan, kecuali topik dari kata benda
atau frase kata benda, yang biasanya muncul pada awal kalimat.”
(Makino dan Tsutsui, 1986:16)
Contoh :
(1)
スミスさんは日本で日本語を勉強している。
Sumisu san wa nihon de nihongo wo benkyoushite iru.
(Tuan Smith sedang belajar bahasa Jepang di Jepang.)
(2) Mr. Smith is studying Japanese in Japan.
(Tuan Smith sedang belajar bahasa Jepang di Jepang.)
(Makino dan Tsutsui, 1986:16)
Dalam contoh kalimat (1),
勉強している sebagai predikat berada di akhir
kalimat, sedangkan pada contoh kalimat (2), kata ‘studying’ sebagai predikat berada
di tengah kalimat. Dari kedua contoh di atas, dapat kita lihat perbedaan penyusunan
kata
pada masing-masing
kalimat.
Makino
dan
Tsutsui dalam
bukunya
menambahkan :
“The word order principle for Japanese is the modifier precedes what is modified.
This principle holds whether the modified word is dependent or fully independent.
The function of the modifier is to specify the meaning of the modified word. Thus, in
(1) the word benkyoushite iru ‘is studying’ is modified by the preceding elements
Subject, Location and Direct Object. ”
Terjemahan:
“Prinsip urutan kata dalam bahasa Jepang adalah modifikator mendahului kata yang
dimodifikasi. Prinsip ini tetap ada meskipun kata yang dimodifikasi itu bergantung
pada kata lain atau dapat berdiri sendiri. Fungsi dari modifikator adalah untuk
menentukan arti dari kata yang dimodifikasi. Dengan begitu, dalam contoh (1) kata
benkyoushite iru ‘sedang belajar’ dimodifikasi oleh unsur yang mendahuluinya yaitu
Subjek, Lokasi, dan Objek Langsung.”
(Makino dan Tsutsui, 1986:16)
Perbedaan mendasar dalam penyusunan kalimat ini menjadi salah satu
kesulitan bagi pelajar bahasa Jepang dalam membentuk kalimat. Kebanyakan pelajar
3
yang masih awam seringkali terbalik dalam merangkai kalimat berbahasa Jepang
dikarenakan pola penyusunan kalimat yang berbeda. Selain itu, banyaknya
penggunaan partikel dalam setiap kalimat juga menjadi kesulitan tersendiri bagi
pelajar bahasa Jepang di berbagai tingkat. Penggunaan partikel di dalam bahasa
Jepang digunakan untuk membantu pemaknaan kalimat agar menjadi lebih tepat.
Partikel di dalam bahasa Jepang biasanya digunakan sebagai penanda ungkapan
perasaan dan sebagainya. Seperti halnya di dalam bahasa Indonesia, dalam beberapa
konteks kalimat kita juga menggunakan partikel-partikel yang ada untuk menandakan
ungkapan yang ingin kita sampaikan. Partikel di dalam bahasa Indonesia disebut juga
kata tugas. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), partikel diartikan
sebagai kata yang tidak dapat diderivasikan atau diinfleksikan, mengandung makna
gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal, termasuk di dalamnya artikel,
preposisi, konjungsi, dan interjeksi.
Istilah partikel di dalam bahasa Jepang disebut joshi. Definisi joshi menurut
Masuoka dan Takubo (1989:45) adalah sebagai berikut.
名詞に接続して補足語や主題を作る働きをするものや、語と語、節と節を
接続する働きをするもの、等を一括して「助詞」という。”
“
Meishi ni setsuzokushite hosokugo ya shudai o tsukuru hataraki o suru mono ya, go
to go, setsu to setsu o setsuzokusuru hataraki o suru mono, tou o ikkatsushite ‘joshi’
to iu.
Terjemahan :
“Yang berfungsi untuk membuat kata pelengkap atau subjek terhubung pada kata
benda, dan yang berfungsi menghubungkan kata dengan kata, kalimat dengan
kalimat, sekumpulan itu disebut ‘partikel’.”
(Masuoka dan Takubo, 1989:45)
Berbeda dengan jumlah partikel bahasa Indonesia, partikel dalam bahasa
Jepang berjumlah lebih banyak. Yang termasuk partikel dalam bahasa Jepang di
は (wa), が (ga), に (ni), を (wo), で (de), よ (yo), ぞ (zo), ね (ne), と
(to), わ (wa), な (na), よね (yone) dan masih banyak partikel lainnya. Setiap partikel
antaranya
memiliki fungsi dan makna yang berbeda di dalam penggunaannya. Oleh karena itu
4
dibutuhkan pemahaman yang teliti agar dapat menggunakan partikel-partikel tersebut
secara tepat.
Dalam komunikasi bahasa Jepang, partikel selalu digunakan baik secara lisan
maupun tulisan. Seperti yang telah penulis sebutkan di atas bahwa setiap partikel
memiliki fungsi dan makna yang berbeda-beda sehingga penggunaan setiap partikel
juga harus disesuaikan dengan situasi yang sedang dialami. Partikel dalam bahasa
Jepang ada yang digunakan di bagian awal, tengah, dan akhir kalimat tergantung
pemakaiannya. Penggunaan partikel dalam bahasa Jepang biasanya digunakan
sebagai ungkapan perasaan pembicara ataupun untuk menekankan kalimat.
Dalam penulisan skripsi ini penulis akan membahas penggunaan partikel
yang ada di akhir kalimat. Partikel yang digunakan di akhir kalimat dalam bahasa
Jepang disebut shuujoshi. Shuujoshi umumnya digunakan untuk mewakili ungkapan
perasaan
pembicara
terhadap
lawan
bicara,
seperti
meminta
persetujuan,
mempertegas ungkapan atau memberitahukan informasi kepada lawan bicara.
か (ka), な
(na), かしら (kashira), よ (yo), さ (sa), ぞ (zo), ぜ (ze), わ (wa), ね (ne), よね
(yone), かな (kana), dan lain-lain. Setiap partikel memiliki makna dan fungsi yang
Partikel yang termasuk ke dalam shuujoshi di antaranya adalah partikel
berbeda-beda dalam pengungkapannya. Tidak terkecuali partikel yo dan ne. Kedua
partikel shuujoshi ini memiliki fungsi dan makna yang hampir sama dalam
penggunaannya sehingga diperlukan ketelitian dan pemahaman yang tepat agar tidak
terjadi kesalahpahaman dalam penerapannya di dalam kalimat.
Seringnya ditemukan permasalahan dalam penggunaan shuujoshi yo dan ne
ini menjadi dasar bagi penulis dalam melakukan analisa mengenai fungsi dan makna
shuujoshi yo dan ne agar tidak terjadi lagi kekeliruan dalam penggunaannya dalam
kalimat bahasa Jepang sehari-hari. Penulis melakukan analisa berdasarkan latar
belakang di atas dengan menggunakan korpus data yang diperoleh dari dialog tokoh
dalam episode spesial drama seri Jepang berjudul “Proposal Daisakusen”.
5
1.2 Masalah Pokok
Pokok permasalahan yang akan dibahas di dalam penelitian ini adalah analisa
mengenai penggunaan partikel yo dan ne sebagai partikel akhir kalimat di dalam
bahasa Jepang.
1.3 Formulasi Masalah
Di dalam skripsi ini penulis akan menganalisis penggunaan partikel yo dan ne
yang terdapat dalam dialog tokoh episode spesial drama seri Jepang berjudul
“Proposal Daisakusen”.
1.4 Ruang Lingkup Permasalahan
Dalam penulisan skripsi ini, penulis membatasi masalah yang dibahas pada
analisis penggunaan shuujoshi yo dan ne yang terdapat dalam episode spesial drama
seri Jepang berjudul “Proposal Daisakusen”. Penulis akan melakukan analisa
terhadap masalah di atas berdasarkan teori fungsi ne dan yo menurut Masuoka (1991).
Penulis mengambil korpus data dari episode spesial drama Proposal Daisakusen
dikarenakan terdapat banyak dialog tokoh yang menggunakan partikel yo dan ne di
akhir kalimat.
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan penulisan skripsi ini adalah agar pembaca dan penulis dapat
memahami perbedaan situasi penggunaan partikel yo dan ne secara jelas di dalam
kalimat bahasa Jepang. Selain itu, penulis berharap pembahasan mengenai tema yang
diambil dapat menjadi suatu sumber pengetahuan atau referensi bagi pembaca yang
membutuhkan informasi atau data mengenai penggunaan partikel yo dan ne sehingga
dapat digunakan dalam percakapan bahasa Jepang sehari-hari.
6
1.6 Tinjauan Pustaka
Penelitian mengenai penggunaan shuujoshi yo dan ne sebelumnya pernah
dilakukan oleh Saigo (2012). Dalam penelitian yang ia lakukan, Saigo (2012)
melakukan analisa terhadap 6 data yang ia peroleh berdasarkan hasil penyempurnaan
percakapan oleh 6 orang siswa. Dari hasil analisa tersebut, Saigo menyimpulkan
bahwa terdapat fungsi shuujoshi yo dan ne masing-masing memiliki 4 fungsi.
Selain itu, fungsi shuujoshi yo dan ne juga pernah dilakukan oleh Kouminjou
(2011) yang membagi penggunaan fungsi yo ke dalam 2 situasi yaitu hal yang tidak
disadari oleh lawan bicara dan permintaan informasi dari lawan bicara kepada
pembicara, sedangkan penggunaan shuujoshi ne terbagi menjadi 3 fungsi yaitu fungsi
untuk meminta kepastian informasi, meminta persetujuan, dan menyatakan
persetujuan dari lawan bicara kepada pembicara. Berdasarkan tinjauan pustaka yang
diambil dari Saigo (2012) dan Kouminjou (2011), maka dalam penulisan skripsi ini
penulis akan melakukan analisa secara lebih mendalam terhadap penggunaan fungsi
dan makna shuujoshi yo dan ne.
Download