Training K2 dan K3 P3K REV 2

advertisement
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
MATERI PELAJARAN NO. 5
PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -75/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
5. PERTOLONGAN PERTAMA
5.1. Beberapa pengertian/definisi
Pengertian Pertolongan Pertama
Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau cedera/kecelakaan yang
memerlukan penanganan medis dasar.
Pengertian Dasar Medis.
Tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dimiliki oleh orang awam
atau orang awam yang terlatih secara khusus. Batasannya adalah sesuai dengan
sertifikat yang dimiliki oleh Pelaku Pertolongan Pertama.
Pelaku Pertolongan Pertama
Pelaku Pertolongan Pertama adalah penolong yang pertama kali tiba di tempat
kejadian yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar.
5.2. Tujuan Pertolongan Pertama
a. Menyelamatkan jiwa penderita
b. Mencegah cacat
c. Memberikan rasa aman dan menunjang proses penyembuhan
5.3. Dasar Hukum
Diatur dalam KUHAP (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana) yaitu mengenai
Pelanggaran tentang orang yang perlu ditolong, diatur dalam Pasal 531 KUHAP
yang berbunyi :
“ Barang siapa menyaksikan sendiri ada orang di dalam keadaan bahaya maut, lalai
memberikan atau mengadakan pertolongan kepadanya, sedang pertolongan itu
dapat diberikan atau diadakannya dengan tidak akan mengkhawatirkan, bahwa ia
sendiri atau orang lain akan kena bahaya dihukum kurungan selama-lamanya tiga
bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4.500,- Jika orang perlu ditolong itu
mati, diancam dengan KUHAP 45, 165, 187, 304, 478, 525, 566”
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -76/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Catatan Implementasi di Lapangan :
Pasal ini berlaku, apabila Pelaku Pertolongan Pertama dapat melakukan tanpa
membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain.
Kerahasiaan Medis Penderita
Diatur dalam Pasal 322 KUHAP yang berbunyi :
1. Barang
siapa
dengan
sengaja
membuka
sesuatu
rahasia
yang
wajib
menyimpannya oleh karena jabatan atau pekerjaannya baik yang sekarang
maupun yang dahulu, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan
bulan atau dengan denda sebanyak-banyaknya Rp. 9.000,2. Jika kejahatan itu dilakukan dengan cara tertentu, maka perbuatan itu hanya
dapat dituntut atas pengaduan orang itu.
Persetujuan Tindakan Pertolongan
Ada 2 (dua) bentuk persetujuan antara lain :
a. Persetujuan yang dianggap diberikan, tersirat (Implied Consent)
b. Persetujuan yang dinyatakan (Expressed Consent)
Persetujuan diberikan : penderita dalam keadaan sadar memberikan isyarat yang
mengizinkan tindakan pertolongan dilakukan atas dirinya. Dan dalam keadaan gawat
darurat (emergency) yaitu penderita dalam keadaan tidak sadar.
Persetujuan yang dinyatakan : Persetujuan dinyatakan dalam secara lisan atau
secara tertulis oleh penderita (tertulis).
Dasar Hukum PMI
PMI dapat menyelenggarakan Pertolongan Pertama, pelatihan dan Pos Pertolongan
Pertama diatur dalam peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 023/Birhub/1972
Kewajiban Pelaku Pertolongan Pertama :
a. Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya
b. Dapat menjangkau penderita
c. Dapat mengenali masalah
d. Meminta bantuan/rujukan
e. Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat
f. Membantu Pelaku Pertolongan Pertama
g. Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -77/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Kualifikasi Pelaku Pertolongan Pertama
a. Jujur dan bertanggung jawab
b. Berlaku professional
c. Kematangan emosi
d. Kemampuan bersosialisasi
e. Kondisi fisik baik
f. Mempunyai rasa bangga
Peralatan Dasar Pelaku Pertolongan Pertama (PP)
Peralatan Dasar yang dipergunakan oleh pelaku PP disebut Alat Perlindungan Diri
(APD). Prinsip menghadapi darah dan cairan tubuh antara lain darah dan semua
cairan tubuh sebagai media penularan penyakit (Hepatitis, TBC, HIV/AIDS)
Beberapa APD yang digunakan antara lain :
1. Sarung tangan karet
2. Kacamata pelindung
3. Masker penolong
4. Masker Resusitasi
5. Helm
6. Rompi pelindung
Peralatan Pertolongan Pertama
a. Penutup muka (kassa steril, bantalan kasa)
b. Pembalut (verban, mitella, plester)
c. Cairan antiseptic (Alkohol 70 %, Betadine)
d. Cairan pembersih (Boorwater)
e. Peralatan Stabilitasi (bidai, spinal panjang)
f. Gunting pembalut
g. Pinset
h. Senter
i.
Stateskop Tensimeter, Neck Collar, tandu
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -78/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
5.4. Penilaian
5.4.1. Penilaian keadaan
a. Bagaimana kondisi sesuatu ?
b. Kemungkinan apa saja yang akan terjadi ?
c. Bagaimana mengatasinya ?
5.4.2. Penilaian dini
a. Kesan Umum (penentuan kasus Trauma dan Medis)
b. Pemeriksaan respon (Awas – Suara – Nyeri – Tidak respon)
c. Memastikan jalan nafas terbuka
-
Teknik angkat dagu tekan dahi (pasien respon)
-
Teknik pendorongan rahang bawah (pasien tidak respon)
d. Menilai pernafasan (Lihat – Dengar – Rasakan – selama 3-5 detik)
e. Menilai sirkulasi selama 5 – 10 detik dan menghentikan pendarahan hebat
-
Memeriksa nadi radial / pergelangan tangan (dewasa ada respon)
-
Memeriksa nadi brakial / bagian dalam lengan atas (bayi ada respon)
-
Memeriksa nadi karotis / leher (dewasa tidak ada respon)
-
Memeriksa nadi brakial (bayi tidak ada respon)
f. Menghubungi bantuan
Mintalah bantuan kepada orang lain untuk melakukannya atau lakukan sendiri
5.4.3.
Pemeriksaan fisik
a. Penilaian Terarah
Tujuan : agar penolong dapat melaksanakan penatalaksanaan yang terbaik
sesuai dengan keadaan yang dihadapi (sikap profesional)
Kasus trauma
: Tanda pada umumnya terlihat dengan jelas dan teraba kecuali
penderita mengalami cidera bagian tubuh
Teliti kasusnya dengan signifikan atau tidak signifikan
Kasus medis
: Berupa gejala yang dirasakan oleh penderita dengan
wawancara untuk menentukan riwayat penderita.
Teliti kasusnya berdasarkan ada tidaknya respon perderita dan pemeriksaan vital.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -79/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
b. Prinsip pemeriksaan fisik ada dua hal, yaitu :
1. Pemeriksaan yang meliputi seluruh tubuh penderita dengan tujuan
menemukan berbagai tanda.
2. Pemeriksaan fisik dilakukan sistematis dan berurutan dari ujung kepala sampai
ujung kaki.
Teknik pemeriksaan fisik : LIHAT, BANDINGKAN, DAN RABA
Tindakan yang melibatkan panca indera kita berupa :
a. Penglihatan (inspeksi)
b. Perabaan (palpasi)
c. Pendengaran (auskultasi)
Pada penderita cedera, harus dicari adanya :
1. Perubahan bentuk (P)
2. Luka terbuka (L)
3. Nyeri tekan
(N)
4. Bengkak
(B)
Urutan pemeriksaan fisik antara lain :
Kepala (kulit kepala, tulang tengkorak, tulang wajah, telinga, hidung, mata, mulut),
leher, dada, perut, punggung, anggota gerak atas dan bawah.
Periksa tanda vital pada penderita.
Tanda Vital
Parameter yang digunakan dalam dua tanda vital adalah :
1. Denyut Nadi Normal (Jam tangan selama 15 detik)
-
Bayi
: 120 - 150 kali/menit
-
Anak
: 80 - 150 kali/menit
-
Dewasa
: 60 - 90 kali/menit
2. Frekuensi Pernafasan Normal (Jam tangan selama 30 detik)
-
Bayi
: 25 - 50 kali/menit
-
Anak
: 15 - 30 kali/menit
-
Dewasa
: 12 - 20 kali/menit
3. Suhu Tubuh Normal : 37 derajat celcius (Thermometer dan perabaaan dengan
punggung tangan)
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -80/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
4. Tekanan Darah Normal (Tensimeter dan Stetoskop)
-
Sistolik : 100 – 140 mmHg
-
Diastolik : 60 – 90 mmHg
5. Kulit (lembab, kering, berkeringat)
5.4.4. Riwayat penderita
Wawancara dengan penderita, keluarga atau saksi mata terutama kasus medis
Untuk memudahkan, dikenal dengan akronim K – O – M – P – A – K
K : Keluhan Utama (Gejala dan tanda)
O : Obat-obatan yang diminum
M : Makanan / minuman terakhir
P : Penyakit yang diderita
A : Alergi yang dialami
K : Kejadian
5.4.5. Pemeriksan bekala atau lanjut
Penanggulangan pemeriksaan dari awal sebelum petugas medis datang ke lokasi
kejadian.
Secara umum lakukan pemeriksaan berkala meliputi :
-
Keadaan respon
-
Nilai kembali jalan nafas, perbaiki jika perlu
-
Nilai kembali pernafasan, frekuensi dan kualitasnya
-
Periksa kembali nadi penderita
-
Nilai kembali keadaan kulit : suhu, kelembaban dan kondisinya dari ujung
kepala sampai kaki
-
Periksa kembali secara seksama
-
Periksa kembali ketatalaksanaan penderita (pembalutan, pendarahan, dan
pembidaian)
Periksa selalu tanda vital, cacat setiap perubahan yang terjadi.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -81/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
5.4.6. Pelaporan
Setiap tindakan dan pemeriksaan harus dicatat secara singkat dan jelas dan
sebagai bahan rujukan.
Dalam laporan sebaiknya dicatat antara lain :
-
Umur dan jenis kelamin penderita
-
Keluhan utama
-
Tingkat respon
-
Keadaan jalan nafas
-
Pernafasan
-
Sirkulasi
-
Pemeriksaan fisik yang penting
-
KOMPAK yang penting
-
Pentatalaksanaan pertolongan
-
Perkembangan lain yang penting
5.5. Luka bakar
Penyebab
-
Thermal (suhu > 60 derajat Celcius)
-
Kimia (asam/basa kuat)
-
Radiasi
Pertolongan luka bakar
1. Luka bakar derajat satu (permukaan)
Ciri-cirinya :
-
Warna kemerahan, nyeri dan bengkak
-
Lapisan kulit paling atas (kulit ari)
2. Luka bakar derajat dua (sedikit lebih kedalam)
Ciri-cirinya :
-
Lapisan kulit yang rusak dan lapisan dibawahnya terganggu
-
Adanya gelembung berisi cairan, bengkak, kulit kemerahan, lembab dan
rusak
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -82/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
3. Luka bakar derajat tiga (ke dalam jaringan tulang)
Ciri-cirinya :
-
Lapisan yang kena tidak terbatas, bahkan dapat sampai ke tulang dan
organ
-
Warna kulit hitam dan gosong, kulit tampak kering, pucat
-
Mati rasa karena kerusakan syaraf
-
Tidak menimbulkan rasa nyeri
Luas permukaan tubuh
Penanganan dan penentuan derajat luka bakar luas permukaan tubuh yang
mengalami luka bakar sangat berperan.
Pedoman untuk mengetahui luas daerah yang terbakar dilakukan dengan Hukum
Sembilan yaitu membagi daerah tubuh dengan prosentase 9 (sembilan) perdaerah
tubuh.
Hukum Sembilan Pada Dewasa
DAERAH TUBUH
1. Kepala
9%
2. Badan bagian depan atas
9%
3. Badan bagian depan bawah
9%
4. Badan bagian belakang atas
9%
5. Badan bagian belakang bawah
9%
6. Lengan kiri
9%
7. Lengan kanan
9%
8. Tungkai kanan bagian depan
9%
9. Tungkai kanan bagian belakang
9%
10. Tungkai kiri bagian depan
9%
11. Tungkai kiri bagian belakang
9%
12. Kemaluan
9%
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -83/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Hukum Sembilan Pada Anak-anak
DAERAH TUBUH
1. Kepala
18 %
2. Badan bagian depan atas
9%
3. Badan bagian depan bawah
9%
4. Badan bagian belakang atas
9%
5. Badan bagian belakang bawah
9%
6. Lengan kanan depan
4,5 %
7. Lengan kanan belakang
4,5 %
8. Lengan kiri depan
4,5 %
9. Lengan kiri belakang
4,5 %
10. Tungkai kanan bagian depan
7%
11. Tungkai kanan bagian belakang
7%
12. Tungkai kiri bagian depan
7 %
13. Kemaluan
7%
Kategori luka bakar
1. Luka bakar ringan
-
Tidak mengenai wajah, tangan, kaki, sendi, kemaluan, atau saluran nafas
-
Luka bakar derajat tiga < dari 2 % luas permukaan tubuh
-
Luka bakar derajat dua < dari 15 % luas permukaan tubuh
-
Luka bakar derajat satu < dari 50 % luas permukaan tubuh
-
Luka bakar derajat dua < dari 10 % luas permukaan tubuh
2. Luka bakar sedang
-
Tidak mengenai wajah, tangan, sendi, kemaluan, dan saluran nafas
-
Luka bakar derajat tiga antara 2 % - 10 % luas permukaan tubuh
-
Luka bakar derajat dua antara 15 % - 30 % luas permukaan tubuh
-
Luka bakar derajat satu > dari 50 % luas permukaan tubuh
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -84/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
3. Luka bakar berat
-
Luka bakar disertai cedera saluran nafas
-
Luka bakar derajat tiga pada wajah, tangan, kaki, sendi, kemaluan dan
saluran nafas
-
Luka bakar derajat tiga diatas 10 % luas permukaan tubuh
-
Luka bakar derajat dua lebih dari 30 % luas permukaan tubuh
-
Luka bakar disertai nyeri, bengkak serta perubahan bentuk alat gerak
-
Luka bakar meliputi satu bagian tubuh seperti lengan, tungkai dan dada
-
Semua luka derajat tiga > 20 % pada anak-anak dapat mengakibatkan syok

Luka bakar dua seluas 20 % pada luka bakar pada orang dewasa dapat
mengakibatkan syok

Luka bakar derajat dua seluas 10 % pada anak-anak dapat
mengakibatkan syok
Beberapa hal yang harus diperhatikan !!!
1. Luka bakar yang disebabkan listrik dan kimia
2. Daerah wajah yang terkena : wajah, tangan dan kaki, kemaluan, bokong, paha
bagian dalam, sendi (cacat tubuh)
3. Usia kurang dari lima tahun atau lebih dari 55 tahun, dianggap berat
Penanganan luka bakar

Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan penolong *

Hentikan proses luka bakarnya (alirkan air dingin)

Lepaskan pakaian dan perhiasan kecuali melekat pada tubuh

Tentukan derajat berat luka bakar selama pemeriksaan fisik

Hitung derajat luka bakar selama pemeriksaan fisik

Hitung derajat luka, luas permukaan tubuh, lokasi luka dan faktor komplikasi dan
kemungkinan cedera lain.

Tutup luka bakar (kasa steril), jangan gunakan lemak, salep cairan antiseptik dan
es

Jagalah kehangatan tubuh pasien

Rujuk ke rumah sakit
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -85/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Penanganan luka bakar serius
1. Luka Bakar Kimia

Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan diri penolong * Segera
siram dengan air sebanyak-banyaknya > 20 menit

Jangan menyirami bahan kimia yang beraksi kuat dengan air misalnya kaustik
soda

Bila mengenai mata, siram dengan air mengalir dan lepaskan lensa kontak

Minimalkan kontaminasi lanjut dengan aliran air
2. Luka Bakar Listrik
Luka bakar listrik yang harus diwaspadai adalah terjadinya henti nafas dan henti
jantung, serta kerusakan jaringan syaraf dan organ dalam.
Gejala dan tanda syok listrik antara lain :
a. Perubahan status mental dan respon
b. Tampak luka bakar berat
c. Pernafasan dangkal, tidak teratur atau tidak ada
d. Denyut nadi lemah
e. Patah tulang majemuk karena kontraksi otot
Penanganan luka bakar listrik
a. Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan diri penolong
b. Lakukan penilaian dini
c. Periksa dan cari luka bakar di daerah listrik masuk dan keluar
d. Atasi syok, bila ada
e. Lakukan RJP jika diperlukan
f. Rujuk ke RS terdekat
3. Luka bakar Inhalasi
Luka bakar yang terjadi karena menghirup udara panas, asap atau bahan racun
yang masuk ke ruangan nafas.
Gejala dan tanda antara lain :
a. Bulu hidung hangus terbakar
b. Luka bakar pada wajah
c. Butir arang karbon dalam cairan ludah
d. Bau asap pada pernafasan
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -86/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
e. Kesukaran bernafas
f. Pernafasan berbunyi
g. Serak,batuk dan sukar bicara
h. Kulit kebiruan
i.
Gerakan dada terbatas
Penanganan luka bakar inhalasi

Nilai keamanan tempat dan keselamatan penolong.

Pindahkan penderita ke tempat yang aman.

Berikan oksigen, oksigen yang dilembabkan.

Penilaian dini terutama jalan nafas.

Lakukan pernafasan buatan.

Hati-hati pemberian oksigen di daerah kebakaran, pastikan penderita sudah
aman untuk mencegah reaksi antara api dan oksigen.
5.6. Balut- membalut (verbandleer)
I. Balut membalut
1. Macam pembalut
-
Kain segitiga (mitella)
-
Plester (Kleefpleister)
-
Pembalut pita biasa (Zwachtel)
2. Guna pembalut
Untuk penutup :
-
Supaya jangan kena cahaya
-
Supaya jangan kena debu atau kotoran
II. Macam-macam Pembalut
1. Kain segitiga
Kain segitiga dibuat dari kain putih yang tidak berkapur (mori), kelihatannya
tipis, sifatnya lemas, dan keadaanya kuat.
Cara menggunakan kain segitiga :
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -87/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
-
P3K
Dilebarkan :
Untuk membalut anggota badan yang berbentuk tangan, untuk pembalut
atau pembungkus : dada, panggul, punggung, perut, kaki, dan tangan.
-
Cara dilipat-lipat menyerupai dasi panjang
Dipergunakan untuk pembalut anggota yang bundar (circle) bulat panjang
(cylinder, bulat panjang lonjong (kegel) dan persendian.
-
Cara yang dibelah setengah dari tingginya.
Kain segitiga yang dinamakan Plantenga. Digunakan istimewa untuk
membalut mammae, selain itu untuk membalut punggung dan pinggul.
-
Cara dilipat-lipat dari alas sampai setengah tingginya.
Digunakan untuk membalut persendian
-
Cara dibelah kiri-kanan sejajar dengan alas.
Digunakan untuk bermacam-macam Funda.
Cara menyimpulkan kain segitiga ada 2 macam :
1. Simpul laki-laki
Simpul ini mempunyai bentuk rata dan ceper, akibatnya tidak menekan
pada kulit.
2. Simpul perempuan
Simpul macam ini berbentuk bulat sehingga menekan pada kulit.
2. Plester (Kleefpleister)
Pembalut pita bergetah ini digunakan untuk :
-
Perekatan kain kassa yang dilipat pada kulit
Kalau ada luka-luka kecil yang tidak banyak mengeluarkan darah, atau
ulcus dan bisul. Sesudah dipakaikan obat lalu ditutup dengan kassa yang
dilipat, lalu direkatkan pada kulit dengan plester.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -88/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
-
P3K
Balutan penarik
Kalau ada tulang yang patah, kadang dipasang balutan penarik. Selain
untuk patah dipakai untuk sendi yang menderita coccitis (radang sendi
paha)
-
dan
gonitis
(radang
sendi
lutut).
Untuk fiksasi
Untuk patah tulang costa yang menembus kulit, biasanya direkatkan
plester mulai dari tulang punggung melalui costa yang patah sampai
sernum.
-
Untuk Beunton.
Apabila ada luka lama atau ulcus yang lebar jarak antara kedua
pinggirnya, dipasang beunton. Maksudnya supaya kedua belah pinggir
luka itu, lekas menjadi rapat atau lekas tertutup. Cara demikian dipakai
juga bila ada hernia di pusar anak kecil.
3. Pembalut pita biasa (Zwachtel)
Pembalut pita biasa terdiri atas bermacam-macam bahan. Tiap bahan
dipergunakan untuk keperluan yang berbeda.
a. Pembalut kain kassa
Tipis dan jarang : untuk luka sederhana, pembalut basah, pembalut ulcus,
bahan pembuat pembalut gips.
b. Pembalut Cambrics
Serupa dengan pembalut kain kassa, bedanya benangnya lebih kasar dan
tebal. Penggunaannya sama dengan kain kassa.
c. Pembalut kain kassa bertajin (stiifsel-verband)
Dibuat dari kain kassa tapi mengandung tajin, oleh sebab itu jadi kaku.
Kalau hendak dipakai pembalut ini direndam dulu dalam air hangat,
sesudah basah lalu diperas, gunanya supaya tajin jadi lengket. Dipakai
untuk memperbaiki curcular gips yang sudah mulai rusak.
d. Pembalut katun.
Dipakai untuk P3K. Juga dapat digunakan untuk pembalut, penekan, dan
balutan penarik, tetapi hasilnya kurang memuaskan.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -89/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
e. Pembalut flanel
Untuk balutan penekan, balutan penarik dan P3K.
f. Pembalut ideal
Rupanya seperti kaus, sifatnya elastis. Dipakai untuk balutan penekan,
teristimewa kalau ada haematom juga dipakai untuk pembalut amputatie
dan trepanatie.
g. Pembalut Tricot
Rupanya seperti kaus, agak elastis ditengahnya terbuka. Dipakai untuk
pembalut amputatie, trepanatie, dan untuk membuat ranselverband.
h. Pembalut cepat (snelverband)
Pembalut cepat dari pabrik sudah dibuat steril. Biasanya dipakai untuk
P3K
i. Pembalut Gips
Dibuat untuk pembalut kain kassa yang telah dibubuhi tepung gips
diatasnya, lalu digulung. Menggulung pembalut gips harus agak longgar
supaya air mudah masuk dalam gulungan, waktu direndam dalam air
hangat bila hendak dipakai.
Pembalut gips dipakai untuk pengobatan lebih lanjut, jika ada tulang yang
patah terutama tangan dan kaki. Tujuannya untuk fiksasi tulang yang
patah atau sendi yang meradang.
j. Pembalut Martine
Terbuat dari karet, oleh sebab itu sangat elastis. Dipakai untuk balutan
keras (afbinding) dan balutan setengah keras
(stuwing). Dinamakan
menurut nama dokter yang pertama membuatnya.
III. Cara menggunakan kain segitiga.
1.
Membalut kepala cara capitum parvum triangulare
Letakkan kain segitiga di atas kepala dengan sudut puncak menutupi
hidung. Pinggir alas dilipat-lipat, sampai lipatan itu terletak rapat di belakang
kepala. Ujung kiri dan kanan ditarik ke muka melalui pangkal kuping sebelah
atas, kemudian disimpulkan di atas dahi, mendidih ujung puncak tadi.
Pinggir kiri dan kanan ditarik-tarik supaya licin dan rata. Kemudian ujung
sudut puncak yang menutupi hidung tadi ditarik ke atas kepala lalu dipeniti.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -90/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Guna balutan ini adalah untuk pembungkus kepala bila ada luka kecil, juga
untuk membungkus kepala bagian wanita, bila akan dioperasi.
2.
Membalut kepala cara Fascia Nadosa (pospakket)
Guna balutan ini adalah untuk pertolongan pertama bila di bagian pelipis
terdapat luka yang mengeluarkan darah.
Luka ditutup dengan bahan steril lalu ditutup dengan kapas. Di atas tersebut
diletakkan sepotong kayu gabus, setelah itu kain segitiga yang telah dilipat
diletakkan di bawah dagu kemudian kedua ujungnya ditarik ke atas melalui
muka kuping. Ujung yang satu melalui daerah tulang pelipis yang tidak sakit,
terus ke atas kepala, turun ke bagian tulang pelipis yang sakit di atas kayu
gabus tadi. Kemudian kedua ujung kain segitiga disilangkan sehingga satu
dari ujung kain segitiga tadi menuju ke dahi dan satu lagi menuju ke
belakang kepala. Kedua ujungnya dipertemukan di bagian tulang pelipis
yang tidak sakit lalu disimpulkan tepat di atas kain balutan yang pertama.
Perlunya disilangkan lagi di atas kayu gabus tadi supaya kayu tadi lebih
keras menekan pada luka itu sehingga darah tidak keluar lagi.
Fascia Nadosa ini dapat dipakai pula untuk fiksasi sendi rahang, untuk
membalut kuping, atau untuk membalut kompres basah dari luar pada orang
sakit gigi.
3. Funda
Funda terdiri dari kain segitiga, sisi kaki kiri dan kanannya dibelah kira-kira
6-10 cm, lebarnya dari sisi alas di sebelah masing-masing 1/3 dari panjang
sisi alas.
Pengunaan funda :
-
Membalut dagu secara funda maxillae
-
Membalut hidung secara funda nasi
-
Membalut dahi secara funda frontis
-
Membalut belakang kepala (funda occipitis)
-
Membalut tumit (funda calcenei)
4. Membalut dada
Kain segitiga yang dipakai untuk pembalut dada biasanya dilebarkan saja.
Gunanya untuk menutup luka atau ulcus yang sudah diobati.
Ujung puncak kain segitiga harus terletak di atas bahu, sisi alas dari kain
segitiga dirapatkan pada bagian antara perut dengan dada. Sedangkan
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -91/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
kedua ujung sudut alas masing-masing ditarik ke punggung lalu
disimpulkan. Ujung puncak tadi dari atas bahu ditarik ke punggung lalu
disimpulkan dengan salah satu sudut alas.
5. Membalut punggung
Sama caranya dengan untuk dada, hanya memasangnya terbalik.
6. Membalut secara plantenga
Plantenga biasanya dipakai untuk membalut dada wanita yang mengalami
mastitis. Biasanya keadaan ini terdapat pada wanita yang baru melahirkan.
Wanita dengan mastitis bila buah dadanya tergantung saja biasanya terasa
sangat sakit. Oleh sebab itu dibalut dengan cara plantenga.
-
Penunjang mammae cara plantenga
Bagian mammae yang sakit dipakaikan kompres basah. Setelah itu
plantenga diletakkan di atas dada pasien tersebut. Ujung yang telah
dibelah dihadapkan ke atas, disilangkan di leher, lalu diikatkan di
samping bawah leher. Sisi alas plantenga itu diletakkan di pangkal
mammae dan kedua ujung sudut plantenga masing-masing ditarik ke
punggung, lalu disimpulkan.
Fungsi dari balutan ini adalah untuk mengurangi rasa sakit.
-
Penekan buah dada cara Plantenga
Plantenga ini dilebarkan di punggung, ujung puncak yang terbelah
masing-masing diletakkan melewati bahu, sehingga pangkalnya yang
dibelah terletak di pangkal leher. Ujung sudut alas ditarik ke dalam
melalui ketiak lalu disimpulkan dengan ujung puncak di bagian bahu
sebelah depan, sehingga mammae tertarik dan tertekan. Ujung sudut kiri
disimpulkan dengan belahan ujung puncak kanan, ujung sudut kanan
disimpulkan dengan belahan ujung puncak kiri, sehingga terjadi silang.
Gunanya untuk penutup atau penekan mammae yang sakit.
-
Membungkus perut cara Plantenga
Ujung puncak dihadapkan ke bawah. Kedua ujung dari sudut alas,
masing-masing ditarik ke pinggang, lalu disimpulkan. Ujung puncak yang
sudah dibelah masing-masing ditarik ke bawah terus ke belakang
melalui sela paha, setelah itu kedua ujung puncak masing-masing
disimpulkan pada ujung sudut alas di pinggang tadi.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -92/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
7. Membalut sendi siku
Kain segitiga dilipat-lipat, bagian tengahnya diletakkan di tengah-tengah
siku, kedua ujung diarahkan ke perlipatan siku. Di perlipatan siku kedua
ujung kain segitiga itu bertemu, ujung dari atas terus menuju ke bawah, ke
daerah siku agak ke atas sedikit. Ujung yang dari bawah terus ke atas,
menuju daerah siku agak ke bawah siku sedikit. Dari sana, masing-masing
menuju kembali ke tengah-tengah perlipatan siku, lalu di sana disimpulkan.
Guna dari balutan ini untuk penekan dan penutup daerah siku yang sakit.
8.
Membalut sendi pergelangan tangan
Kain segitiga dilipat terlebih dahulu. Setelah itu bagian tengah kain segitiga
diletakkan di telapak tangan. Ujung yang satu melewati sela ibu jari dan
telunjuk, terus ke punggung tangan, menuju pergelangan tangan sebelah
luar. Ujung yang lain, dari pinggir telapak tangan sebelah luar naik ke
punggung. Terus menuju ke pergelangan tangan sebelah dalam. Masingmasing mengitari daerah pergelangan tangan, kemudian disimpulkan.
Guna balutan ini untuk penutup-penekan luka di daerah pergelangan
tangan.
9.
Membalut tangan seluruhnya
Kain segitiga dilipat mulai dari alas sampai 2-3 kali. Di atasnya diletakkan
tangan yang akan dibalut. Pinggir alas tadi letaknya kira-kira di bagian
pergelangan tangan. Setelah itu puncaknya dilipatkan ke punggung tangan.
Kemudian sisi kanan dan sisi kiri kain dilipat, dibelitkan beberapa kali pada
pergelangan tangan, kemudian disimpulkan di sana.
Guna balutan ini sebagai penutup pada luka yang telah diobati.
10. Kain segitiga untuk menggendong tangan
Gunanya untuk menggendong atau penahan tangan yang sakit. Apabila
tangan tersebut patah, maka letak tangan dalam gendongan itu harus rata
dari ujung siku sampai ke ujung tangan. Kalau disebabkan luka, maka letak
tangan dalam gendongan itu agak lebih tinggi ke ujung tangan, gunanya
untuk mengurangi pendarahan. Sebelum digendong, lukanya terlebih
dahulu diobati dan dibalut.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -93/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Pembungkus Kepala
(Capitum pervum triangulare)
Membalut kepala
(secara Fascia Nadosa)
Membalut dahi
(Funda Frontis)
Membalut dahi
Membalut dagu(Funda maxillae)
Membalut hidung (Funda Nasi)
(Funda Frontis)
Membalut belakang kepala
(Funda Occipitis)
A. Membalut dada
A. Membungkus punggung
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Membalut tumit secara Funda
B. Membungkus dada
B. Membungkus punggung
Hal -94/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
B. Mitella = Penggendong tangan
A. Permulaan pengerjaan
Penggendongan
C. Mitella = Penggendongan tangan selesai
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -95/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Membalut sendi
Membalut sendi pergelangan tangan
Membalut tangan seluruhnya
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -96/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
A
P3K
B
C
A. Pembalut berkepala Satu
B. Pembalut berkepala dua
C. Pembalut berkepala tiga
A. Pembalut berkepala satu
B. Pembalut berkepala dua
Fascia Uniens
A. Membalut kepala
cara Fascia Sagitalis
Fascia Uniens
B. Membalut kepala
cara Fascia Sagittalis
C. Membalut kepala secara Fascia
Sagittalis dilakukan secara
berturut-turut 2 atau 3 kali
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
D. Membalut kepala
cara Sagittalis
(selesai)
Hal -97/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
IV.
P3K
Pembalut Pita Biasa (Zwachtel)
Macam-macam pembalut pita :
-
Berkepala Satu
-
Berkepala dua
-
Berkepala tiga
Cara membalut :
-
Biasanya jalannya pembalut dari kiri ke kanan
-
Balutannya harus menutup dan pinggirnya harus rapat
-
Balutan tidak boleh kendor, akibatnya merosot atau terlepas
-
Balutan tidak boleh terlalu kencan, akibatnya adalah stuwing
Zwachtel untuk pembalut kepala ada bebarapa macam :
-
Pembalut cara Fascia Uniens, memakai pembalut berkepala satu/dua
-
Pembalut cara Fascia Sagitalis, memakai pembalut berkepala tiga
-
Cara Mitra Hyppokratis (Fascia Capitalis), memakai satu/dua pembalut
-
Cara Capistrum, memakai pembalut berkepala satu
-
Cara Fascia Nadosa (Pospakket), harus memakai pembalut berkepala dua
-
Mata satu (Monoculus) atau mata dua (Bonaculus)
-
Membalut telinga cara korner
Macam-macam pembalut untuk bentuk anggota :
- Bentuk bulat panjang (cylinder)dengan cara :
a. Balut Biasa (dolabra currens)
b. Balut pucuk rebung (dolabra reversa)
-
Bentuk bulat panjang lonjong (kegel), dengan cara :
a. balut pucuk rebung (dolabra reversa)
b. Balut belit ular (dolabra repens)
-
Untuk persendian dipakai cara :
a. Balut silang (spica)
b. Balut penyu (testudo)
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -98/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
A. Membalut kepala cara Mitra
Hyppokratis (Fuscia Capitalis)
P3K
B. Membalut kepala cara Mitra Hyppokratis
(Fascia Capitalis) satu pembalut
A. Membalut kepala cara Mitra
Hyppokratis (Fascia Capitalis)
dua pembalut
B. Membalut kepala cara Mitra Hyppokratis
(Fascia Capitalis) dua pembalut
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -99/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
A. Lingkaran Pertama
B. Ke dagu
P3K
C. Ke belakang leher
D. Ke belakang leher dan naik
lingkaran ke-2 yaitu dari
belakang kepala dagu ke
belakang kepala
E. Memindahkan
haluan
melanjutkan
lingkaranlingkaran
pendahulu
F. Membalu selesai
G. Membalut kepala cara Capistrum
A. Membalut mata Satu
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
B. Membalut mata satu (Monoculus) selesai
Hal -100/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Membalut telinga cara Korner
C
B
A (2 X)
Membalut betis secara pucuk rebung menaik
Membalut lengan atas
1. A.
. (2 X)
(Dolabra Currents Humeri
2. B.
(naik)
Ascendens)
3. C.
(dilipat ke bawah)
4.
B. lagi dan seterusnya
5. D.
Membalut betis secara pucuk rebung
menurut Dolabra reversa crutis descendent
(2 X) penutup
C
A (2 X)
B. Membalut betis secara belit ular
(Dolabra Currens)
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -101/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
C
Pembalut sendi pergelangan kaki =
Spica Pedis Ascendens
1.
A. (2 X)
2.
(naik)
3.
(turun)
A. Siku tertutup
B. Berganti-ganti
atas-bawah (siku)
C. Membalut sendi siku cara
Testudo Cubiti Resersa (selesai)
4. lagi dan seterusnya
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -102/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
5.7. Fraktur (patah tulang)
Pendahuluan
Terjadi pada tulang yang mengalami tekanan. Pada dasarnya seseorang yang
mengalami fraktur akan mengalami kesulitan untuk menggerakkan bagian yang
cedera, rasa sakit yang luar biasa, bisa disertai pendarahan atau tidak. Ada
bebarapa jenis fraktur, fraktur terbuka, fraktur tertutup, fraktur sederhana,
“Comminuted Fracture”, fraktur stabil, fraktur tidak stabil.
Fraktur terbuka sangat mudah mendiagnosisnya, yaitu terdapat tulang yang
menembus keluar. Sedangkan untuk mendiagnosis fraktur tertutup agak sukar,
karena tulang yang patah tidak menonjol keluar.
Fraktur sederhana apabila tulang yang patah hanya pada satu garis, lain lagi dengan
comminuted fraktur, disini terjadi patah tulang dengan bagian yang patah terdapat
tulang yang terpecah-pecah.
Fraktur stabil terjadi apabila terdapat tulang yang patah, tetapi antara tulang tersebut
tertekan oleh tekanan yang kuat dan bertemu pada bagian yang tepat sehingga
sepertinya tulang tidak patah. Hal ini dapat menyebabkan penderita tetap dapat
berjalan meskipun dengan rasa sakit yang luar biasa. Fraktur yang tidak stabil adalah
tulang dimana bagian tulang yang patah tidak bertemu dengan tepat.
Diagnosa fraktur
1. Perhatikan bagian yang cedera apakah ada benjolan/tulang keluar/normal.
2. Raba pada bagian yang cedera, sakit atau tidak. Penderita patah tulang biasanya
merasa sakit.
3. Bila patah tulang biasanya penderita tidak bisa menggerakkan bagian bawah dari
tulang tersebut.
4. Apabila terjadi fraktur, perhatikan vital sign, karena pada tulang, patahan tulang,
dapat merusak pembuluh darah disekitarnya dan syaraf. Sehingga biasanya
bagian tulang bawah akan menjadi pucat/biru. Lakukan sensation test, yaitu
menguji bagian bawah cedera masih dapat merasakan atau tidak. Kalau tidak,
berarti patah tulang.
5. Apabila terjadi fraktur tertutup, biasanya hanya terdapat benjolan (bedakan
dengan benjolan yang bukan patah tulang), rasakan konturnya dan perhatikan
bentuknya, bandingkan dengan bagian yang sama dengan yang tidak cedera.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -103/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
6. Jangan lupa tanyakan riwayat kejadian pada penderita.
Pertolongan fraktur
1. Bila ada luka bersihkan dahulu lukanya
2. Jangan mobilisasi bagian cedera
3. Bila kurang mampu, jangan mencoba-coba untuk mengembalikan tulang yang
patah pada tempatnya
4. Imobilisasi dengan teknik bidai yang benar
5. Bawa ke Rumah Sakit
Pertolongan penderita dislokasi (tulang bergeser dari mangkuk sendi) sama dengan
pertolongan penderita fraktur.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -104/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Gbr. 5.1. Jenis Fraktur
A
B
Simple Fracture
C
Greenstick Fracture
Closed Fracture
Comminuted Fracture
Open Fracture
E
D
Gbr. 5.2.
Menghentikan pendarahan
Bleeding from the arm (A) is bandaged with
Should blood seep though another pad (C + D)
the knot away from the bleeding site (B)
is bandaged into place (E + F) over the stop
A
D
B
C
E
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -105/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Gbr. 5.3. Dislokasi sendi bahu
Gbr. 5.4. Bidai untuk Dislokasi Sendi Bahu
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -106/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Gbr. 5.5. Tanda Patah Tulang
Normal
Closed Fracture
Open Fracture
Gbr. 5.7. Bidai Pergelangan Tangan
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -107/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Gbr. 5.8. Bidai Lengan dan Kaki
Gbr. 5.9. Imobilisasi Kaki untuk pertolongan Cedera Pelvis
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -108/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Gbr. 5.10. Teknik Bidai Kaki
Gbr. 5.11. Penyangga untuk patah tulang lengan bawah
A
B
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
C
Hal -109/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Gbr. 5.12. Membalut luka terbuka
B
A
C
D
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -110/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Gbr. 5.13. Penyangga untuk Fraktur Collarbone
A
B
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -111/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Gbr. 5.14. Stabilisasi leher
A
Place of rolled up blanket (or piece of clothing) ander
neck it self (A), while walking boots can be arranged to
stop sideways movement (B).
B
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -112/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Gbr. 5.15. Bidai Leher
A
B
C
Roll up blanket (A), wrap it around the casualty’s troat
(B) (without impairing breathing) and then tie it at the
front (C)
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -113/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Gbr. 5.16. Imobilisasi Benda AsinG
Kram / Cramp
Terjadi apabila banyak penumpukan asam laktat, kekurangan asam mineral karena
habis terpakai. Biasanya bagian yang paling sering terkena adalah ekstreminitas
bawah. Cara pertolongannya adalah mengusahakan otot yang kram tersebut untuk
berhenti berkontraksi. Penderita diberikan cairan pengganti ion tubuh yang hilang,
istirahat. Jangan memijat bagian yang kram, cukup diusap dengan balsem, atau
yang memberi rasa panas atau dingin sehingga rasa sakit tersamarkan misalkan
Conterpain. Kalau diperlukan penanganan yang cepat dapat digunakan klor ethyl.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -114/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Gbr. 5.17. Membalut luka tertusuk
A
B
C
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -115/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
Gbr. 5.18. Penanganan Kram
A
B
C
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -116/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
5.8. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Karena Terkena Arus
Listrik
1. Bebaskan penderita dari arus listrik tersebut
2. Tempatkan penderita pada ruangan yang mempunyai cukup udara segar
3. Apabila penderita masih bernafas, baringkan telentang, buka semua
pakaian yang mengikat.
4. Rangsanglah kesadaran penderita dengan minyak wangi, cuka, dan
sebagainya, bila ia pingsan.
5. Apabila penderita tidak bernafas (seolah-olah mati), lakukanlah pernafasan
buatan hingga penderita mulai bernafas lagi dan timbul tanda-tanda mati
yang nyata (adanya lebam mayat dan kuku mayat) ditemukan mati oleh
dokter.
6. Bila penderita mulai bernafas lagi, rangsanglah kesadarannya dengan cara
seperti pada item 4.
Cara pembebasan korban yang terkena aliran listrik
Pemutusan hubungan antara korban dan penghantar, harus dilakukan
dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Hantaran harus sedapat mungkin dibuat bebas tegangan dengan
mempergunakan saklar-saklar atau dengan melepaskan alat-alat
pengaman
atau
dengan
menarik
hantaran
itu
sampai
putus
menggunakan benda yang bukan logam (seperti sebilah kayu atau tali
yang dililitkan pada penghantar itu).
2. Dengan menarik korban dari tempat kecelakaan
3. Menarik hantaran dari tubuh korban dengan menggunakan pakaian
kering yang dipintalkan / diikatkan pada tali
4. Dengan menghubung singkatkan atau mentanahkan hantaran
Untuk menghindarkan atau mengurangi pengaruh arus listrik, para
penolong harus menempatkan diri dari atas papan yang kering, diatas
kain, pakaian kering, atau landasan-landasan serupa yang bukan logam.
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -117/218
PT. PLN (Persero)
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
P3K
5.9. Pertolongan pertama pada kecelakaan karena tenggelam
-
Dalam menolong orang yang akan tenggelam, peganglah dari belakang
untuk menjaga keamanan diri sendiri
-
Peganglah dibawah ketiak atau di bawah dagunya dan lutut penolong
ditekan pada badan yang ditolong
-
Jika perlu tutup hidung korban secara paksa dengan dua jari
-
Setelah sampai di darat, kendorkan semua pakaian yang menyesakkan,
bersihkan mulut penderita dari pasir atau lumpur
-
Lepaskan gigi palsu penderita (jika ada)
-
Telungkupkan badan penderita, berdirilah dengan kaki terbuka di tengah
badan penderita, sehingga penderita ada di posisi antara kedua
tungkainya
-
Pegang dengan kedua tangan dekat rusuk yang paling bawah dan
angkatlah badan penderita, sehingga badan atau kepala menelungkup ke
lantai untuk mengeluarkan air yang masuk ke badan penderita
-
Apabila pernafasan berhenti, segera lakukan pernafasan buatan
Berbagi dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai perusahaan
Hal -118/218
Download