Word Macro Virus.... it just fun

advertisement
Khusus D4 Akuntansi Manajerial
52
BAB VII
PERENCANAAN LABA DANANALISIS LEVERAGE
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Di dalam bab akan diperkenalkan kepada mahasiswa khususnya mahasiswa
Polnes Jurusan Akuntansi. Dalam pembahasan akan memperkenalkan perencanaan
laba, break even point, operating leverage, dan financial leverage yang terdapat dalam
ilmu manajemen keuangan, sehingga mahasiswa dapat memahami dengan baik.
Pendekatan Untuk Pencapaian Tujuan Pembelajaran (Isi)
Setelah mempelajari materi ini diharapkan pada mahasiswa akan dapat :
1. menjelaskan pengertian Perencanaan Laba dan Analisa Leverage;
2. menjelaskan pengertian Break Even Point;
3. menjelaskan pengertian Operating Leverage;
4. menjelaskan pengertian Financial Leverage;
5. menjelaskan pengertian Kombinasi Operating dan Financial Leverage;
6. mampu mengerjakan soal ltihan bab 7.
1. Perencanaan Laba dan Analisa Leverage
Perencanaan laba merupakan suatu proses perencanaan keuangan yang
sangat penting bagi perusahaan. Dengan perencanaan ini manajer keuangan dapat
menentukan aktivitas perusahaan untuk mencapai target laba yang ditentukan.
Untuk analisis ini, maka pertama, teknis analisis bereak even akan dibahas.
Teknik bereak even ini akan memberikan dasar hubungan antara berbagai variabel dalam analisis berikutnya. Kedua konsep operating leverage akan dibahas
selanjutnya. Ketiga, konsep financial leverage. Sedangkan pengaruh kombinasi
operating leverage dan financial leverage terhadap laba perusahaan akan
menutup pembahasan dalam bab ini.
Untuk analisis perencanaan laba dan leverage ini perlu diketahui terlebih
dahulu tentang konsep komponen laba. Laba perusahaan diperoleh dari penjualan
dikurangi semua biaya operasional. Sedang biaya operasional dapat
dikelompokkan sebagai biaya operasional tetap dan biaya operasional varibel.
Biaya operasional tetap dapat berfluktuasi dengan tingkat produksi atau
penjualan. Analisis tentang hubungan berbagai biaya ini terhadap tingkat
penjualan dan laba akan diberikan berikut ini.
2. Break Even Point
Analisis break even point disebut juga dengan analisis cost-volume-profit.
BEP merupakan analisis yang menunjukkan hubungan antara investasi dan
volume produksi atau penjualan untuk mendapatkan suatu tingkat profitabilitas,
karena analisis BEP merupakan suatu pendekatan yang didasarkan pada suatu
hubungan antara penjualan dan biaya. Tingkat penjualan dimana perusahaan tidak
Bab vii. Perencanaan laba dan analisis leverage (akuntansi polnes
52
La Ode Hasiara
Khusus D4 Akuntansi Manajerial
53
memperoleh laba atau penjualan sama dengan biayanya disebut sebagai titik
pulang pokok atau break even point.
Biaya dalam analisis BEP, dipisahkan dalam biaya tetap dan biaya
variabel. Biaya tetap adalah biaya yang dalam batas tingkat produksi jumlahnya
tetap atau tidak berubah jika tingkat produksi berubah secara langsung dengan
tingkat produksi. Termasuk dalam kelompok biaya tetap adalah antara lain: gaji
pimpinan manajemen, gaji staf kantor, biaya penyusutan gedung, dan mesinmesin. Sedangkan yang termasuk dalam biaya variabel adalah biaya bahan, upah
langsung, dan komisi penjualan. Beberapa biaya lainnya merupakan biaya yang
bersifat semi variabel. Biaya tetap dan bagian biaya variabel.
Analisis BEP dilakukan karena terdapat suatu kenyataan bahwa biaya
tetap dan biaya variabel, maka masalah volume yang break event tidak akan timbul. Tetapi karena terdapatnya biaya tetap, maka biaya tetap ini akan menyebabkan perusahaan dalam kerugian jika volume penjualan tidak cukup besar.
Formulasi BEP secara sederhana dapat disusun dari persamaan berikut:
Pendapatan dari penjualan = total biaya
Dari persamaan ini, kemudian dijabarkan sebagai berikut:
Harga Jual x Kuantitas = Biaya Tetap + Biaya Variabel
PxQ
= BT + (V x Q)
PQ – VQ = BT
Q (P – V) = BT
Q
BT
Fc
atau Q 
P V
S  Vc
Dimana:
Q
= Kuantitas produk yang dijual untuk break even
BT/Fc = Total biaya tetap
P
= Harga jual produk per unit
V/Vc = Biaya variabel per unit
P - V = Kontribusi marjinal per unit
Sebagai ilustrasi tentang analisa break even point ini, misalkan suatu
perusahaan, PT Kaltim mempunyai data sebagai berikut:
Biaya tetap
Rp2.000.000,00
Biaya variabel per unit
60,00
Harga jual per unit
100,00
Dengan mempergunakan formula BEP di atas, jumlah produk pada tingkat
BEP adalah.
Bab vii. Perencanaan laba dan analisis leverage (akuntansi polnes
La Ode Hasiara
Khusus D4 Akuntansi Manajerial
54
BT
P V
2.000.000
Q
100  600
Q  50.000 Unit
Perhitungan BEP untuk tingkat penjualan dalam rupiah adalah:
Q
BEP ( Rp ) 
BT
V
1
P
atau BEP ( Rp ) 
Fc
Vc
1
S
2.000.000
60
1
100
BEP  Rp 5.000.000,00
BEP 
Pada tingkat produksi dan penjualan sebesar 50.000 unit atau
Rp5.000.000,00 perusahaan berada pada titik pulang pokok atau break even point.
Jika diinginkan perusahaan mendapat laba, maka jumlah satuan produk yang
dijual harus lebih besar dari 50.000.000 unit atau hasil penjualan harus lebih besar
dari RP5.000.000,00. misalkan perusahaan di atas ingin memperoleh laba sebesar
Rp200.000,00, maka jumlah produk yang diproduksi dan dijual adalah:
BT  Laba
Q
P V
2.000.000  200.000
Q
100  60
Q  55.000 Unit
Pada tingkat produksi dan penjualan sebesar 55.000 unit, perusahaan akan
memperoleh laba sebesar Rp200.000,00.
Ilustrasi analisis break even ini dapat digambarkan secara grafik.
Gambar 7.1 di bawah ini menunjukkan analisis BEP secara grafik dengan data
dari PT Kaltim.
Bab vii. Perencanaan laba dan analisis leverage (akuntansi polnes
La Ode Hasiara
Khusus D4 Akuntansi Manajerial
55
Gambar 7.1 Grafik Analisis Break Even Point
7,000,000
6,000,000
Penjualan dan Biaya
BEP
5,000,000
4,000,000
CM
3,000,000
2,000,000
1,000,000
0
0
10,000
20,000
30,000
40,000
50,000
60,000
Volume Penjualan
Fc
Vc
Fc + Vc
Penjualan
Dari gambar ini terlihat bahwa biaya tetap Rp2.000.000,00 ditunjukkan
dengan garis horisontal karena biaya tetap jumlahnya tetap sama untuk barbagai
volume produksi tertentu. Pada tingkat volume penjualan 0 unit biaya variabel
juga Rp0,00. Kemudian dengan bertambahnya tingkat volume produksi atau
penjualan, biaya variabel bertambah dengan kelipatan Rp60,00 per unit. Total
biaya ditunjang dengan dengan garis yang merupakan penambahan dari biaya
tetap dan total biaya variabel untuk setiap tingkat volume produksi atau
penjualan. Break even point terjadi pada perpotongan antara garis penjualan dan
garis total biaya atau titik BEP pada gambar di atas.
Keuntungan dari analisis break even dengan grafik adalah pengaruh
perubahan tingkat penjualan terhadap laba dapat ditunjukkan dalam gambar.
Dengan informasi ini manajer keuangan dapat mengantisipasi kemungkinan
volume produksi atau penjualan di bawah titik break even. Di samping keuntungan ini analisis break even point juga subyek kepada beberapa kelemahan. Formula
break even disusun dengan asumsi bahwa biaya variabel kontribusi marjinal juga
konstan untuk tingkat penjualan dianalisis. Ketidakefisienan operasi mungkin
akan menyebabkan biaya operasional meningkat, dan akhirnya akan mengurangi
kontribusi marjinal. Demikian suatu asumsi yang sukar dipertahankan.
Bab vii. Perencanaan laba dan analisis leverage (akuntansi polnes
La Ode Hasiara
Khusus D4 Akuntansi Manajerial
56
3. Operating Leverage
Salah satu pertanyaan dalam perencanaan laba adalah bagaimana pengaruh
biaya tetap dan biaya variabel terhadap tingkat profitabilitas perusahaan.
Hubungan antara biaya tetap dan biaya variabel suatu perusahaan dapat terjadi
karena tingkat teknologi yang dipergunakan. Perusahaan yang mempergunakan
tecnologi tinges atau capital intensive, umumnya mempunyai karakteristik biaya
operasional tetap yang tinggi dan biaya variabel yang rendah. Sebaliknya untuk
perusahaan yang padat karya atau labor intervensi, mempunyai karakteristik biaya
operasional tetap yang rendah dan biaya variabel yang relatif tinges.
Karakteristik struktur biaya yang berbeda ini mempunyai pengaruh terhadap
kontribusi marjinal yang berbeda pula. Pada tingkat harga jual yang konstan,
biaya variabel per unit relatif rendah menyebabkan kontribusi marjinal relatif
besar. Sebaliknya pada tingkat harga jual yang konstan, tetapi biaya variabel per
unit yang relatif tinggi menyebabkan kontribusi marjinal yang relatif rendah.
Operating leverage merupakan tingkat kepekaan pendapatan sebelum bunga dan
pajak (earning before interest and taxes) karena perubahan dari volume
penjualan. Sebagai ilustrasi tentang konsep operating leverage ini, misalkan PT
Kaltim mempunyai data yang berhubungan dengan penjualan sebagai berikut.
2012
2013
Perubahan
Penjualan
Rp510.000,00 Rp561.000,00
Rp51.000,00
Total biaya variabel
306.000,00
336.000,00
Laba sebelum biaya tetap
204.000,00
224.400,00
Total biaya tetap
170.000,00
170.000,00
Laba sebelum bunga dan pajak Rp34.000,00
Rp54.400,00
Rp20.400,00
Dengan struktur biaya dan penjualan ini, tingkat kepekaan perubahan laba
sebelum bunga dan pajak (EBIT) terhadap penjualan adalah:
54.400  34.000
34.000
 60%
561.000  510.000
Perubahan dalam penjualan 
510.000
 10%
Dengan demikian Degree of oprating leverage (DOL) pada tingkat penjualan
Rp510.000,00 dapat dihitung sebagai berikut:
% Perubahan dalam EBIT
DOL 
% Perubahan dalam Penjualan
60%

 6 kali
10%
Dari data penjualan pada tahu 2012 dan tahun 2013, tampak bahwa kenaikan
penjualan sebesar 10% akan menghasilkan laba sebesar Rp20.400,00. kenaikan
ini adalah sebesar 60% dibandingkan dengan kenaikan penjualan yang hanya
Perubahan Dalam Ebit 
Bab vii. Perencanaan laba dan analisis leverage (akuntansi polnes
La Ode Hasiara
Khusus D4 Akuntansi Manajerial
57
sebesar 10%. Suatu cara lain untuk menghitung DOL dengan cara yang lebih
sederahana dengan mempergunakan data unit biaya adalah:
DOL P 
Penjualan  Total biaya Variabel
Penjualan  Totalbiaya Variabel  Total Biaya Tetap
DOL P 
Q( P  V )
Q( P  V )  Fc
Dimana:
DOL P
Q
P
V
Fc
=
=
=
=
=
Degree of operating leverage pada tingkat penjualan tertentu
Kuantitas atau volume penjualan
Harga jual per unit
Biaya variabel per unit
Total biaya tetap
Untuk ilustrasi perhitungan DOL dengan rumus di atas,misalkan bahwa volume
penjualan adalah 30.000 unit dengan harga jual Rp17,00 per unit. Biaya variabel
per unit adalah Rp10,20 dan total biaya tetap Rp170.000,00. Degree of operating
leverage dengan formula di atas adalah:
30.000(17  10,20)
30.000(17  10,20)  170.000
204.000
DOL 510.000 
 6 kali
34.000
pada tingkat volume penjualan yang berbeda, Degree of operating leverage juga
berbeda. Semakin meningkat volume penjualan, semakin kecil tingkat Degree of
operating leverage. Keadaan ini dapat ditunjukkan dari tabel 1.
Tabel 1 DOL pada Berbagai Volume Penjualan
Penjualan
DOL
Rp510.000,00
6 kali
561.000,00
4,125 kali
663.000,00
2,75 kali
dari data ini terlihat bahwa pada volume penjualan yang semakin bertambah,
Degree of operating leverage semakin menurun. Degree of operating leverage
sama dengan 6 menunjukkan bahwa untuk setiap peningkatan penjualan dengan
10% EBIT akan meningkat dengan 60%.
DOL 510.000 
Pengetahuan tentang konsep Degree of operating leverage berguna bagi manajer
keuangan dalam mengambil keputusan yang menyangkut tentang investasi dalam
aktiva tetap. Keputusan untuk melakukan investasi baru dalam aktiva tetap akan
meningkatkan biaya tetap dan mungkin menurunkan biaya variabel. Jika prospek
penjualan masa depan baik, penurunan kontribusi marjinal akan meningkatkan
Degree of operating leverage. Demikian pula sebaliknya.
Bab vii. Perencanaan laba dan analisis leverage (akuntansi polnes
La Ode Hasiara
Khusus D4 Akuntansi Manajerial
58
4. Financial Leverage
Financial leverage timbul jika suatu perusahaan mempergunakan utang
jangka panjang dengan bunga tetap untuk membiayai investasinya. Karena bunga
yang sifatnya tetap ini, perusahaan tetap menanggung beban bunga terlepas
apakah perusahaan memperoleh laba atau tidak. Pada saat laba perusahaan kecil,
beban bunga tetap akan menurunkan hasil kepada pemegang saham. Sebaliknya
biaya bunga adalah biaya yang dapat dikenakan pajak. Karenanya perusahaan
mendapat subsidi atas beban bunga. Dalam kondisi ini, subsidi atas bunga akan
meningkatkan hasil kepada pemegang saham. Dengan demikian Financial
leverage mengukur tingkat kepekaan return untuk setiap saham (EPS) karena
perubahan dari pendapatan sebelum bunga dan pajak (EBIT).
Untuk ilustrasi tentang Financial leverage ini diambil contoh sebagai berikut
PT Kaltim, suatu perusahaan yang baru didirikan, merencanakan investasi
untuk usahanya sebesar Rp10.000.000,00 untuk pembiayaan bisnis ini, terdapat
empat alternatif cara pengumpulan dana. alternatif tersebut adalah:
1. Pembiayaan A dengan pengeluaran saham sebanyak 10.000 lembar dengan
harga Rp1.000,00 per lembar.
2. Pembiayaan B dengan pengeluaran saham sebanyak 7.500 lembar, dan 25%
dengan 15% obligasi.
3. Pembiayaan C dengan pengeluaran saham sebanyak 10.000 lembar dan 40%
dengan 15% obligasi.
4. Pembiayaan A dengan pengeluaran saham sebanyak 10.000 lembar, dan 75%
dengan 15% obligasi.
Untuk mengetahui pengaruh Financial leverage terhadap EBIT dari Rp
4.000.000,00 menjadi Rp6.000.000,00 menyebabkan EPS naik 50%. Dengan
alternatif pembayaran B, kenaikan EBIT yang sama menyebabkan EPS naik 55%.
Sedang dengan alternatif C dan D kenaikan EBIT yang sama, EPS naik masingmasing sebesar 59% dan 70%. Dengan demikian penggunaan financial leverage
dapat meningkatkan return kepada pemegang kepada pemegang saham. Tetapi
pada tingkat EBIT yang demikian rendah, penggunaan financial leverage akan
membebani return kepada pemegang saham.
Tabel 2. Analisis Financial Leverage
EBIT
Interset 15%
EBT
Tax 40%
I. Pembayaran A. Modal Saham Rp10.000.000,00
Rp
Rp
Rp
Rp
0
0
0
0
2.000.000,0
2.000.000,80.000,4.000.000,0
4.000.000,1.600.000,6.000.000,0
6.000.000,2.400.000,8.000.000,0
8.000.000,3.200.000,10.000.000,0
10.000.000,4.000.000,-
Bab vii. Perencanaan laba dan analisis leverage (akuntansi polnes
EAT
EPS
Rp
0
1.200.000,2.400.000,3.600.000,4.800.000,6.000.000,-
Rp
0
120,240,360,480,600,-
La Ode Hasiara
Khusus D4 Akuntansi Manajerial
59
II. Pembiayaan B: modal saham Rp7.500.000,00 dan obligasi Rp2.500.000,00
Rp
0,2.000.000,4.000.000,6.000.000,8.000.000,10.000.000,-
Rp
375.000,375.000,375.000,375.000,375.000,375.000,-
Rp
(375.000,-)
1.625.000,3.625.000,5.625.000,7.625.000,9.625.000,-
Rp
(150.000,-)
650.000,1.600.000,2.400.000,3.200.000,4.000.000,-
Rp
(225.000,-)
975.000,2.175.000,3.375.000,4.575.000,5.775.000,-
Rp
0
130,290,450,610,770,-
Hal ini terlihat dari semakin bertambahnya hasil negatif kepada pemegang
saham dengan bertambahnya leverage pada saat EBIT sama dengan 0.
Pengukuran financial leverage dapat pula dilakukan dengan mempergunakan
suatu formula yaitu degree of financial leverage (DFL). Degree of financial
leverage ini mengukur tingkat kepekaan EPS terhadap perubahan EBIT. Formula
degree of financial leverage tersebut adalah:
DFL 
Pr esentase Perubahan dalam EPS
Pr esentase Perubahan dalam EBIT
Dengan menggunakan data di atas, pengukuran degree of financial leverage untuk
suatu level EBIT Rp 4.000.000,00 adalah
Pembayaran A:
50%
 1 kali
DFL = (4.000.000) =
50%
Pembiayaan B:
55%
 1,1 kali
DFL = (4.000.000) =
50%
Interpretasi dari DFL ini adalah jika pembiayaan A dipilih dan EBIT naik 10%
dari Rp4.000.000,00, maka EPS juga naik dengan 10%. Sedangkan jika EBIT
turun 10% dari Rp4.000.000,00 maka EPS juga akan turun sebesar 10%.
5. Kombinasi Operating dan Financial Leverage
Dari analisa operating leverage diketahui bahwa perubahan pada tingkat
penjualan akan mempengaruhi besarnya EBIT. Sedangkan dari analisis financial
leverage diketahui pula bahwa perubahan pada tingkat EBIT akan mempengaruhi
besarnya EPS. Dengan demikian kombinasi dari operating laeverage dan
financial leverage akan menyebabkan semakin besarnya variasi perubahan dalam
EPS.
Sebagai ilustrasi penggunaan kombinasi operating leverage dan financial leverage
ini diambil contoh PT Kaltim yang lalu. Data penjualan pada tahun 2012 dan
tahun 2013 tampak pada tabel 3 berikut.
Bab vii. Perencanaan laba dan analisis leverage (akuntansi polnes
La Ode Hasiara
Khusus D4 Akuntansi Manajerial
60
Tabel 3. Perhitungan Kombinasi Leverage PT Kaltim
2012
2013
Perubahan
Penjualan
Rp510.000,Rp561.000,Rp51.000,Total Biaya Variabel
306.000,336.600,Laba Sebelum Biaya Tetap Rp204.000,Rp224.400,Total Biaya Tetap
170.000,170.000,EBIT
Rp34.000,Rp54.400,20.400,Bunga
8.500,8.500,EBT
Rp25.500,Rp45.900,Pajak 40%
10.200,18.360,EAT
Rp15.300,Rp27.540,12.240,Jumlah Saham
1.000
1.000
Earning per Share (EPS)
15,30
27,54
12,24
%
10
60
80
80
Perhitungan degree of combine leverage adalah sebagai berikut.
DOL (Rp510.000,00) = 60%/10% = 6 kali
DFL (Rp34.000,00)
= 80%/60% = 4/3 kali
DCL
= DOL x DFL
= 6 x 4/3
= 8 kali
Dari tabel ini terlihat bahwa suatu kenaikan penjualan sebesar 10% melalui
operating leverage telah meningkat EBIT sebanyak 6 kali. Sedangkan kenaikan
dalam EBIT sebesar 6% melalui financial leverage telah menyebabkan kenaikan
EPS dengan 4/3 kali menjadi 80%. Dengan kata lain, perubahan penjualan sebesar
10% telah meningkat EPS sebanyak 80% dengan kombinasi operating leverage
dan financial leverage.
Formulasi kombinasi operating leverage dan financial leverage dapat pula
dinyatakan dalam hubungan langsung antara perubahan penjualan dan perubahan
EPS. Formula kombinasi leverage (DCL) tersebut adalah:
DCL 
Pr esentase Perubahan Dalam EPS
Pr esentase Perubahan Dalam Penjualan
Suatu alternatif untuk menyatakan degree of combined leverage adalah dengan
mengganti formula di atas yaitu:
Penjualan  Total Biaya Variabel
DCL 
Penjualan  Total Biaya Variabel  Bunga  Biaya Tetap
Q( P  V )
DCL P 
Q( P  V )  I  FC
Bab vii. Perencanaan laba dan analisis leverage (akuntansi polnes
La Ode Hasiara
Khusus D4 Akuntansi Manajerial
61
Dimana
DCL P = Degree of combined Leverage untuk tingkat penjualan tertentu.
Q
= Kuantitas atau volume penjualan.
P
= Harga jual per unit.
V
= Biaya variabel per unit.
FC
= Total biaya tetap.
Dengan mempergunakan formula ini, degree of combined leverage untuk tingkat
penjualan Rp510.000,00 adalah sebagai berikut:
30.000(17  10,2)
DCL (510.000) 
30.000(17  10,2)  8.500  170.000
204.000
DCL (510.000) 
25.500
DCL (510.000)  8 kali
Penggunaan Leverage bagi perusahaan mempunyai pengaruh ganda. Pada tingkat
penjualan yang rendah tertentu, penggunaan leverage akan menambah resiko bagi
pemegang saham. Sebaliknya pada tingkat penjualan yang cukup tinges,
penggunaan leverage akan meningkatkan hasil pada pemegang saham. Dengan
adanya trade of ini, pengetahuan leverage dapat digunakan oleh manajer
keuangan untuk menentukan tingkat resiko yang diambil dan EPS yang
diharapkan.
Latihan Bab 7
Soal 1
1. Jelaskan hubungan variabel-variabel dalam analisis break even point!
2. Manfaat apakah yang dapat diambil dari alaisis break even point bagi seorang
financial manager? Dan apakah kekurangan dari analisis ini?
3. Jelaskan konsep dari degree of operating leverage!
4. Apakah arti dari DOL bernilai 7?
5. Jelaskan konsep dari degree of financial leverage!
6. Apakah arti dari DFL bernilai 2?
7. Jelaskan pengertian dari degree of combined leverage!
8. Mengapa suatu perusahaan yang mempunyai DOL biasanya mempunyai DFL
rendah? Jelaskan pendapat saudara!
9. Suatu perusahaan yang memproduksi jam dinding mempunyai data sebagai
berikut: biaya tetap satu tahun Rp30.000.000,00, Biaya produksi variabel per
unit jam Rp4.000,00, dan harga jual per unitnya Rp10.000,00. Berapa unitkah
yang harus dijual agar perusahaan break even? Jika diinginkan untuk memperoleh laba 10% dari penjualan, berapa unit jam yang harus dijual? Jika pada
tahun depan penjualan naik 12% berapakah ………?
Bab vii. Perencanaan laba dan analisis leverage (akuntansi polnes
La Ode Hasiara
Khusus D4 Akuntansi Manajerial
62
10. Jika perusahaan pada Nomor. 9 menjual jam dinding sebanyak 10.000 unit
sedangkan bunga yang dibayarkan perusahaan adalah Rp2.000.000,00, hitunglah DOL, DFL, dan DCL! Jika penjualan naik dengan 10%, hitunglah
kenaikan EPS yang diharapkan perusahaan.
Soal 2
Perusahaan sedang memiliki dua alternatif mesin yang akan dibeli untuk
mendukung proses produksinya. Mesin X mempunyai karakteristik biaya tetap yang
tinggi, tetapi biaya variabelnya rendah, sedangkan Mesin Y mempunyai biaya tetap
rendah, tetapi biaya variabelnya tinggi. Berikut data kedua mesin tersebut.
Mesin X
Mesin Y
Harga per unit
Rp10.000,Rp10.000,Biaya variabel
Rp 4.000,Rp 6.000,Biaya tetap
Rp 800,- juta
Rp 200 juta
Volume penjualan diperkirakan sebesar 200.000 unit pertahun
Bunga yang dibayarkan untuk Mesin X sebesar Rp400.000.000,- dan Mesin Y
sebesar Rp200.000.000,Diminta
a. Menghitung Degree of Operating Leverage dan efeknya terhadap EBIT bila
ada kenaikan penjualan sebesar 30 %
b. Menghitung Degree of Financial Leverage dan efeknya terhadap EAT bila ada
kenaikan EBIT sebesar 50 %.
c. Degree of Combine leverage, dan efeknya bila ada kenaikan penjualan sebesar
30 %.
Soal 3
Perusahaan Bahagia Bersama saat ini beroperasi dengan total aktiva sebesar
Rp800.000.000,-dengan komposisi modal saham senilai Rp600.000.000,-@
Rp20.000,-perlembar, dan utang sebesar Rp.200.000.000,- dengan bunga 15 % pertahun. Namun pada tahun berikutnya perusahaan akan menambah modalnya sebesar
Rp200.000.000,- dengan harapan dapat meningkatkan laba sebelum bunga dan pajak
sebesar Rp180.000.000,Tambahan dana sebesar Rp200.000.000,- tersebut bisa dipenuhi dengan dua alternatif
sumber dana, yaitu.
a. Modal saham dengan mengeluarkan 10.000 lembar saham
b. Obligasi dengan bunga 16 % pertahun.
Diminta
a. Tentukan mana alternatif seharusnya yang harus dipilih, serta
b. Hitung indiferentt pointnya dan buktikan
Bab vii. Perencanaan laba dan analisis leverage (akuntansi polnes
La Ode Hasiara
Download