bjbj KAJIAN MENGENAI BASIC ARRANGEMENT ON BORDER

advertisement
ÐÏ à¡± á >
þÿ
Š
Œ
þÿÿÿ ˆ ‰ ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿì¥Á [€
ð ¿
ãs
bjbj¬ú¬ú
4¢ ΐ
ΐ
üh J
% w ÿÿ
ÿÿ
ÿÿ
· *
*
m
" 
ÿÿÿÿ 3
3
3
8 k
d Ï
\ 3
»E 0
+
+
" M
c
c
¾
¾
¾
^E
`E `E `E `E `E `E ëF ¢
I
`E
5
œ
" ¾
5
5
`E «
«
c
c
9
uE
é' é' é' 5
Þ
«
R
c
c
^E é' 5
^E é' é' 6
®A à ý
" RD c
ÿÿÿÿ ° è2Ü Í
3
ð
ŽB
JE
‹E 0 »E ªB ¨
¥J
$ ö
¥J 8 RD ¥J RD ø ¾
¸
v
:
é' °
ü ¬
‰
¾
¾
¾
`E `E ù% ð
¾
¾
¾
»E 5
5
5
5
ÿÿÿÿ ÿÿÿÿ ÿÿÿÿ ÿÿÿÿ ÿÿÿÿ ÿÿÿÿ ÿÿÿÿ ÿÿÿÿ ÿÿÿÿ ÿÿ
ÿÿ ÿÿÿÿ ÿÿÿÿ ÿÿÿÿ ÿÿÿÿ ÿÿÿÿ ÿÿÿÿ ÿÿÿÿ ¥J ¾
¾
¾
¾
¾
¾
¾
¾
¾
*
3
:
KAJIAN MENGENAI BASIC ARRANGEMENT ON BORDER
CROSSING 1967 ANTARA INDONESIA-MALAYSIA BERKAITAN DENGAN PRAKTEK
PERDAGANGAN GULA ILLEGAL DI ENTIKONG KALIMANTAN BARAT Latar Belakang
Penelitian Gula adalah industri yang di dominasi oleh perusahaan Negara, namun sejak abad ke 19
produksi gula telah mengalami krisis. Hal ini berdampak tidak terpenuhinya kebutuhan gula dalam
negeri termasuk di Kalimantan Barat. Awalnya pemerintah mengimport gula asal Thailand yang
masuk ke Sarawak untuk mengisi kekurangan stok gula di Kalimantan Barat melalui SK N0
616/DAGLU/VIII/2003 dengan menunjuk Perusahaan Perdagangan Gula (PPI) sebagai pengimport,
namun setelah harga gula stabil, pengusaha tetap mengimport gula karena selisih harga yang cukup
besar yakni kurang lebih Rp.2000 (dua ribu) hingga Rp.3000 (tiga ribu) perkilo. Dengan msuknya
gula illegal, sebetulnya masyarakat Kalimantan Barat merasa diuntungkan karena harga gula lebih
murah dengan warna yang putih bersih. Namun di pihak lain 2,5 juta orang terancam kehilangan jika
industri gula dalam negeri mati disamping itu terhadap peredaran gula illegal tersebut diperkirakan
Negara mengalami kerugian 350 miliar perbulan karena tidak ada pemasukan dari perdagangan
illegal tersebut. Mengenai kerugian tersebut, pada masa pemerintahannya, Usman Ja’far pernah
mengusulkan untuk tetap mengimport gula hanya untuk daerah Kalimantan Barat dengan jumlah
terbatas, dengan perhitungan Kalimantan Barat tetap mendapat pemasukan dari import gula,
masyarakat tidak kekuarangan gula dan berkurangnya praktek pedagangan gula illegal. Namun
usulan ini tidak di setujui pemerintah pusat. Praktek perdagangan gula illegal dilakukan dengan
berbagai cara diantaranya membeli gula dari Thailand melalui pelabuhan Portklang Malaysia yang
merupakan pelabuhan bebas (di pelabuhan ini barang-barang yang masuk tidak dikenakan bea
masuk sehingga barang yang masuk dikategorikan legal, kemudian masuk ke Sarawak lalu ke
Entikong, cara lainnya adalah memesan gula pada pengusaha besar di Malaysia, cara lainnya lagi
adalah dengan mengumpulkan kartu pas lintas batas penduduk perbatasan untuk dibelikan gula
sehingga gula yang masuk dengan cara ini menurut pihak kepolisian dikategorikan legal karena
penduduk perbatasan berdasarkan Basic Arrangement On Border Crossing 1967 memang
diperbolehkan membeli barang-barang kebutuhan pokok dengan menggunakan kartu pas lintas batas
yang dikeluarkan oleh pejabat terkait di kedua Negara. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka
penelitian ini akan mengkaji apakah ada celah hukum dalam Basic Arrangement On Border
Crossing 1967 sehingga perdagangan gula illegal menjadi legal. Perumusan Masalah Dari judul dan
uraian latar belakang tersebut diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Kajian
Mengenai Basic Arrangement On Border Crossing 1967 Antara Indonesia-Malaysia Berkaitan
Dengan Praktek Perdagangan Gula Illegal di Entikong Kalimantan Barat Tinjauan Pustaka a.
Pengertian Perjanjian Internasional Di karenakan penelitian ini adalah untuk mengkaji perjanjian
internasional (bilateral) antara pemerintah Indonesia-Malaysia maka pada tinjauan pustaka ini akan
dikemukakan mengenai pengertian perjanjian internasional. Menurut konvensi Wina 1969,
perjanjian internasional di definisikan sebagai berikut : Suatu persetujuan yang dibuat antara Negara
dalam bentuk tertulis dan diatur oleh hokum internasional, apakah dalam instrument tunggal atau
dua atau lebih instrument yang berkaitan dan apapun nama yang diberikan padanya. Definisi ini
mengalami perubahan pada konvensi Wina 1986 namun perubahan hanya terletak pada subyek
hukum dengan penambahan organisasi internasional selain Negara. Definisi perjanjian internasional
kemudian dikembangkan oleh pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Republik Indonesia N0 37 Tahun
1999 tentang Hubungan Luar Negeri yaitu : Perjanjian internasional adalah perjanjian dalam bentuk
dan sebutan apapun, yang diatur oleh hukum Internasional dan dibuat secara tertulis oleh pemerintah
Indonesia dengan satu atau lebih Negara, organisasi internasional atau subyek hukum internasional
lainnya, serta menimbulkan hak dan kewajiban pada pemerintah Republik Indonesia yang bersifat
publik. Pengertian perjanjian internasional kemudian lebih dipersempit oleh I Wayan Patriana
(2002) dengan mendefinisikan perjanjian internasional sebagai berikut : Perjanjian internasional
adalah kata sepakat antara dua atau lebih subyek hukum internasional (negara, tahta suci, kelompok
pembebasan, organisasi internasional) mengenai suatu obyek tertentu yang dirumuskan secara
tertulis dan tunduk pada atau yang diatur oleh hukum internasional. Berdasarkan definisi diatas
dapat disimpulkan bahwa Basic Arrangement on Border Crossing 1967 yang dibuat pemerintah
Indonesia-Malaysia telah memuat unsure-unsur perjanjian internasional antara lain : adanya
kesepakatan antara kedua belah pihak, dibuat oleh Negara sebagai subyek hukum internasional,
berbentuk tertulis, mengatur hal tertentu yakni mengenai pas lintas batas bagi masyarakat perbatasan
di kedua Negara dan perjanjian tersebut tidak berentangan dengan hukum internasional. Dilihat dari
segi kaidah yang diatur dalam perjanjian internasional sbagai sumber hukum formal terdapat dua (2)
penggolongan, yang pertama yaitu perjanjian “yang membuat hukum” (law making) yang
menetapkan kaidah-kaidah yang berlaku secara universal dan umum, yang kedua yakni perjanjian
sebagai suatu kontrak (trety Contracts) yang hanya mengakibatkan hak dan kewajiban antara
pihak yang mengadakan perjanjian tersebut. Tidak seperti perjanjian yang berkaidah law making,
treaty contracts biasanya hanya diikuti dua (2) atau beberapa Negara saja. Dilihat dari kaidah yang
dikandungnya tampak bahwa Basic Arrangement on Border Crossing 1967 dapat digolongkan
kedalam treaty contract karena perjanjian ini hanya berlaku dan mengikat bagi kedua Negara
sebagai pihak. Perjanjian bilateral antara pemerintah Indonesia-Malaysia ini pada awalnya bertujuan
untuk memberi kelonggaran perdagangan antar masyarakat perbatasan yang telah berpuluh tahun
melakukan perdagangan tradisional sejak sebelum lahirnya Negara Indonesia maupun Malaysia.
Namun perjanjian bilateral tersebut dianggap telah membuat celah bagi perdagangan illegal
terutama gula. Akibatnya dalam proses perpindahan gula yang menggunakan pas lintas batas
penduduk perbatasan, gula tersebut dianggap legal, tindakan pelaku bukan merupakan tindak pidana
sehingga bebas dari jerat hukum. b. Karakteristik Pidana Internasional Perkembangan kualitas
tindak pidana atau kejahatan yang dalam kuantitasnya menunjukkan peningkatan telah
memperlihatkan bahwa batas-batas territorial antara satu Negara dengan Negara lain di dunia baik
dalam satu kawasan maupun berbeda kawasan sudah semakin menghilang terutama diperbatasan
Negara yang berbentuk daratan. Dalam menyikapi hal tersebut diatas maka sangat diperlukan upaya
pencegahan dan pemberantasannya yang diatur dalam hukum pidana internasional. Menurut Romli
Atmasasmita (2006), bahwa hukum pidana internasional berasal dari dua (2) sumber, yakni
kebiasaan yang terjadi dalam praktek Hukum Internasional (Custom) dan kedua, berasal dari
perjanjian-perjanjian internasional (Treaties). Hal serupa juga diutarakan Schwarzenberger (1950)
yang bahkan mengajukan bukti bahwa hukum pidana internasional bersumber pada kebiasaan sdan
perjanjian. Adapun bukti dari kebiasaan adalah putusan mahkamah internasional dan praktik Negara
Inggris dalam menghadapi masalah yurisdiksi criminal,terutama dilaut.sedangkan bukti dari
perjanjian antara lain perjanjian mengenai Piracy antara kerajaan Inggris-Amerika Serikat (1794)
dan Deklarasi Wina (1915) tentang perdagangan budak. Mengenai kewenangan / yurisdiksi
manakah yang berhak untuk menghukum pelaku perdagangan gula illegal maka perlu mendasarkan
diri pada asas-asas hukum pidana internasional. Hugo Grotius dengan asas Au Dedere Au Punerenya menyerahkan masalah yurisdiksi ini kepada Negara tempat locus delicti terjadi dalam batas
territorial Negara tersebut. Atau diserahkan atau di ekstradisi kepada pemerintah yang memiliki
yurisdiksi untuk mengadili pelaku tersebut. Disamping asas au dedere Au Punere, asas lainnya
dikemukakan bassiouni (1986) yaitu asas Au Dedere Au Judicare yang berarti setiap Negara
berkewajiban untuk menuntut dan mengadili pelaku tindak pidana internasional dan berkewajiban
untuk melakukan kerjasama dengan Negara lain di dalam menangkap, menahan dan menuntut serta
megadili pelaku tindak pidana internasional Menurut Bassiouni, dalam hukum pidana internasional
harus mengandung unsur-unsur asing. Unsur-unsur asing tersebut antara lain : tindakan yang
memberi dampak atas lebih dari satu Negara (states) atau menyangkut lebih dari satu
kewarganegaraan (citizens) atau penggunaan sarana dan prasarana yang melampaui batas-batas satu
Negara atau lebih dari satu Negara (territorie) Perdagangan gula illegal dikategorikan sebagai tindak
pidana transnasional karena : merupakan pelanggaran dari perjanjian bilateral yang dibuat antara
pemerintah Republik Indonesia-Malaysia yakni Basic Arrangement On Border Crossing 1967 yang
mana akibat dari perdagangan illegal tersebut telah menyebabkan kerugian tidak saja bagi Indonesia
tetapi juga Malaysia dan bahkan telah menyebabkan semakin bangkrutnya industri gula di dalam
Negara Indonesia dilakukan oleh warga Negara Indonesia dan warga Negara Malaysia baik secara
perorangan maupun kelompok, dan kegiatan tersebut menggunakan sarana dan prasarana serta
melampaui batas-batas territorial antara Indonesia maupun Malaysia. Tujuan Penelitian Adapun
tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada celah hukum di dalam Basic
Arrangement on Border Crossing 1967 bagi perdagangan gula illegal sehingga perlu pengkajian
mengenai perjanjian bilateral tersebut. Manfaat Penelitian Penelitian ini memiliki dua manfaat yaitu
dari segi teoritis maupun dari segi praktis. Dari segi teoritis adalah untuk mengembangkan ilmu
hukum terutama pemikiran tentang penegakan hukum. Sedangkan dari segi praktis, untuk
memberikan sumbangan bagi pemerintah / pihak penegak hukum dalam menangani masalah
perdagangan gula illegal. Metode Penelitian Pendekatan Penelitian ini menggunakan pendekatan
asas-asas hukum yang mana dalam pendekatan ini mencari hal-hal yang mendasari /pemikiran
dibelakang lahirnya perjanjian bilateral Basic Arrangement on Border Crossing 1967 antara
pemerintah Indonesia-Malaysia. Sumber Data Adapun sumbr data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah aturan atau kebijakan yan terkait dalam hal ini adalah Basic Arrangement on Border
Crossing 1967 antara pemerintah Indonesia-malaysia. Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data
dalam penelitian ini adalah berupa analisis isi dari Basic Arrangement on Border Crossing 1967.
Analisa Data Untuk analisa data di gunakan analisis deduktif yaitu suatu pendekatan dari umum ke
khusus atau dengan kata lain menganalisa norma-norma terkait terlebih dahulu untuk kemudian
diaplikasikan ke suatu kasus. BAB II KAJIAN BASIC ARRANGEMENT ON BORDER
CROSSING 1967 DARI BERBAGAI SEGI Sekilas kajian Mengenai Basic Arrangement on Border
Crossing 1967 dari Segi Aturan Seperti telah disebutkan pada bab sebelumnya bahwa praktek
perdagangan gula illegal dilakukan dengan berbagai modus diantaranya membeli gula dari Thailand
melalui pelabuhan Portklang Malaysia yang merupakan pelabuhan bebas. Modus lainnya adalah
memesan gula pada pengusaha besar di Malaysia, dan modus lainnya lagi adalah dengan
mengumpulkan kartu pas lintas batas penduduk perbatasan untuk dibelikan gula sehingga gula yang
masuk dengan cara ini menurut pihak kepolisian dikategorikan legal karena penduduk perbatasan
berdasarkan Basic Arrangement On Border Crossing 1967 memang diperbolehkan membeli barangbarang kebutuhan pokok dengan menggunakan kartu pas lintas batas yang dikeluarkan oleh pejabat
terkait di kedua Negara. Penelitian ini hanya menyoroti praktek perdagangan gula illegal melalui
modus dengan mengumpulkan kartu pas lintas batas. Jika pengumpulan kartu pas lintas batas ini
dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang kemudian digunakan untuk membeli gula di
Malaysia berdasarkan ketentuan 600 RM per kartu pas, maka hal yang demikian tidak dapat
dikategorikan legal sebagaimana yang telah diasumsikan pihak kepolisian. Hal ini berdasarkan
pasal-pasal yang tercantum dalam Basic Arrangement on Border Crossing 1967 dalam pasal II
bahwa pemilik kartu pas lintas batas adalah penduduk yang bonefid dari daerah perbatasan
Indonesia atau daerah perbatasan Malaysia. Hal ini berarti pemilik kartu pas adalah penduduk yang
memang tinggal disekitar perbatasan. Kemudian pada ayat b menyatakan bahwa pemohon kartu pas
harus memiliki surat keterangan suntik dan cacar yang berlaku. Ini mengandung makna bahwa
hanya diberikan kepada orang yang telah dites kesehatannya. Pada pasal IV juga menyatakan bahwa
kartu pas lintas batas harus memuat keterangan-keterangan mengenai diri pemegang kartu-kartu pas
lintas batas antara lain sebagai berikut : nama pemegang, kelamin, no KTP, tempat tanggal lahir,
tinggi warna mata, warna rambut, ciri istimewa, alamat, pekerjaan, kebangsaan, potret pemegang
dan tanda-tangan atau cap jempol kanan. Dari pasal-pasal tersebut mengisyaratkan bahwa kartu pas
tersebut tidak boleh dipinjamkan atau digunakan oleh orang lain selain si pemilik kartu, jadi apabila
dalam praktek pardagangan gula illegal seseorang atau sekelompok orang membeli gula dari
Malaysia dengan menggunakan kartu pas orang lain hal ini jelas tidak dibenarkan dan akibatnya
gula yang di beli walaupun menggunakan kartu pas maka gula tersebut tidak dapat dikategorikan
legal karena telah menyalahi kehendak dari pembuat aturan dan telah menyalahi fungsi dari kartu
pas tersebut yaitu demi memberi kemudahan bagi warga perbatasan untuk melakukan berbagai
kegiatan diantaranya kunjungan keluarga, hiburan, keperluan keagamaan, tugas pemerintahan, atau
usaha antara warga perbatasan Indonesia-Malaysia yang notabene masih ada ikatan keluargaan. Dari
Segi Sejarah, Tujuan dan Relevansi Dalam penelitian lanjutan, peneliti juga menemukan modus lain
yakni seseorang atau sekelompok orang menyuruh warga yang memiliki kartu pas lintas batas untuk
membeli gula senilai 600 RM dengan memberi imbalan tertentu kepada pemilik kartu pas lintas
batas tersebut. Secara sepintas praktek tersebut terlihat legal karena tidak menyalahi aturan formal
legalistik, namun, identifikasi hukum sebagai soal aturan formal legalistik aturan perse, hanya salahsatu riak pemikiran tentang hukum. Disamping segi formal peraturan, muatan dari Basic
Arrangement on Border Crossing 1967 harus pula dipandang dari segi sejarah, tujuan dan
relevansinya. Latar belakang dan tujuan dibuatnya aturan Basic arrangement on Border Crossing
1967 adalah karena adanya realitas sosial yang telah ada ratusan tahun sebelum munculnya Negara
Republik Indonesia dan Malaysia. Setelah berakhirnya era kolonialisasi Belanda di Indonesia dan
Inggris di Malaysia, pulau yang terbelah itu pun diwariskan kepada bekas anak jajahannya masingmasing. Indonesia mewarisi sekitar dua pertiga tanah Borneo di sebelah selatan dan sisanya terbagi
antara Malaysia dan Brunei. Namun, garis batas itu tidak dapat menghapus realitas sosial yang ada
sebelumnya. Catatan dari penjelajah Belanda, Anton W Niewenhuis, dalam bukunya, In Central
Borneo (1894), menyebutkan, pada sekitar tahun tersebut, terdapat suku-suku Dayak dari berbagai
macam subetnis di wilayah ini. Selain suku Dayak, juga terdapat etnis China dan Melayu yang
berdagang dan sebagian mulai menetap di kawasan ini.6 Suku-suku ini memiliki teritori dan
berinteraksi satu sama lain. Hingga 100 tahun kemudian, kelompok sosial yang berada di antara
garis batas tetap meneruskan irisan itu, terutama dalam hal perdagangan, baik legal maupun ilegal di
mata hukum negara modern, melalui pos perbatasan maupun jalur jalur tradisional yang tersebar di
garis batas dua Negara.7 Interaksi penduduk dalam hal Perpindahan penduduk dan perdagangan
tradisional perbatasan dengan alasan ekonomi ini menambah pelik penegakan secara tegas batas batas antark kedua negara. Hal inilah yang mendorong pemerintah Indonesia dan Malaysia
menyepakati Perjanjian Sosek Malindo pada tahun 1967, yang memberi kelonggaran perdagangan
antar masyarakat perbatasan. Dari segi relevansinya, aturan yang dibuat oleh pemerintah IndonesiaMalaysia dengan membatasi pas lintas batas seharga 600 RM dianggap cukup untuk memenuhi
kebutuhan hidup pada masa itu (saat sekarang ini banyak pandangan untuk menambah jumlah
tersebut karena sudah tidak relevan untuk masa sekarang). Seseorang yang menghabiskan 600 RM
untuk membeli gula dapat dianggap tidak relevan dengan kebutuhan sehari-harinya, oleh karena itu
petugas penegak hukum sangat berperan penting sangat berperan penting dalm menegakkan kembali
aturan-aturan yang telah keluar dari dari jalur tujuan awal serta relevansi dari aturan tersebut, sangat
berperan penting dalam menegakkan kembali aturan-aturan yang telah keluar dari jalur tujuan awal
serta relevansi dari aturan tersebut, karena sekali lagi persoalan tidak melulu soal formal legalistik
tapi juga kandungan maksud dari aturan tersebut. Dari Segi Struktur dan Susunan Masyarakat yang
Diaturnya Dilihat dari isinya, Basic Arrangement 1967 adalah aturan yang mengatur dua (2) tipe
masyarakat. Yang pertama adalah tipe masyarakat komunal dan yang ke dua adalah tipe masyarakat
komunal dan individu. Aturan dalam pasal II terutama ditujukan untuk tipe masyarakat komunal
dimana aturan tersebut hanya diberikan untuk masyarakat "dalam", masyarakat "dalam" yang
dimaksudkan disini adalah masyarakat disekitar perbatasan Indonesia-Malaysia. pasal-pasal
selebihnya ditujukan untuk tipe masyarakat komunal dan individu dimana ada pembatasanpembatasan/perbedaan-perbedaan yang jelas aturan-aturan untuk orang diluar masyarakat
perbatasan. Hal ini tidak perlu dianggap sebagai diskriminasi hukum, karena pembagian aturan
hukum tersebut semata-mata demi keadilan dan ketertiban masyarakat yang mana masyarakat
perbatasan jelas harus mendapat privilege karena praktek perdagangan yang telah mereka lakukan
bertahun-tahun serta adanya hubungan kekerabatan diantara mereka. Hak/privilege semacam ini
juga sering terjadi dalam hubungan-hubuiqgan internasional, contoh pasal 15 UNCLOS 1982 yang
menyatakan bahwa dalam hal pantai dua negara yang letaknya berhadapan atau berdampingan satu
sama lain, tidak satupun diantaranya berhak, kecuali ada persetujuan yang sebaliknya di antara
mereka, untuk menetapkan batas laut teritorialnya melebihi garis tengah yang titik-titiknya sama
jaraknya dari titik-titik terdekat pada garis-garis pangkal darimana lebar laut territorial maingmasing Negara diukur. Tetapi ketentuan diatas tidak berlaku. apabila terdapat alasan hak histories
atau keadaan khusus lain yang menyebabkan perlunya menetapkan batas laut territorial antara kedua
Negara menurut cara yang berlainan dengan ketentuan diatas. UNCLOS 1982 merupakan konvensi
multilateral yang diakui oleh hampir seluruh Negara di dunia dengan kata lain suatu kebiasaan yang
kemudian menjadi hukum kebiasaan diakui dalam hukum internasional. Dari Segi Sosial Efektif
tidaknya suatu peraturan juga harus dilioat dari modal sosial yang dimiliki suatu komunitas. Dari
segi sosial, masyarakat pun rpemiliki peran yang besar dalam berlangsungnya perbedaran gula
illegal. Mulai dari masyarakat pemilik kartu pas lintas batas hingga masyarakat di perkotaan sebagai
konsumen gula illegal. Masyarakat sangat diuntungkan dengan adanya gula illegal yang hargapya
lebih murah dibanding gula dalam negeri, hal tersebut merupakan korelasi dari kelalaian pemerintah
yang tidak mampu memenuhi kebutuhan gula dalam negeri sehingga harga gula dalam negeri lebih
mahal. Langgengnya praktek perdagangan gula illegal tidak terlepas dari "dukungan" masyarakat
atas peredaran gula illegal. Hal ini dapat dilihat dari lebih disenanginya gula illegal oleh masyarakat
karena harganya yang murah. Dalam upaya memberantas perdagang gula illegal, pemerintah perlu
menerapkan aturan-aturan yang tidak saja menguntungkan Negara tetapi juga masyarakat. Solusi
yang pernah ditawarkan mantan gubernur Kalimantan Barat Usman Ja'far agar Kalimantan Barat
diperbolehkan mengimpor gula dari Thailand atau Malaysia sehingga disamping Negara mendapat
pemasukan dari import gula, masyarakat juga diuntungkan dengan gula dengan harga yang
murah.Mengenai aturan yang menguntungkan masyarakat ini juga diutarakan oleh Jeremy Bentham
yang menyatakan bahwa agar hukum/aturan dapat berjalan efektif maka hukum/aturan tersebut
harus memenuhi kesenangan individu-individu yang merupakan anggota masyarakat. Dari Segi
Aparat Penegak Hukum Selain faktor sosial, faktor aparat penegak hukum pun sangat berperan
penting dalam peredaran gula illegal di Kalimantan Barat. Efektifitas penegakan hukum sangat
berpengaruh pada kondisi masyarakat disuatu komunitas. Penegakan hukum yang lemah membuka
peluang terhadap pelanggaran dan kejahatan oleh individu-individu dalam suatu komunitas
masyarakat. Thomas Hobbes mengingatkan tanpa ada hukum dan kekuasaan yang efektif untuk
menegakkan hukum, maka tiap orang/masyarakat akan mengandalkan kekuatannya sendiri.
Lemahnya penegakan hukum sangat dipengaruhi berbagai hal, terutama ekonomi. Dalam suatu
masyarakat, kemampuan ekonomi akan meningkatkan prestise yang kemudian akan
mendekatkannya kepada kekuasaan. Hal yang demikian ini sejalan dengan pandangan Socrates yang
menyatakan bahwa perilaku hokum juta dapat dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan selalu saja ada
orang yang melanggar hukum demi kenikmatan pribadi. Dalam tesisnya, Plato bahkan
mengingatkan kita sekali lagi betapa faktor manusia (aparat) merupakan soal yang sangat sentral
dalam hukum disamping faktor-faktor lain, semisal sarana yang memadai, dana yang cukup,
kebijakan instansi dan sebagainya. Menurut Plato, aturan yang baik itu akan benar-benar dirasakan
manfaatnya jika si manusia pelaksananya jika bermutu secara intelektual dan integritas. Bahkan
ditangan si pelaksana yang arif bijaksana itu, aturan yang tidak mutu dan buruk bukan jadi halangan
untuk mendatangkan keadilan dan kemaslahatan, begitu juga sebalikya.8 BAB III PENUTUP
Kesimpulan Kajian mengenai Basic Arrangement on Border Crossing 1967 ditujukan pada beberapa
aspek, antara lain dari substansi aturan itu sendiri, historis, tujuan dan relevansinya, dari segi
susunan dan struktur masyarakat yang diaturnya, dari segi sosial serta. dari segi penegakan
hukumnya. Dari segi substansi, Basic Arrangement on Border Crossing 1967 mengatur tentang
aturan-aturan perdagangan antara warga Negara Indonesia dan warga Negara Malaysia, diharapkan
dengan adanya aturan-aturan tersebut, perdagangan antara warga Negara di kedua Negara dapat
berjalan tertib, aman dan adil. Aturan-aturan ini sangat diperlukan untuk mengatur kepentingankepentingan individu secara damai. Epicurus menegaskan bahwa tugas hukum dalam konteks ini
adalah sebagai instrumen ketertiban dan keamanan bagi individu yang hidup bersama (masyarakat).
Suatu aturan hukum dibangun dalam konteks realita tertentu, karena itu, setiap analisis terhadap
suatu tatanan hukum harus selalu memperhitungkan aspek konteks situasi dibelakang kelahiran
suatu tatanan hukum tersebut. Oleh karena itu pengkajian terhadap sejarah dari Basic Arrangement
on Border.Crossing 1967 beserta tujuan dan relevansinya juga dilakukan dalam penelitian singkat
ini. Dari segi sejarah, aturan ini dibuat karena fenomena perdagangan tradisional yang terjadi ratusa
tahun antara warga perbatasan Indonasia-Malaysia. Interaksi ini terjadi jauh sebelum Negara
Indonesia maupun Negara Malaysia terbentuk. Bahkan antara warga Negara Indonesia dengan
warga Negara Malaysia masih memiliki hubungan kekerabatan, Ketika Negara Indonesia dan
Malaysia terbentuk, interaksi tersebut terus berlangsung. Karena masih memiliki hubungan
kekerabatan, dalam melakukan hubungan khususnya perdagangan, mereka tidak memandang batasbatas teoritorial, oleh karena itu pemerintah Indonesia dan Malaysia menganggap perlu untuk
membuat aturan-aturan tertulis dalam bidang perdagangan, sehingga lahirlah Basic Arrangement on
Border Crossing pada tahun 1967. Tujuan dari dibentuknya aturan ini adalah agar tercapai suatu
ketertiban, keamanan dan keadilan dalam hubungan-hubungan hukum khususnya dalam bidang
perdagangan. Dari segi relevansinya, pada tahun 1967, privilege sebesar 600 RM untuk masyarakat
perbatasan dianggap relevan. Hingga sekarang aturan mengenai jumlah ini belum berubah namun
tetap tidak sesuai dengan releyansi jika seseorang menghabiskan 600 RM hanya untuk konsumsi
gula tiap bulannya. Dalam hal ini aparat perlu mengawasi jika praktek ini terkait dengan
perdagangan gula illegal. Dari segi susunan dan struktur masyarakat yang diaturnya, Basic
Arrangement on Border C;ossing 1967 ditujukan terhadap dua (2) tipe masyarakat, yakni untuk
masyarakat disekitar perbatasan dan utnuk masyarakat di luar perbatasan. Privilege sebesar 609 RM
hanya diberikan kepada warga sekitar perbatasan. Dari segi sosial, masyarakat diuntungkan dengan
adanya gula illegal sehingga pemberantasan praktek perdagangan gula illegal akqn sulit dilakukan
jika pemerintah tidak mengambil kepijakan yang menguntungkan masyarakat. Penegakan hukum
yang lemah juga turut menyumbang berlangsungnya perdagangan gula i1ega1. Faktor ekonomi
merupakan faktor utama dalam lemahnya penegakan hukum. Saran Terus berlangsungnya praktek
perdagangan gula illegal yang telah menyebabkan kerugian milyaran rupiah perbulannya
menunjukkan perlu diadakan kebijakan-kebijakan baru. Saran mantan gubernur Kalimantan Barat
Usman Ja'far penting untuk dipertimbangkan. Adanya aturan yang memperbolehkan ekspor gula
oleh BULOG Kalimantan Barat akan membawa pada tiga (3) keuntungan : Kebutuhan gula murah
terpenuhi Adanya pemasukan bagi Negara dari ekspor gula tersebut Hilangnya / berkurangnya
perdagangan gula illegal DAFTAR PUSTAKA Atmasasmita, Romli, Pengantar hokum Pidana
Internasional, Refika Aditama, Bandung, 2000 Kusumaatmadja, Mochtar & Etty.R. Agoes,
Pengantar hokum Internasional, Alumni, Jakarta, 2002 Makarim, Nono Anwar, ed; Dewi Fortuna
Anwar Dkk, Konflik Kekerasan Internal; Tinjauan Sejarah, Ekonomi-Politik, dan Kebijakan di Asia
Pasifik; Buku Obor, Jakarta, 2005 Mauna, Boer, Hukum Internasional; Pengertian Peranan dan
Fungsi Dalam Era Dinamika Global, Edisi ke 2, Alumni, Bandung, 2005 Parthiana, I Wayan,
Hukum Perjanjian Internasional, Bagian I, Mandar Maju, Bandung, 2002 Starke, J.G, Pengantar
Hukum Internasional, Edisi Kesepuluh, Sinar Grafika, Jakarta, 2001 . Fakrulloh, Zudan Arif,
Metode Penelitian Hukum, Bahan Kuliah S2; 2005 Basic Arrangement on Border Crossing 1967
http//beritaliputan6.com. dilansir 26/02/2009 Nono Anwar Makarim dalam Konflik Kekerasan
Internal, Tinjauan Sejarah, Ekonomi-Politik dan Kebijakan di Asia Pasifik, Buku Obor, Jakarta,
2005 Hal 384 http//www//beritaliputan6.com. dilansir 26/02/2009 pukul 23.55 wib J.G. Starke,
Pengantar hukum internasional; Edisi kesepuluh, Sinar grafika, Jakarta, 2001, Hal 52 Mochtar
kusumaatmadja & Etty R.Agoes, Pengantar Hukum Internasional, PT Alumni, bandung, 2003, Hal
122 http:/ HYPERLINK
"http://lindonesiafile.com/content/view1860/42" lindonesiafile.com/content/view1860/42 .
dilansir, Jum,at 13 februari 2009 6 ibid 7ibid
PAGE
PAGE 1 8 Bernard.L.TTya, Teori
hukum, Strategi Tertib Manusia Lintas R, uang dan Generasi, CV Kita, Surabaya, 2006 hal 36
¥
§
Á
"
#
Ó
Ô
]
o
€

’
•
¹
[
\
¹
º
T! W! y! p- - £h. {. È/ Ù/ å/
0
0 Û0 ß0 ë0 ¯1 À1 82 E2
3 3 &3 F3 j3 ½3 ¾3 4
4 ÷ó÷óéóéó÷óâ÷Ý÷óéóéóÝ÷ó÷Öó÷ó÷ÝÏóÏóÇóÇóÇóù²¹¤™Œ‚
h8 • @ˆüÿCJ
aJ
h#a#
h8 • @ˆüÿCJ
aJ
h8 • 5 @ˆüÿCJ
aJ
h#a#
h8 • 5 
@ˆüÿCJ
aJ
h ‡ 5 @ˆüÿ
h#a#
h8 • 5 @ˆüÿ
h8 •
hY-hŽ=ƒ 5 
hY--
hŽ=ƒ
hG”
hŽ=ƒ
hŽ=ƒ 5 
hÁ ·
hŽ=ƒ
¥
¦
§
Á
[
hŽ=ƒ 0J
j
2
U
hŽ=ƒ
hG”
hŽ=ƒ 5  /
n
”
š
\
]
o
Ú
~
•
€

Ù » Ù ² ² è ª
dà
gdŽ=ƒ
„Ð
dà
`„Ð gdŽ=ƒ
$
F
„0ý dà
`„0ýa$ gdŽ=ƒ
’
¹
÷ ÷ ÷ ÷ ÷ è Ù Ù Ù Ù Ù Ç
„Ð ^„Ð gdŽ=ƒ
$
F
„Ð
dà
„0ý dà
`„Ð a$ gdŽ=ƒ
`„0ýgdŽ=ƒ
$ a$ gdŽ=ƒ
¹
“
é
Æ
j
q
)
T! z! ¼"
$
F
Æ
8
Ý' M) Î)
h
* P* ð ð á ð ð á ð á ð ð ð Ö ð ð ð ð ð ¿ ¿
„Èû dà
`„Èûa$ gdŽ=ƒ
$
dà
a$ gdŽ=ƒ
$
„Ð
dà
^„Ð a$ gdŽ=ƒ
$
„Ð
dà
`„Ð a$ gdŽ=ƒ
P* Á*
+ ¯+ †, ò, o- p- ‚g. h. {. Ç/ È/ è Õ ¾ ¾ ¾ ¾ ³ ¥ – – „ u u
$
F
„Ð
dà
„0ý dà
`„Ð a$ gdŽ=ƒ
`„0ýa$ gdŽ=ƒ
$
$
„h
dà
`„h a$ gdŽ=ƒ
$
F
dà
a$ gdŽ=ƒ
$
dà
a$ gdŽ=ƒ
F
Æ
Ð
h
„h
dà
^„h a$ gdŽ=ƒ
$
=ƒ
$
F
Æ
8
h
„h
dà
^„h a$ gdŽ=ƒ
È/ Ú/ å/ Ý0 Þ0 ß0 ë0 ¯1 À1 82 E2
3
3
Ç Ç ° Ç Ö Ç Ö Ç Ç ¡ ¡ ¡ ¡ ¡ ¡
$
„h
3
„˜þ dà
3
3
^„h `„˜þa$ gdŽ
3
3
3 í Ö Ç
$
F
„h
Æ
dà
Ð
h
^„h a$ gdŽ=ƒ
$
„h
dà
^„h a$ gdŽ=ƒ
$
„Ð
dà
`„Ð a$ gdŽ=ƒ
$
F
Æ
Ð
h
„0ý dà
`„0ýa$ gdŽ=ƒ
$
F
„0ý dà
`„0ýa$ gdŽ=ƒ
3
3
3
3 -3 3 &3 j3 ¾3 ˜6 ê> ë>
? ”A ð ð ð ð ð Û Æ ± œ œ œ ‰ v
$
„
„Å
dà
^„ `„Å a$ gd8 •
F
„ª
„Vþ dà
^„ª `„Vþgd8 •
$
„
„Å
dà
¤ ^„ `„Å a$ gd8
•
F „ª
„Vþ dà
¤ ^„ª `„Vþgd8 •
$
„°
„`
dà
¤° ]„° ^„` a$ gd8 •
$
„
„P
dà
¤Ø ]„
^„P a$ gd8 •
$
„h
dà
^„h a$ gdŽ=ƒ 4
4 ?4 `4 a4 t4 ”4 ³4 ¾4 É4 è4
5
5
5
5
5 ]5 5 ±5 Å5
6
6
6
6
6 56 S6 T6 m6 6 —
6 Æ6 å6 ÷6 =7 >7 R7 p7 7 «7 Â7 á7 â7 ç7 ö7
8 /8 68 78 L8 l8 ˆ8 •8
¦8 Ú8 Û8 ç8 *9 -9 .9 E9 d9 …9 —
9 ¬9 ³9 Ò9 Ó9 Ý9 ß9 ã9 ý9 óéóéóéóéóéóéóéóéóéóéóéóéóéóéóéóéóéóéóéóéßóéóéóéóéóé
óéóÑÆ»ÑóéóéóéóÆÑÆÑÆ»Ñ
hIYÏ 6 @ˆ
CJ
aJ
h8 • 6 @ˆ
CJ
aJ
hR-h8 • 6 @ˆ
CJ
aJ
hIYÏ @ˆüÿCJ
aJ
h8 • @ˆüÿCJ
aJ
hR-h8 • @ˆüÿCJ
aJ
Hý9
:
: *: 2: R: ‚: ¡: ¢: ¬: Ï: Ú: ô: þ: -; ); H; [; v; {; ›; Á; Ù; î; {›¥ÅÛëø = = ?= K= l= w= —= ¥= Å= ÷=
> > ?> `> > Ù> ß> é> ê> ë>
?
?
? `? m? ? ½? Ó? ã? ó? ;@ öéöéöé
ÛÐÛÐÛÐÛÐÛÐÛÐÛÐÛéöéöéöéöéöéöéöéöéöéöéöéöéöéö´©öœöéöéöéö
hµ h8 • @ˆ
CJ
aJ
h8 • 5 @ˆ
CJ
aJ
hµ h8 • 5 @ˆ
CJ
aJ
hµ
h8 • 5 @ˆüÿCJ
aJ
h8 • 6 @ˆ
CJ
aJ
hR-h8 • 6 @ˆ
CJ
aJ
hR-h8 • @ˆ
CJ
aJ
h8 • @ˆ
CJ
aJ
=;@ ³@ ´@ ¾@ Æ@ Í@
A A “A ”A ‚C ƒC
E
E WF vF wF xF
G
G G %G )G 0G OG PG QG pG qG ƒG ¿G ÀG èG éG ìG ÷G
H
H -H 6H
7H AH RH rH óéßÒÄÒßÒ¶¡—‘Š€‘wqwqwqwqw‘qw‘w‘qwqwqw‘qwq
h8 • @ˆ
hR-h8 • @ˆ
hM(7
h8 • @ˆüÿH*
h8 • @ˆüÿH*
h8 • @ˆüÿ
hR-h8 • @ˆüÿH*
j
h8 • 0J
@ˆüÿU
hR-h8 • @ˆüÿ
hM(7
h8 • 5 @ˆ
CJ
aJ
hR-h8 • 6 @ˆ
CJ
aJ
hR-h8 • @ˆüÿCJ
aJ
h8 • @ˆüÿCJ
aJ
h8 • @ˆ
CJ
aJ
hRh8 • @ˆ
CJ
aJ
,”A
E xF éG ^K ˜K UR
S
S
S -S Y
Y ð ð ð ß È · · ª ª —
„ „
$
„
„Å
dà
^„ `„Å a$ gd8 •
F „ª
„Vþ dà
^„ª `„Vþgd8 •
$
F
dà
¤H a$ gd8 •
$
„Ð
dà
¤H `„Ð a$ gd8 •
„à
„ª
„Vþ dà
]„à ^„ª `„Vþgd8 •
$
„Ð
dà
¤ø `„Ð a$ gd8 •
$
„Ð
dà
`„Ð a$ gd8 •
rH …H †H šH ºH ÖH
I 'I LI qI rI ~I ±I ÉI
K ˜K K ÅK ÇK *L
’M —
M ¶M âM ãM
N 4N
rP sP ´P µP
Q
×H ãH êH íH
ÙI €J ÖJ õJ
K 0K ;K ZK ]K ^K lK —
IL OL nL }L L ÌL ëL ðL
M -M >M FM fM qM
N ®N ÍN ÎN
O (O kO lO ÃO ÅO
P
P fP qP
Q aQ ÷ñ÷ë÷ñåë÷å÷ñå÷ñå÷å÷å÷å÷å÷å÷ÜÎÃÎå÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å÷å
÷å÷
h8 • 5 @ˆ
CJ
aJ
hÜ §
h8 • 5 @ˆ
CJ
aJ
húpä
h8 • @ˆüÿ
h8 • @ˆ
hIYÏ @ˆ
h8 • @ˆüÿ
hR-h8 • @ˆ
MaQ bQ jQ lQ sQ ŸQ »Q ¼Q ÊQ ËQ ÐQ îQ
R
R (R HR
TR UR •R R ²R èR
S
S
S
S -S :S €S “S ÓS çS éS
T *T >T ?T _T €T T ¥T äT #U $U )U U uU vU }U †U úñêàêàúà×ñêàúàêàêúñúñúñúñÉ¿²¿¥¿¥¿¥¿¥¿¥¿¥¿¥¿˜Ž˜Ž˜…
h8 • 6
CJ
aJ
h8 • @ˆüÿCJ
aJ
hR-h8 • @ˆüÿCJ
aJ
hR-h8 • @ˆ
CJ
aJ
h X€
h8 • @ˆ
CJ
aJ
h8 • @ˆ
CJ
a
J
h :
h8 • 5 @ˆ
CJ
aJ
h8 • >* @ˆ
H*
hR-h8 • >* @ˆ
h8 • >* @ˆ
hR-h8 • @ˆ
h8 • @ˆ
1†U ‰U ©U ½U ÝU àU
V )V /V 3V SV [V yV V ÍV ÓV öV RW iW pW W ÁW áW ðW
X )X .X \X {X X ŠX ÖX ß
X Y
Y Y
Y (Y )Y 9Y XY ]Y ‰Y ŒY ¬Y ¿Y ÞY àY Z $Z /Z |Z œZ ¹Z ÊZ éZ ûZ
[ 8[ L[ k[ ¤[ óéÜéÜéÜéÜéÜéÜéÜéÜéÜéÜéÜéÜéÜéÜéÜéÜéÜéÏÁ¶©é©é©é©é©é©é©é©
ÜéÜéŸÜéÜ
hIYÏ @ˆüÿCJ
aJ
hXÔ
h8 • @ˆüÿCJ
aJ
h8 • 5
@ˆüÿCJ
aJ
hXÔ
h8 • 5 @ˆüÿCJ
aJ
h± h8 • @ˆ
CJ
aJ
hR-h8 • @ˆüÿCJ
aJ
h8 • @ˆüÿCJ
aJ
hR-h8 • 6 CJ
aJ
> Y )Y ÿ^ _
_
_
_ _
_
_ ;` _b ãc é Ö Ö Á Á ® ® ® Ÿ Œ } n
$
„Ð
dà
`„Ð a$ gd8 •
$
F
„Å
„0ý dà
dà
`„Å a$ gd8 •
`„0ýgd8 •
$
Æ
$
C#
„
„Ð
dà
^„ `„Ð a$ gd8 •
„Eÿ dà
]„Eÿa$ gd8 •
$
„ð
„À
dà
¤
]„ð
^„À a$ gd8 •
F „ª
„Vþ dà
$
„
„Å
dà
^„ª `„Vþa$ gd8 •
^„ `„Å a$ gd8 •
$
¤[ ¥[ ±[ µ[ Õ[ ò[
\ \ $\ %\ E\ k\ •\ §\ ¨\ È\ è\ ÷\ A] K] t] u] “] ¡] Æ] Ì] ë] ì]
Y^ y^ š^ Í^ Ú^ ú^ ý^ _
_
_
_
^ !^ A^ W^
_ _
_ _ _ )_ Y_ h_ öìßìßìßÕìßìßìßìßìßìßìßìßÆßìßìßìßìßìßìß»µ§ – –
‰‰‰
h8  @ˆ
CJ
aJ
h :
h8 • @ˆ
CJ
aJ
hS[ë
h8
• 5 @ˆ
h8 • 5 @ˆ
j
h¨ # U
mH
nH
u
h8 • @ˆ
h8 • @ˆ
CJ
H* aJ
h8 • @ˆ
CJ
aJ
mH
nH
u
hIYÏ @ˆ
CJ
aJ
hR-h8 • @ˆ
CJ
aJ
h8 • @ˆ
CJ
aJ
h8 • @ˆüÿCJ
aJ
2h_ i
_ q_ {_ |_ œ_ ²_ ó_
` #` ;` >` F` f` n` ¶` Á` å`
a :a \a qa Ša Âa
b
b .b 6b Vb _b db šb Ãb Äb ãb ïb
c "c 6c ac ic jc ‡c ˆc ¤c ¾c Ác ác ãc ðc õc
d !d Dd ‹d ºd Ùd ëd %e 9
e [e {e ¯e Íe Úe àe
f $f %f 5f Uf hf ‰f Àf úf 0g öéöéöéöéöéãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚÔÚÔÚãÎÚãÚ
ãÚÄÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚãÚ
hR-h8 • @ˆ
H*
h$.ù @ˆ
hIYÏ @ˆ
hR-h8 • @ˆ
h8 • @ˆ
hR-h8 • @ˆ
CJ
aJ
h8 • @ˆ
CJ
aJ
M0g Pg lg yg g …g Ég Õ
g ág üg
h -h Sh Th Òh Õh Öh Ûh Üi ûi 3j :j Gj Žj ¾j Ûj áj
k
k
k
m
k ,k 3k xk „k £k §k k ùk
l Ml Nl Yl •l –l ¥l Ål ßl ìl
m
m (m 7m >m ?m Hm Rm um xm ˆm ¡m ¯m ¾m Ãn
o Pp Qp úp
úñúñúñúñúñúñúñíæúñúñúñúñúñúñúñúñúñúñÙñúñúÓñúñúñúñúñÉÙÉÙÉÙÉÙÉÙúÁ½µ½®½
h hŽ=ƒ
h hŽ=ƒ 6 
hŽ=ƒ
hIYÏ @ˆ
h'v
h8 • @ˆ
hém
CJ
aJ
hŽ=ƒ 5 
h8 • @ˆ
CJ
aJ
hR-h8 •
h8 •
hR-h8 • @ˆ
h8 • @ˆ
Dãc g Ég ÿh .j
k §k k
m 8m om ¡m ¢m £m ¤m ¥m ¦m ð å Ú ð ð ð Ç ¸ ¢ ¢ ¢    

$
„Ð
„Ð
dà
]„Ð
^„Ð
a$ gd8 •
F
„ª
„Vþ dà
$
^„ª `„Vþa$ gd8 •
$
„7
F
$
„Å
dà
`„Å a$ gd8 •
„Éý dà
^„7 `„Éýgd8 •
dà
a$ gd8 •
$
dà
a$ gd8 •
$
„Ð
dà
`„Ð a$ gd8 •
¦m §m ¨m ©m ªm «m ¬m m ®m ¯m ¾m ¿m
n
n un vn -o o œo o öo ÷o Qp ì ì ì ì ì ì ì ì ì Ý Î Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â
$
„h ^„h a$ gdŽ=ƒ
$
„h
dà
^„h a$ gdŽ=ƒ
$
„h
dà
^„h a$ gdŽ=ƒ
$
„Ð
„Ð
dà
]„Ð
^„Ð
a$ gd8 •
Qp Sp ™p šp Äp Åp óp ôp õp öp ÷p øp ùp úp ûp üp •q Úq >
r §r 6s >s Ds Es ó ó ó ó ó ó ä Õ Õ Õ Õ Õ Õ Õ Õ Ó Ó Ó Ó Î Î Î
Ó
gd8 •
$
„h
dà
^„h a$ gdŽ=ƒ
$
„h
dà
^„h a$ gdŽ=ƒ
$
„h ^„h a$ gdŽ=ƒ
úp ûp üp ýp 3q rq ”q •q –
q Úq Ûq >r ?r §r ¨r ©r ªr °r ±r êr ër
s
s
s
s 6s 8s >s ?s Ds Es Fs
Gs Is Js Ls Ms Os Ps Rs üøîøæøßîøîøîøÕüËÁ¹ü¹¤¹›Á›‘‹„{üwowowowow
j
h
VÐ U
h
VÐ
hM(7
h8 • @ˆüÿ
h8 • @ˆüÿH*
h8 • @ˆüÿ
hM(7
h8 • @ˆüÿH*
hƒ/
h8 • @ˆüÿ ( hƒ/
h8 • 0J
@ˆüÿB* mH
nH
ph u
j
h8 • U
hƒ/
h8 • >* @ˆüÿ
hƒ/
h8 • @ˆüÿH*
j
h8 • 0J
U
hÁ ·
hŽ=ƒ
hÁ ·
hŽ=ƒ 6 
j
hŽ=ƒ 0J
U
hŽ=ƒ
h8 • 'Es
Fs Hs Is Ks Ls Ns Os Qs Rs [s \s ]s hs is js ks ls ßs às ás âs ãs ý ý ý
ý ý ý ý ý ý ñ è ý ñ è ý ý ã ã ã ã ý Ô
$
„h
dà
^„h a$ gdŽ=ƒ
gd8 •
„h ]„h gdß6‡
„øÿ „
&`#$ gdß6‡
Rs Ss Ys Zs [s ]s ^s ds es fs gs hs js ks ls
ns ƒs ›s s Ÿs És Þs ßs às âs ãs õïõïëõïõàõïëÜØÎÈ¿µ®µÈ¿§Ø£
hŽ=ƒ
h :
h8 •
h8 • 6 @ˆ
h :
h8 • 6 @ˆ
h :
h8 • @ˆ
h8 • @ˆ
h :
h8 • @ˆ
H*
h8 •
h
VÐ
h"eF 0J
mH
nH
u
hß6‡
hß6‡ 0J
j
hß6‡ 0J
U
2 1h :pŽ=ƒ °Ð/
°à=!°
"°
# $ %°
°Ð
°Ð
Ð
^
2
0
@
0
@
0
@
0
@
0
@
0
@
0
@
sH tH
P
`
P
`
P
`
P
`
P
`
P
`
P
`
@ `ñÿ
À
p
p
p
p
p
p
p
@
Ð
€
€
€
€
€
€
€
à







ð
À
Ð
À
Ð
À
Ð
À
Ð
À
Ð
À
Ð
8
X
à
à
à
à
à
à
ø
ð
ð
ð
ð
ð
ð
2
V
(
~
Ø
_H
è
mH
nH
p 2
N o r m a l
CJ
_H
aJ
mH
sH
tH
D A`òÿ¡ D
\%W
D e f a u l t
P a r a g r a p h
F o n t R i óÿ³ R
T a b l e
( k ôÿÁ (
N o r m a l
\%W
N o
ö
4Ö
L i s t
l 4Ö
aö
>
@
ò >
\%W
F o o t n o t e
T e x t
CJ
aJ
@ &@¢
@
\%W
F o o t n o t e
R e f e r e n c e
H*
6 U@¢
6
[ ä
H y p e r l i n k
>* B* ph ÿ 4
@
" 4
ß6‡
F o o t e r
Æ
à À!
. )@¢ 1 .
ß6‡
P a g e
N u m b e r 4
B 4
ß6‡
H e a d e r
Æ
à À!
V ³@
R V
8 •
L i s t P a r a g r a p h
„Ð ^„Ð
B* CJ
PJ
aJ
ph PK
! ‚Š¼ ú
ypes].xml¬‘ËjÃ0 E÷…þƒÐ¶Ørº(¥Ø΢Iw},Ò
ä±-j„4 Éßwì¸Pº -t# bΙ{U®ã
[Content_T
“óTéU^h…d}㨫ôûî)»×*1P ƒ'¬ô “^××Wåî 0)™¦Též9ƒ ØÍ 3¿\`õ?ê/ç [Ø ¬¶Géâ\•Ä!ýÛRk.“sþÔ». .—·´aæ¿?
ÿÿ
PK
! ¥Ö§çÀ 6
_rels/.rels„ÏjÃ0
‡ï…½ƒÑ}QÒà %v/¥C/£} á(h" Û ëÛOÇ » „¤ï÷©=þ®‹ùá”ç
šª ÃâC?Ëháv=¿‚É…¤§% [xp†£{Ûµ_¼PÑ£ýý»G ðMGeøÆD¢›ä íó
3Vq%'#q¾ Ã
ÓòŠÍ$”8ÁšK ýžŠ ôÍ)f™w 9:ĵà
å£
x}rÏ x ‰‰¢ œw¢Ø îrÎ:\TZaGó*™y8IÂjæbRÆíc|XÅ»‹ Ç¿½I u3 KGñnD 1÷ N
IB Òsü€ íîRêØu—ú‚K>Vè.E L+M2¤#'šf‹¶i
~™Vé
þvl³{ u8«Òz‹ ºHÈ Ì*„ æ˜ñ:ž( W‘ ☕ ~ «¨JÈÁTøe\O*ðtH G½€HYµæ–
}KNßÁP±*ݾ˦±‹ Š-TѼ9/#·øA7ÂqZ… Ð$*c?
¢ íqU ßån†èwð N ºû
%Ž»O¯ ·ièˆ4
=3 Ú—Pª
ÓäïÊ1£Pm
\\9† øâëÇ ‘õ¶ âMØ“ª2aûDù]„;Yt»\ ôí¯¹[x’ì
r¼°C-SÆ jÊÈ išd ûDЇA½Îœ
óùç]É}Wr½ÿ|É]”Ïg-´³Ú eW÷ ¶)6-
IqbJ#xÌ꺃
6kàê#ª¢A„Sh°ëž& ÊŒt(QÊ% ìÌp%m‡&]ÙcaS l=XíòÀ
¯èáü\P1»Mh
Ÿ9£ Mà¬ÌV®dDAí×aV×B™[݈fJÃP |8¯
Ö„
AÛ V^…ó¹f
ÌH ín÷ÞÜ-Æ
é" á€d>ÒzÏû¨nœ”ÇŠ¹ €Ø©ð‘>äbµ ·–
&û ÜÎâ¤2»Æ v¹÷ÞÄKy ϼ¤óöD:²¤œœ,AGm¯Õ\nzÈÇiÛ Ã™ -ã ¼.uχY
C¾ 6ìOMf“å3
o¶rÅÜ$¨Ã5…µûœÂN H…T[XF64ÌT
,Ñœ¬üËM0ëE)`#ý5¤XYƒ`øפ ;º®%ã1ñUÙÙ¥ m;ûš•
R>QD
¢à ØDìcp¿
UÐ' ®&LEÐ/p¦m¦Üâœ%]ùöÊàì8fi„³r«S4Ïd
7y\È`ÞJân•² åίŠIù
R¥ Æÿ3Uô~ 7 +ö€ ׸ #¯m
q¨BiDý¾€ÆÁÔ
ˆ ¸‹…i *¸L6ÿ 9ÔÿmÎY &áÀ§öiˆ …ýHE‚=(K&úN!VÏö.K’e„LD•Ä•© {D
ê ¸ª÷v E ꦚdeÀàNÆŸûžeÐ(ÔMN9ßœ Rì½6 þéÎÇ&3(åÖaÓÐäö/D¬ØUíz³<ß{ËŠè‰Y›Õȳ
˜•¶‚V–ö¯)Â9·Z[±æ4^næ ç5†Á¢!Já¾ é?°ÿQá3ûeBo¨C¾ µ Á‡ M
 ¢ú’m
"
Ó
[
¹
ÿÿ
ÿÿÿÿ
¢ ÿÿÿÿ
‚; ãk
ÿÿÿÿ
v y
™ Þ B
ÿÿ ãk
«
I
L
v ãk ÿÿÿÿ
ÿÿ
$ $ $ '
4 ý9 ;@ rH aQ †U ¤[ h_ 0g úp Rs ãs : @ A B D E F H I J N P
P* È/
3 ”A Y ãc ¦m Qp Es ãs ; = > ? C G K L M O
¹
'
!•
! ÿ•€´
î
ÿ €€€ ÷
ðð
ð
ðV
ð
L
ð
ð
X”ÿ•„
#
ð8
ð
ðŽ
@ -ñ
ð(
ð
ÿÿ
€
ÿ
"ñ
?
ð
ð
ð
ðB
ð
S
ð- ¿
Ë
n?
n?
n?
ÿ
t5#
Ç
œ"
?
n?
n?
ð
Œ7#
Ã
n?
W ãk
n?
$x
£ÿÿÿN
t" ‰
t ÿÿË
n?
tÇ
n?
ÄÆ
n?
ÄÂ
n?
l¸
¬¸
n?
n?
n?
n?
/#
tÔ
"
n?
n?
n?
ô="
üÑ
|/#
n?
n?
n?
ìY$
½
n?
TÏ
¥"
Ü”
%
m
n?
n?
L#
D(#
n?
-n?
DL#
ÌL#
n?
n?
N#
4E#
n?
n?
ì^#
B#
!n?
$ $$ |$ |$ ¢$ ½$ ½$ T% e% e% f
f gf gf Žg Žg èg èg Ch Ch (j (j j j äk
-
ž $
w
$ ,$ …$ …$ «$ Å$ Å$ ]% m% m%
Jh Jh /j /j —j —j äk
f
f nf nf •g •g ïg ïg
-
8
*€urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags €City €B - *€urn:schemas-microsoftcom:office:smarttags
€country-region €9
*€urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags €place €
#
- -
- -
- - -
- -
- -
+ .+ F+ F+ Á/ Â/ æ0 ç0 â1 ã1 é? é? ¹@ º@ é@ ê@ |J }J
ïN öN 7S 8S $T $T ¦V §V W
W
W
W
K
K ãL äL
W W ¹Z ºZ ÁZ ÃZ áZ ãZ "[ "[ †^ ‰^ û_ ü_ ,` ` S` T` Ò` Õ` Ú` Û` Vd Yd ûh Fk Fk Hk Hk Ik Ik Kk Lk Nk Ok Qk Rk
Zk ]k gk jk kk kk ák äk
^ m Á ;
G
’
“
T
š
2
Æ
'
Z
ÐÙ8
X
ß
è
© Æi
(
‡
T
¹
U
»
1
9
5
:
¼
J
;
Ô
^
g
- Å- Æ- m n Ü Ç! Í!
#
# ò$ ú$ {ÑÒ6' 7' Æ' å' Ü( ë( ®) À) 7* ±* µ* k, ~, ˜.
1 Í1 Ò1 ý1 S2 8
8 -8 û8 e:
;
/
/ 60 *1 …
; ‚; „; Õ; M= Q= x> 4? 5? è? é?
A ˜C øC ùC aD PE [E
F ]G
˜I ½J ÁJ K ‘K ’K ûK üK nL oL |M }M ðM ñM WN XN îN )Q ¨Q ©Q
R
S
S *S uS S ¤S ïS ¾T ƒU ‡U ÛU ßU
X !X eY ÆY ÇY ^Z
J[ ^[ ã[ u\ v\ Ë\ Ì\ ˆ] ß^ €_ É_ Ó_ ñ_ Ÿ` ` þ` äa -b .b
c
c `c
c Sd Td ¦d
jI I ‘I
R ‰R
_Z 9[
ac ¦c -
f 8f ßh çh üh Fk Fk Hk Hk Ik Ik Kk Lk
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
+ .+ F+ F+ Á/ Â/ æ0 ç0 â1 ã1 é? é? ¹@ º@ é@
ïN öN 7S 8S $T $T ¦V §V W
W
W
W
e
e
3
3
3
3
3
3
3
Nk Ok Qk Rk jk kk äk
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
ê@ |J }J
K
K ãL äL
W W ¹Z ºZ ÁZ ÃZ áZ ãZ "[ "[ †^ ‰^ û_ ü_ ,` ` S` T` Ò` Õ` Ú` Û` Vd Yd ûh üh ©j ©j Dk Fk Fk Hk Hk Ik Ik Kk Lk
Nk Ok Qk Rk Zk ]k gk jk kk kk ák äk
+ .+ F+ F+ Á/ Â/ æ0 ç0 â1 ã1 é? é? ¹@ º@ é@ ê@ |J }J
ïN öN 7S 8S $T $T ¦V §V W
W
W
W
K
K ãL äL
W W ¹Z ºZ ÁZ ÃZ áZ ãZ "[ "[ †^ ‰^ û_ ü_ ,` ` S` T` Ò` Õ` Ú` Û` Vd Yd ûh üh §j Ek Fk Fk Hk Hk Ik Ik Kk Lk Nk O
k Qk Rk Zk ]k gk jk kk kk ák äk
·;õ dF Wÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
| 29x_;q
²
Áÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
øt}3ÂIJWÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
Ÿ YX45 ;ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
óB½p
¯}L?¢“j ÿ ÿ ÿ ÿ
~òvÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
qøpò ^·|²˜B*ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
„˜þ^„
`„˜þ^J
.
`„Lÿ^J
.
„¨
·'õ|2±J ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ ÿ
„8
„˜þ^„8 `„˜þ^J o(
.
„Ø „Lÿ^„Ø
# ~,G’,ÿ
„
„˜þ^„¨
`„˜þ^J
.
„x
„˜þ^„x `„˜þ^J
.
ÿ^„H `„Lÿ^J
.
„
„˜þ^„
`„˜þ^J
„˜þ^„è `„˜þ^J
.
„¸
„Lÿ^„¸ `„Lÿ^J
„˜þ Æ
Ð
^„Ð `„˜þo(
.
€
„
„˜þ Æ
^„ `„˜þ‡h ˆH
.
‚
„p
„Lÿ Æ
p
^„p `„Lÿ‡h ˆH
.
€
„˜þ Æ
@
^„@
`„˜þ‡h ˆH
.
€
„
„H
.
.
„@
„L
„è
„Ð
„˜þ Æ
^„
`„˜þ‡h ˆH
.
„à
„Lÿ Æ
„°
„˜þ Æ
„€
„˜þ Æ
„P
„Lÿ Æ
^„8 `„˜þo(
.
„
„˜þ Æ
^„Ø `„Lÿ‡h ˆH
‚
à
^„à `„Lÿ‡h ˆH
°
^„° `„˜þ‡h ˆH
€
^„€ `„˜þ‡h ˆH
P
^„P `„Lÿ‡h ˆH
€
^„
`„˜þ‡h ˆH
.
€
„¨
€
€
‚
.
.
.
„8
.
.
‚
„Ø
„˜þ Æ
„Lÿ Æ
8
Ø
„˜þ Æ
¨
^„¨
`„˜þ‡h ˆH
.
„x
„˜þ Æ
„H
„Lÿ Æ
„
„˜þ Æ
„è
„˜þ Æ
„¸
„Lÿ Æ
^„h `„˜þo(
.
„p
„Lÿ Æ
„˜þ Æ
@
^„@
`„˜þ‡h ˆH
.
€
x
^„x `„˜þ‡h ˆH
H
^„H `„Lÿ‡h ˆH
^„
`„˜þ‡h ˆH
è
^„è `„˜þ‡h ˆH
¸
^„¸ `„Lÿ‡h ˆH
„
„˜þ Æ
p
^„p `„Lÿ‡h ˆH
€
„
‚
.
€
€
.
.
‚
.
.
.
„h
„˜þ Æ
^„ `„˜þo(
.
‚
€
„@
h
„˜þ Æ
^„
`„˜þ‡h ˆH
.
„à
„Lÿ Æ
„°
„˜þ Æ
„€
„˜þ Æ
„P
„Lÿ Æ
^„Ð `„˜þo(
.
„
„˜þ Æ
„p
„Lÿ Æ
„˜þ Æ
@
^„@
`„˜þ‡h ˆH
.
‚
à
^„à `„Lÿ‡h ˆH
°
^„° `„˜þ‡h ˆH
€
^„€ `„˜þ‡h ˆH
P
^„P `„Lÿ‡h ˆH
€
^„ `„˜þ‡h ˆH
p
^„p `„Lÿ‡h ˆH
€
„
€
€
‚
.
.
.
„Ð
.
‚
.
.
€
„@
„˜þ Æ
Ð
„˜þ Æ
^„
`„˜þ‡h ˆH
.
„à
„Lÿ Æ
„°
„˜þ Æ
„€
„˜þ Æ
„P
„Lÿ Æ
^„Ð `„˜þo(
.
„
„˜þ Æ
„p
„Lÿ Æ
„˜þ Æ
@
^„@
`„˜þ‡h ˆH
.
‚
à
^„à `„Lÿ‡h ˆH
°
^„° `„˜þ‡h ˆH
€
^„€ `„˜þ‡h ˆH
P
^„P `„Lÿ‡h ˆH
€
^„ `„˜þ‡h ˆH
p
^„p `„Lÿ‡h ˆH
€
„
€
€
‚
.
.
.
„Ð
.
‚
.
.
€
„@
„˜þ Æ
Ð
„˜þ Æ
^„
`„˜þ‡h ˆH
.
„à
„Lÿ Æ
„°
„˜þ Æ
„€
„˜þ Æ
„P
„Lÿ Æ
^„Ð `„˜þo(
.
„
„˜þ Æ
„p
„Lÿ Æ
„˜þ Æ
@
^„@
`„˜þ‡h ˆH
.
‚
à
^„à `„Lÿ‡h ˆH
°
^„° `„˜þ‡h ˆH
€
^„€ `„˜þ‡h ˆH
P
^„P `„Lÿ‡h ˆH
€
^„ `„˜þ‡h ˆH
p
^„p `„Lÿ‡h ˆH
€
„
€
€
‚
.
.
.
„Ð
.
‚
.
.
€
„@
„˜þ Æ
Ð
„˜þ Æ
^„
`„˜þ‡h ˆH
.
‚
„à
„Lÿ Æ
à
^„à `„Lÿ‡h ˆH
.
„°
„˜þ Æ
°
^„° `„˜þ‡h ˆH
.
„€
„˜þ Æ
€
^„€ `„˜þ‡h ˆH
.
„P
„Lÿ Æ
P
^„P `„Lÿ‡h ˆH
.
8
^„8 `„0ýo(
.
„
„˜þ Æ
„p
„Lÿ Æ
p
^„p `„Lÿ‡h ˆH
.
„˜þ Æ
@
^„@
`„˜þ‡h ˆH
.
€
„
€
€
‚
„8
^„
€
`„˜þo(
„@
„0ý Æ
.
‚
„˜þ Æ
^„
`„˜þ‡h ˆH
„à
„°
„€
„P
^J
.
ÿ^J
„˜þ^„@
`„˜þ^J
.
„Lÿ
„˜þ
„˜þ
„Lÿ
.
.
Æ
Æ
Æ
Æ
‚
à
^„à `„Lÿ‡h ˆH
°
^„° `„˜þ‡h ˆH
€
^„€ `„˜þ‡h ˆH
P
^„P `„Lÿ‡h ˆH
„
„˜þ^„ `„˜þ^J
„@
„
€
€
‚
.
.
.
.
.
„Ð
„p
„˜þ^„Ð `„˜þ
„Lÿ^„p `„L
„˜þ^„
`„˜þ^J
.
`„˜þ^J
.
Lÿ^„P `„Lÿ^J
þ^„ `„˜þ^J
„˜þ^„@
`„˜þ^J
.
.
.
„à
„Lÿ^„à `„Lÿ^J
„€
„˜þ^„€ `„˜þ^J
„Ð
„˜þ^„Ð `„˜þ^J
„p
„Lÿ^„p `„Lÿ^J
„
„°
.
.
.
.
„˜þ^„°
„P
„
„
„˜
„@
„˜þ^„
`„˜þ^J
.
`„˜þ^J
.
Lÿ^„P `„Lÿ^J
„
„˜þ Æ
„p
„Lÿ Æ
„˜þ Æ
@
^„@
`„˜þ‡h ˆH
.
„à
„Lÿ^„à `„Lÿ^J
„€
„˜þ^„€ `„˜þ^J
.
„Ð
„˜þ Æ
Ð
^„ `„˜þ‡h ˆH
.
‚
p
^„p `„Lÿ‡h ˆH
.
€
€
„
„°
.
.
^„Ð `„˜þo(
„@
.
„˜þ^„°
„P
„
€
„˜þ Æ
^„
`„˜þ‡h ˆH
.
‚
„à
„Lÿ Æ
à
^„à `„Lÿ‡h ˆH
„°
„˜þ Æ
°
^„° `„˜þ‡h ˆH
„€
„˜þ Æ
€
^„€ `„˜þ‡h ˆH
„P
„Lÿ Æ
P
^„P `„Lÿ‡h ˆH
qøp Ÿ YX óB½p øt}3 _;q
|
¯}L?
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿ
þ ºÍ
ºw¨Î
öÐŽ$
.
.
# ~ ·'õ|
ú/ŠyĶTp
8
å 7 `$ ou É[
€
€
‚
.
.
^·| ·;õ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
M
#j ¤k bG! ¨ # ©|( Y-p 2 {oB äzD "eF ÄEM y U \%W *|e -!n ˆLp x5~ 8 • ém W
‚ Ž=ƒ
‡ ß6‡
hˆ G” Ït– ·@£ ÅKµ Á · žI T1Ä ü Ë 6 Í IYÏ
VÐ
Ú
\Ú ) Û ûaÜ x(ß ‰Zà
yá [ ä  ä Å ç ézê æ>ó
n÷ $.ù rû µ_ÿ üh þh
ÿ@
ãk X
@ ÿÿ
U n k n o w n ÿÿ
ÿÿ
ÿ
ÿ
ÿÿ ÿÿ
ÿÿ
G-
‡* €
ÿ
T i m e s N e w
R o m a n 5-
€ S y m b o l 3.
‡* €
ÿ
A r i a l 7.
ï
{
@ Ÿ C a l i b r i A-
ï
ëB Ÿ C a m b r i a
M a t h "
1 ˆ
ðÐ
h
œ* ‡œ* ‡
«
QY
5
¾ «
QY
5 ¾ Ñ
ð
´ ´  4
d
Çh Çh
2ƒQ ð
üý
HP
ðÿ
? ä
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ\%W
2 !
x x
ÿÿ
m K A J I A N M E N G E N A I B A S I C
A R R A N G E M E N T O N B O R D E R C R O S S I N G
1 9 6 7 A N T A R A I N D O N E S I A - M A L A Y S I A
B E R K A I T A N D E N G A N
P R A K T E K
U S E R
F A U Z A N 8
þÿ
0
@
à…ŸòùOh «‘
P
\
|
+'³Ù0 À
ˆ

$
ˆ
”
¨
°
¸
ä
- p KAJIAN MENGENAI BASIC ARRANGEMENT
ON BORDER CROSSING 1967 ANTARA INDONESIA-MALAYSIA BERKAITAN DENGAN
PRAKTEK USER Normal FAUZAN 2 Micros
oft Office
Word @ FÃ# @ â Ü Í @ â Ü Í
«
QY
þÿ
ÕÍÕ
œ.
“—
+,ù®D
ÕÍÕœ.
“—
+,ù®˜
T
h
œ
p
¤
|
¬
„
´ ¼
Œ
”
6
ä
-
MSI
¾
5
Çh
n KAJIAN MENGENAI BASIC ARRANGEMENT ON BORDER CROSSING 1967
ANTARA INDONESIA-MALAYSIA BERKAITAN DENGAN PRAKTEK
-
Title
Ü
8
@
_PID_HLINKS
ä
A ”
] V
. h t t p : / / l i n d o n e s i a f i l e . c o m / c o n t e n t
/ v i e w 1 8 6 0 / 4 2
-
! " # $ % ' ( ) * + , . / 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 : ; = > ? @ A B C D E F G H I J K L
M N O P Q þÿÿÿS T U V W X Y Z [ \ ] ^ _ ` a b c d e f g h i j
k l m n o p q r s t u v w þÿÿÿy z { | } ~ • þÿÿÿ ‚ ƒ „ … † ‡ þÿÿ
ÿýÿÿÿýÿÿÿ‹ þÿÿÿþÿÿÿþÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿR
o o t E n t r y
ÿÿÿÿÿÿÿÿ
À F påh3Ü Í  € 1 T a b l e
ÿÿÿÿ
ÿÿÿÿ R ÝJ W o r d D o c u m e n t
ÿÿÿÿÿÿÿÿ 4¢
S u m m a r y I n f o r m a t i o n (
ÿÿÿÿ x
D o c
u m e n t S u m m a r y I n f o r m a t i o n 8
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ €
C o m p O b j
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ y ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
þ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ
þÿ ÿÿÿÿ
À F' Microsoft Office Word 97-2003
Document MSWordDoc
Download