KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM EKONOMI MAKRO DAN MIKRO

advertisement
KEBIJAKAN FISKAL DAN KEBIJAKAN MONETER
Oleh : Muhlisin
TEORI MAKROEKONOMI MELIPUTI JUGA ANALISIS DALAM BERBAGAI ASPEK
BERIKUT :
1.
2.
Masalah ekonomi yang dihadapi, terutama pengangguran dan
inflasi, dan bentuk kebijakan pemerintah untuk mengatasinya
Peranan uang dalam penentuan kgiatan ekonomi

Masalah pengangguran dan inflasi
Pada umumnya pengeluaran agregat yang yang sebenarnya adalah
lebih rendah daripada yang diperlukan untuk mencapai
kesempatan kerja penuh. Keadaan seperti ini akan menimbulkan
pengangguran. Ada kalanya permintaan agregat yang melebihi
kemampuan perekonomian untuk memperoduksi barang dan jasa
akan menyebabkan kenaikan harga atau inflasi.

Peranan kebijakan pemerintah
Langkah – langkah pemerintah intuk mengatasi masalah
pengangguran dan inflasi dibedakan menjadi 2 bentuk yaitu:
Kebijakan Fiskal
Kebijakan Moneter


KEBIJAKAN FISKAL
Yaitu kebijakan ekonomi yang digunakan pemerintah untuk
mengolah / mengarahkan perekonomian ke kondisi yang lebih
baik atau diinginkan dengan cara mengubah-ubah penerimaan
dan pengeluaran pemerintah.
Kebijakan Fiskal mempunyai kebijakan yang sama dengan
Kebijakan Moneter. Perbedaannya terletak pada instrument
kebijakannya. Jika dalam Kebijakan Moneter pemerintah
mengendalikan jumlah uang yang beredar, maka dalam
Kebijakan Fiskal pemerintah mengendalikan penerimaan ( T )
dan pengeluaran ( G ).
PAJAK
Secara hukum Pajak didefinisikan sebagai iuran wajib kepada
pemerintah yang bersifat memaksa dan legal ( berdasarkan undangundang ), sehingga pemerintah mempunyai kekuatan hukum
(misalnya denda atau kurungan penjara ) untuk menindak wajib pajak
yang tidak memenuhi kewajiban.
Secara Ekonomi Pajak didefinisikan sebagai pemindahan sumber
daya yang ada di sektor rumah tangga dan perusahaan ( dunia usaha )
ke sektor pemerintah melalui mekanisme pemungutan tanpa
memberi balas jasa langsung.
Besarnya pajak yang diterima pemerintah dipengaruhi oleh tingkat
pendapatan, sebaliknya pajak dapat mempengaruhi pola laku
produksi atau konsumsi.
KLASIFIKASI PAJAK
A. Pajak Objektif
Adalah pajak yang dikenakan berdasarkan aktivitas
ekonomi para wajib pajak.
Misalnya pajak pertambahan nilai ( PPN )
B. Pajak Subjektif
Adalah pajak yang dipungut dengan melihat
kemampuan wajib pajak. Biasanya bila kemampuan
wajib pajak makin besar, beban pajaknya makin
besar.
c. Pajak Langsung
Adalah pajak yang beban pajaknya tidak dapat digeser kepada
wajib pajak yang lain.
Misalnya pajak penghasilan ( PPh ) serta pajak bumi dan
bangunan ( PBB )
D. Pajak Tidak Langsung
Adalah pajak yang beban pajaknya dapat digeser kepada wajib
pajak yang lain
Misalnya : pajak penjualan ( PPn atau PPnBM )
TARIF PAJAK
Tarif pajak di bagi menjadi 2 yaitu :
a. Pajak Nomianal
Adalah pajak yang pengenaannya berdasarkan sejumlah nilai nominal
tertentu.
Misalnya bila pengenaan pajak pendapatan sebesar 50, maka cukup
ditulis T=50
b. Pajak Persentase
Adalah pajak yang ditetapkan berdasarkan persentase tertentu dari dasar
pengenaan pajak.
Pajak persentase dapat dibedakan menjadi :
1.
Pajak Proporsional, tarif presentasenya tetap.
2.
Pajak Progresif, tarifnya makin tinggi bila dasar pengenaan pajaknya
makin tinggi.
3.
Pajak Regresif, tarif pajak makin rendah pada saat penghasilan
meningkat.
POLITIK ANGGARAN
Politik anggaran dibagi menjadi :
a. Anggaran Defisit ( Deicit Budget )
Adalah anggaran yang direncanakan untuk defisit, sebab
pengeluaran pemerintah direncanakan lebih besar dari penerimaan
pemerintah
( T<G atau G<T ). Tujuannya untuk menstimulir
pertumbuhan ekonomi (dalam kondisi resesi) sehingga diharapkan
pertambhan pendapatan lebih besar dari besarnya defisit anggaran.
b. Anggaran Surplus ( Surplus Budget )
Adalah anggaran pemerintah bila penerimaan lebih besar dari
pengeluaran ( T>G atau G>T ).
Politik anggaran surplus dilakukan bila perekonomian sedang
dalam tahap memanas. Melalui anggaran ini pemerintah
mengerem
pengeluarannya
untuk
menurunkan
tekanan
pemerintah atau mengurangi daya beli dengan menaikkan pajak.
c. Anggaran Berimbang ( Balance Budget )
Adalah anggaran yang apabila pengeluaran sama dengan
penerimaan
(G=T atau T=G ). Tujuannya adlah untuk
peningkatan disiplin dan kepastian anggaran.
KEBIJAKAN MONETER
Kebijakan Moneter (istilah lainnya kebijakan uang
ketat ) adalah upaya mengendalikan atau
mengarahkan perekonomian makro ke kondisi
yang diinginkan ( lebih baik ) dengan mengatur
jumlah uang yang beredar. Melalui kebijakan
moneter pemerintah dapat mempertahankan,
menambah atau mengurangi jumlah uang yang
beredar dalam upaya mempertahankan
kemampuan ekonomi bertumbuh, sekaligus
mengendalikan inflasi.
INSTRUMEN KEBIJAKAN MONETER
Ada 3 instrumen kebijakan instrumen yang digunakan untuk mengatur
jumlah uang yang beredar yaitu :
1. Operasi pasar terbuka ( open market operation )
Yaitu kebijakan pemerintah mengendalikan jumlah uang yang bredar dengan cara
menjual atau membeli surat-surat berharga milik pemerintah.
Di Indonesia operasi pasar terbuka dilakukan dengan menjual atau membeli
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Berharga Pasar Uang (SPBU).
2. Fasilitas Diskonto ( Discount Rate )
Salah satu fasilitasnya yaitu adanya tingkat bunga diskonto yang
maksudnya adalah tingkat bunga yang ditetapkan pemerintah atas
bank-bank umun yang meminjam ke bank sentral.
Jika pemerintah ingin menambah jumlah uang yang beredar, maka
pemerintah melakukan suatu cara yaitu menurunkan tingkat bunga
penjaman ( tingkat diskonto ). Dengan tingkat bunga pinjaman yang
lebih murah, maka keinginan bank-bank untuk meminjam uang dari
bank sentral menjadi lebih besar, sehingga jumlah uang yang beredar
bertambah dan sebaliknya
3. Rasio Cadangan Wajib ( Reserve Requirement Ratio )
Penetapan ratio cadangan wajib juga dapat mengubah jumlah
uang yang beredar. Jka rasio cadangan wajib diperbesar, maka
kemampuan bank memberikan kredit akan lebih kecil
dibandingkan sebelumnya.
4. Imbaunan Moral ( Moral Persuasion )
Dengan imbauan moral, otoritas moneter mencoba mengarahkan
atau mengendalikan jumlah uang yang beredar.
KEBIJAKAN MONETER DAN KESEIMBANGAN EKONOMI:
ANALISIS IS-LM
Dalam perekonomian pasar, kenaikan tingkat
bunga mengidentifikasikan telah terjadinya
kelebihan permintaan investasi. Akibatnya
dapat dilihat dari 2 sisi yaitu :
Sisi Output
Kenaikan tingkat bunga akan menyebabkan ada
beberapa rencana investasi yang dibatalkan,
sebagai akibatnya pertambahan kapasitas
produksi menjadi kecil.
1.
Sisi Biaya
Kenaikan tingkat bunga akan menaikkan biaya
produksi dikarenakan naiknya biaya modal
2.
SELESAI
Download