skripsi nilai-nilai pendidikan akhlak pada novel hapalan shalat

advertisement
SKRIPSI
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK
PADA NOVEL HAPALAN SHALAT DELISA
KARYA TERE LIYE
Oleh:
Siti Zulaicha
NIM : 11108047
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SALATIGA
2012
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
)‫ِإ َّن ِإ ُك ِإ ِإ ْي ٍن ُكخلُكًقا َو ُكخلُك ُك ْي ِإ ْي َوِإ ْي َوَوااُك (ر ه ما ك‬
Rasullullah bersabda: “Sesungguhnya semua agama itu
mempunyai akhlaq dan ahklaq Islam itu adalah sifat
malu.”(HR.Malik).
Skripsi ini penulis persembahkan untuk :
1. Ayahku ( Alm.Munir Zainudin) dan ibundaku (Ariyani) serta mertuaku
tercinta (Rr. Sri Dewi) yang telah mencurahkan kasih sayang dan segala
usaha untuk membantu melancarkan studyku serta membekaliku dengan
pendidikan dunia dan pendidikan akhirat demi tercapainya cita-citaku.
2. Suamiku tercinta (R. Sigit Hermawan) yang selalu mendampingi dalam
segala keaadaan baik suka maupun duka dan perhatian tidak lupa buah hati
(R. Naufal Herza Arganta Hermawan) yang menjadikan kado terindah
dalam mewarnai hari-hariku.
3. Bpk. Drs.Bahroni, M.Pd yang saya hormati yang telah meluangkan waktu
dan kesabarannya dalam memberikan bimbingan dan pengarahan.
4. Kakakku tercinta Fatchus Solicha Nofitasari dan adikku tercinta Azzahra
Salsabila serta sahabatku Yulianti Endang, Zie-zie, Indah yang selalu
membantuku dan memotivasiku untuk selalu semangat menuntut ilmu.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan
rahmat,
taufiq
dan
hidayahnya,
sehingga
penulis
dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini. Sholawat serta salam kami haturkan kepada
kekasih Allah, Nabi Agung Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari
zaman jahilliyah menuju zaman islamiah seperti apa yang kita rasakan hingga
sampai saat ini.
Skripsi ini pernulis susun dalam rangka memenuhi tugas dan melengkapi
syarat guna memperoleh gelar sarjana pendidikan. Adapun judul skripsi ini adalah
NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK PADA Novel Hafalan Shalat Delisa
KARYA TERE LIYE
Penulisan skripsi ini tidak lepas dari berbagai pihak yang telah
memberikan dukungan moril maupun materiil. Dengan penuh kerendahan hati,
penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr. Imam Sutomo, M. Ag selaku ketua STAIN Salatiga.
2. Dra. Siti Asdiqoh selaku Kaprogdi pendidikan Agama Islam STAIN
Salatiga
3. Drs. Bahroni, M.Pd selaku pembimbing yang telah banyak membantu dan
mengarahkan hingga terselesaikannya skripsi ini.
4. Segenap bapak dan ibu Dosen serta karyawan STAIN Salatiga yang telah
memberikan bekal ilmu dan pelayanan hingga studi selesai.
5. Ayahku (Alm.Munir Zainudin) dan Ummiku tersayang (Ariyani) yang
selalu memberikan dukungan baik moriil maupun spiritual, serta yang
senantiasa berkorban dan berdoa demi tercapainya cita-cita.
6. Suamiku tercinta (R. Sigit Hermawan) dan buah hatiku (R.Naufal Herza
Arganta Hermawan) yang mana sangat berarti dalam memompa semangat
penulis.
7. Tere Liye ( Darwis) yang telah menciptakan novel yang syarat nilai-nilai
pendidikan sehingga menjadi inspirasi penulis untuk melakukan tinjauan
dan pendalaman.
Semoga amal mereka diterima sebagai amal ibadah oleh Allah
SWT serta mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Amin
Penulis menyadari dan mengakui bahwa penulisan skripsi ini
masih jauh dari kesempurnaan, semua ini dikarenakan keterbatasan
kemampuan serta pengetahuan penulis. Oleh karena itu kritik dan saran
yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan dalam kesempurnaan
skripsi ini.
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini memberikan
sumbangan bagi pengembangan dunia khususnya pendidikan agama islam.
Amin-amin yarobbal „alamin
Salatiga, 27 Juni 2013
Penulis
ABSTRAK
Zulaicha, Siti. 2012. Nilai-nilai Pendidikan Akhlak pada Novel Hapalan
Shalat Delisa Karya Tere Liye. Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi
Pendidikan Agama Islam. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga.
Pembimbing Drs. Bahroni M.Pd.
Kata kunci: Pendidikan, Akhlak, Novel
Pada dasarnya pendidikan merupakan suatu hal yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan manusia dan harus dipenuhi sepanjang hayat, karena
pendidikan merupakan kebutuhan hidup manusia. Begitu juga dengan ahklaq
yangmenempati posisi yang sangat penting dalam Islam, karena kesempurnaan
Islam tergantung juga pada kemuliaan dan kebaikan ahklaqnya. Ahklaq yang baik
tidak akan terwujud pada seseorang tanpa adanya pembinaan yang dilakukan.
Dalam konsep pendidikan ahklaq segala sesuatu itu dinilai baik atau buruk, terpuji
dan tercela, karena pendidikan ahklaq itu bersumber pada Al-Quran dan AlHadist. Ada banyak cara dalam menyampaikan pendidikan ahklaq, salah satunya
adalah yang dilakukan Tere Liye. Ia menyampaikan pendidikan ahklaq melalui
karya sastranya.
Dengan melihat latar belakang di atas maka yang menjadi permasalahan
dalam penelitian ini adalah nilai-nilai pendidikan ahklaq apa saja yang dapat
dipetik dalam novel Hafalan Shalat Delisa, bagaimana karakteristik tokoh yang
ditampilkan dalam novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye. Penelitian ini
bertujuan untuk menemukan nilai-nilai pendidikan ahklaq dan mendeskripsikan
karakteristik tokoh yang ditampilkan dalam novel Hafalan Shalat Delisa dan
relevansinya dalam era globalisasi saat ini.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research),
sedangkan dalam pengumpulan datanya menggunakan metode dokumenter
(bibliographis), analisis data yang digunakan dalam skripsi ini adalah analisis isi
(content analysis).
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) Nilai-nilai Pendidikan
ahklaq yang terkandung dalam novel Hafalan Salat Delisa di antaranya: nilai
pendidikan ahklaq tehadap Allah (shalat,dzikir, dan berdoa, kepada Allah, ihklas
menerima takdir Allah, takut akan siksaan Allah, dan takut akan kehilangan
rahmat Allah), nilai pendidikan ahklaq terhadap keluarga (saling menghormati ,
berbakti, mencintai dan menyayangi keluarganya), nilai pendidikan ahklaq pada
diri sendiri atau ahklaq mahmudah yaitu: (sabar, ihklas, syukur, optimis, tolong
menolong, kerja keras, dan disiplin) serta ahklaq madzmumah (jahil, bandel,
berdusta dan pencemburu) ahklak terhadap keluarga ( hak kasih sayang suamiistri, hak-hak bersama suami-istri, birul walidain) serta nilai pendidikan ahklak
pada lingkungan (memelihara serta merawat semua ciptaan Allah SWT dengan
baik).
(2) Karakteristik tokoh yang ada dalam novel Hafalan Salat Delisa di
antaranya dalah: karakter tokoh Delisa berumur enam tahun yang bandel dia juga
memiliki sifat yang berbeda dengan anak seumurannya dan rasa keingintahuannya
sangat besar, karakter tokoh Salamah yaitu tokoh Ummi merupakan tokoh istri
sekaligus Ummi yang shalihah dan memiliki sifat disiplin tinggi dalam mendidik
anak-anaknya, karakter tokoh. (3) Relevansi nilai-nilai pendidikan ahklaq diera
globalisasi saat ini adalah pentingnya pendidikan ahklaq yang mana dapat
diaplikasikan dalam dunia pendidikan saat ini yaitu melalui kurikulum pendidikan
karakter serta penanaman ahklaq sedini mungkin baik dirumah, sekolah maupun
lingkungan mastarakat untuk menggulangi adanya dekadesi moral.
DAFTAR ISI
HALAMAN BERLOGO
i
HALAMAN JUDUL
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
iii
PENGESAHAN
iv
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
vi
KATA PENGANTAR
vii
ABSTRAK
viii
DAFTAR ISI
BAB I
x
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ....................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................... 7
C. Tujuan Penelitian ................................................................ 8
D. Kegunaan Penelitian ........................................................... 8
E. Metode Penelitian ................................................................ 9
F.
Penegasan Istilah ................................................................. 10
G. Sistematika Penulisan ........................................................... 13
BAB II LANDASAN TEORI : KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA
TEORI
A.
Pengertian Novel ................................................................. 14
B. Unsur-unsur Pembangun Novel ........................................... 15
C. Macam-Macam Novel .......................................................... 17
D. Pengertian Nilai ................................................................... 17
E. Pengertian Pendidikan .......................................................... 19
F.
Pengertian Akhlak ................................................................ 22
G. Sumber Akhlak .................................................................... 25
H. Ruang Lingkup Akhlak ........................................................ 27
I.
Karakteristik Pendidikan Akhlak .......................................... 27
BAB III BIOGRAFI NASKAH
A. Unsur Intrinsik ..................................................................... 31
B. Unsur Ekstrinsk.................................................................... 31
1. Riwayat Hidup Pengarang ............................................. 31
2. Riwayat Pendidikan Pengarang ..................................... 34
3. Sosial Budaya Pengarang .............................................. 34
C. Sinopsis Hafalan Shalat Delisa ............................................. 35
BAB IV PEMBAHASAN
A. Nilai-Nilai Pendidikan Anak pada Novel Hafalan Shalat
Delisa ................................................................................... 36
1.
Akhlak pada Allah SWT .............................................. 36
2.
Akhlak pada Diri Sendiri .............................................. 57
3.
Akhlak pada Keluarga .................................................. 73
4.
Akhlak pada Lingkungan ............................................. 78
B. Karakteristik Tokoh Hafalan Shalat Delisa .......................... 80
C. Relevansi Nilai-Nilai Pendidikan Akhak pada Novel
Hafalan Shalat Delisa di Era Globalisasi saat ini .................. 89
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................... 95
B. Saran .................................................................................... 97
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pada dasarnya pendidikan akhlak menempati posisi sangat
penting dalam Islam, karena kesempurnaan seseorang tergantung
kepada kebaikan dan kemuliaan akhlaknya. Manusia yang dikehendaki
Islam adalah manusia yang memiliki akhlak yang mulia, manusia yang
seperti inilah yang akan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat
(Azmi, 2006:54 ).
Akhlak yang baik tidak akan terwujud pada seseorang tanpa
adanya
pembinaan
yang
dilakukan.
Oleh
karena
itu
perlu
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari ( Azmi, 2006:54 ).
Dalam konsep pendidikan akhlak segala sesuatu itu dinilai
baik dan buruk, terpuji atau tercela, semata-mata berdasarkan AlQur‟an dan Hadits. Ajaran akhlak dalam Islam bersumber dari wahyu
Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur‟an dan Hadits (Azmi, 2006:
75 ).
Imam al-Ghazali:
‫ َة ْال َةه َة ْا ُةُةا ْا َة ْا َة ُةا ِةاُة ُةه ْا َة ٍة َة ُة ْاا ٍةا ِة ْا‬, ‫َة ْا ُةل ُة ُة ِة َة َةا ٌة َة ْا َة ْا َة ٍة ِةى لَّن ْا ِة َةا ِةا َةل ٌة‬
. ‫َة ِةْاا َة َةا ٍة ِةإ َةى ِة ْا ٍةا َة ُةا ْا َة ٍة‬
Artinya:
"Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang
menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah,
tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan." (Al-Ghazali,
1989:58).
Islam menginginkan suatu masyarakat yang berakhlak
mulia. Akhlak mulia ini sangat ditekankan karena di samping akan
membawa kebahagiaan bagi individu, juga sekaligus membawa
kebahagiaan bagi masyarakat pada umumnya. Dengan kata
lain,akhlak utama yang ditampilkan seseorang , tujuannya adalah
untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat ( Azmi,
2006:60 ).
Dewasa ini ahklaq sering dikaitkan dengan pendidikan
karakter yang merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang
berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama
manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam
pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan
norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Karakter dapat juga diartikan sama dengan akhlak dan budi pekerti,
sehingga karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa atau budi
pekerti bangsa.
Wynne (1991) mengemukakan bahwa karakter berasal dari
bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan
memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan
dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari. Oleh sebab
itu,seseorang yang berperilaku suka menolong dikatakan,baik,jujur
dan suka menolong dikatakan sebagai orang yang memiliki
karakter baik/mulia begitu juga sebaliknya.
Adanya krisis etika dan moral dewasa ini seperti
meningkatnya kekerasan pada remaja, penggunaan kata-kata yang
memburuk, meningkatnya penggunaan narkoba, alkohol dan seks
bebas, kaburnya batasan moral baik-buruk, rendahnya rasa
tanggung jawab dan rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan
guru. Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,
bahkan juga krisis etika dan moral dalam beragama lantas
memunculkan pertanyaan tentang peranan dan sumbangan
Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membentuk etika dan moral.
Walaupun variabel perkembangan permasalahan tersebut
sesungguhnya sangat kompleks, namun seringkali secara langsung
maupun tidak langsung dihubungkan dengan permasalahan
pendidikan agama di sekolah. Pertanyaan seperti ini dianggap sahsah saja karena sumber dari berbagai permasalahan tersebut adalah
akibat adanya krisis etika dan moral, sedangkan tugas pokok
pendidikan agama adalah membentuk anak didik memiliki
moralitas dan akhlak budi pekerti yang mulia.
Pendidikan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan manusia karena pendidikan merupakan kebutuhan
penting bagi kehidupan manusia yang harus dipenuhi sepanjang
hayat.
Pendidikan
juga
merupakan
proses
pembentukan
kepribadian. Dengan pendidikan diharapkan dapat menghasilkan
manusia yang berkualitas dan bertanggung jawab.
Sebagaimana dipaparkan dalam Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional nomor 20 Tahun 2003 bab VI pasal 13 yaitu
tentang jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal,
informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya,
pendidikan
sebagaimana
disebutkan
dalam
ayat
(1)
diselenggarakan dengan sistem terbuka melalui tatapan muka atau
melalui jarak jauh. Jadi pendidikan tidak hanya berlangsung di
sekolah
formal tetapi juga dapat berlangsung di luar sekolah
nonformal.
Ada banyak cara menyampaikan nilai-nilai pendidikan
akhlak, salah satunya yang digunakan oleh Tere-Liye lewat karya
sastranya berupa novel berjudul Hafalan Shalat Delisa (HSD).
Dimana novel ini adalah sebuah novel yang di dalamnya banyak
terdapat pesan pendidikan yang dapat dipetik.
Dalam novel ini diceritakan tentang seorang anak
perempuan berumur enam tahun. Awalnya Delisa menghafal
bacaan shalat karena sekolahnya mengadakan ujian praktik dan
demi hadiah yang dijanjikan Umminya. Sebagaimana dipaparkan
dalam kutipan berikut:
Delisa yang sedang duduk diayunan yang berada di bawah
pohon jambu sambil menghafal do‟a iftitah. Delisa sedang
berjuang menghafalkan bacaan shalatnya, ia kelihatan sibuk
menghafal walau masih banyak yang kebolak-balik, tapi
Delisa tetap semangat untuk menghafal dengan harapan
akan lulus ujian praktik di sekolah dan mendapatkan hadiah
kalung dari Ummi. Waktu berjalan begitu cepat, dengan
adanya jembatan keledai teknik cepat menghafal bacaan
shalat lebih cepat dan lancar (Liye, 2011:64).
Minggu 26 Desember saat dimana hari yang akan diingat
seluruh dunia dimana Delisa akan menghadapi ujian praktik
shalat, Delisa bangun dengan semangat, bacaan shalat
subuhnya pun sudah nyaris sempurna kecuali sujud, tibatiba bacaan sujudnya lupa tapi Delisa mengabaikan fakta
itu, karena di sekolah dia masih banyak waktu untuk
mengingatnya. Hadiah kalung yang membuat Delisa
semangat sekolah, Delisa berangkat sekolah di antar Ummi
salamah, ketika bel masuk anak-anak berebutan masuk ke
kelas (Liye,2011:65).
Setelah lama menunggu tiba saatnya delisa untuk praktik
shalat. Delisa mulai membaca taawudz, sedikit gemetar
membaca basmallah, Delisa siap utuk shalat yang
sempurna kepada Allah untuk pertama kalinya, Delisa akan
khusuk. “Allahu-akbar” persis ketika ucapan itu hilang dari
mulut Delisa, tiba-tiba tanah bergetar dahsyat, tepat ketika
Delisa mengucap kata Wa-ma-maa-tii lantai sekolah
bergetar hebat dan suara gemuruh air, tetapi Delisa khusuk
melakukan shalatnya. Delisa tetap membaca bacaan
shalatnya, air keruh mulai masuk kedalam mulutnya. Delisa
di tengah sadar dan tidaknya ia ingin sujud dengan
sempurna untuk pertama kalinya.
Dua-pertiga malam, waktu yang mulai, waktu yang
dijanjikan dalam ayat-ayat-Mu dan Delisa mendapatkan
penjelasan itu lewat mimpi, mimpi yang sebenarnya akan ia
ingat sepanjang hayatnya (Liye, 2011:66).
Waktu satu minggu Delisa sudah nyaris hafal seluruhnya,
shalatnya juga lebih khusuk. Sabtu sore, kelas TPA-nya
belajar di luar disalah satu bukit yang ada di Lhok Nga.
Setelah satu jam belajar mereka menghentikan
pelajarannya, mereka akan shalat berjama‟ah. Tanpa
disadari, itulah shalat pertama Delisa yang akan sempurna,
tak lupa satu bacaan pun, dan tak lalai satu gerakanpun.
Beberapa saat kemudian Delisa selesai (Liye, 2011:250).
Selepas shalat ashar yang penuh makna, Delisa mencuci
kedua tangannya, ketika ujung jari Delisa menyentuh
sejuknya air sungai, ketika itulah Delisa menatap kemilau
kuning indah yang menakjubkan. Demi melihat cahaya itu
Delisa menyebrangi sungai. Ya Allah, bukankah itu seuntai
kalung? Seluruh persediaan tubuhnya bergetar ketika
melihat kalung yang tersangkut ditangan yang sudah
menjadi kerangka sempurna kerangka manusia. Delisa
mendesis lemah “U-m-m-i” kemudia Delisa jatuh pingsan
terjerambab kedalam sejuknya air sungai itu (Liye,
2011:264).
Tere-Liye menggunakan media penyimpanan pesan-pesan
yang ada di dalam Islam, salah satunya melalui karya sastranya
berupa novel HSD. Novel HSD karya Tere-Liye adalah novel yang
mengandung banyak sekali hikmah atau pesan pendidikan akhlak
yang dapat dipetik. Dalam sampul dan cover novel hafalan shalat
Delisa tersebut, ada beberapa komentar tokoh yang mengagumi
novel tersebut.
Habiburrahman El Shirazy, penulis novel best seller AyatAyat Cinta memberikan komentar sebagai berikut: “Buku yang
indah ditulis dalam kesadaran ibadah, buku ini mengajak kita untuk
mencintai anugrah juga musibah, dan mencintai indahnya
hidayah.”
Taufik Ismail, penyair yang memberi komentar sebagai
berikut: “Novel bacaan shalat anak 6 tahun dengan latar bacaan
tsunami ini sangat mengharukan, nilai keikhlasan dengan halus
dijalani pengarangnya kedalam plot cerita dunia kanak-kanak ini,
saya membacanya dengan sentimental, karena setelah bacaan
tsunami bolak-balik ke Lhok Nga itu.”
Ahmadun Yosi Herfanda, sastrawan dan redaktur sastra
Republika memberikan komentar sebagai berikut: “novel ini
disajikan dengan gaya sederhana namun sangat menyentuh, penulis
berhasil menghadirkan
tokoh-tokoh dan suasana yang begitu
hidup, islami, dan luar biasa, pantas dibaca oleh siapa saja yang
ingin mendapatkan pencerahan rohani”.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik
untuk meneliti nilai akhlak yang terdapat dalam novel tersebut,
dengan judul
“Nilai-nilai Pendidikan Akhlak Pada Novel Hapalan
Shalat Delisa Karya Tere Liye ”
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa sajakah nilai-nilai pendidikan ahklak
yang dapat dipetik
dalam novel HSD karya Tere Liye ?
2. Bagaimana karakteristik tokoh yang ditampilkan dalam novel HSD
karya Tere Liye ?
3. Adakah relevansi antara nilai-nilai pendidikan ahklaq dalam novel
HSD di era globalisasi saat ini ?
C. TUJUAN PENELITIAN
Dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat
bagi pembaca khususnya dalam mendalami jenis penelitian literatur
serta dapat mengembangkan berbagai media sebagai sumber
pengetahuan khususnya dalam bentuk naskah.
D. KEGUNAAN PENELITIAN
Adapun manfaat yang diharapkan adalah:
1. Teoritis
a. Dapat memperluas khasanah ilmu dalam karya ilmiah terutama
dalam buku cerita.
b. Sebagai wahana pemikiran dan menetapkan teori-teori yang ada
dengan realitas yang ada di masyarakat.
2. Praktis
a. Dapat memberikan konstribusi bagi pembaca dalam pengajaran
terutama memahami makna atau hikmah dalam suatu cerita.
b. Dapat memberi masukan kepada peneliti untuk penelitian
selanjutnya.
c. Sebagai transformasi nilai pendidikan yang terimplementasikan
dalam kehidupan sehari-hari.
E. METODE PENELITIAN
a. Jenis penelitian
Penelitian ini digolongkan dalam penelitian kepustakaan
(library research) karena data yang diteliti berupa naskah-naskah,
atau majalah-majalah yang bersumber dari khasanah kepustakaan
(Arikunto, 2002 : 54)
Dalam hal ini yang dijadikan objek penelitian adalah Hafalan
Shalat Delisa.
b. Objek penelitian
Objek yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah data
primer atau data langsung dari tangan pertama tentang masalah
nilai-nilai pendidikan akhlak yang akan ungkapkan dalam novel
Hafalan Shalat Delisa karya Tere-Liye.
c. Metode pengumpulan data
Metode
menggunakan
pengumpulan
dokumenter
data
atau
dalam
penelitian
biblioggraphis.
ini
Metode
dokumenter biblioggraphis adalah cara mengumpulkan data yang
dilakukan dengan dengan kategorisasi dan klarifikasi bahan-bahan
tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian, baik dari
sumber dokumen maupun buku-buku, Koran, majalah, dan lain
sebagainya (Sukmadinata, 2008:95). Data dalam penelitian ini
diperoleh dari data primer dan data sekunder.
d. Sumber data primer
Sumber data primer adalah data aunthentik atau data
langsung dari tangan pertama tentang masalah yang diungkapkan.
Secara sederhana data ini disebut data asli (Sukmadinata, 2008 :
80). Adapun sumber data primer dalam penelitian ini adalah novel
Hafalan Shalat Delisa karya Tere-Liye.
e. Sumber data sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang mengutip dari
sumber lain sehingga tidak bersifat aunthentik karena sudah
diperoleh dari tangan kedua, ketiga, dan selanjutnya. Dengan
demikian data ini disebut juga data tidak asli (Nawawi, 1991: 80).
Data sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku yang
mempunyai
relevansi
untuk
memperkuat
argumentasi dan
melengkapi hasil penelitian ini diantaranya adalah pengantar studi
akhlak, anatomi sastra, metode penelitian, teori perkajian fisik,
ilmu akhlak, dan lain sebagainya.
f. Teknik analisis
Yang dimaksud analisis dalam penelitian ini adalah seluruh
rangkaian kegiatan sebagai upaya menarik kesimpulan dari hasil
kajian konsep atau teori yang mendukung penelitian ini. Untuk
menganalisis novel HSD karya Tere-Liye, penulis menggunakan
content analysis, yaitu setiap prosedur sistematis yang dirancang
untuk mengkaji isi informasi tertekam (Ratna, 2009:48).
Adapun langkah-langkah dalam content analysis di
antaranya adalah: pertama penemu unit fisik, unit ini digambarkan
secara fisik menurut ukuran atau volume novel yang akan dibahas.
Kedua menemukan unit sintaksis, unit ini berkaitan dengan tata
bahasa yang digunakan dalam novel. Ketiga menemukan unit
referensi, unit ini didefinisikan dalam obyek, peristiwa, orang
tindakan, ataupun ide tertentu yang dirujuk oleh sebuah ungkapan.
Keempat menemukan unit proposisional, unit ini dilakukan untuk
menggambarkan berbagai proposisi. Kelima menemukan unit
tematik, unit ini diidentifikasi dengan kesesuaian dengan definisi
structural tentang isi cerita, penjelasan dan intrepretasi, hal ini agar
mempermudah para pembaca mengenai tema-tema terutama dalam
novel (Ratna, 2009:82).
F. PENEGASAN ISTILAH
Untuk
menghindari
terjadinya
kesalahpahaman
dalam
menafsirkan maksud yang terkandung dalam judul penelitian
kependidikan ini, maka penulisa menegaskan istilah sebagai berikut:
1.
Nilai pendidikan akhlak
Nilai adalah kualitas suatu hal itu dapat disukai, diinginkan
berguna atau dapat menjadi objek kepentingan dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1989: 534). Nilai adalah suatu
yang berharga bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi
manusia
(http://www.uzey.blogspot.com),
pendidikan
akhlak
terdiri dari dua kata yaitu pendidikan dan akhlak. Pendidikan
menurut adalah suatu proses pendewasaan diri melalui pengajaran
dan latihan (Poerwadarminta, 1985:702).
Sedangkan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang
dengannya
lahirlah
macam-macam
perbuatan
baik
atau
buruktanpa memerlukan pemikiran dan pertibangan (Ibrahim,
1972:202). Jadi nilai pendidikan aklak adalah pengarahan tentang
apa dan bagaimana yang seharusnya dilakukan oleh seorang
manusia dari perbuatan mereka.
2. Novel Hafalan Delisa
Novel merupakan karya fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek
kemanusiaan yang lebih mendalam dan disajikan dengan halus
(Semi, 1988:32). Jadi, Novel HSD adalah karya sebuah sastra
karya Tere-Liye
yang isinya mengajarkan kepada pembaca
tentang kasih sayang, keikhlasan, dan ketabahan.
G. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini, penulisan membahas masalahmasalah yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Adapun
sistematika penulisan skripsi meliputi :
Bab I Pendahuluan, terdiri dari: Latar Belakang Masalah,
Penegasan Istilah, Perumusan Masalah, Tujuan dan manfaat
penelitian, Kajian pustaka, Metode penelitian, Sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Teoritik Tentang Novel dan Pendidikan
Akhlak, terdiri dari: Pengertian novel, Unsur-unsur pembangun novel,
Pengertian pendidikan akhlak, Sumber pendidikan akhlak, Kedudukan
dan keistimewaan pendidikan akhlak dalam Islam, Ruang lingkup
pendidikan akhlak, karakteristrik pendidikan akhlak.
Bab III Gambaran Umum Novel HSD
Berisi tentang: Riwayat hidup pengarang, Riwayat pendidikan.
Bab IV Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak Novel HSD
Bab V Penutup berisi tentang: Kesimpulan dan Saran.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Novel
Sastra adalah jenis tulisan yang menurut kritikus Rusia, Roman
Jakobson, menyajikan „tindak kekerasan teratur terhadap ujaran biasa‟.
Sastra
mentransformasikan
dan
mengintensifkan
bahasa
biasa,
menyimpangkan bahasa secara sistematis dari ujaran sehari-hari (Harfiyah,
2006: 2-3). Sastra mempunyai hukum, struktur, alat spesifiknya sendiri
yang lebih dipelajari dalam dirinya sendiri daripada direduksi menjadi hal
yang lain. Karya sastra bukanlah kendaraan untuk ide, refleksi realitas
sosial, maupun pengejawantahan dari kebenaran transendental: sastra
adalah fakta material yang fungsinya dapat dianalisis lebih seperti orang
memeriksa sebuah mesin. Sastra terbuat dari kata-kata, bukan objek
maupun rasa, dan salah untuk melihatnya sebagai ekspresi diri pikiran
penulisannya (Harfiyah, 2006 : 3).
Karya satra merupakan wujud ungkapan perasaan pengarang.
Seperti juga karangan lain, karya sastra dibuat pengarang dengan maksud
untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada pembacanya. Hanya karena
sifat dasarnya yang berbeda dengan karngan lain, maka sesuatu yang
dikomunikasikan tersebut juga berbeda. Salah satu bentuk karya sastra
adalah novel. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, novel adalah
karangan prosa yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan
seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya dengan menonjolkan
watak dan sifat setiap perilaku.
Novel merupakan karya sastra yang mempunyai dua unsur, yaitu
unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur
pembangun yang terdapat dalam karya sastra novel tersebut. Sedangkan
unsur ekstrinsik adalah dunialuar karya sastra yang turut melatarbelakangi
dan menunjang karya sastra novel tersebut. Selain itu terdapat unsur lagi
yang akhir-akhir ini tampak banyak dibicarakan, yaitu unsur reseptif, suatu
unsur yang lebih menitikberatkan kepada tanggapan pembaca atau
penikmat sastra, bukan tanggapan perseorangan melainkan tanggapan
kelompok masyarakat atau masyarakat (Suryani, 2012: 14).
B. Unsur-unsur Pembangun Novel
Beberapa struktur novel dibentuk oleh unsur-unsur (Kosasih, 2012: 6071) sebagai berikut:
1. Tema adalah gagasan yang menjalin struktur cerita. Tema suatu cerita
menyangkut segala persoalan, baik itu berupa masalah kemanusiaan,
kekuasaan, kasih sayang, kecemburuan, dan sebagainya.
2. Alur (plot) adalah sebagaian dari unsur intrinsik suatu karya sastra.
Alur merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh
hubungan sebab akibat.
3. Latar atau setting yaitu meliputi tempat, waktu, dan budaya yang
digunakan dalam suatu cerita. Latar berfungsi untuk memperkuat atau
mempertegas keyakinan pembaca terhadap jalannya suatu cerita. Kita
dapat mengamati latar dengan adanya penamaan tokoh dan juga
budayanya.
4. Penokohan merupakan salah satu unsur intrinsik karya sastra, di
samping tema, alur, latar, sudut pandang, dan amanat. Penokohan
adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter
tokoh-tokoh dalam cerita.
Dalam novel tersebut, kita dapat mengamati karakter setiap tokoh. Ada
beberapa cara yang dapat dipergunakan oleh pengarang untuk
melukiskan watak,rupa,atau pribadi para tokoh tersebut antara lain:
a. Physical description (melukiskan bentuk lahir dari pelakon)
b. Portrayal of thought stream or of conciuos thought melukiskan
jalan pikifran pelakon atau apa yang melintas dalam pikirannya)
c. Reaction to event (melukiskan bagaimana reaksi pelakon itu
terhadap kejadian-kejadian)
5. Point of View atau Sudut Pandang adalah posisi pengarang dalam
membawakan cerita.
6. Amanat merupakan ajaran moral atau pesan didaktis yang hendak
disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya itu.
7. Gaya bahasa berfungsi untuk menciptakan suatu nada atau suasana
persuasif serta merumuskan dialog yang mampu memperlihatkan
hubungan dan interaksi antara sesama tokoh.
C. Macam-macam Novel
Menurut Muchtar Lubis dalam Tarigan (1984:165) cerita novel ada
bermacam-macam antara lain:
1. Novel avonuter adalah bentuk novel yang dipusatkan pada seorang
lakon atau tokoh utama atau lakon. Ceritanya dimulai dari awal sampai
akhir para tokoh mengalami rintangan-rintangan dalam mencapai
maksudnya.
2. Novel psikologi adalah novel yang penuh dengan peristiwa-peristiwa
kejiwaan para tokoh
3. Novel detektif adalah novel yang merupakan cerita pembongkaran
rekayasa kejahatan untuk menangkap pelakunya dengan cara
penyelidikan secara tepat dan cermat.
4. Novel politik atau Sosial adalah bentuk cerita tentang kehidupan
golongan dalam masyarakat dengan segala permasalahannya.
5. Novel kolektif adalah novel yang menceritakan pelaku secara komplek
(menyeluruh).
D. Pengertian Nilai
Secara garis besar nilai dibagi menjadi dua kelompok yaitu nilainilai nurani (values of being) dan nilai-nilai memberi (values of giving)
(Zaim, 2009: 7). Nilai-nilai nurani adalah nilai yang ada dalam diri
manusia kemudian berkembang menjadi perilaku serta cara kita
memperlakukan orang lain. Yang termasuk dalam nilai-nilai nurani adalah
kejujuran, keberanian, cinta damai, keandalan diri, potensi, disiplin, tahu
batas, kemurnian, dan kesesuaian. Nilai-nilai memberi adalah nilai yang
perlu dipraktikkan atau diberikan yang kemudian akan diterima sebanyak
yang diberikan. Yang termasuk pada kelompok nilai-nilai memberi adalah
setia, dapat dipercaya, hormat, cinta, kasing sayang, peka, tidak egois, baik
hati, ramah, adil, dan murah hati (Zaim, 2009: 7).
Nilai adalah suatu penetapan atau suatu kualitas yang menyangkut
suatu jenis apresiasi atau minat. Sehingga nilai merupakan suatu otoritas
ukuran subjek yang menilai, dalam artian di dalam koridor keumuman dan
kelaziman dalam batas-batas tertentu yang pantas bagi pandangan individu
dan sekelilingnya (Aziz, 2009: 120).
Adapun
pengertian nilai menurut beberapa ahli (Muhaimin danl
Mujib, 1998: 110) adalah sebagai berikut:
a. Menurut Young, nilai diartikan sebagai asumsi-asumsi yang abstrak
dan sering didasari hal-hal penting.
b. Green, memandang nilai sebagai lesadaran yang secara kolektif
berlangsung dengan didasari emosi terhadap objek, ide dan
perseorangan.
c. Woods, mengatakan bahwa nilai merupakan petunjuk-petunjuk umum
yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku dan
kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.
d. Dalam pengertian lain, nilai adalah konsepsi-konsepsi abstrak dalam
diri manusia atau masyarakat, mengenai hal-hal yang dianggap baik
dan benar serta hal-hal yang dianggap buruk dan salah.
Nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang
lingkup sistem kepercayaan, dimana seseorang harus bertindak atau
menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang pantas atau
tidak pantas dikerjakan, dimiliki dan dipercaya (Mawardi, 2009: 16).
Sedangkan Sidi Gazalba mengartikan nilai adalah sesuatu yang
bersifat abstrak dan ideal. Nilai bukan konkrit, bukan fakta, tidak
hanya sekedar soal penghayatan yang dikehendaki dan tidak
dikehendaki, yang disenangi dan yang tidak disenangi. Nilai itu
terletak antara hubungan subjek dan objek. Seperti garam, emas Tuhan
itu tidak bernilai bila tidak ada subjek yang menilai. Garam menjadi
berarti setelah ada orang yang membutuhkan, emas menjadi berharga
setelah ada orang yang mencari perhiasan, dan Tuhan akan menjadi
berarti setelah ada makhluk yang membutuhkannya. Tetapi nilai juga
terletak pada barang (objek), nilai ketuhanan karena dalam dzat Tuhan
terdapat sesuatu yang sangat berharga bagi manusia, dan dalam logam
emas terdapat zat yang tidak lapuk, antikarat dan jenis keindahan
lainnya yang sangat berharga bagi manusia (Mawardi, 2009: 17-18).
E. Pengertian Pendidikan
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pada bab 1 pasal 1 disebutkan bahwa:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untukmewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
Istilah pendidikan dalam bahasa Inggris “education” yang berakar
dari bahasa laton “educare” yang dapat diartikan pembimbingan
berkelanjutan (to lead forth), dan jika diperluas arti etimologis tersebut
mencerminkan keberadaan pendidikan yang berlangsung dari generasi ke
generasi sepanjang eksistensi kehidupan manusia (Suparlan, 2007: 77).
Hasan Langgulung melihat arti pendidikan dari sisi fungsi, yaitu:
pertama, dari pandangan masyarakat, yang menjadi tempat bagi
berlangsungnya pendidikan sebagai satu upaya penting pewarisan
kebudayaan yang dilakukan oleh generasi tua kepada generasimuda agar
kehidupan masyarakat tetap berlanjut. Kedua, dari sisi kepnetingan
individu, pendidikan diartikan sebagai upaya pengembangan potensipotensi tersembunyi yang dimiliki manusia (Mahmud, 20011: 20-21).
Beberapa definisi pendidikan menurut para ahli, dalam buku yang
berjudul Administrasi Pendidikan (Engkoswara, 2010: 5-6) adalah sebagai
berikut:
1. M.J. Langveled, pendidikan adalah bimbingan atau pertolongan
yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak
untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak
cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak
dengan bantuan orang lain, dengan kata lain membimbing anak
mencapai kedewasaan.
2. J.J. Rousseau (filosof Swiss, 1712-1778), pendidikan adalah
memberikan pembekalan yang tidak ada pada masa kanakkanak, tapi dibutuhkan pada masa dewasa.
3. John Dewey (filosof Chicago, 1859 M-1959 M), pendidikan
adalah
proses
pembentukkan
kecakapan-kecakapan
fundamental secara intelektual, emosional ke arah alam dan
sesama
manusia,
dengan
kata
lain
sebagai
usaha
pengembangan potensi individu setiap peserta didik.
4. Ivan Illc, pendidikan adalah pengalaman belajar yang
berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.
Adapun definisi pendidikan yang menitikberatkan pada aspek serta
ruang lingkupnya dikemukakan oleh Ahmad D. Marimba. Ia menyatakan
bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh
pendidik terheadap perkembangan jasmani dan ruhani terdidik menuju
terbentuknya kepribadian yang uatama (Mahmud, 2011: 21).
Sementara Zamroni memberikan definisi pendidikan adalah suatu
proses menanamkan dan mengembangkan pada diri peserta didik
pengetahuan tentang hidup, sikap dalam hidup agar kelak ia dapat
membedakan barang yang benar dan yang salah, yang baik dan yang
buruk, sehingga kehadirannya ditengah-tengah masyarakat akan bermakna
dan berfungsi secara optimal (Zaim, 2009: 3). Dari definisi tersebut dapat
diketahui bahwa pendidikan adalah merupakan usaha atau proses yang
dtujukan untuk membina kualitas sumber daya manusia seutuhnya agar ia
dapat melakukan perannya dalam kehidupan secara fungsional dan
optimal. Dengan demikian pendidikan pada intinya menolong ditengahtengah kehidupan mansuia. Pendidikan akan dapat dirasakan manfaatnya
bagi manusia.
F. Pengertian Akhlaq
Secara etimologis (lughatan) akhlaq (bahasa Arab) adalah bentuk
jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau
tabiat. Berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Seakar
dengan kata Khaliq (Pencipta), makhluq (yang diciptakan) dan khalq
(penciptaan) (Munjid, 1989:164).
Kesamaan akar kata di atas mengisyaratkan bahwa dalam akhlaq
tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak Khaliq
(Tuhan) dengan perilaku makhluq (manusia). Atau dengan kata lain, tata
perilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya baru
mengandung nilai akhlaq yang hakiki manakala tindakan atau perilaku
tersebut didasarkan kepada kehendak Khaliq (Tuhan). Dari pengertian
etimologis seperti ini, akhlaq bukan saja merupakan tata aturan atau norma
perilaku yang mengatur hubungan antara sesama manusia, tetapi juga
norma yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan dan bahkan
dengan alam semesta sekalipun (Nasution, 1992 : 98).
Secara terminologis ada beberapa definisi tentang akhlaq di
antaranya adalah menurut :
1. Imam al-Ghazali:
‫ َة ْال َةه َة ْا ُةُةا ْا َة ْا َة ُةا‬, ‫َة ْا ُةل ُة ُة ِة َة َةا ٌة َة ْا َة ْا َة ٍة ِةى لَّن ْا ِة َةا ِةا َةل ٌة‬
‫ِةاُة ُةه ْا َة ٍة َة ُةا ٍةْاا ِة ْا َة ِةْاا َة َةا ٍة ِةإ َةى ِة ْا ٍةا َة ُةا ْا َة ٍة‬
Artinya: "Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang
menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah,
tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan "( al-Ghazali,
1989 : 58).
2. Ibrahim Anis:
‫ َح ْا ُخ ُخ َح ْال َح ْا َح ْا َح ُخا ِل ْا َح ْا ٍر َح ْا َح ِل ِل ْا‬, ‫ْا ُخل ُخ ُخ َح ٌلا ِل لَّن ْا ِل َح ِلا َحل ٌل‬
‫َح ْا ِل َح َحا ٍر إِل َحى ِل ْا ٍر َح ُخ ْا َح ًة‬
Artinya: "Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang
dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk,
tanpa
membutuhkan
pemikiran
dan
pertimbangan
"
(Anis,1972:202).
3. Abdul Karim Zaidan:
‫ِل َح ْا َح َحع نِلى َح ِل َح ِل‬
‫ا ْا ُخ ْاستَح ِلق َّن ةِل ِلى َّنل ْا ِل َح ِلى َح ْا ِل‬
‫س ِلا َح ْا َح ْاق ُخ ُخ َح ِل ْا َح َّن َح ْاق ُخ ُخ َح َح ْا ِل‬
‫َح َح ْا ُخ‬
‫س ُخ ْا ِل ْاع ُخ ِل نَح َح ِل ِلا ْان َح‬
.‫َح ْال ُخ‬
‫ْا ُخ ْا َح ٌل‬
‫َح ِل ْا َح نِل‬
‫َح ْا ُخ ُخ‬
‫َح‬
‫َح‬
‫َح ْا‬
Artinya: (Akhlaq) adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam da
jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat
menilai perbuatánnya baik atau buruk, untuk kemudian memilih
melakukan atau meninggalkannya " ( Zaidan, 1976 : 75).
Ketiga definisi yang dikutip di atas sepakat menyatakan bahwa
akhlaq atau khuluq itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia,
sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa
memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu, serta tidak
memerlukan dorongan dari luar. Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita
bahwa akhlaq itu haruslah bersifat konstan, spontan, tidak temporer dan
tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan serta dorongan dari luar.
Sekalipun dari beberapa definisi di atas kata akhlaq bersifat netral,
belum menunjuk kepada baik dan buruk, tapi pada umumnya apabila
disebut sendirian, tidak dirangkai dengan sifat tertentu, maka yang
dimaksud adalah akhlaq yang mulia. Misalnya bila seseorang berlaku tidak
sopan kita mengatakan padanya, "kamu tidak berakhlaq". Pada-hal tidak
sopan itu adalah akhlaqnya. Tentu yang kita maksud adalah kamu tidak
memiliki akhlaq yang mulia, dalam hal ini sopan.
Di samping istilah akhlaq, juga dikenal istilah etika dan moral.
Ketiga istilah itu sama-sarna menentukan nilai baik dan buruk sikap dan
perbuatan manusia. Perbedaannya terletak pada standar masing-masing.
Bagi akhlaq standarnya adalah Al-Qur'an dan Sunnah; bagi etika
standarnya pertimbangan akal pikiran; dan bagi moral standarnya adat
kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat (Asmaran, 1992 : 9).
Sekalipun dalam pengertiannya antara ketiga istilah di atas (akhlaq,
etika dan moral) dapat dibedakan. namun dalam pembicaraan sehari-hari,
bahkan dalam beberapa literatur keislaman, penggunaannya sering
tumpang tindih. Misalnya judul buku Ahmad Amin, al-Akhláq,
diterjemahkan oleh Prof. Farid Ma'ruf dengan Etika (Ilmu Akhlaq). Dalam
Kamus Inggris-Indonesia karya John M. Echols dan Hassan Shadily,
moral juga diartikan akhlaq (1988 : 385).
G. Sumber Ahklaq
Yang dimaksud dengan sumber akhlaq adalah yang menjadi
ukuran baik dan buruk atau mulia dan tercela. Sebagaimana ke-seluruhan
ajaran Islam, sumber akhlaq adalah Al-Qur'an dan Sunnah, bukan akal
pikiran atau pandangan masyarakat sebagaimana pada konsep etika dan
moral. Dan bukan pula karena baik atau buruk dengan sendirinya
sebagaimana pandangan Mu'tazilah (Amin,1973 : 47).
Dalam konsep akhlaq, segala sesuatu itu dinilai baik atau buruk,
terpuji atau tercela, semata-mata karena Syara' (Al-Qur'an dan Sunnah)
menilainya demikian. Kenapa sifat sabar, syukur, pemaaf, pemurah dan
jujur misalnya dinilai baik? Tidak lain karena Syara' menilai semua sifatsifat itu baik. Begitu juga sebaliknya, kenapa pemarah, tidak bersyukur,
dendam, kikir dan dusta misalnya dinilai buruk? Tidak lain karena Syara'
menilainya demikian.
Hati nurani atau fitrah dalam bahasa Al-Qur'an memang dapat
menjadi ukuran baik dan buruk karena manusia diciptakan oleh Allah
SWT memiliki fitrah bertauhid, mengakui ke-Esaan-Nya (QS. Ar-Rûm 30:
30). Karena fitrah itulah manusia cinta kepada kesucian dan selalu
cenderung kepada kebenaran. Hati nuraninya selalu men-dambakan dan
merindukan kebenaran, ingin mengikuti ajaran-ajaran Tuhan, karena
kebenaran itu tidak akan didapat kecuali dengan Allah sebagai sumber
kebenaran mutlak ( Asmaran,1992 : 9).
Namun fitrah manusia tidak selalu terjamin dapat berfungsi
dengan baik karena pengaruh dari luar, misalnya pengaruh pendidikan dan
lingkungan. Fitrah hanyalah merupakan potensi dasar yang perlu
dipelihara dan dikembangkan. Betapa banyak manusia yang fitrahnya
tertutup sehingga hati nuraninya tidak dapat lagi melihat kebenaran. Oleh
sebab itu ukuran baik dan buruk tidak dapat diserahkan sepenuhnya hanya
kepada hati nurani atau fitrah manusia semata. Harus dikembalikan kepada
penilaian Syara'. Semua keputusan Syara' tidak akan bertentangan dengan
hati nurani manusia, karena kedua duanya berasal dari sumber yang sama
yaitu Allah SWT.
Demikian juga halnya dengan akal pikiran. la hanyalah salah satu
kekuatan yang dimiliki manusia untuk mencari kebaikan atau keburukaii.
Dan keputusannya bermula dari pengalaman empiris kemudian diolah
menurut kemampuan pengetahuannya. Oleh karena itu keputusan yang
diberikan akal hanya bersifat spekulatif dan subjektif (Asmaran : 35).
H. Ruang Lingkup Ahklaq
Dengan sedikit modifikasi Yunahar Ilyas (2011:6) membagi
pembahasan akhlaq dalam buku “Kuliah Ahklaq” menjadi:
a. Akhlaq terhadap Allah SWT
b. Akhlaq terhadap Rasulullah saw
c.
Akhlaq pribadi
d.
Akhlaq dalam keluarga
e.
Akhlaq bermasyarakat
f.
Akhlaq bernegara
I. Karakteristik Pendidikan Ahklaq
Di samping kedudukan dan keistimewaan akhlaq yang sudah
diuraikan sebelumnya maka akhlaq dalam Islam paling tidak juga
memiliki lima ciri-ciri khas yaitu : (1) Rabbani, (2) manusiawi, (3)
universal, (4) seimbang, dan (5) realistik (Basyir, 1993: 223-226). Berikut
ini uraian ringkas kelima ciri-ciri tersebut :
1. Akhlaq Rabbani
Ajaran akhlaq dalam Islam bersumber dari wahyu Illahi yang
termaktub dalam Al-Qur‟an dan Sunnah. Di dalam Al-qur‟an terdapat
kira-kira 1.500 ayat yang mengandung ajaran akhlaq, baik yang teoritis
maupun yang praktis. Demikian pula hadist-hadist Nabi, amat banyak
jumlahnya yang memberikan pedoman akhlaq. Sifat Rabbani dari
akhla
juga
menyangkut
tujuannya,
yaitu
untuk
memperoleh
kebahagiaan di dunia kini, dan di akhirat nanti.
Ciri rabbani juga menegaskan bahwa akhlaq dalam Islam
bukanlah moral yang kondisional dan situasional, tetapi akhlaq yang
benar-benar memiliki nilai yang mutlak. Akhlaq rabbanilah yang
mampu menghindari kekacauan nilai moralitas dalam hidup manusia.
2. Akhlaq Manusiawi
Ajaran ahklaq dalam Islam sejalan dan memenuhi tuntutan fitrah
manusia. Kerinduan jiwa manusia kepada kebaikan akan terpenuhi
dengan mengikuti ajaran akhlaq dalam Islam. Ajaran akhlaq dalam
Islam diperuntukkan bagi manusia yang merindukan kebahagiaan
dalam arti kakiki, bukan kebahagiaan semu. Akhlaq Islam adalah
akhlaq yang benar-benar memelihara ekstensi manusia sebagai
makhluk terhormat, sesuai dengan fitrahnya.
3. Akhlaq Universal
Ajaran akhlaq dalam Islam sesuai dengan kemanusiaan yang
universal dan mencakup segala aspek hidup manusia, baik yang
dimensinya vertikal maupun horisontal. Sebagai contoh Al – Qur‟an
menyebutkan sepuluh macam keburukan yang wajib dijauhi oleh
setiap orang, yaitu menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang
tua, membunuh anak karena takut miskin, berbuat keji baik secara
terbuka maupun secara tersembunyi, membunuh orang tanpa alasan
yang sah, makan harta anak yatim, mengurangi takaran dan timbangan,
membebani
orang
lain
kewajiban
melampaui
kekuatan-Nya,
persaksian tida adil, dan mengkhianati janji dengan Allah (QS. AlAn‟am 6 “ 151 – 152)
4. Akhlaq Keseimbangan
Ajaran akhlaq dalam Islam berada di tengah antara yang
mengkhayalkan manusia sebagai Malaikat yang menitik beratkan segi
kebaikannya dan yang mengkhayalkan manusia seperti hewan yang
menitik beratkan sifat kebutukannya saja. Manusia menurut pandangan
Islam memiliki dua kekuatan dalam dirinya, kekuatan baik pada hati
nurani dan akalnya dan kekuatan buruk pada hawa nafsunya. Manusia
memiliki naluriah jewani dan juga ruhaniah Malaikat. Manusia
memiliki unsur ruhani dan jasmani yang memerlukan pelayanan
masing – masing secara seimbang. Manusia hidup tidak hanya di dunia
kini, tetapiV dilanjutkan dengan kehidupan diakhirat nanti. Hidup di
dunia merupakan ladang di akhirat. Akhlaq Islam memenuhi tuntutan
kebutuhan manusia, jasmani dan ruhani, secara seimbang, memenuhi
tuntutan hidup bahagia di dunia dan akhirat secara seimbang pula.
Bahkan memenuhi kebutuhan pribadi harus seimbang dengan
memenuhi
kewajiban
terhadap
masyarakat.
Rasulullah
SAW
membenarkan ucapan Salman kepada Abu Darda :
‫ َح َح ْا ِل‬. ‫ َح ِل َح ْا ِل َح َح َح ْا َح َح قًّق‬. ‫ َح ِللَح ْا ِلس َح َح َح ْا َح َح قًّق‬, ‫إِل َّنا ِل َح ِل َح َح َح ْا َح َح ًّق‬
( ‫ه ل ى‬
)‫َح قَّن ُخ‬
‫ُخ ِل ذِلى َح ٍر‬
Artinya:
“ Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak yang wajib kau penuhi;
dirimu mempunyai hak yang wajib kau penuhi; isterimu mempunyai
hak yang wajib kau penuhi; berikanlah orang – orang yang mempunyai
hak akan haknya.” (HR. Bukhari)
5. Akhlaq Realistik
Ajaran akhlaq dalam Islam memperhatikan kenyataan hidup
manusia. Meskipun manusia telah dinyatakan sebagai makhluk yang
memiliki kelebihan dibanding makhluk-makhluk yang lain, tetapi
manusia mempunyai kelemahan-kelemahan, memiliki kecenderungan
manusiawi dan berbagai macam kebutuhan material dan spiritual.
Dengan
kelemahan-kelemahannya
manusia
sangat
mungkin
melakukan kesalahan-kesalahan dan pelanggaran. Oleh sebab itu Islam
memberikan kesempatan kepada manusia yang melakukan kesalahan
untuk memperbaiki diri dengan bertaubat (Basyir:223-226). Bahkan
dalam keadaan terpaksa, Islam membolehkan manusia melakukan
sesuatu yang dalam keadaan biasa tidak dibenarkan. Seperti hadist
dibawah ini:
“Barang siapa terpaksa, bukan karena membangkang dan
sengaja melanggar aturan, tiadalah ia berdosa. Sungguh Allah
Maha Pengampun dan Maha Penyayang (QS. Al-Baqarah 2
:173).
BAB III
GAMBARAN UMUM NOVEL HAPALAN SHOLAT DELISA
A. Unsur Intrinsik
1. Tema : seorang anak yang belajar keras menghapal bacaan shalat
ditengah bencana tsunami.
2. Latar:
a) Latar tempat : Desa kecil bernama Lhok-Nga pesisir
pantai Aceh
b) Latar waktu : Pada saat Delisa menjalankan test
salatnya.
c) Latar suasana : Suasana saat terjadi gempa sangat tragis,
seluruh orang pergi berhamburan mencari tempat yang
aman.
3. Alur: cerita ini menunjukkan alur maju,mundur,maju,karena pada
novel ini digambarkan Delisa mengenang masa-masa saat sebelum
keluarganya menghilang karena bencana tsunami
4. Sudut Pandang: sudut pandang orang ketiga
5. Amanat:
a) Teruslah bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh
SWT.
b) Jangan pernah putus asa dan tetap semangatlah menjalani
hidup ini.
c) Sayangilah keluargamu seperti mereka menyayangimu
B. Unsur Ekstrinsik
1. Riwayat Hidup Pengarang
“Tere Liye” merupakan nama pena dari seorang novelis yang
diambil dari bahasa India dengan arti : untuk-Mu. Penulis ini
tampaknya tidak ingin dikenal pembacanya. Hal itu terlihat dari sedikit
informasi yang dipaparkan dalam buku-buku karyanya.
Semua novel Tere Liye memiliki cerita yang unik dengan
mengutamakan pengetahuan, moral, dan agama. Penyampaian nya
tentang keluarga, moral, Islam, dakwah pun sangat mengena tanpa
membuat pembaca nya merasa digurui.
Dikutip dari jawabannya dari "frequently asked question" pada
novel Hafalan Sholat Delisa edisi revisi, Tere mengungkapkan bahwa
ia tak berniat menulis novel yang mengharukan. Ia hanya berniat
membuat novel yang sederhana, namun sederhana itu dekat sekali
dengan kelutusan dan ketulusan itu kunci utama untuk membuka pintu
hati. Terlihat tekad Tere yang ingin membuat novel yang sederhana
dan menyentuh telah mendarat dengan sukses di setiap hati
pembacanya.
sumber gambar : Facebook Darwis Tere Liye
Setiap penulis memiliki karakternya masing-masing, begitu
pula Tere Liye. Dari buku-buku beliau, beberapa hal yang khas tentang
Tere Liye dan karya-karyanya yaitu:
Pertama. Hampir di setiap buku Tere Liye itu ada bagian
cerita yang menceritakan tentang kesedihan dan keharuan. Saya
hampir selalu berurai air mata setiap membaca buku-bukunya. Noted,
tidak sekedar meneteskan, tapi memang berurai. Menangis dalam
pengertian harfiah. Tere Liye sangat jago mengaduk-aduk emosi
pembaca, sehingga tidak sadar sudah ikut larut dalam emosi di cerita
tersebut. Tentu saja, ini tidak sampai menghilangkan esensi cerita
tersebut.
Kedua. Tere Liye sering menggunakan alur waktu maju
mundur dalam ceritanya. Misalnya di awal diceritakan kisah saat ini.
Di bagian selanjutnya tiba-tiba saja setting cerita tersebut flash back ke
beberapa tahun silam. Hebatnya, pembaca sama sekali tidak terganggu
dengan alur maju mundur ini. Setidaknya beliau menggunakan alur
seperti pada novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu (RTW), dan
Sunset bersama Rosie (SBR).
Ketiga. Tere Liye sering menggunakan kata ”Urusan” di setiap
kalimat ceritanya di buku HSD dan RTW. Ini salah satu hal yang
menarik bagi, dan seperti menjadi ciri khas Tere Liye. Salah satu
kalimat yang menggunakan kata itu pada novel Aku Kau dan Sepucuk
Angpau Merah (AKSAM). Salah satu kalimatnya ”ternyata inilah yang
membuat rumit urusan pekerjaan keduaku, bagai benang kusut”
Keempat. Buku-buku Tere Liye tidak diterbitkan hanya dari
satu penerbit. Seperti BBS diterbitkan oleh Penerbit Republika, Sang
Penandai dan SBR diterbitkan oleh Mahaka Publishing, dan beberapa
lainnya diterbitkan oleh Gramedia, salah satunya AKSAM ini.
Kelima. Buku Bidadari-bidadari Surga yang merupakan novel
pertama yang penulis baca yang menggunakan tokoh utama
perempuan, jadi perkiraan sederhana saya yaitu, penulisnya juga
perempuan. Disini pula hebatnya seorang Tere Liye, bisa sangat jeli
menyelami perasaan, isi hati, dan hal-hal yang tidak terungkap dari
seorang perempuan, padahal beliau adalah seorang laki-laki. Baru di
beberapa buku terakhirnya Tere Liye menggunakan tokoh utama
seorang laki-laki. Seperti di buku RTW, Ayahku (bukan) Pembohong.
1. Riwayat Pendidikan Pengarang:
1) SDN 2 Kikim Timur Sumsel
2) SMPN 2 Kikim Timur Sumsel
3) SMUN 9 Bandar Lampung
4) Fakultas Ekonomi UI
2. Sosial budaya Pengarang:
Lahir dan besar pada 21 Mei1979 di Tandaraja(Palembang) dan
tumbuh besar di pedalaman Sumatera,anak keenam dari tujuh
bersaudara dan dari keluarga petani.
1. Karya-karya Tere Liye
a. Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci angin (Gramedia
Pustaka Umum,2010)
b. Pukat (Republika,2010)
c. Burlian (Republika,2009)
d. Hapalan Shalat Delisa ( Republika,2005)
e. Moga Bunda Sayang Allah ( Republika,2007)
f. Bidadari-Bidadari Surga ( Republika,2008)
g. The Gogons Series: James dan Incridible Incident
(Gramedia Pustaka umum,2006)
h. Sang Panandai (Serambi ,2007)
i.
Rembulan Tenggelam (Grafindo,2006;Republika 2009)
j.
Mimpi-mimpi Si Patah Hati ( AddPrint,2005)
k. CintakuAntara Jakarta dan Kuala Lumpur ( AdPrint,2006)
C. Sinopsis Hapalan Shalat Delisa
Novel yang berlatar belakang tsunami 2004 di Aceh yang pada saat
itu pengarang melihat adanya berita seorang anak aceh yang kakinya
diamputasi karena bencana tersebut. Setelah itu, maka ia bersumpah untuk
membut novel yang bertemakan kejadian tsunami tersebut,yang akhirnya
terwujud dalam novel ini. Novel ini diawali kisah tentang kehidupan
sebuah keluarga
yang
bahagia,
harmonis
serta religius.
Dalam
kesehariannya, keluarga ini diurus oleh umminya karena ayahnya bekerja
diluar negeri dan baru pulang beberapa bulan sekali. Dikeluarga
ini,terdapat tradisi anak yang telah hafal bacaan salat maka akan dibelikan
hadiah kalung. Delisa si puteri bungsu sedang ujian bacaan salat,semua
petualangan,ujian dan kisah-kisah yang mengharukan dimulai.
Tsunami terjadi pada hari itu, merubah hidup Delisa 180 derajat
saudara-saudaranya meninggal, ibunya hilang bersama kalung indah
dengan liontin “D” untuk Delisa. Belum lengkap,kaki si kecil Delisapun
terpaksa diamputasi. Akan tetapi, yang mengherankan adalah bagaimana
Delisa yang baru berusia 6 tahun, tetap ingat dan memikirkan bacaan
salatnya, berusaha menghapalnya.yang nantinya, segera setelah ia hapal
dan melakukan salat pertamanya dengan bacaan salat yang lengkap
menghantarkan ia pada hal yang sangat menakjubkan.
Yang menarik dari novel ini adalah adanya bait-bait puisi yang
disertakan pada setiap akhir bab cerita, kadang saat peristiwa-peristiwa
penting yang seolah-olah menyemangati Delisa serta menggugah hati kita
lebih dalam tentang makna yang terkandung dalam novel tersebut. Novel
ini layak dibaca, karena dapat memperkaya nilai-nilai kehidupan dalam
proses pencarian jati diri merekadan bisa membuka sudut pandang yang
baru tentang kehidupan ini.
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Nilai-nilai Pendidikan Akhlaq dalam Novel HSD
1. Ahklaq Terhadap Allah SWT
a. Taqwa
Yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti
segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Lebih lanjut,
Thabbarah mengatakan bahwa makna asal dari taqwa adalah
pemeliharaan diri. Diri tidak perlu pemeliharaan kecuali terhadap apa
yang dia takuti. Yang paling ditakuti adalah Allah SWT. Taqwa
didefinisikan yakni memelihara diri dari siksaan Allah dengan
mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala laranganNya. Rasa takut itu memerlukan ilmu terhadap yang ditakuti.
Oleh sebab itu yang berilmu akan takut kepadaNya .
Pada hakikatnya taqwa adalah seseorang memelihara dirinya
dari segala sesuatu yang mengundang kemarahan Tuhannya dan
dari segala sesuatu yang mendatangkan mudharat, baik bagi
dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Sementara dalam Surat Ali
Imran ayat 134-135 disebutkan ciri-ciri orang yang bertaqwa,
yaitu: (1) Dermawan ( menafkahkan hartanya baik waktu lapang
maupun sempit ), (2) mampu menahan hawa nafsu.
Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan
juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau
menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon
ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat
mengampuni dosa selain dari pada Allah dan mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang
mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga
orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah
melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri
sendiri baik yang besar atau kecil.
Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa
hakekat taqwa adalah memadukan secara integral aspek iman,
islam, dan ihsan dari diri seorang manusia. Dengan demikian orang
yang bertaqwa adalah orang yang dalam waktu bersamaan menjadi
mukmin, mukmin dan muhsin.
Salah satu tanda orang yang bertaqwa adalah melaksanakan
shalat tepat pada waktunya dan pada novel HSD dapat kita lihat
seperti kutipan berita berikut:
Adzan shubuh dari meunasah terdengar syahdu. Bersahutsahutan satu sama lain. Menggetarkan langit-langit Lhok
Nga yang masih gelap. Tapi jangan salah, gelap-gelap
begini kehidupan sudah dimulai. Remaja tanggung sambil
menguap menahan kantuk mengambil wudhu. Anak lakilaki bergegas berjamaah memakai sarung kopiah. Anak
gadis menjumput lipatan mukena putih dari atas meja.
Bapak-bapak membuka pintu rumah menuju meunasah.
Ibu-ibu membimbing anak kecilnya bangun shalat
berjamaah.
“Ashsholaatu khoirum minan naum!” (Liye, 2011:1)
Dari kutipan diatas sangat terlihat bahwa shalat merupakan
wujud ibadah yang mana diwajibkan untuk semua orang muslim
baik tua ataupun muda bahkan dikala sehat ataupun sakit. Allah
memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah
agar mereka beribadah bukan berati Allah membutuhkan ibadah
mereka, akan tetapi merekalah yang yang membutuhkannya.
Karena ketergantungan mereka kepada Allah. Barang siapa yang
menolak beribadah kepada-Nya, tetapi melenceng dari garis
syariatnya ia adalah bidah sedangkan jika sebaliknya, maka ia akan
dikatakan mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah).
Ibadah adalah perkara tauqifiyyah maka dari itu, ibadah
merupakan sarana yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah
SWT. Begitu pula apa yang dilakukan oleh warga Lhok Nga yang
merupakan salah satu nama desa kecil di tepi pantai Aceh. Aceh
merupakan penduduk yang didominasi menganut agama islam
paling banyak maka tidak salah jika Aceh dijuluki dengan
“Serambi Mekah” maka tak heran jika subuh itu mereka nampak
melaksanakan ibadah shalat.
b.
Cinta dan Ridho
Cinta adalah kesadaran diri, perasaan jiwa dan dorongan
hati yang menyebabkan seseorang terpaut hatinya kepada apa yang
dicintainya dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang. Cinta
dengan pengertian demikian sudah merupakan fitrah yang dimiliki
setiap orang. Islam tidak hanya mengakui keberadaan cinta itu pada
diri manusia, tetapi juga mengaturnya sehingga terwujud dengan
mulia.
Bagi seorang mukmin, cinta pertama dan yang utama sekali
diberikan kepada Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman:
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan
selain
Allah;
mereka
mencintainya
sebagaimana mereka mencintai Allah”. Adapun orang-orang yang
beriman amat sangat cintanya kepada Allah dan jika seandainya
orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka
melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan
Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya.
Konsekuensi cinta kepada Allah SWT adalah mengikuti
semua yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Cinta kepada Allah
SWT itu bersumber dari iman. Semakin tebal iman seseorang
semakin tinggi cintanya kepada Allah. Bahkan bila disebut nama
Allah, hatinya akan bergetar.
“U-m-mi…”
“Ya,ada apa,Sayang ?”
“Delisa…D-e-l-i-s-a cinta Ummi …Delisa c-i-n-t-a Ummi
karena Allah!” Ia pelan sekali mengatakan itu. Kalah oleh
desau angin pagi Lhok Nga yang menyelisik kisi-kisi kamat
tengah. Tetapi suara itu bertenaga tapi menggetarkan hati,
terdengar jelas di telinga kanan Ummi. Kalimat yang bisa
meruntuhkan tembok hati.
Ummi Salamah terpana. Ya Allah ,kalimat itu sungguh
indah.Ya Allah …kalimat itu membuat hatinya leleh
seketika . Delisa cinta Ummi karena Allah tasbih Ummi
terlepas.Matanya berkaca-kaca.Ya Allah,apa yang barusan
dikatakan bungsungnya ? Ya Allah dari mana Delisa dapat
ide untuk mengatakan kalimat seindah itu. Tangan Ummi
sudah gemetar menjulur merengkuh tubuh Delisa (Liye,
2011:6).
Dari kutipan diatas terlihat bahwa Delisa gadis kecil berusia
enam tahun akan tetapi mampu mengeluarkan kata-kata yang
indah. Walaupun sebenarnya kata-kata itu merupakan ajaran ustadz
Rahman guru ngajinya akan tetapi kita dapat mengambil contoh
bahwa berahklaq kepada Allah SWT salah satunya adalah
mencintai sesuatu hal hanya karena Allah semata.
Manusia yang paling bahagia di akhirat adalah yang paling
kuat kecintaannnya kepada Allah SWT semata. Menurutnya, arru‟yah (melihat Allah) merupakan puncak kebahagiaan dan
kesenangan. Bahkan, kenikmatan surga tidak ada artinya.
Mencintai Allah tidak sebatas melakukan ibadah mahdah
saja, akan tetapi meliputi ibadah sosial, termasuk mu‟amalah. Jadi,
cinta kepada Allah bisa diwujudkan dalam bentuk cinta kepada
manusia seperti kepada ibu, bapak ataupun saudara kita yang
lainnya. Jika dengan Umi ia hanya berkata demi hadiah coklat
berbeda ketika ia berkata pada Abi. Hal ini terlihat pada halaman
lain:
“A-b-i,,,” delisa berkata lemah. Tersendat. Ia ingin
menangis lagi. Abi menoleh, menghentikan ayunannya,
menatap wajah bungsunyayang begitu dekat dengan
mukanya.“Abi...A-b-i.. D-e-l-i-s-a c-i-n-t-a abi karena
Allah!” kalimat itu meluncur saja dari mulut Delisa.
Meluncur dari hati Delisa tanpa tertahankan. Tercipta tanpa
mengharapkan sebatang coklat dan cukup menghancurkan
tembok hati (Liye, 2011:195).
Sejalan dengan cinta, seorang Muslim haruslah dapat
bersikap ridha dengan segala aturan dan keputusan Allah SWT.
Artinya dia harus dapat menerima dengan sepenuh hati, tanpa
penolakan sedikitpun, segala sesuatu yang datang dari Allah SWT
dan Rasul-Nya. Dengan keyakinan seperti ini dia juga akan rela
menerima segala qadha dan qadar Allah terhadap dirinya. Dia akan
bersyukur atas segala kenikmatan, dan akan bersabar atas segala
cobaan.
Demikianlah sikap cinta dan ridha terhadap Allah SWT.
Dengan cinta kita mengharapkan ridha-Nya. Berbahagialah orang
yang dapat mencintai Allah dengan sebenar-benarnya cinta. Dalam
hapalan shalat Delisa cinta pada Allah benar-benar ia tunjukkan.
Seperti kutipan dibawah ini:
Bagi Delisa kehidupan mudah kembali. Bagi Delisa semua
ini sudah berlalu. Bagi Delisa semua ini sudah berlalu. Bagi
Delisa hari lalu sudah tutup buku. Ia siap meneruskan
kehidupan. Tak ada yang perlu dicemaskan. Tak ada yang
perlu ditakutkan. Delisa siap menyambung kehidupan;
meski sedikitpun ia belum mengerti apa itu hakikat hidup
dan kehidupan (Liye, 2011:157).
Dari kutipan cerita diatas menjelaskan bahwa Delisa kecil
sudah mulai menerima apa yang telah terjadi. Ia sudah menerima
apa kehendak Allah dan menerima kenyataan bahwa ia harus
kehilangan kedua orang tuanya yaitu Ummi dan Abi, Fatimah,
Aisyah dan Zahra saudaranya. Awalnya ia sangat sedih karena
bencana tersebut merebut semua yang ia miliki akan tetapi setelah
lambatlaun ia sadar bahwa Allah masih sayang padanya karena ia
masih punya Abi yang sangat baik hati. Sikap ridha merupakan hal
sangat penting karena sifat ini menunjukkan bukti seseorang
mengimani rukun iman yang ke-6, yaitu percaya pada takdir Allah
SWT.
Ibu-ibu di sebelah ranjang Delisa mengucap salam. Shalat
malamnya usai. Tahajud-nya sudah selesai. Ia menangis
tersedan. Tak ada yang bisa mengembalikan waktu!. Tidak
ada yang bisa memutar ulang nasib,hidup dan
kehidupan.Ibu-ibu itu setelah sekian lama, tangisnya
mareda, menghela nafas dalam (Liye, 2011:127).
Kutipan diatas menjelaskan bahwa ibu-ibu korban tsunami
juga sudah mulai menerima dengan bencana yang telah terjadi.
Pada awalnya korban yang masih hidup pasti sangat berat karena,
mereka sudah tidak punya apa-apa lagi jangankan harta
keluargapun mereka tidak punya karena sangat kecil kenungkinan
keluarga mereka salamat. Akan tetapi seiring berjalannya waktu
mereka di tenda pengungsian korban-korban yang masih selamat
mulai menata kehidupan mereka lagi. Tak henti-hentinya mereka
menangis atas apa yang terjadi. Akan tetapi jawaban atas semua
masalah yang mereka hadapi hanyalah Allah SWT yakni dzat yang
maha berkehendak.
c. Ikhlas
Secara etimologis ikhlash (Bahasa Arab) berakar dari kata
khalasha
Ikhlas
dengan arti bersih, jernih, murni; tidak bercampur.
yakni
dimaksud
dengan
beramal
semata-mata
mengharapkan ridha Allah SWT. Dalam bahasa populernya ikhlas
adalah berbuat tanpa pamrih, hanya semata-mata mengharapkan
ridha Allah SWT. Hal ini dapat dijelaskan atas tiga unsur yakni:
1) Niat Ikhlas
Dalam Islam faktor niat sangat penting. Apa saja seorang Muslim
haruslah berdasarkan niat mencari ridha Allah SWT, bukan
berdasarkan motivasi lain.
Sepanjang mengaji, Delisa juga tak sabar menunggu
pengajian TPA-nya usai; bahkan tidak memperhatikan
banyak saat Ustadz Rahman sibuk bercerita tentang ikhlas
dan tulus . Iklas dan tulus? Ah, delisa tidak mendengarkan.
Ia sibuk membayangkan hadiah yang akan ia dapat (Liye,
2011:57).
Jika kita akan melakukan sesuatu hendaknya disertai
dengan niat yang ikhlas yakni tidak mengharapkan sesuatu
balasan apapun kecuali hanya ridha Allah SWT, Allah akan
mengganjar kita dengan pahala akan tetapi, Delisa justru hanya
mengharapkan kalung untuk hadiah bacaan shalatnya dan
mengharapkan sebatang coklat dengan membohongi uminya,
tentunya hal semacam ini sangat tidak benar karena ridha Allah
juga merupakan ridha orang tua sehinga bersikaplah dengan baik
terhadap orang tua dan janganlah kita melakukan pekerjaan hanya
demi mengharapkan sesuatu.
2) Beramal dengan Sebaik-baiknya
Niat yang ikhlas harus diikuti dengan amal yang sebaik-baiknya.
Seorang muslim yang mengaku ikhlas melakukan sesuatu harus
membuktikannya dengan melakukan perbuatan itu sebaik
baiknya. Seperti pada kutipan berikut ini:
“Dan penjelasan itu ternyata betul-betul dimasukkan dalam
hati oleh Delisa esok sorenya, saat ia main lagi dengan
teman-temannya di lapangan pasir tersebut, Delisa dengan
“ihklas” menjadi kiper” (Liye, 2011: 175).
Pada awalnya Delisa tidak mau bermain bola karena ia
selalu hanya menjadi kiper. Walupun seorang perempuan nia
memang sangat suka bermain bola. Baginya menjadi kiper
membosankan karena ia tiak bisa menjadi penyerang. Akan tetapi
dengan nasihat abinya Delisa akhirnya menerima menjadi pemain
dengan posisi apapun.
3) Pemanfaatan Hasil dengan Tepat
“Sungguh Delisa tidak mengerti apa maksud penjelasan kak
Ubai. Bukankah Delisa sudah ihklas menghapal bacaan
shalatnya. Tidak ada paksaan sama sekali. Delisa juga
sudah tulus menghapal bacaan shalat itu” (Liye, 2011: 246).
Dalam kutipan diatas menunjukkan bahwa Delisa sudah
mulai belajar mengerti apa makna ihklas itu. Dan buah keihklasan
itu pasti ada. Seperti
menyangkut pemanfaatan hasil yang
diperoleh, misalnya menuntut ilmu. Setelah seorang muslim
berhasil melalui dua tahap keikhlasan, yaitu niat ikhlas karena
Allah SWT dan belajar dengan rajin, tekun, dan disiplin, maka
setelah berhasil mendapatkan ilmu tersebut, maka bagaimana dia
memanfaatkan ilmunya dengan tepat. Hanya dengan keikhlasanlah
semua amal ibadah akan diterima oleh Allah SWT. Rasulullah
SAW bersabda, yang artinya: “Selamatlah para mukhlisin.Yaitu
orang-orang yang bila hadir tidak dikenal, bila tidak hadir tidak
dicari-cari. Mereka pelita hidayah, mereka selalu selamat dari
fitnah kegelapan…” Seorang mukhlis tidak akan pernah sombong
kalau berhasil, tidak putus asa kalau gagal. Tidak lupa diri
menerima pujian dan tidak mundur dengan cacian. Sebab dia hanya
berbuat semata-mata mencari keridhaan Allah SWT. Lawan dari
ikhlas adalah riya. Yaitu melakukan sesuatu bukan karena Allah,
tapi karena ingin dipuji atau karena pamrih lainnya. Seorang yang
riya adalah orang yang ingin memperlihatkan kepada orang lain
kebaikan yang dilakukannya. Sifat riya adalah sifat orang munafik.
Rasulullah SAW menamai riya dengan syirik kecil. Riya
atau syirik kecil akan menghapus amalan seseorang. Dalam sebuah
hadist yang panjang Rasulullah saw menggambarkan bahwa di
akhirat nanti ada beberapa orang yang dicap oleh Allah SWT
sebagai pendusta, ada yang mengaku berperang pada jalan Allah
hingga mati syahid, padahal dia berperang hanya karena ingin
dikenal
sebagai
seorang
pemberani;
ada
yang
mengaku
mendermakan hartanya untuk mencari ridha Allah SWT, padahal
dia hanya ingin disebut dermawan; dan sebagainya. Amalan semua
orang itu ditolak Allah SWT dan mereka dimasukkan neraka dan
menyebabkan seseorang tidak tahan menghadapi tantangan dan
hambatan dalam beramal. Dia akan cepat mundur dan patah
semangat apabila ternyata tidak ada yang memujinya. Dia akan
cepat kehabisan stamina; nafasnya tidak panjang dalam berjuang.
Sebaliknya bila menerima pujian dan sanjungan dia akan cepat
sombong dan lupa diri. Kedua hal tersebut jelas sangat
merugikannya. Berbeda dengan orang ikhlas, tidak terbuai dengan
pujian dan tidak patah semangat dengan kritikan. Staminanya
beramal dan berjuang sangat kuat. Nafasnya panjang. Dan lebih
dari itu, dia senantiasa diridhai oleh Allah.
d. Khauf dan Raja‟
Khauf adalah kegalauan hati membayangkan sesuatu yang
tidak disukai yang akan menimpanya, atau membayangkan
hilangnya sesuatu yang disukainya. Dalam Islam rasa takut harus
bersumber kepada Allah. Karena hanya Allah SWT yang berhak
ditakuti.
“ Aisyah hanya diam.Ummi kan pernah bilang, sayang...
jangan pernah lihat hadiah dari bentuknya,tapi lihat niatnya
...Abi kan juga sering bilang- Kalau kamu lihat hadiah dari
niatnya, insyaAllah hadiahnya terasa lebih indah...Ah iya,
bukankah Ustadz Rahman juga pernah bilang: kita belajar
shalat itu hadiah nggak sebanding dengann kalung...
Hadiahnya sebanding dengan surga...” (Liye ,2011:33).
Pada bait diatas dijelaskan bahwa Aisyah yang takut kalau
kalung Delisa lebih baik dibandingkan kalung miliknya. Selain itu
ia juga memiliki kegaulauan hati jika tidak dipinjami sepeda
adiknya Delisa seperti berikut:
Aisyah mengangkat hidung dan bibirnya. Berpikir. Menyeringai. Tetapi bagaimana kalau Delisa tidak mau
meminjami sepedanya?.”Kak aisyah, tenang saja. Nanti
Delisa kasih kasih pinjam,deh!”Delisa sudah berseru
duluan. Seperti sudah besar gayanya (Liye, 2011:34).
Kedua sifat diatas tentunya merupakan sifat yang tidak
baik. Orang yang sering galau dan takut kehilangan apa yang
dimiliki akan menjadikan hati tidak tentram. Ia akan merasa takut
jika apa yang sudah ia miliki hilang. Bahkan sifat ini dapat
menjadikan seseorang menjadi kufur nikmat. Allah tidak akan
senang jika melihat hambanya takut kehilangan apa yang telah ia
miliki. Dan tidak seharusnya Aisyah sebagai kakak Delisa bersikap
demikian. Karena dia mengenal Allah SWT (ma‟rifatullah). Takut
seperti ini dinamai khauf al‟ Arifin. Semakin sempurna
pengenalannya terhadap Allah semakin bertambah takutnya.
Rasullullah saw adalah hamba Allah yang paling mengenal-Nya,
oleh sebab itu beliaulah orang yang paling takut terhadap Allah
dibandingkan siapapun. Beliau besabda:
‫ِإِإ َ َ ْع َ ُم ُم ْع ِإ اِإ َ َ َ ُّد ُم ْع َ وُم َ ْع َ ًة‬
“Sesungguhnya aku orang yang paling mengenal Allah di antara
kalian, diantara kalian dan aku pulalah yang paling takut di antara
kaliankepada-Nya”(HR.Tirmidzi).
Selain itu dosa-dosa yang dilakukannya, karena takut azab
Allah SWT. Seharusnya Aisyah haruslah berani menyatakan
kebenaran, dan memberantas kemungkaran secara tegas tanpa
harus takut pada makhluk yang menghalanginya. Keberanian
seperti itulah yang dimiliki oleh para Rasul dalam penyampaian
ajaran Allah.
Menyadarkan
manusia
untuk
tidak
meneruskan
kemaksiatan yang telah dilakukannya serta menjauhkannya dari
segala macam bentuk kefasikan dan hal-hal yang diharamkan oleh
Allah. Orang yang yang takut kepada Allah bukanlah orang yang
bercucuran air matanya lalu ia mengusapnya, melainkan orang
yang takut kepada Allah ialah orang yang meninggalkan segala
sesuatu perbuatan yang ia takuti hukumnya.
Raja‟ adalah memautkan hati kepada sesuatu yang disukai
pada masa yang akan datang. Raja‟ harus didahului dengan usaha
yang sungguh-sungguh. Harapan tanpa usaha namanya omong
kosong dan seseorang haruslah memiliki cita-cita mendatang.
Seorang mukmin haruslah bersikap raja‟, berbuat amal
saleh semata-mata untuk mengharap ridha Allah. Bila menyadari
akan kesalahan segeralah bertaubat dan meminta maaf pada-nya,
janganlah berputus asa untuk mencari rahmat serta ridha-Nya,
karena sifat putus asa merupakan sikap-sikap orang kafir:
“ Nah,kalau bukan untuk kalung,kamu nggak sepantasnya
cemburu dengan hadiah adikmu, kan? Ah iya,besok-lusa
kita kan bisa ketempat Koh Acan lagi, masing-masing nanti
belu huruf untuk kalungnya...F untuk Fatimah.Z untuk
Zahra dan A untuk Aisyah-“ (Liye, 2011:34).
Pada kutipan diatas dijelaskan bahwa setelah Aisyah
cemburu karena takut Delisa adiknya dibelikan kalung lebih bagus
darinya ia kemudian marah pada adiknya . akan tetapi, dengan
bujukkan Umminya akhirnya ia sudah tidak marah karena ia juga
berharap mendapat kalung yang sama seperti milik adiknya
setidaknya liontin berbentuk huruf A untuk Aisyah.
Seseorang
hendaknya
boleh
bersikap
raja‟
atau
mengharapkan sesuatu akan tetapi, haruslah disertai dengan usaha
yang sungguh-sungguh. Delisa pun juga demikian ia sangat sulit
menghapal bacaan shalat dan masih sering kebolak-balik yang ada
akhirnya gadis kecil ini berharap dapat segera memakai kalung
hadiah hapalan shalatnya.
Kauf dan raja‟ harus berlangsung sejalan dan seimbang
dalam diri seorang Muslim. Kalau hanya membayangkan azab
Allah seseorang akan berputus asa untuk dapat masuk surga,
sebaliknya bila hanya membayangkan rahmat Allah semua merasa
masuk surga. Rasullulah SAW bersabda “Kalau seorang mukin
mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah maka tidak seorang pun
dapat berharap masuk surga. Dan jika orang kafir mengetahui
rahmat yang ada di sisi Allah tidak seorang pun berputus asa untuk
msuk surga.” (HR. Muslimin).
e. Tawakal
Tawakkal merupakan kesungguhan hati dalam bersandar
kepada Allah Ta‟ala untuk mendapatkan kemaslahatan serta
mencegah bahaya, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat.
Tawakkal juga bearti membebaskan hati dari segala ketergantungan
kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan segala sesuatu
kepada-Nya.
Allah
Ta‟ala
berfirman
yang
artinya,
“Dan
barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan jadikan
baginya jalan keluar dan memberi rizqi dari arah yang tiada ia
sangka-sangka, dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka
Dia itu cukup baginya.” (At-Tholaq :2-3).
Banyak di antara para ulama yang telah menjelaskan makna
Tawakkal, diantaranya adalah Al Allamah Al Munawi. Beliau
mengatakan, “Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta
penyandaran (diri) kepada yang di Tawakkali.” Ibnu „Abbas
radhiyAllahu‟an mengatakan bahwa Tawakkal bermakna percaya
sepenuhnya kepada Allah Ta‟ala.
Bertawakkal kepada Allah merupakan bentuk ibadah yang
sempurna asalkan disertai dengan berserah diri hanya pada Allah
semata dan benar-dinjalannya.
Fakta itu ternyata membuat ibu-ibu tersebut pelan-pelan
bisa mengingat sesuatu. Apalagi kalau bukan kembali
mengingat-Mu, ya Allah. Ibu itu mulai menyadari banyak
hal. Ibu itu mulai ber-istigfhar. Dan itu ternyata berguna
untuk kesadaran Delisa nanti-nantinya (Liye, 2011:121122).
f. Syukur
Suatu sikap atau perilaku memuji, berterima kasih dan
merasa berhutang budi kepada Allah atas karunia-Nya, bahagia
atas karunia tersebut dan mencintai-Nya dengan melaksanakan
ketaatan kepada-Nya. Syukur adalah salah satu sifat yang
merupakan hasil refleksi dari sikap tawakal.
Sedangkan
secara
syar‟i,
pengertian
syukur
adalah
“memberikan pujian kepada yang memberikan segala bentuk
kenikmatan (Allah swt) dengan cara melakukan amar ma‟ruf dan
nahi munkar, dalam pengertian tunduk dan berserah diri hanya
kepada-Nya”
Abi jatuh terduduk. memujiMu. Sujud syukur. Matanya
basah. Abi tadi takut sekali. Semua kenangan itu kembali
saat dia duduk berdiam dilorong sepi ini. Abi gentar sekali .
Sedikitpun tidak bisa membayangkan apa yang akan ia
lakukan jika delisa pergi setelah semua sudah amat
menyakitkan. Sungguh akan semakin menyakitkan jika
bungsunya juga ikut pergi. Abi lirih mengucap syukur.
Ubai tersenyum tipis meraih bahu abi. Membantu berdiri
(Liye, 2011:230).
Firman Allah SWT yang artinya “Hai orang-orang yang
beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami
berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benarbenar hanya kepadaNya kamu menyembah.”(QS.AlBaqarah:172).
Dari kutipan diatas dijelaskan bahwa Abi tetap bersyukur
karena delisa masih hidup. Abi merasa kesepian akibat istri dan
anak-anaknya meninggal. Kadang memang rasa syukur itu akan
muncul ketika manusia sedang diberikan cobaan. Rasa syukur juga
dapat membuat manusia lebih dekat pada Allah.
g. Taubat
Taubat berakar dari kata tâba yang berarti kembali. Orang
yang bertaubat kepada Allah SWT adalah orang yang kembali dari
sesuatu menuju sesuatu; kembali dari sifat-sifat yang tercela
menuju sifat-sifat yang terpuji, kembali dari larangan Allah menuju
perintah-Nya, kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari
segala yang dibenci Allah menuju yang diridhai-Nya, kembali dari
saling yang bertentangan menuju ke yang saling menyenangkan,
kembali kepada Allah setelah meninggalka-Nya dan kembali taat
setelah menentang-Nya. Sebagaimana kutipan pada HSD berikut
ini:
Ya Allah, tubuh itu bercahaya. Berkilau-menakjubkan.
Lihatlah! Lebih indah dari tujuh pelangi dijadikan satu
(Liye, 2011:108). Esok shubuh. Prajurit Smith akan
mendatangi ruangan mushala yang terdapat di kapal induk
itu. Patah-patah dibimbing Sersan Ahmed mengambil air
wudhu. Lantas bergetar menahan tangis mengucap
shahadat. Esok pagi prajurit Smith memutuskan untuk
menjalani hidup baru. Bukan soal pilihan agamanya-karena
itu datang memanggilnya begitu saja, tetapi lebih karena
soal bagaimana ia menyikapi kehilangan selama ini.
Penerimaan yang tulus.(Liye, 2011:114).
Diceritakan bahwa Smith adalah seorang relawan Amerika
yang membantun paska bencana tsunami. Ialah yang menemukan
Delisa disaat hampir TIMSAR menyisir sepanjang pantai Lhok
Nga.Ia sangat heran melihat tubuh Delisa yang bercahaya diantara
semak belukar dan yang tidak bisa
ditermaa nalar adalah
keaadaannya yang masih hidup. Ia menangis melihat sosok Delisa
yang seumuran dengan anaknya yang meninggal akibat kecelakaan
bersama ibunya. Perlahan hidayah itu datang pelan tapi pasti ia
mulai mengenal apa itu Islam.
Malam itu selepas isya‟ di ruang perawatan Delisa. Sersan
Ahmed dan prajurit Salam (nama baru prajurit Smith)
datang membesuk Delisa di rumah sakit. Shopi mengenal
baik Sersan Ahmed. Tidak banyak muslim dikapal induk
itu. Mereka mnengenal satu sama lain. Kemudian mereka
tersenyum, mengangguk pada Prajurit Salam mualaf lainya,
seru Shopi riang dalam hati (Liye, 2011:121).
Jelaslah sudah bahwa sejak kejadian itu prajurit Saleh
menjadi seorang muallaf
dan bentuk taubat yang lain adalah
berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi. Taubat
semacam ini sering disebut dengan taubat Nasuha atau taubat yang
sebenar-benarnya. Seperti kutipan dibawah ini yang menunjukkan
Delisa benar-benar rasa bersalahnya karena telah membohongi
Umminya
ketika
masih
hidup.
Dan
ia
mengungkapkan
penyesalannya ketika ia bermimpi bertemu Umminya.
Lantas sekali lagi merengkuh delisa erat-erat dalam
pelukannya. Sungguh ya Allah, kalimat itu teramat indah.
Kalimat yang ihklas tanpa pengharapan. Maka, ya Allah,
duhai yang Maha Pengampun, terimalah...Gugurkanlah
semuanya...Gugurkan dosa sebatang coklat itu! (Liye,
2011:233).
Orang yang taubat karena takut azab Allah disebut tâib, bila
karena malu disebut munib, dan bila karena mengagungkan Allah
disebut awwâb. Apabila seorang muslim melakukan kesalahan atau
kemaksiatan dia wajib segera taubat kepada Allah SWT. Kesalahan
atau kemaksiatan disini adalah semua perbuatan yang melanggar
ketentuan syari'at islam, baik dalam bentuk meninggalkan
kewajiban atau melanggar larangan, baik yang termasuk shaghâir
(dosa kecil) atau kabâir (dosa besar).
Taubat tersebut adalah suatu keniscayaan bagi manusia,
sebab tidak satu pun anak keturunan Adam AS di dunia ini yang
tidak luput dari berbuat dosa. Semua manusia, pasti pernah
melakukan berdosa. Hanya para nabi dan malaikat saja yang luput
dari dosa dan maksiat (lihat Qs. At-Tahrim 66: 6). Manusia yang
baik bukan orang yang tidak berdosa, melainkan manusia yang jika
berdosa dia melakukan taubat.
Rasullulah Bersabda: “Setiap anak Adam (manusia)
mempunyai salah (dosa), dan sebaik-baik orang yang bersalah
adalah mereka yang bertaubat.” [HR. at-Tirmidzi] Bertaubat
hendaknya jangan ditunda-tunda, jika seorang Muslim sadar bahwa
dia telah berbuat kesalahan atau kemaksiatan dia harus segera
bertaubat kepada Allah SWT. Kenapa harus segera bertaubat?
Karena kematian itu misteri, tidak ada seorang pun yang tau kapan
datangnya hari kematian.
Tidak ada kata terlambat untuk kita bertobat kecuali
sebelum maut menjemput dan matahari terbit dari barat. Sebab
murni dalam hati dengan ridha-Nya pasti dosa tersebut akan
diampuni. Dalam suatu hadis qudsi Allah berfirman:
Bagaimana ia dapat menjalin dua bentuk hubungan itu
dengan baik, sehingga terjadi keharmonisan dalam dirinya. Pada
prinsipnya ada tiga bahasan pokok terkait dengan pembinaan
akhlak mulia dalam berhubungan antar sesama manusia ini.
Bahasan pertama terkait dengan akhlak manusia terhadap diri
sendiri. Akhlak ini bertujuan untuk membekali manusia dalam
bereksistensi diri di hadapan orang lain dan terutama di hadapan
Allah Swt. Bahasan kedua terkait dengan akhlak manusia dalam
kehidupan keluarganya. Akhlak ini bertujuan membekali manusia
dalam hidup di tengah-tengah keluarga dalam posisinya.
Pada dasarnya akhlak terhadap sesama manusia harus dimulai dari:
a. Akhlak terhadap Rasulullah Saw sebab, Rasullah yang
paling berhak dicintai, baru dirinya sendiri. Di antara
bentuk akhlak kepada Rasulullah adalah cinta kepada Rasul
dan memuliakannya, serta mengucapkan shalawat dan
salam kepadanya.
b. Ahklaq Pada Diri Sendiri
Disinilah seseorang dituntut untuk berakhlak mulia di
hadapan Allah dan Rasulullah, di hadapan orang tuanya,
ditengah-tengah masyarakatnya, bahkan untuk dirinya
sendiri.
Selanjutnya yang terpenting adalah untuk membekali kaum
Muslim dengan akhlak mulia terutama terhadap dirinya, di bawah
akan diuraikan beberapa bentuk akhlak mulia terhadap diri sendiri
dalam berbagai aspeknya. Di antara bentuk akhlak mulia ini adalah
memelihara kesucian diri baik lahir maupun batin. Orang yang
dapat memelihara dirinya dengan baik akan selalu berupaya untuk
berpenampilan sebaik-baiknya di hadapan Allah, khususnya, dan di
hadapan
manusia
pada
umumnya
dengan
memperhatikan
bagaimana tingkah lakunya, bagaimana penampilan fisiknya, dan
bagaimana pakaian yang dipakainya.
Pemeliharaan kesucian diri seseorang tidak hanya terbatas
pada hal yang bersifat fisik (lahir) tetapi juga pemeliharaan yang
bersifat nonfisik (batin). Yang pertama harus diperhatikan dalam
hal pemeliharaan nonfisik adalah membekali akal dengan berbagai
ilmu yang mendukungnya untuk dapat melakukan berbagai
aktivitas dalam hidup dan kehidupan sehari- hari. Berbagai upaya
yang mendukung ke arah pembekalan akal harus ditempuh,
misalnya melalui pendidikan yang dimulai dari lingkungan
rumahtangganya kemudian melalui pendidikan formal hingga
mendapatkan pengetahuan yang memadai untuk bekal hidupnya.
Setelah penampilan fisiknya baik dan akalnya sudah
dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan, maka yang berikutnya
harus diperhatikan adalah bagaimana menghiasi jiwanya dengan
berbagai tingkah laku yang mencerminkan akhlak mulia. Di sinilah
seseorang dituntut untuk berakhlak mulia di hadapan Allah dan
Rasulullah,
di
hadapan
orang
tuanya,
ditengah-tengah
masyarakatnya, bahkan untuk dirinya sendiri.
2. Ahklaq Terhadap Diri Sendiri
(a) Shidiq
Shidiq (ash sidqu) artinya benar atau jujur, lawan dari
dusra atau bohong (al-kazib); seorang muslim dituntut selalu
berada dalam keaadaan benar lahir dan batin; benar hati (shidq
al-qalb),benar perkataan (shidq al-amal). Antara hati dan
perkataan harus sama, tidak boleh berbeda, apalagi antara
perkataan dengan perbuatan. Benar hati, apabila hati dihiasi
dengan iman kepada Allah SWT dan bersih dari segala macam
penyakit. Benar perkataan, apabila semua yang diucapkan
adalah kebenaran bukan kebatilan. Dan benar perbuatan ,apabila
semua yang dilakukan sesuai dengan syari‟at Islam.
Rasullulah SAW memerintahkan semua muslim untuk
selalu shidiq, karena sifat shidiq membawa kepada kebaikan dan
kebaikan akan mengantar ke surga. Sebaliknya beliau melarang
umatnya berbohong, karena kebohongan akan membawa kepada
kejahatan dan kejahatan akan berakhir di neraka.
Kita sebagai orang yang beriman harus bersifat jujur dan
orang yang tidak mau berkata jujur maka ia termasuk sebagai
orang pembohong. Seperti apa yang dilakukan delisa
yang
mana telah berbohong pada Ummi dan kakak-kakaknya bahwa
coklat yang ia dapat karena hadiah ia pintar padahal ia mendapat
coklat itu dari perintah ustadznya bahwa bagi siapa yang mampu
bilang “cinta Ummi “ karena Allah hingga nenangis maka ia
akan mendapat coklat sebagai berikut:
Urusan cokelat sebenarnya tidak terlalu membebani
Delisa lagi. Ia sudah mengaku kepada Kak Aisyah,Kak
Zahra,dan Kak Fatimah. Ia memberikan pengakuan
sendirian. Datang kepemakaman massal. Menggurat
nama-nama kakaknya. Meletakkan tiga tangkai bunga
mawar biru. Lantas terbata mengaku soal tersebut. Itu
kebiasaan Delisa Delisa belakangan ini. Setiap minggu
pagi pergi ke pemakaman massal. Minta maaf dengan
sungguh-sungguh. Berjanji tidak akan berbohong lagi
(Liye, 2011:184-185).
Dengan melihat kutipan diatas menggambarkan bahwa
berkata benar atau sesungguhnya sangatlah sulit. Delisa
harusnya mengatakan sebenarnya pada Umminya kalau ia
berkata cinta ummi karena Allh adalah berdasarkan suruhan
ustadznya. Ia sebenarnya akan berkata jujur ketika ummi dan
kakaknya masih hidup. Akan tetrapi semua itu sudah terlambat.
Ia
menyesali
kesalahannya
setelah
semuanya
pergi
meninggalkannya akibat turut menjadi korban pada saat bencana
tsunami.
Seseorang yang biasanya mudah berkata bohong
biasanya akan berlanjut dengan kebohongan lagi ahklaq seperti
ini haruslah dapat dicegah dari kecil. Orang tua hendakknya
mampu menanamkan pada diri anak-anak mereka sejak dini agar
mau berkata jujur dan sesungguhnya Allah SWT akan selalu
melihat kita walaupun orang lain tidak tahu kebohongan kita.
(b) Amanah
Amanah artinya dapat dipercaya, seakar dengan kata
iman. Semakin menipis keimanan seseorang semakin pudar pula
sifat amanah pada dirinya. Antara keduanya terdapat kaitan yang
sangat erat sekali. Rasullulah bersabda:
) ‫ َ َ ِإديْع َ ِإ َ ْع َ َ ْعه َ َ وُم (ر اه مح‬,‫َ ِإْعَ َ ا ِإ َ ْع َ َ َ اَ َ َ وُم‬
Artinya:
“Tidak sempurna iman seseorang yasng tidak amanah,dan
tidak (sempurna) agama orang yang tidak menunaikan
janji.”(HR.Ahmad)
Amanah dalam arti sempit adalah memelihara titipan dan
mengembalikannya kepada pemiliknya dalam bentuk semula.
sedangkan dalam bentulk luas amanah mencakup banyak hal
dan amanah taklif merupakan amanah yang paling besar.
Ya Allah, amanah itu berat sekali. Dia harus menjadi
Abi, Ummi, kakak, sekaligus teman untuk Delisa.
Jangankan untuk urusan yang lebih rumut, soal
memasakkan makanan yang halal dan Thayib-pun dia
tidak bisa. Makanan yang thayib ya Allah! Dan dia tak
kunjung bisa berdamai dengan semua perasaan
kehilangan ini. Tak kunjung bisa melupakan semuanya.
Lemah. Hatinya Lemah sekali. Seiring tertelungkup
mengadu kepadaMu. Mengadu semua penderitaan yang
tak kunjung berubah menjadi angin sejuk (Liye,
2011:192).
Dari kutipan diatas dijelaskan bahwa Abi Usman adalah
ayah Delisa setelah terjadi bencana tsunami ia harus menjadi
orang tua tunggal bagi Delisa. Abi harus merawat Delisa baik
dari mulai memasak,mencuci,bahkan harus menggendong
Delisa karena kaki yang satu Delisa diamputasi akibat terhantam
batu saat terjadi bencana tsunami.
Bagi Abi amanah dari Allah untuk membesarkan Delisa
sendirian tanpa Ummi adalah hal yang sangat sulit. Terlebih
lagi Abi harus kecewa dikala Delisa tidak mau makan
masakannya. Tak henti-hentinya setiap malam
bermunajat
Abi Usman
pada Allah akan tetapi semua ini terasa sulit
baginya. Allah memberikan amanah pada manusia baik itu
berupaharta ataupun anak. Dan manusia kadang diberikan ujian
dan hal ini justru menjadikan seseorang itu bertaqwa.
(c) Istiqomah
Secara etimologis, istiqomah berasal dari kata istaqamayastaqimu ,yang bearti tegak lurus (al- Munjid,1986:663).
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 34:1990)
diartikan sebagai sikap teguh pendirian. Dalam termilogi akhlaq,
istiqamah
dapat
dikatakan
sebagai
sikap
teguh
dalam
memperhankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi
berbagai macam tantangan dan godaan. Seperti ayat dibawah
ini:
‫ِإ‬
) ‫استَ ِإق ْع (ر اه س‬
‫قُم ْعل ا َ ْعن ُم‬
‫ت ِإ ا ُمُثَّ ْع‬
Artinya: ”katakanlah: Saya beriman kepada Allah, kemudian
istiqamahlah!”(HR. Muslim).
“Ummi, Delisa ingin ikut!”
Ummi Tiur beranjak duduk, lembut mengelap air mata
Delisa. Mencium kening Delisa penuh makna. Berbisik
lemah “ Delisa harus tinggal, sayang...” Delisa mau ikut!
Delisa harus menyelesaikan salat itu sayang...Delisa
ingin ikut Delisa tidak mau sendirian (Liye,2011:88).
Dalam kutipan itu juga dijelaskan bahwa Delisa sering
bermimpi bertemu dengan kakak-kakaknya, Tiur temannya dan
ummi Tiur seta Bu guru Nur. Akan tetapi hampir semuanya
mengatakan agar Delisa mau meneruskan hapalan shalatnya,
Delisa seperti harus menuntaskan apa yang selama ini
diamanahkan padanya yaitu menyelesaikan bacaan shalatnya
karena sempat tertunda akibat bencana tsunami. Semunya
seperti meninggalkan Delisa apalagi sejak bencana tersebut
bacaan shalat yang selama ini bisa ia hapal lama kelamaan
terasa asing baginya.
Diceritakan bahwa pada saat pingsan ia bermimpi
bertemu Ummi Tiur, ia ingin ikut saat ummi Tiur perlahan
meninggalkan ia sendirian akan tetapi Ummi Tiur berbisik
bahwa Delisa harus tinggal karena ia harus tetap meneruskan
hapalan shalatnya. Hapalan tersebut merupakan amanah yang
diberikan oleh Ummi dan ibu guru Nur yang bsaat terjadi
tsunami rela melepas kerudungnya untuk mengikat delisa
dipapan dan Ibu guru Nur rela tenggelam karena papan itu tidak
cukup jika harus menampung mereka berdua.
Dan memang dengan melihat hadist diatas menyatakan
bahwa Allah akan menguji umatnya dan bagi yang tetap
beristiqamah maka ia akan semakin kuat. Dan sejak itu delisa
mulai bangkit lagi menghapal bacaan shalat setelah sebelumnya
hapalan itu memudar dari memorinya.
(d) Iffah
Secara etimologi, iffah adalah bentuk masdar dari affaya‟iffu;iffah yang bearti menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak
baik. Dan juga bearti kesucian tubuh (Munawwir, 1984:186).
Secara terminologi, iffah adalah memelihara kehormatan diri
dari segala hal yang akan merendahkan, merusak, dan
menjatuhkannya.
Nilai dan wibawa seseorang tidaklah ditentukan oleh
kekayaan dan jabatannya, dan tidak pula oleh bentuk rupanya,
tatapi ditentukan oleh kehormatan dirinya. Oleh sebab itu, untuk
menjaga kehormatan diri tersebut, setiap orang haruslah
menjauhkan diri dari segala perbuatan dan perkataan yang
dilarang oleh Allah SWT.
Ummi keluar rumah mengenakan kerudung ungu .
bersiap hendak pergi kepasar. Pagi ahad,jadwal belanja
mingguan Ummi seperti biasa.” Ih, Ummi kenapa pakai
warna itu?‟ fatimah yang mau dikata meskipun
bacaannya kelas berattetaplah remaja serba tanggung,
segera berkomentar saat melihat warna kerudung yang
dipakaiUmmi. Keberatan. Yang lain ikut menoleh ke
arah Ummi. “ Ummi bisa pinjam punya Fatimah! Warna
apa saja asal jangan warna ini. Sebentar yang ini.
Sebentar ya, Famimah ambilin...”Fatimah buru-buru
berdiri. Meletakkan bukunya di atas di atas balai bambu
(Liye, 2011:14).
Kutipan diatas menjelaskan bahwa Abi Usman bisa
menjaga dan mendidik anak dan istrinya. Hal ini terlihat bahwa
baik Ummi dan empat anaknya memakai jilbab. Hal ini
sangatlah baik karena mendidik isti dan anak memakai jilbab
merupakan hal sangat dianjurkan oleh syariat islam. Bahkan
sejak kejadian ini jutru pernah menjadi tren jilbab tsunami yang
mana sejak itu di Aceh diwajibkan mengenakan jilbab. Selain
berfungsi menutupi aurat, seseorang yang memakai jilbab
biasanya juga akan berpikir jila akan melakukan perilaku atau
tindakan yang kurang terpuji.
(e) Mujahadah
Menurut Raid abdul Hadi dalam bukunya yang berjudul
“mamarat
al-haq”,
berasal
dari
kata
jahada-yujahidu-
mujahadajihad yang berarti mencurahkan segala kemampuan
(badzlu al-wus‟i) (al-Munjid:106).
Dalam segala kemampuan untuk melepaskan dalam
konteks ahklaq,
mujahadah adalah mencurahkan segala
kemampuan untuk melepaskan diri dari segala hal yang
menghambat
pendekatan diri terhadap Allah SWT, baik
hambatan yang bersifat internal maupun eksternal. Untuk itu
diperlukan perjuangan
yang sungguh-sungguh yang mana
disebut mujahadah SWT.
Dan dari sebagian hambaMu ada yang tetap terjaga
mengingatmu... bersimpuh mengadu kepadaMu. Wahai
yang paling berhak menerima tumpahan air mata.
Meminta petunjuk padaMu ,wahai yang memiliki
pertanda. Meminta penjelasan padaMu,wahai yang
memiliki rahasia langit,bumi dan diantara kedua-duanya
(Liye, 2011:191)
Abi menangis semakin dalam. Tetapi suara tangisan abi
tidak sendirian sekarang. Berdua! Delisa sudah
terbangun. Dia mendengar ada yang menangis diruang
depan. Menyingkap kain selimutnya,lantas dengan mata
setengah tetutup. Pipi mengukir kepulauan, mulut
menguap,melangkah malas –terhuyung menuju ruang
depan. Delisa melihat abinya menangis. Abinya
tertunduk di atas sajadah. Delisa tidak mengerti apa yang
terjadi pada Abinya (Liye, 2011:192).
Tahajud Abi malam itu membuat Delisa mengerti satu
hal. Delisa memutuskan untuk memakan habis apa saja
yang Abi masak. Meski dengan muka menyeringai
(Liye,2011:197).
Dari kutipan diatas menggambarkan bahwa Abi sering
melakukan tahajud. Abi tiap malam selalu mengingat Ummi dan
anak-anaknya yang tidak selamat. Abi selalu memanjatkan doa
kepada sang khaliq agar diberi kekuatan dan ketabahan. Abi merasa
berat karena harus membesarkan Delisa. Hanya dengan bermunajat
pada Allahlah Abi bisa mendekatkan diri dan merasa semua masalah
yang sedang dihadapi akan tersa ringan.
Semua orang yang bertaqwa pada Allah SWT hendaknya
dapat melaksanakan mujahadah. Ketika kita berda sendirian di
tengah keheningan malam maka seluruh pikiran dan hati kita dapat
kita curahkan hanya pada sang khaliq. Banyak manusia yang hanya
berkeluh kesah tanpa ingat adanya allah yang tidak pernah tidur
dan tidak pernah bosan mendengarkan munajat kita. Akan tetapi
justru manusialah yang sering alpa dan menyepelekan manfaat
adanya shalat-shalat sunah seperti shalat dhuha misalnya kita dapat
meminta ditambahkan rizki bukan justru menyalahkan Allah atas
apa yang terjadi.
(f) Syaja’ah
Syaja‟ah artinya berani, bukan berani dalam arti siap
menantang siapa saja tanpa mempedulikan apakah dia berada di
pihak yang benar atau yang salah, akan tetapi
berlandaskan
kebenaran
yang
dilakukan
berani yang
dengan
penuh
pertimbangan. Keberanian tidaklah ditentukan oleh kekuatan fisik
akan tetapi kekuatan hati dan pikiran.
Delisa sudah lelah menangis. Air matanya sudah habis
sepanjang hari. Tujuh hari tujuh malam ia terkapar. Ia tidak
takut lagi menatap sepinya kota. Tidak takut lagi menatap
gelapnya malam. Bahkan Delisa tidak peduli dengan hujan
deras yang turun tiap malam. Mengeriputkan badan
kecilnya (Liye, 2011:101).
Dari kutipan diatas dijelaskan bahwa Delisa yang pingsan
selama tujuh hari tujuh malam sendirian dan melihat temanya Tiur
sudah menjadi mayat. Dan Delisa yang seharusnya belum mengerti
dan belum pernah barada dalam kondisi yang benar-benar
menakutkan. Betapa tidak selain harus melihat mayat temannya
disisinya Delisa juga harus menahan luka akibat hantaman batu
yang mengenai kakinya. Ia juga berpikir apakah akan ada yang
menolongnya padahal kegelapan malam dan dinginnya angin
sudah hampir tujuh hari ia rasakan. Dibutuhkan keberanian yang
kuat agar ia mampu bertahan hidup dan sifat ini sudah mulai
muncul dalam dirinya.
(g) Tawadhu’
Tawadhu‟ artinya rendah hati yakni tidak memandang
dirinya lebih dari orang lain, sementara orang yang sombong
menghargai sirinya secara berlebihan. Sikap tawadhu‟ terhadap
sesama manusia adalah sifat mulia yang lahir dari kesadaran akan
kekuasaan Allah SWT atas segala hambaNya. Orang yang
tawadhu; menyadari bahwa apa saja yang ia miliki semunya adalah
karunia Allah.
Mereka berdua mengigit potongan coklat tersebut hampir
bersamaan. Delisa nyengir. Cokelat hadiah Kak Shopi
selalu lebih enak dibandingkan cokelat hadiah Ustadz
Rahman. Apalagi dibandingkan cokelat hadiah kakak-kakak
di pos barak penampungan, jauuh. Tetapi di kapal perang
itu, semuanya memang jauh lebih enak. Delisa tanpa meras
bersalah tega membandingkan hadiah-hadiah itu. Lupa kalu
dulu Umminya berkata: jangan pernah lihat hadiah dari
bentuknya . Lihat dari niatny. Insya Allah hadiahnya terasa
lebih indah...(Liye, 2011:216).
Dari kutipan diatas dijelaskan bahwa Delisa mendapat
banyak cokelat pemberian dari suster Shopi. Akan retapi justru ia
membanding-bandingkan apa yang telah ia miliki dengan hadiah
yang sudah diberikan ustadz, kakak-kakak di pos barak. Ia lupa
bahwa nikmat yang dimilikinya harusnya menjadikan hikmah
bahwa kita harus selalu tawadhu‟ dan berusaha menerima rejeki
baik itu cokelat enak atau tidak ia harus tetap bersyukur. Bahkan ia
berada
di tengah-tengah orang
yang
memperhatikan dan
menyayanginya.
(h) Malu
Malu
(al-haya‟)
adalah sifat atau perasaan yang
menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang rendah atau
tidak baik. Orang yang memiliki rasa malu,apabila melakukan hal
yang tidak patut rendah atau tidak baik dia akan terlihat gugup atau
mukanya merah. Sebaliknya orang yang tidak punya rasa malu,
akan melakukannya dengan tenang tanpa ada rasa gugup
sedikitpun
)‫ِإ َّا ِإ ُم ِإل ِإديْع ٍ ُم ُم ًةق َ ُم ُم ُمق اْع ِإإل ْعسالَ ِإم اْعحلَ َ ءُم (ر اه ك‬
Rasullullah bersabda: “Sesungguhnya semua agama itu
mempunyai akhlaq dan ahklaq Islam itu adalah sifat
malu.”(HR.Malik).
Aisyah ingat cemburunya. Ia amat malu sepanjang Pak
Guru Jamal menjelaskan. Ya allah, Aisyah malu sekali.
Lihatlah, ia justru mengganggu adiknya saat Delisa sedang
berjuang menghapal bacaan shalat.aisyah hampir menangis
mendengar penjelaqsan Pak Guru jamal. Tertunduk di atas
meja. Menutup wajahnya dengan tas. Ia memang sering
jahil pada Delisa,tetapi hatinya bagai mutiara. Siang itu
sambil menunggu latihan tari Saman, Ia membuat kertas
petunjuk “jembatan Keledai” itu (Liye, 2011:50).
Dari kutipan diatas dijelaskan bahwa salah satu tanda orang
berahklaq adalah memiliki sifat malu. Sifat ini muncul akibat dari
perasaan yang muncul akibat sebagai kakak justru ia sering
menggangu adiknya. Padahal sebagai kakak, harusnya ia mampu
tauladan yang baik.
Dan hai ini juga terdapat dalam petikan
dibawah ini:
Ummi entah membicarakan apa. Seperti banyak. Mereka
menyimak suara Ummidengan baik, mesti kdang tak ingat
dan mengerti. Kadang wajah Ummi terlihat, memerah ,
bersemu. Delisa memandang kakaknya Fatimah. Selalu
begini. Memangnya Abi bilang apa sih sama Ummi terlihat
mal-malu begitu. Kak Fatimah mengangkat bahu, nyengir,
Dengarkan saja (Liye,2011:29).
Selain sifat malu muncul karena perasaan bersalah hal ini
juga dapat muncul karena gugup dan perasaan ini biasanya muncul
jika orang yang salah tingkah bertemu dengan lawan jenis akan
tetapi perasaan Ummi terhadap Abi adalah wajar karena kangendan
jarangb bertemu dan hanya bisa berkomunikasi melalui telepon dan
hal ini halal karena mereka adalah sepasang suami istri yang sah.
(i) Sabar
Secara etimologis, sabar (ash-shabr) bearti menahan dan
mengekang. Sabar juga wujud dari akhlak mulia terhadap diri
sendiri. Sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak
disukai karena mengharap ridho dari Allah Swt (al-Qardlawi,
1989: 8). Sabar adalah suatu kondisi mental dalam mengendalikan
nafsu yang tumbuhnya atas dorongan ajaran agama. Dengan kata
lain, sabar ialah tetap tegaknya dorongan agama berhadapan
dengan dorongan hawa nafsu.
Macam atau tingkatan sabar sabar dibagi menjadi enam
macam tingkatan, yaitu: sabar dalam menerima cobaan hidup,
sabar dari keinginan hawa nafsu, sabar dalam taat kepada Allah
SWT, sabar dalam berdakwah, sabar dalam perang, sabar dalam
pergaulan. Sabar dalam menerima cobaan merupakan tingkatan
sabar yang tertinggi. Bentuk lain dari akhlak mulia terhadap diri
sendiri dapat kita lihat seperti berikut ini:
Delisa mengenali satu-dua- ibu-ibu yang sedagng memasak
di dapur umum. Tetangga mereka dulu. Dan ibu-ibu yang
juga mengenalinya itu satu persatu memeluknya saat Delisa
mendekat. Beberapa malah menangis.
“Sabar...anakku! Allah akan membalas semua kesabaran
dengan pahala yang besar!”(Liye, 2011:156).
Dari kutipan diatas menjelaskan bahwa Delisa yang saat itu
dibawa ke barak penampungan korban bencana tsunami dan
bertemu ibu-ibu tetangganya dulu dan memeluknya secara
bergantian serta memberi nasihat agar Delisa bersabar atas semua
yang terjadi apalagi mereka melihat salh satu kakinya di amputasi.
Dan dalam kutipan menunjukkan salah satu bentuk kesabaran
ketika mendapat musibah. Ya Delisa memang tidak merasa
bersedih dengan hilang kakinya karena ia masih bisa menggunakan
tongkat. Padahal kaki baginya adalah salah satu kenangan ia saat
ikut bersepak bola tiap sore bersama Umam dan teman-teman
lainnya. Dan manusia memang tidak luput dari musibah dan orang
yang sabar tentunya harus dimiliki karena kesabaran jenis ini juga
merupakan tingkatan sabar yang palingn rendah. Kesabaran
menunjukkan bahwa manusia mampu menahan hawa napsu dan
yang terpenting adalah tidak menyalahkan Allah Swt atas apa yang
sedang menimpa.
Namun kadang kala manusia tidak kuat menghadapi
masalah tersebut seperti apa yang dialami Delisa bukan masalah
kakinya yang diamputasi akan tetapi ia merasa sangat sedih
kehilangan kakak-kakaknya serta Ummi yang sangat ia sayangi
dan hal ini terlihat dalam kutipan dibawah ini:
Bukankah Delisa sudah sabar, ya Allah. Sabar untuk tidak
bertanya kepada Abi. Bukankah Delisa sudah sabar, ya
Allah. Sabar untuk melewati semua ini seperti hari-hari
sebelumnya. Delisa sudah mencoba melakukan semua
seperti yang dulu sering dikatakan Ustadz Rahman.: Anak
yang baik, adalah anak yang bisa membantu Abi dan
Umminya dikala susah. Ingatlah, anak yang baik doanya
selalu terkabul (Liye, 2011:222).
(j) Pemaaf
Pemaaf
adalah sikap suka memberi maaf terhadap
kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan
untuk membalas. Alam bahasa Arab sifat pemarah tersebut disebut
dengan al-afwu yang secara etimologis bearti kelebihan atau yang
berlebih. Yang berlebih seharusnya diberikan agar keluar. Dari
pengertian mengeluarkan yang berlebih itu , kata al-af”wu
kemudian berkembang maknanya menjadi dihapus. Dalam konteks
bahasa ini memaafkan bearti menghapus luka atau bekas-bekas
luka yang ada di dalam hati.
Mengaku ke kakak-kakaknya soal kenakalan Umam selama
itu, yang membuat mereka berenam akhirnya dimarahi
semalama. Mengaku ke kakak-kakaknya soal kenakalan
Umam selama ini. Dia merobek buku Kak Tiro. Sengaja
memecahkan tugas keramik Kak Umar. Mengembosi ban
motor Kak Pasat. Ya, dia bisa mengaku banyak hal disini.
Dan
kakak-kakaknya
pasti
akan
mendengar.
Memaafkannya (Liye, 2011:218).
Dari kutipan tersebut dijelaskan bahwa Umam teman Delisa
akhirnya mau menuruti anjuran Delisa agar Umam bisa meminta
maaf pada keenam kakaknya. Ia selama ini murung dan pendiam
karena merasa bersalah selalu nakal pada mereka semasa hidup.
Umam disuruh meminta maaf pada kakak-kakaknya walaupun
mereka sudah tiada. Umam menceritakan apa saja kesalahannya
didekat gundukan tanah milik kakak-kakaknya dikubur. Dan
akhirnya ia bisa lega setelah menceritakan semua.
Salah satu ahklaq yang baik adalah mau mengakui
kesalahan yang telah diperbuat. Dan saat ini banyak sekali orang
yang jelas bersalah akan tetapi tidak mau mengakui kesalahannya
bahkan ia justru kadang menimpakan kesalahan dirinya kepada
orang lain. Hal ini tentunya perlu sangat tidak baik karena seorang
yang berjiwa besar haruslah mau mengakui kesalahan. Dan
menjadi seorang yang pemaaf tentunya menjadi lebih sulit
manakala kita disakiti dan didholimi. Akan tetapi Allah Swt akan
meninggikan derajat seseorang yang berjiwa besar dan mau
mengakui segala kesalahannya.
Sikap dan perilaku mulia seperti ini harus diupayakan
secara bertahap dan berkesinambungan, sehingga terwujud pribadi
yang berkarakter yang dapat menampilkan dirinya dengan
kepribadian yang utuh dan mulia di tengah-tengah masyarakat.
3. Ahklaq Terhadap Keluarga
1. Hak, Kewajiban dan Kasih Sayang Suami Isteri
Salah satu tujuan perkawinan dalam Islam adalah untuk
mencari ketentraman atau sakinah. Selain itu yang berperan
membuat keluarga menjadi sakinah ada dua factor, pertama
mawaddah, kedua rahmah. Dalam bahasa Indonesia padanan
kedua kata itu adalah kasih factor sebagaimana terlihat dalam
terjemahan ayat di atas. Tapi kalau ada yang bertanya apa beda
antara kasih mungkin tidak semua kita bisa dengan tepat dan
cepat bisa menjelaskannya. Menurut hemat penulis-merujuk
beberapa sumber-mawaddah, lahir dari sesuatu yang bersifat
jasmani (kecantikan, kegagahan), sedangkan rahmah lahir dari
sesuatu yang bersifat rohani (berhubungan batin).
Dalam interaksi yang terjadi antara suami isteri, kedua
factor itu berperan. Pada pasangan muda, yang laki-laki masih
gagah dan yang wanita masih cantik, factor mawaddahlah yang
dominan, sedangkan pada pasangan tua, tatkala yang laki-laki
sudah tidak lagi gagah dan wanita tidak lagi cantik, yang lebih
dominan adalah faktor rahmah. Kita tidak boleh mengabaikan
salah satu dari dua faktor tersebut. Idealnya memang kedua
faktor tersebut harus berjalan bersama-sama, tetapi kondisi itu
tidak bisa dipertahankan terus, karena kondisi fisik tidak bisa
dipertahankan terus menerus seperti waktu muda, dia akan
tunduk kepada sunnatullah, yang muda akan tua, yang kencang
akan keriput, yang hitam jadi putih dan seterusnya. Berbeda
dengan hubungan batin, sikap saling menghormati dan saling
menghargai
tentu
bisa
dipertahankan
terus
sepanjang
kehidupan.
Dalam konteks ini, penulis punya dugaan kuat bahwa
yang dianggap oleh kawula muda sekarang ini dengan cinta
tidak lebih dari mawaddah, sebab rasa cinta yang muncul lebih
banyak disebabkan oleh faktor fisik, bukan faktor rohani.
“Seorang wanita dinikahi berdasarkan empat
pertimbangan karena harta, keturunan, kecantikan dan
agamanya. Peganglah yang memiliki agama niscaya
kedua tanganmu tidak akan terlepas” (HR. Bukhari,
Muslim dan Abu Daud).
Dan hak dan kewajiban suami kepada istri begitu juga
sebaliknya dapat kita lihat pada kutipan berikut ini:
Abi rindu Ummi. Abi rindu mendengar suara
menenangkan Ummi kalau dia sedang menghadapi
masalah. Rindu menatap wajah bening Ummi. Abi
benar-benar rindu. Tangisan itu tak kuasa ditahan,mulai
mengeras.Semuanya kenangan indah bersama Ummi
kembali bagai desing
peluru. Hari-hari pertama
pertemuan mereka dulu. Janji-janji pernikahan.
Rencana merajut masa depan. Bahkan Abi teringat
kalimat-demi-kalimat nasihat pengantin barunya dulu.
Ingat wajah Ummi yang tersenyum bahagia saat ia akan
membaca akad. Wajah teduh istrinya pelan menggurat
diatas
sajadahnya.
Tersenyum.
Abi
tergugu
(Liye,2011:193).
Hening lagi. Keheningan ini mengembalikan semua
kenangan itu. Teringat, bukankah dulu saat-saat seperti
ini ia sering tahajud bersama Ummi. Berdoa berdua
bersama Ummi. Dulu ia punya teman seiring sejalan-
seperjalanan membesarkan anak-anak. Mempunyai
teman untuk berbagi keluh kesah. Sungguh! Dialah
yang lebih banyak bersandar di bahu istrinya,
dibandingkan sebaliknya (Liye.2011:192).
Dari kutipan diatas dijelaskan bahwa pernikahan antara
Abi dan Ummi yang mampu menunjukkan pernikahan yang
benar-benar sesuai syariat agama islam. Selain itu betapa
Ummi menunjukkan sebagai seorang istri yang sholeha.
Diceritakan
juga
bahwa
Ummi
selalu
menjalankan
kewajibannya sebagai isteri dengan baik seperti mengurus
rumah tangga juga ikut memenuhi kebutuhan keluarga yaitu
dengan menjahit. Sedangkan Abi bekerja di kapal tangker milik
negara asing. Walaupun demikian Abi sebulan sekali pulang
menjenguk Ummi dan anak-anak. Dan betapa terpukullah Abi
setelah ditinggalkan istri yang ia sayangi untuk selamanya.
Dia kehilangan istri yang salehah dan anak-anak
tercinta. Dia kehilangan lebih dari separuh
kehidupannya. Kehidupan yang ia pupuk begitu lama.
Kehidupan yang menjanjikan banyak kebahagiaan.
Tetapi musnah sekejab begitu saja (Liye, 2011:194).
Kutipan diatas menunjukkan bahwa Ummi memang
istri yang soleha. Maka tidak heran jika Abi Usman sangat
menyayangi istrinya. Rasullulah juga memberikan tauladan
bahwa jika memilih seorang pendamping hidup yang paling
penting adalah agamanya.Rasulullah saw menyebutkan tiga
kriteria yang mengikuti kecenderungan atau naluri setiap orang
yaitu tentang kekayaan, kecantikan dan keturunan, kemudian
diakhiri dengan satu kriteria pokok yang tidak boleh ditawartawar yaitu agama.
Buya Hamka mengumpamakan kekayaan, keturunan
dan kecantikan masing-masing dengan angka nol, sedangkan
agama dengan angka satu. Angka nol berapapun banyaknya
tidak akan bernilai tanpa ada angka satu. Sebaliknya, sekalipun
tidak ada angka nol, angka satu sudah memberikan nilai.
Misalnya dapat wanita shalihah dan kaya nilainya 10. Shalihah,
kaya dan keturunan baik-baik nlainya 100. Shalihah, kaya,
keturunan baik-baik dan cantik nilainya 1000. Bila ada angka
satu, angka-angka nol dibelakangnya jadi berharga. Tapi tanpa
angka satu, semua angka nol- berapa buah pun berderet-deret
tidak ada nilainya. Buya Hamka menanamkan teorinya ini
dengan teori seribu.
2. Hak-hak Bersama Suami Isteri
Dalam hubungan suami isteri di samping hak masingmasing ada juga hak bersama yaitu (1) hak tamattu‟ badani
(menikmati hubungan sebadan dan segala kesenangan badani
lainnya), (2) hak saling mewarisi (3) hak nasab anak dan (4)
hak muasyarah bi al ma‟ruf (saling menyenang dan
membahagiakan). Seperti contoh kutipan dibawah ini:
“Assalammu‟alaikum...”
Meski barusan habis menatap tajam Aisyah, suara
Ummi terdengar sumringah sekali ketika mengangkat
telepon itu. Seperti biasa kalau berbicara lewat telepon
dengan Abi, Ummi hanya tersipu, lantas menjawab
lembut”tapi Abikan di sana bisa merasakan kalau
Ummi sedang tersenyum, sayang...Ah Delisa nanti
kalau kamu sudah besar kamu bakal tahu. Istri yang
baik selalu bersikap sungguh-sungguh melayani
suaminya... Liye,2011:29).
3. Birul Walidain
Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa Allah SWT
menempatkan perintah untuk birrul walidain langsung sesudah
perintah untuk beribadah kepada-nya, maka sebaliknya Allah
SWT pun menempatkan uququl walidain sebagai dosa besar
yang menempati ranking mendurhakai kedua orang tua. Istilah
inipun berasal langsung dari Rasulullah saw sebagaimana
disebutkan dalam salah satu hadits. Dosa-dosa besar adalah:
mempersekutukan Allah, durhaka kepad kedua orang tua,
membunuh orang dan sumpah palsu” (HR. Bukhari).
Durhaka kepada kedua orang tua adalah dosa besar
yang sangat dibenci oleh Allah swt, sehingga azabnya
disegerakan Allah di dunia ini. Semua dosa-dosa diundurkan
oleh Allah (azabnya) sampai waktu yang dikehendaki-Nya
kecuali durhaka kepada kedua orang tua, maka sesungguhnya
Allah menyegerakan (azabnya) untuk pelakunya di waktu
hidup di dunia ini sebelum dia meninggal.
Ummi sedang mengaji; mengajari Cut Aisyah dan Cut
Zahra. Sedangkan Fatimah membaca Al-Quran sendiri.
Tidak lagi diajari Ummi. Ah, kak Fatimah bahkan
setahun terakhir sudah khatam dua kali. Ini jadwal rutin
mereka setiap habis shubuh. Belajar ngaji dengan
Ummi, meskipun juga belajar ngaji TPA dengan Ustadz
Rahman di Meunasah (Liye, 2011:5).
Dari kutipan diatas menunjukkan sikap menghormati
anak pada orang tua. Dimana ke empat anaknya mau mengaji
dengan baik. Selain Aisyah, Fatimah, Zahra dan Delisa
senantiasa mengikuti nasihat dari Umminya
agar selalu
melaksanakan salat dan mengaji. Mereka merupakan anak-anak
yang benar-benar menghormati orang tua, menyayangi orang
tua serta sopan santun. Tidak seperti anak-anak zaman
sekarang yang sering berani membantah orang tua. Rasullulah
bahkan bersabda bahwa surga berada dibawah telapak kaki ibu.
Untuk itu hormati dan sayangilah mereka.
Dalam hadis lain Rasulullah SAW menjelaskan bahwa
Allah SWT tidak akan meridhai seseorang sebelum dia
mendapatkan keridhaan dari kedua orang tuanya: Keridhaan
rabb (Allah) , dan kemarahan rabb (Allah) ada pada kemarahan
orang tua (HR. Tirmidzi).
4. Akhlak kepada Lingkungan
Lingkungan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang
berada di sekitar manusia, yakni binatang, tumbuhan, dan benda mati.
Akhlaq yang dikembangkan adalah cerminan dari tugas kekhalifahan
di bumi, yakni untuk menjaga agar setiap proses pertumbuhan alam
terus berjalan sesuai dengan fungsi ciptaan-Nya. Dalam al-Quran
Surat al-An‟am (6): 38 dijelaskan bahwa binatang melata dan burungburung adalah seperti manusia yang menurut Qurtubi tidak boleh
dianiaya (Shihab, 1998: 270). Baik di masa perang apalagi ketika
damai akhlak Islam menganjurkan tidak ada pengrusakan binatang
dan tumbuhan kecuali terpaksa, tetapi sesuai dengan sunnatullah dari
tujuan dan fungsi penciptaan.
Gempa berkekuatan 8,9 skala richter menghantam
bagian `utara pulau Sumatera, Indonesia, Banda Aceh,
Sumatera Utara dan sekitarnya. Konfirmasi terakhir
mengatakan sekitar 3.000 orang meninggal. Tidak ada
yang tahu apakah catatan korban akan meninggal. Tidak
ada yang tahu apakah catatan korban akan bertambah
atau tidak. Yang pasti, gempa tersebut merupakan salah
satu gempa terbesar yang terjadi di daerah tersebut
(Liye, 2011:75).
Makan siang sungguh semuanya hancur. Sungguh
semuanya musnah. Ya Allah, kali belum pernah melihat
kehancuran seperti ini. Kota itu tak bersisa, kota ini
luluh lantak hanya meninggalkan berbilang kubah
masjid, kota ini menjadi cokelat, kota ini tak
berpenghuni lagi. Kota ini! Kota itu! Kota-kota kami.
Seolah terhapus dari peta-peta (Liye, 2011:81).
Itu janjiMu yang tertoreh diatas kitab suci. Sungguh tak
ada keraguan di sana! Bagaimanakah orang-orang tak
mempercayainya? Itu kata-kataMu. Janji dari mahapemegang janji! (Liye, 2011: 124).
Dari kutipan diatas dijelaskan betapa dahsyatnya bencana
tsunami di Aceh. Aceh yang awalnya dikenal sebagai provinsi yang
islamnya kental tentu sangat disayangi oleh Allah Swt. Akan tetapi hal
ini sebaliknya. Manusia tidak akan tahu kapan adanya bencana dan
musibah apalagi kejadian itu dikala masyarakat sedang melakukan
aktifitas seperti biasanya. Dapat kita ketahui jumlah korban yang
meninggal dan aceh benarbenar liluh lantah. Bahkan gajah-gajah
dikerahkan untuk membantu evakuasi serta membersihkan tumbangan
pohon dan gundukan sampah. Kadang kita alpa dan menyalahkan atas
bencana yang menimpa. Padahal manusialah yang tidak bertanggung
jawab terhadap alam yang sudah diciptakan Allah.
Membuang
sampah
serta
menebangi
pohon
yang
mengakibatkan banjir, longsor dan berbagai macam penyakit. Seperti
penggunaan
plastik.
Bisa
dibayangkan
berapa
juta
manusia
menggunakannya dan berapa puluh tahun berikutnya pastinya sampah
akan menggunung. Padahal Allah menyuruh agar kita merawat dan
menjaga alam lingkungan kita. Maka dari itu sudah sepantasnya kita
mengambil hikmah dari kejadian yang sudah terjadi.
B. Karakteristik Tokoh dalam Novel HSD
Karakteristik manusia dan kehidupan telah banyak menjadi
objek pembahasan. Al- Quran menerangkan bahwa manusia adalah
mahkluk paradoksal. Telah mengilhamkan kepada manusia itu sifat
fuzur dan taqwa. Sifat yang melekat pada manusia ada dua macam
yaitu sifat baik dan sifat buruk.
1. AISYAH
a. Nakal
Delisa mengeliat. Geli. Cut Aisyah nakal menusuk hidungnya
dengan bulu ayam penunjuk batas tadarus. „Bangun! Bangun
pemalas ! “Aisyah bertambah jahil demi melihat wajah polos Delisa.
Menarik –narik baju tidur Delisa yang kebesaran. Yang ditarik
malah memukul lemah tangan Aisyah. Kembali bergelung
melanjutkan tidur; tidak peduli ( Liye, 2011: 1).
Nakal merupakan perilaku yang tidak baik. Apalagi jika ketika
seorang anak dibiarkan memiliki sifat demikian maka, ia akan menjadi
anak yang tidak patuh ketika dinasehati. Kenakalan pada anak memang
terjadi wajar akan tetapi orang tua haruslah mampu menegur. Tokoh
Aisyah diatas misalnya ia tidak sepantasnya berbuat nakal apalagi kepada
saudaranya.
b. Menyebalkan
“ Suara kamu tuh juga nyebelin sepuluh speaker meunasah,
tahu!” Fatimah melotot membesar sambil melangkah mendekat,
duduk di atas ranjang Delisa- mengambil alih urusan ( Liye,
2011: 4).
Selain nakal Aisyah juga menyebalkan hingga kakaknya Fatimah
tak jarang memarahi. Seseorang yang memiliki sifat demikian tentu
sangat mengganggu apalagi seorang anak hendaknya berbicara sopan dan
halus bukan berteriak-teriak jika ingin mengatakan sesuatu.
c. Usil
Aisyah hanya tertawa, memasang tampang tak berdosa.
Mengangkat bahu. Aisyah memang lagi senang – senangnya
menggangu orang lain. Umurnya dua belas tahun – hanya
terpisah 23 menit dari kembarannya Zahra ; kelas satu Madrasah
Tsanawiyah Negeri 1 Lhok Nga. Adiknya Delisa memang terlalu
jauh umurnya, berbeda enam tahun, jadi kenakalan Aisyah
terlalu dominan, tanpa perlawanan ; Delisa selama ini hanya bisa
mengadu seperti itu ( Liye, 2011: 4).
Keusilan juga melekat pada sifat Aisyah yang mana diantara
ketiga saudaranya ia lebih suka mengerjai bahkan tidak merasa bersalah.
Sifat demikian sering kita lihat pada anak-anak yang tidak hanya di SD
bahkan di perguruan tinggipun masih sering kita jumpai. Sifat usil yang
tidak dapat hilang maka akan terbawa hingga ia dewasa. Pada dasarnya
keusilan seseorang dapat dilihat sejak ia kecil. Anak yang hiperaktif
maka akan cenderung berperilaku demikian. Pengawasan haruslah dapat
dilakukan sedini mungkin agar baik dirumah ataupun lingkungan sekolah
anak dapat mengkontrol perilakunya.
d. Galak
Aisyah menatap galak. Mengambilnya tetapi tidak sedikit pun
bilang terima kasih.
“ kamu tuh aneh, Aisyah …… Zahra saja nggak cemburu kok
Delisa dapat kalung lebih bagus ……. Kak Fatimah juga nggak !
Lagian cuma beda huruf doang “ Fatimah mendekati adiknnya.
Mencoba membantu Ummi membujuk Aisyah ( Liye, 2011: 33).
Sifat galak juga dimiliki Aisyah. Orang yang galak biasanya
akan mudah marah dan tersinggung. Allah SWT tentu sangat tidak
menyukai orang yang mudah marah karena tabiat seperti ini akan
membuat orang mudah emosi. Orang tua kadang tidak sadar bahwa sifat
galak yang ia miliki mampu menurun pada anak. Maka dari itu sebagai
tauladan orang tua harus mampu memberikan cerminan yang baik pada
putra maupun putrinya.
e. Iri
“ Kenapa Delisa dapat kalung yang lebih bagus ! Kenapa kalung
Delisa lebih bagus dibandingkan dengan kalung Aisyah ……
lebih bagus dari kalung Zahra …. Kalung kak Fatimah ! “.
Iri adalah merasa tidak suka dengan apa yang dimiliki orang lain.
Iri juga membuat orang tidak bersyukur dengan apa yang telah
dianugrahkan oleh Allah SWT. Dari kutipan diatas dijelaskan bahwa
sifat iri yang dimiliki oleh Aisyah kepada Delisa juga sering dimiliki
orang lain. Aisyah yang sudah memiliki kalung akan tetapi masih ingin
memiliki kalung yang sama dengan adiknya. Iri hati akan membuat orang
lupa bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan.
2. FATIMAH
a. Penyayang
“ Delisa bangun, sayang….. Shubuh !” Fatimah, sulung berumur
lima belas tahun membelai lembut Delisa. Tersenyum berbisik.
menggeliat menarik selimutnya. ( Liye, 2011: 2 ).
Penyayang adalah sifat yang dimiliki Fatimah sebagai kakak. Ia
begitu menyayangi adik-adknya. Walaupun terkadang lebih membela
Delisa hal ini dikarenakan Delisa lebih kecil dibandingkan adik-adiknya
yang lain. Fatimah menyayangi Delisa yang memang masih butuh
bimbingan dan arfahan karena itulah tak heran kalau Fatimah tidak segan
membangunkan adiknya demi melaksanakan shalat. Orang yang dalam
hatinya dipenuhi rasa sayang tentunya juga menandakan ia sayang
dengan ciptaan Allah. Maka dari itu hendaknya kita menyayangi orang
yang lebih kecil dan menghormati orang yang lebih tua.
b. Baik
Saat Ummi dan Delisa berangkat tadi pagi. Cut Aisyah dan Cut
Zahra buru-buru memasang karton-karton itu di depan rumah.
Berwarna biru-biru. Diberi hiasan pita biru-biru. Fatimah
tersenyum membacanya. Ah, mereka berdua kakak-kakak yang
baik! ( Liye, 2011: 64).
Selain penyayang, sifat baik juga melekat pada diri Fatimah Sifat
ini terlihat jelas ketika ia mengajak adik-adiknya membuat perayaan
kecil untuk Delisa jika pulang dari madrasah tempt adiknya hari itu
melaksanakan setoran hapalan shalat.
3. ZAHRA
a. Pendiam
Mereka makan malam bersama.
“ Tadi siapa yang ngacak-ngacak lemari pakaian?” Zahra
yang pendiam (tetapi pencinta ketertiban ) bertanya pelan.
Semua mata memandang ke Delisa (Liye, 2011: 60).
“ Nggak, kok …. Delisa cuma nyari pakaian ngaji doang!
Sama sekali nggak ngacak-ngacak.” Delisa yang terpojokkan
menjawab datar, merasa tak berdosa, menyendok sayur
bayam.
Pendiam adalah sifat yang bebeda yang dimiliki Zahra
kembaran Aisyah. Walaupun mereka kembar mereka memiliki
karakter yang berbeda. Zahra yang pendiam juga memiliki sifat cinta
kebersihan. Dan kerapian. Sifat ini sudah tentu jarang kita temui.
Banyak anak-anak bahkan orang tua selalu membuang sampah dan
tidak bias merawat rumah dengan baik padahal Allah SWT
menyukai orang yang selalu menjaga lingkungan.
b. Tegas
“ Iya! Tapi kamu nyarinya kan bisa lebih pelan dikit? Nggak
mesti merusak lipatan pakaian yang lain, kan? Zahra
menyeringai kepada Delisa.
Delisa menatap wajah tegas Kak Zahra, lantas mengangguk.
Meski tidak berjanji dalam hati. (Delisa memang lebih respek
dengan Zahra dibandingkan Aisyah; mungkin karena Zahra
pendiam; jadi seram saja berdebat dengannya) (Liye,2011:35).
Sifat tegas yang dimiliki Zahra patut dijadikan tauladan
khususnya bagi para pemimpin saat ini. Tegas adalah sifat tidak plin-plan
dan teguh akan pendirian. Tak heran Delisa lebih takut dan patuh
terhadap Zahra yang usianya sama degan usia Aisyah. Ketegasan sangat
diperlukan juga dalam mengambil keputusanan tindakan karena dengan
sifat ini orang akn lebih mematuhi aturan yang ada serta berpikir ulang
jika akan bertindak.
4. UMMI
a. Menjadi tauladan / pemimpin
Setiap shalat, Ummi yang menjadi imam. Abi mereka
bekerja jadi pelaut. Di salah satu kapal tanker perusahaan
minyak asing-Perusahaan di Arun. Pulang tiga bulan
sekali. Delisa lagi belajar menghafal bacaan shalat, nah
sejauh ini Aisyah-lah yang bertugas setiap shalat untuk
membaca lebih keras di belakang, agar Delisa bisa
meniru. Agar Delisa belajar lebih cepat. Tetapi selama
dua minggu terakhir, Delisa lebih banyak mengadu –
Kak Aisyah bacanya kepelanan.“ Delisa mau sekarang
yang berdiri dekat Delisa, Kak Zahra saja! Kak
Fatimah!” Delisa membujuk Ummi-nya (Liye, 2011: 8).
Ummi Salamah merupakan salah satu orang tua yang
pantas diconto. Betapa tidak, dikala suami harus bekerja diluar
negri ia mampu menjadi tauladan serta memimpin anaknya
dalam kegiatan beribadah. Bahkan Ummi selalu menekankan
agar mereka selalu mengaji hingga katam Al- quran. Dengan
selalu memerikan iming-iming hadiah Ummi memberikan
semangat anaknya agar bias hafal bacaan shalat dengan baik dan
benar. Hal ini patut diconto karena dewasa ini orang tua justru
cenderung melimpahkan pendidikan agama pada guru aama
tanpa bimbingan orang tua serta masih banyak orang tua yang
belum bias menjadi tauladan yang baik bagi putra-putrinya.
b. Suka berzikir
Ummi memimpin mereka berzikir. Delisa tiba-tiba maju ke
depan. Merangkak dengan mukena masih membungkus
tubuhnya. Fatimah melotot menyuruhnya duduk kembali. Tetapi
Delisa tidak peduli, tetep mendekati sajadah Ummi. Aisyah
nyenggir. Zahra tak memperhatikan melanjutkan zikir meniru
suara Ummi. Delisa duduk bertelekan lutut di belakang Ummi.
Kemudian pelan memeluk leher Ummi yang duduk berdzikir di
depannya ( Liye, 2011: 54 ).
Berzikir kepada Allah SWT juga selalu Ummi ajarkan setiap
sehabis shalat. Kadang orang tua menganggap bahwa yang terpenting
adalah shalat saja dan membiarkan anak menonton tv tanpa berzikir
terlebih dahulu. Padahal dzikir merupakan salah satu doa yang mana
sangat tepat diajarkan pada anak sejak dini dimana daya ingat mereka
masih baik.
c. Rajin
Kak Fatimah malah asyik membaca. Sama sekali tidak tertarik
dengan acara televisi. Kak Aisyah dan Kak Zahra juga asyik
membuat entahlah dari karton-karton. Ummi di atas kursinya
juga membaca sesuatu, mungkin tagihan-tagihan bordiran ( Liye,
2011: 58 ).
Sebagai ibu rumah tangga Ummi juga tidak hanya berpangku
tangan melihat suaminya bekerja. Ummi menjahit untuk membantu
mencukupi kebutuhan keluarga. Maka tak heran jika walau waktu luang
Ummi tetap memeriksa tagihan bordiran. Keuletan seperti ini patut kita
contoh sehingga kita kelak juga memilki semangat kerja tinngi walaupun
sudah bekelurga.
5. DELISA
a. Manja
Ia memandang Kakak – kakaknya sirik.
“ Kak Fatimah dan Kak Aisyah jahat ……. Bangunin Delisa
maksa !” gadis berumur enam tahun itu mengalah, beringsut
turun dari ranjangnya.
Fatimah ikut beranjak turun mengambil bantal– bantal yang jatuh
di lantai. Aisyah yang tetap tertawa senang ( Liye, 2011: 3 ).
b. Pamer
Sebentar ! suer deh, Mi!” Ummi hanya mengeleng ( karena jelas
sekali maksud Delisa; mau memamerkan kalung itu ke Aisyah
yang baru saja menjahilinya ; balas dendam, biar kak Aisyah
cemburu lagi).Di luar itu, waktu melesat dengan cepat ( Liye,
2011: 54 ).
c. Pemalas
Bahkan Fatimah yang sedang khusyuk mengaji ikut tertawa
mendengarnnya.
“ Tuh kan, Ummi…… Delisa tuh paling malas disuruh
menghafal doa- doa …” Aisyah merayakan kemenangannya.
“ Tapi…… tapi kata Ustadaz Rahman doanya boleh pakai
Bahasa Indonesia, kok….” Delisa ngotot, melotot kepada
kakaknya. Aisyah hanya nyengir. ( Liye, 2011: 7 ).
d. Pelupa
“ Lagian kalau Aisyah keras –keras, memang kamu dengar ?
kamu kan ngantuk sepanjang Shalat tadi ……. Qunut aja dia
lupa, Mi ! kita – kita qunut, Delisa malah turun mau sujud. “
sekarang malah Aisyah yang melapor. Tertawa. Ummi
tersenyum tipis. Menatap wajah putri – putrinya bergantian. (
Liye, 2011: 7 ).
e. Bandel
“ TAPI DELISA INGIN ! DELISA I-N-G-I-N !!” Delisa bandel
mencengkram baju Ummi.
“ Delisa harus kembali, sayang. Delisa harus menyelesaikannya
!” Ummi tersenyum tipis menyentuh baunya. Sentuhan itu
sugestif sekali. Membunuh semua kengototan di hati Delisa.
Seketika ( Liye, 2011: 236 ).
Dari paparan karakteristik diatas Delisa cenderung memiliki sifat
madzmumah atau sifat yang tidak baik seperti manja, pamer, pemalas,
pelupa. Memang hal ini wajar kita temui pada anak-anak. Akan tetapi
tentunya kita harus mampu merubah sedikit demi sedikit. Delisa yang
memang awalnya bersikap demikian pada akhirnya bahkan bisa berubah
sejak bencana tsunami. Keadaan dan lingkungan mampu merubahnya
menjadi anak yang dewasa, rendah hati, rajin, mampu menyelesaikan
hafalan shalatnya serta menurut pada Abi. Perubahan yang dilakukan
Delisa ini tentunya memerlukan waktu dan arahan dari orang tua.
Walaupun awalnya sulit. Bencana yang sudah merenggut Ummi dan
kakak-kakaknya menjadikan ia mulai bersyukur dan bangkit. Mulanya
Delisa menyalahkan Allah akan tetapi Abi memberikan pengarahan dan
ia harus terus berjuang hidup demi menyelesaqilkan hapalan shalat yang
sudah ia janjikan pada Umminya. Kadang kala manusia perlu diuji demi
kemajuan dan perubahan maka dari itu ubahlah sifat jelek kita sebelum
terlambat dan menyesal dikemudian hari.
6. ABI
a. Religius
Bukankah hari – hari seperti ini, saat Abi pulang selama
dua minggu dulu Abi sering Shalat bersama Fatimah,
Zahra, dan Aisyah. Berkali – kali melotot ke arah Aisyah
yang jahil mengganggu Delisa. Abi rindu Aisyah,
senakal apapun ia. Dan Aisyah semenjak kecil memang
sudah senakal itu. Abi ingat, Aisyah paling suka menaiki
punggungnya. Pernah Aisyah naik ke punggung Abi, pas
dia sedang sujud. Maka lama sekali Abi tidak bangkit –
bangkit, menunggu Aisyah yang baru berumur tiga tahun
turun dari punggungnya ( Liye, 2011: 193).
Sifat religius sangat terlihat manakala abi yang memang
hanya bisa pasrah dengan bencana yang telah menimpa. Terlebih
lagi Abi sadar bahwa Allah pasti merencanakan sesuatu yang
lebih baik. Setiap malam ia hanya bisa bertahajud memohon dan
menyandarkan diri pada
Allah.
Ditengah
kondisi
yang
memprihatinkan akibat bencana tsunami tentu hanya Allah satusatunya tempat mengadu, baik itu kesedihan ditinggal orangorang yang ia cintai ataupun meratapi bagaimanakah ia harus
melanjutkan hidup. Manusia haruslah merasa kecil dimata Allah
karena ketika ujian datang kita hanya akan mampu berpasrah diri
padaNya.
b. Tanggung Jawab
Dan lihat lah, dia harus membesarkan Delisa sendirian
sekarang. Gadis kecil yang cerdas, banyak bertanya,
amat menggemaskan, namaun harus tumbuh menatap
masa depan dengan melewati semua hal yang
menyakitkan ini. Gadis kecil yang jauh dari pantas
menjalani kehidupan seperti ini ( Liye, 2011: 194 ).
Tanggung jawab Abi juga kian besar selain tidak lagi
punya keluarga ia juga kehilangan harta benda. Abi yang selama
ini bekerja dilur negeri juga bingung bagaimanakah cara
mendidik dan membesarkan Delisa. Terlebih Abi juga tidak tega
melihat gadis kecilnya hanya memiliki satu kaki. Seberat
beratnya cobaan Allah akan selalu dekat dengan orang shaleh
setidaknya hal ini terbukti dengan lulusnya Delisa menghafal
bacaan shalat berkat dukungan Abi.
c. Sayang / Perhatian
Abi panik “ bagaimana, sayang, apakah Delisa sudah
merasa baikkan?” Abi bertanya cemas. Kain kompres di
atas kepala Delisa. Panas. Kain itu panas sekali Meraih.
Gemetar telapak tangan Abi menyentuh dahi bungsunya
( Liye, 2011: 226).
Rasa sayang dan perhatian sangat nampak ketika Delisa sakit
akibat hujan-hujan. Orang tua yang baik akan merasa cemas dikala
anaknya sedang sakit, ataupun bersedih. Begitu besar kasih sayang orang
tua yang kadang kita lupaka dan kadang justru kita balas dengan sakit
hati. Penulis melihat banyak hikmah dan tauladan yang dapat kita ambil
maka dari itu kita harus pandai memilah mana sifat yang sudah benar
ataupun mana sifat yang perlu kita rubah.
C. Relevansi Nilai-nilai Pendidikan Ahklaq dalam Novel HSD di Era
Globalisasi Saat Ini
Pada dasarnya pendidikan ahklaq sangatlah penting dalam
kehidupan. Era globalisasi yang ada dihadapan saat ini tidak dapat
dihindari. Dalam bidang sosial, pengaruh globalisasi semakin
merusak nilai-nilai kemanusiaan. Dengan situasi ini,muncul segala
sesuatu yang bersifat global harus disesuaikan dengan keinginan
negara.
Globalisasi memberi peluang dan fasilitas yang luar biasa
bagi siapa saja. Pendidikan ahklaq juga penting sebagai pondasi
awal penanaman nilai kepada penerus bangsa. Bahkan pendidikan
karakter yang sudah dicanangkan menunjukkan bahwa pendidikan
ahklaq penting bagi dunia pendidikan sebagai langkah dalam
menanggulangi adanya dekadesi moral. Nilai-nilai karakter juga
hampir mirip dengan ruang lingkup pendidikan ahklaq. Seperi
nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan
Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan
kebangsaan
Salah satu contoh nilai karakter dalam hubungan dengan
tuhan adalah nilai religius dengan kata lain, pikiran,perkataan dan
tindakan seseorang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai
ketuhanan atau ajaran agama. Sedang nilai karakter yang
berhubungan dengan diri sendiri adalah jujur,bertanggung jawab,
disiplin, kerja keras dan cinta ilmu.
Melalui revitalisasi dan penekanan karakter di berbagai
lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal diharapkan
bangsa Indonesia mampu menjawab berbagai tantangan dan
permasalahan yang rumit dan komplek. Istilah karakter berkaitan
erat dengan personality (kepribadian) seseorang, sehingga ia bisa
disebut orang yang berkarakter.
Tujuan pendidikan karakter yang mana saat ini sudah
dimasukkan dalam kurikulum sangat berperan dalam penanaman
ahklaq mulia. Melalui pendidikan karakter, diharapkan peserta
didik
mampu
pengetahuannya,
mandiri
meningkatkan
mengkaji
dan
dan
menggunakan
menginternalisasi
serta
mempersonalisasi ahklaq-ahklaq mulia sehingga dapat terwujud
dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai pendidikan ahklaq yang termaktup dalam novel HSD
tentunya merupakan salah satu contoh penyampaian penanaman
nilai ahklaq yang saat ini sudah jarang kita jumpai. Tidak hanya
menyuguhkan bagaimanakah mendidik seorang anak sejak kecil
dengan baik akan tetapi juga menghadirkan beberapa karakter
kepribadian yang luhur. Kita sering melihat bahwa saat ini anakanak sudah mulai tidak memperhatikan pendidikan agama. Televisi
dan game merupakan makanan sehari-hari dan mengesampingkan
kebutuhan agama pada anak. Surau dan masjid sepi, para kaula
muda mengumbar aurat serta orang tua tidak memperhatikan
perilaku mereka dilingkungan luar.
Nilai pendidikan ahklaq kepada Allah merupakan hal
pertama yang perlu ditanamkan seperti shalat dan mengaji. Dalam
novel HSD dijelaskan betapa Delisa sangat susah dalam menghapal
bacaan shalatnya. Padahal usia anak-anak adalah usia yang tepat
dalam mengasah otak serta mudahnya ilmu masuk. Akan tetapi
justru saat ini anak-anak dicekoki oleh lagu-lagu dewasa dan bukan
mengaji tetapi mengutamakan les musik, drum band dan lainnya.
Selain hal diatas ahklaq pada diri sendiri seperti kejujuran.
Tawakkal, amanah dan iffah saat ini sudah mulai pudar. Hal ini
sangat terlihat dengan banyaknya pemimpin bangsa yang tidak
jujur dan tidak amanah. Padahal kepercayaan sudah diberikan
rakyat pada mereka. Ahklaq pada lingkungan yakni kita sebagai
manusia haruslah menjaga dan merawat alam justru malah
membuat alam rusak. Serta ahklaq pada keluarga yakni
menghargai hak dan kewajiban suami isti, menghormati orang tua
jurtru saat ini banyak pasangan yang merusak mahligai perkawinan
dengan perselingkuhan dan banyak anak yang tidak menghormati
orang tua justru tega membunuhnya.
Disinilah pendidikan ahklaq penting bagi kehidupan
manusia. Selain sebagai perisai tentu semakin meningkatnya baik
ahklaq dalam berbagai aspek tetunya hal ini dapat meningkatkan
moral bangsa yang berbudi luhur. Dan yakinlah Allah tidak akan
memberi azab misalnya bencana, sakit serta musibah asal kita
mampu menjadi orang yang bersyukur atas nikmatNya.
Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia
untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa yang kufur
(tidak bersyukur), (sesuatu) lagi Mahamulia”(QSAnNaml[27]:40
Terkadang ada seseorang yang dapat menjalin hubungan baik
dengan Tuhannya, tetapi ia bermasalah dalam menjalin hubungan
dengan sesamanya. Atau sebaliknya, ada orang yang dapat menjalin
hubungan secara baik dengan sesamanya, tetapi ia mengabaikan
hubungannya dengan Tuhannya. Tentu saja kedua contoh ini tidak
benar. Yang seharusnya dilakukan adalah sebesar apapun dosa yang
telah diperbuat anak adam, jika dilakukan secara bersamaaan namun
karena kemurahan-Nya, Dia menyatakan diri-Nya sebagai Syakirun
'Alim (QS Al-Baqarah [2]: 158), dan Syakiran Alima (QS An-Nisa'
[4]: 147), yang keduanya berarti, Maha Bersyukur lagi Maha
Mengetahui, dalam arti Allah akan menganugerahkan tambahan
nikmat berlipat ganda kepada makhluk yang bersyukur.
Ahklaq memiliki dua sasaran : pertama, ahklaq dengan
Allah. Kedua, ahklaq dengan sesama mahkluq. Oleh karena itu, tidak
benar kalau masalah ahklaq hanya dikaitkan dengan masalah
hubungan anatara manusia saja. Atas dasar itu, maka benar akhklaq
adalah aqidah dan pohonnya adalah syariah. Ahklaq itu sudah
menjadi buahnya. Buah itu akan rusak jika pohonnya rusak, dan
pohonnya akan rusak jika akarnya rusak. Oleh karena itu akar,
pohon,dan buah harus dipelihara dengan baik.
Penulis melihat adanya implementasi ahklaq islam terhadap
pilar karakter mulia yang saat ini juga menjadi acuan di sekolahsekolah. Seperti cinta Allah, amanah, santun, kasih sayang, adil,
rendah hati , percaya diri dan toleransi. Dan seluruh karakter ini juga
tercermin dalam novel HSD. Dengan era globalisasi yang semakin
maju hendaknya pesan moral yang disampaikan baik melalui media
cetak maupun elektronik diharapkan mampu menjadi tauladan yang
dapat mengatasi masalah dekadesi moral yang semakin berkembang.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah
melakukan
pembahasan
dan
menganalisis
pada
bab
sebelumnya maka dapat penulis simpulkan;
1. Nilai-nilai Pendidikan ahklak yang
dapat dipetik dari novel Hapalan
Shalat Delisa Karya Tere Liye di antaranya adalah: nilai pendidikan ahklak
tehadap Allah ( shalat,dzikir, dan berdoa, kepada Allah, ihklas menerima
takdir Allah, takut akan siksaan Allah, dan takut akan kehilangan rahmat
Allah), nilai pendidikan ahklak pada diri sendiri atau ahklak mahmudah
yaitu: (sabar, ihklas, syukur, optimis, tolong menolong, kerja keras, dan
disiplin)
serta ahklak
madzmumah (jahil,
bandel,
berdusta dan
pencemburu) ahklak terhadap keluarga ( hak kasih sayang suami istri, hakhak bersama suami istri, birul walidain) serta nilai pendidikan ahklak pada
lingkungan (memelihara serta merawat semua ciptaan Allah SWT dengan
baik dan bencana alam yang sering terjadi sebenarnya adalah disebabkan
oleh ulah manusia itu sendiri) .
2. Karakteristik tokoh yang ada dalam novel Hafalan Shalat Delisa
diantaranya adalah:
1. Aisyah
: Nakal , menyebalkan, usil , galak dan iri
2.
Fatimah
: Penyayang, baik, membela adik, suka membaca
3.
Zahra
: Pendiam, tegas
4. Ummi
: Menjadi tauladan/pemimpin, suka berzikir, rajin
5. Delisa
: Manja, pamer, pemalas, pelupa, bandel
6. Abi
: Religius, tanggung jawab, sayang dan perhatian
3. Ada relevansi nilai-nilai pendidikan ahklaq dalam novel HSD di era
globalisasi saat ini yaitu
bahwa pendidikan ahklaq
ternyata
sangat
penting sebagai pondasi awal penanaman nilai kepada penerus bangsa. Hal
ini dapat kita lihat dengan adanya
pendidikan karakter yang sudah
dicanangkan dan diterapkan di sekolah-sekolah menunjukkan bahwa
pendidikan ahklaq penting bagi dunia pendidikan sebagai langkah dalam
menanggulangi adanya dekadesi moral. Nilai-nilai karakter juga hampir
mirip dengan ruang lingkup pendidikan ahklaq. Seperi nilai-nilai perilaku
manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri,
sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang hampir semua nilainilai tersebut diaplikasikan kedalam materi pelajaran sekolah.
Nilai pendidikan ahklaq yang termaktup dalam novel HSD
tentunya merupakan salah satu contoh penyampaian penanaman nilai
ahklaq yang saat ini sudah jarang kita jumpai. Tidak hanya menyuguhkan
bagaimanakah mendidik seorang anak sejak kecil dengan baik akan tetapi
juga menghadirkan beberapa karakter kepribadian yang luhur. Selain
sebagai perisai tentu semakin meningkatnya baik ahklaq dalam berbagai
aspek tetunya hal ini dapat meningkatkan moral bangsa yang berbudi
luhur. Dan yakinlah Allah tidak akan memberi azab misalnya bencana
tsunami, sedih, sakit serta musibah asal kita mampu menjadi orang yang
bersyukur atas nikmatnya.
B. Saran
1. Bagi Orang Tua:
Hendaknya lebih bisa mengawasi putra-putri mereka. Ajarilah anak
melaksanakan ibadah sejak dini. Berilah perhatian dan kasih sayang.
Jadikanlah keluarga sebagai tempat berkembangnya ahklaqul karimah.
Serta mendorong anak untuk mencari ilmu dunia dan ilmu agam agar
mampu merealisasikan dirinya (self realization) serta mengamalkan ajaran
islam.
2. Bagi Perguruan Tinggi:
Dengan adanya pendidikan karakter dewasa ini di sekolah-sekolah,
hendaknya penerapan pendidikan karakter juga dapat berkembang
kedalam perguruan tinggi, terlebih lagi STAIN sebagai induk dalam
mengajari calon pendidik bangsa khususnya dibidang agama. Dengan
adanya para pendidik yang memiliki aqidah dan ahklaq yang semakin
matang maka diharapkan mampu menjadi benteng bagi arus globalisasi
yang semakin merusak moral para generasi muda.
3. Bagi Dunia Penelitian:
Banyak hal yang masih perlu dikaji tidak hanya melalui
lingkungan sekitar akan tetapi kita juga dapat mengkaji karya-karya yang
hebat yang diciptakan seseorang seperti novel misalnya. Semoga karya
literatur ini dapat berguna bagi penulis akan tetapi juga para
siswa,mahasiswa maupun para pendidik.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali & Muhammad, Abi Hamid. 1989. Ihya „Ulum Addin. Beirut: Dar al
Fikr
Ahmad, D Marimba. 1998. Pengantar Filsafat Pendidikan Agama Islam.
Bandung: Al-Ma‟rif
Amin, Ahmad. 1973. Dhuha Al-Islam. Kairo: Maktabah an Nahdah
Anis, Ibrahim. 1979. Al-Muajim al Wasith. Kairo: Dar al Ma‟arif
Arikunto & Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta
Asmaran As. 1992. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: Rajawali Pers
Basyir, Amad Azhar. 1993. Refleksi Atas Persoalan Keislaman Seputar Filsafat,
Hukum, Politik dan Ekonomi. Bandung: Mizan
El-Mubaroh, Zaim. 2009. Membumikan Pendidikan Nilai Mengumpulkan yang
Terputus dan Menyatukan yang Tercerai. Bandung: Alfabeta
Faqih, Mansour. 2001. Sesat Pikir: Teori Pembangunan dan Globalisasi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar & Insist
Harfiyah, 2006. Telaah Sastra. Jakarta: Karya Manunggal Jaya
Ilyas, Yunahar. 2011. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Koesoema, Doni. 2010. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman
Global. Jakarta: Grasindo
Kosasih.E. 2012. Dasar-dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: Yrama Widya
Kutha Ratna, Nyoman. 2009. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Lubis, Mawardi. 2009. Evaluasi Pendidikan Nilai(Perkembangan Moral
Keagamaan Mahasiswa PTAIN). Yogyakarta: Al-Ruzz Media
M. Echols, John dan Hasan Shadily. 1988 Kamus Inggris Indonesia. Jakarta:
Gramedia
Makbullah, Deden. 2011. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Muhammad Al Thumy Al Syaibani. Umar. 1979. Falsafat al Tarbiyah al
Islamiyah. Terj. Hasan Langgulung, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta:
Bulan Bintang
Muhaimin & Mujib, Abdul. 1998. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung:
Trigenda Karya
Muhammad, Azmi. 2006. Pembinaan Akhlak Anak Usia Dini Pra Sekolah.
Yogyakarta: Belukar
Mulyasa.E. 2011. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Nasution, Harun. 1992. Ensiklopedia Islam di Indonesia. Jakrta: Djambatan
Nawawi, Hadari. 1995. Pendidikan dalam Islam. Surabaya: Al-Iklas
Poerwadarminto. 1985. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Raqib. 2009. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: PT. LKIS Printing Cemerlang
Suhartono, Suparlan. 2007. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Al-Ruzz
Sukmadinata & Syaodah. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Suryani. 2012. Filologi. Bogor Indonesia
Tarigan, Guntur. 2008. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Angkasa
UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
Bandung: Citra Umbara
Zaidan, Abdul. 1976. Ushul al-Da‟wah Bagdad: Jami‟iyyah
Http: //alphin 23. Word press.com/2009/12/15.(Resensi – hapalan shalat Delisa
diakses 12 juni 2012).
Http: // www.Usey.blogspot.com: Nilai Pendidikan
Darwis,(multiply.com). 7 juli 2009. Hapalan shalat Delisa, diakses 9 juli 2012.
RIWAYAT HIDUP
1. Nama
: SITI ZULAICHA
2. Tempat dan Tanggal lahir
: Salatiga, 5 Nopember 1991
3. Jenis Kelamin
: Perempuan
4. Warga Negara
: Indonesia
5. Agama
: Islam
6. Alamat
: Jln. Nusantara 2 Rt.06/07 Kutowinangun
Salatiga
7. Riwayat pendidikan
:
a. SDN Kutowinangun 9, lulus tahun 2002
b. SLTP N 9 Salatiga, lulus tahun 2005
c. SMA 3 Salatiga, lulus tahun 2008
d. S1 STAIN Salatiga, lulus tahun 2013
Demikian daftar riwayat hidup ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Salatiga, 27 Juni 2013
Penulis
Siti Zulaicha
NIM : 11108047
Download