BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Lamun Lamun (seagrass

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Lamun
Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang seluruh
proses kehidupan berlangsung di lingkungan perairan laut dangkal (Susetiono,
2004). Lamun merupakan satu satunya tumbuhan angiospermae atau tumbuhan
berbunga yang memiliki daun, batang, dan akar sejati yang telah beradaptasi
untuk hidup sepenuhnya di dalam air laut (Tuwo, 2011).
Pola hidup lamun sering berupa hamparan, maka dikenal juga istilah padang
lamun (Seagrass bed) yaitu hamparan vegetasi lamun yang menutup suatu area
pesisir/laut dangkal, terbentuk dari satu jenis atau lebih dengan kerapatan padat
atau jarang. Lamun umumnya membentuk padang lamun yang luas di dasar laut
yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi
pertumbuhannya. Lamun hidup di perairan yang dangkal dan jernih, dengan
sirkulasi air yang baik. Air yang bersirkulasi diperlukan untuk menghantarkan zatzat hara dan oksigen, serta mengangkut hasil metabolisme lamun ke luar daerah
padang lamun (Den Hartog, 1970 dalam Hendra, 2011).
Tumbuhan lamun mempunyai beberapa sifat yang memungkinkannya hidup
dilingkungan laut, yaitu : 1) mampu hidup di media air asin; 2) mampu berfungsi
normal dalam kondisi terbenam; 3) mempunyai sistem perakaran jangkar yang
berkembang baik; 4) mampu melakukan penyerbukan dan daun generafit dalam
keadaan terbenam (Den Hartog, 1970 dalam Kordi, 2011).
B. Morfologi Lamun
Lamun memiliki bunga, berpolinasi, menghasilkan buah dan menyebarkan
bibit seperti halnya tumbuhan darat. Klasifikasi lamun adalah berdasarkan
karakter tumbuh-tumbuhan. Selain itu, genera di daerah tropis memiliki morfologi
yang berbeda sehingga perbedaan spesies dapat dilakukan dengan dasar gambaran
morfologi dan anatomi (Tengke, 2010).
Secara morfologi jenis lamun Enhalus acoroides (Gambar 1) akan
tumbuhan tropis yang mempunyai akar kuat dan diselimuti oleh benang-benang
hitam yang kaku. Rhizomanya tertanam di dalam substrat. Pada akarnya terdapat
rambut bisus. Daun-daunnya sebanyak 2 atau 4 helai yang ujungnya membulat.
Panjang daun lebih dari 1 m dan lebar 1,5 cm. Buah berbentuk bulat telur
berukuran 4-7 cm. Lamun tropis tumbuh di perairan dangkal dengan substrat pasir
berlumpur. Lamun ini tumbuh subur di daerah yang terlindung di pinggir bawah
dari mintakat pasang surut dan di batas atas mintakat bawah litoral.
Gambar 1. Enhalus acoroides
Spesies Halophila ovalis (Gambar 2) atau lamun sendok (spoon grass)
adalah lamun yang mempunyai tangkai ramping, berdiameter 1 mm, hampir tidak
berwarna dan merayap. Sepanjang tangkai yang merayap muncul daun-daun
berpasangan ke atas di bawah permukaan air dan akar-akarnya kecil ramping ke
bawah, ke dalam tanah. Daun-daun bundar telur (oval) tipis berwarna hijau
dengan warna kemeah-merahan berukuran panjang 10-15 mm dan lebar 5-10 mm.
Masing-masing daun ditunjang oleh tangkai (petiole) berukuran panjang 8-15 mm
dan diameter 0,5 mm. Di daerah yang terlindung, lamun sendok membentuk
permadani tumbuh-tumbuhan di antar air surut rata-rata pada pasang surut bulansetengah dan air surut rata-rata pada pasang surut purnama, memberikan
lingkungan yang cocok untuk pelekatan alga. Di lingkungan ini lamun sendok
membentuk tajuk (canopy).
Lamun sendok mempunyai bunga berkelamin tunggal dan soliter. Lamun
sendok terdapat di pantai pasir, di paparan terumbu dan di dasar pasir lumpur dari
pasang surut rata-rata sampai batas bawah dari daerah pasang surut
(Romimohtarto dan Juwana, 2001 dalam Kordi, 2011).
Gambar 2. Halophila ovalis
Susetiono (2007) menyatakan bahwa habitat lamun jenis Halophila minor
(Gambar 3) serta helaian daunnya sangat mirip dengan Halophila ovalis tetapi
lebih kecil (0,7-1,4 cm) dan jumlah urut daun juga lebih sedikit (3-8 pasang),
rimpang tipis dan mudah patah, mampu hidup diperairan yang berlumpur.
Gambar 3. Halophila minor
Spesies Cymodoceae rotundata (Gambar 4) atau dikenal sebagai lamun
ujung bulat (round tipped seagrass) tumbuh di substrat pasir, kadang pecahan
karang dan sedikit berlumpur. Lamun ini mempunyai daun berukuran panjang 720 cm dan lebar 2-4 mm, mempunyai 7-15 tulang daun dan 2-7 helai daun
perpangkal. Ujung daun halus membulat dan tumpul (Kordi, 2011).
Gambar 4. Cymodoceae rotundata
Sama halnya dengan Cymodocea rotundata, bentuk daunnya melengkung
menyerupai selempang bagian pangkal menyempit dan ke arah ujung agak
melebar. Panjang dan lebarnya juga hampir sama berkisar 5-15 m dan 2-4 mm.
Yang membedakannya dengan ujung daun dari Cymodocea serrulata (Gambar 5)
adalah ujung daunnya bergerigi dengan tulang daun berjumlah 13-17.
Gambar 5. Cymodocea serrulata
Susetiono, (2007) menyatakan bahwa lamun jenis Thalassia henprichii
(Gambar 6) mempunyai rimpang agak membulat, daun tebal dan agak
melengkung. Bunga jantan mempunyai tangkai pendukung pendek saja,yaitu
sekitar 3 cm (atas inzet). Sedangkan bunga betina tangkai pendukungnya lebih
pendek, yaitu berkisar antara 1-1,5 cm dan buahnya terbagi dalam 8-20 keping
yang tidak beraturan.
Umumnya hidup berdampingan dengan jenis lainnya seperti Enhalus
acoroides. Bila mendominasi selalu membentuk kelompok vegetasi yang rapat
(bawah). Spesies Thalassia henprichii tumbuh di substrat berpasir hingga pada
pecahan karang mati dan sering menjadi spesies dominan pada padang lamun
campuran dan melimpah (Kordi, 2011).
Gambar 6. Thalassia hemprichii
H. uninervis (Gambar 7) adalah lamun sublittoral ditemukan dari
pertengahan pasang surut hingga kedalaman 20 m. Umumnya pada kedalaman
antara 0-3 m di laguna sublittoral dan di dekat terumbu karang. H. uninervis dapat
tumbuh di berbagai habitat yang berbeda. Lamun ini dapat membentuk padang
rumput padat bercampur dengan spesies lamun lain (Carruthers et al, 2007 dalam
Hendra, 2011).
Jenis ini termasuk dalam famili Potamogetonaceae. Ciri khas dari famili ini
memiliki bentuk daun Parvozosterids, dengan daun memanjang dan sempit.
Ujung daunnya yang berbentuk trisula dengan satu vena sentral yang membujur
dengan ukuran lebar daun 1-1,7 mm. Umur daun ±55 hari dengan produksi
tegakan sebanyak 38 tegakan/tahun (Vermaat et al, 1995).
Gambar 7. Halodule uninervis
Syringodium
isoetifolium
(Gambar
8)
termasuk
dalam
Family
Potamogetonaceae dengan ciri-ciri utama yaitu tidak memiliki ligula seperti pada
Family Hydrocaritaceae. Ditemukan di seluruh wilayah Indo-Barat Pasifik Tropis.
Tumbuh dengan kepadatan tinggi tanpa spesies lain. Namun bila tumbuh dengan
spesies lain ukurannya akan lebih kecil. Jenis lamun ini jarang ditemukan di
daerah intertidal dangkal (McKenzie, 2007 dalam Hendra, 2011).
Gambar 8. Syringodium isoetifolium
C. Habitat
Lamun hidup dan terdapat pada daerah mid-intertidal sampai kedalaman
0,5-10 m, dan sangat melimpah di daerah sublitoral. Jumlah spesies lebih banyak
terdapat di daerah tropik dari pada di daerah ugahari (Barber, 1985 dalam Tangke,
2010). Habitat lamun dapat dilihat sebagai suatu komunitas, dalam hal ini suatu
padang lamun merupakan kerangka struktur dengan tumbuhan dan hewan yang
saling berhubungan. Habitat lamun dapat juga dilihat sebagai suatu ekosistem,
dalam hal ini hubungan hewan dan tumbuhan tadi dilihat sebagai suatu proses
yang dikendalikan oleh pengaruh-pengaruh interaktif dari faktor-faktor biologis,
fisika, kimiawi. Ekosistem padang lamun pada daerah tropik dapat menempati
berbagai habitat, dalam hal ini status nutrien yang diperlukan sangat berpengaruh.
Lamun dapat hidup mulai dari rendah nutrien dan melimpah pada habitat yang
tinggi nutrien.
Tangke (2010) menyatakan bahwa lamun pada umumnya dianggap sebagai
kelompok tumbuhan yang homogen. Lamun terlihat mempunyai kaitan dengan
habitat dimana banyak lamun (Thalassia) adalah substrat dasar dengan pasir
kasar. Dinyatakan pula bahwa Enhalus acoroides dominan hidup pada substrat
dasar berpasir dan pasir sedikit berlumpur dan kadang-kadang terdapat pada dasar
yang terdiri atas campuran pecahan karang yang telah mati.
D. Karakteristik Vegetatif
Lamun menunjukkan adanya bentuk keseragaman yang tinggi pada
reproduksi
vegetatifnya.
Hampir
semua
marga
lamun
memperlihatkan
perkembangan yang baik dari rimpang (rhizome) dan bentuk daun yang pipih dan
memanjang, kecuali pada marga Halophila. Jadi umumnya lamun akan menjadi
kelompok homogen dengan tipe pertumbuhan "enhalid" (Azkab, 2000).
Menurut Den Hartog (1967) dalam Hendra (2011), karakteristik
pertumbuhan lamun dapat dibagi enam kategori yaitu;
1. Parvozosterids, dengan daun memanjang dan sempit: Halodule, Zostera
sub-marga Zosterella.
2. Magnozosterids, dengan daun memanjang dan agak lebar: Zostera submarga Zostera, Cymodocea dan Thalassia.
3. Syringodiids, dengan daun bulat seperti lidi dengan ujung runcing:
Syringodium
4. Enhalids, dengan daun panjang dan kaku seperti kulit atau berbentuk ikat
pinggang yang kasar Enhalus, Posidonia, Phyllospadix.
5. Halophilids; dengan daun bulat telur, elips, berbentuk tombak atau
panjang, rapuh dan tanpa saluran udara: Halophila
6. Amphibolids, daun tumbuh teratur pada kiri dan kanan: Amphibolis,
Thalassodendron, dan Heterozostera.
E. Peranan Lamun
Padang lamun merupakan habitat bagi beberapa organisme laut. Hewan
yang hidup pada padang lamun ada yang merupakan penghuni tetap ada pula
yang bersifat sebagai pengunjung. Hewan
yang datang sebagai pengunjung
biasanya untuk memijah atau mengasuh anaknya seperti ikan. Selain itu, ada pula
hewan yang datang mencari makan seperti sapi laut (Dugong dugon) dan penyu
(turtle) yang makan lamun Syringodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii
(Soedharma, 2007).
Soedharma (2007), menyatakan bahwa di daerah padang lamun,
organisme melimpah karena lamun digunakan sebagai perlindungan dan
persembunyian dari predator dan kecepatan arus yang tinggi dan juga sebagai
sumber bahan makanan baik daunnya maupun epifit atau detritus. Jenis-jenis
polichaeta dan hewan–hewan nekton juga banyak didapatkan pada padang lamun.
Lamun juga merupakan komunitas yang sangat produktif sehingga jenis-jenis ikan
dan fauna invertebrata melimpah di perairan ini. Lamun juga memproduksi
sejumlah besar bahan bahan organik sebagai substrat untuk algae, epifit,
mikroflora dan fauna.
Padang lamun ini dihuni berbagai macam spesies hewan, yang berasosiasi
dengan padang lamun. Di perairan Pabama dilaporkan 96 spesies hewan yang
berasosiasi dengan beberapa jenis ikan. Di Teluk Ambon ditemukan 48 famili
dan 108 jenis ikan adalah sebagai penghuni lamun, sedangkan di Kepulauan
Seribu sebelah utara Jakarta di temukan 78 jenis ikan yang berasosiasi dengan
padang lamun. Selain ikan, sapi laut dan penyu serta banyak hewan invertebrata
yang berasosiasi dengan padang lamun, seperti: Pinna sp, beberapa Gastropoda,
Lambis lambis, Strombus, teripang, bintang laut, beberapa jenis cacing laut dan
udang (Peneus doratum) yang ditemukan di Florida Selatan (Susetiono, 2004).
Apabila air sedang surut rendah sekali atau surut purnama, sebagian padang
lamun akan tersembul keluar dari air terutama bila komponen utamanya adalah
Enhalus acoroides, sehingga burung-burung berdatangan mencari makan di
padang lamun ini (Nontji, 1987 dalam Hendra, 2011).
Menurut Azkab (1988) dalam Hendara (2011), peranan lamun di
lingkungan perairan laut dangkal sebagai berikut:
1. Sebagai produsen primer
Lamun mempunyai tingkat produktivitas primer tertinggi bila dibandingkan
dengan ekosistem lainnya yang ada di laut dangkal seperti ekosistem terumbu
karang (Thayer, et al., 1975 dalam Hendra, 2011).
2. Sebagai habitat biota
Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai
hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang lamun (seagrass
beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan dan makan dari
berbagai jenis ikan herbivora dan ikan–ikan karang (coral fishes) (Kikuchi &
Peres, 1977 dalam Hendra, 2011).
3. Sebagai penangkap sedimen
Daun lamun yang lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus
dan ombak, sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang. Disamping itu,
rimpang dan akar lamun dapat menahan dan mengikat sedimen, sehingga dapat
menguatkan dan menstabilkan dasar permukaaan. Jadi padang lamun yang
berfungsi sebagai penangkap sedimen dapat mencegah erosi (Hutomo & Azkab,
1987 dalam Hendra, 2011).
4. Sebagai pendaur zat hara
Lamun memegang peranan penting dalam pendauran berbagai zat hara dan
elemen-elemen yang langka di lingkungan laut. Khususnya zat-zat hara yang
dibutuhkan oleh algae dan epifit.
Philips & Menez (1988) dalam Hendra (2011), menyatakan bahwa, lamun
juga sebagai komoditi yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik
secara tradisional maupun secara modern. Secara tradisional lamun telah
dimanfaatkan untuk : 1) Kompos dan pupuk, 2) Cerutu dan mainan anak-anak, 3)
Dianyam menjadi keranjang, 4) Tumpukan untuk pematang, 5) Mengisi kasur, 6)
Ada yang dimakan, dan 7) Dibuat jaring ikan. Pada zaman modern ini, lamun
telah dimanfaatkan untuk : 1) Penyaring limbah, 2) Stabilizator pantai, 3) Bahan
untuk pabrik kertas, 4) Makanan, 5) Obat-obatan, dan 6) Sumber bahan kimia.
Spesies yang terkenal adalah Enhalus acoroides yang dikenal sebagai
samo-samo atau lamun tropis (tropical ellgrass). Spesies ini dimanfaatkan bijinya
oleh penduduk Kepulauan Seribu sebagai bahan makanan. Bijinya dikumpulkan
dan dimasak seperti halnya menanak nasi. Lamun tropis ini mempunyai bunga
jantan yang putih dengan tangkai yang pendek, bunga betinanya bertangkai
panjang dengan kelopak kemerah-merahan dan mahkota yang putih, sedangkan
buah berambut (Nontji, 1987 dalam Kordi, 2011).
F. Kerapatan dan Keanekaragaman Jenis Lamun (Seagrass)
Kerapatan merupakan hal mendasar untuk mempelajari pertumbuhan
lamun maupun mengestimasi produksi. Dalam penelitian Takaendengan (2010) di
Perairan Kema, Minahasa Utara menunjukkan bahwa kerapatan pada setiap jenis
lamun mempunyai variasi yang secara kuantitatif terdapat perbedaan pada setiap
lokasi. Kerapatan bervariasi dari masing-masing jenis lamun berkisar antara 171601 tegakan/m2. Kerapatan tertinggi rata-rata adalah jenis Thalassia hemprichii
1601 tegakan/m2 yang dijumpai pada lokasi 2 (pantai Kaburukan) dan yang
terendah Halophila ovalis (17 tegakan/m2 ) di lokasi 1 (pantai Tasikoki). Untuk
Halodule pinifolia yang hanya ditemukan pada lokasi 3 (pantai Lilang) memiliki
kerapatan rata-rata 324/tegakan/m2. Selain itu juga Thassodendron ciliatum hanya
dijumpai di lokasi 4 (pantai Makalisung) dengan jumlah kerapatan rata-rata
143/tegakan/m2.
Menurut Nur (2004), tingginya kerapatan jenis lamun sangat terkait
dengan jumlah jenis yang ditemukan dan kemungkinan sangat terkait dengan
karekteristik habitat seperti kedalaman, dan jenis substrat yang sangat mendukung
untuk pertumbuhan dan keberadaan lamun karena sangat terkait dengan penetrasi
cahaya yang dibutuhkan oleh lamun dalam proses fotosintesis. Rendahnya
kerapatan jenis pada stasiun disebabkan oleh sedikitnya jumlah jenis yang mampu
beradaptasi terhadap faktor lingkungan dan memiliki kedalaman yang tinggi
dibandingkan dengan stasiun lainnya dan memiliki substrat pasir berlumpur
sehingga jenis lamun yang ditemukan hanya terdiri dari Thalassia hemprichii,
Enhalus acoroides dan Cymodocea rotundata.
Azkab (2006) melaporkan bahwa di dunia tercatat sekitar 58 jenis lamun
yang dapat dijumpai dalam skala besar dan menutupi dasar perairan yang luas
untuk membentuk suatu padang lamun (Seagrass bed). Di perairan Indonesia
tercatat 12 jenis lamun yang tumbuh yaitu : Halodule pinifolia (miki) den Hartog,
H. uninervis (forsskal) Asherson, Cymodoceae rotundata Ehrenberg & Hemprich
ex Ascherson, C.serrulata (R. Brown) Ascherson & Magnus, Syringodium
isoetifolium (Ascherson) Dandy, Thalassodendon ciliatum (Forsskal), Enhalus
acoroides (Linnaeus f.) Royle, Thalassia hemprichii (Ehrenberg) Ascherson, H.
decipiens Ostenfeld, H. minor (Zollinger) den hartog dan H. spinulosa (R. Brown)
Ascherso.
Keanekaragaman hayati lamun yang paling tinggi dapat dijumpai di
perairan Teluk Flores dan Lombok, masing-masing terdapat 11 spesies.
Keanekaragaman spesies lamun di perairan Indonesia bagian barat lebih kecil
dibandingkan dengan di perairan Indonesia timur. Fortes (1990) dalam Kordi
(2011) menduga bahwa tingginya keanekaragaman spesies lamun di Indonesia
bagian timur disebabkan oleh posisi daerah ini lebih dekat dengan daerah pusat
penyebaran lamun di perairan Indo-Pasifik, yaitu Filipina yang memiliki 16
spesies dan Australia Barat yang memiliki 17 spesies.
G. Parameter Kualitas Air Untuk Pertumbuhan Lamun (Seagrass)
Faktor yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan padang lamun adalah
parameter kualitas air antara lain sebagai berikut:
1. Suhu
Beberapa peneliti melaporkan adanya pengaruh nyata perubahan suhu
terhadap kehidupan lamun, antara lain dapat mempengaruhi metabolisme,
penyerapan unsur hara dan kelangsungan hidup lamun (Brouns dan Hiejs, 1986
dalam Hendra, 2011).
Walaupun padang lamun secara geografis tersebar luas yang diindikasikan
oleh adanya kisaran toleransi yang luas terhadap temperatur tapi pada
kenyataannya spesies lamun di daerah tropik mempunyai toleransi yang rendah
terhadap perubahan temperatur. Kisaran suhu optimal bagi spesies lamun adalah
28-30 0C (Dahuri, 2003). Suhu mempengaruhi proses-proses fisiologi yaitu proses
fotosintesis, laju respirasi, pertumbuhan dan reproduksi. Proses fisiologis tersebut
akan menurun tajam apabila temperatur perairan berada di luar kisaran optimal
tersebut (Nybakken, 1992 dalam Nur, 2004). Demikian juga respirasi lamun
meningkat dengan meningkatnya suhu, namun dengan kisaran yang lebih luas
yaitu 5-35°C (Azkab, 1999).
Penelitian yang dilakukan Barber (1985) dalam Hendra (2011),
melaporkan produktivitas lamun yang tinggi pada suhu tinggi, bahkan diantara
faktor lingkungan yang diamati hanya suhu yang mempunyai pengaruh nyata
terhadap produktivitas tersebut. Pada kisaran suhu 10-35 °C produktivitas lamun
meningkat dengan meningkatnya suhu (Azkab, 1999).
2. Salinitas
Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi antar jenis dan umur. Lamun
yang tua dapat mentoleransi fluktuasi salinitas yang besar (Zieman 1993 dalam
Hendra 2011). Ditambahkan bahwa Thalassia ditemukan hidup dari salinitas 3,560 0/00, namun dengan waktu toleransi yang singkat. Kisaran optimum untuk
pertumbuhan Thalassia dilaporkan dari salinitas 24-35 0/00 (Azkab, 1999).
Salinitas juga dapat berpengaruh terhadap biomassa, produktivitas,
kerapatan, lebar daun dan kecepatan pulih lamun. Pada jenis Amphibolis antartica
biomassa, produktivitas dan kecepatan pulih tertinggi ditemukan pada salinitas
42,5
0
/00. Sedangkan kerapatan semakin meningkat dengan meningkatnya
salinitas, namun jumlah cabang dan lebar daun semakin menurun (Azkab, 1988
dalam Hendra 2011)
3. Derajat keasaman (pH)
Derajat keasaman adalah suatu ukuran tentang besarnya konsentrasi ion
hidrogen dan menunjukkan apakah suatu perairan itu bersifat asam atau basa,
dimana kemasaman merupakan suatu parameter yang dapat menentukan
produktivitas suatu perairan. Pada umumnya pH air laut tidak banyak bervariasi
karena adanya sistem karbondioksida dalam laut yang berfungsi sebagai
penyangga yang cukup kuat (Nontji, 1993 dalam Nur, 2004).
Kaswadji (1997) dalam Nur (2004) mengatakan bahwa suatu perairan
dengan pH 5,5 – 6,5 dan pH yang lebih dari 8,5 merupakan perairan yang tidak
produktif, perairan dengan pH 6,5-7,5 termasuk dalam perairan yang masih
produktif dan perairan dengan pH antara 7,5 – 8,5 mempunyai tingkat
produktifitas yang tinggi.
4. Kecerahan
Lamun membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi untuk melaksanakan
proses fotosintesis. Hal ini terbukti dari hasil observasi yang menunjukkan bahwa
distribusi padang lamun hanya terbatas pada daerah yang tidak terlalu dalam.
Namun demikian, pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa sebaran
komunitas lamun di dunia masih ditemukan hingga kedalaman 90 meter, asalkan
pada kedalaman ini masih dapat ditembus cahaya matahari (Dahuri, 2003).
5. Kedalaman
Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal.
Lamun tumbuh di zona intertidal bawah dan subtidal atas hingga mencapai
kedalaman 30 m. Zona intertidal dicirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi
oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia, sedangkan
Thalassodendron ciliatum mendominasi zona intertidal bawah. Kedalaman
perairan juga berpengaruh terhadap kerapatan dan pertumbuhan lamun (Hutomo,
et al, 1987 dalam Hendra, 2011 ).
6. Substrat
Hampir semua tipe substrat atau dasar perairan dapat ditumbuhi oleh
tumbuhan lamun, dari substrat berlumpur sampai berbatu, namun ekosistem
padang lamun yang luas umumnya dijumpai pada substrat lumpur berpasir tebal.
Substrat seperti ini umumnya berada diantara ekosistem Mangrove dan Terumbu
Karang. Tumbuhan lamun dapat hidup pada berbagai macam tipe sedimen, mulai
dari lumpur sampai karang. Syarat utama dari substrat yang dikehendaki oleh
lamun adalah kedalaman sedimen atau substrat yang cukup dalam. Ada dua
manfaat dari sedimen yang dalam yaitu dasar perairan lebih stabil, dan dapat
menjamin pasokan nutrien ke tumbuhan lamun (Tuwo, 2011).
Download