Microsoft Word

advertisement
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1
LED
Dioda cahaya atau lebih dikenal dengan sebutan LED (light-emitting
diode)
adalah
suatu
semikonduktor
yang
memancarkan
cahaya
monokromatik yang tidak koheren ketika diberi tegangan maju. Sebuah LED
adalah sejenis dioda semikonduktor istimewa. Seperti sebuah dioda normal,
LED terdiri dari sebuah chip bahan semikonduktor yang diisi penuh, atau didop, dengan ketidakmurnian untuk menciptakan sebuah struktur yang
disebut p-n junction. Pembawa muatan elektron dan lubang mengalir ke
junction dari elektroda dengan voltase berbeda. Ketika elektron bertemu
dengan lubang, dia jatuh ke tingkat energi yang lebih rendah, dan melepas
energi dalam bentuk photon.
Tak seperti lampu pijar dan neon, LED mempunyai kecenderungan
polarisasi. Chip LED mempunyai kutub positif dan negatif (p-n) dan hanya
akan menyala bila diberikan arus maju. Ini dikarenakan LED terbuat dari
bahan semikonduktor yang hanya akan mengizinkan arus listrik mengalir ke
satu arah dan tidak ke arah sebaliknya. Bila LED diberikan arus terbalik,
hanya akan ada sedikit arus yang melewati chip LED. Ini menyebabkan chip
LED tidak akan mengeluarkan emisi cahaya.
7
8
Chip LED pada umumnya mempunyai tegangan rusak yang relatif
rendah. Bila diberikan tegangan beberapa volt ke arah terbalik, biasanya
sifat isolator searah LED akan rusak menyebabkan arus dapat mengalir ke
arah sebaliknya. Karakteristik chip LED pada umumnya adalah sama
dengan karakteristik dioda yang hanya memerlukan tegangan tertentu untuk
dapat beroperasi. Namun bila diberikan tegangan yang terlalu besar, LED
akan rusak walaupun tegangan yang diberikan adalah tegangan maju.
Tegangan yang diperlukan sebuah dioda untuk dapat beroperasi adalah
tegangan maju.
Berikut ini adalah gambar penampakan dari LED :
Gambar 2.1 Gambar LED
2.2
Multiplexing pada Led Matrix
Multiplexing adalah teknik penyusunan untuk mengoperasikan led
matrix. Pada multiplexing akan mengaktifkan satu baris pada led matrix
pada saat-saat tertentu, karena satu kaki dari tiap-tiap led (katoda atau
anoda) dihubungkan menjadi satu. Secara penyusunan dan common yang
9
diberikan multiplexing ada 2 macam yaitu common katoda atau common
anoda.
Multiplexing menggunakan Red Green Led yaitu menyusun tiap-tiap
led berwarna merah dan hijau menjadi satu titik dan menghubungkan kaki
katoda
atau
anoda
pada
tiap
led
menjadi
satu.
Gambar 2.2 Multiplex Led Matrix R/G
Pada gambar diatas multiplexing common-row katoda terjadi
menghubungkan tiap-tiap led berwarna merah dan hijau menjadi 1 titik dan
masing-masing kaki katoda terhubung menjadi satu baris dan kaki anoda
pada tiap-tiap led terhubung menjadi satu kolom. Dapat disimpulkan pada
COL pin 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11 dan 12 menghubungkan kaki anoda led yang
berwarna hijau (green) dan COL pin 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20
10
menghubungkan kaki anoda led yang berwarna merah (red) sedangkan
ROW pin 1, 2, 3, 4, 21, 22, 23, 24 menghubungkan kaki katoda dan pada
pin ROW ini-lah yang menjadi pin perintah untuk menyalakan tiap led
dengan memberi logik low selain itu diperlukan data yang berasal dari pin
COL untuk mentukan warna led yang ingin dinyalakan dengan memberikan
logik high.
2.3
Shift Register
Shift register adalah suatu register yang memiliki empat model
operasi bitwise (serial ke serial, serial ke paralel, paralel ke serial, dan
paralel ke paralel) disebut sebagai universal shift register (USR)
Dalam praktek, untuk mengisi register atau untuk menyimpan data
dapat dilakukan dengan dua cara:
1. Dimasukkan secara Jajar (Parallel In):
Pada cara ini semua bagian resgister diisi pada saat yang
bersamaan. Cara yang pertama (Parallel in) ditunjukkan sesuai
gambar di bawah ini:
Data:
1
1
Output:
1
1
0
0
1
1
11
Prinsip kerja parallel In :
Output masing-masing register akan respon sesuai data
secara serempak setelah input kontrol diberi nilai logika “1”.
2. Dimasukkan secara Deret (Serial In):
Pada cara ini data dimasukkan bit demi bit mulai dari nilai
yang paling ujung (dapat dari kiri atau dari kanan), dan digeser
sampai semuanya terisi. Penggeseran data diatur oleh sinyal Clock
tiap kali data dimasukkan satu-persatu.
Sedangkan pada cara yang kedua (serial in), bila data digeser
dari kanan ke kiri disebut “Register bergeser ke kiri” (Shift-Left
Register), sebaliknya bila data digeser dari kiri ke kanan disebut
“Register bergeser ke kanan” (Shift-Right Register). Masingmasing cara tersebut digambarkan sesuai gambar di bawah ini:
0
0
0
0
1101
Ket: Register dalam keadaan kosong. Data siap masuk, menunggu
Clock.
0
0
0
1
1010
Ket: Sinyal clock pertama, satu bit data mulai masuk.
0
0
1
1
0100
12
Ket: Sinyal clock kedua, data yang pertama bergeser, data kedua
mulai masuk.
0
1
1
0
Ket: Sinyal clock ketiga, data yang pertama dan kedua bergeser,
data ketiga mulai masuk
1
1
0
1
Ket: Sinyal clock keempat, data yang pertama, kedua dan ketiga
bergeser, data keempat mulai masuk
2.4
Mikrokontroller
Mikrokontroller merupakan sebuah processor yang digunakan untuk
kepentingan kontrol. Meskipun mempunyai bentuk yang jauh lebih kecil
dari suatu komputer pribadi dan computer mainframe, mikrokontroller
dibangun dari elemen – elemen dasar yang sama. Seperti umumnya
komputer, mikrokontroller adalah alat yang mengerjakan instruksi –
instruksi yang diberikan kepadanya. Artinya, bagian terpenting dan utama
dari suatu sistem terkomputerisasi adalah program itu sendiri yang dibuat
oleh seorang programmer. Program ini menginstruksikan komputer untuk
melakukan tugas yang lebih kompleks yang diinginkan oleh programmer.
13
Beberapa fitur yang umumnya ada di dalam mikrokontroller adalah
sebagai berikut :
• RAM ( Random Access Memory )
RAM digunakan oleh mikrokontroller untuk tempat penyimpanan
variable. Memori ini bersifat volatile yang berarti akan kehilangan
semua datanya jika tidak mendapatkan catu daya.
• ROM ( Read Only Memory )
ROM seringkali disebut sebagai kode memori karena berfungsi
untuk tempat penyimpanan program yang akan diberikan oleh user
• Register
Merupakan tempat penyimpanan nilai – nilai yang akan digunakan
dalam proses yang telah disediakan oleh mikrokontroller
• Special Function Register
Merupakan register khusus yang berfungsi untuk mengatur jalannya
mikrokontroller. Register ini terletak pada RAM
• Input dan Output Pin
Pin input adalah bagian yang berfungsi sebagai penerima signal dari
luar, pin ini dapat dihubungkan ke berbagai media inputan seperti
keypad, sensor, dan sebagainya. Pin output adalah bagian yang
berfungsi untuk mengeluarkan signal dari hasil proses algoritma
14
mikrokontroller
• Interrupt
Interrupt bagian dari mikrokontroller yang berfungsi sebagai bagian
yang dapat melakukan interupsi, sehingga ketika program utama
sedang berjalan, program utama tersebut dapat diinterupsi dan
menjalankan program interupsi terlebih dahulu.
Beberapa interrupt pada umumnya adalah sebagai berikut :
 Interrupt Eksternal
Interrupt akan terjadi bila ada inputan dari pin interrupt
 Interrupt timer
Interrupt akan terjadi bila waktu tertentu telah tercapai
 Interrupt serial
Interupt yang terjadi ketika ada penerimaan data dari
komunikasi serial
2.4.1
Fitur AVR ATMega328
ATMega328 adalah mikrokontroller keluaran dari atmel yang
mempunyai arsitektur RISC (Reduce Instruction Set Computer)
yang dimana setiap proses eksekusi data lebih cepat dari pada
15
arsitektur CISC (Completed Instruction Set Computer).
Mikrokontroller ini memiliki beberapa fitur antara lain :
•
130 macam instruksi yang hampir semuanya dieksekusi
dalam satu siklus clock.
•
32 x 8-bit register serba guna.
•
Kecepatan mencapai 16 MIPS dengan clock 16 MHz.
•
32 KB Flash memory dan pada arduino memiliki
bootloader yang menggunakan 2 KB dari flash memori
sebagai bootloader.
•
Memiliki
EEPROM
(Electrically
Programmable Read Only Memory)
Erasable
sebesar 1KB
sebagai tempat penyimpanan data semi permanent
karena EEPROM tetap dapat menyimpan data meskipun
catu daya dimatikan.
•
Memiliki SRAM (Static Random Access Memory)
sebesar 2KB.
•
Memiliki pin I/O digital sebanyak 14 pin 6 diantaranya
PWM (Pulse Width Modulation) output.
•
Master / Slave SPI Serial interface.
16
Mikrokontroller ATmega 328 memiliki arsitektur Harvard,
yaitu memisahkan memori untuk kode program dan memori untuk
data sehingga dapat memaksimalkan kerja dan parallelism.
Instruksi – instruksi dalam memori program dieksekusi dalam satu
alur tunggal, dimana pada saat satu instruksi dikerjakan instruksi
berikutnya sudah diambil dari memori program. Konsep inilah
yang memungkinkan instruksi – instruksi dapat dieksekusi dalam
setiap satu siklus clock.
32 x 8-bit register serba guna digunakan untuk mendukung
operasi pada ALU ( Arithmatic Logic unit ) yang dapat dilakukan
dalam satu siklus. 6 dari register serbaguna ini dapat digunakan
sebagai 3 buah register pointer 16-bit pada mode pengalamatan tak
langsung untuk mengambil data pada ruang memori data. Ketiga
register pointer 16-bit ini disebut dengan register X ( gabungan
R26 dan R27 ), register Y ( gabungan R28 dan R29 ), dan register
Z ( gabungan R30 dan R31 ).
Hampir semua instruksi AVR memiliki format 16-bit. Setiap
alamat memori program terdiri dari instruksi 16-bit atau 32-bit.
Selain register serba guna di atas, terdapat register lain yang
terpetakan dengan teknik memory mapped I/O selebar 64 byte.
Beberapa register ini digunakan untuk fungsi khusus antara lain
sebagai register control Timer/ Counter, Interupsi, ADC, USART,
17
SPI, EEPROM, dan fungsi I/O lainnya. Register – register ini
menempati memori pada alamat 0x20h – 0x5Fh.
Berikut ini adalah tampilan architecture ATmega 328 :
Gambar 2.3 Architecture ATmega328
18
2.4.2
Konfigurasi PIN ATMega328
Gambar 2.4 Konfigurasi Pin ATMega328
Table 2.1 Konfigurasi Port B
19
Table 2.2 Konfigurasi Port C
Tabel 2.3 Konfigurasi Port D
20
2.4.3
Arduino
Arduino
adalah sebuah board mikrokontroller yang
berbasis ATmega328. Arduino memiliki 14 pin input/output yang
mana 6 pin dapat digunakan sebagai output PWM, 6 analog input,
crystal osilator 16 MHz, koneksi USB, jack power, kepala ICSP,
dan tombol reset. Arduino mampu men-support mikrokontroller;
dapat dikoneksikan dengan komputer menggunakan kabel USB.
Gambar 2.5 Board Arduino ATmega328
Berikut ini adalah konfigurasi dari arduino duemilanove 328 :
 Mikronkontroler ATmega328
 Beroperasi pada tegangan 5V
21
 Tegangan input (rekomendasi) 7 - 12V
 Batas tegangan input 6 - 20V
 Pin digital input/output 14 (6 mendukung output PWM)
 Pin analog input 6
 Arus pin per input/output 40 mA
 Arus untuk pin 3.3V adalah 50 mA
 Flash Memory 32 KB (ATmega328) yang mana 2 KB
digunakan oleh bootloader
 SRAM 2 KB (ATmega328)
 EEPROM 1KB (ATmega328)
 Kecepatan clock 16 MHz
•
Power
Arduino dapat diberikan power melalui koneksi USB atau power
supply. Powernya diselek secara otomatis. Power supply dapat
menggunakan
adaptor
DC
atau
baterai.
Adaptor
dapat
dikoneksikan dengan mencolok jack adaptor pada koneksi port
input supply. Board arduino dapat dioperasikan menggunakan
supply dari luar sebesar 6 - 20 volt. Jika supply kurang dari 7V,
kadangkala pin 5V akan menyuplai kurang dari 5 volt dan board
bisa menjadi tidak stabil. Jika menggunakan lebih dari 12 V,
22
tegangan
di
regulator
bisa
menjadi
sangat
panas
dan
menyebabkan kerusakan pada board. Rekomendasi tegangan ada
pada 7 sampai 12 volt.
Penjelasan pada pin power adalah sebagai berikut :
 Vin
Tegangan input ke board arduino ketika menggunakan
tegangan dari luar (seperti yang disebutkan 5 volt dari
koneksi
USB
atau
tegangan
yang
diregulasikan).
Pengguna dapat memberikan tegangan melalui pin ini,
atau jika tegangan suplai menggunakan power jack,
aksesnya menggunakan pin ini.
 5V
Regulasi
power
supply
digunakan
untuk
power
mikrokontroller dan komponen lainnya pada board. 5V
dapat melalui Vin menggunakan regulator pada board,
atau supply oleh USB atau supply regulasi 5V lainnya.
 3V3.
Suplai 3.3 volt didapat oleh FTDI chip yang ada di board.
Arus maximumnya adalah 50mA
 Pin Ground berfungsi sebagai jalur ground pada arduino
23
•
Memori
ATmega328 memiliki 32 KB flash memori untuk menyimpan
kode, juga 2 KB yang digunakan untuk bootloader. ATmega328
memiliki 2 KB untuk SRAM dan 1 KB untuk EEPROM.
•
Input dan Output
Setiap 14 pin digital pada arduino dapat digunakan sebagai input
atau output, menggunakan fungsi pinMode(), digitalWrite(), dan
digitalRead(). Input/output dioperasikan pada 5 volt. Setiap pin
dapat menghasilkan atau menerima maximum 40 mA dan
memiliki internal pull-up resistor (disconnected oleh default) 2050 KOhms. Beberapa pin memiliki fungsi sebagai berikut :
 Serial : 0 (RX) dan 1 (TX). Digunakan untuk menerima
(RX) dan mengirim (TX) TTL data serial. Pin ini
terhubung pada pin yang koresponding dari USB FTDI ke
TTL chip serial.
 Interupt eksternal : 2 dan 3. Pin ini dapat dikonfigurasikan
untuk trigger sebuah interap pada low value, rising atau
falling edge, atau perubahan nilai.
 PWM : 3, 5, 6, 9, 10, dan 11. Mendukung 8-bit output
PWM dengan fungsi analogWrite().
24
 SPI : 10 (SS), 11 (MOSI), 12 (MISO), 13 (SCK). Pin ini
mensuport komunikasi SPI, yang mana masih mendukung
hardware, yang tidak termasuk pada bahasa arduino.
 LED : 13. Ini adalah dibuat untuk koneksi LED ke digital
pin 13. Ketika pin bernilai HIGH, LED hidup, ketika pin
LOW, LED mati.
2.5
Sensor Ping Ultrasonic
Dalam sistem otomatisasi perubahan informasi pada led matrix untuk
mendeteksi adanya suatu objek digunakan sensor ping))) ultrasonic. Sensor
PING Ultrsonic yang digunakan adalah sensor dari perusahan PARALLAX
yang memiliki karakterisitik sebagai berikut :
1. Sumber catu daya yang digunakan adalah 5 Volt dan sumber arus
30 mA (minimum) dan 35 mA (maksimum).
2. Jarak objek yang dideteksi adalah 2 cm (minimum) sampai dengan
3 m (maksimum).
3. Mempunyai 3 pin interface (power) inputan volt sebesar 5 volt,
(ground) pin ground terhubung dengan ground mikrokontroller dan
yang terakhir pin (SIG) signal input output.
4. Input Triger-nya merupakan pulsa TTL positif sebesar 2 μs, typical
5 μs.
25
5. Pulse Echo merupakan pulsa TTL positif sebesar 115 μs (minimum)
dan 18 ms (maksimum).
6. Hold off Echo-nya merupakan 350 μs dari kondisi falling dari
kondisi trigger.
7. Frekuensi burst-nya
merupakan
40
KHz (diatas
frekuensi
pendengaran manusia).
8. Berkerja dengan baik pada range temperatur 0 oC sampai dengan 70
o
C.
9. Sensor ping ))) tidak dapat menditeksi objek yang terlalu kecil.
Gambar 2.6 dimensi Sensor PING Ultrasonic
26
Gambar 2.7 Konfigurasi Sensor PING Ultrasonic
Gambar 2.8 Diagram waktu sensor PING)))
Sensor Ping mendeteksi jarak objek dengan cara memancarkan
gelombang ultrasonik (40 kHz) selama tBURST (200 μs) kemudian
mendeteksi pantulannya. Sensor Ping memancarkan gelombang ultrasonik
sesuai dengan kontrol dari mikrokontroller pengendali (pulsa trigger dengan
27
tOUT min. 2 μs). Gelombang ultrasonik ini melalui udara dengan kecepatan
344 meter per detik, mengenai objek dan memantul kembali ke sensor. Ping
mengeluarkan pulsa output high pada pin SIG setelah memancarkan
gelombang ultrasonik dan setelah gelombang pantulan terdeteksi Ping akan
membuat output low pada pin SIG. Lebar pulsa High (tIN) akan sesuai
dengan lama waktu tempuh gelombang ultrasonik untuk 2x jarak ukur
dengan objek. Maka jarak yang diukur adalah [(tIN s x 344 m/s) ÷ 2] meter.
Gambar 2.9 Proses Kerja Sensor PING Ultrasonic
2.5.1
Gelombang Ultrasonik
Gelombang ultrasonic adalah gelombang sinusoidal dengan
besar frekuensi di atas frekuensi gelombang suara yaitu lebih dari
20 KHz sampai dengan 500 KHz. Sensor Ultrasonic bekerja
berdasarkan prinsip pantulan gelombang suara, dimana sensor ini
menghasilkan gelombang suara yang kemudian menangkapnya
kembali dengan perbedaan waktu sebagai dasar penginderaanya.
Perbedaan waktu antara gelombang suara yang dipancarkan
28
dengan
ditangkapnya
kembali
gelombang
suara
tersebut
merupakan representasi jarak. Kecepatan rambat gelombang
ultrasonic dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain suhu,
tekanan, kelembapan, dan signal radio
Beberapa hal yang penting dalam pemantulan gelombang
sensor ultrasonic adalah sebagai berikut :
•
Bahan atau jenis matrial
Objek padat akan memantulkan gelombang yang jauh
lebih baik dari pada objek cair. Objek padat terbuat dari
besi baja akan memberikan pemantulan echo yang lebih
baik dibandingkan objek padat kayu atau gabus,
dikarenakan
kayu
sedikit-banyak
dapat
menyerap
gelombang yang mengenai dan dipantulkan kembali.
Dalam hal ini objek manusia cukup baik dalam proses
pemantulan gelombang ultrasonik.
•
Pola permukaan objek
Objek dengan permukaan datar, halus dan tegak lurus
dengan sinyal ultrasonik akan memberikan pemantulan
(Echo) yang lebih baik dibanding dengan permukaan
yang tidak rata dan posisi objek tidak mendukung
pemaantulan gelombang secara sempurna.
29
•
Ukuran dan bentuk objek
Objek
dengan
ukuran
yang
lebih
besar
akan
memantulkan lebih banyak gelombang dibandingkan
dengan objek yang lebih kecil sehingga memberikan
hasil yang tidak baik bahkan sampai tidak terdeteksi
adanya suatu objek.
Objek
dengan
gelombang
bentuk
ultrasonik
bola
ke
dapat
segalah
memantulkan
arah
sehingga
pemantulan gelombang yang diterima oleh sensor PING
Ultrasonic menjadi lemah atau tidak baik dan sebaliknya
jika objek dengan bentuk datar akan memantulkan
gelombang yang lebih baik atau sempurna.
2.6
Serial Peripheral Interface (SPI)
Serial Peripheral Interface ( SPI ) merupakan salah satu mode
komunikasi serial synchrounous kecepatan tinggi yang dimiliki oleh
ATmega 328. Komunikasi SPI membutuhkan 3 jalur yaitu MOSI, MISO,
dan SCK. Melalui komunikasi ini data dapat saling dikirimkan baik antara
mikrokontroller maupun antara mikrokontroller dengan peripheral lain di
luar mikrokontroller
Penjelasan 3 jalur utama dari SPI adalah sebagai berikut :
• MOSI : Master Output Slave Input
Artinya jika dikonfigurasi sebagai master maka pin MOSI sebagai
30
output tetapi jika dikonfigurasi sebagai slave maka pin MOSI
sebagai input.
• MISO : Master Input Slave Output
Artinya jika dikonfigurasi sebagai master maka pin MISO sebagai
input tetapi jika dikonfigurasi sebagai slave maka pin MISO
sebagai output.
• CLK : Clock
Jika dikonfigurasi sebagai master maka pin CLK berlaku sebagai
output tetapi jika dikonfigurasi sebagai slave maka pin CLK
berlaku sebagai input.
Untuk mengatur mode kerja komunikasi SPI ini dilakukan dengan
menggunakan register SPCR (SPI Control Register), SPSR (SPI Status
Register) dam SPDR (SPI Data Register)
2.6.1
SPI Control Register (SPCR)
Mode SPCR yang digunakan adalah sebagai berikut :
•
Bit-6 SPE (SPI Enable)
SPE digunakan untuk mengaktifkan dan menonaktifkan
komunikasi SPI dimana jika SPI bernilai 1 maka
komunikasi SPI aktif sedangkan jika bernilai 0 maka
komunikasi SPI tidak aktif.
31
•
Bit-4 MSTR (Master or Slave Select)
MSTR digunakan untuk mengkonfigurasi sebagai master
atau slave secara software dimana jika MSTR bernilai 1
maka terkonfigurasi sebagai master sedangkan MSTR
bernilai 0 maka terkonfigurasi sebagai slave. Pengaturan
bit MSTR ini tidak akan bisa dilakukan jika pin SS
dikonfigurasi
sebagai
input
karena
jika
pin
SS
dikonfigurasi sebagai input maka penentuan master atau
slavenya otomatis dilakukan secara hardware yaitu
dengan membaca level tegangan pada SS
• Bit-1 SPR1/0 (SPI Clock Rate Select)
SPR1 dan SPR0 digunakan untuk menentukan kecepatan
clock yang digunakan dalam komunikasi SPI.
2.6.2
SPI Status Register (SPSR)
Dalam SPSR mode pengaturan yang dilakukan adalah sebagai
berikut :
•
SPIF (SPI Interrupt Flag)
SPIF
merupakan
bendera
yang
digunakan
untuk
mengetahui bahwa proses pengiriman data 1 byte sudah
selesai. Jika proses pengiriman data sudah selesai maka
SPIF akan bernilai satu (high).
32
2.6.3
SPI Data Register (SPDR)
SPDR merupakan register yang digunakan untuk menyimpan
data yang akan dikirim atau diterima pada komunikasi SPI.
2.7
KOMUNIKASI SERIAL
Komunikasi serial merupakan komunikasi data dengan pengiriman
data secara satu per satu pada waktu tertentu. Sehingga komunikasi data
serial hanya menggunakan dua kabel yaitu kabel data untuk pengiriman
yang disebut transmit ( TX ) dan kabel data untuk penerimaan yang disebut
receive ( RX ). Kelebihan dari komunikasi serial adalah jarak pengiriman
dan penerimaan dapat dilakukan dalam jarak yang cukup jauh dibandingkan
dengan komunikasi parallel tetapi kekurangannya kecepatannya lebih
lambat dibandingkan komunikasi parallel
Dalam komunikasi serial dikenal ada dua mode komunikasi serial :
•
Mode Sinkron
Mode sinkron merupakan mode komunikasi yang pengiriman
tiap bit data dilakukan dengan menggunakan sinkronisasi
clock. Pada saat transmitter hendak mengirimkan data, harus
disertai clock untuk sinkronisasi antara transmitter dan
receiver
33
•
Mode Asinkron
Komunikasi asinkron serial merupakan sebuah protocol
transmisi
asinkronous,
dimana
komunikasi
ini
tidak
menggunakan clock, tetapi telah memiliki baudrate yang telah
disepakati
oleh
masing-masing
sistem
yang
sedang
berkomunikasi. Kerja dari komunikasi ini adalah, signal start
dikirimkan pada saat sebelum data dikirimkan dan signal stop
dikirimkan setelah setiap data selesai dikirimkan. Signal start
digunakan untuk
mempersiapkan mekanisme penerimaan
untuk menerima dan memproses data yang akan dikirimkan
dan signal stop berguna untuk mempersiapkan mekanisme
penerimaan data berikutnya.
Berikut ini adalah protocol pengiriman data secara serial
asinkron :
1. Start bit selalu berlogic LOW
2. Pengiriman data bit dari 0 sampai 8
3. Parity bit
4. Stop bit selalu berlogic HIGH
34
5. IDLE jika tidak ada pengiriman data selanjutnya
Gambar 2.10 Protocol UART
Download