EFEKTIVITAS FITOFARMAKA DALAM PAKAN UNTUK

advertisement
EFEKTIVITAS FITOFARMAKA DALAM PAKAN
UNTUK PENCEGAHAN INFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila
PADA IKAN LELE DUMBO Clarias sp.
YESY SARTIKA
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
EFEKTIVITAS FITOFARMAKA DALAM PAKAN UNTUK
PENCEGAHAN INFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila PADA IKAN
LELE DUMBO Clarias sp.
YESY SARTIKA
SKRIPSI
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada
Program Studi Teknologi & Manajemen Perikanan Budidaya
Departemen Budidaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI
DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:
EFEKTIVITAS
FITOFARMAKA
DALAM
PAKAN
UNTUK
PENCEGAHAN INFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila PADA IKAN
LELE DUMBO Clarias sp.
adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apa pun
kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka
dibagian akhir skripsi ini.
Bogor, Juni 2011
YESY SARTIKA
C14070039
Judul Skripsi
: Efektivitas fitofarmaka dalam pakan untuk pencegahan
infeksi bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele
dumbo Clarias sp.
Nama Mahasiswa
: Yesy Sartika
Nomor Pokok
: C14070039
Disetujui
Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. Dinamella Wahjuningrum
Dr. Mia Setiawati
NIP. 19700521 199903 2 001
NIP. 19641026 199203 2 001
Diketahui
Ketua Departemen Budidaya Perairan
Dr. Ir. Odang Carman M.Sc
NIP. 19591222 198601 1 001
Tanggal lulus :
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat
dan karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini dapat terselesaikan. Tema dari
penelitian yang dilaksanakan dari tanggal 31 Januari sampai 2 April 2011 di
Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor adalah fitofarmaka dengan
judul penelitian “Efektivitas fitofarmaka dalam pakan untuk pencegahan infeksi
bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp”.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Dinamella Wahjuningrum
dan Dr. Mia Setiawati selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan arahan,
bimbingan serta motivasi selama penelitian dan penyusunan skripsi. Disamping
itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua , keluarga
besar, dan Mukhlish yang telah memberikan doa dan motivasi yang besar.
Keluarga Besar Asrama Mahasiswa Belitung Bogor, Combat (BDP44), LKI’ers,
Pak Ranta, kak Karno, kak Ewa, kak Rahmat, kak Rahman atas bantuan dan
semangatnya.
Bogor, Juni 2011
YESY SARTIKA
C14070039
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Belitung tanggal 25 Maret 1990. Penulis merupakan anak
kelima dari lima bersaudara, dengan Ayah bernama Topiani dan Ibu bernama
Hasimi.
Pendidikan formal yang dilalui penulis adalah SDN 2 Simpang Pesak lulus
tahun 2003, SMP Negeri 1 Dendang lulus tahun 2005, dan SMA Negeri 1
Tanjung Pandan lulus tahun 2007. Pada tahun yang sama penulis lulus seleksi
masuk IPB melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Program Studi
Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah mengikuti magang di Balai
Budidaya Air Tawar di Belitung Timur pada tahun 2008, dan praktek lapangan
akuakultur di Hatchery Air Saga, Belitung pada tahun 2010. Penulis juga menjadi
asisten untuk program S1 pada mata kuliah Manajemen Kesehatan Akuakultur
pada tahun 2011. Selain itu penulis juga aktif sebagai pengurus Himpunan
Mahasiswa
Akuakultur
(HIMAKUA)
yaitu
sebagai
Bandahara
divisi
Kewirausahaan 2008-2009 dan Bandahara divisi Marketing 2009-2010. Tugas
akhir dalam pendidikan tinggi diselesaikan dengan menulis skripsi yang berjudul
“Efektivitas fitofarmaka dalam pakan untuk pencegahan infeksi bakteri
Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp”.
ABSTRAK
YESY SARTIKA. Efektivitas Fitofarmaka dalam Pakan untuk Pencegahan
Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophila pada Ikan Lele Dumbo Clarias sp.
Dibimbing oleh DINAMELLA WAHJUNINGRUM dan MIA SETIAWATI.
Aeromonas hydrophila merupakan bakteri penyebab penyakit Motile Aeromonad
Septicaemia (MAS) pada ikan lele Clarias sp. Beberapa bahan fitofarmaka dapat
mencegah penyakit MAS pada ikan lele Clarias sp. Tujuan penelitian ini adalah
untuk menentukan bahan fitofarmaka ; lidah buaya (A), daun pepaya (B), meniran
yang ditambah bawang putih (C), dan paci-paci (D) yang paling efektif yang
masing-masing dicampur ke dalam pakan komersil melalui repeleting sebagai
upaya pencegahan penyakit MAS pada ikan lele dumbo Clarias sp. Ikan lele yang
digunakan memiliki panjang 7.81±1.48 gram. Wadah yang digunakan adalah
akuarium yang berukuran 60x30x30 cm sebanyak 18 buah. Perlakuan yang
diujikan adalah lidah buaya (0.5%), daun pepaya (4%), meniran+bawang putih
(2.1%), dan paci-paci (4%), K- (tanpa bahan fitofarmaka dan disuntik dengan PBS
0.1 ml), dan K+ (tanpa bahan fitofarmaka dan diuji tantang dengan A. hydrophila
0.1 ml). Ikan uji diberi pakan perlakuan selama 14 hari sebanyak dua kali sehari
secara at satiation, dan pada hari ke-15 dilakukan uji in vivo dengan
menyuntikkan A. hydrophila (108 CFU/ml) ke ikan uji secara intramuskular dan
dilakukan pengamatan selama 10 hari. Parameter yang diamati yaitu respon ikan
terhadap pakan, kelangsungan hidup, pertumbuhan relatif, gejala klinis,
penyembuhan luka, organ dalam, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan
kelangsungan hidup ikan perlakuan K- 100±0%, perlakuan C 66.67±11.55%,
perlakuan D 60±34.64%, perlakuan B 40±20%, dan perlakuan A 26.67±23.09%.
Perlakuan K- tidak berbeda nyata dengan perlakuan C dan D (p>0.05). Perlakuan
kombinasi antara meniran dan bawang putih, dan paci-paci efektif untuk
pencegahan penyakit MAS pada ikan lele dumbo Clarias sp.
Kata kunci : A. hydrophila, lele dumbo, fitofarmaka
----------------------------------ABSTRACT
YESY SARTIKA. The Effectivity of Herbal Plant On Feed For the Prevention of
Aeromonas hydrophila Infection Prevention In Catfish Clarias sp. Supervised by
DINAMELLA WAHJUNINGRUM and MIA SETIAWATI.
Aeromonas hydrophila is a bacteria that causes Motile Aeromonad Septicaemia
(MAS) disease in the catfish Clarias sp. Some herbal plant can prevent MAS
diseases in catfish Clarias sp. The purpose of this research was to determine
herbal plant; Aloe vera (A), Carica papaya L. (B), Phyllanthus niruri combine
Allium sativum (C), and Leucas lavandulaefolia (D) as the most effective which
were mixed into the commercial feed by means repeleting as the prevention of
MAS disease in catfish Clarias sp. Catfish that is used has a weight of
7.81 ± 1.48 gram. The container used is aquarium that measuring 60x30x30 cm as
many as 18 pieces. The treatments tested were aloe vera (0.5%), Carica papaya
L. (4%), Phyllanthus niruri + Allium sativum (2.1%), and Leucas lavandulaefolia
(4%), K- (without herbal plant treatment and injected with 0.1 ml PBS), and K+
(without herbal plant treatment and infected with 0.1 ml of A. hydrophila). Test
fish fed with treatment for 14 days, twice a day in at satiation, and at 15th days
test in vivo by injecting A. hydrophila (108 CFU/ml) into the fish by intramuscular
and observed for 10 days. Parameters measured were response fish out of fed,
survival rate, relative growth, clinical symptoms, wounds healing, organs
morphology, and water quality. The result of research show the survival of fish
treatment K- 100 ± 0%, treatment C 66.67 ± 11:55%, treatment D 60 ± 34.64%,
treatment B 40 ± 20 %, and treatment A 26.67 ± 9.23%. The survival was not
significantly different between treatment K-, C and D (p>0.05). Treatment
Phyllanthus niruri combine Allium sativum and Leucas lavandulaefolia was
effective for the prevention of MAS disease in catfish Clarias sp.
Key words : A. hydrophila, Clarias sp., herbal plant
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ..................................................................................
iii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................
iv
DAFTAR LAMPIRAN ..........................................................................
v
I.
PENDAHULUAN ...........................................................................
1
II. METODOLOGI..............................................................................
3
2.1 Metode Penelitian .......................................................................
3
2.1.1 Penyediaan Bakteri Uji ......................................................
3
2.1.2 Regenerasi Bakteri Uji.......................................................
3
2.1.3 Penentuan Nilai LD50 .......................................................
3
2.1.4 Penyediaan Bahan .............................................................
3
2.1.4.1 Pembuatan Tepung Lidah Buaya Aloe vera............
4
2.1.4.2 Pembuatan Tepung Daun Pepaya
Carica papaya L..................................................
4
2.1.4.3 Pembuatan Tepung Meniran Phyllanthus niruri
dan Bawang putih Allium sativum .........................
4
2.1.4.4 Pembuatan Tepung Paci-paci Leucas
lavandulaefolia ...................................................
5
2.1.5 Penentuan Dosis Perlakuan................................................
5
2.1.6 Pembuatan Pakan Perlakuan ..............................................
6
2.1.7 Persiapan Wadah dan Ikan.................................................
6
2.1.8 Uji in vivo..........................................................................
7
2.2 Parameter Pengamatan ................................................................
8
2.2.1 Respon Ikan terhadap Pakan ..............................................
8
2.2.2 Pertumbuhan .....................................................................
8
2.2.3 Kelangsungan Hidup .........................................................
8
2.2.4 Gejala Klinis dan Penyembuhan Luka ...............................
9
2.2.5 Pengamatan Organ Dalam .................................................
9
2.2.6 Kualitas Air .......................................................................
9
2.3 Analisis Data...............................................................................
10
III. HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................
11
3.1 Hasil ...........................................................................................
11
3.1.1 Identifikasi Bakteri Uji ......................................................
11
3.1.2 Uji LD50 ...........................................................................
11
3.1.3 Uji in vivo..........................................................................
12
3.1.3.1 Respon Ikan terhadap Pakan ..................................
12
3.1.3.2 Pertumbuhan .........................................................
12
3.1.3.3 Kelangsungan Hidup .............................................
13
3.1.3.4 Gejala Klinis..........................................................
14
3.1.3.5 Penyembuhan Luka ...............................................
17
3.1.3.6 Pengamatan Organ Dalam .....................................
22
3.1.3.7 Kualitas Air ...........................................................
23
3.2 Pembahasan ................................................................................
24
IV. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................
35
4.1 Kesimpulan .................................................................................
35
4.2 Saran...........................................................................................
35
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................
36
LAMPIRAN ...........................................................................................
39
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Komposisi Bahan Perlakuan dalam Pakan............................................
5
2. Parameter Kualitas Air, Satuan dan Alat Ukur......................................
9
3. Parameter Uji Sebelum dan Sesudah Infeksi.........................................
12
4. Penyembuhan Luka..............................................................................
21
5. Kualitas Air pada Akhir Perlakuan.......................................................
22
6. Hasil Penelitian Acuan.........................................................................
31
7. Hasil Penelitian Sekarang.....................................................................
31
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Skema Uji In Vivo..............................................................................
7
2. Tagging pada Ikan (Kurniawan, 2010) ...............................................
8
3. Morfologi koloni A. hydrophila Umur 1x24 Jam pada Media TSA.....
11
4. Ekspresi Sel A. hydrophila Hasil Pewarnaan Gram............................
11
5. Pertumbuhan Relatif Ikan Lele selama 14 Hari Sebelum Infeksi.........
13
6. Kelangsungan Hidup Ikan Lele pada Akhir Perlakuan........................
13
7. Jumlah Kematian Per Hari Pascainfeksi .............................................
14
8. Perlakuan Kontrol Negatif tidak Menimbulkan Gejala Klinis .............
14
9. Gejala Klinis Nekrosis Timbul pada Jam Ke-14 Perlakuan Kontrol
Positif ...............................................................................................
10. Gejala Klinis Hemoragi Timbul pada Hari Ke-1 Perlakuan Lidah
Buaya................................................................................................
15
15
11. Gejala Klinis Tukak Timbul pada Hari Ke-2 Perlakuan Daun
Pepaya ..............................................................................................
16
12. Gejala Klinis Hemoragi Timbul pada Hari Ke-2 Perlakuan
Meniran Ditambah Bawang Putih......................................................
16
13. Gejala Klinis berupa Nekrosis pada Hari Ke-2 Perlakuan Paci-paci....
16
14. Gejala Ikan Sebelum Mati Hari Ke-4 pada Perlakuan Daun Pepaya....
16
15. Perubahan Diameter Luka Perlakuan Kontrol Positif Ulangan 2.........
17
16. Perubahan Diameter Luka Perlakuan Lidah Buaya Ulangan 2.. ..........
18
17. Perubahan Diameter Luka Perlakuan Daun Pepaya Ulangan 3 ...........
19
18. Perubahan Diameter Luka Perlakuan meniran Ditambah Bawang
Putih Ulangan 2.. ..............................................................................
19
19. Perubahan Diameter Luka Perlakuan Paci-paci Ulangan 2..................
20
20. Organ dalam Ikan Lele Setiap Perlakuan (Keterangan : a= Ginjal,
b = Hati, c = Empedu, d = Limpa) ...................................................
21
21. Suhu Air selama Perlakuan ................................................................
23
22. Mekanisme Flavonoid dan Saponin sebagai Antimikroba
(Pelczar dan Chan 1988) ....................................................................
29
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Perhitungan Nilai LD50 ........................................................................
39
2. Jumlah Konsumsi Pakan ......................................................................
40
3. Analisis Statistik terhadap Jumlah Konsumsi Pakan Total Sebelum
Uji Tantang, Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup...........................
41
4. Gejala Klinis dan Diameter Luka Setiap Perlakuan ..............................
43
5. Persentase Penyembuhan Luka ............................................................
45
I. PENDAHULUAN
Ikan lele dumbo (Clarias sp.) merupakan salah satu komoditas air tawar
yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat. Budidaya ikan lele
berkembang secara pesat karena dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air
yang terbatas dengan padat tebar yang tinggi, teknologi yang digunakan sederhana
sehingga mudah dikuasai oleh masyarakat. Lele merupakan komoditas yang
mempunyai tingkat serapan pasar cukup tinggi. Khusus untuk pasar dalam negeri,
permintaan lele dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup
siginifikan. Permintaan lele ukuran konsumsi bisa mencapai 150 ton per hari
untuk daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), yang
sekitar 70% nya diserap oleh warung tenda (KKP, 2010a).
Permasalahan yang muncul seringkali diakibatkan padat tebar yang tinggi,
yaitu timbulnya penyakit. Penyakit yang sering menyerang ikan lele adalah
penyakit bakterial yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila. Penyakit ini
dapat menurunkan tingkat pertumbuhan, derajat kelangsungan hidup dan dikenal
dengan nama Motile Aeromonad Septicaemia (MAS).
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan keamanan
pangan, menuntut berbagai pihak yang terkait dengan perikanan budidaya untuk
menghasilkan produk yang berkualitas. Seluruh tahapan dalam budidaya ikan
harus memperhatikan sanitasi dan pengendalian dalam upaya mencegah
tercemarnya hasil perikanan budidaya dari berbagai bahaya keamanan pangan
seperti bakteri, logam berat serta pestisida, maupun residu bahan terlarang seperti
antibiotik dan hormon (KKP, 2010b).
Penggunaan antibiotik terhadap pengendalian bakteri infeksi ini sudah jelas
tidak dianjurkan, karena antibiotik dapat menyebabkan bakteri patogen tersebut
bersifat resisten. Sehingga harus diberikan solusi yang aman dan memiliki efek
positif terhadap pengendalian penyakit ini. Salah satu alternatif yang dapat
digunakan untuk pencegahan penyakit MAS yang disebabkan oleh bakteri A.
hydrophila adalah fitofarmaka. Fitofarmaka merupakan bahan alami yang ramah
lingkungan, tidak menimbulkan residu jika dikonsumsi ikan dan aman bagi
konsumen.
Berbagai macam fitofarmaka sudah digunakan untuk mencegah maupun
mengobati penyakit bakterial atau infeksi. Dosis 5 ppt (0.5%) dari ekstrak lidah
buaya Aloe vera merupakan dosis yang efektif digunakan untuk mencegah infeksi
A.hydrophila pada ikan lele dumbo (Faridah, 2010). Dosis efektif dari ekstrak
daun pepaya Carica papaya L. yang berguna dalam pencegahan penyakit MAS
pada ikan lele adalah 20 mg/ml (2%) (Setiaji, 2009). Kombinasi tepung meniran
Phyllanthus niruri dan bawang putih Allium sativum dalam pakan dengan dosis
2.1% efektif untuk mencegah penyakit MAS (Kurniawan, 2010). Ikan lele uji
dengan perlakuan pencegahan yang diberikan ekstrak paci-paci Leucas
lavandulaefolia dengan konsentrasi 4 g/100 ml (4%) yang dicampur ke dalam
pakan cukup efektif untuk menekan infeksi yang disebabkan A. hydrophila
(Utami, 2009). Lidah buaya, daun pepaya, meniran ditambah bawang putih, dan
paci-paci, terbukti dapat mencegah penyakit MAS yang disebabkan bakteri A.
hydrophila pada ikan lele dumbo.
Bahan perlakuan pada penelitian Utami (2009), Setiaji (2009) dan Faridah
(2010) diekstrak dan dicampurkan ke pakan dengan menggunakan binder berupa
putih telur. Pada penelitian ini mengacu pada metode penelitian Kurniawan (2010)
yaitu penepungan bahan fitofarmaka dan dicampurkan ke dalam tepung pakan
komersil kemudian direpelleting. Hal ini dianggap lebih praktis dalam pembuatan
dan pemberiannya pada ikan, karena kemungkinan leaching sangat kecil karena
bahan perlakuan tercampur secara homogen di dalam pakan.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bahan perlakuan yang paling
efektif diantara lidah buaya, daun pepaya, meniran ditambah bawang putih, dan
paci-paci, dalam pakan sebagai upaya pencegahan penyakit MAS pada ikan lele
dumbo Clarias sp.
II. METODOLOGI
2.1 Metode Penelitian
2.1.1 Penyediaan Bakteri Uji
Bakteri uji yang digunakan adalah bakteri Aeromonas hydrophila yang
diperoleh dari Laboratorium Kesehatan Ikan. Kemudian bakteri ini disuntikkan ke
ikan lele secara intramuskular untuk menguji virulensinya. Setelah itu dilakukan
reisolasi dengan cara menggoreskan ose ke bagian ginjal kemudian dibiakkan di
Trypticase Soy Agar (TSA) dan diinkubasi selama 24 jam dalam inkubator.
Koloni bakteri dari isolat yang berasal dari Laboratorium Kesehatan Ikan dan
hasil reisolasi dilakukan pengamatan terhadap morfologinya. Untuk mendapatkan
biakan murni maka diambil koloni yang tumbuh secara terpisah dan memiliki
morfologi yang berlainan diisolasi kembali ke dalam media TSA miring dan
diinkubasi selama 24 jam dalam inkubator. Identifikasi yang dilakukan yaitu
pewarnaan Gram dan uji biokimia yang meliputi uji oksidatif/fermentatif,
motilitas, oksidase dan katalase (Garrity, 2005).
2.1.2 Regenerasi Bakteri Uji
Bakteri yang diujikan diregenerasi terlebih dahulu sebelum digunakan.
Bakteri stok dari kultur primer dibiakkan dalam agar miring sebanyak satu ose
dan digoreskan ke agar miring kemudian diinkubasi selama 24 jam dalam
inkubator. Bakteri yang berumur 24 jam diambil sebanyak satu ose dan
diinokulasikan ke dalam tabung yang berisi 10 ml media Trypticase Soy Broth
(TSB) dan diinkubasi selama 24 jam dalam inkubator bergoyang (shaker).
2.1.3 Penentuan Nilai LD50
Penentuan tingkat virulensi bakteri dilakukan dengan menghitung nilai
LD50 nya. Hal ini penting untuk mengetahui konsentrasi bakteri yang digunakan
untuk melakukan uji tantang (in vivo). Pada uji LD50 A. hydrophila yang
digunakan dikultur pada media Trypticase Soy Broth (TSB), kemudian dicuci
dengan menggunakan Posphat Buffer Saline (PBS) sebanyak 2 kali, kemudian
disuntikkan dengan kepadatan 105 sampai 108 cfu/ml secara intramuskuler
sebanyak 0,1 ml/ekor pada seluruh ikan sesuai dengan label kepadatan bakteri
pada setiap akuarium. Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah ikan
yang masih hidup dan yang mati sampai hari ke tujuh. Kemudian dilakukan
penghitungan untuk mengetahui LD50 yaitu konsentrasi pada waktu ikan mati
sebanyak 50% dari populasi selama 7 hari.
2.1.4 Penyediaan Bahan
2.1.4.1 Pembuatan Tepung Lidah Buaya Aloe vera
Lidah buaya yang digunakan sudah dalam bentuk serbuk berasal dari
Balai Tanaman Rempah dan Obat (Balitro), Cimanggu, Bogor. Adapun cara
pembuatannya yaitu lidah buaya dicuci, diiris tipis, kemudian dikeringkan selama
beberapa hari. Setelah itu dihaluskan dengan blender hingga menjadi bubuk.
Bubuk yang dihasilkan diayak menggunakan saringan teh hingga dihasilkan
bubuk halus, kemudian disimpan dalam wadah kedap udara.
2.1.4.2 Pembuatan Tepung Daun Pepaya Carica Papaya L.
Daun pepaya dicuci, dipotong-potong dan dikeringudarakan selama 7
hari hingga daun pepaya mudah untuk diremas dan dihancurkan menggunakan
tangan. Kemudian dihaluskan dengan blender hingga menjadi bubuk. Bubuk yang
dihasilkan diayak menggunakan saringan teh hingga dihasilkan bubuk halus,
kemudian disimpan dalam wadah kedap udara.
2.1.4.3 Pembuatan Tepung Meniran Phyllanthus niruri dan Bawang Putih
Allium sativum
Daun meniran dikering udarakan tanpa terkena sinar matahari langsung
sekitar tiga hari, kemudian dihaluskan dengan blender dan tepung meniran
disimpan dalam wadah kedap udara.
Bawang putih dikupas dan diiris tipis, setelah itu dikering udarakan tanpa
terkena sinar matahari langsung selama 5 hari. Selanjutnya di oven selama 1 jam
pada suhu 60oC, kemudian dihaluskan dengan blender. Setelah itu disimpan
dalam wadah kedap udara.
2.1.4.4 Pembuatan Tepung Paci-paci Leucas lavandulaefolia
Tanaman paci-paci yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun,
batang dan akar. Hal ini dikarenakan setiap bagian dari tanaman paci-paci
memiliki khasiat sebagai obat herbal. Paci-paci dicuci dan dikering udarakan
selama 7 hari, kemudian dihaluskan dengan blender dan tepung paci-paci
disimpan dalam wadah kedap udara.
2.1.5 Penentuan Dosis Perlakuan
Perlakuan dalam penelitian ini adalah untuk menentukan bahan yang paling
efektif diantara lidah buaya, daun pepaya, meniran ditambah bawang putih,dan
paci-paci, yang masing-masing ditambahkan pada pakan melalui repeleting
sebagai pencegahan penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicaemia). Perlakuan
didasarkan pada dosis efektif penelitian sebelumnya, setiap perlakuan diberikan 3
kali ulangan (Tabel 1). Namun dosis daun pepaya yang akan ditambahkan ke
dalam pakan sebanyak dua kali lipat dari dosis efektif pada penelitian Setiaji
(2009), yaitu dosis pada zona hambat (in vitro) sama dengan dosis uji tantang (in
vivo). Sedangkan Angka (2005), dosis fitofarmaka untuk pencegahan pada pakan
dua kali lipat dari dosis in vitro (zona hambat). Metode pencampuran bahan
perlakuan pada pakan untuk penelitian ini mengacu pada penelitian Kurniawan
(2010). Metode yang digunakan adalah pemberian bahan yang dicampurkan
dengan pakan komersil yang telah ditepungkan terlebih dahulu. Dosis yang
digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi bahan perlakuan dalam pakan
Perlakuan
Dosis efektif (penelitian sebelumnya)
-
Dosis Perlakuan
(Penelitian sekarang)
Kontrol negatif (K )
0
0
Kontrol positif (K+)
0
0
Lidah buaya (A)
5 ppt
0.5 %
Daun pepaya (B)
20 mg/ml
4%
Meniran dan bawang putih (C)
2.1 % (0.70% meniran,1.4% bawang putih)
2.1 %
Paci-paci (D)
4 gr/100 ml
4%
Keterangan :
Kontrol negatif (K-) : tidak diberi bahan fitofarmaka dalam pakan, tidak diinfeksi
A.hydrophila pada hari ke-15.
Kontrol (K+)
A, B, C, D
: tidak diberi bahan fitofarmaka dalam pakan, diinfeksi
A. hydrophila pada hari ke-15
: diberi bahan fitofarmaka (sesuai Tabel 1), diinfeksi A.
hydrophila pada hari ke-15
2.1.6 Pembuatan Pakan Perlakuan
Pakan komersil berprotein 30% ditepungkan, kemudian dicampur dengan
masing-masing bahan perlakuan sesuai dosis perlakuan serta ditambahkan vitamin
C 0.1% dan diaduk rata. Setelah itu ditambahkan air sebanyak 30% lalu dicetak,
kemudian di oven sekitar 2 jam pada suhu 60oC. Pakan disimpan dalam wadah
kedap udara.
2.1.7 Persiapan Wadah dan Ikan Uji
Wadah yang digunakan dalam penelitian ini adalah akuarium yang
berukuran 60x30x30 cm sebanyak 18 buah. Sebelum digunakan akuarium dicuci
dan dikeringkan, kemudian didesinfeksi dengan kaporit 100 ppm selama 24 jam.
Kemudian diisi air setinggi 20-25 cm, dikaporit 30 ppm selama 24 jam, dan
dinetralisir dengan thiosulfat 15 ppm dan diaerasi kuat. Akuarium dilengkapi
dengan penutup berupa kain kasa dengan tujuan ikan lele tidak loncat, begitu pula
halnya dengan bagian dinding akuarium dilapisi plastik hitam, untuk menghindari
stres pada ikan uji.
Ikan lele yang digunakan memiliki bobot awal 7.81±1.48 gram. Ikan lele
diadaptasikan dalam penampungan selama 1-2 minggu sebelum dimasukkan ke
dalam akuarium. Mula-mula ikan direndam dengan larutan garam 30 ppt selama 5
menit yang bertujuan menghilangkan ektoparasit. Selama proses adaptasi ini ikan
diberi pakan 2 kali sehari. Pakan yang diberikan adalah pakan komersil yang
mengandung protein 30%.
Tahap selanjutnya adalah pengadaptasian ikan lele di dalam akuarium. Ikan
lele diadaptasikan selama 3-5 hari. Setiap akuarium diisi ikan sebanyak 5 ekor.
Setelah beradaptasi, ikan lele diberi pakan perlakuan secara at satiation dengan
FF (Feeding Frequency) 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore.
2.1.8 Uji In Vivo
Uji in vivo dilakukan untuk mengetahui pengaruh bahan perlakuan dengan
dosis tertentu yang dicampurkan ke dalam pakan terhadap kelangsungan hidup
ikan lele setelah diinfeksi A. hydrophila dan menentukan bahan perlakuan yang
paling efektif. Penginfeksian A. hydrophila dilakukan setelah bahan perlakuan
diberikan selama 14 hari.
Ikan lele berjumlah 5 ekor per ulangan dengan jumlah ulangan sebanyak 3
ulangan untuk setiap perlakuan, diinfeksi dengan A. hydrophila dengan dosis
LD50 pada penelitian pendahuluan sebanyak 0.1 ml/ikan secara intramuskular.
Perlakuan
Hari
ke-
K-
0
Pemberian pakan uji
Pengamatan
Injeksi
dengan
PBS
14
16
24
Injeksi dengan A. hydrophila
K+
0
15
A
0
15
B
0
15
C
0
15
D
0
15
K-
Keterangan :
K- = kontrol negatif, K+ = kontrol positif, A = lidah buaya, B = daun pepaya,
C = meniran+bawang putih, D = paci-paci
Gambar 1. Skema uji in vivo
Ikan setiap perlakuan diberi tanda yang berbeda, yaitu pada sirip pektoral
kanan, pektoral kiri, dan sirip kaudal (Gambar 2). Penanda pada ikan dilakukan
setelah ikan diinfeksi, yaitu dengan melubangi sirip menggunakan besi yang
dipanaskan. Fungsi dari penandaan (tagging) adalah untuk membedakan antar
ikan dalam satu perlakuan, satu ulangan selama pengamatan.
Pki
Pka
Keterangan : Pki = Sirip pektoral sebelah kiri dilubangi
dilubangi, Pka = Sirip pektoral sebelah kanan
dilubangi, = Sirip kaudal dilubangi sebanyak 1 lubangi,
= Sirip kaudal dilubangi sebanyak 2
lubang,,
= Sirip kaudal dilubangi sebanyak 3 lubang
Gambar 2. Tagging pada ikan (Kurniawan, 2010)
2.2 Parameter Pengamatan
2.2.1 Respon Ikan terhadap Pakan
Pengamatan respon ikan terhadap pakan dilakukan dari awal hingga akhir
perlakuan. Respon ikan terhadap pakan dapat diukur dengan menimbang sisa
pakan yang tidak termakan dari sejumlah pakan yang diberikan.
2.2.2 Pertumbuhan
Bobot ikan ditimbang saat awal, tengah, dan akhir perlakuan seb
sebelum uji
tantang dengan menggunakan timbangan digital dengan ketelitian 0.001.
Pertumbuhan relatif dihitung dengan formula di bawah ini :
bobot akhir-bobot awal
Pertumbuhan relatif =
x 100%
bobot awal
2.2.3 Kelangsungan Hidup
Kelangsungan hidup ikan diamati setiap hari hingga akhir perlakuan.
Perhitungan kelangsungan hidup dilakukan di akhir perlakuan dengan formula
sebagai berikut (Effendi 2004).
Nt
Kelangsungan hidup =
x 100%
No
Keterangan : Nt = Jumlah ikan akhir (ekor)
No = Jumlah ikan awal (ekor)
2.2.4 Gejala Klinis dan Penyembuhan Luka
Gejala klinis diamati setiap hari setelah ikan diinfeksi dengan A. hydrophila.
Gejala klinis yang diamati adalah radang, haemoragi, dan tukak. Penyembuhan
luka diukur berdasarkan persentase perubahan diameter luka selama perlakuan
dari diameter luka maksimum yang disebabkan infeksi bakteri A. hydrophila.
Penyembuhan luka diamati setiap 2 hari sekali selama 10 hari.
Rumus yang digunakan untuk penghitungan persentase perubahan diameter
luka adalah sebagai berikut.
Diameter luka terbesar – Diameter luka terkecil
∆X= [
1
x 100%] x
Diameter luka terbesar
t
Keterangan :
t
ΔX
= lama penyembuhan (hari)
= Penyembuhan luka (%/hari)
2.2.5 Pengamatan Organ Dalam
Pada akhir perlakuan dilakukan pengamatan organ dalam untuk menentukan
dan membedakan kelainan klinis yang terjadi antar perlakuan. Pengamatan
meliputi morfologi dan warna organ dalam ikan yaitu ginjal, hati, limpa, dan
empedu.
2.2.6 Kualitas Air
Kualitas air diukur di awal dan akhir perlakuan. Parameter yang diukur
adalah oksigen terlarut, TAN (Total Amoniak Nitrogen), pH, dan suhu.
Tabel 2. Parameter kualitas air, satuan, dan alat ukur
Parameter
Satuan
Alat Ukur
Oksigen terlarut
ppm
DO meter
TAN
ppm
Spektrofotometer
-
pH meter
C
Termometer
pH
Suhu
0
2.3 Analisis Data
Penelitian ini dilakukan menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap).
Data dianalisis menggunakan ANOVA single factor, dan uji lanjut untuk beda
nyata menggunakan uji Duncan. Parameter yang dianalisis statistik secara
kuantitatif adalah kelangsungan hidup, respon ikan terhadap pakan sebelum uji
tantang dan pertumbuhan relatif, sedangkan parameter yang dianalisis secara
deskriptif adalah respon ikan terhadap pakan setelah uji tantang, gejala klinis,
penyembuhan luka, morfologi organ dalam, dan kualitas air.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
3.1.1 Identifikasi Bakteri Uji
Identifikasi bakteri uji meliputi pewarnaan Gram, sifat biokimia dan
fisiologi bakteri. Karakterisasi awal dan hasil Postulat Koch menunjukkan
karakter bakteri yang mengarah pada A. hydrophila. Morfologi koloni dari
A. hydrophila yaitu berwarna krem,
krem, elevasi cembung, dan tepiannya halus
(Gambar 3), sedangkan morfologi selnya berbentuk batang dan bersifat Gram
negatif. Uji sifat biokimia menunjukkan A. hydrophila bersifat motil dan
membentuk H2S, positif terhadap uji O/F (Oksidatif/Fermentatif), oksidase
oks
dan
katalase. Hal ini sesuai dengan Garrity (2005).
= 0.8 µm
Gambar 3. Morfologi koloni
A. hydrophila umur 1 x 24
jam pada media TSA
Gambar 4. Ekspresi sel A.
hydrophila hasil
pewarnaan Gram
ram
(perbesaran 1000 kali)
3.1.2 Uji LD50
Bakteri A. hydrophila diinfeksikan kembali pada ikan lele untuk
menentukan kepadatan bakteri yang akan digunakan untuk uji in vivo.
Berdasarkan uji patogenitas dengan menghitung LD50 didapatkan konsentrasi
bakteri yang mendekati kematian 50% dari populas
populasii ikan lele selama 7 hari adalah
bakteri dengan kepadatan 108 cfu/ml (Lampiran 1).
3.1.3 Uji In Vivo
3.1.3.1 Respon Ikan terhadap Pakan
Pakan perlakuan diberikan selama 14 hari dan dilakukan pengamatan
respon ikan terhadap pakan sebelum dilakukannya injeksi dengan A. hydrophila.
Pada umumnya ikan memakan pakan yang diberikan. Jumlah pakan yang
dikonsumsi dapat dilihat pada Tabel 3 dan Lampiran 2.
Respon ikan terhadap pakan juga diamati setelah ikan diinfeksi dengan
A. hydrophila. Pakan yang diberikan adalah pakan tanpa perlakuan. Pada H1
setelah uji tantang terlihat respon pakan yang berbeda secara significant dengan
sebelum dilakukannya uji tantang, secara keseluruhan ikan tidak mau memakan
pakan yang diberikan. Ikan tidak merespon pakan yang diberikan selama 2 hari
pascainfeksi baik yang diuji tantang dengan A. hydrophila maupun dengan
menggunakan PBS. Namun pada H3 ikan mulai merespon pakan yang diberikan
dan relatif meningkat hingga hari ke-9. Kontrol negatif memiliki respon pakan
yang paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Jumlah pakan yang
dikonsumsi sebelum dan sesudah uji tantang dan kelangsungan hidup sebelum uji
tantang dapat dilihat pada Tabel 3 (p>0.05).
Tabel 3. Parameter uji sebelum dan sesudah infeksi
Parameter Uji
Perlakuan
K- (0%)
K+ (0%)
A (0.5%)
B (4%)
C (2.1%)
D (4%)
23.82a±2.88
22.54a±1.38
21.19a±0.34
20.41a±1.91
Sebelum infeksi :
konsumsi pakan (g)
kelangsungan hidup (%)
19.29a±0.95 23.85a±0.32
100 a±0.00
100 a±0.00
100 a±0.00
100 a±0.00
100 a±0.00
100 a±0.00
2.03±0.05
0.66±0.32
0.33±0.22
0.46±0.27
0.92±0.15
0.84±0.23
sesudah infeksi :
konsumsi pakan (g/hari)
Keterangan : K- = kontrol negatif, K+ = kontrol positif, A = lidah buaya, B = daun pepaya,
C = meniran+bawang putih, D = paci-paci
3.1.3.2 Pertumbuhan
Penambahan fitofarmaka pada masing-masing perlakuan dalam pakan
tidak berbeda nyata terhadap pertumbuhan relatif ikan lele (Gambar 5). Uji
statistik disajikan pada Lampiran 3.
33.00
pertumbuhan relatif (%)
35.00
28.00
30.00
27.00
23.00
25.00
20.00
18.00
16.00
15.00
10.00
a
5.00
a
a
a
a
a
0.00
K-
K+
A
B
C
D
Keterangan : K- = kontrol negatif, K+ = kontrol positif, A = lidah buaya, B = daun pepaya, C =
meniran+bawang putih, D = paci-paci
paci
Gambar 5. Pertumbuhan relatif ikan lele selama 14 hari sebelum infeksi
3.1.3.3 Kelangsungan Hidup Pascainfeksi
Kelangsungan hidup dihitung 10 hari pasca uji tantang. Kelangsungan
hidup diawal dan diakhir perlakuan dapat dilihat pada Gambar 6. Kelangsungan
hidup paling tinggi adalah perlakuan K- sebesar 100±0.00%, perlakuan C sebesar
66.67±11.55%, perlakuan D sebesar 60±34.64%, perlakuan B sebesar 40±20%,
dan perlakuan
erlakuan A sebesar 26.67±23.09% (p<0.05). Uji statistik disajikan pada
Kelangsungan Hidup (%)
Lampiran 3.
120
100
100
80
66.667
60
33.333
40
20
a
a
60
40
26.667
a
a
ab
ab
0
K--
K+
A
B
C
D
Keterangan : K- = kontrol negatif, K+ = kontrol positif,
f, A = lidah buaya, B = daun pepaya,
pe
C=
meniran+bawang putih, D = paci-paci
paci
Gambar 6. Kelangsungan hidup ikan lele pada akhir perlakuan
Uji statistik dengan uji lanjut Duncan, kelangsungan hidup menunjukkan
bahwa perlakuan K- berbeda nyata dengan perlakuan K+, A dan B. Namun tidak
∑ikan mati (ekor)
berbeda nyata dengan perlakuan C dan D.
20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
0
2
4
6
8
10
12
hari ke-
Gambar 7. Jumlah kematian per hari pascainfeksi
Kematian mulai terjadi pada hari ke-1
ke hingga hari ke-44 pascainfeksi.
Kematian tertinggi terjadi pada hari ke 1 yaitu sebanyak 19 ekor (21.1%).
Kematian tidak terjadi lagi setelah hari ke 5 hingga akhir perlakuan.
3.1.3.4 Gejala Klinis
Gejala klinis yang sering ditimbulkan akibat infeksi bakteri A. hydrophila
pada ikan lele yaitu radang, nekrosis yang disertai hemoragi, tukak dan kematian.
Gejala awal dari terserang infeksi A. hydrophila adalah ikan lele mulai tidak nafsu
makan, berada di permukaan air dengan posisi vertikal. Ikan kontrol negatif yang
disuntikkan PBS 0.1 ml hanya menunjukkan gejala awal berupa tidak nafsu
makan selama dua hari. Pada hari ke-3
ke ikan kontrol negatif sudah terlihat
rlihat normal
dan bisa merespon pakan yang diberikan dengan baik.
Gambar 8. Perlakuan kontrol negatif tidak menimbulkan gejala klinis
Perlakuan kontrol positif, lidah buaya, daun pepaya, meniran ditambah
bawang putih, dan paci
paci-paci
paci menimbulkan gejala awal yakni menurunnya nafsu
makan, bahkan ikan lele tidak merespon pakan yang diberikan hingga H2
pascainfeksi. Gejala ini diduga akibat dari
da injeksi A. hydrophila yang diberikan
serta akibat penanganan ((handling).
). Beberapa jam setelah uji tantang terlihat
adanya radang atau lesi putih di daerah bekas penyuntikan.
Perlakuan kontrol positif pada hari ke
ke-11 tepatnya pada jam ke
ke-14
pascainfeksi sudah menunjukkan gejala klinis berupa adanya nekrosis 0.9 cm di
daerah sekitar bekas penyuntikan. Perlakuan lidah buaya pada hari ke
ke-1 sudah
menunjukkan gejala klinis berupa hemoragi 1.5 cm. Perlakuan daun pepaya
menunjukkan gejala klinis berupa tukak 0.
0.7 cm pada hari ke-2.
2. Perlakuan meniran
ditambah bawang putih pada hari ke-2
ke 2 sudah menunjukkan gejala klinis berupa
hemoragi dengan diameter 0.7 cm, dan perlakuan paci-paci
paci paci sudah menunjukkan
gejala klinis berupa nekrosis 0.1 cm. Perlakuan daun pepaya pada hhari ke-4
mengalami kematian dengan gejala klinis berupa tukak 1.2 cm, setengah dari
bagian tubuhnya (posterior) mengalami tukak yang parah (Gambar 14).
Gambar 9. Gejala klinis nekrosis timbul pada jam ke-14 perlakuan kontrol positif
Gambar 10. Gejala klinis
klin hemoragi timbul pada hari ke-1 perlakuan lidah buaya
Gambar 11. Gejala klinis tukak timbul pada hari
h ke-2 perlakuan daun pepaya
Gambar 12. Gejala klinis hemoragi timbul
ti
pada hari ke-22 perlakuan meniran
ditambah bawang putih
Gambar 13. Gejala klinis
linis berupa nekrosis
nekr
pada hari ke-2 perlakuan paci
paci-paci
Gambar 14. Gejala
jala ikan sebelum mati hari ke
ke-4 pada perlakuan daun pepaya
3.1.3.5 Penyembuhan Luka
Luka merupakan salah satu gejala klinis yang ditimbulkan akibat infeksi
A. hydrophila.. Penyembuhan luka dapat dilihat dari perubahan diameter luka yang
semakin mengecil. Kontrol
ontrol positif ulangan 2 (K+U2pka), diameter luka maksimal
yang terbentuk adalah 1.6 cm pada hari ke
ke-4,
4, kemudian mengecil menjadi 1.4 cm
pada hari ke-77 dan 1.2 cm pada hari ke-10.
10. Perubahan diameter luka perlakuan
K+ U2pka dapat dilihat pada Gambar 15.
a. Luka hari ke
ke-4 perlakuan K+U2pka 1.6 cm
b. Luka hari ke-7
ke perlakuan K+U2pka 1.4 cm
c. Luka hari ke 10 perlakuan K+U2pka 1.2 cm
Gambar 15. Perubahan diameter luka perlakuan kontrol positif ulangan 2
Perlakuan lidah buaya ulangan 2 (AU2..) memiliki diameter luka maksimal
1 cm menjadi 0 cm pada hari ke-7,
ke 7, bekas luka sudah hilang karena tumbuhnya sel
kulit yang baru.
a. Luka hari ke-2 perlakuan AU2.. 1 cm
b. Luka hari ke-4
ke perlakuan AU2.. 0.4 cm
c. Luka pada hari ke
ke-7 perlakuan AU2.. 0 cm
Gambar 16. Perubahan diameter luka perlakuan lidah buaya ulangan 2
Perlakuan daun pepaya ulangan 3 (BU3.) memiliki diameter luka
maksimal pada hari ke--44 sebesar 0.5 cm. Diameter luka semakin mengecil pada
hari ke-77 hingga menjadi 0.3 cm, dan menjadi 0 cm pada hari ke-9.
ke
a. Luka pada hari ke-4
ke perlakuan BU3. 0.5 cm
b. Luka pada hari ke-7
ke perlakuan BU3. 0.3 cm
c. Luka pada hari ke 9 perlakuan BU3. 0 cm
Gambar 17. Perubahan diameter luka perlakuan daun pepaya ulangan 3
Perlakuan meniran ditambah bawang putih ulangan 2 (CU2..) memiliki
luka dengan diameter maksimal 0.7 cm pada hari ke-2.
ke 2. Pada hari ke-4
ke luka
semakin mengecil hingga 0.1 cm. Pada hari ke
ke-7,
7, tidak ada bekas luka di tubuh
ikan lele.
a. luka pada hari ke-2
ke perlakuan CU2.. 0.7 cm
b. Luka pada hari ke
ke-4 perlakuan CU2.. 0.1 cm
c. Luka pada hari ke-7
ke perlakuan CU2.. 0 cm
Gambar 18. Perubahan diameter luka perlakuan meniran ditambah bawang putih
ulangan 2
Perlakuan paci-paci
paci ulangan 2 (DU2pki) memiliki diameter maksimal 0.2
cm pada hari ke-2.
2. Pada hari ke-4
ke 4 diameter lukanya mengecil hingga 0.1 cm, dan
pada hari ke-7 luka ikan
kan lele sembuh.
a. Luka pada hari ke-2
ke perlakuan DU2pki 0.2 cm
b. Luka pada hari ke
ke-4 perlakuan DU2pki 0.1 cm
c. Luka pada hari ke-7
ke perlakuan DU2pki 0 cm
Gambar 19. Perubahan diameter luka perlakuan paci-paci
paci ulangan 2
Perubahan diameter luka dari besar menjadi kecil merupakan salah
indikator dari proses penyembuhan. Persentase penyembuhan luka dapat dilihat
pada Tabel 4.
Tabel 4. Penyembuhan luka
Perlakuan
penyembuhan luka (%/hari)
Kontrol positif
4.47 ± 19.45
Lidah buaya
10.01 ± 28.18
Daun pepaya
8.31 ± 7.16
Meniran+bawang putih
10.55 ± 7.56
Paci-paci
9.71 ± 15.88
Berdasarkan Tabel 4, perubahan diameter luka terbaik berturut turut
adalah perlakuan meniran ditambah bawang putih, lidah buaya, pacipaci-paci, daun
pepaya dan kontrol positif. Gejala klinis dan penghitungan penyembuhan luka
disajikan pada Lampiran 4 dan Lampiran
Lampi
5.
3.1.3.6 Pengamatan Organ Dalam
Pengamatan organ dalam dilakukan pada hari ke-10
ke 10 pascainfeksi. Organ
dalam perlakuan daun pepaya berbeda dengan perlakuan kontrol negatif, kontrol
positif, lidah buaya, meniran ditambah bawang putih, dan paci-paci.
paci paci. Pada
perlakuan daun pepaya, ginjal berwarna merah tua, hati berwarna merah gelap,
empedu berwarna biru gelap dan limpa berwarna merah gelap. Sedangkan pada
perlakuan kontrol negatif, kontrol positif, lidah buaya, kombinasi antara meniran
dan bawang putih, dan paci
paci-paci
paci , ginjal berwarna merah tua kecoklatan, hati
berwarna merah kecoklatan, empedu berwarna kuning kehijauan, dan limpa
berwarna merah kehitaman.
c
a
d
c
a
b
Perlakuan kontrol negatif
d
Perlakuan kontrol positif
b
a
c
d
d
b
Perlakuan lidah buaya
a
c
a
b
Perlakuan daun pepaya
c
a
b
d
c
d
Perlakuan meniran dan bawang
Putih
b
Perlakuan paci-paci
Gambar 20. Organ dalam ikan lele setiap perlakuan (keterangan : a= ginjal,
b = hati, c = empedu, d = limpa)
3.1.3.7 Kualitas Air
Air merupakan media hidup bagi ikan. Sehingga kualitas air merupakan
salah satu parameter penting untuk kelangsungan hidup ikan. Parameter kualitas
air yang diukur adalah oksigen terlarut (DO), Total Amoniak Nitrogen (TAN),
suhu dan pH. Pada awal perlakuan oksigen terlarut sebesar 4.84 ppm, pH sebesar
6.9, suhu awal 28oC, dan TAN awal 0.397 ppm. Menurut KKP (2010cc), kualitas
air yang memenuhi syarat untuk budidaya ikan lele dumbo adalah pH 6.5
6.5-8.5,
oksigen terlarut > 2 mg/l, suhu 26-30
26 oC, dan TAN maksimum 1 mg/l. Kualitas air
dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Kualitas air pada akhir perlakuan
Parameter
Perlakuan
K--
K+
A
B
C
D
pH
6.9
6.9
6.9
6.81
6.9
6.9
DO (ppm)
4.24
4.26
4.04
4.18
4.36
4.2
0.504
0.308
0.348
0.214
0.509
TAN (ppm)
0.496
-
+
Keterangan : K = kontrol negatif, K = kontrol positif,
f, A = lidah buaya, B = daun pe
pepaya, C =
meniran+bawang putih, D = paci-paci
paci
Kualitas air masih terkontrol dari awal hingga akhir perlakuan sesuai
kebutuhan optimal hidup ikan lele. Kisaran suhu selama perlakuan, pada pagi hari
berkisar antara 25-26oC, siang hari berkisar antara 26-30oC, dan pada sore hari
berkisar antara 28-30oC (Gambar 21).
31
30
Suhu (oC)
29
28
pagi
27
siang
26
sore
25
24
0
5
10
15
Hari ke
Gambar 21. Suhu air selama perlakuan
3.2 Pembahasan
Bakteri uji yang sudah dipastikan adalah bakteri A. hydrophila digunakan
untuk uji in vivo. Untuk menentukan kepadatan bakteri yang digunakan untuk uji
in vivo maka dilakukan penentuan nilai LD50, yaitu kepadatan bakteri yang dapat
mematikan mendekati 50% dari populasi. Hasil dari LD50 menunjukkan bahwa
bakteri A. hydrophila dengan kepadatan 108 cfu/ml dapat mematikan 50% dari
populasi ikan lele. Hal ini berbeda dengan hasil LD50 pada Setiaji (2009),
konsentrasi bakteri yang dapat mematikan 50% dari populasi ikan lele dumbo
adalah konsentrasi bakteri 105 cfu/ml. Namun pada penelitian Faridah (2010) dan
Kurniawan (2010) juga diperoleh kepadatan 108 cfu/ml bakteri A. hydrophila yang
mendekati kematian ikan 50% dari populasi ikan lele (LD50) selama 7 hari. Hasil
pengujian terhadap bakteri A. hydrophila menunjukkan bahwa bakteri tersebut
bakteri yang virulen. Tingkat virulensi bakteri A. hydrophila bertambah setelah
dilakukan isolasi ulang bakteri tersebut dari ikan lele yang diinfeksi A.
hydrophila. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri dengan kepadatan 108 cfu/ml
layak digunakan untuk uji in vivo. Menurut Plumb (1994), kemampuan bakteri
sebagai patogen dapat menurun dikarenakan beberapa hal seperti waktu, cara
penyimpanan dan peningkatan daya tahan tubuh inang yang diserang.
Uji in vivo dilakukan selama 24 hari, yaitu 14 hari untuk pemberian pakan
perlakuan dan 10 hari untuk pengamatan pasca infeksi. Uji in vivo ini dilakukan
untuk mengetahui pengaruh dari pakan perlakuan yang diberikan, respon ikan
terhadap pakan yang diberikan dari setiap perlakuan yang berpengaruh pada
pertumbuhan ikan, kelangsungan hidup, gejala klinis, penyembuhan luka,
morfologi dari organ dalam, dan pengaruh terhadap kualitas air.
Pakan diberikan secara at satiation atau sekenyangnya, dengan frekuensi 2
kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Pada umumnya ikan merespon pakan
yang diberikan. Pada H1, secara keseluruhan ikan kurang merespon pakan
perlakuan yang diberikan. Namun, rata-rata jumlah pakan yang dihabiskan
semakin meningkat untuk semua perlakuan. Hanya pada hari tertentu nafsu makan
ikan menurun. Misalnya pada saat terjadi kenaikan dan penurunan suhu yang
drastis. Kualitas suhu air yang seperti ini tentunya dapat menyebabkan stres pada
ikan karena memungkinkan terjadinya gangguan fisiologis ikan, dan dapat
menyebabkan nafsu makan ikan menjadi menurun.
Perlakuan kontrol negatif memiliki jumlah konsumsi pakan paling rendah
jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya sebelum uji tantang. Namun pasca uji
tantang, kontrol negatif memiliki jumlah konsumsi pakan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini dikarenakan ikan kontrol negatif
tidak diinfeksi dengan bakteri A. hydrophila melainkan menggunakan PBS.
Sehingga ikan tidak mengalami stres yang berkepanjangan dan dapat kembali
normal setelah 2 hari pascainfeksi. Pada perlakuan kontrol positif sebelum uji
tantang memiliki jumlah konsumsi pakan paling tinggi jika dibandingkan dengan
perlakuan lainnya yaitu sebesar 1.703 gram per hari. Namun dua hari pasca uji
tantang ikan tidak merespon pakan yang diberikan. Setelah H2 pun ikan kontrol
positif relatif tidak nafsu makan hingga H9. Perlakuan lidah buaya memiliki
jumlah konsumsi pakan yang cukup tinggi yaitu 1.702 gram per hari. Sama halnya
dengan penelitian Faridah (2010), ikan lele dumbo yang diberikan pakan
perlakuan lidah buaya memiliki respon pakan yang tinggi. Namun setelah
mengalami uji tantang perlakuan lidah buaya memiliki jumlah konsumsi pakan
yang sangat rendah. Ikan umumnya kurang merespon pakan yang diberikan. Hal
ini diduga akibat stres pascainfeksi bakteri A. hydrophila. Perlakuan daun pepaya
juga memiliki jumlah konsumsi pakan yang cukup baik pada saat sebelum uji
tantang. Hal ini juga terjadi pada penelitian Setiaji (2009), ikan memiliki nafsu
makan yang baik sebelum uji tantang, akan tetapi memiliki respon makan yang
rendah setelah uji tantang. Namun setelah H4 pascainfeksi nafsu makan kembali
normal. Berbeda halnya dengan penelitian ini, pasca uji tantang ikan cenderung
kurang merespon pakan yang diberikan hingga hari ke-9. Pada perlakuan meniran
ditambah bawang putih, ikan lele dumbo merespon pakan yang diberikan dan
memiliki jumlah konsumsi pakan harian yang cukup baik. Namun pascainfeksi
ikan relatif tidak nafsu makan. Setelah dua hari pascainfeksi nafsu makan mulai
meningkat, hal ini juga terjadi pada Kurniawan (2010). Pada perlakuan paci-paci
memiliki jumlah konsumsi pakan yang sedang, akan tetapi stabil selama
perlakuan. Begitu pula halnya setelah uji tantang, ikan mulai nafsu makan setelah
H2 dan cukup stabil hingga H9. Hal ini sesuai dengan Utami (2009) yang
menyatakan pada perlakuan pencegahan dengan paci-paci, ikan merespon pakan
dengan baik sebelum uji tantang, dan setelah uji tantang nafsu makan berangsur
membaik hingga H8. Semua perlakuan memiliki gejala awal yang sama dua hari
pasca infeksi yaitu tidak merespon pakan yang diberikan. Hal ini disebabkan stres
akibat penanganan (handling) dan infeksi bakteri A. hydrophila. Ciri-ciri dari ikan
stres ini adalah kulit tubuh berwarna lebih gelap, dan selalu berada di permukaan
air dengan posisi vertikal. Stres adalah kondisi pertahanan tubuh menurun, dan
stres merupakan salah satu penyebab terjadinya infeksi dan perannya sangat
dominan (Affandi dan Tang, 2002).
Jumlah pakan yang dikonsumsi ini tentunya akan berpengaruh secara
langsung terhadap pertumbuhan ikan. Pertumbuhan relatif ikan juga dipengaruhi
dari energi yang masuk ke tubuh ikan tersebut. Ikan dapat tumbuh dengan optimal
apabila ada sejumlah asupan nutrisi yang diterima dan diserap oleh tubuh.
Menurut Steffens (1989), sejumlah energi pakan melebihi untuk pemeliharaan
tubuh maka dimanfaatkan untuk tumbuh. Dalam hal ini tentunya protein sangat
berperan besar. Protein dalam pakan sebesar 30%. Protein pakan yang dibutuhkan
oleh catfish berkisar dari 24-55% (NRC dalam Li et al., 2004). Pertumbuhan
relatif antar perlakuan tidak berbeda nyata (p>0.05). Setiap perlakuan
menunjukkan pertumbuhan relatif yang cukup baik. Hal ini sesuai dengan jumlah
konsumsi pakan setiap perlakuan yang relatif meningkat setiap harinya sebelum
dilakukan uji tantang. Artinya ikan lele dapat menerima pakan yang diberikan dan
terserap dengan baik, dibuktikan dengan pertambahan bobot dari ikan uji.
Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal yang meliputi
genetik dan kondisi fisiologis ikan serta faktor eksternal yang berhubungan
dengan lingkungan. Faktor eksternal tersebut yaitu komposisi kualitas kimia dan
fisika air, bahan buangan metabolik, ketersediaan pakan, dan penyakit (Hepper
dan Pruginin, 1984 dalam Irawan et al., 2009).
Ikan lele yang diinfeksi dengan A. hydrophila, pada hari ke-1 pasca infeksi
tepatnya pada jam ke-14 sudah menunjukkan gejala klinis berupa warna kulit
menjadi gelap, radang atau adanya lesi putih, pembengkakan di daerah sekitar
penyuntikan. Perlakuan kontrol negatif tidak menunjukkan gejala klinis.
Perlakuan ini hanya mengalami stres selama dua hari pascainfeksi. Hal ini
dikarenakan, pada perlakuan ini ikan lele tidak diinjeksi dengan menggunakan
bakteri A. hydrophila melainkan menggunakan PBS. Sehingga kelangsungan
hidup yang dihasilkan 100±0.00% sampai akhir perlakuan. Pada perlakuan kontrol
positif, ikan lele mengalami gejala klinis seperti radang, hemoragi dan tukak. Ikan
kontrol positif memiliki diameter tukak yang lebih lebar jika dibandingkan dengan
perlakuan yang ditambahkan fitofarmaka. Hal ini dikarenakan tidak adanya
imunostimulator
yang
dapat
meningkatkan
kekebalan
tubuh.
Sehingga
kelangsungan hidup yang dihasilkan hanya sebesar 33.33±23.09%. Penyakit yang
disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila disebut penyakit MAS (Motile
Aeromonad Septicaemia) (Austin & Austin, 1987 dalam Angka, 2005). Bentuk
kronis penyakit ini ditandai dengan perkembangan abses atau tukak ( Mc Daniel,
1979 dalam Angka, 2005).
Pada perlakuan lidah buaya 14 jam setelah penyuntikkan telah
menunjukkan gejala klinis berupa hemoragi, dan pada H2 sudah menimbulkan
tukak. Pada H1 sudah banyak ikan yang mengalami kematian. Penyakit ini dapat
menyebabkan ikan mati tanpa menampakkan gejala klinis apapun atau tampak
gejala seperti lesi kecil di permukaan tubuh, hemoragi lokal, hemoragi organ,
tukak kulit dalam, exophthalmia dan abses di rongga perut (Thune et al., 1993
dalam Angka, 2005). Ekstrak gel lidah buaya mengandung etanol, metanol dan
aceton yang merupakan komponen antimikroba yang dapat menghambat aktivitas
bakteri gram negatif maupun gram positif (Lawrence et al., 2009). Selain itu
lidah buaya juga dapat mengobati penyakit seperti ulcer dan leukemia
(Nwaoguikpe et al., 2010). Lidah buaya mengandung flavonoid, saponin, tannin,
alkaloid dan komponen lainnya yang secara medis berpengaruh terhadap
perawatan maupun pengobatan penyakit seperti luka hangus, borok pada kulit,
dan infeksi pada kulit (Reynolds and Dweck, 1999 dalam Nwaoguikpe et al.,
2010).
Flavonoid dan saponin menempel pada sel imun dan memberikan sinyal
intraseluler atau rangsangan untuk mengaktifkan kerja sel imun lebih baik
(Suprapto, 2006 dalam Sholikhah, 2009). Flavonoid ini kurang dapat
dimanfaatkan oleh ikan lele. Hal ini diduga karena zat aktif tidak terekstraksi
dengan baik atau mengalami penurunan jumlah akibat pemanasan dari proses
repelleting. Kelangsungan hidup dari perlakuan ini paling kecil dibandingkan
dengan perlakuan lainnya, yaitu hanya sebesar 26.67±23.09%, sedangkan pada
penelitian Faridah (2010), didapatkan kelangsungan hidup sebesar 73.33±11.55%.
Hal ini dikarenakan metode pemberiannya yang berbeda. Pada Faridah (2010)
metode pemberiannya adalah spray melalui pakan yang menggunakan binder
putih telur sehingga diduga bahan aktifnya terekstraksi dengan baik, tetap terjaga
dan termanfaatkan dengan baik oleh ikan lele dumbo.
Perlakuan daun pepaya juga mengalami gejala klinis yaitu berupa radang,
hemoragi, dan memerahnya bagian sirip pada H1 pascainfeksi. Sehingga pada H1
sudah banyak ikan yang mengalami kematian. Hal ini diduga gejala klinis yang
ditimbulkan tidak dapat diminimalisir oleh sistem pertahanan tubuh, karena
diduga papain yang merupakan bahan aktif pada daun pepaya (Ardina, 2007
dalam Setiaji, 2009) yang terdapat pada pakan belum bekerja secara optimal.
Karena untuk hal tersebut membutuhkan waktu dan peran besar dari sistem
pencernaan dan kerja enzim di dalam tubuh ikan. Selain itu kandungan di dalam
daun pepaya ini diduga merusak fungsi organ dalam pada tubuh ikan. Menurut
Ardina (2007) dalam Setiaji (2009), di dalam ekstrak daun pepaya terkandung
enzim papain yang memiliki aktivitas proteolitik, dan antimikroba sedangkan
alkaloid carpain berfungsi sebagai antibakteri. Pada H2 pascainfeksi ditandai
dengan adanya tukak. Pada umumnya ikan dengan diameter tukak lebih dari 1.5
cm tidak dapat bertahan hidup. Sehingga kelangsungan hidup yang dihasilkan
hanya sebesar 40±23.09%. Kelangsungan hidup yang dihasilkan sangat berbeda
jauh dengan Setiaji (2009) yang mampu menghasilkan kelangsungan hidup
93.33%. Hal ini dikarenakan metode pemberian pada Setiaji (2009) melalui
penyuntikan secara intramuskular sehingga zat aktif yang berupa papain lebih
mudah dan cepat masuk ke dalam tubuh. Papain termasuk enzim hidrolase, yaitu
enzim yang mampu mengkatalis reaksi-reaksi hidrolisis suatu substrat (protein)
(Lukitasari, 2004 dalam Setiaji 2009). Penggunaan tepung daun pepaya di dalam
pakan untuk pencegahan penyakit MAS yang disebabkan oleh bakteri A.
hydrophila ternyata kurang efektif.
Perlakuan meniran+bawang putih menunjukkan gejala klinis berupa
radang, hemoragi dan tukak. Akan tetapi tukak yang dihasilkan tidak lebih besar
dari 1 cm. Hal ini menunjukkan bahwa ikan mampu memanfaatkan flavonoid dan
alkaloid pada meniran (Sidik dan Subarnas, 1993 dalam Maulina et al., 2006) dan
allicin yang terdapat pada bawang putih (Jabar et al., 2007) dalam pakan dan
menstimulasi pembentukan antibodi di dalam tubuh, sehingga dapat menghambat
kerja dari bakteri A. hydrophila. Allicin bergabung dengan protein, kemudian
menyerang protein mikroba dan akhirnya membunuh mikroba tersebut
(Watanabe, 2001 dalam Sholikhah, 2009). Meniran dan bawang putih memiliki
bahan aktif tertentu yang dapat menghambat aktivitas bakteri Aeromonas
hydrophila. Sidik dan Subarnas (1993) dalam Maulina et al. (2006), menyatakan
bahwa meniran mengandung senyawa kimia golongan lignin, flavonoid, alkaloid,
triterpenoid dan senyawa kimia lainnya seperti golongan lignin yaitu filantin, dan
hipoflantin yang memiliki efek antihepatotoksik, antiinfeksi, antiinflamatory dan
antivirus. Bawang putih memiliki kandungan therapeutic seperti antimikroba,
anti-neoplastik, anti kardiovaskular, immunostimulan (Sato and Miyata 1999
dalam Jabar et al 2007). Komponen utama pada bawang putih adalah allicin yang
memilki aktivitas anti mikroba (Jabar et al., 2007). Selain itu kelangsungan hidup
ikan dari perlakuan ini lebih besar jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya
dan hasil penelitian Kurniawan (2010) yaitu sebesar 66.67±11.55%. Penggunaan
ekstrak meniran sebagai feed aditive yaitu suatu zat yang ditambahkan ke dalam
pakan tanpa merubah komposisi pakan tersebut (Ensminger et al., 1990 dalam
Maulina et al., 2006). Meniran dan bawang putih bekerja secara sinergis dan
saling melengkapi sehingga berpengaruh secara langsung terhadap kelangsungan
hidup ikan lele. Meniran berfungsi sebagai imunostimulan dan bawang putih
memilki sifat antimikroba. Imunostimulan adalah aktivator dari sel darah putih.
Sel darah putih memiliki limfosit
yang berperan penting melawan faktor
mikrobial (Faghani et al., 2008). Imunostimulan digunakan untuk pencegahan
terhadap penyakit dan untuk mengantisipasi terjadinya penyakit karena
lingkungan yang kurang baik (Nikl et al., 1993 dalam Webster C. D et al., 2001)
atau serangan dari patogen (Webster C. D et al., 2001). Imunostimulan menurut
Kamiso et al. (2010) dalam Kurniawan (2010) memiliki kelebihan yaitu
meningkatkan daya tahan tubuh non spesifik, respon kekebalan relatif cepat, dapat
menggunakan
(penyuntikkan,
berbagai
bahan,
perendaman,
dapat
dan
dilakukan
melalui
dengan
pakan),
dapat
berbagai
cara
meningkatkan
kelangsungan hidup sehingga pada akhirnya meningkatkan pertumbuhan.
Perlakuan paci-paci juga menunjukkan gejala klinis yang sama yaitu
radang, hemoragi dan tukak. Sama halnya dengan perlakuan meniran+bawang
putih, tukak yang dihasilkan tidak lebih besar dari 1 cm. Kelangsungan hidup
perlakuan paci-paci yaitu sebesar 60±34.64%. Perlakuan dengan penambahan
bubuk paci paci dalam pakan juga memberikan kelangsungan hidup yang baik.
Hal ini dikarenakan paci-paci memiliki sejumlah bahan aktif. Kandungan kimiawi
dalam daun dan akar paci-paci diantaranya adalah minyak atsiri, flavonoid, tannin,
saponin, metanol dan alkaloid (Mukherjee et al., 1997 dalam Abdullah, 2008).
Flavonoid selain berfungsi sebagai bakteriostatik juga berfungsi sebagai
antiinflamasi (Hermawan, 2007). Minyak atsiri memiliki daya antibakteri
disebabkan adanya senyawa fenol dan turunannya yang mampu mendenaturasi
protein sel bakteri (Hasim, 2003 dalam Abdullah, 2008). Persenyawaan fenolat
dapat bersifat bakterisidal atau bakteriostatik bergantung pada konsentrasi yang
digunakan. Cara kerja fenol dalam membunuh mikroorganisme yaitu dengan cara
mendenaturasi protein sel (Pelczar dan Chan, 1988).
Berikut ini adalah mekanisme flavonoid dan saponin sebagai antimikroba :
Antigen
Flavonoid
Saponin
Menghancurkan
patogen
Limfosit
Sel B
Sel T
Antibodi
Sel plasma
Sel efektor
Macrophage
Pembunuhan bahan asing atau
mikroorganisme penyerbu
Gambar 22. Mekanisme flavonoid dan saponin sebagai antimikroba
(Pelczar dan Chan, 1988)
Antigen adalah substansi yang apabila dimasukkan ke dalam inang akan
menimbulkan respon kekebalan yang berakibat terhadap produksi antibodi dan
sel-sel khusus (Pelczar dan Chan, 1988). Menurut Pelczar dan Chan (1988), sel B
menyebabkan timbulnya respon humoral karena setelah dilakukan kontak dengan
antigen, sel ini menimbulkan sel plasma yang memproduksi antibodi. Sel T
menyebabkan munculnya sel-sel efektor yang berpartisipasi dalam penyingkiran
dan pembunuhan bahan asing. Selain itu sel T memperoleh bantuan makrofage
dalam menghancurkan patogen atau merangsang sel B untuk meningkatkan
produksi antibodi. Disamping membentuk sel-sel plasma, sel B juga membentuk
sel-sel ingatan atau respon kekebalan sekunder. Hal ini memungkinkan inang
yang sebelumnya telah terkenai suatu patogen untuk memberikan respon yang
lebih segera dan lebih hebat apabila terinfeksi kembali.
Perlakuan kontrol negatif berbeda nyata dengan perlakuan kontrol positif,
lidah buaya dan daun pepaya, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan
meniran+bawang putih dan paci-paci (p>0.05). Perlakuan kontrol negatif tidak
berbeda nyata dengan perlakuan meniran+bawang putih dan paci-paci, artinya
kelangsungan hidup 100±0% pada perlakuan kontrol negatif tidak berbeda nyata
dengan kelangsungan hidup 66.67±11.55%
pada perlakuan meniran+bawang
putih dan kelangsungan hidup 60±34.64% pada perlakuan paci-paci. Oleh karena
itu dapat disimpulkan bahwa campuran antara meniran dan bawang putih dalam
pakan dengan dosis 2.1% dan paci-paci dengan dosis 4% adalah fitofarmaka
terbaik yang menghasilkan kelangsungan hidup paling tinggi, sedangkan
campuran lidah buaya dalam pakan dengan dosis 0.5% menghasilkan
kelangsungan hidup paling rendah. Perbandingan antara penelitian yang dijadikan
acuan dengan penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 6 dan Tabel 7.
Tabel 6. Hasil penelitian acuan
No
1
2
3
4
Bentuk bahan
Perlakuan
Ekstrak lidah
buaya
Ekstrak daun
pepaya
Bubuk Meniran
+ bawang putih
Ekstrak paci-paci
Konsentrasi
5 ppt
20 mg/ml
2.1% (1:2)
4 g/100 ml
Metode pemberian
Spray melalui
pakan
Kelangsungan
Pustaka
Hidup
73.33±11.55%
Faridah (2010)
93.33%
Setiaji (2009)
60±20%
Kurniawan (2010)
61.12%
Utami (2009)
Penyuntikan
Formulasi dalam
pakan
Spray melalui
pakan
Tabel 7. Hasil penelitian sekarang
No
1
2
3
4
Bentuk bahan
perlakuan
Bubuk lidah buaya
Bubuk daun
pepaya
Konsentrasi
0.5 %
4%
Metode
Kelangsungan
Pemberian
Hidup
Formulasi dalam
pakan
Formulasi dalam
pakan
Bubuk meniran +
2.1% (0.7% meniran,
Formulasi dalam
bawang putih
1.4% bawang putih)
pakan
Bubuk paci-paci
4%
Formulasi dalam
pakan
Pustaka
26.67±23.09%
Penelitian ini
40±23.09%
Penelitian ini
66.67±11.55%
Penelitian ini
60±34.64%
Penelitian ini
Total ikan yang mati pada hari ke-1 sebanyak 19 ekor. Hari ke-5 pasca
infeksi sudah tidak tejadi kematian lagi. Pada umumnya ikan yang memiliki
diameter lebih dari 1.4 cm tidak dapat bertahan hidup. Diameter tukak akan
mengecil setelah hari ke-4 atau ke-5 pasca infeksi. Pada akhir pengamatan semua
perlakuan dapat sembuh tanpa bekas luka, kecuali pada perlakuan kontrol positif.
Salah satu faktor yang menentukan proses penyembuhan luka adalah diameter
maksimal dari luka yang terbentuk. Perlakuan yang menunjukkan penyembuhan
luka paling baik adalah perlakuan meniran ditambah bawang putih. Perlakuan
meniran+bawang
putih
memiliki
persentase
penyembuhan
sebesar
10.55±7.56%/hari. Akan tetapi persentase penyembuhan luka tidak berkorelasi
positif dengan kelangsungan hidup ikan lele dumbo.
Pengamatan organ dalam dilakukan pada hari ke-10 pasca infeksi.
Perlakuan daun pepaya memiliki warna organ dalam yang berbeda dengan
perlakuan kontrol negatif. Pada perlakuan kontrol negatif hati berwarna merah
kecoklatan, empedu berwarna kuning kehijauan, ginjal berwarna merah tua
kecoklatan, dan limpa berwarna merah kehitaman. Begitu pula halnya pada
perlakuan kontrol positif. Sedangkan pada perlakuan daun pepaya, ginjal
berwarna merah tua, hati berwarna merah gelap, empedu berwarna biru gelap dan
limpa berwarna merah gelap. Hal ini diduga oleh kandungan dari daun pepaya,
serta pigmen warna dari daun pepaya yang menyebabkan organ dalam berwarna
gelap. Pada Setiaji (2009), hasil terhadap pengamatan organ dalam yaitu, ginjal
berwarna merah tua, hati berwarna merah gelap, empedu berwarna hijau kebiruan,
dan limpa berwarna merah gelap.
Penambahan fitofarmaka ke dalam pakan sebagai upaya untuk pencegahan
penyakit MAS lebih aplikatif dalam penggunaannya jika dibandingkan dengan
metode penyuntikan, perendaman, maupun ekstrak yang disemprotkan ke dalam
pakan. Hal ini dikarenakan dalam satu kali pembuatan dapat digunakan pada
sejumlah ikan, untuk jangka waktu tertentu dan dapat disimpan dalam waktu
relatif lama.
Campuran meniran dan bawang putih, begitu juga halnya paci-paci di
dalam pakan terbukti efektif untuk mencegah penyakit Motile Aeromonad
Septicaemia (MAS) yang disebabkan oleh bakteri A. hydrophila. Fitofarmaka
memiliki prospek yang cerah terhadap pencegahan penyakit MAS. Fitofarmaka
memiliki ketersediaan yang cukup banyak di alam, bersifat ramah lingkungan,
serta tidak membahayakan ikan yang mengkonsumsinya. Lain halnya dengan
penggunaan antibiotik. Sebelumnya antibiotik seringkali digunakan baik untuk
pencegahan maupun pengobatan penyakit MAS. Akan tetapi penggunaan
antibiotik bisa menyebabkan resistensi. Angka (1997) dalam Angka (2005)
menyatakan bahwa 50% isolat Aeromonas sp. sensitif terhadap beberapa jenis
antibiotik seperti oksitetrasiklin, oxolinic acid, eritromisin, streptomisin dan
kloramfenikol. Menurut Austin & Austin (1993), A. hydrophila resisten terhadap
ampicillin, kloramphenicol, eritromycin, nitrofuran, novobiocin, streptomycin,
sulfonamid dan tetracyclin. Jika penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak
terkontrol maka akan menyebabkan patogen tidak mati dan residu dari antibiotik
dapat terakumulasi di daging ikan dan lingkungannya (Plumb, 1995 dalam
Angka, 2005).
Ikan sangat mudah terserang patogen pada lingkungan yang kurang baik.
Dalam hal ini yang sangat mempengaruhi adalah kualitas air. Kualitas air selama
pemeliharaan cukup terkontrol dan memenuhi kebutuhan hidup ikan lele
(Tabel 5). Namun suhu air pemeliharaan cukup fluktuatif, hal ini dikarenakan
cuaca yang kurang mendukung. Pada hari ke-12, suhu air sangat rendah pada pagi
hari yaitu sebesar 25oC, meningkat secara drastis menjadi 30oC pada siang hari
dan turun kembali menjadi 29oC pada sore hari. Kualitas suhu air yang seperti ini
tentunya dapat menyebabkan stres pada ikan karena memungkinkan terjadinya
gangguan fisiologis ikan, dan dapat menyebabkan nafsu makan ikan menjadi
menurun. Menurut Andrews et al. (1972); Andrews and Stickney (1972) dalam
Steffens (1989), Channel catfish memiliki kinerja pertumbuhan yang baik pada
suhu 28-30oC. Menurut Effendi (2004), suhu air yang cukup rendah dapat
menyebabkan stres. Pada saat kondisi ikan stres maka patogen lebih cepat masuk
dan bisa menimbulkan penyakit. Patogenisitas Aeromonas hydrophila akan tinggi
apabila keadaan lingkungan dan inangnya dalam keadaan yang tidak seimbang.
Jadi penyakit tidak hanya disebabkan oleh patogen saja, akan tetapi karena ada
faktor lain yaitu interaksi antara inang, patogen dan lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Y. 2008. Efektivitas ekstrak daun paci-paci Leucas lavandulaefolia
untuk pencegahan dan pengobatan penyakit MAS Motile Aeromonad
Septicaemia ditinjau dari patologi makro dan hematologi ikan lele dumbo
Clarias sp. [Skripsi]. Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Affandi dan Tang . 2002. Fisiologi Hewan Air. UNRI Press. Pekanbaru.
Angka S.L. 2005. Kajian penyakit Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) pada
ikan lele dumbo (Clarias sp.) : patologi, pencegahan, dan pengobatannya
dengan fitofarmaka. [Disertasi]. Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Austin B. dan D.A. Austin. 1993. Bacterial fish pathogens. Disease in farmed
and wild fish. Second edition. Ellis Horword limited. Chichester, England.
383 p.
Effendi I. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya. Depok.
Faghani T., Takami A., Kousha A., and Faghani S. 2008. Surveying on alginic
acid and anti-streptococcus vaccine effects on the growth performance,
survival rate, hematological parameters in rainbow trout (Oncorhynchos
mykiss). World Journal of Zoology 3 (2), 54-58.
Faridah. 2010. Efektivitas ekstrak lidah buaya Aloe vera dalam pakan sebagai
imunostimulan untuk mencegah infeksi Aeromonas hydrophila pada ikan
lele dumbo Clarias sp. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Garrity G. M. 2005. Bergey’s manual of systemaic bacteriology. Second edition.
Michigan State University. East Lansing, USA.
Hermawan. 2007. Pengaruh ekstrak daun sirih (Piper betle L.) terhadap
pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dengan metode
difusi disk. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya.
Irawan et al. 2009. Faktor–faktor penting dalam proses pembesaran ikan
difasilitas nursery dan pembesaran. ITB. Bandung.
Jabar. M. A., and Al-Mossawi A. 2007. Susceptibility of some multiple resistant
bacteria to garlic extract. African Journal of Biotechnology 6 (6), 771-776.
KKP. 2010a. Yogyakarta konsumen lele tertinggi. www.wpi.kkp.go.id
[22 November 2010].
KKP. 2010b. Informasi umum cara budidaya ikan yang baik. www.kkp.go.id
[22 November 2010].
KKP. 2010c. Budidaya lele dumbo. www.kkp.go.id. [22 November 2010]
Kurniawan D. 2010. Efektivitas campuran tepung meniran Phyllanthus niruri dan
bawang putih Allium sativum dalam pakan untuk pencegahan infeksi bakteri
Aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo Clarias sp. [Skripsi].
Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Lawrance R., Tripathi P., and Jeyakumar E. 2009. Isolation, purification and
evaluation of antibacterial agents from Aloe vera. Brazilian Journal of
Microbiology 40, 906-915.
Li, M.H., Robinson, E.H., and Manning, B.B., 2004. Nutrition : Biology and
culture of Channel catfish. Netherlands : Elsevier.
Lim C and Webster C. D. 2001. Nutrition and fish health. Binghamton, USA.
Maulina, I., Haetami, K., dan Junianto. 2006. Pengaruh meniran dalam pakan
untuk mencegah infeksi bakteri Aeromonas sp. pada benih ikan mas (C.
carpio). UNPAD. Bandung.
Nwaoguikpe, R.N., Braide, and W.,Ezejiofor, T.I.N. 2010. The effect of aloe vera
plant (Aloe barbadensis) extracts on sickle cell blood (hbbs). African
Journal of Food Science and Technology 1 (3), 58-63.
Pelczar, M.J., dan Chan, E.C.S., 1988. Dasar-dasar mikrobiologi 2. Universitas
Indonesia, Jakarta.
Plumb, J.A., 1994. Health maintenance of cultured fishes: principal microbial
diseases. CRC Media, Amerika.
Reed, L.J, and Muench, H., 1938. A simple method of estimating fifty percent
endpotants. The American Journal of Hygiene 27, 493-497.
Setiaji A. 2009. Efektivitas ekstrak daun pepaya Carica papaya L. untuk
pencegahan dan pengobatan ikan lele dumbo Clarias sp. yang diinfeksi
bakteri Aeromonas hydrophila. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sholikhah. 2009. Efektivitas ekstrak daun paci-paci Leucas lavandulaefolia untuk
pencegahan dan pengobatan penyakit MAS Motile Aeromonad Septicaemia
ditinjau dari patologi makro dan hematologi ikan lele dumbo Clarias sp.
[Skripsi]. Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Steffens W. 1989. Principles of fish nutrition. Chichester. England.
Utami. 2009. Efektivitas ekstrak paci-paci Leucas lavandulaefolia yang diberikan
lewat pakan untuk pencegahan dan pengobatan penyakit MAS pada ikan
lele dumbo Clarias sp. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Lampiran 1. Perhitungan Nilai LD50
Kepadatan
Mati
Hidup
108
3
2
7
1
6
10
105
Bakteri
10
Ratio
Akumulasi
Mati
hidup
Ratio
0.6
5
2
5/7
71.43
4
0.2
2
6
2/8
25
1
4
0.2
1
10
1/11
9.09
0
5
0
0
15
0/15
0
Kematian
=
71.43 − 50
71.43 − 25
= 0.462
=
50
%
Kematian
(
)50%
−
(
)50%
− 50
= Log negatif di atas 50% + selang proporsi
= − log 10 + 0.462
LD50 = 10
LD50= 10
.
= −7.538
Dengan diperolehnya nilai LD50= 108, maka bakteri A. hydrophila pada kepadatan
108 cfu/ml dapat menyebabkan populasi ikan lele mati sebanyak 50% dalam
waktu 7 hari.
ℎ 50%
Lampiran 2. Jumlah Konsumsi Pakan
1. Jumlah konsumsi pakan sebelum uji tantang
perlakuan
H1
H2
H3
H4
H5
H6
H7
K-U1
1.26
1.26
1.26
1.15
1.68
1.67
1.13
H8
H9
H10
H11
H12
H13
H14
1.3
1.38
1.36
1.79
1.11
1.28
2.71
K-U2
1.28
1.28
1.28
0.8
0.85
1.23
0.81
0.8
1.18
1.73
1.97
1.05
1.47
3.3
K-U3
1.14
1.14
1.14
0.94
1.16
1.25
0.79
0.94
1.1
1.47
2.15
1.39
1.26
2.62
K+U1
1.28
1.28
1.28
1.95
1.89
2.18
1.67
1.74
1.53
1.89
2.66
1.89
1.68
1.23
K+U2
1.58
1.58
1.58
1.69
1.64
1.44
1.53
1.52
1.06
2.3
3.29
1.45
1.79
1.43
K+U3
1.48
1.48
1.48
2.22
1.27
2.01
1.07
1.58
0.94
2.37
2.41
1.3
2.4
1.5
AU1
1.16
1.16
1.16
1.63
2.33
1.41
0.87
1.88
0.97
1.6
3.06
0.94
1.72
1.89
AU2
1.24
1.24
1.24
3.22
4.11
0.62
1.67
2.18
1.42
2.21
2.48
1.69
1.27
2.53
AU3
1.14
1.14
1.14
2.52
2.77
0.87
1.31
2.38
1.5
1.58
2.44
0.93
1.55
1.3
BU1
1.14
1.14
1.14
2.36
3.05
0.96
2.21
1.04
1.51
2.11
2.8
0.83
1.39
2.18
BU2
1.28
1.28
1.28
2.7
4.21
1.17
1.11
0.88
0.84
2.12
2.24
0.74
0.98
1.83
BU3
1.16
1.16
1.16
2.44
2.64
0.58
0.83
1.26
1.92
2.34
2.08
0.85
1.73
0.95
CU1
1.24
1.24
1.24
3.13
2.86
1.8
1.68
0.66
0.86
1.1
1.18
0.56
1.76
2.27
CU2
1.24
1.24
1.24
0.86
3.28
0.75
1.06
1.14
1.16
2.4
1.82
1.1
1.19
2.55
CU3
1.32
1.32
1.32
3.16
2.55
0.73
0.94
1.12
0.75
1.84
1.38
0.79
1.19
2.55
DU1
1.12
1.12
1.12
1.33
2.16
1.01
0.83
1.68
1.11
1.47
2.27
0.81
1.21
2.97
DU2
1.28
1.28
1.28
1.14
2.26
0.37
0.7
1.54
1.15
1.95
0.86
0.77
1.2
2.83
DU3
1.14
1.14
1.14
3.16
3.32
1.03
1.67
1.24
0.93
1.37
1.91
0.56
1.09
2.71
2. Jumlah konsumsi pakan setelah uji tantang
Perlakuan
H1
H2
K-U1
H3
H4
H5
H6
H7
H8
H9
2
0.88
2
2
2
2.5
2.5
K-U2
2
2
1.53
2
2
2.3
2.4
K-U3
1.93
2
2
2
2
2.5
2.1
K+U1
0.49
0.41
0.54
0.57
0.46
0.4
0.42
K+U2
0.84
0.92
1.02
1.18
1.1
1.12
1
K+U3
0.46
0.64
0.63
0.38
0.42
0.38
0.41
0.46
0.57
0.61
0.51
0.61
AU1
0.11
AU2
0.44
AU3
BU1
Ikan tidak
makan
mati total
0.58
0.28
0.33
0.3
0.33
0.36
0.35
0.35
0.62
0.97
0.93
0.7
0.69
0.61
0.62
BU2
0.13
0.16
0.15
0.19
0.17
0.25
0.31
BU3
0.4
0.37
1.1
0.33
0.31
0.32
0.32
CU1
0.67
1.05
1.02
1.19
1.2
1
1.2
CU2
0.62
0.43
1.03
1.24
1.12
1.21
1.02
CU3
0.71
0.86
0.88
0.7
0.75
0.71
0.69
DU1
0.37
0.71
1.3
1.19
1.1
1.2
1.15
DU2
DU3
0.82
0.31
1.42
0.41
1.1
0.71
0.44
0.45
0.98
0.75
0.91
0.76
0.89
0.69
Keterangan :
K- = kontrol negatif, K+ = kontrol positif, A = lidah buaya, B = daun pepaya,
C = meniran+bawang putih, D = paci-paci, H = hari, U = ulangan
Lampiran 3. Analisis statistik terhadap jumlah konsumsi pakan sebelum uji
tantang, pertumbuhan dan kelangsungan hidup
Hipotesis H0 = K- = K+ = A = B = C = D = 0
H1 = Minimal ada 1 perlakuan H0 ≠ 0
selang kepercayaan = 95%
α = 0.05
1. Jumlah konsumsi pakan total sebelum uji tantang
Perlakuan
N
Rata-rata
Standar Deviasi
Standar eror
K-
3
19.2867
0.95133
0.54925
K+
3
23.8467
0.32130
0.18550
A
3
23.8233
2.88219
1.66403
B
3
22.5400
1.38391
0.79900
C
3
21.1900
0.33956
0.19604
D
3
27.3967
12.07843
6.97349
Anova
Grup
Jumlah kuadrat
Df
Rata-rata kuadrat
Between Groups
114.002
5
22.800
Within Groups
314.469
12
26.206
Total
428.471
17
F
Nilai P
0.870
0.529
P value > α, maka gagal tolak H0
2. Pertumbuhan relatif
Perlakuan
N
Rata-rata
Standar Deviasi
Standar eror
K-
3
28.2000
7.88099
4.55009
K+
3
16.3667
9.07377
5.23874
A
3
23.4667
4.00042
2.30964
B
3
18.3667
5.05997
2.92138
C
3
26.8333
11.08888
6.40217
D
3
33.4667
2.89367
1.67066
Anova
Grup
Jumlah kuadrat
Df
Rata-rata kuadrat
Between Groups
613.072
5
122.614
Within Groups
634.773
12
52.898
1247.845
17
Total
F
Nilai P
2.318
0.108
P value > α, maka gagal tolak H0
3. Kelangsungan hidup
Perlakuan
N
Rata-rata
Standar Deviasi
Standar eror
K-
3
1.0000E2
0.00000
0.00000
K+
3
33.3333
23.09401
13.33333
A
3
26.6667
23.09401
13.33333
B
3
40.0000
20.00000
11.54701
C
3
66.6667
11.54701
6.66667
D
3
60.0000
34.64102
20.00000
Anova
Grup
Between Groups
Within Groups
Total
Jumlah kuadrat
Df
Rata-rata kuadrat
11044.444
5
2208.889
5600.000
12
466.667
16644.444
17
F
Nilai P
4.733
P value < α, maka terima H1 dan perlu dilakukan uji lanjut
Uji Lanjut dengan Uji Duncan
PERLAKUAN
N
Subset for alpha = 0.05
1
2
Duncana
A
3
26.6667
K+
3
33.3333
B
3
40.0000
D
3
60.0000
60.0000
C
3
66.6667
66.6667
K-
3
100.0000
0.013
Lampiran 4. Gejala klinis dan diameter luka setiap perlakuan
Perlakuan
Ciri
Radang (cm)
Hemoragi (cm)
Tukak (cm)
Tukak (cm)
Tukak (cm)
K+U1
.
0.5
1
2
1.2
mati
..
0.5
0.4
1
1.5
mati
...
1
0.5
0.1
0.5
0.1
K+U2
K+U3
AU1
AU2
AU3
BU1
BU2
pka
0.5
0.5
0.3
mati
pki
0.5
0.5
0.5
mati
.
1
1
1
1.2
mati
..
0.5
0.5
0.5
1.1
0.7
Tukak (cm)
Sembuh
Sembuh
...
0.5
0.5
0.7
0.6
0.5
Sembuh
pka
0.1
0.7
1.6
1.4
1.2
Sembuh
pki
0.5
0.9
Mati
0.5
Sembuh
1
Sembuh
.
0.5
0.5
1
mati
..
0.7
0.5
0.7
0.8
mati
...
0.5
0.1
0.1
pka
0.5
0.1
Mati
pki
0.5
Mati
.
0.5
Mati
..
0.5
Mati
...
0.5
Mati
pka
0.5
Mati
pki
0.5
Mati
.
0.7
0.7
0.8
mati
..
0.5
0.5
1
0.4
...
0.5
Mati
pka
0.5
Sembuh
pki
0.5
0.4
0.8
mati
.
0.5
0.4
0.3
0.1
..
0.5
0.1
0.3
mati
sembuh
0.3
0.2
sembuh
...
0.5
0.4
pka
0.5
Mati
pki
0.5
Mati
.
1
0.5
0.5
0.3
0.1
Sembuh
..
0.5
0.4
0.7
0.6
0.1
Sembuh
0.4
0.2
0.1
Sembuh
1.5
1.2
mati
0.3
0.1
sembuh
...
0.5
0.1
pka
0.4
Mati
pki
0.5
0.8
.
0.5
Mati
..
0.5
Mati
...
0.8
Mati
pka
0.4
0.1
pki
0.5
Mati
Perlakuan
BU3
CU1
CU2
CU3
DU1
DU2
DU3
Keterangan :
Ciri
Radang (cm)
Hemoragi (cm)
Tukak (cm)
Tukak (cm)
.
0.5
0.9
1
0.5
0.2
Sembuh
..
1
0.7
0.4
0.3
0.1
Sembuh
0.1
Sembuh
Sembuh
...
0.5
0.7
mati
pka
0.5
0.6
0.4
pki
0.5
0.4
mati
.
0.5
0.1
1
0.7
..
0.5
0.2
0.1
sembuh
Tukak (cm)
Tukak (cm)
mati
...
0.5
0.4
0.5
0.4
0.2
pka
0.4
0.4
0.5
0.1
sembuh
pki
1
0.7
0.5
mati
.
0.5
0.6
1
0.4
..
0.5
0.7
0.7
...
0.1
0.1
0.2
0.2
Sembuh
0.3
0.1
Sembuh
0.1
sembuh
pka
0.5
0.4
0.5
0.3
mati
pki
0.5
0.4
0.5
0.4
mati
.
0.5
0.4
mati
..
0.2
0.1
1
1.3
mati
...
0.5
0.3
0.7
0.2
sembuh
pka
0.1
0.2
0.5
0.2
sembuh
pki
0.5
0.6
0.5
0.4
0.1
.
0.4
0.1
0.4
0.1
sembuh
..
0.2
0.1
0.5
0.4
0.2
sembuh
...
0.4
0.1
0.5
0.1
pka
0.5
0.3
0.4
mati
pki
0.4
0.2
0.5
0.3
0.2
.
0.5
0.6
0.4
0.2
sembuh
sembuh
..
0.2
0.4
0.5
0.3
...
0.2
0.3
0.1
mati
pka
0.2
0.1
0.3
0.1
sembuh
pki
0.3
0.1
0.2
0.1
sembuh
.
0.5
0.4
mati
..
0.5
0.2
mati
...
0.5
0.6
0.4
0.1
sembuh
pka
0.5
0.7
1
mati
pki
0.4
0.7
0.7
mati
K- = kontrol negatif, K+ = kontrol positif, A = lidah buaya, B = daun pepaya,
C = meniran+bawang putih, D = paci-paci, U = ulangan
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Lampiran 5. Persentase penyembuhan luka
Diameter luka terbesar – Diameter luka terkecil
∆X= [
x 100%] x
Diameter luka terbesar
Perlakuan
Ciri
perubahan diameter luka (%/hari)
K+U1
…
6.67
K+U2
..
3.64
…
2.8
pka
2.5
..
3.75
AU2
..
12.86
AU3
.
9.57
…
4.76
K+U3
1
t
AU1
BU1
BU2
BU3
CU1
CU2
CU3
DU1
DU2
DU3
Keterangan :
.
8.89
..
9.52
…
8.33
pka
7.41
.
8.89
..
8.33
.
12.86
..
14.29
…
8.57
pka
11.43
.
11.42
..
12.24
…
5.71
…
10.2
pka
8.57
pki
11.43
.
10.71
..
8.57
…
11.43
pki
8.57
.
7.14
..
5.71
pka
9.54
pki
7.14
..
11.91
K- = kontrol negatif, K+ = kontrol positif, A = lidah buaya, B = daun pepaya,
C = meniran+bawang putih, D = paci-paci, H = hari, U = ulangan
Download