TEORI DRAMATURGI ERVING GOFFMAN Di susun untuk

advertisement
TEORI DRAMATURGI
ERVING GOFFMAN
Di susun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Teori sosiologi Modern
Dosen Pengampu: Erik Aditia Ismaya
Oleh:
Siti Fatimah (3401413007)
Imam Fauzi (3401413023)
Sofiyatin (3401413016)
Aenny Marroh U.N.F. (3401413032)
Renny Ayuningsih (3401413041)
Lenni Novita Lestari (3401413038)
Rima Ayu Riani (3401413039)
Vivin Asavirda (3401413058)
JURUSAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015
Teori Dramaturgi: Erving Goffman
Erving Goffman, lahir di Alberta, Canada pada 11 Juni 1922. Mendapat
gelar S1 dari Univ. Toronto menerima gelar doctor dari Univ. Chicago. Beliau
wafat pada tahun 1982 ketika sedang mengalami kejayaan sebagai tokoh sosiologi
dan pernah menjadi professor dijurusan sosiologi Univ. Calivornia Barkeley serta
ketua liga Ivy Univ. Pennsylvania. Erving Goffman, dianggap sebagai pemikir
utama terakhir Chicago asli (Travers, 1922: Tselon, 1992); Fine dan Manning
(2000) memandangnya sebagai sosiolog Amerika paling berpengaruh di abad 20.
Antara 1950-an dan 1970-an Goofman menerbitkan sederetan buku dan esai yang
melahirkan analisis dragmatis sebagai cabang interaksionisme simbolik. Walau
Goffman mengalihkan perhatiannya di tahun-tahun berikutnya, ia tetap paling
terkenal karena teoridramtugisnya.
Pernyataan paling terkenal Goffman tentang teori dramaturgis berupa buku
Presentation of Self in Everyday Life, diterbitkan tahun 1959. Secara ringkas
dramaturgis merupakan pandangan tentang kehidupan sosial sebagai serentetan
pertunjukan drama dalam sebuah pentas. Istilah Dramaturgi kental dengan
pengaruh drama atau teater atau pertunjukan fiksi diatas panggung dimana
seorang aktor memainkan karakter manusia-manusia yang lain sehingga penonton
dapat memperoleh gambaran kehidupan dari tokoh tersebut dan mampu mengikuti
alur cerita dari drama yang disajikan.
Dalam Dramaturgi terdiri dari Front stage (panggung depan) dan Back
Stage (panggung belakang). Front Stage yaitu bagian pertunjukan yang berfungsi
mendefinisikan situasi penyaksi pertunjukan. Front stage dibagi menjadi 2
bagian, Setting yaitu pemandangan fisik yang harus ada jika sang actor
memainkan perannya. Dan Front Personal yaitu berbagai macam perlengkapan
sebagai pembahasa perasaan dari sang actor. Front personal masih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu Penampilan yang terdiri dari berbagai jenis barang yang
mengenalkan status social actor. Dan Gaya yang berarti mengenalkan peran
macam apa yang dimainkan actor dalam situasi tertentu. Back stage (panggung
belakang) yaitu ruang dimana disitulah berjalan skenario pertunjukan oleh “tim”
(masyarakat rahasia yang mengatur pementasan masing-masing actor)
Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi. Beliau menggali
segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan
kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang sama dengan
cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan
drama. Cara yang sama ini berarti mengacu kepada kesamaan yang berarti ada
pertunjukan yang ditampilkan. Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi.
Pertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk memberi kesan yang baik untuk
mencapai tujuan. Tujuan dari presentasi dari Diri – Goffman ini adalah
penerimaan penonton akan manipulasi. Bila seorang aktor berhasil, maka
penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh
aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton untuk
mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain
dari komunikasi. Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai
tujuan. Bila dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang
bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan
akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam
dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita
menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau.
Perlu diingat, dramatugis mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam
mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut.
Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan”
perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud
interaksi sosial tersebut. Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat
mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut.
Dalam teori Dramatugis menjelaskan bahwa identitas manusia adalah
tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan
psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari
interaksi dengan orang lain. Disinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita
menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama
dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk
menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui
“pertunjukan dramanya sendiri”. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut
konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang
mendukung perannya tersebut. Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor
drama
kehidupan
juga
harus
mempersiapkan
kelengkapan
pertunjukan.
Kelengkapan ini antara lain memperhitungkan setting, kostum, penggunakan kata
(dialog) dan tindakan non verbal lain, hal ini tentunya bertujuan untuk
meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan
mencapai tujuan.
Oleh Goffman, tindakan diatas disebut dalam istilah “impression
management”. Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat
aktor berada di atas panggung (front stage) dan di belakang panggung (back
stage) drama kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton
(yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita
berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami
tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi oleh oleh konsep-konsep drama
yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil (lihat unsur-unsur tersebut
pada impression management diatas). Sedangkan back stage adalah keadaan
dimana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada
penonton. Sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa mempedulikan plot
perilaku bagaimana yang harus kita bawakan. Contohnya, seorang teller
senantiasa berpakaian rapi menyambut nasabah dengan ramah, santun, bersikap
formil dan perkataan yang diatur. Tetapi, saat istirahat siang, sang teller bisa
bersikap lebih santai, bersenda gurau dengan bahasa gaul dengan temannya atau
bersikap tidak formil lainnya (ngerumpi, dsb). Saat teller menyambut nasabah,
merupakan saat front stage baginya (saat pertunjukan). Tanggung jawabnya
adalah menyambut nasabah dan memberikan pelayanan kepada nasabah tersebut.
Oleh karenanya, perilaku sang teller juga adalah perilaku yang sudah digariskan
skenarionya oleh pihak manajemen. Saat istirahat makan siang, teller bebas untuk
mempersiapkan dirinya menuju babak ke dua dari pertunjukan tersebut.
Karenanya, skenario yang disiapkan oleh manajemen adalah bagaimana sang
teller tersebut dapat refresh untuk menjalankan perannya di babak selanjutnya.
Sebelum
berinteraksi
dengan
orang
lain,
seseorang
pasti
akan
mempersiapkan perannya dulu, atau kesan yang ingin ditangkap oleh orang lain.
Kondisi ini sama dengan apa yang dunia teater katakan sebagai “breaking
character”. Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan oleh
manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang kemudian
memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada
latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat
yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan.
Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan
panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai komunitas
yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Begitu juga dengan
masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggung-panggung sendiri melalui
interaksinya, yang terkadang justru membentuk proteksi sendiri dengan komunitas
lainnya. Apa yang dilakukan masyarakat melalui konsep permainan peran adalah
realitas yang terjadi secara alamiah dan berkembang sesuai perubahan yang
berlangsung dalam diri mereka. Permainan peran ini akan berubah-rubah sesuai
kondisi dan waktu berlangsungnya. Banyak pula faktor yang berpengaruh dalam
permainan peran ini, terutama aspek sosial psikologis yang melingkupinya.
Dramarturgi hanya dapat berlaku di institusi total. Institusi total
maksudnya adalah institusi yang memiliki karakter dihambakan oleh sebagian
kehidupan atau keseluruhan kehidupan dari individual yang terkait dengan
institusi tersebut, dimana individu ini berlaku sebagai sub-ordinat yang mana
sangat tergantung kepada organisasi dan orang yang berwenang atasnya. Ciri-ciri
institusi total antara lain dikendalikan oleh kekuasan (hegemoni) dan memiliki
hierarki yang jelas. Contohnya, sekolah asrama yang masih menganut paham
pengajaran kuno (disiplin tinggi), kamp konsentrasi (barak militer), institusi
pendidikan, penjara, pusat rehabilitasi (termasuk didalamnya rumah sakit jiwa,
biara, institusi pemerintah, dan lainnya. Dramaturgi dianggap dapat berperan baik
pada instansi-instansi yang menuntut pengabdian tinggi dan tidak menghendaki
adanya “pemberontakan”. Karena di dalam institusi-institusi ini peran-peran sosial
akan lebih mudah untuk diidentifikasi. Orang akan lebih memahami skenario
semacam apa yang ingin dimainkan. Bahkan beberapa ahli percaya bahwa teori
ini harus dibuktikan dahulu sebelum diaplikasikan. Teori ini juga dianggap tidak
mendukung pemahaman bahwa dalam tujuan sosiologi ada satu kata yang
seharusnya diperhitungkan, yakni kekuatan “kemasyarakatan”. Bahwa tuntutan
peran
individual
menimbulkan
clash
bila
berhadapan
dengan
peran
kemasyarakatan. Ini yang sebaiknya dapat disinkronkan.
Dramaturgi dianggap terlalu condong kepada positifisme. Penganut paham
ini menyatakan adanya kesamaan antara ilmu sosial dan ilmu alam, yakni aturan.
Aturan adalah pakem yang mengatur dunia sehingga tindakan nyeleneh atau tidak
dapat dijelaskan secara logis merupakan hal yang tidak patut.
1. Konteks sosial kelahiran teori
Dramaturgi yang dicetuskan Erving Goffman merupakan hasil
pendalamannya terhadap konsep interaksi sosial. Konsep ini lahir sebagai
aplikasi atas ide-ide individualis yang baru dari peristiwa-peristiwa evolusi
sosial ke dalam masyarakat kontemporer. Kalangan interaksionis simbolis
berpendapat sebagai berikut :

Manusia berbeda dari binatang, manusia ditopang oleh kemampuan
berfikir.

Kemampuan berfikir dibentuk melalui interaksi sosial.

Dalam interaksi sosial, orang mempelajari makna dan symbol yang
memungkinkan mereka menggunakan kemampuan berfikir mereka.

Makna dan symbol memungkinkan orang melakukan tindakan dan
interaksi khas manusia.

Orang mampu memodifikasi atau mengubah makna dan symbol yang
mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi bedasarkan tafsir
mereka terhadap situasi tersebut.
Menurut
Goffman,
subjek
sosiologi
dramaturgi
adalah
penciptaan,
pemeliharaan utama, dan perusakan pemahaman umum dari realitas oleh orang
yang bekerja secara individual dan kolektif untuk menyajikan gambar bersama
dan terpadu dari kenyataan itu. Ini adalah klaim Goffinan bahwa jika kita
memahami bagaimana seorang aktor Amerika kontemporer dapat menyampaikan
kesan seorang pangeran yang sarat kecemasan Denmark selama presentasi
Hamlet, kita juga dapat memahami bagaimana sebuah agen asuransi mencoba
untuk bertindak seperti operasi profesional dengan kombinasi ahli pengetahuan
dan goodwill. Jika kita dapat memahami bagaimana sebuah panggung kecil dapat
digunakan untuk mewakili seluruh Roma dan Mesir di Antony dan Cleopatra, kita
juga dapat memahami bagaimana Disney Store menciptakan rasa petualangan dan
bertanya-tanya dalam setiap mal lokal. Juga, jika kita dapat memahami proses
dimana dua aktor dibayar meyakinkan kita bahwa mereka sedang di landa cinta
dalam Romeo dan Juliet, kita dapat memahami bagaimana pramugari mengelola
dan menggunakan emosi mereka untuk keuntungan komersial.
Di luar metafora kehidupan sosial sebagai ritual dramatis, Goffman merasakan
potensi untuk membawa keterasingan karena masalah otentik merangkul peran
yang bukannya merasa ambivalensi tertentu atau jarak dari itu. Keterasingan ini
juga penting untuk analisis Goffman, untuk Goffman, berbicara tentang individual
sebagai semacam agen otonom tidak benar, melainkan individu harus selalu
dianggap dalam hubungan dengan keseluruhan sosial. Dengan demikian, unit
dasar dari analisis sosial, Goffman (1959), bukan individu melainkan apa yang ia
sebut sebagai “tim.” Dia menulis, “rekan satu tim adalah seseorang yang
dramaturgi kerjasama satu tergantung pada dalam mengembangkan definisi yang
diberikan dari situasi” . Tim, kemudian, bertanggung jawab untuk penciptaan
persepsi realitas dalam Settings ditetapkan sosial. Inti dari teori dramaturgi sosial
adalah bahwa analisis tentang bagaimana tim bekerja sama untuk mendorong
kesan tertentu dari realitas mengungkapkan sistem yang kompleks dari interaksi
yang, dalam banyak hal, adalah seperti memainkan penyajian.
Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi. Beliau menggali
segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan
kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang
sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam
sebuah pertunjukan drama. Cara yang sama ini berarti mengacu kepada
kesamaan yang berarti ada pertunjukan yang ditampilkan. Goffman mengacu
pada pertunjukan sosiologi. Pertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk
memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan. Tujuan dari presentasi dari
Diri -Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Bila seorang
aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang
ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk
membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini
dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Karena komunikasi
sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Bila dalam komunikasi
konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera
verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang
lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan
adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat
memberikan feedback sesuai yang kita mau. Perlu diingat, dramatugis
mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan
bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut.
Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada
“kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan
akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bermain peran merupakan salah
satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut. Dalam
pandangan Goffman, diri bukanlah milik aktor tetapi lebih sebagai hasil intersi
dramatis antara aktor dan audien. Diri adalah pengaruh dramatis yang muncul
dari suasana yang ditampilkan. Dramaturgi Goffman memperhatikan proses
yang dapat mencegah gangguan atas penampilan diri. Meski sebagian besar
bahasannya ditekankan pada interaksi dramaturgis ini, Goffman menunjukan
bahwa pelaksanaannya adalah sukses. Hasilnya adalah bahwa dalam keadaan
biasa, diri yang serasi dengan pelakunya,penampilannya berasal dari pelaku.
Goffman beasumsi bahwa saat berinteraksi aktor ingin menampilkan
perasaan diri yang dapat diterima oleh orang lain. Tetapi ketika menampilkan
diri
aktor
menyadari
bahwa
anggota
audien
dapat
mengganggu penampilannya. Oleh karena itu aktor menyesuaikan diri dengan
pengendalian audiens terutama unsur yang dapat mengganggu. Aktor berharap
perasaan diri yang mereka tampilkan kepada audien cukup kuat dan
mempengaruhi audiens. Aktor pun berharap audiens akan bertindak seperti
yang diinginkan aktor dari mereka. Goffman menggolongkan hal tersebut
sebagai manajemen pengaruh.
Dalam teori Dramatugis menjelaskan bahwa identitas manusia adalah
tidak stabil dan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi
yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari
interaksi dengan orang lain. Disinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita
menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai
sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk
menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui
“pertunjukan dramanya sendiri”. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut
konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang
mendukung perannya tersebut. Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor
drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukan.
Kelengkapan ini antara lain memperhitungkan setting, kostum, penggunakan
kata (dialog) dan tindakan non verbal lain, hal ini tentunya bertujuan untuk
meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan
mencapai tujuan. Oleh Goffman, tindakan diatas disebut dalam istilah
“impression management”.
Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor
berada di atas panggung (“front stage”) dan di belakang panggung (“back
stage”) drama kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah adanya
penonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian
pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaikbaiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita
dibatasi oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama
yang berhasil. Sedangkan back stage adalah keadaan dimana kita berada di
belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Sehingga kita
dapat berperilaku bebas tanpa mempedulikan plot perilaku bagaimana yang
harus kita bawakan.
Goffman (1959) mengklaim bahwa setiap kali mengadopsi peran aktor,
mereka harus mengambil posisi pada keyakinan mereka dalam peran-mereka
harus memutuskan apakah mereka merasa bahwa kesan realitas mereka akan
proyek adalah “benar”. Pada satu ekstrim, orang menemukan bahwa pelaku
dapat sepenuhnya diambil oleh tindakan sendiri, ia dapat tulus yakin bahwa
kesan realitas adalah realitas yang nyata. Pada ekstrem yang lain, kita
menemukan bahwa pelaku mungkin tidak diambil sama sekali oleh rutinitas
sendiri. Ketika individu tidak memiliki keyakinan dalam bertindak sendiri dan
tidak ada perhatian utama dengan keyakinan para pendengarnya, pemesanan
yang “tulus” istilah untuk orang yang percaya pada kesan dipupuk oleh kinerja
mereka sendiri.
Penting untuk dicatat bahwa meskipun individu dapat berada di mana saja
di antara dua ekstrem kepercayaan pada kinerja mereka sendiri, mereka harus
berada di tempat-yaitu, setiap pemain harus, sadar atau tidak, memiliki
beberapa tingkat penerimaan dari bagian dia diputar. Jelas, dalam kebanyakan
kasus, akan lebih mudah untuk menyajikan kinerja yang meyakinkan jika ada
yang relatif tulus tentang kinerja seseorang.
Jadi, dalam dramaturgi Goffman, realitas sosial adalah acara dilakukan,
sangat tergantung pada berbagai komponen teater. Untuk individu-individu
tertentu untuk berkomunikasi secara efektif realitas sosial yang paling
menguntungkan bagi mereka, mereka harus mengadopsi peran tentang
pekerjaan mereka. Pada titik tertentu, bagaimanapun, peran-peran kerja akan
hampir pasti bertabrakan dengan peran individu nonpekerjaan, seharusnya diri
mereka yang sebenarnya. Ketika ini terjadi, individu memiliki berbagai
macam pilihan, tapi akhirnya tidak satupun dari mereka adalah mungkin untuk
sepenuhnya menyelesaikan konflik; solusi yang terbaik, dibanyak kasus,
adalah untuk mengabaikan konflik dengan bertindak-dengan menggunakan
alat-alat panggung. Goffman (1959) menekankan bahwa ia menggunakan
teater sebagai metafora dan mengklaim bahwa pada akhirnya, dunia bukan
panggung, dan itu seharusnya tidak sulit bagi pembaca untuk menemukan
perbedaan besar antara keduanya.
2. Pemikiran dan Teori yang berpengaruh
A. Fenomena sosial yang melahirkan dramaturgi
Teori dramaturgi, sebagai pendalaman dari konsep interaksi sosial
merupakan dampak atas fenomena yang terjadi di awal abad 20 di
Amerika (George Ritzer, 1996 : 375). Di kala itu, para intelektual
Amerika bereaksi atas meningkatnya konflik sosial dan konflik rasial,
dampak reprensif birokrasi dan industrialisasi.Goffman menekankan
sosiologi pada individu sebagai suatu analisis, khususnya pada aspek
interaksi tatap muka.
B. Pemikiran politik atau sosial yang mempengarui
Banyak ahli percaya bahwa dramaturgi Goffman berada di antara
tradisi interaksi simbolis dan fenomenologi (Basrowi Sukidin, 2002 : 103).
Utamanya yang dikembangkan Herbert Blumer bahwa interaksi sosial
menyangkut proses penafsiran makna, baik secara individu maupun
kelompok. Masyarakat dikonsepsika sebagai sebuah system tentang proses
penafsiran pesan.
Dilihat dari jenis alirannya, interaksi simbolis yang mengilhami teori
Goffman terbagi ke dalam dua kelompok besar.Pertama, aliran Chicago
School yang dimonitori oleh Herbert Blumer, melanjutkan tradisi
humanistis yang dimulai oleh George Herbert Mead.Kedua, lowa school
menggunakan pendekatannya yang lebih ilmiah dalam mempelajari
interaksi.
Interaksionisme simbolis mengandung inti dasar pemikiran umum
tentang komunikasi dan masyarakat. Jerome Manis dan Bernard Meltzer
(1967 : 214) memisahkan tujuh hal mendasar yang bersifat teoretis dan
metodologi dari interaksionisme simbolis, yaitu :
1) Orang-orang yang dapat mengerti berbagai hal dengan belajar dari
pengalaman. Persepsi seseorang selalu diterjemahkan dalam symbol.
2) Berbagai arti dipelajari melalui interaksi diantara orang-orang. Arti
muncul dari adanya pertukaran simbol-simbol dalam kelompokkelompok sosial.
3) Seluruh struktur dan institusi sosial diciptakan dari adanya interaksi
diantara orang-orang.
4) Tingkahlaku seseorang tidaklah mutlak ditentukan oleh kejadiankejadian pada masa lampau saja, tetapi juga dilakukan secara sengaja.
5) Pikiran terdiri atas percakapan internal yang merefleksikan interaksi
yang telah terjadi antara seseorang dengan orang lain.
6) Tingkah laku terbentuk atau tercipta di dalam kelompok sosial selama
proses interaksi.
7) Kita tidak dapat memahami pengalaman seseorang individu dengan
mengamati tingkah lakunya belaka. Pengalaman dan pengertian
seseorang akan berbagai hal harus diketahui pula secara pasti.
Esensi interaksi simbolis adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri
khas manusia, yaitu komunikasi dan pertukaran simbol yang diberi
makna.Pada dasarnya, interaksi manusia menggunakan simbol-simbol,
cara manusia menggunakan simbol, yakni merepresentasikan apa yang
mereka maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Itulah
interaksi simbolis dan itu pulalah yang mngilhami prespektif darmatugis,
dimana Erving Goffman sebagai salah satu eksponen interaksionisme
simbolis maka hal tersebut banyak mewarnai pemikiran-pemikiran
dramaturgisnya.
Pandangan Goffman agaknya harus dipandang sebagai serangkaian
tema dengan menggunakan berbagai teori.Ia memang seorang dramaturgis,
tetapi juga memanfaatkan pendekatan interaksi simbolis, fenomenologis
schutzian,
formalism
simmelian,
analisis
semiotic,
dan
bahkan
fungsionalisme durkhemian.
Salah satu kontribusi interaksionisme simbolis (Jones) adalah
penjabaran berbagai macam pengaruh yang ditimbulkan penafsiran orang
lain terhadap identitas atau citra diri individu yang merupakan objek
interpretasi. Dalam kaitan ini, perhatian Goffman adalah apa yang ia sebut
“ketertiban interaksi” (interaction order) yang meliputi struktur, proses,
dan produk interaksi sosial. Ketertiban interaksi muncul untuk memenuhi
kebutuhan akan pemeliharaan “keutuhan diri”. Inti pemikiran Goffman
adalah “diri” (self), yang dijabarkan oleh Goffman dengan carayang unik
dan memikat yaitu Teori Diri Ala Goffman (Mulyana Deddy, 2004 : 106).
3. Latar belakang sosial dan pribadi Goffman
Dramaturgi adalah sandiwara kehidupan yang disajikan oleh manusia.
Kita lihat kembali contoh di atas, bagaiman seorang polisi memilih perannya,
juga seorang warga negara biasa memilih sendiri peran yang dinginkannya.
Goffman menyebutnya sebagai bagian depan (front) dan bagian belakang
(back). Front mencakup, setting, personal front (penampilan diri), expressive
equipment (peralatan untuk mengekspresikan diri). Sedangkan bagian
belakang adalah the self, yaitu semua kegiatan yang tersembunyi untuk
melengkapi keberhasilan acting atau penampilan diri yang ada pada Front.
Berbicara mengenai Dramaturgi Erving Goffman, maka kita tidak boleh luput
untuk melihat George Herbert Mead dengan konsep The Self, yang sangat
mempengaruhi teori Goffman.
Erving Goffman, lahir di Aberta, Canada, 11 Juni 1922.Menyelesaikan
pendidikan sarjana di Universitas Toronto pada tahun 1945.Kemudian
melanjutkan ke Universitas Cicago dan menyelesaikan M.A dan Ph.D pada
tahun 1949 dan 1953.Karier akademisnya diawali di Barkeley dan kemudian
ke Universitas Pennsylvania. Minat intelektualnya difokuskan untuk
mengembangkan kerangka teoritis untuk analisis interaksi sosial yang
didasarkan pada berbagai penelitian (baik informal maupun formal) terhadap
proses interaksi sosial (2009 : 398).
Karyanya yang terkenal diantaranya :Presentation of Self in Everyday
Life (1959); Asylums (1961), dan Ecounter (1961). Ia wafat pada tahun 1982
ketika sedang mengalami masa kejayaan sebagai tokoh sosiologi dan pernah
menjadi professor di jurusan sosiologi Universitas California Berkeley serta
ketua liga lvy Universitas Pennsylvania.
Sebagaimana telah kami sebutkan di atas bahwa, karya-karya Erving
Goffman sangat dipengaruhi oleh George Herbert Mead yang memfokuskan
pandangannya pada The Self. Misalnya, The Presentation of self in everyday
life (1955), merupakan pandangan Goffman yang menjelaskan mengenai
proses dan makna dari apa yang disebut sebagai interaksi (antar manusia).
Dengan mengambil konsep mengenai kesadaran diri dan The Self Mead,
Goffman kembali memunculkan teori peran sebagai dasar teori Dramaturgi.
Goffman mengambil pengandaian kehidupan individu sebagai panggung
sandiwara, lengkap dengan setting panggung dan akting yang dilakukan oleh
individu sebagai aktor “kehidupan.” Lalu, bagaimanakah sebenarnya dengan
“The Self” Mead tersebut?
“Bagi Mead, The Self lebih dari sebuah internalisasi struktur sosial dan
budaya. The Self juga merupakan proses sosial, sebuah proses dimana para
pelakunya memperlihatkan pada dirinya sendiri hal-hal yang dihadapinya,
didalam situasi dimana ia bertindak dan merencanakan tindakannya itu
melalui penafsirannya atas hal-hal tersebut. Dalam hal ini, aktor atau pelaku
yang melakukan interaksi sosial dengan dirinya sendiri, menurut Mead
dilakukan dengan cara mengambil peran orang lain, dan bertindak berdasarkan
peran tersebut, lalu memberikan respon atas tindakan-tindakan itu. Konsep
interaksi pribadi (self interaction) dimana para pelaku menunjuk diri mereka
sendiri berdasarkan pada skema Mead mengenai psikologi sosial. The Self
disini bersifat aktif dan kreatif serta tidak ada satupun variable-variabel sosial,
budaya, maupun psikologis yang dapat memutuskan tindakan-tindakan The
Self.” (Wagiyo, 2004: 107)
Dari deskripsi di atas, Mead menegaskan bahwa The Self merupakan
mahluk hidup yang dapat melakukan tindakan, dan bukan sesuatu yang pasif
yang semata-mata hanya menerima dan merespon suatu stimulus belaka.
Secara hakiki, pandangan Mead merupakan isu sentral bagi interaksionisme
simbolik.
Dramaturgi itu sendiri merupakan sumbangan Goffman bagi perluasan
teori interaksi simbolik. Mead menyatakan bahwa konsep diri pada dasarnya
terdiri dari jawaban individu atas pertanyaan mengenai “siapa aku” untuk
kemudian dikumpulkan dalam bentuk kesadaran diri individu mengenai
keterlibatannya yang khusus dalam seperangkat hubungan sosial yang sedang
berlangsung. Pendapat Mead tentang pikiran adalah bahwa pikiran
mempunyai corak sosial, percakapan dalam batin adalah percakapan antara
“aku” dengan “yang lain” pada titik ini, konsepsi tentang “aku” itu sendiri
merupakan konsepsi orang lain terhadap individu tersebut. Atau dengan
kalimat singkat, individu mengambil pandangan orang lain mengenai dirinya
seolah-olah pandangan tersebut adalah “dirinya” yang berasal dari “aku.”
Pada pandangan Goffman, kesadaran diri adalah hasil adopsi dari
ajaran-ajaran Durkheim. Dan bagi Goffman, struktur sosial merupakan
countless minor synthesis (sintesis-sintesis kecil yang tak terbilang), dimana
manusia –ini menurut Simmel- merupakan atom-atom atau partikel-partikel
yang sangat kecil dari sebuah masyarakat yang besar. Dan ide serta konsep
Dramaturgi Goffman itu sendiri, menolong kita untuk mengkaji hal hal yang
berada di luar perhitungan kita (hal-hal kecil yang tak terbilang tersebut),
manakala kita menggunakan semua sumber daya yang ada di bagian depan
dan bagian belakang (front and back region) dalam rangka menarik perhatian
orang-orang yang disekeliling kita. Bentuk-bentuk interaksi, komunikasi tatap
muka, dan pengembangan konsep-konsep sosiologi, merupakan sumbangan
Goffman bagi interaksionis simbolik bahkan Goffman juga mempengaruhi
tokoh-tokoh di luar interaksionis simbolik. Walaupun pada karya terakhirnya,
Goffman terfokus pada gerakan-gerakan yang mengarah pada bentuk-bentuk
strukturalisme masyarakat
4. Pertanyaan yang diajukan
Ikhwal yang menjadi pijakan pemikiran Goffman berawal dari
“ketegangan” yang terjadi antara “I” dan “me” (gagasan Mead). Goffman
menyebutnya terjadi: “kesenjangan antara diri kita dengan diri kita yang
tersosialisasi”. Konsep I merujuk pada kespontanan, ke-apa-adanya;
sedangakan konsep me merupakan konsep yang harus merujuk pada diri orang
lain (sosial) (Ritzer dkk, 2009 : 388).
Keterangan ini berasal dari perbadaan antara harapan orang terhadap
apa yang mesti kita lakukan dengan harapan kita sendiri. Kita dituntut tidak
plin plan dan dituntut untuk melakukan apa yang diharapkan oleh diri kita.
Untuk menjaga citra diri, orang harus tampil bagi audience sosial.Oleh karena
itu, Goffman mengibaratkan bahwa kehidupan itu sebagai drama teater.Orang
harus memainkan peran mereka ketika melakukan interaksi social.
Sementara itu fokus pendekatan dramaturgi adalah bukan apa yang
orang lakukan, bukan apa yang ingin mereka lakukan, atau mengapa meraka
melakukan, melainkan bagaimana meraka melakukannya.
Dramaturgi menekankan dimensi ekspresi/impresif aktifitas manusia,
yakni bahwa makna kegiatan manusia terdapat dalam cara mereka
mengekspresikan diri dalam interaksi dengan orang lain yang juga ekspresif.
Oleh karena perilaku manusia bersifat ekspresif maka perilaku manusia
bersifat dramatik.Pendekatan dramaturgis Goffman berintikan pandangan
bahwa ketika manusia berinteraksi dengan sesamanya, ia ingin mengelola
pesan yang ia harapkan tumbuh pada orang lain terhadapnya. Untuk itu, setiap
orang melakukan pertunjukan bagi orang lain. Kaum dramaturgis memandang
manusia sebagai aktor-aktor diatas panggung metaforis yang sedang
memainkan peran-peran mereka.
Pengembangan diri sebagai konsep oleh Goffman tidak terlepas dari
pengaruh gaagasan Cooley tentang the looking glass self (Morine Nicholas,
2009). Gagasan diri ala Cooley ini terdiri atas tiga komponen.Pertama, kita
mengembangkan bagaimana kita tampil bagi orang lain. Kedua, kita
mengembangkan bagaimana penilaian mereka atas penampilan kita.Ketiga,
kita mengembangkan sejenis perasaan diri, seperti kebanggaan atau malu
sebagai akibat membayangkan penilaian oranglain tersebut. Lewat imajinasi,
kita mempersepsi dalam pikiran irang lain suatu gambaran tentang penampilan
kita, perilaku, tujuan, perbuatan, karakter teman-teman kita, dan sebagainya
serta dengan berbagai cara kita terpengaruh olehnya.
Fokus dramaturgis bukan konsep diri yang dibawa sang aktor dari
suatu situasi kesituasi yang lainnya atau keseluruan jumlah pengalaman
individu, melainkan diri yang tersituasikan secara sosial yang berkembang dan
mengatur interaksi-interaksi spesifik. Menurut Goffman diri adalah”suatu
hasil kerjasama” (collaborative manufacture) yang harus diproduksi baru
dalam setiap peristiwa interaksi sosial.
Menurut interaksi simbolis, manusia belajar memainkan berbagai
peran dan mengasumsikan identitas yang ralevan dengan peran-peran ini,
terlibat dalam kegiatan menunjukkkan kepada satu sama lainnya siapa dan apa
meraka. Dalam konteks demikian, mereka manandai satu sama lain dan
situasi-situasi yang mereka masuki dan perilaku-perilaku berlangsung dalam
konteks identitas sosial, makna, dan definisi situasi. Presentase diri seperti
yang ditunjukkan Goffman bertujuan memproduksi definisi situasi dan
identitas sosial bagi para aktor, dan difinisi situasi tersebut mempengarui
ragam interaksi yang layak dan tidak layak bagi para aktor dalam situasi yang
ada.
Goffman mengasumsikan bahwa ketika orang-orang berinteraksi,
mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima orang lain.
Ia menyebut upaya itu sebagai “pengelolaan pesa” (impression management),
yaitu teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan
tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.
5. Proposisi Yang Ditawarkan
Pemikiran Goffman berawal dari ketegangan yang terjadi antara “I dan
Me” (gagasan Mead). Ada kesenjangan antara diri kita dan diri kita yang
tersosioalisasi. Konsep “I” merujuk pada apa adanya dan konsep “me”
merujuk pada diri orang lain. Ketegangan berasal dari perbedaan antara
harapan orang terhadap apa yang mesti kita harapkan. Menurut Goffman
orang harus memainkan peran mereka ketika melakukan interaksi social.
Sebagai drama perhatian utama pada interaksi social.
Fokus pendekatan dramaturgi adalah bukan apa yang orang lakukan,
atau mereka melakukan tetapi bagaimana mereka melakukannya. Menurut
Burke perilaku manusia harus bersandar pada tindakan. Tindakan sebagai
konsep dasar dalam drama. Burke membedakan antara aksi dan gerakan. Aksi
adalah tingkah laku yang disengaja dan mempunyai maksud. Sedang gerakan
adalah perilaku yang mengandung makna dan tidak bertujuan. Dramaturgi
menekankan dimensi ekspresif aktivitas manusia. Karena perilaku ekspresif
maka perilaku manusia bersifat dramatic.
Teori dramaturgi tidak lepas dari pengaruh Cooley tentang the looking
glass self, yang terdiri tiga komponen; Pertama: kita mengembangkan
bagaimana kita tanpil bagai orang lain. Kedua: kita membayangkan
bagaimana
penilaian
mereka
atas
penampilan
kita.
Ketiga
:
kita
mengembangkan perasaan diri, seprti malu, bangga, sebagai akibat
mengembangkan penilaian orang lain.
Salah satu konsep Goffman yang terkenal adalah Model Dramaturgi. Goffman
membedakan dua macam pernyataan yaitu:
a. Pernyataan yang diberikan (expression given), yaitu sarana-sarana tanda yang
dengan sengaja dipergunakan untuk menyampaikan informasi tertentu kepada
orang lain.
b. Pernyataan lepas (expression given off), yaitu informasi yang disampaikan
tanpa sengaja.
Inti dari ajaran Goffman adalah dramaturgy. Dramaturgy yang dimaksud
Goffman adalah situasi dramatik yang seolah-olah terjadi di atas panggung
sebagai ilustrasi yang diberikan Goffman untuk menggambarkan orang-orang dan
interaksi yang dilakukan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Goffman
menggambarkan peranan orang-orang yang berinteraksi dan hubungannya dengan
realitas
sosial
yang
dihadapinya
melalui
panggung
sandiwara
dengan
menggunakan skrip (jalan cerita) yang telah ditentukan.
Ada bagian yang disebut frontstage (panggung bagian depan) dan backstage
(panggung bagian belakang) di mana keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
Peranan dan fungsi backstage sangat penting terhadap keberhasilan penampilan di
frontstage, kajian-kajian terhadap hal-hal yang berada di luar perhitungan benarbenar bertumpu pada sumber daya-sumber daya yang ada pada kedua bagian
tersebut. Di samping itu, konsep dramaturgy Goffman juga dipakai oleh beberapa
ahli sosiologi seperti Kennen dan Collins dalam melakukan studi yang
menyangkut interaksi antara orang-orang yang menjadi kajian mereka.
Dramaturgi merupakan pandangan tentang kehidupan sosial sebagai serentetan
pertunjukkan drama dalam sebuah pentas. Diri adalah pengaruh dramatis yang
muncul dari suasana yang di tampilkan (interaksi dramatis), maka ia mudah
mengalami gangguan.
Dramaturgi menekankan dimensi ekspresif/impresif aktivitas manusia, yakni
bahwa makna kegiatan manusia terdapat dalam cara mereka mengekspresikan diri
dalam interaksi dengan orang lain yang juga ekspresif. Oleh karena perilaku
manusia bersifat ekspresif inilah maka perilaku manusia bersifat dramatik.
Pendekatan dramaturgis Goffman berintikan pandangan bahwa ketika manusia
berinteraksi dengan sesamannya, ia ingin mengelola pesan yang ia harapkan
tumbuh pada orang lain terhadapnya. Kaum dramaturgis memandang manusia
sebagai aktor-aktor di atas panggung metaforis yang sedang memainkan peranperan mereka.
Konsep yang digunakan Goffman berasal dari gagasan-gagasan Burce
Gronbeck, dengan demikian pendekatan dramaturgis sebagai salah satu varian
interaksionisme simbolik yang sering menggunakan konsep “peran sosial” dalam
menganalisis interaksi sosial, yang dipinjam dari khasanah teater. Goffman
mengasumsikan bahwa ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin menyajikan
suatu gambaran diri yang akan diterima orang lain. Ia menyebut upaya itu sebagai
“pengelolaan pesan” (impression management), yaitu teknik-teknik yang
digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk
mencapai tujuan tertentu. Menurut Goffman kehidupan sosial itu dapat dibagi
menjadi “wilayah depan” (front region) dan “wilayah belakang” (back region).
a. Wilayah depan (front region)
Merujuk kepada peristiwa sosial yang menunjukan bahwa individu
bergaya atau menampilkan peran formalnya. Mereka sedang memainkan
perannya di atas panggung sandiwara di hadapan khalayak penonton.
Sebaliknya wilayah belakang merujuk kepada tempat dan peristiwa yang yang
memungkinkannya mempersiapkan perannya di wilayah depan. Wilayah
depan ibarat panggung sandiwara bagian depan (front stage) yang ditonton
khalayak penonton.
Front stage (panggung depan) bagian pertunjukan yang berfungsi
mendefinisikan situasi penyaksi pertunjukan. Goffman membagi panggung
depan ini menjadi dua bagian: front pribadi (personal front) dan setting front
pribadi terdiri dari alat-alat yang dianggap khalayak sebagai perlengkapan
yang dibawa aktor ke dalam setting, misalnya dokter diharapkan mengenakan
jas dokter dengan stetoskop menggantung dilehernya. Personal front
mencakup bahasa verbal dan bahasa tubuh sang aktor. Misalnya, berbicara
sopan, pengucapan istilah-istilah asing, intonasi, postur tubuh, kespresi wajah,
pakaian, penampakan usia dan sebagainya.
Ciri yang relatif tetap seperti ciri fisik, termasuk ras dan usia biasanya
sulit disembunyikan atau diubah, namun aktor sering memanipulasinya
dengan menekankan atau melembutkannya, misalnya menghitamkan kembali
rambut yang beruban dengan cat rambut. Setting merupakan situasi fisik yang
harus ada ketika aktor melakukan pertunjukan, misalnya seorang dokter bedah
memerlukan ruang operasi, seorang sopir taksi memerlukan kendaraan.
(Mulyana, 2004:115). Front personal terbagi dua, yaitu penampilan berbagai
jenis barang yang mengenalkan status sosial aktor, dan gaya mengenalkan
peran macam apa yang dimainkan aktor dalam situasi tertentu.
Fokus perhatian Goffman bukan hanya individu, tetapi juga kelompok
atau tim. Selain membawakan peran dan karakter secara individu, aktor-aktor
sosial juga berusaha mengelola kesan orang lain terhadap kelompoknya, baik
itu keluarga, tempat bekerja, parati politik, atau organisasi lain yang mereka
wakili. Semua anggota itu oleh Goffman disebut “tim pertunjukan”
(performance team) yang mendramatiasikan suatu aktivitas. Kerjasama tim
sering dilakukan oleh para anggota dalam menciptakan dan menjaga
penampilan
dalam
wilayah
depan.
Mereka
harus
mempersiapkan
perlengkapan pertunjukan dengan matang dan jalannya pertunjukan, memain
pemain inti yang layak, melakukan pertunjukan secermat dan seefisien
mungkin , dan kalau perlu juag memilih khalayak yang sesuai. Setiap anggota
saling mendukung dan bila perlu memberi arahan lewat isyarat nonverbal,
seperti isyarat dengan tangan atau isyarat mata, agar pertunjukan berjalan
mulus. (Mulyana, 2004:123)
Goffman menekankan bahwa pertunjukan yang dibawakan suatu tim
sangat bergantung pada kesetiaan setiap anggotanya. Setiap anggota tim
memegang rahasia tersembunyi bagi khalayak
yang memungkinkan
kewibawaan tim tetap terjaga. Dalam kerangka yang lebih luas, sebenarnya
khalayak juga dapat dianggap sebagai bagian dari tim pertunjukan. Artinya
agar pertunjukan sukses, khalayak juga harus berpartisipasi untuk menjaga
agar pertunjukan secara keseluruhan berjalan lancar.
b. Wilayah belakang (back region)
Wilayah belakang ibarat panggung sandiwara bagian belakang (back
stage) atau kamar rias tempat pemain sandiwara bersantai, mempersiapkan
diri, atau berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan. Back stage
(panggung belakang) ruang dimana disitulah berjalan skenario pertunjukan
oleh “tim” (masyarakat rahasia yang mengatur pementasan masing-masing
aktor).
Dalam Dramaturgi terdiri dari Front stage (panggung depan) dan Back
Stage (panggung belakang). Front Stage yaitu bagian pertunjukan yang
berfungsi mendefinisikan situasi penyaksi pertunjukan. Front stage dibagi
menjadi 2 bagian, Setting yaitu pemandangan fisik yang harus ada jika sang
actor memainkan perannya. Dan Front Personal yaitu berbagai macam
perlengkapan sebagai pembahasa perasaan dari sang actor. Front personal
masih terbagi menjadi dua bagian, yaitu Penampilan yang terdiri dari berbagai
jenis barang yang mengenalkan status social actor. Dan Gaya yang berarti
mengenalkan peran macam apa yang dimainkan actor dalam situasi tertentu.
Back stage (panggung belakang) yaitu ruang dimana disitulah berjalan
scenario pertunjukan oleh “tim” (masyarakat rahasia yang mengatur
pementasan masing-masing actor).
Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi. Beliau menggali
segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan
kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang
sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam
sebuah pertunjukan drama. Cara yang sama ini berarti mengacu kepada
kesamaan yang berarti ada pertunjukan yang ditampilkan. Goffman mengacu
pada pertunjukan sosiologi. Pertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk
memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan. Tujuan dari presentasi dari
Diri– Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Bila seorang
aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang
ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk
membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini
dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Karena komunikasi
sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Bila dalam komunikasi
konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera
verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang
lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan
adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat
memberikan feedback sesuai yang kita mau. Perlu diingat, dramatugis
mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan
bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut. Dramaturgi
memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan” perilaku
yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud
interaksi sosial tersebut. Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat
mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut.
Dalam teori Dramatugis menjelaskan bahwa identitas manusia adalah
tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian
kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah
tergantung dari interaksi dengan orang lain. Disinilah dramaturgis masuk,
bagaimana kita menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi
sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang
berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada
orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”. Dalam mencapai
tujuannya
tersebut,
menurut
konsep
dramaturgis,
manusia
akan
mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut.
Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama kehidupan juga harus
mempersiapkan kelengkapan pertunjukan. Kelengkapan ini antara lain
memperhitungkan setting, kostum, penggunakan kata (dialog) dan tindakan
non verbal lain, hal ini tentunya bertujuan untuk meninggalkan kesan yang
baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan mencapai tujuan. Oleh
Goffman, tindakan diatas disebut dalam istilah “impression management”.
Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor
berada di atas panggung (“front stage”) dan di belakang panggung (“back
stage”) drama kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah adanya
penonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian
pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaikbaiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita
dibatasi oleh oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama
yang berhasil (lihat unsur-unsur tersebut pada impression management diatas).
Sedangkan back stage adalah keadaan dimana kita berada di belakang
panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Sehingga kita dapat
berperilaku bebas tanpa mempedulikan plot perilaku bagaimana yang harus
kita bawakan. Contohnya, seorang teller senantiasa berpakaian rapi
menyambut nasabah dengan ramah, santun, bersikap formil dan perkataan
yang diatur. Tetapi, saat istirahat siang, sang teller bisa bersikap lebih santai,
bersenda gurau dengan bahasa gaul dengan temannya atau bersikap tidak
formil lainnya (ngerumpi, dsb). Saat teller menyambut nasabah, merupakan
saat front stage baginya (saat pertunjukan). Tanggung jawabnya adalah
menyambut nasabah dan memberikan pelayanan kepada nasabah tersebut.
Oleh karenanya, perilaku sang teller juga adalah perilaku yang sudah
digariskan skenarionya oleh pihak manajemen. Saat istirahat makan siang,
teller bebas untuk mempersiapkan dirinya menuju babak ke dua dari
pertunjukan tersebut. Karenanya, skenario yang disiapkan oleh manajemen
adalah bagaimana sang teller tersebut dapat refresh untuk menjalankan
perannya di babak selanjutnya.
Sebelum berinteraksi dengan orang lain, seseorang pasti akan
mempersiapkan perannya dulu, atau kesan yang ingin ditangkap oleh orang
lain. Kondisi ini sama dengan apa yang dunia teater katakan sebagai “breaking
character”. Dengan konsep dramaturgis dan permainan peran yang dilakukan
oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan kondisi interaksi yang
kemudian memberikan makna tersendiri. Munculnya pemaknaan ini sangat
tergantung pada latar belakang sosial masyarakat itu sendiri. Terbentuklah
kemudian masyarakat yang mampu beradaptasi dengan berbagai suasana dan
corak kehidupan. Masyarakat yang tinggal dalam komunitas heterogen
perkotaan, menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa
tampil sebagai komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya.
Begitu juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggungpanggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk
proteksi sendiri dengan komunitas lainnya. Apa yang dilakukan masyarakat
melalui konsep permainan peran adalah realitas yang terjadi secara alamiah
dan berkembang sesuai perubahan yang berlangsung dalam diri mereka.
Permainan peran ini akan berubah-rubah sesuai kondisi dan waktu
berlangsungnya. Banyak pula faktor yang berpengaruh dalam permainan peran
ini, terutama aspek sosial psikologis yang melingkupinya.
Dramarturgi hanya dapat berlaku di institusi total,Institusi total
maksudnya adalah institusi yang memiliki karakter dihambakan oleh sebagian
kehidupan atau keseluruhan kehidupan dari individual yang terkait dengan
institusi tersebut, dimana individu ini berlaku sebagai sub-ordinat yang mana
sangat tergantung kepada organisasi dan orang yang berwenang atasnya. Ciriciri institusi total antara lain dikendalikan oleh kekuasan (hegemoni) dan
memiliki hierarki yang jelas. Contohnya, sekolah asrama yang masih
menganut paham pengajaran kuno (disiplin tinggi), kamp konsentrasi (barak
militer), institusi pendidikan, penjara, pusat rehabilitasi (termasuk didalamnya
rumah sakit jiwa, biara, institusi pemerintah, dan lainnya. Dramaturgi
dianggap dapat berperan baik pada instansi-instansi yang menuntut
pengabdian tinggi dan tidak menghendaki adanya “pemberontakan”. Karena di
dalam institusi-institusi ini peran-peran sosial akan lebih mudah untuk
diidentifikasi. Orang akan lebih memahami skenario semacam apa yang ingin
dimainkan. Bahkan beberapa ahli percaya bahwa teori ini harus dibuktikan
dahulu sebelum diaplikasikan.
Teori ini juga dianggap tidak mendukung pemahaman bahwa dalam
tujuan sosiologi ada satu kata yang seharusnya diperhitungkan, yakni kekuatan
“kemasyarakatan”. Bahwa tuntutan peran individual menimbulkan clash bila
berhadapan dengan peran kemasyarakatan. Ini yang sebaiknya dapat
disinkronkan.
Dramaturgi dianggap terlalu condong kepada positifisme. Penganut paham ini
menyatakan adanya kesamaan antara ilmu sosial dan ilmu alam, yakni aturan.
Aturan adalah pakem yang mengatur dunia sehingga tindakan nyeleneh atau
tidak dapat dijelaskan secara logis merupakan hal yang tidak patut.
6. Jenis Realitas Sosial
Teori ini melihat bahwa konstruksi realitas lahir melalui menajemen
pengaruh yang ditimbulkan dari interaksi sosial. Sebagai sebuah drama, actor
yang terlibat dalam panggung interaksi tersebut memerankan tindakan yang
telah tertata sebelumnya. Sedangkan jika terjadi krisis atau situasi gawat maka
untuk menyelamatkan pertunjukkan (interaksi) terdapat atribut tertentu yang
dijalankan.
Bila Aristoteles mengacu pada teater maka Goffman mengacu pada
pertunjukkan sosiologi. Peertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk
menunjukan kesan yang baik untuk mencapai tujuan. Tujuan presentasi dari
Diri-Goffman ini adalah penerimanaan penonton akan manipulasi. Bila
seorang actor berhasil maka penonton akan melihat actor sesuai sudut yang
memang ingin diperlihatkan oleh actor tersebut. Actor akan semakin mudah
untuk membawa penonton mencapai tujuan pertunjukan tersebut. Ini dapat
dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi.
Komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Bila dalam
komunikasi
konvensional
manusia
berbicara
tentang
bagaimana
memasimalkan indra verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir
komunikasi dan agar orang lain mengikuti kemauan kita. Dengan demikian,
dalam dramaturgis yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana
kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback yang kita mau.
Perlu diingat, dramaturgis mempelajari konteks perilaku manusia dalam
mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya
tersebut.
Lingkup realitas sosial yang dikaji dalam dramaturgi ini merupakan
ingkup sosial yang berskala kecil. Goffman menyatakan bahwa “social
establishment” sebagai
sistem tertutup; dalam arti Goffman hanya
memperhatikan pertunjukan yang harus dimainkan saat itu saja tanpa
mempertimbangkan arti penting berbagai lembaga lain (Suyanto, Bagong,
dkk; 200: 179-180).
Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada
“kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan
akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bermain peran merupakan salah
satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut. Dalam
pandangan Goffman, diri bukanlah milik aktor tetapi lebih sebagai hasil intersi
dramatis antara aktor dan audien. Diri adalah pengaruh dramatis yang muncul
dari suasana yang ditampilkan. Dramaturgi Goffman memperhatikan proses
yang dapat mencegah gangguan atas penampilan diri. Meski sebagian besar
bahasannya ditekankan pada interaksi dramaturgis ini, Goffman menunjukan
bahwa pelaksanaannya adalah sukses. Hasilnya adalah bahwa dalam keadaan
biasa, diri yang serasi dengan pelakunya,penampilannya berasal dari pelaku.
Goffman berasumsi bahwa saat berinteraksi aktor ingin menampilkan
perasaan diri yang dapat diterima oleh orang lain. Tetapi ketika menampilkan
diri
aktor
menyadari
bahwa
anggota
audien
dapat
mengganggu penampilannya. Oleh karena itu aktor menyesuaikan diri dengan
pengendalian audiens terutama unsur yang dapat mengganggu. Aktor berharap
perasaan diri yang mereka tampilkan kepada audien cukup kuat dan
mempengaruhi audiens. Aktor pun berharap audiens akan bertindak seperti
yang diinginkan aktor dari mereka. Goffman menggolongkan hal tersebut
sebagai manajemen pengaruh.
Dalam teori Dramatugis menjelaskan bahwa identitas manusia adalah
tidak stabil dan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi
yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari
interaksi dengan orang lain. Disinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita
menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai
sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk
menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui
“pertunjukan dramanya sendiri”. Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut
konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang
mendukung perannya tersebut. Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor
drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukan.
Kelengkapan ini antara lain memperhitungkan setting, kostum, penggunakan
kata (dialog) dan tindakan non verbal lain, hal ini tentunya bertujuan untuk
meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalan
mencapai tujuan. Oleh Goffman, tindakan diatas disebut dalam istilah
“impression management”.
Goffman juga melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat
aktor berada di atas panggung (“front stage”) dan di belakang panggung
(“back stage”) drama kehidupan. Kondisi akting di front stage adalah adanya
penonton (yang melihat kita) dan kita sedang berada dalam bagian
pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-
baiknya agar penonton memahami tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita
dibatasi oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama
yang berhasil. Sedangkan back stage adalah keadaan dimana kita berada di
belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Sehingga kita
dapat berperilaku bebas tanpa mempedulikan plot perilaku bagaimana yang
harus kita bawakan.
Goffman (1959) mengklaim bahwa setiap kali mengadopsi peran aktor,
mereka harus mengambil posisi pada keyakinan mereka dalam peran-mereka
harus memutuskan apakah mereka merasa bahwa kesan realitas mereka akan
proyek adalah “benar”. Pada satu ekstrim, orang menemukan bahwa pelaku
dapat sepenuhnya diambil oleh tindakan sendiri, ia dapat tulus yakin bahwa
kesan realitas adalah realitas yang nyata. Pada ekstrem yang lain, kita
menemukan bahwa pelaku mungkin tidak diambil sama sekali oleh rutinitas
sendiri. Ketika individu tidak memiliki keyakinan dalam bertindak sendiri dan
tidak ada perhatian utama dengan keyakinan para pendengarnya, pemesanan
yang “tulus” istilah untuk orang yang percaya pada kesan dipupuk oleh kinerja
mereka sendiri.
Dalam dramaturgi Goffman, acara dilakukan sangat tergantung pada
berbagai
komponen
teater.
Untuk
individu-individu
tertentu
untuk
berkomunikasi secara efektif realitas sosial yang paling menguntungkan bagi
mereka, mereka harus mengadopsi peran tentang pekerjaan mereka. Pada titik
tertentu, bagaimanapun, peran-peran kerja akan hampir pasti bertabrakan
dengan peran individu nonpekerjaan, seharusnya diri mereka yang sebenarnya.
Ketika ini terjadi, individu memiliki berbagai macam pilihan, tapi akhirnya
tidak satupun dari mereka adalah mungkin untuk sepenuhnya menyelesaikan
konflik; solusi yang terbaik, dibanyak kasus, adalah untuk mengabaikan
konflik dengan bertindak-dengan menggunakan alat-alat panggung. Goffman
(1959) menekankan bahwa ia menggunakan teater sebagai metafora dan
mengklaim bahwa pada akhirnya, dunia bukan panggung, dan itu seharusnya
tidak sulit bagi pembaca untuk menemukan perbedaan besar antara keduanya.
7. Lingkup Realita Sosial
Manusia hidup dalam sebuah pertunjukan sosial sebagai akibat dari
pengaruh tindakan sosial
sebelumnya. Aktor manusia hanya perlu
memerankan suatu peran yang telah tertata sebelumnya, meskipun demikian
jika terjadi krisis maka sang aktor dapat memerankan peran lain untuk
menstabilkan keadaan cerita dalam drama. Lebih lanjut Goffman juga
menyampaikan bahwasanya pertunjukkan yang ditampilkan tersebut adalah
demi kebaikan seluruh umat manusia, masing-masing aktor memiliki tugas
tersendiri untuk memanipulasi pikiran penonton. Sebuah tujuan akan semakin
mudah dicapai ketika para aktor mampu berkomunikasi dengan baik, dalam
kata lain komunikasi merupakan kunci utama tercapainya sebuah tujuan dari
masyarakat.
Manusia menciptakan sebuah skenario pertunjukkan yang mengharuskan
mereka melaksanakan peran-peran tertentu dan melaksanakan interaksi sosial
sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam proses ini terdapat
bentuk “kesepakatan” yang dipatuhi oleh setiap anggota dalam pertujukan
sosial ini. Dramaturgi berada pada tataran mikro dimana Goffman hanya
melihat kenyataan bahwa pertunjukan sosial yang dilakukan oleh para aktor
hanya pada waktu-waktu tertentu tanpa mengindahkan arti penting lembaga
sosial yang lainnya.
8. Aktor Otonom Dan Penjelasan Yang Otonom
Aktor-aktor dalam dramaturgi berperan sesuai dengan status yang
disandangnya, sehingga keotonoman aktor sangat bergantung pada peran rutin
yang disandangnya setiap hari. Peran tersebut selalu menjadi fokus utama
kehidupan aktor dalam pertunjukkan, mereka akan memperlihatkan bentukbentuk dari status yang disandangnya hingga tercapai kata ideal dan
memburamkan berbagai peran yang tidak sesuai dengan citra dirinya.
Meskipun individu memilki banyak peran dan status dalam berbagai
pertunjukan sosial tetapi pada dasarnya tampilan peran pada interaksi sosial
yang tengah dilakukannya adalah yang terpenting.
9. Lokus Realita
Goffman melihat teori Dramaturgi sebagai “diri” yaitu produk yang di
tentukan oleh situasi sosial. Seperti dalam drama, karakter di panggung
merupakan produk dari naskah yang sebalumnya sudah di atur .
Teori Dramaturgi termasuk dalam “body” sebagai pendalaman dari konsep
interaksi sosial yang merupakan dampak atas fenomena yang terjadi di awal
abad 20 di Amerika. Di kala itu, para intelektual Amerika bereaksi atas
meningkatnya konflik sosial, konflik rasial, dampak represif birokrasi dan
industrialisasi. Dalam kebanyakan teori-teori sosiologi sebalumnya, perhatian
utama di tekankan pada kelompok atau struktur sosial kemasyarakatan,
goffman menekankan sosiologi pada individu sebagai suatu analisis,
khususnya pada aspek interakssi tatap muka.
10. Jenis Penjelasan
Erving Goffman mengungkapakan teori Presentation of Self atau
disebut juga sebagai Dramaturgi. Konsep dramaturgi menurut Erving Goffman
adalah, dimana ia memandang kehidupan sosial merupakan seperti
pertunjukan drama pentas. Dengan kata lain, Goffman menggambarkan
peranan orang-orang yang berinteraksi dan berhubungan dengan realitas sosial
yang dihadapinya melalui panggung sandiwara dengan menggunakan skrip
(jalan cerita) yang telah ditentukan.
Menurut Erving Gofffman, di dalam situasi sosial, seluruh aktivitas
dari partisipan tertentu adalah suatu penampilan(performance), sedangkan
orang lain yang terlibat dalam situasi sosial disebut sebagai pengamat atau
partisipan lainnya.
Individu dapat menampilkan suatu pertunjukan bagi orang lain, tetapi
kesan pelaku terhadap pertunjukan tersebut dapat berbeda-beda. Jadi
seseorang dapat bertindak atau menampilkan sesuatu yang diperlihatkannya,
tapi belum tentu perilaku sehari-harinya tidak sama seperti apa yang
diperlihatkannya tersebut.
Menurut Erving Goffman, dalam dramaturgi perlu dibedakan antara
panggung depan (front stage) dengan panggung belakang (back stage).
Panggung depan adalah bagian penampilan individu yang secara teratur
berfungsi sebagai cara untuk tampil didepan umum sebagai sosok yang ideal.
Sedangkan panggung belakang adalah bagian penampilan individu yang tidak
sepenuhnya dapat dilihat, hal ini dapat memungkinkan bahwa tradisi dan
karakter pelaku sangat berbeda dengan apa yang dipentaskan.
Goffman membagi panggung depan (front stage) ini menjadi dua
bagian yaitu, front pribadi (personal front) dan setting front pribadi. Personal
front mencakup bahasa verbal dan bahasa tubuh pelaku. Misalnya, berbicara
dengan sopan, pengucapan istilah-istilah asing, berbicara dengan intonasi
tertentu, bentuk tubuh, ekspresi wajah, pakaian, dan sebagainya. Sedangkan
setting front pribadi seperti alat-alat yang dianggap sebagai perlengkapan yang
dibawa pelaku ke dalam penampilannya. Misalnya seorang dokter
mengenakan jas dokter dan stetoskop.
Dalam teori Dramatugi menjelaskan bahwa identitas manusia itu tidak
stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan
psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung
dari interaksi dengan orang lain.
Goffman membuat kategori tentang stigma, yaitu orang yang
direndahkan (stigma diskredit) dan orang yang dapat direndahkan
(discreditable stigma). Orang yang direndahkan adalah orang yang
memiliki kekurangan yang dapat dilihat dengan kasat mata, misalnya
seperti orang cacat fisik, orang buta, dll. Sedangkan orang yang dapat
direndahkan adalah orang yang memiliki aib yang tidak dapat dilihat
secara langsung, misalnya seperti orang yang suka sesama jenis.
Analisis framing merupakan situasi yang dibentuk sesuai dengan
prinsip-prinsip organisasi yang mengatur peristiwa-peristiwa seperti
peristiwa sosial, dan keterlibatan subyetif kita di dalamnya. Dengan arti,
kita belajar memaknai suatu peristiwa tertentu dan realitas sosial sesuai
dengan pengalaman yang telah kita miliki dalam suatu organisasi sosial
masyarakat yang kemudian menjadi tindakan kita.
11. Asumsi Erving Goffman
Secara ringkas dramaturgis merupakan pandangan tentang
kehidupan sosial sebagai serentetan pertunjukan drama dalam sebuah
pentas. Istilah Dramaturgi kental dengan pengaruh drama atau teater atau
pertunjukan fiksi diatas panggung dimana seorang aktor memainkan
karakter manusia-manusia yang lain sehingga penonton dapat memperoleh
gambaran kehidupan dari tokoh tersebut dan mampu mengikuti alur cerita
dari drama yang disajikan. Dalam Dramaturgi terdiri dari Front stage
(panggung depan) dan Back Stage (panggung belakang). Front Stage
yaitu
bagian
pertunjukan
yang
berfungsi
mendefinisikan
situasi
penyaksi pertunjukan. Front stage dibagi menjadi 2 bagian, Setting yaitu
pemandangan fisik yang harus ada jika sang actor memainkan perannya.
Dan Front Personal yaitu berbagai macam
perlengkapan sebagai
pembahasa perasaan dari sang actor. Front personal masih terbagi menjadi
dua bagian, yaitu Penampilan yang terdiri dari berbagai jenis barang yang
mengenalkan status social actor. Dan Gaya yang berarti mengenalkan
peran macam apa yang dimainkan actor dalam situasi tertentu. Back stage
(panggung belakang) yaitu ruang dimana disitulah berjalan scenario
pertunjukan oleh “tim” (masyarakat rahasia yang mengatur pementasan
masing-masing actor) Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi.
Beliau menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam
pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri
dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter
orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Cara yang sama ini berarti
mengacu kepada kesamaan yang
berarti ada pertunjukan yang
ditampilkan.
Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi. Pertunjukan yang
terjadi di masyarakat untuk memberi kesan yang baik untuk mencapai
tujuan. Tujuan dari presentasi dari diri Goffman ini adalah penerimaan
penonton akan manipulasi. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton
akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh
aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton
untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut. Ini dapat dikatakan
sebagai bentuk lain dari komunikasi. Karena komunikasi sebenarnya
adalah alat untuk mencapai tujuan. Bila dalam komunikasi konvensional
manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan
non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain
mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan
adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga
dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau. Perlu diingat,
dramatugis mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai
tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut.
Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada
“kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada
tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bermain peran
merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya
kesepakatan tersebut. Dalam teori Dramatugis menjelaskan bahwa
identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap identitas
tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas
manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang
lain. Disinilah dramaturgis masuk, bagaimana kita menguasai interaksi
tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan
pertunjukan teater. Manusia adalah aktor
yang berusaha untuk
menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain
melalui “pertunjukan dramanya sendiri”.
Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgis,
manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung
perannya tersebut. Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama
kehidupan
Kelengkapan
juga
ini
harus
antara
mempersiapkan
lain
kelengkapan
memperhitungkan
pertunjukan.
setting,
kostum,
penggunakan kata (dialog) dan tindakan non verbal lain, hal ini tentunya
bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan
memuluskan jalan mencapai tujuan. Oleh Goffman, tindakan diatas
disebut
dalam istilah “impression management”. Goffman juga melihat bahwa ada
perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung (“front
stage”) dan di belakang panggung (“back stage”) drama kehidupan.
Kondisi akting di front stage adalah adanya penonton (yang melihat kita)
dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha
untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami
tujuan dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi oleh oleh konsep-konsep
drama yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil (lihat unsurunsur tersebut pada impression management diatas). Sedangkan back stage
adalah keadaan dimana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi
bahwa tidak ada penonton. Sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa
mempedulikan plot perilaku bagaimana yang harus kita bawakan.
Contohnya, seorang teller senantiasa berpakaian rapi menyambut nasabah
dengan ramah, santun, bersikap formil dan perkataan yang diatur. Tetapi,
saat istirahat siang, sang teller bisa bersikap lebih santai, bersenda gurau
dengan bahasa gaul dengan temannya atau bersikap tidak formil lainnya
(ngerumpi, dsb). Saat teller menyambut nasabah, merupakan saat front
stage baginya (saat pertunjukan). Tanggung jawabnya adalah menyambut
nasabah dan memberikan pelayanan kepada nasabah tersebut. Oleh
karenanya, perilaku sang teller juga adalah perilaku yang sudah digariskan
skenarionya oleh pihak manajemen. Saat istirahat makan siang,
teller bebas untuk mempersiapkan dirinya menuju babak ke dua dari
pertunjukan tersebut.
Karenanya, skenario yang disiapkan oleh manajemen adalah
bagaimana sang teller tersebut dapat refresh untuk menjalankan perannya
di babak selanjutnya. Sebelum berinteraksi dengan orang lain, seseorang
pasti akan mempersiapkan perannya dulu, atau kesan yang ingin ditangkap
oleh orang lain. Kondisi ini sama dengan apa yang dunia teater katakan
sebagai “breaking character”. Dengan konsep dramaturgis dan permainan
peran yang dilakukan oleh manusia, terciptalah suasana-suasana dan
kondisi
interaksi
yang
kemudian
memberikan
makna
tersendiri.
Munculnya pemaknaan ini sangat tergantung pada latar belakang sosial
masyarakat itu sendiri. Terbentuklah kemudian masyarakat yang mampu
beradaptasi dengan berbagai suasana dan corak kehidupan. Masyarakat
yang tinggal dalam komunitas heterogen perkotaan, menciptakan
panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai
komunitas yang bisa bertahan hidup dengan keheterogenannya. Begitu
juga dengan masyarakat homogen pedesaan, menciptakan panggungpanggung sendiri melalui interaksinya, yang terkadang justru membentuk
proteksi sendiri dengan komunitas lainnya. Apa yang dilakukan
masyarakat melalui konsep permainan peran adalah realitas yang terjadi
secara alamiah dan berkembang sesuai perubahan yang berlangsung dalam
diri mereka. Permainan peran ini akan berubah-rubah sesuai kondisi dan
waktu berlangsungnya. Banyak pula faktor yang berpengaruh dalam
permainan
peran
ini,
terutama
aspek
sosial
psikologis
yang
melingkupinya.
Dramarturgi hanya dapat berlaku di institusi total,Institusi total
maksudnya adalah institusi yang memiliki karakter dihambakan oleh
sebagian kehidupan atau keseluruhan kehidupan dari individual yang
terkait dengan institusi tersebut, dimana individu ini berlaku sebagai sub-
ordinat yang mana sangat tergantung kepada organisasi dan orang yang
berwenang atasnya. Ciri-ciri institusi total antara lain dikendalikan oleh
kekuasan (hegemoni) dan memiliki hierarki yang jelas. Contohnya,
sekolah asrama yang masih menganut paham pengajaran kuno (disiplin
tinggi), kamp konsentrasi (barak militer), institusi pendidikan, penjara,
pusat rehabilitasi (termasuk didalamnya rumah sakit jiwa, biara, institusi
pemerintah, dan lainnya. Dramaturgi dianggap dapat berperan baik pada
instansi-instansi yang menuntut pengabdian tinggi dan tidak menghendaki
adanya “pemberontakan”. Karena di dalam institusi-institusi ini peranperan sosial akan lebih mudah untuk diidentifikasi. Orang akan lebih
memahami skenario semacam apa yang ingin dimainkan. Bahkan beberapa
ahli percaya bahwa teori ini harus dibuktikan dahulu sebelum
diaplikasikan. Teori ini juga dianggap tidak mendukung pemahaman
bahwa dalam tujuan sosiologi ada satu kata yang seharusnya
diperhitungkan, yakni kekuatan “kemasyarakatan”. Bahwa tuntutan peran
individual
menimbulkan
clash
bila
berhadapan
dengan
peran
kemasyarakatan. Ini yang sebaiknya dapat disinkronkan. Dramaturgi
dianggap terlalu condong kepada positifisme. Penganut paham ini
menyatakan adanya kesamaan antara ilmu sosial dan ilmu alam, yakni
aturan. Aturan adalah pakem yang mengatur dunia sehingga tindakan
nyeleneh atau tidak dapat dijelaskan secara logis merupakan hal yang tidak
patut.
12. Metodologi
Metode yang dilakukan Goffman dalam mengajukan teori
Dramaturgi ini adalah dengan menganalisis berbagai interaksi sehari-hari
dengan model Dramaturgical (1992:189). Analisis yang mengibaratkan
interaksi sosial sebagai sebuah pertunjukan drama tersebut dapat di
gunakan untuk memehami proses sosial yang berskala kecil. Karya yang di
hasilkan Goffman berasal dari analisis dan pengamatannya pada kelompok
kecil, misalnya interaksi di rumah sakit jiwa.
13. Unit analisis realitas sosial yang menjadi fokus
Teori ini melihat bahwa konstruksi realitas lahir melalui
manajemen pengaruh yang ditimbulkan dari interaksi sosial.Sebagai
sebuah drama, aktor yang terlibat dalam panggung interaksi tersebut
memerankan tindakan-tindakan yang telah tertata sebelumnya.Sedangkan
jika terjadi krisis atau situasi gawat maka untuk menyelamatkan
pertunjukan (interaksi) terdapat atribut tertentu yang dijalankan.
Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi. Pertunjukan yang
terjadi di masyarakat untuk memberi kesan yang baik untuk mencapai
tujuan. Tujuan presentasi dari Diri – Goffman ini adalah penerimaan
penonton akan manipulasi. Bila seseorang aktor berhasil maka penonton
akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh
aktor tersebut. Aktor akan semakin mudah untuk membawa penonton
mencapai tujuan pertunjukan tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk
lain dari komunikasi.
Komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Bila
dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang bagaimana
memaksimalkan indra verbal dan non- verbal untuk mencapai tujuan akhir
komunikasi dan agar orang lain mengikuti kemauan kita. Dengan
demikian, dalam dramaturgis yang diperhitungkan adalah konsep
menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan
feedbacksesuai yang kita mau. Perlu diingat, dramaturgis mempelajari
konteks perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk
mempelajari hasil dari perilakunya tersebut.
Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antarmanusia ada
“kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada
tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut.Bermain peran
merupakan salah satu alat yang dapat mengacu kepada tercapainya
kesepakatan tersebut.Bukti nyata bahwa terjadi permainan peran dalam
kehidupan manusia dapat dilihat pada masyarakat kita sendiri. Manusia
menciptakan sebuah mekanisme tersendiri, di mana dengan permainan
peran tersebut ia bisa tampil sebagai sosok-sosok tertentu.
Lingkup realitas sosial yang dikaji dalam Dramaturgi ini
merupakan lingkup sosial yang berskala kecil. Goffman menyatakan
bahwa “sosial establishment” sebagai sitem tertutup; dalam arti Goffman
hanya memperhatikan pertunjukan yang harus di mainkan saat itu saja
tanpa mempertimbangkan arti penting berbagai elemen lain.
Sebagai sebuah drama, perhatian utama Dramaturgi pada proses
interaksi sosial. Dalam interaksi sosial, aktor-aktor bertindak berdasarkan
peran yang disandangnya (status) sehigga keotonoman aktor atau individu
sangat bergantung dari peran rutin yang melekat dalam dirinya.
Dramaturgi melihat “diri” sebagai produk yang di tentukan oleh situasi
sosial. Seperti dalam drama, karakter di panggung merupakan produk dari
naskah yang sebelumnya sudah diatur.
14. Bias keberpihakan = bebas nilai, keterikatan nilai
Banyak pakar menilai bahwa dramaturgi lebih cocok (fittest) untuk
institusi total, maksudnya adalah institusi yang memiliki karakter
dihambakan oleh sebagian kehidupan atau keseluruhan kehidupan dari
individual yang terkait dengan institusi tersebut, dimana individu ini
berlaku sebagai subordinat yang mana sangat tergantung kepada organisasi
dan orang yang berwenang atasnya. Ciri-ciri institusi total antara lain
dikendalikan oleh kekuasaan (hegemoni) dan memiliki hierarki yang jelas.
Contohnya, sekolah asrama yang masih menganut paham pengajaran kuno
(disiplin tinggi), kamampuan konsentrasi (barak militer), institusi
pendidikan, penjara, pusat rehabilitasi (termasuk di dalamnya rumah sakit
jiwa, biara, institusi pemerintah, dan lain-lain). Dramaturgi dianggap dapat
berperan baik pada instansi-instansi ini peran-peran sosialakan lebih
mudah untuk di identifikasi. Orang akan lebih memahami skenario
semacam apa yang ingin dimainkan. Bahkan beberapa ahli percaya bahwa
teori ini harus dibuktikan dahulu sebelum diaplikasikan.
Teori ini juga dianggap tidak mendukung pemahaman bahwa
dalam tujuan sosiologi ada satu kata yang seharusnya diperhitungkan,
yakni kekuatan “kemasyarakatan”.Bahwa tuntutan peran individual
menimbulkan clash bila berhadapan dengan peran kemasyarakatan.Ini
yang sebaiknya dapat disinkronkan.
Di sisi lain, dramaturgi dianggap terlalu condong pada positivism.
Penganut paham ini menyatakan adanya kesamaan antara ilmu sosial dan
ilmu alam, yakni aturan.Aturan adalah pakem yang mengatur dunia
sehingga tindakan nyeleneh atau tidak dapat dijelaskan secara logis
merupakan hal yang tidak patut.
15. Dalam Madzhab
Generasi setelah Mead merupakan awal perkembangan interaksi
simbolik, dimana pada saat itu dasar pemikiran Mead terpecah menjadi
dua Mahzab, dimana kedua mahzab tersebut berbeda dalam hal
metodologi, yaitu :
1. Mahzab Chicago yang dipelopori oleh Herbert Blumer : Blummer memberikan
pengembangan dalam pikiran-pikiran mead menjadi tujuh buah asumsi yang
mempelopori pergerakan mazhab Chicago baru. Tujuh asumsi tersebut adalah
: Manusia bertindak terhadap orang lain berdasarkan makna yang diberikan orang
lain pada mereka, Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia, Makna
dimodifikasi melalui sebuah
proses
interpretif,
Individu-individu
mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain,
Konsep diri memberikan sebuah motif penting untuk berperilaku, Orang dan
kelompok-kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial, Struktur sosial
dihasilkan melalui interaksi sosial. 2.Mahzab Iowa yang dipelopori oleh
Manfred Kuhn dan Kimball Young
2. Mahzab Iowa dipelopori oleh Manford kuhn dan mahasiswanya,
dengan melakukan pendekatan kuantitatif, dimana kalangan ini banyak
menganut tradisi epistemologi dan metodologi post- positivis yang
mengambil dua langkah cara pandang
16. Contoh-contoh Kasus
Contoh kasus daripada teori dramaturgi terdapat pada berbagai
peran manusia, seperti seorang presiden, pengemis, selebriti, guru dan
dosen, dan lain-lain.
Seorang presiden, contohnya Susilo Bambang Yudhoyono,
berpenampilan rapi dan berwibawa saat sedang melakukan pidato di depan
umum dan saat mengunjungi berbagai tempat-tempat formal. Tujuannya
adalah untuk menunjukkan suatu sosok seorang pemimpin kepada orang
lain atau masyarakat. Namun saat di rumah, ia berpenampilan dan
berperilaku seperti orang lain pada umumnya. Di rumah, ia berperan
sebagai seorang ayah nagi anak-anaknya dan seorang suami bagi istrinya.
Contoh lainnya adalah seorang pengemis yang seringkali kita
temukan di depan gerbang lama Universitas Padjadjaran yang berpakaian
lusuh selalu menampakkan wajah sedihnya ke setiap orang untuk
menerima rasa empati berupa materi. Tak peduli kotor, bau, atau
berpenampilan kumuh. Mereka melakukan hal seperti itu sebagai aktor
panggung depan karena sedang mendefinisikan sesuatu bagi orang lain
yang
menyaksikan
penampilannya.
Berbeda
dengan
panggung
belakangnya, para pengemis menjalani kehidupan seperti orang pada
umumnya ketika sedang berada dirumahnya.
Selebriti juga merupakan salah satu contoh kasus yang berkaitan
Teori Dramaturgi, misalnya Luna Maya. Beberapa waktu yang lalu, ia
terlibat dalam kasus hukum dikarenakan melanggar pasal-pasal yang
berhubungan dengan tindakan mesum. Masalah tersebut merupakan
masalah yang sangat serius baginya, namun ia berusaha untuk
memerankan karakternya sebagai seorang selebriti di berbagai acara
dengan penampilan yang tidak memperlihatkan bahwa dirinya sedang
mengalami masalah besar. Ia tidak ingin menunjukkan kepada audiens
bahwa ia sedang mengalami masalah. Tujuannya tampil di berbagai acara
tersebut adalah hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang
selebriti yang memiliki peran tersendiri dalam acara yang ia pentasi. Selain
Luna Maya, adapun selebriti lainnya yang jelas berkaitan dengan Teori
Dramaturgi, di mana orang-orang tersebut memiliki front stage dan back
stage yang berbeda. Contohnya adalah para pelawak, seperti Olga
Syahputra, Sule, Ruben Onsu, Ade Namnung, dan lain sebagainya. Di
depan panggung Dahsyat dan berbagai acara lainnya, Olga tampak seperti
sosok orang yang sangat ceria dan penuh dengan humor. Namun, pada saat
diwawancarai di suatu berita selebritis, ia menceritakan betapa prihatinnya
hidupnya. Ia mengatakan bahwa ia melakukan ini semua untuk
mendapatkan uang, sehingga kebutuhan keluarganya terpenuhi. Untuk
mendapatkan uang tersebut, ia harus bisa berperan sesuai dengan
karakternya dalam acara tersebut, yaitu seorang pelawak atau entertainer.
Ia berusaha menunjukkan pada seluruh audiens yang menonton bahwa
dirinya adalah seorang host yang humoris dan bisa membuat para
penontonnya terhibur dengan acara yang dipentasinya. Sama halnya
dengan pelawak lainnya. Mereka memiliki front stage dan back stage yang
sangat berbeda.
Selain ketiga contoh tersebut, adapun contoh lainnya, yaitu seorang
guru dan dosen. Pada saat di kelas, seorang guru dan dosen berperan
sebagai pengajar dan pendidik. Mereka memberi berbagai peraturan dan
tugas di kelas. Mereka melakukan tugas di kelas sesuai dengan peran
mereka sebagai pengajar. Namun di luar perannya tersebut, mereka
berperilaku seperti orang lain yang tidak memiliki peran sebagai pengajar.
Ada sebuah kasus di Ujungberung, Bandung. Wilayah ini
merupakan "wadah" dan pusat para musisi dan pecinta musik
“Underground”. Disana, terdapat seorang wanita berjilbab yang menjadi
vokalis salah satu band “hardcore”. Menariknya adalah wanita tersebut
berjilbab dan mempunyai pekerjaan lain, yaitu seorang “Guru TK “. Jika
dibayangkan, memang agak sulit seorang guru TK dan berjilbab
mengeluarkan suara-suara keras menyeramkan, tetapi hal ini memang
terjadi. Sesuatu yang sangat langka, wanita itu bernama Achie. Dia adalah
vokalis band metal yang bernama GUGAT yang terdiri dari Achie (vocal),
imam (drum), Okid (vokal), Oce (gitar), dan Bayu (bass). Achie
merupakan salah satu orang yang sangat langka dan berani menembus
nilai-nilai yang berada dalam masyarakat. Dia mempunyai sisi idealisme
dan mampu mengimplementasikan sebuah teori sosial yang disebut
dengan Teori Dramaturgi.
17. Analisa Contoh-contoh Kasus Tersebut
Keempat contoh-contoh
kasus tersebut berkaitan dengan Teori
Dramaturgi, karena setiap peran dalam yang disebutkan sebelumnya, yaitu
seorang presiden, pengemis, selebriti, dan guru atau dosen memiliki dua
macam karakteristik, yaitu karakterisitik secara front stage dan secara back
stage. Pada saat di depan panggung atau di depan umum dan audiens,
mereka menunjukkan karakteristik yang berbeda dengan pada saat mereka
berada di belakang panggung atau di luar tempat di mana mereka
menunjukkan karakteristik front stage tersebut.
Layaknya seorang aktor dan aktris, jika berada di depan panggung
(front stage), mereka harus memiliki kemampuan untuk menjadi orang
lain atau sebuah karakter yang berbeda. Sedangakan back stage ini
merupakan karakter asli dari diri mereka yang tidak bisa mereka
sembunyikan.
Daftar pustaka
Suyanto, bagong dan M. Khusna Amal. 2010. Anatomi dan Perkembangan
Teori Sosial. Malang:Aditya Media Publishing.
Ritzer, George dan Goodman Douglas J. 2003. Teori Sosiologi Modern.
Edisi 2014. Jakarta:Penerbit Kencana.
Datahidup.blogspot.com/2013/12/teori-simbolik-menurut-ErvingGoffman.html (di unduh pada 27 April 2015 pukul 09.00).
Download