Khutbah Idul Fitri 1438 H/ 2017 M

advertisement
‫‪1‬‬
‫‪KHUTBAH IDUL FITRI 1438 H‬‬
‫السالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬
‫هللا أكبر ‪ ..‬هللا أكبر ‪ ..‬هللا أكبر ‪ ..‬هللا أكبر ‪ ..‬هللا أكبر ‪ ..‬هللا أكبر‬
‫‪ ..‬هللا أكبر‬
‫هللا أكبر ‪ ..‬هللا أكبر ‪ ..‬هللا أكبر كبيرا ‪ ..‬والحمد هلل كثيرا ‪..‬‬
‫وسبحان هللا بكرة وأصيالً ‪.‬‬
‫هللا أكبر ما َ أ َ ْش َرقَ ْ‬
‫ت‬
‫صا ِئ ِميْنَ َبشَرا ً ‪ ..‬هللا أكبر ما َ تَعاَلَ ِ‬
‫ت ُو ُج ْوهُ ال َّ‬
‫ع ْمرا ً‬
‫صواَتُ ت َ ْكبِيْرا ً َو ِذ ْكرا ً ‪ ...‬هللا أكبر ما َ تَ َوالَ ِ‬
‫ت اْألَعْياَد ُ ُ‬
‫اْأل َ ْ‬
‫َودَ ْهرا ً ‪ ..‬لَ َك اْل َح ْمد ُ ربَّنا ِسرا ً َو َج ْهرا ً ‪ ..‬لَ َك اْل َح ْمد ُ َربَّنا دَ ْوما ً َو َك َّرا‬
‫‪ ..‬لَ َك اْل َح ْمد ُ ربَّنا ِش ْعرا ً َونَثْرا ً‪ ..‬لك ْال َح ْمد ُ َي ْو َم أ َ ْن َكفَ َر َك ِثي ٌْر ِمنَ‬
‫ض َّل َك ِثي ٌْر ِمنَ المسلمين‬
‫النا َّ ِس َوأ َ ْسلَ ْمناَ‪ ،‬لَ َك ْال َح ْمد ُ َي ْو َم أ َ ْن َ‬
‫اس َوأ َ َم ْنـتَنا‪ ،‬لَ َك‬
‫ع ْوا َو ِلل ُّ‬
‫َوابْـتَدَ ُ‬
‫سـنَّ ِة أَقَ ْمناَ‪ ،‬لَ َك ْال َح ْمد ُ يَ ْو َم أ َ ْن فَزَ َ‬
‫ع النَّ ُ‬
‫ع َكثِي ٌْر ِمنَ النا َّ ِس َوأ َ ْ‬
‫ط َع ْمـتَناَ‪ ،‬لَ َك ْال َح ْمد ُ َي ْو َم أ َ ْن َبيْنَ‬
‫ْال َح ْمد ُ َي ْو َم جا َ َ‬
‫الصيا َ ِم ِكلَّ ِه صاَئِ ِميْنَ لَ َك‬
‫يَدَي َْك أَقَ ْمـتَناَ‪َ ،‬ولَ َك ْال َح ْمد ُ يَ ْو َم أ َ ْن ِل َ‬
‫ش ْه ِر ِ‬
‫أ َ ْش َه ْدتَنا َ ‪ ..‬لَ َك ْال َح ْمد ُ أ َ َح َّق َم ْح ُم ْود َم ْحب ُْوب َوأ َ ْع َ‬
‫ظ َم َم ْر ُ‬
‫غ ْوب‬
‫َم ْ‬
‫طلُ ْوب ‪ .‬وأشهد أن ال إله إال هللا وحده ال شريك له ‪ ،‬وأشهد أن‬
‫ض‬
‫ب ْال َح ْو ِ‬
‫نبينا وحبيبنا وشفيعنا محمدَ ب ِْن َع ْب ِد هللا ‪ ،‬صا َ ِح َ‬
‫الصرا َ ِط ْال َم ْمد ُْود‪ ،‬يا ربنا ويا موالنا‬
‫ْال َم ْو ُر ْود ‪َ ،‬و ِ‬
‫اللوا َ ِء ْال َم ْعقُ ْود‪َ ،‬و ِ‬
‫بلغه صالتنا وسالمنا في هذه الساعة‪ ،‬يا ربنا ال تحرمنا رؤياه في‬
‫الجنة‪ ،‬اللهم صل وسلم وبارك وأنعم عليه وعلى آله األطهار‬
‫ص ْي ُك ْم‬
‫وصحبه األخيار وأتباعه األبرار ‪ ..‬أما بعد‪َ :‬فيا َ ِعباَدَ هللاِ‪ ،‬أ ُ ْو ِ‬
2
ُ ‫صبِ ُروا َوصاَبِ ُرواْ َورا َ ِب‬
‫ط ْوا لَعَلَّ ُك ْم‬
ْ ‫ َوا‬،‫ي نَ ْف ِسي بِت َ ْق َوى هللا‬
َ َ ‫َوإِيا‬
. َ‫ت ُ ْف ِل ُح ْون‬
.
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar,
Tiada Tuhan Selain Allah yang Maha Besar.
Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah. Allah
Maha Besar. Segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah dari
pagi hingga petang hari. Tiada tuhan selain Allah, Yang
benar janji-Nya, yang memberi kemenangan kepada hambaNya, yang memuliakan hamba-Nya yang bertaqwa. Tiada
tuhan selain Allah, dan kita tidak beribadah kecuali hanya
kepada Allah, mengikhlaskan agama hanya kepada-Nya,
Tiada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar, bagi Allah-lah
segala puji.”
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…
Pada pagi hari ini kita menyaksikan ratusan juta manusia
mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid.
Semilyar mulut menggumamkan kebesaran, kesucian, dan
pujian untuk Allah Subahanhu wa Ta’ala, sekian banyak
pasang mata tertunduk di hadapan kemaha-besaran
Allah Azza wa Jalla, sekian banyak hati diharu-biru oleh
kecamuk rasa bangga, haru, bahagia dalam merayakan hari
kemenangan besar ini. Sebuah kemenangan dalam
pertempuran panjang dan melelahkan, bukan melawan
musuh di medan laga, bukan melawan pasukan dalam
pertempuran bersenjata. Namun, pertempuran melawan
musuh-musuh yang ada di dalam diri kita, nafsu dan syahwat
serta syetan yang cenderung ingin menjerumuskan kita.
Kemenangan melawan hawa nafsu ini adalah inti
kemenangan, inilah kemenangan terbesar, kemenangan
3
utama yang akan melahirkan kemenangan-kemenangan lain
dalam semua kancah kehidupan dunia yang kita arungi. Kita
membutuhkan kemenangan seperti ini untuk memenangkan
semua pertarungan yang kita hadapi dalam hidup ini.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu…
Selama sebulan penuh kita berada dalam bulan suci, bulan
penuh keberkahan dan nilai. Bulan yang mengantarkan kita
kepada suasana batin yang sangat indah. Bulan yang sarat
dengan nilai-nilai pendidikan bagi kita kaum Muslimin.
Bulan Ramadhan melatih kita untuk memberi perhatian
kepada waktu, di mana banyak manusia yang tidak bisa
menghargai dan memanfaatkan waktunya.
Ramadhan melatih kita untuk selalu rindu kepada waktuwaktu shalat, yang barangkali di luar Ramadhan kita sering
mengabaikan waktu-waktu shalat. Adzan berkumandang di
samping kanan kiri telinga kita, namun kita tetap dengan
segala kesibukan kita, tak tergerak bibir kita untuk
menjawabnya apa lagi untuk memenuhi panggilan itu…
Dan kita membiarkan suara Muadzin itu memantul di tembok
rumah dan kantor kita, lalu pergi bersama angin lalu.
Sedangkan pada bulan Ramadhan ini kita selalu menunggu
suara adzan, minimal adzan Maghrib, kita tempel di rumah
kita bahkan kita hapal jadwal Imsakiyyah. Semoga selepas
Ramadhan ini rasa rindu kepada waktu shalat selalu kita
pelihara. Waktu adalah kehidupan. Barangsiapa menyianyiakan waktunya berarti ia menyiakan-nyiakan hidupnya.
Bahkan pada banyak ayat Allah bersumpah dengan waktu.
Maka jika kita ingin menjadi manusia yang terhormat di
antara manusia lain dan bermartabat di sisi Allah, hendaknya
kita isi waktu kita dengan hal-hal yang produktif, baik untuk
kepentingan dunia atau akhirat kita.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamd…
4
Ramadhan juga melatih kita untuk memakmurkan tempattempat ibadah; masjid, mushalla, dan surau. Gegap gempita
kita mendatangi rumah-rumah Allah ini, kita kerahkan anak
istri kita untuk meramaikan tempat suci ini. Hingga ketika
menyaksikan pemandangan indah ini seseorang sempat
berkhayal, “Andai Ramadhan datang dua belas kali setahun.”
Begitu indah pemandangan ini, suara pujian dan doa
bersahut-sahutan dari pengeras suara di antara masjidmasjid. Alam serasa hanyut dalam tasbih dan istighfar.
Suasana ini perlu kita pertahankan selepas Ramadhan, kita
perlu mengerahkan keluarga kita untuk memakmurkan
masjid-masjid Allah. Sehingga kita layak mendapatkan janji
Allah, bahwa mendapat naungan Allah di hari dimana tidak
ada nauangan selain nauangan Allah yaitu seseorang yang
hatinya terikat dengan masjid.
Ramadhan juga melatih kita untuk lebih mementingkan
ketaatan kepada Allah dengan mengorbankan tenaga dan
kepentingan kita, saat-saat kita masih lelah bekerja seharian,
setelah sepanjang siang kita bertahan dengan rasa lapar dan
dahaga, saat kita mestinya beristirahat dari kepenatan,
namun, justru kita ruku’ dan sujud dalam shalat tarawih atau
qiyamu Ramadhan dengan satu harapan, mudah-mudahan
kita mendapatkan keridhaan Allah, itulah satu-satunya yang
paling berharga dalam hidup kita selaku Muslim.
Semangat ini juga mestinya kita jaga setelah Ramadhan, kita
perlu mempersembahkan apa yang kita miliki ini untuk
meraih keridhaan Allah. Sejatinya, apa yang kita miliki saat
ini hanya amanah dari Allah Ta’ala, apakah kita dapat
menunaikannya atau tidak. Hendaknya keridhaan Allah itu
menjadi tujuan kita, tidak ada desah nafas, mulut bergerak,
tangan berayun, dan kaki melangkah kecuali kita harus
mengirinya dengan satu pertanyaan, “Apakah dengan apa
5
yang saya ucapkan dan saya lakukan ini saya akan
mendapatkan ridha Allah.” Hingga dengan demikian
serasilah apa yang sering kita ikrarkan,
ِ َّ ِ ‫اي َو َم َماتِي‬
َ‫ب ْال َعالَ ِمين‬
ُ ُ‫ص َالتِي َون‬
ِ ‫ّلِل َر‬
َ ‫ِإ َّن‬
َ َ‫س ِكي َو َم ْحي‬
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya
untuk Allah Tuhan semesta alam.”
Ramadhan juga melatih kita untuk mempunyai rasa
solidaritas sesama manusia, dengan rasa lapar dan dahaga
kita teringat akan nasib sebagian dari saudara-saudara kita
yang kurang beruntung di dalam hidup ini, mereka setiap
harinya dirongrong rasa lapar dan dahaga. Apalagi, rasa
kemanusiaan semacam ini nyaris mulai sirna dewasa ini.
Saat budaya hedonisme mulai menjangkiti manusia modern,
dimana mereka hanya disibukkan oleh urusan pribadi, nafsinafsi, urusanku urusanku sendiri, silahkan urus urusanmu
sendiri. Hal ini diakibatkan karena orientasi hidup manusia
modern yang hanya memandang materi sebagai satusatunya tujuan. Bahkan, terkadang untuk memenuhi ambisi
kebendaannya seseorang rela menghalalkan segala cara.
Bangsa ini masih terpuruk, rakyat masih menderita.
Kemiskinan menjadi pemandangan utama di setiap sudut
kota dan pelosok desa. Tidaklah pantas memamerkan
kemewahan di hadapan mereka. Apalagi menggunakan
fasilitas negara.
Zuhud, adalah sikap yang diajarkan Islam kepada kita dalam
hidup ini. Zuhud adalah memalingkan diri dari syahwat dunia.
Orang mukmin boleh kaya dan berjaya, namun yang ada di
hatinya hanyalah Allah semata. “Letakkan harta di tanganmu
dan jangan letakkan di hatimu.” Demikian nasihat ulama.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu…
6
Sungguh banyak pelatihan yang diberikan oleh Ramadhan
kepada kita, itulah barangkali di antara hikmah
disyariatkannya shiyam selama sebulan agar sebelas bulan
sisanya kita lalu dengan menerapkan nilai-nilai Ramadhan.
Agar suasana spiritual yang dilatih selama sebulan ini
menjadi energi kita dalam mengarungi sebelas bulan
berikutnya. Agar predikat takwa itu benar-benar terjaga
dalam diri kita. Sebab ketakwaan itulah bekal hidup dan
modal kita untuk menghadapi pengadilan Allah Azza wa
Jalla.
َّ ‫َوتَزَ َّودُوا فَإِ َّن َخي َْر‬
‫ب‬
ِ ‫ون َياأُو ِلي ْاأل َ ْل َبا‬
ِ ُ‫الزا ِد الت َّ ْق َوى َواتَّق‬
“Dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik
bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku hai orangorang yang berakal.”
ِ َّ َ‫ِإ َّن أ َ ْك َر َم ُك ْم ِع ْند‬
‫اّلِل أَتْقَا ُك ْم‬
“Sesungguhnya sebaik-baik kalian di sisi Allah adalah yang
paling bertakwa.”
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu…
Demikianlah Ramadhan telah memberikan banyak
perubahan dalam diri kita. Mulai dari sikap, perilaku, dan
paradigma dalam memandang hidup dan kehidupan ini.
Mestinya ini semua menjadi bekal kita untuk melakukan
perubahan-perubahan di masa depan, perubahan yang
mengantarkan hidup kita ke arah yang lebih baik. Sebagai
pribadi maupun khalifah di atas muka bumi ini.
Sungguh kehidupan yang kita lalui masih sulit, beban yang
kita pikul semakin berat. Demi sesuap nasi, nilai-nilai yang
7
semestinya dijunjung dan dijaga tidak diindahkan lagi.
Bahkan, nyawa yang begitu mahal dan berharga oleh semua
agama dan ideologi, kini menjadi taruhan yang sangat
murah. Dari layar TV dan media cetak kita sering
menyaksikan peristiwa pembunuhan yang sungguh
mendirikan bulu kuduk kita; seorang anak membantai
ayahnya, suami mencincang istrinya, tetangga menghabisi
tetangganya, saudara menggorok saudaranya, yang ratarata motifnya sama, ekonomi.
Tidak ada bekal terbaik untuk menghadapi kondisi sulit ini
selain ketakwaan. Barangkali semua orang sepakat bahwa
kita semua harus bangkit untuk mengatasi semua kesulitan
yang melanda kita dan bangsa kita dewasa ini. Untuk itu di
hari yang fitri ini, di tengah kita merayakan kemenangan
besar ini. Di mana kita baru saja selesai melakukan pelatihan
selama sebulan penuh, di mana nuansa kesucian tengah kita
rasakan saat ini, sehingga pikiran dan hati kita tengah
mengalami pencerahan karena nilai-nilai ketakwaan. Marilah
kita menatap hari esok dengan semangat berubah ke arah
yang lebih baik dan penuh optimisme, dan memang seorang
Mukmin, seorang Muttaqin, seorang yang bertakwa pantang
kehilangan asa dalam kondisi apapun. Optimisme adalah
harga mati jika kita ingin bangkit mengatasi berbagai
kesulitan ini.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu…
Ada beberapa tips untuk membangun kesucian hati kita.
Pertama, Husnudzan kepada Allah.
Husnudzan atau berprasangka baik kepada Allah ini harus
kita kokohkan dalam diri kita. Kita sepakat bahwa tidak ada
satu peristiwa yang terjadi selain dengan izin dan kehendak
Allah, termasuk ujian dan kesulitan yang tengah kita hadapi.
Dan seorang Mukmin selalu menghadapi semua ketentuan
8
Allah itu dengan prasangka baik. Ia mempunyai prinsip
bahwa apa yang menimpanya, itulah yang terbaik baginya
menurut Allah. Oleh karena itu ia tidak menggerutu kepada
Penciptanya, ia tidak memberontak karena keputusan
Tuhannya, dan ia selalu menatap semua ujian itu dengan
senyum. Ia yakin akan mendapatkan dua keuntungan dari
ujian itu:
1.Diangkat dan dihapuskannya kesalahan dan dosa-dosanya
2.Dan tinggikan derajatnya di sisi Allah Azza wa Jalla
‫صب ُْر َو َم ْن‬
َّ ‫ص َب َر فَلَهُ ال‬
َ ‫اّلِل‬
َ ‫ع َّز َو َج َّل ِإذَا أ َ َحبَّ قَ ْو ًما ا ْبت َ َال ُه ْم َف َم ْن‬
َ َّ ‫ِإ َّن‬
‫ع‬
ُ َ‫ع فَلَهُ ْال َجز‬
َ ‫َج ِز‬
“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji
mereka. Barangsiapa bersabar ia mendapat (pahala)
kesabarannya, dan barangsiapa gundah gulana, ia (tersiksa)
karena kegundahannya.”
‫اك ِأل َ َحد ِإ َّال‬
َ َ‫ْس ذ‬
َ ‫َع َجبًا ِأل َ ْم ِر ْال ُمؤْ ِم ِن ِإ َّن أ َ ْم َرهُ ُكلَّهُ َخي ٌْر َولَي‬
ُ‫صابَتْه‬
َ ‫س َّرا ُء‬
َ ُ‫صابَتْه‬
َ َ ‫ش َك َر فَ َكانَ َخي ًْرا لَهُ َو ِإ ْن أ‬
َ َ ‫ِل ْل ُمؤْ ِم ِن ِإ ْن أ‬
ُ‫ص َب َر فَ َكانَ َخي ًْرا لَه‬
َ
َ ‫ض َّرا ُء‬
“Sungguh mengherankan urusan seorang Mukmin, semua
urusannya berakibat baik baginya, dan itu tidak terjadi
kepada selain orang-orang Mukmin, jika mendapatkan
kebaikan ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika
mendapat bencana ia bersabar dan itu baik pula baginya.”
(Muslim)
Husnudzan harus kita pelihara dalam diri kita. Allah tidak
menghendaki dari hamba-Nya selain kebaikan, kalau tidak di
dunia, di akhirat. Jangan sampai kita celaka di dunia dan di
akhirat akibat prasangka buruk kita kepada Allah. Na’udzu
billah, tsumma na’udzu billah.
9
Kedua, Tidak putus berdoa.
Doa merupakan senjata orang beriman, berdoa merupakan
ibadah dan enggan berdoa merupakan kesombongan
kepada Allah Azza wa Jalla.
Jangan engkau berputus asa kerana kelambatan pemberian
Allah kepadamu, padahal doamu bersungguh-sungguh. Allah
telah menjamin menerima semua doa sesuai dengan yang
Dia kehendaki untukmu pada waktu yang telah Dia tentukan.
Bukan menurut kehendakmu dan bukan pada waktu yang
engkau tentukan. “
Oleh karena itu jadikan doa dan usahamu sebagaimana
fungsi ruh dengan jasad pada diri manusia. Sebab yang
disebut insan kamil ( manusia seutuhnya ) ialah manakala
jasad dengan ruh bertemu pada satu wujud manusia. Tidak
akan disebut manusia yang sempurna, bila hanya ada ruh.
Begitu pula sebaliknya, hanya akan disebut mayat, bila
manusia hanya ada jasadnya sahaja tanpa dengan ruh. Ibnu
Athaillah as-Sakandari mengingatkan kepada kita semua
agar kita tidak berputus-asa dalam berdoa. Mengapa
demikian? Kerana nafsu manusia seringkali muncul ketika
Allah menunda ijabah atau pengabulan doa-doa kita. Dalam
keadaan demikian manusia seringkali berputus-asa, dan
merasa bahwa doanya tidak dikabulkan. Sikap putus asa itu
disebabkan kerana manusia merasakan bahwa apa yang
dijalankan melalui doanya itu, akan benar-benar
memunculkan pengabulan dan Allah. Tanpa disedari bahwa
ijabah itu adalah Hak Allah bukan hak hamba. Dalam situasi
keputusasaan itulah hamba Allah cenderung mengabaikan
munajatnya sehingga ia kehilangan hudlur ( hadir ) bersama
Allah.
Ketiga, meneladani para nabi dan rasul.
10
Untuk dapat meneladani Nabi dan Rasul dalam kehidupan
kita sehari-hari, tentunya kita umat Islam harus mengetahui
terlebih dahulu apa saja sifat-sifat yang dimiliki oleh beliau
dan bagaimana perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, agar kita dapat meneladani Nabi dan Rasulullah
akan dikemukakan sifat-sifat dan perilaku tersebut. Perlu
ditegaskan bahwa semua rasul adalah manusia yang
memiliki sifat-sifat kemanusiaan sebagaimana manusia
lainnya.
Sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW
maupun para rasul adalah :
1. Shiddiq, yang berarti jujur. Selalu jujur dalam
perkataan dan perilaku.
2. Amanah, yang berarti dalam dipercaya dalam kata
dan perbuatan.
3. Tabligh, yang artinya menyampaikan, selalu
menyampaikan apa saja yang diterimanya dari Allah
kepada umat manusia.
4. Fathanah, yang berarti cerdas. Semua nabi dan rasul
cerdas dan selalu mampu berfikir jernih sehingga
dapat mengatasi semua permasalahan yang dihadapi.
Para nabi dan Rasul adalah kekasih-kekasih Allah dan itu
kita sepakat. Namun ujian Allah timpakan kepada mereka
begitu dahsyat dan tak terperikan. Bahkan di antara mereka
ada yang mendapatkan gelar Uluz Azmi karena keberhasilan
mereka dalam mengarungi ujian berat. Dan mereka tidak
pernah berputus asa kepada rahmat dan pertolongan
Allah Ta’ala.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu…
Keempat, beramal dan bertawakkal.
Allah tidak menurunkan emas dari langit. Kita gunakan
seluruh potensi yang Allah karuniakan kepada kita
11
Sebab tidak ada yang mengubah kita selain kita sendiri.
Allah berfirman dalam surat Ar-Ra’du ayat 11 :
ُ َ‫لَهُ ُمعَ ِقبَاتٌ ِم ْن بَي ِْن يَدَ ْي ِه َو ِم ْن خ َْل ِف ِه يَحْ ف‬
ِ َّ ‫ظونَهُ ِم ْن أ َ ْم ِر‬
‫اّلِلَ َال يُغَيِ ُر َما‬
َّ ‫اّلِل إِ َّن‬
‫سو ًءا فَ َال َم َردَّ لَهُ َو َما لَ ُه ْم‬
َّ َ‫بِقَ ْوم َحتَّى يُغَيِ ُروا َما بِأ َ ْنفُ ِس ِه ْم َوإِذَا أ َ َراد‬
ُ ‫اّلِلُ بِقَ ْوم‬
‫ِم ْن دُونِ ِه ِم ْن َوال‬
Artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu
mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya,
mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap
sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan
sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (ArRadu: 11)
Dan Allah SWT juga telah berfirman dalam Surat At-Talaq
ayat 2-3 :
ُ ‫ َو َي ْر ُز ْقهُ ِم ْن َح ْي‬. ‫هللا َي ْج َعل لَّهُ َم ْخ َر ًجا‬
‫ث َال َي ْحت َ ِسبْ َو َم ْن‬
ِ َّ ‫َو َم ْن يَت‬
َ ‫ق‬
ٍ ْ‫شي‬
َ ‫ قَ ْد َج َع َل هللاُ ِل ُك ِل‬.ِ‫هللا بَ ِل ُغ أ َ ْم ِره‬
َ ‫يَتَ َو َّك ْل‬
َ ‫ إِ َّن‬.ُ‫علَي هللاِ فَ ُه َو َح ْسبُه‬
‫قَ ْد ًرا‬
Artinya: Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan
mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari
arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang
bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan
ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (At-Talaq:2-3)
12
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil-hamdu…
Akhirnya, dengan jiwa yang suci bersih bak seorang bayi
yang baru lahir. Marilah kita tundukkan hati kita kepada
kebesaran Allah, mengharap akan karunia dan rahmat-Nya,
untuk kita keluarga kita, kaum muslimin, dan bangsa kita,
semoga pada hari yang fitri ini hati kita akan kembali suci
kembali. Sebagai penutup khutbah kita hari ini, kami
mengajak hadirin untuk senantiasa taat kepada Allah.
Janganlah kita sampai lalai, sehingga diri yang sudah bersih
dan hati yang telah suci ini menjadi kotor kembali. Semoga
kita termasuk golongan orang yang bertaqwa. Amin.. Amin..
Ya Rabbal ‘Alami..
‫ َونَفَ َعنِ ْي َو ِإيَّا ُك ْم ِب َما فِ ْي ِه‬،‫آن ْال َع ِظي ِْم‬
َ ‫َب‬
ِ ‫ار َك هللاُ ِل ْي َولَ ُك ْم فِي ْالقُ ْر‬
ُ‫ ِإنَّه‬،ُ‫ َوتَقَبَ َّل هللاُ ِمنِ ْي َو ِم ْن ُك ْم تِالَ َوت َه‬،‫ت َوال ِذ ْك ِر ْال َح ِكي ِْم‬
ِ ‫ِمنَ اْآليَا‬
‫س ِم ْي ُع ْال َع ِل ْي ُم‬
َّ ‫ُه َو ال‬
13
KHUTBAH IDUL FITRI 1438 H / 2017 M
MENCAPAI KESUCIAN HATI
DISUSUN OLEH :
H. HERMAN, S.Ag, M.Pd.I
(Kepala Bidang Penerangan Agama Islam,
Zakat dan Wakaf )
BIDANG PENAIS, ZAKAT DAN WAKAF
KANWIL KEMENTERIAN AGAMA PROVINSI
PROVINSI JAMBI
TAHUN 2017
Download