Karma Kanda dan Jnana Kanda dalam Siwaratri

advertisement
Aspek-aspek Karma Kanda dan Jnana Kanda dalam Siwaratri
Oleh
I.B. Putu Suamba
1. Pendahuluan
Siwaratri, malam pemujaan Siwa sebagai sebuah peristiwa keagamaan senantiasa
menarik terus dimaknai dalam konteks kekinian dan juga yang akan datang; menggali
nilai-nilai yang terselubung di dalamnya di dalam rangka pecerahan rohani. Kesemarakan
umat Hindu memuja Siwa di malam ini boleh dikatakan suatu fenomena keagamaan yang
menggembirakan yang perlu dipelihara, namun yang lebih penting adalah pemujaan yang
dilakukan agar juga memperhatikan aspek kualitas sebagai cermin kesadaran diri untuk
terus mengembangkan kesucian, kesadaran diri.
Siwaratri dirayakan oleh umat Hindu di seluruh dunia. Di India, pada malam ini
dilakukan Siwalinggam Puja, menghaturkan persembahan, atau festival kesenian di kuilkuil Siwa. Kaum ibu mempersiapkan persembahan (sesajen) berisi kembang, buah, beras
kuning, lampu dengan mentega, susu, dan manisan yang dibuat khusus Siwaratri. Setelah
disucikan melalui mantra-mantra pandit, sesajen tersebut ditempatkan di hadapan
Siwalinggam. Diyakini apabila kaum wanita memuja Siwalinggam pada hari ini, ia akan
mendapatkan jodoh sesuai keinginannya. Perayaan ditandai dengan sembahyang kepada
Siwalinggam dan upavasa. Di areal kuil Siwa terkenal di Khajuraho di wilayah Madya
Pradesh festival Siwaratri berlangsung selama sebulan. Berbagai atraksi kesenian dan
pameran yang bernafaskan Siwa dipentaskan di sini. Umat Hindu di sana merayakan hari
suci ini dengan penuh kesucian, suka cita dan kemeriahan.
Makalah ini mencoba membahas aspek upacara dan tattwa-jnana di dalam Siwa
Puja dalam Siwaratri, malam Siwa. Yang pertama dikenal dengan istilah Karma Kanda,
yang terakhir dengan Jnana Kanda1. Penekanan pembahasan diberikan pada aspek Jnana
Kanda.
Diharapkan pembahasan ini memberikan wawasan yang lebih luas dan juga
pendalaman atas nilai-nilai terkandung di dalamnya bagi sidang pembaca sehingga
1
perasaan dan pikiran menjadi semakin mantap melaksanakan Siwa Puja di dalam
Siwaratri. Pendalaman ini senantiasa kita perlukan di tengah-tengah semaraknya
pelaksanakaan upacara yajna di Bali dan juga luar Bali sehingga keduanya berjalan
seimbang, yaitu antara upacara yajna (Karma Kanda) dan Jnana (Jnana Kanda).
2. Lubdhaka: Sosok Kontroversial
Setiap umat Hindu akan melaksanakan Siwa Puja dalam Siwaratri, maka kita
diingatkan dengan kisah seorang pemburu, Lubdhaka2 yang berhasil memasuki Siwa Loka
berkat perbuatan melek (jagra) semalam suntuk pada hari panglong ping-14 sasih kepitu/catur dasi kresnapaksa maghamasa, pada hal dalam kesehariannya Lubdhaka3
pekerjaannya hanyalah berburu, membunuh (himsa karma) binatang buruannya tidak
pernah nangun dharma atau yasa-kerti apalagi mapunya. Sepertinya sulit bisa diterima,
artinya Bhatara Siwa nampaknya sangat mudah menganugrahkan hadiah (anugraha) yang
luar biasa kepada seorang
Lubdhaka, sementara orang lain yang rajin dan tekun
melaksanakan dharma, yajna, yasa-kerti belum tentu mendapatkan phahala diijinkan
memasuki Siwa Loka disambut oleh bidadari surga. Bhatara Siwa bersabda: “…hanang
nisadatma sudhira ring brata/ika papag denta wawan mare nghulun” (11.6cd). Bhatara
Yama menjadi bingung atas keadaan ini karena menurut catatan hidup Lubdhaka tidak
pantas mendapatkan tempat terhormat seperti itu. Nerakalah (tambra gohmukha) yang
pantas menurut Yama, sehingga Yamabala berusaha menghalangi dan mengejar roh
Lubdhaka. Lubdhaka dilukiskan sebagai “sangkan-sangkan alit taman hanang ulah
dharmeriya mwang yasa/anghing lot maburu gawaynya mamati ng mong wek gaja
mwang warak/…” (2.2. ab). Ia juga dinyatakan “satata turung mapunya yasa dharma len
brata gantinya kasmala dahat”/ (5.6c) “satatamuwuki sakaseneng ning indriya” (8.7d).
Lubdhaka memegang kartu yang sangat menentukan karena keutamaan brata (wara
brata) yang ia lakukan pada saat yang tepat. Ia teguh dalam brata (sudhira ring brata).
Kisah seorang pemburu ini termuat di dalam sumber sastra berupa teks kakawin
Siwaratrikalpa atau di masyarakat juga dikenal dengan nama kakawin Lubdhaka gubahan
Mpu Tanakung4 pada masa Majapahit akhir (kuartal ke-3 abad ke-15). Ada juga sejumlah
sumber yang dijadikan pegangan dalam melaksanakan Siwaratri antara lain Puja Siwaratri
2
dan Aji Brata yang berbahasa Jawa Kuno; sementara dalam bahasa Sanskerta: Agni
Purana, Padma Purana, Siwa Purana, Lingga Purana dan Skanda Purana.
3. Karma Kanda
Karma Kanda memandang ajaran Weda dari perspektif karma atau tindakan.
Karma di sini dimaknai sebagai persembahan berupa materi-materi ke dalam api
pemujaan (Agni Hotra), sementara Kanda adalah ‘bagian’ dari Weda. Dengan demikian
agama dalam perspektif ini adalah tindakan ber-yajna secara ritual dengan
mempersembahkan doa-doa dan materi-materi kepada dewa-dewa yang dipuja dan
dimohonkan anugrahnya. Dalam Karma Kanda ini agama diwarnai dengan penggunaan
mantra, materi upakara/upacara ke dalam api persembahan, penggunaan lembaga
kependetaan (rsi), termasuk di dalamnya penentuan hari, dan tempat upacara. Fase ini juga
dikenal dengan agama Brahmana (Brahmanic religion) yang dibedakan dengan agama
purana (puranic religion).
Dalam konteks Siwaratri eksistensi ritual berupa persembahan yajna kepada Siwa
dalam wujud Siwa Agni dilakukan pada upacara pemujaan Siwa pada hari pertama
dilanjutkan malam harinya dan besoknya pada tilem sasih kepitu. Dalam kakawin
Siwaratrikalpa disebutkan: “ring enjing iuwus ning anggelar anusmarana”, bahwa
upacara Siwaratri dilakukan sejak pagi hari setelah melakukan pemujaan kepada SuryaRaditya. Sebelum melaksanakan brata dan pemujaan kepada Siwa, maka terlebih dahulu
mengunjungi rumah guru, mohon ijin dan anugrah dari guru nabe atau guru kerohkanian
dengan menjunjung kesucian kaki guru agar pelaksanaan brata dan upacara yajna berjalan
lancar dan berhasil. Datenga ring gurugrha manembaha jugamwitanglekasaken brata
sumuhuna pada sang guru”. Setelah itu dilakukan asuci laksana atau penyucian diri lahirbathin, “ri sampun ika madyusasisiga” (setelah itu mandi dan menggosok gigi). Setelah
penyucian diri dilanjutkan dengan pemujan kepada Siwa,
“manggelaraken i
siwanalarcana”. Di sini berbagai media atau sarana dapat digunakan seagai media
konsentrasi kepada Siwa, yaitu Siwa Agni atau Siwanala atau juga Siwalingga. Setelah itu
disertai pantangan-pantangan (brata), “teher duluranopawasa saha mona” (disertai
dengan pantang makan dan minum dan pantang bicara) yang dilaksanakan pada malam
harinya. Pada malam hari kegiatan adalah pantang tidur alias melek (jagra), “ri sampun i
3
telas nikla ng rahina ring wengi niyata matanghya tan mrema”. Jika siang hari pemujaan
kepada Siwa Agni atau Siwa Nala, maka malam hari pemujaan dilakukan kehadapan Siwa
Lingga yang bersemaam di dalam Suralaya. Secara simbolis dalam tata pelaksanaannya
dibuatkan lingga terbuat dari daun bila. Pemujaan juga dilakukan kehadapan Bhatara
Kumara dan terutama kepada Bhatara Gana. “bhatara siwalingga kewala sirarcanan i
dalem ikang suralaya kumara nguniweh gajendrawadana ruhunana sira kapwa
pujanem”. Begitu juga dilakukan kepada dewa-dewa lain. Oleh karena itu pemujaan ini
disertai penggunaan upakara banten sebagai wujud dari Dewa Yajna.
Dalam kakawin Siwaratrikalpa juga menyebutkan saji-sajian (ikang caru) yang
dipersembahkan kepada para dewa berupa bubur susu (bubur pehan) dan bubur gula
(bubur gulu) beserta nasi bercampur kacang ijo (liwet acarub atak wilis). Itulah
merupakan sesajen utama (ya teka pinakadi ning caru). Dapat juga disertai (yadin
dulurana) dengan buah-buahan (phala), minuman (pana) dan lauk (matsyaka). Ini semua
dikerjakan dengan penuh pengendalian diri tanpa lupa (samangkana keta ng
kramolahakeneng sawengi saka sayaya tan lupa).
Disamping saji-sajian (caru) disebutkan kembang yang juga boleh dignakan dalam
saji-sajian (sahananing kusumalapen ing samangkan): menur, kenyiri, gambir, kecubung,
waduri putih, pudak, asokam, nagasari, tangguli, bakul, kalak, cempaka, teratai biru,
merah dan putih. Bunga yang digunakan untuk menyembah adalah bunga sulasih dan
tunas muda daun maja (makadi semi ning majarja sulasih sinekeran ing angracane sira).
Segala macam haruman dapat digunakan sebagai asap kemenyan (lawan sahana ning
sudandha paka dhupa), juga digunakan mentega encer untuk menghidupkan api suci pada
malam harinya (sahaghrta sudipa ring kulem).
Untuk menghalau rasa kantuk juga dapat dilakukan kesenian dan permainan yang
dapat dinikamati dengan mata dan telinga. Genderang dan segala macam bunyi-bunyian
yang menyenangkan dapat digunakan sebagai penawar rasa kantuk (mrdangga sahonyanunya samenaka panalimurarip ing mata); atau dengan mengumandangkan lagu-lagu
pujian (kekidung) (yadin pengucapakidung), membaca kekawin (rumacanakakawin),
mementaskan kesenian arja (apasang raja) dan menggelar permainan (len nita).
Semuanya dilakukan dalam spirit Siwaratri untuk menjaga agar brata bisa lulus.
4
Tingkatan upacara dapat diklasifikasikan menurut kemampuan: nista, madya, dan
uttama5. Ada perbedaan dalam upacara dan brata antara sadhaka dan walaka.
Besok harinya dilanjutkan dengan upacara ngelebar brata (namun jagra tetap
dilanjutkan hingga matahari terbenam) dan mempersembahkan punya kepada masyarakat
khususnya kepada para pendeta menurut kemampuan. Punya dilakukan dalam rangkaian
brata Siwaratri. Punya dilaksanakan pada pagi hari (pada tilem). Punya diberikan oleh
penguasa (raja zaman dulu) kepada seluruh rakyat (masanga dana ring sabha), sedangkan
kepada para maha-pandita dipersembahkan “suwarna siwalingga ri mahadwija
paramasusila wedawit” (siwalingga terbuat dari dipersembahkan kepada pendeta utama
yang menguasai ajaran Weda); dan dilanjutkan dengan tidak tidur pada siang harinya dan
jangan bekerja tanpa kesadaran (teher kaluputeng turu ri rahinanya sagawaya hayo
kurang tutur”) hingga matahari terbenam. Jadi, jagra dilaksanakan selama 36 jam mulai
pada pagi hari pada panglong ping 14 sampai senja hari (matahari terbenam) panglong
ping 15 (tilem), keesokan harinya; upavasa dan mono brata dilaksanakan selama 24 jam
mulai pagi hari panglong ping 14 sampai panglong ping 15 (tilem).
4. Jnana Kanda
Jnana Kanda sering dikontraskan dengan Karma Kanda. Keduanya mempunyai
ciri dan tujuan yang berbeda. Dalam tradisi Weda di India, justru kehadiran Jnana Kanda
sebagai akibat ketidak puasan atas praktek agama Brahmana yang terlalu ritualistik dan
kurang merakyat. Boleh dikatakan inilah sebuah bentuk reformasi spiritual yang sangat
besar sekaligus pertanda agama Hindu memberikan keleluasan spiritual dan intelektual di
dalam mencari hakikat tertinggi. Namun dalam pelaksanaan agama Hindu di Indonesia
keduanya berjalan secara sinergis dan seimbang untuk mencapai tujuan kehidupan
tertinggi, yaitu jagaddhita dan moksa. Artinya, keduanya dipraktekkan sesuai dengan
tingkat kemampuan umat dan kondisi setempat. Dalam konteks Indonesia, Karma Kanda
adalah upacara atau ritual sebagai aspek luar dari agama Hindu; sementara Jnana Kanda
adalah aspek yang lebih dalam, menyangkut Upasana Kanda dan Jnana Kanda: yaitu
etika (susila) dan tattwa. Kondisi ini juga nampak dalam Siwa Puja Siwaratri seperti
diungkapkan dalam sumber-sumber disebutkan di atas. Pelaksanaan Jnana Kanda di
Indonesia tidak berdiri sendiri namun berkaitan dengan Karma Kanda, begitu juga
5
sebaliknya. Namun aspek ini sangat halus dan baru nampak dalam tindakan dan ekspresi
kegamaan baik dalam sikap maupun tindakan yajna.
Upacara Siwaratri mengimplikasikan adanya tindakan ritual. Namun di dalamnya
terkandung tindakan yang bersifat adhyatmika, pemaknaan yang lebih sublim dan
simbolis di balik semua tindakan atau persembahan yajna. Rangkaian upacara Siwaratri
ditandai dengan brata, yaitu upavasa (pantang makan dan minum), mono brata (diam
tidak berkata-kata) dan jagra (melek). Brata ini diklasifikasikan menjadi tingkat uttama
melaksanakan jagra, upavasa, dan mono brata; tingkat madya melaksanakan jagra dan
mono brata; dan tingkat nista melaksanakan jagra saja. Di sini, jagra merupakan brata
yang paling dipentingkan karena dipersyaratkan pada semua tingkatan.
Dari sumber-sumber sastra kita mengetahui bahwa brata merupakan landasan
melaksanakan yoga. Kata-kata kunci: tapa, brata, yoga dan semadhi bukanlah deretan
kata-kata klise yang tanpa makna. Kata-kata ini sungguh mengandung pengertian yang
sangat dalam di dalam melaksanakan yoga terlebih-lebih di dalam melaksanakan Siwa
Puja Siwaratri. Mengenai keutamaan brata disebutkan di dalam Siwaratrikalpa: “huwus
pwa katekan prasiddha mangulah brata winuwusaken tekap mami/ kasorsaphala ning
mayajna-tapa-dana nguni-unin atirtha de nika/ ri purwa ni dadinya yadyapi sahasra
niyuta ya mamuktya pataka/ tathapi ya hilang tekap ning umulah brata saphala
Siwadisarwari// (Setelah mereka berhasil melaksanakan brata sesuai dengan ajaran-Ku;
phahala yajna, tapa, dana (amal kebajikan) terlebih lagi melaksanakan tirthayatra
dikalahkan olehnya; dalam penjelmaan kembali walaupun seribu hingga sejuta kali ia
menemukan sengsara; namun bagi orang yang melakukan brata Siwaratrikalpa akan
terbebas dari semua penderitaan). Ini mengandung harapan dan sekaligus janji betapa
Bhatara Siwa akan menganugrahkan phahala yang luar biasa bagi seseorang yang
memang tekun dan lulus dalam melaksanakan brata pada saat yang tepat. Seorang
Lubdhaka adalah sebuah contoh.
5. Siwasmerti
Siwasmerti artinya ingat dengan Siwa sebagai sangkan paraning dumadi sekaligus
tujuan dari semua tindakan manusia. Beliaulah yang tidak pernah berubah di tengahtengah dunia yang terus berubah. Beliaulah Siwa-Raditya, pusat kosmis dunia dimana
6
semua planet berputar pada orbitnya mengeliling matahari. Ingat atau eling bermakna
sadar akan kejati dirian kita sebagai terbentuk oleh suksma sarira, sthula sarira dan antah
karana. Belenggu sthula dan suksma sarira menyebabkan sang diri mengalami
penderitaan dan kelahiran yang berulang-ulang. Badan-badan ini harus dihancurkan
melalui Karma Kanda dan Jnana Kanda. Manusia dibelenggu oleh raga atau indriyaindriyanya (ragadwesa) sehingga ia nampak melek namun sesungguhnya ia aturu (tidur)
atau lupa. Karena lupa dengan jati dirinya sebagai roh yang suci, murni, dan cerdas, maka
hidupnya menjadi papa, apalagi tidak pernah membangun dharma atau yasa-kerti selama
hidupnya. Pemujaan Siwa pada malam Siwa atau Siwaratri dapat mengenyahkan ke-papaan manusia (Siwaratri wijneya sarwapapa paharini, atau tesam papani nasyanti siwaratri
prajagarat) dan selanjutnya mendapatkan punya. Dalam teks Wrehaspati Tattwa ada
menguraikan masalah papa dan atutur. Bagaimana seorang yang papa dapat terlepas dari
papa-neraka (... atyanta kasyasih ning atma sajna Bhatara, ndya teka luputa ring papa,
matangnyan lepasa sangken papa-neraka). Jawaban Bhatara Siwa, “... yan matutur ikang
atma ri jatinya” artinya kalau Sang Hyang Atma sadar akan jati dirinya. Dengan demikian
kesadaran akan sang diri merupakan hakikat ajaran Bhatara Siwa yang disampaikan
kepada Bhagawan Wrehaspati dalam teks tersebut di atas.
Kesadaran akan jati diri akan mendorong seseorang mengetahui jati dirinya lebih
jauh lagi. Diri bukanlah badan ini saja. Diri dalam pengertian adhyatmika adalah jiva yang
bersemayam di dalam diri, suatu kekuatan yang membuat tubuh ini hidup dan beraktivitas.
Tanpa sang diri (jiva) ini badan kasar (sthula sarira) ini dapat berfungsi sebagaimana
mestinya: mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, kulit dapat merasakan dan
seterusnya. Di atas dijelaskan belenggu raga atau indriya membuat sang diri lupa dengan
jati dirinya. Dalam pada itu diperlukan kesadaran akan eksistensi Siwa (Siwasmerti)
secara intens dan terus menerus agar kesadaran sang diri secara bertahap mekar dari
kedasaran yang terbatas pada diri menjadi kesadaran kosmis.
6. Brata dan Yoga
Jika di dalam kakawin Siwaratrikalpa lebih banyak menakankan pada brata, teksteks tattwa menekankan pada tattwa jnana dan yoga. Brata ini sesunguhnya merupakan
fondasi yang sangat diperlukan di dalam mengembangkan kesadaran Siwa (Siwasmrti).
7
Dalam teks-teks tattwa atau tutur banyak diuraikan masalah yoga dimana landasannya
adalah ajaran Yama dan Niyama Brata. Yama: (1) Ahimsa (tidak menyakiti, tidak
membunuh, tidak melakukan kekerasan), (b) Satya (kebenaran dalam pikiran, perkataan,
perbuatan), (c) Asetya (pantang mengingini sesuatu yang bukan miliknya atau pantang
mencuri), (d) Brahmacarya (pantang penikmatan seksual atau pengendalian hawa nafsu),
dan (e) Aparigraha (tidak menerima pemberian yang tidak penting dari orang lain).
Niyama: (a) Sauca (suci lahir bathin), (b) Santosa (puas dengan apa yang datang dengan
wajar), (c) Tapa (tahan uji terhadap gangguan melalui pantangan), (d) Swadhyaya
(mempelajari buku-buku agama dengan teratur), (e) Iswarapranidhana (penyerahan dan
pembaktian kepada Tuhan). Inilah ajaran Dasa Sila sebagai ajaran susila dalam ajaran
agama Hindu seperti termuat di dalam teks-teks tattwa seperi: Wrehaspati Tattwa, Tattwa
Jnana, Jnana Sidhhanta, dan lain-lain. Yoga adalah jalan penyatuan sang diri dengan
Bhatara Siwa. Di dalam kakawin Siwaratrikalpa ada disebutkan “rikang raja niyama
panggelarana krama nika manuteng sakabwatan” (raja niyama hendaknya dilaksanakan
untuk pemujaan sesuai dengan kemampuan). Kutipan ini memberi isyarat bahwa raja
niyama mengantarkan kita kepada pelaksanaan Raja Yoga yang dalam teks-teks tattwa
tersebut di atas lebih dikenal dengan Sadangga Yoga. Dalam Wrehaspati Tattwa
disebutkan Sadangga Yoga: (1) Pratyahara-yoga, (2) Dhayana-yoga, (3) Pranayamayoga, (4) Dharana-yoga, (5) Tarka-yoga dan (6) Samadhi-yoga. Jalan yoga merupakan
jalan menuju penunggalan dengan Bhatara Siwa. Yoga ini dilandasi oleh tattwa jnana
sebagai hakikat dari prinsip tertinggi, Bhatara Siwa.
7. Siwa Puja dan Puja Wahyakara
Siwa Puja dalam Siwaratri dilaksanakan baik menggunakan Karma Kanda
maupun Jnana Kanda. Puja Adhyatmika dilandasi oleh Raja Niyama dan selanjutkan
berkembang menjadi Astangga Yoga sementara Puja Wahyakara dilandasi dengan Saka
Sayama. Raja Niyama dilakukan dengan melaksanakan Raja Yoga (Sadangga Yoga).
Gabungan dari Saka Sayama dan Raja Niyama menjadi Sadangga Yoga atau Astangga
Yoga dalam Yoga-sutra Patanjali. Inilah landasan pemujaan kepada Siwa mencakup Puja
wahyakara dan Puja Adhyatmika.
8
Memperhatikan tata cara pelaksanaan dan sarana yang digunakan maka, eksistensi
karma kanda dan Jnana Kanda sangat jelas. Upacara-upakara banten dengan saranasarananya nampak jelas digunakan baik pada hari siang pertama maupun pada malam
harinya. Penggunaan daun bila sebagai nyasa dan sarana pemujaan kehadapan Siwa dalam
bentuk lingga juga memperkuat bahwa Karma Kanda ini tidak dikesampingkan oleh ajara
tattwa adhyatmika. Keduanya berjalan seiring, tidak ada pertentangan. Barangkali ini
dilakukan untuk dapat mengakomodasi umat yang sangat heterogen di dalam kemampuan,
kematangan rohani, latar belakang yang berbeda-beda. Dengan demikian Siwaratri
bukanlah monopoli elit agama atau hanya dilaksanakan oleh para sadhaka, namun bagi
masyarakat Hindu secara meluas.
8. Penutup
Siwa Puja dalam Siwaratri dilandasi oleh sejumlah sumber sastra. Kisah perjalanan
hidup seorang pemburu, Lubdhaka penuh makna simbolis yang menggugah disimak di
dalam rangka pendakian rohani. Pada hakikatnya ajaran yang diuraikan di sini adalah
mengajak umat manusia agar sadar dengan dirinya sebagai insan yang dibelenggu oleh
raga dan indriya dan mengusahakan kesadaran akan haikat tertinggi, Siwa sebagai
sangkan paraning dumadi sekaligus tujuan tertinggi dari setiap umat Hindu.
Memperhatikan tata cara pelaksanaan dan saran-saran banten yang digunakan dan juga
brata Siwaratri, maka pada dasarnya kedua aspek penting dalam ajaran Weda, yaitu
Karma Kanda dan Jnana Kanda dilaksanakan secara sinergis dan harmonis, tidak ada
kontradiksi satu dengan yang lainnya, malahan saling mendukung apalagi dengan
memperhatikan kemampuan umat Hindu yang sangat heterogen. Karma Kanda adalah
puja wahyakarana yang menekankan pada sarana fisik eksternal; Jnana Kanda
menekankan pada aspek tattwa jnana dan yoga atau puja adhyatmika sebagai jalan
pembebasan sang diri dari belenggu raga dan indriya. Siwasmerti berarti selalu ingat
selalu kepada Siwa. Ingat atau eling atau atutur membuat seseorang terhindar dari turu
dan papa.
Batubulan, 25 Januari 2006
9
Catatan dan Referensi
1
Istilah ini dipinjam dari kosa kata Catur Weda Samhita, khususunya Rg Weda. Dua bagian pertama Weda,
yaitu Mantra dan Brahmana dikenal juga dengan istilah Karma Kanda, karena menekankan pada aspek
ritual yajna; sementara dua bagian terakhir yaitu Aranyaka dan Upanisad dikenal dengan istilah Jnana
Kanda karena menekankan pada aspek jnana, yaitu pengetahuan intuitif Brahman. Pada yang terakhir
upacara yajna secara ritual tidak lagi diperlukan melainkan pencarian kekuatan tertinggi yang disebut
Brahman yang ada di dalam diri melalui kekuatan jnana dan yoga.
2
Pemburu ini juga bernama Nisada. Di dalam kitab-kitab purana juga bernama Sambhara.
Ida Pedanda Ketut Sidemen asal Gerya Taman Sanur memaknai kata ‘lubdhaka’ secara adhyatmika atau
simbolis: ‘lubdhaka’ = ‘lubda’ (lupa). Sementara harimau = ‘momo’ (nafsu), ron bila = ‘bilasa’
(pelaksanaan), kayu = ‘kahyun’ (kemauan, pemikiran), ‘latri’ = ‘wengi’ (malam, kegelapan), ‘tan aturu’ =
‘tan sirep’ (tidak tidur) dan selanjutnya menjadi ‘atutur’ (ingat). Maka ‘lubdhaka’ takut kepada nafsu
(momo), khususnya para musuh yang ada di dalam diri manusia (sad ripu). Kemudian pada tilem kepitu
Lubdhaka melarikan diri dari “kegelapan tujuh” (sapta timira). Waktu dia memetik daun-daun bila dan
menjatuhkannya dari tempat persembunyiannya dia sebenarnya sedang menghitung semua perbuatan baik
dengan maksud menguasai kegelapan (latri) yang menyelimuti atma-nya. Maka begadangnya tidak hanya
merupakan melek belaka, tetapi berupa cara untuk ingat terus kepada kenyataan rahaniah yang terkandung
dalam bathin seorang diri [Lihat T.M. Hunter, “Apakah Melek Cukup untuk Menebus Dosa? Siwaratri
dalam Teks dan Konteks” (paper) dalam Seminar Perayaan Siwaratri dan Penyadaran Moral
diselenggarakan oleh Lembaga Pernaskahan Bali dan Lombok, 31 Januari 1997 di Denpasar]
3
4
Disamping Siwaratrikalpa, ada sejumlah karya sastra Mpu Tanakung: Wrettasancaya, kekawin liris
pendek (bhasa), yaitu Bhasa Sadhanayoga, Bhasa Amretamasa, Bhasa Sangutangis, Bhasa Kinalisan,
Bhasa Tanakung, Bhasa Gumuringsing dan Bhasa Banawa Sekar.Kakawin Patibrata dan Kakawin
Pujaning Smara diduga juga dikarang oleh Mpu Tanakung [Lihat I.B.G. Agastia (Pentj), Siwaratrikalpa
Karya Mpu Tanakung, (Denpasar: Yayasan Dharma Sastra, 2001)], hal. 2.
5
Tata cara pelaksanaan dan Upacara Siwaratri dapat dilihat lebih jauh dan rinci dalam I.B. Wijaya Kusuma,
Materi Bahasan Paruman Sulinggih Provinsi Bali Tahun 1995, Proyek Pembinaan dan Penyuluhan
Kehidupan Beragama tersebar di 9 (sembilan) Daerah Tingkat II.
***
10
Download