Peranan Imunostimulan Dalam Meningkatkan - E

advertisement
Vol.14.No.1.Th.2007
Peranan Imunostimulan Dalam Meningkatkan Sintasan Benur Windu
Peranan Imunostimulan Dalam Meningkatkan Sintasan Benur Windu (Penaeus
Monodon, Fab) Terhadap Serangan Virus Wssv
Ilmiah
Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muslim Indonesia, Makasar
Email: [email protected]
ABSTRACT
Background: The use of Chemistry substances can give negative effect in enviroment and caused pathogen resistency.
To avoid those problems, the effort to increase the immune system with enviromentally friendly was the best choice.
The aim of the research is to know the type of immuno stimulant increasing the immunity larvae of tiger prawn tested
by challenge with WSSV.
Methods: The research has been done in Disease and Pathology Laboratory of Research Institute for Coastal
Aquaculture Maros, used tiger prawn post larvae 17-20. The research use completely randomized design with 4
treatments and 3 repetition: A (without immunostimulant), B Vitamin C (0,05 ppm), C (Vaccine Vibrio harveyii) and D
(Vaccine virus WSSV). On the day twelfth have been using challenge tested with virus of WSSV concentration LC50.
Result: The result of analysis of variance the use immuno-stimulant has significant (P< 0.05) effect on survival rates.
The highest survival rates was shown by vaccine WSSV (53,33%), vaccine V. harveyii (41,66%), Vitamin C (38,33%)
and without immunostimulant (20%).
Key word: Immunostimulant, Tiger prawn, WSSV, Survival rate
ABSTRAK
Latar Belakang: Upaya pengendalian yang dilakukan dengan pemakaian bahan-bahan kimia dapat menimbulkan
dampak negatif bagi lingkungan perairan dan menyebabkan resistensi patogen. Untuk menghindari hal tersebut, usaha
meningkatkan ketahanan tubuh dengan imunostimulan yang ramah lingkungan merupakan pilihan yang tepat. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan imunostimulan dalam meningkatkan sintasan benur windu terhadap
serangan virus WSSV.
Metode: Penelitian telah dilakukan di laboratorium patologi dan penyakit ikan Balai Riset Budidaya Air Payau Maros,
Sulawesi Selatan dengan menggunakan benih udang windu ukuran 17-20. Penelitian dilakukan menggunakan
rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan A (tanpa imunostimulan), B (pemberian 0,05 ppm vitamin C), C (dengan
pemberian vaksin Vibrio harveyii), dan D (pemberian vaksi virus WSSV). Pada hari ke-12 dilakukan uji tantang virus
WSSV dengan konsentrasi LC 50.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian imuno stimulant memberikan pengaruh nyata (P< 0.05)
terhadap sintasan benih udang windu. Nilai sintasan untuk masing-masing perlakuan adalah 53,33% (pemberian vaksi
WSSV), 41,66% (vaksin V. harveyii), 38,33% (vitamin C) dan 20% (tanpa pemberian imuno stimulant.
Kata kunci: Imunostimulan, udang windu, sintasan.
* Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UMI, Makassar
73
Ilmiah
PENDAHULUAN
Budidaya udang di tambak secara intensif
telah
berkembang
sangat
cepat
dan
produktifitasnyapun meningkat, sehingga udang
merupakan primadona ekspor perikanan bagi
Indonesia, namun akhir-akhir ini produksinya
mengalami penurunan dan dilaporkan terjadinya
kematian massal. Di Sulawesi Selatan penyakit
udang didominasi oleh penyakit vibriosis yang
menyerang udang umur rata-rata 2 bulan dengan
tingkat serangan mencapai 100% (Anonim,1996).
Penyakit biasanya timbul beberapa hari
setelah penebaran dan timbulnya penyakit ini
diawali dengan adanya perubahan lingkungan
yang mengakibatkan stres pada udang. Stres ini
terjadi karena belum adanya penyesuaian dengan
lingkungan yang baru. Pemilihan benur,
pengangkutan, perubahan suhu, kurangnya
oksigen terlarut, adanya gas dan senyawa beracun
serta kurangnya makanan mengakibatkan
timbulnya stres pada udang, akibatnya produksi
antibodi berkurang sehingga imunitas atau
kekebalan akan menurun.
Menurut Lo et al (1996), salah satu jenis
virus yang sering menyerang udang adalah
Systemic
Ectodermal
and
Mesodermal
Baculovirus (SEMBV) atau biasa dikenal dengan
White spote baculo Virus (WSBV) atau White
Spote Syndrome Virus (WSSV) merupakan
penyebab penyakit yang menimbulkan kematian,
penyebaran virus ini dapat mengkontaminasi post
larva.
Pencegahan dan perluasan penyakit pada
udang perlu dilakukan usaha pencegahan secara
dini, untuk itu diperlukan diagnosis dan
penanganan penyakit yang tepat (Chang dan
Wang, 1992). Upaya pengendalian yang
dilakukan dengan pemakaian bahan-bahan kimia
dapat menimbulkan dampak negatif bagi
lingkungan perairan dan menyebabkan resistensi
patogen. Untuk menghindari hal tersebut, usaha
meningkatkan
ketahanan
tubuh
dengan
imunostimulan
yang
ramah
lingkungan
merupakan pilihan yang tepat.
Udang windu seperti halnya crustaceae
lainnya hanya memiliki respon kekebalan non
spesifik, sehingga diperlukan cara untuk
menginduksi
kekebalan
udang
terhadap
kemungkinanan serangan patogen. Beberapa
74
Jurnal Protein
substansi diketahui mampu meningkatkan respon
kekebalan seperti Lipopolisakarida dan -Glukan
(Secombes, 1994). Untuk itu perlu dilakukan
penelitian
untuk
mendapatkan
jenis
imunostimulan yang lebih baik dan mampu untuk
memacu dan mengoptimalkan respon kekebalan
non spesifik homosit udang.
Untuk mencegah terjadinya penyakit pada
kegiatan budidaya, saat ini sudah dikembangkan
beberapa metode, diantaranya probiotik atau
persaingan antara faktor-faktor biologis. Alternatif
yang sering dilakukan adalah vaksinasi atau
indikasi kekebalan. Selain vaksin juga dilakukan
tindakan pemberian imunostimulan berupa
vitamin C.
Vitamin C merupakan bahan yang dapat
meningkatkan keragaan benih yang dapat
berfungsi sebagai stimulan untuk sistem
pertahanan tubuh non spesifik sehingga
merupakan suatu komponen penting untuk
meningkatkan kekebalan non spesifik (Secombes,
1994). Sedangkan vaksin adalah suspensi patogen
hidup yang sudah dilemahkan atau dimatikan,
bagian dari patogen atau substrat yang merupakan
produk patogen yang bersifat antigenik,
imunogenik dan protektif apabila masuk ke dalam
tubuh akan merangsang timbulnya antibody (ab)
yang menyebabkan udang tahan terhadap patogen
tersebut (Kamiso, 1996).
Aplikasi mengenai beberapa imunostimulan
pada bidang budidaya perairan masih berada
dalam tahap pengembangan dan penyempurnaan.
Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh benih udang
windu (Penaeus monodon) terhadap serangan
penyakit yang disebabkan oleh WSSV.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui peranan yang terbaik dari beberapa
imunostimulan dalam meningkatkan Sintasan
benur windu (Penaeus monodon, Fab) yang diuji
tantang dengan White spote Syndrome virus
(WSSV). Adapun manfaatnya adalah diharapkan
dapat menjadi informasi dasar bagi masyarakat
tentang imunostimulan yang terbaik dalam
meningkatkan sintasan benur windu (Penaeus
monodon, Fab).
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Vol.14.No.1.Th.2007
Peranan Imunostimulan Dalam Meningkatkan Sintasan Benur Windu
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium
Patologi dan Penyakit Ikan Balai Riset Budidaya
Air Payau Maros, Sulawesi Selatan.
Rancangan percobaan yang dilakukan
adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4
perlakuan dan 3 ulangan, sehingga terdapat 12
unit percobaan. Adapun perlakuan tersebut
dengan beberapa imunostimulan, yaitu :
Perlakuan A = Kontrol (tanpa imunostimulan).
Perlakuan B = Vitamin C dengan konsentrasi 0,05
ppm.
Perlakuan C = Vaksin vibrio harveyi yang telah
dimatikan dengan formalin 1%.
Perlakuan D = vaksin White spote syndrome virus
Persiapan
Tahap persiapan meliputi pengadaan dan
persiapan alat dan sarana yang berhubungan
dengan penelitian. Benur yang dipergunakan
dalam penelitian ini adalah PL 17-20 yang
diperoleh dari panti pembenihan di Barru. Benur
yang baru datang diberi formalin 200 ppm selama
30 menit kemudian dilepas dalam bak fiber untuk
aklimatisasi terhadap suhu dan salinitas. Dua
belas stoples yang telah disterilkan disusun secara
acak dan diisi air sebanyak 2 liter kemudian
dimasukkan 20 ekor benur udang windu ke dalam
masing-masing wadah.
Vitamin C dan Vaksin Vibrio harveyi dan
vaksin virus WSSV diaplikasikan masing-masing
wadah percobaan pada hari ke 0, 4 dan 8
kemudian pada hari ke-12 dilakukan diuji tantang
dengan menggunakan bakteri White spote
Syndrome Virus (WSSV), 48 jam setelah uji
tantang, selanjutnya dihitung sintasan udang.
Pembuatan Vaksin
Vaksin virus diperoleh dari hepatopankreas
udang windu yang secara morfologis memepunyai
bintik putih disebabkan oleh WSSV yang digerus
hingga
halus,
kemudian
dihomogenkan,
disentrifugasi dan disaring dengan meggunakan
filter millipore 450 nm. Filtratnya kemudian
dimatikan dengan formalin 1% pada suhu 4oC
kemudian disentrifugasi 5000 rpm selama 15-20
menit dan dicuci minimal 3 kali dengan laritan
NaCl 0,85 % steril (larutan fisiologis).
Vaksin vibrio diperoleh dari kultur murni
Vibrio harveyi dalam media cair (nutrien brouth),
dimatikan dengan menambahkan formalin 1%
selam 24 jam pada suhu 4oC, selanjutnya dicuci
dengan NaCl 0,85% steril melalui proses
sentrifugasi.
Penentuan LC50 Virus
Untuk mengetahui tingkat patogenitas virus
WSSV terhadap benur windu, maka dilakukan uji
LC 50 yang meliputi:
Uji Pendahuluan, Uji ini dilakukan untuk
mendapatkan konsentrasi ambang atas (LC 100 -24
jam) adalah konsentrasi terendah dimana semua
hewan uji mati dalam waktu eksposure 24 jam
dan ambang bawah (LC0 – 48 jam) adalah
konsentrasi tertinggi dimana semua hewan uji
hidup dalam waktu eksposure 48 jam.
Uji Lanjutan, Uji ini dilakukan dengan
menggunakan 9 (sembilan) konsentrasi dianatara
nilai ambang atas dan nilai ambang bawah.
Deretan konsentrasi tersebut ditentukan dalam
interval logaritmik. Selanjutnya nilai LC50
diperoleh dengan cara analisis probit berdasarkan
tingkat kematian pada masing-masing konsentrasi
Uji Tantang
Untuk
mengetahui
efektivitas
imunostimulan yang telah diberikan maka
dilakukan uji tantang pada hari ke 12 dengan
menggunakan suspensi virus WSSV konsentarsi
LC50 (konsentrasi virus yang mematikan 50%
udang uji) sebanyak 12 cc setiap stoples
Pengukuran Peubah
Pengamatan sintasan dilakukan dengan
membandingkan antara jumlah udang pada awal
penelitian dan jumlah udang yang hidup pada
akhir penelitian dengan menggunakan rumus
(Effendi, 1979) :
SR =
Nt
x 100 %
No
dimana :
SR = Sintasan (tingkat kelangsungan hidup)
dalam persen (%).
Nt = Jumlah udang pada akhir penelitian
(ekor).
No = Jumlah udang pada awal penelitian
(ekor).
Untuk mengetahui pengaruh perlakuan
terhadap sintasan udang uji, jika terdapat
perbedaan yang nyata, maka dilanjutkan dengan
uji beda Nyata Terkecil (Hanafiah, 1997). Data
kualitas air dianalisa secara deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
75
Ilmiah
Jurnal Protein
1. Sintasan Larva Udang Windu (Penaeus
monodon Fab)
Hasil pengamatan prosentase sintasan
larva udang windu (Penaeus monodon Fab)
setelah dilakukan uji tantang dengan bakteri
Vibrio harvey pada jam ke 48 dapat dilihat
pada Tabel 1.
Tabel 1. Rataan Sintasan Larva Udang Windu (Panaeus monodon Fab) Setelah
Diuji tantang Dengan Virus WSSV pada jam ke-96
Perlakuan (Jenis Imonostimulan)
Sintasan (%)
A = Kontrol (tanpa imunostimulan
20,00 a
B = Vitamin C konsentrasi 0,05 ppm
38,33b
C = Vaksin vibrio harveyi
41,66 bc
D = Vaksin WSSV
55,33c
Dari Tabel 1 dan Gambar 2, terlihat
bahwa sintasan benur windu (Penaeus
monodon Fab) tertinggi diperoleh pada
perlakuan D (penambahan vaksin WSSV)
yaitu sebesar 55,33%, disusul Perlakuan C
(penambahan Vaksin Vibrio harveyi) sebesar
41,66%, kemudian perlakuan B (dengan
penambahan vitamin C dengan konsentrasi
0,05 ppm) sebesar 38,33% dan terakhir
perlakuan A (tanpa imunostimulan) sebesar
20 %.
Hasil analisis ragam menunjukkan
bahwa sintasan benur windu (Penaeus
monodon
Fab)
dengan
penambahan
imonostimulan berbeda sangat nyata (P
0,01), Idengan kontrol, ini berarti bahwa
efektifitas
imonostimulan
memberikan
pengaruh yang kuat terhadap peningkatan
sistem kekebalan benur windu (Penaeus
monodon Fab) untuk menekan mortalitas dari
serangan vitus white spote syndrome virus
(WSSV).
Hasil uji lanjut BNT diperoleh
perlakuan
A
(Tanpa
imunostimulan),
berpengaruh nyata (P  0,05)
dengan
perlakuan B, dan sangat nyata (P  0,01)
dengan perlakuan C dan D. Namun perlakuan
B dan C serta perlakuan C dan D tidak
berbeda (P 0,05). Tingginya sintasan benur
windu (Penaeus monodon Fab) pada
perlakuan vaksin white spote syndrome virus
(WSSV), hal ini disebabkan karena vaksin
yang dibuat dari kultur murni virus white
spote yang mampu mengaktivasi limfosit,
demikian pula pada perlakuan dengan
penambahan vaksin Vibrio harveyi yang juga
diperoleh dari kurtur murni Vibrio harveyi.
Antigen atau lipopolisakarida diperoleh dari
kultur murni Vibrio harveyi berasal dari
76
dinding sel negatif limfosit yang teraktivasi
berubah menjadi sel T dan sel B yang
selanjutnya akan berkembang menjadi sel
plasma yang mampu memproduksi antibodi.
Salah satu cara penanggulangan
penyakit adalah dengan imunoprofilaksis
yaitu meningkatkan sistem kekebalan tubuh
terhadap penyakit, kekebalan terhadap
penyakit dapat dipacu dengan pemberian
imunostimulan termasuk vaksinasi dan
vitamin (Anderson, 1992).
Menurut Alday-Zanz (1995), bahwa
udang memiliki sistem kekebalan tubuh
promitif dibanding dengan vertebrata. Udang
tidak memiliki imunoglobin dan limfosit T
dan hanya tergantung pada respon inflamasi.
Dalam hal ini, fagositosis memainkan peranan
utama dan dikatakan sebagai mekanisme
pertahanan seluler utama yang dilakukan oleh
sel hyalin. Partikel-partikel asing difagositosis
oleh haemosit dan dilumpuhkan dalam
agregat-agregat nodular dari hyalin atau
dienkapsulasi oleh sel.
Lebih lanjut dikatakan bahwa aktivits
dari reaksi seluler ini berhubungan dengan
sistem oksidasi profenol (Pro-PO). Pro-PO
sistem disimpan dalam granula dari haemosit
granular dan semi granulat dan dilepaskan
kedalam haemolif jika bertemu dengan benda
asing. Produk akhir dari reaksi enzimatis ini
adalah melanin, melanin mempunyai efek
biosidal, oleh karena itu prose malanisasi
sering dibarengi dengan reaksi pertahanan
seluler.
Pada perlakuan B (dengan penambahan
vitamin C dengan konsentrasi 0,05 ppm)
dengan sintasan 33,33% lebih tinggi dari
perlakuan A (kontrol) dengan sintasan 20%.
Akiyama (1992) menyatakan bahwa pada
prinsipnya fungsi vitamin C untuk membantu
Vol.14.No.1.Th.2007
Peranan Imunostimulan Dalam Meningkatkan Sintasan Benur Windu
menanggulangi pengaruh merugikan yang
timbul akibat stress karena lingkungan,
mengurangi kemungkinan keracunan karena
pencemaran air, membantu pertahanan imun
terhadap bekteri dan membantu pembentukan
formasi kolagen.
Pada perlakuan A (kontrol) dimana
tanpa pemberian imunostimulan terlihat
sintasan benur windu yang rendah pada semua
perlakuan (20%), karena ketidakmampuan
melawan serang virus WSSV pada saat uji
tantang sehingga banyak benur windu yang
mati.
b. Kualitas Air
Hasil pengamatan terhadap rataan
kualitas air media pemeliharaan larva udang
windu yang didapatkan selama pemeliharaan,
ditampilkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Kisaran Data Pengamatan Beberapa Parameter Kualitas Air Media Uji
Rataan Hasil Pengukuran
Parameter
Akhir
Awal
A
B
C
D
Suhu (oC)
29,1
29,2
28,3
29,3
28,3
Salinitas (o/oo)
28
29
29
28
29
PH
8,068
8,06
8,12
8,25
8,20
NH4 (ppm)
0,806
0,873
0,889
0,852
0,905
Salinitas merupakan salah satu
peubah kualitas air yang berpengaruh
terhadap kehidupan dan pertumbuhan
larva udang windu. Salinitas media
pemeliharaan yang didapatkan selama
penelitian berkisar 28 – 29 ppt yang masih
berada pada batas optimal kehidupan larva
udang windu. Hal ini sejalan dengan hasil
temuan Nurdjana dkk. (1988), bahwa
untuk pertumbuhan optimal larva udang
windu memerlukan kisaran 28 – 32 ppt.
Sedangkan Semeru dan Anna (1992) batas
yang layak untuk pertumbuhan larva
udang windu adalah 12 – 30 ppt.
Derajat kemasaman (pH) media
pemeliharaan larva udang windu yang
didapatkan pada semua perlakuan selama
penelitian berkisar 8,06 – 8,25, dimana
berada dalam batas pH yang layak untuk
kehidupan udang. Menurut Darmadi dan
Ismail (1993), kisaran normal pH air
untuk kehidupan udang bekisar antara 7,0
– 8,6.
Untuk menjaga kestabilan kehidupan
larva udang windu selama pemeliharaan
dibutuhkan suhu yang stabil. Kisaran suhu
media pemeliharaan larva udang windu yang
diperoleh pada setiap perlakuan adalah 28,3 –
29,3 ºC, dimana suhu tersebut masih
mendukung larva udang windu untuk hidup
dan berkembang. Hal senada dikemukakan
oleh Darmadi dan Ismail (1993), bahwa suhu
perairan yang baik bagi pertumbuhan dan
kehidupan udang adalah 29 – 30 ºC walupun
udang masih dapat hidup pada suhu 18 ºC dan
36 ºC, namun udang sudah tidak aktif.
Sedangkan Manik dan Mintardjo (1983)
menyatakan bahwa larva udang windu
mempunyai kisaran suhu optimal bagi
pertumbuhannya yaitu 29 – 31 ºC.
Amonia dalam air terdiri dari dua
bentuk, yaitu amoniak (NH3) yang bersifat
racun dan amonium (NH4) yangtidak bersifat
racun, dimana amonia dihasilkan dari
perombakan
bahan-bahan
organik.
Berdasarkan hasil pengamatan, kisaran
amonium (NH4) selama penelitian adalah
0,852 ppm – 0,905 ppm. Menurut Haryanti et
al (1992), kisaran amonium (NH4) masih
aman dalam media adalah lebih kecil dari 1, 5
ppm, kirasan ini masih layak dan tidak
membahayakan larva udang windu.
Berdasarkan
hasil
pengamatan
parameter kualitas air, secara umum kualitas
air media masih layak dan menunjang
pertumbuhan dan sintasan larva udang windu.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Imonostimulan dari vaksin virus WSSV
memberikan sintasan tertinggi pada benur
77
Ilmiah
windu (Penaeus monodon Fab), menyusul
vaksin Vibrio harveyi, dan vitamin C.
2. Kualitas media lingkungan sangat mendukung
kehidupan banur windu (Penaeus monodon
Fab)
Saran
Perlu penelitian lebih lanjut terhadap
beberapa kombinasi jenis imonostimulan dan
pemberian vaksin yang berulang agar dapat
meningkatkan sistem pertahanan tubuh pada
udang dalam upaya menekan kamatian dari
serangan virus white spote symdrome virus
(WSSV) dan serangan penyalit lainnya
DAFTAR PUSTAKA
1. Alday-Sanz V., 1995. Technical Report in
Short Course on Shrimp Disease and Health
Management, SpSNC – Levalin International
Inc., in Association with International
Development
Program
of
Australian
University and Colleges, PT. Hasfrom Dian
Konsultan, Makassar.
2. Anderson, D.P.,1992. Disease of Fishes.
Book 12 : Fish Immunology. Ed. By S.F.
Snieszko dan H.R. Axelrod, TFH. Pub.,
Nepture City.
3. Anonim, 1996. Sistem Resirkulasi Pada
Tambak
Udang,
Majalah
Primadona
Perikanan, Edisi Oktober 1994, Jakarta.
4. Chang, P.S. and Y.C. Wang. 1992. Infection
of White Spot Syndrome Association With
non-Occluded
Baculovirus
and
Wild
Crustacean in Taiwan. SIP 29 th Annual
Meeting and III rd International Colloqium of
Bacillus Thuringiensis (Abstrac)
5. Darmadi dan A Ismail., 1993. Tinjauan
Beberapa Faktor Penyebab Kegagalan Usaha
Budidaya Udang di Tambak. Dalam Prosiding
Seminar Sehari Hasil Penelitian. Sub Balai
78
Jurnal Protein
Perikanan Budidaya Pantai, Bojonegoro –
Serang, Cilegon, 11 Maret 1993.
6. Effendie, M.I., 1979. Metode Biologi
Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor, 122
Hal.
7. Haryanti, M. Takano, S. Ismail, 1992.
Pengelolaan Hatchery Udang, hal 26 – 33.
Proseding Temu Karya Ilmiah. Denpasar, 3–4
Desember 1992, Bali.
8. Kamiso, H.N., 1996. Metode Pencegahan
Hama dan Penyekit Ikan Karantina Dengan
Menggunakan Vaksin, Makalah disampaikan
pada seminar Hama dan Penyakit Ikan
Karantina. 13 Desember 1996. Cipanas
Bogor. 18 hal
9. Manik, R. dan K. Mintardjo, 1983. Kolam
Ipukan. Dalam Pedoman Pembenihan Udang
Penaeid.
Direktorat Jenderal Perikanan,
Departemen Pertanian. Jakarta.
10. Nurdjana, M.L.B., Martosudarmo dan B.
Saleh, 1988. Pengelolaan Pembenihan Udang
Penaeid.
Direktorat Jenderal Perikanan,
Departemen Pertanian. Jakarta.
11. Lo, C.F., J.H. Leu, C.H. Chen, S.E. Peng.
Y.T. Chen, Yen, C.H. Huang, H.Y. Chou,
C.H. Wang, and G.H. Kou. 1996. Detection
of Baculovirus Assosiatied With White spot
Syndrome (WSBV) in Penaeid Shrimps Using
Polymerase Chain Reaction. Dis Aquat Org,
25 : 133-144
12. Scombes, C.J. 1994. Enhancement of Fish
Phagocyte Activity. Fish and Shellfish
Immmunology, 4 : 421-436.
13. Sumeru, S.U., dan S. Anna, 1992. Pakan
Udang Windu Penaeus monodon. Kanisius.
Jakarta.
Download