687-698_bunga rante-multitropik - BPPBAP

advertisement
687
Sintasan dan produksi udang windu... (Bunga Rante Tampangallo)
SINTASAN DAN PRODUKSI UDANG WINDU (Penaeus monodon)
YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN SISTEM MULTITROPIK
Bunga Rante Tampangallo, Arifuddin Tompo, dan Nurhidayah
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau
Jl. Makmur Dg. Sitakka No. 129, Maros 90512, Sulawesi Selatan
E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Budidaya multitropik merupakan suatu usaha untuk membudidayakan beberapa jenis organisme dalam
satu areal dengan memperhatikan pemanfaatan ruang yang ada dengan fungsinya masing-masing. Penelitian
ini secara umum bertujuan untuk mengetahui potensi budidaya sistem multitropik sebagai alternatif
pencegahan pada budidaya udang windu dengan tujuan khusus mengetahui sintasan, produksi, populasi,
serta jenis bakteri hasil isolasi pada budidaya dengan sistem multitropik. Penelitian dilakukan dengan
menggunakan 8 buah petak tambak berukuran 500 m2. Perlakuan yang diuji adalah udang windu dengan
kepadatan 4 ekor/m2 (kontrol), udang windu + rumput laut Gracilaria sp. (1.500kg/ha) (A); udang windu +
rumput laut + bandeng (0,2 ekor/m2) (B); dan udang windu + rumput laut + tiram (Crasostrea sp. 240 g/m2)
(C). Peubah pengamatan yang diukur adalah: sintasan dan produksi udang budidaya, populasi dan jenis
bakteri hasil isolasi, serta parameter kualitas air seperti: pH, salinitas, DO, alkalinitas, amoniak, nitrat, nitrit,
PO4-P dan BOT sebagai data penunjang. Sintasan dan produksi dianalis ragam sedangkan populasi bakteri
dan parameter kualitas air dianalisis secara deskriptif dengan bantuan grafik dan tabel. Sintasan tertinggi
diperoleh pada perlakuan C (76,57%) dan signifikan berbeda terhadap kontrol (56,55%); perlakuan A (45,0%)
dan yang terendah perlakuan B (42,00%). Demikian halnya dengan produksi, C (319,4 kg/ha) berbeda secara
signifikan terhadap perlakuan A (210,60 kg/ha); perlakuan B (139,50 kg/ha); dan yang terendah perlakuan
K (60,80 kg/ha). Populasi bakteri Vibrio (TBV) di air berkisar 101-103 cfu/mL dan di sedimen 101-104 cfu/mL.
Sedangkan total bakteri umum (TPC) di air berkisar antara 103-108 cfu/mL dan di sedimen 104-109 cfu/mL.
Jenis bakteri Vibrio spp. yang diisolasi selama penelitian adalah bakteri Vibrio mimicus, V. splindidus, V. ordalli,
V.tubiaschii, V. metschnikovii, V. alginolyticus, dan V. P.fishery; sedangkan bakteri umum didominasi oleh Acinobacter,
Pseudomonas, Enterobacter, Chromobacterium, dan Flavobacterium. Parameter kualitas air yang diamati masih
berada pada kondisi yang dapat ditolerir oleh organisme budidaya.
KATA KUNCI:
budidaya multitropik, sintasan, produksi, udang windu
PENDAHULUAN
Penyakit pada budidaya udang windu merupakan salah satu penyebab kematian dan kerugian
yang cukup besar yang disebabkan oleh virus, jamur, bakteri, dan organisme patogen lainnya. Salah
satu jenis bakteri yang telah diidentifikasi sebagai penyebab utama timbulnya penyakit dan
menyebabkan turunnya produksi udang windu pada usaha budidaya adalah bakteri Vibrio. Penyakit
yang ditimbulkan oleh bakteri ini dikenal dengan nama penyakit kunang-kunang atau “luminescent
Vibriosis” yang bercahaya pada kondisi gelap (Lightner et al., 1992).
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mendapatkan suatu metode pencegahan dan
penanggulangan penyakit vibriosis pada udang windu antara lain dengan menggunakan obat-obatan
dan antibiotik (Chanratchakool et al., 1995 ) namun tidak efektif karena berdampak negatif pada
ikan/udang itu sendiri, bahkan dapat menimbulkan resistensi bagi bakteri Vibrio spp. Alternatif lainnya
adalah dengan menggunakan immunstimulan, bakterin (Tompo et al., 2005; 2006; 2007), probiotik
dan melalui sistem budidaya multitropik.
Budidaya multitropik adalah suatu sistem budidaya yang menggabungkan beberapa spesies dalam
satu lingkungan budidaya dengan memperhatikan pemanfaatan ruang dan nutrien dalam perairan.
Budidaya multitropik hampir sama dengan budidaya polikultur, perbedaannya adalah pada budidaya
multitropik mengacu pada budidaya yang lebih intensif dari berbagai spesies dengan menggabungkan
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011
688
hewan dan tumbuhan. Budidaya multitropik yang dilakukan di tambak, biasanya menggabungkan
antara udang, bandeng, nila, tiram, dan rumput laut.
Pada awal 2008, Harris (2008) telah berhasil membudidayakan udang windu, Gracilaria, dan ikan
nila dalam tambak seluas 600 m 2 dengan kedalaman sekitar 60 cm dan memberikan hasil yang
cukup signifikan. Udang windu menghasilkan biomassa sebanyak 386 kg, bandeng 37 kg, nila 207
kg, dan Gracilaria 200 kg. Hal ini dapat terjadi oleh karena adanya simbiosis mutualisme dari
organisme yang dipelihara. Rumput laut dalam tambak dapat menyuplai oksigen dalam perairan
tambak pada siang hari, menyerap racun-racun dalam tambak, tempat melekat klekap yang dapat
menjadi makanan bagi bandeng, tempat menempel mikroorganisme yang dapat menjadi makanan
bagi udang windu. Selain itu, ekstraksi rumput laut juga dapat berfungsi sebagai anti mikroba (Diarti,
2009). Tiram, Crassostrea iredalei yang ditempatkan dalam tandon biofilter tambak udang intensif
dengan kepadatan 250 kg/ha dengan ukuran cangkang < 5 cm mampu menyerap logam berat,
plankton, dan bakteri (Tompo, 1997).
Budidaya multitropik adalah suatu sistem budidaya yang menggabungkan beberapa spesies dalam
satu lingkungan budidaya dengan memperhatikan pemanfaatan ruang dan nutrien dalam perairan.
Budidaya multitropik hampir sama dengan budidaya polikultur, perbedaannya adalah pada budidaya
multitropik mengacu pada budidaya yang lebih intensif dari berbagai spesies dengan menggabungkan
hewan dan tumbuhan. Budidaya multitropik yang biasa dilakukan di tambak, biasanya
menggabungkan antara udang, bandeng, nila, tiram, dan rumput laut.
Pengembangan budidaya multitropik dimaksudkan sebagai alternatif pencegahan penyakit pada
budidaya udang yang bersifat ramah lingkungan. Hal ini dapat terjadi karena organisme-organisme
yang dibudidayakan dengan sistem multitropik misalnya kekerangan (tiram) mempunyai kemampuan
sebagai biofilter. Dengan kemampuan biofilter yang dimilikinya diharapkan dapat memperbaiki
kualitas air yang ada selama masa pemeliharaan sehingga menghambat dan mengurangi pertumbuhan
bakteri-bakteri yang bersifat oportunistik pathogen. Sehingga diharapkan akan terjadi peningkatan
sintasan dan produksi pada usaha budidaya yang dilakukan. Oleh karena itu, maka penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui sintasan, produksi, populasi, dan jenis bakteri pada budidaya multitropik
di tambak.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini menggunakan 8 petakan tambak masing-masing seluas 500 m2. Persiapan tambak
dilakukan dengan mengikuti standar operasional pertambakan. Rancangan yang digunakan adalah
rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 2 ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah
pemeliharaan udang windu dengan sistem multitropik dengan kombinasi sebagai berikut:
A. Udang windu + Gracilaria sp.
B. Udang windu + Gracilaria sp. + bandeng
C. Udang windu + Gracilaria sp. + tiram
D. Kontrol (udang windu)
Hewan uji yang dicobakan adalah tokolan udang windu PL-42, yang telah dinyatakan negatif
WSSV dengan menggunakan PCR, dengan padat tebar 4 ekor/m2, tiram 240 g/m2, Gracilaria 1.500kg/
ha, dan nener bandeng 0,2 ekor/m2. Kepadatan ini disesuaikan dengan daya dukung lahan tambak
Maranak. Metode pemeliharaan tiram dengan menggunakan tray bambu sedangkan penanaman
P
O 1 1
X X
T 5 V
rumput laut menggunakan metode tebar lepas dasar. Pemberian pakan dilakukan 2 minggu setelah
penebaran dan pemupukan susulan setiap 10 hari.
689
Sintasan dan produksi udang windu... (Bunga Rante Tampangallo)
Pengamatan bakteri Vibrio spp. menggunakan TCBSA (Thiosulfat Citrate Bile Soy Agar), sedangkan
total bakteri (TPC), menggunakan TSA (Triptic Soy Agar). Setiap koloni yang tumbuh dihitung dengan
menggunakan rumus:
di mana :
P
= populasi bakteri (cfu/mL)
Q = total bakteri yang tumbuh dalam satu tingkat pengenceran (koloni)
T
= jumlah plate yang digunakan
S
= tingkat pengenceran
V = volume sampel yang ditanam (mL)
Identifikasi bakteri dilakukan secara morfologi dan dengan menggunakan uji biokimia berdasarkan
petunjuk Austin (1993). Beberapa parameter kualitas air seperti pH, salinitas, alkalinitas, amoniak,
Tabel 1. Bobot awal, padat tebar, sintasan, dan produksi udang windu
selama penelitian budidaya multitropik
Perlakuan
Data biologis
Bobot awal (g)
Padat tebar (ekor/m2)
Sintasan (%)
Produksi (kg/ha)
A
B
C
D
0,003
4
0,003
4
0,003
4
0,003
4
45,0ab
210,60b
42,00b
139,50c
76,57a
319,40a
56,55ab
60,80c
nitrat, nitrit, PO4-P, dan BOT diamati setiap 2 minggu sekali, sedangkan sintasan dan produksi dihitung
pada akhir penelitian.
HASIL DAN BAHASAN
Sintasan dan Produksi
Sintasan dan produksi udang windu pada akhir penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 memperlihatkan sintasan tertinggi didapatkan pada perlakuan C yang berbeda nyata
(P<0,05) terhadap perlakuan B akan tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan A dan kontrol.
Hal ini mengindikasikan bahwa kombinasi penggunaan udang windu + Gracilaria + tiram yang
dibudidayakan secara bersama memberikan pengaruh positif terhadap sintasan udang windu, demikian
juga dengan produksi yang dihasilkan pada perlakuan ini lebih besar jika dibandingkan dengan
produksi yang dihasilkan pada perlakuan lainnya.
Hal ini kemungkinan disebabkan karena keberadaan Gracilaria dan tiram dapat mendukung sintasan
dan pertumbuhan udang windu karena fungsinya masing-masing sehingga terjadi hubungan simbiosis
mutualisme di antara ketiganya. Seperti diketahui rumput laut berfungsi sebagai penyuplai oksigen
dalam perairan tambak pada siang hari, menyerap racun-racun dalam tambak, tempat melekat klekap
yang dapat menjadi makanan bagi bandeng, serta tempat menempel mikroorganisme yang dapat
menjadi makanan bagi udang windu. Selain itu, ekstraksi rumput laut juga dapat berfungsi sebagai
anti mikroba (Diarti, 2009). Polikultur abalon dengan rumput laut merah, Gracilaria textorii dapat
menurunkan konsentrasi total Vibrio spp. dan memperbaiki keseimbangan komposisi bakteri Vibrio
(Pang et al., 2006 dalam Butterworth, 2009).
Fungsi dan aktivitas rumput laut sebagai antimikroba ini dapat menekan perkembangan White
Spot Syndrome Virus (WSSV). Hal ini seperti yang terlihat selama masa pemeliharaan di mana pada
masa pemeliharaan 1 bulan lebih, udang windu yang dipelihara terinfeksi WSSV, akan tetapi pada
pengamatan selanjutnya hasil deteksinya negatif hingga akhir penelitian. Penelitian terhadap aktivitas
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011
690
dari rumput laut sebagai anti virus saat ini telah banyak dilakukan antara lain oleh Prajitno (2010);
Ridlo et al. (2008); Ekasari (2010).
Penggunaan tiram dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan dalam
pengelolaan mutu air karena fungsi tiram sebagai biofilter seperti yang dikemukakan oleh
Chanratchakol (1985). Tiram bakau yang dipelihara sebagian besar dapat tumbuh dengan baik, akan
tetapi ada juga yang mati. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh karena adanya proses adaptasi
dan tingginya suhu air dibanding habitat asli dari tiram ini yang umumnya terlindung di bawah
pohon bakau yang tumbuh di sepanjang pinggiran sungai tempat tiram ini diambil. Produksi tiram
tertinggi didapat pada petak C2, yakni sebesar 300 kg sedang di petak C1 hanya mencapai 200 kg.
Metode pemeliharaan tiram bakau dalam petakan tambak dipelihara dengan menempatkannya di
atas bilah-bilah bambu (Mangampa, 1998).
Tiram dapat berfungsi sebagai biofilter oleh karena bersifat bakterioplankton feeder yang dapat
menyaring lebih baik dibanding filter ukuran 3 mm. Akan tetapi penggunaan tiram sebagai biofilter
juga harus diwaspadai karena dengan sifat bakteriplankton feeder yang dimilikinya dapat
menyebabkannya sebagai carrier WSSV, seperti yang ditemukan dalam hasil penelitian yang dilakukan
oleh Muliani et al. (2007). Hal ini terbukti pada akhir penelitian tiram bakau yang berada dalam
petak tambak yang terserang WSSV, terdeteksi positif terinfeksi WSSV.
Dari Tabel 1 juga terlihat bahwa rata-rata sintasan yang diperoleh untuk semua perlakuan rendah.
Hal ini kemungkinan disebabkan karena tingginya suhu air di petakan pada waktu penebaran sehingga
menyebabkan udang menjadi stres. Rendahnya sintasan yang diperoleh juga disebabkan karena
pada masa pemeliharaan di sekitar hamparan tambak penelitian terjadi wabah serangan WSSV. Hal
ini diperkuat oleh hasil deteksi WSSV pada akhir penelitian (panen) yang menunjukkan bahwa sebagian
besar sampel udang yang diperiksa positif terinfeksi WSSV. Udang windu yang terserang Virus ini
dalam jangka waktu 2-7 hari dapat mengakibatkan kematian massal hingga 100% (Chang et al.,
1998).
Untuk produksi udang windu tertinggi juga didapatkan pada perlakuan C (P<0,05) dan berbeda
nyata terhadap semua perlakuan, disusul perlakuan A yang juga berbeda nyata terhadap perlakuan B
dan kontrol sedangkan produksi terendah diperoleh pada perlakuan B. Rendahnya produksi pada
perlakuan B disebabkan oleh karena pakan udang yang diberikan sebagian dimakan oleh bandeng
yang juga dipelihara bersama-sama dalam petakan ini.
Ikan bandeng yang dipelihara mengalami pertumbuhan yang sangat lambat, hal ini kemungkinan
besar disebabkan oleh karena pakan untuk ikan bandeng ini sangat sedikit. Bandeng yang dipelihara
tidak diberi pakan buatan dengan harapan bahwa ikan ini akan mendapat makanan dari pakan alami
dan pemeliharaan bandeng ini juga terlalu singkat, hanya kurang lebih 3 bulan pemeliharaan dengan
bobot awal 3-5 gram/ekor. Akan tetapi dari segi sintasan, cukup baik, oleh karena sintasan terendah
hanya didapatkan pada petak B1 yakni 94%. Pada penelitian ini, bandeng diharapkan dapat menjadi
biofilter dalam petakan tambak.
Rumput laut Gracilaria sp. yang ditanam dalam tambak ini, sebagian besar tidak dapat bertumbuh
dengan baik, bahkan setelah 1 bulan pemeliharaan, telah dilakukan penebaran ulang karena sebagian
besar petakan telah berkurang rumput lautnya sehingga dilakukan penebaran ulang.
Populasi Bakteri
Populasi bakteri Vibrio selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Populasi bakteri Vibrio
baik di air maupun di sedimen pada umumnya cenderung meningkat seiring dengan lama
pemeliharaan. Bakteri Vibrio di air berkisar antara 0,21 x 102 - 1,1 x 103 cfu/mL. Populasi bakteri
Vibrio di air tertinggi diperoleh pada pengamatan ketiga diperlakuan A dan terendah di petakan D
pada pengamatan pertama. Populasi bakteri Vibrio di sedimen, berkisar antara 0,32 x 102 - 3,09 x
104 cfu/mL. Populasi bakteri Vibrio tertinggi ditemukan pada perlakuan B pada pengamatan keenam
dan terendah di petakan A setelah 1,5 bulan penelitian 0,6 x 102 cfu/mL.
Konsentrasi Vibrio sp. yang cukup rendah kemungkinan disebabkan karena aktivitas rumput laut
yang dapat bersifat sebagai antimikroba. Menurut Prajitno (2007), kandungan Flavonoid dari ekstrak
E. cottoni pada konsentrasi 3%, merupakan konsentrasi terkecil yang mampu menghambat
691
Sintasan dan produksi udang windu... (Bunga Rante Tampangallo)
Gambar 1. Populasi bakteri Vibrio spp. pada air (A) dan sedimen (B) pada budidaya udang windu
multitropik
pertumbuhan V. harveyi secara in vitro. Selanjutnya Pelczar et al. (1977) dalam Prajitno (2007)
menyatakan bahwa persenyawaan Flavonoid sebagai anti-bakteri menghambat pertumbuhan dan
metabolisme bakteri dengan cara merusak membran sitoplasma dan mendenaturasi protein sel.
Selain rumput laut, dalam petakan perlakuan C, juga dipelihara tiram bakau yang diketahui sangat
baik bila berada dalam perairan untuk menjaga kualitas air oleh karena tiram (Crassostrea) dapat
memangsa/menyaring bakteri plankton lebih efektif dibanding saringan dengan mata jaring 3 mm
(Tuwo, 2010).
Populasi bakteri umum cenderung menurun, baik di sedimen maupun di air selama penelitian
berlangsung (Gambar 2). Populasi total bakteri di air berkisar antara 6,324 x 10 3 - 1 x 108 cfu/mL.
Populasi tertinggi didapatkan pada petakan kontrol pada awal penelitian dan terendah di air petakan
B pada akhir penelitian. Pada sedimen, populasi total bakteri berkisar antara 8,45 x 104 - 1,88 x 109
cfu/mL. Populasi total bakteri tertinggi diperoleh pada sedimen petakan kontrol pada pengamatan
kedua dan terendah di petakan A pada pengamatan terakhir. Rendahnya populasi bakteri ini
kemungkinan juga disebabkan oleh adanya interaksi positif dari organisme yang dipelihara, misalnya
rumput laut seperti yang didapatkan oleh Izzati (2007) yang menemukan ekstrak rumput laut Caulerpa
sp. dan Padina sp., paling aktif menghambat bakteri Pseudomonas sedangkan Sargassum polycistum
dan Gelidium sp paling aktif menghambat pertumbuhan bakteri dari spesies Vibrio spp.
Identifikasi Bakteri
Hasil uji identifikasi bakteri dilakukan secara morfologi dan biokimia terhadap isolat bakteri yang
berhasil dikoleksi dapat dilihat pada lampiran 1. (bentuk dan warna serta respons terhadap uji biokimia
yang dilakukan). Dari tabel pada Lampiran 1, terlihat bahwa pada umumnya bakteri Vibrio spp. yang
berhasil diisolasi selama penelitian mempunyai ciri-ciri morfologi kuning putih cembung basah,
hijau cembung mengkilap, hijau putih cembung basah, kuning cembung basah, hitam cembung
mengkilap, hijau putih cembung basah menyala, hijau berpasir, kuning berpasir, kuning agak kering
pinggir bergerigi, dan kuning menyebar. Berdasarkan hasil uji identifikasi dengan menggunakan
Gambar 2. Populasi total bakteri pada air (A) dan sedimen (B) pada budidaya udang windu multitropik
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011
692
Gambar 3. Jenis bakteri Vibrio spp. yang ditemukan di air (A) dan di sedimen (B) selama penelitian
media uji biokimia dan software fortran, maka jenis isolat bakteri Vibrio yang diisolasi pada penelitian
ini adalah seperti pada Gambar 3.
Dari Gambar 3, terlihat bahwa bakteri Vibrio spp. yang diisolasi dari air tambak adalah bakteri
Vibrio mimicus, V. alginolyticus, V.tubiashii, V. fischeri, V. splendidus, V. leiognathi, V. ordalii, dan V.
metschnikovii. V. mimicus merupakan salah satu jenis bakteri yang paling banyak ditemukan dan
didapatkan di semua petakan tambak. Jenis bakteri Vibrio yang ditemukan di sedimen adalah Vibrio
mimicus, V.tubiashii, V. splendidus, V. Ordalii, dan V. metschnikovii. V. ordalii paling banyak ditemukan,
kemudian Vibrio mimicus dan ditemukan hampir di semua petakan tambak. Pada penelitian ini tidak
ditemukan bakteri Vibrio harveyii yang biasanya bersifat lebih patogen pada budidaya udang windu,
walaupun pada isolat yang berhasil dikoleksi juga ditemukan bakteri Vibrio yang berpendar, akan
tetapi setelah diidentifikasi secara biokimia, hasilnya adalah bakteri V. mimicus.
Hasil pengamatan terhadap morfologi dan respons terhadap uji biokimia bakteri umum yang
diisolasi selama penelitian dapat dilihat pada tabel Lampiran 2. Berdasarkan data tersebut, terlihat
bahwa pada umumnya ciri-ciri morfologi bakteri yang diisolasi pada media TSA adalah bundar, timbul
mengkilap, hijau daun; tak beraturan, cilia, cream; bundar, timbul mengkilap, orange tua; bundar,
timbul, mengkilap, putih susu; bundar, licin, cembung, basah, kuning; bundar, tak beraturan cembung
putih dan sebagainya. Setelah isolat ini diidentifikasi dengan menggunakan media uji biokimia,
maka hasilnya adalah seperti pada Gambar 4.
Berdasarkan data pada Gambar 4, terlihat bahwa bakteri umum yang ditemukan di air selama
penelitian adalah Acinobacter, Chromobacterium, Pseudomonas, dan Enterobacter. Persentase tertinggi
ditemukan adalah Acinobacter dan ditemukan di petak A dan B, sedangkan persentase terendah di
temukan adalah Pseudomonas yang ditemukan di air tambak petak B. Jenis bakteri umum yang
ditemukan di sedimen tambak selama penelitian adalah dari genus Acinobacter, Pseudomonas, dan
Gambar 4. Jenis/genus bakteri yang diisolasi dari air (A) dan sedimen (B) selama penelitian
693
Sintasan dan produksi udang windu... (Bunga Rante Tampangallo)
A
B
C
E
D
F
Gambar 5. Hasil pengukuran beberapa parameter kualitas air A = kadar BOT (mg/L), B = kadar NO2N
(mg/L), C = kadar NO3N (mg/L), D = kadar NH3N (mg/L), E = kadar PO4 (mg/L) dan F =
kadar alkalinitas selama penelitian budidaya udang multitropik
Flavocytopaga. Jenis tertinggi yang ditemukan adalah Acinobacter dan ditemukan pada semua petakan
sedang presentase terendah ditemukan adalah Flavocytopaga.
Kualitas Air
Hasil pengamatan kualitas air selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 5. Pada Gambar 5,
dapat dilihat hasil pengukuran beberapa parameter kualitas air A = kadar BOT (mg/L), B = kadar
NO2N (mg/L), C = kadar NO3N (mg/L), D = kadar NH3N (mg/L), E = kadar PO4 (mg/L) dan F = kadar
alkalinitas selama penelitian budidaya udang multitropik.
Dari Gambar 5, diketahui bahwa kadar bahan organik total (BOT) dalam lingkungan tambak
selama penelitian berkisar antara 20-50 mg/L; fosfat berkisar 0,001-0,9 mg/L; kadar amoniak 0,010,4 mg/L; kadar NO2N berkisar antara 0,001-0,75 mg/L; kadar NO3N 0,001-0,4 mg/L; dan alkalinitas
berkisar antara 155-188. Dari Gambar 5 terlihat bahwa pada umumnya kadar tertinggi diperoleh
pada pengamatan keenam, seperti terlihat pada nilai BOT, PO4P, dan amoniak. Bahan organik terlarut
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011
694
tertinggi didapatkan pada perlakuan A pengamatan ke-6 (masa pemeliharaan memasuki bulan ke-3).
Demikian pula dengan kadar PO4P dalam air tambak, tertinggi dipengamatan ke-7. Kandungan BOT
dan PO4P ini, dapat menjadi suatu petunjuk berkaitan dengan kematian rumput laut dalam petakan
tambak penelitian. Kemungkinan rumput laut mati akibat tingginya kandungan bahan organik terlarut
dan kadar fosfat ini. Hal lain yang cukup menarik dalam pengamatan kualitas air ini adalah tingginya
kadar NH3N di tandon dan saluran masuk. Air yang ada dalam tandon berasal dari sumur bor dan
sepanjang saluran pemasukan telah dipenuhi oleh tanaman mangrove yang cukup padat, akan tetapi
kadar NH3N masih cukup tinggi pada sumber air ini.
Salinitas selama penelitian berkisar antara 15‰-35‰. Salinitas terendah terjadi di awal penelitian.
Hal ini disebabkan karena masih terpengaruh oleh musim hujan. Suhu air dalam tambak berkisar
24°C-34°C. Suhu tinggi dalam air tambak cukup mempengaruhi organisme budidaya, udang misalnya,
menjadi lemah dan mudah terserang penyakit, demikian halnya dengan tiram yang dipelihara,
sebagian mati oleh karena panasnya suhu air.
KESIMPULAN
Sinergi positif dari organisme yang dipelihara menyebabkan sintasan dan produksi yang diperoleh
cukup baik dengan perlakuan terbaik ialah penggunaan udang windu, rumput laut. dan tiram. Populasi
bakteri Vibrio spp. cenderung meningkat seiring dengan lama pemeliharaan sedang populasi total
bakteri cenderung menurun. V. mimicus cenderung mendominasi jenis bakteri Vibrio yang diisolasi di
penelitian ini. Bakteri umum yang diisolasi didominasi oleh Acinobacter. Kualitas air yang diamati
masih dalam kondisi yang aman untuk budidaya akan tetapi pada beberapa kali pengamatan tergolong
cukup tinggi, namun tidak menyebabkan kematian pada organisme udang yang dibudidayakan.
DAFTAR ACUAN
Austin, B. 1993. Methods in aquatic bakteriology. John Wiley and Sons. Chinhester. New York. Brisbane
Toronto. Singapore, 425 pp.
Butterworth, A. 2010. Integrated multitropic aquaculture systems incorporating abalone and seaweeds.
http://www.nuffieldinternational.org/rep_pdf/1287395494Nuffield_Report-_Adam_Butterworth.pdf
Pog-Shing, C., Hsiao-chao, C., & Yu_Chi, W. 1998. Detection of white spot syndrome associated
baculoVirus in experimentally infected wild shrimp crab and lobster by in situ hyridiztion.
Aquaculture, 164: 233-342.
Chanratchakool, P., Turnbull, J.F., Limsuwan, C., & Smith, S.F. 1995. Third Shrimp Health Management.
Training Hand Book. The Aquatic Animal Health Research Institute. Departement of Fisheries
Kasetsart UniVersity Campus. Bangkok.
Diarti, W.M. 2009. Senyawa antimikroba dari rumput laut. http://www.penemuan.com/senyawaantimikroba-dari-rumput-laut.html.
Ekasari. 2010. Pemanfaatan Rumput Laut Sargassum sp. Sebagai Alternatif Pengobatan Kanker Leher
Rahim. fpk.unair.ac.id/./PEMANFAATAN%20RUMPUT% 20LAUT%20Sargassum%20sp.ppt.
Enang, E. 2008. Sebanyak 1,45 ton Gracilaria sp. mampu suplai oksigen di tambak setara satu kincir
air berkekuatan 1 Hp. Majalah Trubus.
Hendrajad, E.A. & Pantjara, B. 2004. Pengaruh metode tanam yang berbeda terhadap pertumbuhan
dan kandungan agar rumput laut (Gracilaria verrucosa) di tambak sulfat masam. Prosiding Konferensi
Nasional IV. Kalimantan Timur.
Izzati, M. 2004. Kejernihan dan salinitas perairan tambak setelah penambahan rumput laut, Sargassum
plagyophyllum dan ekstraknya. Jurn. BIOMA, 10(2): 53-56.
Lightner, D.V., Bell, T.A., Redman, R.M., Mohley, L.L., NatiVidad, J.M., Rukyani, A., & Poernomo., A
1992. A reView of some major diseases of economic significance in Penaeid prawns/shrimps of the
Americas and Indopacific. p:57-80. In Shariff, M., R.P.Subasinghe, and J.R. Arthur (Eds), Diseases in
Asian Aquaculture I. Fish Health Section, Asian Fisheries Society, Manila, Philippines.
Muliani, Tampangallo, B.R., & Atmomarsono, M. 2007. Pemantauan penyakit white spot syndrome
virus (WSSV) pada udang windu Penaeus monodon. Aquacultura Indonesiana, 8(3): 81-88.
695
Sintasan dan produksi udang windu... (Bunga Rante Tampangallo)
Prajitno, A. 2007. Uji Sensitifitas FlaVonoid Rumput Laut (Eucheuma cottoni) Sebagai Bioaktif Alami
Terhadap Bakteri Vibrio HarVeyi. J. Protein, (15): 2
Ridlo, A. & Pramesti, R. 2008. Pengembangan Pemanfaatan Seaweed Sebagai Agensia Pengendali
Penyakit Udang Berbasis Biosecurity Melalui AktiVitas Ganda Sebagai Antimikrobia Dan
Immunomodulator Sistem Pertahanan Tubuh Nonspesifik. http://www.lemlit.undip.ac.id/abstrak/
content/View/499/280/
Tompo, A., Atmomarsono, M., Madeali, M.I., Muliani., Mangampa, M., & Burhanuddin. 1997. Laporan
Tekhnis Hasil Penelitian Managemen Kesehatan Ikan dan Lingkungan. Balai Penelitian Perikanan
Pantai. Maros, 59 hlm.
Tompo, A., Atmomarsono, M., Madeali, M.I., Muliani, Nurhidayah, Susianingsih, E., & Nurbaya. 2005.
Laporan Tekhnis Hasil Penelitian ManaJemen Kesehatan Ikan dan Lingkungan. Balai Riset Perikanan
Budidaya Air Payau Maros, 59 hlm.
Tompo, A., Atmomarsono, M., Madeali, M.I., Muliani., Nurhidayah, Susianingsih, E., & Nurbaya. 2006.
Laporan Tekhnis Hasil Penelitian Riset Budidaya Udang Windu. Balai Riset Perikanan Budidaya Air
Payau Maros.
Tompo, A., Atmomarsono, M., Madeali, M.I., Muliani., Nurhidayah, Susianingsih, E., & Kadriah, I.A.K.
2007. Laporan Tekhnis Hasil Penelitian Riset Budidaya Udang Windu Balai Riset Perikanan Budidaya
Air Payau Maros.
Tuwo, A. 2010. Bahan Kuliah Ekologi Perairan di Terumbu Karang. Program Pascasarjana UNHAS.
Makassar.
Lampiran 1. Morfologi dan respons terhadap uji biokimia beberapa isolat bakteri yang ditemukan selama penelitian
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011
696
Lanjutan Lampiran 1.
697
Sintasan dan produksi udang windu... (Bunga Rante Tampangallo)
Lampiran 2. Morfologi dan respons terhadap uji biokimia beberapa isolat bakteri yang ditemukan selama penelitian
Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2011
698
Download