Prinsip Dasar Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Oleh

advertisement
Arbiter Arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa
Oleh:
Felix Oentoeng Soebagjo
Partner, Soebagjo, Jatim, Djarot
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia
Materi Diskusi
Kuliah Tanggung Jawab Profesi Arbiter
Fakultas Hukum Universitas Indonesia
1.
Hakim dan Arbiter
a. Hakim
1). Pejabat Negara di bidang peradilan (umum)
a). Hakim PN
b). Hakim PT
c). Hakim Agung
2).
3).
Hakim karir dan hakim ad-hoc
Kewenangannya bersifat memaksa
b. Arbiter
1). Hakim swasta
2). Mereka yang memenuhi persyaratan dan diangkat / ditunjuk sebagai arbiter
3). Kewenangan muncul karena kehendak yang nyata dan tegas dari para pihak
yang bersengketa.
4). Independen
5). Bukan advokat dari pihak yang menunjuk
1
2.
Arbiter dan Mediator
a. Arbiter
1). Hakim swasta
2). Memeriksa dan memutus perkara berdasarkan hukum acara yang berlaku
a). Dibuat sendiri oleh para pihak yang bersengketa
b). Hukum acara dari suatu lembaga arbitrase
3). Baru mempunyai kewenangan memeriksa dan memutus perkara jika para
pihak dengan tegas setuju / menetapkan dalam perjanjian arbitrase.
b. Mediator
1). Bukan Hakim
2). Tidak memeriksa dan memutus perkara
3). Fasilitator bagi para pihak yang bersengketa untuk dapat memutus sendiri
sengketa diantara mereka.
4). Para pihak yang bersengketa memutus sengketa sendiri, berdasarkan
kesepakatan yang dicapai mereka
2
3.
Persyaratan Arbiter :
Calon Arbiter
a). Persyaratan Umum :
1).
2).
3).
4).
5).
6).
Warga Negara Indonesia
Cakap melakukan tindakan hukum
Berumur paling rendah 35 tahun dan
Memiliki pengalaman serta menguasai secara aktif bidangnya
paling sedikit 15 tahun
Tidak pernah dihukum karena suatu tindak pidana kejahatan
berdasarkan putusan yang telah mendapat kekuatan pasti
Bukan merupakan pihak-pihak yang dilarang untuk menjadi
arbiter oleh ketentuan perundang-undangan yang berlaku
3
Persyaratan Arbiter : (lanjutan)
Calon Arbiter BAPMI (yang berasal ari profesi)
b).
Persyaratan khusus :
1).
Terdaftar sebagai anggota dari perhimpunan/asosiasi/ikatan yang
menjadi anggota BAPMI
2).
Berpendidikan minimum sarjana atau setara
3).
Telah memperoleh izin profesi pasar modal dari Bapepam LK atau
terdaftar sebagai profesi penunjang pasar modal di Bapepam LK
4).
Tidak pernah termasuk dalam Daftar Orang Tercela dan/atau
daftar orang yang tidak boleh melakukan tindakan tertentu di
bidang pasar modal sesuai dengan daftar yang dikeluarkan oleh
Bapepam LK dan/atau tidak pernah dihukum karena suatu tindak
pidana yang terkait dengan masalah ekonomi dan atau keuangan
4
Persyaratan Arbiter BAPMI : (lanjutan)
Calon Arbiter BAPMI
5).
Melakukan kegiatan dibidang pasar modal sekurang-kurangnya
dalam waktu lima tahun terakhir secara berturut-turut
6).
Memahami ketentuan perundang-undangan di bidang pasar
modal Indonesia dan di bidang arbitrase dan alternatif
penyelesaian sengketa Indonesia
7).
Memahami Peraturan Dan Acara Arbitrase BAPMI
8).
Bukan merupakan pejabat di bidang pengawas pasar modal,
direksi bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, lembaga
penyimpanan dan penyelesaian
9).
Bukan merupakan pejabat aktif dari instansi peradilan, kejaksaan
atau kepolisian
5
Arbitrase – lanjutan
Prosedur : (lanjutan)
4. Penunjukan Arbiter :
a.
Arbitrase Ad-hoc
• Perjanjian Arbitrase
• Sederhana
• Detail
• Mengacu kepada tata cara & prosedur Arbitrase Institusi
b.
Arbitrase Institusi (a.l. : BANI, ICC dan SIAC)
• Tata cara & Prosedur Institusi sendiri
• Tata cara & Prosedur Institusi lain
6
5.
Arbiter Institusi :
a.
Orang perorangan yang terdaftar dalam Daftar Lembaga Arbitrase tertentu.
b.
Dengan persyaratan tertentu dimungkinkan ditunjuk arbiter dari luar
Lembaga Arbitrase.
7
6.
Arbiter Adhoc
Arbiter Adhoc dapat ditunjuk apabila :
a).
Disepakati oleh kedua belah pihak yang bersengketa
b).
Dipertimbangkan memiliki keahlian khusus yang belum dimiliki
oleh suatu lembaga arbitrase
c).
Calon Arbiter Adhoc memenuhi persyaratan yang ditetapkan
lembaga arbitrase
8
7. Prinsip Dasar Arbitrase
a.
Sebagai alternatif penyelesaian sengketa/beda pendapat yang dapat
memenuhi tuntutan pelaku bisnis di Indonesia, yaitu penyelesaian secara
cepat, efisien, murah, mandiri dan adil.
b. Melaksanakan prinsip umum arbitrase:
1). Penyelesaian perkara diluar pengadilan (atas dasar perdamaian)
2). Terjamin kerahasiaan sengketa
3). Terhindar dari kelambatan karena prosedural dan administratif
4). Arbiter yang memiliki wawasan dan pengalaman
9
8.
Ruang Lingkup
Penyelesaian sengketa atau beda pendapat yang dapat diselesaikan oleh
Arbitrase (baik Arbitrase Institusi, atau Arbitrase Ad-Hoc) mencakup:
a.
b.
c.
d.
Sengketa di bidang komersial di Indonesia
Dalam yurisdiksi perdata
Atas dasar kehendak sendiri dan itikad baik dengan
mengesampingkan penyelesaian melalui pengadilan
Tertuang dalam klausula/perjanjian arbitrase
10
9. Arbitrase
a.
Persyaratan :
Arbitrase memeriksa dan memutusan sengketa yang timbul di antara
para pihak jika :
1). Para pihak sudah menetapkan dalam Perjanjian Arbitrase (yang
dapat baik dibuat sebelum sengketa muncul, ataupun sesudah
munculnya sengketa); atau
2). Permohonan tertulis dari salah satu pihak yang bertindak sebagai
Pemohon
3). Arbitrase dapat menolak permohonan pemeriksaan arbitrase
apabila dasar pemeriksaan dianggap belum cukup
4). Putusan Arbitrase “menolak” tersebut, akan diberitahukan secara
tertulis dalam waktu tertentu
11
10. Arbitrase International dan Nasional
a.
Tidak dikaitkan dengan status lembaga (asing atau Indonesia),
kewarganegaraan arbiter (asing atau Indonesia dan/atau hukum yang
berlaku (asing atau Indonesia).
b.
Lebih kepada dimana proses arbitrase dilakukan, diperiksa dan
diputuskan (di luar Indonesia atau di Indonesia)
12
11.
Bentuk Kelembagaan, BAPMI suatu contoh:
a. BANI : Yayasan
b. BAPMI
1). Lembaga penyelesaian sengketa komersial di bidang pasar modal di
Indonesia
a. Didirikan oleh SROs, yakni PT BEJ, PT BES (PT. BEJ dan PT BES kini
bergabung menjadi PT BEI), PT KSEI dan PT KPEI berbentuk
perkumpulan berbadan hukum (S. 1870 : 64)
b. Pada saat yang sama 17 organisasi, ikatan, himpunan, asosiasi dibidang
pasar modal membuat perjanjian dengan SROs.
c. Himdasun masuk sebagai anggota BAPMI setelah akta pendirian BAPMI
disyahkan oleh Menteri Hukum dan HAM
2).
3.
Didasarkan pada perjanjian atau kesepakatan para pihak untuk menyelesaikan
sengketanya melalui Arbitrase BAPMI, mediasi atau pendapat mengikat.
a.
b.
c.
Dalam hal Arbitrase, pemeriksaan dan penyelesaian sengketa dilakukan
oleh Arbiter Tunggal / Majelis Arbitrase
Dalam hal mediasi, mediator BAPMI akan bertindak sebagai fasilitator
untuk memungkinkan para pihak yang bersengketa menyelesaikan
sengketa mereka. Mediator tidak mengambil keputusan.
Pendapat mengikat akan diberikan oleh BAPMI sebagai lembaga.
13
Download