Tidak berjudul - e-Journal UIN Alauddin Makassar

advertisement
Ahmad Baharuddin
Menelusuri Emotional Quotient dalam Islam
MENELUSURI EMOTIONAL QUOTIENT (EQ)
DALAM ISLAM
Ahmad Baharuddin
STAI Azhari Makassar, SULSEL
Manggala Antang, Makassar
Email; [email protected]
Abstract;
Discourse on the intelligence trilogy, namely intellectual intelligence (IQ),
Emotional Intelligence (EQ) and spiritual intelligence (SQ) today, becoming one
of the ways used by a group of people to find success in life. Trilogy intelligence
has developed, both in terms of theory and findings that are ready to be held in
a practical level. The development is meant here is closely associated with the
orientation of thinking that became the basis for these findings. IQ, EQ and SQ
when touched by the revelation it will generate tremendous integration.
Emotions are always in control, be pious scientists, to directing human has a
value of monotheism. IQ, EQ and SQ are part of the repertoire of knowledge
that needs to be studied and explored, so it will be born with the knowledgebased and objective understanding especially when coupled with the
revelation.
Keywords;
Intellectual intelligence – Emotional Intelligence – Spiritual Intelligence
Abstrak:
Wacana tentang Trilogi Kecerdasan, yaitu Kecerdasan Intelektual (IQ),
Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ) saat ini, menjadi
salah satu cara yang digunakan oleh sekelompok orang untuk menemukan
kesuksesan
dalam
kehidupannya.
Trilogi
kecerdasan
mengalami
perkembangan, baik dari segi teori maupun temuan-temuan yang siap untuk
digelar dalam tataran praktis. Perkembangan yang dimaksudkan di sini sangat
erat kaitannya dengan orientasi berfikir yang menjadi landasan bagi temuantemuan tersebut. IQ, EQ dan SQ apabila tersentuh dengan wahyu maka akan
menghasilkan integrasi yang luar biasa. Emosi selalu terkendali, menjadi
ilmuan yang alim, hingga mengarahkan manusia memiliki nilai tauhid. IQ, EQ
dan SQ merupakan bagian dari khazanah keilmuan yang perlu dikaji dan
didalami, sehingga dengan ilmu tersebut akan terlahir pemahaman yang
berdasar dan obyektif terlebih saat digandengkan dengan wahyu.
Kata Kunci;
Kecerdasan Intelektual – Kecerdasan Emosional – Kecerdasan spiritual
106
AL-FIKR Volume 19 Nomor 1 Tahun 2015
Menelusuri Emotional Quotient dalam Islam
Ahmad Baharuddin
I. PENDAHULUAN
ukses merupakan cita-cita luhur dari setiap manusia di dalam
kehidupannya. Bahkan Islam mengharapkan umatnya, sukses di dunia
juga berimplikasi untuk kehidupannya di akhirat demi meraih surga yang
dijanjikan Allah swt. dengan melaksanakan segala instruksi wahyu.
Wacana tentang Trilogi Kecerdasan, yaitu Kecerdasan Intelektual (IQ),
Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ) saat ini, menjadi
salah satu cara yang digunakan oleh sekelompok orang untuk menemukan
kesuksesan dalam kehidupannya. Melalui acuan "kesuksesan" inilah, kemudian
banyak yang ambil bagian untuk mengetahui secara mendalam bahkan ada
juga yang terlibat untuk berpartisipasi dalam pelatihan-pelatihan yang digagas
oleh badan-badan atau lembaga-lembaga yang mengatas-namakan penerapan
ketiga model kecerdasan ini.
Pemilik IQ tinggi bukan jaminan untuk meraih kesuksesan. Seringkali
ditemukan pemilik IQ tinggi tetapi gagal meraih sukses; sementara pemilik IQ
pas-pasan meraih sukses luar biasa karena didukung oleh EQ. Mekanisme EQ
tidak berdiri sendiri di dalam memberikan kontribusinya ke dalam diri
mssanusia tetapi intensitas dan efektifitasnya sangat dipengaruhi oleh unsur
kecerdasan ketiga (SQ).1 Triologi kecerdasan ini selanjutnya begitu urgen untuk
dikaji.
Berdasarkan banyaknya peminat terhadap wacana tersebut, dapat
dipastikan bahwa trilogi kecerdasan mengalami perkembangan, baik dari segi
teori maupun temuan-temuan yang siap untuk digelar dalam tataran praktis.
Perkembangan yang dimaksudkan di sini sangat erat kaitannya dengan
orientasi berfikir yang menjadi landasan bagi temuan-temuan tersebut.
Orientasi berfikir ini, ada yang dilandaskan pengalaman, ada juga yang
berdasarkan pengalaman serta landasan-landasan filosofis atau dogmatis
keagamaan. Untuk landasan yang disebutkan terakhir ini sangat menarik
untuk dikaji, karena aspek kewahyuan yang merupakan salah satu sumber
dogmatis keagamaan dianggap telah berperan dalam memberikan temuantemuan yang dimaksud. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka
yang menjadi persoalan penting dalam artikel ini adalah bagaimana memaknai
Triologi Kecerdasan dan bagaimana potensi dan kekuatankecerdasan pada
manusia (IQ, EQ, dan SQ) dan kaitannya dengan Wahyu?
S
II. PEMBAHASAN
A. Definisi IQ, EQ, SQ dan Wahyu
IQ (Intelegencia Quotient) atau Kecerdasan Intelektual adalah kemampuan
intelektual, analisa, logika dan rasio. Ia merupakan kecerdasan untuk
menerima, menyimpan dan mengolah infomasi menjadi fakta.2 Gambaran alur:
menerima, menyimpan dan mengolah informasi menunjukkan akan adanya
AL-FIKR Volume 19 Nomor 1 Tahun 2015
107
Ahmad Baharuddin
Menelusuri Emotional Quotient dalam Islam
"aktifitas berfikir" bagi yang memiliki kecerdasan intelektual model ini.
Kecerdasan model ini adalah hasil temuan Alfred Binet (1857-1911) dengan
berdasarkan skor dari jawaban atas soal-soal seputar nalar dan logika.3 Akan
tetapi, para ahli merasa terlalu sederhana mengukur kecerdasan hanya
didasarkan pada nalar, mate-matika, dan logika yang diterjemahkan dalam IQ.
Hal inilah yang mendorong para ilmuwan Eropa merumuskan standar baru
untuk menilai kecerdasan seseorang. Maka lahirlah istilah EQ dan SQ yang
bersahabat dengan IQ.
EQ (Emotional Quotient) atau Kecerdasan emosional adalah kemampuan
merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan
emosi sebagai sumber energi, informasi koneksi dan pengaruh yang
manusiawi.4 Maksudnya adalah kecerdasan manusia bukan hanya terletak
pada pendayagunaan akal semata, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan
seseorang untuk memahami kondisi lingkungannya, sehingga dia dapat
berhasil dalam hidupnya.5 Kondisi memahami ini direspon manusia dengan
"aktifitas" emosinya seperti amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta,
terkejut, jengkel atau malu. Kecerdasan model ini juga dianggap sebagai kunci
utama keberhasilan pribadi seseorang.6
SQ (Spiritual Quotient) atau Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang
berfungsi untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna
yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan
hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Jenis
kecerdasan ini digulirkan pertama kali oleh Danah Zohar (dari Harvard
University) dan Ian Marshall (dari Oxford University). Menurut keduanya,
kecerdasan spiritual inilah yang merupakan puncak kecerdasan (The ultimate
Intelligence).7
Kecerdasan intelektual (IQ) banyak memfungsikan otak neo-cortex, yaitu
lapisan luar otak manusia. Otak neo-cortex inilah yang banyak digunakan untuk
melakukan perhitungan angka-angka, pengoperasian alat elektronik, belajar
bahasa asing, bahkan untuk menciptakan kapal terbang hingga bom nuklir.
Adapun kecerdasan emosial (EQ) dilakukan dalam lapisan otak lebih dalam
neo-cortex, yaitu limbic system (lapisan tengah). Sedangkan Kecerdasan spiritual
(SQ) di awali dengan ditemukannya God Spot dalam otak manusia, tepatnya
yang berada pada bagian otak.8
Penelusuran makna wahyu atau al-wahyu (dalam bahasa Arab) dapat
dilakukan melalui dua kategori pemaknaan. Pertama, yaitu al-iha' yang
menunjukkan cara pewahyuan. Kedua, yaitu al-muha bih yang menunjukkan
materi/bahan pewahyuan. Untuk kategori pertama, Wahy pada dasarnya
diartikan dengan: Pemberitahuan secara laten/tersembunyi (i'lam fi khafa'), oleh
karena itu bahasa isyarat (al-isyarah), ilham (al-ilham), bisikan (al-kalam al-khafiy),
bahkan pemberitahuan secara tulisan (al-kitabah), dan pengiriman (al-risalah)
juga disebut wahy.9 Termasuk dalam kategori ini juga perbedaan term al-wahiyy
yang berarti cepat (al-sari') dan al-wahayy, yaitu suara (al-saut).10 Dengan kata
108
AL-FIKR Volume 19 Nomor 1 Tahun 2015
Menelusuri Emotional Quotient dalam Islam
Ahmad Baharuddin
lain wahyu menurut bahasa adalah sesuatu yang disampaikan secara pelan,
tanpa diketahui orang lain baik dengan atau tanpa suara. Wahy menurut istilah
syar'iy yaitu: Pemberitahuan yang diinginkan oleh Allah kepada para Nabi
berupa ajaran-ajaran agama dan informasi lain dengan cara tersembunyi,
sehingga Nabi tersebut yakin bahwa yang mereka terima berasal dari Allah.
Kategori kedua adalah al-muha bih, terbagi kepada wahyu tertulis (al-wahy almatlu) dicontohkan dengan al-Qur’an dan wahyu yang tidak tertulis (al-wahy
gair al-matlu), yaitu hadis/sunah (statment, aksi dan "konsensus profetis"),
sebagaimana diisyaratkan dalam Q.S. al-Najm/53: 3-4.11
‫وما ينطق عن الهوى إن هو اال وحي يوحي‬
Terjemahan:
dan Tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan
hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan (kepadanya).
Dengan demikian wahyu yang dimaksudkan dalam tulisan ini
menunjukkan kepada al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw, atau secara umum
adalah dogma agama, karena dogma agama ditopang oleh kedua hal ini.
B. IQ, EQ, SQ dan Kaitannya dengan Wahyu
1. Kaitan Trilogi Kecerdasan dengan Wahyu
Sebelum melihat kaitan antara trilogi kecerdasan dengan wahyu, tentu
dalam aspek keterkaitan dengan agama yang bersumber dari al-Qur’an dan
Hadis. Ada baiknya di sini dijelaskan juga bagaimana kaitan antara ketiga
model kecerdasan ini, sehingga pada akhirnya dihubungkan dengan wahyu.
Orang-orang yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi atau di
atas rata-rata terkadang banyak yang tidak berhasil dalam kehidupan pribadi
maupun dalam aktivitas rutinnya (baca: pekerjaan). Karena orang yang ber-IQ
tinggi biasanya cenderung kurang pandai bergaul, tidak berperasaan dan egois.
Sehingga di sinilah dibutuhkan kecerdasan emosional. Orang yang telah
memiki kecerdasan emosional, mampu memahami dan beradabtasi dengan
lingkungannya, dan memanfaatkan itu untuk kesejahterannya. Namun dalam
kecerdasan emosional hanya terpaku pada tujuan sesaat, tanpa ada tujuan yang
lebih mulia. Bahkan kadang terjadi pelimpahan emosional yang tidak
terkendali. Untuk mencapai tujuan yang mulia, serta untuk mengendalikan
kondisi emosional inilah, kecerdasan spiritual berperan.12
Nasaruddin Umar mengemukakan beberapa term al-Qur'an yang
dianggap memberi isyarat tentang kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan
emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan intelektual dalam alQur’an dapat dihubungkan penggunaan term 'aql ('aqala) dalam berbagai
bentuknya, serta yang diartikan – salah satunya – sebagai predikat orang yang
mempunyai kecerdasan intelektual (baca: ulu al-bab). Seorang yang telah
mencapai predikat ulu al-bab belum tentu memiliki kecerdasan emosional atau
kecerdasan spiritual, karena ulu al-bab masih mendapat ajakan untuk bertakwa
AL-FIKR Volume 19 Nomor 1 Tahun 2015
109
Ahmad Baharuddin
Menelusuri Emotional Quotient dalam Islam
kepada Allah Q.S. al-Maidah/5: 100 dan Q. S. al-Thalaq/65: 10. Meskipun
terkadang orang yang telah termasuk ulu al-bab juga telah menyadari akan
adanya kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi di balik kemampuan akal pikiran
(Q. S. al-Baqarah/2: 269 dan Q. S. al-Zumar/39: 9). Kecerdasan intelektual
bukanlah jaminan untuk memperoleh kualitas spiritual yang lebih baik, karena
terbukti banyak orang cerdas intelektual tetapi tetap ingkar kepada Tuhan,
seperti dalam Q.S. al-Baqarah/2: 75. Di dalam al-Qur’an aktifitas kecerdasan
emosional seringkali dihubungkan dengan kalbu, atau term lain yang mirip
dengan aktifitas kalbu. Dengan demikian kata "qalb" dapat diartikan dengan
emosi. Jika ada emosi yang cerdas dan tidak cerdas, maka emosi cerdas
ditunjukkan dalam al-Qur’an dengan pengungkapan qalb yang positif, seperti:
Kalbu yang damai (qalb salim) (Q.S. al-Syu'arā/26: 89), kalbu yang penuh rasa
takut (qalb munib) (Q.S.Qāf/50: 33), kalbu yang tenang (qalb mumainnah) (Q.S.
al-Nahl/16: 106), kalbu yang berfikir (ya'qilu bihi) (Q.S.al-H{aj/22: 46) dan kalbu
yang mukmin (qalb mu'min) (Q.S.al-Fath/48: 4). Adapun emosi yang tidak
cerdas digambarkan dengan kondisi qalb yang negatif, seperti: Kalbu yang
sewenang-wenang (qalb mutakabbir jabbar) (Q.S. Gafir/40: 35), kalbu yang
sakit (qalb mard) (Q.S. al-Ahzab/33: 32), kalbu yang melampaui batas (qalb
mu'tad) (Q.S.Yunus/10:74), kalbu yang berdosa (qalb mujrim) (Q.S.al-Hijr/15:
12), kalbu yang terkunci (qalb makhtum) (Q.S.al-Baqarah/2: 7) dan kalbu yang
terpecah-pecah (qulub syatta) (Q.S.al-Hasyr/59:14).13 Dalam hadis juga ada
isyarat yang menyatakan pentingnya menjaga hati, yang dibahasakan dengan
mudgah, yaitu qalb.14
Dengan demikian SQ adalah kecerdasan yang menyangkut fungsi jiwa
sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan
dalam melihat makna yang ada dibalik kenyataan apa adanya. Orang yang
memiliki SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi
makna positif pada setiap peristiwa, bahkan masalah yang dialaminya. Dengan
memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya,
melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. SQ (berdasarkan sistem syaraf
otak, yakni osilasi-saraf sinkron yang menyatukan data di seluruh bagian otak)
untuk pertama kalinya menawarkan kepada kita proses ketiga yang aktif.15
Proses ini menyatukan, mengintegrasikan, dan berpotensi mengubah materi
yang timbul dari dua proses lainnya. SQ memfasilitasi suatu dialog antara akal
dan emosi, antara pikiran dan tubuh. SQ menyediakan pusat pemberian makna
yang aktif dan menyatu bagi diri.
Menurut Pasiak setidaknya ada empat bukti penelitian yang
memperkuat dugaan adanya potensi spiritual dalam otak manusia: (1) Osilasi
40 Hz yang ditemukan Denis Pare dan Rudolpho Linas, yang kemudian
dikembangkan menjadi spiritual intelligence oleh Danah Zohar dan Ian Marshal.
(2) Alam bawah sadar kognitif yang ditemukan oleh Joseph de Loux dan
kemudian dikembangkan menjadi emotional intelligence oleh Daniel Goleman
serta Robert Cooper dengan konsep suara hati. (3) God Spot pada daerah
110
AL-FIKR Volume 19 Nomor 1 Tahun 2015
Menelusuri Emotional Quotient dalam Islam
Ahmad Baharuddin
temporal yang ditemukan oleh Michael Persinger dan Vilyanur Ramachandran,
serta gangguan perilaku moral pada pasien dengan kerusakan lobus prefrontal.
(4) Somatic Marker oleh Antonio Damasio. Keempat bukti ini memberikan
informasi tentang adanya hati nurani atau intuisi dalam otak manusia.16
Penelitian Pasiak ini membuktikan bahwa potensi spiritual memang ada dalam
diri manusia.
Kecerdasan Spiritual, masih menurut Nasaruddin Umar, bukanlah hal
yang baru dalam Islam. Wacana ini berkaitan dengan keberadaan al-ruh yang
termuat dalam al-Qur’an. Ruh ini dianggap sebagai bentuk intervensi langsung
Allah swt. dalam diri manusia, tanpa "melibatkan" pihak-pihak lain
sebagaimana maklum dalam proses penciptaan manusia. Bisa dilihat dalam
peniupan ruh yang rekam ulang dalam beberapa ayat al-Qur’an seperti: Q.S. alHijr/15: 29, Q.S. Sad/38: 72.17
Kaitan yang sangat jelas juga tampak ketika Ary Ginanjar menggulirkan
temuannya yang disebut ESQ Model, yaitu suatu sistem terpadu dan sistematis
yang mensinergikan tiga landasan kecerdasan (IQ, EQ, dan SQ) dalam satu
sistem yang padu. ESQ Model ini, diformulasikan dari dimensi spiritual (SQ)
dengan Ihsan, dan dimensi mental (EQ) yang dibangun oleh 6 prinsip rukun
Iman, serta aktifitas fisik yang dikendalikan oleh 5 rukun Islam.18
2. Meta Kecerdasan (Hubungan kerja IQ, EQ dan SQ)
Kecerdasan emosi (EQ), kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan
spritual (SQ), sangat berkaitan erat satu dengan yang lain. Hal ini dapat
diperhatikan dari bagan di bawah ini:
AL-FIKR Volume 19 Nomor 1 Tahun 2015
111
Ahmad Baharuddin
Menelusuri Emotional Quotient dalam Islam
C. Bagan Meta Kecerdasan
Dari bagan tersebut dapat kita lihat, apabila kita berorientasi pada
Tauhid, maka hasilnya adalah EQ, IQ dan SQ yang berintegrasi. Pada saat
masalah datang (1) maka radar hati akan bereaksi menangkap signal (2).
Karena berorientasi pada materailisme (3B), maka emosi yang dihasilkan
adalah emosi yang tidak terkendali, sehingga menghasilkan sikap-sikap sbb:
marah, sedih, kesal dan takut (4B). akibat emosi yang tak terkendali, God Spot
menjadi terbelenggu atau suara hati tidak memiliki peluang untuk muncul (5B).
Bisikan ilahiah yang bersifat mulia tidak bisa lagi didengar dan menjadi tidak
berfungsi, ini mengakibatkan ia tak mampu berkolaborasi dengan piranti
kecerdasan yang lain (6B). Karena suara hati tertutup, maka yang paling
memegang peranan adalah emosi. Emosilah yang memberikan perintah sektor
112
AL-FIKR Volume 19 Nomor 1 Tahun 2015
Menelusuri Emotional Quotient dalam Islam
Ahmad Baharuddin
kecerdasan intelektual IQ. IQ akan menghitung, tetapi berdasarkan dorongan
kemarahan, kekecewaan, kesedihan, iri hati, dan kedengkian (7B). bayangkan
apa yang terjadi kemudian!.19
Kasus lain, ketika masalah atau tantangan muncul (1) radar hati
langsung menangkap getaran signal (2). Ketika signal menyentuh dinding
Tauhid (3A), Kesadaran Tauhid mengendalikan emosi, hasilnya adalah emosi
yang terkendali, seperti rasa tenang dan damai (4A). dengan ketenangan emosi
yang terkendali itu, maka God Spot atau pintu hati itu terbuka dan bekerja
(5A). terdengarlah bisikan sayang, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian,
kreativitas, komitmen, kebersamaan, perdamaian dan bisikan hati mulia
lainnya (6A). berdasarkan dorongan bisikan mulia itulah potensi kecerdasan
intelektual bekerja dengan optimal (7A), yaitu sebuah perhitungan
intelektualitas yang berlandanskan pada nilai-nilai keadilan, kejujuran dan
tanggung jawab. Lahirlah sebuah Meta Kecerdasan, yaitu integrasi EQ, IQ dan
SQ.20
Sederhananya, bahwa Tauhid akan mampu menstabilkan tekanan pada
amyglada (sistem saraf emosi), sehingga emosi selalu terkendali. Pada saat
inilah seseorang dikatakan memiliki EQ tinggi. Emosi yang tenang terkendali
akan menghasilkan optimilisasi pada fungsi kerja God Spot pada lobus temporal
serta mengeluarkan suara hati ilahiah dari dalam bilik peristirahatannya.
Suara-suara ilahiah itulah bisikan informasi maha penting yang mampu
menghasilkan keputusan yang sesuai dengan hukum alam, sesuai dengan
situasi yang ada dan sesuai garis orbit spritualitas. Pada momentum inilah
seseorang dikatakan memiliki kecerdasan spritual (SQ) yang tinggi. Barulah
dilanjutkan dengan mengambil langkah konkret lainnya berupa perhitungan
yang logis (IQ), sehingga intelektualitas bergerak pada manzilah, atau garis edar
yang mengorbit kepada Allah Yang Maha Esa (SQ). Inilah yang dinamakan
dengan Meta Kecerdasan itu.21
III. PENUTUP
Trilogi kecerdasan ini dimaksudkan dengan SQ, EQ dan IQ. IQ atau
intelegensi question adalah kecerdasan intelektual seesorang dengan
memfungsikan otak lapisan luar otak manusia. Sementara EQ adalah
kecerdasan emosi dengan berfungsinya lapisan otak lebih dalam. Sedangkan
SQ adalah kecerdasan yang paling inti yaitu kemampuan spritual seseorang
dalam menguasai dirinya berdasarkan sentuhan wahyu, hal ini berfungsi pada
tataran God Spot yang berada dalam otak manusia.
IQ, EQ dan SQ apabila tersentuh dengan wahyu maka akan
menghasilkan integrasi yang luar biasa. Emosi selalu terkendali, menjadi
ilmuan yang alim, hingga mengarahkan manusia memiliki nilai tauhid. IQ, EQ
dan SQ merupakan bagian dari khazanah keilmuan yang perlu dikaji dan
didalami, sehingga dengan ilmu tersebut akan terlahir pemahaman yang
berdasar dan obyektif terlebih saat digandengkan dengan wahyu.
AL-FIKR Volume 19 Nomor 1 Tahun 2015
113
Ahmad Baharuddin
Menelusuri Emotional Quotient dalam Islam
Endnotes
1
Lihat http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/tasauf/09/02/05/29676- isyarat isyarat- iq -eq-dan-sq- dalam-al-qur-an (diakses 24 Oktober 2014)
2
A. Winarno dan Tri Saksono, Kecerdasan Emosional (Jakarta: LAN, 2001), h. 4.
3
http://www.dudung.net/print-artikel/cerdas-tak-hanya-di-atas-kertas.html (diakses 24 Oktober
2014)
4
A. Winarno dan Tri Saksono, Kecerdasan Emosional, h. 8.
5
Daniel Goleman, Working with Emotional Intelligence (New York: Bantam Books, 1999), h.
19.
6
Daniel Goleman, Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional Mengapa Lebih Penting
daripada IQ) (Jakarta: PT. Gramedia Pusaka Utama, 2000), h. 411-412.
7
Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ
Emotional Spiritual Quotient: The ESQ Way 165 1 Ihsan, 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam (Jakarta:
Arga Wijaya Persada, 2001), h. 11.
8
Ibid.
9
Muhammad bin Mukram bin Manzur al-Afriqi al-Misri, Lisan al-'Arab, Juz XV (Cet. I: Beirut:
Dar Sadir, t.th.), h. 379.
10
Abu al-Husain Ahmad bin Faris bin Zakariya, Mu'jam Maqayis al-Lugah, pentahqiq 'Abd alSalam Muhammad Harun, juz VI, (t.t: Dar Fikr, 1979), h. 93.
11
Muhammad Muhammad Abu Zahwu, Al-Hadis wa al-Muhaddisūn (Cet. I; Mesir: Syirkah
Mahimah Misriyah, 1958), h. 11, 12, 14, 15.
12
Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power: Sebuah Inner Journey
melalui Al-Ihsan (Jakarta: Arga, 2003), h. 60-61.
http://www.republika.co.id/berita/29676/Isyarat_isyarat_IQ_EQ_dan_SQ_dalam_Alqur’an
13
14
Abu 'Abd al-Lah Muhammad bin Isma'il al-Bukhari al-Ja'fi, Sahih al-Bukhari, pentahqiq
Mustafa Daib al-Bagha, juz I, (Cet. III; Beirut: Dar Ibn Kasir, 1987), h. 28.
15
Nirmala,
Cara
Efektif
Membangkitkan
Kecerdasan
Spiritual,
lihat
http://erbesentanu.com/technospirituality/70-cara-efektif-membangkitkan-kecerdasan-spiritual,
diakses
pada tanggal 06 Agustus 2012.
16
Taufik Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ antara Naurosains dan Al-Qur’an, (Bandung, Mizan, 202),
17
http://www.republika.co.id/berita/29676/Isyarat_isyarat_IQ_EQ_dan_SQ_dalam_ Alquran
h. 27.
18
Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power (Cet. V: Jakarta; Penerbit
Arga, 2004), h. xix.
19
Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power (Cet. V: Jakarta; Penerbit
Arga, 2004), h. 217.
20
Ibid.
114
AL-FIKR Volume 19 Nomor 1 Tahun 2015
Menelusuri Emotional Quotient dalam Islam
Ahmad Baharuddin
21
Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power (Cet. V: Jakarta; Penerbit
Arga, 2004), h. 218.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur'an al-Karim
Abu Zahwu, Muhammad Muhammad. Al-Hadis wa al-Muhaddisun. Cet. I;
Mesir: Syirkah Mahimah Misriyah, 1958.
Agustian, Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power: Sebuah Inner
Journey melalui Al-Ihsan. Jakarta: Arga, 2003.
_______________ . Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ
Emotional Spiritual Quotient: The ESQ Way 165 1 Ihsan, 6 Rukun Iman dan
5 Rukun Islam. Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001.
Goleman, Daniel. Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional Mengapa Lebih
Penting daripada IQ). Jakarta: PT. Gramedia Pusaka Utama, 2000.
_____________. Working with Emotional Intelligence. New York: Bantam Books,
1999.
Ibn Zakariya, Abu al-Husain Ahmad bin Faris. Mu'jam Maqayis al-Lugah,
pentahqiq 'Abd al-Salam Muhammad Harun. Juz VI. t.t: Dar Fikr, 1979.
al-Ja'fi, Abu 'Abd al-Lah Muhammad bin Isma'il al-Bukhari. Sahih al-Bukhari,
pentahqiq Mustafa Daib al-Bagha. Juz I. Cet. III; Beirut: Dar Ibn Kasir,
1987.
al-Misri, Muhammad bin Mukram bin Manzur al-Afriqi. Lisan al-'Arab. Juz XV.
Cet. I; Beirūt: Dar Sadir, t.th.
Winarno. A. dan Tri Saksono, Kecerdasan Emosional. Jakarta: LAN, 2001.
https://www.academia.edu/2583855/IQ_EQ_SQ_dan_Kaitannya_dengan_Wa
hyu diakses 23 oktober 2014.
AL-FIKR Volume 19 Nomor 1 Tahun 2015
115
Download