akibat hukum bagi pelaku usaha yang melakukan pelanggaran

advertisement
AKIBAT HUKUM BAGI PELAKU USAHA YANG MELAKUKAN
PELANGGARAN TERHADAP LABEL PADA PRODUK PANGAN
IDA AYU WINDHARI KUSUMA PRATIWI
Fakultas Hukum Universitas Tabanan
ABSTRACT
Nowadays we can find so many food products that comes from the country and abroad. In
the food packaging there are a label that contains information about the product such as kind of food,
the content, quality, etc. The information has a very important meaning for the consumer. From the
information on the label, they can make choices before purchasing or consuming the food product.
However, there are many cases of infringement doing by the irresponsible people . This is
causing negative affect for the the product, such as the quality of goods, misleading information,
forgery, etc. Misleading label has bad affect for the health of consumers who consume the food
product.
This study aims to know about the rules concerning the labeling of food products in relation
to the principles of consumer protection and legal consequences for businessmen who doing
infringement of the labels on food products
The rules of labeling food products in this case do not fill the principles of consumer
protection yet, such as the principle of utility, the principle of legal certainty and the principle of
security and safety of consumers. It can be seen from the definition of the label itself is still causing
problems. The label can be forged, which was just a patch label / sticker it can be easily removed and
replaced by businessmen who cheat. However, it is still possibility for exceptions to the use of
Bahasa, also cause the principles of consumer protection to be ignored.
The legal consequences for businessmen who doing infringement of the label on a food
product can be demand with civil, criminal and administrative sanction. The form of civil sanction is
compensation. There are two levels of criminal sanctions, such as imprisonment for a period of 2
(two) years or a maximum fine Rp.500.000.000,00 (five hundred million rupiah) and imprisonment
for a period of 5 (five) years or a maximum fine Rp. 2,000,000,000.00 (two billion rupiah). Meanwhile
the form of administrative sanction are written warnings, orders to product recall, destruction of food
product, cessation of production , the payment of fines and revocation of production licenses or
business licenses .
Keywords: Infringement, Label, Consumer Protection, Legal Consequence
PENDAHULUAN
Kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi merupakan motor penggerak bagi
produktivitas dan efisiensi produsen atas
barang dan jasa yang dihasilkan dalam rangka
mencapai sasaran usaha. Saat ini banyak
beredar berbagai produk lokal maupun produk
yang berasal dari luar negeri (import) di
kalangan masyarakat. Salah satunya adalah
produk pangan dalam bentuk makanan dan
minuman. Pada setiap produk pangan
tercantum label
yang melekat pada
kemasannya. Label tersebut berisi informasi
mengenai produk tersebut.Informasi tersebut
memiliki arti yang sangat penting bagi
konsumen. Dari informasi pada label,
konsumen dapat menentukan pilihan sebelum
membeli atau mengkonsumsi produk pangan
tersebut. Tanpa adanya informasi yang jelas
maka kecurangan-kecurangan dapat terjadi.
Menurut sumbernya, informasi barang
dan jasa tersebut dapat dibedakan menjadi tiga.
Pertama, informasi dari kalangan Pemerintah
dapat diserap dari berbagai penjelasan, siaran,
keterangan, penyusun peraturan perundangundangan secara umum atau dalam rangka
deregulasi dan/atau tindakan pemerintah pada
Majalah Ilmiah Untab, Vol. 13 No. 1 Maret 2016
37
umumnya atau tentang suatu produk konsumen.
Dari sudut penyusunan peraturan perundangundangan terlihat informasi itu termuat sebagai
suatu keharusan. Beberapa diantaranya
ditetapkan harus dibuat baik dicantumkan
maupun dimuat
didalam wadah atau
pembungkusnya (antara lain label dari produk
makanan dalam kemasan sebagaimana diatur
dalam PP No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan
Iklan Pangan). Sedangkan untuk produk hasil
industry lainnya, informasi tentang produk itu
terdapat dalam bentuk standar yang ditetapkan
oleh Pemerintah, standar internasional atau
standar lain yang ditetapkan oleh pihak yang
berwenang. Kedua informasi dari konsumen
atau organisasi konsumen tampak pada
pembicaraan dari mulut ke mulut tentang suatu
produk konsumen, surat-surat pembaca pada
media massa, berbagai siaran kelompok
tertentu, tanggapan atau protes organisasi
konsumen
menyangkut
suatu
produk
konsumen. Siaran pers organisasi konsumen
seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
(YLKI) tentang hasil-hasil penelitian dan/atau
riset produk konsumen tertentu dapat
ditemukan pada harian-harian umum, majalah
dan/atau berita resmi YLKI, yaitu warta
konsumen. Ketiga, informasi dari kalangan
pelaku usaha (penyedia dana, produsen,
importer atau pihak lain yang berkepentingan),
diketahui sumber-sumber informasi itu
umumnya terdiri dari berbagai bentuk iklan
baik melalui media non elektronik atau
elektronik, label termasuk pembuatan berbagai
selebaran seperti brosur, pamflet, katalog dan
lain-lain. Bahan-bahan informasi ini pada
umumnya disediakan atau dibuat oleh kalangan
usaha dengan tujuan memperkenalkan
produknya,
mempertahankan
dan/atau
meningkatkan pangsa pasar produk yang telah
dan/atau ingin lebih lanjut diraih. (Taufik
Simatupang,2004)
Diantara berbagai informasi tentang
barang dan jasa yang diperlukan konsumen,
pada saat ini yang paling berpengaruh adalah
informasi yang bersumber dari kalangan pelaku
usaha. Terutama dalam bentuk iklan dan label,
tanpa mengurangi pengaruh dari berbagai
bentuk informasi pengusaha lainnya. (Celine
Tri Siwi Kristiyanti, 2008). Keberadaan
38
konsumen yang tidak terbatas dengan strata
kehidupan
yang
sangat
bervariasi
menyebabkan produsen dalam hal ini pelaku
usaha melakukan kegiatan pemasaran serta
distribusi produk barang dan/atau jasa tersebut
dengan cara seefektif mungkin untuk untuk
dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang
sangat majemuk. Namun beberapa oknum
pelaku usaha melakukan berbagai cara untuk
memasarkan produknya dengan cara yang tidak
terpuji. Hal ini tentu berdampak buruk terhadap
produk yang dihasilkan antara lain mengenai
kualitas atau mutu barang, informasi yang tidak
jelas dan menyesatkan, pemalsuan dan lain
sebagainya. Label yang tidak jujur dan
menyesatkan sangat berakibat buruk terhadap
perkembangan kesehatan konsumen yang
mengkonsumsi produk pangan tersebut
Pentingnya informasi yang akurat dan
lengkap atas suatu barang dan jasa mestinya
menyadarkan pelaku usaha untuk menghargai
hak-hak konsumen, memproduksi barang dan
jasa yang berkualitas, aman dikonsumsi atau
digunakan serta mengikuti standar yang berlaku
dengan harga yang wajar (reasonable).
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
pemaparan
diatas
dapat
dirumuskan pokok permasalahan sebagai
berikut:
1. Bagaimanakah ketentuan pelabelan produk
pangan dalam kaitannya dengan asas
perlindungan konsumen?
2. Bagaimanakah akibat hukum bagi pelaku
usaha yang melakukan pelanggaran
terhadap label pada produk pangan?
Ketentuan Pelabelan Produk Pangan Dalam
Kaitannya Dengan Asas Perlindungan
Konsumen
UU No.8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen tidak mengatur secara
spesifik mengenai pelabelan khususnya produk
pangan. Namun hal ini diatur dalam Peraturan
Pemerintah No.69 Tahun 1999 tentang Label
dan Iklan Pangan. Dalam hal ini produsen dan
importir
pangan
berkewajiban
untuk
memberikan keterangan yang benar serta tidak
menyesatkan tentang pangan dalam label.Bagi
Ida Ayu Windhari Kusuma Pratiwi, Akibat Hukum Bagi Pelaku Usaha Yang ...
konsumen, informasi tentang barang dan/atau
jasa memiliki arti yang sangat penting. (A.Z.
Nasution, 1995) Akan tetapi jika diperhatikan
label pangan yang beredar saat ini terdapat
beragam informasi didalamnya, mulai dari
nama produk tersebut hingga kata-kata atau
kalimat yang berlebihan yang bertujuan untuk
kepentingan promosi semata.
Menurut Pasal 1 angka 3 PP No.69
Tahun 1999 yang dimaksud dengan label
pangan adalah setiap keterangan mengenai
pangan yang berbentuk gambar, tulisan,
kombinasi keduanya atau bentuk lain yang
disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam,
ditempelkan pada atau merupakan bagian
kemasan pangan.
Penggunaan kata ditempel pada
pengertian label menimbulkan persoalan yaitu
terdapat kesan bahwa label dapat ditempel
kapan pun, padahal pada dasarnya label
merupakan bagian tak terpisah dari kemasan.
Penggunaan kata ditempel juga terkesan
terpisah dan bisa dipalsukan. Selain bisa
dipalsukan, label yang hanya erupa
tempelan/stiker dapat dengan mudah dicabut,
diganti kemudian dlabeli kembali oleh pelaku
usaha yang curang.
Pelabelan kembali dengan cara
mencabut, mengganti label tempelan sangat
mudah untuk dilakukan bila dibandingkan jika
produk tersebut labelnya disertakan pada
kemasan pangan atau yang dimasukkan ke
dalam kemasan pangan.
Kecenderungan
untuk
mencapai
keuntungan yang tinggi secara ekonomis
ditambah dengan persaingan yang tidak sehat di
dalam berusaha dapat mendorong sebagian
pelaku usaha untuk bertindak curang dan tidak
jujur. Kecurangan tidak hanya akan merugikan
konsumen saja, tetapi juga merugikan pelaku
usaha yang jujur dan bertanggung jawab.
Konsumen harus dilindungi dari segala bahaya
yang mengancam kesehatan, jiwa dan harta
bendanya karena memakai atau mengkonsumsi
produk
(khususnya
pangan).
(http://bataviase.co.id, 2010) Kesempatan
untuk mengembangkan dan meningkatkan
usaha bagi pelaku usaha yang bertanggung
jawab dapat dicapai melalui penindakan
terhadap pelaku usaha yang melakukan
kecurangan dalam kegiatan usahanya.
Di
dalam
usaha
memberikan
perlindungan hukum terhadap konsumen
terdapat beberapa asas yang terkandung dalam
ketentuan pasal 2 UU No. 8 Tahun 1999 yaitu
sebagai berikut:
1. Asas manfaat, dimaksudkan bahwa segala
upaya
dalam
penyelenggaraan
perlindungan konsumen harus memberikan
manfaat
sebesar-besarnya
bagi
kepentingan konsumen dan pelaku usaha
secara keseluruhan.
2. Asas
keadilan, dimaksudkan agar
partisipasi
seluruh
rakyat
dapat
diwujudkan
secara
maksimal
dan
memberikan
kesempatan
kepada
konsumen dan pelaku usaha untuk
memperoleh haknya dan melaksanakan
kewajibannya secara adil.
3. Asas keseimbangan, dimaksudkan untuk
memberikan
keseimbangan
antara
kepentingan konsumen, pelaku usaha dan
pemerintah dalam arti materiil ataupun
spriritual.
4. Asas
keamanan
dan
keselamatan
konsumen
dimaksudkan
untuk
memberikan jaminan atas keamanan dan
keselamatan kepada konsumen dalam
penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan
barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau
digunakan.
5. Asas kepastian hukum, dimaksudkan agar
baik pelaku usaha maupun konsumen
menaati hukum dan memperoleh keadilan
dalam penyelenggaraan perlindungan
konsumen serta Negara menjamin
kepastian hukum.
Dengan adanya peluang untuk berbuat
curang dalam pelabelan karena ketentuan yang
terlalu mudah, maka potensi kerugian bagi
konsumen dan pelaku usaha yang jujur semakin
besar. Sehingga jelas dalam hal ini asas manfaat
dan asas keselamatan dan keamanan konsumen
tidak terpenuhi.
Pada Pasal 2 PP No.69 Tahun 1999
menyebutkan:
(1) Setiap orang yang memproduksi atau
memasukkan pangan yang dikemas ke
dalam
wilayah
Indonesia
untuk
Majalah Ilmiah Untab, Vol. 13 No. 1 Maret 2016
39
diperdagangkan wajib mencantumkan
label pada, di dalam dan atau di kemasan
pangan.
(2) Pencantuman label sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan sedemikian rupa
sehingga tidak mudah lepas dari
kemasannya, tidak mudah luntur atau rusak
serta terletak pada bagian kemasan pangan
yang mudah untuk dilihat dan dibaca.
Kemudian di dalam Pasal 3 PP No.69 Tahun
1999 ditentukan bahwa:
(1) Label sebagaimana dimaksud pada Pasal 2
ayat (1) berisikan keterangan mengenai
pangan yang bersangkutan.
(2) Keterangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) sekurang-kurangnya:
a. Nama produk;
b. Daftar bahan yang digunakan;
c. Berat bersih atau isi bersih;
d. Nama dan alamat pihak yang
memproduksi atau memasukkan pangan
ke dalam wilayah Indonesia;
e. Tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa.
Pada point a,b,c Pasal 3 ayat (2) disebut
sebagai bagian utama dari label. Yang
dimaksud bagian utama yaitu bagian yang
memuat keterangan paling penting untuk
diketahui konsumen. Bagian keempat belas PP
No.69 Tahun 1999 menentukan mengenai
keterangan lain yang wajib dicantumkan pada
label untuk pangan olahan tertentu.
Pasal 38: Keterangan pada label tentang pangan
olahan yang diperuntukkan bagi bayi, anak
berumur dibawah lima tahun, ibu yang sedang
hamil atau menyusui, orang yang menjalani diet
khusus, orang lanjut usia dan orang berpenyakit
tertentu wajib memuat keterangan tentang
peruntukan, cara penggunaan dan atau
keterangan lain yang perlu diketahui termasuk
mengenai dampak pangan tersebut terhadap
kesehatan manusia.
Pasal 39
(1) Pada Label untuk pangan olahan yang
memerlukan
penyiapan
dan
atau
penggunaannya dengan cara tertentu, wajib
dicantumkan keterangan tentang cara
penyiapan dan atau penggunaannya
dimaksud.
(2) Apabila
tercantum
keterangan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
40
tidak munkin dilakukan pada Label, maka
pencantuman
keterangan
dimaksud
sekurang-kurangnya
dilakukan
pada
wadah atau kemasan pangan.
Pasal 40 : dalam hal mutu suatu pangan
tergantung pada cara penyimpanan atau
memerlukan cara penyimpanan khusus, maka
petunjuk tentang cara penyimpanan harus
dicantumkan pada Label.
Lebih lanjut pada Pasal 15 PP No.69
Tahun 1999 menetukan bahwa keterangan pada
label ditulis atau dicetak dengan menggunakan
bahasa Indonesia, angka Arab dan huruf latin.
Dalam bagian penjelasan dari Pasal ini
disebutkan bahwa ketentuan ini dimaksudkan
agar pangan olahan yang diperdagangkan di
Indonesia harus menggunakan label dalam
bahasa Indonesia.
Kemudian Pasal 16 menyebutkan:
(1) Penggunaan bahasa selain bahasa Indonesia,
angka Arab dan huruf Latin diperbolehkan
sepanjang tidak ada padanannya atau tidak
dapat diciptakan padanannya atau dalam
rangka perdagangan pangan ke luar negeri.
(2) Huruf dan angka yang tercantum pada Label
harus jelas dan mudah dibaca.
Ketentuan pasal ini tidak ada
penjelasannya sehingga menimbulkan banyak
pertanyaan dan dapat pula ditafsirkan macammacam. Bagian mana dari label itu yang boleh
menggunakan bahasa selain bahasa Indonesia,
angka Arab dan huruf Latin karena tidak ada
padanannya atau tidak dapat diciptakan
padanannya dalam Bahasa Indonesia, hal ini
tidak diberi penjelasan.
Pengecualian
penggunaan
bahasa
Indonesia dalam label karena tidak ada
padanannya atau tidak dapat diciptakan
padanannya dalam bahasa Indonesia justru
akan membuka peluang bagi pelaku usaha
untuk memperdagangkan produk pangan yang
tidak dimengerti oleh konsumen sehingga
berpotensi menimbukan kerugian karena akibat
dari kendala bahasa maka pesan dari informasi
suatu produk tidak dapat dimengerti oleh
konsumen.
Oleh karena itu asas manfaat, asas
kepastian hukum serta asas keamanan dan
keselamatan konsumen tidak dapat dipenuhi.
Permasalahan dalam Pasal 16 PP No.69 tahun
Ida Ayu Windhari Kusuma Pratiwi, Akibat Hukum Bagi Pelaku Usaha Yang ...
1999 tidak hanya diberikannya lagi peluang
tidak menggunakan bahasa Indonesia dalam
label, permasalahan lainnya juga pasal tersebut
tidak memberi penjelasan, dalam hal
perdagangan pangan ke luar negeri (ekspor)
bahasa apa yang harus dipergunakan, bahasa
Inggris, bahasa Latin atau bahasa lain.
Akibat Hukum Bagi Pelaku Usaha Yang
Melakukan Pelanggaran Terhadap Label
Pada Produk Pangan
Produsen sebagai pelaku usaha memiliki
tugas dan kewajiban untuk turut serta
menciptakan dan menjaga iklim usaha yang
sehat. Kewajiban pelaku usaha untuk selalu
beritikad baik dalam melakukan kegiatannya
berarti bahwa pelaku usaha ikut bertanggung
jawab untuk menciptakan iklim yang sehat
dalam berusaha demi menunjang pembangunan
nasional. Hal ini merupakan tanggung jawab
public yang diemban oleh seorang pelaku
usaha.
Dalam hal pelanggaran yang dilakukan
oleh pelaku usaha maka kepadanya dikenakan
sanksi sebagai akibat hukum dari pelanggaran
tersebut. Pemberian sanksi sebagai akibat
hukum dari suatu pelanggaran ini sangat
penting mengingat bahwa menciptakan iklim
berusaha yang sehat membutuhkan keseriusan
dan ketegasan. Sanksi merupakan salah satu
alat untuk mengembalikan keadaan pada
keadaan semula pada saat
telah terjadi
pelanggaran (rehabilitasi) sekaligus sebagai
alat preventif bagi pengusaha lain sehingga
tidak terulang lagi perbuatan yang sama.
Terkait dengan pelanggaran pada label
produk pangan yang dilakukan pelaku usaha,
terdapat sanksi sebagaimana diatur dalam UU
No.8 Tahun 1999. Sanksi ini dapat berupa
sanksi perdata, sanksi pidana maupun sanksi
administrative.
Pada pasal 8 UU No.8 Tahun 1999
mengatur larangan bagi pelaku usaha yang
bersifat umum yang dapat dibagi menjadi 2
(dua), yaitu:
a. Larangan mengenai produk itu sendiri,
yang tidak memenuhi syarat dan standar
yang layak untuk dipergunakan atau
dipakai atau dimanfaatkan oleh konsumen.
b. Larangan mengenai ketersediaan informasi
yang tidak benar, tidak akurat dan yang
menyesatkan konsumen.
Masuk dalam kualifikasi larangan
kedua adalah pelanggaran yang dilakukan
pelaku usaha dalam pelabelan.Tanggung jawab
pelaku usaha atas kerugian konsumen dalam
UU No.8 Tahun 1999 diatur khusus dalam Bab
VI, pasal 19 sampai dengan Pasal 28.
Pasal 19
(1) Pelaku
usaha
bertanggung
jawab
memberikan ganti rugi atas kerusakan,
pencemaran dan/atau kerugian konsumen
akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa
yang dihasilkan atau diperdagangkan.
(2) Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat berupa pengembalian uang
atau penggantian barang dan/atau jasa yang
sejenis atau setara nilainya, atau perawatan
kesehatan dan/atau pemberian santunan
yang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
(3) Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam
tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah
tanggal transaksi.
(4) Pemberian ganti rugi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak
menghapuskan kemungkinan adanya
tuntutan pidana berdasarkan pembuktian
lebih lanjut mengenai adanya unsur
kesalahan.
(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku apabila
pelaku usaha dapat membuktikan bahwa
kesalahan tersebut merupakan kesalah
konsumen.
Pasal 20: pelaku usaha periklanan bertanggung
jawa atas iklan yang diproduksi dan segala
akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.
Pasal 21
(1) Importir barang bertanggung jawab
sebagai pembuat barang yang diimport
apabila importasi barang tersebut tidak
dilakukan oleh agen atau perwakilan
penyedia jasa asing.
(2) Importer jasa bertanggung jawab sebagai
penyedia jasa asing apabila penyediaan
jasa asing tersebut tidak dilakukan oleh
agen atau perwakilan penyedia jasa asing.
Majalah Ilmiah Untab, Vol. 13 No. 1 Maret 2016
41
Pasal 22: pembuktian terhadap ada tidaknya
unsur kesalahan dalam kasus pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (4),
Pasal 20 dan Pasal 21 merupakan beban dan
tanggung jawab pelaku usaha tanpa menutup
kemungkinan bagi jaksa untuk melakukan
pembuktian.
Pasal 23: pelaku usaha yang menolak dan/atau
tidak memberi tanggapan dan/atau tidak
memenuhi ganti rugi atas tuntutan konsumen
sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat
(1)(2)(3)(4) dapat digugat melalui badan
penyelesaian sengketa konsumen atau
mengajukan ke badan peradilan di tempat
kedudukan konsumen.
Pasal 24
(1) Pelaku usaha yang menjual barang dan/atau
jasa kepada pelaku usaha lain bertanggung
jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau
gugatan konsumen apabila : a. pelaku usaha
lain menjual kepada konsumen tanpa
melakukan perubahan apapun atas barang
dan/atau jasa tersebut; b.usaha lain, di dalam
transaksi jual beli tidak mengetahui adanya
perubahan barang dan/atau jasa yang
dilakukan oleh pelaku usaha atau tidak
sesuai dengan contoh , mutu dan komposisi.
(2) Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dibebaskan dari tanggung jawab atas
tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan
konsumen apabila pelaku usaha lain yang
membeli barang dan/atau jasa menjual
kembali
kepada
konsumen
dengan
melakukan perubahan atas barang dan/atau
jasa tersebut.
Pasal 25
(1) Pelaku usaha yang memproduksi barang
yang pemanfaatannya berkelanjutan dalam
batas waktu sekurang-kurangnya 1 (satu)
tahun wajib menyediakan suku cadang
dan/atau fasilitas purna jual dan wajib
memenuhi jaminan atau garansi sesuai
dengan yang diperjanjikan.
(2) Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) bertanggung jawab atas tuntutan
ganti rugi dan/atau gugatan konsumen
apabila pelaku usaha tersebut: a. tidak
menyediakan atau lalai menyediakan suku
cadang dan/atau fasilitas perbaikan; b.
42
tidak memenuhi atau gagal memenuhi
jaminan atau garansi yang diperjanjikan.
Pasal 26: pelaku usaha yang memperdagangkan
jasa wajib memenuhi jaminan dan/atau garansi
yang disepakati dan/atau yang diperjanjikan.
Pasal 27
Pelaku usaha yang memproduksi barang
dibebaskan dari tanggung jawab atas kerugian
yang diderita konsumen apabila:
a. Barang tersebut terbukti seharusnya tidak
diedarkan atau tidak dmaksudkan untuk
diedarkan;
b. Cacat barang timbul pada kemudian hari;
c. Cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan
mengenai kualifikasi barang;
d. Kelalaian yang diakibatkan oleh konsumen
e. Lewatnya jangka waktu penuntutan 4
(empat) tahun sejak barang dibeli atau
lewatnya jangka waktu yang diperjanjikan.
Pasal 28 : pembuktian terhadap ada tidaknya
unsur kesalahan dalam gugatan ganti rugi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, Pasal
22 dan Pasal 23 merupakan beban dan tanggung
jawab pelaku usaha.
Disamping
mempunyai
aspek
keperdataan, hukum perlindungan konsumen
juga memiliki aspek pidana. Sanksi pidana
dalam UU Perlindungan Konsumen diatur
dalam Pasal 61, Pasal 62 dan Pasal 63.
Pasal 61: penuntutan pidana dapat dilakukan
terhadap pelaku usaha dan/atau pengurusnya.
Ketentuan ini jelas memperlihatkan
suatu bentuk pertanggungjawaban pidana yang
tidak dapat dikenakan kepada pengurus tetapi
juga kepada perusahaan. Hal ini merupakan
upaya yang bertujuan menciptakan system bagi
perlindungan konsumen. (Nurmandjito,2000)
Melalui ketentuan pasal ini perusahaan
dinyatakan sebagai subjek hukum pidana
Pasal 62:
(1) Pelaku usaha yang melanggar ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8,
Pasal 9, Pasal 10, Pasal 13 ayat (2), Pasal
15, Pasal 17 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf
c, huruf e, ayat (2) dan Pasal 18 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun atau pidana denda paling banyak Rp.
2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
(2) Pelaku usaha yang melanggar ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11,
Ida Ayu Windhari Kusuma Pratiwi, Akibat Hukum Bagi Pelaku Usaha Yang ...
Pasal 12, Pasal 13 ayat (1), Pasal 14, Pasal
16 dan Pasal 17 ayat (1) huruf d dan huruf
f dipidana dengan pidana penjara paling
lama 2 (dua) tahun atau pidana denda
paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah)
(3) Terhadap
pelanggaran
yang
mengakibatkan luka berat, sakit berat,
cacat tetap atau kematian diberlakukan
ketentuan pidana yang berlaku.
Pelaksanaan peraturan perlindungan
konsumen menjadi sangat penting dalam
kaitannya dengan pemberian hukuman atas
setiap pelanggaran ketentuan yang berlaku.
Pemberian hukuman ini kadang kala menjadi
suatu keharusan apabila pelanggaran tersebut
sudah sedemikian rupa sehingga tidak terulang
lagi. Sanksi hukum secara perdata dan pidana
seringkali kurang efektif jika tidak disertai
sanksi
administrative.(Bernard
Arief
Shidarta,2000) Sanksi administrative tidak
ditujukan pada konsumen pada umumnya,
tetapi justru kepada pengusaha baik itu
produsen maupun para penyalur hasil-hasil
produknya. Sanksi administrative berkaitan
dengan perizinan yang diberikan pemerintah
kepada pengusaha tersebut. Jika terjadi
pelanggaran ijin-ijin tersebut dapat dicabut
secara sepihak oleh pemerintah.
Dalam kaitannya dengan pelabelan
produk pangan, Dalam pasal 61 PP No. 69
Tahun 1999 disebutkan:
(1) Setiap orang melanggar ketentuanketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Pemerintah ini dikenakan sanksi
administrative.
(2) Tindakan administrative sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Peringatan secara tertulis;
b. Larangan untuk mengedarkan untuk
sementara waktu dan atau perintah
untuk menarik produk pangan dari
peredaran;
c. Pemusnahan pangan jika terbukti
membahayakan kesehatan dan jiwa
manusia;
d. Penghentian produksi untuk sementara
waktu;
e. Pengenaan denda paling tinggi Rp.
50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah), dan/atau;
f. Pencabutan ijin produksi atau ijin
usaha.
(3) Pengenaan
tindakan
adminisratif
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
huruf b,c,d,e dan f hanya dapat dilakukan
setelah peringatan tertulis sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan
sebanyak-banyaknya tiga kali.
(4) Pengenaan
tindakan
administrative
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan
ayat (3) dapat dilakukan oleh Menteri
Teknis sesuai dengan kewenangannya
berdasarkan masukan dari Menteri
Kesehatan.
Dalam UU Perlindungan Konsumen
bentuk pertanggungjawaban administrative
yang dapat dituntut dari produsen sebagai
pelaku uaha diatur dalam Pasal 60 yaitu
pembayaran ganti kerugian paling banyak Rp.
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) terhadap
pelanggaran atas ketentuan tentang:
a. Kelalaian membayar ganti rugi kepada
konsumen (Pasal 19 ayat (2) dan ayat (3)
b. Periklanan yang tidak memenuhi syarat
(Pasal 20)
c. Kelalaian dalam menyediakan suku cadang
(Pasal 25) dan
d. Kelalaian memenuhi garansi/jaminan yang
dijanjikan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 60 UU
No.8 Tahun 1999 maka pelaku usaha yang lalai
memenuhi tanggung jawabnya maka dapat
dijatuhi sanksi yang jumlahnya maksimum Rp.
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Gani
kerugian
tersebut
merupakan
bentuk
pertanggungjawaban terbatas sehingga secara
keseluruhan dapat dikatakan bahwa ganti
kerugian yang dianut dalam UU No.8 Tahun
1999 menganut prinsip ganti kerugian
“subjektif terbatas”
Adanya pembatasan ganti kerugian atau
yang disebut ganti kerugian subjektif terbatas
itu, untuk kondisi Indonesia sebagai Negara
yang industrinya masih dalam perkembangan
dinilai tepat. Karena disamping memberikan
perlindungan kepada konsumen, pelaku usaha
masih terlindungi atau dapat terhindar dari
Majalah Ilmiah Untab, Vol. 13 No. 1 Maret 2016
43
kerugian yang mengakibatkan kebangkrutan
akibat pembayaran ganti kerugian yang tanpa
batas.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Ketentuan pelabelan produk pangan belum
memenuhi
asas-asas
perlindungan
konsumen antara lain asas manfaat, asas
kepastian hukum serta asas keamanan dan
keselamatan konsumen. Hal ini dapat
dilihat dari pengertian mengenai label itu
sendiri
yang
masih
menimbulkan
persoalan. Selain bisa dipalsukan, label
yang hanya berupa tempelan/stiker dapat
dengan mudah dicabut,diganti kemudian
dilabeli kembali oleh pelaku usaha yang
curang.
Disamping
itu
masih
dimungkinkannya pengecualian terhadap
penggunaan bahasa Indonesia juga
menyebabkan asas-asas perlindungan
konsumen menjadi terabaikan
2. Akibat hukum bagi pelaku usaha yang
melakukan pelanggaran terhadap label
pada produk pangan adalah dapat
dikenakan sanksi perdata, pidana dan
administrative. Sanksi perdata berupa
pemberian ganti rugi. Kemudian sanksi
pidana terdapat dua tingkatan yaitu pidana
penjara paling lama 2 (dua) tahun atau
denda paling banyak Rp.500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah) dan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun atau denda
paling banyak Rp. 2.000.000.000,00 (dua
milyar rupiah). Sedangkan sanksi
adminitratif berupa peringatan secara
tertulis, perintah untuk menarik produk
pangan dari peredaran, pemusnahan
pangan, penghentian produksi untuk
sementara waktu, pembayaran denda serta
pencabutan ijin produksi atau ijin usaha.
44
Saran
1. Sebaiknya dilakukan peninjauan kembali
terhadap PP No.69 Tahun 1999 tentang
Label dan Iklan Pangan yang memuat
panduan yang lebih konkrit dan jelas
mengenai label pangan sehingga lebih
memberikan perlindungan hukum bagi
konsumen.
2. Agar pemerintah melalui instansi terkait
melakukan upaya yang terus menerus
memberdayakan
masyarakat
dengan
memberikan
pemahaman
serta
perlindungan kepada konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
A.Z. Nasution, 1995, Konsumen dan Hukum,
Pustaka Sinar Harapan, Jakarta
Kristiyanti, Celine Tri Siwi, 2008, Hukum
Perlindungan Konsumen, Sinar Grafika,
Jakarta
Nurmandjito, 2000, Kesiapan Perangkat
Peraturan Perundang-undangan Tentang
Perlindungan
Konsumen di Indonesia, Mandar Maju,
Bandung
Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1999
tentang Label dan Iklan Pangan
Simatupang, Taufik, 2004, Aspek Hukum
Periklanan, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung
Shidarta, Bernard Arief, 2000, Refleksi Tentang
Struktur Ilmu Hukum, Sebuah Peneltian
Tentang
Fondasi Kefilsafatan dan Sifat Keilmuan Ilmu
Hukum Sebagai Landasan Pengembangan
Ilmu Hukum Nasional Indonesia, Mandar
Maju, Bandung.
Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen
Wajib Label Jangan Setengah Hati, diakses 2
September
2010,
available
from:
http://bataviase.co.id
Ida Ayu Windhari Kusuma Pratiwi, Akibat Hukum Bagi Pelaku Usaha Yang ...
Download