indonesia: kendala kritis bagi pembangunan infrastruktur

advertisement
INDONESIA: KENDALA KRITIS BAGI
PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
Zafar Iqbal dan Areef Suleman
Departemen Kebijakan dan Penelitian Ekonomi
Rajab 1431H (Juli 2010)
Bila ada pertanyaan mengenai publikasi ini, silahkan menghubungi:
Direktur,
Departemen Kebijakan dan Penelitian Ekonomi,
Bank Pembangunan Islam,
P.O. Box 5925, Jeddah 21432
Saudi Arabia
Fax: +966-2-6467478
Email: [email protected]
Rajab 1431H (Juli 2010)
PENYANGKALAN
Pandangan-pandangan yang terdapat dalam tulisan ini adalah milik kedua penulis dan tidak
selalu merupakan pandangan-pandangan Kelompok Bank Pembangunan Islam atau para
eksekutif direkturnya atau negara-negara anggotanya.
©Bank Pembangunan Islam
Departemen Kebijakan dan Penelitian Ekonomi
ISBN 978-9960-32-195-0
Kata Pengantar
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014, pemerintah Indonesia telah
memprioritaskan pembangunan infrastruktur untuk memperbaiki daya saing ekonomi. Tidak
perlu dikatakan lagi bahwa infrastruktur yang memadai dan bermutu sangat diperlukan untuk
mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif, yang dapat menjamin kesejahteraan
yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat. Karena besarnya kebutuhan penanaman modal
dalam infrastruktur, pemerintah Indonesia membutuhkan mitra dalam dan luar negeri. Untuk
itu “Buku PPP 2010” menawarkan kesempatan investasi berpotensi yang dapat dimanfaatkan
oleh sektor swasta. Hal ini menunjukkan pola pikir baru mengenai penyediaan infrastruktur,
dimana pemerintah berperan sebagai pendukung dan tidak sebagai pembangun dalam sektor
ini.
Pemerintah juga telah bertekad untuk mempercepat proyek infrastruktur melalui PPP, dengan
mempergunakan sebuah pendekatan proaktif. Untuk tujuan itu, banyak pembaharuan yang
sudah dilaksanakan dan beberapa peraturan sudah diberlakukan untuk menjamin adanya
pendekatan yang lebih efisien dan terpadu bagi penanam modal swasta. Khususnya, Peraturan
Presiden 13/2010 bertujuan untuk menyelesaikan secara efektif masalah pembebasan tanah,
sebuah kendala pengikat dalam pembangunan infrastruktur. Peraturan tersebut secara
khusus menetapkan bahwa pemerintah (pusat dan daerah) harus terlebih dahulu melakukan
pembebasan tanah sebelum membuka tender atau penawaran proyek-proyek infrastruktur.
Pemerintah yakin bahwa dengan kondisi bisnis yang diperbaharui maka PPP dalam bidang
infrastruktur akan berkembang.
Pemerintah telah menerapkan beberapa reformasi kebijakan penting di dalam beberapa
dasawarsa terakhir. Sebagai hasilnya, saat ini Indonesia memiliki fundamental ekonomi makro
serta stabilitas politik yang kuat. Pemerintah juga bertujuan untuk lebih menghubungkan lagi
berbagai daerah untuk mencapai pembangunan sosial ekonomi yang seimbang, khususnya
dengan menyediakan akses infrastruktur yang memadai untuk mempertinggi kelayakan kerja
dan memperbaiki taraf hidup rakyat.
Ini adalah penelitian diagnostik tentang infrastruktur yang pertama bagi Indonesia dan
merupakan bagian dari diagnosa menyeluruh mengenai pertumbuhan Indonesia. Penelitian
diagnostik secara keseluruhan dilakukan bersama-sama dengan Asian Development Bank
(ADB), Islamic Development Bank (IDB) serta International Labour Organisation (ILO)
dibawah koordinasi dan kerjasama dengan Bappenas. Pemerintah Indonesia menghargai
kontribusi IDB yang sangat besar dalam pelaksanaan penelitian ini. Analisis yang mendalam
tentang berbagai sub-sektor infrastruktur (yaitu transportasi, listrik dan telekomunikasi)
dan rencana yang berorientasi pada proses untuk mengendurkan kendala utama adalah
sangat penting artinya bagi pemerintah. Aspek konsultatif dari penelitian ini telah menjamin
bahwa pendapat-pendapat para pemangku kepentingan yang terlibat dalam pembangunan
infrastruktur telah ditampung secara baik. Pemerintah bertekad untuk menangani kendalakendala pengikat yang ditemukan dalam penelitian ini, seperti menyelesaikan permasalahan
pembebasan tanah; memperbaiki kapasitas manusia dan kelembagaan; memperbaiki tata
kelola pemerintahan; dan memfasilitasi pendanaan jangka panjang.
Penelitian ini dilakukan pada waktu yang sangat tepat dan hasilnya akan menjadi masukan
yang berharga untuk perencanaan infrastruktur jangka menengah, yang akan dilaksanakan
dalam lima tahun mendatang. Pemerintah Indonesia yakin bahwa temuan dan rekomendasi
penelitian ini dapat menjadi bagian dari bahan dasar untuk mendapatkan mitra pembangunan
dalam usaha mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif.
Pemerintah Indonesia akan menanggapi secara cepat rekomendasi penelitian ini untuk
mengendurkan kendala-kendala utama yang telah ditemukan. Dukungan para mitra
pembangunan sangat penting artinya, dan akan memudahkan pembangunan infrastruktur
Indonesia secara cepat. Pemerintah sangat menghargai usaha serta keinginan IDB untuk
memfasilitasi pembangunan infrastruktur Indonesia. Saya yakin bahwa kerja sama antara
IDB dan pemerintah Republik Indonesia akan saling menguntungkan dan akan membawa
kesejahteraan bagi negara dan rakyat Indonesia.
Lukita Dinarsyah Tuwo
Wakil Menteri PPN RI
Wakil Ketua Bappenas RI
(Republic of Indonesia)
Pendahuluan
Indonesia: Kendala Kritis bagi Pembangunan Infrastruktur adalah penelitian diagnosa
yang pertama yang dilakukan oleh Bank Pembangunan Islam (Islamic Development
Bank-IDB) di Indonesia, sebuah negara anggota yang penting bagi IDB. Penelitian ini
dilakukan atas kerjasama dengan Bank Pembangunan Asia (Asian Development BankADB) serta Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour OrganisationILO) dengan tujuan untuk mengkaji keadaan ekonomi Indonesia saat ini. Penelitian
ini memusatkan perhatian khususnya pada kendala-kendala dalam pembangunan
infrastruktur Indonesia.
Walaupun prestasi ekonomi Indonesia secara keseluruhan sudah membaik selama
lima tahun belakangan ini (2005-2009), tingkat pertumbuhan ini masih berada dibawah
tingkat pertumbuhan sebelum krisis Asia. Salah satu sebab utama pertumbuhan yang
lesu ini adalah rendahnya tingkat investasi di sektor infrastruktur. Kekurangan investasi
ini mengakibatkan penyediaan layanan infrastruktur yang tak mencukupi (dalam arti
kuantitas dan kualitas). Oleh karena itu tidaklah mengherankan bahwa pemerintah
Indonesia telah menyadari ketidak-cukupan infrastruktur sebagai kendala utama
dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Laporan ini mengindentifikasi
kendala-kendala yang paling menjerat bagi investasi infrastruktur. Bersamaan dengan
itu penelitian ini menyimpulkan bahwa pengenduran kendala-kendala tersebut akan
mempermudah investasi dengan menghilangkan penghambat-penghambat yang telah
menggagalkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di Indonesia.
Zafar Iqbal and Areef Suleman, kedua orang penulis yang telah melakukan penelitian
ini berasal dari Departemen Penelitian dan Kebijakan Ekonomi, IDB. Penelitian ini
dilaksanakan berdasarkan berbagai konsultasi- dengan para pemangku kepentingan
utama baik dari sektor swasta maupun pemerintah yang dilakukan sepanjang proses
penelitian, yang dimulai dengan pengembangan kerangka diagnosa. Identifikasi
kendala-kendala pengikat dalam pembangunan infrastruktur ditentukan melalui sebuah
survei pemangku kepentingan primer. Hasil-hasil tersebut kemudian divalidasi dengan
sebuah analisa sektoral yang mendalam. Kemudian, hasilnya didiskusikan dengan
pemerintah Indonesia dan para pemangku kepentingan utama. Sebuah pendekatan
bertahap dan berurut serta berorientasi pada proses diusulkan untuk melonggarkan
kendala-kendala yang menghambat pembangunan infrastruktur.
Ifzal Ali
Ekonom Utama Bank Pembangunan Islam
(Islamic Development Bank)
Ucapan terima kasih
Kedua penulis mengucapkan terima kasih pada Ifzal Ali, yang telah memprakarsai
penelitian ini dan memberikan bimbingan, komentar-komentar serta saran-saran yang
berharga dari awal sampai berhasilnya penyelesaian laporan ini. Abdullateef Bello
dan Nosratollah Nafar memberikan dukungan yang dibutuhkan. Ehsan Khan dari
ADB memberikan komentar-komentar yang konstruktif dalam perampungan laporan
ini. Informasi dasar yang berbentuk laporan penelitian yang berhubungan dengan
sektor infrastruktur diberikan oleh Abuzar Asra dan Irman Boyle. Terimakasih juga
diucapkan ke Abuzar Asra yang telah mengedit terjemahan laporan penelitian ini ke
dalam Bahasa Indonesia.
Kami juga berterima kasih atas dukungan data oleh Rehan Kausar (ADB). Perwakilan
IDB di Indonesia, Mahlani, memegang peran penting dalam memperoleh data yang
dibutuhkan dan memberikan pandangan tentang masalah-masalah utama di Indonesia.
Nina Permatasari memberikan dukungan logistik dan administrasi yang berharga. C.
P. Saleem mengkoordinasi pencetakan laporan. Kedua penulis juga berterima kasih
kepada Abdul Rashid untuk bantuan kesekretariatan dan administrasi; Musharraf Wali
Khan dan Mohamed Amza juga memberikan dukungan administrasi yang serupa.
Kami juga menghaturkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia atas bantuan
dan dukungan yang diberikan. Secara khusus, kami ingin mengucapkan terimakasih
kepada Ir. Lukita Dinarsyah Tuwo, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional; Dedy Priatna, Deputi Sarana dan Prasarana; Ir. Bambang Prihartono,
Direktur, Direktorat Transportasi; Budi Hidayat, Direktur Pemukiman dan Perumahan
dan Maurin Sitorus, Direktur, Direktorat Pendanaan, Direktorat Jendral Pengelolaan
Hutang, Departemen Keuangan.
DAFTAR ISI
RINGKASAN EKSEKUTIF................................................................... ix
I.
PENDAHULUAN..................................................................................... 1
(i)
(ii)
(iii)
(iv)
(v)
(vi)
II.
Latar Belakang ................................................................................ 1
Mengapa Memusatkan pada Infrastruktur . ..................................... 2
Kontribusi Untuk Pertumbuhan Ekonomi Indonesia....................... 2
Kualitas Infrastruktur Secara Keseluruhan . .................................... 3
Lingkungan Bisnis Infrastruktur ..................................................... 3
Kesenjangan Infrastruktur Regional . .............................................. 6
KERANGKA KERJA UNTUK MENDIAGNOSA KENDALA
KRITIS PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR ............................... 7
(i) Kerangka Kerja Diagnostik Infrastruktur ................................... 10
(ii) Hipotesa ...................................................................................... 11
III. MASALAH KUNCI DALAM PEMBANGUNAN
INFRASTRUKTUR ...............................................................................11
IV.
FAKTOR KUNCI YANG MEMPENGARUHI INVESTASI
INFRASTRUKTUR DI INDONESIA . ................................................ 15
(i) Faktor yang Menghambat Pembangunan Infrastruktur . ............... 17
(ii) Dampak Kelangkaan, Biaya Tinggi, dan Buruknya Kualitas
Pada Bisnis yang terkait dengan Infrastruktur ............................. 20
(iii) Perbaikan Lambat dalam keseluruhan Iklim Bisnis dan
Investasi Untuk Bisnis yang terkait Infrastruktur Selama
Tiga Tahun Terakhir ...................................................................... 20
(iv) Kendala-Kendala Utama Dalam Pembangunan Infrastruktur ....... 22
V.
ANALISA SUB-SEKTORAL . .............................................................. 22
(i) Transportasi ................................................................................... 26
(ii) Pelabuhan ...................................................................................... 37
(iii) Kereta api ...................................................................................... 44
(iv) Transportasi Udara ........................................................................ 48
(v) Infrastruktur Listrik ....................................................................... 53
(vi) Telekomunikasi ............................................................................. 62
vii
VI. KONSOLIDASI HASIL SURVEY DAN ANALISA
SUB-SEKTORAL YANG MENDALAM . ........................................... 73
VII. SEBAB UTAMA KENDALA POKOK YANG DITEMUKAN........... 76
(i)
(ii)
(iii)
(iv)
Kesulitan Pembebasan Tanah ........................................................ 76
Kapasitas Manusia dan Kelembagaan yang Lemah ...................... 80
Tata Kelola Pemerintahan yang buruk .......................................... 84
Kekurangan dalam Pendanaan ...................................................... 86
VIII. RENCANA YANG BERORIENTASI PADA PROSES UNTUK
MELONGGARKAN KENDALA MENGIKAT:
LINTAS SEKTOR.................................................................................. 86
(i) Menyelesaikan Masalah Dalam Pembebasan Tanah ..................... 87
(ii) Memperkuat Kapasitas Sumber Daya Manusia dan
Kelembagaan.................................................................................. 90
(iii) Memperbaiki Tata KelolaPemerintahan ........................................ 93
(iv) Memperbaiki Kesediaan Dana ...................................................... 94
v) Intervensi menurut sektor............................................................... 95
IX.
LAMPIRAN ........................................................................................... 97
Lampiran A: Lembaga, Kebijakan, dan Aturan dan Peraturan Kunci
dalam Pembangunan Infrastruktur di Indonesia....................................... 99
Lampiran B: Transportasi Jalan............................................................. 104
Lampiran C : Pelabuhan.......................................................................... 116
Lampiran D: Kereta Api......................................................................... 122
Lampiran E: Transportasi Udara............................................................ 124
Lampiran F: Listrik................................................................................ 126
Lampiran G: Telekomunikasi.................................................................. 134
DAFTAR PUSTAKA............................................................................ 138
viii
RINGKASAN EKSEKUTIF
Di jaman globalisasi dan persaingan internasional, pembangunan sosial-ekonomi
yang berkesinambungan serta pengurangan kemiskinan tidak akan bisa tercapai
tanpa infrastruktur yang memadai dan efisien. Oleh karena itu kita dapat memahami
ketergantungan Indonesia pada pengembangan infrastruktur yang lebih berkualitas,
mengingat Indonesia merupakan negara yang secara geografi memiliki daerah
perairan dan darat yang sangat luas. Penelitian empiris telah membuktikan adanya
pertalian antara infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Penelitian akhir-akhir
ini memperkirakan bahwa kenaikan 1 persen dalam investasi infrastruktur dapat
menyumbang 0,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Namun, keadaan infrastruktur Indonesia saat ini masih jauh dari memuaskan, dan
tidak heran jika masyarakat bisnis berkata bahwa ketidak layakan infrastruktur (dalam
arti kuantitas dan kualitas) merupakan hambatan terbesar kedua untuk menjalankan
bisnis di Indonesia setelah birokrasi pemerintah yang tidak efisien. Ketidak layakan
ini secara langsung disebabkan oleh relatif rendahnya investasi di sektor infrastruktur
ini. Situasi semakin memburuk setelah terjadinya krisis sektor keuangan Asia di
akhir tahun 1990-an. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Indonesia tertinggal
dalam berbagai indikator infrastruktur, dibandingkan dengan pesaing-pesaing
regional (terutama Malaysia, Thailand dan Vietnam). Faktor lain yang mungkin telah
mengakibatkan rendahnya tingkat investasi dalam bidang infrastruktur adalah dilema
yang dihadapi oleh pemerintah apakah pemerintah harus mengalokasikan lebih
banyak sumber daya untuk mengurangi disparitas regional yang menyolok dalam hal
PDB per kapita, kepadatan penduduk, atau infrastruktur dan arus investasi. Namun
demikian mengurangi kesenjangan regional tidak boleh dianggap sebagai prioritas
jangka pendek. Dengan sumber daya yang amat terbatas (keuangan, fisik, manusia
dan kelembagaan), menangani kesenjangan regional dan kendala-kendala pengikat
pertumbuhan ekonomi secara serentak akan mengakibatkan kelumpuhan, yang tidak
memungkinkan perkembangan sama sekali (bahkan) dalam salah satu dari kedua
bidang tersebut. Oleh karena itu sangatlah bijaksana untuk, dalam jangka pendek,
memusatkan perhatian pada pertumbuhan ekonomi (dengan melonggarkan kendala
kendala pengikat) dan dalam jangka panjang memusatkan perhatian pada kesenjangan
regional.
Pemerintah Indonesia telah membuat rencana pembangunan jangka menengah yang
ambisius untuk melonggarkan kendala-kendala infrastruktur yang telah memperlambat
pertumbuhan ekonomi. Menurut perkiraan sementara, dibutuhkan sekitar Rp 1,429
trillion untuk keperluan ini selama empat tahun yang mendatang (2010-2014). Namun
demikian jejak rekam pemerintah Indonesia didalam menerapkan anggaran belanja
modal menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan pemerintah, disebabkan oleh
lemahnya sumber daya manusia dan kelembagaan. Kendala ini, ditambah dengan
sumber daya keuangan yang terbatas (pemerintah pusat hanya dapat membiayai 40
persen dari kebutuhan infrastruktur antara 2010 dan 2014), mendesak pemerintah
untuk mencari jalan lain untuk menerapkan rencana investasi infrastrukturnya.
ix
Dengan demikian tidaklah mengherankan bahwa sektor swasta semakin dianggap
sebagai kunci untuk menghasilkan infrastruktur yang dibutuhkan, baik dengan
cara menjalankan proyek-proyek secara sendiri ataupun dengan cara Kerja Sama
Pemerintah-Swasta (PPP, Public-Private-Partnerships). Namun demikian berbeda
dengan banyak negara lain, dimana sektor swasta merupakan pemeran penting dalam
pengadaan infrastruktur, di Indonesia sektor swasta mempunyai peran yang kecil
(saham sumbangan sektor swasta dalam investasi di infrastruktur adalah kurang dari
1 persen dari PDB).
Selama hampir satu dasawarsa, tingkat investasi infrastruktur menurun dari kira-kira
8 persen dari PDB di tahun 1997 ke 3,5 persen di tahun 2006, dan saat ini tingkat
investasi tersebut masih tetap rendah dibandingkan dengan tingkat yang dibutuhkan
yaitu antara 7 persen dan 9 persen dari PDB. Untuk mengetahui penyebab utama
penurunan progresif ini, penelitian ini telah mengembangkan kerangka kerja diagnostik
infrastruktur, yang memberikan pendekatan yang konsisten untuk menemukan
kendala-kendala paling mengikat bagi pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Kerangka kerja ini dimulai dengan sekumpulan faktor penentu dalam pembangunan
infrastruktur; diikuti dengan pencarian yang mana diantara faktor-faktor tersebut yang
merupakan kendala pengikat utama bagi pembangunan infrastruktur, dan pemahaman
distorsi-distorsi tertentu dibalik kendala-–kendala utama tersebut. Kerangka kerja
diagnostik ini menitik beratkan pada penyebab-penyebab utama ketidakcukupan
infrastruktur dengan tujuan untuk mengembangkan suatu rencana yang berorientasi
pada proses untuk memperlonggar kendala-kendala pengikat, sehingga akan
mempermudah penggunaan secara efisien sumber daya keuangan dan fisik yang amat
langka.
Berdasarkan survei primer, ditemukan empat kendala utama. (i) kesulitan dalam
pembebasan tanah; (ii) kapasitas manusia dan kelembagaan yang lemah; (iii) tata
kelola pemerintahan yang buruk; (iv) dan kurangnya pendanaan jangka panjang.
Temuan-temuan survei ini divalidasi dengan sebuah analisa mendalam tentang tiga
sub-sektor infrastruktur utama: (i) transportasi (darat, kereta api, pelabuhan dan
bandara); (ii) listrik; dan (iii) komunikasi. Berdasarkan hasil survei dan analisa yang
mendalam, dua kendala yang paling mengikat adalah: (a) kesulitan dalam pembebasan
tanah; dan (b) rendahnya kapasitas manusia dan kelembagaan di pemerintahan.
Kendala-kendala yang serupa juga mengganggu inisiatif segitiga pertumbuhan
Indonesia- Malaysia-Thailand (IMT-GT) yang diluncurkan pada tahun 1993, yang
mengakibatkan kelambatan perkembangannya, terutama dalam hal memperkuat
infrastruktur jalan, kereta api, bandara dan pelabuhan di tingkat inter dan intra
regional. Sebagai bagian dari peninjauan mendatang tentang IMT-GT, penting sekali
dipahami faktor-faktor utama yang menjadi sebab lambatnya perkembangan dalam
proyek-proyek induk/utama. Ini harus mendahului fase berikut/Roadmap inisiatif
IMT-GT, dan ini bisa dicapai paling baik melalui penelitian diagnostik mendetil yang
mencakup ketiga negara tersebut. Jika penemuan kendala-kendala pengikat serta
pembuatan dan penerapan strategi untuk memperlonggar kendala yang paling utama
x
tidak dilakukan, maka perkembangan Roadmap IMT-GT 2007-2011 tidak akan bisa
tercapai dan ini akan merugikan pertumbuhan dan pemerataan.
Analisa selanjutnya menyoroti bahwa dari perspektif sektor swasta, kendala yang
paling mengikat bagi penanaman modal di sektor infrastruktur adalah kesulitan
pembebasan tanah. Karena adanya kepemilikan tanah secara pribadi dan beban
untuk menyelesaikan masalah kompensasi dengan pemilik tanah terletak sepenuhnya
pada penanam modal, masalah menentukan harga yang layak menjadi batu rintangan
dalam pembangunan infrastruktur. Di beberapa kasus dimana tanah diperlukan untuk
proyek infrastruktur, pemilik tanah melipat gandakan harga, sehingga penyelesaian
pembebasan tanah (melalui pembayaran ganti rugi) dapat menunda pelaksanaan
proyek sampai lebih dari tiga tahun. Masalah pembebasan tanah, khususnya, sangat
sering terlihat dalam proyek-proyek pembangunan jalan dan listrik dimana kebutuhan
tanah lebih tinggi. Masalah tersebut diperparah lagi dengan rencana tata ruang yang
tidak efisien di tingkat pemerintah daerah/propinsi, di mana hukum dan peraturan
daerah yang menentukan area untuk pembangunan infrastruktur belum tuntas.
Kendala kedua yang paling mengikat adalah terbatasnya kapasitas sumber daya
manusia dan kelembagaan di pemerintahan yang terlihat dari buruknya kualitas
‘proyek-proyek yang layak didanai bank’ (bankable projects). Hal ini juga tergambar
pada prestasi pemerintah dalam pembayaran/penggunaan anggaran belanja. Misalnya,
sampai dengan 8 September 2009 hanya 40 persen dari anggaran belanja tahun
2009 dibawah Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang sudah digunakan. Hal ini
diperparah dengan keterlambatan dalam menyalurkan dana yang telah dialokasikan
untuk pemerintah daerah. Itu sebabnya mengapa pemerintah perlu memiliki keakhlian
untuk merancang, mengatur anggaran, dan melaksanakan proyek-proyek yang relevan.
Agar sektor swasta dapat berpartisipasi di dalam pembangunan infrastruktur, tingkat
pengembalian/keuntungan yang memperhitungkan resiko (risk adjusted rate of return)
harus sebanding dengan yang terdapat di negara-negara tetangga di Asia Tenggara
(khususnya Malaysia, Thailand dan Vietnam). Saat ini, tingkat keuntungan yang rendah
adalah akibat penentuan tarif sosial di beberapa sub-sektor, dan kekhawatiran akan
masalah pembebasan tanah. Oleh karena itu, tanpa mengatasi masalah keterampilan
dan kapasitas sektor pemerintahan dan tingkat keuntungan yang memperhitungkan
resiko atas investasi, maka akan sangat sulit untuk mengembangkan PPP.
Tata kelola pemerintahan yang buruk memperparah dampak negatif dari tidak
memadainya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan. Berdasarkan
pembicaraan dengan sektor swasta, jelas sekali mereka telah memasukkan biaya
pencari rente (cost of rent-seeking) kedalam perencanaan dan pembiayaan proyek,
dan mereka menganggap ini sebagai bagian dari biaya operasi yang biasa dilakukan..
Aktifitas mencari-rente ini memberi dampak buruk dalam keberlangsungan proyek
dan dibeberapa kasus sangat mempengaruhi kualitas proyek. Pada akhirnya, biaya
aktifitas tersebut akan ditanggung oleh pengguna akhir produk dan jasa.. Menurut
perkiraan Bank Dunia, korupsi dapat menambah sampai 20 persen terhadap biaya
menjalankan bisnis di Indonesia, yang mengakibatkan ekonomi mahal dan rendahnya
insentif untuk investasi di dalam pembangunan infrastruktur.
xi
Kendala kunci lainnya adalah kurangnya pembiayaan jangka panjang yang dibutuhkan
oleh sektor swasta dalam proyek-proyek infrastruktur. Dari pembicaraan dengan
bank komersial lokal diketahui bahwa mereka hanya mau memberikan pembiayaan
untuk periode paling lama tujuh tahun, sedangkan bank pemerintah sampai 12 tahun.
Biasanya proyek infrastruktur membutuhkan pembiayaan lebih dari 12 tahun. Bank
komersial swasta tidak dapat memberikan pembiayaan yang dibutuhkan karena ada
ketidakcocokan antara cakrawala waktu untuk sumber pendanaan mereka (jangka
pendek) dan kebutuhan pembiayaan untuk proyek infrastruktur (jangka menengah
dan panjang). Perlu diingat bahwa saat ini 90 persen dari keuangan bank-bank lokal
berasal dari tabungan, giro, dan tabungan berjangka, dan hanya 1 persen berasal dari
obligasi jangka panjang. Oleh karena itu struktur pendanaan yang ada tidak cukup
untuk membiayai penanaman modal jangka panjang. Dalam konteks ini, sangat
penting bagi bank untuk memperluas sumber pendanaan untuk mencakup lebih
banyak pembiayaan jangka panjang, dengan mengeluarkan obligasi global atau
melalui pinjaman jangka panjang dari bank internasional.
Disamping ke empat kendala mengikat tersebut di atas, ada kendala-kendala lain yang
khusus ditemukan di beberapa sub-sektor infrastruktur, seperti:
• Untuk sub-sektor jalan raya, masalah kurangnya proyek-proyek jalan tol yang
layak didanai bank patut dicatat tersendiri karena pemerintah Indonesia sudah
berkali-kali mencoba untuk melibatkan sektor swasta ke dalam proyek-proyek
yang memberikan keuntungan sosial tinggi, namun rendah keuntungan finansial
atas investasi yang ditanamkan. Dalam konteks ini, pemerintah Indonesia harus
mengambil keputusan terencana untuk memusatkan perhatian hanya pada proyekproyek yang mendatangkan keuntungan social yang tinggi, dan pada waktu yang
bersamaan menciptakan suasana yang menunjang partisipasi sektor swasta dalam
proyek-proyek yang mendatangkan keuntungan finansial yang tinggi berdasarkan
“bangun-operasi-transfer” (build-operate-transfer) atau “rehabilitasi-operasitransfer” (rehabilitate-operate-transfer).
• Untuk sub-sektor pelabuhan, lemahnya kapasitas sumber daya manusia dan
kelembagaan di
pemerintahan terwujud dalam ketidak-mampuan untuk
menyiapkan proyek yang layak didanai bank,yang mengakibatkan adanya suatu
persepsi akan rendahnya pengembalian atas penanaman modal atau investasi.
Kerangka peraturan yang menghalangi persaingan di sektor pelabuhan memberi
dampak buruk pada efisiensi. Hal ini meningkatkan peluang mencari rente dan
mendorong perilaku monopoli. Kurangnya pelabuhan perairan dalam dan sistim
persungaian yang terancam mampet juga merupakan hal yang mengkhawatirkan
karena untuk mendapatkan kedalaman pelabuhan yang layak membutuhkan
pengerukan yang mahal dan makan waktu.
• Investasi baru dalam transportasi udara juga terhambat akibat persepsi keuntungan
yang rendah atas investasi yang ditanamkan. Mengingat luasnya negara Indonesia
tidak heran jika ada banyak pangkalan udara, namun banyak diantaranya yang tidak
dapat berkembang secara finansial (sekalipun menunjukkan keuntungan sosial yang
xii
tinggi atas investasi). Di tingkat pemerintah daerah pun, ada keengganan untuk
memikul tanggung jawab terhadap bandara-bandara ini karena akan berdampak
negatif terhadap anggaran. Didalam konteks ini, pemerintah pusat harus mencari
peluang untuk menunjuk perusahaan swasta untuk mengelola pangkalan udarapangkalan udara tersebut atas nama pemerintah. Daripada mengambil banyak
operator skala kecil untuk mengelola berbagai pangkalan udara, jika beberapa
operator berskala besar ditawarkan peluang paket investasi besar maka adanya
skala ekonomi (economies of scale) akan menjadikan pangkalan-pangkalan udara
tersebut sebagai proyek investasi yang lebih menarik.
• Investasi dalam bidang infrastruktur listrik juga terhalang oleh penentuan tarif
sosial (social tariff setting) yang lebih rendah dari biaya pemulihan/pengembalian
(cost recovery). Harga listrik yang disalurkan oleh produsen tenaga listrik swasta/
independen (Independent Power Producers-IPPs) di beberapa tempat lebih rendah
dari biaya penyediaan (terutama di daerah-daerah terpencil dengan faktor muatan
rendah) dan tidak adanya mekanisme pembagian resiko yang adil dengan IPPs.
Sekarang ini, bagian besar dari resiko ditanggung sektor swasta, yang tidak mampu
dan tidak rela menanggung resiko sebesar itu. Suatu mekanisme pembagian resiko
yang efektif harus diciptakan berpedoman bahwa resiko dialokasikan pada pihak
yang berada dalam posisi terbaik untuk menangani dan mengatasi masalah listrik.
Pemerintah secara ideal berada di posisi tepat untuk menangani resiko-resiko yang
berhubungan dengan negara, politik dan/atau tindakan pemerintah, sedangkan
distributor (perusahaan milik negara-Perusahaan Listrik Negara/PLN) harus
menanggung resiko yang berhubungan dengan operasi jaringan listrik (termasuk
penawaran dan permintaan, dan gangguan jaringan). Sektor swasta dan peminjam,
dilain pihak, harus memikul resiko yang berhubungan dengan konstruksi, operasi
dan pemeliharaan IPPs.
• Lingkungan yang bersifat monopoli dan perilaku yang anti kompetitif di bidang
telekomunikasi telah mematahkan semangat investasi baru dalam sektor ini.
Lagipula lingkungan bisnis ini dipenuhi dengan tidak adanya transparansi dan
adanya praktek diskriminasi dalam biaya-biaya inter-operator (ada banyak dugaan
bahwa biaya yang ditagih ke anak perusahaan milik pemerintah lebih rendah dari
pada yang ditagih ke operator selular lain).
Walaupun kendala-kendala khusus untuk sub-sektor diatas memerlukan perhatian,
kendala-kendala tersebut harus ditangani oleh kementerian yang bersangkutan, dan
mereka tidak boleh mengalihkan perhatian nasional dari kendala-kendala penghalang/
pengikat yang menghambat investasi di sektor infrastruktur secara keseluruhan.
Untuk menangani kendala-kendala tersebut di atas dengan cara yang mendatangkan
dampak maksimum, sangatlah penting ditekankan bahwa pelonggaran kendalakendala tersebut harus dilakukan secara berurutan. Melonggarkan kendala-kendala
pengikat akan menaikkan tingkat keuntungan berdasarkan resiko dan akan mendorong
adanya investasi baru. Tambahan pula, kendala-kendala tersebut saling berhubungan
antara satu dan lainnya, maka dengan menangani kendala-kendala pengikat, maka
xiii
hambatan-hambatan (bottlenecks) lain akan sekaligus tertanggulangi. Walaupun
analisa-analisa tersebut memberikan gambaran sekilas tentang kendala-kendala yang
ada saat ini, analisa ini bukan semata-mata hanya dilakukan untuk sekali saja dan
tidak juga bersifat statik. Apabila kendala-kendala tersebut dapat dilonggarkan (di 2426 bulan mendatang), analisa diagnosis harus diulang kembali untuk mengidentifikasi
kendala-kendala pengikat dan untuk mengembangkan langkah penanggulangan,
kebijakan, dan program untuk melonggarkan/mengendurkan kendala-kendala tersebut
di masa mendatang.
Untuk menangani kendala-kendala pengikat utama pada pembebasan tanah, pemerintah
telah menyiapkan dana bergulir dalam jumlah sekitar Rp. 600 triliun bersamaan
dengan pengumuman tentang peraturan pemerintah yang membatasi opsi hukum yang
tersedia bagi pemilik tanah dalam menghadapi usaha pemerintah untuk membebaskan
lahan bagi proyek-proyek infrastruktur. Jumlah tersebut kemudian dilengkapi dengan
alokasi anggaran sebesar 120 juta dolar (Rp.1,2 triliun) untuk membiayai selisih
antara harga lahan/tanah perkiraan dan harga lahan/tanah sesungguhnya. Walaupun
demikian sangatlah penting bagi pemerintah untuk mengambil tanggung jawab dalam
pembebasan tanah, dan investor atau penanam modal mencurahkan perhatian penuh
pada pelaksanaan proyek. Selain itu pemerintah harus sigap dalam menyelesaikan
pertikaian pembebasan tanah baik melalui jalur hukum maupun melalui peraturan
penyitaan tanah yang dilaksanakan dengan cara efektif dan manusiawi. Tanpa adanya
mekanisme seperti itu pembebasan tanah yang efektif dan cepat akan tetap tidak
tercapai.
Pembangunan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan merupakan pokok
utama dalam pembangunan dan pertumbuhan masa depan ekonomi Indonesia.
Sudah jelas terlihat dari penelitian ini bahwa banyak kendala berhubungan erat
dengan masalah pokok tersebut diatas. Sayangnya, tidak ada cara cepat untuk
menanggulangi masalah ini. Dalam jangka pendek, beberapa kegiatan (misalnya:
identifikasi proyek, dan studi pra- kelayakan) harus dilakukan oleh ahli yang diambil
dari luar (pemerintahan). Mitra pembangunan dapat memegang peranan penting
dalam pembentukan kapasitas (capacity building) dengan cara mengembangkan serta
membiayai program transfer pengetahuan dan keahlian. Mereka harus memusatkan
perhatian pada keahlian-keahlian yang berorientasi pada proses dan pengetahuan
(software), dan mengembangkan keahlian para petugas yang bersangkutan agar dapat
memahami bagaimana menggunakan pengetahuan dan keahlian baru tersebut dalam
menangani kendala-kendala utama di dalam investasi infrastruktur. Sebagai salah satu
dari program pengembangan tersebut, kapasitas intra- dan inter-kelembagaan harus
juga dikembangkan agar lembaga-lembaga pemerintah dapat bekerja sama secara
saling melengkapi. Oleh karena itu, perubahan-perubahan hukum dan peraturan
mungkin perlu dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas institusi pemerintah dan
lembaga-lembaga di bawahnya pada seluruh tingkatan pemerintahan.
Meskipun penelitian ini menemukan beberapa kendala, namun dua kendala terbesar
adalah kesulitan dalam pembebasan tanah dan rendahnya kapasitas sumber daya
manusia dan kelembagaan. Penelitian ini mengusulkan “rencana berorientasi proses”
xiv
dengan pendekatan jangka pendek (12-24 bulan) dan jangka menengah (24-60 bulan).
Langkah-langkah jangka pendek yang diusulkan untuk pertimbangan pemerintah
dalam melonggarkan kedua kendala yang paling mengikat tersebut diatas adalah:
i)
Meningkatkan efisiensi hukum. Masa tunggu pembebasan tanah yang tegas,
begitu tanah tersebut sudah ditetapkan untuk infrastruktur, harus dilaksanakan.
Selain itu, pemerintah Indonesia harus melakukan suatu kegiatan patokan
internasional untuk mempelajari ‘tindakan terbaik’ (best practices) di negara lain,
dan memakai pengalaman-pengalaman tersebut untuk menciptakan mekanisme,
peraturan dan kebijakan yang sesuai untuk mempercepat penguasaan tanah (bagi
pembangunan infrastruktur).
ii) Persiapan penelitian pra-kelayakan. Biaya penelitian seperti ini biasanya sebesar
1-2 persen dari biaya keseluruhan proyek. Berdasarkan rencana pengeluaran
pemerintah jangka menengah sebesar sekitar $143 milyar, maka biaya untuk
mengadakan penelitian pra-kelayakan proyek-proyek infrastruktur adalah antara
$2,2 milyar dan $ 3,7 milyar.
iii) Pengembangan Sistim Manajemen (Management Information SystemMIS) untuk proyek-proyek infrastruktur. Sistim ini harus dibuat oleh sebuah
perusahaan internasionalyang berpengalaman dibidang tersebut dan akan
merupakan pedoman dalam rapat-rapat koordinasi pemerintah dimana hambatanhambatan (bottlenecks) dapat diidentifikasikan, dibahas dan ditanggulangi. Agar
MIS tersebut efektif, dia harus dipadukan secara penuh dengan sebuah sistim
pengawasan dan evaluasi (Monitoring and Evaluation System- M&E) yang akan
dipergunakan untuk menindaklanjuti bermacam-macam proyek. Walaupun titik
berat terdapat pada infrastruktur, tidak ada alasan untuk tidak menjalankan sistim
MIS dan M&E di lembaga-lembaga pemerintahan lain untuk menyediakan
informasi aktual/terkini tentang status proyek.
Tujuannya adalah untuk secepatnya melaksanakan sistim MIS dan M&E, sambil
memastikan bahwa transfer keahlian dan pembentukan kapasitas merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari kegiatan tersebut. Yang lebih penting adalah, harus adanya
suatu strategi penyelesaian proyek dan perjanjian kinerja yang jelas bagi para konsultan.
Selain itu, pemerintah harus segera memulai kegiatan peningkatan kapasitas bagi para
pegawai yang terlibat dalam pembangunan infrastruktur. Walaupun biayanya terlihat
amat tinggi, biaya ini harus dibandingkan dengan biaya akibat tidak terlaksananya
proyek pada waktunya, dan tingkat kepercayaan yang terbentuk dalam proyek-proyek
potensial yang diajukan oleh pemerintah. Penilaian yang independen dan terpercaya
akan menghasilkan banyak proyek yang akan di klasifikasikan kembali sebagai proyek
yang ‘layak’ untuk kemitraan pemerintah-swasta, atau bahkan dianggap layak untuk
mendapatkan investor swasta. Hal ini akan dapat meringankan beban pemerintah dan
dapat membantu melajukan lebih banyak proyek ke tahap implementasi dan operasi.
Selanjutnya dalam menjalankan rencana jangka pendek dan menengah berorientasi
proses, bank-bank pembangunan multilateral dapat memainkan peranan penengah
untuk menjamin hasil yang saling menguntungkan yang akan memicu pertumbuhan
inklusif di Indonesia.
xv
Masalah pendanaan jangka panjang membutuhkan upaya pemerintah yang sungguhsungguh. Namun, dengan menangani masalah prioritas tentang pembebasan tanah dan
kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan yang tak layak, maka resiko utama
yang berhubungan dengan keuntungan atas investasi serta pelaksanaan proyek akan
dapat ditanggulangi, dan dengan cara ini, akses terhadap modal (dalam maupun luar
negeri) akan menjadi lebih mudah.
Secara keseluruhan, analisa ini memberikan pandangan yang sangat berharga tentang
faktor-faktor yang menghalangi investasi infrastruktur baik oleh sektor pemerintah
maupun swasta dan PPPs. Identifikasi dan prioritas kendala-kendala pengikat
tersebut sangat penting untuk perancangan kebijakan dan inisiatif khusus. Bersamaan
dengan itu, pelonggaran kendala-kendala tersebut secara cepat akan mempermudah
pencapaian pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, dan memperbaiki iklim usaha
dan investasi serta memperbaiki kualitas hidup di dalam negeri.
xvi
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
I. PENDAHULUAN
Proyek-proyek infrastruktur dianggap oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
sebagai salah satu prioritas utama untuk masa lima tahun ke depan dalam rangka
mendorong pertumbuhan dan mengurangi kemiskinan
(i)
Latar Belakang
Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank-IDB), bekerja sama
dengan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank-ADB) dan Organisasi
Perburuhan Internasional (International Labour Organisation-ILO), melakukan
penelitian diagnostik untuk Indonesia berdasarkan kerangka diagnosa pertumbuhan
yang dikembangkan untuk pertama kalinya oleh Hausmann, Rodrik, and Velasco
(2005)1. Penelitian ini memberikan analisa tentang kendala-kendala yang menghalangi
pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif di Indonesia. Kendala-kendala ini
diselidiki secara mendetil dengan maksud untuk menentukan kendala-kendala mana
yang paling utama. Untuk melonggarkan atau mengurangi kendala-kendala tersebut,
mereka dijadikan prioritas dan penelitian ini mengusulkan cara penanggulangan
dengan harapan cara tersebut dapat memberikan tuntunan bagi para pembuat
keputusan, perencana pembangunan, dan lembaga donor dalam merumuskan strategi
pertumbuhan khusus untuk Indonesia.
Penelitian ini mempelajari kendala-kendala utama di tiga bidang: i) pertumbuhan
ekonomi; ii) penurunan kemiskinan dan ketimpangan; dan iii) ketenagakerjaan. Bagi
pertumbuhan ekonomi, ketidakcukupan dan ketidaklayakan infrastruktur diketahui
sebagai hambatan utama. Penelitian aspek ini telah dilakukan oleh IDB. Lambatnya
perkembangan dan buruknya kualitas infrastruktur disebabkan oleh rendahnya tingkat
investasi baik oleh pemerintah maupun oleh pihak swasta di Indonesia.
Rendahnya tingkat investasi pemerintah mungkin disebabkan oleh keterbatasan sumber
dana dan lemahnya kapasitas sumber daya manusiaa dan kelembagaan,yang memberi
dampak buruk pada kemampuan pemerintah dalam mengidentifikasi, merancang
dan melaksanakan proyek infrastruktur yang cocok. Investasi swasta dilain pihak,
terhambat oleh ketidaktepatan (berhubungan dengan tata kelola pemerintahan yang
buruk dan korupsi), desentralisasi pembangunan infrastruktur, yang mengakibatkan
timbulnya praktek–praktek mencari rente, tidak tersedianya pendanaan jangka panjang
serta kesulitan dalam pembebasan tanah.
Kemitraan Pemerintah-Swasta, yang sudah giat dilakukan di negara-negara lain
untuk mengatasi keterbatasan kapasitas pendanaan pemerintah, tidak begitu sukses
di Indonesia sebagian besar akibat kegagalan pemerintah dalam mengembangkan
proyek-proyek yang layak didanai bank (bankable), lemahnya kerangka hukum dan
peraturan, dan kurangnya informasi tentang proyek-proyek infrastruktur. Harus dicatat
bahwa faktor-faktor tersebut tidak lebih dari gejala belaka, yang menyembunyikan
Hausmann, R., D. Rodrik and A. Velasco, 2005, “Growth Diagnostics,” John F. Kennedy School of Government, Harvard
University.
1
1
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
penyebab utama yang sebenarnya. Untuk mengidentifikasi penyebab sesungguhnya,
maka problem yang menghambat pembangunan infrastruktur perlu dipelajari secara
mendalam.
(ii) Mengapa Memusatkan pada Infrastruktur
Selama lima tahun terakhir (2005-2009), prestasi ekonomi Indonesia sudah membaik,
dengan pertumbuhan rata-rata 5,5 persen. Keberhasilan ini konsisten dengan perbaikan
dalam efisiensi yang dicapai oleh pihak pemerintah maupun sektor swasta. Namun
jika dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan rata-rata yaitu 7,8 persen antara
tahun 1988 dan 1997, maka kinerja ekonomi Indonesia jelas tidak menunjukkan
prestasi yang maksimum. Salah satu penyebab rendahnya tingkat pertumbuhan ini
adalah menurunnya tingkat investasi dalam infrastruktur yaitu 3,5 persen dari PDB
tahun 2006, dibandingkan dengan tingkat investasi sebelum krisis yaitu sekitar 8
persen di tahun 1997.
Infrastruktur diakui oleh pemerintah Indonesia sebagai salah satu unsur utama
perekonomian, mengingat luasnya tanah, keterpencilan serta potensi perdagangan
yang belum dimanfaatkan. Para pemangku kepentingan menyadari pentingnya
peningkatan investasi di infrastruktur baru, serta pemeliharaan dan perbaikan
infrastruktur yang ada. Penyediaan pelayanan infrastruktur (dalam arti kuantitas
dan kualitas) yang tidak memadai dilihat sebagai kendala utama kedua dalam
usaha mencapai pertumbuhan yang inklusif setelah birokrasi pemerintah yang tidak
efisien (kendala pertama), dan kebijakan yang tidak stabil sebagai kendala ketiga2.
Tidak mengherankan kalau masyarakat bisnis pada umumnya, dan para investor pada
khususnya, telah menganggap transportasi, listrik dan telekomunikasi sebagai kendala
utama dalam melakukan bisnis di Indonesia. Informasi yang ada juga menunjukkan
bahwa akses terhadap infrastruktur, antara propinsi, sangat berbeda-beda.
Memusatkan perhatian pada infrastruktur sangat dibutuhkan karena: i) kontribusinya
pada pertumbuhan ekonomi; ii) kualitasnya yang relatif lemah; iii) infrastruktur
dianggap sebagai penghalang utama dalam melakukan bisnis di Indonesia; dan iv)
adanya ketimpangan regional dalam akses ke infrastruktur. Unsur-unsur ini akan
dibahas secara mendetil dalam pembahasan berikut.
(iii) Kontribusi Untuk Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Beberapa penelitian sudah mempelajari hubungan antara infrastruktur dan pertumbuhan
ekonomi di Indonesia. Misalnya, Mawardi (2004) menunjukkan bahwa infrastruktur
memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi. Temuan ini ditunjang oleh
CIDES (2007) dan penelitian empiris oleh Mustajab (2009) yang memperkirakan bahwa
1 persen kenaikan dalam investasi infrastruktur menyumbang 0,3 persen pada PDB3.
Hal ini menunjang pendapat yang mengatakan bahwa infrastruktur yang cukup dan
berkualitas bagus merupakan penggerak bagi pertumbuhan ekonomi berkesinambungan
dan pengurangan kemiskinan di Indonesia4.
2
3
4
World Economic Forum, Global Competitiveness Report, 2009-2010.
Mustajab (2009), Ph.D Thesis on Infrastructure Investment in Indonesia”.
Lihat bab 2.
2
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Pentingnya infrastruktur dalam pembangunan perekonomian Indonesia telah diakui
secara luas. Pada awal tahun 1970-an dan 1980-an, perbaikan infrastruktur pengairan di
daerah pedesaan dan jalan raya telah diberikan prioritas utama. Hal ini menyebabkan,
antara lain, kenaikan produksi pertanian yang sangat berarti, yang mengantarkan
Indonesia pada swasembada beras, makanan utama di Indonesia, pada pertengahan
tahun 1980-an. Pada waktu yang bersamaan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar
sekitar 7 persen pada tahun 1980-an, yang tidak pernah terjadi sebelumnya,
menimbulkankebutuhan yang tinggi terhadap pembangunan infrastruktur, terutama
di Jawa dan Bali. Untuk memenuhi permintaan ekonomi yang sedang berkembang,
pemerintah harus mempercepat investasi di sektor ini.
Sehubungan dengan ini, pemerintah menyetujui enam rencana pokok dibawah
program “Pembangunan Untuk Semua” (Development for All) di tahun
2009. Salah satunya adalah pembangunan ekonomi lokal di setiap daerah5.
Rencana ini mencakup peningkatan perhubungan antar daerah serta memperbaiki
kualitas dan kuantitas infrastruktur. Untuk menangani kendala infrastruktur dan
dampak buruknya terhadap pertumbuhan ekonomi, rencana pembangunan jangka
menengah 2010-1014 telah mengambil langkah-langkah penyelesaian yang memadai.
Karena pentingnya infrastruktur dalam pertumbuhan Indonesia, perlu kita pelajari
secara singkat kualitas infrastruktur di Indonesia.
(iv) Kualitas Infrastruktur Secara Keseluruhan
Menurut World Economic Forum Report (2010), kualitas infrastruktur Indonesia
secara keseluruhan berada pada peringkat ke-96 (dari 133 negara yang diteliti),
sedangkan Malaysia berada pada peringkat ke-27 dan Thailand ke-41. Namun
Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan Filipina (ke- 98) dan Vietnam (ke111) (Gambar1).
Hal ini perlu dikhawatirkan karena kondisi infrastruktur sangat erat kaitannya dengan
daya saing global suatu negara (misal, infrastruktur yang berkualitas lebih baik akan
menyebabkan daya saing yang lebih tinggi). Oleh karena itu tak heran jika buruknya
kondisi infrastruktur Indonesia telah berdampak buruk pada peringkatnya dalam daya
saing global. Menurut World Economic Forum Report (2010), Indonesia berada pada
peringkat 54, dibanding Malaysia (24), dan Thailand (36). Namun Indonesia lebih
kompetitif dibanding Filipina dan Vietnam.
(v) Lingkungan Bisnis Infrastruktur
Infrastruktur yang efisien dan memadai tidak hanya merupakan penggerak pertumbuhan
ekonomi, namun dia juga sangat penting untuk menjamin iklim investasi yang lebih
baik serta berfungsinya ekonomi secara efektif. Di Indonesia investasi di bidang
infrastruktur menghadapi berbagai tingkat resiko. Misalnya, BMI (2010) melaporkan
batas-batas keuntungan potensial atas investasi disebabkan oleh pasar infrastruktur
5
Pidato President RI di depan sidang istimewa paripurna DPRD , tanggal 19 Agustus 2009, Jakarta.
3
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Peringkat Kwalitas Infrastruktur Keseluruhan
Peringkat Daya Saing Global
yang buruk dan struktur negara di Indonesia dan negara-negara tetangga (Tabel 1).
Makin tinggi angka atau skor yang berkenaan dengan pasar infrastruktur dan struktur
negara, makin baik negara tersebut. Dalam bidang pasar infrastruktur, skor Indonesia
adalah 50, menunjukkan bahwa Indonesia lebih baik dari Malaysia, Thailand dan
Filipina. Namun dalam bidang struktur negara, skor Indonesia adalah 45,9 jauh di
bawah negara-negara tersebut, yang mengambarkan bahwa investor tidak melihat
adanya keuntungan potensial yang tinggi dari investasi infrastruktur. Berkenaan
dengan resiko realisasi keuntungan atas investasi, makin rendah skornya, makin baik
negaranya. Indonesia, dengan skor 41,8 untuk resiko pasar dan negara (misalnya:
birokrasi yang tidak efisien, resiko politik, tingkat korupsi yang lebih tinggi), lebih
beresiko dibandingkan dengan negara-negara tetangganya. Menggabungkan semua
faktor resiko, skor Indonesia adalah 46,5, lebih rendah dari Vietnam (53,2), Malaysia
Tabel 1: Penilaian lingkungan bisnis infrastruktur secara keseluruhan
Batas Keuntungan Potensial*
Resiko Realisasi Keuntungan**
Pasar
Struktur
Batasan
Infrastruktur Negara Keseluruhan
Resiko
Pasar
Resiko
Negara
Resiko
Keseluruhan
Peringkat
lingkungan
bisnis
infrastruktur
secara
keseluruhan
Indonesia
50,0
45,9
48,6
24
53,7
41,8
46,5
Malaysia
27,5
71,5
42,9
55
73,5
66,1
49,9
Thailand
25,0
75,7
42,8
55
62,5
59,5
47,8
Filipina
35,0
52,3
41,1
35
51,4
44,8
42,2
Vietnam
65,0
42,3
57,1
35
50,1
44,3
53,2
Sumber: Business Monitor International Ltd. (Q1 2010) Indonesia Infrastructure Report
*: Makin tinggi skor pasar infrastruktur dan struktur negara,makin baik negara tersebut.
**: Dalam hal resiko realisasi keuntungan, makin rendah skornya, makin baik negara tersebut.
4
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
(49,9), dan Thailand (47,8), menunjukkan bahwa lingkungan bisnis infrastruktur di
Indonesia secara relatif buruk, walaupun lebih baik dari Filipina (42,2). Problem
struktural yang telah berakar di Indonesia seperti tata kelola pemerintahan yang
buruk, resiko politik, dan kerangka hukum yang lemah, serta proses tender yang sama
sekali tidak transparan telah menurunkan peringkat lingkungan bisnis infrastruktur
Indonesia secara menyeluruh. Misalnya, menurut perkiraan Bank Dunia, korupsi
dapat menambah 20 persen terhadap biaya menjalankan bisnis di Indonesia6.
Karena rendahnya peringkat kualitas infrastruktur Indonesia, tidak heran bahwa secara
nasional ketidakmemadainya penyediaan infrastruktur telah diidentifikasi sebagai
faktor penghalang utama kedua untuk melakukan bisnis di Indonesia (Gambar 2).
Di negara-negara tetangga Malaysia dan Thailand, para pengusaha dan investor
menganggap ketidakmemadai atau ketidakcukupan infrastruktur sebagai faktor
penghambat yang ke 10. Dalam hal kecukupan infrastruktur, Indonesia tergelincir
dari peringkat ke-53 di tahun 2008 ke peringkat ke-55 di tahun 2009 (dari 57 negara),
jauh di belakang Malaysia (26) dan Thailand (42), namun sedikit di atas Filipina7.
Temuan-temuan dari sebuah survei yang dilakukan oleh Japan External Trade
Organization (JETRO) mengungkapkan bahwa 28,4 persen dari responden
perusahaan Jepang yang memiliki investasi aktif atau rencana investasi di luar Jepang
menganggap bahwa ketidakcukupan (baik kwantitas maupun kualitas) infrastruktur
Estimasi ini dilaporkan di dalam Business Monitor International Ltd., Indonesia Infrastructure Report Q1 2010
IMD World Competitiveness Yearbook (2009). International Institute of Management Development, World Competitiveness
Yearbook (2009) mengukur kelayakan infrastruktur berdasarkan seberapa jauh infrastruktur dasar, teknologi, ilmu
pengetahuan, kesehatan dan lingkungan serta pendidikan memenuhi kebutuhan para pengusaha dan investor.
6
7
5
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
merupakan kendala investasi yang terbesar di Indonesia. Yang mengkhawatirkan
adalah persentase diatas (28,4 persen) menunjukkan kenaikan dari hanya 23,9 persen di
tahun 2007. Temuan-temuan ini adalah tolok ukur penting untuk mengetahui persepsi
ketertarikan investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia, karena mereka
yang belum pernah menanamkan modal di Indonesia mempunyai kemungkinan yang
lebih untuk menanamkan modal di negara lain dibandingkan dengan mereka yang
sudah menanamkan modal di Indonesia.
(vi) Kesenjangan Infrastruktur Regional
Di tingkat daerah, masalahnya lebih akut karena adanya kesenjangan yang luas dalam
sumber daya alam dan kegiatan ekonomi seperti yang dibahas di bawah ini. Mengingat
luasnya Indonesia dan keterbatasan sumber dana, tidak mengherankan ada banyak
ketidak seimbangan dalam ketersediaan dan akses terhadap infrastruktur. Contohnya,
selain rendahnya teledensitas telepon rumah, terdapat juga disparitas yang amat besar
di seluruh negeri, mulai dari teledensitas yang paling tinggi di Jakarta (sekitar 25),
menengah di kota-kota besar (11-20), dan paling rendah di pedesaan IndonesiaTimur 0,2) 8.
Rumah tangga yang memiliki akses terhadap air minum juga menunjukkan keberagaman
yang menyolok di propinsi-propinsi. Pada tahun 2007, hampir 66 persen rumah tangga
di Sumatra dan 87 persen di Jawa memiliki akses air minum yang bersih, sedangkan di
Kalimantan hanya sekitar 50 persen dari rumah tangga yang dapat menikmati fasilitas ini9.
Akses terhadap infrastruktur dan aset produktif juga rendah dan tidak merata di
daerah-daerah. Pelanggan listrik, dalam persentasi, berkisar antara 37 sampai 73
persen dan akses pada jalan beraspal/beton, dalam persentasi desa, berkisar antara 40
sampai 72 persen.
Ketidak seimbangan di atas disebabkan oleh rendahnya investasi infrastruktur di luar
Jawa dan Sumatra. Tahun 2008, Jawa menerima 91,2 persen FDI (Foreign Direct
Investment - Investasi Asing Langsung) dan 60,1 persen investasi dalam negeri. Di sisi
lain, Sumatra mendapatkan 6,8 persen FDI dan 23,8 investasi dalam negeri. (Tabel 2)10.
Hal ini tidak mengherankan karena keuntungan atas investasi akan lebih tinggi
di daerah dengan kepadatan penduduk yang juga tinggi. Dalam rencana jangka
menengah (2010-2014), pemerintah bermaksud untuk mengalokasi lebih banyak
investasi pemerintah ke daerah-daerah yang jelas tidak menarik bagi investor swasta.
Ketidak seimbangan daerah harus segera dievaluasi untuk memaksimalkan dampak
pengeluaran pemerintah, sekaligus menghindari situasi dimana daerah-daerah
terbelakang merasa tersisihkan di dalam proses pembangunan.
Berdasarkan hal di atas, sudah jelas bahwa pembangunan infrastruktur yang memadai
merupakan hal yang amat penting, tidak hanya untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia
namun juga untuk meningkatkan taraf hidup rakyat. Namun kualitas dan kuantitas
infrastruktur Indonesia dan keseimbangan regional sangat diperlukan jika Indonesia
ingin mencapai pertumbuhan tinggi yang inklusif dan berkelanjutan.
8
9
Village Potency 2008.
BPS Susenas Kor 2007.
http://www.bkpm.go.id
10
6
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Tabel 2: FDI dan Investasi Domestik Langsung Yang Sudah
di Realisasikan dan Produk Regional Bruto Menurut Daerah (persentase dari total)
Investasi Asing Langsung
yang sudah direalisasikan
Investasi Domestik langsung
yang sudah direalisasikan
Persentase
terhadap
PDB
Propinsi
2006
2007
2008
2006
2007
2008
2007
Sumatera
15,0
13,5
6,8
21,8
30,8
23,8
23,0
Jawa
73,7
82,2
91,2
63,1
53,5
60,1
59,0
Bali danNusa
Tenggara
1,8
0,5
0,6
0,5
0,0
0,1
2,7
Kalimantan
8,9
2,9
0,8
12,3
4,5
8,9
9,1
Sulawesi
0,3
0,8
0,4
0,3
11,1
5,6
4,1
Maluku
0,3
-
-
0,0
-
-
0,3
Papua
0,0
0,0
0,1
2,0
-
1,4
1,9
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
Total
Untuk FDI and Investasi Domestik, website: http://www.bkpm.go.id
Untuk PRB, OECD Economic Survey, Indonesia Economic Assessment (July 2008)
Mengingat keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan, usaha
pemerintah akan lebih berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan jika
pemerintah senantiasa memusatkan perhatian untuk melonggarkan kendala-kendala
pengikat dalam pembangunan infrastruktur. (Kotak 1).
Penelitian ini berfokus pada ketidak-memadainya dan buruknya keadaan infrastruktur
di Indonesia dan bagaimana ini telah mempengaruhi pembangunan secara keseluruhan
di Indonesia. Bagian II menyajikan suatu kerangka kerja yang dikembangkan dalam
penelitian ini. Bagian III memberikan sebuah perspektif pada apa saja kendala
pengikat untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia. Bagian III diikuti dengan
analisa yang lebih mendalam mengenai beberapa sub-sektor kunci di Bagian IV
diikuti oleh Bagian V, dimana kesimpulan utama dari penelitian ini disajikan.
II.
KERANGKA KERJA UNTUK MENDIAGNOSA KENDALA KRITIS
PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
Menggunakan pendekatan diagnostik pertumbuhan yang dikembangkan oleh
Hausmann, Rodrik, dan Velasco (2005), kerangka diagnostik untuk sektor infrastruktur
telah dikembangkan (Gambar 3). Tambahan terhadap pendekatan Hausmann, Rodrik,
dan Velasco adalah dimasukkannya peran semua pemangku kepentingan (sektor
pemerintah dan swasta, kemitraan pemerintah dan swasta, dan para investor asing)
ke dalam pembangunan infrastruktur, berbeda dengan pendekatan yang sematamata hanya memperhatikan pada investasi swasta. Kerangka kerja ini memberikan
pendekatan yang konsisten untuk mengidentifikasi kendala yang paling mengikat
dalam pembangunan infrastruktur. Pendekatan ini merupakan alat praktis untuk para
7
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kotak 1: Mengurangi kesenjangan antar daerah harus menjadi prioritas jangka panjang
Ada kesenjangan yang tinggi di Indonesia antar daerah dilihat dari beberapa perspektif. Misalnya PDB
per kapita berkisar antara Rp. 2,4 juta di Gorontalo dan Rp. 36,7 juta di Jakarta; kepadatan penduduk
bervariasi mulai hanya 5 orang per km2 di Papua sampai 13.560 orang per km2 di Jakarta, Selain
itu, kesenjangan antar daerah juga jelas dalam hal besarnya arus investasi dan infrastruktur di tingkat
regional.
Kesenjangan ini disebabkan rendahnya tingkat investasi di daerah-daerah, yang disebabkan oleh proses
pengambilan keputusan berdasarkan keuntungan finansial dan sosial atas investasi. Contohnya dalam
penyediaan listrik di mana biaya jasa bervariasi antara sekitar Rp1000 per Kw untuk Rp4000 per Kw
di daerah yang berbeda (karena harga sudah tetap dan seragam di seluruh negeri, melayani sedikit
orang di daerah berpenduduk jarang akan menyebabkan kerugian tinggi). Oleh karena itu, dalam hal
infrastruktur (transportasi, komunikasi dan listrik), tidak mengherankan bahwa daerah-daerah padat
penduduk lebih cenderung memiliki infrastruktur yang lebih cukup, yang juga berkualitas lebih tinggi.
Mengingat terbatasnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan dalam pemerintahan, iklim
bisnis dan investasi secara keseluruhan, ada timbal balik (tradeoffs) dalam pemulihan ketidakseimbangan regional. Dalam jangka pendek, dengan berfokus pada pelonggaran kendala pengikat yang
terdentifikasi, pemerintah akan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk investasi yang lebih
tinggi, membawa negara ke arah pertumbuhan yang lebih tinggi, dan dengan demikian meningkatkan
taraf hidup sebagian besar penduduk. Namun, jika, dalam jangka pendek, pemerintah memutuskan
untuk mencurahkan perhatian pada penanganan masalah kesenjangan antar daerah, ada resiko bahwa
langkah tersebut tidak dapat memberikan dampak baik pada kesenjangan maupun pertumbuhan
ekonomi (karena pemerintah memiliki keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan
dan tidak akan mampu untuk mengatasi kendala pengikat).
Dengan demikian, pemerintah harus mempertimbangkan biaya peluang antara memilih keputusan
populis untuk mengurangi kesenjangan antar daerah atau mengejar pertumbuhan ekonomi. Sayangnya,
karena sumber daya yang terbatas (keuangan, fisik, kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan)
dalam pemerintahan, maka sebaiknya pemerintah tidak memaksakan diri untuk mencapai sesuatu
melebihi kapasitasnya untuk melaksanakan. Menghadapi kesenjangan antar daerah dan kendala
pengikat pertumbuhan ekonomi secara bersamaan dapat menyebabkan kelumpuhan, tanpa mencapai
kemajuan di salah satu kedua masalah tersebut. Oleh karena itu, maka lebih bijaksana bagi pemerintah
untuk memusatkan perhatian pada pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek (dengan mengendorkan
kendala pengikat) dan pada kesenjangan antar daerah dalam jangka panjang.
8
Gambar 3: Kendala Kritis dalam Pembangunan Infrastruktur
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
9
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
pembuat kebijakan yang dapat digunakan dalam merumuskan strategi untuk sektor
infrastruktur. Kerangka kerja ini juga dapat membantu komunitas donor internasional
dalam rangka penyediaan dana yang ditujukan untuk menghapus kendala pengikat
yang dihadapi oleh berbagai sub-sektor, sehingga dapat memaksimalkan dampak
pembangunan mereka pada Indonesia.
(i)
Kerangka Kerja Diagnostik Infrastruktur
Kerangka penelitian ini dimulai dengan sekumpulan faktor penentu dalam pembangunan
infrastruktur; dilanjutkan dengan pengidentifikasian yang mana diantara mereka yang
merupakan kendala yang paling mengikat bagi pembangunan infrastruktur, serta
menentukan penyimpangan-penyimpangan (distortion) tertentu dibalik kendala–
kendala pengikat tersebut. Kerangka kerja yang digunakan menangani sebab-sebab
utama kelemahan infrastruktur, yang berujung pada sebuah agenda kebijakan yang
berfokus pada pelonggaran kendala-kendala pengikat. Pendekatan ini sangat terarah,
dibandingkan dengan pendekatan “laundry list” dalam Konsensus Washington, yang
mencoba menghilangkan seluruh ketidak beresan secara serentak.
Kendala kritis pembangunan infrastruktur di Indonesia terkait dengan tiga faktor
besar: (i) rendahnya investasi pemerintah, (ii) rendahnya investasi swasta, dan (iii)
lemahnya kemitraan pemerintah-swasta. Untuk menentukan penyebab pokok yang
menyebabkan rendahnya tingkat investasi di masing-masing kategori, masalahmasalah dan penggerak di balik ketiga faktor tersebut diteliti.
Rendahnya Investasi Publik Dalam Infrastruktur: Diagnosa mulai dengan
mempelajari mengapa tingkat investasi dalam sektor ini rendah. Apakah ini karena
keterbatasan anggaran, atau kapasitas pelaksanaan yang terbatas? Apakah ini karena
korupsi atau tata kelola pemerintahan yang buruk?
Lemahnya Kemitraan Pemerintah-Swasta: Diagnosa membahas secara keseluruhan
tentang apa yang merupakan faktor utama yang membatasi kemitraan pemerintahswasta (PPP) dalam infrastruktur. Apakah PPP lemah karena kurang banyaknya
proyek yang layak pendanaan atau karena kerangka hukum tidak mencukupi?
Rendahnya Investasi Swasta dalam Infrastruktur: Kerangka diagnostik melihat
secara dalam apa yang menghambat tingkat investasi swasta di sektor ini. Apakah
rendah karena resiko mikro (yaitu, biaya tinggi melakukan bisnis) atau resiko makro
(yaitu, keuangan, moneter dan ketidak-stabilan fiskal)?
Hambatan dalam pembangunan infrastruktur diperiksa secara lebih rinci dengan
menggunakan data dan informasi terbaru yang tersedia. Hal ini memungkinkan
penentuan kendala pengikat dalam setiap kategori, dan memfasilitasi pengembangan
solusi yang spesifik untuk setiap sektor-sub. Berdasarkan kerangka diagnostik,
hipotesis berikut ini telah dikembangkan dan diuji / divalidasi.
10
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
(ii) Hipotesa
Rendahnya Tingkat Investasi Publik dalam Infrastruktur
(a)Pemerintah memiliki kapasitas yang terbatas dilihat dari segi sumber daya manusia
dan kelembagaan.. Hal ini berdampak buruk pada kemampuan pemerintah untuk
mengidentifikasi dan menerapkan proyek-proyek infrastruktur yang sesuai.
(b)Kemampuan pemerintah untuk meningkatkan investasi publik dalam infrastruktur
baru, serta pemeliharaan dan rehabilitasi infrastruktur yang ada terhambat oleh
sumber keuangan yang terbatas.
Rendahnya Tingkat Investasi Swasta Dalam Infrastruktur
(c) Investasi swasta dalam infrastruktur, khususnya jalan, jalan tol, dan listrik,
terhambat oleh masalah pembebasan tanah.
(d)Rendahnya tingkat investasi swasta terutama disebabkan oleh buruknya tata
kelola pemerintahan dan korupsi. Masalah ini diperparah oleh desentralisasi
kekuasaan, yang telah menciptakan kegiatan mencari-rente, termasuk pada tingkat
pemerintahan yang lebih tinggi.
(e)Ketidak-tersediaan pendanaan jangka panjang merupakan faktor yang menghambat
bagi investasi swasta dalam proyek infrastruktur, yang biasanya membutuhkan
waktu penyelesaian proyek yang lama.
(f) Resiko mikro, khususnya sekitar biaya melakukan bisnis, ditambah dengan
lemahnya kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia, menyebabkan adanya
proyek-proyek infrastruktur yang layak didanai bank yang tidak dipersiapkan
dengan baik, yang membuat sulit untuk menarik investor swasta masuk ke sektor
ini.
Lemahnya Kemitraan Pemerintah-Swasta
(g)Kemitraan publik-swasta yang lemah disebabkan oleh kurang banyaknyaproyekproyek yang layak didanai bank, kurangnya kapasitas kelembagaan, lemahnya
kerangka hukum,atau penyediaan infrastruktur berkualitas rendah dan tidak
memadai.
III.
MASALAH KUNCI DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
Mengikuti kerangka kerja di atas, tiga faktor besar yang menghambat pembangunan
di Indonesia sudah didentifikasi. Yakni, rendahnya investasi publik, rendahnya
investasi swasta, dan lemahnya kemitraan pemerintah-swasta. Sub-seksi berikut
akan membahasa kendala-kendala penting yang mempengaruhi investasi publik dan
swasta, dan kemitraan pemerintah-swasta di Indonesia.
Rendahnya Investasi Dalam dan Luar Negeri
Buruknya kualitas dan ketidak-memadainya infrastruktur yang sesuai terkait erat
dengan rendahnya tingkat investasi. Sejak krisis Asia, Indonesia tidak mampu
11
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
menyediakan dana yang memadai untuk pembangunan infrastruktur. Setelah krisis,
investasi di sektor ini menurun secara signifikan dari sekitar 8 persen terhadap PDB
pada 1997 menjadi sedikit di atas 2 persen pada tahun 2000, kemudian meningkat
secara bertahap menjadi sekitar 3,5 persen pada tahun 2006. Walaupun situasi telah
membaik sejak tahun 2000, tingkat investasi masih jauh di bawah tingkat sebelumkrisis. Penting untuk dicatat bahwa pada tahun 2005, investasi infrastruktur di
Indonesia (sekitar 3 persen dari PDB) lebih rendah dibandingkan di Malaysia, Thailand
dan Vietnam (lebih dari 7 persen dari PDB), namun setara dengan di Filipina11.
Investasi dari sektor swasta maupun sektor publik telah menurun, namun penurunan
investasi sektor swasta lebih drastis, menurun hingga di bawah 1 persen dari PDB dari
2 persen pada pertengahan 1990-an (Gambar 4). Investasi swasta sangat terkonsentrasi
pada bidang enerji, telekomunikasi, listrik dan transportasi (terutama jalan tol). Jumlah
investasi yang rendah ini harus dilihat dalam konteks rencana pemerintah jangka
menengah (2010-2014), dimana Indonesia akan memerlukan investasi infrastruktur
paling tidak 5 persen dari PDB12, dan Bank Dunia memperkirakan investasi yang
dibutuhkan antara 7 persen dan 9 persen dari PDB13. Secara absolut, dalam rencana
jangka menengah, diperkirakan Rp. 1.924 trilyun akan diperlukan untuk investasi di
bidang infrastruktur. Pemerintah dengan jelas telah menyatakan ketidakmampuannya
untuk membiayai kebutuhan infrastruktur, dan berusaha memanfaatkan dana dari
sektor swasta (domestik dan asing) serta menggerakkan sumber daya dari mitra
pembangunan.
FDIadalah sebuah sumber penting dalam pembiayaan sektor infrastruktur. Seperti
halnya investasi swasta domestik, arus FDI baru pulih perlahan-lahan dalam beberapa
tahun terakhir, namun tetap lebih rendah dari tingkat sebelum krisis. Data yang ada
menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan yang besar antara nilai FDI yang disetujui
dengan realisasi, khususnya pada tahun 2007. Pada tahun 2003, kesenjangan itu
sekitar $10 milyar, yang naik menjadi hampir $30 milyar pada tahun 2007. Perlu
dicatat bahwa hampir sepertiga dari FDI di tahun 2007 merupakan investasi di sektor
transportasi, pergudangan dan komunikasi (Tabel 3). Kesenjangan yang makin
tajam antara FDI yang disetujui dan yang direalisasikan merupakan suatu hal yang
mengkhawatirkan bagi komunitas investasi dan dampaknya terhadap lingkungan
bisnis di Indonesia.
Melemahnya Kemitraan Publik-Swasta
Tingkat partisipasi swasta dalam proyek infrastruktur menurun dari sekitar $ 7,5
miliar dalam tahun 1996 sampai kurang dari $1 milyar pada tahun 2000. Tingkat
partisipasi ini tetap rendah antara tahun 2001 dan 2005 (berkisar dari $1milyar ke
$2 miliar per tahun), tapi mulai berkembang sejak tahun 2005, mencapai sekitar $ 5
milyar di tahun 2007. Namun, tingkat partisipasi ini masih lebih rendah dari keadaan
di tahun 1996 (Gambar 4). Secara kumulatif, antara 1990 dan 2007, sektor swasta
World Bank. 2005. Connecting Asia: A New Framework for Policy and Action.
Bappenas. Rencana Jangka M(2010-2014).
Bappenas. Rencana Jangka M(2010-2014).
11
12
13
12
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Gambar 4: Investasi Infrastruktur di Indonesia, 1996-2006
9.0
(persen dari PDB)
8.0
7.0
6.0
5.0
4.0
3.0
2.0
1.0
0.0
1996
1997
1998
Swasta
1999
BUMN
2000
2001
2002
2003
Pemerintah daerah
2004
2005
2006
Pemerintah pusat
Sumber: Data disediakan oleh Asian Development Bank, Jakarta, Indonesia
berpartisipasi dalam 86 proyek infrastruktur bernilai lebih dari $ 40 milyar, terutama
dalam sektor listrik, telekomunikasi, dan jalan.
Rencana Investasi Infrastruktur Jangka menengah
Menurut perkiraan sementara, dalam rencana jangka menengah infrastruktur
untuk 2010-2014, pemerintah telah memperkirakan total kebutuhan pembiayaan
infrastruktur sebesar Rp 1.429 triliun, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan lebih
Tabel 3: Investasi Asing Langsung yang
disetujui dan yang di realisasikan di Indonesia, 2003-20071/
2003
2004
2005
2006
2007
16.305
10.471
13.640
15.665
40.146
2,2
2,6
0,2
7,5
3,6
Konstruksi (persen dari total)
5,5
9,2
12,4
16,3
4,3
Transportasi, Pergudangan &
Komunikasi (persen dari total)
28,2
5,6
22,8
1,9
12,0
5.445
4.572
8.911
5.992
10.341
Yang termasuk didalamnya: Listrik,
Gas & Air Minum (persen dari total)
1,4
0,1
0,8
1,8
1,2
Konstruksi (persen dari total)
1,9
8,4
10,3
2,4
4,3
Transportasi, Pergudangan &
Komunikasi (persen dari total)
49,0
2,3
33,1
10,8
32,0
-10.860
-5.899
-4.729
-9.673
-29.805
FDI yang disetujui (US $ juta)
Yang termasuk didalamnya: Listrik,
Gas & Air Minum (persen dari total)
Realisasi FDI (US $ juta)
Selisih antara FDI yang disetujui dan
yang direalisasi (US $ juta)
Source: Indonesia, Memorandum Penawaran (April 2009), dan BKPM.
1/Kecuali FDI dalam proyek minyak dan gas bumi, perbankan, lembaga keuangan non-bank, asuransi, leasing,
pertambangan, portofolio serta investasi rumah tangga .
13
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
dari 12 persen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekitar 5 sampai7 persen
per tahun. Pemerintah menargetkan peningkatan saham investasi infrastruktur
sampai 5 persen dari PDB (Gambar 5). Selama lima tahun ke depan, pemerintah
akan mempromosikan perbaikan iklim investasi dengan melibatkan sektor swasta.
Pemerintah juga merencanakan untuk melakukan berbagai reformasi untuk menarik
investor domestik dan asing untuk berinvestasi di infrastruktur. Dalam hal ini,
pemerintah telah menerbitkan Buku PPP, yang berisi rencana-rencana untuk proyekproyek infrastruktur yang akan ditawarkan kepada sektor swasta. Dalam Buku PPP,
100 proyek dengan total biaya $7,3 milyar telah diidentifikasi, terutama di jalan tol,
penyediaan air, kereta api dan listrik14.
400
Gambar
5: 5:
Permintaan
jangakGambar
Permintaanuntuk
untukRencana
Rencana infrastruktur
infrastruktur jangkamenengah
didiIndonesia,
Rp.milyar) )
menengah
Indonesia,2010-2014
2010-2014 (( Rp.milyar
358
350
345
311
300
234
250
200
180
150
100
50
0
2010
2011
2012
2013
2014
Sumber: BAPPENAS, 2010
Dalam rencana jangka menengah, kapasitas pemerintah pusat untuk membiayai hanya
47 persen sedangkan sisa kesenjangan akan ditanggung oleh pemerintah daerah (28
persen) dan PPP (25 persen). (Gambar 6)15.
Meskipun ada upaya bersama oleh pemerintah16, investasi kemitraan publikswasta dalam infrastruktur belum tercapai sejauh yang diinginkan. Oleh karena itu,
World Bank dan IFC (June 2009).
Dinyatakan oleh Deputi Menteri untuk Rencana Pembangunan Nasional Badan, Dedy Priatna, 17 Desember 2009.
Misalnya, dari perspektif kelembagaan, selain instansi-instansi yang berhubungan dengan infrastruktur, pada tahun
2005 pemerintah menghidupkan kembali Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur (KKPPI) untuk lebih
mengintegrasikan upaya-upaya mengatasi meningkatnya permintaan untuk infrastruktur. Sejumlah unit pendukung
seperti Unit Manajemen Risiko dan Badan Investasi Pemerintah di bawah Departemen Keuangan didirikan bersama
dengan sejumlah pusat PPP, Pusat Koordinasi Pemerintah-Swasta dan Badan Layanan Umum. Sejumlah kegiatan
untuk mendorong investasi swasta di bidang infrastruktur, seperti Infrastructure Summit 2005, dan Infrastructure
Forum2006, telah dilakukan.. Pada tahun 2006, pemerintah meluncurkan Paket Kebijakan Investasi yang bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas kelembagaan dan koordinasi antar kementerian yang menangani pembangunan infrastruktur dan
peraturan-peraturan. Undang-undang Anggaran Tahun 2008 juga menunjukkan peningkatan dukungan pemerintah untuk
pembangunan infrastruktur.
14
15
16
14
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
penghambat partisipasi sektor
swasta di bidang infrastruktur
harus dianalisa. Selain itu, harus
dipastikan bahwa proyek-proyek
potensial dikemas dengan tepat
sehingga mereka menjadi lebih
menarik bagi sektor swasta untuk
berpartisipasi. Untuk mencapai
hal ini, kapasitas lembaga yang
bersangkutan dalam melaksanakan
proyek-proyek kerjasama publikswasta perlu diperkuat di berbagai
bidang seperti persiapan dan
pemasaran proyek yang layak
didanai bank untuk menarik dana
jangka panjang dalam negeri dan
asing (Gambar 7).
Atas dasar tersebut di atas, jelaslah bahwa tingkat investasi masih jauh di bawah
kebutuhan untuk membangun perekonomian yang kompetitif dan berkembang
pesat. Oleh karena itu, sudah sepantasnya perlu diperoleh pemahaman yang lebih
dalam tentang penyebab pokok di balik rendahnya tingkat investasi tersebut. Untuk
melakukannya, perlu dilakukan suatu analisis tentang sub-sektor infrastruktur yang
penting.
IV.
FAKTOR
KUNCI
YANG
MEMPENGARUHI
INFRASTRUKTUR DI INDONESIA
INVESTASI
Untuk menentukan sebab utama investasi yang tidak memadai di sektor infrastruktur,
IDB melakukan sebuah survei primer terhadap beberapa pemangku kepentingan
15
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
terpilih yang aktif di sektor infrastruktur antara bulan November dan Desember 2009
di Jawa.
Untuk lebih memahami berbagai pertanyaan yang akan digunakan untuk survei
sesungguhnya, sebuah survei uji coba kuesioner menggunakan diskusi tatap
muka, dilaksanakan di Jawa. Berdasarkan survei uji coba ini, kuesioner kemudian
disempurnakan dan kemudian dikirim ke perusahaan-perusahaan besar yang mewakili
sektor publik dan swasta, kemitraan publik-swasta, dan lembaga keuangan yang
terlibat dalam pembangunan infrastruktur. Ukuran sampel secara keseluruhan adalah
55 pemangku kepentingan kunci (termasuk yang dicakup dalam uji coba kuesioner).
Responden dipilih berdasarkan keterlibatan mereka dalam sektor infrastruktur,
khususnya di bidang transportasi, komunikasi, listrik, air dan sanitasi serta lembaga
yang secara aktif terlibat dalam proyek-proyek infrastruktur.
Tujuan utama survei itu adalah untuk memperoleh pemahaman dari tangan pertama
tentang alasan pokok yang menghambat investasi infrastruktur di Indonesia. Secara
khusus, fokus utama survei adalah pada faktor yang berhubungan dengan kegagalan
pemerintah. Keputusan ini diambil berdasarkan diskusi-diskusi sebelum survei,
pertama dalam lokakarya awal (Agustus 2009) dan kemudian di lokakarya konsultasi
(November 2009) di Jakarta yang dihadiri oleh para pemangku kepentingan sektor
publik dan swasta.
Dari 55 responden potensial, tanggapan diterima dari 30 individu baik dari sektor
publik (8 tanggapan) dan swasta (22 tanggapan), berarti tingkat respon (response rate)
sebesar 55 persen, cukup layak dari sudut pandang statistik.
Kuesioner ini terdiri dari enam bagian, mencakup hal-hal yang merupakan perhatian
utama para pemangku kepentingan kunci di sektor infrastruktur. Lima bagian
pertama membahas hal-hal yang berkaitan dengan ketenaga-kerjaan, modal, tanah
dan lingkungan, dan kepemerintahan serta biaya melakukan bisnis. Bagian VI
bertujuan untuk menggali iklim bisnis dan investasi serta kemajuan yang dicapai oleh
pemerintah selama tiga tahun terakhir.
Sebagian besar pertanyaan berkaitan dengan ketersediaan/akses terhadap sumber
daya, biaya dan kualitas sumber daya yang tersedia; dan dampaknya terhadap kegiatan
yang berkaitan dengan infrastruktur di Indonesia. Semua faktor ini saling terkait satu
dengan yang lainnya. Semua pertanyaan ditentukan berdasarkan kategori sebagai
berikut.
• Ketersediaan/Akses: Fokus dari pertanyaan ini adalah pada ketersediaan/akses
terhadap faktor tertentu, semata-mata dari perspektif kuantitatif. Misalnya,
dana/pembiayaan jangka pendek mungkin tersedia secara luas (yaitu, tidak ada
kelangkaan/kekurangan dana), tetapi pada kenyataannya mungkin biaya untuk
mengakses pembiayaan tersebut atau syarat-syarat yang terkait dengan dana
tersebut yang tak terjangkau. Oleh karena itu dalam konteks ini, responden akan
menyatakan bahwa pendanaan jangka pendek tersedia meskipun ada masalah
biaya untuk mengakses dana tersebut.
16
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
• Biaya: Dalam kategori ini, fokusnya hanya pada biaya variabel. Para responden
ditanyai tentang persepsi mereka terhadap biaya sumber daya yang tersedia
termasuk tanah, tenaga kerja, dan modal dalam biaya total produksi.
• Kualitas: Kualitas adalah petunjuk tingkat kepuasan yang diperlihatkan oleh
responden terhadap suatu masalah tertentu/variabel. Meskipun kualitas dan
biaya cenderung sejalan searah, untuk pertanyaan mengenai masalah kualitas,
biaya tidak dipertimbangkan. Misalnya, tentang layanan/jasa pengiriman, fokus
sepenuhnya adalah pada tingkat pelayanan yang diterima, bukan pada apakah jasa
tersebut telah memenuhi standar sesuaidengan biaya yang dikeluarkan.
• Dampak terhadap Bisnis: Pada pertanyaan ini, dampaknya tidak murni terkait
dengan keuntungan atas investasi, namun lebih pada pengaruh dari berbagai
faktor, seperti produktivitas, kerangka hukum dan kemudahan melakukan bisnis
di iklim usaha dan investasi secara keseluruhan.
Setiap respon memberikan perspektif/fokus sempit pada unsur yang dipertimbangkan.
Jika dilihat secara terpisah, ada kemungkinan diperoleh hasil yang yang berfokus
pada “mengobati gejala” daripada berfokus pada penyelesaian akar masalah, akibat
dari pemahaman parsial/sebagian yang diperoleh dari analisa. Namun, untuk dapat
memperoleh perspektif yang lebih menyeluruh tentang masalah infrastruktur, kita
harus melihat respon-respon untuk semua kategori (ini dibahas secara lebih rinci di
bawah sub-bagian ‎iv): “Kendala Pengikat Utama dalam Pembangunan Infrastruktur”).
(i)
Faktor yang Menghambat Pembangunan Infrastruktur
Berdasarkan analisa hasil survei, dibawah ini disajikan temuan-temuan tentang faktor
yang berhubungan dengan ketersediaan, biaya, kualitas dan dampak terhadap bisnis
yang berhubungan infrastruktur.
Kelangkaan
Dalam hal ketersediaan/akses, (1) kurangnya koordinasi di dalam pemerintahan;
(2) rendahnya kualitas proyek yang layak didanai bank, dan (3) lemahnya kapasitas
pelaksanaan pemerintah, disorot sebagai faktor kunci yang menghambat pembangunan
infrastruktur. Hasil survei menunjukkan bahwa antara 48 persen dan 62 persen dari
responden melaporkan faktor-faktor tersebut sebagai suatu kelangkaan (Gambar 8).
Khususnya, 62 persen responden menyatakan lemahnya koordinasi di antara berbagai
tingkatan pemerintahan yang berurusan dengan infrastruktur.
Tiga unsur di atas (yaitu kurangnya koordinasi, rendahnya kualitas proyek-proyek
yang layak didanai bank dan lemahnya kapasitas implementasi) adalah indikasi dari
lemahnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan dalam pemerintahan, dan
kelangkaan kapasitas tersebut telah diidentifikasi oleh para pemangku kepentingan
sebagai kendala investasi infrastruktur.
17
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kekurangan "artisan"
Kekurangan pekerja tak
berketerampilan
Kekurangan pekerja
berketerampilan teknik
kesulitan dalam hubungan
dengan pemerintah daerah
Kesulitan dalam hubungan
dengan pemerintah pusat
Kelangkaan pendanaan jangka
pendek
Kelangkaan pendanaan lokal
Kurangnya staff tingkat
manajemen
Kurangnya insentif investasi
Lemahnya kapasitas
implementasi
Kurangnya pendanaan jangka
panjang
Kelangkaan pendanaan
internasional
Kesulitan mendapatkan lahan
Kurangnya koordinasi dalam
pemerintahan
Rendahnya kualitas proyek
layak dana
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Gambar 8: Faktor yang Menghambat Pembangunan Infrastruktur
di Indonesia (% responden melaporkan faktor ini sebagai suatu
kelangkaan)
Sumber: IDB (Desember 2009) Survei dilakukan untuk menjalankan penelitian diagnostik dalam Pembangunan Infrastruktur di Indonesia
Keprihatinan juga dinyatakan pada masalah ketersediaan lahan karena 52 persen
responden mengatakan bahwa akses terhadap lahan merupakan suatu penghalang bagi
pembangunan infrastruktur, terutama untuk proyek-proyek jalan/jalan tol, listrik, dan
komunikasi. Selain itu, pembiayaan, khususnya yang bersifat jangka panjang, disorot
juga sebagai hambatan, dengan 48 persen responden menyebutkan pendanaan jangka
panjang sebagai suatu kelangkaan.
Hal-hal lain seperti kurangnya insentif investasi juga disebutkan sebagai suatu
kerisauan oleh 40 persen responden. Kurangnya insentif ini harus dilihat dalam
konteks kualitas iklim usaha dan dukungan dari pemerintah untuk investasi dan
kegiatan bisnis baru. Hal ini, yang disertai dengan kurangnya tenaga terampil (staf
manajerial dan tenaga ahli teknis), juga adalah faktor penghalang. Namun, mereka
tidak mengikat, dan dapat diselesaikan begitu kendala utama (kapasitas kelembagaan
dan sumber daya manusia, pembebasan tanah dan ketersediaan dana) tertangani atau
terselesaikan.
Biaya
Pembebasan tanah diidentifikasi sebagai faktor kendala yang paling utama atau
signifikan dengan 69 persen responden mengatakan bahwa penguasaan lahan untuk
proyek infrastruktur cukup mahal. Selain itu, tata kelola pemerintahan yang buruk
(yang tercermin pada tingginya kegiatan mencari rente) telah diungkapkan oleh 58
persen responden (Gambar 9).
Tingginya biaya pendanaan, terutama yang jangka pendek, juga muncul sebagai
permasalahan, disertai dengan masalah perijinan usaha (indikasi biaya melakukan
18
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Gambar 9: Faktor yang Menghambat Pembangunan Infrastruktur di Indonesia
(% responden melaporkan faktor ini mahal)
70%
60%
50%
40%
30%
20%
Tingginya biaya "artisan"
Tingginya tingkat upah
Tingginya biaya pekerja tak
berketerampilan
Tingginya biaya pekerja per unit
Tingginya biaya staf tingkat manajemen
Mahalnya biaya kepatuhan pada
administrasi pajak
Tingginya biaya berinteraksi dengan
pemerintah pusat
,Tingginya biaya pekerja yang
berketerampilan
Mahalnya pendanaan internasional
Tingginya biaya melakukan bisniss
Mahalnya kepatuhan kepada peraturan
perburuhan
Mahalnya biaya berhubungan dengan
pemerintah daerah
Tingginya tingkat pajak daerah
Mahalnya kepatuhan kepada peraturan
Tingginya pajak pemerintah daerah
Mahalnya pendanaan jangka panjang
Mahalnya pendanaan lokal
Mahalnya kepatuhan kepada peraturan
lingkungan
Tingginya ongkos perijinan usaha
Mahalnya pendanaan jangka pendek
Tingginya harga tanah
0%
Tingginya kegiatan mencari rente
10%
Sumber
: IDB (Desember 2009) Survei dilakukan untuk menjalankan penelitian diagnostik dalam Pembangunan Infrastruktur di Indonesia
bisnis). Namun, kecil persentase responden yang menyatakan tingginya biaya tenaga
kerja (misal manajerial, pengrajin (artisan), dan tenaga kerja tidak terampil).
Kualitas
Proyek yang layak didanai bank telah dinyatakan oleh semua responden (100
persen) sebagai proyek berkualitas buruk (Gambar10). Ini menggambarkan masalah
mendasar dalam kapasitas pemerintahan, terutama tentang kemampuannya untuk
mempersiapkan proyek yang layak didanai bank secara tepat. Perlu ditegaskan
kembali bahwa responden berasal dari sektor swasta dan publik dan lembaga yang
aktif terlibat dalam sektor infrastruktur, baik dalam kapasitas mereka sebagai penasihat
atau pembiaya. Oleh karena itu, di dalam sektor publikpun ada perasaan yang kuat
bahwa kekurang memadainya kapasitas merupakan kendala untuk mempersiapkan
proyek yang layak didanai bank.
Lemahnya tingkat koordinasi di dalam pemerintah diidentifikasi oleh 85 persen
responden. Ketidak efektifan interaksi pemerintah propinsi dinyatakan oleh 67 persen
responden, sedangkan ketidak efektifan pemerintah pusat dinyatakan olehhanya 46
persen responden. Dengan demikian, jelas bahwa kerisauan tentang kualitas adalah
lebih terlihat di tingkat provinsi dibandingkan dengan tingkat nasional. Informasi ini
kembali menekankan keprihatinan tentang lemahnya kapasitas sumber daya manusia
dan kelembagaan dalam pemerintahan, khususnya di daerah/pemerintah daerah.
19
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Buruknya kualitas pekerja
berketerampilan teknik
Buruknya kualitas staf
tingkat manajemen
Lemahnya administrasi
pajak
Lemahnya peraturan
perburuhan
Buruknya kualitas pekerja
tak berketerampilan
Tidak efektinya hubungan
dengan pemerintah pusat
Buruknya kualitas "artisan"
Tak memadainya kapasitas
implementasi
Lemahnya lingkungan
peraturan
Tidak efektifnya hubungan
dengan pemerintah daerah
Lemahnya koordinasi antara
berbagai tingkat…
Buruknya kualitas proyek
layak dana
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Gambar 10: Faktor yang Menghambat Pembangunan Infrastruktur
di Indonesia (% responden melaporkan faktor ini menunjukkan
rendahnya kualitas)
Sumber: IDB (Desember 2009) Survei dilakukan untuk menjalankan penelitian diagnostik dalam Pembangunan Infrastruktur di Indonesia
(ii) Dampak Kelangkaan, Biaya Tinggi, dan Buruknya Kualitas Pada Bisnis
yang terkait dengan Infrastruktur
Menurut survei, tata kelola pemerintahan, akses terhadap tanah, kapasitas sumber
daya manusia dan kelembagaan dalam pemerintahan (berasal dari informasi tentang
koordinasi pemerintah, kapasitas implementasi, interaksi, dan proyek layak dana),
kerangka hukum dan peraturan, serta pendanaan jangka panjang disorot sebagai
hal yang memberi dampak merugikan pada bisnis yang terkait dengan infrastruktur
(Gambar 11).
Stabilitas makro ekonomi tidak disebutkan oleh responden (nol persen) sebagai
berdampak buruk pada bisnis yang terkait dengan infrastruktur. Hal ini, serta tingkat
upah dan tenaga kerja di semua tingkatan, disorot sebagai masalah kecil.
(iii) Perbaikan Lambat dalam keseluruhan Iklim Bisnis dan Investasi Untuk
Bisnis yang terkait Infrastruktur Selama Tiga Tahun Terakhir
Memperhatikan perbaikan dalam berbagai faktor yang berhubungan dengan
keseluruhan iklim bisnis dan investasi untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia,
terlihat jelas adanya sedikit perbaikan pada tingkat keuntungan atas investasi (86
persen dari pemangku kepentingan memiliki pandangan seperti ini) (Gambar 12)17.
Sehubungan dengan pendanaan, ketersediaan pembiayaan jangka menengah dan
panjang belum membaik selama tiga tahun terakhir, dengan 76 persen dan 73 persen
Hal ini konsisten dengan tanggapan sebelumnya yang menunjukkan kurangnya insentif investasi. Tidak adanya perbaikan
iklim usaha secara keseluruhan didukung oleh Bank Dunia Doing Business 2010 yang terbaru, dimana peringkat Indonesia
tergelincir dalam hal-hal seperti mengakses kredit (dari 109 ke 113), menegakkan kontrak (dari142 ke146), membayar
pajak (dari 119 ke 127), dan peningkatan dalam hal memulai bisnis (dari 173 ke 161).
17
20
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Tingkat upah
Stabilitas makro ekonomi
Pendanaan jangka pendek
Tingkat pajak
Staf tingkat manajemen
Biaya pekerja per unit
Peraturan perburuhan
Pekerja tak berketerampilan
Biaya melakukan bisnis
Pekerja berketerampilan teknik
Izin usaha
Insentif investasi
"Artisan"
Pajak administrasi
Penentuan tarif oleh pemerintah
Pendanaan lokal
Pendanaan internasional
Pendanaan jangka janjang
Lingkungan hukum dan peraturan
Hubungan dengan dengan pemerintah pusat
Hubungan dengan pemerintah daerah
Kepatuhan terhadap peraturan lingkungan
Proyek layak dana
Pajak pemerintah daerah
Kapasitas implementasi pemerintah
Koordinasi antara berbagai tingkat pemerintahan
Akses pada tanah
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Tata kelola pemerintahan
Gambar 11: Faktor yang Menghambat Pembangunan Infrastruktur di Indonesia
( % responden melaporkan faktor berdampak buruk pada bisnis)
Sumber: IDB (Desember 2009) Survei dilakukan untuk menjalankan penelitian diagnostik dalam Pembangunan Infrastruktur di Indonesia
dari semua responden menyebutkan tidak adanya perbaikan, baik dalam pembiayaan
menengah dan jangka panjang, maupun dalam pembiayaan jangka pendek, secara
berturut-turut.
Survei ini menunjukkan bahwa, di masa lalu, stabilitas ekonomi makro tetap
dipertahankan dan dipandang positif oleh investor, dan kedua-duanya (investasi
publik dan tabungan swasta) tampaknya tidak menjadi kendala penting untuk
investasi pada infrastruktur. Hal ini menunjukkan bahwa kendala utama yang luas,
Tata kelola pemerintahan
Pajak usaha
Suku bunga jangka pendek
(kurang dari 3 tahun)
Suku bunga jangka menengah
(3-5 tahun)
Hubungan dengan pemerintah
Kurangnya staf tingkat
manajemen
Kurangnya pekerja
berketerampilan sedang
Kurangnya pekerja
berketerampilan
Kurangnya mesin dan peralatan
Hubungan dengan petugas pajak
Kurangnya pemeliharaan dan
pendukung
Ketersediaan pendanaan jangka
pendek (kurang dari 3 tahun)
Ketersediaan pendanaan jangka
menengah dan panjang (> 3 tahun)
Keuntungan investasi
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Gambar 12: Kurangnya Perbaikan Iklim Bisnis dan Investasi untuk
Pembangunan Infrastruktur di Indonesia (% responden melaporkan faktor ini
tak ada perbaikan sejak 3 tahun terakhir)
Sumber: IDB (Desember 2009) Survei dilakukan untuk menjalankan penelitian diagnostik dalam Pembangunan Infrastruktur di Indonesia
21
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
yang menghambat laju pembangunan infrastruktur, adalah masalah pembebasan tanah
dan rencana tata ruang, lemahnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan
untuk melaksanakan proyek, tidak sedianya dana jangka panjang, dan buruknya tata
kelola pemerintahan.
Dengan menggabungkan kendala yang teridentifikasi berdasarkan informasi dan
data yang tersedia, pembicaraan-pembicaraan dengan sektor swasta dan publik
(antara September 2009 dan November 2009), dan hasil survei (yang memberikan
dukungan empiris), penelitian ini telah menetapkan kendala-kendala pengikat dalam
investasi infrastruktur. Harus kita sadari bahwa penelitian ini tidak dimaksudkan
untuk memberikan “laundry list” tentang kendala yang harus ditangani dalam jangka
menengah dan jangka panjang, tapi lebih berfokus pada kendala pokok yang paling
mengikat yang dapat ditangani dalam jangka pendek.
Analisa sub-sektor terhadap informasi dan data yang tersedia mengkonfirmasi
temuan-temuan yang diperoleh dari pembicaraan-pembicaraan dengan sektor swasta
dan publik, dan survei. Dari analisa terlihat beberapa penghambat yang berkaitan
satu sama lainnya yang menghalangi investasi infrastruktur di Indonesia. Ringkasan
kendala pengikat untuk berbagai sub-sektor disajikan di Tabel 31.
(iv) Kendala-Kendala Utama Dalam Pembangunan Infrastruktur
Berdasarkan hasil survei, kendala utama yang diidentifikasi oleh responden
dengan peringkat masing-masing disajikan di Tabel 4 and Gambar 1318.
Pembebasan tanah dinyatakan sebagai kendala pokok pertama investasi infrastruktur,
diikuti oleh lemahnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan (kendala
pokok ke-2); tata kelola pemerintahan (kendala pokok ke-3), dan pendanaan (kendala
pokok ke-4). Alasan yang mendasari semua kendala ini terdapat dalam pembahasan
pada bagian berikut ini pada analisa sub-sektor infrastruktur.
V.
ANALISA SUB-SEKTORAL19
Infrastruktur mencakup beberapa aspek termasuk tenaga listrik (semua jenis), pasokan
air, sanitasi, komunikasi, transportasi (jalan dan jembatan, pelabuhan, bandara, kereta
api), perumahan, pelayanan perkotaan, produksi minyak dan gas dan pertambangan.
Namun bukanlah cakupan penelitian untuk membahas semua elemen infrastruktur,
melainkan, penelitian ini memfokus pada sub-sektor yang paling penting bagi
pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif di Indonesia. Dalam hal ini, penelitian
ini membatasi diri untuk menganalisa sektor transportasi (jalan/jalan tol, kereta api,
bandara, dan pelabuhan), listrik, dan komunikasi. Dilihat dari berbagai perspektif,
sub-sektor tersebut sangat penting bagi pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif.
Misalnya, kemajuan industri dan pembangunan pertanian sangat bergantung pada
baiknya sektor listrik, transportasi dan komunikasi.
Temuan-temuan ini sebanding dengan temuan dalam Global Competitiveness Report (2009-2010), dimana ketidak
efisienan birokrasi pemerintah (setara dengan lemahnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan) merupakan
masalah yang paling disebut-sebut, dengan korupsi di peringkat ke-empat, akses ke pendanaandi peringkat lima, dan
tenaga kerja dan peraturan pajak peringkat enam, dan tujuh, secara berturut-turut.
19
Keterangan lebih rinci dijabarkan dalam Lampiran B-G
18
22
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Tabel 4: Peringkat Faktor-faktor yang berdampak
negatif pada Pembangunan Infrastruktur di Indonesia
Kendala
Utama
Kelangkaan
Biaya
Dampak
Peringkat
keseluruhan3
% dari
responden
Peringka2
% dari
responden
Peringkat2
% dari
responden
Peringkat2
Kesulitan
pembebasan
tanah
52
2
69
1
61
1
1
Kapasitas
Manusia dan
Kelembagaan
Lemah1
55
1
48
4
45
3
2
Tata Kelola
Pemerintahan
buruk
N/A
N/A
58
2
58
2
3
45
3
49
3
34
4
4
Kurangnya
pembiayaan
Faktor ini adalah masalah mendasar di balik perspektif negatif pada beberapa bidang termasuk: Koordinasi Pemerintah,
Proyek Layak Dana, Kapasitas Implementasi , Interaksi dengan Pemerintah, dan Kerangka Hukum dan Peraturan
Peringkat 1, 2, 3 dan 4 adalah berdasarkan persentasi responden yang menyatakannya sebagai kendala utama
3
Peringkat keseluruhan berdasarkan bobot (yaitu 50 untuk kelangkaan, 30 untuk Biaya dan 20 untuk Dampak. Sumber:
IDB (Desember 2009) Survei Dilakukan untuk Diagnostik Studi Pembangunan Infrastruktur Indonesia
1
2
Untuk memahami secara lebih dalam tentang sebab-sebab utama ketidak memadainya
mutu dan kuantitas infrastruktur di Indonesia, sangatlah penting untuk mengidentifikasi
sub-sektor kunci yang menyebabkan rendahnya daya saing sektor infrastruktur.. Hal
ini akan memungkinkan pembuatan respon kebijakan yang lebih bertarget dan tepat.
Setelah sub-sektor kunci diidentifikasi, analisa yang mendalam dilakukan untuk
menentukan kendala pengikat yang menghambat investasi di setiap sub-sektor.
Gambar 13: Kendala Utama Investasi Infrastruktur Indonesia
(Berdasar Hasil Survei)
Ke-1
Ke-2
Ke-3
Ke-4
Masalah Pembebasan
Tanah
Kapasitas Manusia dan
Kelembagaan yang
Lemah
23
Tata Kelola
Pemerintahan
yang buruk
kurang Pendanaan
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kualitas Infrastruktur menurut Sub-Sektor
Sebuah infrastruktur transportasi yang telah dikembangkan dengan baik memainkan
peran penting dalam pembangunan ekonomi, sebab jaringan komunikasi yang sudah
maju mempermudah dan meningkatkan perdagangan dalam dan luar negeri. Di antara
berbagai jenis transportasi, kereta api dianggap paling nyaman dan cocok untuk
membawa barang-barang berat dan besar. Kereta api juga menghubungkan berbagai
daerah dan meningkatkan mobilitas penduduk. Demikian pula, sebuah transportasi
jalan yang efisien adalah cocok untuk membawa barang-barang tahan lama dan
berukuran kurang besar. Khususnya, jalan pedesaan yang lebih baik sering mendorong
pertumbuhan pertanian, sehingga meningkatkan pendapatan pedesaan. Sedangkan
dalam hal perdagangan luar negeri, transportasi sangat tergantung pada infrastruktur
pelabuhan karena transportasi sungai dan laut adalah cara transportasi yang termurah
untuk membawa barang-barang yang besar dalam jarak jauh. Akhirnya, perdagangan
barang ringan tetapi bernilai tinggi serta barang tahan lama sebagian besar dibawa
lewat udara. Semua jenis transportasi tersebut sangat penting untuk pembangunan
berkelanjutan di Indonesia.
Pasokan listrik yang terpercaya sangat penting bagi industrialisasi yang pesat
dan pembangunan pertanian. Semua sub-sektor infrastruktur seperti pasokan air,
transportasi, dan komunikasi juga membutuhkan pasokan listrik secara terusmenerus. Di sisi lain, pasokan listrik yang mahal dan tidak teratur sering menghambat
pertumbuhan ekonomi.
Studi ini mencoba untuk mengetahui sub-sektor infrastruktur mana yang merupakan
kendala utama dalam pertumbuhan ekonomi dan mengapa? Tidak ada keraguan
bahwa mengendurkan kendala-kendala tersebut akan dapat membantu mempercepat
pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Sebagai efek tambahan, menghilangkan
hambatan tersebut juga akan menciptakan lapangan kerja dan mengurangi
ketimpangan pendapatan di Indonesia. Bersamaan dengan itu, menangani masalah
listrik, transportasi dan komunikasi dapat meningkatkan iklim investasi di Indonesia.
Pada tahun 2008, kualitas infrastruktur di Indonesia masih jauh di bawah
Malaysia dan Thailand, tetapi setara dengan Filipina dan Vietnam20.
Kalau kita lihat rincian (Tabel 5), jelas terlihat bahwa bidang-bidang di mana
Indonesia berada dalam tingkatan yang terburuk adalah kualitas pasokan listrik,
pelabuhan dan jalan. Hal yang merisaukan adalah kenyataan bahwa pada tahun
1991 dan 2000, infrastruktur di Indonesia dianggap lebih unggul daripada Filipina
dan Vietnam. Namun, sejak tahun 2005 kedua negara ini setara dengan Indonesia
sementara Thailand dan Malaysia berada dalam keadaan yang lebih baik21.
Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia belum meningkatkan kualitas
infrastrukturdengan kecepatan yang sama dengan pesaing regionalnya. Jika
kecenderungan ini terus berlangsung, Indonesia akan segera menemukan dirinya
tertinggal dari semua pesaing tersebut.
20
21
Di tahun 1996, Infrastruktur Indonesia lebih baik dari Thailand (dan juga Cina)
Lihat Battachryay, 2009, hal. 10
24
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Tabel 5: Kualitas Infrastruktur oleh Sub-Sektor di Indonesia & Negara Tetangga, 2008
Indonesia
Malaysia
Thailand
Kualitas jalan
94
24
35
Kualitas infrastruktur kereta api
60
19
Kualitas infrastruktur pelabuhan
95
19
Kualitas infrastruktur transportasi udara
68
Kilometer kursi yang tersedia
21
Kualitas pasokan listrik
Sambungan telepon
Filipina
Vietnam
104
102
52
92
58
47
112
99
27
26
100
84
22
16
28
38
96
39
41
87
103
79
72
84
102
36
Sumber: World Economic Forum, Global Competitiveness Report, 2009-2010
Catatan: Semakin rendah peringkatnya, semakin baik kualitas infrastruktur.
Kendala Utama dalam Bisnis menurut Sub-Sektor
Pada tingkat nasional, transportasi merupakan kendala utama kedua terhadap
kewiraswastaan yang diidentifikasi oleh masyarakat bisnis dari survei iklim investasi
tahun 2003, 2005 dan 2007, dan listrik dinilai sebagai hambatan paling penting
ke-6 untuk bisnis mereka. Selain transportasi yang diidentifikasi sebagai hambatan
penting, persentase responden yang menyatakan transportasi sebagai kendala bisnis
telah meningkat dari 29 persen pada tahun 2003 menjadi 49 persen pada tahun 2009
(Gambar 14), hal ini memperkuat laporan tentang infrastruktur yang memburuk
dalam Global Competitiveness Report ( 2009-2010).
Investasi Infrastruktur menurut Sub-sektor
Alasan yang mendasari kinerja buruk dari infrastruktur di tingkat sub-sektor terkait
langsung dengan rendahnya tingkat investasi. Sistem transportasi yang efektif dan
49
42
29
35 36
42
19 21 21
25
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
efisien, yang merupakan fondasi bagi ekonomi yang kompetitif (lebih-lebih bagi
negara-negara yang ingin menerapkan strategi pertumbuhan yang berpusat pada
ekspor), memerlukan investasi yang tinggi dan berkelanjutan. Di Indonesia, investasi
pada tingkat sub-sektor masih relatif rendah, khususnya di bawah 1,5 persen dari
PDB per tahun untuk transportasi dan komunikasi. Sektor listrik, yang juga telah
diidentifikasi sebagai kendala untuk bisnis, sejak tahun 2000 telah mendapat investasi
kurang dari 1 persen dari PDB (Gambar 15). Hal ini tidak baik bagi pertumbuhan
ekonomi jangka panjang dan berkelanjutan, yang tergantung pada pasokan listrik
yang terpercaya dan terus-menerus. Sayangnya, pemadaman listrik telah menjadi
fenomena biasa dan situasinya cenderung semakin parah karena penurunan kinerja
pembangkit listrik yang ada akibat penuaan.
Dalam hal ini, pada tingkat sub-sektor, analisa berfokus pada infrastruktur transportasi
(jalan, kereta api, pelabuhan, dan udara), listrik dan komunikasi.
(i)
Transportasi
Sistem transportasi yang terpercaya dan efisien sangat penting bagi pertumbuhan
ekonomi dan pembangunan suatu negara. Suatu infrastruktur transportasi yang sudah
maju dapat mengintegrasikan pasar dalam negeri dengan berbagai daerah dan negaranegara lain dengan biaya rendah. Bersamaan dengan itu, hal ini akan memungkinkan
masyarakat yang kurang berkembang untuk berhubungan dengan kegiatan ekonomi
inti dan pelayanan publik dasar. Di lain pihak, sistem transportasi yang tidak efisien
dan tak dapat diandalkan, memberi dampak negatif terhadap perekonomian karena
hilangnya peluang bisnis.
Kinerja Logistik
Kinerja Indonesia adalah terburuk pada biaya transportasi domestik. Dalam hal
peringkat IndekKinerja Logistik (Logistical Performance Index -LPI), yang disajikan
dalam Tabel 6, kinerja Indonesia yang terbaik terlihat pada “pelacakan dan pengusutan”
26
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Tabel 6: Peringkat Kinerja Logistik 2007 (dari 150 negara)
Indonesia
Malaysia
Thailand
Vietnam
Filipina
Indeks Kinerja Logistik
43
27
31
53
65
Bea
44
23
32
37
53
Infrastruktur
45
28
32
60
86
Angkutan Internasional
44
26
32
47
63
Ketrampilan Logistik
50
26
29
56
70
Pelacakan dan Pengusutan
33
28
36
53
69
Biaya Logistik Domestik
92
36
25
17
19
Ketepatan Waktu
58
26
28
65
70
Sumber: World Bank, 2007. Connecting to Compete. Trade Logistics in the Global Economy. The Logistics
Performance Index and its Indicators.
Catatan: Semakin rendah peringkat, semakin baik kinerja
(tracking and tracing), tapi terburuk pada “biaya logistik dalam negeri”, yang berarti
bahwa jaringan transportasi internal tidak efisien dan memberikan beban berlebihan
pada sektor swasta. Pada indikator ini, Indonesia, yang menempati peringkat ke-92,
menunjukkan prestasi yang sangat lebih buruk daripada pesaing regionalnya Malaysia
(36), Thailand (25), dan Filipina (19). Prestasi terbaik dalam kategori ini ditunjukkan
oleh Vietnam, yang menempati peringkat ke-17 dari 150 negara yang dinilai.
Meneliti logistik transportasi secara lebih rinci, Indonesia terlihat relatif lebih baik
untuk biaya tipikal ekspor dan impor kontainer 40 kaki. Indonesia juga berprestasi
cukup baik dalam hal penjadwalan waktu ekspor dan impor (Tabel 7). Dari sudut
pandang perdagangan global, biaya Indonesia amat kompetitif. Namun, hal yang
mengkhawatirkan adalah biaya logistik dalam negeri yang terlalu tinggi yang telah
disebutkan sebelum ini.
Kualitas Infrastruktur Transportasi
Transportasi yang tidak memadai merupakan sebuah kendala utama bisnis.
Dalam sebuah survei baru-baru ini oleh OECD, sekitar 50 persen dari
perusahaan yang beroperasi di Indonesia menunjukkan bahwa penyediaan
infrastruktur transportasi yang tidak memadai merupakan suatu kendala
bagi pertumbuhan bisnis (kendala kedua yang paling sering diucapkan)22.
Global Competitiveness Report 2009-2010 terbaru memperkuat pandangan ini,
mengatakan bahwa kualitas infrastruktur transportasi di Indonesia jauh di bawah
negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand, sebanding dengan Vietnam,
tetapi lebih tinggi peringkatnya dari Filipina (Gambar 16).
Pengeluaran publik di sektor transportasi
Investasi publik di sektor transportasi berada sangat jauh di bawah kebutuhan.
Investasi dalam pembangunan jaringan jalan dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan
22
OECD, (2008)
27
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Tabel 7: Beberapa Masalah Transportasi Logistik (dari 150 negara), 2007
Indonesia
Thailand
Malaysia
Vietnam
Filipina
Tingkat Pemeriksaan Fisik (%)
12
9
6
14
32
Kliring (hari)a
1,6
1,9
1,7
1,4
1,8
Waktu pengurusanb Export Kasus
median (hari)
2,5
3,4
3,4
2,8
6,3
Waktu pengurusanc Import Kasus
terbaik (hari)
1,9
1,4
1,7
2,6
3,7
Waktu Pengurusand Import Kasus
(hari)
3,9
2,3
3,3
4
5,3
Jumlah petugas Douane Export
2,7
4,3
2,5
4,5
4
Jumlah Petugas Douane Import
2,7
4,3
3,3
4
4
Kemungkinan Prosedur Pemeriksaane (%)
38
75
57
50
Ongkosf untuk kontener 40-kaki
dan semi trailer export (US$)
266
422
783
194
721
Ongkos untuk kontener 40-kaki
dan semi trailer Import (US$)
244
422
658
294
794
Waktu yang dibutuhkan antara penyampaian deklarasi douane yang telah disetujui sampai kliring
Dari pengirim ke pelabuhan pemuatan. Kasus Median = 50 persen dari pengiriman
Dari pelabuhan pembongkaran ke penerima barang. Kasus terbaik = 10 persen dari pengiriman
Dari pelabuhan pembongkaran ke penerima barang. kasus Median = 50 persen dari pengiriman
Persentase merupakan proporsi responden menjawab bahwa layanan pemeriksaaan sederhana dan murah tersedia.
Jumlah biaya untuk transportasi dan pelabuhan
Sumber: World Bank, 2007. Connecting to Compete. Trade Logistics in the Global Economy. The Logistics
Performance Index and its Indicators.
Kualitas Jalan
Kualitas Kereta api Kualitas Pelabuhan
28
Kualitas Bandar
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Umum (Kementerian PU), sementara Kementerian Perhubungan bertanggung jawab
untuk lalu lintas angkutan darat, kereta api, perkapalan dan pelabuhan laut, dan
pengembangan bandara, dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas infrastruktur
transportasi lokal. Pengeluaran pemerintah di sektor transportasi telah terus meningkat
dengan pertumbuhan tahunan sebesar 30 persen antara 2005 dan 2009. Pada tahun
2010, anggaran yang dialokasikan sekitar Rp 29 trilyun, atau sekitar 0,48 persen
dari PDB, yang merupakan 2,9 persen dari total anggaran. Pengeluaran Kewajiban
Pelayanan Publik (Public Service Obligation-PSO) terdiri dari subsidi pemerintah
untuk perusahaan milik negara, dan diberikan kepada PELNI untuk pelayaran perintis
dan melayani penumpang kelas ekonomi, operator kereta api KAI untuk penumpang
kelas ekonomi, dan operator pos POSINDO dan kantor berita ANTARA. PSO selalu
merupakan sebagian kecil dari PDB, hanya sebesar 0,03 persen dari GDP, atau sekitar
0,15 persen dari total anggaran di tahun 2010 (Tabel 8).
Tabel 8: Pengeluaran Pemerintah di Sektor Transportasi (dalam milyar rupiah)
Pengeluaran
Transportasi
Kewajiban Pelayanan
Publik (PSO)
2005
(diaudit)
2006
(diaudit)
2007
(diaudit)
2008
(diaudit)
2009
(anggaran yang
dikaji ulang )
2010
(anggaran)
9.087,4
14.287,1
16.647,6
24.730,0
33.914,8
29.182,4
934,6
1.795,0
1.025,0
1.729,1
1.360,0
1.536,9
Sumber: Catatan Anggaran 2010, Departemen Keuangan
Peranan dari berbagai komponen transportasi dalam industry (infrastruktur)
transportasi
Jalan dan pelabuhan merupakan prioritas tertinggi dalam sektor transportasi . Karena
sangat pentingnya hal-hal tersebut dalam perekonomian, peranan jalan dan pelabuhan
di sektor transportasi makin lama makin meningkat. Sebagai contoh, peranan jalan di
seluruh industri infrastruktur transportasi meningkat dari 33,4 persen pada tahun 2007,
mencapai 46,3 persen pada tahun 2009, dan diperkirakan untuk meningkat lebih lanjut
mencapai 53,9 persen pada 2014. Demikian pula, peranan pelabuhan meningkat dari
7,9 persen pada tahun 2007, mencapai 20,7 persen pada tahun 2009, dan diperkirakan
akan meningkat menjadi 24,6 persen pada 2014. Sebaliknya, peranan kereta api dan
bandara menurun secara drastis. Sebagai contoh, peranan perkereta-apian diperkirakan
menurun dari 34,3 persen menjadi 11,4 persen, dan peranan bandara dari 24,4 persen
menjadi 10,1 persen selama periode yang sama (Gambar 17).
Infrastruktur Transportasi Jalan
Sarana transportasi yang paling penting di Indonesia adalah jaringan jalan. Meskipun,
Indonesia adalah kepulauan besar, pengiriman melalui pelayaran antar-pulau dan
pesisir terhitung hanya 7 persen dari seluruh lalu-lintas barang dan penumpang,
sementara jalan membawa 92 persen dari total pengiriman barang dan 84 persen lalu
lintas penumpang. Kereta api terhitung sekitar 1 persen pengiriman barang dan 7
29
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
persen untuk pergerakan penumpang, dengan pengangkutan sungai dan transportasi
udara mengangkut lalu lintas yang tersisa23.
Kepadatan jalan Indonesia (didefinisikan sebagai rasio antara panjang jaringan jalan
dengan luas negara) adalah 20, yang relatif kecil dibandingkan dengan Vietnam
(68), Filipina (67), Thailand (35) dan Malaysia (28). Indikator yang biasa dipakai
untuk mengukur kualitas jalan adalah sejauh mana jalan merupakan jalan beraspal.
Di Indonesia, hanya 59 persen jalan yang telah diaspal, jauh di bawah dibandingkan
dengan kondisi di Thailand dan Malaysia, namun di atas Filipina (Tabel 9).
Tabel 9: Ketersediaan Jaringan Jalan di Indonesia
Indonesia 1/ Vietnam
Jumlah Jaringan Jalan (000 km)
438
222
Filipina
Thailand
Malaysia
200
180
93
Jalan beraspal (persen)
59
-
10
99
80
Kepadatan Jalan (km/100 sq km luas tanah)
20
68
67
35
28
Sumber: World Development Indicators 2009
1/ Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (2010), Keterangan Ringkas Sektor Transportasi
Walaupun jalan sangat penting untuk pembangunan Indonesia, pertumbuhannya tidak
seimbang dengan kenaikan jumlah penduduk. Transportasi jalan mempunyai andil
terbesar untuk lalu lintas barang dan penumpang. Jadi perluasan cakupan dan kualitas
jalan merupakan prasyarat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan pengurangan
kemiskinan. Hal yang mencemaskan adalah, selama satu dasawarsa, permintaan
terhadap transportasi jalan yang lebih baik telah meningkat dengan kecepatan yang
23
Transport Sector Strategy Study for Indonesia (ADB, 2004)
30
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
lebih tinggi daripada PDB. Kecenderungan ini diperkirakan akan terus berlanjut di
masa mendatang, dengan pertumbuhan lalu lintas diperkirakan akan meningkat sampai
1-1,5 kali dari tingkat pertumbuhan PDB (sekitar 7 sampai 10 persen per tahun)24.
Selain itu, pertumbuhan jaringan jalan di Indonesia tidak sama cepatnya dengan
pertambahan penduduk selama beberapa tahun terakhir, suatu kecenderungan yang
mengkhawatirkan bahwa kemacetan lalu lintas akan menjadi masalah serius. Hal ini
terbukti, terutama di jaringan jalan arteri di Jawa. Menurut penilaian Bank Dunia25,
43 persen jaringan jalan di Jawa, dan sebagian besar di Jakarta, mengalami kemacetan
sehingga waktu tempuh lebih panjang dan biaya lebih tinggi. Penilaian tersebut juga
memperkirakan bahwa sekitar 55 persen dari jaringan arteri di Jawa akan mengalami
kemacetan pada tahun 2010, dan mengidentifikasi kebutuhan sekitar 2.000 km jalan
tol untuk menanggulangi masalah ini.
Keprihatinan utama lainnya adalah 36 persen dari jaringan jalan sudah rusak atau
rusak parah pada akhir 2007 (BPS 2007). Sebagian besar jalan yang rusak atau rusak
parah berada wilayah pemerintah kabupaten, dan 39 persen dari 322.000 km jalan
dalam wilayah pemerintah kabupaten bisa dianggap rusak atau rusak parah.
Ketidak-efisienan, tidak handalnya, dan tingginya biaya transportasi jalan adalah
kendala kunci bagi pembangunan ekonomi.Indonesia, yang memiliki biaya logistik
tertinggi di Asia Tenggara (lihat bagian sebelumnya untuk penjelasan lebih rinci
tentang Indeks Kinerja Logistik). Hal ini jelas terlihat dengan memperhatikan
transportasi angkutan jalan (Kotak 2).
Investasi Publik di Sektor Jalan
Investasi dan pemeliharaan jaringan jalan sebagian besar didanai melalui anggaran
negara, termasuk bantuan keuangan dari bank bilateral dan multilateral. Dapat dicatat
bahwa anggaran nasional tidak ditunjang oleh pajak pembelian kendaraan dan pajak
kepemilikan, yang diambil oleh pemerintah-daerah, dan dengan demikian pajak
tersebut tidak tersedia untuk pemeliharaan jalan nasional dan investasi jalan. Namun,
pajak tersebut dapat digunakan untuk investasi dan pemeliharaan jalan provinsi /
kabupaten.
Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga secara
signifikan telah meningkatkan anggaran jalan dari Rp.7,5 trilyun pada tahun 2006
menjadi sekitar Rp.20 trilyun pada tahun 2009, dengan pengeluaran pada tahun
2010 diperkirakan lebih dari Rp.24 trilyun. Buruknya kualitas jalan adalah karena
sangat kurangnya anggaran tahunan untuk pemeliharaan jalan, yang sampai dengan
tahun 2004 bernilai kurang dari Rp.1 trilyun dibandingkan dengan yang dibutuhkan
sebesar Rp.20 trilyun. Namun, situasi telah membaik dalam beberapa tahun terakhir,
dengan pemerintah telah meningkatkan alokasi untuk pemeliharaan jalan dari
Rp.3,8 trilyun pada tahun 2006 menjadi Rp.12,1 trilyun pada tahun 2009, dan telah
dianggarkannya dana pemeliharaan jalan sebesar Rp. 14,4 trilyun untuk 2010. Perlu
24
25
Strategic Road Infrastructure Project, project Appraisal Document, World Bank, 2006
World Bank (September 2006), Country Assistance Strategic Report for Indonesia.
31
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kotak 2: Transportasi Angkutan Jalan
Sebuah studi terpadu yang dilakukan oleh Yayasan Asia (Asia Foundation) dan Lembaga
Penyelidikan Ekonomi dan Penelitian Sosial (LPEM) Universitas Indonesia pada tahun
2007 menemukan bahwa biaya transportasi angkutan jalan di Indonesia menaik karena
biaya yang dibebankan oleh pemerintah daerah, dan kegiatan mencari rente oleh polisi dan
perilaku oportunistik oleh individu tak bermoral.
Diperkirakan bahwa kegiatan tersebut telah menaikkan biaya operasional sebesar 10 persen,
yang berdampak pada seluruh mata rantai kegiatan. Dengan biaya operasional kendaraan
secara keseluruhan untuk truk 34 sen $ per kilometer, studi ini menyimpulkan bahwa biaya
logistik di Indonesia lebih tinggi dari Vietnam, Thailand, Malaysia dan Cina, yang biayanya
hanya 22 sen $ rata-rata per km. Temuan ini didukung oleh Indeks Kinerja Logistik World
Bank, dimana Indonesia ada di peringkat-92 untuk biaya logistik dalam negeri dibandingkan
dengan Malaysia ke-36, Thailand ke-25 dan Vietnam ke-17.
Dari lebih dari 35 perusahaan truk, lebih dari 20 truk terlibat dalam penelitian ini. Sebuah
alat pemantau, dilengkapi dengan ‘global positioning system’, ditempatkan dalam truk-truk
yang berpartisipasi dalam penelitian di sembilan rute perdagangan yang berbeda, untuk
mendapatkan jumlah biaya langsung yang dibayar oleh supir truk selama perjalanan. Enam
dari sembilan rute yang dipilih berada di Sulawesi, rute lainnya di Nusa Tenggara Barat,
Jawa Timur, dan Sumatera Utara. Untuk rute Malang-Surabaya di Jawa Timur, misalnya,
truk, rata-rata, perlu menghabiskan tambahan Rp 6,4 juta per bulan untuk biaya operasional,
retribusi dan pungutan liar. Sebagian besar perusahaan angkutan truk mengeluh tentang biaya
penggunaan yang dibebankan oleh pemerintah daerah, yang dikumpulkan oleh berbagai
pejabat lokal berdasarkan jenis barang yang dimuat. Pemerintah lokal juga membebankan
biaya untuk izin rute dan lisensi. Perlu dicatat bahwa tindakan ini tidak sejalan dengan
kerangka peraturan nasional dimana izin rute diperlukan hanya untuk kendaraan angkutan
umum. Namun, dalam prakteknya sering izin yang seperti itu diminta dari truk kargo yang
lewat di jalan-jalan antara kabupaten.
Oleh karena itu, pemeliharaan kendaraan dan biaya bahan bakar yang tinggi, yang
diakibatkan oleh infrastruktur jalan yang tidak memadai, diperburuk dengan retribusi yang
tidak konsisten yang diterapkan oleh pemerintah lokal serta kegiatan mencari rente.
Sumber: Transportation Undermines RI Economy: Study. The Jakarta Post, April 16, 2008
dicatat bahwa, pada tahun 2009, sebagian besar anggaran jalan nasional (60,8 persen)
dihabiskan untuk pemeliharaan, dan 26,1 persen untuk investasi. Ini menunjukkan
adanya komitmen pemerintah untuk memelihara infrastruktur yang ada. Namun,
Indonesia juga membutuhkan infrastruktur tambahan, dan ini harus ditangani dengan
mengadakan investasi baru bagi pembangunan jalan.
Kendala kunci investasi publik di infrastruktur jalan
Lemahnya kapasitas kelembagaan dan kurangnya sumber daya manusia: Karena
desentralisasi, tanggung jawab pelaksanaan proyek sekarang berada pada pemerintah
daerah. Kendala kapasitas di tingkat pemerintah daerah telah menghambat realisasi
alokasi anggaran dan perampungan proyek. Kurangnya keterampilan dan kemampuan
operasional yang terbatas pada pemerintah daerah telah menyebabkan tertundanya
32
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
pelaksanaan proyek.. Khususnya, keterbatasan kapasitas terlihat lebih nyata di
bidang perancangan proyek dan pengembangan, yang mengakibatkan penundaan
pelaksanaan. Menanggapi kendala tersebut, Dirjen Bina Marga telah mengambil
peran utama untuk menangani situasi ini (terutama untuk proyek-proyek yang didanai
oleh donor) dengan cara:
• Melaksanakan program peningkatan kapasitas melalui “bantuan management
yang siap panggil “ oleh staf Dirjen Bina Marga kepada staf pemerintah daerah;
• Menggunakan dokumen penawaran yang baku untuk pengadaan penawaran
domestik dan internasional yang kompetitif; dan
• Menerapkan sistem pengadaan secara elektronik
Sementara dampak berskala besar dan jangka panjang dari upaya diatas belum
terlihat, upaya ini dimaksudkan untuk mengurangi dampak negatif dari desentralisasi.
Pendanaan publik tidak berkelanjutan: Alokasi untuk proyek jalan (pelestarian,
pengembangan kapasitas, dan perluasan jaringan jalan) tidak lagi memadai karena
krisis keuangan tahun 1997, dan hanya mulai meningkat pada tiga tahun terakhir.
Hal ini terutama berlaku untuk jalan daerah. Selama satu dekade mendatang, dana
yang disetujui oleh Parlemen (melalui anggaran pusat dan alokasi anggaran daerah)
diperkirakan akan tetap di bawah kebutuhan pengeluaran.
Selain itu, persepsi masyarakat yang paling sering dianut bahwa pemeliharaan dan
pembangunan jalan harus ditanggung oleh anggaran negara perlu diubah. Pemerintah
harus menggunakan konsep bahwa biaya pemeliharaan dan perluasan jaringan
jalan harus dapat dibiayai oleh para pengguna jalan. Masalah kekurangan dana ini
diperparah oleh ketidakpastian akan berapa pendanaan yang tersedia.
Untuk menjamin pendanaan yang memadai dan berkelanjutan untuk pemeliharaan
serta perluasan jalan, pemerintah harus mempertimbangkan pembentukan dana
jalan yang dibiayai langsung oleh pemakai jalan. Pembahasan tentang dana jalan
sedang berlangsung, dan untuk menangani persoalan rendahnya investasi di bidang
infrastruktur jalan, harus diciptakan kerangka hukum yang tepat untuk pemanfaatan
dana jalan tersebut.
Investasi sektor swasta dalam infrastruktur jalan
Investasi swasta pertama kali dilakukan dalam pembangunan jalan tol pada tahun
1990 melalui skema ‘bangun-jalankan-transfer’ (build-operate-transfer-BOT)
antara operator swasta dan Jasa Marga, operator jalan tol milik negara. Jasa Marga
menerapkan sistem BOT dengan sistem bagi hasil (termasuk berbagi biaya pembebasan
tanah). Dengan berlakunya UU 38/2004 tentang Jalan dan PP 15/2005 tentang Jalan
Tol, pemerintah mengadopsi kerangka peraturan baru untuk sektor ini. Berdasarkan
kerangka tersebut, fungsi regulasi dipindahkan dari Jasa Marga ke Badan Pengatur
Jalan Tol (BPJT) yang baru dibentuk, dengan harapan bahwa pemisahan tersebut akan
menghindari konflik kepentingan di Jasa Marga dan, karenanya, akan menarik lebih
33
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
banyak investor. Berdasarkan pengaturan sebelumnya, Jasa Marga secara otomatis
diberi konsesi untuk semua jalan tol yang dioperasikan pada tahun 2004. Harga tol
awal disepakati dalam kontrak konsesi, dan penyesuaian tarif berdasarkan indeks
harga konsumen terjadi setiap dua tahun.
Saat ini, terdapat 697 km jalan tol yang beroperasi, dimana sekitar 77 persen
dioperasikan oleh Jasa Marga, dan sisanya oleh perusahaan swasta (Lampiran A).
Sebagian besar jalan tol berlokasi di Jawa, dan sebagian kecil di Sumatera Utara
dan Sulawesi Selatan. Proyek jalan tol merupakan investasi jangka panjang dengan
karakteristik yang unik dan risiko yang spesifik. Sebagian besar biaya proyek
(misalnya, tanah dan biaya konstruksi) terjadi pada awal masa konsesi, sedangkan
arus pendapatan hanya dimulai ketika jalan tol mulai beroperasi. Masa konsesi untuk
proyek-proyek jalan tol di Indonesia berkisar antara 30 dan 40 tahun, dengan jangka
waktu pengembalian antara 20 dan 25 tahun.
Untuk pembangunan jalan tol di masa mendatang, pemerintah semakin mengandalkan
investasi sektor swasta. Mengenai status proyek, 20 dari 24 proyek jalan tol yang
perjanjian konsesinya sudah ditanda-tangani, sedang mengalami kemacetan atau
terhambat oleh proses pembebasan tanah (beberapa diantaranya sejak tahun 1996).
Oleh karena itu, masalah kunci dalam pembangunan jalan tol adalah pembebasan
tanah. Tanggung jawab terhadap pembebasan lahan untuk setiap infrastruktur
publik ada di tangan pemerintah. Untuk proyek infrastruktur yang dilakukan dengan
kerjasama publik-swasta, menurut peraturan, sebelum proses tender, pemerintah akan
menyiapkan rencana pembebasan tanah dan pembiayaan pembebasan tanah, dan
selanjutnya melakukan pembebasan tanah sesuai rencana. Namun, dalam prakteknya,
hal ini belum sepenuhnya diimplementasikan karena terbatasnya alokasi anggaran
pemerintah dan rumitnya proses pembebasan tanah. Secara teori, jadwal untuk
pembebasan tanah harus disepakati sebelumnya dalam kontrak konsesi, dimana
pemerintah bertanggung jawab untuk memperoleh tanah dan sektor swasta untuk
pembiayaan pembebasan. Harga tanah yang telah disepakati sebelumnya akan dibayar
oleh investor swasta setelah lahan disiapkan sepenuhnya untuk pembangunan. Ini
34
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
berarti bahwa investor swasta akan memiliki kontrol penuh atas kegiatan awal dan
penyelesaian pekerjaan konstruksi, serta mengetahui secara rinci kapan mereka dapat
memulai operasi komersial. Namun, kenyataannya, proses pembebasan tanah yang
dilaksanakan oleh pemerintah butuh waktu yang jauh lebih lama, yang mengakibatkan
kerugian finansial dan penundaan pelaksanaan bagi investor swasta.
Sejak tahun 2006, BPJT telah menerapkan kebijakan baru mengenai pembagian biaya
pembebasan tanah. Pendekatan ini adalah sebagai berikut: untuk proyek-proyek jalan
tol yang layak secara finansial, biaya tanah harus ditanggung oleh investor dan, karena
itu, merupakan bagian dari biaya investasi. Untuk proyek dengan kelayakan yang
marjinal, biaya pembebasan lahan akan ditanggung bersama antara pemerintah dan
investor swasta. Dalam kedua kasus diatas, besarnya kenaikan harga tanah bagi para
investor swasta dibatasi (misalnya, 10 persen dari perkiraan biaya tanah awal) melalui
penyediaan bantuan pemerintah. Di sisi lain, proyek jalan tol yang tidak layak secara
finansial akan dilakukan semata-mata sebagai proyek pemerintah.
Kendala Kunci Dalam Kemitraan Publik-Swasta Dan Investasi Swasta
Masalah pembebasan tanah: Masalah inti dari pembebasan tanah bukanlah
ketersediaan lahan, melainkan, bagaimana mencapai konsensus tentang harga yang
pantas. Negosiasi dilakukan antara pemerintah dan pemilik tanah. Dalam kebanyakan
kasus, negosiasi ini sangat panjang dan bertele-tele yang melibatkan pemerintah
daerah, pemilik tanah, organisasi non-pemerintah yang menjadi penasehat dari
masyarakat yang terkena dampak, dan para spekulan tanah yang mencari keuntungan
dari kenaikan harga. Ini jelas menimbulkan resiko besar bagi investor swasta yaitu
keterlambatan proyek dan pembengkakan biaya.
Dari segi pembiayaan, bank telah sangat enggan meminjamkan uang untuk
pembebasan tanah karena ketidakpastian besarnya biaya dan kapan pembebasan dapat
dilakukan. Oleh karena itu, pengembang jalan tol bergantung pada penyertaan modal
(equity) untuk membiayai pembebasan tanah. Cara ini bahkan lebih beresiko bagi
para investor di proyek tol dalam kota, di mana biaya tanah dapat mencapai sebanyak
50 persen dari total biaya proyek.
Kedua proses, yaitu proses persiapan dan proses pelaksanaan pembebasan tanah
memerlukan waktu sangat panjang dan beresiko bagi investor swasta. Resiko dan
penundaan waktu ini telah menyebabkan banyak proyek terhenti atau mengalami
pembengkakan biaya yang signifikan, berdampak buruk pada keuntungan investasi,
profitabilitas dan komitmen jangka panjang (Kotak 3). (Lihat lampiran B untuk
penjelasan terinci tentang proses pembebasan tanah dan langkah-langkah yang
diambil pemerintah untuk mengatasi masalah).
Kurangnya proyek yang layak dana: Pada tahun 2007, BPJT membuka tender
13 proyek jalan tol di bawah paket “Batch II”, tetapi hanya dapat enam penawaran.
Tender kemudian dibatalkan karena kurangnya minat, dan BPJT melakukan
restrukturisasi proyek agar lebih menarik bagi investor swasta. Berdasarkan diskusi
dengan para pemangku kepentingan dari sektor swasta, kurangnya minat investor
35
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kotak 3: Proses Pembebasan Tanah Yang Tertunda Dan
Mahal Membuat Proyek Tak Berkelanjutan
CMNP adalah operator jalan tol swasta pertama di Indonesia dengan dua proyek yang
beroperasi di: (i) Jakarta Intra Urban Jalan Tol (JIUT) sektor Cawang - Tanjung Priok Jembatan Tiga, dan (ii) Waru-Juanda di Surabaya. Selain itu, perusahaan ini memegang
konsesi jalan tol Depok-Antasari, Jakarta Selatan yang saat ini pada tahap pembebasan
tanah. Pembangunan jalan tol baru Depok-Antasari telah bermasalah akibat keterlambatan
dalam pembebasan tanah selama sekitar dua tahun. Biaya pembebasan tanah awalnya
dianggarkan sekitar Rp 700 milyar, tetapi kemudian meningkat menjadi sekitar Rp 1,8
trilyun. Akibatnya, biaya sudah naik sedemikian rupa sehingga kelangsungan pendanaan
proyek sedang dipertanyakan. Perusahaan ini sekarang dalam diskusi segitiga dengan
Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan para bankir untuk meminta bantuan pemerintah dalam
membayar sebagian dari biaya pembebasan tanah dan melakukan negosiasi ulang perjanjian
konsesi. Selain itu, CMNP akan perlu membuat rencana bisnis baru dan menyiapkan studi
kelayakan baru bagi penyandang dana nya.
adalah karena tidak diperolehnya “lahan untuk jalanan” (land for right of way-ROW)
untuk satupun dari 13 proyek yang ditenderkan. Masalah selanjutnya yang dirasakan
oleh para investor adalah bahwa perjanjian konsesi yang diusulkan tidak dianggap
layak didanai bank. Oleh karena itu, resiko investor swasta, terutama yang berkaitan
dengan pembebasan tanah, dianggap terlalu tinggi, oleh karena itu “Batch II”, kurang
diminati26.
Dalam paket “Batch III”, proyek jalan tol Solo-Kertosono ditampilkan sebagai
model dalam kemitraan pemerintah-swasta, dimana pemerintah berkomitmen untuk
mengambil tanggung jawab atas pembebasan tanah. Proyek ini juga gagal menarik
perhatian investor ketika ditenderkan pada tahun 2007 (hanya satu tawaran yang
masuk). Meskipun resiko pembebasan tanah ditanggung oleh pemerintah, proyek
itu sendiri rendah tingkat pengembalian investasinya, dan dianggap tidak layak
kecuali pemerintah bersedia menanggung biaya konstruksi lebih banyak. Pemerintah
kini sedang bernegosiasi langsung dengan penawar tunggal dan masih harus
merampungkan perjanjian konsesi.
Sampai saat ini, belum ada tender lanjutan untuk proyek jalan tol baru. BPJT sekarang
sedang berfokus pada penyelesaian masalah dalam proyek jalan tol yang lama yang
kontrak konsesinya didapat sebelum krisis keuangan tahun 1997. Penyelesaian dari
proyek-proyek ini masih akan melibatkan masalah yang sama: pembebasan tanah
dan jenis serta jumlah dukungan pemerintah yang diperlukan untuk memfasilitasi
kelangsungan keuangan dan penutupan (closure).
Tak tersedianya pendanaan jangka panjang: Kendala penting lainnya adalah tidak
tersedianya pendanaan jangka panjang, yang dibutuhkan oleh sektor swasta untuk
proyek-proyek infrastruktur jalan. Bank-bank komersial di Indonesia hanya bersedia
Masalah ini sudah dibicarakan dalam diskusi yang diadakan dengan para pemangku kepentingan dalam sektor infrastruktur, (Juli 2009 – November 2009)
26
36
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
mendanai untuk jangka waktu sampai tujuh tahun, dan bank-bank milik pemerintah
dapat memberikan pinjaman sampai 12 tahun, sementara proyek infrastruktur jalan
membutuhkan pembiayaan untuk masa lebih panjang dari itu. Kurangnya pendanaan
jangka panjang sebagian besar disebabkan oleh ketidaksesuaian antara cakrawalawaktu antara sumber-sumber pendanaan bank komersial (jangka pendek) dan
kebutuhan pendanaan untuk proyek-proyek infrastruktur (jangka menengah dan
panjang). Dalam konteks ini, bank-bank harus mendiversifikasi sumber pendanaan
mereka untuk mencakup pendanaan yang lebih jangka panjang, baik dengan
mengembangkan pasar obligasi domestik (pilihan yang lebih baik), menerbitkan
obligasi global atau melalui pinjaman jangka panjang dari bank internasional.
Berdasarkan analisa di atas, kendala-kendala utama yang menghambat investasi
baru di bidang infrastruktur jalan di Indonesia dirangkum dalam Tabel 10. Jelaslah
bahwa masalah pembebasan tanah merupakan kendala paling mengikat, diikuti
oleh kurangnya kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia di pemerintahan
(terlihat dalam ketidakmampuannya dalam mempersiapkan proyek yang layak dana
dan melaksanakan peraturan pemerintah); kurangnya proyek yang layak dana; dan
kurangnya pembiayaan jangka panjang.
Tabel 10: Ringkasan Kendala besar dan kecil dalam Infrastruktur Jalan
Kendala
Kendala besar /kecil
Masalah Pembebasan Tanah
Kapasitas kelembagaan dan Sumber daya Manusia yang lemah
Kurangnya proyek layak dana
Tata kelola pemerintahan yang buruk
Ketidak-tersediaan Pendanaan Jangka Panjang
Kunci:
: Kendala besar
: Kendala kecil
ii)
Pelabuhan
Transportasi laut sangat penting untuk Indonesia, karena Indonesia adalah kepulauan
terbesar di dunia, dengan lebih dari 17.000 pulau. Wilayah laut Indonesia adalah
sekitar 7,9 juta kilometer persegi, kurang lebih empat kali luas daratannya. Mengingat
kondisi geografis ini, Indonesia sangat bergantung pada transportasi maritim untuk
perdagangan internasional serta perdagangan dalam negeri. Patunru et al (2007)
menunjukkan bahwa sekitar 90 persen dari perdagangan luar negeri Indonesia
dilakukan melalui pelabuhan laut. Pengiriman antar-pulau dan pesisir terhitung sekitar
7 persen dari total arusbarang dan penumpang, menduduki tempat kedua setelah
transportasi jalan. Tidak mengherankan bahwa pembangunan layanan pengiriman
barang dan penumpang liwat laut dan pelabuhan di seluruh Indonesia telah menjadi
salah satu prioritas utama pemerintah.
37
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Sekilas tentang Sektor ini
Jumlah atau volume penumpang domestik yang menggunakan transportasi laut
makin lama makin menurun. Khususnya, pengangkutan penumpang transportasi laut
secara nyata telah menurun selama empat tahun terakhir akibat persaingan dengan
transportasi udara. Tabel 11 menunjukkan penumpang yang bepergian lewat laut telah
menurun dengan rata-rata 24,7 persen per tahun pada periode 2004-2008, sementara
pengiriman kargo antar pulau meningkat setiap tahunnya sebesar 6,4 persen dalam
periode yang sama.
Tabel 11: Jumlah Penumpang dan Kargo untuk Transportasi Laut Domestik
2004
2005
2006
2007
2008
Tren
pertumbuhan
(%)
Penumpang (juta orang)
16,8
14,1
12,2
6,1
6,2
-24,7
Kargo (juta ton)
187,6
206,3
220,8
228,0
242,9
6,4
Sumber: BPS, 2009 dan Departemen Perhubungan, 2009
Volume transportasi laut internasional yang melayani ekspor/impor terus meningkat.
Pada periode 2004-2008, total volume kargo internasional melalui transportasi laut
di Indonesia tumbuh sebesar 3,7 persen per tahun, dengan kapal asing mendominasi
sekitar 92 persen dari total volume kargo internasional. Namun, kapal Indonesia yang
melayani kargo internasional meningkat sebesar 21,5 persen per tahun, sedangkan
kapal asing meningkat sebesar 2,8 persen per tahun (Tabel 12).
Kinerja pelabuhan Indonesia tertinggal dibandingkan dengan pelabuhan besar lainnya
di Asia Tenggara. Sebagian besar kargo kontainer di Indonesia diproses melalui tiga
terminal kontainer utama: Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Perak di Surabaya, dan
Tanjung Emas di Semarang. Tanjung Priok, dengan puncak penanganan total sebanyak
4,2 juta unit kontainer dua puluh kaki, adalah terminal kontainer internasional terbesar
di Indonesia. Namun, kinerja Tanjung Priok ketinggalan dibanding dengan pelabuhan
utama lainnya di Asia Tenggara. Untuk volume bongkar muat kontainer, Tanjung
Priok menduduki peringkat ke-24 dari 50 pelabuhan besar dalam Peringkat Pelabuhan
Dunia 2005- 2005 World Port Rankings (World Container Port League 2005). Sebagai
perbandingan, pelabuhan Singapura menempati peringkat pertama, Port Klang di
Tabel 12: Volume ekspor / impor dengan transportasi laut
2004
2005
2006
2007
2008
Tren
Pertumbuhan
Pengapalan Domestik
(juta ton)
16,3
24,6
29,4
31,4
38,2
21,5
Pengapalan asing
(juta ton)
448,8
468,4
485,8
500,5
498,3
2,8
Total (juta ton)
465,1
493,0
515,2
531,9
536,5
3,7
Suember: Departemen Perhubungan, 2009
38
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Malaysia ke-14, dan Laem Chabang di Thailand ke-20. Satu-satunya pelabuhan
utama di bawah peringkat Tanjung Priok adalah pelabuhan Manila di Filipina, yang
menduduki peringkat ke-31. Perbandingan kinerja lain menunjukkan bahwa Tanjung
Priok juga kurang kompetitif dari segi lamadan jumlah proses birokrasi untuk izin
pengeluaran barang, waktu tunggu, dan akses pelabuhan. Oleh karena itu, kinerjanya
tertinggal dibelakang sebagian besar pelabuhan besar lainnya di Asia Tenggara
Indeks konektivitas Indonesia telah semakin menurun. Selama 2004-2009, indeks
konektivitas pelayaran laut (Liner Shipping Connectivity Index-LSCI) Indonesia
masih jauh di bawah Malaysia dan Thailand (keduanya secara konsisten meningkat
sejak 2004), dan hanya di atas Filipina. Dalam hal pertumbuhan tahunan rata-rata,
LSCI Indonesia menunjukkan pertumbuhan negatif sebesar 1,3 persen selama 20042009, dibandingkan dengan pertumbuhan 13,9 persen di Vietnam, 6,5 persen di
Filipina, 5,8 persen di Malaysia, dan 3,8 persen di Thailand selama periode yang
sama (Tabel 13)27.
Tabel 13: Indeks Konektivitas Pelayaran Laut UNCTAD (LSCI)
2004
2005
2006
2007
2008
2009
Tren
Pertumbuhan
(%)
Indonesia
25,9
28,8
25,8
26,3
24,9
25,7
-1,3
Malaysia
62,8
65,0
69,2
81,6
77,6
81,2
5,8
Thailand
31,0
31,9
33,9
35,3
36,5
36,8
3,8
Viet Nam
12,9
14,3
15,1
17,6
18,7
26,4
13,9
Filipina
15,5
15,9
16,5
18,4
30,3
15,9
6,5
Sumber: UNCTAD, 2009
Catatan: Makin rendah indek, makin buruk konektifitas pelayaran laut.
Kendala Kunci pada Investasi Sektor Publik dalam Infrastruktur Pelabuhan
Lemahnya Sumber Daya Manusia dan Kapasitas Kelembagaan: Kementerian
Perhubungan bersama JICA telah melakukan penelitian tentang produktivitas dan
tingkat pelayanan pelabuhan di Indonesia. Temuan, berdasarkan masukan dan diskusi
dengan pengguna pelabuhan, tersimpulkan di bawah ini:
Temuan-temuan ini didukung oleh Patunru et al (2009), yang mencatat bahwa
infrastruktur lunak dapat memainkan peran yang lebih penting dalam menghilangkan
kendala utama dalam efisiensi pelabuhan daripada infrastruktur fisik. Daya saing
pelabuhan mungkin memperoleh dampak negatif dari infrastruktur fisik yang buruk
seperti kedalaman pelabuhan yang tidak memadai, tempat berlabuh yang pendek,
terbatasnya peralatan penanganan kargo, gudang dan daerah transit, tetapi juga mungkin
terpengaruh dari keterbatasan dalam infrastruktur lunak, seperti keterampilan tenaga
kerja yang lemah, peraturan tenaga kerja yang tidak memadai, peraturan birokrasi yang
menghambat, dan faktor peraturan lainnya (seperti penggunaan bendera pelayaran).
LSCI mencakup tingkat integrasi sebuah negara dalam jaringan pelayaran laut global. Ini mencakup arus armada, pelayanan
pelayaran, juga ukuran kapal.. LSCI memberikan indikasi perbandingan dalam tingkat pelayanan pelayaran di suatu negara.
27
39
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Temuan
Sebab pokok
Rendahnya produktifitas dan pelayanan
buruk
•
•
•
•
Metode kerja tidak efisien
Kurangnya integritas pegawai
Tidak transparan
Kurangnya pemakaian teknologi informasi
Panjangnya proses impor
• Proses birokrasi yang berkepanjangan dan
tak efisien
Sedikitnya produk/ouput akhir
• Volume ekspor rendah
• Daya saing yang rendah
Jalan akses ke pelabuhan yang macet dan
berkwalitas rendah
• Perencanaan buruk
• Managemen transportasi yang buruk
• Rendahnya investasi untuk jalan akses
Sumber: Penelitian STRAMINDO - JICA, 2005
Kurangnya kompetisi antar pelabuhan yang dikendalikan oleh operator milik negara
juga merupakan faktor penting yang berdampak pada kinerja pelabuhan.
Peraturan tenaga kerja yang tidak kondusif secara nyata telah melembagakan kurangpenggunaannya fasilitas pelabuhan dan membatasi potensi menuju perbaikan efisiensi.
Di pelabuhan-pelabuhan, hanya satu pergantian (shift) tenaga kerja diperkenankan dan
peluang untuk lembur terbatas. Nathan Associate (2001) mengamati bahwa peraturan
ini mengakibatkan hilangnya produktivitas 6-jam dari setiap masa operasi 24-jam
karena waktu istirahat yang kaku tidak dijadwalkan atau diatur secara bertahap untuk
menjamin pelayanan kapal secara terus-menerus.
Kegiatan mencari rente yang menaik: Penyebab lain dari kinerja pelabuhan yang
buruk adalah korupsi. Patunru (2007) mencatat bahwa pembayaran dibawah tangan
untuk mempercepat waktu antrian karena kurangnya fasilitas infrastruktur penting
seperti alat kerek dan ruang penyimpanan/gudang adalah hal yang sudah umum
terjadi. Biaya tersebut merupakan biaya tambahan di samping berbagai pembayaran
bawah tangan yang diminta di pelabuhan untuk pengurusan ekspor dan impor. Media
sering melaporkan tentang fenomena ini.
Kendala Geografi: Indonesia memiliki sangat sedikit pelabuhan alam air dalam dan
memiliki sebuah sistem pelayaran sungai yang rentan terhadap penyumbatan serius
yang membatasi kedalaman pelabuhan. Ray (2006) mencatat bahwa kedalaman
pelabuhan tampaknya menjadi masalah besar bagi hampir setiap pelabuhan di
Indonesia. Untuk beroperasi secara normal, banyak pelabuhan harus melakukan
pengerukan terus menerus dengan biaya mahal. Kondisi geologi ini terutama berlaku
untuk pelabuhan utama yang terletak di pantai utara Jawa, yang melayani wilayah
terpadat penduduknya dan wilayah termaju industrinya. Tanah dasar laut dan pesisir
hampir semua adalah ‘aluvial’ dan tidak stabil, lagipula perairan pantainya dangkal.
Oleh karena itu, sulit untuk menemukan situs/tempat yang tepat untuk pembangunan
pelabuhan baru. Penelitian tanah yang dilakukan oleh para insinyur sipil menemukan
bahwa untuk memiliki daya muat yang layak yang paling sedikit 12 meter, sebuah
dermaga sepanjang 3 km harus dibangun dari pantai Utara Jawa Tengah. Pelabuhan
40
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Semarang, merupakan pelabuhan utama Jawa Tengah, juga bermasalah karena
pelabuhan ini semakin lama semakin tenggelam dengan laju 7-12 cm per tahun, dan
selama berhari-hari dalm sebulan sebagian besar daerah pelabuhan tersebut berada
di bawah air. Setiap 7-10 tahun, di terminal kontainer ini harus dilakukan pekerjaan
yang mahal dan makan waktu untuk meninggikan dermaga utama dan daerah gudang
kontainer.
Investasi Sektor Swasta dan Kemitraan Publik-Swasta (PPP)
Investasi swasta di pelabuhan menunjukkan hasil yang beragam. PPP di bidang
pelabuhan dimulai pada tahun 1995 dengan konsesi yang diberikan kepada Hutchison
Whampoa untuk rehabilitasi dan pengoperasian Terminal Kontainer Koja selama
20 tahun (Tabel 14). Investasi swasta secara penuh telah berhasil dilakukan untuk
terminal pasokan besar yang melayani penambang batubara yang dilakukan oleh
Tabel 14: Investasi Swasta dan Kemitraan
Publik-Swasta di Pelabuhan Laut Indonesia
Nama
Modalitas Periode
Sponsor
kontrak
Terminal Kontainer Koja
ROT
20
Hutchison
Whampoa
Terminal barang besar
BOO
Adaro
Indonesia
Energy
Terminal Batu Bara
BOO
Dermaga
Prakasa
Pratama
Terminal container Tanjung
BROT
20
DP World
Perak
Terminal Internasional
BROT
20
Hutchison
Whampoa
Terminal Kontainer
ROT
10
ICTSI
Makassar
Tahun
mulai
1995
Investasi
(juta $)
111,1
1995
110
1995
50
1999
473
1999
555
2003
Sumber : World Bank PPI Database, 2009; ROT: rehabilitasi, operasi, transfer; BOO: bangun, miliki, operasi; BROT:
bangun, rehabilitasi, operasi, transfer
Adaro Energy dan Dermaga Prakasa Pratama di Kalimantan. Kedua terminal tersebut
melayani pasar batubara domestik dan internasional, yang sedang tumbuh. Untuk
meningkatkan pembiayaan selama krisis keuangan Asia, pemerintah memulai sebuah
PPP tambahan melalui privatisasi parsial/sebagian dengan penjualan sebesar 52
persen dari Terminal Kontainer International Jakarta (JICT) pada Hutchison, dan 49
persen dari Terminal Kontainer Tanjung Perak pada P & O (DP World), keduanya
pada tahun 1999. Usaha patungan ini belum benar-benar berhasil, karena investor
swasta dituduh tidak mencapai target kinerja dan gagal untuk menarik ‘lalu lintas’
(barang) yang cukup ke pelabuhan.
Otoritas Kontrak PPP masih dilakukan oleh operator milik negara, yang jelas
menunjukkan konflik kepentingan. Kebanyakan pelabuhan laut komersial besar
41
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
dioperasikan oleh empat PELINDO (perusahaan milik negara), yang, sampai
sebelum berlakunya hukum maritim secara efektif pada tahun 2011, bertindak
sebagai pemegang monopoli untuk mengelola semua aspek operasi, pengembangan,
dan penawaran/pencarian partisipasi sektor swasta. Mereka juga akan bertindak
sebagai regulator, menetapkan tarif untuk penggunaan infrastruktur pelabuhan dan
jasa dengan berkonsultasi dengan Kementerian Perhubungan. Keadaan ini dan tidak
adanya kondisi kesetaraan dalam berusaha di sektor ini (PELINDO sebagai operator
pelabuhan juga bersaing dengan operator swasta) telah menciptakan ketidak-pastian
dan suatu peraturan dan suasana investasi yang sulit diduga,yang mengakibatkan
rendahnya partisipasi swasta di sektor pelabuhan sejak tahun 1999.
Kendala Kunci dalam Kemitraan Publik-Swasta dan Investasi Swasta
Lemahnya Kerangka Hukum: Rendahnya investasi swasta di bidang infrastruktur
pelabuhan terjadi karena kurang adanya peraturan yang jelas yang dapat diprediksi.
Sebelum penerbitan hukum maritim yang baru (UU 17/2008), PELINDO bertindak,
sebagai pemilik sekaligus sebagai operator di dalam kontrak PPP. Keadaan ini telah
menghalangi masuknya investasi swasta, karena investor yang punya potensi dalam
proyek PPP tidak menerima perlakuan yang adil. Di bawah peraturan baru ini (di
mana kekuatan monopoli PELINDO dicabut dan mereka menjadi operator pelabuhan
biasa), peran penguasa dipegang oleh otoritas pelabuhan, yang akan bertindak atas
nama pemerintah. Dalam struktur ini, pembagian tanggung jawab antara otoritas
publik dan investor swasta dalam kontrak PPP menjadi lebih jelas, dan menghilangkan
konflik kepentingan. Sayangnya, peraturan, yang akan merupakan panduan untuk
pembentukan dan operasionalisasi otoritas pelabuhan, hanya akan berlaku pada saat
hukum tersebut efektif pada tahun 2011.
Lemahnya Kapasitas Kelembagaan: Para pejabat pemerintah di Kementerian
Perhubungan (untuk proyek pelabuhan nasional) dan di daerah (untuk pelabuhan
regional) tidak memiliki kapasitas yang diperlukan untuk merancang proyek PPP
yang layak dana yang dapat diterima secara internasional. Secara historis, peran
otoritas kontrak dilakukan oleh PELINDO, sedang pemerintah bertanggung jawab
untuk membuat kebijakan. Sehingga, keterampilan untuk berfungsi sebagai otoritas
pembuat kontrak tidak dikembangkan di pemerintahan.Untuk mengatasi masalah
ini, Kementerian Perhubungan telah meminta bantuan dari Fasilitas Pengembangan
Proyek dari Unit Pusat PPP di BAPPENAS. Direncanakan untuk merekrut penasihat
transaksi yang berpengalaman dengan tujuan membantu Kementerian Perhubungan
dan pemerintah daerah sehingga mereka dapat mempersiapkan proyek pelabuhan
yang menarik dan perjanjian konsesi pelabuhan layak dana.
Hukum maritim baru tersebut menentukan secara sangat rinci tugas dan fungsi
Otoritas Pelabuhan, seperti perencanaan, pengawasan terminal dan pemberian
konsesi. Undang-undang ini khusus mengharuskan Otoritas Pelabuhan dikelola oleh
pegawai negeri dengan kualifikasi dan pengalaman yang sesuai. Petugas tersebut
tersedia di Indonesia, tetapi mereka cenderung merupakan pegawai darikeempat
PELINDO. Kementerian Perhubungan, di sisi lain, kekurangan pegawai negeri sipil
42
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
dengan keahlian dan pengalaman yang relevan. Persyaratan yang kaku untuk Otoritas
Pelabuhan yang boleh mempekerjakan hanya pegawai negeri sipil dapat menghambat
dan bukan memudahkan investasi baru dan perbaikan operasional yang dibutuhkan di
pelabuhanpelabuhan utama.
Kurangnya Proyek Layak Dana: Salah satu kendala tambahan dalam pelaksanaan
PPP pelabuhan adalah tidak adanya proyek layak dana yang telah ditawarkan sejauh ini
pada investor berpotensi. Privatisasi sebagian Tanjung Priok dan Tanjung Perak pada
tahun 1999 lebih dianggap sebagai upaya penggalangan dana oleh pemerintah selama
krisis keuangan Asia, dan bukan dalam perspektif untuk memanfaatkan keahlian
investor swasta dalam meningkatkan produktivitas pelabuhan. Upaya selanjutnya
untuk menawarkan Pelabuhan Bojonegara di Jawa Barat dan Pelabuhan Teluk
Lamong di Jawa Timur belum terwujud, karena pemerintah masih mempersiapkan
penawaran/transaksi yanglebih menarik bagi investor swasta (misalnya, membentuk
otoritas pelabuhan dan memperoleh tanah sebelum menawarkan proyek). Kedua
proyek ini sebenarnya sedang berada pada tahap persiapan tender sejak tahun 2006,
tetapi prosesnya amat lambat karena lemahnya kapasitas kelembagaan.
Keuntungan atas Investasi yang dianggap Rendah: Berdasarkan hukum/peraturan
transportasi laut yang baru, pemerintah masih mengontrol tarif untuk proyek-proyek
pelabuhan PPP. Tarif ditetapkan oleh otoritas pelabuhan setelah berkonsultasi dengan
Kementerian Perhubungan. Hal ini bisa dimengerti, mengingat pelabuhan memiliki
monopoli geografis besar, dan karena tidak akan ada kompetisi intra-pelabuhan,
pengaturan tarif agak kurang mendukung usaha pembangunan pelabuhan. Para
investor swasta berharap bahwa tarif pelabuhan benar-benar harus ditentukan melalui
proses penawaran yang kompetitif dalampemilihan sebuah investor pelabuhan.
43
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Penggunaan peraturan berdasarkan biaya pelayanan atau tingkat keuntungan biasanya
akan mengakibatkan tarif yang terlalu rendah untuk menarik investor potensial.
Analisa di atas menunjukkan bahwa kendala utama yang menghambat investasi baru
di pelabuhan adalah kurangnya kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia
dalam pemerintahan dan ketidak-mampuan untuk mempersiapkan proyek layak dana,
adanya korupsi/kegiatan mencari rente, lemahnya kerangka hukum,dan rendahnya
keuntungan atas investasi. (Tabel 15)
Tabel 15: Ringkasan Tentang Kendala
Besar dan Kecil Dalam Infrastruktur Pelabuhan
Kendala
Kendala besar/kecil
Lemahnya Kapasitas Sumber Daya Manusia dan Kelembagaan
Lemahnya Kerangka Hukum
Tingginya Korupsi
Kurangnya Proyek Layak Dana
Kurangnya Dana Jangka Panjang
Rendahnya Tingkat Keuntungan Atas Investasi (dipandang investor)
Kendala Geografis
Kunci:
: Kendala Besar
: Kendala Kecil
iii) Kereta api
Mungkin kereta api adalah sarana transportasi darat yang paling aman dan dapat
menangani volume penumpang dan barang yang tinggi, disamping merupakan sarana
transportasi dengan enerji yang efisien. Namun, kereta api kurang fleksibel dan lebih
memerlukan padat modal dibanding dengan angkutan jalan. Walaupun demikian
kereta api sangat penting, terutama di daerah padat penduduk, untuk mendukung
mobilitas penduduk dan angkutanbarang antar-daerah.
Sekilas tentang Sektor kereta api
Pertumbuhan penggunaan kereta api masih marginal. Jumlah penumpang kereta api
di Jawa dan Sumatera meningkat dari 155 juta pada tahun 2003 menjadi 175 juta
pada tahun 2007, peningkatan sebesar 3,2 persen per tahun. Demikian pula, jumlah
kilometer meningkat sebesar 1,6 persen selama periode yang sama. Peningkatan ini
terjadi terutama di Jawa, yang pada tahun 2007, mengangkut 98 persen penumpang
kereta api (Tabel 16).
Transportasi barang dengan kereta api tetap sekitar 4,4 juta ton selama 2003-2007,
dengan suatu peningkatan tahunan marjinal, hanya 0,1 persen. Dalam hal transportasi
barang dengan kereta api, Sumatera berperan sekitar 80 persen dari total transportasi
barang (Tabel 16).
44
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Tabel 16: Transportasi Kereta Api di Indonesia, 2003-2007
2003
2004
2005
2006
Penumpang yang diangkut (juta)
Jawa
151
146
148
Sumatera
3
4
3
Total
155
150
152
Penumpang bepergian (juta km)
Jawa
14.251
13.991
13.610
Sumatera
780
786
735
Total
15.031
14.777
14.345
Rata-rata panjang perjalanan per penumpang (km)
Jawa
94
96
92
Sumatera
229
225
237
Total
97
99
95
Transportasi barang
(000 ton muatan)
Jawa
967
942
933
Sumatera
3.389
3.638
3.499
Total
4.356
4.580
4.432
(juta Ton km)
Jawa
4.559
4.466
4.459
Sumatera
11.734
12.680
12.882
Total
16.293
17.146
17.341
Rata-rata jarak tempuh barang yang ditransportasi (km)
Jawa
212
211
209
Sumatera
289
287
272
Total
267
267
256
2007
Tren
pertumbuhan
(%)
156
3
159
172
3
175
3,3
-0,6
3,2
14.799
780
15.579
15.090
782
15.872
1,7
0,0
1,6
95
236
98
88
230
91
-1.5
0,6
-1.5
862
3.612
4.474
894
3.532
4.426
-2,4
0,8
0,1
3.900
13.373
17.273
3.922
13.155
17.077
-4,3
2,9
1,0
221
270
259
228
268
259
1,9
-2,0
-0,9
Sumber: Statistik Indonesia, 2008
Sebagian besar aset kereta api sudah tua dan memburuk (misalnya, lebih
dari dua-pertiga aset bergerak yang berfungsi berusia lebih dari 20 tahun.
Sektor kereta api di Indonesia berperan kurang dari 10 persen dari total
lalu lintas penumpang dan hanya 0,6 persen dari lalu lintas barang28.
Dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan ini, Indonesia memiliki
jaringan kereta api terbesar (4.337 km) dan penggunaan kereta api paling intensif
(25,5 milyar penumpang-km). (Tabel 17).
Jaringan rel kereta api di Indonesia hanya terdapat di Jawa dan Sumatera. Meskipun
terbentang sepanjang 5.824 km, hanya 4.337 km yang operasional. Jawa memiliki
28
ADB, Indonesia Infrastructure Reform Sector Development Program Loan Sub-Program 2, 2008
45
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Tabel 17: Statistik kunci Kereta api di Indonenesia dan Negara-negara Tetangga
Indonesia Vietnam
Filipina
Thailand Malaysia
Rute Rel kereta api (km)
4.337
3.147
491
4.044
1.667
Penumpang yang diangkut
(juta-penumpang-km)
25.535
4.333
144
9.195
2.075
Barang yang di angkut
(juta-ton-km)
4.698
3.447
NA
4.037
1.572
Sumber: Indikator Perkembangan Dunia 2009
jaringan kereta api yang lebih besar dari Sumatera, dengan koridor kereta api utama
adalah Jakarta-Bandung, Jakarta-Semarang-Surabaya-Banyuwangi (dikenal sebagai
Jalur Utara), Bandung-Kroya-Yogyakarta-Surabaya (dikenal sebagai Jalur Selatan),
dan dengan sambungan rute Cirebon-Purwokerto-Kroya. Sebagian besar sistem
kereta api Indonesia adalah rel tunggal, namun karena meningkatnya permintaan
transportasi umum perkotaan, pemerintah berniat untuk meningkatkan kapasitas
dan kualitas jaringan kereta api Jabotabek, yang terdiri dari hampir 266 km jalur
ganda. Perluasan kereta api masih terhambat oleh masalah pembebasan tanah. Jutaan
penumpang di Jabotabek cenderung menggunakan kereta api untuk jarak yang relatif
pendek, sedangkan di Sumatera, kereta api terutama digunakan untuk transportasi
batubara dan komoditas.
Kendala Kunci Untuk Investasi Publik di Infrastruktur Kereta Api
Lemahnya Kapasitas Sumber Daya Manusia dan Kelembagaan: Di bawah
peraturan lama, pengembangan dan implementasi pelayanan kereta api terutama
dilakukan oleh PTKA, sedangkan pembuatan kebijakan dan peraturan tarif di bawah
wewenang Kementerian Perhubungan. Susunan ini menyebabkan PTKA memiliki
23.000 pegawai, dibandingkan dengan Direktorat Jenderal Perkereta-apian (DJP)
yang baru dibentuk di bawah Kementerian Perhubungan, yang hanya memiliki sekitar
300 pegawai penuh. Di tingkat pemerintah daerah (Propinsi atau Kabupaten), angka
ini turun menjadi nol dibeberapa tempat. Kurangnya staf yang cukup kompeten harus
diatasi jika DJP ingin melaksanakan kebijakan dan fungsi regulasi yang efisien dan
efektif. Oleh karena itu transfer pegawai dari PTKA ke DJP atau program manajemen
sumber daya yang efektif dan program peningkatan kapasitas yang ekstensif
diperlukan untuk memperkuat kinerja DJP.
Pembebasan Tanah: Kendala yang biasa diungkapkanini adalah hambatan yang
paling kritis dalam investasi pengembangan infrastruktur kereta api. Badan Pertanahan
Nasional (BPN) telah didirikan, bersamaan dengan pembentukan kelompok koordinasi
antar-kementerian di bawah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, untuk
mengembangkan undang-undang dan peraturan yang sesuai untuk mempermudah
dan mempercepat proses pembebasan tanah. Masalah ini adalah kendala utama untuk
jaringan Jabodetabek di Jakarta, yang mengakibatkan tertundanya pembangunan
perluasan kereta api (Kotak 4).
46
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kotak 4: Perolehan Tanah untuk Ekspansi
Kereta Api: Jaringan Jabodetabek di Jakarta
Pemerintah Indonesia berencana membangun rel kereta api jalur ganda yang menghubungkan
Manggarai dan Bekasi. Proyek ini telah terencana sejak lebih dari tiga tahun, tetapi tidak
ada kemajuan karena masalah pembebasan tanah yang belum terselesaikan. Pemerintah
mengantisipasi bahwa pembebasan lahan akan selesai pada akhir tahun 2009, dengan
pembangunan proyek yang akan selesai pada 2012. Masalah utama terkait dengan pengadaan
tanah (yang kebetulan dimiliki oleh pensiunan dari PTKA).
Rendahnya Keuntungan Atas Investasi: Tarif kereta api ditentukan berdasarkan
pertimbangan sosial, yang sering menyebabkan tidak adanya kesinambungan layanan.
Ini juga mengakibatkan ketergantungan pada anggaran pemerintah untuk menyubsidi
biaya operasional.
Investasi Sektor Swasta dan PPP dalam Infrastruktur Kereta Api
Tidak ada investasi swasta yang berarti dalam sektor kereta api. Berdasarkan undangundang sebelumnya, partisipasi swasta dalam kereta api dapat dilakukan melalui
kerjasama dengan PTKA. Namun, tidak ada yang terwujud karena kurangnya
transparansi dalam pengaturan keuangan antara pemerintah dan PTKA. Oleh karena
itu, keterlibatan sektor swasta di jaringan kereta api yang ada sangat sulit. Sampai saat
ini, tidak ada PPP yang sesungguhnya, yang ada hanya kemitraan antara PTKA dan
perusahaan milik negara Angkasa Pura II untuk mengajukan tawaran untuk proyek
jaringan kereta api PPP yang menghubungkan Bandara Sukarno-Hatta dengan pusat
kota Jakarta.
Kendala Kunci bagi investasi PPP dan sektor Swasta dalam Infrastruktur
Kereta Api
Lemahnya Kerangka Hukum: Seperti untuk sektor transportasi lainnya, undangundang dan peraturan baru sudah dibuat, tapi masih kurang kejelasannya dalam PPP.
Menurut penilaian Bank Dunia, walaupun undang-undang memandatkan bahwa PTKA
akan diberikan kondisi persaingan setara dengan operator sektor swasta, monopoli
KAI akan tetap dipertahankan, dan bahwa investasi swasta di perkereta-apian akan
terbatas pada kepemilikan saham minoritas di perusahaan kereta api nasional, dengan
sektor swasta tidak diizinkan mengoperasikan asset bergerak nya (Bank Dunia, 2008).
Lemahnya Kapasitas Kelembagaan: Tanggung jawab kontrak pada infrastruktur
kereta api dimiliki oleh Kementerian Perhubungan, yang kurang pengalaman, sumber
daya, dan kapasitas untuk mempersiapkan dan menyusun proyek PPP. Kelemahan ini
tampak jelas dalam persiapan dan pelaksanaan proyek link-kereta api PPP Sukarno
Hatta, dimana proyek ini tersusun tanpa dukungan pemerintah, sehingga menjadi
proyek yang tak layak didanai29. Untuk proyek PPP berikutnya yang direncanakan
untuk kereta api batubara di Kalimantan, Kementerian Perhubungan dan Pemerintah
29
Tempo Interaktif, Pemerintah Batal Ambil Alih Proyek Kereta Bandara Sukarno- Hatta, 29Juni, 2009
47
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Provinsi Kalimantan Tengah, dengan bantuan BAPPENAS, bekerja bahu-membahu
bersama konsultan transaksi untuk memasarkan dan membuka tender proyek ini.
Kesempatan mendapatkan pelatihan langsung dari konsultan internasional yang
berpengalaman ini dapat mempercepat proses belajar, dan menyukseskan pelaksanaan
proyek PPP.
Keuntungan Investasi yang dianggap Rendah: Berdasarkan undang-undang
kereta api yang baru, melalui Kementerian Perhubungan, pemerintah mengontrol
biaya penggunaan prasarana kereta api (track access charges-TAC). Peraturan untuk
menghitung dan mengatur TAC ini belum berlaku, mengakibatkan ketidak-pastian
karena investor sektor swasta harus menunggu berlakunya peraturan tersebut sebelum
mengambil keputusan untuk berpartisipasi atau tidaknya dalam proyek-proyek PPP.
Rincian tentang TAC sangat penting bagi PPP, karena hal ini menentukan kelayakan
proyek. Jika suatu pengaturan TAC yang sama dengan PTKA diterapkan, sektor
swasta mungkin akan merasa bahwa tingkat keuntungan proyek ini terlalu rendah
untuk mereka ikut berpartisipasi.
Analisa di atas menekankan bahwa kendala utama yang menghambat investasi baru
di infrastruktur kereta api adalah kurangnya kapasitas sumber daya manusia dan
kelembagaan dalam pemerintahan, masalah pembebasan lahan; lemahnya kerangka
hukum; dan rendahnya pengembalian atau keuntungan investasi (Tabel 18).
Tabel 18: Ringkasan tentang Kendala
Besar dan Kecil dalam Infrastruktur Kereta Api
Kendala
Kendala besar/kecil
Lemahnya Kapasitas Sumber Daya Manusia dan Kelembagaan
Sulitnya Pembebasan Tanah
Buruknya Tata Laksana/KelolaPemerintahan yang buruk
Lemahnya Kerangka Hukum
Rendahnya Pengembalian atau Keuntungan atas Investasi
Kunci:
: Kendala Besar
: Kendala Kecil
iv) Transportasi Udara
Transportasi udara berperan penting dalam perekonomian Indonesia karena
memungkinkan mobilitas cepat, mendukung kegiatan ekonomi, dan menyediakan
akses penghubung tercepat bagi daerah terpencil di nusantara Indonesia yang luas ini.
Operator maskapai penerbangan murah telah memperoleh pangsa pasar penumpang
yang tinggi dengan merebut penumpang domestik transportasi laut.
Sekilas Tentang Sektor Transportasi Udara
Pertumbuhan sektor ini didorong oleh meningkatnya kompetisi dan ketersediaan
maskapai penerbangan bertarif rendah. Deregulasi industri penerbangan, yang
48
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
dimulai pada tahun 1999, mempermudah maskapai penerbangan swasta untuk
bersaing dengan operator milik negara. Penerima manfaat terbesar adalah konsumen,
yang mengalamipenurunan drastis tarif dan penambahan jadwal penerbangan untuk
tujuan baru. Jumlah penumpang udara meningkat dari 23,8 juta pada tahun 2004 ke
37,4 juta pada tahun 2008. Pertumbuhan tahunan selama periode tersebut adalah
12,8 persen untuk domestik dan 8,8 persen untuk penerbangan internasional. (Tabel
19). Mengingat penyebaran geografi Indonesia, perluasan perjalanan udara berbiaya
rendah dipandang sebagai penyumbang utama pembangunan sosial dan pertumbuhan
ekonomi. Meskipun prospek ekonomi untuk industri penerbangan terlihat positif,
terminal bandara yang penuh sesak (terutama dalam jaringan regional seperti Polonia
Medan dan Juanda Surabaya)30, kontrol lalu lintas udara yang tidak memadai, dan
adanya masalah keselamatan dapat menghambat pertumbuhan industri penerbangan.
Tabel 19: Volume Penumpang Udara di Bandara Indonesia
2004
Penerbangan Domestik (juta)
Penerbangan Internasional (juta)
2005
2006
2007
2008
Tren
pertumbuhan
(%)
23,8
29,0
34,0
39,2
37,4
12,8
2,8
3,0
3,0
3,2
4,1
8,8
Sumber: Departemen Perhubungan, 2008
Kecelakaan udara jauh lebih tinggi dari rata-rata. Tingkat kecelakaan udara yang
berakibat fatal di Indonesia adalah 15 kali rata-rata dunia31. Sebuah studi yang didanai
pemerintah tentang keselamatan penerbangan melaporkan bahwa tidak ada satupun
maskapai penerbangan Indonesia yang sepenuhnya memenuhi standar keamanan
internasional. Pemerintah telah mengambil tindakan untuk memperbaiki situasi ini
dengan menegakkan kontrol ketat atas standar penerbangan. Pada tahun 2008, jumlah
korban telah mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan pada tahun 2007
(Tabel 20).
Tabel 20: Kecelakaan Udara di Indonesia
2004
2005
2006
2007
2008
Jumlah Kecelakaan
19
32
38
17
27
Jumlah Korban Fatal
42
131
14
124
4
Sumber: Departemen Perhubungan, 2009; Komite Keselamatan Transportasi Nasional, 2009
Transportasi udara di Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang signifikan.
Dibandingkan dengan negara tetangga,berdasarkan per kapita, lalu lintas penumpang
Indonesia per kapita, (13 penumpang/100 jiwa) sedikit lebih tinggi dari Vietnam
(8 penumpang/100 jiwa) dan Filipina (10 penumpang/100 jiwa), tetapi secara
signifikan lebih rendah dari Malaysia (80 penumpang/100 jiwa) dan Thailand (33
30
31
ADB, Indonesia Country Strategy and Program 2006-2009
World Bank, Infrastructure Development Loan Program Document, 2008
49
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
penumpang/100 jiwa). Dalam hal pengiriman barang melalui udara, Indonesia lebih
banyak dibandingkan Vietnam dan Filipina, akan tetapi jauh di bawah Malaysia dan
Thailand. Namun, dalam hal keberangkatan pesawat yang tercatat ke seluruh dunia
dan jumlah penumpang, Indonesia lebih banyak dibandingkan semua negara tetangga
(Tabel 21).
Tabel 21: Statistik Kunci Transportasi Udara
di Indonesia dan di Negara-negara Tetangga, 2007
Indonesia
Keberangkatan pesawat
terdaftar ke seluruh
dunia (ribu)
Penumpang yang
diangkut (ribu)
Angkutan Barang Udara
(juta ton-km)
Populasi (juta)
Penumpang/100
penduduk
Vietnam
Filipina
Thailand
Malaysia
358
60
65
130
185
30.406
7.194
8.818
21.192
21.326
485
258
286
2.455
2.662
225,6
85,2
87,9
63,8
26,5
13
8
10
33
80
Sumber: World Development Indicators 2009
Investasi Sektor Publik Dalam Infrastruktur Bandara
Pendanaan publik jangka panjang untuk pengembangan bandara adalah jarang terjadi.
Sementara maskapai penerbangan swasta telah merespon liberalisasi pasar dengan
cepat, infrastruktur bandara, yang sebagian besar masih di bawah pengelolaan publik,
berkembang dengan lebih lambat. Karena tarif bandara domestik yang ditentukan
pemerintah (yang ternyata rendah), maka tidak ada keuntungan dari layanan yang
diberikan. Hanya bandara-bandara utama (misalnya, Jakarta, Medan, Surabaya, dan
Bali), yang dikendalikan oleh P.T. Angkasa Pura dengan lalu lintas internasional yang
tinggi, mampu mencapai tingkat impas dalam operasi mereka. Meskipun operator
bandara bisa mengusulkan kenaikan tarif, hal ini hanya dapat dilakukan setelah
konsultasi dengan pengguna, pemerintah daerah, dan Kementerian Perhubungan.
Pengalaman dengan kenaikan tarif menunjukkan betapa sulitnya untuk di laksanakan
karena adanya perlawanan yang kuat selama proses konsultasi, atau bisa bahkan
kemudian dibawa ke pengadilan oleh kelompok konsumen32.
Dengan praktik harga ini, sulit baik bagi Angkasa Pura maupun pemerintah
menyediakan pendanaan jangka panjang untuk ekspansi atau pengembangan bandara
baru. Analisa laporan keuangan Angkasa Pura menunjukkan bahwa manajemen
pendapatan mereka juga belum optimal, lebih dari 70 persen dari pendapatan
berasaldari biaya penerbangan (Tabel 22). Kemungkinan diversifikasi dengan sumbersumber pendapatan lainnya hanya disadari dalam lima tahun terakhir dan tercantum
dalam rencana untuk pengembangan berikut, yang meliputi pembangunan sarana
32
Warta Ekonomi, Kenaikan Airport Tax Digugat Pengguna Layanan , 1 Mei, 2009
50
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
toko-toko yang canggih dan infrastruktur pendukung (misalnya, akses kereta api ke
bandara). Oleh karena itu, pangsa pendapatan dari sumber bukan penerbangan telah
berkembang sejak tahun 2004.
Juga tidak terdapat suatu mekanisme dan kebijakan pendanaan yang mantap bagi
pemerintah pusat/daerah, Angkasa Pura, serta sektor swasta yang menunjukkan
bagaimana membiayai proyek-proyek bandara baru. Penggunaan pinjaman luar negeri
Tabel 22: Penghasilan Angkasa Pura I (milyar rupiah)
2004
2005
2006
2007
2008
Penerbangan
862
953
1.021
1.178
1.415
Bukan Penerbanagan
201
262
290
371
446
Total Penghasilan
1.063
1.215
1.311
1.549
1.861
Pangsa Penerbangan (%)
81,1
78,4
77,9
76,1
76,0
Sumber: Angkasa Pura I, 2008
dari badan-badan multilateral atau bilateral untuk membiayai perluasan bandara besar
juga terbatas, karena kebanyakan dari bandara-bandara tersebut (misalnya, Polonia
Medan dan Adi Sutjipto Yogyakarta, kecuali Sukarno-Hatta di Jakarta) digunakan
selain untuk tujuan sipil juga untuk tujuan militer .
Kendala Kunci bagi Investasi Sektor Publik dalam Infrastrukur Bandara
Lemahnya Kapasitas Manusia dan Kelembagaan: Hal ini terlihat pada tingginya
tingkat kecelakaan udara. Penyelidikan oleh Komite Nasional Keselamatan
Transportasi menunjukkan bahwa 70-80 persen kecelakaan terjadi sebagai akibat dari
ketidak-memadainya kapasitas sumber daya manusia (kesalahan pilot, pengontrol
lalu lintas udara, dan petugas pemeliharaan). Kelemahan kelembagaan juga tampak
dalam pengawasan yang terbatas bagi uji kelayakan terbang dan prosedur. Undangundang penerbangan baru mengharuskan pembentukan sebuah pengontrol lalu lintas
udara tunggal, yang akan memegang peran yang saat ini ditangani oleh Angkasa Pura
dan Kementerian Perhubungan. Undang-undang tidak menetapkan bahwa pengontrol
lalu lintas udara baru harus dikelola oleh pegawai negeri sipil (seperti pada kasus
pembentukan otoritas pelabuhan yang terdapat dalam hukum maritim). Hal ini dapat
dimanfaatkan oleh pengontrol lalu lintas udara untuk mempekerjakan staf yang
berketerampilan sesuai dan dan bersemangat tinggi. Investasi publik pada pengontrol
lalu lintas udara dan lembaga keselamatan lain yang terkait adalah sangat penting
untuk pertumbuhan masa depan sektor ini.
Lemahnya Kapasitas Pendanaan untuk Bandar Udara Non-komersial: Operasi
bandara (bandar udara) yang besar dan menguntungkan dilakukan oleh Angkasa Pura,
sementara bandara terpencil dan tidak menguntungkan dilakukan oleh Kementerian
Perhubungan. Angkasa Pura telah memberikan profesionalisme dan layanan yang
berorientasi pelanggan dibandara yang dikelola. Di sisi lain, beban mengelola
bandara yang rendah lalu lintas penerbangan dan mengalami kerugian terletak pada
51
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kementerian Perhubungan, yang tergantung pada anggaran negara untuk menutupi
semua pengeluaran. Keadaan ini memberi kesulitan pada Kementerian Perhubungan
untuk membangun kapasitas dan sumber daya untuk secara cukup memelihara fasilitas
yang ada atau berinvestasi dalam fasilitas yang baru.
Investasi Sektor Swasta dan PPP dalam Infrastruktur Bandara
Tidak ada investasi swasta yang signifikan di sektor bandara: Partisipasi swasta
dalam pembangunan dan manajemen bandara terbatas pada memberikan layanan
terminal sebagai sub-kontraktor dari Angkasa Pura. Swastanisasi Angkasa Pura atau
pelaksanaan PPP secara keseluruhan pada beberapa bandara besar telah dipikirkan
oleh pemerintah, namun tidak ada kemajuan yang signifikan yang telah dicapai.
Sampai efektifnya pelaksanaan hukum penerbangan baru (melalui penerbitan peraturan
pelaksanaan), kemitraan-publik-swasta (PPP) yang layak dalam pengelolaan bandara,
terbatas hanya melalui kerjasama (“joint-venture”) dengan Angkasa Pura, yang telah
menawarkan kemitraannya dalam operasi terminal atau akses kereta api. Sampai saat
ini, tidak ada PPP yang sesungguhnya, kecuali berupa kerjasama yang dirancang
untuk mengembangkan jalur kereta api (rail-link) yang menghubungkan Bandara
Sukarno-Hatta dengan pusat kota Jakarta (antara Angkasa Pura dan PT Kereta Api,
operator kereta api milik negara).
Kendala Kunci bagi Investasi PPP dan Swasta dalam Infrastruktur Bandara
Lemahnya Kerangka Hukum: Partisipasi sektor swasta yang rendah di sektor
transportasi udara terutama disebabkan oleh tidak adanya akses dan kesempatan
yang sama untuk semua investor, dan tidak adanya peraturan dan kondisi investasi
yang jelas dan dapat diprediksi. Selain itu, sektor swasta saat ini disisihkan
dengan sengaja karena penyediaan jasa tertentu terbatas hanya oleh sektor
publik. Berdasarkan undang-undang sebelumnya, pengelolaan bandara komersial
dilakukan oleh Angkasa Pura, yang membatasi kemungkinan transaksi PPP dalam
penyediaan jasa terminal, sementara bisnis ‘udara’ yang menarik/menguntungkan
tetap dilakukan oleh Angkasa Pura. Undang-undang baru memisahkan fungsi
kontrol lalu lintas udara dari Angkasa Pura. Namun, posisi yang sekarang
dimiliki AP akan memberi AP kesempatan lebih awal untuk mempertahankan dan
memperluas pangsa pasar mereka di seluruh bandara Indonesia. Undang-undang
baru ini juga akan mengalihkan kekuatan kontrak ke Kementerian Perhubungan
dan pemerintah daerah, namun hukum dan wewenang yang rinci untuk pengelolaan
bandara masih harus ditetapkan. Peraturan yang merupakan dasar hukum bagi
otoritas kontrak di bandara masih sedang disusun. Dalam keadaan yang seperti
ini, masih ada ketidak-pastian yang tinggi di kalangan investor swasta. Oleh
karena itu, terlalu dini untuk mengambil keputusan investasi sampai munculnya
kejelasan kerangka hukum dan peraturan.
Lemahnya Kapasitas Kelembagaan: Kementerian Perhubungan dan pemerintah
lokal kekurangan pengalaman, sumber daya, dan kapasitas untuk menyiapkan dan
membentuk proyek PPP. Kasus ini jelas terlihat dari adanya permintaan dari Fasilitas
52
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Pengembangan Proyek di BAPPENAS untuk penyusunan dan transaksi PPP bagi
Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati.
Pengembalian Investasi yang dirasakan rendah: Di bawah undang-undang
transportasi udara yang baru, pemerintah masih memegang control terhadap biaya
jasa bandara melalui konsultasi dengan KementerianPerhubungan. Karena dalam hal
ini tidak ada badan pengawas independen, penolakan terhadap kenaikan pungutan
bandara dapat secara negatif mempengaruhi investor karena tarif bisa diatur
berdasarkan pertimbangan konsumen/politik.
Berdasarkan analisa di atas, Tabel 29 menunjukkan kendala utama yang menghambat
investasi baru di bidang infrastruktur transportasi udara. Kendala-kendala
ini mencakup lemahnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan di
pemerintahan; lemahnya kerangka peraturan; langkanya pendanaan jangka panjang;
lemahnya kapasitas pendanaan untuk bandara non-komersial; dan rendahnya tinkat
keuntungan atau pengembalian atas investasi. (Table 23).
Tabel 23: Ringkasan Kendala Besar dan Kecil pada Infrastruktur Bandar
Kendala
Kendala besar/kecil
Lemahnya Kapasitas Manusia dan Kelembagaan
Lemahnya Kerangka Hukum
Kurangnya Pendanaan Jangka Panjang
Rendahnya Pengembalian Investasi
Lemahnya Kapasitas Pendanaan untuk Bandara Non-komersial
Kunci:
: Kendala Besar
: Kendala Kecil
v)
Infrastruktur Listrik
Ketidak teraturan dan kualitas penyaluran listrik merupakan kendala kunci
dalam pertumbuhan bisnis seperti yang dinyatakan oleh 43 persen dari pebisnis
(pelaku bisnis) di Indonesia yang disurvei dalam penelitian OECD tahun 200833.
Hal ini tidak mengherankan karena sektor listrik dicirikan oleh:
• rendahnya tingkat kelistrikan, berkisar dari 21 persen di Nusa Tenggara Timur ke
88 persen di ibukota Jakarta. Tingkat kelistrikan secara keseluruhan meningkat
dari 55 persen pada tahun 2003 menjadi 65 persen pada tahun 2009;
• kebocoran transmisi dan distribusi (transmission and distribution-T&D) yang
tinggi dan terus menerus yang lebih dari 11 persen sejak tahun 1997;
• tarif listrik nasional yang seragam yang disubsidi dan tak bisa dipertahankan yang
ditetapkan di bawah tingkat biaya pemulihan (ditetapkan oleh Presiden setelah
berkonsultasi dengan DPR);
33
OECD (2008)
53
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
• permintaan tertekan – sambungan baru tidak dapat dengan cepat dilakukan karena
kurangnya pasokan untuk mempertahankan tingkat marjin cadangan yang aman34.
Sekilas Tentang Sektor Listrik
Sebelum krisis tahun 1997 Asia, Indonesia mengalami pertumbuhan tahunan konsumsi
listrik lebih dari 13 persen, mencapai puncak pada 1994-1995 menjadi lebih dari 15
persen. Namun, setelah krisis, rata-rata tahunan pertumbuhan konsumsi listrik turun
menjadi sekitar 7 persen dan selanjutnya turun menjadi 2,6 persen pada tahun 2008.
Selama periode 1998-2006, kapasitas terpasang PLN tumbuh sebesar 2,4 persen
per tahun, dan sebesar 1,5 persen dari 2007 hingga 2008. Hal ini mengakibatkan
permintaan tertekan karena kurangnya kapasitas pembangkit. Selama krisis Asia, tarif
rata-rata PLN dalam dolar turun tajam dan mengakibatkan kerugian keuangan yang
besar bagi PLN, berdampak buruk pada kemampuannya untuk berinvestasi dalam
kapasitas baru untuk memenuhi permintaan yang meningkat (Tabel 24). Krisis Asia
Tabel 24: Permintaan dan penyaluran Listrik
Kapasitas Terpasang (MW)
2004
2005
2006
2007
2008
24,840
25,890
28,916
29,545
29,988
4,2
11,7
2,2
1,5
21,470
22,515
24,847
25,223
25,571
4,9
10,4
1,5
1,4
3,370
4,059
4,320
4,416
0,0
20,4
6,4
2,2
19,263
20,354
21,306
21,866
1,9
5,7
4,7
2,6
34
42
39
37
(pertambahan tahunan %)
Kapasitas PLN
(Pertambahan tahunan %)
Kapasitas IPP
3,370
(Pertambahan tahunan %)
Permintaan maksimum (MW)
18,896
(Pertambahan tahunan %)
Margin Persediaan (%)
31
Sumber: PLN, 2009
mengakibatkan depresiasi cepat nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, dan karena
biaya tersebut berbasis dolar sementara pendapatan dalam Rupiah, kerugian semakin
lebih tinggi35. Kurangnya investasi mengakibatkan penurunan kinerja fasilitas yang
menua, mengakibatkan lebih jauh kekurangan daya listrik,, terutama sistim daya
listrik di luar Jawa Bali (yaitu di Sumatera Utara, Riau, dan Kalimantan Timur).
Indonesia memiliki kapasitas pembangkit terpasang sekitar 44,5 gigawatts pada
akhir tahun 2007, sekitar 57 persen dimiliki oleh PLN. Dari kapasitas pembangkit
listrik swasta, 14,8 gigawatts dimiliki oleh sekitar 10.000 perusahaan industri dan
manufaktur yang harus menghasilkan listrik karena pasokan PLN tidak tersedia di
lokasi mereka atau tidak dapat diandalkan. Ketergantungan pada pembangkit listrik
Margin cadangan adalah salah satu ukuran untuk mengetahui keterpercayaan sistim tenaga listrik, yaitu total kekuatan
listrik yang tersedia yang tak terpakai dari suatu sistem tenaga listrik pada beban puncak dari suatu sistem utilitas
sebagai persentase dari total kekuatan listrik
35
Kerugian ditanggung oleh pemerintah.
34
54
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
sendiri tidak mudah, terutama bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan konsumen
komersial dan perumahan.
Secara regional, Indonesia memiliki tarif industri terendah untuk listrik, karena listrik
sebagian besar disubsidi (di bawah biaya operasional). Ini telah tidak mendorong
PLN (operator milik negara) untuk meningkatkan kapasitas (makin besar PLN
memproduksi dan menjual listirk, semakin besar kerugian). Hal ini diperparah oleh
kenyataan bahwa kerugian akibat kebocoran transmisi dan distribusi yang sebesar 10
persen adalah lebih tinggi, jika dibandingkan dengan 7,2 persen di Malaysia dan 7,3
persen di Thailand, namun sebanding dengan Vietnam dan Filipina.
Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa tingkat kelistrikan di Indonesia (66
persen) secara signifikan lebih rendah dari Thailand (99 persen), Malaysia (98 persen),
Vietnam (97 persen) dan Filipina (79 persen) (Tabel 25).
Tabel 25: Perbandingan Indikator Listrik, 2009
Rasio
Pemasangan
Listrik (% dari
rumah tangga)
Kerugian
Transmisi dan
Distribusi (%)a
Tarif peumahan
Tarif
(US$/kWh)
Perindustrian
(US$/kWh)
Indonesia
66
10,0
0,052
0,045
Thailand
99
7,3
0,073
0,050
Malaysia
98
7,2
0,098
0,078
Vietnam
97
13,4
0,050a
0,050a
Filipina
79a
12,4
0,153
0,108
Sumber: ) ADB, 2005; Companies’ websites, 2009
a
Kendala Kunci pada Investasi Publik dalam Infrastruktur Listrik
Pembebasan Tanah: Untuk membangun pembangkit listrik, serta menyiapkan jalur
transmisi dan distribusi, tanah harus dibeli. Dalam kasus di mana tanah dimiliki
oleh sektor swasta, PLN harus bernegosiasi langsung dengan pemilik tanah dan
membeli tanah. Jika pemilik tanah meminta harga terlalu tinggi, proses hukum untuk
memperoleh tanah menjadi panjang dan berlarut-larut, sehingga PLN membayar
premi untuk tanah. Walaupun ada undang-undang yang berlaku untuk mempercepat
pembebasan tanah, pemerintah tampaknya tidak mau menerapkan dan mengambil
keputusan yang tidak populer. Oleh karena itu, pembelian lahan untuk membuat
infrastruktur baru, merupakan salah satu kendala utama untuk investasi lebih lanjut
dalam sector listrik.
Penentuan Tarif Listrik Sosial yang lebih Rendah Dari Pemulihan Biaya: Tarif
yang seragam di seluruh Indonesia telah menghambat pengembangan kapasitas
produksi listrik karena masalah keuntungan dan kesinambungan. Fenomena yang
tidak dapat dipertahankan ini berdampak buruk terhadap kemampuan PLN untuk
berinvestasi dalam kapasitas pembangkit listrik baru. Membangkitkan dan menjual
55
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
lebih banyak listrik berarti meningkatkan kerugian operasi perusahaan, oleh karena
itu, PLN enggan untuk melakukan investasi lebih lanjut di sektor ini.
Selain itu, penetapan tarif sosial membuat sektor tersebut tidak efisien, karena tidak
ada sinyal harga bagi investor, yang menunjukkan kurangnya kesempatan pemasokan
atau bagi konsumen untuk menghemat enerji. Jelas terlihat bahwa jika harga tidak
layak secara ekonomi, maka target pemasangan listrik yang diperkirakan mencapai
90 persen pada 2020 akan menjadi sangat mahal dan tidak dapat dipertahankan PLN
dan pemerintah.
Mengingat sensitifnya penentuan harga listrik, maka dibutuhkan keberanian politik
dan sebuah revisi skema subsidi untuk memastikan bahwa baik tujuan sosial maupun
ekonomi bisa dipenuhi.
Kurangnya Koordinasi Kebijakan/Peraturan: Sebuah studi Bank Dunia tentang
pemasangan listrik pedesaan di Indonesia, “Akses untuk Semua”, telah menemukan
bahwa ada banyak ‘pemain’ (yang terkait) pada berbagai program pemasangan listrik
pedesaan (misalnya, pemerintah pusat, pemerintah daerah, PLN, LSM, koperasi)
dengan kementerian (Kementerian ESDM, Kementerian Koperasi, Kementerian
Pembangunan Daerah Tertinggal), dengan agenda, prosedur dan sumber-sumber
pembiayaan yang berbeda-beda. Sayangnya, tidak ada koordinasi yang efektif
antara ‘pemain-pemain’ tersebut. Juga ada ketidak jelasan hukum dan peraturan
tentang tanggung jawab untuk listrik pedesaan. Tidak jelas apakah tanggung jawab
diberikan kepada Unit Ketenaga-listrikan Sosial di Kementerian ESDM atau PLN.
Akibatnya, PLN membubarkan unit pemasangan listrik pedesaan pada tahun 2001,
dan tingkat ekspansi terus berkurang. Kurangnya pendekatan yang terkoordinasi dan
holistik mengakibatkan ketidakpastian pada peran, dan tanggung jawab, tidak adanya
akuntabilitas, and tumpang tindih usaha perbaikan.Meskipun secara teori, koordinasi
adalah hal yang sederhana untuk ditangani, namun memerlukan upaya terpadu dari
semua aparat pemerintahan dibarengi dengan kemampuan untuk secara efektif
mendelegasikan wewenang dan melaksanakan keputusan.
Tidak Efisiennya Alokasi Sumber Daya Terbatas: Keputusan untuk mempertahankan
subsidi harga minyak memperburuk masalah, menghambat program enerji lain,
dan tetap merupakan hambatan untuk diversifikasi enerji dan konservasi. Subsidi
menyebabkan kurang layaknya untuk melakukan eksplorasi penanaman modal dalam
sumber-sumber enerji alternatif. Subsidi tersebut telah membuat ketidak-efisienan
ekonomi dan telah mengalihkan sumber daya negara yang terbatas dari penyediaan
infrastruktur sosial dan fisik penting lainnya. Pada tahun 2009, sekitar 4 persen dari
PDB dialokasikan untuk subsidi bahan bakar. Sekitar setengah dari ini persen (2
persen) digunakan untuksektor listrik (Gambar 18). Harus dicatat bahwa jumlah ini
lebih tinggi dari investasi yang dilakukan di sektor listrik (kurang dari 1 persen dari
PDB per tahun selama 2000-2006).
Kendala Sumber Daya: Sebagian dari bisnis pembangkit listrik PLN bergantung pada
pasokan gas alam. PLN pernah mengalami kesulitan di masa lalu dalam memperoleh
pasokan gas alam yang memadai untuk memenuhi permintaan, hal ini disebabkan
56
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
oleh ketidak-mampuan pemasok untuk menyediakan volume gas alam yang telah
dijanjikan. Sejak 2003, PLN telah menghadapi kekurangan pasokan gas alam, yang
mengakibatkan penutupan beberapa pusat pembangkit tenaga listirik dan beralih ke
bahan bakar (dari gas alam) untuk beberapa pusat pembangkit tenaga listrik berbahan
bakar ganda. Selain itu, sejumlah ladang gas alam yang memasok persediaan PLN
sedang berkurang. Karena perjanjian pasokan bersifat jangka menengah (sekitar
lima tahun), PLN, jika diperlukan, bisa beralih ke sumber enerji lain atau pemasok
gas alam alternatif. Namun, terdapat penundaan dalam pelaksanaan perubahan..
Dalam hal itu, gas alam harus diperoleh dari pemasok pada jarak yang lebih jauh.
PLN terus melakukan negosiasi dengan para pemasok tambahan dan memperluas
jaringan pembangkit untuk mengurangi ketergantungan pada gas alam. Tapi tak ada
kepastian bahwa PLN akan mampu membuat atau mempertahankan infrastruktur
yang dibutuhkan dan juga memberikan kontrak untukmemperoleh pasokan gas
tambahan dalam jumlah yang cukup bagi pusat pembangkit listrik yang ada, atau
untuk melaksanakan strategi pengembangan PLN.
Sebagian dari pembangkit tenaga listrik PLN tergantung pada pemasok batu bara.
Untuk menambah jumlah pusat pembangkit tenaga listrik, pasokan batu bara yang
stabil dengan harga yang pantas harus terjamin36. Indonesia memiliki persediaan batu
bara yang berlimpah. Menjamin pemasokan batu bara dalam jangka panjang dengan
harga yang pantas akan memungkinkan PLN untuk mengembangkan kapasitas dan
membangun pusat pembangkit tenaga listrik baru yang menggunakan batu bara,
dengan biaya pembangkitan listrik yang lebih rendah.
36
Dalam Program Fast rack, PLN harus membangun 33 Pusat Pembangkit Tenaga Listrik dengan Batu Bara
57
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Rendahnya Faktor Muatan: Rata-rata faktor muatan sistem listrik di Indonesia
tahun 2007 adalah sekitar 59,6 persen. Hal ini berbeda-beda secara menyolok antara
daerah, mulai dari 30 persen di Jawa Tengah sampai 84 persen di Riau (bagian timur
Sumatera). Faktor muatan yang rendah ini telah mempersulit PLN untuk memperluas
kapasitas pembangkitan ‘base load’. Karena lahan yang sangat luas dan adanya
berbagai pulau, maka bukanlah pilihan yang layak bagi PLN untuk mengembangkan
suatu ‘grid’ nasional.
Investasi Sektor Swasta dan PPP dalam Infrastruktur LIstrik
Produsen Listrik Swasta (PLS) telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1994 ketika
PLS mendapat ijin untuk menghasilkan listrik untuk dijual kepada PLN. Sampai
tahun2009, PLS menyalurkan sekitar 15 persen (4.568 MW) dari total kapasitas. Saat
ini, ada 20 PLS pada tahap operasional; 16 dalam tahap pembangunan,30 pada tahap
pembiayaan, dan 6 dalam tahap akhir dari perjanjian pembelian listrik-PPL (Power
Purchase Agreement-PPA) (Lampiran Tabel 3). Dalam keadaan ini, adalah penting
agar semua keterlambatan yang masih harus ditangani pada 30 proyek pada tahap
pembiayaan dapat diselesaikan secara cepat sehingga kapasitas pembangkit dapat
meningkat secara berarti.
PLS di Indonesia dikelompokkan menjadi beberapa kategori tergantung pada waktu
proyek, jenis PPL, atau metode pemberian kontrak:
• PLS generasi pertama: Ini adalah 27 PLS yang memulai operasinya pada tahun
1990-an yang PPA nya dinegosiasi ulang oleh PLN akibat krisis keuangan pada
tahun 199737.
Renegosiasi berlangsung dengan berlarut-larut serta sangat kompleks dengan hasil yang memuaskan untuk PLN. Dari
27 Produsen Listrik Swasta dengan total 11.300 MW, 14 kontrak diteruskan dengan syarat yang dinegosiasikan, 6 Kon-
37
58
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
• Penunjukan Langsung PLS oleh PLN: Menurut Peraturan Pemerintah 3 / 2005,
Pasal 11, ayat (6), kontrak PLS dapat diberikan melalui penunjukan langsung oleh
PLN dalam hal PLS: (i) mengoperasi baik tambang batu bara, sumber daya enerji
terbarukan atau sumber daya gas marjinal, (ii) melakukan ekspansi kapasitas untuk
proyek yang telah ada, dan (iii) sedang dikembangkan di daerah yang mengalami
krisis listrik.
• Kemitraan PLS: PLS kecil dan menengah dimana PLN memiliki bunga saham di
perusahaan proyek.
• PLS Infrastruktur: Proyek-proyek PLS ini diumumkan dalam Infrastructure
Summit (Pertemuan Puncak Infrastruktur) pada tahun 2005 dan 2006, di mana
pemerintah dan PLN berkomitmen untuk menerapkan proyek-proyek di bawah
skema kemitraan publik-swasta (PPP) sebagaimana diatur dalam Peraturan
Presiden 67/2005.
PPL generasi kedua biasanya adalah PPL yang dinegosiasikan dan ditandatangani
setelah krisis keuangan Asia. PPL tersebut mengandung beberapa pernyataanpernyataan tentang pemutusan kontrak untuk kepentingan PLS (misalnya, sebagai
akibat dari kesalahan PLN atau force majeure, PLN, (bukan PLS) yang akan
dibebani kewajiban yang terdapat dikontrak). Namun, PPL generasi kedua belum
memperlihatkan keberhasilan dalam beberapa tahun terakhir. Penyebab utama
keterlambatan dalam efektivitas PPL meliputi pemilihan yang kurang baik terhadap
pengembang potensial dan kurangnya jaminan pemerintah dalam struktur proyek.
Tingkat keberhasilan generasi kedua PPL hanya sekitar 14 persen, mengakibatkan
banyak PLS yang tidak aktif, karena gagal mencapai kebutuhan keuangan (financial
closing) (Tabel 26).
Tabel 26: Jenis Perjanjian Pembelian Listrik (PPL)
PPL
% didanai
internal rate of return
Catatan
yang ditawarkan
PPL generasi pertama
59% (15 dari 29)
20 – 25%
Garansi umum
pemerintah
PPL generasi kedua
14%
12 – 14 %
Tak ada garansi
pemerintah
PPL generasi ketiga
12 – 14%
Garansi
penghasilan
Sumber: PLN, 2009
PLN saat ini bekerja dengan PPL generasi ketiga, dengan suatu alokasi resiko yang
terjabar jelas untuk memudahkan kelayak danaan proyek.. Mereka mengacu pada PPL
model berdasarkan peraturan PPP, yang meliputi penyediaan dukungan pemerintah
untuk proyek-proyek PLS. Dalam PPL generasi ketiga, pemerintah memberikan
jaminan pendapatan untuk PLS, dan mengambil tanggung jawab atas resiko hukum
trak dengan 4490 MW diputuskan, 6 kontrak dengan 900 MW diperoleh PLN dan Pemerintah, hanya 1 kontrak dengan
220 MW yang berakhir dengan proses pengadilan namun tak melibatkan PLN
59
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
dan politik. Namun, PLN saat ini sedang mengembangkan sebuah PPL generasi
ketiga sebagai model yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Ikhtisar PPL
model diberikan dalam Kotak 5.
Seperti yang telah dinyatakan terdahulu, keberlangsungan PLN untuk jangka
panjang dipertanyakan karena beban fiskal dari subsidi. Hal ini memberi resiko kredit
untuk investor asing, akibatnya calon investor menuntut jaminan pemerintah untuk
menanggung kewajiban PLN di dalam PPL. Jika kita melihat hutang pemerintah,
yang saat ini lebih dari 130 persen dari PDB, keberlangsungan jangka panjang dan
kepastian bagi investor menjadi lebih tidak pasti.
Pemerintah dan PLN akan harus mengusahakan garansi kinerja yang benar untuk
menanggulangi risiko negara (country risk) dan resiko keberlangsungan yang terkait
dengan proyek PLS. Oleh karena itu, sebuah wilayah prioritas akan dapat memperkecil
resiko ‘contingent liabilities’ di masa depan dengan jalan berbagi resiko secara tepat
antara pemerintah dan sektor swasta.
Kerentanan terhadap guncangan ekonomi makro dan akibat buruk korupsi dan
lemahnya sistem peradilan (lihat analisa tentang kerangka diagnostik pertumbuhan)
tidak menjadikan Indonesia tujuan yang menarik bagi investor di sektor listrik,
terutama disuasana ekonomi yang penuh tantangan saat ini.
Untuk dapat memainkan ‘perankatalis’ (catalytic role), PLN harus menyusun
dan mengawasi proses yang adil, terbuka dan kompetitif. Khususnya, PLN harus
memperhatikan :
• Memberi jaminan yang dibutuhkan kepada pemberi pinjaman sehingga pendanaan
dapat diberikan;
• Menyiapkan proyek layak dana dengan bantuan pengacara dan penasihat transaksi
yang berpengalaman, menjamin bahwa resiko akan dibagi secara adil pada pihak
yang paling tepat untuk memikulnya; dan
• Mengidentifikasi dan menstrukturi mata uang lokal, memikirkan jalan keluar
dalam situasi Force Majeur dalam kerangka kontrak.
Untuk menangani masalah ini, PLN akan harus membentuk model PLS yang akan
menjadi contoh keberhasilan pembentukan proyek PLS yang layak dana, yang akan
disusun dan dilaksanakan menurut kebiasaan kerja terbaik internasional.
Kendala kunci bagi Investasi Swasta dan PPP dalam Infrastruktur Listrk
Masalah Pembebasan: Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, pembebasan
tanah untuk proyek-proyek pembangunan tetap merupakan salah satu kendala utama
bagi investasi baru dalam sektor ini. Didalam proyek-proyek yang dikelola oleh
sektor swasta, tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah pembebasan tanah
terletak sepenuhnya pada sektor swasta. Dalam banyak kasus, mereka dipaksa untuk
membayar harga premium atau menghadapi resiko penundaan yang lama dalam
pembelian lahan. Hal ini berdampak negatif pada penjadwalan waktu, perencanaan,
biaya dan operasionalisasi proyek.
60
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kotak 5. Satu Langkah Kedepan, Dua Langkah Kebelakang – Sekarang Kesempatan Kedua?
Undang-Undang (UU) Kelistrikan No. 20 Tahun 2002 bertujuan untuk melakukan reformasi subsektor
kelistrikan dan mendorong investasi swasta untuk masuk ke subsektor ini dengan memperkenalkan
kompetisi pasar; merombak Perusahaan Listrik Negara-sebuah Badan Usaha Milik Negara; menciptakan
suatu badan pengaturan; meningkatkan peran pemerintah daerah dalam penyediaan kelistrikan sosial
dan penentuan harga untuk daerah yang tidak kompetitif; dan mendorong partisipasi sektor swasta.
Undang-Undang (UU) ini merupakan suatu terobosan dan pelaksanaannya akan membuat Indonesia
sejajar dengan negara-negara lain di kawasan ini yang juga telah memulai perubahan serupa. Akan
tetapi, Undang-Undang (UU) ini di batalkan oleh Mahkamah Konstitusi pada bulan Desember 2004
dengan alasan bahwa UU ini tidak sejalan dengan Pasal 33 dari Undang-Undang Dasar 1945, yang
menyatakan bahwa “cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara.” Mahkamah menginterpretasikan istilah “penguasaan” sebagai
mengatur, memfasilitasi, dan mengoperasi fasilitas/cabang-cabang produksi tersebut. Keputusan
Mahkamah ini merupakan suatu pukulan telak terhadap usaha reformasi di subsektor kelistrikan dan
kemungkinan terhadap partisipasi sektor swasta.
Dengan pembatalan UU tersebut berarti Indonesia harus kembali menggunakan Undang-Undang
Kelistrikan No. 15 Tahun 1985. Keputusan Mahkamah berimplikasi bahwa kepemilikan swasta
terhadap kelistrikan tidaklah demi kepentingan terbaik untuk masyarakat/penduduk dan keuntungan
efisiensi yang diharapkan timbul melalui perombakan sektor kelistrikan menjadi tujuh bidang yang
diusulkan (pembangkitan, transmisi, distribusi, operator pasar, operator sistem, eceran dan pedagang
besar) tidak akan bisa dicapai.
Untuk merumuskan dan mengaktifkan sebuah UU baru ternyata membutuhkan waktu hampir 5
tahun sejak keputusan Mahkamah Konstitusi dan 8 tahun sejak disetujuinya UU Tahun 2002. Pada
9 September 2009, Dewan Perwakilan Rakyat telah menyetujui UU Kelistrikan Tahun 2009 (UU
30/2009. UU baru ini, walaupun tidak seambisius UU Tahun 2002, memuat perubahan-perubahan
yang akan memungkinkan “entitas” (entity) selain PLN untuk perpartisipasi dalam penyediaan listrik
dan bermaksud untuk mendefinisikan ulang peran dan mandat PLN. Akan tetapi, peraturan-peraturan
pelaksanaan yang terkait belum/sedang akan dikeluarkan. Karena adanya oposisi dari berbagai pihak,
khususnya di dalam PLN sendiri, ada kekhawatiran bahwa akan membutuhkan waktu lama sampai
kehendak dari UU ini dapat dilaksanakan. Terdapat juga kekhawatiran bahwa UU baru ini dapat
juga dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Indonesia sudah kehilangan waktu 8 tahun akibat tidak
melaksanakan UU 2002 dan kerugian karena keterlambatan pelaksanaan tentunyalah amat besar secara
ekonomi. Semoga, setiap intervensi Mahkamah Konstitusi, kalau memang diperlukan, akan berpihak
pada kepentingan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Hal-Hal Utama dalam UU Kelistrikan Indonesia
UU Kelistrikan No. 15/1985
Pemerintah
Indonesia
bertanggung
jawab
untuk
mengatur sektor kelistrikan.
Perusahaan-perusahaan
swasta diperbolehkan untuk
berpartisipasi
di
bisnis
kelistrikan, akan tetapi, PLN
adalah satu-satunya pembeli
listrik dan PLN mengontrol
fungsi transmisi dan distribusi.
UU Kelistrikan No. 20/2002
UU ini menciptakan sebuah
pasar kelistrikan yang kompetitif
melalui diperbolehkannya berbagai
pembangkit listrik dan restrukturisasi
serta perombakan fungsi PLN. UU
ini juga menyediakan mekanisme
untuk penyesuaian tarif listrik,
rationalisasi mekanisme pembelian
listrik untuk sektor swasta dan
menciptakan suatu mekanisme
pengaturan sektor kelistrikan.
UU Kelistrikan No. 30/2009
PLN tidak lagi mempunyai monopoli
terhadap
penyediaan/pasokan
dan distribusi ke pengguna akhir.
Produser Listrik Independen/Swasta
akan diperbolehkan menjalankan
berbagai fungsi diatas, khususnya
di daerah, dengan syarat (subject
to) hak untuk prioritas pertama ada
pada PLN.
Sumber: World Bank, 2005; ALB Business News, diunduh pada 13 May 2010., Purra, Mika. 2010. The
Indonesian Electricity Sector: Institutional Transition, Regulatory Capacity and Outcomes, National
University of Singapore, Singapore.
61
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Penetapan harga PPL di bawah biaya pengadaan: Penetapan harga pembelian
listrik untuk PLN dari PLS merupakan rintangan yang pokok bagi PPL, terutama yang
berbasis pada sumber daya enerji terbarukan. PLN diwajibkan untuk membeli listrik
berdasarkan formula yang menggunakan tarif seragam nasional (Tarif Dasar Listrik)
sebagai referensi. Peraturan ini telah menghasilkan PPL yang kecil dan terbarukan
tidak bisa berlanjut, karena harga-harga tidak sama-sekali mencerminkan biaya
pengadaan.. Untuk mengatasi masalah ini harga referensi baru berdasarkan biaya
pengadaan lokal baru-baru ini diperkenalkan (November 2009).
Merevisi sebuah PPL yang telah ditanda-tangani dan dimiliki oleh PLS yang ada
(tapi belum mencapai penutupan keuangan-financial closing) memerlukan koordinasi
antar-kementerian dan kepemimpinan yang kuat dalam pemerintahan. PPL akan
dinegosiasi ulang untuk kenaikan harga dan ketentuan baru berkaitan dengan
dukungan pemerintah (Kotak 6-7).
Kurangnya Dukungan Pemerintah dan Struktur Berbagi Resiko Dalam Proyek
PLS: Kurangnya dukungan pemerintah telah menyebabkan beberapa proyek PLS
gagal dalam mencapai penutupan keuangan (financial closure). Mekanisme berbagi
resiko yang efektif harus didasarkan pada prinsip bahwa resiko harus dialokasikan
kepada pihak yang berada pada posisi terbaik untuk menangani dan menyelesaikan
resiko tersebut. Pemerintah paling cocok untuk mengelola resiko yang terkait dengan
negara, politik, dan/atau tindakan/kegiatan pemerintah, sedangkan distributor paling
cocok untuk menanggung risiko yang berkaitan dengan operasional jaringan listrik
(termasuk resiko permintaan/penawaran, permasalahan jaringan). Investor swasta
dan pemberi pinjaman, di sisi lain, harus menanggung resiko yang terkait dengan
konstruksi, operasi, dan pemeliharaan PLS. Dengan menawarkan struktur bagi-resiko
yang sesuai dan konservatif, pemerintah dan PLN akan berada dalam posisi yang lebih
baik untuk mempromosikan kompetisi tarif di kalangan investor swasta di sektor ini
dan mendorong investasi dalam kerangka kerja yang stabil dan konsisten. Ada juga
penundaan yang signifikan dalam proses pengadaan PLS (Gambar 19).
Analisa di atas menunjukkan kendala utama yang menghambat investasi di
bidang infrastruktur listrik. Ini termasuk masalah pembebasan lahan, kurangnya
koordinasi kebijakan/peraturan; tidak efisiennya alokasi sumber daya yang terbatas;
kurangnya pembiayaan; kebijakan penetapan harga PLS yang di bawah biaya
pengadaan; rendahnya faktor beban; dan kurangnya dukungan pemerintah dan
struktur pembagian resiko PLS (Tabel 27).
vi) Telekomunikasi
Sektor telekomunikasi saat ini didominasi oleh tiga pemain besar (yaitu, Telkom,
Indosat, dan Excelcomindo), dengan hambatan yang kuat untuk masuk ke sektor ini
bagi pihak lain. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa akses yang terjangkau
pada infrastruktur telekomunikasi dan internet sangat terbatas.
62
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kotak 6: Model Persetujuan Perjanjian Pembelian Listrik (PPL)
PLN sedang mengembangkan PPL generasi ketiga , yang akan menjadi PPL model berdasarkan
Peraturan Presiden tentang PPP no. 67/2005. Konsultasi telah dilakukan berkali-kali dengan investor
dan pemberi pinjaman potensial yang meliputi lembaga kredit ekspor, bank multilateral, bilateral, dan
komersial. Sementara ketentuan PPL model masih sedang diselesaikan, beberapa hal dijabarkan di
bawah ini:
Kejadian Force Majeure Pemerintah (Government Force Majeure-GFM): Kebiasaan pasar baku
adalah bahwa resiko ini dialokasikan pada off taker (pembeli) yang ada hubungan dengan pemerintah.
Upaya untuk membatasi resiko pembeli jika ada kejadian force majeure pemerintah telah sangat
mengurangi pendanaan internasional (JBIC, 2009). Sebagai sebuah perusahaan monopoli milik negara,
PLN dianggap berada dalam posisi terbaik untuk menanggung risiko GFM. Sangat penting bahwa
PLN secara tepat didukung oleh pemerintah melalui jaminan atau surat dukungan. Pencabutan jaminan
pemerintah harus merupakan bagian dari kejadian / force majeure dan / atau penghentian perjanjian.
Perubahan Hukum: Untuk proyek-proyek PLS, perubahan undang-undang atau peraturan yang
membawa suatu dampak keuangan pada proyek harus dilakukan oleh PLN dan pemerintah, dengan
mengijinkan penyesuaian tarif.
Tanggung jawab Pembebasan Lahan: Pembebasan lahan adalah unsur yang paling penting bagi
proyek PLS. Pemerintah merupakan institusi yang tepat untuk bertanggung jawab akan pembebasan
lahan untuk proyek PLS. Pembebasan tanah oleh pihak swasta dapat mengakibatkan keterlambatan
pembangunan jika pemilik lahan menolak untuk menjual dengan harga yang layak.
Pasal Ambil atau Bayar (Take-or-Pay): Apabila pusat tenaga listrik telah tersedia dan siap untuk
menyalurkan listrik, para pembeli berkewajiban untuk melunasi pembayaran kapasitas terlepas apakah
pembeli mau atau bisa mengambil listrik tersebut. Pencantuman masa tenggang pada waktu listrik
dalam hal penyaluran sudah dianggap tepat bertentangan dengan kontrak ‘take or pay’.
Pengaturan Pemasokan Bahan Bakar: Perusahaan proyek hanya diwajibkan untuk mengambil resiko
pasokan bahan bakar sepanjang masih dalam kuasanya. Jika perusahaan proyek diharuskan mengambil
resiko pasokan bahan bakar, perusahaan tersebut harus diberikan fleksibilitas untuk menyelesaikan
dan mengelola resiko tersebut. Jika PLN membutuhkan hak persetujuan atas harga atau hal-hal lain
yang berkaitan dengan perjanjian pemasokan bahan bakar alternatif, maka penyaluran atau tindakan
lain yang dianggap tepat (misalnya, PLN memasok batu bara dengan persyaratan yang sama) harus
dijalankan jika persetujuan masih tertahan.
Pembayaran Pembatalan: Pembayaran ini tidak hanya harus menutupi hutang yang belum terbayar,
tapi juga bunga ‘hedging’nya serta dan biaya-biaya penyelesaian yang biasa dilakukan..
Pemberian Jaminan Pemerintah: Perpres 67/2005 merupakan hal terpenting dalam kerangka PPP yang
baru yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang jelas dan terprediksi di mana investor swasta
akan beroperasi. Berdasarkan peraturan ini, proyek-proyek PPP dapat diidentifikasi dan dipersiapkan
baik oleh pemerintah maupun sektor swasta. Namun, para sponsor harus dipilih melalui tender terbuka
dan transparan. Perpres tersebut memberikan rincian tentang bentuk perjanjian PPP, peraturan dan
prosedur untuk proses tender, dan mengharuskan tarif ditetapkan pada tingkat pengembalian biaya
penuh (full cost recovery). Jika ini melebihi kemampuan konsumen untuk membayar, pemerintah harus
menalangi perbedaan yang terjadi dengan subsidi PSO (Public Service Obligation).
Selain itu, Peraturan tersebut merekomendasikan bahwa resiko harus dialokasikan kepada pihak
yang paling mampu mengelola dan mengontrol resiko tersebut. Dalam hal ini, Menteri Keuangan
menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan 38/2006 untuk menjamin bahwa resiko masing-masing
proyek PPP dialokasikan secara tepat antara sektor publik dan swasta, dan bahwa segala unsur yang
berhubungan dengan pemerintah dikelola dengan tepat. Peraturan 38/2006 juga menjelaskan tentang
jenis risiko yang mungkin dapat ditanggung oleh pemerintah (yang berkaitan dengan peristiwa politik,
kinerja proyek, dan permintaan), prinsip-prinsip utama untuk memberikan dukungan tersebut (legalitas,
kualitas proyek dari segi kelayakan teknis dan keuangan, keberhati-hatian fiskal dalam arti yang
menyeluruh dan anggaran tahunan, dan transparansi), serta prosedur-prosedur persetujuan.
63
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Sekilas Tentang Sektor Telekomunikasi
Pentingnya sektor telekomunikasi untuk pembangunan ekonomi secara luas
diakui. Wellenius et. al. (1994) menunjukkan bahwa seiring dengan tenaga kerja
Kotak 7: Negosiasi ulang PPL (harga dan dukungan pemerintah)
Negosiasi ulang harga PPL di Indonesia dilakukan selama periode 1999-2003 ketika
pemerintah, melalui Keputusan Presiden 133/1999, melakukan negosiasi harga PPL yang
dianggap terlalu tinggi karena krisis ekonomi Asia.
Saat ini, negosiasi ulang harga PPL sedang diminta oleh developer PLS (yang telah gagal
mencapai penutupan keuangan) untuk meningkatkan harga PPL. Sementara bentuk pasti dari
Keputusan Presiden itu sendiri masih sedang dibahas, beberapa informasi dapat diberikan
seperti tercantum di bawah ini:
Tim Negosiasi Ulang PPL antar kementerianyang terdiri dari para menteri terkait, di bawah
pimpinan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, memutuskan menerima atau menolak
hasil negosiasi ulang PPL yang dilakukan oleh kelompok kerja renegosiasi.
Komite Teknis terdiri dari Deputi Menteri / Direktur Jenderal dari kementerian terkait,
dan perwakilan dari PLN (CEO) yang memberikan rekomendasi kepada tim kerja antar
kementerian.
Kelompok Kerja Renegosiasi merupakankelompok kerja tingkat eksekutif yang dibentuk
oleh tim antar kementerian untuk merencanakan strategi negosiasi ulang dan melakukan
negosiasi ulang, serta melaporkan hasil negosiasi ulang kepada Tim Negosiasi Ulang PPL
untuk pengambilan keputusan.
PLN telah membuat sebuah daftar sekitar 50 PLS yang telah gagal untuk mencapai
penutupan keuangan (financial closure) untuk negosiasi ulang.
64
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Tabel 27: Ringkasan Kendala Besar dan Kecil pada Infrastruktur Listrik
Kendala
Kendala besar/kecil
Masalah Pembebasan Tanah
Penetapan Tarif Listrik Sosial dibawah
Tingkat Pengembalian Biaya
Kurangnya Koordinasi kebijakan/Peraturan
Tidak Efisiennya Alokasi Sumber Daya
terbatas
Kurangnya Pendanaan
Buruknya Tata Kelola Pemerintahan
Kebijakan Harga PPL
Rendahnya Faktor Beban
Kurangnya dukungan Pemerintah dan
Struktur Pembagian Resiko di proyek PLS
Kunci:
: Kendala Besar
: Kendala Kecil
dan modal,telekomunikasi merupakan faktor produksi yang mendasar.38 Mereka
menekankan bahwa telekomunikasi memfasilitasi akses kepasar, mengurangi biaya,
meningkatkan layanan pelanggan, dan meningkatkan produktivitas. Oleh karena itu,
merupakan suatu hal yang menggembirakan bahwa infrastruktur telekomunikasi di
Indonesia tidak diidentifikasi sebagai kendala utama bagi pertumbuhan ekonomi.
Dalam survei ekonomi yang dilakukan oleh OECD 39tahun 2008 baru-baru ini, hanya
21 persen dari perusahaan yang disurvei melaporkan ketersediaan telekomunikasi
sebagai kendala bisnis, dibandingkan dengan 49 persen untuk transportasi dan 43
persen untuk infrastruktur listrik. Namun, dibandingkan dengan negara-negara Asia
lainnya, infrastruktur telekomunikasi di Indonesia masih tertinggal jauh di belakang.
Hal ini terbukti dari:
• rendahnya teledensitas (disebabkan oleh investasi yang tak mencukupi dan
infrastruktur telekomunikasi);
• rendahnya terobosan internet;
• kurangnya kompetisi dalam bisnis telekomunikasi sambungan tetap (fixed-line),
• kurangnya konsistensi dan peraturan independen dalam jas internet dan telepon.
Infrastruktur telekomunikasi sambungan tetap (fixed-line) menunjukkan pertumbuhan
tahunan dua dijit antara tahun 1970 dan 1998. Namun, antara 1999 dan 2002,
pertumbuhannya turun menjadi di bawah 5 persen per tahun, terutama disebabkan
oleh krisis keuangan Asia. Namun kemudian meningkat menjadi sekitar 11 persen
pada tahun 2003. Pada tahun 2007, meskipun sudah mulai ada komunikasi seluler,
38
39
Wellenius, B. Telecommunications, World Bank Experience and Strategy, Washington, 1994.
OECD Economic Surveys, indonesia Economics Assessment, 2008.
65
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
pertumbuhan telepon sambungan tetapmasih bertahan, dengan jumlah pelanggan
sebesar menjadi 17,8 juta.
Pasar seluler Indonesia menikmati pertumbuhan eksplosif dari 45,3 persen per tahun
antara 2002 dan 2007, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia (18,4 persen)
dan Filipina (24,7 persen), namun sebanding dengan Thailand dan Vietnam. Demikian
pula, pertumbuhan telepon saluran tetap sebesar 16,3 persen per tahun, yang jauh
melampaui Malaysia, Filipina dan Thailand selama periode yang sama (Tabel 28).
Tabel 28: Teledensitas ( jumlah koneksi tiap 100 penduduk) di Indonesia
Saluran Tetap
2002
2007
Seluler
Laju
pertumbuhan
tahunan
terpadu (%)
2002
2007
Laju
pertumbuhan
tahunan terpadu
(%)
Indonesia
3,6
7,7
16,3
5,5
35,3
45,3
Malaysia
19,5
16,4
-3,4
37,8
87,9
18,4
Filipina
4,2
4,5
1,3
19,5
58,9
24,7
Thailand
10,1
11,0
1,0
16,3
123,8
50,1
Vietnam
4,9
32,7
46,4
2,4
27,2
63,1
Sumber: ITU, 2009.
Investasi Sektor Publik dalam Infrastruktur Telekomunikasi
Pada tahun 1985, Telkom, sebagai lembaga layanan publik, dibentuk sebagai
perusahaan milik negara. Sejak itu, anggaran pemerintah tidak lagi digunakan dalam
pengembangan infrastruktur telekomunikasi fisik. Pemerintah, melalui konsultasi
dengan pemangku kepentingan di seekto ini, lebih terfokus pada bagaimana
memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi untuk pengembangan sektor publik
lainnya. Pada tahun 2006, pemerintah mendirikan Dewan Nasional untuk Teknologi
Informasi dan Komunikasi (DeTIKNas), yang mengembangkan tujuh program
nasional berikut:
• e-education: Jaringan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk tujuan
pendidikan yang menghubungkan 24.802 kantor pendidikan, sekolah dan
universitas di seluruh Indonesia;
• e-procurement: Sistim pengadaan secara online yang transparan dan efisien yang
berdasarkan TIK untuk institusi pemerintah baik di pusat maupun daerah;
• e-palapa Ring: jaringan serat optik yang menghubungkan seluruh provinsi di
Indonesia;
• Nomor Indentitas Nasional (NIN): Penggunaan nomor identitas tunggal bagi
seluruh warganegara untuk membantu penyediaan layanan public;
• e-budget: Sistim anggaran negara pemerintah yang online dan efisien untuk
lembaga pemerintah, baik di tingkat pusat dan daerah;
66
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
• National Single Window (NSW): Sistim yang terintegrasi secara real-time untuk
manajemen ekspor-impor;
• Penggunaan perangkat lunak yang resmi: kepatuhan terhadap hukum hak milik
intelektual dalam penggunaan perangkat lunak legal.
Pelaksanaan proyek-proyek sektor publik ini didanai oleh anggaran negara nasional,
bilateral/pinjaman multilateral, atau melalui mekanisme kemitraan publik-swasta.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (KEMKOMINFO) bertanggung jawab
untuk pelaksanaan investasi publik di sektor TIK. Sayangnya, dua proyek TIK di
bawah KEMKOMINFO yang masih belum selesai, yang didanai oleh Pemerintah
Jepang dan Spanyol (yaitu, Proyek Penggunaan KIT untuk Proyek Peningkatan
Kualitas Pendidikan di Propinsi DIY dan Proyek Peningkatan Transmisi Stasiun TV),
belum bisa lepas landas karena keterlambatan administrasi kredit.
Kendala kunci pada Investasi Sektor Publik dalam Infrastruktur Telkom
Atas dasar tersebut di atas, upaya awal pada PPP di bidang telekomunikasi tidak
berkelanjutan karena:
Kurangnya Proyek Layak Dana: Sebagian besar proyek-proyek di sektor
telekomunikasi yang tersedia untuk PPP terdapat di daerah pedesaan. Biaya
peluncuran proyek di daerah amat tinggi, sedangkan tarif telekomunikasi untuk
telepon sambungan tetap tidak diatur secara independen oleh regulator, melainkan
melalui pertimbangan sosial-politik. Dalam hal ini, tarif pedesaan harus disesuai
dengan tarif nasional, dan tidak lebih tinggi walau ada biaya infrastruktur tambahan.
Hal ini membuat investor kurang tertarik untuk mengembangkan jaringan pelanggan
baru, termasuk penerapan proyek kewajiban layanan universal (universal service
obligations-USO). Selain itu, ada masalah dalam pemeliharaan jaringan USO yang
sudah selesai, karena tarif hanya bisa menutup biaya operasional dan pemeliharaan.
Hal ini dapat diatasi baik oleh subsidi (bukan alternatif yang baik karena ada dampak
fiskal) atau, dengan meningkatkan tarif lokal telepon tetap. Namun, secara historis
pemerintah menolak untuk ikut menaikkan tarif panggilan telepon pada tahun 2006
karena kondisi sosial-ekonomi yang yang dianggap kurang kondusif.
Lemahnya Kapastias Manusia dan Kelembagaan: Hal ini bisa terlihat dengan baik
bila kita perhatikan kasus proyek USO dan Proyek Palapa Ring. Dalam kasus proyek
USO, pembukaan tender untuk menarik penawar yang cukup berkualitas gagal di
tahun 2007. Ini mungkin disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mempersiapkan
proyek layak dana yang bisa menarik penawar berkualitas. Akibatnya perlu diadakan
pengulangan proses tender setahun kemudian. Dalam kasus Proyek Palapa Ring, karena
ada masalah transparansi dalam pemilihan anggota konsorsium proyek, beberapa
anggota memutuskan untuk meninggalkan konsorsium. Komitmen pendanaan dari
tiga anggota yang tersisa (Telkom, Indosat, dan Bakrie Telecom) tidak cukup untuk
menutupi biaya proyek, sehingga pemerintah harus mengalokasikan anggaran untuk
membiayai proyek tersebut.
67
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Investasi Sektor Swasta dalam Infrastruktur Telkom
Selain dari penjualan lebih banyak saham Telkom dan Indosat di pasar modal
internasional dan domestik, investasi swasta di sektor telekomunikasi telah didorong
melalui pengurangan monopoli Telkom dan pelelanganberbagai lisensi operator
sektor swasta, misalnya:
•
•
•
•
•
penerbitan izin SLI ke Bakrie Telecom di tahun 2009;
pembukaan tender konsesi USO sejak 2007;
penerbitan izin voice-over-IP (VoIP) untuk 5 operator sejak 2003;
penerbitan izin broadband wireless untuk lebih dari 20 operators sejak 2003; dan
penerbitan izin CDMA and GSM DCS 1800 untuk 4 operator swasta sejak 2003.
Hal ini menyebabkan peningkatan partisipasi sektor swasta, terutama dalam
telekomunikasi seluler. Mengingat beberapa keprihatinan yang dibahas sebelumnya,
tidak mengherankan bahwa minat terbesar (jumlah operator) adalah di pasar seluler
(Tabel 29).
Tabel 29: Operator Layanan Telekomunikasi di Indonesia
Sambungan Fix tak
Seluler
Seluler
telpon fix
berkabel Genggam
GSM
berkabel
CDMA
seluler
CDMA
1 Telekomunikasi
Ya
Ya
Indonesia (termasuk
Telkom and Flexi)
2 Indosat (Indosat)
Ya
Ya
Ya
3 Bakrie Telcom (Esia)
Ya
4 Batam Bintan
Ya
Telekomunikasi
5 Telekomunikasi
Ya
Seluler (Telkomsel)
6 Excelcomindo
Ya
Pratama, Tbk. (XL)
7 Natrindo Telepon
YA
Seluler (Axis)
8 Hutchison CP
YA
Telecommunications
Indonesia (3)
9 Sampoema
YA
Telekomunikasi
Indonesia (Ceria)
10 Mobile-8 Telecom.
Ya
Ya
Tbk. (Hepi. Fren)
11 Smart Telecom-Sinar
Ya
Mas Group (Smart)
Sumber: Direktorat Jeneral Pos dan Telekomunikasi, 2008
No. Operator
68
SLI
YA
Ya
Ya
`
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Analisa baru baru ini oleh Credit Suisse (2008)40 menegaskan bahwa harga kompetisi
dan kombinasi ‘high capex’ (untuk cakupan dan kapasitas), bersamaan dengan
pendapatan yang lebih rendah dari perkiraan, diterjemahkan menjadi ‘return-oninvested-capital’ (ROIC) untuk industri telekomunikasi di Indonesia, diperkirakan
hanya 6 persen pada tahun 2010, turun dari perkiraan awal 8,4 persen. Ini masih
berada dibawah biaya modal untuk industri telekomunikasi, dan secara signifikan
lebih rendah dari tingkat bebas resiko Indonesia (country risk-free rate) saat ini
(keuntungan dari obligasi pemerintah dalam mata uang lokal pada awal Oktober 2009
adalah sekitar 10 persen).
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) telah berusaha untuk menjaga
kompetisi yang adil di sektor telekomunikasi, ketika, sejak 2006 KPPU telah mulai
memantau adanya penyalah-gunaan kekuasaan pasar oleh pemain dominan yang
dapat meminggirkan operator telekomunikasi yang lebih kecil dan menggelincirkan
pertumbuhan industri telekomunikasi.. Pada tahun 2007, KPPU membuat keputusan
besar ketika KPPU memutuskan bahwa Temasek telah melanggar pedoman kompetitif
karena memiliki saham yang besar di Telkom maupun Indosat, dan diperintahkan untuk
menarik sahamnya di salah satu dari dua perusahaan dalam waktu 12 bulan. Setelah
melalui proses pengadilan yang berlarut-larut dimana Temasek gigih mempertahankan
posisinya, QTel (dari Qatar) akhirnya mengumumkan pada bulan Juni 2008 bahwa dia
akan mengakuisisi 40,8 persen saham yang dimiliki oleh Temasek di Indosat (sampai
November 2009 QTel memiliki sekitar 65 persen Indosat).
Menurut pengamatan, ternyata dua perubahan lagi pada kerangka peraturan dapat
menambah kekhawatiran pada investasi swasta di sektor ‘wireless’ Indoneisa, dengan
dampak yang sangat rumit. Kedua peraturan baru itu adalah:
• Instruksi yang dikeluarkan oleh Menteri Perdagangan, melarang kepemilikan
menara telekomunikasi oleh perusahaan asing, yang bertentangan dengan
semangat arus investasi asing langsung ke Indonesia dan ke sektor ini, dan
• Instruksi tentang berbagi menara telekomunikasi yang akan dapat membantu
menurunkan biaya penyebaran jaringan untuk pendatang baru, akan tetapi pada
saat bersamaan menuntut pembayaran yang tinggi untuk penghapusan asset pada
operator yang ada.
Kemitraan Publik-Swasta dalam Infrastruktur Telekomunikasi
Meskipun Telkom menjadi perusahaan korporasi pada tahun 1985, kemitraan publikswasta di sektor ini baru dimulai 10 tahun kemudian pada tahun 1995. Hal ini
mengikuti proses penawaran tender internasional yang kompetitif untuk mempercepat
investasi dan perluasan jaringan telepon lokal dengan dasar ‘bangun-operasi-transfer’
antara Telkom dan investor swasta (dikenal sebagai Kerja Sama Operasi atau KSO).
KSO diharuskan untuk memasang sekitar dua juta jalur, diberikan kekuasaan kontrol
atas aset Telkom yang ada, dan menanggung semua resiko komersial, sebagai
imbalan untuk pembagian pendapatan dengan Telkom berdasarkan rumus yang
40
Credit Suisse, indonesia Telecom Sector, Agustus 2008
69
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
telah ditentukan. Krisis keuangan berdampak buruk pada pelaksanaan skema KSO,
dan memaksa Telkom untuk menegosiasikan ulang kontrak KSO untuk menjamin
kelangsungan keuangan mereka. Hal ini mengakibatkan kewajiban membangun
sambungan telepon lebih kecil, mengurangi peningkatan pendapatan dari kenaikan
tarif yang telah direncanakan, munculnya arbitrase internasional dan diskusi
pemborongan keseluruhan saham antara Telkom dan KSO. Saat ini, hanya satu KSO
(Bukaka Telekomindo Internasional) yang masih tetap ada, sedangkan yang lainnya
(Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra dan Kalimantan) sudah dibeli oleh Telkom (Kotak
8).
Evaluasi kegagalan skema KSO menunjukkan adanya suatu resiko ketidakcocokan
mata uang yang biasa terjadiantara pembagian penghasilan berbasis-rupiah dan
investasi modal dalam dolar Amerikayang muncul bersamaan dengan krisis keuangan
Asia pada akhir tahun 1990-an. Upaya-upaya untuk meningkatkan tarif telepon,
sebagaimanatelah disepakati selama negosiasi ulang KSO, untuk mengkompensasi
hilangnya pendapatan, ternyata tidak efektif karena tarif masih erat diatur oleh
pemerintah dan sangat bersifat politis.
Penggunaan PPP lain di sektor TIK adalah dalam pelaksanaan proyek USO. Pada
bulan Juli 2005, Pemerintah menerapkan USO, yang mengharuskan operator
telekomunikasi mengalokasikan 0,75 persen dari pendapatan mereka untuk dana USO.
Dana ini dibayarkan kepada pemerintah untuk mendukung pembangunan, operasi dan
pemeliharaan layanan telekomunikasi (telepon dan akses internet) di daerah tertinggal
(misalnya, desa-desa terpencil, daerah pedesaan, wilayah perbatasan dll). Lisensi
proyek USO akan diberikan pada operator sektor swasta yang akan menggunakan
dana USO untuk membangun dan mengoperasikan jaringan telekomunikasi atas dasar
bagi-hasil. Pengaturan proyek USO mirip dengan skema KSO terdahulu dalam tahun
1990-an. Namun, proses tender proyek USO tidak terwujud hingga 2007, ketika tidak
ada pemenang tender yang dipilih karena adanya sengketa tentang kualifikasi tender
yang tidak memadai. Proyek-proyek USO untuk layanan telepon ditenderkan kembali
di awal 2009, dengan Telkomsel dan Indonesia Comnet Plus sebagai pemenang
tender.
Kendala Kunci pada Investasi Sektor Swasta dan PPP
Untuk investasi sektor swasta di telekomunikasi, maslah-masalah di bawah merupakan
hal yang paling penting:
Lingkungan Monopolis: Dominasi Telkom (perusahaan milik negara) telah tidak
mendorong berkembangnya kompetisi dan investasi di sektor telekomunikasi.
Perilaku anti persaingan yang ditunjukkan Telkom (misalnya, membatasi interkoneksi
ke jaringan Telkom) telah membuat telekomunikasi antar-operator menjadi mahal
bagi konsumen. Biaya interkoneksi dinegosiasikan secara bilateral antara operator
dan Telkom, dan tidak ada referensi standar (syarat kontrak dan harga). Hal ini
telah menghasilkan praktek-praktek anti-persaingan yang diskriminatif dan kurang
transparansi. Ada tuduhan bahwa biaya interkoneksi yang dibebankan oleh Telkom ke
70
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kotak 8: Kerja Sama Operasi (KSO)
Lima perusahaan swasta diberikan 15 tahun kontrak pemerintah pada tahun 1994 untuk bekerja sama dengan
PT Telkom dalam perluasan jaringan nasional, masing-masing di wilayah geografis yang terpisah. Perjanjian
bangun-operasi-transfer (build-operate-transfer-BOT) ini, dimaksudkan untuk menyediakan dua juta saluran
telepon pada tahun 1999. Di bawah KSO, setiap konsorsium masing-masing diberi konsesi untuk membangun
dan mengoperasikan jaringan tetap (fix) di wilayah yang ditentukan oleh PT Telkom. Lisensi mengandung
beberapa Kewajiban Pelayanan Universal tertentu (universal service obligations-USO, yang mengharuskan
perusahaan menaruh 20 persen dari investasi mereka ke wilayah-wilayah pedesaan. Tujuan keseluruhan dari
program ini adalah untuk meningkatkan jaringan nasional untuk mencapai rasio 20 sambungan per 100 orang
pada tahun 2020.
Operasi di daerah yang telah ditentukan kemudian dialihkan kepada operator swasta pada Januari 1996.
Namun, tiga konsorsium gagal mencapai target mereka pada bulan Desember 1996. Jaringan Telstra di Jawa
Tengah adalah satu di antara operasi yang sedang diperiksa PT Telkom. Pemerintah mengontrak AriaWest
Internasional untuk mencoba mempercepat instalasi di Jawa. Masalah berlanjut ketika hanya 130.000 sambungan
dari target sebesar 400.000 sambungan (untuk 1997) yang dipasang. Krisis Ekonomi Asia tahun 1997/98 yang
mengakibatkan depresiasi mata uang rupiah Indonesia yang signifikan terhadap dolar AS, akhirnya memaksa
negosiasi ulang perjanjian KSO. Pada tahun 1998, PT Telkom menyetujui paket kebijakan untuk mengurangi
beberapa permasalahan KSO, termasuk:
• mengurangi target roll-out sambungan gabungan dari 2 juta ke 1.3 juta pada Maret 1999;
• meningkatkan bagian pendapatan layanan telepon KSO dari 70 persen menjadi 90 persen, dan
• menghapuskan option buy-out setelah 10 tahun dari kontrak 15 tahun secara ‘franchise’.
Kelima KSO masing-masing berhasil mencapai target Maret 1999 yang direvisi, dengan total sebesar 1,39 juta
sambungan baru yang siap dilayani pada saat itu. Perselisihan atas perjanjian KSO, terus berkelanjutan sampai
setelah perampungan proyek pada tahun 1998, dimana pemerintah terpaksa campur tangan dan bertindak sebegai
penengah dalam penyelesaian masalah ini. Telkom membeli salah satu perusahaan swasta, PT Daya Mitra
Telekomunikasi (Dayamitra) sebesar $ 122 juta di daerah Kalimantan.
Pada bulan Mei 2001, Indosat membeli saham di salah satu KSO, PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia
(MGTI), sebesar $ 1,5 miliar. Perusahaan ini ingin merevisi perjanjian yang sudah ada dengan Telkom dan
membuat perjanjian baru dengan pengaturan komersial yang lebih jelas dan lebih pasti, terutama dalam kaitannya
dengan infrastruktur dan pembagian keuntungan. MGTI 32,5 persen dimiliki oleh PT Widya Duta Infotel, 30
persen oleh Indosat, 2 persen oleh Australia Telstra Global Ltd dan 15 persen oleh NTT Finance Ltd, sementara
dua investor asal Jepang memiliki saham yang kecil. Pada Maret 2001, MGTI menginvestasikan sekitar $ 480
juta di jaringan telekomunikasi di Jawa Tengah. Pada tahun 2004, Telkom mengadakan perjanjian dengan MGTI
untuk merubah Perjanjian KSO awal. Berdasarkan Perjanjian KSO yang telah diubah, yang masih akan berjalan
hingga 2010, daerah operasi MGTI itu akan dijalankan di bawah pengelolaan dan pengawasan kontrol Telkom.
Perjanjian yang baru memungkinkan Telkom, berdasarkan kemauannya sendiri, untuk berinvestasi di wilayah
ini.. MGTI akan mendapatkan pembayaran bulanan tetap, dari sekitar 5,4 juta $ per bulan di tahun 2004 sampai
6,8 juta $ per bulan di 2010.
Pada bulan Juli 2001, Telkom secara sepihak menghentikan kerjasama operasi dengan AriaWest International.
Langkah Telkom ini mengikuti tindakan sebelumnya oleh AT & T yang mengajukan proses arbitrase internasional
dengan Kamar Dagang Internasional di Paris pada Mei 2001, yang menuntut $ 1,3 milyar kompensasi dari
PT Telkom untuk kerugian yang (katanya) dialami. Pada bulan November 2001, PT Telkom juga mengambil
tindakan hukum mengklaim bahwa mereka telah menderita kerugian sebagai akibat dari kinerja AriaWest yang
buruk. Pada bulan Mei 2002, Telkom mengumumkan bahwa mereka telah menandatangani kesepakatan untuk
membeli PT AriaWest sebesar 363 juta $, dan arbitrase yang sedang ‘dipending’ kemudian terselesaikan. Dalam
kesepakatan itu Telkom mengambil alih kewajiban utang AriaWest, dan selesai tahun 2003.
Pada bulan April 2002, PT Telkom mencapai perjanjian jual beli 40 persen saham milik France Telecom di PT
Pramindo Ikat Nusantara seharga $ 425 juta. PT Pramindo sudah merupakan mitra KSO Telkom di Sumatera.
Pada bulan Agustus 2002, Telkom mengambil alih pengoperasian dan menanggung utang Pramindo, termasuk
utang 86,2 juta $ pada International Finance Corporation (IFC).
SingTel dilaporkan pada bulan Oktober 2005 sedang dalam pembicaraan untuk menjual sahamnya di jaringan
saluran tetap di Indonesia Timur kepada PT Telkom. Partner Indonesia Bukaka Telekomindo memiliki sisa
kerjasama (joint venture) ini. Satu-satunya KSO yang yang tidak di bawah kendali kepemilikan Telkom
adalah Bukaka, yang meliputi Kepulauan Indonesia Timur dari Sulawesi sampai Maluku dan Papua. Dalam
perjanjian KSO, pemutusan konsesi KSO VII akan terjadi pada tahun 2010, dan pada saat itu Telkom diharapkan
mendapatkan hak-hak kepemilikan seluruh aset KSOyang tersisa ini. SingTel telah menjual seluruh saham di
Bukaka Singtel International dalam tahun 2006 sebesar Rp.532 milyar ($58,5 juta) pada Bukaka Telekomindo
International.
71
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Telkomsel (anak perusahaan seluler Telkom) lebih rendah daripada ke operator selular
lainnya.41 Dominasi Telkom dalam akses sambungan tetap juga mempengaruhi bisnis
pesaing, seperti Indosat. Misalnya, Indosat memilih untuk masuk ke dalam mekanisme
pembagian pendapatan dengan calon mitra bisnis daripada harus menyediakan modal
langsung dan biaya operasi untuk perluasanjaringan sambungan tetap baru. Ini bukan
investasi yang menarik, yang menyebabkan portofolio bisnis Indosat tetap kecil,
dibawah 9 % total pendapatannya.
Lemahnya Lingkungan Hukum dan Peraturan: Badan Regulasi Teknologi dan
Informatika (BRTI) diketuai oleh Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi dari
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Meskipun sudah merupakan
badan yang mapan yang terdiri dari komisaris berpengetahuan dan berpengalaman,
namun badan ini tidak memiliki kewenangan untuk mengeluarkan keputusan/
peraturan sendiri. Wilayah hukum BRTI terbatas pada penyedia jaringan dan layanan
telekomunikasi dasar, sementara layanan bernilai tambah seperti VoIP dan layanan
multimedia lainnya masih diatur oleh Kemkominfo. Keadaan ini menyebabkan BRTI
menjadi tidak efektif, khususnya dalam kerangka hukum dan peraturan. Dalam hal ini,
strukturBRTI, termasuk kewenangan dan yurisdiksi, saat ini sedang diperiksa dengan
tujuan untuk membuatnya menjadi badan pengawas yang kuat dan independen yang
sesuai dengan praktek internasional yang baik. Sebuah contoh lemahnya lingkungan
hukum dan peraturan dapat dilihat dalam kasus sambungan langsung internasionalSLI (international direct dialling-IDD) Indosat (Kotak 9).
Analisa di atas menunjukkan bahwa kendala kunci yang menghambat investasi baru
dalam infrastruktur telekomunikasi adalah kurangnya kapasitas sumber daya manusia
dan kelembagaan dalam pemerintah; lemahnya kerangka peraturan; kurangnya
kelayakan dana pada proyek; dan adanya lingkungan monopoli di sektor ini. (Tabel
30).
Tabel 30: Ringkasan dari Kendala besar dan kecil dalam Telekomunikasi
Kendala
Kendala besar/kecil
Lemahnya Kerangka Peraturan
Lemahnya Kapasitas Sumber Daya Manusia
dan Kelembagaan
Kurangnya Kelayakan Dana Proyek
Buruknya Tata Kelola Pemerintahan
Lingkungan Monopolis
Sulitnya Pembebasan Tanah
Kurangnya Pendanaan Jangka Panjang
Kunci:
: Kendala Besar
: Kendala Kecil
Rasyid, Asmiati, Indonesia : Liberalization at the Crossroad Impact on Sector Performance, Teledensity, adn Productivity,
Communicationa and Strategies , 2005
41
72
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kotak 9: SLI Indosat
Adanya lingkungan hukum dan peraturan yang lemah terlihat dalam kasus bisnis sambungan langsung
internasional (SLI) Indosat yang secara langsung menghubungkan Indonesia ke lebih dari 260 negaranegara di seluruh dunia. Indosat mengoperasikan empat ‘gateway exchange’ internasional di Jakarta,
Medan, Batam, dan Surabaya. ‘Gateway’ Jakarta melayani wilayah metropolitan Jakarta dan propinsi
Jawa Barat dan Jawa Tengah, atau sekitar 64 persen lalu lintas hubungan internasional Indosat.
Selama tahun 2001, lalu lintas SLI turun sebesar 7,5 persen, dan ini disebabkan oleh peningkatan
aplikasi Voice over Internet Protocol (VoIP) untuk percakapan internasional. VoIP diperkirakan telah
menangkap 5-10 persen dari pangsa pasar telepon internasional pada akhir 2001. Meskipun izin VoIP
secara resmi dikeluarkan oleh pemerintah untuk lima operator (misalnya, Telkom, Satelindo, Gaharu,
Atlasat, dan Indosat), ada beberapa operator VoIP tanpa izin yang terus beroperasi. Meskipun ada upaya
yang berwenang untuk membasmi operator VOIP gelap tersebut, lalu lintas telepon internasional gelap
ini terus meningkat. Pada tahun 2002, lalu lintas SLI Indosat turun lagi 20 persen dan menyatakan
bahwa kerugian yang ditimbulkan karena VoIP gelap adalah sekitar Rp 245triliun ($ 27 juta) per tahun
(Sumber: Gatra Akibat VOIP Illegal Indosat Rugi, January 19, 2009).
Bisnis SLI Indosat semakin memburuk ketika, pada tahun 2004, Telkom terima izin SLI dari pemerintah
dan mulai menawarkan saluran yang jelas ber kode SLI 007, bersamaan dengan dengan produk lainnya.
Telkom menyatakan bahwa perusahaan memegang 52 persen pangsa pasar layanan SLI pada akhir April
2005. Saat ini, bisnis SLI dan saluran tetap Indosat meliputi hanya 9,7 persen dari total pendapatan.
(Sumber: Mandiri Sekuritas Debt Research, November 2009).
VI.
KONSOLIDASI HASIL SURVEY DAN ANALISA SUB-SEKTORAL
YANG MENDALAM
Berdasarkan berbagai diskusi dengan pemangku kepentingan yang terlibat dalam
pembangunan infrastruktur baik dari sektor swasta dan masyarakat serta hasil survei
primer (yang dilakukan antara September 2009 dan November 2009), kendala besar
dan kecil pada investasi infrastruktur dapat diidentifikasi. Perlu ditekankan bahwa
penelitian ini tidak dimaksudkan untuk memberikan ‘daftar cucian’ (laundry list)
tentang kendala yang harus ditangani dalam jangka menengah dan jangka panjang,
tapi lebih berfokus pada kendala paling utama dan yang mengikat yang dapat ditangani
dalam jangka pendek sampai menengah. Hasil survei menunjukkan bahwa masalah
yang paling mengikat dan menghambat laju pembangunan infrastruktur di Indonesia
disusun menurut tingkat keparahan (yang pertama adalah yang lebih bermasalah,
diikuti dengan yang kurang bermasalah) adalah sebagai berikut:
i. Sulitnya pembebasan tanah;
ii. Lemahnya kapasitas manusia dan kelembagaan;
iii.Buruknya tata kelola pemerintahan; dan
iv. Kurangnya pendanaan.
Survei yang telah dilakukakn juga menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi makro
telah dapat dipertahankan dan dinilai positif oleh para investor (yaitu tidak memberi
dampak buruk pada bisnis yang berkaitan dengan infrastruktur). Selanjutnya, dalam
mempelajari perbaikan dalam berbagai faktor yang berhubungan dengan bisnis dan
iklim investasi bagi pembangunan infrastruktur, survei menunjukkan bahwa ada
73
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
sedikit perbaikan pada pengembalian atau keuntungan atas investasi infrastruktur
selama beberapa tahun terakhir.
Analisa mendalam tentang tiga sub-sektor utama: (i) Transportasi (jalan, kereta api,
pelabuhan dan bandara), (ii) Listrik, dan (iii) Komunikasi juga dilakukan untuk
menentukan kendala yang menghambat investasi di sub-sektor ini.
Sehubungan dengan berbagai komponen sektor transportasi, kesulitan dalam
pembebasan tanah tampaknya menjadi kendala paling mengikat, diikuti oleh lemahnya
kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia di pemerintahan, khususnya
yang terwujud dalam ketidak-mampuan dalam mempersiapkan proyek yang layak
dana dan melaksanakan peraturan pemerintah; buruknya tata kelola pemerintahan,
dan kurangnya pendanaan jangka panjang. Analisa ini menekankan bahwa kendala
utama yang menghambat investasi baru dalam infrastruktur kereta api mencakup
kurangnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan, terefleksi khususnya
dalam lemahnya kerangka peraturan yang ada; masalah pembebasan tanah; ketidaktersediaannya pendanaan jangka panjang; dan pengembalian atau keuntungan atas
investasi yang rendah. Sehubungan dengan sektor pelabuhan, kendala utamanya
adalah kurangnya kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia, khususnya
ketidak-mampuan untuk mempersiapkan proyek yang layak dana; lemahnya kerangka
peraturan yang ada; buruknya tata kelolapemerintahan (yaitu, korupsi/kegiatan
mencari rente), rendahnya tingkat pengembalian atau keuntungan atas investasi..
Akhirnya, di bidang transportasi udara, kendala-kendalanya adalah: lemahnya
kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan; buruknya tata kelola pemerintahan;
langkanya pendanaan jangka panjang termasuk kapasitas pendanaan yang lemah
untuk bandara non-komersial; serta rendahnya tingkat keuntungan atau pengembalian
atas investasi (Tabel 31).
Untuk sektor listrik, kendala utama yang menghambat investasi adalah sulitnya
pembebasan lahan; kurangnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan;
kurangnya koordinasi dalam kebijakan/peraturan; kurangnya pembiayaan; penetapan
tarif listrik sosial di bawah tingkat pengembalian biaya; dan tidak efisiennya alokasi
dan sumber daya yang terbatas. Dalam sektor telekomunikasi, hambatan utama
meliputi kurangnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan, terefleksi pada
kurangnya proyek yang layak dana dan lemahnya kerangka peraturan;dan buruknya
tata kelola pemerintahan. Namun, pembebasan tanah dan pendanaan jangka panjang
tampak sebagai kendala kecil karena berkembang pesatnya industri ponsel terutama
yang ditangani oleh sektor swasta (Tabel 31).
Berdasarkan analisa survei primer, empat kendala besar yang menghambat investasi di
sub-sektor infrastruktur (transportasi, listrik, dan telekomunikasi) adalah: (i) sulitnya
pembebasan tanah; (ii) lemahnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan
(iii) buruknya tata kelola pemerintahan; dan (iv) kurangya pendanaan.42 (Tabel 32).
Penyebab utama kendala-kendala tersebut dibicarakan dalam seksi berikut ini.
Kendala-kendala ini serta prioritasnya kembali dinyatakan secara jelasoleh para partisipan dan pembicara dalam
Konferensi Infrastruktur Asia 2010 yang berlangsung di Jakarta, Indonesia 15-17 April 2010. Bahkan, pemangku
kepentingan sektor publik dan swasta yang utama dalam sektor infrastruktur menguatkan temuan penelitian ini.
42
74
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Tabel 31. Kendala Besar pada Pembangunan Infrastruktur di Indonesia
(Berdasarkan analisa mendalam menurut sub-sektor)
Transportasi
Kendala Utama
Jalan
Kereta
Api
Pelabuhan
Listrik
Telekom
Udara
SulitnyaPembebasan Tanah
Lemahnya Kapasitas
Sumber Daya Manusia dan
Kelembagaan*
Buruknya Tata Kelola
Pemerintahan
Tidak Tersedianya
Pendanaan Jangka Panjang
Rendahnya Pengembalian
atas Investasi
Penentuan tarif sosial listrik
yang dibawah pemulihan
biaya
Tak efisiennya alokasisumber
daya yang terbatas
: Kendala Besar
* Sesuai dengan definisi survei, faktor ini adalah masalah mendasar di balik perspektif negatif pada beberapa bidang
termasuk: Koordinasi Pemerintah, Proyek Layak Dana, Kapasitas Implementasi, Hubungan dengan Pemerintah, dan
Kerangka Hukum dan Peraturan.
Infrastruktur yang lemah dan tidak memadai tidak hanya berdampak buruk terhadap
perekonomian Indonesia tetapi juga pada keterkaitan dengan negara-negara tetangga,
khususnya Malaysia dan Thailand (lihat bagian I dan V). Hal ini terlihat nyata oleh
perwujudan yang lambat dari Inisiatif Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle
(IMT-GT), yang bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan yang berdasarkan sektor
Tabel 32: Ringkasan Kendala Survey dan Kendala
Kunci pada Seluruh Sektor Infrastruktur di Indonesia
Kendala Utama
(berdasarkan survei dan
analisa yang mendalam)
Transportasi
Listrik
Masalah Pembebasan
Tanah
Lemahnya Kapasitas
Sumber Daya Manusia
dan Kelembagaan
Buruknya Tata Kelola
Pemerintahan
Kurangnya Pendanaan
75
Komunikasi
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
swasta dan membantu memfasilitasi pembangunan sub wilayah sebagai kesatuan
yang utuh.43
Sejak pendiriannya di tahun 1993, IMT-GT telah berkembang dalam cakupan geografis
dan kegiatan. IMT-GT memiliki potesi untuk memperbaiki pertumbuhan intra dan
inter regional dan pemerataan. Memperkuat transportasi lintas-batas dan kaitan
logistik akan dapat memperluas pasar, serta peluang ekonomi yang dapat dieksploitasi
oleh propinsi-propinsi yang berbatasan di masing-masing tiga negara tersebut. Pada
waktunya, hal ini akan mengurangi kesenjangan dalam negara masing-masing. IMTGT telah mengidentifikasi konektivitas koridor ekonomi yang meliputi 10 provinsi
di Sumatera. Untuk memanfaatkan IMT-GT sepenuhnya dan akses perdagangan
preferensial nya, Indonesia perlu meningkatkan investasi di bidang manufaktur dan
jasa di 10 propinsi. Namun, investasi akan sulit untuk menjadi menarik jika jaringan
transportasi dan pasokan listrik di provinsi-provinsi tidak ditingkatkan secara
signifikan.44
Untuk memanfaatkan potensinya, peta jalan (roadmap) IMT-GT 2007-2011 disusun
dengan penekanan yang amat jelas akan pentingnya infrastruktur. Terkait dengan
jumlah penduduk, luas tanah dan kesempatan kerja Indonesia akan cenderung
mendapat manfaat terbanyak dibanding ketiga negara yang termasuk dalam inisiatif
IMT-GT. Namun, ketidak-seimbangan infrastruktur membatasi kemampuan
Indonesia untuk mengambil manfaat dari inisiatif regional yang penting ini. Jelaslah,
kendala-kendala bagi pembangunan infrastruktur, yang telah diidentifikasi oleh studi
diagnostik infrastruktur ini, juga menghambat IMT-GT (yaitu, kapasitas sumber
daya manusia dan kelembagaan yang lemah, kegagalan koordinasi, dan kekurangan
pembiayaan). (Kotak 10).
VII. SEBAB UTAMA KENDALA POKOK YANG DITEMUKAN
i)
Kesulitan Pembebasan Tanah
Dari perspektif investasi di bidang infrastruktur, kesulitan dalam pembebasan tanah
ini bisa dikatakan sebagai kendala paling mengikat yang menghambat investasi
publik, investasi swasta dan kemitraan publik-swasta dalam transportasi, listrik
dan telekomunikasi. Mengingat luasnya wilayah Indonesia, pertanyaannya adalah
mengapa biaya tanah sangat tidak terjangkau?
Tindakan spekulatif serta dilanggarnya kerahasiaan rencana pembangunan membawa
dampak negatif terhadap kelangsungan keuangan sebuah proyek. Pembicaraan
dengan investor swasta menunjukkan bahwa sejumlah proyek tertunda akibat masalah
pembebasan tanah, terutama dalam proyek jalan tol. Ada kasus di mana tanah milik
pribadi telah dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, dan kemudian timbul
Ini adalah inisiatif kerja-sama sub regional yang dimulai tahun 1993 oleh pemerintah Indonesia, Malyasia dan Thailand,
dengan tujuanmempercepat dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi, menurunkan tingkat kemiskinan, memperbaiki
kualitas hidup, menciptakan perdamaian dan stabilitas di sub wilayahmelalui peningkatan perdagangan dan investasi.
44
Meskipun biaya captive power lebih mahal ( sekitar 30 – 50 persen lebih mahal daripada listrik PLN), banyak pabrik di
Sumatra yang akhirnya beralih pada pembangkitan tenaga listrik sendiri karena pasokan dari PLN tak dapat diandalkan.
Hal ini berdampak buruk bagi daya saing dan kemauan mereka untuk investasi dalam sektor ini.
43
76
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kotak 10. SEGI-TIGA PERTUMBUHAN (Indonesia- Malaysia-Thailand): Kendala
Utama dalam Penunjang Infrastruktur dan Konektivitas Sub-Regional
Tujuan utamadari sub wilayah IMT-GT adalah untuk «memperkuat hubungan infrastruktur
dan konektivitas» melalui IMT-GT Roadmap 2007-2011. Bidang yang diprioritaskan
dalam pembangunan infrastruktur yang diidentifikasi dalam IMT-GT Roadmap meliputi:
(i) peningkatan infrastruktur lintas-batas dan koneksi layanan transportasi; (ii) fasilitasi
transportasi jalan di sub wilayah IMT-GT-melalui pengakuan timbal baik dokumentasi
kendaraan; (iii) pembangunan jasa dan fasilitas pelayaran untuk mendukung perdagangan
lintas batas dan kegiatan investasi; (iv) peningkatan dan pembangunan infrastruktur
transportasi di koridor Utara-Selatan di Sumatera untuk meningkatkan hubungan ekonomi
dengan Malaysia dan Thailand yang merupakan sub-wilayah IMT- GT; (v) peningkatan dan
pembangunan jasa dan fasilitas udara IMT-GT, dan (vi) pembangunan strategi dan program
untuk kerja sama IMT-GT di bidang energi.
Selama 16 tahun terakhir, perkembangan pelaksanaan IMT-GT Inisiatif jauh di bawah
yang diharapkan, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan jalan, kereta api, bandara,
pelabuhan dan infrastruktur listrik pada tingkat antar dan intra regional. Hambatan dasar
dibalik tingkat kemajuan yang rendah ternyata sama dengan temuan penelitian diagnostik
pertumbuhan infrastruktur ini. Hambatan tersebut adalah:
• Lemahnya Kapasitas Kelembagaan dan Sumber: Daya Manusia yang jelas terlihat
dari ketidak-adaan hubungan antara strategi, program dan proyek. Terlalu banyak
proyek utama (flagship) yang diidentifikasi tanpa mempertimbangkan kapasitas
pelaksanaan dari tiga pemerintahan, terutama di tingkat lokal. Bahkan, kegiatan analitis
(studi pra-kelayakan dan kelayakan) yang dilakukan untuk memandu perumusan proyek
amat terbatas. Kelemahan dalam kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan
juga tampak jelas dalam kesenjangan informasi proyek dan sistem pemantauan proyek
yang tidak memadai. Keberhasilan koridor pembangunan seperti IMT-GT terdapat
pada partisipasi sektor swasta. Namun, kurangnya proyek layak dana yang disiapkan
oleh pemerintah mengakibatkan partisipasi minimal oleh sektor swasta, dan lembaga
keuangan domestik dan internasional.
• Kegagalan Koordinasi: Lemahnya koordinasi di semua tingkatan pemerintah
(nasional, pemerintah provinsi dan lokal) juga memperlambat pelaksanaan Roadmap
IMT-GT. Khususnya, hanya ada sikap rasa memiliki yang rendah di tingkat pemerintah
daerah karena mereka tidak aktif terlibat dalam persiapan proyek dan identifikasi. Selain
itu, hubungan antara sektor publik dan swasta lemah.
• Kurangnya Pendanaan: Pelaksanaan IMT-GT Roadmap membutuhkan $ 15-20 milyar
selama periode 10 tahun, yang bukan merupakan jumlah besar untuk tiga negara yang
memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat (yaitu, dibandingkan dengan $ 200 milyar
di rencana infrastruktur jangka menengah di Indonesia). Dibawah Inisiatif IMT-GT,
tidak ada rencana pendanaan yang pantas yang disiapkan dan ketiga pemerintah
tidak menyediakan cukup dana untuk proyek-proyek tersebut. Hal ini menunjukkan
kurangnya kemauan politik dari ketiga pemerintah.
Pencapaian tujuan Roadmap IMT-GT, khususnya untuk mengurangi kesenjangan antar
daerah, tidak mungkin diperoleh dalam dua tahun yang tersisa. Perlu ada sebuah studi
diagnostik rinci yang mencakup ketiga negara untuk mengidentifikasi kendala penghambat
keberhasilan IMT-GT. Jika hal ini tidak dijalankan, dan strategi untuk melonggarkan
kendala paling mengikat tidak dikembangkan serta dilaksanakan, kemajuan IMT-GT tidak
akan tercapai dan akan merugikan pertumbuhan dan pemerataan.
77
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
kegiatan spekulasi (yaitu ada kebocoran informasi yang menyebabkan situasi dimana
tanah sudah diperdagangkan sebelum secara resmi diperuntukkan untuk proyekproyek infrastruktur tertentu). Hal ini menyebabkan kenaikan harga tanah yang jauh
lebih tinggi daripada harga perkiraan dalam rencana proyek.
Meskipun ada peraturan untuk menangani kegiatan spekulasi di atas namun
pelaksanaannya belum memadai. Tambahan pula, seperti yang sudah dibahas sebelum
ini,tidak ada kemauan kuat dari pemerintah untuk memberlakukan peraturan tersebut
yang dapat mempercepat penyelesaian pertengkaran atas harga tanah. Hal ini terjadi
karena penangananmasalah ini dikhawatirkanakan dianggap sebagai tindakan semenamena atau tidak memihak masyarakatmiskin, jadi merupakan tindakan tidak populer.
Selain itu, dalam diskusi dengan sektor swasta itu, ternyata sebagian dari spekulator
tanah tersebut ada hubungan dengan birokrasi pemerintah, yang merupakan sebagian
sebab mengapa ada keengganan pemerintah untuk menangani hal ini.
Keengganan pemerintah untuk mengambil keputusan yang bisa dianggap tindakan
sewenang-wenang. Dalam usaha untuk tidak terlihat berlaku sewenang-wenang,
pemerintah tampaknya enggan untuk terlibat dalam pembebasan tanah, dan
menjatuhkan tanggung jawab pada sektor swasta yang berpartisipasi dalam proyek.
Maka, tanggung jawab ditimpakan pada investor untuk menyelesaikan masalah
kompensasi dengan pemilik tanah. Dalam banyak kasus,bila tanah diperlukan untuk
proyek-proyek infrastruktur, pemilik tanah menaikkan harga secara signifikan. Enam
puluh lima persen dari 196 masalah pembebasan tanah yang terjadi sejak tahun 1970
berkaitan dengan konflik atas kompensasi.
Meskipun sudah ada berbagai peraturan (Kotak 11), pemerintah sangat enggan
untuk memperoleh tanah melalui proses hukum. Peraturan Presiden 65/2006 dan
peraturan lainnya membatasi pilihan hukum yang tersedia bagi pemilik properti untuk
menantang upaya pemerintah mendapatkan lahan untuk proyek-proyek infrastruktur.
Namun, pemerintah enggan untuk menggunakan peraturan tersebut, tampaknya
khawatir jika secara politis tidak populer. Untuk menghadapi masalah ini, baru-baru
ini pemerintah mengadakan dana bergulir pembebasan tanah yang dikelola oleh
Kementerian Pekerjaan Umum. Dana tersebut dapat memainkan peranan penting
dalam menyelesaikan kemacetan pembebasan tanah untuk jalan tol dan proyek
infrastruktur lainnya yang sekarang sedang terjadi. Ini merupakan pertimbangan
yang penting bagi pembangunan jalan tol yang amat memerlukan tanah. Investor
yang potensial telah lama mengharapkan dana bergulir seperti ini untuk membiayai
pembebasan tanah untuk membatasi atau menghilangkan resiko bagi investor.
Dapat dicatat bahwa secara umum resiko pembebasan tanah ini, yang sementara ini
ditanggung investor, idealnya harus ditangani oleh pemerintah sebelum keputusan
investasi diambil atau resiko tersebut harus ditanggung oleh pemerintah.
Ketidak-efisienan dalam perencanaan tata ruang memperburuk masalah pembebasan
tanah. Pada tingkat pemerintah daerah/provinsi, peraturan dan perundangan dalam
menentukan wilayah untuk perumahan, infrastruktur dan industri belum tuntas. Proses
ini memerlukan koordinasi di tingkat pusat antara instansi terkait, karena perencanaan
78
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kotak 11. Lemahnya Formulasi dan Implementasi Peraturan Pembebasan Tanah
Keputusan Presiden Nomor 55/1993 tentang «Pengadaan Tanah untuk Pembangunan
Kepentingan Umum» menetapkan prosedur pengaduan bagi para pemilik tanah; mendefinisikan
kepentingan umum untuk tujuan pembangunan; memisahkan proyek swasta, yang harus
menggunakan pengaturan pembelian tanah biasa; lebih menekankan pada konsultasi masyarakat
dan mencapai kesepakatan dengan masyarakat yang terkena dampak tentang bentuk dan jumlah
kompensasi; dan menyajikan pilihan yang luas tentang kompensasi termasuk uang tunai, tanah
pengganti, sertifikat tanah resmi, dan pemukiman kembali. Keputusan ini meletakkan dasar aturanaturan tentang bagaimana pemerintah menjalankan kekuasaan negara dalam pengambilan alih
kepemilikan tanah.
Keputusan Presiden No 36/2005 tentang «Penyediaan Tanah dalam Mewujudkan Pembangunan
untuk Kepentingan Umum» mengubah Keputusan Presiden Nomor 55/1993 sebelumnya dan
menyediakan berbagai bentuk kompensasi bagi aset swasta yang dibutuhkan untuk melanjutkan
pembangunan proyek-proyek pemerintah. Keputusan ini menjadi kontroversial karena kuasa
‘eminent domain’ digunakan untuk keuntungan perusahaan swasta dan menerima banyak kritik
dari masyarakat.
Keputusan Presiden Nomor 65/2006 tentang «Pengadaan Tanah Dalam Mewujudkan
Pembangunan untuk Kepentingan Umum» yang diterbitkan pada bulan Juni 2006 mengubah
peraturan sebelumnya tentang pembebasan tanah (Kepres 36/2005), yang membatasi penggunaan
‘eminent domain’ hanya untuk proyek-proyek pembangunan pemerintah saja. Kepres ini bertujuan
untuk memperpendek proses pembebasan tanah dan pemangkasan biaya tanah. Kepres ini
memberikan dasar hukum bagi pemerintah untuk mendapatkan lahan proyek infrastruktur dari
pemilik tanah dengan memberikan kompensasi dalam bentuk uang, tanah pengganti dan /atau
pemukiman kembali atau bentuk kompensasi lainnya yang disepakati oleh semua pihak. Pada
umumnya, baik Keputusan Presiden No 65/2006 dan Keppres No 36/2005 sebenarnya sama, hanya
perbaikan ditambahkan dalam ketentuan Keputusan Presiden Nomor 55/1993. Pemerintah sangat
enggan untuk mendapatkan tanah melalui proses hukum ‘eminent domain’.
Peraturan BPN Nomor 3 / 2007 tentang «Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Tanah dari Keputusan
Presiden No 36/2005 dan 65/2006». Peraturan Menteri Negara Agraria dan Badan Pertanahan
Nasional Nomor 1 Tahun 1994 tentang Pedoman Operasional dari Keputusan 55/93 adalah
peraturan yang memungkinkan pelaksanaan Keputusan Presiden 55/1993. Peraturan digantikan
oleh Peraturan BPN No 3/2007. BPN, sebuah lembaga independen di bawah Presiden, adalah unit
pemerintah pusat yng dikuasakan untuk memperoleh tanah untuk kepentingan umum.
Peraturan Presiden 13/2010 tentang «Pendanaan di bawah Skema Kemitraan Publik Swasta»
akan mampu menangani isu-isu yang berhubungan dengan tanah. Awal tahun ini, pemerintah
mengeluarkan Peraturan ini, yang menegaskan bahwa tidak akan ada proyek-proyek PPP yang
ditawarkan tanpa memastikan pembebasan lahan yang diperlukan.
Peraturan yang tidak mendukung
Ada sejumlah undang-undang lainnya yang terkait dengan pembebasan tanah, khususnya UndangUndang Dasar Pertanian (1960) dan Undang-Undang Kehutanan (41/1999) yang tidak saling
mendukung . Di bawah hukum Kehutanan, Kementerian Kehutanan mempunyai hak untuk
memperoleh tanah untuk kepentingan umum, tapi hanya kawasan hutan, pemerintah daerah hanya
diijinkan untuk memperoleh hingga 2 hektar tanah untuk kepentingan umum. Di bawah UndangUndang Penyitaan Tanah Nomor 20/1961yang dikeluarkan berdasarkan Undang-Undang Pokok
Agraria tahun 1960, jika tidak ada kesepakatan dengan pemilik tanah, negara berhak mengambil
tanah secara paksa, sepanjang tanah diperlukan untuk kepentingan umum. Namun, pengambilalihan harus digunakan sebagai upaya terakhir. Undang-undang ini tidak begitu jelas, yang sering
menyebabkan perselisihan dengan BPN.
79
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
tata ruang tidak dapat dibuat oleh hanya satu kementerian, seperti Kementerian
Pekerjaan Umum. Selain itu, diperlukan sekali koordinasi yang lebih luas antara
pemerintah pusat dan daerah dalam pendelegasian kekuasaan untuk menghindari
komplikasi pada tahap pelaksanaan.Tidak adanya peraturan yang jelas dan peraturan
yang terkait dengan perencanaan tata ruang telah mengakibatkan lambatnya kemajuan
pembangunan infrastruktur di sebagian besar propinsi.
ii)
Kapasitas Manusia dan Kelembagaan yang Lemah
Penyebaran kekuasaan melalui desentralisasi dan kurangnya koordinasi telah
menyebabkan pengambilan keputusan yang tidak efisien. Indonesia saat ini menghadapi
masalah dengan tingkat fragmentasi dan penyebaran kekuasaan antara berbagai
instansi pemerintah. Hal ini menyebabkan ketidak-efisienan dalam pengambilan
keputusan terutama karena ketidak-jelasan dalam peran dan pendelegasian wewenang/
tanggung jawab. Banyaknya lembaga dan otoritas telah menambah masalah bagi
koordinasi yang efektif dan efisien di antara lembaga-lembaga yang khususnya
berkaitan dengan pembangunan infrastruktur. Pembuatan kebijakan, pengambilan
keputusan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi memerlukan banyak koordinasi di
kalangan instansi pemerintah, tidak hanya di tingkat pusat tetapi juga di tingkat daerah,
khususnya dalam era desentralisasi saat ini di mana pemerintah daerah memainkan
peran yang lebih besar daripada sebelumnya. Masalah koordinasi ini menjadi lebih
pelik setelah desentralisasi diluncurkan pada tahun 2001. Masih ada ketidak-jelasan
tentang di tingkat pemerintahan yang mana yang bertanggung jawab atas penyediaan
jasa terletak, hal ini disebabkan karena pembagian tugas dari berbagai fungsi yang
tidak jelas. Dalam beberapa kasus, peraturan pemerintah daerah/lokal tidak konsisten
dengan peraturan di tingkat nasional. Kurangnya koordinasi di dalam pemerintah
menimbulkan kesulitan dalam menyelesaikan masalah ketidak konsistenan peraturan
karena tidak jelasnya tanggung jawab, kurangnya akuntabilitas dan rasa memiliki, dan
tidak ada delegasi kewenangan yang jelas. Keadaan inii telah mengakibatkan adanya
rasa frustasi dan kegiatan yang memakan waktu bagi sektor swasta dalam interaksi
mereka dengan pemerintah (Kotak 12).
Kurangnya Kapasitas Pemerintah dalam Implementasi Rencana Jangka Pendek dan
Menengah. Kendala kapasitas dalam pemerintah jelas terlihat dengan mengamati
kinerja dalam menangani anggaran. Sebagai contoh, dana sebesar Rp 12,2 trilyun
dialokasikan untuk infrastruktur pada tahun 2009, dan dari dana sebesar itu Rp 6,6
trilyun dialokasikan untuk jalan. Selama semester pertama tahun 2009, hanya 5 persen
dari alokasi tersebut telah dipergunakan oleh pemerintah tingkat pusat dan daerah.45
Selain itu, hanya 33 persen dari anggaran investasi pemerintah pusat untuk tahun
2009 yang telah dibelanjakan pada semester pertama. Demikian pula, alokasi untuk
infrastruktur (yaitu sumber daya air, jalan dan jembatan dan air dan sanitasi) tidak
pernah sepenuhnya dikeluarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum selama lima
tahun terakhir. Khususnya, selama tiga kuartal pertama (1 Januari-8 September 2009),
hanya 39,9 persen dari alokasi anggaran untuk infrastruktur yang telah digunakan.
(Table 33).
45
Standard Chartered Bank, Special Report-Indonesia, 2 september 2009.
80
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kotak 12: Kegagalan Koordinasi dalam
Pemerintah yang Berakibat Buruk pada Investasi Infrastruktur
Bahkan dalam investasi yang telah berjalan (meskipun masih terdapat kurangnya proyek layak dana
dan masalah dengan pembebasan tanah), tidak adanya komunikasi dan koordinasi di dalam pemerintah
menyebabkan kelangsungan proyek terancam. Ini memperburuk dan mengurangi kepercayaan bisnis terhadap
kemampuan pemerintah, serta membuat investor khawatir melaksanakan proyek-proyek infrastruktur. Tidak
adanya lingkungan perencanaan yang holistik dimana rencana pembangunan antar daerah yang strategis
dan jangka panjang disusun, mengakibatkan jaringan kerja yang “tak lengkap” dan lebih rendah dari yang
diharapkan. Contoh terbaik diilustrasikan oleh dua proyek jalan tol: Surabaya-Gempol (selesai pada tahun
1986) dan Jalan Tol Waru-Juanda (selesai tahun 2008).
Jalan Tol Waru – Juanda
merupakan bagian dari seluruh
Proyek Tol Ring Road Timur
Surabaya (yang dimulai pada
1997). Berdasarkan potensi
jumlah lalu lintas harian 53.000
kendaraan per hari, PT Citra
Margatama Surabaya (CMS),
menginvestasikan sekitar Rp. 1,5
triliun tahun 2008 (dua kali lipat
dari nilai awal yang diperkirakan
pada tahun 2002). Namun, saat
tol dibuka, lalu lintas sebenarnya
hanya 23,6% dari volume yang
perkiraan, menyebabkan PT.
CMS mengalami kerugian besar. Hal ini disebabkan buruknya jaringan jalan tol Waru-Juanda. Perkiraan awal
lalu lintas 53.000 kendaraan dapat dicapai jika jaringan jalan di sekitar jalan tol Waru-Juanda ditingkatkan.
Dalam studi kelayakan proyek ini,, jalan tol Waru-Juanda akan diintegrasikan dengan kedua jalan tol ring timur
Surabaya (East Ring Toll Road of Surabaya) dan jalan tol Surabaya-Gempol. Di bagian barat, jalan tol WaruJuanda ini akan terhubung dengan Surabaya-Mojokerto. Selain itu, jalan alternatif ke Bandara Juanda sudah
ditingkatkan dan dibuka beberapa waktu sebelum jalan tol rampung sehingga jalan alternatif ini mengambil
sebagian besar lalu lintas yang secara teori (bila tidak ada jalan alternatif) akan melewati jalan tol WaruJuanda, hal ini jelas menunjukkan kegagalan koordinasi dalam pemerintah.
Jalan Tol Surabaya-Gempol
Jalan Tol Surabaya-Gempol menghubungkan Surabaya di Utara dan Gempol di bagian Selatan dari Jawa
Timur, dan beroperasi sejak tahun 1986 dan merupakan jalan akses utama untuk Surabaya-Malang dan
Surabaya-Pasuruan (Pasuruan merupakan salah satu daerah industri utama di Jawa Timur ). Volume lalu lintas
jauh di bawah tingkat yang diproyeksikan karena perbaikan pada rute-rute alternatif oleh pemerintah provinsi.
Hal ini menyebabkan pengalihan lalu lintas potensial dari jalan tol Surabaya-Gempol, menunjukkan lemahnya
koordinasi antar berbagai tingkatan pemerintah.
Disemua tingkat pemerintah, perencanaan dan koordinasi pelaksanaan menghadapi tantangan yang lebih
besar sejak desentralisasi pada tahun 2001. Masalah koordinasi yang sudah berakar dalam sistim ini telihat
menyolok dalam survei dengan para pemangku kepentingan, di mana 85 persen responden menilai kualitas
koordinasi di dalam pemerintah sebagai bermasalah (lihat bagian IV untuk analisa terinci tentang temuan
survei). Selain itu, kegagalan koordinasi di dalam pemerintah terwujud sebagai kendala yang berkaitan dengan
rendahnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan pemerintah (diidentifikasi sebagai kendala
yang mengikat untuk investasi infrastruktur) (lihat bagian V) dan efektifitas pemerintah Indonesia tertinggal
dibandingkan dengan pesaing regional (lihat sub-bagian iii di bawah ). Pada akhirnya, kegagalan koordinasi
dan pendekatan ad-hoc untuk pembangunan infrastruktur meningkatkan skeptisisme terhadap proyek-proyek
PPP yang ditawarkan oleh pemerintah, menghilangkan kepercayaan investor sehingga berdampak buruk
pada investasi infrastruktur swasta. Hal ini terlihat dalam rendahnya tingkat respon terhadap tender yang
dikeluarkan oleh pemerintah, dan kelambatan pelaksanaan yang kemudian diambil alih oleh sektor swasta.
Pemerintah Indonesia harus memakai suatu pendekatan yang holistik, khususnya dalam pembangunan
infrastruktur untuk menjamin adanya sinergi dalam proses pembangunan, network yang efektif dan lengkap
serta pemakaian sumber daya yang efisien.
81
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Tabel 33: Pengeluaran Infrastruktur (% dari total alokasi)
dari Kementerian Pekerjaan Umum (2005 sampai 8 September 2009)
2005
2006
2007
2008
Sampai 8 Sept. 2009
Sumber daya Air
88,9
93,4
77,9
92,7
37,4
Jalan dan Jembatan
99,3
93,8
88,3
96,2
43,1
Air dan Sanitasi
98,3
93,6
92,1
95,3
36,0
Total
98,4
93,6
85,4
95,0
39,9
Sumber: Data yang disediakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Indonesia
(4 Oktober 2009)
Masalah menjadi semakin buruk apabila ada kelambatan menyalurkan dana ke
daerah-daerah.46 Harus diakui bahwa tanggung jawab pembangunan infrastruktur
sebagian besar terletak pada wewenang pemerintah daerah, yang kemampuan untuk
melaksanakan proyek lebih rendah dari pemerintah pusat (yang juga sangat lambat
dalam hal ini). Beberapa pemerintah daerah tidak dapat menangani pengeluaran yang
dibutuhkankarena terbatasnya ketrampilan dan kemampuan operasional.. Kekurangan
kapasitas yang paling parah adalah di bidang perancangan dan pengembangan proyek,
yang menyebabkan keterlambatan dalam pelaksanaannya. Jadi, permasalahan ini
diperparah oleh keterlambatan penyaluran dana dan kurangnya kemampuan teknis
untuk melaksanakan proyek-proyek. Sesungguhnyalah bahwa kendala kapasitas di
tingkat pemerintah daerah telah menghambat pembangunan infrastruktur.47
Lebih jauh lagi, proyek-proyek infrastruktur yang didanai oleh dana eksternal,
khususnya oleh bank-bank pembangunan multilateral (yaitu World Bank, ADB dan
IDB) banyak yang tertunda, dalam banyak hal,sampai lima tahun karena lemahnya
kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan.(Kotak 13).
Kendala kapasitas dalam pemerintah terlihat jelas dalam kurangnya proyek layak
dana. Kurangnya kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia terlihat jelas dalam
kualitas “proyek yang layak didanai bank” yang dipersiapkan oleh pemerintah. Salah
satu contoh adalah “Kemitraan Publik-Swasta di bidang Infrastruktur di Indonesia”
(umumnya dikenal sebagai PPP Blue Book), dimana biaya proyek untuk jalan
bervariasi secara signifikan, mulai dari $4,7 juta menjadi $19,8juta per km tanpa
ada penjelasan mengapa ada perbedaan tersebut (meskipun jenis daerah mungkin
memainkan peran besar dalam biaya). Selain itu, semua proyek jalan antara 7,5 km
sampai 135 km diperkirakan akan memerlukan waktu dua tahun untuk memperoleh
tanah dan dua tahun untuk membangun. Ini tertulis dalam PPP Blue Book, walaupun
dalam kenyataannya, negosiasi pembebasan tanah memerlukan waktu dari tiga sampai
tujuh tahun dan bahkan lebih dari itu.
Rendahnya kualitas dari proyek yang layak dana yang dipersiapkan juga terlihat
dalam rendahnya minat terhadap tender-tender yang ditawarkan oleh pemerintah
Dana ini seharusnya sudah disalurkan di awal tahun fiscal, tetapi pada kenyataannya baru disalurkan setelah kuartal
pertama karena lambatnya proses penganggaran.
OECD (Juli 2008), OECD Economic SurveY, Economic Assessment, indonesia
46
47
82
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kotak 13: Keterlambatan dalam Implementasi Proyek di Indonesia
Proyek-proyek yang dibiayai oleh donor, terutama oleh IDB, World Bank dan ADB,
mengalami penundaan yang signifikan karena sejumlah faktor, terutama yang berhubungan
dengan rendahnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan di Indonesia.
Penundaan implementasi proyek menyebabkan kenaikan biaya, buruknya kinerja proyek,
dan lambatnya penyaluran manfaat proyek kepada para penerima manfaat.
Dalam proyek yang dibiayai oleh IDB, Laporan-Laporan Perampungan Proyek dari sejumlah
proyek infrastruktur menunjukkan bahwa terdapat penundaan antara 3 sampai 5 tahun
dalam pelaksanaan proyek. Penundaan ini disebabkan oleh kesulitan dalam pembiayaan
impor bagian komponen proyek, kenaikan harga karena devaluasi rupiah, dan hal-hal yang
berkaitan dengan peraturan dalam negeri. Lebih jauh, karena terjadi proses desentralisasi
di Indonesia, maka prosedur pinjaman untuk pemerintah daerah dari lembaga keuangan
pembangunan multilateral masih harus ditetapkan.
Menurut Laporan Bank Dunia «Status Pelaksanaan Proyek untuk tahun 2008 di Indonesia
(11 Oktober 2008)», tinjauan jangka menengah tentang 35 proyek yang sedang berlangsung
menunjukkan bahwa lebih dari 50% dari proyek tersebut tertunda antara 1 sampai 5
tahun. Alasan utama penundaan adalah karena keterlambatan pengadaan di tingkat pusat,
keterlambatan pencairan anggaran untuk pemerintah daerah dan keterlambatan selanjutnya
untuk kabupaten dan kecamatan, dan keterlambatan dalam pengadaan peralatan yang
prioritas.
Laporan Penyelesaian Proyek yang dibuat oleh ADB dari 2008 dan 2009 untuk Indonesia
menunjukkan 11 diantara 13 proyek terlambat antara 1 sampai 6 tahun. Sebab utama
keterlambatan proyek adalah pengadaan yang lambat, kapasitas yang lemah di pemerintah
tingkat daerah, kurangnya pegawai lapangan yang terlatih, pemutusan kerja konsultan
internasional yang sangat cepat, pembebasan tanah dan pemukiman kembali, pemilihan dan
pemulaian kerja konsultan, penyediaan dana pendamping, dan buruknya kinerja kontraktor.
(terutama untuk PLS, dimana dalam satu waktu, tak satupun penawaran diterima)
(Lihat Bagian V).
Kurangnya kapasitas untuk menegakkan hukum dan perubahan-perubahan peraturan
menghambat investasi infrastruktur. Meskipun ada beberapa buah undang-undang/
peraturan yang dikeluarkan untuk meningkatkan iklim investasi, banyak yang tidak
dilaksanakan/ditegakkan, khususnya di sebagian besar sub-sektor. Hal ini lebih lanjut
diilustrasikan oleh ketidak-mampuan peradilan dan kurangnya kemauan pemerintah
untuk menegakkan peraturan/hukum pembebasan tanah, khususnya yang berkaitan
dengan pembangunan infrastruktur.
Tidak adanya otoritas hirarkis mempersulit koordinasi. Salah satu aspek khusus
desentralisasi adalah pengurangan fungsi pemerintah tingkat propinsi dan
memindahkan fungsi-fungsi dan/atau sumber-sumber keuangan ke pemerintah
daerah pada tingkat yang paling rendah (kabupaten di pedesaan dan kotamadya di
perkotaan). Hal ini telah menyebabkan kurangnya otoritas hirarkis pemerintah propinsi
atas kabupaten dan kotamadya, dan mengakibatkan rendahnya tingkat koordinasi di
83
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
antara kotamadya dan kabupaten. Selain itu, tidak seperti di masa lalu, setelah era
reformasi, kepala kotamadya (walikota) atauatau kepala kabupaten (bupati) dipilih
secara langsung. Jadi, pengangkatan mereka tidak lagi tergantung pada pemerintah.
Akibatnya, mereka tidak bertanggung jawab kepada kepala propinsi/gubernur,
sehingga menimbulkan koordinasi regional yang lemah, dan mengurangi manfaat
desentralisasi.
Fokus jangka pendek pada tingkat lokal menghambat proyek-proyek infrastruktur
jangka panjang. Desentralisasi telah menempatkan pemerintah daerah di garis depan
pemberian pelayanan, termasuk dalam program investasi publik. Namun, keterbatasan
kapasitasnya telah mengakibatkan proyek investasi yang tertumpuk. Bersamaan
dengan itu, keterlambatan Kementerian Dalam Negeri dalam memberikan persetujuan
anggaran pemerintah daerah juga menunda pelaksanaan proyek. Fokus jangka
pendek, penganggaran tahunan, menyulitkan pemerintah daerah untuk melaksanakan
dan membiayai proyek-proyek investasi multi-tahunan yang berskala besar.
iii) Tata Kelola Pemerintahan yang buruk
Kegiatan mencari rente berdampak buruk pada investasi infrastruktur dan biaya proyek.
Indikator tata kelola pemerintahan Indonesia relatif lemah. Dalam Indeks Persepsi
Korupsi dari Transparansi Internasional (2009) Indonesia berada dalam peringkat
ke 126 dari 180 negara. Meskipun ada peningkatan yang signifikan dari tahun 2007,
Indonesia masih di belakang Malaysia yang berada di peringkat ke-47, Thailand ke-80
dan Vietnam ke-121.48 Di sektor infrastruktur, tata kelola pemerintahan yang buruk
berkaitan dengan kegiatan mencari rente yang dilakukan oleh pejabat yang berurusan
dengan proyek. Dari segi biaya, ini merupakan faktor penghambat investasi terbesar
kedua dalam survei yang dilakukan oleh IDB. Temuan ini konsisten dengan penelitian
sebelumnya, terutama dalam kaitannya dengan dampak desentralisasi yang dimulai
pada tahun 2001.49 Desentralisasi telah meningkatkan jumlah pejabat yang memiliki
kewenangan ‘discretionary’ atas kegiatan ekonomi dan telah membuat peraturan
lebih rumit. Selain itu desentralisasi juga menciptakan peluang yang semakin banyak
bagi kegiatan mencari rente. 50 Misalnya, menurut perkiraan Bank Dunia, korupsi
dapat menambahkan hingga 20 persen terhadap biaya melakukan bisnis di Indonesia.51
Hal ini menghasilkan adanya ekonomi biaya tinggi, dan menyebabkan insentif rendah
bagi investasi di bidang infrastruktur.
Peningkatan otonomi telah mengakibatkan biaya tinggi dan menurunkan efektivitas.
Program desentralisasi memberi wewenang ke pemerintah daerah
untuk
mengeluarkan peraturan bisnis, termasuk perijinan, dan untuk menarik biaya dan
retribusi untuk penyediaan layanan lokal. Berdasarkan hak ini, sebagian besar wilayah
hukum di seluruh Indonesia telah menerapkan beberapa pungutan,tanpa persetujuan/
sepengetahuan pemerintah pusat, sebagai sarana meningkatkan pendapatan. Upaya
Lihat Laporan Diagnostik Indonesia untuk analisa yang mendetil tentang masalah Tata Kelola pemerintahan di Indonesia.
Lihat OECD (2008)
Ibid, Hal 63
51
Business Monitor International Ltd. Indonesia Infrastructure Report QI 2010.
48
49
50
84
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
pemerintah pusat untuk mengatasi masalah tersebut sejauh ini mendapatkan hasil yang
beragam. Kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan di tingkat lokal, seperti
yang disebutkan sebelumnya, membutuhkan perbaikan/penguatan. Untuk memperoleh
keuntungan efisiensi yang diharapkan, proses desentralisasi membutuhkan koordinasi
lebih kuat dan lebih efektif di berbagai tingkatan pemerintahan (koordinasi regional)
dan memerlukan mekanisme pertanggungan-jawaban.52Aspek penting lain dari
desentralisasi yang menggagalkan pembangunan infrastruktur adalah ketidakkonsistenan dalam aturan dan peraturan antara pemerintah pusat dan daerah.
Efektifitas pemerintah Indonesia tertinggal dibandingkan dengan pesaing regional.
Indonesia mendapat nilai 47,3 pada Indikator Tata Kelola Pemerintahan untuk
efektivitas pemerintahan yang diperkenalkan oleh Bank Dunia, dibandingkan dengan
Singapura 100, Malaysia 83,8, Thailand 58,7, dan Filipina sebesar 54,9. Hanya Vietnam,
pada nilai 45,4 berada di bawah Indonesia. Masalah pada tata kelola pemerintahan
Indonesia berasal dari desentralisasi, yang telah lebih jauh memperburuk kesulitan
penyampaian jasa pemerintahan. Hal ini terutama disebabkan oleh kurangnya
keterampilan dan kapasitas serta distribusi sumber daya yang tidak merata ke seluruh
daerah. Kurangnya koordinasi antara berbagai tingkatan pemerintahan dan wewenang
dan fungsi semakin merumitkan masalah.
Dalam hal tindakan anti-korupsi, Indonesia masih buruk dibandingkan dengan
beberapa negara besar lainnya di wilayah ini. Indikator Tata Laksana Pemerintahan
2008 yang dipakai Bank Dunia menilai Indonesia di peringkat (31 persen), lebih
rendah dalam pengendalian korupsi dibanding Malaysia (63 persen) dan Thailand (43
persen), meskipun lebih baik daripada Filipina (26 persen) dan Vietnam (25 persen).
Survei-survei internasional lainnya menunjukkan hal yang serupa. Terbukti juga
bahwa, akibat desentralisasi, korupsi telah menjadi ‘tersebar dan terpecah-pecah’ dan
tak dapat terduga karena melibatkan banyak pemain (Perdana dan Friawan 2007).
Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa korupsi telah diakui oleh pemerintahan
Presiden Yudhoyono sebagai kendala untuk pertumbuhan, dan perjuangan melawan
korupsi merupakan suatu prioritas utama pemerintah. Pemerintah telah membuat
sejumlah inisiatif untuk mengurangi korupsi. Salah satunya adalah Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), yang dibentuk pada tahun 2002, yang terlihat efektif
dalam menyelidiki dan menuntut kasus-kasus yang terkait suap dan korupsi. Langkahlangkah tambahan termasuk yang berkaitan dengan reformasi pengadaan barang
publik dan transparansi, dan pendidikan terhadap pegawai negeri dan masyarakat.
Inisiatif ini telah memberikan hasil yang positif, dan persepsi tentang prevalensi serta
pengendalian korupsi di Indonesia membaik antara 2004 dan 2008.
Upaya anti-korupsi memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan. Bukti anekdotal
menunjukkan kelemahan di bidang pengadaan barang publik dan pengawasan
yang semakin ketat dalam pelaksanaan inisiatif anti korupsi telah membuat pejabat
Aswicahyono dan Deni Friawan (2007, hal. 149). Mereka membuat daftar masalah akibat proses desentralisasi yang
menyebabkan ketidak-efisienan, seperti: ketidak jelasan penugasan pada jabatan tertentu di pemerintahan, kurangnya
layanan yang minimum, dan beberapa kekurangan lain dalam sistim fiskal antar departemen yang baru.
52
85
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
pemerintah daerah berhati-hati dalam melaksanakan komitmen anggaran karena
takut dituntut. Hal ini mungkin adalah konsekwensi yang tidak dapat dihindari dari
upaya anti korupsi jangka pendek untuk menjamin adanya rasa pertanggung-jawaban
di semua tingkat pemerintahan. Persediaan sisa alokasi anggaran, khususnya yang
dibiayai melalui pembagian pendapatan dengan wilayah hukum yang kaya sumber
daya alamnya, telah meningkat dari waktu ke waktu, meningkatkan kemampuan
pemerintah untuk melaksanakan proyek-proyek investasi
iv) Kekurangan dalam Pendanaan
Pendanaan jangka pendek dan domestik tidaklah merupakan kendala utama. Dalam
meninjau anggaran 2008, pemerintah mencatat surplus kas sebesar $7,2 miliar
(1,4 % dari PDB). Selain itu, defisit anggaran hanya sebesar 0,1 persen dari PDB,
dibandingkan target sebesar 2,1 persen (defisit anggaran di Malaysia 4,7 persen;
Thailand 1,8 persen; dan Filipina 1 persen pada tahun 2008), ini menunjukkan kekuatan
fiskal Indonesia. Selanjutnya, jika pemerintah di tingkat nasional dan propinsi tidak
menghabiskan alokasi anggaran infrastruktur yang ada karena keterbatasan kapasitas
seperti disebutkan di atas, pembiayaan domestik tidak bisa dianggap sebagai kendala
yang mengikat untuk pembangunan infrastruktur di sektor publik.
Pendanaan jangka panjang dan pendanaan asing adalah masalah yang lebih besar.
Dalam sektor swasta, pendanaan jangka panjang untuk proyek-proyek infrastruktur
dirasakan tidak mencukupi. Di tingkat lokal, bank komersial hanya bersedia membiayai
untuk jangka waktu sampai tujuh tahun, sementara bank-bank milik negarabersedia
untuk member pinjaman dengan jangka sampai 12 tahun.53 Proyek infrastruktur,
sesuai dengan sifat proyek,memerlukan pembiayaan lebih dari 12 tahun, yang saat ini
tidak tersedia secara lokal.54 Hal ini terutama disebabkan oleh ketidak-cocokan antara
cakrawala waktu sumber dana (jangka pendek) dan kebutuhan pendanaan (menengah
ke jangka panjang). Saat ini, 90 persen sumber keuangan bank lokal berasal dari
rekening tabungan, giro dan deposito berjangka, dan hanya 1 persen dari obligasi
jangka panjang. Oleh karena itu, struktur pendanaan tidak sesuai untuk mendanai
investasi jangka panjang dalam proyek infrastruktur dimana waktu-cakrawalanya
lebih dari 12 tahun.
Selanjutnya, ketidak-pastian lamanya waktu yang diperlukan untuk pembebasan
tanah (bersama dengan biaya terkait lainnya) dan jangka waktu pelaksanaan proyek,
ditambah dengan kurangnya kepercayaan dari bank-bank lokal untuk mendanai
investasi jangka panjang, telah membuat pemberi dana internasional skeptis untuk
mendanai sektor swasta dalam proyek-proyek jangka panjang.
VIII.
RENCANA YANG BERORIENTASI PADA PROSES UNTUK
MELONGGARKAN KENDALA MENGIKAT: LINTAS SEKTOR
Secara historis, infrastruktur memberikan kontribusi sangat besar terhadap pertumbuhan
ekonomi Indonesia. Namun, dibandingkan dengan negara-negara tetangga, Indonesia
53
54
Diskusi diadakan dengan Pejabat Bank Umum senior September 2009
Investor sektor swasta menekankan dan menyatakan kendala ini dalam diskusi yang berlangsung September 2009.
86
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
memiliki beberapa indikator infrastruktur paling rendah. Meskipun, dibandingkan
dengan negara tetangga, ada beberapa perbaikan kondisi secara keseluruhan dalam
beberapa tahun terakhir, akan tetapi laju pembangunan Indonesia masih tertinggal.
Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa infrastruktur telah disebutkan sebagai
salah satu kendala yang mengikat untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Situasi ini, bersama dengan peningkatan pemahaman akan adanya hubungan erat
antara pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, yang mengarah pada
penciptaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan, telah mendorong pemerintah
untuk lebih memperhatikan peningkatan investasi di bidang infrastruktur, terutama
dalam sektor transportasi dan listrik.
Untuk mencapai tujuan ini, kendala yang mengikat tersebut di atas perlu ditangani
secara urutan prioritas. Agar niat ini menjadi efektif dan mendatangkan hasil yang
diinginkan, sangat penting untuk menangani secara berurutan kendala-kendala
pengikat tersebut. Implikasinya adalah bahwa jika kendala paling mengikat tidak
ditangani terlebih dahulu, penanganan lainnya tidak akan efektif dan perubahan
kebijakan infrastruktur yang terkait tidak akan mendatangkan hasil yang diinginkan
Pada dasarnya, pendekatan yang terkoordinasi dan strategis dalam pembangunan
infrastruktur diperlukan dengan tujuan inti yang di desain secara baik. Hal ini
membutuhkan upaya bersama dari semua tingkat pemerintah dan, yang lebih
penting, upaya untuk mengembangkan kapasitas permanen dalam menerapkan
dan mempertahankan fokus strategis. Adalah penting bahwa semua kebijakan dan
strategi dirancang berdasarkan konsultasi terus menerus dengan seluruh pemangku
kepentingan khususnya sektor swasta karena hal ini akan membantu memperkuat baik
manajemen ekonomi maupun kapasitas pelaksanaan.
i)
Menyelesaikan Masalah Dalam Pembebasan Tanah
Masalah pembebasan tanah telah dikatakan sebagai kendala paling mengikat
untuk investasi infrastruktur di Indonesia. Meskipun pembangunan infrastruktur
dimaksudkan untuk menguntungkan negara dan penduduknya, jelas bahwa dalam
kasus Indonesia, ada keengganan dari pihak pemilik tanah swasta melepaskan tanah
mereka untuk kepentingan umum. Permasalahan intinya adalah masalah kompensasi
atau ganti rugi tanah. Pemilik tanah dan pengembang proyek tidak bisa mencapai
kesepakatan damai, khususnya pada pembangunan jalan dan jenis infrastruktur lainnya.
Sistem penyelesaian tanah saat ini di Indonesia - beberapa putaran perundingan,
kebutuhan untuk mendapatkan setidaknya 75 persen (berubah menjadi 51 persen) dari
tanah sebelum mencari penyelesaian hukum, dan tanggung jawab pembelian lahan
yang diserahkan pada pihak developer/pengembang, mengakibatkan proyek terhenti,
yang menyebabkan pembengkakan biaya dan waktu.
Untuk mengatasi masalah pembebasan tanah pemerintah bisa mempertimbangkan
beberapa langkah berikut:
Implementasi yang ketat atas masa penangguhan penjualan tanah begitu tanah sudah
ditetapkan untuk pembangunan infrastruktur, akan menjadi kunci untuk mengatasi
87
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
kegiatan spekulatif. Setiap transaksi yang terjadi setelah daerah tersebut ditunjuk
untuk proyek-proyek infrastruktur akan dianggap tak sah. Jika ada transaksi yang
telah terjadi sebelum ‘demarkasi’ batas tanah, mereka juga harus diperiksa untuk
memastikan bahwa tidak ada “insider-trading” dimana informasi sensitif dibocorkan
oleh pejabat yang tidak bermoral. Jika ini terjadi, masalah ini harus dipublikasikan
dan para pelaku dihukum. Selain itu, penggunaan juru taksir independen harus
dilanjutkan. Namun, waktu yang ketat untuk penyelesaian sengketa harus ditetapkan.
Sebagai contoh, sebidang tanah yang telah ditunjuk untuk proyek infrastruktur, dan
penilaian telah selesai, masalahnya harus diselesaikan secara damai dalam jangka
waktu 18 bulan.
Pengambilan keputusan pemerintah yang cepat: Kelambatan pemerintah untuk
mengimplementasikan peraturan yang dikeluarkan, sertaketidak efisienan dalam
penggunaan hukum, sangat menyolok sekali. Di India, misalnya, ada bukti jelas
bahwa pengadilan yang efektif dan efisien dapat mempercepat pelaksanaan proyek
dengan mengurangi waktu rata-rata yang digunakan untuk memperoleh tanah dari
18 bulan ke 8 bulan (Kotak 14). Permasalahan untuk penyelesaian yang cepat harus
diatasi dan kemauan untuk menegakkan peraturan perlu diperkuat.
Mengalihkan tanggung jawab untuk pembebasan lahan kepada pemerintah: Pemerintah
harus bertanggung jawab untuk pembebasan lahan agar memungkinkan investor untuk
lebih memperhatikanpada pelaksanaan proyek yang sebenarnya. Untuk mengatasi
masalah ini, pemerintah telah menetapkan dana bergilir untuk perolehan tanah sekitar
Rp 600 milyar (66juta $). Dana ini ditambah lebih lanjut dengan Rp 1,2 triliun ($ 1,2
juta) untuk menutupi biaya kenaikan harga tanah. Selain itu, pemerintah mungkin
harus membuat undang-undang pengambil-alihan tanah yang kurang merakyat (nonpopulist) yang diimplementasikan secara efektif dan manusiawi. Tanpa mekanisme
tersebut, penyelesaian masalah pembebasan tanah akan tetap tak akan tercapai.
Beberapa saran penanggulangan jangka pendek dan menengah dalam menangani
masalah pembebasan tanah adalah :
Penanggulangan Jangka Pendek (12-24 bulan)
Penegakan secara ketat peraturan pembebasan tanah yang ada dan pelembagaan
pembatasan perdagangan tanah begitu tanah telah ditetapkan untuk pembangunan
infrastruktur.
Membuat mekanisme untuk melacak transaksi tanah selama 3 bulan setelah
penetapan tanah untuk pembangunan infrastruktur, untuk menentukan apakah ada
“ informasi orang dalam” yang didapat untuk memperoleh keuntungan..
Mengembangkan dan menyebar-luaskan undang-undang pembatasan lamanya
(dalam bulan) negosiasi tanah dilakukan, dan jika gagal, nilai yang ditentukan
oleh penilai independen akan dipakai.
Membuat pedoman yang jelas dan mekanisme penyelesaian yang cepat dalam
bentuk hukum untuk menyelesaikan pertikaian pembebasan tanah.
88
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kotak 14: Solusi Masalah Pembebasan Tanah di India
Pembebasan tanah adalah salah satu alasan utama keterlambatan proyek di India. Namun, ada perbaikan
terus menerus pada masalah pembebasan tanah, yang menghasilkan peningkatan proporsi proyek yang
berjalan sesuai jadwal (dari 32% pada tahun 1994 menjadi 36% pada 2007) dan penurunan tajam
proporsi proyek dengan biaya yang membengkak (dari 58% pada 1994 menjadi 11,6% pada tahun
2007). Prestasi ini telah dicapai karena pembiayaan dan manjemen proyek yang lebih baik, dan
reformasi pada kerangka peraturan yang berkaitan dengan aspek pembebasan tanah.
Secara khusus, salah satu kendala terbesar untuk membangun jalan di India adalah membeli tanah
milik pribadi, yang merupakan proses penuh birokrasi dan memakan waktu.. Namun pemerintah telah
memperbaiki proses dengan mendirikan 150 unit akuisisi lahan. Hasilnya, waktu yang dibutuhkan
untuk memperoleh tanah berkurang secara bertahap dari 18 bulan hingga 8 bulan, khususnya melalui
peningkatan partisipasi sektor swasta dan desentralisasi dengan peningkatan kapasitas di tingkat negara
bagian.
Peraturan Pembebasan Tanah (Land Acquisition Act) 1894 juga memberi wewenang pada pemerintah
negara bagian dalam memperoleh lahan untuk proyek kepentingan umum. Peraturan ini menyediakan
tiga metode untuk mendapatkan nilai tanah, yaitu: (i) harga yang disetujui pemerintah, (ii) nilai
kapitalisasi dari rata-rata pendapatan tahunan dari tanah, dan (iii) harga pasar berdasarkan data
transaksi tanah. Menurut peraturan ini, pemberitahuan maksud pemerintah untuk mendapatkan tanah,
survei, sidang tentang keberatan, dan pernyataan pembebasan harus diselesaikan dalam waktu setahun.
Undang-undang ini mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk pembebasan tanah secara signifikan.
Undang-undang ini mencakup ketentuan tentang kompensasi yang hanya diberikan pada pemegang
sertifikat berdasarkan nilai pasar daripada tanah, serta pembayaran tambahan untuk pohon, tanaman,
rumah, atau harta tidak bisa dipindahkan lainnya, dan pembayaran untuk kerusakan akibat perombakan
tanah, tempat tinggal, atau tempat usaha . Selanjutnya, Kebijakan Nasional dan Rehabilitasi Pemukiman
Kembali untuk Keluarga yang terkena dampak proyek tahun 2003 memberikan kompensasi tambahan
untuk keluarga yang terkena dampak proyek, selain yang diberikan oleh Peraturan Pembebasan Tanah.
Sistim peradilan juga telah mempengaruhi perkembangan proyek. Beberapa proyek bergerak lebih
cepat karena campur tangan peradilan, sementara yang lainnya tertunda karena proses pengambilan
keputusan dari pengadilan yang lebih rendah. Pengadilan juga telah berperan dalam mendorong
pemerintah untuk membuat / merubah undang-undang yang terkait dengan masalah pembebasan tanah.
Pemerintah juga menggunakan gambar satelit untuk mengidentifikasi jumlah orang yang terkena dampak
proyek serta pola penggunaan tanah yang tepat. Gambar satelit digunakan pada tingkat perencanaan
untuk mengidentifikasi koridor, yang mempengaruhi jumlah orang paling sedikit. Penggunaan
teknologi ini juga membantu dalam masalah perolehan tanah pada tahap awal dari proyek itu sendiri
dan dengan biaya yang jauh lebih rendah. Identifikasi seperti ini membantu dalam menentukan proyek
yang mempunyai konflik palingsedikit.
Sumber: G. Raghuram, S. Bastian, and S. Sundaram (March 2009), “Mega Projects in India
Environmental and Land Acquisition Issues in the Road Sector”, Indian Institute of Management,
Ahmedabad, India.
Membuat pedoman yang jelas yang menyatakan bahwa pemerintah berhak untuk
menyita tanah untuk pembangunan infrastruktur. Pedoman ini harus mencakup
mekanisme yang adil untuk menentukankompensasi tanah.
Seperti India, pemerintah Indonesia harus membangun teknologi satelit untuk
mengidentifikasi tanah selama tahap awal proyek. Idetifikasi tersebut akan dapat
membantu penentuan proyek dengan konflik yang terkecil.
89
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Penanggulangan Jangka-Menengah (24-60 bulan)
Pemerintah perlu mengeluarkan dan menyebarluaskan undang-undang baru yang
menggantikan peraturan yang berlaku tentang pembebasan tanah yang antara lain
mencakup mekanisme kompensasi yang transparan dan adil, pemberian tanggung
jawab pembebasan tanah kepada instansi terkait baik di tingkat pusat maupun
daerah dan suatu mekanisme penyelesaian sengketa dengan cepat.
Memulai pelatihan yang menyeluruh untuk membangun sistem pencatatan
lahan berdasarkan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan pemetaan satelit yang
mencakup mekanisme memperjelas kepemilikan tanah dan penyelesaian sengketa
dan dengan memperhatikan nilai-nilai leluhur dan adat.
ii)
Memperkuat Kapasitas Sumber Daya Manusia dan Kelembagaan
Pembangunan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan sangat penting
untuk pertumbuhan dan masa depan ekonomi Indonesia. Jelaslah bahwa beberapa
kendala yang diidentifikasi dalam studi ini (seperti kurangnya koordinasi, lemahnya
implementasi dan kerangka peraturan, dan kurangnya proyek layak dana) telah
menggagalkan pembangunan kapasitas sumber daya dan kelembagaan ini.
Memperkuat koordinasi antara berbagai tingkatan pemerintah: Indonesia sebenarnya
sudah memiliki Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, namun tampak tidak
efektif, hal ini mendorong pemerintah untuk menciptakan “Unit Kerja Presiden untuk
Pengawasan dan Pemantauan Pembangunan” - sebuah “ Unit Pembuka Kemacetan”
di bawah Kepresidenan. Di permukaan, tindakan ini mencerminkan ketulusan
pemerintah dalam menangani masalah koordinasi, tetapi dalam kenyataannya ini
telah menciptakan birokrasi tambahan tanpa “memperbaiki” ketidak-efektifan
dalam Kementerian Koordinator. Tidak mengherankan, timbul ketidakpastian
lebih lanjut tentang peran khusus dan tanggung jawab dari birokrasi kembar itu.
Akibatnya, keadaan ini telah menyebabkan semakin sulitnya bagi sektor swasta
untuk mengetahui dengan siapa mereka harus membicarakan masalah. Sampai titik
tertentu, keadaan ini dapat menyebabkan kurangnya koordinasi, kurangnya rasa
memiliki, rendahnya rasa tanggung-jawab dan ketidak efisiensian pelaksanaan proyek.
Selain itu, unit baru ini tidak bertindak sebagai satu-satunya badan yang membuka
kemacetan. Sehingga, sektor swasta masih perlu menyelesaikan masalah tertentu
dengan kementerian terkait. Idealnya, yang harus dilakukan adalah memperkuat
Kementerian Koordinator yang sudah ada, dan memberi kuasa yang diperlukan untuk
“mendorong” departemen-departemen lain menyelesaikan masalah di bawah wilayah
hukum mereka. Kementerian ini secara teoritis akan menjadi titik fokus bagi investor,
terlepas dalam sub-sektor apa mereka melakukan penanaman modal. Oleh karena
itu Kementerian Koordinator memerlukan wewenang yang lebih, dengan staf yang
terlatih dan diberdayakan, untuk mengambil keputusan yang diperlukan tepat pada
waktunya. Kementerian ini bisa membentuk sebuah komite kerja yang bertemu secara
berkala untuk membahas isu-isu yang berkaitan dengan perencanaan daerah, proyekproyek infrastruktur, dan mekanisme untuk mendukung perencanaan yang baik di
90
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
tingkat daerah. Pertemuan-pertemuan harus direncanakan, berfokus pada kendala
kemacetan yang dihadapi investor dalam proyek-proyek prioritas.
Memperbaiki Kapasitas Implementasi: Kapasitas untuk menjalankan proyek
dengan efisien sangat kurang di semua tingkat pemerintahan. Sayangnya tidak ada
cara cepat untuk memperbaikinya. Dalam jangka pendek beberapa fungsi (seperti
identifikasi dan pengemasan proyek) mungkin perlu di lakukan oleh pihak di luar
kantor (outsourcing). Sistim monitoring dan evaluasi proyek infrastruktur juga harus
diciptakan dan dijalankan. Dalam hal ini, mitra pembangunan seperti IDB, ADB dan
Bank Dunia dapat memainkan peranan penting. Selain itu mitra pembangunan dapat
memegang peranan penting dalam pengembangan kapasitas dengan mengembangkan
dan membiayai program pengembangan keterampilan dan pengetahuan. Program
ini harus memusatkan perhatianada ketrampilan yang berhubungan dengan proses
dan keahlian ‘lunak’ untuk mengembangkan kemampuan para pegawai yang
bersangkutan dalam memahami bagaimana menggunakan pengetahuan dan keakhlian
yang baru didapat tersebut untuk menangani masalah utama investasi dan kebijakan.
Sebagai bagian dari pembangunan, baik kapasitas intra dan inter kelembagaan
harus dikembangkan agar pemerintah dapat bekerja sama dngan cara yang saling
melengkapi. Oleh karena itu perubahan hukum dan peraturan harus dilakukan agar
memungkinkan lembaga pemerintah dan badan-badan yang terkait disegala tingkat
untuk memperbaiki kemampuan dalam menghasilkan pekerjaan yang baik.
Mempersiapkan proyek yang layak dana: Saat ini, kebanyakan kementerian tidak
memiliki kapasitas untuk mempersiapkan proyek yang layak dana. Dalam hal ini,
mereka telah meminta bantuan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/
Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Namun,
seperti dijelaskan di atas, kualitas proyek masih tidak menarik bagi investor. Untuk
melakukan penilaian proyek dasar dan menyiapkan profil proyek (bukan suatu studi
pra-kelayakan), biasanya akan memakan waktu antara 60 dan 80 jam-orang dari
seorang ahli. Saat ini, kapasitas seperti ini kurang dalam pemerintah. Namun, untuk
menjadi efektif, penilaian proyek yang lebih rinci perlu dilakukan (sebaiknya paling
tidak sebuah studi pra-kelayakan). Biaya melakukan studi tersebut secara signifikan
lebih tinggi, dan biasanya akan berjumlah 1-2 persen dari total biaya proyek. Oleh
karena itu, biaya persiapan studi pra-kelayakan untuk proyek-proyek infrastruktur
yang digambarkan dalam anggaran pemerintah jangka menengah akan berkisar antara
$2 milyar dan $4 milyar. Dana ini harus dicari diluar anggaran pengeluaran yang
diusulkan. Misalnya didalam “Buku Biru” PPP, suatu proyek senilai sekitar $47,3
milyar telah diidentifikasi, maka penyusunan proyek-proyek ini akan menelan biaya
antara $ 340 juta dan $680 juta. Meskipun biaya tersebut tampaknya tinggi, tapi
ini harus dibandingkan dengan kerugian jika tidak bisa memperoleh proyek-proyek
dalam waktu yang cukup cepat atau proyek tertunda secara signifikan, dan tingkat
kepercayaan terhadap proyek potensial yang akan diberikan oleh studi pre-kelayakan.
Selain itu, dengan melakukan penilaian proyek yang tepat, beberapa dari proyekproyek tersebut mungkin akan di kategorikan sebagai berpotensi untuk kemitraan
publik-swasta, atau akan dianggap tepat untuk ditawarkan pada pihak swasta. Hal
91
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
ini bisa mengurangi beban keuangan pemerintah dan membantu mempercepat
implementasi dan operasi proyek-proyek.
Penanggulangan yang diusulkan untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia
dan kelembagaan adalah sebagai berikut:
Penanggulangan Jangka Pendek (12-24 bulan)
Menilai dan mengembangkan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan
untuk pembangunan infrastruktur proyek, perencanaan sektor, koordinasi dan
pelaksanaan proyek di BAPPENAS, Kementerian PU, Kementerian Lingkungan
Hidup dan Sumber Alam dan Kementerian Dalam Negeri di tingkat nasional dan
BAPPEDA di tingkat kabupaten.
Membuat master plan infrastruktur yang menggariskan secara jelas peranan sektor
publik dan swasta.
Pemilihan awal dan melakukan urutan prioritas proyek–proyek yang diidentifikasi
dalam master plan.
Mengidentifikasi sebuah tim internasional yang sesuai untuk mempersiapkan
kelayakan proyek-proyek infrastruktur yang diprioritaskan di bawah rencana
jangka menengah (2010-2014) bersama dengan yang lain yang disebutkan dalam
“Buku Biru PPP.”
Mengembangkan Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang tepat (termasuk
monitoring dan evaluasi) untuk melacak proyek dari tahap identifikasi sampai
selesai. Idealnya, sistem ini harus mencakup daftar permasalahan yang
mengidentifikasi hambatan. Daftar permasalahan ini dapat digunakan sebagai
bahan rapat koordinasi antar-kementerian. Pengembangan dan pengelolaan sistem
ini idealnya harus dilakukan oleh sebuah perusahaan internasional ternama yang
juga dapat mengawasi pelaksanaan proyek.
Menetapkan secara jelas kaitan antara pembangunan jangka pendek dan kontrak
manajemen untuk sistem SIM dan kebutuhan peningkatan kapasitas pemerintah.
Beberapa pegawai pemerintah dari kementerian yang relevan harus diperbantukan
dalam proyek untuk mengembangkan kapasitas yang diperlukan untuk memelihara
dan menjalankan sistem SIM.
Penaggulangan Jangka Menengah (24-60 bulan)
Menciptakan “Dana Pembentukan Kapasitas” dan sebuah rencana pelaksanaan
untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan untuk
melaksanakan inisiatif ‘kunci’ dan berbagai strategi oleh para petugas yang terkait
dengan kementerian atau badan yang ada hubungannya dengan infrastruktur.
Memperkuat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk berfungsi
sebagai kementrian pembuka hambatan dan sebagai “kantor satu pintu (one-stop
shop) bagi para investor
Mengambil alih manajemen dan administrasi sistem SIM
92
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
iii) Memperbaiki Tata KelolaPemerintahan
Buruknya tata kelola pemerintahantelah diakui oleh pemerintah sebagai kendala
pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Langkah-langkah positif seperti
pembentukan Komite Pemberantasan Korupsi (KPK), yang telah menghukum
beberapa pejabat tinggi, telah diterima baik oleh masyarakat. Namun tindakantindakan penanggulangan signifikan masih perlu dilakukan dalam rangka untuk
memperkecil tingkat korupsi.
Mengurangi pencarian rente: Kesadaran akan banyaknya kegiatan mencari rente
di segala tingkat pemerintahan memaksa pemerintah untuk segera membentuk
KPK. KPK telah mencapai keberhasilan yang berarti sampai saat ini, namun akan
perlu terus memusatkan perhatian pada penghukuman “penjahat kelas kakap” dan
mengumumkan hasilnya pada masyarakat luas. Perannya bisa lebih ditingkatkan
dengan mengaudit gaya hidup para pejabat pemerintah. Lembaga ini juga bisa
melibatkan anggota pemerintah yang bersedia memerangi korupsi dengan mendirikan
jalur komunikasi (hotline) rahasia. Namun, agar hal ini dapat berhasil, keselamatan
dari “peniup peluit” perlu dijamin. Elemen yang penting adalah kampanye kesadaran
yang menginformasikan masyarakat tentang masalah mencari rente ini, meningkatkan
kepercayaan masyarakat dalam proses, dan menyediakan informasi yang akurat dan
tepat waktu mengenai keberhasilan pemberantasan korupsi di semua tingkat. Dalam
memerangi korupsi hal yang amat penting adalah ketersediaan informasi. Oleh karena
itu, pemerintah harus mengembangkan keahlian teknis untuk memantau arus uang
(anggaran nasional, proyek pekerjaan umum, dll).
Meningkatkan efektifitas pemerintah: Hal ini berlaku bagi kinerja pemerintah secara
keseluruhan, bukan hanya kementerian, lembaga, atau perusahaan tertentu. Untuk
menjamin investasi yang direncanakan dan partisipasi sektor swasta dalam penyediaan
infrastruktur, maka reformasi dan perubahan kebijakan harus dilakukan untuk
meningkatkan efektifitas pemerintah. Untuk Indonesia, sudah dikeluarkan beberapa
peraturan untuk mengatasi kemacetan utama. Namun, pelaksanaannya tertunda sekitar
tiga tahun untuk memberikan waktu yang cukup pada lembaga-lembaga pemerintah
lainnya untuk mengubah proses bisnis atau menyerahkan tanggung jawab. Jelas,
keterlambatan tersebut mengakibatkan ketidak pastian dan kurangnya rasa memiliki,
yang akhirnya mengarah pada ketidak-efisienan dan keterlambatan lebih lanjut. Tak
heran, keseluruhan ini memberi dampak negatif dalam hal waktu, biaya dan kelayakan
proyek. Sehingga dalam beberapa kasus, studi kelayakan harus diulangi. Pemerintah
telah mulai menerapkan reformasi layanan sipil, seperti di Kementerian Keuangan,
dan inisiatif ini harus didukung dan diperluas ke kementrian lain dan lembaga negara
non kementerian lain yang berurusan dengan proyek infrastruktur.
Langkah-langkah yang diusulkan untuk menangani masalah buruknya ketata-kelolaan
pemerintahan.
93
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Langkah Jangka Pendek (12-24 bulan)
Membentuk sistim “peniup peluit” yang melindungi kerahasian dan membuat
“sistim penghargaan” untuk pegawai yang jujur.
Melanjutkan penanggulangan dengan menekankan pada pencabutan akar korupsi
dengan menghukum pejabat tingkat tinggi yang melakukan korupsi.
Mempercepat pembuatan dan pelembagaan ‘e-procurement dan e-disclosure’ dari
tender dan detil-detil kontrak di pemerintah tingkat daerah dan tingkat pusat.
Melanjutkan penguatan dan pemberdayaan lembaga-lembaga kunci seperti Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), dan pengadilan anti-korupsi, memperjelas peran,
tanggung jawab dan wewenang mereka.
Langkah Jangka Menengah (24-60 bulan)
Mengembangkan keahlian teknis untuk mengawasi arus uang rakyat (anggaran
nasional, proyek pekerjaan umum, dll).
Untuk Kementerian Keuangan, membuat reformasi layanan umum untuk
mencakup kementerian yang lain yang berhubungan dengan proyek infrastruktur.
iv) Memperbaiki Kesediaan Dana
Memperbaiki pendanaan jangka panjang: Meskipun pendanaan tersedia di dalam
negeri, sifat dari sumber-sumber keuangan bank lokal adalah deposito jangka pendek.
Oleh karena itu, bank lokal perlu mencari peluang untuk mendiversifikasi sumber
pendanaan mereka untuk dapat melakukan pendanaan jangka panjang. Hal ini dapat
dicapai dengan baik dengan menerbitkan obligasi global atau membuat pinjaman
jangka panjang dari bank global. Lebih lanjut, jika laba atas proyek-proyek infrastruktur
cukup tinggi untuk mengatasi premi resiko yang terkait dengan proyek, pencarian
modal internasional untuk proyek-proyek jangka panjang akan lebih mudah. Namun,
dalam diskusi dengan sektor swasta, ada kekhawatiran tentang kepastian mendapatkan
proyek, dan tentang kecepatan penyelesaian masalah (seperti pembelian tanah).
Semua ini ikut menyebabkan sulitnya mengakses dana. Jadi, masalah mendapatkan
pendanaan global tidak hanya terbatas dalam pencarian sumber-sumber pendanaan
jangka panjang, tapi juga dalam resiko yang timbul dari kesulitan pembebasan tanah,
dan juga dari rendahnya kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan.
Untuk menangani kehawatiran di atas maka penanggulangan yang potensial yang
dapat dipertimbangkan adalah:
Penaggulangan Jangka Pendek (12-24 bulan)
Membuat strategi untuk mendorong bank-bank swasta agar mendiversifikasi
sumber dana untuk mencakup pasar obligasi jangka panjang
Mengeluarkan obligasi sukuk atau yang sejenis bagi bank-bank milik negara.
94
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Penaggulangan Jangka Menengah (24-60 bulan)
Meningkatkan investasi sektor publik di infrastruktur ke sekurang-kurangnya 5
persen dari PDB.
Memperbaiki akses terhadap pendanaan jangka panjang dengan mengeluarkan
obligasi (obligasi sukuk atau instrumen yang sejenis untuk bank milik pemerintah).
Memperluas fasilitas pendanaan infrastruktur.
(v) Intervensi menurut sektor
Selain rencana keseluruhan untuk mengatasi kendala yang paling mengikat dalam
pembangunan infrastruktur, ada beberapa rekomendasi menurut sektor masingmasing yang akan mengendurkan kendala investasi di masing-masing sub-sektor.
Sektor Transportasi
Penanggulangan Jangka Pendek (12-24 bulan)
Berpindah kepada suatu sistim tender dimana kontrak termasuk konstruksi dan
pemeliharaan untuk suatu jangka waktu tahun yang telah ditetapkan sebelumnya.
Implementasi segera reformasi dalam bidang pelabuhan dan bandara dengan visi
untuk memindahkan kepemilikan dan/atau manajemen dari fasilitas atau layanan
utama kepada sektor swasta.
Pelaksanaan Jangka Menengah (24-60 bulan)
Fokus yang terpadu dan terencana pada peningkatan sambungan multi-modal
antara infrastruktur kabupaten dan kecamatan-kecamatan serta tingkat pusat.
Menciptakan dan memperkuat dana pemeliharaan di tingkat pusat dan lokal yang
dibiayai melalui retribusi yang sudah ada seperti biaya penggunaan layanan.
Sektor Listrik
Penanggulangan Jangka Pendek (12-24 bulan)
Memeriksa ulang dan merasionalisasi pengaturan tarif listrik berdasarkan rumusan
yang telah ditentukan sebelumnya untuk memungkinkan pemulihan/pengembalian
biaya secara penuh.
Menggantikan subsidi konsumsi yang regresif dengan menargetkan subsidi pada
masyarakat miskin dan tidak beruntung.
Memperkuat kerangka hukum dan peraturan untuk mendorong partisipasi sektor
swasta dalam sektor infrastruktur.
Penaggulangan Jangka Menengah (24-60 bulan)
Mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik dengan bahan bakar fosil dan
mengeksplorasi sumber enerji terbarukan untuk menghasilkan listrik terutama di
daerah-daerah terpencil.
95
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Meneruskan usaha elektrifikasi (pemasangan listrik) di daerah pedesaan dan
daerah yang tak cukup pasokan listrik, terutama didaerah-daerah yang tertinggal/
terbelakang.
Perkiraan biaya untuk penanggulangan keseluruhan yang disarankan di atas untuk
mengendurkan hambatan paling mengikat disajikan di bawah ini (Tabel 34).
Tabel 34: Perkiraan biaya untuk penanggulangan yang disarankan dalam
melonggarkan kendala-kendala
Waktu
Jangka
Pendek
Jangka
menengah
Masalah
Penanggulangan
Perkiraan
biaya
Menyelesailan Masalah
Pembebasan Tanah
Membuat mekanisme pelacakan tanah
$10 juta
Pembandingan Internasional dan belajar
praktek terbaik untuk menciptakan undangundang baru untuk sengketa tanah
$5 juta
Memperkuat Kapasitas
Sumber Daya Manusia
dan Kelembagaan
Pembangunan kapasitas staf
$50 juta
Mempersiapkan studi kelayakan proyek
untuk 2010-20112
$0,75milyar
-1,5milyar1
Mempersiapkan studi kelayakan proyek
‘flagship’ di bawah inisiatif IMT-GT untuk
2010-20112
$50 juta1
Memperbaiki Tata
Kelola Pemerintahan
Menciptakansistim “peniup peluit” dan
penghargaan
$50 juta
Memperbaiki Kesediaan
Pendanaan
Mempelajari pencarian dana dalam pasar
obligasi
$1 juta2
Menyelesaikan Masalah
Pembebasan Tanah
Memperkenalkan Teknologi Satelit
$10 juta
Memperkuat Kapasitas
Sumber Daya Manusia
dan Kelembagaan
Menyiapkan Studi-Studi Kelayakan proyekproyek infrastruktur yang masih ada2
$ 0,75miliar 1,5miliar1
Mengambil alih pengelolaan sistem SIM
(termasuk mempertahankan dukungan)
$ 25 juta
Memperbaiki Tata
Kelola Pemerintahan
Meluaskan reformasi layanan masyarakat di
kementerian/instansi yang berkaitan dengan
pembangunaninfrastruktur
$500 juta
Memperbaiki Kesediaan
Pendanaan
Mengeluarkan sukuk atau obligasi sejenis
TOTAL
$ 2 juta3
$2,2milyar-3,7
milyar
Berdasarkan perhitungan biaya pra-kelayakan yang umum, antara 1 dan 2 persen dari total biaya
proyek.
2
Diasumsikan bahwa studi-studi pra- kelayakan akan dilakukan secara bertahap, dimana setengah
dilakukan pada 24 bulan pertama, dan sisanya dalam waktu 60 bulan berikutnya.
3
Berdasarkan biaya yang umumnya dibutuhkan untuk mengeluarkan sukuk.
1
96
LAMPIRAN
97
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
98
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Lampiran A: Lembaga, Kebijakan, dan Aturan dan Peraturan Kunci dalam
Pembangunan Infrastruktur di Indonesia
Kementerian Kordinator Bidang Perekonomian
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Deputi V - Bidang Koordinasi
Infrastruktur Dan Pengembangan Wilayah bertanggung jawab untuk: (i) menyiapkan
koordinasi perencanaan dan penyusunan kebijakan infrastruktur dan pembangunan
daerah; (ii) sinkronisasi kebijakan pelaksanaan di infrastruktur dan pengembangan
wilayah; (iii) pemantauan, analisa, evaluasi dan pelaporan masalah atau kegiatan
untuk infrastruktur dan pengembangan wilayah; (iv) menerapkan hubungan kerja
dalam infrastruktur dan pembangunan daerah dengan kementerianlain/ instansi
pemerintah dan lembaga terkait, dan (v) melaksanakan tugas-tugas lain yang terkait
dengan infrastruktur dan pembangunan daerah yang diberikan oleh Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian. Dalam kantor ini, ada enam asisten, meliputi:
(i) perencanaan tata ruang dan pembangunan daerah, (ii) infrastruktur air, (iii)
transportasi, (iv) perumahan, (v) telematika dan (vi) sarana umum55.
Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (Bappenas)
Di bawah Kementerian Negara, Deputi Bidang Infrastruktur mempunyai tanggung
jawab untuk melaksanakan penyusunan kebijakan dan rencana pembangunan
nasional tentang infrastruktur. Khususnya, Deputi ini bertugas sebagai berikut:
(i) mempersiapkan rancangan kebijakan untuk rencana pembangunan nasional
dalam infrastruktur56; (ii) mengkoordinasikan dan melakukan sinkronisasi rencana
pembangunan nasional dalam infrastruktur57; (iii) melaksanakan penyusunan rencana
pembangunan nasional dalam infrastruktur58; (iv) memonitor, mengevaluasi,
menganalisa, dan melaporkan pelaksanaan rencana pembangunan nasional dalam
infrastruktur59; (v) melaksanakan hubungan kerja dalam rencana pembangunan
nasional dalam infrastruktur60; dan (vi) melaksanakan tugas-tugas lain yang
berkaitan dengan infrastruktur yang diberikan oleh Kementerian Negara Perencanaan
Pembangunan Nasional. Dalam pelayanan ini, ada enam direktorat, meliputi: (i) air
dan irigasi, (ii) infrastruktur air, (iii) transportasi, (iv) perumahan, (v) telematika, dan
(vi) sarana umum.
Seperti yang dinyatakan oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional61,
salah satu aspek reformasi pemerintah di bidang pembangunan infrastruktur, adalah
pembentukan Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur (KKPPI) and
Pusat Kerjasama Pemerintah-Swasta (PKPS).
Penting untuk dicatat bahwa sebelumnya ada Deputi untuk Investasi dan Kemitraan Swasta Publik di Kementerian
Koordinasi Bidang Perekonomian.
56
Air dan Irigasi; Transportasi; Perumahan dan Pemukiman; Enerji; Telekomunikasi dan Teknologi Informasi; dan
Pengembangan PPP
57
Ibid
58
Ibid
59
Ibid
60
Ibid
61
http://english.peopledaily.com.cn/9000/90778/90858/90863/6734691.html
55
99
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur (KKPPI)
KKPPI didirikan pada tahun 200162 bertujuan untuk mengkoordinasikan percepatan
proyek pembangunan infrastruktur. Pembentukan KPPI dipicu oleh krisis ekonomi
Asia 1997, yang sangat merusak perekonomian Indonesia. Tugas KPPI dirinci
dengan jelas63 sebagai berikut (i) mengembangkan strategi untukmengkoordinasi
pelaksanaan percepatan penyediaan infrastruktur; (ii) mengkoordinasikan dan
memantau pelaksanaan kebijakan percepatan penyediaan infrastruktur oleh menteri
terkait dan pemerintah daerah; (iii) mengembangkan kebijakan dalam pelaksanaan
kewajiban pelayanan umum dalam mempercepat penyediaan infrastruktur; dan (iv)
memutuskan upaya pemecahan berbagai permasalahan yang terkait dengan penyediaan
infrastruktur. KKPPI diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, yang
bertanggung jawab dan melapor kepada Presiden.
Selain KKPPI, sejumlah lembaga pendukung telah dibentuk, seperti: (i) Pusat
Pengelolaan Resiko Fiskal dan Badan Investasi Pemerintah di Kementerian Keuangan,
(ii) Simpul PPP di Kementerian Perhubungan,, Kementerian Pekerjaan Umum, dan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dan (iii) Pusat Pengembangan PPP64.
Pusat Kerjasama Pemerintah-Swasta (PKPS)
Dibentuk untuk memfasilitasi transaksi proyek-proyek infrastruktur antara pemerintah
dan sektor swasta. Melalui PKPS, investor akan dapat memperoleh informasi yang
lengkap dan akurat tentang proyek yang ditawarkan, termasuk prosedur investasi,
aturan, dan peraturan.
Badan Layanan Usaha (BLU)
Untuk membantu meningkatkan partisipasi swasta dalam pembangunan, pemerintah
membentuk Badan Layanan Umum (BLU), sebagai titik awal untuk memperbaiki
pengelolaan keuangan sektor publik dan meningkatkan pelayanan pemerintah kepada
masyarakat. Singkatnya, BLU adalah lembaga pemerintah yang dibentuk untuk
menyediakan layanan kepada masyarakat dalam bentuk penyediaan barang dan
jasa yang dijual tanpa prioritas untuk keuntungan dan kegiatannya didasarkan pada
prinsip efisiensi dan produktivitas65. Baru-baru ini, untuk menarik investor di bidang
infrastruktur, kegiatan pembebasan tanah BLU akan diperluas, tidak hanya untuk
proyek-proyek jalan tol, tetapi juga untuk pelabuhan laut dan bandara66.
Kebijakan, Aturan dan Peraturan
Reformasi-reformasi di Indonesia dimulai pada tahun 1998, tepat setelah krisis 1997
dan turunnya rezim Suharto (Pemerintah Orde Baru dari akhir 1960 sampai akhir
1997). Selama Orde Baru, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
bertanggung jawab untuk penyusunan rencana pembangunan lima tahun (Repelita),
Dekrit Presiden tahun 2001 no 81 dan Peraturan Presiden No.42/ 2005, membatalkan Dekrit Presiden tahun 2001 no 81
Peraturan Presiden tahun 2005 no. 42
64
Djunaedi (tak bertanggal). “Implementasi Public-Private Partnership dan Dampaknya ke APBN”
65
Pasal 1 Peraturan no 1/2004 tentang Keuangan Negara
66
Kontan online, 11 september 2009
62
63
100
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
di mana kebijakan infrastruktur adalah salah satu elemen utama. Pada tahun1970an, infrastruktur merupakan salah satu inti dalam perencanaan ekonomi dan sosial,
sementara pada pertengahan hingga akhir 1980-an sebuah pendekatan terpadu yang
lebih holistik diadopsi. Pada awal 1990, untuk meningkatkan efisiensi, pembangunan
infrastruktur lebih banyak mengandalkan diskusi-sektor tunggal, programdan
keputusan proyek terarah, bersama-sama dengan koordinasi yang ketat. Selama
periode ini, permintaan untuk pasokan infrastruktur melampaui penyediaan karena
pertumbuhan industri dan ekonomi yang cepat, serta urbanisasi.. Lonjakan permintaan
ini juga mengundang pertanyaan tentang apakah Bappenas mampu menghadapi
tantangan baru.
Kemitraan Publik Swasta (PPP)
Untuk menjembatani kesenjangan antara investasi infrastruktur yang diperlukan dan
ketersediaan dana publik, pemerintah telah berusaha untuk meningkatkan partisipasi
sektor swasta melalui proyek kemitraan publik-swasta (PPP). Pemerintah, mengikuti
tren dunia dalam partisipasi swasta dalam pembangunan, memprakarsai dibentuknya
PPP pada tahun 1980. Tentunya, kebijakan tahun 1980-an tidak memiliki kerangka
yang sempurna, yang mengharuskan penerapan kerangka lebih komprehensif di tahun
1990-an. Kenyataannya, investasi swasta di 1990 meningkat secara signifikan, tapi
terhenti karena krisis 1997.
Salah satu Perpres penting (Peraturan Presiden) adalah Perpres 67/2005 (Kerjasama
antara Pemerintah dan Badan Swasta dalam Penyediaan Infrastruktur), yang diterbitkan
pada tanggal 9 November 2005, menggantikan PP No 67/2000 sebelumnya (Peraturan
Pemerintah)67.
PP NO. 67/2005 mendefinisikan kerangka peraturan lintas sektor untuk penyediaan
infrastruktur oleh sektor swasta. PP ini menyatakan dua cara kerja sama: (i) PPP,
dan (ii) ijin usaha. Diklaim bahwa PP ini adalah suatu terobosan yang pantas dicatat,
paling tidak karena empat alasan68. Pertama, PP ini menyediakan dasar yang lebih
jelas, transparan dan dapat dipertanggung jawabkan untuk infrastruktur PPP. Kedua,
PP ini menekankan kemitraan yang saling menguntungkan dalam proyek PPP
dengan tingkat pengembalian yang wajar kepada investor yang terlibat dalam proyek
PPP. Ketiga, PP ini memasukkankeharusan pemeriksaan kelayakan proyek yang
harus dilakukan oleh instansi pemerintah sebelum menawarkan setiap proyek PPP.
Akhirnya, PP ini menetapkan bahwa bantuan fiskal adalah satu hal yang dibolehkan.
Pada bulan Februari 2006, pemerintah membuat “Paket Kebijakan Infrastruktur”,
yang meliputi empat bidang utama: (i) kerangka kebijakan strategis lintas sektoral,
(ii) kebijakan sektoral, (iii) peran pemerintah daerah; dan (iv) transaksi proyek
infrastruktur. Paket ini bertujuan untuk menyelesaikan kerangka kebijakan dan
peraturan dalam mentransfer dana dari pasar modal atau lembaga keuangan non-bank
Peraturan Pemerintah ini bertujuan untuk mengurangi kepincangan dalam informasi agar kapasitas teknik dan financial
para pengikut tender bisadiukur dengan tepat, sehingga merit dan resiko teknik dan ekonomi sebuah proyek dapat
dijelaskan ( Aswicahyono dan Deni Friawan, tak bertanggal, hal 146)
68
........., 2007. “Public-Private Partnership for Infrastructure Development” Naskah kerja Indonesia, disajikan pada Rapat
Tingkat Tinggi UNESCAP di Korea, 1-3 Oktober
67
101
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
ke alokasi proyek-proyek infrastruktur yang secara finansial memenuhi syarat.
Sejumlah unit PPP dalam Kementerian/ Lembaga telah didirikan, seperti Badan
Pengatur Jalan Tol / BPJT dan Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan
Air Minum / BPP-SPAM di Kementerian Pekerjaan Umum69.
Insentif Infrastruktur70
Sudah diketahui bahwa sejumlah proyek infrastruktur, seperti air bersih, sanitasi,
irigasi, dan infrastruktur pedesaan (jalan dan listrik) secara komersial tidak menarik
bagi para investor swasta. Selain itu, ketidak-cocokan antara kebutuhan pendanaan
jangka panjang untuk proyek-proyek infrastruktur dan ketersediaan pendanaan
jangka pendek membuat proyek-proyek tersebut lebih tidak menarik untuk investasi
swasta. Oleh karena itu, pemerintah, dalam menghadapi meningkatnya kebutuhan
untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur, dan kekurangan dana publik, harus
menemukan cara-cara untuk meningkatkan partisipasi sektor swasta.
Dana Infrastruktur Indonesia
Untuk menjembatani kesenjangan pembiayaan yang ada, Dana Infrastruktur Indonesia
(Indonesia Infrastructure Fund-IIF) didirikan pada tahun 2008 melalui Peraturan
Pemerintah (PP) No 75/2008 tentang kontribusi pemerintah untuk mendirikan
Perusahan Perseroan yang berurusan dengan dana infrastruktur. Sekitar. Rp 1 triliun
telah dialokasikan untuk tujuan ini dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara. Pada
Februari tahun 2009, PT Multi Sarana Infrastruktur (100% kepemilikan pemerintah)
mulai beroperasi, sementara Fasilitas Pembiayaan Infrastruktur Indonesia telah
dilakukan dengan dukungan baik dari ADB dan World Bank71.
Dana Jaminan
Selain kebutuhan untuk investasi yang besar, proyek-proyek infrastruktur skala besar
juga penuh dengan resiko. Untuk menarik investor swasta untuk jenis proyek-proyek
berskala besar ini, penting halnya mengurangi resiko yang ada. Salah satu caranya
adalah melalui instrumen/lembaga yang disebut Dana Jaminan. Lembaga ini sedang
dibuat untuk melindungi investasi di bidang infrastruktur melalui PP 35/2009 tentang
kontribusi Pemerintah untuk pembentukan holding company dalam perlindungan
infrastruktur. Rp 1 trilyun tambahan juga telah dialokasikan pada tahun Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara 2009 (APBN).
Fasilitas Pengembangan Proyek
Fasilitas ini didirikan untuk membantu pemerintah dalam penyusunan studi kelayakan
pada proyek-proyek infrastruktur di tingkat nasional dan daerah, menerapkan
tender proyek secara terbuka dan transparan, dan melaksanakan transaksi proyek
dengan sektor swasta. Lembaga ini berada di bawah naungan Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional/Bappenas sebagaimana yang tercantum dalam Keputusan
69
70
71
Ada unit-unit lain dalam KementerianPerhubungan, Bappenas, dan KementerianKeuangan.
Bagian ini sebagian besar diambil dari Susantono (2009).
Sekitar $140 juta dari masing-masing institusi dialokasikan untuk menunjang IIFF
102
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Presiden Nomor 67/2005 tentang kemitraan pemerintah dengan ‘holding company’
di bidang infrastruktur. Sejumlah proyek, seperti dalam bidang transportasi laut, air
bersih, dan listrik, yang akan ditawarkan kepada sektor swasta untuk proyek PPP
sedang dipersiapkan.
Fasilitas Lahan
Upaya lain yang diprakarsai oleh Pemerintah untuk meningkatkan investasi adalah
menurunkan resiko melalui pembekuan dan penutupan tanah (land freezing dan land
capping). Yang pertama berhubungan dengan aturan yang menentukan tanah, yang
telah dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, tidak diperbolehkan untuk
dijual atau dialihkan tanpa instruksi tertulis dari kepala pemerintah daerah. Hal ini
sejalan dengan pasal 9 dari Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional (Peraturan
Kepala BPN) No 3 / 2007. Selain itu, pemerintah menyediakan dana bergulir untuk
tanah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 58/02/2008), yang dapat digunakan oleh
investor dalam memperoleh lahan untuk infrastruktur, dan sisa dana akan digunakan
oleh investor lain dalam masa depan. Yang kedua berkaitan dengan dukungan
yang diberikan oleh Pemerintah untuk menutupi resiko kenaikan harga dalam
mengembangkan tol-jalan. Peningkatan yang besar pada harga tanah di sebagian dari
jalan tol-menyebabkan penurunan kelayakan pembangunan jalan tol dan tidak dapat
ditanggung oleh pengembang72. Fasilitas ini diatur oleh Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum No. 12/PRT/M/2008.
Inisiatif-Inisiatif Lain
Pemerintah telah menerapkan langkah-langkah lain untuk mendorong investasi di
bidang infrastruktur. Yang pertama adalah penyelenggaraan Infrastructure Summit
2005 yang bertujuan untuk menarik investasi swasta, diikuti oleh 2006 Infrastructure
Forum. Pada Summit tahun 2005, 91 proyek infrastruktur dengan investasi
diperkirakan lebih dari $ 22milyar ditawarkan. Namun, pada akhir tahun 2006,
karena strategi yang tidak jelas mengenai peraturan yang dibutuhkan, jaminan resiko
dan kebijakan harga73, hanya enam penawar pemenang diumumkan dan hanya satu
proyek telah dimulai. Pemerintah kemudian menyelenggarakan Infrastructure Forum
2006 dengan hanya 10 proyek infrastruktur, sebagai “proyek model”, dengan nilai
investasi diperkirakan sebesar $ 4,5 milyar.
Selain itu, untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan infrastruktur di Asia dan
Pasifik, Pemerintah merencanakan untuk mengadakan Konferensi Tingkat Menteri
se Asia-Pasifik tentang Kemitraan Publik Swasta pada tahun 201074 dan Infrastruktur
Asia pada 14-17 April 2010. Dinyatakan bahwa dalam acara ini pemerintah akan
menawarkan 87 proyek infrastruktur yang diperkirakan sebesar $34 milyar yang
mencakup 18 propinsi di Indonesia75.
Perbedaan harga diatas 10 % akan ditanggung oleh Pemerintah Indonesia
Aswicahyono dan Deni Friawan (tak bertanggal), hal. 144
Peristiwa ini diselenggarakan setiap dua tahun oleh para menteri UNESCAP
75
Kompas.com 10/09/2009
72
73
74
103
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
LAMPIRAN B: Transportasi Jalan
Sekilas mengenai Transportasi Jalan
Alat transportasi yang paling penting di Indonesia adalah jaringan jalan. Meskipun
Indonesia adalah kepulauan besar, pelayaran antar-pulau dan pesisir untuk hanya 7
persen dari arus barang dan penumpang, sementara jalan menampung 92 persen dari
total lalu lintas barang dan 84 persen penumpang. Kereta api mencakup sekitar 1
persen untuk pengiriman dan 7 persen arus penumpang, dengan pelayaran sungai dan
transportasi udara menampung lalu lintas yang tersisa76.
Kepadatan jalan Indonesia (didefinisikan sebagai rasio antara panjang total jaringan
jalan dengan ukuran negara) adalah 20, yang relatif kecil dibandingkan dengan
Vietnam (68), Filipina (67), Thailand (35) dan Malaysia (28). Indikator yang biasanya
dipakai untuk kualitas jalan umum adalah tingkat jalan beraspal. Hanya 59 persen
jalan di Indonesia yang diaspal, jauh di bawah dibandingkan dengan Thailand dan
Malaysia, namun di atas Filipina.
Walaupun jalan sangat penting untuk pembangunan Indonesia, pertumbuhannya tidak
seimbang dengan peningkatan jumlah penduduk. Transportasi jalan berperan utama
dalamarus lalu lintas barang dan penumpang, Oleh karena itu, cakupan dan kualitas
nya sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan. Selama
hampir satu dekade sekarang, permintaan terhadap transportasi jalan telah berkembang
dengankecepatan yang lebih tinggi dari PDB, hal ini menyebabkan keprihatinan bagi
para pengambil kebijakan. Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut dalam waktu
dekat, dengan pertumbuhan lalu lintas diperkirakan akan meningkat 1-1,5 kali
pertumbuhan PDB (sekitar 7 sampai 10 persen per tahun)77. Selain itu, peningkatan
jaringan jalan di Indonesia tidak seimbang dengan pertumbuhan penduduk selama
beberapa tahun terakhir (Lampiran Gambar 1), hal ini lebih memperparah masalah
lalu lintas yang sudah serius. Hal ini terlihat jelas , khususnya pada jaringan jalan arteri
di Jawa. Menurut studi penilaian Bank Dunia, 43 persen jaringan jalan di Jawa, dan
1.9
Lampiran Gambar 1: Panjang Jalan di Indonesia,
1995-2009 (panjang jalan per 1000 orang)
1.8
1.8
1.7
1.7
1.6
1.6
1.6
1.5
1990
76
77
1995
2000
Transport Sector Strategy Study for Indonesia (ADB, 2004)
Strategic Road Infrastructure Project, Project Appraisal Document, World Bank, 2006
104
2009
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
persentase yang lebih tinggi di Jakarta, sudah sangat padat, sehingga membuat waktu
tempuh lebih lama dan biaya yang lebih tinggi. Penilaian tersebut juga memperkirakan
bahwa sekitar 55 persen dari jaringan arteri di Jawa akan mengalami kepadatan pada
tahun 2010. Pada saat yang sama, penilaian tersebut menunjukkan akan kebutuhan
sekitar 2.000 km jalan tol untuk mengurangi masalah lalu lintas.
Lampiran Tabel 1: Statistik Kunci Jalan di Indonesia
Jalan Tol
Jalan Nasional
Jalan Propinsi
Jalan Daerah/ jalan kota
Jalan Desa
Panjang (km)
Catatan
662
tahun 2008
34.629
80 % Dalam kondisi baik/ cukup baik
(2007)
33.612
54 % Dalam kondisi baik/ cukup baik in
(2006)
249.080
33 % Dalam kondisi baik/ cukup baik
(2006)
243.826
Sumber: Kementrian PU (2008).
Lampiran Tabel 1 menunjukkan bahwa kualitas jalan nasional relatif tinggi, dengan 80
persen jalan diklasifikasikan dalam kondisi baik/memadai. Pada tingkat provinsi dan
kabupaten, persentase jalan dengan kualitas baik/ memadai adalah masing-masing 54
dan 33. Rendahnya persentase jalan dalam kondisi baik di tingkat kabupaten/ kota
disebabkan oleh pemeliharaan yang buruk dan kurangnya perbaikan berkala.
Lalu lintas menjadi lebih padat, dan jumlah kecelakaan terus meningkat. Sejak tahun
2003, jumlah kendaraan terdaftar bertambah sebesar 16,2 persen per tahun, mencapai
63,3 juta pada tahun 2007. Dari jumlah tersebut, 15 persen mobil penumpang, 4,5
persen bus, 7,9 persen truk, dan 72,6 persen sepeda motor. Pelayanan transportasi
jalan terutama disediakan oleh sektor swasta melalui bus, minibus, dan mikrolet.
Pemerintah daerah juga menyediakan transportasi perkotaan di kota-kota besar
seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Tarif transportasi lokal biasanya diatur
oleh pemerintah daerah, sedangkan jasa antar propinsi diatur oleh Kementerian
Perhubungan. Karena kepadatan lalu lintas memburuk, tidak mengherankan bahwa
kecelakaan meningkat secara signifikan dari 13.400 pada tahun 2003 menjadi 91.600
di tahun 2005. Untungnya, hal ini telah menurun menjadi 48.500 pada 2007, meskipun
masih jauh lebih tinggi dari tingkat tahun 2003 (Lampiran Tabel 2).
Manajemen Transportasi Jalan
Tanggung jawab atas transportasi jalan dibagi-bagi antara berbagai institusi
dan kementerian. Kementerian Pekerjaan Umum melalui Ditjen Bina Marga,
bertanggung jawab untuk menetapkan kebijakan nasional, standar dan pedoman
untuk pembangunan dan pemeliharaan jaringan infrastruktur jalan nasional. Wilayah
hukumnya juga mencakup bimbingan dan pengawasan jalan lokal yang didanai
dari anggaran negara. BPJT, yang juga di bawah bidang tersebut, bertindak sebagai
105
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
regulator dan agen kontrak untuk pembangunan dan pengelolaan jalan tol oleh
operator sektor swasta.
Lampiran Tabel 2: Kecelakan Lalu Lintas dan Kendaraan di Indonesia, 2003-2007
Tren
2003
2004
2005
2006
2007
Perkembangan
(% pertahun.)
Mobil (000 unit)
5.134
6.749
7.484
7.679
9.501
14,6
Bus(000 unit)
1.270
2.013
2.414
2.738
2.855
21,3
Truk (000 unit)
3,058
4.261
4.574
4.896
5.014
11,9
Sepeda motor (000
23.313 28.964 33.193 35.102 45.949
16,8
unit)
Jumlah Kendaraan
32.775 41.987 47.665 50.415 63.319
16,2
(000 unit)
Jumlah Kecelakaan
13
18
92
87
49
51,6
(000)
Sumber: Departemen Perhubungan, 2008
Tanggung jawab utama untuk menetapkan kebijakan nasional, standar dan pedoman
yang berkaitan dengan penggunaan infrastruktur jalan umum, lalu lintas jalan, dan
penyediaan layanan transportasi darat umum terletak pada Kementerian Perhubungan,
melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.
Berdasarkan UU 32/2004 dan 33/2004 tentang Otonomi Daerah dan Perimbangan
Keuangan yang telah diubah, Pemerintah Pusat telah mendelegasikan sebagian
tanggung jawabnya dalam mengelola sistem transportasi kepada Pemerintah Daerah,
khususnya dalam halyang terkait dengan perencanaan, pendanaan, pembangunan
dan pemeliharaan jaringan jalan. Hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan
strategis makro, termasuk infrastruktur transportasi nasional serta penetapan standar
keamanan nasional, sertifikasi, izin trayek, dan peningkatan kapasitas, merupakan hak
Pemerintah Pusat.
Semua pemerintah Daerah – pada tingkat kabupaten, kodya dan propinsi- mempunyai
Dinas-Dinas sendiri, yang tanggung jawab mereka disesuaikan dengan tugas
kementerian di pusat.
• PU: bertanggung jawab, antara lain, terhadap fungsi infrastruktur jalan dan
program daerah masing-masing.
• Dinas Perhubungan: Bertanggung jawab terhadap lalu lintas jalan dan fungsi
serta program transportasi, termasuk lisensi jalan lokal dan peraturan tarif
untuk layanan transportasi penumpang umum.
Layanan penumpang pada jalan yang benar-benar dalam kabupaten atau kota diatur
oleh kabupaten/kotamadya; jalan-jalan yang melintasi batas-batas kabupaten atau
kota diatur oleh dinas propinsi, sementara jalan-jalan yang melintasi batas propinsi
diatur oleh Ditjen Perhubungan Darat.
Di batas tertentu, sektor transportasi juga tergantung pada kementerian lain, seperti
Kementerian Dalam Negeri yang terlibat karena peranannya sebagai koordinator
106
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Pemerintah Daerah dan dalam implementasi otonomi daerah. Selain itu, Menteri
Negara BUMN bertindak sebagai wakil bagi pemerintah dan merupakan pemegang
saham dalam 18 BUMN transportasi yang terkait. Direktorat Lalu Lintas dari
Kepolisian menetapkan kebijakan dalam penegakan peraturan lalu lintas dan laporan
kecelakaan.
Investasi Publik dalam Jalan
Investasi dan pemeliharaan jaringan jalan didanai terutama melalui anggaran negara,
termasuk dukungan keuangan dari bank bilateral dan multilateral. Dapat dicatat bahwa
anggaran nasional tidak ditunjang oleh pajak pembelian kendaraan dan kepemilikan,
yang diambil oleh pemerintah daerah, dan dengan demikian tidak tersedia untuk
pemeliharaan jalan nasional dan investasi. Namun, mereka dapat digunakan untuk
pemeliharaan dan investasi jalan propinsi / kabupaten.
Lampiran Tabel 3: Anggaran Negara untuk Jalan (Tahun Anggaran 2006 - 2010)
TA 2006
Pemeliharaan
TA 2007
TA 2008
TA 2009
TA 2010
Rp
milyar
%
bagian
Rp
Milyar
%
bagian
Rp
milyar
%
bagian
Rp
milyar
%
bagian
Rp
milyar
%
bagian
3.773
50,3
10.427
77,7
11.867
71,3
12.149
60,8
14.400
58,9
Jalan
Perbaikan
Periodik
647
4.566
6.589
5.642
4.426
426
392
447
533
1.181
Pemeliharaan
rutin
Pemeliharaan
Jembatan
Perbaikan
66
276
689
730
774
Rehabilitasi
2.603
2.803
2.613
3.226
3.932
Investasi
2.912
38,9
2.423
18,1
4.349
26,1
7.038
35,2
9.243
Non fisik
809
10,8
567
4,2
423
2,5
811
4,1
797
3,3
7.494
100
13.418
100
16.639
100
19.998
100
24.440
100
Total
37,8
Sumber: Departemen Pekerjaan Umum (dokumen berbagai anggaran)
Kementerian Pekerjaan Umum, melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, secara
signifikan telah meningkatkan anggaran jalan Rp 7,5 trilyun pada tahun 2006
menjadi sekitar Rp 20 trilyun pada tahun 2009, dengan pengeluaran pada tahun 2010
diperkirakan lebih dari Rp 24 trilyun. Masalah kualitas jalan yang buruk bukan hal
yang baru, karena anggaran tahunan untuk pemeliharaan jalan sampai dengan tahun
2004 adalah kurang dari Rp 1 trilyun dibanding dengan anggaran yang dibutuhkan
Rp 20 trilyun. Namun, kemajuan terlihat jelas, setelah pemerintah meningkatkan
alokasi untuk pemeliharaan jalan dari Rp 3,8 trilyun pada tahun 2006 menjadi Rp
12,1 trilyun pada tahun 2009 dan telah dianggarkan. Rp 14,4 trilyun pada tahun 2010.
Perlu dicatat bahwa sebagian besar anggaran jalan nasional (60,8 persen) tahun 2009
dihabiskan untuk pemeliharaan, diikuti oleh 26,1 persen untuk investasi (Lampiran
Tabel 3). Ini membuktikan komitmen pemerintah untuk memelihara infrastruktur
yang ada. Namun, Indonesia juga memerlukan infrastruktur tambahan, dan ini harus
ditangani melalui investasi baru dalam infrasruktur jalan.
107
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kebijakan Pengadaan Tanah
Untuk mengurangi resiko dan memecahkan masalah pembiayaan, satu set kebijakan
pembebasan tanah untuk proyek jalan tol telah dilembagakan pada tahun 2006.
Mereka adalah:
• Pembentukan dana bergulir dengan alokasi sebesar Rp 800 milyar pada tahun
2008 dan Rp 4 trilyun pada tahun 2009 untuk membiayai pembebasan tanah.
Dana ini akan digunakanoleh operator jalan tol setelah lahan telah sepenuhnya
dibebaskan dan tersedia untuk pekerjaan pembangunan/konstruksi;
• Pembentukan fasilitas ‘land capping’, dimana investor swasta akan
dikompensasi oleh pemerintah dalam hal biaya pembebasan tanah melebihi
nilai estimasi awal. Perkiraan biaya tanah disepakati dalam perjanjian konsesi
dengan pemerintah, jadi perjanjian memberikan suatu batas atas resiko kerugian
yang mungkin dihadapi oleh investor swasta. Maka, pemerintah mengeluarkan
Peraturan Menteri Keuangan 38/2006 yang mengatur pemberian jaminan ‘land
capping’ ini. Rp 1,2 triliun dialokasikan untuk keperluan ini dalam anggaran
tahun 2010;
• Penggunaan juru taksir tanah independen, yang nilai pasar tanah yang
diperkirakannya akan digunakan sebagai harga referensi dalam perundingan
antara pemerintah dan pemilik tanah, dan meminimalkan sengketa selama
negosiasi. Pada tahun 2006, pemerintah melakukan perubahan dalam Peraturan
Presiden 36/2005 tentang pembebasan tanah untuk membuat inisiatif ini
menjadi suatu hal yang tetap.
Walaupun kebijakan/peraturan ini sudah diimplementasikan, namun hasilnya masih
dibawah yang diharapkan. Menurut Jasa Marga, negosiasi masih saja memperlambat
pembebasan lahan, dan kelebihan biaya sangat mengancam proyek yang didanai
dengan dana bergulir.
Karena pembuatan hukum baru tentang pembebasan tanah membutuhkan waktu yang
lama dan secara politik penuh dengan tantangan dalam jangka pendek, pemerintah
sedang merevisi Peraturan Pesiden 65/2006 untuk mempercepat proses negosiasi dan
pembebasan tanah. Peraturan baru tersebut akan berisi:
• Persyaratan lama yang mengatakan bahwa setidaknya 75 persen dari pemilik
tanah harus sudah menyetujui syarat-syarat pembebasan tanah sebelum
pemerintah dapat menuntut sisa pemilik tanah yang tak setuju ke pengadilan
untuk mendapatkan penyelesaian pengadilan, sedang di revisi menjadi 51
persen. Dengan pendekatan ini, sebagian besar proses dapat diperpendek, dan
penekanan lebih kepada penyelesaiandi pengadilan. Persetujuan pembebasan
tanah akan juga mempertimbangkan penaksiran harga tanah yang dilakukan
oleh juru taksir independen, berdasarkan harga pasar tanah tersebut. Kalau
dilaksanakan dengan baik, perubahan ini akan dapat mepercepat proses
pembebasan tanah, dengan tetap berpegang pada penilain harga tanah yang
adil bagi kedua pihak.
• Persyaratan yang menetapkan bahwa pembangunan bisa dimulai hanya jika
108
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
pengadilan telah memutuskan kompensasi harga tanah, telah dirubah. Sekarang,
pembangunan dapat dimulai segera setelah uang muka kompensasi harga
tanah sudah diserahkan pada pengadilan, tanpa harus menunggu keputusan
pengadilan.
• Dikeluarkannya pembekuan tanah (land freeze), yang menyebutkan bahwa jika
proyek sudah diumumkan oleh pemerintah dan sudah dimasukkanke dalam
rencana tata ruang daerah (yang dikeluarkan oleh bupati/ walikota/ gubernur)
maka transaksi jual beli tanah hanya boleh dilakukan dengan pemerintah.
Pembebasan Tanah untuk Keperluan Umum (persiapan): Dasar hukum
pembebasan tanah untuk keperluan umum adalah Peraturan Presiden No. 36/2005,
sebagaimana telah di perbaiki oleh Peraturan Presiden 65/2006. Prosesnya adalah
(digambarkan pada lampiran gambar 2) sebagai berikut:
i)
Pemilik proyek (misal badan pemerintah; lembaga kontraktor pemerintah
dalam kasus proyek PPP, atau developer sektor swasta) menyiapkan rencana
proyek;
ii) Rencana proyek juga akan mencakup identifikasi kebutuhan lahan dan
pemilihan lokasi;
iii) Proposal lokasi proyek disampaikan kepada bupati terkait (kabupaten),
walikota, atau gubernur (dalam kasus proyek antar-kabupaten), dimana
proyek itu berada;
iv) Pemerintah daerah memeriksa proposal:
a. Kantor agraria akan memeriksa semua aspek, kontrol dan status
kepemilikan tanah;
b. Lembaga lain (misalnya, lembaga lingkungan, kantor PU daerah, dll)
akan meninjau usulan dari sudut pandang perencanaan tata ruang, sosialekonomi, dan dampak lingkungan.
Lampiran Gambar 2: Pembebasan Tanah untuk Layanan Umum ( Persiapan)
Pemilik Proyek
Bupati/ Walikota/ Gubernur Dinas Pertanahan tingkat kecamatan /kota
Institusi lain
Mulai
Proposal penentuan
tempat yang resmi
1
Rencana Proyek
2
Proposal tempat
4
Proposal penetapan
tempat tak diperlukan
jika:
-Fasilitas keselamatan
umum;
-Fasilitas
darurat(penanganan
bencana)
3
Memenuhi
syarat?
Ya
Pembebasan
Tanah
7
5
6
Dekrit penetapan
tempat resmi
Tempat yang
ditawarkan ditolak:
Rekomendasi
penggantian tempat
Source: National Land Agency, 2008
109
Pemeriksaan:
-Perencanaan Tata
Ruang;
-Sosial Ekonomi;
-Lingkungan dsb;.
Tidak
Memenuhi
syarat?
Yes
Rekomendasi
tempat
Tempat yang
ditawarkan disetujui
Pengumuman dan
Sosialisasi:
-Langsung;
-Tak langsung;
(14 days)
Pemeriksaan:
-aspek penentuan tapak;
-Kontrol dan
Kepemilikan
Rekomendasi
Tempat
No
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
v)
Jika proyek telah sesuai dengan peraturan yang terkait, proposal itu akan
disetujui oleh dinas yang berwenang dan rekomendasi disampaikan kepada
Bupati/Walikota/Gubernur untuk persetujuan; jika tidak sesuai, kantor akan
merekomendasikan perubahan lokasi proyek;
vi) Bupati / Walikota / Gubernur mengeluarkan keputusan resmi penentuan
lokasi;
vii) Pemilik proyek memulai proses pembebasan tanah.
Pembebasan Tanah untuk kepentingan Umum (Pelaksanaan): Setelah proses
persiapan pembebasan tanah, proses pelaksanaan pembebasan tanah dilakukan.
(Lampiran Gambar 3):
Berdasarkan Keputusan Penunjukan Lokasi Proyek, pembangunan proyek dan rencana
pembebasan tanah, pemilik proyek akan meminta Bupati, Walikota, Gubernur untuk
membentuk Panitia Pembebasan Tanah (PPT), yang terdiri dari pejabat daerah yang
bekerja di institusi pemerintah yang terkait.
i)
ii)
PPT menyiapkan program pembebasan tanah;
Sosialisasi untuk mendapatkan persetujuan dari pemilik tanah/properti
dilakukan berkali-kali sampai sekurang-kurangnya 75 persen (sekarang
berubah menjadi 51 persen) dari masyarakat yang terkena dampak setuju
dengan rencana pembebasan tanah; jika hanya kurang dari 75 persen
(51 persen) dari masyarakat yang terkena dampak setuju dengan rencana
pembebasan tanah, PTT memberitahu pemilik proyek untuk menggunakan
Lampiran Gambar 3: Pembebasan Tanah untuk Pelayanan Umum (Pelaksanaan)
Pembebasan Tanah unuk Layanan Publik (Pelaksanaan)
Bupati/walikota/
Gubernur
Pemilik
Proyek
Keputusan
Peninjukan
tempat+Rencana
proyel+Rencana
pembebasan
tanah
1
Pembentukan
Komite
Pembebasan
Tanah
Keputusan
Pengadilan
20
Identifikasi dan
inventarisasi tanah
5
17
8
Penunjukkan tim
penaksir
19
Sertifikat
tanah baru
Risalah Rapat
Negosiasi
22
Pembangunan
Risalah rapat tentang
Kompensasi+ Tanda
terima+ Sertifikat tanah
asli+ risalah rapat
Pembebasan tanah
Sumber: Badan Pertanahan Nasional, 2008
110
Pengadilan
Daerah
Sosialisasi untk
mendapat
dukungan
4
Pengumuman
6
7
Negosiasi ttg
kompensasi
9
10
14
120
hari
berlalu
> 75%
setuju?
11b
Gagal negosiasi:
Negosiasi ulang
atau cari tanah
lain
11c
Tak ada tanah
alternatif –Ke
pengadilan untuk
kompensasi tanah
Pembayaran
Kompensasi
15a
16
11a
Tidak
Ya
Penaksiran Tanah:
Harga tanah dan
properti
12
Penentuan
Kompensasi+Daftar
penerima
Pemilik
Tanah/properti
3
Peta tanah dan daftar
pemilik resmi
Pemberitahuan
untuk mulai
21
Perusahaan/ Tim
Penaksiran
Tanah
Draft peta tanah dan
daftar pemilik
18
Permohonan
pemindahan
hak atas tanah
Komite
Pembebasan
Tanah
Sosialisasi Proyek
2
13
Pembayaran
Kompensasi
Dokumen
Pembebasan
tanah
Kantor
Tanah
daerah/kota
Tanda
terima+Penyerahan
hak atas tanah+
Sertifikat asli
Keputusan
Pengadilan ttg
kompensasi
15c
Pembayaran
kompensasi ke
pengadilan
15b
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
iii)
iv)
v)
vi)
vii)
viii)
ix)
x)
lokasi proyek alternatif, jika tidak ada lokasi proyek alternatif, PPT akan
tetap melakukan pembebasan tanah tetapi akan mencatat kegagalan
sosialisasi dalam laporannya kepada Bupati/Walikota Gubernur;
PPT memeriksa status tanah dan membuat daftar para pemilik tanah;
PPT menyiapkan peta tanah dilengkapi dengan daftar pemilik tanah;
PPT mengumumkan peta tanah dan daftar pemilik tanah untuk pemeriksaan;
Para pemilik tanah memeriksa kebenaran peta tanah, status tanah dan
kepemilikan agar PPT dapat mengeluarkan peta tanah yang resmi dan daftar
pemiliknya;
PPT menunjuk tim juru taksir tanah/perusahaan untuk menaksir harga tanah;
penilaian bangunan dan tanaman dapat juga dilakukan dengan institusi lain
(misalnya, penaksiran harga tanaman dari kantor pertanian setempat);
PPT kemudian mengundang pemilik tanah bernegosiasi; negosiasi
pembelian tanah dilakukan sampai setidaknya 75 persen (51 persen) dari
masyarakat yang terkena dampak menyetujui nilai taksiran PPT;
Setelah berhasil negosiasi maka PPT akan mengeluarkan berita acara tentang
hasil negosiasi;
Jika negosiasi gagal:
a. Negosiasi akan diulang sampai berhasil;
b. Jika gagal juga, maka PPT akan mengusulkan penggantian lokasi
proyek, atau negosiasi lagi;
c. Jika gagal negosiasi dan tidak ada pilihan lokasi lain maka PPT akan
melanjutkan kembali negosiasi sampai 120 hari. Setelah masa ini
lewat, penyelesaian akan dilakukan melalui pengadilan, dan PPT akan
meminta pada pemilik proyek untuk memberi deposito pembayaran
kompensasi pada pengadilan;
xi) PPT akan membuat daftar pemilik tanah yang sudah setuju dengan
penaksiran dan menetapkan nilai kompensasi/ganti rugi;
xii) PPT memberitahukan pemilik proyek untuk membayar kompensasi;
xiii) Pemilik tanah menerima pembayarankompensasi;
xiv) Jika:
a. pemilik tanah menerima pencairan pembayaran dan memberikan
salinan asli dari sertifikat tanah dan Pelepasan Hak Tanah ke PPT;
b. pemilik tanah tidak bisa menerima pencairan pembayaran (misalnya,
tanah sengketa hukum/keluarga), pembayaran dilakukan ke pengadilan,
dan sehingga
c. berdasarkan catatan pengadilan dan deposit pembayaran kompensasi,
pengadilan akan membuat keputusan akhir tentang penjualan tanah/
pembelian dan menetapkan nilai kompensasi.
xv) PPT mengeluarkan berita acara tentang pembayaran kompensasi, kwitansi,
salinan asli sertifikat tanah, dan berita acara pembebasan lahan (penjualan
dan pembelian);
111
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
xvi) Pemilik proyek menerima dokumen pembebasan tanah dari PPT;
xvii) Mengajukan permohonan transfer hak tanah kepada kantor agraria
kotamadya/kabupaten setempat;
xviii)Kantor agraria kotamadya/kabupaten setempatmengeluarkan sertifikat tanah
yang baru atas nama pemilik proyek;
xix) Berdasarkan surat pembebasan tanah ini maka pemilik proyek akan dapat
memulai kegiatan pembangunan;
xx) Berdasarkan keputusan pengadilan, pemilik proyek membuat permohonan
pemindahan hak milik kepada kantor agraria kotamadya/kabupaten
setempat;
xxi) Berdasarkan keputusan pengadilan, bupati/walikota/gubernur mengeluarkan
surat ijin untuk pemilik proyek untuk memulai pembangunan.
Lampiran Tabel 4: Jalan Tol yang Beroperasi
Sektor
Konsesi
Panjang
(km)
Investor
Mulai
Lamanya
(tahun)
Jakarta - Bogor – Ciawi
59,00
PT. Jasa Marga
2005
40
Cawang – Tomang
16,00
PT. Jasa Marga
2005
40
Tomang - Grogol – Pluit
7,55
PT. Jasa Marga
2005
40
Prof. Dr. Ir. Soedyatmo
(Cengkareng)
14,30
PT. Jasa Marga
2005
40
Jakarta – Cikampek
83,00
PT. Jasa Marga
2005
40
Jakarta – Tangerang
33,00
PT. Jasa Marga
2005
40
Cikampek – Padalarang
58,50
PT. Jasa Marga
2005
40
Padalarang – Cileunyi
64,40
PT. Jasa Marga
2005
40
Palimanan - Cirebon/Kanci
26,30
PT. Jasa Marga
2005
40
Semarang Seksi A,B,C
24,75
PT. Jasa Marga
2005
40
Surabaya – Gempol
49,00
PT. Jasa Marga
2005
40
Belawan - Medan - Tanjung
Morawa
42,70
PT. Jasa Marga
2005
40
Pondok Aren – Jembartan
Bintaro - Ulujami
5,55
PT. Jasa Marga
2005
40
JORR (Jakarta Outer Ring
Road)
45,37
PT. Jasa Marga
2005
40
Jembatan Tol Suramadu
5,40
PT. Jasa Marga
2009
40
Bogor Ring Road Bagian I
3,80
PT. Jasa Marga
Tangerang – Merak
73,00
PT. Marga
Sakti
Ir. Wiyoto Wiyono M.Sc.
(Cawang - Tg. Priok)
15,50
PT. CMNP Tbk
112
Mandala
2009
40
1990
30
1994
29
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Harbour Road (Pluit - Ancol Jembatan Tiga)
11,55
PT. CMNP Tbk
1994
29
Surabaya – Gresik
20,70
PT.
Margabumi
Matraraya
1991
25
Ujung Pandang Tahap I
6,05
PT. Bosowa
Nusantara
Marga
1994
30
Serpong - Pondok Aren
7,25
PT. Bintaro Serpong
Damai
1997
27
Waru – Djuanda
12,80
PT. CMNP Tbk
2008
30
Makassar Section IV
11,60
PT Jalan Tol Seksi
Empat
2008
30
TOTAL
697,07
Sumber: DG Bina Marga, PU, and Jasa Marga, 2009
Lampiran Tabel 5: Jalan Tol Dalam Perbaikan, Juni 2009
Jalan Tol
Panjang
(km)
Investor
Status
Juni 2009
Kanci – Pejagan
35,00
PT. Semesta Marga Raya
C
Surabaya – Mojokerto
34,05
PT. Marga Nujyasumo Agung
L&C
JORR Seksi W1
9,85
PT. Jakarta Lingkar Baratsatu
C
Bogor Ring Road
11,00
PT. Marga Sarana Jabar
C
Kertosono – Mojokerto
41,65
PT. Marga Hanurata Intrinsic
Lp
Cinere – Jagorawi
14,70
PT. Trans Lingkar Kita Jaya
L
Semarang – Solo
75,70
PT. Trans Marga Jateng
Gempol – Pasuruan
33,75
PT. Jasa Marga
L
L&C
Gempol – Pandaan
13,61
PT. Margabumi Adhikaraya
L
Depok – Antasari
21,55
PT. Citra Wassphutowa
L
Bekasi - Cawang - Kp.Melayu
21,04
PT. Kresna Kusuma Dyandra
Marga
L
Cikampek – Palimanan
116,00
PT. Lintas Marga Sedaya
L
Cikarang (Cibitung) - Tj.Priok
(Cilincing)
34,50
PT. MTD - CTP Expressways
D&L
Pejagan – Pemalang
57,50
PT. Pejagan Pemalang Tol Road
D&L
Pemalang – Batang
39,00
PT. Pemalang Batang Tol Road
D&L
Semarang – Batang
75,00
PT. Marga Setiapuritama
D&L
JORR W2 Utara
7,00
PT. Jasa Marga
D&L
Ciawi – Sukabumi
54,00
PT. Trans Jabar Tol
Lp & D
Waru (Aloha) - Wonokromo Tg.Perak
17,72
PT. Margaraya Jawa Tol
113
Lp
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Pasuruan – Probolinggo
45,32
PT. Trans-Jawa Paspro Jalan
Tol
Lp
Kunciran – Serpong
11,19
PT. Marga Trans Nusantara
Lp & D
Cengkareng - Batu Ceper –
Kunciran
15,22
PT. Marga Kunciran
Cengkareng
Lp
Serpong – Cinere
10,14
PT. Cinere Serpong Jaya
A
Cimanggis – Cibitung
25,39
PT. Cimanggis Cibitung
Tollways
A
Solo – Ngawi
90,10
PT. Thies Contractor Indonesia
A
Ngawi – Kertosono
87,02
PT. Thies Contractor Indonesia
A
Akses Tanjung Priok
12,10
Government (public sector
project)
L
Total
1.009,10
Sumber: BPJT, 2009
Catatan: L:Pembebasan Tanah; D:desain rekayasa rinci ; Lp:sebelum pembebasan tanah; C:konstruksi dan
A:negosiasi konsesi.
Lampiran Tabel 6. Kemajuan Konsesi Jalan Tol yang
ditandatangani sebelum Agustus 2007
Jumlah Jalan
Panjang
(Km)
Investor
Tanda
tangan
kontrak
Biaya
investasi
(Rp.
milyar)
Dana
pinjaman
(Rp.
Milyar)
Biaya
Pembebasan
Tanah (Rp.
milyar)
Pembebasan
Tanah (%)
A. Konstruksi
Makassar Seksi
IV
11,6
PT. Jalan Tol
Seksi Empat
29-Mei06
517
350
10
70,00
Kanci-Pejagan
34
PT. Semesta
Marga Raya
29-Mei06
2.095
1.381
122
96,10
Surabaya –
Mojokerto
37
PT. Marga
Nujyasumo
Agung
06-Apr06
2.953
1.526
400
9,30
JORR W1
9,7
PT. Jakarta
Lingkar
Baratsatu
02-Feb07
1.628
1.522
-
100
7.193
4.779
532
SUB TOTAL A
92,30
B. Dalam persiapan Pembebasan Tanah
Bogor Ring
Road
11,00
PT. Marga
Sarana Jabar
29-Mei06
1.577
1.158
80
63,5
Cinere –
Jagorawi
14,70
PT. Trans
Lingkar Kita
Jaya
29-Mei06
1.867
1.461
845
8,3
Kertosono –
Mojokerto
41,00
PT. Marga
Hanurata
Intrinsic
30-Jun05
2.212
1.390
191
8,4
Semarang –
Solo
75,70
PT Jasa Marga
15-Des06
6.135
4.549
800
1,9
114
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Gempol –
Pasuruan
32,00
PTJasa Marga
29-Mei06
1.800
1.3 61
220
0
Gempol –
Pandaan
13,61
PT. Margabumi
Adhikaraya
19-Des06
826
795
166
67
Depok –
Antasari
21,70
PT Citra
Waspphutowa
29-Mei06
2.516
1.796
699
0
Bekasi –
Cawang-Kp.
Melayu
21,04
PT. Kresna
Kusuma
Dyandra Marga
22-Feb07
6.185
4.018
449
9,9
Cikampek –
Palimanan
116,00
PT. Lintas
Marga Sedaya
21-Jul06
5.906
5.000
500
2,3
Cikarang –
Tanjung Priok
33,92
MTD-CTP
Expresswaya
29-Jan07
2.358
225
0
Pejagan Pemalang
57,50
PT. Pejagan
Pemalang Tol
Road
21-Jul06
3.236
2.380
189
0
Pemalang –
Batang
39,00
PT. Pemalang
Batang Tol
Road
21-Jul06
2.293
1.640
134
0
Semarang –
Batang
75,00
PT. Marga
Sediapuritama
21-Jul06
3.635
2.470
225
0
JORR W2 N
(Ulujami – Kb.
Keruk)
7,00
PT. Jasa Marga
07-Jul07
1.411
800
0
Clawi –
Sukabumi
54,00
PT. Trans Jabar
Tol
27-Jul07
4.924
726
0
Wanu (Aloha)
– Wonokromo –
Tg. Perak
18,60
PT. Margaraya
Jawa Tol
19-Jul07
6.491
1.295
0
Pasaruan –
Probolinggo
45,00
PT. Trans-Jawa
Paspro Jalan
Tol
25-Jun07
3.315
150
0
SUB TOTAL B
676,77
56.686
880
28.899
7695
C. Selesai
Ciranjang –
Padalarang
33,00
Bina Puri
Nindyacipta
Karyatama
27-Jul07
3.248
390
SUB TOTAL C
33,00
3.248
390
TOTAL
802,07
67.126
8617
Sumber: World Bank Second Infrastructure Loan (Des. 2008)
115
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
LAMPIRAN C : Pelabuhan
Kinerja pelabuhan daerah yang melayani pasar domestik buruk. Produktivitas
pelabuhan yang terkait dengan bongkar muat kapal relatif rendah. Tingkat okupansi
tambatan kapal78 dari 19 pelabuhan domestik utama di tahun 2006 adalah sekitar
57,6 persen, yang berada di atas standar kelayakan internasional 40-50 persen.
Waktu proses rata-rata adalah 82 jam (sekitar 3,5 hari). Hal ini menunjukkan bahwa
kapal di Indonesia terlalu banyak menghabiskan waktu menganggur di pelabuhan.
Produktivitas yang rendah ini disebabkan oleh kemacetan, rute dangkal, kurangnya
peralatan penanganan, dan kendala tenaga kerja (Lampiran Tabel 7). Karena rute di
Samarinda dangkal, kapal harus menunggu air pasang untuk bisa masuk ke pelabuhan.
Selain itu, peraturan tenaga kerja tidak memungkinkan untuk bekerja 24-jam, hal ini
lebih lanjut menghambat pengoperasian pelabuhan secara efektif. Oleh karena itu,
tanpa perbaikan besar dalam kapasitas pelabuhan, jika jumlah atau volume kargo
meningkat maka akan terjadi kenaikan waktu tunggu dan proses.
Lampiran Tabel 7: Kondisi Pelabuhan Regional di Indonesia
Pelabuhan
Belawan
Tingkat
perlabuhan
(%)
Waktu
tunggu
(jam)
Draft
(m)
Masalah
52,4
72,6
7-9
Padat/macet dan kurang
fasilitas bongkar muat
Palembang
34,7
61,8
4-8
Dangkal
Banjarmasin
74,7
52,0
4-9
Penuh dan dangkal
Samarinda
6,9
88,8
6-7
Padat/macet
Makassar
43,2
124,3
3-12
Padat/macet
Pelabuhan domestic rata-rata
57,6
82
Sumber: STRAMINDO – JICA, 2005; Dep Perhub, 2006;
Kontrol tarif oleh pemerintah menghambat kompetisi dan menghilangkan insentif/
doronganuntuk memperbaiki kinerja kerja. Pemerintah mengontrol tarif yang dikenakan
untuk penumpang kelas ekonomi yang diangkut oleh perusahan milik negara PELNI.
Untuk mengkompensasi biaya layanan PELNI, maka pemerintah memberikan suatu
subsidi yang dimasukkan pada mata anggaran Dana Subsidi Layanan Publik pada
anggaran negara. Tarif pelabuhan juga ditentukan oleh pemerintah dan besarannya
distandarkan untuk seluruh pelabuhan yang mengurangi peluang untuk kompetisi.
Dalam banyak hal, tarif pelabuhan ditetapkan di bawah tingkat pemulihan biaya
(dengan pengecualian untuk pelabuhan utama yang melayani pelayaran domestik),
dan dengan demikian, biaya operasi dan pemeliharaan tidak dapat sepenuhnya
tertutupi. Peraturan tarif oleh pemerintah dan subsidi-silang pelabuhan oleh Pelindo
tidak memberikan insentif bagi penyediaan layanan. Kecil kemungkinan situasi ini
akan membaik, karena hukum maritim baru menunjukkan bahwa pemerintah akan
terus mempengaruhi penetapan tarif melalui penetapan jenis, struktur dan kelompok
Tingkat okupansi tambatan kapal adalah total tahunan lamanya kapal tertambat dibagi dengan jam secara total dalam
setahun
78
116
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
konsumen, tetapi tidak melalui tingkat tarif yang diperbolehkan(harga dasar dan harga
paling tinggi). Oleh karena itu, hal ini akan menghambat terciptanya kompetisi dalam
harga dan layanan.
Intervensi pemerintah dalam kegiatan pesisir dan peraturan tenaga kerja juga
menghalangi operasi pelabuhan secara efektif. Sampai diimplementasikannya
secara efektif hukum maritim baru pada tahun 2011, operasi pelabuhan kegiatan
pesisir dikelola oleh administrator pelabuhan (ADPEL), terutama dalam kaitannya
dengan navigasi kapal dan keselamatan. Pengalokasian kapal ke tempat berlabuh
kapal merupakan tanggung jawab bersama dari kedua operator pelabuhan PELINO
dan ADPEL, dan cara ini tidak mendorong operasi pelabuhan yang efisien. ADPEL
juga mengatur dan melaksanakan implementasi peraturan tenaga kerja di operasi
pelabuhan. Hal ini tidak mendorong terbentuknya suatu operasi pelabuhan kelas dunia
karena peraturan yang ada hanya membolehkan satu jam kerja satu giliran (single
shift working hours).
Kurangnya keamanan meningkatkan biaya kargo dari dan ke Indonesia. Pada Mei
2007, sekitar 226 pelabuhan di Indonesia telah menerima sertifikat kepatuhan
ISPS, dimana sekitar 16 diantaranya diakui oleh US Coast Guard telah memenuhi
persyaratan penuh. Jadi kapal yang datang dari 16 pelabuhan tersebut tidak perlu
menjalani prosedur keamanan ekstra sebelum memasuki pelabuhan-pelabuhan AS.
Meskipun ada perkembangan ini, pengiriman kargo dari Indonesia biasanya menarik
premi asuransi 30-40 persen lebih tinggi dari kargo yang berasal dari Singapura79.
Menurut Carana (2004), ini bukan hanya disebabkan oleh pembajakan di laut, tapi
juga oleh kegiatan kelompok kejahatan terorganisir di pelabuhan, pencurian umum
dan pencurian, serta pemogokan dan penghentian kerja.
Operator pelabuhan milik negara PELINDO mendominasi industri. Setiap pulau
besar di Indonesia setidaknya memiliki satu kota pelabuhan penting. Indonesia
memiliki 1.887 pelabuhan, dimana 725 adalah pelabuhan umum, dan 141 diantaranya
melayani perdagangan internasional. Dari pelabuhan umum, 111 pelabuhan komersial
yang dikelola oleh empat perusahaan milik negara (BUMN), yang dikenal sebagai
PELINDO I hingga IV. Enam ratus empat belas pelabuhan umum lainnya yang
dianggap non-komersial (cenderung tidak menguntungkan dan bernilai strategis
kecil), dikelola oleh Unit Operator Pelabuhan di bawah naungan Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan. Sisanya merupakan pelabuhanpelabuhan swasta yang melayani keperluan tertentu dari perusahaan pribadi/pemilik
pada sejumlah industri termasuk pertambangan, minyak dan gas, perikanan dan
pariwisata. Indonesia memiliki empat pelabuhan utama: Medan di Sumatera Utara,
Ujung Pandang di Sulawesi Selatan, Tanjung Perak Surabaya di Jawa Timur, dan
Tanjung Priok di Jakarta, semua dikendalikan oleh empat PELINDO. Sampai
dengan tahun 2011 ketika hukum maritim menjadi efektif, PELINDO menikmati
monopoli di pelabuhan komersial utama, bertindak sebagai operator pelabuhan dan
sekaligus otoritas pelabuhan. Namun, tidak semua pelabuhan yang dioperasikan
oleh PELINDO menguntungkan. Patunru et al (2007) mencatat bahwa PELINDO
79
Ray, David, Indonesian Port Sector Reform and the 2008 Shipping Law, USAID, 2008
117
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
diwajibkan secara hukum untuk melakukan subsidi silang satu sama lainnya untuk
memastikan kesinambungan keuangan secara keseluruhan dan untuk memenuhi
kewajiban layanan umum.
Kinerja pelayanan pelabuhan di bawah yang diharapkan. Kinerja pelayanan pelabuhan
belum memenuhi harapan pengguna dan berada di bawah standar internasional.
Beberapa penyebab utamanya adalah kekurangan infrastruktur dasar pelabuhan dan
rendahnya kapasitas pelabuhan untuk menangani kapal besar . Tanjung Priok, terminal
kontainer terbesar di Indonesia, adalah yang paling tidak kompetitif dibandingkan
dengan pelabuhan besar lainnya di daerah (Lampiran Tabel 8). Pengguna telah risau
karena proses birokrasi, waktu penyelesaian yang lama (suatu ukuran agregate tentang
waktu kapal yang dibutuhkan untuk berada di pelabuhan, termasuk waktu tunggu,
waktu pendekatan, waktu menganggur/idle, dan waktu kerja), dan akses ke pelabuhan
yang amat buruk telah membuat transportasi kargo mahal dan lambat. Selain itu,
tingkat ‘draft’ pelabuhan hanya dapat menerima kapal-kapal dengan maksimum
ukuran 3.000- 3.500020 kaki unit ekivalen (Twenty-foot Equivalent Units-TEU), dan
dengan demikian hanya sedikit kapal-kapal besar masuk ke pelabuhan Indonesia.
Lampiran Tabel 8: Lalu lintas container di pelabuhan (Ribu TEU), 2006
Tanjung Priok Laem Chabang Port Kelang
Jakarta
Bangkok
Malaysia
Pengurusan Impor (hari)
5,5
3
1–3
Keluar masuk kontainer (juta TEU)
3,81
4,12
6,32
Waktu tunggu kapal (jam)
6 – 12
0
0
Sumber: Poesposoetjipto, 2007
Sekilas tentang Kerangka Peraturan
Hukum maritime yang baru menganjurkan pemisahan antara fungsi pengaturan dan
operasi dari pemerintah, desentralisasi, partisipasi sektor swasta. UU 17/2008 tentang
transportasi laut memisahkan peran pengaturan dari sebuah otoritas pelabuhan
dari operator pelabuhan yang berorientasi komersial. Otoritas pelabuhan mewakili
pemerintah dalam pemberian konsesi pelabuhan atau lisensi lain untuk layanan
pendukung, seperti sewa tanah, gudang, dan terminal penumpang pada operator sektor
swasta. Untuk pelabuhan komersial, pemerintah telah membentuk otoritas terpisah
untuk setiap pelabuhan yang bertanggung jawab kepada Menteri Perhubungan,
sedangkan untuk pelabuhan non-komersial (yaitu, pelabuhan yang melayani daerah
terbelakang), otoritas pelabuhan adalah Satuan Operasi Pelabuhan yang didirikan
oleh pemerintah pusat (yaitu, Kementerian Perhubungan ) atau pemerintah daerah
(Gubernur/ Bupati). Undang-undang ini akan berlaku efektif pada tahun 2011,
dan akan memisahkan otoritas pelabuhan dan operator. Hal ini akan menciptakan
kesamaan peranan karena PELINDO akan berfungsi sebagai operator pelabuhan
dengan cara yang sama sebagaimana operator swasta lain.
Selain itu, hukum ini juga memvalidasi Instruksi Presiden tahun 2005 yang mewajibkan
penerapan prinsip cabotage, yang mengharuskan kapal-kapal yang melayani pasar
Indonesia untuk terdaftar di Indonesia (memakai bendera Indonesia). Penggunaan
118
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
prinsip-prinsip cabotage diharapkan dapat meningkatkan industri pelayaran nasional,
karena semua perusahaan (baik domestik maupun asing) harus mendaftarkan
kapal mereka di Indonesia, membawa investasi, menyiapkan bisnis, menggunakan
asuransi dan jasa perbankan, sehingga akan menciptakan lapangan pekerjaan.
Undang-undang baru ini juga mengadopsi dan meratifikasi standar internasional
mengenai keselamatan, keamanan (Kode Keamanan International untuk Kapal dan
Fasilitas Pelabuhan – International Ships and Port Facility Security Code-ISPS), dan
perlindungan lingkungan (Konvensi Internasional untuk Pencegahan Pencemaran
dari Kapal- International Convention for Prevention of Pollution from Ships).
Desentralisasi dapat melemahkan manajemen publik pelabuhan regional kecil.
Alokasi penyediaan pelayanan publik antara pemerintah pusat dan daerah ditangani
dalam peraturan umum tentang otonomi daerah. Untuk transportasi laut, hukum laut
yang baru memberikan gambaran yang lebih rinci tentang wewenang pelabuhan yaitu
dengan memberikan kewenangan pelabuhan komersial besar kepada pemerintah
pusat dan pelabuhan kecil untuk pemerintah daerah. Namun, banyak pemerintah
daerah enggan untuk menerima tanggung jawab terhadap pelabuhan kecil dan,
secara finansial, tidak menguntungkan, yang dibebankan oleh pemerintah pusat,
karena tanggung jawab ini dapat mempengaruhi (secara negatif) anggaran mereka.
Sebenarnya, Indonesia dengan lebih dari 17.000 pulau harus bergantung pada banyak
pelabuhan-pelabuhan kecil ini untuk menghubungkan pulau-pulau terpencil. Oleh
karena itu, sangat diperlukan upaya terpadu untuk mendorong pemerintah daerah
agar mencurahkan sumber daya tambahan pada pelabuhan kecil. Hal ini dapat dicapai
melalui hibah yang berdasarkan kinerja yang dirancang dengan baik.
Lampiran 9. Kuesioner Indeks Kinerja Logistik (dari 150 negara)
Berdasarkan pengalaman anda
dalam
logistic
internasional,
silahkan ambil pilihan yang paling
Persentasi responden yang menjawab tinggi/sangat tinggi
tepat yang paling menggambarkan
keadaan operasi logistik di negara
tempat anda bekerja
Indonesia
Malaysia
Filipina
Thailand
Vietnam
Biaya Pelabuhan/ bandara
43,75%
50%
66,67%
0
7,69%
Keseluruhan biaya logistik (mis.
Biaya
Pelabuhan,
transport
domestik, biaya agen dll.)
37,50%
25%
50%
0
23,08%
Biaya layanan gudang
18,75%
0
33,33%
0
23,08%
Transportasi Kereta Api
18,75%
0
100%
0
7,69%
25%
0
33,33%
0
30,77%
18,75%
25%
66,67%
0
23,08%
Biaya layanan muatan kurang dari
satu truk
Biaya muatan satu truk penuh
Kualitas Infrastruktur
Nilailah kualitas infrastruktur yang
dipakai untuk operasi logistik di
negara tempat anda bekerja
Persen responden yang menjawab rendah/sangat rendah
119
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Indonesia
Malaysia
Philippines
Thailand
Vietnam
Infrastruktur telekomunikasi dan
layanan
26,67%
0
0
0
7,69%
Infrastruktur
transportasi tak
bergerak (mis. pelabuhan, jalan,
gudang)
46,67%
0
66,67%
0
8,33%
efektifitas dan efisiensi proses
Persen dari responden menjawab tinggi/sangat tinggi
Indonesia
Malaysia
Filipina
Thailand
Vietnam
Apakah
pedagang
yang
menunjukkan tingginya kepatuhan
tinggi mendapat kliring Bea Cukai
dengan cepat?
25%
75%
0
25%
30,77%
Apakah
dokumen
kepabean
dapat dikirim dan diproses secara
elektronik?
75%
75%
0
25%
15,38%
Apakah anda menerima informasi
yang layak dan tepat waktu jika ada
perubahan peraturan?
31,25%
75%
33,33%
25%
38,46%
Apakah pengeluaran barang impor
merupakan proses transparan?
31,25%
50%
0
0
38,46%
Apakah pengapalan ekspor di
kliring dan di kirim sesuai jadwal?
93,75%
100%
66,67%
100%
84,62%
Apakah pengapalan Import di
kliring dan dikirim sesuai jadwal?
37,50%
100%
0
75%
61,54%
Tingkat kempetensi jabatan
Nilai kempetensi jabatan berikut di
negara tempat anda bekerja
Persen responden menjawab tinggi/sangat tinggi
Filipina
Thailand
Asosiasi yang berhubungan dengan
transportasi dan perdagangan
Indonesia
17,65%
0
0
66,67%
25%
Agen
pemerintah
yang
berhubungan dengan urusan antar
perbatasan
5,88%
0
33,33%
25%
16,67%
Petugas pabean
29,41%
0
33,33%
25%
23,08%
Perusahaan pengiriman barang
47,06%
0
66,67%
50%
46,15%
23,53%
0
100%
50%
30,77%
29,41%
25%
0
50%
23,08%
Penyedia jasa transportasi udara
52,94%
50%
0
75%
46,15%
Penyedia
kereta api
transportasi
11,76%
0
100%
25%
0
Penyedia layanan transportasi jalan
raya
23,53%
25%
33,33%
50%
15,38%
broker pabean
11,76%
25%
33,33%
50%
38,46%
Penerima atau pengirim barang
Operator
distribusi
pergudangan
layanan
dan
Malaysia
120
Vietnam
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Perkembangan faktor di 3 tahun
belakangan
Nilai perkembangan faktor berikut
di 3 tahun belakangan di negara
tempat anda bekerja
Persen dari responden menjawab membaik/jauh membaik
Indonesia
Situasi bisnis keseluruhan
Malaysia
Filipina
Thailand
Vietnam
40%
50%
33,33%
50%
76,92%
20%
75%
0
50%
46,15%
40%
50%
33,33%
0
38,46%
Adanya layanan swasta
40%
75%
33,33%
75%
61,54%
Kualitas
telekomunikasi
60%
50%
33,33%
50%
84,62%
Kualitas infrastruktur transportasi
46,67%
66,67%
33,33%
75%
69,23%
Prosedur kliring oleh badan
pemerintah yang berkaitan dengan
perbatasan dengan negara lain
26,67%
50%
0
25%
69,23%
Prosedur kliring di pabean
53,33%
50%
33,33%
25%
69,23%
Tata Kelola yang
pembasmian korupsi
baik
dan
Regim peraturan
infrastruktur
Insiden dalam kegiatan anda
tentang kendala berikut, dinegara
tempat anda bekerja
Nilai Insiden dalam kegiatan anda
tentang kendala berikut, dinegara Persen responden menjawab tinggi/sangat tinggi
tempat anda bekerja
Indonesia
Malaysia
Filipina
Thailand
Vietnam
Permintaan biaya tidak resmi
37,50%
50%
100%
50%
23,08%
Kejadian kriminal (mis. Kargo
yang dicuri)
6,25%
0
33,33%
0
0
Keterlambatan
besar
inspeksi pra- pengapalan
karena
12,50%
0
66,67%
0
30,77%
Keterlambatan
besar
penggudangan wajib
akibat
12,50%
25%
0
0
7,69%
Sumber: World Bank, 2007. Connecting to Compete. Trade Logistics in the Global Economy. The Logistics Performance
Index and its Indicators.
121
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
LAMPIRAN D: Kereta Api
Sekilas tentang Kerangka Kerja Peraturan
Desain kelembagaan mempersulit koordinasi dalam investasi dan operasi jaringan
kereta api. Sektor kereta api di Indonesia dibuat meniru sistem Uni Eropa yang
memisahkan infrastruktur dan pengoperasian saham bergerak (rolling stock), di mana:
• Pemerintah memiliki dan memelihara infrastruktur tetap perkereta-apian,
tetapi PTKA yang melakukan pekerjaan yang sebenarnya. Pemerintah
mengganti biaya yang berkaitan dengan Pemeliharaan Infrastruktur dan Biaya
Operasional ke PTKA;
• PTKA hanya memiliki aset bergerak (rolling stock), dan harus membayar
Biaya Akses Trak/Rel (Track Access Charge-TAC) pada pemerintah untuk
penggunaan fasilitas infrastruktur kereta api;
• Selain Biaya Pemeliharaan Infrastruktur dan Biaya Operasional, pemerintah
berkewajiban untuk membayar PTKA untuk kewajiban pelayanan public
(public service obligation-PSO) yang dilakukan oleh PTKA dalam layanan nonkomersial. Ini dihitung berdasarkan selisih antara biaya dan tarif penumpang
kelas ekonomi yang diatur oleh pemerintah.
Meskipun pengaturan keuangan yang dijelaskan di atas secara teori tidak bermasalah,
dalam prakteknya sebenarnya tidak efektif. Pembayaran pemeliharaan infrastruktur
dan biaya operasional dan kewajiban pelayanan publik dari pemerintah lebih rendah
dari jumlah yang telah diusulkan dan disepakati. Kurangnya dana dari pemerintah
disebabkan oleh kendala anggaran dan perselisihan pendapat tentang besaran jumlah
yang harus dibayarkan80. Pada tahun 2007, $ 70 juta pembayaran biaya pemeliharaan
infrastruktur dan biaya operasional dari pemerintah dikompensasi dengan kewajiban
pembayaran Biaya Akses Trak (TAC) dari PTKA, sehingga menimbulkan infrastruktur
yang terakumulasi dan bermasalah dan keterlambatan pemeliharaan aset berjalan.
Selain itu, tidak jelas apakah pembayaran yang diterima oleh PTKA benar-benar
digunakan untuk perawatan rel kereta api.
Sesuai dengan peraturan kereta api yang lama, PPP dengan perusahaan swasta asing
tidak diizinkan. Berdasarkan undang-undang kereta api yang baru, perusahaan swasta
mana saja diizinkan untuk berinvestasi di sektor ini. Namun, struktur institusional
saat ini (infrastruktur dipisahkan dari operasi), dan implementasi biaya akses trak
merumitkan pelaksanaan PPP. Meskipun demikian, peraturan ini memungkinkan
layanan kereta api oleh pihak ketiga di luar PTKA. Kerumitan muncul karena
operator pihak ketiga harus membayar biaya akses trak kepada pemerintah dan biaya
pemeliharaan infrastruktur kepada PTKA.
Peraturan Baru tersedia, tapi sedang menunggu pelaksanaan. Undand-undangperkereta
apianbaru telah berlaku sejak 2007 (UU 23/2007) yang membawa dua perubahan
penting: (i) penghilangan monopoli PTKA sebagai penyedia jasa tunggal; dan (ii)
keterlibatan pemerintah daerah dalam pengembangan sektor kereta api dalam daerah
80
Lubis, Harun Al-Rasyid, Roadmap for National Railway Institutional Development, 2008.
122
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
hukum masing-masing. Penghapusan monopoli PTKA membuka pasar bagi sektor
swasta untuk bersaing dengan PTKA dalam investasi di kereta api. Undang-undang
ini baru akan efektif dalam tiga tahun ini,, karena peraturan pelaksanaan sedang dalam
persiapan, dan reformasi kelembagaan PTKA dan Kementerian Perhubungan sedang
dilaksanakan. Detil peraturan tentang bagaimana sektor swasta bisa berpartisipasi
dalam jaringan kereta api yang sudah ada juga sedang dipersiapkan oleh Kementerian
Perhubungan.
Investasi Sektor Publik dalam Infrastruktur Kereta Api
Tidak ada pengaturan investasi sektor public yang jelas untuk sektor kereta api.
Pemerintah menyediakan investasi untuk ekspansi jalan kereta api dan mengganti
kembali biaya operasi dan pemeliharaan ke PTKA. Selain biaya operasi dan
pemeliharaan infrastruktur, PTKA menerima pembayaran kewajiban pelayanan
publik untuk mengembalikanbiaya subsidi penumpang kelas ekonomi. Pembayaran
kewajiban pelayanan publik periode 2003-2007 disajikan pada Lampiran Tabel
10. Meskipun PTKA melaporkan laba kecil, laba yang sebenarnya tak jelas akibat
kurangnya transparansi dan disebabkan oleh adanya pengaturan keuangan dengan
pemerintah yang terkait dengan pembayaran biaya operasi dan pemeliharaan, biaya
akses trek/rel dan pembayaran kewajiban pelayanan publik.
Lampiran Tabel 10: Pembayaran Kewajiban Pelayanan Publik pada PJKA
Kewajiban Pelayanan Publik
yang dihasilkan (juta rupiah)
2003
2004
2005
2006
2007
106.200
140.000
270.000
350.000
425.000
32
93
30
21
Pertumbuhan (%)
Sumber: Departemen Perhubungan, 2007
123
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
LAMPIRAN E: Transportasi Udara
Jumlah kedatangan dan keberangkatan pesawat internasional meningkat secara
signifikan: Jumlah kedatangan penerbangan internasional meningkat dari 23.000
pada tahun 1990 menjadi 48.000 di tahun 2007 (kenaikan tahunan rata-rata 4 persen).
Demikian pula, keberangkatan internasional meningkat dari 23.000 ke 49.400,
menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 3,8 persen selama periode yang sama.
Demikian pula, sehubungan dengan kargo, kedatangan meningkat sebesar 7,2 persen
sementara keberangkatan naik sebesar 2,6 persen selama 1990-2007 (Lampiran
Gambar 4). Namun, perlu dicatat bahwa selama tahun 2006 dan 2007, baik kedatangan
dan keberangkatan kargo mengalami penurunan.
60,000
Lampiran Gambar 4: Kedatangan dan Keberangkatan Pesawat dan
Kargo Internasional, 1990-2007
180,000
50,000
160,000
140,000
40,000
120,000
100,000
30,000
80,000
20,000
(Ton)
(jumlah)
200,000
60,000
40,000
10,000
20,000
0
Kedatangan Pesawat (jumlah)
Kedatangan Kargo (Ton)
2007
2006
2005
2004
2003
2002
2001
2000
1999
1998
1997
1996
1995
1994
1993
1992
1991
1990
0
Keberangkatan Pesawat (jumlah)
Keberangkatan Kargo (Ton)
Sum ber: Badan Pusat Statistik, Jakarta - Indonesia: Transportation and Communication Statistics, 2007
Kebijakan desentralisasi untuk manajemen bandara telah gagal. Ada 187 bandar
udara di Indonesia yang dioperasikan oleh pemerintah dan dua operator bandara
milik negara, Angkasa Pura (AP). Dua puluh tiga bandara komersial dikendalikan
oleh AP, dan sekitar 26 dikendalikan oleh pemerintah pusat melalui Unit Pelaksana
Teknis Bandar Udara di bawah pengawasan Kementerian Perhubungan. Yang 138
lainnya adalah bandara non-komersial, tidak menguntungkan dan bernilai strategis
kecil. Selain ini, ada lebih dari 300 lapangan terbang perintis di daerah terpencil
yang melayani penerbangan terjadwal. Sebagian besar bandara non-komersial dan
lapangan terbang non-komersial berada di kawasan timur Indonesia. Wilayah ini
memiliki kepadatan penduduk relatif rendah, jarak yang jauh, dan pulau yang tersebar
dan daerah pegunungan, yang membuat akses melalui jalan dan perairan sulit, mahal
dan tidak praktis. Meskipun ada kebijakan desentralisasi, tidak ada pengelolaan
bandar udara tersebut berhasil ditransfer ke pemerintah daerah karena pemerintah
daerah tidak mau menanggung pengelolaan bandara yang berbiaya tinggi.
124
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Sekilas tentang Kerangka Peraturan
Hukum penerbangan yang baru mengusulkan desentralisasi dan lebih banyak
partisipasi sektor swasta. Sektor transportasi udara mengalami reformasi dengan
adanya sebuah undang-undang penerbangan baru pada tahun 2009. UU 1/2009
tentang transportasi udara memperkuat kewenangan pemerintah daerah dalam
mengelola bandara setempat, dengan mempertahankan pengontrol lalu lintas udara
dan bandara yang berfungsi sebagai ‘hub’ tetap dibawah wewenang pemerintah
pusat. Menurut undang-undangini, pemerintah daerah akan dapat memberikan lisensi/
konsesi ke sektor swasta, dan mengatur tarif bandara. Namun pengembangan bandara
baru, termasuk bandara baru dengan fungsi lokal, akan tetap di bawah pengawasan
pemerintah pusat (seperti yang disyaratkan oleh peraturan keselamatan penerbangan).
Partisipasi swasta didorong melalui penggunaan kemitraan publik-swasta, dengan
pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah sebagai otoritas kontrak, dan Angkasa
Pura I dan II dibatasi fungsinya sebagai operator bandara.
Undang-undang penerbangan baru mengamanatkan pembentukan pengontrol lalu
lintas udara terpadu di seluruh Indonesia. Operasi kontrol lalu lintas udara oleh pihak
yang berbeda (Kementerian Perhubungan menjadi pemain kunci) menimbulkan
masalah perencanaan dan koordinasi dalam memperkenalkan teknologi yang lebih
tinggi, sistem baru dan prosedur, serta perencanaan dan pembangunan sumber
daya manusia. Dengan dibentuknya sistim kontrol lalu lintas udara tunggal yang
bertanggung jawab atas maskapai penerbangan Indonesia, operasi konrol lintas udara
dapat dilakukan oleh badan independen, yang ketertarikannya, insentif, dan kinerja
keuangannya tidak akan dikaitkan dengan operasi bandara.
Kepatuhan terhadap peraturan keselamatan dan keamanan internasional. Undangundang penerbangan baru juga mendorong kepatuhan kepada peraturan keamanan
internasional baru, seperti pengenalan tentang polisi udara, agen yang tertib, dan
pemeriksaan bagasi100 persen.
125
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
LAMPIRAN F: Listrik
Sekilas tentang Kinerja PLN- Badan Usaha Milik Negara
PLN mendominasi sektor listrik di Indonesia, termasuk transmisi, distribusi dan
penyaluran. Partisipasi swasta dalam pembangkit listrik terbatas melalui kerjasama
dengan PLN yang bertindak sebagai pembeli eksklusif dari produsen listrik swasta.
Pada tahun 2007, kapasitas dayaterpasang di Indonesia mencapai 44,5 gigawatts
(GW), yang 25,2 GW (56,6 persen) dimiliki oleh PLN. Kapasitas pembangkit nonPLN ini dimiliki oleh produsen listrik kaptif (captive)81 (14,8 GW), produsen swasta
(4.3 GW), dan koperasi (0,2 GW). Yang pertama terdiri dari sekitar 10.000 perusahaan
industri dan yang lain harus mengandalkan pembangkitan listrik pribadi karena tidak
tersedianya pasokan PLN atau kekhawatiran terhadap keamanan pasokan. Generator
diesel merupakan hampir 60 persen dari kapasitas kaptif, dan pusat pembangkitan
listrik kogenerasi (cogeneration) sekitar 25 persen82. Kapasitas kaptif dibagi hampir
sama antara sistem Jawa-Madura-Bali (JAMALI) dan pulau-pulau sekitarnya.
PLN mengoperasikan empat jaringan utama di JAMALI, Sumatera Utara, Sumatera
Selatan, dan Sulawesi Selatan, dan sekitar 600 sistem yang terpisah di pulau-pulau
kecil lainnya. Jaringan JAMALI adalah yang terbesar, melayani sekitar 60 persen
dari total penduduk Indonesia (sekitar 133 juta orang), ini merupakan hampir tiga
perempat dari kapasitas PLN. Keterkaitan antara PLN dan pemerintah dilaporkan
dalam Lampiran Kotak 1.
Kriteria keandalan yang digunakan dalam perluasan sistem perencanaan adalah
untuk mempertahankan rasio marjin cadangan sekitar 30 persen, dan probabilitas
hilangnya beban 1 hari/tahun83. Secara umum, PLN berencana untuk mengurangi
penggunaan minyak dalam pembangkit listrik menjadi nol persen, dan meningkatkan
penggunaan energi terbarukan dan energi alam. Kapasitas baru dikembangkan
melalui pembangunan atau perluasan pusat pembangkit PLN sendiri, Produsen
Listrik Swasta, atau pembelian tenaga yang kelebihan dari pembangkit kaptif. Opsi
ini diambil dan dan dijalankan berdasarkan optimisasi faktor kapasitas pembangkit
dan biaya minimum produksi listrik (Lampiran Kotak 2).
Karena tingkat pemasangan listrik rendah di Indonesia, pemerintah terus memberikan
pendanaan langsung untuk sambungan baru rumah tangga di daerah pedesaan.
Dengan harga minyak relatif lebih tinggi, biaya operasi tenaga listrik kaptif
meningkat, sementara tarif listrik tetap mendapat subsidi yang tinggi. Oleh karena ini
maka tenaga listrik kaptif kemudian mencari pasokan dari PLN. Hal ini, digabung
dengan penyambungan baru untuk pelanggan perumahan, bisnis, dan industri, serta
pemasangan listrik di pedesaan, adalah faktor utama mengapa permintaan pasokan
listrik PLN terus meningkat.
Suatu Produsen Listrik Kaptif (captive power producer) adalah pemilik pusat pembangkit tenaga listrik yang
menghasilkan listrik untuk konsumsi sendiri.
82
Generator Diesel tetap menjadi opsi yang terpercaya walaupun harga bahan bakar internasional amat tinggi, karena
pemerintah memberikan subsidi yang tinggi untukbahan bakar.
83
Berarti adanya peluang permintaan puncak melampaui kapasitas yang tersediahanya satu hari dalam setahun.
81
126
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Lampiran Kotak 1: Keterkaitan PLN dengan Pemerintah
Pendirian PLN dan pengelolaan listrik diatur oleh UU No 15/1985 yang memberikan kontrol atas
pasokan listrik untuk sebuah perusahaan milik negara yang ditunjuk oleh pemerintah. Pada tahun
1994, PLN secara hukum ditetapkan sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (“PKUK “)
dan secara khusus diberi tugas oleh pemerintah untuk menyediakan listrik dan menjalankan bisnis
pendukung lainnya. Pengumuman tentang Undang-Undang baru Listrik UU No 30/2009 pada 23
September 2009 mencabut “PKUK” listrik dari PLN, yang menghapus monopoli. Namun, ini tidak
akan dilaksanakan dalam dua tahun yang akan datang, sementara pemerintah mengeluarkan peraturan
pelaksanaan penegakan sistem perizinan untuk usaha listrik. Untuk sementara, PLN berinteraksi dengan
pemerintah pada tiga tingkatan:
Pemerintah sebagai pemegang saham: Pemerintah Indonesia, diwakili oleh Menteri Negara BUMN
memiliki 100 persen saham PLN. Pemerintah berkomitmen untuk kesinambungan jangka panjang PLN
sebagai bagian dari tujuan PLN untuk menjamin pasokan listrik yang stabil di Indonesia. Dukungan
keuangan disediakan kepada PLN melalui subsidi (untuk menutupi perbedaan antara biaya aktual dan
tarif yang lebih lebih rendah), perpanjangan jatuh tempo pinjaman pemerintah, konversi tunggakan
bunga dan denda menjadi modal, keringanan bunga atas penangguhan pembayaran pajak tertentu,
dan dengan memberikan PLN waktu tambahan untuk membayar bahan bakar yang dipasok ke PLN
oleh Pertamina (badan usaha milik negara dalam minyak dan gas). Subsidi listrik dimasukkan dalam
anggaran negara dan peraturan yang berlaku mengharuskan pemerintah untuk menutupi kerugian
PLN yang timbul akibat tarif listrik yang diatur pemerintah yang lebih rendah dari biaya PLN dalam
menyediakan listrik ke pelanggan.
Pemerintah sebagai pemberi subsidi: UU No 19/2003 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara
ditetapkan, yang menentukan bahwa, jika suatu badan usaha milik negara yang ditetapkan pemerintah
secara khusus untuk melakukan tugas layanan publik dan tugas tersebut tidak layak secara finansial,
pemerintah harus membayar kompensasi biaya ditambah dengan suatu marjin . Pemerintah, oleh
karena itu, wajib untuk mengkompensasi PLN atas selisih biaya antara biaya PLN untuk menghasilkan
listrik dengan harga yang diizinkan bagi PLN untuk membebankan pada pelanggan. Pada tahun 2009,
subsidi yang disisihkan untuk PLN sekitar 1,5 persen dari PDB.
Pemerintah sebagai Regulator: Pemerintah mengatur pembangkitan, transmisi dan distribusi listrik di
Indonesia melalui Kementerian Enerji dan Sumber Daya Mineral. Secara khusus, kebijakan pemerintah
tentang hal-hal seperti tarif listrik dan subsidi dapat berdampak signifikan terhadap posisi kompetitif,
operasi dan kondisi keuangan PLN.
Kaitan hukum dengan DPR dan Departemen
•
•
•
•
•
•
Parlemen memeriksa dan menyetujui anggaran negara, yang meliputi subsidi yang harus dibayar
kepada PLN.
Menteri Negara BUMN menyetujui anggaran tahunan PLN, termasuk jumlah subsidi, pada
pertemuan pemegang saham PLN dan rencana pendanaan dan investasi jangka panjang PLN untuk
periode lebih dari satu tahun.
Kementerian Keuangan memonitor keuangan PLN dan menyediakan pinjaman luar negeri, hibah
dan subsidi kepada PLN. KementerianKeuangan dan BAPPENAS menyetujui proyek-proyek
investasi (sebagai bagian dari anggaran pemerintah).
Kementerian Enerji dan Sumber Daya Mineral adalah regulator utama PLN. Kementerian
menyiapkan proposal tarif listrik PLN. Tarif listrik tersebut kemudian ditetapkan oleh Presiden
Republik Indonesia setelah berkonsultasi dengan DPR. Kementerian Enerji dan Sumber Daya
Mineral mengeluarkan lisensi, kebijakan dan peraturan yang berkaitan dengan penjualan listrik
dan metodologi pengadaan dengan Produsen Listrik Swasta dan mengeluarkan rencana listrik
nasional secara umum.
BAPPENAS bertanggung jawab untuk menetapkan kebijakan investasi nasional dan memberikan
persetujuan untuk pinjaman luar negeri, hibah dan proyek-proyek investasi, yang juga merupakan
bagian dari anggaran pemerintah.
Kementerian Lingkungan Hidup memonitor kepatuhan terhadap undang-undang lingkungan
hidup.
127
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Lampiran Kotak 2: Program Jalur Cepat (Fast Track) PLN 10 ribu MW
Dalam rangka mengurangi ketergantungan PLN terhadap bahan bakar minyak dan meningkatkan
s portofolio pembangkit tenaga listrik, pemerintah memperkenalkan apa yang disebut Fast Track
Program, yang menugaskan PLN untuk membangun pembangkit listrik tenaga batubara di 40 lokasi
di seluruh Indonesia. Sepuluh di antaranya di Jawa-Bali (lihat tabel di bawah ini) dengan total
kapasitas sekitar 6.900 MW, dan 30 lainnya berada di luar Jawa-Bali dengan total kapasitas sekitar
1.852 MW. Pusat pembangkit listrik tersebut harus dibangun dan beroperasi pada 2010, menggantikan
sekitar 2.400 MW pembangkit listrik berbahan bakar minyak. Pada akhir tahun 2007, PLN telah
menandatangani delapan kontrak EPC dengan kontraktor.
Fast Track Program juga mencakup pembangunan jaringan transmisi yang terkait dan sub-stasiun.
Pada tahun 2007, PLN telah menenderkan 15 proyek berkaitan dengan perbaikan-sirkuit sepanjang
793 km dan membangun sirkuit sepanjang 543 km jaringan transmisi baru dan 151 sub-stasiun di
Jawa. Dengan menggantikan 59 persen dari pabrik listrik berbahan bakar minyak dengan pembangkit
listrik tenaga batubara, PLN mengharapkan dapat mengurangi penggunaan bahan bakar minyak
pada campuran bahan bakar dari 34 persen pada tahun 2006 menjadi sekitar 5,6 persen pada 2010,
sementara secara bersamaan meningkatkan kapasitas pembangkitan listrik ‘base load’.
Proyek Fast Track di JAMALI
Lokasi
Propinsi
Kapasitas
yang ada
(MW)
Kapasitas
beroperasi (MW)
2009
2010
Suralaya Baru*
Banten
625
-
625
Labuan*
Banten
630
315
315
Indramayu*
Jawa Barat
990
330
660
Rembang*
Jawa Tengah
630
315
315
New Paiton*
Jawa Timur
660
-
660
Pelabuhan Ratu*
Jawa Barat
1050
-
1050
Pacitan*
Jawa Timur
630
-
Teluk Naga*
Banten
945
Adipala Cilacap
Jawa Tengah
660
-
660
Tanjung AwarAwar
Jawa Timur
700
-
700
7.520
960
6.560
Total
630
945
Sumber: PLN, 2009,
Catatan: *kontrak EPC ditanda tangani tahun 2007
Kinerja Fiskal PLN
PLN beroperasi dengan kerugian sejak tahun 1997 akibat meningkatnya harga BBM
dan ketidak-mampuannya untuk menaikkan tarif listrik84. Tarif belum meningkat
secara signifikan sejak krisis keuangan Asia karena pertimbangan sosial, dengan
harga yang tetap statis sejak September 2003. Karena harga minyak yang menanjak
pada tahun 2008, yang mengakibatkan melonjaknya biaya operasional, maka subsidi
84
Seperti yang telah dikatakan, tarif bahan bakar ditentukan dan dikendalikan oleh pemerintah
128
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
telah menjadi dua kali lipat di tahun 2007, dengan subsidi pemerintah merupakan
sekitar 50 persen dari biaya operasional PLN (Lampiran Tabel 11).
Lampiran Tabel 11: Laba dan Rugi Operasi (milyar Rp)
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
Penghasilan dari
operasi
39.444
50.334
58.803
64.032
71.817
76.286
84.250
Subsidi
pemerintah
4.739
4.097
3.470
12.511
32.909
36.606
78.577
Pembelian
tenaga listrik
11.169
10;834
11.971
13.598
14.845
16.947
20.743
Bahan bakar dan
pelumas
17.957
21.478
24.491
37.355
63.401
65.560
107.783
Biaya operasi
lain
23.219
23.565
23.249
25.079
26.982
28.999
32.072
Total biaya
operasi
52.346
55.877
59.711
76.033
105.228 111.507 160.598
Laba/rugi
(8.162)
(1.446)
2.562
511
(502)
1.385
2.229
Sumber: PLN, 2009
Lampiran Tabel 12: Kinerja PLN, 2002-2008
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
Jumlah pelanggan
(juta)
31,0
32,2
33,4
34,6
35,8
34,6
38,6
Penjualan eneri (ribu
watt jam)
87,1
90,4
100,1
107,0
112.6
120.4
131.3
PErtumbuhan
penjualan (%/thn)
3,1
3,8
10,7
6,9
5,2
7,0
9,0
Tarif rata-rata (Rp/
kWh)
448
551
582
591
628
629
653
Tarif rata-rata (sen $/
kW jam)
4,7
6,4
6,8
6,1
6,9
6,1
6,9
Kehilangan energi (%)
16,5
16,9
11,3
11,5
11,5
11,1
10,5
EBITDA (juta $)*
831
1.366
760
1.050
1.386
1.432
1.651
Sumber: PLN, 2009.
*EBITDA: earnings before interest, tax, depreciation, and amortization
Menanggapi harga BBM yang lebih tinggi di tahun 2008, PLN memulai implementasi
tarif “non-subsidi” untuk pelanggan kaya. Ini akan memungkinkan PLN untuk
mengurangi subsidi pemerintah. Selain itu, meskipun kerugian transmisi dan distribusi
telah menurun secara signifikan dari 16,9 persen pada tahun 2003 menjadi 10,5 persen
pada tahun 2008, namun masih lebih tinggi daripada rata-rata global sekitar 7 persen
(Lampiran Tabel 12). Idealnya, hal ini harus segera ditangani karena keuntungan
bersifatsegera dapat dirasakan, dan berdampak secara signifikan pada pasokan..
129
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Sejak tahun 2006, PLN telah mengalami pertumbuhan laba sebelum bunga, pajak,
depresiasi, dan amortisasi, dari sekitar Rp 1 triliun menjadi Rp 1,65 triliun di tahun
2008. Hal ini terkait dengan pertumbuhan jumlah pelanggan dan penjualan. Namun,
karena penetapan tarif sosial,begitu operasi semakin besar, kerugianpun semakin
meningkat, membuat PLN enggan untuk memperluas operasi.
Sekilas tentang Kerangka Peraturan
Fungsi pengaturandan pembuatan kebijakan di sektor listrik ada di bawah tanggung
jawab Kementerian Enerji dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan dijalankan melalui
Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Enerji (DJLPE). Selain bertindak sebagai
regulator sektor di tingkat nasional85, DJLPE bertanggung jawab untuk:
• Mempersiapkan Rencana Umum Ketenaga-listrikan Nasional (RUKN);
• Memastikan pencapaian tujuan RUKN;
• Mengoptimalkan pemanfaatan berbagai sumber enerji untuk pembangkit
listrik;
• Mendirikan dan mengembangkan penyediaan listrik, pemanfaatan dan
manajemen operasi; dan
• Memfasilitasi partisipasi sektor swasta dalam pasokan listrik.
Fungsi regulasi dari DJPLE tidak mencakup tarif listrik, yang ditetapkan oleh Presiden86.
Karena tarif seragam di seluruh Indonesia87, pelanggan di jaringan JAMALI memiliki
banyak subsidi dibandingkan di pulau-pulau terpencil, di mana biaya pengadaan jauh
lebih tinggi. Ada juga subsidi silang yang signifikan ke konsumen kecil oleh yang
besar, khususnya industri dan perusahaan komersial.
Selain Kementerian Enerji dan Sumber Daya Mineral, PLN berada di bawah lingkup
dari: (i) Kementerian Negara BUMN yang mewakili pemerintah sebagai pemilik,
dan dalam kapasitas ini mengawasi manajemen PLN, menetapkan target kinerja
perusahaan, dan menyetujui anggaran tahunan, dan (ii) Kementerian Keuangan yang
menentukan subsidi listrik dan pengaturan pinjaman bagi PLN.
Investasi Sektor Publik dalam Infrastruktur Listrik
Hal ini terutama dilakukan melalui anggaran investasi PLN, yang terutama didanai
melalui pinjaman yang berasal dari penerbitan obligasi dan lembaga keuangan bilateral/
multilateral dan anggaran negara, yang terutama digunakan untuk pemasangan listrik
pedesaan.
Perlu dicatat bahwa pemasangan listrik pedesaan (walaupun ada dampak sosial nya)
secara finansial tidak menarik bagi PLN karena kepadatan penduduk yang rendah
dengan faktor beban yang sangat rendah. Selain itu, pasar ini didominasi oleh
konsumen berpenghasilan rendah yang menikmati suatu tarif yang sangat disubsidi
Pemerintah daerah menjalankan tugas hukum untuk bisnis-bisnis listrik daerah yang tidak memiliki sambungan dengan
jaringan PLN.
86
Berdasarkan rekomendasi Menteri Enerji dan Sumber Daya Mineral dan setelah berkonslutasi dengan Parlemen.
87
Pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan suatu saran untuk menerapkan tarif listrik berdasarkan daerah, yang
akan mengakibatkan penduduk Jakarta akan membayar lebih mahal dibandingkan dengan daerah lain.
85
130
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Lampiran Gambar 5: Rata-Rata Pendapatan PLN dan Biaya Pelayanan
di Seluruh Daerah (2007)
Maluku
669
NTT
688
Bangka Belitung
621
NTB
642
Papua
3,955
3,796
3,213
3,211
3,565
709
Kalimantan Barat
3,272
628
Riau
1,667
668
Aceh
2,792
603
Kalimantan Timur
686
Sulawesi Utara
646
Kalimantan Selatan
2,597
2,094
1,867
649
Sumatra Selatan
990
668
Sumatra Barat
999
595
Lampung
663
Sumatra Utara
956
2,224
630
Sulawesi Selatan
1,462
631
Bali
1,184
766
Jakarta
1,090
720
Jawa Timur
1,116
652
Jawa Tengan
619
Jawa Barat
613
Indonesia
656
-
500
1,162
1,056
1,000
1,286
1,500
2,000
2,500
3,000
3,500
4,000
4,500
Rp/kWh
Sum ber: PLN, 2008
Biaya Pelayanan
Rata-Rata Pendapatan
(tariff rata-rata PLN tingkat nasional Rp 653/kWh pada tahun 2008). Daerah-daerah
tersebut cenderung “off-grid” (diluar jangkauan jaringan listrik PLN) dan dipasok
oleh pembangkit listrik dengan bahan solar, yang mengkonsumsi solar dengan
harga tinggi. Hal ini mengakibatkan biaya produksi yang lebih dari Rp. 2.000 / kWh
(Lampiran Gambar 5).
Dalam rangka meningkatkan rasio pemasangan listrik, PLN harus memusatkan
perhatian pada desa-desa yang lebih terpencil, yang kurang dapat diakses, jauh
131
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
dari jaringan listrik, serta lebih jarang penduduknya88. Implikasinya adalah biaya
produksi melampaui Rp. 4.000 (biaya produksi di Maluku saat ini Rp 3.955 dengan
pendapatan yang dibatasi sekitar Rp. 669). Dengan demikian, PLN sangat enggan
untuk memperluas jaringan, dan menanggung biaya tambahan dan kerugian.
Bahkan di Jakarta yang padat penduduknya, pendapatan PLN berada di bawah biaya
operasional. Dengan demikian, tingkat tarif yang rendah merupakan faktor yang
membatasi kemampuan PLN untuk investasi lebih lanjut.
Lampiran Tabel 13: Proyek PLS (Produsen Listrik Swasta) di Indonesia
Jumlah
Tahap operasional
Total
Kapasitas
(MW)
20
4.419
Sumatera
3
240
Jamali Nusra
11
3.847
Kalimantan
1
45
Sulawesi & IT
5
287
Tahap pembangunan
16
2.248
Sumatera
7
253
Jamali Nusra
2
1.700
Kalimantan
3
76
Sulawesi & IT
4
219
Sumatera
14
1.332
Tahan Pendanaan
30
3.648
Jamali Nusra
8
1.897
Kalimantan
3
78
Sulawesi & IT
5
342
Sumatera
2
Perampungan PPL
6
937
17
Jamali Nusra
1
660
Kalimantan
1
130
Sulawesi & IT
2
Proses Tender
130
29
8.538
Sumatera
16
5.998
Jamali Nusra
6
1.957
Kalimantan
3
451
Sulawesi & IT
4
Proyek potensial
Kapasitas
Total (MW)
132
20
5.964
Pada dasarnya, karena makin banyak penduduk desa yang mendapat akses listrik, daerah-daerah yang belum memiliki
listrik makin tidak menarik secara finansial bagi PLN untuk investasi.
88
132
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Sumatera
6
2.054
Jamali Nusra
6
2.940
Kalimantan
2
400
Sulawesi & IT
6
570
Proyek yang tidak
diminati
29
Sumatera
17
5.436
4.002
Jamali Nusra
5
730
Kalimantan
5
494
Sulawesi & IT
2
210
29
5.436
TOTAL
Sumatera
65
13.895
Jamali Nusra
39
13.731
Kalimantan
18
1.674
Sulawesi & IT
28
1.891
150
31.191
133
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
LAMPIRAN G: Telekomunikasi
Komunikasi Telepon Tetap dan Seluler
Dalam hal teledensitas, terlihat ada kesenjangan besar, mulai dari 25 di Jakarta
sampai antara 11dan 20 di kota-kota besar lainnya, turun menjadi 0,2 di daerah
pedesaan di Indonesia Timur. Kesenjangan antara daerah perkotaan dan pedesaan
begitu besar, karena enam kota metropolitan besar mencakup sekitar 50 persen dari
semua layanan sambungan tetap. Pada masa lalu, layanan telepon umum dan kios
telepon sangat penting dalam penyediaan akses telekomunikasi kepada kelompokkelompok berpenghasilan rendah. Sampai dengan tahun 2002, hampir 25 persen dari
lalu lintas telepon dilakukan melalui cara ini. Meningkatnya penggunaan telepon
seluler (pada akhir tahun 2002, jumlah ponsel mengalahkan jumlah jaringan tetap)
telah mengurangi peran penting dari telepon umum dan kios di perkotaan. Namun,
keduanya tetap penting untuk penyediaan layanan di daerah pedesaan. Layanan
sambungan telepon tetap, juga transmisi pendukung utama telepon, telah menerapkan
teknologi modern (98 persen dijital), sehingga memberikan tingkat kualitas pelayanan
yang memuaskan, terutama di Jawa.
Dalam sambungan telpon tetap dan nirkabel tetap, Telkom adalah pemain dominan,
dengan pangsa pasar sekitar 98 persen. Tiga operator lain adalah Indosat, Bakrie
Telecom (nirkabel tetap), dan Batam Bintan Telekomunikasi (yang bidang lisensinya
terbatas untuk Batam dan Kepulauan Bintan). Telkom praktis memonopoli layanan
sambungan tetap, meskipun deregulasi (berdasarkan UU No 36/1999) telah membuka
pasar. Pemerintah merencanakan membuat persaingan yang lebih besar antara
Telkom, Indosat, dan pelaku pasar lainnya pada 2010, dengan menghilangkan hak
eksklusif mereka dan menghentikan sistim kepemilikan silang di Telkom dan anak
perusahaan operasi Indosat. Namun, posisi Telkom yang kuat ditambah dengan
lingkungan peraturan yang relatif lemah dan susunan kelembagaan yang ada,telah
menghilangkan keinginan persaingan, meningkatkan hambatan untuk masuk dan
resiko bagi operator baru. Hal ini dapat diilustrasikan dengan bisnis sambungan tetap
Indosat, yang meskipun sejak tahun 2002 telah mendapat lisensi untuk telepon lokal
dan nasional layanan jarak jauh, masih tidak punya terobosan pasar yang berarti
dibidang ini.
Penyebaran telepon seluler di Indonesia telah meningkat karena daya saing harga dan
kemudahan sambungan. Pasar selular itu menghadapi persaingan yang ketat pada
paruh kedua tahun 2007, yang telah mengakibatkan pengurangan tarif sebesar 80
persen. Lebih unggulnya prabayar dari sistem pasca bayar dan ketersediaan telepon
genggam yang murah telah meningkatkan penetrasi pasar. Pada paruh kedua tahun
2009, pendapatan rendah rata-rata bulanan per pengguna (average revenue per userARPU ) menandakan bahwa pemotongan harga lebih lanjut tidak akan bertahan. Efek
yang dihasilkan adalah bahwa ARPU Indonesia rata-rata adalah hanya $ 3,9, terendah
dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Thailand ($ 7.6), Filipina ($
17,8), dan rata-rata regional ($ 15,4) (Lampiran Tabel 14). ARPU yang rendah seperti
itu sebagian disebabkan oleh penggunaan menit yang lebih rendah dari166 menit di
134
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Indonesia, yang secara signifikan lebih rendah dari Thailand (267 menit), atau 340
menit rata-rata regional. Lampiran Tabel 14: Kinerja operasi Seluler
Perusahaan
ARPU
Pemakain
(US$)
dalam menit
Indonesia
Telkom
4,9
149
Indosat
3,5
84
Excelcomindo
3,3
268
Thailand
AIS
7,0
267
DTAC
8,1
NA
Filipina
Globe
30,3
NA
PLDT
15,1
NA
Regional Average (includes 15,4
340
China, India, Hong Kong, and
Korea)
Negara
Pelanggan
(juta)
76
28,9
24,7
27,9
19,2
24,7
35,2
Sumber: Mandiri Sekuritas (2009)
Akses Internet dan Broadband
Akses internet di Indonesia dimulai pada tahun 1994 sebagai hasil dari upaya komunitas
akademik dan penelitian. Penghapusan kontrol media dan liberalisasi sistem politik
telah menyebabkan pertumbuhan pesat dalam penggunaan internet (47,3 persen per
tahun) bersama dengan perkembangan penyedia layanan yang terkait. Pada akhir
tahun 2007, diperkirakan ada 6,9 juta pengguna internet dan 8 juta telah memiliki
akses ke komputer (Lampiran Tabel 15). Layanan Internet secara aktif ditawarkan
oleh 60 penyedia layanan (dibandingkan dengan 100 Internet Service Provider yang
terdaftar saat ini). Namun, kualitas layanan dan penetrasi pasar terhalangi karena
“tulang punggung” infrastruktur yang buruk .
Lampiran Tabel 15: Persentase Rumah tangga dengan akses Ke Komputer dan
Internet di Indonesia dan Negara-negara tetangga
Akses pada Komputer
Akses pada Internet
2002
2007
CAGR
(%)
2002
2007
CAGR
(%)
Indonesia
2,5
8,0
26,3
1,0
6,9
47,3
Malaysia
24,0
35,9
8,4
10,5
20,0
13,7
Filipina
5,3
18,3
28,1
4,9
12,3
20,2
Thailand
8,4
27,2
26,6
4,0
7,3
12,9
Vietnam
2,6
10,1
31,1
0,6
5,0
53,8
Source: ITU, 2009.
Karena dominasi pasar oleh beberapa pemain kunci, koneksi internet dua arah broad
band nirkabel yang baik relatif mahal, biayanya antara $50 sampai $ 80 per bulan.
Penyedia layanan internet hanya baru-baru ini diizinkan masuk ke pasar sambungan
135
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
tetap broadband (kabel atau serat optik), dan harga sudah mulai menurun (biaya yang
umum adalah sekitar $22 per bulan)89, tapi masih tetap lebih tinggi dari Malaysia,
Thailand, dan Vietnam (Lampiran Tabel 16). Namun, area layanan sangat terbatas
pada lokasi tertentu di kota-kota besar. Pada akhir 2007, terdapat lebih dari 256.000
pelanggan internet broadband terdaftar, peningkatan sekitar 46 persen per tahun sejak
tahun 2002. Saat ini, ada dua pilihan dial-up di Indonesia (keduanya seharga sekitar
$2 sen per menit), salah satunya adalah melalui Telkomnet Instan milik Telkom,
dan yang lainnya melalui sambungan Penyelenggara Jasa Internet (internet service
provider-ISP) biasa.
Annex Lampiran Tabel 16: Harga Bulanan Internet Broadband Tetap di Indonesia
dan Beberapa Negara, 2008
$
PPP $
% dari Pendapatan Per Kapita
Indonesia
21,7
42,5
15,8
Malaysia
20,5
37,7
3,8
Filipina
23,4
45,0
17,3
Thailand
18,0
36,1
6,3
Vietnam
17,0
53,2
25,8
Sumber: ITU, 2009.
Catatan: Pendapatan Nasional per kapita berdasarkan Metode Atlas Bank Dunia
Pembentukan Telkomnet Instan dengan Telkom telah mengubah gambaran suasana
kompetitif ISP. Telkom meningkatkan tarif interkoneksi untuk ISP pesaing sebanyak
1000 persen90, sementara menyubsidi Telkomnet Instan milik sendiri. Efek yang
dihasilkan adalah ditutupnya ISP pesaing, dan meningkatnya pangsa pasar dengan
Telkomnet Instan. Pada akhir 2008, terdapat 232 ISP berlisensi, tapi 134 yang benarbenar operasional. Hal ini mungkin disebabkan oleh perilaku tidak kompetitif dari
Telkomnet.
Sekilas Tentang Kerangka Peraturan
Badan pengawas yang ada saat ini, Badan Regulasi Telekomunikasi dan Informatika
(BRTI), diketuai oleh Direktur Jenderal Telekomunikasi, yang melapor kepada Menteri
Komunikasi dan Informatika (MKI), dan dengan demikian praktis menempatkan
pemerintah sebagai pembuat kebijakan, otoritas kontraktor, dan regulator untuk
sektor telekomunikasi91.
Pemerintah berpendapat bahwa BRTI adalah sebuah badan pengawas dalam masa
transisi, dan pemerintah berniat merevisi hukum telekomunikasi untuk membentuk
dasar hukum yang lebih kuat bagi BRTI dan melengkapi BRTI dengan langkahlangkah pengaturan yang efektif dalam bidang penetapan tarif, perizinan, pemantauan
kinerja, penyelesaian sengketa, dan pengawasan kompetisi.
Donny B.U., Rapin Mudiarjo,. Id Indonesia, Digital Review of Asia Pacific 2007-2008
Promoting Internet policy adn regulatroy reform in Indonesia, Assessment Report, EU, 2003
BRTI terdiri dari Chairman, dan enam orang lain dari berbagai sektor swasta, publik, akademik dan dibentuk melalui
Keputusan Menteri, seperti yang dimandatkan oleh Undang-Undang Telekomunikasi 36/1999.
89
90
91
136
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Kelemahan dalam lingkungan pengaturan ini terlihat jika kita meneliti cara penetapan
tarif dan perizinan. Harga sambungan tetap yang ditentukan oleh Telkom bersifat
monopoli (tinggi), dan Telkom tidak bersedia untuk menggunakan rumus berbasis biaya
yang lebih wajar. Pemerintah, oleh karena itu, tidak mampu menerapkan peraturan
tarif biaya layanan yang wajar. Selain itu, Telkom mengajukan permohonan kenaikan
tarif dengan meminta agar tarif ditinjau dan disesuaikan setiap tahun berdasarkan
indeks harga konsumen (IHK). BRTI tidak bisa mendikte harga yang ditentukan
dengan rumus berbasis biaya, namun hanya membatasi kenaikan tarif maksimum
untuk layanan sambungan tetap untuk disetujui Parlemen. Praktek pengaturan tarif
yang tak transparan ini juga tampak jelas terlihat dalam harga tarif interkoneksi,
yang merupakan sumber kekhawatiran besar kalangan pembela konsumen. Di pasar
layanan seluler, ada persaingan, operator-operator jaringan seluler menuntut keadilan
dan pemerataan dalam pengaturan tarif inter-koneksi (yang saat ini masih di bawah
pengawasan Telkom). BRTI telah menyiapkan rumusan tarif inter-koneksi berbasis
biaya untuk menangani masalah ini, tetapi menghadapi resistensi dari Telkom. Selain
itu, lisensi untuk telekomunikasi dan penyediaan jasa internet sangat tidak transparan
dan masih penuh dengan ketidakpastian. Layanan Voice over Internet Protocol (VoIP),
yang dianggap lebih sebagai layanan internet, pada awalnya tidak diatur and sebagian
besar dilakukan oleh Penyelenggara Layanan Internet (internet service providerISP). Namun, pada tahun 2001, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Ministry
of Communiction and Information-MCI) mengeluarkan persyaratan perizinan baru,
dimana ISP yang memberikan layanan VoIP harus mengakhiri bisnis mereka, dan
hanya lima operator yang diberi lisensi VoIP.
Pada tahun 2007, pemerintah memberlakukan pembatasan kepemilikan asing dalam
telekomunikasi seluler dan sambungan tetap, dengan alasan demi kepentingan
keamanan bangsa.. Berdasarkan peraturan baru, kepemilikan asing dibatasi maksimum
65 persen untuk operator seluler dan 49 persen untuk operator sambungan tetap.
Menariknya, peraturan tidak dibuat retroaktif sehingga memungkinkan keuntungan
Telekom Malaysia, yang memiliki hampir 84 persen dari PT Excelcomindo Pratama,
dan Malaysia Maxis Communications, yang memiliki 95 persen dari PT Natrindo
Telepon Selular. Pemain lainnya termasuk SingTel (35 persen dari Telkomsel), Maxis
Communications (51 persen dari Lippo Telecom), QTel (65 persen dari Indosat),
dan Hutchison Telecommunications International (60 persen dari Hutchison CP
Telecommunications) semua dalam batas kepemilikan asing ini.
137
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
DAFTAR PUSTAKA
ADB, 2007. “Public Private Partnership for Infrastructure Development.” Kertas
Kerja Indonesia, Diajukan pada Rapat Presented at High Level Expert Group Meeting
,UNESCAP. Korea, 1-3. Oktober
ADB, Indonesia Infrastructure Reform Sector Development Program Loan SubProgram 2, 2008
ADB, Indonesia Country Strategy and Program 2006-2009
ADB and World Bank. 2005. Sri Lanka: Improving the Rural and Urban Investment
Climate. Colombo/Manila.
ADB/ILO/IDB, 2009a. “Indonesia: Country Diagnostic Study - Constraints to
Growth”, Diajukan di Bappenas, Jakarta, 16 September 2009.
-------. 2009b. “Indonesia: Country Diagnostic Study - Critical Constraints to Reducing
Poverty and Inequality”, Diajukan di Bappenas, Jakarta, 16 September 2009.
------. 2009c. “Indonesia: Country Diagnostic Study - Diagnostic Constraints to
Infrastructure Development in Indonesia”, Diajukan di Bappenas, Jakarta, 16
September 2009
Aswicahyono, H. and Deni Friawan. undated. Chapter 5. Infrastructure Development
in Indonesia.
BPS, 2007. Statistik Perhubungan 2006. Jakarta.
BPS, 2008a. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1995-2007 (People’s Welfare Statistics
1995-2007). Jakarta.
------, 2008b. Statistik Indonesia 2008. Jakarta.
Canlas, D.; M.E. Khan and J. Zhuang (eds.). 2008. Diagnosing the Philippine
Economy: Toward Inclusive Growth. ADB. Manila.
Canning, D. and Peter Pedroni. 1999. “Infrastructure and Long Run Economic
Growth”. July.
Carana, Impact of Transport and Logistics on Indonesia’s Trade Competitiveness,
USAID, 2004
CIDES (Center for Information and Development Studies). 2007. “Pengaruh Faktorfaktor Instituional dan Infrastruktur.” Selasa, 27 November.
Kementrian Koordinasi Bidang Ekonomi,. “Infrastructure Development Options for
Indonesia: Outlokk and Strategy for 2009.” Press Release, Jakarta, 5 Maret 2009.
Dardak, A.H. “Upaya Pemerintah Memenuhi Kebutuhan Infrastruktur Jalan.”
Sarasehan Prospek Pembangunan Jalan Tol di Indonesia. Jakarta, 29 June 2005.
Deputi Bidang Sarana dan Prasarana, 2009. “Arah dan Kebijakan Pembangunan
Infrastruktur 2010-2014”, Bappenas, Jakarta, 12 August 2009.
138
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Gramlich, E.M. (1994). “Infrastructure Investment: A Review Essay.” Journal of
Economic Literature. Vol. XXXII, pp. 1176-1196.
Haris. A. “Pengaruh Penatagunaan Tanah Terhadap Keberhasilan Pembangunan
Infrastruktur dan Ekonomi.” Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Bappenas,
Jakarta.
Indrawati, Sri Mulyani. 2005. “Strategic Initiatives to Accelerate Infrastructure
Development in Indonesia”. Pidato diberikan dalam rangka Indonesia Infrastructure
Summit, Shangri-La Hotel, Jakarta, 17-18 Januari 2005.
JETRO (Japan External Trade Organization). 2009. Survey on International Operations
of Japanese Firms (FY 2008): Survey Report.
Kasim, S.T. Analisis Pengaruh Kinerja Infrastruktur Listrik Terhadap Pertumbuhan
Ekonomi Indonesia. Thesis.
Kompas, Infrastruktur Terganjal (Infrastructure Hampered), August 12, 2009
Kompas, Tarif Terlalu Rendah, Pelayanan KA Buruk (Tariff Too Low, KA’s Service
is Bad), November 4, 2009
KPMG, A Guide to Airports in Asia Pacific, 2007
Llanto, G.M. 2004. Infrastructure Development: Experience and Policy Options for
the Future. Makati City: Philippine Institute for Development Studies.
LPEM-FEUI. 2007. Investment Climate Monitoring. Round IV. Jakarta: Pusat
Penelitian Ekonomi dan Sosial, universitas Indonesia.
Lubis, Harun al-Rasyid, Road Map for National Railway Institutional Development,
2008
Mawardi, D.R. 2004. Hubungan antara infrastruktur ekonomi dan pertumbuhan
PDRB di Jawa Timur dengan menggunakan pendekatan model persamaan produksi
Cobb–Douglas. Thesis/Dissertation. Petra Christian Universitas Indonesia.
Kementrian Pekerjaan Umum. 2005. “Pembangunan Infrastruktur di Indonesia.”
Dialog Bersama Menteri Pekerjaan Umum. Jakarta, 22 August 2005.
Kementrian Pembangunan Ekonomi. 2008. Linkages between Infrastructure and
Economic Growth. New Zealand.
Murty, K.N. and Soumya, A. 200? “Macroeconomic effects of changes in public
investment in infrastructure in India”. World Bank Working Paper No.
Mustajab, M. 2009. Infrastructure Investment in Indonesia: Process and Impact. PhD
dissertation. Rijksuniversiteit. Netherlands.
Nathan Associates, Indonesian Shipping and Port Sector Review, USAID, 2001
O’Fallon, C. 2003. Linkages between Infrastructure and Economic Growth. Report
submitted to the New Zealand Ministry of Economic Development. December.
139
Indonesia: Kendala Kritis Bagi Pembangunan Infrastruktur
Patunru, A. Nurridzki, N and Rivayani, Port Competitiveness: A Case Study of
Semarang and Surabaya, Indonesia. Institute for Economic and Social Research
(LPEM), University of Indonesia, Asian Development Bank Institute (ADBI), 2007
Patunru, A., N. Nurridzki and Rivayani. Port Competitiveness: a Case Study of
Semarang and Surabaya, Indonesia. in Infrastructure’s Role in Lowering Asia’s Trade
Costs: Building for Trade. Edited by D.H. Brooks and D. Hummels. Cheltenham, UK:
Edward Elgar Publishing, 2009.
Peterson, G.E and Eliza Muzzini. (undated). “Decentralizing Basic Infrastructure
Services”,
Pikiran Rakyat, Pelayanan KA Masih Buruk (KA’s Services is Still Bad), December
1, 2009
Poesposoetjipto, Shanti L., Peningkatan Daya Saing Bangsa Melalui Peningkatan
Kualitas Infrastruktur Transportasi Maritim, Samudera Indonesia, 2007.
Ray, D., Indonesian Port Sector Reform and the 2008 Shipping Law, USAID, 2008
Stramindo - JICA, Study on the Development of Domestic Sea Transportation and
Maritime Industry, 2005
Straub, S. 2007. “Infrastructure and Development: A Critical Appraisal of the Macro
Level Literature.” Mimeo. World Bank. Washington, D.C.
Straub, S., Vellutini, C. and M. Warlters. 2008. “Infrastructure and Economic Growth
in East Asia.” Policy Research Working Paper. No. 4589. World Bank.
Susantono, B. 2009. Memacu Infrastruktur Ditengah Krisis. Pustaka Bisnis Indonesia.
Jakarta.
Tempo Interaktif, Pemerintah Batal Ambil Alih Proyek Kereta Bandara SukarnoHatta, (Government Cancelled Plan to Take-Over Sukarno-Hatta Rail-link Project),
June 29, 2009
Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, and ITB. Kajian Aspek
Kemasyarakatan di Dalam Pengembangan Infrastruktur Indonesia.
Warta Ekonomi, Kenaikan Airport Tax Digugat Pengguna Layanan (Increase of
Airport Tax Challenged by the Service Users), May 1, 2009
World Bank. 1994. World Development Report: Infrastructure for Development.
Washington, D.C.
World Bank, 2003. “Indonesia: Selected Fiscal Issues in a New Era”. Report
25437:IND. Washington, D.C.
World Bank, Infrastructure Development Policy Loan Program Document, 2008
World Bank. 2009. Doing Business, 2008-2009. Washington, D.C.
140
Download