BAB IV REPRODUKSI DAN INOVASI TEKNOLOGI REPRODUKSI

advertisement
BAB IV
REPRODUKSI DAN INOVASI TEKNOLOGI
REPRODUKSI
Endang Triwulanningsih t , Trinil Susilawati 2 dan Kustono 3
'Balai Penelitian Ternak, Ciawi-Bogor
2Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang
3Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
I.
PERFORMANS REPRODUKSI
Reproduksi merupakan suatu barometer untuk menilai
kehidupan normal seekor ternak . Untuk meningkatkan efisiensi
produksi dalam usaha peternakan, perlu diketahui prinsipprinsip reproduksi, penyebab menurunnya efisiensi reproduksi,
serta cara-cara untuk meningkatkannya . Fenomena reproduksi
yang perlu diperhatikan antara lain umur pertama kali
melahirkan dan interval antara dua kelahiran atau calving
interval . Umur pertama kali melahirkan tergantung pada umur
pertama kali dikawinkan dan umur pertama kali dikawinkan
tergantung pada umur saat pubertas, ketika ternak menunjukkan
tanda-tanda kematangan seksualnya . Pada masa tersebut ternak
bersedia menerima kehadiran pejantan, walaupun kadangkadang tidak menunjukkan tanda birahi yang jelas .
Performans reproduksi dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain manajemen, kesehatan, nuttisi, lingkungan dan
faktor-faktor biologi yang dimiliki oleh ternak tersebut .
Beberapa faktor yang dapat mencenninkan performans
reproduksi ternak sapi meliputi siklus estrus, lama bunting,
birahi pertama setelah beranak, kawin pertama setelah beranak,
117
Prn%rl Usaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia
waktu kosong (days open) service per conception jarak
beranak calving interval dan skor kondisi tubuh
Siklus Estrus
Siklus estrus adalah interval antara mulainya estrus ke
estrus berikutnya yang merupakan suatu proses yang distimulasi
hormon estrogen Tagama
Siklus estrus pada sapi rata
rata
hari
hari dengan lama estrus
jam
thur et
al
dan ovulasi terjadi
jam setelah estrus berakhir
Hafez
Pengetahuan dasar tentang siklus estrus ini
penting diketahui oleh peternak sehingga deteksi birahi dapat
dilakukan dengan benar dan tepat Hardjopranyoto
Lama Bunting
Secara umum masa kebuntingan dibagi dalam tiga periode
yaitu periode ovum periode embrio dan periode fetus Periode
ovum dimulai sejak terjadinya fertilisasi kemudian berlanjut ke
stadium morula blastula sampai zygote siap untuk implantasi
Periode embrio atau periode triwulan kedua dimulai sejak
terjadinya implantasi sampai ke stadium pembentukan alat alat
tubuh bagian dalam dan deferensiasi fungsi sel organ Pada
periode ini terjadi pembentukan plasenta secara lengkap dan
pembentukan cairan uterin Periode fetus atau periode triwulan
ketiga dimulai dari pembentukan organ tubuh bagian dalam
sampai terbentuknya ekstremitas dan terus berlanjut sampai
anak lahir Baliarti
Kebuntingan pada sapi dikontrol oleh hormon progesteron
Hafez
Selama kebuntingan terjadi perubahan berat
badan induk yang mengikuti perkembangan fetus membran
membran beserta cairannya serta perkembangan kelenjar susu
yang dengan bertambahnya umur kebuntingan maka berat badan
akan semakin bertambah Pertambahan berat badan nyata
terlihat pada periode sepertiga akhir kebuntingan atau triwulan
ketiga kebuntingan disebabkan pertambahan berat badan fetus
pada masa ini mencapai
sampai
dari berat lahir
Pro/il Uraha Peternakan Sapi Perah di Indonesia
menyatakan
Orskov
Bondi
; Parakkasi
bahwa selama kebuntingan induk sapi lebih mementingkan atau
memprioritaskan kebutuhan fetus dibandingkan kebutuhannya
sendiri Umumnya apabila induk dalam keadaan kekurangan
pakan induk akan menggunakan jaringan tubuhnya untuk
mempertahankan pertumbuhan fetus dan bila keadaan ini terjadi
maka berat badannya menjadi berkurang demikian juga daya
hidup anak setelah lahir akan menurun
Perkawinan Setelah Beranak Pospartum Mating
Postpartum mating adalah waktu yang ditentukan oleh
induk untuk dikawinkan kembali setelah beranak Perkawinan
setelah beranak ini akan menentukan panjang pendeknya calving
menyatakan bahwa terlambatnya
interval Ya niz et al
perah
setelah
beranak dapat memperpanjang
mengawinkan sapi
calving interval dan secara ekonomis tidak tpenguntungkan
bulan
sedangkan calving interval yang ideal adalah
Panjang pendeknya perkawinan pertama setelah beranak
juga dipengaruhi oleh estrus pertama kali setelah seekor ternak
betina beranak Hal ini sangat penting untuk segera diketahui
oleh peternak sapi perah sebagai salah satu faktor yang
menentukan dalam rangka peningkatan efisiensi reproduksi
Ya niz et al
Munculnya estrus pada sapi betina setelah
beranak sangat dipengaruhi oleh kemampuan hypothalamo
hypophisial untuk mensekresikan gonadotropin Kemampuan
hypothalamo hypophisial dalam mensekresikan gonadotropin
sangat dipengaruhi oleh faktor extrinsik seperti musim dan
pakan serta faktor intrinsik seperti energi dan status
Estrus yang pertama kali
metabolisme Guedon et al
setelah beranak ini penting mengingat nantinya akan berperan
nyata dalam menentukan kapan pertama kali ternak harus
dikawinkan sehingga days open dapat dicapai dengan optimal
yang pada akhirnya menentukan lama calving interval sapi
perah
PrrJI Usaho Pelernakarr Sapi Perch di Indonsia
Salisbury dan Van Demark
menyatakan bahwa
perkawinan atau inseminasi buatan pertama setelah sapi beranak
sebaiknya dilakukan
hari setelah beranak dengan harapan
mempunyai konsepsi yang tinggi dengan kernungkinan
gangguan reproduksi yang lebih kecil Siregar
menyatakan bahwa inseminasi buatan pertarna kali pada sapi
setelah beranak yang ideal adalah dalam interval waktu
hari setelah sapi tersebut beranak Hal ini dipertegas oleh Hafez
yang menyatakan bahwa fertilitas maksimum pada sapi
terjadi pada hari ke
setelah kelahiran Perkawinan yang
dilakukan terlalu dim sesudah kelahiran akan berpengaruh
terhadap konsepsi karena berhubungan dengan waktu yang
dibutuhkan untuk memulihkan kembali uterus pada keadaan
normal involusi uterus Pramono
melaporkan dalam
basil penelitiannya di Daerah Istimewa Yogyakarta terhadap
sapi perah rakyat anggota Koperasi Unit Desa sebanyak
ekor bahwa terjadinya perkawinan setelah berarlak rata rata
±
bulan
Service Per Conception
Surahamdani dan Sartika
menyatakan bahwa pada
peternakan sapi perah di Jawa Barat pencapaian rata rata nilai
kali Sementara itu menurut
S C sebesar
sampai
rekapitulasi hasil pemeriksaan kebuntingan sapi perah di Jawa
Timur yang dilaporkan oleh Wironio
dalam
nam
nilai rata rata S C yang dicapai sebesar
sedangkan
untuk Kabupaten Malang pencapaian rata rata nilai S C sebesar
kali Di Daerah Istimewa Yogyakarta basil penelitian
Pramono
terhadap sapi perah rakyat anggota dari tiga
KUD diperoleh nilai S C sebesar
±
kali
Calving Interval
Calving Interval atau interval beranak pada sapi adalah
waktu yang diperlukan dari sejumlah induk sejak beranak
pertama hingga beranak berikutnya Calving interval pada usaha
Protil Usaha Pelernakan Sapi Perah di Indonesia
sapi perah merupakan komponen utama yang harus diperhatikan
dalam manajemen induk agar efisiensi reproduksi dan ekonomi
dapat tercapai Sturman et al
Frekuensi beranak selama
sapi hidup dapat memengaruhi produksi selama hidupnya
sedangkan untuk menilai keberhasilan reproduksi sapi perah
dapat dilihat dari panjang atau pendeknya calving interval yang
dicapai Hardjosubroto
Tingkat efisiensi reproduksi sapi
perah dikatakan baik bila calving interval yang dicapai sebesar
hari dengan persentasi kebuntingan sebesar
Hafez
Montiel dan
buja
Beberapa faktor yang
memengaruhi panjang pendeknya calving interval antara lain
postpartum estrus postpartum mating service per conception
ketepatan saat mengawinkan dan jadi tidaknya kebuntingan
Skor Kondisi Tubuh
Putro
menyatakan bahwa performans reproduksi
sapi dipengaruhi oleh skor kondisi badan berat badan serta
perubahan perubahan berat badan Penurunan berat badan atau
skor kondisi badan akan diikuti dengan gejala anestrus Pulihnya
kembali siklus estrus pasca beranak ada hubungannya dengan
perubahan berat badan pada akhir kebuntingan dan kondisi
badan saat melahirkan Lebih lanjut dikatakan bahwa suatu cara
untuk menilai kondisi badan sapi adalah skor kondisi tubuh
SKT body condition score = BCS
da beberapa cara namun
yang paling banyak digunakan adalah skor antara I dan
Skor
sangat kurus emasiasi skor
I
kurus skor
sedang
skor
gemuk skor
sangat gemuk obesitas Sapi dengan
kondisi badan bagus sekitar
akan kembali estrus dalarn
waktu minimal kurang dari skor itu akan membutuhkan waktu
pulihnya siklus lebih lama Skor kondisi tubuh terlalu rendah
cenderung akan menimbulkan keadaan yang disebabkan
hipofungsi ovaria dimana ovaria akan mengecil permukaannya
halus tidak ada folikel dan atau korpus luteum serta uterusnya
tidak bertonus konsistensi lembek
Pro il U aha Pelenuakan S api Perah di lndonesia
Penurunan berat badan segera setelah melahirkan akan
menunda pulihnya siklus estrus kembali dicatat bahwa ada
penundaan
hari pada setiap
penurunan berat badan
ngka kebuntingan yang rendah akan terjadi pada sapi dengan
skor kondisi tubuh yang rendah Pada sapi perah dan potong
dengan skor
cenderung untuk infertil Putro
II
KEG G L N REPRODUKSI
Kegagalan reproduksi adalah tidak tercapainya efisiensi
reproduksi pada seekor ternak atau kelompok ternak secara
optimal Faktor faktor yang menyebabkan kegagalan proses
reproduksi adalah faktor lingkungan hormonal genetik dan
infeksi penyakit Faktor faktor tersebut dapat mengganggu
proses reproduksi pada berbagai kondisi
kibat gangguan
proses reproduksi tersebut menyebabkan anestrus infertilitas
akibat kegagalan fertilisasi dan kematian embri o dim kematian
embrio kematian fetus kematian perinatal dan neonatal
nestrus
nestrus adalah suatu keadaan ketika aktivitas seksual
berhenti ditandai dengan tidak munculnya estrus
da dua
macam anestrus yaitu fisiologis dan patologis
nestrus
fisiologis misalnya sebelum pubertas selama bunting dan
laktasi dan selama tidak pada muslin kawin bagi hewan hewan
yang mempunyai breeding season Sedangkan anestrus yang
patologis karena ada gangguan pada ovarium atau uterus yang
dapat menghambat timbulnya estrus
ktivitas ovarium pada sapi yang diperah akan kembali
dalam waktu
hari setelah beranak postpartum Hafez
Sebaliknya sapi perah dan kerbau yang menyusui
anaknya postpartum estrus akan Iebih lama Lama anestrus
pada induk sapi yang menyusui anaknya Iebih lama daripada
sapi yang diperah dua kali sehari Ini menunjukkan bahwa
aktivitas menyusui atau frekuensi pemerahan memengaruhi
kerja hormon gonadotropin dari hipofise Pemerahan yang
Protil Usaha Peternakan Sapi Peiah di Indonesia
teratur pada sapi perah tidak begitu menghambat pelepasan
luteinizing hormon LH dibandingkan dengan jika dilakukan
dua duanya yaitu diperah dan anaknya dibiarkan menyusu
Sedangkan adanya dugaan bahwa terhambatnya pelepasan LH
disebabkan oleh tingginya level cortisol selama menyusui atau
diperah
nestrus karena defisiensi nutrisi pada sapi perah yang
sedang tumbuh menekan estrus lebih kuat daripada sapi perah
yang telah dewasa Level energi yang rendah menyebbabkan
ovarium tidak aktif dan menyebabkan anestrus pada sapi perah
yang sedang laktasi Pramono
Siklus Estrus yang Tidak Normal
Siklus estrus pendek siklus estrus panjang split estrus
nymphomania dan silent estrus birahi tenang atau quite
ovulation adalah kondisi tidak normal Siklus estrus mungkin
pendek tanpa adanya tanda tanda yang jelas Pada ternak yang
masih muda tidak teramati terdeteksi oleh pemiliknya kecuali
dengan pejantan atau estrus pada malam hari Kejadian siklus
estrus yang panjang dan split estrus jarang dijumpai pada sapi
perah kejadian tersebut lebih banyak pada kuda pada saat
menjelang musim kawin
Pada sapi perah nymphomania ditandai dengan estrus yang
terlihat terus menerus atau sering estrus dengan interval yang
tidak teratur produksi susu turun dari vulva sering keluar
banyak mukus yang jernih vulva membengkak ligamentum
sacrospinosum kendor dan pangkal ekornya sering diangkat
Sapi perah lebih sering mengalami nymphomania daripada sapi
potong dan kuda dan nymphomania in] merupakan salah satu
tanda adanya kista ovarium kista folikel
Silent estrus quite ovulation adalah adanya ovulasi yang
tidak disertai tanda tanda estrus terutama sering terjadi pada
ternak yang masih muda Kejadian ini dapat diketahui jika jarak
antara dua estrus dua atau tiga kali dart normal Pada sapi perah
Proil Ucaha Pelernakan Sapi Perah di Indonesia
kejadian ini sering dijumpai pada sapi perah yang diperah tiga
kali per hari Hafez
nestrus Karena Proses Penuaan
Dengan pertimbangan ekonomis memelihara ternak yang
tua tidak menguntungkan karena kesuburannya menurun
Kejadian infertilitas pada sapi yang telah berumur
tahun
lebih dari
mempunyai korpus luteum abnormal atau
ovarium tidak ada korpus luteum Ovarium yang tidak berfungsi
mi ada hubungannya dengan salah satu atau semua fakt or faktor
berikut ini yaitu :
a Kegagalan sel sel folikel merespons rangsangan hormon yang
dapat memengaruhi
b Perubahan kuantitas dan atau kualitas sekresi hormon
c Berkurangnya stimulus
nestrus karena proses penuaan mungkin rnengubah fungsi
hubungan poros hipotalamus hipofisa ovarium
akibatnya
sekresi gonadotropin menurun atau respons ovarium terhadap
rangsangan hormon berubah
Kista luteal terjadi karena LH di dalam darah rendah
sedangkan LTH tinggi Tingginya LTH ini menyebabkan sel sel
folikel mengalami luteinisasi sehingga terbentuk sel sel lutein
dan warnanya berubah menjadi kuning berisi cairan disebut
kista luteal Kista luteal kadang kadang dijurnpai bersama sama
dengan korpus luteum yang normal baik pada ovarium yang
sama maupun pada ovarium yang lain Kista luteal dapat
memproduksi hormon progesteron yang tinggi sehingga
menyebabkan anestrus Kista luteal ini sering terjadi pada sapi
perah yang produksi susunya tinggi setelah beranak Pramono
Kegagalan Ovulasi
Kegagalan ovulasi mungkin disebabkan oleh kegagalan
folikel untuk ovulasi selama siklus estrus yang normal atau
Profil U ha Peternakan Sapi Perah di Indaneria
terjadi kista ovarium Pada kejadian estrus tanpa ovulasi ternak
memperlihatkan siklus normal dan folikel ovarium mencapai
ukuran sebelum ovulasi preovulatory tetapi tidak pecah
Sebagian sel selnya mengalami luteinasi dan kemudian regresi
selama siklus estrus seperti pada sebuah korpus luteum normal
Kista ovarium biasa terjadi pada sapi perah dan babi tetapi
jarang ditemui pada sapi potong dan spesies yang lain Penyakit
ini biasa terjadi karena ketidaknormalan hormonal pada sapi
perah terutama pada sapi yang produksi susunya t inggi
Kebanyakan kista ovarium berkembang sebelum ovulasi
pertama setelah beranak first ovulation postpartum karena
lebih banyak kista ovarium ditemui pada sapi yang diperiksa
pada hari ke
setelah beranak daripada setelah dikawinkan
atau sesudah abnormal estrus
Gangguan Fertilisasi
ngka fertilisasi pada ternak biasanya sangat tinggi Pada
sel telur yang diovulasikan berhasil
kondisi yang normal
dibuahi Tetapi sebagian besar sel telur yang telah dibuahi
tersebut gagal berkembang sampai menjadi keturunan yang
komplit Gangguan fertilisasi meliputi kegagalan fertilisasi dan
fertilisasi yang tidak menentu Kegagalan fertilisasi dapat
diakibatkan dari kematian sel telur sebelum dimasuki
spermatozoa abnormalitas sel abnormalitas spermatozoa
spermatozoa tanpa ekor abnormal pada kepala atau abnormal
pada ekor dengan gumpalan sitoplasma pada bagian proksimal
dan ekor dengan gumpalan sitoplasma pada bagian distal
Kegagalan fertilisasi juga dapat disebabkan adanya struktur
yang merintangi terjadinya fertilisasi Seperti suatu kelainan
bawaan dihubungkan dengan gene untuk warna kulit putih
white coat color adalah penyakit "white heifer disease
dimana perkembagan prenatal dari ductus Mullerian berhenti
dan saluran vagina tersumbat oleh adanya perkembangan hymen
yang tidak normal Ini dapat dibedakan dari freemartin oleh
adanya ovarium vulva dan labia yang tidak normal Juga
Profit Usaha Pemrnakan Sapi Perah di Indonevia
adanya kejadian adhesi atau melekatnya infundibulum pada
ovarium atau cornua uteri Ini akan mengganggu penangkapan
sel telur atau menyebabkan sumbatan pada salah satu bagian
dari saluran reproduksi Fertilisasi yang tidak menentu
merupakan suatu proses dimana terjadi penyimpangan misalnya
polyspermi fertilisasi monospermi sebuah sel telur yang
mempunyai
proniklei
betina
kegagalan
pembentukan
pronukleus dan gynogenesis atau androgenesis Fertilisasi yang
tidak menentu in] mungkin terjadi secara langsung sebagai
akibat garnet yang menua atau kenaikan temperatur lingkungan
Hafez
Kematian Prenatal
ngka fertilisasi conception rate pada ternak biasanya
sangat tinggi Pada kondisi normal
sel telur diovulasikan
berhasil dibuahi Tetapi sebagian besar sel telur yang telah
dibuahi tersebut gagal berkembang sampai menjadi keturunan
yang komplit dan dilahirkan normal Sebagai contoh sebanyak
hilang mati selama perkembangan embrio dan fetus
Hilangnya embrio atau fetus ini secara ekonomi sangat
merugikan karena gagal mendapat keturunan
Kematian embrio adalah kematian yang terjadi sejak
fertilisasi sampai terjadi deferensiasi embrio Pada sapi perah
kurang lebih sampai hari ke
kematian embrio yang terjadi
sebelum maternal recognition of pregnancy sehingga korpus
luteum tidak diperpanjang disebut early embryonic death EED
atau kematian dim Kematian embrio setelah korpus luteum
diperpanjang disebut late embryonic death LED Pada sapi
perah dara kebanyakan kematian pada hari ke
setelah
dikawinkan post service
Perkembangan prenatal merupakan proses yang terus
menerus menyangkut diferensiasi jaringan organogenesis dan
pemasakan atau penyempurnaannya Penyebab kematian embrio
dapat disebabkan oleh faktor genetik faktor lingkungan atau
gabungan kedua faktor tersebut Faktor lingkungan meliputi
Profil Usaha Peternakan Sapi Petah di Indnnesia
iklim stres angka ovulasi kegagalan maternal recognition of
pregnancy kondisi uterus hormonal penyakit infeksi dan
teratogen Beberapa agen teratogenik pada ruminansia antara
lain virus blue tongue bovine viral diarrhea tanaman
veratrum colivornicum lupins agen lain yaitu hipotermi
defisiensi yodium Pada sapi perah ketepatan waktu inseminasi
sangat penting Putro
Inseminasi terlalu lambat pada
masa estrus menyebabkan kematian embrio karena sel telurnya
sudah tua dan mengakibatkan abnormalitas kromosom
Inseminasi yang dilakukan pada saat bunting dapat
menyebabkan kematian embrio baik karena trauma mekanik
atau selaput embrio atau karena menyebabkan terjadi infeksi
Induk sapi yang terlalu cepat dikawinkan dan terjadi fertilisasi
menghasilkan kematian embrio yang lebih tinggi karena
keadaan lingkungan di dalam uterus tidak balk bagi embrio
Penyebab pakan defisiensi B karoten selenium fosfor dan Cu
tembaga dapat menyebabkan kematian embrio Mengonsumsi
terlalu tinggi protein kasar terutama rumen degradable proteine
RDP menurunkan fertilisasi karena efek toksik dari urea atau
amonia di dalam darah embrio Stres misalnya heat stress dapat
menyebabkan kematian embrio Kenaikan produksi susu yang
tinggi dan juga produksi susu yang tinggi pada awal laktasi
mempunyai korelasi negatif dengan fertilitas
bortus
bortus didefinisikan sebagai berakhirnya kebuntingan
dengan dikeluarkannya fetus balk dalam keadaan hidup tetapi
belum sanggup hidup terus mati sampai kebuntingan
hari
mat] atau hidup kurang dari
jam bortus dapat spontan atau
dibuat dapat karena infeksi atau bukan infeksi bortus spontan
lebih sering terjadi pada sapi terutama sapi perah
bortus
spontan yang disebabkan bukan karena infeksi misalnya faktor
genet k kromosom hormonal atau nutrisi
bortus spontan
dapat juga terjadi pada hewan betina yang dikawinkan segera
setelah pubertas atau segera setelah beranak Faktor hormonal
Profi! U
ha Peiernakan Sapi Perah di Indonwia
yang menyebabkan abortus adalah estrogen glukokortikoid
PGF tinggi defisiensi progesteron Faktor nutrisi misalnya
kelaparan malnutrisi defisiensi energi defisiensi vitamin
zat
besi kalsium Co yodium Faktor genetik atau kromosom
terjadi kematian embrio kelainan fetus conginetal genetik
lethal Faktor fisik yaitu inseminasi kawin pada uterus yang
telah bunting stres transport palpasi berkelahi sedangkan
faktor lain kemungkinan karena kejadian kembar alergi dan
anaphylaxis
Kematian Perinatal
Kematian perinatal adalah kematian fetus yang terjadi dekat
sebelum selama dilahirkan dan dalam waktu
jam pertama
pada kehidupan normal termasuk stillbirth lahir mati
Kematian paling banyak terjadi selama
jam setelah
dilahirkan Faktor penyebab kematian paling banyak adalah
asphyxia kelaparan kedinginan dan cacat bawaan Kelelahan
uterus akibat proses beranak yang terlalu lama juga dapat
menyebabkan stillbirth maka pada sapi perah saat proses
melahirkan perlu ditunggui untuk mengantisipasi bila diperlukan
pertolongan selama proses melahirkan Soetarno
Kematian Neonatal
Kematian neonatal adalah kematian yang terjadi selama
beberapa minggu pertama setelah lahir Ini disebabkan oleh
faktor herediter lingkungan nutrisi dan infeksi Respiratory
distress syndrome RDS karakteristik dengan kegagalan paru
paru fetus memproduksi phospholipid yang penting untuk
memelihara stabilitas batas ruang udara paru paru setelah
dilahirkan RDS pada anak sapi akibat defisiensi phospholipid
dan dianogsisnya berdasar level dua macam yaitu phospholipid
lechitin dan sphingomyelin Kematian neonatal juga dapat
disebabkan oleh terlalu lama labor mengejan nutrisi buruk
dari induk induk dan fetus yang lemah infeksi bakteri lewat tali
pusat Temperatur lingkungan yang dingin dapat menyebabkan
Pro il Usaha Perernukar Sapi Perah di Indonesia
hipotermi hipoglikemia dan mati demikian juga temperatur
tinggi dapat menyebabkan kematian neonatal
III
INOV SI TEKNOLOGI REPRODUKSI
Teknologi reproduksi pada ternak meliputi Inseminasi
Buatan IB Transfer Embrio TE Fertilisasi in vitro FIV dan
manipulasi embrio Tujuan dari inovasi teknologi reproduksi
pada ternak adalah sebagai cara atau alat untuk mempcrbaiki
mutu genetik ternak IB adalah bioteknologi reproduksi yang
telah terbukti dapat meningkatkan mutu genetik ternak dan
dapat diterima oleh masyarakat sehingga saat ini B telah
dilaksanakan secara swadaya Selain itu IB merupakan cara
yang ampuh untuk mengatasi kekurangan pejantan dan
meningkatkan produktivitas ternak baik secara kualitatif
maupun kuantitatif
da beberapa faktor utama yang mengakibatkan teknologi
IB menjadi pilihan yang utama dibandingkan kawin alam yaitu
a Jumlah kepemilikan yang rendah smallholder dan ternak
dipelihara di dalam kandang
b Keterbatasan pejantan baik secara kualitas maupun kuantitas
c Menunjang program crossbreeding untuk mempercepat
peningkatan produksi
IV
TEKNOLOGI IB D N PENG WET N SEMEN
IB adalah teknik untuk memasukkan semen yang telah
dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari
ternak jantan bermutu genetik unggul ke dalam saluran alat
kelamin betina dengan menggunakan alat khusus yang disebut
insemination gun Inseminasi buatan mempunyai keuntungan
antara lain
Memanfaatkan pejantan unggul semaksimal mungkin
Semen beku yang berasal dari bibit unggul dapat disebarkan
di areal yang Was dalam jangka waktu yang lama
Peternak tidak harus memelihara pejantan
Betina terhindar dari penyakit veneral disease
Projil Usuha Peternukan Sapi Perah di Indonesia
Teknologi IB secara komersial di Indonesia sudah
diterapkan sejak tahun
pada sapi perah Teknologi IB
sebagai alat untuk meningkatkan produksi ternak telah secara
luas dilaporkan khususnya pada ternak sapi Banyak faktor yang
memengaruhi keberhasilan IB dan secara garis besar dibagi
empat faktor utama yaitu
a Kondisi induk dan kualitas sel telur Sel telur adalah sel
garnet betina yang diproduksi ovari indung telur yang
dikenal dengan proses oogenesis Pada ternak sapi yang sehat
umumnya hanya satu sel telur terovulasi pada setiap siklus
berahi Kualitas sel telur ini sangat dipengaruhi oleh kondisi
ternak betina dan manajemen pemberian pakan
b Ketepatan deteksi birahi Peran peternak sangat penting
dalam mengetahui saat pertama kali terlihat gejala birahi
Setelah terjadi ovulasi sel telur ditangkap saluran reproduksi
betina ditransfer ke tanduk uterus untuk menunggu
pembuahan Proses pematangan ovulasi dan transfer sel
telur dipengaruhi oleh hormon a FSH estrogen LH dan
progesteron
c Kualitas semen terutama di tingkat peternak Salah satu
faktor utama yang memengaruhi keberhasilan IB adalah daya
hidup spermatozoa Penyimpanan semen beku diperlukan
tanki dan nitrogen cair yang harganya relatif mahal karena
itu telah dikembangkan penggunaan semen dingin yang dapat
disimpan pada suhu °C di dalam refrigerator namun
semen dingin daya hidupnya terbatas hanya selama sekitar
seminggu
d Keterampilan inseminator Seorang inseminator sangat
menentukan keberhasilan IB karena inseminator yang sudah
terlatih dapat menentukan saat yang tepat dilakukan IB Hal
mi berhubungan erat dengan saat yang tepat ketika ternak
tersebut ovulasi biasanya sekitar
jam setelah saat
pertama kali terlihat birahi
Projil Uvaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia
V
PEN MPUNG N SEMEN
Dalam program IB semen dapat ditampung dengan tiga
cara yaitu
Pengurutan massage
Elektro ejakulator
vagina buatan VB
Pada saat penampungan kolektor semen memegang vagina
buatan pada tangan kanannya sementara tangan kiri memegang
preputium dan mengarahkan penis ke vagina buatan Kolektor
semen tidak boleh membengkokkan penis sebelum atau pada
saat terjadi loncatan ejakulasi karena akan mengganggu dan
menyakiti pejantan Karena hal ini dapat menimbulkan trauma
dan pejantan jadi sulit ditampung semennya Pembantu kolektor
berusaha untuk menurunkan pejantan pada saat pertama kali
pejantan menaiki betina supaya libido meningkat pada saat
penampungan semen dan kualitas semen yang ditampung
menjadi lebih balk Setelah terjadi ejakulasi ditandai adanya
dorongan dan pengeluaran semen dari penis pejantan vagina
buatan ditarik ke arah depan penis dan diputar membentuk
angka delapan agar semen cepat turun ke dalam tabung kerucut
berskala dan hindarkan dari sinar matahari Tabung ditutup
dengan aluminium foil lalu disimpan dalam termos air bersuhu
°C dan segera dibawa ke laboratorium Evaluasi semen
meliputi volume warna konsistensi konsentrasi sperma pH
motilitas massa dan individu dan morfologi spermatozoa
VI
UJI KU LIT S SEMEN
Uji kualitas semen dilakukan segera setelah penampungan
atau sebelum diencerkan yang meliputi pemeriksaan
makroskopis volume warna konsistensi pH serta perneriksaan
secara mikroskopis meliputi motilitas massa motilitas individu
persentase hidup mati konsentrasi dan abnormalitas
Prohi ilsaha Pelernakcrn Sapi Perah di Indonesia
VI
Uji Motilitas Massa
Penilaian motilitas spermatozoa dilakukan setelah semen
diencerkan atau setelah freezing dan thawing Motilitas massa
diamati dengan menggunakan mikroskop tanpa cover glass
dengan pembesaran
kali atau
kali pada suhu yang
dijaga konstan °C Evans dan Maxwell
Kriteria penilaian gerak massa spermatozoa antara lain
adalah Toelihere
Sangat baik
terlihat adanya gelombang besar
banyak gelap tebal dan aktif seperti gumpalan awan
hitam dekat waktu hujan yang bergerak cepat berpindah
pindah tempat
Baik
bila terdapat gelombang gelombang kecil tipis
jarang kurang jelas dan bergerak lamban
Kurang balk
jika tidak terlihat gelombang melainkan
gerakan gerakan individual aktif progresif
Buruk
bila hanya sedikit ada gerakan gerakan
individual
VI
Persentase Hidup Mati Viabilitas
Spermatozoa yang hidup dan mati dapat dibedakan
reaksinya terhadap warna tertentu set spermatozoa yang tidak
motil dan dianggap coati mengisap warna dan set spermatozoa
yang motil dan yang hidup tidak berwarna Bahan pewarna yang
biasa digunakan adalah eosin dan negrosin Eosin dan negrosin
adalah pewarna set yang paling balk dipergunakan untuk
prosedur ini sehingga pengamatan set spermatozoa yang
berwarna dan tidak berwarna menjadi jelas dan spermatozoa
yang berwarna sebagian juga dianggap mati
VI
Konsentrasi Spermatozoa
Konsentrasi semen sapi bervariasi dari
spermatozoa tiap milliliter Toelihere
atau
spermatozoa tiap milliliter Garner dan Hafez
juta
juta
dalam
Profil Usaha Peternakarz Sapi Peral di Inor nesia
Bearden dan Fuquay
membedakan
Hafez
juta
konsentrasi antara sapi perah dan sapi potong yaitu
juta
spermatozoa tiap milliliter untuk sapi perah dan
spermatozoa tiap milliliter pada sapi potong Penilaian
konsentrasi spermatozoa tiap milliliter semen sangat penting
karena faktor ini dipakai sebagai kriteria penentu kualitas semen
dan menentukan tingkat pengencerannya
V
Produksi Semen
Evaluasi tentang kualitas semen tidak dapat dilakukan
hanya dengan satu parameter uji kualitas saja tetapi lebih sesuai
jika menggunakan penggabungan dari beberapa parameter di
atas sehingga lebih mudah dalam melakukan evaluasi terutama
dalam menguji produksi semen dart seekor ternak dapun cara
menghitungnya adalah sebagai berikut
a Total spermatozoa volume semen x konsentrasi
b Total spermatozoa yang motil
volume semen x konsentrasi x motilitas individu
c Total spermatozoa yang hidup
volume semen x konsentrasi x spermatozoa yang hidup
d Total spermatozoa yang abnormal
spermatozoa yang abnormal
volume semen x konsentrasi x
VIL PENG WET N SPERM
Teknologi pengawetan semakin penting artinya karena
berbeda dengan sel lainnya spermatozoa hanya dapat hidup
sangat singkat post ejakulasi Kehidupan spermatozoa hanya
tergantung dari penggunaan energi yang tersedia pada seminal
plasma dan tidak dapat mensintesis sendiri energi yang
diperlukan
baik untuk proses metabolisme maupun
memperbaiki kerusakan sel Oleh karena itu teknologi
pengawetan semen adalah mutlak diperlukan dalam menunjang
program IB
Perkembangan pengawetan semen kemudian berkembang
dengan didapatnya bahan yang dapat mencegah pengaruh kejut
Pro
U h Pelernakau Sapi Perch di Indonesia
dingin seperti misalnya kuning telur dan susu Secara umum
pengawetan semen dapat dilakukan dengan menurunkan suhu ke
°C sehingga mengurangi metabolisme sel yang akhirnya
memperpanjang daya hidup spermatozoa
Penambahan cryoprotectant semen dapat dibekukan
sampai
°C sehingga daya hidupnya dapat dipertahankan
sampai
bertahun tahun
Walaupun
pembekuan
dapat
memperpanjang daya hidup spermatozoa sampai tahunan
beberapa hambatan teknis dapat dipertimbangkan untuk
pemakaian semen dingin terutama pada daerah daerah dimana
ketersediaan peralatan dan nitrogen cair masih merupakan
kendala Perbandingan keuntungan dan kerugian penggunaan
semen dingin dan semen beku terlihat pada Tabel
Situmorang et al
melaporkan bahwa penambahan
carnitine ke dalam Tris sitrat nyata meningkatkan daya hidup
spermatozoa setelah penyimpanan lebih dari tiga hari pada suhu
°C Persen motilitas dan persen hidup pada hari ketiga adalah
dan
dan
dan
serta
dan
berturut turut untuk perlakuan kontrol
dan
mM
carnitine Demikian pula pada perlakuan penambakan proline ke
dalam Tris sitrat nyata meningkatkan daya hidup spermatozoa
sampai hari ke penyimpanan pada suhu °C rataan persen
motilitas dan persen hidup berturut turut adalah
dan
dan
dan
serta
dan
untuk perlakuan
kontrol
dan
mM proline
Tabell
Perbandingan untung rugi penggunaan semen beku dan semen
din in chille
Semen beku
Daya hidup hampir tidak terbatas
Memerlukan peralatan dan laboratorium
yang lebih kompleks dan mahal
Konsentrasi spermatozoa perdosis tinggi
maka jumlah betina terinseminasi lebih
rendah per ejakulasi
Penanganan yang lebih kompleks
Fertilitas lebih rendah
Memerlukan penyediaan kontainer dan
nitrogen cair
Semen dingin
Daya hidup terbatas sampai hanan
Peralatan dan laboratorium yang lebih
sederhana dan murah
Konsentrasi
sperma
lebih
rendah
sehingga jumlah betina terinseminasi
lebih tinggi per ejakulasi
Penanganan sederhana
Fertilitas lebih tinggi
Tidak diperlukan kontainer dan nitrogen
cair
Prq iI Usahu Peternakan Sapi Pernh di Indonesia
mM pada medium
Penambahan glutathione sebanyak
semen dingin chilled semen Tris sitrat memberikan basil
mM dan
mM
terbaik dibandingkan dengan perlakuan
glutathione terhadap viabilitas semen cair yang disimpan pada
suhu C dan mungkin dapat mencegah kerusakan spermatozoa
Namun
dari radikal bebas Triwulanningsih et al
apabila glutathione diberikan ke dalam medium tris sitrat untuk
semen beku menghasilkan viabilitas spermatozoa setelah
°C menunjukkan bahwa
dithawing
menit pada suhu
antar
perlakuan tanpa diberi
motilitas
berbeda
nyata
persentase
dibandingkan
dengan yang diberi
glutathione
tetapi
mM
dan
mM
glutathione sebesar
mM
Dapat
tidak berbeda nyata dengan perlakuan
mM dapat mengurangi
terlihat bahwa pemberian glutathione
kerusakan sperma sapi beku akibat adanya radikal bebas
Triwulanningsih et al
a
b
Situmorang et al
dan Situmorang •
yang telah melakukan uji fertilitas di KUD Tanjungsari
Sumedang dan Pangalengan Jawa Barat melaporkan bahwa
persentase kebuntingan didapat lebih tinggi dengan penggunaan
Penambahan
semen dingin dibandingkan semen beku Tabel
kebuntingan
meningkatkan
persentase
kolesterol mg ml nyata
Tidak
didapat
dari kedua jenis semen yang digunakan Tabel
perbedaan yang nyata antara penyimpanan sampai hari pada
suhu °C dimana rataan persentase kebuntingan adalah
dan
untuk masing masing
hari
selama
dan
penyimpanan
Tabel
Persentase kebuntingan hasil B dengan menggunakan semen dingin
dan semen beku di KUD Tanjungsari dan Pangalengan Situmorang
a
Lokasi
Uji
KUD Tanjungsari
KUD Pangalengan
Rata rata
Catatan n
KB
Semen beku
Semen dingin
n
Jumlah sapi yang di IB
Persentase kebuntingan
KB
n
KB
Pro z Usaha Perernakarr Sapi Perah di Indonesia
Situmorang
melaporkan bahwa pemilihan pejantan
unggul balk dari segi kualitas maupun kuantitas sangat berperan
dalam usaha peningkatan produksi nasional khusunya sapi
perah melalui penggunaan semen dingin chilled semen
Estimasi ekonomi menunjukkan keuntungan yang lebih tinggi di
dapat dengan menggunakan semen dingin
Tabel
Pengaruh penambahan kolesterol pada semen dingin dan beku
terhada ersentase kebuntin an Situmoran
b
Perlakuan
Semen dingin
Semen beku
Rata rata
n
KB
n
_
KB
KB
Kontrol
mg Kolesterol
mg Kolesteroi
Rata rata
Catatan n
Jumlah sapi yang di B
KB Persentase kebuntingan
VIII
PENGENCER N SEMEN
Terdapat dua alasan pokok semen perlu diencerkan sebelum
pembekuan yaitu alasan teknis dan alasan biologis
lasan
teknis adalah untuk dapat menginseminasi lebih banyak betina
dari semen pejantan unggul sedangkan alasan biologisnya agar
dapat memberikan medium yang cocok sebagai sumber nutrisi
kontrol pH serta mempertahankan tekanan osmotik spermatozoa
Evans dan Maxwell
Syarat penting yang harus dimiliki oleh setiap pengencer
menurut Toelihere
adalah
murah sederhana praktis
dibuat tetapi mempunyai daya preservasi tinggi
mengandung unsur yang sifat fisik dan kimiawinya hampir sama
dengan semen dan tidak mengandung zat yang bersifat racun
bagi spermatozoa dan saluran kelamin betina serta
tetap
dapat mempertahankan daya fertilisasi spermatozoa dan tidak
terlalu kental agar tidak menghambat fertilisasi
Fungsi pengencer menurut Partodihardjo
adalah
memperbanyak volume semen sehingga dapat dipakai untuk IB
dalam jumlah besar
melindungi spermatozoa terhadap
kejutan dingin selama pembekuan
menyediakan zat
makanan sebagai sumber energi spermatozoa
menyediakan
Pro il Usaha Peternakan Sap Perah di G donevia
buffer untuk mencegah perubahan
pH
dan
dapat
mempertahankan tekanan osmotik dan keseimbangan elektrolit
dan
tidak terdapat kuman serta mencegah kemungkinan
pertumbuhannya
Mottershead
berpendapat bahwa pengencer semen
harus dapat memenuhi kebutuhan hidup spermatozoa seperti
nutrisi buffer krioprotektan dan antibiotik Nutrisi tersebut
dapat berupa glukosa atau sukrosa yang menyediakan sumber
energi bagi spermatozoa Buffer ditambahkan untuk menjaga
keseimbangan pH dan osmolaritas Krioprotektan seperti
gliserol dapat digunakan untuk menstabilkan spermatozoa
selama proses pembekuan dan thawing karena selama proses
tersebut banyak spermatozoa yang mengalami stres Bermacam
macan antibiotik ditambahkan untuk mengontrol pertumbuhan
bakteri
Komposisi kimia pengencer Tris aminomethan dalam
ml adalah
g Tris aminomethan
g asam sitrat
g lactose
g fructose
ml kuning telur
g
raffinose
g streptomycin
g penicillin
ml
aquadest
Pengencer Tris
minomethan Kuning Telur
Pengencer ini memiliki bahan atau zat yang diperlukan oleh
spermatozoa yang merupakan sumber makanan baginya antara
lain fruktosa laktosa rafnosa asam asam amino dan vitamin
dalam kuning telur sehingga spermatozoa dapat memperoleh
sumber energi dalam jumlah yang cukup untuk motilitasnya
Pengencer tris aminomethan kuning telur terdiri dari tris
aminomethan asam sitrat laktosa levulosa fruktosa raffinosa
penicillin dan streptomycin
Komposisi kimia pengencer Tris aminomethan dalam
ml adalah
g asam sitrat
g Tris aminomethan
g lactose
g fructose
ml kuning telur
g
raffinose
g streptomycin
g penicillin
ml
aquadest
Pro il Usaha Peiernakan Sapi Perah di Indonesia
Pengencer
ndroMed®
ndroMed® merupakan suatu medium tanpa kuning telur
untuk semen beku dan cair yang mempunyai angka fertilitas
tinggi walaupun tanpa kandungan dari hewan aslinya Selain itu
juga tidak mempunyai risiko kontaminasi mikroorganisme serta
mudah dalam penanganan dan waktu penyimpanan Bahan
pengencer instan ini berupa cairan tersusun atas aquabidest
fruktose
glyserol
asam
sitrat
buffer
phosfolipid
spectynomycine lincomycine
mg tylocin mg gentamycine
mg Simmet
Pengencer Skim Milk
Pengenceran dengan skim milk ini banyak digunakan oleh
BIB di Indonesia selain biaya operasional lebih murah dan
Inseminator menyukai juga karena pada saat melakukan IB
tekanan pada straw terasa dan hash keberhasilan IB nya juga
baik
Pengenceran dan Pendinginan
Karena daya hidup spermatozoa sangat terbatas di luar
tubuh maka penambahan pengencer mutlak perlu Pengencer
Tris sitrat yang mengandung
v v kuning telur KT
digunakan untuk semen beku dan Tris citrat
v v Kuning
Telur dan air kelapa untuk semen dingin cair Tabel
Konsentrasi dan persentase hidup spermatozoa harus segera
dievaluasi untuk menentukan besarnya pengeceran spermatozoa
Rumus yang digunakan untuk menghitung berapa besarnya
pengenceran untuk semen cair konsentrasi
juta spermatozoa
ml adalah konsentrasi semen dikalikan persentase spermatozoa
hidup dibagi konsentrasi semen yang diinginkan
juta ml
untuk semen cair dan
juta untuk semen beku Misalnya
diperoleh perhitungan dalam kamar hitung neaubeur
spermatozoa dan perhitungan spermatozoa hidup
maka
pengenceran yang dilakukan adalah
Pro il Usaha Peternuka
x
x
x
Sapi Perah di Indonesia
kali
ml maka pengencer yang
Misalkan diperoleh semen
ml terdiri dari medium
dipersiapkan sebanyak x
Medium
pengencer dibagi dua
B
masing
masing
ml
dan
ditambahkan
pada
pengencer
dan
bagian sample semen
dari
°C
bersama medium B tanpa semen suhunya diturunkan
menjadi °C Medium pengencer B ditambahkan pada medium
dengan volume yang sama pada saat suhu mencapai
dan °C sehingga total konsentrasi semen cair menjadi sebesar
juta mI Semen yang bersuhu °C dikemas dalam ministraw
ml Pengisian semen di straw dilakukan
yang berukuran
pada suhu °C Penutupan straw dilakukan dengan powder
penutup kemudian dicelupkan ke air bersuhu °C lalu
dikeringkan dengan tissue dan disimpan di refrigerator bersuhu
°C sampai digunakan Penyimpanan di refrigerator hares
semua permukaan straw terendam dalam air bersuhu °C
n
r tris sitrat dan air kela a
Bahan
Semen beku
Tris sitrat
Bag
Bag B
Semen dingin
Tris sitrat
ir kelapa
Bag B Bag
Bag B
Bag
Tris hydroxymethyl amino
methane g
sam sitrat citric acid g
Fructosa g
Streptomycin mg ml
Benzylpenicillin IU ml
Glycerol
VN
Kuninq telur V V
quades ml
ir kelapa ml*
ir kelapa terlebih dahulu dibuat pH nya menj adi
NaOH
dengan menambahkan
N
VIIL Pendinginan dan Pembekuan Semen
Pendinginan dan pembekuan semen dapat dilakukan dengan
menggunakan mesin pendingin yang penurunan suhunya dapat
diatur secara otomatis Kalau mesin pendingin tidak tersedia
maka pendinginan dapat dilakukan secara sederhana yaitu
Pro il Usaha Pt ernu un Sapt Perak di ladunecra
dengan memasukkan semen
pengencer langsung ke dalam
kulkas dengan catatan volume semen dan pengencer minimal
ml pabila volume semen pengencer kurang dari
cc
dalam
becker
glass
maka semen encer tersebut dimasukkan
yang berisi
cc air dengan suhu °C
Cooling adalah proses pendinginan semen setelah
diencerkan dimasukkan dalam gelas ukur tertutup dan
ditempatkan pada gelas piala berisi air dengan suhu
°C
kemudian diletakkan di dalam alat pendingin cool top selama
menit Bearden dan Fuquay
Cooling harus
berjalan secara perlahan dan minimal jam untuk menurunkan
suhu semen dari
°C menjadi °C dan semen harus direndam
air untuk mencegah cold shock Hafez
Menurut Moce
dan Vicente
proses pendinginan menyebabkan stress
fisik dan kimia pada membran spermatozoa yang dapat
menurunkan viabilitas dan kemampuan
memfertilisasi
spermatozoa
Masuda
berpendapat bahwa proses pendinginan
semen pada suhu °C sesuai prosedur meliputi
penambahan
pengencer
yang dilakukan pada suhu
°C
pendinginan
pada suhu °C dilakukan selama
jam
penambahan
pengencer B yang mengandung gliserol dan
dilanjutkan
proses pembekuan setelah
jam dari proses glisero
ekuilibrasi Pendinginan semen pada suhu
°C sebelum
penambahan pengencer B atau pengencer yang mengandung
gliserol dapat meningkatkan daya hidup sel setelah proses
pembekuan atau pencairan thawing Selain itu gliserolisasi di
suhu dingin °C memberikan hasil yang lebih baik
Proses
pendinginan
pembekuan
dan
thawing
mengakibatkan stress fisik dan kimia pada membran
spermatozoa yang dapat menurunkan viabilitas dan kemampuan
memfertilisasi spermatozoa Spermatozoa yang mengalami cold
shock diakibatkan adanya stress oksidatif oleh reactive oxygen
species ROS Semen beku juga dilaporkan menyebabkan
spermatozoa
perubahan
fungsi
penurunan
viabilitas
spermatozoa komposisi lipid dan susunan plasma membrane
Pro ll U aha Peternakau Sapi Pernh di Indonesia
spermatozoa dan perubahan kelompok sulfhydiyl pada membran
protein Selama pendinginan konsentrasi intra dan extraseluler
larutan terjadi perubahan sebagai hasil pembentukan es eksternal
cker dan McGann
dan pengeluaran air dari dalam sel
Han dan Bischof
Bermacam penelitian dilakukan pada sistem pendinginan
jam sebelum penambahan pengencer B
suhu °C selama
dengan hasil motilitas spermatozoa jauh lebih balk dari prosedur
beku dan lebih baik dari metode berikut ini yaitu semer yang
disimpan setelah proses glisero ekuilibrasi atau setelah
jam Masuda
penambahan pengencer B selama
Gliserolisasi adalah penambahan gliserol pada pengencer
berfungsi melindungi dari efek lethal selama proses pembekuan
Penambahan cryoprotectan gliserol dilakukan beberapa jam
sebelum pembekuan agar sel spermatozoa berkesempatan untuk
berekuilibrasi dengan gliserol Gliserol dipakai sebagai zat
pelindung pada proses pembekuan semen dan ditambahkan
secara bertahap pada semen setelah cooling Hafez
Zenichiro et al
Pada proses pembekuan spermatozoa penempatan straw
cm di atas permukaan nitrogen cair dan dengan
menggunakan rak dinamis menghasilkan persentase motilitas
dan spermatozoa hidup nyata lebih baik Hal tersebut didukung
straw ditempatkan
cm di atas
oleh Mottershead
permukaan nitrogen cair Kerusakan sel spermatozoa akan
terjadi apabila dibiarkan
°C selama lebih dari empat detik
Setelah semen dimasukkan dalam N cair maka motilitas dan
jam setelah
viabilitas semen beku dapat dievaluasi sebelum
pembekuan dengan dithawing dalam air suhu
°C selama
Mottershead
Rasul et al
detik Brogliatti et al
Kemampuan memfertilisasi semen beku lebih rendah dari
semen segar Hal ini disebabkan adanya kerusakan sel yang
dapat menurunkan kemampuan memfertilisasi Kerusakan
tersebut umumnya terdapat pada akrosom dan mitokondria
Nishizono et al
Selama pembekuan ada dua proses
Profi Uraho Pe ernakan Sa i Perch di Indonesia
penting yaitu pertama adalah produksi dari ROS yang dapat
mengubah fungsi dan struktur membran Kedua adalah
perubahan
sistem
pertahanan
antioksidan
berdasarkan
penurunan isi glutathionine intraseluler Gadea et al
Devireddy et al menyatakan bahwa
kerusakan membran
spermatozoa banyak terjadi karena pembentukan kristal es
khususnya selama titik kritis
°C Hal tersebut didukung
pendapat Rasul et al
kerusakan terbesar pada plasma
membran dan tudung akrosom terjadi selama pembekuan dan
thawing yang diikuti oleh equilibrasi
VIII
Pengemasan dan Penyimpanan Semen
Semen cair dingin dapat disimpan pada tabung atau
dikemas dalam straw dan disimpan pada kulkas suhu °C
sedangkan semen beku harus disimpan pada kontainer nitrogen
dan isi nitrogen harus tetap dijaga selama penyimpanan Secara
garis besar isi nitrogen cair tidak boleh kurang dari
dari
tinggi kontainer
Thawing Pencairan Kembali
Sebelum IB semen beku dicairkan kembali dengan
memasukkan straw beku pada air dengan suhu °C selama
menit atau air dengan suhu °C selama
detik
Waktu Inseminasi
Faktor metodologi dan waktu inseminasi sangat penting
berhubung daya hidup sel telur lebih pendek dibandingkan
spermatozoa Keberhasilan kebuntingan tergantung dari waktu
dan tempat semen dideposisikan Inserninasi dilakukan dengan
teknik trans cervical dimana IB gun dideposisikan sedemikian
rupa melewati cervix dan semen diseinprotkan post cervix
Waktu inseminasi yang terbaik adalah pada waktu berahi dan
hubungan antara keberhasilan kebuntingan dan waktu
inseminasi
Prulil Usaha Pete raakan Sap, Percdr di Indonesia
IX. EVALUASI KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN
DAN PEMERIKSAAN KEBUNTINGAN
Jumlah perkawinan perkebuntingan atau service per
conception (S/C) merupakan suatu ukuran untuk mengetahui
berapa kali sapi betina dikawinkan sampai bunting . Nilai normal
berkisar antara 1,6 sampai 2,0 . Semakin rendah nilai tersebut
menunjukkan tingkat kesuburan sapi semakin tinggi . Besarnya
jumlah nilai perkawinan per kebuntingan dipengaruh i oleh
kualitas semen yang rendah, selain kurang terampilnya petugas
inseminator di lapang (Toelihere, 1993) . Diagnosis kebuntingan
pada sapi dapat dilakukan dengan mengetahui ukuran nonreturn rate (NRR), palpasi rektal dan conception rate (CR)
(Susilawati dan Suyadi, 1992) .
Non return rate, yaitu persentase jumlah ternak yang tidak
kembali estrus antara hari ke-60-90 setelah dikawinkan . Nilainilai ini disebut juga nilai NRR pada 28 sampai 35 hari atau
nilai NRR pada 60 sampai 90 hari . NRR merupakan kriteria
umum yang digunakan secara luas untuk menentukan
kebuntingan . Meskipun demikian, terdapat beberapa kelernahan,
yaitu tidak semua ternak dapat diamati secara cermat sehingga
tidak semua ternak yang kembali birahi diketahui . Ada juga
kejadian ketika ternak bunting dapat menunjukkan berahi dan
sapi tidak bunting atau mengalami abortus menunjukkan
anestrus (Lindsay et al., 1982) .
Palpasi rektal merupakan suatu cara untuk mendiagnosais
kebuntingan . Sebagai indikasi ternak bunting, dapat diketahui
melalui palpasi per rektal terhadap cornua uteri, ketika cornua
uteri yang membesar berisi cairan plasenta (amnion dan
allantois) . Perabaan dan pemantulan kembali fetus di dalam
uterus yang membesar berisi selaput fetus dan cairan plasenta .
Untuk mengurangi risiko yang mungkin timbul dalam
melakukan palpasi rektal maka diperlukan kandang jepit dan
sarung tangan yang menutupi lengan untuk menjaga kebersihan .
Palpasi pada 35-40 hari kebuntingan lebih 'membutuhkan
kemahiran daripada fase berikutnya . Walaupun demikian, bila
143
Profi! U.-ha Peernakan Sapi Perah di Indonesia
ketepatan hasil bisa diperoleh pada fase ini maka akan
memberikan nilai ekonomis yang lebih tinggi (Susilawati dan
Suyadi, 1992) .
Conception rate, yaitu persentase sapi betina yang bunting
pada inseminasi pertama, disebut juga sebagai angka konsepsi .
Angka konsepsi ditentukan berdasarkan hasil diagnosis
kebuntingan dalam waktu 40-60 hari sesudah inseminasi
(Toelihere, 1993) .
Kadar progesterone dapat digunakan sebagai cara untuk
mendeteksi kebuntingan . Sapi yang bunting korpus hiteumnya
akan tetap persisten selama bunting sehingga kadar hormon
progesterone dalam darah tetap tinggi . Sedangkan pada hewan
yang tidak bunting kadar progesteron akan turun akibat regresi
korpus luteum pada hari ke-18-24 setelah berahi . Kadar
progresteron lebih dari 11 ng/ml menandakan adanya
kebuntingan (Osinga et al ., 1989 ; Drajat, 2002) .
Pemeriksaan kebuntingan menggunakan' ultranosonografi
(USG), yaitu dengan mengamati bagian dalam hewan tanpa
harus memotong hewan . Teknik ini menggunakan suara yang
tidak dapat didengar dengan telinga normal karena suara
tersebut mempunyai gelombang pendek dan frekuensi tinggi .
Suara tersebut dipancarkan oleh probe menuju jaringan tubuh .
Penyerapan dan pemantulan suara ini terjadi secara bervariasi
terhadap cairan, jaringan lemak, daging dan tulang . Jaringan
yang mengandung banyak air akan menyerap suara yang akan
dipantulkan kembali . Pantulan suara yang kembali dipantulkan
oleh probe dan dijelmakan dalam bentuk gambar dalam monitor .
Pemeriksaan kebuntingan menggunakan USG ini merupakan
cara yang sangat sensitif karena hasilnya mendekati kebenaran,
yaitu foetus dapat terlihat pada monitor. Keakuratan teknik ini
mendekati 100% setelah 40 hari umur kebuntingan (Drajat,
2002) .
144
Profil Usaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia
X.
TEKNOLOGI SEXING SPERMATOZOA X DAN Y
Pejantan pada mammalia menentukan jenis kelamin anak
yang dilahirkan . Sebagai hasil pembelahan reduksi selama
spermatogenesis, spermatozoa hanya mengandung setengah
jumlah DNA pada sel-sel somatik dari spesies yang sama dan
terbentuklah dua macam spermatozoa . Spermatozoa yang
mengandung kromosom X (spermatozoa X) jika terjadi
fertilisasi akan menghasilkan embrio betina, sedangkan
spermatozoa yang mengandung kromosom Y (spermatozoa Y)
akan menghasilkan embrio jantan. Beberapa perbedaan
spermatozoa X dan Y menurut Erricson dan Glass (1982) tertera
pada Tabel 5.
Tabel 5 . Bebera a erbedaan s ennatozoa X dan Y
Parameter
DNA
Ukuran
Perbedaan
Spermatozoa Y lebih sedikit
Spermatozoa X lebih besar
Identifikasi
Spermatozoa mengandung
Motilitas
Spermatozoa Y lebih cepat
Muatan
Permukaan
fluorescent
Spermatozoa X migrasi ke
katoda
Sumber : Erricson dan Glass (1982)
Evaluasi
Terukur
Spermatozoa Y dapat diukur atau harus
representatif dalam random populasinya
Spesies spesifik
Identifikasi yang akurat bile spermatozoa
di staining F-body nya
Tidak ada perbedaan muatan antara
spermatozoa X dan Y
Spermatozoa X mengandung kromatin lebih banyak di
kepalanya sehingga mengakibatkan ukuran kepala spermatozoa
X lebih besar (Hafez, 1993) . Susilawati et al. (1997) melakukan
identifikasi spermatozoa X dan Y berdasarkan pada ukuran
kepala, yaitu panjang kali lebar, apabila lebih besar dari rata-rata
maka dianggap spermatozoa X sedangkan bila lebih kecil adalah
spermatozoa Y . Berdasarkan cara penentuan tersebut diperoleh
hasil persentase spermatozoa yang diprediksi sebagai
spermatozoa X sebanyak 52,10% dan spermatozoa yang
diprediksi sebagai spermatozoa Y sebanyak 47,9% . Situmorang
et al . (2003) melaporkan bahwa berdasarkan morfometri ukuran
kepala, menunjukkan pemisahan dengan menggunakan putih
telur dan sephadex dapat mengubah ratio kromosom X dan Y
dari 50% :50% menjadi kurang lebih 70% :30% . Pada penelitian
1 45
Pr,,fil Usaha Peienraknn So ti Perth di Indonesia
tahun berikutnya, penambahan kolesterol dan glutathione dapat
meningkatkan daya hidup spermatozoa pasca pemisahan . Hasil
pengukuran morfornetri luas kepala spermatozoa menunjukkan
bahwa ratio X dan Y untuk fraksi atas dan bawah berturut-turut
adalah adalah 77,5% : 22,5% dan 12,5% : 87,5% . Persentase
kebuntingan adalah 23,3% ; 66,7% dan 58,6% masing-masing
untuk sapi-sapi di kandang Balai Penelitian Ternak, KUD
Tandangsari dan KPBS Pengalengan . Didapatkan persentase
kebuntingan yang lebih rendah dengan menggunakan putih telur
sebagai media pemisahan dibandingkan sephadex, kemungkinan
sebagai konsekuensi kerusakan membran spermatozoa selama
proses sentrifugasi dan pengaruh putih telur itu sendiri .
Spermatozoa Y biasanya lebih kecil kepalanya, lebih ringan
dan lebih pendek dibandingkan dengan spermatozoa X,
sehingga spermatozoa Y lebih cepat dan lebih banyak bergerak,
serta kemungkinan materi genetik dan DNA yang dikandung
spermatozoa Y lebih sedikit daripada spermatozoa X (Sumner
dan Robinson, 1976) . Dengan demikian, apabila dilakukan
sentrifugasi maka spermatozoa X cenderung lebih cepat
membentuk endapan dibandingkan dengan spermatozoa Y
(Mohri, 1997) . Spermatozoa Y bergerak ke arah katode (Ericson
dan Glass, 1982 dalam Hafez, 1993) . Berdasarkan perbedaanperbedaan
tersebut, berkembang
metode
pemisahan
spermatozoa dengan menggunakan kolom albumin, velocity
sedimentation, sentrifugasi dengan gradien densitas, motilitas
dan pemisahan elektroforesis, isoelectric focusing, H-Y antigen,
flow sorting dan sephadex kolom (Hafez, 1993) dan (De Jonge
et al ., 1997) . Dar] sekian banyak metode pemisahan
spermatozoa X dan Y yang paling umum adalah yang
berdasarkan pada perbedaan densitas atau motilitas . Pemisahan
spermatozoa X dan Y saat ini yang menghasilkan populasi
spermatozoa X dan Y terbanyak adalah dengan flow cytometry,
akan tetapi alat yang digunakan harganya mahal (Seidel et al.,
1997) .
Pemisahan spermatozoa dengan flow cytometry dapat
memisahkan spermatozoa X dan Y lebih baik dibandingkan
1 46
Profil Usaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia
dengan metode pemisahan yang lain, tetapi alat yang digunakan
harganya mahal . Metode pemisahan lain yang lebih murah,
valid, lebih mudah dihasilkan dan diaplikasikan, adalah filtrasi
menggunakan sephadex yang dapat menghasilkan spermatozoa
X 70-75% (Beernik, 1986 dalam Hafez, 1993) .
Kegunaan sexing sperma antara lain untuk menghasilkan
lebih banyak betina yang superior sebagai pengganti induk atau
untuk peremajaan ; dapat pula menghasilkan sap] jantan untuk
mempercepat penyediaan calon pejantan dalam program
progeny test . Teknik yang digunakan untuk memisahkan
spermatozoa X dan Y disajikan secara terperinci dalam Tabel 6 .
Tabel 6 . Teknik an di unakan untuk memisahkan s ermatozoa X dan Y
Teknik
Sedimentasi pada media
dengan immobilisasi
spermatozoa
Skim milk powder, Glysin,
sodium sitrat, Gliserol
Albumin kolom
Velocity sedimentation
Sentrifugasi gradien
densitas
Motilitas dan pemisahan
menggunakan elektroforesis
Isoelectric focusing
H-Y antigen
Flow sorting oleh
kandungan DNA
Sephadex coulom
Hasil
IB dengan semen tersebut menghasilkan betina sebanyak
70%
Meningkatkan jumlah kelahiran anak jantan bila yang
digunakan lapisan atas
Spermatozoa setelah preseleksi dengan nletode ini berhasil
dibekukan
Sedimentasi berdasarkan ukuran, densitas dan bentuk kepala .
Perbedaan ukuran kepala faktor yang dominan pada type
pemisahan ini, sedanqkan bentuk tidak begitu penting
Spermatozoa dipisahkan untuk mendapatkan sedimen
dengan sentrifugasi grandien densitas, bahan yang dibuat
gradien densitasnya lebih rendah dari spermatozoa .
Dikembangkan dengan sentrifugasi pada waktu yang pendek,
waktu yang pendek tidak menyebabkan pengaruh difusi yang
signifikan .
Spermatozoa yang immotil dengan elektroforesis akan
bergerak ke anoda pada pH netral, ketika pemisahan dengan
elektroforesis pada kondisi yang konsisten maka spermatozoa
yang motil akan bergerak ke arah katode . Hasil pengamatan
pada daerah kepala spermatozoa mempunyai muatan
sehingga dia bergerak, jika muatan negatif spermatozoa akan
diorrientasikan ke daerah ekor yang bergerak ke arah anoda
yang mempunyai muatan negatif lebih besar .
Pemisahan menggunakan kolom dengan cairan yang stabil
yang dibuat gradien densitas .
Spermatozoa membentuk lapisan atau suspensi spermatozoa
akan bermigrasi ke arah isoelektrik
Spermatozoa diperlakukan dengan anti serum H-Y .
Inseminasi pada tikus menggunanan spermatozoa yang
diperlakukan dengan anti serum H-Y, anti gen menghasilkan
45,4% jantan sedangkan kontrol 53%
Spermatozoa Y berhasil di sorting sebanyak 72-80%
Didapat 70% spermatozoa X dengan cars spermatozoa
dimasukkan di bagian atas .
65-85% spermatozoa X didapat pada filtrat .
1 47
Pro/il U.coltu Petervwkan Sapi Pernlt di Indonesia
XI. PENINGKATAN MUTU GENETIK MELALUI
TEKNOLOGI TRANSFER EMBRIO
Permasalahan yang dihadapi dalarn bidang peternakan di
Indonesia antara lain adalah masih rendahnya produktivitas dan
mutu genetik ternak. Keadaan ini terjadi karena sebagian besar
petemakan di Indonesia masih merupakan peternakan
konvensional, dimana mutu bibit, penggunaan teknologi, dan
keterampilan peternak relatif masih rendah . Penerapan teknologi
transfer embrio (TE) atau alih janin merupakan alternatif untuk
meningkatkan populasi dan mutu genetik sapi secara cepat .
Teknologi TE pada sapi merupakan generasi kedua bioteknologi
reproduksi setelah IB . Pada prinsipnya, teknik TE adalah
rekayasa fungsi alat reproduksi sapi betina unggul dengan
hormon superovulasi sehingga diperoleh ovulasi sel telur dalam
jumlah besar. Sel telur hasil superovulasi in] akan dibuahi oleh
spermatozoa unggul melalui teknik IB sehingga terbentuk
embrio yang unggul . Embrio yang diperoleh dari ternak sapi
donor, dikoleksi dan dievaluasi, kemudian ditransfer ke induk
sapi resipien sampai terjadi kelahiran. TE merupakan
bioteknologi reproduksi mutakhir yang sudah diaplikasikan
secara terstruktur di Indonesia sejak tahun 1996 pada sapi perah
dan sapi potong . Teknologi ini memang merupakan sarana yang
sangat efektif untuk peningkatan mutu genetik secara cepat .
Aplikasinya hanya terbatas pada sapi-sapi elite saja, karena
masih mahalnya biaya pelaksanaan transfer embrio. Di
Indonesia hanya ada satu Balai Embrio Ternak di Cipelang
Bogor, dengan produksi embrio beku sapi sekitar beberapa ratus
saja setahun sehingga penggunaan teknologi ini untuk
pengembangan sapi perah rakyat sangat terbatas . Mardijono
(2003) melaporkan bahwa dari 52 kali flushing menghasilkan
107 embrio atau rataan 2,057 embrio . Pada tahun 2002,
dihasilkan 350 embrio dan ditransfer pada 241 resipien dengan
241 embrio (satu embrip per ekor), dari hasil transfer tersebut
telah bunting 48 ekor (C/R = 19,92) .
1 48
Pro/il Ucoha Peiernakon Sop Perah di Indonesia
Teknologi TE sudah sangat luas diaplikasikan dalam dua
dasawarsa terakhir ini (Cunningham, 1999), antara lain dengan
pelaksanaan multiple ovulation and embryo transfer (MOET) .
Tujuan dari teknologi ini adalah untuk menghasilkan anak
(embrio) yang banyak dalam satu kali siklus . Saat ini produksi
embrio dapat mencapai 30 embrio/koleksi, tetapi rata-rata hanya
sekitar 5 embrio/koleksi yang layak untuk ditransfer atau
dibekukan . Aplikasinya banyak dilakukan pada sapi perah untuk
tujuan perbaikan mutu genetik, yaitu dengan meningkatkan
intensitas seleksi (i) pada galur induk . Akan tetapi, ada kerugian
yang ditimbulkan, yaitu interval generasi (L) induk juga akan
meningkat (Triwulanningsih dan Diwyanto, 2003) . Untuk tujuan
perbanyakan ternak yang berkualitas, teknologi MOET akan
sangat efektif, karena yang diperbaiki adalah hewannya (diploid),
bukan sekedar up-grading (haploid) seperti pada teknologi IB .
Oleh karena itu, teknologi TE dapat dipandang sebagai upaya
mengganti ternak yang ada dengan populaSi baru (breed
replacement) . Pada tahun 1997 aplikasi TE di dunia sudah
mencapai sekitar 460 .000 embrio (Thibier, 1997) dan di India
aplikasi TE pada kerbau perah telah mencapai sekitar 1000
embrio (Cunningham, 1999) .
Koleksi dan transfer embrio saat ini sudah dapat dilakukan
dengan cara non operasi sehingga akan memudahkan
pelaksanaan, selain biaya yang relatif lebih ekonomis .
Keberhasilan transfer embrio segar dapat mencapai 55-65%,
sedangkan embrio beku sekitar 50-60% (Hasler, 1995) . Teknik
ini akan mampu meningkatkan kualitas genetik ternak sampai
10% (Lohuis, 1995) yang jauh di atas metode konvensional yang
hanya sekitar 2-5%.
Salah satu program yang pernah dikembangkan Balai
Penelitian Ternak, adalah upaya membentuk sapi perah hibrida .
Pendekatan ini didasarkan pada kenyataan bahwa program upgrading sapi lokal dengan IB di negara berkembang kurang
berhasil dengan baik (Rutledge, 1995), sehingga diperlukan suatu
terobosan dengan memanfaatkan teknologi IVM/IVF/IVC dan
TE. Walaupun basil dari penelitian ini belum optimal, tetapi
1 49
Profi/ Ucaha Pe(ernaknn Sapi Perah di Indone .ia
beberapa informasi dapat dipergunakan sebagai landasan untuk
mengembangkan inovasi lebih lanjut .
XI .l Produksi Embrio Secara In Vitro
Produksi embrio secara in vitro mencakup tiga aspek utama,
yaitu pematangan sel telur (IVM), pembuahan sel telur (IVF),
dan pembiakan embrio (IVC) secara in vitro . Teknologi
IVM/IVF/IVC sudah berkembang dengan pesat, seperti yang
telah dilaporkan oleh Kanagawa et al . (1995).
Sel telur umumnya didapat dari ovari yang berasal dari
rumah potong hewan . Sel telur dikumpulkan dengan metode
aspirasi maupun slicing secepatnya setelah sapi dipotong,
kemudian dimatangkan secara in vitro . Pematangan dilakukan
pada media sederhana sampai yang kompleks, umumnya
mengandung hormon estrogen, FSH, LH, prolactin, progesteron
ataupun protein ovari dan peptida (Gordon, 1994) . Hormon yang
paling umum digunakan saat ini adalah FSH, estrogen dan LH
(Fukui et al ., 1989 ; Wiemer et al., 1991 ; Zuelke dan Brackett,
1993 ; Eyestone dan First, 1989 ; Keefer et al., 1993) . Penggunaan
serum sapi betina yang sedang estrus (ES) dilaporkan dapat
digunakan untuk mengganti penggunaan hormon sintetik
(Wahjuningsih et al., 2003) .
Keberhasilan pembuahan sangat dipengaruhi oleh kualitas
dan kuantitas spermatozoa . Proses kapasitasi dapat dilakukan
pada medium BO, TALP ataupun CRlaa yang telah diberi
tambahan kafein, heparin (Rosenkrans dan First, 1991) .
Triwulanningsih et al . (2002) melaporkan bahwa dengan
menggunakan metode kapasitasi sperma menggunakan metode
Percoll gradient 45% dan 90% sebanyak 0 .5 ml/lapis ternyata
dapat meningkatkan persentase perolehan expanded blastosis
menjadi 33 .02% (n = 1055 oosit) dari 21 .06% (n = 1007 oosit)
bila lapisan Percoll 2 ml/lapis . Media untuk pembiakan yang
banyak digunakan adalah media CR l aa, KSOM (protein free
pottasium simplexoptimize medium) maupun synthetic oviductal
fluid (SOF) . Dilaporkan bahwa medium CRlaa ternyata lebih
1 50
Pro/il Usoha Peternokon Supt Perah di Indoneeia
cocok digunakan untuk kultur embrio sapi dibandingkan dengan
medium KSOM (Triwulanningsih et al ., 2002) . Dengan
menggunakan media CRlaa telah diperoleh 31 .2% expanded
blastosis dari 61 .5% blastosis (n = 1549 oosit), sementara
dengan medium KSOM hanya 5.1% yang berkembang dari
38.5% blastosis (n-675 oosit) . Penambahan bovine oviductal
cells (BOEC) dan cumuslus/granulosa monolayer sel sudah
banyak dilaporkan dapat meningkatkan persentase blastocyst
(Goto et al., 1988 ; Wang et al., 1989 ; Fukuda et al., 1990 ; Xu et
al., 1992) .
Secara umum teknologi pematangan, pembuahan dan
pembiakan untuk tujuan memproduksi embrio secara in vitro
sudah sangat tersedia dan bukan lagi merupakan hambatan
untuk penerapan secara luas . Walaupun didapat variasi
persentase blastosis yang disebabkan perbedaan metode
pematangan, pembuahan dan pembiakan, secara keseluruhan
rataan persentase blastosist adalah 30-50% . Hambatan yang
masih ada adalah ketersediaan sel telur, baik secara kuantitatif
maupun kualitatif di Indonesia . Untuk itu sumber sel telur dari
negara-negara yang sudah maju antara lain Australia, Selandia
Baru, Jepang dan Amerika maupun Eropa perlu dipikirkan .
Triwulanningsih et al. (2001) melaporkan bahwa oosit dapat
dikultur dalam media TCM-199 pada suhu 30°C selama 30
sampai 36 jam dan setelah difertilisasi dapat terus berkembang
menjadi blastosis dan bahkan expanded blastosis . Kemampuan
oosit yang mengalami cleveage memperlihatkan keadaan oosit
tersebut telah cukup matang untuk difertilisasi . Walaupun
demikian, kemampuan untuk terus berkembang menjadi
expanded blastosis tergantung pula pada medium kultur yang
digunakan, pada penelitian tersebut digunakan medium KSOM
yang telah dijual secara komersial di Amerika. Jaswandi (2002)
melaporkan penggunaan hepes dan butiran efervesen dalam
sistem inkubasi produksi embrio domba secara in vitro
memungkinkan pematangan sel telur dalam perjalanan dapat
dilakukan tanpa menggunakan C02 inkubator.
15!
Profil Usahu Peternakan Sup Perah di Indonesia
Alternatif lain sebagai sumber sel telur dapat diperoleh dari
sapi betina muda (umur 4-6 bulan) tanpa mengganggu
kemampuannya berproduksi secara normal kembali setelah
dewasa . Penelitian telah dilakukan di Balai Penelitian Ternak, sel
telur ditampung dengan jalan operasi dari sapi betina muda yang
sebelumnya telah mendapatkan perlakuan superovulasi,
kemudian sel telur yang terkumpul difertilisasi secara in vitro .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan control
intravaginal divice release (CIDR) yang berisi 0,3 mg
progesterone dalam inert silicone elastomer selama 5 hari dan
dikombinasikan dengan perlakuan injeksi folicle stimulating
hormone selama 3 hari berturut-turut dengan dosis menurun dan
interval 12 jam, dapat meningkatkan jumlah oosit yang dapat
dikoleksi (Lubis et al., 2002) . Hal ini membuktikan bahwa
CIDR yang dikombinasikan dengan FSH dapat menstimulasi
pertumbuhan folikel dan meningkatkan jumlah oosit yang
dihasilkan .
Amstrong et al . (1992) menyatakan bahwa embrio yang
diperoleh dari oosit anak sapi muda dapat mencapai blatosis
(28%), sedangkan yang dari oosit abatoir diperoleh 17%
blastosis . Triwulanningsih et al . (2001) melaporkan bahwa
penggunaan CIDR selama 5 hari dan injeksi 2,4 mg FSH adalah
dosis yang balk untuk juvenile berumur sekitar 4-5 bulan .
Karena dengan dosis tersebut, dapat diperoleh oosit dan morula
yang paling banyak dibandingkan dosis FSH yang lain (2,8 mg,
3,2 mg dan 3,6 mg). Walaupun demikian, keberhasilan teknologi
ini masih bervariasi di antara berbagai laboratorium IVF . Sekitar
15-40% sel telur yang dikultur dapat berkembang menjadi
blastosis yang balk dan setelah melalui proses freezing and
thawing maka viabilitasnya menurun dan survival embrio basil
IVF masih lebih rendah dibandingkan embrio konvensional .
Walaupun aplikasi teknik ini secara praktis dapat mengurangi
generasi interval (L), faktor penghambat adalah masih tetap
menggunakan hormon dan proses operasi yang memerlukan
biaya yang cukup mahal .
152
Pratil G:vaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia
Beberapa masalah dan kendala yang harus diperhatikan
dalam pengembangan teknologi TE adalah : (1) menentukan
ternak donor yang mempunyai kualifikasi yang sangat bagus, (2)
metode superovulasi serta koleksi embrio yang mudah dan
ekonomis, (3) evaluasi, seleksi, dan penyimpanan embrio, (4)
penyediaan resipien, serta (5) proses transfer embrio . Kesiapan
ternak resipien sangat berpengaruh pada keberhasilan teknologi
yang
Pada penelitian terdahulu ternak resipien
disinkronisasi-kan estrusnya, temyata tidak semuanya mampu
menghasilkan corpus lutheum yang mampu menghasilkan
hormon progesteron yang cukup untuk memelihara kebuntingan .
Jadi, walaupun embrio yang ditransfer bagus, namun apabila
endometirum uterus resipien tidak mampu mempertahankan
kebuntingan, maka hal ini akan memengaruhi kegagalan
kebuntingan setelah 2-3 bulan . Kerjasama dengan KUD
Tanjungsari, Sumedang dalarn transfer embrio hasil fertilisasi in
vitro maupun in vivo segar diperoleh hasil yang cukup balk,
dengan rata-rata persentase kebuntingan 50% (Triwulanningsih,
2002) . Pada penelitian ini telah diinjeksikan 2 ml IFN pada
resipien di hari ke-11 setelah estrus, dengan harapan resipien
dapat mempertahankan konseptus .
Reproduksi ternak sangat dipengaruhi oleh faktor
nutrisi/pakan . Dalam melaksanakan TE sinkronisasi antara
embrio dan endometrium resipien sangat berpengaruh pada
keberhasilan implantasi embrio . Ashworth (1992) menyatakan
bahwa adanya produk konseptus (embrio) untuk menghasilkan
bovine trophoblastprotein-one (bTP-1) yang kini disebut sebagai
interferon (IFN), ketika protein tersebut bertanggung jawab pada
pencegahan regresi corpus lutheum karena adanya protaglandin
(PGF2a ), agar corpus lutheum tetap menghasilkan progesteron
untuk mempertahankan kebuntingan . Teknologi TE adalah suatu
alat untuk memperbaiki produktivitas ternak . Oleh karena itu,
dalam aplikasinya perlu dipertimbangkan aspek kernudahan dan
efisiensi ekonominya .
1 53
Profit Usaha PeIernakan Sap, Per"" di Indonwia
XI.2 Cloning dan Splitting Embrio
Pada tahun 1952, untuk pertama kalinya dilaporkan
keberhasilan cloning pada katak, dan pada tahun 1980-an untuk
pertama kali dilaporkan cloning pada domba (Willadsen, 1986,
Cunningham, 1999) . Saat ini pembelahan embrio secara fisik
telah berhasil menghasilkan kembar identik pada domba, sapi,
babi, dan kuda (Brem, 1995). Walaupun secara teoritis
pembelahan dapat dilakukan beberapa kali, tetapi sampai saat ini
tingkat keberhasilannya masih sangat rendah . Embrio sapi pada
stadium akhir dan blastosis dapat dikoleksi secara nonoperasi .
Setelah dibelah menjadi dua bagian, setengahnya dapat
dikembalikan langsung ke dalam uterus, dan sebagian sisanya
dapat segera ditransfer ke resipien . Teknik splitting ini di masa
depan mempunyai prospek yang sangat bagus, terutama pada
ternak yang mempunyai nilai ekonomis tinggi (sapi perah) . Akan
tetapi, penyempurnaan agar tingkat keberhasilannya lebih baik
lag] dan aplikasi yang lebih mudah dan murah perlu terus
dilakukan . Saat ini perkembangan teknologi splitting embrio di
Indonesia masih sangat terbatas, baik dalam arti jumlah
kegiatannya maupun tingkat keberhasilanya .
Pada tahun 1996, telah dilaporkan suatu hasil cloning domba
yang berasal dari sel somatik jaringan kelenjar susu . Selanjutnya
cloning pada tikus yang berasal dari sel kumulus sel telur pada
stadium methaphase 11 juga telah berhasil . Dan yang terbaru
adalah keberhasilan kelahiran delapan ekor pedet hasil cloning
yang berasal dari sel epithel jaringan reproduksi sapi betina
dewasa (Campbell et al ., 1996 ; Wilnut et al ., 1997 ; Wakayama et
al., 1998 ; Kato et al., 1998) . Keberhasilan dari teknologi ini akan
member] peluang yang besar terhadap kemajuan Iptek peternakan
di masa yang akan datang. Splitting maupun cloning juga akan
sangat bermanfaat dalam membantu program konservasi secara
in vitro (cryogenic preservation) . Akan tetapi, upaya-upaya agar
teknologi ini mempunyai manfaat ekonomis masih perlu dikaji,
di samping masalah lain yang berkaitan dengan masalah sosial
(Triwulanningsih dan Diwyanto, 2003) .
1 54
Pro/il C.caha Pefernakan Sapi Perah di Indorre .+in
DAFTAR PUSTAKA
Acker, J .P ., and McGann, L.E . 2003 . Protective Effect of Intracellular Ice
During Freezing . Cryobiology 46 : 197-202 .
Amstrong, D .T ., P . Holm, B . Irvine, B .A . Petersen, R .B . Stubbings, D .
McLean, G . Stevens and R.F . Seamark. 1992 . Pregnancy and Live
Birth from in vitro Fertilization of Calf Oocytes Collected by
Laparoscopic Follicular Aspiration . Theriogenology 38 : 667-678 .
Anam, A .C . 1999 . Kinerja Reproduksi Sapi Perah Rakyat di Dataran
Tinggi Malang dan Dataran Rendah Tulung Agung . Tesis . Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta .
Ashworth, C .J . 1992 . Synchrony Embryo-Uterus . In : Clinical Trends and
Basic Research in Animal Reproduction . Elsevier . AmsterdamLondon-New York-Tokyo . pp : 259-267 .
Arthur, G .H, D .E . Noakes T .J . Parkinson and G .C .W . England . 2005 .
Veterinary Reproduction and Obstretic . Eight Edition . Sauders, China .
Baliarti, E . 1999 . Kinerja Induk dan Anak Sapi PO yang Diberi Ransum
Basal Jerami Padi dengan Suplementasi Daun Lamtoro dan Vitamin
A . Disertasi . Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
d
Bearden, J .H . and Fuquay, J .W . 1984 . Applied Animal Reproduction 2"
Edition Reston Publishing Company Inc . A Prentice Halls Company
Virginia : 341-345 .
Bondi , A .A . 1987 . Animal Nutrition . A Wiley Interscience Publication .
Chichester, New York .
Brem . 1995 . Splitting and Sexing of Bovine Embryo . In : FAO Animal
Production and Health Division . Biotechnology for livestock
production . pp : 71-78 .
Brogliatti, G .M ., G . Larraburu, R . Cavia, M .E . Carini . 2005 . Evaluation
of Bull Semen at 1 H vs 48 H of Post Frozen Stabilatation Time .
Reproduction, Fertility and Development 18(2) : 150-150 .
Campbell, K .H .S ., J . McWhir, W .A . Ritchie, 1
. Wilnut . 1996 . Sheep
Cloned by Nuclear Transfer from a Cultured Cell Line . Nature 380 :
64-66.
Cunningham, E.P . 1999 . Recent Developments in Biotecnology as They
Related to Animal Genetic Resources for Food and Agricultural .
Commision on Genetic Resources for Food and Agriculture .
1 55
Pta/il Usaha Peernakan Sapi Perah di brdonesia
De Jonge C .J, S .P . Flaherty, A .M . Barness, N .J . Swann and Mathew .
1997 . Failure of Multitube Sperm Swim-up for Pre Selection Fertility
and Sterility Vol . 67(6) : 1109-1114.
Devireddy . R .V, D .J . Swanlun, K .P . Roberts, J .L . Pryor, J .C . Bischof.
2000 . The Effect of Extra Cellular Ice and Cryoprotective Agents on
the Water Permeability Parameters of Human Sperm Plasma
Membrane During Freezing . Human Reproduction 15(5) : 1125-35 .
Drajat, S .A . 2002 . Ilmu Reproduksi Ternak . Mataram University Press,
Mataram .
Errickson, R .J . and R.H . Glass . 1982 . Fungsional Differences Between
Sperm Bearing the X or Y Chromosome . In . Prospects for Sexing
Mammalian Sperm, In : R .P . Aman and G .E . Seidel, Jr (eds) Boulder,
Colorado University Associated Press .
Evans G ., dan W .M .C . Maxwell . 1987 . Salamon's Artificial Insemination
of Sheep and Goats . Butterworths .
Eyestone, W .H and N .L . First . 1989 . Co-Culture of Early Bovine Embryos
to the Blastocyst Stage with Oviductal Tissue or in Conditioned
Medium . Journal Reprod . Fert . 85 : 715-720 .
Fukuda, F ., M . Ichikawa ., K . Naito and Y . Toyoda . 1990 . Birth of Normal
Calves Resulting from Bovine Oocytesmatured, Fertilized and Cultured
with Cumulus Cells in vitro up to the Blastocyst Stage . Biol . Reprod .
42 :114-119 .
Fukui, Y ., M . Fukushima and Ono . 1989. Effect of Sera, Hormone and
Granulosa Cells Added to Culture Media for in vitro Maturation,
Fertilization, Cleavage and Development of Bovine Oocytes . Journal
Reprod . Fert . 86 : 501-506 .
Gadea, J, F .G . Vazquez, C . Matas, J . C . Gardon, S . Canovas and D .
Gumbao . 2005 . Cooling and Freezing of Boar Spermatozoa :
Supplementation of the Freezing Media with Reduced Glutathione
Preserves Sperm Function . Journal Andrology, 26(3) : 396-404 .
Goedon, L, J . Saumande, F . Dupron, C . Couquet, B . Desbals . 1999 .
Serum Cholesterol and Triglycerides in Postpartum Beef Cows and
their Relationship to the Resumption of Ovulation . Theriogenology .
51 :1405-1415 .
Gordon, I . 1994 . Laboratory Production of Cattle Embryos . Cab
International, University Press, Cambridge .
1 56
Profl[ Usaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia
Goto, K ., Y . Kajihara, S . Kosaka, M . Koba, Y . Nakanishi and K . Ogawa.
1988 . Pregnancies After Co-Culture of Cumulus Cells with Bovine
Embryos Derived from In Vitro Fertilization of In Vitro Matured
Folliculars Oocytes . Journal Reprod . Fert 83 : 753-758 .
Hafez, E .S .E . 1993 . Reproduction in Farm Animals . 6"' Edition . Lea and
Febiger, Philadelphia .
Hafez, E .S .E . 2000 . Reproduction in Farm Animals . 7th Edition . Lea and
Febiger, Philadelphia .
Han, B and J .C . Bischof . 2004 . Direct Cell Injury Associated with
Eutectic Crystallization During Freezing . Cryobiology 48(1) : 8--21 .
Hardjopranjoto, H .S . 1995 . Ilmu Kemajiran pada Ternak . Atrlangga
University Press, Surabaya .
Hardjosubroto, W . 1994 . Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan .
Gramedia Widyasarana, Jakarta .
Hasler, J .F . 1995 . Production, Freezing and Transfer of Bovine IVF
Embryos and Subsequent Calving Results . Theriogenology 43 : 141152 .
Herold, F .C . D . Gerber and J .E . Aurich . 2002 . Influence of Homologous
Seminal Plasma on Bovine Epididymal Semen Frozen with Triladyl TM
or AndroMed® . Abstract from the section of Reproduction,
Department of Production Animal Studies, Faculty of Veterinary
Science . University of Pretoria and the Universitats Klinik fur
Geburtshilfe, Germany .
Jaswandi . 2002 . Penggunaan Hepes dan Butiran Efervesen dalam Sistem
Incubasi pada Produksi Embrio Domba secara In Vitro . Thesis Doktor
pada Program Pascaserjana Institut Pertanian Bogor, Bogor
Kanagawa, H ., O . Abas-Mazni, C .A . Valdez . 1995 . Oocyte Maturation
and In Vitro Fertilization . In : FAO Biotechnology for Livestock
Production . pp : 9-95 .
Kato, Y ., T . Tani, Y . Sotomaru, K. Kurokawa, J . Kato, H . Doguchi, H .
Yasue and Y . Tsunoda . 1998 . Eight Calves Cloned from Somatic Cells
of a Single Adult . Science 282 : 095-2098 .
Keefer, C .L ., S .L Stice and A .M Paprocki . 1993 . Effect of Follicle
Stimulating Hormone and Lutenizing Hormone During Bovine In Vitro
on Development Following In Vitro Fertilization and Nuclear Transfer .
Journal Mol . Reprod . and Dev, 36 : 69-474 .
Lindsay, D .R ., K .W . Entwistle and A . Winantea . 1982 . Reproduction in
Domestic Livestock in Indonesia . Australia University, Queensland .
157
Profil Usaha Peternakan Saj,i Perah di brdonesia
Lohuis, M .M . 1995 . Potential Benefits of Bovine Embryo Manipulation
Technologies to Genetic Improvements Programs . Theriogenology 43 :
51-60.
Lubis, A .M ., P . Situmorang, E . Triwulanningsih dan T . Sugiarti . 2002 .
Pengaruh Stimulasi CIDR terhadap Perkembangan Folikel Bovine
Oosit Folikel Juvenile yang Diperoleh melalui Laparotomy . Seminar
Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner . Pusat Penelitian dan
Pengembangan Peternakan . Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, Departemen Pertanian .
Mardijono, H . 2003 . Implementasi Produksi dan Transfer Embrio di Balai
Embrio Ternak . Prosiding Pertemuan Koordinasi Produksi, Aplikasi
Transfer Embrio dan Penjaringan Bibit . Direktorat Perbibitan . Balai
Embrio Ternak .
Masuda, H. 1992 . Artificial Insemination Manual for Cattle . Association
of Livestock Technology, Japan .
Mohri, H . 1997 . New Horizons in Sperm Cell Research . Japan Scientific
Societies Press, Tokyo : 474 .
Moce, E ., and Vicente, J . S . 2002 . Effect of Cooling and Freezing, the
Two Steps of a Freezing Protocol, on Fertilizing Ability of Rabbit
Sperm. Reprod . Nutr . Dev . 42 : 189-196 .
Montiel . F and C . Ahuja. 2005 . Body Condition and Suckling as Factors
Influencing the Duration of Postpartum Anestrus in Cattle . Journal
Anim Rep Sci . 85 : 1-26 .
Mottershead, J . 2000 . Frozen Semen Preparation and Use . Article at
Canadian Morgan Magazine . Nov/Dec 2000 .
Nishizono, H ., M . Shioda, T . Takeo, T . Irie, and Nakagata . 2004 .
Decrease of Fertilizing Ability of Mouse Spermatozoa After Freezing
and Thawing is Related to Cellular Injury . Biol . Reprod., 71 : 973-978 .
Orskov, E . R. 1987 . The Feeding of Ruminants, Principles and Practice .
Chalcombe Publications, Marlow .
Osinga, A ., T . Van Derlende and J.A .M . Mattej . 1989 . Reproduksi dan
Dasar-dasar Endrokonologi pada Hewan-hewan Ternak . NUFFIC
Universitas Brawijaya, Malang .
Parakkasi, A . 1995 . Ilmi Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia .
Universitas Indonesia, Jakarta .
Partodihardjo, S . 1992 . Ilmu Reproduksi Hewan . Mutiara, Jakarta .
1 58
Prod (i'.vaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia
Pramono, A . 2008 . Calving Interval Sapi Perah di Daerah Istimewa
Yogyakarta Ditinjau dari Kinerja Reproduksi dan Imbangan Ransurn
yang Diberikan . Tesis Pascasarjana . Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta .
Putro, P .P . 2001 . Status Reproduksi Sapi Perah Indonesia (Unpublished) .
Putro, P .P . 2005 .
(Unpublished) .
Infertilitas Metabolik
dan
Nutrisi
pada
Sapi
Rasul, Z ., N . Ahmad and M . Anzar. 2001 . Changes in Motion
Characteristics, Plasma Membrane Integrity and Aciosome
Morphology During Cryopreservation of Buffalo Spermatozoa .
Journal of Andrology, Vol 22, Issue 2 278-283 .
Rutledge, J..J . 1995 . Aplication on In Vitro Cattle Embryo Production on
Milk and Beef Production in The Republic of Indonesia . AARD .
Rosenkrans, C .F and N .L . First . 1991 . Culture of Bovine Zygotes to the
Blastocyst Stage Effects of Amino Acids and Vitamins . Therionelogy
35 :266 .
Salisbury G .W . dan N .L . Van Demark. 1985 . Fisiologi Reproduksi dan
Inseminasi Buatan pada Sapi . Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta .
Seidel, J .R G.E ., L .A . Johnson, C .A . Allen and G .R . Welch . 1997 .
Artificial Insemination with X and Y Bearing Bovine Sperm .
Theriogenology . 47 : 234-236 .
Simmet, M .V .C . 2005 . Bovine Artificial Insemination . Minitub Abfulund
Labortechnik GmbH and Co KG, Germany .
Siregar, S . 1996 . Sapi Perah . Penebar Swadaya, Jakarta .
Situmorang, P ., E . Triwulanningsih, A . Lubis, W . Caroline dan T .
Sugiarti . 2001 . Pengaruh Proline, Carnitine terhadap Daya Hidup
Spermatozoa yang Disimpan dalam Suhu 5 ° C (Chilling semen) . JITV
Vol 6(l) .
Situmorang, P . 2003 . Prospek Penggunaan Semen Dingin (Chilled
Semen) dalam Usaha Meningkatkan Produksi Sapi Perah . Wartazoa
Vol 13(l) .
Situmorang, P ., E . Triwulanningsih, R .G . Sianturi dan D .A .
Kusumaningrum . 2003 . Optimalisasi Pemisahan Spermatozoa X dan
Y . Laporan Penelitian Balai Penelitian Ternak .
1 59
Pro/il Usaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia
Situmorang, P . 2003a. The Effects of Inclusion of Exogenous
Phospholipid in Tris Diluent Containing Different Level of Egg Yolk
on the Viability of Bull Spermatozoa. JITV Vol 7(3) .
Situmorang, P . 2003b . Pengaruh Kolesterol terhadap Daya Hidup dan
Fertilitas Spermatozoa Sapi . JITV Vol 7(4).
Soetarno, T. 2003 . Manajemen Budidaya Sapi Perah . Edisi Khusus
Kenangan Puma Tugas, 3 September 2003 . Laboratorium Ternak
Perah . Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta .
Sumner, A .T . and J .A . Robinson . 1976 . A Difference in Dry Mass
Berween the Heads of X and Y Bearing Human Spermatozoa Journal
Reprod . Fertil . 48 : 9-15 .
Surahamdani, Z . dan D . Sartika . 1996 . Evaluasi Recording Sapi Perah di
Jawa Barat Guna Menunjang Program Produksi Calon Pejantan
Unggul Sapi Perah Lokal . Prosiding Pertemuan Teknis Evaluasi
Rekording Sapi Perah untuk Produksi Calon Pejantan Unggul Lokal .
BIB Singosari, Malang . Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen
Pertanian, Jakarta .
Susilawati, T dan Suyadi . 1992 . Pengantar Fisiologi Reproduksi .
Universitas Brawijaya, Malang .
Susilawati, T ., S .B . Sumitro dan H . Sutanto . 1997 . Upaya Pembekuan
Semen Hasil Sexing serta Penerapannya dalam Inseminasi Buatan
pada Sapi untuk Mendapatkan Pedet dengan Jenis Kelamin sesuai
Harapan . Laporan Akhir Penelitian Riset Unggulan Terpadu .
Universitas Brawijaya : 17-21 .
Susilawati, T ., S .B . Sumitro, S . Hardjopranjoto, Y . Mantara dan Nuryadi .
1999 . Pola Kapasitasi Spermatozoa X dan Y Sapi Hasil Pemisahan
Menggunakan Filtrasi Sephadex dan Sentrifugasi Gradien Densitas
Percoll . Jurnal Penelitian 11mu-ilmu Hayati 11 : 29-40 .
Susilawati . T ., S . Hardjopranjoto, S .B . Sumitro dan A. Hinting . 2000 .
Perubahan Fungsi Membran Spermatozoa Sapi Hasil Sentrifugasi
Gradien Densitas Percoll pada Proses Seleksi Jenis Kelamin . Jurnal
Ternak Tropika. Vol .1 .
Susilawati, T dan Suyadi . 2003 . Perubahan Fungsi Membran
Spermatozoa Sapi pada Proses Seleksi Jenis Kelamin Menggunakan
Sentrifugasi Gradien Densitas Percoll . Jurnal Widya Agrika Vol . 11(1),
Malang .
Susilawati, T . 2008 . Peran Manajemen Reproduksi dalam Usaha
Peterrnakan . Buku Orasi Guru Besar.
1 60
Prod Usaha Peternakan S'api Perah di Indonesia
Sturman. H ., E . A . B . Oltenacu . and R . H . Foote . 2000 . Importance of
Inseminating Only Cows in Estrus . Theriogenology . 53 : 1657-1667 .
Tagama, T . R . 2005 . Kemajiran dan Teknik Peningkatan Efisiensi
Reproduksi Temak . BritZ Publisher, Bekasi .
Thibier, M . 1998 . The 1997 Statistics on the World Embryo Transfer
Industry . Embryo Transfer Newsletter. Vol 16(4) : 17-20 .
Toelihere, M .R . 1993 . Inseminasi Buatan pada Ternak . Angkasa .
Bandung .
Triwulanningsih, E ., A .M . Lubis, P . Situmorang dan T . Sugiarti . 2001 .
Produksi Embrio In Vitro dari Oosit Sapi Betina Muda (Juvenile) .
Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner .
Puslat Penelitian dan Pengembangan Peternakan . Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta .
Triwulanningsih, E ., P . Situmorang, T. Sugiarti, J .J . Rutledge . 2001 .
Modification of Using Gonadotrophin Hormone and its Relations with
Oocytes Maturation at the Time of Insemination in Cattle In Vitro
Embryo Production . Journal Biosains . Vol 6(2) : 37-42 .
Triwulanningsih E . 2002 . Produksi Embrio Sapi In Vitro dengan
Modifikasi Waktu dan Suhu pada Medium Maturasi yang Diperkaya
dengan FSH dan Estradiol 17 G3 . Disertasi . Program Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor, Bogor .
Triwulanningsih E, M .R . Toelihere, T .I . Yusuf, B . Purwantara, K .
Diwyanto and J .J . Rutledge . 2002 . Using CRIaa Versus KSOM as the
Culture Medium for In Vitro Embryo Production of Cattle . JITV Vol
7(1) : 30-37 .
Triwulanningsih, E, M .R. Toelihere, T .I . Yusuf, B . Purwantara, K .
Diwyanto and J .J . Rutledge . 2002 . Seleksi dan Kapasitasi
Spermatozoa dengan Metode Percoll Gradient untuk Fertilisasi Oosit
dan Produksi Embrio In Vitro pada Sapi . Berita Biologi Vol 6(3) :
423-430 .
Triwulanningsih, E, dan K . Diwyanto . 2003 . Tantangan dan Peluang
Penerapan Teknologi Embrio Transfer di Indonesia . Prosiding
Pertemuan Koordinasi Produksi, Aplikasi Transfer Embrio dan
Penjaringan Bibit Direktorat Perbibitan . Balai Embrio Ternak .
Triwulanningsih, E ., P . Situmorang, T . Sugiarti, R .G . Sianturi, D .A .
Kusumaningrum . 2003 . Pengaruh Penambahan Glutathione pada
Medium Pengencer Sperma terhadap Kualitas Semen Cair (Chilled
semen) . JITV Vol 8(2) .
1 61
Prufil Usaho Peler,,akan Sup Perah di lne/onesiu
Triwulanningsih, E, M .R . Toelihere, T .I . Yusuf, B . Purwantara, K .
Diwyanto and J .J. Rutledge . 2005 . The Effect of Feeding Serum on
Bovine Blastocyst Development . International Asia Link Symposium :
Reproductive Biotechnology for Improved Animal Breeding in
Southeast Asia, 19-20 August 2005 .
Triwulanningsih, E, P . Situmorang, R.G . Sianturi, D .A . Kusumaningrum .
2005 . Peningkatan Kualitas Semen Beku Sapi melalui Penambahan
Gluthatione pada Medium Pengencer Sperma . Prosiding Seminar
Nasional Pengembangan Usaha Peternakan Berdaya saing di Lahan
Kering . Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta .
Wahjuningsih, S ., D . Sasmito, E . Triwulaningsih dan P . Situmorang . 2003 .
Produksi Embrio Sapi Potong secara Murah dengan Teknologi IVF dan
Aplikasinya dalam Transfer Embrio untuk Penyediaan Bakalan .
Laporan PAATP, Departemen Pertanian, Jakarta .
Wakayama,T ., A .C .F . Perry, M . Zuccotti, K .R . Johnson, R.Yanagi Machi .
1998 . Full-Term Development of Mice from Enucleated Oocytes
Injected with Cumulus Cell Nuclei . Nature . 394 :369 .
Wang, W .L ., H.S Jiang ., K.H Lu ., D . Mcarthy and I .'Gordon. 1989 . The
Effects of Media and Sera on the In Vitro Development of Early
Bovine Embryos . Journal Reprod . Fert . Abstract No .3 :50 .
Wiemer, K .E ., A .J . Watson ., V . Polanski ., A .I Mcenna ., G .A . Schultz and
S . Willadsen . 1991 . Effects of Maturation and Co-Culture Treatments
on the Developmental Capacity of Early Bovine Embryos . Biol .
Reprod . 44 :97 .
Willadsen, S .M . 1986 . Nuclear Transplantation in Sheep . Nature 320 : 6365 .
Wilnut, I ., A .E . Schnieke, J . Mcwhir, A .J . Kind, K .H .S . Campbell . 1997 .
Viable Offspring Derived from Fetal and Adult Mammalian Cells .
Nature 385 : 810-813 .
Xu, K.P ., B .R Yadav ., R .W Rorie ., L . Planta., K .J . Betteridge and W .A
King . 1992 . Development and Viability of Bovine Embryos Derived
From Oocyttes Matured and Fertilized In Vitro and Co-Cultured with
Bovine Oviducal Epithelial Cells . Journal Refrod . Fert . 94 : 34-43 .
Ya'niz . J . L ., P . Santolaria, A . Giribet and F . Lo'pez-Gatius . 2006 .
Factors Affecting Walking Activity at Estrus During Postpartum
Period and Subsequent Fertility in Dairy Cows . Theriogenology. 66 :
1943-1950 .
1 62
Profit Usaha Peternakon Sop Perah di Indonesia
Zenichiro, K ., Herliantien dan Sarastina. 2002 . Teknologi Prosessing
Semen Beku pada Sapi . Balai Inseminasi Buatan Singosari, Malang .
Zuelke, K .A and B .G . Brackett . 1993 . Increased Glutamine Metabolism in
Bovine Cumulus Cell-enclosed and Denuded Oocytes After In Vitro
Maturation with Luteinizing Hormone . Biology of Reproduction 48 :
815-820 .
163
Download