Kapasitas Institusi Wajib Lapor Dalam Penanganan Korban

advertisement
Kapasitas Institusi Wajib Lapor
Dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial
Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial
Kementerian Sosial RI. 2015
Kapasitas Institusi Wajib Lapor
dalam Penanganan Korban Penyalahgunaan Napza
Pembimbing:
1. Direktur Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza
2. Prof. Dr. Paulus Tangdilintin
Penulis:
Drs. Suradi, M.Si. PU
Drs. Setyo Sumarno, M.Si, PU
Dra. Haryati Roebyantho
Sugiyanto, S.Pd, M.Si
Dra. Nunung Unayah
Tata letak & Desain Sampul:
Tim Inovasi
Cet. I. Jakarta 2015
vi + 113 hal; 14,8 x 21cm.
ISBN 978-602-363-009-7
Diterbitkan oleh:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial
bekerja sama dengan P3KS Press
Jl. Dewi Sartika No. 200 Cawang III Jakarta-Timur. Telp. (021) 8017126
Email: [email protected] Website: puslit.kemsos.go.id
Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang memperbanyak
buku sebagian atau seluruhnya tanpa izin dari penerbit
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas perkenan, rahmat dan nikmat-Nya, maka laporan hasil
penelitian tentang KAPASITAS INSTITUSI WAJIB LAPORAN DALAM
PENANGANAN KORBAN PENYALAHGUNAAN NAPZA’ ini dapat
diselesaikan sesuai rencana.
Sebagaimana diketahui, bahwa pada saat ini Indonesia dinyatakan
sebagai negara darurat narkoba. Hal ini didasarkan pada situasi, di
mana jumlah kasus dan korban penyalahgunaan narkoba atau napza
di Indonesia cukup besar, dan trendnya mengalami peningkatan dari
tahun ke tahun. BNN (2013) mencatat korban penyalahgunaan napza
di Indonesia berjumlah 4.5 juta orang. Sebagian besar korban masuk
kelompok usia produktif, yaitu pada usia 15-39 tahun. Situasi yang
makin mengkhawatirkan, karena saat ini anak-anak usia SD pun sudah
menjadi korban penyalahgunaan napza.
Merespon situasi tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan,
bahwa bagi sesorang yang benar-benar sebagai pecandu atau korban
penyalahgunaan napza, maka mereka itu tidak akan dipenjara. Mereka
memperoleh hak untuk mendapatkan rehabilitasi medis maupun sosial di
IPWL-IPWL yang sudah disiapkan. Berkenaan dengan itu, Kementerian
Sosial RI sudah menyiapkan 118 unit IPWL, baik milik pusat, pemerintah
daerah dan masyarakat.
Seiring dengan kebijakan rehabilitasi, maka IPWL-IPWL tersebut
perlu disiapkan sebaik-baiknya, berkaitan dengan kelembaaan, regulasi,
sumber daya, sarana prasarana, dana dan program. Untuk mengetahui
kesiapan IPWL-IPWL tersebut, Puslitbangkesos melaksanakan penelitian
evaluasi terhadap IPWL-IPWL yang ada di Sumatera Utara, Yogyakarta
dan Jawa Timur. IPWL yang menjadi sasaran penelitian ini berjumlah
13 unit IPWL. Dari jumlah tersebut satu unit milik Pusat, dua unit milik
Pemerintah Daerah dan 10 unit milik masyarakat.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
i
Berdasarkan hasil penelitian, semua IPWL dikatakan siap
untuk memberikan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi korban
penyalahgunaan napza. Meskipun demikian, untuk meningkatkan
kapasitas IPWL tersebut, perlu ditempuh langkah-langkah segera, baik
yang terkait dengan regulasi maupun implementasinya.
Kritik dan saran sangat diharapkan guna penyempurnaan penelitian
di masa yang akan datang. Selanjutnya, diharapkan semoga hasil
penelitian ini dapat menyediakan bahan bagi Direktorat Pelayanan
Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza Kementerian Sosial,
dan para pemangku kepentingan yang penyelenggarakan program
penanganan korban penyalahgunaan napza.
Jakarta,
Desember 2015
Pusat Penelitian dan Pengembangan
Kesejahteraan Sosial
Kepala,
DR. Dwi Heru Sukoco, M.Si
ii
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
i
DAFTAR ISI
iii
DAFTAR TABEL
v
BAB I PENDAHULUAN
1
A.Latar Belakang
1
B.Permasalahan Penelitian
5
C.Tujuan dan Manfaat Penelitian
6
D.Metode yang Digunakan
7
E.Sistematika Penulisan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
11
13
A.Permasalahan Napza
13
B.Rehabilitasi Sosial
16
C.Kapasitas Lembaga Rehabilitasi Sosial
22
BAB IIIKAPASITAS IPWL DI YOGYAKARTA
25
A.Gambaran Umum Lokasi
25
B.Pengenalan Responden 31
C.Komponen Program
37
D.Pelaksanaan Kegiatan
45
E.Hasil yang dicapai
49
F.Faktor-Faktor Berpengaruh
53
BAB IVKAPASITAS IPWL DI JAWA TIMUR
55
A.Gambaran Umum Lokasi
55
B.Pengenalan Responden
58
C.Komponen Kegiatan 65
D.Pelaksanaan Program
70
E.Hasil yang dicapai
74
F.Faktor-faktor berpengaruh
76
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
iii
BAB V KAPASITAS IPWL DI SUMATERA UTARA
78
A.Gambaran Umum Lokasi
78
B.Responden Penelitian
82
C.Komponen Program
86
D.Pelaksanaan Program
94
E.Hasil yang Dicapai
98
F.Faktor - Faktor Berpengaruh
BAB VIKESIMPULAN DAN REKOMENDASI
101
103
A.Kesimpulan
103
B.Rekomendasi 104
DAFTAR PUSTAKA
107
BIODATA PENELITI
110
iv
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
DAFTAR TABEL
Tabel 1: Kasus Penyalahgunaan Napza Di Indonesia 1
Tabel 2: Kondisi Awal IPWL Di Tiga Lokasi Penelitian
8
Tabel 3: IPWL Terpilih Di Tiga Lokasi Penelitian
8
Tabel 4: Informan Penelitian
9
Tabel 5. Responden Menurut Usia
31
Tabel 6: Responden Menurut Pendidikan
32
Tabel 8. Korban Penerima Rehabilitasi Sosial di Empat IPWL
40
Tabel 9. Petugas di IPWL yang menjadi Responden
41
Tabel 10. Persentase Kepuasan Korban terhadap
Pelayanan IPWL (n=40)
51
Tabel 11. Kepuasan Orang Tua/keluarga Korban terhadap
Pelayanan IPWL 52
Tabel 12. Responden Menurut Kelompok Usia
58
Tabel 13. Responden Menurut Tingkat Pendidikan
59
Tabel 14. Responden Menurut Pekerjaan
60
Tabel 15. Responden Menurut Kondisi Keutuhan Orang Tua Korban
60
Tabel 16. Responden Tempat Tinggal sebelum di IPWL
61
Tabel 17. Korban Penerima Rehabilitasi Sosial di Lima IPWL
67
Tabel 18. Petugas di IPWL yang menjadi Responden
68
Tabel 19. Persentase Kepuasan Korban terhadap
Pelayanan IPWL (n=50)
74
Tabel 20. Kepuasan Orang Tua/keluarga Korban terhadap
Pelayanan IPWL 76
Tabel 21. Responden Menurut Pendidikan
82
Tabel 22. Responden Menurut Pekerjaan Orang Tua
82
Tabel 23. Korban Penerima Rehabilitasi Sosial di Empat IPWL
90
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
v
Tabel 24. Petugas di IPWL yang menjadi Responden
Tabel 25. Persentase Kepuasan Orang Tua/keluarga Korban terhadap
Pelayanan IPWL (n=40)
vi
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
91
101
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Indonesia saat ini sebagai negara yang berada dalam status
“DARURAT NARKOBA”. Hal ini didasari oleh tingginya kasus
penyalahgunaan narkoba atau napza di Indonesia pada beberapa
tahun terakhir ini. Selain jumlah kasus yang tinggi, jumlah
korban, jenis dan jumlah napza yang beredar di masyarakat, dan
kerugian negara sangat fantastis pada beberapa tahun terakhir ini.
Berdasarkan penjelasan Kepala BNN, sekitar 50 orang meninggal
setiap hari karena narkoba, dan kerugian ekonomi maupun sosial
mencapai Rp 63 triliun per tahun (Kompasiana, 2015),
Data kasus dan tersangka (pengguna, pengedar) penyalahgunaan
napza di Indonesia, sebagaimana tampak pada tabel berikut:
Tabel 1: Kasus Penyalahgunaan Napza Di Indonesia
No
TAHUN
JUMLAH KASUS
JUMLAH
TERSANGKA
1.
2009
30.878
38.497
2.
2010
26.614
33.497
3.
2011
29.713
36.732
4.
2012
28.623
35.640
5.
2013
35.436
44.012
151.670
188.378
Jumlah
Sumber: Badan Narkotika Nasional, 2014.
Data penyalahgunaan napza tersebut bersifat dinamis, data yang
relatif cepat mengalami perubahan dalam hitungan hari atau bahkan
perubahan setiap jam. Berkenaan dengan sifat dinamis dari data
kasus maupun tersangka dan korban penyalahgunaan napza, BNN
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
1
memperkirakan pada tahun 2015 jumlah pengguna narkoba/napza
di Indonesia mencapai 5,8 juta orang. Namun demikian, sebenarnya
data sesungguhnya pengguna napza tidak dapat diketahui dengan
pasti. Hal ini dikarenakan, kasus penyalahgunaan napza merupakan
fenomena gunung es. Data yang dapat diketahui merupakan sebagian
kecil dari data yang sesungguhnya. Artinya, masih sangat banyak
kasus penyalahgunaan napza yang tidak terungkap ke publik.
Korban atau penyalahguna napza sebagian besar termasuk
pada kelompok usia produktif. Situasi ini merupakan tantangan dan
sekaligus ancaman yang luar biasa, dan kerena itu penyalahgunaan
napza ini ditetapkan oleh negara sebagai masalah nasional.
Penetapan sebagai masalah nasional ini tentu akan membawa
konsekuensi pada komitmen dari semua elemen bangsa untuk
secara sinergis melakukan perlawanan terhadap peredaran dan
penyalahgunaan napza di Indonesia (BNN dan UI, 2014).
Kemudian, dilaporkan oleh BNN (2014), bahwa tersangka
kasus penyalahgunaan napza, baik sebagai pengedar maupun
pecandu dan korban tidak memandang: pendidikan, kelompok
umur, agama, suku bangsa, status sosial ekonomi dan kewilayahan.
Penyalahgunaan napza terjadi mulai dari pendidikan rendah sampai
pendidikan tinggi, mulai kelompok umur anak-anak sampai dewasa
dan lanjut usia, pada pemeluk agama tertentu, keluarga miskin
maupun keluarga mampu, masyarakat umum maupun pejabat
publik, di desa maupun di kota, dan bahkan terjadi peredaran napza
secara internasional.
Ketika data kasus dan tersangka penyalahgunaan napza
disandingkan dengan kondisi korban (pecandu), maka dapat
dibayangkan akibat buruk yang akan terjadi pada bangsa dan
negara Indonesia pada saat ini dan pada masa yang akan datang.
Berdasarkan data itu dapat dibayangkan, bahwa sumber daya
manusia Indonesia mengalami kerusakan yang luar biasa, di mana
situasi itu akan membawa implikasi pada hilangnya modal manusia
sebagai modal dasar penyelenggaraan pembangunan nasional.
2
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Persoalan lain, di mana penyalahgunaan dan peredaran napza
merupakan permasalahan yang bersifat multidimensional. Di mana
di dalamnya meliputi aspek medis, sosial, budaya, ekonomi, politik
dan hukum (Martono dan Joewana, 2005; Suradi, 2012; Lisa dan
Sutrisna, 2013). Berbagai aspek di dalam penyalahgunaan dan
peredaran napza tersebut tentunya akan membawa implikasi pada
upaya yang perlu ditempuh dan anggaran yang perlu disiapkan oleh
pemerintah.
Sebagaimana diketahui, bahwa penyalahgunaan napza memiliki
jaringan peredaran di dalam dan luar negeri yang sangat rapi. Bukan
rahasia lagi, bahwa pesebaran napza melibatkan berbagai pihak,
dan termasuk di dalam jaringannya, yaitu oknum penegak hukum.
Sebagaimana dilansir media massa nasional, unsur bisnis pada
peredaran dan penyalahgunaan napza, telah mendorong oknum
penegak hukum terlibat langsung dalam peredaran napza, baik
dalam jaringan nasional maupun internasional.
Sebagai respon terhadap penyalahgunaan dan peredaran napza
di Indonesia, negara dan pemerintah telah menyiapkan peraturan
perundang-undangan, regulasi dan program-program dalam rangka
pencegahan, penindakan maupun rehabilitasi bagi pencandu dan
korban penyalahgunaan napza. Pemerintah telah menetapkan
kebijakan, di mana bagi korban penyalahgunaan napza, mereka
tidak lagi dipidana kurungan atau penjara. Akan tetapi, sebagai
korban mereka akan memperoleh pelayanan rehabilitasi medis
maupun sosial pada Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Pada
tahun 2015 presiden telah mengintruksikan kepada instansi terkait
untuk melaksanakan rehabilitasi terhadap 200.000 orang korban
penyalahgunaan napza. Dari arahan presiden tersebut, intansi terkait
hanya mampu merehabilitasi 100.000 orang korban, dari jumlah
tersebut 10.000 orang korban direhabilitasi oleh Kementerian Sosial.
Kebijakan pemerintah bahwa korban penyalahgunaan napza
tidak dipidana kurungan atau penjara, merupakan pendekatan yang
mengedepankan nilai humanis. Pendekatan ini dimaksudkan untuk
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
3
membangun kesadaran bagi pecandu dan korban penyalahgunaan
napza maupun keluarga dan masyarakat, untuk melaporkan diri
kepada institusi-institusi yang sudah disiapkan oleh pemerintah
sebagai Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL).
Berkenaan dengan IPWL, pemerintah telah mengeluarkan
Peraturan Presiden RI Nomor 25 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan
Wajib Lapor Pecandu Narkotika. Pada Peraturan Presiden tersebut
dijelaskan, bahwa IPWL adalah pusat kesehatan masyarakat, rumah
sakit, dan / atau lembaga rehabilitasi medis dan lembaga rehabilitasi
sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah. Oleh karena di dalam ruang
lingkup IPWL tersebut di dalamnya meliputi lembaga rehabilitasi
sosial, maka Kementerian Sosial RI mendapatkan mandat untuk
menyelenggarakan IPWL, khususnya dalam penyelenggaraan
rehabilitasi sosial.
Berdasarkan data pada Direktorat Rehabilitasi Sosial Korban
Penyalahgunaan napza (2014), di seluruh Indonesia terdapat 118
unit IPWL. Dari jumlah tersebut 2 (dua) unit milik Pusat, 5 (lima)
unit milik daerah dan 102 unit milik masyarakat. IPWL tersebut
sudah disiapkan untuk menerima dan melaksanakan rehabilitasi
sosial bagi korban penyalahgunaan napza. Berkaitan dengan
penyiapan IPWL tersebut, Direktorat Rehabilitasi Sosial Korban
Penyalahgunaan Napza (RSKPN) telah melakukan berbagai upaya
dalam bentuk: koordinasi, bimbingan teknis dan asistensi. Meskipun
demikian, sejauh ini belum diperoleh informasi yang pasti, bagaimana
kapasitas IPWL tersebut dalam penanganan korban penyalahgunaan
napza di Indonesia.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial,
pada tahun 2014 telah melakukan penelitian berkaitan dengan
penyalahgunaan napza ini. Pada penelitian yang dilaksanakan oleh
Gunawan, Sugiyanto dan Roebiyanto (2014), difokuskan pada
eksistensi Rehabilitasi Sosial Berbasis Masyarakat (RBM) di DI
Yogyakarta dan Jawa Barat. RBM merupakan bentuk partisipasi
masyarakat dalam penanggulangan napza yang dimulai dari
4
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
tingkat akar rumput. Partisipasi masyarakat ini sangat diharapkan,
mengingat penyalahgunaan napza sudah meluas ke semua lapisan
masyarakat.
Sementara itu, penelitian yang memfokuskan pada kapasitas
IPWL dalam penanganan korban napza sejauh ini belum dilakukan.
Di sisi lain, pemerintah sangat berharap kepada IPWL agar sebanyak
100.000 orang korban napza pada tahun 2015 dapat diberikan
layanan rehabilitasi. Sehubungan dengan itu, maka Pusat Penelitian
dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial melakukan penelitian
dengan judul: “Kapasitas Institusi Penerima Wajib Lapor dalam
Penanganan Korban Penyalahgunaan napza”. Diharapkan hasil
penelitian ini akan memberikan data dan informasi yang bermanfaat
bagi peningkatan efektivitas IPWL dalam penanganan korban
penyalahgunaan napza di Indonesia.
B. PERMASALAHAN PENELITIAN
Kebijakan yang berkaitan dengan rehabilitasi medis maupun
rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan napza, membawa
konsekuensi pada kesiapan IPWL sebagai lembaga penyelenggara
rehabilitasi medis maupun rehabilitasi sosial. Kesiapan dimaksud
berkaitan dengan kapasitas yang dimiliki dan didayagunakan oleh
IPWL dalam proses rehabilitasi medis maupun sosial.
Sesuai dengan kompetensinya, maka IPWL yang berada di bawah
pengelolaan dan koordinasi Kementerian Sosial, menyelenggarakan
kegiatan utamanya dalam bentuk rehabilitasi sosial. Berkaitan
dengan itu, maka sumber daya yang perlu disiapkan adalah sumber
daya yang mendukung proses rehabilitasi sosial.
Sehubungan dengan itu, pertanyaan yang diajukan dalam
penelitian ini, yaitu:
1. Bagaimana komponen kegiatan IPWL yang meliputi: kelembagaan
(status lembaga, visi misi, struktur organisasi), SDM, korban
napza, sarana prasarana, dan dana?
2. Bagaimana pelaksanaan kegiatan rehabilitasi sosial di dalam
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
5
IPWL meliputi: bentuk kegiatan, tahapan, jaringan, dukungan
keluarga dan masyarakat?
3. Bagaimana hasil yang dicapai IPWL?
4. Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi pelaksanaan kegiatan
IPWL?
Pertanyaan-pertanyaan
tersebut
diajukan,
didasarkan
pertimbangan bahwa melalui penelitian ini dapat digali data dan
informasi yang faktual untuk menjelaskan kapasitas IPWL dalam
penangan korban penyalahgunan napza.
C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut:
1. Menyediakan informasi mengenai komponen kegiatan di IPWL
yang meliputi: kelembagaan (status lembaga, visi misi, struktur
organisasi), SDM, korban napza, sarana prasarana, dan dana.
2.
Menyediakan informasi mengenai pelaksanaan kegiatan
rehabilitasi sosial di dalam IPWL meliputi: bentuk kegiatan,
tahapan, jaringan, dukungan keluarga dan masyarakat.
3. Menyediakan informasi mengenai hasil yang dicapai IPWL.
4. Menyediakan informasi mengenai faktor-faktor apa saja yang
memengaruhi pelaksanaan kegiatan IPWL.
Manfaat penelitian kapasitas IPWL dalam penanganan korban
napza ini adalah:
1. Secara praktis
a.Sebagai bahan penyusunan laporan kinerja Direktorat
Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan napza.
b. Sebagai bahan penyempurnaan, pengembangan dan atau
penguatan kebijakan dan program peningkatan kapasitas
IPWL dalam penanganan korban napza.
2.Secara teoretis akan menambah bahan kepustakaan terkait
dengan permasalahan, kebijakan dan program penanggulangan
korban penyalahgunaan napza di Indonesia.
6
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
D. METODE YANG DIGUNAKAN
Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi terhadap program
dan kegiatan rehabilitasi sosial korban napza di IPWL. Oleh karena
penerima manfaat yang menjadi obyek penelitian ini berada
dalam lembaga, dan masih dalam proses rehabilitasi sosial, maka
penelitian ini adalah evaluasi formatif atau midle test. Penelitian
dilaksanakan untuk menyediakan data, informasi dan keteranganketerangan tentang komponen kegiatan, aktivitas-aktivitas yang
dilaksanakan dan hasil pelaksanaan pelayanan rehabilitasi sosial
bagi korban penyalahgunaan napza di IPWL. Penelitian evaluasi ini
akan menyediakan bahan bagi decision maker dalam perumusan
dan/atau pengembangan kebijakan peningkatan kapasitas IPWL
dalam penanganan korban penyalahgunaan napza berbasis institusi
(institusional based).
Untuk mengetahui kapasitas IPWL, penelitian ini memfokuskan
pada aspek:
1.
2.
3.
4.
Komponen kegiatan.
Aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan di IPWL.
Hasil pelaksanaan kegiatan
Faktor-faktor yang memengaruhi pelaksanaan kegiatan.
Sehubungan dengan itu, maka desain di dalam penelitian ini
digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1: Desain Penelitian, 2015
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
7
Penelitian dilaksanakan di 3 (tiga) provinsi yang ditentukan
dengan pertimbangan: (1) ketersediaan data IPWL milik
Kementerian Sosial, milik Pemda dan milik masyarakat, (2)
ketersediaan data korban/korban pada IPWL, dan (3) dukungan
sumber daya. Berdasarkan pertimbangan tersebut, terpilih provinsi:
Sumatera Utara, DI Yogyakarta dan Jawa Timur. Adapun data dan
informasi terkait dengan IPWL dan korban/residen yang memperoleh
pelayanan rehabilitasi sosial di IPWL di 3 (tiga) lokasi penelitian
sebagai berikut:
Tabel 2: Kondisi Awal IPWL Di Tiga Lokasi Penelitian
NO
PROVINSI
JUMLAH
IPWL
JUMLAH WAJIB
LAPOR
1.
SUMATERA UTARA
5
356
2.
DI YOGYAKARTA
4
106
3.
JAWA TIMUR
6
139
15
601
Jumlah
Sumber: Direktorat RSKPN, 2014.
Berdasarkan data tersebut, dipilih sampel penelitian dengan
mempertimbangkan status institisusi, dan jumlah wajib lapor di atas
10 orang di setiap IPWL. Maka diperoleh jumlah IPWL di masingmasing provinsi yang menjadi sasaran pada penelitian ini sebagai
berikut:
Tabel 3: IPWL Terpilih Di Tiga Lokasi Penelitian
NO
PROVINSI
JUMLAH
IPWL
JUMLAH WAJIB
LAPOR
1.
SUMATERA UTARA
4
247
2.
DI YOGYAKARTA
4
106
3.
JAWA TIMUR
Jumlah
5
270
13
623
Sumber: Tim Penelitian, 2015.
8
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Mempertimbangkan dukungan sumber daya yang ada, dan
kondisi korban, maka pada penelitian ini ditetapkan sampel korban
atau korban sebanyak 130 orang di 13 IPWL. Kondisi korban
dimaksud, yaitu korban/residen yang mampu berkomunikasi,
memberikan informasi atau menjawab pertanyaan quesioner.
Sebagaimana diketahui, bahwa sebagian korban/residen termasuk
pada kategori spikotik. Mereka ini tentunya mengalami kesulitan
ketika memberikan informasi atau menjawab quesioner.
Kemudian, informan penelitian ditentukan berdasarkan
kepemilikan data dan informasi dan/atau terlibat langsung dalam
penanganan korban penyalahgunaan napza, yang terdiri dari unsurunsur:
Tabel 4: Informan Penelitian
NO
INFORMAN
JUMLAH
1.
Petugas pada Dit RSKPN
3
2.
Petugas pada Instansi Sosial Provinsi
3
3.
Petugas pada Instansi Sosial Kabupaten/Kota
3
4.
Administrasi (4), teknis rehabilitasi sosial (9) dan
penunjang (5)
90
5.
Korban penyalahgunaan napza yang memperoleh
penanganan dalam IPWL (15 unit x 10 orang).
150
6.
Keluarga ( 15 unit x 5 orang)
75
7.
Masyarakat di sekitar IPW (15 unit x 2 orang)
30
8.
Instansi terkait (BNN, BNP, Orsos/LSM, instansi
terkait).
10
Jumlah
364
KET: Pusat dan 3 (tiga) provinsi.
Sebagai upaya untuk memperoleh data dan informasi yang
diperlukan dalam penelitian ini, maka digunakan berbagai teknik
pengumpulan data, yaitu:
1. Studi dokumentasi
Pengumpulan data dan informasi tentang data korban, kebijakan
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
9
dan program penanganan korban penyalahgunaan napza, dan
data lain yang relevan dengan tujuan penelitian, pada:
a. Direktorat Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan napza,
Kementerian Sosial.
b.Instansi Sosial Provinsi dan Instansi Kabupaten/Kota yang
menjadi lokasi penelitian.
c. Badan Narkotika Nasional, Badan Narkotika Provinsi, Badan
Narkotika Kabupaten/Kota serta instansi terkait lainnya.
2.Wawancara
Wawancara dilakukan terhadap petugas manajemen, petugas
teknis, kanselor, pekerja sosial, keluarga, warga masyarakat
dan petugas dari instansi terkait. Pada wawancana tersebut
digunakan instrumen penelitian untuk masing-masing informan
penelitian.
3. Diskusi kelompok terfokus (FGD)
FGD dilakukan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan
kapasitas IPWL dalam penanganan korban penyalahgunaan
napza. Peserta FGD, yaitu: unsur instansi sosial provinsi, instansi
sosial kabupaten/kota, instansi sektoral terkait, LK3, Orsos/LSM
dan pihak-pihak terkait lainnya di tingkat provinsi.
4.Observasi
Melakukan pengamatan secara langsung terhadap aktivitas
di dalam IPWL, lingkungan dan sarana prasarana IPWL dan
aktivitas korban penyalahgunaan napza di dalam IPWL.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian, yaitu analisis
kualitatif dan kuantitatif. Analisis ini digunakan dalam upaya
menjelaskan kapasitas IPWL, serta manfaat pelayanan rehabilitasi
sosial di IPWL yang dirasakan oleh korban penyalahgunaan napza.
Analisis hasil penelitian difokuskan pada tujuan penelitian, yaitu:
komponen kegiatan, pelaksanaan kegiatan, hasil dan faktorfaktor yang memengaruhi kegiatan IPWL. Untuk memperjelas dan
memudahkan memahami data dan informasi yang disajikan, maka
selain dalam bentuk deskripsi, didukung dengan gambar, tabel dan
diagram.
10
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
E. SISTEMATIKA PENULISAN
Laporan hasil penelitian disusun dengan sistematika sebagai
berikut:
BAB I: PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
B.Permasalahan Penelitian
C.Tujuan Dan Manfaat Penelitian
D.Metode Yang Digunakan
E.Sistematika Penulisa
BAB II: KAJIAN PUSTAKA
BAB III: KAPASITAS IPWL DI YOGYAKARTA
A.Gambaran Lokasi
B.Identitas Responden
C.Komponden Kegiatan
D.Pelaksanaan Kegiatan
E.Hasil yang Dicapai
F.Faktor-Faktor Berpengaruh
BAB IV: KAPASITAS IPWL DI JAWA TIMUR
A.Gambaran Lokasi
B.Identitas Responden
C.Komponden Kegiatan
D.Pelaksanaan Kegiatan
E.Hasil yang Dicapai
F.Faktor-Faktor Berpengaruh
BAB V: KAPASITAS IPWL DI SUMATERA UTARA
A.Gambaran Lokasi
B.Pengenalan Responden
C.Komponden Kegiatan
D.Pelaksanaan Kegiatan
E.Hasil yang Dicapai
F.Faktor-Faktor Berpengaruh
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
11
BAB VI: KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A.Kesimpulan
B.Rekomendasi
DAFTAR PUSTAKA
12
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. PERMASALAHAN NAPZA
Napza merupakan kependekan dari Narkotika, Psikotropika dan
Zat Adiktif lainnya. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari
tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis,
yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan
dapat menimbulkan ketergantungan. Psikotropika adalah zat atau
obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat
prikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Zat Adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila
dikonsumsi oleh organisme hidup dapat menyebabkan kerja biologi
serta menimbulkan ketergantungan atau adiksi yang sulit dihentikan
dan berefek ingin menggunakannya secara terus menerus yang
jika dihentikan dapat memberi efek lelah luar biasa atau rasa sakit
luar biasa, atau zat yang bukan narkotika dan psikotropika, tetapi
menimbulkan ketagihan (Kemensos, 2014; UU No 35 Tahun 2009).
Berdasarkan pengertian tersebut, bahwa pecandu atau korban
penyalahgunaan napza menghadapi risiko yang mengancam kondisi
fisik atau kesehatan, kondisi psikologis (emosional) dan gangguan
perilaku sosial. Kondisi tersebut akan berdampak pada kehidupan
sosial pecandu atau korban dalam lingkungan keluarga, kelompok
dan masyarakat.
Menurut Romeal (Suradi, 2012), dampak negatif dari
penyalahgunaan napza adalah:
a. Dampak terhadap Mental
Dampak terhadap mental dalam bentuk sugesti, yaitu munculnya
keinginan untuk kembali menggunakan napza. Sugesti bisa
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
13
digambarkan sebagai suara-suara yang menggema di dalam
kepala seseorang yang menyuruhnya untuk menggunakan napza.
Dampak mental yang lain, yaitu pikiran dan perilaku obsesif
kompulsif serta tindakan impulsif. Pikirannya hanya tertuju untuk
mendapatkan napza, dan seringkali mengulangi kesalahan yang
sama. Pencandu atau korban sudah tidak memiliki akal sehat.
b. Dampak terhadap Fisik
Dampak terhadap kondisi fisik mulai dari yang ringan sampai
yang berat. Bentuk dampak dimaksud, seperti: pegal-pegal,
ngilu, sakit-sakit pada sekujur tubuh dan persendian, kram otot
dan insomnia. Kemudian risiko yang lebih berat, seperti: katup
jantung bocor, paru-paru bolong, gagal ginjal, liver rusak, inveksi
virus hepatitis C dan HIV/AIDS.
c. Dampak terhadap Emosional
Dampak terhadap emosional dalam bentuk perubahan mood yang
ekstrim yang dapat mendorong perilaku agresif yang berlebihan,
emosinya sangat labil, dan dapat melakukan tindak kekerasan.
Munculnya kepribadian baru yang tidak peduli terhadap orang
lain, ada perasaan tidak berguna dan depresi mendalam yang
dapat mengantarnya untuk melakukan bunuh diri.
d. Dampak terhadap Spiritual
Dampak terhadap spiritual dalam bentuk: tidak mau melakukan
aktivitas yang produktif, tidak mau sekolah, dan meninggalkan
kegiatan ritual/ibadah. Korban menjalani hidup dalam dunianya
sendiri, dan mengisolasi diri dari keluarga, teman-temannya dan
masyarakat.
Situasi spiritual seseorang, dapat sebagai faktor akibat, tetapi
juga dapat menjadi faktor penyebab. Sebuah hasil penelitian
yang dilakukan oleh Gallup (Rozi, 2007), menyebutkan bahwa
orang-orang yang spiritualnya tinggi memiliki risiko yang lebih
rendah untuk terkena depresi, narkoba, usaha bunuh diri dan
lebih puas dengan keberadaan dan hidupnya.
e.Retardasi
Penyalahgunaan napza menyebabkan korban tidak memiliki
pola pikir dan kestabilan emosi seperti layaknya orang-orang
14
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
seusianya. Korban tidak mampu membuat keputusan karena
kemampuan berpikirnya sangat terbatas. Korban tidak memiliki
kestabilan emosi, tidak mampu mengurus diri sendiri dan tidak
tertarik untuk membangun relasi sosial dengan keluarga dan
lingkungan sosialnya.
Penyalahgunaan napza tidak saja berdampak bagi invididu, tetapi
juga berdampak bagi keluarga, masyarakat dan negara. Keluarga
yang memiliki anggota sebagai korban penyalahgunaan napza akan
menghadapi berbagai permasalahan, baik secara ekonomi, mental
dan sosial. Secara ekonomi, pengeluarkan keluarga akan jauh
meningkat. Bahkan, pada banyak kasus harta milik (aset) keluarga
dijual oleh korban untuk membeli napza. Kemudian, secara mental,
anggota keluarga mengalami rasa tidak tenang dan tidak nyaman,
karena korban yang sakaw bisa melakukan tindak kekerasan untuk
memperoleh uang yang akan dibelikan napza. Selanjutnya secara
sosial, keluarga akan menghadapi masalah dalam mengembangkan
hubungan sosial. Korban napza akan menciptakan sosial di dalam
keluarga menjadi tidak harmonis lagi. Aktivitas-aktivitas yang
biasanya dilaksanakan secara bersama-sama oleh anggota keluarga,
akan sulit diwujudkan lagi (see Martono dan Joewana, 2005).
Kemudian dampak terhadap masyarakat, yaitu masyarakat
merasa tidak tenang dan tidak aman dikarenakan di lingkungannya
ada korban penyalahgunaan napza. Pada beberapa kasus, terjadinya
kehilangan harta milik (aset) warga masyarakat yang pencurinya
mengarah pada korban penyalahgunaan napza. Selain itu,
lingkungan masyarakat di mana ada korban penyalahgunaan napza,
berpotensi terjadinya tindak kekerasan. Hal ini akan memengaruhi
situasi hubungan sosial dalam masyarakat.
Selanjutnya dampak terhadap negara dan pemerintah pun relatif
sama, dengan skala yang lebih luas. Negara mengalami kerugian
hingga triyunan rupiah akibat penyalahgunaan napza. Pada tahun
2008 (Suradi, 2012), kerugian negara mencapai 15.37 triliyun
rupiah. Angka tersebut akan meningkat apabila dikaitkan dengan
jumlah napza yang berhasil diamankan oleh negara pada lima tahun
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
15
terakhir ini. Selain itu, kasus penyalahgunaan napza mengakibatkan
terjadinya ancaman bagi keamanan nasional, mengingat transaksi
napza sudah lintas negara. Dan pada saat ini, Indonesia dinyatakan
sebagai ‘darurat narkoba’, mengingat penyalahgunaan napza sudah
meluas di semua lapisan masyararkat dan wilayah Indonesia.
Penyalahgunaan napza ditetapkan sebagai salah satu musuh besar
negara karena mengancam generasi muda dan masa depan bangsa
Indonesia.
B. REHABILITASI SOSIAL
Penyalahgunaan napza berkaitan dengan sikap dan perilaku
seseorang yang tidak sesuai dengan norma dan standar sosial yang
berlaku di masyarakat, melanggar hukum dan merugikan negara.
Pada perspektif psikologi sosial, orang yang menyalahgunakan
napza dikatakan mengalami perilaku menyimpang (social diviant),
dan dalam perspektif sosiologi dikatakan mengalami patologi atau
patologi sosial (Kartono, 2007). Sementara itu, dalam perspetif
pekerjaan sosial, merupakan bentuk perilaku yang tidak sesuai
dengan tatanan sosial (social disorder) yang berlaku di masyarakat.
Kemudian, Kementerian Sosial RI menempatkan seseorang yang
menyalahgunakan atau pecandu Nazpa itu sebagai korban.
Implikasi dari status sebagai korban tersebut, maka seseorang yang
menyalahgunakan atau pencandu napza memerlukan intervensi
sosial dalam bentuk rehabilitasi sosial, dan bukan dipenjarakan.
Sehubungan dengan itu, maka penanganan korban penyalahgunaan
napza masuk ke dalam rumpun “rehabilitasi sosial”.
Menurut Tomas dan Pierson yang dikutip Suradi (et.all, 2014),
rehabilitasi sosial didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan yang
bertujuan untuk memperbaiki kapasitas fisik, mental dan sosial
klien secara optimal. Kemudian, Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2009 tentang Kesejahteraan Sosial, Peraturan Menteri Sosial No
26 Tahun 2012, dan Peratruan Menteri Sosial No 03 Tahun 2012,
mendefinisikan rehabilitasi sosial sebagai proses refungsionalisasi
dan pengembangan yang memungkinkan seseorang mampu
16
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan
masyarakat. Selanjutnya, khusus berkaitan dengan penyalahgunaan
napza, Undang-Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan
Wajib Lapor Pecandu Narkotika, rehabilitasi sosial didefinisikan
sebagai suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu, baik
fisik, mental maupun sosial, agar mantan pecandu narkotika dapat
kembali melaksanakan fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat.
Berdasarkan pengertian rehabilitasi sosial di atas, dapat
dipahami bahwa unsur-unsur di dalam rehabilitasi sosial bagi
korban penyalahgunaan napza, yaitu (1) pecandu atau korban,
(2) arah kegiatan pada pemulihan fisik, mental dan sosial dan (3)
tujuannya untuk mencapai keberfungsian sosial orang. Berdasarkan
ketiga pokok pikiran tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pecandu narkotika didefinisikan sebagai orang yang
menggunakan atau menyalahgunakan narkotika dan dalam
keadaan ketergantungan pada narkotika, baik secara fisik maupun
psikis. Kemudian korban penyalahgunaan napza didefinisikan
sebagai seseorang yang menggunakan narkotika, psikotropika
dan zat adiktif lainnya tanpa sepengetahuan dan pengawasan
dokter (Kemensos, 2014).
2. Pemulihan fisik, mental dan sosial sebagai tujuan yang akan
dicapai dari rehabilitasi sosial. Ketiga aspek tersebut dibahas
secara luas oleh Lisa dan Sutrisna (2013), Martono dan Joewana
(2005), tim penelitian BNN (2014), Suradi (2012) dan Abdalla
(2009). Intinya, bahwa napza merusak keberfungsian ketiga
aspek tersebut.
3. Korban penyalahgunaan napza yang selanjutnya disebut dengan
korban, adalah seseorang yang mengalami gangguan fisik, psikis
mapun sosialnya, sehingga ia tidak mampu melaksanakan fungsi
sosialnya atau mengalami disfungsi sosial. Menurut Siporin
(Suradi, 2012), bahwa seseorang mengalami disfungsi sosial
ketika seseorang itu menunjukkan kondisi: (1) tidak mampu
memenuhi kebutuhan dasar (2) tidak mampu mengakses
pelayanan sosial, sehingga tidak mampu memecahkan masalah
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
17
yang dihadapi, dan (3) tidak mampu melaksanakan peranan
sesuai dengan tugas-tugas kehidupannya. Berkenaan dengan
itu, maka lahir pendekatan intervensi sosial bagi korban
penyalahgunaan napza, yaitu pendekatan biopsikososial.
Berdasarkan kondisi yang dihadapi oleh korban, maka rehabilitasi
sosial dimaksudkan untuk memulihkan dan mengembangkan
kemampuan seseorang yang mengalami disfungsi sosial agar dapat
melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar. Rehabilitasi sosial
sebagaimana tersebut dapat dilaksanakan secara persuasif, motivatif
dan koersif, baik dalam keluarga, masyarakat maupun panti sosial.
Kemudian, dikemukakan oleh Coleman yang dikutip oleh Haryanto
(Suradi, et.all,2014), bahwa tujuan rehabilitasi sosial adalah:
1. Meningkatkan insight individu terhadap problem yang dihadapi,
kesulitan dan tingkah lakunya.
2. Membentuk sosok self identity yang lebih baik pada individu.
3. Memecahkan konflik yang menghambat dan mengganggu.
4.Merubah dan memperbaiki pola kebiasaan dan pola reaksi
tingkah laku yang tidak diinginkan.
5.Meningkatkan kemampuan melakukan relasi interpersonal
maupun kemampuan lainnya.
6. Modifikasi asumsi-asumsi individu yang tidak tepat tentang
dirinya sendiri dan dunia lingkungannya.
7. Membuka jalan bagi eksistensi individu yang lebih berarti dan
bermakna atau berguna.
Sedangkan tujuan rehabilitasi sosial yang khusus bagi korban
penyalahgunaan napza sebagaimana diatur di dalam standar
rehabilitasi sosial (Kemensos, 2014), yaitu:
1.Korban penyalahgunaan napza dapat melaksanakan fungsi
sosialnya yang meliputi: kemampuan dalam melaksanakan peran,
memenuhi kebutuhan, memecahkan masalah dan aktualisasi
diri.
2.Terciptanya lingkungan sosial yang mendukung keberhasilan
rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan napza.
18
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Kondisi korban penyalahgunaan napza yang dikatakan berfungsi
sosial (social functioning) setelah memperoleh rehabilitasi sosial
dapat dicermati dari perubahan yang terjadi pada korban, sebagai
berikut:
1. Melaksanakan peran
Peran menunjuk pada perilaku sosial yang diharapkan dari
seseorang sesuai dengan status sosial, interaksi sosial, harapan,
tingkah laku dan situasional. Korban yang telah memperoleh
rehabilitasi sosial, diharapkan dapat melaksanakan peranannya
dengan baik.
2. Memenuhi kebutuhan
Kebutuhan (dasar) manusia meliputi kebutuhan fiisik/material,
psikis/mental spiritual dan sosial (UU No 11/2009). Korban
yang telah memperoleh rehabilitasi sosial diharapkan akan dapat
memenuhi kebutuhan dasar tersebut secara layak, yaitu:
a. Kebutuhan material
Kebutuhan material dalam bentuk makanan, pakaian, tempat
tinggal dan kesehatan.
b. Kebutuhan spiritual
Kebutuhan spiritual berkaitan dengan situasi emosional, rasa
nyaman dan aman, bahagia, mampu mengendalikan diri.
c. Kebutuhan sosial
Kebutuhan sosial berkaitan dengan komunikasi dan interaksi
sosial dengan orang lain, baik di lingkungan keluarga,
lingkungan ketetanggaan, sekolah dan lingkungan kerja.
Kemudian, Maslow (wikipedia, 2015), mengemukakan
kebutuhan dasar manusia, yaitu:
a. Kebutuhan fisiologis (physological), meliputi kebutuhan
pangan, pakaian dan tempat tinggal maupun kebutuhan
biologis.
b. Kebutuhan keamanan dan keselamatan (safety), meliputi
kebutuhan keamanan kerja, kemerdekaan dari rasa takut
ataupun tekanan, keamanan dari kejadian atau lingkungan
yang mencekam.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
19
c. Kebutuhan rasa memiliki dan kasih sayang (social), meliputi
kebutuhan terhadap persahabatan, berkeluarga, berkelompok
dan interaksi.
d.Kebutuhan terhadap penghargaan (esteem), meliputi
kebutuhan harga diri, status, martabat, kehormatan, dan
penghargaan dari pihak lain.
e. Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization), meliputi
kebutuhan memenuhi keberadaan diri (selffulfillment)
dengan memaksimumkan penggunaan kemampuan dan
potensi diri.
3. Memecahkan masalah
Kemampuan memecahkan masalah berkaitan dengan aspek
afektif, kognitif dan psikomotorik seseorang dalam mengatasi
masalah yang dihadapi, tanpa menunggu bantuan orang lain.
Korban yang telah memperoleh rehabilitasi sosial diharapkan
dapat memecahkan masalah yang dihadapi tanpa tergantung
kepada orang lain.
Selanjutnya, di dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2009, ditegaskan bahwa rehabilitasi sosial diberikan dalam
bentuk, yaitu:
1. Motivasi dan diagnosis psikososial;
2. Perawatan dan pengasuhan;
3. Pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan;
4. Bimbingan mental spiritual;
5. Bimbingan fisik;
6. Bimbingan sosial dan konseling psikososial;
7. Pelayanan aksesibilitas;
8. Bantuan dan asistensi sosial;
9. Bimbingan resosialisasi;
10.Bimbingan lanjut; dan/atau
11.Rujukan.
Rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan napza dapat
menggunakan sistem dasar (basic system) dalam intervensi
20
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
pekerjaan sosial. Menurut Pincus dan Minahan (Suradi, 2012), ada
empat sistem dasar dalam intervensi pekerjaan sosial, yaitu:
1. Sistem klien (client system)
Sistem klien adalah seseorang yang akan memperoleh pelayanan
atas dasar kesepakatan bersama dengan pekerja sosial, untuk
memecahkan masalah yang dihadapi.
2. Sistem pelaksana perubahan (change agen system)
Pekerja sosial dan lembaga pelayanan kesejahteraan sosial
merupakan sistem pelaksana perubahan, yang karena
kewenangannya melaksanakan pelayanan bagi klien dalam
rangka pemecahan masalah dan pemulihan fungsi sosial.
3. Sistem target (target system)
Sistem target adalah individu, keluarga, kelompok dan atau
lembaga yang membantu memberikan kemudahan dalam rangka
pemecahan masalah dan pemulihan fungsi sosial klien.
4. Sistem kegiatan (action system)
Seorang profesional atau institusi sebagai mitra dan jejaring kerja
yang terlibat secara langsung dalam proses pemecahan masalah
dan pemulihan fungsi sosial klien.
Rehabilitasi sosial dilaksanakan melalui tahapan kegiatan.
Sesuai dengan Stardar Rehabilitasi Sosial (Kemsos, 2012),
tahapan rehabilitasi sosial bagi korban penyelahgunaan napza,
yaitu:
1. Pendekatan awal
Pada tahap ini dilaksanakan kegiatan sosialisasi, konsultasi,
identifikasi, motivasi, seleksi dan penerimaan.
2. Pengungkapan dan pemahaman masalah
Merupakan
kegiatan
mengumpulkan,
menganalisis,
merumuskan masalah, kebutuhan, potensi dan sumber yang
meliputi aspek fisik, psikis, sosial, spiritual dan budaya.
3. Menyusun rencana pemecahan masalah
Kegiatan penyusunan rencana pemecahan masalah
berdasarkan hasil pengungkapan dan pemahaman masalah,
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
21
yang meliputi penentuan tujuan, sasaran, kegiatan, metode,
strategi dan teknik, tim pelaksana, waktu pelaksanaan dan
indikator keberhasilan.
4.Resosialisasi
Kegiatan menyiapkan lingkungan
pendidikan dan lingkungan kerja.
sosial,
lingkungan
5.Terminasi
Kegiatan pengakhiran rehabilitasi sosial bagi korban
penyalahgunaan napza. Terminasi dapat dilakukan dalam
hal (a) korban telah selesai mengikuti rehabilitasi sosial, (b)
keinginan korban sendiri untuk tidak melanjutkan rehabilitasi
sosial, (c) korban meninggal dunia, dan (d) keterbatasan
lembaga rehabilitasi sosial, sehingga diperlukan rujukan.
6. Pembinaan lanjut
Pembinaan lanjut ditujukan bagi korban yang sudah selesai
mengikuti rehabilitasi sosial. Pembinaan lanjut bertujuan
agar korban mampu (a) melaksanakan fungsi sosialnya, (b)
menjaga kepulihan, (c) mengembangkan kewirausahaan
untuk mencapai kemandirian ekonomi, dan (d) menciptakan
lingkungan keluarga dan lingkungan sosial secara kondusif.
Pembinaan lanjut ditujukan bagi korban penyalahgunaan
napza yang telah selesai direhabilitasi sosial yang meliputi berbagai
kegiatan, yaitu:
a. Penguatan potensi diri (minat, bakat, motivasi) dan pemeliharaan
kepulihan.
b. Informasi dan konsultasi.
c. Kerja dan atau pendidikan.
d. Rumah usaha (UEP).
e. Pendampingan (individu/kelompok).
f. Pembinaan keluarga dan lingkungan masyarakat sekitar.
C. KAPASITAS LEMBAGA REHABILITASI SOSIAL
Salah satu sistem yang dikembangkan di Indonesia dalam
penanganan korban penyalahgunaan napza, yaitu sistem institusional.
Pada sistem institusional ini, korban dalam jangka waktu tertentu
22
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
tinggal di sebuah lembaga untuk memperoleh pelayanan dan bantuan
dari tim profesional agar pulih dari pengaruh napza. Lembaga
dimaksud dikenal dengan lembaga rehabilitasi sosial. Kementerian
Sosial (2014) memberikan definisi, bahwa lembaga rehabilitasi
sosial korban penyalahgunaan napza adalah lembaga yang didirikan
oleh pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota,
atau masyarakat, guna menyelenggarakan rehabilitasi sosial korban
penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.
Sebagai sebuah lembaga pelayanan profesional bagi korban
penyalahgunaan napza, maka lembaga rehabilitasi sosial dituntut
untuk memenuhi standar lembaga pelayanan, yaitu: status lembaga,
visi dan misi lembaga, program pelayanan, struktur organisasi,
sumber daya manusia baik tenaga administrasi, tenaga teknis
dan penunjang; sarana dan prasarana baik hardware maupun
software, ketersediaan dana, manajemen pengelolaan dan
pertanggungjawaban (Kemensos, 2014). Hal ini perlu diketahui oleh
masyarakat secara luas, agar korban penyalahgunaan napza yang
memerlukan pelayanan dan bantuan untuk pemulihan, memperoleh
pelayanan yang tepat dan tuntas.
Unsur-unsur di dalam standar lembaga rehabilitasi sosial
tersebut merupakan sumber daya yang dimiliki oleh sebuah
lembaga yang siap untuk digunakan. Sedangkan kapasitas,
merupakan kemampuan lembaga tersebut untuk mendayagunakan
sumber-sumber yang tersedia untuk mencapai tujuan yang sudah
direncanakan.
Pengertian kapasitas sebenarnya lebih banyak digunakan dalam
bidang ekonomi, khususnya unit-unit produksi yang menghasilkan
barang dan jasa. Sebagaimana dikemukakan oleh McNair (Mutiara,
2015), bahwa kapasitas merupakan sumber daya yang dimiliki
perusahaan yang siap untuk digunakan dan dapat menggambarkan
potensi keuntungan yang akan didapatkan oleh perusahaan
pada masa mendatang. Kemudian, menurut Chase (Mutiara,
2015), kapasitas didefinisikan sebagai kemampuan pengelolaan
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
23
sumberdaya yang ada untuk menghasilkan hasil akhir yang sesuai
dengan kebutuhan pelanggan dalam kerangka waktu tertentu.
Berdasarkan definisi dan pengertian tersebut dalam konteks
IPWL sebagai lembaga rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan
napza, kapasitas adalah kemampuan IPWL dalam proses rehabilitasi
sosial bagi korban penyalahgunaan napza melalui pemberian bantuan
dan pelayanan profesional, sehingga korban penyalahgunaan napza
mencapai kepulihan dan mampu melaksanakan keberfungsian
sosialnya. Kemampuan berfungsi sosial dimaksud ditandai dengan
kemampuan dalam melaksanakan peranan, memenuhi kebutuhan,
memecahkan masalah dan aktualisasi diri. Kemudian, terciptanya
lingkungan sosial yang mendukung keberhasilan rehabilitasi sosial
korban penyalahgunaan napza.
Berdasarkan kajian pustaka, maka kerangka pikir dalam
penelitian ini digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1: Kerangka Pikir Penelitian, 2015.
24
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
BAB III
KAPASITAS IPWL DI YOGYAKARTA
A. GAMBARAN UMUM LOKASI
Provinsi D.I. Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di pulau
jawa. Tepatnya terletak di bagian selatan Pulau Jawa bagian tengah,
dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Sumadera Hindia.
Provinsi ini memiliki lima kabupaten/kota, yakni Kota Yogyakarta,
Kabupaten Sleman, Kabupaten Wates, Kabupaten Wonosari,
dan Kabupaten Bantul. Masing-masing kabupaten/kota memiliki
kekhasan sendiri-sendiri secara sosial budaya. Dari lima kabupaten/
kota yang ada, kabupaten yang memiliki banyak kesamaan secara
sosial budaya, dan infrastruktur ekonomi, pendidikan, kesehatan
dan sosial, yaitu Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul dan Kabupaten
Sleman.
Secara keseluruhan, Provinsi DI. Yogyakarta dikenal di tingkat
nasional dan internasional sebagai tempat tujuan wisata andalan
setelah Provinsi Bali. Selain itu, DI Yogyakarta dikenal pula sebagai
kota pelajar, dan kota budaya. Pada saat ini terdapat 5.071 lembaga
pendidikan setingkat TK - SLTA dan 131 lembaga perguruan tinggi.
Siswa yang sekolah dan kuliah di DI Yogyakarta berasal dari
berbagai daerah di wilayah Indonesia, dan bahkan berasal dari
berbagai negara asing. Kehadiran siswa dan mahasiswa dari luar
DI Yogyakarta tersebut tentu membawa serta kebudayaan dan cara
hidup mereka.
Kebudayaan dari dalam dan dari luar DI Yogyakarta melahirkan
cara-cara hidup baru. Permasalahannya, cara-cara hidup baru
tersebut ada yang tidak sesuai dengan nilai, norma dan standar
sosial yang berlaku dalam kehidupan sosial kemasyarakat. Salah
satu bentuk permasalahan itu, yakni penyalahgunaan narkoba atau
napza. Penyalahgunaan napza di DI Yogyakarta pada tahun 2013
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
25
mencapai 87.473 orang. Penyalahgunanya didominasi oleh generasi
muda, pelajar, dan mahasiswa. Angka tersebut diperkirakan akan
mengalami peningkatan setiap tahun, dan diprediksi pada tahun
2015 menjadi lebih 100.000 orang. Alasan penggunanya pun
beragam, dari sekedar coba-coba sampai pada yang memang sengaja
mencari pelampiasan dan pelarian dari himpitan persoalan. Angka
prevalensi penyalahgunaan napza di DI Yogyakarta, sebagaimana
tampak pada gambar berikut:
Sumber: Badan Narkotika Nasional Provinsi DI Yogyakarta, 2013.
Ket: *) angka hasil estimasi.
Penyalahgunaan napza di DI Yogyakarta tidak hanya terjadi di
ibu kota provinsi, tetapi juga terjadi di kabupaten-kabupaten lain.
Sehingga tidak ada satupun kabupaten/kota di wilayah Provinsi
DI Yogyakarta yang luput dari kasus penyalahgunaan napza.
Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional Provinsi DI Yogyakarta,
Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul,
merupakan kabupaten/kota yang memiliki kasus penyalahgunaan
napza signifikan dibandingkan dengan kabupaten lain, sehingga
ketiga kabupaten/kota tersebut ditetapkan sebagai Daerah Rawan I.
Penetapan Daerah Rawah I ini di dasarkan pada jumlah kasus dan
jenis napza yang disalahgunakan. Wilayah rawan penyalahgunaan
26
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
napza di provinsi DI Yogyakarta, sebagaimana tampak pada gambar
berikut:
Gambar 3 : Wilayah Rawan Penyalahgunaan Napza di Provinsi DI
Yogyakarta.
Pemerintah Daerah Provinsi DI Yogyakarta, memberikan respon
yang sungguh-sungguh terhadap penanganan penyalahgunaan
napza dengan diterbitkannya peraturan-peraturan berkaitan dengan
penanggulangan penyalahgunaan napza. Peraturan-peraturan
dimaksud, yakni:
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
27
a. Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2010 tentang Pencegahan
dan Penanggulangan Terhadap Penyalahgunaan dan Peredaran
Gelap Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif.
b. Peraturan Gubenur DI Yogyakarta Nomor 9 Tahun 2014 tentang
Forum Koordinasi Pencegahan dan Penanggulangan Terhadap
Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika, Psikotropika
dan Zat adiktif
c. Peraturan Gubenur Nomor 20 Tahun 2014 tentang Penegakan
Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2010. Selain itu, adanya
Peraturan Gubenur DIY Nomor 97 Tahun 2014 Tentang Pedoman
Penyelenggaraan Rehabilitasi dan Institusi Penerima Wajib Lapor
Bagi Korban Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat
Adiktif.
Meskipun demikian, peraturan-peraturan tersebut belum
cukup efektif sebagai instrumen hukum dalam penanggulangan
penyalahgunaan napza di DI Yogyakarta. Hal ini apabila dikaitkan
dengan kecenderungan peningkatan angka korban penyalahgunaan
napza dari tahun ke tahun. Tersedianya instrumen hukum tersebut,
memang memerlukan kesiapan sumber daya manusia untuk
menterjemahkannya ke dalam kegiatan-kegiatan operasional. Jika
tidak, maka instrumen hukum tersebut tidak memiliki fungsi dalam
rangka penanggulangan penyalahgunaan napza.
Khusus Kabupaten Sleman yang menjadi lokasi penelitian ini,
merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan ibu kota
Provinsi DI Yogyakarta, sehingga menjadi kabupaten penyangga.
Kabupaten Sleman termasuk salah satu kabupaten yang dikenal
pula sebagai kota pelajar, kota budaya dan kota wisata. Kabupaten
ini memiliki penduduk yang heterogen dilihat dari kondisi suku
bangsa. Suku bangsa yang ada di Kabupaten Sleman, antara lain
Suku Jawa, Sunda, Melayu, Tionghoa, Minangkabau, Bali, Madura,
Banjar, Bugis, Banten dan Betawi. Selain itu, Kabupaten Sleman
merupakan daerah bertemunya para siswa, mahasiswa dan kaum
migran serta wisatawan dari berbagai wilayah di Indonesia dan
mancanegara.
28
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Kebupaten Sleman dengan penduduk dan sosial budaya yang
majemuk, di satu sisi merupakan potensi bagi pengembangan
perekonomian dan sosial budaya. Namun demikian, pada sisi yang
lain permasalahan sosial angkanya juga cukup signifikan, antara lain
korban penyalahgunaan napza dan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).
Berdasarkan data BNN Kabupaten Sleman, secara umum semua
wilayah di Sleman rawan narkoba. Jumlah kasus pengguna narkoba
di Sleman saat ini sudah mencapai 24.000 orang, dan sebagian
besar dari mereka berusia antara 15 - 39 tahun. Menurut Kuntadi,
Kepala BNN Kabupaten Sleman, tingginya angka penyalahgunaan
narkoba disebabkan banyak terdapat perguruan tinggi, kost-kostan
hingga tempat hiburan. Untuk itu, bagi pengedar ini merupakan
jalur strategis. Kecamatan Depok, Gamping, Mlati dan Ngaglik
merupakan kecamatan yang mendominasi lokasi penyalahgunaan
narkoba (Krjogja.com, 2015).
Berkaitan dengan hal tersebut, ditegaskan oleh Kuntadi, Kepala
BNN Kabupaten Sleman bahwa Kabupaten Sleman, dinilai rentan
dengan kasus peredaran narkoba, dan bahkan terkorelasi secara erat
dengan penyebaran virus HIV/AIDS (Antara Jogja, 2015). Kemudian,
ditegaskan oleh Mulyanto, Kepala Komisi Penanggulangan AIDS
Kabupaten bahwa faktor risiko HIV/ADIS di Kabupaten Sleman dari
2004 - 2014 untuk narkotik suntik berjumlah 80 orang, dan 44
persen pengguna narkoba suntik (penasun) pernah berhubungan seks
dengan wanita pekerja seks (Antara Jogja, 2015). Berdasarkan data
tersebut, maka menurut Yuni Setia Rahaya, wakil Bupati Sleman tingginya kasus HIV/AIDS di Sleman, satu di antaranya diduga akibat
penyalahgunaan narkoba, terutama di kalangan generasi muda
(lifestyle.okezone.com, 2013). Hal ini menunjukkan, bahwa ada
korelasi positif antara penyalahgunaan napza dengan penyebaran
HIV/AIDS yang memerlukan perhatian semua pihak.
Selanjutnya, Pemda Kabupaten Sleman dipilih Badan Narkotika
Nasional Provinsi di Yogyakarta sebagai pilot project Program
Rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan napza. Terpilihnya
Kabupaten Sleman sebagai pilot project ini di dasarkan pada
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
29
komitmen Pemda dalam penanggulangan korban napza, dan
tersedianya fasilitas rehabilitasi medis maupun sosial. Pusat
rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan napza, yang kemudian
diperkenalkan dengan Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) di
Kabupaten Sleman, yaitu (1) IPWL binaan kementerian Kesehatan:
(rehabilitasi medis) Rumah Sakit Grasia, Rumah Sakit Bayangkara,
dan RSUP dr. Sardjito; dan (2) IPWL binaan Kementerian Sosial
(rehabilitasi sosial): Panti Sosial Permadi Putra Yogyakarta, Lembaga
Rehabilitasi Kunci, Yayasan Yayasan IndoCharis, dan Yayasan Gria
Pemulihan Siloam. Tersedianya lembaga rehabilitasi medis maupun
sosial tersebut tentu menjadi modal utama dalam kerangka kebijakan
penanggulangan penyalahgunaan napza di Kabupaten Sleman.
Tentunya di dalam lembaga tersebut dilengkapi dengan sumber
daya manusia, dan sarana prasarana yang memenuhi standard
rehabilitasi medis maupun sosial.
Untuk merealisasikan pilot project tersebut, dibentuk Tim
Asesmen Terpadu yang terdiri unsur POLRI, Kejaksaan, Kementeria
Hukum dan HAM, Badan Narkotika Nasional Provinsi, Rumah Sakit
Ghrasia, Rumah Sakit Bhayangkara, dan Panti Sosial Pamardi Putra.
Tim Asesmen Terpadu yang telah bersertifikasi asesor ini memiliki
wewenang untuk:
a.Atas permintaan penyidik untuk melakukan analisis peran
seseorang yang ditangkap atau tertangkap tangan sebagai korban
penyalahgunaan narkotika, pecandu narkotika atau pengedar
narkotika.
b.Menentukan kriteria tingkat keparahan pengguna narkotika
sesuai dengan jenis kandungan yang dikonsumsi, situasi dan
kondisi ketika ditangkap pada tempat kejadian perkara.
c. Merekomendasikan rencana terapi dan rehabilitasi terhadap
pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika
sebagaimana dimaksud di atas.
30
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
B. PENGENALAN RESPONDEN
Identitas responden dalam penelitian ini dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Korban / Residen
Berdasarkan jenis kelamin, sebanyak 90 persen laki-laki
dan sebanyak 10 persen perempuan. Kemudian, berdasarkan
kelompok usia, hampir seluruh responden termasuk kelompok
usia produktif, sebagaimana tampak pada tabel berikut:
Tabel 5. Responden Menurut Usia
No
Kelompok Usia
Frekuensi
Persentase
7
17.5
1
<18
2
18 - 39
22
55
3
40 - 59
11
27.5
40
100
Jumlah
Sumber: Hasil Penelitian, 2015
Berdasarkan data pada tabel tersebut, respon kelompok
usia anak jumlahnya tidak signifikan, yaitu tujuh orang atau
17.5 persen. Meskipun demikian, angka tersebut menunjukkan,
bahwa penyalahgunaan napza di Provinsi DI Yogyakarta dan
khususnya di Kabupaten Sleman, sudah menjangkau kelompok
anak. Kemudian berjumlah 22 orang (55%) responden termasuk
kelompok usia dewasa muda (18-39 tahun), di mana pada
kelompok ini seseorang berada pada fase yang masih labil.
Mereka itu belum cukup matang dalam membuat penilaian
dan keputusan menyakut diri dan keluarga, dan masih mudah
dipengaruhi oleh lingkungan di sekitaranya. Kemudian, responden
menurut pendidikan sebagaimana tampak pada tabel berikut:
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
31
Tabel 6: Responden Menurut Pendidikan
No
Pendidikan yg ditamatkan
1
SD
2
Frekuensi
Persentase
1
2,5
SLTP
10
25
3
SLTA
24
60
4
Sarjana
5
12,5
40
100
Jumlah
Sumber: Hasil Penelitian, 2015
Dari tabel tersebut di atas diketahui, bahwa pendidikan
responden merentang dari pendidikan SD sampai dengan sarjana.
Hal ini memperkuat informasi yang diberedar di masyarakat,
bahwa penyalahgunaan napza terjadi pada semua jenjang
pendidikan. Berdasarkan data pada tabel terebut, responen yang
berpendidikan menengah ke atas (SLA - Sarjana), frekuensinya
lebih besar di bandingkan dengan responden dengan pendidikan
SLP ke bawah (SLP – SD). Kemudian, dilihat dari jenis pekerjaan,
65 persen responden tidak memiliki pekerjaan dan sebagian
besar dari mereka statusnya sebagai pelajar dan mahasiswa.
Sedangkan sebanyak 35 persen, memiliki pekerjaan sebagai
buruh/karyawan swasta, kuli bangunan dan wiraswasta.
Kemudian dilihat dari tempat tinggal sebelum menjadi korban
penyalahgunaan napza, sebesar 57,14 persen tinggal bersama
famili dan 42,86 persen tinggal satu rumah dengan orang tuanya.
Data ini membuktikan, bahwa anak yang diasuh dan tinggal
bersama famili lebih berisiko menjadi korban penyalahgunaan
napza, dibandingkan dengan anak yang tinggal bersama orang
tuanya. Data isi juga mempertegas kembali, bahwa eksistensi
keluarga yang tidak dapat digantikan oleh lembaga lain dalam
proses tumbuh kembang anak.
Dilihat dari keutuhan orang tua korban, maka diperoleh
informasi ada orang tua korban sudah meninggal, masih utuh,
cerai dan pisah rumah (tidak harmonis). Kondisi keutuhan orang
tua korban sebagaimana disajikan pada tabel berikut:
32
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Tabel 7. Responden Menurut Kondisi Keutuhan Orang Tua Korban
No
Kondisi Orang Tua
Frekuensi
Persentase
1
Bapak atau Ibu meninggal
17
42,5
2
Utuh
15
37,5
3
Cerai
6
15
4
Pisah Rumah
2
5
100
100
Jumlah
Sumber: Hasil Penelitian, 2015
Berdasarkan data pada tabel tersebut, korban dengan orang
tua tunggal (bapak atau ibunya meninggal), presentasenya
paling tinggi dibandingkan kondisi yang lain, yaitu 42.5 persen.
Kemudian, menyusul pada keluarga utuh dengan persentase
37.5 persen. Data ini membuktikan, bahwa keluarga yang secara
fisiologis kelihatan utuh, tidak menjamin anggota keluarganya
tidak menjadi korban penyalahgunaan napza. Hal ini sangat
bergantung pada harmonisasi sosial di dalam keluarga. Pada
keluarga yang kurang atau tidak harmonis (cerai dan pisah
rumah), presentase korban pun cukup signifikan, yaitu sebesar
20 persen. Data ini membuktikan, bahwa situasi keluarga yang
secara sosial psikologis tidak memberikan ketenteraman dan
kenyamaman bagi anggotanya, mendorong anggota keluarga itu
untuk menyalahgunaan napza.
2. Orang Tua Korban / Residen
Responden orang tua atau keluarga korban sebagian besar
tinggal di luar Kabupaten Sleman, dan bahkan tidak sedikit
yang tinggal di luar pulai jawa. Pada penelitian ini berhasil
diwawancarai 14 orang responden orang tua atau keluarga
korban.
Dilihat dari pendidikan, orang tua korban penyalahgunaan
napza yang memiliki pendidikan tinggi (menamatkan D3 dan
Sarjana), yaitu sebesar sebesar 5 (lima) orang atau 35,37
persen; pendidikan menengah (SLA) sebesar 8 (delapan) atau
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
33
57,14 persen dan pendidikan rendah (SD) satu orang. Kondisi
pendidikan orang tua korban ini memberikan informasi, bahwa
korban penyalahgunaan napza dapat terjadi pada keluarga
pendidikan rendah sampai dengan pendidikan tinggi. Pada orang
tua dengan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, jumlah
korban lebih besar dibandingkan dengan pendidikan rendah.
Selanjutnya dilihat dari jenis pekerjaan, dari 14 orang tua
korban, yang memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil,
karyawan swasta dan wirausaha dengan frekuensi sama, yaitu 4
(empat) orang, dan untuk jenis pekerjaan ‘pensiunan’ berjumlah
2 (dua) orang. Pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil, karyawan
swasta dan wirausaha, merupakan jenis-jenis pekerjaan yang
memerlukan waktu lebih banyak di luar rumah. Hal ini diduga
memengaruhi frekuensi dan kualitas relasi sosial antara orang tua
dengan anak, sehingga mengakibatkan anak mencari komunitas
di luar rumah untuk memperoleh kebutuhan sosial.
3. Petugas IPWL
Sumber daya manusia di IPWL terdiri dari petugas
administrasi dan petugas teknis. Masing-masing dari petugas
tersebut diambil satu orang sebagai responden dalam penelitian
yang mewakili IPWL.
Secara garis besar responden dan tugas IPWL dibedakan
menjadi tiga, yaitu petugas administrasi, petugas teknis dan
tenaga penunjang. Petugas administrasi adalah orang-orang yang
melaksanakan tugas-tugas administrai umum atau perkantoran.
Petugas teknis, adalah orang-orang yang melaksanakan kegiatan
teknis tekait dengan proses rehabilitasi medis maupun sosial bagi
korban penyalahgunaan napza. Kemudian, petugas penunjang
adalah orang-orang yang melaksanakan kegiatan terkait dengan
permakanan korban, kebersihan, kenyamanan dan keamanan IPWL.
a. Petugas Administrasi
Petugas administrasi di dalam penelitian ini, yaitu orang-orang
yang melaksanakan tugas-tugas adminitrasi, yakni: kepala
34
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
lembaga, sekretaris atau staf administrasi umum senior. Pada
penelitian ini, petugas administrasi yang menjadi informan,
yaitu kepala-kepala IPWL yang dibantu oleh staf administrasi
umum. Wawancara dilakukan dengan Kepala IPWL (Siloam,
Kunci dan IndoCharis) dan kepala sub bagian tata usaha
(PSMP Yogyakarta), dibantu staf administrasi umum dalam
menyiapkan data sekunder (dokumen-dokumen) yang
diperlukan peneliti. Reponden sudah berpengalaman lebih
5 (lima) tahun sebagai pimpinan lembaga, berpengalaman
mengikuti palatihan dan pemantapan IPWL, dan aktif
menjadi anggota forum peduli pananggulangan napza.
Pengalaman-pengalaman tersebut yang sangat membantu
dalam proses penggalian data dan informasi terkait dengan
aspek kelembagaan IPWL.
b. Petugas Teknis
Petugas teknis di dalam penelitian ini, yaitu orang-orang
yang melaksanakan tugas-tugas teknis pelayanan dan
rehabilitasi, yakni: pekerja sosial, kanselor adiksi, dokter, para
medik, psikiater, psikolog, pembimbing rohani, instruktur
keterampilan, tenaga kesejahteraan sosial. Dilihat dari status
kepegawaiannya, petugas teknis tersebut dibedakan menjadi
dua, yaitu petugas tetap dan petugas tidak tetap.
1)Petugas Tetap
Petugas tetap adalah orang-orang yang sudah
menjadi pegawai tetap IPWL. Mereka masuk di dalam
kepegawaian, memiliki tugas dan tanggung jawab yang
jelas dan pasti, memperoleh fasilitas yang disediakan
lembaga dan mendapatkan gaji serta insentif lain yang
menjadi kebijakan IPWL.
Pada penelitian ini, pekerja sosial, kanselor adiksi, tenaga
kesejahteraan sosial, para medik dan pembimbing rohani,
merupakan petugas-petugas yang termasuk petugas tetap
pada keempat IPWL. Pada IPWL PSMP, selain petugaspetugas yang termasuk petugas tetap, yakni instruktur
keterampilan dan para medik. Sebagai catatan, bahwa
pekerja sosial di IPWL adalah orang-orang yang pernah
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
35
mengikuti pemantapan pekerjaan sosial adiksi, tetapi
mereka belum tersertifikasi sebagai pekerja sosial.
2)Petugas tidak tetap
Petugas tidak tetap adalah orang-orang yang melaksanakan
tugas-tugas di IPWL sesuai dengan keahliannya, tetapi
mereka bukan sebagai pegawai tetap IPWL. Penugasan
mereka di IPWL melalui bentuk kerjasama antara IPWL
dengan lembaga (dimana ahli tersebut bekerja) atau
kerjasama secara individual. Petugas tidak tetap dalam
penelitian ini, yaitu dokter, psikolog, psiakter, dan para
medik serta instruktur keterampilan (kedua petugas
terakhir kecuali di PSMP sudah menjadi petugas tetap).
Petugas-petugas teknis tersebut sudah bekerjasama
dengan IPWL rata-rata lebih 4 (empat) tahun. Pengalaman
tersebut ditambah dengan keikutsertaannya dalam
workshop, diskusi dengan pengurus IPWL dan sharing
pengalaman dengan petugas teknis lain selama proses
rehabilitasi, merupakan faktor yang banyak membantu
dalam proses pengumpulan data dan informasi terkait
dengan rehabilitasi medis maupun sosial.
c. Tenaga Penunjang
Tenaga penunjang adalah orang-orang yang melaksanakan
tugas untuk penujang pelayanan dan rehabilitasi bagi
korban (korban). Tenaga penunjang dimaksud, yakni tenaga
permakanan, tenaga kebersihan dan tenaga keamanan IPWL.
Seluruh tenaga penujang di 4 (empat) IPWL, merupakan
tenaga tetap IPWL. Mereka sudah bekerja di IPWL ratarata lebih dari 5 (lima) tahun, sehingga sudah banyak
pengalaman di bidangnya. Sebagaimana dikemukakan
terdahulu, bahwa tenaga penunjang ini ikut menentukan
proses dan keberhasilan pelayanan dan rehabilitasi di IPWL.
Karena kegiatan yang mereka laksanakan berkaitan dengan
aspek biologis (fisiologis), psikologis dan sosial korban
penyalahgunan napza (korban) di IPWL. Pengalaman dan
kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas penunjang
tersebut, merupakan faktor yang membantu penelitian dalam
36
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
proses pengumpulan data dan informasi terkait pelayanan
dan rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan napza.
4.Masyarakat
Responden yang mewakili masyarakat, yakni ketua RT/RW,
guru dan tokoh agama yang berada di sekitar lokasi IPWL. Pada
penelitian ini, berhasil ditemui 7 (tujuh) orang tokoh masyarakat,
dan dari mereka dihimpun informasi-informasi yang berkaitan
dengan kegiatan IPWL. Pengenalan terhadap tokoh masyarakat,
dapat dijelaskan bahwa (1) berdasarkan tingkat pendidikan,
sebanyak 5 (lima) orang berpendidikan SLTA dan 2 (dua) orang
berpendidikan sarjana, dan (2) berdasarkan usia, mereka masih
termasuk usia produktif, yakni berusia antara antara 29 - 52
tahun. Identitas tokoh masyarakat tersebut tentu membantu
proses penggalian informasi yang obyektif berkaitan dengan
penyalahgunaan napza dan rehabilitasi sosial di IPWL.
5. Instansi terkait
Instansi terkait di dalam penelitian ini adalah Dinas Sosial
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Badan Narkotika Nasional
Provinsi (BNNP) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dinas Tenaga
Kerja dan Sosial Kabupaten Sleman dan BNNK Sleman. Adapun
yang menjadi informan di dalam instansi-instansi tersebut, yaitu:
a. Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban
Penyalahgunaan Napza pada Dinas Sosial Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta,
b. Kasie Rehabilitasi BNNP Daerah Istimewa Yogyakarta
c. Kepala Seksi Rehabilitasi Tuna Sosial pada Dinas Tenaga
Kerja dan Sosial Kabupaten Sleman.
d. Kepala Seksi pada BNNK Sleman.
C. KOMPONEN PROGRAM
1.Kelembagaan
Pada kelembagaan ini dilihat organisasi IPWL yang meliputi
status lembaga, visi dan misi dan struktur organisasi. Hasil
penelitian berhasil mengumpulkan informasi, bahwa dari 4
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
37
(empat) IPWL yang diteliti, yaitu Panti Sosial Pamardi Putra, Griya
Pemulihan Siloam, Yayasan IndoCharis dan Lemabga Rehabilitasi
Kunci, yang berstatus sebagai institusi pemerintah adalah Panti
Sosial Pamardi Putra. Tiga lembaga yang lain berstatus sebagai
lembaga swasta atau milik masyarakat dalam bentuk yayasan
sosial keagamaan (Kristen).
Semua IPWL telah memiliki visi dan misi yang dapat dibaca
di papan informasi maupun di dalam brosur dan buku profil
lembaga, sebagai berikut:
a. Panti Sosial Pamardi Putra (PSPP)
Lembaga ini memiliki visi mewujudkan kondisi korban
penyalahgunaan napza yang sehat, bersih, produktif melalui
pelayanan dan rehabilitasi sosial. Visi tersebut dioperasional ke
dalam sejumlah misi, yaitu: (1) menyelenggarakan pelayanan
dan rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan napza,
(2) sebagai institusi wajib lapor bagi korban penyalahgunaan
napza, (3) memperluas jaringan koordinasi dengan dinas/
instansi/lembaga terkait serta yayasan/orsos yang menangani
penyalahgunaan napza, (4) memperluas rujukan baik pada
tahap pra rehabilitasi, tahap proses rehabilitasi maupun pasca
rehabilitasi, (5) meningkatkan peran serta masyarakat dalam
penanganan penyalahgunaan napza, dan (6) menjadi pusat
pelatihan, penelitian, pengembangan bagi tenaga kesejahteraan
sosial pemerintah, maupun tenaga kesejahteraan sosial
masyarakat. Selain memiliki visi dan misi, lembaga ini juga
sudah memiliki struktur organisasi yang baku.
b. Yayasan IndoCharis
Lembaga ini memiliki visi membangun manusia yang
terabaikan dengan sentuhan. Visi tersebut dioperasionalkan
ke dalam misi, yaitu: menjalankan kegiatan-kegiatan
di bidang sosial, kemanusiaan dan keagamaan dengan
komitmen untuk eksis menyatakan kasih Allah kepada
manusia sebagai sentral utamanya, tanpa memandang suku,
agama, budaya, jenis kelamin, warna kulit, status ekonomi
dan idiologi.
38
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
c. Lembaga Pemulihan Siloam
Lembaga ini memiliki visi membawa generasi muda ke
dalam kehidupan yang lebih baik serta menjawab panggilan
Tuhan untuk melayani, memenangkan dan percaya kepada
Tuhan (Matius: 19-20). Visi tersebut dioperasionalkan ke
dalam sejumlah misi, yaitu: (1) memuliakan hubungan
dengan Allah, diri sendiri, keluarga dan masyarakat, (2)
menumbuhkan dan mengembalikan kepercayaan diri di
tengah-tengah keluarga dan masyarakat, (3) membentuk
karakter dan mendewasakan kehidupan rohani yang
berpusatkan pada kristus, (4) menolong generasi muda dalam
mengatasi masalah ketergantungan napza dan masalah
bawaannya seperti: HIV-AIDS, skizofrenia, (5) mengentaskan
masalah anak dan perempuan yang mengalami kekerasan
dalam rumah tangga, hamil di luar nikah, narapidana
perempuan, dan (6) membina dan mendampingi warga
binaan pemasyarakatan/narapidana) dan keluarganya.
d. Yayasan Rehabilitasi Kunci
Lembaga ini memiliki visi mercapai kualitas kehidupan yang
sehat bagi seluruh korban penyalahguna napza, sehingga
mampu memenuhi target profesionalitas yang tinggi. Visi
tersebut dioperasionalkan dalam misi, yaitu: (1) membantu
semua orang yang ingin bebas dari masalah penyalahgunaan
dan ketergantungan pada narkoba, dan (2) meningkatkan
kualitas hidup dan kualitas kepribadian dengan menciptakan
kesempatan dan harapan baru demi penyempurnaan hidup
selaras citra penciptaan.
Sebagai sebuah lembaga, keempat IPWL memiliki struktur
organisasi, yang di dalam struktur organisasi tersebut diisi
dengan ketua, sekretaris, bendahara, bidang dan seksi-seksi
sesuai dengan kebutuhan. Struktur organisasi pada PSPP
sebagai instansi pemerintah setingkat eselon III, lebih besar
di bandingkan dengan ketiga lembaga lain, mengingat beban
tugasnya cukup banyak.
Struktur organisasi tersebut dilengkapi dengan uraian tugas,
sehingga individu-individu yang mengisi jabatan di dalam
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
39
setiap bagian di dalam struktur organisasi, memahami tugas
dan tanggung jawabnya masing-masing. Pengisian bagian
di dalam struktur organisasi pada IPWL pemerintah (PSPP
Yogyakarta), berdasarkan karier seseorang. Sementara
itu, pada IPWL yang dikelola masyarakat, yaitu Yayasan
IndoCharis, Lembaga Pemulihan Siloam dan Yayasan
Rehabilitasi Kunci, pengisian orang di dalam struktur
organisasi masih ada hubungan kekerabatan dan atau
hubungan dalam organisasi keagamaan.
2.Sasaran
IPWL memberikan pelayanan rehabilitasi sosial bagi seseorang
yang menjadi korban penyalahgunaan napza. Korban/korban yang
memperoleh pelayanan dan rehabilitasi di IPWL adalah mereka
yang sudah memperoleh pelayanan medis dari rumah sakit Garsia.
Jumlah korban penyalahgunaan napza yang memperoleh
pelayanan rehabilitasi sosial di empat IPWL seluruhnya berjumlah
204 orang dengan rincian sebagaimana berikut:
Tabel 8. Korban Penerima Rehabilitasi Sosial di Empat IPWL
Jumlah Korban
No.
Nama IPWL
Dalam
Lembaga
Luar
Frekuensi
Lembaga
1.
PSPP Yogyakarta
40
-
40
2.
Griya Pemulihan Siloam
60
-
60
3.
Yayasan IndoCharis
50
30
80
4.
Lembaga Rehabilitasi Kunci
24
-
24
Jumlah
174
30
204
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
Berdasarkan tabel tersebut, 4 (empat) IPWL yang
mengimplementasikan sistem lembaga, yaitu itu IPWL PSPP
Yogyakarta, Griya Pemulihan Siloam dan Lembaga Rehabilitasi Kunci.
Sedangkan Yayasan IndoCharis, selain mengimplementasikan sistem
lembaga, juga mengimplementasikan sistem luar lembaga. Langkah
40
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
yang dilakukan Yayasan IndoCharis tersebut sebagai strategi untuk
memperbanyak menjangkau korban napza, Sebagaimana tampak
pada tabel di atas, bahwa korban napza yang menjadi sasarannya
lebih banyak dibandingkan dengan IPWL yang lain.
3. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia pada IPWL, dibedakan menjadi
petugas administrasi dan petugas teknis. Termasuk ke dalam
petugas administrasi, yaitu pimpinan lembaga dan staf yang
mengerjakan kegiatan administrasi. Selanjutnya, termasuk ke
dalam petugas teknis, yaitu pekerja sosial, kanselor adiksi, doter,
psikiater, psikolog, pembimbing rohani, instruktur keterampilan,
para medik, tenaga kesejahteraan sosial. Kondisi SDM pada IPWL
tampak pada tabel berikut:
Tabel 9. Petugas di IPWL yang menjadi Responden
NO
PETUGAS IPWL
KETERANGAN
(1)
(2)
(3)
(4)
2
2
2
2
a. Pekerja Sosial
13
3
7
5
b.Konselor Adiksi
9
3
12
4
c.Dokter
1
1
1
1
d.Psikiater
2
1
1
1
e.Psikolog
3
2
2
3
f. Pembimbing Rohani
2
2
2
2
g.Instruktur Ketrampilan
3
3
3
3
h.Paramedik
2
1
1
1
i. Tenaga Kesejahteraan Sosial
1
1
1
1
j. Tenaga Penunjang
2
2
2
2
1.
Petugas Administrasi
2.
Petugas Teknis:
Keterangan: (1) SPP Yogyakarta; (2). Griya Pemulian Siloam; (3). Yayasan
IndoCharis; (4). Lembaga Rehabilitasi Kunci.
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
41
Data Tabel 6 tersebut di atas menunjukkan, bahwa tenaga
administrasi IPWL masih terbatas, di mana seluruh IPWL
memiliki tenaga administrasi masing-masing berjumlah 2 (dua)
orang. Padahal, tugas-tugas di bidang adinistrasi ini cukup banyak
berkaitan dengan urusan kerumahtanggaan, personalia, surat
menyurat dan keuangan. Dengan jumlah tenaga administrasi
berjumlah 2 (dua) orang, menggambarkan perangkapan tugas
pada tenaga administrasi tersebut. Pada pedoman standar
kelembagaan, memang belum diatur standar minimal tenaga
administrasi ini dibandingkan dengan jumlah penerima manfaat.
Tetapi, 2 (dua) orang tenaga administrasi dibandingkan dengan
jumlah penerima manfaat rata-rata 50 orang, menjadikan beban
tugas tenaga administrasi ini cukup berat.
Selanjutnya mengenai pekerja sosial, di dalam pedoman
disebutkan, bahwa rasio pekerja sosial dengan korban 1: 9. Jadi
dari IPWL yang diteliti, Lembaga Rehabilitasi Kunci yang sudah
memenuhi standar. Pada PSPP Yogayakarta cukup diperlukan
5 (lima) orang pekerja sosial, sehingga kelebihan pekerja
sosial 8 (delapan) orang. Sementara itu, pada IPWL GP Siloam
kekurangan 7 (tujuh) orang pekerja sosial, dan IndoCharist
kekurangan 2 (dua) orang pekerja sosial.
Kemudian mengenai kanselor adiksi, di dalam pedoman
disebutkan, bahwa rasio pekerja sosial dengan korban 1: 10. Jadi
dari IPWL yang diteliti, Lembaga Rehabilitasi Kunci yang sudah
memenuhi stnadar. Pada PSPP Yogayakarta cukup diperlukan 4
(empat) orang pekerja sosial, sehingga kelebihan konselor adiksi
5 (lima) orang, IndoCharist kelebihan 4 (empat) orang, dan
Lembaga Rehabilitasi Kunci kelebihan satu orang. Sementara itu,
pada IPWL GP Siloam kekurangan 3 (tiga) orang kanselor adiksi.
Pada pelaksanaan kegiatan, belum tersedia pedoman yang
membedakan secara tegas perbedaan ranah kegiatan pekerja
sosial dengan kanselor adiksi. Pada kedua tenaga teknis tersebut
berpotensi terjadi tumpang tindih. Bahkan pada IPWL yang
42
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
kekurangan pekerja sosial, kanselor adiksi melaksanakan tugastugas pekerja sosial. Kemudian, kanselor adiksi tersebut direkrut
dari mantan korban penyalahguna napza tanpa mempertimbangkan
latar belakang pendidikan dan profesionalitasnya di bidang
konseling dan pendampingan. Padahal, untuk melaksanakan
tugas konseling dan pendampingan diperlukan pendidikan
profesi yang khusus (seperti, ilmu kesejahteraan sosial dan atau
psikologi). Tugas kaselor adiksi tersebut sebenarnya merupakan
salah satu tugas pekerja sosial profesional.
Tenaga teknis lain, seperti psikolog, psikiater, dokter,
paramedis, pembimbing rohani, dan instruktur keterampilan,
sudah ada di semua IPWL. Untuk tenaga psikolog, psiater
dan dokter, sebagian besar IPWL mendapatkan melalui bentuk
kerjasama dengan perguruan tinggi (seperti UGM), rumah sakit
(seperti Rumah Sakit dr. Sardjito, Rumah Sakit Jiwa Grhasia,
dan Rumah Sakit Panti Rapih) dan lembaga profesi. Sedangkan
pembimbing rohani dan instruktur keterampilan, pada umumnya
tenaga yang ada di IPWL.
Semua IPWL memiliki tenaga kesejahteraan sosial atau
relawan sosial, masing-masing satu orang. Tetapi apabila
dilihat tugasnya lebih banyak membantu tenaga adinistrasi dan
penunjang. Oleh karena itu, TKS/relawan sosial ini seyogyanya
tidak menjadi unsur tenaga yang ada di dalam IPWL.
4. Sarana Prasana
Sarana prasarana dibadi menjadi dua, yaitu sarana
prasarana fisik dan instrumen teknis rehabilitasi sosial. Pada
empat IPWL yang diteliti, semuanya menempati sebuah gedung
kantor sebagai pusat kegiatan rehabilitasi sosial bagi korban
penyalahgunaan napza. Dari empat IPWL, Lembaga Pemulihan
Siloam menempati gedung kantor dengan status kontrak.
Sementara itu, tiga lembaga yang lain sudah menempati gedung
kantor sendiri.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
43
Berkaitan dengan sarana prasarana dalam bentuk bangunan
fisik, Kementerian Sosial RI telah menetapkan standar lembaga
rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan napza. Di dalam standar
tersebut diatur, bahwa sarana dan prasarana fisik dibagi menjadi
perkantoran, ruang pelayanan teknis dan ruang pelayanan umum
(Kemensos, 2012). Berdasarkan hasil penelitian, pada keempat
IPWL sudah memiliki sarana prasarana sebagaimana standar
dimaksud, yaitu:
a. Perkantoran yang terdiri dari ruang: pimpinan, ruang kerja
staf, ruang rapat, dan ruang data dan informasi.
b. Ruang pelayanan teknis terdiri dari ruang: asrama, pengasuh,
asesmen, konseling, isolasi, olah raga, bimbingan mental
dan sosial, praktik keterampilan dan rekreasi. Khusus terkait
dengan keterampilan, keempat IPWL memiliki lahan atau
tempat untuk mengembangkan keterampilan korban, antara
lain: kolam ikan, ternak kelinci dan kambing, pertukangan
dan berkebun.
c. Ruang pelayanan umum terdiri dari ruang: makan, belajar,
ibadah, kesehatan, aula, pos keamanan, tamu, gudang,
kamar mandi, tempat parkir dan rumah pengurus.
Selain sarana prasarana dalam bentuk perkantoran dan
ruangan, pada penelitian ini juga dihimpun informasi yang
berkaitan dengan sarana prasarana yang berupa peralatan
yang mendukung pelayanan teknis maupun pelayanan umum.
Peralatan yang tersedia pada keempat IPWL, yaitu peralatan:
komunikasi, penerangan, kebersihan, instalasi air bersih,
tansportasi, dan peralatan lain. Dari empat IPWL yang diteliti,
PSPP memiliki sarana prasarana yang lebih lengkap dan memadai
(jumlah dan kondisi) dibandingkan dengan ketiga lembaga yang
lain, baik mengenai perkantoran, ruang pelayanan teknis, ruang
pelayanan umum dan peralatan yang mendukung pelayanan
rehabilitasi sosial.
44
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
5.Kegiatan
Kegiatan rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan
napza yang dilaksanakan di empat IPWL yaitu: pelayanan
kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, konseling, bimbingan
sosial, bimbingan mental spiritual, bimbingan/pelatihan
vokasional dan kewirausahaan, bimbingan resosialisasi dan
bimbingan lanjut.
6.Pembiayaan
Komponen penting yang menjadi penentu berjalannya
program di IPWL, yakni ketersediaan biaya atau anggaran.
Sumber pembiyaan pada PSPP bersumber dari APBD I
dan APBN. Kemudian, pada ketiga IPWL yang lain sumber
pembiayaan diperoleh dari orang tua/keluarga korban, usaha
lembaga, donatur dalam dan luar negeri, subsidi pemerintah
pusat maupun daerah.
D. PELAKSANAAN KEGIATAN
1. Pelayanan Kebutuhan Dasar
IPWL memberikan pelayanan permakanan bagi korban 3
kali sehari dengan makanan tambahan, seperti kue-kue dan kopi.
Kemudian, bagi korban yang tinggal di dalam lembaga, mereka
memperoleh pelayanan tempat tinggal/kamar tidur. Pada setiap
kamar ditempati 2 - 10 orang korban, tergantung dengan luas
ruangan pada setiap IPWL. Untuk kebutuhan pakaian, korban
pada umumnya mandapat dari keluarga. Selain itu, pakaian
diperoleh dari bantuan masyarakat melalui komunitas atau
yayasan sosial.
2. Pelayanan Kesehatan
Bagi korban yang mengalami sakit dan atau sakaw, IPWL
memberikan pelayanan kesehatan. Untuk perawatan medis ini,
IPWL menjalin kerjasama dengan Puskesmas setempat dan
Rumah Sakit Gracia Yogyakarta.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
45
3.Konseling
Konseling di empat IPWL dilakukan oleh konselor adiksi,
psikolog, psikiater dan pekerja sosial untuk mengilangkan
masalah psikologis yang dihadapi korban. Pelaksanaan konseling
tersebut dilakukan secara individu maupun kelompok. Bagi
korban yang mengalami masalah psikologis yang sedang dan
berat, konseling dilakukan secara individu, dan bagi korban yang
mengalami masalah psikologis ringan konseling dilakukan secara
kelompok. Keempat IPWL yang diteliti sudah memiliki jadwal
konseling. Namun jadwal tersebut tidak berlaku secara ‘kaku’,
mengingat IPWL belum memiliki psikater dan psikolog sendiri.
Psikiater dan psikolog didatangkan dari institusi lain melalui
bentuk kerjasama.
4. Bimbingan Sosial
Bimbingan sosial merupakan kegiatan sangat penting dalam
upaya membantu korban mengembangkan sikap dan perilaku
sosialnya. Materi bimbingan sosial, yakni berkaitan dengan
komunikasi yang baik kepada orang lain, kepedulian sosial,
tanggung jawab, memahami dan menerima perbedaan pada
setiap orang, kerja sama, dan kegiatan kelompok. Pada keempat
IPWL telah tersedia jadwal kegiatan bimbingan sosial, dan
wajib diikuti oleh semua korban. Namun demikian, sebagimana
dikemukakan oleh pekerja sosial, pada praktiknya kegiatan
bimbingan sosial ini tidak dapat diikuti oleh semua korban
dengan alasan malas dan pura-pura sakit.
5. Bimbingan Mental Spiritual
Pada umumnya korban tidak mampu menghayati dan
mempraktikkan nilai dan norma agama serta aktivitas keagamaan
(ibadah, berdoa) sesuai keyakinannya. Kecuali PSPP, ketiga IPWL
merupakan lembaga yang diladasi oleh nilai agama Kristen. Karena
itu, salah seorang pengurus dari IPWL tersebut adalah seorang
pastur. Berkaitan dengan bimbingan mental spiritual, pada ketiga
46
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
lembaga (keculai PSPP) menyediakan tempat khusus untuk
ibadah (kebaktian) bagi korban, dan ditunjuk petugas lembaga
sebagai pembimbing. Kemudian, untuk PSPP disediakan tempat
ibadah bagi korban muslim dan bagi korban non muslim diberikan
kesempatan untuk beribadah di luar lembaga. Materi bimbingan
pada kegiatan tersebut, yakni: berkaitan dengan ritual/ibadah/
berdoa, berperilaku sesuai dengan nilai dan norma agama dan
keyakinan, berbudi pekerti dan berakhlak mulia kepada semua
orang (terutama orang tua, guru), kemandirian dan keyakinan diri
menghadapi masa depan.
6. Bimbingan/Pelatihan Vokasional dan Kewirausahaan
Korban dibimbing oleh pekerja sosial dan kanselor adiksi
untuk mengisi waktunya dengan kesibukan-kesibukan. Selain
itu, pada suatu saat korban akan kembali ke keluarga dan ke
masyarakat. Oleh karena itu, mereka dituntut untuk dapat hidup
secara mandiri, baik secara ekonomi maupun sosial.
Berkaitan dengan itu, keempat IPWL menyelanggarakan
kegiatan pelatihan vokasional dan kewirausahaan bagi korban.
Di PSPP korban dilatih untuk beternak (ikan air tawar, lele,
ayam dan kambing), melukis, membatik, service HP, bengkel
motor, meubelair, dan keterampilan melakukan aktivitas seharihari seperti mencuci, memasak, membersihkan kamar tidur,
pekarangan lembaga dan lain-lain. Di Griya Pemulihan Siloam,
keterampilan yang dilatihkan, yaitu perikanan air tawar (kolam
ikan), berjualan BBM, dan harbal. Di Yayasan IndoCharis,
keterampilan yang dilatihkan yaitu perikanan air tawar (kolam
ikan), peternakan ayam dan keterampilan melakukan ativitas
sehari-hari seperti mencuci, memasak, membersihkan kamar
tidur, pekarangan lembaga dan lain-lain. Di Lembaga Rehabilitasi
Kunci, keterampilan yang dilatihakan yaitu keterampilan
meubelair, berkebun, dan keterampilan melakukan aktivitas
sehari-hari seperti mencuci, memasak, membersihkan kamar
tidur dan lain-lain.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
47
7.Resosialisasi
Pada keempat IPWL, pelibatan lingkungan sosial masih kurang
(belum ada agenda yang jelas). IPWL secara berkala memberikan
kesempatan kepada keluarga untuk bertemu korban, tetapi belum
ada program yang secara khusus untuk orang tua atau keluarga
korban. Begitu juga program IPWL yang melibatkan lingkungan
masyarakat sekitar masih kurang. Berkenaan dengan resosialisasi
ini IPWL telah memberikan pemahaman dan penyadaran bagi
orang tua atau keluarga korban, agar bersedia menerima korban
yang sudah selesai menjalani rehabilitasi sosial. Selain itu, hal
yang sama dilakukan kepada masyarakat atau lingkungan sosial
di mana korban tinggal, di sekolah dan tempat kerja. Resosialisasi
ini merupakan kegiatan yang tidak mudah, karena tidak semua
orang tua atau keluarga mau menerima kembali korban. Informasi
yang dikemukakan pekerja sosial, ada korban yang tetap tinggal
dan membantu kegiatan di IPWL, dikarenakan orang tua atau
keluarganya belum menerima. Ada lagi korban yang tinggal
bersama saudaranya, karena orang tuanya belum bersedia
menerima kehadiran korban, meskipun IPWL sudah memberikan
jaminan, bahwa korban tersebut sudah berperilaku baik.
8. Bimbingan Lanjut
Sebagaimana dikemukakan terdahulu, bahwa korban setelah
selesai mengikuti program rehabilitasi sosial di dalam IPWL,
mereka kembali ke keluarga dan masyarakat. Bagi korban yang
siap bekerja, mereka diberikan modal kerja baik secara individu
maupun kelompok. Kemudian, bagi korban yang melanjutkan
sekolah atau kuliah, IPWL memberikan layanan akses bagi
korban untuk melanjutkan sekolah atau kuliah dengan tetap
mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan korban tersebut.
Rehabilitasi sosial bagi korban napza di keempat IPWL
menggunakan metode theraupetic communiy (TC). Metode ini
digunakan dengan alasan bahwa TC merupakan metode yang
komprehensif, dan dinilai oleh tenaga teknis sebagai metode
yang efektif dalam proses pemulihan korban napza.
48
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di IPWL, wajib diikuti
oleh korban yang ada di IPWL. Tetapi pada kenyataannya ada
korban yang tidak dapat mengikuti kegiatan tersebut dengan
alasan sakit, malas, dan mood tidak baik. Apabila ada korban
tidak mengikuti salah satu kegiatan, maka petugas memberikan
motivasi agar korban memiliki semangat untuk mengikuti
kegiatan. Sebenarnya, pada waktu pertama kali masuk ke IPWL,
korban sudah memperoleh penjelasan dari lembaga mengenai
kewajiban selama rehabilitasi sosial, antara lain mentaati
peraturan dan wajib mengikuti program/kegiatan.
IPWL juga menyampaikan kewajiban orang tua/keluarga
selama proses rehabilitasi sosial, terutama terkait dengan
masalah administrasi dan kesepakatan-kesepakatan selama
anak/keluarganya menjalani rehabilitasi sosial. Misalnya, biaya
permakanan dan perawatan yang dibebankan kepada keluarga
yang dipandang mampu sebesar 1 - 1,5 juta rupiah per bulan
(untuk resdien di Yayasan Indocharis, Griaya Pemulihan Siloam
dan Lembaga Rehabilitasi Kunci). Sedangkan korban yang ada
lembaga Panti Sosial Pamardi Putra dibebaskan dari biaya.
Namun demikian orang tua/keluarga diwajibkan memenuhi
kebutuhan korban yang tidak dianggarkan oleh lembaga.
Adapun hak-hak orang tua/keluarga korban yang disampaikan
oleh lembaga, yaitu keluarga korban akan mendapat pelayanan
sebaik mungkin dan dipersilahkan melakukan complain apabila
ada perlakuan lembaga kepada korban yang kurang memuaskan.
Berkaitan dengan itu, lembaga menyediakan tempat/kotak
pengaduan masyarakat.
E. HASIL YANG DICAPAI
Responden dalam penelitian ini, yaitu korban penyalahgunaan
napza yang masih dalam proses rehabilitasi sosial di IPWL. Oleh
karena itu, evaluasi dalam penelitian ini mengukur dan menilai
perubahan-perubahan yang terjadi pada korban yang masih dalam
proses rehabilitasi sosial. Mengingat berbagai keterbatasan untuk
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
49
memperoleh data primer dari korban, maka untuk mengetahui
perubahan pada korban dihimpun informasi dari petugas teknis,
korban dan orang tua korban.
1. Menurut Tenaga Teknis
Untuk mengetahui hasil dari pelaksanaan rehabilitasi sosial
di IPWL, digali informasi dari tenaga teknis IPWL, yaitu: psikolog,
psikiater, pekerja sosial, kanselor adiksi, pembimbing rohani
dan instruktur. Aspek-aspek yang ditetapkan untuk mengukur
perubahan pada korban setelah memperoleh pelayanan
rehabilitasi sosial di IPWL, yaitu (1) sikap, (2) tidak mengalami
keluhan fisik dan putus obat, (3) perilaku sosial, (4) aktivitas
menjalankan ibadah/doa secara mandiri, (5) mentalitas/dorongan
untuk menjadi lebih baik/berguna dan (6) relasi sosial.
Dari empat IPWL yang diteliti, tenaga teknis di PSPP
Yogyakarta yang dapat menyajikan data kuantitatif dalam
bentuk persentase korban yang mengalami perubahan setelah
mendapatkan pelayanan di IPWL, yaitu:
1. Psikolog: korban yang mengalami kemajuan pada sikap,
respon dan perilaku sebesar 95 persen.
2.Pembimbing rohani: terjadi perubahan pada aktivitas/
kemandirian dalam menjalankan ibadah/doa.
3. Dokter: korban yang mengalami kemajuan /tidak mengalami
keluhan fisik dan putus obat sebesar 75 persen.
4. Psikiater: korban yang mengalami kemajuan sebesar 85
persen.
5. Pekerja sosial: korban yang mengalami perubahan pada
aspek fisik, mental dan sosial sebesar 80 - 90 persen.
2. Menurut Korban / Residen
Kapasitas pelayanan dan rehabilitasi sosial IPWL dapat
diketahui dari pendapat korban selama mereka memperoleh
pelayanan dan rehabilitasi sosial di IPWL, sebagaimana disajikan
pada tabel berikut:
50
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Tabel 10. Persentase Kepuasan Korban terhadap Pelayanan IPWL (n=40)
No
Aspek yang Ditanyakan/
Diukur
Kepuasan Korban
Puas
Kurang
Tidak
Tidak
tahu
92,50
7,50
0
0
100,00
0
0
0
3. Kepuasan terhadap
Pekerja Sosial (Peksos).
87,50
0
2,50
10,00
4
92,50
0
7,50
0
5. Kepuasan terhadap
Konselor Adiksi
90,00
0
5,00
5,00
6
Kepuasan terhadap
pemenuhan permakanan
97,50
0
0
2,50
7
Kepuasan terhadap
tempat tinggal/lembaga
92,50
0
7,50
0
8
Kepuasan terhadap fasilitas 80,00
lembaga (keamanan,
kebersihan, air, MCK,
penerangan, dll.).
0
17,50
2,50
9
Kepuasan terhadap
90,00
peralatan/sarana pelayanan
0
10,00
0
1. Kepuasan terhadap
kegiatan yang
dilaksanakan lembaga
2. Kepuasan terhadap
petugas administrasi
Kepuasan terhadap
pelayanan medis/dokter
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
Berdasarkan data pada tabel tersebut, sebagian besar (di
atas 35 orang atau 87 persen) menyatakan puas dengan tenaga
administrasi, tenaga teknis, permakanan, tempat tinggal, fasilitas
lembaga dan peralatan yang dalam rehabilitasi sosial. Pernyataan
kurang puas pada kegiatan yang dilaksanakan IPWL (7,50%),
dan tidak puas dengan presentase cukup tinggi (17,50%) pada
fasilitas lembaga (keamanan, kebersihan, air, MCK, penerangan).
Kemudian, selain mengetahui kepuasan korban dikumpulkan
informasi yang berkenaan dengan perubahan menurut apa yang
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
51
dirasakan oleh korban sendiri. Dari empat IPWL, sebanyak 32
orang yang bersedia memberikan informasi mengenai perubahan
yang dirasakan setelah menerima pelayanan dari IPWL. Pada
aspek fisik dan kesehatan, perubahan yang dirasakan korban,
seperti merasa sehat, nafsu makan bagus, dan berat badan
meningkat. Selanjutnya dari aspek sosial, seperti memiliki
teman, mau berbagi informasi, mengikuti kegiatan kelompok,
dan tidak merasa menang sendiri. Kemudian dari aspek mental
spiritual, seperti taat peraturan yang ada, semangat untuk hidup
lebih baik, memotivasi teman, dan memanfaatkan waktu sebaikbaiknya.
3. Menurut Orang Tua/Keluarga Korban/ Residen
Selain kepuasan korban, untuk memperoleh informasi
kapasitas IPWL juga dihimpun informasi tentang kepuasan orang
tua korban terhadap pelayanan dan rehabilitasi sosial di IPWL,
sebagaimana disajikan pada tabel berikut:
Tabel 11. Kepuasan Orang Tua/keluarga Korban
terhadap Pelayanan IPWL
No
52
Aspek yang Ditanyakan/
Diukur
Kepuasan Korban
Puas
Kurang
Tidak
Tdk
tahu
1.
Kepuasan terhadap
kegiatan yang
dilaksanakan lembaga
97,50
2,50
0
0
2.
Kepuasan terhadap
petugas administrasi
95.00
5,00
0
0
Kepuasan terhadap
Pekerja Sosial (Peksos).
87,50
0
2,50
10,00
3.
Kepuasan terhadap
Pekerja Sosial (Peksos).
100,00
0
0
0
4
Kepuasan terhadap
pelayanan medis/dokter
95,00
5,00
0
0
5.
Kepuasan terhadap
Konselor Adiksi
100.00
0
0
0
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
6
Kepuasan terhadap
pemenuhan
permakanan
7
Kepuasan terhadap
tempat tinggal/lembaga
8
Kepuasan terhadap
peralatan/sarana
pelayanan
97,50
2,50
0
0
100,00
0
0
0
95,00
5,00
0
0
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
Pernyataan subyektif orang tua korban mengenai kepuasan
terhadap pelayanan dan rehabilitasi sosial IPWL cenderung
sama dengan pernyataan yang disampaikan korban. Sebagian
besar orang tua/keluarga menyatakan puas dengan pelayanan
dan rehabilitasi sosial yang dilaksanakan IPWL bagi anak/
keluarganya. Orang tua yang menyatakan kurang puas hanya
sedikit, dan bahkan yang tidak puas tidak ada.
F. FAKTOR-FAKTOR BERPENGARUH
Kondisi yang kurang mendukung kinerja IPWL, yaitu:
1. Belum ada kejelasan tentang kewenangan dinas sosial provinsi
dan kabupaten/kota terkait dengan pembinaan IPWL, tugas
IPWL dalam membina pekerja sosial dan kanselor adiksi, serta
uraian tugas pekerja sosial dan kanselor adiksi.
2.Belum meluasnya informasi mengenai IPWL di dinas sosial
kabupaten/kota, sehingga pemahaman tentang IPWL tidak tepat,
yang mengakibatkan unit kerja terkait tidak memiliki data IPWL
dan tugas-tugas yang mesti dilaksanakan.
3. Belum ada ketegasan domain BNN dengan Kemensos dalam
penanganan korban napza melalui IPWL. Di lapangan ditemukan
kegiatan-kegiatan yang tumpang tindih antara BNN provinsi
dengan Dinas Sosial provinsi. Hal ini seringkali menyebabkan
kebingungan pada petugas IPWL.
4. Putusan pengadilan terhadap korban yang berbeda dengan waktu
yang diperlukan untuk rehabilitasi sosial, yang menyulitkan IPWL
melakukan tindak lanjut.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
53
5. Profesionalitas tenaga teknis (terutama pekerja sosial dan kanselor
adiksi) perlu peningkatan dalam proses rehabilitasi sosial.
Kemudian kondisi yang mendukung kinerja IPWL, yaitu:
1. Masyarakat dan keluarga memberikan respon positif dan dukungan
terhadap keberadaan dan kegiatan-kegiatan IPWL serta terhadap
eks korban. Masyarat dan keluarga bersedia menerima kehadiran
korban di dalam keluarga dan atau beraktivitas di masyarakat.
2. Bimbingan dan pembinaan dari dinas sosial provinsi. Petugas
dari dinas sosial provinsi proaktif memberikan bimbingan dan
pembinaan serta secara berkala melakukan kunjungan ke IPWL.
3. Bantuan dana, sarana kerja dan SDM (pekerja sosial dan kanselor
adiksi) dari Kementerian Sosial.
4.Kemitraan dengan BNN provinsi, Rumah Sakit dan tenaga
profesional (terutama dalam penyediaan psikolog, dokter, psikiater).
54
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
BAB IV
KAPASITAS IPWL DI JAWA TIMUR
A. GAMBARAN UMUM LOKASI
Jawa Timur adalah sebuah provinsi di bagian timur Pulau Jawa,
dengan ibu kotanya di Surabaya. Jawa Timur memiliki wilayah
terluas di antara 6 provinsi di Pulau Jawa, dan memiliki jumlah
penduduk terbanyak kedua di Indonesia setelah Jawa Barat. Jawa
Timur dikenal sebagai pusat Kawasan Timur Indonesia, dan memiliki
signifikansi perekonomian yang cukup tinggi, yakni terhadap Produk
Domestik Bruto nasional.
Sebagai kota metropolitan, Jawa Timur merupakan kota budaya
(pariwisata), industri, perdagangan dan kota pelajar. Mayoritas
penduduk Jawa Timur adalah Suku Jawa. Namun demikian, etnisitas
di Jawa Timur lebih heterogen. Suku Jawa menyebar hampir di
seluruh wilayah Jawa Timur daratan. Suku Madura mendiami di
Pulau Madura, dan daerah Tapal Kuda (Jawa Timur bagian timur),
terutama di daerah pesisir utara, dan selatan. Di sejumlah kawasan
Tapal Kuda, Suku Madura bahkan merupakan mayoritas. Hampir
di seluruh kota di Jawa Timur terdapat minoritas Suku Madura,
umumnya mereka bekerja di sektor informal.
Dibalik hal-hal yang bersifat positif, di Jawa Timur terdapat
permasalahan sosial yang pada saat ini menjadi perhatian nasional,
yaitu penyalahgunaan napza. Kasus penyalahgunaan napza di Jawa
Timur cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Data tersebut belum menggambarkan kondisi yang sesungguhnya
ada di masyarakat. Hal ini karena, kasus penyalahgunaan napza
merupakan fenomena gunung es. Kasus yang diketahui merupakan
sebagian kecil dari penyalahgunaan yang sesungguhnya terjadi di
masyarakat. Data yang berhasil dikumpulkan oleh BNN, merupakan
data hasil penangkapan.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
55
Data tentang persebaran penyalahgunaan napza di Provinsi
Jawa Timur saat ini belum tersedia dengan baik. Berdasarkan data
BNN Provinsi Jawa Timur (new.liputan6.com, 2015), pecandu
narkoba di Jawa Timur didominasi perempuan. Berdasarkan data
BNN tahun 2013, jumlah pengguna narkoba di Jawa Timur ternyata
masih tinggi, jumlah pengguna narkoba di Jawa yaitu mencapai
3.202 orang. Jumlah pengguna narkoba di Jawa Timur peringkat
dua di bawah Jakarta sebanyak 5.086 orang. Sedangkan peringkat
ketiga adalah Sumatera Utara sebanyak 2.302 orang, lalu disusul
Banten 2.027 orang dan Sumatera Selatan sebanyak 1.314 orang
(halopolisi.com, 2015). Kemudian, berdasarkan data BNN, pecandu
narkoba di Jawa Timur meningkat cukup ekstrem, yaitu mencapai
angka 543.782 orang di tahun 2014 (suarasurabaya.net, 2015).
Data ini patut dipertanyaan, karena peningkatannya tidak rasional.
Dilihat dari asal korban yang pernah direhabilitasi, diperoleh
informasi bahwa persebaran penyalahgunaan napza hampir di seluruh
kabupaten/kota di Jawa Timur, antara lain: Sidoarjo, Lumajang,
Jember, Kota Surabaya, Sumenep, Lamongan, Kediri, Nganjuk,
Gresik, Tuban, Malang, Pasuruan, Probolinggo, Jember, Banyuwangi
dan Pamekasan. Menurut BNN, persebaran penyalahgunaan napza
yang terbanyak adalah di wilayah Kota Surabaya, Kabupaten
Sidoarjo dan Kota Malang.
Kota Surabaya merupakan kota metropolitan ke dua setelah DKI
Jakarta memiliki posisi yang sangat strategis sebagai pusat kegiatan
ekonomi dan budaya. Kota Surabaya dikenal sebagai kota perjuangan
atau kota pahlawan. Sebagai kota metropolitan, Kota Surabaya
menjadi kota tujuan wisata, perdagangan dan indusri. Hal ini yang
menjadi penarik orang-orang dari daerah lain untuk bermigrasi ke
Kota Surabaya untuk mencari pekerjaan atau penghidupan yang
lebih baik.
Kota Surabaya merupakan kota multi etnis, karena berbagai suku
bangsa dan etnis ditemukan di kota ini, seperti suku Madura, Sunda,
Batak, Kalimantan, Bali dan Sulawesi. Kemudian terdapat etnis
56
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Melayu, Cina, India, Arab, dan Eropa. Mereka hidup membaur dan
membentuk pluralisme budaya, yang selanjutnya menjadi ciri khas
kota Surabaya. Membaurnya berbagai suku bangsa dan etnis tersebut
menyebabkan tingginya dinamika masyarakat. Mobilitas penduduk
Kota Surabaya cukup tinggi, dan membawa pengaruh yang cukup
besar bagi kehidupan penduduk dan kemajuan Kota Surabaya.
Berbagai kondisi positif telah dicapai sebagai hasil interaksi dan
traksaksi yang terjadi di Kota Surabaya. Namun demikian, dibalik
kondisi positif tersebut, di Kota Surabaya terdapat permasalahan
yang memerlukan perhatian serius oleh semua pihak, yaitu
penyalahgunaan napza. Kondisi yang mengkhawatirkan, bahwa
korban penyalahgunaan napza ternyata ada kelompok pelajar (rri.
co.id, 2015). Berdasarkan hasil penelitian BNN Kota Surabaya, 10
Persen pelajar SMP dan SMA di Surabaya menggunakan narkoba
(news.detik.com, 2015). Situasi itu tentu menjadi kekhawatiran
semua pihak, mengingat pelajar merupakan generasi penerus dan
masa depan bangsa.
Kabupaten Malang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa
Timur, merupakan kabupaten terluas kedua di Jawa Timur setelah
Kabupaten Banyuwangi dan merupakan kabupaten dengan populasi
terbesar di Jawa Timur. Kabupaten Malang juga merupakan kabupaten
terluas ketiga di Pulau Jawa setelah Kabupaten Banyuwangi dan
Kabupaten Sukabumi di Provinsi Jawa Barat. Ibu kota Kabupaten
Malang adalah Kepanjen. Sebagian besar wilayahnya merupakan
pegunungan yang berhawa sejuk, Kabupaten Malang dikenal sebagai
salah satu daerah tujuan wisata utama di Jawa Timur. Bersama
dengan Kota Batu dan Kota Malang, Kabupaten Malang merupakan
bagian dari kesatuan wilayah yang dikenal dengan Malang Raya
(Wilayah Metropolitan Malang). Selain kota wisata, Malang juga
merupakan kota pelajar.
Pada sisi yang lain, di Kabupaten Malang terdapat permasalahan
penyalahgunaan napza yang cukup siginifikan. Pengguna narkoba
di Kabupaten Malang sesuai data statistik mencapai 2.000 orang
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
57
lebih. Jumlah ini, diprediksi terus bertambah setiap tahunnya
(malangraya.info, 2011). Pada tahun 2015, ada peningkatan 15
sampai 20 persen. Hal ini dibuktikan dengan jumlah barang bukti
yang diamankan Kejaksaan Negeri Kepanjen, sepanjang 2015
(malang-post.com, 2015). Mengatasi penyalahgunaan napza, BNN
Kabupaten Malang terus mensosialisasikan program rehabilitasi
oleh pecandu narkoba dengan sasaran utama pelajar.
B. PENGENALAN RESPONDEN
Responden dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut:
1. Korban Penyalahgunaan Napza
Berdasarkan jenis kelamin, sebanyak 48 orang (96%)
laki-laki dan sebanyak dua orang (4%) perempuan. Kemudian,
berdasarkan kelompok usia responden, hampir seluruh responden
termasuk kelompok usia produktif, sebagaimana tampak pada
tabel berikut:
Tabel 12. Responden Menurut Kelompok Usia
No
Kelompok Usia
Frekuensi
Persentase
1
<18
10
20
2
18 - 39
35
70
3
40 - 59
5
10
4
>60
0
0
50
100
Jumlah
Sumber: Hasil Penelitian, 2015
Berdasarkan data pada tabel tersebut, respon kelompok usia
anak jumlahnya 10 orang (20%). Meskipun demikian, angka
tersebut menunjukkan, bahwa penyalahgunaan napza di Provinsi
Jawa Timur dan khususnya di Kota Surabaya dan Malang, sudah
menjangkau kelompok anak. Kemudian berjumlah 40 orang (80%)
responden termasuk kelompok usia dewasa muda (18-59 tahun),
di mana pada kelompok ini seseorang berada pada fase yang masih
58
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
labil. Mereka itu belum cukup matang dalam membuat penilaian
dan keputusan menyakut diri dan keluarga, dan masih mudah
dipengaruhi oleh lingkungan di sekitaranya. Pada kelompok ini
secara sosial psikologis sudah mengalami kematangan, sehingga
sudah mampu membuat pertimbangan atau keputusan yang lebih
rasional.
Aspek penting yang juga perlu diketahui, yaitu pendidikan
responden. Hal ini didasarkan asumsi, bahwa pendidikan
seseorang akan berkaitan dengan kemampuan memahami situasi
yang dihadapi, dan obyektivitas dalam memberikan informasi
yang diperlukan. Pendidikan responden sebagaimana terlihat
pada tabel berikut:
Tabel 13. Responden Menurut Tingkat Pendidikan
No
Pendidikan yg ditamatkan
Jumlah
Persentase
1
SD
6
12
2
SLTP
9
18
3
SLTA
32
64
4
Sarjana
3
6
50
100
Jumlah
Sumber: Hasil Penelitian, 2015
Dari tabel tersebut di atas diketahui, bahwa pendidikan
responden merentang dari pendidikan SD sampai dengan sarjana.
Hal ini memperkuat informasi yang beredar di masyarakat, bahwa
penyalahgunaan napza terjadi pada semua jenjang pendidikan.
Berdasarkan data pada tabel tersebut, responden yang
berpendidikan menengah ke atas (SLA - Sarjana), frekuensinya
lebih besar di bandingkan dengan responden dengan pendidikan
SLP ke bawah (SLP - SD).
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
59
Tabel 14. Responden Menurut Pekerjaan
No
Jumlah
Persentase
1
Swasta
Pekerjaan
10
20
2
Wiraswasta
15
30
3
Tidak bekerja
23
46
4
Pelajar
2
4
50
100
Jumlah
Sumber: Hasil Penelitian, 2015
Data pada tabel tersebut menunjukkan, bahwa sebagian
besar (46%) responden tidak bekerja atau tidak memiliki
pekerjaan yang layak (sah). Tuntutan kebutuhan hidup seharhari mendorong seseorang untuk menempuh jalan pintas, tanpa
mempertimbangkan apakah yang dilakukan itu sesuai dengan
norma dan hukum yang berlaku.
Selanjutnya, dilihat dari keutuhan orang tua korban, maka
diperoleh informasi ada orang tua korban sudah meninggal,
masih utuh, cerai dan pisah rumah (tidak harmonis). Kondisi
keutuhan orang tua korban sebagaimana disajikan pada tabel
berikut:
Tabel 15. Responden Menurut Kondisi Keutuhan Orang Tua Korban
No
Frekuensi
Persentase
1
Bapak atau Ibu meninggal
Kondisi Orang Tua
15
30
2
Utuh
30
60
3
Cerai
1
2
4
Pisah Rumah
4
8
50
100
Jumlah
Sumber: Hasil Penelitian, 2015
Berdasarkan data pada tabel tersebut, korban dengan
keluarga utuh, presentasenya paling tinggi dibandingkan kondisi
yang lain, yaitu 60 persen. Kemudian, menyusul pada keluarga
bapak/ibu meninggal dengan persentase 30 persen. Data ini
60
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
membuktikan, bahwa keluarga yang secara fisiologis kelihatan
utuh, tidak menjamin anggota keluarganya tidak menjadi korban
penyalahgunaan napza.
Kemudian, dilihat dari tempat tinggal sebelum di IPWL,
sebagian besar responden bersama orang tuanya, yaitu sebesar
64 persen, dan disusul tinggal bersama famili sebesar 26 persen.
Kondisi responden menurut tempat tinggal sebelum di IPWL
sebagaimana tampak pada tabel berikut:
Tabel 16. Responden Tempat Tinggal sebelum di IPWL
No
Tempat tinggal
1
Rumah orang tua
2
Bersama kakek/nenek
3
Bersama famili
4
Sendiri
Jumlah
Jumlah
Persentase
32
64
1
2
13
26
4
8
50
100
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
Data pada tabel tersebut konsisten dengan data pada tabel
sebelumnya, di mana responden dengan keluarga utuh dan
tinggal bersama orang tua, berpotensi seseorang menyalahgunaan
napza. Data tersebut membuktikan, bahwa situasi di dalam
keluarga tidak memberikan ketenteraman dan kenyamaman bagi
anggotanya, sehingga mendorong anggota keluarga itu untuk
menyalahgunaan napza
2. Orang Tua Korban
Responden orang tua atau keluarga korban sebagian
besar tinggal di luar Kabupaten Sleman, dan bahkan tidak
sedikit yang tinggal di luar pulau jawa. Pada penelitian ini
berhasil diwawancarai lima orang responden orang tua atau
keluarga korban. Dilihat dari pendidikan orang tua, dua orang
berpendidikan SD, dua orang berpendidikan SLP dan seorang
berpendidikan sarjana. Kondisi pendidikan orang tua korban ini
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
61
memberikan informasi, bahwa korban penyalahgunaan napza
dapat terjadi pada keluarga pendidikan rendah sampai dengan
pendidikan tinggi. Pada orang tua dengan pendidikan menengah
dan pendidikan tinggi, jumlah korban lebih besar dibandingkan
dengan pendidikan rendah.
Selanjutnya dilihat dari jenis pekerjaan, dari lima orang tua
yang diteliti, sebanyak dua orang bekerja di sektor swasta, dua
orang wiraswasta dan seorang pedagang. Jenis-jenis pekerjaan
tersebut merupakan jenis-jenis pekerjaan yang memerlukan
waktu lebih banyak di luar rumah. Hal ini diduga mempengaruhi
frekuensi dan kualitas relasi sosial antara orang tua dengan anak,
sehingga mengakibatkan anak menjadi komunitas di luar rumah
untuk memperoleh kebutuhan sosial.
3. Petugas IPWL
Sumber daya manusia di IPWL terdiri dari petugas
administrasi dan petugas teknis. Masing-masing dari petugas
tersebut diambil satu orang sebagai responden dalam penelitian
yang mewakili IPWL.
Secara garis besar respon pertugas IPWL dibedakan
menjadi tiga, yaitu petugas administrasi, petugas teknis
dan tenaga penunjang. Petugas administrasi adalah orangorang yang melaksanakan tugas-tugas administrasi umum
atau perkantoran. Petugas teknis, adalah orang-orang yang
melaksanakan kegiatan teknis tekait dengan proses rehabilitasi
medis maupun sosial bagi korban penyalahgunaan napza.
Kemudian, petugas penunjang adalah orang-orang yang
melaksanakan kegiatan terkait dengan permakanan korban,
kebersihan, kenyamanan dan keamanan IPWL.
a. Petugas Administrasi
Petugas administrasi di dalam penelitian ini, yaitu orang-orang
yang melaksanakan tugas-tugas administrasi, yakni: kepala
lembaga, sekretaris atau staf administrasi umum senior. Pada
penelitian ini, petugas administrasi yang menjadi informan,
62
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
yaitu kepala-kepala IPWL yang dibantu oleh staf administrasi
umum. Wawancara dilakukan dengan Kepala IPWL dan
dengan kepala sub bagian tata usaha (ANKN Surabaya),
dibantu staf administrasi umum dalam menyiapkan data
sekunder (dokumen-dokumen) yang diperlukan peneliti.
Reponden sudah berpengalaman lebih 4 tahun sebagai
pimpinan lembaga, berpengalamn mengikuti palatihan dan
pemantapan IPWL, dan aktif menjadi anggota forum peduli
pananggulangan napza. Pengalaman-pengalaman tersebut
yang sangat membantu dalam proses penggalian data dan
informasi terkait dengan aspek kelembagaan IPWL.
b. Petugas Teknis
Petugas teknis di dalam penelitian ini, yaitu orang-orang
yang melaksanakan tugas-tugas teknis pelayanan dan
rehabilitasi, yakni: pekerja sosial, konselor adiksi, dokter, para
medik, psikiater, psikolog, pembimbing rohani, instruktur
keterampilan, tenaga kesejahteraan sosial. Dilihat dari status
kepegawaiannya, petugas teknis tersebut dibedakan menjadi
dua, yaitu tenaga organik dan tenaga tidak tetap.
1)Petugas Tetap
Petugas tetap adalah orang-orang yang sudah
menjadi pegawai tetap IPWL. Mereka masuk di dalam
kepegawaian, memiliki tugas dan tanggung jawab yang
jelas dan pasti, memperoleh fasilitas yang disediakan
lembaga dan mendapatkan gaji serta insentif lain yang
menjadi kebijakan IPWL.
Pada penelitian ini, pekerja sosial, kanselor adiksi, tenaga
kesejahteraan sosial, para medik dan pembimbing rohani,
merupakan petugas-petugas yang termasuk tenaga organik
pada keempat IPWL. Pada IPWL ANKN Surabaya, selain
petugas-petugas yang termasuk petugas organik, yakni
instruktur keterampilan dan para medik. Sebagai catatan,
bahwa pekerja sosial di IPWL adalah orang-orang yang
pernah mengikuti pemantapan pekerjaan sosial adiksi,
tetapi mereka belum tersertifikasi sebagai pekerja sosial.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
63
2)Petugas tidak tetap
Petugas tidak tetap adalah orang-orang yang
melaksanakan tugas-tugas di IPWL sesuai dengan
keahliannya, tetapi mereka bukan sebagai pegawai
tetap IPWL. Penugasan mereka di IPWL melalui bentuk
kerjasama antara IPWL dengan lembaga (dimana ahli
tersebut bekerja) atau kerjasama secara individual.
Petugas tidak tetapdalam penelitian ini, yaitu dokter,
psikolog, psikiater, dan para medik serta instruktur
keterampilan (kedua petugas terakhir kecuali di PSMP
sudah menjadi petugas tetap). Petugas-petugas teknis
tersebut sudah bekerjasama dengan IPWL rata-rata
lebih 2 tahun. Pengalaman tersebut ditambah dengan
keikutsertaannya dalam workshop, diskusi dengan
pengurus IPWL dan sharing pengalaman dengan petugas
teknis lain selama proses rehabilitasi, merupakan faktor
yang banyak membantu dalam proses pengumpulan
data dan informasi terkait dengan rehabilitasi medis
maupun sosial.
c. Tenaga Penunjang
Tenaga
penunjang
adalah
orang-orang
yang
melaksanakan tugas sebagai untuk penujang pelayanan
dan rehabilitasi bagi korban (korban). Tenaga penunjang
dimaksud, yakni tenaga permakanan, tenaga kebersihan
dan tenaga keamanan IPWL. Seluruh tenaga penunjang di 5
(lima) IPWL, merupakan tenaga tetap IPWL. Mereka sudah
bekerja di IPWL rata-rata lebih dari 4 tahun, sehingga sudah
banyak pengalaman di bidangnya.
Sebagaimana dikemukakan terdahulu, bahwa tenaga
penunjang ini ikut menentukan proses dan keberhasilan
pelayanan dan rehabilitasi di IPWL. Karena kegiatan
yang mereka laksanakan berkaitan dengan aspek biologis
(fisiologis), psikologis dan sosial korban penyalahgunaan
napza (korban) di IPWL. Pengalaman dan kemampuan dalam
melaksanakan tugas-tugas penunjang tersebut, merupakan
64
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
faktor yang membantu penelitian dalam proses pengumpulan
data dan informasi terkait pelayanan dan rehabilitasi bagi
korban penyalahgunaan napza.
4.Masyarakat
Responden yang mewakili masyarakat, yakni ketua RT/RW
dan tokoh agama yang berada di sekitar lokasi lembaga IPWL.
Pada penelitian ini, berhasil ditemui tiga orang tokoh masyarakat,
dan dari mereka dihimpun informasi-informasi yang berkaitan
dengan kegiatan IPWL.
5. Instansi terkait
Instansi terkait di dalam penelitian ini adalah Dinas Sosial
Provinsi Jawa Timur, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP)
Jawa Timur, Dinas Tenaga Sosial Kota Surabaya dan Malang dan
BNN Kota Surabaya dan Malang. Adapun yang menjadi informan
di dalam instansi-instansi tersebut, yaitu:
a. Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial pada Dinas Sosial Provinsi
Jawa Timur.
b. Kasie Rehabilitasi BNNP Provinsi Jawa Timur.
c. Kepala Seksi Rehabilitasi Tuna Sosial pada Dinas Sosial Kota
Surabaya.
d. Kepala Seksi pada BNN Kota Surabaya.
e. Kepala Seksi Rehabilitasi Tuna Sosial pada Dinas Sosial
Kabupaten Malang.
f. Kepala Seksi pada BNN Kabupaten Malang.
C. KOMPONEN KEGIATAN
1.Kelembagaan
a. UPT ANKN Surabaya.
Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Sosial Anak Nakal dan
Korban Narkotika (UPT ANKN) Surabaya merupakan pusat
rehabilitasi sosial di bawah pemerintah daerah Provinsi Jawa
Timur. Lembaga ini sebagai pusat rehabilitasi sosial korban
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
65
penyalahgunaan narkotika/napza dengan visi “terwujudnya
peningkatani kesejahteraan sosial bagi korban Napza melalui
rehabilitasi sosial yang lebih berkualitas”. Visi lembaga
tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam tujuan, yaitu
(1) pulihnya kepribadian, sikap mental dan kemampuan
penyalahgunan napza sehingga mampu melaksanakan fungsi
sosialnya, dan (2) hidup sehat dan bebas tanpa napza.
b. Yayasan Orbit Surabaya
Yayasan Orbit merupakan lembaga swasta yang berkiprah
di dalam penanganan masalah sosial, salah satunya adalah
menangani masalah korban penyalahgunaan napza. Sejak
melaksanakan program IPWL lembaga ini telah merehabilitasi
sebanyak 50 klien dengan rincian: bulan Juli - Desember
2014 menangani 20 klien. Kemudian bulan Januari - Juni
2015, merehabilitasi korban sebanyak 30 orang.
c. Yayasan Corpus Christy
Corpus Christy merupakan IPWL yang dikelola oleh masyarakat
yang lokasinya di Malang - Jawa Timur. Lembaga ini semula
menangani korban penyalahgunan napza di wilayah Povinsi
Jawa Timur. Namun demikian, sekarang sudah merambah
ke luar Pulau Jawa. Pendekatan yang digunakan dalam
penanganan korban napza adalah pendekatan religi, yang
diintegrasikan dengan pendekatan sosial, yaitu: konseling,
morning metting, ataupun seksi kelas.
d. Yayasan Inabah XIX Surabaya
Yayasan Inabah XIX merupakan IPWL yang dikelola
masyarakat, berdiri sejak tahun 1986. Lembaga ini
merupakan salah satu cabang dari Inabah Suryalaya di Jawa
Barat. Yayasan ini khusus menangani korban penyalahgunaan
napza melalui pendekatan religi. Sejak yayasan ini berdiri,
sampai saat ini telah menangani banyak korban.
e. Pondok Pemulihan Doulus
Pondok Pemulihan Doulus merupakan IPWL yang dikelola
masyarakat, di samping menangani korban penyalahgunaan
napza, juga menangani masalah gangguan jiwa. Lembaga
66
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
ini menerima klien dari berbagai wilayah di Indonesia.
Untuk mendapatkan pelayanan dan rehabilitasi keluarga/
wali, membayar setiap bulan Rp 1.800.000,- sebagai beaya
operasional dan pengobatan klien.
2.Sasaran
IPWL memberikan pelayanan rehabilitasi sosial bagi
seseorang yang menjadi korban penyalahgunaan napza. Korban
yang memperoleh pelayanan dan rehabilitasi di IPWL adalah
mereka yang sudah memperoleh pelayanan medis dari rumah
sakit ketergantungan obat setempat.
Jumlah korban penyalahgunaan napza yang memperoleh
pelayanan rehabilitasi sosial di empat IPWL berjumlah 270 orang
dengan rincian sebagaimana tampak pada tabel berikut berikut:
Tabel 17. Korban Penerima Rehabilitasi Sosial di Lima IPWL
No.
Nama IPWL
Jumlah Korban
Dalam Panti
Luar Panti
Frekuensi
1.
ANKN
90
0
90
2.
Corpus Christy
21
0
21
3.
Doulus
50
0
50
4.
Orbit
50
0
50
5.
Inabah XIX
59
0
59
270
0
270
Jumlah
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
3. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia pada IPWL, dibedakan menjadi
petugas administrasi dan petugas teknis. Termasuk ke dalam
petugas administrasi, yaitu pimpinan lembaga dan staf yang
mengerjakan kegiatan administrasi Selanjutnya, termasuk ke
dalam petugas teknis, yaitu pekerja sosial, kanselor adiksi, dokter,
psikiater, psikolog, pembimbing rohani, instruktur keterampilan,
para medik, tenaga kesejahteraan sosial. Kondisi SDM pada
IPWL dapat tampak pada tabel berikut:
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
67
Tabel 18. Petugas di IPWL yang menjadi Responden
NO
PETUGAS IPWL
KETERANGAN
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
2
1
1
1
1
a. Pekerja Sosial
3
3
3
3
3
b.Konselor Adiksi
3
3
3
3
3
c.Dokter
1
1
1
1
1
d.Psikiater
1
1
1
1
1
e.Psikolog
1
1
1
1
1
f. Pembimbing Rohani
1
1
1
1
1
g.Instruktur
Ketrampilan
1
1
1
1
1
h.Paramedik
1
1
1
1
1
i.Tenaga
Kesejahteraan
Sosial
1
1
1
1
1
j. Tenaga Penunjang
2
2
2
2
2
1
Petugas Administrasi
2.
Petugas Teknis:
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
Berdasarkan data pada tabel tersebut, seluruh IPWL sudah
memiliki jenis-jenis sumber daya manusia sebagaimana diatur
di dalam standar lembaga rehabilitasi sosial. Dari tenaga teknis
yang diatur, jumlah pekerja sosial dan tenaga teknis pekerja
sosial dan kanselor adiksi. Rasio yang ideal pekerja sosial
dengan korban, yaitu 1: 9, dan rasio dengan kanselor adiksi,
yaitu 1: 10. Pada UPT ANKN kekurangan pekerjaan sosial tujuh
orang, Corpus Chisty kurang lebih satu orang, Doulus, Orbit dan
Inabah masing-masing kekurangan tiga orang. Kemudian pada
kanselor adiksi, UPT ANKN kekurangan kanselor adiksi enam
orang, Corpus Chisty kurang lebih satu orang, Doulus dan Orbit
kurang dua orang, dan Inabah kekurangan tiga orang.
Pada umumnya IPWL belum memiliki tenaga dokter
maupun paramedis tetap. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga
68
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
medis tersebut, IPWL menjalin kerja sama dengan Rumah Sakit
setempat. Dokter dan paramedis dijadwalkan kehadirannya di
IPWL. Kemudian, pada UPT ANKN Surabaya sudah memiliki
tenaga dokter tetap. Selanjutnya, terkait dengan tenaga psikiater,
setiap IPWL bekerja sama dengan perguruan tinggi setempat..
4. Sarana Prasana
Sarana prasarana dibagi menjadi dua, yaitu sarana prasarana
fisik dan instrumen teknis rehabiliatsi sosial. Pada empat IPWL
yang diteliti, semuanya menempati sebuah gedung kantor sebagai
pusat kegiatan rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan
napza.
Berkaitan dengan sarana prasarana dalam bentuk bangunan
fisik, Kementerian Sosial RI telah menetapkan standar lembaga
rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan napza. Di dalam standar
tersebut diatur, bahwa sarana dan prasarana fisik dibagi menjadi
perkantoran, ruang pelayanan teknis dan ruang pelayanan umum
(Kemensos, 2012). Berdasarkan hasil penelitian, pada keempat
IPWL sudah memiliki sarana prasarana sebagaimana standar
dimaksud, yaitu:
a. Perkantoran yang terdiri dari ruang: pimpinan, ruang kerja
staf, ruang rapat, dan ruang data dan informasi.
b. Ruang pelayanan teknis terdiri dari ruang: asrama, pengasuh,
asesmen, konseling, isolasi, olah raga, bimbingan mental
dan sosial, praktik keterampilan dan rekreasi. Khusus terkait
dengan keterampilan, kelima IPWL memiliki lahan atau
tempat untuk mengembangkan keterampilan korban, antara
lain: berkebun, anyaman dan perbengkelan.
c. Ruang pelayanan umum terdiri dari ruang: makan, belajar,
ibadah, kesehatan, aula, pos keamanan, tamu, gudang,
kamar mandi, tempat parkir dan rumah pengurus.
Selain sarana prasarana dalam bentuk perkantoran dan
ruangan, pada penelitian ini juga dihimpun informasi yang
berkaitan dengan sarana prasarana yang berupa peralatan
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
69
yang mendukung pelayanan teknis maupun pelayanan umum.
Peralatan yang tersedia pada keempat IPWL, yaitu peralatan:
komunikasi, penerangan, kebersihan, instalasi air bersih,
tansportasi, dan peralatan lain. Dari empat IPWL yang diteliti,
PSPP memiliki sarana prasarana yang lebih lengkap dan memadai
(jumlah dan kondisi) dibandingkan dengan ketiga lembaga yang
lain, baik mengenai perkantoran, ruang pelayanan teknis, ruang
pelayanan umum dan peralatan yang mendukung pelayanan
rehabilitasi sosial.
D. PELAKSANAAN PROGRAM
Seperti telah diurai sebelumnya bahwa program kegiatan antara
lembaga yang dikelola oleh pemerintah dan swasta atau masyarakat
tidak sama tergantung dari pendekatan yang dilakukan. Pada
pusat rehabilitasi sosial korban penyahgunaan napza yang dikelola
pemerintah, baik laki-laki maupun perempuan melalui therapeutic
community (TC), kegiatan yang dilakukan meliputi: (1). rehabilitasi
sosial (bimbingan fisik, mental, sosial dan keterampilan), (2).
penyuluhan dan konsultasi napza, (3). voluntary counseling dan
testing (VCT), (4). perlindungan dan advokasi sosial, (5). bantuan
pengembangan usaha ekonomis produktif (bp-uep), (6). family
support group (FSG) dan (7). peer support group (PSG). Kegitan
tersebut dilaksanakan melalui tahapan berikut:
a. Intake process
Proses awal calon klien/korban beserta walinya melakukan
penjajagan untuk mengikuti program di TC.
b. Prospect
Merupakan fase observasi ketika calon korban sudah mendaftar,
mengisi formulir pendaftaran secara umum.
c. Joint family
Jika seseorang korban sudah stabil kondisi fisik dan mentalnya
secara umum, lalu dilakukan inisiasi menurut tradisi sebuah
rehabilitasi TC, sehingga korban akhirnya resmi menjadi korban
Fase induction
70
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
d. Fase induction
Merupakan fase awal rehabilitasi korban/klien dengan menerima
walking paper yang berisi filosofi, nilai dan norma TC.
e. Primary stage
Tahap pembentukan perilaku, pengendalian emosi dan psikologi,
pengembangan pemikiran dan rokhanian, ketrampilan kerja dan
ketrampilan sosial serta bertahan hidup (4 structures)
f. Re-entry stage
Re berarti kembali entry berarti masuk, arti secara umum klien
dipersiapkan untuk memasuki kembali kehidupan normal di
masyarakat
g. After care
a. Ketrampilan personal
b. Ketrampilan sosial
c. Ketrampilan vokasional
d. Servis mobil, sepeda motor dan las
Kemudian, pada IPWL yang dikelola masyarakat, kegiatan
yang dilaksanakan dalam rehabilitasi sosial terhadap korban
penyalahgunaan napza secara umum sebagai berikut:
a. Pelayanan Kesehatan dan Terapi Fisik
Pelayanan kesehatan yang dilakukan di IPWL diarahkan pada:
1)Penjangkauan dan pendampingan korban napza dalam
mengurangi dampak buruk penggunaan napza. Kegiatannya
antara lain: outreach, kesehatan dasar, layanan alat suntik
steril (LASS), dan rujukan terapi subtitusi.
2) Kegiatan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS dengan
memperkuat sistem layanan komunitas dan sistem layanan
kesehatan dalam rangka mengurangi angka kesakitan dan
kematian akibat HIV/AIDS. Kegiatan yang dilakukan meliputi:
konseling VCT, rujukan test HIV, rujukan managemen kasus,
rujukan pengobatan infeksi opportunistik (IQ), pemeriksaan
infeksi menular seksual (IMS) dan distribusi kondom dan
media KIE.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
71
3) Penjangkauan dan pendampingan kepada kelompok resiko
tinggi HIV-AIDS seperti: transgender (waria), lelaki seks
lelaki (LSL), wanita pekerja seks (WPS), high risk man (lelaki
beresiko tinggi). Kegiatan yang dilakukan adalah outreach
(penjangkauan dan pendampingan), dan pemeriksaan
kesehatan.
4) Melakukan sistem rujukan dan pemberian layanan kesehatan
dasar yang ditunjang oleh paramedis secara fixed maupun
mobile kepada kelompok rentan.
5) Selain pelayanan medis, pada IPWL Doulus dilaksanakan
olah raga sebagai media pemulihan, meliputi: tennis meja,
bulu tangkis, senam, renang, sepak bola, skyping, senam
pagi, aerobik, bola voli, cross country dan baris berbaris. Juga
permainan, yaitu: catur, halma, karambol dan permainan
lainnya.
b. Bimbingan Mental Spiritual
Kegiatan yang dilakukan dalam terapi jiwa meliputi, konsultasi
psikiater dan psikolog, melakukan wawancara, psykoterapi
test IQ (Intelektual Question), EQ (Emosional Question), SQ
(Spiritual Question), ESQ (Emosional Spiritual Question)
dan Formakoterapi (pemberian obat psikiater). Terapi rokhani
dilakukan melalui kegiatan, konseling dan pendampingan, doa,
ibadah raya, bimbingan, ceramah dan share and care.
c. Bimbingan Sosial Terpadu.
Kegiatan-kegiatan dalam bimbingan sosial, yaitu konseling sosial,
terapi kerja/keterampilan, terapi kognitif, terapi musik, malam
keakraban, home visit dan refresing.
Dari lima IPWL yang diteliti, IPWL Doulus telah membuat
indikator keberhasilan dari program rehabilitasi sosial, yaitu:
1. Kondisi fisik
• Dapat merawat diri sendiri (mandi, berpakaian, membersihkan
kamar, cuci pakaian)
• Makan 3 x sehari secara teratur
72
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
• Tidur malam teratur (tidur selama 6 - 8 jam dalam keadaan
nyenyak)
• Olah raga ringan setiap hari
• Keadaan umum secara medis baik (sistem kerja jantung dan
pembuluh darah, sistem syaraf dan sistem pernafasan)
• Timbulnya keinginan/dorongan untuk hidup sehat, teratur
dan tertib.
2.Jiwa/Rohani
• Cara berfikir teratur, berkomunikasi dengan baik, serta dapat
menjawab dengan tepat dan benar
• Adanya perubahan pola pikir, perilaku serta sikap hidup yang
konstruktif (membangun)
• Timbulnya kemampuan untuk mengendalikan diri dan
disiplin diri.
• Percaya dan mengandalkan Tuhan sang pencipta dengan
sungguh-sungguh
• Ada buah-buah roh (kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran,
kemurahan,
kebaikan,
kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri) dalam kehidupan pribadi
• Sudah mendapat pelayanan pelepasan dari pengaruh
okultisme ataupun narkoba
• Adanya dorongan dan kemauan untuk berdoa, merenungkan
dan melakukan firman Tuhan dengan teratur
• Adanya dorongan dan kemauan untuk beribadah dengan
teratur dan tertib
• Dapat memelihara kualitas kerokhaniannya secara pribadi.
3.Sosial
• Siap menghadapi keberadaan lingkungan keluarga dan
masyarakat
• Dapat bergaul secara sehat dan benar
• Bertanggung jawab
• Dapat dipercaya
• Patuh
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
73
• Ramah
• Adanya semangat dan dorongan untuk bersekolah dan belajar
secara teratur
• Adanya dorongan dan semangat untuk bekerja serta berkarya
dengan tekun
• Adanya dorongan dan semangat dalam memanfaatkan waktu
luang untuk diisi dengan hal yang baik dan benar
E. HASIL YANG DICAPAI
Korban yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah
korban yang masih ada dalam IPWL atau masih dalam proses
rehabilitasi sosial. Sehubungan dengan itu, untuk mengetahui hasil
pelaksanaan IPWL, dihimpun informasi subyektif tentang perubahan
yang dirasakan korban dan kepuasan mereka menerima pelayanan di
dalam IPWL. Kepuasan korban terhadap pelayanan yang diberikan
oleh IPWL, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 19. Persentase Kepuasan Korban terhadap Pelayanan IPWL (n=50)
No
Aspek yang Ditanyakan/
Diukur
Kepuasan Korban
Puas
Kurang
Tidak
Tdk
tahu
1.
Kepuasan terhadap kegiatan
yang dilaksanakan lembaga
76
20
2
2
2.
Kepuasan terhadap petugas
administrasi
72
12
6
10
3.
Kepuasan terhadap Pekerja
Sosial (Peksos).
72
14
8
6
4
Kepuasan terhadap
pelayanan medis/dokter
56
30
4
10
5.
Kepuasan terhadap Konselor
Adiksi
88
6
2
6
6
Kepuasan terhadap
pemenuhan permakanan
59
34
8
0
7
Kepuasan terhadap tempat
tinggal/lembaga
60
36
2
2
74
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
8
Kepuasan terhadap fasilitas
lembaga (keamanan,
kebersihan, air, MCK,
penerangan, dll.).
60
32
6
2
9
Kepuasan terhadap
peralatan/sarana pelayanan
60
30
6
2
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa korban yang
mendapatkan kepuasan atas kegiatan, SDM, sarana, faslitas dan
pelayanan yang diberikan oleh IPWL. Informasi tentang kepuasan
korban tersebut memberikan gambaran, bahwa empat IPWL memiliki
kapasitas memadai dalam penanganan korban penyalahgunaan
napza.
Kemudian perubahan yang dirasakan oleh korban setelah
menerima pelayanan dari IPWL. Hanya 10 orang korban dari
empat IPWL yang dapat memberikan jawaban tentang perubahan
yang dirasakan. Menurut korban, perubahan pada kondisi fisik dan
kesehatan, seperti: merasa sehat, nafsu makan tinggi, dan berat
badan meningkat. Selanjutnya, perubahan pada kondisi sosial,
seperti: banyak berteman, berbagai informasi, mengikuti kegiatan
kelompk, dan lebih membuka diri. Kemudian, perubahan mental
spiritual, seperti: mentaati aturan lembaga, semangat untuk hidup
lebih baik, memotivasi teman, dan memanfaatkan waktu dengan
baik.
Selain kepuasan pada korban, dikumpulkan pula informasi
subyektif kepuasan orang tua korban. Informasi ini penting, karena
proses pelayanan IPWL juga dipengaruhi oleh pemahaman dan
penilaian orang tua korban, terutama pada IPWL yang dikelola swasta
karena orang tua berpartisipasi dalam pembiayaan. Kepuasan orang
tua sebagaimana tampak pada tabel berikut:
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
75
Tabel 20. Kepuasan Orang Tua/keluarga Korban terhadap Pelayanan IPWL
No
Aspek yang Ditanyakan/
Diukur
Kepuasan Korban
Puas
Kurang
Tidak
Tdk
tahu
1.
Kepuasan terhadap kegiatan
yang dilaksanakan lembaga
5
-
-
-
2.
Kepuasan terhadap petugas
administrasi
5
-
-
-
3.
Kepuasan terhadap Pekerja
Sosial (Peksos).
5
-
-
-
4
Kepuasan terhadap
pelayanan medis/dokter
5
-
-
-
5.
Kepuasan terhadap
Konselor Adiksi
5
-
-
-
6
Kepuasan terhadap
pemenuhan permakanan
5
-
-
-
7
Kepuasan terhadap tempat
tinggal/lembaga
5
-
-
-
8
Kepuasan terhadap
peralatan/sarana pelayanan
5
-
-
-
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
Berdasarkan data tersebut, bahwa semua orang tua korban
merasa puas dengan situasi dan pelayanan yang diberikan oleh
IPWL kepada anak atau anggota keluarganya. Informasi ini sebagai
gambaran, bahwa eksistensi empat IPWL telah mendapatkan
kepercayaan orang tua dalam proses pemulihan anak atau anggota
keluarganya.
F. FAKTOR -FAKTOR BERPENGARUH
Beberapa faktor yang berpengaruh di dalam pelaksanaan
IPWL adalah adanya berbagai dukungan baik yang berasal dari
lembaga, mulai dari program, kegiatan, sarana prasarana, fasilitas
yang tersedia, SDM maupun sarana penunjang lainnya. Peran
serta masyarakat juga ikut ambil bagian di dalam penyelenggaraan
76
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
kegiatan IPWL, sehingga program dapat berjalan sesuai dengan
harapan.
Namun demikian, terdapat faktor penghambat pelaksanaan
program IPWL seperti kurangnya sosialisasi program IPWL sampai
pada lapisan masyarakat sehingga program tersebut tidak begitu
dikenal di lingkungan masyarakat. Padahal tujuan dari IPWL adalah
untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa IPWL sebagai
tempat untuk membantu pemulihan korban penyahgunaan napza,
sehingga dengan informasi tersebut diharapkan dapat memberikan
kesadaran kepada individu, keluarga ataupun masyarakat untuk
datang ke IPWL dalam rangka penyembuhan. Kenyataan dilapangan
justru yang mengerti tentang IPWL adalah perwakilan dari lembagalembaga yang diundang dan dilibatkan pada waktu pelaksanaan
sosialisasi. Dinas Sosial sebagai mitra kerja dalam penanganan
PMKS tidak dilibatkan dalam persoalan ini sehingga informasi yang
di dapat dari Dinas Sosial kurang memadai seperti yang diharapkan.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
77
BAB V
KAPASITAS IPWL DI SUMATERA UTARA
A. GAMBARAN UMUM LOKASI
Sumatera Utara adalah sebuah provinsi yang terletak di
Pulau Sumatera dan beribukota di Medan. Provinsi ini terdiri dari
33 kabpaten/kota. Sumatera Utara merupakan provinsi keempat
terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat,
Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Sumatera Utara merupakan provinsi
multietnis, di mana di provinsi ini terdapat suku bangsa Batak, Nias,
dan Melayu. Daerah pesisir timur Sumatera Utara, pada umumnya
dihuni oleh orang-orang Melayu. Pantai barat dari Barus hingga
Natal, banyak bermukim orang Minangkabau. Wilayah tengah
sekitar Danau Toba, banyak dihuni oleh Suku Batak yang sebagian
besarnya beragama Kristen. Suku Nias berada di kepulauan sebelah
barat. Sejak dibukanya perkebunan tembakau di Sumatera Timur,
pemerintah kolonial Hindia Belanda banyak mendatangkan kuli
kontrak yang dipekerjakan di perkebunan. Pendatang tersebut
kebanyakan berasal dari etnis Jawa danTionghoa. Agama yang
dianut oleh penduduk Sumatera Utara, yaitu Islam, kristen, Hindu,
Budha, Konghucu, Parmalim, dan animisme.
Sumatera Utara kaya akan sumber daya alam berupa gas
alam di daerah Tandam, Binjai dan minyak bumi diPangkalan
Brandan, Kabupaten Langkat yang telah dieksplorasi sejak zaman
Hindia Belanda. Selain itu di Kuala Tanjung, Kabupaten Asahan
juga terdapat PT Inalum yang bergerak di bidang penambangan
bijih dan peleburan aluminium yang merupakan satu-satunya di
Asia Tenggara. PLTA Asahan yang merupakan PLTA terbesar di
Sumatra terdapat di Kabupaten Toba Samosir. Provinsi ini tersohor
karena luas perkebunannya, hingga kini, perkebunan tetap menjadi
primadona perekonomian provinsi. Perkebunan tersebut dikelola
oleh perusahaan swasta maupun negara.
78
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Di balik potensi dan sumber daya tersebut, Sumatera Utara
menempati peringkat 12 nasional dalam penyalahgunaan narkoba.
Hasil survei yang dilakukan BNN bersama Universitas Indonesia
tahun 2013, pengguna narkoba sebesar 1,99 persen pada usia
10-69 tahun, dan pada pengguna narkoba pada kelompok usia
produktif yang berkisar 10-20 tahun. Berdasarkan data asumsi di
Badan Narkotika Provinsi (BNP) Provinsi Sumatera Utara tahun
2014, terdapat sekitar 600 ribu orang yang telah terjerumus dalam
penyalahgunaan narkoba. Sebagian besar jumlah pengguna narkoba
itu merupakan kelompok usia produktif.
Kemudian, Kota Medan yang menjadi lokasi penelitian ini merupakan salah satu kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara,
dan sekaligus merupakan ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Kota
Medan adalah ibu kota provinsi Sumatera Utara. Kota ini merupakan
kota metropolitan terbesar di luar Pulau Jawa dan kota terbesar ketiga
di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya, Kota Medan merupakan
pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat, dan juga sebagai pintu
gerbang bagi para wisatawan untuk menuju objek wisata Brastagi di
daerah dataran tinggi Karo, objek wisata penangkaran Orang Utan di
Bukit Lawang, serta kawasan Danau Toba.
Kota Medan memiliki beragam etnis dengan mayoritas
penduduk beretnis Jawa, Batak, dan Tionghoa. Adapun etnis
aslinya adalah Minangkabau, India, dan Melayu serta etnis lainnya.
Keanekaragaman etnis di Medan terlihat dari jumlah masjid, gereja
dan vihara Tionghoa yang banyak tersebar di seluruh kota. Sebagai
kota terbesar di Pulau Sumatera dan di Selat Malaka, Penduduk
Medan banyak yang berprofesi di bidang perdagangan. Biasanya
pengusaha Medan banyak yang menjadi pedagang komoditas
perkebunan. Kota Medan patut disberi sebutan kota pelajar, karena
di kota ini terdapat 72 perguruan tinggi.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa Kota
Medan merupakan kota pusat perekonomian dan perdagangan,
budaya dan pendidikan. Hal ini yang menjadikan Kota Medan
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
79
sebagai kota tujuan wisata bagi wisatawan domistik maupun manca
negara, dan juga memiliki daya tarik yang kuat bagi migran dari luar
wilayah Kota Medan. Kondisi ini merupakan faktor yang mendorong
terjadinya pertumbuhan ekonomi dan kegiatan pembangunan di
Kota Medan.
Selanjutnya, kabupaten kedua yang menjadi lokasi penelitian,
yaitu Kabupaten Deli Serdang. Kabupaten ini merupakan sebuah
kabupaten di provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Ibu kota kabupaten
ini berada di Lubuk Pakam. Kabupaten Deli Serdang dikenal sebagai
salah satu daerah dari 33 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera
Utara. Kabupaten yang memiliki keanekaragaman sumber daya
alamnya yang besar, dan keanekaragaman budaya. Penduduk Deli
Serdang terdiri dari: Suku Melayu, Suku Jawa, Suku Karo, suku
Nias, selebihnya terdiri dari: Suku Batak, Minang, dan Tionghoa.
Berdasarkan data 2013, Penduduk Deli Serdang sebanyak 1,886
juta orang dengan kepadatan penduduk sebanyak 755 orang per
kilometer persegi.
Deli serdang saat ini sedang berkembang menjadi salah satu
pusat industri dan perdagangan di Sumatera Utara. 51 tempat
wisata. 34 industri menengah dan tinggi yang menyerap tenaga
lebih 2.000 orang. Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan lah
yang berkontribusi paling besar. Dimana kedua sektor perekonomian
tersebut, pada umumnya berada di dua daerah tersebut. Kota
Medan tercatat berkontribusi sebesar 35 persen atau hampir 2,1
persen terhadap pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6.01 persen
itu. Sementara Deli Serdang, berkontribusi sekira 15 persen, atau
hampir satu persen terhadap total pertumbuhan ekonomi tersebut.
Sebagai pusat industri, perdagangan dan tujuan wisata,
menjadikan Kabupaten Deli Serdang sebagai kabupaten yang banyak
didatangi orang-orang dari daerah lain. Kedatangan penduduk
dari luar untuk berbagai keperluan tersebut, menyebabkan Deli
Serdang memiliki dinamika yang relatif cepat di berbagai bidang,
dibandingkan dengan kabupaten lain.
80
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Namun demikian, hal-hal yang positif tersebut dinodai dengan
permasalahan penyalahgunaan napza yang sudah mengkhawatirkan.
Berdasarakan catatan BNN Pusat (2013), Medan Jakarta dan
Kalimantan Timur adalah daerah dengan pengguna narkoba
terbanyak di Indonesia. Jumlah keseluruhan pengguna narkotika
di kalangan pelajar dan mahasiswa pada 2014 sebanyak 1.390
orang. Jumlah itu meningkat dibandingkan kasus pada 2013.
Terdata pelajar pengguna narkoba dari sekolah dasar berjumlah
123 orang, sekolah menengah pertama (SMP) 292 orang, sekolah
menengah atas (SMA) 863 orang, dan mahasiswa 40 orang. Secara
keseluruhan ada 1.318 orang (Koran Sindo, 2014).
Data tersebut merupakan data yang dilaporkan atau data
hasil razia dan penangkapan yang dilakukan oleh pihak BNN dan
kepolisian. Padahal, penyalahgunaan napza merupakan fenomena
gunung es, di mana data yang ada hanya sebagian kecil saja
data data yang sesungguhnya terjadi di masyarakat. Sebagimana
dipaparkan, bahwa pelajar mulai dari SD, SLP dan SLA hingga
mahasiswa, jumlahnya sudah cukup siginifikan. Hal ini berarti,
penyalahgunaan napza sudah sangat serius mengancam generasi
muda di Kota Medan.
Kemudian, di Kabupaten Deli Serdang. Di kabupaten kasus
penyalahgunaan napza termasuk tinggi. Namun demikian, angka
pasti korban penyalahgunaan napza tidak dipublikasikan secara
luas, sehingga tidak dapat dikertahui dengan pasti berapa angka
korban di Deli Serdang. Informasi mengenai penyalahgunaan napza
diperoleh dari kasus-kasus yang dipublikasi media masa. Misalnya,
pada tahun 2015, Polres Deli Serdang berhasil mengungkap 51
kasus peyalahgunaan narkoba jenis sabu dan ganja dengan 74
tersangka (portalkriminal.com, 2015).
Pemerintah Daerah Deli Serdang merasa khawatir dengan kasus
penyalahgunaan napza ini, karena korbannya dari berbagai lapisan
dan bahkan termasuk kelompok anak-anak. Berkenaan dengan itu,
Pemda bersama BNN kabupaten Deli Serdang telah menempuh
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
81
langkah-langkah, antara lain dengan melakukan sosialisasi ke
sekolah-sekolah dalam rangka pencegahan.
B. RESPONDEN PENELITIAN
1.Korban/Residen
Korban penyalahgunaan napza yang dijadikan responden
dalam penelitian ini berjumlah 40 orang. Seluruh responden
adalah laki-laki. Berdasarkan pendidikan, sebagian besar
berpndidikan SLTA. Distribusi responden menurut pendidikan
sebagaimana tampak pada tabel berikut:
Tabel 21. Responden Menurut Pendidikan
NO
FREKUENSI
PERSENTASE
1
SD
PENDIDIKAN
9
22.5
2
SLP
3
7.5
3
SLA
22
55
4
Sarjana
6
15
40
100
Jumlah
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
Berdasarkan data pada tabel tersebut menunjukkan, bahwa
kelompok masyarakat berdasarkan pendidikan, terwakili pada
responden dalam penelitian ini. Menarik dari data tersebut, bahwa
kelompok remaja (SLP-SLA), frekuensinya lebii besar (62.5%).
Tabel 22. Responden Menurut Pekerjaan Orang Tua
NO
PEKERJAAN ORANG TUA
FREKUENSI
PERSENTASE
9
22.5
1
Tidak bekerja
2
Swasta
27
67.5
3
Pedagang
3
7.5
4
Petani
1
2.5
40
100
Jumlah
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
82
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Data pada tabel tersebut menunjukkan, bahwa responden
dalam penelitian ini mewakili jenis-jenis pekerjaan orang tua
di sektor swasta, pedagang dan petani. Kemudian, terdapat
responden yang orang tuanya tidak bekerja dengan persentase
yang cukup signifikan (22.5%). Dilihat dari tempat tinggal
sebelum mendapatkan pelayanan IPWL, sebagian besar
responden tinggal bersama dengan orang tuanya.
2. Orang Tua Responden
Pada penelitian ini dikumpulkan informasi dari 15 orang
tua korban. Pada umumnya orang tua bekerja di sektor swasta.
Dilihat dari usia, sebagian besar (72%) berada pada usia 52
– 61 tahun. Pendidikan orang tua cukup baik, sebagian besar
(64%) berpendidikan SLA.
3. Petugas IPWL
Sumber daya manusia di IPWL terdiri dari petugas
administrasi dan petugas teknis. Masing-masing dari petugas
tersebut diambil satu orang sebagai responden dalam penelitian
yang mewakili IPWL.
Secara garis besar respon pertugas IPWL dibedakan menjadi
tiga, yaitu petugas administrasi, petugas teknis dan tenaga
penunjang. Petugas administrasi adalah orang-orang yang
melaksanakan tugas-tugas administrai umum atau perkantoran.
Petugas teknis, adalah orang-orang yang melaksanakan kegiatan
teknis tekait dengan proses rehabilitasi medis maupun sosial bagi
korban penyalahgunaan napza. Kemudian, petugas penunjang
adalah orang-orang yang melaksanakan kegiatan terkait dengan
permakanan korban, kebersihan, kenyamanan dan keamanan
IPWL.
a. Petugas Administrasi
Petugas administrasi di dalam penelitian ini, yaitu orangorang yang melaksanakan tugas-tugas adminitrasi, yakni:
kepala lembaga, sekretaris atau staf administrasi umum
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
83
senior. Pada penelitian ini, petugas administrasi yang
menjadi informan, yaitu kepala-kepala IPWL yang dibantu
oleh staf administrasi umum. Wawancara dilakukan dengan
Kepala IPWL dan dengan kepala sub bagian tata usaha,
dibantu staf administrasi umum dalam menyiapkan data
sekunder (dokumen-dokumen) yang diperlukan peneliti.
Reponden sudah berpengalaman lebih 5 (lima) tahun sebagai
pimpinan lembaga, berpengalaman mengikuti palatihan dan
pemantapan IPWL, dan aktif menjadi anggota forum peduli
pananggulangan napza. Pengalaman-pengalaman tersebut
yang sangat membantu dalam proses penggalian data dan
informasi terkait dengan aspek kelembagaan IPWL.
b. Petugas Teknis
Petugas teknis di dalam penelitian ini, yaitu orang-orang
yang melaksanakan tugas-tugas teknis pelayanan dan
rehabilitasi, yakni: pekerja sosial, kanselor adiksi, dokter, para
medik, psikiater, psikolog, pembimbing rohani, instruktur
keterampilan, tenaga kesejahteraan sosial. Dilihat dari status
kepegawaiannya, petugas teknis tersebut dibedakan menjadi
dua, yaitu tenaga tetap dan tenaga tidak tetap.
1)Petugas tetap
Petugas tetap adalah orang-orang yang sudah
menjadi pegawai tetap IPWL. Mereka masuk di dalam
kepegawaian, memiliki tugas dan tanggung jawab yang
jelas dan pasti, memperoleh fasilitas yang disediakan
lembaga dan mendapatkan gaji serta insentif lain yang
menjadi kebijakan IPWL.
Pada penelitian ini, pekerja sosial, kanselor adiksi, tenaga
kesejahteraan sosial, para medik dan pembimbing rohani,
merupakan petugas-petugas yang termasuk tenaga
organik pada keempat IPWL. Pada IPWL PSMP, selain
petugas-petugas yang termasuk petugas tetap, yakni
instruktur keterampilan dan para medik. Sebagai catatan,
bahwa pekerja sosial di IPWL adalah orang-orang yang
pernah mengikuti pemantapan pekerjaan sosial adiksi,
tetapi mereka belum tersertifikasi sebagai pekerja sosial.
84
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
2) Petugas tidak tetap
Petugas tidak tetap adalah orang-orang yang melaksanakan
tugas-tugas di IPWL sesuai dengan keahliannya, tetapi mereka
bukan sebagai pegawai tetap IPWL. Penugasan mereka
di IPWL melalui bentuk kerjasama antara IPWL dengan
lembaga (dimana ahli tersebut bekerja) atau kerjasama
secara indivual. Petugas tidak tetap dalam penelitian
ini, yaitu dokter, psikolog, psiakter, dan para medik serta
instruktur keterampilan (kedua petugas terakhir kecuali di
PSMP sudah menjadi petugas tetap). Petugas-petugas teknis
tersebut sudah bekerjasama dengan IPWL rata-rata lebih
4 (empat) tahun. Pengalaman tersebut ditambah dengan
keikutsertaannya dalam worshop, diskusi dengan pengurus
IPWL dan sharing pengalaman dengan petugas teknis lain
selama proses rehabilitasi, merupakan faktor yang banyak
membantu dalam proses pengumpulan data dan informasi
terkait dengan rehabilitasi medis maupun sosial.
4. Tenaga Penunjang
Tenaga penunjang adalah orang-orang yang melaksanakan
tugas sebagai untuk penujang pelayanan dan rehabilitasi bagi
korban (korban). Tenaga penunjang dimaksud, yakni tenaga
permakanan, tenaga kebersihan dan tenaga keamanan IPWL.
Seluruh tenaga penujang di 4 (empat) IPWL, merupakan tenaga
tetap IPWL. Mereka sudah bekerja di IPWL rata-rata lebih dari 5
(lima) tahun, sehingga sudah banyak pengalaman di bidangnya.
Sebagaimana dikemukakan terdahulu, bahwa tenaga penunjang
ini ikut menentukan proses dan keberhasilan pelayanan dan
rehabilitasi di IPWL. Karena kegiatan yang mereka laksanakan
berkaitan dengan aspek biologis (fisiologis), psikologis dan sosial
korban penyalahgunan napza (korban) di IPWL. Pengalaman
dan kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas penunjang
tersebut, merupakan faktor yang membantu penelitia dalam
proses pengumpulan data dan informasi terkait pelayanan dan
rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan napza.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
85
5.Masyarakat
Masyarat yang menjadi responden dalam penelitian, yaitu
ketua lingkungan, tokoh agama dan pendidik. Mereka dijadikan
responden untuk mewakili suara masyarakat terkait dengan
pemahaman, sikap dan perilakunya terhadap IPWL dan kegiatan
yang dilaksanakan dalam penanganan korban napza.
6. Instansi terkait
Instansi terkait di dalam penelitian ini adalah Dinas Sosial
Provinsi Sumatera Utara Badan Narkotika Nasional Provinsi
(BNNP) Sumatera Utara, Dinas Sosial Kota Medan dan Kabupaten
Deli Serdang dan BNNK Medan. Adapun yang menjadi informan
di dalam instansi-instansi tersebut, yaitu:
a. Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial pada Dinas Sosial Provinsi
Sumtera Utara,
b. Kasie Rehabilitasi BNNP Sumatera Utara
c. Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial pada Dinas Sosial Kota
Medan.
d.Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial pada Dinas Sosial
Kabupaten Deli Serdang.
C. KOMPONEN PROGRAM
Dari hasil penelitian terlihat masing-masing IPWL mempunyai
kemampuan yang tidak sama antara satu dengan yang lain.
Ketidaksamaan ini dapat dilihat dari, program, kegiatan, sarana
prasarana, fasilitas yang tersedia, sumber dana, pendekatan yang
digunakan sampai pada sumber daya manusia yang tersedia,
disamping capai hasil dan faktor-faktor yang berpengaruh di dalam
pelaksanaan rehabiltasi sosial.
1. Kelembagaan IPWL
Pada kelembagaan ini dilihat organisasi IPWL yang meliputi
status lembaga, visi dan misi dan struktur organisasi. Hasil
penelitian berhasil mengumpulkan informasi, bahwa dari 4
(empat) IPWL yang diteliti, yaitu Panti Sosial Pamardi Putra
86
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
“Insyaf”, Sibolangit Centre, Yayasan Nazar, Yayasan Minar Christ.
Satu IPWL yang berstatus sebagai institusi pemerintah adalah
Panti Sosial Pamardi Putra “Insyaf”. Tiga lembaga yang lain
berstatus sebagai lembaga swasta atau milik masyarakat dalam
bentuk yayasan sosial.
Semua IPWL telah memiliki visi dan misi yang dapat dibaca
di papan informasi maupun di dalam brosur dan buku profil
lembaga, sebagai berikut:
a. Panti Sosial Pamardi Putra “Insyaf” Sumatera Utara
Panti Sosial Pamardi Putra “Insyaf” Sumatera Utara dalam
melaksanakan pelayanan bagi korban penyalahgunaan
naspza, memiliki visi “mewujudkan Panti Sosial Pamardi Putra
“Insyaf” Sumatera Utara sebagai penyelenggara rehabilitasi
dan perlindungan sosial bagi korban penyalahgunaan
narkotika secara prima. Visi tersebut kemudian dijabarkan ke
dalam misi, yaitu:
1)
Melaksanakan
rehabilitasi
sosial
bagi
penyalahgunaan narkotika sesuai dengan
pelayanan
korban
standart
2)Melaksanakan program dan advokasi pelayanan dan
rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan narkotika
secara efisien dan efektif
3)Melaksanakan dukungan manajemen rehabilitasi sosial
Panti Sosial Pamardi Putra “Insyaf” Sumatera Utara,
mempunyai kapasitas isi 200 orang dan kapasitas tampung
200 orang. Korban yang memperoleh pelayanan di dalam
lembaga, bukan hanya dari Kota Medan, tetapi berasal dari
wilayah sumater dan di luar sumatera.
b. Sibolangit Centre
Sibolangit Centre merupakan organisasi non pemerintah
yang berdiri pada tahun 2001, di Kabupaten Deli Serdang
Sumatera Utara. Dalam pelaksanaan rehabilitasi Sibolangit
Centre mengacu pada visi dan misi lembaga, yaitu:
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
87
1)Membantu pemerintah dan masyarakat dalam usahausaha menyelamatkan anak bangsa yang menjadi korban
penyalahgunaan narkoba
2)Melaksanakan rehabilitasi sesuai dengan standart yang
ada
3)Meningkatkan SDM petugas rehabiltasi
4)
Membangun dan menjalin jaringan kerja dengan
pihak-pihak lain yang berkompeten dalam bidang
penanggulangan dan rehabilitasi narkoba
5)Melaksanakan sosialisasi bahaya narkoba dan rehabilitasi
korban narkoba kepada masyarakat
Visi lembaga tersebut melandasi prinsip pelayanan lembaga,
yaitu: “berobat, bertobat dan bersobat”. Berobat dengan
mengikuti semua program pemulihan di tempat rehabilitasi,
Bertobat dilakukan dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan
Yang Maha Esa melalui berbagai kegiatan agama, dan Bersobat
berarti bisa bergaul dan bersahabat agar mendapat dukungan dari
keluarga, sahabat dan lingkungan terdekat untuk bisa kembali ke
masyarakat. Sejak berdiri tahun 2001 hingga sekarang Sibolangit
centre telah merawat banyak korban dan pada tahun 2015 yang
ditangani berjumlah 60 orang.
c. Yayasan Nazar
Yayasan Nazar sudah dikenal masyarakat Sumut sejak tahun
2001 dengan aktivitasnya bergerak di bidang sosial masyarakat,
ikut serta secara langsung terlibat dalam pemberantasan napza
dengan cara penyuluhan dan kampanye serta merehabilitasi orangorang korban penyalahgunaan napza maupun ketergantungan
serta sudah pada tingkat klasifikasi “dualdiagnosis” atau
gangguan mental.
Terdapat tiga tujuan yang dicapai oleh yayasan Nazar, yaitu:
1)Umum: membantu pemerintah dalam penanggulangan
penyalahgunaan napza
88
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
2) Khusus: menjadi mitra pemerintah Provinsi Sumatera Utara
3) Menyelamatkan dan membebaskan generasi anak bangsa
dari penyalahgunaan dan ketergantungan narkoba sebagai
wujud kami peduli bangsa
Sedangkan sasaran kegiatan meliputi:
1)Merehabilitasi orang ketergantungan narkoba dan sakit
serta gangguan jiwa akibat napza
2)Edukasi, penyuluhan, memotivasi serta menyadarkan
masyarakat agar ikut serta memberantas napza Sebagai
tenaga penunjang rehabilitasi sosial tersedia sumber daya
manusia yang seluruhnya berjumlah 34 orang.
d. Yayasan Minar Christ
Yayasan Minar Christ merupakan IPWL yang dikelola oleh
masyarakat, berdiri pada tahun 2013. Lembaga ini memiliki
tujuan untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi korban
penyalahgunaan napza, sehingga mereka menjadi manusia yang
berguna bagi nusa dan bangsa.
Lembaga ini memiliki struktur organisasi, yaitu seorang pimpinan,
sekretaris, bendaha dan seksi-seksi pada kegiatan teknis. Selain
itu, juga memiliki tenaga penunjang, seperti juru masak, petugas
kebersihan dan satuan pengamanan.
2.Sasaran
IPWL memberikan pelayanan rehabilitasi sosial bagi seseorang
yang menjadi korban penyalahgunaan napza. Korban/korban yang
memperoleh pelayanan dan rehabilitasi di IPWL adalah mereka
yang sudah memperoleh pelayanan medis dari rumah sakit.
Jumlah korban penyalahgunaan napza yang memperoleh
pelayanan rehabilitasi sosial di empat IPWL seluruhnya berjumlah
204 orang dengan rincian sebagaimana berikut:
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
89
Tabel 23. Korban Penerima Rehabilitasi Sosial di Empat IPWL
Jumlah Korban
No.
Nama IPWL
1.
PSPP Sumatera Utara
97
0
97
2.
Sibolangit Centre
60
0
60
3.
Yayasan Nazar
40
0
40
4.
Minar Christ
Jumlah
Dalam Institusi
Luar Institusi Jumlah
50
0
50
247
0
247
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
Berdasarkan tabel tersebut, semua IPWL yang menjadi
sasaran dalam penelitian ini, melaksanakan rehabilitasi sosial
bagi korban penyalahgunaan napza dengan sistem institusi.
Tidak ada satu pun IPWL yang mengimplementasikan sistem
luar institusi.
3. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia pada IPWL, dibedakan menjadi
petugas administrasi dan petugas teknis. Termasuk ke dalam
petugas administrasi, yaitu pimpinan lembaga dan staf yang
mengerjakan kegiatan administrasi Selanjutnya, termasuk ke
dalam petugas teknis, yaitu pekerja sosial, kanselor adiksi, doter,
psikiater, psikolog, pembiming rohani, instruktur keterampilan,
para medik, tenaga kesejahteraan sosial.
Dari empat IPWL yang diteliti, seluruhnya sudah didukung
dengan ternaga administratif maupun tenaga teknis yang memadai.
Namun demikian untuk tenaga dokter, psikolog dan psikiater,
hampir seluruhnya IPWL belum memliki tenaga tetap. Tenaga
teknsi tersebut diperoleh dari rumah sakit, perguruan tinggi, dan
lembaga profesi.
90
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Tabel 24. Petugas di IPWL yang menjadi Responden
NO
PETUGAS IPWL
KETERANGAN
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
4
2
6
2
1
a. Pekerja Sosial
16
8
7
2
3
b.Konselor Adiksi
0
10
5
5
3
c.Dokter
1
2
1
1
1
d.Psikiater
1
1
1
1
1
e.Psikolog
2
1
1
1
1
f. Pembimbing Rohani
2
4
2
2
1
g.Instruktur Ketrampilan
3
1
1
2
1
h.Paramedik
1
4
2
0
1
i. Tenaga Kesejahteraan Sosial
3
10
10
3
1
j. Tenaga Penunjang
2
2
2
2
2
1
Petugas Administrasi
2.
Petugas Teknis:
Keterangan: (1) PSPP Sumatera Utara, (2) Sibolangit Center, (3) Yayasan Nazar,
(4) Minar Christ.
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
Berdasarkan data pada tabel tersebut, semua IPWL sudah
memiliki SDM, baik petugas administrasi, petuags teknis dan
petugas penunjang. Tenaga administrasi, pekekrja sosial, kanselor
adiksi, pembimbing rohani dan petugas penunjang, merupakan
pegawai tetap. Sedangkan psikolog, psikiater, para medis dan
instruktur keterampilan merupakan tenaga tidak tetap. Tenaga
teknis tidak tetap tersebut diperoleh dari kemitraan antara IPWL
dengan rumah sakit, perguruan tinggi, lembaga profesi dan
lembaga pelatihan.
Pada pelaksanaan kegiatan, belum tersedia pedoman
yang membedakan secara tegas perbedaan ranah kegiatan
pekerja sosial dengan kanselor adiksi. Pada kedua tenaga
teknis tersebut berpotensi terjadi tumpang tindih. Bahkan
pada IPWL yang kekurangan pekerja sosial, kanselor adiksi
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
91
melaksanakan tugas-tugas pekerja sosial. Kemudian, kanselor
adiksi tersebut direkrut dari mantan korban penyalahguna
napza tanpa mempertimbangkan latar belakang pendidikan
dan profesionalitasnya di bidang konseling dan pendampingan.
Padahal, untuk melaksanakan tugas konseling dan pendampingan
diperlukan pendidikan profesi yang khusus (seperti, ilmu
kesejahteraan sosial dan atau psikologi). Tugas kaselor adiksi
tersebut sebenarnya merupakan salah satu tugas pekerja sosial
profesional.
Tenaga teknis lain, seperti psikolog, psikiater, dokter,
paramedis, pembimbing rohani, dan instruktur keterampilan,
sudah ada di semua IPWL. Untuk tenaga psikolog, psiater
dan dokter, sebagian besar IPWL mendapatkan melalui bentuk
kerjasama dengan perguruan tinggi dan rumah sakit dan
lembaga profesi. Sedangkan pembimbing rohani dan instruktur
keterampilan, pada umumnya tenaga organik yang ada di IPWL.
Semua IPWL memiliki tenaga kesejahteraan sosial atau
relawan sosial, masing-masing satu orang. Tetapi apabila
dilihat tugasnya lebih banyk membantu tenaga adinistrasi dan
penunjang. Oleh karena itu, TKS/relawan sosial ini seyogyanya
tidak menjadi unsur tenaga yang ada di dalam IPWL.
4. Sarana Prasana
Sarana prasarana dibadi menjadi dua, yaitu sarana
prasarana fisik dan instrumen teknis rehabiliatsi sosial. Pada
empat IPWL yang diteliti, semuanya menempati sebuah gedung
kantor sebagai pusat kegiatan rehabilitasi sosial bagi korban
penyalahgunaan napza. Dari empat IPWL, Lembaga Pemulihan
Siloam menempati gedung kantor dengan status kontrak.
Sementara itu, tiga lembaga yang lain sudah menempati gedung
kantor sendiri.
Berkaitan dengan sarana prasarana dalam bentuk bangunan
fisik, Kementerian Sosial RI telah menetapkan standar lembaga
rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan napza. Di dalam standar
92
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
tersebut diatur, bahwa sarana dan prasarana fisik dibagi menjadi
perkantoran, ruang pelayanan teknis dan ruang pelayanan umum
(Kemensos, 2012). Berdasarkan hasil penelitian, pada keempat
IPWL sudah memiliki sarana prasarana sebagaimana standar
dimaksud, yaitu:
a. Perkantoran yang terdiri dari ruang: pimpinan, ruang kerja
staf, ruang rapat, dan ruang data dan informasi.
b. Ruang pelayanan teknis terdiri dari ruang: asrama, pengasuh,
asesmen, konseling, isolasi, olah raga, bimbingan mental
dan sosial, praktik keterampilan dan rekreasi. Khusus terkait
dengan keterampilan, keempat IPWL memiliki lahan atau
tempat untuk mengembangkan keterampilan korban, antara
lain: kolam ikan, ternak kelinci dan kambing, pertukangan
dan berkebun.
c. Ruang pelayanan umum terdiri dari ruang: makan, belajar,
ibadah, kesehatan, aula, pos keamanan, tamu, gudang,
kamar mandi, tempat parkir dan rumah pengurus.
Selain sarana prasarana dalam bentuk perkantoran dan
ruangan, pada penelitain ini juga dihimpun informasi yang
berkaitan dengan sarana prasarana yang berupa peralatan
yang mendukung pelayanan teknis maupun pelayanan umum.
Peralatan yang tersedia pada keempat IPWL, yaitu peralatan:
komunikasi, penerangan, kebersihan, instalasi air bersih,
tansportasi, dan peralatan lain. Dari empat IPWL yang diteliti,
PSPP memiliki sarana prasarana yang lebih lengkap dan memadai
(jumlah dan kondisi) dibandingkan dengan ketiga lembaga yang
lain, baik mengenai perkantoran, ruang pelayanan teknis, ruang
pelayanan umum dan peralatan yang mendukung pelayanan
rehabilitasi sosial.
5.Kegiatan
Kegiatan rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan
napza yang dilaksanakan di empat IPWL yaitu: pelayanan
kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, konseling, bimbingan
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
93
sosial, bimbingan mental spiritual, bimbingan/pelatihan
vokasional dan kewirausahaan, bimbingan resosialisasi dan
bimbingan lanjut.
6.Pembiayaan
Komponen penting yang menjadi penentu berjalannya
program di IPWL, yakni ketersediaan biaya atau anggaran.
Sumber pembiyaan pada PSPP bersumber dari Kementerian
Sosial. Kemudian, pada ketiga IPWL yang lain bersumber
pembiayaan diperoleh dari orang tua/keluarga korban, usaha
lembaga, donatur dalam dan luar negeri, subsidi pemerintah
pusat maupun daerah.
D. PELAKSANAAN PROGRAM
Pada sub ini akan dideskripsikan kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakan oleh IPWL di Provinsi Sumatera Utara, yang berjumlah
empat unit, yaitu: SPPP Insyaf, Sibolangit Center, Minar Christ dan
Yayasan Nazar. Pada Panti Sosial Pamardi Putra “Insyaf” Sumatera
Utara, kegiatan yang dilakukan, yaitu:
1) Rehabilitasi sosial dalaam bentuk bimbingan fisik, mental, sosial
dan ketrampilan.
2) Penyuluhan dan konsultasi napza.
3) Voluntary counseling dan testing (VCT).
4) Perlindungan dan advokasi sosial.
5) Bantuan pengembangan usaha ekonomis produktif (BP-UEP).
6) Family support group (FSG).
7) Peer support group (PSG).
Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam suatu tahapan rehabilitasi
sosial, yaitu:
a. Pendekatan awal
Pendekatan awal merupakan bentuk kegiatan yang mengawali
keseluruhan proses rehabilitasi sosial melalui penyampaian
informasi program rehabilitasi sosial kepada masyarakat, instansi
94
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
terkait, organisasi sosial untuk mendapatkan data awal korban
penyalahgunaan narkotika sesuai dengan syarat yang ditentukan.
b.Asesmen
Tahap pengungkapan dan pemahaman masalah merupakan
serangkaian kegiatan untuk menelaah kasus yang dialami korban
serta potensi dan sumber yang dimiliki.
c. Penyusunan rencanan intervensi
Kegiatan dilakukan untuk merencanakan penanganan kasus
sesuai dengan hasil assesment.
d.Pemecahan masalah/intervensi yang dilaksanakan melalui
bimbingan fisik dan kesehatan, bimbingan mental spiritual,
bimbingan sosial, dan bimbingan ketrampilan dan praktek belajar
kerja. Pendekatan dalam rehabilitasi sosial, yaitu theraupetic
community.
e.Resosialisasi/Reintegrasi,
Tahap ini dilakukan untuk menyiapkan penerima manfaat,
keluarga dan lingkungan sosial dimana ia tinggal. Hal ini dilakukan
untuk menumbuhkan kemauan dan kemampuan keluarga/
lingkungan untuk menerima eks korban narkotika. Harapan dari
kegiatan ini agar penerima manfaat dapat berintegrasi ditengahtengah kehidupan keluarga/masyarakat setelah mendapatkan
rehabilitasi sosial.
f.Terminasi
Berakhirnya kegiatan pemberian pelayanan dan rehabilitasi sosial
kepada penyalahgunaan narkotika untuk kembali ke keluarga/
masyarakat.
g. Pembinaan lanjut.
Tahap untuk memelihara dan memantapkan kondisi kepulihan
eks penerima manfaat dari ketergantungan terhadap narkotika
setelah selesai menjalani pelayanan dan rehabilitasi sosial
dipanti.
h. Monitoring dan evaluasi
Dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan kondisi eks
penerima manfaat setelah selesai melaksanakan program
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
95
rehabilitasi sosial serta untuk mengetahui eks penerima manfaat
dapat melaksanakan fungsi sosialnya dalam masyarakat.
Sedangkan kegiatan yang dilaksanakan oleh IPWL masyarakat,
secara umum relatif sama, mereka mengkombinasikan antara
pendekatan therapeutic community dengan nilai-nilai keagamaan
dan cara-cara tradisional. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan
adalah:
1) Pemenuhan kebutuhan dasar: sandang, pangan, papan
2) Penanganan korban dengan pendekatan teurapetic community.
3)Konsultasi Pelayanan konsultasi tentang bahaya pemakaian
narkoba tanpa dipungut beaya.
4)Konseling
Pembinaan konseling dalam bentuk pribadi dan konseling
kelompok oleh staf ahli sesuai dengan bidang masing-masing.
5) Organisasi perkumpulan keluarga
Pembinaan tentang pemulihan penyalahgunaan narkoba kepada
keluarga klien serta pemahaman kecanduan
6) Pengetahuan permasalahan narkoba dan pembinaan pemulihan
Rehabilitasi memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat
untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang bahaya
narkoba serta metode pemulihan.
7) Keterampilan hidup
Ketrampilan baik mental maupun sosial serta vokasional, seperi
bengkel sepeda, bengkel motor, bengkel mobil, elektronika, las,
desain grafis/sablon, peternakan kambing etawa.
Metode pemulihan yang dilakukan, yaitu:
1) Terapi spiritual
Korban dibimbing mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha
Esa, sesuai dengan agama yang dianutnya, seperti, sholat, zikir,
dan pengajian bagi yang beragama Islam. Mengikuti kebaktian
setiap minggu bagi yang beragama Kristiani bagitu juga dengan
yang beragama lain. Kegiatan ini merupakan fondasi spiritual
96
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
yang diharapkan bisa membingkai kesadaran secara permanen.
Untuk menunjang kegiatan ini, di samping menyediakan ustad
dan atau pendeta.
2) Terapi tradisional
Jenis-jenis terapi tradisional, seperti oukup, pijat dan jamu.
Oukup untuk mengeluarkan racun narkoba melalui pori-pori
badan. Pijit untuk mengedurkan, melancarkan peredaran darah
dan menyehatkan tubuh. Kemudian, jamu untuk mencuci perut,
mengeluarkan racun, menetralisir syaraf dan menstabilkan fungsi
tubuh. Jamu berasal dari ramu-ramuan seperti, kunyit, kencur,
temulawak, dan lain-lain yang berasal dari tanaman alami yang
kemudian diramu khusus. Ada juga IPWL yang menggunakan
terapi tradisional dengan cara mandi air belerang ditambah garam
yang diguyurkan ke kepala korban. Tujuannya untuk melancarkan
aliran darah di kepala. Terapi ini dilakukan di pemandian alam
Lau Debuk-Debuk.
3) Terapi medis
Pengobatan dan perawatan medis dilakukan untuk penyakitpenyakit ikutan dari pengaruh penyalahgunaan narkoba. Secara
terjadwal, korban diperiksa dokter dan perawat. Untuk pengobatan
medis, IPWL melakukan kerjasama dengan Puskesmas dan
Rumah Sakit Mahoni Medan. Pemeriksaan kesehatan dilakukan
setiap dua kali seminggu.
4) Terapi fisik
Bentuk-bentuk terapi fisik ini, seperti olah raga, senam dan cross
country dan kegiatan lain yang bersifat rekreatif. Pada pagi hari
korban melakukan senam kesegaran jasmani, kemudian bersihbersih kamar dan area asrama. Sore hari kegiatan olah raga, sepak
bola, basket, tenis meja, bulu tangkis, futsal dan berenang. Malam
hari mereka bebas melakukan aktivitas masing-masing seperti
bermain musik dan nonton bareng. Hal ini maksudkan agar korban
tidak merasa jenuh dengan aktivitas rutinitas sehari-hari.
5) Terapi kelompok pemulihan
Terapi kelompok pemulihan, merupakan sebuah “keluarga” yang
terdiri dari orang-orang yang mempunyai masalah dan tujuan
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
97
yang sama, bersedia menolong diri sendiri dan sesama melalui
kelompok. Dari proses ini diharapkan terjadi perubahan tingkah
laku dari yang negatif kearah tingkah laku yang positif.
Terapi ini menggunakan kekuatan kelompok teman sebaya
untuk saling memberikan dorongan dalam melakukan perubahan
di dalam diri mereka. Terapi ini berguna untuk membantu korban
dalam memenuhi kebutuhan umum, perubahan perilaku dan
mengatasi masalah yang mengganggu kehidupan mereka menuju
pemulihan. Kelompok ini terbentuk secara sukarela untuk saling
berusaha mencapai tujuan khusus. Bentuk dukungan berupa
komunikasi antar pribadi dan komunikasi kelompok diantara mereka
dengan cara pengungkapan diri secara terbuka bahwa mereka
mempunyai masalah, diskusi, curhat, konseling dan kerjasama
dalam menyelesaikan tugas dan masalah. Dengan adanya dukungan
dari teman sebaya diharapkan korban mampu merubah sikap dari
yang negatif menjadi positif dan dapat menyelesaikan masalahnya
sehingga mereka berhasil pulih.
E. HASIL YANG DICAPAI
Responden dalam penelitian ini, yaitu korban penyalahgunaan
napza yang masih dalam proses rehabilitasi sosial di IPWL. Oleh
karena itu, evaluasi dalam penelitian ini mengukur dan menilai
perubahan-perubahan yang terjadi pada korban yang masih dalam
proses rehabilitasi sosial. Mengingat berbagai keterbatasan untuk
memperoleh data primer dari korban, maka untuk mengetahui
perubahan pada korban dihimpun informasi dari petugas teknis,
korban dan orang tua korban.
1. Menurut Tenaga Teknis
Untuk mengetahui hasil dari pelaksanaan rehabilitasi sosial
di IPWL, digali informasi dari tenaga teknis IPWL, yaitu: psikolog,
psikiater, pekerja sosial, kanselor adiksi, pembimbing rohani
dan instruktur. Aspek-aspek yang ditetapkan untuk mengukur
perubahan pada korban setelah memperoleh pelayanan
rehabilitasi sosial di IPWL, yaitu (1) sikap, (2) tidak mengalami
98
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
keluhan fisik dan putus obat, (3) perilaku sosial, (4) aktivitas
menjalankan ibadah/doa secara mandiri, (5) mentalitas/dorongan
untuk menjadi lebih baik/berguna dan (6) relasi sosial. Namun
demikian, tenaga-tenaga teknis tersebut tidak dapat menyajikan
data kuantitaf pada responden yang sudah mengalami perubahan.
2. Menurut Korban / Residen
Kapasitas pelayanan dan rehabilitasi sosial IPWL dapat
diketahui dari pendapat korban selama mereka memperoleh
pelayanan dan rehabilitasi sosial di IPWL, sebagaimana disajikan
pada tabel berikut:
Tabel 25. Persentase Kepuasan Korban terhadap Pelayanan IPWL (n=40)
No
Aspek yang Ditanyakan/
Diukur
Kepuasan Korban
Puas
Kurang
Tidak
Tdk tahu
1. Kepuasan terhadap kegiatan
yang dilaksanakan lembaga
92,50
7,50
0
0
2. Kepuasan terhadap petugas
administrasi
100,00
0
0
0
3. Kepuasan terhadap Pekerja
Sosial (Peksos).
87,50
0
2,50
10,00
4
92,50
0
7,50
0
5. Kepuasan terhadap
Konselor Adiksi
90,00
0
5,00
5,00
6
Kepuasan terhadap
pemenuhan permakanan
97,50
0
0
2,50
7
Kepuasan terhadap tempat
tinggal/lembaga
92,50
0
7,50
0
8
Kepuasan terhadap fasilitas
lembaga (keamanan,
kebersihan, air, MCK,
penerangan, dll.).
80,00
0
17,50
2,50
9
Kepuasan terhadap
peralatan/sarana pelayanan
90,00
0
10,00
0
Kepuasan terhadap
pelayanan medis/dokter
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
99
Berdasarkan data pada tabel tersebut, sebagian besar (di
atas 35 orang atau 87%) menyatakan puas dengan tenaga
administrasi, tenaga teknis, permakanan, tempat tinggal, fasilitas
lembaga dan peralatan yang dalam rehabilitasi sosial. Pernyataan
kurang puas pada kegiatan yang dilaksanakan IPWL (7,50%),
dan tidak puas dengan presentase cukup tinggi (17,50%) pada
fasitas lembaga (keamanan, kebersihan, air, MCK, penerangan.).
Kemduian, kepada korban juga ditanyakan perubahan yang
dirasakan setelah menerima pelayanan di IPWL. Dari 50 korban
di empat IPWL, yang memberikan informasi mengenai perubahan
pada dirinya yang dapat dirasakan sebanyak 40 orang. Pada
aspek fisik dan kesehatan terjadi perubahan, seperti: badan lebih
sehat, nafsu makan bagus, dan berat badan meningkat. Pada
aspek sosial, seperti: memiliki teman, mau memberi informasi,
aktif mengikuti kegiatan kelompok, dan menghargai pendatapat
teman. Kemudian, pada aspem mental spiritual, seperti: mentaati
aturan IPWL, memiliki semangat hidup lebih baik, membantu
teman untuk berubah, dan bersama teman mengisi waktu luang
dengan kegiatan yang bermanfaat.
3. Menurut Orang Tua/Keluarga Korban/ Residen
Selain kepuasan korban, untuk memperoleh informasi
kapasitas IPWL juga dihimpun informasi tentang kepuasan orang
tua korban terhadap pelayanan dan rehabilitasi sosial di IPWL,
sebagaimana disajikan pada tabel berikut:
100
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Tabel 26. Kepuasan Orang Tua/keluarga Korban terhadap Pelayanan IPWL
No
Aspek yang Ditanyakan/
Diukur
Kepuasan Korban
Puas
Kurang
Tidak
Tdk
tahu
1.
Kepuasan terhadap kegiatan
yang dilaksanakan lembaga
97,50
2,50
0
0
2.
Kepuasan terhadap petugas
administrasi
95.00
5,00
0
0
3.
Kepuasan terhadap Pekerja
Sosial (Peksos).
100,00
0
0
0
4
Kepuasan terhadap
pelayanan medis/dokter
95,00
5,00
0
0
5.
Kepuasan terhadap
Konselor Adiksi
100.00
0
0
0
6
Kepuasan terhadap
pemenuhan permakanan
97,50
2,50
0
0
7
Kepuasan terhadap tempat
tinggal/lembaga
100,00
0
0
0
8
Kepuasan terhadap
peralatan/sarana pelayanan
95,00
5,00
0
0
Sumber: Hasil Penelitian, 2015.
Pernyataan subyektif orang tua korban mengenai kepuasan
terhadap pelayanan dan rehabilitasi sosial IPWL cenderung
sama dengan pernyataan yang disampaikan korban. Sebagian
besar orang tua/keluarga menyatakan puas dengan pelayanan
dan rehabilitasi sosial yang dilaksanakan IPWL bagi anak/
keluarganya. Orang tua yang menyatakan kurang puas hanya
sedikit, dan bahkan yang tidak puas tidak ada.
F. FAKTOR - FAKTOR BERPENGARUH
Beberapa faktor yang berpengaruh di dalam pelaksanaan
IPWL adalah adanya berbagai dukungan baik yang berasal dari
lembaga, mulai dari program, kegiatan, sarana prasarana, fasilitas
yang tersedia, SDM maupun sarana penunjang lainnya. Peran serta
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
101
masyarakat juga ikut ambil bagian di dalam penyelenggaran kegiatan
IPWL, sehingga program dapat berjalan sesuai dengan harapan.
Sedangkan faktor penghambat pelaksanaan program IPWL,
yaitu kurangnya sosialisasi program IPWL sampai pada lapisan
masyarakat sehingga program tersebut kurang dikenal di lingkungan
masyarakat. Padahal tujuan dari IPWL adalah untuk memberikan
informasi kepada masyarakat bahwa IPWL sebagai tempat untuk
membantu pemulihan korban penyalahgunaan napza, sehingga
dengan informasi tersebut diharapkan dapat memberikan kesadaran
kepada individu, keluarga ataupun masyarakat untuk datang ke IPWL
dalam rangka penyembuhan. Kenyataan dilapangan justru yang
mengerti tentang IPWL adalah perwakilan dari lembaga-lembaga
yang diundang dan dilibatkan pada waktu pelaksanaan sosialisasi.
Dinas Sosial sebagai mitra kerja dalam penanganan PMKS tidak
dilibatkan dalam persoalan ini sehingga informasi yang di dapat dari
Dinas Sosial kurang memadai.
102
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
BAB VI
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A.KESIMPULAN
Berdasarkan uraian pada bab-bab terdahulu, maka dapat
dikesimpulan sebagai berikut:
1. Komponen Kegiatan
Komponen kegiatan pada IPWL, yang meliputi aspek
kelembagaan, sumber daya manusia, sarana prasarana dan dana
membuktikan bahwa IPWL sudah memiliki kapasitas sebagai
lembaga pelaksana rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan
napza. Meskipun demikian, untuk pekerja sosial masih diperlukan
penambahan jumlah, sehingga memehuhi rasio, dan mutunya
pun perlu ditingkatkan di bidang konseling dan pendampingan.
2. Pelaksanaan Kegiatan
IPWL dalam melaksanakan rehabilitasi sosial telah
mengembangkan metode, teknik, pendekatan dan tahapan
kegiatan yang bervariasi. Secara substantif kegiatan yang
dilaksanakan sudah sesuai dengan upaya pemulihan korban.
Pada pelaksanaan kegiatan, IPWL membangun kemitraan
dengan sistem sumber, seperti rumah sakit, perguruan tinggi,
lembaga profesi, instansi pemerintah terkait, tokoh masyarakat
dan orang tua/keluarga korban. Sehubungan denan itu, IPWL
sudah siap sebagai lembaga pelaksana rehabilitasi sosial korban
penyelahgunaan napza.
3. Hasil yang Dicapai
Korban yang mendapatkan pelayanan IPWL mengalami
perubahan pada kondisi fisik, sikap mental dan perilaku
sosialnya berkisar 70 persen. Hal ini membuktikan, bahwa
IPWL berhasil dalam melaksanakan rehabilitasi sosial korban
penyelahgunaan napza.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
103
4. Faktor-faktor Berpengaruh
Faktor yang mendukung pelaksanaan dan hasil yang dicapai
oleh IPWL dalam melaksanakan rehabilitasi sosial, yaitu (a)
bantuan dari Kementerian Sosial (pembinaan kelembagaan,
SDM, dana), (b) dukungan dari instanssi sosial provinsi dan
kabupaten kota, (c) dukungan dan bantuan dari BNN (penguatan
kelembagaan, sarana, SDM, dana), (d) kemitraan dengan
rumah sakit, perguruan tinggi, lembaga profesi, (e) dukungan
masyarakat, (f) dukungan keluarga.
Kemudian faktor yang kurang mendukung, yaitu (a) belum
tersedia pedoman tentang IPWL, (b) terbatasnya sosialisasi, (c)
belum terbangun harmonisasi antara BNN dengan Kementerian
Sosial terkait pembinaan IPWL, dan (d) belum dilibatkannya
pekerja sosial profesional terkait putusan pengadilan (lamanya
korban menjalani rehabilitasi sosial).
B.REKOMENDASI
1.Regulasi
a. Diperlukan pedoman pelaksanaan IPWL yang disusun oleh
Kementerian Sosial sebagai acuan bagi IPWL di daerah
dalam melaksanakan rehabilitasi sosial.
Di dalam pedoman tersebut diatur dengan jelas terkait
dengan bidang kelembagaan dan rehabilitasi sosial (ada dua
pedoman yang terpisah). Pedoman juga mengatur tugas dan
kewenangan Kementerian Sosial, instansi sosial provinsi,
instansi sosial kabupaten/kota dan IPWL.
b. Pedoman tersebut menjadi buku pegangan utama seluruh
instansi sosial, IPWL, dan pihak-pihak terkait, sehingga
terbangun kesamaan persepsi dalam penyelenggaraan IPWL
dan rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan napza.
2. Sumber Daya Manusia
a. Pada pelaksanaan rehabilitasi sosial, IPWL sudah memiliki
tenaga teknis pekerja sosial dan kanselor adiksi. Namun
104
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
demikian, jumlah dan mutunya masih perlu ditingkatkan.
Untuk peningkatan jumlah pekerja sosial, disarankan
Kementerian Sosial menempatkan sakti peksos (sarjana
pekerjaan sosial bidang klinis/ adiksi) dengan status tenaga
kontrak. Sebelum ditempatkan di IPWL sakti peksos tersebut
diberikan pelatihan di bidang adiksi.
b. Sakti peksos di IPWL akan melaksanakan tugas dan peranan
sebagai tenaga konseling (konselor), dan pendampingan.
Sehubungan dengan itu, menempatkan kanselor adiksi
(mantan pecandu) tidak diperlukan lagi atau tidak menjadi
unsur tenaga teknis di IPWL. Tenaga teknis dimaksud diisi
oleh tenaga-tenaga profesional.
c. Selain tenaga teknis kanselor adiksi, tenaga teknis lain yang
tidak perlu menjadi unsur di dalam SDM IPWL, yaitu tenaga
kesejahteraan sosial atau relawan sosial. Pekerjaan yang
dilakukan TKS atau relawan ini dapat dikerjakan oleh tenaga
penunjang atau tenaga administrasi.
3. Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial
a. IPWL yang dikelola masyarakat mengembangkan pendekatan
yang berbeda-beda meskipun secara substansi kegiatan
pelayanannya menyangkut aspek biologis/fisiologis, mental
spiritual dan sosial. Kementerian Sosial secara periodik
melakukan supervisi dan monitoring untuk mengetahui
implementasi pelaksanaan rehabilitasi sosial IPWL,
sehingga memastikan bahwa korban penyalahgunaan napza
mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan
melindungi hak-hak mereka.
b.Kementerian Sosial menginisiasi untuk membangun
kesamaan pemahaman antara kepolisian, kejaksanaan,
pengadilan dan pekerja sosial profesional, terkait dengan
putusan yang dijatuhkan kepada korban menyangkut waktu
yang diperlukan untuk rehabilitasi sosial. Putusan hakim
terkait waktu yang diperlukan korban untuk menjalani
rehabilitasi sosial, perlu memperhatikan saksi ahli dari
pekerja sosial profesional.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
105
4.Lain-lain
a. Perlu dilakukan sosialisasi secara intensif dan berjenjang
dengan sasaran instansi sosial provinsi, kabupaten/kota,
instansi terkait, lembaga non pemerintah, IPWL dan
masyarakat tentang eksistensi IWPL dalam penanganan
korban penyalahgunaan napza.
b. Kementerian Sosial perlu mendorong IPWL untuk membangun
jejaring kerja antar IPWL (asosiasi), dengan sistem sumber
(kemitraan), dalam rangka optimalisasi penyelenggaraan
kegiatannya.
c.Kementerian Sosial memberikan kewenangan kepada
IPWL untuk mengeluarkan kartu identitas bagi korban,
sehingga ketika mereka berada di luar IPWL mendapatkan
perlindungan.
d.Kementerian Sosial mengembangkan program untuk
memperkuat
kapasitas
IPWL
dalam
penanganan
penyalahgunaan napza. IPWL ke depan tidak hanya
melaksanakan rehabilitasi sosial, tetapi juga melaksanakan
kegiatan pencegahan terjadinya penyalahgunaan napza.
Kemudian, IPWL juga didorong untuk mengembangkan
sistem rehabilitasi berbasis masyarakat.
106
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
DAFTAR PUSTAKA
Badan Narkotika Nasional, (2014), “Jurnal Data Pencegahan dan
Pemberatasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba,
Tahun 2013”, Jakarta: Badan Narkotika Nasional.
Gunawan, Sugiyanto, dan Roebiyanto, Haryati, (2014), Eksistensi
Rehabilitasi Sosial Berbasis Masyarakat bagi Korban
Penyalahgunaan Napza, Jakarta: P3KS press.
Kartono, Kartini, (2007), Patologi Sosial, Jakarta: CV Rajawali.
Kementerian Sosial (Kemensos) RI, (2014), Standar Lembaga Rehabilitasi
Sosial Korban Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat
Adiktif Lainnya, Jakarta: Direktorat Rehabilitasi Sosial Korban
Penyalahgunaan NAPZA.
-----------, (2014), Standar Rehabilitasi Sosial bagi Korban
Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif
Lainnya, Jakarta: Direktorat Rehabilitasi Sosial Korban
Penyalahgunaan NAPZA.
Lisa, FR Juliana dan Sutrisna W Nengah, (2013), Narkoba, Psikotropika
dan Gangguan Jiwa: Tinjuan Kesehatan dan Hukum, Yogyakarta:
Nuha Medika.
Martono, Lydia Marlina dan Joewana, Satya, (2005), Membantu
Pemulihan Pecandu Narkoba dan Keluarganya, Jakarta: Balai
Pustaka.
Mutiara, (2015), “Pengembangan Kapasitas Organisasi”, http://mutiarafisip11.web.unair,ac.id/artikel_detail-75610-Pengembangan%
2 0 K e l e m b a g a a n - Pe n g e m b a n g a n % 2 0 k a p a s i t a s % 2 0
Organisasi%20 (Capacity%20Building). html, diakses tanggal
28 Februari 2015.
Rozi, (2007) dalam Suradi ed (2012), Intervensi Indiviual, Bimbingan
Psikosial 1: Kebahagiaan, Stress dan Potensi Diri, Yogyakarta:
Citra Media
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
107
Suradi, (2012), NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif),
Penyalahgunaan dan Penanganannya, Jakarta: P3KS Press.
Suradi, (2012), Intervensi Indiviual, Bimbingan Psikosial 1: Kebahagiaan,
Stress dan Potensi Diri, Yogyakarta: Citra Media.
Sumber website:
Abdalla, Romeal, (2009), “Napza Berdampak Negatif dan Ganggu
Syaraf”, Jakarta, http:?/www.waspada.co.id, tuesdya, 16 Juni
2009.
BNK Surabaya: Pengguna Narkoba di Surabaya Trennya Pelajar, http://
www.rri.co.id/surabaya/post/berita/87161/sosial/bnk surabaya
pengguna narkoba di surabaya trennya pelajar. html, diakses 7
Nopember 2015.
BNN Surabaya Targetkan Rehabilitasi 100 Ribu Pecandu, http://www.
suarasurabaya.net/print_news/Kelana%20Kota/2015/149699
BNN Surabaya Targetkan Rehabilitasi 100 Ribu Pecandu,
diakses 7 Nopember 2015.
BNN: 10 Persen Lebih Pelajar SMP dan SMA di Surabaya Pengguna
Narkoba,http://news.detik.com/jawatimur/2618226/bnn
10 persen lebih pelajar smp dan sma di surabaya pengguna
narkoba, diakses 7 Nopember 2015.
http://news.liputan6.com/read/2224515/bnn pecandu narkoba di jawa
timur didominasi perempuan, diakses tgl 7 November 2015.
http://m.tribunnews.com/regional/2015/03/17/jawa
timur
provinsi
terbanyak pengguna narkoba di indonesia, diakses tgl 7
Nopember 2015.
Malangtimes.com, 2015, “Kasus Narkotika di Kabupaten Malang
Peringkat Ketiga di Jawa Timur”, http://www.malangtimes.com/
baca/2948/20150812/124446/kasus narkotika di kabupaten
malang peringkat ketiga di jawa timur/diakses tgl 7 November
2015.
108
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
Malang-post, 2015, “Bentengi Pelajar dari Penyalahgunaan Napza”,
http://www.malang-post.com/pendidikan/109099-bentengi
pelajar dari penyalahgunaan narkoba/diakses tgl 7 Nopember
2015.
Pengguna Narkoba di Jawa Timur 30202 orang”, http://halopolisi.com/
2014/08/18/pengguna narkoba di jawa timur 3.202 orang/
diakses tgl 7 Nopember 2015.
Peredaran Narkoba Meningkat 20 Persen, http://www.malang-post.com/
malang-raya/107372-peredaran narkoba meningkat 20 persen,
diakses 7 Nopember 2015.
Pengguna Narkoba Terus Bertambah, (2011), http://www.malangraya.
info/2011/08/10/134442/2557/pengguna
narkoba
terus
bertambah/diakses 2015.
Koran Sindo, “Pelajar Pengguna Narkoba Meningkat” Kamis, 25 Desember
2014, source: http://daerah.sindonews.com/read/942082/151/
pelajar pengguna narkoba meningkat-1419488999/diakses tgl
10 Novemver 2015.
100 hari Kinerja Kapolri, Kapolres Deli Serdang Gulung 74 pengguna
narkoba,“or talkriminal.com/index.php/home/kriminaldaerah/27657-100 hari kinerja kapolri polres deli serdang
gulung 74 pengguna narkoba, diakses tgl 11 November 2015.
Waspada, 2014, “Darurat Narkoba Sumatera Utara (1)”, http://www.
mandailingonline.com/darurat-narkoba-sumatera-utarabagian-1/diakses 11 November 2015.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
109
BIODATA PENELITI
Drs. Suradi, M.Si. PU, penelitian bidang kebijakan sosial pada
Puslitbangkesos. Karya tulis yang sudah diterbitkan secara
individu maupun kelompok, antara lain: Penyelenggaraan
Kesejahteraan Sosial di Kabupaten Tertinggal (2014),
Kebijakan Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (2013),
Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan: Studi Evaluasi
Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni bagi Keluarga
Miskin di Perkotaan (2012, Penanganan Anak Jalanan,
dan (2011), Pemberdayaan Keluarga: Studi Evaluasi AKSK
(2010). Selain dalam bentuk buku, karya tulis ilmiah
diterbitkan pada Jurnal Sosio Konsepsia dan Sosio Informa
yang diterbitkan Puslitbangkesos. Jabatan pada saat ini Ketua
Dewan Redaksi Jurnal Sosio Konsepsia, dan Wakil Ketua Tim
Penilai Instansi. Tim teknis pada Direktorat Pemberdayaan
Komunitas Adat Terpencil dan Direktorat Penanggulangan
Kemiskinan Perkotaan Kementerian Sosial RI.
Drs. Setyo Sumarno, M.Si, PU, lahir di Solo, 8 Juni 1957. Menamatkan
program Sarjana PekerjaanSosialdari Sekolah Tinggi
Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung (1983) dan Magister
Kesejahteraan Sosial dari STISIP Widuri (2010). Pada
tahun 1984 bekerja bekerja di Yayasan Usaha Mulia,tahun
1985 hingga sekarang bekerja di Kementerian Sosial RI.
110
Jabatan Fungsional, (1) Staf Balitbang Kesos tahun 1985,
(2) Asisten Peneliti Muda, Balitbang Kesos tahun 1988,
(3) Asisten Peneliti Madya, Balitbang Kesos tahun 1992,
(4) Ajun Peneliti Muda, Balitbang Kesos tahun 1996, (5)
Ajun Peneliti Madya, Balitbang Kesos tahun 2000, (6)
Peneliti Muda, Balatbang tahun 2002, (7) Peneliti Madya
(IV/a), pada Puslitbang Kesos, Badiklit Kesos tahun 2003,
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
(8) Peneliti Madya (IV/b), pada Puslitbang Kesos, Badiklit
Kesos tahun 2008, dan (9) Peneliti Madya (IV/c), pada
Puslitbang Kesos, Badiklit Kesos tahun 2011. Jabatan
Struktural, (1) Kepala Sub Bidang Tisdok, Balitbang Kesos
tahun 1966 (Jab.rangkap), (2) Kepala Seksi Standarisasi
dan Bimb.Teknis, pada Direktorat Fakir Miskin tahun 2007.
Pengalaman Penelitian: Penelitian Anak jalanan, Lanjut
Usia, Kenakalan Remaja, Masyarakat Terasing, Paca,
Napza, Karang Taruna, Eks Kusta, Masalah Tenaga Kerja di
Sektor Industri, Akreditasi Panti, Penanganan Anak Terlantar
Berbasis Kekerabatan,Penanganan Lanjut Usia Berbasis
Kekerabatan, Implementasi Program Pemberdayaan Fakir
Miskin (studi evaluasi di delapan daerah Indonesia),
Penelitian uji coba model pemberdayaan fakir miskin di
kawasan pinggiran hutan,Penelitian Wanita Rawan Sosial
Ekonomi, Penelitian Penyandang Cacat Berat, Penelitian
tentang Penyerapan Tenaga Kerja Penyandang Cacat
dalam Pasar Kerja, Penelitian tentang Multilayanan,
Pemberdayaan Masyarakat Miskin melalui Lembaga
Kesejahteraan Sosial, Rehabilitasi Sosial Wanita Tuna
Susila, Pengembangan Lembaga Kesejahteraan Sosial
untuk Mengatasi Kemiskinan, Evaluasi Program Bedah
Kampung, Program Keserasian Sosial dalam Penanganan
Konflik Sosial, penelitian Kabuter, Penelitian disabiltas, dan
terakhir penelitian tentang kapasitas IPWL dan penanganan
Penyalahgunaan Napza. Pengalaman lainnya adalah kerja
sama dengan Safe the Children UK, Sustainable Integrated
Rural Development (SIRD) ASEAN New Zealand dan
beberapa lembaga lain dalam berbagai kegiatan penelitian
dan pengembangan sosial. Saat ini masih aktif di Tim
Redaksi Majalah Sosiokonsepsia Puslitbang Kesos, Tim
Penilai Peneliti Instansi (TP2I) Kementerian Sosial RI dan
sebagai Direktur Pelaksana P3KS Press.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
111
Dra. Haryati Roebyantho, lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 7 April
1956, Pendidkan S1 Sosiatri UGM 1984, Pangkat/
Golongan: Pembina (IV.a), Peneliti Madya. Pengalaman
Penelitian, (1) Penelitian Permasalahan Kesejahteraan
Sosial Paska Penutupan Lokalisasi WTS di Kabupaten
Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2003, (2)
Penelitian Penyandang Cacat di Indonesia (studi kasus:
Penyediaan Aksesibilitas Fisik di lima Kota besar Indonesia)
Tahun 2003, (3) Kajian tentang Sistem Kesiapsiagaan
Menghadapi Bencana Sosial/Konflik di Medan Tahun
2004, (4) Penelitian Penanganan Anak di Lokalisasi
WTS di Kabupaten Pontianak Tahun 2004, (5) Penelitian
tentang Peranan Pranata Sosial Dalam Pengelolaan Konflik
di Medan Tahun 2004, (6) Penelitian Penyandang Cacat
di Indonesia, studi Penyediaan Aksesibilitas Non Fisik
(pelayanan informasi dan pelayanan khusus) di Sulawesi
Selatan, Tahun 2004, (7) Penelitian Implementasi
Kebijakan Peraturan Pemerintah Tentang Penyediaan
Aksesibilitas Non Fisik Bagi Penyandang Cacat di Provinsi
Bengkulu Tahun 2005, (8) Penelitian tentang Konflik dan
Penanganan Kemiskinan di Kalimantan Barat Tahun 2005,
dan (9) Penelitian Faktor Penghambat Perkembangan
Potensi Sosial Masyarakat Di Daerah Miskin di Kabupaten
Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat tahun 2006.
Sugiyanto, S.Pd, M.Si, lahir di Tawangharjo 8 Januari 1961. Magister Sains
Program Studi Ilmu Administrasi Konsentrasi Administrasi dan
Kebijakan Publik, Kekhususan Pengembangan Masyarakat
(S2), diperoleh dari Universitas Muhammadiyah Jakarta
(2005) dan S1(Sarjana Pendidikan Moral Pancasila dan
Kewargaan Negara) diperoleh dari Sekolah Tinggi Pendidikan
Ilmu Pengetahuan Sosial (STPIPS) YAPSI Jayapura (1994).
Jabatan peneliti: Peneliti Madya Bidang Kesejahteraan Sosial
112
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan
Sosial, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan
Sosial, Kementerian Sosial RI. Aktif mengikuti kegiatan
penelitian bidang kesejahteraan sosial, dan berbagai
seminar permasalahan sosial di Indonesia. Beberapa
hasil penelitiannya telah diterbitkan, baik secara mandiri
maupun kelompok, dan tulisanya pernah diterbitkan di
JURNAL maupun INFORMASI.
Dra. Nunung Unayah, lahir di Bandung 16 Mei 1957, S1 FISIP UMJ
1987, Pangkat/Golongan Pembina (IV.a), Jabatan Peneliti
Madya. Pengalaman penelitian (1) Ujicoba di Pemukiman
Yang Berbaur Dengan Tempat Tindak Tuna Susila, (2)
Penelitian ujicoba model pemberdayaan remaja melalui
Karang Taruna, (3) Model Pemberdayaan Keluarga Dalam
Mencegah Tindak Tuna Sosial Remaja Di Perkotaan, (4)
Pembinaan Kesejahteraan Sosial Anak Jalanan Melalui
Rumah Singgah, (5) Studi Kebutuhan dan Tingkat
Kepuasan Anak Sebagai Penerima Pelayanan Sosial, (6)
Studi Penanganan Anak Berkonflik Hukum, (6) Penanganan
Program Pendampingan Sosial Bagi Calon Pekerja Migran
(TKI Dan Keluarganyadi Daerah Asal), (7) Pengaruh Subsidi
Panti Terhadap Kelangsungan Penyelenggaraan Pelayanan
Sosial dalam Panti, dan (8) Pola Penanganan Anak Di
Lokasi Tindak Tuna Susila.
Kapasitas Institusi Wajib Lapor dalam Penanganan Korban
Penyalahgunaan Napza
113
Download