penerapan qanun aceh nomor 6 tahun 2014 tentang hukum jinayah

advertisement
PENERAPAN QANUN ACEH NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG
HUKUM JINAYAH
Analisis Kajian Sosiologi Hukum
Oleh: Muhammad Ridwansyah
Mahasiswa Program Magister Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada
Jl. Sosio Justisia. Bulaksumur, Yogyakarta, 55281
Email: [email protected]
Abstrack
The rule contained in Article 125 (2) of Law No. 11 Year 2006 concerning
Aceh Government declared that Islamic law as referred to in paragraph (1) shall
include worship, ahwal al- syakhshiyah (family law), financial transactions (civil
law), jinayah (criminal law), making up '(justice), tarbiyah (education),
preaching, teachings, and the defense of Islam. Article 125 provides an
opportunity for the Government of Aceh itself to apply its own rules. In this case
the phrase is a reference to the birth of criminal Aceh Qanun No. 6 of 2014 on the
Law Jinayah. The provisions of Article 23 paragraph (1) which provides for the
Seclusion true seclusion jarimah regulates sanctions for those who do. This
article threatens punishment for 10 times or at most 100 grams of pure gold or
imprisonment of 10 months, but the norm article provides for a study of the
sociology of law and social Acehnese in everyday applications.
Keywords: Criminal and Sociology of Law
Abstrak
Norma yang terdapat pada Pasal 125 ayat (2) UU No. 11 Tahun 2006
tentang Pemerintah Aceh menyatakan bahwa Syari’at Islam sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi ibadah, ahwal al- syakhshiyah (hukum
keluarga), muamalah (hukum perdata), jinayah (hukum pidana), qadha’
(peradilan), tarbiyah (pendidikan), dakwah, syiar, dan pembelaan Islam. Pasal
1
125 ini memberikan peluang bagi Pemerintah Aceh untuk menerapkan
peraturannya sendiri. Dalam hal ini frasa pidana menjadi acuan untuk
melahirkan Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah. Ketentuan
Pasal 23 ayat (1) yang mengatur tentang Khalwat sejatinya mengatur tentang
sanksi jarimah khalwat bagi yang melakukannya. Pasal ini mengancam hukuman
cambuk sebanyak 10 kali atau paling banyak 100 gram emas murni atau penjara
paling lama 10 bulan namun pada norma pasal memberikankan kajian terhadap
sosiologi hukum dengan sosial masyarakat Aceh sendiri dalam penerapannya
sehari-hari.
Kata Kunci: Jinayah, Sosiologi Hukum.
A. PENDAHULUAN
Dinamika Aceh sebagai daerah modal cukup beragam karena dari
perspektif yuridis ketatanegaraan Aceh memiliki desain yang berbeda, mulai dari
sebutan provinsi Aceh, Keistimewaan provinsi istimewa Aceh, otonomi khusus
bagi provinsi daerah istimewa Aceh sebagai provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,
dan terakhir disebut sebagai Pemerintah Aceh. (Ni’matul Huda, 2014: 223).
Jika dilihat dari aspek sejarah dalam konteks ke-Indonesiaan ternyata
sangat dinamis, banyak diwarnai oleh kekerasaan, dan pastinya melelahkan baik
secara moril maupun materiil. Sejak pemberontakan Daud Beureuh 1953 hingga
Hasan Tiro 1976, di sisi rakyat Aceh, tidak sedikit korban nyawa terbilang, tidak
kurang harta melayang. Di sisi lain Pemerintah Indonesia, tidak kurang upaya
yang dijalankan untuk menyelesaikan konflik itu, mulai dari era Soekarno,
Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono,
serangkaian kebijakan yang diberikan pusat kepada Pemerintah Aceh seperti
memberikan status keistimewaan dalam bidang ekonomi, sosial budaya, dan
pemberlakuan syariat Islam, namun tidak kunjung mampu untuk menyelesaikan
persoalan di Aceh.
Upaya pemerintah pusat berbagai macam mulai dari tindakan pendekatan
militer di era Soeharto, era Habibie pendekatan kesejahteraan dengan mencabut
2
status Daerah Operasi Militer (selanjutnya disingkat DOM), memberikan amnesty
kepada anggota Gerakan Aceh Merdeka dan bantuan kesejahteraan bagi janda dan
anak
yatim.
Di
era
Gus
Dur
pernah
melakukan
pendekatan
dialog
(www.eastwestcenter.org: 2015) mulai melakukan upaya dalam resolusi konflik
kedua belah sepakat GAM dan RI untuk menghentikan kekerasan. Pada masa
Megawati menjadi presiden, tindakan kekerasan masih terjadi, kepemerintahan ini
mulai melakukan upaya mediasi (www.hdcentre.org: 2015) namun upaya itu
gagal seiring berjalanya waktu karena kurang rasa kepercayaan antara sesama
pihak. Baru pada pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf
Kalla, konflik Aceh dapat diselesaikan secara damai dengan ditanda tanganinya
Memorandum of Understanding (MoU) di Helsninky, Finlandia, pada 15 Agustus
2005. Dengan kesepakatan MoU tersebut pemerintah Indonesia dengan Gerakan
Aceh Merdekan (selanjutnya disingkat GAM) telah mengukir sejarah dan Aceh
menjadi damai. (Darmansyah Djumala, 2013: 1).
Setelah adanya perdamaian antara para pihak GAM dengan pemerintah
Indonesia, DPR dan Presiden telah menyepakati dibentuknya undang-undang
Pemerintah Aceh yang akan menggantikan Undang-Undang Nomor 44 Tahun
1999 tentang Penyelenggaraan Kesitimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh, jo
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi
Daerah Istimewa Aceh tentang Nanggroe Aceh Darussalam, maka lahirlah
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh yang
mengakomodir jalannya kepemerintahan. Dalam hal ini penulis ingin membahas
Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah, berdasarkan amanah
Pasal 125 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh,
hukum Jinayat (hukum Pidana) merupakan bagian dari Syari’at Islam yang
dilaksanakan di Aceh.
Qanun hukum Jinayah tersebut penulis ingin analisis dengan sosiologi
hukum karena ada pasal yang ingin penulis kaji lewat struktur sosial sebagai basis
sosial dari hukum itu sendiri. Contohnya Pasal 23 ayat (1) yang mengatur tentang
khalwat (pacaran) sanksi yang digunakan cambuk sebanyak 10 (sepuluh) kali atau
3
denda paling banyak 100 gram emas murni atau penjara paling lama 10 (sepuluh)
bulan. Bahkan dalam qanun tersebut norma Pasal 24 yang menangani perkara
tersebut adalah peradilan adat diselesaikan menurut ketentuan dalam Qanun Aceh
tentang pembinaan kehidupan adat dan adat istiadat dan/atau peraturan
perundang-perundangan lainnya mengenai adat istiadat. Namun sampai sekarang
peradilan adat tersebut belum terlaksana jadi perkara khalwat banyak disalah
gunakan atau dimanfaatkan oleh pihak masyarakat dan aparatur yang berwenang
(www.serambinews.com: 2015). Jika dilihat dari teori dan metode dalam sosiologi
hukum maka qanun aceh tersebut akan bisa dikatakan apakah yang dicita-cita
masyarakat Aceh sehingga qanun yang telah dibuat akan bermanfaat bagi rakyat
Aceh (Satjipto Rahardjo, 2010: 1). Karena teori disini adalah merupakan kerangka
intelektual yang diciptakan untuk bisa menangkap dan menjelaskan objek yang
dipelajari secara seksama.
Terkait dengan ilmu sosiologi merupakan suatu peristiwa hubungan sosial
manusia dapat dipahami dalam sebuah bingkai cerita interaksi manusia dengan
berbagai motifnya. Perilaku tersebut ibarat kenyataan empiris yang tidak bisa
dinafikan entah itu berkaitan dengan hal yang seharusnya dilakukan ataupun tidak
seharusnya dilakukan. Sosiologi tidak memberi justifikasi apakah perilaku
tersebut salah atau benar. Peristiwa-peristiwa empirik masyarakat tanpa adanya
sebuah pendekatan ibarat bingkai cerita tanpa pola. Adanya teori adalah berfungsi
untuk menjelaskan rangkaian cerita menjadi sebuah pola yang sistematis sehingga
menangkap dan menjelaskan objek secara seksama. Bahkan sosiologi hukum
mempelajari dan menyelidiki yang ada sangkut pautnya antara hukum dengan
gejala-gejala masyarakat. Oleh karena itu sosiologi hukum berusaha menyelidiki
secara timbal balik pengaruh hukum terhadap masyarakat dan pengaruh
masyarakat terhadap hukum atau dengan kata lain, menyelidiki gejala-gejala
masyarakat yang saling mempengaruhi secara timbal balik. (Said Sampara, 2009:
24).
Jadi, dengan kontruksi pemikiran diatas dapat memandang sesuatu yang
tampak tidak mempunyai hubungan satu sama lain menjadi suatu yang saling
4
berhubungan dan bermakna dan sosiologi hukum mampu melihat, menerima, dan
memahami hukum sebagai bagian dari kehidupan manusia bermasyarakat. Maka
dari hal itu pemembahasan yang ingin dikaji tentang “Qanun Aceh Nomor 6
Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah dianalisis melalui Kajian Sosiologi Hukum”.
Untuk memfokuskan tulisan ini agar lebih kompleks maka yang akan dikaji
tentang penerapan Pasal 23 dan Pasal 24 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014
tentang Hukum Jinayah terhadap sanksi bagi pelaku khalwat terkait sosiologi
hukum.
B. PEMBAHASAN
1. Teori dan Metode Sosiologi Hukum
Pembahasan tentang teori dan metodologi sosiologi hukum berkaitan
antara hukum dengan struktur sosial dimana hukum itu berlaku bahwa dalam
mempelajari hukum dan masyarakat penempatan hukum tidak sebagai
seperangkat aturan yang logis dan konsisten saja melainkan kita menempatkan itu
dalam konteks. Perspektif yang digunakan adalah konsep hukum yang normatif
kekonsep hukum dalam perspektif sosiologis, in contex. (Sutekti, 2013: 1-2).
Terkait dengan pengertian sosiologi menurut Pitirim Sorokin mengatakan bahwa
sosiologi adalah hubungan timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial
(misalnya: antara gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum
dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik dan lain sebagainya. (Pitirim
Sorokin, 1992: 760-762). Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala
sosial dengan gejala-gejala non sosial misalnya geografis, biologis dan
sebagainya. Roucek dan Warren mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu
yang mempelajari hubungan antara manusia dengan kelompok-kelompok.
(Roucek dan Waren, 1962: 3).
Defenisi hukum banyak sekali literatur yang mengemukakan apa itu
hukum, dalam hal pengertian hukum penulis akan memberikan pendapat para ahli
antara lain. E. Utrech memberikan pengertian hukum adalah himpunan petunjuk
hidup (perintah-perintah dan larangan-larangan) yang mengatur tata tertib dalam
suatu masyarakat, dan seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat yang
5
bersangkutan,
oleh
karena
pelanggaran
petunjuk
hidup
tersebut
dapat
menimbulkan tindakan dari pihak pemerintah. Sedangkan menurut Mochtar
Kusumaatmadja mengataka hukum itu merupakan keseluruhan kaedah-kaedah
serta asas-asas yang mengatur pergaulan hidup manusia dalam masyarakat yang
bertujuan memelihara ketertiban yang meliputi lembaga-lembaga dan proses
proses guna mewujudkan berlakunya kaedah itu sebagai kenyataan dalam
masyarakat. (Mohammad Najih dan Soihimin, 2012: 9).
Beranjak ke Sosiologi hukum berbeda dengan ilmu hukum dogmatis, jika
sosiologi hukum hanya melihat, menerima, memahami hukum sebagai bagian dari
kehidupan manusia bermasyarakat maka dogmatis hanya melihat bangunan
peraturan perundang-undangan yang ada, lembaga yang tersusun secara logissistematis. Sosiologi hukum untuk jelasnya adalah sosiologi dari atau tentang
hukum. Oleh karena itu apabila berbicara tentang perilaku sosial, maka ini
berhubungan dengan hukum yang berlaku. Dengan kata lain, sosiologi hukum
memperhatikan verifikasi empiris dan validitas empiris dari hukum yang berlaku.
Dengan demikian teori-teori dalam sosiologi hukum juga bergerak pada jalur
tersebut. Agar dapat melihat seluruh masalah dengan baik, pembicaraan kita akan
mengikuti bagian sesuai dengan tingkat kejadiannya yaitu pada tingkat makro,
meso, dan mikro. (Satjipto Rahardjo, 2010: 2). Jika dilihat era sekarang hukum
dalam era pembangunan seperti sekarang ini telah mendorong agar mampu
menampakan sosoknya sebagai sarana pembaharuan masyarakat, dan juga sebagai
proses perubahan dan pengembangan masyarakat. Untuk itu hukum atau qanun
yang dibuat menentukan pola dan arah pembaharuan masyarakat dan mampu
menuntun kegiatan dan penyelenggaraan agar tujuan membangun masyarakat
sejahtera. (Esmi Warassih, 2014: 127).
Awal mulanya Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah,
dasar yuridisnya peraturan tersebut merupakan amanah dari Undang-Undang
Pemerintah Aceh Pasal 125, jadi Pemerintah Aceh hanya melaksanakannya.
(www.hukumonline.com, 2015) Adanya kekhawatiran terhadap masyarakat Aceh
yang sudah melenceng dari norma agama sehingga perlu dibuat sebuah peraturan
6
agar masyarakat aman dan tentram dalam menjalankan kehidupannya. Jika
tertangkap petugas dan terbukti melanggar ‘batas’, muda-mudi yang bukan
muhrim bisa terancam hukuman. Sudah menjadi hukum yang berlaku khusus di
Aceh, larangan bagi pasangan yang bukan muhrim berdua-duaan di tempat gelap
atas
kerelaan
kedua
belah
pihak.
Perbuatan
ini
disebut khalwat.
(www.hukumonline.com, 2016)
Secara konsep hukum materiil khalwat merupakan perbuatan bersunyisunyi antara dua orang mukallaf atau lebih yang berlainan jenis yang bukan
muhrim atau tanpa ikatan perkawinan. Tujuannya adalah untuk menegakkan
syariat Islam dan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat di Aceh.
Melindungi masyarakat dari berbagai bentuk kegiatan dan/atau perbuatan yang
merusak kehormatan. Mencegah anggota masyarakat sedini mungkin dari
melakukan perbuatan yang mengarah kepada zina. Meningkatkan peran serta
masyarakat
dalam
mencegah
dan
memberantas
terjadinya
perbuatan
khalwat/mesum; menutup peluang terjadinya kerusakan moral (Qanun Aceh
Khalwa, 2003).
Qanun seharusnya menajdi rekayasa sosial maka yang perlu untuk
dijelaskan adalah fungsi hukum dalam perspektif social engenering atau
penggunaan hukum sebagai sarana untuk mengubah masyarakat. Salah satu fungsi
hukum adalah sebagai alat untuk mengubah masyarakat dalam arti bahwa hukum
sangat mungkin digunakan sebagai alat pelopor perubahan (agent of change).
Pelopor perubahan adalah seseorang atau kelompok orang yang mendapat
kepercayaan dari masyarakat untuk memimpin satu atau lebih lembaga-lembaga
kemasyarakat. Pelopor perubahan memimpin masyarakat dalam mengubah sistem
sosial dan dalam menjalankan hal itu langsung tersangkut dengan tekanan-tekanan
untuk melakukan perubahan. Setiap perubahan sosial yang dikehendaki melalui
qanun yang diterapkan selalu berada dibawah pengendalian serta pengawasan
pelopor perubahan tersebut. Oleh karena cara untuk mempengaruhi masyarakat
dengan sistem-sistem yang direncanakan dan diatur lebih dahulu dinamakan
social engineenering atau social planning. (Soejono Soekanto, 1986: 107).
7
Kehadiran norma pasal diatas menjadikan qanun sebagai alat untuk merubah
perilaku, sejatinya untuk mempengaruhi jiwa anak menjadi pribadi yang baik,
yang santun, dan sesuai dengan nilai-nilai Islam yang ada. Sehingga generasi yang
baik akan menjadi pemimpin atau penerus yang hebat.
2.
Analisis Sosiologi Hukum terkait Pasal 23 ayat (1) tentang Sanksi
Khalwat
Bahwa Alqur’an dan hadist adalah dasar utama agama Islam yang
membawa rahmat bagi seluruh alam dan telah menjadi keyakinan serta pegangan
hidup masyarakat Aceh. Dalam rangka pelaksanaan Nota Kesepahaman antara
Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (Memorandum of
Understanding between The Government of Republic of Indonesia and the Free
Aceh Movement, Helsinki 15 Agustus 2005), Pemerintah Republik Indonesia dan
GAM menegaskan komitmen mereka untuk menyelesaikan konflik Aceh secara
damai, menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua, dan para pihak
bertekad untuk menciptakan kondisi sehingga Pemerintahan Aceh dapat
diwujudkan melalui suatu proses yang demokratis dan adil dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Aceh sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki
Keistimewaan dan Otonomi khusus, salah satunya kewenangan untuk
melaksanakan Syariat Islam, dengan menjunjung tinggi keadilan, kemaslahatan
dan kepastian hukum berdasarkan amanah Pasal 125 Undang-Undang Nomor 11
Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, hukum Jinayat (hukum Pidana)
merupakan bagian dari Syari’at Islam yang dilaksanakan di Aceh. Jika melihat
Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah
Pasal 23 ayat (1) “Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan Jarimah
khalwat, diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak
10 (sepuluh) kali atau denda paling banyak100 (seratus) gram
emas murni atau penjara paling lama 10 (sepuluh) bulan.”
8
Pasal 23 ayat (2) “Setiap Orang yang dengan sengaja menyelenggarakan,
menyediakan fasilitas atau mempromosikan Jarimah khalwat,
diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 15 (lima
belas) kali dan/atau denda paling banyak 150 (seratus lima
puluh) gram emas murni dan/atau penjara paling lama 15 (lima
belas) bulan.”
Pasal 24 “Jarimah khalwat yang menjadi kewenangan peradilan adat
diselesaikan menurut ketentuan dalam Qanun Aceh tentang
pembinaan kehidupan adat dan adat istiadat dan/atau peraturan
perundang-perundangan lainnya mengenai adat istiadat.”
Berbicara hukum cambuk penulis sebagai warga Aceh memang sepakat
hukuman cambuk ini tetap dipertahankan, karena ada akarnya dalam tradisi Islam.
Dalam Alqur’an dan sejarah Islam juga disebut tentang hukuman ini. Di samping,
hukuman cambuk ini memiliki nilai tradisi, ia juga mengandung nilai religius.
Kita juga melihat banyaknya kelemahan- kelemahan dari hukuman kurungan atau
penjara selama ini. Sehingga dicarilah hukuman alternatif. Tidak hanya di negara
Islam, di Barat pun sekarang sedang dicari bentuk hukuman alternatif bagi
terpidana. Di Jepang orang ingin masuk penjara, dan cara yang paling mudah
untuk masuk penjara adalah mencuri. Jadi orang lebih senang dan betah dalam
penjara karena penjara tidak lagi efektif untuk menimbulkan rasa jera bagi pelaku.
Sebaliknya malah menimbulkan rasa senang, karena dapat hidup dan makan tanpa
usaha. Masuk penjara enak. Di negara Barat dicari alternatif penjara seperti kerja
sosial atau hukuman percobaan bagi terpidana untuk pertama sekali. Bila ia
mengulangi perbuatannya baru dipenjara tanpa percobaan. (Danial, 2012: 21).
Jika dilihat pendapat ahli Hoebel empat fungsi sosiologi hukum, agar
mampu mengurai atau menjawab probelamtikan pasal yang terdapat pada qanun
diatas. (Edwin M. Schur, 1968: 79-82).
9
1) Menetapkan hubungan-hubungan antara para anggota masyarakat, dengan
menunjukan jenis-jenis tingkah laku-tingkah laku apa yang diperkenankan
dan apa pula yang dilarang
2) Menentukan pembagian kekuasaan dan merinci siapa saja yang boleh
melakukan serta siapakah yang harus mentaatinya dan sekaligus
memilihkan sanksi sanksinya yang tepat dan efetktif
3) Menyelesaikan sengketa
4) Memelihara kemampuan masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan
kondisi-kondisi kehidupan yang berubah, yaitu dengan cara merumuskan
kembali hubungan esensial antara anggota masyarakat.
Teori Hobel penulis berpendapat melihat lahirnya Qanun Hukum Jinayah
terutama pasal 23
sebenarnya untuk menjamin kemaslahatan anak sebagai
generasi penerus bangsa, Pemerintah Aceh dalam hal ini menjaga agar pemuda
tegak dan kaffah dalam menjalankan norma agama yang dipositifkan. Dalam hal
ini memang sepakat sanksi yang digunakan sebagai efek jera terhadap pelaku.
Namun Pasal 24 agar dibuat regulasi khusus karena sampai saat ini tidak ada
peraturan yang mengatur tentang peradilan adat. Jika dilihat dari aspek psikologis
akan rentan malu bagi yang dicambuk ini menimbulkan si anak tidak berani pergi
sekolah, mendapat cemoohan dari masyarakat setempat dan lain sebagainya.
Karena kekerasan satu bentuk agresi, dimana korban (anak) adalah objek
kekerasan/agresi itu. Perbuatan agresi adalah perilaku fisik atau lisan yang
disengaja dengan maksud untuk menyakiti atau merugikan orang lain.
(http://www.psychologymania.net, 2015). Memang hal yang dilakukan tersebut
adalah perbuatan mereka sendiri sehingga pantas dihukum dengan Pasal 23. Akan
tetapi disini perlu peran masyarakat agar bisa menyelesaikan persoalan supaya si
anak diberi bimbingan agama sehingga tidak mengulangi lagi. Bahkan secara adat
Aceh melibat tokoh msyarakat Adat agar menyelesaiakan perkara khalwat.
Semaksimal mungkin jangan dicambuk, apabila memang perbuatan yang sudah
berulang-ulang maka sewajarnya menerapkan Pasal 23 dengan dicambuk
sebanyak 10 kali.
10
Konsep tujuan sosiologi hukum penulis terapkan kedalam Pasal 23 ayat
(1) sesuai dengan tujuan tersebut akan dilihat apakah sudah teraplikasi sosiologi
hukumnya. Tujuan pertama, mengetahui fenomena-fenomena hukum dan
fenoman-fenomena sosial yang mempengaruhi hukum. Kedua,mengetahui mana
hukum yang hidup (living law) dan yang tidak hidup dalam masyarakat. Ketiga,
mengetahui sejauh mana masyarakat melakukan pentaatan terhadap hukum.
Keempat, mengetahui apakah produk badan legislatif sesuai dengan nilai-nilai
yang hidup dan tumbuh dalam masyakat. Sebagai ilmu empirik sosiologi hukum
mengamati hukum dengan segala karakteristiknya diterapkan dan digunakan
dalam dan dipakai oleh masyarakat. Pada saat qanun dijalankan terjadilah
interaksi antara hukum dan perilaku masyarakat yang menggunakannya. Sosiologi
hukum berbicara makna sosial hukum (the sosial meaning of law). Makna sosial
diberikan kepada hukum melalui kontak-kontak dengan lingkungan sosial dimana
hukum itu diterapkan. (Satjipto Rahardjo, 2000: 326-327).
Bahwa kehadiran frasa Pasal 23 ayat (1) yang mengatakan “setiap orang
yang dengan sengaja melakukan Jarimah khalwat, diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir
cambuk paling banyak 10 (sepuluh) kali atau denda paling banyak100 (seratus)
gram emas murni atau penjara paling lama 10 (sepuluh) bulan.” Mewajibkan
masyarakat ikut serta dalam mendidik anak-anaknya supaya tidak dikenakan
sanksi yang ada. Fenomena hukum dengan fenomena sosial terkadang sulit untuk
disatukan, seyogyanya norma frasa ini menjadi hal yang hidup dan berkembang
dalam masyarakat Aceh sendiri. Gejala yang timbul dengan pasal ini tertutup
peluang bagi pemuda-pemudi untuk berpacaran. Sehingga masyarakat akan ikut
dalam ketentuan-ketentuan yang ada.
C. PENUTUP
Hukum itu selalu berinteraksi dengan semua unsur-unsur karena fungsi
hukum sebagai kontrol sosial. Manusia hidup bermasyarakat dikendalikan oleh
kaidah atau norma yang hakikatnya bertujuan suatu tata tertib dalam masyarakat.
Dalam hal hukum sebagai kaidah yang merupakan tidak terlepas dari empat
norma yaitu norma sosial, norma agama, norma hukum dan norma susila.
11
Pemerintah Aceh dalam hal ini mengatur norma agama menjadi hukum
positif karena beranggapan bahwa agama akan mampu menjawab dan
menghantarkan masyarakat ketitik kenyamanan. Namun penulis ingin melihat
peraturan yang dibuat dengan sosiologi hukum karena sosiologi hukum berusaha
untuk memberikan deskripsi terhadap praktek hukum dan dapat dibedakan dalam
pembuat peraturan, penerapan dalam pengadilan, maka mempelajari pula
bagaimana praktik yang terjadi pada masing-masing hukum tersebut. Pelanggar
khalwat seharusnya diselesaikan dulu dengan masyarakat adat setempat, karena
perkara khalwat sangat sensitif, ini perlu usaha bersama antara orang tua,
masyarakat dan para tokoh, dan akademisi sehingga tidak perlu menerapkan Pasal
23. Yang harus diterapkan dan dibuat regulasi khusus terkait Pasal 24 adalah
peradilan adat sehingga siapa saja yang melakukan khalwat akan ditangani oleh
pengadilan tersebut.
12
DAFTAR PUSTAKA
Danial, Qanun Jinayah Aceh dan Perlindungan HAM (Kajian Yuridis-Filosofis),
Al-Manahij, Vol, VI, No. 1, Januari, 2012.
Djumala, Darmansyah, Soft Power untuk Aceh Resolusi Konflik dan Politik
Desantralisasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013.
Huda, Ni’matul, Desantralisasi Asimetris dalam NKRI Kajian terhadap Daerah
Istimewa, Daerah Khusus, dan Otonomi Khusus, Bandung, Nusa Media,
2014.
M. Schur, Edwin, Law and Society: A Sociological View, New York: Random
House, 1968.
Najih, Mohammad dan Soihimin, Pengantar Hukum Indonesia, Sejarah, Konsep
Tata Hukum dan Politik Hukum di Indonesia, Malang: Setara Press,
2012.
Pitirim Sorokin, Contemporary Sociology Theories, New York: Harper and Row,
1992.
Qanun Aceh Nomor 14 Tahun 2003 tentang Khalwat
Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah
Rahardjo, Satjipto, Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya, 2000.
Sosiologi Hukum, Semarang: Genta Publishing, 2010.
Roucek dan Waren, Sociology, an Introduction, New Jersey, Litlefield, Adam and
Co Peterson, 1962.
Sampara. Said, Dkk, Pengantar Ilmu Hukum, Yogyakarta: Total Meda, 2009.
Soekanto, Soejono , Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Jakarta: Raja Wali, 1986.
Suteki, Desain Hukum di Ruang Sosial, Yogyakarta: Thafa Media, 2013.
Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh
Warassih, Esmi, Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis, Semarang: Undip
Press, 2014.
13
Internet
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt540aed8febd56/qanun-jinayahberlaku-bagi-non-muslim, diakses Tangga; 28-05-2015.
https://sarjanasujana.wordpress.com/2011/11/14/teori-dan-metode-dalamsosiologi-hukum/, diakses Tanggal 28-05-2015.
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt54d80e8854ee1/qanun-hukumjinayah--kitab-pidana-ala-serambi-mekkah, diakses Tanggal 28-05-2015
www.eastwestcenter.org, diakses Tanggal 28-05-2015
www.hdcentre.org, diakses Tanggal 28-05-2015
www.eastwestcenter.org, diakses Tanggal 28-05 -2015
www.serambinews.com, diakses Tanggal 28-05-2015
14
Download