laporan pendahuluan gerontology “geriatric syndrome”

advertisement
LAPORAN PENDAHULUAN
GERONTOLOGY
“GERIATRIC SYNDROME”
Oleh:
YULIYANTI
115070207111020
JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015
1. Definisi Geriatric Syndrome
Sindrom geriatri merupakan kumpulan gejala dan atau tanda klinis, dari satu
atau lebih penyakit yang sering dijumpai pada pasien geriatric. Tampilan klinis yang
tidak khas sering membuat sindrom geriatri tidak terdiagnosis. Sindrom geriatri meliputi
gangguan
kognitif,
depresi,
inkontinensia,
ketergantungan
fungsional,
dan
jatuh.Sindrom geriatrik menampilkan banyak fitur-fitur umum. Keadaan lansia sangat
umum yaitu lemah. Efeknya pada kualitas hidup dan cacat substansial. Sering gejala
utama tidak berhubungan dengan kondisi patologis tertentu yang mendasari perubahan
status kesehatan. Sebagai contoh, ketika infeksi yang melibatkan saluran kemih
menyebabkan delirium, itu adalah perubahan fungsi saraf dalam bentuk perubahan
kognitif dan perilaku yang memungkinkan diagnosis delirium dan menentukan hasil
fungsional yang banyak. Karena sindrom ini melibatkan banyak sistem organ,
diperlukan perencanaan dan pemberian perawatan klinis.
Dalam bidang geriatri dikenal beberapa masalah kesehatan yang sering dijumpai
baik mengenai fisik atau psikis pasien usia lanjut. Menurut Solomon dkk: The “13 i” yang
terdiri dari Immobility (imobilisasi), Instability (instabilitas dan jatuh), Intelectual
impairement (gangguan intelektual seperti demensia dan delirium), Incontinence
(inkontinensia urin dan alvi), Isolation (depresi), Impotence (impotensi), Immunodeficiency (penurunan imunitas), Infection (infeksi), Inanition (malnutrisi), Impaction
(konstipasi), Insomnia (gangguan tidur), Iatrogenic disorder (gangguan iatrogenic) dan
Impairement of hearing,vision and smell (gangguan pendengaran, penglihatan dan
penciuman) (Setiati dkk., 2006 dalam AA Dini, 2013).
2. Epidemiologi
Prevalensi usia lanjut lebih dari 60 tahun meningkat lebih cepat dibandingkan
populasi kelompok umur lainnya karena peningkatan angka harapan hidup dan
penurunan angka kelahiran. Data demografi dunia menunjukkan peningkatan populasi
usia lanjut 60 tahun atau lebih meningkat tiga kali lipat dalam waktu 50 tahun; dari 600
juta pada tahun 2000 menjadi lebih dari 2 miliar pada tahun 2050 (Setiati, Siti 2013).
Jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia mencapai peringkat lima besar
terbanyak di dunia, yakni 18,1 juta pada tahun 2010 dan akan meningkat dua kali lipat
menjadi 36 juta pada tahun 2025. Angka harapan hidup penduduk Indonesia mencapai
67,8 tahun pada tahun 2000-2005 dan menjadi 73,6 tahun pada tahun 20202025.Proporsi usia lanjut meningkat 6% pada tahun 1950-1990 dan menjadi 8% saat
ini. Proporsi tersebut diperkirakan naik menjadi 13% pada tahun 2025 dan menjadi 25%
pada tahun 2050. Pada tahun 2050 seperempat penduduk Indonesia merupakan
penduduk usia lanjut, dibandingkan seperduabelas penduduk Indonesia saat ini
(Abikusno N. 2007 dalam Setiati, Siti 2013).
3. Klasifikasi Geriatric Syndrome
Dalam bidang geriatri dikenal beberapa masalah kesehatan yang sering dijumpai
baik mengenai fisik atau psikis pasien usia lanjut. Menurut Solomon dkk: The “13 i” yang
terdiri dari Immobility (imobilisasi), Instability (instabilitas dan jatuh), Intelectual
impairement (gangguan intelektual seperti demensia dan delirium), Incontinence
(inkontinensia urin dan alvi), Isolation (depresi), Impotence (impotensi), Immunodeficiency (penurunan imunitas), Infection (infeksi), Inanition (malnutrisi), Impaction
(konstipasi), Insomnia (gangguan tidur), Iatrogenic disorder (gangguan iatrogenic) dan
Impairement of hearing, vision and smell (gangguan pendengaran, penglihatan dan
penciuman) (Setiati dkk., 2006).
a. Imobilisasi
Didefinisikan sebagai keadaan tidak bergerak/tirah baring selama 3 hari atau
lebih, dengan gerak anatomi tubuh menghilang akibat perubahan fungsi fisiologis.
Berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan dapat menyebabkan imobilisasi
pada usia lanjut. Penyebab utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri, lemah,
kekakuan otot, ketidak seimbangan, dan masalah psikologis. Beberapa informasi
penting meliputi lamanya menderita disabilitas yang menyebabkan imobilisasi,
penyakit yang mempengaruhi kemampuan mobilisasi, dan pemakaian obat-obatan
untuk mengeliminasi masalah iatrogenesis yang menyebabkan imobilisasi.
b. Instability (Instabilitas dan Jatuh)
Terdapat banyak faktor yang berperan untuk terjadinya instabilitas dan jatuh
pada orang usia lanjut. Berbagai faktor tersebut dapat diklasifikasikan sebagai faktor
intrinsik (faktor risiko yang ada pada pasien) dan faktor risiko ekstrinsik (faktor yang
terdapat di lingkungan). Prinsip dasar tatalaksana usia lanjut dengan masalah
instabilitas dan riwayat jatuh adalah: mengobati berbagai kondisi yang mendasari
instabilitas dan jatuh, memberikan terapi fisik dan penyuluhan berupa latihan cara
berjalan, penguatan otot, alat bantu, sepatu atau sandal yang sesuai, serta
mengubah lingkungan agar lebih aman seperti pencahayaan yang cukup, pegangan,
lantai yang tidak licin (Kane et al., 2008; Cigolle et al., 2007).
c. Incontinence (Inkontinensia Urin dan Alvi)
Inkontinensia urin didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak dikehendaki
dalam jumlah dan frekuensi tertentu sehingga menimbulkan masalah sosial dan atau
kesehatan. Inkontinensia urin merupakan salah satu sindroma geriatrik yang sering
dijumpai pada usia lanjut. Diperkirakan satu dari tiga wanita dan 15-20% pria di atas
65 tahun mengalami inkontinensia urin. Inkontinensia urin merupakan fenomena
yang tersembunyi, disebabkan oleh keengganan pasien menyampaikannya kepada
dokter dan di lain pihak dokter jarang mendiskusikan hal ini kepada pasien (Kane et
al., 2008; Cigolle et al., 2007). International Consultation on Incontinence, WHO
mendefinisikan Faecal Incontinence sebagai hilangnya tak sadar feses cair atau
padat yang merupakan masalah sosial atau higienis. Definisi lain menyatakan,
Inkontinensia alvi/fekal sebagai perjalanan spontan atau ketidakmampuan untuk
mengendalikan pembuangan feses melalui anus. Kejadian inkontinensia alvi/fekal
lebih jarang dibandingkan inkontinensia urin (Kane et al., 2008).
d. Intelectual Impairement (Gangguan Intelektual Seperti Demensia dan Delirium)
Keadaan yang terutama menyebabkan gangguan intelektual pada pasien
lanjut usia adalah delirium dan demensia. Demensia adalah gangguan fungsi
intelektual dan memori didapat yang disebabkan oleh penyakit otak, yang tidak
berhubungan dengan gangguan tingkat kesadaran. Demensia tidak hanya masalah
pada memori. Demensia mencakup berkurangnya kemampuan untuk mengenal,
berpikir, menyimpan atau mengingat pengalaman yang lalu dan juga kehilangan pola
sentuh, pasien menjadi perasa, dan terganggunya aktivitas (Geddes et al.,2005;
Blazer et al., 2009).
e. Infection (infeksi)
Infeksi pada usia lanjut (usila) merupakan penyebab kesakitan dan kematian
no. 2 setelah penyakit kardiovaskular di dunia. Hal ini terjadi akibat beberapa hal
antara lain: adanya penyakit komorbid kronik yang cukup banyak, menurunnya daya
tahan/imunitas terhadap infeksi, menurunnya daya komunikasi usia sehingga
sulit/jarang mengeluh, sulitnya mengenal tanda infeksi secara dini. Ciri utama pada
semua penyakit infeksi biasanya ditandai dengan meningkatnya temperatur badan,
dan hal ini sering tidak dijumpai pada usia lanjut, 30-65% usia lanjut yang terinfeksi
sering tidak disertai peningkatan suhu badan, malah suhu badan dibawah 36OC lebih
sering dijumpai. Keluhan dan gejala infeksi semakin tidak khas antara lain berupa
konfusi/delirium sampai koma, adanya penurunan nafsu makan tiba-tiba, badan
menjadi lemas, dan adanya perubahan tingkah laku sering terjadi pada pasien usia
lanjut (Kane et al., 2008).
f. Impairement of hearing, vision and smell (gangguan pendengaran, penglihatan
dan penciuman)
Gangguan pendengaran sangat umum ditemui pada geriatri. Prevalensi
gangguan pendengaran sedang atau berat meningkat dari 21% pada kelompok usia
70 tahun sampai 39% pada kelompok usia 85 tahun. Pada dasarnya, etiologi
gangguan pendengaran sama untuk semua umur, kecuali ditambah presbikusis
untuk kelompok geriatri.
Otosklerosis biasanya ditemui pada usia dewasa muda, ditandai dengan
terjadinya remodeling tulang di kapsul otik menyebabkan gangguan pendengaran
konduktif, dan jika penyakit menyebar ke telinga bagian dalam, juga dapat
menimbulkan gangguan sensorineural. Penyakit Ménière adalah penyakit telinga
bagian dalam yang menyebabkan gangguan pendengaran berfluktuasi, tinnitus dan
pusing. Gangguan pendengaran karena bising yang disebabkan oleh energi akustik
yang berlebihan yang menyebabkan trauma permanen pada sel-sel rambut.
Presbikusis sensorik yang sering sekali ditemukan pada geriatri disebabkan oleh
degenerasi dari organ korti, dan ditandai gangguan pendengaran dengan frekuensi
tinggi. Pada pasien juga ditemui adanya gangguan pendengaran sehingga sulit untuk
diajak berkomunikasi. Penatalaksanaan untuk gangguan pendengaran pada geriatri
adalah dengan cara memasangkan alat bantu dengar atau dengan tindakan bedah
berupa implantasi koklea (Salonen, 2013).
Terapi pengobatan pada pasien usia lanjut secara signifikan berbeda dari
pasien pada usia muda, karena adanya perubahan kondisi tubuh yang disebabkan
oleh usia, dan dampak yang timbul dari penggunaan obat-obatan yang digunakan
sebelumnya. Masalah polifarmasi pada pasien geriatri sulit dihindari dikarenakan
oleh berbagai hal yaitu penyakit yang diderita banyak dan biasanya kronis, obat
diresepkan oleh beberapa dokter, kurang koordinasi dalam pengelolaan, gejala yang
dirasakan pasien tidak jelas, pasien meminta resep, dan untuk menghilangkan efek
samping obat justru ditambah obat baru. Karena itu diusulkan prinsip pemberian obat
yang benar pada pasien geriatri dengan cara mengetahui riwayat pengobatan
lengkap, jangan memberikan obat sebelum waktunya, jangan menggunakan obat
terlalu lama, kenali obat yang digunakan, mulai dengan dosis rendah, naikkan
perlahan-lahan, obati sesuai patokan, beri dorongan supaya patuh berobat dan hatihati mengguakan obat baru (Setiati dkk.,2006).
g. Isolation (Depression)
Isolation (terisolasi) dan depresi, penyebab utama depresi pada usia lanjut
adalah kehilangan seseorang yan disayangi, pasangan hidup, anak, bahkan
binatang peliharaan. Selain itu kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan,
menyebabkan dirinya terisolasi dan menjadi depresi. Keluarga yang mulai
mengacuhkan karena merasa direpotkan menyebabkan pasien akan merasa hidup
sendiri dan menjadi depresi. Beberapa orang dapat melakukan usaha bunuh diri
akibat depresi yang berkepajangan
h. Inanition (malnutrisi)
Kelemahan nutrisi merujuk pada hendaya yang terjadi pada usia lanjut
karena kehilangan berat badan fisiologis dan patologis yang tidak disengaja.
Anoreksia pada usia lanjut merupakan penurunan fisiologis nafsu makan dan asupan
makan yang menyebabkan kehilangan berat badan yang tidak diinginkan (Kane et
al., 2008). Pada pasien, kekurangan nutrisi disebabkan oleh keadaan pasien dengan
gangguan menelan, sehingga menurunkan nafsu makan pasien.
i. Impecunity (kemiskinan)
Impecunity (kemiskinan), usia lansia dimana seseorang menjadi kurang
produktif (bukan tidak produktif) akibat penurunan kemampuan fisik untuk
beraktivitas. Usia pensiun dimana sebagian dari lansia hanya mengandalkan hidup
dari tunjangan hari tuanya. Pada dasarnya seorang lansia masih dapat bekerja,
hanya saja intensitas dan beban kerjanya yang harus dikurangi sesuai dengan
kemampuannya, terbukti bahwa seseorang yang tetap menggunakan otaknya hingga
usia lanjut dengan bekerja, membaca, dsb., tidak mudah menjadi “pikun” . Selain
masalah finansial, pensiun juga berarti kehilangan teman sejawat, berarti interaksi
sosialpun berkurang memudahakan seorang lansia mengalami depresi.
j. Iatrogenic
Iatrogenics (iatrogenesis), karakteristik yang khas dari pasien geriatri yaitu
multipatologik, seringkali menyebabkan pasien tersebut perlu mengkonsumsi obat
yang tidak sedikit jumlahnya. Akibat yang ditimbulkan antara lain efek samping dan
efek dari interaksi obat-obat tersebut yang dapat mengancam jiwa. Pemberian obat
pada lansia haruslah sangat hati-hati dan rasional karena obat akan dimetabolisme
di hati sedangkan pada lansia terjadi penurunan fungsi faal hati sehingga terkadang
terjadi ikterus (kuning) akibat obat. Selain penurunan faal hati juga terjadi penurunan
faal ginjal (jumlah glomerulus berkurang), dimana sebagaian besar obat dikeluarkan
melalui ginjal sehingga pada lansia sisa metabolisme obat tidak dapat dikeluarkan
dengan baik dan dapat berefek toksik.
k. Insomnia
Insomnia, dapat terjadi karena masalah-masalah dalam hidup yang
menyebabkan seorang lansia menjadi depresi. Selain itu beberapa penyakit juga
dapat menyebabkan insomnia seperti diabetes melitus dan hiperaktivitas kelenjar
thyroid, gangguan neurotransmitter di otak juga dapat menyebabkan insomnia. Jam
tidur yang sudah berubah juga dapat menjadi penyebabnya.
l. Immuno-defficiency (penurunan sistem kekebalan tubuh)
Immuno-defficiency (penurunan sistem kekebalan tubuh) banyak hal yang
mempengaruhi penurunan sistem kekebalan tubuh pada usia lanjut seperti atrofi
thymus (kelenjar yang memproduksi sel-sel limfosit T) meskipun tidak begitu
bermakna (tampak bermakna pada limfosit T CD8) karena limfosit T tetap terbentuk
di jaringan limfoid lainnya. Begitu juga dengan barrier infeksi pertama pada tubuh
seperti kulit dan mukosa yang menipis, refleks batuk dan bersin -yang berfungsi
mengeluarkan zat asing yang masuk ke saluran nafas- yang melemah. Hal yang
sama terjadi pada respon imun terhadap antigen, penurunan jumlah antibodi. Segala
mekanisme tersebut berakibat terhadap rentannya seseorang terhadap agen-agen
penyebab infeksi, sehingga penyakit infeksi menempati porsi besar pada pasien
lansia.
m. Impotence
Impotency (Impotensi), ketidakmampuan melakukan aktivitas seksual pada
usia lanjut terutama disebabkan oleh gangguan organik seperti gangguan hormon,
syaraf, dan pembuluh darah. Ereksi terjadi karena terisinya penis dengan darah
sehingga membesar, pada gangguan vaskuler seperti sumbatan plak aterosklerosis
(juga terjadi pada perokok) dapat menyumbat aliran darah sehingga penis tidak
dapat ereksi. Penyebab lainnya adalah depresi.
n. Irritable bowel
Irritable bowel (usus besar yang sensitif -mudah terangsang-) sehingga
menyebabkan diare atau konstipasi/ impaksi (sembelit). Penyebabnya tidak jelas,
tetapi pada beberapa kasus ditemukan gangguan pada otot polos usus besar,
penyeab lain yang mungkin adalah gangguan syaraf sensorik usus, gangguan sistem
syaraf pusat, gangguan psikologis, stres, fermentasi gas yang dapat merangsang
syaraf, kolitis.
4. Etiologi Dan Faktor Resiko
a. Imobilisasi
Berbagai faktor baik fisik, psikologis, dan lingkungan dapat menyebabkan
imobilisasi pada pasien usia lanjut. Beberapa penyebab utama imobilisasi adalah
adanya rasa nyeri, lemah, kekakuan otot, ketidakseimbangan, dan masalah
psikologis. Penyakit Parkinson, artritis reumatoid, gout, dan obat‐obatan antipsikotik
seperti haloperidol juga dapat menyebabkan kekakuan. Rasa nyeri, baik dari tulang
(osteoporosis, osteomalasia, Paget’s disease, metastase kanker tulang, trauma),
sendi (osteoartritis, artritis reumatoid, gout), otot (polimalgia, pseudoclaudication)
atau masalah pada kaki dapat menyebabkan imobilisasi.
Gangguan fungsi kognitif berat seperti pada demensia dan gangguan fungsi
mental seperti pada depresi tentu sangat sering menyebabkan terjadinya imobilisasi.
Kekhawatiran keluarga yang berlebihan atau kemalasan petugas kesehatan dapat
pula menyebabkan orang usia lanjut terus menerus berbaring di tempat tidur baik di
rumah maupun di rumah sakit. Efek samping beberapa obat misalnya obat hipnotik
dan sedatif dapat pula menyebabkan gangguan mobilisasi.
b. Instability (Instabilitas Dan Jatuh)
Penyebab jatuh pada lansia biasanya merupakan gabungan beberapa faktor, antara
lain:(Kane, 1994; Reuben, 1996; Tinetti,1992; Campbell, 1987, Brocklehurst, 1987).
1.
-
Kecelakaan (merupakan penyebab utama)
Murni kecelakaan, misalnya terpleset, tersandung.
Gabungan antara lingkungan yang jelek dengan kelainan-kelainan akibat proses
menua, misalnya karena mata kurang jelas, benda-benda yang ada di rumah
tertabrak, lalu jatuh.
2.
Nyeri kepala dan/atau vertigo
3. Hipotensiorthostatic:
4.
-
Hipovolemia / curah jantung rendah
-
Disfungsi otonom terlalu lama berbaring
-
Pengaruh obat-obat hipotensi
Obat-obatan
-
Diuretik / antihipertensi
-
Antidepresan trisiklik
-
Sedativa
-
Antipsikotik
-
Obat-obat hipoglikemik
-
Alkohol
5. Proses penyakit yang spesifik, misalnya:
-
Aritmia
-
Stenosis
-
Stroke
-
Parkinson
-
Spondilosis
-
Serangan kejang
6. Idiopatik (tidak jelas sebabnya)
7. Sinkope (kehilangan kesadaran secara tiba-tiba):
-
Penurunan darah ke otak secara tiba-tiba
-
Terbakar matahari
c. Incontinence (Inkontinensia Urin Dan Alvi)
Pada lansia biasanya terjadi penurunan kemampuan berkemih. Pada lansia
terjadi proses enua yang berdampak pada perubahan hampir seluruh organ tubuh
termasuk organ berkemih yang menyebabkan lansia mengalami inkontinensia urin.
Perubahan ini diantaranya adalah melemahnya otot dasar panggul yang menjaga
kandung kemih dan pintu saluran kemih, timbulnya kontraksi abnormal pada
kandung kemih yang menimbulkan rangsangan berkeih sebelum waktunya dan
meninggalkan
sisa.
Pengosongan
kandung
kemih
yang
tidak
sempurna
menyebabkan urine di dalam kanddung kemih yang cukup banyak sehingga dengan
pengisian sedikit saja sudah merangsang untuk berkeih. Hipertrofi prostat juga dapat
mengakibatkan banyaknya sisa air kemih di kandung keih sebagai akibat
pengosongan yang tidak sempurna (Setiati,2000)
b. Impairement of hearing, vision and smell (gangguan pendengaran, penglihatan dan
penciuman)
Umumnya diketahui bahwa presbikusis merupakan akibat dari proses
degenerasi. Diduga kejadian presbikusis mempunyai hubungan dengan faktor-faktor
herediter, pola makanan, metabolisme, arteriosklerosis, infeksi, bising, gaya hidup
atau bersifat multifaktor. Menurunnya fungsi pendengaran secara berangsur
merupakan efek kumulatif dari pengaruh faktor-faktor tersebut diatas. Biasanya
terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. Progesifitas penurunan pendengaran
dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin, pada laki-laki lebih cepat dibandingkan
dengan perempuan
kornea, lensa iris, aquous humormvitorous humor akan mengalami
perubahan seiring bertambahnya usia, karena bagian utama yang mengalami
perubahan/penurunan sensifitas yang menyebabkan lensa pada mata, produksi
aquosus humor juga mengalami penurunan tetapi tidak terlalu terpengaruh terhadap
keseimbangan dan tekanan intra okuler lensa umum. Bertambahnya usia akan
mempengarui fungsi organ pada mata seseorang yang ber usia 60 tahun, fungsi
kerja pupil akan mengalami penurunan 2/3 dari pupil orang dewasa atau muda,
penurunan tersebut meliputi ukuran – ukuranpupil dan kemampuan melihat dari jarak
jauh. Proses akomodasi merupakan kemampuan untukmelihat benda – benda dari
jarak dekat maupun jauh. Akomodasi merupakan hasil koordinasi atas ciliary body
dan otot – otot, apabila seseorang mengalami penurunan daya akomodasimaka
orang tersebut disebut presbiopi ( Brantas1984.wordpress.com, 2009 ).
5. MANIFESTASI KLINIS
Semakin bertambah usia seseorang semakin banyak terjadi perubahan pada
berbagai sistem dalam tubuh. Perubahan yang terjadi cenderung mengarah pada
penurunan berbagai fungsi tersebut. Pada sistem saraf pusat terjadi pengurangan
massa otak, aliran darah otak, densitas koneksi dendritik, reseptor glukokortikoid
hipokampal, dan terganggunya autoregulasi perfusi. Timbul proliferasi astrosit dan
berubahnya neurotransmiter, termasuk dopamin dan serotonin. Terjadi peningkatan
aktivitas monoamin oksidase dan melambatnya proses sentral dan waktu reaksi.
Pada fungsi kognitif terjadi penurunan kemampuan meningkatkan fungsi
intelektual; berkurangnya efisiensi transmisi saraf di otak yang menyebabkan proses
informasi melambat dan banyak informasi hilang selama transmisi; berkurangnya
kemampuan mengakumulasi informasi baru dan mengambil informasi dari memori.
Kemampuan mengingat kejadian masa lalu lebih baik dibandingkan kemampuan
mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Pada fungsi penglihatan terjadi gangguan adaptasi gelap; pengeruhan pada
lensa; ketidakmampuan untuk fokus pada benda-benda jarak dekat (presbiopia);
berkurangnya
sensitivitas terhadap
kontras
dan lakrimasi.
Hilangnya
nada
berfrekuensi tinggi secara bilateral timbul pada funsgsi pendengaran. Di samping itu
pada usia lanjut terjadi kesulitan untuk membedakan sumber bunyi dan
terganggunya kemampuan membedakan target dari noise.
Pada sistem kardiovaskuler, pengisian ventrikel kiri dan sel pacu jantung
(pacemaker) di nodus SA berkurang; terjadi hipertrofi atrium kiri; kontraksi dan
relaksasi ventrikel kiri bertambah lama; respons inotropik, kronotropik, terhadap
stimulasi
beta-adrenergik
berkurang;
menurunnya
curah
jantung
maksimal;
peningkatan atrial natriuretic peptide (ANP) serum dan resistensi vaskular perifer.
( Pada fungsi paru-paru terjadi penurunan forced expiration volume 1 second (FEVI)
dan forced volume capacity (FVC); berkurangnya efektivitas batuk dan fungsi silia
dan meningkatnya volume residual. Adanya ‘ventilation-perfusion mismatching’ yang
menyebabkan PaO2 menurun seiring bertambahnya usia : 100 – (0,32 x umur).
Pada fungsi gastrointestinal terjadi penururan ukuran dan aliran darah ke hati,
terganggunya
bersihan
(clearance)
obat
oleh hati
sehingga membutuhkan
metabolisme fase I yang lebih ekstensif. Terganggunya respons terhadap cedera
pada mukosa lambung, berkurangnya massa pankreas dan cadangan enzimatik,
berkurangnya kontraksi kolon yang efektif dan absorpsi kalsium. Menurunnya
bersihan kreatinin (creatinin clearance) dan laju filtrasi glomerulus (GFR) 10
ml/dekade terjadi dengan semakin bertambahnya usia seseorang.
Penurunan massa ginjal sebanyak 25%, terutama dari korteks dengan
peningkatan relatif perfusi nefron jukstamedular. Aksentuasi pelepasan anti diuretic
hormone (ADH) sebagai respons terhadap dehidrasi berkurang dan meningkatnya
ketergantungan prostaglandin ginjal untuk mempertahankan perfusi. Pada saluran
kemih dan kelamin timbul perpanjangan waktu refrakter untuk ereksi pada pria,
berkurangnya intensitas orgasme pada pria maupun wanita, berkurangnya sekresi
prostat di urin dan pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna serta
peningkatan volume residual urin. Toleransi glukosa terganggu (gula darah puasa
meningkat 1 mg/dl/dekade; gula darah postprandial meningkat 10 mg/dl/dekade).
Insulin serum meningkat, HbA1C meningkat, IGF-1 berkurang. Penurunan yang
bermakna pada dehidroepiandrosteron (DHEA), hormon T3, testosteron bebas
maupun yang bioavailable, dan produksi vitamin D oleh kulit serta peningkatan
hormon paratiroid (PTH). Ovarian failure disertai menurunnya hormon ovarium.
Pada sistem saraf perifer lanjut usia mengalami hilangnya neuron motor
spinal, berkurangnya sensasi getar, terutama di kaki, berkurangnya sensitivitas
termal (hangatdingin), berkurangnya amplitudo aksi potensial yang termielinasi dan
meningkatnya heterogenitas selaput akson myelin. Massa otot berkurang secara
bermakna (sarkopenia) karena berkurangnya serat otot. Efek penuaan paling kecil
pada
otot
diafragma;
berkurangnya
sintesis
rantai
berat
miosin,
inervasi,
meningkatnya jumlah miofibril per unit otot dan berkurangnya laju basal metabolik
(berkurang 4%/dekade setelah usia 50).
Pada sistem imun terjadi penurunan imunitas yang dimediasi sel, rendahnya
produksi antibodi, meningkatnya autoantibodi, berkurangnya hipersensitivitas tipe
lambat, berkurangnya produksi sel B oleh sumsum tulang; dan meningkatnya IL-6
dalam sirkulasi.
Pada umumnya lansia mengalami depresi ditandai oleh mood depresi
menetap yang tidak naik, gangguan nyata fungsi atau aktivitas sehari-hari, dan dapat
berpikiran atau melakukan percobaan bunuh diri. Pada lansia gejala depresi lebih
banyak terjadi pada orang dengan penyakit kronik, gangguan kognitif, dan disabilitas.
Kesulitan konsentrasi dan fungsi eksekutif lansia depresi akan membaik setelah
depresi teratasi. Gangguan depresi lansia dapat menyerupai gangguan kognitif
seperti demensia, sehingga dua hal tersebut perlu dibedakan. Para lansia depresi
sering menunjukkan keluhan nyeri fi sik tersamar yang bervariasi, kecemasan, dan
perlambatan berpikir. Perubahan pada lansia depresi dapat dikategorikan menjadi
perubahan fi sik, perubahan dalam pemikiran, perubahan dalam perasaan, dan
perubahan perilaku
6. Pemeriksaan Diagnostik
1. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Assessmen Geriatri komprehensif mencakup: kesehatanfisik, mental, status
fungsional, kegiatan sosial, dan lingkungan.Tujuan asesmen ialah mengetahui
kesehatan penderita secara holistic supaya dapat memberdayakan kemandirian
penderita selama mungkin dan mencegah disabilitas-handicap diwaktu mendatang.
Asesmen ini bersifat tidak sekedar multi-disiplin tetapi interdisiplin dengan koordinasi
serasi antar disiplin dan lintas pelayanan kesehatan (Forciea MA. 2004, Darmojo BR,
2010).
Anamnesis dilengkapi dengan berbagai gangguan yang terdapat : menelan,
masalah gigi, gigi palsu, gangguan komunikasi/bicara, nyeri/gerak yang terbatas
pada anggota badan dan lain-lain.
a) Penilaian sistem : Penilaian system dilaksanakan secara urut, mulai dari
system syaraf
b) pusat, saluran nafas atas dan bawah, kardiovaskular, gastrointestinal
(seperti inkontinensia alvi, konstipasi), urogenital (seperti inkontinensia urin).
Dapat dikatakan bahwa penampilan penyakit dan keluhan penderita tidak
tentu berwujud sebagai penampilan organ yang terganggu.
c) Anamnesis tentang kebiasaan yang merugikan kesehatan (merokok,
minum alkohol).
d) Anamnesis Lingkungan perlu meliputi keadaan rumah tempat tinggal.
e) Review obat-obat yang telah dan sedang digunakan perlu sekali ditanyakan,
bila perlu, penderita atau keluarganya.
f)
Ada tidaknya perubahan perilaku.
Anamnesis Nutrisi:(Martono H. 2004)
a) Pada gizi perlu diperhatikan :

Keseimbangan (baik jumlah kalori maupun makronutrien)

Cukup mikronutrien (vitamin dan mineral)

Perlu macam makanan yang beranekaragam.

Kalori berlebihan atau dikurangi disesuaikan dengan kegiatan AHSnya, dengan tujuan mencapai berat badan ideal.

Keadaan gigi geli, mastikasi dan fungsi gastro-intestinal.

Apakah ada penurunan atau kenaikan berat badan.
b) Pengkajian Nutrisi (Kuswardhani, RAT. 2011)
Pengkajian nutrisi dilakukan dengan memeriksa indeks massa tubuh.
Rumus Indeks Masa Tubuh (IMT) : Berat Badan (kg)
[Tinggi Badan (m)2]2
IMT : 18 – 23 (normal)
Rumus Tinggi Badan Populasi Geriatri :
Pria : TB = 59.01 + (2.08 X Tinggi Lutut)
Wanita
: TB = 75.00 + (1.91 X Tinggi Lutut) – (0.17 X Umur).
(Depkes RI, 2005)
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dimulai dengan pemeriksaan tanda vital.
1. Pemeriksaan fisik tekanan darah, dilaksanakan dalam keadaan tidur, duduk
dan berdiri, masing-masing dengan selang 1-2 menit, untuk melihat
kemungkinan terdapatnya hipotensi ortostatik
2. Pemeriksaan fisik untuk menilai sistem. Pemeriksaan organ dan sistem ini
disesuaikan dengan tingkat kemampuan pemeriksa.Yang penting adalah
pemeriksaan secara sistem ini menghasilkan dapatan ada atau tidaknya
gangguan organ atau sistem.
3. Pemeriksaan fisik dengan urutan seperti pada anamnesis penilaian sistem,
yaitu :
a) Pemeriksaan susunan saraf pusat (Central Nervous System).
b) Pemeriksaan panca indera, saluran nafas atas, gigi-mulut.
c) Pemeriksaan leher, kelenjar tiroid, bising arteri karotis.
d) Pemeriksaan dada, paru-paru, jantung dan abdomen perlu dilakukan
dengan cermat.
e) Pemeriksaan ekstremitas, refleks-refleks, gerakan dan kelainan sendisendi perlu diperiksa :sendi panggul, lutut dan kolumna vertebralis.
f)
Pemeriksaan kulit-integumen, juga perlu dilakukan.
Pemeriksaan fisik perlu dilengkapi dengan beberapa uji fisik seperti “get up and
go” (jarak 3 meter dalam waktu kira-kira 20 detik), mengambil benda di lantai,
beberapa
tes
keseimbangan,
kekuatan,
ketahanan,
kelenturan,
koordinasi
gerakan.Bila dapat mengamati cara berjalan (gait), adakah sikap atau gerakan
terpaksa.Pemeriksaan organ-sistem adalah melakukan pemeriksaan mulai dari
ujung rambut sampai ujung kaki secara sistematis (Kuswardhani, RAT. 2011).
Pemeriksaan Tambahan (Penunjang)
Pemeriksaan tambahan disesuaikan dengan keperluan penegakan kepastian
diagnosis, tetapi minimal harus mencakup pemeriksaan rutin.
a) X-foto thorax, EKG
b) Laboratorium :- DL,UL, FL
Apabila terdapat kecurigaan adanya kelainan yang belum jelas atau diperlukan
tindakan diagnostik atau terapi, dapat dilakukan konsultasi (rujukan) kepada sub-
bagian atau disiplin lain, atau pemeriksaan dengan alat yang lebih spesifik : FNB,
EKG, CT-Scan.
Pengkajian Imobilisasi
Dalam mengkaji imobilisasi, perlu dilakukan anamnesis menenai riwayat
penyakit
sekarang,
lamanya
mengalami
disabilitas,
penyakit
yang
dapat
memengaruhi kemampuan mobilisasi dan obat‐obatan yang dapat menyebabkan
imobilisasi. Keluhan nyeri, skrining depresi dan rasa takut jatuh serta pengkajian
lingkungan, termasuk kunjungan rumah bila perlu, penting dilakukan. Pada
pemeriksaan
fisik
perlu
diperiksa
status
kardiopulmonal,
pemeriksaan
muskuloskeletal yang mendetil misalnya kekuatan otot dan gerak sendi,
pemeriksaan status neurologis dan juga pemeriksaan kulit untuk identifikasi ulkus
dekubitus. Status imobilisasi pasien harus selalu dikaji secara terus‐menerus
(Rizka, 2015).
2. Penatalaksanaan
Kondisi multipatologi mengakibatkan seorang usia lanjut mendapatkan berbagai
jenis obat dalam jumlah banyak. Terapi non-farmakologi dapat menjadi pilihan untuk
mengatasi masalah pada pasien usia lanjut, namun obat tetap menjadi pilihan utama
sehingga polifarmasi sangat sulit dihindari. Prinsip penggunaan obat yang benar dan
tepat pada usia lanjut harus menjadi kajian multi/interdisiplin yang mengedepankan
pendekatan secara holistik (Setiati, Siti 2013).
a. Pengelolaan inkontinensia urin
Pengelolaan inkontinensia urin pada penderita usia lanjut, secara garis besar
dapat dikerjakan sebagai berikut (Simposium “Geriatric Syndromes: Revisited”
2011):
a) Program rehabilitasi, antara lain:

Melatih perilaku berkemih.

Modifikasi tempat berkemih (komodo, urinal).

Melatih respons kandung kemih.

Latihan otot-otot dasar panggul.
b) Katerisasi, baik secara berkala (intermitten) atau menetap (indweling).
c) Obat-obatan, antara lain untuk relaksasi kandung kemih, estrogen.
d) Pembedahan, misalnya: untuk mengangkat penyebab sumbatan atau
keadaan patologik lain, pembuatan sfingter artefisiil dan lain-lain.
e) Lain-lain, misalnya penyesuaian lingkungan yang mendukung untuk
kemudahan berkemih, penggunaan pakaian dalam dan bahan-bahan
penyerap khusus untuk mengurangi dampak inkontinensia.
b. Jatuh
Penatalaksanaan penderita jatuh dengan mengatasi atau mengeliminasi
faktor risiko, penyebab jatuh dan menangani komplikasinya. Penatalaksanaan ini
harus terpadu dan membutuhkan kerja tim yang terdiri dari dokter (geriatrik,
neurologik,
bedah
ortopedi,
rehabilitasi
medik,
psikiatrik
dan
lain-lain),
sosiomedik dan ahli lain yang terkait serta keluarga penderita.
Penatalaksanaan bersifat individual, artinya berbeda untuk setiap kasus
karena perbedaan faktor-faktor yang mengakibatkan jatuh. Lebih banyak pasien
jatuh karena kondisi kronik, multifaktoralsehingga diperlukan terapi gabungan
antara obat, rehabilitasi dan perbaikan lingkungan. Pada kasus lain intervensi
diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh ulangan, misalnya pembatasan
bepergian, penggunaan alat bantu gerak dan sebagainya
Faktor pelindungTerhadap Cedera Retak

Terapiestrogen

Berat badansetelah usia

Berjalanuntuk latihan

Asupankalsiumyang cukup
Pengobatanuntuk gangguan berjalan
1. Manajemen gangguan berjalan termasuk peningkatan kemampuan fungsional dan
pengobatan penyakit tertentu,namun banyak kondisi yang menyebabkan kelainan
gaya berjalan hanya sebagian dapat diobati.
2. Peningkatan substansial terjadi dalam pengobatan gangguan sekunder untukvitamin
B12 dan folat, penyakit tiroid, radang sendi lutut, penyakit Parkinson dan
polineuropati inflamasi.
3. Peningkatan Sedang, tetapi dengan cacat sisa, dapat terjadi setelah perawatan
bedah untuk myelopathy serviks, stenosis lumbar, dan hidrosefalus tekanan normal.
c. Sleep Dsiturbance
Pengobatan
a) Perawatan Non-farmakologis

Hilangkan faktor yang dicurigai: mengobati penyakit yang mendasari,
menghentikan atau mengubah obat, menghentikan alkohol, kafein atau
penggunaan nikotin.

Perubahan Kebiasaan: mengembangkan rutinitas persiapan tidur, gunakan
kamar
tidur
untuk
mempromosikan
tidur
keadaan
saja,
pikiran,
mengembangkan
mengurangi
tidur
cerita
siang
tidur
hari,
untuk
dan
mengembangkan latihan rutin sehari-hari.
b) Pengobatan farmakologis

Hanya direkomendasikan untuk penggunaan jangka pendek pada pasien yang
lebih tua.

Benzodiazepin dengan aksi pendek atau menengah seperti Temazepam(7,5-15
mg), dengan jangka waktu maksimum dua mingg uuntuk menghindari
ketergantungan.

Antihistamin dapat diterima untuk digunakan sesekali, namun cepat kehilangan
khasiat.

anti-depresan, misalnya, Trazadone, adalah pilihan yang baikuntuk insomnia
kronis.
d. Pencegahan Komplikasi Imobilisasi
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan meliputi penatalaksanaan farmakologik dan
non farmakologik. Upaya non farmakologis yang dapat dilakukan adalah dengan
beberapa terapi fisik dan latihan jasmani secara teratur. Pada pasien yang mengalami
tirah baring total, perubahan posisi secara teratur dan latihan di tempat tidur Selain itu,
mobilisasi dini berupa turun dari tempat tidur, berpindah dari tempat tidur ke kursi dan
latihan fungsional dapat dilakukan secara bertahap. Untuk mencegah terjadinya
dekubitus, hal yang harus dilakukan adalah menghilangkan penyebab terjadinya ulkus
yaitu bekas tekanan pada kulit. Untuk itu dapat dilakukan perubahan posisi lateral 30o,
penggunaan kasur anti dekubitus, atau menggunakan bantal berongga. Pada pasien
dengan kursi roda dapat dilakukan reposisi tiap jam atau diistirahatkan dari duduk.
Melatih pergerakan dengan memiringkan pasien ke kiri dan ke kanan serta mencegah
terjadinya gesekan juga dapat mencegah dekubitus. Pemberian minyak setelah mandi
atau mengompol dapat dilakukan untuk mencegah maserasi.
Kontrol tekanan darah secara teratur dan penggunaan obat‐obatan yang dapat
menyebabkan penurunan tekanan darah serta mobilisasi dini perlu dilakukan untuk
mencegah terjadinya hipotensi. Monitor asupan cairan dan makanan yang mengandung
serat perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya konstipasi. Selain itu juga perlu
dilakukan evaluasi dan pengkajian terhadap kebiasaan buang air besar pasien.
Pemberian nutrisi yang adekuat perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya
malnutrisi pada pasien imobilisasi.
Tata laksana farmakologis yang dapat diberikan terutama pencegahan terhadap
terjadinya trombosis. Pemberian antikoagulan yaitu Low dose heparin (LDH) dan low
molecular weight heparin (LMWH) merupakan profilaksis yang aman dan efektif untuk
pasien geriatri denganimobilisasi namun harus mempertimbangkan fungsi hati, ginjal
dan interaksi dengan obat lain (Rizka, 2015).
Pressure Ulcer
Pengobatan
1. Menilai seluruh aspek, bukan hanya ulkus karena tekanan, termasuk kesehatan
fisik, sakit, kesehatan psikososial, dan tekanan komplikasi ulkus.
2. Mencoba untuk menggunakan langkah-langkah yang ditetapkan penyembuhan luka
(PUSH) (NPUAP, 1997).
3. Menjaga prinsip-prinsip perawatan luka yang relevan dengan ulkus tekanan:
a. debridement luka
b. luka bersih
c. menggunakan
solusi
yang
TIDAK
membunuh
sel-sel;
JANGAN
menggunakan solusi yang yaitu sitotoksik hidrogen peroksida, Solusi
Dahenitu, atau Betadine
d. Mengairi luka, menggunakan kekuatan minimal
e. Tutup luka dengan bahan yang tepat
e. Delirium
Penggunaan benzodiazepin seharusnya dihindari, kecuali bila sumber
deliriumnya adalah reaksi putus zat alkohol atau sedatif atau ketika agitasi yang
berat tidak dapat dikontrol oleh obat neuroleptik. Hal ini disebabkan karena
benzodiazepin dapat menyebabkan reaksi berkebalikan yang memperburuk delirium.
Reaksi berkebalikan yang diakibatkan oleh benzodiazepin adalah sedasi yang
berlebihan yang dapat menyulitkan penilaian status kesadaran pasien itu sendiri
(Andri, Charles E. Damping, 2007).
Pada beberapa penelitian penggunaan obat neuroleptik, obat yang sering
dipakai pada kasus delirium adalah Haloperidol. Haloperidol digunakan karena profil
efek sampingnya yang lebih disukai dan dapat diberikan secara aman melalu jalur
oral maupun parenteral. Dosis yang biasa diberikan adalah 0,5 - 1,0 mg per oral
(PO) atau intra muscular maupun intra vena (IM/IV); titrasi dapat dilakukan 2 sampai
5 mg tiap satu jam sampai total kebutuhan sehari sebesar 10 mg terpenuhi. Setelah
pasien lebih baik kesadarannya atau sudah mampu menelan obat oral maka
haloperidol dapat diberikan per oral dengan dosis terbagi 2-3 kali perhari sampai
kondisi deliriumnya teratasi. Haloperidol intravena lebih sedikit menyebabkan gejala
ekstrapiramidal daripada penggunaan oral (Andri, Charles E. Damping, 2007).
f.
Infeksi
Pengobatan
infeksi
pada
lansia
juga
merupakan
masalah
karena
meningkatkan bahaya toksisitas obat antimikroba pada lansia. Terapi antibiotik
tergantung pada kuman patogen yang didapati.
1. Gangguan pendengaran
Rehabilitasi sebagai upaya untuk mengembalikan fungsi pendengaran dilakukan
dengan pemasangan alat bantu dengar (hearing aid). Pemasangan alat bantu
dengar hasilnya akan lebih memuaskan bila dikombinasikan dengan latihan
membaca ujaran (speech reading), dan latihan mendengar (auditory training),
prosedur pelatihan tersebut dilakukan bersama ahli terapi wicara (speech therapist).
Tujuan rehabilitasi pendengaran adalah memperbaiki efektifitas pasien dalam
komunikasi sehari-hari. Pembentukan suatu program rehabilitasi untuk mencapai
tujuan ini tergantung pada penilaian menyeluruh terhadap gangguan komunikasi
pasien secara individual serta kebutuhan komunikasi sosial dan pekerjaan.
Partisipasi pasien ditentukan oleh motivasinya. Oleh karena komunikasi adalah suatu
proses yang melibatkan dua orang atau lebih, maka keikutsertaan keluarga atau
teman dekat dalam bagian-bagian tertentu dari terapi terbukti bermanfaat.
Membaca
gerak
bibir
dan
latihan
pendengaran
merupakan
komponen
tradisional dari rehabilitasi pendengaran. Pasien harus dibantu untuk memanfaatkan
secara maksimal isyarat-isyarat visual sambil mengenali beberapa keterbatasan
dalam membaca gerak bibir. Selama latihan pendengaran, pasien dapat melatih
diskriminasi bicara dengan cara mendengarkan kata-kata bersuku satu dalam
lingkungan yang sunyi dan yang bising. Latihan tambahan dapat dipusatkan pada
lokalisasi, pemakaian telepon, cara-cara untuk memperbaiki rasio sinyal-bising dan
perawatan serta pemeliharaan alat bantu dengar.
Program rehabilitasi dapat bersifat perorangan ataupun dalam kelompok.
Penyuluhan dan tugas-tugas khusus paling efektif bila dilakukan secara perorangan,
sedangkan program kelompok memberi kesempatan untuk menyusun berbagai tipe
situasi komunikasi yang dapat dianggap sebagai situasi harian normal untuk tujuan
peragaan ataupun pengajaran.
Pasien harus dibantu dalam mengembangkan kesadaran terhadap isyarat-isyarat
lingkungan dan bagaimana isyarat-isyarat tersebut dapat membantu kekurangan
informasi dengarnya. Perlu diperagakan bagaimana struktur bahasa menimbulkan
hambatan-hambatan tertentu pada pembicara. Petunjuk lingkungan, ekspresi wajah,
gerakan tubuh dan sikap alami cenderung melengkapi pesan yang diucapkan. Bila
informasi dengar yang diperlukan untuk memahami masih belum mencukupi, maka
petunjuk-petunjuk lingkungan dapat mengisi kekurangan ini. Seluruh aspek
rehabilitasi pendengaran harus membantu pasien untuk dapat berinteraksi lebih
efektif dengan lingkungannya. (George L Adams,et al.,1997)
2. Depresi
Tata laksana depresi pada lansia dipengaruhi tingkat keparahan dan kepribadian
masing masing. Pada depresi ringan dan sedang, psikoterapi merupakan tata
laksana yang sering dilakukan dan berhasil. Akan tetapi, pada kasus tertentu atau
pada depresi berat, psikoterapi saja tidak cukup, diperlukan farmakoterapi. Banyak
orang membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat terutama keluarga dan
teman, keikutsertaan dalam kegiatan kelompok, atau berkonsultasi dengan tenaga
profesional untuk mengatasi depresi. Selain itu, mengatasi masalah terisolasi ketika
memasuki usia lanjut merupakan salah satu bagian penting dalam penyembuhan
dan
dapat
mencegah
episode
kekambuhan
penyakit.
Banyak
penelitian
menunjukkan bahwa aktif dalam kegiatan kelompok di lingkungan merupakan bagian
penting dalam kesehatan dan dapat meningkatkan kualitas hidup.
Pada umumnya, tata laksana terapi hanya menggunakan obat antidepresan,
tanpa merujuk pasien untuk psikoterapi, tetapi obat hanya mengurangi gejala, dan
tidak
menyembuhkan.
Antidepresan
bekerja
dengan
cara
menormalkan
neurotransmiter di otak yang memengaruhi mood, seperti serotonin, norepinefrin,
dan dopamin. Antidepresan harus digunakan pada lansia dengan depresi mayor dan
selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) merupakan obat pilihan pertama.
Beberapa obat antidepresan yang dapat digunakan pada lansia dengan kelebihan
dan kekurangan tiap golongan ada pada tabel 6. Pemilihan obat tersebut per individu
dengan pertimbangan efek samping dari tiap golongan. Pengobatan monoterapi
dengan dosis minimal digunakan pada awal terapi, dievaluasi apabila tidak ada
perubahan bermakna dalam 6-12 minggu. Lansia yang tidak berespons pada
pengobatan awal perlu mendapatkan obat antidepresan golongan lain dan dapat
dipertimbangkan penggunaan dua golongan antidepresan.
Pada lansia yang responsif dengan obat antidepresan, obat harus digunakan
dengan dosis penuh (full dose maintenance therapy) selama 6-9 bulan sejak
pertama kali hilangnya gejala depresi. Apabila kambuh, pengobatan dilanjutkan
sampai satu tahun. Strategi pengobatan tersebut telah berhasil menurunkan risiko
kekambuhan hingga 80%. Penghentian antidepresan harus dilakukan secara
bertahap agar tidak menimbulkan gejala withdrawal seperti ansietas, nyeri kepala,
mialgia, dan gejala mirip fl u (fl u-like symptoms). Lansia yang sering kambuh
memerlukan terapi perawatan dosis penuh terapi selama hidupnya. Selain
farmakoterapi dengan obat antidepresan, psikoterapi (talk therapy) memiliki peranan
penting dalam mengobati berbagai jenis depresi. Psikoterapi dilakukan oleh psikiater,
psikolog terlatih, pekerja sosial, atau konselor. Pendekatan psikoterapi dibagi dua,
yaitu cognitive-behavioral therapy (CBT) dan interpersonal therapy. CBT terfokus
pada cara baru berpikir untuk mengubah perilaku, terapis membantu penderita
mengubah pola negatif atau pola tidak produktif yang mungkin berperan dalam
terjadinya depresi. Interpersonal therapy membantu penderita mengerti dan dapat
menghadapi keadaan dan hubungan sulit yang mungkin berperan menyebabkan
depresi. Banyak penderita mendapat manfaat psikoterapi untuk membantu mengerti
dan memahami cara menangani faktor penyebab depresi, terutama pada depresi
ringan; jika depresi berat, psikoterapi saja tidak cukup, karena akan menimbulkan
depresi berulang
3. Imobilisasi
Pencegahan komplikasi imobilisasi
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan meliputi penatalaksanaan
farmakologik dan non farmakologik.

Non Farmakologis
Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan beberapa terapi fisik dan
latihan jasmani secara teratur. Pada pasien yang mengalami tirah baring total,
perubahan posisi secara teratur dan latihan di tempat tidur Selain itu,
mobilisasi dini berupa turun dari tempat tidur, berpindah dari tempat tidur ke
kursi dan latihan fungsional dapat dilakukan secara bertahap.Untuk
mencegah
terjadinya
dekubitus,
hal
yang
harus
dilakukan
adalah
menghilangkan penyebab terjadinya ulkus yaitu bekas tekanan pada kulit.
Untuk itu dapat dilakukan perubahan posisi lateral 30 o, penggunaan kasur anti
dekubitus, atau menggunakan bantal berongga. Pada pasien dengan kursi
roda dapat dilakukan reposisi tiap jam atau diistirahatkan dari duduk. Melatih
pergerakan dengan memiringkan pasien ke kiri dan ke kanan serta mencegah
terjadinya gesekan juga dapat mencegah dekubitus.Pemberian minyak
setelah mandi atau mengompol dapat dilakukan untuk mencegah maserasi.
Kontrol tekanan darah secara teratur dan penggunaan obat‐obatan yang
dapat menyebabkan penurunan tekanan darah serta mobilisasi dini perlu
dilakukan untuk mencegah terjadinya hipotensi. Monitor asupan cairan dan
makanan yang mengandung serat perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya
konstipasi. Selain itu juga perlu dilakukan evaluasi dan pengkajian terhadap
kebiasaan buang air besar pasien. Pemberian nutrisi yang adekuat perlu
diperhatikan untuk mencegah terjadinya malnutrisi pada pasien imobilisasi.

Farmakologis
Tata laksana farmakologis yang dapat diberikan terutama pencegahan
terhadap terjadinya trombosis. Pemberian antikoagulan yaitu Low dose
heparin (LDH) dan low molecular weight heparin (LMWH) merupakan
profilaksis yang aman dan efektif untuk pasien geriatri dengan imobilisasi
namun harus mempertimbangkan fungsi hati, ginjal dan interaksi dengan obat
lain.
3. Komplikasi
Imobilisasi dapat mengakibatkan komplikasi pada sistem pernafasan isalnya
penurunan ventilasi, atelektasis dan pneumonia. komplikasi endokrin dan ginjal,
peningkatan diuresis, natriuresis dan pergeseran cairan ekstraseluler, intoleransi
glukosa, hiperkalsemia dan kehilangan kalsium, batu ginjal serta keseimbangan
nitrogen negatif Komplikasi gastrointestinal yang dapat timbul adalah anoreksia,
konstipasi dan luka tekan (ulkus dekubitus). Pada sistem saraf pusat, dapat terjadi
deprivasi sensorik, gangguan keseimbangan dan koordinasi (Rizka, 2015).
Download