laporan singkat

advertisement
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT
REPUBLIK INDONESI
---------------------------------
LAPORAN SINGKAT
RAPAT DENGAR PENDAPAT UMUM PANJA PEMBERANTASAN
MAFIA HUKUM DAN PERPAJAKAN KOMISI III DPR RI DENGAN
PROF. DR. GUNADI DAN SDR.SASMITO HADINAGORO,
--------------------------------------------------(BIDANG HUKUM, PERUNDANG-UNDANGAN, HAM DAN KEAMANAN)
Tahun Sidang
Masa Persidangan
Rapat ke
Sifat
Jenis Rapat
Hari/tanggal
Waktu
Tempat
Ketua Rapat
Sekretaris Rapat
Hadir
Izin
Acara
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
2012-2013
IV
Terbuka
Rapat Dengar Pendapat Umum
Kamis, 13 Juni 2013
Pukul 11.10 – 13.10 WIB
Ruang Rapat Komisi III DPR RI.
Ir. Tjatur Sapto Edy, MT / Wakil Ketua Komisi III DPR RI.
Endah Sri Lestari, SH, M.Si / Kabag Set.Komisi III DPR-RI.
16 orang Anggota dari 26 orang Anggota Panja.
2 orang Anggota Panja.
Membicarakan masukan-masukan
penyelewengan / penerimaan pajak.
terkait
modus
terbaru
KESIMPULAN/KEPUTUSAN
I. PENDAHULUAN
Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi III DPR RI dibuka pukul 11.00 WIB oleh Wakil
Ketua Komisi III DPR RI, Ir. Tjatur Sapto Edy, MT dengan agenda rapat sebagaimana
tersebut diatas.
II. POKOK-POKOK PEMBICARAAN
Pertanyaan tertulis Komisi III DPR RI kepada Prof. DR. Gunadi (Mantan Direktur
Penyidikan Pajak dan Mantan Wakil Ketua PPATK), sebagai berikut :
1. Terkait dengan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Penyidikan Pajak
sesuai dengan ketentuan yang berlaku, agar dijelaskan terkait dengan
pengalaman bapak sebagai Dirjen Penyidikan Pajak dalam mengungkap kasuskasus mafia Hukum dan Perpajakan.
2. Bagaimana bentuk koordinasi selama ini dengan aparat penegak hukum atau
instansi lain seperti PPATK dan Bareskrim mabes Polri dalam pengusutan jaringan
mafia hukum dan perpajakan dan pengenalan modus-modus terkait dengan
penyelewengan, pengalihan, atau rekayasa pajak yang merugikan negara secara
aktif.
1
3. Agar dijelaskan terkait bagaimana mekanisme penelusuran dan pemberian data
kepada aparat penegak hukum terkait dengan pengungkapan oknum lain atau
perusahaan-perusahaan yang patut diduga telah melakukan penyelewengan pajak
yang terkait dengan oknum tertentu dan telah ditangani oleh pegawai pajak yang
telah atau diduga menyalahgunakan kewenangannya.
4. Meminta penjelasan terkait dengan perkembangan dari upaya atau program
pencegahan terhadap meluasnya mafia hukum dan perpajakan atau
penyelewengan pajak, yang telah dicanangkan dan dijadikan target oleh Dirjen
Pajak, berikut kendalanya.
5. Agar dijelaskan kasus-kasus apa saja yang pernah ditangani terkait dengan Mafia
Hukum dan Perpajakan.
a. Kasus-kasus apa saja yang pernah ditangani dan sampai sejauh mana
penanganan kasus-kasus tersebut.
b. Hambatan-hambatan yang dihadapi dalam penanganan kasus-kasus tersebut.
c. Bagaimana koordinasi dengan Bareskrim Mabes Polri dalam penanganan
kasus mafia hukum dan perpajakan.
d. Apakah ada upaya-upaya pencegahan yang telah dilakukan untuk mencegah
terjadinya kasus serupa di kemudian hari.
Agar dijelaskan terkait dengan modus-modus terbaru yang dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan atau perseorangan dalam melakukan praktek mafia
hukum dan perpajakan.
Pertanyaan tertulis Komisi III DPR RI kepada Sasmito Hadinegoro (Sekjen Asosiasi
Pembayar Pajak), sebagai berikut :
1. Panja Pemberantasan Mafia Hukum dan Perpajakan Komisi III DPR RI meminta
penjelasan terkait dengan modus-modus terbaru yang dilakukan oleh perusahaanperusahaan atau perseorangan dalam melakukan praktek-praktek mafia hukum
dan perpajakan khususnya penyelewengan penerimaan negara.
2. Berkaitan dengan banyaknya permasalahan penerimaan pajak dari sektor
pertambangan dan migas yang banyak merugikan negara saat ini, agar dijelaskan
mengenai upaya strategi dalam mengungkap praktek mafia hukum dan perpajakan
yang ada di sektor-sektor tersebut dan sektor lain yang belum terjamah. Agar
dijelaskan pula terkait dengan koordinasi antar instansi terkait serta hambatan
dalam perolehan dan analisa data atau informasinya.
3. Terkait dengan penerapan prinsip good governance yang salah satunya
mengedepankan akuntabilitas dan transparansi, agar dijelaskan terkait dengan
sistem pengawasan internal atau pelaksanaan audit yang ideal serta strategi
reformasi birokrasi terhadap pelaksanaan tugas dan upaya pengidentifikasian dari
bentuk penyimpangan dari pegawai pajak, beserta penerapan peraturan dan
sanksinya.
4. Panja Pemberantasan Mafia Hukum dan Perpajakan meminta penjelasan terkait
dengan kasus-kasus yang menonjol dan menjadi perhatian masyarakat, apakah
sudah dilaporkan ke penegak hukum dan bagaimana tindak lanjutnya?
5. Faktor-faktor apa yang menyebabkan sulitnya aparatur penegak hukum dan
lembaga terkait dalam mengungkap praktek-praktek mafia hukum dan perpajakan
di Indonesia yang semakin marak belakangan ini.
6. Apa langkah-langkah atau solusi yang strategis sebagai upaya pencegahan untuk
menyelesaikan persoalan mafia hukum dan perpajakan ini.
Beberapa hal yang disampaikan oleh Sasmito Hadinegoro, diantaranya sebagai
berikut :
 Pada prinsipnya, modus operandi tindak pidana perpajakan yang menyangkut
penyelewengan penerimaan negara sebenarnya masih mirip dan sejenis dengan
yang telah terjadi pada masa-masa yang telah lalu, seperti : penggelembungan
biaya-biaya operasi, penurunan omset produksi / penjualan, dividen terselubung,
transfer pricing antar group, dan pembuatan faktur PPn fiktif guna membobol kas
2







negara dengan pengajuan restitusi pajak fiktif yang dilakukan dengan kolusi
dengan aparat / pejabat pajak yang mencapai nilai trilyunan. Sebagai contoh,
kasus pidana pajak Asian Agri, Permata Hijau Sawit dan patut diduga pada
Wilmar Group. Di samping itu, yang perlu dicermati adalah setoran pajak aspal,
seperti yang terjadi di Kanwil Pajak Surabaya Tahun 2010 yang merugikan 350
wajib pajak sampai dengan Rp.350 milyar.
Dalam kaitannya dengan masalah kasus-kasus kejahatan pelanggaran hukum
yang menyebabkann kerugian dibidang keuangan negara yang pendanaannya
bersumber dari APBN, yang mana pada dasarnya berasal dari uang pajak yang
disetor oleh Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke maka sebenarnya
semua kasus-kasus besar yang menjadi perhatian publik sampai dengan saat ini
seperti : Skandal Pra Merger Century US 600 Juta, Century Gate Rp. 6,7 Trilyun,
BLBI Gate Rp. 640 Trilyun, subsidi bunga Obligasi rekapitulasi ex BLBI tahun
2003-2013 Rp. 600 Trilyun (kurang lebih Rp. 60 Trilyun, etc. dalam kenyatannya
semua kasus-kasus tersebut muaranya adalah “pembobolan” kas negara yang
ujungnya tetap memanfaatkan “Uang Pajak” yang seharusnya prioritasnya adalah
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat).
Harus diingat bahwa merujuk kepada UUD 1945 Pasal 23 Bab VIII tentang tata
kelola APBN yang diutamakan untuk kepentingan rakyat, dan merujuk pula kepada
UU Nomor 17 tahun 2003 tentang Tata Kelola Keuangan negara bahwa “
Pengeloolaan Keuangan Negara” harus dilakukan secara transparan dan
akuntabel serta dalam hal ini masyarakat berhak untuk mengetahuinya maka itu
ada alasan bagi para penanggung jawab pengelola uang negara yang berasal dari
APBN untuk menutup-nutupi berbagai masalah yang terkait dengan pertanggung
jawaban administrasi meskipun hanya “serupiah” selayaknya harus bisa diketahui
masyarakat secara terbuka.
Prinsip-prinsip pertanggungjawaban pengelolaan Keuangan Negara seperti itulah
yang menjadi landasan hukum dalam mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang
baik dan bersih (Good Governance – Good Government). Dengan demikian maka
dengan mengacu kepada penyelesaian pertanggung jawaban hukum yang telah
terbukti dapat “memenjarakan”” Gubernur Bank Indonesia Dr. Burhanudin
Abdullah dan Deputi Gubernur Bank Indonesia serta para pejabat Bank Indonesia
yang tersangkut skandal Keuangan Yayasan Bank Indonesia senilai Rp. 100
Milyar pada tahun 2009.
Mega Skandal Keuangan Negara/Perpajakan yang nilainya ratusan milyar sampai
dengan ratusan trilyun seperti : Skandal Pajak Paulus Tumewu yang telah P21
lengkap dihentikan pelimpahannya ke meja hijau oleh Menkeu Sri Mulyani pada 16
Oktober 2006 dengan pemberian informasi palsu kepada Jaksa Agung
Abdurrahman Saleh tentang adanya SKP Rp. 7,9 Milyar yang telah dilaporkan
kepada ketua Mahkamah Agung terdahulu (Harifin Tumpa) maupun Ketua
Mahkamah Agung saat ini Hatta Ali yang sampai dengan hari ini tidak ada tindak
lanjutnya.
Maraknya Mafia Pajak di lingkungan Kementerian Keuangan sampai dengan detik
hari ini karena kasus pidana pajak tidak menyentuh “Big Fish”nya dan tidak pernah
tersentuh hukum sebagaimana dilakukan kepada Gayus Tambunan, Dhana
Widyatmika, Pargio, Bahasyim, dan Suhartanto di Kanwil Surabaya.
Pada bulan April 2010 dalam Skandal SSP (Surat Setoran Pajak” aspal-asli tapi
palsu”) Rp. 350 Milyar dengan tanpa menyentuh pimpinan Ditjen Pajak sampai
dengan Menkeu yang selayaknya mempunyai tanggung jawab dalam
“Management Responsibility” dan “Management Policy”.
Dalam kaitannya dengan Century Gate yang merugikan Keuangan Negara sampai
dengan Rp. 6,7 trilyun yang sumbernya sebagai modal disetor ke LPS (Lembaga
Penjamin Simpanan) adalah juga Uang APBN yang 70% merupakan uang pajak
yang disetor oleh rakyat.
3
 Menteri
Keuangan
“patut
diduga”
menyalahgunakan
wewenangnya
mengalokasikan anggaran untuk memberikan subsidi bunga Obligasi Rekapitulasi
(OR) puluhan Trilyun dikala subsidi BBM untuk rakyat mau dibatasi. Subsidi BBM
untuk rakyat yang berasal dari uang pajak sesungguhnya lebih pantas diberikan
daripada untuk alokasi subsidi bunga OR yang penyajiannya di APBN pun tidak
dilakukan secara transparan dan akuntabel karena uang negara tersebut
dipergunakan untuk memberi subsidi kepada Perbankan seperti : BCA, Danamon,
CIMB NIAGA, BII, Permata, dll yang kebanyakan sahamnya dimiliki oleh pihak
asing sehingga sangat ironis rakyat Indonesia yang lebih miskin memberikan
“sedekah” kepada WNA di Malaysia, Singapore, Inggris, dll
 Bilamana uang pajak puluhan Trilyun tersebut sampai dengan tahun 2013 ini
bahkan berdasarkan data valid di Bank Indonesia akan berlanjut sampai dengan
tahun 2033 dan nilainya di re-schedule sampai dengan sebesar Rp. 3000 Trilyun
yang akan membebani generasi yang akan dating. Para Penegak Hukum di KPK,
Kejaksaan Agung dan Mabes Polri jikalau melakukan “pembiaran” tanpa turun
tangan untuk menyelesaikan secara tuntas Mega Skandal keuangan Negara yang
terbesar dalam abad ini yang mungkin lebih dahsyat daripada penindasan
penjajahan Belanda dan jepang selama 350 tahun di Republik Indonesia.
 Bahwa meskipun informasi dan data yang lengkap atas terjadinya mega skandal
perpajakan / keuangan negara yang patut diduga dapat menyeret para Menteri
Keuangan tahun 2003-2013 telah dilaporkan oleh Asosiasi Pembayar Pajak
Indonesia dan Gerakan Hidupkan Masyarakat Sejahtera pada kenyataannya
hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
 Faktor yang menyebabkan tindak lanjut dari semua tindakan aparat penegak
hukum dalam menangani kasus-kasus yang menyangkut big fish mafia keuangan
negara / perpajakan tidak pernah tuntas, dikarenakan pendekatan yang digunakan
secara politis, ke depannya dalam penanganan masalah pidana pelanggaran
keuangan negara dilakukan dengan mengedepankan penegakan hukum secara
murni dan konsekuen sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
 Pajak harus diselamatkan. Reformasi perpajakan yang memakan biaya pada
tahun 2006, ternyata miskin dengan keteladanan. Misalnya kasus Gayus
Tambunan dimana hanya sebagai pemeriksa, masih banyak persoalan di Dirjen
Pajak. Dirjen Pajak harus memberikan keteladanan. Ada potensi pajak ratusan
trilyun yang tahun 2013 ini akan hangus karena UU perpajakan yang lama hanya
10 tahun. Agar dicek dan diteliti apakah dalam klausul Release & Descharge
masalah pajak.
Diusulkan agar Panja pemberantasan mafia hukum dan
perpajakan dinaikkan ke tingkat Pansus. Perlu juga meminta kepada Dirjen Pajak
untuk membuat Surat Edaran terkait road map kepada kantor pajak seluruh
Indonesia. Undang-undang pajak masih efektif memungkinkan untuk diterapkan,
namun Dirjen Pajak perlu melakukan daluwarsa penetapan.
Beberapa hal yang disampaikan oleh Prof. DR. Gunadi, diantaranya sebagai berikut :
 Kegiatan penyusunan konsep pembinaan, pengendalian, dan pengawasan di
bidang pemeriksaan, penyidikan, dan penagihan pajak dilakukan oleh Direktorat
Pemeriksaan, Penyidikan dan Penagihan Pajak (Direktorat P4). Selain itu, karena
dalam Direktorat P4 juga ada pejabat fungsional pemeriksa dan Penyidik Pegawai
Negeri Sipil (PPNS), Dit P4 juga melakukan pemeriksaan dan penyidikan .
Menurut Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor: 994/KM.1/1993 ikhtisar
jabatan Direktur P4 adalah mengkoordinasikan penyusunan konsep pembinaan,
pengendalian dan pengawasan di bidang pemeriksaan, penyidikaan, dan
penagihan pajak, serta melakukan pemeriksaan dan penyidikan terhadap Wajib
Pajak Perseorangan dan Wajib Pajak Badan. Kegiatan pembinaan, pengendalian
dan pengawasan dilakukan dengan cara penyusunan konsep Surat Keputusan
dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak tentang Petunjuk Teknis Pemeriksaan,
Penyidikan, dan Penagihan Pajak serta mengkoordinasikian pemeriksaan dan
penyidikan Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
4
yang berlaku agar sasaran pemeriksaan, penyidikan, dan penagihan dapat dicapai
sesuai kebijakan yang telah ditetapkan. Dalam KMK-302/KMK.01/2004 sebagai
perubahan KMK-994/KM.01/1993 tugas pokok Dit P4 adalah menyiapkan
perumusan kebijakan, standarisasi dan bimbingan teknis serta evaluasi di bidang
pemeriksaan, penyidikan dan penagihan pajak. Dalam melaksanakan tugas
tersebut Direktorat P4 menyelenggarakan fungsi :
1. Penyiapan, perumusan, pemantauan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan
teknis pemeriksaan pajak;
2. Penyiapan, perumusan, pemantauan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan
teknis penyidikan pajak;
3. Penyiapan, perumusan, pemantauan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan
teknis penagihan pajak;
4. Pelaksanaan urusan pemeriksaan dan penyidikan pajak
5. Pelaksanaan administrasi Direktorat.
6. Karena selain tugas pokok dan fungsi perumusan kebijakan, standarisasi,
bimbingan teknis dan evaluasi hal-hal terkait pemeriksaan, penyidikan dan
penagihan pajak, juga disampiri tugas pelaksanaan urusan pemeriksaan dan
penyidikan pajak walau tidak banyak sesuai dengan situasi dan kondisi pada
masanya juga terdapat pengalaman penanganan kasus-kasus perpajakan.
 Sistem penentuan utang pajak yang diikuti sejak Tahun 1984, sesuai dengan
Pasal 12 UUKUP adalah sistem self assessment artinya berapa jumlah pajak yang
terutang dihitung sendiri oleh pembayar pajak kemudian membayarnya atau kalau
sudah mengangsur dan kena potong serta pungut memperhitungkannya dan
membayar kekurangannya dan melaporkan penghitungan dan pembayaran yang
telah lunas dalam SPT. Karena sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan
kewajiban maka SPT harus diisi dengan benar (penulisan, penghitungan,
penerapan ketentuan dan sesuai keadaan sebenarnya), lengkap (unsur objeknya,
lampirannya), dan jelas (asal-usulnya, dilengkapi dengan kelengkapannya).
Secara administratif, karena penghitungan pajak terutang ada pada pembayar
pajak, terjadi asymitri penguasaan informasi dan data perpajakan umumnya pada
mereka. Akibatnya, terdapat beberapa upaya efisiensi/penghematan beban pajak
baik yang secara hukum dibenarkan (avoidance) atau tidak dibenarkan (secara
melawan hukum –evasion). Beberapa bentuk mafia perpajakan pada saat itu: (1)
segaja menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Pengukuhan PKP (Pasal
39(1)(b)) (2) sengaja tidak menyampaikan SPT (...(c)), (3) sengaja menyampaikan
SPT dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap (...(d)), (4)
sengaja tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut (...(i)), (5)
sengaja: (Pasal 39A(a)) menerbitkan dan/atau menggunakan faktur pajak yang
tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya, atau (... (b)) menerbitkan faktur
pajak tetapi belum dikukuhkan sebagai PKP. Pada saat itu, kebanyakan mafia
perpajakan adalah: (1) permintaan restitusi PPN karena ekspor melalui ekspor fiktif
dan faktur yang tidak sesuai dengan transaksi sebenarnya, (2) menerbitkan faktur
pajak dengan NPPKP pengusaha lain, (3) mengubah SPT Masa PPN yang sudah
disampaikan ke KPP (kerjasama dengan oknum Pajak – untuk mengakali
konfirmasi faktur pajak), (4) jual-beli faktur pajak fiktif – ada saat itu ada 15 model
faktur pajak bermasalah, (5) pengisian SPT tidak benar (penghasilan di mark
down, biaya dan pengurang di mark up, agar PPh rendah misalnya oleh beberapa
pedagang valas).
 Beberapa indikasi faktur pajak bermasalah pada saat itu: (1) perusahaan baru
diukuhkan atau lama tidak aktif tiba-tiba bangun kembali dengan omset bulanan
cukup besar; (2) lokasi perusahaan tidak sesuai dengan profile kegiatan berupa
omset dalam SPT (rumah tinggal biasa, pos keamanan, tanah kosong, makam,
bahkan tidak dikenal), (3) modal usaha relatif kecil, (4) omset, PM dan PK tidak
sebanding dengan modal kerja, (5) sering pindah alamat (tiap triwulan), dan (6)
data pengukuhan (kopi KTP, KK, keteraangan domisili, dsb) umumnya palsu.
5
 Double accounting/reporting berupa laporan keuangan fiskal dan komersiil sudah
dimanfaatkan, namun karena audited accounting report sering direkayasa, maka
walaupun menunjukkan jumlah omset dan laba jauh lebih besar dari jumlah omset
dan laba fiskal, namun PPNS kesulitan membuktikannya bahwa laporan tersebut
yang benar.
 Pada saat pembukaan cabang bank di tax haven jurisdictions (Cayman Island,
Virgin Island, Cocos Island, dsb) cukup marak menampung deposito kebanyakan
warga Indonesia. Mau dibawa keranah penyidikan, karena berada di luar wilayah
Indonesia, tidak mudah. Saat itu diatasi dengan mengharuskan memotong pajak
atas bunga deposito.
 Selain itu, sudah mulai dioperasikan anak-anak perusahaan sebagai, SPV cukup
dengan modal minimal hanya beberapa USD, di beberapa jurisidiksi suaka pajak
dengan modus penjualan barang ke negara tujuan melalui SPV kemudian
bangkrut sehingga tidak dapat membayar utang dan dihapuskan dengan legal
opinion dari lawyer setempat.
 Bahwa sebagai Direktur, jalinan kerja sama dengan Bareskrim dan Korwas sangat
baik dan efektif hampir semua penyidikan kita melibatkana dan meminta
bantuannya. Semua PPNS mendapatkan diklat perintelegensian dan penyidikan
serta pemberkasan di Pusdiklat Megamendung. Beberapa kali dilakukan operasi
tangkap tangan calon TSK dengan bantuan teman2 dari Bareskrim. Bahkan ketika
Bp Jenderal Dai Bahtiar menjabat Kapolri diadakan rapat tindakan penyidikan di
Mabes dan kepergian ke lokasi penyidikan di luar Jawa difasilitasi alat transport
dari Polri. Kerjasama dengan Kejaksaan juga cukup bagus, sebelum dilakukan
penyidikan dari pemeriksaan bukti permulaan dilakukan gelar perkara dengan
menghadirkan teman2 dari Polri danh Kejaksaan untuk memperoleh masukannya.
Kadangkala PPNS mendapat data dan informasi perpajakan dari Bareskrim.
PPATK didirikan berdasar Undang-undang No. 15 tahun 2002 tentang Tindaki
Pidana Pencucian Uang yang ditandatangani pada tanggal 17 April 2002
(kemudian dijadikan hari berdirinya lembaga tersebut). Namun, PPATK baru mulai
aktif sekitar tahun 2003, sejak saat itu sudah mulai ada kontak dan hubungan
karena tindak pidana di bidang perpajkan menjadi salah satu predicate crime
tindak pidana pencucian uang. Hubungan mulai agak intens setelah perubahan
Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata cara
Perpajakan diubah dngan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007, karena adata
transaksi keuanagan menjadi salah satu data dan informasi perpajkan yang
dimaksudkan dapat diperoleh Ditjen Pajak. Bahkan sejak saat itu adalaison officer
dari Ditjen Pajak untuk ke PPATK, dan hampir semua penyidikan dimintakan data
transaksi keuangan dan rekening bank dari PPATK. Sejak diberlakukannya UU
No. 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang yang memberi
kewenangan kepada Direktorat Jenderal Pajak untuk melakukan penyidikan
TPPU, bersama Polri, Kejaksaan, KPK, BNN, dan Bea Cukai, kerjasama antara
DJP dengan PPATK dsemakin intens, apalagi 6 lembaga penyidik TPPU
membentuk data interchange agar mereka saling mengetahui dan bersinergi
dalam penyidikan TPPU dan predicate crimenya. Semenjak itu, PPATK
mengirimkan Laporan Hasil Analisis atas transaksi mencurigakan yang diduga
terkait tindak pidana di bidang perpajakan sebagai tindak pidana asalnya. Selain
itu PPATK juga membantu DJP dalam mengungkap transaksi-transaksi keuangan
yang terkait dengan kasus-kasus tindak pidana di bidang perpajakan yang sedang
ditangani DJP.
 Pada saat, belum diatur mekanisme khusus terkait hal tersebut, namun jika ada
oknum pegawai yang terlibat penyalahgunaan wewenang ditangani oleh bagian
Organisasi dan Tata Laksana (Organta setingkat Eselon III) pada Sekretaris
Direktorat Jenderal Pajak atau Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan.
 Dalam Pasal 36A Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan
Ketiga Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara perpajakan mengatur pengenaan sanksi sesuaai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan atas pegawai yang: (1) karena kelalaiannya atau
6







sengaj menghitung atau menetapkan pajak tidak sesuai dengan ketentuan
undang-undang perpajakan, (2) dalam melakukan tugasnya denganh sengaja
bertindak diluar kewenangannya yang diatur dalam ketentuan perundangundangan perpajakan, dapat diadukan ke unit internal Departemen Keuangan
yang berwenanag melakukan pemeriksaan dan investigasi dan terbukti
melakukannya, (3) dalam melakukan tugasnya terbukti melakukan pemerasan dan
pengancaman kepada Wajib Pajak untuk mrnguntungksn diri sendiri secara
melawan hukum, atau (4) dengan maksud menguntungkan diri sendiri secara
melawan hukum dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang
untuk memberikan sesuatu , untuk membayar, atau untuk mengerjakan sesuatu
bagi dirinya sendiri. Namun Pasal 36A(5) juga menyatakan bahwa pegawai tidak
dapat dituntut, baik secara perdata maupun pidana, apabila dalam melaksanakan
tugasnya didasarkan pada iktikad baik dan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan. Sejak tahun 2010 Menteri Keuangan telah
menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 10/KMK.03/2011 tentang
Pedoman Pelaksanaan Penanganan Pengenaan Sanksi Sesuai Ketentuan Pasal
36A Undang-Undang nomor 28 Tahun 2007 tersebut.
Dalam Keputusan Menteri Keuangan tersebut pada diktum Keenam mengatur
bahwa:“Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan, atau unit pengawasan
internal pada Direktorat Jenderal Pajak, setelah menerima laporan atau
pengaduan sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kelima, melakukan pelimpahan
kasus kepada aparat penegak hukum melalui Inspektur Jenderal atas nama
Menteri Keuangan, apabila berdasarkan hasil investigasi terdapat indikasi adanya
perbuatan pidana.”
Karena itu, mekanisme penelusuran dan pemberian data kepada aparat penegak
hukum terkait dengan pengungkapan oknum lain atau perusahaan-perusahaan
yang patut diduga telah melakukan penyelewengan pajak yang terkait dengan
oknum tertentu dan telah ditangani oleh pegawai pajak yang telah atau diduga
menyalahgunakan kewenangannya, telah cukup jelas diatur dengan Keputusan
Menteri Keuangan tersebut. Selain itu menurut saya, lembaga penegak hukum
termasuk DJP masing-masing telah memiliki mekanisme tersendiri untuk
menangani dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan pegawainya.
Bahwa pencegahan terhadap meluasnya mafia hukum dan perpajakan atau
penyelewengan pajak telah menjadi perhatian utama pemerintah, hal ini tampak
dari diterbitkannya Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011
tentang Percepatan Penyelesaian Kasus-Kasus Hukum dan Penyimpangan Pajak.
Dalam Instruksi Presiden tersebut diantaranya Presiden menginstruksikan
KAPOLRI, Jaksa Agung, Menteri Hukum dan HAM serta Menteri Keuangan untuk :
Mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi dan
kewenangan masing-masing secara terkoordinasi dan terintegrasi dalam rangka
percepatan penyelesaian kasus-kasus hukum dan penyimpangan pajak termasuk
dan tidak terbatas pada kasus Gayus HP Tambunan
Mempercepat proses penegakan hukum secara sinergis dengan melibatkan Pusat
Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan dan Satuan Tugas Pemberantasan
Mafia Hukum, serta lebih meningkatkan koordinasi dan kerjasama dengan Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Melakukan evaluasi dan perbaikan sistem kerja dan semua aturan yang terkait,
yang dinilai memliki kelemahan atau memberi peluang terjadinya penyimpangan
dan/atau kejahatan.”
Menindaklanjuti Instruksi Presiden tersebut Kementerian Keuangan dan Direktorat
Jenderal Pajak telah melakukan beberapa langkah sebagai berikut:
1. Menindaklanjuti kasus-kasus penyimpangan pajak yang telah memenuhi bukti
awal tindak pidana di bidang perpajakanke tingkat penyidikan.
2. Meningkatkan koordinasi dan sinergi dengan aparat penegak hukum lain yang
dikukuhkan dalam bentuk penandatangan MOU dengan PPATK, KAPOLRI dan
Jaksa Agung. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat proses penegakan
hukum secara sinergis.
7
3. Bekerjasama dengan KPK dalam mengungkap kasus-kasus TIPIKOR yang
melibatkan pegawai DJP.
4. Memperbaiki sistem kerja terutama terkait pengendalian internal dalam rangka
mencegah dan melakukan deteksi dini serta memperkecil peluang
penyimpangan dan atau kejahatan yang mungkin dilakukan dalam
pelaksanaan tugas DJP dengan menerapkan Whistle Blowing System yang
diatur dalam Peraturan Dirjen Pajak nomor PER-22/PJ/2011.
 Bahwa kasus-kasus yang pernah ditangani terkait Mafia hukum dan perpajakan
adalah kasus-kasus yang ada di media masa yaitu, misalnya kasus Gayus
Tambunan, dalam penanganan kasus tersebut yang menangani adalah pihak
Mabes Polri, DJP hanya membantu penyediaan data dan informasi yang
dibutuhkan penyidik dalam pengungkapan kasus tersebut. Saya tidak mengetahui
secara pasti hambatan-hambatan apa yang dihadapi penyidik Polri dalam
menangani kasus tersebut.
 Beberapa modus mafia perpajakan antara lain adalah sebagai berikut:
1. Modus yang konvensional yang sampai saat ini masih dilakukan para
penyelundup pajak PPN adalah pemanfaatan faktur pajak fiktif (tidak sesuai
dengan transaksi sebenarnya).
2. Treaty shopping yaitu memanfaatkan Persetujuan Penghindaran Pajak
Berganda (P3B) antara Indonesia dengan negara mitra tertentu untuk
mendapatkan manfaat penurunan tarif atau tidak dikenakan pajak/potongan
pajak di Indonesia. Misalnya, pembentukan kantor pusat perusahaan di negara
yang mempunyai P3B dengan Indonesia dengan tax benefit berupa tarif rendah
untuk branch-profit tax, seperti yanag dilansir oleh BPK di Harian Kompas
kemarin dengan membentuk Kantor Pusat PSC Migas di Inggris sehingga
menghindari tarif PPh Pasal 26 sebesar 20% (sesuai dengan kontrak) dan
memilih dikenakan sesuai dengan tarif P3B 10%.
3. Penyalah gunaan P3B (treaty abuse) selain treaty shopping (tidak hanya untuk
branch-profit tax Migas, tapi juga banyak dilakukan dengan modus mendirikan
SPV di Belanda dan memberikan pinjaman (back-to-back loan) berbunga
kepada anggota grupnya karena dalam Pasal 11(4) P3B Indonesia-Belanda
menyatakan bunga dari utang komersial lebih dari 2 tahun dan dari penjualan
kredit atas perlengkapan komersial, industrial dan sains, bebas potongan
pajaknya), modus controlled-foreign corporation (CFC), nominee atau conduit
company, dan modus government controlled or guaranteed financial institutions
(yang biasanya berdasar P3B bebas dari potongan PPh).
4. Transformasi penghasilan royalti karena pemakaian trade mark, atau knowhow (pengetahuan dan pengalaman berproduksi) menjadi technical services
fees. Royalti kena potongan PPh Pasal 26 sekitar 10% (tarif statuter UUPPh –
20%), sedangkan untuk penyerahan jasa teknis untuk dikenakan pajak harus
ada Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang baru ada jika pemberian jasa
berlangsung sekitar lebih dari 90 -120 hari. Mereka memberian njasa hanya
sekitar beberapa hari saja, namun pembayaran technical services setiap tiga
bulan sepanjang tahun.
5. Thin capitalization membiayai perusahaan lebih banyak dengan utang (debt)
ketimbang dengan modal sendiri (equity) karena cost of loan (bunga) dapat
dibiayakan (tax deductible), sedangkan cost of equity capital (dividen) tidak.
Modus ini dikuti dengan back-to-back loan dan paralel loan.
6. Transfer pricing (harga transfer) dengan mendirikan perusahaan grup dengan
memanfaatkan jurisdiksi yang tarif pajaknya rendah (seperti Singapura – 17%;
Hong Kong 16%, Makao, dan beberapa negara kepulauan sebagai Special
Purpose Vehicle – SPV). Modusnya ialah barang langsung dikirim kepada
pembeli sebenarnya, tetapi faktur komersial dilewatkan melalui para SPV
dimaksud, sehingga total beban pajak global menjadi rendah. Dari pemberitaan
mass media praktik demikian kebanyakan dilakukan misalnya oleh para
eksportir produk perkebunan, hasil tambang mineral, dsb.
8
7. Fictitiuous expenses dalam grup perusahaan baik yang berinduk di manca
negara maupun perusahaan WPDN, melalui biaya manajemen, jasa, service
center, alokasi biaya penelitian dan biaya kantor pusat, royalti serta biaya
lainnya.
8. Tax eficiency supply chain management (pengefisienan beban pajak global
melalui rekayasa pengelolaan jalaur pemasok). Modus ini dilakukan dengan
membentuk Head Ofice di jurisdiksi yang menawarkan tax benefits (biasanya di
no/low tax haven jurisdiction) yang menangani pengadaan bahan baku,
sampai distribusi produk kepada pembeli sebenarnya. Sedangan fungsi
pabrikan (anak perusahaannya) dikerdilkan menjadi hanya contract
manufacturing (punya bahan namun berproduksi hanya berdasar pesanan)
atau toll manufacturing (ala tukang jahit), dan fungsi distributor juga dikerdilkan
untuk tidak menanggung risiko sehingga alokasi laba sangat minimal, karena
sebagian besar risiko usaha ditanggung Head Office dan akibatnya laba
dialokasikan kesana sehingga beban pajak global rendah.
Beberapa hal lainnya yang menjadi pokok-pokok pembahasan, diantaranya sebagai
berikut :
 Dengan banyaknya kasus-kasus perpajakan sampai saat ini, terkesan tidak ada
bentuk pengawasan terhadap para pejabat pemeriksa pajak, seperti Gayus
Tambunan.
 Bahwa banyaknya kasus-kasus perpajakan, disebabkan karena ketidakpahaman
para penegak hukum dan regulasi pajak yang masih kurang komprehensif
sehingga meninggalkan celah-celah untuk mafia pajak.
 Bahwa PPH 21 dan Pasal 13 KUP perlu diperhatikan, dan meminta Dirjen Pajak
untuk membuat road map bagi Kepala KUP.
 Agar membuat sistem pembayaran pajak yang mudah, murah, dan aman, demi
menciptakan situasi kepatuhan pajak dan penerapan sanksi pajak.
 Perlunya pengawalan Komisi III DPR RI terhadap aparat penegak hukum terkait
kasus BLBI dan kasus-kasus besar lainnya.
 Bahwa Asosiasi Pembayar Pajak telah menyelamatkan uang sejumlah Rp.2 miliar,
dari petugas pajak.
 Hal-hal apa saja yang membuat KPK, Polri dan Kejaksaan Agung tidak berdaya
dalam mengusut kasus perpajakan. Jalan keluar seperti apa yang seharusnya
dilakukan agar kasus – kasus pajak dapat dilakukan oleh KPK, Polri dan
Kejaksaan Agung. Dalam tatarna regulasi, apa yang seharusnya di lakukan oleh
DPR.
 Bahwa regulasi yang terkait dengan perpajakan banyak disinyalir adanya peluang
untuk dilakukan kecurangan-kecurangan.
 Terhadap hal-hal yang disampaikan oleh Sdr.Sasmito Hadinagoro kepada KPK,
Komisi III DPR RI agar mengawal hal tersebut dan dipertanyakan kembali kepada
KPK, sampai sejauhmana tindaklanjutnya.
 Apakah dimungkinkan dengan adanya aturan yang ada saat ini, system
perpajakan dapat berjalan dengan baik. Bahwa perlunya manajemen responsibility
dari Dirjen Pajak.
 Bahwa dalam penyampaian data-data dalam kasus BLBI, diduga oknum-oknum
tertentu telah melakukan kebohongan publik.
 Bahwa adanya potensi pajak yang ratusan triliun yang tahun ini diperkirakan akan
hangus, maka perlunya segera penetapan objek pajak, sebelum daluarsa tahun
2014.
 Bahwa patut diduga oknum-oknum di Bank Mandiri telah melakukan
penyelundupan obligasi dan rekapitalisasi sebesar Rp.170 triliun yang tidak
dicantumkan.
 Banyaknya uang pajak yang dirampok untuk membayar utang-utang pengusaha
besar dan banyaknya pencetakan faktur pajak fiktif. Bahwa faktur pajak fiktif terjadi
pada era Darmin Nasution dan Sri Mulyani.
9
 Meminta penjelasan kepada asosiasi pembayar pajak, apakah tidak ada penyidik
yang mengawasi para pegawai pajak. Dapat disampaikan bahwa banyak kasuskasus pajak yang telah dilaporkan ke KPK, namun tidak ada tindaklanjut.
 Panja harus memantau harmonisasi antara regulasi yang ada (KUP) dengan
praktik yang ada.
 Agar Panja segera mengeluarkan ouput untuk perbaikan sistem perpajakan ke
depannya, dan diusulkan status Panja menjadi Pansus.
 Dalam rangka perbaikan sistem perpajakan serta penegakan hukum dalam kasus
perpajakan, Komisi III DPR RI agar mengusulkan untuk dilakukannnya revolusi
hukum dan revolusi keuangan negara.
 Terhadap kasus-kasus pajak yang daluarsanya tahun 2014 seperti kasus yang
terkait dengan BLBI, agar menjadi fokus dan perhatian Komisi III DPR RI untuk
dapat segera diselesaikan oleh penegak hukum pada tahun 2013 ini. Apabila tidak
diselesaikan, maka pajak-pajak tersebut menjadi hapus pada tahun 2014.
 Terhadap kasus-kasus perpajakan lainnya di luar kasus BLBI, Komisi III DPR RI
harus tetap mengawal terhadap penyelesaian kasus tersebut yang dilakukan oleh
penegakan hukum hingga penyelesaian pajaknya serta kasusnya selesai.
 Komisi III DPR RI agar mengeluarkan petisi serta melakukan pengawalan
penuntasan kasus-kasus perpajakan kepada penegak hukum dalam rangka
penyelesaian-penyelesaian kasus-kasus perpajakan yang sangat besar dan
berdimensi besar.
III. PENUTUP
Rapat dengar pendapat umum Panja Pemberantasan Mafia Hukum dan
Perpajakan Komisi III DPR RI dengan Prof. Gunadi dan Sasmito Hadinegoro tidak
mengambil kesimpulan, namum Pimpinan rapat menyampaikan hal-hal sebagai
berikut :
1. Panja Pemberantasan Mafia Hukum dan Perpajakan harus serius terkait dengan
daluwarsa pajak dengan nilai ratusan trilyun yang akan berakhir pada tahun 2013
ini, oleh karena itu setidak-tidaknya mulai bulan depan perlu penanganan serius
oleh Panja Pemberantasan Mafia Hukum dan Perpajakan terhadap persoalan ini
2. Kasus-kasus perpajakan yang lain agar dilakukan pengkajian kembali, dan perlu
dikawal sampai ke aparat penegak hukum untuk memastikan bahwa kasus-kasus
tersebut diproses secara hukum sampai tuntas.
3. Konsepsi yang disampaikan oleh Prof. Gunadi menjadi perhatian Komisi III DPR
RI untuk perbaikan penegakan hukum di sektor pajak ke depan.
Rapat ditutup tepat pukul 13.13 WIB
PIMPINAN KOMISI III DPR RI
WAKIL KETUA,
IR. TJATUR SAPTO EDY, MT
10
I. Prof. Gunadi :
1. Terkait dengan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Penyidikan Pajak,
kegiatan penyusunan konsep pembinaan, pengendalian, dan pengawasan di bidang
pemeriksaan, penyidikan, dan penagihan pajak dilakukan oleh Direktorat
Pemeriksaan, Penyidikan dan Penagihan Pajak (Direktorat P4). Selain itu, karena
dalam Direktorat P4 juga ada pejabat fungsional pemeriksa dan Penyidik Pegawai
Negeri Sipil (PPNS), Dit P4 juga melakukan pemeriksaan dan penyidikan . Menurut
Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor: 994/KM.1/1993 ikhtisar jabatan Direktur
P4 adalah mengkoordinasikan penyusunan konsep pembinaan, pengendalian dan
pengawasan di bidang pemeriksaan, penyidikaan, dan penagihan pajak, serta
melakukan pemeriksaan dan penyidikan terhadap Wajib Pajak Perseorangan dan
Wajib Pajak Badan. Kegiatan pembinaan, pengendalian dan pengawasan dilakukan
dengan cara penyusunan konsep Surat Keputusan dan Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak tentang Petunjuk Teknis Pemeriksaan, Penyidikan, dan Penagihan
Pajak serta mengkoordinasikian pemeriksaan dan penyidikan Wajib Pajak sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku agar sasaran
pemeriksaan, penyidikan, dan penagihan dapat dicapai sesuai kebijakan yang telah
ditetapkan. Dalam KMK-302/KMK.01/2004 sebagai perubahan KMK-994/KM.01/1993
tugas pokok Dit P4 adalah menyiapkan perumusan kebijakan, standarisasi dan
bimbingan teknis serta evaluasi di bidang pemeriksaan, penyidikan dan penagihan
pajak. Dalam melaksanakan tugas tersebut Direktorat P4 menyelenggarakan fungsi :
a. Penyiapan, perumusan, pemantauan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan
teknis pemeriksaan pajak;
b. Penyiapan, perumusan, pemantauan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan
teknis penyidikan pajak;
c. Penyiapan, perumusan, pemantauan dan pengendalian pelaksanaan kebijakan
teknis penagihan pajak;
d. Pelaksanaan urusan pemeriksaan dan penyidikan pajak
e. Pelaksanaan administrasi Direktorat.
Karena selain tugas pokok dan fungsi perumusan kebijakan, standarisasi,
bimbingan teknis dan evaluasi hal-hal terkait pemeriksaan, penyidikan dan penagihan
pajak, juga disampiri tugas pelaksanaan urusan pemeriksaan dan penyidikan pajak
walau tidak banyak sesuai dengan situasi dan kondisi pada masanya juga terdapat
pengalaman penanganan kasus-kasus perpajakan.
Sistem penentuan utang pajak yang diikuti swejak tahun 1984, sesuai dengan
Pasal 12 UUKUP adalah sistem self assessment artinya berapa jumlah pajak yang
terutang dihitung sendiri oleh pembayar pajak kemudian membayarnya atau kalau
sudah mengangsur dan kena potong serta pungut memperhitungkannya dan
membayar kekurangannya dan melaporkan penghitungan dan pembayaran yang
telah lunas dalam SPT. Karena sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan
kewajiban maka SPT harus diisi dengan benar (penulisan, penghitungan, penerapan
ketentuan dan sesuai keadaan sebenarnya), lengkap (unsur objeknya, lampirannya),
dan jelas (asal-usulnya, dilengkapi dengan kelengkapannya). Secara administratif,
karena penghitingan pajak terutang ada pada pembayar pajak, terjadi asymitri
penguasaan informasi dan data perpajakan umumnya pada mereka. Akibatnya,
terdapat beberapa upaya efisiensi/penghematan beban pajak baik yang secara
hukum dibenarkan (avoidance) atau tidak dibenarkan (secara melawan hukum –
evasion). Beberapa bentuk mafia perpajakan pada saat itu: (1) segaja
menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Pengukuhan PKP (Pasal 39(1)(b))
(2) sengaja tidak menyampaikan SPT (...(c)), (3) sengaja menyampaikan SPT
dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap (...(d)), (4) sengaja
11
tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut (...(i)), (5) sengaja: (Pasal
39A(a)) menerbitkan dan/atau menggunakan faktur pajak yang tidak berdasarkan
transaksi yang sebenarnya, atau (... (b)) menerbitkan faktur pajak tetapi belum
dikukuhkan sebagai PKP. Pada saat itu, kebanyakan mafia perpajakan adalah: (1)
permintaan restitusi PPN karena ekspor melalui ekspor fiktif dan faktur yang tidak
sesuai dengan transaksi sebenarnya, (2) menerbitkan faktur pajak dengan NPPKP
pengusaha lain, (3) mengubah SPT Masa PPN yang sudah disampaikan ke KPP
(kerjasama dengan oknum Pajak – untuk mengakali konfirmasi faktur pajak), (4) jualbeli faktur pajak fiktif – ada saat itu ada 15 model faktur pajak bermasalah, (5)
pengisian SPT tidak benar (penghasilan di mark down, biaya dan pengurang di mark
up, agar PPh rendah misalnya oleh beberapa pedagang valas).
Beberapa indikasi faktur pajak bermasalah pada saat itu: (1) perusahaan baru
diukuhkan atau lama tidak aktif tiba-tiba bangun kembali dengan omset bulanan
cukup besar; (2) lokasi perusahaan tidak sesuai dengan profile kegiatan berupa
omset dalam SPT (rumah tinggal biasa, pos keamanan, tanah kosong, makam,
bahkan tidak dikenal), (3) modal usaha relatif kecil, (4) omset, PM dan PK tidak
sebanding dengan modal kerja, (5) sering pindah alamat (tiap triwulan), dan (6) data
pengukuhan (kopi KTP, KK, keteraangan domisili, dsb) umumnya palsu.
Double accounting/reporting berupa laporan keuangan fiskal dan komersiil sudah
dimanfaatkan, namun karena audited accounting report sering direkayasa, maka
walaupun menunjukkan jumlah omset dan laba jauh lebih besar dari jumlah omset
dan laba fiskal, namun PPNS kesulitan membuktikannya bahwa laporan tersebut
yang benar.
Pada saat itu pembukaan cabang bank di tax haven jurisdictions (Cayman Island,
Virgin Island, Cocos Island, dsb) cukup marak menampung deposito kebanyakan
warga Indonesia. Mau dibawa keranah penyidikan, karena berada di luar wilayah
Indonesia, tidak mudah. Saat itu diatasi dengan mengharuskan memotong pajak atas
bunga deposito.
Selain itu, sudah mulai dioperasikan anak-anak perusahaan sebagai, SPV
cukup dengan modal minimal hanya beberapa USD, di beberapa jurisidiksi suaka
pajak dengan modus penjualan barang ke negara tujuan melalui SPV kemudian
bangkrut sehingga tidak dapat membayar utang dan dihapuskan dengan legal
opinion dari lawyer setempat.
2. Bentuk koordinasi selama ini dengan aparat penegak hukum atau instansi lain seperti
PPATK dan Bareskrim Mabes Polri dalam pengusutan jaringan mafia hukum dan
perpajakan, sangat baik dan efektif hampir semua penyidikan kita melibatkan dan
meminta bantuannya. Semua PPNS mendapatkan diklat perintelegensian dan
penyidikan serta pemberkasan di Pusdiklat Megamendung. Beberapa kali dilakukan
operasi tangkap tangan calon TSK dengan bantuan teman2 dari Bareskrim. Bahkan
ketika Bp Jenderal Dai Bahtiar menjabat Kapolri diadakan rapat tindakan penyidikan
di Mabes dan kepergian ke lokasi penyidikan di luar Jawa difasilitasi alat transport
dari Polri. Kerjasama dengan Kejaksaan juga cukup bagus, sebelum dilakukan
penyidikan dari pemeriksaan bukti permulaan dilakukan gelar perkara dengan
menghadirkan teman2 dari Polri danh Kejaksaan untuk memperoleh masukannya.
Kadangkala PPNS mendapat data dan informasi perpajakan dari Bareskrim.
PPATK didirikan berdasar Undang-undang No. 15 tahun 2002 tentang Tindaki Pidana
Pencucian Uang yang ditandatangani pada tanggal 17 April 2002 (kemudian
dijadikan hari berdirinya lembaga tersebut). Namun, PPATK baru mulai aktif sekitar
tahun 2003, sejak saat itu sudah mulai ada kontak dan hubungan karena tindak
pidana di bidang perpajkan menjadi salah satu predicate crime tindak pidana
pencucian uang. Hubungan mulai agak intens setelah perubahan Undang-undang
Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan diubah
dngan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007, karena adata transaksi keuanagan
menjadi salah satu data dan informasi perpajkan yang dimaksudkan dapat diperoleh
12
Ditjen Pajak. Bahkan sejak saat itu adalaison officer dari Ditjen Pajak untuk ke
PPATK, dan hampir semua penyidikan dimintakan data transaksi keuangan dan
rekening bank dari PPATK. Sejak diberlakukannya UU No. 8 Tahun 2010 tentang
Tindak Pidana Pencucian Uang yang memberi kewenangan kepada Direktorat
Jenderal Pajak untuk melakukan penyidikan TPPU, bersama Polri, Kejaksaan, KPK,
BNN, dan Bea Cukai, kerjasama antara DJP dengan PPATK dsemakin intens,
apalagi 6 lembaga penyidik TPPU membentuk data interchange agar mereka saling
mengetahui dan bersinergi dalam penyidikan TPPU dan predicate crimenya.
Semenjak itu, PPATK mengirimkan Laporan Hasil Analisis atas transaksi
mencurigakan yang diduga terkait tindak pidana di bidang perpajakan sebagai tindak
pidana asalnya. Selain itu PPATK juga membantu DJP dalam mengungkap transaksitransaksi keuangan yang terkait dengan kasus-kasus tindak pidana di bidang
perpajakan yang sedang ditangani DJP.
3. Mekanisme penelusuran dan pemberian data kepada aparat penegak hukum terkait
dengan pengungkapan oknum lain atau perusahaan-perusahaan yang patut diduga
telah melakukan penyelewengan pajak yang terkait dengan oknum tertentu dan telah
ditangani oleh pegawai pajak yang telah atau diduga menyalahgunakan
kewenangannya. Pada saat itu, belum diatur mekanisme khusus terkait hal tersebut,
namun jika ada oknum pegawai yang terlibat penyalahgunaan wewenang ditangani
oleh bagian Organisasi dan Tata Laksana (Organta setingkat Eselon III) pada
Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak atau Inspektorat Jenderal Departemen
Keuangan. Dalam Pasal 36A Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang
Perubahan Ketiga Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara perpajakan mengatur pengenaan sanksi sesuaai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan atas pegawai yang: (1) karena kelalaiannya atau
sengaj menghitung atau menetapkan pajak tidak sesuai dengan ketentuan undangundang perpajakan, (2) dalam melakukan tugasnya denganh sengaja bertindak diluar
kewenangannya yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan perpajakan,
dapat diadukan ke unit internal Departemen Keuangan yang berwenanag melakukan
pemeriksaan dan investigasi dan terbukti melakukannya, (3) dalam melakukan
tugasnya terbukti melakukan pemerasan dan pengancaman kepada Wajib Pajak
untuk mrnguntungksn diri sendiri secara melawan hukum, atau (4) dengan maksud
menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum dengan menyalahgunakan
kekuasaannya memaksa seseorang untuk memberikan sesuatu , untuk membayar,
atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri. Namun Pasal 36A(5) juga
menyatakan bahwa pegawai tidak dapat dituntut, baik secara perdata maupun
pidana, apabila dalam melaksanakan tugasnya didasarkan pada iktikad baik dan
sesuai
dengan
ketentuan
peraturan
perundang-undangan
perpajakan.
Sepengetahuan saya sejak tahun 2010 Menteri Keuangan telah menerbitkan
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 10/KMK.03/2011 tentang Pedoman
Pelaksanaan Penanganan Pengenaan Sanksi Sesuai Ketentuan Pasal 36A UndangUndang nomor 28 Tahun 2007 tersebut. Dalam Keputusan Menteri Keuangan
tersebut pada diktum Keenam mengatur bahwa:
“Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan, atau unit pengawasan internal pada
Direktorat Jenderal Pajak, setelah menerima laporan atau pengaduan sebagaimana
dimaksud dalam Diktum Kelima, melakukan : melimpahkan kasus kepada aparat
penegak hukum melalui Inspektur Jenderal atas nama Menteri Keuangan, apabila
berdasarkan hasil investigasi terdapat indikasi adanya perbuatan pidana.”
13
Karena itu, menurut kami saat ini mekanisme penelusuran dan pemberian data
kepada aparat penegak hukum terkait dengan pengungkapan oknum lain atau
perusahaan-perusahaan yang patut diduga telah melakukan penyelewengan pajak
yang terkait dengan oknum tertentu dan telah ditangani oleh pegawai pajak yang
telah atau diduga menyalahgunakan kewenangannya, telah cukup jelas diatur
dengan Keputusan Menteri Keuangan tersebut. Selain itu menurut saya, lembaga
penegak hukum termasuk DJP masing-masing telah memiliki mekanisme tersendiri
untuk menangani dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan pegawainya.
4. Program pencegahan terhadap meluasnya mafia hukum dan perpajakan atau
penyelewengan pajak yang telah dicanangkan dan dijadikan target oleh Dirjen Pajak,
bahwa pencegahan terhadap meluasnya mafia hukum dan perpajakan atau
penyelewengan pajak telah menjadi perhatian utama pemerintah, hal ini tampak dari
diterbitkannya Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang
Percepatan Penyelesaian Kasus-Kasus Hukum dan Penyimpangan Pajak. Dalam
Instruksi Presiden tersebut diantaranya Presiden menginstruksikan KAPOLRI, Jaksa
Agung, Menteri Hukum dan HAM serta Menteri Keuangan untuk :
1. Mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi dan
kewenangan masing-masing secara terkoordinasi dan terintegrasi dalam rangka
percepatan penyelesaian kasus-kasus hukum dan penyimpangan pajak termasuk
dan tidak terbatas pada kasus Gayus HP Tambunan
2. Mempercepat proses penegakan hukum secara sinergis dengan melibatkan Pusat
Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan dan Satuan Tugas Pemberantasan
Mafia Hukum, serta lebih meningkatkan koordinasi dan kerjasama dengan Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi..........
3. Melakukan evaluasi dan perbaikan sistem kerja dan semua aturan yang terkait,
yang dinilai memliki kelemahan atau memberi peluang terjadinya penyimpangan
dan/atau kejahatan.....”
Menindaklanjuti Instruksi Presiden tersebut Kementerian Keuangan dan Direktorat
Jenderal Pajak telah melakukan beberapa langkah sebagai berikut:
1. Menindaklanjuti kasus-kasus penyimpangan pajak yang telah memenuhi bukti
awal tindak pidana di bidang perpajakanke tingkat penyidikan.
2. Meningkatkan koordinasi dan sinergi dengan aparat penegak hukum lain yang
dikukuhkan dalam bentuk penandatangan MOU dengan PPATK, KAPOLRI dan
Jaksa Agung. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat proses penegakan hukum
secara sinergis.
3. Bekerjasama dengan KPK dalam mengungkap kasus-kasus TIPIKOR yang
melibatkan pegawai DJP.
4. Memperbaiki sistem kerja terutama terkait pengendalian internal dalam rangka
mencegah dan melakukan deteksi dini serta memperkecil peluang penyimpangan
dan atau kejahatan yang mungkin dilakukan dalam pelaksanaan tugas DJP
dengan menerapkan Whistle Blowing System yang diatur dalam Peraturan Dirjen
Pajak nomor PER-22/PJ/2011.
5. Kasus-kasus yang pernah ditangani terkait Mafia hukum dan perpajakan adalah
kasus-kasus yang ada di media masa yaitu, misalnya kasus Gayus Tambunan,
dalam penanganan kasus tersebut yang menangani adalah pihak Mabes Polri, DJP
hanya membantu penyediaan data dan informasi yang dibutuhkan penyidik dalam
pengungkapan kasus tersebut. Saya tidak mengetahui secara pasti hambatan-
14
hambatan apa yang dihadapi penyidik Polri dalam menangani kasus tersebut.
Selanjutnya, Kasus Dana, Anggrah, dsb.
Saya juga membaca di media masa bahwa DJP telah melakukan penyidikan tindak
pidana di bidang perpajakan atas Asian Agri Group yang cukup lama dan saat ini
telah divonis oleh majelis kasasi Mahkamah Agung.
6. Beberapa modus mafia perpajakan antara lain adalah sbb:
a. Modus yang konvensional yang sampai saat ini masih dilakukan para penyelundup
pajak PPN adalah pemanfaatan faktur pajak fiktif (tidak sesuai dengan transaksi
sebenarnya).
b. Treaty shopping yaitu memanfaatkan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda
(P3B) antara Indonesia dengan negara mitra tertentu untuk mendapatkan manfaat
penurunan tarif atau tidak dikenakan pajak/potongan pajak di Indonesia. Misalnya,
pembentukan kantor pusat perusahaan di negara yang mempunyai P3B dengan
Indonesia dengan tax benefit berupa tarif rendah untuk branch-profit tax, seperti
yanag dilansir oleh BPK di Harian Kompas kemarin dengan membentuk Kantor
Pusat PSC Migas di Inggris sehingga menghindari tarif PPh Pasal 26 sebesar 20%
(sesuai dengan kontrak) dan memilih dikenakan sesuai dengan tarif P3B 10%.
c. Penyalah gunaan P3B (treaty abuse) selain treaty shopping (tidak hanya untuk
branch-profit tax Migas, tapi juga banyak dilakukan dengan modus mendirikan
SPV di Belanda dan memberikan pinjaman (back-to-back loan) berbunga kepada
anggota grupnya karena dalam Pasal 11(4) P3B Indonesia-Belanda menyatakan
bunga dari utang komersial lebih dari 2 tahun dan dari penjualan kredit atas
perlengkapan komersial, industrial dan sains, bebas potongan pajaknya), modus
controlled-foreign corporation (CFC), nominee atau conduit company, dan modus
government controlled or guaranteed financial institutions (yang biasanya berdasar
P3B bebas dari potongan PPh).
d. Transformasi penghasilan royalti karena pemakaian trade mark, atau know-how
(pengetahuan dan pengalaman berproduksi) menjadi technical services fees.
Royalti kena potongan PPh Pasal 26 sekitar 10% (tarif statuter UUPPh – 20%),
sedangkan untuk penyerahan jasa teknis untuk dikenakan pajak harus ada Bentuk
Usaha Tetap (BUT) yang baru ada jika pemberian jasa berlangsung sekitar lebih
dari 90 -120 hari. Mereka memberian njasa hanya sekitar beberapa hari saja,
namun pembayaran technical services setiap tiga bulan sepanjang tahun.
e. Thin capitalization membiayai perusahaan lebih banyak dengan utang (debt)
ketimbang dengan modal sendiri (equity) karena cost of loan (bunga) dapat
dibiayakan (tax deductible), sedangkan cost of equity capital (dividen) tidak.
Modus ini dikuti dengan back-to-back loan dan paralel loan.
f. Transfer pricing (harga transfer) dengan mendirikan perusahaan grup dengan
memanfaatkan jurisdiksi yang tarif pajaknya rendah (seperti Singapura – 17%;
Hong Kong 16%, Makao, dan beberapa negara kepulauan sebagai Special
Purpose Vehicle – SPV). Modusnya ialah barang langsung dikirim kepada pembeli
sebenarnya, tetapi faktur komersial dilewatkan melalui para SPV dimaksud,
sehingga total beban pajak global menjadi rendah. Dari pemberitaan mass media
praktik demikian kebanyakan dilakukan misalnya oleh para eksportir produk
perkebunan, hasil tambang mineral, dsb.
g. Fictitiuous expenses dalam grup perusahaan baik yang berinduk di manca negara
maupun perusahaan WPDN, melalui biaya manajemen, jasa, service center,
alokasi biaya penelitian dan biaya kantor pusat, royalti serta biaya lainnya.
h. Tax eficiency supply chain management (pengefisienan beban pajak global melalui
rekayasa pengelolaan jalaur pemasok). Modus ini dilakukan dengan membentuk
15
Head Ofice di jurisdiksi yang menawarkan tax benefits (biasanya di no/low tax
haven jurisdiction) yang menangani pengadaan bahan baku, sampai distribusi
produk kepada pembeli sebenarnya. Sedangan fungsi pabrikan (anak
perusahaannya) dikerdilkan menjadi hanya contract manufacturing (punya bahan
namun berproduksi hanya berdasar pesanan) atau toll manufacturing (ala tukang
jahit), dan fungsi distributor juga dikerdilkan untuk tidak menanggung risiko
sehingga alokasi laba sangat minimal, karena sebagian besar risiko usaha
ditanggung Head Office dan akibatnya laba dialokasikan kesana sehingga beban
pajak global rendah.
Sesuai dengan perkembangan model dan teknologi serta sarana berbisnis,
tentu modus penghindaran dan penyelundupan perpajakan ini akan berkembang
terus dengan berbagai bentuk dan namanya menjadi semakin canggih dan
kompleks dengan memadukan rekayasa fakta transaksi, ekonomi, akuntansi,
hukum, dan teknologi informasi baik dalam spektrum lokal, nasional maupun
global, apalagi dilingkunan ASEAN sendiri terdapat gejala persaingan pajak
dengan adanya trend reformasi pajak dengan penurunan tarif race-to- the bottom
dan cakupan geografis basis pengenaan pajak dari worlwide basis menuju
territorial basis serta dari two-tiers taxation of dividends (badan dan pemegang
saham) menuju one tier taxation (badan atau pemegang saham).
II. Sasmito Hadinegoro :
1. Pada prinsipnya modus operandi tindak pidana perpajakan yang menyangkut
penyelewengan penerimaan Negara sebenarnya masih mirip dan sejenis dengan yang
telah terjadi pada masa-masa yang telah lalu, seperti : penggelembungan biaya-biaya
operasi, penurunan omset produksi/penjualan, dividen terselubung, transfer princing
antar group dsb, dan pembuatan faktur on fiktif guna membobol kas Negara dengan
pengajuan restitusi pajak fiktif dalam hal ini adalah yang saat ini termasuk paling rawan
adalah “permainan” restitusi SKLB fiktif yang dilakukan dengan kolusi dengan
aparat/pejabat yang nilainya bisa mencapai nilai trilyunan. Sebagai contoh mutahkir
dengan kasus pidana pajak Asian Agri, Permata Hijau Sawit 9PHS) dan patut diduga
pada Wilmar Group. Di samping itu yang perlu dicermati adalah setoran pajak yang
“ASPAL” asli tapi palsu seperti yang telah terjadi di Kanwil Pajak Surabaya tahun 2010
yang merugikan 350 wajib pajak sampai dengan Rp.350 Milyar.
2. Pertanyaan butir 2 berhubung terkait dengan masalah koordinasi dengan instansi di
kementerian ESDM dan Pemerintah Daerah setempat, dan BUMNN seperti :
Pertamina, PT. Antam.
3. Dalam kaitannya dengan masalah kasus-kasus kejahatan pelanggaran hukum yang
menyebabkann kerugian dibidang keuangan negara yang pendanaannya bersumber
dari APBN, yang mana pada dasarnya berasal dari uang pajak yang disetor oleh
Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke maka sebenarnya semua kasus-kasus
besar yang menjadi perhatian public sampai dengan saat ini seperti : Skandal Pra
Merger Century US 600 Juta, Century Gate Rp. 6,7 Trilyun, BLBI Gate Rp. 640 Trilyun,
subsidi bunga Obligasi rekapitulasi ex BLBI tahun 2003-2013 Rp. 600 Trilyun (kurang
lebih Rp. 60 Trilyun, etc. dalam kenyatannya semua kasus-kasus tersebut muaranya
adalah “pembobolan” kas negara yang ujungnya tetap memanfaatkan “Uang Pajak”
yang seharusnya prioritasnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Harap
diingat bahwa merujuk kepada UUD 1945 Pasal 23 Bab VIII tentang tata kelola APBN
yang diutamakan untuk kepentingan rakyat, dan merujuk pula kepada UU Nomor 17
tahun 2003 tentang Tata Kelola Keuangan negara bahwa “ Pengeloolaan Keuangan
Negara” harus dilakukan secara transparan dan akuntabel serta dalam hal ini
masyarakat berhak untuk mengetahuinya maka itu ada alasan bagi para penanggung
jawab pengelola uang negara yang berasal dari APBN untuk menutup-nutupi berbagai
masalah yang terkait dengan pertanggung jawaban administrasi meskipun hanya
“serupiah” selayaknya harus bisa diketahui masyarakat secara terbuka. Prinsip-prinsip
pertanggungjawaban pengelolaan Keuangan Negara seperti itulah yang menjadi
16
landasan hukum dalam mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang baik dan bersih
(Good Governance – Good Government) sebagaimana yang dijanjikan oleh Presiden
SBY kala Pilpres tahun 2009 yang lalu. Dengan demikian maka dengan mengacu
kepada penyelesaian pertanggung jawaban hukum yang telah terbukti dapat
“memenjarakan”” Gubernur Bank Indonesia Dr. Burhanudin Abdullah dan Deputi
Gubernur Bank Indonesia serta para pejabat Bank Indonesia yang tersangkut skandal
Keuangan Yayasan Bank Indonesia senilai Rp. 100 Milyar pada tahun 2009, maka
seharusnya demikian pulalah Pemerintah SBY secara konsisten juga dapat dalam
periode tahun terakhir masa baktinya sampai dengan pertengahan tahun 2014 yang
akan datang mampu menuntaskan Mega Skandal Keuangan Negara/Perpajakan yang
nilainya ratusan milyar sampai dengan ratusan trilyun seperti : Skandal Pajak Paulus
Tumewu yang telah P21 lengap dihentikan pelimpahannya ke meja hijau oleh Menkeu
Sri Mulyani pada 16 Oktober 2006 dengan pemberian informasi palsu kepada Jaksa
Agung Abdurrahman Saleh tentang adanya SKP Rp. 7,9 Milyar yang telah kami
laporkan kepada ketua MA Harifin Tumpa maupun Hatta Ali yang sampai dengan hari
ini tidak ada tindak lanjutnya sehingga kasus ini menjadi contoh buruk reformasi
Keuangan yang miskin keteladanan dipertontonkan oleh Menkeu SMI dan patut diduga
membawa dampak maraknya Mafia Pajak di lingkungan kementerian Keuangan
sampai dengan detik hari ini karena kasus pidana pajak yang kasat mata jika
menyentuh “Big Fish”nya tidak pernah tersentuh hukum tidak sebagaimana bila
dilakukan oleh aparat bawahan seperti Gayus Tambunan, Dhana Widyatmika, Pargio,
Bahasyim, dan Suhartanto di Kanwil Surabaya, April 2010 dalam Skandal SSP (Surat
Setoran Pajak” aspal-asli tapi palsu”) Rp. 350 Milyar dengan tanpa menyentuh
pimpinan Ditjen Pajak sampai dengan Menkeu yang selayaknya mempunyai tanggung
jawab dalam “Management Responsibility” dan “Management Policy” mengingat terkait
dengan jumlah uang rakyat yang cukup besar yang harus diamankannya. Demikian
pula dalam kaitannya dengan Century Gate yang merugikan Keuangan Negara
sampai dengan Rp. 6,7 trilyun yang sumbernya sebagai modal disetor ke LPS
(Lembaga Penjamin Simpanan) adalah juga Uang APBN yang 70% merupakan uang
pajak yang disetor oleh rakyat dengan “ngos2an” dari Sabang-Merauke. DPR RI
sebagai Lembaga Tinggi negara yang mempunyai tanggung jawab dalam
“meloloskan” persetujuan penggunaan uang APBN perlu kiranya berlapang dada untuk
melakukan koreksi yang serius terkait dengan penyelamatan uang pajak ratusan
trilyun yang sampai dengan hari ini ternyata juga masih memberikan persetujuan
kepada Menkeu RI yang “patut diduga” menyalahgunakan wewenangnya
mengalokasikan anggaran untuk memberikan subsidi bunga Obligasi Rekapitulasi
(OR) puluhan Trilyun lanjut sampai dengan hari ini dikala subsidi BBM untuk rakyat
mau dibatasi padahal subsidi BBM untuk rakyat yang berasal dari uang pajak
sesungguhnya lebih pantas diberikan daripada untuk alokasi subsidi bunga OR yang
penyajiannya di APBN pun tidak dilakukan secara transparan dan akuntabel karena
uang Negara tersebut dipergunakan untuk memberi subsidi kepada Perbankan seperti
: BCA, Danamon, CIMB NIAGA, BII, Permata, dll yang kebanyakan sahamnya dimiliki
oleh pihak asing sehingga sangat ironis rakyat Indonesia yang lebih miskin
memberikan “sedekah” kepada WNA di Malaysia, Singapore, Inggris, dll yang jelas
lebih kaya dan sejahtera kehidupannya. Menurut hemat kami maka bilamana uang
pajak puluhan Trilyun tersebut sampai dengan tahun 2013 ini bahkan berdasarkan
data valid di bank Indonesia akan berlanjut sampai dengan tahun 2033 dan nilainya di
re-schedule sampai dengan sebesar Rp. 3000 Trilyun yang akan membebani generasi
yang akan datang sungguh betapa sangat berdosanya para wakil rakyat Indonesia di
DPR RI dan para Penegak Hukum di KPK, Kejaksaan Agung dan Mabes Polri jikalau
melakukan “pembiaran” tanpa turun tangan untuk menyelesaikan secara tuntas Mega
Skandal keuangan Negara yang terbesar dalam abad ini yang mungkin lebih dahsyat
daripada penindasan penjajahan Belanda dan jepang selama 350 tahun di Republik
Indonesia.
4. Meskipun informasi dan data yang lengkap atas terjadinnya Mega Skandal
Perpajakan/Keuangan Negara yang “patut diduga” dapat menyeret para Menteri
Keuangan tahun 2003-2013 telah dilaporkan oleh Asosiasi Pembayar Pajak Indonesia
17
dan gerakan Hidupkan Masyarakat Sejahtera – HMS kepada aparat penegak hukum
seperti : KPK dan Kejaksaan Agung bahkan diiringi dengan demonstrasi secara tertib
dan damai ke KPK dan Kejaksaan Agung sejak tahun 2010-2012 yang lalu namun
demikian ternyata penegakan hukum di Era Reformasi yang begitu jelas dan tegas
dinyatakan oleh Presiden SBY sebagai Kepala negara yang menyatakan akan patuh
pada Konstitusi dan tidak melakukan intervensi dalam penegakan hukum di Negara ini
tetapi kenyataannya “hukum dilihat oleh rakyat hanya tajam ke bawah dan majal ke
atas”. Sehingga sungguh sangat memprihatinkan bila rakyat yang tertangkap mencuri
biji cokelat seharga Rp. 15000 atau mencuri piring juga senilai Rp. 20000 harus
dipenjarakan sementara penjahat “kerah putih” yang senyumnya bak malaikat turun
dari kahyangan membobol uang Negara yang adalah berasal dari setoran pajak
seperti : PPn 10% karena makan di restoran, PBBB, STNK, dsb. yang nilainya
trilyunan bahkan ratusan trilyun tidak pernah tersentuh hukum karena alasan belum
diketemukannya 2 alat bukti seperti : pencuri sandal di Mesjid, atau pembantu yang
mencuri piring karena terpaksa untuk mempertahankan hidupnya pada hari itu,
sehingga bukan mustahil penegakan hukum seperti yang dipamerkan oleh KPK
menjadi bahan tertawaan anak cucu kita karena mungkin mereka menganggap KPK
bukan Komisi Pemberansatan Korupsi tetapi dianggapnya “Komisi Pelindung Koruptor”
terutama Koruptor Kakap seperti yang dimaksud Presiden SBY tatkala memberi
perintah kepada Satgas Mafia Hukum yang dipimpin oleh Dr. Kuntoro Mangkusubroto
pada bulan April tahun 2010 yang lalu, ingatkah anda???
5. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan tindak lanjut dari semua tindakan Aparat
Penegak Hukum dalam menangani kasus-kasus yang menyangkut BIG FISH Mafia
Keuangan Negara/Perpajakan tidak pernah tuntas dalam kenyataan yang kita lihat
bersama sampai dengan detik hari ini, para anggota panja Perpajakan/Komisi III DPR
RI saya yakin lebih mahfum daripada saya karena semua masalah-masalah pidana
yang terkait dengan Mega Skandal Keuangan Negara tersebut pasti kemungkinan
besar karena pendekatannya dilakukan secara “politis”. Ke depan jikalau para wakil
rakyat dalam menangani masalah pidana pelanggaran keuangan Negara berkenaan
pendekatannya dilakukan dengan mengedepankan penegakan “hukum” secara murni
dan konsekuen sesuai ketentuan perundang-unddangan yang berlaku yang
pendekatannya dilakukan dengan mengedepankan penegakan “hukum” secara murni
dan konsekuen sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku yang notabene
adalah produk hukum atau Undang-undang yang dihasilkan oleh yang Mulia para wakil
rakyat niscaya dapat diharapkan terwujudnya Good Governance Clean Government di
negeri kita yang tercinta NKRI.
6. Pajak harus diselamatkan. Reformasi perpajakan yang memakan biaya pada tahun
2006, ternyata miskin dengan keteladanan. Misalnya kasus Gayus Tambunan dimana
hanya sebagai pemeriksa, masih banyak persoalan di Dirjen Pajak. Dirjen Pajak harus
memberikan keteladanan. Ada potensi pajak ratusan trilyun yang tahun 2013 ini akan
hangus karena UU perpajakan yang lama hanya 10 tahun. Agar dicek dan diteliti
apakah dalam klausul Release & Descharge masalah pajak di. yang menjadi
persoalan adalah kasus-kasus pajak yang kecil-kecil ditangani sedangkan kasus yang
besar-besar dicuekin begitu saja. Perlu ditunjukan bahwa penegakan hukum untuk
masalah pajak panggil gedung bundar, uang pajak dipakai sedekah kepada bankirbankir sejak 2003. Bank menyelundupkan obligasi rekapitulasi ratuan trilyun. Restitusi
pajak fiktif sampai saat ini merupakan sesuatu hak yang sangat rawan. Diharapkan
agar terkait dengan reformasi pajak, agar Dirjen Pajak tidak miskin keteladanan, jika
ada kasus-kasus pajak, jangan hanya dipublikasikan, namun harus ditindaklanjuti
dengan diperiksa dan diproses hingga tuntas. Untuk kasus mafia hukum dan
perpajakan diselesaikan secara politik maka mustahil untuk bisa diselesaikan. Namun
jika diselesaikan secara hukum maka akan bisa diselesaikan sampai tuntas. Diusulkan
agar Panja pemberantasan mafia hukum dan perpajakan dinaikkan ke tingkat Pansus.
Perlu juga meminta kepada Dirjen Pajak untuk membuat Surat Edaran terkait road
map kepada kantor pajak seluruh Indonesia. Undang-undang pajak masih efektif
memungkinkan untuk diterapkan, namun Dirjen Pajak perlu melakukan daluwarsa
penetapan.
18
Pimpinan
Kesimpulan :
19
Download