aliran jabariyah dan qadariyah

advertisement
ALIRAN JABARIYAH DAN QADARIYAH
A. Pendahuluan
Persoalan Iman (aqidah) agaknya merupakan aspek utama dalam ajaran Islam yang
didakwahkan oleh Nabi Muhammad. Pentingnnya masalah aqidah ini dalam ajaran Islam
tampak jelas pada misi pertama dakwah Nabi ketika berada di Mekkah. Pada periode
Mekkah ini, persoalan aqidah memperoleh perhatian yang cukup kuat dibanding
persoalan syari’at, sehingga tema sentral dari ayat-ayat al-Quran yang turun selama
periode ini adalah ayat-ayat yang menyerukan kepada masalah keimanan.
Berbicara masalah aliran pemikiran dalam Islam berarti berbicara tentang Ilmu
Kalam. Kalam secara harfiah berarti “kata-kata”. Kaum teolog Islam berdebat dengan
kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya sehingga teolog disebut
sebagai mutakallim yaitu ahli debat yang pintar mengolah kata. Ilmu kalam juga diartikan
sebagai teologi Islam atau ushuluddin, ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar dari
agama. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan yang mendasar dan tidak
mudah digoyahkan. Munculnya perbedaan antara umat Islam. Perbedaan yang pertama
muncul dalam Islam bukanlah masalah teologi melainkan di bidang politik. Akan tetapi
perselisihan politik ini, seiring dengan perjalanan waktu, meningkat menjadi persoalan
teologi.
Perbedaan teologis di kalangan umat Islam sejak awal memang dapat mengemuka
dalam bentuk praktis maupun teoritis. Secara teoritis, perbedaan itu demikian tampak
melalui perdebatan aliran-aliran kalam yang muncul tentang berbagai persoalan. Tetapi
patut dicatat bahwa perbedaan yang ada umumnya masih sebatas pada aspek filosofis
diluar persoalan keesaan Allah, keimanan kepada para rasul, para malaikat, hari akhir dan
berbagai ajaran nabi yang tidak mungkin lagi ada peluang untuk memperdebatkannya.
Misalnya tentang kekuasaan Allah dan kehendak manusia, kedudukan wahyu dan akal,
keadilan Tuhan. Perbedaan itu kemudian memunculkan berbagai macam aliran, yaitu
Mu'tazilah, Syiah, Khawarij, Jabariyah dan Qadariyah serta aliran-aliran lainnya.
Makalah ini akan mencoba menjelaskan aliran Jabariyah dan Qadariyah. Dalam
makalah ini penulis hanya menjelaskan secara singkat dan umum tentang aliran Jabariyah
dan Qadariyah. Mencakup di dalamnya adalah latar belakang lahirnya sebuah aliran dan
ajaran-ajarannya secara umum.
B. Aliran Jabariyah
1. Latar Belakang Lahirnya Jabariyah
Secara bahasa Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung pengertian
memaksa. Di dalam kamus Munjid dijelaskan bahwa nama Jabariyah berasal dari kata
jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Salah
satu sifat dari Allah adalah al-Jabbar yang berarti Allah Maha Memaksa. Sedangkan
secara istilah Jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan
menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Dengan kata lain adalah manusia
mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur).
Menurut Harun Nasution Jabariyah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala
perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah. Maksudnya
adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak
manusia, tapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya, di sini manusia tidak
mempunyai kebebasan dalam berbuat, karena tidak memiliki kemampuan. Ada yang
mengistilahlkan bahwa Jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan
sebagai dalangnya.
Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya
penjelelasan yang sarih. Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak zaman
sahabat dan masa Bani Umayyah. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah
Qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan.
Adapaun tokoh yang mendirikan aliran ini menurut Abu Zaharah dan al-Qasimi adalah
Jahm bin Safwan, yang bersamaan dengan munculnya aliran Qadariayah.
Pendapat yang lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak
sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi
oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Di
tengah bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang
panas ternyata dapat tidak memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan
suburnya tanaman, tapi yang tumbuh hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat
untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara.
Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyatalkat arab tidak
melihat jalan untuk mengubah keadaan disekeliling mereka sesuai dengan kehidupan
yang diinginkan. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup.
Artinya mereka banyak tergantung dengan Alam, sehingga menyebabakan mereka
kepada paham fatalisme.
Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini, dalam Alquran
sendiri banyak terdapat ayat-ayat yeng menunjukkan tentang latar belakang lahirnya
paham jabariyah, diantaranya:
a. QS ash-Shaffat: 96
ÇÒÏÈ tbqè=yJ÷ès? $tBur ö/ä3s)n=s{ ª!$#ur
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".
b. QS al-Anfal: 17
4’tGu‘ ©!$# ÆÅ3»s9ur |Mø‹tBu‘ øŒÎ) |Mø‹tBu‘ $tBur 4
Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah
yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka
c. QS al-Insan: 30
ÇÌÉÈ $VJ‹Å3ym $¸JŠÎ=tã tb%x. ©!$# ¨bÎ) 4 ª!$# uä!$t±o„ br& HwÎ) tbrâä!$t±[email protected] $tBur
Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.
Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Selain ayat-ayat Alquran di atas benih-benih faham al-Jabar juga dapat dilihat
dalam beberapa peristiwa sejarah:
a. Suatu ketika Nabi menjumpai sabahatnya yang sedang bertengkar dalam
masalah Takdir Tuhan, Nabi melarang mereka untuk memperdebatkan
persoalan tersebut, agar terhindar dari kekeliruan penafsiran tentang ayat-ayat
Tuhan mengenai takdir.
b. Khalifah Umar bin al-Khaththab pernah menangkap seorang pencuri. Ketika
ditntrogasi, pencuri itu berkata "Tuhan telah menentukan aku mencuri".
Mendengar itu Umar kemudian marah sekali dan menganggap orang itu telah
berdusta. Oleh karena itu Umar memberikan dua jenis hukuman kepada orang
itu, yaitu: hukuman potongan tangan karena mencuri dan hukuman dera
karena menggunakan dalil takdir Tuhan.
c. Ketika Khalifah Ali bin Abu Thalib ditanya tentang qadar Tuhan dalam
kaitannya dengan siksa dan pahala. Orang tua itu bertanya,"apabila perjalanan
(menuju perang siffin) itu terjadi dengan qadha dan qadar Tuhan, tidak ada
pahala sebagai balasannya. Kemudian Ali menjelaskannya bahwa Qadha dan
Qadha Tuhan bukanlah sebuah paksaan. Pahala dan siksa akan didapat
berdasarkan atas amal perbuatan manusia. Kalau itu sebuah paksaan, maka
tidak ada pahala dan siksa, gugur pula janji dan ancaman Allah, dan tidak
pujian bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat dosa.
d. Adanya paham Jabar telah mengemuka kepermukaan pada masa Bani
Umayyah yang tumbuh berkembang di Syiria.
Di samping adanya bibit pengaruh faham jabar yang telah muncul dari pemahaman
terhadap ajaran Islam itu sendiri. Ada sebuah pandangan mengatakan bahwa aliran Jabar
muncul karena adanya pengaruh dari dari pemikriran asing, yaitu pengaruh agama
Yahudi bermazhab Qurra dan agama Kristen bermazhab Yacobit.
Dengan demikian, latar belakang lahirnya aliran Jabariyah dapat dibedakan
kedalam dua factor, yaitu factor yang berasal dari pemahaman ajaran-ajaran Islam yang
bersumber dari Alquran dan Sunnah, yang mempunyai paham yang mengarah kepada
Jabariyah. Lebih dari itu adalah adanya pengaruh dari luar Islam yang ikut andil dalam
melahirkan aliran ini.
Adapun yang menjadi dasar munculnya paham ini adalah sebagai reaksi dari tiga
perkara: pertama, adanya paham Qadariyah, keduanya, telalu tekstualnya pamahaman
agama tanpa adanya keberanian menakwilkan dan ketiga adalah adanya aliran salaf yang
ditokohi Muqatil bin Sulaiman yang berlebihan dalam menetapkan sifat-sifat Tuhan
sehingga membawa kepada Tasybih.
2. Ajaran-ajaran Jabariyah
Adapun ajaran-ajaran Jabariyah dapat dibedakan berdasarkan menjadi dua
kelompok, yaitu ekstrim dan moderat.
Pertama, aliran ekstrim. Di antara tokoh adalah Jahm bin Shofwan dengan
pendaptnya adalah bahwa manusia tidak mempu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak
mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan.
Pendapat Jahm tentang keterpaksaan ini lebih dikenal dibandingkan dengan pendapatnya
tentang surga dan neraka, konsep iman, kalam Tuhan, meniadakan sifat Tuhan, dan
melihat Tuhan di akherat. Surga dan nerka tidak kekal, dan yang kekal hanya Allah.
Sedangkan iman dalam pengertianya adalah ma'rifat atau membenarkan dengan hati, dan
hal ini sama dengan konsep yang dikemukakan oleh kaum Murjiah. Kalam Tuhan adalah
makhluk. Allah tidak mempunyai keserupaan dengan manusia seperti berbicara,
mendengar, dan melihat, dan Tuhan juga tidak dapat dilihat dengan indera mata di
akherat kelak. Aliran ini dikenal juga dengan nama al-Jahmiyyah atau Jabariyah
Khalisah.
Ja'ad bin Dirham, menjelaskan tentang ajaran pokok dari Jabariyah adalah Alquran
adalah makhluk dan sesuatu yang baru dan tidak dapat disifatkan kepada Allah. Allah
tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk, seperti berbicara, melihat dan
mendengar. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala hal.
Dengan demikian ajaran Jabariyah yang ekstrim mengatakan bahwa manusia
lemah, tidak berdaya, terikat dengan kekuasaan dan kehendak Tuhan, tidak mempunyai
kehendak dan kemauan bebas sebagaimana dimilki oleh paham Qadariyah. Seluruh
tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari scenario dan kehendak Allah.
Segala akibat, baik dan buruk yang diterima oleh manusia dalam perjalanan hidupnya
adalah merupakan ketentuan Allah.
Kedua, ajaran Jabariyah yang moderat adalah Tuhan menciptakan perbuatan
manusia, baik itu positif atau negatif, tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya.
Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan
perbuatannya. Manusia juga tidak dipaksa, tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh
dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan
yang diciptakan tuhan. Tokoh yang berpaham seperti ini adalah Husain bin Muhammad
an-Najjar yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi
manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu dan
Tuhan tidak dapat dilihat di akherat. Sedangkan adh-Dhirar (tokoh jabariayah moderat
lainnya) pendapat bahwa Tuhan dapat saja dilihat dengan indera keenam dan perbuatan
dapat ditimbulkan oleh dua pihak.
C. Aliran Qadariyah
1. Latar Belakang Lahirnya Aliran Qadariyah
Pengertian Qadariyah secara etomologi, berasal dari bahasa Arab, yaitu qadara
yang bemakna kemampuan dan kekuatan. Adapun secara termenologi istilah adalah suatu
aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diinrvensi oleh Allah. Aliranaliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia
dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Aliran ini lebih
menekankan atas kebebasan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbutanperbutannya. Harun Nasution menegaskan bahwa aliran ini berasal dari pengertian bahwa
manusia menusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan
berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan.
Menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Dr. Hadariansyah, orang-orang
yang berpaham Qadariyah adalah mereka yang mengatakan bahwa manusia memiliki
kebebasan berkehendak dan memiliki kemampuan dalam melakukan perbuatan. Manusia
mampu melakukan perbuatan, mencakup semua perbuatan, yakni baik dan buruk.
Sejarah lahirnya aliran Qadariyah tidak dapat diketahui secara pasti dan masih
merupakan sebuah perdebatan. Akan tetepi menurut Ahmad Amin, ada sebagian pakar
teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad alJauhani dan Ghilan ad-Dimasyqi sekitar tahun 70 H/689M.
Ibnu Nabatah menjelaskan dalam kitabnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh
Ahmad Amin, aliran Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh orang Irak yang pada
mulanya beragama Kristen, kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen.
Namanya adalah Susan, demikian juga pendapat Muhammad Ibnu Syu’ib. Sementara W.
Montgomery Watt menemukan dokumen lain yang menyatakan bahwa paham Qadariyah
terdapat dalam kitab ar-Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul Malik oleh Hasan alBasri sekitar tahun 700M.
Ditinjau dari segi politik kehadiran mazhab Qadariyah sebagai isyarat menentang
politik Bani Umayyah, karena itu kehadiran Qadariyah dalam wilayah kekuasaanya
selalu mendapat tekanan, bahkan pada zaman Abdul Malik bin Marwan pengaruh
Qadariyah dapat dikatakan lenyap tapi hanya untuk sementara saja, sebab dalam
perkembangan selanjutnya ajaran Qadariyah itu tertampung dalam Muktazilah.
2. Ajaran-ajaran Qadariyah
Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghalian tentang ajaran Qadariyah bahwa
manusia berkuasa atas perbuatan-perbutannya. Manusia sendirilah yang melakukan baik
atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau
menjauhi perbuatan-perbutan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. Tokoh an-Nazzam
menyatakan bahwa manusia hidup mempunyai daya, dan dengan daya itu ia dapat
berkuasa atas segala perbuatannya.
Dengan demikian bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya
sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas
kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak
mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memperoleh
hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya. Ganjaran kebaikan di sini disamakan dengan
balasan surga kelak di akherat dan ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akherat,
itu didasarkan atas pilihan pribadinya sendiri, bukan oleh takdir Tuhan. Karena itu sangat
pantas, orang yang berbuat akan mendapatkan balasannya sesuai dengan tindakannya.
Faham takdir yang dikembangkan oleh Qadariyah berbeda dengan konsep yang
umum yang dipakai oleh bangsa Arab ketika itu, yaitu paham yang mengatakan bahwa
nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu. Dalam perbuatannya, manusia hanya
bertindak menurut nasib yang telah ditentukan sejak azali terhadap dirinya. Dengan
demikian takdir adalah ketentuan Allah yang diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta
seluruh isinya, sejak azali, yaitu hokum yang dalam istilah Alquran adalah sunnatullah.
Secara alamiah sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak dapat
diubah. Manusia dalam demensi fisiknya tidak dapat bebruat lain, kecuali mengikuti
hokum alam. Misalnya manusia ditakdirkan oleh Tuhan kecuali tidak mempunyai sirip
seperti ikan yang mampu berenang di lautan lepas. Demikian juga manusia tidak
mempunyai kekuatan seperti gajah yang mampu membawa barang seratus kilogram.
Dengan pemahaman seperti ini tidak ada alasan untuk menyandarkan perbuatan
kepada Allah. Di antara dalil yang mereka gunakan adalah banyak ayat-ayat Alquran
yang berbicara dan mendukung paham itu
a. QS al-Kahfi: 29
4 ö�àÿõ3u‹ù=sù uä!$x© ÆtBur `ÏB÷sã‹ù=sù uä!$x© `yJsù
Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan
barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir".
b. QS Ali Imran: 165
$pköŽn=÷VÏiB Läêö6|¹r& ô‰s% ×pt7ŠÅÁ•B Nä3÷Gu;»|¹r& !$£Js9urr&
¨bÎ) 3 öNä3Å¡àÿRr& ωYÏã ô`ÏB uqèd ö@è% ( #x‹»yd 4’¯Tr& ÷Läêù=è%
ÇÊÏÎÈ Ö�ƒÏ‰s% &äóÓx« È[email protected]ä. 4’n?tã ©!$#
Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal
kamu Telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu
(pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan)
ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu.
c. QS ar-Ra'd:11
$tB (#rçŽÉi�tóム4Ó®Lym BQöqs)Î/ $tB çŽÉi�tóムŸw ©!$# žcÎ) 3
3 öNÍkŦàÿRr'Î/
Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka
merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri.
d. QS. An-Nisa: 111
4 ¾ÏmÅ¡øÿtR 4’n?tã ¼çmç7Å¡õ3tƒ $yJ¯RÎ*sù $VJøOÎ) ó=Å¡õ3tƒ `tBur
Barangsiapa yang mengerjakan dosa, Maka Sesungguhnya ia mengerjakannya
untuk (kemudharatan) dirinya sendiri.
D. Refleksi Faham Qadariyah dan Jabariyah: Sebuah Perbandingan tentang
Musibah
Dalam paham Jabariyah, berkaitan dengan perbuatannya, manusia digambarkan
bagai kapas yang melayang di udara yang tidak memiliki sedikit pun daya untuk
menentukan gerakannya yang ditentukan dan digerakkan oleh arus angin. Sedang yang
berpaham Qadariyah akan menjawab, bahwa perbuatan manusia ditentukan dan
dikerjakan oleh manusia, bukan Allah. Dalam paham Qadariyah, berkaitan dengan
perbuatannya, manusia digambarkan sebagai berkuasa penuh untuk menentukan dan
mengerjakan perbuatannya.
Pada perkembangan selanjutnya, paham Jabariyah disebut juga sebagai paham
tradisional dan konservatif dalam Islam dan paham Qadariyah disebut juga sebagai
paham rasional dan liberal dalam Islam. Kedua paham teologi Islam tersebut
melandaskan diri di atas dalil-dalil naqli (agama) - sesuai pemahaman masing-masing
atas nash-nash agama (Alquran dan hadits-hadits Nabi Muhammad) - dan aqli (argumen
pikiran). Di negeri-negeri kaum Muslimin, seperti di Indonesia, yang dominan adalah
paham Jabariyah. Orang Muslim yang berpaham Qadariyah merupakan kalangan yang
terbatas atau hanya sedikit dari mereka.
Kedua paham itu dapat dicermati pada suatu peristiwa yang menimpa dan berkaitan
dengan perbuatan manusia, misalnya, kecelakaan pesawat terbang. Bagi yang berpaham
Jabariyah biasanya dengan enteng mengatakan bahwa kecelakaan itu sudah kehendak dan
perbuatan Allah. Sedang, yang berpaham Qadariyah condong mencari tahu di mana letak
peranan
manusia
pada
kecelakaan
itu.
Kedua paham teologi Islam tersebut membawa efek masing-masing. Pada paham
Jabariyah semangat melakukan investigasi sangat kecil, karena semua peristiwa
dipandang sudah kehendak dan dilakukan oleh Allah. Sedang, pada paham Qadariyah,
semangat investigasi amat besar, karena semua peristiwa yang berkaitan dengan peranan
(perbuatan) manusia harus dipertanggungjawabkan oleh manusia melalui suatu
investigasi.
Dengan demikian, dalam paham Qadariyah, selain manusia dinyatakan sebagai
makhluk yang merdeka, juga adalah makhluk yang harus bertanggung jawab atas
perbuatannya. Posisi manusia demikian tidak terdapat di dalam paham Jabariyah. Akibat
dari perbedaan sikap dan posisi itu, ilmu pengetahuan lebih pasti berkembang di dalam
paham
Qadariyah
ketimbang
Jabariyah.
Dalam hal musibah gempa dan tsunami baru-baru ini, karena menyikapinya sebagai
kehendak dan perbuatan Allah, bagi yang berpaham Jabariyah, sudah cukup bila tindakan
membantu korban dan memetik "hikmat" sudah dilakukan.
Sedang hikmat yang dimaksud hanya berupa pengakuan dosa-dosa dan hidup
selanjutnya tanpa mengulangi dosa-dosa. Sedang bagi yang berpaham Qadariyah, meski
gempa dan tsunami tidak secara langsung menunjuk perbuatan manusia, namun
mengajukan pertanyaan yang harus dijawab: adakah andil manusia di dalam
"mengganggu" ekosistem kehidupan yang menyebabkan alam "marah" dalam bentuk
gempa dan tsunami? Untuk itu, paham Qadariyah membenarkan suatu investigasi
(pencaritahuan), misalnya, dengan memotret lewat satelit kawasan yang dilanda musibah.
E. Penutup
Sebagai penutup dalam makalah ini. Kedua alira, baik Qadariyah ataupun Jabariyah
nampaknya memperlihatkan paham yang saling bertentangan sekalipun mereka samasama berpegang pada Alquran. Hal ini menunjukkan betapa terbukanya kemungkinan
perbedaan pendapat dalam Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihan, Ilmu Kalam, (Bandung: Puskata Setia, 2006), cet ke-2
Asmuni, Yusran, Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan
Pemikiran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996)
Daudy, Ahmad, Kuliah Ilmu Kalam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1997)
Hadariansyah, AB, Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam,
(Banjarmasin: Antasari Press, 2008)
Maghfur, Muhammad, Koreksi atas Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam, (Bangil: alIzzah, 2002)
Nasution, Harun, Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta:
UI-Press, 1986), cet ke-5
an-Nasyar, Ali Syami, Nasy'at al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam, (Cairo: Dar al-Ma'arif, 1977)
Nata, Abudin, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998)
al-Qaththan, Manna Khalil, Studi Ilmu-ilmu Alqur'an, diterjemahkan dari "Mabahits fi
Ulum al-Qur'an. (Jakarta: Litera AntarNusa, 2004)
asy-Syahrastani, Muhammad ibn Abd al-Karim, al-Milal wa an-Nihal, (Beirut-Libanon:
Dar al-Kurub al-'Ilmiyah, t.th)
Tim, Enseklopedi Islam, "Jabariyah" (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1997)
Manna Khalil al-Qaththan, Studi Ilmu-ilmu Alqur'an, diterjemahkan dari "Mabahits
fi Ulum al-Qur'an. (Jakarta: Litera AntarNusa, 2004), h. 86
Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan,
(Jakarta: UI-Press, 1986), cet ke-5, h. 1
Rosihan Anwar, Ilmu Kalam, (Bandung: Puskata Setia, 2006), cet ke-2, h. 63
Harun Nasution, op.cit., h. 31
Tim, Enseklopedi Islam, "Jabariyah" (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1997), cet
ke-4, h. 239
Adapun riwayat Jahm tidak diketahui dengan jelas, akan tetapi sebagian ahli sejarah
mengatakan bahwa dia berasal dari Khurasan yang juga dikenal dengan tokoh murjiah,
dan sebagai pemuka golongan Jahmiyah. Karena kelerlibatanya dalam gerakan melawan
kekuasaan Bani Umayyah, sehingga dia ditangkap.
Rosihan Anwar, op.cit., h. 64
Harun Nasution, loc.cit.,
Rosihan Anwar, op.cit., h. 64-65
Ibid.,
Ali Syami an-Nasyar, Nasy'at al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam, (Cairo: Dar al-Ma'arif,
1977), h. 335
Rosihan Anwar, op.cit., h. 67-68; Lihat juga Hadariansyah, Pemikiran-pemikiran
Teologi dalam Sejarah Islam, (Banjarmasin: Antasari Press, 2008), h. 79-80
Hadariansyah, loc.cit; Lihat asy-Syahrastani, al-Milal wa an-Nihal, (BeirutLibanon: Dar al-Kurub al-'Ilmiyah, t.th);
Rosihan Anwar, op.cit., h. 68
Ibid., Abudin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1998), h. 41-42; Yusran Asmuni, Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah
Kebudayaan Islam dan Pemikiran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h. 75
Lihat Rosihan Anwar, op.cit., h. 70; Abudin Nata, op.cit., h. 36; Hadariansyah,
op.cit., h. 68
Hadariansyah, loc.cit.,
Hadariansyah, loc.cit.,; Harun Nasution, op.cit., h. 32; Rosihan Anwar, op.cit., h. 71
Rosihan Anwar, loc. cit,.
Yusran Asmuni, op.cit., h. 74
Harun Nasution, op.cit., h. 31
Rosihan Anwar, op.cit., h. 73
Label: Ilmu Kalam
Etimologi
Kata "Jabariyah" berasal dari kata bahasa arab "Jabara" yang artinya memaksa. Dan yang
dimaksud adalah suatu golongan atau aliran atau kelompok yang berfaham bahwa semua
perbuatan manusia bukan atas kehendak sendiri, namun ditentukan oleh Allah SWT. Dalam
arti bahwa setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia baik perbuatan buruk, jahat dan
baik semuanya telah ditentukan oleh Allah SWT dan bukan atas kehendak atau adanya
campur tangan manusia.
Jabariah adalah pendapat yang tumbuh dalam masyarakat Islam yang melepaskan diri dari
seluruh tanggungjawab. Maka Manusia itu disamakan dengan makluk lain yang sepi dan bebas
dari tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, manusia itu diibaratkan
benda mati yang hanya bergerak dan digerakkan oleh Allah Pencipta, sesuai dengan apa yang
diinginkan-Nya. Dalam soal ini manusia itu dianggap tidak lain melainkan bulu di udara dibawa
angin menurut arah yang diinginkan-Nya. Maka manusia itu sunyi dan luput dari ikhtiar untuk
memilih apa yang diinginkannya sendiri. Ini dapat diartikan pula bahwa manusia itu akhirnya
tidak bersalah dan tidak berdosa, sebab ia hanya digerakkan oleh kekuatan atasan dimana ia
tidak lain laksana robot yang mati, tidak berarti.
Sejarah Jabariyah
Pendapat jabariah diterapkan di masa kerajaan Ummayyade (660-750 M). Yakni di masa
keadaan keamanan sudah pulih dengan tercapainya perjanjian antara Muawiyah dengan Hasan
bin Ali bin Abu Thalib, yang tidak mampu lagi menghadapi kekuatan Muawiyah. Maka
Muawiyah mencari jalan untuk memperkuat kedudukannya. Di sini ia bermain politik yang licik.
Ia ingin memasukkan di dalam pikiran rakyat jelata bahwa pengangkatannya sebagai kepala
negara dan memimpin ummat Islam adalah berdasarkan "Qadha dan Qadar/ketentuan dan
keputusan Allah semata" dan tidak ada unsur manusia yang terlibat di dalamnya.
Awal Kemunculan Jabariyah
Golongan Jabariyah pertama kali muncul di Khurasan (Persia) pada saat munculnya golongan
Qodariyah, yaitu kira-kira pada tahun 70 H. Aliran ini dipelopori oleh Jahm bin Shafwan,
aliran ini juga disebut Jahmiyah. Jahm bin Shafwan-lah yang mula-mula mengatakan bahwa
manusia terpasung, tidak mempunyai kebebasan apapun, semua perbuatan manusia ditentukan
Allah semata, tidak ada campur tangan manusia.
Paham Jabariyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan karena itu kaum Jabariyah disebut
sebagai kaum Jahmiyah, Namun pendapat lain mengatakan bahwa orang yang pertama
mempelopori paham jabariyah adalah al-Ja'ad bin Dirham, dia juga disebut sebagai orang
yang pertama kali menyatakan bahwa Al-Quran itu makhluq dan meniadakan sifat-sifat Allah.
Disamping itu kaum Jahmiyah juga mengingkari adanya ru'ya (melihat Allah dengan mata
kepala di akhirat). Meskipun kaum Qadariyah dan Jahmiyah sudah musnah namun ajarannya
masih tetap dilestarikan. Karena kaum Mu'tazilah menjadi pewaris kedua pemahaman
tersebut dan mengadopsi pokok-pokok ajaran kedua kaum tersebut. Selanjutnya ditangan
Mu'tazilah paham-paham tersebut segar kembali. Sehingga Imam As-Syafi'i menyebutnya
Wasil, Umar, Ghallan al-Dimasyq sebagai tiga serangkai yang seide itulah sebabnya kaum
Mu'tazilah dinamakan juga kaum Qadariyah dan Jahmiyah.
Disebut Qadariyah karena mereka mewarisi isi paham mereka tentang penolakan terhadap
adanya takdir, dan menyandarkan semua perbuatan manusia kepada diri sendiri tanpa adanya
intervensi Allah.
Disebut Jahmiyah karena mereka mewarisi dari paham penolakan mereka yang meniadakan
sifat-sifat Allah, Al-quran itu Makhluk, dan pengingkatan mereka mengenai kemungkinan
melihat Allah dengan mata kepala di hari kiamat.
Berkaitan dengan hal ini, Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa sebagai pengikut Mu'tazilah
adalah Jahmiyah tetapi tidak semua Jahmiyah adalah Mu'tazilah, karena kaum Mu'tazilah
berbeda pendapat dengan kaum Jahmiyah dalam masalah Jabr (hamba berbuat karena
terpaksa). Kalau kaum Mu'tazilah menafikanya maka kaum Jahmiyah meyakininya.
Pemimpin Penganut Jabariyah
1.
Ja'd Bin Dirham
Ia adalah seorang hamba dari bani Hakam dan tinggal di Damsyik. Ia dibunuh pancung
oleh Gubernur Kufah yaitu khalid bin Abdullah El-Qasri.
Pendapat-pendapatnya :
a. Tidak pernah Allah berbicara dengan Musa sebagaimana yang disebutkan oleh
Alqur'an surat An-Nisa ayat 164.
b. Bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah dijadikan Allah kesayangan Nya menurut
ayat 125 dari surat An-Nisa.
2. Jahm bin Shafwan
Ia bersal dari Persia dan meninggal tahun 128 H dalam suatu peperangan di Marwa
dengan Bani Ummayad.
Pendapat-pendapatnya:
a. Bahwa keharusan mendapatkan ilmu pengetahuan hanya tercapai dengan akal
sebelum pendengaran. Akal dapat mengetahui yang baik dan yang jahat hingga
mungkin mencapai soal-soal metafisika dan ba'ts/dihidupkan kembali di
akhirat nanti. Hendaklah manusia menggunakan akalnya untuk tujuan tersebut
bilamana belum terdapat kesadaran mengenai ketuhanan.
b. Iman itu adalah pengetahuan mengenai kepercayaan belaka. Oleh sebab itu
iman itu tidak meliputi tiga oknum keimanan yakni kalbu, lisan dan karya. Maka
tidaklah ada perbedaan antara manusia satu dengan yang lainnya dalam bidang
ini, sebab ia adalah semata pengetahuan belaka sedangkan pengetahuan itu
tidak berbeda tingkatnya.
c.
Tidak memberi sifat bagi Allah yang mana sifat itu mungkin diberikan pula
kepada manusia, sebab itu berarti menyerupai Allah dalam sifat-sifat itu.
Maka Allah tidak diberi sifat sebagai satu zat atau sesuatu yang hidpu atau
alim/mengetahui atau mempunyai keinginan, sebab manusia memiliki sifatsifat yang demikian itu. Tetapi boleh Allah disifatkan dengan Qadir/kuasa,
Pencipta, Pelaku, Menghidupkan, Mematikan sebab sifat-sifat itu hanya
tertentu untuk Allah semata dan tidak dapat dimiliki oleh manusia.
Penolakan Terhadap Paham Jabariyah
Kelompok jabariyah adalah orang-orang yang melampaui batas dalam menetapkan takdir
hingga mereka mengesampingkan sama sekali kekuasaan manusia dan mengingkari bahwa
manusia bisa berbuat sesuatu dan melakukan suatu sebab (usaha). Apa yang ditakdirkan
kepada mereka pasti akan terjadi. Mereka berpendapat bahwa manusia terpaksa melakukan
segala perbuatan mereka dan manusia tidak mempunyai kekuasaan yang berpengaruh kepada
perbuatan, bahkan manusia seperti bulu yang ditiup angin. Maka dari itu mereka tidak
berbuat apa-apa karena berhujjah kepada takdir. Jika mereka mengerjakan suatu amalan
yang bertentangan dengan syariat, mereka merasa tidak bertanggung jawab atasnya dan
mereka berhujjah bahwa takdir telah terjadi.
Akidah yang rusak semacam ini membawa dampak pada penolakan terhadap kemampuan
manusia untuk mengadakan perbaikan. Dan penyerahan total kepada syahwat dan hawa
nafsunya serta terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan karena menganggap bahwa semua
itu telah ditakdirkan oleh Allah atas mereka. Maka mereka menyenanginya dan rela
terhadapnya. Karena yakin bahwa segala yang telah ditakdirkan pada manusia akan
menimpanya, maka tidak perlu seseorang untuk melakukan usaha karena hal itu tidak
mengubah takdir.
Keyakinan semacam ini telah menyebabkan mereka meninggalkan amal shalih dan melakukan
usaha yang dapat menyelamatkannya dari azab Allah, seperti shalat, puasa dan berdoa.
Semua itu menurut keyakinan mereka tidak ada gunanya karena segala apa yang ditakdirkan
Allah akan terjadi sehingga doa dan usaha tidak berguna baginya. Lalu mereka meninggalkan
amar ma'ruf dan tidak memperhatikan penegakan hukum. Karena kejahatan merupakan takdir
yang pasti akan terjadi. Sehingga mereka menerima begitu saja kedzaliman orang-orang
dzalim dan kerusakan yang dilakukan oleh perusak, karena apa yang dilakukan mereka telah
ditakdirkan dan dikehendaki oleh Allah.
Para ulama Ahlu Sunnah wal jamaah telah menyangkal anggapan orang-orang sesat itu dengan
pembatalan dan penolakan terhadap pendapat mereka. Menjelaskan bahwa keimanan kepada
takdir tidak bertentangan dengan keyakinan bahwa manusia mempunyai keinginan dan pilihan
dalam perbuatannya serta kemampuannya untuk melaksanakannya. Hal ini ditunjukkan dengan
dalil-dalil baik syariat maupun akal.
Dalil-Dalil Al Qur'an
1.
Allah SWT berfirman, "Ítulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang
menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya." (QS. An Naba :
29)
2. Firman Allah SWT : "Istri-istrimu adalah seperti tanah tempat kamu bercocok
tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu sebagaimana saja kamu
kehendaki. (QS. Al Baqarah : 223)
Fokus pengambilan dalil dari kedua ayat di atas, bahwa Allah SWT memberikan kebebasan
kepada manusia untuk menempuh jalan yang dapat mengantarkannya menuju keridhaanNya.
Allah juga memberikan mereka kebebasan untuk mendatangi istri-istri mereka pada tempat
yang ditetapkan sekehendak mereka.
Dalil-Dalil Dari As Sunnah
Rasulullah SAW bersabda : "Setiap orang diantara kalian telah ditetapkan tempat duduknya
di surga atau di neraka." Lalu mereka bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa kita tidak bersandar
kepada Kitab kita dan meninggalkan usaha?" Beliau menjawab, "Berusahalah karena semua itu
akan memudahkan untuk menuju apa yang telah ditakdirkan kepadanya." (HR. Bukhari dan
Muslim)
Dalil-Dalil Dari Akal
Setiap orang tahu bahwa dirinya mempunyai kehendak dan kemampuan untuk mengerjakan
keduanya sesuai dengan keinginannya dan meninggalkan apa yang diinginkannya. Dia bisa
membedakan sesuatu yang terjadi karena keinginannya sendiri karena merasa
bertanggungjawab terhadapnya dan sesuatu yang tanpa disengaja sehingga dia merasa lepas
tanggung jawab terhadapnya. Seperti orang yang mimpi basah di siang bulan ramadhan, maka
puasanya tidak batal karena hal itu terjadi karena bukan pilihan orang itu. Tetapi jika orang
itu dengan sengaja melakukan onani sehingga keluar air mani, maka batallah puasanya karena
hal itu terjadi akibat kehendak dan pilihannya.
"(Yaitu) bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat
menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam."
(QS. At-Takwir : 28-29)
Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia mempunyai kehendak yang masuk dalam kehendak
Allah SWT.
Imam Ahmad pernah ditanya oleh seseorang yang berkata bahwa Allah memaksa manusia
atas semua perbuatan mereka. Beliau menjawab, "Kita tidak berpendapat demikian dan kami
mengingkarinya." Beliau berkata, "Allah menyesatkan siapa yang berkehendak dan
memberikan petunjuk kepada siapa yang berkehendak.." Lalu datanglah kepadanya seorang
lelaki seraya berkata, "Seorang laki-laki berkata, "Allah memaksa manusia untuk taat." Beliau
menjawab, "Alangkah buruknya apa yang dikatakannya."
Ciri - Ciri Ajaran Jabariyah
Diantara ciri-ciri ajaran Jabariyah adalah :
1.
Bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan ikhtiar apapun, setiap perbuatannya
baik yang jahat, buruk atau baik semata Allah semata yang menentukannya.
2. Bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu apapun sebelum terjadi.
3. Ilmu Allah bersifat Huduts (baru)
4. Iman cukup dalam hati saja tanpa harus dilafadhkan.
5. Bahwa Allah tidak mempunyai sifat yang sama dengan makhluk ciptaanNya.
6. Bahwa surga dan neraka tidak kekal, dan akan hancur dan musnah bersama
penghuninya, karena yang kekal dan abadi hanyalah Allah semata.
7. Bahwa Allah tidak dapat dilihat di surga oleh penduduk surga.
8. Bahwa Alqur'an adalah makhluk dan bukan kalamullah.
Qadha dan Qadar Serta Makna Takdir Allah Menurut Jabariyah
Aliran Jabariyah berpendapat mengatakan segala sesuatu yang terjadi pada manusia atau
jagad raya ini meupakan kehendak Allah semata tanpa peran serta sesuatu pun termasuk di
dalamnya adalah perbuatan-perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia. Aliran Jabariyah
mengibaratkan bahwa perbuatan manusia tak ubah seperti dedanunan yang bergerak diterpa
angin atau dalam ilustrasi yang sangat sederhana bisa dicontohkan bahwa aliran Jabariyah
menggambarkan manusia bagaikan robot yang disetir oleh remote kontrol.
Perbuatan, Kehendak Manusia Dengan Qudrat Iradat Allah Menurut Jabariyah
Para Ulama Pengikut aliran Jabariyah, berpendapat bahwa semua perbuatan yang dilakukan
oleh manusia merupakan kehendak dan ketetapan Allah. Manusia tidak mempunai peran atas
segala perbuatannya. Perbuatan baik dan kejahatan yang dilakukan oleh manusia merupakan
Qudrat dan Iradat (kekuasaan atau kehendak) Allah.
Ulama aliran Jabariyah mengesampingkan usaha dan ikhtiar manusia. Dengan kata lain
manusia tidak mempunyai peran apa-apa atas kehendak dan perbuatannya, semuanya
berdasarkan Qadha dan Qadar Allah, Kalau semua perbuatan manusia merupakan ketetapan
dan kehendakan Allah mengapa manusia harus diberi pahala jika menjalani suatu kebaikan.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran:
Artinya: " Barangsiapa ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya, Niscaya Allah memasukannya ke
dalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya; dan
itulah kemenangan yang besar". (QS: 4: An-Nisa': 13)
Allah juga akan memberikan siksa kepada hambaNya yang selalu berbuat dosa artinya tidak
mau ta'at kepada Allah dan rasul-Nya. Yakni tidak mau meninggalkan semua larangan-Nya dan
tidak mau menjalankan semua perintah-Nya. Sebagaimana firman Allah:
Arinya: "Dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuanketentuan-Nya, Niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di
dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan". (QS: 4: An-Nisaa':14)
Dilihat dari sisi lain pendapat 'Ulama Jabariyah kurang kuat karena: Untuk apa pula Allah
memberi petunjuk, kabar gembira dan memberikan peringatan melalui para Rasul-Nya agar
manusia dapat mengerti antara haq dan yang bathil sebagaimana firman Allah:
Artinya: "Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira
dan sebagai pemberi peringatan" (QS:18: Al-Kahfi: 56)
Dari beberapa Kutipan Ayat suci Al-Quran diatas maka pendapat ulama Jabariyah menjadi
lemah. Sementara itu Yusuf Al Qardhawi memandang bahwa aliran Jabariyah hanya
memandang satu sifat kekuasaan Allah dan tidak memandang keadilan dan kebijaksanaanNya; sehingga semua perbuatan yang dilakukan disandarkan pada takdir Allah. Dengan kata
lain aliran Jabariyah menafikan fungsi dan peran Rasul Allah serta ancaman yang akan
diberikan kepada pelanggar (durhaka) tatanan nilai Ilahiyah (syari'ah agama) dan pahala bagi
para pelaksana (bertaqwa) tatanan nilai Ilahiyah (sayri'ah agama). Hal ini menurut Jalaluddin
Ar-Rumi bahwa: Sekiranya manusia dalam keadaan terkekang seperti pendapat aliran
Jabariyah, maka tidak mungkin jika dia dibebani perintah dan larangan, atau disuruh untuk
menjalankan syari'at dan hukum Islam. Karena sesungguhnya Al-Qur'an itu berisikan
perintah dan larangan.
Jabariah sebagai penolakan terhadap pandangan kaum qadariyah, munculnya kaum Jabariyah
yang berpendapat bahwa perbuatan manusia itu baik dan buruk, semuannya berasal dari
Allah. Jika perbuatan tersebut disebut sebagai perbuatan manusia, maka hal ini hanya kiasan
saja. Seperti saat kita menyatakan bahwa sungai itu mengalir, padahal pada hakikatnya
Tuhanlah yang mengalirkannya. Manusia menurut pandangan kaum Jabariyah tak ubahnya
seperti bulu ayam yang bertebangan ditiup angin (karena itulah maka kaum Jabariyah dan
kaum qadariyah dikatakan dua golongan yang satu sama lainnya saling bertolak belakang.
Berdasarkan keyakinan seperti ini maka kaum Jabariyah memiliki pandangan yang meniadakan
sifat dan nama Allah, sementara Al-kalam (firman Allah) yang merupakan sifat Allah menurut
pendapat mereka adalah hadis (sesuatu yang baru).
Wassalamu'alaykum Wr.Wb
<><><><><><>><><><><><>
Oleh: Jenny HP
Disarikan Dari:
1.
A. Said Aqil Humam Abdurrahman, Penjelasan menyeluruh tentang Qadha dan Qadar,
Al-Azhar Press, Bogor:2004
2. Abu Lubaba, Husein, Pemikiran Hadist Mu'tazilah, Pustaka Firdaus, Jakarta
3. DR. Fuad Mohd. Fachruddin, Sejarah Perkembangan Pemikiran dalam Islam, CV.
Yasaguna, Jakarta: 1990
4. Dr. Said bin Musfin Al-Qahthani, Buku Putih Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani, Penerbit
Buku Islam Kaffah, Jakarta: 2003
5. Drs. Muhammad Sufyan Raji Abdullah, Lc., Mengenal Aliran-aliran Islam dan ciri-ciri
ajarannya, Pustaka Al-Riyadl, Jakarta: 2003
6. Sutrisna Sumadi, Sag. dan Rafi'udin, Sag., Kebebasan Manusia atas Takdir Allah
berdasar Konsep Penciptaan Nabi Adam a.s, Pustaka Quantum, Jakarta: 2003
Milis Eramuslim
Dikirim oleh: Jdp
Senin, 13 Maret 2006
ALIRAN JABARIYAH
A. PENGERTIAN JABARIYAH
Sebelum kita memahami dan mengenal lebih dalam mengenai sejarah kemunculan aliran
Jabariyah ini, perlu saya paparkan pengertian dari kata Jabariyah itu sendiri, baik secara
etimologi maupun sacara terminologi. Kata Jabariyah berasal dari kata Jabara dalam
bahasa Arab yang mengandung arti memaksa dan mengharuskan melakukan sesuatu.
(Abdul Razak, 2009 : 63).
Pengertian arti kata secara etimologi diatas telah dipahami bahwa kata jabara merupakan
suatu paksaan di dalam melakukan setiap sesuatu. Atau dengan kata lain ada unsur
keterpaksaan. Kata Jabara setelah berubah menjadi Jabariyah (dengan menambah Yaa’
nisbah) mengandung pengertian bahwa suatu kelompok atau suatu aliran (isme).
Ditegaskan kembali dalam berbagai referensi yang dikemukakan oleh Asy-Syahratsan
bahwa paham Al-Jabar berarti menghilangkan perbuatan manusia dalam arti
sesungguhnya dan menyandarkannya kepada Allah, dengan kata lain, manusia
mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. Dalam referensi Bahasa Inggris,
Jabariyah disebut Fatalism atau Predestination. Yaitu paham yang menyebutkan bahwa
perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha’ dan qadar Allah. (Harun
Nasution, 1986 : 31)
Dapat Kita simpulkan bahwa aliran Jabariyah adalah aliran sekelompok orang yang
memahami bahwa segala perbuatan yang mereka lakukan merupakan sebuah unsur
keterpaksaan atas kehendak Tuhan dikarenakan telah ditentukan oleh qadha’ dan qadar
Tuhan. Jabariah adalah pendapat yang tumbuh dalam masyarakat Islam yang melepaskan
diri dari seluruh tanggungjawab. Maka Manusia itu disamakan dengan makluk lain yang
sepi dan bebas dari tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain,
manusia itu diibaratkan benda mati yang hanya bergerak dan digerakkan oleh Allah
Pencipta, sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya. Dalam soal ini manusia itu dianggap
tidak lain melainkan bulu di udara dibawa angin menurut arah yang diinginkan-Nya.
Maka manusia itu sunyi dan luput dari ikhtiar untuk memilih apa yang diinginkannya
sendiri.
B. SEJARAH KEMUNCULAN ALIRAN JABARIYAH
Mengenai asal usul serta akar kemunculan aliran Jabariyah ini tidak lepas dari beberapa
faktor. Antara lain :
1. Faktor Politik
Pendapat Jabariah diterapkan di masa kerajaan Ummayyah (660-750 M). Yakni di masa
keadaan keamanan sudah pulih dengan tercapainya perjanjian antara Muawiyah dengan
Hasan bin Ali bin Abu Thalib, yang tidak mampu lagi menghadapi kekuatan Muawiyah.
Maka Muawiyah mencari jalan untuk memperkuat kedudukannya. Di sini ia bermain
politik yang licik. Ia ingin memasukkan di dalam pikiran rakyat jelata bahwa
pengangkatannya sebagai kepala negara dan memimpin ummat Islam adalah berdasarkan
"Qadha dan Qadar/ketentuan dan keputusan Allah semata" dan tidak ada unsur manusia
yang terlibat di dalamnya.
Golongan Jabariyah pertama kali muncul di Khurasan (Persia) pada saat munculnya
golongan Qodariyah, yaitu kira-kira pada tahun 70 H. Aliran ini dipelopori oleh Jahm bin
Shafwan, aliran ini juga disebut Jahmiyah. Jahm bin Shafwan-lah yang mula-mula
mengatakan bahwa manusia terpasung, tidak mempunyai kebebasan apapun, semua
perbuatan manusia ditentukan Allah semata, tidak ada campur tangan manusia.
Paham Jabariyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan karena itu kaum Jabariyah
disebut sebagai kaum Jahmiyah, Namun pendapat lain mengatakan bahwa orang yang
pertama mempelopori paham jabariyah adalah Al-Ja'ad bin Dirham, dia juga disebut
sebagai orang yang pertama kali menyatakan bahwa Al-Quran itu makhluq dan
meniadakan sifat-sifat Allah. Disamping itu kaum Jahmiyah juga mengingkari adanya
ru'ya (melihat Allah dengan mata kepala di akhirat). Meskipun kaum Qadariyah dan
Jahmiyah sudah musnah namun ajarannya masih tetap dilestarikan. Karena kaum
Mu'tazilah menjadi pewaris kedua pemahaman tersebut dan mengadopsi pokok-pokok
ajaran kedua kaum tersebut. Selanjutnya ditangan Mu'tazilah paham-paham tersebut
segar kembali. Sehingga Imam As-Syafi'i menyebutnya Wasil, Umar, Ghallan alDimasyq sebagai tiga serangkai yang seide itulah sebabnya kaum Mu'tazilah dinamakan
juga kaum Qadariyah dan Jahmiyah.
Disebut Qadariyah karena mereka mewarisi isi paham mereka tentang penolakan
terhadap adanya takdir, dan menyandarkan semua perbuatan manusia kepada diri sendiri
tanpa adanya intervensi Allah. Disebut Jahmiyah karena mereka mewarisi dari paham
penolakan mereka yang meniadakan sifat-sifat Allah, Al-quran itu Makhluk, dan
pengingkatan mereka mengenai kemungkinan melihat Allah dengan mata kepala di hari
kiamat.
Berkaitan dengan hal ini, Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa sebagai pengikut Mu'tazilah
adalah Jahmiyah tetapi tidak semua Jahmiyah adalah Mu'tazilah, karena kaum Mu'tazilah
berbeda pendapat dengan kaum Jahmiyah dalam masalah Jabr (hamba berbuat karena
terpaksa). Kalau kaum Mu'tazilah menafikanya maka kaum Jahmiyah meyakininya.
2. Faktor Geografi
Para ahli sejarah pemikiran mengkaji melalui pendekatan geokultural bangsa Arab.
Kehidupan bangsa Arab yang dikungkung oleh gurun pasir sahara memberikan pengaruh
besar ke dalam cara hidup mereka. Ketergantungan mereka kepada alam sahara yang
ganas telah memunculkan sikap penyerahan diri terhadap alam. Situasi demikian, bangsa
Arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan
keingianan mereka sendiri. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukarankesukaran hidup. Akhirnya, mereka banyak bergantung kepada sikap Fatalisme.
C. TOKOH-TOKOH SERTA DOKTRIN AJARAN
1. Ja'd Bin Dirham
Ia adalah seorang hamba dari bani Hakam dan tinggal di Damsyik. Ia dibunuh pancung
oleh Gubernur Kufah yaitu khalid bin Abdullah El-Qasri.
Pendapat-pendapatnya :
a. Tidak pernah Allah berbicara dengan Musa sebagaimana yang disebutkan oleh
Alqur'an surat An-Nisa ayat 164.
b. Bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah dijadikan Allah kesayangan Nya menurut ayat 125
dari surat An-Nisa.
2. Jahm bin Shafwan
Ia bersal dari Persia dan meninggal tahun 128 H dalam suatu peperangan di Marwan
dengan Bani Ummayah. Pendapat-pendapatnya:
a. Bahwa keharusan mendapatkan ilmu pengetahuan hanya tercapai dengan akal sebelum
pendengaran. Akal dapat mengetahui yang baik dan yang jahat hingga mungkin mencapai
soal-soal metafisika dan ba'ts/dihidupkan kembali di akhirat nanti. Hendaklah manusia
menggunakan akalnya untuk tujuan tersebut bilamana belum terdapat kesadaran
mengenai ketuhanan.
c. Iman itu adalah pengetahuan mengenai kepercayaan belaka. Oleh sebab itu iman itu
tidak meliputi tiga oknum keimanan yakni kalbu, lisan dan karya. Maka tidaklah ada
perbedaan antara manusia satu dengan yang lainnya dalam bidang ini, sebab ia adalah
semata pengetahuan belaka sedangkan pengetahuan itu tidak berbeda tingkatnya.
d. Tidak memberi sifat bagi Allah yang mana sifat itu mungkin diberikan pula kepada
manusia, sebab itu berarti menyerupai Allah dalam sifat-sifat itu. Maka Allah tidak diberi
sifat sebagai satu zat atau sesuatu yang hidpu atau alim/mengetahui atau mempunyai
keinginan, sebab manusia memiliki sifat-sifat yang demikian itu. Tetapi boleh Allah
disifatkan dengan Qadir/kuasa, Pencipta, Pelaku, Menghidupkan, Mematikan sebab sifatsifat itu hanya tertentu untuk Allah semata dan tidak dapat dimiliki oleh manusia.
D. CIRI-CIRI AJARAN JABARIYAH
Diantara ciri-ciri ajaran Jabariyah adalah :
1. Bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan ikhtiar apapun, setiap perbuatannya
baik yang jahat, buruk atau baik semata Allah semata yang menentukannya.
2. Bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu apapun sebelum terjadi.
3. Ilmu Allah bersifat Huduts (baru)
4. Iman cukup dalam hati saja tanpa harus dilafadhkan.
5. Bahwa Allah tidak mempunyai sifat yang sama dengan makhluk ciptaanNya.
6. Bahwa surga dan neraka tidak kekal, dan akan hancur dan musnah bersama
penghuninya, karena yang kekal dan abadi hanyalah Allah semata.
7. Bahwa Allah tidak dapat dilihat di surga oleh penduduk surga.
8. Bahwa Alqur'an adalah makhluk dan bukan kalamullah
E. PENOLAKAN TERHADAP PAHAM JABARIYAH
Kelompok jabariyah adalah orang-orang yang melampaui batas dalam menetapkan takdir
hingga mereka mengesampingkan sama sekali kekuasaan manusia dan mengingkari
bahwa manusia bisa berbuat sesuatu dan melakukan suatu sebab (usaha). Apa yang
ditakdirkan kepada mereka pasti akan terjadi. Mereka berpendapat bahwa manusia
terpaksa melakukan segala perbuatan mereka dan manusia tidak mempunyai kekuasaan
yang berpengaruh kepada perbuatan, bahkan manusia seperti bulu yang ditiup angin.
Maka dari itu mereka tidak berbuat apa-apa karena berhujjah kepada takdir. Jika mereka
mengerjakan suatu amalan yang bertentangan dengan syariat, mereka merasa tidak
bertanggung jawab atasnya dan mereka berhujjah bahwa takdir telah terjadi.
Akidah yang rusak semacam ini membawa dampak pada penolakan terhadap kemampuan
manusia untuk mengadakan perbaikan. Dan penyerahan total kepada syahwat dan hawa
nafsunya serta terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan karena menganggap bahwa
semua itu telah ditakdirkan oleh Allah atas mereka. Maka mereka menyenanginya dan
rela terhadapnya. Karena yakin bahwa segala yang telah ditakdirkan pada manusia akan
menimpanya, maka tidak perlu seseorang untuk melakukan usaha karena hal itu tidak
mengubah takdir.
Keyakinan semacam ini telah menyebabkan mereka meninggalkan amal shalih dan
melakukan usaha yang dapat menyelamatkannya dari azab Allah, seperti shalat, puasa
dan berdoa. Semua itu menurut keyakinan mereka tidak ada gunanya karena segala apa
yang ditakdirkan Allah akan terjadi sehingga doa dan usaha tidak berguna baginya. Lalu
mereka meninggalkan amar ma'ruf dan tidak memperhatikan penegakan hukum. Karena
kejahatan merupakan takdir yang pasti akan terjadi. Sehingga mereka menerima begitu
saja kedzaliman orang-orang dzalim dan kerusakan yang dilakukan oleh perusak, karena
apa yang dilakukan mereka telah ditakdirkan dan dikehendaki oleh Allah.
Para ulama Ahlu Sunnah wal jamaah telah menyangkal anggapan orang-orang sesat itu
dengan pembatalan dan penolakan terhadap pendapat mereka. Menjelaskan bahwa
keimanan kepada takdir tidak bertentangan dengan keyakinan bahwa manusia
mempunyai keinginan dan pilihan dalam perbuatannya serta kemampuannya untuk
melaksanakannya. Hal ini ditunjukkan dengan dalil-dalil baik syariat maupun akal.
DAFTAR PUSTAKA
DR. Abdul Razak, M.Ag, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung : 2009
Harun Nasution, Teologi Islam, UI-Press, Jakarta : 1986
Download