SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA MITOS SEKS DENGAN PERILAKU

advertisement
SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA MITOS SEKS DENGAN PERILAKU SEKSUAL
PADA REMAJA SMA DI KECAMATAN KLATEN KOTA
Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Ijasah S1 Kesehatan Masyarakat
Disusun Oleh:
IRFAN TRI RAHARJO
J 410050006
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2009
ABSTRAK
IRFAN TRI RAHARJO J 410 050 006
HUBUNGAN ANTARA MITOS SEKS DENGAN PERILAKU SEKSUAL PADA
REMAJA SMA DI KECAMATAN KLATEN KOTA
xvii + 54 + 8
Banyak remaja mempercayai mitos seks sehingga tidak jarang ditemukan kasuskasus yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi yang bermula dari keyakinan pada
mitos-mitos tersebut. Hal ini menyebabkan semakin banyak remaja yang mencari
tahu dan mencoba melakukan perilaku seksual. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui hubungan mitos seks dengan perilaku seksual pada remaja SMA di
Kecamatan Klaten kota. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan
cross sectional. Jumlah populasi adalah 535 siswa. Teknik pengambilan sampel
menggunakan simple random sampling. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 84
siswa. Uji statistik yang digunakan adalah Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa ada hubungan antara mitos alat reproduksi (p=0,007), mitos hubungan seksual
(p=0,033), mitos PMS (p=0,044), dan mitos terjadinya kehamilan (p=0,029) dengan
perilaku seksual pada remaja SMA di Klaten kota.
Kata kunci
: Mitos seks, perilaku seksual, remaja SMA
Kepustakaan : 48, 1997 – 2009
Surakarta, 30 Oktober 2009
Pembimbing I
Pembimbing II
Azizah Gama Trisnawati, SKM, M.Pd
NIK. 100.1017
Ambarwati, S.Pd, M.Si
NIK. 757
Mengetahui,
Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat
Yuli Kusumawati, SKM, M.Kes (Epid)
NIK. 863
ii
IRFAN TRI RAHARJO J 410 050 006
CORRELATION OF SEX MYTH WITH SEX BEHAVIOR OF SENIOR HIGH
SCHOOL ADOLESCENT IN TOWN KLATEN
ABSTRACT
Many adolescents believe about sex myths, so we often find reproduction health
cases that beginning from this myths. It causes more adolescents want to know and
try the sexual behavior. The aim of this research was to know the correlation of sex
myths with sex behavior of senior high school adolescent in town Klaten. The
research was observational with cross sectional approach. The population were 535
students and the sample were 84 students. Sampling technique using simple random
sampling. The analysis was done by Chi-Square test. The result of this research:
there was relationship between reproduction organ myths (p = 0.007), sex
intercourse myths (p = 0.033), STD myths (0.044), and pregnancy myths (p = 0.029)
with sex behavior of senior high school adolescent in town Klaten.
Key words: sex myths, sexual behavior, senior high school adolescent
iii
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi dengan judul :
HUBUNGAN ANTARA MITOS SEKS DENGAN PERILAKU SEKSUAL
PADA REMAJA SMA DI KECAMATAN KLATEN KOTA
Disusun Oleh : Irfan Tri Raharjo
NIM
: J 410 050 006
Telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan
Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Surakarta, 30 Oktober 2009
Pembimbing I
Pembimbing II
Azizah Gama Trisnawati, SKM, M.Pd
NIK. 100. 1017
iv
Ambarwati, S.Pd, M.Si
NIK. 757
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi Dengan Judul :
HUBUNGAN ANTARA MITOS SEKS DENGAN PERILAKU SEKSUAL
PADA REMAJA SMA DI KECAMATAN KLATEN KOTA
Disusun Oleh : Irfan Tri Raharjo
NIM
: J 410 050 006
Telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan
Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta pada
tanggal 30 Oktober 2009 dan telah diperbaiki sesuai dengan masukan Tim
Penguji.
Surakarta, 30 Oktober 2009
Ketua Penguji
: Azizah Gama Trisnawati, SKM, M.Pd
(
)
Anggota Penguji I
: Ambarwati, S.Pd, M.Si
(
)
Anggota Penguji II
: Yuli Kusumawati, SKM, M. Kes (Epid) (
)
Mengesahkan
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Surakarta
(Arif Widodo, A.Kep, M.Kes)
NIK. 630
v
MOTTO
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah
selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
(urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap”.
( QS. Al-Insyiroh : 6-8 )
Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan,
Jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan,
Tapi lihatlah sekitar anda dengan penuh kesadaran
(James Thurber)
Disaat kamu sampai pada suatu titik
Dimana kamu sudah tidak tahu harus berbuat apalagi
Maka pasrahkanlah semuanya kepada Allah SWT.
(Penulis)
vi
PERSEMBAHAN
Dengan rasa syukur kepada Allah SWT dan kerendahan hati penulis
skripsi ini
persembahkan kepada :
Ayah dan Ibuku
Terima kasih atas segala cinta, kasih sayang dan pengorbanannya, semoga Allah
membalas segala kebaikannya dengan surga
Kakak-kakakku
Mas Joko dan Mbak Dyah, terima kasih atas perhatian, bantuannya serta
kepercayaan yang telah diberikan kepadaku.
Adikku tersayang
Terima kasih atas do’a dan motivasi yang penuh cinta yang selama ini ia
pancarkan
Teman-temanku KesMas ’05
Terima kasih atas dukungan dan kebersamaan kalian, semoga kita kelak menjadi
orang yang sukses dan berguna bagi masyarakat.
vii
@ 2009
Hak Cipta Pada Penulis
viii
RIWAYAT HIDUP
Nama
: Irfan Tri Raharjo
Tempat/Tanggal Lahir
: Klaten, 14 Februari 1987
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Agama
: Islam
Alamat
: Jl. Rajawali no: 50 Klaten 57414 Jawa Tengah
Riwayat Pendidikan
: 1. Lulus SDN Bareng 1 tahun 1999
2. Lulus SMPN 2 Klaten tahun 2002
3. Lulus SMA Muhammadiyah 1 Klaten tahun
2005
4. Menempuh pendidikan di Program Studi
Kesehatn Masyarakt FIK UMS sejak tahun
2005.
ix
KATA PENGANTAR
Assalamuala’kum Wr.Wb
Puji syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang
telah memberikan rahmat dan hidayahNya dan kepada junjungan tauladan nabi
besar Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan
judul ” HUBUNGAN ANTARA MITOS SEKS DENGAN PERILAKU
SEKSUAL PADA REMAJA SMA DI KECAMATAN KLATEN KOTA”.
Skripsi ini disusun guna memenuhi persyaratan dalam mencapai derajat
Sarjana S-1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Surakarta. Dalam pembuatan skipsi ini penulis telah banyak
mendapat bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bpk. Arif Widodo, A.Kep, M.Kes selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Staf yang telah memberi ijin dan
membantu selama proses penelitian.
2. Ibu Yuli Kusumawati, SKM, M.Kes (Epid) selaku Ketua Program Studi
Kesehatan Mayarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
3. Ibu Azizah Gama Trisnawati, SKM, M.Pd selaku pembimbing I yang telah
memberikan bimbingan, pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi
ini.
4. Ibu Ambarwati, S.Pd, M.Si selaku pembimbing II yang telah memberikan
bimbingan, pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Bpk dan ibu dosen Kesehatan Masyarakat (Bu Ambar, Bu Azizah, Bu Dwi, Bu
Lina, Bu Yuli, Pak Dar, Pak Alis) terima kasih atas ilmu-ilmu yang telah
diberikan.
6. Drs. H. Supardi, S.H selaku kepala sekolah SMAN 3 Klaten yang telah
memberikan ijin penulis untuk melakukan penelitian.
x
7. Drs. H. Muhni selaku kepala sekolah SMA Muhammadiyah 1 Klaten yang
telah memberikan ijin penulis untuk melakukan penelitian.
8. Ayahanda
dan Ibundaku tercinta, terima kasih atas dukungan dan
semangatnya yang tak pernah henti berdo’a dan mencurahkan perhatian, cinta
dan kasih sayangnya tanpa batas dengan Ridho Nya.
9. Kakakku mas Joko dan mbak Dyah, yang terus memberikan dukungan dan
semangat untuk mengerjakan skripsi.
10. Adik Janar yang selalu memotivasi dan menemaniku hingga terselesaikannya
skripsi ini.
11. Teman-teman kontraan B11 terima kasih atas kebersamaan kita selama ini.
12. Teman-teman Kesehatan Masyarakat angkatan ’05 (Anjar, Aput, Widia, Farid,
Pambudi, dan lain-lain) yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu, terima
kasih atas kebersamaannya, tetap semangat.
13. Teman-teman kos Wisma Raditya yang selalu membuat rame kos-kosan.
14. Semua pihak yang telah memberikan semangat dan memberi bantuan sehingga
terselesaikannya skripsi ini.
Semoga Allah SWT membalas jasa serta budi baik yang setimpal kepada
semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini,
Amin. Harapan penulis, semoga karya sederhana ini dapat memberikan
sumbangan dan manfaat khususnya bagi pengembangan dunia Kesehatan
Masyarakat. Amin.
Wassalamualai’kum Wr.Wb
Surakarta, 20 Oktokber 2009
Penulis
xi
DAFTARI ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ........................................................................................
ABSTRAK ........................................................................................................
ABSTRACT .......................................................................................................
PERNYATAAN PERSETUJUAN ..................................................................
HALAMAN PENGESAHAN ..........................................................................
MOTTO ...........................................................................................................
PERSEMBAHAN ............................................................................................
HAK CIPTA ....................................................................................................
RIWAYAT HIDUP ..........................................................................................
KATA PENGANTAR .....................................................................................
DAFTAR ISI ....................................................................................................
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................
DAFTAR TABEL ............................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................
DAFTAR SINGKATAN .................................................................................
BAB I
i
ii
iii
iv
v
vi
vii
viii
ix
x
xii
xiv
xv
xvi
xvii
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................
B. Masalah Penelitian .......................................................................
C. Tujuan Penelitian ..........................................................................
D. Manfaat Penelitian .......................................................................
E. Ruang Lingkup Penelitian ...........................................................
1
4
5
6
6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Remaja .........................................................................................
B. Kesehatan Reproduksi Remaja ...................................................
C. Mitos Seks pada Remaja ..............................................................
D. Perilaku Seksual............................................................................
E. Kerangka Teori ............................................................................
F. Kerangka Konsep ........................................................................
G. Hipotesis ......................................................................................
7
12
13
19
24
25
25
BAB III METODE PENELITIAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
Jenis dan Rancangan Penelitian ..................................................
Subjek Penelitian .........................................................................
Waktu dan Tempat Penelitian .....................................................
Populasi dan Sampel ...................................................................
Variabel Penelitian ......................................................................
Definisi Operasional Variabel .....................................................
Pengumpulan Data ......................................................................
Pengolahan Data ..........................................................................
Analisis Data ...............................................................................
26
26
27
27
29
29
30
33
34
xii
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...........................................
B. Hasil Analisis Univariat ..............................................................
C. Hasil Analisi Hubungan ..............................................................
D. Hasil Analisis Bivariat ................................................................
36
37
42
44
BAB V PEMBAHASAN
A. Hubungan antara Mitos Alat Reproduksi dengan Perilaku
Seksual pada Remaja SMA di Kecamatan Klaten Kota ............. 46
B. Hubungan antara Mitos Hubungan Seksual dengan Perilaku
Seksual pada Remaja SMA di Kecamatan Klaten Kota ............. 47
C. Hubungan antara Mitos PMS dengan Perilaku Seksual pada
Remaja SMA di Kecamatan Klaten Kota ................................... 49
D. Hubungan antara Mitos Trejadinya Hubungan Seksual
dengan Perilaku Seksual pada Remaja SMA di Kecamatan
Klaten Kota ................................................................................. 50
E. Keterbatasan Penelitian ............................................................... 52
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .................................................................................
B. Saran ...........................................................................................
53
53
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xiii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar
1. Kerangka Teori Penelitian ............................................................................
24
2. Kerangka Konsep Penelitian ........................................................................
25
xiv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel
1. Tahapan Perkembangan Remaja ...............................................................
11
2. Definisi Opersional Variabel ....................................................................
29
3. Tingkat Keeratan Hubungan Variabel X dan Variabel Y ........................
32
4. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ..................................... 38
5. Distribusi Responden Berdasarkan Umur .................................................
38
6. Distribusi Responden Berdasarkan Kelas ................................................
38
7. Distribusi Responden tentang Mitos Alat Reproduksi .............................
39
8. Distribusi Responden tentang Mitos Hubungan Seksual ..........................
39
9. Distribusi Responden tentang Mitos PMS ................................................
40
10. Distribusi Responden tentang Mitos Terjadinya Kehamilan ....................
41
11. Distribusi Responden tentang Perilaku Seksual ........................................
41
12. Distribusi Hubungan Mitos Alat Reproduksi terhadap Perilaku Seksual ..
42
13. Distribusi Hubungan Mitos Hubungan Seksual terhadap Perilaku
Seksual.........................................................................................................
43
14. Distribusi Hubungan Mitos PMS terhadap Perilaku Seksual .....................
43
15. Distribusi Hubungan Mitos Terjadinya Kehamilan terhadap Perilaku
Seksual.........................................................................................................
44
16. Rangkuman Hasil Uji Bivariat Variabel Bebas terhadap Perilaku
Seksual.........................................................................................................
45
xv
DAFTAR LAMPIRAN
1. Pernyataan Kesediaan Menjadi Responden
2. Kuesioner Pengumpulan Data
3. Pedoman Wawancara
4. Print Out Hasil Validitas dan Reliabilitas
5. Print Out Hasil Analisis Data
6. Dokumentasi Penelitian
7. Surat Ijin Penelitian
8. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian
xvi
DAFTAR SINGKATAN
AIDS
: Acquired Immuno Deficiency Syndrome
BP
: Bimbingan dan Penyuluhan
HIV
: Human Immunodeficiency Virus
KTD
: Kehamilan Tidak Diinginkan
KP2K
: Komisi Peduli Perempuan Klaten
LKTS
: Lembaga Kajian untuk Transformasi Sosial
PMS
: Penyakit Menular Seksualitas
PPFA
: Planned Parenthood Federation of America
PSK
: Pekerja Seks Komersial
WHO
: World Health Organization
xvii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemahaman masyarakat tentang seksualitas masih kurang sampai saat
ini, ditandai dengan adanya berbagai ketidaktahuan yang ada di masyarakat
tentang
seksualitas
yang
seharusnya
dipahaminya.
Beberapa
kajian
menunjukkan bahwa remaja sangat membutuhkan informasi mengenai seksual
dan reproduksi. Remaja seringkali memperoleh informasi yang tidak akurat
mengenai seks dari teman-teman mereka, bukan dari petugas kesehatan, guru
atau orang tua (Saifuddin dan Hidayana, 1999).
Kurangnya pemahaman tentang perilaku seksual pada masa remaja
sangat merugikan bagi remaja sendiri termasuk keluarga, sebab pada masa ini
remaja mengalami perkembangan yang penting yaitu kognitif, emosi, sosial
dan seksual. Perkembangan ini akan berlangsung mulai umur 12 tahun sampai
20 tahun (Pangkahila, 2007).
Orang tua adalah sumber penting yang hilang dalam upaya memerangi
kehamilan pada remaja dan PMS. Kebanyakan remaja mengatakan bahwa
mereka tidak dapat berbicara secara bebas dengan orang tua mereka mengenai
hal-hal seksual (Santrock, 2005). Ketidakpekaan orang tua dan pendidik
terhadap kondisi remaja menyebabkan remaja sering terjatuh pada kegiatan
tuna sosial. Keengganan dan kecanggungan remaja untuk bertanya pada orang
yang tepat semakin menguatkan alasan kenapa remaja sering bersikap salah
1
terhadap organ reproduksinya. Berdasarkan hasil penelitian Muzayyanah
(2008), diketahui bahwa remaja usia 12-18 tahun mendapat informasi seputar
seks dari teman sebanyak 16%, dari film porno sebanyak 35%, dan dari orang
tua sebanyak 5%.
Mitos seksual sangat penting dalam perkembangan reproduksi remaja.
Kesalahpahaman mengenai mitos seperti petting tidak akan menyebabkan
kehamilan, terkadang membuat remaja melakukan perilaku seksual yang
berisiko seperti hubungan seksual. Mitos-mitos tersebut ternyata memang
sudah beredar luas di masyarakat. Pengaruh mitos-mitos tersebut masih kuat
di antara para remaja yang sedang giat-giatnya mencari informasi tentang seks
dan kesehatan reproduksi. Banyak remaja yang mempercayai mitos sehingga
tidak jarang ditemukan kasus-kasus yang berkaitan dengan kesehatan
reproduksi yang bermula dari keyakinan pada mitos-mitos tersebut. Hal itu
terjadi karena tidak lengkapnya informasi tentang kesehatan reproduksi yang
bisa diakses oleh remaja, baik melalui lembaga formal seperti sekolah,
keluarga atau masyarakat pada umumnya (Negara, 2008).
Sebuah survei terbaru terhadap 8084 remaja laki-laki dan remaja
perempuan usia 15-24 tahun di 20 kabupaten pada empat propinsi (Jawa
Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung) menemukan 46,2% remaja
masih menganggap bahwa perempuan tidak akan hamil hanya dengan sekali
melakukan hubungan seks. Kesalahan persepsi ini sebagian besar diyakini
oleh remaja laki-laki (49,7%) dibandingkan pada remaja perempuan (42,3%).
Survei yang sama juga diketahui bahwa hanya 19,2% remaja yang menyadari
2
peningkatan risiko untuk tertular PMS (Penyakit Menular Seksual) bila
memiliki pasangan seksual lebih dari satu dan sebanyak 51% mengira bahwa
mereka akan berisiko tertular HIV (Human Immunodeficiency Virus) hanya
bila berhubungan seks dengan PSK (Pekerja Seks Komersial) (Darwisyah,
2008).
Menurut Pangkahila (2007), sebagian kelompok remaja mengalami
kebingungan untuk memahami tentang apa yang boleh dilakukan dan apa
yang tidak boleh dilakukan olehnya, antara lain boleh atau tidaknya untuk
melakukan pacaran, melakukan onani, nonton bersama atau ciuman.
Kebingungan ini akan menimbulkan suatu perilaku seksual yang kurang sehat
di kalangan remaja. Berdasarkan hasil survei dan penelitian Psikolog Mitra
Citra Remaja Cirebon (2002) melalui angket yang dibagikan kepada 500
remaja SLTA, menunjukkan bahwa 7% remaja mengakui melakukan
hubungan seksual di luar nikah, 4% pernah menggunakan alat, dan 75%
remaja melakukan onani (Susilowati, 2002). Survei yang dilakukan oleh
Komisi Nasional Perlindungan Anak (2008) yang dilakukan di 33 provinsi di
Indonesia, menunjukkan bahwa sekitar 62,7% pelajar SMP dan SMA di
Indonesia mengaku tidak perawan lagi, dimana siswi yang disurvei tidak
merasa bersalah dengan perbuatannya (Prasasti dan Indrini, 2008).
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan LKTS (Lembaga Kajian untuk
Transformasi Sosial) Boyolali dan KP2K (Komisi Peduli Perempuan Klaten)
tahun 2008 tentang “Kekerasan terhadap Perempuan dan Perilaku Seksual
terhadap Siswa SMA di Klaten” yang melibatkan responden sebanyak 160
3
perempuan dan laki-laki yang berasal dari perwakilan siswa dan siswi dari 80
sekolah (SMA/MA/SMK) di Kabupaten Klaten terungkap bahwa aktifitas
seksual remaja dalam berpacaran bukan hanya merupakan proses komunikasi
yang sehat, akan tetapi sudah mengarah pada hal-hal yang melanggar norma
hukum. Aktifitas pacaran yang dilakukan menyebutkan antara lain ngobrol
(24%), pegang tangan (16%), pelukan (13%), cium pipi (12%), cium bibir dan
necking (9%), meraba organ seksual (4%), petting (2%) dan intercourse (1%).
Fase mengenal pacaran inilah yang sering menjadi masalah bagi remaja
karena di fase inilah sering terjadi masalah perilaku seksual pra nikah. Oleh
karena itu penulis tertarik melakukan penelitian tentang perilaku seksual pada
remaja SMA di Kecamatan Klaten kota.
B. Masalah Penelitian
1. Adakah hubungan antara mitos alat reproduksi dengan perilaku seksual
remaja SMA di Kecamatan Klaten kota?
2. Adakah hubungan antara mitos hubungan seksual dengan perilaku seksual
remaja SMA di Kecamatan Klaten kota?
3. Adakah hubungan antara mitos PMS dengan perilaku seksual remaja SMA
di Kecamatan Klaten kota?
4. Adakah hubungan antara mitos terjadinya kehamilan dengan perilaku
seksual remaja SMA di Kecamatan Klaten kota?
4
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui hubungan mitos seks dengan perilaku seksual pada
remaja SMA di Kecamatan Klaten kota.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui hubungan antara mitos alat reproduksi dengan perilaku
seksual pada remaja SMA di Kecamatan Klaten kota.
b. Mengetahui hubungan antara mitos hubungan seksual dengan perilaku
seksual pada remaja SMA di Kecamatan Klaten kota.
c. Mengetahui hubungan antara mitos PMS dengan perilaku seksual pada
remaja SMA di Kecamatan Klaten kota.
d. Mengetahui hubungan antara mitos terjadinya kehamilan dengan
perilaku seksual pada remaja di Kecamatan Klaten kota.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi pihak sekolah
Sebagai informasi dan masukan bagi para guru atau pendidik agar
lebih mendukung adanya pendidikan seksual dalam upaya pemberian
informasi kesehatan reproduksi sehingga remaja dapat mengetahui
informasi yang benar dan dapat dipercaya, mengenai kesehatan
reproduksi.
5
2. Bagi siswa SMA
Sebagai informasi dan masukan dalam meningkatkan pengetahuan
tentang kesehatan reproduksi dalam upaya mengungkap mitos seks agar
para remaja terhindar dari perilaku seks berisiko.
3. Bagi peneliti lain.
Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dasar bagi peneliti
selanjutnya.
E. Ruang Lingkup
Ruang lingkup materi pada penelitian ini dibatasi pada pembahasan
mengenai hubungan antara mitos seks pada remaja dengan perilaku seksual
remaja SMA Muhammadiyah 1 Klaten dan SMA N 3 Klaten.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Remaja
1.
Definisi
Tumbuh kembang merupakan proses yang berkesinambungan yang
terjadi sejak intrauterin dan terus berlangsung sampai dewasa. Dalam
proses mencapai dewasa inilah anak akan mengalami tumbuh kembang
termasuk masa remaja. Masa remaja adalah masa transisi antara masa anak
dan dewasa, dimana terjadi pacu tumbuh (growth spurt), timbul ciri-ciri
seks sekunder, tercapai fertilisasi, dan terjadi perubahan-perubahan
psikologik serta kognitif. Tercapainya tumbuh kembang yang optimal
tergantung pada potensi biologinya.
Menurut Soetjiningsih (2007) berdasarkan umur kronologis dan
berbagai kepentingan, terdapat berbagai definisi remaja yaitu :
a. Pada buku-buku pediatrik, pada umumnya mendefinisikan remaja
adalah bila seorang anak telah mencapai umur 10-18 tahun untuk anak
perempuan dan 12-20 tahun untuk anak laki-laki.
b. Menurut Undang-Undang No 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan
anak, remaja adalah individu yang belum mencapai umur 21 tahun dan
belum menikah.
7
c. Menurut Undang-Undang Perburuhan, anak dianggap remaja apabila
telah mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai
tempat untuk tinggal.
d. Menurut Undang-Undang Perkawinan No 1 tahun 1974, anak
dianggap sudah remaja apabila cukup matang untuk menikah, yaitu
umur 16 tahun untuk anak perempuan dan 19 tahun untuk anak lakilaki.
e. Menurut Pendidikan Nasional, anak dianggap remaja bila anak sudah
berumur 18 tahun, yang sesuai dengan saat lulus sekolah menengah.
f. Menurut WHO (World Health Organization), remaja bila anak telah
mencapai umur 10-18 tahun.
2. Ciri-ciri remaja.
Perkembangan seksualitas pada remaja ditandai dengan beberapa ciri
atau tanda, antara lain :
a.
Tanda kelamin primer
Tanda kelamin primer ditandai dengan
mulai berfungsinya
organ-organ genital yang ada, baik di dalam maupun di luar badan
atau “menunjuk pada organ badan yang langsung berhubungan dengan
persetubuhan dan proses reproduksi”. Pada anak laki-laki yang mulai
menginjak remaja ditandai dengan keluarnya air mani ketika mimpi
basah. Pada anak perempuan ditandai dengan terjadinya menarche
atau permulaan haid yang selanjutnya diikuti pula dengan kesiapan
organ-organ reproduksi untuk terjadinya kehamilan.
8
b. Tanda kelamin sekunder.
Tanda kelamin sekunder adalah tanda-tanda jasmaniah yang tidak
langsung berhubungan dengan persetubuhan dan proses reproduksi,
namun merupakan tanda-tanda yang khas pada perempuan dan khas
pada laki-laki.
1) Perubahan fisik yang terjadi pada laki-laki adalah :
a) Suara membesar dan dalam
b) Bidang bahu lebar
c) Bulu-bulu tumbuh di ketiak dan kadang-kadang juga di dada
dan daerah kelamin.
d) Penis sering berdiri kalau terangsang karena melihat
perempuan atau mengkhayalkan perempuan.
e) Sering bermimpi basah.
2) Sedangkan perubahan fisik yang terjadi pada perempuan adalah :
a) Suara merdu, kulit bertambah bagus dan halus.
b) Bidang bahu mengecil dan bidang panggul melebar.
c) Bulu-bulu tumbuh pada ketiak dan di sekitar alat kelamin.
d) Buah dada mulai membesar.
e) Alat kelamin membesar dan mulai berfungsi, menghasilkan
sel telur (ovum).
9
c.
Tanda kelamin tersier
Tanda kelamin tersier adalah keadaan psikis yang berbeda antara
laki-laki dan perempuan, yaitu yang disebut sifat maskulin pada lakilaki dan sifat feminisme pada perempuan.
1) Perubahan pada laki-laki antara lain:
Mudahnya terangsang seksual, yang menghendaki kepuasan
seksual, yaitu senggama, yang tentu tidak dilaksanakan, karena
perkawinan menghendaki persyaratan tertentu, ekonomi, dan
kematangan diri.
2) Perubahan psikis yang terjadi pada perempuan antara lain adalah :
a) Bila melihat darah keluar dia ketakutan.
b) Sering mengalami sakit-sakit perut, sampai muntah-muntah,
dan sakit kepala.
c) Tidak pernah mengalami orgasme, rasa sex, seperti pada
remaja laki-laki.
d) Pemalu, tapi aktraktif pada laki-laki.
Oleh karena itu, pada masa remaja perlu diberikan pengarahan
tentang pendidikan seks, agar para remaja dapat mengendalikan
dorongan seksualnya, sehingga tidak menyimpang dari jalan yang
benar (Miqdad, 2001).
3. Perkembangan perilaku remaja
Menurut Pangkahila (2007), perkembangan fisik termasuk organ
seksual serta peningkatan kadar hormon reproduksi atau hormon seks baik
10
pada laki-laki maupun pada anak perempuan akan menyebabkan
perubahan perilaku seksual remaja secara keseluruhan.
Menurut PPFA (Planned Parenthood Federation of America) (2001)
berdasarkan perkembangan perilaku, remaja dibagi menjadi beberapa
tahapan, yang dapat disajikan pada tabel 1 berikut ini.
Tabel 1. Tahapan Perkembangan Remaja
Tahapan Remaja
Umur bagi Laki-laki
(Tahun)
Umur bagi Perempuan
(Tahun)
Pra Remaja
< 11
<9
Remaja Awal
11-14
9-13
Remaja
Menengah
Remaja Akhir
14-17
13-16
>17
>16
Sumber : PPFA. Adolescent Sexuality. 2001
Menurut Pangkahila (2007), perkembangan seksual remaja terdiri dari
empat fase, yaitu :
a. Pra remaja
Masa pra remaja adalah suatu tahap untuk memasuki tahap remaja
yang sesungguhnya. Pada masa pra remaja ini mereka sudah mulai
senang mencari tahu informasi tentang seks dan mitos seks baik dari
teman sekolah, keluarga atau dari sumber lainnya.
b. Remaja awal
Merupakan tahap awal atau permulaan, remaja sudah mulai
menunjukkan perubahan fisik, yaitu fisik sudah mulai matang dan
berkembang. Pada masa ini, remaja sudah mulai mencoba melakukan
onani karena telah seringkali terangsang secara seksual akibat
11
pematangan yang dialami. Rangsangan ini diakibatkan oleh faktor
internal yaitu meningkatnya kadar testosteron pada laki-laki dan
estrogen pada remaja perempuan.
c. Remaja menengah
Pada masa remaja menengah, para remaja sudah mengalami
pematangan fisik secara penuh yaitu anak laki-laki sudah mengalami
mimpi basah sedangkan anak perempuan sudah mengalami haid. Pada
masa ini gairah seksual remaja sudah mencapai puncak sehingga
mereka mempunyai kecenderungan mempergunakan kesempatan
untuk melakukan sentuhan fisik.
d. Remaja akhir
Pada masa remaja akhir, remaja sudah mengalami perkembangan
fisik secara penuh, sudah seperti orang dewasa. Mereka telah
mempunyai perilaku seksual yang sudah jelas dan mereka sudah mulai
mengembangkannya dalam bentuk pacaran.
B. Kesehatan Reproduksi Remaja
Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut
sistem, fungsi, dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian
sehat di sini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari
kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural (Anonim, 2008
a).
Kebutuhan akan informasi tentang reproduksi termasuk perilaku seksual
memang diperlukan oleh remaja. Informasi kesehatan reproduksi diperoleh
12
remaja dari orang tua, teman sebaya, guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan),
pelajaran biologi, surat kabar, seminar, diskusi remaja, majalah, dan TV
(Ramdhani, dkk, 2001).
Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi
yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada di
sekitarnya. Diharapkan dengan informasi yang benar, remaja memiliki sikap
dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi.
Disamping itu dengan mengetahui berbagai aspek kesehatan reproduksi maka
remaja dapat melakukan berbagai tindakan pencegahan atau sedini mungkin
melakukan tindakan pengobatan bila memiliki permasalahan dengan sistem,
proses, dan fungsi alat reproduksi.
C. Mitos Seks pada Remaja
Menurut Subinarto (2008), mitos adalah informasi yang sebenarnya salah
tetapi dianggap benar, yang telah diyakini, beredar, dan populer di
masyarakat. Mitos cepat sekali berkembang di masyarakat, padahal
kebenarannya masih dipertanyakan dan sering tidak akurat atau tidak sesuai
dengan fakta yang sebenarnya. Banyak masyarakat yang percaya kepada mitos
karena mereka sulit mendapatkan informasi yang akurat dan biasanya malas
untuk mencari serta mendapatkan informasi yang benar, oleh sebab itu mereka
dengan mudahnya menerima segala informasi yang sifatnya desas-desus atau
gosip semata.
Menurut Budinurdjaja (2007) mitos seks adalah contoh mitos yang sangat
luas beredar dan mempengaruhi pandangan dan perilaku seksual masyarakat.
13
Sebenarnya mitos seks secara tidak langsung berhubungan dengan kesehatan
seksual, sebab orang-orang yang meragukan kebenaran dari mitos seks akan
berupaya mencari kebenaran yang sesungguhnya. Setelah mendapatkan
keterangan atau pengetahuan yang sebenarnya, maka orang tersebut secara
otomatis akan mengetahui tentang kesehatan seksual, dimana kesehatan
seksual itu mengandung pengertian “kemampuan untuk menikmati dan
mengungkapkan seksualitas kita yang bebas dari risiko terkena penyakit,
kehamilan yang tidak diinginkan, paksaan, kekerasan, dan diskriminasi”
(Sjarif, dkk. 2006).
Kategori mitos :
1. Mitos alat reproduksi
a. Sering masturbasi atau onani bisa membuat mandul.
Faktanya, secara medis masturbasi atau onani tidak mengganggu
kesehatan fisik selama dilakukan secara aman (tidak sampai
menimbulkan luka atau lecet). Kemandulan justru dapat terjadi akibat
dari PMS atau penyakit lainnya seperti kanker atau karena sebab fisik
lainnya misalnya kualitas sperma yang kurang baik (Negara, 2008).
b. Masturbasi atau onani dapat menyebabkan lutut kopong.
Faktanya, masturbasi atau onani tidak dapat menyebabkan lutut
kopong. Spermatozoa tidak diproduksi dan tidak disimpan di dalam
lutut melainkan di testis. Mungkin setelah masturbasi atau onani,
biasanya timbul rasa lelah karena masturbasi atau onani mengeluarkan
14
energi. Itulah yang membuat pelakunya menjadi lemas, jadi bukan
karena lututnya jadi kosong (Negara, 2008).
c. Menyiram penis dengan bir atau soda bisa mematikan bakteri atau
virus.
Faktanya, tidak mungkin bakteri atau virus yang ditularkan lewat
hubungan seksual akan mati dengan disiram bir atau soda. Hanya
dengan pengobatan antibiotik bakteri bisa dimatikan (Sjarif, dkk.
2008).
2. Mitos hubungan seksual
a. Berhubungan seks dengan pacar merupakan bukti cinta.
Faktanya, berhubungan seks bukan cara untuk menunjukkan kasih
sayang pada saat masih pacaran, melainkan karena disebabkan adanya
dorongan seksual yang tidak terkontrol dan keinginan untuk mencobacoba. Rasa sayang dengan pacar bisa ditunjukkan dengan cara lain
(Negara, 2008).
b. Hubungan seks pertama kali selalu ditandai dengan keluarnya darah
dari vagina.
Faktanya, tidak selalu hubungan seks yang pertama kali itu
kelihatan berdarah. Apabila komunikasi seksual terjalin dengan baik
dan hubungan seksual dilakukan dalam keadaan siap dan disertai
foreplay tidak memunculkan adanya pendarahan (Negara, 2008).
15
c. Selaput dara yang robek berarti sudah pernah melakukan hubungan
seksual atau tidak perawan lagi.
Faktanya, selaput dara merupakan selaput kulit yang tipis yang
dapat meregang dan robek karena beberapa hal. Selain karena
melakukan hubungan seks, selaput dara juga bisa robek karena
melakukan olah raga tertentu seperti naik sepeda. Karena itu robeknya
selaput dara belum tentu karena hubungan seks (Negara, 2008).
d. Perempuan yang berdada besar dorongan seksualnya besar.
Faktanya, secara medis tidak ada hubungan langsung antara
ukuran payudara dengan dorongan seksual seseorang. Dorongan
seksual tersebut ditentukan oleh kepribadian, pola sosialisasi dan
pengalaman seksual (melihat, mendengar atau merasakan suatu
rangsangan seksual) (Negara, 2008).
e. Seks oral tidak bisa menularkan penyakit.
Faktanya, ada dua cara penularan penyakit menular seksual yaitu
melalui pertukaran cairan dan persentuhan kulit. Selama hubungan
seksual yang dilakukan melibatkan keduanya, risiko tertular tetap
tinggi. Jenis penyakit herpes, klamidia, gonore, dan sifilis tetap bisa
ditularkan melalui oral seks (Anonim, 2008 c).
3. Mitos PMS
a. PMS dapat dicegah dengan mencuci alat kelamin.
Faktanya, tidak ada sabun atau disinfektan apapun yang dapat
mencegah PMS, bahkan penggunaan sabun pada vagina akan
16
mempertinggi risiko terkena keputihan akibat dari berkurangnya kadar
keasaman dari permukaan vagina yang berfungsi untuk membunuh
kuman-kuman yang ada (Sjarif, dkk. 2008).
b. Minum antibiotik
sebelum hubungan seksual akan mencegah
penularan PMS
Faktanya, minum antibiotik sebelum hubungan seksual tidak dapat
mencegah PMS, karena masing-masing penyakit memerlukan jenis
antibiotik yang berbeda dan antibiotik yang dimakan belum tentu
sebagai pencegah PMS (Sjarif, dkk. 2008).
c. PMS dapat dilihat secara kasat mata.
Faktanya, gejala PMS dapat tidak terlihat oleh mata terutama jika
terjadi pada perempuan (Sjarif, dkk. 2008).
d. Kondom 100% aman untuk mencegah PMS
Faktanya, efektifitas kondom hanya sekitar 44% - 74% sehingga
kemungkinan terkena PMS tetap ada (Nugraha, 2008).
4. Mitos terjadinya kehamilan
a. Hubungan seksual yang dilakukan sekali saja tidak dapat
menyebabkan kehamilan.
Faktanya, kehamilan akan terjadi bila sel telur yang matang
dibuahi oleh sperma. Sel telur akan dilepas pada saat masa subur
seorang perempuan. Jadi apabila hubungan seksual dilakukan pada
saat masa subur, berarti ada sel telur matang yang dilepas oleh
17
indung telur, sehingga memungkinkan untuk terjadi kehamilan
(Sjarif, dkk. 2008).
b. Ejakulasi di luar (terputus) tidak menyebabkan kehamilan.
Faktanya, sperma terdapat di dalam cairan seminal yang
dilepaskan sebelum laki-laki mengalami ejakulasi. Jadi, meskipun
laki-laki menarik penisnya ke luar sebelum orgasme, pasangan tetap
saja bisa hamil (Anonim, 2008 c).
c. Petting tidak dapat menyebabkan kehamilan
Faktanya, walaupun tidak melepaskan pakaian, petting tetap
dapat menimbulkan kehamilan yang tidak diinginkan. Sperma tetap
bisa masuk ke dalam rahim. Karena ketika terangsang, perempuan
akan mengeluarkan cairan yang mempermudah masuknya sperma ke
dalam rahim. Sedangkan sperma itu sendiri memiliki kekuatan untuk
berenang masuk ke dalam rahim. Jika tertumpah pada celana dalam
yang dikenakan perempuan, dan langsung mengenai bibir kemaluan
(Anonim, 2008 c).
d. Berhubungan seks di masa menstruasi tidak menimbulkan kehamilan
Faktanya, masa subur wanita dua minggu menjelang masa
haidnya datang. Dengan kondisi tersebut hubungan seks yang
dilakukan pada saat wanita sedang menstruasi memungkinkan
terjadinya kehamilan. Setelah ejakulasi sperma dapat hidup 3-4 hari
di dalam vagina (Prihantina, 2008)
18
D. Perilaku Seksual
Menurut Hartono (2007), perilaku (behavior) adalah tindakan-tindakan
(actions) atau reaksi-reaksi (reactions) dari suatu obyek atau organisme.
Perilaku dapat berupa sadar (conscious) atau tidak sadar (unconscious), terus
terang (overt) atau diam-diam (covert), sukarela (voluntary) atau tidak suka
rela (unvoluntary). Dorongan seksual bisa diekspresikan dalam berbagai
perilaku, namun tentu saja tidak semua perilaku merupakan ekspresi dorongan
seksual seseorang. Ekspresi dorongan seksual atau perilaku seksual ada yang
aman dan ada yang tidak aman, baik secara fisik, psikis, maupun sosial. Setiap
perilaku seksual memiliki konsekuensi berbeda.
1. Pengertian.
Perilaku seksual adalah perilaku yang muncul karena adanya
dorongan seksual. Bentuk perilaku seksual bermacam-macam mulai dari
bergandengan tangan, berpelukan, bercumbu, petting (bercumbu berat)
sampai berhubungan seks. Perilaku seks aman adalah perilaku seks tanpa
mengakibatkan terjadinya pertukaran cairan vagina dengan cairan sperma
misalnya dengan bergandengan tangan, berpelukan, berciuman. Sementara
hubungan seks tanpa menggunakan kondom bukan merupakan perilaku
seks aman dari kehamilan dan PMS. Jika benar-benar ingin aman, tetaplah
tidak aktif seksual. Jika sudah aktif, setialah dengan satu pasangan saja
atau gunakan kondom dengan mutu yang baik dan benar agar dapat
mengurangi risiko terkena PMS, HIV/AIDS, dan kehamilan (Anonim,
2008 b).
19
2. Objek perilaku seksual.
Menurut Novita, dkk (2006) perilaku seksual terbagi menjadi dua
yaitu :
a.
Objek seksualnya diri sendiri, terdiri dari : melihat, berfantasi atau
berkhayal, mimpi basah, onani, dan masturbasi.
b.
Objek seksualnya orang lain, terdiri dari : mencium pacar, memeluk
pacar, necking, petting, oral genital, anal seks, berhubungan seks
dengan pacar, dan berhubungan seks dengan PSK.
3. Akibat perilaku seksual
Menurut Lukman (2004), akibat yang dapat ditimbulkan dari perilaku
seksual adalah :
a. PMS
Sebelum dikenal sebagai PMS, jenis penyakit ini sudah cukup
lama dikenal dengan sebutan penyakit kelamin. Saat itu penyakit
kelamin yang baru dikenal adalah sifilis dan gonore. Sedangkan istilah
PMS baru dikenal setelah ditemukannya jenis penyakit kelamin selain
kedua jenis di atas. Penyakit ini mengenai alat (organ) reproduksi lakilaki atau perempuan terutama akibat dari hubungan seksual dengan
orang yang sudah terjangkit penyakit kelamin.
b. HIV/AIDS
HIV merupakan virus yang merusak system kekebalan tubuh
manusia. HIV dengan perantara darah, sperma atau cairan vagina,
masuk ke dalam aliran pembuluh darah. Kemudian HIV merusak
20
sistem kekebalan tubuh individu. Setelah beberapa tahun jumlah HIV
semakin banyak sehingga system kekebalan tubuh tidak lagi mampu
melawan bibit penyakit yang masuk. Kumpulan berbagai penyakit
yang disebabkan oleh virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia
inilah yang disebut AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome)
atau kumpulan berbagai penyakit akibat turunnya kekebalan individu
karena HIV.
c. KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan)
Kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja umumnya terjadi
karena:
1) Ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku
seksual yang dapat menyebabkan kehamilan.
2) Tidak menggunakan alat kontrasepsi.
3) Kegagalan alat kontrasepsi akibat remaja menggunakan alat
kontrasepsi tanpa disertai pengetahuan yang cukup tentang
metode kontrasepsi yang benar.
4) Akibat pemerkosaan, diantaranya pemerkosaan oleh teman
kencannya (date rape).
d. Aborsi
Secara medis aborsi adalah berakhirnya atau gugurnya kehamilan
sebelum kandungan mencapai usia 20 minggu yaitu sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan secara mandiri. Tindakan aborsi
21
mengandung risiko yang cukup tinggi apabila dilakukan tidak sesuai
standar profesi medis.
Alasan-alasan yang membuat remaja mengambil tindakan aborsi
adalah :
1) Ingin terus melanjutkan sekolah atau kuliah.
2) Takut kepada kemarahan orangtua.
3) Belum siap secara mental dan ekonomi untuk menikah dan
mempunyai anak.
4) Malu pada lingkungan sosial bila ketahuan hamil sebelum
menikah.
5) Tidak mencintai pacar yang menghamili. Hubungan seks terjadi
karena iseng saja.
6) Ingin terus bekerja. Bila tidak melakukan aborsi akan dipecat dari
pekerjaan karena terikat kontrak untuk tidak hamil selama 2 tahun
pertama bekerja.
7) Tidak tahu status anaknya nanti karena kehamilan terjadi akibat
perkosaan, terlebih bila pemerkosa tidak dikenal oleh si remaja
perempuan.
4. Penyebab timbulnya masalah seksualitas di kota.
Menurut Miqdad (2001), bahwa masalah seksualitas di kalangan
remaja di kota besar timbul karena :
a.
Kurang adanya pendidikan seks pada remaja, sehingga praktis mereka
buta terhadap masalah seks.
22
b.
Banyaknya rangsangan-rangsangan pornografi, baik berupa film,
bahan bacaan maupun yang berupa obrolan sesama teman sebaya yang
kemudian akan menimbulkan mitos seks.
c.
Tersedianya kesempatan untuk melakukan perbuatan seks, misalnya
pada waktu orang tua tidak di rumah, di dalam mobil atau pada
kesempatan piknik atau berkemah.
23
E. Kerangka Teori
a. Pra Remaja
b. Remaja Awal
c. Remaja
Menengah
- Remaja Akhir
Informasi Kesehatan Reproduksi
a. Orang tua
b. Guru
c. Teman sebaya
d. Diskusi
e. Media massa dan elektronik
Remaja
Mitos Kesehatan Reproduksi
a. Mitos alat reproduksi
b. Mitos hubungan seksual
c. Mitos PMS
d. Mitos terjadinya kehamilan
Objek diri sendiri
a. Melihat
b.
Berfantasi atau
berkhayal
Tumbuh Kembang
Remaja
Faktor Intern
a. Fisik
b. Psikologis
Perilaku Seksual
Faktor Ekstern
a.
Orang tua
b. Guru
c.
Teman sebaya
d. Masyarakat
c.
Mimpi basah
d.
Onani
e.
Masturbasi
Objek orang lain
a.Mencium pacar
b. Oral genital
c. Memeluk pacar
d. Anal seks
e. Necking
f. Berhubungan
seks dengan pacar
g. Petting
h. Berhubungan
seks dengan PSK
a.
b.
c.
d.
Akibat :
PMS
HIV/AIDS
KTD
Aborsi
Gambar 1. Kerangka Teori Hubungan antara Mitos Seks dengan
Perilaku Seksual Remaja SMA di Kecamatan Klaten kota
24
F. Kerangka Konsep Penelitian
Variabel Bebas
Mitos Seks :
a. Mitos alat reproduksi
b. Mitos hubungan seksual
c. Mitos PMS
d. Mitos terjadinya kehamilan
Variabel Terikat
Perilaku seksual remaja
SMA
Gambar 2. Kerangka Konsep Penelitian
G. Hipotesis.
1. Ada hubungan antara mitos alat reproduksi dengan perilaku seksual remaja
SMA.
2. Ada hubungan antara mitos hubungan seksual dengan perilaku seksual
remaja SMA.
3. Ada hubungan antara mitos PMS dengan perilaku seksual remaja SMA.
4. Ada hubungan antara mitos terjadinya kehamilan dengan perilaku seksual
remaja SMA.
25
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan
cross sectional yaitu rancangan studi epidemiologi yang mempelajari
hubungan penyakit dan paparan (faktor peneliti) dengan cara mengamati
status paparan dan penyakit serentak pada individu-individu dari populasi
tunggal, pada suatu saat atau periode (Murti, 1997).
B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah remaja yang berumur antara 14-17 tahun
bagi laki-laki dan 13-16 tahun bagi perempuan yang bersekolah SMA di
Kecamatan Klaten kota.
1. Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum dari subjek penelitian yang
layak untuk dilakukan penelitian atau dijadikan responden. Kriteria inklusi
pada penelitian ini adalah:
a. Remaja yang bersekolah di SMA N 3 Klaten dan SMA
Muhammadiyah 1 Klaten.
b. Siswa kelas X dan XI
c. Bersedia menjadi subjek penelitian atau menjadi responden hingga
akhir penelitian.
26
2. Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi merupakan subjek penelitian yang tidak dapat
mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian.
Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah:
a. Remaja yang tidak bersekolah di SMA N 3 Klaten dan SMA
Muhammadiyah 1 Klaten.
b. Siswa bukan kelas X dan XI.
c. Tidak bersedia menjadi subjek penelitian atau menjadi responden
hingga akhir penelitian.
C. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2009. Tempat penelitian di SMA
Muhammadiyah 1 Klaten dan SMA N 3 Klaten.
D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua remaja yang bersekolah
SMA di Kecamatan Klaten kota yang meliputi SMA 3 Klaten dan SMA
Muhammadiyah 1 Klaten. Jumlah populasi sebanyak 535 siswa.
27
2. Sampel
a. Jumlah sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang akan diteliti.
Penentuan sampel dilakukan secara Simple Random Sampling. Besar
sampel dapat dihitung dengan rumus (Murti, 2006)
= 84 responden
Keterangan :
n
: Besar sampel
N
: Besar populasi
p
: Perkiraan proporsi (prevalensi) variabel dependen pada
populasi (0,93)
q
: 1-p
Z-α/2
: Statistik Z (Z=96 untuk α=0,05)
d
: Delta, presisi absolute atau margin of error yang
diinginkan di kedua sisi proporsi (+/-5%)
Dengan demikian diperoleh sampel sebanyak 84 siswa dengan
pembagian 1:1 yaitu sebesar 42 responden di SMA Muhammadiyah 1
Klaten dan 42 di SMA N 3 Klaten.
b. Teknis atau cara pengambilan sampel
Teknik
dalam
pengambilan
sampel
pada
penelitian
ini
menggunakan metode Simple Random Sampling yaitu metode
mencuplik sampel secara acak dimana masing-masing subjek atau unit
28
dari populasi memiliki peluang yang sama dan independen (tidak
tergantung) untuk terpilih menjadi sampel (Murti, 2006).
E. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah mitos alat reproduksi,
mitos hubungan seksual, mitos PMS, dan mitos terjadinya kehamilan.
2. Variabel terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah perilaku seksual remaja
SMA di Kecamatan Klaten kota.
F. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel dapat disajikan pada tabel 2 di bawah ini.
Tabel 2. Definisi Operasional Variabel
No.
1
2
3
Variabel
Diskripsi
Cara
Skala
Hasil
Pengukuran
Ukur
Mitos alat Sesuatu
yang Kuesioner
Nominal Percaya
reproduksi
salah
tetapi
> 50%
dianggap
benar
Tidak
oleh
responden
percaya
tentang
alat
< 50%
reproduksi.
Mitos
Sesuatu
yang Kuesioner
Nominal Percaya
hubungan
salah
tetapi
> 50%
seksual
dianggap
benar
Tidak
oleh
responden
percaya
tentang hubungan
< 50%
seksual
Mitos PMS
Sesuatu
yang Kuesioner
Nominal Percaya
salah
tetapi
> 50%
dianggap benar
29
No.
Variabel
Diskripsi
Cara
Skala
Pengukuran
oleh
responden
tentang PMS
4
Mitos
terjadinya
kehamilan
Informasi
yang Kuesioner
salah
yang
berkaitan dengan
terjadinya
kehamilan
5
Perilaku
Tindakan
yang Wawancara
seksual pada muncul
karena
remaja SMA adanya dorongan
seksual. Seperti
onani, masturbasi,
petting, dan lainlain.
Hasil
Ukur
Tidak
percaya
< 50%
Nominal Percaya
> 50%
Tidak
percaya
< 50%
Ordinal
(1-5)
buruk
(6-10)
sedang
(11-13)
baik
G. Pengumpulan Data
1. Jenis data
a. Kuantitatif meliputi hubungan antara mitos alat reproduksi, mitos PMS,
dan mitos terjadinya kehamilan.
b. Kualitatif meliputi perilaku seksual remaja SMA di Kecamatan Klaten
kota
2. Sumber data
a. Data primer
Data yang langsung diambil dari responden dengan menggunakan
kuesioner dan pedoman wawancara terstruktur.
b. Data sekunder
Data diperoleh melalui studi pustaka, internet, dan instansi
pendidikan berupa jumlah SMA, jumlah kelas, jumlah siswa, dan jenis
kelamin.
30
3. Cara Pengumpulan Data
a. Data mitos seks dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner kepada
responden. Kemudian responden diminta untuk mengisi kuesioner
sendiri dan setelah selesai, kuesioner tersebut dikumpulkan kepada
peneliti.
b. Data perilaku seksual dikumpulkan dengan pedoman wawancara
terstruktur oleh peneliti.
4. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dan wawancara yang
berisi pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan variabel penelitian
yang harus dijawab oleh responden.
a. Kuesioner
1) Jenis pertanyaan yang digunakan berupa kuesioner tertutup dengan
jumlah pertanyaan sebanyak 35 item pertanyaan.
2) Skor kuesioner mitos seks dengan pilihan jawaban percaya dan
tidak percaya :
a) Jawaban favorable : jawaban percaya skor 1, jawaban tidak
percaya skor 0.
b) Jawaban unfavorable : jawaban percaya skor 0, jawaban tidak
percaya skor 1.
3) Uji validitas dan reliabilitas
Sifat valid memberikan pengertian bahwa alat ukur yang
digunakan mampu memberikan nilai yang sesungguhnya dari nilai
31
yang kita inginkan. Untuk uji validitas instrument digunakan uji
korelasi product moment person. Sedangkan Uji reliabilitas dengan
rumus alfa cronbath. Rumus korelasi product moment person
(Abdurahman dan Muhidin, 2006).
Dengan :
rxy
: korelasi antara variabel x dan y
X dan Y
: Skor masing-masing skala
N
: Banyaknya subjek
Tabel 3. Tingkat Keeratan Hubungan Variabel X dan
Variabel Y
Besar rxy
0,00 - < 0,20
Keterangan
> 0,20 - < 0,40
Hubungan sangat lemah (diabaikan,
dianggap tidak ada)
Hubungan rendah
> 0,40 - < 0,70
Hubungan sedang atau cukup
> 0,70 - < 0,90
Hubungan kuat atau tinggi
> 0,90 - < 1,00
Hubungan sangat kuat atau sangat
tinggi
Rumus Alfa Cronbath (Abdurahman dan Muhidin, 2006).
Keterangan :
r11
: reliabilitas instrumen
k
: banyaknya bulir soal
: jumlah varians bulir
: Varians total
32
Standar reliabilitas adalah jika nilai hitung r lebih besar (>)
dari nilai tabel r (0,514), maka instrument dinyatakan reliabel.
b. Pedoman wawancara
1) Wawancara
terstruktur
yaitu
wawancara
pedoman-pedoman berupa kuesioner
yang berdasarkan
yang telah disiapkan.
Sehingga peneliti tinggal membacakan pertanyaan-pertanyaan
tersebuat kepada responden.
2) Pedoman wawancara terdiri dari 13 pertanyaan dengan topik
berupa perilaku seksual dengan obyek diri sendiri dan orang lain.
3) Skor penilaian wawancara dengan pilihan jawaban ya dan tidak.
Jawaban unfavorable : jawaban ya skor 0, jawaban tidak skor 1
4) Penggolongan perilaku dibagi dalam 3 kategori yaitu : buruk (1-5),
sedang (6-10), dan baik (11-13). Perilaku seksual responden
langsung dinyatakan buruk jika responden pernah melakukan
petting dan hubungan seksual (pilihan 12 dan 13 pada kuesioner).
H. Pengolahan Data
Data yang dikumpulkan kemudian diolah menggunakan program SPSS
versi 16. Tahap-tahap pengolahan data adalah sebagai berikut :
a. Editing, yaitu memeriksa kelengkapan, kejelasan makna jawaban,
konsistensi maupun kesalahan antar jawaban pada kuesioner.
b. Coding, yaitu memberikan kode-kode untuk memudahkan proses
pengolahan data.
c. Entry, memasukkan data untuk diolah menggunakan komputer.
33
d. Tabulating, yaitu mengelompokkan data sesuai variabel yang akan diteliti
guna memudahkan analisis data.
I. Analisis Data
Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan program
SPSS 16. Analisis data meliputi :
1. Analisis univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi
frekuensi masing-masing varibel, baik variabel bebas, variabel terikat dan
deskriptif karakteristik responden.
2. Analisi bivariat
Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi square
dengan rumus :
Keterangan : O : frekuensi observasi
E : frekuensi harapan
Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi square.
Syarat uji chi square antara lain pengamatan harus bersifat independen,
dan hanya digunakan data diskrit dan kontinu yang telah dikelompokkan
menjadi kategori (Budiarto, 2001).
Sebelum dilakukan uji chi square dilakukan uji normalitas data
dengan mengunakan SPSS tujuannya adalah untuk mengetahui
34
homogenitas data dengan tingkat signifikan p>0,05 (taraf kepercayaan
95%). Dasar pengambilan keputusan dengan tingkat kepercayaan 95% :
a. Jika nilai α > p (0,05) maka Ha penelitian ditolak.
b. Jika nilai α < p (0,05) maka Ha penelitian diterima.
35
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Keadaan geografi
Kabupaten Klaten terletak secara geografis antara 70321’9” sampai
7048’33” dan antara 110026”14” sampai 110047’51”. Letak Kabupaten
Klaten cukup strategis karena berbatasan langsung dengan Kota Surakarta,
yang merupakan salah satu pusat perdagangan dan Daerah Istimewa
Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar dan kota wisata.
2. Keadaan demografi
Tahun 2007 jumlah penduduk Klaten sebesar 1.296.987 jiwa, kondisi
ini menunjukkan penambahan 3.745 jiwa dari tahun sebelumnya dan
pertumbuhannya
sebesar
0,29%.
Pertumbuhan
jumlah
penduduk
seyogyanya diimbangi dengan pemerataan penyebaran penduduk. Secara
umum kepadatan penduduk di Kabupaten Klaten merata untuk semua
kecamatan,
kecuali
Kecamatan
Kemalang
yang
paling
rendah
kepadatannya yaitu sebesar 669 jiwa per km2.
Rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Klaten sebesar 95,50,
dimana jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari laki-laki. Jumlah
penduduk usia produktif (usia15-64 tahun) sebesar 981.770 jiwa atau
sekitar 75,70 % dari total penduduk Klaten.
36
3. Gambaran sekolah
a. SMA N 3 Klaten
SMA N 3 Klaten terletak di Jl. Solo Km 2 Klaten 57435 dengan
kepala sekolah saat ini dijabat oleh Drs. H. Supardi, S.H. SMA N 3
Klaten memiliki siswa sebanyak 920 orang, dengan rincian siswa kelas
X sebanyak 281 orang, siswa kelas XI sebanyak 301 orang, dan siswa
kelas XII sebanyak 338 orang.
b. SMA Muhammadiyah 1 Klaten,
SMA Muhammadiyah 1 Klaten terletak di Jl. Sersan Sadikin 89
Klaten Utara 57434 dengan kepala sekolah saat ini dijabat oleh Drs. H.
Muhni. SMA Muhammadiyah 1 Klaten memiliki siswa sebanyak 854
siswa, dengan rincian siswa kelas X sebanyak 340 orang, siswa kelas
XI sebanyak 234 orang, dan siswa kelas XII sebanyak 280 orang.
B. Hasil Analisis Univariat
Populasi dalam penelitian ini adalah semua remaja yang bersekolah
SMA di Kecamatan Klaten kota yang meliputi SMA 3 Klaten dan SMA
Muhammadiyah 1 Klaten. Jumlah sampel sebanyak 84 responden.
Berdasarkan hasil kuesioner diperoleh data sebagai berikut :
1. Karakteristik responden
a. Jenis kelamin
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa baik laki-laki maupun
perempuan yang bersekolah di SMA N 3 Klaten dan SMA
37
Muhammadiyah 1 Klaten dengan jumlah laki-laki sebanyak 28
responden (33,3%) dan perempuan sebanyak 56 responden (66,7%).
Hasil selengkapnya dapat disajikan pada tabel 4.
Tabel 4.
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin.
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
Frekuensi
28
56
84
Persen (%)
33,3
66,7
100
b. Umur responden
Berdasarkan umurnya, kebanyakan responden berumur 15 tahun
yaitu sebanyak 50 orang (59,5%). Distribusi responden berdasarkan
umur selengkapnya disajikan pada tabel 5 berikut ini.
Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Umur
Umur
15 tahun
16 tahun
17 tahun
Jumlah
Frekuensi
50
33
1
84
Persen (%)
59,5
39,3
1,2
100
c. Kelas responden
Berdasarkan kelasnya, kebanyakan responden kelas X yaitu
sebanyak 47 orang (56%). Distribusi responden berdasarkan kelas
selengkapnya disajikan pada tabel 6 berikut ini.
Tabel 6. Distribusi Responden Berdasarkan Kelas
Kelas
Kelas X
Kelas XI
Jumlah
Frekuensi
47
37
84
Persen (%)
56
44
100
38
2. Variabel mitos alat reproduksi
Hasil penelitian mengenai besarnya nilai variabel mitos alat
reproduksi diperoleh dari jawaban lembar observasi yang diberikan kepada
responden sebanyak 6 pertanyaan. Hasil tersebut kemudian diformulasikan
sebagai berikut : jika nilai 1-3 masuk kategori 1 yaitu tidak percaya dan
jika skor jawaban 4-6 masuk kategori 2, yaitu percaya. Hasil selengkapnya
disajikan pada tabel 7.
Tabel 7. Distribusi Responden tentang Mitos Alat Reproduksi
Mitos alat reproduksi
Tidak percaya
Percaya
Jumlah
Frekuensi
30
54
84
Persen (%)
35,7
64,3
100
Berdasarkan tabel 7 diketahui bahwa remaja SMA percaya pada mitos
alat reproduksi yaitu sebanyak 54 orang (64,3%).
3. Mitos hubungan seksual
Hasil penelitian mengenai besarnya nilai variabel mitos hubungan
seksual diperoleh dari jawaban lembar observasi yang diberikan kepada
responden sebanyak 6 pertanyaan. Hasil tersebut kemudian diformulasikan
sebagai berikut : jika nilai 1-3 masuk kategori 1 yaitu tidak percaya dan
jika skor jawaban 4-6 masuk kategori 2, yaitu percaya. Hasil selengkapnya
disajikan pada tabel 8.
Tabel 8. Distribusi Responden tentang Mitos Hubungan Seksual
Mitos hubungan seksual
Tidak percaya
Percaya
Jumlah
Frekuensi
36
48
84
Persen (%)
42,9
57,1
100
39
Berdasarkan tabel 8 diketahui bahwa remaja SMA percaya pada mitos
hubungan seksual yaitu sebanyak 48 orang (57,1%).
4. Mitos PMS
Hasil penelitian mengenai besarnya nilai variabel mitos PMS
diperoleh dari jawaban lembar observasi yang diberikan kepada responden
sebanyak 6 pertanyaan. Hasil tersebut kemudian diformulasikan sebagai
berikut : jika nilai 1-3 masuk kategori 1 yaitu tidak percaya dan jika skor
jawaban 4-6 masuk kategori 2, yaitu percaya. Hasil selengkapnya disajikan
pada tabel 9.
Tabel 9. Distribusi Responden tentang Mitos PMS
Mitos PMS
Tidak percaya
Percaya
Jumlah
Frekuensi
35
49
84
Persen (%)
41,7
58,3
100
Berdasarkan tabel 9 diketahui bahwa remaja SMA percaya pada mitos
PMS yaitu sebanyak 49 orang (58,3%).
5. Mitos terjadinya kehamilan
Hasil penelitian mengenai besarnya nilai variabel mitos terjadinya
kehamilan diperoleh dari jawaban lembar observasi yang diberikan kepada
responden sebanyak 8 pertanyaan. Hasil tersebut kemudian diformulasikan
sebagai berikut : jika nilai 1-4 masuk kategori 1 yaitu tidak percaya dan
jika skor jawaban 5-8 masuk kategori 2, yaitu percaya. Hasil selengkapnya
disajikan pada tabel 10.
40
Tabel 10. Distribusi Responden tentang Mitos Terjadinya Kehamilan
Mitos terjadinya kehamilan
Tidak percaya
Percaya
Jumlah
Frekuensi
34
50
84
Persen (%)
40,5
59,5
100
Berdasarkan tabel 10 diketahui bahwa remaja SMA percaya pada
mitos terjadinya kehamilan yaitu sebanyak 50 orang (59,5%).
6. Perilaku seksual
Hasil penelitian mengenai besarnya nilai variabel perilaku seksual
diperoleh dari jawaban lembar observasi yang diberikan kepada responden
sebanyak 13 pertanyaan. Hasil tersebut kemudian diformulasikan sebagai
berikut : nilai 0-5 buruk, nilai 6-10 sedang, dan nilai 11-13 baik. Hasil
selengkapnya disajikan pada tabel 11.
Tabel 11. Distribusi Responden tentang Perilaku Seksual
Perilaku seksual
Buruk
Sedang
Baik
Jumlah
Frekuensi
14
37
33
84
Persen (%)
16,7
44,0
39,3
100
Berdasarkan tabel 11 diketahui bahwa remaja SMA berperilaku
seksual sedang yaitu sebanyak 37 orang (44,0%).
41
C. Hasil Analisis Hubungan
Penelitian ini menguji hubungan antara mitos seks dengan perilaku
seksual pada remaja SMA di Kecamatan Klaten kota. Pengujian hipotesis
penelitian dilakukan dengan menggunakan uji test Chi Square. Pengujian
dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS versi 16.00 for
Windows, hasil analisis diperoleh sebagai berikut.
1. Mitos alat reproduksi
Proporsi responden yang tidak percaya tentang mitos alat reproduksi
dan berperilaku seksual baik (13,1%) lebih banyak dari pada yang
berperilaku seksual sedang (10,7%) dan buruk (11,9%). Sedangkan
responden yang percaya dengan perilaku seksual sedang (33,3%) lebih
banyak dari pada yang berperilaku seksual baik (26,2%) dan buruk (4,8%).
Hasil selengkapnya dapat disajikan pada tabel 12.
Tabel 12. Distribusi Hubungan antara Mitos Alat Reproduksi dengan
Perilaku Seksual
Mitos alat
reproduksi
a. Tidak percaya
b. Percaya
Total
Buruk
10
4
14
%
11,9
4,8
16,7
Perilaku seksual
Sedang %
9
10,7
28
33,3
37
44,0
Baik
11
22
33
%
13,1
26,2
39,3
2. Mitos hubungan seksual
Proporsi responden yang tidak percaya tentang mitos hubungan
seksual dan berperilaku seksual sedang (19,0%) lebih banyak dari pada
yang berperilaku seksual baik (11,9%) dan buruk (11,9%). Sedangkan
responden yang percaya dengan perilaku seksual baik (27,4%) lebih
42
banyak dari pada yang berperilaku seksual sedang (25,0%) dan buruk
(4,8%). Hasil selengkapnya dapat disajikan pada tabel 13.
Tabel 13. Distribusi Hubungan antara Mitos Hubungan Seksual
dengan Perilaku Seksual
Mitos hubungan
seksual
a. Tidak percaya
b. Percaya
Total
Buruk
%
10
11,9
4
4,8
14
16,7
Perilaku seksual
Sedang
%
16
19,0
21
25,0
37
44,0
Baik
10
23
33
%
11,9
27,4
38,3
3. Mitos PMS
Proporsi responden yang tidak percaya tentang mitos PMS dan
berperilaku seksual sedang (16,7%) lebih banyak dari pada yang
berperilaku seksual baik (13,1%) dan buruk (11,9%). Sedangkan
responden yang percaya dengan perilaku seksual sedang (27,4%) lebih
banyak dari pada yang berperilaku seksual baik (26,2%) dan buruk (4,8%).
Hasil selengkapnya dapat disajikan pada tabel 14.
Tabel 14. Distribusi Hubungan antara Mitos PMS dengan Perilaku
Seksual
Mitos PMS
a.
b.
Tidak percaya
Percaya
Total
Buruk
%
10
11,9
4
4,8
14
16,7
Perilaku seksual
Sedang
%
14
16,7
23
27,4
37
44,1
Baik
11
22
33
%
13,1
26,2
39,3
4. Mitos terjadinya kehamilan.
Proporsi responden yang tidak percaya tentang mitos terjadinya
kehamilan dan berperilaku seksual sedang (16,7%) lebih banyak dari pada
yang berperilaku seksual baik (11,9%) dan buruk (11,9%). Sedangkan
responden yang percaya dengan perilaku seksual sedang (27,4%) dan baik
43
(27,4%) lebih banyak dari pada yang berperilaku seksual buruk (4,8%).
Hasil selengkapnya dapat disajikan pada tabel 15.
Tabel 15. Distribusi Hubungan antara Mitos Terjadinya Kehamilan
dengan Perilaku Seksual pada Remaja
Mitos terjadinya
kehamilan
a. Tidak percaya
b. Percaya
Total
Buruk
10
4
14
%
11,9
4,8
16,7
Perilaku seksual
Sedang % Baik
14
16,7
10
23
27,4
23
37
44,1
33
%
11,9
27,4
39,3
D. Hasil Analisis Bivariat
1. Mitos alat reproduksi
Hasil uji statistik chi square menunjukkan terdapat hubungan yang
signifikan dengan p = 0,007 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan terdapat
hubungan antara mitos alat reproduksi dengan perilaku seksual pada
remaja SMA di Kecamatan Klaten kota.
2. Mitos hubungan seksual
Hasil uji statistik chi square menunjukkan terdapat hubungan yang
signifikan dengan p = 0,033 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan terdapat
hubungan antara mitos hubungan seksual dengan perilaku seksual pada
remaja SMA di Kecamatan Klaten kota.
3. Mitos PMS
Hasil uji statistik chi square menunjukkan terdapat hubungan yang
signifikan dengan p = 0,044 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan terdapat
hubungan antara mitos PMS dengan perilaku seksual pada remaja SMA di
Kecamatan Klaten kota.
44
4. Mitos terjadinya kehamilan
Hasil uji statistik chi square menunjukkan terdapat hubungan yang
signifikan dengan p = 0,029 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan terdapat
hubungan antara mitos terjadinya kehamilan dengan perilaku seksual pada
remaja SMA di Kecamatan Klaten kota. Hasil selengkapnya dapat
disajikan pada tabel 16.
Tabel 16. Rangkuman Hasil Uji Bivariat Variabel Bebas dengan
Perilaku Seksual
No Variabel
X2
Nilai
Keterangan
p
Mitos alat reproduksi
9,95
0,007
Terdapat hubungan yang signifikan
1
Mitos hubungan seksual
6,79
0,033
Terdapat hubungan yang signifikan
2
Mitos PMS
6,26
0,044
Terdapat hubungan yang signifikan
3
Mitos terjadinya kehamilan 7,09
0,029
Terdapat hubungan yang signifikan
4
45
BAB V
PEMBAHASAN
A. Hubungan antara Mitos Alat Reproduksi dengan Perilaku Seksual pada
Remaja SMA di Kecamatan Klaten kota.
Berdasarkan hasil uji chi square didapatkan nilai p = 0,007 (p<0,05) yang
berarti bahwa ada hubungan antara mitos alat reproduksi dengan perilaku
seksual pada remaja SMA di Kecamatan Klaten kota. Alat reproduksi
merupakan organ tubuh laki-laki dan perempuan yang menyebabkan
terjadinya kehamilan (BKKBN, 2006). Salah satu contoh dari alat reproduksi
adalah penis pada laki-laki dan vagina pada perempuan. Berdasarkan hasil
penelitian ini diperoleh data sebanyak 64,3% responden yang percaya
terhadap mitos-mitos alat reproduksi. Hal ini berarti bahwa remaja masih
memiliki pengetahuan yang kurang sehingga menyebabkan tingginya
kepercayaan remaja terhadap mitos-mitos alat reproduksi. Padahal menurut
Subinarto (2008), mitos merupakan informasi yang sebenarnya salah tetapi
dianggap benar, yang telah diyakini, beredar, dan populer di masyarakat.
Menurut Simpen (2007), ketidaktahuan remaja tentang kesehatan reproduksi
selama ini disebabkan karena remaja masih menganggap alat reproduksi
sebagai hal yang tabu. Tidak banyak siswa SMA yang tahu mengenai
kesehatan reproduksi, cara merawat serta menggunakan alat reproduksinya
pada waktu dan saat yang tepat.
46
Perilaku seksual merupakan tindakan yang dilakukan oleh remaja dengan
dorongan seksual yang datang baik dari dalam dirinya maupun dari luar
dirinya (Notoatmodjo, 2007). Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh data
proporsi responden terbanyak yang percaya tentang mitos alat reproduksi
adalah berperilaku sedang (33,3%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
Gusmiarni (2001), yang menyimpulkan bahwa ada hubungan antara sikap
onani atau masturbasi dengan perilaku seksual. Menurut Skiner (1938), dalam
Notoatmodjo, 2003), perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang
terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Faktor yang menyebabkan perilaku
seks remaja, selain faktor jiwa muda dan rasa ingin tahu yang besar, remaja
juga kurang mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan informasi dan
pengetahuan yang cukup berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Menurut
Wibowo (2004), remaja merasa lebih senang membahas masalah seks,
kesehatan reproduksi, dan perilaku seksual dengan teman dari pada dengan
orangtua.
B. Hubungan antara Mitos Hubungan Seksual dengan Perilaku Seksual
pada Remaja SMA di Kecamatan Klaten kota.
Berdasarkan hasil uji chi square didapatkan nilai p = 0,033 (p<0,05) yang
berarti bahwa ada hubungan antara mitos hubungan seksual dengan perilaku
seksual pada remaja SMA di Kecamatan Klaten kota. Menurut Ghozally dan
Karim (2009), hubungan seksual terjadi pada saat masuknya penis yang ereksi
ke dalam lubang vagina sebagai pelampiasan hasrat seksual untuk pemenuhan
kebutuhan biologisnya. Bila terjadi ejakulasi (pengeluaran cairan mani yang di
47
dalamnya terdapat jutaan sperma) dengan posisi alat kelamin laki-laki berada
dalam vagina memudahkan pertemuan sperma dan sel telur yang
menyebabkan terjadinya pembuahan dan kehamilan.
Menurut Budinurdjaja (2007), mitos seks merupakan contoh mitos yang
sangat luas beredar yang mempengaruhi pandangan dan perilaku seksual
masyarakat. Mitos hubungan seksual terhadap perilaku seksual menunjukkan
bahwa masih terdapat kepercayaan mengenai hal-hal yang bertolak belakang
dengan kenyataan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data sebanyak
57,1% responden yang percaya terhadap mitos-mitos hubungan seksual. Hal
ini berarti bahwa remaja masih memiliki pengetahuan yang kurang sehingga
menyebabkan tingginya kepercayaan remaja terhadap mitos-mitos hubungan
seksual. Hasil ini sejalan dengan penelitian Pusat Studi Seksualitas (2008),
yang menyimpulkan sebanyak 52% responden setuju mengenai senggama
terputus tidak menyebabkan hamil. Padahal pemahaman di atas keliru karena
sperma terdapat di dalam cairan seminal yang dilepaskan sebelum laki-laki
mengalami ejakulasi sehingga dapat menyebabkan kehamilan. Menurut
Darwisyah (2008), remaja seringkali merasa tidak nyaman atau tabu untuk
membicarakan masalah seksualitas dan kesehatan reproduksinya. Karena
faktor keingintahuan, remaja akan berusaha untuk mendapatkan informasi ini,
sehingga remaja mudah terpengaruh oleh mitos-mitos seks yang ada di
masyarakat.
Menurut Mutadin (2002), perilaku seksual merupakan segala tingkah laku
yang didorong oleh hasrat seksual dengan lawan jenis mulai dari perasaan
48
tertarik sampai dengan tingkah laku berkencan, bercumbu sampai hubungan
seksual. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh data proporsi responden
terbanyak yang percaya tentang mitos hubungan seksual adalah berperilaku
baik (27,4%). Hubungan seksual dilakukan dengan memasukkan penis ke
dalam vagina, tetapi sebagian orang biasa melakukan secara oral dan anal
seks. Hal ini sejalan dengan penelitian Sari (2009), yang menyimpulkan
bahwa adanya hubungan positif antara tingkat pengetahuan Penyakit Menular
Seksual (PMS) dengan perilaku seksual pranikah.
C. Hubungan antara Mitos PMS dengan Perilaku Seksual pada Remaja
SMA di Kecamatan Klaten kota.
Berdasarkan hasil uji chi square didapatkan nilai p = 0,044 (p<0,05) yang
berarti bahwa ada hubungan antara mitos PMS dengan perilaku seksual pada
remaja SMA di Kecamatan Klaten kota. PMS merupakan penyakit alat (organ)
reproduksi laki-laki atau perempuan terutama akibat dari hubungan seksual
dengan orang yang sudah terjangkit penyakit kelamin (Sjarif, 2008). Menurut
Hanifah (2008), mitos PMS sebenarnya dapat dikontrol, jika masyarakat
menyadari bahwa pendidikan seks sejak dini perlu. Maraknya kehamilan di
luar nikah atau banyaknya penyakit menular seksual yang terjadi pada remaja
disebabkan karena ketidaktahuan remaja tentang seksualitas. Berdasarkan
hasil penelitian ini diperoleh data sebesar 58,3% responden percaya mitosmitos PMS. Hal ini berarti bahwa remaja masih memiliki pengetahuan yang
kurang sehingga menyebabkan tingginya kepercayaan remaja terhadap mitosmitos PMS. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Hernawati (2005), yang
49
menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap
tentang PMS dengan perilaku seksual pranikah pada mahasiswa PSIK
Program A FK UGM.
Menurut Soetjiningsih (2007), perilaku seksual pranikah merupakan
segala tingkah laku seksual yang didorong oleh hasrat seksual dengan lawan
jenisnya, yang dilakukan oleh remaja sebelum mereka menikah. Hal ini
mendukung pendapat Kartono (1998), yang menyatakan bahwa masa remaja
merupakan masa paling rawan, terutama berkaitan dengan meluapnya energi
(dorongan seksual) dari dalam. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh data
proporsi responden terbanyak yang percaya tentang mitos-mitos PMS
berperilaku sedang (27,4%). Hal ini mendukung pendapat Duarsa (2007),
yang menyatakan golongan remaja mempunyai kemampuan berpikir yang
lebih sederhana, cenderung lebih konkrit, lebih perhatian pada hal-hal yang
terjadi di sekitarnya sehingga remaja tidak berfikir melakukan pencegahan
atau berhati-hati untuk menghindari PMS. Penyimpangan perilaku seksual
pada remaja disebabkan karena terlalu dominannya pengaruh lingkungan dan
media massa terutama internet dalam penyebaran informasi, sementara
petugas dan pendidik kurang membekali pengetahuan tentang PMS dan
perilaku seksual bebas yang sebanding dengan apa yang diperoleh melalui
internet (Kartono, 1998).
50
D. Hubungan antara Mitos Terjadinya Kehamilan dengan Perilaku Seksual
pada Remaja SMA di Kecamatan Klaten kota.
Berdasarkan hasil uji chi square didapatkan nilai p = 0,029 (p<0,05) yang
berarti bahwa ada hubungan antara mitos terjadinya kehamilan dengan
perilaku
seksual
pada
remaja
SMA
di
Kecamatan
Klaten
kota.
Kehamilan merupakan fase di mana wanita mengandung buah hatinya dan
membesarnya perut sebagai tanda perkembangan janin di dalamnya.
Kehamilan akan terjadi jika sebuah sel telur yang dibuahi tertanam dalam
dinding rahim wanita (Ghozally dan Karim, 2009). Mitos seks secara tidak
langsung berhubungan dengan kesehatan seksual, sebab orang-orang yang
meragukan kebenaran dari mitos seks akan berupaya mencari kebenaran yang
sesungguhnya. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data sebanyak 59,5%
responden percaya akan mitos-mitos terjadinya kehamilan. Hal ini berarti
bahwa remaja masih
memiliki pengetahuan yang kurang sehingga
menyebabkan tingginya kepercayaan remaja terhadap mitos-mitos terjadinya
kehamilan. Hal ini sejalan dengan penelitian Pusat Studi Seksualitas (2008),
yang menyimpulkan sebanyak 65,1% responden masih menjawab dengan
pendapat yang tidak benar (remaja yang berhubungan seksual pertama kali
tidak berisiko mengalami kehamilan dan hubungan seksual bisa dijadikan
bukti seberapa besar kadar cinta). Risiko-risiko yang menyangkut kesehatan
bagi para pelaku hubungan seksual dini meliputi trauma seksual,
meningkatnya pertumbuhan kanker leher rahim, terkena PMS, dan kehamilan
usia remaja (Athar, 2004).
51
Menurut Sarlito (2001), perilaku seksual merupakan segala tingkah laku
yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun dengan
sesama jenis. Objek seksual bisa berupa orang lain, orang dalam hayalan atau
diri sendiri. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data proporsi responden
terbanyak yang percaya tentang mitos terjadinya kehamilan adalah berperilaku
sedang (27,4%) dan baik (27,4%). Hal ini sejalan dengan penelitian Mulyana
(2005), yang menyimpulkan bahwa ada hubungan antara mitos seks pranikah
dengan praktek seks pranikah. Makin banyak seseorang melakukan fantasi
seks makin cenderung untuk melakukan aktifitas seks, sementara perasaan
berdosa, mitos-mitos yang menakutkan, kehamilan yang tidak diinginkan dan
berbagai penyakit kelamin menghantui remaja (Nugraha, 2005).
E. Keterbatasan Penelitian
1. Peniliti hanya mengambil beberapa mitos yang beredar pada kalangan
remaja. Sedangkan di masyarakat masih banyak mitos seksualitas yang
masih dipercayai oleh remaja.
2. Perlunya pendekatan khusus pada responden untuk mendapatkan jawaban
yang jujur, hal ini kadang sulit dilakukan.
52
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Ada hubungan antara mitos alat reproduksi dengan perilaku seksual pada
remaja SMA di Kecamatan Klaten kota (p=0,007).
2. Ada hubungan antara mitos hubungan seksual dengan perilaku seksual
pada remaja SMA di Kecamatan Klaten kota (p=0,033).
3. Ada hubungan antara mitos PMS dengan perilaku seksual pada remaja
SMA di Kecamatan Klaten kota (p=0,044).
4. Ada hubungan antara mitos terjadinya kehamilan dengan perilaku seksual
pada remaja SMA di Kecamatan Klaten kota (p=0,029).
B. Saran
1. Bagi pihak sekolah
a. Sebaiknya tenaga pendidik memberikan perhatian yang lebih kepada
siswanya terhadap pergaulan dan perilaku seksual.
b. Perlunya diberikan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan
seksual untuk menambah pengetahuan siswa yang dimasukkan dalam
kurikulum pendidikan sekolah.
53
2. Bagi orang tua
a. Sebaiknya orang tua berperan sebagai orang pertama dan utama untuk
memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi pada anaknya.
b. Sebaiknya orang tua menanamkan pendidikan agama yang baik pada
anak-anaknya.
3. Bagi siswa SMA
a. Siswa sebaiknya selektif dalam menerima informasi tentang
seksualitas dan jangan menganggap tabu masalah seksualitas.
b. Jika siswa mempunyai masalah yang berkaitan dengan kesehatan
reproduksi dan seksualitas sebaiknya segera berkonsultasi pada orang
tua, guru BP atau petugas kesehatan.
4. Bagi peneliti lain
a. Peneliti lain dapat melanjutkan penelitian ini, dengan mengganti
subjek penelitian seperti pada siswa SMP, orang tua atau masyarakat
umum, sehingga diperoleh gambaran yang lebih luas tentang mitosmitos yang berhubungan dengan perilaku seksual di masyarakat atau
meneliti tentang mitos lain, misalnya: keperawanan dapat ditebak dari
cara berjalan dan bentuk pinggul.
b. Peneliti lain dapat melanjutkan penelitian ini di daerah pedesaan.
54
DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman M dan Muhidin S A. 2007. Analisis Korelasi, Regresi, dan Jalur
dalam Penelitian. Bandung: Pustaka Setia.
Anonim. 2008a. Definisi Kesehatan Reproduksi Remaja. Diakses: 13 September
2008. http://www.kesrepro.info/?q=node/380
Anonim. 2008b. Perilaku Seksual. Diakses: 13 September 2008. http://www.kesr
epro.info/q=node/383
Anonim. 2008c. 8 Hal yang Berkaitan dengan Mitos Seks. Diakses: 13 September
2008. http://www.f-buzz.com/2008/06/30/8-hal-yang-berkaitan-denganmitos-seks/
Athar S. 2004. Bimbingan Seks bagi Kaum Muda Muslimin. Jakarta: Pustaka Zahra.
Besral. 2009. Regresi Linier Ganda. Jakarta: FKM UI.
BKKBN. 2006. Buku Pedoman Advokasi dan KIE Pogram KB Bagi Tokoh
Agama Islam. Jakarta: BKKBN Propinsi JABAR.
Budiarto E. 2001. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.
Jakarta: EGC.
Budinurdjaja P. 2007. Kita Mitos Seks dan Obat Kuat. Diakses: 26 Maret 2009.
http://www.nabble.com/-sastra-pembebasan--Kita,-Mitos-Seks-dan-ObatKuat-td11437623.html.
Damarini S. 2001. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual
Remaja pada Mahasiswa Akademi Keperawatan DEPKES Curup
Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu Tahun 2001. [Skripsi]
Jakarta: FKM UI.
Darwisyah S R. 2008. Seksualitas Remaja Indonesia. Diakses: 13 September
2008. http://situs.kesrepro.info/krr/krr02.htm
Duarsa W N. 2007. Remaja dan Infeksi Menular Seksual dalam Soetjiningsih.
Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung Seto.
Ghozally F dan Karim J. 2009. Ensiklopedi Seks. Jakarta: Restu Agung.
Gusmiarni T. 2001. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual
Remaja Siswa Kelas 2 SMU Negeri 1 Purwakarta Tahun 2000. [Skripsi]
Jakarta: FKM UI
Hanifah L. 2009. Bicara Seksualitas, Tabu atau Perlu. Diakses: 27 September
2009. http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Umum/Biacara-Seksu
alitas-Tabu-atau-Perlu
Hartono J. 2007. Sistem Informasi Keperilakuan. Yogyakarta: Andi.
Hernawati G. 2005. Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap tentang Penyakit
Menular Seksual terhadap Perilaku Seksual Pranikah pada Mahasiswa
PSIK Program A FK UGM. [Skripsi] Yogyakarta: UGM.
Katono M. 1998. Kontradiksi dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.
LKTS Media. 2008. Mengkhawatirkan, Perilaku Seksual pada Kalangan Pelajar.
Diakses : 9 Maret 2009. http://www.lkts.org/pelita/Juli 08/suara pelita 01.h
tm
Lukman A D. 2004. Remaja Hari ini adalah Pemimpin Masa Depan. Jakarta:
BKKBN.
Miqdad A A A. 2001. Pendidikan Seks bagi Remaja. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Offset.
Muladi W. 2004. Remaja dan Pendidikan Sebaya. Surakarta: UNIBA PRESS.
Mulyana. 2005. Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Mitos Seks Pranikah
dengan Praktek Seks Pranikah pada Siswa Kelas III SMU Negeri 3
Cirebon Bulan Maret- Juli 2005. [Skripsi] Semarang: FKM UNDIP.
Murti B. 1997. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
_______. 2006. Desain dan Ukuran Sampel untuk Penelitian Kualitatif dan
Penelitian Kuantitatif di Bidang Kesehatan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Mutadin Z. 2002. Pendidikan Seksual Pada Remaja. Diakses: 29 September 2009.
http://www.e-psikologi.com/epsi/pendidikan_detail.asp?id=385
Muzayyanah N. 2008. Dampak Perilaku Seks Bebas bagi Remaja. Diakses: 21
November 2008. http://halalsehat.com/index.php?option=com content&tas
k=view&id=55&Itemid=35
Notoatmodjo S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar.
Jakarta: Rineka Cipta.
. 2007. Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Novita N, Nida U I H, dan Supriyati. 2006. Hubungan antara Paparan Pornografi
dan Komunikasi Remaja-Orangtua dengan Perilaku Seksual di SMA
Negeri 11 Palembang. Sains Kesehatan. Vol. 19. No. 2. April 2006: 127136.
Negara O. 2008. Sebelas Mitos Seks yang Masih Dipercaya Remaja. Diakses:
tanggal 13 September 2008. http://okanegara.com/2008/07/15/sexualityse
xual-health/11-mios-seks-yang-masih-di-percaya.html.
Nugraha B D. 2009. Upaya Dini Pencegahan Penyakit Menular Seksual.
Prosiding Pada Seminar Nasional Kesehatan. 07 Juni 2009. Surakarta:
Fakultas Ilmu Kesehatan UMS.
Pangkahila A. 2007. Perilaku Seksual Remaja dalam Soetjiningsih. Tumbuh
Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung Seto.
PSS. 2008. Analisis Tingkat Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi
dan Seksualitas Kabupaten Kulon Progo Pusat Studi Seksualitas PKBI
DIY 2008. Yogyakarta: PKBI.
Prasasti G D dan Indrini R. 2008. Degradasi Moral 62% Siswi SMP & SMA tidak
Gadis Lagi. Majalah Kartini. No. 2235. 8-22 Januari 2008: 68-71.
Prihantina E. 2007. Bahaya Berhubungan Intim Saat Menstruasi. Diakses: 24 Mei
2009. http://www.mailarchive.com/[email protected]/msg38726
. html.
Ramdhani N, Waluyo I, dan Soeparmanto P. 2001. Pengetahuan dan Kebutuhan
Pelayanan Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja di Beberapa Kota
Besar di Jawa. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. Vol. 4. No. 1. Juni
2001: 1-81.
Saifudin A F dan Hidayana I M. 1999. Seksualitas Remaja. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
Santrock J W. 2005. Adolescence: Perkembangan Remaja. 6th ed. Jakarta:
Erlangga.
Sari P T. 2009. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan Penyakit Menular Seksual
dengan Perilaku Seksual Pranikah pada Siswa Siswi SMAN 3 Surakarta.
[Skripsi] Surakarta: UNS
Sarlito W S. 2001. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Simpen K. 2007. Penyuluhan Kesehatan, Remaja Kurang Paham Masalah Kese
hatan Reproduksi. Diakses: 23 Agustus 2009. http://www.cybertokoh.com
/mod.php?mo=publisher&op=printarticle&artid=3264.
Sjarif D, Wenita, Sarbaini, dan Eddy N H. 2008. Pendalaman Materi: Membantu
Remaja Memahami Dirinya. Jakarta: BKKBN Provinsi Jawa Tengah.
Soetjiningsih. 2007. Pertumbuhan Somatik pada Remaja dalam Soetjiningsih.
Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung Seto.
Subinarto D. 2008. Mitos Sex. Diakses: 24 Agustus 2008. http://www.bkkbn.go.id
/gemapria/article-detail.php?artid=66
Suryawan W B. 2007. Regulasi Neuroendokrin pada Remaja dalam Soetjiningsih.
Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung Seto.
Susilowati, 2002. Seks Pra Nikah Remaja Cirebon. Diakses: 29 April 2009.
http://www.gatra.com/2002-04-02/artikel.php?id=16575
Wibowo M. 2004. Remaja dan Pendidikan Sebaya. Surakarta: UNIBA PRESS.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Permohonan menjadi responden
Permohonan Menjadi Responden
Kepada yang terhormat,
Saudara/i : 1. Siswa / siswi SMA Negeri 3 Klaten.
Dengan hormat,
Sehubungan dengan penyusunan skripsi yang akan saya lakukan dengan judul
“ Pengaruh Mitos Seks terhadap Perilaku Seksual pada remaja SMA di Kota
Klaten” yang merupakan syarat untuk memperoleh gelar sarjana Kesehatan
Masyarakat (SKM) dari Fakultas Ilmu Kesehatan UMS Surakarta, maka saya
sangat mengharapkan bantuan dari saudara/i sekalian untuk dapat mengisi
kuesioner yang saya lampirkan dan bersedia diwawancara dengan sukarela.
Karena jawaban diharapkan sesuai dengan pengetahuan dan keadaan saudara/i
maka tidak ada jawaban yang salah. Selain itu identitas saudara/i akan
dirahasiakan.
Harapan saya, dari hasil kuesioner ini akan diketahui pengaruh mitos seks
terhadap perilaku seksual remaja sehingga dapat memberikan informasi yang
dapat digunakan bersama.
Demikian permohonan ini saya sampaikan atas, kesediaan dan kerjasama
saudara/i saya ucapkan banyak terimakasih
Klaten, 02 Juni 2009
Hormat saya,
(Irfan Tri Raharjo)
Lampiran 2. Kuesioner Pengumpulan Data
Lampiran Kuesioner Penelitian
Terima kasih atas kesediaan saudara/i untuk berpartisipasi sebagai
responden dalam penelitian tentang “Pengaruh Mitos Seks terhadap Perilaku
Seksual pada remaja SMA di Kota Klaten” .
I.
Karakteristik
1. Nama (Inisial)
:
2. Jenis Kelamin
: a. Laki-laki b.  Perempuan
3. Umur
:
4. Kelas
: a.  Satu
5. Pernahkah
anda
mendapat
b.  Dua
pendidikan
c.  Tiga
atau
informasi
tentang
pendidikan reproduksi atau seks?
a.
 Pernah
b.  Tidak pernah
6. Jika pernah dari mana sumber informasi yang anda peroleh?
Boleh diisi lebih dari satu!
a.
Saudara / keluarga
f. Koran / buku / majalah
b.
Orang tua
g. radio/ TV / internet
c.
Teman dan tetangga
h. BKKBN / Dinkes
d.
Pacar
i.
LSM
e.
Guru / sekolah
j.
Lainnya……………….
PETUNJUK
a. Bacalah pertanyaan dengan baik dan telitilah sebelum anda menjawab
pertanyaan.
b. Beri tanda silang pada jawaban yang anggap benar.
c. Kuesioner ini tidak berpengaruh pada nilai akedemis anda.
Lampiran 2. Kuesioner Pengumpulan Data
d. Untuk kelancaran penelitian ini mohon diisi jawaban yang sesuai dengan
pengetahuan anda, tidak perlu bertanya kepada teman. Jawab dengan jujur
dan apa adanya.
e. Kerahasiaan anda akan tetap kami jaga.
II.
Mitos Seks
Jawablah dengan memberi tanda (√) pada jawaban yang anda pilih.
No Mitos seks yang beredar di masyarakat
Percaya Tidak
percaya
A
Mitos alat reproduksi
1
Sering
melakukan
masturbasi
atau
onani
dapat
mengakibatkan kemandulan dan lutut menjadi kopong.
2
Setelah melakukan onani atau masturbasi sering timbul rasa
lelah pada tubuh, hal tersebut terjadi karena onani atau
masturbasi mengeluarkan energi.
3
Spermatozoa diproduksi dan disimpan di dalam lutut.
4
Menyiram penis dengan bir atau soda bisa mematikan bakteri
atau virus.
5
Bakteri pada alat reproduksi dapat dimatikan dengan
pengobatan antibiotic
6
Bakteri atau virus pada alat reproduksi ditularkan melalui
hubungan seksual.
B
Mitos tentang hubungan seksual
1
Keinginan berhubungan seks disebabkan karena adanya
dorongan seksual yang tidak terkontrol dan keinginan untuk
mencoba-coba.
2
Berhubungan seks dengan pacar merupakan bukti cinta.
3
Hubungan seks pertama kali selalu ditandai dengan keluarnya
darah dari vagina.
Lampiran 2. Kuesioner Pengumpulan Data
No Mitos seks yang beredar di masyarakat
Percaya Tidak
percaya
4
Selaput dara yang robek berarti sudah pernah melakukan
hubungan seksual atau tidak perawan lagi.
5
Perempuan berdada besar dorongan seksualnya besar.
6
Seks oral tidak bisa menularkan penyakit.
C
Mitos PMS (Penyakit Menular Seksual)
1
PMS menular melalui cairan sperma, vagina, dan darah atau
adanya perlukaan
2
Kondom 100% aman untuk mencegah PMS
3
PMS dapat dicegah dengan mencuci alat kelamin
4
Minum antibiotik sebelum hubungan seksual akan mencegah
PMS
5
PMS dapat dilihat secara kasat mata.
6
Bakteri atau PMS tidak dapat bertahan cukup lama di luar
tubuh.
D
Mitos terjadinya kehamilan
1
Sperma terdapat di dalam cairan seminal (cairan yang
dikeluarkan laki-laki saat mendapatkan rangsangan sebelum
laki-laki mengalami ejakulasi)
2
Setelah sperma memasuki vagina, maka sperma akan mencari
sel telur yang telah matang untuk dibuahi sehingga kehamilan
dapat terjadi.
3
Ketika terangsang, perempuan akan mengeluarkan cairan
yang mempermudah masuknya sperma ke dalam rahim.
4
Apabila hubungan seksual dilakukan pada saat masa subur,
berarti ada sel telur matang yang dilepas oleh indung telur,
sehingga memungkinkan untuk terjadi kehamilan.
5
Hubungan seksual yang dilakukan sekali saja tidak dapat
menyebabkan kehamilan.
Lampiran 2. Kuesioner Pengumpulan Data
No Mitos seks yang beredar di masyarakat
Percaya Tidak
percaya
6
Ejakulasi (mengeluarkan sperma) saat berhubungan seksual di
luar tidak menyebabkan kehamilan.
7
Petting (melakukan hubungan seksual dengan atau tanpa
pakaian tetapi tanpa melakukan penetrasi penis ke dalam
vagina.Jadi sebatas di gesekkan saja ke alat kelamin
perempuan) tidak dapat menyebabkan kehamilan
8
Berhubungan seks di masa menstruasi tidak menimbulkan
kehamilan
Lampiran 3. Pedoman Wawancara
Pedoman Wawancara Terstruktur
Topik Perilaku Seksual
1. Apakah anda pernah baca buku porno?
a. Ya
Jika ya dari mana anda mendapatkan buku tersebut :
1) Membeli
2) Pinjam
3) Lain-lain…………………………………………………………………...
b. Tidak
2. Apakah anda pernah menonton film atau video porno?
a. Ya
Jika ya dimana tempat anda menonton?
1) Rumah sendiri
2) Rumah teman
3) Lain-lain…………………………………………………………………
b. Tidak
3. Pernahkah anda mengkhayal atau memikirkan fantasy seks?
a. Ya
b. Tidak
4. Pernahkah anda melakukan onani atau masturbasi?
a. Ya
Jika ya, dalam seminggu berapa kali anda melakukannya?
1) 1-3 kali setiap minggu
2) > 3 kali setiap minggu
b. Tidak
Lampiran 3. Pedoman Wawancara
5. Apakah anda pernah berpacaran?
a. Ya
b. Tidak
6. Apakah anda pernah bergandengan tangan dengan lawan jenis?
a. Ya
b. Tidak
7. Apakah anda pernah berpelukan dengan lawan jenis?
a. Ya
b. Tidak
8. Apakah anda pernah melakukan ciuman pipi?
a. Ya
b. Tidak
9. Apakah anda pernah melakukan ciuman bibir, hingga leher dan dada?
a. Ya
b. Tidak
10. Pernahkah anda meraba-raba bagian tubuh lawan jenis?
a. Ya
b. Tidak
11. Pernahkah anda melakukan oral genital?
a. Ya
Jika ya, dengan siapa anda melakukan?
1) Pacar atau teman
2) Pekerja seks komersial
3) Lain-lain…………………………………………………………………...
b. Tidak
12. Pernahkah anda melakukan petting?
a. Ya
Jika ya, dengan siapa anda melakukan?
1) Pacar atau teman
2) Pekerja seks komersial
Lampiran 3. Pedoman Wawancara
3) Lain-lain…………………………………………………………………...
b. Tidak
13. Pernahkah anda melakukan hubungan seksual?
a. Ya
Jika ya, dengan siapa anda melakukan?
1) Pacar atau teman
2) Pekerja seks komersial
3) Lain-lain…………………………………………………………………...
b. Tidak
Lampiran 5. Print Out Hasil Analisis Data
Frequencies
Jenis kelamin
Valid
Laki-laki
Perempuan
Total
Frequency
28
56
84
Percent
33,3
66,7
100,0
Valid Percent
33,3
66,7
100,0
Cumulative
Percent
33,3
100,0
Umur
Valid
15 tahun
16 tahun
17 tahun
Total
Frequency
50
33
1
84
Percent
59,5
39,3
1,2
100,0
Valid Percent
59,5
39,3
1,2
100,0
Cumulative
Percent
59,5
98,8
100,0
Kelas
Valid
Kelas X
Kelas XI
Total
Frequency
47
37
84
Percent
56,0
44,0
100,0
Valid Percent
56,0
44,0
100,0
Cumulative
Percent
56,0
100,0
Lampiran 5. Print Out Hasil Analisis Data
Mitos alat reproduksi
Frequencies
Mitos alat reproduksi
Valid
Tidak percaya
Percaya
Total
Frequency
30
54
84
Percent
35,7
64,3
100,0
Valid Percent
35,7
64,3
100,0
Cumulative
Percent
35,7
100,0
Crosstabs
Case Processing Summary
N
Mitos alat reproduksi
* Perilaku seksual
Valid
Percent
84
Cases
Missing
N
Percent
100,0%
0
Total
N
,0%
Percent
84
100,0%
Mitos alat reproduksi * Perilaku seksual Crosstabulation
Mitos alat reproduksi
Tidak percaya
Percaya
Total
Count
Expected Count
% within Mitos alat
reproduksi
% within Perilaku seksual
% of Total
Count
Expected Count
% within Mitos alat
reproduksi
% within Perilaku seksual
% of Total
Count
Expected Count
% within Mitos alat
reproduksi
% within Perilaku seksual
% of Total
Perilaku seksual
Buruk
Sedang
10
9
5,0
13,2
Baik
Total
11
11,8
30
30,0
33,3%
30,0%
36,7%
100,0%
71,4%
11,9%
4
9,0
24,3%
10,7%
28
23,8
33,3%
13,1%
22
21,2
35,7%
35,7%
54
54,0
7,4%
51,9%
40,7%
100,0%
28,6%
4,8%
14
14,0
75,7%
33,3%
37
37,0
66,7%
26,2%
33
33,0
64,3%
64,3%
84
84,0
16,7%
44,0%
39,3%
100,0%
100,0%
16,7%
100,0%
44,0%
100,0%
39,3%
100,0%
100,0%
Lampiran 5. Print Out Hasil Analisis Data
Chi-Square Tests
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases
Value
9,950a
9,679
3,374
2
2
Asymp. Sig.
(2-sided)
,007
,008
1
,066
df
84
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The
minimum expected count is 5,00.
Symmetric Measures
Nominal by Nominal
N of Valid Cases
Contingency Coefficient
Value
,325
84
Approx. Sig.
,007
a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
Lampiran 5. Print Out Hasil Analisis Data
Mitos hubungan seksual
Frequencies
Mitos hubungan seksual
Valid
Tidak percaya
Percaya
Total
Frequency
36
48
84
Percent
42,9
57,1
100,0
Cumulative
Percent
42,9
100,0
Valid Percent
42,9
57,1
100,0
Crosstabs
Case Processing Summary
N
Mitos hubungan seksual
* Perilaku seksual
Valid
Percent
84
100,0%
Cases
Missing
N
Percent
0
Total
N
,0%
Percent
84
100,0%
Mitos hubungan seksual * Perilaku seksual Crosstabulation
Mitos hubungan
seksual
Tidak percaya
Percaya
Total
Count
Expected Count
% within Mitos hubungan
seksual
% within Perilaku seksual
% of Total
Count
Expected Count
% within Mitos hubungan
seksual
% within Perilaku seksual
% of Total
Count
Expected Count
% within Mitos hubungan
seksual
% within Perilaku seksual
% of Total
Perilaku seksual
Buruk
Sedang
10
16
6,0
15,9
Baik
Total
10
14,1
36
36,0
27,8%
44,4%
27,8%
100,0%
71,4%
11,9%
4
8,0
43,2%
19,0%
21
21,1
30,3%
11,9%
23
18,9
42,9%
42,9%
48
48,0
8,3%
43,8%
47,9%
100,0%
28,6%
4,8%
14
14,0
56,8%
25,0%
37
37,0
69,7%
27,4%
33
33,0
57,1%
57,1%
84
84,0
16,7%
44,0%
39,3%
100,0%
100,0%
16,7%
100,0%
44,0%
100,0%
39,3%
100,0%
100,0%
Lampiran 5. Print Out Hasil Analisis Data
Chi-Square Tests
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases
Value
6,793a
6,877
6,265
2
2
Asymp. Sig.
(2-sided)
,033
,032
1
,012
df
84
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The
minimum expected count is 6,00.
Symmetric Measures
Nominal by Nominal
N of Valid Cases
Contingency Coefficient
Value
,274
84
Approx. Sig.
,033
a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
Lampiran 5. Print Out Hasil Analisis Data
Mitos PMS
Frequencies
Mitos PMS
Valid
Tidak percaya
Percaya
Total
Frequency
35
49
84
Percent
41,7
58,3
100,0
Cumulative
Percent
41,7
100,0
Valid Percent
41,7
58,3
100,0
Crosstabs
Case Processing Summary
N
Mitos PMS *
Perilaku seksual
Valid
Percent
84
Cases
Missing
N
Percent
100,0%
0
,0%
Total
N
Percent
84
100,0%
Mitos PMS * Perilaku seksual Crosstabulation
Mitos
PMS
Tidak percaya
Percaya
Total
Count
Expected Count
% within Mitos PMS
% within Perilaku seksual
% of Total
Count
Expected Count
% within Mitos PMS
% within Perilaku seksual
% of Total
Count
Expected Count
% within Mitos PMS
% within Perilaku seksual
% of Total
Perilaku seksual
Buruk
Sedang
10
14
5,8
15,4
28,6%
40,0%
71,4%
37,8%
11,9%
16,7%
4
23
8,2
21,6
8,2%
46,9%
28,6%
62,2%
4,8%
27,4%
14
37
14,0
37,0
16,7%
44,0%
100,0%
100,0%
16,7%
44,0%
Baik
Total
11
13,8
31,4%
33,3%
13,1%
22
19,3
44,9%
66,7%
26,2%
33
33,0
39,3%
100,0%
39,3%
35
35,0
100,0%
41,7%
41,7%
49
49,0
100,0%
58,3%
58,3%
84
84,0
100,0%
100,0%
100,0%
Lampiran 5. Print Out Hasil Analisis Data
Chi-Square Tests
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases
Value
6,268a
6,261
4,554
2
2
Asymp. Sig.
(2-sided)
,044
,044
1
,033
df
84
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The
minimum expected count is 5,83.
Symmetric Measures
Nominal by Nominal
N of Valid Cases
Contingency Coefficient
Value
,264
84
Approx. Sig.
,044
a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
Lampiran 5. Print Out Hasil Analisis Data
Mitos terjadinya kehamilan
Frequencies
Mitos terjadinya kehamilan
Valid
Frequency
34
50
84
Tidak percaya
Percaya
Total
Percent
40,5
59,5
100,0
Valid Percent
40,5
59,5
100,0
Cumulative
Percent
40,5
100,0
Crosstabs
Case Processing Summary
N
Mitos terjadinya
kehamilan *
Perilaku seksual
Valid
Percent
84
Cases
Missing
N
Percent
100,0%
0
Total
N
,0%
Percent
84
100,0%
Baik
Total
Mitos terjadinya kehamilan * Perilaku seksual Crosstabulation
Mitos terjadinya
kehamilan
Tidak percaya
Percaya
Total
Count
Expected Count
% within Mitos terjadinya
kehamilan
% within Perilaku seksual
% of Total
Count
Expected Count
% within Mitos terjadinya
kehamilan
% within Perilaku seksual
% of Total
Count
Expected Count
% within Mitos terjadinya
kehamilan
% within Perilaku seksual
% of Total
Perilaku seksual
Buruk
Sedang
10
14
5,7
15,0
10
13,4
34
34,0
29,4%
41,2%
29,4%
100,0%
71,4%
11,9%
4
8,3
37,8%
16,7%
23
22,0
30,3%
11,9%
23
19,6
40,5%
40,5%
50
50,0
8,0%
46,0%
46,0%
100,0%
28,6%
4,8%
14
14,0
62,2%
27,4%
37
37,0
69,7%
27,4%
33
33,0
59,5%
59,5%
84
84,0
16,7%
44,0%
39,3%
100,0%
100,0%
16,7%
100,0%
44,0%
100,0%
39,3%
100,0%
100,0%
Lampiran 5. Print Out Hasil Analisis Data
Chi-Square Tests
Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases
Value
7,091a
7,064
5,680
2
2
Asymp. Sig.
(2-sided)
,029
,029
1
,017
df
84
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The
minimum expected count is 5,67.
Symmetric Measures
Nominal by Nominal
N of Valid Cases
Contingency Coefficient
Value
,279
84
Approx. Sig.
,029
a. Not assuming the null hypothesis.
b. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.
Lampiran 5. Print Out Hasil Analisis Data
Perilaku seksual
Frequencies
Perilaku seksual
Valid
Buruk
Sedang
Baik
Total
Frequency
14
37
33
84
Percent
16,7
44,0
39,3
100,0
Valid Percent
16,7
44,0
39,3
100,0
Cumulative
Percent
16,7
60,7
100,0
Lampiran 6. Dokumentasi Penelitian
Dokumentasi Penelitian
Gambar responden mengerjakan kuesioner
Gambar peneliti melakukan wawancara terhadap responden
Download