lensa prioritas - usaid prioritas

advertisement
USAID PRIORITAS: Mengutamakan Pembaharuan, Inovasi, dan
Kesempatan bagi Guru,Tenaga Kependidikan, dan Siswa
Edisi 01
Agustus - Oktober 2012
LENSA PRIORITAS
Media Komunikasi dan Penyebarluasan Praktik Pendidikan yang Baik di Jawa Tengah
“Saya mendukung program
USAID PRIORITAS di Jawa
Tengah dan berkomitmen
mengimplementasikan serta
mengembangkannya “
Rektor UNNES
Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo
BERFOKUS PADA
PRAKTIK YANG BAIK
USAID PRIORITAS mengutamakan penyebarluasan
praktik pendidikan yang baik
dalam bidang pendidikan dasar.
Menurut Nurkolis
Koordinator Propinsi Program
USAID PRIORITAS di Jawa
Tengah, “pelaksanaan program
akan berfokus pada penyebarluasan praktik pendidikan yang
baik terutama dalam
kemampuan membaca dan
Matematika di kelas awal SD/
MI, Pendidikan Sains, teknologi
informasi dan komunikasi
untuk pendidikan, pendidikan
inklusi dan kesetaraan, transisi
dari SD/MI ke SMP/MTs,
perlindungan anak, jender dan
budaya sehat. “ katanya.
Lebih lanjut Nurkolis
menambahkan “diperlukan
dukungan kuat dari stakeholder
pendidikan supaya
peningkatan kualitas
pendidikan dasar yang
dilakukan USAID PRIORITAS
dapat tercapai secara
maksimal,” tegasnya.
GONG
PELUNCURAN:
Mendikbud Prof. Dr.
Muhammad Nuh, meresmikan
program USAID PRIORITAS bersama
dengan Duta Besar AS, Bapak Scot Marciel, Sesmenko Kesra, Bapak Indroyono Soesilo, Dirjen
Pendidikan Agama Islam Kemenag Prof. Dr. Nur Syam, dan Direktur USAID Indonesia, Bapak Andrew
Sisson di Auditorium Ditjen Dikti Kemdikbud, Jakarta (3/10).
“Satu orang siswa adalah aset
besar masa depan, bila mampu
menyelamatkannya, itu adalah sebuah
pekerjaan besar. Oleh karenanya
perlu banyak pihak yang terlibat
dalam bidang ini, apalagi kita di
Indonesia yang begitu luas.”
Begitu petikan sambutan Menteri
Pendidikan dan Kebudayan Prof. Dr.
Muhammad Nuh dalam peluncuran Program
USAID PRIORITAS (Prioritizing Reform
Innovation and Opportunities for Reaching
Indonesia'sTeachers,Administrators and Students
atau Mengutamakan pembaharuan, inovasi,
dan kesempatan bagi guru, tenaga kependidikan, dan siswa). Program ini merupakan
bantuan pendidikan lima tahun dari USAID
untuk meningkatkan akses pendidikan dasar
yang berkualitas.
Duta besar Amerika Serikat (AS), Scot
Marciel menyebutkan bahwa program USAID
PRIORITAS merupakan bagian penting dari
kemitraan komprehensif AS - Indonesia, yaitu
komitmen yang ditanda tangani oleh Presiden
Barack Obama dan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono tahun 2010 untuk meningkatkan
kerjasama dan mempererat hubungan antara
kedua negara.
Newsletter LENSA PENDIDIKAN diterbitkan oleh USAID
PRIORITAS-Jawa Tengah, sebagai sarana komunikasi dan
menyebarluaskan praktik pendidikan yang baik untuk
meningkatkan kualitas pendidikan dasar di Jawa Tengah
Scot Marciel menambahkan bahwa
program ini bertujuan untuk meningkatkan
pendidikan di sekolah dasar (SD/MI dan
SMP/MTs). Prioritas utama dari program ini
adalah untuk meningkatkan kualitas guru
dengan pelatihan guru serta bekerjasama
dengan LPTK untuk memperkuat koordinasi
serta peran LPTK dalam pendidikan.“Program
baru USAID di bidang pendidikan dasar akan
membantu sekolah dasar, SMP dan madrasah
mendapatkan akses pendidikan kelas dunia
untuk generasi muda Indonesia”, tutur Scot
Marciel.
Program bantuan senilai US $83,7 juta ini
akan memberikan manfaat kepada lebih dari
300.000 siswa, 200.000 guru di 10 provinsi,
akan menyediakan sumber daya yang
dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas
mengajar dan belajar di 1.400 sekolah dasar,
sekolah menengah pertama, dan madrasah di
110 kabupaten/kota dan bekerjasama dengan
20 LPTK di seluruh Indonesia. Lebih lanjut
program ini juga akan mendeseminasikan
praktik pendidikan yang baik dari program
DBE (Decentralized Basic Education) yang
menjangkau sekitar 4.000 sekolah, 30.000 guru,
tenaga kependidikan, masyarakat, dan 825.000
siswa.
LENSA EDITORIAL
USAID PRIORITAS MITRA PENDIDIKAN DASAR DI JAWA TENGAH
Hampir semua negara saat ini menaruh perhatian
menuntaskan wajib belajar pada jenjang pendidikan dasar,
tentu saja tak terkecuali
Indonesia dan khususnya
di Jawa Tengah, bahkan di
tahun 2013 diharapkan
bisa meningkat menjadi
wajib belajar 12 tahun.
Peningkatan wajib belajar
ini akan mengacu pada tiga
pilar kebijakan pemeNurkolis,
rintah yakni: pemerataan
Koordinator Program USAID
PRIORITAS- Jawa Tengah
dan perluasan akses,
peningkatan mutu, relevansi dan daya saing, serta penguatan tata kelola,
akuntabilitas dan citra publik.
Semangat untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang
dilakukan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah wajib didukung
oleh semua pihak, salah satunya yaitu dari USAID
PRIORITAS. Sejak diluncurkan di Jakarta (3/10) oleh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh dan
Duta Besar Amerika untuk Indonesia Scott Marciel, USAID
PRIORITAS telah menjalin koordinasi dan langkah-langkah
taktis untuk mendukung pengembangan kualitas pendidikan dasar. Koordinasi dilakukan baik secara formal
maupun informal dengan semua pihak stakeholder
pendidikan, baik itu di tingkat provinsi, kabupaten, ataupun
sekolah.
Mengenang pelaksanaan dan dukungan USAID untuk
pendidikan dasar salah satunya melalui program DBE 5
tahun silam, beberapa program yang diusung diantaranya,
yaitu peningkatan life skills siswa, peningkatan kemampuan
berfikir tingkat tinggi, outhentic assessment, cooperatif
learning dan contextual learning.
Program manajemen dan tata kelola berfokus pada
peningkatan kerja sama dan koordinasi LPTK dan LPMP,
perhitungan biaya satuan pendidikan, penguatan manajemen SDM khususnya penempatan dan pengembangan
profesionalisme guru, penguatan kapasitas kepala sekolah
dan pengawas sekolah, penguatan rencana anggaran
program sekolah, pengembangan dan pembaharuan renstra
dan renja sesuai kebutuhan daerah.
Nurkolis menyampaikan “untuk kedepannya program
yang akan diusung difokuskan pada tiga komponen utama
yaitu pada peningkatan kualitas dan relevansi pembelajaran,
peningkatan tata kelola dan manajemen pendidikan di
sekolah dan kabupaten, dan peningkatan dukungan
koordinasi di dalam dan antar sekolah, lembaga pendidikan/
pelatihan guru dan pemerintah disemua jenjang,” tutur pria
yang di daulat menjadi koordinator provinsi program
USAID PRIORITAS di Jawa Tengah ini.
Lebih lanjut, pria berkacamata ini menyampaikan akan
ada materi-materi baru yang di usung diantaranya berfokus
pada kelas awal terutama dalam kemampuan membaca dan
matematika, pendidikan sains (IPA), teknologi informasi
untuk pendidikan, pengelolaan pendidikan inklusi dan
kesetaraan, transisi dari SD/MI ke SMP/MTs, anak-anak
berkebutuhan khusus, perlindungan anak, gender dan
budaya sehat di sekolah.
USAID PRIORITAS juga akan melakukan pelatihan dan
kerja sama dengan para dosen LPTK dan fasilitator daerah
dari guru, kepala sekolah dan pengawas. Kerja sama dengan
kabupaten akan melibatkan 16 SD/MI dan 8 SMP/MTs
terpilih. Pemilihan sekolah mitra dilakukan berdasarkan
instrumen yang dikembangkan USAID dan dinilai secara
kolaboratif dengan Dinas Pendidikan dan Kementerian
Agama Kabupaten.
Target peningkatan kualitas akan berfokus pada kualitas
dan relevansi pembelajaran di sekolah. Hal ini terkait
dengan pelatihan para dosen LPTK yang kedepannya akan
menjadi motor penggerak diseminasi. Selanjutnya akan
dibuat juga semacam konsorsium dengan kampus lain
disekitar Universitas mitra USAID PRIORITAS. Para dosen
di kampus yang menjadi anggota konsorsium diharapkan
akan mengimbaskan program kepada mahasiswa yang
melakukan praktik mengajar (PPL) termasuk ke sekolahsekolah mitra yang ditunjuk Dinas Pendidikan dan
Kementerian Agama ditingkat Kabupaten. Semua kegiatan
di atas diharapkan akan memicu kreativitas dan inovasi di
sekolah, yang pada akhirnya diharapkan akan mengubah
wajah baru pendidikan dasar menjadi lebih baik.*
Bercengkrama. Ibu Mimi Santika USAID Indonesia, Stuart Weston
Direktur Program USAID PRIORITAS, dan Bambang Aryawan Kadinas
Pendidikan Kabupaten Purworejo, sedang mengenang kerjasama praktik
pendidikan yang baik dalam Program DBE-USAID.
Apresiasi. Mendikbud Muhammad Nuh memberikan ucapan selamat
dan pengarahan pada Bupati Purworejo Mahsun Zain, dan Kadinas
Pendidikan Kabupaten Purworejo pada Pameran Praktik yang Baik saat
peluncuran Program USAID PRIORITAS di Jakarta (3/10).
2
LENSA PRIORITAS - Edisi 01, Agustus - Oktober 2012
LENSA UTAMA
13 KABUPATEN DI JAWA TENGAH MENJADI
MITRA USAID PRIORITAS
SETELAH melalui proses penjaringan dan pemilihan
secara demokratis dan partisipatif yang panjang di tingkat
provinsi, terpilih lima kabupaten di Propinsi Jawa Tengah
sebagai mitra USAID PRIORITAS. Lima kabupaten yang
dalam istilah USAID PRIORITAS disebut daerah cohort 1
tersebut adalah Semarang, Batang, Banjarnegara,
Purbalingga, dan Sragen.
Di lain pihak kabupaten yang masuk dalam program
diseminasi program DBE berjumlah 8 kabupaten yaitu
Demak, Jepara, Kudus, Grobogan, Blora, Karang Anyar,
Boyolali, dan Purworejo.
13 Kabupaten yang menjadi mitra USAID PRIORITAS
selama 5 tahun ke depan akan mengalami perlakuan yang
berbeda. Kabupaten cohort 1 akan lebih banyak
mendapatkan fokus pendampingan, penguatan di berbagai
bidang pendidikan khususnya tiga komponen utama yang
menjadi fokus yaitu, peningkatan kualitas pembelajaran,
manajemen dan tata kelola serta koordinasi antar
kelembagaan. Sedangkan untuk 8 kabupaten lama lebih
difokuskan pada desiminasi program yang dulunya pernah di
laksanakan bersama DBE-USAID.
Di lima kabupaten cohort 1 akan dipilih 16 SD/MI dan 8
SMP/MTs dengan pembagian 75% dari sekolah di lingkungan
Dinas Pendidikan dan 25% dari lingkungan Kementrian
Agama yang berasal dari dua kecamatan yang berbeda pada
setiap kabupaten dan memiliki komitmen kuat untuk
Keterangan:
Daerah Mitra Baru
1. Batang
2. Kab Semarang
3. Sragen
4. Banjarnegara
5. Purbalingga
memajukan pendidikan di jajarannya.“komitmen kuat untuk
maju adalah syarat mutlak bagi sekolah untuk menjadi mitra
USAID PRIORITAS”, begitu kata Hari Riyadi Acting Provincial
Coordinator yang menyampaikan perihal seleksi sekolah
mitra ke stakeholder kabupaten. Pemilihan sekolah mitra
dilakukan secara demokratis dan terbuka bersama-sama
dengan Dinas Pendidikan dan Kementrian Agama untuk
memilih sekolah yang menjadi mitra USAID PRIORITAS.
Setelah proses pemilihan sekolah mitra, akan dilakukan
beberapa tes awal melalui program monitoring dan evaluasi
serta pendataan awal. Data ini akan menjadi pijakan pertama
bagi USAID PRIORITAS untuk mengukur peningkatan
kualitas pasca dilakukannya program. Selanjutnya setelah
pendataan awal akan ada pemilihan fasilitator yang
berjumlah 20 orang ditingkat SD/MI dan 20 orang di tingkat
SMP/MTs. Selesai semua proses
tersebut maka diawal 2013
program akan dilaksanakan.
3
1
Peta Mitra USAID PRIORITAS
Provinsi Jawa Tengah
6
7
1
LPTK Mitra:
1. Universitas Negeri Semarang (UNNES)
2. IAIN Walisongo Semarang.
3. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
2
8
9
2
Daerah Mitra Lama
6. Demak
7. Jepara
8. Kudus
9. Grobogan
10. Blora
11. Karang Anyar
12. Boyolali
13. Purworejo
4
12
5
13
4
11
10
3
Dinas Pendidikan Purbalingga Siapkan
Dana di APBD 2013 untuk Pelatihan
USAID PRIORITAS
ISKHAK, M.Pd
Kepala Dinas Pendidikan
Kabupaten Purbalingga
Untuk sosialisasi dan pembicaraan intensif masing-masing kabupaten diwakili:
1) Wakil Bupati Batang, Bapak
Soetadi.
2) Bupati Purbalingga, H. Heru Sujatmoko.
3) Bupati Banjarnegara, Bapak H. Sutedjo S. Utomo.
4) Bupati Sragen, Bapak Agus Fatchurrahman.
5) Bupati Semarang, Bapak H. Mundjirin.
5
“Kami sangat gembira sekali adanya program USAID
PRIORITAS di Kabupaten Purbalingga, dan sebagai bagian
komitmen kerjasama, kami telah mencantumkan anggaran
pelatihan untuk diseminasi awal ke dalam APBD 2013.”
Edisi 01, Agustus - Oktober 2012 - LENSA PRIORITAS
3
LENSA UTAMA
LPTK “KUNCI PENGEMBANGAN DAN PELATIHAN GURU”
Dukungan dari berbagai pihak untuk kelancaran
program USAID PRIORITAS menjadi poin utama dalam
penyebarluasan praktik pendidikan yang baik. Salah satu
caranya yaitu bekerja sama dengan Teacher Training
Institution (TTI) atau LPTK. Tujuan dari kerjasama ini yaitu
untuk meningkatkan kapasitas dalam melaksanakan
pendidikan dan pelatihan bagi guru pra dan dalam jabatan,
serta membantu kabupaten mitra untuk meningkatkan
kualitas tata kelola dan manajemen pendidikan.
“Sinergisitas antara USAID PRIORITAS dan perguruan
tinggi (LPTK) perlu dibangun untuk meningkatkan kualitas
pendidikan dan pelatihan guru, kerjasama ini merupakan
kunci untuk pengembangan kualitas pendidikan yang
dibangun oleh USAID PRIORITAS 5 tahun ke depan,” tutur
Ajar Budi Kuncoro, Teacher Training Institute Specialist USAID
PRIORITAS.
Kegiatan utama antara USAID PRIORITAS dengan LPTK
diantaranya:
1. Melakukan pelatihan staf pendidikan di LPTK dalam
memanfaatkan bahan-bahan pelatihan yang dikembangkan oleh program USAID PRIORITAS untuk mendukung program pendidikan yang ber-kualitas baik pra
maupun dalam jabatan.
2. Mendukung pengembangan kurikulum pendidikan/
pelatihan guru pra dan dalam jabatan serta keter-sediaan
bahan, sumber, dan fasilitas pendidikan/ pelatihan guru.
3. Membangun kemitraan antara LPTK dan sekolah untuk
menyediakan pengalaman praktik yang baik bagi
mahasiswa calon guru.
4. Mendukung LPTK untuk mengembangkan peran-nya
dalam menyediakan pelatihan guru dalam jabatan bagi
kabupaten.
Setelah melalui proses seleksi secara demokratif dan
kolaboratif serta memperhatikan ketersebaran secara
geografis, akhirnya terpilih 3 Universitas mitra, yaitu
Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Negeri
Yogyakarta (UNY), dan Institute Agama Islam Negeri (IAIN)
Walisongo.
Tiga Universitas tersebut di atas akan melakukan
koordinasi, yang pada akhirnya akan membuat
konsorsium/training center dengan Universitas lain disekitar
kampus tersebut. Dari konsorsium ini diharapkan
diseminasi program akan dilakukan, baik itu melalui dosen
pada waktu pembelajaran, PPL atau bentuk-bentuk kegiatan
lain yang dilakukan oleh Universitas bersama-sama dengan
USAID PRIORITAS. Para dosen di Universitas tersebut
juga akan dilatih serangkaian materi yang diusung oleh
USAID PRIORITAS diantaranya berfokus pada kelas awal,
pendidikan sains (IPA), teknologi informasi untuk
pendidikan, pendidikan inklusi, perlindungan anak, gender
dan budaya sehat di sekolah.*
Flash News
Tim USAID PRIORITAS diwakili oleh Ajar Budi Kuncoro berdialog dan
berdiskusi dengan Rektor Universitas Negeri Semarang (UNNES) Prof. Dr.
Sudijono Sastroatmodjo. Rektor menyambut baik USAID PRIORITAS dan siap
bekerjasama secara maksimal
Rektor IAIN Walisongo Prof. Dr. H. Muhibbin, M.Ag, bertemu dengan TIM USAID
PRIORITAS dan menyatakan komitmennya untuk menjadi mitra USAID PRIORITAS.
Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A,
menyatakan komitmennya untuk menjadi mitra USAID PRIORITAS.
Nurkolis dan Ajar Budi Kuncoro (USAID
PRIORITAS) berkoordinasi dengan Rektor
Universitas Kristen Satya Wacana beserta staf
(foto kiri) dan Rektor Universitas Muhamma‐
diyah Surakarta beserta staf (foto kanan).
4
LENSA PRIORITAS - Edisi 01, Agustus - Oktober 2012
LENSA UTAMA
SINERGIKAN KEBUTUHAN PROVINSI
MELALUI FGD
FGD KABUPATEN:
AJANG PENGENALAN PROGRAM
“Terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan
oleh Dinas Pendidikan di Provinsi, sehingga butuh
partner untuk mensinergikan kebutuhan provinsi
dan keinginan dari pengguna pendidikan di
daerah.”
Keterbukaan Menjadi Prinsip Utama dalam FGD dan Interview Studi
Kebutuhan dan Peran di 5 Kabupaten Mitra USAID PRIORITAS (13-21/9).
Semarang. Tim USAID PRIORITAS melakukan Focus Group
Discussion (FGD) dan Interview dengan Stakeholder di Provinsi Jawa
Tengah dari Unsur Dinas Pendidikan (gambar atas), Bappeda (gambar
bawah kiri) dan Dewan Pendidikan (gambar bawah kanan).
Suasana santai mewarnai pertemuan hangat antara tim
USAID PRIORITAS dengan perwakilan dari Dinas
Pendidikan, Dewan Pendidikan, Badan Perencanaan Daerah,
dan Kemetrian Agama Provinsi Jawa Tengah dalam kegiatan
studi assasement dan kebutuhan tingkat propinsi (6/9).
Pertemuan ini merupakan langkah penting untuk kerjasama
5 tahun ke depan.
Handoko Widagdo, Whole School Development Specialist
yang hadir pada acara menilai esensi dari pertemuan ini
telah didapatkan.“kebutuhan, harapan, dan gambaran secara
umum dari stakeholder provinsi tentang pendidikan di Jawa
Tengah telah diketahui, selanjutnya tinggal di kabupaten
saja.” tuturnya.
Dukungan dan kerjasama secara terbuka dari Propinsi
Jawa Tengah pada program disampaikan oleh Indiarto Edi C.,
Kasubag Program Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah,
“Hasil studi kebutuhan dan peran ini merupakan bagian
penting dari kerjasama, pihak Provinsi akan mendukung
sesuai kemampuan yang ada di provinsi”, paparnya.
Lebih lanjut Prof. Dr. H. AT Soegito, S.H., M.M. ketua
Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah menambahkan
“Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Dinas
Pendidikan di Propinsi, sehingga butuh partner untuk
mensinergikan kebutuhan propinsi dan keinginan dari
pengguna pendidikan di daerah. Partner ini salah
satunya bisa di isi oleh USAID PRIORITAS.” paparnya.
Daerah baru, suasana baru, dan teman baru. Rangkaian kata
tersebut cocok bila di pakai untuk menggambarkan suasana
kegiatan FGD dan interview di 5 kabupaten Mitra USAID
PRIORITAS. Bagaimana tidak, 5 kabupaten ini merupakan
daerah baru yang disentuh program, sehingga para
stakeholder pendidikan juga baru mengenal program. Karena
setiap kabupaten idealnya diwakili unsur-unsur dari Dinas
Pendidikan, Kemenag, Bappeda, Dewan Pendidikan,
UPTD/Cabang Dinas, Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru,
maka dikesempatan ini tim USAID PRIORITAS berinisiatif
untuk menyosialisasikan program lebih dini, harapannya
akan ada keterbukaan dan silaturrahim yang baik untuk
mengawali kerjasama.
“Tak kenal maka tak sayang, kiranya pepatah ini sesuai
dengan pola kerja pada kegiatan ini”, tukas Hari Riyadi,
Management and Governance USAID PRIORITAS. lebih
lanjut Hari menjelaskan “... oleh karenanya kita mengawali
kerjasama dengan pengenalan yang baik tentang program,
tujuan serta target-target yang akan dicapai bersama 5
tahun kedepan, dengan cara ini informasi yang diharapkan
semakin bisa otentik, karena responden tahu alasan kenapa
mereka harus menjawab sesuai dengan data dan kondisi riil
di lapangan.” ungkapnya. *
“Mudah-mudahan USAID PRIORITAS
menambah daya dorong dan daya dobrak untuk
memajukan Madrasah, baik sumber daya
manusia maupun tata kelolanya sehingga
Madrasah lebih eksis di masyarakat”
Drs. H. Farhani, SH, MM (Kepala Kantor Kementrian
Agama Kabupaten Banjarnegara)
“Tujuan kerjasama ini diharapkan akan mampu
mengangkat kualitas pendidikan dasar baik dari
sisi siswa maupun SDM yang menjalankannya”
Drs. Muhdi (Kepala Dinas Pendidikan,
Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banjarnegara)
Edisi 01, Agustus - Oktober 2012 - LENSA PRIORITAS
5
LENSA PROFIL
DISEMINASI DBE MENGALIR DERAS
DI PURWOREJO
aspek pendidikan, menggairahkannya sehingga memunculkan
inovasi dan kreativitas yang tidak terduga. Salah satunya di
SMP N 19 Purworejo, Yuli Eko Sarwono, guru matematika
“Mengalir apa adanya”, inilah moto Bambang Aryawan. dengan kreativitasnya menciptakan laboratorium
Sosok yang didaulat menjadi ujung tombak pengembangan matematika dengan memanfaatkan barang bekas. Bahkan
pendidikan dan kebudayaan di kabupaten Purworejo sejak dengan ketelatenannya dia mampu memenuhi ruang yang
2008 silam. Lelaki berperawakan tegas ini menyatakan dirinya berukuran 8x7m2 sehingga penuh dengan hasil kreativitas
siap secara total untuk mengubah wajah pendidikan di bersama siswanya.
Kabupaten Purworejo. Karena tekad kuatnya itu, Bambang
Selain Eko dengan laboratorium matematikanya, masih
menyambut gembira hadirnya program Desentralized Basic banyak guru yang berinovasi di bawah arahan Daryanto,
Education (DBE)-USAID tahun 2006 silam. “Banyak kepala sekolah SMP Negeri 19 Purworejo. Daryanto
pencapaian bersama DBE”, kenangnya. “Mulai dari sisi menyebutkan “masih ada beberapa keunikan yang ada di SMP
manajemen di Dinas Pendidikan,
kami, diantaranya yaitu Laboratorium
“Program DBE-USAID
pembuatan Renstra, Renja, BOSP,
Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS), dan
mempersatukan guru, kepala
pemerataan guru, inovasi pembelaLaboratorium Pancasila”. Tiga
sekolah, dan pengawas menjadi
jaran, dan peningkatan kualitas
Laboratorium
tersebut merupakan hasil
berdaya dan pada akhirnya
pembelajaran dengan model
kerja keras dari guru yang berkolaborasi
kapasitas sekolah menjadi
PAKEM.” lanjutnya.
dengan
siswa, dan sering menjadi rujukan
maksimal.”
Peran DBE-USAID di Kabupaten
di Provinsi Jawa Tengah sebagai perPurworejo bila dilihat dari tiga
contohan. Namun demikian terang
Bambang Aryawan
program kerja pemerintah, maka
Daryanto,
”Fokus pada penggunaan
Kadinas Pendidikan
akan menghasilkan beberapa hal
dan Kebudayaan
barang-barang bekas dan pengembangan
Kabupaten Purworejo karakter kebangsaan merupakan ruh
diantaranya:
Pemerataan dan Perluasan Akses
pengembangan inovasi pembelajaran di
- daya tampung sekolah melebihi
SMP Negeri 19.” tegasnya.
kebutuhan rasio jumlah siswa dan ruang belajar sudah
Pengembangan pendidikan dan dampaknya yang begitu
sesuai standar kelayakan
memuaskan setelah adanya program DBE membuat
- pemerataan guru yang proporsional sehingga tidak Bambang semakin mantab untuk mendukung diseminasi
memerlukan pengangkatan selama 4 tahun ke depan program-program dari USAID yaitu USAID PRIORITAS 5
melalui program regrouping dan multy grade teacher untuk tahun ke depan. “harapan saya, USAID PRIORITAS akan
derah terpencil.
menjadi mitra yang mengalirkan inovasi pembelajaran secara
Peningkatan Mutu dan Relevansi
deras untuk kemajuan pendidikan di Kabupaten Purworejo,”
- peningkatan kapasitas pengawas, kepala sekolah, dan guru mengakhiri pembicaraannya.*
dengan pelatihan PAKEM dan kapasitas lain,
- pelatihan kepala sekolah, komite, dan guru secara
bersamaan sehingga program bisa langsung berjalan
Laboratorium.
Matematika di SMPN 19
sebagai hasil tindak lanjut,
Purworejo
- pendampingan tindak lanjut PAKEM oleh pangawas yang
menjadi fasilitator,
- melakukan replikasi DBE dari 2 kecamatan dan 1 gugus
menjadi seluruh sekolah di Purworejo. Hasil replikasi
dirasakan dengan peningkatan kualitas pembelajaran.
Pencitraan Publik
- adanya program khusus “anak beriman dan berkepriLaboratorium Pancasila di
badian”. Program bagi siswa muslim lulus dari pendidi-kan
SMPN 19 Purworejo
dasar mampu membaca tulis Al-qur'an dan sholat dengan
benar,
- munculnya guru dan siswa berprestasi di tingkat nasional
ataupun provinsi
Bambang menegaskan bahwa DBE USAID “mempersatukan guru, kepsek, dan pengawas menjadi berdaya dan
pada akhirnya kapasitas sekolah menjadi maksimal.”
Pengembangan Laboratorium Pendidikan
Dampak program DBE di Purworejo menyentuh seluruh
6
LENSA PRIORITAS - Edisi 01, Agustus - Oktober 2012
Laboratorium IPS SMPN 19
Purworejo
LENSA PRAKTIK YANG BAIK
Kemiringan Garis (Gradient)
di Balik Fenomena Mistik Jelangkung
Misteri “Jelangkung” Dimanfaatkan Yuli Eko Sarwono,
Guru SMP Negeri 19 Purworejo Jawa Tengah sebagai
Media Pembelajaran Matematika untuk Mempelajari
Kemiringan Garis.
Proses pembelajaran dengan media
Jelangkung dilakukan menggunakan
kayu atau bambu yang disilangkan dan
diberikan batok kelapa sebagai kepala
dari Jelangkung sehingga mirip seperti
Jelangkung pada zaman dahulu. Kayu
yang disilangkan digunakan sebagai
bidang koordinat, pada sumbu Y dibuat
kepala dan pada sumbu X dikenakan
baju sehingga menyerupai Jelangkung.
Pembelajaran diawali dengan
menyiapkan alat bantu mengajar
berbentuk Jaelangkung sebagai bidang
koordinat, selanjutnya guru bersama
peserta didik mencari tempat di
halaman sekolah yang teduh. Setelah
sesuai tempatnya guru memberikan
cerita tentang historis Jelangkung
sehingga siswa paham kegunaan
Jaelangkung pada masa lalu, kemudian
guru merangsang dan menjelaskan
relevansi media inovasi dengan
matematika serta menjelaskan
kompetensi dasar yang akan diajarkan
yaitu menghitung kemiringan garis.
Setelah siswa memahami tujuan
pembelajaran, guru membagi siswa
dalam beberapa kelompok, membimbing siswa yang berkelompok untuk
mendiskusikan tentang materi gradient
dan menuliskannya di lembar kerja
siswa dengan menggunakan lidi kecil
berbentuk jaelangkung. Setiap kelompok membuat soal tentang gradient,
kemudian diberikan kepada kelompok
lain untuk menyelesaikannya. Setelah
selesai dikerjakan, setiap kelompok
mempresentasikan hasil dari pekerjaannya. Guru bersama peserta didik
menyimpulkan hasil pekerjaan siswa
dan memberi penekanan hasil. Setelah
selesai melaksanakan simpulan dan
Lokasi
: SMPN 19 Purworejo Jl. Magelang Km 12 Purworejo
Tingkat
: SMP/MTs
Lingkup
: kelas
Masalah
: Selama ini siswa sering mengalami kesulitan dalam
menjelaskan, mengaplikasikan, dan menghitung kemiringan garis,
Media pembelajaran di sekolah yang masih monoton sehingga
perlu adanya media pembelajaran inovatif yang berbeda serta
merangsang keingintahuan Siswa
Banyak berkembangnya film Jaelangkung dan cerita mistis
dikalangan siswa sehingga perlu adanya media pembelajaran
inovatif yang mampu memberikan pengetahuan tentang warisan
kebudayaan daerah kepada siswa sehingga pada akhirnya mampu
memberikan penyikapan yang benar.
Tujuan
: Siswa mampu mendefinisikan nilai gradient
Siswa mampu memahami gradient atau kemiringan garis serta
mampu menghitung nilai gradient/kemiringan suatu benda
Siswa mengetahui dan mampu menyikapi dengan benar
fenomena budaya daerah khususnya permainan Jaelangkung
sebagai bagian dari program pengenalan warisan budaya bangsa.
Strategi
:  Guru menyiapkan alat bantu mengajar berbentuk Jaelangkung
sebagai bidang koordinat.
 Guru bersama peserta didik berada di luar kelas, atau di
halaman sekolah yang teduh.
 Guru menjelaskan kompetensi dasar yaitu menghitung
gradient.
 Siswa berkelompok mendiskusikan tentang materi gradient
dan menuliskan di lembar kerja siswa dengan menggunakan
lidi kecil berbentuk Jaelangkung.
penekanan hasil, guru memberikan
reward kepada kelompok yang berhasil
mengerjakan soal disesuaikan dengan
tingkat kebenaran pengerjaan soal.
Dampak praktik pembelajaran
dengan media Jaelangkung setelah
melakukan evaluasi secara sederhana
dapat diketahui bahwa siswa meningkat
pemahamannya tentang gradient dan
mampu mengasumsikannya dengan
media-media yang lain. Lebih lanjut
terdapat peningkatan nilai ketuntasan
belajar siswa dalam Kompetensi Dasar
menghitung gradient dengan rata-rata
sebesar 80%, dan terakhir semakin
pahamnya siswa terhadap nilai dan
karakter budaya daerah yang pada
akhirnya siswa akan secara berimbang
dan mampu memberikan penyikapan
dengan benar tentang permainan
budaya tersebut
Strategi
Lanjutan
:  Setiap kelompok membuat soal, kemudian diberikan
kepada kelompok lain untuk menyelesaikannya.
 Setelah selesai dikerjakan, setiap kelompok
mempresentasikan hasil dari pekerjaannya.
 Guru bersama peserta didik menyimpulkan hasil pekerjaan
siswa dan memberi penekanan hasil.
 Guru memberikan reward kepada kelompok yang berhasil
mengerjakan soal disesuaikan dengan tingkat kebenaran
pengerjaan soal.
Hasil
:  Meningkatnya pemahaman siswa dengan gradient dan
mengasumsikannya dengan media-media yang lain.
 Meningkatnya nilai ketuntasan belajar siswa Kompetensi
Dasar menjadi 80%
 Semakin pahamnya nilai dan karakter budaya daerah yang
pada akhirnya mampu memberikan penyikapan tentang
budaya tersebut dengan benar
Pelaku
: Pelaku:Yuli Eko Sarwono, Guru SMPN 19 Purworejo
Edisi 01, Agustus - Oktober 2012 - LENSA PRIORITAS
7
LENSA SERBA-SERBI
staf
jawa tengah
“KECANDUAN”
BTL3 DI KARANGANYAR
Karanganyar, 80 orang guru berlatih untuk
menguasai pertanyaan tingkat tinggi.
Program DBE 3 di Jawa Tengah telah berakhir, namun
dampaknya kian menjadi. Hal inilah yang terjadi di
Karanganyar, salah satu mitra DBE 3 lima tahun silam.
Sesuai dengan komitmen dari pemerintah daerah dan Dinas
Pendidikan Kabupaten Karanganyar untuk tetap
mendiseminasikan program DBE yaitu Better Teaching and
Learning (BTL) dilaksanakanlah pelatihan BTL3 (13-15/10)
bertempat di aula Dinas Pendidikan Kabupaten
Karanganyar.
Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari, hari pertama dan
kedua, peserta dipandu oleh fasilitator untuk memetakan
kurikulum, menyusun pertanyaan tingkat tinggi, membuat
Lembar Kerja Siswa, penilaian kelas, dan jurnal refleksi. Di
hari ketiga, peserta melaksanakan real teaching di SMP N 4
dan 5 Karanganyar dengan teknis pelaksanaan sebagian
guru yang menjadi peserta menjadi pengajar dan sebagian
lainnya mengobservasi.
Sebagai mitra DBE, Dinas Pendidikan Karanganyar
memahami pen ng materi‐materi pela han yang
dikenalkan oleh DBE untuk tetap disebarluaskan dan
dikembangkan di lingkungan guru. Hingga 2012, semua
guru SMP di Karanganyar semua sudah dila h BTL2.
Setelah dila h dengan BTL2 dan merasa mampu, guru
meminta agar dilaksanakan lanjutan dari BTL2 yaitu BTL3,
karena “…fakta di lapangan, guru sangat termo vasi
setelah mengiku pela han BTL”, demikian penegasan
Kepala Seksi Kurikulum Dikmen Dinas Pendidikan Karang‐
anyar, Sutrisno, M.Hum.
Hal ini dibenarkan oleh Suprap , Am.Pd, guru IPS dari
SMP N 1 Satu Atap Balong Jenang Karanganyar. Pengakuan
Suprap yang kini telah berumur 58 tahun menyatakan
bahwa pela han BTL3 yang diiku nya sangat mudah untuk
dipahami, meski terkesan terlalu cepat. “Saya yakin, model
pembelajaran yang dikenalkan di BTL3 akan merepotkan
LENSA PENDIDIKAN
Edisi 01, Agustus - Oktober 2012
Diseminasi BTL. Replikasi DBE Berlangsung Antusias di Karanganyar
(13-15/12), Guru Termotivasi untuk Mengaplikasikannya Di Kelas.
foto:SHS/USAID PRIORITAS
guru di depan, tetapi akan sangat membantu di dalam
proses pembelajaran berikutnya, bahkan tahun‐tahun
berikutnya”, papar Suprap . Sementara Sumiya , S.Pd, guru
IPS SMP N 3 Ja puro mengaku baru sekali ini ikut pela han
seper BTL3, “saya sangat termo vasi”, tegas Sumiya .
Sutrisno menambahkan, khusus untuk mendiseminasi‐
kan BTL3 sehingga mampu membuming di Karanganyar,
Dinas Pendidikan Kabupaten Karanganyar telah menyiap‐
kan dana replikasi pelatihan dua angkatan sejumlah total
Rp.50 juta. “Dana ini nantinya akan digunakan secara penuh
untuk mendukung pelaksanaan diseminasi dari program
DBE-USAID”, terang Kepala Seksi Dinas Pendidikan
Kabupaten Karanganyar ini.*
Direktur dan Staf USAID PRIORITAS-Jawa Tengah
Penanggung Jawab:
Nurkolis
Editor:
Anang Ainur Roziqin
Tim Redaksi:
Ajar Budi Kuncoro, Hari Riyadi, Dyah Karyati,
R. Ahmad Sarjita, Saiful H. Shodiq, Wahyu Daryono
Alamat:
Perum. Candi Asri, Jl. Candi Makmur No.2A Karanganyar
Gunung, Candisari, Semarang.
Email: [email protected]
USAID PRIORITAS:
Prioritizing Reform, Innovation, and Opportunities for Reaching
Indonesia’s Teachers, Administrators, and Students
Download