evaluasi penyampaian pesan dalam komunikasi

advertisement
EVALUASI PENYAMPAIAN PESAN DALAM KOMUNIKASI
Primardiana H. Wijayati
Jurusan Sastra Jerman Fak. Sastra Universitas Negeri Malang
Abstract: Communication is a sender-receiver process of transferring information
(message, idea, concept) to influence each other. A communication is comprehensive when receiver could perceive, absorb, encode, explain and get influenced by
sent-message. Daily communication often goes eschewed when the communicator s
delivered-sense and the communicant received-sense diverge. The four aspects describing communicator delivery and communicant reception are the factual issues,
the self manifestation of the communicator, the relationship between the communicator and the communicant, and the appeals of the communicator to the communicant..
Key words: communication, message, factual issues, relationship, self manifestation, appeals, culture.
Komunikasi merupakan kebutuhan dasar
hidup manusia. Melalui komunikasi seseorang dapat menetapkan sebuah keputusan,
mengemukakan permasalahan, memecahkan masalah, memberikan informasi, melepaskan ketegangan, memberikan pengetahuan, dan menanamkan keyakinan. Pada
umumnya, komunikasi dilakukan dengan
menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat
dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila
tidak ada bahasa verbal yang dapat
dimengerti oleh keduanya, komunikasi
masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan
sikap tertentu, misalnya tersenyum,
menggelengkan kepala, mengangkat bahu.
Cara seperti ini disebut komunikasi dengan
bahasa nonverbal (Wikipedia, 2008). Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat
dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi,
komunikasi hanya akan efektif apabila
pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan
sama oleh komunikan. Sebuah komunikasi
bukan hanya sekedar pertukaran kata.
Setiap perilaku memiliki potensi komunikasi: tersenyum, merapikan rambut atau
pakaian ketika ada orang lain, menatap,
mengangguk, mengerutkan kening, menutup hidung ketika ada orang merokok di
dekat dan berbagai contoh perilaku lainnya.
Komunikasi merupakan perwujudan dari
ekspresi manusia tentang apa yang dipikirkan dan dirasakannya baik dalam bentuk
verbal maupun nonverbal. Mulyana (2004)
menjelaskan bahwa ada dua prinsip dasar
yang harus dipatuhi oleh para peserta
komunikasi yaitu (1) peserta komunikasi
seyogyanya menggunakan lambang-lambang verbal dan nonverbal yang mereka
kenal dan pahami untuk menyampaikan
maksud atau makna pesan komunikasinya,
158
159 BAHASA DAN SENI, Tahun 37, Nomor 2, Agustus 2009
dan dalam keadaan normal mereka mesti
menafsirkan setiap lambang dengan cara
yang hampir sama pula; (2) dalam konteks
komunikasi atasan-bawahan, atasan lebih
berkewajiban untuk menyesuaikan diri
dengan gaya komunikasi bawahan daripada
sebaliknya. Jika Anda seorang berpendidikan berbicara dengan tukang becak atau
tukang sayur, Andalah yang harus
mengubah gaya komunikasi Anda dan
mencoba memahami gaya komunikasi
mereka, bukan justru meminta mereka
untuk menyesuaikan diri dengan gaya
komunikasi Anda. Apabila kedua prinsip
tersebut tidak terpenuhi, baik salah satu
ataupun keduanya, maka komunikasi akan
terhambat.
PROSES PENYAMPAIAN PESAN
Komunikasi akan lengkap hanya bila
komunikan mempersepsi atau menyerap
perilaku yang disandi, memberi makna
kepadanya dan terpengaruh olehnya (Porter
dan Samovar, dalam Mulyana dan Rakhmat,
2000: 14). Secara ringkas, proses berlangsungnya komunikasi bisa dijelaskan seperti
berikut.
1. Komunikator (sender) yang mempunyai
maksud berkomunikasi dengan orang
lain mengirimkan suatu pesan kepada
orang yang dimaksud. Pesan yang
disampaikan itu bisa berupa informasi
dalam bentuk bahasa ataupun lewat
simbol-simbol yang bisa dimengerti
kedua pihak.
2. Pesan (message) itu disampaikan atau
dibawa melalui suatu media atau saluran
baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya berbicara langsung
melalui telepon, surat, e-mail, atau media
lainnya.
3. Komunikan (receiver) menerima pesan
yang disampaikan dan menerjemahkan
isi pesan yang diterimanya ke dalam
bahasa yang dimengerti oleh komunikan
itu sendiri.
4. Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas
pesan yang dikirimkan kepadanya,
apakah dia mengerti atau memahami
pesan
yang
dimaksud
oleh
si
komunikator (Wikipedia, 2008).
Pada kenyataannya dalam komunikasi
sehari-hari sering terjadi ketidaksinkronan
antara maksud yang hendak disampaikan
oleh seorang komunikator dengan pesan
yang diterima oleh komunikan sebagai
partner komunikasi. Apabila maksud yang
dikomunikasikan tidak sampai sesuai
dengan yang dimaksudkan, hal ini dapat
menimbulkan
kesalahpahaman,
atau
ketegangan antara kedua belah pihak.
Mengapa terjadi kesalahpahaman dalam
berkomunikasi? Faktor apa saja yang
menghambat komunikasi? Berikut ini
berturut-turut akan diuraikan bagaimana
komunikasi berlangsung hingga dapat
menimbulkan kesalahpahaman dan faktorfaktor penghambat komunikasi.
Gangguan komunikasi adalah ketidakmampuan atau gangguan berbicara dengan
orang lain atau ketidakmampuan membina
hubungan emosional seperti pertemanan,
persahabatan lewat surat atau kolegial atau
memeliharanya (Wikipedia, 2008). Bentuk
khusus namun ekstrim dari gangguan
komunikasi adalah mutisme dan diam
secara psikogenik (seseorang yang diam
membisu disebabkan oleh keadaan psikis
tanpa adanya gangguan pada organ berbicara). Gangguan bisa berupa kegaduhan,
penggunaan bahasa asing, tidak konsentrasi,
tidak berminat, masalah pribadi, kesalahan
tekanan ketika melafalkan, kesalahan
pembentukan kalimat, penyakit, kesalahan
materi, dan makna ganda (pesan yang
pertentangan). Gangguan komunikasi terjadi hampir setiap hari di semua aspek kehidupan manusia, baik kehidupan di dunia
kerja maupun kehidupan pribadi. Gangguan
yang lebih ringan dan biasanya tanpa akibat,
misalnya pada hubungan kolegial dan
kelompok, karena pembawaan, cara ber-
Wijayati, Evaluasi Penyampaian Pesan dalam Komunikasi 160
gaul, humor dan bentuk percakapan
seseorang dapat menetralisir reaksi yang
ditunjukkan oleh bahasa tubuh atau reaksi
emosional lawan bicara.
Auernheimer (http://www.uni-koeln.de/ew-fak/paedagogik/interkulturelle/ publikationen/muenchen.html, diakses tanggal 5
Juni 2008), mengungkapkan dua penyebab
gangguan komunikasi, yaitu 1) perbedaan
harapan yang dapat menimbulkan kekecewaan, dan 2) sudut pandang yang berbeda
terhadap tataran isi dan tataran hubungan.
Adapun
Watzlawick
(http://www.uni.koeln.de/phil-fak/ paedsem/psych/medien/lehrertraining/nlp/watzlawikaxiome.
html, diakses tanggal 8 Juli 2008) mengemukakan lima aksioma gangguan komunikasi, yaitu 1) Kemustahilan tidak berkomunikasi, 2) gangguan pada tataran hubungan dan isi, 3) interpungsi terhadap akibat,
4) kesalahan dalam memaknai antara komunikasi digital dan analog, dan 5) gangguan
dalam interaksi yang simetris, sedangkan
Schulz von Thun (2008) membedakannya
ke dalam empat tataran, di samping tataran
isi pokok yang dia sebut sebagai
Sachinhalt
dan
tataran
hubungan
(Beziehung), terdapat dua aspek lain yang
menggambarkan penyampaian dan penerimaan pesan yang disebut dengan
Selbstoffenbarung (tampilan diri) dan
Appell (ajakan). Ke empat tataran tersebut
mesti dimiliki oleh komunikator maupun
komunikan, dengan demikian di dalam
berita yang disampaikan terkandung ke
empat tataran isi pokok berita, tampilan diri
komunikator,
hubungan
komunikator
terhadap komunikan dan ajakan komunikator kepada komunikan. Apabila maksud
komunikator tidak sesuai sampai ke telinga
komunikan, maka akan terjadi gangguan
komunikasi. Sebuah berita dapat mengandung beberapa pesan sekaligus, sedangkan
berita tersebut dapat disampaikan hanya
melalui sebuah kata, misalnya Pergi! ,
melalui sebuah pandangan mata yang
menyiratkan banyak makna atau bahkan
melalui kalimat yang panjang. Proses
pengiriman dan penerimaan berita menurut
Schulz von Thun (2008) digambarkan
secara visual sebagai berikut.
Skema 1: Segi Empat Komunikasi
Schulz meninjau proses pengiriman dan
penyampaian pesan dari aspek psikologis
dan menggambarkannya ke dalam Segi
Empat Komunikasi Empat Mulut dan
Empat Telinga . Menurut pendapatnya
kualitas percakapan tergantung pada fungsi
indra mulut dan indra telinga. Kedua indra
tersebut masing-masing memiliki empat
tataran yang seharusnya sama ketika sebuah
pesan disampaikan oleh komunikator dan
161 BAHASA DAN SENI, Tahun 37, Nomor 2, Agustus 2009
diterima oleh komunikan dan ketika pesan
tersebut sampai pada telinga penerima
terjadi pemaknaan pesan. Pemaknaan atau
interpretasi pesan yang diterima oleh
seseorang dipengaruhi oleh 4 macam telinga
penerima, yaitu telinga tampilan diri
(Selbstoffenbarungsohr), telinga isi pokok/informasi (Sachohr), telinga hubungan
(Beziehungsohr) dan telinga ajakan (Appellohr). Demikian pula sebuah pesan
disampaikan melalui komunikator melalui
Empat Mulut yang mengandung empat
tataran yang sama yaitu tataran isi
pokok/informasi (Sachebene), tataran tampilan
diri
(Selbstkundgabe), tataran
hubungan (Beziehungsseite), dan tataran
ajakan (Appellseite).
Tataran isi pokok (Sachebene)
merupakan titik sentral informasi yang
dapat berupa data, fakta dan keadaan dalam
suatu percakapan. Pada tataran ini berlaku
tiga kriteria yaitu: (1) tentang benar atau
tidak benar atau cocok atau tidak cocok, (2)
relevansi (apakah keadaan yang disampaikan pada tema pembicaraan penting atau
tidak penting), dan (3) apakah informasi
memenuhi kriteria kepadaan (apakah informasi yang disampaikan sudah memadai
untuk tema atau masih banyak hal lain yang
harus dipertimbangkan?). Dengan demikian,
komunikator harus menyampaikan informasi secara jelas dan dapat dipahami.
Komunikan yang membuka telinganya lebar-lebar untuk menerima informasi, harus
menyimak pesan yang disampaikan dengan
seksama tentang data, fakta dan isi dan
harus mengaitkan berbagai kemungkinan
terkait dengan ketiga kriteria tadi. Sisi
positif dari informasi yang diterima oleh
telinga isi pokok adalah informasi didengar
dan diterima apa adanya sesuai fakta,
sedangkan
sisi
negatifnya
adalah
mengabaikan aspek kemanusiaan.
Tataran tampilan diri (Selbstkundgabe) merupakan tampilan diri komunikator baik secara implisit maupun
eksplisit yang ikut serta saat komunikator
menyampaikan pesan. Pada saat yang bersamaan
komunikan
menerima
pesan
sekaligus menangkap tampilan diri komunikator.
Seorang
komunikan
akan
memaknai informasi yang disampaikan dan
memberikan respons terkait dengan tampilan diri si komunikator, misalnya: bagaimana tampilan diri komunikator di mata
saya? Bagaimana cara berbicaranya? Dan
hal-hal lain yang tampak dari tampilan
komunikator. Jika seseorang mengatakan
tentang sesuatu, itu berarti ia juga menyatakan tentang dirinya. Setiap pernyataan
berisi juga sebuah pemaklumatan diri,
sebuah petunjuk apa yang terjadi di dalam
dirinya, bagaimana suasana hatinya, bagaimana posisi saya dan bagaimana peran saya,
baik dikehendaki atau tidak dikehendaki.
Pesan yang sampai di telinga penerima
mempunyai dampak negatif dan positif. Jika
pesan sampai kepada penerima melalui
telinga tampilan diri maka pertanyaan
tentang siapa yang menyampaikan berita
dan bagaimana dia menyampaikan pesan
dapat dijawab. Dampak negatif yang akan
terjadi adalah permakluman, pengamatan
secara psikologis, dan menyimak secara
mekanis, sedangkan dampak positif yang
muncul adalah tetap menunjukkan sikap
tenang pada saat menghadapi kondisi yang
tidak menyenangkan, menyimak dengan
aktif dan menunjukkan empati.
Pada tataran hubungan, jika seseorang
berbicara kepada partner bicara melalui
ungkapan, nada dan mimik, baik disadari
atau tidak sebenarnya ia telah menunjukkan
bagaimana posisinya terhadap partner bicara dan bagaimana penilaiannya terhadap
partner bicara, tentu saja hal ini mengacu
pada situasi percapakan yang sedang berlangsung. Di dalam setiap pernyataan tersirat pula sebuah petunjuk hubungan yang
dapat ditangkap oleh komunikan, apalagi
jika komunikan memiliki pendengaran yang
sensitif. Informasi yang dimaknai oleh
telinga hubungan (Beziehungsohr) menunjukkan bagaimana komunikan memaknai
Wijayati, Evaluasi Penyampaian Pesan dalam Komunikasi 162
informasi yang diterimanya dikaitkan
dengan hubungan antara komunikator
dengan komunikan, apa yang dipikirkan
oleh komunikator tentang komunikan,
bagaimana ia diperlakukan oleh komunikator, bagaimana kesan komunikator
terhadap komunikan dan bagaimana posisi
komunikator terhadap komunikan.
Tataran komunikasi selanjutnya adalah
tataran ajakan. Jika seseorang menyampaikan sebuah pernyataan yang ditujukan
kepada orang lain, sebenarnya ia juga
berniat mempengaruhi orang lain. Secara
terang-terangan atau tersembunyi pada
tataran ini tersimpan keinginan, ajakan,
saran, petunjuk, efek dan sebagainya.
Telinga Ajakan biasanya diikuti oleh
kesiapan untuk menjawab pertanyaan: Apa
yang harus saya lakukan sekarang, pikirkan
dan rasakan?
Berikut ini akan disajikan sebuah
contoh cerita yang terjadi dalam kehidupan
sehari-hari.
Der Mann (= Sender) sagt zu seiner am Steuer sitzenden Frau (= Empfänger): Du, da vorne
ist grün!
Seorang laki-laki (komunikator) berkata kepada istrinya (komunikan) yang duduk di
belakang setir mobil:
Sayang, lampunya sudah hijau!
Pesan apa sajakah yang terkandung di
dalam berita tersebut, pesan apa yang
disembunyikan oleh komunikator (baik
disadari atau tidak) di balik kalimat
tersebut, dan bagaimana komunikan memahami berita tersebut? (kemungkinan jawaban/reaksi apa yang kira-kira muncul dari
sang istri?)
Contoh di atas menggambarkan sebuah
situasi yang menunjukkan bahwa lampu di
traffic light berubah menjadi berwarna
hijau. Ini adalah isi pokok (Sachinhalt) yang
terkandung di dalam situasi tersebut.
Aspek kedua yaitu tentang pesan apa
yang ingin disampaikan oleh komunikator
terkait dengan tampilan diri (Selbstoffenbarung). Di dalam setiap berita tidak hanya
terkandung informasi tentang isi yang
disampaikan, melainkan juga informasi
tentang orang yang mengirimkan berita.
Dari contoh di atas, kita dapat memperoleh
informasi bahwa sang suami mampu
menggunakan bahasa Jerman dan mengenali warna (tidak buta warna). Di samping
itu, dia sedang dalam keadaan terjaga lahir
dan batin. Lebih jauh, mungkin dia sedang
dalam keadaan tergesa-gesa, dan sebagainya. Pendek kata: di dalam setiap berita
tercermin sedikit informasi tentang tampilan
diri komunikator. Makna tampilan diri
digunakan untuk mengaitkan pemaklumatan
diri yang tampak dan yang tersembunyi.
Selanjutnya, dari contoh kalimat di atas
dapat dilihat pula aspek hubungan
komunikator dengan komunikan. Hubungan
(Beziehung) antara komunikator dan
komunikan sering dapat dilihat dari ungkapan yang dipilih, tekanan nada, dan
signal-signal lain yang menyertainya dan
bukan ditunjukkan melalui bahasa. Terkait
dengan tataran hubungan, komunikan
biasanya memiliki telinga yang sensitif
karena ia merasa sedang diperlakukan
dengan baik atau tidak baik. Pada contoh
kalimat sebelumnya, sang suami memberikan isyarat yang dapat dipahami bahwa ia
tidak memercayai istrinya mengemudikan
mobil sehingga ia memberikan aba-aba saat
lampu traffic light berubah menjadi hijau.
Ada kemungkinan sang istri menjawab
dengan kasar: Fährst du oder fahre ich?
(Kamu atau saya yang menyetir?), sebagai
ungkapan pembelaan diri. Hal ini
menunjukkan bahwa sanggahan yang dikemukakan bukan mengacu pada isi berita
(karena sang istri pasti menyetujui bahwa
lampu memang berwarna hijau), melainkan
pada pesan yang terkandung pada tataran
hubungan. Lebih jelasnya, dalam aspek
hubungan terkandung dua jenis pesan.
163 BAHASA DAN SENI, Tahun 37, Nomor 2, Agustus 2009
Pesan pertama bermuara pada pendapat
komunikator tentang komunikan, bagaimana ia memandang komunikan. Pada
contoh tadi, sang suami menganggap bahwa
istrinya memerlukan bantuan. Pesan kedua
berisi informasi hubungan dan pesan, bagaimana komunikator memandang hu-bungan
dirinya dengan komunikan.
Tataran
keempat
adalah
ajakan
(Appell). Tidak ada sebuah kalimat pun
yang hanya diucapkan begitu saja. Hampir
semua berita mempunyai fungsi mempengaruhi penerima. Pada contoh tadi bentuk
perintah yang mungkin terkandung di
dalamnya adalah: Tolong injak gas, agar
kita bisa melaju ketika lampu masih hijau!
Dengan demikian, berita berfungsi juga
untuk mengajak komunikan melakukan atau
meninggalkan sesuatu, memikirkan atau
merasakan sesuatu.
Apabila terdapat perbedaan antara
maksud komunikator dan pemahaman
komunikan yang disebabkan oleh ketidaklengkapan proses penerimaan berita oleh
telinga, maka akan terjadi gangguan
komunikasi. Secara biologis setiap manusia
memiliki dua buah daun telinga, sedangkan
untuk penerimaan berita diperlukan empat
telinga, yaitu telinga yang menangkap isi
(Sachohr), menangkap tampilan diri
komunikator
(Selbstoffenbarungsohr),
menangkap hubungan (Beziehungsohr), dan
telinga yang menangkap pesan ajakan.
Berikut ini adalah beberapa kemungkinan
jawaban yang diberikan oleh si istri sebagai
reaksi dari pesan yang sampai di telinganya.
Fährst du oder fahre ich? (Beziehungsohr)
Kamu atau saya yang menyetir? (Telinga hubungan)
Ja, hier ist eine grüne Welle, das ist sehr praktisch. (Sachohr)
Ya. Lampunya sudah hijau. (Telinga isi pokok)
Ich bin doch nicht farbenblind! (Selbstoffenbarungsohr)
Memang saya buta warna?! (Telinga tampilan diri)
Ja, klar! ... und die Frau gibt sofort Gas (Appellohr)
Ya! ... dan si istri langsung tancap gas. (Telinga ajakan)
CARA MENGATASI KESALAHPAHAMAN DALAM KOMUNIKASI
Untuk mengatasi kesalahpahaman yang
disebabkan oleh ketidaklengkapan telinga
menerima informasi, berikut ini disajikan
).
dua belas tehnik dalam berkomunikasi
dengan kolega (Schulz von Thun, 2008
Skema 2: Cara Berkomunikasi Pada Empat Tataran
Isi Pokok
Bersikap netral
Saling memahami
Menyimak analitis
Tampilan Diri
Ungkapan dengan bentuk
personal saya
Mengutarakan pendapat pribadi
Menjelaskan maksud/tujuan
Komunikasi
Hubungan
Aktif menyimak
Mengutarakan perasaan secara langsung
Memberikan dan menerima masukan
Ajakan
Memberikan argumentasi
yang meyakinkan
Mengajukan pertanyaan
Bersikap fair
Wijayati, Evaluasi Penyampaian Pesan dalam Komunikasi 164
Tataran Isi Pokok
Pada tataran isi pokok sebaiknya seorang komunikan menempatkan isi berita
sebagai titik pokok, dan tidak menempatkan
pesan tersebut sesuai minat pribadi. Agar
kenetralan isi berita tetap terjaga, baik komunikator maupun komunikan harus menempatkan tugas dan kesulitan sebagai milik bersama yang harus diselesaikan secara
sistematis secara bersama-sama pula. Ungkapan dapat lebih dipahami jika komunikator menyampaikan pikiran dan argumennya dengan sistematis. Adapun caranya melalui: (a) gunakan kalimat yang sederhana
dan pendek dengan makna yang mudah dipahami, (b) jelaskan kata-kata asing atau
istilah tertentu jika diperlukan, (c) sampaikan informasi secara runtut, (d) batasi penyampaian berita hanya pada pokok pembicaraan, (e) gunakan bantuan visual seperti
grafik. Di samping itu, informasi dapat diterima dengan baik jika komunikan menyimak berita dengan berpikir analitis. Hal ini
berarti: (a) jangan berfantasi sendiri jika
mendengar kata-kata yang berbunga-bunga,
(b) percakapan harus tetap berpijak pada
pernyataan lawan bicara, (c) argumen yang
kuat harus disampaikan dengan tenang, dan
(d) pemimpin percakapan dapat menemukan alasan yang tidak disampaikan secara
tersirat.
Tataran Hubungan
Suksesnya komunikasi pada tataran hubungan ditentukan oleh keaktifan komunikan dalam menyimak informasi. Percakapan
yang konstruktiv hanya mungkin berlangsung jika komunikan tidak membatasi diri
hanya sebagai pendengar pasif, melainkan
aktiv melakukan langkah-langkah berikut:
(a) berusaha menempatkan diri pada posisi
komunikator, (b) berusaha menangkap maksud komunikator, (c) menahan diri untuk
melakukan penilaian pribadi, memberikan
saran dan reaksi spontan, (d) dengan bahasa
tubuhnya komunikan menunjukkan kepada
komunikator bahwa ia menyimak ungkapan
komunikator dengan sungguh-sungguh, (e)
mengajukan beberapa pertanyaan mendalam
sebagai tanda komunikan mengikuti pembicaraan yang disampaikan oleh komunikator,
dan (f) menyimpulkan pernyataan komunikator atau berusaha mengulang kembali bagian-bagian yang penting. Selain itu, kedua
belah pihak diharapkan dapat menunjukkan
perasaannya secara langsung. Gambaran
perasaan seseorang dapat ditangkap terutama melalui signal-signal nonbahasa. Signal
yang mudah ditangkap adalah perasaan
simpati, antipati dan rasa takut. Di dunia
kerja seringkali diperlukan usaha keras untuk mengungkapkan langsung perasaan terhadap partner bicara. Karena itu diperlukan
latihan yang sesuai untuk bisa mengamati
gerak hati dan menggambarkannya dengan
tepat.
Tataran Tampilan Diri
Pada tataran tampilan diri komunikator
sebaiknya mengungkapkan keyakinan dan
perasaan dalam bentuk ungkapan saya ,
dengan demikian partner bicara akan lebih
mempercayai Anda. Khususnya komunikasi
yang berlangsung saat ada konflik, sangat
penting untuk mengemukakan perasaan
Anda secara terus terang. Adapun langkah
yang harus ditempuh agar konflik tidak
berkepanjangan adalah: (a) kemukakan kalimat dengan ungkapan saya , misalnya:
Saya selalu kesal jika... , (b) hindari
ungkapan dengan menggunakan bentuk
kalimat Anda dan Kamu , misalnya:
Tapi Anda juga selalu datang telat ... , (c)
hindari ungkapan dengan bentuk orang ,
misalnya: Orang tidak dapat menuntut hal
itu dari Bapak XY... , ungkapkan hasil
pengamatan dan keinginan Anda secara
langsung, misalnya: Saya menginginkan
Anda yang mengambil alih pekerjaan itu ...
bukan dengan ungkapan: Seandainya saja
165 BAHASA DAN SENI, Tahun 37, Nomor 2, Agustus 2009
Anda yang mengambil alih pekerjaan itu.
Tehnik selanjutnya untuk keberhasilan
komunikasi adalah mengungkapkan pendapat pribadi. Kebanyakan partner bicara
menganggap bahwa sebaiknya mereka tidak mengutarakan pendapatnya secara terus
terang. Sebagian bersembunyi di balik sikap
otoriter. Sebenarnya di lubuk hati yang
paling seseorang mempunyai keingi-nan
untuk mendengar pendapat koleganya yang
disampaikan dengan jujur. Di samping itu,
sebagian orang dengan sadar cenderung
menyembunyikan maksud dan tujuan yang
sebenarnya. Mereka mengemukakan informasi dalam ungkapan yang tidak jelas.
Justru sesungguhnya percakapan yang
konstruktif bisa tercipta jika harapan dan
keinginan seluruh anggota percakapan
diungkapkan secara jelas.
Tataran Ajakan
Pada tataran ajakan hendaknya pelaku
percakapan memberikan argumentasi yang
meyakinkan. Pada tataran ajakan, komunikasi mempunyai makna mempengaruhi
seseorang. Pada dasarnya terdapat dua
kemungkinan ajakan yang ditujukan kepada
partner bicara (a) ajakan terselubung. Seorang komunikator seringkali dapat
mempengaruhi perilaku komunikan melalui
kata-kata atau informasi tanpa disadari oleh
yang bersangkutan. Pengaruh ini tampak
sekali terutama jika menyangkut perasaan.
Karena itu pengaruh dari ajakan terselubung
tidak pernah dapat dipastikan sebelumnya,
(b) ajakan terang-terangan. Jika seorang
komunikator bertujuan membina hubungan
yang jelas dan jujur dengan komunikan,
maka ia harus menyampaikan harapan dan
keinginannya dengan terus terang. Jika
komunikan berhasil dipengaruhi dan
menunjukkan perubahan sikap, sering muncul rasa heran atau kaget. Jika orang yang
berhasil dipengaruhi menyadari bahwa
perilakunya selama ini menimbulkan
konsekuensi tertentu, maka akan timbul
kesadaran pada dirinya untuk mengubah
sikapnya. Tentu saja perubahan sikap ini
menimbulkan keinginan orang yang
mempengaruhi untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan yang mungkin
diajukan antara lain: Ada masalah apa
sebenarnya? atau Kapan dan di mana
masalah itu muncul? Pertemanan yang
baik hanya dapat terwujud jika partner bicara tidak mempunyai dugaan dikelabui.
Karena itu Anda harus terus menghindari
ajakan terselubung dan menyerukan ajakan
secara terus terang.
Langkah-langkah tersebut dapat diterapkan jika komunikasi yang sedang
dibangun ingin berjalan lancar dan berhasil
tanpa timbul kesalahpahaman di antara
komunikator dan komunikan. Di samping
gangguan komunikasi yang dijelaskan di
atas, pemahaman yang minim terhadap
aspek budaya lawan bicara dapat menjadi
penyebab komunikasi tidak lancar. Mengapa orang harus memahami komunikasi
antarbudaya?
PEMAHAMAN BUDAYA DALAM
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
Di samping mengikuti langkah-langkah
yang disarankan oleh Schulz von Thun pada
setiap tataran seperti yang dikemukakan
pada Skema 2, pemahaman budaya partner
bicara sangat diperlukan untuk memperlancar komunikasi dan menghindari kesalahpahaman.
Menurut para ilmuwan sosial (dalam
Mulyana, 2004) budaya dan komunikasi
mempunyai hubungan timbal balik, seperti
dua sisi dari satu mata uang. Budaya
menjadi bagian dari perilaku komunikasi
dan pada gilirannya komunikasi pun turut
menentukan, memelihara, mengembangkan
atau mewariskan budaya. Setiap bangsa
mendefinisikan konsep kebenaran, rasionalitas, objektivitas, kesopanan, penghinaan,
kebebasan, tanggung jawab atau kebohongan secara berlainan. Sebagai ilustrasi,
Wijayati, Evaluasi Penyampaian Pesan dalam Komunikasi 166
berbohong
untuk
menjaga
harmoni
hubungan sosial lebih dapat diterima dalam
hubungan budaya Timur daripada keterusterangan dalam budaya Barat yang sering
menyinggung perasaan .
Selanjutnya Mulyana mengutarakan
bahwa Jerman, seperti juga negara-negara
di Eropa Barat, Amerika dan Australia,
termasuk
ke
dalam
budaya-budaya
individualistik yang ditandai dengan komunikasi konteks-rendah, yakni komunikasi
yang menekankan rincian, kelugasan,
keterusterangan, dan ketepatan. Cara
berkomunikasi mereka berlawanan dengan
komunikasi konteks-tinggi bangsa Timur
yang samar, tidak langsung, berbelit-belit,
dan tidak tentu ujung pangkalnya (orang
bisa mengobrol berlama-lama tanpa tujuan).
Budaya Jerman sarat dengan spesifikasi,
rincian, jadwal, dan ketepatan waktu dengan
mengabaikan konteks. Bahasa Jerman
bersifat instruktif dan rinci. Hal ini terbukti
dari tulisan yang terpampang di setiap sudut
dan di setiap tempat, bahkan di dalam
kamar mandi, di toilet dan di dapur pun
terpampang instruksi sebagai berikut:
Gambar 1. Instruksi di kamar mandi
Gambar 2. Instruksi di tempat cuci piring
167 BAHASA DAN SENI, Tahun 37, Nomor 2, Agustus 2009
Instruksi tersebut ditujukan untuk semua
pemakai kamar mandi dan dapur berisi
petunjuk pemakaian. Pada gambar pertama
tercantum informasi bahwa pengguna
kamar mandi harus menyemprotkan Biff
yang tersedia di situ setelah selesai mandi
dan setelah itu membilasnya dengan air agar
tidak terjadi pengendapan kapur yang dapat
menyebabkan flek. Informasi yang tertera
pada gambar kedua adalah tentang cara
menggunakan tempat cuci piring. Orang
yang menggunakan tempat cuci piring
tidak boleh membuang sisa makanan di
tempat cuci piring, tidak boleh membuang
minyak goreng bekas, mengecek apakah air
mengalir dengan lancar setelah mencuci
piring, dan jika air tidak mengalir dengan
lancar pemakai harus menggunakan pembersih saluran cuci piring agar semua
kotoran yang menghambat jalannya air bisa
dibersihkan. Adapun petunjuk yang
dipasang di toilet adalah sebagai berikut:
Gambar 4. Instruksi di toilet
Tulisan tersebut bermaksud memberitahukan kepada pengguna toilet bahwa ia
harus menekan tombol untuk air pembersih
selama lima detik. Baik di dalam alat
transportasi, di tempat pembuangan sampah, di tempat parkir, di pemberhentian bis,
pendek kata di semua tempat selalu ada
instruksi yang disampaikan dengan rinci,
sehingga bagi orang asing yang datang ke
Jerman tidak perlu bertanya jika ingin
mengetahui informasi kapan kereta datang
atau berangkat ke sebuah kota, karena informasi itu sudah terpampang dengan jelas dan
rinci, seperti pada gambar berikut
:
Gambar 5. Jadwal perjalanan kereta api
Salah satu faktor yang mempengaruhi
kelugasan bahasa orang Jerman adalah
iklim. Orang-orang yang tinggal di daerah
beriklim dingin, menghabiskan lebih
Wijayati, Evaluasi Penyampaian Pesan dalam Komunikasi 168
banyak waktu untuk berpakaian, menyimpan makanan, dan merencanakan bagaimana menghadapi musim dingin, sementara
orang-orang yang tinggal di wilayah
beriklim hangat, punya akses terhadap satu
sama lainnya sepanjang tahun. Orang
Jerman dikenal pula dengan kedisiplinannya, antre, teliti dan cermat, dan ini
yang membuat bangsa Jerman maju dan
sejahtera.
Etika berbicara dalam konteks bisnis
sangat bervariasi (Lewis, dalam Mulyana,
2004). Misalnya, umumnya orang Jerman
dan orang Swedia adalah pendengar yang
baik. Namun tidak demikian halnya dengan
orang Italia dan orang Spanyol; mereka
malah sering memotong pembicaraan,
dengan bahasa tubuh dan isyarat tangan
yang hidup dan terkesan berlebihan. Di
Jepang dan Finlandia, diam adalah suatu
bagian integral dalam percakapan; jeda
dianggap sebagai istirahat, ramah, dan
pantas. Karena itu orang Jepang tidak
menyukai orang Amerika yang argumentatif, sementara orang Amerika sulit
memahami orang Jepang yang pendiam.
Orang Yunani menganggap negosiasi bisnis
tidak terpisah dari interaksi sosial. Mereka
akan berbicara dengan rekan bisnisnya
mengenai masalah-masalah pribadi dan halhal lain yang tidak ada berkaitan dengan
bisnis sebelum perundingan dimulai.
Mereka tidak menjadwalkan waktu untuk
bertemu dengan menyisihkan waktu untuk
melakukan perjanjian lainnya. Di Yunani,
seorang eksekutif menganggap bahwa orang
yang mengabaikan rincian sebagai tidak
dapat dipercaya, sementara para eksekutif
top di Amerika atau Kanada hanya perlu
menyepakati pokok-pokok perundingan,
dan menyerahkan rincian-rinicannya kepada
bawahan mereka. Di Inggris, dalam presentasi bisnis lelucon sering digunakan untuk
menyegarkan suasana. Namun lelucon tidak
biasa disisipkan dalam presentasi bisnis
orang Jerman atau orang Jepang. Anda bisa
dianggap tidak serius bila mengemukakan
lelucon di hadapan mereka.
Di Jerman, memotong kentang dengan
pisau tidaklah lazim. Memotong kentang
dengan garpu menunjukkan bahwa seseorang semasa kecil mendapatkan pendidikan etika sehingga tahu etika makan.
Barangsiapa memotong kentang dengan
pisau, berarti ia tidak dididik dan tidak tahu
etika. Tentu saja aturan etika seperti ini
tidak dipahami oleh orang asing. Jika
seorang Inggris sedang berada di Jerman
dan suatu ketika memotong kentang
menggunakan pisau, maka tanpa disadarinya ia akan dicap tidak mengenal etika.
Padahal memotong kentang dengan garpu
bagi orang Inggris dianggap tidak tahu
etika, karena di Inggris garpu tidak pernah
digunakan untuk memotong. Di Jerman,
secara hukum dilarang menyeberangi jalan
ketika lampu masih berwarna merah, karena
itu orang Jerman tetap berdiri dengan sabar
di traffic light yang berwarna merah sampai
berubah menjadi hijau, meskipun tidak ada
satu pun kendaraan yang lewat. Di Inggris,
Belanda, Spanyol atau negara-negara lainnya yang tidak menerapkan aturan hukum
seperti ini, tentu saja perilaku seperti ini
bisa mengherankan. Mulyana (2004)
menguraikan lebih lanjut konsep individu
dan kolektif berlaku juga pada kelompok
paling kecil masyarakat yakni keluarga. Di
negara-negara individualistis orang tua
mendidik anaknya untuk mandiri, seperti di
Inggris dan Amerika yang menerapkan
undang-undang bahwa anak-anak keluar
dari rumah paling lambat ketika akan
memasuki kuliah. Di Spanyol dan Italia
tidak ada aturan seperti itu; banyak orang
yang sudah beranjak dewasa tetap tinggal
bersama orang tuanya, bahkan sampai
menikah. Keluarga pada masyarakat yang
berorientasi kelompok berperan lebih
penting bahkan hingga mereka membentuk
keluarga baru, daripada pada masyarakat
yang berorientasi individu. Di Amerika,
169 BAHASA DAN SENI, Tahun 37, Nomor 2, Agustus 2009
Inggris, Jerman dan Belanda sangat jarang
ditemui keluarga besar .
Mengenali bagaimana proses penyampaian pesan ditinjau dari aspek psikologis
dan budaya sangatlah penting agar tidak
terjadi kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Di samping itu, menerapkan tehnik
berkomunikasi yang baik merupakan salah
satu cara untuk dapat meraih komunikasi
yang sukses. Komunikasi dapat berlangsung
dengan baik hanya apabila pesan yang
disampaikan oleh komunikator dapat
ditafsirkan
sama
oleh
komunikan.
Perbedaan maksud yang terjadi di antara
komunikator dan pemahaman komunikan
dapat menimbulkan gangguan komunikasi.
Hal ini dapat dihindari apabila keempat
telinga - yaitu telinga yang menangkap isi
(Sachohr), menangkap tampilan diri
komunikator
(Selbstoffenbarungsohr),
menangkap hubungan (Beziehungsohr), dan
telinga yang menangkap pesan ajakan berfungsi dengan baik dalam proses
penerimaan berita
DAFTAR RUJUKAN
Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat.
2000.
Komunikasi Antarbudaya.
Panduan Berkomunikasi Dengan Orangorang Berbeda Budaya.
Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Mulyana, Deddy. 2004. Komunikasi
Populer. Kajian komunikasi dan Budaya
Kontemporer. Bandung: Pustaka Bany
Quraisy.
Schulz von Thun, Friedemann. 2008.
Miteinander Reden: 1 Störungen und
Klärungen. Allgemeine Psychologie der
Kommunikation. Hamburg: Rowohlt.
Schulz von Thun, Friedemann. 2008.
Miteinander Reden: 2 Stille, Werte und
Persönlichkeitsentwicklung.
Differentielle
Psychologie
der
Kommunikation. Hamburg: Rowohlt.
Schulz von Thun, Friedemann. 2008.
Miteinander Reden: 3 Das Innere
Team
und
Situationsgerechte
Kommunikation.
Kommunikation,
Person, Situation. Hamburg: Rowohlt
Wikipedia.
Interkulturelles
Lernen.
(http://de.wikipedia.org/wiki/,
diakses
tanggal 5 Juni 2008).
Wikipedia.
Kommunikationsstörung.
(http://de.wikipedia.org/wiki/,
diakses
tanggal 5 Juni 2008).
Download