MISSIO ECCLESIAE Jurnal Institut Injil Indonesia Edisi No. 4/Th. 4

advertisement
MISSIO ECCLESIAE
Jurnal Institut Injil Indonesia
Edisi No. 4/Th. 4/Juni/2013
Pelindung:
Rektor Institut Injil Indonesia
Dr. Stevri I. Lumintang, DTh, Th.D.
Penasehat:
Dr. Awasuning Manaransyah
Dr. Gunaryo Sudarmanto
Dr. Robert C. Wagey
Dr. Ferdinan S. Manafe
Morris Ph. Takaliuang, Th.D.
Pemimpin Redaksi:
Dr. Erni Takaliuang-Efruan
Dewan Redaksi:
Dr. Maria Hanie E.
Chresty T. Tupamahu, S.Th.
Alamat Redaksi:
Jl. Indragiri No.5 Batu-65301 Jawa Timur
Telp. (0341)591283; Fax. (0341)597974
Email: [email protected]
Website: www.i3 batu.ac.id
Diterbitkan
Dep. Multimedia YPPII BATU
Batu – 65312
Jawa Timur
MISSIO ECCLESIAE
Jurnal Institut Injil Indonesia
Edisi No. 4/Th. 4/Juni/2013
DAMAI SEJAHTERA MENANTI KIAMAT: MATIUS 25:14-30) ......
Dr. Awasuning Manaransyah
1
SPIRITUALITAS CIPTAAN MATTHEW FOX ..................................
Morris Ph. Takaliuang, Th.D.
16
IBADAH DALAM KITAB WAHYU ....................................................
Dr. Ferdinan S. Manafe
29
HUBUNGAN GEREJA DAN NEGARA MENURUT LUTHER DAN
CALVIN SERTA IMPLIKASINYA BAGI GEREJA DAN NEGARA
PANCASILA ..........................................................................................
Dr. Erni Takaliuang-Efruan
KEMESIASAN YESUS BERDASARKAN LUKAS 4:18-19
SEBAGAI DASARHOLISTIC MINISTRY GEREJA .........................
Dr. Dina Elisabeth Latumahina
MASA ‘ADOLESCENCE’ DAN POSTMODERINTAS: TUGAS
PERKEMBANGAN ANAK REMAJA DAN ANCAMAN TATA
NILAI “NEW MORALITY” MELALUI MEDIA TELEVSI ...............
Dr. Dra. Magdalena Grace K. Adipati-Tindagi
58
78
90
JATI DIRI PEREMPUAN MENURUT KEJADIAN 1-2 DAN
RELEVANSINYA BAGI SIKAP KRISTIANI TERHADAP
PENGARUH GERAKAN FEMINISME DI INDONESIA ................... 107
Dr. Maria Hanie Endojowatiningsih
POSTMODERNISME DAN GEREJA .................................................. 122
Dr. Ridwan Henry Simamora
USIA EMAS (‘GOLDEN-AGE’): MENYOAL KEPEDULIAN
ORANGTUA TERHADAP PAUD ........................................................ 141
Yustus Adipati, S.Psi., M.Th., M.Pd.K., Mont-Trained
MEMBANGUN KEMITRAAN GEREJA DALAM PELAYANAN
MISI MASA KINI ................................................................................
Leonard A.P. Hutapea, M.C.L.
HAKEKAT MISI YESUS KEPADA PARA MURID DALAM
MATIUS 10:1-15 SEBAGAI DASAR MISI GEREJA
DALAM MENJALANKAN MISI ALLAH .........................................
Yohanis Udju Rohi, M.Th.
160
179
Sekapur Sirih
Syalom,
Pembaca yang dikasihi Tuhan, kiranya bersukacita bahwa Jurnal
edisi keempat dapat diterbitkan dalam waktu yang tidak terlalu jauh dari
edisi ketiga. Jurnal No. 4/Th.4/Juni/2013 dterbitkan selain karena tuntutan
pemerintah agar para dosen Institut Injil Indonesia terus melakukan
penelitian ilmiahnya, dan juga sebagai wadah untuk menuangkan karya
ilmiah para dosen, baik yang dihasilkan sewaktu menuntut ilmu maupun
yang dihasilkan saat menyiapkan materi ajar bagi mahasiswanya.
Dalam edisi keempat ini, membahas tentang Kemesiasan Yesus
menurut teks sebagai dasar pelayanan Gereja secara holistik. Yesus sendiri
sebagai pelaku dan teladan pelayanan holistik Gereja, yang tidak hanya
memenuhi kebutuhan spiritual manusia, melainkan kebutuhan manusia dari
segala dimensi. Sementara itu, gerakan Feminisme yang telah menyusup ke
dalam Gereja, sehingga kaum perempuan Kristiani harus memahami jati
dirinya menurut Kitab Kejadian pasal 1-2, sehingga pembelaan terhadap
hak-hak azasi perempuan tidak kebablasan, melainkan dipahami dan
dimaknai secara tepat guna, termasuk dalam perannya sesuai citra Ilahi.
Topik penting lainnya adalah pembahasan tentang anak, sejak usia
dini, hingga remaja dan menyiapkan mereka untuk kemuliaan Tuhan. Tiap
keluarga yang dipercayakan Tuhan untuk mengasuh dan mendidik anakanak mereka sebagai tanggung jawab di hadapan Tuhan. Tiap anak adalah
pribadi yang utuh, yang harus dipahami, baik perkembangan maupun
pergumulan dalam tumbuh kembang mereka. Jika mereka dibimbing dan
diajar secara benar, mereka akan menjadi penerus estafet pemberitaan
Kabar Baik, dan penerus Gereja dan Negara.
Harus selalu disadari bahwa tiap orang percaya adalah pelaksana
Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Namun dalam pelaksanaannya harus
sungguh memahami dasar-dasar misi, dan yang tidak kalah penting adalah
kemitraan. Tiap orang percaya akan mempertanggungjawabkan hidup dan
kinerjanya pada kedatangan Tuhan Yesus Kristus, baik kepada masingmasing maupun secara kolektif pada akhir zaman.
Kiranya seluruh pembahasan dalam edisi ini benar-benar menjadi
berkat, sambil menantikan jurnal Edisi Khusus dalam waktu tidak lama
lagi.
Dari Kami
Redaksi
DAMAI SEJAHTERA MENANTI KIAMAT:
MATIUS 25:14-30
AWASUNING MANARANSYAH
PENDAHULUAN
Kiamat merupakan satu isu yang tidak ada habis-habisnya
dibicarakan dari waktu ke waktu. Kiamat selalu digambarkan dengan
keadaan yang sangat mengerikan, yang mana terjadi kehancuran bumi dan
kebinasaan seluruh makhluk hidup. Sehingga ketika seseorang mendengar
istilah kiamat, maka yang muncul dalam pikirannya adalah suatu gambaran
peristiwa yang sangat menyeramkan dan menakutkan. Tapi saya yakin
bahwa Saudara sudah pernah mendengar begitu banyak isu tentang
datangnya kiamat. Dan respon setiap orang yang mendengar isu itu pun
berbeda-beda.
Ramalan tentang kiamat 21 Desember 2012 menjadi isu yang paling
spektakuler di seluruh belahan dunia. Mengapa? Pada akhir tahun 2009,
dunia gempar dengan munculnya film 2012 yang sangat fenomenal. Film
hasil produksi Hollywood ini berhasil menarik ratusan juta penonton di
seluruh dunia. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan bagi perusahaan
perfilman. Berbondong-bondong manusia memasuki gedung bioskop, silih
berganti karena ingin mengetahui bagaimana kiamat yang digambarkan
dalam film tersebut, berhubung jarak antara tahun 2009 dengan tahun 2012
sangat dekat.
Banyak orang yang bertanya, benarkah kiamat akan terjadi pada
tahun 2012? Munculnya film ini juga mengundang reaksi penolakan keras
dari tokoh-tokoh agama, terutama dari kalangan Muslim. Para ulama
melarang keras umatnya untuk menonton film yang menurut mereka dapat
menyesatkan iman para penganut agama Islam. Selain dari pada itu,
akhirnya banyak cendikiawan yang akhirnya melakukan penelitian, baik itu
di bidang ilmu pengetahuan, budaya maupun di bidang agama untuk
memastikan bahwa kiamat 2012 hanyalah isu isapan jempol yang tidak
berdasar.
Isu kiamat 2012 menjadi sangat spektakuler oleh karena negara
Mexico justru menawarkan Wisata Kiamat, dengan mengunjungi beberapa
tempat/wilayah dimana suku Maya tinggal dan beberapa situs-situs ritual
suku ini, termasuk kuilnya.
PENGERTIAN KIAMAT SECARA UMUM
Berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia, kiamat dalam bentuk kata
benda artinya hari kebangkitan sesudah mati, yaitu orang yang telah
meninggal dihidupkan kembali untuk diadili perbuatannya. Selain itu juga
berarti hari akhir zaman dimana dunia dan isinya rusak binasa dan lenyap.
Sedangkan dalam bentuk kata kerjanya diartikan berakhir, tidak akan
muncul lagi atau juga dapat berarti celaka sekali, bencana besar, rusak
binasa.1 Dengan demikian, kiamat secara sederhana dimengerti sebagai hari
berakhirnya kehidupan dunia ini yang ditandai dengan kehancuran bumi
dan benda angkasa, bersamaan dengan bangkitnya kembali orang-orang
yang telah meninggal untuk diadili perbuatannya yang pernah dilakukan
selama hidupnya.
Kiamat juga sering disebut dengan akhir zaman, hari penghakiman
terakhir atau hari Tuhan. Dalam bahasa Inggris disebut end of the days,
yang memiliki pengertian demikian: when everything is taken into
consideration.2 Pengertian-pengertian tersebut di atas tentu masih sangat
umum sifatnya. Jika kiamat berbicara tentang akhir dari kehidupan, maka
saya mencoba membuat klasifikasi kiamat.
Kiamat yang Bersifat Personal
Kiamat yang bersifat personal, tidak ada kaitannya dengan akhir
zaman dunia ini, apalagi dengan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali.
Kiamat personal menyangkut tentang kematian atau akhir hidup seseorang
di dunia. Dalam Alkitab, misalnya Kej 5 yang mencatat tentang kematian
orang-orang semasa 10 generasi. Kejadian 23:23:7-8 tentang kematian
Abraham. Kejadian 35:28-29, tentang kematian Ishak. Kejadian 49:33,
tentang kematian Yakub. Kejadian 50:26, tentang kematian Yusuf. Ulangan
34 tentang kematian Musa, Yosua 24:29 tentang kematian Yosua dan
sebagainya. Seluruh teks ini menunjuk kepada akhir hidup dari seseorang. 3
Alkitab yang kita percayai sebagai Firman Allah, telah membukakan
suatu kebenaran yang nyata, yaitu bahwa setiap orang/manusia pasti
memiliki masa hidup yang terbatas, dalam arti bahwa semua orang pasti
1
http://kamusbahasaindonesia.org/kiamat#ixzz2K5CIqBq2
Soanes Catherine & Angus Stevenson, Concise Oxford English Dictionary
11th ed. (Oxford: Oxford University Press, 2004).
3
Peter Wongso, Hermeneutika Eskatologi (Malang: SAAT, 2000), 5.
2
akan berakhir hidupnya alias meninggal dunia. Namun tidak ada satu orang
pun yang mengetahui kapan ajalnya akan tiba. Maka setiap orang mau tidak
mau; suka tidak suka harus menyiapkan dirinya untuk meninggal suatu saat
yang tidak diketahui mengenai tanggal, hari dan jamnya dan bagaimana
cara kematian itu akan datang. Dengan kata lain, tidak ada seorang pun
yang mampu menunda kematian dan tidak seorang pun yang berhak
mempercepat kematiannya. Hal tersebut hanyalah kesia-siaan dan
kebodohan yang merupakan dosa di hadapan Tuhan. Namun demikian, kita
tidak dapat menutup mata terhadap kenyataan bahwa adanya upaya-upaya
di bidang medik yang berusaha memenuhi keinginan para pasiennya.
Mereka melakukan berbagai penelitian untuk menghasilkan peralatanperalatan yang mutakhir guna memperlambat proses kematian seseorang.
Kelihatannya memang sangat baik, namun jika dikaji lagi, maka itu hanya
akan menimbulkan kerugian yang luar biasa. Keadaan si pasien sepertinya
semakin baik, namun sesungguhnya dia justru mengalami kesakitan yang
sangat menyiksa dia. Di sisi lain, pihak keluarga akan berusaha keras untuk
mendapatkan uang sebanyak-banyaknya supaya dapat membayar biaya
pengobatan yang sangat mahal. Lalu di mana letak keuntungannya???
Di sisi lain, ada juga penawaran di bidang medik untuk membantu
pasien (keluarganya?) supaya si pasien cepat meninggal dengan cara
perlahan dan tidak mengalami penderitaan karena penyakit. Hal ini disebut
euthanasia. Kemungkinan hal ini dilakukan karena merasa kasihan kepada
pasien yang sangat menderita atas penyakit yang dialami, atau juga
mungkin keluarga telah menyerah karena tidak lagi sanggup membiayai
pengobatan dan perawatan yang begitu mahal. Sebagaimana kelahiran dan
kehidupan manusia telah dirancang oleh Tuhan sedemikian rupa, demikian
juga dengan kematian manusia. Hidup dan matinya manusia adalah
kehendak dan rencana Tuhan, baik berkenaan dengan waktu, tempat dan
cara matinya seseorang.
Kiamat Komunal
Kiamat Komunal yang dimaksud adalah kematian sejumlah besar
manusia dalam waktu yang bersamaan akibat adanya bencana yang terjadi.
Kita tentu mengingat peristiwa Tsunami di Aceh, gempa berskala besar di
Nias, Jogjakarta, gunung meletus, longsor, kebakaran rumah-rumah, hutan
dan lain sebagainya, yang memakan korban jiwa. Selain bencana alam, juga
bencana perang dan kelaparan baik karena perang, maupun karena
terjadinya kekeringan sehingga tidak tersedianya bahan-bahan makanan
yang dibutuhkan. Sekalipun organisasi besar yang bersifat internasional,
seperti PBB selalu berupaya untuk mengirimkan bantuan pangan, namun
tidak dapat menghentikan kematian dari sejumlah orang oleh bencana
kelaparan tersebut.
Kiamat Global
Kiamat global adalah kiamat yang akan dibahas secara panjang
lebar dalam buku ini. Karena kiamat global menyangkut kesudahan zaman
dimana nubuatan Tuhan Yesus akan terjadi.
PENGERTIAN KIAMAT DALAM ALKITAB
Tuhan Yesus secara khusus menkhotbahkan tentang kiamat yang
dalam bahasa Alkitabnya Akhir Zaman. Yang paling jelas dan khusus,
pengajaran tentang akhir zaman ini dikhotbahkan oleh Tuhan Yesus kepada
para murid menjelang akhir pelayanan-Nya. Hal ini dapat kita baca dalam
Injil Matius 24-25. Pada pasal 24:3, para murid bertanya kepada Tuhan
Yesus tentang tanda-tanda dari dua hal, yaitu tanda kedatangan Tuhan Yesus
dan tanda kesudahan dunia.
Hal yang sangat menarik kita lihat dari hal ini, yaitu para murid
menghubungkan antara kedatangan Tuhan Yesus dengan kesudahan dunia.
Tuhan Yesus berjanji kepada para murid, dan tentu kepada kita juga sebagai
orang percaya yang adalah murid Tuhan Yesus, demikian: “Aku pasti
datang kembali”. Istilah ini senada dengan perkataan Tuhan Yesus: “Anak
Manusia datang di atasa awan-awan di langit” (Mat 24:30), “kedatangan
Anak Manusia” (Mat 24:37,39), “Anak Manusia datang” (Mat 24:44),
“tuannya itu datang” (Mat 24:46, 48, 50), “mempelai datang” (Mat 25:6),
“pulanglah hamba-hamba tuan itu” (Mat 25:19), “Anak manusia datang
dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia”
(Mat 25:31, 26:14). Semua istilah tersebut digunakan untuk menunjuk
kepada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali.
Selain dari pada itu, dalam Alkitab juga kita menemukan tandatanda kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Wongso membagi tandatanda kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali menjadi dua macam, yaitu:
tanda-tanda yang bersifat universal (global) dan tanda-tanda yang bersifat
gerejawi/keagamaan.4 Namun, saya tidak akan menguraikan hal-hal
tersebut pada kesempatan ini, saya akan lebih memfokuskan pada
bagaimana kita menjalani hidup dalam menantikan kedatangan Tuhan
Yesus yang kedua kali.
APA YANG HARUS DILAKUKAN DALAM
MENANTIKAN KIAMAT
Mengelola Kepercayaan Tuhan
Dalam teks ini dituliskan bahwa hal kerajaan Sorga seperti seorang
yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil dan mempercayakan
hartanya kepada hamba-hambanya. Kata mempercayakan dalam bahasa
Yunani adalah pare,dwken (paredoken) dengan bentuk kata kerja orang ke3 tunggal aorist aktif Indikatif,5 dari kata dasar paradidwmi (paradidomi)
yang muncul sebanyak 119 kali dalam Perjanjian Baru. Artinya adalah
menyerahkan, mengkhianati, menyampaikan, meneruskan, mengajar,
mengizinkan.6 Dalam NIV dipakai kata entrusted, yang dalam Oxford
Advance Learner’s Dictionary dijelaskan to give responsibility.7 Hasan
Sutanto menerjemahkan: menyerahkan. Bentuk kata paredoken menyatakan
suatu tindakan yang hanya dilakukan satu kali saja (tidak berulang-ulang)
di masa lampau dan dianggap sudah selesai. Hal ini dapat juga ditafsirkan
sebagai “kesempatan” karena tidak akan pernah terulang lagi. Sang tuan
menyerahkan/mempercayakan hartanya kepada hambanya bukan suatu
tindakan yang berulang-ulang, melainkan hanya satu kali dan hal ini
menjadi satu kesempatan yang sangat berharga bagi para hamba. Istilah
hamba yang digunakan pada teks ini adalah doulous dari kata dasar yang
berarti “hamba, pegawai raja, orang yang bergantung pada” 8 sesorang atau
sesuatu.
4
Wongso, Hermeneutika Eskatologi..., 291-299.
Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi Perjanjian Baru.
Jilid I (Jakarta: LAI, 2006), 147.
6
Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi Perjanjian Baru.
Jilid II (Jakarta: LAI, 2006), 605.
7
Jonathan Crowther, Oxford Advanced Learner’s Dictionary (England: Oxford
University Press, 1995), 386.
8
Ibid., 224.
5
Jika seorang tuan rela mempercayakan hartanya kepada orang yang
berstatus sosial rendah, maka sesungguhnya hal itu suatu kesempatan emas
bagi seorang hamba membuktikan integritas, dedikasi dan loyalitasnya
kepada sang tuan selama kepergian tuannya. Karena bagaimanapun pada
akhirnya yang diminta adalah kesiapan si hamba untuk
mempertanggungjawabkan apa yang telah dipercayakan itu. Hal ini berarti
bahwa dalam masa penantian kedatangan sang tuan, hambanya tidak
menantikan dengan pasif melainkan menerimanya dengan bekerja keras
dan membuat lebih banyak kesempatan yang dipercayakan. 9 Satu prinsip
yang tidak boleh kita abaikan dari teks ini adalah bahwa sang tuan
memberikan talenta itu “masing-masing menurut kesanggupannya” (ay.15).
Itu berarti bahwa tuan itu mengetahui batas-batas kesanggupan dari tiaptiap hambanya dan karena pengenalan yang baik sang tuan terhadap tiaptiap pribadi hamba-hambanya. Dari hal tersebut, kita dapat mengerti bahwa
tidak ada tekanan-tekanan yang berlebihan dari sang tuan kepada hambahambanya. Aplikasinya bagi kita orang percaya sebagai hamba Tuhan
adalah:
Pertama, Allah mempercayakan “harta-Nya” kepada kita, sesuai
dengan kesanggupan kita karena Tuhan mengenal kita jauh sebelum kita
mengenal siapa diri kita dan Ia mengenal kita lebih dalam dari pengenalan
kita akan diri kita sendiri.
Kedua, Kita tidak boleh bersungut-sungut ataupun merasa iri hati
kepada orang lain yang mungkin kita lihat memiliki lebih banyak kelebihan
atau talenta dari pada kita. Tuhan tahu apa dan mana yang pas untuk kita
masing-masing.
Ketiga, Kita seharusnya bersyukur kalau Allah masih mau
mempercayakan kita berbagai bentuk talenta, meskipun sebenarnya kita
menyadari bahwa kita tidak layak untuk menerimanya. Kita lemah,
terbatas, berdosa, sering berbuat hal yang bodoh. Itulah namanya anugerah,
yang harus kita syukuri dan kita kelola/kembangkan dengan maksimal.
Nilai Kepercayaan Tuhan
Dalam teks ini kepercayaan yang diberikan oleh sang tuan kepada
hamba-hambanya adalah berupa talenta. Istilah talenta dalam bahasa
Yunani berasal dari kata ta,lanta (talanta/talanton). Kata ini merupakan kata
9
937-938.
D.A. Carson, New Bible Commentary (USA: Intervarsity Press, 1994),
benda neuter jamak yang menyatakan objek. ta,lanta muncul 14 kali dalam
Alkitab Perjanjian Baru. Arti kata talanton adalah suatu ukuran berat yang
bervariasi dari 26-36 kg. Kemudian menjadi dasar ukuran uang logam yang
nilainya tergantung pada zaman, tempat dan jenis logamnya. Dengan
demikian nilainya selalu cukup tinggi. Satu talanton perak senilai 6000
dinar, yaitu upah 6000 hari seorang buruh. Sedangkan satu talanton emas
bernilai 30 kali lipat dari satu talanton perak.10 Untuk mendapatkan satu
talenta perak, maka seseorang harus bekerja selama lebih dari enam belas
tahun, sedangkan untuk memperoleh satu talenta emas, seseorang harus
bekerja selama lebih dari empat ratus sembilan puluh tiga tahun (tidak ada
manusia sekarang yang mencapai usia 493 tahun).
Kita dapat membayangkan bahwa seseorang akan menghabiskan
masa hidupnya untuk mendapatkan lima talenta perak, yaitu lebih dari
delapan puluh tahun, sedangkan untuk mendapatkan lima talenta emas
sangatlah mustahil karena tidak ada seorangpun manusia yang pernah hidup
di dunia selama dua ribu empat ratus tahun. New International Version
menerjemahkan talents of money. Berdasarkan keterangan Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini, 1 talenta sama dengan 960 dolar Amerika setara dengan
2.160.000 rupiah.11 Dalam konteks nats ini yang menjadi tekanan utamanya
bukan besarnya jumlah talenta yang diberikan, melainkan besarnya nilai
dari talenta yang diberikan sang tuan kepada hambanya. Vines mencatat
bahwa talenta merupakan sesuatu pemberian (hadiah) atau kemampuan,
secara khusus dalam menafsirkan perumpamaan.12 Senada dengan hal
tersebut, Carson menulis sebagai berikut.
It is this parable which has given the word a metaphorical meaning
in English, as it has been applied to the God given gifts and abilities
which we are responsible for using. This is probably a valid
application of the story, but we should not imagine that the Greek
word itself conveys anything more than its literal monetary
meaning.13
10
Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi..., II, 744.
J.D. Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini. Jilid II M-Z (Jakarta: Yayasan
Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2005), 519; (kemungkinan ini perhitungan sesuai dengan
tahun ditulisnya ensiklopedi ini, yaitu tahun 1988 atau tahun cetakan pertama, yaitu tahun
1995).
12
W.E. Vine, Vine’s Complete Expository Dictionary, (Nashville: Thomas
Nelson, Inc., 1996), 617.
13
D.A. Carson, New Bible Commentary (USA: Intervarsity Press, 1994), 938.
11
Hal tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu yang dimiliki oleh
manusia adalah sebagai hadiah/pemberian Allah dan hadiah/pemberian
Allah memiliki nilai yang sangat spektakuler, apalagi jika dikelola dengan
baik dan benar. Sekali lagi saya ingin menekankan kembali bahwa Tuhan
menyerahkan kepada kita kepercayaan sesuai dengan kemampuan kita
masing-masing. Tuhan sangat mengenal siapa manusia karena Dialah yang
menjadikannya sesuai dengan inisiatif, cara dan tujuan Allah sendiri. Tuhan
mengetahui potensi tiap-tiap orang karena Dia sendirilah yang
memberikannya kepada manusia. Smith menyebut talenta sebagai
kecakapan. Dia menyatakan bahwa kita bukan hanya memiliki talenta,
tetapi juga memiliki potensi untuk mengembangkannya sehingga dapat
mengalami kemajuan yang sangat berarti.14 Berarti manusia yang sehat dan
normal mempunyai potensi yang luar biasa yang telah Tuhan tanamkan
dalam hidupnya.
Bentuk-Bentuk Kepercayaan Tuhan
Istilah uang pada ayat 16 dalam terjemahan NIV adalah money
namun dalam bahasa Yunani ditulis auvtoi/j (autois) yang menunjuk pada
talenta yang sudah diterima oleh hamba dari tuannya. Istilah uang pada ayat
18 adalah avrgu,rion (argurion) dalam bentuk tunggal dan pada ayat 27
avrgu,ria (arguria) dalam bentuk jamak yang artinya perak, uang perak,
uang. Argurion Adalah sejenis uang logam perak yang bernilai empat
(drakhme), atau sama dengan upah rata-rata sehari buruh.15 Memang dalam
teks ini hal yang dipercayakan sang tuan kepada hambanya adalah harta
berupa uang (materi).
Bentuk-bentuk talenta (kepercayaan) Tuhan kepada manusia berbedbeda. Namun jika kita melihat lebih luas lagi, sesungguhnya Tuhan bukan
hanya mempercayakan bagi manusia harta kekayaan yang bersifat materi,
yang dapat dilipatgandakan dengan usaha dan kerja keras yang aktif. Tetapi
juga segala sesuatu yang diberikan Allah kepada manusia dapat dikelola
dan mendatangkan keuntungan yang sangat besar bagi manusia. Segala
sesuatu yang dimaksudkan di sini bukan hanya yang bersifat material,
namun juga pemikiran (mind), kemampuan (ability) dalam berkreasi.
14
M. Blaine Smith, Anda Unik di Mata Tuhan (Bandung: Lembaga Literatur
Baptis, 2000), 126.
15
Smith, Anda Unik di Mata..., 111.
Manusia dapat mengembangkan talenta itu melalui profesi yang
dimilikinya. Sesungguhnya semua profesi di hadapan Tuhan adalah sama
mulianya karena profesi itu adalah pemberian Tuhan yang mulia. Jadi tidak
ada profesi yang rendah, sekalipun itu buruh kecil dan kasar. Pada suatu
acara hari doa di yayasan dimana saya melayani, kami sungguh berdecak
kagum ketika mendengar dan memperhatikan seorang tukang sampah
mempresentasikan karyanya, yang mana ia berhasil menciptakan satu
sistem pengolahan sampah setelah dia melakukan berbagai penelitian yang
kelihatannya sangat sederhana, namun cukup penting bukan hanya bagi
kesehatan manusia, juga memiliki nilai ekonomi yang cukup
menguntungkan, bahkan berdampak bagi pelestarian bumi yang Tuhan
ciptakan ini.
Belakangan ini, media menunjukkan sesuatu yang luar biasa.
Sampah-sampah rumah tangga yang tidak dapat didaur ulang, ternyata
dapat diolah dan dijadikan berbagai bentuk peralatan rumah tangga,
peralatan khusus untuk laki-laki, perempuan termasuk anak-anak
(misalnya: keranjang pakaian, keranjang belanja, tempat sampah, tas
wanita, tas sekolah, rak gantungan sepatu, travelbag, dan lain-lain).
Sampah-sampah rumah tangga dapat diolah menjadi bentuk apapun yang
diinginkan, yang dapat berguna, yang juga memiliki kualitas eksport
dengan omset ratusan juta bahkan miliaran rupiah.
Selain itu, segala yang dimiliki oleh manusia mulai dari ujung
rambut sampai ujung kuku memiliki nilai ekonomi yang bisa dieksplorasi,
yang mendatangkan keuntungan besar bagi orang tersebut juga bagi orang
lain. Contohnya: seorang peraga busana yang ingin menata dan menghias
kukunya, berdampak ekonomis baginya karena dia mendapatkan upah yang
besar pada saat tampil sempurna di catwalk. Sedangkan pihak salon yang
menata dan menghias kuku itu juga mendapatkan keuntungan ekonomis,
perancang busana juga akan menerima pesanan-pesanan busana
rancangannya yang tentunya akan mendatangkan untung besar baginya, dan
seterusnya. Keuntungan besar itu baru dilihat dari segi eksplorasi kuku jari
tangan dan kaki dan tentunya masih banyak hal lain lagi yang dapat
dilakukan.
Apa yang ingin saya tekankan melalui hal-hal tersebut? Penekanan
saya bukan pada hasil yang diperoleh atau dicapai oleh manusia dari apa
yang dikerjakan dan dikelola. Hal yang paling penting adalah bagaimana
seseorang itu menemukan potensi/talenta yang dianugerahkan Tuhan dan
mengelolanya serta mengembangkannya dengan baik dan maksimal.
Persoalan yang sering kita kita lihat ataupun mungkin kita alami bahwa
seringkali manusia itu tidak menemukan potensi dirinya sebagai talenta dari
Tuhan sehingga ia membiarkan dirinya selalu berada di di bawah
kebodohan, kemiskinan, ketidakmampuan/ketidak-berdayaan, ketidaktahuan dan lain sebagainya. Kemudian kebodohan itu diberi label/nama
“nasib” dengan ungkapan “Yah, memang sudah seperti itu, mau bilang apa
lagi?” Kita harus menyadari bahwa dalam diri setiap orang pasti ada
kekuatan, baik itu kekuatan spiritual, intelektual, fisikal (jasmani),
psikologikal, sosial ataupun kekuatan yang lainnya. Oleh sebab itu, setiap
orang percaya harus menemukan talentanya, melatihnya dan
mempergunakannya secara maksimal.
Cara Mengelola Kepercayaan Tuhan
Istilah menjalankan diterjemahkan Hasan Sutanto berdagang.
Dalam bahasa Yunani hvrga,sato (ergasato) dari kata dasar h.rgasomai.
(ergazomai) yang berarti bekerja, berdagang, berbuat, menghasilkan. Kata
ini muncul sebanyak 41 kali dalam Perjanjian Baru. 16 Ergasato adalah kata
kerja orang ke-3 tunggal, aorist middle Indicative.17 Bentuk kata ini
memberi pengertian bahwa “menjalankan” adalah suatu pekerjaan yang
hanya satu kali di masa lampau, menekankan kesungguhan dan dedikasi.
Juga dapat berarti “mulai menjalankan,” menunjukkan tindakan yang
langsung dilakukan setelah menerima kepercayaan yang diberikan. Teks ini
memberikan pengertian bahwa menjalankan uang yang dimaksud lebih
kepada konotasi bekerja keras dengan memanfaatkan uang yang ada untuk
menghasilkan keuntungan yang besar. Hal itu dapat dilakukan dengan cara
berdagang, atau menciptakan kreasi yang baru dengan modal yang sudah
ada. Tiga tahun terakhir ini, di televisi banyak disiarkan tentang industri
rumah tangga yang menghasilkan mutu dan nilai seni yang berkualitas
ekspor. Kendatipun bahan dasar yang dipakai adalah limbah, namun dapat
menghasilkan keuntungan yang sangat mencengangkan.yang terutama
harus disadari bahwa dalam diri setiap orang ada potensi besar yang harus
dikembangkan.
Sedangkan dalam ayat 27 dituliskan keheranan sang tuan kepada si
hamba yang tidak melakukan apapun untuk mengembangkan talenta yang
dipercayakan kepadanya. Istilah “orang yang menjalankan uang” dan dalam
bahasa Yunani adalah trapezi,taij (trapezitais) dari kata dasar trapezithj
(trapezites) yang muncul hanya dalam nats ini dari kitab Perjanjian Baru,
16
17
Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi..., II, 311.
Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi..., I, 147.
yang memiliki pengertian orang-orang yang mengusahakan bank atau
orang-orang yang bekerja di bank.18 Dengan demikian, sesungguhnya
sekalipun hamba yang ketiga hanya menerima satu talenta, dia bisa saja
menyimpan uang itu di bank sehingga berbunga. Atau dengan kata lain
uang itu dapat disimpan sebagai deposito, karena itu sama dengan
meminjamkan uang ke bank untuk dikelola oleh pihak bank dan
keuntungan bank itu juga menjadi keuntungan orang yang menyimpan
uang.
Orang yang menemukan potensi dirinya dengan baik, dan ia tahu
bahwa hal itu dianugerahkan/dipercayankan Tuhan kepadanya, maka ia
pasti tahu apa yang harus dilakukannya dengan potensi tersebut. DR. Petrus
Octavianus adalah salah seorang Kristen, yang menyerahkan hidupnya
menjadi seorang hamba Tuhan. Beliau seorang hamba Tuhan yang
sungguh-sungguh menemukan talenta yang luar biasa, yang Tuhan
percayakan kepada beliau. Beliau tidak hanya bangga dengan begitu
banyak kekhususan yang Tuhan berikan kepada beliau, melainkan beliau
bekerja keras, giat dalam pekerjaan Tuhan, selalu melihat setiap tantangan
sebagai peluang untuk terus maju.19 Beliau seorang pemimpin yang
visioner, dan suara kenabiannya menembus sampai ke pemerintahan di
negara ini,20 bahkan menyuarakan suara kenabian sampai kepada pemimpin
dunia.21 Beliau memiliki kekhususan yang tidak dimiliki oleh hamba Tuhan
yang lain, dan beliau disejajarkan dengan pemimpin-pemimpin lainnya
yang memberikan dampak bagi bangsa ini dan bagi dunia.
Setiap orang Kristen memiliki keunikan/kekhususannya masingmasing dan memiliki kemungkinan untuk maju di berbagai bidang. Kita
harus mewaspadai dan menolak mentalitas karyawan, yang pada umumnya
dimiliki oleh penduduk negara ini. Lulus SD, SMP, SMU, S1 kemudian
mencari pekerjaan dan hidup berharap pada upah.
Setiap orang Kristen harus memiliki kreativitas karena Allah kita adalah
Allah yang kreatif, berani berinovasi dan menciptakan manuver-manuver
yang berdampak spektakuler. Namun demikian, ada proses demi proses
pembelajaran yang harus kita jalani. Kita harus terus belajar dari Tuhan
melalui buku-buku, melalui situasi-situasi yang kita hadapi, dan melalui
18
Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi..., I, 147.
Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi..., II, 762.
20
Baca Buku Otobiografi Petrus Octavianus, Hidupku Hanya Oleh Anugerah
TUHAN (Batu: Departemen Multimedia YPPII, 2007).
21
Baca Buku Petrus Octavianus, Menuju Indonesia Jaya (2005-2030) Dan
Indonesia Adidaya (2030-2055). I, II, III (Batu: Departemen Literatur YPPII, 2004-2006).
19
orang-orang yang ada di hadapan kita. Karena itu, jika kita adalah petani,
harus maksimal sebagai petani; jika kita adalah pedagang, harus maksimal
sebagai pedagang; jika kita pegawai negeri atau swasta, harus maksimal
sebagai pegawai; jika kita adalah pemimpin, harus maksimal menjalankan
kepemimpinannya; dan lain sebagainya.
APA YANG AKAN DILAKUKAN PADA SAAT KIAMAT DATANG
Tuhan Menuntut Pertanggungan Jawab
Pada saat tuan itu kembali pada waktu yang tidak diberitahukan
sebelumnya, ia memanggil hamba-hambanya untuk melakukan
perhitungan. Dengan kata lain, sang tuan datang dengan tiba-tiba tanpa ada
isu-isu ataupun tanda-tanda sebelumnya. Pada perumpamaan sebelumnya
dalam Matius 24:36, 44, 50; 25:13, Tuhan Yesus telah menyatakan berulang
kali bahwa kedatangan Tuhan yang kedua kali tidak diketahui oleh
siapapun kecuali oleh Bapa sendiri.
Dalam bahasa Yunani, kata perhitungan terdiri dari dua kata yaitu
sunai,rei (sunairei), dan lo,gon (logon) yang mana kedua kata ini selalu
dipakai bersama-sama yaitu dalam Matius 18: 23 dan 24, Matius 25:19 dan
ketiga teks tersebut berbicara tentang perumpamaan untuk mengajarkan
tentang kerajaan sorga. Kata sunairei dari akar kata sunai,rw (sunairo) yang
berarti memeriksa (catatan keuangan) yang hanya muncul 3 kali dalam
Perjanjian Baru, Kata logon dari kata dasar logoj (logos) muncul sebanyak
330 kali dalam Perjanjian Baru dengan banyak pengertian, di antaranya
laporan, buku, catatan keuangan, pertanggungjawaban, dan lain-lain. Dalam
NIV
diterjemahkan
settled
accounts
artinya
membereskan
laporan/catatan/rekening, sedangkan dalam KJV diterjemahkan reckoneth
yang artinya perhitungan. Selain itu, hal yang menarik, kata ini dalam
bentuk orang ke-3 tunggal Present Aktif Indikatif yang menunjukkan suatu
tindakan yang langsung dilakukan pada saat itu juga. Jadi, kata ini dapat
ditafsirkan demikian: (1) Pada waktu tuannya pulang, langsung memeriksa
catatan keuangan, laporan, pertanggungjawaban hamba-hambanya. Tidak
diberikan waktu untuk membereskannya lagi; (2) Tuannya tidak mengulurulur waktu untuk meminta pertanggung-jawaban hamba-hambanya.
Sehingga tidak ada waktu untuk membuat laporan atau pembukuan yang
menyeleweng.
Oleh sebab itu, tidak ada alasan dan tidak ada waktu untuk
bermalas-malasan. Karena akan tiba saatnya, Tuhan akan meng-audit kita
sesuai dengan apa yang telah dipercayakan kepada kita. Maka tiap saat, tiap
detik kita harus menyiapkan diri untuk itu. Jika Tuhan datang, waktu untuk
hidup dan bekerja selesai, maka siap atau tidak siap, hidup kita harus
dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.
Hamba Mempertanggungjawabkan Kepercayaan Tuhan
Segala sesuatu yang dianugerahkan Tuhan kepada orang percaya
bukan berarti tanpa pertanggungjawaban/perhitungan. Hamba yang
dipercayakan lima talenta telah menghasilkan lima talenta, hamba yang
dipercayakan dua talenta telah menghasilkan dua talenta, sedangkan hamba
yang menerima satu talenta tidak menghasilkan apapun yang disebut
keuntungan. Berdasarkan hal tersebut maka dapat diambil kesimpulan
bahwa hamba yang menerima satu talenta itu bukan karena bodoh (tidak
memiliki kemampuan), bukan karena malas melainkan tidak taat dan jahat.
Hal ini dapat dilihat dari jawabannya kepada tuannya saat dimintai
pertanggungjawaban, demikian: “Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah
manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur
dan memungut dari tempat dimana tuan tidak menanam” (ay. 24).
Setiap keputusan dan tindakan pasti ada konsekuensinya. Hamba
yang menerima lima dan dua talenta telah bekerja keras, telah mengelola
talenta itu secara maksimal. Kita tidak pernah tahu pasti akan waktu dan
harinya Tuhan Yesus datang kedua kalinya, tetapi yang harus pasti bagi kita
sekarang adalah bahwa kita tiap-tiap hari bekerja keras dan maksimal
dalam mengaktualisasikan diri dalam melayani pekerjaan Tuhan sesuai
dengan karunia kita masing-masing, di bidang kita masing-masing.
Tuhan Memberi Upah Kelimpahan
Para hamba yang memutuskan untuk melipatgandakan talenta yang
dipercayakan oleh tuannya mendapat nilai A (Baik Sekali) dan predikat
sebagai Hamba yang Baik dan Setia. Hamba yang mengusahakan lima
talenta dan menguntungkan lima talenta diberi berkelimpahan.
Berkelimpahan berasal dari bahasa Yunani perisseutesetai22 dengan
kata dasar perisseuo muncul 39 kali dalam Perjanjian Baru23 yang artinya
22
Baca Buku, Petrus Octavianus, Surat Kepada Presiden Amerika George W.
Bush, Jr. (Batu: Departemen Literatur YPPII, 2003).
23
Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi..., II, 632.
berlimpah, berkelebihan, berlimpah-limpah, bertambah, maju, ada
keuntungan, melimpahkan, membuat bertambah. Dalam NIV dan KJV
diterjemahkan abundance yang artinya kelimpahan atau keadaan
berlimpah-limpah. Kata ini digunakan dalam bentuk kata kerja orang ke-3
tunggal Futurum Pasif Indikatif.24 Bentuk Futurum Indikatif selalu
berbicara mengenai masa depan maka artinya adalah akan dibuat
berlimpah, atau dengan kata lain akan diberikan lebih banyak dari hasil
yang telah didapatkan dengan jerih payahnya. Selain itu, hamba yang baik
dan setia itu mendapatkan kesempatan yang lebih besar sebagaimana yang
dikatakan Sang Tuan: “engkau telah setia dalam perkara kecil, Aku akan
memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Dengan
demikian, jaminan masa depan bagi setiap hamba yang bekerja keras dalam
mempertanggungjawabkan kepercayaan Tuhan berupa talenta-talenta yang
dikaruniakan sangat pasti terjamin. Kelimpahan yang ia terima menyangkut
reputasinya yang juga akan mengangkat dia ke posisi yang lebih tinggi.
Tuhan Memberi Hukuman
Hamba yang menerima satu talenta tidak menghasilkan apapun yang
disebut keuntungan. Hamba yang memutuskan untuk menyembunyikan
talenta yang dipercayakan itu mendapat nilai F (Fail=Gagal) dengan
predikat Jahat dan Malas dan ditambahkan lagi pada ayat 30 disebut
sebagai hamba yang tidak berguna. Berdasarkan hal tersebut maka dapat
diambil kesimpulan bahwa hamba yang menerima satu talenta itu bukan
karena bodoh (tidak memiliki kemampuan), bukan hanya karena malas
melainkan tidak taat dan jahat. Hal ini dapat dilihat dari jawabannya kepada
tuannya saat dimintai pertanggungjawaban, demikian: “Tuan, aku tahu
bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana
tuan tidak menabur dan memungut dari tempat dimana tuan tidak
menanam.” (ay. 24). Dengan demikian, Alkitab juga mencatat bahwa akibat
dari sikap dan keputusan yang salah dari hamba tersebut adalah: pertama,
talenta yang dipercayakan sebelumnya diambil dari padanya, kedua
dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap.
24
Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi..., I, 147.
PENUTUP
Sebagai penutup dari khotbah saya ini, saya ingin menegaskan
beberapa hal untuk senantiasa kita renungkan dan lakukan dalam kehidupan
kita sehari-hari, dimana pun Tuhan percayakan kita melayani Dia.
Petama, Ucapan Syukur. Mari kita menjalani hidup ini dengan
penuh ucapan syukur, karena Tuhan telah mengaruniakan talenta-Nya
kepada kita masing-masing.
Kedua, Menemukan Talenta. Siapapun kita, terutama yang percaya
dan mengenal Tuhan Yesus, pasti ada talenta tertentu yang Tuhan telah
karuniakan kepada kita masing-masing. Maka langkah pertama yang dapat
kita lakukan adalah menemukan talenta apa yang Tuhan berikan kepada
kita masing-masing.
Ketiga, Bekerja Keras. Kita harus meninggalkan kebiasaan santai,
malas, hidup tanpa tujuan dan mari kita mengembangkan kebiasaan “berani
bermimpi”, berani melangkah dan bekerja keras, maksimal bahkan
berusaha sampai “sempurna”. Kita harus berani berinovasi melayani
pekerjaan Tuhan.
Keempat, Senantiasa Siap Diaudit. Mulai dan akhiri setiap hari
dengan ucapan syukur dan menyerahkan diri kepada Tuhan Yesus, jalani
hidup sesuai dengan rencana dan kehendak Tuhan Yesus. Apabila Tuhan
Yesus datang secara tiba-tiba, kita didapati berkenan di hadapan-Nya.
Amin.
SPIRITUALITAS CIPTAAN MATTHEW FOX
MORRIS PHILIPS TAKALIUANG
PENDAHULUAN
Teologi terkini yang muncul di Amerika Utara adalah Spritualitas
Ciptaan. Teologi tersebut berusaha membawa Gereja kembali kepada akarakar mistik dan radikalisme.
Pendiri dan pencetus utama Spiritualitas Ciptaan, yang juga
dikenal sebagai spiritualitas yang berpusat pada menciptakan pada masa
sebelumnya, adalah seorang pendeta Dominican bernama Matthew Fox.
Spiritualitas Ciptaan bukanlah hanya suatu tradisi, tetapi juga
merupakan suatu Gerakan. Fox menyatakan bahwa orang-orang yang
menemukan Spiritualitas Ciptaan menginginkan roh yang membebaskan
jiwa mereka untuk dimanfaatkan dengan baik dalam membebaskan yang
lain.
Mattew Fox menemukan ide mengenai dosa asali sangat
menjijikkan, dan lebih senang memusatkan perhatiannya pada berkat mulamula sebagai dasar teologinya. Umat manusia dapat melakukan dosa,
namun mereka tidak harus melakukannya. Segala aksi yang bersifat
indrawi, kreatif, dan estetika merupakan langkah-langkah ke arah
pemulihan kembali berkat mula-mula tersebut.
Fox menyalahkan Augustinus karena telah membujuk Gereja
menjauh dari warisan Alkitabiah yang sesungguhnya. Dosa bukan aksi-aksi
kehidupan yang dikutuk Gereja karena secara moral bersifat jahat. Namun
ini adalah pemikiran yang salah mengenai Allah dan ciptaan-Nya.
Kejahatan tidak ditemukan sedemikan besar dalam tingkah laku manusia
namun lebih di dalam institusi-institusi tersebut, seperti Gereja, yang
melestarikan ide-ide yang salah mengenai ekosistem, kaum wanita, dan
masyarakat pribumi.
Fox telah dipengaruhi oleh Mistik Kristen Abad Pertengahan. Dua
orang yang berperan penting bagi dirinya adalah Hildegard dari Bingen dan
Meister Eckhart. Pada tahun 1960 Fox menjadi anggota Dominican dan
setelah lulus dari perguruan tinggi ia ditahbiskan menjadi pendeta
Dominican tahun 1967. Pada tahun yang sama, akibat pengaruh Thomas
Merton, Fox masuk program doktoral di Institut Catholique de Paris, lulus
dengan gelar dalam bidang sejarah dan Teologi Spiritualitas.
Tujuan Spiritualitas Ciptaan adalah membawa Gereja kembali
kepada akar-akar mistik dan radikalisme, dan mulai memengaruhi
Pendidikan Pastoral Klinis, baik di Kanada maupun di Amerika. Sasaran
awal Fox adalah menjadikan spiritualitas dan teologia diterima publik
secara luas.
DEFINISI SPIRITUALITAS CIPTAAN
Menurut Fox, “Spiritualitas Ciptaan” adalah sekaligus suatu tradisi
dan suatu gerakan. Konteksnya ditemukan dalam kosmologi yang
didefinisikan secara benar. Suatu kosmologi yang hidup dibentuk oleh
trinitas kudus ilmiah, mistikisme, dan seni. Ketiga hal ini sebagai
komponen-komponen Spiritualitas Ciptaan.
SEJARAH PERKEMBANGAN
Fox mengklaim, bahwa Spiritualitas Ciptaan bukan sesuatu yang
baru, kecuali hanya bagi orang-orang Barat abad ke-20. Ini merupakan
tradisi masa lalu. Semua bangsa telah memusatkan eksistensi mereka pada
kosmologi.
Mattew Fox menjadi terkenal melalui publikasi beberapa buku
dengan judul fantastik: On Becoming a Mucal, Mystical Bear: Spirituality
American Style (1972); Whee! We, Wee All the Way Home: A Guide to a
Sensual Prophetic Spirituality (1976; dan A Spirituality Named Compassion
(1979). Karya-karya utama lainnya meliputi Original Blessing: A Primer in
Creation Spirituality (1983); The Coming of the Cosmic Christ (1988); dan
Creation Spirituality (1991).
Pada tahun 1977, Fox mendirikan Institute of Culture and Creation
Spirituality di kampus Holy Names College, Oakland, California (Original
Blessing menyajikan prinsip-prinsip berdasarkan program institut tersebut).
Meskipun ada wakil dari banyak denominasi, namun kebanyakan siswanya
adalah Katolik Roma. Fox juga menerbitkan majalah Crastion, setiap dua
bulan, yang mempresentasikan pandangan-pandangan institut tersebut.
ASPEK-ASPEK GERAKAN SPIRITUALITAS CIPTAAN
MATTHEW FOX
Gerakan Spiritualitas ciptaan Matthew Fox mencakup beberapa
aspek, yakni antara lain: Teori Sumber, Mistikisme, Panenteisme,
Esoterisisme, Gerakan Zaman Baru, Pluralisme, Kristus Kosmik,
Humanisme, Gnostisisme, dan Eskatologis Konsisten.
Teori Sumber
Menurut Matthew Fox, Spiritualitas Ciptaan merupakan tradisi
paling kuno dalam Yudaisme dan Alkitab. Sumber Yahwis (atau J) dalam
Alkitab Ibrani merupakan tradisi paling tua dalam Alkitab, dan teologinya
adalah teologi yang berpusat pada ciptaan. Dengan demikian Fox adalah
penganut Teori Sumber JEDP.
Pembentukan sejarah dogma dan proses pembentukan kanon PB
dilihat dalam terang tesis, antitesis, sintesis. Julius Wellhausen, dengan cara
yang sama menginterpretasikan Pentateuch dan berakhir dengan teori JEDP
(Yahwis, Elohis, Deuteronomis, Priest).
Dokumen J (Yahwis) ditulis oleh seorang pengarang di Yudea
selama abad ke-9 SM. Nama Yahweh menonjol dalam naskah ini, yang
ditandai oleh gaya epik dan bermacam-macam cerita rakyat,
menitikberatkan iman pada leluhur, dan cenderung menggunakan
anthropomorfiesme. Julius Wellhausen (1844-1918), dipengaruhi oleh
Hegelisme,1 dan mencoba menafsirkan Alkitab dari sudut perkembangan
sejarah. Kesimpulan Wellhausen, Alkitab (Pentateukh) bukanlah catatan
sejarah, melainkan hanya merupakan susunan karya sastra kuno.
Teori Sumber kepenulisan Pentateukh berakar dalam rasionalisme
dan skeptisisme zaman itu. Gagasan deisme mengendalikan teologi,
sehingga Allah tidak dianggap leluasa campur tangan dalam ciptaan-Nya.
Jadi, mujizat-mujizat, nubuat dan bahkan ilham ilahi tidak mungkin
terjadi dalam alam semesta yang diciptakan oleh Allah tetapi tertutup bagi
keterlibatan-Nya dalam sejarah umat manusia.
1
Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) adalah seorang Panteis, berdasar
sumber-sumber JEDP dan tokoh penting bagi Idealisme. Idealisme menunjukan pandangan
bahwa pikiran dan nilai-nilai rohani lebih penting dibandingkan dengan hal-hal yang
bersifat materi. Dialektika Idealisme Hegel memberi kontribusi bagi karak-teristik teologi
Historis Kritis.
Pada akhirnya, PL (bahkan seluruh Alkitab) diturunkan statusnya
menjadi sekadar karya sastra manusia biasa, sejenis antologi agama orang
Ibrani, dan nalar manusia ditinggikan di atas Alkiab sebagai otoritas yang
menentukan.
Mistikisme
Mistik atau kebatinan adalah paham yang secara sederhana disebut
Panteisme yang mempercayai bahwa alam (pan) adalah (Theos). Menurut
Prof DR Harvie M. Conn, Mistikisme bukan suatu gerakan khusus bagi
Timur Jauh atau Timur Dekat, atau bahkan bagi sekte-sekte ekstrim Asia.
Mistikisme dapat ditemui di seluruh dunia, dan unsur-unsurnya atau
karakteristiknya kadang-kadang dapat ditemukan di mana bentuk yang
lebih sistematis.2 Saat ini, di dunia terdapat paling sedikit 5.000 aliran
agama mistik.
Frank Gaynor mendefinisikan esensi Mistikisme sebagai suatu
filsafat, doktrin, ajaran atau kepercayaan yang lebih berpusat pada dunia
roh daripada alam semesta yang bersifat materi, dan bertujuan untuk
penggabungan rohani atau kesatuan mental dengan Roh Universal, melalui
pengertian induktif dan emosional tentang realitas rohani, dan melalui
berbagai bentuk perenungan rohani atau disiplin.3
Mistikisme dalam arti yang paling sederhana dan paling dasar
adalah semacam agama yang menekankan kesadaran langsung akan adanya
hubungan dengan Allah, kesadaran akan kehadiran oknum ilahi yang
langsung dan intim. Unsur-unsur dari gerakan Mistikisme adalah:
Pertama, ciri intinya adalah kepercayaan pada wahyu khusus di luar
Alkitab. Alkitab hanyalah suatu kesaksian tentang pewahyuan sambil
menanti kehadira Allah dalam dialog dengan orang berdosa untuk menjadi
pewahyuan khusus.
Kedua, dengan hilangnya patokan obyektif, mistikisme menekankan
subyektivisme dan emosionalisme.
Ketiga, kurang menekankan Gereja yang ada dan berpusat pada satu
pemimpin.
2
Harvie M. Conn, Teologi Kontemporer (Malang: Seminari Alkitab Asia
Tenggara, 1988), Cet. ke-2, 113.
3
Frank Gaynor, Dictionary Of Mysticism (New York: Philosophical Library,
1953), 119.
Keempat, penekanan mistis ada pada hal yang menakyubkan. Yang
ditekankan bukan karunia-karunia Roh Kudus yang biasa, tetapi karunia
Roh Kudus yang luar biasa.
Kelima, menekankan eskatologi dalam arti terbatas.
Jadi, Fox memandang Mistikisme sebagai bentuk prosedur keagamaan
yang berpusat pada pengalaman pribadi dengan yang ilahi. Baginya, semua
agama
memiliki
aspek-aspek
mistik;
orang-orang
percaya
mempertahankan keyakinan penting di dalam realitas transcendental hanya
selama mereka berkomunikasi dengan realita tersebut melalui pengalaman
langsung. Karena setiap manusia berpotensi untuk memperoleh
pengalaman keagamaan, maka setiap individu memiliki kemungkinankemungkinan mistik.
Panentheisme
Fox memposisikan Yesus sebagai model utama Panenteisme dalam
Alkitab. Matius menekankan Yesus dalam Injilnya sebagai Immanuel (Mat
1:22), merupakan penekanan pada sifat imanensi keilahian dalam pribadiNya dan dalam tatanan ciptaan melalui kehadiran-Nya.4 Menurutnya,
Panentheisme bersifat Alkitabiah.
Esoterisme
Ketika Hawa melihat bahwa buah pohon itu amat menarik bagi
matanya, ia pun melanggar perintah Allah dan memakan buah itu. Setan
menjanjikan bahwa matanya akan terbuka. Filsafat Setan ini dikenal
sebagai esoterisisme, yang merupakan jantung Zaman Baru.
Kepada kita dikatakan bahwa terdapat suatu transformasi kesadaran
yang mendorong kita kedalam kerohanian sejati. Secara historis, kaum
esoterik meyakini bahwa mereka mengetahui rahasia pengetahuan khusus
yang tersembunyi bagi khalayak ramai. Kita harus meninggalkan agama di
belakang kita dan memasuki petualangan ke dalam dimensi-dimensi
pengetahuan dan penerangan baru. Sasaran akhirnya adalah perubahan
rohani. Doktrin tidaklah penting. Yang penting adalah suatu pengalaman
keagamaan, perasaan kebersatuan dengan kekuatan atau energi yang
disebut Allah. Nalar tidaklah menolong Anda. Anda harus menggunakan
4
1988), 69.
Matthew Fox, The Coming of the Cosmic Christ (New York: Harper and Row,
teknik yang benar untuk masuk ke dalam realitas tertinggi. Hal-hal irasional
diterima; nalar ditolak.5
Gerakan Zaman Baru
Gerakan Zaman Baru dikenal dengan berbagai macam nama.
Beberapa sebutan yang paling lazim adalah Zaman Aquarius, Kesadaran
Baru, Orientalisme Baru, Humanisme Kosmik, Tatanan Dunia Baru,
Esoterisme Baru dan Globalisme Baru. Apapun namanya, pendirian
dasarnya sama.
Fox dipengaruhi oleh prinsip-prinsip Zaman Baru. Keyakinankeyakinan Timur yang terdapat dalam inti Gerakan Zaman Baru adalah;
Allah bukanlah pribadi–kekuatan, energi, dan satu-satunya realitas yang
meliputi segala sesuatu. Sesungguhnya, segala sesuatu adalah Allah, dan
Allah adalah segala seuatu. Keselamatan diperoleh melalui meditasi.
Keyakinan-keyakinan dasar Gerakan Zaman Baru telah diberikan
oleh Setan di Taman Eden dan telah menjadi bagian paganisme kuno (Kej
3: 4-5).




Kamu akan menjadi seperti Allah (Panteisme)
Sekali-kali kamu tidak akan mati (Reinkarnasionalisme)
Kamu akan mengetahui yang baik dan yang jahat (Relativisme)
Matamu akan terbuka (esoterisme)
Zaman Baru berubah menjadi suatu kebangkitan kembali Zaman
Kuno, sebab pengajaran dalam agama-agama misteri di zaman kekafiran
Yunani dan Romawi juga didasarkan pada ide adanya pengetahuan rahasia
yang dapat diperoleh dengan menyelidiki kedalaman jiwa seseorang.
Melalui perjumpaan mistis dengan kekuatan-kekuatan kosmis, menjadi
mungkin menerima penerangan.
Pluralisme
Menurut Fox, Yesus adalah juga satu jalan kepada Allah, namun
pastilah bukan satu-satunya jalan kepada Allah. Menurut Gustave H.
Todrank, Yesus adalah salah satu Kristus atau a Christ bukan the Christ.
5
Erwin W. Lutzer & John F. DeVries, Strategi Setan Dalam Zaman Baru
(Yogyakarta: Yayasan ANDI, 1989), 15-16.
Dalam kategori inilah, Todrank menyamakan Gandhi, Albert Schweitzer,
J.F. Kennedy, Martin Luther King, Mao Tse Tung sebagai kristus-kristus
yang lain.6
Pluralisme menolak semua klaim agama yang bersifat absolut,
mutlak, unik, normatif eksklusif atau finalitas. Pluralisme agama menolak
finalitas Kristus sebagai dasar dari iman Kristen. Karena itu dapat juga
disebut Pluralisme adalah merupakan suatu ajaran antikristus, yang
berusaha menyamakan bahkan menggantikan Kristus dari Nazareth dengan
kristus yang kosmis yang panteistis atau kristus-kristus palsu.
Konsep kebenaran pluralisme merupakan perpaduan antara
relativisme dan subyektivisme. Tidak ada standard normatif dan obyektif
tentang kebenaran.
Pluralisme bukanlah sekadar suatu konsep sosiologis, melainkan
lebih merupakan doktrin teologis yang didasarkan pada relativisme yang
bersumber pada pandangan dunia individualis Barat, maupun pandangan
dunia Oceanis (Hindu), sehingga keunikan dan finalitas Kristus dianggap
sebagai sebuah mitos yang perlu ditinggalkan.
Fox mengangkat Revolusi Copernicus dalam agama. Umat manusia
tidak perlu lagi menganggap diri mereka sendiri sebagai makhluk ciptaan
yang jatuh dan tersesat.
Revolusi Kopernikus adalah suatu istilah yang dipakai oleh kaum
pluralis untuk menggambarkan adanya peralihan paradigma atau
transformasi radikal dari posisi teologis kristosentris kepada theosentris.
Mengacu pada Allah sebagai pencipta semesta dengan pluralitasnya,
maka menurut kaum pluralis tidak ada alasan bagi siapapun dan agama
apapun untuk mengklaim memiliki kebenaran maupun pengetahuan yang
mutlak dan normatif.
Kristus Kosmik
Fox bersama beberapa mistikus termasuk Teilhard de Chardin, salah
satu mistikus terkemuka pada abad ke-20 memberi simbol pada Teologi
Spiritualitas Ciptaan. Ia berusaha membentuk spiritualitas yang berpusat
pada manusia yang makin berkembang menuju titik Omega Kristus (sejarah
manusia berkembang ke arah klimaks, semua disempurnakan dalam
Kristus).7 Teilhard tidak menolak pandangan tradisional mengenai Kristus
6
Lih. Gustave H. Todrank, The Secular Search or A New Christ (Philadelphia:
The Westminster Press, 1969).
7
Tony Lane, Runtut Pijar (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), Cet. ke-4, 262.
yang hitoris sebagai Anak Allah yang menjelma. Tetapi ia lebih
menitikberatkan Kristus yang kosmis. Kristus seutuhnya atau tubuh Kristus
yang mistik berkembang di dalam kerangka evolusi manusia. Penebusan
harus dilihat sebagai proses evolusi ini.
Jadi, peran apa yang dimainkan oleh Yesus Kristus dalam
Spiritualitas Ciptaan Fox? Yesus Kristus berfungsi sebagai prototipe untuk
ciptaan baru tersebut. Dia adalah model utama bagaimana manusia
memperbarui gambar Allah yang adalah diri kita sendiri.
Yesus adalah juga satu jalan kepada Allah, namun pastilah bukan
satu-satunya jalan. Yesus Fox bukanlah satu pribadi historis harfiah, namun
lebih sebagai Dia adalah suatu prinsip potensialitas ilahi yang mungkin
ditemukan dalam setiap makhluk hidup (makluk ciptaan yang hidup).
Prinsip ini dia sebut Kristus Kosmik.
Humanisme
Fox mengajarkan bahwa umat manusia adalah pencipta–bahkan
pencipta Allah sendiri. Humanisme telah memutuskan untuk memandang
manusia sebagai ukuran atau kaidah segala sesuatu. Itu berarti menarik
mundur dari Allah, dan juga penolakan terhadap Allah yang mahakuasa.
Prof. Dr. Eta Linnemann mengatakan bahwa, orang-orang Humanis
berbicara tentang Allah dan memakai nama-Nya, tetapi apa yang mereka
katakan tentang Allah tidak didasarkan atas Firman Allah. Mereka
memandang dirinya sebagai orang Kristen, tetapi mereka tidak tunduk
kepada Firman Tuhan. Pikiran mereka didasarkan atas pikiran manusia
yang makin lama makin jauh dari Firman Allah.8
Doktrin Gerakan Zaman Baru mengajarkan, jika segala sesuatu
adalah Allah, maka manusia adalah Allah juga. Fox mengangkat Revolusi
Copernicus dalam agama. Umat manusia tidak perlu lagi menganggap diri
mereka sendiri sebagai makhluk ciptaan yang jatuh dan tersesat. Pandangan
ini akan mengganggu misi sejati mereka dalam kehidupan, yang adalah
menjadi pelaku transformasi.
Tentang Pencerahan, Fox menyatakan bahwa telah merampas dari
masyarakat kita nilai firman tersebut; ada banyak jalan memperoleh
persekutuan dengan Allah. Ini mencakup ekstasi natural, dan ekstasi taktis.
Fox mengutip pernyataan Yesus bahwa seseorang harus menjadi seperti
8
Eta Linnemann, Teologi Kontemporer: Ilmu Atau Praduga (Batu: Institut Injil
Indonesia, 1991), 21.
anak kecil sebelum masuk ke dalam Kerajaan Allah–itu berarti mengambil
crayon, bekerja dengan gambar-gambar, main dengan permainan.
Manusia bukan hanya dapat menjadi rekan pencipta bersama Allah, tetapi
bahkan menjadi pencipta Allah! ...manusia bertanggung-jawab untuk
melahirkan dan memelihara Allah.
Nikos Kazantzakis, yang mengarang The Last Temptation of Christ,
pernah mengatakan, Bukanlah Allah yang akan menyelamatkan kita–
kitalah yang akan menyelamatkan Allah, dengan memperjuangkan, dengan
menciptakan dan mengubah ke dalam roh.9
Shirley Maclaine mengatakan bahwa kata atonement (penebusan)
berarti At-one-ment (kesatuan) dengan pencipta yang semula atau dengan
ciptaan yang semula.10 Kita adalah pencipta dan sekaligus juga ciptaan, dan
kita dapat membawa keduanya menjadi lebih dekat. Kemungkinan terjadi
atonement tegantung pada kita.
Panteisme mengajarkan bahwa Allah jatuh dan manusia
menyelamatkan-Nya! Tetapi manusia tidak pernah jatuh. Manusia
menyelamatkan Allah dengan membawa kembali aspek keilahian material
ke dalam keharmonisan dengan hal yang spiritual.
Maharishi, yang seringkali dikenal sebagai bapa meditasi
transcendental mengatakan, Tenanglah dan sadarilah bahwa Anda adalah
Allah.
Terry Cole-Whittaker, yang pernah mengaku sebagai seorang
penginjil Kristen, berkata, Anda adalah Allah. Kita bersama adalah Alah.
Dan bersama dengan kesadaran, kebangkitan dan pilihan kita sendiri, kita
menciptakan kerajaan Allah. Sembahlah diri Anda sendiri, Anda adalah
terang.11
Gnostisisme
Gerakan Fox bersifat radikal dalam semangat heresi Gnostikisme,
berusaha menurunkan Allah dari takhta demi esoterik yang kacau,
berdasarkan tehnik-tehnik meditatif dan usaha manusia.
Nama gnostikisme berasal dari kata Yunani gnosis yang berarti
pengetahuan dan menekankan karakter dari bidat ini. Istilah Gnostik
9
AFA Journal, Juli 1988, 22.
Shirley Maclaine, Out on a Limb (New York: Bantam Books, 1983), 107.
11
Terry Cole-Whittaker, The Inner Path from Where You Are to Where You Want
to Be (New York: Fawcett Crest, 1986), 39.
10
khusus dipakai sebagai sebutan bagi beberapa aliran kepercayaan (aliran
Valentinus dan Basilides), pada abad ke-2.
Ajaran Gnostik bersumber dari percampuran antara agama timur,
yaitu agama Mesir yang menyembah Dewi Isis dan Dewa Osiris, Agama
Siria yang menyembah Dewa Baal, Agama Persia yang menyembah Dewa
Mitras dan Agama Asia yang menyembah Dewi Khibele; dan filsafat barat,
yaitu: Pikiran filsafat Plato tentang dunia idea (materi adalah jahat
sedangkan roh adalah baik), dan ditambah lagi konsep pemikiran tentang
keselamatan dari agama Kristen. Dengan demikian, wujud Gnostikisme
pada hakikatnya adalah Sinkretisme yang dualistis panteistis. 12 Azas-azas
ajaran Gnostik:
 PB dipisahkan dari PL. Keberadaan pengantara dalam rangkai-an ini
adalah demiurgos, yaitu Allah PL yang tak disukai.13
 Allah pencipta tidak sama dengan Allah Bapa Yesus Kristus
 Materi (zat jasmani) bukanlah ciptaan Allah yang baik, melainkan
dianggap jahat menurut hakikatnya
 Kehidupan jasmani manusia adalah jahat, dan patut diingkari
 Tidak ada kebangkitan daging dan tidak ada dunia yang baru, sebab
seluruh materi akan binasa kelak
Eskatologi Konsisten
Fox mengantisipasi penciptaan Zaman Baru, Zaman Aquarius
tersebut, yang dia duga, akan mengganti Era Pisces (Era Kekristenan)
menjelang tahun 2000. Seringkali bilangan 666 dimasukkan ke dalam
berbagai diagram dan tanda. Semua ini menandakan bahwa kita sedang
mengucapkan salam perpisahan kepada Zaman Pisces dan menyambut
kedatangan Zaman Baru Aquarius.
Fox mengutip pernyataan Albert Schweitzer sebagaimana satu di
antara beberapa umat Kristen Modern yang mengutip Yesus sebagai satu
mistik. Aliran eskatologi yang dipimpin Albert Schweitzer (1875-1965)
dan J. Weiss (1863-1914), lazim dikenal sebagai aliran Eskatologi
Konsisten.
12
Paulus Daun, Bidat Kristen Dari Masa Ke Masa (Manado: Yayasan Daun
Family, 1999), Cet. ke-11, 46.
13
Paul Enns, The Moody Handbook of Theology. Jilid 2. Terj. (Malang: Literatur
SAAT, 2004), 33.
Dalam buku Geschichte der Leben-Jesu-Forschung (Sejarah
Penelitian Hidup Yesus) Schweitzer menulis, bahwa Yesus itu seorang yang
mempunyai gagasan-gagasan yang aneh-aneh dan menakutkan. Sebab Ia
adalah ahli apokaliptik, yang hidupnya jauh dari dunia ini, yang
mengharapkan kedatangan Kerajaan masa depan itu pada masa hidup-Nya
dan bahwa Ia benar-benar kecewa pada waktu Ia dibawa ke pengadilan lalu
disalibkan. Ia keliru dalam harapan-Nya.14
E VALUAS I
Matthew Fox merupakan pendukung satu gerakan yang sangat
dipengaruhi oleh prinsip-prinsip Zaman Baru. Spiritualitas Ciptaan
merupakan bidat Kristen yang terjalin dengan pikiran mistik Timur.
Terbukti adalah mistik Kristen, namun mereka tidak sendirian.
Walau Fox mengklaim sebagai seorang Panenteisme dalam
doktrinnya tentang Allah, namun sukar menerima pandanganpandangannya yang sangat berbeda dengan Panteisme. Fox telah
menyingkirkan Allah dari Alkitab dan mengganti posisi Allah dengan
manusia dan ciptaan yang diallahkan. Fox mengajarkan bahwa umat
manusia adalah pencipta–bahkan pencipta Allah sendiri.
Namun Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah trans-cendental;
Dia adalah yang–Lain. Dia adalah sang Pencipta, dan baik kita maupun
dunia ini di mana kita hidup bukanlah perpanjangan Keberadaan-Nya. Kita
telah diciptakan oleh Allah dan Dia berotoritas atas kita; kita tidak
berotoritas atas Dia. Kita mungkin dapat menegaskan keinginan Fox untuk
mengasihi dan peduli pada ciptaan. Salah satu fungsi dari imago Dei dalam
manusia adalah untuk mempresentasikan Allah dalam ciptaan; kita adalah
pengurus ciptaan. Namun kebaikan ciptaan tidak bersifat intrinsik; ciptaan
itu baik karena Allah telah mendeklarasikan demikian. Bahwa bumi
diciptakan dan bukan bersifat ilahi tidak mengurangi kebaikannya.
Kita mungkin setuju dengan Fox bahwa umat manusia diilhami
kreativitas. Ini adalah bagian dari kesatuan–utuh manusia, juga sepa-kat
bahwa Allah mengundang manusia untuk berpartisipasi bersama Dia dalam
karya penciptaan tersebut. Namun sebutan manusia sebagai rekan pencipta
adalah tindakan yang berlebihan. Apapun yang kita mungkin ciptakan tidak
pernah bersifat ex nihilo, namun dari bahan yang telah ada yang
sebelumnya diciptakan oleh Allah.
14
Lih. Harun Hadiwijono, Theologia Reformatoris Abad Ke 20 (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1985), 23.
Yesus Kristus menempati posisi yang terlalu kecil dalam sistem
Matthew Fox. Jika iman di dalam Kristus bukan satu-satunya jalan menuju
Allah–dan Fox mengatakan ada banyak jalan–maka Yesus dapat
disingkirkan karena tidak dibutuhkan. Fox mengklaim bahwa penyaliban
Kristus memiliki kepentingan tertentu. Namun kita menemukan bahwa
kematian-Nya hanya memiliki nilai simbolis sampai pada tingkatan bahwa
itu berfungsi sebagai suatu model bagi usaha untuk mentransformasi
kemanusiaan. Sebagai kemenangan obyektif atas dosa dan kematian ini
tidak memiliki nilai. Dengan demikian, Spiritualitas Ciptaan bertentangan
dengan ajaran Alkitab yang menempatkan Yesus sebagai satu-satunya jalan
menuju Allah (Yoh 14:6) dan kematian-Nya sebagai sarana merekonsiliasi
manusia kepada Allah (Rm 5:10).
Juga, pemahaman Fox tentang Roh Kudus bukan bersifat orthodox.
Usaha menghubungkan Pribadi ketiga dalam Trinitas dengan Dewi kafir
sebagai usaha untuk menjangkau pribadi feminin dalam ketuhanan adalah
kafir, bukan Kristen. Fox mengklaim bahwa Roh Kudus tidak tinggal dalam
semua manusia.15 Menurut Alkitab Roh Kudus diam di dalam manusia
milik Kristus (Kis 2:38).
Ketika sampai pada dosa, Gerakan Spiritualitas Ciptaan menjadi
kacau, baik disebut buruk dan buruk disebut baik. Fox mengatakan bahwa
hal-hal yang disalahkan Alkitab karena jahat seperti homo-sexualitas,
penggunaan obat-obatan, astrologi, dan tenung–sebenar-nya merupakan alat
penunjang kerohanian yang secara potensial berguna. Fox mengutuk Gereja
karena Gereja dianggap sebagai kubu pertahanan bagi kejahatan.
Mungkin tidak semua setuju dengan Agustinus, namun Alkitab–
bukan dia–yang bertanggungjawab untuk mencacat kejatuhan dan kejahatan
manusia. Dan meskipun kita simpati dengan keinginan Fox untuk memberi
lingkungan kehidupan, kaum wanita dan masyarakat-masyarakat pribumi
posisi yang terhormat dan layak di dunia, namun pelanggaran terhadap
kelompok-kelompok ini–yang diakui bersifat jahat–bukanlah satu-satunya
kejahatan di duni ini. Tingkah laku manusia yang tidak memenuhi standardstandard Allah adalah juga dosa (lih. Gal 5:19).
Manusia tidak mampu mentrasformasi keberadaannya sendiri.
Meditasi–jenis apapun itu–bukan kunci untuk bersekutu dengan Allah atau
untuk suatu kehidupan yang diubahkan. Kristus yang dapat mengefektifkan
keduanya. Wayne Boulton mengkritik Fox sebagai simplistik, sedikit seperti
seorang Robert Schuller dari sayap kiri.
15
Fox, Creation Spirituality, 105.
Kapan Zaman Baru, atau kerajaan tersebut datang? Ini berada dalam
jadwal Allah dan bukan hasil inisiatif manusia. Tidak ada usaha manusia
yang sebesar apapun akan mengefektifkan satu transformasi universal atas
dunia ini. Teologi Fox berorientasi pada usaha, selalu mengandalkan
manusia untuk menarik dirinya sendiri, secara total untuk menyelamatkan
keberadaannya sendiri.
Menurut Boulton kesalahan Fox yang paling berbahaya adalah
bahwa dalam arti Kristen dia tidak cukup bersifat mistik. Ketika beberapa
hal terpenting dari PB–surga, kehidupan yang akan datang, dan
penghakiman atas dunia ini–Fox bungkam tentang hal ini; spiritualitasnya
yang berpusat–kepada ciptaan menyingkirkan hal ini.
KESIMPULAN
Sesungguhnya Teologi Matthew Fox bersifat radikal. Dia tidak
mendukung ide Yesus Kristus satu-satunya jalan kepada Allah, yang
diyakini ratusan orang percaya mula-mula sehingga dengan sukacita
menjalani kematian mereka. Gerakan Fox bersifat radikal dalam semangat
heresi Gnostikisme yang berusaha menurunkan Allah dari takhta demi
esoterik yang kacau, berdasarkan tehnik-tehnik meditatif.
Sesungguhnya nilai Spiritualitas Ciptaan bukan terletak pada teologi
namun dalam kepedulian pastoral. Ajaran gerakan tersebut telah menjadi
mode diantara banyak lembaga pendidikan pastoral dan para praktisi yang
peduli pada pastoral. Penolakan Fox akan Worm Theology patut dipuji
sebagaimana juga keinginannya untuk membimbing umat manusia
menemukan kembali berkat mula-mula. Usaha apapun untuk meredakan
penderitaan manusia, mengangkat yang terinjak-injak, dan menekankan
belas kasih akan mendapatkan posisi yang terhormat di mata manusia.
Mungkin Fox telah memberi kontribusi bagi penegasan harga diri
dan nilai kepribadian, tetapi pada saat yang sama pastilah kita bertanyatanya, bagaimana usaha spiritual yang dibangun di atas fondasi yang rapuh
pada akhirnya bisa bernilai? Telah terbukti, bahwa doktrin Panentheistik
Fox tentang Allah dan dosa adalah salah dan diputarbalikkan. Bagaimana
satu teologi bisa bermanfaat jika secara keseluruhan keliru sejak awal???
IBADAH DALAM KITAB WAHYU
FERDINAN S. MANAFE
PENDAHULUAN
Ibadah adalah tugas utama Gereja. Gereja masa kini mau atau tidak,
suka atau tidak harus memperhatikan dan menata ibadahnya dengan baik.
Mengapa? karena kecenderungan jemaat masa kini, ingin menikmati ibadah
(baca: suasana ibadah) yang dapat memenuhi kebutuhan mereka. Ibadah
yang baik dalam pandangan jemaat pada umumnya adalah ibadah yang
menyenangkan dan dapat memenuhi kebutuhan psikologisnya. Dan ibadah
yang baik itu adalah yang memiliki faktor “entertain” di dalamnya,
misalnya dengan full band, tarian tamboring, liturgi yang tidak kaku dan
semua jemaat diberi kebebasan dalam berekspresi. Apakah ibadah seperti
itu adalah ibadah yang baik? Apa kata Alkitab tentang ibadah? Melalui
tulisan ini penulis ingin memaparkan bagaimana ibadah dalam kitab
Wahyu. Bagaimana ibadah itu terjadi dalam konteks kitab Wahyu, dan
prinsip apakah yang dapat kita aplikasikan dalam konteks ibadah Gereja
masa kini?
LATARBELAKANG KITAB WAHYU
Judul kitab Wahyu dalam bahasa Yunani ditulis Apokalypsis artinya
sesuatu yang disingkapkan, sekalipun ada pembaca yang menyatakan
bahwa tidak banyak yang disingkapkan.1 Kata Apo artinya “jauh dari” dan
kalupsis artinya “kerudung” atau “penutup.” Jadi, Apokalupsis berarti ”jauh
dari ketertutupan.” Atau dengan kata lain berarti menyingkapkan,
menyatakan, membukakan, sehingga tidak lagi tersembunyi atau tertutup. 2
Untuk mengerti lebih lanjut tentang kitab Wahyu, berikut ini, penulis akan
memaparkan latarbelakang penulis, waktu dan tempat penulisan, alamat
dan tujuan penulisan, metode penafsiran, teologia dan secara khusus ibadah
dalam kitab Wahyu.
1
Simon J. Kistemaker, Revelation; New Teatament Commentary (Grand Rapids,
Michigan: Baker Books, 2001), 3.
2
Eddy Fances, Wahyu kepada Rasul Yohanes (Jakarta: YASINTA, 2001), 9.
Penulis Kitab Wahyu
Penulis kitab Wahyu empat kali disebut sebagai Yohanes (1:1, 4;
21:2; 22:8). Para bapa gereja mendukung pendapat ini bahwa Yohanes
adalah penulis kitab Wahyu. Sebagaimana ditulis oleh Steve Gregg bahwa;
Para Bapa Gereja - misalnya, Justin Martyr (d.165), Irenaeus (c.180),
Clement dari Alexandria (wafat 215), Tertulianus (d.220) – Sepakat
bahwa penulis kitab ini adalah Yohanes, anak Zebedeus, salah satu
dari dua belas rasul, dan "murid yang dikasihi" Kristus, yang kepada
dipercayakan untuk menulis Injil keempat dan ketiga surat. 3
Meneguhkan pendapat di atas, Dave Hagelberg menulis sebagai
berikut.
Justinus Martyr menulis dalam Dialog dengan Trypho (tahun 135)
bahwa Rasul Yohanes adalah penulis Kitab Wahyu. Pernyataan itu
dapat diterima kebenarannya, karena selama beberapa tahun Justinus
tinggal di Efesus. Eusebeus, Irenius, Clement, Origen, Tertullianus
dan Hippolytus juga mendukung pengertian ini, yaitu Rasul Yohanes
sendiri penulis Kitab Wahyu.4
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Rasul Yohanes anak
Zebedeus, salah seorang dari 12 Rasul, dan yang disebut sebagai murid
yang dikasihi Tuhan Yesus adalah penulis kitab Wahyu.
Waktu Dan Tempat Penulisan
Kitab Wahyu ditulis pada zaman Kaisar Domitian di Roma (tahun
81-96). Rasul Yohanes dibuang ke Pulau Patmos (1:9). Menurut Eusebius
dan Jerome, sejarahwan dan bapa gereja yang terkenal, diperkirakan kitab
ini ditulis antara tahun 83-96 AD. Maka tidak heran kalau latar belakang
politik dan sosial dari kitab ini sangat dipengaruhi oleh warna penjajahan
Romawi atas bangsa Yahudi. Domitian memaksa semua orang dibawah
jajahannya agar memanggilnya sebagai “Allah” dan menyembahnya.5
3
Steve Gregg, Edit., Revelation; Four Views A Parallel Commentary
(Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1997), 12.
4
Dave Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu Dari Bahasa Yunani (Yogyakarta:
Yayasan Andi, 1997), 1-2
5
Fances, Wahyu…, 9-10.
Dalam konteks inilah Rasul Yohanes menulis kitab Wahyu. Maka
berdasarkan data dari dalam kitab Wahyu dan pendapat bapa-bapa gereja,
Rasul Yohanes menulis kitab Wahyu tahun 95,6 menjelang berakhirnya
pemerintahan Kaisar Domitian (81-96 M). Dan tempat penulisan adalah
Pulau Patmos.
Alamat Dan Tujuan Penulisan
Secara khusus, kitab ini ditulis untuk tujuh jemaat di tujuh kota di
Asia Kecil yaitu Propinsi Asia yang terletak di bagian barat negara Turki
(Why 1:11). Jarak antara tujuh kota itu sekitar 50-80 kilometer. Setiap tujuh
kota tersebut mempunyai kantor pos besar untuk wilayah Propinsi Asia
bagian barat-tengah.7 Secara umum, sebagai bagian dari Alkitab, kitab ini
juga ditulis untuk setiap orang Kristen (Why 2:7, 17, 29; 22:18).
Kitab Wahyu ditulis dan dikirim kepada orang-orang Kristen dari
ketujuh jemaat (dan kepada kita) untuk mendorong, menegur, dan
membesarkan hati mereka (dan hati kita), demikian pendapat Hagelberg. 8
Kistemaker lebih jauh menuliskan bahwa; ” Tujuan Wahyu adalah untuk
mendorong dan menghibur orang percaya dalam perjuangan mereka
melawan Setan dan para pengikutnya.9Jadi, tujuan kitab Wahyu ditulis
bukan untuk menakutkan orang percaya justru sebaliknya. “membuka
6
Data-data yang mendukung pendapat ini adalah: (1) Irenius mengatakan
bahwa Wahyu ditulis pada akhir kerajaan Domitianus. (2) Sudah ada pengalaman yang
matang dari ketujuh jemaat itu. Jika hal itu terjadi pada masa kerajaan Nero, belum ada
waktu untuk memungkinkan terjadinya kemerosotan jemaat Tiatira, Sardis, dan Laodikia,
ataupun ketekunan jemaat Efesus, Smirna, dan Filadelfia yang diceritakan dalam pasal 2-3.
(3) Kota atau jemaat di Laodikia menganggap dirinya kaya (Wahyu 3:17), tetapi pada masa
kerajaan Nero kota itu terkena gempa bumi (tahun 60 atau 61), sehingga pada saat itu
mereka tidak lagi menganggap diri kaya. (4) Adanya penganiayaan (1:9; 2:10, 13; 3:10)
cocok dengan zaman Domitianus. Setelah musibah kebakaran kota Roma, Nero
mengambinghitamkan orang Kristen di kota Roma, dan mereka dianiaya secara kejam.
Penganiayaan tesebut bukanlah yang diceriterakan dalam kitab Wahyu, karena
penganiayaan tersebut hanya terjadi di kota Roma, sedangkan yang disebutkan dalam kitab
Wahyu juga terjadi di Asia Kecil. Pada zaman kerajaan Kaisar Domitianus penyembahan
kepada Kaisar sudah menjadi kewajiban yang membawa hukuman maut. Orang Kristen
yang tidak siap menyembah Kaisar Domitianus dianiaya disetiap tempat. Inilah pendapat
Mounce yang dikutip Dave Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu (Yogyakarta: Yayasan Andi,
1997), 4.
7
Hagelberg, Tafsiran…, 5.
8
Ibid.
9
Kistemaker, Revelation…, 53.
rahasia bahwa dalam konflik antara Kristus dan Setan, Kristus adalah
pemenang dan setan telah dikalahkan.” 10
Dengan demikian, tujuan kitab Wahyu ditulis adalah untuk memberi
pengharapan bagi orang percaya, bahwa Kristus yang telah menang akan
memelihara umat-Nya. Ia akan memimpin umatnya masuk ke dalam
kekekalan yang penuh berkat (19:1-9; 21:2,9).
Konteks Penulisan
Untuk memperoleh pemahaman yang memadai, penulis akan
memaparkan konteks dimana kitab Wahyu ditulis, untuk menolong
mengerti situasi ibadah jemaat di Asia dan jemaat pada umumnya.
Gereja
Yohanes menulis tujuh surat kepada gereja-gereja di Propinsi Asia.
Isi dari surat- surat ini menyatakan konteksnya dan refleksi waktu ketika
disusun. Nampaknya penerima surat ini adalah orang-orang Kristen
generasi kedua. Kondisi ketujuh jemaat menunjukkan bahwa mereka baru
saja menerima Injil. Hal itu nampak dalam isi surat tentang kasih yang
mula-mula, ajaran pengikut Nikolaus, penganiayaan, para martir, ajaran
Bileam, perzinahan, seluk beluk Setan, dan menjadi kaya dengan kekayaan
duniawi. Bahkan gereja-gereja ini tidak menunjukkan sikap sebagai gereja
yang pernah didirikan dan digembalakan oleh Rasul Paulus pada tahun 50an. Misalnya, Paulus melayani selama tiga tahun (53-56) di Efesus dan
menulis surat-surat kepada Timotius, yang menjadi gembala di sana tahun
60-an. Tak ada satupun, di dalam Kisah Para Rasul atau surat-surat Paulus
menyatakan kondisi umum di gereja Efesus, ketika Yohanes menulis surat
yang didiktekan oleh Yesus. Kemerosotan iman telah terjadi di Efesus dan
gereja-gereja lain. Surat-surat pribadi kepada Timotius tahun 60-an bahkan
surat-surat Am dari Rasul Petrus dikirim ke daerah yang sama pada waktu
itu, merefleksikan situasi yang digambarkan oleh Yesus dalam surat-surat
kepada gereja-gereja di Propinsi Asia. Paulus melawan Yudaisme yang
menyelinap masuk ke dalam gereja; ajaran Nikolaus, pengikut Bileam, dan
pengikut Izebel.11 Milligan yang dikutip oleh Kistemaker menulis bahwa;
10
11
Kistemaker, Revelation…, 53.
Ibid., 34.
Ketika kita membaca tujuh, khususnya empat terakhir, surat-surat
dalam Wahyu, kita berada dalam suasana yang berbeda. Tidak
sesempit Yudaisme, tetapi imoralitas liar dan keduniawian kekafiran
kini berjuang untuk menang, dan orang Kristen harus dikalahkan,
bukan agama Yahudi, tapi dunia dalam arti luas.”12
Dengan demikian kondisi gereja waktu itu sedang dalam kondisi
yang sangat merosot. Gereja kembali kepada hidup yang lama.
Penganiayaan
Melalui kitab Wahyu, Yohanes menyinggung soal penganiayaan
yang umat Allah harus pikul. Ia sendiri mengalami kesukaran melalui
pembuangan ke Pulau Patmos oleh karena “firman Allah dan kesaksian
yang diberikan oleh Yesus” (1:9). Dan ia menuliskan kata-kata yang
memberi semangat dan dorongan kepada jemaat di Smirna; ” Jangan takut
terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan
melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu
dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah
engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu
mahkota kehidupan” (2:10). Ia menunjuk kepada orang-orang kudus yang
telah mati dibunuh (2:13; 6:9-10; 16:6; 17:6; 18:24; 19:2; 20:4), dan ia
memperingatkan para pembaca akan waktu pencobaan (3:10).
Kekaisaran Romawi dipimpin oleh kaisar Nero (tahun 54-68).
Mengingat nama kaisar Nero, selalu dikaitkan dengan kebakaran besar di
kota Roma dan penganiayaan orang Kristen setelah kebakaran itu. Pagipagi sekali pada tanggal 19 Juli 64 ada api di Circus Maximus (tempat
perlombaan kereta pertempuran). Selama lima hari, api memakan kota
Roma.13
12
Kistemaker, Revelation…, 34.
Tentang terbakarnya kota Roma: menurut beberapa saksi mata ada orang yang
membesarkan api itu dengan sengaja, dan orang yang berusaha untuk memadamkannya
dihalangi orang lain. Menurut kabar angin, api itu dinyalakan atas perintah Kaisar Nero,
karena dia mau membangun kembali kota Roma sesuai dengan impiannya. Nero menuduh
orang Kristen dan menghukum orang-orang Kristen dengan sangat kejam. Ada yang
disalibkan, ada yang dijahit dalam kulit binatang, kemudian diburu dan dimakan anjing
yang lapar, ada yang dilumuri dengan ter dan dinyalakan sebagai obor. Menurut tradisi
yang cukup kuat, Rasul Paulus dan Petrus juga mati syahid dalam penganiayaan yang
dilakukan oleh Nero; Dave Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu Dari Bahasa Yunani
(Yogyakarta: Yayasan Andi, 1997), 6-7.
13
Nero meninggal pada tanggal 9 Juni 68. Selama satu tahun, yaitu
antara kematian Kaisar Nero dan kedatangan Vespasian, terjadi perang
saudara di kota Roma, dimana empat Kaisar naik takhta Kekaisaran
Romawi. Akhirnya, Kaisar Vespasian-lah yang menghentikan kekacauan
politis itu. Maka dimulailah wangsa Flavianus didirikan.14
Kitab Wahyu ditulis pada akhir wangsa Flavianus, yang terdiri dari
Kaisar Vespasian (69-79), Kaisar Tituts (79-81) dan Kaisar Domitianus (8196). Pada waktu itu, wilayah Kekaisaran Romawi sangat luas. Pada dinasti
Flavianus, Kekaisaran mencapai kepulauan Inggris dan daerah Jerman.
Sistem pemerintahannya totaliter, kaisar berkuasa mutlak. 15 Pada waktu
Kitab Wahyu ditulis, menyembah Kaisar Domitianus sudah diwajibkan
sebagai tanda kesetiaan politis.
Perlawanan Orang Yahudi
Pada dekade pertama setelah Pentakosta dan berdirinya gereja,
orang Kristen menikmati perlindungan dari kekuasaan Romawi karena
mereka ditempatkan dalam level yang sama dengan orang Yahudi.
Pemerintahan Romawi menyetujui secara hukum keberadaan agama
14
Dave Hagelberg, Tafsiran..., 7.
Mengutip F.F. Bruce, Hagelberg menjelaskan; menyebutkan dua peristiwa di
mana kuasa mutlak dinyatakan. Yang pertama, menurut Eusebius, Kaisar Domitianus
memanggil dua cucu dari Yudas, saudara Tuhan Yesus, untuk menentukan apakah mereka,
sebagai keturunan raja Daud, akan memperjuangkan kerajaannya. Ternyata mereka,
sebagai dua buruh yang rendah, tidak tertarik pada masalah politis, maka Kaisar
Domitianus membebaskan mereka. Peristiwa yang kedua, keponakan dari Kaisar
Domitianus, yang bernama Flavius Clemens, dihukum mati oleh Domitianus atas dakwaan
“ateisme, suatu dakwaan yang mengena banyak orang yang terbawa ke dalam kebiasaan
orang Yahudi.” Pada zaman itu, orang Kristen dikatakan ateis karena mereka tidak mau
menyembah dewa-dewa Roma. Juga, agama Kristen dianggap aliran dari agama Yahudi.
Oleh karena itu, banyak sarjana berpikir bahwa Clemens adalah orang Kristen. Atas
dakwaan yang sama, istrinya dibuang ke pulau Pandateria. Menurut tradisi gereja, Clemens
dan istrinya, Flavia Domitilla, percaya pada Tuhan Yesus. (Jauh sebelum peristiwa
tersebut, dua anak Clemens dan Domitilla ditentukan oleh Domitianus sebagai pengganti
dan pewarisnya. Hampir-hampir ada Kaisar yang dibesarkan di rumah Kristen!). Beberapa
bulan setelah Domitilla dibuang, seorang pegawai Domitilla membunuh Kaisar
Domitianus. Penggantinya, Kaisar Nerva, membatalkan beberapa tindakan Domitianus,
misalnya, Domitilla dapat pulang dari pembuangannya. Keadaan dua anaknya itu tidak
diketahui. Dave Hagelberg, Tafsiran Kitab Wahyu Dari Bahasa Yunani (Yogyakarta:
Yayasan Andi, 1997), 7-8.
15
Yahudi, dan pengikut-pengikutnya mendapat pengecualian dari ibadah
kepada kaisar.16
Para pengikut Kristus menemukan perlindungan di bawah payung
pemerintahan Romawi yang telah disediakan bagi orang Yahudi. Ketika
Yerusalem dan Bait Allah dihancurkan, maka mulailah terjadi pemisahan
secara hukum antara orang Yahudi dan orang Kristen secara permanen.
Orang-orang Yahudi adalah yang pertama membawa perlawanan terhadap
orang Kristen sebelum pemerintahan Romawi, sehingga orang Yahudi
menjadi ancaman bagi gereja. Kistemaker menuliskan bahwa; “Orangorang Yahudi berusaha untuk mengekspos orang Kristen dengan mengusir
mereka dari rumah-rumah ibadah mereka dan menolak perlindungan sipil.
Mereka memang penganiaya dari komunitas Kristen dan menjadi agenagen setan.”17 Dalam suratnya kepada jemaat di Smyrna dan Filadelfia,
Yohanes menyatakan tentang synagogue orang Yahudi dan menghubungkan
mereka dengan Setan. “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu -namun engkau kaya -- dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang
Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah
jemaah Iblis.” (2:9); “Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu
mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak
demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya
Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan
mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau.”(3:9).
Dengan demikian, dekade terakhir dari abad pertama penganiayaan
tidak dapat dihindari lagi. Kitab Wahyu merefleksikannya sebagai periode
hidup dan matinya orang percaya.
Metode Penafsiran
Ada empat metode penafsiran terhadap kitab Wahyu; preterist,
historis, futurist dan idealist. Berikut ini penulis akan memaparkan keempat
metode tersebut yang akan dipakai dalam menggali teologi ibadah dalam
kitab Wahyu.
Preterist
Istilah preterist adalah kombinasi dari dua kata latin yaitu;
”praeter” (past) dan ”ire” (to go), yang berarti; “...sudah masa lalu, milik
16
17
Kistemaker, Revelation…, 37.
Ibid.
masa lalu.”18 Menurut pandangan ini, segala sesuatu yang dicatat di dalam
kitab Wahyu telah digenapi pada abad pertama waktu Yohanes menulis
kitab Wahyu. Preterist mengajar bahwa symbol-symbol dalam kitab Wahyu
melukiskan peristiwa-peristiwa bersejarah selama abad pertama; kitab
Wahyu dihubungkan dengan kejadian-kejadian masa lampau tetapi tidak
memiliki hubungan dengan masa sekarang maupun masa yang akan
datang.19 Lebih lanjut, Hagelberg menuliskan bahwa, “Menurut mereka,
seluruh Kitab Wahyu hanya menceritakan keadaan umat Allah pada zaman
Kekaisaran Romawi saja. Segala tafsiran dari penafsir Preterist dikaitkan
dengan jemaat Kristus dan lingkungan mereka pada zaman itu.”20 Bahkan
menurut Ola Tulluan, mereka menafsirkan Wahyu 17:10 tentang ketujuh
raja, “diartikan: Agustus, Tiberias, Gayus, Klaudius, Nero, Vespasian dan
Domitian, yaitu tujuh kaisar besar yang memerintah pada abad pertama”.21
Keberatan terhadap pandangan ini, menurut Kistemaker22 adalah; (1)
Walaupun preterist mengatakan bahwa berita kitab Wahyu dapat dipakai
pada segala zaman maupun generasi, mereka gagal untuk menghargai
progressnya peristiwa dalam kitab Wahyu. Kitab Wahyu melukiskan
progressnya peristiwa-peristiwa yang bersifat prediksi, yang berakhir pada
kedatangan hakim yang akan datang untuk mengadili umat manusia. Hal ini
menjadi jelas di dalam tujuh meterai, tujuh sangkakala dan tujuh cawan.
Hal ini sulit untuk dimengerti bahwa rentetan peristiwa dalam setiap lukisan
ini menunjuk hanya kepada kejadian-kejadian kontemporer pada setengah
dari abad pertama; (2) Pandangan preterist menyampaikan pemikirannya
bahwa berita kitab Wahyu hanya bermakna secara mendasar pada orang
percaya abad pertama. Karena itu, bagi orang percaya pada era berikutnya,
berita ini hanya merupakan informasi sekunder, yang kurang penting.
Penganiayaan orang Kristen pada masa Nero menerima kata-kata
penghiburan dari kitab Wahyu Yohanes ketika mereka mendengar
kemenangan Kristus dialamatkan langsung kepada mereka. Tetapi Gereja
secara universal pada sepanjang masa juga mendengar suara yang sama dari
Kristus yang berbicara secara langsung kepada mereka di dalam situasi
mereka sendiri. Seperti Paulus menulis surat-suratnya kepada Gereja dan
secara khusus kepada individu, tetapi berita surat-surat ini relevan kepada
Gereja secara menyeluruh pada masa kini sebagaimana orang Kristen pada
18
19
20
21
22
Kistemaker, Revelation…, 38.
Ibid.
Hagelberg, Tafsiran…, 11.
Ola Tulluan, Introduksi Perjanjian Baru (Batu: Dep. Lit. YPPII, 1999), 297.
Kistemaker, Revelation…, 39.
pertengahan abad I; (3) Preterist menunjukkan bahwa binatang buas pada
Wahyu 13 adalah kaisar Nero, secara khusus dalam hal angka 666 dalam
ayat 18. Tetapi cara mengeja yang tidak biasa terhadap nama Nero dalam
bahasa Ibrani menuntut penemuan terhadap makna angka 666 tidak
meyakinkan. Tidak perlu diragukan lagi bahwa Yohanes secara lengkap
mengetahui penganiayaan Nero, tetapi untuk membatasi hanya kepada satu
kaisar dalam periode sejarah yang khusus, tidaklah realistis; (4) Tujuh surat
kepada tujuh Gereja di Propinsi Asia meninggalkan kesan yang berbeda
bahwa Yesus mengalamatkan surat-surat ini kepada generasi kedua bahkan
ketiga yang sedang dalam kemerosotan rohani.
Kebanyakan penafsir modern memakai pendekatan preterist. Tetapi
kemenangan total yang diceritakan dalam pasal 18-22 sulit ditafsirkan oleh
para penafsir yang mempergunakan pendekatan ini, karena tidak ada
kemenangan yang seperti itu pada zaman Kekaisaran Romawi, demikian
pendapat Hagelber.23
Historis
Menurut pandangan ini, kitab wahyu adalah suatu nubuatan
kejadian-kejadian penting dalam sejarah dari zaman para rasul sampai akhir
zaman. Kistemaker menuliskan bahwa; “Wahyu, menurut pendekatan
historis-berlanjut, menyajikan garis ringkas pembangunan Gereja dari hari
Pentakosta sampai penyempurnaan”.24 Selanjutnya Tulluan menuliskan
bahwa; “hanya bagian akhir (ps.19-22) yang akan digenapi pada saat
kedatangan Tuhan kelak”.25 Searah dengan pendapat tentang metode
penafsiran historis, Hagelberg menuliskan bahwa; “Menurut mereka, Kitab
Wahyu merupakan nubuatan yang menguraikan sejarah Eropa Barat sampai
kedatangan Tuhan Yesus pada hari kiamat”.26 Pendapat ini dilatarbelakangi
oleh pemahaman tentang sejarah umum yang disatukan dengan sejarah
agama, sebagaimana yang dituliskan oleh Kistemaker bahwa; “sejarah
sekuler dan sejarah agama terjalin baik, dan para pendukung telah mencoba
untuk menafsirkan peristiwa pada masa mereka sendiri dalam sejarah
seperti yang diramalkan dalam Kitab Wahyu. 27 Untuk memperjelas
pandangan ini, Henry Barclay Swete yang dikutip Kistemaker menuliskan;
23
24
25
26
27
Hagelberg, Tafsiran…,11.
Kistemaker, Revelation…, 40.
Tulluan, Introduksi…, 297.
Hagelberg, Tafsiran…,11.
Kistemaker, Revelation…, 40.
Pada akhir abad kedua belas Joachim dari Fiore, yang meninggal
pada tahun 1202, menyamakan binatang yang keluar dari dalam laut
(13:1) dengan Islam, yang dilukai oleh Perang Salib. Baginya,
Babel adalah Romawi, dan ia menyamakan beberapa kepala
binatang itu (17:3, 9-10) sebagai penguasa pada zamannya. Lebih
dari satu abad kemudian, para pengikut Fransiskus dari Paris
menafsirkan Antikristus sebagai Paus-Tiruan.28
Masih ada pendapat yang lain, yang menganggap kitab Wahyu
sebagai sebuah kalender dari peristiwa-peristiwa yang dimulai ketika
Yohanes berada di Pulau Patmos tahun 96. Mereka menentukan tujuh
meterai dan enam sangkakala kepada Gereja mula-mula dan abad
pertengahan, serta mengerti Wahyu 10 dan 11 sebagai masa Reformasi dan
untuk menjawab berita dari tujuh sangkakala kepada Gereja sejati. Dua
binatang buas dalam pasal 13 adalah Paus dan kekuasaannya, tujuh wabah
penyakit digenapi pada revolusi Prancis dan pergolakan modern, serta
hancurnya Babel adalah kejatuhan kepausan.29
Keberatan terhadap pandangan historis dituliskan Kistemaker 30
sebagai berikut; (1) Teks kitab Wahyu tidak memberi kemungkinan untuk
suatu presentasi historis terus-menerus; literatur sejarah dan wahyu adalah
tidak sesuai. (2) Jika wahyu berarti sejarah yang terus berkelanjutan, Gereja
mula-mula dan generasi pengganti tidak akan mampu memperoleh manfaat
dari sebuah berita yang diberikan kepada mereka. Juga, para penafsir
memakai kitab itu untuk Gereja barat seakan-akan Gereja di timur tidak
ada. Selanjutnya, para pengikut pandangan historis sering menganggap
remeh penafsiran yang kemudian tidak hanya aneh, tetapi tidak menghargai
Kitab Suci.
Futurist
Pandangan ini juga disebut sebagai pandangan eskatologis, dengan
menggaris bawahi bahwa kitab Wahyu bersifat nubuat tentang kejadiankejadian yang akan terjadi menjelang kedatangan Tuhan Yesus kedua kali,
untuk menyempurnakan Kerajaan Allah.31 Selanjutnya, Tulluan menuliskan
bahwa ada dua pandangan futuris yang berbeda, yaitu;
28
29
30
31
Kistemaker, Revelation…, 40.
Ibid.
Kistemaker, Revelation…, 41.
Tulluan, Introduksi…, 298.
(1) Beberapa penafsir menganggap fasal 2 dan 3 sebagai periodeperiode di dalam sejarah gereja sampai kedatangan Kristus yang
kedua kali; (2) Ada penafsir-penafsir yang lain yang tidak
menganggap fasal 2 dan 3 sebagai periode-periode sejarah gereja,
tetapi sebagai satu gambaran mengenai keadaan gereja-gereja itu
pada zaman Yohanes sendiri. 32
Berbeda dengan pernyataan di atas, bagi Kistemaker, “Pendekatan
futuris terhadap penafsiran Wahyu adalah bahwa dimulai pada 4:1, terjadi
di masa depan”.33 Sedangkan Hagelberg menegaskan bahwa, “menurut
pendekatan futuris, pasal 1-3 menceritakan mengenai zaman penulis, dan
pasal 4-22 merupakan nubuatan mengenai akhir zaman”.34 Morris dan
Mounce yang dikutip Hagelberg, mengritik pandangan ini, karena menurut
mereka, dengan pandangan ini pasal 4-22 tidak mempunyai arti bagi kita,
kecuali kita terlibat langsung, hingga Tuhan Yesus datang dalam masa
kehidupan kita.35 Sebenarnya kritikan ini tidak memiliki dasar yang kuat.
Berita mengenai kedatangan Tuhan Yesus tetap relevan pada setiap generasi
umat Allah karena berita tersebut menghibur umat Allah yang setia, dan
menakutkan bagi orang Kristen yang tidak setia.
Penulis kitab Wahyu menunjuk keseluruhan kitab ini pada hari
kedatangan Kristus kembali. Elemen nubuatan adalah komponen yang tidak
terelakkan, karena Yohanes memakai kata prophecy tujuh kali dalam kitab
Wahyu (1:3; 11:6; 19:10; 22:7,10,18,19). Yohanes menulis dalam terang
keagungan dan mengagumkan janji hari kedatangan Yesus. Maka beritanya
bersifat nubuatan.36
Pandangan futurist membandingkan perkataan dalam Wahyu 1:1
dan 19 dengan 4:1. Pada dua bagian pertama (1:1,9), Yohanes menekankan
pada hal-hal yang segera terjadi dan menuliskan hal-hal yang ia lihat, yang
32
Tulluan kemudian memberi kesimpulan bahwa; Menurut pendapat kami,
tafsiran futuris adalah yang paling tepat, karena tafsiran ini yang paling sesuai dengan
maksud dan isi dari kitab ini. Dengan demikian kitab Wahyu bersifat nubuatan (bnd. 1:3;
22:7). Di dalam Perjanjian Baru ada bagian-bagian lain yang juga menyangkut zaman
akhir (lih. Mat 24-25; Mrk 13; Luk 21; 1Tes 4:15-17; 2Tes 2:1-12; 1Kor 15:23-28). Di
samping itu Allah mengatur sedemikian indah sehingga ada satu kitab khusus yang
menguraikan apa yang akan terjadi berhubungan dengan kedatangan Tuhan Yesus untuk
kedua kali. Dengan demikian iman dan pengharapan orang-orang percaya diperkuat.
Tulluan, Introduksi…, 298.
33
Kistemaker, Revelation…, 41.
34
Hagelberg, Tafsiran…, 11.
35
Ibid.
36
Kistemaker, Revelation…, 41.
akan terjadi kemudian. Pada bagian terakhir Yohanes berkata; “Naiklah ke
mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah
ini. (4:1) Para futurist membagi dalam dua kategori: pertama, hal-hal yang
ada pada waktu Yohanes hidup; kemudian, semua hal milik masa depan.37
Ada beberapa masalah muncul dalam kaitan dengan pandangan
futurist ini. Diantaranya; tiga pasal pertama kitab Wahyu menjadi tidak
relevan bagi Gereja masa kini. Masalah yang lain adalah bahwa nubuatan
menekankan fokus pada kedatangan Kristus. Tidak seorangpun akan
membantah bahwa Gereja harus memiliki keinginan yang kuat untuk
mengharapkan kembalinya Kristus, tetapi hal ini tidak berarti bahwa
nubuatan-nubuatan dalam kitab Wahyu tidak akan digenapi sampai
kedatangan kedua. Jika benar demikian, maka Gereja dari zaman Yohanes
sampai sekarang tidak dapat memakai berita-berita nubuatan ini sampai
waktu sesudah abad pertama.38
Dengan demikian bagi penulis, Yohanes menulis kitab ini adalah
untuk Gereja di masa hidupnya, maupun untuk generasi berikutnya bahkan
sampai saat ini dan seterusnya, sampai Kristus kembali kedua kali. Kitab ini
dipenuhi dengan kata-kata penghiburan bagi umat Allah di segala tempat
dan di segala waktu.
Idealis
Menurut pandangan ini, kitab Wahyu tidak menceriterakan kelakuan
atau peristiwa, melainkan hanya menguraikan prinsip-prinsip yang bersifat
teologis.39 Searah dengan pernyataan di atas, Kistemaker menulis bahwa;
Wahyu bukanlah sejarah peristiwa yang telah terjadi di masa lalu
atau nubuat peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Ini adalah
buku tentang umat Allah dengan kenyamanan dan motivasi untuk
bertahan sampai akhir. Penekanan idealis memberi prinsip-prinsip
sehingga pesannya berlaku bagi orang Kristen dari semua generasi,
dari waktu Yohanes sampai akhir zaman. 40
37
38
39
40
Kistemaker, Revelation…, 41.
Ibid.
Hagelberg, Tafsiran…, 12
Kistemaker, Revelation …, 42.
Selanjutnya, Hendricksen yang dikutip Kistemaker menyatakan
maksud kitab Wahyu dengan menuliskan bahwa;
Kitab ini penuh dengan penghiburan bagi yang dianiaya dan orang
Kristen yang menderita. Bagi mereka diberi jaminan bahwa Allah
melihat air mata mereka (7:17; 21:4), doa-doa mereka yang
berpengaruh dalam berbagai urusan dunia (8:3,4) dan kematian
mereka adalah berharga di mata-Nya. Kemenangan terakhir mereka
dijamin (15:2), darah mereka akan dibalaskan (19:2); Kristus mereka
hidup dan memerintah selama-lamanya. Ia memerintah dunia untuk
kepentingan Gereja-Nya (5:7-8). Dia akan datang kembali untuk
membawa umat-Nya kepada diri-Nya dalam "perjamuan kawin Anak
Domba" dan hidup bersama mereka selamanya di alam semesta yang
baru. (21:22).41
Keberatan terhadap pandangan ini terletak pada kurangnya
penekanan pada faktor sejarah dan nubuatan. Hal ini harus menjadi
peringatan kepada mereka yang menggali kebenaran kitab Wahyu untuk
memperhatikan bahwa sejarah dan nubuatan perlu diperhatikan, tidak boleh
diabaikan.
Dengan demikian, untuk menganalisa teologi ibadah dalam kitab
Wahyu, penulis akan memperhatikan dan memakai keempat metode
penafsiran untuk mendapat suatu pemahaman yang menyeluruh dan
memadai.
TEOLOGI KITAB WAHYU
Sebagai puncak dari firman Allah yang tertulis, kitab Wahyu secara
konsekuen menyatakan pengajaran secara teologis sebagai berikut.
Allah Yang Mahatinggi
Allah Bapa sebagai yang menyatakan diri dan yang memerintah.
Allah yang mahatinggi. Tiga pasal pertama melukiskan Yesus Kristus,
sebelum seluruhnya dari kitab ini fokus kepada Allah. Allah adalah figur
sentral. Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya,
41
Kistemaker, Revelation …, 42.
supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera
terjadi. Dan oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya, Ia telah menyatakannya
kepada hamba-Nya Yohanes (1:1), menyatakan firman-Nya (19:13),
mempersiapkan tempat yang aman bagi umat-Nya (12:6), dan baginya,
hamba-hamba-Nya kemuliaan dan hormat (1:2, 4-6).42
Salah satu keistimewaan kitab Wahyu adalah nama Allah ada di
setiap pasal, menekankan bahwa Allah dari awal sampai akhir tetap adalah
Allah yang memerintah, suci dan adil. Pendapat Bauckham yang dikutip
oleh Kistemaker menuliskan bahwa, “Teologi Kitab Wahyu sangat
Theosentris. Selain doktrin Allah yang khusus, hal ini adalah merupakan
sumbangsih terbesar untuk teologi Perjanjian Baru ". 43 Itulah sebabnya,
menurut Wongso; Allah adalah sumber segala wahyu, wahyu Kristus juga
adalah apa yang dikaruniakan Allah (Why 1:1). 44 Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa Allah adalah pusat berita kitab Wahyu. Karena firman
(logos) adalah milik Allah, maka disebut Firman Allah (Why 1:2,9). Firman
Allah sudah ada sejak semula, maka Firman itu adalah Allah (Bnd. Yoh 1:12), demikian pendapat Wongso. 45
Kemenangan Kristus
Lebih dari 60 tahun setelah Yesus naik ke Sorga, Ia menampakkan
diri-Nya kepada Yohanes di Pulau Patmos. Ketika Yesus berada di dunia, Ia
menampakkan diri dalam kemuliaan kepada tiga murid terdekatnya, yaitu
Petrus, Yakobus dan Yohanes (Mat 17:1-8). Petrus menulis peristiwa ini
dengan mengatakan bahwa ia dan murid-murid yang lain adalah saksi mata
dari Yesus yang dimuliakan. Karena Dialah yang layak menerima hormat
dan kemuliaan dari Allah Bapa ketika ada suara datang kepada-nya dari
kemuliaan yang penuh keagungan (2Ptr 1:16-17). Setelah kebangkitan-Nya,
Yesus menampakkan diri sepuluh kali kepada para pengikut-Nya, walaupun
pada waktu itu mereka tidak mengenal-Nya di dalam keadaan-Nya yang
mulia (Luk 24:16, 37; Yoh 21:4). Dengan cara yang sama, Yesus
menampakkan diri kepada Yohanes dengan hebatnya, sehingga bagi
seorang rasul tidak mudah untuk memahaminya, maka Yohanes tersungkur
42
Kistemaker, Revelation…, 54.
Ibid.
44
Peter Wongso, Eksposisi Doktrin Alkitab Kitab Wahyu (Malang: Seminari
Alkitab Asia Tenggara, 1996), 112.
45
Ibid.
43
di kaki Yesus ”as though dead” (1:17). 46 Kitab Wahyu adalah wahyu
Kristus sendiri.47 Kristus adalah anak Allah. Kistemaker menuliskan bahwa;
Yohanes menggambarkan kemuliaan penampakan Yesus seperti ia
melukiskan takhta Allah. Dia tidak menyebut nama Yesus,
sebagaimana dia menghindari menggunakan nama Allah dalam
menggambarkan takhta. Dalam bahasa simbolis, ia menggambarkan
anak Manusia sebagai pribadi supranatural yang begitu cemerlang:
wajahnya seperti matahari, kepala dan rambutnya putih seperti bulu
domba atau salju, mataNya bagai nyala api, kakinya seperti tembaga
membara, suaranya seperti desau air bah; mulutNya seperti pedang
tajam (Firman Allah); dan Ia memakai jubah panjang yang mencapai
kakinya, dengan sabuk emas di sekitar dadanya (1:13-16).48
Yohanes juga menggambarkan kemenangan Kristus dengan
menunggang seekor kuda putih; memakai mahkota di kepala-Nya (19:1115). Bahkan Yesus juga digambarkan dengan tegas, kemungkinan oleh
karena Yohanes melihat pandangan mata yang mematikan pada wajah
kemuliaan Kristus yang menyinarinya seperti matahari yang terik. Mata
Yesus yang menyala menyebabkan setiap orang yang melihatnya
tersungkur di hadapannya dan menyembah.49
Dengan demikian, di dalam kitab Wahyu, Yesus yang pernah dihina
bahkan direndahkan itu, dimuliakan oleh Bapa yang mengutus Yesus ke
dunia (Yoh 3:16; Flp 2:5-9).50 Ia layak disembah oleh semua ciptaan-Nya.
46
Kistemaker, Revelation…, 56.
Wongso, Eksposisi…, 119.
48
Kistemaker, Revelation…, 56.
49
Ibid.
50
Yohanes 3:16; Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia
telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Filipi 2:5-10; Hendaklah kamu
dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus
Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri,
dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam
keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan
sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan
mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,supaya dalam nama Yesus bertekuk
lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan
segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!
47
Roh Kudus
Paulus dan Petrus mengajar doktrin Trinitas dalam bagian
pendahuluan dari dua surat mereka (Rm 1:1-4; 1Ptr 1:1-2). Secara tidak
langsung, Yohanes juga memberi perhatian kepada Tiga Pribadi dalam
Trinitas. Pada salam kepada tujuh Gereja di Propinsi Asia, Yohanes
menyebutkan Allah Bapa sebagai “Dia yang ada, dan sudah ada, dan yang
akan datang”.51 Yohanes juga menyebut Yesus Kristus dengan nama dan
memperkenalkan Yesus sebagai “Saksi yang setia, yang pertama bangkit
dari antara orang mati, dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini” (1:5). 52
Dan Roh Kudus digambarkan sebagai “tujuh roh yang ada di hadapan
takhta Allah”.53 Istilah tujuh Roh Allah, juga diterjemahkan sebagai
“Ketujuh Roh Allah”54 yang menunjuk kepada kesempurnaan Roh (3:1;
4:5; 5:6). Searah dengan pernyataan di atas, Wongso menuliskan bahwa,
“angka ‘tujuh’ melambangkan kesempurnaan, keutuhan, kelimpahan”.55
Roh Kudus adalah Roh Allah, dan juga adalah Roh Kristus.
Pekerjaan Roh Kudus dalam konteks kitab Wahyu, dituliskan oleh
Kistemaker, bahwa, “Peran Roh Kudus adalah untuk mengungkapkan
kebenaran Allah melalui Yesus Kristus. Dia adalah Pewahyu dan
Penginspirasi, seperti dinyatakan oleh pernyataan penutup berulang-ulang
dari tujuh surat kepada ketujuh jemaat”.56 Selain itu, Roh Kudus juga
bekerja melalui pembawa berita yang bersaksi tentang Yesus dan yang
memproklamasikan kesaksian tentang Yesus (1:9).
IBADAH DALAM KITAB WAHYU
Wahyu kepada Yohanes adalah kitab penting tentang ibadah dalam
Perjanjian Baru. Disusun dalam bentuk drama yang agung tentang
kemenangan Kristus, hal ini dimulai dengan surat-surat yang dialamatkan
kepada tujuh jemaat di tujuh kota di Asia Kecil dan diakhiri dengan
penglihatan tentang Yerusalem baru dimana Allah tinggal di tengah umatNya (21:3), dalam menggenapi formulasi ringkas para nabi Israel tentang
51
52
53
54
55
56
Kistemaker, Revelation…, 59.
Ibid.
Ibid.
Ibid.
Wongso, Eksposisi…, 131.
Kistemaker, Revelation…, 60.
perjanjian, “Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi
umat-Ku (Yer 31:33).57 Tentang ibadah dalam kitab Wahyu, Peterson
menuliskan:
Tema utama dari kitab ini adalah perbedaan antara ibadah sejati dan
penyembahan berhala. Yohanes membagi manusia ke dalam dua
kategori, para penyembah naga dan binatang dan penyembah Allah
dan Anak Domba. Kontras antara dua kelompok jamaah mencapai
puncaknya dalam dua penglihatan di akhir kitab. 58
Untuk memahami penjelasan lebih lanjut, penulis akan memaparkan
dasar teologi ibadah, karakteristik ibadah dan elemen ibadah untuk
memahami teologi ibadah dalam kitab Wahyu secara menyeluruh.
Dasar Teologi
Untuk memahami dasar teologi ibadah dalam kitab Wahyu, maka
penulis akan menjelaskannya dalam konteks Trinitas, mulai dengan Allah
kemudian Yesus Kristus dan Roh Kudus.
Allah
Allah adalah sumber segala wahyu, wahyu Kristus juga adalah apa
yang dikaruniakan Allah (1:1). Sedangkan Firman (logos) adalah milik
Allah, maka disebut Firman Allah (1:2,9). Firman Allah sudah ada sejak
semula, maka Firman itu adalah Allah (bnd. Yoh 1:1,2).
Allah adalah yang dahulu ada, sekarang ada, dan yang akan datang
(1:4). Di dalam kurun waktu, Ia adalah yang pernah ada, sekarang ada;
dalam konteks lintas waktu, Ia adalah yang akan ada selama-lamanya. Oleh
karena sifat, kehendak, kuasa, hikmat, kekuatan, otoritas-Nya selamalamanya sama, maka Allah itu kekal adanya.
Allah adalah pencipta segala sesuatu (3:14; 4:11). Segala sesuatu
diciptakan berdasarkan kehendak Allah (4:11). Allah menciptakan langit
dan segala yang ada di langit; bumi dan segala yang ada di dalamnya, laut
57
Robert E. Webber, Edit., The Biblical Foundations of Christian Worship
(Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1993), 21.
58
David Peterson, Engaging with God (England: APOLLOS, 1992), 264.
dan segala yang ada di dalamnya (10:6). Dia yang menciptakan langit dan
bumi, laut dan segala sumber air itu patut menyembah-Nya (14:7).
Allah duduk di takhta (1:4; 4:3-11; 5:1-14; 7:9-17; 8:3; 12:5; 14:3;
16:17; 19:4, 11, 12; 21:3,5; 22:1,3). Hal ini menyatakan pengontrolan,
kuasa serta wibawa-Nya. Di sekeliling takhta ada 4 makluk hidup, 24 tuatua, serta orang percaya yang tak terbilang banyaknya, juga disertai dengan
perhiasan yang indah. Semua ini bersifat rohani dan non material. TakhtaNya sudah ada sejak semula dan berada untuk selama-lamanya.
Dalam rencana Allah yang kekal, Ia ingin agar orang percaya umat
tebusan-Nya menjadi warga kerajaan-Nya dan imamat-Nya (1:6; 20:6).
Untuk menjadi warga kerajaan-Nya harus mengalami tebusan darah Kristus
(1:5).
Allah adalah Mahakuasa (1:8; 11:17) menunjukkan kuasa dan
kekuatan kesempurnaan-Nya. Allah Mahatahu, tidak ada sesuatupun di luar
pengetahuan-Nya; “Aku tahu perbuatanmu”(3:1).
Allah adalah hakim. Ia melaksanakan penghakiman pada waktunya
(14:7). Ia adil (16:5,7); Ia mengadili seturut dengan perilaku manusia
(20:12,13). Menurut Wongso;
Jika ditinjau dari seluruh kitab Wahyu, maka pasal 2 dan 3 adalah
penghakiman atas para pemimpin jemaat; enam malapetaka dalam
pasal 6, enam sangkakala dalam pasal 8,9,11; tujuh malapetaka
dalam pasal 15,16 ditujukan kepada orang non-percaya di sepanjang
abad, serta penghakiman atas para penganiaya jemaat; Wahyu 17:18
adalah penghakiman atas Babel, Pezinah, penyembah berhala serta
usaha dagang ilegal dan ekonomi memegang peranan paling penting;
penghakiman atas Setan (20:1-3,7,10); penghakiman atas segenap
umat manusia di dunia (20:11-15).59
Itulah sebabnya otoritas Allah nampak dengan jelas dalam
ungkapan, “Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri
di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang dan keempat makhluk itu masingmasing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh
dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan
malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang
sudah ada dan yang ada dan yang akan datang." (4:2,8). Menurut
Scheunemann, istilah takhta menyatakan; Allah memerintah.60 Mounce
59
Wongso, Eksposisi…, 117.
D. Scheunemann, Berita Kitab Wahyu (Batu: Yayasan Persekutuan Pekabaran
Injil Indonesia, 1994), 70.
60
menulis bahwa, “Hal pertama yang dilihat Yohanes di surga adalah takhta.
Simbol ini muncul lebih dari empat puluh kali dalam kitab Wahyu. Ini
melambangkan kedaulatan mutlak Allah.” 61 Istilah Takhta Allah sering
digunakan dalam literatur Yahudi, seperti; “Dalam tahun matinya raja Uzia
aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan
ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci” (Yes 6:1) dan di dalam Mazmur
47:8; “Allah memerintah sebagai raja atas bangsa-bangsa, Allah
bersemayam di atas takhta-Nya yang kudus.”
Dengan demikian Allah dalam konteks kitab Wahyu adalah pusat
ibadah. Dengan kata lain, dasar Ibadah dalam kitab Wahyu adalah pada
Allah yang duduk di takhta. Dia yang duduk di takhta adalah Dia yang
mencipta dunia dan segala isinya. Dia yang menyatakan diri-Nya kepada
manusia, baik melalui Firman yang menjadi manusia, maupun Firman yang
tertulis. Dia yang menebus manusia dari ikatan kuasa dosa. Hanya kepada
Dia, segala puji, hormat dan kuasa serta kemuliaan, dari sekarang sampai
selama-lamanya.
Yesus Kristus
Selain Allah yang duduk di atas takhta, dalam kitab Wahyu ‘Anak
Domba’ yang menunjuk kepada Kristus juga adalah pusat ibadah.
Mengapa? Mounce menjelaskan bahwa,
“Anak Domba dalam kitab Wahyu adalah 'Tuhan atas segala tuhan,
dan Raja atas segala raja' yang telah menang melawan binatang dan
sekutu nya (17:12-14) Dan mereka berkata kepada gunung-gunung
dan kepada batu-batu karang itu: "Runtuhlah menimpa kami dan
sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan
terhadap murka Anak Domba itu (6:15-17).”62
Anak Domba disembah karena Dia adalah Tuhan atas segala tuhan
dan Raja atas segala raja. Searah dengan pernyataan di atas, Scheunemann
menuliskan bahwa;
Di tengah-tengah penglihatan Yohanes tentang takhta Allah
muncullah sebagai puncak penglihatan Anak Domba Allah antara
61
Robert H. Mounce, The Book of Revelation (Grand Rapids, Michigan: William
B. Eerdmands Publishing, Co. 1977), 134
62
Mounce, The Book of Revelation…, 145.
takhta Allah dan empat zat hidup dan duapuluh empat tua-tua (5:6).
Namun sekarang Anak Domba Allah mempunyai wujud yang baru.
Kata yang dipakai Yohanes, ialah ”anak domba kecil yang ditandai
luka kematian” (bahasa Yunani: arnion).63
Dengan demikian yang dimaksudkan dengan Anak Domba Allah
adalah Yesus Kristus. Istilah Anak Domba Allah dipakai untuk menunjuk
kepada penggenapan perjanjian64 yang Allah telah berikan kepada Adam
dan Hawa setelah mereka jatuh ke dalam dosa. Dan kemudian diberikan
kepada Abraham65 serta keturunannya. Jadi dasar teologi ibadah dalam
kitab Wahyu adalah penggenapan perjanjian Allah kepada manusia di
dalam diri Tuhan Yesus Kristus.
Roh Kudus
Karya Roh Kudus dalam konteks kitab Wahyu lebih banyak
menyatakan penggenapan dari janji Tuhan Yesus tentang ‘penolong yang
lain’66, yang akan datang dan yang menginsyafkan manusia.
Tujuh Roh dalam kitab Wahyu dipakai sebanyak empat kali (1:4;
3:1; 4:5; 5:6).67 Roh Kudus disebut tujuh Roh, untuk menyatakan
kesetaraan Roh Kudus dengan Kristus dan Allah Bapa. Dalam kitab Wahyu,
empat kali mencatat Yohanes digerakkan Roh Kudus (1:10; 4:2; 17:3;
22:6). Dan empat kali gerakkan Roh Kudus membuat Yohanes mendengar,
melihat fakta rohani.68 Hal ini berarti tanpa Roh Kudus Yohanes tidak dapat
melihat dan mengalami penglihatan yang dahsyat itu. Dengan kata lain Roh
Kudus adalah dinamisator ibadah dalam kitab Wahyu.
63
Scheunemann, Berita Kitab…, 73.
Kejadian 3:15: Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan
perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan
kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya."
65
Kejadian 12:1-3: Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari
negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan
Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan
memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang
yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."
66
Yohanes 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan
kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.
67
Wongso, Eksposisi…, 131.
68
Ibid.
64
Penulis menyimpulkan bahwa dasar teologi ibadah dalam kitab
Wahyu adalah ibadah Trinitarian. Allah Bapa dengan takhta-Nya adalah
center ibadah kitab Wahyu. Yesus Kristus adalah kegenapan ibadah
Perjanjian Lama. Roh Kudus adalah dinamisator ibadah dalam kitab
Wahyu. Lumintang menuliskan bahwa; “Ibadah Kristen adalah ibadah
kepada Allah Bapa di dalam dan melalui Tuhan Yesus oleh Roh Kudus.” 69
Karakteristik
Dalam perikop ini, penulis akan menggambarkan karakteristik
ibadah dalam kitab Wahyu, antara lain; Trinitarian, Theocentric,
Redeemptif, Theistik, Covenental, Transformatif.
Trinitarian
Kitab Wahyu dimulai dengan salam dari Tiga Pribadi dalam Trinitas
(1:5b,6); “...Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita
dari dosa kita oleh darah-Nya, dan yang telah membuat kita menjadi suatu
kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, -- bagi Dialah
kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.”
Doxology (1:4-8) ini berkembang secara signifikan sebagai formula
dasar yang dapat ditemukan dalam surat-surat kiriman. Karya penebusan
Kristus adalah penting dalam doxology. Perhatikanlah bahwa sekalipun
Tiga Pribadi dari Trinitas disebut, dalam doxology ini diarahkan langsung
secara jelas kepada Kristus. Dalam posisi-Nya sebagai raja, dan oleh
kebajikan dalam karya penebusan yang sempurna, Kristus membuat umatNya menjadi “imamat yang rajani” (Bnd. 1Ptr 2:9). Umat Tuhan yang
berkumpul di Gereja dan di Sorga (7:9-15) adalah penggenapan dari
perjanjian yang dibuat untuk Israel di Sinai; “Kamu akan menjadi bagi-Ku
kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus
kaukatakan kepada orang Israel.” (Kel 19:6; bnd. 1Ptr 2:9). Konteks
menyatakan bahwa doxology ini lebih merefleksikan Perjanjian Lama dan
secara sederhana mengindikasikan penggenapan perjanjian Sinai.
Kemudian diikuti dengan doxology pengumuman bahwa Kristus “datang di
awan-awan.” Hal ini menyatakan satu kiasan yang kuat kepada “seorang
seperti anak manusia” dalam Daniel 7:13.
69
Lumintang, Teologi…, 29.
Dalam pasal 4:1-5:14, doxology diarahkan kepada “seorang yang
duduk di atas takhta” dan “anak domba” (4:9,11; 5:12,13). Ini adalah salah
satu dari sekian banyak liturgy yang kaya dari seluruh kitab. Memuat tidak
lebih dari lima lagu pujian yang dikumandangkan keluar dari lingkaran
takhta itu. Dengan kata lain, kalau dicermati, pasal 4-5 memberi alasan
mengapa Allah (Bapa) dan Kristus (Anak) layak disembah: Allah
menciptakan segala sesuatu (4:11) dan Kristus melalui kematian-Nya
menebus manusia bagi Allah (5:9). Atau dapat dikatakan bahwa umat
Tuhan menyembah Allah pencipta langit dan bumi, dan Anak domba yang
menebus mereka di pihak yang lain, maka penyembahan menjadi powerful.
Ungkapan “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh” (1:10)
menunjuk kepada karya Roh Kudus. Itu sebabnya penulis menyimpulkan
bahwa dalam konteks kitab Wahyu, Ibadah bersifat Trinitarian. Yang
penulis maksudkan adalah dalam ibadah, jemaat menyembah Allah Bapa,
Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Dengan kata lain, dalam ibadah, jemaat
masuk dalam relasi dengan Allah (Bapa) melalui Allah (Anak) dan oleh
Allah (Roh Kudus).
Theocentric
Sebagaimana telah dipaparkan pada bagian theologia kitab Wahyu,
Allah yang duduk di takhta menjadi pusat ibadah, maka sifat ibadah dalam
konteks kitab Wahyu bersifat Theocentric. Wahyu 4:1-11 adalah
penglihatan Yohanes yang kedua. Penglihatan yang kedua ini terfokus pada
“Takhta” (Ayat 2-3). Muncul 3 kali dalam ayat 2 dan 3, dan muncul 13 kali
dalam seluruh pasal ini. Takhta merupakan simbol; “Otoritas Tertinggi,
Kekuasaan yang Maha Agung, Kedaulatan yang mutlak.” Jadi, kedaulatan
Allah merupakan sentral dalam penglihatan Yohanes. Sentralitas dari
penglihatan ini, bukanlah mengenai Sorga, melainkan pusat dari Sorga
ialah Takhta, mengenai Kedaulatan Allah. Tahkta/Kedaulatan Allah, hanya
mungkin dimengerti oleh orang percaya yang dikuasai Roh Kudus. Karena
hanya kepada orang yang diundang oleh Tuhan Yesus sendirilah, yang
dikuasai oleh Roh Kudus untuk mengerti mengenai Allah yang berdaulat.70
Jadi, pusat ibadah dalam kitab Wahyu adalah Allah, yang sedang bekerja
dan memerintah dunia ini, mengontrol semua kejadian dalam dunia ini,
sehingga tidak satu pun peristiwa yang luput dari kedaulatan-Nya.
70
Lumintang, Theologia…, 30.
Sentralitas Takhta yang dilihat Yohanes, terletak pada Dia Yang
Duduk Di Atas Takhta, yaitu Dia yang berdaulat. Siapakah Dia yang duduk
di atas Takhta itu? Yohanes tidak bisa mengidentifikasikan dengan jelas.
Karena itu, Yohanes hanya mampu melukiskan “Dia yang duduk di Takhta
itu” dengan menggunakan istilah “bagaikan.. Bahasa manusia tidak mampu
menampung bahasa Sorga. Penglihatan manusia tidak mampu
membahasakan apa yang dilihatnya tentang Allah. 71
Redeemptif
Sifat ini menunjuk pada karya penebusan Kristus. Istilah “Anak
Domba” dalam kitab Wahyu menunjuk kepada Yesus. Hal ini dapat
ditemukan dalam kitab Wahyu bahwa Ia hampir selalu diperkenalkan
dengan nama pribadi Yesus (1:9; 12:17) daripada Kristus (11:15). 72 Nama
Yesus menunjuk kepada karya keselamatan yang dikerjakan-Nya. Dalam
pasal 5, penyembahan ke-24 tua-tua diarahkan kepada “Anak Domba”
karena karya penebusan-Nya.73
Yesus Kristus menerima penyataan Allah, yang kemudian Ia
lanjutkan kepada Yohanes (1:1); Ia adalah Anak Domba yang disembelih
dan dengan darah-Nya ia telah menebus orang kudus bagi Allah (5:6,9); dan
sebagai Anak Domba, Ia akan menyambut mempelainya, itulah Gereja, ke
dalam pesta perkawinan (19:7-9; 21:9). Yohanes mengajarkan bahwa
Kristus adalah agen Allah dalam penciptaan, penebusan dan
penyempurna.74
Dengan demikian, karakteristik ibadah dalam kitab Wahyu ialah
Redemptif, sebagaimana ditunjukan dalam penyembahan kepada Anak
Domba Allah dan Dia yang duduk di Takhta. Sifat redemptif ini
berimplikasi kepada penyembah, yaitu seorang yang datang menyembah
adalah seorang yang sudah mengalami karya penebusan Kristus.
71
Lumintang, Theologia…, 30.
George Barker Stevens, The Theology of the New Testament (New York:
Charles Scribner’s Sons, 1936), 536.
73
Mounce, The Book of Revelation…, 147.
74
Kistemaker, Revelation…, 58.
72
Theistik
Teologi ibadah Kristen, bukanlah teologi yang deistik, yaitu teologi
yang menekankan pada penyembahan kepada Allah yang bersifat
transenden, yang jauh di “sana” (Allah yang ada di Sorga), juga bukanlah
teologi penyembahan yang pantheistik, yaitu teologi yang semata-mata
menekankan pada ibadah yang imanen (Allah ada di mana-mana, di manamana ada Allah), melainkan teologi yang theistik, yaitu teologi yang
mengemukakan penyembahan kepada Allah yang transenden sekaligus
imanen.75
Pelukisan tentang Allah dalam penglihatan Yohanes menunjukkan
betapa mulia dan tak terjangkaunya manusia berdosa untuk menghampiri
Takhta yang suci itu. Kemuliaan Allah yang tak terhampiri itu menunjuk
kepada sifat transcendent. Yohanes begitu takut, bahkan seperti orang mati
(1:17), hal ini menunjukkan bahwa Yohanes sedang berhadapan dengan
Allah yang transcendent. Tetapi ayat 17 juga menyatakan bahwa; “tetapi Ia
meletakkan tangan kanan-Nya di atasku”, hal ini menunjukkan bahwa
Yohanes juga sedang berhadapan dengan Allah yang imanent. Maka
memahami sifat ibadah yang theistik membuat penyembah dengan rasa
hormat dan gentar datang beribadah kepada Allah, tetapi di sisi lain ibadah
Kristen adalah ibadah dengan rasa nyaman, dan dekat dengan Allah yang
imanen.
Covenental
Wahyu kepada Yohanes adalah satu dokumen perjanjian. Janice E.
Leonard dalam “Covenant Worship In The New Testament” menuliskan
bahwa; “Perkembangan angka tujuh adalah petunjuk untuk isi kitab
perjanjian, dan sebagai pengingat pengambilan sumpah perjanjian, yang
dalam bahasa Ibrani secara harfiah "ketujuh diri”.76 Kitab Wahyu adalah
juga merupakan sebuah lukisan tentang ibadah perjanjian sebagai respons
manusia baru kepada Allah yang telah membebaskan mereka.
Yohanes juga memberikan satu pola Gereja mengikuti deskripsi 24
tua-tua yang tersungkur di hadapan Anak Domba. “Lalu aku mendengar
75
Lumintang, Theologia…, 31.
Janice E. Leonard, Covenant Worship In The New Testament, in The Biblical
Foundations of Christian Worship, edit by Robert E. Webber, (Peabody, Massachusetts:
Hendrickson Publishers, Inc., 1993), 63.
76
seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan
seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah
kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Marilah kita bersukacita dan
bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba
telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.” (19:6,7). Di dalam ibadah
Gereja, “Kota suci, Yerusalem baru”, perjanjian itu mendapat
penggenapannya: “Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu
berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan
diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia
akan menjadi Allah mereka” (21:3).
Dengan demikian, sifat ibadah covenental menuntut penyembah
mengalami rekonsiliasi yang adalah merupakan pintu masuk kepada ibadah.
Karena perjanjian Allah digenapi di dalam diri Tuhan Yesus, maka
penyembah terlebih dahulu harus mengalami rekonsiliasi. Rekonsiliasi ini
terjadi di kayu salib. Itu berarti, dengan menerima Kristus sebagai Tuhan
dan Jurus’lamat, seseorang memperoleh “pintu” masuk ke dalam ibadah.
Transformatif
Sifat ibadah yang transformatif ini dapat dicermati dalam kitab
Wahyu, khususnya pada saat berhadapan dengan Takhta Allah. “Ketika aku
melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang
mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata:
“Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, (1:17).” maka
tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di
atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selamalamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu,
sambil berkata: “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima pujipujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala
sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan”
(4:10). Transformasi terjadi ketika Yohanes berhadapan atau melihat Yesus
dalam kemuliaan-Nya. Menyadari ketidaklayakan di hadapan Dia yang
layak menerima segala hormat dan pujian, serta kemuliaan, 77 adalah
transformasi pikiran.
Transformasi berikut adalah sikap 24 tua-tua yang tersungkur di
hadapan Dia yang duduk di atas Takhta, serta tindakan melemparkan
mahkota, juga menyatakan ketidaklayakan, di hadapan Dia yang layak
77
Kistemaker, Revelation…, 99.
menerima penyembahan umatnya. Kistemaker menuliskan tentang sikap 24
tua-tua demikian; “mereka telah menerima mahkota kemenangan ini dari
Tuhan, tetapi dengan hormat mengembalikannya kepada Allah untuk
memberikan kepadaNya segala kemuliaan dan hormat.”78
Dengan demikian, orang yang beribadah harus menunjukkan
transformasi: baik pikiran, maupun sikap hidup. Transformasi karena karya
Roh Kudus yang mengaplikasikan karya penebusan Kristus bagi kita.
Elemen Ibadah
Yang penulis maksudkan dengan elemen ibadah adalah unsur-unsur
yang membentuk ibadah dalam kitab Wahyu, antara lain; Pujian,
Penyembahan, Doa, Khotbah & Pengajaran, Ketaatan dan Disiplin.
Pujian
Dalam kitab Wahyu, elemen ini sangat menonjol (4:8; 5:9,10,12,13;
7:10,12; 12:10-12; 15:3,4; 16:5-7; 19:1-9). “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan
Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan
datang.” (4:8) Pujian ini menunjuk kepada kekudusan, kuasa yang
eksklusif, dan kekekalan Allah tetapi tidak mengatakan sesuatupun tentang
penebusan manusia. Pasal 4 berbicara tentang takhta dan kekudusan Allah,
sementara pasal 5 melukiskan Anak Domba dan penebusan manusia.79
Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru80 katanya: “Engkau
layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya;
karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah
membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan
bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan
menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai
raja di bumi” (5:9,10). Ini adalah bagian pertama dari tiga nyanyian yang
meninggikan Anak Domba karena karya penebusan-Nya di kayu salib. Dua
78
Kistemaker, Revelation…, 193.
Ibid., 192.
80
Tentang “Nyanyian Baru”; Mounce menjelaskan; “The song to the Lamb is a
new song because the covenent established through his death is a new covenent. It is not
simply new in point of time, but more important, it is new and distinctive in quality”;
Robert H. Mounce, The Book of Revelation (Grand Rapids, Michigan: William B.
Eerdmans Publishing Company, 1977), 147.
79
nyanyian yang lain dinyanyikan dengan penuh hormat oleh para malaikat
dan semua ciptaan.81
Dengan demikian pujian dalam kitab Wahyu diarahkan kepada
Allah pencipta, dan Yesus Kristus untuk karya penebusan-Nya (5:12,13).
Penyembahan
Sikap menyembah adalah bagian integral dari pujian dalam kitab
Wahyu. Setiap kali makhluk-makhluk mempersembahkan pujian, maka ke
24 tua-tua tersungkur, dan melemparkan mahkotanya di hadapan takhta,
sambil mengakui bahwa yang layak untuk disembah hanya Allah pencipta
(4:9, 10). Hal yang luar biasa dalam kitab Wahyu, adalah penyataan tentang
ke 24 tua-tua yang jatuh tersungkur dan menyembah di hadapan takhta itu
(5:8,14; 7:11; 11:16; 19:4).82 Ini adalah contoh bagi ibadah masa kini. Tentu
menyembah tidak selalu dalam pengertian harafiah, seperti yang dilakukan
oleh para tua-tua.
Doa
Doa dalam kitab Wahyu bercirikan pujian, memuliakan dan
meninggikan Allah pencipta dan Yesus Kristus penebus manusia berdosa.
Bagian terbesar dari doa dalam kitab Wahyu adalah pujian dan
penyembahan. Permohonan pribadi Yohanes dalam doanya berkaitan
dengan pengalaman yang luar biasa di hadapan kemuliaan Allah pencipta
dan Anak Domba. Doa dalam kitab Wahyu di symbolkan dengan cawan
emas yang penuh dengan kemenyan (5:8), yaitu doa orang-orang kudus.83
Kata yang perlu diperhatikan dalam kaitan dengan doa adalah
Maranatha. Maranatha adalah bagian yang berharga dari doa, artinya “Our
Lord, come”.84 “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus!
(22:20). Maranata biasa dipakai dalam doa pembukaan ibadah, memohon
Tuhan yang bangkit untuk datang, atau pada pelayanan perjamuan kudus.85
81
Mounce, The Book ..., 209.
Kistemaker, Revelation …, 193.
83
Mounce, The Book..., 146.
84
Ralph P. Martin, The Worship of God (Grand Rapids, Michigan: William B.
Eerdmans Publishing Company, 1982), 35.
85
Ibid.
82
Proklamasi Firman
Kitab Wahyu sebagai kitab yang terakhir dari keseluruhan kanon
Alkitab, menyatakan semua penggenapan nubuatan mulai dari Perjanjian
Lama sampai kedatangan Kristus yang pertama, dan menyatakan kejadiankejadian yang akan mendahului kedatangan Kristus yang kedua kali. Maka
semua bentuk proklamasi firman tergenapi di dalam kitab Wahyu.
Melalui kitab Wahyu, Allah menyatakan isi kesaksian yang
menempatkan Kristus sebagai pusat atau inti berita. Hal ini berarti, isi
khotbah dan pengajaran dalam ibadah harus Kristosentris. “Yohanes telah
bersaksi tentang firman Allah dan tentang kesaksian yang diberikan oleh
Yesus Kristus, yaitu segala sesuatu yang telah dilihatnya” (1:2). Dalam
konteks ini, firman Allah adalah “segala sesuatu yang dilihatnya”.86 Yang
dilihat Yohanes adalah Allah pencipta yang duduk di atas takhta dan Anak
Domba yang menebus dan membebaskan manusia dari dosa. Dengan
demikian, proklamasi firman yang disampaikan dalam kitab Wahyu bersifat
Kristosentris, tetapi juga menunjuk kepada Allah sendiri, yang berdaulat,
yang berkenan menyatakan diri-Nya di dalam dan melalui Tuhan Yesus.
Ketaatan
Ibadah dalam konteks Wahyu juga menunjukkan sikap atau respons
berupa ketaatan. Pertama-tama Yesus sebagai inti berita kitab Wahyu telah
menunjukan ketaatan-Nya kepada Bapa yang mengutus-Nya. Ketaatan itu
dibuktikan sampai ke Salib. Itu sebabnya dalam kitab Wahyu Anak Domba
ditinggikan dan dimuliakan oleh karena Ia pernah di hina dan direndahkan.
Hal ini tidak berarti kemuliaanNya disebabkan oleh karena penghinaan
yang Ia terima. Yesus adalah Allah, sebab itu Ia mulia dan layak untuk
disembah.
“... dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit
dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia,
yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh
darah-Nya (1:5). Ungkapan “...yang mengasihi kita” ditulis dalam bentuk
‘present tense’ ditulis sejajar dengan “yang telah melepaskan kita” dalam
bentuk ‘past tense’ untuk menunjukkan kontras tindakan yang terus
berlanjut dan yang sudah selesai atau digenapi. 87 Hal ini berarti, Yesus
86
87
Mounce, The Book …, 66.
Kistemaker, Revelation…, 84.
menyatakan bahwa kasih-Nya yang kekal, yang diekspresikan dalam
ketaatan-Nya sampai mati di kayu salib. Terhadap pernyataan penulis
sebelumnya, selanjutnya Robert Thomas yang dikutip Kistemaker
menuliskan bahwa, “ini adalah satu-satunya contoh Perjanjian Baru di
mana kasih-Nya dijelaskan”.88
Dengan demikian, konteks ibadah kitab Wahyu menuntut ketaatan
kepada Allah dan firman-Nya.
KESIMPULAN
Dasar teologi ibadah dalam kitab Wahyu adalah ibadah Trinitarian.
Allah Bapa dengan takhta-Nya adalah center ibadah kitab Wahyu. Yesus
Kristus adalah kegenapan ibadah Perjanjian Lama. Roh Kudus adalah
dinamisator ibadah dalam kitab Wahyu. Dengan kata lain, kalau dicermati,
pasal 4-5 memberi alasan mengapa Allah (Bapa) dan Kristus (Anak) layak
disembah: Allah menciptakan segala sesuatu (4:11) dan Kristus melalui
kematian-Nya menebus manusia bagi Allah (5:9). Atau dapat dikatakan
bahwa umat Tuhan menyembah Allah yang telah menciptakan langit dan
bumi, dan anak domba yang telah menebus mereka di pihak yang lain,
maka penyembahan menjadi powerful.
Ungkapan “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh” (1:10) menunjuk
kepada karya Roh Kudus. Itu sebabnya penulis menyimpulkan bahwa
dalam konteks kitab Wahyu, Ibadah bersifat Trinitarian. Yang penulis
maksudkan adalah dalam ibadah, jemaat menyembah Allah Bapa, Allah
Anak dan Allah Roh Kudus. Dengan kata lain, dalam ibadah, jemaat
masuk dalam relasi dengan Allah (Bapa) melalui Allah (Anak) dan oleh
Allah (Roh Kudus).
88
Kistemaker, Revelation…, 84.
HUBUNGAN GEREJA DAN NEGARA MENURUT
LUTHER DAN CALVIN SERTA IMPLIKASINYA BAGI
GEREJA DAN NEGARA PANCASILA
ERNI M.C. TAKALIUANG-EFRUAN
PENDAHULUAN
Alkitab mengajarkan bahwa Gereja adalah milik Tuhan, dimana
Kristus menjadi Kepala Gereja dan sumber dari segala otoritas, di bumi dan
di sorga. Namun Gereja yang terdiri atas orang-orang yang dikuduskan
Tuhan itu, juga diperintahkan untuk menaklukkan diri kepada Negara.
Bagaimana hubungan Gereja dan Negara harus diwujudkan di
Negara Pancasila, bukanlah sesuatu yang gampang dirumuskan, bahkan
relasi tersebut telah menimbulkan keprihatinan yang semakin mendalam
bagi pihak-pihak terkait. Dalam kurun beberapa tahun terakhir ini,
Pancasila semakin tidak disebut-sebut di dalam wacana kehidupan
berbangsa dan bernegara, meskipun kita “setuju” bahwa Pancasila adalah
harga mati, dan walaupun hingga amandemen IV dari UUD 1945 pada
tahun 2002 disepakati bahwa pembukaan UUD itu yang didalamnya
terdapat rumusan Pancasila hingga saat ini tidak diubah, tetapi dalam
praktiknya semakin banyak kebijakan, dan Perda-Perda yang tidak
bernafaskan Pancasila. Dengan dicabutnya UU yang mengharuskan
organisasi politik dan kemasyarakatan mencantumkan Pancasila sebagai
satu-satunya asas pada Anggaran Dasar masing-masing, semakin banyaklah
orpol dan ormas yang menganut dan memperjuangkan ideologi lain,
terutama yang bermuatan agama.
Dalam perjalanan sejarah dunia pun terlihat “perlombaan” agama
(Gereja) dan penguasa (Negara) untuk saling mendominasi satu terhadap
yang lainnya. Sejak Konstantinus Agung (Abad ke-4 M) menjadi Kristen,
kecenderungan Negara untuk ikut menentukan apa yang baik dan tidak
baik, yang patut dan tidak patut bagi Gereja telah merupakan kenyataan.
Søren Kierkegaard di Denmark menghadapi persoalan serupa, ketika Gereja
Lutheran menjadi Gereja resmi di Negara tersebut. Gereja menjadi pranata
Negara, pendeta-pendeta menjadi pegawai negeri, beragama Kristen identik
dengan berwarganegara, tanpa ada ketegangan sedikit pun di antara
keduanya. Itulah alasan, mengapa Søren Kierkegaard sangat gelisah dan
mengadakan “pemberontakan.” Inti pemberontakannya adalah: “Bagaimana
setiap orang secara eksistensial berdiri di hadapan Tuhan (Gereja) dan
sekaligus juga di hadapan dunia (Negara)?”
Di Indonesia, khususnya pada zaman kolonial, kita juga menghadapi
kasus serupa. Sebagian Gereja diatur oleh pemerintah kolonial
(pengangkatan/pemberhentian pendeta melalui “besluit” dan sebagainya).
Namun beberapa saat kemudian Gereja-gereja di Negara ini (khususnya
Gereja Negara) mendapat haknya untuk mengatur dirinya sendiri. Tetapi
memang yang menjadi persoalan adalah, bagaimanakah memilah-milah
Gereja sebagai obyek iman dan Gereja di dalam kenyataan sejarahnya.
Kedua hal ini sebenarnya sangat jalin-menjalin erat sekali. Karena itulah
tulisan ini berusaha menelusuri, menganalisis, menggali, menafsirkan,
menanggapi dan merumuskan kembali gagasan-gagasan dan praksis Luther
maupun Calvin mengenai relasi Gereja dan Negara, serta implikasinya bagi
Negara Pancasila, Negara yang multietnis dan multireligius ini.
ANALISA HISTORIS HUBUNGAN GEREJA DAN NEGARA
Pada abad I-IV (30-250 M), masalah Gereja dan Negara hanya
sedikit dibicarakan. Gereja masih berbentuk Gereja bawah tanah. Gereja
dicurigai oleh Negara, namun pada umumnya Gereja dibiarkan. Orang
Kristen dianggap sebagai warga negara yang baik, taat dan setia kepada
kekaisaran Romawi. Perlawanan hanya dilakukan terhadap penyembahan
Kaisar, dalam hal-hal lainnya tidak.1 Tahun 250-311, Pemerintah Romawi
berusaha melenyapkan Gereja.
Abad IV di bawah pemerintahan Kaisar Konstantinus (272-337)
yang beragama Kristen, pemisahan sebagai tema yang dominan mengalami
perubahan menjadi asimilasi.2 Eusebius (260-340) adalah tokoh utama
dalam konsep ini, suatu pengungkapan dari ide Eskatologi Terwujud
(Realized Eschatology).3 Kaisar dipahami sebagai penguasa absolut.
Konstantinus sering mengintervensi urusan Gereja, akibatnya banyak orang
masuk Gereja karena pertimbangan politik.
1
Bnd. Th. van den End, Harta Dalam Bejana (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1999), 47-50; Rosemary Radford Ruether, “The Recorporation of Christology into Society:
Eusebian Political Theology,” in Unpublished Manuscript, 369-372.
2
Van den End, Harta Dalam ..., 57.
3
Bnd. F. Edward Cranz, “Kingdom and Polity in Eusebius of Caesarea” dalam
Harvard Theological Review, 45, I (Jan, 1953), 47-66; S.L.Greenslade, Church and State
from Constantine to Theodosius (London: SCM, 1954), 20-30; Bnd. Dietrich Kuhl,
Sejarah Gereja (Malang: Dep. Lit. YPPII, 1992), 59-60.
Subordinasi Gereja di bawah Kaisar segera berakhir dengan
kematian Konstantinus.4 Banyak protes muncul terhadap perpaduan
kekaisaran, antara yang sakral dan kekuatan politik. Protes-protes ini
berasal dari: (1) Kelompok-kelompok Nasionalis di dalam Gereja yang
menuntut otonomi Regional mereka, yang tercermin didalam berbagai
perpecahan, seperti misalnya pertengkaran kaum Monofisit atau Nestorian,
(2) Kelompok Dualis yang memperbarui pandangan-pandangan pemisahan
(Athanasius dan Ambrosius), (3) Aliran Biarawan-Biarawati.
Pada Abad Pertengahan, hubungan Gereja dan Negara begitu erat.
Tetapi beberapa saat kemudian timbul perselisihan antara Paus (Gereja) dan
Kaisar (Negara). Perselisihan muncul karena upaya Paus untuk
membebaskan Gereja dari Negara. Pertikaian antara Paus dan Kaisar antara
lain berelasi erat dengan Paus Gregorius VII (1073-1085) dan Kaisar
Heinrich IV (1056-1106). Pertikaian meledak karena Gregorius VII
melarang pengangkatan pejabat Gereja oleh Negara (investitur awam).
Kaisar Heinrich IV melawan tindakan Paus ini, yang begitu mencampuri
pemerintahan Negara. Ia menolak larangan Paus. Akibatnya ia mengalami
eks-komunikasi. Jabatan Kaisar dicabut darinya. Tetapi lima puluh tahun
kemudian terjadi kompromis dalam Konkordat Worms (1122), ditetapkan
bahwa Gereja mengangkat Uskup melalui persetujuan Kaisar. 5
Dalam upaya untuk menguasai dunia, para Paus dibantu oleh hukum
Gereja. Sejak awal 1150 terbentang waktu 5 abad, tersedia teori-teori yang
membenarkan kuasa Paus atas Kaisar dan Raja-Raja. Menurut Christian de
Jonge, bukan kebetulan bahwa Paus-Paus dan semua ahli hukum Gereja,
bukan ahli teologi.6
Teori terkenal yang dipakai dalam perebutan kuasa antara Gereja
dan Negara pada Abad Pertengahan adalah teori Dua Pedang. Paus Gelasius
I (Paus 492-496) adalah orang yang pertama kali memunculkan ide Dua
Pedang ini.7 Teori tersebut berangkat dari cerita Injil Lukas 22:35-38. Dua
Pedang ditafsirkan sebagai kuasa rohani (Gereja) dan kuasa duniawi
(Negara). Menurut kepausan, kedua macam kuasa tersebut diberikan oleh
Kristus kepada Paus. Tetapi Kaisar tidak menerima teori tersebut.
Menurutnya, Kristus hanya memberi pedang (kuasa) rohani kepada Paus,
4
Namun pada tahun-tahun selanjutnya hal ini masih terus terjadi.
Bnd. Christian de Jonge, Gereja Mencari Jawab (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1994), 14-16.
6
Ibid., 17.
7
Bnd. Frederick Copleston, A History of Philosophy. Vol. 3 (Image, 1950), 180.
5
sedangkan pedang duniawi langsung diberikan kepada Kaisar, sehingga
Kaisar hanya bertanggung jawab kepada Kristus saja.
Kekuasaan Paus mencapai klimaks pada Paus Innocentius III (11981216). Baginya, Kaisar menerima kuasa dari Paus. Masalah timbul saat
otoritas Paus tidak diakui. Hal ini dialami ole Paus Bonifasius VIII (12941308). Paus melarang Negara menarik pajak dari Gereja, sedangkan Raja
melarang Gereja mengekspos uang ke Paus di Roma. Akibatnya, Paus
mengeluarkan bulla Unam Sanctam. Kesimpulan Paus bahwa semua orang
yang mau memperoleh keselamatan harus takluk kepada Paus, akan tetapi
raja Perancis tidak takluk. Akibatnya kepausan dikuasai oleh Perancis.
Terjadilah Skisma Besar (1378-1415). Peristiwa skisma tersebut
menimbulkan banyak pertanyaan tentang: Apakah tepat Paus berperan di
bidang politik atau lebih baik kuasa Gereja dibatasi pada bidang rohani
saja? Setelah skisma selesai, kuasa politik Paus terbatas pada NegaraGereja. Paus-Paus akhir Abad Pertengahan begitu sibuk mengurus Negara
mereka sendiri sehingga tidak mampu mengatasi krisis-krisis Gereja yang
memuncak dalam Reformasi.
HUBUNGAN GEREJA DAN NEGARA MENURUT LUTHER
Pada tahun 1520 Martin Luther lebih memusatkan perhatiannya
pada penelitian Sejarah Gereja dan Alkitab, secara khusus Perjanjian Baru.
Luther menghabiskan waktunya untuk menulis dan menerbitkan risalahrisalah, yang kebanyakan mengenai pembangunan jemaat. Kelak karyakarya Luther ini memicu munculnya ke permukaan berbagai aliran, gerakan
radikal dan revolusioner yang menamakan diri gerakan Reformasi tetapi
justru membelokkan Reformasi Luther, tetapi buah pena Luther ini juga
menjadi dasar perumusan ajaran dan tata Gereja Lutheran. 8
Wawasan Teologis Luther
Sejarah konflik yang panjang antara kekuasaan Paus (Gereja) dan
kekuasaan Kaisar (Negara) telah menimbulkan asumsi bahwa Reformasi
8
Bnd. W.J. Kooiman, Martin Luther (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986), 8290; Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar Gereja (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1995), 31-35; Alister E. McGrath, Sejarah Pemikiran Reformasi (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1997), 267-275; Bnd. Van den End, Harta Dalam..., 165-166.
Gereja itu secara murni merupakan masalah Gereja itu sendiri. Kaum
awam, apakah petani atau penguasa sekular seperti Kaisar itu sendiri, tidak
memiliki otoritas untuk melakukan Reformasi Gereja. Hal ini mendorong
Luther mengembangkan ajaran tentang imamat am semua orang percaya
dalam risalahnya yang terkenal (1520) berjudul “Kepada para Pangeran
Bangsa Jerman,” yang mendeskripsikan bahaya dari kekuasaan Paus serta
kesukaran-kesukaran rakyat Jerman, secara kemasyarakatan maupun
rohani. Ini merupakan tembok pertama dari 'tiga tembok' Yerikho modern
yang dikemukakan Luther untuk dirobohkan. Luther mengajak para
pangeran untuk berjuang, sebab mereka sebagai anggota Gereja,
berdasarkan imamat am orang-orang percaya, berhak menangani
pembaharuan Gereja:
Semua orang Kristen adalah sungguh-sungguh anggota dari kaum
rohaniwan. Tidak ada golongan tersendiri imam-imam, yang
mempunyai hak-hak istimewa yang tertentu dalam Gereja dan
masyarakat. Seorang paus atau uskup tidaklah lebih kedudukannya
dari imam yang paling rendah, dan orang ini tidaklah lebih
kedudukannya dari seorang Kristen sederhana, sekalipun itu
perempuan atau anak, sebab jabatan pemberitaan rahmat itu
diserahkan kepada semua orang percaya. Seorang pemberita Injil
melakukan jabatan ini sebagai wakil; itu dilakukannya berdasarkan
imamat am orang-orang percaya.9
Menurut Luther, tidak ada tempat di dalam kekristenan bagi
pemahaman apapun tentang suatu kelas profesional di dalam Gereja yang
mempunyai hubungan spiritual yang lebih dekat dengan Allah daripada
anggota-anggotanya.
Setelah menghapus kelas atau tembok-tembok dalam Gereja, Luther
mengembangkan suatu teori alternatif tentang bidang-bidang kekuasaan
yang didasarkan atas suatu perbedaan antara pemerintahan 'spiritual' dan
'duniawi' atas masyarakat. Di dalam buku “Sejarah Pemikiran Reformasi,”
Alister McGrath menuliskan bahwa pemerintahan 'spiritual' dari Allah
diberlakukan melalui Firman Allah dan tuntunan Roh Kudus. Orang
percaya yang berjalan menurut Roh tidak memerlukan tuntunan lebih lanjut
lagi dari siapa pun tentang bagaimana ia seharusnya bertindak.
Pemerintahan 'duniawi' Allah diberlakukan melalui raja-raja, pangeranpangeran dan hakim-hakim, dengan mempergunakan pedang dan hukum
negara. Apakah raja-raja, pangeran-pangeran atau hakim ini adalah orang9
Kooiman, Martin..., 84; Bnd. Van den End, Harta Dalam..., 166.
orang percaya yang sungguh-sungguh atau bukan, mereka tetap
melaksanakan suatu peran ilahi (bnd. Rm 13:1-7, 1Ptr 2:13-14).10
Bagi Luther, sama sekali tidak realistis mengharapkan bahwa
masyarakat diperintah dengan ajaran Khotbah di Bukit. Mungkin setiap
orang harus diperintah demikian, tetapi tidak setiap orang akan seperti itu.
Baginya, Roh dan pedang harus berada bersama dalam pemerintahan suatu
masyarakat Kristen. Teori Dua Kerajaan yang diperkenalkan olehnya, amat
menekankan pemisahan dan pembagian wewenang yang jelas. Bagi Luther,
kerajaan spiritual (Gereja) dan kerajaan temporal (Negara) keduanya adalah
manifestasi dari Kerajaan Kristus. Namun lingkup temporal dan spiritual
hendaknya diresponi dengan cara-cara yang berbeda.11 Jürgen Moltmann
mendeskripsi ajaran ini secara jelas:
Luther's two kingdom doctrine is in polemic separation between
God and Caesar. It permits neither a Caesaro-papalism nor a
clerical theocracy. I intended to teach that the world and politics
may not be deified, nor may they be religiously administered. One
should give to Caesar what belong to Caesar – no more and no less
– and give to God that which is God's. One should turn the selfdeified world into the world, and let be God be God. One should
deal rationally with the world, with the law, and with force. The
world is not and it never will become the kingdom of God; rather it
is a goodearthly order against evil chaos. One should deal
spiritually – which means with faith – God and his Gospel. The
Gospel does not create a new world but saves people through
faith.12
Luther melihat eksistensi Negara dari perspektif kejatuhan manusia
ke dalam dosa. Artinya, sekiranya saja dosa tidak ada, maka yang berlaku
adalah hukum kasih dan karena itu, negara juga tidak ada. Untuk mencegah
kehancuran yang fatal maka Tuhan menciptakan institusi – Negara –
sebagai bagian dari ordo pemeliharaan. Menurut pandangan Luther,
eksistensi Negara itu pada dirinya bersifat negatif dalam dua arti.
Pertama, fungsi Negara bukanlah untuk menghasilkan yang baik,
melainkan untuk mencegah yang jahat. Ia merupakan 'hukuman atas dosa.'
Kini manusia harus hidup di bawah kekuasaan manusia, dengan segala
akibat tragisnya.
10
McGrath, Sejarah Pemikiran..., 270.
Kooiman, Martin..., 205.
12
Jürgen Moltmann, On Human Dignity: Political Theology and Ethics
(London: SCM, 1984), 70-71.
11
Kedua, Luther menyadari bahwa dengan kekuasaan dan wewenang
yang diberikan oleh Negara, maka kekuasaan Negara yang tidak terlepas
dari dosa, pasti mempunyai kecenderungan untuk menyalahgunakan
kekuasaannya.
Dengan demikian, kewenangan Gereja bersifat persuasif, tidak
memaksa dan menyangkut jiwa seorang individu. Sedangkan kewenangan
Negara bersifat memaksa daripada membujuk serta menyangkut tubuh dan
harta milik seseorang. Kritik yang fundamental dari Luther atas sistem
pemerintahan Paus dari Abad Pertengahan adalah bahwa sistem ini telah
mencampur-adukan kedua bidang kekuasaan ini. Dapat disimpulkan bahwa
wawasan teologis Luther mengenai hubungan Gereja dan Negara bersifat
pragmatik. Baginya, Allah memerintah dunia, termasuk Gereja, melalui
pangeran-pangeran danhakim-hakim. Gereja berada di dalam dunia dan
dengan demikian harus menundukkan dirinya pada peraturan dari dunia. 13
Bagi Luther, orang Kristen tidak boleh memberontak atau melawan
kekuasaan tiran yang bagaimanapun lalimnya.14 Hanya di dalam hal ketika
Negara mencampuri wewenang Gereja dalam hal-hal spiritual, maka orang
Kristen harus melawan. Namun melawan bukanlah memberontak secara
fisik melainkan melawan secara spiritual, yaitu kerelaan untuk menderita
demi ketaatannya kepada Tuhan. Menurut Charles Villa-Vicencio, persepsi
teologis Luther ini dipengaruhi oleh kesatuan pemikiran logika, negosiasi
bahkan kompromi.15 Bagi W.J. Kooiman, Luther tidak terlepas dari
pemikiran-pemikiran Abad Pertengahan, yang menyatakan bahwa dalam
keadaan darurat, pemerintah berhak mencampuri urusan-urusan
kegerejaan.16
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sikap lunak Luther
dipengaruhi oleh posisi sosial dirinya di dalam lingkungan tersebut. Ia
dipengaruhi oleh relasinya yang baik dengan Frederick the Wise, sehingga
tidak pernah terlintas dalam pikiran Luther untuk mengadakan tindakan
subversif.17
13
Bnd. Kooiman, Martin..., 157-158; McGrath, Sejarah Pemikiran..., 272.
Bnd. Quentin Skinner, The Foundations of Modern Political Thought. Vol. II:
“The Age of Reformation,” 192; Bnd. Helmut T. Lehmann (ed.), Luther's Work's. Vol. 45
(Philadelphia: Forthress Press, 1976), 87-104.
15
Charles Villa-Vicencio, Between Christ and Caesar: Classic and
Contemporary Texts on Church and State (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans,
1986), 41.
16
Kooiman, Ibid..., 159.
17
Bnd. Villa-Vicencio, Ibid., 40-42.
14
Praksis Luther
Empat tahun setelah Luther menerbitkan tulisannya, “Kebebasan
Seorang Kristen” (1520, maka tahun 1524-1525 terjadi gerakan
pemberontakan petani yang dipimpin oleh Thomas Münzer (1491-1525).
Gerakan ini dilatarbelakangi tirani dan kesewenangan para penguasa politik
Jerman. Para petani menghendaki pembebasan dari bunga uang, rodi, pajak
yang terlalu berat, penindasan dan pembentukan trust (aliansi perusahaan).
Bagi mereka, tulisan Luther ini menawarkan tempat bertumpu dalam
mengungkapkan ketidakpuasan mereka. Tulisan Luther dijadikan alasanalasan untuk mendukung perlawanan mereka terhadap pemerasan oleh
kaum rohaniwan dan bangsawan. Münzer telah menafsirkan gagasan Luther
secara materialistis.
Hanya orang-orang miskin (harta benda dan melarat) yang dapat
menerima Roh, Terang batiniah itu. Merekalah orang-orang yang
berbahagia, yang berkenan kepada Allah, menurut Matius 5:3.
Sebaliknya, orang-orang kaya justru karena kaya, adalah orangorang fasik. Orang-orang miskin yang saleh hendaklah membasmi
orang-orang kaya yang durhaka dan mendirikan Kerajaan Allah di
bumi.18
Gagasan Münzer tersebut menginspirasi Karl Marx melahirkan
Marxisme. Gerakan Münzer telah menjadikan Injil sebagai program agraris.
Tetapi Luther menolak bahkan melawan gerakan pemberontakan petani
tersebut dengan keras.19 Pada satu sisi, Luther menilai gerakan revolusi ini
sebagai hukuman Allah terhadap para pemimpin yang melawan Injil. Pada
sisi yang lain, ia menghendaki gerakan ini dilakukan secara damai. Ia
mengecam revolusi tersebut melalui tulisannya “Terhadap Gerombolan
Para Petani yang Bernafsu untuk Merampas dan Membunuh.” Melalui
karya tulis tersebut, Luther mendorong para pemimpin politik untuk
mengambil tindakan keras terhadap gerakan ini. Baginya, gerakan tersebut
adalah manifestasi setan yang ingin menghancurkan gerakan Reformasi.
Para pemimpin politik meresponi kecaman Luther melalui cara membasmi
gerakan tersebut dengan jalan kekerasan. Banyak kaum pemberontak tewas,
termasuk Münzer. Dalam buku “Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar
18
19
Van den End, Harta Dalam..., 175.
Bnd. Kooiman, Martin..., 139; Bnd. Aritonang, Berbagai Aliran..., 33-35.
Gereja,” Jan S. Aritonang menulis bahwa pemberontak yang tewas,
termasuk Münzer, sangat mendukakan hati Luther.20
Di sini sepertinya Luther bersikap ambivalen, namun perlu dicatat
bahwa Luther tak dapat dibedol dari konteks zaman. Charles Villa-Vicencio
mengomentari sikap Luther tersebut secara tepat: While he was never
uncritical of the German princis, and at times he was severe in his criticism
of their rule, he was essentially supportive of them. This needs to be
contextually understood.21
Luther adalah seorang gembala, bukan politikus. Ketika revolusi
petani muncul di cakrawala, tampak kekurangan-kekurangan pemahaman
politisnya. Etika Sosialnya bersifat mengalah. Ia lebih menyukai
penindasan terhadap revolusi. Para petani diibaratkan memberi pipi yang
lain kepada penindas-penindas mereka. Sedangkan para penguasa itu
dibenarkan menggunakan kekerasan untuk menegakkan keteraturan
sosial.22
Pada akhirnya, jalan dibuka untuk supremasi Negara atas Gereja
yang akan menjadi satu ciri universal dari Lutheran. Bahkan Adolf Hitler
(1889-1945) bagi sebagian orang Kristen Jerman dipandang sebagai alat
Allah.
Kini aliran atau denominasi Lutheran adalah yang terbanyak
penganutnya. Menurut Jan S. Aritonang, jumlah penganut Lutheran berkisar
60 juta jiwa, yang tersebar di Jerman, Amerika, Afrika, Australia, dan
Asia.23
Di Negara Pancasila, Indonesia, tidak ada Gereja yang murni
menganut aliran Lutheran. Gereja-gereja beraliran Lutheran (HKBP, GKPS,
GPKB, GKPI, HKI, GKLI, GKPA dan GKPM [kecuali GPKB]) adalah
hasil pelayanan Rheinische Missions-Gesellschaft (RMG) yang menganut
aliran campuran Lutheran dan Calvinis Jerman.
HUBUNGAN GEREJA DAN NEGARA MENURUT CALVIN
Yohanes Calvin (1509-1564), seorang Sarjana Hukum Perancis
keturunan Swiss, yang berminat pada teologi di Perancis (Jenewa). Ia
20
21
22
Aritonang, Berbagai Aliran..., 34.
Villa-Vicencio, Between Christ..., 40.
Bnd. David C. Steinmez, Luther in Context (Bloomington, Indiana: 1986),
112-115.
23
Aritonang, Ibid., 22-23.
adalah anak zaman. Pemahamannya tentang hubungan Gereja dan Negara
tidak terlepas dari realitas awal abad ke-16. Peranannya pada doktrin
hubungan Gereja dan Negara, seperti Luther, hendaknya juga dipahami
secara kontekstual.
Jenewa memilih Reformasi sebelum kedatangan Calvin. Seribu
pendeta atau pekerja Gereja telah diusir dari Jenewa, digantikan oleh 19
pendeta dan salah satu di antaranya adalah Yohanes Calvin. Ia dan kawankawannya tidak diijinkan menjabat posisi politis. Tidak lama kemudian
semua dipecat kecuali Calvin. Namun delapan belas bulan kemudian Calvin
juga dipecat. Dengan latar belakang ini, maka dapat dipahami bahwa
setelah Calvin diminta kembali ke Jenewa untuk melaksanakan program
Reformasinya, sampai kematiannya, Calvin tidak menaruh keyakinan
penuh pada para penguasa.
Wawasan Teologis Calvin
Pemikiran-pemikiran yang paling matang mengenai hubungan
Gereja dan Negara yang tidak hanya memperhatikan hal-hal yang mendasar
tetapi juga hal-hal praktis terdapat pada Calvin.
Bagi Calvin, ada pemisahan antara hubungan Gereja dan Negara
tetapi tidak ada keterpisahan. Tidak ada subordinasi atau separasi total,
melainkan koordinasi. Dasar teologis dari gagasan Calvin ini adalah karena
sekalipun ada pemisahan, tetapi keduanya, Gereja dan Negara, memperoleh
otoritas dari Allah. Dan sekalipun keduanya melaksanakan fungsi yang
berbeda-beda, tetapi keduanya melayani rencana Allah yang satu, bagi
dunia yang satu dan kemanusiaan yang satu.24 Pemerintahan Rohani yang
diselenggarakan oleh Gereja, membina manusia agar memperoleh
keselamatan abadi, sedangkan pemerintahan sipil, yang diselenggarakan
oleh Negara, membina kehidupan bersama di dunia ini. 25 Pemahaman
mengenai perbedaan pemerintahan ini dirumuskan dalam Institutio.
Namun maksud pembedaan itu bukanlah supaya kita mengira
bahwa seluruh pemerintahan sipil itu adalah suatu perkara yang
kotor yang bukan urusan orang Kristen. Orang-orang fanatik,26 yang
24
Bnd. Skinner, The Foundations of..., 192-193.
Bnd. Christian de Jonge, Apa Itu Calvinisme? (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1998), 267-270.
26
Orang-orang Anabaptis dan para “Schwärmer”
25
menyukai kebebasan tak terkendali, membual berteriak: “Karena
kami telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari rohroh dunia (Kol 2:20) dan telah dibawa ke dalam Kerajaan Allah dan
duduk di tengah-tengah penduduk surgawi (1Kor 15:47; Ef 2:6)... ”
Tetapi sebagaimana sebelumnya telah kami peringatkan bahwa jenis
pemerintahan ini berbeda dari Kerajaan Kristus yang rohani dan
batiniah sifatnya itu, maka harus pula diketahui bahwa antara
keduanya itu tidak ada pertentangan mengenai hal apapun. 27
Bagi Calvin, cara memerintah ditentukan oleh masing-masing
pemerintah. Gereja memerintah dengan kuasa rohani, yaitu kasih. Negara
memerintah dengan kuasa dan paksaaan, bahkan kalau perlu dengan
kekuasaan pedang. Menurutnya, kedudukan Gereja dalam masyarakat harus
dibela oleh pemerintah. Setiap gangguan terhadap Gereja dan setiap
pelanggaran hukum Allah yang dilakukan secara terbuka, harus ditindak
oleh Negara. Negara harus menopang dan mengasuh Gereja. Negara harus
membantu Gereja menjalankan kedaulatan Allah.
Di pihak lain, Calvin menegaskan bahwa Negara dalam menentukan
undang-undang langsung taat kepada Allah. Namun dia menolak pendapat
bahwa UU Negara langsung harus diambil dari Alkitab, malah Calvin
menyangkal kemungkinan menerapkan Hukum Taurat Perjanjian Lama
secara langsung dalam Negara pada zamannya, termasuk Negara Kristen.
Dengan demikian, secara teologis, Calvin menolak atau menghindari
adanya Negara Teokrasi.28
Menurut Christiaan de Jonge, kata teokrasi secara hurufiah berarti
pemerintahan Allah dan dipakai untuk menunjuk kepada masyarakat yang
langsung dipimpin oleh petugas-petugas agama berdasarkan undangundang yang dianggap berasal dari Allah (seperti Israel di padang gurun
yang dipimpin oleh Musa, yang menerima Hukum Taurat dari Alah). 29
Bagi Calvin, sebutan teokrasi hanya tepat bagi sistem pemerintahan
yang dicita-citakannya, bahwa pemerintah seharusnya takluk kepada Allah
yang menciptakannya dan taat pada kehendak-Nya yang dapat dikenal dari
hukum alamiah dan oleh pemerintah Kristen, juga dari Alkitab.
Dari uraian di atas jelas bahwa Calvin menekankan semua orang
harus taat kepada pemerintah, bahkan harus menghormatinya sebagai
27
Yohanes Calvin, Institutio: Pengajaran Agama Kristen. Terj. (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1980), 254 atau IV, xx, 2.
28
Bnd. De Jonge, Apa Itu..., 272; Calvin, Institutio, IV, xx, 10.
29
Ibid., 273.
hamba Allah (Kel 18:20-21; Mat 17:24-27; Rm 13; 1Ptr 2:13-14).30
Baginya, ketaatan itu wajar kalau pemerintah melakukan tugasnya sesuai
dengan kehendak Alah. Tidak berarti bahwa pemerintah harus beragama
Kristen. Pemerintah Kafir yang memerintah berdasarkan UU yang
mencerminkan hukum alamiah, patut ditaati, namun bukan ketaatan yang
buta. Bila penguasa memerintah bertentangan dengan perintah Allah, orang
“harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kis 5:29). 31
Pada sisi lain, Calvin melarang orang Kristen pribadi memakai
kekerasan apapun kalau ia menjadi petugas pemerintah, ia hanya boleh
membunuh berdasarkan undang-undang yang berlaku. Dan itu pun hanya
untuk kepentingan masyarakat yang adalah sesuai dengan perintah Allah.
Petugas pemerintah tidak boleh menjatuhkan hukuman mati demi
membalas dendam pribadi.
Praksis Calvin
Wawasan Calvin mengenai pemerintahan sipil dan hubungan antara
Gereja dan Negara tidak terlepas dari kenyataan konkrit yang dialaminya.
Negara mendukung agama dan menindak mereka yang melakukan
pelanggaran dalam kehidupan maupun ajaran. Pendeta Jenewa tidak segansegan mengemukakan tanggapan mengenai hal-hal yang terjadi dalam
pemerintahan sipil ('berpolitik').
Dukungan pemerintah terhadap siasat ajaran tampak dari keputusan
untuk membuang dari kota orang-orang yang tidak mau menerima teguran
Gereja karena ajaran mereka tidak disetujui. Nasib ini antara lain dialami
oleh Michael Servetus (1553), ia menolak ajaran Trinitas. Perbuatan
Servetus ini menurut Calvin adalah kejahatan. Calvin menyetujui vonis
hukuman mati bagi Servetus. Kasus Servetus dijadikan bukti bagi
intoleransi Calvinisme.
Pemahaman Calvin mengenai hubungan Gereja dan Negara sangat
berpengaruh pada sejarah Gereja-Gereja Calvinis. Kaum Puritan yang
memberontak di Inggris (± 1640-1660) memakai teori pemerintahan
30
Bnd. Skinner, The Foundations of..., 194; Bnd. Van den End, Enam Belas
Dokumen Dasar Calvinisme (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 17; Bnd. Calvin,
Institutio..., XXIX, 39-40.
31
Bnd. Villa-Vicencio, Between Christ..., 51-52; Bnd. Calvin, Institutio..., IV, xx,
xxxii.
Calvin.32 Sejarah memperlihatkan bahwa Calvinisme cocok untuk orang
yang tertindas di seluruh dunia, sebagai sumber dari pembebasan politik
mereka.
Di Indonesia, melalui kolonial Belanda (Verenigdie Oost Indische
Compagnie/VOC; 1602-1799), Calvinisme sampai ke Indonesia.
Pemerintah kolonial Belanda menempatkan apa yang disebutnya
Commisarissen di dalam majelis-majelis jemaat De Indische Kerk, yang
pada waktu itu merupakan Gereja Negara.33 Para pejabat Gereja harus
mendapat Besluit dari pemerintah kolonial. Ini adalah pembiasan dari ajaran
Calvin yang mana Gereja disubordinasi oleh Negara. Yang Calvin
maksudkan, pemerintah (Negara) harus membantu Gereja untuk
memberlakukan kedaulatan Allah.
Walaupun Gereja pada zaman VOC kurang berhasil untuk
menjadikan umat Protestan di Indonesia umat yang saleh dan suci sesuai
dengan cita-cita Calvinis yang dipegang di negeri induknya, patut
diperhatikan bahwa Gereja ini tetap Gereformeerd. Hal itu berarti bahwa
bentuk-bentuk kehidupan gerejawi yang dibawa ke Indonesia adalah
bentuk-bentuk yang dipakai di Gereja Gereformeerd di Negeri Belanda.
Oleh sebab itu orang-orang Indonesia yang masuk Kristen (Protestan),
dipengaruhi oleh bentuk-bentuk ini, sekurang-kurangnya di pusat-pusat
gerejawi seperti kota-kota di Jawa dan di luar Jawa (GPIB, GPM, GMIM,
GMIT, dan seterusnya).
Pada tahun 1935 diadakan pemisahan administratif antara Gereja
dan Negara; Gereja Protestan mendapat hak untuk mengurus masalahnya
sendiri. Sesudah penyerahan kedaulatan, maka tahun 1950 hubungan
keuangan antara Gereja (GPI) dan Negara pun (Republik Indonesia)
diputuskan.34
PERBANDINGAN PANDANGAN LUTHER DAN CALVIN
Secara fundamental, ada banyak kesamaan dalam tulisan Luther dan
Calvin mengenai hubungan Gereja dan Negara, namun ada juga perbedaan
dalam wawasan.
32
33
34
1967), 225.
Bnd. De Jonge, Gereja Mencari..., 47-48.
Bnd. Van den End, Harta Dalam..., 218-220.
Bnd. J. Verkuyl, Etika Kristen: Ras, Bangsa, Gereja, Negara (Djakarta: BPK,
Persamaan
Calvin sepaham dengan Luther untuk melihat Negara dari perspektif
kejatuhan manusia ke dalam dosa dan oleh karena itu (berbeda dengan
GKR) ia setuju dengan Luther bahwa eksistensi Negara adalah sebagai
hukuman atas dosa (penalty of sin).
Luther
dan
Calvin
menyadari
bahwa
kecenderungan
penyalahgunaan kekuasaan inheren di dalam eksistensi Negara. Di dalam
keadaan seperti itu, tidak ada tempat dan alasan bagi orang Kristen untuk
memberontak dan melakukan anarki. Namun Calvin melangkah sedikit
lebih jauh daripada Luther: ketika penguasa politik menyalahgunakan
kekuasaannya, maka lapisan kekuasaan yang ada di bawahnya (the lesser
magistrates) mempunyai wewenang untuk melawan.
Perbedaan
Luther menulis hubungan Gereja dan Negara dari perspektif
pemerintah kaum elit Jerman, sedangkan Calvin menulis dari perspektif
kota pengungsi. Bagi Luther, politik adalah “urusan masyarakat,” bagi
Calvin politik adalah “urusan Allah.” Calvin mencoba melakukan sintesis
antara pandangan GKR dan Luther. Luther membuat pemisahan Gereja dan
Negara terlampau tajam, tetapi Calvin tak dapat menerima sepenuhnya.
Baginya, ada pemisahan tetapi tak ada keterpisahan.
Teori pemerintahan Luther bersifat pragmatis, asimilatif, teosentris
dan berbeda dengan pandangan Calvin yang bersifat asimilatif dan
teokratis. Sejarah menunjukkan bahwa Calvinisme cocok untuk orang yang
tertindas di seluruh dunia, sebagai sumber dari pembebasan politik mereka.
Teologi Luther sering mendapat kecaman dari orang yang tertindas tetapi
mendapat pujian dari masyarakat yang lebih stabil.
Tanggapan Terhadap Luther
Luther adalah anak zamannya. Pemahaman tentang hubungan
Gereja dengan Negara tidak terlepas dari realitas awal abad ke-16. Apapun
pendapat orang mengenai pemikiran Luther, penting untuk diingat bahwa
sebenarnya secara esensial Luther mendukung para penguasa Jerman. Ini
perlu dipahami secara kontekstual. Sepanjang hidupnya, Luther dibayangi
ketakutan terhadap kekacauan politik dan disintegrasi. Baginya, ada
hierarki natural dalam tatanan masyarakat dan para pangeran Jerman
merupakan penguasa legitimate yang paling baik. Luther terlibat dalam
politik dan menghimbau para pengikutnya untuk melakukan hal yang sama,
namun ia tidak pernah berkeinginan melakukan subversi. Ia tidak surut
untuk mengingatkan para pangeran bahwa rakyat tidak tahan terhadap
penindasan mereka lagi, Allah tidak akan mentolerir tindakan mereka.
Namun ketika para petani memberontak, ia menasehati para pangeran untuk
menindas para petani.
Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa ajaran Luther mengenai
hubungan Gereja dengan Negara bersifat subyektif (dipengaruhi hubungan
baik dengan Frederick the Wise, bukan kolusi). Analisanya mengenai
lingkungan dari zamannya jelas dipengaruhi posisi sosial dirinya di dalam
lingkungan tersebut. Hal ini tampak dalam persepsi teologisnya yang
merupakan satu kesatuan pemikiran logika, negosiasi bahkan kompromi.
Etika Luther dapat dipermodern untuk situasi-situasi yang
kompleks. Tetapi perlu dipahami secara esensi bahwa lingkup temporal
(Negara) dan spiritual (Gereja) hendaklah diresponi dengan cara-cara yang
berbeda: Beri kepada Kaisar (Negara) apa yang menjadi milik Kaisar, beri
kepada Allah (Gereja) apa yang menjadi milik Allah. Prof. Dr. Jan S.
Aritonang pernah mengatakan bahwa perumusan atau formulasi kredo tidak
terlepas dari konteks zamannya. Dengan demikian segala sesuatu dapat
berubah, termasuk ajaran Luther. Yang tidak berubah hanyalah Tuhan Yesus
Kristus.35
Dengan demikian, kita yang hidup zaman sekarang tidak terjebak
dalam pandangan yang terlalu sempit, yang menilai bahwa Luther tidak
konsisten dalam ajarannya (satu pihak Luther menyarankan Gereja tidak
mencampuri urusan Negara, pada pihak lain Luther mencampuri urusan
Negara melalui ajarannya untuk menindas pemberontak). Ini penilaian yang
tidak ilmiah. Luther bertindak demikian karena ajaran Dua Kerajaan
dibelokkan. Luther selalu menekankan bahwa tidak dibenarkan
memberontak melawan penguasa yang legal manapun. 36 Memang antara
tanggal 25-28 Oktober 1530 Luther mengeluarkan formulasi kapitulasi
yang ditulis dengan tangannya sendiri namun pada saat itu ia berada dalam
tekanan krisis politik, sehingga akhirnya ia berkata, “Ahli teologi
sebenarnya tidak berkompetensi untuk mempertimbangkan masalah
tersebut, peran mereka tidak lebih dari sekadar mensahkan posisi yang telah
35
Di dalam ruang kuliah S-2, Institut Injil Indonesia di Batu, 06 September
36
Bnd. Skinner, The Foundations of..., 206.
2001.
diambil oleh para dewan juru.” Dan satu hal yang perlu diingat, Luther
adalah seorang rohaniwan berlatar belakang konservatif.
Tanggapan Terhadap Calvin
Sebagaimana Luther demikian pula Calvin. Kedua reformator ini
adalah anak zaman. Ajaran Calvin mengenai Gereja dan Negara lahir di
tengah-tengah konteks Negara dan masyarakat Kristen (berbeda dengan
Indonesia yang mayoritas beragama Islam). Masyarakat merupakan satu
kesatuan, dengan Gereja sebagai jiwa dan Negara sebagai tubuh (Corpus
Christianum). Sebenarnya, secara teologis, Calvin menghindari adanya
teokrasi model Perjanjian Lama dan eklesiokrasi, namun dalam prakteknya
pada waktu ia menjadi pendeta di Jenewa ia justru mempraktekkan kedua
hal tersebut dengan bantuan Dewan Kota, bahkan dengan sangat ketat.
Menghadapi kasus Servetus, Calvin meminta bantuan Dewan Kota untuk
menanganinya, karena bagi Calvin kedudukan Gereja dalam masyarakat
harus dibela oleh pemerintah.
Di Indonesia, pada waktu Gereja mencantumkan Pancasila sebagai
asas bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di dalam Tata Gerejanya,
maka saat itu sebenarnya sejarah Kota Jenewa atau Dewan Kota sedang
diulangi. Gereja sudah membuka kemungkinan intervensi Negara di dalam
urusan-urusan Gerejawi. Menurut UU No.8/1985 mengenai keormasan,
Gereja di mata pemerintah adalah suatu organisasi massa. Dengan demikian
Gereja dapat “dibina” dan “diayomi” oleh Negara (hanya aspek organisasi,
kasus HKBP misalnya).
Dengan menilik perjalanan dan peristiwa-peristiwa sejarah di atas,
maka pertanyaannya: Tidakkah ada hal-hal yang mendorong justru di
dalam perjalanan sejarah dari Gereja yang menyebabkan Negara
“diizinkan” untuk mencampuri urusan-urusan Gerejawi? Haruskah kita
menganggap “final” perumusan yang mengatakan bahwa Negara tidak
boleh mencampuri urusan Gereja (organisasi) dan sebaliknya? Ataukah kita
harus terbuka kepada suatu proses sejarah, di mana akan ditemukan suatu
“model” yang lain samasekali, justru ketika interaksi antara Gereja dan
Negara terjadi, yang ikut ditentukan oleh kenyataan-kenyataan sosio,
budaya, dan lain-lain (Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, Sejarah Gereja)
yang memperlihatkan “model” hubungan justru tidak statis tetapi dinamis.
IMPLIKASI TEOLOGIS
Alkitab menempatkan Gereja (orang percaya) dalam suatu posisi
yang paradoksal, bertanggung jawab kepada Allah dan sekaligus kepada
pemerintah (Yer 29:7). Israel sebagai umat diinstitusionalisasikan menjadi
Negara. Konsekuensi dari adanya kerajaan (Negara) adalah pemakaian
kekuasaan, yang dalam banyak hal dapat saja disalahgunakan. Dalam
institusionalisasi umat menjadi kerajaan (Negara). Jelas bahwa Raja
(Negara) tidak senantiasa memiliki relasi yang harmonis dengan Imam
maupun Nabi. Allah sering memakai Nabi (Gereja) untuk menyampaikan
maksud-Nya kepada Raja (Negara) (2Sam 7:1-17, 12:1-25, dan seterusnya).
Pada pihak lain Negara juga dipakai Allah untuk menyampaikan
maksudnya kepada Gereja (Qahal). Bahkan Raja-raja asing pun dipakai
Allah untuk menyelamatkan umat-Nya (Kisah Koresy dalam Ezr 1:3). Raja
Ahasyweros (melalui Ester) mencegah musnahnya umat Israel dari muka
bumi ini sebagai akibat rencana genoside Haman (Est 3:1-5:14). Dengan
demikian Allah mempergunakan tangan “Negara” untuk menyelamatkan
umat-Nya dalam keadaan sangat kritis. Tetapi ini bukan satu pola baru.
Di Dalam Perjanjian Baru, warga negara Kristen diwajibkan untuk
setia kepada pemerintah (Rm 13:1-7), namun paradigma Paulus tentang
ketaatan kepada pemerintahan, bukanlah di atas segala-galanya, karena
Gereja harus lebih taat kepada Allah, dalam segala hal. 37 Gereja juga wajib
berdoa untuk seluruh pejabat (1Tim 2:2). Para pemimpin diangkat untuk
menghukum para pelanggar dan menghormati warga yang berbuat baik
(1Ptr 2:13). Gereja diutus oleh Tuhan ke dalam dunia. Tugas Gereja ialah
menjadi “Garam” dan “Terang” (Mat 5:13-16) dan hidup sebagai Gereja
yang taat kepada Tuhan (Ibr 13:8).
IMPLIKASI PRAKTIS
Menerapkan semua pembahasan di atas ke dalam koteks Indonesia,
sebenarnya tidak harus menulis secara panjang lebar. Paling sedikit pada
aras prinsipil dan kontekstual, segala sesuatu telah amat jelas.
37
Kata “takluk” (Rm 13:1-2) u[potassw – hupotasso (subject, subordinate)
dalam bentuk passive voice menjadi u[potassesqai – hupotassesthai dapat diterjemahkan
menempatkan diri di bawah atau mengambil tempat yang lebih rendah. Dengan demikian,
seruan Paulus untuk takluk keada pemerintah merupakan suatu nasehat merendahkan diri
dan bersedia menempatkan diri lebih rendah dari para penguasa, sejauh tidak berlawanan
dengan iman kristiani; Bnd. W.E. Vine, Vine's Complete Expository Dictionary of Old and
New Testament Words (Nashville: Thomas Nelson Publisher, 1985), 606.
Indonesia yang berlandaskan Pancasila adalah sebuah Negara
hukum, bukan Negara kekuasaan, bukan Negara totaliter atau otoriter.
Negara Pancasila menjamin kebebasan beragama. GBHN 1988-1993
menegaskan bahwa kebebasan beragama adalah hak asasi manusia yang
paling mendasar. Negara Pancasila bukanlah negara sekular, dan karena itu
tidak mengenal pemisahan yang mutlak antara Agama (Gereja) dengan
Negara. Namun Negara Pancasila juga bukan sebuah Negara Agama, dan
oleh karena itu juga menolak sobordinasi Negara oleh Agama (Gereja) dan
subordinasi Agama (Gereja) oleh Negara.
Secara prinsipil, supremasi Negara terhadap Gereja harus ditolak.
Jika Negara menguasai Gereja dan intervensi di dalam urusan-urusan
Gereja (ajaran maupun organisasi) implikasinya, Gereja telah kehilangan
kebebasannya. Maka pedang Roh, yaitu Firman Alah, telah menjadi tumpul
(Ef 6:17).
Jadi, kalau kita konsekuen dan konsisten, maka sebenarnya tidak
ada pilihan dan kemungkinan yang lain; Negara harus menjamin kebebasan
dan otonomi semua kelompok agama di Negara ini untuk mengatur dirinya
sendiri, sesuai dengan keyakinan yang dianutnya dan aturan-aturan yang
ditetapkannya sendiri, selama hal itu tidak bertentangan dengan hukum
yang berlaku. Bahkan mengenai “hukum yang berlaku” inipun harus
dengan kualifikasi: Sepanjang hukum yang berlaku itu menjamin otonomi
individu dan masyarakat. Kurang dari itu yang kita hadapi adalah gejala
totalitarianisme atau paling sedikit otoritarianisme, keangkuhan, kekuasaan
yang destruktif dan demonis, pelanggaran mandat yang diberikan oleh
Allah sendiri. Adalah kewajiban (bukan cuma hak) bagi setiap pencinta
demokrasi untuk melawannya, dan setiap anak Allah untuk melaksanakan
tugas profetisnya, sebagai bagian dari iman dan ketaatannya kepada Allah
(Kis 5:29). Tugas ini hendaknya disampaikan dengan hati-hati dan rendah
hati serta berhikmat sebagaimana dikatakan DR. Petrus Octavianus: “Hal
ini harus disampaiakan dengan rendah hati di dalam kasih. Jangan bertindak
seolah-olah kita lebih tahu dari pemerintah.” 38
38
P. Octavianus, Mengapa Umat Kristen Menerima Pancasila sebagai SatuSatunya Azas? (Batu-Malang: Dep. Lit. YPPII, 1985), 28.
PENUTUP: KESIMPULAN
Setelah menelusuri akar-akar kristiani dalam ajaran Luther dan
Calvin dalam hubungannya dengan Gereja dan Negara serta implikasinya
bagi Gereja dan Negara Pancasila, maka sekarang dapat ditarik beberapa
kesimpulan.
Pertama, Gereja mengakui eksistensi dan fungsi Negara sebagai alat
Allah untuk mencegah/menghukum kejahatan dan mengusahakan keadilan
bagi seluruh rakyat.
Kedua, Gereja menyadari dan mewaspadai potensi serta
kecenderungan yang inheren ada pada Negara untuk menyalahgunakan
wewenang yang dapat berubah menjadi kekuatan yang destruktif dan
demonis.
Ketiga, Justru agar Negara dapat melaksanakan fungsinya dengan
baik dan benar, kekuasaan Negara harus diatur dan dibatasi.
Keempat, hubungan Gereja dan Negara secara inheren mengandung
potensi konflik. Ini disebabkan karena baik Gereja maupun Negara
mempunyai klaim yang menyeluruh atas kehidupan manusia, dalam
artibahwa semua faset kehidupan manusiawi mempunyai dimensi spiritual
dan politis. Ketegangan hubungan antara Gereja dan Negara ini tidak boleh
dipadamkan dengan menundukkan (mensubordinasikan) yang satu kepada
yang lain, baik dalam bentuk “Gereja-Negara” maupun “Negara-Gereja.”
Oleh karena itu, di samping menolak totalitarianisme dan otoritarianisme,
Gereja juga harus menolak teokrasi dan eklesiokrasi.
Kelima, Gereja hendaknya mempertahankan serta memelihara hak
yang ada padanya untuk di mana perlu melaksanakan “ketidaktaatan yang
bertanggung jawab” terhadap kekuasaan Negara. Sehingga meminimalkan
terjadinya seperti yang pernah dikatakan Prof. Dr. Jan S. Aritonang:
“Nabinya sudah jinak.”39 Hak ini bukanlah pemberian Negara, walaupun
Negara seharusnya menjamin hak-hak individu dan masyarakat untuk
bersikap sesuai dengan hati nurani dan keyakinannya, selama hal tersebut
tidak menimbulkan anarki. Tetapi diakui atau tidak oleh Negara, Gereja
wajib memwujudkan kebebasannya itu dan kalau perlu bersedia menderita
demi suara hati nurani dan keyakinannya. Akhirnya, kita, Gereja, dapat
berkata seperti Luther: “Suara hati saya sudah terikat oleh perkataan
39
2001.
Di dalam ruang kuliah S-2, Institut Injil Indonesia di Batu, 06 September
Kitab Suci dan saya tertangkap dalam Firman Allah, menarik kembali, saya
tidak dapat dan saya tidak mau sama sekali.” 40
Di akhir tulisan ini, saya merujuk kata-kata Eka Darmaputera:
“Bersikap sesuai dengan keyakinan dan suara hati nurani bukanlah
anarkisme. Ia tidak memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain dan
merugikan hak serta kebebasan orang lain (1Kor 13:40).” 41 Dan sebagai
pengikut Kristus, Gereja (secara organis) tidak pernah boleh putus asa,
sebagaimana nasehat Dietrich Bonhoeffer melalui suratnya dari penjara,
sebelum ia mati di tiang gantungan di bawah hukuman Adolf Hitler pada
tanggal 9 April 1945.42
40
Dikutip oleh Van den End, Harta Dalam..., 167.
Eka Darmaputera, “Aspek-Aspek Etis-Teologis Hubungan Gereja-Negara Dan
Implikasinya Dalam Negara Pancasila” dalam Weinata Sairin (peny.), Hubungan Gereja
Dan Negara Dan Hak-Hak Asasi Manusia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), 21.
42
Dietrich Bonhoeffer, Letters and Papers from Prison (London: SCM Press,
1981).
41
KEMESIASAN YESUS BERDASARKAN LUKAS 4:18-19
SEBAGAI DASAR HOLISTIC MINISTRY GEREJA
DINA ELISABETH LATUMAHINA
PENDAHULUAN
Secara global, masyarakat dunia sedang menghadapi tiga masalah
besar yaitu masalah degradasi lingkungan hidup, disintegrasi sosial dan
masalah kemiskinan. Pertama, masalah degradasi lingkungan hidup.
Sumber-sumber daya dunia sedang dihabiskan lebih cepat daripada mereka
dapat digantikan. Pencemaran lingkungan dan Global Warming menjadi
masalah utama dunia saat ini. Kedua, masalah disintegrasi sosial yang telah
menghancurkan tatanan masyarakat. Masalah perceraian yang sedang
booming, bunuh diri, tawuran, pemakaian obat-obat terlarang yang tidak
dapat dibendung lagi. Relasi sosial antar masyarakat telah diwarnai
diskriminasi, intimidasi, anarkhisme. Yang ketiga, masalah kemiskinan.
Pada dewasa ini dunia menghadapi kenyataan bahwa lebih dari satu
milyard umat manusia (seperlima penduduk dunia) hidup dalam
kemiskinan yang mutlak dan jumlah bilangan ini terus bertambah. Ada
kesenjangan sosial yang semakin melebar antara si kaya dan si miskin.
Melihat semua masalah di atas, Gereja tentunya tidak boleh menutup mata
atau melipat tangan dan mengatakan bahwa itu bukan urusan Gereja.
KEMESIASAN YESUS DALAM PERJANJIAN LAMA
Mulai zaman Perjanjian Baru sampai sekarang, pengertian tentang
Mesias bahwa Dia adalah Yesus Kristus yang telah datang ke dunia untuk
menyelamatkan manusia berdosa sehingga memperoleh hidup yang kekal
adalah pengertian yang sudah baku. Tetapi sebelum itu, orang-orang Israel
zaman Perjanjian Lama sudah memiliki pengharapan mesianis menurut
pengertian yang diperoleh dari nubuat-nubuat para Nabi Perjanjian Lama.1
Berdasarkan nubuat-nubuat tersebut, dan atas bimbingan Roh Kudus,
Yohanes Pembaptis dan para Rasul Perjanjian Baru mengenali Yesus
sebagai Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama.
1
S.M. Siahaan, Pengharapan Mesias Dalam Perjanjian Lama (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1991), 3.
Terminologi
Kata Mesias diambil dari bahasa Ibrani Meshiah yang berarti yang
diurapi. Kata dasarnya masah artinya mengurapi. Bahasa Yunani menyebut
Kristos, dari kata kerja khrio yang berarti mengurapi. Dalam Perjanjian
Lama, jabatan-jabatan resmi yang selalu didahului oleh pengurapan adalah
jabatan Raja, Imam dan Nabi.2 Minyak yang dituangkan dalam pengurapan
tersebut adalah lambang Roh Kudus, seperti yang telah dikatakan dalam
Yesaya 61:1; Zakharia 4:1-6, juga sekaligus melambangkan pengubahan
satu pribadi sehingga dipenuhi Roh-Nya. Sebagai tanda, ada tiga hal yang
dilihat sebagai dampak pengurapan yaitu: (1) pengesahan yang
menunjukkan sahnya pekerjaan tersebut sekaligus diberi kemampuan untuk
melaksanakannya; (2) Penetapan relasi dengan Allah, ada status bagi yang
diurapi sehingga orang lain tidak boleh berbuat sembarangan terhadap
‘yang diurapi’3; (3) Komunikasi dengan Allah yang bersifat dinamis
fungsional. Sebagai contoh, ketika Roh Tuhan berkuasa atas Daud dan Roh
Kudus sebagai meterai yang menjamin orang yang diurapi Tuhan, seperti
Mazmur 2:2; Kisah Para Rasul 4:27.
Pada umumnya dalam Perjanjian Lama, pengurapan merupakan
penetapan atau pentabisan untuk tugas tertentu, memberi wewenang,
wibawa dan kuasa, kekuatan, kemampuan untuk melaksanakan tugas
tersebut.4 Tindakan pengurapan adalah hak mutlak Allah yang diberikan
kepada Raja, Imam dan Nabi dengan tujuan melayani-Nya.
Mesias sebagai Raja
Mesias sebagai Raja berasal dari keturunan Yehuda. Tongkat
Kerajaan akan tetap pada Yehuda sampai dituntut oleh penguasa terakhir
yaitu Mesias sebagai Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.
Dia-lah yang berhak untuk duduk di atas tahta Daud. Dia tidak hanya
memerintah Kerajaan Daud tetapi bangsa-bangsa lain akan takluk juga
kepada-Nya. Sang Mesias akan diberkati, akan memerintah pada zaman
kelimpahan, Dia akan menambatkan keledai-Nya pada pohon anggur, dan
anak keledainya pada pohon anggur pilihan; dia akan mencuci pakaiannya
2
(Kel 29:7; Im.4:3; Hak 9:8; 1Sam 9:16; 10:1; 2Sam 19:10).
(Bnd. 1Sam 24:7; 26:9; 2Sam 1:14).
4
TGR Boeker, Apa Kata Alkitab Tentang Roh Kudus (Batu-Malang: Institut
Injil Indonesia, 1991), 13.
3
dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur; matanya akan
merah karena anggur dan giginya akan putih karena susu. 5
Mazmur-mazmur berbicara mengenai watak dan tugas Mesias
sebagai Raja; Dia akan menghadapi perlawanan dunia, tetapi Dia akan
menang. Dia akan memerintah dunia, pemerintahan-Nya kekal, kerajaan
damai sejahtera, ketaatan-Nya kepada Yahwe tak tergoyahkan. Dia sahabat
orang miskin dan musuh para penindas. Dia pewaris Perjanjian Yahwe
dengan Daud, Dia anak Yahwe, duduk di sebelah kanan-Nya dan Dia
sendiri Ilahi.6
Kitab Yesaya juga banyak menubuatkan mengenai Mesias sebagai
Raja.7 Yesaya berbicara mengenai Raja Keturunan Daud yang dikaruniai
Roh Allah, Kerajaan-Nya adalah Kerajaan Moral dan keadilan, rohani,
penuh damai sejahtera Ilahi, meliputi bangsa-bangsa, dan Israel akan
dipulihkan.
Mesias sebagai Nabi
Dalam Ulangan 18:15-19, Musa mengatakan bahwa: “Seorang Nabi
‘seperti aku’ akan dibangkitkan oleh Yahwe”. Umumnya para penafsir dan
para teolog sepakat bahwa yang dimaksudkan dengan ‘seorang nabi seperti
aku’ itu adalah Mesias yang lebih pantas untuk itu dibandingkan dengan
para Nabi yang lain dalam Perjanjian Lama. Musa adalah pengantara
Perjanjian Sinai; para Nabi lain adalah pemberita perjanjian ini dan
menubuatkan penggantinya. Musa adalah pemula; para nabi lain adalah
nabi penyiar. Dengan Musa, agama Israel memasuki masa baru; para nabi
berjuang agar masa itu ditegakkan dan tetap ada, dan menyediakan jalan
bagi masa yang akan menyusul, yang mereka idam-idamkan. Maka
nubuatan tersebut hanya digenapi oleh Mesias.
Mesias sebagai Imam
Keimaman Mesias mengikuti peraturan Melkisedek. Dalam
Mazmur 110:4, seorang Raja Keturunan Daud ditetapkan dengan sumpah
Allah menjadi imam untuk selama-lamanya menurut Melkisedek. Latar
5
6
7
Kejadian 49:9-10.
Mazmur 2:1-10, 72, 110, 45, 89.
Yesaya 7, 9, 45.
belakang penetapan ini terdapat dalam hal penaklukan Yerusalem oleh
Daud tahun 1000 BC, dan berdasarkan ini Daud dan keturunannya menjadi
ahli waris atas jabatan Imam-Raja dari Melkisedek. Jabatan Imam sangat
jelas menjadi bagian dari kekuasaan raja, karena penguasa terhormat
Yerusalem sekaligus menjadi imam besar Yerusalem. Jabatan rangkap ini
dimulai Daud menurut Mazmur 110, menggantikan Melkisedek. Di dalam
dirinya, dia membangun altar untuk Allah dan mempersembahkan korban;
dia ingin membangun Bait Allah; dia membawa tabut Perjanjian ke
Yerusalem, dengan berpakaian imam.
Salomo juga menjadi imam tertinggi; dia membangun Bait Allah
dan menabiskan Bait Allah tersebut, dan mempersembahkan kurban di
depan tabut perjanjian sambil berkhotbah dan memberkati bangsa Israel
(1Raj 8). Pekerjaan-pekerjaan tersebut sebenarnya tugas Imam Besar.
Tetapi Raja adalah imam tertinggi dan bahkan dia mengurapi para imam. 8
Yesus adalah Raja yang ditetapkan dengan cara demikian, oleh
orang-orang sezaman-Nya disebut Mesias Anak Daud. Dia harus menjadi
imam untuk selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek. Ibrani 5:611;6:20-7:28 menjelaskan keimaman Yesus di surga berdasarkan Mazmur
110 dengan penjelasan dari Kejadian 14:18 dan berikut. Melkisedek lebih
tinggi dari Abram, maka ditetapkan bahwa keimaman Kristus bukan dari
keturunan Harun tetapi dari Melkisedek, dan keimaman Kristus lebih tinggi
dari keimaman keturunan Lewi dalam Perjanjian Lama. 9
Problematika Pengharapan Mesianis dalam Perjanjian Lama
Beberapa pandangan tentang pengharapan Mesianis orang-orang
zaman Perjanjian Lama.10
Pandangan Literal-Kritis
Pandangan ini mengatakan bahwa pengharapan mesianis Israel
adalah Mesias akan datang untuk mengangkat bangsa yang terhina menjadi
bangsa yang dihormati kembali di antara bangsa-bangsa masa itu.
8
9
10
(2Sam 8:17, 20:15; 1Raj 2:26).
Siahaan, Pengharapan Mesias…, 9-10.
Ibid., 5-8.
Pandangan Historis-Religius
Pandangan ini berpendapat bahwa Mesias adalah tokoh yang
sempurna bagi Israel yang akhirnya memberikan keselamatan tertinggi bagi
manusia. Ada latar belakang politis tetapi akhirnya tersembunyi di balik
pandangan religious. Selanjutnya, menurut pandangan ini, Mesias hanya
satu, yang di dalam diri-Nya membawa keselamatan bagi Israel dan semua
manusia, tetapi dalam perjalanan waktu pengharapan ini semakin kabur.
Kemudian masuklah pemikiran-pemikiran eskatologis yang mengakibatkan
pindahnya pengharapan mesianis ke waktu dekat, ataupun waktu yang jauh
dari pendengar nubuat.
Pandangan Konservatif
Pandangan ini beranggapan bahwa tujuan Yahwe dalam Perjanjian
Lama adalah membangun bangsa yang rohani dengan religi dan budaya
yang benar, dan dalam kerajaan ini akan berkuasa seorang Penyelamat.
Sesuai dengan tugas-Nya, Dia dinamai Pemenang atau Bintang Yakub.
Setelah Kerajaan dalam bangsa Israel didirikan sesuai dengan kehendak
Allah, dan Raja Daud menduduki tempat yang terhormat, maka muncul
pengharapan terhadap Penyelamat dalam bentuk Raja. Jenis pengharapan
itu digambarkan berhubungan dengan besarnya bangsa, nama yang masyur,
akhir dari perang politik, pemerintahan yang gemilang dan damai.
Pandangan dari segi Fungsi Kultus
Pandangan ini berangkat dari apa yang dijelaskan Kitab Mazmur
mengenai Mesias. Pandangan ini memberikan makna kepada posisi raja
pada ibadah di Bait Allah untuk meneruskan kekuatan Allah kepada bangsa
Israel. Dengan demikian raja adalah jaminan keselamatan. Mulanya
menurut pandangan ini pengharapan Mesias masih berpusat pada
kebangkitan kembali dinasti Daud tetapi kemudian pengharapan tersebut
menuju Mesias yang hidup dan berkuasa kekal.
Aliran yang Menekankan Ritus-Ritus
Menurut pandangan ini, manusia pertama Adam adalah pemegang
kekuasaan yang diberikan Allah. Dalam sejarah Israel, kekuasaan tersebut
dipegang oleh raja yang sekaligus Mesias, yang membawa keselamatan
untuk bangsanya. Pada zaman pembangunan, kedudukan ini diduduki oleh
‘hamba yang menderita’. Dan dalam Kitab Daniel, manusia pertama ini
dinyatakan sebagai ‘Anak Manusia’. Ketiga posisi ini yaitu Raja-Mesias,
Nabi dan Anak Manusia dapat ditarik kembali pada manusia pertama yang
diberi Allah tiga jabatan di atas.
Pandangan Historis-Tradisional
Pandangan ini mengatakan bahwa penobatan Dinasti Daud belum
termasuk dalam janji di Gunung Sinai. Janji kekekalan Dinasti Daud tidak
menjadi bagian dari sejarah janji keselamatan Allah di masa kuno. Dinasti
Daud menjadi bagian dari keselamatan baru.
Dalam 2 Samuel 7 dikatakan bahwa janji Allah untuk membangun
rumah dinasti Daud: janji Allah bahwa Daud akan berkuasa atas Israel dan
kekuasaannya kekal; Yahwe akan menjadi Bapa bagi Daud dan
keturunannya; Yahwe akan mengikat perjanjian kekal dengan Daud.
Pandangan Historis-Kritis
Pandangan ini mengatakan bahwa istilah Mesias pada awalnya
ditujukan kepada keturunan Daud, dan baru pada masa pembuangan
dialihkan kepada pengharapan eskatologis, raja kekal di masa datang. Raja
itu akan duduk di tahta Daud dan akan memerintah secara adil. Mesias
digambarkan sebagai tokoh politis dan eskatologis.
Kesimpulan: (1) Adanya perbedaan interpretasi terhadap
pengharapan Israel karena adanya perbedaan interpretasi terhadap
Perjanjian Lama, (2) Adanya perbedaan konsep pengharapan mesianik dan
munculnya pengharapan mesianik yang tidak utuh dan seperti yang
dimaksudkan Alkitab adalah ‘wajar’ apalagi penekanannya kepada aspek
kekinian, fisik dan politis, karena situasi politis bangsa Israel yang sangat
lama menderita di bawah penjajahan bangsa-bangsa kafir sejak penjajahan
Babel, Media-Persia, Yunani dan Romawi.
KEMESIASAN YESUS DALAM PERJANJIAN BARU
Interpretasi Mesias dalam Perjanjian Baru
Istilah “Mesias” dalam Perjanjian Baru diterjemahkan dengan kata
Yunani Kristos yang berarti yang diurapi. Dalam Alkitab terjemahan
Bahasa Indonesia, Mesias diterjemahkan dengan kata Kristus tetapi juga
Mesias dan yang diurapi. Mesias adalah Yesus dari Nazaret yang pada saat
pembaptisan-Nya diurapi dengan Roh Kudus dan kuat kuasa Allah
(Kis.10:38). Tetapi Tuhan Yesus sendiri jarang menggunakan istilah Mesias
untuk diri-Nya sendiri. Hal ini disebabkan karena adanya kesalah-pahaman
yang timbul dari penggunaan istilah itu, baik yang terjadi pada zaman
Perjanjian Lama maupun yang dapat terjadi pada zaman Perjanjian Baru,
zaman Tuhan Yesus selagi di dunia.
Ketika Petrus menyatakan pengakuannya bahwa ‘Engkaulah
Mesias, Anak Allah yang hidup’, Dia menerimanya, tetapi memerintahkan
murid-murid-Nya untuk tidak menceriterakan itu kepada siapa pun. 11
Dalam percakapan-Nya dengan perempuan Samaria,12 istilah itu
pasti dipahami dalam terang pengharapan perempuan Samaria bahwa akan
datang seorang taheb atau ‘yang membetulkan’, nabi seperti Musa yang
dijanjikan dalam Ulangan 18:15-19. Tetapi, ketika Dia ditantang oleh Imam
Besar pada saat penghakiman-Nya, supaya Dia mengatakan apakah Dia
Mesias, Anak dari Yang Terpuji atau tidak, Dia mengaku, dan kata-kata dari
ucapan-Nya dijadikan dakwaan bahwa Dia menghujat Allah.13
Sekali lagi Tuhan Yesus tidak pernah memproklamasikan diri-Nya
sebagai Mesias, namun Tuhan Yesus juga tidak menolak gelar Mesias bagi
diri-Nya. Tetapi pengertian Yesus mengenai kemesiasan-Nya berbeda
dengan gambaran umum bangsa Israel tentang Mesias yang mereka
harapkan. Dia menolak setiap unsur yang berbau politis dan nasionalisme.
Ketika Yesus dibaptis, suara dari surga menyambut Dia sebagai Mesias dari
suku Daud dengan memakai kata-kata dari Mazmur 2:7, tetapi juga
menambahkan kata-kata dari Yesaya 52:1 yang memperkenalkan Hamba
Yahwe. Ini pertanda bahwa KeMesiasan-Nya akan menggenapi gambaran
Hamba yang rendah hati, taat, menderita, menggenapi tugas-Nya melewati
maut, sambil menyerahkan pembelaan diri-Nya kepada Allah.
11
12
13
Matius 16:13-16; Markus 8:29-30.
Yohanes 4:25-26.
Markus 14:61-64.
Pelayanan Yesus yang dimahkotai dengan penderitaan inilah yang
memberikan arti baru kepada ‘mesias’ yang jelas berbeda dengan
pengertian sebelumnya. Sedangkan pembebasan yang tadinya dilihat
sebagai pembebasan bersifat politis, sekarang Yesus melihatnya sebagai
pembebasan dari dosa dan penghukuman. Kerajaan-Nya tidak bersifat
jasmani melainkan rohani.
Seperti dalam Perjanjian Lama, Mesias atau Kristus adalah Orang
yang diurapi yang mempunyai jabatan dan peran sebagai Raja, Imam dan
Nabi. Sebagai Raja yang bersifat Rohani, Mesias/Kristus berkuasa
mengampuni dosa (Mrk 2:10; 10:45), menghakimi orang berdosa
(Mat.25:31-36). Sebagai Imam, Dia menjadi Imam Besar menurut
peraturan Melkisedek, Dia mempersembahkan kurban karena dosa bahkan
Dia sendiri adalah kurban yang kekal (Ibr 3:4; 4:14; 5:5; 6:20; 7:26). Dia
pendoa syafaat bagi umat-Nya, Dia memberkati umat-Nya atas nama Allah.
Dia Tuhan atas Hari Sabat (Luk 6:5).
Sebagai Nabi, telah dinubuatkan dalam Ulangan 18:15
sebagaimana juga tertulis dalam Kisah Para Rasul 3:22-23. Kristus sendiri
berbicara bahwa Dia adalah seorang Nabi (Luk.13:33). Dia membawa
berita dari Bapa-Nya (Yoh 8:26-28), Dia menyatakan hal-hal yang
berhubungan dengan akhir zaman (Mat 24:3-35), Dia berbicara dengan
otoritas, berbuat mujisat, dan masih banyak yang lain.
Kemesiasan Yesus Dalam Lukas 4:18-19
Lukas banyak sekali menyebutkan Yesus sebagai Mesias atau
Kristus, dan para pengikut Kristus disebut sebagai orang Kristen (bnd. Kis
11:26; 26:28). Yesus disebut sebagai Kristus ketika Dia lahir (2:11,26).
Ketika berkotbah di Nazareth, Yesus diurapi oleh Roh Tuhan yang
menandakan bahwa Dia adalah Kristus (4:18) sekalipun Dia melarang
untuk menyiarkan bahwa Dia adalah Mesias (4:41). Larangan ini tidak
boleh ditafsirkan bahwa Dia bukan Mesias atau merahasiakan ke-mesiasanNya. Dalam Lukas 9:20, Petrus secara singkat mengatakan “Mesias dari
Allah’ untuk menjawab pertanyaan Tuhan Yesus: “menurut kamu siapakah
Aku ini?
Leon Morris mengomentari bagian ini demikian: The knowledge of
Christ is always a personal discovery, not the passing on of report learnt
from other people.14
14
David Imam Santoso, Theologi Lukas (Malang: Literatur SAAT, 2006), 73.
Sebagai Mesias, Orang yang diurapi, Yesus dalam pengajaran dan
pelayanan-Nya, tidak hanya menekankan aspek religious internal, aspek
religius ekternal tetapi juga aspek sosial-ekonomi yang menyangkut
kekinian.
Lukas 4:18-19 merupakan salah satu bagian dalam Injil Lukas yang
menunjuk kepada perhatian Yesus dalam ketiga aspek di atas. Dalam
khotbah-Nya di Nazareth, Yesus mengajarkan bahwa apa yang dinubuatkan
oleh Nabi Yesaya telah terwujud dalam diri-Nya. Orang yang diurapi
dengan Roh Allah itu adalah Yesus sendiri. Kata-Nya: “Pada hari ini
genaplah nats ini sewaktu kamu mendengarkannya” (4:21).
Tuhan Yesus memulai pelayanan-Nya sebagai orang yang diurapi
oleh Roh Kudus atau Mesias. Semua karunia dan rahmat dari Roh diberikan
kepada-Nya tanpa batas. Tidak seperti para nabi dalam Perjanjian Lama
yang sangat terbatas. Yohanes 3:34 mengatakan: “sebab siapa yang diutus
Allah, Dia-lah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah
mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas.”
Lalu, apa yang diperbuat-Nya sebagai seorang Mesias dalam Lukas
4:18-19?
Dia Menjadi Seorang Nabi yang Besar
Dia diurapi atau ditugasi (ekrise) untuk menyampaikan kabar baik
(euanggelisastai) kepada orang miskin. Kepada semua orang miskin
(ptokhois) di dunia. Kata ptokhos artinya: sangat miskin; yang berharap
pada Tuhan, yang tidak berguna.
Injil Lukas dikenal sebagai Injil untuk orang-orang miskin. Lukas
memberikan tempat bagi orang miskin dalam karya keselamatan Yesus.
Yesus memberi yang baik kepada yang lapar (1:53); Yesus membawa kabar
baik bagi orang miskin (4:18); juga memberitakan Kerajaan Allah bagi
orang miskin (6:20); memberi perhatian kepada Lazarus yang lapar dan
miskin (6:19-31). Dia membawa kabar baik bagi orang miskin secara
materi maupun secara rohani, orang yang sangat berharap kepada-Nya,
orang yang dianggap tidak berguna bagi sesamanya. Dia juga berkhotbah
untuk orang yang lemah dan rendah hati, orang-orang yang benar-benar
sedih karena dosa. Kepada mereka Dia menyampaikan Injil yang mengubah
hati mereka.
Pokok-pokok yang dikhotbahkan antara lain: a). Pembebasan/
pengampunan bagi tawanan (perang) (aikhmalotois apesin). Injil adalah
proklamasi pembebasan; pembebasan dari hal yang terburuk; b). Pemulihan
atau penglihatan bagi orang buta (tuplois anablepin). Dia datang tidak
hanya membawa terang Injil bagi yang duduk dalam kegelapan, tetapi
kekuatan kasih karunia-Nya memberi pandangan kepada mereka yang buta
atau memberi pengertian kepada mereka yang tidak sanggup mengerti. c).
Dia juga datang untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. Dia
datang supaya dunia mengetahui bahwa Allah bersedia berdamai dengan
mereka. Itulah tahun Yobel, tahun pembebasan, hari keselamatan.
Dia Datang Sebagai Seorang Dokter yang Hebat
Dia dikirim untuk menyembuhkan manusia yang patah hati,
memberikan ketenangan kepada mereka yang bermasalah, menyembuhkan
luka hati, membawa mereka yang lelah untuk beristirahat, dan yang
berbeban berat karena dosa supaya dilepaskan (bnd. Mat 11:28-30).
Dia Datang Menjadi Seorang Penebus yang Besar
Dia tidak hanya menyatakan kebebasan bagi para tawanan tetapi
memberi kebebasan kepada mereka (aposteilai tetrausmenous en apesei
artinya: menyuruh pergi orang-orang yang ditindas dengan pembebasan) .
Para Nabi hanya dapat memberitakan tetapi hanya Tuhan Yesus yang
memberi kebebasan karena Dia-lah yang memiliki otoritas dan kekuasaan
untuk mengampuni dosa.
IMPLEMENTASI KEMESIASAN YESUS BERDASARKAN
LUKAS 4:18-19 DALAM HOLISTIC MINISTRY GEREJA
Meneladani Yesus sebagai Kepala Gereja, Gereja harus bisa
mengembangkan pelayanan yang bersifat holistic yang mencakup semua
aspek kebutuhan manusia, yang merupakan perpaduan antara pelayanan
rohani dan pelayanan sosial/yang bersifat jasmaniah. Itulah yang dilakukan
Yesus sebagai Mesias. Walaupun tidak mudah tetapi harus diusahakan
karena untuk itulah Gereja dihadirkan di dunia ini. Dunia tempat Gereja
berada sedang mengalami krisis multidimensi. Krisis yang satu belum
sempat diatasi, muncul krisis yang lain, dan dampaknya sangat dirasakan
oleh masyarakat termasuk orang Kristen. Misalnya Krisis ekonomi dan
masalah kemiskinan. Jumlah orang miskin dari tahun ke tahun bertambah di
seluruh dunia termasuk di Indonesia. Kemiskinan terjadi di semua bidang.
Tidak hanya miskin secara materi tetapi juga miskin pendidikan, miskin
kesehatan, miskin kebebeasan dan lain-lain.15
Menurut Nababan, kemiskinan ini bisa disebabkan karena
keterbelakangan, kurangnya pendidikan, sistem, struktur dan peraturan
warisan kolonialisme dan feodalisme dalam masyarakat lokal, nasional,
universal yang tidak mencerminkan keadilan, bahkan cenderung terus
mendukung yang kaya makin kaya dan miskin makin miskin, dan terus
melindungi aneka ragam eksploitasi terutama dalam era globalisasi yang
dikuasai oleh korporatokrasi ini. Pemahaman agama yang tidak
menyeluruh, dan penyampaian ajaran agama yang cenderung tekstual dan
tidak kontekstual ikut memperlambat usaha mengatasi atau mengentaskan
kemiskinan.16 Selain masalah kemiskinan, masih banyak pekerjaan rumah
Gereja antara lain: masalah perceraian, bunuh diri, seks bebas, tawuran
remaja, narkoba yang tidak dapat dibendung lagi dan masalah degradasi
lingkungan hidup yang semakin parah.
Hasil analisa tersebut di atas kiranya menjadi perhatian Gereja yang
serius. Gereja harus berdoa supaya Tuhan memulihkan keadaan di atas. Itu
baik. Tetapi itu belum cukup. Selain berdoa, Gereja harus memikirkan
tindakan-tindakan nyata-praktis sebagai upaya partisipasi dalam
masyarakat. Gereja tidak boleh hanya hidup untuk diri sendiri tetapi Gereja
harus berusaha memperhatikan dinamika kehidupan dalam masyarakat di
sekitarnya. Gereja harus melibatkan anggotanya untuk ikut aktif
menyelesaikan persoalan masyarakat di sekitarnya. Program-program
Gereja, baik jangka pendek maupun jangka panjang, hendaknya tidak hanya
berorientasi untuk kebutuhan rohani jemaat, tetapi juga berorientasi kepada
kebutuhan masyarakat di sekitarnya baik secara rohani, secara moral, secara
sosial, secara psikologis, dan sebagainya.
Masalahnya, belum semua Gereja di dunia atau secara khusus di
Indonesia menyadari pentingnya mengembangkan holistic ministry (aspek
religious internal, aspek religius eksternal dan aspek sosial–ekonomi
kekinian). Bisa jadi karena ada Gereja-gereja, baik pribadi, persekutuan
atau secara lembaga masih terjebak dalam pola pikir dikotomik yang
membagi realita di masyarakat dalam dua kategori yang berbeda. Yang satu
berhubungan dengan dunia rohani (penginjilan, khotbah, doa, kebaktian,
PA), yang sering dianggap lebih tinggi nilainya dari yang berhubungan
15
Soritua A.E. Nababan, “Misi Gereja dan Pemulihan Bangsa” dalam Holictic
Global Mission (Batu: Departemen Multi Media, 2007), 306.
16
Ibid., 308.
dengan hal-hal yang bersifat jasmani (pelayanan sosial). Cara pandang
seperti ini jelas mempengaruhi pola pikir, cara pandang dan tindakan
sehari-hari. Akibatnya, Gereja cenderung mengutamakan hal-hal yang
rohani dan menjauhi hal-hal yang bersifat jasmani.
Untuk hal-hal yang bersifat jasmani dan sosial, Gereja menganggap
sudah cukup dengan mendoakannya. Bambang Wijaya mengatakan bahwa
Injil yang otentik harus nampak terlihat dalam transformasi kehidupan
manusia. Sementara Gereja memberitakan kasih Tuhan Yesus, Gereja harus
terlibat dalam pelayanan kasih. Sementara Gereja mengkhotbahkan
Kerajaan Allah, Gereja harus berkomitmen kepada keadilan dan damai.17
Penginjilan adalah tugas utama Gereja supaya semua orang
memiliki kesempatan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan
Juruselamat. Itulah mandat yang telah diberikan Tuhan Yesus (Mat.28:1820). Dalam Pelayanan-Nya di dunia, Tuhan Yesus dengan kuasa,
memberitakan dan mengajar banyak orang tentang Injil kasih karunia,
tetapi sebagai Mesias, Dia juga dengan semangat dan kuasa yang sama,
memperhatikan orang miskin, Dia memberi makan mereka yang lapar,
melayani orang sakit, merawat orang tawanan, menolong mereka yang
cacat dan membebaskan yang tertindas. Dengan kalimat lain: Dalam diri
Tuhan Yesus: Kabar Baik dan perbuatan baik tidak terpisahkan. Baik hal
rohani dan hal jasmani tidak dipisahkan. Inilah yang dikatakan sebagai
bentuk Holictic Ministry Sang Mesias. Demikian seharusnya Gereja di
tengah-tengah masyarakat. Bagaimana Gereja secara praktis menjawab
tantangan ini?
Dan Raja itu akan menjawab mereka:
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan
untuk salah seorang dari Saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah
melakukannya untuk Aku”
(Matius 25:40)
17
Bambang H. Wijaya, Pelayanan Misi Holistic Di Dalam Masyarakat Majemuk
(Batu: Departemen Multi Media, 2007), 318.
MASA ‘ADOLESCENCE’ DAN POSTMODERINTAS:
TUGAS PERKEMBANGAN ANAK REMAJA DAN
ANCAMAN TATA NILAI “NEW MORALITY”
MELALUI MEDIA TELEVSI
MAGDALENA GRACE K. ADIPATI-TINDAGI
PENDAHULUAN
Secara etimologi, televisi terdiri dari dua suku kata, yakni tele
artinya jauh, visi artinya lihat. Suatu cara pengiriman gambar yang
bergerak atau sinyal dari studio dan pemancar ke pesawat penerima dengan
gelombang radio.1 Besarnya potensi media televisi terhadap perubahan
masyarakat menimbulkan pro dan kontra. Pandangan pro melihat televisi
merupakan wahana pendidikan dan sosialisasi nilai-nilai positif masyarakat;
sebaliknya yang kontroversial tersebut dapat digolongkan dalam tiga
kategori yaitu; televisi dapat mengancam tatanan nilai masyarakat yang
telah ada, televisi dapat menguatkan tatanan nilai yang telah ada; televisi
dapat membentuk tatanan nilai baru masyarakat termasuk lingkungan
anak.2 Lebih khusus pada masa pubertas (‘Adolecence’), karena kondisi ini,
para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun
dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Oleh
karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan
dengan status dewasa, yaitu; merokok, minum minuman keras,
menggunakan obat-obat, dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka
menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka
inginkan.3
Sehingga, perkembangan radikal yang diakibatkan pencapaian
teknologi informasi dan ilmu-ilmu sosial bukan hanya mengubah secara
radikal pola pemahaman kita tentang dunia dan diri sendiri tapi juga pola
relasi yang tak terelakkan antar individu, antar bangsa, atau antar negara.
Tiga hal dapat diidentifikasikan dari pola relasi ini: pertama, hubungan
1
Tiur L.H Simanjuntak, Dasar-dasar Telekomunikasi (Bandung: Alumni,
2002), 182.
2
Oos M. Anwas, Jurnal T eknologi Pendidikan, Antara Televise, Anak, dan
Keluarga (Jakarta: Pustekkom, 2006), 3.
3
Elsabeth Hurlock, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Penerbit Erlangga,
2009), 207.
yang sangat langsung dan terbuka (open society) sehingga siapa pun yang
hidup di masa kini sangat rentan dipengaruhi, dan berkemampuan untuk
mempengaruhi siapa pun. Tidak ada pihak dari sudut manapun di bumi ini
dapat mengisolasi diri atau menyatakan dirinya independen dari siklus
pengaruh-memengaruhi. Kedua, dunia yang kini menjadi desa sempit
komunikasi ini mengambil resiko tak terelakkan sebagai medan bebas
persaingan. Kebebasan yang menjadi nilai dasar pola hubungan ini memang
dibuntuti azas legalitarian, walau realitasnya ia hanya menjadi piala
kemenangan kekuatan global tertentu, politik, ekonomi, militer. Ketiga,
konsekuensi berikut dari kenyataan di atas: dunia terbuka dan persaingan
bebas itu sebenarnya hanyalah dua moral dasar, bisa juga dua prakondisi
yang melandasi kemenangan ide-ide oksidental: demokrasi, hak asasi
manusia, kapitalisme, individualisme. 4
Gejala perkembangan dalam masyarakat modern ini, Bambang
Sugiharto membedakannya dengan istilah ‘postmodernisme’ dan
‘postmodernitas’. Beberapa kecenderungan khas yang biasa diasosiasikan
dengan posmodernisme, yakni:
Pertama, dalam bidang seni, adalah hilangnya batas antara seni
dan kehidupan sehari-hari, tumbangnya batas antara budaya tinggi dan
budaya pop, percampuradukan gaya yang bersifat eklektik, parody,
pastiche, ironi, kermainan dan merayakan budaya “permukaan” tanpa
peduli pada “kedalaman,” hilangnya keorisinalitas dan kejeniusan, yang
akhirnya menghasilkan asumsi bahwa kini seni cuma bisa mengulang-ulang
masa lalu belaka.
Kedua, Frederich Jameson juga menggunakan istilah
postmodernisme di wilayah kebudayaan. Postmoderisme adalah logika
kultural yang membawa transformasi dalam suasana kebudayaan
umumnya. Ia mengaitkan tahapan-tahapan modernisme dengan kapitalisme
monopoli, sedangkan postmodernisme dengan kapitalis pasca Perang Dunia
II diyakininya, bahwa postmodernisme muncul berdasarkan dominasi
teknologi reproduksi dalam jaringan global kapitalisme multinasional.
Ketiga, dalam bidang Filsafat istilah postmodern diperkenalkan
oleh Jean F Lyotard dalam bukunya: “The Postmodern Condition: A Report
on Knowledge,” pemikiran umumnya berkisar tentang posisi pengetahuan
di abad ilmiah kita, khususnya tentang cara ilmu dilegitimasikan melalui
yang disebut “narasi besar” seperti kebebasan, kemajuan, emansipasi kaum
proletar dsb. Dalam abad ilmiah ini narasi-narasi besar menjadi tidak
4
2004), viii.
Radhar P. Dahana, Jejak Posmodernisme (Yogyakarta: Penerbit Bentang,
mungkin khususnya tentang peranan dan kesahihan ilmu itu sendiri. Maka
nihilisme, anarkhisme, dan pluralisme “permainan bahasa” pun merajalela.
Maka postmodernisme dirumuskan sebagai suatu periode di mana segala
sesuatu itu dilegitimasikan. Dari perspektif ini “postmodernisme” diartikan
sebagai ketidakpercayaan terhadap segala bentuk narasi besar; penolakan
filsafat metafisis, filsafat sejarah dan segala bentuk pemikiran yang
mentotalisasi - seperti Hegelianisme, liberalisme, Marxisme atau apapun. 5
Sehingga, Postmodernisme lebih menunjuk kepada kritik-kritik filosofis
atas gambaran dunia (worldview), epistemologi, ideologi-ideologi modern
sedangkan Postmodernitas menunjuk kepada situasi dan tata sosial produk
teknologi informasi, globalisasi, fragmentasi gaya hidup, konsumerisme
yang berlebihan, deregulasi pasar uang dan sarana publik, usangnya Negara
bangsa dan penggalian kembali inspirasi-inspirasi tradisi.6
GERAKAN NEW MORALITY
Terminologi
Kata moral berasal dari bahasa Latin yaitu Mos yang jamaknya
disebut Mores, yang secara harafiah berarti kelakuan, kebiasaan, adat. 7
Menurut Sproul kata moral atau moralitas menggambarkan pola-pola
tingkah laku umum.8 Selanjutnya istilah moralitas adalah ilmu deskriptif
yang menyangkut “hal-hal yang berlaku sekarang” dan hal-hal indikatif.
Moral melukiskan apa yang dilakukan orang-orang; etika menetapkan apa
yang seharusnya dilakukan orang-orang.9 Kata moral sering dikaitkan
dengan etika, kaidah-kaidah yang berlaku dalam masyarakat, dan berbagai
hal lain yang bersangkut-paut dengan kesusilaan. Searah dengan pengertian
ini, istilah New Morality menurut Marx adalah suatu paham moralitas atau
kesusilaan yang baru dan ditandai dengan kemunduran yang pesat dan
5
I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme (Yogyakarta: Penerbit Kanisius,
2006), 26-28.
6
Sugiharto, Postmodernisme, 24.
7
K. Bertens, Etika (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama, 1994), 3.
8
R.C. Sproul, Etika dan Sikap orang Kristen (Malang: Gandum Mas, 1991), 7;
Moral dan etika dua kata yang mempunyai arti yang berbeda, kata etika = ethos (Yun)
yang akar katanya kandang kuda mengandung arti, suatu tempat tinggal, suatu tempat
Stabil dan tetap. Jadi, Etika adalah ilmu tentang norma-norma, ilmu ini mencari dasardasar utama yang mentukan hal-hal yang wajib “keharusan.”
9
Ibid., 8-9.
nyata dalam legalisasi dan dalam tingkah laku umum, 10 di mana masyarakat
mulai membiarkan dan mengiakan praktek-praktek pergaulan yang dahulu
merupakan pelanggaran terhadap kesusilaan.
Penulis pernah bertemu dengan sepasang muda-mudi yang
berpacaran di suatu tempat pusat perbelanjaan dan mereka melakukan
adegan pelukan dan ciuman, dan masyarakat sekitar telah menerima itu
sebagai bagian pergaulan biasa oleh karena perkembangan peradaban
modern yang dulunya dikategorikan sebagai pelanggaran susila. 11
Selanjutnya, Kuhl menjelaskan zaman sekarang diwarnai oleh suatu
revolusi moral, buku-buku, reklame, majalah-majalah, film semuanya
mempergunakan seks untuk menarik perhatian masyarakat. Apa yang
dianggap tidak senonoh dua puluh tahun yang lalu sekarang menjadi hal
biasa. Hampir tidak ada lagi pasangan yang menikah belum berhubungan
seks sebelumnya.12
Kebebasan Tingkahlaku
Dewasa ini terjadi suatu perkembangan moral yang baru (New
Morality). Hal ini nampak dengan kemunduran yang pesat dan nyata dalam
legalisasi tingkah laku umum. Secara khusus pergeseran nilai, norma pada
segi kesusilaan dan pergaulan pria dan wanita, muda-mudi, maupun segala
sesuatu yang menyangkut hukum-hukum pernikahan dengan perceraian,
dan juga hubungan seksual di luar atau sebelum menikah. Dengan
perkembangan tersebut muncullah istilah Permissive Society yaitu
masyarakat yang menyambut dan menyetujui segala perubahan sikap
terhadap mutu hukum kesusilaan yang lama dan mengizinkan perbuatan,
tingkah laku, pandangan dan pikiran yang dahulu tidak diizinkan.
Permissive Society membiarkan dan mengiyakan praktek-praktek pergaulan
yang dahulu merupakan pelanggaran.13
Pemikiran filosofis yang memicu perkembangan paham kebebasan
tingkah laku tidak dapat disangkal sebagai warisan problematik filosofis
10
11
Dorothy I. Marx, New Morality ( Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1994), 17.
Berdasarkan pengalaman penulis pada saat ada di Bandung, Jakarta, Surabaya
dan Batu.
12
Renate Kuhl, Etika Seksual (Batu. Departemen Literatur YPPII,1988 ), 21.
Marx, New Morality..., 17; Bnd. Penulis memperhatikan; Iklan pembalut
wanita di TV sudah diterima masyarakat, yang dulunya pembalut wanita itu tabu untuk
dilihat orang lain, sekarang telah menjadi pilihan konsumen untuk produknya.
13
dari zaman sebelumnya. Hal ini dapat ditinjau dari faktor-faktor ilmiah
yang sangat berpengaruh dalam sejarah perkembangan paham kebebasan
tingkah laku.
Pengaruh Filsafat
Zaman modern dapat dianggap sebagai sebuah pemberontakan
terhadap alam pikir abad pertengahan. Renaisans yang menghidupkan
kembali kebudayaan Yunani Romawi sebagai alternatif terhadap
kebudayaan kristiani, bukan hanya merupakan pemberontakan di bidang
nilai-nilai kultural, melainkan menyongsong zaman baru dengan krisis abad
pertengahan itu. Penemuan-penemuan penting di bidang ilmu pengetahuan
juga ambil peran kunci dalam fajar zaman baru itu, yang meninggalkan
alam pikir abad pertengahan. Pemikir-pemikir unggul seperti Copernicus
dan Galileo Galilei yang menemukan bahwa bumi mengitari matahari dan
bukan sebaliknya.14 Sampai menjelang Renaissance abad ke-14, Gereja
menjadi pusat dunia, segala sesuatu berada dibawah dominasi dan kontrol
Gereja. Demikianpun dengan ilmu pengetahuan berada di bawah kekuasaan
Gereja. Namun pada abad ke-14, terjadilah kesadaran yang baru bagi
gelombang pemikiran dan budaya. Kesadaran baru ini disebut Renaisance
(kelahiran kembali), yaitu kelahiran kembali kebudayaan Eropa dari
kegelapan abad-abad sebelumnya. Renaissance dimulai di Italia pada abad
ke 14-15, dan pada abadke-16 meluas ke Eropa yaitu: Perancis, Jerman,
Nederland, Spanyol, dan Inggris. Zaman ini memaklumkan bahwa manusia
sendiri adalah kaidah atau ukuran dari segala sesuatu yang ada.15 Dan
gerakan ini mempengaruhi bidang kesenian, politik, ilmu pengetahuan dan
kesusteraan. Secara khusus di bidang ilmu pengetahuan dan kesusteraan,
gerakan ini dinamai “humanisme” dengan semboyannya “kembalilah
kepada sumber.”16
14
Muji Sutrisno & F. Budi Hardiman, Para Filsafat Penentu Gerak Zaman
(Yokyakarta: Kanisius, 1992), 55.
15
H.Berkhof, I.H. Enklaar, Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia ,1993),
99, 256.
16
Ibid., 100; Bnd. Stevri Lumintang, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Kristen,
Bahan Kuliah Pascasarjana Pendidikan Kristen, STT I-3 Batu, 18-22 Oktoder, 2004, 22
Gerakan Humanisme
Kata humanisme berasal dari kata humanitas (bhs. Latin) artinya
kemanusiaan, adalah tanggapan hidup atau kesadaran yang mulai timbul
pada abad ke-14 dan ke-15 Masehi di Eropa Barat yang mendasarkan pada
kebudayaan Yunani Romawi; teristimewa lapangan ilmu pengetahuan dan
kesusasteraan.17 Searah dengan itu Herlianto menjelaskan bahwa latar
belakang timbulnya Humanisme sebenarnya disebabkan oleh tekanantekanan terhadap kebebasan manusia yang dilakukan oleh para penguasa
dan pemuka agama pada abad-abad pertengahan di Eropa. Kita melihat,
memang pada abad-abad pertengahan (ke-5-15) ketika Gereja dan golongan
Aristokrat berkuasa, masyarakat umum sering diperlakukan secara tidak
manusiawi dengan adanya kebijaksanaan-kebijaksanaan pihak penguasa
yang menekan dan pada umumnya direstui oleh para pemuka agama.
Tekanan atas kekuatan dan harga diri manusia merupakan lambang
kecenderungan dalam pemikiran dari manusia yang terikat. Karena masa
Renaisance menunjukkan bangunnya manusia dari kerterikatannya. Dan
manusia mulai memproklamasikan kekuatannya pada dunia. Manusia ingin
menunjukkan kekuatannya dalam menguasai dunia serta rahasia alam, serta
menunjukkan kekuatan akal budinya untuk mengatur alam agar dapat
memenuhi dan melayani manusia.18
Paham ini kemudian berkembang terus meresapi dunia pemikiran
manusia dan kemudian muncul dalam aliran-aliran pemikiran pada abadabad berikutnya, dalam bentuk humanisme rasional seperti antara lain
positivisme dan pencerahan.
Pengaruh Teologia Modern
Sesuai dengan pandangan filsafat, teologia modern menganggap
Allah itu hanya imanen atau sangat dekat dan bukan lagi transenden. Dalam
Teologia pun Allah tidak lagi dikatakan oknum Allah Bapa di surga,
melainkan dasar kehidupan kita (groud of our being), Allah menjadi
Impersonal.19 Memang ada perbedaan mencolok antara abad ke-17 dan
17
J. S. Siwalette, Manusia Menurut Jurger Moltman (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1991), 22.
18
Herlianto, Humanisme dan Gerakan Zaman Baru (Bandung: Penerbit Kalam
Hidup, 1990), 24.
19
Marx, New Morality..., 22.
abad ke-18. Abad 17 membatasi diri pada usaha memberi tafsiran baru
terhadap kenyataan bendawi dan rohani, yaitu kenyataan mengenai
manusia, dunia, dan Allah. Akan tetapi pada abad ke-18 menganggap
dirinya sebagai mendapat tugas untuk meneliti secara kritis (sesuai dengan
kaidah-kaidah yang diberikan akal), segala yang ada, baik di dalam Negara
maupun di bidang hukum, agama, pengajaran, pendidikan dan lain
sebagainya.20 Perkembangan filsafat dari zaman pencerahan atau fajar budi,
membawa dampak terhadap revolusi di bidang agama, etika, moral. Dengan
argumentasi para filsuf di atas, Allah digeser dari sentral dan digantikan
dengan ukuran akal sebagai kesempurnaan moral dan bukan Allah, Manusia
meletakkan nilai moral pada apa yang dianggap oleh rasio, termasuk
kebebasan melanggar kesusilaan.
Pengaruh Sosiologi
John Dewey dari Amerika Serikat pernah mengatakan bahwa Allah
itu bukan suatu oknum di luar manusia, melainkan berada in man’s highest
social experiences (Allah terdapat di tengah-tengah kehidupan sosial
manusia yang merupakan pengalaman manusia yang paling indah. 21 Searah
dengan itu, Durkheim, seorang sosiolog berpendapat bahwa agama dan
etika dalam masyarakat berasal dari The Collective Mind Of Society
(keyakinan dan kepercayaan masyarakat bersama). Maka yang
menimbulkan kesejahteraan ialah masyarakat itu sendiri. Masyarakatlah
yang menciptakan security dan rasa aman, security terdapat dalam hidup
bersama, dan menurut sosiologi itulah Allah.22 Hal ini membuktikan konsep
oknum Allah digantikan.
Pengaruh Psikologi
Pengaruh masa pencerahan memasuki seluruh bidang ilmu
pengetahuan termasuk ilmu pengetahuan jiwa. Sigmund Freud, seorang
psikiater dan dokter ahli saraf Austria yang berpengaruh jauh dalam ilmu
jiwa, khususnya melalui pengajaran psikoanalisa dan pengaruh
20
21
22
Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat..., 47.
Marx, New Morality…, 33.
Ibid.
ketidaksadaran dalam jiwa manusia, seorang humanis. 23 Menurut Freud
larangan-larangan seks itu menjadi titik tolak perkembangan kebudayaan
manusia. Energi libido yang tidak terpuaskan “disublimasikan” (diubah)
menjadi tenaga pekerjaan manusia. Kebudayaan termasuk agama, adalah
akibat kesediaan untuk memuaskan libido secara seksual. Daya yang
membawa umat manusia sampai kepada taraf teknologis modern adalah
hasil libido yang disublimasikan.24 Psikoanalisa Sigmund Freud mengajar
bahwa kebutuhan utama setiap manusia adalah pemuasan insting
seksualnya. Menurut pandangannnya, insting seks bukan baru menentukan
kehidupan dengan mulai fase puber, melainkankan sudah mulai berbagai
fase pada masa kanak-kanak. Menurut Freud dinamika jiwa manusia
didorong oleh keinginan mencapai kepuasan, khususnya kepuasan syawat. 25
Freud menyangkal ketuhanan dari agama serta oknum Allah, malah merasa
bahwa keagamaan dari manusia merupakan gejala-gejala psikologis yang
kurang sehat. Menurut Freud manusia bukan ciptaan Allah atas peta dan
teladan-Nya, melainkan suatu makhluk yang semata-mata dikuasai oleh
libido.26
Jadi, implikasi dari pemahaman Freud bahwa manusia tidak perlu
ada pengendalian diri tetapi mengizinkan pada hasrat libidonya, manusia
harus menggunakan hak kebebasannya (homoseksual, lesbian, hubungan
seks tanpa ikatan nikah, dll), bahkan aturan kekudusan Tuhan dianggap
“gejala penyakit jiwa.”
Masa Adolescence
Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang
sangat penting, yang ditandai dengan matangnya organ-organ fisik
(seksual) sehingga mampu ber-reproduksi. H. Syamsu mengutip pendapat
Konopka, bahwa masa remaja ini meliputi: (1) Remaja awal: 12 - 15 tahun
(Early adolescence); (2) Remaja Madya: 15 - 18 tahun (Middle
adolescence); (3) Remaja Akhir: 19 - 22 Tahun.27
23
Michael Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
(Jakarta: Pustaka Jaya, 1985), 183-185.
24
Frans V. Magnis, Etika Umum (Yogyakarta: Penrbit Kanisius, 1979), 70; Bnd.
Howard H. Kendler, Basic Psikologi (Meredith: Pubishing Company, 1963), 445.
25
D. Scheneuman, Romantika Kehidupan Orang Muda (Malang: Gandum Mas,
1989), 20.
26
Marx, New Morality…, 35-36.
27
Syanmsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2002), 184.
Istilah adolescence atau remaja berasal dari bahasa Latin
adolescere, kata bendanya adolescentia yang berarti tumbuh atau tumbuh
menjadi dewasa. Arti yang lebih luas mencakup kematangan mental,
emosional, sosial, dan fisik.28 Menurut Piaget yang mendefinisikan remaja
secara psikologis, adalah usia di mana individu remaja berintegrasi dengan
mayarakat dewasa, usia di mana anak merasa pada tingkatan yang sama
dengan orang-orang yang lebih tua. Termasuk juga perubahan secara
intelektual yang mencolok. Tranformasi intelektual yang khas dari cara
berpikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam
hubungan sosial orang dewasa yang kenyataannya merupakan ciri khas
yang umum dari periode perkembangan ini. 29 Papalia mendefinisikan
remaja sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa,
diawali dengan masa puber yaitu: proses perubahan fisik yang ditandai
dengan kematangan seksual, kognisi dan psikososial yang saling berkaitan
satu dengan lainnya.30 Selanjutnya, Erickson melukiskan bahwa masa
remaja sebagai “periode yang tidak menentu" diibaratkan seperti Strom and
Stress frustrasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan
melamun tentang cinta, dan perasaan teralineasi (tersisihkan) dari
kehidupan sosial budaya orang dewasa.31 Dalam perundang-undangan
Republik Indonesia yakni Undang-undang kesejahteraan Anak (UU No.
4/1979) menganggap semua orang yang berusia di bawah 21 tahun dan
belum menikah adalah sebagai anak-anak, dan karenanya berhak mendapat
perlakuan dan kemudahan yang diperuntukkan bagi anak. 32 Mengacu pada
kesepakatan Persatuan Bangsa-Bangsa, pada tahun 1974, WHO
memberikan definisi tentang remaja yang lebih bersifat konseptual, dalam
definisi itu dikemukakan tiga kriteria yaitu biologik, psikologik, dan sosial
ekonomi sebagai berikut
28
Hurlock, Psikologi..., 206; Bnd Singgih Gunarsa, Psikologi Remaja, (Jakarta:
BPK. Gunung Mulia, 1980), 14; Adolescentia sering pula dikatakan pubertas, puberty
(Ing), Puberteit(Belanda), berarti kelaki-lakian, kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan
tanda kelaki-lakian; Pubescence/puberty, sering dipakai dengan pengertian masa
tercapainya kematangan seksuil dari aspek biologisnya.
29
Hurlock, Ibid.
30
Diane E Papalia & Sally, Wendkos. Olds, Human Development (Boston: Mc.
Graw Hill Company, Inc, 1998), 330.
31
Yusuf, Psikologi Perkembangan..., 184.
32
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja (Jakarta: Rajagrafindo Persada,
1997), 5.
(1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan
tanda-tanda seksual sekundernya sampai mencapai kematangan
seksual; (2) Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola
identifiksi dari kanak-kanak menjadi dewasa; (3) Terjadi peralihan
dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan
yang relatif lebih mandiri.33
Remaja merupakan masa perkembangan dari sikap tergantung
(dependence) terhadap orangtua ke arah kemandirian (independence),
minat-minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai
estetika dan isu-isu moral.34
Tugas Perkembangan Remaja
Semua tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada
penanggulangan sikap dan pola perilaku yang kekanak-kanakan dan
mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa. Searah dengan
tugas perkembangan, ada banyak teori perkembangan, di antaranya teori
Interaksionisme, bahwa perkembangan jiwa atau perilaku anak banyak
ditentukan oleh adanya dialektif dengan lingkungannya. Maksudnya,
perkembangan kognitif seorang anak bukan merupakan perkembangan
yang wajar, melainkan ditentukan oleh interaksi budaya. Pengaruh yang
datang dari pengalaman dalam berinteraksi budaya serta dari penanaman
nilai-nilai melalui pendidikan (transmit sosial) itu diharapkan mencapai
suatu stadium yang disebut ekuilibrasi, yakni keseimbangan antara
asimilasi dan akomodasi diri anak.35 Perubahan yang terjadi pada awal
masa remaja hampir semua aspek perkembangannya, yaitu meliputi
perkembangan fisik, perkembangan sosial, perkembangan moral,
perkembangan kepribadian, perkembangan emosional, perkembangan
spiritual remaja.
33
Sarwono, Psikologi..., 9.
Yusuf, Psikologi Perkembangan ..., 184.
35
Abu Ahmdi, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), 94-96;
Ada juga teori perkembangan, teori empirisme. Tokoh utamanya teori ini adalah Francis
Bacon (1561-1626) dan John Locke (1632-1704). Teori ini berpandangan bahwa pada
dasarnya anak lahir di dunia, perkembangannya ditentukan oleh adanya pengaruh dari luar,
termasuk pendidikan dan pengajaran. Dianggapnya anak yang lahir dalam kondisi kosong,
putih bersih, seperti meja lilin (tabula rasa), maka pengalaman anaklah yang bakal
menentukan corak dan bentuk perkembangan jiwa anak. Dengan demikian menurut teori
ini pendidikan dan pengajaran anak pasti berhasil dalam usahanya “membentuk.”
34
Perkembangan Fisik
Remaja mengalami growth spurt, yaitu pertumbuhan fisik yang
sangat pesat, yang ditandai oleh ciri-ciri perkembangan pada masa pubertas.
Otot-otot tubuh mengeras, tinggi dan berat badan meningkat cepat, begitu
pula dengan proporsi tubuh yang semakin mirip dengan tubuh orang
dewasa, termasuk juga kematangan fungsi seksual, hal ini terjadi
disebabkan adanya proses biologis yang berkaitan dengan perubahan
hormonal di dalam tubuh remaja. Dengan demikian, pada saat ini remaja
menjadi manusia seksual yang memiliki kemampuan untuk bereproduksi.
Remaja puteri mengalami menarche, yaitu mentruasi pertama, sedangkan
putera mengalami spermarche yaitu pertama kalinya cairan sperma keluar,
yang umumnya saat tidur.36
Perkembangan Sosial
Salah satu tugas perkembangan masa remaja tersulit adalah yang
berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan diri
dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya belum pernah ada
dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga
dan sekolah.37 Menurut Gunarsa, hubungan remaja dengan orangtuanya
mulai berpindah ke teman sebayanya, hubungan interpersonal dengan peer
group-nya menjadi intensif karena penerimaan oleh teman sebaya menjadi
sangat penting bagi remaja. Teman sebaya merupakan tempat berbagi
perasaan dan pengalamannya, menjadi bagian dari proses pembentukan
identitas diri, muncul pula suatu gejala konformitas yaitu tekanan kelompok
sebaya. Sehingga ia mengadopsi sikap dan perilaku orang lain. Jika
konformitasnya bersifat positif remaja akan mengadopsi yang positif juga.38
36
Singgih Gunarsa, Dari Anak Sampai Usia Lanjut (Jakarta: BPK.Gunung
Mulia, 2004), 196-197. Bnd. Daniel Nuhamara, PAK Remaja (Bandung: Jurnal Info Media,
2008), 33-38; Perkembangan fisik remaja yakni, masa remaja adalah masa pubertas,
adanya kesadaran baru terhadap tubuh, mengacaukan hal fisik dan spiritual, pencampuranadukan hal bersifat biologis-spiritual.
37
Hurlock, Psikologi..., 213; Karakteristik penyesuaian sosial remaja di tiga
lingkungan yakni, keluarga, sekolah, masyarakat.
38
Singgih Gunarsa, Dari Anak Sampai Usia Lanjut (BPK.Gunung Mulia, 2004),
197-199; Sebalikya jika koformitas bersifat negatif, remaja dapat dengan mudah terbawa
pada perilaku yang kurang baik (membolos sekolah, merokok, mencuri, menggunakan
obat).
Perkembangan Moral
Ketika memasuki masa remaja anak tidak lagi begitu saja menerima
kode moral dari orang tua dan guru bahkan teman sebaya. Tetapi remaja
sendiri ingin membentuk kode moral sendiri berdasarkan konsep tentang
benar dan salah yang telah diubah dan diperbaiki agar sesuai dengan tingkat
perkembangan yang lebih matang dan telah dilengkapi oleh hukum-hukum
dan peraturan-peraturan yang dipelajari dari orang tua dan guru, bahkan
remaja melengkapi kode moralnya dengan pengetahuan yang diperoleh dari
pelajaran agama.39
Searah dengan tatanan moral remaja, dapat dilihat dari dua teori
tentang perkembangan yaitu:
Piaget: Perkembangan Kognitif
Ada empat tahap perkembangan kognitif anak menurut konsep
Piaget, yaitu:
Pertama, Tahap Sensori Motor (usia 0-2 tahun), pada masa ini
kemampuan anak terbatas pada gerak-gerik reflex, bahasa awal, waktu
sekarang, dan ruang dekat saja.
Kedua, Tahap Pra-opersional (usia 2-4 tahun) prakonseptual,
masa intuitif dengan kemampuan menerima perangsang terbatas. Anak
mulai berkembang kemampuan bahasanya, pemikirannya masih statis, dan
belum dapat berpikir, persabstrakpsi waktu dan tempat masih terbatas.
Ketiga, Tahap kongkret Operasional (usia 7-11 tahun), anak
sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas, menggabungkan, memisahkan,
menyusun, menderetkan, melipat dan membagi.
Keempat, Tahap Formal Operasional (usia 11-15 tahun), anak
sudah mampu berpikir secara deduktif, induktif, menganalisis, menyintesis,
mereflektif berpikir abstrak dan memecahkan masalah.40
Menurut teori perkembangan Piaget, masa remaja adalah masa
transisi dari penggunaan berpikir konkrit secara operasional ke berpikir
formal secara operasional. Remaja mulai menyadari batasan-batasan
mereka.41
39
Hurlock, Psikologi..., 226.
Nana S. Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2010), 50.
41
Sri Esti D Jiwandono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Grasindo, 2002), 96.
40
Kohlberg: Perkembangan Moral
Kohlberg mengatakan bahwa ada tiga tahap perkembangan moral.
Masing-masing tahap terdiri dari atas dua tingkatan sehingga seluruhnya
meliputi enam tingkatan, yakni :
Tingkat Pra Konvesional:
Pertama, orientasi pada hukuman dan ketaatan, inilah jenjang yang
merupakan awal kesadaran seorang anak atau orang dewasa yang
mendasarkan perbuatannya atas pertimbangan ketakutan akan hukuman
sebagai akibat tindakannya. Jadi tindakan si anak bukan sebab hal baikburuknya perbuatannya.
Kedua, orientasi Relativis Instrumental, si anak kini memakai
pertimbangan untuk tindakannya hanya sifatnya egoistis, yaitu demi
keuntungan dirinya. Perbuatan anak dilakukan bukan demi benar salah atau
keadilan, tetapi bedasarkan kesenangan bagi dirinya dan juga demi
keuntungan timbal balik dengan pihak lain
Tingkat Konvensional:
Pertama, orientasi anak laki-laki baik atau gadis manis di sini pada
perbuatan baik yang diartikan oleh si anak sebagai apa yang
menyenangkan, menolong dan disetujui orang banyak. Ia patuh kepada
peraturan yang oleh mayoritas dianggap baik dan benar.
Kedua, orientasi Hukum dan Tata-tertib Umum: Anak dan orang
telah merasa berkewajiban untuk menaati hukum, otoritas dan peraturan
demi tata tertib itu sendiri. Orang menghormati dan menaati hukum yang
dianggapnya bersifat universal.
Tingkat Purnakonvensional:
Pertama, orientasi Kontrak Sosial yang Legalistik, orang telah sadar
tentang hukum sebagai persetujuan masyarakat yang membuatnya. Orang
sadar akan sifat relativisnya dan menekankan hal legalitasnya. Ia sadar
bahwa hukum itu dapat diubah bilamana perlu, yang benar adalah secara
pribadi dan masyarakat bersama-sama setuju; ia menetapkan sendiri bebas
dari hubungan-hubungan dengan kelompok yang memeganginya.
Kedua, orientasi Asas Etis yang Universal: Pada tahap ini apa yang
dianggap baik atau benar adalah apa yang hati nurani orang menekankan
sesuai dengan asas keadilan yang universal, yang menghormati sesama
harkat dan martabatnya. Ini merupakan puncak dari perkembangan moral. 42
Perkembangan Emosi Remaja
Salah satu dari ciri-ciri remaja adalah penampilan reflectivity atau
kecenderungan untuk berpikir tentang apa yang terjadi pada pikiran diri
seseorang dan mempelajari dirinya sendiri. Remaja mulai melihat dirinya
untuk mendefinisikan bahwa mereka berbeda. Searah dengan itu menurut
Erickson, tahap selama remaja adalah berpusat pada siapa saya, dengan
identitas apa sebetulnya saya. Perubahan pubertas memerlukan remaja
untuk mengubah konsep fisik mereka, menyesuaikan diri terhadap harapanharapan teman dan keluarga, serta membuat keputusan tentang peranan
sekolah dan tingkah laku. Kemampuan intelektual anak remaja tumbuh,
termasuk kecenderungan baru tentang refleksi dan analisis diri dan juga
membuat perubahan dalam konsep diri dan integritas terhadap ketrampilan
logika baru.43
Perkembangan Kesadaran Beragama
Pada masa ini terjadi perubahan jasmani yang cepat sehingga
memungkinkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan, dan
kekhawatiran. Bahkan kepercayaan agama yang telah tumbuh pada umur
sebelumnya juga mengalami kegoncangan. Kegoncangan dalam keagamaan
ini mungkin muncul disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal berkaitan dengan matangnya organ seks; yang mendorong
remaja untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun di sisi lain ia tahu
42
Nana S. Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2010), 50; Tahap i. Prekonvensional moral reasoning; a. Obidience and
Punishment orientations; b. Naively Egoistic orientation; Tahap ii. a. Good Boy
Orientation; b. Authority and social orther maintenance orientation; Tahap iii. Post
Convensional Moral reasoning, a. Contactual legalistic orientation: Concience or
principle orientation; Bnd. Elly Tanya, Gereja dan Pendidikan Agama Kristen (Cipanas:
STT Cipanas, 2006), 66-68.
43
Sri Esti D Jiwandono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Grasirindo, 2002), 102;
Bnd. Hurlock, Psikologi ..., 218.
bahwa perbuatan itu dilarang agama. Situasi ini menimbulkan konflik pada
diri remaja. Faktor internal lainnya yaitu, bersifat psikologis, sikap
independen, keinginan untuk bebas, tidak mau terikat dengan norma-norma
orang tua, guru. Sedangkan eksternal berkaitan dengan perkembangan
budaya dalam masyarakat yang tidak jarang bertentangan dengan nilai-nilai
agama, foto-foto porno, minuman keras, ganja, dan obat-obat terlarang. Hal
ini semua mempunyai daya tarik yang sangat kuat bagi remaja untuk
mencobanya.44 Menurut Dobson bahwa dalam pembinaan remaja, kita
perlu mendiskusikan bagaimana cara membangun harga diri yang benar,
bagaimana memandang dan memelihara tubuh atau fisik, bagaimana
mengendalikan diri dalam menghadapi gejolak cinta pertama, serta
bagaimana menghadapi gejolak cinta pertama, serta bagaimana menghadapi
gejolak emosi yang senantiasa berubah.45
Perkembangan Minat Seks Remaja
Satu dari tantangan yang paling berat pada remaja adalah
menyesuaikan diri terhadap perubahan tubuhnya. Koordinasi dan aktivitas
fisik harus disesuaikan cepat-cepat seperti tinggi, berat, dan perubahan
ketrampilan. Karena meningkatnya minat pada seks, remaja selalu berusaha
mencari lebih banyak informasi mengenai seks. Hanya sedikit remaja yang
berharap bahwa seluk beluk tentang seks dapat dipelajari dari orangtuanya.
Oleh karena itu remaja mencari pelbagai sumber informasi, misalnya bukubuku tentang seks, atau mengadakan percobaan dengan masturbasi,
bercumbu, bersanggama. Kegiatan seksual mengharuskan remaja
berhadapan dengan kemungkinan pemindahan penyakit, konflik dengan
orang tua dan kehamilan.46
44
Yusuf, Psikologi Perkembangan..., 204; Apabila remaja kurang mendapat
bimbingan keagamaan dalam keluarga, kondisi keluarga yang kurang harmonis, orang tua
yang kurang memberikan kasih sayang, berteman dengan kelompok sebaya yang kurang
menghargai nilai-nilai agama, maka kondisi ini memicu berkembang perilaku remaja
asusila (free sex), minum-minuman keras, dan lain-lain.
45
James Dobson, Menjelang Masa Remaja (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1986),
35.
46
Hurlock, Psikologi..., 226; Bnd. Sri Esti D. Jiwandono, Psikologi
Pendidikan,(Jakarta: Grasirindo, 2002), 94.
PENUTUP
Alfred Kinsey, seorang ahli Zoology, dua buku karangannya yang
telah mengguncangkan nilai-nilai kesusilaan dalam kehidupan seksual di
dunia yaitu Sexual Behavior in the Human Male dan Sexual Behavior in the
Human. Kinsey menuliskan “alam memenangkan kesusilaan.” Mereka yang
menjalankan kehidupannya dengan berorientasi pada norma-norma agama
dan dapat dicap oleh Kinsey sebagai “korban kesusilaan.” Kinsey
menempatkan manusia di samping binatang. Pandangan biologis ini,
mengakibatkan Kinsey menyebut manusia human animal dan human
mammal, menurut Kinsey adalah baik kalau manusia memakai daya seksual
seperti binatang, dan tidak baik kalau manusia menempatkan kesusilaan di
atas alam.47
Menurut Scheneumann, pandangan manusia yang bilogis ini jauh
berbeda dari pandangan manusia menurut Alkitab, manusia diciptakan
menurut peta dan gambar Allah (Kej 1:27; 2:27). Dengan demikian manusia
tidak dipimpin oleh insting, melainkan kepribadian yang terdiri dari satu
trinitas kecil, yaitu roh, jiwa, tubuh; sehingga kehidupan seksual merupakan
bagian integral dari kepribadian seluruhnya dan ditentukan oleh faktorfaktor fisiologis, psikologis, dan rohaniah.48
Telah dikemukakan sebelumnya tentang dasar filsafat revolusi
moral, sejak zaman pencerahan (enlightenment), dunia Barat mengalami
perubahan di segala bidang kehidupan termasuk teologi dan etika. Ada
krisis moral yang melanda seluruh dunia, tatanan hidup masyarakat dengan
nilai-nilai moral yang bersifat tradisional dan kuno, seperti pernikahan,
keluarga, Negara yang dulu berlaku diubah. Revolusi moral ditujukan
secara khusus di bidang etika dan kesusilaan. Moral baru ini tidak lain dari
satu reaksi alam abad ke-20, yang mengganti hukum-hukum atau normanorma kehidupan yang dari perintah Allah sebagai ketaatan manusia kepada
Tuhan, sumber kebahagiaan manusia diganti dengan kepercayaan pada diri
sendiri dan menjadi abad dasar pada tingkah laku kebebasan perilaku
terhadap aturan-aturan tradisional. Tinjauan filsafat yang melandasi paham
New Morality seperti yang diuraikan dari ilmu filsafat, sosiologi, psikologi
dan teologi, dan postmodernitas.
Jadi, paham kebebasan tingkah laku berkembang dan bersumber
dari aliran-aliran yang dikemukakan di atas. Suatu pemberontakan manusia
47
Scheneumann, Romantika Kehidupan..., 19-20.
Ibid; Pengertian manusia dari Kinsey tidak mencakup motivasi, dorongan
batin manusia serta rasa tanggung jawabnya. Kinsey ingin melepaskan manusia dari rasa
bersalah dan berdosa, khususnya dalam sexsual behavior.
48
terhadap Allah, Gereja dan tradisi, berawal dari abad pencerahan di mana
manusia merasa diri akil balig, dan menggusur keberadaan Allah dari
kehidupan manusia. Dengan semboyan-semboyan, God Is dead, Glory To
Man. Para penganut moralitas baru, ingin membebaskan dirinya dari
kesusilaan yang berdasarkan hukum Gereja, tuntutan masyarakat yang
selama ini diterima dan disetujui sebagai norma-norma perbuatan sikap
manusia yang beradab. Pengaruh postmodernitas yang menunjuk pada
situasi dan tata sosial, produk teknologi informasi, globalisasi, fragmentasi
gaya hidup, konsumerisme yang berlebihan, dll. Manusia yang hidup di
milenium baru ke-21 ini dilanda oleh gejala atau faktor yang sangat
mempengaruhi norma-norma moral yang melibatkan tindakan-tindakan
etisnya, yaitu apa yang dikenal dengan istilah ilmu pengetahuan dan
teknologi (Iptek). Teknologi informasi maju dengan pesatnya. Sebagai hasil
informasi dari media cetak maupun media audio visual (televisi) yang
mengubah wajah dunia. Televisi adalah media potensial sekali untuk
menyampaikan informasi tetapi membentuk perilaku seseorang, baik
kearah negatif maupun positif. Menurut Dwyer, sebagai media audio visual,
televisi mampu merebut 94% saluran masuknya pesan-pesan atau informasi
ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. Televisi mampu
membuat orang mengingat 50% dari apa yang mereka lihat walau hanya
sekali tayang, atau secara umum orang akan ingat 85% dari apa yang
mereka lihat di televisi setelah 3 jam kemudian, 65% setelah tiga hari
kemudian.
Masa awal remaja (12-15 tahun) adalah masa yang amat
meresahkan, oleh karena pada masa pubertas seseorang mengalami
perubahan, baik secara fisik maupun perubahan yang lain, mulai dari masa
kanak-kanak ke masa dewasa, berbarengan dengan perkembangan fisik,
moral, emosi dan sosial, dan minat dari kehidupan seksual sampai kepada
kehidupan religiositasnya. Oleh karenanya, peran pendampingan sangat
diperlukan bagi penyesuaian diri secara positif terhadap setiap perubahan
yang ada, agar anak mencapai tugas perkembangannya secara maksimal di
usianya. Semoga!
JATI DIRI PEREMPUAN MENURUT KEJADIAN 1-2
DAN RELEVANSINYA BAGI SIKAP KRISTIANI
TERHADAP PENGARUH GERAKAN FEMINISME
DI INDONESIA
MARIA HANIE ENDOJOWATININGSIH
PENDAHULUAN
Di negara-negara berkembang, kaum perempuan mengalami nasib
yang kurang menyenangkan, karena diposisikan sebagai kaum yang
dianggap lebih lemah, lebih rendah, kurang berarti, orang belakang, tidak
punya hak suara atau menyampaikan pendapat. Hal ini disebabkan karena
faktor budaya paternalistik, atau sistem patriarkat dalam masyarakat Timur
juga pada negera-negara berkembang lainnya. Secara jujur dapat dikatakan
bahwa budaya ini terefleksi juga dalam Gereja yang tentunya melandasi
doktrin atau peraturan gerejanya dari teks-teks Alkitab, misalnya dari
1Korintus 34-35, bahwa perempuan tidak boleh mengajar atau berbicara di
depan umum. Juga karena perempuan dianggap penyebab kejatuhan Adam
dalam dosa (Kej 3), maka perempuan dinilai penyebab dosa, dan karena itu
harus menerima kutuk “di bawah kekuasaan laki-laki/ suaminya”).
Kaum perempuan yang menyadari keberadaannya sebagai ciptaan
Tuhan yang sederajat dan memiliki hak-hak yang sama dengan laki-laki,
maka mereka ingin membebaskan diri dari belenggu budaya patriarkhat dan
melakukan gerakan yang terorganisir, yakni Gerakan Feminisme. Gerakan
ini juga memengaruhi dunia Theologia, sehingga lahir Theologia Feminis,
yang juga berdampak kepada penafsiran Alkitab, yang menguntungkan
kaum perempuan.
Di satu sisi gerakan Feminisme bermuatan dan bertujuan sangat
positif, namun seiring dengan bergulirnya waktu, maka gerakan ini
menimbulkan ekses-ekses negatif, yang juga berdampak pada Gereja atau
orang Kristen. Karena itu penting orang Kristen memiliki sikap yang benar
terhadap gerakan ini. Di satu sisi, gerakan ini mengingatkan orang Kristen
tentang jati diri perempuan sebagai ciptaan yang sama mulia dengan lakilaki, karena diciptakan menurut gambar/rupa Allah sendiri. Karena itu
orang Kristen bukan karena gerakan Feminisme, baru menempatkan
perempuan secara proposional. Bahkan orang Kristen perlu menolak eksesekses negatif dari gerakan ini.
LATAR BELAKANG MASALAH
Secara theologis, perempuan dan laki-laki diciptakan Tuhan
sederajat dengan mandat yang sama dengan laki-laki, meskipun fungsinya
berbeda, sebagaimana ditulis dalam kitab Kejadian 1-2. Dengan demikian
jelas bahwa tidak ada perbedaan derajat, tidak ada diskriminasi gender,
karena keduanya diciptakan menurut gambar Allah, atau menurut citra
Ilahi. Dan di dalam catatan sejarah, baik pada Perjanjian Lama maupun
Perjanjian Baru, tidak jarang bahwa Tuhan pun memakai kaum perempuan
untuk masuk dalam sejarah keselamatan, misalnya: Debora, Ruth, Rahab,
Miryam, Maria, dan sebagainya. Namun tidak bisa dipungkiri, dalam
realitas sosial-kultural-agama, antara keduanya seringkali terjadi
diskriminasi, yang melahirkan tindak kekerasan, terutama kepada kaum
perempuan. Dan diskriminasi tersebut telah merugikan perempuan atas
kondisi dan posisinya, baik dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan
budaya. Di masyarakat Indonesia sendiri, sering disaksikan tindak
kekerasan terhadap perempuan dengan berbagai manifestasinya. Kekerasan
fisik, kekerasan emosional, dan kekerasan psikhologi, baik secara domestik
(dalam rumah) maupun publik (dilakukan oleh masyarakat: agama, media
massa, kekuatan ekonomi, politik, dan negara), kerap menjadi tontonan
gratis.1
Tindak diskriminatif terhadap kaum perempuan, secara teologis
dihubungkan dengan peristiwa di Taman Eden, di mana dianggap Hawa-lah
penyebab kejatuhan Adam, suaminya, dan dianggap penyebab dosa masuk
menguasai seluruh umat manusia. Secara biologis dan psikhologis, laki-laki
dianggap lebih kuat, lebih pemberani, lebih tegar, dan lebih cerdas
khususnya dalam membuat berbagai perencanaan. Sedangkan perempuan
dianggap lebih lembut, penakut, selalu memakai perasaannya. 2
Pengalaman diskriminatif terhadap kaum perempuan juga terjadi di
belahan dunia lainnya. Di Afrika di satu sisi menghormati perempuan
sebagai penerus dan pemelihara kehidupan. Perempuan yang berusia lanjut
diakui sebagai penasihat yang berwibawa karena dianggap berhikmat.
Namun ada juga tradisi yang meremehkan kaum perempuan, seperti
misalnya ada ritual yang menekan janda dan menyunat anak gadis.
Penjajahan yang bersifat patriarkhat, rezim otoriter, dan kebijaksanaan
ekomomi, melemahkan kedudukan perempuan. Di Amerika Latin, warisan
1
Aloys Budi Purnomo, dalam artikel “Agama & Kekerasan Terhadap
Perempuan”. http//www.kesrepo.info/?q=rode/186. Diakses tanggal 21-12-2009, 1.
2
Ibid., 2.
kolonial masih berpengaruh kuat, misalnya perempuan harus patuh pada
laki-laki. Perempuan miskin harus berjuang seorang diri demi keluarganya.
Dan di Asia, perempuan pada umumnya dilihat sebagai pelengkap laki-laki,
kurang berhak atas warisan dan kedudukannya sangat lemah. 3 Dari
pengalaman tersebut di atas, maka lahirlah gerakan Feminisme. Lahirnya
gerakan Feminisme ini tidak bisa dilepaskan dari gerakan pembebasan
kaum marginal, atau kaum tertindas, termasuk kaum perempuan, yang
sudah dimulai di Eropa pada abad 19. Dan secara khusus di Amerika Latin,
tantangan utama adalah soal pemilikan dan penggunaan tanah, yang terjadi
kesenjangan tajam antara tuan tanah dengan para pekerjanya yang miskin.
Juga diskriminasi berdasarkan ras. Maka dalam kesempatan inilah, kaum
wanita pun membela hak-haknya, dan ingin membebaskan diri dari
kungkungan patriarkat yang mendominasi di hampir semua suku dan
bangsa.4
Bagaimana halnya dengan di Indonesia? Gerakan Feminisme juga
telah merambah ke masyarakat Indonesia, yakni kesadaran akan citra
dirinya yang sederajat dengan laki-laki. Sebagai contoh kesadaran ini
adalah kerinduan dan perjuangan Raden Ajeng Kartini yang
memperjuangkan agar kaum perempuan memperoleh hak dan kesempatan
yang sama dengan kaum laki-laki, dalam hal perlakuan dan maupun
kesempatan belajar, dan terlepas dari belenggu adat dan kepercayaan yang
tidak menguntungkan bagi kaum perempuan. Di kalangan Gereja pun
diskriminasi terhadap kaum perempuan cukup terasa di beberapa
denominasi Gereja. Perempuan dianggap tidak mampu menjadi gambar
Allah, sehingga dilarang menjadi pemimpin, pengkhotbah dan pengajar
dalam ibadah maupun pelayanan Gereja.5 Namun di beberapa denominasi
Gereja tertentu sudah memberi penghargaan kepada kaum perempuan, dan
memberi tempat yang proporsional, baik dalam pelayanan maupun dalam
keluarga dan dalam bermasyarakat.
Dengan latar belakang inilah, penulis tertarik untuk membahas
tentang: Jati Diri Perempuan Menurut Kejadian 1-2 dan Relevansinya Bagi
Sikap Etis Kristen terhadap Pengaruh Gerakan Feminisme di Indonesia.
3
Marie Claire Barth-Frommel, Hati Allah Bagaikan Hati Seorang Ibu.
Pengantar Teologi Feminis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 18-19.
4
Ibid., 14-15.
5
Lie Ing Sian, Sebuah Tinjauan terhadap Teologi Feminis Kristen.
www.seabs.ac.id. Diakses 29-12-2009, 3.
KEGUNAAN PENULISAN
Dengan pokok bahasan tentang Jati Diri Perempuan Menurut
Kejadian 1-2 dan Relevansinya Bagi Sikap Etis Kristen terhadap Pengaruh
Gerakan Feminisme di Indonesia.
Pertama, menolong orang Kristen memahami dengan sungguhsungguh jati diri manusia menurut Firman Tuhan, khususnya dalam kitab
Kejadian 1-2 sehingga bisa menempatkan perempuan pada posisi yang
tepat serta memberi penghargaan yang sewajarnya.
Kedua, menyadarkan orang Kristen bahwa Gerakan Feminisme
bukanlah jawaban atas ‘nasib’ kaum perempuan di hadapan para laki-laki.
Ketiga, memberi pembekalan orang Kristen bagaimana sikap yang
tepat terhadap Gerakan Feminisme.
DEFINISI ISTILAH
Dalam pokok bahasan ini ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan
secara khusus, yaitu: (1) Kata jati diri terdiri dari dua kata yaitu jati dan
diri. Kata jati berarti “sebenarnya, tulen, asli, murni, tidak ada
campurannya”, sedangkan kata diri berarti “ciri-ciri gambaran atau keadaan
khusus seseorang atau suatu benda; identitas, jiwa semangat, dan daya
gerak dari dalam; spiritualitas” 6; (2) Relevansi adalah “perlunya hubungan
pertalian atau sangkut pautnya dengan sesuatu hal” 7; (3) Sikap Kristiani
adalah sikap orang Kristen sesuai standar Alkitab; (4) Gerakan Feminisme
adalah gerakan terorganisir yang memperjuangkan pembebasan kaum
perempuan untuk mendapatkan hak asasi perempuan.
JATI DIRI PEREMPUAN MENURUT KEJADIAN 1-2
Nama Kitab Kejadian dalam bahasa Ibrani adalah beresyit, artinya
pada mulanya, yang diambil dari kata pertama kitab tersebut. Nama ini
tepat, karena Kitab Kejadian menceritakan awal dari segala sesuatu yang
berhubungan dengan iman umat Allah dalam Alkitab. Alkitab bahasa
6
______, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995),
352.
7
John Echol dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: PT
Gramedia, 1981), 738.
Yunani (Septuaginta) adalah geneseos, artinya permulaan, atau generasigenerasi, yang diambil dari bahasa Ibrani toledot, yang muncul sebelas kali
dalam Kitab Kejadian, yang berfungsi sebagai petunjuk garis besar yang
tepat. Alkitab bahasa Indonesia, memakai nama Kejadian.
Analisa Historis Kitab Kejadian
Setiap kitab di dalam Alkitab memiliki latar belakang historis
masing-masing, sesuai konteks di mana, mengapa, dan untuk siapa kitab itu
ditulis. Sehingga kita tidak menafsirkannya secara gegabah.
Penulis dan Tahun Penulisan Kitab Kejadian
Jika berbicara tentang Kitab Kejadian, tidak bisa dilepaskan dari
Pentateukh atau disebut juga Torah, yaitu lima kitab Musa, Kejadian sampai
dengan Ulangan. Sastra alkitabiah memperlakukan Pentateukh sebagai satu
kitab, yang secara tradisional diakui bahwa Musa-lah penulisnya.8 Namun
ada bermacam-macam pendapat yang sangat jauh berbeda, yang
berpandangan bahwa Pentateukh disusun dengan mengambil sumbersumber, yaitu dari sumber J (Jahwist), sumber E (Elohim), sumber D
(Deutoronomist), dan sumber P (Priest). Hasil temuan arkheologis dan
kemajuan dalam penelitian kritis terhadap sastra Pentateukh sudah
membuat perdebatan itu bertambah panas dalam abad ke-20 ini.9
Hingga tahun-tahun belakang ini, kebanyakan orang Yahudi sangat
yakin bahwa Musa-lah penulis kitab-kitab Pentateukh. Pendapat ini
didasarkan pada riwayat pengalaman Musa sendiri yang mendominasi kitab
Pentateukh, sejak masa bayinya, masa kanak-kanaknya hingga dewasa di
istana Firaun, masa pelariannya ke Midian, pemanggilan Tuhan atasnya,
pengalaman membawa Israel keluar dari perbudakan Mesir, hingga bangsa
Israel di tepi S. Yordan. Pengalaman Musa di istana Firaun, dengan
pendidikan yang dia peroleh, memungkinkan dia memiliki kemampuan
untuk menjadi seorang penulis yang baik.10 Tentang informasi yang disusun
dalam kitab Kejadian, Musa mendapat bahan dari tradisi lisan (informasi
8
Andrew E. Hill & John H. Walton, Survey Perjanjian Lama (Malang: Gandum
Mas, 1996), 141.
9
Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh (Malang: Gandum Mas, 1991), 63.
10
Ibid., 64-65.
yang diceritakan turun-tumurun), catatan-catatan singkat mungkin dari
prasastri-prasastri atau dari nisan, dan tentang penciptaan alam semesta,
dinyatakan Allah langsung kepadanya. Bukti kepenulisan Musa antara lain.:
Tuhan menyuruh Musa untuk menulis suatu laporan tentang pertempuran
melawan orang Amalek yang menyerang Israel (Kel 17:14). Di Gunung
Sinai, Musa menulis semua perkataan dan hukum yang difirmankan Tuhan
(Kel. 24:4). Yosua disuruh Tuhan untuk merenungkan Taurat Musa (Yos
1:7-8), dan lain-lain.
Tahun penulisannya tentu selama Musa masih hidup. Bisa jadi
selama dalam perjalanannya di padang gurun, Musa mencatat semua yang
dia alami. Diperkirakan Musa lahir tahun 1500 dan hidup selama 120 tahun.
Alamat dan Tujuan Penulisan Kitab Kejadian
Alamat Kitab Kejadian adalah bangsa Israel sendiri, sebagai umat
pilihan yang dimulai dari pemanggilan Abraham, bapa leluhur mereka,
yang dipanggil untuk menerima dan menjadi berkat (Kej 12:1-3). Berkat
yang Tuhan berikan adalah keturunan seperti debu tanah, dan negeri
Kanaan yang melimpah susu dan madunya (Kel 3:8).
Tujuan kitab Kejadian adalah menceritakan bagaimana dan
mengapa Yahweh berkenan memilih keluarga Abraham dan mengadakan
perjanjian dengan mereka. Perjanjian atau covenant ini merupakan dasar
teologi dan identitas umat Israel. Karena itu dapat dipahami bahwa sejarah
perjanjian itu penting. Dan selanjutnya dalam kitab ini dikisahkan tentang
umat pilihan-Nya harus pergi ke Mesir, dengan demikian mempersiapkan
suasana untuk peristiwa keluaran (exodus).11 Demikian pun Herbert Wolf
berpendapat bahwa:
Kejadian ditulis sebagai suatu prolog untuk seluruh Alkitab, karena
kitab ini mengisahkan asal-usul alam semesta, dunia fisik,
kehidupan dan kebudayaan manusia, dan bangsa Israel. Banyak
pertanyaan penting yang sudah berabad-abad lamanya
membingungkan umat manusia, diuraikan dengan cekatan dan
secara ringkas di pasal-pasal pembukaan. Kita tidak hanya diberikan
suatu laporan singkat dan agung mengenai penciptaan, tetapi kita
juga diberitahu bagaimana dosa memasuki dunia dan bagaimana
dosa itu merusak ciptaan yang semula dikerjakan oleh Allah.12
11
12
Hill & Walton, Survey Perjanjian…, 147.
Wolf, Pengenalan …, 104.
Inti Berita Kitab Kejadian
Kitab Kejadian mencatat sejarah karya Allah, yaitu karya penciptaan
atas alam semesta, dan sejarah keselamatan bagi manusia ciptaan-Nya yang
mulia yang telah jatuh dalam dosa. Kitab Kejadian juga membukakan
tentang sifat Allah yang baik, murah hati, tetapi juga kudus dan adil adanya.
Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk mulia, tetapi juga harus
menghukumnya karena dosa. Dan pada waktu yang sama, Allah juga
menyediakan jalan keselamatan bagi manusia yang bersedia untuk bertobat.
Analisa Konteks Kejadian 1-2
Kitab Kejadian pasal 1-2 mencatat karya Allah yang menciptakan
seluruh alam semesta, di mana penciptaan manusia sebagai puncaknya. Dan
di pasal dua, menceritakan proses penciptaan manusia secara khusus, dan
bagaimana relasi kedua gender, serta pembentukan lembaga pertama, yakni
sebuah keluarga. Namun apa yang sangat indah, yang Tuhan telah ciptakan,
telah menjadi rusak oleh karena ulah manusia yang tidak setia dalam
memelihara perintah Allah, dan lebih cenderung memberi telinga kepada
Iblis. Maka akibatnya, kutuk, baik untuk manusia pertama dan seluruh
keturunannya, serta bagi seluruh alam.
Jati Diri Perempuan Menurut Kejadian 1-2
Dua pasal pertama Kitab Kejadian membukakan citra (/jati diri)
perempuan.
Perempuan Diciptakan Segambar/Serupa Allah (Kej. 1:26)
Dalam ayat 26 awal ditulis: “Dan Allah telah berfirman: “Marilah
kita menjadikan manusia menurut gambar Kita seperti rupa Kita.” Dalam
teks Ibrani, kata gambar dan kata rupa sebenarnya sinonim. Kata Ibrani
bestalmenu, kata dasarnya adalah stelem artinya image (gambar).
Terjemahan lama LAI: peta. Dan frasa seperti rupa Kita dalam teks Ibrani
kidmutenu dari kata dasar demut artinya likeness (kesamaan), atau
similitude (keserupaan).13 Dalam Alkitab terjemahan LAI ada kata “dan” di
antara kedua kata tersebut: menurut gambar dan rupa Kita”. Terjemahan
Jewish Bible ada koma di antaranya: in our emage, in the likeness of
ourselves. Begitu juga terjemahan NIV: in our image, in our likeness.
Terjemahan yang lebih tepat seharusnya tidak boleh disela dengan kata
“dan” atau tanda koma, karena kata kedua (rupa) mempertegas kata
pertama (gambar). Dengan kata lain, manusia diciptakan segambar atau
serupa Allah, bukan “sama” dengan Allah. Kedua istilah ini, sebagai
ungkapan figuratif tentang citra manusia, termasuk perempuan, yang
memiliki relasi yang istimewa dengan Sang Pencipta, yang dikaruniai
sebagian dari sifat-sifat Ilahi, dan sebagai mandataris Allah di bumi, yang
diberi tugas dan otoritas sebagai manager seluruh alam semesta. 14 W.S.
Lasor, D.A. Hubbard & F.W. Bush memberi komentar dengan istilah ini,
demikian:
Sebenarnya, maksud penulis dalam mempergunakan konsep ini
tampaknya jauh lebih bersifat fungsional daripada konseptual. Ia
lebih menaruh minat pada akibat-akibat pemberian itu daripada
sifatnya. Keserupaan itu bersifat dinamis, yakni manusia (adam)
dalam hubungan pribadinya dengan makhluk-makhluk lain menjadi
wakil Allah. Ia diberi hak untuk menyelidiki, menguasai dan
mempergunakan segala sesuatu di sekitarnya.15
Dari teks ini jelas bahwa tidak ada diskriminasi antara laki-laki dan
perempuan. Keduanya memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan.
Juga Tuhan memberi kepercayaan, tugas dan otoritas yang sama atas alam
semesta.
Perempuan adalah Penolong Sepadan Bagi Laki-laki/Suaminya
(Kej 2:18)
Jewish Bible menterjemahkan a companion suitable. NIV
menterjemahkan a helper suitable. Kata penolong dalam bahasa Ibrani ezer
13
Francis Brown, The New Brown-Driver-Briggs-Gesenius Hebrew and English
Lexicon (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1979), 853 & 198.
14
John F. Walvoord & Roy B. Zuck, The Bible Knowledge Commentary
(Wheaton, Illinois: Victor Books, 1985), 29.
15
W.S. LaSor & D.A. Hubbard & F.W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama I.
Malang: Gandum Mas, 2001), 123.
dari kata kerja dasarnya azar artinya menolong atau mendukung. Dari arti
kata ini mengindikasikan bahwa sebenarnya memiliki kelebihan tersendiri
dari pada laki-laki, sehingga dia bisa menjadi penolong atau pendukung
laki-laki/suaminya. Dalam kenyataan memang, dalam hal-hal tertentu,
perempuan lebih kuat dari pada laki-laki/suaminya, atau sebaliknya lakilaki lebih lemah sehingga membutuhkan pertolongan atau dukungan
perempuan/isterinya. Dalam hal mental, perempuan lebih tabah, misalnya
para janda lebih mampu bertahan memelihara anak-anak sampai akhir,
dibanding para duda yang cenderung mencari pengganti isterinya yang
sudah tiada. Secara fisik perempuan lebih kuat, terbukti mampu
mengandung dan melahirkan serta menyusui anaknya, serta mengerjakan
banyak pekerjaan praktis dalam rumah tangganya. Secara rohani,
perempuan lebih responsive dan lebih tekun dari pada laki-laki. Dalam hal
integritas, perempuan lebih setia dari pada laki-laki.
Istilah sepadan dalam bahasa Ibrani neged, artinya apa yang di
depan mata, atau cocok/sesuai.16 Dari arti kedua kata di atas, jelas posisi
dan peran perempuan di hadapan laki-laki adalah sebagai penolong atau
pendukung laki-laki/suaminya, bukan pemimpin yang mendominasi, dan
bukan juga sebagai budak yang boleh diperlakukan semena-mena, sebagai
obyek pemuas nafsu, atau sebagai manusia kelas dua. Dalam melaksanakan
mandat budaya (beranak cucu dan memelihara alam), laki-laki
membutuhkan perempuan, karena tidak mungkin melaksanakannya dengan
binatang. Meskipun Tuhan sudah membawa semua binatang kepada Adam
untuk diberi nama, namun Adam tetap kesepian (merasa sendirian), karena
binatang bukan penolong sepadan untuk Adam. David Atkinson memahami
istilah penolong sepadan demikian:
Kata sifat kenegdo agaknya bertalian dengan kata kerja yang berarti
“menjadi jelas atau kentara”. Kata benda yang bertalian menunjuk
kepada seorang yang ulung. Jadi dengan “seorang penolong yang
sepadan”, mungkin yang dimaksud ialah penolong yang sama
ulungnya, atau sama kekhususannya. Ini menunjukkan bahwa
penolong ini pasti layak berdiri di hadapan manusia sebagai
imbangannya, temannya, pelengkapnya. Tidak terkandung di sini
rasa inferioritas, rasa di bawah ukuran atau rasa diperuntukkan
sebagai budak, melainkan seorang yang mirip dengan dia tapi
“kebalikan dari dia”.17
16
17
1996), 83.
Brown, The New Brown-Driver ….., 617.
David Atkinson, Kejadian 1-11 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,
Tubuh Perempuan Dibentuk dari Salah Satu Tulang Rusuk Laki-laki
(Kej 2:21-22)
Praktek pembedahan pada tubuh manusia, pertama kali dilakukan
oleh Allah sendiri, untuk mengambil salah satu dari tulang-tulang rusuknya,
dan kemudian Tuhan menutupnya dengan daging. Tidak perlu
dipertanyakan mengapa Tuhan mengambil tulang rusuk untuk membentuk
seorang perempuan. Mengapa bukan tulang kepala atau tulang tangan, atau
tulang kaki? Kenyataan ini memberi penekanan tentang keterikatan yang
kuat antara laki-laki dan perempuan. Atau dengan kata lain, perempuan
adalah bagian dari laki-laki. Laki-laki yang lebih dulu dibentuk, baru
kemudian dari laki-laki dibentuk seorang perempuan. Dari sini bisa muncul
adanya hirarkhi, di mana laki-laki sebagai pemimpin keluarga, namun
pemimpin yang mengatur dengan bijak dan mengayomi, karena perempuan
adalah bagian dari dirinya. Matthew Henry menulis dalam commentarynya
demikian: That the woman was made of a rib out of the side of Adam; not
made out of his head to rule over him, nor out of his feet to be trampled
upon by him, but out of his side to be equel with him, under his arm to be
protected, and near his heart to be beloved. 18 Jadi, menurut Matthew
Henry, perempuan dibentuk dari tulang rusuk laki-laki, untuk dilindungi
dan dikasihi. Perempuan adalah mitra dalam melaksanakan mandat
kebudayaan: beranak-cucu dan mengelola alam semesta ini.
GERAKAN FEMINISME DI INDONESIA
Dalam buku Ensiklopedia Feminisme, feminisme adalah
penggabungan doktrin persamaan hak bagi perempuan (gerakan terorganisir
untuk mencapai hak asasi perempuan) dan sebuah ideologi transformasi
sosial yang bertujuan menciptakan dunia bagi perempuan melampaui
persamaan sosial yang sederhana. Secara umum, feminisme adalah ideologi
pembebasan perempuan karena yang melekat dalam semua pendekatannya
adalah keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis
kelaminnya.19 Singkatnya, Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan
yang menuntut emansipasi/kesamaan dan keadilan hak dengan laki-laki.
18
Matthew Henry, Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible. McLean,
vol. 1. (Virginia: MacDonald Publishing Company, 1706), 20.
19
Maggie Hunim, Ensiklopedia Feminisme (Panguntapan: Fajar Pustaka Baru,
2002), 158.
Sejarah Gerakan Feminisme
Gelombang pertama: Feminisme sebagai filsafat dan gerakan
dapat dilacak dalam sejarah kelahirannya dengan lahirnya era Pencerahan
di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de
Condorcet. Perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali
didirikan di Middelburg, selatan Belanda, tahun 1785. Menjelang abad-19
Feminisme menjadi gerakan yang cukup mendapat perhatian dari para
perempuan kulit putih di Eropa. Pada awalnya gerakan ini memang
diperlukan pada masa itu, di mana ada masa-masa pemasungan terhadap
kebebasan perempuan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa secara umum
kaum perempuan merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomorduakan oleh kaum laki-laki, khususnya dalam masyarakat yang patriarkat,
baik di bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan politik. Apalagi
masyarakat tradisional yang berorientasi agraris cenderung menempatkan
kaum laki-laki di depan, di luar rumah, sedangkan kaum perempuan di
rumah saja.20
Gelombang kedua: setelah berakhirnya perang dunia II, ditandai
dengan lahirnya negara-negara baru yang terbebas dari penjajahan Eropa,
maka lahirlah Feminisme gelombang kedua, tahun 1960. Pada tahun ini
merupakan awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih, dan selanjutnya
ikut mendiami ranah politik kenegaraan. Pelopor Feminisme gelombang
kedua ini adalah Helene Cixous di Perancis (seorang Yahudi kelahiran
Aljazair yang kemudian menetap di Perancis), dan Julia Kristeva (seorang
Bulgaria, yang kemudian menetap di Perancis). Secara lebih spesifik,
banyak feminis-individualis kulit putih, meskipun tidak semua,
mengarahkan obyek penelitiannya pada perempuan-perempuan dunia
ketiga, meliputi: Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Sebelumnya banyak
pejuang tanah terjajah Eropa yang lebih mementingkan kemerdenaan bagi
laki-laki saja. Dengan keberhasilan gelombang kedua ini, perempuan dunia
pertama melihat bahwa mereka perlu menyelamatkan perempuanperempuan dunia ketiga, dengan asumsi bahwa semua perempuan adalah
sama.21
Gelombang ketiga: di Amerika Serikat, gerakan Feminisme lebih
keras bergaung pada era perubahan dengan terbitnya buku The Feminine
Mystique yang ditulis oleh Betty Friedan, tahun 1963. Friedan membentuk
20
Wapedia – Wiki: Feminisme,
diakses 29 Desember 2009, 1-2.
21
Ibid., 4-6.
http://wapedia.mobi/id/Feminisme,
organisasi wanita bernama National Organization for Woman, tahun 1966,
yang gemanya merambat ke segala bidang kehidupan. Gerakan Feminisme
berjalan terus, sekalipun sudah ada perbaikan-perbaikan, kemajuan yang
dicapai gerakan ini terlihat banyak mengalami halangan. 22
Pandangan yang merendahkan perempuan bukan hanya ada di luar
kekristenan. Di dalam Gereja sendiri, tradisinya, seringkali perempuan
dipandang sebagai harta milik, obyek, polusi yang membahayakan, dan
yang paling keras adalah, perempuan dinilai tidak mampu menjadi gambar
Allah, sehingga mereka dilarang menjadi pemimpin, pengkhotbah, dan
pengajar dalam ibadah maupun pelayanan di Gereja. 23 Karena itu lahirlah
Teologi Feminisme, yang memperjuangkan pembebasan dari patriarkhat
dan menuju hubungan baru. Artinya pihak yang tadi berkuasa, melepaskan
tuntutan dan kesombongannya, lalu membuka diri pada pihak yang lemah.
Teologi Feminis di Asia, Afrika, dan Amerika Latin lahir dari pengalaman
rohani dan tanggung jawab mereka yang merenungkan realitas Allah dan
dunia. Teologi ini lahir dari kesengsaraan dan penghinaan kaum
perempuan, dan keinginan memperoleh martabat dan keutuhan hidup. 24
Pengaruh Gerakan Feminisme dalam Gereja di Indonesia
Kaum perempuan di Indonesia mengalami “nasib” yang serupa
dengan para perempuan di negara-negara berkembang lainnya. Perempuan
dianggap manusia kelas dua, orang belakang saja, tidak pantas tambil di
forum, apalagi berbicara di khalayak ramai, menduduki posisi
kepemimpinan, ataupun mendapat hak pendidikan yang layak, dan tidak
memiliki hak bersuara. Perempuan juga dianggap sebagai obyek pemuas
nafsu, pelampiasan emosi laki-laki, bertugas melahirkan banyak anak dan
merawat anak-anaknya, dikomersiilkan (misalnya di iklan-iklan, sebagai
pajangan di toko/mall, dll.), menjadi tontotan umum. Karena itu pulalah
kaum perempuan di Indonesia menyambut gerakan Feminisme yang
bangkit, baik di Eropa, Afrika, dan di Amerika Latin.
Lain halnya dengan pelopor yang memperjuangkan nasib kaum
perempuan adalah R.A. Kartini, yang kemudian diperingati perjuangannya
tiap tgl. 21 April, karena dia telah memperjuangkan agar kaum perempuan
22
Wapedia – Wiki: Feminisme, …, 6-8.
Lie Ing Sian, Sebuah Tinjauan terhadap Teologi Feminis Kristen.
www.seabs.ac.id. Diakses 29 Desember 2009, 3.
24
Frommel, Pengantar Teologi …, 14,21.
23
mendapat kesempatan mengembangkan diri melalui bidang pendidikan.
Itulah masa pencerahan bagi kaum perempuan Indonesia. Namun praktek di
lapangan, diskriminasi terhadap kaum perempuan, baik secara terbuka
maupun secara terselubung sulit untuk diberantas, karena hal itu sudah
menjadi tradisi turun-tumurun.25
Di dalam Gereja sendiri, tidak lepas dari budaya bangsa Indonesia.
Memang sudah banyak kemajuan, terbukti banyak kaum perempuan studi
theologia secara formal, dan mendapat gelar, bahkan sampai ke jenjang S.3.
Banyak pula perempuan yang menjadi pemimpin Gereja ataupun lembaga
gerejawi. Namun ada beberapa denominasi Gereja yang masih memegang
doktrin bahwa perempuan tidak boleh berbicara di depan forum dan/atau
berkhotbah/mengajar. Kalaupun seorang perempuan selesaikan studi
theologia, hanya sebatas menjadi majelis jemaat, melayani anak-anak, atau
melayani ibu-ibu, anak-anak, dan sebagainya.
SIKAP KRISTIANI TERHADAP GERAKAN FEMINISME
DI INDONESIA
Sikap Kristiani yang penulis maksudkan adalah bagaimana sikap
orang Kristen terhadap Gerakan Feminisme. Di bawah ini penulis
menjelaskan sikap Kristiani terhadap Gerakan Feminisme.
Sebenarnya orang Kristen menghargai perempuan dan hak-haknya
bukan karena adanya gerakan Feminisme muncul. Tetapi baik juga, bahwa
gerakan Feminisme membantu orang Kristen untuk kembali mengingat
ketetapan Allah tentang jati diri perempuan. Hanya saja jangan sampai
mengikuti arus Gerakan Feminisme yang bermuatan negative, dengan
melakukan gerakan-gerakan yang fulgar, misalnya melakukan demonstrasi
massal menuntut hak-haknya, atau mengadakan gerakan-gerakan yang mau
mendominasi kaum laki-laki, dan melepaskan tanggung jawabnya sebagai
isteri dan ibu bagi anak-anaknya, serta tugas-tugas lain sebagai wanita. Juga
Feminisme yang mempengaruhi dunia Teologi, di mana kaum perempuan
melahirkan pola penafsiran Alkitab dari sudut pandang perempuan, dan
demi kepentingan perempuan, sehingga jatuh pada ekstrim yang bersifat
menyesatkan.
Yang dapat mengubah konsep manusia tentang penilaian dan sikap
terhadap kaum perempuan adalah jika benar-benar memahami jati diri
perempuan menurut Firman Tuhan, terkhusus dalam Kejadian 1-2.
25
http://leeanarea_blogspot.com.id, diakses 29-12-2009, 5.
Kitab Kejadian 1-2 membukakan kebenaran tentang jati diri
perempuan. Itu harus difahami oleh setiap orang Kristen, baik laki-laki
maupun perempuan. Sejak penciptaan, laki-laki dan perempuan diciptakan
sederajat di hadapan Allah, tidak ada perbedaan kedudukan atau
diskriminasi. Keduanya juga diberi tugas yang sama untuk melaksanakan
amanat budaya, baik beranak cucu maupun untuk mengelola alam semesta
ini. Meskipun perannya mungkin beda dalam hal-hal tertentu, namun
nilainya sama di hadapan Tuhan. Karena itu sikap Kristiani terhadap
perempuan juga adalah: menempatkan perempuan secara proposional,
memberi hak suara, hak untuk mengembangkan diri, hak untuk
beraktualisasi diri, hak untuk mengungkapkan sebagai orang rendah, orang
rumah saja, pemuas nafsu, obyek komersiil, dan sebagainya.
Seyogyanya orang Kristen memberi penghormatan kepada
perempuan, sebagaimana kepada laki-laki, meskipun tugasnya ada
perbedaan dalam hal-hal tertentu. Sementara itu, kaum perempuan Kristen
juga harus menghargai dirinya sendiri secara wajar, tidak rendah diri, dan
juga sebaliknya tidak overacting.
PENUTUP: KESIMPULAN DAN SARAN
Feminisme lahir dari kerinduan para perempuan ingin keluar dari
kungkungan atau tekanan budaya patriarkhat yang cenderung merendahkan
dan merugikan kaum perempuan. Dan Feminisme ini juga berpengaruh
dalam teologi, sehingga melahirkan Teologi Feminisme, yang melahirkan
juga pola-pola penafsiran Alkitab, yang menguntungkan kaum perempuan.
Gerakan Feminisme di Indonesia bisa memotivasi kaum perempuan untuk
mendapatkan hak-haknya. Namun gerakan ini tidak mampu secara tuntas
meniadakan budaya patriarkhat yang sudah mendarah-daging di masyarakat
Indonesia. Untuk itu, kaum perempuan, terma suk perempuan Kristen tidak
bisa memaksakan haknya. Di kalangan Gereja, tentunya bukan karena
adanya Gerakan Feminis barulah orang Kristen memberi penghargaan
kepada kaum perempuan secara proporsional, melainkan berdasarkan
Firman Tuhan sendiri, khususnya dalam Kitab Kejadian pasal 1-2, di mana
perempuan diciptakan Tuhan sejajar dengan laki-laki, yakni menurut
gambar atau rupa Allah sendiri, dengan tugas yang sama dalam
melaksanakan Amanat Budaya, meskipun peran konkritnya berbeda. Dalam
relasinya dengan laki-laki/suami, perempuan bertugas sebagai penolong. Ini
satu tugas istimewa. Dan bahwa perempuan diciptakan untuk dikasihi dan
dilindungi, karena dari satu tulang rusuk yang berasal dari laki-laki.
Adapun beberapa saran konkrit bagi semua pembaca pembahasan
topik ini adalah sebagai berikut.
Pertama, orang Kristen penting untuk memiliki pemahaman yang
benar tentang jati diri perempuan menurut Kitab Kejadian 1-2, bahwa lakilaki dan perempuan diciptakan sederajat sebagai gambar atau rupa Allah
sendiri, dengan mandat yang sama, meskipun fungsinya ada yang berbeda.
Perempuan ditetapkan Allah sebagai penolong bagi laki-laki/suami, bukan
pemimpin yang mendominasi laki-laki, dan bukan pula budak yang bisa
diperlakukan sekehendak laki-laki. Perempuan diciptakan Tuhan dari tulang
rusuk laki-laki, untuk dikasihi dan dilindungi. Dengan memahami
kebenaran Firman Tuhan ini, maka orang Kristen tidak perlu terpancang
kepada gerakan Feminisme yang baru lahir pada abad 19.
Kedua, orang Kristen perlu mengenal Feminisme dan pengaruhnya
di Indonesia. Meskipun orang Kristen sudah memiliki pemahaman Firman
Tuhan tentang keberadaan dan status perempuan, namun perlu juga
mengenal gerakan Feminisme dan pengaruhnya di Indonesia, supaya
bersikap antisipatif terhadap ekses-ekses negative dari gerakan ini,
misalnya demonstrasi menuntut hak perempuan, ataupun melakukan
berbagai aksi yang fulgar dan overacting.
Ketiga, sistem hermeneutik gerakan Feminisme bersifat bebas, yang
penting menguntungkan kaum perempuan. Maka system hermeneutik
seperti ini sangat menyesatkan, karena memaksakan Firman Allah untuk
memenuhi kebutuhan atau kepentingan si penafsir. Karena itu orang Kristen
jangan mengadopsi sistem hermeneutik Feminisme.
Keempat, Gereja kiranya sangat mewaspadai pengaruh gerakan ini
yang bisa menyusup secara halus di dalam jemaat, dengan kedog rohani,
khususnya di kalangan kaum perempuan, misalnya kaum perempuan
mengadakan banyak kegiatan rohani di luar rumah, membuat organisasi
tertentu dengan sering mengadakan meeting, yang pada akhirnya
melalaikan tugas pentingnya di dalam keluarga, bahkan sudah tidak lagi
menghargai suaminya sebagai kepala keluarga.
Kelima, di sisi lain, Gereja seyogyanya memposisikan kaum
perempuan secara proporsional, sesuai Firman Allah, dan sesuai talenta dan
kemampuan yang dimiliki oleh tiap perempuan di dalam jemaatnya. Jangan
pernah meremehkan kaum perempuan, karena Tuhan sudah meletakkan
potensi-potensi khusus di dalam diri perempuan, yang kaum laki-laki tidak
memilikinya, sehingga akan lengkap jika kaum perempuan dan kaum lakilaki bekerja bersama-sama.
POSTMODERNISME DAN GEREJA
RIDWAN HENRY SIMAMORA
PENDAHULUAN
Ketika kita pindah ke abad duapuluh satu dari abad dua puluh,
muncullah perspektif baru tentang cara mengamati dunia. Terdapat
perbedaan respons, aksentuasi makna dan semangat ketika postmodernisme
difahami sebagai era kesejarahan dan arus pemikiran, meskipun keduanya
memiliki keterkaitan yang amat erat: yang pertama mengajak kita untuk
memusatkan pada kajian sosiologis terhadap kehidupan masyarakat
postmodern, sedang yang kedua pada analisa konseptual-filosofis.
Kerangka berpikir postmodern dapat disebut ”postmodernisme”, yang
tidak hanya berbeda dengan premodern dan sudut pandang modern tetapi
juga mempunyai berbagai perspektif-perspektif modern di dalam
pergerakannya.
Dalam
upaya
pemetaan
wilayah
pemikiran
postmodernisme, penulis berusaha untuk menyajikan fenomena dasar yang
menjadi arus utama pemikiran postmodernisme, yang pada akhirnya
mempengaruhi semua kultur. Penulis tidak berasumsi bahwa fenomena
yang akan diuraikan dapat menerangkan secara lengkap alur pemikiran
postmodernisme. Berkaitan dengan hal tersebut, materi ini juga berusaha
untuk menyajikan dan memaparkan sikap gereja yang perlu dipertahankan
dan dikembangkan dalam menyikapi tantangan spirit zaman
postmodernisme.
PENGERTIAN POSTMODERNISME
Secara definitif cukup sulit untuk merumuskan terminologi
postmodernisme. Istilah ”postmodern” dipergunakan dalam berbagai arti,
dan tidak mudah untuk memetakan atau merumuskan satu defenisi yang
bersifat menyeluruh. Kekaburan makna istilah ”postmodern” diakibatkan
oleh akhiran ”isme” dan awalan ”post” yang digunakan pada istilah
”postmodernisme.” Berkaitan dengan hal itu, Bambang Sugiharto
menyatakan bahwa, ”yang pertama menunjuk pada kritik-kritik filosofis
atas gambaran dunia (world view), epistemologi dan ideologi-ideologi
modern. Yang kedua menunjuk pada situasi dan tata sosial produk teknologi
informasi, globalisasi, fragmentasi gaya hidup, konsumerisme yang
berlebihan, deregulasi pasar uang dan sarana publik, usangnya negara
bangsa dan penggalian kembali inspirasi-inspirasi tradisi.”1 Kevin
O’Donnell menyatakan pendapatnya mengenai postmodernisme sebagai
”nama yang diberikan pada serangkaian pendirian filsafat dan gaya estetika
yang sudah berkembang sejak tahun 1950-an. Postmodernisme merupakan
gerakan yang berbeda-beda, dengan beberapa paham bertentangan, tetapi
istilah ini cocok karena ia mendeskripsikan beberapa fitur dominan.” 2
Postmodernisme sebagai sebuah arus pemikiran ataupun sebagai
fenomena sosial sampai sekarang masih menjadi perdebatan yang hangat.
Setiap wilayah disiplin ilmu akan melihatnya dengan cara yang beragam.
Dalam salah satu karya yang paling ternama tentang subjek ini, yaitu La
condition postmoderne, Lyotard berpendapat bahwa kondisi postmodern
sudah dimulai bahkan sejak tahun 1950-an, ketika ”ilmu pengetahuan
berubah statusnya bersamaan dengan masyarakat bergerak memasuki
zaman yang disebut posindustrial dan kebudayaan masuk ke dalam zaman
yang disebut posrmodern.”3 Lepas dari sikap pro dan kontra terhadap
pengertian postmodernisme dan luasnya wilayah yang bersentuhan
dengannya, serta kompleksitas yang dikandung oleh istilah
”postmodernisme,” maka istilah yang dapat memberi gambaran umum
untuk mengacu kepada postmodernisme adalah: ”Postmodernisme sebagai
bentuk sikap kritis terhadap paradigma modern baik pada tingkat reflektifteoritis maupun praksis sosio-kultural saat ini.”4 Oleh karena itu, dapat di
sebutkan bahwa era postmodernisme sebagai ”spirit zaman” dari periode
modern. Artinya postmodern bukanlah sebuah era baru yang sama sekali
baru, seperti halnya pergerakan dari era pramodern menuju era modern.
Postmodern adalah ”era modern yang sama” (jika bisa dikatakan demikian),
namun spiritnya melampaui spirit zaman modern. Untuk memahami
pergerakan postmodernisme harus dilihat dari etosnya, 5 bukan pengertian
temporalnya, sebagai gagasan ekstrim dalam mengkritisi spirit era modern.
1
I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat (Yogyakarta:
Kanisius, 1996), 24.
2
Kevin O’Donnell, Postmodernisme (Yogyakarta: Kanisius, 2009), 6.
3
Francois Lyotard, La Condition Postmoderne (Paris: Les Editions de Minuit,
1979), 11 sebagaimana dikutip oleh Radhar Panca Dahana, Jejak Postmodernisme,
(Yogyakarta: Bentang, 2004), 23-24.
4
I. Bambang Sugiharto, Wajah Baru Etika & Agama (Yogyakarta: Kanisius,
2000), 13.
5
Stanley J. Grenz, menjelaskan secara luas mengenai etos postmodernisme
dalam A Prime On Postmodernism (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2001), 25-27.
ISU-ISU POSTMODERNISME
Mengingat begitu luasnya wilayah arus kultur dan filosofi
postmodernisme, maka penulis membatasi hanya pada enam aspek arus
pemikiran postmodernisme yang dapat mewakili secara keseluruhan arus
pemikiran postmodernisme yang dapat mempengaruhi cara hidup dan cara
berpikir Gereja.
Kritik Terhadap Modernitas
Postmodernisme dengan agresif mengkritik tradisi modern yang
berkaitan dengan kultur, teori, dan politik, dan lain-lain. Postmodernisme
juga mengacu pada satu kondisi umum di dalam kultur massa Barat, hal itu
dapat dilihat dengan berbagai cara yang berbeda-berbeda. Postmodernisme
dapat dilihat sebagai penolakan pendekatan berdasarkan norma dari
pandangan modern. ”Postmodernism has been variously referred to as a
cultural theory, a way of life, an expression of disenchantment with
modernism, a loosely bound collection of anti-modern ideas and as a social
deconstruction - just to name a few designations.”6 Postmodernisme
mengacu pada teori kultural dan cara hidup yang membebaskan diri dari
ikatan bersama secara sosial. Postmodernisme mengklaim dirinya sebagai
perwujudan baru dari modernisasi, progresivitas pembaruan yang hendak
ditawarkannya merupakan antiklimaks dari budaya modernisasi.
Modernitas sebagai sejarah penaklukan nilai-nilai lama abad pertengahan
oleh nilai-nilai baru modernisme dengan menggunakan kekuatan rasional
untuk memecahkan segala persoalan kamanusiaan, dan menguji kebenaran
lain seperti wahyu dan mitos tradisional. 7 Era modern menggunakan
kekuatan rasional untuk memecahkan segala persoalan kamanusiaan dan
menguji kebenaran lain seperti wahyu dan mitos tradisional. Tetapi pada
tataran perilaku budaya yang meluas pada wilayah hegemonik, bangunan
modernisme dianggap telah gagal menyejahterakan umat manusia;
perdamaian dan keadilan politik di muka bumi ini, sehingga dibutuhkan
pembaharuan terhadap cara pandang dan cara hidup dunia yang lebih baik
dari era sebelumnya, maka lahirlah perspektif baru yang disebut
“Postmodernisme.”
6
7
http://www.iscid.org/encyclopedia/Postmodernism
www. @rief gun' Nalar HMI Antara Modernisme dan Postmodernisme.htm
Dekonstruksi
Kerangka berpikir postmodernisme mempertanyakan hampir semua
konstruksi dasar keilmuan yang telah mapan dalam era modern (Agama,
Sosiologi, Psikologi, Antropologi, Sejarah, Fisika, dll), yang pada era
modern telah diterima dan baku, kemudian dipertanyakan ulang kembali.
Apa yang telah dianggap secara baku (ilmiah dan objektivitas) pada era
modern yang telah dibangun secara kokoh dan berlaku secara universal,
dianggap tidak lagi dapat memenuhi perkembangan pada saat ini, sehingga
perlu membuat teori baru dengan perspektif baru yang lebih baik dari pada
era sebelumnya. Istilah ”Deconstructionism” dipopulerkan oleh filosof
perancis Jacques Derrida. Berkaitan dengan pendapat Derrida, Hick
menjelaskan dengan jelas pendapat Derrida dengan mengatakan bahwa,
Derrida sees reality as defined subjectively by language, and
language as unable to access reality, being simply a collection
of signs based on signifiers that refer to chains of other
signifiers, which together formulate an incomplete, contextual
and subjective reality. He is the originator of the principle of
deconstruction, a process which involves detailed inspection of
a text to determine its weaknesses and flaws – especially in
terms of self contradiction, blind assumptions, blind spots,
elements of aporia and other fallacies, to bring the intended
meaning of the text undone – to deconstruct it.8
Derrida adalah pemula prinsip dari dekonstruksi, sebuah proses
yang melibatkan pemeriksaan terperinci terhadap satu teks untuk
menentukan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahannya khususnya dalam istilah-istilah pertentangan diri, asumsi-asumsi yang
buta, kelemahan, unsur-unsur aporia dan buah pikiran yang keliru, untuk
8
www. Ivpress.com; Hicks, P. The Story So Far - Philosophy Through the Ages,
(Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2003); Derrida melihat kenyataan seperti yang
digambarkan secara subyektif oleh bahasa, dan bahasa tidak mampu untuk mengakses
kenyataan, hanya sebuah koleksi tanda-tanda berdasarkan pada yang memberi arti yang
mengacu pada rantai-rantai dari yang lainnya, yang bersama-sama merumuskan suatu yang
tak lengkap, kenyataan subjektif dan kontekstual. Ia adalah pemula prinsip dari
dekonstruksi, sebuah proses yang melibatkan pemeriksaan terperinci terhadap satu teks
untuk menentukan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahannya - khususnya
dalam istilah dari pertentangan diri, asumsi-asumsi yang buta, kelemahan, unsur-unsur
aporia dan buah pikiran yang keliru, untuk membawa makna termaksud teks yang
dilepaskan - untuk dilakukan dekonstruksi.
membawa makna termaksud teks yang dilepaskan - untuk dilakukan
dekonstruksi. Ali Maksum menyebutkan bahwa “Dekonstruksi adalah
sebuah metode pembacaan teks secara interpretative atau, katakanlah, suatu
hermeneutik dengan cara radikal. Berbeda dari hermeneutik “normal” yang
mencoba merekonstruksi kembali isi asli sebuah makna atau suatu jaringan
makna, dekonstruksi justru meninggalkan usaha rehabilitasi seperti itu.” 9
Dalam pandangan Deridda, untuk memahami teks secara baik, orang harus
berani melakukan ”pembongkaran” (dekonstruksi) terhadap yang telah ada
termasuk terhadap teks-teks keagamaan. Berkaitan dengan maksud Derrida
tersebut, Grenz menjelaskan, bahwa:
Derrida hendak melucuti cita-cita modern yang memandang filsafat
sebagai ilmu murni, sebagai suatu penilaian objektif. Ia juga
menolak konsep adanya hubungan langsung antara bahasa kita dan
realitas di luar kita. Senjata yang Derrida gunakan adalah
dekonstruksi.”10
Sehingga kebenaran tidak ditentukan oleh realitas diluar kita, melainkan
ditentukan oleh bahasa.
Antimetanarasi
Postmodernisme menolak narasi ketunggalan yang disebut kritik
terhadap ”metanarasi”. Hal ini tentu berangkat dari konvensi-konvensi
naratif. Naratif tidak boleh mempunyai satu kebenaran. Berkaitan dengan
hal tersebut, Richard Rorty mengemukakan bahwa,
Dunia ini tidak berbicara. Hanya kita yang berbicara. Dunia bisa,
ketika kita telah memprogram diri kita sendiri dengan sebuah
bahasa, menyebabkan kita berpegang kepada sejumlah kepercayaan.
Tetapi dunia tidak bisa menawarkan sebuah bahasa untuk kita
gunakan. Hanya manusia lain yang bisa melakukannya .... Bahasabahasa dibuat dan bukan ditemukan, dan .... kebenaran merupakan
suatu properti entitas-entitas linguistik, dari kalimat-kalimat.11
9
Ali Maksum, Pengantar Filsafat (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), 331.
Grenz, A Prime on …, 234.
11
Richard Rorty, Contigency, Irony and Solidarity (Cambridge: Cambridge
University Press, 1989), 6-7, sebagaimana dikutip oleh James W. Sire, The Universe Nex
Door (Surabaya: Momentum, 2005), 241.
10
Kerangka berpikir Postmodern memberi penekanan bahwa bahasa
yang kita gunakan untuk menuturkan kisah-kisah kita adalah, seperti yang
dikemukakan Nietzsche: Jika demikian, apakah kebenaran itu? Sepasukan
metafora, metonim dan antropomorfisme yang bergerak – singkat kata,
kumpulan hubungan manusia, yang telah dipertajam, diubah bentuknya,
dan diperindah secara puitis dan retoris, dan telah digunakan untuk waktu
yang lama menjadi terlihat teguh, kanonis, dan wajib bagi satu bangsa:
kebenaran adalah ilusi yang dilupakan orang bahwa itulah sebenarnya
kebenaran itu; metafora yang usang dan tanpa kuasa yang mengesankan;
koin yang telah kehilangan gambarnya dan sekarang hanya logam, bukan
koin lagi.12
Dengan demikian, tidak ada kebenaran yang dapat dibuat oleh
manusia yang bersifat objektif, yang ada hanyalah bahasa-bahasa yang
menentukan nilai kebenaran. Pada wilayah bahasa dan agama yang
mengemuka adalah bahwa metanarasi telah hilang kekuatannya, karena ada
banyak bahasa di dunia, maka ada banyak kebenaran yang dikisahkan oleh
masing-masing bahasa.
Relativisme
Postmodernisme membuat pengingkaran atas setiap eksistensi
obyektif dan permanen. Atas dasar pemikiran relativisme yang diyakini,
pemikiran postmodernisme berusaha membangun dan mengembangkan
serta menyebarkan doktrin bahwa tidak ada tolok ukur sejati dalam
penentuan obyektifitas dan hakekat kebenaran. Berkaitan dengan hal itu
Holmes mengatakan, bahwa:
Relativism today is to be found in most areas of enquiry. Ethical
relativists see moral standards as culturally relative; situational
ethics rejects universally binding moral rules in favour of decisions
dependent on their peculiar contexts. Religious relativists view
differsent religious belief and practices as legitimate products of
deifferent historical and culture setting. Relativism has even arisen
in the natural sciences, with the realization that the growth of
scientific of personal and sociological, rather than just experimental
or mathematical, factors.13
12
Nietzsche, “On Truth and Lie in an Extra-moral Sense,” di dalam The
Portable Nietzche. Terj. Walter Kaufmann (New York: Viking, 1954), 46-47); sebagaimana
di kutip oleh Sire, The Universe Nex …, 240.
13
A. F. Holmes, “Relativism,” New Dictionary of Theology, Sinclair B.
Ungkapan Nietzsche yang terkenal, yaitu: “God is Dead” terus
merebak dan semakin digemari, serta bahkan mempesona banyak kalangan
di banyak negara Barat. Nietzsche, sebagai pelopor dan penganjur
ketidakpercayaan telah mempengaruhi para pakar postmodernisme. Ketika
ia menyampaikan jargonnya yang terkenal ”Allah telah mati”, ia sedang
menghantam dan menjungkir balikkan tradisi Kristen. Ia berbicara tentang
berlalunya satu dunia di mana makna dan nilai yang sebelumnya telah
berakar dalam hal-hal transenden, sekarang telah berlalu (pada era
postmodern). Ernest Gellner, seorang antropolog memberi pernyataan yang
baik dengan menjelaskan bahwa postmodernisme tidak lain dan tidak bukan
adalah relativisme dalam bentuk dan wajahnya yang baru. 14 Berkaitan
dengan hal itu, White menerangkan lebih lanjut dengan mengemukakan,
bahwa: ”The value of moral relativism” state that what is moral is dictated
by a particular situation in light of a particular culture or social location.
The usual pharaseology is “what is true for you is true for you, and what is
true for me is true for me.”15 Oleh karenanya, manusia postmodernisme
dengan kerangka berpikirnya, tidak mau terikat dan tunduk pada ideologi
permanen apapun, termasuk ideologi agama. Dengan demikian era
postmodern dipengaruhi oleh pemikiran postmodernisme yang di dominasi
oleh relativisme.
Pluralisme
Era postmodern telah menimbulkan pemberontakan secara kritis
terhadap proyek modernitas; memudarnya kepercayaan pada agama yang
bersifat transenden (meta-narasi); dan semakin diterimanya pandangan
pluralisme-relativisme kebenaran. Namun kini persoalannya menjadi lain,
oleh perkembangan teknologi, interaksi sosial, politik dan ekonomi pada
Ferguson & David F. Wright (ed.), (Leicester: Inter-Varsity Press, 1988), 574-575;
Sekarang relativisme menemukan banyak area untuk diselidiki. Relativis etis melihat
standard-standard moral sebagai relatif kultural; etika situasional menolak aturan moral
yang berlaku secara universal. Relativisme agama memandang perbedaan kepercayaan
agama dan prakteknya sebagai produk-produk yang sah dari perbedaan latar belakang
historis dan kultur. Relativisme bahkan telah muncul di dalam ilmu pengetahuan alam,
dengan perwujudan bahwa pertumbuhan dari ilmiah kemasyarakatan dan pribadi, lebih
dari sekedar faktor-faktor percobaan atau matematika.
14
Ernest Gellner, Postmodernism, Reason and Religion (New York: Routledge,
1992), 24.
15
James Emery White, “Evangelism in a Postmodern World,” dalam The
Challenge of Postmodernism (Grand Rapids: Baker Academic, 2001), 172.
era postmodern telah membawa proses globalisasi yang tidak terkendali,
sehingga pluralisme menemukan bentuknya yang sempurna pada era
postmodernisme. Grenz menyebutnya sebagai hidup dalam desa global,
dimana penduduknya memiliki keanekaragaman budaya dibumi. Kemudian
muncullah kesadaran pluralisme yang menghasilkan sikap toleransi
terhadap kelompok lain.16 Pada perjalanannya, pluralitas telah mengkristal
dalam bentuknya yang lebih sempurna pada era postmodern yang kemudian
menghasilkan pluralisme yang lebih transparan. Sugiharto menjelaskan
kondisi yang transparan tersebut telah menimbulkan bentuk pluralisme
yang lebih tajam dan berbeda dengan era sebelumnya, ia menyatakan,
bahwa:
Pluralisme menjadi lebih luas serentak lebih tajam menantang
refleksi. Kini pluralisme bukan lagi sekedar teori filosofis tentang
’yang satu’ dan ’yang banyak’ seperti yang dipikirkan para filsuf
sejak zaman Yunani kuno. Bukan pula sekedar fakta yang cukup
dihadapi dengan keputusan yuridis, ataupun dengan tanpa peduli,
dengan koeksistensi diam dan dengan toleransi yang malas.
Plurlisme kini membawa persoalan eksistensial yang serius, yakni
bagaimana kita bisa hidup secara berarti di tengah demikian banyak
pendapat tentang hidup, manusia, dan dunia.17
Dengan demikian bentuk pluralisme tersebut semakin
menampakkan wujudnya yang transparan dan baku bila dibangdingkan
dengan era sebelumnya. Gambaran bentuk pluralisme pada era postmodern
semakin jelas dan memperoleh tempat yang sentral dalam segala fenomena
kehidupan; budaya, agama, keluarga, etnis, ekonomi, sosial, pendidikan,
dan lain-lain.
Industri Media Massa
Teknologi Informasi adalah prestasi dan kebanggaan pada era
postmodern. Dunia maju menyaksikan ledakan teknologi lebih lanjut
sesudah Perang Dunia II, ketika bangsa-bangsa membangun kembali
ekonomi mereka, dan penemuan berkembang. “Televisi membawa dunia
lebih dekat, dan menciptakan “desa global” menurut istilah Marshal Mc
Luhan. Komputer yang tadinya mahal dan besar masuk kedalam rumah
16
17
Grenz, A Prime on…, 35.
Sugiharto & Rahmat. W. Wajah Baru Etika..., 146.
dengan
revolusi
silicon.
Internet–awalnya
peralatan
militer–
menghubungkan manusia lebih cepat terlebih dengan email, yang dapat
menjelajahi bulatan bumi dalam menit,” 18 Media informasi merupakan
jalan raya bagi perkembangan postmodernisme dalam mempengaruhi gaya
hidup dan pola pikir yang berbeda dengan era sebelumnya, inilah yang
disebut dengan “etos postmodernisme.” Signifikansi media massa (televisi,
Internet, film, hand phone, musik, iklan, dll) di dalam mengubah atau
membelokkan perspektif manusia tentang segala hal dari “kenyataan,”
telah memberi kesempatan secara luas bagi pergerakan postmodernisme.
Berkaitan dengan hal itu, Veith, Jr mengatakan bahwa:
Postmodernist philosophers argue that all truth is a kind of fiction;
postmodernist artist attempt to blur the distinction between art and
reality. Such theories may seem esoteric, but they are the bread and
butter television. The boundary between fiction and reality blurs
every day on the news, which shapes actual occurrences into “media
event.19
Meledaknya industri media massa pada era postmodern telah
memberi dampak yang luas dalam tatanan hidup masyarakat, sehingga ia
bagaikan perpanjangan dari sistem indera, organ dan saraf kita, yang pada
urutannya menjadikan dunia menjadi terasa kecil. Lebih dari itu, kekuatan
media massa telah menjelma menjadi seperti "agama" atau "tuhan" sekuler,
dalam artian perilaku dan cara berpikir orang tidak lagi ditentukan oleh
agama-agama tradisional, tetapi tanpa disadari telah diatur oleh media
massa, seperti program televisi, musik, iklan dan film, dan di Indonesia
dikenal dengan “telenovela” atau “sinetron”. Media massa telah begitu
kuat memberi pengaruh ketertarikan pada apa yang dapat diakses dan yang
dikonsumsi, ia bagaikan “candu” bagi penikmatnya,
sehingga dapat
membuat setiap penggunanya tidak mampu lagi untuk menentukan
gambaran yang sesungguhnya (realitas).
PENGARUH POSTMODERNISME
Postmodernisme sebagai sebuah kekuatan kultur dan filosofis telah
menjelma seperti menggurita dengan tangan-tangan kuatnya mencapai dan
18
O’Donnell, Postmodernisme …, 18.
Gene Edward Veith, Jr, Postmodern Times: A Christian Guide to
Contemporary Thought and Culture (Wheaton: Crossway Books, 1994), 122.
19
memberi pengaruh yang signifikan. Mengingat begitu luasnya wilayah
pengaruh kultur postmodernisme dan tidak cukup tempat untuk
menguraikan pada tulisan ini, maka penulis membatasi hanya pada
beberapa aspek fenomena pengaruh postmodernisme yang sering terkait
dengan wacana-wacana budaya, yang mulai mengarah pada entitas
perilaku, termasuk dalam relasi hegemoni.
Pengaruh teknologi dalam Perubahan Moralitas
Teknologi informasi telah memberikan
kemudahan pada
masyarakat pengguna, tetapi pada sisi lain oleh penggunaan produk-produk
tersebut telah menciptakan kesempatan yang amat luas pada kehidupan
manusia. Grenz mengemukakan bahwa informasi pada era postmodern
mengalir ke seluruh dunia secepat cahaya dengan memaparkan bahwa:
Era informasi tidak hanya mengubah pekerjaan kita, tetapi juga
menghubungkan seluruh belahan dunia. Masyarakat informasi
berfungsi berdasarkan jaringan komunikasi yang meliputi seluruh
muka bumi. Efisiensi sistem tersebut sangat mengejutkan. Pada masa
lalu, informasi tidak secepat perjalanan manusia. Tetapi sekarang
informasi dapat mengalir ke seluruh dunia secepat cahaya. Yang
lebih mengagumkan lagi adalah kemampuan era postmodern untuk
mendapatkan informasi dari mana saja secara cepat. 20
Teknologi dapat menjadi alat untuk menyebarkan Firman Allah.
Tetapi kondisinya menjadi lain dan bahkan menimbulkan persoalan yang
serius, ketika media massa bersatu padu dengan budaya hiburan, maka
masyarakat menjadi pengguna yang radikal dimana masyarakat mendapat
akses semua bentuk informasi tindak kejahatan dan pendidikan yang
menyimpang. Berkaitan dengan hal itu, Blamires mengatakan dengan tegas
dampak yang dialami masyarakat dalam pendidikan keluarga, dengan
mengemukakan,
Tetapi sekarang, mereka mendapat makanan moral intelektual dari
sumber-sumber lain. Mereka dulu di didik untuk berasumsi bahwa
pernikahan melibatkan komitmen seumur hidup pada pasangan
mereka. Mereka sekarang dibujuk oleh surat kabar dan media lain
untuk merasakan berbagai kebiasaan amoral yang dinikmati oleh
20
Grenz, A Prime on…, 34.
makhluk-makhluk rusak dari dunia panggung, film, dan musik
pop.21
Masyarakat semakin terbuka terhadap informasi yang negatif dan
dapat melakukan tindak kejahatan yang belum pernah dilakukan
sebelumnya. Kemajuan dalam setiap produk teknologi telah memungkinkan
nilai-nilai amoral, seperti pornografi, kekejaman dan tidakan sadistis dapat
disalurkan dan dinikmati melalui TV, Video, Komputer, Internet,
Handphone dan lain-lain secara sempurna. Kenyataan ini telah memberi
model-model kriminalitas pada masyarakat, bahkan sampai bentuk-bentuk
yang ekstrem di mana media tersebut merupakan bagian dari kebutuhan
komunitas tersebut. Tidak hanya itu, teknologi juga telah memaksa manusia
menjadi manusia yang tidak lagi spesial dan kehilangan martabat sebagai
pencipta alat informasi dan dosa tidak lagi sesuatu yang esensial.
Kristalisai Budaya Populer
Postmodernisme mengklaim dirinya sebagai perwujudan baru dari
modernisasi, progresivitas pembaruan yang hendak ditawarkannya
merupakan antiklimaks dari budaya modernisasi. Dalam perilaku budaya
yang meluas pada wilayah hegemonik. Berkaitan dengan hal itu, Adams
menyatakan bahwa pengaruh kultural Barat begitu mempengaruhi
kebudayaan masyarakat, Although primarily a Western cultural movement,
the postmodern is having an effect upon the intellectual life of many
cultures, including those of Asia. In Korea, for example, the state television
network KBS ran a two-part series in early 1993 on postmodernism and its
influence.22
Kristalisasi kultur dunia (budaya popular) yang menampakkan
wujudnya dalam berbagai bentuk. Bentuk-bentuk budaya popular tersebut
dapat dilihat dari berbagai macam dan menjamurnya restoran-restoran dan
tempat-tempat hiburan yang bercirikan budaya barat, menu makanan,
musik, film, pakaian dan gaya hidup internasional, dan bahkan sampai
kepada pemakaian obat-obatan terlarang. Budaya postmodern cenderung
menciptakan manusia postmodern yang bersifat materialisme, hedonisme
dan konsumerisme. Perwujudan seperangkat hasrat untuk mendapatkan
21
Harry Blamires, The Post Christian Mind: Mengenal Perlawanan Terhadap
Wawasan Kristen (Surabaya: Momentum, 2003), 32-33.
22
Daniel J. Adams, Toward A Theological Understanding Of Postmodernism,
http://www.crosscurrents.org/adams.htp, 2.
kehormatan, prestise, status dan identitas melalui sebuah mekanisme
pelebelan sebagai bentuk budaya populer. Hal itu ditandai oleh dua ciri
khas postmodern seperti yang dinyatakan oleh Grenz yaitu, ”Budaya pop
zaman kita mempunyai dua ciri khas postmodern: Pluralisme dan anti
rasionalisme. Seperti nyata dari cara mereka berpakaian dan musik yang
mereka dengar .... Mereka hidup dalam dunia yang tidak membedakan
antara kebenaran dan dongeng.”23
Perubahan Paradigma Spiritual
Manusia postmodernis tidak boleh terikat pada ideologi permanen
apapun, termasuk ideologi agama, maka kondisi ini menimbulkan
pencarian jati diri dan spiritualitas yang semu. Sire mengutip pernyataan
sarjana postmodern Ihab Hassan yang mendorong suatu spiritualitas yang
samar, dengan mengatakan, bahwa: ”Ini yang saya tahu,” ia menjawab,
”tanpa roh perasaan kekaguman kosmis, mengenai keberadaan dan
moralitas pada batas yang terluas, yang kita semua rasakan, eksistensi
dengan
segera
tereduksi
menjadi
hanya
keberlangsungan.” 24
Postmodernisme melihat Allah tidak lagi sebagai pusat penyembahan satusatunya, melainkan telah digantikan dengan bentuk yang lebih populer dan
dapat diterima tanpa harus memberi pertanggungjawaban. Dunia yang
simplistik yang diciptakan oleh teknologi media informasi telah
mempermudah orang untuk menikmati egoismenya secara radikal bahkan
menggiring orang menjadi hedonis-hedonis. Allah yang hidup diciutkan
oleh Allah yang dapat divisualisasikan oleh teknologi. Berkaitan dengan
hal itu, Webster mencermati kekuatan teknologi yang mampu memberi
kenikmatan pada diri sendiri serta menghasilkan spiritualitas yang semu.
Teknologi menciptakan lingkungan rohani semu yang membuat
manusia percaya bahwa dia bebas dan tidak bergantung kepada
Tuhan semesta alam. Pada umumnya, kegagalan dan bukan
keberhasilan yang membuat manusia sadar akan Allah. Kekuatan
ekonomi, pertumbuhan industri, penemuan ilmiah, kemajuankemajuan dalam pengobatan dan penjelajahan angkasa raya tidak
akan membuat manusia memikirkan Allah. Perang dan bencana atau
musibah dapat membuat orang tertutup bagi Allah, namun
keberhasilan teknologi membuat orang mengabaikan Allah. 25
23
Grenz, A Prime on..., 60-61.
Sire, The Universe Next …, 261-262.
25
Douglas D. Webster, Kehidupan Kristen Dalam Kebudayaan Dunia (Malang
Gandum Mas, 1990), 63.
24
Postmodernis dalam hal penolakan mereka akan kebenaran yang
objektif memiliki kesamaan dengan Hinduisme dan Buddhisme, yang
mengajarkan bahwa dunia luar (external world) adalah sebuah ilusi dari
pikiran manusia. Agama-agama Timur juga turut andil memberi
sumbangsih dasar bagi perkembangan spiritualisme. Kondisi ini pada
dataran praksis akan menghasilkan apa yang disebut dengan “nihilisme”,
kekosongan. Kosong dari prinsip, ideologi, argumentasi rasional, logika
sehat, pemahaman teks, dan kekosongan konsep beragama serta
kekosongan spiritualitas.
Perubahan Paradigma Kebenaran
Postmodern melahirkan pluralisme agama-agama, karena tidak ada
kisah tunggal yang menyatakan kebenaran, melainkan banyak kisah atau
cerita yang menyatakan tentang kebenaran. Sire menjelaskan lebih lanjut,
bahwa menurut posmodernisme ”Kebenaran adalah apa yang disepakati
oleh rekan-rekan kita (komunitas kita). Jika kita bisa membuat mereka
mempergunakan bahasa kita, maka – seperti para ”penulis puisi yang kuat”
seperti Musa, Yesus, Plato, Freud – kisah kita sama benarnya dengan yang
mungkin dicapai oleh kisah lainnya.” 26
Wahyu mengenai kebenaran diklaim tidak hanya milik agama
Kristen, karena satu-satunya kebenaran yang ada adalah kebenaran yang
pragmatis, tidak ada kebenaran yang korespondensi. Pemikiran
postmodernisme berusaha membangun dan mengembangkan serta
menyebarkan doktrin bahwa tidak ada tolok ukur sejati dalam penentuan
obyektifitas dan hakekat kebenaran. Maka implikasi theologis dan logis
adalah soteriologi bersifat univeralisme dan Kritus bukanlah satu-satu jalan
keselamatan serta Alkitab sebagai firman Allah bukanlah kebenaran yang
mutlak. Inilah yang disebut dengan dominasi pluralisme agama-agama dan
hilangnya esensi kebenaran pada era postmodern. Ketiadaan dan menolak
kebenaran yang tunggal.
Perubahan Paradigma Teologi
Cara berpikir postmodern telah mengaburkan sistem theologia yang
telah diterima dan diajarkan oleh para rasul, yang dipertahankan dan
disebarluaskan oleh bapa-bapa gereja, serta yang telah dipercayai dan
26
Sire, The Universe Next …, 241.
dipegang teguh serta disebarluaskan oleh gereja reformasi. Dengan
menyatakan tidak ada lagi klaim eksklusif dari iman Kristen yang di
dasarkan pada Kristus, sebab kita juga harus mengakomodasikan imaniman kepercayaan lain, seperti yang dikemukakan oleh Phillips yaitu, thus,
postmodern forms of pluralism deny the concept of revelation as given in
the Bible; there is no single revealed metanarrative which encompasses all
religious experience.27
Wacana dekonstruksi yang dikembangkan oleh Jacques Derrida
menghantam secara radikal pemahaman keagamaan yang mengusung
kebenaran mutlak. Dengan jargon menolak semua kebenaran yang objektif
dan absolut menjadi ancaman yang serius bagi theologia Kristen. Berkaitan
dengan hal itu, Phillips mengemukakan bahwa,
In theology, not only do different “Christian” theologies contain
various conflicting meta-narrative (such as evangelical theology,
liberation theology, feminist theology, black theology, gay theology),
but the meta-narratives of other religion have equal claim to truth –
but to a truth which is non-absolute and nonnormative.28
Tidak ada yang bersifat normatif, maka Tuhan pun dipertanyakan
kebenarannya.
Perubahan Paradigma Hermeneutik
Postmodernisme pada dasarnya menolak semua argumen mengenai
otoritas Alkitab, karena tidak ada kebenaran yang objektif. Menurut Kant,
bahwa diri (self) tidak dapat menemukan secara objektif apa yang ada di
dalam dunia, tetapi sebaliknya yaitu,Projects order creatively upon the
world.29 Ide kebebasan yang bersifat subyektifisme dalam postmodernisme
ini memuncul satu budaya yang disebut dengan “Budaya Penafsiran” yang
merupakan produk penting dari postmodernisme. Budaya penafsiran
postmodernisme tersebut diprakarsai dan dipopulerkan oleh Derrida dengan
jargon ”Dekonstruksi”. Hermeneutik dekonstruksi adalah merupakan usaha
untuk membongkar setiap teks dan berusaha menemukan kontradiksikontradiksi yang terdapat di dalam teks, sebab tidak ada arti yang tetap di
dalam teks itu sendiri.
27
Gary Phillips, “Religious Pluralism in a Postmodern World,” dalam The
Challenge of Postmodernism (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2001), 137.
28
Ibid., 137.
29
Ibid., 67.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Phillips mengemukakan hal
itu merupakan ciri hermeneutik postmodernisme dengan memaparkan
bahwa, Postmodernism makes a hermeneutical distinction between the text
and any objective meaning. There is no fixed meaning in any proposition or
in language itself.30 Aspek inilah yang merupakan pencetus budaya tafsir
postmodernisme dalam perubahan paradigma hermeneutika sebagai suatu
upaya pencarian untuk menjadikan teks yang masih bisa diterima oleh
pembaca yang skeptis. Dengan demikian setiap orang dapat dengan bebas
memberi tafsiran terhadap teks dengan “sesuka hati”, tanpa ada aturan serta
merendahkan artinya sehingga mengabaikan maksud penulisan teks.
MENYIKAPI TANTANGAN POSTMODERNISME PADA MASA
KINI DAN MASA YANG AKAN DATANG
Gereja tidak perlu takut menghadapi postmodernisme, karena
postmodernisme menyangkut realitas kesejarahan, dan atas dasar
pemahaman serta kesadaran bahwa kesejarahan ada dalam kedaulatan
Allah. Allah berkuasa dan memerintah sejarah. Gereja menghadapi dua
raksasa besar, yaitu modernisme dan postmodernisme. Kendatipun
modernitas mengalami kemerosotan, namun jejak-jejaknya masih terlihat
jelas pada pergerakan postmodernitas. Pemikiran dan sikap apakah yang
perlu dikembangkan dalam konteks tersebut? Ada beberapa wilayah
pemikiran dan sikap, walaupun tidak menyeluruh, yang dapat
dipertahankan dan dikembangkan oleh Gereja untuk masa kini dan masa
yang akan datang.
Mengembalikan Jemaat Kepada Alkitab
Untuk menghadapi pengaruh negatif, baik faham modern maupun
postmodern orang Kristen harus kembali kepada kebenaran Alkitab. Alkitab
harus menjadi dasar dan ukuran bagi kehidupan orang-orang percaya.
Pendekatan kepada Alkitab harus bersifat menyeluruh dan dapat
menggunakan teori-teori hermeneutika yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jujur terhadap teks dan konteks. Tidak asal comot, tidak didahului oleh
asumsi-asumsi, melainkan menyatakan dan mengedepankan teks. Alkitab
berisi dan mengemukakan fakta adalah satu-satunya penyataan Allah
30
Gary Phillips, “Religious…, 134.
(wahyu khusus), dimana Allah menyatakan dirinya kepada manusia yang
berdosa, agar manusia dapat mengetahui, memahami dan memiliki
hubungan dengan Allah. Gereja harus dikembalikan kepada asas kebenaran
Alkitab, sebagai satu-satunya standard dalam menilai cara hidup dan cara
berpikir. Dengan warisan kulminasi peradaban yang turun-temurun gereja
pada era postmodern bisa berkembang tanpa rujukan Alkitab, sehingga
posisi Alkitab bisa saja semakin asing meskipun secara substansial dan
tanpa disadari berbagai ajarannya dilaksanakan oleh gereja. Menempatkan
Alkitab sebagai dasar bangunan mengenal kebenaran Allah dalam cara
berpikir dan cara hidup. Sebagai alat afirmasi, asumsi dan tradisi yang di
dominasi Alkitab sebagai firman Tuhan adalah keniscayaan.
Mempertahankan dan Meneruskan Warisan Teologi Apostolik
Teologi dan hermeneutika postmodernisme telah menggoncangkan
dasar-dasar Teologi Kristen yang hakiki dengan menyingkirkan metanarisi
Injil. Ketika postmodernisme berupaya merendahkan metanarasi dan
mendekonstruksikan kebenaran menjadi permainan bahasa serta
menjadikan spiritualitas sebagai campuran dari unsur-unsur yang hanya
mengikat secara subjektif, maka kebenaran Teologi Kristen harus kembali
mengedepankan dan menyuarakan kebenaran objektif. Teologi para rasul
dan Gereja mula-mula mengimani dan memberitakan Allah yang telah
menyatakan diri di dalam Kristus sebagai fakta sejarah dan yang turut
berperan dalam sejarah kehidupan serta mempertahankan dan
memberitakan metanarasi Injil.
Memulihkan Spiritualitas
Kebenaran spiritualitas Kristen tidak ditemukan melalui
“dekonstruksi,” “pluralisme,” “relativisme,” “anti metanarasi dan
“teknologi informasi”, melainkan berdasarkan penyataan wahyu Allah yang
kekal di dalam dan melalui Yesus Kristus. Akar masalah spiritualitas
postmodernisme sebenarnya adalah spiritualitas selfisme dan penolakan
mereka terhadap kedaulatan Allah yang nyata di dalam dan melalui Yesus
Kristus serta yang dinyatakan dan ditemukan dalam kebenaran Alkitab.
Pada tahun 1980-an, psikolog Paul Vitz melihat bahwa spiritualitas
penyembahan diri yang sedang bertumbuh ini merupakan suatu “substitusi
sekuler yang populer untuk menggantikan agama.” 31 Pencarian spiritualitas
yang sesungguhnya ditemukan pada spiritualitas yang alkitabiah. Oleh
karena spiritualitas Kristen bersifat teocentris, maka pemenuhan
spiritualitas mengarah pada cara hidup dan cara berpikir yang dinamis
dalam relasi dengan Kristus dan oleh karya Roh Kudus.
Membarui Jemaat
Penyataan kebenaran Allah mendemonstrasikan kasih ilahi yang
melenyapkan kesalahpahaman, dan pembaharuan yang efektif. Berkaitan
dengan hal itu, White mengemukakan bahwa, “Kehadiran Yesus membawa
perubahan bukan saja secara moral tetapi juga penghakiman yang telah
dipikul melalui kematian-Nya, berita inilah yang mengubahkan manusia.” 32
Inti berita yang mengubahkan ini seharusnya mendapat tempat sentral dari
Gereja pada era postmodern, agar jemaat mengalami pembaharuan yang
sesungguhnya. Satu unsur utama di dalam menantang postmodernisme
adalah dengan menunjukkan bahwa dalam kaitannya dengan etika dan
makna kehidupan, postmodernisme menghasilkan nihilisme.33 Kekosongan
itu hanya dapat diisi oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Allah di dalam
Yesus Kristus dan melalui karya Roh Kudus, sehingga pembaruan
merupakan pengalaman yang dibutuhkan jemaat pada era postmodern, agar
mereka tidak mengalami kekosongan dan kejenuhan spiritual dan tidak
berhenti bertumbuh di dalam Kristus.
Membarui dan Meneguhkan Akal Budi
Postmodern telah kehilangan perspektif yang benar mengenai akal
budi. Kebenaran memiliki makna ganda dan bahkan seringkali menjadi
kabur artinya. Postmodernisme telah berhenti mempercayai adanya
Permulaan atau Akhir yang mutlak, atau Dasar atau Kehadiran yang mutlak
yang dapat diterima oleh akal budi. Dalam dunia postmodern akal budi
31
Paul C. Vitz, Psychology As Religion: The Cult of Self-Worship (Surabaya:
momentum, 2005), 180-184.
32
R.E.O. White, “Reconciliation,” dalam Evangelical Dictionary of Theology
(Grand Rapids: Baker Academic, 2001), 992.
33
Douglas Groothuis, Pudarnya Kebenaran: Membela Kekristenan Terhadap
Tantangan Postmodernisme (Surabaya: Momentum, 2003), 165.
telah kehilangan tempatnya dan digantikan dengan kebebasan manusia
dalam berkreasi dan menciptakan fiksi-fiksi yang kreatif. 34
Menempatkan akal budi pada konteks teonomi seperti yang
dinyatakan oleh Alkitab (Rm 12:1-2) adalah krusial. Akal budi yang
dimaksud bukan dalam ide Pencerahan yang memberi tempat pada otonami
akal budi. Ronald H. Nash memberi komentar yang tajam dalam
menghubungkan realita kebenaran Allah dengan akal budi Kristiani, dengan
mengatakan bahwa; ”Logos Allah, Yesus menjamin rasionalitas manusia
dan mengabsahkan kemampuan manusia untuk mengerti Firman Allah.
Korespondensi antara akal budi Allah dan akal budi manusia (yang
berdasarkan logos) memungkinkan pengertian manusia akan
pengkomunikasian yang ilahi akan kebenaran.” 35 Logos ini sekaligus
berpribadi, cerdas, abadi dan transenden serta memberikan kehidupan.
Dengan demikian, kita dapat mengenal dan mengerti kebenarankebenaran yang obyektif, karena Allah Sang Pemikir Agung telah
menyatakan dan membuka diri-Nya di dalam dan melalui Logos (Yesus).
Sang pemilik Pikiran yang sempurna bukanlah intelektual yang terisolasi.
Dunia material-benda-diciptakan oleh Sang pemilik Pikiran dan mereka
tunduk kepada-Nya.36
Mempertahankan Kesalehan Hidup
Rekonstruksi dan mempraktekkan pandangan hidup saleh
berdasarkan tradisi spiritualitas Kristen merupakan hasil dari hidup dalam
kebenaran Allah, dan merupakan hal yang krusial untuk ditegaskan dalam
konteks masyarakat postmodern. Era postmodern telah mengaburkan semua
bentuk kesalehan, segala sesuatu bersifat relatif dan samar-samar (lihat
pluralisme dan relativisme).
Kesalehan hidup merupakan tema penting dan menarik serta tetap
relevan dalam praktek reformasi kehidupan Gereja dalam konteks
masyarakat postmodernisme. Kesalehan hidup tidak hanya mengacu pada
konsep-konsep dan wacana pada tataran logika dan permainan artikulasi,
34
Bnd. Kevin J. Vanhoozer, “Dunia Dipentaskan Dengan Baik? Teologi,
Kebudayaan Dan Hermeneutik,” Dalam God and Culture (Surabaya: Momentum, 2002),
28
35
Ronald H. Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia. Terj. (Surabaya:
Momentum, 2008), 75.
36
Ibid., 75.
melainkaan lahir dari spiritualitas yang memahami relasi dan mengenal
kebenaran Allah. Di mana hidup Kristen adalah suatu konsep yang dinamis
dan tidak dapat dipisahkan dari hidup sehari-hari dan hal-hal yang sifatnya
individual dan komunal yang merupakan ekspresi konkret dan aktual dari
refleksi teologi alkitabiah, serta dalam kerangka mewujudkan,
mempertahankan dan mempraktekkan kesalehan hidup Gereja di dunia
postmodernisme.
USIA EMAS (‘GOLDEN-AGE’):
MENYOAL KEPEDULIAN ORANGTUA
TERHADAP PAUD
YUSTUS ADIPATI
PENDAHULUAN
Child-Centered’: ‘Child to day, Human tommorow
Menghadirkan “Kampus PAUD” di tengah nuansa ‘sekolah’ teologi
(spiritual-balanced with moral-integrity in God-centered values) dirasa
“sangat istimewa.” Terutama bila dilihat dari kebutuhan peran
pendampingan Gereja dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) serta arus
balik yang dihasilkannya, yang bernama “anak masa depan.”
Melalui motto: Child to day, Human tommorow di masa Golden-Age
ini, diharapkan akan menjadi petunjuk menyangkut kesiapan seorang anak
(Child to day) serta kehidupannya di kemudian hari (Human tommorow).
Laiknya sebuah “Klinik” namun dengan “nafas” teologi (Kristiani),
kegiatan ini akan melewati serangkaian tes serta uji-kepekaan’dalam
menyiapkan kebutuhan anak menghadapi tantangan, berikut dampak
negatif dari hasil kemajuan umat manusia. Dengan tujuan, agar anak
memiliki tanggungjawab bagi dirinya sendiri (take care of the ‘own’ self),
bagi orang lain (take care of the others) serta bagi semua makhluk di bumi
(take care of the environment). Sehingga, sejak sebagai seorang anak
sampai kelak di kemudian hari, tetap memiliki hidup’secara teologis (lih.
Ams 4:1-27, 6:20-23, bnd. 1:7; 9:10), maupun secara psiko-sosial yang
sehat dan berkualitas (lih. Mzm 111:10). Selain upaya tripatrit:
Pemerintah, Gereja, dan Keluarga bagi kebutuhan anak di tahun awal usia
0-6 tahun dengan pendekatan anak secara utuh (Child-Centered).
PERAN PEMERINTAH: IN TARGET
Semua yang terkait perencanaan, proses pembelajaran, dan evaluasi
penilaian hasil belajar merupakan bagian penting dari pendidikan.
Pemahaman ini menjadi sangat penting, terutama untuk menyiapkan masa
depan anak di kemudian hari. Menurut Undang-undang (UU) bahwa setiap
anak berhak atas pendidikan dan pengajaran serta pengembangan pribadi
dengan tingkat kecerdasan sesuai dengan minat dan bakatnya. Hal mana
termaktub dalam UU No. 23 Tahun 2002 (dalam Direktorat Pendidikan
Anak Usia Dini, Dirjen Pendidikan Luar sekolah dan Pemuda,
DEPDIKNAS, 2002) tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa setiap
anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara
wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”
Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
dijelaskan bahwa:
Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang
ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun
yang dilakuka melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk
membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar
anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Melihat tingkat usia anak, maka Pemerintah mencurahkan perhatian
penuh terhadap pendidikan anak melalui PAUD. Saat ini, Pemerintah
berupaya mendorong jumlah partisipasi anak dalam pelayanan PAUD.
Sebagai data pembanding di tahun 2000, Fasli Jalal menuliskan:
Berdasarkan data tahun 2000, baru 17,39 % dari total 12, 22 juta
anak usia (4-6 tahun) yang mendapat pelayanan pendidikan.
Sementara pada anak usia (0-6 tahun) yang menjadi sasaran program
PAUD jumlah anak yang terlayani pendidikannya mencapai sekitar
17,9 juta dari total sekitar 26,09 juta anak.1
Berdasarkan target APK (Angka Partisipasi Kasar) - PAUD 2014,
berikut ini estimasi yang pernah dilakukan pemerintah, bahwa pada tahun
2004 tercatat bahwa jumlah APK-PAUD baru mencapai 12,7 juta (27%)
dan tahun 2008 APK-PAUD telah mencapai 15,1 juta (50,6%) serta
diharapkan pada tahun 2009 akan mencapai 15,3 juta (53,6%).2
Melihat kondisi demikian, Pemerintah telah menetapkan rencana 5
(lima) tahun ke depan APK-PAUD diharapkan mencapai 21,3 juta (72,6%).
Secara bertahap harapan untuk mencapai jumlah APK-PAUD tersebut
terlihat pada tabel berikut ini.
1
KOMPAS, 18 Februari 2000.
(http://pendidikananak2.blogspot.com/pendidikan-anak-usia-dinipaud.html),
2
TARGET PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI INDONESIA TAHUN
2010 – 2014
Tahun Pencapaian Target
Target /
Sasaran
2010
2011
2012
2013
2014
Estimasi
Jumlah Anak
Usia 0-6 th
30,18 juta
30,2 Juta 30,3 juta
30,35 Juta
30,4 Juta
Target Sasaran
PAUD (Formal
& Nonformal)
17,4 Juta
(57,8%)
18,7 Juta 19,9 juta
(61,8%) (65,7%)
21 Juta
(69,3%)
22,1 Juta
(72,6%)
Target PAUD
Formal
5,8 Juta
(19,3%)
5,85 Juta
(19,37%)
5,9 Juta 5,95 Juta
(19,5%) (19,6%)
Target PAUD
Nonformal
11,6 Juta
(38,5%)
12,85 Juta 14 Juta 15,05 Juta
(42,43%) (46,2%) (49,7%)
6 Juta (19,7%)
16,1 Juta
(52,9%)
PERAN GEREJA: IN PRAXIS
Pada esensinya, Eka Darmaputera mengatakan bahwa seluruh
kegiatan Gereja mengandung dimensi Pendidikan Agama Kristen (PAK). 3
Pengembangan seluruh potensi jemaat, terlebih pada anak usia dini
merupakan fondasi penting bagi Gereja. Hal ini mengingatkan akan
gagasan bahwa Gereja mengerjakan 2 (dua) fungsi, yakni: fungsi
‘Pendidikan’ dan fungsi ‘Pekabaran injil.’ Fungsi pertama, sebagai
pertumbuhan ke dalam, berkenaan dengan kewajiban Gereja mendidik
umat-Nya (Ef 4:13-14) dan fungsi ke dua, sebagai pertumbuhan keluar
berkenan dengan tanggungjawabnya dalam pemasyuran Injil ke seluruh
3
Eka Darmaputera (1989), 115.
dunia (Mat 28:19-20).4 Namun, menurut Robert R Boehlke atau Wismoadi
dalam tugasnya Gereja tidak memberi tempat yang penting bagi pendidikan
serta pengalaman belajar secara wajar untuk seluruh anggota Gereja,
terlebih pada peran sentral seorang Pendeta diharapkan agar dapat
meningkatkan pelayanan paedagogisnya. 5 Eli Tanya mengatakan bahwa
dalam mengelola pendidikannya, Gereja telah menetapkan struktur
organisasi dengan membentuk semacam badan atau komisi yang
menangani pelayanan anak, tanpa menyadari sungguh-sungguh tentang
siapa yang sesungguhnya paling berperan dan bertanggung jawab penuh
untuk masa depan anak.6
Kerancuan praksis terhadap jenis pelayanan serta siapa yang
bertanggungjawab secara paedagogis terhadap anak di dalam jemaat, salah
satunya ialah tidak adanya keterpaduan antar kegiatan, termasuk program
pendidikan di mana terdapat tumpang tindih penyelenggaraan antar badan
atau komisi yang ada di dalam jemaat. Masing-masing kegiatan Gereja
seakan-akan terlepas satu dengan yang lainnya, serta tidak adanya badan
khusus yang mengelola dan memiliki kapasitas yang jelas terhadap seluruh
program pendidikan di jemaat. Pengembangan dan arah kebijakasanaan
dalam pengangkatan pengurus atau pemimpin dan guru-guru Sekolah
Minggu, penentuan jenis prioritas dan arah kebutuhan anggaran belanja
untuk PAK, maupun perencanaan PAK dalam Gereja, dan sebagainya,
belum sepenuhnya dipahami secara memadai layaknya suatu kegiatan PAK
yang ideal, serta terencana dari Gereja selaku penanggungjawab penuh
pendidikan iman kristiani, baik untuk pribadi maupun kelompok. 7
Termasuk dalam merespon isu-isu terbaru di luar institusi Gereja, seperti
DEPDIKNAS. Misalnya, mengenai arah pembelajaran anak sebagaimana
yang ditetapkan dalam acuan pembelajaran PAUD (lih. Direktorat
Pendidikan Anak Dini, Usia, Menu Pembelajaran Generik, Dirjen
Pendidikan dan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional, 2002).
Sehingga, selaku organisasi masyarakat keagamaan, Gereja diharapkan
serius serta tanggap terhadap programnya dan upaya sosialisasi PAUD di
internal jemaat melalui peran orangtua sebagai penanggungjawab
lingkungan ‘pendidikan’ yang terdekat dan pertama kali, baik aspek fisik,
intelektual, moral, emosi, dan kehidupan sosial anak (bnd. Ul 6: 6-9;
4
Lih. Eli Tanya, Gereja dan Pendidikan Agama Kristen (Cianjur: Penerbit
STTC, 2006), 16.
5
Ibid., 16, 84.
6
Ibid., 78, 82-83, 88.
7
Lih. Ibid., 88.
20-25). Di dalam keluargalah, seorang anak memperoleh pengalaman dan
pengetahuannya sejak usia dini.
PERAN KELUARGA: IN REALITY
Eksekutor utama terhadap kebijakan PAUD ada di tengah keluarga.
Gautama mengatakan bahwa “sebenarnya menjadi tanggungjawab orangtua
dan masyarakat serta tidak memerlukan campur tangan pemerintah.” 8 Sejak
usia lahir sampai dengan memasuki pendidikan dasar, bagi seorang anak
merupakan masa keemasan sekaligus masa kritis bagi pencapaian tumbuh
kembang yang optimal. Pembentukan demikian berlangsung di dalam
keluarga.
Menurut Torres ada beberapa elemen dalam pendidikan awal anak
yang perlu mendapat perhatian. Pertama, kebutuhan anak akan pentingnya
pengenalan diri melalui proses interaksi sosial dengan sesama; Kedua,
kebutuhan anak dalam pembentukan identitas melalui kehadiran dalam
kelompok; Ketiga, kebutuhan anak akan norma-norma serta nilai-nilai
hidup dalam keluarga melalui kegiatan praktis kehidupan sehari-hari dalam
ritme yang jelas dan teratur; Keempat, kebutuhan anak bagi pengembangan
jati diri. Itulah sebagian tugas para orangtua, agar ke depannya anak
menjadi matang dan mandiri.9
Para orangtua dapat mewujud-nyatakan masa usia emas (GoldenAge) seorang anak agar efektif dan maksimal. Kepada para orangtua
diharapkan cakap dan mampu mengambil peran di setiap pertimbangan atau
putusannya terkait dengan masalah kebutuhan anak. Kemampuan dan
kemahiran para orangtua ketika mengambil keputusan, menyiratkan adanya
kepedulian terhadap tumbuh kembang anak, baik fisik, intelektual,
kehidupan emosi maupun psikososialnya. Perhatian utama orangtua yang
terpenting adalah kebutuhan asupan makanan dan minuman, perbaikan gizi,
perlindungan kesehatan serta perkembangan psikososial anak, serta
kebutuhan penunjang lainnya, seperti: pemilihan sarana belajar dan tempat
bermain menjadi tanggungjawab kepedulian para orangtua terhadap PAUD.
8
Kompas, 29 April 2002.
Jaime Torres, Seminar Presentation (Jakarta. Open-House TK/SD PSKD
Montessori, 1996).
9
Kepedulian Orangtua Terhadap PAUD: Seperti Apakah?
Upaya optimal dari para orangtua di masa Golden-Age akan
menentukan terbentuknya keterampilan dasar serta tugas perkembangan
lebih lanjut pada seorang anak. Periode ini merupakan masa yang tepat
untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan pada kemampuan fisik,
bahasa, sosial ekonomi, konsep diri, seni, moral serta nilai-nilai agama.
Sehingga, upaya untuk mengembangkan seluruh potensi anak di usia dini
membutuhkan perhatian serius dari para orangtua maupun pendidik dalam
mengawal berlangsungnya proses tumbuh kembang anak. Montessori
menyebutnya bahwa pada periode masa usia emas merupakan SensitivePeriods, bagi tumbuh kembang secara fisik, intelegensia maupun daya
kreatif pada diri anak.10
Terkait dengan kepeduliaan orangtua terhadap PAUD ini, maka akan
dibahas lebih jauh mengenai pengertian keluarga, fungsi keluarga,
pengertian kepedulian, PAUD dalam keluarga, faktor-faktor yang
mempengaruhi PAUD dalam keluarga, serta peran serta orangtua dalam
PAUD.
Pengertiaan Keluarga
Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, lembaga keluarga dibentuk
oleh Allah (Kej 2:22-24; Mat 19:5; bnd. Ef 5: 22-33). Alkitab menjelaskan
bahwa pada awal penciptaan, Allah menjadikan manusia: laki-laki dan
perempuan (Mrk 10:6). Sebagai ciptaan termulia, “manusia” dijadikannya
serupa dengan gambarNya, yang kemudian memberkatinya agar bertambah
banyak serta memberi kuasa atas semua yang diciptakan (Kej 1:26-28).
Sehingga, peran lembaga keluarga menjadi sangat sentral bagi terbentuknya
masyarakat yang bertanggungjawab.
Dalam Undang-Undang (UU) No. 10 tahun 1992 dan PP no. 27
tahun 1994 menyebutkan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam
masyarakat yang terdiri dari suami istri atau suami istri dan anaknya, atau
ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Lebih lanjut, Sopater
menjelaskan bahwa anggota keluarga terdiri dari bapak dan/atau ibu dan
10
Dalam A.D. Wolf, A Parent’s Guide to Montessori Classroom (PennsylvaniaMont: Academy, 1980), 5; Maria Montessori, To Educate The Human Potential (Madras:
Kalakshetra, 1973); E.G. Hainstock, Metode Pengajaran Montessori untuk Anak Prasekolah (Jakarta: Pustaka Delapratasa, 1999)
juga anak yang menjadi tanggungannya.11 Secara lengkapnya, Burgess dan
Locke menguraikan pengertiannya tentang keluarga, demikian: Keluarga
merupakan kesatuan dari jumlah orang yang saling berinteraksi dan
berkomunikasi dalam rangka menjalankan peranan sosial sebagai suami,
istri, ibu, bapak, anak-anak, anak perempuan, saudara laki-laki dan saudara
perempuan.12
Melalui beberapa uraian di atas, maka dapat dirangkum bahwa
keluarga adalah suatu ikatan antara laki-laki dan perempuan dan/atau juga
beserta anak yang menjadi tanggungannya, agar berfungsi sebagai lembaga
sosial dari unit terkecil masyarakat, dengan adanya keterlibatan dari para
anggota di dalamnya, yakni selaku warga masyarakat yang bertanggung
jawab.
Fungsi Keluarga
Pengertian yang benar tentang keluarga merupakan hal yang sangat
penting dan mendasar dalam mempersiapkan masa depan anak.
Pemahaman orangtua khususnya tentang bagaimana fungsi keluarga
menjadi penentu arah sekaligus juga maksud dan tujuan pendidikan anak
usia dini agar terlaksana dengan baik. Tidaklah berlebihan jika kemudian,
tanggungjawab pendidikan awal anak ini sangat bergantung sepenuhnya
kepada keluarga. Menurut PP no. 21 tahun 1994 disebutkan fungsi
keluarga. Fungsi-fungsi yang dimaksud, adalah: a) fungsi keagamaan, b)
fungsi sosial budaya, c) fungsi cinta kasih, d) fungsi melindungi, e) fungsi
reproduksi, f) fungsi sosial daan pendidikan, g) fungsi ekonomi, dan h)
fungsi pembinaan lingkungan..
Godde menjelaskan bahwa keluarga sebagai lembaga sosial, juga
diberi tanggungjawab untuk mengubah warga yang dihasilkannya menjadi
manusia angggota masyarakat.13 Sehingga, bila dilihat dari perannya
sebagai lembaga sosial, fungsi keluarga di tengah masyarakat merupakan
salah satu bentuk tanggungjawab bersama serta saling bergantung dan
membutuhkan satu dengan lainnya selaku sesama anggota masyarakat.
11
Soelarso Sopater, Peranan dan Tanggungjawab Keluarga dalam Pendidikan
Anak (Jakarta: Badan pertimbangan Pendidikan Nasional, 1996), 1.
12
Dalam Tapi Omas Ihromi (Peny.), Para Ibu yang Berperan Tunggal dan yang
Berperan Ganda (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakulata Ekonomi UI, 1990), 5.
13
Godde dalam Soetarlinah Sukadji, Keluarga dan Keberhasilan Pendidikan
(Jakarta: Urusan Produksi dan Distribusi Alat Tes Fakultas Psikologi UI, 1998), 6.
Keluarga adalah kelompok kecil masyarakat manusia. Sebagai
anggota masyarakat, keluarga membutuhkan dukungan dari masyarakat
yang luas dan banyak bergantung kepada masyarakat. 14
Sebagai agen perubahan sosial, lembaga keluarga terutama berperan
dalam penanaman nial-nilai hidup anak melalui adat istiadat, kebiasaan
maupun aturan yang berlaku di masyarakat. Terkait dengan tugas ini,
Soetarlinah Sukadji menjelaskan 4 (empat) hal, ketika keluarga
menjalankan fungsinya, yaitu: (1) Melahirkan warga baru; (2) Memelihara
kebutuhan fisik anggota keluarga; (3) Mempersiapkan anak untuk berperan
sebagai warga masyarakat; dan (4) Melakukan kontrol sosial.15
Melalui pola tertentu serta praktik nyata aturan umum yang berlaku
di luar rumah, kepada seorang anak diharapkan tidak akan mengalami
benturan yang berarti terhadap nilai-nilai yang telah diikuti di dalam rumah.
Murray mengatakan bahwa keluarga berfungsi meletakkan dasar
pendidikan dan juga meletakkan kerangka berfikir yang dinamis kepada
seorang anak.16 Proses yang demikian ini, sesungguhnya telah berlangsung
lama dan telah ada sepanjang usia peradaban manusia. Lebih terperinci lagi,
Borgadus menjelaskan prosesnya bahwa melalui orangtua, anak menerima
proses saat anak mulai belajar segala tata cara, aturan sosial, kepercayaan,
kebiasaan, norma sosial, norma kesusilaan, dan lain-lain yang berlaku di
masyarakat.17
Dari uraian di atas, dipahami bahwa ketika seorang anak hadir di
tengah keluarga, tanggungjawab dan kewajiban para orangtua adalah
memberikan fungsinya secara maksimal, seperti: perlindungan, rasa aman,
dan tenteram di masa tumbuh kembang anak sebagai bentuk kepedulian
orangtua terhadap PAUD.
Pengertian Kepedulian Orangtua
Istilah kepedulian berasal dari akar kata peduli. Menurut
Poerwadarminta, akar kata peduli mengandung arti perhatian. Sehingga
kepedulian berarti suatu sikap seseorang atau kelompok terhadap sesuatu,
14
Godde dalam Soetarlinah Sukadji, Keluarga..., 5.
Ibid.
16
Murray dalam A. Muri Yunus, Pengantar Ilmu Pendidikan (Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1986), 26.
17
Titi H. Roebyantho dalam Danny I Yatim dan Irwanto, Kepribadian,
Keluarga, dan Narkoba (Jakarta: Penerbit Arcan, 1993), 86.
15
yang di dalamnya terdapat faktor atau unsur perhatian. 18 Bagi Sumadi
Suryadibrata perhatian menunjukkan pada suatu bentuk pemusatan tenaga
psikis yang tertuju kepada suatu obyek,19 sedangkan Totok Santoso
mengatakannya sebagai kegiatan dalam bentuk proses persepsi yang
melibatkan pengalaman seseorang secara sadar pada suatu obyek tertentu. 20
Dari istilah perhatian ini yang lebih menekankan pada kegiatan aspek
psikisnya ketimbang pada aspek fisik, maka pengertian kepedulian lebih
pada sikap seseorang atau kelompok yang bukan hanya menunjukkan
aktivitas psikis semata, tetapi juga pada melibatkan aktivitas fisiknya.
Akibatnya, kepedulian sebagai bentuk dan wujud perhatian yang dilakukan
secara sadar dengan obyek yang jelas, akan terlihat dalam ungkapanungkapan dan/atau tindakan-tindakan yang konkrit dari orang-orang yang
melakukannya. Sebagai orangtua, tindakan yang demikian ini langsung
terlihat baik fisik maupun psikis melalui tindakan sadar dengan cara
memperhatikan setiap kebutuhan anak di dalam keluarga. Melalui aksesnya
di dalam keluarga, terbuka lebar kesempatan untuk mengembangkan secara
maksimal segenap potensi anak melalui peran lingkungan yang baik bagi
masa tumbuh kembangnya.
Dengan demikian kepedulian adalah kecenderungan bertindak, yang
dilakukan secara sadar oleh para orangtua terhadap pendidikan awal seiring
dengan bertambahnya usia di masa tumbuh kembang, secara fisik,
intelektual, emosi dan psikososial anak.
PAUD dalam Lingkungan Keluarga
Secara garis besar, seorang anak dibentuk dan dibesarkan di
lingkungan yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya, yakni: (1)
lingkungan keluarga; (2) Lingkungan sekolah; dan (3) lingkungan
masyarakat.21 Melalui ketiga lingkungan tersebut, seorang anak belajar
berbagai tanggungjawab, keterampilan dan juga dalam hal kemandirian.
Kegagalan maupun keberhasilan seorang anak di kemudian hari
18
W.J.S. Perwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka
1976), 722.
19
20
Sumadi Suryadibrata, (1984), 14.
Totok Santoso, Layanan Bimbingan Belajar di Sekolah Menengah (Salatiga:
1988), 15.
21
A.A. Schneiders, Personal Adjustment and Mental Health (New York: Holt,
Rinehart, and Wilson, 1988), 151.
sepenuhnya ada di pundak para orangtua. Siti Hidayati Amal mengatakan
bahwa berkurangnya sumber pengetahuan anak, persoalannya terletak pada
keluarga.22 Sehingga, kebutuhan anak dalam keluarga menjadi bagian yang
utama bagi setiap target dan kegiatan yang diupayakan pemerintah melalui
program PAUD.
Program PAUD
Tingkat kecerdasan anak, berlangsung antara usia 0 – 6 tahun.
Sebagai salah satu bentuk program PAUD pada jalur pendidikan luar
sekolah dilaksanakan dalam bentuk kelompok bermain, penitipan anak, dan
bentuk layanan pendidikan lainnya, seperti: dukungan pelayanan
pendidikan bagi anak dan orangtua/ibu yang mengikuti kegiatan pada
lembaga Bina Keluarga Balita (BKB), Posyandu, Sasana Anak, Taman
Balita dan lainnya.23 Lembaga keluarga merupakan salah satu penunjang
bagi terlaksananya PAUD. Apabila, pemberian stimulasi atau rangsangan
kepada anak di dalam keluarga sangat sedikit atau bahkan sama sekali
tidak memadai, dan ini dialami di masa tumbuh kembang anak, maka akan
dapat mengakibatkan hilangnya peluang dan masa keemasan anak untuk
berkembang secara maksimal. Oleh karena pemenuhan perkembangan yang
maksimal pada usia dini ini menjadi prasyarat utama agar seorang anak
tidak mengalami kesulitan ketika anak mengikuti jenjang lebih lanjut pada
pendidikan formal di Sekolah Dasar. Kegiatan yang demikian ini hanya
dapat dilakukan oleh para orangtua.
Menurut Fasli Jalal, dalam misi program PAUD terdapat kegiatan
perawataan kesehatan, pemberian gizi yang memadai dan juga
pengembangan psikososial anak.24 Pengenalan terhadap periode usia anak
ini sangat dibutuhkan oleh para orangtua. Pada masa tumbuh kembang di
usia dini, seorang anak akan mengalami tahapan perkembangan dalam
kemampuan dasar, perkembangan emosi, dan kemandirian, serta pada
aspek psikomotoriknya.
22
Siti Hidayati Amal dalam Ihromi (Peny.), Para Ibu yang Berperan..., 51.
Fasli Jalal, Kebijakan Mendesak PLSP Otonomi Daerah, Desentralisasi
Pendidikan. Warta Plus/vol.20/No.2/Desember 2001.
24
Jalal, Kebijakan Mendesak ...
23
Periode Usia 0 – 6 Tahun sebagai Sensitive-Period
Masa ini disebut Sensitive-Period. Pada periode ini seorang anak
membutuhkan perkembangan, seperti: koordinasi motorik, bahasa, tata
tertib, ketajaman panca indera, tanggungjawab sosial, sopan santun, serta
perkembangan dalam memahami perintah (verbal) atau ketika mempelajari
gerakan pada anggota tubuh (fisik).25 Montessori membaginya ke dalam 2
(dua) tahapan perkembangan, yakni: perkembangan di tahap usia 0-3 tahun
dan perkembangan di tahap usia 3-6 tahun.26
Tahapan Unconcious Absorbent-Mind (Usia 0-3 Tahun)
Ciri penting dalam tahapan ini unknowing, unwilling and effortless
fashion,adalah pembelajaran anak yang terjadi melalui penyerapan oleh
pikiran yang berlangsung oleh karena: rasa keingin-tahuan, kemauan atau
keinginan terhadap sesuatu “tanpa disadari.” Proses ini ditandai, oleh:
Perkembangan Pada Organ Tubuh, sebagian pertumbuhan
anggota tubuh terjadi di usia 2 (dua) tahun dengan terjadinya pertambahan
pada berat badan.
Perkembangan Koordinasi Motorik, seorang anak melakukan
orientasi sensorial pada obyek tertentu, kemudian menyentuhnya dengan
cara menggunakan mulut, tangan, serta kemampuan dalam penyesuaian
keseimbangan sampai pada taraf keadaan yang terkontrol sempurna
(Balance and Equilibrium).
Pertumbuhan Gigi, perkembangan ini dibarengi dengan
berfungsinya sistem pencernaan secara sempurna, mulai dari yang paling
sederhana, yakni dalam pola meyusui sampai dengan mengkonsumsi jenis
makanan yang berbeda dan beragam.
Perkembangan Visual dan Auditori.
Perkembangan Bahasa, pada tahapan ini, seorang anak
memulainya dari kondisi mendengar sampai berbicara dalam kalimat utuh.
Aturan atau Tata Tertib, pada awalnya, pengalaman anak hanya
sesaat dan pada hal-hal tertentu saja (temporal and special). Hal ini sangat
bergantung pada kelekatan yang kuat antara si anak dengan suasana rumah
dalam keluarga. Pengalaman demikian menciptakan pola penyesuaian diri
25
26
1965).
Torres, Seminar...
Maria Montessori, The Four Plane of Education (Newport: St. Leo League,
anak terhadap lingkungan sosialnya di kemudian hari. Seorang anak
memulainya dengan melakukan kegiatan eksplorasi melalui kemampuan
sensorialnya yang tajam.
Tahapan Conscious Absorbent-Mind (Usia 3-6 Tahun)
Ciri penting dalam tahapan ini, adalah pembelajaran anak yang
terjadi melalui penyerapan oleh pikiran yang berlangsung “dengan
disadari.”
Pada tahapan ini, seorang anak sudah menyadari atau mempunyai
alasan untuk melakukannya. Kesadaran anak dalam melakukan sesuatu
kegiatan adalah karena alasan suka dan juga anak menikmatinya (by
pleasure and love). Pada tahapan ini, seorang anak juga memperlihatkan
apa dan siapa dirinya dan juga kemandiriannya. Dalam prosesnya, kegiatan
ini ditandai melalui:
Pertama, Pertumbuhan fisik yang terus berkembang. Sekalipun
pertumbuhan ini berlangsung perlahan, namun cepat berlangsung pada usia
4 (empat) tahun.
Kedua, Kemajuan dalam perkembangan kontrol motorik. Pada
tahapan ini, keseimbangan gerakan anggota tubuh anak mencapai titik
kelenturan tertentu.
Ketiga, Perkembangan dalam hal bersosialisasi. Dalam pencapaian
ini, seorang anak telah siap untuk bermain dan bersosialisasi di lingkungan
luar rumah.
Keempat, Perkembangan yang sudah berpikir ke arah abstrak. Pada
tahap ini, misalnya seorang anak dapat memahami ide tentang adanya
“kursi” tanpa melihat keberadaan bendanya atau obyeknya secara langsung.
Pada tahapan ini anak juga dapat memahami dalam bentuk berpikir secara
generalis. Di dalam kehidupan nyata sehari-hari, seorang anak sudah
memahami suatu peristiwa yang terjadi, misalnya bila seseorang itu pergi,
seseorang itu juga pasti akan kembali.
Kelima, Perkembangan dalam hal kemampuan tulis menulis dan
membaca. Kemampuan demikian ini, seiring dengan perkembangan pada
keterampilan motorik halus ketika anak akan menggunakan alat tulis.
Dengan demikian, jelas bahwa keluarga merupakan lingkungan
belajar yang terpenting bagi anak pada masa perkembangannya, baik fisik,
intelektual, emosi, maupun psikososial anak seiring dengan faktor-faktor
yang mempengaruhinya.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi PAUD
Agar dapat tumbuh kembang secara maksimal, maka seorang anak
membutuhkan di antaranya adalah pengalaman hidup praktis sehari-hari
(practical Life). Seorang anak menerima pengetahuan dan pendidikan
awalnya untuk pertama kali adalah di dalam keluarga. Montessori (18701952) mengatakan bahwa di masa tahun-tahun awal, seorang anak
mengalami periode atau masa Absorbent-Mind, yakni: kemampuan dalam
menyerap berbagai informasi sebanyak-banyaknya sesuai dengan
kebutuhan yang di rasa anak saat itu. Bagi seorang anak agar tumbuh
kembangnya berlangsung secara maksimal, membutuhkan sarana dan
prasarana pendukung pendidikan yang tepat di dalam keluarga. Siti
Hidayati Amal mengatakan bahwa berkurangnya sumber pengetahuan bagi
anak, persoalannya terletak pada keluarga.27 Menurut Sastrapratedja proses
yang ditempuh oleh seorang anak, mulai dari: a) memilih (segi kognitif), b)
menghargai (segi afektif), c) bertindak (segi psiko-motor), d) membentuk
pola, e) menjadi prinsip, pegangan atau norma hidup bagi diri anak.28
Aktivitas pembelajaran anak di dalam keluarga juga membutuhkan
proses sosialisasi.29 Salah satu nilai tambah dan penunjang penting untuk
meningkatkan kemampuan sosialisasi anak adalah peran komunikasi antara
orangtua dan anak. Lubis mengingatkan hal terpenting dalam
berkomunikasi dengan anak, bahwa memberitahu tangis dan tawa sama
pentingnya dan sama dapat diterima.30 Lubis mengatakan bahwa bagi anak
yang sedang tumbuh kembang, ia merasa enak dan lega bila ia merasa
kemarahaan atau kesedihannya dapat diterima orangtua.31
Selanjutnya, dampak dari kemampuan bersosialisasi ini, menurut
Schneiders akan terlihat bagaimana seorang anak: a) memiliki hubungan
yang akrab dengan/di antara anggota keluarga, b) mau menerima otoritas
orangtua, c) mampu bertanggungjawab dan menerima aturan, d) mampu
bekerja kelompok atau individual, e) menghargai kesamaan derajat dan
kemandirian.32 Sehingga, menurutnya, unsur-unsur pendukung dalam
27
Siti Hidayati Amal dalam Ihromi (Peny.), Para Ibu yang Berperan..., 51.
Sastrapratedja dalam E.M.K. Kaswardi (Peny.), Pendidikan Nilai Memasuki
Tahun 2000 (Jakarta, Grasindo, 1999), 4.
29
Soerjono Soekanto, Teori Sosiologi. Cet. II. (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984),
140.
30
Lubis dalam KOMPAS, 18 Juli 2002.
31
Lubis dalam KOMPAS, 18 Juli 2002.
32
Schneiders, Personal Adjustment and..., 452-453.
28
keluarga yang dimaksud adalah: a) faktor fisiologis, b) faktor kematangan,
c) proses perkembangan, d) kondisi psikologis, dan juga e) faktor
lingkungan, seperti: kebiasan-kebiasaan, adaptasi, adat istiadat dan juga
aturan dalam kehidupan keagamaan.33 Para ahli lainnya, Maliphant dan
Wright mengatakan bahwa faktor-faktor tersebut, adalah: a) kesehatan fisik,
b) jenis makanan yang dikonsumsi (Nutrient), c) bawaan genetik (Genetic
Endowment), d) tekanan-tekanan emosi, e) pengaruh konflik dalam
keluarga.34 Sementara itu, A Mudzakir dan Joko Sutrisno menyebutkan
ketergantungan pelaksanaan PAUD pada: a) keadaan ekonomi keluarga, b)
tingkat kemampuan orangtua dalam merawat anak, c) tingkat pendidikan
orangtua, d) suasana keluarga, e) cara mendidik anak, dan e) hubungan
antara orangtua dengan anak.35
Dari uraian di atas, maka dapat dirangkum beberapa faktor yang
mempengaruhi PAUD di dalam keluarga, yaitu: a) latar belakang
falsafah/nilai-nilai yang dianut dalam kehidupan orangtua, b) bentuk kasih
sayang antara orangtua dan anak, c) cara berkomunikasi antara orangtua
dan anak, d) wawasan pendidikan orangtua, e) keadaan sosial dan ekonomi
keluarga, f) terpenuhinya kebutuhan anak akan rasa aman dan tenteram.
Peranserta Orangtua dalam PAUD
Seorang anak memiliki waktu yang panjang untuk beraktivitas dan
berinteraksi di tengah keluarga. Oleh karenanya, urusan pendidikan awal
anak tidak sepenuhnya diserahkan sebagai tanggungjawab pemerintah atau
lembaga pendidikan formal seperti sekolah. A Samana mengatakan bahwa
orangtua mempunyai peran dan hak mendidik yang paling asasi (bersifat
kodrati, pertama dan utama).36 Fasli Jalal mengemukakan bahwa berkaitan
dengan aktivitas PAUD dalam keluarga, tugas dan tanggungjawab dari para
orangtua, mencakup 3 (tiga) hal penting, yaitu: a) perbaikan gizi; b)
perlindungan kesehatan; c) stimulasi psikososial. 37 Diharapkan bahwa
perkembangan di aspek fisik, intelektual, dan emosi serta psikososial anak
33
Schneiders, Personal Adjustment and..., 122.
Maliphant dan Wright dalam Harre Room and Roger Lamb, The Dictionary of
Developmental and Educational Psychology (Massachusetts: MIT Press, 1986), 206-208.
35
A. Mudzakir dan Joko Sutrisno, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineksa Cipta,
1995), 161.
36
A. Samana, Sistem Pengajaran (Yogyakarta: Kanisius, 1991), 11.
37
Fasli Jalal dalam KOMPAS, 18 Februari 2002.
34
sudah berlangsung di dalam keluarga. Schneiders menjelaskan bahwa ada
beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para orangtua untuk tumbuh
kembang anak menjadi maksimal.38 Hal-hal yang dimaksudkan Schneiders
yaitu: a) ‘skill anak’, b) pola belajar, dan c) pola respon anak dalam
mengatasi konflik.
Hal-hal berikut ini yang harus diperhatikan oleh para orangtua bagi
tumbuh kembang anak yang dimaksudkan beserta dengan uraiannya.
Skill Anak
Bentuk keterampilan dasar yang diisyaratkan bagi kesiapan anak
untuk memasuki sekolah formal adalah pada kemampuan dasar membaca,
menulis, dan berhitung. Dalam menunjang proses pembentukan skill anak
dibutuhkan perhatian para orangtua, berupa gejala yang positif maupun hal
yang negatif, seperti: kesehatan fisik serta jenis makanan yang dikonsumsi
anak, kegiatannya dimulai dari pemeriksaan rutin ke dokter, tambahan
asupan gizi, sampai kepada pemberian vitamin dan kebutuhan penting
lainnya. Menurut Khudori, masalah gizi yang parah pada usia muda akan
menghambat laju tumbuh kembang fisik anak, perkembangan kecerdasan,
dan penyakit generatif.39 Dalam pertumbuhan fisik, misalnya seorang anak
membutuhkan dukungan serta perhatian pada perbaikan gizi dengan asupan
nutrisi yang memadai sesuai dengan bertambahnya usia dan tingkat
kebutuhan sesuai usia perkembangannya. Menurut Faiqoh, ketidakpastian
anak memasuki pendidikan dasar, antara lain disebabkan kurangnya
intervensi pendidikan, kesehatan, dan gizi pada saat anak usia dini.89
Apalagi, pada saat pemenuhan kebutuhan tumbuh kembangnya, seorang
anak sedang mengalami proses pertumbuhan otak atau kemampuan
kecerdasan. Gautama menyatakan bahwa tanpa keseimbangan pelayanan
kesehatan dan gizi anak, sulit diharapkan keberhasilannya. Apalagi
perkembangan otak anak sebagian besar terjadi pada usia dini. 44 Sehingga,
dapat dipahami bahwa sebagai penunjang untuk pembentukan ‘Skill Anak’
dibutuhkan peran para orangtua, mulai dari menyiapkan kebutuhankebutuhan vital anak, seperti: perhatian terhadap sarana penunjang bagi
38
Schneiders, Personal Adjustment and..., 64-67.
Khudori, KOMPAS, 25 Agustus 2003.
89
Faiqoh, Strategi Peningkatan Kualitas Anak
Plus/Vol.20/No.2/Desember 2001.
44
Gautama, KOMPAS, 29 April 2002.
39
Dini
Usia.
Warta
kesehatan fisik anak; kemudian, pemenuhan kebutuhan gizi anak melalui
makan dan minuman yang sehat, serta kebutuhan vitamin, sampai kepada
pemenuhan kebutuhan asupan-asupan penunjang lainnya.
Pola Belajar Anak
Pemberian stimulasi sosial terhadap anak membutuhkan waktu,
konsistensi serta keteraturan. Pembiasaan belajar menjadi Daily Habit yang
maksimal dipraktikkan anak di tengah keluarga. Hal-hal yang terkait
dengan hubungan orangtua dan anak aturan yang diterapkan di dalam
keluarga. Hurlock menjelaskan bahwa hubungan anak dalam keluarga
berdampak pada sikap anak terhadap sekolah, penyesuaian diri, pola peran,
metode pelatihan terhadap anak, peran seks, cita-cita dan prestasi anak,
kreativitas, serta kepribadian anak.45
Para orangtua memiliki peran yang penting ketika memberikan
dukungan maupun rangsangan bagi tumbuh kembang anak, agar mencapai
tingkat kesiapan yang memadai dalam tugas perkembangan selanjutnya.
Berkaitan dengan upaya orangtua terhadap stimulasi, sarana dan prasarana
terhadap tumbuh kembangnya seorang anak, Piaget menjelaskan bahwa
tugas para orangtua atau pendidik bukan memberi pengetahuan, akan tetapi
tugasnya ialah mencarikan, menempatkan, memberikan alat-alat, atau cara
cara yang menimbulkan minat, agar anak terangsang untuk memecahkan
atau mengatasi persoalannya sendiri.46
Ketika seorang anak memasuki jenjang pendidikan formal,
Greeberg mengatakan bahwa keterlibatan orangtua di sekolah meringankan
guru dalam membina kepercayaan diri anak, mengurangi masalah disiplin
anak, dan meningkatkan motivasi anak.47 Dalam menciptakan antusiasme
belajar, Gruinsburg dan Opper mengingatkan bahwa sesungguhnya,
orangtua atau pendidik itu belajar dari anak dan diarahkan oleh anak-anak.
Sehingga, perlu kepekaan dan keluwesan dari pihak orangtua atau pendidik
agar kebutuhan anak dan rasa ingin tahu pada diri anak dapat tersalur
45
Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Penerbit Erlangga,
1993), 170-173.
46
Piaget dalam Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1997), 162.
47
Greeberg, 1989; Faiqoh, Strategi Peningkatan Kualitas Anak Dini Usia. Warta
Plus. Vol. 20/No.2/Desember 2001.
dengan baik.48 Agar pelaksanaan program PAUD di tengah keluarga
berjalan baik, Blom menyebutkan beberapa peran orangtua, yaitu: a)
memberikan motivasi berprestasi, b) menstimulasi pengembangan bahasa,
c) menciptakan kesempatan anak dapat belajar di rumah maupun di luar
rumah.49
Dari uraian di atas, diperoleh gambaran bahwa terbentuknya pola
belajar anak, agar tumbuh kembang menjadi maksimal, dibutuhkan
partisipasi nyata para orangtua, mulai dari pemberian rangsangan, fasilitas
sarana dan prasarana belajar seperti alat bermain anak, sampai kepada
kebutuhan akan rasa keingin-tahuan melalui antusiasme berbagai aktivitas
pembiasaan belajar anak agar menjadi Daily Habit.
Respon Anak dalam Mengatasi Konflik
Seorang anak perlu belajar berinteraksi dengan lingkungan di
sekitarnya. Hal ini dilakukan untuk ajang praktik berbagai keterampilan
yang pernah dilakukan dan yang diperolehnya dari dalam lingkungan
pertamanya, yakni lingkungan keluarga. Tujuannya adalah agar anak
mempunyai pengalaman belajar, terutama dengan orang lain ketika
memperluas lingkungan belajarnya. Mengenai kegiatan ini, Bernard
menjelaskan lebih jauh, modal dasar dalam beradaptasi di kehidupan sosial
adalah sikap menolong, pengertian, simpati, kemandirian, perhatian yang
lebih, kemampuan bercakap-cakap, dan penampilan kepribadian yang
menarik.50
Agar terampil dan terasah di kehidupan sosialnya yang baru,
seorang anak membutuhkan peran pendamping yang tepat dari para
orangtua; terutama perannya selaku ayah maupun ibu. Pada titik ini seorang
anak dapat mencurahkan isi hati kepada orangtua, terutama sekali ketika
menghadapi konflik. Menurut Titi H Roebyantho bahwa peran seorang
ayah, di antaranya: a) sumber kekuatan dasar identifikasi, b) penghubung
dunia luar, c) pelindung terhadap ancaman, d) pendidikan, disiplin,
tanggungjawab, dan lain-lain.51 Sedangkan, peran seorang ibu, diantaranya:
a) memberi kasih sayang, b) tempat mencurahkan hati, c) mengatur rumah
48
Dalam Gunarsa, Psikologi..., 163.
Wolf dalam Gage dan Barliner, 1984: 116.
50
Bernard dalam Schneiders, Personal Adjustment and..., 455.
51
Titi H Roebyantho dalam Danny I Yatim dan Irwanto, Kepribadian, Keluarga,
dan Narkoba (Jakarta: Penerbit Arcan, 1993), 86.
49
tangga. Pada umumnya, respon terhadap peran para orangtua ini,
diungkapkan melalui beberapa pengalaman yang dialami anak, seperti:
pelukan, ciuman, kata-kata sayang dan perasaan senang lainnya secara
langsung dan nyata.52 Melalui sarana yang dibangun di dalam keluarga ini,
seorang anak akan mempelajari pelbagai aturan atau norma yang berlaku,
baik yang ada di dalam keluarga maupun yang ada di dalam masyarakat.
Seorang anak mempelajari kaidah-kaidah yang berlaku di dalam
masyarakat, mengenal cara-cara untuk mengatasi konflik. Beberapa
pengetahuan yang wajib diperoleh anak melalui peran pendampingan dari
para orangtua, menurut Gauthy adalah: a) menghargai dan menerima anak
secara baik, b) menerima perbedaan-perbedaan, c) mendahulukan
kepentingan orang lain, d) meningkatkan dialog, e) bekerja dan bermain
dalam tim, f) bertindak adil dalam hubungan dengan anak, g) menghargai
janji, h) melaksanakan tugas panggilan, i) menghargai kekuasaan yang
benar, j) menghargai dan mengusahakan perbaikan lingkungan, k)
melibatkan diri dalam kelompok/partisipasi, l) menghayati kehidupan
komunitas, m) menaruh perhatian dan berperan serta dalam masalahmasalah dunia, n) berdoa bersama.53
Salah satunya adalah konflik dalam persaingan. Ketika seorang anak
tidak dapat menghindari dari keadaan tersebut, Stans Ismail (1999: 184)
menjelaskan beberapa peran dari para orangtua, di antaranya: a)
mengajarkan anak untuk bersikap adil. Misalnya menunggu giliran dan
membagi sumber yang terbatas. Berarti semua orang menerima apa yang
menjadi haknya, b) mengajarkan anak bersikap sportif. Misalnya anak perlu
mengerti dengan baik bahwa musuh sesungguhnya dalam setiap
pertandingan adalah dirinya sendiri, c) mengajarkan anak untuk bersikap
sebagai ‘Good Looser’ (kalah terhormat). Misalnya kalah terhormat berarti
dapat menghargai anak yang menang, dapat melihat sifat kuat lawan dan
dapat mengakui kekurangan dirinya.
PENUTUP
Berdasarkan berbagai penjelasan berkenan dengan kepedulian
orangtua terhadap PAUD, maka beberapa faktor disebutkan sebagai berikut.
Pertama, Fakfor ‘Skill Anak’: Memberikan perhatian seperti
52
Stans Ismail, dalam Andar Ismail (Peny.), Ajarlah Mereka Melakukan (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1999), 170.
53
Gauthy dalam Kaswadi (1993), 116-127.
sarana penunjang bagi kesehatan fisik anak; pemenuhan kebutuhan gizi
anak melalui makan dan minuman yang sehat, serta kebutuhan vitamin,
sampai kepada pemenuhan kebutuhan asupan-asupan penunjang lainnya.
Kedua, Faktor Pola Belajar Anak: Memberikan perhatian berupa
kebutuhan fasilitas sarana prasarana belajar, seperti alat bermain anak untuk
membangun antusiasme serta rasa keingin-tahuan anak, dengan
berkesinambungan, konsistensi, keteraturan agar pembiasaan belajar itu
menjadi ‘Daily Habit’ anak.
Ketiga, Faktor Respon Anak dalam Mengatasi Konflik:
Memberikan pengalaman mencurahkan isi hati anak kepada orangtua;
menempatkan diri di tengah persaingan, serta mempelajari pelbagai aturan
atau norma yang berlaku.
Melalui penjelasan di atas, dapat dirangkum beberapa indikator
mengenai Kepedulian orangtua terhadap PAUD, sebagai berikut.
Pertama, Faktor ‘Skill Anak’, dengan indikator-indikatornya,
meliputi: (1) Kesehatan Fisik; (2) Kebutuhan Gizi.
Kedua, Faktor Pola Belajar Anak, dengan indikator-indikatornya,
meliputi: (1) Fasilitas Belajar; (2) Fasilitas bermain; (3) Kebiasaan belajar.
Ketiga, Faktor Respon Anak dalam Mengatasi Konflik, dengan
indikator-indikatornya, meliputi: (1) Pencurahan hati; (2) Persainan; (3)
aturan.
Proficiat I-3, atas dibukanya FKIP Prodi: PAUD! Kemuliaan hanya ‘dari
dan oleh serta bagi Tuhan untuk selama-lamanya!
MEMBANGUN KEMITRAAN GEREJA DALAM
PELAYANAN MISI MASA KINI
LEONARD A.P. HUTAPEA
PENDAHULUAN
“Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberkan kuasa
di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan
ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan
kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai
kepada akhir zaman”
(Matius 28:18-20)
Firman Tuhan di atas dikenal sebagai Amanat Agung Tuhan Yesus
ketika menampakkan diri kepada sebelas orang murid-Nya yang terjadi di
Galilea, di sinilah Tuhan Yesus menyampaikan kata-kata terakhir-Nya
kepada para murid. Dalam pertemuan terakhir ini setidaknya Yesus
melakukan tiga hal penting yang perlu kita perhatikan: pertama, Ia
meyakinkan mereka akan kuasa-Nya. Kedua, Ia memberi mereka suatu
tugas. Ketiga, Ia menjanjikan mereka akan kehadiran-Nya.1
Banyak orang Kristen berpendapat bahwa Amanat Agung Yesus
sudah cukup dilaksanakan dan bila Allah bermaksud dalam menyelamatkan
orang-orang kafir, maka Ia dapat menggunakan cara untuk membawa
mereka kepada Injil atau Injil kepada mereka. 2 Pandangan-pandangan
seperti itulah yang pada akhirnya membuat orang-orang Kristen tidak
melakukan tugas penginjilan dengan baik dan cenderung menghindarinya
bahkan timbul pola pikir bahwa tugas penginjilan hanyalah tugas gembalagembala jemaat, orang-orang yang pernah belajar teologi, majelis Gereja,
aktivis Gereja dan lain sebagainya.
1
W.Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Matius Psl 11-28 (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2009), 598.
2
Norman E.Thomas, Teks-teks Klasik tentang Misi dan Kekristenan Sedunia
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 81.
PENGERTIAN GEREJA DAN MISI
Pengertian Gereja
Pengertian Gereja secara Alkitabiah dapat dilihat dalam Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru.
Perjanjian Lama
Ada dua istilah untuk menunjuk Gereja. Pertama, Qahal (kahal)
yang berarti memanggil, kata ini menunjuk arti yang sesungguhnya dari
pertemuan bersama suatu umat. Kata Qahal sering kita jumpai dalam
Tawarikh, Ezra dan Nehemia. Kedua, Edhah yang berarti memilih atau
menunjuk atau bertemu bersama-sama di suatu tempat yang disepakati.
Apabila kata ini diterapkan pada bangsa Israel maka kata itu menunjuk
pada masyarakat bangsa itu sendiri yang dibentuk oleh anak-anak Israel
atau kepala perwakilan mereka, bergabung bersama maupun tidak. Kata
Edhah sering dipakai dalam kitab Keluaran, Imamat, Bilangan dan Yosua.
Kata Qahal dan Edhah sering digunakan tanpa membedakan arti. Kedua
kata tersebut seringkali digabung menjadi kumpulan jemaah dapat dilihat
dalam Keluaran 12:6, Bilangan 14:5, Yereremia 26:17. Selanjutnya kata
Sunagoge merupakan terjemahan yang paling umum dipakai dalam
Septuaginta untuk Edhah dan juga untuk menterjemahkan kata Qahal yang
dipakai dalam kitab Musa (Pentateuch). Jadi istilah Edheh dan Qahal
tersebut kemudian digunakan untuk menyebut umat Allah. 3
Perjanjian Baru
Ada tiga kata dalam Perjanjian Baru yang menjelaskan tentang
Gereja. Pertama, kata evkklhsi,a (ekklesia) berasal dari kata evk (ek) dan
k,alevw (kaleo) yang artinya memanggil ke luar.4 Tuhan Yesus pertama kali
menggunakan kata evkklhsi,an (Mat 16:18). Pengertian secara umum dari
evkklhsi,an yaitu: (1) Sekumpulan orang percaya di dalam tempat tertentu;
(2) Sekumpulan orang percaya di suatu rumah (ekklesia Domestik) (Rm
16:23; 1Kor 16:19; Kol 4:15); (3) Perkumpulan tubuh Kristus di seluruh
3
Louis Berkhof, Teologi Sistematika: Doktrin Gereja (Jakarta: Lembaga
Reformed Injili Indonesia, 2008), 5-6.
4
Ibid., 6.
dunia (1Kor 10:32, 11:22, 12:28); (4) Perkumpulan seluruh orang percaya
(Am), baik yang hidup maupun yang sudah mati (di dunia dan di surga).
Kedua, kata sunagwgh, (sunagoge), berasal dari kata sun (sun) dan
agw (ago) yang berarti datang atau berkumpul bersama. Kata sunagwgh,
sendiri menunjuk kepada pertemuan ibadah orang Yahudi atau menunjuk
kepada bangunan tempat mereka berkumpul untuk beribadah secara umum.
Ketiga, kata Kuriake terjemahan Church (Inggris), Kerk (Belanda), Kirche
(Jerman) memang kata-kata ini tidak berasal dari kata ekklesia, kata
Kuriake berarti milik Tuhan (Mat 4:23; Kis 13:43; Why 2:9; 3:9). Kata ini
sendiri sangat menekankan kenyataan bahwa Gereja adalah milik Tuhan.
Istilah yang sering muncul to kuriakon atau h kuriake pada awalnya
menunjukkan tempat Gereja berkumpul, dimengerti sebagai milik Tuhan (to
kuriakon), dipahami sebagai tempat yang berisi orang percaya berkumpul
untuk beribadah, tidak kosong. Maka terjemahan yang tepat adalah sebagai
bangunan rohani dari Allah.5
Pada masa berikutnya sebagai hasil perluasan Gereja, kata (ekklesia)
mendapat pemakaian yang lebih luas Berkhof mengemukakan lima
pemakaian kata dari Gereja yang penting untuk diperhatikan.
Pertama, kata ekklesia menunjuk kepada arti sekumpulan orang
percaya di dalam suatu tempat yang sama yaitu Gereja lokal tanpa
memperhatikan apakah orang percaya datang dengan maksud beribadah
atau tidak (Kis 5:11, 11:26; Rm 16:4; 1Kor 16:1).
Kedua, ekklesia domestik, yaitu Gereja dalam rumah pribadi
seseorang, sebuah ruangan yang besar yang disediakan untuk beribadah
(Rm 16:23; 1Kor 16:19).
Ketiga, menunjuk kepada sekelompok Gereja-gereja yang ada di
Yudea, Galilea dan Samaria (Kis 9:31).
Keempat, keseluruhan tubuh Kristus di dunia, yaitu kesatuan dari
orang-orang yang beribadah kepada Kristus dan berkumpul di bawah
pimpinan pejabat-pejabat yang telah dipilih.
Kelima, keseluruhan tubuh orang-orang beriman, baik di bumi
maupun di surga, yang telah atau yang akan dipersatukan secara spiritual
dengan Kristus sebagai Juruselamat.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Gereja adalah kumpulan orangorang yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yaitu
persekutuan dengan orang-orang beriman dalam Kristus. Gereja bukan
berarti gedungnya saja melainkan termasuk orang-orang yang ada di
dalamnya.
5
Berkhof, Teologi Sistematika ..., 9.
Pengertian Misi
Istilah misi (mission) berasal dari bahasa Latin mission yang
diangkat dari kata dasar mittere yang berkaitan dengan kata missum yang
artinya to send (mengirim/mengutus). Padanan dari kata ini dalam bahasa
Yunani adalah avpo,stevvllw (apostello).6 Menurut Tomatala bahwa istilah
mission menunjuk pada misi Allah (mission Dei) sedangkan missions ada
tugas dari misi Allah itu (yang dipercayakan oleh Allah kepada umat-Nya).7
Sedangkan menurut “Kamus Besar Bahasa Indonesia” (KBBI): (1)
Misi adalah kegiatan menyebarkan kabar gembira (Injil) dan mendirikan
jemaat-jemaat setempat yang dilakukan atas dasar pengutusan sebagai
kelanjutan misi Kristus; (2) Misi adalah tugas, sebagai suatu kewajiban
melakukannya demi agama, ideologi, patriotisme dan sebagainya. 8
Selanjutnya hal terpenting adalah mempertahankan pengertian yang
Alkitabiah, jelas, fokus, yang tepat sesuai apa yang dilakukan Gereja. Misi
juga merupakan segala sesuatu yang dikerjakan Gereja; Pergi ke negeri
asing; Pengumuman secara politis-negara lain; Sesuatu yang orang kerjakan
untuk yang membutuhkan; Penginjilan; Pendidikan; Pengembangan SosialEkonomi; Bantuan antar Gereja; Pemasyarakatan; Pembudayaan;
Penanaman Gereja. Dalam pelaksanaan Amanat Agung, jemaat harus
bergantung kepada Roh Kudus dan Firman Tuhan agar taat kepada Allah
dan mampu mengkomunikasikan Injil kepada semua manusia.
Dalam hubungannya dengan Kerajaan Allah, Gereja dan Dunia, misi
adalah suatu pelayanan yang menyeberangi batas-batas budaya melalui
proklamasi berita dan perbuatan kedatangan Kerajaan Allah dalam Yesus
Kristus melalui partisipasi Gereja dalam misi Allah mendamaikan manusia
dengan Allah dengan diri mereka sendiri dengan sesama dan dengan dunia
serta mengumpulkan mereka dalam persekutuan Gereja melalui pertobatan
dan iman dalam Yesus Kristus oleh pekerjaan Roh Kudus dengan target
transformasi dunia sebagai tanda dari Kerajaan Allah dalam Yesus Kristus.
Pelayanan misi merupakan tanggungjawab semua orang yang telah
percaya kepada Yesus Kristus. Ketika seseorang memperoleh keselamatan
maka pada waktu yang bersamaan dia juga menerima suatu tugas yang baru
yaitu melakukan amanat untuk memberitakan Injil. Dalam hal ini Packer
6
Barclay M.Newman Jr, Kamus Yunani-Indonesia (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2006), 20.
7
Yakub Tomatala, Teologi Misi (Jakarta: YT Leadership Foundation, 2003), 19.
8
Lukman Ali, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1999),
460.
berpandangan bahwa kita semua (komunitas Kristen) mengemban amanat
untuk membaktikan diri memberitakan kabar baik dan untuk memakai
semua kemampuan kita untuk membuat Injil menjadi perhatian dunia.9
Misi dimulai dari Allah, oleh Allah dan demi kemuliaan Allah
sendiri. Hal serupa dikatakan oleh Fernando bahwa Allah adalah sumber,
asal-usul misi. Misi dapat dikatakan sebagai pelaksana maksud-maksud
Allah untuk menggenapi tujuan-Nya di dunia ini. Tuhan Yesus
mengorbankan dirinya demi keselamatan umat manusia, hal ini merupakan
pesan dan teladan bagi misi, semua misionaris ataupun semua orang
percaya.10 Semua orang percaya harus berpegang teguh pada Amanat
Agung Tuhan Yesus dan harus semangat dalam memberitakan Injil dengan
satu keyakinan bahwa Allah Tritunggal sendiri yang selalu menyertai.
TUJUAN GEREJA
Setiap institut yang didirikan pasti memiliki tujuan yang jelas, tidak
ada orang yang mendirikan sesuatu tanpa ada tujuan yang jelas. Demikian
juga dengan Gereja yang Allah dirikan dimana tujuan utama kehadiran
Gereja jelas dalam Amanat Agung. Amanat Agung berisikan kehendak
Allah bagi Gereja-Nya.11 Gereja merupakan tubuh dan Kristus adalah
Kepalanya (Ef 4:1-16), tubuh merupakan satu kesatuan antara bagian yang
satu dengan bagian yang lainnya.
Sebagai satu tubuh tidak ada satu bagian pun yang diabaikan dan
dianggap kurang penting. Sebagai tubuh Kristus hal ini menunjukkan
betapa eratnya ikatan yang mempersatukan semua orang percaya dalam
mengembangkan karunia-karunia rohaninya yang berbeda untuk
membangun tubuh Kristus dalam hubungan Kristus sebagai Kepala
mengacu kepada dua kebenaran. Pertama, jemaat ialah sarana bagi Kristus
dalam menjalankan misi-Nya. Kedua, jemaat sebagai tubuh Kristus
mempunyai banyak anggota dan setiap anggota mempunyai karunia Roh. 12
9
J.I.Packer, Pengijilan dan Kedaulatan Allah (Surabaya: Momentum, 2009),
17.
10
Ajith Fernando, Allah Tritunggal dan Misi (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina
Kasih, 2008), 7.
11
Suhento Liauw, Doktrin Gereja Alkitabiah, (Jakarta: Gereja Baptis Independen
Alkitabiah AGAPHE, 1996), 57.
12
Theodore Willians, Misi dan Jemaat Lokal (Jakarta:OMF), 5.
Jadi, dalam hal ini sebagai tubuh Kristus, Gereja harus bersatu padu
dalam menjalankan kehendak Allah bagi Gereja-Nya. Karena itu kehidupan
orang-orang Kristen harus menjadi berkat dan harus berbeda dari orangorang yang tidak mengenal Kristus. Jika kehidupan orang-orang Kristen
memancarkan Kristus, maka orang lain akan melihat dan pada akhirnya
nama Allah dimuliakan karena orang-orang Kristen ialah duta Allah di
dunia ini.13
TUGAS GEREJA
Tugas pokok Gereja dan tanggungjawab Gereja dengan jelas dapat
dilihat dalam Amanat Agung Tuhan Yesus. Dalam Perjanjian Baru ada 5
bagian Firman Tuhan yang berbicara tentang perintah Agung Tuhan Yesus.





Matius 28:18-20
Markus 16:15-18
Lukas 24:11-49
Yohanes 20:19-23
Kisah Para Rasul 1:6-8
Ayat-ayat di atas mengajarkan bahwa dalam perintah agung dari
Tuhan Yesus terdapat wewenang, perintah dan janji. Perintah ini menuntut
ketaatan kepada Tuhan, ada tugas utama yaitu menjadikan murid. Tugas inti
ini didukung dengan mengajar untuk taat dan membaptis tiap orang yang
diselamatkan Tuhan dari segala bangsa. Ada suatu jaminan yang pasti dari
perintah agung ini dan isi jaminan itu ialah penyertaan Tuhan Yesus.
Apabila Tuhan menyertai, Ia sendiri menjamin bahwa tugas penginjilan
akan berhasil.14 Amanat Agung masih mengikat Gereja-gereja pada masa
kini, amanat ini tidak hanya diberikan oleh Tuhan Yesus kepada para rasul
pada waktu itu untuk pelayanan mereka, tetapi diberikan juga kepada
Gereja untuk pelayanan sepanjang zaman.15 Gereja tidak hidup untuk
dirinya sendiri, Gereja sebagai umat Allah ada dan didirikan oleh Allah
untuk membawa kabar baik bagi orang-orang yang belum percaya.
13
Norman E. Thomas, Teks-Teks Klasik Tentang Misi dan Kekristenan Sedunia,
(Jakarta: Gunung Mulia, 2001), 123.
14
Yakob Tomatala, Penginjilan (Malang: Gandum Mas, 1998), 23-24.
15
John Piper, Jadikan Sekalian Bangsa Bersukacita (Bandung: Literatur Baptis
Indonesia, 2001), 227.
Gereja merupakan alat bagi Allah untuk menjadikan saksi di tengah-tengah
dunia, memulihkan keutuhan itulah maksud penginjilan, dengan membawa
kembali mereka yang terhilang ke tempatnya di dalam tata rumah tangga
Allah.16
Belajar dari kehidupan jemaat mula-mula (Kis 2:47) bahwa jemaat
mula-mula menerima tanggungjawab pemberitaan Injil. Setiap orang
percaya dalam Gereja mula-mula terlibat aktif dalam memberitakan Injil di
manapun mereka berada. Mereka menjadi saksi baik dalam kehidupan
mereka di tengah-tengah orang-orang yang tidak percaya maupun ketika
mereka secara khusus pergi untuk memberitakan Injil.
Melalui pemahaman Amanat Agung Tuhan Yesus, setiap orang
percaya akan memahami dengan baik tanggungjawab untuk memberitakan
Injil. Dengan demikian setiap orang percaya tidak perlu diperintahkan lagi
dalam melaksanakan Amanat Agung karena setiap orang-orang percaya
harus menjadi saksi di manapun ia berada baik dalam melakukan tugas
sehari-hari maupun dalam interaksi dengan orang-orang yang belum
percaya.17
Pada waktu kita dipercayakan melakukan pelayanan di suatu Gereja
serta merencanakan program-program Gereja maka hal penting yang
menjadi perhatian utama yaitu bagaimana peran dari Gereja sendiri bagi
persekutuan jemaat serta lingkungan Gereja tersebut berkaitan dengan misi
Gereja sesuai mandat Alkitabiah?
Memuliakan Allah
Tujuan utama hidup manusia ialah memuliakan Allah. Hal ini sama
benarnya bagi orang percaya secara pribadi maupun bagi Gereja secara
keseluruhan. Alkitab berkali-kali menunjukkan hal ini sebagai maksud
utama Gereja (Rm 15:6,9; Ef 1:5-6,12,14,18; 3:21; 2 Tes 1:12; 1Ptr 4:11).
Tugas ini begitu mendasar sehingga bila dilaksanakan dengan setia maka
tugas-tugas Gereja yang lain dengan sendirinya juga akan terlaksana.
Bagaimanakah Allah dimuliakan lewat Gereja? (1) Kita memuliakan Allah
dengan menyembah Dia (Yoh 4:23,24; bnd Flp 3:3; Why 22:9); (2) Kita
memuliakan Allah dengan doa dan puji-pujian. Pemazmur mengatakan,
“siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan
16
Thomas, Teks-Teks Klasik Tentang…, 226.
Caprili Guanga, Aku dan Gereja (Malang: Seminari Alkitab Asia
Tenggara,1997), 69.
17
Aku” (Mzm 50:23); (3) Selanjutnya, kita juga memuliakan Dia dengan
menjalani kehidupan yang saleh. Yesus mengatakan,“Dalam hal inilah
Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuat banyak dan dengan
demikian kamu adalah murid-murid-Ku” (Yoh 15:8). Petrus menyatakan
bahwa kita harus “memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia,
yang telah memanggil [kita] dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib”
(1Ptr 2:9; bnd. Tit 2:10).
Sebagai Gereja Yang Bertumbuh
Rasul Paulus mengatakan bahwa Allah memberikan kepada Gereja
rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala dan
pengajar-pengajar “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi
pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua
telah mencapai kesatuan iman (Ef 4:12-16). Jelaslah, ini berarti indoktrinasi
para anggota jemaat, supaya mereka dapat menjadi dewasa dan sanggup
berdiri tegak menghadapi ajaran-ajaran sesat di sekitar mereka. Inilah yang
dinamakan membangun tubuh Kristus (Kol 2:7). Kebaktian umum di gereja
bertujuan melaksanakan hal ini (1Kor 14:26), namun setiap orang percaya
juga harus membangun diri mereka sendiri dalam iman yang teramat kudus
ini (Yud 20) serta “bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan
akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2Ptr 3:18). Paulus
menentang kita untuk memakai bahan-bahan yang baik dalam mendirikan
bait rohani Allah (I Kor 3:10-15) dan memperingatkan kita agar tidak
memakai bahan-bahan yang tidak baik. Maka jelaslah gereja harus
mengindoktrinasi warganya, mengembangkan sikap-sikap baik kehidupan
Kristen di dalam diri mereka serta mengajar mereka untuk bekerja sama
satu dengan yang lain dalam pelayanan Kristus.
Sebagai Gereja Yang Kudus
Kristus
mengurbankan
diri-Nya
untuk
Gereja
“untuk
menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya
dengan air dan Firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di
hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa
itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela” (Ef 5:26-27). Dalam hal
ini ada penyucian yang dilakukan oleh Allah Bapa (Yoh 15:2), terutama
dengan jalan menghukum kita (1Kor 11:32; Ibr 12:10). Ada juga penyucian
yang harus dilaksanakan oleh orang percaya itu (1Kor 11:28-31; 2Kor 7:1;
1Yoh 3:2), tetapi ada juga bentuk penyucian yang harus dilakukan oleh
Gereja setempat (Mat 18:17). Kekudusan orang percaya disempurnakan
melalui persekutuan dengan orang-orang lain, tidak pernah terlepas
darinya.18 Gereja mula-mula memang memberikan teladan dalam
pelaksanaan disiplin Gereja, dan Gereja masa kini tidak dibebaskan dari
tugas melaksanakan disiplin Gereja (Kis 5:11; Rm 16:17; 1Kor 5:6-8, 13;
2Tes 3:6, 14; Tit 3:10-11;). Berbagai perpecahan yang sering timbul,
munculnya ajaran-ajaran sesat dan lain sebagainya dapat menjadi suatu
alasan untuk memberlakukan disiplin. Disiplin dalam Gereja tentu akan
menolong Gereja secara terus-menerus dalam mempersiapkan diri
menyambut kedatangan-Nya (sebagai mempelai perempuan sesuai; Why
19:7).
Sebagai Gereja Yang Dewasa (dalam Pengajaran)
Tuhan telah mengaruniakan kepada Gereja-Nya yaitu rasul-rasul,
nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala dan pengajarpengajar dengan tujuan “memperlengkapi orang-orang kudus bagi
pekerjaan pelayanan” (Ef 4:12). Yesus juga telah memberikan Amanat
Agung-Nya yang berisi perintah, bukan saja untuk menjadikan orang-orang
sebagai murid dan membaptiskan mereka, tetapi setelah itu juga
mengajarkan mereka untuk melakukan segala sesuatu yang telah
diperintahkan-Nya (Mat 28:20). Dalam hal ini James Montgomery
berpendapat: “Pekerjaan misi yang semestinya adalah pergi keluar dengan
Injil, memenangkan manusia bagi Kristus, membawa mereka ke dalam
persekutuan Gereja, kemudian memastikan mereka diajari kebenarankebenaran yang tercatat di dalam kitab suci.” 19
Karena itulah tidak dapat disangkal lagi bahwa Gereja harus
menjalankan program pendidikan dan pelatihan bagi anggota jemaatnya
secara keseluruhan. Gereja harus mengajarkan kebenaran-kebenaran Tuhan
kepada jemaatnya serta secara rutin setia dalam mengajarkan ajaran para
rasul. Paulus mengarahkan jemaat Filipi untuk memperhatikan semua jenis
pengetahuan yang berharga. Paulus berkata, “jadi akhirnya, saudarasaudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua
yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang
18
19
2011), 757.
Bnd. Simon Chan, Spiritual Theology (Yogyakarta: ANDI, 2010), 135.
James Montgomery Boice, Dasar-dasar Iman Kristen (Surabaya: Momentum,
disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Flp 4:8; bnd.
2Tim 2:2)
Sebagai Gereja Yang Bersaksi
Dalam Amanat Agung jelas sekali mengenai penugasan Gereja
untuk pergi ke seluruh dunia serta menjadikan sekalian bangsa murid Tuhan
(Mat 28:19; Luk 24:46-48; Kis 1:8). Alkitab tidak menyuruh Gereja
menobatkan dunia, melainkan untuk menginjili dunia, artinya Gereja
berhutang kepada seluruh dunia yaitu Gereja bertanggung jawab untuk
memberita kesempatan kepada dunia untuk mendengarkan Injil serta
menerima Kristus. Gereja juga dikatakan sebagai saksi Kristus yang berarti
Gereja hadir untuk menyaksikan Kristus sehingga dapat membawa orangorang kepada-Nya.20
Kita tahu bahwa tidak mungkin seluruh dunia akan menanggapi
Injil, namun Gereja berkewajiban memberi kesempatan kepada seluruh
dunia untuk mengenal Kristus dan menerima keselamatan yang disediakanNya. Dewasa ini Tuhan sedang memanggil dari antara bangsa-bangsa nonYahudi suatu umat bagi nama-Nya (Kis 15:14) dan tindakan tersebut
dilakukan-Nya dengan perantaraan Gereja dan Roh Kudus-Nya. Penginjilan
dimulai dengan menyelidiki kebutuhan-kebutuhan yang ada (Yoh 4:28-38;
bnd. Mat 9:36-38). Maka dengan demikian jelaslah bahwa setiap Gereja
harus belajar dan melakukan misi.
Sikap ini juga terungkap secara jelas dalam doa syafaat untuk
pelayanan Gereja (Mat 9:38), penyediaan dana untuk misi (Filp 4:15-18),
pengutusan para misionaris (Kis 13:1-3; 14:26; Rm 10:15) serta ikut terlibat
di ladang-ladang misi (Rm 1:13-15; 15:20).
Menjadi Garam dan Terang Dunia
Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang-orang percaya adalah garam
dunia dan terang dunia (Mat 5:13-15). Adanya pengaruh dan kesaksian
hidup yang baik maka orang-orang Kristen dapat menahan perkembangan
pelanggaran hukum (2Tes 2:6-7). Tuhan masih menahan penghukuman
karena kehadiran orang-orang saleh di tengah-tengah orang fasik (Kej
18:22-23). Dengan demikian diharapkan setiap orang percaya harus berani
menyatakan tuntutan-tuntutan Tuhan yang adil dari manusia serta
20
Bnd. Sadikin Gunawan, Menjadi Orang Kristen Yang Berbeda (Jakarta:
Pustaka Sorgawi, 2006), 85.
memberitahukan perlunya pertobatan dan kelahiran kembali bagi mereka
yang belum percaya dan yang belum mendengar Injil. Untuk mencapai
tujuan ini, Tuhan telah menjadikan umat-Nya pemelihara kebenaran Allah
(2Kor 5:19; Gal 2:7; 1Tim 1:11; 3:15). Dalam Alkitab, umat manusia
senantiasa diharapkan menemukan kebenaran mengenai Allah serta hal-hal
rohani. Akan tetapi lebih daripada itu, Gereja juga bertugas penuh untuk
menawarkan Firman kehidupan kepada dunia (Flp 2:16) dan berjuang untuk
mempertahankan kebenaran itu (Yud 3) karena memang dalam
kenyataannya hanya sedikit sekali masyarakat dunia yang menyadari dan
merasakan betapa untungnya mereka dengan adanya umat Allah di tengahtengah mereka.
Sebagai Gereja Yang Berpengaruh Bagi Lingkungan dan Dunia
Sekalipun orang percaya harus memisahkan diri dari segala ikatanikatan duniawi (2Kor 6:14-18), ia tetap harus mendukung semua usaha
yang jelas-jelas berusaha memajukan kesejahteraan sosial, ekonomi, politik
dan pendidikan masyarakat luas. Paulus mengatakan, “karena itu, selama
masih ada kesempatan bagi kita, marilah berbuat baik kepada semua orang,
tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Gal 6:10). Dalam ayat
ini jelas dimaksudkan adalah bahwa kita mempunyai tugas utama yaitu
memperhatikan kesejahteraan kawan-kawan seiman, tetapi kita juga harus
memperhatikan kesejahteraan sesama manusia lainnya. Alkitab tidak
mendukung pandangan bahwa orang-orang Kristen tidak perlu menangani
masalah-masalah sosial karena pandangan Kristen tentang manusia yang
sudah ditebus mencakup pengakuan akan adanya kewajiban sosial dan
memperbaiki lingkungan mereka.21 Apa yang dilakukan Tuhan Yesus
merupakan teladan terbaik untuk diikuti. Tindakan-tindakan reformasi
masyarakat, termasuk bantuan-bantuan sosial, harus selalu secara tegas
datang kemudian dari tugas penginjilan. Orang Kristen harus menjadikan
semua perbuatan amal dan kebajikannya suatu kesaksian bagi Kristus.
Yesus mungkin saja telah memberi makan kepada lima ribu orang laki-laki
sebagai tindakan berperikemanusiaan, tetapi tindakan tersebut pasti
dilakukan-Nya terutama sebagai suatu kesaksian terhadap kuasa dan keAllahan-Nya sendiri. Dengan kata lain, orang Kristen harus menjadikan
semua perbuatan baiknya itu sebagai sarana untuk bersaksi bagi Kristus.
21
Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru. Jilid 3 (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1996), 298.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang
dilakukan Gereja harus memiliki pengaruh yang positif baik bagi
persekutuan orang percaya di dalamnya maupun masyarakat di sekitarnya
yang tentu harus merasakan dampak kehadiran Gereja.
Selain itu Gereja sebagai komunitas orang percaya yang memiliki
dampak bagi lingkungannya maka Gereja juga harus segera berperan aktif
untuk membangun kemitraan nyata dalam pelayanan misi sebagai
perwujudan dari Gereja yang hidup yang setia dalam menjalankan Amanat
Agung Tuhan Yesus Kristus karena telah disadari Gereja tidak dapat
bergerak dan berjalan sendiri-sendiri dalam memajukan program-program
dan pelayanan Gereja.
KEMITRAAN GEREJA DALAM PELAYANAN MISI
Allah yang berdaulat dan berkuasa sangat mempercayai Gereja-Nya
dalam melaksanakan misi. Hal ini dimulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria
sampai ujung bumi (Kis 1:8). Orang percaya atau kelompok Gereja tertentu
tidaklah mungkin dapat melaksanakannya secara sendiri-sendiri, namun hal
ini perlu dikerjakan secara bersama-sama agar terlaksana dengan baik dan
efektif. Dalam hal inilah suatu kemitraan sangat diperlukan guna
mendukung pelayanan-pelayanan misi yang direncanakan baik oleh Gerejagereja lokal, sekolah-sekolah teologi serta lembaga-lembaga misi lainnya.
Memulai dan membangun kerja sama ini memang merupakan tantangan
yang cukup besar dan menantang terutama dalam membuat strukturstruktur misi skala nasional yang saling bergandengan tangan. Namun tidak
dapat dihindari pada dasarnya Gereja memang memerlukan struktur yang
saling berhubungan tersebut untuk menyatakan kesatuan dalam pelayanan
misi yang akan melampaui semua batas manusia dan budaya.
Kemitraan dalam Misi – Sebagai Karakter Komunitas Alkitabiah
Pada dasarnya kemitraan dalam misi bukanlah sesuatu yang baru,
namun telah diterapkan sejak Allah sendiri merencanakan keselamatan bagi
dunia ini, di mana dalam ke-Tritunggalan-Nya Ia bersama-sama
melaksanakan karya penyelamatan bagi dunia ini. Hal itu dapat kita
perhatikan melalui surat Paulus kepada Jemaat di Efesus pasal 1: (1) Allah
Bapa dalam Kristus telah mengaruniakan segala berkat rohani di dalam
surga (ay 3); (2) Yesus Kristus melakukan pengampunan dosa di kayu salib
(ay 7); (3) Roh Kudus memeteraikan orang percaya, sebagai jaminan
bagiannya sampai keselamatan kekal yang dijanjikan-Nya utuh serta
dinyatakan sepenuhnya (ay 13-14).
Allah Tritunggal melaksanakan kemitraan yang indah dan sempurna
bagi terwujudnya Gereja Tuhan di bumi ini dan dengan demikian
komunitas Ilahi menjadi model kemitraan, pelayanan dan pengutusan yang
tepat demi keselamatan dunia (bnd. Yoh 20:21). Melalui penyertaan serta
pimpinan Roh Kudus hal tersebut dikerjakan dan dilaksanakan oleh Gereja
mula-mula dalam Perjanjian Baru (Kis 13). Roh Kudus mengarahkan
Gereja di Antiokhia untuk memisahkan dan mengutus Paulus dan Barnabas
menyelesaikan pekerjaan misi tersebut, dan mereka menyampaikan
hasilnya kepada jemaat bahwa Injil sudah tersebar sampai kepada bangsabangsa lain (Kis 14:26-27). Dalam hal inilah kita memperhatikan adanya
kemitraan yang kuat antara Roh Kudus, Gereja dan misionaris yang diutus.
Pada kenyataannya kerjasama pada kemitraan ini berlangsung dari
waktu ke waktu dalam pelayanan Paulus dengan jemaat-jemaat lainnya,
misalnya Jemaat Filipi. Paulus mengungkapkan bagaimana persekutuan
mereka melalui Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini
(Flp 1:5), begitu juga Euodia dan Sintikhe berjuang dengan Paulus untuk
pekabaran Injil (Flp 4:2). Setelah mereka mendengar Injil dan dibina oleh
Paulus, jemaat Filipi menunjukkan dukungannya kepada Paulus dalam
pekabaran Injil ke tempat-tempat lain, baik dengan mengirimkan bantuan
kepadanya maupun dengan mengutus Epafroditus untuk melayani
kebutuhannya (Flp 2:25; 4:15-18), sehingga Injil dapat terus tersebar
hingga ke tempat yang lebih jauh menjangkau banyak orang menjadi
percaya kepada Kristus. Pada bagian ini Kirk menegaskan:
Kemitraan dalam misi menjadi bagian dari hakikat Gereja: yaitu
kemitraan bukanlah terutama apa yang Gereja lakukan, melainkan
apa yang menjadi sifatnya. Gereja-gereja (secara teologis) terikat
satu sama lain, sebab Allah telah memanggil masing-masing “kepada
persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita” (1Kor
1:9). Karena itu kemitraan bukanlah suatu slogan bagus yang
diciptakan oleh suatu panitia yang pintar; ia merupakan pernyataan
dari suatu kehidupan yang adalah satu, tidak dapat dibagi-bagi dan
dimiliki bersama dalam Yesus Kristus.22
Lewat pengamatan kita melalui sejarah Gereja nampak terjadinya
degradasi di dalam pertumbuhan Gereja sendiri karena Gereja-gereja yang
22
187.
Andrew Kirk, What is Mission? (London: Darton, Longman, Todd, 1999),
ada cenderung berpusat hanya ke dalam dan tidak menjalankan
panggilannya secara utuh. Pelayanan pekabaran Injil tidak lagi menjadi
proyek pelayanan bersama, namun hanya dikerjakan oleh individu-individu
yang terbeban. Hal inilah yang menyebabkan adanya lembaga misi
mendorong warga jemaat yang memiliki beban-beban misi dalam dirinya
masing-masing untuk kembali mendorong Gereja agar melakukan dan
melaksanakan kegiatan pengutusan, walaupun hal ini sering
disalahmengertikan oleh Gereja yang berpikir bahwa lembaga misi hanya
ingin mendapat dukungan dana agar pelayanan misinya berkembang.
Dalam kenyataannya kehadiran lembaga misi diizinkan Tuhan untuk
melaksanakan misi Allah serta mendorong Gereja agar kembali
menggumuli panggilannya agar menjalankan Amanat Agung dari pemilik
Gereja yaitu Tuhan Yesus Kristus sendiri.
Dasar dan Tujuan Suatu Kemitraan Dalam Misi Saat Ini
Dengan perkembangan dunia modern dan gerakan misi sedunia
masa kini akan mendorong kita untuk bermitra dalam misi. Dampak era
globalisasi ini adalah berkembangnya kemitraan di antara orang-orang
Kristen di Barat dan Selatan/Timur serta munculnya kerjasama antara
Gereja-gereja lokal dan agen-agen misi, dan di sinilah misi dikatakan multiarah.
Adapun tujuan umum dari kemitraan dalam misi sendiri ialah:
memaksimalkan misi global yang dapat memberikan pengaruh bagi
Kerajaan Allah. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka ada beberapa
alasan umat Allah perlu bekerja sama, sekaligus merupakan tujuan tertentu
yang perlu dicapai, antara lain:
Pertama, Kerinduan untuk saling mengasihi melalui kerjasama dan
saling mendukung, supaya dunia percaya kepada-Nya (bnd. Yoh 13:35).
Kedua, Mengajak seluruh Gereja Tuhan terlibat secara nasional dan
internasional demi memenuhi panggilan dan melaksanakan Amanat Tuhan.
Ketiga, Melakukan kerjasama untuk menjangkau suku atau
golongan atau kelompok yang belum terjangkau secara lebih efektif.
Keempat, Agar sedia membagikan sumber yang dikaruniakan Allah
(bersinergi).
Kelima, Agar bersedia membagikan kemampuan dan keterampilan
dalam spesialisasi bidang yang berbeda seperti penginjilan, pelayanan
sosial, pelayanan lintas budaya dan lain sebagainya.
Keenam, Tidak menghambur-hamburkan sumber-sumber yang ada
dan menghindari kompetisi serta mengulangi hal yang sama.
Ketujuh, Agar belajar satu dengan yang lain dan saling menguatkan
dalam menghadapi penderitaan.23
Kemitraan Pelayanan Misi Lintas Budaya Dalam
Konteks Dunia Modern
“Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk
menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang
Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi
terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan daripada-Ku sampai ke
ujung bumi” (Yes 49:6).
Sesuai dasar Firman Tuhan di atas nyatalah bahwa Tuhan memang
mengasihi bangsa Israel dan memilih mereka menjadi bangsa pertama yang
mengenal dan mengalami kasih Tuhan yang menyelamatkan; namun Tuhan
tidak hanya mengasihi bangsa Israel, Ia ingin memakai Israel yang sudah
diselamatkan itu sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk menjangkau
bangsa-bangsa lain, segala bangsa di muka bumi. Selain itu visi Allah bagi
dunia juga disingkapkan kepada Yohanes: “setelah itu aku melihat:
sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat
dihitung jumlahnya, dari segala bangsa dan suku dan umat dan bahasa,
berdiri di hadapan tahta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih
dan memegang daun-daun palem di tangan mereka” (Why 7:9).
Dari pernyataan di atas memperjelas bagi kita bahwa Ia ingin terus
memakai Gereja-Nya untuk mengasihi manusia yang terhilang yaitu dengan
memberitakan Injil keselamatan kepada semua yang mau mendengar,
supaya semuanya juga mendapat kesempatan untuk mengenal kasih Kristus
dan percaya kepada-Nya, sehingga memperoleh hidup kekal (Yoh 3:16).
Namun tugas menjangkau semua suku bangsa yang teramat luas ini
sangat membutuhkan pelayanan lintas budaya dan lintas golongan sosial.
karena itulah orang-orang percaya perlu sekali bekerja sama dalam
melaksanakan dan menyelesaikan Amanat Agung Tuhan dengan
mengerahkan segala kemampuan, fasilitas dan talenta yang telah dimiliki.
Dalam hal ini juga perlu menggalang kerjasama dengan sekolah teologi
karena sangat memperlengkapi para pekerja dan utusan Injil dengan
pengertian dan keterampilan di bidang biblika tentang seluruh misi Tuhan
di dunia, pemahaman kebudayaan/antropologi, kontekstualisasi,
penginjilan, perintisan jemaat, pemuridan, sejarah Gereja/misi dan lain
23
Kirk, What is Mission?..., 190-191.
sebagainya. Membangun kerjasama dengan lembaga misi yang mempunyai
pengalaman di daerah geografis tertentu atau golongan tertentu akan sangat
dibutuhkan, selain itu perlu segera dipikirkan keterlibatan jemaat untuk
mendukung proyek misi sebagai contoh: jemaat mendukung satu proyek
atau satu tenaga dari beberapa jemaat untuk satu proyek atau satu tenaga
yang ada dan disiapkan untuk diutus ke luar negeri.
Di era globalisai, teknologi dan informasi ini sangat diperlukan,
juga perlengkapan, pengertian dan pengetahuan teknis untuk menghadapi
segala macam arus global serta memanfaatkan dengan baik potensi dari
segala fasilitas agar dapat berkomunikasi dan membentuk jejaring secara
efektif dan efisien. Maka untuk itulah perlu kerjasama dengan badan-badan
atau tenaga-tenaga spesialis, dan adanya kebutuhan-kebutuhan ini bukan
lagi sekedar tambahan atau alternatif melainkan sesuatu yang harus
disiapkan dan dikerjakan segera.
Dalam konteks Indonesia, sebagaimana diketahui berjumlah
penduduk besar dan beranekaragam di mana masih banyak sekali orang
yang belum pernah mendapat kesempatan mendengar Kabar Baik tentang
Kristus. Sementara di sisi lain Gereja Indonesia pun cukup besar dan
tersebar di seluruh kepulauan Indonesia, namun tidak merata, sehingga
sangat perlu diadakan kerjasama dalam berbagai bentuk kemitraan dan
jejaring untuk memaksimalkan pelayanan Kabar Baik untuk sampai ke kota
dan desa. Hal ini tidak hanya menyangkut proyek dan pengutusan tenaga
“penuh waktu”, tetapi juga misalnya terkait penempatan tenaga
“profesional” sesuai dengan bidangnya (dokter atau perawat, insinyur, guru,
dst) yang memiliki kesadaran serta keterbebanan untuk menjadi alat Tuhan
yang membawa damai dan pemulihan dan Kabar Baik di lokasi tertentu.
Maka adanya tenaga seperti itu perlu didukung, disiapkan dan didoakan
seperti halnya tenaga “penuh waktu.”
Pelaksanaan Kemitraan Pelayanan Misi
Dalam memikirkan, merencanakan dan melakukan kemitraan
pelayanan misi terlebih dahulu kita dapat memperhatikan bagaimana
pandangan Luis Bush menyangkut kemitraan dalam segi-segi praktisnya:
Suatu asosiasi (hubungan kerja sama) yang terdiri atas dua atau lebih
badan mandiri yang telah membentuk suatu hubungan saling
mempercayai, serta telah menyepakati tujuan yang diharapkan
dicapai bersama melalui membagikan kekuatan-kekuatan dan
sumber-sumber mereka agar saling menguatkan.
Perlu disadari juga dalam membentuk hubungan kerjasama yang
demikian seringkali harus menghadapi berbagai macam hambatan yang
perlu diatasi bersama-sama.
Menghadapi Beberapa Masalah atau Tantangan Yang Timbul
Adanya pertumbuhan dan perluasan dari Gereja-gereja sedunia telah
membangun suatu momentum pertumbuhan secara lebih kompleks di mana
dalam bagian ini kerjasama yang semakin erat di tiap level menjadi sangat
penting. Misi tidak lagi merupakan gerakan dari Barat tetapi global, dan
adanya potensi pertentangan-pertentangan juga hubungan-hubungan yang
terputus semakin besar.24 Selanjutnya Johnson dan Mandryk mengatakan
banyak Gereja, agen misi dan sekolah teologia “berjalan sendiri” dalam
memenuhi Amanat Agung sehingga menghancurkan tubuh Kristus secara
luas. Di sinilah penting sekali kita perhatikan motivasi untuk membangun
kerjasama dalam pelayanan agar tidak ada kelompok tertentu yang
terisolasi sehingga berdampak kepada pelayanan mereka.
Berikut ini beberapa hambatan yang muncul dalam pelayananan
antara lain: (1) Apabila kita tidak memiliki suatu catatan program/agenda
yang sama (visi dalam melakukannya untuk Kerajaan Allah); (2) Apabila
kita selalu berpikir bahwa lembaga misi/Gereja kita mempunyai keahlian
atau pengertian yang lebih baik dari mitra-mitra pelayanan lainnya; (3) Jika
suatu pihak ingin mengendalikan atau mempergunakan pihak lain, contoh
melalui keuangan yang disalurkan, akibatnya hubungan menjadi tidak
seimbang; (4) Apabila tidak membangun suatu hubungan kerjasama/relasi
yang erat dan teratur.
Langkah Membangun Kerjasama Praktis Untuk Kemitraan
Sebagai suatu gerakan atau aksi nyata untuk mengatasi masalah dan
hambatan yang ada, suatu kemitraan antara Gereja dan lembaga-lembaga
pelayanan misi perlu dibentuk dengan sangat hati-hati dan penuh hikmat,
sambil mengutamakan pimpinan Tuhan dan memperhatikan banyak
rencana-rencana praktis. Suatu kerjasama dalam kemitraan merupakan
kemampuan dalam melipatgandakan kemampuan dari masing-masing
24
Patrick Johnstone & Jason Mandryk, WEC International, Operation World
(Carlisle: Paternoster, 2001), 711.
untuk memproduksi hasil, di mana jika dikerjakan sendiri-sendiri tidak
dapat dicapai. Kerjasama tentu menciptakan rasa memiliki bersama yang
terus-menerus, sehingga memungkinkan kegiatan-kegiatan yang saling
bergantung dan menghasilkan multiplikasi dari hasil yang ada. 25
Suatu kemitraan selanjutnya memang bukan hanya membangun
komunikasi, melainkan membangun orang yang bermitra; belajar bersama
sebagai suatu mitra dan menguatkan satu kepada yang lainnya dalam
pimpinan Roh Kudus. Pada bagian inilah jejaring yang baik dalam
membangun suatu kemitraan (Gereja dan pelayanan misi) bisa terjadi jika
ada beberapa faktor: (1) Kemitraan yang ada saling membutuhkan; (2)
Kemitraan tersebut bervariasi dan dinamis; (3) Kemitraan menjadi efektif
melalui jejaring yang memungkinkan multiplikasi; (4) Kemitraan
merupakan hubungan baik dan terpelihara.
Kemitraan yang dibangun dalam suatu pelayanan pada dasarnya
menggenapi apa yang Tuhan Yesus kehendaki. Tuhan Yesus mendoakan
kesatuan para murid-Nya agar “... mereka menjadi satu sama seperti Kita
adalah satu” (Yoh 17:20-23), sehingga dunia menjadi percaya kepada
Kristus. Selanjutnya kita perhatikan bahwa kemitraan bukanlah sesuatu
yang baru, bahkan sudah nampak secara jelas dalam Allah Tritunggal yang
melaksanakan misi-Nya yang mulia bagi manusia. Berikut ini beberapa
langkah-langkah penting untuk membangun dan membentuk suatu
kemitraan:
Pertama, Tahap perkenalan, di mana saling mengetahui ciri khas
dan kekuatan masing-masing pihak dan menggumuli bentuk kerjasama
dalam doa, sehingga saling mempercayai dan bersama-sama meyakini
bahwa kemitraan itu adalah berdasarkan pimpinan Tuhan.
Kedua, Menentukan bersama untuk visi dan tujuan yang akan
dicapai, kemudian akan dijadikan rencana terperinci dan dilengkapi dengan
perkiraan tentang SDM yang diperlukan, strategi dan sasaran tertentu
mengenai apa yang diharapkan tercapai dan bagaimana caranya, serta
bagaimana batas waktunya. Dalam kemitraan untuk misi, tentu visi dan
tujuan-tujuan ini berhubungan dengan aspek-aspek misi, tentang
penginjilan, misi holistik atau lintas budaya. Perlu diingat apabila
kerjasamanya dalam program penginjilan, maka harus ada kesepakatan
sebelumnya tentang proses pembinaan orang yg baru percaya, dan integrasi
mereka ke dalam persekutuan setempat demi menghindari tuduhan dan
saling menyalahkan pada waktu pelaksanaan kegiatan bersama itu.
25
O’Brien, The Power of...., 12.
Ketiga, Perlu mengembangkan jalur-jalur komunikasi yang jelas
serta kesepakatan untuk proses pemantauan dan evaluasi yang akan
dijalankan.
Keempat, Dalam pengelolaan sistem keuangan perlu perhatian yang
khusus dan disepakati dahulu bersama untuk dijalankan secara terbuka dan
transparan serta bertanggung jawab.
Kelima, Adanya aturan dan prosedur khusus yang disepakati dalam
menangani kesalah-pahaman, serta untuk mengakhiri atau membarui
kemitraan pada waktunya (kalau tujuannya sudah dicapai atau waktunya
perlu diperpanjang) atau bila didapati konflik yang tidak dapat diselesaikan.
KESIMPULAN
Telah disadari bersama bahwa pelayanan misi merupakan pelayanan
yang teramat luas, dan dalam memikirkan, merencanakan, mengatur bahkan
melaksanakannya dibutuhkan wawasan yang luas pula demi tercapainya
Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Kehadiran Gereja sebagai komunitas
orang percaya di dunia tidak dapat atau tidak akan mampu jika hanya
sebagai pelaksana tunggal dalam melaksanakan mandat Ilahi “menyaksikan
Kristus dalam pemberitaan Kabar Baik.” Melalui kemitraan dengan
pelayanan-pelayanan misi, penting memulai penataan sistem atau pola kerja
yang baik serta terorganisir, hal ini merupakan suatu gerakan yang dinamis
dalam melaksanakan Amanat Agung. Kemitraan yang ada perlu sekali
dukungan segala pihak karena dengan demikian kemitraan dapat
mengembangkan pelayanan-pelayanan, bahkan lembaga yang ada sehingga
segala program dan sasaran puncak dapat tercapai sesuai kerinduan dalam
membangun kemitraan dan pelayanan bersama.
HAKEKAT MISI YESUS KEPADA PARA MURID
DALAM MATIUS 10:1-15 SEBAGAI DASAR
MISI GEREJA MENJALANKAN MISI ALLAH
YOHANIS UDJU ROHI
PENDAHULUAN
Kedatangan Yesus ke dunia memiliki misi yang jelas, di mana Yesus
datang untuk menyatakan kasih Allah yang menyelamatkan. Gereja sebagai
tubuh Kristus bukan hanya diselamatkan tetapi juga dipanggil untuk
menjadi pembawa berita keselamatan bagi orang yang belum percaya
kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Oleh
karena itu Gereja harus memiliki dasar pemahaman dan praktek misi yang
benar sesuai dengan misi Yesus yang juga adalah misi Allah.
HAKEKAT MISI YESUS KEPADA PARA MURID
DALAM MATIUS 10:1-15
Peranan Yesus Dalam Misi-Nya (ay. 1-5)
Yesus Sebagai Inisiator (Caller) Misi (ay. 1a)
Pelayanan misi Yesus adalah prakarsa Yesus sendiri, di mana Yesus
dapat disebut sebagai inisiator sekaligus sebagai pelaku misi. Hal ini
nampak dalam frasa: “Yesus memanggil.” Dalam terjemahan NIV tertulis
He called,1 dapat berarti: Dia memanggil atau meneriakkan. 2 Sedangkan
terjemahan bahasa Yunani Kai Proska le,samenoj3 yang secara literal dapat
berarti “adapun setelah memanggil datang.” 4 Kata proskale,saj berasal dari
kata dasar proskale,w yang memiliki pengertian: memanggil datang,
1
Hasan Susanto, Perjanjian Baru Interlinear, Yunani-Indonesia dan
Konkordansi (PBIK) Jilid I (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2006), 47.
2
John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: PT
Gramesia, 1997), 94.
3
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 47.
4
Ibid., 47.
memanggil ke depan, memanggil.5 Kata proskale,saj merupakan kata kerja
Aorist arah Medium Partisif maskulin tunggal. 6 Kata kerja Aorist
menekankan bahwa memanggil adalah suatu tindakan yang hanya satu kali
saja dilakukan pada masa lampau, arah medium menyatakan bahwa
memanggil merupakan suatu tindakan yang refleksif, juga dapat
menekankan suatu kesungguhan dalam memanggil. Partisip maskulin
tunggal sebagai nominative menyatakan bahwa subjek bertindak untuk
memanggil. Subjek dalam teks Yunani tidak disebutkan dengan jelas,
namun jika dilihat perikop sebelumnya (9:35) dan ayat sesudahnya (10:5),
maka jelaslah bahwa subjek yang dimaksud dalam ayat ini adalah Yesus
sendiri.
Dalam konteks teks ini, dapat dipahami bahwa memanggil adalah
tindakan yang telah dilakukan oleh Yesus. Inisiatif dan tindakan untuk
memanggil dari dan oleh Yesus sendiri, secara refleksif bukan karena
didorong atau dipengaruhi oleh sesuatu di luar diri-Nya, termasuk oleh para
murid. Tindakan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk
keseriusan Yesus dalam kegiatan misi. Kehadiran dan keterlibatan para
murid dalam pelayanan misi semata-mata dimungkinkan hanya oleh
anugerah Tuhan Yesus yang memanggil. Dasar panggilan misi para murid
berdasarkan pada Yesus sebagai inisiator misi.
Yesus sebagai Dinamisator (ay. 1b)
Yesus bukan hanya memanggil, namun sebelum mengutus para
murid, Yesus juga memperlengkapi mereka dengan kuasa. Hal ini dapat
terbaca dalam frasa “Ia memberi kuasa kepada mereka”, menurut
terjemahan baru Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). 7 Dalam bahasa Yunani
e;dwken eivj auvtou.j evxousi,an yang secara literal dapat berarti: “Ia
memberi kepada mereka kuasa.” 8 Kata e;dwken berasal dari kata dasar
didwmi yang berarti memberikan, mengijinkan, membagi-bagikan,
mengirim, mempercayakan, mengeluarkan, menaruh, mengenakan,
mengadakan, membuat, menyerahkan.9 Kata ini dalam bentuk kata kerja
5
6
7
8
9
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 677 .
Ibid., 47.
Ibid.
Ibid.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., II, 206.
orang ketiga tunggal, aorist, aktiv, indikatif. 10 Hal itu mengindikasikan
bahwa Yesus yang telah bertindak memberikan kuasa kepada para murid
pada masa lampau secara factual (sungguh-sungguh pernah terjadi).
Kuasa yang diberikan Yesus kepada para murid dalam bahasa
Yunani evxousi,an yang berarti: kuasa, hak, tugas, kekuatan, kekuasaan,
pengontrolan, kuasa supernatural, penguasa, penguasa supernatural,
pemerintah, wilayah yang dikuasai, media yang memberi kuasa, tanda
martabat, tanda tunduk kepada kuasa.11 Sedangkan dalam terjemahan NIV
menuliskan authority12 yang berarti: wibawa, hak untuk bertindak, ahli,
wewenang, sumber.13 Pasaribu, menuliskan: “Seorang utusan bertindak
dengan penuh kuasa untuk menyampaikan berita dari si pengutus atau si
pemberi kuasa dan Yesus memberi kuasa kepada para murid sama seperti
kuasa Yesus sebab kuasa itu berasal dari Yesus.” 14
Sebelum para murid terlibat dalam pelayanan misi, mereka sudah
terlebih dahulu diperlengkapi dengan kuasa, kekuasaan supernatural,
kekuatan, pengontrolan wibawa oleh Yesus. Kuasa yang diberikan Yesus
kepada para murid menjadikan mereka mampu melakukan hal-hal yang
supernatural seperti mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan orang sakit,
melenyapkan segala penyakit dan kelemahan sebagaimana terdapat dalam
ayat 7 dan 8. Kemampuan dan keberanian para murid dalam bermisi berasal
dan bergantung pada Yesus sebagai sumber kuasa misi.
Yesus sebagai Delegator (Sender) Misi (ay. 5)
Setelah Yesus memanggil dan memperlengkapi para murid dengan
kuasa, kemudian Yesus mengutus para murid untuk bermisi. Hal tersebut
dijelaskan dalam frasa “diutus oleh Yesus” menurut terjemahan baru
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).15 Dalam terjemahan NIV; Jesus sent out
yang berarti: Yesus mengedarkan, memancarkan, menyuruh.16 Dalam
bahasa Yunani kata avpe,steilen dari kata dasar avposte,llw yang berarti:
10
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 47.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., II, 289.
12
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 47.
13
Echols dan Shadily, Kamus Inggris…,46.
14
Marulak Pasaribu, Injil Sinoptik, Yesus Yang Diberitakan Dalam Injil Matius,
Markus & Lukas (Batu: Departemen Literatur YPPII, t.t.), 172.
15
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 47.
16
Echols dan Shadily, Kamus Inggris …, 513.
11
mengirim.17 Kata itu dalam bentuk kata kerja orang ketiga tunggal aorist
aktif indikatif.18 Hal itu mengindikasikan bahwa Yesus yang telah bertindak
mengutus para murid pada masa lampau secara factual (sungguh-sungguh
pernah terjadi). Yesus benar-benar telah mengutus para murid untuk
pelayanan misi. Misi adalah misi Yesus yang mengutus, para murid hanya
sebagai utusan. Sebagai utusan harus bertindak atas nama dan
menyampaikan berita dari Yesus yang mengutus. Keterlibatan dan
kelayakan para murid dalam misi hanya dimungkinkan oleh Yesus yang
mengutus.
Yesus sebagai Instructor Misi (ay. 5)
Yesus memberikan arah yang jelas kepada para murid untuk bermisi
dengan pesan (petunjuk) yang jelas. Hal ini terlihat pada frasa “Ia berpesan
kepada mereka” menurut terjemahan baru Lembaga Alkitab Indonesia
(LAI)19 menyatakan bahwa dalam waktu yang bersamaan ketika Yesus
memanggil, memperlengkapi dengan kuasa, dan mengutus, Yesus juga
menjadi instruktur misi bagi para murid. Kata berpesan menurut terjemahan
NIV following instructions yang berarti: menyertakan pengajaranpengajaran, perintah-perintah.20 Dalam bahasa Yunani parh,ggeilavj dari
kata dasar parh,ggeillw yang berarti: memberi perintah, berpesan,
menyuruh.21 Kata ini merupakan kata kerja aorist active participle maskulin
singular nominatif.22 Artinya Yesus telah terlebih dahulu menginstruksikan
atau memberikan pengajaran-pengajaran/perintah-perintah sebagai
pedoman bagi para murid sebelum bermisi. Jadi, pelayanan dan
pelaksanaan misi para murid harus berdasarkan pengajaran-pengajaran atau
perintah-perintah Yesus. Pengajaran-pengajaran atau perintah-perintah itu
akan dikaji dan dipahami dalam pembahasan berikutnya, tentang tanggung
jawab para murid sebagai agen misi Yesus dalam bermisi berdasarkan
Matius 10:1-15.
17
18
19
20
21
22
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., II, 105.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 48.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 47.
Echols dan Shadily, Kamus Inggris ..., 325.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., II, 604.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 48.
Tanggung Jawab Para Murid Sebagai Agen Tunggal Misi Yesus
dalam Bermisi (ay. 6-8a)
Dalam perikop ini nama kedua belas murid Yesus secara lengkap
dituliskan, mereka ialah Simon yang disebut Petrus dan Andreas
saudaranya, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes Saudaranya, Filipus dan
Bartolomeus, Tomas dan Matius Pemungut Cukai, Yakobus anak Alfeus,
dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati
Yesus (ay. 2). Para murid yang dipanggil, diberi kuasa, diutus dan diberikan
instruksi oleh Yesus. Selain diperlengkapi, mereka juga diberikan tanggung
jawab untuk bermisi, hal itu nampak pada pembahasan berikut ini.
Para Murid Harus Pergi (Going) (ay. 6)
Pada pembahasan ini para murid diperintahkan untuk pergi, hal itu
nampak dalam frasa “pergilah” sebagaimana terjemahan baru Lembaga
Alkitab Indonesia (LAI).23 Terjemahan NIV go yang berarti: pergi,
berangkat.24 Sedangkan dalam terjemahan bahasa Yunani poreu,esqe dari
kata poreuw yang berarti: pergi, berangkat, bepergian, berjalan,
meneruskan, perjalanan, berlalu, hidup, meninggal.25 Kata poreu,esqe
dalam bentuk kata kerja orang kedua jamak present middle imperative.26
“Pergi” adalah perintah Yesus, yang mana “pergi” berlaku sejak perintah
diberikan (pada masa lampau) dan secara terus menerus, sekarang dan
sampai pada masa yang akan datang. Hal ini dapat dipahami bahwa Yesus
telah memerintahkan para murid untuk pergi melaksanakan misi-Nya bukan
hanya pada saat perintah diberikan, namun dilakukan secara
berkesinambungan selama hidup para murid. Kerinduan Yesus supaya para
murid menjadi pelaksana misi yang penuh antusias dan proaktif selama
mereka hidup.
Para Murid Harus Memberitakan (Preaching) (ay. 7)
Yesus memerintahkan para murid untuk pergi dengan tujuan misi
yang sangat jelas. Seperti yang nampak dalam terjemahan baru Lembaga
23
24
25
26
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 48.
Echols dan Shadily, Kamus Inggris Indonesia…, 272.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 661.
Ibid., 48.
Alkitab Indonesia (LAI)27 dari frasa “… dan beritakanlah: kerajaan Sorga
sudah dekat” Menurut terjemahan NIV: As you go, preach this massage:
The kingdom of heaven is near.28
Dalam ayat 7 kata “pergi” ditulis bukan dalam bentuk perintah,
melainkan bentuk partisip dengan arah medium. Bentuk ini menyatakan
bahwa pergi merupakan tindakan yang bersamaan dengan kata kerja pokok
dalam ayat 7, yakni “memberitakan.” Terjemahan NIV preach berarti:
mengajarkan, berkhotbah, menasihati.29 Sedangkan dalam bahasa Yunani
kata beritakanlah keruvssete30 yang berarti: memberitahukan,
menceritakan, berkhotbah, memuji secara terbuka. 31 Kata keruvssete
merupakan kata kerja orang kedua jamak, presen, aktif, imperative. 32 Dapat
dipahami bahwa perintah Yesus untuk memberitakan harus dilakukan
secara terus menerus, yakni pada saat perintah itu diberikan sampai selama
hidup mereka. Yesus memerintahkan para murid untuk memberitahukan,
menceritakan dan mengkhotbahkan tentang kerajaan Allah sudah dekat,
harus dilakukan terus-menerus.
Isi berita misi yang disampaikan oleh para murid harus jelas, yang
mana hal ini ditegaskan dengan kata le,gontej33 yang bentuknya sama
dengan bentuk kata “pergi” dalam ayat ini, yaitu bentuk partisip namun
dengan arah aktif. Artinya bahwa Kerajaan Sorga harus diberitakan dengan
perkataan atau proklamasi. Dalam terjemahan baru Lembaga Alkitab
Indonesia (LAI) memakai istilah “Kerajaan Sorga” 34 dan dalam terjemahan
NIV; The Kingdom of heaven.35 Dalam bahasa Yunani basilei,a tw/n
ouvranw/n36 kata basilei,a memiliki pengertian: kuasa sebagai raja, kuasa
kerajaan, (wilayah) kerajaan, kerajaan, kerajaan (Allah). 37 Kata ouvranw/n
berarti: langit, surga.38 Penggunaan istilah “kerajaan Surga” berkaitan
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 48.
Ibid.
Echols dan Shadily, Kamus Inggris Indonesia…, 442.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 48.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., II, 447.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 48.
Ibid..
Ibid.
Ibid.
Ibid.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., II, 144.
Ibid., 588.
dengan latar belakang dan tujuan penulisan Injil Matius yang dialamatkan
kepada orang Yahudi.39
Penghindaran Matius terhadap penggunaan nama Allah dengan
memakai kata Surga semata-mata mengingat pembacanya yang berlatar
belakang Yahudi. Bagi orang Yahudi penggunaaan nama Allah itu
bertentangan dengan hukum ketiga dari sepuluh hukum (Kel 20:7). 40 Vine
menjelaskan istilah Kerajaan Surga, demikian:
While, then, the sphere of the Kingdom of God and the Kingdom of
Heaven are at times identical, yet the one term cannot be used
indiscriminately for the other. In the “Kingdom of Heaven” (32 times
in Matt.), heaven is in antithesis to earth, and the phrase is limited to
the Kingdom in its earthly aspects for the time being, and is used
only dispensationally and in connection with Israel…The Kingdom
of Heaven is always the Kingdom of God, but the Kingdom of God is
not limited to the Kingdom of Heaven, until in their final form, they
become identical; e.g., Rev.11:15, RV; John 3:5; Rev.12:10.41
Frasa “sudah dekat” dalam terjemahan NIV is near42 yang berarti:
dekat. Sedangkan dalam terjemahan bahasa Yunani h;ggiken44 dari kata
e,ggi,zw yang berarti: mendekat, dekat.45 Hakh memberi pandangan
sebagai berikut:
43
Di sini kita melihat bahwa istilah eggiken (=sudah dekat) (lihat juga
Mat. 3:2; 10:7) membentuk suatu ketegangan antara masa kini dan
masa depan. Pada satu pihak istilah itu menyatakan bahwa kerajaan
itu sudah dekat, begitu dekat dalam pribadi Yesus sehingga kuasa
kerajaan itu secara menentukan bertindih dengan atau dialami pada
masa kini. namun pada pihak lain, istilah itu (eggeken) menyatakan
bahwa pemenuhan kerajaan itu belum tiba, ia (pemenuhan
39
Ola Tulluan, Introduksi Perjanjian Baru (Batu: Departemen Literatur YPPII,
t.t.), 35-36.
40
Samuel Benyamin Hakh, Pemberitaan Tentang Yesus Menurut Injil-Injil
Sinoptik (Bandung: Jurnal Info Media, 2008), 42.
41
W.E. Vine, Vines Complete Expository Dictionary (Amerika: Thomas Nelson
Publishers, 1996), 345.
42
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 48.
43
Echols dan Shadily, Kamus Inggris Indonesia…, 391.
44
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 48.
45
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., II, 233.
kerajaan itu) masih di depan karena Allah belum secara penuh
menyatakan pemerintahan-Nya.46
Kerajaan Allah sudah dekat artinya: Dalam diri Yesus kerajaan itu
telah hadir secara radikal. Arah dan tujuan dari proklamasi Injil adalah
bahwa Allah dalam pemerintahan-Nya sedang datang mendekat kepada
manusia dalam pribadi Yesus Kristus. Jadi penekanan pemberitaan yang
harus diberitakan oleh para murid dalam pelayanan misi mereka ialah:
tentang Yesus sendiri sebagai wujud kehadiran kerajaan Allah
membebaskan manusia dari kuasa dosa dan kuasa iblis.
Para Murid Harus Menyembuhkan (Healing) (ay. 8a)
Pelayanan misi yang harus dilakukan oleh para murid bukan hanya
misi pemberitaan atau proklamasi saja, karena dalam ayat 8a Yesus
memerintahkan para murid untuk melakukan pelayan misi penyembuhan
orang sakit. Hal itu nampak dalam Frasa “sembuhkanlah orang sakit.” 47
Dalam terjemahan NIV Heal yang berarti: menyembuhkan.48 Sedangkan
dalam terjemahan bahasa Yunani qerapeu49 dari kata qerapeuw yang
berarti: melayani, menyembuhkan.50 Merupakan kata kerja orang kedua
jamak, present, aktif, imperative.51 Dapat dipahami bahwa pelayanan misi
menyembuhkan orang sakit adalah suatu perintah yang harus dilakukan,
karena bukan suatu pilihan dan harus segera dilakukan sesudah perintah itu
diberikan, selain dilakukan saat itu, juga harus berlangsung terus-menerus
dalam waktu di kemudian hari.
Frasa “orang sakit” dalam terjemahan NIV the sick yang berarti:
orang-orang yang sakit.52 Dalam terjemahan bahasa Yunani sqenou/ntaj dari
kata asqenew yang berarti: menjadi lemah, atau tidak berdaya, (termasuk
dalam pengertian ekonomi, rasa takut, moral, atau agama), menderita
penyakit.53 Bila dipahami dari berbagai keadaan orang yang harus dilayani
46
47
48
49
50
51
52
53
Hakh, Pemberitaan Tentang Yesus Menurut..., 44.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 48.
Echols dan Shadily, Kamus Inggris Indonesia…, 293.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 48.
Ibid., 71.
Ibid., 48.
Echols dan Shadily, Kamus Inggris Indonesia…, 525.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., II, 123.
berdasarkan kata astenej maka pelayanan penyembuhan yang Yesus
maksudkan bagi para murid ialah bersifat holistik. Jadi bentuk dan
pendekatan pelayanan misi para murid bersifat holostik berdasarkan misi
Yesus.
Para Murid Harus Membangkitkan (Raising) (ay. 8b)
Misi membangkitkan yang diperintahkan Yesus kepada para murid
pada pembahasan ini ialah membangkitkan orang mati sebagai mana
tertulis dalam terjemahan baru Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). 54 Dalam
terjemahan NIV memakai kata raise the dead,55 yang dapat berarti
hidupkanlah yang mati. Sedangkan dalam terjemahan bahasa Yunani
nekrou.j evgei,rete56 kata nekrou.j dari kata dasar nekro.j yang berarti:
mati, yang tidak berguna.57 Sedangkan kata evgei,rete dari kata dasar
evgei,rw yang berarti: membangunkan (orang tidur), bangun (dari tidur),
membangkitkan (agar berdiri), bangkit (berdiri), membangkitkan (orang
mati), mendirikan kembali, menjadikan, tampil.58 Kata evgei,rete
merupakan kata kerja orang kedua jamak presen aktif imperatif. 59 Dapat
dipahami bahwa misi para murid untuk membangkitkan orang mati adalah
suatu perintah yang harus dilakukan segera sesudah perintah itu diberikan
dan harus berlangsung terus menerus, sebagai suatu pola pelayanan misi
yang berkelanjutan. Dengan demikian membangkitkan orang mati tidak
boleh dipahami secara sempit, karena kematian yang dimaksud dalam teks
ini bukan hanya kematian secara fisik (tubuh), tetapi juga kematian secara
roh (rohnya mati, tubuhnya masih hidup).
Misi membangkitkan orang mati adalah merupakan salah satu
mujizat dalam PB.60 Tujuan mujizat ialah untuk menyatakan bahwa Yesus
adalah Tuhan atas alam (Luk.8:41-56) dan sebagai bukti bahwa Kerajaan
Allah telah hadir dalam pelayanan-Nya (Mat 11:2-5, 12:28). Mujizat
menjadi suatu tanda bahwa keselamatan telah hadir dalam kuasa Allah,
sebab orang mati telah dibangkitkan dan setan-setan telah diikat, orang
54
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 48.
Ibid.
56
Ibid.
57
Ibid., 536.
58
Ibid., 234.
59
Ibid., 48.
60
J. D. Douglas, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini (Jakarta: Yayasan Komunikasi
Bina Kasih, 2005), 96.
55
sakit disembuhkan.61 Tujuan mujizat bukan sekedar membangkitkan orang
yang telah mati saja, tetapi bertujuan misiologi dan soteriologi. Jadi
pelayanan misi para murid untuk membangkitkan orang mati harus
berdasarkan pada tujuan misi Yesus yang bersifat misiologis dan
soteriologis.
Para Murid Harus Mentahirkan (Cleansing) (ay. 8c)
Misi mentahirkan merupakan bentuk misi Yesus kepada para murid,
hal tersebut nampak dalam frasa, “tahirkanlah orang kusta” dalam
terjemahan baru Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). 62 Dalam terjemahan
NIV memakai kata cleanse those who hev leprosy,63 dalam terjemahan
bahasa Yunani leprou.j kaqari,zete,64 kata leprou.j dari kata dasar lepro.j
yang berarti: yang sakit kusta.65 Sedangkan kata kaqari,zete dari kata dasar
kaqari,zw yang berarti: membersihkan, mentahirkan, melenyapkan,
menyatakan bersih, menyucikan.66 Berbentuk kata kerja orang ke dua
jamak presen aktif imperative.67 Dapat dimengerti bahwa misi mentahirkan
orang kusta adalah misi yang harus dilakukan oleh para murid karena
merupakan suatu perintah dan segera dilakukan sesudah menerima perintah,
serta berlangsung terus-menerus dalam pelayanan di kemudian hari. Dalam
PL orang yang mengalami penyakit kusta dianggap najis dan dikucilkan
dari tengah masyarakat.68 Penjangkauan para murid dalam misi berdasarkan
hakekat misi Yesus, termasuk kepada orang yang termarjinalkan dalam
masyarakat.
Para Murid Harus Mengusir Setan (Driving Out) (ay. 8d)
Selain misi pemberitaan atau proklamasi dan penyembuhan, Yesus
juga memerintahkan dan mengarahkan para murid untuk melakukan
pelayanan misi pengusiran setan-setan, hal itu nampak dalam frasa “usirlah
61
62
63
64
65
66
67
68
Pasaribu, Injil Sinoptik..., 147.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 48.
Ibid.
Ibid.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear...., II, 485.
Ibid., 409.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 48.
Herbert Haag, Kamus Alkitab (Flores: Nusa Indah, 1992), 241.
setan-setan” dalam terjemahan baru Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). 69
Sedangkan dalam terjemahan NIV drive out demons.70 Drive out artinya:
mengusir, mengeluarkan.71 Sedangkan kata demons memiliki pengertian:
setan-setan. Iblis-iblis, jin-jin.72 Dalam terjemahan bahasa Yunani
daimo,nia evkba,llete73 kata daimo,nia dari kata daimo,nia yang berarti:
roh jahat, dewa.74 Karena berbentuk plural, maka dapat dipahami bahwa
roh jahat itu berjumlah lebih dari satu (banyak), sehingga lebih tepat
memakai kata roh-roh jahat. Sedangkan kata evkba,llete dari kata evkba,llw
berarti: melemparkan keluar, mengusir, membawa keluar, menyuruh pergi,
membawa, mengucilkan, menghina, memfitnah.75 Kata evkba,llete berasal
dari kata kerja orang kedua jamak aktif imperatif.76 Dapat dimengerti
bahwa para murid harus melakukan misi pengusiran setan itu segera
sesudah Yesus memerintahkannya dan dilakukan terus-menerus dalam
waktu pelayan ke depan. Penjangklauan misi para murid berdasarkan misi
Yesus ialah pelepasan dari kuasa setan-setan.
Sikap dan Motivasi Para Murid sebagai Agen Misi Yesus (ay. 8b)
Sikap dan motivasi yang Yesus ajarkan kepada para murid sebagai
agen tunggal misi Yesus ialah dalam frasa “kamu telah memperolehnya
dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah juga dengan cuma-cuma.”77 Kata
dengan cuma-cuma dalam bahasa Yunani dwrea.n yang berarti: dengan
cuma-cuma, tanpa alasan, dengan sia-sia.77 Sedangkan kata evla,bete dari
kata dasar lambanw yang berarti: mengambil, menerima, memegang,
membawa. Memikul, mengenakan, memiliki, beroleh. 78 Kata evla,bete
berbentuk kata kerja orang kedua jamak aorist aktif indikstif. 79 Artinya
69
70
71
72
73
74
75
76
77
77
78
79
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 48.
Ibid., 48.
Echols dan Shadily, Kamus Inggris Indonesia…, 199.
Ibid., 173.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., I, 48.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear....., II, 480.
Ibid., 256.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 48.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 48.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., II, 231.
Ibid., 447.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 48.
bahwa para murid telah benar-benar memperolehnya, sudah dimiliki
dengan gratis. Yang mereka peroleh ialah: panggilan sebagai kepercayaan
bermisi, kuasa sebagai kemampuan bermisi, pengutusan sebagai kelayakan
dan keabsahan bermisi dan arahan, petunjuk sebagai pedoman dan strategi
bermisi. Hal tersebut juga dapat mengacu kepada semua yang telah diterima
oleh para murid selama bersama Yesus. Kata berikanlah yaitu do,te dari
kata dasar dido,tmi yang berarti: memberikan, membagi-bagikan,
mengurbankan,80 dari kata kerja orang kedua jamak aorist aktif
imperative.81 Yesus telah memerintahkan para murid untuk melakukan
pelayanan misi dengan penuh pengurbanan bukan mencari keuntungan.
Sikap dan motivasi misi para murid berdasarkan misi Yesus ialah misi yang
rela berkurban.
Objek Pelayanan Misi Yesus Kepada Para Murid (ay. 6)
Frasa yang menyatakan objek misi Yesus kepada para murid dapat
dimengerti dari frasa “domba-domba yang hilang dari umat Israel” dalam
terjemahan baru Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). 82 Dalam terjemahan
NIV memakai kata rather to the lost sheep of Israel.83 Sedangkan dalam
terjemahan bahsa Yunani pro,bata ta. avpolwlo,ta oi;kou VIsrah,lÅ84 Kata
tersesat avpolwlo,ta dari kata dasar avpollumi yang memiliki arti:
membinasakan, membunuh, mati, menuju kebinasaan, kehilangan, rusak,
terbuang, tersesat.85 Kata avpolwlo,ta (berbentuk kata kerja perfek aktif
partisip maskulin plural akusiatif),86 artinya orang-orang Israel yang
dianalogikan dengan domba berada dalam keadaan tersesat jauh dari Tuhan,
sebagai akibat dari kehidupan mereka yang telah menjauh dari Tuhan.
Dalam konteks ini, misi Yesus secara khusus dialamatkan kepada orangorang Israel yang belum percaya. Namun dalam keseluruhan kitab Matius
dapat dilihat bahwa sesungguhnya misi Yesus bukan hanya menjangkau
orang Israel tetapi juga menjangkau semua orang di luar bangsa Israel (bnd.
Mat 28:19-20). Dengan demikian, semakin jelas bahwa misi Yesus bersifat
80
81
82
83
84
85
86
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., II, 206.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 48.
Ibid.
Ibid.
Ibid.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., II, 102.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 48.
universal. Oleh karena itu objek misi para murid harus bersifat universal
sebagaimana misi Yesus yang universal.
Tindakan Para Murid Terhadap Kebutuhan Pelayanan Misi
(ay. 9 dan 10)
Dalam terjemahan baru Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)
menuliskan bahwa para murid dilarang oleh Yesus membawa: emas, perak,
tembaga, bekal, baju dua helei, kasut dan tongkat. 87 Sedangkan dalam
terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) dan juga dari terjemahan
bahasa Yunani lebih memperjelas lagi bahwa yang dimaksud dengan emas,
perak, tembaga itu ialah uang yang terbuat dari emas, perak, tembaga. 88
Larangan itu nampak dalam frasa “janganlah.” 89 Janganlah dalam bahasa
Yunani Mh yang berarti: tidak, jangan, supaya jangan, apakah mungkin,
jangan lagi.90 Kata Mh merupakan kata partisip negatif.91 Para murid tidak
boleh membawa bekal selama mereka pelayanan misi dalam konteks teks
Matius 10:1-15. Sedangkan kata membawa dalam terjemahan NIV; take
yang berarti: mengambil, menerima, memerlukan, membawa,
menggunakan, melakukan.92 Dalam bahasa Yunani kth,shsqe dari kata dasar
ktsomai yang berarti: memperoleh.93 Kata kth,shsqe berbentuk kata kerja
orang kedua jamak aorist middle subjunctive.94 Yesus telah mengajak para
murid untuk tidak membawa uang, baju lebih dari dua, bekal, kasut dan
tongkat. Yesus mengerti bahwa para murid tentu memerlukan kebutuhan
pelayan misi, tetapi Yesus mau membawa mereka pada suatu pemahaman
yang benar mengenai kebutuhan pelayan misi, hal itu nampak dalam frasa
“sebab seorang pekerja patut mendapat upah.” Upah dalam bahasa Yunani
trofh/j95 dari kata dasar trofh yang berarti makanan.96 Dapat dimengerti
bahwa yang harus menjadi fokus dan prioritas para murid ialah pelayanan
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 48.
Ibid.
Ibid.
Ibid., 517
Ibid. 48
Ibid.
Ibid., 466.
Ibid., 48.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 49.
Ibid., 765
misi, bukan kebutuhan. Kebutuhan akan dicukupi oleh Tuhan, Ia
memperhitungkan jerih lelah dan kebutuhan para misionari-Nya.
Wilayah Pelayanan Misi (ay. 11)
Yang mengungkapkan wilayah pelayanan misi dalam pengajaran
Yesus kepada para muird nampak dalam frasa “apabila kamu masuk kota
atau desa” terjamahan baru Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). 97 Dalam
terjemahan NIV whatever town or village you enter.98 Whatever artinya:
apa saja, apapun.99 Town artinya: kota100 dan village artinya: desa, dusun,
kampung.101 Sedangkan dalam terjemahan bahasa Yunani eivj h]n dV a'n
po,lin h' kw,mhn 102 kata h]n berarti: apa saja.103 Kata h]n berbentuk kata
ganti (pronoun) relative feminism singular akusiatif. 104 Kata po,lin dari kata
dasar po,lij yang berarti: kota (penduduk) kota.105 Sedangkan kata kw,mhn
dari kata dasar kw,mh yang artinya: desa, penduduk desa.106 Jika dipahami
dari bentuk kasus kata h]n memang Yesus tidak mewajibkan para murid
untuk pelayanan di kota atau desa, karena bersifat relatif tidak mutlak
berlaku untuk semua orang/tempat. Tetapi setidaknya lewat pengajaran
Yesus pada waktu mengutus para murid dalam Matius 10:1-15 nampak
adanya penjangkauan misi kepada penduduk di kota dan desa. Dapat juga
dipahami bahwa bukan masalah tempat yang menjadi prioritas, tetapi orang
yang tersesat (jiwa yang belum diselamatkan) yang berdomisili di kota atau
desa. Maka sebenarnya melakukan pelayanan misi harus secara holistik
baik dari segi geografis (wilayah), maupun strategi, metode dan jenis
pelayanan, misi tidak hanya difokuskan pada daerah perkotaan atau
pedesaan saja. Keberadaan orang terabaikan ada di kota maupun desa (yang
miskin, pemulung).
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 48.
Ibid., 49.
Echols dan Shadily, Kamus Inggris Indonesia…, 644.
Ibid., 599.
Ibid., 630.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 49.
Ibid.
Ibid.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., II, 657.
Ibid., 475.
Strategi Pelayanan Misi (ay. 11 12 dan 13)
Carilah, Tinggallah, Berilah
Strategi misi Yesus sebagai instruktur misi kepada para murid dapat
dipahami dari frasa: “carilah orang yang layak untuk tinggal” (ay. 11),
“masuk rumah dan berilah salam” (ay 12).107 Kata carilah dalam bahasa
Yunani evxeta,sate dari kata dasar evxeta,zw yang berarti: menyelidiki,
bertanya, menanyai.108 Kata evxeta,sate dalam bentuk kata kerja orang
kedua jamak aorist imperative.109 Artinya Yesus telah memerintahkan para
murid untuk melakukan pendekatan misi lewat kehidupan sosial
masyarakat, dengan mencari orang yang layak, yang mau menerima mereka
untuk menginap di rumahnya. Sedangkan kata berilah salam, dalam bahasa
Yunani avspa,sasqe dari kata dasar avspa,zomai yang berarti: memberi
salam kepada, meminta diri, memberi hormat, menyambut, merasa
berharga, mengucapkan selamat.110 Kata avspa,sasqe dalam bentuk kata
kerja orang kedua jamak aorist middle imperative.111 Artinya Yesus telah
memerintahkan para murid supaya menerapkan pendekatan misi etika
kehidupan sosial masyarakat, dengan memberi salam dan hormat tatkala
masuk ke rumah orang lain.
Sikap Terhadap Penolakan dalam Pelayanan Misi (ay. 14)
Bagaimana para murid harus bersikap tatkala menghadapi
penolakan dalam pelayanan misi sudah diajarkan oleh Yesus seperti yang
nampak dalam ayat 14 “apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak
mendengar perkataan mu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu
dan kebaskanlah debu dari kaki mu.” Ada dua langkah yang perlu
dilakukan oleh para murid apabila ditolak, yaitu: tinggalkanlah,
kebaskanlah. Kata tinggalkanlah dalam bahasa Yunani evxerco,menoi dari
kata dasar evxerco,mai yang berarti: pergi ke luar, datang, pergi, berangkat,
keluar turun, meninggal (dunia), menyebar, lenyap.112 Kata evxerco,menoi
107
108
109
110
111
112
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 48.
Ibid., 288.
Ibid., 48.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., II, 124.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 49.
Ibid., 287.
dari kata kerja present middle participle maskulin jamak nominatif.113
Artinya Yesus memerintahkan para murid untuk keluar dan pergi
tinggalkan. Sedangkan kata evktina,xate dari kata dasar evktina,ssw yang
berarti: mengebaskan (debu)-mengebaskan debu dari kaki sebagai tanda
pemutusan hubungan.114 Kata evktina,xate berbentuk kata kerja orang
kedua jamak aorist aktive imperative.115 Artinya Yesus telah
memerintahkan para murid untuk mengebaskan debu dari kaki mereka.
Sikap terhadap penolakan misi dalam ajaran misi Yesus ialah pergi dan
meninggalkan, indikasinya ialah tidak boleh melakukan perlawanan dan
pemaksaan misi.
Penghakiman Terhadap Para Penolak Misi (ay. 15)
Penghukuman terhadap orang yang menolak misi Allah tertulis pada
ayat 15: “sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora
akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu. Sedangkan dalam
terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menuliskan: “pada hari
kiamat, orang-orang kota Sodom dan Gomora akan lebih mudah diampuni
Allah, dari pada orang-orang di Kota itu!”116 Frasa penghakiman dalam
bahasa Yunani kri,sewj dari kata dasar kri,sij yang berarti: penghakiman,
pengadilan, pengadilan (lokal), tuduhan, putusan, kuasa, menghakimi,
dasar menghakimi, hukuman, keadilan.117 Jelas dalam pengajaran misi
Yesus bahwa setiap orang yang menolak utusan misi Yesus akan dihakimi
pada hari kiamat, dengan penghukuman yang sangat berat dan pasti.
Menurut terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS): “ingat! Pada hari
kiamat, orang-orang kota Sodom dan Gomora, akan lebih mudah diampuni
Allah dari pada orang-orang di kota ini!”. Penghakiman dan penghukuman
itu pasti dan serius, hal itu dapat dipahami dari penegasan Yesus dalam
frasa: “Aku berkat kepada mu:..” menurut Terjemahan baru Lembaga
Alkitab Indonesia (LAI). Sedangkan dalam terjemahan Bahasa Indonesia
Sehari-hari, memakai kata Ingatlah!” dan dalam terjemahan bahasa Yunani
avmh.n118 artinya: amin, sesungguhnya, sungguh-sungguh.119 Itu berarti
113
114
115
116
117
118
119
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 49.
Ibid., 265.
Ibid., 49.
Ibid.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., II, 464.
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 49.
Ibid., 55.
bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus adalah kebenaran.
MISI GEREJA DALAM MENJALANKAN MISI ALLAH
BERDASARKAN HAKIKAT MISI YESUS
KEPADA PARA MURID
Dasar Misi Gereja
Gereja dipanggil Allah untuk melaksanakan misi-Nya di tengahtengah dunia ini. Gereja merupakan agen tunggal misi Yesus, sehingga
seluruh kehidupan Gereja seharusnya diresapi oleh beban misi. Pelayanan
misi bukan merupakan pelayanan sampingan Gereja. Oleh karena itu
kekuatan pemahaman dan semangat kegerakan misi Gereja sebagai agen
tunggal misi Allah yang juga adalah misi Yesus, hanya berdasarkan pada
hakekat misi Yesus yang juga adalah misi Allah.
Pelayanan misi Gereja tidak dapat dilepaskan dari Yesus sendiri
yang memiliki peran utama dalam bermisi. Yesus-lah yang menjadi inisiator
misi Gereja, di mana misi Gereja harus dilaksanakan sesuai dengan
kehendak Tuhan Yesus. Selain itu Gereja juga sangat bergantung pada
kuasa Tuhan yang memampukan Gereja-Nya bermisi. Tuhan Yesus
memanggil Gereja-Nya bukan untuk berpangku tangan, tetapi Yesus juga
mengutus Gereja-Nya untuk pergi bermisi dengan petunjuk-petunjuk yang
lengkap, yang harus dikerjakan oleh Gereja. Sehingga pelayanan misi
Gereja memiliki arah yang jelas dan efektif.
Tanggung Jawab Gereja dalam Bermisi
Gereja sebagai agen tunggal misi Yesus diperintahkan untuk pergi
melaksanakan misi-Nya. Gereja tidak boleh berdiam diri dalam
kenyamanan menikmati berkat-berkat Tuhan, namun Gereja harus bergerak
dan memikul tanggungjawab misi yang Tuhan Yesus embankan kepada
Gereja. Inti pemberitaan Gereja dalam bermisi adalah Kerajaan Allah yang
terimplementasi dalam pelayanan penyembuhan orang “sakit,” yaitu yang
lemah/ tidak berdaya (termasuk dalam pengertian ekonomi, rasa takut,
moral, atau agama), juga yang menderita penyakit.
Pelayanan misi Gereja haruslah bersifat holistic, mencakup seluruh
aspek kehidupan manusia (jasmani dan rohani). Selain itu, kerajaan Allah
juga diimplementasikan melalui pelayanan Kebangunan Rohani
(membangkitkan orang yang mati secara rohani). Gereja juga terpanggil
untuk mentahirkan orang-orang yang dianggap najis, yang termarjinalkan
dari tengah masyarakat serta melakukan pelayanan pengusiran roh-roh
jahat, iblis, setan-setan yang merasuk dan merusak bahkan menghancurkan
hidup ataupun masa depan manusia.
Sikap dan Motivasi Gereja sebagai Agen Tunggal Misi Yesus
Gereja dipanggil, diberi otoritas/kuasa dan diutus sebagai agen misi
tunggal Allah berdasarkan kasih karunia Allah, bukan karena kelayakan
Gereja. Karena itu, motivasi Gereja dalam melaksanakan misi harus benar,
bukan untuk mencari kebesaran namanya sendiri, bukan pula mencari
keuntungan berupa harta kekayaan. Yesus justru memerintahkan GerejaNya untuk melakukan pelayanan misi dengan penuh pengurbanan bukan
mencari keuntungan. Sikap dan motivasi misi Gereja berdasarkan misi
Yesus ialah misi yang rela berkurban.
Objek Pelayanan Misi Gereja
Pelayanan misi Gereja harus memiliki sasaran yang tepat sesuai
dengan yang Tuhan Yesus maksudkan. Obyek misi Gereja bersifat
universal. Misi Gereja bukan hanya kepada golongan tertentu, melainkan
kepada semua orang yang berada dalam keadaan tersesat, orang-orang yang
jauh karena menjauhkan diri dari Tuhan, termasuk kepada orang yang
mengaku Kristen tetapi belum menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat
pribadinya. Selain itu, Gereja juga harus menjangkau orang yang jauh dari
Tuhan karena mereka tidak mengenal Tuhan yang telah menciptakan
mereka dan yang berotoritas atas hidup mereka.
Tindakan Gereja terhadap Kebutuhan Pelayanan Misi
Yesus menghendaki Gerejanya tidak terikat atau tidak bergantung
kepada materi dalam melaksanakan pelayanan misi. Tuhan Yesus sangat
memahami bahwa pelayanan misi Gereja memiliki kebutuhan yang
diperlukan untuk pelayanan misi, namun Tuhan menghendaki Gereja
memilki fokus dalam bermisi, yaitu menjangkau jiwa-jiwa yang tersesat.
Tuhan Yesus pasti akan mecukupkan kebutuhan pelayanan misi karena
Tuhan juga menyediakan upah bagi Gereja yang bermisi. Jadi, keterbatasan
materi tidak boleh menjadi alasan bagi Gereja untuk tidak bermisi.
Wilayah Pelayanan Misi Gereja
Pelayanan misi Gereja memiliki jangkauan yang sangat luas, yaitu
di daerah perkotaan dan pedesaan, karena wilayah hunian manusia adalah
kota-kota dan desa-desa. Namun penekanan dalam pelayanan misi bukan
pada wilayah, namun pada manusia yang menjadi penghuni wilayah
tersebut (kota atau desa). Oleh karena itu, Gereja tidak boleh melakukan
pengkotakan wilayah penjangkauan misi.
Strategi Pelayanan Misi Gereja
Gereja perlu memiliki strategi dalam pelayanan misi, karena strategi
misi sangat mempengaruhi efektifitas pelayanan misi Gereja. Tentu banyak
strategi dalam pengajaran misi Yesus bahwa setiap orang yang menolak
utusan misi Yesus akan dihakimi pada hari kiamat, dengan penghukuman
yang pasti. Menurut terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS): “ingat!
Pada hari kiamat, orang-orang kota Sodom danGomora, akan lebih mudah
diampuni Allah dari pada orang-orang di kota ini!” Penghakiman dan
penghukuman itu pasti dan serius, hal itu dapat dipahami dari penegasan
Yesus dalam frasa: “Aku berkat kepada mu:..” menurut Terjemahan baru
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Sedangkan dalam terjemahan Bahasa
Indonesia Sehari-hari, memakai kata “Ingatlah!” dan dalam terjemahan
bahasa Yunani avmh.n120 artinya: amin, sesungguhnya, sungguhsungguh.121
Adapun strategi misi yang dapat dilakukan oleh Gereja adalah
pendekatan misi melalui kehidupan sosial masyarakat, dengan mencari
orang yang layak, yang mau menerima mereka untuk menginap di
rumahnya. Pendekatan misi ini dapat disebut pendekatan misi etika
kehidupan sosial masyarakat.
Sikap Gereja terhadap Penolakan dalam Pelayanan Misi
Keseriusan Gereja dalam melaksanakan pelayanan misi bukan tanpa
resiko. Resiko penolakkan dalam pelayanan misi telah diingatkan oleh
120
121
Susanto, Perjanjian Baru Interlinear..., I, 49.
Ibid., 55.
Tuhan Yesus pada saat mengutus para murid-Nya. Hal ini menjadi
peringatan kepada Gereja bahwa akan ada resiko penolakan yang akan
diterima oleh Gereja dalam menjalankan pelayanan misi. Dalam menyikapi
penolakan tersebut, Gereja harus mengambil tindakan yang tepat
sebagimana yang telah diajarkan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya,
yakni meninggalkan orang yang menolak tanpa melakukan perdebatan,
perlawanan dan pemaksaan misi kepada orang tersebut.
Penghakiman terhadap Para Penolak Misi
Dalam pelayanan misi, Gereja tidak boleh gentar dan tawar hati
apabila ditolak karena setiap orang yang menolak utusan misi Yesus akan
dihakimi pada hari kiamat, dengan penghukuman yang pasti dan serius.
Oleh karena itu Gereja atau utusan misi tidak perlu menghakimi para
penolak misi karena penghakiman adalah hak Allah. Di samping itu, hal ini
menjadi penghiburan bagi Gereja dan setiap utusan misi, tatkala
menghadapi penolakan. Maka Gereja dan para utusan misi harus tetap
bersemangat dan terus maju dalam pekerjaan misi, sekalipun ada penolakan
berupa penganiayaan bahkan ancaman kematian sebagaimana perkataan
Tertulianus yang seringkali dikutip oleh orang percaya bahwa “darah
martir adalah benih Gereja.”
PENUTUP
Misi Yesus tidak dapat dilepaskan dari peran Yesus sendiri
sebagaimana terdapat dalam Matius 10:1-15. Yesus adalah inisiator misi,
dimana Yesus sendiri berinisiatif dan bertindak memamggil para murid.
Kehadiran dan keterlibatan para murid dalam pelayanan misi semata-mata
dimungkinkan hanya oleh anugerah Tuhan Yesus yang memanggil. Sebagai
dinamisator (authorial) misi, Yesus memberi kuasa kepada para murid
untuk bermisi, kemudian Yesus juga bertindak sebagai delegator (sender)
misi, yang mengirim/mengutus para murid untuk bermisi, dalam waktu
yang bersamaan, Yesus juga selaku instructor misi memberikan arah yang
jelas melalui petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan para murid dalam
bermisi. Keempat hal tersebut di atas, menjadi pilar pelayanan misi para
murid.
Download