III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka

advertisement
III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Konsep Manajemen
Manajemen mengacu pada proses dalam menyelesaikan suatu aktivitas
secara efisien dengan dan melalui orang lain (Robbin, 1991). Menurut Handoko
(2000), manajemen didefinisikan sebagai bekerja dengan orang-orang untuk
menentukan, menginterpretasikan, serta mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan
pelaksanaan
fungsi-fungsi
perencanaan
(planning),
pengorganisasian
(organizing), penyusunan personalia atau kepegawaian (staffing), pengarahan dan
kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling). Sedangkan menurut
Stoner6, manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan
sumberdaya-sumberdaya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang
telah ditetapkan.
3.1.2 Konsep Strategi
Menurut Glueck dan Jauch (1991), strategi adalah rencana yang disatukan,
luas, dan terintegrasi yang menghubungkan keunggulan strategi perusahaan
dengan tantangan lingkungan dan yang direncanakan untuk memastikan bahwa
tujuan utama dari perusahaan itu dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat
oleh organisasi. Sedangkan menurut Hamel dan Prahald dalam Tinambunan
(2005) menyatakan bahwa strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental
(senantiasa meningkat) dan terus-menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut
pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Dengan
demikian, strategi hampir selalu dimulai dari apa yang telah terjadi. Strategi
adalah program luas untuk menentukan dan mencapai tujuan organisasi, respon
organisasi pada lingkungan sepanjang waktu. Strategi merupakan alat untuk
mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang,
program tindak lanjut serta prioritas alokasi sumberdaya (Chandler dalam
Tinambunan, 2005).
6
Situs BPK Penabur. http://www1.bpkpenabur.or.id/kps-jkt/berita/200006/artikel3.htm. [28 Maret
2010]
22
1) Manajemen Strategi
Manajemen strategi merupakan seni atau ilmu untuk memformulasi,
mengimplementasi, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsional yang
memungkinkan organisasi dapat mencapai tujuannya (David, 2006). Yang
dimaksud fungsional yaitu fungsi-fungsi yang terdapat dalam sebuah organisasi
seperti : manajemen, pemasaran, produksi/operasi, keuangan/akuntansi, penelitian
dan pengembangan, serta sistem informasi manajemen.
Manajemen strategis meliputi pengamatan lingkungan, perumusan strategi
(perencanaan strategis atau perencanaan jangka panjang), implementasi strategi,
dan evaluasi serta pengendalian. Manajemen strategis menekankan pada
pengamatan dan evaluasi peluang dan ancaman lingkungan dengan melihat
kekuatan dan kelemahan perusahaan. Manajemen strategis merupakan upaya
dalam mencari cara untuk mengelola semua sumberdaya guna mengembangkan
keunggulan kompetitif dan menciptakan kesuksesan dimasa mendatang.
2)
Tahap Proses Manajemen Strategi
Proses manajemen strategi merupakan hal yang dinamis dan berkelanjutan.
Menurut David (2006), proses manajemen strategi terdiri dari tiga tahap, yaitu
tahap perumusan strategi, implementasi strategi, dan evaluasi strategi (Gambar 1).
Melakukan
audit eksternal
Mengembangkan
pernyataan
visi dan
misi
Menetapkan
tujuan jangka
panjang
Membuat,
mengevaluasi, dan
memilih
strategi
Implementasi
strategi
manajemen
Implementa
si strategi
pemasaran,
keuangan,
Litbang,
SIB
Menguk
ur dan
mengeva
luasi
kinerja
Melakukan
audit internal
Perumusan
strategi
Implementasi
strategi
Evaluasi
strategi
Gambar 1. Model Komprehensif Manajemen Strategi
Sumber : David (2006)
23
a)
Formulasi Strategi
Formulasi strategi termasuk mengembangkan visi dan misi, menentukan
kekuatan dan kelemahan internal, mengidentifikasi peluang dan ancaman
eksternal, menetapkan tujuan jangka panjang, merumuskan alternatif strategi, dan
memilih strategi tertentu yang akan dilaksanakan.
Dalam perumusan strategi, terdapat tiga tahap kerangka kerja perumusan
strategi yang komprehensif untuk membantu dalam pengambilan keputusan
(Gambar 2).
Tahap 1: TAHAP INPUT
Matriks Evaluasi Faktor
Matriks Profil
Matriks Evaluasi Faktor
Internal (IFE)
Kompetitif (CPM)
Eksternal (EFE)
Tahap 2: TAHAP PENCOCOKAN
Matriks
Matriks
Matriks
Matriks
Matriks
SWOT
SPACE
BCG
IE
Grand Strategy
Tahap 3: TAHAP KEPUTUSAN
Matriks Perencanaan Strategi Kualitatif
Qualitative Strategic Planning Matrix-QSPM
Gambar 2. Kerangka Kerja Analisis Perumusan Strategi
Sumber: David (2006)
i.
Tahapan Input, yaitu tahapan yang meringkas informasi dasar yang
dibutuhkan untuk merumuskan strategi. Informasi dasar tersebut diperoleh
dari analisis terhadap faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal
organisasi melalui matriks IFE dan EFE. Selama tahap awal dari proses
perumusan strategi, alat input membutuhkan penyusunan strategi untuk
mengkuantifikasikan secara subjektif. Setiap keputusan kecil dalam matriks
input berhubungan dengan tingkat kepentingan relatif dari faktor internal dan
eksternal yang memungkinkan penyusun strategi untuk menghasilkan dan
mengevaluasi alternatif strategi dengan lebih efektif.
ii.
Tahap Pencocokan, terdiri dari lima teknik yang dapat digunakan, yaitu
Matriks SWOT, Matriks SPACE, Matriks BCG, Matriks IE, dan Matriks
Grand Strategy. Seluruh alat ini bergantung pada informasi yang diturunkan
dari tahap input untuk mencocokkan kekuatan dan kelemahan internal dengan
peluang dan ancaman eksternal. Mencocokkan faktor-faktor keberhasilan
24
internal dan eksternal adalah kunci untuk menghasilkan alternatif strategi yang
layak dan efektif.
iii.
Tahap Keputusan, melibatkan strategi tunggal yaitu Matriks Perencanaan
Strategis Kualitatif (Qualitative Strategic Planning Matrix-QSPM). QPSM
menggunakan masukan dari tahap input untuk mengevaluasi secara objektif
alternatif-alternatif strategi yang layak dan dengan demikian memberikan
dasar tujuan untuk memilih strategi yang spesifik.
b) Implementasi Strategi
Mensyaratkan perusahaan untuk menetapkan tujuan tahunan, membuat
kebijakan, memotivasi karyawan, dan mengalokasikan sumberdaya sehingga
strategi yang telah diformulasikan dapat dijalankan. Implementasi strategi
termasuk mengembangkan budaya yang mendukung strategi, menciptakan
struktur organisasi yang efektif, dan mengerahkan usaha pemasaran, menyiapkan
anggaran,
mengembangkan
dan
memberdayakan
sistem
informasi
dan
menghubungkan kinerja karyawan dengan kinerja organisasi.
Implementasi strategi biasanya disebut juga dengan tahap pelaksanaan
dalam manajemen strategis. Melaksanakan strategi berarti memobilisasi karyawan
dan manajer untuk menempatkan strategi yang telah diformulasikan menjadi
tindakan. Suksesnya implementasi strategi terletak pada kemampuan manajer
untuk memotivasi karyawan agar mampu melaksanakan strategi yang telah
dirumuskan.
c)
Evaluasi Strategi
Evaluasi strategi adalah tahap final dalam manajemen strategi. Evaluasi strategi
dilakukan untuk mengetahui kapan strategi tidak dapat berjalan seperti yang
diharapkan. Ada tiga macam aktivitas mendasar untuk mengevaluasi strategi,
yaitu: (1) meninjau ulang faktor internal dan eksternal yang menjadi dasar
strategi, (2) mengukur kinerja, dan (3) mengambil tindakan korektif.
3.1.3 Formulasi Strategi
Tahap formulasi strategi terdiri dari: (1) pernyataan visi dan misi, (2)
analisis lingkungan perusahaan, dan (3) menetapkan tujuan jangka panjang, (4)
merumuskan alternatif strategi, dan (5) memilih strategi tertentu yang akan
dilaksanakan.
25
1) Pernyataan Visi dan Misi
Setiap organisasi memiliki tujuan yang unik dan alasan keberadaan yang
tercermin dalam pernyataan visi dan misi. Pernyataan visi dan misi merupakan
tahap pertama dalam manajemen strategis yang memberikan arah bagi semua
aktivitas perencanaan. Pernyataan visi dan misi yang didesain dengan baik adalah
penting untuk formulasi, implementasi, dan evaluasi strategi.
Pernyataan visi seharusnya menjawab pertanyaan mendasar, “Apa yang
ingin kita capai?”. Visi yang jelas memberikan dasar untuk mengembangkan misi
yang komprehensif. Sedangkan pernyataan misi adalah deklarasi mengenai alasan
keberadaan sebuah organisasi yang menjawab pertanyaan seputar “Apa bisnis
kita?”. Pernyataan misi merupakan pernyataan jangka panjang tentang tujuan
yang membedakan suatu organisasi dengan organisasi serupa. Pernyataan misi
yang jelas menggambarkan nilai dan prioritas dari suatu organisasi yang penting
untuk perumusan tujuan dan formulasi strategi yang efektif (David, 2006).
2) Analisis Lingkungan Perusahaan
a) Penentuan Produk Prospektif dan Segmen Pasar Potensial dengan Metode
Perbandingan Eksponensial (MPE)
Sebelum melakukan analisis terhadap faktor-faktor strategis internal
perusahaan yang menjadi kekuatan dan kelemahan dalam suatu perusahaan,
dilakukan pengkajian terlebih dahulu terhadap produk prospektif dan segmen
pasar yang potensial bagi bisnis yang dijalankan oleh perusahaan. Analisis
produk prospektif yang akan dipilih perusahaan untuk dikembangkan serta
segmen pasar yang potensial tersebut dilakukan agar strategi bisnis yang
dihasilkan pada tahap formulasi strategi menjadi lebih fokus dan terarah.
Penentuan produk prospektif dan segmen pasar yang potensial dilakukan
dengan menggunakan MPE. Marimin (2004) menjelaskan MPE merupakan
salah satu metode untuk menentukan prioritas alternatif keputusan dengan
kriteria jamak. MPE digunakan untuk pengambilan keputusan yang dilakukan
dengan cara melakukan pengkuantitasan data kualitatif yang didapat dari
pendapat seseorang atau lebih dalam skala tertentu. Teknik ini digunakan
sebagai pembantu bagi individu pengambil keputusan untuk menggunakan
rancang bangun model yang telah terdefinisi dengan baik pada tahapan proses.
26
Penggunaan MPE dalam pengambilan keputusan akan menggambarkan urutan
prioritas dengan skor yang besar karena merupakan fungsi eksponensial
sehingga urutan prioritas alternatif lebih nyata (Maning, 1984).
MPE mempunyai keuntungan dalam mengurangi bias yang mungkin
terjadi dalam analisis. Nilai skor menggambarkan urutan prioritas menjadi
besar (fungsi eksponensial) dan mengakibatkan urutan prioritas alternatif
keputusan lebih nyata. Penentuan tingkat kepentingan kriteria dilakukan
dengan cara wawancara dengan pakar atau melalui kesepakatan curah
pendapat. Sedangkan penentuan skor alternatif pada kriteria tertentu dilakukan
dengan memberi nilai setiap alternatif berdasarkan nilai kriterianya. Semakin
besar nilai alternatif, semakin besar pula skor alternatif tersebut. Total skor
masing-masing alternatif keputusan akan berbeda secara nyata karena adanya
fungsi eksponensial.
b) Analisis Faktor-Faktor Strategis Internal Perusahaan
Analisis faktor-faktor strategis internal merupakan tahap pengkajian
faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan dalam suatu perusahaan.
Kekuatan merupakan suatu kelebihan khusus yang memberikan keunggulan
komparatif di dalam suatu industri yang berasal dari organisasi. Sedangkan
kelemahan merupakan keterbatasan dan kekurangan dalam hal sumber daya,
keahlian, dan kemampuan yang secara nyata dapat menghambat aktivitas
keragaan organisasi.
Analisis lingkungan internal dapat dilakukan dengan pendekatan
fungsional, yaitu analisis yang didasarkan pada fungsi-fungsi manajemen,
produksi/operasi, pemasaran, keuangan, penelitian & pengembangan, dan
sistem informasi manajemen. Faktor-faktor yang dapat diidentifikasi dalam
lingkungan internal perusahaan (David 2006), yaitu:
i. Manajemen, adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pemimpin, dan
pengendalian upaya anggota organisasi dan proses penggunaan semua
sumberdaya organisasi untuk tercapainya tujuan organisasi yang telah
ditetapkan. Menurut David (2006), fungsi manajemen terdiri dari lima
aktivitas
dasar:
perencanaan,
pengorganisasian,
pemberian
motivasi,
pengelolaan staf, dan pengendalian.
27
ii. Produksi/Operasi, merupakan semua aktivitas yang mengubah input menjadi
barang dan jasa. Manajemen produksi/operasi berhubungan dengan input,
transformasi, dan output yang bervariasi antara industri dan pasar. Fungsi
dasar dari manajemen produksi/operasi terdiri dari lima area keputusan, yaitu
proses, kapasitas, persediaan, tenaga kerja, dan kualitas.
iii. Pemasaran, merupakan proses mendefinisikan, mengantisipasi, menciptakan,
serta memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan atas barang dan jasa.
Ada tujuh fungsi dasar pemasaran yaitu analisis pelanggan, penjualan
produk/jasa, perencanaan produk/jasa, penetapan harga, distribusi, riset
pemasaran, dan analisis peluang.
iv. Keuangan, kondisi keuangan sering dianggap ukuran tunggal terbaik dari
posisi bersaing perusahaan dan daya tarik keseluruhan bagi investor.
Likuidasi, leverage, modal kerja, profitabilitas, utilitas aset, arus kas, dan
modal perusahaan dapat menghapuskan beberapa strategi dari alternatif yang
layak. Faktor keuangan seringkali mengubah strategi dan mengubah rencana
implementasi.
v. Penelitian & Pengembangan, adalah operasi internal yang harus dievaluasi
untuk kekuatan dan kelemahan spesifik.
Perusahaan yang menjalankan
strategi pengembangan produk khususnya harus memiliki orientasi litbang
yang kuat. Manajemen yang efektif dari fungsi litbang yang membutuhkan
kerja sama strategis dan operasional antara fungsi litbang dan fungsi bisnis
penting lainnya.
vi. Sistem Informasi Manajemen, informasi menghubungkan semua fungsi bisnis
menjadi satu dan menyediakan dasar untuk semua keputusan manajerial.
Informasi menunjukan sumber utama dari kekuatan atau kelemahan
kompetitif manajemen. Kegunaan sistem informasi manajemen adalah untuk
memperbaiki kinerja suatu perusahaan dengan memperbaiki kualitas
keputusan manajerial. Hal terpenting dari sistem informasi manajemen adalah
database yang berisi berbagai catatan dan data yang penting bagi manajer.
3) Analisis Lingkungan Eksternal
Analisis lingkungan eksternal diperlukan untuk dapat mengambil
keuntungan dari peluang dan menghindari atau mengurangi dampak dari ancaman
28
potensial. Menurut David (2006), kekuatan eksternal dapat dibagi menjadi lima
kategori besar, yaitu:
i.
Kekuatan Ekonomi
Faktor ekonomi berdampak langsung secara nyata pada berbagai
strategi. Karena pola konsumsi dipengaruhi oleh kesejahteraan relatif berbagai
segmen pasar, dalam perencanaan strategis setiap perusahaan harus
mempertimbangkan
kecenderungan
ekonomi
di
segmen-segmen
yang
mempengaruhi industrinya. Dengan demikian variabel ekonomi mencerminkan
peluang dan ancaman perusahaan. Variabel-variabel ekonomi tersebut antara
lain:
1. Ketersediaan kredit secara umum, tingkat penghasilan yang dapat
dibelanjakan, serta kecenderungan belanja masyarakat.
2.
Suku bunga primer, laju inflasi, dan tingkat pasar uang.
3.
Defisit anggaran pemerintah, produk domestik bruto, pola konsumsi,
pengangguran, dan tingkat produktivitas pekerja.
4. Nilai dolar di pasar dunia, kecenderungan pasar saham, kondisi ekonomi
luar negeri, faktor ekspor/impor, pergeseran permintaan barang dan jasa,
perbedaan pendapatan antar negara, dan fluktuasi harga.
5. Kebijakan fiskal, kebijakan moneter, serta kebijakan organisasi-organisasi
dunia seperti Masyarakat Ekonomi Eropa, OPEC, WTO, APEC dan
sebagainya.
ii.
Kekuatan Sosial, Budaya, Demografi, dan Lingkungan
Pengaruh sosial, budaya, demografi, dan lingkungan berdampak besar
pada semua produk, jasa, pasar, dan pelanggan. Faktor sosial, budaya,
demografi, dan lingkungan yang mempengaruhi suatu perusahaan adalah
kepercayaan, nilai, sikap, opini, dan gaya hidup orang-orang di lingkungan
eksternal perusahaan yang berkembang dari
pengaruh budaya, ekologi,
demografi, agama, pendidikan, dan etnik. Kekuatan sosial, budaya, demografi,
dan lingkungan bersifat dinamik, dan selalu berubah sebagai akibat upaya
orang untuk
memuaskan keinginan dan kebutuhan
mereka
melalui
pengendalian dan penyesuaian diri terhadap faktor-faktor lingkungan. Secara
29
umum, setiap negara di dunia memiliki sekumpulan kekuatan sosial, budaya,
demografi, dan lingkungan yang unik.
iii.
Kekuatan Politik, Pemerintah, dan Hukum
Faktor politik, pemerintah, dan hukum dapat menjadi peluang atau
ancaman utama untuk perusahaan kecil maupun besar.
Kendala politik
dikenakan atas perusahaan melalui keputusan tentang perdagangan yang adil,
undang-undang antitrust, program perpajakan, ketentuan upah minimum,
kebijakan tentang polusi dan penetapan harga, batasan administratif, dan
tindakan yang dimaksudkan untuk melindungi pekerja, konsumen masyarakat
umum, dan lingkungan. Karena undang-undang dan peraturan demikian
biasanya bersifat membatasi sehingga cenderung mengurangi potensi laba
perusahaan. Tetapi, beberapa tindakan politik dirancang untuk melindungi dan
memberi manfaat bagi perusahaan. Tindakan demikian meliputi undangundang paten, subsidi pemerintah, dan hibah dana riset produk. Meningkatnya
keterkaitan global antara ekonomi, pasar, pemerintah, dan organisasi
mengharuskan perusahaan untuk memikirkan pengaruh variabel politik
terhadap formulasi dan implementasi strategi yang kompetitif.
iv.
Kekuatan Teknologi
Perubahan teknologi dan penemuan secara revolusioner mempunyai
dampak yang dramatis terhadap perusahaan. Untuk menghindari keusangan
dan mendorong inovasi, perusahaan harus mewaspadai perubahan teknologi
yang mungkin mempengaruhi industrinya. Adaptasi teknologi yang kreatif
dapat membuka kemungkinan terciptanya produk baru, penyempurnaan
produk yang sudah ada, atau penyempurnaan dalam teknik produksi dan
pemasaran.
Terobosan teknologi dapat mempunyai dampak segera dan dramatik
atas lingkungan perusahaan. Terobosan ini dapat membuka pasar dan produk
baru yang canggih atau dapat juga mempersingkat usia fasilitas produksi.
Semua perusahaan, terutama yang berada dalam industri yang belum stabil,
harus berusaha keras untuk memahami baik kemajuan teknologi yang ada
maupun teknologi masa depan yang mungkin mempengaruhi produk dan jasa
mereka. Peramalan teknologi dapat membantu melindungi dan meningkatkan
30
kemampulabaan perusahaan yang berada dalam industri yang sedang tumbuh.
Peramalan ini menyadarkan para manajer akan adanya tantangan dan peluang
yang menjanjikan.
v.
Kekuatan Kompetitif
Mengumpulkan
dan
mengevaluasi
informasi
tentang
pesaing
merupakan hal yang penting untuk keberhasilan formulasi strategi. Dalam
industri manapun, aturan persaingan tercakup dalam lima kekuatan
persaingan (Porter, 1995). Analisis kompetitif dalam Model Lima Kekuatan
Porter dapat dilihat pada Gambar 3.
Pendatang
Baru
Ancaman
masuknya
pendatang baru
Kekuatan tawarmenawar
pemasok
Persaingan Industri
Kekuatan tawarmenawar pembeli
Pemasok
Pembeli
Persaingan antar
perusahaan sejenis
Ancaman
produk/jasa
pengganti
Produk Pengganti
Gambar 3. Model Lima Kekuatan Porter
Sumber : Porter (1995)
Kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi persaingan industri dan
penentu struktural intensitas persaingan terdiri dari (Porter, 1995) :
1.
Ancaman Pendatang Baru
Masuknya perusahaan pendatang baru akan menimbulkan sejumlah
implikasi bagi perusahaan yang sudah ada, misalnya terjadinya perebutan
pangsa pasar dan sumberdaya produksi yang terbatas. Faktor-faktor yang
akan menjadi barrier to entry bagi perusahaan-perusahaan tersebut yaitu
31
skala ekonomis, terbatasnya diferensiasi produk, keunggulan biaya dalam
lingkungan industri, biaya peralihan pemasok yang tinggi, kebutuhan
modal yang tinggi dan akses ke saluran distribusi cukup sulit.
2.
Persaingan sesama perusahaan dalam industri
Persaingan dalam industri akan mempengaruhi kebijakan dan kinerja
perusahaan. Tinggi rendahnya persaingan diantara perusahaan dalam suatu
industri ditentukan oleh jumlah pesaing yang banyak, pertumbuhan
industri lambat, biaya tetap yang tinggi, ketiadaan diferensiasi,
penambahan kapasitas dalam jumlah besar dan pesaing yang beragam.
3.
Tekanan dari Produk Pengganti
Adanya produk pengganti membatasi industri untuk memperoleh laba
potensial. Perusahaan-perusahaan yang berada dalam suatu industri
tertentu akan bersaing pula dengan produk pengganti. Walaupun
karakteristiknya berbeda, barang substitusi dapat memberikan fungsi atau
jasa yang sama. Produk pengganti akan menjadi ancaman bagi produk
suatu industri ketika harga dari produk pengganti lebih murah, biaya
peralihan kepada produk pengganti rendah dan kecenderungan pembeli
terhadap produk pengganti.
4.
Kekuatan Tawar Menawar Pembeli
Pembeli dapat mempengaruhi perusahaan untuk menurunkan harga
produk, meningkatkan mutu dan servis serta mengadu perusahaan dengan
kompetitornya. Kekuatan ini dipengaruhi oleh keterlibatan pembeli,
volume pembelian, adanya produk pengganti, biaya peralihan cukup
rendah, lokasi penjualan yang mudah dijangkau, informasi pembeli,
kemampuan melakukan integrasi balik, harga pembelian, diferensiasi
produk, identitas merek, dampak atas kualitas, laba pembeli dan insentif
pengambil keputusan.
5.
Kekuatan Tawar Menawar Pemasok
Pemasok dapat mempengaruhi industri lewat kemampuannya dalam
menaikkan harga atau mengurangi kualitas produk atau servis. Kekuatan
ini ditentukan oleh penguasaan terhadap diferensiasi bahan pasokan,
32
konsentrasi pemasok, kepentingan pelanggan lebih tinggi, dan volume
penjualan dikuasai pemasok.
3) Menetapkan Tujuan Jangka Panjang
Sifat dari tujuan jangka panjang harus terukur, realistis, dapat dimengerti,
menantang, hierarkis, dapat dicapai, dan selaras antar-unit organisasi. Tujuan yang
ditetapkan secara jelas menawarkan banyak keuntungan, antara lain memberikan
arahan, memungkinkan sinergi, membantu dalam evaluasi, menetapkan prioritas,
menurunkan ketidakpastian, meminimalkan konflik, menciptakan energi, dan
membantu dalam alokasi sumberdaya dan desain pekerjaan.
Tujuan jangka panjang menunjukkan hasil yang diharapkan dengan
menjalankan strategi tertentu. Suatu strategi dapat mempresentasikan tindakan
yang akan diambil untuk mencapai tujuan jangka panjang. Jangka waktu yang
ditetapkan untuk suatu tujuan harus konsisten, antara dua sampai lima tahun.
Tipe strategi yang dapat dijalankan perusahaan yaitu:
a) Strategi Integrasi
Strategi ini menghendaki agar perusahaan melakukan pengawasan
yang lebih terhadap distributor, pemasok, dan para peternak lainnya, misalnya
melalui merger, akuisisi atau membuat perusahaan sendiri. Strategi ini dibagi
menjadi tiga strategi utama yang dijelaskan di bawah ini :
i.
Strategi integrasi ke depan, adalah strategi yang melibatkan akuisisi
kepemilikan atau meningkatkan kontrol atas distributor atau pengecer.
Strategi ini dilakukan apabila perusahaan mendapatkan banyak masalah
dengan pendistribusian produk mereka.
ii.
Strategi integrasi ke belakang, adalah strategi untuk mencoba mencari
kepemilikan atau meningkatkan kendali atas perusahaan pemasok. Strategi
ini sangat tepat digunakan ketika perusahaan pemasok saat ini tidak dapat
diandalkan, terlalu mahal, atau tidak dapat memenuhi kebutuhan
perusahaan.
iii.
Strategi integrasi horisontal, adalah strategi mencoba memiliki atau
meningkatkan kendali perusahaan pesaing. Strategi ini bertujuan
meningkatkan pengawasan terhadap para pesaing.
33
b) Strategi Intensif
Strategi
ini
memerlukan
usaha-usaha
yang
intensif
untuk
meningkatkan posisi persaingan perusahaan melalui produk yang ada. Strategi
ini dibagi menjadi tiga strategi utama, yaitu :
i.
Strategi penetrasi pasar, yaitu berusaha meningkatkan pangsa pasar
untuk produk atau jasa yang sudah ada di pasar melalui usaha pemasaran
yang gencar. Strategi ini sering digunakan sendiri atau dikombinasikan
dengan strategi lainnya.
ii.
Strategi pengembangan pasar, yaitu upaya memperkenalkan produk
atau jasa yang ada ke wilayah geografis baru. Strategi ini bertujuan untuk
memperbesar pangsa pasar yang dilakukan ketika perusahaan memiliki
jaringan serta adanya pasar yang belum jenuh.
iii.
Strategi pengembangan produk, merupakan strategi yang berupaya
meningkatkan penjualan dengan memperbaiki atau memodifikasi produk
atau jasa yang sudah ada.
c) Strategi Diversifikasi
Strategi ini dimaksudkan untuk menambah produk baru. Strategi ini
kurang begitu populer, paling tidak ditinjau dari sisi tingginya tingkatan
kesulitan manajemen dalam mengendalikan aktivitas perusahaan yang
berbeda. Strategi diversifikasi dibagi menjadi tiga strategi utama, yaitu :
i.
Strategi diversifikasi konsetrik, yaitu menambah produk atau jasa baru,
namun masih berkaitan. Biasanya dilakukan ketika organisasi bersaing
dalam industri yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya lambat.
ii.
Strategi diversifikasi konglomerat, yaitu menambah produk atau jasa
baru yang tidak berkaitan untuk pelanggan saat ini. Hal ini dilakukan jika
industri di sektor ini telah mengalami kejenuhan, ada peluang untuk
memiliki bisnis yang tidak berkaitan yang masih berkembang baik, serta
memiliki sumberdaya untuk memasuki industri tersebut. Tujuan strategi
ini adalah untuk menambah produk baru yang tidak saling berhubungan
pada pasar yang berbeda.
iii.
Strategi diversifikasi horisontal, yaitu menambah produk atau jasa baru,
tidak berkaitan untuk pelanggan saat ini. Tujuan strategi ini adalah untuk
34
menambah produk baru yang tidak berhubungan dengan tujuan
memuaskan pelanggan yang sama.
d) Strategi Defensif
Strategi ini bermaksud agar perusahaan melakukan tindakan-tindakan
penyelamatan agar terlepas dari kerugian besar, yang pada akhirnya
mengalami kebangkrutan.
Strategi ini dapat dibagi menjadi tiga strategi
utama, antara lain:
i.
Strategi retrenchment, yaitu melalui penghematan biaya dan aset
perusahaan untuk mendongkrak penjualan dan laba menurun.
ii.
Strategi divestasi, yaitu menjual suatu divisi atau bagian dari
perusahaan.
Divestasi sering digunakan untuk meningkatkan modal yang
selanjutnya akan digunakan untuk akuisisi atau investasi strategi lebih lanjut.
iii.
Strategi likuidasi, yaitu menjual semua aset sebuah perusahaan secara
bertahap sesuai nilai nyata aset tersebut. Hal ini dilakukan apabila perusahaan
sudah tidak dapat dipertahankan keberadaannya.
4) Merumuskan Alternatif Strategi
a) Tahap Pengumpulan Data (Input Stage)
Tahap pengumpulan data terdiri dari pengidentifikasian faktor internal
dan eksternal yang menentukan keberhasilan suatu usaha, kemudian faktorfaktor tersebut diplotkan pada matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan
External Factor Evaluation (EFE).
Menurut David (2006), matriks IFE (Internal Factor Evaluation)
meliputi hasil analisis faktor-faktor lingkungan internal organisasi yang terkait
kekuatan dan kelemahan organisasi sehingga dapat menjadi petunjuk dasar
dalam menentukan posisi perusahaan. Matriks IFE merupakan alat formulasi
strategi untuk meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama
dalam area fungsional bisnis dan memberikan dasar untuk mengidentifikasi
dan mengevaluasi hubungan antara area-area tersebut (David 2006). Data dan
informasi aspek internal perusahaan dapat digali dari beberapa fungsional
perusahaan, misalnya dari aspek manajemen, keuangan, pemasaran, sistem
informasi, produksi/ operasi, serta penelitian dan pengembangan.
35
Matriks EFE digunakan untuk mengevaluasi faktor-faktor eksternal
perusahaan. Data yang dikumpulkan untuk menganalisis hal-hal menyangkut
persoalan ekonomi, politik dan pemerintahan, sosial budaya, teknologi,
lingkungan, demografi, persaingan di pasar industri dimana perusahaan berada,
serta data eksternal relevan lainnya yang berpengaruh langsung maupun tidak
langsung terhadap perusahaan.
b) Tahap Pencocokan (Matching Stage)
i. Matriks IE
Matriks IE (Internal-External) merupakan pemetaan hasil matriks
IFE dan EFE dari tahap input yang menempatkan perusahaan pada salah
satu kondisi di dalam sembilan sel. Matriks IE dapat dibagi menjadi tiga
daerah utama yang memiliki implikasi strategi yang berbeda-beda (David
2006), yaitu :
1. Daerah tumbuh dan berkembang (grow and build), strategi-strategi yang
cocok untuk perusahaan yang berada dalam sel ini adalah strategi intensif
(penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk) atau
strategi terintegrasi (integrasi ke belakang, integrasi ke depan, dan
integrasi horizontal).
2. Daerah jaga dan pertahankan (hold and maintain), strategi-strategi yang
umum dipakai dalam sel ini adalah penetrasi pasar dan pengembangan
produk.
3. Daerah panen atau divestasi (harvest and divestiture), strategi-strategi
yang sesuai untuk kondisi dalam sel ini adalah strategi divestasi,
diversifikasi konglomerat, dan likuiditas.
Matriks IE hanya menghasilkan gambaran strategi secara umum
yang dapat dilakukan tanpa mengaitkan dengan kekuatan dan kelemahan
perusahaan serta peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan. Agar
diperoleh strategi yang lebih spesifik dengan melihat faktor kekuatan,
kelemahan, peluang dan ancaman, maka digunakan matriks SWOT
sehingga grand strategy yang dihasilkan matriks IE dapat disesuaikan
dengan kondisi internal dan eksternal perusahaan saat ini. SWOT dapat
melengkapi matriks IE karena berisi strategi yang lebih spesifik/konkret
36
yang dapat dilakukan oleh perusahaan, dimana strategi yang akan
diperoleh
melalui
matriks SWOT
dirumuskan
berdasarkan pada
pengembangan dari matriks IE.
ii. Matriks SWOT
David (2006) mendefinisikan faktor strategis adalah faktor
kompetitif yang sangat mempengaruhi kemampuan organisasi untuk
memperbaiki posisi dan membedakannya dengan para pesaing. Pihak
manajemen organisasi dapat membuat rumusan strategi berdasarkan
faktor-faktor strategis tersebut, salah satunya menggunakan analisis
SWOT. SWOT merupakan singkatan dari strengths (kekuatan), weakness
(kelemahan), opportunities (peluang) dan threats (ancaman).
Matriks
SWOT merupakan alat pada tahap pencocokan yang penting untuk
membantu manajer mengembangkan empat tipe strategi : SO, WO, ST dan
WT.
Analisis SWOT perlu dilakukan untuk dapat memaksimalkan
kekuatan dan memanfaatkan peluang, serta meminimalkan kelemahan dan
ancaman.
c) Tahap Pengambilan Keputusan (Decision Stage)
Penggunaan
mengevaluasi
QSPM
alternatif
dilakukan
strategi
pada
secara
tahap
obyektif
keputusan
untuk
berdasarkan
faktor
keberhasilan kunci internal dan eksternal yang telah diidentifikasi
sebelumnya.
Secara
konseptual,
tujuan
QSPM
adalah
menetapkan
kemenarikan relatif dari strategi-strategi yang bervariasi yang telah dipilih,
untuk menentukan strategi mana yang dianggap paling baik untuk
diimplementasikan.
Keunggulan QSPM adalah set strategi dapat dievaluasi secara bertahap
atau bersama-sama dan tidak terdapat batasan untuk jumlah strategi yang
dapat dievaluasi. Keunggulan lain dari QSPM adalah membutuhkan
penyusunan strategi untuk mengintegrasikan faktor internal dan eksternal
yang relevan ke dalam proses keputusan. Namun, QSPM juga memiliki
keterbatasan yaitu selalu membutuhkan penilaian intuitif dan asumsi yang
mendasar.
Peringkat dan nilai daya tarik membutuhkan keputusan yang
37
penuh pertimbangan dan cenderung subjektif dengan proses yang berdasarkan
pada informasi-informasi yang objektif.
5) Memilih strategi tertentu yang akan dilaksanakan.
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional
Domba termasuk komoditi ternak yang mempunyai peranan penting dalam
pemenuhan kebutuhan daging. Menurut Ditjen Peternakan (2009), konsumsi
daging secara nasional mengalami peningkatan walau belum mampu diimbangi
oleh tingkat produksi daging itu sendiri. Hal ini mengakibatkan impor daging di
Indonesia terus meningkat. Untuk mengatasi tingginya impor daging dikarenakan
adanya gap antara permintaan dan penawaran ini dapat dipenuhi oleh para pelaku
usaha peternakan dalam negeri dan dapat menjadi peluang bagi mereka untuk
memanfaatkan potensi pasar yang masih tinggi.
Sebagai salah satu peternakan domba dengan kapasitas terbesar di
Kabupaten Bogor, TF memiliki peluang yang cukup besar dalam memanfaatkan
besarnya potensi pasar domba. Namun, karena perencanaan dan perumusan
strategi bisnis yang dilakukan perusahaan belum efektif mengakibatkan TF belum
mampu memenuhi tingginya permintaan masyarakat dan memanfaatkan besarnya
peluang pangsa pasar domba. Hal ini terlihat dari data penjualan domba TF yang
menurun secara signifikan sebesar 20 persen dari target yang ditetapkan oleh
perusahaan. Selain itu, semakin banyaknya peternakan domba di Kabupaten
Bogor yang menjadi pesaing kompetitif serta kurangnya kegiatan mengakibatkan
perusahaan harus mampu berupaya bekerja pada kondisi yang efektif dan efisien
ditunjang oleh strategi yang tepat untuk dapat berkompetisi di pasar.
Salah satu cara yang memungkinkan dilaksanakan oleh TF adalah
menentukan dan meningkatkan produksi produk prospektif yang terpilih untuk
dikembangkan yang akan menunjukkan keunggulan kompetitif sesuai kapasitas
perusahaan. Hasil dari kajian ini akan membantu dalam perolehan informasi yang
akan digunakan sebagai dasar perencanaan strategi bisnis domba di masa yang
akan datang. Selain itu, TF juga perlu menentukan segmen pasar yang potensial
untuk memasarkan jenis domba prospektif tersebut. Segmen-segmen tujuan
pemasaran perlu diidentifikasi dan diperhatikan perkembangannya, dan hasil dari
38
pemilihan segmen pasar potensial ini merupakan acuan yang dapat digunakan
perusahaan untuk menentukan strategi bisnisnya.
Perumusan strategi bisnis yang dibutuhkan oleh perusahaan dilakukan
dengan menganalisis faktor-faktor dominan yang mempengaruhi perencanaan
strategi. Tahapan dalam penelitian ini diawali dengan melakukan identifikasi visi
dan misi karena dalam merumuskan strategi diperlukan arah dan tujuan yang
jelas. Dengan mengidentifikasi visi dan misi perusahaan, diharapkan perusahaan
dapat mengetahui kesenjangan kondisi perusahaan saat ini dengan kondisi
perusahaan yang diharapkan di masa depan. Selain visi dan misi, data yang akan
digali adalah jenis domba yang prospektif dan segmen pasar potensial untuk jenis
domba prospektif tersebut. Langkah selanjutnya adalah menganalisis keadaan
lingkungan internal dan eksternal perusahaan yang nantinya akan ditentukan dan
diformulasikan strategi bisnisnya.
Alat-alat analisis yang digunakan adalah MPE untuk menentukan produk
prospektif dan segmen pasar potensial, matriks IFE untuk mengevaluasi faktor
internal TF dengan memperhatikan kekuatan dan kelemahan dari perusahaan,
serta matriks EFE untuk mengevaluasi faktor-faktor eksternal perusahaan yang
meliputi peluang dan ancaman perusahaan. Strategi bisnis tingkat korporat
diperoleh dengan menggunakan matriks IE yang merupakan penggabungan
parameter kekuatan internal dan pengaruh eksternal yang dihadapi perusahaan
untuk mengetahui posisi perusahaan pada lingkungan industrinya. Selanjutnya
untuk mendapatkan beberapa alternatif strategi bisnis yang lebih spesifik dan
konkret sesuai kekuatan dan kelemahan internal perusahaan serta peluang dan
ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan, digunakan matriks SWOT. Langkah
selanjutnya yang sekaligus merupakan langkah terakhir adalah perolehan dari
matriks IFE dan EFE, serta alternatif strategi dari SWOT diperhitungkan ke dalam
QSPM untuk mendapatkan strategi prioritas objektif yang terbaik dan tepat.
Secara ringkas, keseluruhan tahap ini dalam kerangka pemikiran
operasional dapat dilihat pada Gambar 4.
39
Peternakan Domba Tawakkal Farm
Perencanaan usaha belum baik, penurunan penjualan domba, serta tingginya
tingkat persaingan
Perlu dirumuskan strategi bisnis yang tepat untuk dilakukan
oleh peternakan domba TF
Identifikasi Visi dan Misi
Analisis Produk
Prospektif dan Segmen
Pasar Potensial (MPE)
Analisis Lingkungan
Eksternal
Matriks IFE
Analisis Lingkungan
Internal
Matriks EFE
Matriks IE dan
Analisis SWOT
Alternatif Strategi
Identifikasi
QSPM
Prioritas Strategi
Gambar 4. Kerangka Pemikiran Operasional
Keterangan: --------------- = ruang lingkup penelitian
40
Download