perbandingan hasil belajar ips siswa dengan menggunakan media

advertisement
“PERBANDINGAN HASIL BELAJAR IPS SISWA
DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA VIDEO
VERSUS MEDIA GAMBAR”
(Studi Eksperimen di SMK Lingga Kencana Depok)
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana
Pendidikan (S.Pd)
Oleh
Ade Sopian
NIM 108015000014
JURUSAN PENDIDIKAN IPS
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
1435 H/2014 M
ABSTRAK
ADE SOPIAN. Perbandingan Hasil Belajar IPS Siswa Dengan Menggunakan Media Video
Versus Media Gambar di SMK Lingga Kencana Sawangan Depok. Skripsi. Jakarta:
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. 2014.
Permasalahan utama yang dikaji dalam penelitian ini perbedaan hasil belajar IPS antara
siswa yang diajar dengan menggunakan media video dengan siswa yang diajar menggunakan
media gambar. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan ada atau tidak ada perbedaan hasil
belajar IPS antara siswa diajar menggunakan media video dan media gambar, membuktikan
tinggi rendahnya hasil belajar IPS siswa yang diajar menggunakan media video dibandingkan
dengan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan media gambar.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen yaitu cara
melakukan penelitian dengan percobaan. Metode ini digunakan untuk menelaah adanya
perbedaan hasil belajar pada mata pelajaran IPS antara siswa diajar menggunakan media video
dengan siswa yang diajar menggunakan media gambar. Dalam penelitian ini yang menjadi
subjek penelitian adalah siswa kelas X.PB dan kelas X.TN SMK Lingga Kencana Sawangan
Depok. Kelas X.PB terdiri dari 21 siswa dengan komposisi perempuan 5 siswa dan laki-laki 16
siswa, yang menggunakan media video. Kelas X.TN Terdiri dari 21 siswa dengan komposisi
perempuan 5 siswa dan laki-laki 16 siswa, yang menggunakan media gambar. Instrumen yang
dipakai adalah tes. Teknik analisis data menggunakan metode statistik uji “t” (uji beda), untuk
menguji hipotesis penelitian dilakukan konsultasi pada tabel distribusi “t” pada taraf signifikansi
0,05.
Temuan hasil penelitian ini adalah: 1) Terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan
antara siswa yang diajarkan menggunakan media video versus media gambar diperoleh nilai
). 2) Dari penelitian tersebut dapat dilihat pula bahwa hasil
belajar IPS siswa yang menggunakan media video lebih besar dari pada siswa yang diajar
menggunakan media gambar. 3) Berdasarkan hasil observasi, media video dan media gambar
merupakan media pembelajaran yang dapat meningkatkan rasa ingin tahu dan mempertajam
analisis siswa terhadap materi yang disampaikan.
i
ABSTRACT
ADE SOPIAN. Comparison of Student IPS Learning Results Using Video
Media Versus Image Media at SMK Linga Kencana Depok. Thesis,Jakarta:
Department of Education Social Sciences Faculty of Tarbiyah and Teaching
State Islamic University (UIN) Syarif Hidayatullah. 2014.
The main issues examined in this research is the differences in IPS
learning results between students who are taught using video media with students
who are taught using image media. This research aims to prove there is or there is
no difference in IPS learning results between students taught using the video and
image media, proving the high and low results of IPS learning results of students
taught using the video media as compared to the learning results of students who
are taught using image media.
The method used in this research is an experimental method that is the way
to do research with experiments. This method is used to examine the differences
in learning results in social studies between the students are taught using video
media with the students who are taught using image media. In this research, the
subjects were students of classX.PB and X.TN SMK Linga Golden Sawangan
Depok. X.PB class consisted of 21 students with a composition of 5 female
students and 16 male students whom the learning video media. X.TN class
consists of 21 students with a composition of 5 female students and 16 male
students whom the learning image media. The instrument used was a test. The
technic of data analysis is using statistical methods "t" test (different test), to test
the hypothesis of the research carried out consultation on"t" distribution table at
the significance level of 0.05.
The findings of this research are: 1) There are significant differences in
learning results between students who are taught using video media versus image
media obtained valuetcount>ttable are 2,253 > 2,021 2.) From these researchs it can
be seen also that the results of social studies students who are are tought using
video media is bigger than the students who are taught using image media. 3)
Based on the observation result, video and image media areleraning media that
can increase curiosity and sharpen students' analysis of the material presented.
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirrahim
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan untaian rahmat,
hidayah dan karunia sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan
baik. Skripsi ini penulis susun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Selama penulisan skripsi yang berjudul “Perbandingan Hasil Belajar IPS
Siswa Dengan Menggunakan Media Video Versus Media Gambar di SMK Lingga
Kencana Depok” penulis menyadari sepenuhnya bahwa tidak sedikit kesulitan dan
hambatan yang penulis alami saat menjalani proses penyelesaian skripsi. Penulis
ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu
dalam penulisan skripsi ini.
1. Ibu Dra. Nurlena Rifa’I, MA Ph.D selaku dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Dr.Iwan Purwanto, M.Pd. selaku ketua jurusan Pendidikan IPS UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Drs. Syaripulloh, M.Si. selaku sekertaris jurusan pendidikan IPS.
4. Bapak Prof. Dr. Rusmin Tumanggor, MA selaku dosen pembimbing yang
telah sabar membimbing dan mengarahkan penulis selama proses penyusunan
skripsi, ditengah kesibukannya yang padat.
5. Seluruh dosen pendidikan IPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah
mencurahkan seluruh ilmunya.
6. Bapak Ruslan, M.Si. selaku kepala sekolah SMK Lingga Kencana Depok.
7. Bapak Nur Istrianto, M.Si. selaku guru bidang studi IPS yang telah banyak
membantu peneliti pada saat melakukan penelitian.
8. Ibunda tercinta Marnih dan ayahanda tercinta Asam yang telah mencurahkan
kasih sayangnya dan memberikan motivasi. Keempat saudaraku tersayang
Erika Oktaviani, Ratih Ayu Ningsih, Muhammad Kemal dan Muhammad
iii
Daffa yang telah memotivasi, beserta seluruh keluarga yang telah memberikan
semangat dalam proses penyelesaian skripsi ini.
9. Sahabat-sahabatku angkatan 2008 Pendidikan IPS UIN Jakarta, Abdul Faiz,
Ira Defiana, Nuraini dan sahabat lainnya yang tidak bisa disebutkan satu
persatu.
Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, mudahmudahan bantuan, bimbingan, dukungan beserta doa yang telah diberikan
mendapat imbalan dari Allah SWT. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya bagi seluruh pembaca sekalian, serta lembaga pendidikan
sebagai informasi dalam peningkatan mutu pendidikan.
Jakarta, 21 Maret 2014
Ade Sopian
iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK ................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................... iii
DAFTAR ISI ............................................................................................. v
DAFTAR TABEL ..................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah ................................................................. 2
B. Permasalahan Penelitian ................................................................. 9
1. Identifikasi Masalah ................................................................. 9
2. Pembatasan Masalah................................................................. 9
3. Perumusan Masalah .................................................................. 9
4. Pertanyaan Penelitian …………………………………………… 10
C. Tujuan dan Signifikansi Penelitian ................................................. 11
1. Tujuan Akademis...................................................................... 11
2. Signifikansi Penelitian .............................................................. 11
BAB II DESKRIPSI TEORITIK, KERANGKA BERPIKIR DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS ........................................................... 13
A. Deskripsi Teoritik ........................................................................... 13
1. Pengertian Media Pembelajaran ................................................. 13
2. Pengertian Media Video ............................................................. 17
3. Pengertian Media Gambar .......................................................... 21
4. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ................................. 22
5. Pengertian Hasil Belajar ............................................................. 24
B. Kerangka Konseptual ..................................................................... 27
C. Hipotesisi Penelitian ………………………………………………… 28
D. Hasil Penelitian Lain …………...…………………………………… 29
v
BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................. 31
A. Tempat dan Waktu Penelitian ......................................................... 31
B. Populasi dan Sampel ...................................................................... 31
C. Teknik Pengumpulan Data.............................................................. 32
D. Pengujian Validitas Alat Ukur ……………………………………… 33
E. Pengujian Reliabilitas Alat Ukur ................................................... 35
F. Pengujian Taraf Kesukaran ............................................................. 36
G. Daya Pembeda ............................................................................... 36
H. Teknik Analisis Data ..................................................................... 37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................. 40
A. Hasil Penelitian .............................................................................. 40
1. Gambaran Umum SMK Lingga Kencana Depok ...................... 40
a. Sejarah SMK Lingga Kencana Depok .................................. 40
b. Profil SMK Lingga Kencana Depok ..................................... 42
c. Visi dan Misi SMK Lingga Kencana Depok ......................... 43
d. Data Siswa SMK Lingga Kencana Depok …………………... 43
e. Sarana dan Prasarana SMK Lingga Kencana Depok ............. 44
f. Data Guru dan Tata Usaha SMK Lingga Kencana Depok ..... . 45
B. Deskripsi Data ................................................................................ . 46
1. Praktik Pembelajaran …………………………………………… 46
a. Praktik Pembelajaran Media Video ………………………… 46
b. Praktik Pembelajaran Media Gambar ………………………. 47
2. Data Hasil Belajar IPS Siswa ………………………………….... 48
a. Hasil Postest Kelompok Media Video ……………………… 48
b. Hasil Postest Kelompok Media Gambar ………………….... 50
C. Hasil Uji Coba Instrumen …………………………………………….. 53
D. Uji Persyaratan Analisis Data …………………………………………. 54
1. Uji Normalitas Data ………………………………………………. 54
a. Uji Normalitas Data Posttest Kelompok Media Video ………. 54
vi
b. Uji Normalitas Data Posttest Kelompok Media Gambar …….
54
2. Uji Homogenitas Data ……………………………………………. 54
a. Uji Homogenitas Data Posttest ……………………………..... 54
E. Pengujian Hipotesis …………………………………………………... 55
F. Pembahasan Hasil Penelitian …………………………………………. 55
BAB V PENUTUP ...................................................................................... 58
A. Kesimpulan .................................................................................... 58
B. Saran .............................................................................................. 58
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 65
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Indeks reliabilitas test.....................................................................35
Tabel 2. Indeks tingkat kesukaran test..........................................................36
Tabel 3. Indeks daya pembeda test………………………………………...37
Tabel 4. Keadaan sarana dan prasarana sekolah.......................................... 49
Tabel 5. Data pendidikan guru .................................................................. 50
Tabel 6. Nilai posttest media video ........................................................... 53
Tabel 7. Data hasil postest siswa kelompok media video .......................... 55
Tabel 8.
Nilai posttest media video…………………................................. 55
Tabel 9. Data hasil postest siswa kelompok media gambar ....................... 57
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.
Kerangka Konseptual.................................................................... 29
Gambar 2.
Grafik nilai postes media video.................................................... 54
Gambar 3.
Grafi nilai postes media gambar................................................... 56
Gambar 4.
Grafik perbandingan nilai postes media video dan gambar......... 57
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.
Uji Normalitas Posttes Video
Lampiran 2.
Uji Normalitas Posttes Gambar
Lampiran 3.
Uji Homogenitas
Lampiran 4.
Uji Hipotesis
Lampiran 5.
Foto Pelaksanaan Proses Pembelajaran
Lampiran 6.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Video
Lampiran 7.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Gambar
Lampiran 8.
Hasil Uji Coba Soal Tes Melalui Program ANATES
Lampiran 9.
Soal Postes
Lampiran 10. Berita Wawancara
Lampiran 11. Lembar Observasi Pra-Penelitian
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada hakikatnya adalah suatu usaha manusia untuk
meningkatkan ilmu pengetahuan, yang di dapat dari lembaga formal
maupun nonformal. Sedangkan secara sederhana makna pendidikan dapat
diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai
dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaannya. Sehingga
dengan pendidikan diharapkan seseorang menjadi dewasa atau mencapai
tingkat hidup.
Adapun pada intinya pendidikan bertujuan untuk menciptakan
manusia yang berkualitas dan siap pakai. Untuk mewujudkan tujuan
tersebut, diperlukan partisipasi aktif dari seluruh komponen bangsa. Tanpa
dukungan dari semua pihak, maka tujuan pendidikan yang indah tersebut
hanyalah semboyan belaka.
“Saat ini dunia pendidikan kita sedang menghadapi berbagai
tantangan. Untuk mengantisipasi era globalisasi, kita dituntut untuk dapat
mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten agar mampu
bersaing
dalam
dunia
global.
Disamping
itu,
sejalan
dengan
diberlakukannya otonomi daerah, sistem pendidikan kita dituntut untuk
melakukan perubahan dan penyesuaian sehingga dapat mewujudkan
proses pendidikan yang demokratis, memperhatikan keragaman kebutuhan
1
2
daerah dan peserta didik. Sementara itu, hingga saat ini pendidikan kita
masih dihadapkan kepada beberapa permasalahan pokok, antara lain masih
rendahnya kualitas dan relevansi pendidikan”.1
Untuk menghadapi tantangan dan menghadapi permasalahan
tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai upaya, antara lain
menyediakan berbagai sarana belajar, meningkatkan kemampuan dan
kualitas guru serta meningkatkan taraf kesejahteraannya. Akan tetapi,
upaya-upaya itu nampaknya masih belum cukup dan perlu dicarikan
alternatif-alternatif
lain,
khususnya
untuk
meningkatkan
kualitas
pembelajaran.
Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Dengan demikian, perserta didik seharusnya tidak hanya belajar dari guru
atau pendidik saja, tetapi dapat juga belajar dari berbagai sumber belajar
yang tersedia dilingkungannya. Sesungguhnya sumber belajar itu banyak
jenisnya. Sumber belajar ini dapat berupa pesan, orang, bahan, peralatan,
teknik dan lingkungan. Selama ini, pemahaman tentang sumber belajar di
sekolah masih terbatas pada guru dan buku saja. Padahal guru dan buku
hanya sebagian kecil dari sumber belajar.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa
perubahan yang sangat signifikan terhadap berbagai dimensi kehidupan
manusia, baik dalam bidang ekonomi, sosial, budaya maupun pendidikan.
Oleh karena itu agar pendidikan tidak tertinggal dari perkembangan
IPTEK tersebut perlu adanya penyesuaian-penyesuaian terutama sekali
yang berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi proses
pembelajaran di sekolah. Salah satu faktor tersebut adalah media
pendidikan yang perlu dikuasai oleh guru atau calon guru, sehingga dapat
menyampaikan materi pelajaran kepada para siswa secara baik, berdaya
guna dan berhasil guna.
1
Harina Yuhetty, Model Pusat Sumber Belajar, (Pusat Teknologi Informasi Dan Komunikasi
Pendidikan: Depdiknas Pustekkom,2005), h.7
3
Hamalik (1986) mengemukakan bahwa “pemakaian media
pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan
keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan
kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis
siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pengajaran
akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian
pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Media pembelajaran juga dapat
membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan
menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data dan memadatkan
informasi”.2
Media sebagai alat bantu sebagai alat dalam proses belajar
mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Keberadaan
media sangat membantu tugas guru dalam menyampaikan pesan-pesan
dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak didik. Guru
sadar bahwa tanpa bantuan media, maka bahan pelajaran sukar untuk
dicerna dan dipahami oleh setiap anak didik, terutama bahan pelajaran
yang rumit atau kompleks.
Media memegang peranan yang penting di dalam tercapainya
proses belajar mengajar. Dunia sekarang boleh dikatakan adalah dunia
yang hidup dengan media. Kegiatan belajar mengajar sekarang telah
bergerak menuju dikuranginya sistem penyampaiannya dengan ceramah,
dan di pindah kearah digunakannya banyak media. Lebih dari itu bahkan
di negara-negara maju, media inni telah dikhawatirkan akan menggeser
fungsi guru.
Setiap materi pelajaran tentu memiliki tingkat kesukaran yang
bervariasi. Pada satu sisi ada bahan pelajaran yang tidak memerlukan alat
bantu
berupa media pengajaran seperti globe, grafik, gambar dan
sebagainya, pada sisi yang lain ada bahan pelajaran dengan tingkat
kesukaran yang lebih tinggi sehingga tidak mudah dipahami oleh anak
2
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT Grafindo Persada, 2004) h.15
4
didik. Apalagi bagi anak didik yang kurang menyukai bahan pelajaran
yang disampaikan itu.
Anak didik akan mudah merasa bosan dan kelelahan, jika
penjelasan guru sukar dicerna dan dipahami. Guru yang bijaksana tentu
sadar bahwa kebosanan dan kelelahan anak didik berpangkal dari
penjelasan guru yang simpang siur dan tidak focus pada masalahnya. Hal
ini tentu saja harus dicarikan jalan keluarnaya. Guru tidak memiliki
kampuan untuk menjelaskan suatu bahan dengan baik, akan lebih baik
menampilkan media sebagai alat bantu pengajaran guna mencapai tujuan
yang telah ditetapkan sebelum pelaksanaan pengajaran.
Semakin maju perkembangan masyarakat dan akselerasi teknologi modern
maka semakin besar dan berat tantangan yang dihadapi guru sebagai
pendidik dan pengajar di sekolah. Oleh karena itu, guru dituntut untuk
lebih kreatif dan inovatif dalam pemanfaatan media pengajaran yang
tersedia disekolah baik saat perencanaan, pengoperasian, membuat,
mengelola dan mengevaluasi.
Pada hakikatnya proses pembelajaran adalah proses komunikasi.
Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan suatu dunia komunikasi
tersendiri, dimana guru dan siswa bertukar fikiran untuk mengembangkan
ide dan pengertian. Dalam komunikasi sering timbul dan terjadi
penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi tersebut tidak efektif
dan efisien. Antara lain disebabkan adanya kecenderungan mengetahui
istilah tetapi tidak mengetahui arti, ketidaksiapan siswa, kurangnya
motivasi belajar dan sebagainya.
Salah satu usaha untuk menghadapi keadaan demikian ialah
penggunaan media secara terintegrasi dalam proses pembelajaran, karena
fungsi media pengajaran dalam kegiatan tersebut sebagai penyaji stimulus
informasi, sikap dan lain-lain juga meningkatkan keserasian dalam
penerimaan informasi.
5
Media
pengeajaran
sangatlah
diperlukan
dalam
proses
pembelajaran, karena fungsi utamanya sebagai alat bantu mengajar yang
turut memperbaharui iklim, kondisi serta lingkungan belajar yang ditata
dan diciptakan oleh guru.
Penggunaan media pembelajaran tersebut harus sesuai dengan
pedoman kurikulum yang ada dan media pengajaran yang dighunakan pun
tidak terlalu banyak dan berlebihan, karena bila berlebihan akan
membingungkan siswa dan tidak jelas konsep yang diajarkan.
Media pengajaran yang disebut Audiovisual Aids menurut Encyclopedia of
Education Reaserch memiliki nilai sebagai berikut:
1.
Meletakan dasar-dasar yang kongkrit untuk berfikir. Oleh karena
itu, untuk mengurangi verbalisme.
2.
Memperbesar perhatian siswa.
3.
Membuat pelajaran lebih menetap atau tidak mudah dilupakan.
4.
Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan
kegiatan berusaha sendiri dikalangan para siswa.
5.
Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontineu.
Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi menbantu tercapainya
tujuan pembelajaran. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa proses
belajar mengajar dengan menggunakan media mempertinggi kegiatan
belajar anak didik dalam tenggang waktu yang cukup lama. Itu berarti
kegiatan belajar anak didik dengan bantuan media akan menghasilkan
proses dan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan tanpa bantuan
media.
Walaupun demikian, penggunaan media sebagai alat bantu tidak
bias dilakukan secara sembarangan, menurut hati guru. Penggunaan media
harus memperhatikan dan mempertimbangkan tujuan pembelajaran. Media
yang dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran harus lebih
6
diperhatikan. Sedangkan media yang tidak menunjang tentu saja harus
disingkirkan jauh-jauh.
Upaya guru dalam proses belajar mengajar juga berpengaruh dalam
proses belajar mengajar. Guru yang tinggi gairahnya dalam mengajar
menjadikan siswa lebih bergairah mengajar. Guru yang bersungguhsungguh dalam menyampaikan materi pelajaran menjadikan tingginya
motivasi
belajar
siswa.
Pada
guru
yang
demikian,
umumnya
mempersiapkan diri dengan matang dan senantiasa memberikan yang
terbaru dan terbaik kepada para pembelajar. Oleh karena yang diberikan
tersebut menarik, terbaik dan mungkin terbaru, maka kualitasnya sangat
tinggi dimata pelajar. Sebagai akibatnya, hal-hal yang disampaikan ini bisa
meningkatkan motivasi belajar siswa.
Sebaiknya pada guru yang tidak bergairah dalam membelajarkan
pembelajar, umumnya mengulang saja pelajaran yang diberikan dari tahun
ke tahun. Proses belajar mengajar demikian ini cenderung menyajikan
rutinitas tanpa menyentuh kepersoalan-persoalan yang sifatnya mendasar.
Proses belajar mengajar pada masa yang akan datang akan
berkembang pada sebuah tatanan yang kemungkinan peserta didik dan
pendidik tidak berada dalam suatu ruang kelas untuk sebuah proses belajar
mengajar. Proses belajar mengajar dapat dilakukan dengan berbagai cara
seperi Teleconference, Blogspot, Website, dan berbagai media audio visual
seperti televisi dan radio.
Kehadiran media mempunyai arti yang sangat penting. Karena
dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat
dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan yang
disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan mengunakan
media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan
melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan bahan dapat
7
dikonkritkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, anak didik lebih
mudah mencerna bahan dari pada tanpa bantuan media.
Seorang guru dituntut untuk mempunyai kreativitas karena pada
dasarnya kreativitas tersebut merupakan anugerah yang diberikan Tuhan
kepada setiap orang, dalam hal ini kemampuan seorang guru dalam
menggunakan media pembelajaran IPS. Implementasi dari kreativitas
seseorangpun
tidaklah sama, bergantung kepada sejauh mana orang
tersebut tau dan mampu mewujudkan daya ciptanya menjadi menjadi
sebuah kreasi atau karya. Dalam hal ini pula, seorang guru misalnya harus
mampu mengoptimalkan kreativitasnya, khususnya yang tertuang dalam
sebuah bentuk pembelajaran yang inovatif. Artinya selain
menjadi
seorang pendidik, seorang guru pun harus menjadi seorang kreator
sehingga dalam proses belajar mengajar para murid-murid akan
termotivasi.
Menurut UU No 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara sadar
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
Negara”.3
Proses dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh
sekolah, pola, struktur, dan isi kurikulumnya, akan tetapi sebagian besar
ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing mereka.
Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar
yang efektif, menyenangkan, dan akan lebih mampu mengelola kelasnya,
sehingga belajar para siswa berada pada tingkat yang optimal. Oleh karena
itu, guru mempunyai tanggung jawab untuk menyusun dan melaksanakan
program pembelajaran di kelas, sedangkan pimpinan sekolah mempunyai
3
Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, (Direktorat Jenderal
Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2006), h. 5.
8
tanggung jawab untuk mengevaluasi program pembelajaran yang telah
disusun dan dilaksanakan oleh guru.
“Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dirumuskan atas dasar realitas dan
fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari
aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi,
ekonomi, politik, hukum, dan budaya). Tujuan utama Ilmu Pengetahuan
Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka
terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental
positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, terampil
mengatasi masalah yang terjadi sehari-hari, baik yang menimpa dirinya
sendiri maupun yang menimpa masyarakat”.4 Untuk mencapai tujuan
tersebut, diperlukan suatu perencanaan program pelajaran yang baik,
pemilihan dan penggunaan metode yang tepat serta evaluasi sebagai
perbaikan dan penyempurnaan menuju tujuan yang ditetapkan.
Tetapi pada kenyataannya, berdasarkan pengalaman observasi ketika
peneliti melakukan kegiatan PPKT di SMK Lingga Kencana Sawangan
Depok pada bulan Agustus-Desember tahun 2011, peneliti melihat bahwa
ketika proses pembelajaran di kelas khususnya pada mata pelajaran IPS
tidak berlangsung secara kondusif, karena media yang digunakan oleh
guru sangat terbatas, yaitu hanya menggunakan buku panduan dan papan
tulis saja. Sehingga pada akhirnya peneliti melihat hasil semester siswa
dimana sebagian besar siswa mendapatkan nilai IPS kurang maksimal
bahkan ada juga yang nilai IPS-nya dibawah rata-rata atau kurang dari
KKM, dimana nilai rata-rata siswa tidak mencapai 70 yaitu antara 60-70
sedangkan KKM yang ditetapkan sekolah khususnya pada mata pelajaran
IPS adalah 70.
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka peneliti tertarik
mengadakan penelitian untuk mengetahui perbedaan antara pembelajaran
yang menggunakan media kontemporer dengan yang masih menggunakan
media konvensional (sebatas buku dan papan tulis). Tidak hanya itu
peneliti juga menggunakan dua media yang berbeda dalam penelitian
tersebut guna sebagai acuan bagi guru dalam penggunaan media
pembelajaran
4
pada
proses
pembelajaran.
Kemudian
dua
media
Trianto, Model Pembelajaran Terpadu: Konsep,Strategi, dan Implementasi dalam Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta: Bumi Aksara, 2010)
9
tersebutdibandingkan untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang
signifikan antara kedua media tersebut. Adapun media yang dibandingkan
oleh peneliti yaitu media video versus media gambar.
B. Permasalahan Penelitian
1.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan penelitian pendahuluan (preliminary research) yang
telah penulis lakukan, maka permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah
sebagai berikut:
1. Kurangnya
kreatifitas
guru
dalam
penggunaan
media
pembelajaran.
2. Kurangnya daya tarik siswa dalam peruses pembelajaran,
dikarenakan minimnya kemampuan guru dalam menciptakan
suasana kelas yang menarik.
3. Media yang digunakan dalam pembelajaran IPS masih sangat
konvensional
4. Nilai rapot siswa kurang maksimal atau bahkan ada beberapa siswa
yang nilainya masih dibawah KKM.
2. Penbatasan Masalah
Dalam melakukan penelitian ini peneliti menyadari bahwa, peneliti
memiliki keterbetasan dalam melakukan penelitian. Agar pembatasan
masalah lebih terarah, maka peneliti membatasi permasalah pada
perbandingan hasil belajar IPS siswa secara kognitif antara siswa yang
diajarkan menggunakan media video versus media gambar.
10
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka masalah dapat
dirumuskan atau hanya membahas masalah hanya pada: Apakah terdapat
perbedaan antara hasil belajar IPS siswa yang menggunakan media video
dengan
yang menggunakan media gambar di SMK Limgga Kencana
Depok.
4.
Pertanyaan Penelitian
Adapun yang menjadi pertanyaan umum (mayor research question) dalam
penelitian ini adalah: “Apa yang menyebabkan penggunaan buku panduan
dan papan tulis saja dalam pembelajaran, berpengaruh kepada rendahnya
hasil belajar siswa?”
Dari pertanyaan umum di atas muncul beberapa pertanyaan khusus
(minor research question), yaitu:
1.
Mengapa guru hanya menggunakan media buku panduan dan papan
tulis dalam proses pembelajaran?
2.
Mengapa dengan menggunakan metode yang umum dipakai guru
dalam pembelajaran tidak meningkatkan nilai mata pelajaran IPS
siswa?
3. Apakah dengan menggunakan media pembelajaran video pada mata
pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa?
4. Apakah dengan menggunakan media pembelajaran gambar pada mata
pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa?
5. Apakah terdapat perbedaan antara siswa yang diajar mengunakan
media video versus gambar, pada mata pelajaran IPS.
11
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian ini dapat penulis sebutkan sebagai berikut :
1. Tujuan Akademis
Adapun tujuan Akademis penelitian ini adalah sebagai berikut:
a
Untuk menemukan paradigma, konsep, proposisi dan model teoritis
yang berhubungan dengan hasil belajar IPS, khususnya pada setting
penelitian.
b
Untuk mengetahui hasil belajar IPS siswa yang diajar menggunakan
media video.
c
Untuk mengetahui hasil belajar IPS siswa yang diajar menggunakan
media gambar.
d
Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara
siswa yang diajar menggunakan media video versus media gambar.
Adapun tujuan terapan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a
Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPS siswa antara yang diajar
menggunakan media video dengan yang diajar menggunakan media
gambar.
b
Untuk memberi data bagi pemberi kebijakan.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat akademis penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian mengenai media pembelajaran pada umumnya akan
membantu dalam meletakan dasar-dasar teori tentang hasil belajar
siswa.
2. Sebagai pembanding bagi peneliti-peneliti lain yang ingin meneliti
mengenai perbandingan hasil belajar siswa, antara yang diajar
menggunakan media video dengan yang diajar menggunakan media
gambar dengan hasil belajar pada mata pelajaran lainnya.
12
Adapun manfaat terapannya adalah sebagai berikut :
1. Sebagai acuan bagi guru, agar menggunakan media pembelajaran yang
tepat.
2. Untuk membekali pemberi kebijakan yaitu kepala sekolah dan dinas
pendidikan agar melatih guru-guru terutama dalam penggunaan media
pembelajaran yang tepat dan efisien
BAB II
DESKRIPSI TEORITIK, KERANGKA BERPIKIR DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritik
1.
Pengertian media pembelajaran
Media berasal dari bahasa latih “medius” yang secara harfiah
berarti tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa arab, media
adalah “perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada
penerima”.1 Gagne yang dikutip oleh Sadiman mengatakan bahwa
“media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang
dapat merangsangnya untuk belajar”. Sementara itu Sadiman mengutip
dari Briggs berpendapat bahwa “media adalah segala alat fisik yang
dapat menyajikan pesan serta dapat merangsang siswa untuk belajar”.2
Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang
cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan
yang diajarkan dapat dibantu dengan kehadiran media sebagai perantara.
Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat
disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang
kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu.
Bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkritkan dengan kehadiran media.
Dengan demikian, anak didik lebih mudah mencerna bahan dari pada
tanpa bantuan media.3
Batasan lain juga dikemukakan oleh Asosiasi Pendidikan
Nasional (Natio Education Assosiasion/NEA). Dikatakan bahwa “media
adalah bentuk-bentuk komunitas baik tercetak maupun audio visual serta
peralatannya. Apapun batasan yang diberikan, ada persamaan-persamaan
diantaranya bahwa media adalah segala sesuatu yang digunakan untuk
1
Azhar Arsyad,.op,.cit.,hal,3
Arief S. Sadiman, Media Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persaada, 2005) hal,6
3
Syaiful bahri Jamarah dan aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: PT Asdi Mahasayat),
h.120
2
13
14
menyalurkan pesan dari pengirim kepada penerima sehingga dapat
merangsang fikiran, perasaan, perhatian, minat, dan perhatian siswa
sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi”.4
“Kata pengajaran sengaja dipakai sebagai pandanan dari kata
Bahasa Inggris instruction. Kata instruction mempunyai arti yang lebih
luas dari pada pengajaran. Jika kata pengajaran ada dalam konteks guru
dan murid di ruang kelas (formal), pembelajaran (instruction)
mencangkup pula kegiatan belajar mengajar yang tidak dihadiri guru
secara fisik. Oleh karena itu dalam instruction yang ditekankan adalah
proses belajar mengajar. Maka usaha yang terencana untuk
memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar
mengajar dalam diri siswa disebut pembelajaran”.5
Istilah pembelajaran digunakan untuk menunjukan usaha
pendidikan yang dilakukan secara sengaja, dengan tujuan yang
ditetapkan
terlebih
dahulu
sebelum
proses
dilaksanakan,
serta
pelaksanaannya terkendali. “Media pengajaran diartikan sebagai segala
sesuatu yang digunakan dalam proses belajar mengajar untuk
menyalurkan pesan dapat membangkitkan minat, perhatian dan kemauan
mengarahkan fikiran serta memudahkan peserta didik sehingga terjadi
belajar yang optimal”.6
“Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media
pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan
pesan serta merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa
sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar yang disengaja,
bertujuan dan terkendali”.7 Media pembelajaran sangat membantu dalam
proses kegiatan belajar mengajar dan diantara kegunaan media
pembelajaran adalah sebagai berikut:
a.
b.
4
Media mampu member rangsangan yang bervariasi kepada otak
kita.
Media membangkitkan keinginan dan minat baru, sehingga
membangkitkan motivasi dan merangsang utuk belajar.
Arief S. Sadiman, Media Pendidikan, hal 7
Arief S. Sadiman, Media Pendidikan, hal 7
6
M. Nasir, Pendayagunaan Media Pembelajaran dalam meningkatkan kualitas pendidikan, suara
guru, vol I, 1993 hal 19 dan 23
7
Yusufhadi Miars, Media Pembelajara, hal, 14
5
15
c.
d.
e.
f.
Media dapat melampaui batas ruang dan waktu, contoh objek yang
terlalu besar, objek yang terlalu kecil, gerak terlalu lambat atau
cepat dan sebagainya.
Media memungkinkkan adanya interaksi langsung antara siswa
dengan lingkungannya.
Media menghasilkan keseragaman pengamatan, pengalaman dan
persepsi. Dan juga memberikan kesempatan untuk belajar mandiri,
pada tempat dan waktu serta kecepatan yang ditentukan sendiri.
Media merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kegiatan
proses belajar mengajar.8
Karena beraneka ragam jenis dan kegunaannya, maka media tersebut
memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan oleh sebab itu perlu pemilihan
media secara cermat dan tepat agar dapt dimanfaatkan secara tepat guna.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain:
tujuan yang ingin dicapai, ketepatgunaan, kondisi siswa, ketersediaan
perangkat lunak (software), dan perangkat keras (hardware), mutu teknis
dan biaya. Oleh karena itu perlu pertimbangan dan perhatikan antara lain:
a. Media yang dipilih hendaknya selaras dan menunjang tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan. Masalah tujuan pembelajaran ini
merupakan komponen utama yang harus diperhatikan dalam memilih
media. Dalam penepatan media harus jelas dan operasional, spesifik dan
benar-benar tergambar dalam bentuk prilaku (behavior).
b. Aspek materi perlu jadi pertimbangan yang dianggap penting dalam
memilih media. Sesuai atau tidaknya antara materi dan media yang
digunakan akan berdampak pada hasil pembelajaran siswa.
c. Kondisi siswa dari segi subjek belajar menjadi perhatian yang serius bagi
guru dalam memilih media yang sesuai dengan kondisi anak. Faktor
umur, intelegensi, latar belakang pendidikan, budaya dan lingkungan
anak menjadi perhatian dan pertimbangan dalam memilih media
pembelajaran.
d. Ketersediaan media disekolah atau memungkinkan bagi guru mendisain
sendiri media yang akan digunakan merupakan hal yang perlu menjadi
pertimbangan seorang guru. Seringkali suatu media dianggap tepat untuk
digunakan dikelas akan tetapi disekolah tersebut tidak tersedia media
atau peralatan yang diperlukan, sedangkan untuk mendisain atau
merancang suatu media yang dihendaki tidak mungkin dilakukan oleh
guru.
8
Yusufhadi Miars, Media Pembelajara, hal, 16
16
e. Media yang dipilih seharusnya dapat menjelaskan apa yang akan
disampaikan kepada audiens (siswa) secara tepat dan berasil guna,
dengan kata lain tujuan yang ditetapkan dapat dicapai secara optimal.
f. Biaya yang akan dikeluarkan dalam pemanfaatan media yang sederhana
mungkin lebih menguntungkan dari pada menggunakan media yang
canggih (teknologi tinggi) bilamana hasil yang dicapai tidak sebanding
dengan dana yang dikeluarkan.9
2. Pengertian Media Video
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, video diartikan sebagai
rekaman gambar hidup atau program televisi lewat tayangan televisi. Atau
dengan kata lain video merupakan tayangan gambar bergerak yang disertai
dengan suara.
Sebagai bahan ajar noncetak, video kaya informasi dan lugas untuk
dimanfaatkan dalam program pembelajaran, karena dapat sampai
kehadapan peserta didik secara langsung. Selain itu, video menambah
suatu dimensi baru terhadap pembelajaran. Peserta didik dapat melihat
gambar dari bahan ajar cetak dan suara dari program audio. Tetapi, dalam
video, peserta didik dapat memperoleh keduanya, yakni gambar bergerak
beserta suara yang menyertainya. Sehingga, peserta didik seperti berada
disuatu tempat yang sama dengan proram yang ditayangkan dalam video.10
“Syaiful Bahri mendefinisikan video sebagai media yang
mempunyai unsur suara dan unsur gambar yang bergerak, dan
mengklasifikasikannya dilihat dari jenisnya, daya liputnya dan dari bahan
serta cara pembuatannya”.11
“Budi Susanto medefinisian media video sebagai media yang
berkaitan dengan indera penglihatan dan pendengaran serta mempunyai
unsur gerak”.12
9
Asnawir dan Basyirudiddin usman, Media Pembelajaran (Jakarta: Ciputat Press, 2002) hal. 20
AndiPrasetyo, Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif, (Jogjakarta, Diva press, 2011), h.
300
11
Syaiful Bahri, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta,: PT Rineka Cipta,2002), h. 140-141
12
Budi Susanto, Media Pembelajaran, (Akademi Jurnal Pendidikan Tingg: Univ
Tarumanagara,2002), h.34
10
17
Video pembelajaran merupakan program pembelajaran yang
dikemas dalam kaset video atau CD dan disajikan dengan menggunakan
peralatan VTR atau CD player sera TV monitor.13 Video sebagai media
audio-visual yang menampilkan gerak, semakin lama semakin popular
dalam
masyarakat.
Pesan
yang
disajikan
bisa
bersifat
fakta
(kejadian/peristiwa penting, berita) maupun fiktif (seperti misalkan cerita),
bisa bersifat informatif, edukatif, maupun instruksional. Sebagian besar
tugas film dapat digantikan oleh video. Tapi tidak berarti video akan
menggantikan kedudukan film. Masing–masing mampunyai kelebihan dan
keterbatasannya sendiri.
Kelebihan video antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
Dapat menarik perhatian untuk priode-priode yang singkat dari
rangsangan luar lainnya.
Dengan video sejumlah besar penonton dapat memperoleh informasi
dari ahli-ahli/spesialis.
Demonstrasi yang sulit dapat dipersiapkan dan direkam sebelumnya,
sehingga pada waktu mangajar guru dapat memusatkan perhataian
pada penyajiannya.
Menghemat waktu dan rekaman dapat diputar berulang-ulang.
Kamera TV bisa mengamati lebih dekat objek yang sedang bergerak
atau objek yang berbahaya seperti harimau.
Keras lemah suara yang ada bisa diatur dan disesuaikan bila akan
disisipi komputer yang akan didengar.
Gambar proyeksi biasa di- “beku”-kan untuk diamati secara seksama.
Guru bisa mengatur dimana dia akan menghentikan gerakan gambar
tersebut, kontrol sepenuhnya ditangan guru.
Ruangan tak perlu digelapkan ketika penyajian.14
Hal-hal negatif yang perlu diperhatikan sehubungan dengan
penggunaan alat perekam pita video dalam proses belajar mengajar
adalah:
a.
b.
13
14
Perhatian penonton sulit dikuasai, partisipasi mereka jarang
dipraktikan.
Sifat komunikasinya bersifat satu arah dan harus diimbangi dengan
pencarian bentuk umpan balik yang lain.
Budi Susanto, Media Pembelajaran.hal.34.
Arief S. Sadiman, Media Pendidikan, hal 74.
18
c.
Kurang mampu menampilkan detail dari objek yang disajikan secara
sempurna.
Memerlukan peralatan yang mahal dan kompleks.15
d.
Supaya media video dapat digunakan secara efektif dan efisien, ada
tiga langkah yang harus diikuti dalam memanfaatkan media video, baik
dengan tehnik pembelajaran klasik (massal), individual, maupun
kelompok, yaitu:
1)
Persiapan sebelum menggunakan media video
a) Menyusun jadwal pemanfaatan disesuaikan dengan topik dan
program belajar yang sudah dibuat.
b) Mengecek kelengkapan peralatan termasuk menyesuaikan dengan
tegangan listrik yang tersedia disekolah.
c) Mempelajari bahan penyerta.
d) Mempelajari isi program sekaligus menjadi bagian-bagian yang
perlu dan tidak perlu disajikan dalam kegiatan pembelajaran.
e) Mengecek kesesuaian isi program video dengan judul yang
tertera.
f) Meminta siswa agar mempersiapkan buku, alat tulis dan peralatan
lain yang diperlukan.
g) Mengatur tempat duduk siswa agar semua siswa dapat melihat dan
mendengar dengan baik.16
2)
Kegiatan selama memanfaatkan video
a) Sebelum menghidupkan/memulai program video pembelajaran
menyarankan siswa agar memperhatikan materi yang akan
dipelajari dengan baik.
b) Memberikan penjelasan terhadap materi yang diajarkan.
15
16
Arief S. Sadiman, Media Pendidikan, hal 75.
Pedoman Pemanfaatan Program video/VCD Pembelajaran, h.15.
19
c) Menjelaskan tujuan dan materi pokok dari program yang akan
dimanfaatkan.
d) Memberikan prasyarat atau persepsi pengetahuan pelajaran
sebelumnya.
Mengoprasikan
program
sesuai
petunjuk
pemanfaatan/petunjuk teknis bahan penyerta.
e) Mengamati atau memantau kegiatan siswa selama mengikuti
program.
Lebih baik guru mengerjakan hal:
 Menjaga agar suasana kelas tetap tertib.
 Usahakan agar volume suara (narasi) jelas terdengar oleh
seluruh siswa yang ada diruangan.
 Atur balance televisi sehingga gambar terlihat jelas oleh siswa.
f) Memberi penguatan/penegasan/pengayaan terhadap penayangan
program.
g) Memutar ulang program video pembelajaran bila diperlukan.
h) Menutup/mematikan
program sesudah
serta
membuat
kesimpulan
materi/isi
memberikan evaluasi kepada siswa.17
3) Kegiatan tindak lanjut
a) Memberikan tugas kepada siswa.
b) Memberi pertanyaan atau umpan balik
c) Bagi mata pelajaran yang memerlukan praktikum, guru kemudian
mengajak siswa untuk mengadakan praktek dilaboratorium.
d) Bagi mata pelajaran yang memerlukan tambahan referensi yang
lebih lengkap, guru mengajak siswa untuk belajar diperpustakaan.
e) Menginformasikan
tentang
pentingnya
memperhatikan/mendengarkan program video pembelajaran untuk
pemanfaatan program pembelajaran video berikutnya.
17
Pedoman Pemanfaatan Program video/VCD Pembelajaran, h.16-17
20
f) Mengajak siswa untuk memperkaya materi melalui sumber belajar
lain yang relevan dengan materi yang diajarkan.18
Dengan menggunakan video ini siswa akan belajar dengan
suasana yang berbeda, karena siswa hanya mengamati dan
memperhatikan gambar yang ditayangkan serta hal ini akan menarik
siswa karena diiringi dengan gambar serta fragmen yang menarik.
Pemanfaatan media video memang sangat luas, terutama
perkembangan
dalam bidang IPS. Informasi IPS dapat disimpan
dalam VCD, dan masing-masing dapat menyimpan 55. 000 gambar
atau sama dengan kira-kira 36 menit untuk perpindahan gambar.19
3. Pengertian Media Gambar
Media gambar diam adalah media visual yang berupa gambar
yang dihasilkan melalui proses fotografi. Media ini mempunyai
keunggulan yang diantaranya sudah umum digunakan, mudah
dimengerti, dapat dinikmati, mudah didapatkan atau dibuat, dan
banyak memberikan penjelasan dari pada menggunakan media
verbal.20
“Media gambar atau foto berbeda dengan media verbal atau
penyampaian materi melalui lisan dalam hal hasil yang diharapkan.
Media gambar mampu memberikan detail dalam bentuk gambar apa
adanya, sehingga anak didik mampu untuk mengingatnya dengan lebih
baik dibandingkan dengan metode verbal”.21 Selain itu, media gambar
juga bisa memecahkan
masalah yang ada dalam media oral atau
verbal, yakni dalam hal keterbatasan daya ingat dalam bercerita atau
menjelaskan sesuatu. Dalam hal ini, bisa jadi dalam menyampaikan
materi dengan media verbal ada hal-hal yang masih tercecer dan
terlupakan.
18
Pedoman Pemanfaatan Program video/VCD Pembelajaran, h.18
Linda Baggott and Bruce Wright, The Use of Interaktive Video in Teacing About Cell Division,
(Journal of Biological Education, 2000), h.57
20
Dina Indriana, Ragam Alat Bantu Media Pengajaran, (Jogjakarta: Diva press, 2001), h 64.
21
Dina Indriana, Ragam Alat Bantu Media Pengajaran, h 64-65.
19
21
Media gambar ini juga memiliki karakteristik yaitu, media yang
hanya menekankan persepsi indera penglihatan dan bentuk visualnya
dua dimensi, yang memanfaatkan rancangan gambar sebagai sarana
pertimbangan tentang kehidupan sehari-hari, misalnya yang
menyangkut manusia, peristiwa, benda-benda, tempat, dan sebagainya.
Media gambar ini juga bisa berupa peta bergambar yang mampu
menyajikan dan menunjukan letak bagian-bagian tubuh mahluk hidup
baik secara morfologi maupun anatomi. Media gambar merupakan
media yang mampu menyajikan sesuatu melalui penyajian bergambar
dalam mendapatkan sejumlah informasi dan ide yang terkandung
didalamnya dengan lebih jelas, dari pada yang dapat diungkapkan oleh
kata-kata, baik yang ditulis maupun yang diucapkan.22 Penggunaan
media ini dapat dipakai disemua sekolah dan bisa dibuat oleh sekolah.
Menurut pendapat para ahli media ini juga memiliki kelebihan dan
kekurangannya masing-masing.
Kelebihan dari media gambar adalah:
a. Gambar dapat menerjemahkan ide-ide abstrak kedalam bentuk
kongkrit. Sebagai contoh, salju merupakan barang abstrak bagi
rakyat Indonesia, dengan menggunakan gambar, salju dapat
ditunjukan kepada rakyat Indonesia, sehingga mereka memperoleh
gambar yang jelas tentang salju.
b. Gambar dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu. Seorang
anak yang tinggal dipegunungan mungkin belum pernah melihat
laut karena jarak yang jauh. Dengan menggunakan gambar laut
dapat didekatkan dengan mereka.
c. Objek-objek yang tidak dapat ditembus oleh indera penglihatan
dapat ditunjukan oleh gambar, misalkan peredaran darah, sistem
gerak jantung, pencernaan makanan dan lain sebagainya.
d. Gambar sangat baik karena dapat memberikan pengalaman yang
sama kepada seluruh kelompok.23
22
Dina Indriana, Ragam Alat Bantu Media Pengajaran, hal. 27
Taufik RAhmat, Pengembangan Programm Media Instruksional, Jakarta: Departemen
Pendidikan Dan Kebudayaan, Puskom. 2001, hal 5.
23
22
Keterbatasan media gambar adalah:
a. Gambar hanya dapat menekankan persepsi indera penglihatan saja.
b. Gambar tidak dapat memperagakan suara, bau, atau ciri
penginderaan lainnya.
c. Gambar dapat tergantung pada warna, gambar hitam putih tidak
bisa menggambarkan mobil berwarna biru.
d. Gambar hanya dapat berbentuk dua dimensi dan tidak dapat
memperagakan gerak.
e. Gambar ukuran kecil sukar diamati dalam jumlah banyak,
sedangkan untuk pengadaan biayanya tinggi.24
Media gambar
juga dapat menunjukan perlambang objek,
lembaga dan orang, yang dapat dilihat dari ruang dan waktu.
Kelebihan dari media gambar ini adalah dapat merangkum keterangan
sederhana, memperlihatkan hubungan data yang satu dengan yang lain.
Adapun kelemahan dari media gambar ini adalah pada media ini hanya
menggambarkan secara simbolik.
4. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Istilah ilmu pengetahuan sosial dalam sistem pendidikan di
Indonesia baru dikenal sejak lahirnya kurikulum tahun 1975.
Sebelumnya, pembelajaran ilmu-ilmu sosial untuk tingkat
persekolahan menggunakan istilah yang berubah-ubah sesuai dengan
situasi politik pada masa itu. Misalnya kurikulum 1964 menggunakan
istilah pendidikan kemasyarakatan. Ada dua kelompok mata pelajaran,
ialah kelompok dasar yang terdiri atas sejarah Indonesia dan geografi
Indonesia, bahasa Indonesia dan civics dan kelompok citra yang terdiri
atas sejarah dunia dan geografi dunia.25
“Ilmu pengetahuan sosial adalah salah satu mata pelajaran yang
diajarkan disekolah, mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai
kependidikan menengah atas, pada jenjang pendidikan ini, pemberian
mata pelajaran IPS dimaksudkan untuk membekali siswa dengan
24
Taufik Rahmat, Pengembangan Programm Media Instruksional. hal 6
Sapriya, Pendidikan IPS “Konsep dan Pembelajaran”, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
2009) cet. Ke-1 h.77
25
23
pengetahuan dan kemampuan praktis, agar mereka dapat menelaah,
mempelajari dan mengkaji fenomena-fenomena sarta masalah sosial
yang ada disekitar mereka”.26
Ilmu pengetahuan sosial merupakan integrasi dari berbagi
cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, ekonomi, politik,
dan budaya. Ilmu pengetahuan sosial dirumuskan atas dasar realitas
dan fenomena sosial yang diwujudkan satu pendekatan interdisipliner
dari aspek cabang-cabang ilmu sosial.
Secara mendasar pengajaran IPS berkenaan dengan kehidupan
manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhan. IPS
berkenaan dengan cara manusia menggunakan usaha untuk memenuhi
kebutuhan jiwanya, pemanfaatan sumber daya yang ada dipermukaan
bumi, mengatur
serta
mempertahankan kehidupan masyarakat
manusia.
“Menurut Suwarna bahwa pendidikan IPS adalah program
pendidikan yang memilih bahan pendidikan dari disiplin ilmu-ilmu
sosial dan humanity yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan
psikologis untuk tujuan pendidikan”.27
Berdasar uraian di atas dapatlah dinyatakan bahwa IPS yang
dimaksud dalam studi ini adalah suatu mata pelajaran yang mengkaji
kehidupan sosial yang bahannya didasarkan pada suatu kajian sejarah,
geografi, ekonomi/akuntansi, sosiologi, antropologi, ppkn, dan tata
Negara.
26
Syafrudin Nurdin, Model Pembelajaran Yang Memperhatikan Individu Siswa Dalam Kurikilum
Berbasi Kompetensi, (Ciputat: Quantum Teaching, 2005), cet. I h.22
27
Tanto Sukardi, Menggagas Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Social Yang Kontruktivis, dalam
Ilmu Sosial, Jakarta, oktober 2007, vol. 1, no. 02, h. 35
24
5. Pengertian Hasil Belajar
“Hasil belajar
merupakan realisasi kecakapan-kecakapan
potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang".28 Penguasaan hasil
belajar oleh seseorang dapat dilihat melalui perilakunya, baik perilaku
dalam bentuk penggunaan pengetahuan, keterampilan berpikir,
memberikan atau menyatakan sikap maupun keterampilan motorik.
Perolehan hasil belajar ini didapatkan berdasarkan proses
belajar yang telah dialami oleh seseorang dengan melakukan
organisasi dalam struktur kognitifnya sehingga seseorang dapat
memahami dan mencapai pemahaman pengetahuan konsep
pembelajaran. Hal ini sesuai dan ditegaskan oleh Sudjana, yang
menyatakan bahwa kemampuan–kemampuan yang diperoleh siswa,
setelah ia mengalami pengelaman belajar adalah hasil belajar”.29
Hasil belajar yang dicapai siswa melalui proses pembelajaran
yang optimal cenderung mewujudkan hasil yang berciri sebagai
berikut:
a. Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi
belajar intrinsic pada diri siswa.
b. Menambahkan keyakinan akan kemampuan dirinya.
c. Hasil belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya.
d. Hasil belajar diperoleh siswa secara menyeluruh.
e. Kemampuan
siswa
untuk
mengontrol
atau
menilai
dan
mengendalikan dirinya, terutama dalam menilai hasil belajar yang
dicapainya maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha
belajarnya.30
Dengan
demikian,
hasil
belajar
merupakan
kualitas
kemampuan yang dihasilkan melalui proses aktivitas aktif dalam
28
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2003), h. 102
29
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan h. 102
30
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001),
h. 56-57
25
membangun pemahaman informasi dalam bentuk kemampuan kognitif,
afektif dan psikomotorik.
1). Pengukuran hasil belajar
Efektivitas pengalaman proses belajar mengajar yang
dilakukan oleh siswa dalam mencapai hasil belajar diharapkan
adalah memiliki kemampuan lulusan yang utuh dan mencakup
kemampuan kognitif, psikomotorik, dan afektif atau perilaku.
Kemampuan kognitif adalah kemampuan berpikir secara hierarkis
yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis,
sintesis, dan evaluasi. Kemampuan psikomotorik berkaitan erat
dengan kemampuan gerak dan banyak terdapat dalam kegiatan
praktek. Kemampuan afektif berkaitan erat dengan perilaku sosial,
sikap, minat, disiplin, dan sejenisnya. Oleh karena itu untuk
mengetahui ketercapaian hasil belajar ini diperlukan indikator hasil
belajar yang dapat mengungkapkan kualitas hasil pemahaman yang
dimiliki oleh siswa, yakni ketercapaian aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik adalah berupa penilaian.
Penilaian
dalam
pembelajaran
berorientasi
pada
pencapaian tujuan pembelajaran. Penilaian ini berfungsi untuk
mengetahui kemampuan belajar siswa, mendiagnosis kesulitan
belajar,
memberikan
umpan
balik,
melakukan
perbaikan,
memotivasi guru dan siswa agar melaksanakan pembelajaran
dengan baik dan bermakna. Penilaian untuk mengukur hasil belajar
ini adalah dapat menggunakan suatu alat ukur yang terbentuk tes
atau nontes. Tes adalah kumpulan pertanyaan atau soal yang harus
dijawab
oleh
siswa
dengan
menggunakan
pengetahuan-
pengetahuan serta kemampuan penalarannya. Sedangkan, alat ukur
yang terbentuk nontes mencakup angket, skala sikap dan
sebagainya.
26
Penilaian
terhadap
hasil
belajar
penguasaan
materi
(kognitif) bertujuan untuk mengukur penguasaan dan pemilihan
konsep dasar keilmuan berupa materi-materi esensial sebagai
konsep kunci dan prinsip utama. Penilaian untuk mengukur hasil
belajar dalam ranah kognitif ini adalah berbentuk tes, yang dapat
mengukur kemampuan hierarkis berupa pengetahuan, pemahaman,
aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
Penilaian terhadap hasil belajar afektif, hasil belajar afektif
adalah berkaitan dengan aspek sikap, minat, disiplin dan nilai. Oleh
karena itu, pengukuran hasil belajar afektif ini lebih tepat dan
sesuai bila menggunakan pengukuran hasil belajar beupa nontes,
misalnya angket. Skala sikap, kuisioner dan observasi.
Penilaian terhadap hasil belajar psikomotorik. Hasil belajar
psikomotorik adalah berhubungan dengan kemampuan dan
keterampilan seseorang dalam bertindak. “Simpson dalam sofyan
menyatakan bahwa hasil belajar psikomotorik ini akan tampak
dalam bentuk keterampilan dan kemampuan bertindak individu”.31
Untuk mengukur hasil belajar psikomotorik ini dapat menggunakan
instrument tes kinerja dan nontes dengan pedoman observasi.
31
Ahmad Sofyan, dkk, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi (Jakarta: UIN press,
2006 ),h. 53
27
B. Kerangka Konseptual
Selanjutnya semua uraian pada deskripsi teoritis tersebut
dapat diringkas kedalam kerangka konseptual sebagai berikut:
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual
MEDIA
PEMBELAJARAN
MEDIA
VIDEO
GURU
PROSES
PEMBELAJARAN IPS
HASIL BELAJAR
IPS
MEDIA
GAMBAR
28
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan penjelasan uraian di atas maka penulis mempunyai
anggapan dasar bahwa penggunaan media yang menarik dalam
pembelajaran akan meningkatkan perhatian serta pemahan siswa,
yang akhirnya akan meninngkatkan hasil belajar siswa khususnya
pada mata pelajaran IPS. Sesuai dengan deskripsi teoritik yang telah
digambarkan diatas maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut:
H0 : Tidak ada perbedaan antara hasil belajar IPS siswa pada kelas
X.PB dan X.TN di SMK Lingga Kencana Depok dengan
menggunakan media video dengan media gambar.
Ha : Ada perbedaan antara hasil belajar IPS siswa pada kelas X.PB
dan X.TN di
SMK
Lingga
Kencana
Depok
menggunakan media video dengan media gambar.
dengan
29
D.
Hasil Penelitian Lain
Peneliti juga menambahkan hasil penelitian orang lain
untuk memperkuat hasil penelitian ini. Adapun hasil penelitian
lainnya adalah sebagai berikut:
1). Mochammad Iqbal, Penerapan Media Pembelajaran Audio Visual
Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Sejarah Siswa Kelas XI IPS di
SMA An Najah Rumpin-Bogor. Temuan haasil penelitian ini
menunjukan terjadinya peningkatan hasil belajar sejarah XI IPS di
SMA An Najah Rumpin-Bogor. Ini terlihat dalam rangkaian siklus I
dan II. Pada siklus I nilai rata-rata pada siklus II adalah 65,00 lebih
meningkat dibandingkan pretest siklus I yang hanya sebesar 52,90.
Setelah dilakukan postest pada akhir siklus data yang diperoleh
adalah
nilai rata-rata hasil postes siklus II adalah 85,32 lebih
meningkat dibandingkan siklus I sebesar 64,19 dengan nilai tertinggi
95 dan nilai terendah 75, seluruh siswa telah mencapai nilai KKM 75
atau bias dikatakan keberhasilan mencapai 100%
menggunakan
rumus
N-Gain
kemampuan
jika dihitung
siswa
nengalami
peningkatan sebesar 0.67 dari siklus I sebesar 0,37 atau masuk
kedalam katagori sedang. Hasil dari siklus II sudah mencapai 100%
selanjutnya menjadi unsur terpenting dalam peningkatan hasil belajar
sejarah kelas XI IPS di SMA An Najah Rumpin-Bogor.
2). Fitri Handayani, Pengaruh Penggunaan Media Gambar Terhadap
Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa. Hasil penelitian ini
dapat disimpilkan sebagai berikut : dengan perolehan hasil belajar
pada siklus 1 dan 2 mengalami perbedaan pada siklus 1 hasil belajar
siswa mencapai rata-rata 6,00 dan pada siklus 2 mengalami
peningkatan menjadi 8,00 maka dapat dilihat maka hasil belajar dari
siklus satu dan dua mengalami peningkatan. Begitu pula pada
motivaasi belajar siswa mengalami peningkatan mencapai 95% dapat
dikatakan bahwa motivasi belajar siswa meningkat pada siklus dua.
30
Dapat kita lihat bahwa nilai rata-rata pada siklus II pada
hasil penelitian yang dilakukan oleh Mochamad Iqbal dengan judul
“Penerapan Media Pembelajaran Audio Visual Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Sejarah Siswa Kelas XI IPS di SMA An Najah
Rumpin-Bogor” adalah 85,32. Sedangkan nilai rata-rata pada siklus
II pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Fitri Handayani dengan
judul “Pengaruh Penggunaan Media Gambar Terhadap Peningkatan
Motivasi dan Hasil Belajar Siswa” adalah 8,00. Dari hasil penelitian
tersebut dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
antara penelitian yang dilakukan oleh Mochamad Iqbal dengan
Handayani Fitri, dimana hasil penelitian yang dilakukan oleh
Mochammad Iqbal lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian
yang dilakukan olehHandayani Fitri.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMK Lingga Kencana Depok yang
beralamat di Jl Raya Sawangan No. 47 Rangkapanjaya Baru
Pancoran Mas Depok.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada saat semester ganjil tahun ajaran
2012/2013 pada bulan Juli.
B. Populasi dan Sampel
“Populasi merupakan objek atau subjek yang berada pada
suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu, berkaitan dengan
masalah penelitian”.1 Berkaitan dengan penelitian ini, populasi dan
sampel yang penulis pilih adalah:
1. Populasi Target
Seluruh siswa SMK Lingga Kencana Depok yang terdaftar pada
semester I tahun ajaran 2012/2013.
1
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula, (Bandung:
Alfabeta, 2007) Cet. IV, h. 54.
31
32
2. Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah siswa kelas X.TN
dan X.PB semester I SMK Lingga Kencana Depok tahun ajaran
2012/2013.
3. Sampel
Sampel penelitian ini adalah siswa kelas X.TN dan X.PB
semester I, dimana Kelas X.PB terdiri dari 21 siswa dengan
komposisi perempuan 5 siswa dan laki-laki 16 siswa, yang
metode pembelajarannya menggunakan ekspositori. Kelas X.TN
Terdiri dari 21 siswa dengan komposisi perempuan 5 siswa dan
laki-laki 16 siswa. “Adapun teknik pengambilan sampel yaitu
dengan menggunakan teknik purposive sampling yang dikenal
juga dengan sampling pertimbangan ialah teknik sampling yang
digunakan peneliti jika peneliti mempunyai pertimbanganpertimbangan tertentu di dalam pengambilan sampelnya atau
penentuan sampel untuk tujuan tertentu”.2
Besarnya jumlah sampel dalam penelitian ini didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
a
Pertimbangan praktis yaitu menyangkut biaya, waktu, tenaga
dan kemampuan peneliti.
b
Pertimbangan analisis data.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam
penelitian ini adalah:
1. Observasi
Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke
objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan.
Dalam hal ini penulis melakukan observasi terhadap sikap siswa dan
juga terhadap cara mengajar guru dalam proses pembelajaran di kelas.
2
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula. h. 63.
33
2. Wawancara
Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang
digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya.
Dalam hal ini penulis mewawancarai seorang guru dan 10 orang siswa
kelas X.PB serta 12 orang siswa kelas X.TN secara langsung untuk
mengetahui bagaimana ketertarikan siswa terhadap pembelajaran IPS.
3. Metode Tes
Metode tes umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur
hasil belajar IPS Terpadu siswa, terutama hasil belajar kognitif
berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran yang telah diberikan
oleh guru sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Adapun
metode tes tersebut berupa 30 soal pilihan ganda yang diberikan
kepada kelas X.PB dan X.TN, pada waktu yang telah ditentukan oleh
peneliti.
D. Pengujian Validitas Alat Ukur
Validitas dapat diartikan sebagai keshahihan. Sehingga salah satu
ciri tes yang baik adalah tes hasil belajar yang diujikan bersifat valid.
Suatu alat ukur memiliki validitas bilaman alat ukur tersebut isinya layak
mengukur objek yang harusnya diukur dan sesuai dengan kriteria
tertentu.3 Artinya ada kesesuaian antara alat ukur dan fungsi pengukuran
dan sasaran pengukuran.
Penganalisisan terhadap tes hasil belajar dilakukan dengan
melakukan uji validitas isi. Artinya validitas yang diperoleh setelah
dilakukan penganalisaan, penelusuran atau pengujian terhadap isi yang
terkandung dalam tes hasil belajar tersebut. Untuk mengukur validitas
maka instrument tes diujicoba pada kelas lain yang memiliki
pengetahuan tentang materi pelajaran tersebut, kemudian hasil dari uji
3
Anas Sujino, Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), h. 93
34
instrument tersebut dihitung dengan menggunakan rumus produk
moment poin biserial berikut.
√
Rpbi =
Dimana M1 =
dan SDt = √
(
)
Sedangkan dalam menentukan rata-rata peserta tes yang
menjawab benar, maka digunakan persamaan berikut.
Mp =
Keterangan:
Rpbi
:Koefesien korelasi poin biserial yang melambangkan
kekuatan korelasi antara variable I dengan variable II
Mp
: skor rata-rata hitung yang dimiliki oleh testee
Mt
: skor rata-rata dari skor total (Mean Total)
SDt
: deviasi standar dari skor total
P
: proporsi testee yang menjawab betul terhadap butir soal
yang sedang diuji validitasnya.
q
: Proporsi testee yang menjawab salah terhdap butir soal
yang sedang diuji validitasnya.
Setelah didapatkan hasil, maka ditentukan nilai validitas dengan
mengkonsultasikan pada table korelasi produc moment. Jika r hitung > r
table maka soal tersebut dinyatakan valid, dan jika r hitung < r table
maka soal tersebut dinyatakan tidak valid.
35
E. Pengujian Reliabilitas Alat Ukur
Tes hasil belajar yang baik harus memiliki reliabilitas yang dapat
diandalkan. Artinya setelah tes hasil belajar dilaksanakan berkali-kali
terhadap subjek yang sama, maka hasilnya selalu sama atau relatif sama.
Pengujian reliabilitas ini dilakukan dengan menggunakan rumus KudirRhicardson (KR20)² berikut:
r11 = (
)(
)
keterangan :
r11
: koefeisen reliabilitas tes
n
: banyaknya butir soal
St²
: varian total
∑ p .q
: jumlah dari hasil perkalian antara p dan q
Dimana St = ∑
dan ∑xt = ∑Xt - (
)
Setelah didapatkan hasil, maka ditentukan kriteria reliabilitas
dengan mengkonsultasikan pada tabel koefesien reliabilitas tes
sebagai berikut :
Tabel 3.1
Indeks Koefisien Reliabilitas Tes
Kofisien Reliabilitas
Interpretasi
0,91 -1,00
Sangat Tinggi
0,71 – 0,90
Tinggi
0,41 – 0,70
Cukup
0,21 – 0,40
Rendah
< 0,20
Sangat rendah
36
F. Pengujian Taraf Kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan juga
tidak terlalu sukar. Artinya derajat kesukaran masing-masing soal
tersebut adalah sedang atau cukup, angka indeks kesukaran item itu
dapat diperoleh dengan menggunakan rumus Du Bois berikut:
P=
Keterangan :
P
: angka indeks kesukaran item
Np
: banyaknya testee yang menjawab benar pada butir soal
N
: Jumlah seluruh taste
Setelah didapatkan hasil, maka hasil tersebut diinterpretasikan
pada table tingkat kesukaran berikut.
Tabel 3.2
Indeks Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran
Interpretasi
< 0,25
Sukar
0,25 – 0,75
Sedang
> 0,75
Mudah
G. Daya pembeda
“Daya pembeda adalah kemampuan suatu butir soal tes hasil
belajar untuk dapat membedakan antara tastee yang berkemampuan
tinggi dengan tastee yang berkemampuan rendah. Dalam menentukan
daya pembeda suatu butir soal, rumus yang digunakan adalah”:4
D=
-
= PA - P B
Keterangan :
D
4
: Daya pembeda
Anas Sujino, Evaluasi Pendidikan, h. 38-386
37
BA
: Banyaknya siswa kelas atas yang menjawab benar
BB
: Banyaknya
JA
: Jumlah
siswa kelas atas
JB
: Jumlah
siswa kelas bawah
siswa kelas atas yang menjawab salah
Tabel 3.3
Indeks Daya Pembeda
Daya
Interpretasi
Pembeda
< 0,00
Sangat Buruk
0,00 – 0,20
Buruk
0,20 – 0,40
Cukup
0,40 – 0,70
Baik
0,70 – 1,00
Sangat Baik
H. Teknik Analisis Data
Data-data yang masih dalam bentuk data mentah terlebih dahulu
disusun dalam tabel distribusi frekuensi untuk memperoleh gambaran
yang sederhana jelas dan sistematis mengenal hasil yang dinyatakan
dalam bentuk angka-angka kemudian dari data tersebut dihitung
pengujian persyaratan analisis berupa uji normalitas, uji homogenitas
kemudian dilakukan pengujian hipotesis terhadap data tersebut.
1.
Pengujian persyaratan analisis
a.
Uji Normalitas
Uji Normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel
yang diteliti berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang
digunakan berupa uji lilliefors.5
Uji lilliefors mempunyai langkah-langkah sebagai berikut:
5
Sujana, Metode Statistika (Bandung,: Tarsib, 2002), h. 466
38
1) Pengamatan X1, X2, .... Xn dijadikan bilangan baku Z1, Z2, ....
Zn dengan menggunakan rumus Zi = Xi – X/s (x dan s masingmasing merupakan rata-rata dan simpangan baku sampel).
2) Untuk setiap bilangan baku tersebut dan dengan menggunakan
daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F (Zi)
= p (Z ≤ Zi).
3) Selanjutnya hitung proporsi Z1, Z2, .... Zn yang lebih kecil atau
sama dengan Zi, jika populasi ini dinyatakan dengan S (Zi),
Hitung selisih F (Zi) – (S (Zi), kemudian
maka S (Zi) =
tentukan harga mutlaknya.
4)
Ambil harga yang paling besar diantara hara-harga mutlak
selisih tersebut dan harga tersebut dinamakan dengan Lo.
5)
Tentukan kriteria pengujian berikut :
a)
Jika Lo ≤ Lo, Ho diterima ( data berdistribusi normal)
b)
Jika Lo ≤ Lo, Ho ditolak ( data tidak berdistribusi normal)
b. Uji Homogenitas
Uji
homogeniats
dilakuakan
untuk
mengetahui
perbedaan antara kedua keadaan atau populasi. Uji homogenitas
yang dilakukan penulis berupa uji fischer.
Langkah-langkah uji fischer sebagai berikut:
Fh =
dengan varian =
c. Pengujian hipotesis
1.
Jika varian populasi heterogen
thitung =
2.
̅̅̅̅̅–̅̅̅̅
√
Jika Variasi populasi homogen
thitung =
̅̅̅̅̅–̅̅̅̅
√
sg = √
–
–
–
39
Keterangan :
̅̅̅̅ : rata-rata hasil belajar IPS kelas eksperimen I
̅̅̅̅ : rata-rata hasil belajar IPS kelas eksperimen II
S12 : variansi kelas eksperimen I
S22 : variansi kelas eksperimen II
n1 : jumlah variansi kelas eksperimen I
n2 : jumlah variansi kelas eksperimen II
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum SMK Lingga Kencana Tahun 2011/2012
a. Sejarah Berdirinya SMK Lingga Kencana
Berawal dari kebiasaan masyarakat kampung parung bingung desa
rangkapan jaya kecamatan pancoran mas Depok yang kini rangkapan jaya baru
kec. Pancoran Mas Kota Depok dalam kegiatan rutin memberikan santunan
kepada anak anak yatim atau yatim piatu yang dilaksanakan pada tiap tiap 10
Muharram atau hari #Asyura dengan tujuan memberikan kegembiraan kepada
anak anak yatim setahun sekali pada tahun tahun sebelum 1945 secara
terkoordinir, maka pada tahun 1967 dikembangkan usaha dan penyantunannya
menjadi setiap saat berupa bantuan pendidikan dan santunan hari raya idul fitri
dan 10 muharram dengan nama pengurus sosial kp. Parung Bingung. Dalam
mengikuti perkembangannya pada tahun 1978 dirubah namanya menjadi
Pengurus Kesejahteraan Sosial. Pada tahun 1980 yayasan pengurus
kesejahteraan social diubah namanya menjadi yayasan kesejahteraan social
(YKS) rangkapan jaya baru dengan akte notaries Suyatiman Tjokrosuwarna
SH No. 29 pada tanggal 27 Agustus 1980.
40
41
Yayasan ini bernama yayasan kesehteraan social (YKS) berkedudukan
serta berkantor pusat di Kp. Parung Bingung desa rangkapan jaya baru
kecamatan Pancoran Mas Kota Depok dengan cabang cabang atau perwakilan
tempat lain yang di anggap perlu menurut keputusan pengurus.
Yayasan ini didirikan untuk waktu yang tidak di tentukan lamanya dan
dimulai sejak tahun 1945, kemudian disahkan berbentuk yayasan dengan akte
notaries penanda tangan akte pendirian yaitu 27 Agustus 1980.
Yayasan
ini
bertujuan
mengembangkan
kesejahteraan
sosial
masyarakat dan meningkatkan pembangunan kesejahteraan sosial.
Yayasan ini berasaskan pancasila yang tertuang dalam Undang Undang
dasar Negara Republic Indonesia tahun 1945.
Untuk mencapai maksud dan tujuan yayasan berusaha:
a) Meningkatkan pelayanan kepada yatim piatu dan fakir miskin serta
pembangunan masyarakat yang bersifat kesejahteraan sosial.
b) Mengadakan usaha usaha yang mendatangkan keuntungan yang
menambah pendapatan yayasan yang gunanya untuk disalurkan
kepada yang membutuhkan.
c) Mendirikan kursus kursus, keterampilan anak anak yatim piatu,
anak anak terlantar, remajan putus sekolah dan lain lain yang
dibutuhkan untuk kesejahteraan sosial.
d) Mendirikan asrama asrama yatim piatu, tempat pendidikan,
mengurus memelihara dan menambah bangunan yang bersifat
untuk kesejahteraan masyarakat yang dibolehkan oleh agama,
Negara, undang undang dan peraturan yang berlaku.
42
b. Profil SMK Lingga Kencana
PROFIL SEKOLAH
1.
Nama Sekolah
Alamat (Jalan/Kec./Kab/Kota)
: SMK Lingga Kencana
: Jl. Raya Sawangan Depok No.
47 Kec, Pancoran Mas Depok
16434
2.
Nama Yayasan (bagi swasta)
: Yayasan Kesejahteraan Sosial
Alamat Yayasan
: Jl. Raya Sawangan Depok No.
47 Kec, Pancoran Mas Depok
16434
Telepon 021 77885137
3.
SK Pendirian/Pengukuhan Sekolah
: No.421.4/1207/Disidik/2004
4.
NSS
: 3220224011071
5.
NPSN
: 20229215
6.
Jenjang Akreditasi/SK No.
: Terakreditasi B /
02.00/440/BAP-SM / XI / 2008
7.
Nama Ketua Yayasan
: Ujang Tajudin
8.
Nama Kepala Sekolah
: Ruslan Muntaha SH.
9.
Pendidikan terakhir Kepala Sekolah
: Strata Satu SI / Akta IV.
43
c. Visi dan Misi SMK Lingga Kencana
Adapun Visi Sekolah SMK Lingga Kencana adalah : Tamatan menjadi
tenaga kerja kompetitif dalam prestasi, berilmu ilmiah, beriman amaliyah dan
tanggap terhadap perubahan Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan
berwawasan global.
Sedangkan Misi SMK Lingga Kencana :
1) Terciptanya sumber daya manusia yang berilmu ilmiah dan beramal
amaliyah
2) Mewujudkan tercapainya peningkatan kualitas dan kuantitas output
serta efektifitas dan efesiensi pendidikan
3) Membina semangat kebersamaan dalam kegiatan berlandaskan
keimanan dan ketaqwaan.
4) Meningkatkan profesioanalisme personal sehingga menumbuhkan
sikap disiplin yang kompetitif dikalangan personal dan peserta didik.
5) Meningkatkan pelayanan bagi masyarakat.
6) Menciptakan lingkungan pendidikan yang nyaman, bersih, kondusif
dan refresentatif.
d. Data Siswa SMK Lingga Kenca Tahun 2011-2012
1.
Data Siswa tahun 2011-2012
:
Jumlah siswa SMK Lingga Kencana pada tahun ini berjumlah
201 siswa. Dengan perincian siswa kelas satu 88 orang, kelas dua 54
orang, dan kelas tiga 59 orang.
44
e.
Sarana dan Prasarana SMK Lingga Kencana Depok
Tabel. 4.1
Keadaan Sarana dan Prasarana SMK Lingga Kencana
Perabotan ruang belajar dan
No
Peralatan Sekolah
Jumlah
1
Jumlah ruang belajar
4 Buah
2
Ruang Kepala Sekolah
1 Buah
3
Ruang Guru
1 Buah
4
Ruang TU
1 Buah
6
Ruang Kamar Mandi (Siswa dan Guru)
2 buah
7
Ruang Ibadah / Musholla
1 Buah
8
Ruang Perpustakaan
1 Buah
10
Papan Pengumuman
1 Buah
11
Lapangan Olah Raga
1 Buah
12
LCD
1 Buah
13
Ruang Koprasi
1 Buah
45
f.
Data Guru SMK Lingga Kencana Depok
Tabel. 4.2
Data Pendidikan Guru SMK Lingga Kencana
No
Nama
Guru Mata
Pendidikan
Pelajaran
Terakhir
1
Marhasan HN. MM.Pd
PAI
S2
2
Ramdani S.Pd
Kewirausahawan
S1
3
Drs. Nur Istritanto M.M
IPS dan Prinsip
S2
Bisnis
4
Imbang Rochayat S.Pd
PKN, Administrasi
Transaksi, Asuransi
S1
5
Ahnani SE
KKPI, Perusahaan
Pegadaian
S1
6
Dra. Maswanih
Al Qur`an
S1
7
Miza Elman S.E
Akuntansi
S1
8
Yumna Sriwati S.P
Matematika
S1
9
Sapuroh S.E
K3LH
S1
10
MursinihS.Pd
IPA dan PLH
S1
11
Heru Nur Cahyo S.Pd
Penjaskes
S1
12
Adawiyah Fatimah S.Pdi B. Indonesia
S1
46
13
Afhkina Mariana S.Pd
B. Sunda
S1
14
Dyah Maya Hapsari S.E
Peralatan Transaksi
S1
15
Drs. Wachid Zohari
Pembayaran dan
Negosiasi
S1
B. Deskripsi Data
1. Praktik Pembelajaran
a. Praktik Pembelajaran Media Video
Dalam penerapan media video ini guru mempunyai peranan yang
lebih dominan dibandingkan dengan siswa namun siswa tetap dituntut untuk
aktif untuk memahami materi yang disampaikan. Dalam penggunaan media
video siswa dituntut bertanggung jawab pada dirinya sendiri untuk
memahami materi karena pada dasarnya media ini lebih mengutamakan
kecakapan siswa dalam memusatkan penglihatan dan pendengaran dalam
proses pembelajaran serta kecermatan siswa dalam menyelaraskan antara
materi yang diajarkan dengan video yang diputarkan, sehingga siswa dapat
menarik kesimpulan dari apa yang ditayangkan guru dalam sebuah video.
Tahap pertama penerapan media video adalah guru menjelaskan
kepada siswa mengenai materi Mata Pelajaran IPS. Dalam setiap penjelasan
guru selalu memberikan contoh kongkrit yang terjadi di masyarakat yaitu
berupa video untuk memudahkan siswa memahami penjelasan yang
disampaikan oleh guru dan sesekali memberikan kesempatan kepada siswa
untuk memberikan contoh atau pendapatnya, guru juga memberikan
kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
Pada pertemuan selanjutnya guru menjelaskan materi pembelajaran
secara terperinci. Dalam setiap penjelasannya guru memberikan contohcontoh kongkrit yang ada dalam masyarakat dalam sebuah video, guru juga
47
selalu memberikan kesempatan kepada siswa menyampaikan pendapatnya,
guru juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Pada
pertemuan kali ini guru meminta
perwakilan dari siswa untuk kembali
menjelaskan mengenai materi yang telah dibahas sesuai pemahaman mereka.
Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami materi
yang dijelaskan. Pada tahap terakhir guru menyimpulkan materi bersamasama dengan siswa.
b. Praktik Pembelajaran Media Gambar
Dalam penerapan media pembelajaran ini tidak jauh berbeda dengan
penerapan media di atas dimana pada penggunaan media di atas siswa
disuguhkan contoh konkrit dari materi pembelajaran, hanya saja contoh
yang diberikan berupa visual saja, yaitu hanya berupa gambar saja.
Tahap pertama guru menjelaskan kepada siswa mengenai materi
pembelajaran IPS. Dalam setiap penjelasan guru selalu memberikan contoh
kongkrit yang terjadi di masyarakat yaitu berupa gambar untuk
memudahkan siswa memahami penjelasan yang disampaikan oleh guru.
Pada pertemuan selanjutnya guru menjelaskan materi pembelajaran
secara terperinci. Dalam setiap penjelasannya guru memberikan contohcontoh kongkrit yang ada dalam masyarakat yaitu berupa gambar, guru juga
selalu memberikan kesempatan kepada siswa menyampaikan pendapatnya,
guru juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Pada
pertemuan kali ini guru meminta perwakilan dari siswa untuk kembali
menjelaskan mengenai materi yang telah dibahas sesuai pemahaman
mereka. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami
materi yang dijelaskan. Pada tahap terakhir guru menyimpulkan materi
bersama-sama dengan siswa.
48
2. Data Hasil Belajar IPS Siswa
1) Hasil Postest Kelompok Media Video
Tabel 4.3
Nilai Postes Media Video
NO
NILAI POSTES
1
70
2
87
3
85
4
93
5
80
6
70
7
87
8
80
9
67
10
75
11
87
12
85
13
75
14
73
15
67
16
80
17
85
49
18
70
19
93
20
67
21
80
21
1.714
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa skor tertinggi didapat oleh
responden nomor 4 dan 19 dengan skor 93. Sedangkan skor terendah
didapat oleh responden dengan nomor 9, 15 dan 20 dengan skor 67. Data
yang dihasilkan menunjukan bahwa terdapat 3 siswa yang belim
memenuhi KKM dengan skor nilai 67, namun bias dikatan sebagian besar
nilai IPS siswa telah diatas KKM.
Dari data nilai di atas dapat dilihat dengan grafik sebagai berikut:
Gambar 4.1
Nilai Posttest Media Video
100
90
80
70
60
50
40
30
Nilai yang diperoleh siswa
20
10
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
dari postest yang dilakukan terhadap kelas yang menggunakan
Media Video dapat ditunjukkan pada tabel berikut:
50
Tabel 4.4
Data Hasil Posttest Siswa Kelompok Media Video
N
21
Jumlah
Nilai
Nilai
Nilai
Terendah
Tertinggi
16,56
67
93
Mean
Median
Modus
Varians
78,85
80
80
78,67
2). Hasil Postest Kelompok Media Gambar
Tabel 4.5
Nilai Postes Media Gambar
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
NILAI POSTES
80
70
67
67
73
70
75
80
73
93
80
80
73
70
Simpang
an Baku
8,87
51
73
15
73
16
67
17
87
18
80
19
67
20
80
21
1.578
21
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa skor tertinggi didapat oleh
responden nomor 10 dengan skor 93. Sedangkan skor terendah didapat
oleh responden dengan nomor 3, 4, 17 dan 20 dengan skor 67.
Pada hasil penelitian media gambar dapat dilihat bahwa terdapat 4
siswa yang nilainya belum mencapai, namun selebihnya adalah sudah
mencapai KKM atau diatau KKM. Selain itu juga dari
Dari data nilai di atas dapat dilihat dengan grafik sebagai berikut:
Gambar 4.2
Gambar Grafik Posttes Media Gambar
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
52
Nilai yang diperoleh siswa dari postest yang dilakukan terhadap
kelas yang diajar menggunakan Media Gambar dapat ditunjukkan pada
tabel berikut:
Tabel 4.6
Data Hasil Posttest Siswa Kelompok Media Gambar
N
21
Jumlah
Nilai
Nilai
Nilai
Terendah
Tertinggi
16,21
67
93
Mean
Median
Modus
Varians
75,23
75
80
77.08
Dari data nilai postes Media Video dan Media Gambar dapat
dilihat dengan grafik perbandingan nilai sebagai berikut:
Gambar 4.3
Perbandingan Diagram Garis
Nilai Posttest Media Video dan Nilai Posttest Media Gambar
100
90
80
70
60
50
Nilai Posttest Media
Video
40
Nilai Posttest Media
Gambar
30
20
10
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
Simpang
an Baku
8,78
53
C. Hasil Uji Coba Instrumen
Instrumen yang di gunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian
ini terdiri dari instrumen tes. Instrumen tes berupa soal dan dilaksanakan diakhir
pertemuan setelah pembahasan selesai. Tes ini bertujuan untuk menganalisis
peningkatan hasil belajar IPS siswa.
Instrumen tes yang digunakan untuk menguji hasil belajar IPS siswa
berjumlah 15 soal yang terlebih dahulu diuji validitas, reliabilitas, daya beda dan
taraf kesukarannya. Proses pengambilan data hasil belajar IPS yaitu melalui
posttest yang diambil setelah pembelajaran selesai.
Sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan, peneliti menguji cobakan soal
instrumen tes di kelas XI kemudian soal tersebut dihitung validitas, relibilitas,
daya beda dan taraf kesukaran, peneliti menggunakan ANATES. ANATES
merupakan sebuah program aplikasi komputer yang bertujuan untuk menganalisis
butir soal. Dalam program ini akan diolah dan secara otomatis akan mengeluarkan
hasil validitas, reliabilitas, daya pembeda dan taraf kesukaran soal dengan terlebih
dahulu mentabulasi dan mengentri jawaban siswa.
Berdasarkan penghitungan ANATES, diperoleh hasil validitas yaitu dari
30 soal yang diuji cobakan terdapat 15 soal yang valid, yaitu nomor 1, 4, 5, 7, 8,
9, 10, 11, 12, 13, 17, 19, 24, 27 dan 29.
Selain
validitas,
peneliti
juga
menguji
reliabilitas.
Berdasarkan
penghitungan ANATES diperoleh hasil relibilitas 0,74 (kriteria tinggi).
Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa instrumen dapat dipercaya
untuk digunakan sebagai alat pengumpul data, karena instrumen yang sudah dapat
dipercaya akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga.
Setelah melakukan uji validitas dan reliabilitas, maka ditentukan daya
bedanya. Berdasarkan penghitungan ANATES diperoleh hasil daya beda yaitu 11
soal berkategori jelek, 3 soal berkategori sedang, 10 soal berkategori baik dan 6
soal berkategori baik sekali.
54
Setelah melakukan uji validitas reliabilitas dan daya beda, maka
ditentukan taraf kesukarannya. Berdasarkan penghitungan ANATES diperoleh
hasil taraf kesukaran yaitu 3 soal berkategori mudah, 22 soal berkategori sedang,
3 soal berkategori sukar.
D. Uji Persyaratan Analisis Data
1. Uji Normalitas Data
a. Uji Normalitas Data Posttest Kelompok Media Video
Setelah dilakukan perhitungan, diperoleh
posttest kelompok
gambar sebesar 0,1517. Jika dikonsultasikan dengan tabel KolomogrofSmirnov pada taraf signifikansi 0.05 dan N = 21 diperoleh
0,1517.
Dengan demikian Ho diterima karena Lo < Ltabel (0,1824 > 0,1757). Dapat
disimpulkan bahwa data posttest kelompok gambar berdistribusi normal.
b. Uji Normalitas Data Posttest Kelompok Media Gambar
Setelah dilakukan perhitungan, diperoleh
posttest kelompok
Media Video sebesar 0,1517. Jika dikonsultasikan dengan tabel Liliefors
pada taraf signifikansi 0.05 dan N = 21 diperoleh
0,1757. Dengan
demikian Ho diterima karena Lo < Lt (0,1517 < 0,1757). Dapat disimpulkan
bahwa data posttest kelompok video berdistribusi normal.
2. Uji Homogenitas Data
a. Uji Homogenitas Data Posttest
Hasil perhitungan uji homogenitas data posttest diperoleh
sebesar 1,02. Jika dikonsultasikan dengan
pada taraf signifikansi
0,05 dengan db penyebut 20 dan db pembilang 20 diperoleh
sebesar
2,12. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa data posttest berasal dari
populasi yang homogen, karena
(1,02 < 2,12).
55
E. Pengujian Hipotesis
Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara hasil belajar Sosiologi
siswa antara yang diajarkan dengan media video dengan media gambar maka
dilakukan uji t (uji beda). Kriteria uji hipotesis data adalah
, atau
ditolak jika
diterima jika
. Dengan ditolaknya Ho
berarti data dalam penelitian terbukti bahwa hasil belajar IPS antara siswa yang
diajar dengan media video dengan media gambar adalah berbeda secara
signifikan. Dengan diterimanya Ho berarti data dalam penelitian terbukti bahwa
hasil belajar IPS antara siswa yang diajar dengan media video dengan media
gambar adalah tidak berbeda secara signifikan.
Dari hasil perhitungan diperoleh
sebesar 2,253. Jika dikonsultasikan
dengan taraf signifikasi 0,05 dan derajat kebebasan (dk) = 21 + 21 – 2 = 40. Di
dalam tabel distribusi ttabel untuk dk = 40, diperoleh ttabel pada taraf signifikasi
0,05 sebesar 2,021,
(2,253 > 2,021). Dengan demikian dapat
dinyatakan bahwa terdapat perbedaan antara hasil belajar yang diajarkan dengan
media video versus media gambar.
56
F. Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil analisis data menunjukkan nilai rata-rata hasil belajar IPS siswa
kelas X.PB yang diajarkan dengan menggunakan media video adalah 78,85
dan nilai rata-rata hasil belajar IPS siswa kelas X.TN yang diberikan
pembelajaran dengan media gambar adalah 75,23 dengan nilai
sebesar
2,253 dan nilai ttabel sebesar 2,021 hal ini menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan hasil belajar IPS siswa antara yang diberikan pembelajaran melalui
media video dengan media gambar. Dari hasil diatas dapat dilihat bahwa kelas
yang diajar menggunakan media video lebih tinggi dibandingkan dengan
kelas yang diajar menggunakan media gambar. Hal tersebut dikarenakan pada
media gambar Peserta didik dapat melihat gambar dari bahan ajar cetak.
Tetapi, dalam video, peserta didik dapat memperoleh keduanya, yakni gambar
bergerak beserta suara yang menyertainya. Sehingga, peserta didik seperti
berada disuatu tempat yang sama dengan program yang ditayangkan dalam
video. Seperti yang telah dikatakan oleh Budi Susanto bahwa “media video
sebagai media yang berkaitan dengan indera penglihatan dan pendengaran
serta mempunyai unsur gerak”.1
1
Budi Susanto, Media Pembelajaran. h.34
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Setelah melakukan pengumpulan, pengolahan dan analisis data
penelitian mengenai perbandingan media video dengan media gambar di SMK
Lingga Kencana Depok, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil
belajar siswa dengan menggunakan media video versus media gambar dalam
pelajaran IPS dengan diperoleh nilai
yaitu
Dan jika dilihat dari rata-rata nilai siswa, kelas yang menggunakan
metode ekspositori memiliki nilai rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan
nilai rata-rata kelas tutor sebaya. Nilai rata-rata siswa kelas ekspositori adalah
77,81, sedangkan nilai rata-rata kelas tutor sebaya adalah 84,38.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, saran dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Bagi Siswa
Pada pembelajaran yang menggunakan media video siswa diharapkan agar
lebih memperhatikan penjelasan dari guru serta menyimpulkan materi
berdasarkan audio visual yaitu berupa penayangan video. Sedangkan pada
pembelajaran yang menggunakan media gambar siswa diharapkan dapat
dapat menganalisis gambar yang disajikan guru guna lebih memantapkan
lagi pemahaman siswa terhadap meteri yang disajikan oleh guru. Siswapun
diharapkan untuk selalu bertanya, karena pada dasarnya, bertanya adalah
awal dari sebuah ilmu. Siswa harus percaya diri dalam bertanya maupun
57
58
menjawab pertanyaan sehingga kegiatan pembelajaran berjalan dengan
aktif dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
2. Bagi Guru
Guru diharapkan mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang cukup
untuk memilih media pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi
yang diajarkan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. Di antara media
pembelajaran yang mungkin telah di gunakan guru adalah media video,
namun sebaiknya dalam penggunaan media video guru lebih teliti lagi
dalam pemilihan video yang tepat agar sesuai dengan materi yang
diberikan kepada siswa. Dan dalam kegiatan pembelajaran yang
menggunakan media gambar guru dituntut dapat menarik perhatian siswa
dalam pembelajaran dan gurupun diharapkan dapat membantu siswa dalam
menganalisis gambar guna memantapkan pemahaman siswa, dalam
kegiatan pembelajaran yang menggunakan media video guru dituntut
untuk lebih memperhatikan waktu, sebab dalam kegiatan pembelajaran
menggunakan media video akan akan lebih menggunakan waktu yang
lebiih panjang. Kedua metode tersebut tidak hanya dapat meningkatkan
hasil belajar siswa tapi juga dapat membangun kepekan siswa serta
mengembangkan analisis siswa dalam berfikir.
3. Bagi Sekolah
Sekolah diharapkan dapat menyediakan sarana dan prasarana berupa yang
dapat mendukung kegiatan belajar mengajar, agar tujuan pembelajaran
dapat tercapai dengan baik.
4. Bagi Peneliti
Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti dengan media video dan
gambar diharapkan dalam menentukan permasalahan penelitian tidak
hanya dilihat dari nilai saja. Para peneliti juga dapat melakukan penelitian
lanjutan dari penelitian ini dengan aspek yang lain (motivasi belajar
siswa), untuk mengembangkan pembelajaran IPS untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran di kelas.
59
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Sofyan, dkk, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi.Jakarta:
UIN press, 2006.
Anas Sujino, Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.
Andi Prasetyo, Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Jogjakarta, Diva
press, 2011.
Arief S. Sadiman, Media Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persaada, 2005.
Asnawir dan Basyirudiddin usman, Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Press,
2002.
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran. Jakarta: PT Grafindo Persada, 2004.
Budi Susanto, Media Pembelajaran. Akademi Jurnal Pendidikan Tingg: Univ
Tarumanagara,2002.
Dina Indriana, Ragam Alat Bantu Media Pengajaran. Jogjakarta: Diva press,
2001.
Harina Yuhetty, Model Pusat Sumber Belajar. Pusat Teknologi Informasi Dan
Komunikasi Pendidikan: Depdiknas Pustekkom,2005.
Linda Baggott and Bruce Wright, The Use of Interaktive Video in Teacing About
Cell Division. Journal of Biological Education, 2000.
M. Nasir, Pendayagunaan Media Pembelajaran dalam meningkatkan kualitas
pendidikan, suara guru. vol I, 1993.
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Bandung: PT.
Rosdakarya, 2001.
Remaja
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2003.
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula.
Bandung: Alfabeta, 2007.
Sapriya, Pendidikan IPS “Konsep dan Pembelajaran”. Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya 2009.
Sujana, Metode Statistika. Bandung,: Tarsib, 2002.
60
Syafrudin Nurdin, Model Pembelajaran Yang Memperhatikan Individu Siswa
Dalam Kurikilum Berbasi Kompetensi. Ciputat: Quantum Teaching, 2005.
Syaiful bahri Jamarah dan aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT
Asdi Mahasayat.
Tanto Sukardi, Menggagas Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Yang
Kontruktivis, dalam Ilmu Sosial, Jakarta, oktober 2007.
Taufik Rahmat, Pengembangan Programm Media Instruksional, Jakarta:
Departemen Pen
didikan Dan Kebudayaan. Puskom. 2001.
Trianto, Model Pembelajaran Terpadu: Konsep,Strategi, dan Implementasi dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Bumi Aksara, 2010.
Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan. Direktorat
Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2006.
Yusufhadi Miarso, Media Pembelajara. Jakarta: Majalah Ilmiah Kampus Ungu,
Oktober 1996.
LAMPPIRAN 1
Uji Normalitas Posttes Video
x
x2
fi
fi.x
fi.x2
fk
Zi
F(Zi)
S(Zi)
|F(Zi) - S(Zi)|
67
73
80
87
93
4489
5329
6400
7569
8649
4
5
5
5
2
21
268
365
400
435
186
1654
17956
26645
32000
37845
17298
131744
4
9
14
19
21
-1.36
-0.69
0.10
0.89
1.57
0.08644
0.24617
0.54086
0.81374
0.94158
0.1905
0.4286
0.6667
0.9048
1.0000
Lo
0.1040
0.1824
0.1258
0.0910
0.0584
0.1824
Lt
0.1757
Nilai ( ) diperoleh dari daftar distribusi normal untuk setiap nilai
.
( )
Untuk baris seterusnya perhitungannya sama. Sehingga diperoleh:
Karena
(0,1824 < 0,1757), maka dapat disimpulkan bahwa sampel kelompok
eksperimen berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
LAMPPIRAN 2
Uji Normalitas Posttes Gambar
x
x2
fi
fi.x
fi.x2
fk
Zi
F(Zi)
S(Zi)
|F(Zi) - S(Zi)|
67
70
73
80
87
93
4489
4900
5329
6400
7569
8649
4
3
5
7
1
1
21
268
210
365
560
87
93
1583
17956
14700
26645
44800
7569
8649
120319
3
5
7
10
16
21
-1.54
-1.23
-0.91
-0.17
0.57
1.20
0.06151
0.11015
0.1816
0.43216
0.71482
0.88501
0.1429
0.2381
0.3333
0.4762
0.7619
1.0000
Lo
0.0813
0.1279
0.1517
0.0440
0.0471
0.1150
0.1517
Lt
0.1757
Nilai ( ) diperoleh dari daftar distribusi normal untuk setiap nilai
.
( )
Untuk baris seterusnya perhitungannya sama. Sehingga diperoleh:
Karena
(0,1517 < 0,1757), maka dapat disimpulkan bahwa sampel kelompok
eksperimen berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
LAMPIRAN 3
Pengujian Uji Homogenitas
Uji homogenitas yang digunakan adalah Uji F, dengan rumus:
Langkah-langkah penghitungannya sebagai berikut:
1. Menentukan hipotesis
Ho = Data memiliki varians homogen
Ha = Data tidak memiliki varians homogen
2. Menentukan kriteria pengujian
Jika F < Ftabel , maka terima Ho
Jika F > Ftabel , maka tolak Ho
3. Menentukan db pembilang (varians terbesar) dan db penyebut (varians
terkecil)
db pembilang = n – 1 = 21 – 1 = 20
db penyebut = n – 1 = 21– 1 = 20
4. Menentukan nilai F
Berdasarkan perbandingan data statistik kelas eksperimen dan kelas
kontrol diperoleh varians terbesar adalah nilai varians kelas video dan
varians terkecil adalah nilai varians kelas gambar, maka
dan
sehingga diperoleh:
5. Menentukan nilai Ftabel
Menentukan Ftabel dengan menggunakan distribusi F pada taraf
signifikan 5%.
didapatkan sebesar 2.12
6. Kriteria pengujian adalah terima Ho untuk:
171
172
7. Kesimpulan
Dari perhitungan di atas dapat diperoleh
maka dapat disimpulkan bahwa populasi dari kedua kelas tersebut
mempunyai varians yang sama (homogen). Dengan demikian
pengujian uji-t yang digunakan adalah uji-t yang homogen.
LAMPPIRAN 4
UJI HIPOTESIS
Rumusan hipotesis
Ho :
≤
Ha :
>
Kriteria Pengujian :
1) Jika T hitung < t tabel, maka Ho diterima
2) Jika T hitung > t tabel, maka Ho ditolak
Karena kelompok sampel pretest homogen, maka uji beda rata-rata (Uji t)
dihitung dengan cara :
NILAI POSTES X1-2 TUTOR SEBAYA
NAMA
X
F
FX
FX2
PO1
4
67
201
40401
PO2
3
70
140
19600
PO3
5
73
146
21316
PO4
7
80
240
57600
PO5
1
87
522
272484
PO6
1
93
465
216225
JUMLAH
21
1.583
2.505.889
N
= 21
FX1 = 1.583
FX12 = 2.505.889
SD22
=
=
=
=
SD12 =√11.932
SD1 = 59.66
NILAI POSTES KELAS XI-1EKSPOSITORI
NAMA
X
F
FX
FX2
PO1
4
67
268
71824
PO2
5
73
365
133225
PO3
5
80
400
160000
PO4
5
87
435
189225
PO5
2
93
186
34596
JUMLAH
21
1.654
588.870
N
= 21
FX1 = 1.654
FX12 = 588.870
SD12
=
=
=
=
SD12 =√22,93
SD1 = 47,88
√
√
√
√
√
√
= 1,99
√
√
√
√
Setelah t hitung diperoleh, ditentukan t tabel. Dengan taraf signifikasi 0,05 dan
derajat kebebasan (dk) = 21 + 21 - 2= 40. Didalam tabel distribusi t untuk dk = 40,
diperoleh t tabel pada taraf signifikasi 0,05 sebesar 2,021.
Kesimpulan:
t. hitung > t. Tabel ; 2,253 > 2, 021
Jika didapat t hitung > t tabel (2,253 > 2,021) maka dapat disimpulkan bahwa Ho
ditolak dan Ha diterima yang berarti terdapat perbedaan antara hasil belajar IPS
siswa yang menggunakan media video dengan media gambar.
LAMPIRAN 11
FOTO PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
LAMPPIRAN 6
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Mata Pelajaran
: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/Semester
: X.PB / 1 (Ganjil)
Pertemuan Ke
: 1 (Satu)
Alokasi Waktu
: 2 x 40 Menit (1 x pertemuan)
Standar Kompetensi : 1. Memahami perilaku keteraturan hidup sesuai dengan nilai dan
norma yang berlaku dalam masyarakat.
Kompetensi Dasar
: 1. Mendeskripsikan proses interaksi sosial sebagai dasar
pengembangan pola ketaraturan sosial
Indikator
:



Mendefinisikan interaksi sosial
Menjelaskan faktor yang mendorong terjadinya interaksi sosiaL
Menjelaskan hubungan antara interaksi sosial dan ketaraturan sosial.
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
1. Mendeskripsikan pengertian interaksi sosial
2. Mendeskripsikan faktor-faktor yang mendorong interaksi sosial
3. Mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi yang mendorong terciptanya lembaga,
kelompok, dan organisasi sosial.
B. Materi Pembelajaran
1. Hakikat Interaksi Sosial
2. Faktor-Faktor Pendorong Interaksi Sosial
3. Status, Peranan, dan Hubungan Individu dalam Interaksi Sosial
4. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
C. Metode Pembelajaran
1. Informasi
2. Kerja mandiri
3. Eksplorasi
4. Diskusi
D. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Pendahuluan
Kegiatan Guru
-
Guru
Alokasi Waktu
membuka
kegiatan
Nilai Karakter
Disiplin
pembelajaran dengan berdoa
bersama.
Guru
5 menit
meriksa
kehadiran siswa, kebersihan
kelas, dan kerapihan kelas.
-
Guru
memberikan
motivasi
Semangat kebangsaan
kepada siswa agar siap dalam
mengikuti
10 menit
pembelajaran
dengan
memberikan
pertanyaan mengenai materi
yang akan dibahas dan sedikit
menjelaskan
mengenai
interaksi sosial.
2. Kegiatan Inti
2.1. Eksplorasi
Kegiatan Guru
-
Guru
Alokasi Waktu
menjelaskan
Nilai Karakter
tujuan 5 menit
pembelajaran.
2.2. Elaborasi
Kegiatan Guru
-
Guru
Alokasi Waktu
mulai
penjelasan
mengenai
social
disertai
memberikan 30 menit
kepada
materi
secara
siswa
interaksi
terperinci,
contoh-contohnya
Nilai Karakter
Rasa ingin tahu
berupa video.
-
Guru memberikan kesempatan 10 menit
kepada
siswa
Mandiri
untuk
memberikan pendapatnya dan
bertanya.
2.3. Konfirmasi
Kegiatan Guru
-
Alokasi Waktu
Guru bertanya jawab tentang 10 menit
Nilai Karakter
Rasa ingin tahu
hal-hal yang belum di ketahui
siswa maupun yang sudah
diketahui siswa.
3. Penutup
Kegiatan Guru
-
Guru dan siswa menyimpulkan 10 menit
materi yang dibahas.
-
Alokasi Waktu
Guru menutup pelajaran dengan
berdoa.
E. Alat/media dan sumber Belajar:
1. Buku Paket IPS
2. LKS IPS
3. Papan tulis
4. OHP
5. Power Point
Nilai Karakter
Religius
Mengetahui
Guru IPS
Mahasiswa Praktikan
( Nur Istrianto, M.Si)
( Ade Sopian )
NIM : 108015000014
Kepala Madrasah
( Ruslan, M.si )
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran
: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/Semester
: X.PB / 1 (Ganjil)
Pertemuan Ke
: 2 (Dua)
Alokasi Waktu
: 2 x 40 Menit (1 x pertemuan)
Standar Kompetensi
: 2 . Menerapkan nilai dan norma dalam proses pengembangan
kepribadian.
Kompetensi Dasar
: 2.1. Menjelaskan sosialisasi sebagai proses dalam pembentukan
kepribadian.
Indikator
:
1. Mendefenisikan sosialisasi dan pembentukan kepribadian
2. Mendeskripsikan peran nilai dan norma dalam sosialisasi
3. Menjelaskan tahapan perkembangan diri manusia.
4. Menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan
kepribadian.
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
1. Mendeskripsikan hakikat sosialisasi.
2. Mendeskripsikan peran nilai dan norma sosial dalam proses sosialisasi
3. Mengidentifikasi faktor-faktor pembentukan kepribadian
B. Materi Pembelajaran
1. Hakikat Sosialiassi
2. Proses Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian
C. Metode Pembelajaran
1. Informasi
2. Kerja mandiri
3. Eksplorasi
D. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Pendahuluan
Kegiatan Guru
-
Guru
Alokasi Waktu
memulai
pelajaran
Nilai Karakter
Disiplin
dengan berdo’a. Guru meriksa
5 menit
kehadiran siswa, kebersihan
kelas, dan kerapihan kelas.
-
Apersepsi
kepada
:Guru
siswa
bertanya
Mandiri
mengenai
5 menit
pembahasan sebelumnya.
-
Guru
memberikan
motivasi
Komunikatif
kepada siswa dengan sedikit
5 menit
bercerita mengenai interaksi
sosial
yang
terjadi
di
masyarakat.
2. Kegiatan Inti
2.1. Eksplorasi
Kegiatan Guru
-
Guru
menjelaskan
Alokasi Waktu
Nilai Karakter
kegiatan 5 menit
pembelajaran.
2.2. Elaborasi (Waktu) 30 menit
Kegiatan Guru
-
Alokasi Waktu
Guru memberikan penjelasan 5 menit
secara
terperinci
materi
Sosialisasi,
mengenai
disertai
contoh-contohnya video yang
terkait dengan sosialisasi.
Nilai Karakter
Rasa ingin tahu
-
Siswa diberikan kesempatan 35 menit
untuk
Demokratis
memberikan
pendapatnya dan bertanya.
2.3. Konfirmasi
Kegiatan Guru
-
Alokasi Waktu
Nilai Karakter
Guru meminta siswa untuk 10 menit
Komunikatif,
mempresentasikan
demokratif, mandiri
pemahamannya
mengenai
materi yang telah disampaikan.
-
Guru bertanya jawab dengan
siswa tentang mengenai materi
yang telah dibahas.
3. Penutup (Waktu) 10 menit
Kegiatan Guru
-
Guru dan siswa menyimpulkan 10 menit
materi yang dibahas.
-
Alokasi Waktu
Guru menutup pelajaran dengan
berdoa.
Nilai Karakter
Religius
E. Alat/media dan sumber Belajar:
1. Buku Paket IPS
2. LKS IPS
3. Papan tulis
4. OHP
5. Power Point
Mengetahui
Guru IPS
Mahasiswa Praktikan
( Nur Istrianto, M.Si)
( Ade Sopian )
NIM : 108015000014
Kepala Madrasah
( Ruslan, M.si )
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran
: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/Semester
: X.PB / 1 (Ganjil)
Pertemuan Ke
: 3 (Tiga)
Alokasi Waktu
: 2 x 40 Menit (1 x pertemuan)
Standar Kompetensi
: 2 . Menerapkan nilai dan norma dalam proses pengembangan
kepribadian.
Kompetensi Dasar
: 2.1. Menjelaskan sosialisasi sebagai proses dalam pembentukan
kepribadian.
Indikator
:
1. Menjelaskan hubungan antara pembentukan kepribadian dengan
kebudayaan.
2. Menjelaskan agen-agen yang berperan dalam sosialisasi.
3. Mendeskripsikan hubungan sosialisasi dengan kepribadian
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
1. Mengidentifikasi faktor-faktor pembentukan kepribadian
2. Membuat tulisan berdasarkan data sekunder atau primer tentang hubungan
pembententukan kepribadian dengan kebudayaan.
B. Materi Pembelajaran
1.
Proses Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian
2.
Agen, bentuk, tipe, dan pola sosialisasi
C. Metode Pembelajaran
1.
Informasi
2.
Kerja mandiri
3.
Eksplorasi
4.
Diskusi
D. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Pendahuluan
Kegiatan Guru
-
Guru
Alokasi Waktu
memulai
pelajaran
Nilai Karakter
Disiplin
dengan berdo’a. Guru meriksa
5 menit
kehadiran siswa, kebersihan
kelas, dan kerapihan kelas.
-
Apersepsi : Guru bertanya
mengenai
Mandiri
pembahasan
5 menit
sebelumnya.
-
Guru
memberikan
motivasi
Komunikatif
kepada siswa dengan sedikit
5 menit
bercerita mengenai interaksi
yang terjadi di masyarakat.
2. Kegiatan Inti
2.1. Eksplorasi
Kegiatan Guru
-
Guru
menjelaskan
Alokasi Waktu
Nilai Karakter
kegiatan 5 menit
pembelajaran.
2. 2. Elaborasi (Waktu) 30 menit
Kegiatan Guru
-
Alokasi Waktu
Guru memberikan penjelasan 5 menit
secara
materi
proses
terperinci
sosialisasi
mengenai
sebagai
pembentukan
kepribadian, disertai contohcontohnya berupa video.
Nilai Karakter
Rasa ingin tahu
-
Siswa diberikan kesempatan 35 menit
untuk
Demokratis
memberikan
pendapatnya dan bertanya.
2.3. Konfirmasi
Kegiatan Guru
-
Alokasi Waktu
Nilai Karakter
Guru meminta siswa untuk 10 menit
Komunikatif,
mempresentasikan
demokratif, mandiri
pemahamannya
mengenai
materi yang telah disampaikan.
-
Guru bertanya jawab dengan
siswa tentang mengenai materi
yang telah dibahas.
3. Penutup (Waktu) 10 menit
Kegiatan Guru
-
Guru dan siswa menyimpulkan 10 menit
materi yang dibahas.
-
Alokasi Waktu
Guru menutup pelajaran dengan
berdoa.
Nilai Karakter
Religius
E. Alat/media dan sumber Belajar:
1. Buku Paket IPS
2. LKS IPS
3. Papan tulis
4. OHP
5. Power Point
Mengetahui
Guru IPS
Mahasiswa Praktikan
( Nur Istrianto, M.Si)
( Ade Sopian )
NIM : 108015000014
Kepala Madrasah
( Ruslan, M.si )
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran
: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/Semester
: X.PB / 1 (Ganjil)
Pertemuan Ke
: 4 (Empat)
Alokasi Waktu
: 2 x 40 Menit (1 x pertemuan)
Standar Kompetensi
: 1 . Memahami bentuk-bentuk interaksi sosial.
Kompetensi Dasar
: 1.2. Menjelaskan bentuk-bentuk interaksi dalam kehidupan sosial.
Indikator
:
1. Mendefenisikan bentuk-bentuk interaksi sosial
2. Mendeskripsikan bentuk-bentuk interaksi social dalam kehidupan
social.
3. Menjelaskan contoh bentuk-bentuk interaksi social yang ada
dilingkungan sekolah
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
1.
Mendeskripsikan bentuk-bentuk interaksi sosial dalam masyarakat.
2.
Mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi yang mendorong terciptanya lembaga,
kelompok, dan organisasi sosial.
B. Materi Pembelajaran
1. Bentuk-bentuk interaksi sosial.
C. Metode Pembelajaran
1. Informasi
2. Kerja mandiri
3. Eksplorasi
D. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Pendahuluan
Kegiatan Guru
-
Guru
Alokasi Waktu
memulai
pelajaran
Nilai Karakter
Disiplin
dengan berdo’a. Guru meriksa
5 menit
kehadiran siswa, kebersihan
kelas, dan kerapihan kelas.
-
Apersepsi : Guru bertanya
mengenai
Mandiri
pembahasan
5 menit
sebelumnya.
-
Guru
memberikan
motivasi
Komunikatif
kepada siswa dengan sedikit
5 menit
bercerita mengenai interaksi
sosial
yang
terjadi
di
masyarakat.
2. Kegiatan Inti
2.1. Eksplorasi
Kegiatan Guru
-
Guru
Alokasi Waktu
menjelaskan
Nilai Karakter
kegiatan 5 menit
pembelajaran.
2.2. Elaborasi (Waktu) 30 menit
Kegiatan Guru
-
Alokasi Waktu
Guru memberikan penjelasan 5 menit
secara
terperinci
mengenai
materi bentuk-bentuk interaksi
social,
disertai
berupa
video
dengan
contohnya
yang
terkait
bentuk-bentuk
Nilai Karakter
Rasa ingin tahu
interaksi sosial.
-
Siswa diberikan kesempatan 35 menit
untuk
Demokratis
memberikan
pendapatnya dan bertanya.
2.3. Konfirmasi
Kegiatan Guru
-
Alokasi Waktu
Nilai Karakter
Guru meminta siswa untuk 10 menit
Komunikatif,
mempresentasikan
demokratif, mandiri
pemahamannya
mengenai
materi yang telah disampaikan.
-
Guru bertanya jawab dengan
siswa tentang mengenai materi
yang telah dibahas.
3. Penutup (Waktu) 10 menit
Kegiatan Guru
-
Guru dan siswa menyimpulkan 10 menit
materi yang dibahas.
-
Alokasi Waktu
Guru menutup pelajaran dengan
berdoa.
Nilai Karakter
Religius
E. Alat/media dan sumber Belajar:
1. Buku Paket IPS
2. LKS IPS
3. Papan tulis
4. OHP
5. Power Point
Mengetahui
Guru IPS
Mahasiswa Praktikan
( Nur Istrianto, M.Si)
( Ade Sopian )
NIM : 108015000014
Kepala Madrasah
( Ruslan, M.si )
LAMPPIRAN 7
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Mata Pelajaran
: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/Semester
: X.PB / 1 (Ganjil)
Pertemuan Ke
: 1 (Satu)
Alokasi Waktu
: 2 x 40 Menit (1 x pertemuan)
Standar Kompetensi : 1. Memahami perilaku keteraturan hidup sesuai dengan nilai dan
norma yang berlaku dalam masyarakat.
Kompetensi Dasar
: 1. Mendeskripsikan proses interaksi sosial sebagai dasar
pengembangan pola ketaraturan sosial
Indikator
:



Mendefinisikan interaksi sosial
Menjelaskan faktor yang mendorong terjadinya interaksi sosiaL
Menjelaskan hubungan antara interaksi sosial dan ketaraturan sosial.
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
1. Mendeskripsikan pengertian interaksi sosial
2. Mendeskripsikan faktor-faktor yang mendorong interaksi sosial
3. Mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi yang mendorong terciptanya lembaga,
kelompok, dan organisasi sosial.
B. Materi Pembelajaran
1. Hakikat Interaksi Sosial
2. Faktor-Faktor Pendorong Interaksi Sosial
3. Status, Peranan, dan Hubungan Individu dalam Interaksi Sosial
4. Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
C. Metode Pembelajaran
1. Informasi
2. Kerja mandiri
3. Eksplorasi
4. Diskusi
D. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Pendahuluan
Kegiatan Guru
-
Guru
Alokasi Waktu
membuka
kegiatan
Nilai Karakter
Disiplin
pembelajaran dengan berdoa
bersama.
Guru
5 menit
meriksa
kehadiran siswa, kebersihan
kelas, dan kerapihan kelas.
-
Guru
memberikan
motivasi
Semangat kebangsaan
kepada siswa agar siap dalam
mengikuti
10 menit
pembelajaran
dengan
memberikan
pertanyaan mengenai materi
yang akan dibahas dan sedikit
menjelaskan
mengenai
interaksi sosial.
2. Kegiatan Inti
2.1. Eksplorasi
Kegiatan Guru
-
Guru
menjelaskan
Alokasi Waktu
Nilai Karakter
tujuan 5 menit
pembelajaran.
2.2. Elaborasi
Kegiatan Guru
-
Guru
Alokasi Waktu
mulai
penjelasan
mengenai
memberikan 30 menit
kepada
materi
siswa
interaksi
sosial secara terperinci, disertai
contoh-contohnya
berupa
Nilai Karakter
Rasa ingin tahu
gambar gambar.
-
Guru memberikan kesempatan 10 menit
kepada
siswa
Mandiri
untuk
memberikan pendapatnya dan
bertanya.
2.3. Konfirmasi
Kegiatan Guru
-
Alokasi Waktu
Guru bertanya jawab tentang 10 menit
Nilai Karakter
Rasa ingin tahu
hal-hal yang belum di ketahui
siswa maupun yang sudah
diketahui siswa.
3. Penutup
Kegiatan Guru
-
Guru dan siswa menyimpulkan 10 menit
materi yang dibahas.
-
Alokasi Waktu
Guru menutup pelajaran dengan
berdoa.
E. Alat/media dan sumber Belajar:
1. Buku Paket IPS
2. LKS IPS
3. Papan tulis
4. OHP
5. Power Point
Nilai Karakter
Religius
Mengetahui
Guru IPS
Mahasiswa Praktikan
( Nur Istrianto, M.Si)
( Ade Sopian )
NIM : 108015000014
Kepala Madrasah
( Ruslan, M.si )
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran
: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/Semester
: X.PB / 1 (Ganjil)
Pertemuan Ke
: 2 (Dua)
Alokasi Waktu
: 2 x 40 Menit (1 x pertemuan)
Standar Kompetensi
: 2 . Menerapkan nilai dan norma dalam proses pengembangan
kepribadian.
Kompetensi Dasar
: 2.1. Menjelaskan sosialisasi sebagai proses dalam pembentukan
kepribadian.
Indikator
:
1. Mendefenisikan sosialisasi dan pembentukan kepribadian
2. Mendeskripsikan peran nilai dasn norma dalam sosialisasi
3. Menjelaskan tahapan perkembangan diri manusia.
4. Menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan
kepribadian.
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
1. Mendeskripsikan hakikat sosialisasi.
2. Mendeskripsikan peran nilai dan norma sosial dalam proses sosialisasi
3. Mengidentifikasi faktor-faktor pembentukan kepribadian
B. Materi Pembelajaran
1. Hakikat Sosialiassi
2. Proses Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian
C. Metode Pembelajaran
1. Informasi
2. Kerja mandiri
3. Eksplorasi
D. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Pendahuluan
Kegiatan Guru
-
Guru
Alokasi Waktu
memulai
pelajaran
Nilai Karakter
Disiplin
dengan berdo’a. Guru meriksa
5 menit
kehadiran siswa, kebersihan
kelas, dan kerapihan kelas.
-
Apersepsi
:Guru
mengenai
bertanya
Mandiri
pembahasan
5 menit
sebelumnya.
-
Guru
memberikan
motivasi
Komunikatif
kepada siswa dengan sedikit
5 menit
bercerita mengenai sosialisasi
yang terjadi di masyarakat.
2. Kegiatan Inti
2.1. Eksplorasi
Kegiatan Guru
-
Guru
menjelaskan
Alokasi Waktu
Nilai Karakter
kegiatan 5 menit
pembelajaran.
2.2. Elaborasi (Waktu) 30 menit
Kegiatan Guru
-
Alokasi Waktu
Guru memberikan penjelasan 5 menit
secara
terperinci
materi
Sosialisasi,
contoh-contohnya
mengenai
disertai
berupa
gambar-gambar yang terkait
dengan sosialisasi.
Nilai Karakter
Rasa ingin tahu
-
Siswa diberikan kesempatan 35 menit
untuk
Demokratis
memberikan
pendapatnya dan bertanya.
2.3. Konfirmasi
Kegiatan Guru
-
Alokasi Waktu
Nilai Karakter
Guru meminta siswa untuk 10 menit
Komunikatif,
mempresentasikan
demokratif, mandiri
pemahamannya
mengenai
materi yang telah disampaikan.
-
Guru bertanya jawab dengan
siswa tentang mengenai materi
yang telah dibahas.
3. Penutup (Waktu) 10 menit
Kegiatan Guru
-
Guru dan siswa menyimpulkan 10 menit
materi yang dibahas.
-
Alokasi Waktu
Guru menutup pelajaran dengan
berdoa.
Nilai Karakter
Religius
E. Alat/media dan sumber Belajar:
1. Buku Paket IPS
2. LKS IPS
3. Papan tulis
4. OHP
5. Power Point
Mengetahui
Guru IPS
Mahasiswa Praktikan
( Nur Istrianto, M.Si)
( Ade Sopian )
NIM : 108015000014
Kepala Madrasah
( Ruslan, M.si )
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran
: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/Semester
: X.PB / 1 (Ganjil)
Pertemuan Ke
: 3 (Tiga)
Alokasi Waktu
: 2 x 40 Menit (1 x pertemuan)
Standar Kompetensi
: 2 . Menerapkan nilai dan norma dalam proses pengembangan
kepribadian.
Kompetensi Dasar
: 2.1. Menjelaskan sosialisasi sebagai proses dalam pembentukan
kepribadian.
Indikator
:
1. Menjelaskan hubungan antara pembentukan kepribadian dengan
kebudayaan.
2. Menjelaskan agen-agen yang berperan dalam sosialisasi.
3. Mendeskripsikan hubungan sosialisasi dengan kepribadian
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
1. Mengidentifikasi faktor-faktor pembentukan kepribadian
2. Membuat tulisan berdasarkan data sekunder atau primer tentang hubungan
pembententukan kepribadian dengan kebudayaan.
B. Materi Pembelajaran
1.
Proses Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian
2.
Agen, bentuk, tipe, dan pola sosialisasi
C. Metode Pembelajaran
1.
Informasi
2.
Kerja mandiri
3.
Eksplorasi
4.
Diskusi
D. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Pendahuluan
Kegiatan Guru
-
Guru
Alokasi Waktu
memulai
pelajaran
Nilai Karakter
Disiplin
dengan berdo’a. Guru meriksa
5 menit
kehadiran siswa, kebersihan
kelas, dan kerapihan kelas.
-
Apersepsi : Guru bertanya
mengenai
Mandiri
pembahasan
5 menit
sebelumnya.
-
Guru
memberikan
motivasi
Komunikatif
kepada siswa dengan sedikit
5 menit
bercerita mengenai sosialisasi
yang terjadi di masyarakat.
2. Kegiatan Inti
2.1. Eksplorasi
Kegiatan Guru
-
Guru
menjelaskan
Alokasi Waktu
Nilai Karakter
kegiatan 5 menit
pembelajaran.
2. 2. Elaborasi (Waktu) 30 menit
Kegiatan Guru
-
Alokasi Waktu
Guru memberikan penjelasan 5 menit
secara
materi
terperinci
sosialisasi
proses
mengenai
sebagai
pembentukan
kepribadian, disertai contohcontohnya
gambar.
berupa
gambar-
Nilai Karakter
Rasa ingin tahu
-
Siswa diberikan kesempatan 35 menit
untuk
Demokratis
memberikan
pendapatnya dan bertanya.
2.3. Konfirmasi
Kegiatan Guru
-
Alokasi Waktu
Nilai Karakter
Guru meminta siswa untuk 10 menit
Komunikatif,
mempresentasikan
demokratif, mandiri
pemahamannya
mengenai
materi yang telah disampaikan.
-
Guru bertanya jawab dengan
siswa tentang mengenai materi
yang telah dibahas.
3. Penutup (Waktu) 10 menit
Kegiatan Guru
-
Guru dan siswa menyimpulkan 10 menit
materi yang dibahas.
-
Alokasi Waktu
Guru menutup pelajaran dengan
berdoa.
Nilai Karakter
Religius
E. Alat/media dan sumber Belajar:
1. Buku Paket IPS
2. LKS IPS
3. Papan tulis
4. OHP
5. Power Point
Mengetahui
Guru IPS
Mahasiswa Praktikan
( Nur Istrianto, M.Si)
( Ade Sopian )
NIM : 108015000014
Kepala Madrasah
( Ruslan, M.si )
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran
: Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/Semester
: X.PB / 1 (Ganjil)
Pertemuan Ke
: 4 (Empat)
Alokasi Waktu
: 2 x 40 Menit (1 x pertemuan)
Standar Kompetensi
: 1 . Memahami bentuk-bentuk interaksi sosial.
Kompetensi Dasar
: 1.2. Menjelaskan bentuk-bentuk interaksi dalam kehidupan sosial.
Indikator
:
1. Mendefenisikan bentuk-bentuk interaksi sosial
2. Mendeskripsikan bentuk-bentuk interaksi social dalam kehidupan
social.
3. Menjelaskan contoh bentuk-bentuk interaksi social yang ada
dilingkungan sekolah
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
1.
Mendeskripsikan bentuk-bentuk interaksi sosial dalam masyarakat.
2.
Mengidentifikasi bentuk-bentuk interaksi yang mendorong terciptanya lembaga,
kelompok, dan organisasi sosial.
B. Materi Pembelajaran
1. Bentuk-bentuk interaksi sosial.
C. Metode Pembelajaran
1. Informasi
2. Kerja mandiri
3. Eksplorasi
D. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Pendahuluan
Kegiatan Guru
-
Guru
Alokasi Waktu
memulai
pelajaran
Nilai Karakter
Disiplin
dengan berdo’a. Guru meriksa
5 menit
kehadiran siswa, kebersihan
kelas, dan kerapihan kelas.
-
Apersepsi : Guru bertanya
mengenai
Mandiri
pembahasan
5 menit
sebelumnya.
-
Guru
memberikan
motivasi
Komunikatif
kepada siswa dengan sedikit
5 menit
bercerita mengenai interaksi
social
yang
terjadi
di
masyarakat.
2. Kegiatan Inti
2.1. Eksplorasi
Kegiatan Guru
-
Guru
menjelaskan
Alokasi Waktu
Nilai Karakter
kegiatan 5 menit
pembelajaran.
2.2. Elaborasi (Waktu) 30 menit
Kegiatan Guru
-
Alokasi Waktu
Guru memberikan penjelasan 5 menit
secara
terperinci
mengenai
materi bentuk-bentuk interaksi
social,
disertai
contohnya
berupa gambar-gambar yang
terkait dengan bentuk-bentuk
Nilai Karakter
Rasa ingin tahu
interaksi social.
-
Siswa diberikan kesempatan 35 menit
untuk
Demokratis
memberikan
pendapatnya dan bertanya.
2.3. Konfirmasi
Kegiatan Guru
-
Alokasi Waktu
Nilai Karakter
Guru meminta siswa untuk 10 menit
Komunikatif,
mempresentasikan
demokratif, mandiri
pemahamannya
mengenai
materi yang telah disampaikan.
-
Guru bertanya jawab dengan
siswa tentang mengenai materi
yang telah dibahas.
3. Penutup (Waktu) 10 menit
Kegiatan Guru
-
Guru dan siswa menyimpulkan 10 menit
materi yang dibahas.
-
Alokasi Waktu
Guru menutup pelajaran dengan
berdoa.
Nilai Karakter
Religius
E. Alat/media dan sumber Belajar:
1. Buku Paket IPS
2. LKS IPS
3. Papan tulis
4. OHP
5. Power Point
Mengetahui
Guru IPS
Mahasiswa Praktikan
( Nur Istrianto, M.Si)
( Ade Sopian )
NIM : 108015000014
Kepala Madrasah
( Ruslan, M.si )
I
I
LAMPIRAN 8
SKORDATA DIBOBOT
JumlahSubyek :22
Jumlahbutir = 30
Bobotjwb benar: I
Bobotjwbsalah= 0
No
KodeA.{ama
Benar Salah Kosong SkrAsli Sk Bobot
I Kurniasandi
10
20
0
10
10
2 Puriseptiana
14
16
0
14
14
3 Sifasilfiana
1l
19
0
11
II
4 Maihizadh...
22
0
8
8
5 Moh izulumam 10
20
0
l0
l0
I
,1
t.
l
6 Dwi irmaa...
12
18
0
12
12
7 Epiekapu...
13
I7
0
13
13
8 Fitrilestari
11
19
0
11
11
9 Dimasbayu...
14
16
0
14
14
l0 AprilianM...
I7
13
0
l7
17
1l AstriSula...
13
17
0
13
13
12 NabilF
aH
11
19
0
11
1l
K...
13 Muhammad
12
18
0
12
12
14 AbdulHadi
15
15
0
15
15
15PuputNoval
9
16 Ayu Arnelia
17
13
0
17
l7
17 AhmadSuryadi 13
17
0
13
13
O... 20
18 Muhammad
10
0
20
20
21
0
9
9
,r
tl;
'!.
.i'
19 EntinKhai...
201002020
20
Kurniawati
23702323
21
Mutia
2190212r
22 ReviZubani
18t201818
RELIABILITAS TES
Rata2=14.18
Baku=4.18
Simpang
KorelasiXY:0.58
Reliabilitas
Tes:0.74
Namaberkas:ANATES
I
Subyek Skor Ganjil SkorGenap SkorTotal
No.Urut KodeA.{ama
: "
I
Kurnia sandi
549
2
Puri septiana
6713
3
Sifasilfiana
s510
4
37
5
49
6 Dwi irmaapri...
5
6
7 Epiekapursari
6
612
4 Maihizadhalia
5
'
8
Moh izul umam
Fitri lestari
9 Dimasbayusa...
10 AprilianMubarak
.
.1
',, I
7
11
J
7r0
5
813
916
1l
Astri Sulastri
8
41)
12
NabilaF H
6
410
13 MuhammadKamal 5
611
14
Abdul Hadi
8
6
t4
15
PuputNoval
5
4
9
16
Ayu Amelia
8
8
l6
17
Ahmad Suryadi
8
4
l2
18 MuhammadOgi ...
19 Entin Khairani
20
Kurniawati
2I
Mutia
22
ReviZubani
10
9
t9
8
1l
r9
9
22
IJ
11
20
17
Kel Unggul&Asor
I
KelompokUnggul
Namaberkas:BELUM ADA NAMA.ANA
Subyek Skor I 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 1 1
No.Urut KodeA'{ama
I
Kurniawati
23 1111
1-11111
2
Mutia
21 1111
1-1111I
Ogi ...
3 Muhammad
20 I - - 1 1 1 1 1 1 1 1
4 Entin Khairani
20 1 - I - 1 - -
5
Revi Zubani
6 Aprilian Mubarak
Jml Jwb Benar
.1
l,
I
1111
18 I I - 1 1 - 1 1 1 1 1
17 I -
1-111-1
63346
156656
Subyek12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23
No.UrutKodeA{ama
1
Kurniawati
2
Mutia
.1-1-111
11
-1-1i-
111-
111-1-
3 MuhammadOgi ...
11
4
Entin Khairani
1--
111
5
Revi Zubani
I --
1-
6 Aprilian Mubarak
JmlJwb Benar
11
1-
111
l-
111-1-11
642234342341
Subvek24 25 26 27 28 29 30
No,Urut KodeA.{ama
I
Kurniawati
2
Mutia
1-11111
1--
1111
3 Muhammad
Ogi ...
l --
1111
4 Entin Khairani
11r1111
Revi Zubani
-11:1
I
5
6 Aprilian Mubarak
Jml JwbBenar
1--
1-
11
5126556
KelompokAsor
Namaberkas:ANATES
Skor I 2 3 4 5 6 1 8 9 10 11
No.UrutKodeA,lamaSubvek
1
Fitri lestari
1l I 1 I - 1 - 1 - I - 1 1 1 I - I
11 1 I
2
NabilaF H
3
Kurnia sandi
10
1-
4
Moh izul umam
i0
1-
5
PuputNoval
91111-1-
1--
1
I
.F
I
.i
6
-1
Maihiz adhalia
8--1
Jml Jwb Benar
33512232212
Subyek 1 2 1 3 1 4 1 5 1 6 1 7 1 8 1 9 2 0 2 1 2 2 2 3
No.Urut KodeAtrama
I
Fitri lestari
-1
2
NabilaF H
1-
3
Kurnia sandi
1-
4
Moh izul umam
5
PuputNoval
6 Maihizadhalia
Jml Jwb Benar
-1
1-
i-1-
I --
- 1
-1
111211320002121
Subvek24 25 26 27 28 29 30
No.Urut KodeA.lama
I
2
NabilaF H
3
Kurniasandi
-11-1-
4
Moh izul umam
111-1-
5
PuputNoval
6 Maihizadhalia
Jml Jwb Benar
DAYA PEMBEDA
JumlahSubyeF 22
Klp atas/bawah(n):6
Butir Soal:30
.1
,., l
1-
Fitri lestari
I
I
1i-1
-1-1-1
I 340505
1
1
I
1
Jld.r
'
t L..:
-j
Nama berkas: BELUM_ADA_NAMA.ANA
No Butir Kel. Atas Kel. Bawah Beda IndeksDP (%)
JJ
50.00
30
0.00
5-2
-33.33
13
50.00
24
66.67
2-l
-t6.67
JZ
JJ.JJ
24
66.67
9
24
66.67
10
t4
66.67
1t
24
66.67
1)
24
66.67
13
l3
50.00
l+
l1
16.67
t5
3-1
-t6.67
16
21
t6.67
17
04
66.67
18
03
50.00
l9
04
66.67
20
20
0.00
2l
I2
aa aa
JJ.JJ
22
22
JJ.JJ
23
10
0.00
aA
z'+
l4
66.67
aa
aa
I
.l
:,
'1.
1
t:
I
IF
'l f.
.i
;
25
)-L
- JaJa. J Ja a
26
4-2
-33.33
27
06
100.00
28
50
0.00
29
05
83.33
30
51
16.67
TINGKAT KESUKARAN
JumlahSubyek:22
Butir Soal=30
Namaberkas:ANATES
No Butir JmlBetul Tkt. Kesukaran(%) Tafsiran
t:
1
I
17
77.27
Mudah
2
14
63.64
Sedang
3
11
50.00
Sedang
4
10
45.45
Sedang
5
14
63.64
Sedang
6
8
36.36
Sedang
7
14
63.64
Sedang
8
13
59.09
Sedang
9
11
50,00
Sedang
l0
ll
50.00
Sedang
II
13
59.09
Sedang
12
13
59.09
Sedang
13
7
3L82
Sedang
n
. ,,i
'
t4
8
36.36
Sedang
15
6
29.52
sukar
t6
9
40.91
Sedang
l7
8
36.36
Sedang
18
9
40,91
Sedang
l9
7
3L82
Sedang
20
6
29.52
Sukar
2l
7
31.82
Sedang
22
6
29,52
Sukar
^a
8
36,36
Sedang
a/1
9
40.91
Sedang
25
7
29.52
Sukar
26
8
36,36
Sedang
27
9
40.91
Sedang
28
17
77.27
Mudah
29
8
36.36
Sedang
30
2T
95.45 SangatMudah
I
KORELASI SKORBUTIR DG SKORTOTAL
JumlahSubyek:22
ButirSoal:30
Namaberkas:BELUM ADA NAMA.ANA
No Butir
I
1
:l
Korelasi
0.449
Signifikansi
Srgnllil(an
2
a
J
0.011
-0.044
4
0.473
SangatSignifikan
5
0.612
SangatSignifikan
6
-0.126
7
0.357
8
0.625
SangatSignifikan
9
0.601
SangatSignifikan
t0
0.489
SangatSignifikan
ll
0.444
t2
0.490
l3
0.447
14
-0.103
t5
-0.1s0
16
0.099
t7
0.s21
18
0.167
l9
0.543
20
0.089
21
0.304
22
0.328
LJ
-0.034
aA
LA
0,529
25
-0.221
26
-0.034
27
0 .6 8 7
Signifikan
Signifikan
SangatSignifikan
Signifikan
SangatSignifikan
SangatSignifikan
SangatSignifikan
SangatSignifikan
r
.l
I '.'
28
0.104
29
0.706
30
0.277
SangatSignifikan
berikut:
koefisienkorelasisebagaai
Batassignifikansi
atatan:
df G\r-2)P:0,05P=0,01 df CN-2)P:0,05P=0,01
i
I
.
'
10 0,5760,708
60 0,2500,325
15 0,4820,606
70 0,2330,302
20 0,4230,549
80 0,2770,283
25 0,3810,496
90 0,2050,267
30 0,3490,449
100 0,1950,254
40 0,3040,393
125 0,174o,zz|
50 0,2730,354 >150 0,1590,208
= 0,000berartitidakdapatdihitung.
Bilakoefisien
KUALITAS PENGECOH
JumlahSubyek=22
Butir Soal=30
Namaberkas:ANATES
NoButir
a
b
c
d
e {<
1 2- r7** 3--- 0-- 0-- 0
2 2++ 4-- 1- 1- 14** 0
3 3++ 1l**
2+ 6--- 0-- 0
4 1 0 ** 1 - 5 - 4 + 2 + 0
..
:l
1
':F
,l f:
5 1 4 ** 1 - 3 + 3 + 1 - 0
61-
8 ** 7 -- 5 + 1 - 0
7 2++ 14** 2++ l-
3+ 0
8 1 3 * * 5--- 1- 2++ 1- 0
9 1 1 * * 4+ 5-- 1- 1- 0
1 0 3 ++ l 1 * * 5 - . 2 + 1 - 0
t 1 0 -- 13** 5--- 4-- 0-- 0
t2 0-- 6--- 3+ 13x* 0-- 0
13 4++ 4++ 5+ 7*x 2+ 0
14 gx* 6- l15 4++ 7**
2+ 5+0
5+ 4++ 2+ 0
16 3++ 9*x 6-- 3++ 1- 0
I
1 7 2 + 4++ 8**
t8
6- 2+ 0
l - 3++ 6-- 9*x 3++ 0
1 9 2 + 7**
5+ 6- 2+ 0
2 0 7 ** 6- 4++ 5+ 0-- 0
2 1 7 * * 2+ 5+ 5+ 3++ 0
22 7** 3++ 4++ 5+ 3++ 0
2 3 1 - 6- 4++ 8** 3++ 0
24 5- 9xx 4++ 4++ 0-- 0
25 3++ 7**
6- 3++ 3++ g
2 6 8 ** 3++ 3++ 6- 2+ 0
27 0-- 9** 7--- 6-- 0-- 0
28 2- 2- l7** 1++ 0-- 0
29 2+ 8** 4++ 7-- 1- 0
3 0 2 l * * 0-- 0-- 1--- 0-- 0
l,j
t
I
Keterangan:
** : Kunci Jawaban
l'.1: SangatBaik
-l : Baik
- : KurangBaik
-- : Buruk
---: SangatBuruk
LAMPIRAN 9
I. Berilah tanda silang pada salah satu huruf a, b, c, d atau e di depan jawaban yang paling
tepat..!!!
1.
Hubungan sosial (Interaksi Sosial) adalah hubungan yang terjadi sebagai akibat…
a. Imitasi dan idenifikasi
b. Aksi dan reaksi
c. Aksi dan sugesti
d. Reaksi dan kompetisi
e. Tindakan
2. Dibawah ini yang tidak menjadi sebab-sebab adanya penyimpangan sosial adalah…
a. Sikap mental yang tidak sehat
b. Pelampiasan rasa kecewa
c. Dorongan kebutuhan ekonomi
d. Ingin mendekatkan diri kepada sang pencipta
e. Kesenjangan sosial
3. Penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang atau individu terhadap norma-norma
kebudayaan disebut…
a. Penyimpangan komunal
b. Penyimpangan individual
c. Penyimpangan kolektif
d. Penyimpangan efektif
e. Penyimpangan moral
4. Semua aktifitas manusia baik secara individu maupun secara kelompok dalam rangka
memperoleh kekuasaan dalam masyarakat, menjalankan kekuasaan, dan mempertahankan
kekuasaan adalah….
a. Politik
b. Ekonomi
c. Sosial
d. Budaya
e. Pertahanan dan keamanan
5. Orang yang menyampaikan pesan disebut...
a. Demostran
b. Orator
c. Koruptor
d. Mediator
e. Komunikastor
6. Suatu proses yang menjadikan seorang individu menerima suatu cara atau tingkah dari
orang lain tanpa kritik terlebih dahulu disebut…
a. Sugesti
b. Imitasi
c. Identifikasi
d. Simpati
e. Empati
7. Proses yang mengarah pada terwujudnya persatuan dan integrasi social disebut…
a. Disosiatif
b. Asosiatif
c. Kontravensi
d. Pertikaian
e. Konflik
8. Interaksi sosial sangat diperlukan dalam kehidupan seseorang karena...
a. Ingin meningkatkan kebahagiaan
b. Agar lebih sejahtera
c. Agar dikenal
d. Menjalin komunikasi
e. Manusia ingin berkembang dengan baik selayaknya manusia
9. Keinginan seseorang untuk menggikuti idolanya disebut..
a. Sudesti
b. Empati
c. Imitasi
d. Motivasi
e. Identifikasi
10. Dalam sosiologi istilah kontak berarti…
a. Meniru prilaku
b. Hubungan dengan orang lain
c. Proses menerima unsur-unsur baru
d. Kerjasama antara dua organisasi atau lebih
e. Gotong royong
11. Sosialisai merupakan proses yang sama dengan…
a. Pekerjaan
b. Partisipasi
c. Pendidikan
d. Perkembangan
e. Penghayalan
12. Hal yang perlu dilakukan dalam proses sosialisasi adalah…
a. Memahami diri dari pandangan orang lain
b. Merasakan adanya penilain dari orang lain
c. Merasakan dampak penilaian terhadap dirinya
d. Menerima dan menyesuaikan diri dengan lingkungan
e. Internalisasi nilai dan norma kelompok
13. Agen sosialisasi yang pertama dan utama bagi seseorang adalah…
a. Masyarakat
b. Sekolah
c. Tempat bekerja
d. Keluarga
e. Teman bermain
14. Potensi manusia tidak berkembang secara otomatis, melainkan memerlukan...
a. Motivasi
b. Lembaga pendidikan formal
c. Lingkunngan kerja yang baik
d. Keluarga yang mendukung
e. Lingkungan social yang tepat
15. Manusia sebagai mahluk social tidak bias hidup tanpa bantuan orang lain. Pernyataan
berikut yang sesuai dengan kalimat diatas adalah…
a. Manusia merupakan mahluk yang dapat hidup tanpa berdampingan dengan manusia
lain
b. Manusia selalu menjalin hubungan antara yang satu dengan yang lain
c. Manusia bukan mahluk sosial
d. Manusia yang asatu merupakan ancaman bagi manusia yang lain
e. Manusia akan selalu membuat manusia yang lain dalam pengaruhnya
16. Syarat mutlak terjadinya hubungan timbal balik atau interaksi sosial adalah…
a. Tindakan atau perbuatan
b. Adanya imbalan
c. Perjanjian
d. Permusuhan
e. Adanya intimidasi
17. Proses meleburnya berbagai kebudayaan menjadi satu kesatuan yang homogen dikenal
dengan istilah…
a. Akulturasi
b. Konsinasi
c. Adaptasi
d. Asimilasi
e. Edukasi
18. Berikut bukan merupakan cirri-ciri hubungan sosial adalah..
a. Ada pelaku lebih dari satu orang
b. Ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan
yang diperkirakan pelaku
c. Tidak adanya komunikasi antar pelaku dalam menggunakan symbol-simbol dalam
bentukk bahasa lisan maupun bahasa isyarat
d. Ada dimendi waktu yang akan menentukan sikap aksi yang sedang berlangsung
e. Adanya komunikasi antar pelaku
19. Cara pemberian suatu pengaruh (pandangan) kepada orang lain dengan cara tertentu,
sehingga orang tersebut mengikuti anjurannya tanpa berfikir panjang disebut…
a. Imitasi
b. Identifikasi
c. Kompetisi
d. Sugesti
e. Amalgamasi
20. Para pedagang yang bersaing untuk menarik pembeli dengan berbagai cara, seperti
pemberian kartu diskon, obral besar, undian berhadiah, dan lain-lain. Merupakan salah
satu contoh bentuk…
a. Identifikasi
b. Kompetisi
c. Sugesti
d. Imitasi
e. Reformasi
21. Inti dari pengendalian sosial adalah…
a. Memaksa masyarakat untuk berprilaku sesuai dengan norma hukum
b. Mengajak masyarakat untuk berprilaku sesuai dengan peraturan yang dibuat oleh
pemerintah
c. Mendidik, mengajak dan memaksa masyarakatvuntuk berprilaku sesuai dengan
peraturan yang dibuat oleh leluhur
d. Mengajak, mendidik dann memaksa masyarakat untuk berprilaku sesuai dengan
norma-norma sosial
e. Kecenderungan untuk menjadi sama dengan pihak lain
22. Pranata yang mengatur hubungan antara induvidu dengan sang pencipta termasuk
hubungan-hubungan antara individu dengan individu yang lain dalam lingkup kehidupan
beragama adalah..
a. Pranata sosial
b. Pranata adat
c. Pranata hukum
d. Pranata agama
e. Pranata kesopanan
23. Berikut bukan merupakan fungsi pranata pendidikan adalah..
a. Mengembangkan bakat seseorang
b. Mempersiapkan masyarakat dalam mencari pekerjaan
c. Sebagai media sosiallisasi kebudayaan dalam masyarakat
d. Menyelenggarakan pelayanan sosial
e. Memberikan kepada masyarakat ilmu pengetahuan
24. Fungsi pokok dari pranata agama adalah…
a. Maberikan pedoman bagi manusia untuk berhubungan dengan tuhan nya dan
memberikan dasar prilaku yang berpola dalam masyarakat
b. Menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
c. Melembagakan norma melalui undang-undang yang dibuat oleh lembaga legislative
d. melindungi warga Negara
e. Membuat tindakan yang dilakukan sepenuhnya Dengan kesadaran
25. Karp dan Yoels mengemukakan bahwa untuk dapat berinteraksi, seseorang perlu
mempunyai….
a. Pandangan yang sama dengan orang yang diajak berkomunikasi
b. Kebiasaan yang sama
c. Perilaku yang sesuai dengan lingkungan sekitarnya
d. Kunci dari semua kehidupan social
e. Informasi mengenai orang yang berada dihadapannya
26. Dalam imitasi peniruan, peniruan dapat berwujud pihak yang ditiru..
a. Penampilam, sikap, tingkah laku dan gaya
b. Tindakan
c. Prilaku
d. Sikap
e. Gaya bicara
27. Keteraturan sosial dapat terwujud jika…
a. Ada interaksi sosial lebih dari satu orang
b. Adanya komunikasi yang jelas antara pelaku dengan mempergunakan simbol-simbol
c. Setiap anggota masyarakat bertingkah laku sesuai dengan nilai dan norma sosial yang
berlaku dalam masyarakat
d. Adanya dimensi waktu
e. Adanya tujuan tertentu yang ingin dicapai
28. Berikut bukan merupakan syarat terjadinya interaksi sosial adalah…
a. Melibatkan satu orang atau lebih
b. Komunikasi yang jelas antara pelaku
c. Memiliki tujuan tertentu
d. Tidak ada kontak langsung tetapi dapat terjadi komunikasi
e. Adanya dimensi waktu
29. Sosialisasi dapat terjadi melalui…
a. Adjudikasi
b. Displacement
c. Koalisi
d. Interaksi
e. Bargaining
30. Manusia memerlukan lingkungan sosial karena..
a. Untuk mengembangkan diri
b. Untuk meniru
c. Untik berbakti
d. Untuk mempertahannkan hidup
e. Untuk dorongan seksual
Lampiran 10
BERITA WAWANCARA DENGAN SISWA
Sebelum Penelitian
Tujuan
: Memperoleh informasi mengenai pembelajaran IPS
Bentuk Wawancara
: Bebas
Waktu
: Agustus 2012
Tempat
: SMK LinggaKencanaDepok
Pertanyaan!
1. Siapa nama anda dan duduk di kelas berapa?
2. Apakah anda menyukai pelajaran IPS?Jika ya/tidak apa alasannya?
3. Apakah anda mengalami kesulitan dalam belajar IPS?
4. Bagaimana dengan nilai IPS yang anda peroleh?
5. Bagaimana biasanya guru anda mengajar IPS?
6. Bagaimana tanggapan anda dengan cara guru anda mengajar IPS?
7. Apakah guru anda memberikan kesempatan untuk bertanya pada saat
pembelajaran berlangsung?
8. Media apasaja yang digunakanguru andadalampembelajaran IPS?
Jawaban dari wawancara dengan siswa sebelum penelitian
1. Siswa yang diwawancara adalah 10 orang siswa kelas X.PB dan 12 orang
siswa kelas X.TN.
2. Sembilan siswa menyukai pelajaran sosiologi karena pelajaran IPS adalah
pelajaran yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Dan 13 siswa tidak
menyukai pelajaran IPS karena dianggap sulit dan membosankan.
3. Lima belas siswa menjawab mengalami kesulitan dalam belajar IPS
karena banyak istilah yang harus dihafal dan dimengerti. Tujuh siswa
menjawab tidak kesulitan, karena pelajaran tersebut menjelaskan gejala
kehidupan sehari-hari.
4. Sembilan siswa menjawab nilai IPS-nya memenuhi KKM. Tiga belas
siswa menjawab nilai IPS-nya di bawah KKM.
5. Semua siswa menjawab cara mengajar guru mata pelajaran sosiologi
hanya sebatas ceramah, tanya jawab, memberikan tugas tidak jarang guru
hanya mencatat di papan tulis.
6. Cara mengajar guru tersebut sangat membosankan, tidak membangkitkan
motivasi belajar.
7. Iya, guru memberikan kesempatan bertanya, namun guru jarang
memberikan penjelasan dengan memberikan contoh kongkrit.
8. Guru hanya menggunakan buku dan papan tulis saja dalam proses
pembelajaran.
BERITA WAWANCARA DENGAN GURU
Sebelum Penelitian
Tujuan
: Memperoleh informasi mengenai pembelajaran IPS
Bentuk Wawancara
: Bebas
Waktu
: Agustus 2012
Tempat
: SMK LinggaKencanaDepok
Pertanyaan!
1. Sudah berapa lama bapak mengajar IPS?
2. Bapak mengajar di kelas berapa?
3. Persiapan apa saja yang bapak lakukan untuk mengajar?
4. Berapa KKM untuk mata pelajaran IPS?
5. Bagaimana dengan hasil belajar IPS siswa?
6. Bagaimana cara bapak memberikan motivasi kepada siswa?
7. Bagaimana cara bapak mengatasi masalah belajar pada siswa?
8. Bagaimana antusias siswa pada mata pelajaran IPS?
9. Media apa saja yang pernah bapak gunakan pada pelajaran IPS?
10. Apakah bapak tau mengenai mediapembelajaran video atau mediagambar?
11. Bagaimana menurut bapak jika pembelajaran IPS menggunakan media
pembelajaran Video atau mediaGambar?
Jawaban dari wawancara dengan guru sebelum penelitian
1. Kurang lebih 5 tahun.
2. Saya mengajar IPS kelas X (sepuluh), kelas XI (sebelas)dan XII
(duabelas)
3. Sebelum mengajar saya membuat RPP dan menyiapkan hal-hal yang
dibutuhkan dalam mengajar.
4. KKM untuk mata pelajaran IPS adalah 70.
5. Untuk kelas X hasil belajar mereka belum begitu terlihat, namun dari hasil
ulangan harian masih banyak siswa yang nilainya di bawah KKM. Untuk
kelas XIdan XII juga masih banyak siswa yang nilainya di bawah KKM.
6. Biasanya saya memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa mengenai
materi
yang akan dibahas sebelum belajar dimulai. Terkadang saya
memberikan permainan-permainan kepada siswa.
7. Bisanya saya melakuakan pembelajaran tambahan diluar jam belajar.
8. Kelas X kurang antusias untuk pelajaran IPS, sedangkan kelas XIdan XII
sudah lebih terlihat antusiasnya.
9. Mediayang
saya
gunakan
adalahhanyasebatasbuku
dalam
pembelajaran
LKSdanbukuPaket
namununtukmenumbuhkan
IPS
IPS,
rasa
semangatterkadangsayaselalumemotivasiparasiswa.
10. Saya tau mediagambar namun untuk media video saya tidak terlalutahu.
11. Sepertinya
denganmenggunakan
media
pembelajaran
yang
menarikdanbervariatifakanmeningkatkansemangatsiswadalambelajarteruta
madalampembelajaran IPS.
BERITA WAWANCARA DENGAN GURU
Setelah Penelitian
Tujuan
: Memperoleh informasi mengenai pembelajaranIPS
Bentuk Wawancara
: Bebas
Waktu
: Oktober 2012
Tempat
: SMK LinggaKencanaDepok
Pertanyaan!
1. Bagaimana pendapat bapak mengenai media video dangambar?
2. Apakah metode tersebut dapat digunakan untuk mata pelajaran IPS?
3. Apakah ada kemungkinan bapak menggunakan media video dangambar?
4. Menurut bapak adakah kelemahan dan kelebihan media video dangambar?
5. Menurut bapak apa yang membedakan antara pembelajaran menggunakan
media dengan yang tidakmenggunakan media?
6. Saran-saran apa yang dapat bapak berikan dalam pembelajaran
menggunakan media video dangambar?
Jawaban dari wawancara dengan guru setelah penelitian
1. Media tersebut cukup menarik, karena merupakan tantangan baru bagi
siswa. Dengan media tersebut siswa tidak hanya disajikan materi melalui
buku saja namun siswa juga dapat melihat contoh konkritnya melalui
video atau gambar.
2. Ya media tersebut dapat digunakan untuk pelajaran IPS.
3. Ada, jika memang sesuai dengan materi yang diajarkan.
4. Kelemahannya adalahterkadangsiswahanya focus kepada media yang
diberikansaja, namunsiswatidak bias menarikpesanatauintidariapa yang
disampaikan.
5. Yang membedakannya adalah dimana siswa disuguhi pembelajaran yang
tidak hanya terfokus atau terpusat pada buku saja namun guru juga
menyajikannya melalui media lain sepsrti video dan gambar.
6. Menurut saya denganmenggunakan media yang variatifseperti video
dangambar,
pastinyabutuhpersiapan
memberikanmateritersebut,
yang
matangdari
baikitualat-alat
digunakanataupunjugaketerkaitanantaracontohdenganmateri
guru
yang
yang
yang
diberikan. Olehkarenaituhendaknya guru dapatmemberikancontoh (baik
video ataugambar) yang sesuaidantepatdenganmateri yang disampaikan.
BERITA WAWANCARA DENGAN SISWA
Setelah Penelitian
Tujuan
: Memperoleh informasi mengenai pembelajaran IPS
Bentuk Wawancara
: Bebas
Waktu
: Oktober 2012
Tempat
: SMK LinggaKencanaDepok
Pertanyaan!
1. Bagaimana pendapatmu mengenai media yang telah kalian ikuti?
2. Apakah kamu menyukai pembelajaran IPS menggunakan media?
3. Apakah hasil belajar kamu meningkat setelah pembelajaran menggunakan
media tersebut?
4. Apakah media ini memotivasi kamu untuk belajar?
5. Menurut kamu apa kekurangan dan kelebihan media tersebut?
6. Apa kamu memiliki saran untuk pennggunaan media tersebut dalam
pembelajaran IPS?
Jawaban dari wawancara dengan siswa setelah penelitian
1. sangat menarik, karna selama ini guru tidakpernahmenggunakan media
pembelajaran. Jadi ada suasana baru.
2. Ya, sangat suka.
3. Ya hasil belajar saya meningkat.
4. Media ini membuat saya senang dalam melaksanakan pembelajaran di
kelas.
5. Kekurangannya terkadang butuhpersiapansebelumpembelajaran di mulai,
sepertiproyektordan roll.
6. Agar
media
ini
dapat
dilaksanakan
sehinggamurid-muridtidakjenuhdalambelajar.
pada
semuamatapelajaran,
LAMPPIRAN 11
OBSERVASI PRA-PENELITIAN
Hari/ tanggal
: Senin 06 Agustus 2012
Observasi Proses Pembelajaran
Pada tanggal 06 Agustus 2012 peneliti melakukan observasi pembelajaran IPS di kelas X
TN dan kelas X PB. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses
pembelajaran IPS di kelas tersebut. Hasil observasi pembelajaran di kelas adalah sebagai
berikut:
1. Media yang digunakan guru hanya berupa buku paket, papan tulis dan Lember
Kerja Siswa (LKS).
2. Metode yang digunakan adalah metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan.
3. Semua siswa memperhatikan penjelasan guru dengan
baik pada awal
pembelajaran. Namun pada pertengahan jam pelajaran, beberapa siswa mulai
acuh. Ada siswa yang berbincang dan bersenda gurau dengan temannya, ada juga
yang melamun bahkan mengantuk dan tidur.
4. Tidak ada siswa yang bertanya tentang materi yang disampaikan guru. Mereka
hanya bertanya saat mengerjakan latihan soal yang dianggap sulit.
5. Kemampuan menjawab pertanyaan guru yang berkaitan dengan materi bagi
beberapa siswa sudah baik.
6.
Kemampuan siswa dalam mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya
dianggap kurang, karena tidak merata kesemua siswa dan banyak juga yang lupa
ketika ditanyakan kembali materi pembelajaran yang lalu.
7. Siswa berdiskusi hanya pada saat mengerjakan latihan soal.
8. Siswa yang duduk dibarisan depan terlihat antusias, sedangkan sebagian siswa
lainnya menunjukkan ekspresi biasa saja.
9. Jumlah siswa yang hadir pada saat observasi berjumlah 19 siswa.
10. Guru mengkaitkan materi pelajaran dengan realita dalam kehidupan sehari-hari.
11. Guru menegur siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru.
Download