EPIDEMIOLOGI DAN PENANGANAN INFEKSI “HUMAN T

advertisement
F -X C h a n ge
F -X C h a n ge
c u -tr a c k
N
y
bu
to
EPIDEMIOLOGI DAN PENANGANAN INFEKSI
“HUMAN T - CELL LEUKEMIA”
Widyasari Kumala
Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Abstract
In 1997 Takatsuki from Japan found Human T-cell Leukemia (HTLV), a member of
retrovirus group which proved to be the cause of malignant Adult-T cell Leukemia (ATL). At
present there are three typys of HTLV virus species known, HTLV-I and HTLV-III. Among
these species whuch cause malignancy in human are omly HTLV-I and HTLV-II. The
prevalence of HTLV infection is reasonably high in Asia including Indonesia, Africa, South
America and in most parts of these countries it has come endemic.The mode of
transmission of HTLV infection is via tranplacental , sexual and blood tranfusion.To date
there is still no effective drug against this infection, thus, prevention is the only mean to
avoid HTLV infection.Prevention can be accomplished by health and consultation where as
vaccine is still on trials.(J Kedokter Trisakti 1999;(2):91-7).
Key words: Human T cell leukemia, epidemiology, management.
Pendahuluan
Sejak 10 tahun terakhir ini ilmu
pengetahuan
di bidang kesehatan
berkembang dengan pesat. Sehubungan
dengan keadaan tersebut telah ditemukan
suatu kelas virus baru jakni retrovirus
manusia. Ternyata retrovirus tersebut
dapat menyebabkan penyakit "Adult T cell Leukemia"(ATL). Virus ini pertama
kali ditemukan oleh Takatsuki dan kawan
kawan pada tahun 1977 di Jepang.
Semenjak itu penyakit ATL tersebut dapat
ditemukan di berbagai tempat di dunia,
antara lain di Asia terutama di Jepang,
Teluk Karibia, Amerika Utara, Amerika
Selatan dan Afrika Tengah pada prevalensi yang tinggi. Kini retrovirus penyebab
"Adult T-cell leukemia" dikenal sebagai
"Human T-cell Leukemia Virus type I" (
HTLV-I ) 6.
Ada 3 spesies HTLV yaitu: HTLV-I,
HTLV - 2 dan HTLV - 5. Dari ketiga jenis
spesies ini, ternyata HTLV – I yang
terutama menyebabkan penyakit "Adult T
- cell leukemia / lymphoma (ATL), selain
itu virus tersebut
dapat menyerang
susunan saraf pusat dan menimbulkan
penyakit "Tropical Spastic Paraparesis"
(TSP) atau "HTLV - I
Associated
Myelopathy" (HAM) 4,13,17.
Pada tahun 1980 Gallo dkk 6 ,
berhasil mengisolasi virus ini dari biakan
sel T limfoblas penderita sel T limfoma
kulit.
Kemudian pada tahun 1981,
Hinuma dan kawan kawan berhasil
menemukan biakan sel yang lain untuk
mengisolasi HTLV - I yaitu: "M T-I cell line"
yang berasal dari penderita ATL. Selain
HTLV-I, HTLV-2 juga telah dapat
diidentifikasi pada biakan sel MOT yang
berasal dari jaringan limpa penderita
"Hairy cell leukemia” pada tahun 1978.
Berdasarkan beberapa penelitian in vitro,
ternyata HTLV-2 dan HTLV-1 memiliki
banyak persamaan dalam hal organisasi
genetiknya. Sekuen Homologik nukleotidanya berkisar sekitar 60%. Virus
HTLV-2 dapat menyebabkan infeksi dan
akhirnya menimbulkan kematian pada sel
limfosit T 2,9,11. Dalam makalah ini akan
dibahas mengenai epidemiologi, cara
J Kedokter Trisakti, Mei-Agustus 1999, Vol.18, No.2
91
lic
k
.d o
m
w
o
.c
C
m
Epidemiologi dan penanganan virus human T-cell leukemia
o
.d o
w
w
w
w
w
C
lic
k
to
bu
y
N
O
W
!
PD
O
W
!
PD
c u -tr a c k
.c
F -X C h a n ge
F -X C h a n ge
N
y
y
N
O
W
!
PD
O
W
!
PD
bu
to
k
lic
.c
transmisi,
pengobatan
dan
pencegahannya,
khususnya terhadap
infeksi virus HTLV-I.
EPIDEMIOLOGI
lainnya, yaitu Itali, Israel, Antartika dan
New Guinea (Irian). Sedangkan di Hawai
yang bukan termasuk daerah endemik,
prevalensi HTLV-I lebih banyak terdapat
pada orang Jepang dari Okinawa yang
bermigrasi ke Hawai dibadingkan dari
daerah Niigata (bukan daerah endemik).
Hal ini disebabkan seringnya terjadi
migrasi dari daerah endemis ke daerah
lain yang tidak endemis. Gambaran
geografis penyebaran infeksi HTLV-I
dapat dilihat pada tabel I 6.
Berdasarkan
penelitian
sero
epidemiologi, pembawa virus (carrier)
banyak ditemukan di daerah endemis
seperti Jepang bagian Barat Daya,
Taiwan, Teluk Karibia, Amerika Serikat
bagian
Tenggara
dan
Afrika
Tengah.Selain itu HTLV-I juga dapat
ditemukan secara sporadis di daerah
Tabel 1
Distribusi geografis infeksi HTLV-I
Endemik
Asia:
Kyushu, Jepang
Shikoku,Jepang
Okinawa,Jepang
Irian Jaya
Afrika:
Nigeria
Ghana
Zaire
Uganda
Kenya
Israel
(Ethiopian Jews)
Seychelle Islands
Prevalensi virus yang rendah
Taiwan
Republik Rakyat Cina
Nonendemik
Vietnam
Filipina
Malaysia
Tunisia
Mesir
Afrika Selatan
Eropa
Inggris
(imigran Karibian)
Itali Tenggara
Western Hemisphere
Jamaika
Trinidad
Martinique
Guadeloupe
Venezuela
Panama
Kolumbia
Guyana
92 J Kedokter Trisakti 1999, Mei-Juni-Vol.18, No.2
Denmark
Spanyol
Perancis
U.K(Kaukasia)
Amerika Serikat
bagian Utara
.d o
m
o
o
c u -tr a c k
C
w
w
w
.d o
m
C
lic
k
to
bu
Kumala
w
w
w
c u -tr a c k
.c
F -X C h a n ge
F -X C h a n ge
N
y
y
N
O
W
!
PD
O
W
!
PD
bu
to
k
lic
.c
Haiti
Barbados
Amerika Serikat
bagian Selatan
(Kulit Hitam)
Hawaii (imigran Jepang)
Di Jepang insiden infeksi HTLV-I
yang terdapat pada penduduk perkotaan
sangat
bervariasi dan cenderung terlokalisasi.
Hal ini mungkin disebabkan terbatasnya
transmisi HTLV-1 di masyarakat. Setiap
tahun sekitar 300 sampai 500 kasus
terdiagnosis sebagai ATL dari individu
yang terinfeksi HTLV-I. Umumnnya infeksi
HTLV terjadi pada usia yang sangat dini,
mungkin sejak usia perinatal 10. Meskipun
demikian, sekitar 30,000 sampai 50,000
rakyat Jepang terinfeksi virus HTLV-1
melalui transfusi darah. Hanya sedikit
sekali
faktor
lingkungan
yang
mempengaruhi perkembangan penyakit
ATL. Di daerah pantai Kyushu insiden
ATL yang tertinggi terjadi pada musim
panas 10,14. Infeksi Filaria sering menyertai
penderita ATL, meskipun beberapa
penderita
menunjuk-kan
keadaan
imunosupresif. Dalam hal ini masih belum
jelas apakah Filariasis sebagai kofaktor
untuk terjadinya ATL 6. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan di daerah
Kyushu, Shikoku dan Okinawa di Jepang
ternyata insiden penderita Adult T cell
lymphoma leukemia (ATLL) sebanyak 3,5
kasus per 100.000 populasi dan insiden
akan
meningkat
menjadi
5,7
kasus/100.000 populasi pada individu
yang berusia di atas 40 tahun. Dari jumlah
kasus tersebut ternyata 95 % menunjukan
sero positif HTLV-I, dengan rincian 35 %
di Okinawa, 8 - 10 % di Kyushu dan 0-1,2
% di daerah yang non endemis.
Sedangkan individu sehat di daerah
endemis seperti Kyushu , jumlah sero
positif HTLV-I sebesar 8 % 7,10 .
Negara Karibia bagian timur yang
terdiri dari berbagai etnik yaitu Afrika,
Asia
dan
Kaukasia,
tercatat
2,8
kasus/100.000 populasi per tahunnya.
Prevalensi HTLV - I pada individu sehat
adalah 2,2%,dengan
rincian sebagai
berikut
:
seropositif
HTLV-I
pada etnik Afrika sebesar 3,4 %, Asia 0,2
% dan Kaukasia 0 %. Ternyata dari
golongan etnik Afrika yang memiliki sero
positif HTLV-I berasal dari kalangan sosio
ekonomi rendah 8. Di Afrika, perhatian
khusus diberikan pada penderita “Non
Hodgkin Lymphoma”, karena pada
pemeriksaan serologi terhadap kelompok
ini terdapat HTLV-I yang positif cukup
tinggi. Keadaan ini berbeda dengan
daerah endemis di Jepang di mana kasus
"Non
Hodgkin
Lymphoma"
yang
menunjukkan
hasil
serologi
positif
terhadap HTLV-I sangat rendah 1,8 .
Negara
Itali
bagian
selatan
merupakan daerah endemis HTLV - I
pada penduduk kulit putih, ternyata di sini
hanya sekitar 20 % antibodi sero positif
yang dapat ditemukan di antara penderita
ATL dan angka prevalensi ATL adalah 8
%. Hal ini mungkin disebabkan adanya
varian baru dari HTLV yaitu HTLV - V dan
melalui beberapa penelitian ternyata
terdapat perbedaan antara gejala klinis
dengan gambaran laboratorium yaitu tidak
terdapatnya tanda (marker) pada reseptor
sel T di permukaan selnya 12. Pada
beberapa kasus ATL/ATLL tidak terdapat
antibodi terhadap HTLV-I. Hal ini dapat
disebabkan beberapa faktor yaitu etiologinya yang berbeda, bukan HTLV - I
atau teknologi pemeriksaan yang masih
kurang baik sehingga gagal mendeteksi
adanya antibodi. Pada keganasan lain
yang bukan limfoma atau leukemia, juga
dijumpai prevalensi seropositif
yang
cukup tinggi yaitu 15- 30% %. Meskipun
tidak ada kaitan yang jelas antara
penyakit dengan antibodi, tetapi ada
kemungkinan terjadinya perkembangan
J Kedokter Trisakti, Mei-Agustus 1999, Vol.18, No.2
93
.d o
m
o
o
c u -tr a c k
C
w
w
w
.d o
m
C
lic
k
to
bu
Epidemiologi dan penanganan virus human T-cell leukemia
w
w
w
c u -tr a c k
.c
F -X C h a n ge
F -X C h a n ge
N
y
y
N
O
W
!
PD
O
W
!
PD
bu
to
k
lic
.c
keganasan dengan infeksi HTLV-I yang
laten atau infeksi HTLV-I merupakan
faktor resiko terjadinya keganasan yang
lain 7,14.
Di Indonesia masih belum banyak
penelitian mengenai pervalensi HTLV-I.
Menurut penelitian Maria Carla Re dan
kawan-kawan 3, angka prevalensi sero
positif pada suku Bisman Asmat di Irian
sebesar 45 %. Seperti diketahui
penduduk suku Bisman Asmat hidupnya
terisolasi dari masyarakat dan merupakan
daerah endemis HTLV - I . Kemungkinan
terkena
infeksi
HTLV-I
dan
perkembangan
penyakit
ATL/ATLL
tampaknya tidak ada perbedaan jenis
kelamin. Tetapi di Jamaika dan Jepang
pervalensi sero positif HTLV - I pada
individu yang sehat menunjukan lebih
banyak pada kaum wanita setelah usia di
atas 40 tahun. Misalnya daerah endemis
Jamaika prevalensi sero positif HTLV - I
adalah 5 % untuk wanita di bawah 40
tahun dan akan meningkat menjadi 12 %
setelah usia di atas 40 tahun, dengan
usia rata rata yang terbanyak sekitar 45
tahun untuk penyakit ATLL. Tetapi hingga
saat ini belum ada alasan yang dapat
menerangkan
mengapa
prevalensi
meningkat pada usia di atas 40 tahun.
Salah satu hipotesis yang paling mungkin
adalah: karena sebagian besar infeksi
terjadinya pada kehidupan lanjut melalui
hubungan seksual, transfisi darah, melalui
vektor atau akibat pengaruh lingkungan.
Hipotesis lainnya mengatakan mungkin
saja infeksi HTLV pada usia yang lebih
dini tetapi tanpa peningkatan jumlah
antibodi dalam darah yang dapat
terdeteksi. Dengan adanya reaktivasi
virus yang dorman sebagai antigen dapat
menghasilkan stimulasi pembentukan
antibodi terhadap HTLV-I 10 . Penyakit
lain yang disebabkan HTLV-I yaitu "
Tropical paraparesis" (TSP) merupakan
penyakit "slowly progressive myelopathy"
yang menyerang susunan saraf pusat dan
sistem sensorik. Prevalensi penyakit ini
terutama terdapat di Jamaika, Kolumbia,
India Tenggara, Afrika dan Martinique.
94 J Kedokter Trisakti 1999, Mei-Juni-Vol.18, No.2
Penyebaran penyakit ini dipengaruhi
faktor lingkungan seperti gizi yang buruk,
toksin dan infeksi mikroorganisme.
TRANSMISI
Penularan HTLV-I dapat melalui 3
cara, yang pertama adalah melalui cara
transplasenta, di mana limfosit (IgG) ibu
yang terinfeksi virus HTLV dapat masuk
ke dalam tubuh janin melalui plasenta dan
juga dapat melalui air susu ibu yang
menyusui bayinya. Penularan cara ini
dinamakan penularan secara vertikal dari
orang tua ke anak. Menurut penelitian
epidemiologi bila anak yang dilahirkan
dari kedua orang tua yang mengandung
seropositif HTLV-I, maka anak tersebut
akan menunjukkan nilai seropositif HTLV-I
yang tinggi. Tetapi bila hanya ibu yang
mengandung seropositif HTLV-I, maka di
dalam darah anak akan terdapat antibodi
terhadap HTLV-I. Sebaliknya hal ini tidak
terjadi bila hanya ayah anak yang
mengandung seropositif terhadap HTLV-I.
Data ini menunjukan bahwa penularan
hanya terjadi melalui ibu 6,7.
Infeksi
HTLV-I
melalui
jalan
transplasenta tidak menyebabkan infeksi
yang persisten, hanya transfer pasif IgG
dari ibu ke janin. Tetapi di sisi lain
penularan postnatal lebih memegang
peranan penting yaitu melalui air susu ibu
yang
mengandung
limfosit
positif
terhadap HTLV-I, sehingga penyakit ATLL
terjadi pada usia muda. Cara kedua yaitu
melalui hubungan seksual, di mana sel
limfosit yang terinfeksi virus HTLV dalam
semen pria dapat ditularkan pada wanita.
Cara penularan ini dinamakan "Horizontal
Transmission". Bila pada saat yang sama,
suami menderita sero positif HTLV-I,
maka istrinya 100 % juga akan
mengandung antibodi terhadap HTLV-I.
Berdasarkan penelitian yang pernah
dilakukan terbukti bahwa 60,8 %
penularan terjadi melalui pria dan hanya
0,4 % melalui wanita. Keadaan ini telah
berlangsung selama periode 10 tahun.
.d o
m
o
o
c u -tr a c k
C
w
w
w
.d o
m
C
lic
k
to
bu
Kumala
w
w
w
c u -tr a c k
.c
F -X C h a n ge
F -X C h a n ge
N
y
y
N
O
W
!
PD
O
W
!
PD
bu
to
k
lic
.c
Penularan juga dapat terjadi pada
homoseksual 5,18 . Menurut penelitian
"Crosssectional":
terbukti
bahwa
penyakit
yang
ditularkan
melalui
hubungan kelamin seperti "Syphilis"
merupakan faktor resiko terjadinya
infeksi HTLV-I 18 . Cara ketiga yaitu
hanya melalui tranfusi darah " whole cell
blood", dari donor yang mengandung
virus HTLV dapat ditularkan ke resipien.
Penelitian survei yang telah dilakukan
terhadap 40.000 donor darah di Amerika
Serikat menunjukkan
hasil nilai
seroprevalensi sebesar 0,025 %, yang di
kemudian hari akan berkembang menjadi
penyakit "ATLL" dan "HTLV-I associated"
1,5,19
lainnya
.
Penelitian
terakhir
membuktikan bahwa metode uji serologik
yang terbaru yaitu INNO-LIA dengan
sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi
mampu mendeteksi tipe
virus HTLV
dengan akurat 16 .
Akhir akhir ini virus tersebut sering
ditularkan melalui suntikan intravena pada
individu
yang
kecanduan narkotik.
Limfosit yang terinfeksi HTLV-I dapat
ditularkan melalui jarum suntik yang
dipakai secara bergantian 15 .
Meskipun secara garis besar tranmisi
virus HTLV-I mirip dengan virus HIV,
tetapi ada pengecualiannya, yaitu virus
HTLV- I tidak dapat ditularkan melalui sel
yang bebas dari cairan plasma karena
untuk perkembangan virus dalam sel
target membutuhkan sel normal lainnya
yang tidak terinfeksi virus HTLV 18 .
PENGOBATAN
Seperti penyakit keganasan lainnya,
penyakit ATL yang disebabkan oleh virus
HTLV-I dengan tingkat keganasan yang
tinggi memberikan kesulitan dalam hal
pengobatan. Umumnya pengobatan yang
lazim dipakai untuk penyakit "Non
Hodgkin Lymphoma" atau Leukemia
Limfoblastik
akut
yaitu
kombinasi
kemoterapi yang standar ternyata tidak
efektif untuk ATL. Beberapa penelitian
menganjurkan pemakaian obat Deoxycoformycin yang cukup efektif terhadap
ATL, tetapi menurut penelitian terbaru
bahwa hasil efek pengobatanya sangat
bervariasi. Terdapat beberapa bahan lain
yaitu beta interferon, gamma interferon
dan akhir akhir ini telah dicoba dengan
pemberian anti-Tac antibodi monoclonal
untuk melawan reseptor IL-2 dalam
jumlah yang tinggi pada ATL 7,20. Hingga
saat ini belum ada suatu obat atau cara
pengobatan yang menghasilkan efek
optimal terhadap penyakit ATL. Pada
penyakit "Tropical Spastic Paraparesis"
dapat diberikan glukokortikoid,
tetapi
hasilnya juga kurang memuaskan 4 .
PENCEGAHAN
Penanganan infeksi HTLV-I serta
penyakitnya dapat dilakukan dengan
beberapa
cara antara lain dengan
pengobatan,
pendidikan
kesehatan
masyarakat dan vaksinasi. Mengenai
pengobatan terhadap infeksi HTLV-I
hingga saat ini masih sangat sulit.
Penderita HLV-I yang asimtomatik tidak
diberikan pengobatan, tetapi harus selalu
rutin dilakukan pemeriksaan penyaringan
serologik untuk menghindarkan terjadinya
progresifitas. Di samping itu juga
diberikan penyuluhan mengenai cara
penyebaran
infeksi
HTLV. Metode
pencegahan pnyebaran infeksi mencakup
penyaringan (screening test) terhadap
antibodi HTLV-I dan HTLV-2 dalam darah
donor dengan cara immunoblot (p21eSpike Western Blot), Elisa dan yang kini
mulai dikembangkan yaitu analisis PCR
dari bahan darah tepi 8,12 .
Pendidikan kesehatan masyarakat
dilakukan dengan memberikan pendidikan
dan
penerangan
mengenai
cara
penularan HTLV-I yang dapat melalui
hubungan kelamin dan air susu ibu.
Memberikan nasehat kepada ibu yang
seropositif HTLV-I supaya menghentikan
atau tidak menyusui bayinya.
Mengenai pemberian vaksin, masih
dalam penjajakan pembuatannya. Karena
J Kedokter Trisakti, Mei-Agustus 1999, Vol.18, No.2
95
.d o
m
o
o
c u -tr a c k
C
w
w
w
.d o
m
C
lic
k
to
bu
Epidemiologi dan penanganan virus human T-cell leukemia
w
w
w
c u -tr a c k
.c
F -X C h a n ge
F -X C h a n ge
N
y
y
N
O
W
!
PD
O
W
!
PD
bu
to
k
lic
.c
pengembangan pembuatan vaksin untuk
infeksi retrovirus sangat sulit. Telah
dicoba
pembuatan
vaksin
dengan
menggunakan metode DNA rekombinan,
tetapi hasilnya kurang efektif. Penelitian
dengan menggunakan bagian envlope
dari virus sebagai imunogen yang
disuntikan
pada
kera
Cynomolgus
ternyata dapat menghasilkan anti HTLV-I
envelope antibodi dengan titer yang tinggi
untuk melindungi diri terhadap serangan
infeksi HTLV-I. Hewan kelinci juga
memberikan efek yang baik terhadap
pemberian vaksin buatan dari envelope
virus.
Tetapi
keadaan
ini
belum
dilakukkan pada manusia 7 .
Mengingat perkembangan obat dan
vaksin
yang
adekuat
memerlukan
penelitian dan memakan waktu bertahuntahun, maka cara yang lebih efektif untuk
penanganan
infeksi
HTLV-I
dan
penyakitnya adalah dengan memberikan
pendidikan dan penyuluhan kesehatan
pada masyarakat.
KESIMPULAN DAN SARAN
Virus HTLV-I adalah penyebab dari
penyakit "Adult T cell Leukemia" dan
merupakan
penyakit
keganasan.
Penyebaran infeksi virus ini dapat
dijumpai pada berbagai tempat di dunia,
terutama daerah yang endemik seperti
Jepang, Teluk karibia, Amerika Utara,
Amerika Selatan dan Afrika Tengah. Nilai
seroprevalensi di daerah endemik sangat
tinggi dan agaknya terjadi pada usia yang
sangat dini. Faktor usia memegang
peranan penting dalam perkembangan
penyakit.
Penularan
dapat
melalui
plasenta, air susu ibu, hubungan seksual
dan transfusi darah " Whole cell blood".
Hingga saat ini pengobatan terhadap
infeksi HTLV-I masih belum ada yang
efektif. Pencegahan dengan pemberian
vaksin masih dalam tahap penjajakan.
96 J Kedokter Trisakti 1999, Mei-Juni-Vol.18, No.2
DAFTAR PUSTAKA
1. Anderson, D.W., Epstein,J.S., Lee, T.H.,
Lairmore,
M.D.
1989
Serological
confirmation of Human T Lympho-tropic
Virus Type I infection in healthy blood and
plasma donors. Blood. 74: 2585-2591.
2. Cann, A.J., Chen, S.Y., 1990 Human TCell Leukemia
virus types I and
II.Virology, Raven Press, New York; 1501
- 1519.
3. Carla, M.R.E., Tommaseo, B., Furlini,
G., Placa, M.L. 1989. High prevalen-ce
of serum antibody against Human TCell
Leukemia virus type I(HTLV-I)
among the Bismam asmat population
(Indonesian New Guinea). AIDS research
and human retroviruses. 5: 551-4.
4. Cartier,L., Araya, F., Castillo, J.L., Ruiz,
F., Gormaz, A., and Tajima, K. 1992
Progressive
Spastic
paraparesis
associated with human T-cell leukemia
virus tipe I (HTLV - I ) Intern. Med. 31:
1257-1261
5. Ferreira, O.C.Jr, Vaz, R.S., Carvalho,
M.B., Guerra, C., Fabron, A.l., Rosembilit,
J., and Hamerschlak, N. 1995. Human Tlymphotropic virus typeI and II infection
and correlation with risk factor in bloodd
donors from Sao Paulo, Brazil. Tranfusion
35 : 258-263
6. Galo, R.C, 1989. The
first human
retrivirus. Scientific American, Dec.: 78 88.
7. Galo, R.C., Staal, F.W.1990. Retrovirus
biology and human disease. Marcel
Dekker INC. New York, : 218 - 228.
8. Garin,B., Gosselin, S., The, G.de., and
Gessain, A. 1994. HTLV I/II infection in
High viral endemic area of Zaire, Central
Africa : Comparative evaluation of
serology,PCR,
and
significance
of
indeterminate Western blot pattern.
J.Med.Virol. 44 : 104-109
9. Hall , W.W., Ishak, R., Zhu,S.W., Novoa,
P., Eiiraaku, N., Takahashi, H., Ferreira,
M.C., Azevedo, V., Ishaak, M.O.,Ishak,
O.,Ferreira, O.C., Monken C.,and Kurata,
T.1996. Human T lymphotropic virus type
II (HTLV- II):
epidemiology, molecular
propertie-sand clinical features of infection
. J. Acquired Immune Defic Syndrome,
Hum. Retrovirol. 13 : 5204 -5214.
10. Ishida, T., Yamamoto, K., Omoto, K.
1985. Prevalence of a human retrovirus in
.d o
m
o
o
c u -tr a c k
C
w
w
w
.d o
m
C
lic
k
to
bu
Kumala
w
w
w
c u -tr a c k
.c
F -X C h a n ge
F -X C h a n ge
N
y
y
N
O
W
!
PD
O
W
!
PD
bu
to
k
lic
.c
11.
12.
13.
14.
native Japanese evidence for a possible
ancient origin. J.Infect 11: 153 - 157.
Kalyanraman, V.S., Sarngadharan, M.G.,
Robert-Guroff, M., Miyoshi, I., Golde, and
Gallo, R.C.1982. A new subtype of
humanT-cell
leukemia
virus(HTLV-II)
associated with a T-cell variant of hairy
cell leukemia. Science 218 : 571-574.
Kleinman, S.H., Kaplan, J.E., Khabbaz,
R., Calabro, M.A.1994. Evaluation of
p21e - spiked Western Blot (immunoblot)
in confirming HTLV virus tipe 1 or II
infection in volunteer blood donors).
J.Clin Microbiol. March: 603 - 607.
Kwok,S., Erlich, G.,Poiez, B., Bhagavati,
S., and Sninsky, J.J. 1988. Characterisation of sequence of Human TLymphotropic Virus Type Ifrom a patient
with chronic progres-sive myelopathy. J.
Infect. Dis.162 :353-357.
Kwon, K.W., Ikeda, H., Sekiguch, S. 1989.
Evaluation of the Human T- Cell leukemia
virus type I Seropositivity of blood donors
by the Particle agglutination inhibition.
JPN
J.Cancer
Res
80:
833-838
September.
15. Murphy,E.L., Mahieux, R.,deThe, G.,
Tekala, F., Ameti, D., Horton, J., and
Gessain, A. 1998. Molecular epidemiology of HTLV-II among United States
blood donor and intravenous drug users an
age-cohort effect for HTLV-II RFLP type
aO. Virol. 242:425-434.
16. Sabino,E.C. Zrein, M., Taborda, P., Otani,
M,.M. Otani, G. Ribeiro-dos Santos, and
A.Saez-Alquezar. 1999. Evaluation of the
INNO-LIA
HTLV I/II
Assay for
confirmation
of
Human
T-Cell
LeukemiaVirus–Reactive Sera
inBlood
Bank Donations.
J.Clin.Microbiol.37:
1324-1328
17. Yamaguchi,K., Takaatsuki, K., Dearden,
G., Matutes. G.E., and Catovsky, L. 1989.
Chemotherapy with deoycoformycin in
mature T-cell malignancies. In:Cancer
Chemo-therapy. Challenges for the future
3 : 216-220
J Kedokter Trisakti, Mei-Agustus 1999, Vol.18, No.2
97
.d o
m
o
o
c u -tr a c k
C
w
w
w
.d o
m
C
lic
k
to
bu
Epidemiologi dan penanganan virus human T-cell leukemia
w
w
w
c u -tr a c k
.c
Download