II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Itik Cihateup Klasifikasi itik lokal

advertisement
II
KAJIAN KEPUSTAKAAN
2.1 Itik Cihateup
Klasifikasi itik lokal menurut Campbell dan Lack (1985) adalah sebagai
berikut :
Kingdom
Subkingdom
Filum
Subfilum
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies
: Animalia
: Metazoa
: Chordata
: Vertebrata
: Aves
: Anseriformes
: Anatidae
: Anas
: Anas platyrhyncos
Itik Cihateup berasal dari Desa Cihateup, Kecamatan Rajapolah,
Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, hidup dan beradaptasi pada daerah
ketinggian 378 m dpl (Wulandari dkk., 2005; Matitaputty, 2012) dan sering
disebut dengan itik gunung. Itik Cihateup penyebarannya sudah sampai di daerah
Kabupaten Garut. Selain itik Cihateup, ada juga itik Cirebon yang juga berasal
dari Jawa Barat dan memiliki ciri-ciri yang hampir sama dengan itik Cihateup
(Wahid, 2003). Beberapa hasil penelitian secara deskriptif menjelaskan bahwa
yang menjadi ciri khas itik Cihateup dari itik lainnya termasuk itik Alabio dan
Mojosari adalah ukuran panjang leher, sayap yang lebih panjang. Perbedaan
ukuran tubuh tersebut diduga karena adanya pengaruh lingkungan pemeliharaan di
kawasan pengunungan (Suryana dan Matitaputty, 2014). Itik jantan dan betina
memiliki warna hitam di bagian paruh dan kaki, leher yang lebih panjang
dibandingkan itik lokal lainnya (Mito dan Johan, 2011). Warna paruh dan shank
8
yang hitam pada dipengaruhi oleh adanya gen dermal melanin dan mirip dengan
itik lainnya yang ada di Jawa seperti itik Tegal dan Mojosari. (Wulandari dkk.,
2005). Penelitian karakteristik corak bulu, warna paruh dan shank pada itik
Cihateup dilaporkan Wulandari dkk. (2005) dan dijelaskan bahwa warna bulu
bagian leher itik Cihateup jantan didominasi warna penciled dan ekor warna
polos, sedangkan paruh dan shank didominasi warna hitam. Itik betina warna
bulu bagian leher, dada, shank dan ekor sedikit berbeda dengan jantan yakni
warna laced dan buttercup, sementara pada shank dan paruh tetap didominasi
warna hitam.
2.2 Aspek Metabolisme sebagai Dampak Pemeliharaan Minim Air
Itik memiliki kebiasaan berenang di kolam air ataupun di persawahan.
Sistem pemeliharaan tradisional di mana itik digembalakan di sawah atau di
tempat-tempat yang banyak air, namun dengan cepat mengarah pada
pemeliharaan secara intensif yang sepenuhnya terkurung, akibatnya kebiasaan
berenang dan membasahi tubuhnya tidak dapat dilakukan oleh itik, ditambah lagi
dengan suhu lingkungan yang tinggi membuat itik mengalami cekaman panas.
Cekaman panas menginduksi suatu seri reaksi kaskade pada sistem saraf dan
endokrin sehingga terjadi peningkatan aktivitas jalur hipotalamus-hipofisa-korteks
adrenal yang dikenal sebagai jalur hipotalamus, hipofisa, adrenal. Hipotalamus
mensekresikan corticotropine releasing factor (CRF), selanjutnya mengaktifkan
adrenocorticotropic hormone (ACTH) dari hipofisa anterior yang akhirnya
merangsang sekresi glukokortikoid dari korteks adrenal (Ladd dkk., 1996).
Hormon ini bekerja dengan meningkatkan glukoneogenesis melalui peningkatan
katabolisme asam amino di hati akibat induksi pada aminotransferase (dan enzim
9
lain, misalnya triptofan dioksigenase) serta enzim-enzim penting pada
glukoneogenesis (Bender, 2009; Botham dan Mayes, 2009).
Ilustrasi 1. Skema Hipotalamus-Pituitary-Adrenal (HPA) Axis, menjelaskan
regulasi dan negative feedback pada kortisol melalui reseptor
glukokortikoid.
Keterangan :
GRs : Glucocorticoid Receptors
MRs : Mineralcorticoid Receptors
CRF : Corticotropine Releasing Factor
ACTH : Adrenocorticotropic Hormone
AVP : Vasopressin
Glukneogenesis merupakan sintesis glukosa dari senyawa non karbohidrat
dan terjadi di dalam hati. Substansi glukogenik utama adalah asam amino dapat
dikonversikan menjadi α-ketogacids oleh deaminasi dan reaksi transaminasi.
Beberapa ketoacids (piruvat, oksaloasetat, α-ketoglutarat) dikonversi menjadi
10
glukosa dan glikogen. Senyawa bebas N yang berasal dari asam amino oleh
deaminasi dapat juga dikonversi menjadi salah satu α-ketoacids dan bertindak
sebagai prekursor karbohidrat (Allen, 1970).
Tiga urutan reaksi pada glukoneogenesis yang berbeda pada proses
glikolisis melibatkan perubahan piruvat menjadi fosfoenolpiruvat (PEP) dan
reaksi ini mengeluarkan fosfat dari fruktosa 1,6-bifosfat untuk membentuk
fruktosa 6-fosfat dan dari glukosa 6- fosfat untuk membentuk glukosa.
Serangkaian enzim mengkatalis perubahan piruvat menjadi fosfoenolpiruvat.
Reaksi yang mengeluarkan fosfat dari fruktosa 1,6 bifosfat dan dari glukosa 6fosfat masing-masing menggunakan enzim yang berbeda dengan enzim padanan
pada glikolisis. Fosfat dikeluarkan oleh fosfatase yang membebaskan Pi selama
glukoneogenesis.
Prekursor glukoneogenesis adalah asam amino, laktat, dan
gliserol. Reaksi glukoneogenesis menghasilkan ATP (King, 2010).
2.3 Buah Makasar
Buah makasar mempunyai rasa yang sangat pahit dan banyak mengandung
senyawa qassinoid. Senyawa tersebut dalam buah makasar sudah dilakukan
penelitian sebagai anti tumor (Lee dkk., 1984; Fukamiya, dkk., 1992; Rahma
dkk., 1999). Penggunaan minyak esensial tidak hanya mempengaruhi populasi
mikroba, tetapi pada saat yang sama berpengaruh positif terhadap aktivitas enzim
pencernaan dan intermediate metabolism.
11
Ilustrasi 2. Buah Makasar (Brucea javanica (L.) Merr.)
Minyak buah makasar menggunakan GC-MS menunjukkan bahwa terdapat
dua kelompok senyawa di dalamnya yaitu asam lemak dan senyawa organik
lainnya.
Asam lemak yang paling banyak terkandung dalam minyak buah
makasar adalah asam linoleat (CH3(CH2)16COOH), yaitu sebesar 52,89%. Asam
linoleat atau dikenal dengan istilah asam lemak omega 6 adalah asam lemak yang
memiliki rantai karbon sebanyak 18 dan mengandung dua ikatan rangkap pada
posisi 9 (C9-C10) dan 12 (C12-C13) dengan isomer geometris cis. Asam lemak tak
jenuh jamak (Poly Unsaturated Fatty Acid/PUFA) adalah asam lemak yang
mengandung dua atau lebih ikatan rangkap, bersifat cair pada suhu kamar bahkan
tetap cair pada suhu dingin, karena titik lelehnya lebih rendah dibandingkan
dengan MUFA atau SFA. Long Chain Poly Unsaturated Fatty Acid (LCPUFAs)
disintesisis dari asam linoleat, seperti dihomo-gamma-linolenic acid (DGLA) dan
asam arakhidonat, dimana mereka merupakan prekursor eicosanoid (Bergstrom
dkk., 1964; Van Dorp dkk., 1964). Eicosanoid merupakan susbtansi messenger
yang sangat berpengaruh terhadap regulasi berbagai macam proses termasuk
sekresi asam lambung, kontraksi uterus, reproduksi, tekanan darah dan inflammasi
(Samuelsson, 1981).
12
Asam lemak esensial merupakan prekursor sekelompok senyawa eicosanoid
yang mirip hormon, yaitu prostaglandin, prostasiklin, tromboksan dan leukotrien.
Senyawa-senyawa ini mengatur tekanan darah, denyut jantung, fungsi kekebalan,
rangsangan sistem saraf, kontraksi otot serta penyembuhan luka (Murray dkk.,
2009).
2.4 Asam Urat Darah
Asam urat merupakan hasil metabolisme normal dari pencernaan protein
(terutama dari daging, hati, ginjal, dan beberapa jenis sayuran seperti kacang dan
buncis) atau dari penguraian senyawa purin yang seharusnya akan dibuang
melalui ginjal, feses, atau keringan (Sustrani, 2004).
Ilustrasi 3. Struktur Kimia Asam Urat
Proses pembentukan asam urat sebagian besar di peroleh dari metabolisme
nukleotida
purin
endogen,
guanosine
monophosphate
(GMP),
inosine
monophosphate (IMP) dan adenosine monophosphate (AMP). Enzim xantine
oxidase mengkatalis hipoxantine dan guanine dengan produk akhir asam urat
(Mustafiza, 2010).
13
Asam nukleat (di makan dalam bentuk nukleoprotein dan dari
penghancuran sel-sel tubuh)
Enzim proteolitik......di usus
Asam nukleat
Nuklease (DNAse dan RNAse)......di getah
pankreas
Nukleotida
Polinukleotidase = fosfoesterase......di usus
Mononukleotida
Nukleotidase dan fosfatase
Nukleosida
Fosforilase...... usus
Basa Purin dan Pirimidin
Guanosin
Adenosin
Xantine
Asam Urat
Hipoxantin
Inosin
Ilustrasi 3. Metabolisme Nukleotida Purin
Purin berasal dari metabolisme makanan dan asam nukleat endogen, serta
didegradasi menjadi asam urat melalui enzim xantine oksidase. Purin diubah
menjadi adenosin selanjutnya diubah menjadi adenin dan isonine oleh enzim
adenin deaminase dan phosphorilase.
Keduanya diubah menjadi hipoxantine.
Xantine oksidase mengubah hipoxantine menjadi xantine dan akhirnya diubah
14
menjadi asam urat.
Adenosin, selain berasal dari metabolisme purin, dapat
berasal dari jaringan yang mengalami hipoksia (Emmerson, 1996; Waring dkk.,
2000; Johnson dkk., 2003).
2.5 Urea Darah
Urea adalah suatu senyawa organik, berperan penting dalam metabolisme
senyawa yang mengandung nitrogen (Kurzer dan Sanderson, 1956) dan produk
akhir dari metabolisme nitrogen yang disintesa dari amonia, karbon dioksida dan
nitrogen amida aspartat (Murray dkk., 1999).
Sintesis urea terjadi di hati melalui siklus urea atau juga dikenal sebagai
siklus ornithine dan siklus Krebs-Henseleit (Krebs, 1964). Langkah awal dalam
produksi urea adalah sintesis karbamoilfosfat dari bikarbonat dan amonia.
Bikarbonat diperoleh dari hidrasi karbon dioksida, dikatalis oleh karbonik
anhidrase (Dodgson dan Forster, 1986). Amonia diperoleh dari darah portal atau
dari produksi intramitochondrial amonia dari glutamin, dikatalis oleh glutaminase
(Haussinger dkk., 1990).
Pembentukan karbamoilfosfat memerlukan jumlah
amonia yang signifikan, maka peran glutaminase dalam mitokondria adalah untuk
meningkatkan konsentrasi amonia. Glutaminase diaktifkan oleh produk akhirnya
yaitu
amonia,
menciptakan
"nitrogen
feed-forward
activation"
dan
memungkinkan meningkatkan konsentrasi amonia ke tingkat yang diperlukan
untuk sintesis urea (Cooper, 1990).
15
Ilustrasi 4. Pembentukan Urea dari CO2 dan Amonia di dalam Sel Hati
Pembentukan karbamoilfosfat terjadi di mitokondria, dikatalisi oleh
karbamoil fosfat sintetase I (CPS I). Reaksi ini membutuhkan magnesium adenin
trifosfat (MgATP) dan melepaskan Mg2+, dengan N-acetylglutamate sebagai
alosterik activator (Hall dkk., 1958; Meijer dkk., 1990). CPS I adalah enzim
pembatas dari siklus urea. Arginine mengaktifkan produksi N-acetylglutamate
dan dengan demikian memberikan kontrol tambahan atas produksi urea (Meijer
dkk., 1990).
Langkah selanjutnya adalah pembentukan citrulline dari karbamoil fosfat dan
ornithine, dikatalisasi oleh transkarbamoilase ornithine, enzim mitokondria yang
lain, diikuti oleh komponen sitosol dari siklus urea, dimulai dengan enzim
arginosuccinate sintetase. Enzim ini mengkatalisis reaksi yang menggabungkan
citrulline dengan aspartat, pendonor nitrogen kedua untuk membentuk
16
arginosuccinate. Aspartat diperoleh dari oksaloasetat (dari siklus asam sitrat) dan
nitrogen disumbangkan dari glutamate. Arginosuccinate dipecah menjadi arginin
dan fumarat melalui aksi arginosuccinate liase, selanjutnya fumarat dapat masuk
ke siklus asam sitrat (Visek, 1979). Arginin dipecah oleh arginase menjadi urea
dan ornitin. Urea dilepaskan ke dalam sirkulasi, dan ornithine masuk kembali ke
dalam siklus urea (Meijer dkk., 1990).
Download