Edisi No.26 Tahun ke-15/Juni 2016

advertisement
Diterbitkan oleh:
BADAN PENDIDIKAN KRISTEN PENABUR (BPK PENABUR)
I S S N : 1412-2588
Jurnal Pendidikan Penabur (JPP) dapat dipakai
sebagai medium tukar pikiran, informasi, dan
penelitian ilmiah para pemerhati masalah pendidikan.
Penanggung Jawab
Ir. Suwandi Supatra, MT.
Pemimpin Redaksi
Prof. Dr. BP. Sitepu, M.A.
Sekretaris Redaksi
Rosmawati Situmorang
Dewan Editor
Prof. Dr. BP. Sitepu, M.A.
Dr. Ir. Hadiyanto Budisetio, M.M.
Dr. Elika Dwi Murwani, M.M.
Etiwati, S.Pd., M.M.
Ir. Budyanto Lestyana, M.Si.
Alamat Redaksi :
Jln. Tanjung Duren Raya No. 4 Blok E Lt. 5, Jakarta Barat 11470
Telepon (021) 5606773-76, Faks. (021) 5666968
http://www.bpkpenabur.or.id
E-mail : [email protected]
Jurnal Pendidikan Penabur
Nomor 26/Tahun ke-15/Juni 2016
ISSN: 1412-2588
Daftar Isi,
i
Pengantar Redaksi,
ii - v
Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan Emosional dan Kognitif Anak Usia 4,5 Tahun,
Felucia Hendriette E.P.,
1-9
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia pada Koran Daerah,
Yohanes Paiman,
Hilda Karli,
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card,
10-27
28-50
Penggunaan Media Gambar Berseri Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Teks Prosedur,
Sakila,
51-68
Taking Learning to Task, Strategi Pembelajaran Orang Dewasa,
Memaknai Dosa melalui Pendidikan Kristiani,
Yuli Kwartolo,
Paulus Eko Kristianto,
Isu Mutakhir: Kegiatan Bermain: Sarana Mengembangkan Potensi Anak,
69-81
82-94
Mudarwan, 95-102
Resensi buku: Anak, Sang Peniru Andal,
Inge Pudjiastuti Adywibowo,
103-107
Profil BPK PENABUR Bandar Lampung,
Reno Delison Bakkara,
108-114
Jurnal Pendidikan Penabur - No. 26/Tahun ke-15/Juni 2016
i
Pengantar Redaksi
ebagai mahluk sosial, manusia menggunakan bahasa
sebagai alat untuk berkomunikasi satu sama lain. Seseorang
menyampaikan pikiran atau perasaannya dengan
menggunakan bahasa dalam ragam lisan atau tertulis.
Sebagai alat komunikasi, bahasa memiliki kaidah yang mengatur
susunan kata dan kalimat sehingga pesan atau gagasan yang ingin
disampaikan dapat dipahami oleh orang lain yang menggunakan
bahasa yang sama. Setiap bahasa memiliki kaidah sendiri walaupun
dalam rumpun bahasa tertentu kemungkinan ada kesamaan satu sama
lain misalnya, antara bahasa Indonesia dengan bahasa Malaysia,
bahasa Jerman dengan bahasa Belanda.
S
Dalam ragam bahasa tulisan kaidah bahasa termasuk ejaan yang
mencakup pembentukan kata/istilah, penulisan kata, penggunaan
huruf besar dan kecil, penggunaan tanda baca, penyusunan kata
dalam kalimat, penyusunan kalimat dalam paragraf, dan penyusunan
paragraf dalam satu wacana. Sedangkan dalam ragam bahasa lisan,
kaidah bahasa termasuk cara mengucapkan huruf dan kata serta
intonasi. Penggunaan kaidah bahasa secara benar mempengaruhi
efektivitas komunikasi dalam arti semakin baik menggunakan kaidah
bahasa, semakin tepat tujuan komunikasi tercapai. Sebaliknya,
semakin banyak kesalahan kaidah bahasa dipergunakan, semakin
besar kemungkinan terjadi distorsi dalam berkomunikasi sehingga
pesan yang disampaikan salah dipahami atau terjadi kesalah
pahaman.
Sungguhpun pada dasarnya terdapat kesamaan kaidah dalam
bahasa ragam lisan dan tulisan akan tetapi ada perbedaan dalam
penggunaan kata dan kalimat. Misalnya, terdapat kata atau frase
tertentu dalam bahasa lisan biasa dipergunakan tetapi dalam bahasa
tertulis tidak lazim. Dalam bahasa lisan sering juga unsur-unsur
kalimat tidak dipakai secara lengkap, tetapi pesan yang disampaikan
dipahami dengan baik oleh pihak lain. Bahkan kalau menggunakan
susunan kata yang lengkap, komunikasi itu terkesan kaku dan tidak
efisien. Misalnya, untuk mengajak teman akrab kita makan siang, kita
mengatakan, “ Makan yuk!” Kemudian, teman itu menjawab, “Belum
lapar”. Komunikasi terjadi dengan baik, walaupun ajakan dan
jawaban itu tidak menggunakan unsur kalimat yang lengkap.
Dalam bahasa tertulis, kaidah bahasa seyogianya dipergunakan
secara benar dan konsisten. Oleh karena itu, orang yang menggunakan
bahasa tertulis hendaknya memahami kaidah bahasa yang ia gunakan
untuk menghindari kesalahpahaman pembaca. Apalagi,
berkomunikasi secara tertulis tidak dibantu dengan intonasi atau
ekspresi wajah yang dapat memperjelas pesan. Ketaatazasan
menggunakan kaidah bahasa dalam tulisan ilmiah sangat diperlukan
agar kebenaran yang hendak disampaikan dapat dipahami dan
diterima secara tepat oleh pembacanya.
ii
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Di samping sebagai alat komunikasi, bahasa juga merupakan alat
berpikir. Manusia mengalami kesulitan berpikir tanpa menggunakan
bahasa, matematika dan logika. Proses berpikir menggunakan bahasa
dan penguasaan bahasa yang baik membantu kelancaran berpikir yang
hasilnya kemudian dikomunikasikan dalam ragam bahasa lisan atau
tertulis. Penggunaan bahasa yang kacau mencerminkan penalaran dan
pikiran yang kacau juga.
Bahasa juga dapat dijadikan salah satu penciri kepribadiaan
seseorang. Kesantunan dapat dilihat dari pilihan dan susunan kata
yang dipergunakan. Oleh karena itu, sejak kecil anak dibiasakan
mendengar dan menggunakan kata dan ungkapan yang sopan. Mereka
dijauhkan dari penggunaan kata atau ungkapan kasar dan tidak pantas
agar mereka tidak menirunya. Tidak jarang anak dianggap tidak sopan
atau ‘kurang ajar’ karena mengucapkan kata atau ungkapan yang tidak
pantas. Sebaliknya, anak dianggap baik dan ‘manis’ dari tutur katanya.
Di balik itu semua, orang tua dan lingkungan hendaknya peka terhadap
‘keunggulan’ anak dalam meniru prilaku orang sekitarnya,
sebagaimana dikemukakan dalam buku Anak, Peniru yang Andal yang
resensinya dimuat dalam Jurnal ini. Kepekaan anak terhadap
lingkungannya juga tergambar pada hasil penelitian Pengaruh Pola Asuh
Terhadap Perkembangan Emosional dan Kognitif Anak yang memberikan
saran antara lain agar orang tua hati-hati dalam mengasuh anaknya,
termasuk menggunakan bahasa kepada anak.
Penguasaan bahasa sebagai alat komunikasi dan alat berpikir
sangat penting dalam kehidupan sosial dan merupakan salah satu
alasan kuat, pelajaran bahasa diberikan di lembaga pendidikan mulai
dari pendidikan usia dini sampai pendidikan tinggi. Walaupun
demikian, berbagai kesalahan penggunaan kaidah bahasa masih sering
ditemukan. Sebagai contoh, dalam makalah mahasiswa S1, S2, dan S3
masih terdapat banyak kesalahan penggunaan kata ‘di’ sebagai kata
depan dan kata awalan. Penulisan ‘diatas’, ‘disamping’, dan ‘di
tunjuk’, ‘di terima’ masih saja terdapat pada tulisan mahasiswa. Lebih
memprihatinkan lagi, di antara mahasiswa yang membuat kesalahan
itu adalah berprofesi sebagai guru atau dosen.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
telah mengatur penggunaan ejaan bahasa Indonesia dan tata bahasa
baku bahasa Indonesia yang disempurnakan secara berkala. Juga untuk
membantu menggunakan bahasa Indonesia secara benar telah
diterbitkan Kamus Besar Bahasa Indonesia oleh Badan Bahasa.
Sosialisasi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar juga
telah lama dilakukan oleh Pusat Pembinaan Bahasa (yang sekarang
menjadi Badan Bahasa). Akan tetapi, sampai sekarang kesalahan
penggunaan kaidah bahasa Indonesia masih saja terjadi. Lebih jauh
lagi, dengan berkembangnya penggunaan pesan singkat melalui telpon
genggam, penggunaan bahasa Indonesia seakan-akan lepas kontrol.
Banyak kata dan kalimat disingkat tanpa aturan dan mengabaikan
kaidah bahasa. Penggunaan kata asing semakin semarak di kalangan
pengembang dan pengusaha lainnya. Kata asing itu dianggap dapat
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
iii
meningkatkan gengsi dan citra produk mereka serta menarik minat
calon pembeli.
Media massa seperti surat kabar, majalah, radio, dan televisi
diharapkan dapat dijadikan teladan dalam menggunakan bahasa yang
baik dan benar. Sejumlah media massa sudah menyadari peranannya
dalam menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, tetapi hasil
penelitian koran daerah yang dimuat dalam Jurnal ini, dengan judul
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia Pada Koran Daerah, menunjukkan
berbagai kesalahan penggunaan kaidah bahasa Indonesia ditemukan.
Tanpa disadari oleh pengelola, media massa mereka menyebarkan
kesalahan penggunaan kaidah bahasa kepada masyarakat yang juga
tidak mengetahui kesalahan itu dan mungkin menirunya. Dalam
keadaan demikian, media massa menjadi penyebar virus kesalahan
berbahasa, bukan menjadi pembina penggunaan bahasa yang baik dan
benar.
Sejak usia dini anak belajar bahasa mulai dengan mendengar,
meniru, dan menggunakannya secara benar. Sebelum memasuki
lembaga pendidikan, anak sudah memiliki kemampuan berbahasa
walaupun masih sederhana. Lembaga pendidikan mengembangkan
kemampuan berbahasa anak dengan memperkaya kosa kata dan
menyusun kalimat menggunakan kaidah bahasa yang baku. Berbagai
pendekatan, strategi, metode dan teknik pembelajaran dikembangkan
untuk memudahkan anak belajar serta meningkatkan kemampuan
berbahasanya. Berkaitan dengan pembelajaran bahasa Indonesia,
khususnya dalam menulis teks prosedur, Jurnal ini memuat
pengalaman seorang guru menggunakan bekas pembungkus makanan
sebagai sumber belajar. Dalam tulisan berjudul Penggunaan Gambar
Berseri Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Teks Prosedur, penulis
mendeskripsikan bagaimana media sederhana dapat dijadikan sumber
belajar yang relatif murah tetapi efektif meningkatkan kemampuan anak
dalam menulis teks prosedur.
Pemerintah dan masyarakat Indonesia sesungguhnya belum puas
dengan mutu sumber daya manusia yang dihasilkan melalui jalur
pendidikan. Indeks prestasi siswa dan mahasiswa dalam berbagai
bidang masih kalah bersaing di tingkat internasional. Oleh karena itu,
upaya untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran terus
menerus ditingkat dengan berbagai cara yang antara lain ialah dengan
menyempurnakan kurikulum, meningkatkan mutu pendidik dan
tenaga kependidikan, melengkapi sarana dan prasarana pendidikan.
Di samping itu, manajemen sekolah juga ditingkatkan yang antara lain
menggunakan metode Balance Score Card seperti diungkapkan dalam
tulisan Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card.
Pembelajaran pada hakekatnya merupakan proses interaksi antara
peserta didik dengan sumber belajar untuk mencapai tujuan yang
ditetapkan. Pendekatan, strategi, metode, dan cara yang dipergunakan
harus berorientasi kepada peserta didik dalam arti antara lain
karakteristik peserta didik harus diperhatikan dalam menentukan
tujuan, bahan, dan strategi pembelajaran. Akan tetapi belakangan ini
karakteristik peserta didik, khususnya di Taman Kanak-Kanak kurang
iv
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
diutamakan sebagaimana dibahas dalam isu mutakhir dengan judul
Anak-Anak dan Kegiatan Bermain.
Kurikulum 2013 yang diterapkan secara bertahap mulai tahun
pelajaran 2013/2014 bertujuan meningkatkan mutu proses dan hasil
pendidikan dengan memberikan penekanan pada pendidikan karakter.
Manusia Indonesia yang dihasilkan melalui pendidikan diharapkan
tidak hanya unggul dalam kognitif dan psikomotorik saja, tetapi juga
memiliki kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut
bangsa Indonesia. Di samping pendidikan karakter dilakukan melalui
setiap kegiatan pendidikan di sekolah dan luar sekolah, pendidikan
agama di sekolah memegang peranan penting. Salah satu penyebab
tercederainya kepribadian adalah dosa yang membuat manusia
menderita ketika masih hidup dan sesudah meninggal. Bagaimana
memaknai dosa itu secara benar sehingga terhindar darinya, Jurnal ini
memuat tulisan dengan judul Memaknai Dosa melalui Pendidikan
Kristiani Transformatif.
Jurnal Pendidikan Penabur No 26 Tahun ke 15 ini dilengkapi
dengan profil BPK PENABUR Bandar Lampung yang secara umum
memperoleh kemajuan yang cukup menggembirakan dan diharapkan
terus berkembang di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat.
Semangat kristiani diharapkan menguatkan motivasi pendidik dan
tenaga kependidikan di BPK PENABUR Bandar Lampung untuk tetap
tekun memberikan pelayanan kasih melalui kegiatan pendidikan dan
ikut berperan serta dalam mencerdaskan bangsa. Selamat bekerja.
Redaksi
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
v
Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan
Penelitian
Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan Emosional
dan Kognitif Anak Usia 4,5 Tahun
Felucia Hendriette E.P.
E-mail: [email protected]
Bagian Kurikulum dan Evaluasi BPK PENABUR Jakarta
Abstrak
enelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pola pengasuhan terhadap perkembangan
emosional dan kognitif anak. Menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan
pendekatan studi kasus yang difokuskan pada seorang anak usia 4,5 tahun yang berbakat
sekaligus mengalami masalah emosional. Penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai
Maret 2016 di sekolah TKK 6 PENABUR di Jakarta Utara. Data dikumpulkan dengan menggunakan
alat ukur wawancara guru dan orangtua, observasi langsung, studi dokumen (buku anekdot, hasil
nilai rapot anak dan portofolio). Dianalisis dengan interactive model dan keabsahan data dilakukan
dengan triangulasi sumber data. Hasil penelitian menunjukkan pola asuh dalam keluarga
mempengaruhi perkembangan emosional dan perkembangan kognitif anak.
P
Kata-kata kunci: perkembangan emosional, perkembangan kognitif, pola asuh
Effects of Parenting Style on the Emotional and Cognitive Development of 4.5 Years Old Child
Abstract
The purpose of this researh is to identify the role of parenting style on child’s emotional and cognitive
development. As a case study, qualitative descriptive method was employed and focuced on a gifted child of
4.5 years old who had emotional problem. Taking place in TKK 6 PENABUR in Jakarta, the research was
conducted in Feberuary and March 2016. The data collected by interviewing the teachers and the parents,
direct observation, and document study were analyzed with interactive model and validated with triangulation
technique. The findings indicate parenting styles in the family influence both emotional development and
cognitive development of a child.
Keywords: emotional development, cognitive development, parenting
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
1
Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan
Pendahuluan
Pendidikan sangat penting bagi perkembangan
masyarakat. Semakin berpendidikan rakyat
dalam suatu masyarakat, semakin beradab dan
baik kedisiplinan masyarakatnya. Dalam hal ini,
keluarga memiliki tanggung jawab untuk
membuat anak mereka menjadi anggota
masyarakat yang produktif. Semakin banyak
orang tua terlibat dalam proses menyampaikan
pendidikan untuk anak mereka, semakin banyak
anak mungkin unggul dalam karir akademik
mereka dan menjadi anggota yang produktif dan
bertanggung jawab dalam masyarakat. Prestasi
akademik siswa tidak hanya tergantung pada
kualitas sekolah dan guru, tetapi keterlibatan
orang tua, dalam hal ini pola pengasuhannya,
juga memiliki peran penting dalam prestasi
belajar dan pembentukan karakter yang baik bagi
anak mereka.
ketat, dan terlalu banyak pengalaman
menggelisahkan yang merangsang anak secara
berlebihan akan menimbulkan emosionalitas
yang meninggi pada anak.
Selain itu Hurlock (1992, 211) juga
mengungkapkan, emosi dapat mempengaruhi
aktivitas mental, karena kegiatan mental seperti
konsentrasi, pengingatan, penalaran, dan lainlain sangat mudah dipengaruhi oleh emosi yang
kuat. Anak menghasilkan prestasi di bawah
kemampuan intelektualnya apabila emosinya
terganggu. Demikian juga, anak yang memiliki
kecerdasan tinggi tetapi tidak diikuti dengan
pengendalian emosi yang baik akan
menimbulkan gangguan perkembangan kognitif
dan mempengaruhi kehidupan pribadi dan
sosial anak .
Di sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak di
daerah Jakarta Utara, di kelas TK A ditemukan
seorang anak laki-laki berinisial “G”berusia 4,5
tahun yang lincah
Anak bukanlah
dan aktif. Dari
orang dewasa dapenampilannya
Tekanan yang dialami anak
lam ukuran kecil.
terlihat ia seorang
Oleh sebab itu, anak
masa prasekolah untuk belajar,
anak yang percaharus diperlakukan
baik oleh orangtua maupun
ya diri, sehat dan
sesuai dengan tahap
guru di sekolah, dapat
diasuh dengan
perkem-bangannya.
mempengaruhi perkembangan
baik. Akan tetapi
Hanya saja, dalam
emosionalnya.
setelah berbicara
praktik pendidikan
dengan gurunya,
sehari-hari, tidak
ada sesuatu hal
selalu demikian
yang menarik
yang terjadi. Banyak contoh yang menunjukkan tentang anak ini, terutama mengenai kemambetapa para orang tua dan masyarakat pada puannya menyerap pelajaran dan sikap emosioumumnya memperlakukan anak tidak sesuai nalnya di kelas.
dengan tingkat perkembangannya. Di dalam
Dari hasil observasi guru selama di kelas
keluarga, orang tua sering memaksakan
dan nilai di rapot semester satu yang diperoleh,
keinginannya sesuai kehendaknya, di sekolah
“G” yang tergolong anak yang cerdas dan
guru sering memberikan tekanan tidak sesuai
pandai, ia memperoleh 4 tanda bintang untuk
dengan tahap perkembangan anak, di berbagai
aspek kognitif, bahasa, dan psikomotorik (halus
media cetak/elektronika tekanan ini lebih tidak
dan kasar). Bintang empat menandakan bahwa
terbatas lagi, bahkan cenderung ekstrim
anak masuk dalam kategori penilaian
(Sriheriyanti, 2010).
Berkembang Sangat Baik (BSB). Penilaian BSB
Tekanan yang dialami anak masa sudah didapatnya sejak ia masih di kelas
prasekolah untuk belajar, baik oleh orangtua Kelompok Bermain. Mengenai perkembangan
maupun guru di sekolah, dapat mempengaruhi kognitifnya, “G” sudah dapat mengucapkan
perkembangan emosionalnya, seperti yang angka (membilang) dan mengenal angka sampai
diungkapkan oleh Hurlock (1992: 241) bahwa 100. Ia selalu menyelesaikan tugas pelajaran
ketegangan yang terus menerus, jadwal yang kognitif lebih cepat dari temannya terutama
2
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan
untuk konsep bilangan dan sudah dapat
mengonsep bilangan lebih dari 15. Juga dapat
menyusun puzzle 12 potong dengan cepat. Hal
yang menarik terjadi ketika dites gurunya dalam
percobaan air dalam gelas dipindahkan kedalam
mangkuk, seperti percobaan dalam teori kognitif
Piaget. Anak lain mengatakan, jumlah air lebih
banyak di gelas bukan di mangkuk, tetapi
menurut “G” jumlah air di dalam gelas dan
mangkuk adalah sama banyak. Pemikiran ini,
apabila dikaitkan dengan usia anak menurut
teori Piaget, seharusnya sudah masuk dalam
tahap operasional konkret (usia 7 atau 8 tahun).
Dari pengamatan di kelas oleh gurunya juga
hasil laporan orangtuanya pada saat
penerimaan rapor, “G” di rumah juga dengan
cepat dapat menyelesaikan permainan puzzle
pada tingkat tinggi sehingga dapat dikategorikan “G” adalah anak “gifted” (berbakat).
Pengamatan lain yang terjadi di kelas apabila
guru akan memulai pelajarannya, “G” akan
cepat-cepat duduk paling depan dan terlihat
menaruh minat yang besar saat guru menjelaskan sesuatu, terutama saat pelajaran kognitif
(matematika dan sain).
Permasalahan, yang ditemukan di dalam
kelas berdasarkan observasi langsung dan
informasi guru serta juga laporan orangtua di
rumah, ialah “G” bermasalah dalam
pengendalian emosinya, antara lain, di sekolah:
suka berteriak-teriak, tidak menerima teguran
dengan alasan pembelaan diri, suka marah pada
teman, tidak mau mengalah (suka merebut
mainan teman), tidak tertib saat berbaris (selalu
merebut barisan teman di depannya), juga tidak
taat pada guru (tidak membereskan mainan
setelah selesai bermain). Selain itu, emosionalitas
“G” membuat ia cepat menjadi bosan sehingga
suka mengganggu temannya. Dan juga apabila
“G” melihat temannya tidak bisa mengerjakan
tugas dengan baik maupun saat temannya tidak
mengerti apa yang “G” mau, “G” tidak bisa
mengungkapkannya dan mengakibatkan dia
menjadi marah-marah. Sedangkan laporan dari
orangtua, “G” marah apabila ditegur, sulit
mengikuti peraturan di rumah (salah satu
contohnya ia selalu bermain air walaupun
sudah dilarang).
Latar belakang keluarga “G” menunjukkan,
“G” adalah anak pertama dari dua bersaudara,
berasal dari keluarga menegah ke atas. Adiknya,
perempuan berusia dua tahun lebih muda
darinya. Ibu sudah tidak bekerja sejak anak
kedua lahir, sehingga pengasuhan anak ada di
bawah ibu langsung (tidak ada pengasuh,
hanya ada pembantu), sedangkan bapak bekerja.
Pada saat “G” belum punya adik, ia diasuh oleh
seorang pengasuh untuk melatih kecerdasannya, ibu yang selalu melatihnya setelah ia pulang
kantor. Sekarang dalam pengasuhan ibunya, ibu
membatasi “G” menonton TV, hanya boleh
nonton film anak-anak yang edukatif dan
membaca buku. Ibu menyerahkan tanggungjawab dan kemandirian sepenuhnya kepada
“G” karena ibu harus mengurus adiknya yang
masih kecil. Ibu yang selalu menuntut dan
disiplin membuat “G” menjadi anak yang
temperaman dan cenderung agresif (ada letupan
emosi = temper tantrum), kalau marah suka
berteriak-teriak dan memukul sesuatu di
dekatnya. Ia juga memiliki kecemburuan
terhadap adiknya.
Berdasarkan latar belakang yang telah
diuraikan di atas dapat diidentifikasi masalah
sebagai berikut,pola asuh orangtua di rumah
dapat mempengaruhi perkembangan emosional
dan perkembangan kognitif anak. Menurut
Hurlock, ada tiga jenis ekspresi emosi yang
umum, yaitu takut, marah dan senang. Jenis
emosi tersebut menunjukkan respon tertentu
yang memungkinkan terjadinya perubahan pada
perilaku anak. Emosi dapat berubah bukan
hanya disebabkan adanya perubahan perasaan,
tapi juga karena kondisi lingkungan yang
dialami anak. Emosi juga dapat mempengaruhi
penyesuaian pribadi dan sosial anak, antara
lain melalui perubahan mimik wajah dan fisik
yang menyertai emosi, mengomunikasikan
perasaannya kepada orang lain dan mengenal
berbagai jenis perasaan orang lain (Hurlock ,
1992, 215).
Penelitian ini merumuskan 2 (dua) masalah
berikut.
1. Bagaimanakah pengaruh pola asuh
orangtua terhadap perkembangan
emosional anak?
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
3
Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan
2.
Apakah pola asuh orangtua dapat
mempengaruhi perkembangan kognitif
anak?
Sedangkan tujuan penelitian ini adalah
mengetahui peran pola asuh terhadap
perkembangan emosional dan perkembangan
kognitif anak usia 4,5 tahun. Hasil penelitian
ini diharapkan dapat memberikan manfaat
kepada guru dan orangtua. Guru dapat memperoleh informasi dan pengetahuan mengenai
hambatan emosional dan kognitif anak terutama
yang disebabkan karena pola asuh dari orangtua
di rumah. Orangtua mendapat pengetahuan
tentang pola pengasuhan anak dan menumbuhkan sikap positif pada perkembangan
emosional dan kognitif anak.
Melihat luasnya faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan emosional dan
perkembangan kognitif anak, maka pada
penelitian ini akan dibatasi pada faktor pola
pengasuhan orangtua yang mempengaruhi
perkembangan emosional dan perkembangan
kognitif anak.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode penelitian kualitatif dengan
pendekatan studi kasus dimana difokuskan
pada seorang siswa TK A berumur 4,5 tahun
yang berbakat sekaligus mengalami masalah
emosional. Metode kualitatif dengan pendekatan
studi kasus merupakan metode yang tepat untuk
menangkap realitas dan menjelaskan mengenai
permasalahan emosional dan perkembangan
kognitif anak usia dini di sekolah. Studi kasus
ini akan didasarkan dari data-data yang
dikumpulkan oleh peneliti.
Penelitian ini dilakukan di sekolah TKK 6
PENABUR di Jakarta Utara yang merupakan
sekolah di dalam satu yayasan tempat peneliti
bekerja pada bulan Februari 2016 sampai Maret
2016.
Salah satu komponen penting dan
memegang peranan dalam penelitian kualitatif
adalah memilih latar-belakang, dalam hal ini
diartikan sebagai tempat kejadian atau
lingkungan, dimana suatu kejadian atau
4
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
kegiatan diarahkan untuk mencapai tujuan
penelitian.
Latar penelitian dilakukan di dalam ruang
kelas, dimana peneliti mengamati anak “G”.
Untuk wawancara dengan orang tua dan
observasi guru, diperlukan ruangan yang tenang
dan terjaga privasinya agar proses dapat
berjalan lancar, wajar dan diperoleh hasil yang
maksimal. Karena keterbatasan waktu dan
kondisi yang tidak memungkinkan bagi
orangtua untuk menerima tamu di rumah, maka
interview kepada orangtua, khususnya ibu
dilakukan di sekolah pada saat menunggu anak
dan menerima hasil rapor term 3 yang dilakukan
oleh guru kelas.
Pada penelitian ini fokus ditujukan pada
faktor pola asuh yang mempengaruhi emosional
anak usia 4,5 tahun. Penelitian ini juga
membahas mengenai faktor pengasuhan
perkembangan kognitif yang terpantau dari
hasil observasi yang dilakukan oleh guru kelas
pada lingkup perkembangan kognitif di sekolah.
Data dikumpulkan melalui observasi
partisipatif dan observasi nonpartisipatif yang
disesuaikan dengan keadaan anak dan situasi
kelas pada saat observasi terjadi, wawancara dan
studi dokumen (hasil rapot dan portofolio).
Kemudian, data diolah dan dianalis mengacu
pada pertanyaan penelitian ini. Data yang
digunakan untuk menjawabnya adalah hasil
wawancara guru, orang tua dan studi
dokumentasi melalui analisis sebab akibat.
Teknik analisis data ini menggunakan
Model Miles and Huberman, interactive model,
yaitu display, reduksi dan verifikasi data. Uji
keabsahan data yang diperoleh menggunakan
triangulasi data. Triangulasi sumber data
menggunakan wawancara dengan orangtua dan
guru kelas juga salinan rapot dan portofolio
(dokumentasi) (Sugiyono, 2008, 337-344).
Pada awal Februari 2016, penulis melakukan wawancara pada saat orang tua mengantar
anaknya ke sekolah di pagi hari. Penulis
melakukan wawancara terhadap guru kelas,
selanjutnya penulis melakukan observasi
langsung di dalam kelas untuk mengamati anak
yang bersangkutan. Kemudian, penulis
Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan
mengumpulkan setiap dokumen berupa hasil
observasi guru kelas, rapor, dan foto aktivitas
dalam portofolio dan catatan anekdot yang
dilakukan guru sesuai dengan standar sekolah.
Hasil dan Pembahasan
Pada awal pertemuan dilakukan wawancara
kepada orangtua dan seorang guru kelas “G”
yang berinisial A untuk mengetahui kondisi
emosional “G” dengan pertanyaan mengenai
perilaku emosional anak yang paling menonjol
(positif), dijawab oleh orangtua (OT): “G anak
yang ceria dan cerdas, ia senang bereksplorasi
dengan benda-benda di sekitarnya di rumah”.
Yang didukung oleh guru A: “G anak yang aktif
dan cerdas, ia seorang anak yang mempunyai
keingintahuan yang besar “.
Untuk pertanyaan emosi negatif yang
sering muncul, di jawab oleh OT: “G anak yang
mandiri tetapi suka berteriak-teriak dan marah
apabila ditegur dan suka melawan kalau
disuruh berhenti bermain air”. Sedangkan untuk
guru A pertanyaan ditambah dengan bagaimana
mengendalikan perasaan saat menunggu
giliran, guru A menjawab: “G selalu selesai
duluan dalam mengerjakan tugas yang diberikan
tetapi tidak sabaran dalam menunggu giliran,
terutama saat berbaris. Dia selalu nyerobot
barisan teman di depannya, suka marah-marah
dengan temannya dengan alasan yang tidak
jelas”.
Pertanyaan terakhir tentang pengendalian
diri/perasaan, di jawab OT: “G tidak sabar,
dalam melakukan sesuatu maunya cepat-cepat,
suka teriak-teriak kalo keinginannya tidak
terpenuhi”. Guru A menjawab: “G masih suka
berebut mainan temannya, tidak mau kalah sama
temannya terutama dengan teman yang bernama
R, selalu bersaing. G selalu diingatkan untuk
membereskan mainannya dan suka marahmarah sama teman yang tidak nurut sama G”.
Untuk pertanyaan penelitian yang pertama,
bagaimana peran pola asuh terhadap
perkembangan emosional anak, telah dilakukan
wawancara kepada ibu dan guru kelas. Dari
hasil wawancara tersebut diperoleh hasil, pola
asuh yang diterapkan kepada” G” adalah pola
asuh otoriter (authoritatian parenting) bersifat
membatasi dan menghukum. Hal ini diakui
sendiri oleh ibu yang menjawab: “Saya memang
terlalu menuntut dan keras sama G untuk bisa
melakukan semuanya sendiri dan saya tidak
mengijinkan dia nonton TV dan bermain games
tanpa pengawasan saya. Saya memberi
kebebasan untuk bermain komputer tapi untuk
yang edukatif saja, seperti bermain puzzle. G
sangat jago bermain games puzzle”. Sedangkan
berdasarkan wawancara dengan guru A, yang
melaporkan hasil percakapan dengan OT saat
penerimaan rapot: “Memang OT, khususnya
mami G, mengakui kalau dia sangat disiplin dan
keras terhadap G. Dia tidak boleh nonton TV
hanya boleh nonton film kartun anak yang
edukatif, karena mami G mau mendidik anaknya menjadi anak yang pintar dan berhasil”.
Orang tua yang otoriter mendesak anak
untuk mengikuti perintah mereka dan
menghormati mereka (Diana Baumrin dalam
Santrock, 2009, 100-101). Sejak kelahiran adik
nya, dan setelah ibunya tidak bekerja lagi,
pengasuhan anak 100% di bawah pengawasan
ibunya. Ayahnya bekerja dan pulang selalu
malam hari. Ibu membatasi “G” untuk menonton
TV, hanya boleh nonton film anak yang edukatif
dan membaca buku. Ibu menyerahkan tanggung
jawab dan kemandirian sepenuhnya kepada
“G” karena ibu harus mengurus adiknya. Ibu
yang selalu menuntut dan disiplin keras
membuat “G” menjadi temperamental dan
cenderung agresif. Walaupun belum terbukti
bahwa “G” mengalami positif temper tantrum tapi
dari sikap dan tingkah laku yang diperlihatkan
terhadap emosinya, terlihat jelas bahwa “G”
mengalami kurangnya pengendalian diri dan
perubahan tingkah laku, seperti yang
dikemukakan oleh Gunarsa (2011, 146) yaitu
sikap yang menuntut dari orang tua dapat
menyebabkan anak merasa takut akan
kehilangan kasih sayang dari orangtuanya. Hal
ini dapat mengakibatkan bermacam-macam hal
seperti timbulnya rasa rendah diri pada anak,
dan gangguan tingkah laku. Selain itu seperti
yang dikatakan Elizabeth Hurlock (1992, 204)
bahwa hampir semua orang tua mempunyai
ambisi bagi anak mereka – seringkali sangat
tinggi sehingga tidak realistis. Bila anak tidak
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
5
Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan
dapat memenuhi ambisi orang tua, anak
cenderung bersikap bermusuhan, tidak
bertanggung jawab dan berprestasi di bawah
kemampuan. Didukung pula oleh pendapat
Gunarsah bahwa orang tua dalam mengasuh
dan mendidik anaknya sangat dipengaruhi oleh
keinginan atau ambisi dari orang tua itu sendiri
tanpa melihat kemampuan dari si anak. Sikap
yang demikianlah yang dikatakan sebagai sikap
mengharap yang berlebih dari orangtua
terhadap anaknya (Gunarsa, 2011, 145).
Tipe komunikasi salah antara G dan ibunya
menyebabkan suasana rumah penuh dengan
kata-kata amarah dan teriakan . Tipe ini terjadi
pada pola asuh yang otoriter. Orang tua
biasanya menuntut anak atau marah-marah jika
tidak sesuai yang diharapkan, akibatnya anak
takut berbuat salah dan memilih jalan berbohong
menurut Rice (dalamVerauli dalam Eka et al,
2008). Dilihat dari dimensi pola asuh orangtua,
kondisi ini termasuk dalam dimensi deman
dingness menurut Baumrind (Nancy Darling,
1999: 1) yaitu tuntutan orang tua kepada anak
untuk menjadikan satu ke seluruh keluarga,
melalui tuntutan mereka, pengawasan, upaya
disiplin dan kesediaan untuk menghadapi anak
yang melanggar. Tuntutan orang tua yang
ekstrim cenderung menghambat tingkah laku
sosial, kreativitas, inisiatif, dan fleksibilitas
dalam pendekatan masalah pendidikan
maupun praktis.
Kemungkinan yang dapat terjadi dari
emosionalitas yang timbul dari G di rumah
adalah karena adanya kecemburuan terhadap
adik barunya, dimana ibu lebih banyak mencurahkan perhatiannya untuk adiknya, sementara
“G” dituntut sebagai seorang kakak yang harus
bertanggung jawab dan menjadi panutan. Hal
ini membuat “G” merasa tertekan dan juga
mencoba mencari perhatian dengan tingkah laku
yang aneh atau berubah. Hal ini didukung oleh
pendapat Hurlock (1996, 229-230) tentang
hubungan dengan para anggota keluarga, yaitu
hubungan yang tidak rukun dengan orangtua
atau saudara akan lebih banyak menimbulkan
kemarahan dan kecemburuan sehingga emosi
ini akan cenderung menguasai kehidupan anak
di rumah.
6
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Sedangkan emosionalitas yang timbul dari
“G” di dalam kelas karena apabila “G” ingin
menggungkapkan sesuatu tetapi temantemannya tidak mengerti atau tidak melakukan
apa yang dia minta dan tidak sesuai dengan
ekspektasi dia, dia akan marah besar dan
memukul meja. Hal ini kemungkinan karena
kecerdasan yang tinggi membuat “G” tidak bisa
mengungkapkan dengan baik apa yang ia
inginkan. Seperti yang dikatakan oleh Ellen
Winner (1996, dalam Santrock 2009, 284-285)
dalam salah satu kriteria anak berbakat yaitu
adanya hasrat untuk menguasai. Anak berbakat
selalu terdorong untuk memahami bidang di
mana mereka mempunyai kemampuan yang
tinggi. Mereka menampilkan minat yang intens
dan berlebih serta kemampuan fokus pada
bidangnya. Selain itu, seperti yang dikemukakan oleh Hurlock (1996, 211) selain di rumah,
sekolah maupun pada kelompok bermain emosi
anak juga mempengaruhi suasana psikologis
yang terjadi, demikian juga sebaliknya. Anak
yang temper tantrum menjengkelkan dan
mempermalukan orang lain, sehingga mengubah suasana psikologis kepada kemarahan dan
kebencian.
Untuk jawaban pertanyaan apakah pola asuh
orang tua dapat mempengaruhi perkembangan
kognitif anak, terlihat dari hasil wawancara
dengan guru serta orang tua dan studi
dokumentasi (hasil raport semester 2, term 3 dan
foto portofolio pelajaran kognitif)
Data hasil studi dokumen terlihat dalam
Tabel 1 dan 2.
Tabel 1: Hasil Rapor Semester 2, Term 3
Hasil rapor term 3
Hasil
Perkembangan kognitif
Perkembangan Bahasa
Perkembangan Psikomotorik
Definisi:
Berkembang
Sangat Baik (BSB)
Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan
Dari Table 1, terlihat bahwa G tidak ada
masalah dalam bidang akademik di sekolah. Ia
dapat mengikuti semua pelajaran dengan baik
dengan nilai tertinggi yaitu bintang 4 (BSB) pada
pengembangan kognitif, bahasa dan
psikomotorik.
Demikian pula Table 2 menunjukkan, khusus untuk pengembangan kognitif, G memperoleh hasil Berkembang Sangat Baik (BSB) untuk
semua subjek pelajaran kognitif yang diberikan.
Tabel 2: Subjek Pelajaran Kognitif
Hasil Raport Term 3
Hasil
Konsep angka:
membilang 1-20, mengenal angka
1-10 dengan manipulatif dan
worksheet
BSB
Mengenal bentuk:
circle, triangle, square, rectangle
BSB
Mengenal warna:
BSB
Warna-warna dasar (merah, kuning,
biru, hijau)
Puzzle 12 keping
BSB
Maze (mencari jalan keluar)
BSB
Sains (membuat jurnal dan
menceritakan percobaan yang
dilakukan)
BSB
Konsep Pengukuran:
BSB
Banyak bisa dihitung- banyak tidak
bisa dihitung (much - many)
Panjang - pendek (long-short)
Tinggi - pendek (tall-small)
BSB
Gambar 1 tentang konsep angka
memperlihatkan, “G” mampu menyusun huruf
dan meletakkan alat manipulatif sesuai dengan
jumlah angka yang ada dalam kartu angka
dengan benar (angka 1 - 7), bahkan “G” dapat
menyusunnya sampai konsep angka 15.
Sedangkan pada Gambar 2 tentang konsep
geometri, menunjukkan, “G” mampu menyusun
dan meletakkan gambar pola bentuk (lingkaran,
Gambar 1: Konsep Angka
segitiga, persegi panjang, hati, persegi, oval) dan
warna (merah, biru, kuning) yang sama dengan
tepat dan benar.
Hal ini menandakan, “G” sesuai dengan
perkembangan usianya mampu dan sangat
berbakat dalam aspek pengembangan kognitif,
bahkan bisa melebihi apa yang bisa diberikan
guru, sehingga “G” selalu mendapatkan
“pengayaan”, yaitu tambahan tugas yang lebih
tinggi dari tugas yang diberikan . Hal ini
berlawanan dengan teori yang mengatakan
bahwa anak-anak yang mengalami pola asuh
yang otoriter dimana orang tua terlalu menuntut
dan sangat disiplin akan mempengaruhi prestasi
belajar anak, karena berhubungan dengan nilai
diri yang takut salah dan cemas. Tetapi pada
kenyataannya “G” bisa melakukan semuanya
Gambar 2: Konsep Geometri
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
7
Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan
dengan baik. Keadaan ini bisa terjadi karena
berdasarkan para peneliti yang menemukan
bahwa pada beberapa kelompok etnis, aspekaspek gaya pengasuhan otoriter diasosiasikan
dengan hasil yang lebih positif. Sebagai contoh,
orang tua Asia sering mempraktekkan aspekaspek mendidik secara tradisional yang
terkadang dideskripsikan sebagai otoriter.
Banyak orang tua Asia menggunakan banyak
kendali atas kehidupan anak mereka. Prestasi
akademis yang tinggi dari anak-anak Asia
mungkin merupakan akibat dari “pelatihan”
yang diberikan oleh orang tua mereka (Stevenson
& Zusho, 2002 dalam Santrock, 2011, 102). Hal
ini terlihat jelas dari pengakuan ibu “G”dalam
mendidik anaknya bahwa “G” lebih banyak
membaca buku dan menonton film edukatif
untuk anak dibandingkan menonton TV.
Didukung pula dari hasil penelitian
Erlanger A. Turner, Megan Chandler dan Robert
W. Heffer tentang The Influence of Parenting Styles,
Achievement Motivation, and Self-Efficacy on
Academic Performance in College Students (May/June
2009), yang menguatkan hasil penelitian
sebelumnya (misalnya, Strage & Brandt, 1991)
yang menyimpulkan bahwa orangtua, yang
mempunyai karakteristik seperti mendukung
dan kehangatan, memainkan peran penting
dalam mempengaruhi kinerja akademik siswa
bahkan setelah memasuki perguruan tinggi.
Studi sekarang menemukan, pola asuh otoritatif
diprediksi signifikan terhadap kinerja akademik,
dan tidak ada hubungan yang ditemukan untuk
pola asuh permisif dan otoriter. Temuan juga
didukung penelitian sebelumnya berdasarkan
SDT, yang menyatakan adanya hubungan
antara siswa yang termotivasi secara intrinsik
dengan kesuksesan akademis.
Terman (Monks-Nkoers, Haditono ,2006:
246-247) menandaskan bahwa kemampuan
intelektual yang tinggi hanya bisa menghasilkan prestasi yang istimewa bila bekerja sama
dengan keteguhan, kepercayaan diri serta
lingkungan yang positif. Sedangkan Stern
mengemukakan bahwa kecerdasan tinggi dapat
layu bila anaknya sendiri acuh atau bila
lingkungannya tidak bersikap mendorong.
Kemauan kuat yang menyatakan dirinya dalam
sikap rajin, ulet, sadar akan kewajiban, disiplin
8
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
diri, ambisi dan perhatian sosial adalah mutlak
untuk realisasi bakat yang baik itu.
Dengan prestasi yang sangat baik dari “G”
walaupun pola asuh dalam keluarganya otoriter
terutama dari ibunya yang mengawasi dan
mengajarinya langsung, tidak membuat “G”
merasa rendah diri dalam kemampuan
kognitifnya. Ini bisa terjadi karena “G”
mempunyai minat yang besar terhadap kognitif
dan motivasi intrinsik dalam dirinya sendiri,
sehingga hasil “gemblengan” atau kedisiplinan
ibunya membuat ia semakin memacu dirinya
lebih baik lagi. Terbukti juga dari hasil observasi
di kelas bahwa apabila pelajaran akan dimulai,
ia akan cepat-cepat duduk paling depan dan
mendengarkan penjelasan guru dengan penuh
konsentrasi.
Simpulan
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan
yang diperoleh tentang pengaruh pola asuh
orang tua terhadap perkembangan emosional
dan kognitif anak “G” berusia 4,5 tahun, dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut.
1. Pola asuh yang otoriter dengan banyak
tuntutan mempengaruhi perkembangan
emosi anak. Anak menjadi emosional dan
memiliki temperamen yang kurang baik
(marah-marah dan berteriak-teriak tanpa
ada sebabnya bahkan melawan dan
mengganggu orang lain).
2. Pola asuh yang otoriter juga mempengaruhi
perkembangan kognitif anak dalam hal ini
anak mengalami seperti “pelatihan “ untuk
memacu mendapatkan hasil yang lebih
baik. Khusus untuk “G” kecerdasannya
didapat selain gemblengan dari orang tua
ia juga mempunyai motivasi intrinsik
(dalam dirinya) dan minat yang besar
terhadap pelajaran matematika dan sain.
Saran
1.
Oleh karena pola asuh dari orang tua di
rumah sangat mempengaruhi perkembangan emosional anak maka disarankan agar
guru dapat membantu memberikan
Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perkembangan
stimulasi lingkungan belajar yang hangat
tanpa banyak tuntutan dan kreatif dengan
banyak permainan sehingga anak merasa
nyaman saat belajar sekaligus dapat
menstimulasi perkembangan kognitif anak.
2.
3.
Memberikan pengarahan kepada orangtua
mengenai pola asuh anak yang baik dalam
bentuk seminar orang tua pada hari
Pertemuan Orang Tua Murid di awal
semester tahun ajaran baru.
Penelitian mengenai pola asuh orang tua
sangat menarik, dapat dijadikan bahan
penelitian lanjutan dan dikembangkan lagi
dengan banyak variabel dan diuji dengan
metode penelitian kualitatif.
Daftar Pustaka
Eka, Sulistyorini dan Finta I.K, Siti A. Hubungan
pola asuh orang tua terhadap perkembangan
bicara dan bahasa pada anak usia 2 Tahun
di Polindes Gempolan Kecamatan Gurah
Kabupaten Kediri, Jurnal Kesehatan,
Volume 6 no 1, Mei 2008
Erlanger A. Turner, Megan Chandler dan Robert
W. Heffer tentang The Influence of
Parenting Styles, Achievement Motivation,
and Self-Efficacy on Academic Performance
in College Students. Journal of College
Student Development, Volume 50, Number
3, May/June 2009, pp. 337-346 (article).
Published by The Johns Hopkins University
Press
Gunarsa, Singgih H dan Gunarsa, Yulia S.
(2011). Perkembangan anak & remaja.
Jakarta: BPK Gunung Mulia
Hurlock, B. Elizabeth. (1992). Perkembangan anak.
Jilid 2, Edisi 6. Penerbit Erlangga.
Hurlock, B. Elizabeth. (1996). Psikologi
perkembangan (Edisi Kelima), Jakarta:
Penerbit Erlangga
Monks, F.J. – A.M.P. Knoers and Haditono, S.R.
(2006). Psikologi perkembangan pengantar
dalam berbagai-bagiannya. Jogjakarta:
Gajah Mada University Press
Nancy Darling. (1999). Parenting style and its
correlates. Journal ERIC DIGEST EDO-PS99-3. Hlm 99
Santrock, John W. (2009). Psikologi pendidikan
(Educational psychology). Buku 1. Edisi ke
3. McGraw-Hill. Jakarta: Salemba
Humanika
Santrock, John W. (2011). Masa perkembangan anak.
Buku 2. Edisi ke 11. McGraw-Hill.
Jakarta: Salemba Humanika
Sugiyono. (2008). Metode penelitian pendidikan:
Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D.
Bandung: Penerbit Alfabeta
Sriheriyanti. Pendidikan anak usia dini. http://
sriheriyanti.student.umm.ac.id /2010/
01/22/pendidikan-anak-usia-dini/.
Pendidikan Anak Usia Dini. Di akses 22
Januari 2010
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
9
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
Penelitian
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
pada Koran Daerah
Yohanes Paiman
E-mail: [email protected]
SMPK BPK PENABUR Cirebon
Abstrak
adan Bahasa dan Balai Bahasa Indonesia serta lembaga-lembaga pendidikan melakukan
pembinaan penggunaan bahasa Indonesia yang baku, baik, dan benar. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui bagaimana koran daerah di Cirebon menggunakan bahasa
Indonesia sebagai bahasa nasional pada terbitannya. Penelitian yang termasuk deskriptif
evaluatif ini dilakukan di SMPK PENABUR Cirebon pada bulan Oktober 2015 lalu berkaitan dengan
peringatan Bulan Bahasa. Data dikumpulkan dengan melakukan observasi penggunaan bahasa
Indonesia di 6 (enam) Koran yang dipilih secara acak. Data diolah dan ditabulasi menggunakan
statistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan pada koran daerah di Cirebon masih terdapat
cukup banyak kesalahan penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai rubrik dengan berbagai
tipe kesalahan. Disarankan pengelola koran daerah di Cirebon meningkatkan kemampuan
berbahasa Indonesia anggota redaksi dan editornya sehingga koran juga dapat berfungsi sebagai
pembina bahasa Indonesia yang efektif.
B
Kata-kata kunci: koran daerah, kesalahan berbahasa, rubrik, editor
Mistakes in Using Indonesian Language in Regional Newspaper
Abstract
The Language Institution and the House of Indonesian Language as well as education institutions carry out
the development of the use of standard, good and correct Indonesian language. This study aims to know how
the local newspapers in Cirebon use Indonesian language as national language in their publications. This
evaluative descriptive study was carried out in SMPK PENABUR Cirebon in October 2015 coinciding with
the commemoration of Language Month. The data was collected by observing the use of Indonesian language
in 6 (six) newspapers which were chosen randomly. The data was processed and tabulated using simple
statistics. The result of the study shows that there are a number of mistakes in using Indonesian language in
the local newspapers in Cirebon, with various mistake types in various rubrics. It is suggested that the local
newspaper publishers in Cirebon develop the ability of the editors to use Indonesian language so that the
newspapers can also function as a media of developing effective Indonesian language.
Keywords: local newspaper, language usage mistake, rubric, editor
10
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
Pendahuluan
Sebagai makhluk hidup (individual maupun
sosial), manusia perlu mengembangkan diri
agar terus eksis dan perlu bersosialisasi dengan
lingkungan sekitar agar eksistensinya diakui,
diterima, dan dihargai banyak pihak. Untuk
mewujudkan semua itu, manusia perlu
berkomunikasi internal maupun eksternal. Agar
keperluan ini terwujud, manusia perlu
menguasai bahasa dan menggunakannya
secara intensif, positif, komunikatif, dan
produktif. Dengan begitu bahasa telah berperan
menjadi alat komunikasi, perangkai, bahkan
pemersatu warga masyarakat.
Di Indonesia, kebutuhan masyarakat akan
bahasa sebagai alat komunikasi telah didukung
oleh pemerintah republik ini. Sejak Sumpah
Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, Bahasa
Indonesia (semula bahasa Melayu) menjadi
bahasa pemersatu bangsa. Statusnya berangsurangsur diperkuat seiring dengan kemajuan dan
perkembangan bangsa kita. Sejak kemerdekaan
Republik Indonesia dan berlakunya UndangUndang Dasar Tahun 1945, statusnya resmi
menjadi bahasa negara (UUD 1945 Bab XV pasal
36; 2006: 9). Di sini bahasa Indonesia berperan
sebagai bahasa resmi negara dan sebagai bahasa
nasional, sekaligus menjadi alat komunikasi
nasional.
Bahasa Indonesia, Kamus Sinonim Bahasa
Indonesia, dan Pedoman Pengindonesiaan
Nama dan Kata Asing, disamping sejumlah
buku panduan berbahasa Indonesia yang baik
dan benar yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa
maupun Balai Bahasa di tanah air ( Kosasih,
2008 : 27 ).
Komunikasi bahasa tulis perlu menggunakan kaidah berbahasa yang baik dan benar agar
sajian pesan dan informasi dapat berjalan efektif,
tajam, dan komunikatif. Untuk itu, publikasi
tertulis perlu memenuhi kaidah bahasa
Indonesia dalam komunikasi tertulis. Kaidah itu
meliputi tepat diksi, tepat bentuk kata, tepat tata
kalimat, memenuhi efektivitas-efisiensi
berbahasa, tepat logika, tepat etika, tepat ejaan
dan tata tulis, bebas dari pengaruh bahasa
daerah dan bahasa asing, padu paragraf dan
wacana.
Sadikin (2014: 63-65) menambahkan, bahwa
efektivitas dan efisiensi kalimat/pernyataan
ditengarai oleh adanya unsur kesepadanan,
kecermatan diski, kehematan, kelogisan,
kesatuan dan kepaduan, keparalelan dan
kesejajaran, ketegasan pengungkapan gagasan
sang penulis.
Bahasa, termasuk bahasa Indonesia,
sebagai alat komunikasi sosial haruslah
memiliki dan memenuhi kriteria universalitas
bagi pemakainya. Dengan demikian, bahasa itu
menjadi bersifat komunikatif dan kontekstual.
Untuk mewujudkan bahasa yang demikian,
maka pemerintah telah dan terus intensif
melakukan berbagai pembinaan.
Media masa, termasuk koran daerah,
berperan secara kontinyu memasyarakatkan
informasi pembangunan dan hasilnya kepada
warga dan masyarakatnya. Untuk itu redaktur
koran daerah wajib menggunakan bahasa
Indonesia secara baik dan benar sebagai media
komunikasi sosial pada koran yang diterbitkannya. Sebagai mitra masyarakat, mereka juga
berperan memasyarakatkan penggunaan
Bahasa Indonesia secara baik dan benar. Mereka
perlu menjadi pioner dan teladan pemberlakuan
penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan
benar.
Pembinaan bahasa Indonesia sebagai
bahasa negara, bahasa nasional, dan sebagai
bahasa komunikasi nasional lisan maupun tulis
diperkuat dengan terbitnya buku rujukan
pendukung seperti, Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD),
Pedoman Umum Pembentukan Istilah, Buku
Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia, Kamus
Umum Bahasa Indonesia (KUBI), Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), Kamus Akronim
Sikap dan niat baik menjadikan bahasa
Indonesia semakin sempurna dipraktikkan
dalam operasi berbahasa warga masyarakat
ternyata masih perlu terus diperjuangkan dan
perlu komitmen tinggi warganya. Walaupun
panduan, aturan, bimbingan berbahasa
Indonesia yang baik dan benar sudah serius dan
banyak dipublikasikan, ternyata praktik
berbahasa masyarakat masih mengandung
banyak kesalahan, jauh dari harapan UndangJurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
11
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
Undang maupun Peraturan Pemerintah. Ini
ditandai oleh banyaknya kesalahan praktik
berbahasa masyarakat; baik dalam praktik
berbahasa lisan maupun tulis. Kesalahan
praktik berbahasa tulis dapat kita cermati dan
temukan pada media masa seperti koran
terutama koran daerah.
Kesalahan berbahasa Indonesia koran
daerah perlu diteliti, diidentifikasi, dianalisis,
disusun rekomendasinya untuk disampaikan ke
seluruh redaktur koran daerah agar mereka
memahami eksistensinya, mengubah dan
membenahi kiprahnya, dan menjadi teladan bagi
masyarakat dalam berbahasa Indonesia yang
baik dan benar. Dengan kiprah dan lintas kerja
seperti itu, kita telah turut mendorong peran
koran daerah dalam menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar, serta telah turut
andil dalam membina bahasa Indonesia sebagai
media komunikasi sosial.
Dalam kaitan memperingati bulan Bahasa
dan mencermati praktik berbahasa masyarakat,
penulis mengajak siswa mengobservasi koran
daerah yang terbit di kota Cirebon pada tanggal
22-24 Oktober 2015, yang diperkirakan masih
melakukan kesalahan operasi/praktik berbahasa; baik disadari maupun tidak disadari. Dari
koran daerah yang terbit tiga hari tersebut, siswa
dan penulis mencermati tiga rubrik berita (rubrik
olah raga, ekonomi, dan lingkungan/iptek) pada
setiap edisi korannya. Temuan itu penulis
rumuskan dalam rumusan masalah berikut.
Rumusan Masalah
Dalam praktik berbahasa Indonesia warga
masyarakat, khususnya kru koran daerah
Cirebon, masih melakukan kesalahan berbahasa
Indonesia yang cukup signifikan dan bervariasi.
Kesalahan tersebut berkaitan dengan masalah
tata tulis ejaan serapan kata asing maupun
daerah, tata tulis ejaan (pemakaian huruf, bentuk
huruf, tanda baca), bentuk kata, maupun
efektivitas dan efisiensi berbahasa Indonesia.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian adalah (1) mengetahui
bagaimana koran daerah Cirebon menerapkan
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan
benar dalam terbitannya, (2) mengetahui
12
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
bagaimana koran daerah Cirebon melakukan
kesalahan berbahasa Indonesia dalam
publikasinya, dan (3) variasi bentuk dan jenis
kesalahan yang terjadi dan seberapa intens
kesalahan itu dilakukan.
Selain itu, dalam kaitan penyelenggaraan
lomba karya tulis ilmiah, penelitian ini ditujukan
untuk melatih siswa memiliki ketelitian dan
kecepatan dalam membaca koran, memiliki
ketajaman dalam menemukan keganjilan/
kesalahan berbahasa koran, memiliki pula
ketajaman merevisi/mengedit kesalahan
berbahasa. Mereka juga diharapkan terampil
menemukan jenis kesalahan berbahasa koran,
memiliki ketajaman dan kekritisan dalam
mengamati bahasa koran, memiliki kemampuan
membandingkan kondisi berbahasa antara
koran satu dan lainnya, memiliki kemampuan
yang memadai, lancar, logis, tuntas dalam
mengemukakan pendapat dan gagasan melalui
karya tulis ilmiah, memiliki kecepatan membaca
memindai/scanning, dan, memiliki kemampuan
menyusun laporan dan artikel yang bermanfaat.
Penulis sendiri, melalui kegiatan itu, berniat
melatih siswa secara intensif dalam
keterampilan dan kompetensi membaca dan
menulis. Penulis dapat mendeteksi seberapa
jauh kompetensi dan kualitas siswa dalam
membaca dan menulis; sekaligus menjadikan
membaca sebagai awal dan modal untuk
menulis, merancang program yang lebih tajam
dan kritis untuk meningkatkan kualitas
membaca dan menulis siswa. Lebih lanjut
membandingkan tingkat, jumlah, variasi
kesalahan berbahasa aneka koran daerah yang
diteliti dan melatih siswa melakukan revisi
kesalahan berbahasa yang ditemukan dalam
pembacaan koran.
Adapun manfaat penelitian ini adalah
menemukan jenis dan variasi kesalahan
berbahasa Indonesia koran daerah untuk
direkomendasikan kepada pengelola koran
daerah, sehingga memberikan dampak
perbaikan terbitan koran daerah pada masa
selanjutnya. Karena penelitian ini melibatkan
siswa, maka siswa menjadi terlatih daya kritis
dan kreasinya dalam menemukan aneka
kesalahan berbahasa Indonesia koran daerah
serta mampu menyusun laporan kinerjanya
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
secara baik. Bagi guru/peneliti, dirinya dapat
mendeteksi kemampuan meneliti siswa serta
dapat membinanya lebih intensif.
Kajian Pustaka
Pada bagian ini penulis perlu menguraikan
beberapa konsep berkaitan dengan pelaksanaan
lomba menulis karya tulis ilmiah dalam
peringatan bulan bahasa di negeri ini, secara
khusus yang dilaksanakan di SMPK PENABUR
Cirebon pada bulan Oktober 2015. Konsep
termaksud berkaitan dengan masalah bulan
bahasa, ragam bahasa koran, kegiatan
menyunting redaksi bahasa koran, membaca,
dan koran daerah.
Bulan Bahasa : makna, kegiatan, dan tujuannya
Di Indonesia, bulan bahasa jatuh pada bulan
Oktober. Ini untuk mengenang lahirnya Sumpah
Pemuda 28 Oktober 1928, yang selanjutnya
dijadikan sebagai hari besar nasional (Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa/BP2B
2011: 6). Sumpah yang mengikrarkan “Pemuda
Indonesia mengaku bertanah air satu, Tanah Air
Indonesia; mengaku berbangsa satu, bangsa
Indonesia; menjunjung bahasa persatuan,
bahasa Indonesia.”
Selanjutnya, bulan Oktober dijadikan bulan
khusus peringatan, pemberdayaan, refleksi
sekitar kemajuan, status, kiprah bahasa
Indonesia sebagai bahasa negara maupun
sebagai bahasa nasional, dan sebagai alat
komunikasi nasional. Bulan Oktober ditahbiskan
menjadi Bulan Bahasa bagi bangsa Indonesia.
Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia
berperan menjadi: bahasa resmi kenegaraan,
bahasa pengantar di bidang pendidikan, bahasa
komunikasi tingkat nasional, media pengembangan kebudayaan nasional, media transaksi
dan dokumentasi niaga, dan sebagai sarana
pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan sebagai bahasa media
massa. Sedangkan sebagai bahasa nasional,
bahasa Indonesia berperan menjadi: simbol jati
diri bangsa/identitas nasional, lambang
kebanggaan nasional, sarana/alat pemersatu
berbagai suku bangsa, dan sebagai alat/sarana
komunikasi antardaerah dan antarbudaya
daerah di Nusantara (BP2B 2011: 13).
Selama bulan itu, digalakkan aneka
kegiatan pembinaan, evaluasi, prospek
pertumbuhan dan status bahasa Indonesia,
melalui seminar, simposium, workshop, dan
diskusi panel. Diadakan pula berbagai kegiatan
pendukung, pemeriah Bulan Bahasa itu. Juga
digalakkan aneka kegiatan untuk meningkatkan
kompetensi menulis warga masyarakat,
termasuk siswa, dengan kegiatan lomba menulis
(puisi, artikel, karya tulis ilmiah, naskah drama,
naskah pidato, naskah cerpen, dan sebagainya).
Kegiatan lainnya adalah aneka lomba entertain,
seperti: lomba lawak, lomba pidato lucu, lomba
stand up comedy, dan sebagainya.
Tujuan semua itu adalah, untuk membina
dan mendinamiskan bahasa Indonesia, untuk
memberikan warna pada perkembangan dan
status bahasa Indonesia, untuk mengakrabi
bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi
nasional, serta untuk meningkatkan kualitas
peran dan fungsi bahasa Indonesia, baik sebagai
bahasa negara maupun sebagai bahasa
nasional. Di samping kualitas bahasanya, juga
untuk meningkatkan kualitas manusia
pemiliknya/penggunanya, melalui berperan
dalam aneka kegiatan pemberdayaan bahasa.
Ragam Bahasa Koran/Jurnalistik : hemat kata/
ekonomis, komunikatif
Kita mengenal empat ragam bahasa; yaitu ragam
bahasa ilmiah, sastra/literer, pergaulan, dan
jurnalistik/pers. Masing-masing memiliki
cirikhas dan karakternya. Ragam bahasa
jurnalistik/persuratkabaran antara lain
memiliki ciri seperti hemat kata, menyingkat kata
kerja pada judul berita, dan mengutip bahasa
asing, mengutip bahasa daerah (Assegaff, 1985:
69-70). Dari dan dalam kondisi ciri seperti itu,
tampilan bahasa jurnalistik masih mampu
menyajikan makna secara komunikatif.
Anwar (1991) dalam Bahasa Jurnalistik dan
Komposisi, menyatakan bahwa bahasa
jurnalistik adalah bahasa komunikasi masa
yang berfungsi sebagai pemberi informasi
kepada publik, atau, bahasa komunikasi
pengantar pemberitaan yang biasa digunakan
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
13
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
media cetak dan elektronik. Untuk itu, bahasa
jurnalistik bercirikan ekonomis dan banyak
menggunakan kalimat aktif. Di luar kedua
pemahaman, Suhaemi dan Ruli Nasrullah (2009)
dalam Bahasa Jurnalistik, menyatakan bahwa
bahasa jurnalistik/koran bercirikan: sederhana,
singkat, padat, lugas, jelas, jernih, menarik,
demokratis, populis, logis, gramatikal, menghindari kata tutur, menghindari kata atau istilah
asing, diksi tepat, mengutamakan kalimat aktif,
dan menghindari istilah teknis.
Menyunting : Arti, tujuan, jenis, bentuk, tipe
kesalahan berbahasa, buku panduan
menyunting
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999: 977)
mencatat, menyunting adalah menyiapkan
naskah siap cetak atau siap untuk diterbitkan
dengan memperhatikan segi sistematika
penyajian, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan,
diksi, dan struktur); mengedit naskah. Langkah
menyunting adalah membaca naskah, menemukan kesalahan, memperbaiki kesalahan (dengan
mengubah, menambah, atau mengganti sesuatu
yang dianggap ganjil) sehingga naskah menjadi
sempurna, siap cetak, dan siap edar.
Sementara itu, Kosasih (2008: 27) menjelaskan, menyunting merupakan kegiatan
memeriksa tulisan sebelum dicetak/diperbanyak agar diperoleh naskah tulisan yang
sempurna dan terbebas dari kekeliruan, baik
masalah isi maupun bahasa tulisan itu. Suntingan isi berkaitan dengan masalah kebenaran dan
kesesuaian bahasan topik dalam tulisan itu.
Suntingan kebahasaan berkaitan dengan masalah ejaan, pilihan kata, penyusunan kalimat,
pengembangan paragraf maupun wacana
Nurhadi (2007: 63-69) mencatat, sasaran
menyunting diarahkan kepada masalah/aspek
penggunaan ejaan, tanda baca, pilihan kata,
kalimat efektif, kepaduan paragraf, kebulatan
wacana pada teks. Ini untuk mendukung agar
baik isi maupun bahasa teks itu tersaji secara
padu, bulat, dan utuh, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir makna teks tersebut. Selanjutnya,
penyuntingan naskah itu hendak mewujudkan
beberapa tujuan berikut. Untuk mengondisikan
terbangunnya tafsiran makna yang tepat dan
efektif; untuk membangun naskah yang tepat
14
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
jeda, tepat klausa, tepat makna; untuk membangun naskah yang siap cetak dan siap edar/terbit.
Di luar itu, Assegaff (1985: 70-71) mencatat,
bahwa tujuan menyunting dalam dunia
jurnalistik adalah mencegah terjadinya aneka
kesalahan (ejaan, struktur kalimat, kesalahan
fakta sajian, dan kesalahan struktur berita),
menjaga masuknya hal yang tidak dikehendaki
(masuknya
unsur
pendapat/opini,
pengulangan yang membosankan dan mubazir,
menjaga jangan sampai ada fakta tertinggal,
menjaga masuknya iklan terselubung sebagai
berita, menjaga adanya kalimat yang dapat
mencemarkan nama baik, menjaga masuknya
berita basi, menjaga masuknya berita bohong/
palsu). Esensi tujuan menyunting adalah
menyuguhkan berita yang baik, benar, menarik,
dan memperkaya pembaca/publik.
Maryati (2008: 73-75) menjelaskan, bahwa
menyunting atau mengedit adalah kegiatan
meneliti yang diikuti menyeleksi jika ada bagian
yang perlu dihilangkan atau ditambahkan.
Seorang penyunting naskah perlu memiliki
keahlian, ketelitian, dan pengetahuan luas agar
mampu melaksanakan tugas penyuntingan
naskah dengan baik dan benar. Hal yang perlu
disunting meliputi: ejaan (pemakaian huruf dan
tanda baca), keefektifan kalimat (struktur kalimat,
mudah dipahami maknanya dan tidak
menimbulkan salah tafsir), pilihan kata (sinonim
kata, diksi, kesesuaian makna kata dengan
konteks).
Sugiarso (2014) menyatakan bahwa tujuan
menyunting meliputi: menjadikan transkrip
sebagai karya sempurna yang dapat dibaca dan
dihayati pembaca dengan mudah; memastikan
penyebaran ide kepada pembaca dapat
disampaikan dalam bahasa yang gramatis, jelas,
indah, dan menarik; memastikan pengaliran data
fakta disampaikan dengan jelas, tepat, tidak
menyalahi agama, undang-undang, dan norma
masyarakat; menggambarkan nilai dan identitas
karya itu sendiri dapat menarik minat pembaca.
Dari seluruh uraian itu, disimpulkan,
menyunting adalah usaha menyiapkan naskah
secara baik, sempurna, siap cetak, dan siap terbit,
dengan mengedit naskah dari aspek isi (kebenaran isi, kelayakan, kelogisan fakta sajian) dan
aspek bahasa ( menyangkut masalah diksi, tata
tulis, ejaan, bentuk kata, struktur kalimat, keefek-
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
tifan kalimat, kepaduan paragraf, dan kebulatan
wacana).
Dalam melakukan penyuntingan naskah
koran atas rubrik olah raga, ekonomi, maupun
lingkungan/iptek, kita perlu memahami jenis,
tipe, dan bentuk kesalahan berbahasa yang umum
terjadi pada koran, sehingga kinerja penulis dapat
berjalan efektif, efisien, benar, dan cepat.
Oktafifah W. (2015) menyatakan, sasaran
penyuntingan diarahkan pada penulisan judul,
tata tulis, ejaan, tanda baca, tata tulis istilah dan
kata/istilah asing/daerah, diksi, bentuk kata,
kepaduan paragraf dan wacana, efektivitas
kalimat, serta kebenaran konsep. Berdasarkan
sasaran itu, kita dapat mendeteksi tipe-tipe
kesalahan/ketidakpatuhan koran dalam produk
bahasanya, seperti pada tabel 1.
Pada penelitian ini, penulis memfokuskan
sasaran penelitian pada aspek tata tulis kata/
istilah serapan bahasa asing/daerah, tata tulis/
tanda baca/ejaan, bentuk kata, efektivitas penggunaan kata, kalimat, konjungsi, dan logika.
Kegiatan menyunting naskah sangat erat
dengan kegiatan membaca naskah. Tujuan
membaca di sini adalah menemukan fakta
kesalahan berbahasa media koran dalam
paparan beritanya secara cepat dan tepat. Untuk
mempercepat penemuan tipe, jenis, dan bentuk
kesalahan/ketidakpatuhan berbahasa itu,
pembaca harus mampu membaca sepintas kilas
(scanning), mampu membaca cepat dan
menemukan sasaran kesalahan/ketidakpatuhan berbahasa yang terjadi. (Shadily dan
John M, Echols, 2000: 502). Membaca untuk
menemukan fakta tertentu yang diperlukan
dengan melompat-lompat disebut membaca
scanning (Soedarso, 2005: 84). Temuan itu kita
tandai, kita kumpulkan (dihitung jenis dan
Tabel 1: Tipe Kesalahan Berbahasa
No
Tipe Kesalahan
Keterangan: yang disoroti adalah
1.
Ejaan, tata tulis,
tanda baca
Ketepatan penggunaan huruf, bentuk huruf, jenis huruf, angka,
pungtuasi, penyukuan
2.
Tata tulis kata/
istilah serapan
Ketepatan penulisan unsur serapan kata asing dan daerah.
Kata/istilah asing/daerah dicetak miring/kursif.
3.
Bentuk kata
Kelengkapan dan ketepatan bentuk, afiksasi
4.
Diksi/pilihan kata
Ketepatan pilihan kata dalam konteks frasa, klausa, kalimat, serta
makna
5.
Kepaduan kalimat/ Ketepatan ide dan kalimat pembungkusnya, efektivitas, logika
paragraf
kalimat/paragraf
6.
Logika
Liniearitas pemikiran, kelogisan pernyataan
7.
Kelengkapan unsur
kalimat
Terpenuhinya unsur pokok kalimat (subjek, predikat, objek, dan
keterangan, serta susunannya/polanya)
8.
Efektivitas
Kehematan, kebernasan ungkapan dan pembungkusnya
pernyataan/kalimat
9.
Konstruksi kalimat
10. Penjamakan
Ketepatan susunan kalimat dan isinya
Ketepatan penggunaan kata/bentuk ulang, konjungsi
pendukung, kata bantu bilangan
11. Pemakaian preposi- Ketepatan penggunaan kata depan, kata hubung, dan logika
si, konjungsi
12. Tata urut kata
Ketepatan urutan kata dan ide yang hendak dibentuk.
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
15
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
frekuensinya), lalu kita tabelkan dalam paparan
hasil penelitian, sebagai bahan kajian/analisis
selanjutnya.
Agar kita mampu melakukan penyuntingan
dan pengeditan naskah secara baik dan benar,
maka Pemerintah melalui Pusat Bahasa dan
Lembaga Bahasa telah menerbitkan buku
rujukan/referensi untuk dipedomani dalam
berekspresi dan memproduksi gagasan melalui
tulisan. Buku referensi itu meliputi: Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan,
Pedoman Umum Pembentukan Istilah, Tatabahasa
Baku Bahasa Indonesia, Kamus Umum Bahasa
Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus
Akronim Bahasa Indonesia, Kamus Sinonim Bahasa
Indonesia, dan Pedoman Pengindonesiaan Nama dan
Kata Asing, tambahan lagi, buku-buku panduan
berbahasa Indonesia yang baik dan benar yang
diterbitkan oleh Pusat Bahasa maupun Balai
Bahasa di tanah air.
Koran Daerah Kota Cirebon
Koran daerah yang terbit di kota Cirebon meliputi
enam koran: yaitu koran Mitra Dialog, Pikiran
Rakyat, Radar Cirebon, Kabar Cirebon, Fajar Cirebon,
dan Rakyat Cirebon. Urutan jenis ini disusun
berdasarkan awal dan kronologi terbitnya di
kota Cirebon. Dalam penelitian ini, penulis
mencermati empat koran terakhir yang terbit
pada tanggal 22-24 Oktober 2015. Alasan
pemilihan jangka waktu terbit itu praktis saja;
yaitu tanggal 22-24 Oktober 2015 memilih,
mencermati subjek penelitian dan mencatat data
yang diperlukan dan ditemukan; tanggal 25-28
Oktober 2015 menyusun karya tulis; tanggal 29
Oktober 2015 siswa mengumpulkan karya tulis;
dan tanggal 30 Oktober 2015 karya tulis lomba
dinilai Dewan Juri Sekolah.Tanggal 31 Oktober
2015 Dewan Juri Sekolah melaporkan hasil
lomba kepada Kepala Sekolah dan Panitia Bulan
Bahasa Sekolah.Tanggal 2 November 2015
sekolah mengumumkan hasil lomba kepada
siswa dalam Acara Upacara Bendera Hari Senin.
Di samping alasan praktis, bangsa
Indonesia mengakui memiliki bahasa Indonesia
sebagai bahasa resmi negara dan bahasa
nasional, serta menjadikan bulan Oktober
sebagai bulan bahasa nasional. Harapannya,
semua pihak pada bulan Oktober ini memperha-
16
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
tikan bagaimana dirinya harus berbahasa
Indonesia secara baik, benar, dan patuh pada
aturan berbahasa dalam aneka konteks. Untuk
itu, semestinyalah produk berbahasa pada bulan
ini mendapatkan perhatian dari warga pemakainya. Harapan ini akan diteliti kebenaran dan
kepatuhannya pada periode tersebut.
Temuan siswa dan penulis dalam membaca
dan mencermati ketertiban berbahasa koran
daerah edisi tiga hari itu, sejalan dengan prinsip
menyunting di atas, dipaparkan dalam ulasan
berikut.
Metode Penelitian dan Langkah Penulisan
Metode penelitian adalah observasi dan
mengkaji penggunaan Bahasa Indonesia pada
koran daerah. Metode dan langkah penulisan
seperti berikut: sasaran koran adalah koran
daerah yang terbit di kota Cirebon pada tanggal
22-24 Oktober 2015. Jumlah koran yang diteliti
adalah empat koran daerah yang meliputi Koran
Radar Cirebon, Kabar Cirebon, Rakyat Cirebon,
dan Fajar Cirebon. Kelas 7 meneliti Koran Radar
Cirebon dan Kabar Cirebon. Kelas 8 meneliti
Koran Rakyat Cirebon dan Fajar Cirebon. Dan
Kelas 9 meneliti koran nasional; yaitu Koran
Kompas dan Sindo. Sistem pemilihan koran
Daerah yang diteliti adalah acak dan
berdasarkan kronologi terbitnya.
Rubrik koran yang dipilih dan diteliti adalah rubrik olah raga, ekonomi, dan lingkungan/
iptek. Fokus tindak kesalahan berbahasa koran
yang dicermati meliputi: tata tulis serapan dari
bahasa asing/daerah, penggunaan tanda baca,
huruf, tata tulis, bentuk kata, dan efektivitas
penggunaan bahasa.
Data kesalahan berbahasa Indonesia koran
daerah itu dikumpulkan dengan format dan peta
alur kegiatan penelitian tindak berbahasa seperti
Tabel 2.
Proses kerja penelitian ini, berdasarkan
arahan guru siswa membentuk kelompok
peneliti berjumlah 3 orang, menetapkan ketua,
sekretaris, anggota; bekerja kompak. Jumlah
kelompok menulis artikel sebanyak 15 kelompok,
utusan dari 15 kelas yang ada. Mereka memilih
koran beserta rubriknya dan membacanya,
menemukan dan mencatat kesalahan berbahasa
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
Indonesia koran tersebut dalam format data,
siswa mengkliping rubrik yang diteliti, menyusun
laporan dan menganalisis temuannya kemudian
mengumpulkan karya tulisnya.
Selama proses mengerjakan karya tulis,
siswa terus berkonsultasi kepada penulis. Dan
penulis pun memantau progres penulisan setiap
kelompok. Guru menerima konsultasi tim penulis utusan kelas. Sejauh ini telah dilayani 7 kali
jadwal konsultasi dan digunakan oleh tim penulis kelas; bahkan ada tim penulis berkonsultasi
lebih dari pada jadwal yang disediakan
Kondisi berbahasa yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini difokuskan pada koran
daerah yaitu koran yang dicermati oleh tim
penulis kelas 7 dan 8.
Langkah penulisan di tingkat guru/penulis
dilakukan dengan memberikan pengarahan
awal berkaitan dengan bimbingan teknis penulisan, pemilihan koran, fokus pencermatan kesalahan berbahasa, sistematika penulisan, teknik
pengumpulan data, kajian pustaka, analisis data,
penutup, dan daftar pustaka. Selanjutnya, guru/
pembimbing meneliti karya tulis siswa,
membandingkannya dengan kondisi data pada
kliping rubrik, mencatat data yang benar,
mengoreksi data yang salah, dan menambahkan
data yang belum dicatat siswa.
Tabel 2: Peta Alur Kegiatan dan Kriteria Penelitian
No.
Fokus
Sorotan
1
Koran/Media
2
Edisi hari
3
Jenis rubrik
/berita
yang di
teliti dan
jum lah
berita
1. Olah raga (1)
2. Ekonomi (1)
3. Lingkungan/Iptek
(1)
1.
2.
3.
Olah raga (1)
Ekonomi (1)
Lingkungan/Iptek (1)
1.
2.
3.
Olah raga (1)
Ekonomi (1)
Lingkungan/Iptek
(1)
4
Fokus
perhatian/yang
disoroti
1
Tata tulis serapan
kata asing/daerah
2. Tata tulis tanda
baca, huruf
3. Bentuk kata
4. Efektivitas peng
gunaan kata,
konjungsi, logika
1.
Tata tulis serapan
kata asing/daerah
Tata tulis tanda
baca, huruf
Bentuk kata
Efektivitas peng
gunaan kata, konjungsi, logika
1.
Tata tulis serapan
kata asing/daerah
Tata tulis tanda
baca, huruf
Bentuk kata
Efektivitas peng
gunaan kata,
konjungsi, logika
1. Tata tulis serapan
kata asing/daerah
2. /.. kali
Tata tulis tanda
3. baca, ejaan, huruf
/..kali
4. Bentuk kata, afiksasi/ .. kali
Efektivitas penggunaan kata,
konjungsi, logika/
.. kali
1.
Tata tulis serapan
kata asing/daerah
/.. kali
Tata tulis tanda
baca, ejaan, huruf
/..kali
Bentuk kata, afiksasi/ .. kali
Efektivitas penggunaan kata,
konjungsi,
logika/ .. kali
1.
5
Jenis
kesalahan
& frekuensi
Kelas 7
1. Radar Cirebon
2. Kabar Cirebon
Kelas 8
1.
2.
Kamis-Jumat, 22-24
Oktober 2015
Rakyat Cirebon
Fajar Cirebon
Kelas 9
1.
2.
Kamis-Jumat, 2224 Oktober 2015
2.
3.
4.
2.
3.
4.
Kompas
Sindo
Kamis-Jumat, 2224 Oktober 2015
2.
3.
4.
2.
3.
4.
Tata tulis serapan
kata asing/daerah
/.. kali
Tata tulis tanda
baca, ejaan, huruf
/..kali
Bentuk kata, afiksasi/ .. kali
Efektivitas penggunaan kata,
konjungsi, logika/
.. kali
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
17
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
Guru merekapitulasi sendiri tingkat
kesalahan berbahasa koran daerah dari aspek
jenis koran, hari terbit, rubrik, fokus kesalahan
berbahasa yang ada, dan frekuensinya, lalu
melakukan finalisasi data temuan dari
rekapitulasi sebelumnya. Data yang terkumpul
diolah dengan sistem statistik/tabel dan skala
prosentase untuk mengetahui intensitas tingkat
kesalahan berbahasa Indonesia yang terjadi,
dan rangking status koran daerah itu.
Di luar itu, penulis juga (1) melakukan studi
kepustakaan, melalui membaca beberapa buku
dan webs untuk menyusun kajian pustaka; (2)
melakukan studi komparasi, untuk membandingkan kondisi praktik berbahasa koran satu
dan lainnya; (3) melakukan observasi, untuk
meneliti praktik berbahasa masyarakat pada
beberapa jenis koran, rubrik, maupun judul
berita koran melalui data temuan siswa, berikut
mencek kebenaran kinerja siswa; (4) menyimpulkan data, fakta yang ditemukan secara deduktif
maupun induktif; dan (5) menyusun kajian
temuan, perbandingan data secara analitis dan
sintesis.
Terakhir, guru menganalisis data dan
menyimpulkan seperti dilaporkan pada tulisan ini.
Paparan Data Hasil Penelitian
Hasil Karya Siswa
Pelaksanaan lomba karya tulis ilmiah bulan
bahasa SMPK PENABUR Cirebon tahun 2015
dapat dilaporkan sebagai berikut.
1. Tema: Analisis dan Perbandingan
Kesalahan Berbahasa Koran Daerah/
Nasional Edisi 22-24 Oktober 2015 Ditinjau
Secara Deskriptif-Analitis dari Aspek
Kepatuhan Berbahasa yang Baik dan
Bena r
2. Waktu: tanggal 19 Oktober – 2 November
2015
3. Technical Meeting: Senin, 19 Oktober 2015.
18
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Bimbingan/Koordinasi: 19/10, 21/10, 23/
10, 25/10, 27/10, 28/10, dan 29/10-2015 (7
kali pembimbingan).
Peserta: 15 tim (dengan 3 anggota) utusan
dari 15 kelas.
Finalis/Pengumpul KTI: 10 tim dari 10
kelas. Berikut informasi selengkapnya.
4.
5.
6.
Tabel 3: Daftar Tim Peserta Lomba KTI
No
Mengirim
Naskah KTI
Tidak Mengirim
Naskah KTI
1.
Kelas 7A
2.
Kelas 7B
3.
Kelas 7C
4.
Kelas 7D
5.
Kelas 7E
6.
Kelas 8A
7.
Kelas 8B
8.
Kelas 8C
9.
Kelas 8D
10.
Kelas 9A
11.
Kelas 9B
12.
Kelas 9C
13.
Kelas 9D
14.
Kelas 9E
15.
Kelas 9F
Tot.
10 Tim/Kelas
5 Tim/Kelas
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
A.
Hasil Penelitian Guru
1. Kondisi Kesalahan Berbahasa Koran Daerah Kota Cirebon
Tabel 4: Kondisi Kesalahan Berbahasa Koran Daerah Kota Cirebon per Hari
No
Jenis Kesalahan
Jenis Koran,
Terbitan 22
Oktober 2015
Jenis Kesalahan
Radar Cirebon
Total
Kesalahan
OR
Eko
Lingk/Iptek
1.Tata tulis serapan kata asing
4
1
0
5
2.Tata tulis tanda baca
1
1
3
5
3.Bentuk kata
1
5
3
9
4.Efektivitas berbahasa
0
0
5
5
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
6
7
11
24
2.
1.Tata tulis serapan kata asing
7
9
2
18
2.Tata tulis tanda baca
2
1
2
5
3.Bentuk kata
0
2
2
4
4.Efektivitas berbahasa
0
3
0
3
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
7
15
14
36
3.
1
0
1
2
2.Tata tulis tanda baca
4
12
11
27
3.Bentuk kata
1
1
1
3
4.Efektivitas berbahasa
1
2
2
5
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
7
15
14
36
4.
1.Tata tulis serapan kata asing
5
0
0
5
2.Tata tulis tanda baca
3
1
14
18
3.Bentuk kata
1
1
2
4
4.Efektivitas berbahasa
0
0
4
4
9
2
20
31
1
Kabar Cirebon
Rakyat Cirebon 1.Tata tulis serapan kata asing
Fajar Cirebon
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
19
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
No.
Rubrik / Frekuensi
Jenis Koran,
Terbitan 23
Oktober 2015
Jenis Kesalahan
Radar Cirebon
Total Kesalahan
OR
Eko
Lingk/Iptek
1.Tata tulis serapan kata asing
9
15
2
26
2.Tata tulis tanda baca
0
0
0
0
3.Bentuk kata
7
0
2
9
4.Efektivitas berbahasa
1
1
0
2
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
17
16
4
37
2.
1.Tata tulis serapan kata asing
20
2
11
33
2.Tata tulis tanda baca
0
2
0
2
3.Bentuk kata
0
4
1
5
4.Efektivitas berbahasa
0
0
0
0
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
20
8
12
40
3.
1.Tata tulis serapan kata asing
5
0
1
6
2.Tata tulis tanda baca
10
14
17
41
3.Bentuk kata
2
2
1
5
4.Efektivitas berbahasa
0
2
1
3
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
17
18
20
55
4.
1.Tata tulis serapan kata asing
27
3
0
30
2.Tata tulis tanda baca
4
15
2
21
3.Bentuk kata
1
1
0
2
4.Efektivitas berbahasa
1
0
0
1
33
19
2
54
1.
Kabar Cirebon
Rakyat Cirebon
Fajar Cirebon
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
20
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
No.
Rubrik / Frekuensi
Jenis Koran,
Terbitan 24
Oktober 2015
Jenis Kesalahan
Radar Cirebon
Total Kesalahan
OR
Eko
Lingk/Iptek
1.Tata tulis serapan kata asing
5
1
1
7
2.Tata tulis tanda baca
2
1
0
3
3.Bentuk kata
0
1
3
4
4.Efektivitas berbahasa
0
0
0
0
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
7
3
4
14
2
1.Tata tulis serapan kata asing
9
3
5
17
2.Tata tulis tanda baca
2
1
5
8
3.Bentuk kata
4
2
1
7
4.Efektivitas berbahasa
0
0
2
2
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
15
6
13
34
3
2
22
8
32
2.Tata tulis tanda baca
14
1
1
16
3.Bentuk kata
2
2
2
6
4.Efektivitas berbahasa
2
1
0
3
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
20
26
11
57
4
1.Tata tulis serapan kata asing
1
1
34
36
2.Tata tulis tanda baca
0
6
1
7
3.Bentuk kata
1
1
2
4
4.Efektivitas berbahasa
4
0
0
4
6
8
37
51
1
Kabar Cirebon
Rakyat Cirebon 1.Tata tulis serapan kata asing
Fajar Cirebon
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
21
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
Berdasarkan data Tabel 4, berikut ini disajikan rekapitulasi jenis kesalahan penggunaan Bahasa
Indonesia berdasarkan rubrik pada setiap koran sebagaimana terlihat pada Tabel 5
Tabel 5: Rekapitulasi Data Kesalahan Berbahasa Koran Daerah Kota Cirebon
No.
Rubrik / Frekuensi
Jenis Koran,
Terbitan 22-24
Oktober 2015
Jenis Kesalahan
Radar Cirebon
Total Kesalahan
OR
Eko
Lingk/Iptek
1.Tata tulis serapan kata asing
18
17
3
38
2.Tata tulis tanda baca
3
2
3
8
3.Bentuk kata
9
6
8
23
4.Efektivitas berbahasa
1
1
5
7
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
31
26
19
76
2
1.Tata tulis serapan kata asing
36
13
7
56
2.Tata tulis tanda baca
4
4
18
26
3.Bentuk kata
4
6
3
13
4.Efektivitas berbahasa
0
7
3
10
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
44
30
31
105
3
8
22
10
40
2.Tata tulis tanda baca
18
27
29
74
3.Bentuk kata
5
5
4
14
4.Efektivitas berbahasa
3
5
3
11
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
34
59
46
139
4
1.Tata tulis serapan kata asing
33
4
34
71
2.Tata tulis tanda baca
7
22
17
46
3.Bentuk kata
3
3
4
10
4.Efektivitas berbahasa
5
0
4
9
48
29
59
136
1
Kabar Cirebon
Rakyat Cirebon 1.Tata tulis serapan kata asing
Fajar Cirebon
Jumlah Kesalahan Per Rubrik
22
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
Sedangkan jumlah kesalahan berbahasa berdasarkan jenis rubrik terlihat pada Tabel 6.
Tabel 6: Kondisi Kesalahan Berbahasa Koran Daerah
per Rubrik
Jenis Koran,
Terbitan 22-24
Oktober 2015
OR
Eko
Lingk/Iptek
1.
Radar Cirebon
31
26
19
76
2.
Kabar Cirebon
44
30
31
105
3.
Rakyat Cirebon
34
59
46
139
4.
Fajar Cirebon
48
29
59
136
Jumlah Kesalahan
per Rubrik
157
144
155
456
No
Jenis Kesalahan
Total
Kesalahan
Identifikasi jenis kesalahan berbahasa Indonesia pada setiap koran menghasilkan data seperti
tertera pada Tabel 7.
Tabel 7: Rekapitulasi Data Kesalahan Berbahasa Berdasarkan Tipe Kesalahan
Jenis Kesalahan
No
Jenis Koran,
Terbitan 22-24
Oktober 2015
1.
Radar Cirebon
38
8
23
7
76
2.
Kabar Cirebon
56
26
13
10
105
3.
Rakyat Cirebon
40
74
14
11
139
4.
Fajar Cirebon
71
46
10
9
136
205
154
60
37
456
Total Kesalahan
Tata Tulis Tata Tulis Bentuk
Serapan
Ejaan
Kata
Efektivitas
Berbahasa
Jumlah
Aneka
Kesalahan
Pembahasan Data Hasil Penelitian
Mengacu pada data pada Tabel 4, 5, 6, dan 7 dapat ditafsirkan sebagai berikut.
1. Berdasarkan data kondisi pada Tabel 4, kesalahan berbahasa Koran daerah dapat dimaknai
sebagai berikut.
a. Koran edisi tanggal 22 Oktober 2015
Berdasarkan jumlah kesalahan terbanyak, urutan koran yang membuat kesalahan berbahasa
Indonesia berdasarkan tanggal terbit adalah seperti tertera pada Tabel 8.
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
23
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
Tabel 8: Daftar Urutan Koran Berkesalahan Berbahasa Tinggi
Terbitan, Tanggal 22-10-2015
No
Nama Koran
Jumlah
Kesalahan
Kesalahan
Rubrik
Terbanyak
1.
Radar Cirebon
36
Ekonomi/15
Tanda Baca/27
2.
Kabar Cirebon
31
Lingkungan/20
Tanda baca/18
3.
Rakyat Cirebon
30
Ekonomi/15
Tata Tulis Serapan/18
4.
Fajar Cirebon
24
Lingkungan/11
Bentuk kata/9
Jenis Kesalahan
Terbanyak
b. Koran edisi tanggal 23 Oktober 2015
Berdasarkan jumlah kesalahan terbanyak, koran edisi tanggal 23 Oktober 2015 dapat diurutkan
pada tabel 9.
Tabel 9: Daftar Urutan Koran Berkesalahan
Berbahasa Tinggi, Tanggal 23-10-2015
c.
No
Nama Koran
Jumlah
Kesalahan
Kesalahan
Rubrik
Terbanyak
Jenis Kesalahan
Terbanyak
1.
Radar Cirebon
55
Lingkungan/20
Tanda baca/41
2.
Kabar Cirebon
54
Olah Raga/33
Tata Tulis Serapan/30
3.
Rakyat Cirebon
40
Olah Raga/20
Tata Tulis Serapan/33
4.
Fajar Cirebon
37
Olah Raga/17
Tata Tulis Serapan/26
Koran edisi tanggal 24 Oktober 2015
Berdasarkan jumlah kesalahan terbanyak, koran edisi tanggal 24 Oktober 2015 dapat
diurutkan pada Tabel 10.
Tabel 10: Daftar Urutan Koran Berkesalahan
Berbahasa Tinggi, Tanggal 24-10-2015
24
No
Nama Koran
Jumlah
Kesalahan
Kesalahan
Rubrik
Terbanyak
Jenis Kesalahan
Terbanyak
1.
Radar Cirebon
57
Ekonomi/26
Tata Tulis Serapan/32
2.
Kabar Cirebon
51
Lingkungan/37
Tata Tulis Serapan/36
3.
Rakyat Cirebon
34
Olah Raga/15
Tata Tulis Serapan/17
4.
Fajar Cirebon
14
Olah Raga/17
Tata Tulis Serapan/7
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
Mencermati data pada Tabel 8, 9, dan 10 di
atas, koran yang melakukan kesalahan
tindak berbahasa secara konsisten dapat
diurutkan seperti: Rakyat Cirebon
terbanyak (148 poin), lalu diikuti koran
Cirebon (136 poin), Kabar Cirebon (104
poin), dan Radar Cirebon (75 poin). Radar
Cirebon tampil lebih/paling sedikit dalam
tindak kesalahan berbahasa pada
terbitannya selama tiga hari (hanya 75
poin).
sedikit mengalami kesalahan tindak
berbahasa (3 kali/56 poin).
Jenis/tipe kesalahan tindak berbahasa
terbanyak yang terjadi adalah jenis Tata
Tulis Kata Serapan (8 kali/198 poin), lalu
diikuti Tata Tulis Tanda Baca (3 kali/86
poin), dan Bentuk Kata (1 kali/9 poin).
Tipe kesalahan tindak berbahasa yang
terbagus adalah tipe Efektivitas Berbahasa
(0 poin), lalu diikuti tipe kesalahan Bentuk
Kata (1 kali/9 poin). Kebagusannya
ditandai oleh frekuensi kesalahan
berbahasa yang cukup rendah.
Rubrik yang paling banyak melakukan
kesalahan tindak berbahasa adalah Olah
Raga (5 kali/102 poin), lalu diikuti
Lingkungan (4 kali/88 poin), dan Ekonomi
(3 ka-li/56 poin). Rubrik Ekonomi paling
2. Berdasarkan data kondisi pada Tabel 7,
maka kesalahan berbahasa koran dapat
dimaknai
sebagai
berikut. Jenis koran dan
rubrik yang melakukan
Tabel 11: Daftar Urutan Koran Berdasaran Jumlah Kesalahan
banyak
kesalahan
Bahasa Indonesia Pada Setiap Rubrik
tindak
berbahasa
Jenis Koran,
Jenis Kesalahan
dalam
kurun
tiga hari
Total
No Terbitan 22-24
itu
dapat
diurutkan
Kesalahan
OR Eko Lingk/Iptek
Oktober 2015
seperti pada Tabel 11.
1.
Radar Cirebon
34
59
46
139
2.
Kabar Cirebon
48
29
59
136
3.
Rakyat Cirebon
44
30
31
105
4.
Fajar Cirebon
31
26
19
76
Jumlah Kesalahan
per Rubrik
157
144
155
456
Koran Rakyat Cirebon
melakukan kesalahan
berbahasa
paling
banyak/tinggi (139
poin), diikuti Koran
Fajar Cirebon (136
poin), Koran Kabar
Cirebon (105 poin), dan
koran Radar Cirebon
Tabel 12: Data Urutan Koran Dan Tipe Kesalahan Berbahasa Terbanyak
Jenis Kesalahan
No
Jenis Koran,
Terbitan 22-24
Oktober 2015
1.
Radar Cirebon
40
74
14
11
139
2.
Kabar Cirebon
71
46
10
9
136
3.
Rakyat Cirebon
56
26
13
10
105
4.
Fajar Cirebon
38
8
23
7
76
205
154
60
37
456
Total Kesalahan
Tata Tulis Tata Tulis Bentuk
Serapan
Ejaan
Kata
Efektivitas
Berbahasa
Jumlah
Aneka
Kesalahan
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
25
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
3.
(76 poin). Dan rubrik Olah Raga juga
melakukan kesalahan tindak berbahasa
paling tinggi (157 poin), diikuti Rubrik
Lingkungan/Iptek (155 poin), dan Rubrik
Ekonomi (144 poin).
Berdasarkan data kondisi pada Tabel 7,
kesalahan berbahasa koran dapat dimaknai
sebagai berikut. Jenis koran dan tipe
kesalahan tindak berbahasa tertinggi dapat
diurutkan seperti pada Tabel 12.
2.
Koran Rakyat Cirebon melakukan
kesalahan tindak berbahasa paling banyak (139
poin), lalu diikuti Koran Fajar Cirebon (136 poin),
Kabar Cirebon (105 poin), dan Radar Cirebon
(76 poin). Koran Radar Cirebon berkesalahan
berbahasa paling sedikit (76 poin), dan dengan
demikian menjadi koran terbagus.
Tipe kesalahan berbahasa tertinggi terjadi
pada tipe kesalahan Tata Tulis Unsur Serapan
(205 poin), lalu diikuti Tata Tulis Ejaan (154
poin), Bentuk Kata (60 poin), dan Efektivitas
Berbahasa (37 poin). Tipe kesalahan Efektivitas
Berbahasa terjadi paling sedikit/rendah (37
poin). Dengan demikian tipe ini menjadi tipe
terbagus dalam tiga hari terbitan koran itu.
Saran
1.
Simpulan
Kesimpulan
1.
26
Penggunaan bahasa Indonesia pada koran
daerah di Cirebon.
Koran daerah di Cirebon masih melakukan
banyak kesalahan berbahasa Indonesia
dalam penerbitan korannya. Kondisi
kesalahan berbahasa Indonesia itu nyata
dari data yang diperoleh. Koran Rakyat
Cirebon melakukan kesalahan tindak
berbahasa paling banyak (139 poin), lalu
diikuti Koran Fajar Cirebon (136 poin),
Kabar Cirebon (105 poin), dan Radar
Cirebon (76 poin). Koran Radar Cirebon
berkesalahan berbahasa paling sedikit (76
poin), dan dengan demikian menjadi koran
terbagus.
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Jenis dan variasi kesalahan berbahasa
Indonesia
Kesalahan berbahasa Indonesia yang
terjadi pada koran daerah di Cirebon
dikelompokkan berdasarkan jenis rubrik
dan tipe kesalahan berbahasa. Rubrik Olah
Raga melakukan kesalahan tindak
berbahasa paling tinggi (157 poin), diikuti
Rubrik Lingkungan/Iptek (155 poin), dan
Rubrik Ekonomi (144 poin). Sedangkan tipe
kesalahan berbahasa tertinggi terjadi pada
tipe kesalahan Tata Tulis Unsur Serapan
(205 poin), lalu diikuti Tata Tulis Ejaan (154
poin), Bentuk Kata (60 poin), dan Efektivitas
Berbahasa (37 poin). Tipe kesalahan
Efektivitas Berbahasa terjadi paling sedikit/
rendah (37 poin). Dengan demikian tipe ini
menjadi tipe terbagus dalam tiga hari
terbitan koran itu.
2.
Penggunaan bahasa Indonesia pada koran
daerah
Koran Daerah sebagai media masa juga
berperan sebagai pembina bahasa warga
masyarakatnya. Untuk itu, koran daerah
melalui anggota redaksinya perlu lebih
sungguh-sungguh menerapkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar
dalam setiap penerbitan korannya, agar
informasi pembangunan dan hasilnya yang
dipublikasikan korannya dapat diterima
warga masyarakat secara efektif, komunikatif, benar, dan utuh.
Jenis dan variasi kesalahan berbahasa
koran daerah
Penelitian ini baru menyorot tiga rubrik dan
empat tipe kesalahan berbahasa Indonesia
koran daerah di Cirebon. Ternyata rubrikrubrik itu memiliki banyak kesalahan
berbahasa, bahkan frekuensi kesalahan
pada rubrik dan tipe kesalahan berbahasanya cukup tinggi. Untuk itu, kru anggota
redaksi, khususnya editor, perlu memperkecil tingkat dan frekuensi kesalahan pada
setiap rubrik dan mengusahakan tidak
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
terdapat kesalahan dalam bentuk tipe
apapun. Dengan begitu, Koran Daerah
Cirebon dapat tampil lebih sempurna,
komunikatif, dan lebih menunjukkan
perannya sebagai Pembina Bahasa
Indonesia.
Daftar Pustaka
Anwar, Rosihan. (1991).Bahasa jurnalistik dan
komposisi. Jakarta: Pradnya Paramita
Assegaff, Djafar H. (1985). Jurnalistik masa kini.
Pengantar ke praktek kewartawanan.
Jakarta: Ghalia Indonesia
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
2011. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang
Bendera, Bahasa, Lambang Negara, serta
Lagu Kebangsaan. Jakarta: Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan
Echols, Johan M.dkk. (2010). Kamus InggrisIndonesia. Jakarta: Gramedia
Kosasih, Engkos. (2008). Mandiri bahasa Indonesia
untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:
Erlangga
Maryati. 2008. Bahasa dan sastra Indonesia 3 untuk
SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Pusat
Moeliono, Anton M. (1999). Kamus besar bahasa
Indonesia edisi kedua cetakan kesepuluh.
Jakarta: Balai Pustaka
Nurhadi. 2007. Bahasa Indonesia jilid 3 untuk SMP
kelas IX. Jakarta: Erlangga
Sadikin, Asep Ganda. (2014). Bahasa Indonesia 2
untuk kelas VIII SMP. Bandung:
Grafindo Media Pratama
Sekretariat Jenderal MPR RI. 2006. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia.
Jakarta: MPR RI
Suhaemi.2009. Bahasa jurnalistik. Jakarta:
Lembaga Penelitian Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Koran Radar Cirebon tanggal 22, 23, 24 Oktober
2015 Rubrik Olah Raga, Ekonomi, dan
Lingkungan/Iptek
Koran Kabar Cirebon tanggal 22, 23, 24 Oktober
2015 Rubrik Olah Raga, Ekonomi, dan
Lingkungan/Iptek
Koran Rakyat Cirebon tanggal 22, 23, 24 Oktober
2015 Rubrik Olah Raga, Ekonomi, dan
Lingkungan/Iptek
Koran Fajar Cirebon tanggal 22, 23, 24 Oktober
2015 Rubrik Olah Raga, Ekonomi, dan
Lingkungan/Iptek
Soedarso. (2005). Sistem membaca cepat dan efektif.
Jakarta: Gramedia
http://nastitioktafifahw.blogspot.co.id/2015/
03/macam-macam-menyunting.html
www.kelasindonesia.c om/2015/05/
peengertian-cara-menyunting-besertacontoh-suntingan.html?m=1
www.lucanosugiarso.blogspot.co.id/2014/02/
pengertian-dana-tujuanpenyuntingan.html?m=1
https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:
Panduan_menulis_artikel_yang_lebih_baik
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
27
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
Penelitian
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
Hilda Karli
Email: [email protected]
Universitas Terbuka UPBJJ Bandung
Abstrak
ajian ini merupakan kajian kebijakan, yang menggunakan dua SD di Bandung sebagai
subjek penelitian. Penelitian kualitatif studi kasus ini mengumpulkan data menggunakan
teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kajian ini menggunakan metode Balance
Score Card (BSC) yaitu sebuah alat untuk mengimplementasikan manajemen pendidikan
dengan menjabarkan visi dan misi sekolah pada empat perspektif yaitu anggaran keuangan, guru,
kurikulum dan siswa untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar secara terukur. Hasil kajian
dari empat perspektif ini menunjukkan adanya perbedaan implementasi dan pemecahan dari setiap
indikator perspektifnya untuk ke dua SD tersebut. Mutu pendidikan akan meningkatkan jika ada
perbaikan secara terus menerus dan keseimbangan dari setiap perspektif.
K
Kata-kata kunci: mutu pendidikan, Metode Balance Score Card (BSC), kepuasan pelanggan,
kemampuan guru
Improving School Quality by Balance Score Card Method
Abstract
This study is a policy assessment using two Elementary Schools in Bandung as research subject. As a qualitative
case study, the data were collected by using interview, observation and document study techniques. This study
employed Balance Score Card (BSC) as a tool to implement educational management by outlining the vision
and mission of the school in four perspectives: financial budget, teacher, curriculum and students to improve
the quality of basic education. Results from four perspectives show differences in implementation and breakdown
of each indicator perspective for the two elementary school. The quality of education will improve if there is
continuous improvement and balance of each perspective.
Keywords: educationalquality, Balance Score Card method, custumer satisfaction, teacher skills
28
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
Pendahuluan
Hasil studi Human Development Index (HDI)
menunjukkan mutu sumber daya manusia
Indonesia rendah yang dibuktikan dengan
angka partisipasi pendidikan masyarakat.
Tahun 2014 Indonesia menempati urutan ke-110
dari 188 negara di dunia. Indonesia berada jauh
dari posisi negara di Asia seperti Singapura yang
menempati urutan ke-11, Malaysia menempati
urutan ke-62, Thailand menempati urutan ke93 dan Cina pada urutan ke-90 (Human
Development Index, 2014). Berdasarkan hasil
pengukuran dan penilaian pendidikan dasar
yang dilakukan oleh PISA (Programme for
International Student Assessment) untuk IPA,
Matematika dan membaca pada tahun 2015,
Indonesia menempati urutan ke-69 dari 76
negara. Negara tetangga seperti Singapura
menempati urutan ke-1, Hongkong menempati
urutan ke-2, Jepang menempati urutan ke-4 dan
Vietnam menempati urutan ke-12. Hal ini
menunjukkan, kemampuan untuk memecahkan
masalah dalam soal matematika dan IPA masih
kurang karena kemampuan membaca yang
kurang baik.
Fenomena di atas menunjukkan, sumber
daya manusia Indonesia belum siap
menghadapi tantangan globalisasi. Salah satu
masalah nasional yang dihadapi adalah mutu
sumber daya manusia yang masih rendah.
Rendahnya mutu sumber daya manusia
Indonesia terkait lembaga pendidikan yang
menghasilkan sumber daya manusia. Sumber
daya manusia akan bermutu jika didukung
dengan pendidikan yang bermutu sebagaimana
diharapkan dalam UU No 20 Tahun 2003 bahwa
pendidikan nasional akan meningkatkan mutu
manusia Indonesia menjadi manusia seutuhnya
dan berdaya saing baik di tingkat domestik
maupun internasional. Lebih lanjut,
peningkatan mutu manusia melalui pendidikan
dicantum kan pada misi rencana strategis
Indonesia tahun 2010-2014 yaitu membentuk
insan cerdas dan kompetitif, cerdas spirituil,
emosional, sosial, intelektual, dan kinestetik.
Sedangkan salah satu tujuan rencana kerja
pembangunan pendidikan nasional jangka
panjang tahun 2005-2025 adalah pemerataan
dan peningkatan mutu pendidikan dasar.
Berkaitan dengan peningkatan mutu
pendidikan, salah satu upaya yang dilakukan
sekolah ialah menciptakan lingkungan belajar
yang dapat mengembangkan pengetahuan,
sikap, dan keterampilan melalui sistim dan
proses yang direncanakan di kelas untuk
melayani kebutuhan siswa khususnya dan
masyarakat umumnya. Lawton dan Barlosky
(1994:12) menyebutkan, kebutuhan pelanggan
(siswa dan masyarakat) dinyatakan dalam
kebijakan pendidikan yang dioperasionalkan
melalui kurikulum dan selanjutnya diterapkan
dalam proses belajar mengajar di kelas. Pada
kurun waktu tertentu hasil pendidkan
dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana
tujuan kurikulum tercapai. Hasil evaluasi itu
dijadakan bahan refleksi untuk melakukan
perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan
secara terus menerus.
Pengelolaan pendidikan dapat terlaksana
dengan baik jika ada alat ukur yang baik.
Balanced Score Card (BSC) merupakan sistem
manajemen strategis yang menerjemahkan visi
dan strategi sekolah ke dalam tujuan dan
ukuran operasional dalam empat perspektif: (1)
keuangan (anggaran), (2) pelanggan (siswa dan
orang tua), (3) proses bisnis internal (kurikulum),
serta (4) pembelajaran dan pertumbuhan (guru)
secara terpadu untuk meningkatkan mutu
pendidikan secara terukur.
Dalam penelitian Nomura Research Institute
(NRI), Papers No. 45, 1 April 2002 dikemukakan,
Jepang menerapkan pola kerja BSC terhadap
lebih dari 20 perusahaan (Morisawa, 2002: 3).
NRI menyimpulkan, perusahaan yang
menerapkan pengukuran kinerja dengan BSC
memiliki keunggulan: (1) BSC dapat digunakan
untuk melakukan perbaikan keseimbangan di
antara sasaran jangka pendek, jangka
menengah, dan jangka panjang; (2) dapat
menciptakan pemahaman strategi perubahan
dengan menyusun atau menetapkan indikator
nonfinansial kuantitatif di samping indikator
finansial; (3) mengurangi keragu-raguan atau
kekaburan dengan tetap menjaga indikator
nonfinansial kuantitatif; (4) mempromosikan
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
29
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
proses pembelajaran organisasi melalui suatu
pengulangan siklus hipotesis verifikasi, dan (5)
memperbaiki platform strategi komunikasi
secara umum dalam organisasi yang mencerminkan keterkaitan antara pimpinan dan bawahan.
Meskipun konsep BSC telah telah banyak
diadopsi dan digunakan dalam sektor bisnis,
dan sektor pendidikan ternyata belum
menggunakan BSC, terlihat dari langkanya
penelitian diterbitkan pada topik ini. Sebuah
tinjauan literatur menghasilkan beberapa
publikasi misalnya, Cullen, Joyce, Hassall, dan
Broadbent (2003) yang mengusulkan BSC
digunakan dalam institusi pendidikan sebagai
penguatan pentingnya mengelola, bukan hanya
pemantauan kinerja. Sutherland (2000)
melaporkan, Sekolah Pendidikan Rossier di
University of Southern California mengadopsi
pendekatan BSC untuk menilai program
akademis dan proses perencanaan. Machasin
(2012) melakukan penelitian di 3 (tiga)
Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTAI)
khususnya Sekolah Tinggi Agama Islam
Nusantara (STAIN) di Jawa Tengah. Penilitian
itu bertujuan menghasilkan model peningkatan
mutu dan tata kelola PT. AI yang profesional,
transparan dan akuntabel berdasarkan 5 (lima)
perspektif antara lain: perspektif pemangku
kepentingan (stakeholders), manajemen
administrasi dan keuangan, proses pendidikan
dan pengembangan, etos kerja dan budaya,dan
good governance. Ke-5 perspektif sebagai strategi
nilai tambah organisasi PTAI secara
komprehensif dan holistik untuk meningkatkan
mutu pendidikan PTAI berdasarkan prinsip
tatakola kelembagaan yang bersih. Menurut
Machasin (2011:483 ), terdapat perbedaan
implementasi dan pemecahan masalah dari
perspektif keuangan, kurikulum, dosen, dan
mahasiswa dari ke 3 PTAI . Selain itu, secara
rinci indikator apa saja dari setiap perspektif
tersebut yang harus dikembangkan atau yang
sudah tercapai pada 3 PTAI tersebut dapat
terlihat dan terukur kinerjanya sehingga
memudahkan merefleksikan dalam rangka
perbaikan mutu pendidikan.
Latar belakang seperti yang
telah
diuraikan membuat penulis tertarik melakukan
penelitian mengenai penggunaan BSC untuk
30
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
meningkatkan mutu pendidikan dasar secara
terpadu dan terukur di kota Bandung. Fokus
masalah penelitian ialah (1) bagaimana
mengimplementasikan BSC di SD Kota Bandung
dan (2) strategi apa yang digunakan untuk
meningkatkan mutu SD berdasarkan metode
BSC. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan pengetahuan tentang peningkatan
mutu pendidikan khususnya di SD dengan
menerapkan BSC sehingga dapat dijadikan
salah satu acuan pengembangannya di sekolah
lain.
Metode Penelitian
Salah satu cara meningkatkan mutu pendidikan
dasar secara terpadu dan terukur dipandang
dari perspektif keuangan, kurikulum, guru, dan
siswa diujicobakan di 2 (dua) SD di kota
Bandung yang berakreditasi A dan berada pada
gugus yang sama pada tanggal 11 Januari
hingga 6 Pebruari 2016. Penelitian kualitatif
studi kasus ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumen pada orang
tua, siswa, guru kelas 1-6 SD, kepala sekolah serta
stakeholder (yayasan dan pengawas dari dinas
kota pendidikan).
Visi dan strategi diterjemahkan ke dalam 4
perspektif yang kemudian oleh setiap perspektif
visi dan strategi tersebut dinyatakan dalam
bentuk tujuan yang ingin dicapai oleh Sekolah
seperti, ukuran tujuan, target yang diharapkan
pada masa yang akan datang serta inisiatif atau
program yang harus dilaksanakan untuk
memenuhi tujuan strategis sekolah. Proses
menerjemahkan visi dan strategi sekolah yang
dikembangkan berdasarkan 4 (empat) perspektif:
perspektif keuangan, kurikulum, guru, dan
siswa.
Perspektif keuangan mengidentifikasikan
pelanggan dan segmen pasar tempat organisasi
akan bersaing. Tujuan yang bisa ditetapkan
dalam perspektif ini adalah pemuasan
kebutuhan pelanggan/stakeholders. Ukuran
perspektif ini ialah peningkatan jumlah siswa
yang diterima, kinerja keuangan yang
transparan, serta peningkatan sarana prasana
untuk proses pembelajaran.
Perspektif guru bertujuan meningkatkan
kemampuan guru, kapabilitas sistem informasi,
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
dan keselarasan serta motivasi guru. Ukuran
yang digunakan dalam perspektif ini antara lain:
prosentase guru yang mengajar sesuai dengan
keahlian atau latar belakang pendidikannya,
rasio komposisi guru per siswa, dan jumlah
guru yang mengikuti studi lanjut.
Perspektif kurikulum adalah komponen
utama dalam proses kegiatan belajar mengajar
di sekolah dan merupakan jembatan perspektif
keuangan, guru dan siswa. Ukuran yang dipakai
ialah relevansi kurikulum dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat, peningkatan
penambahan koleksi perpustakaan, serta
pelaksanaan kegiatan mengajar sesuai tuntutan
zaman.
Perspektif siswa (pelanggan utama) adalah
penerima pelayanan dari 3 (tiga) perspektif yaitu
guru, kurikulum dan keuangan. Ukuran yang
bisa digunakan antara lain rata-rata indeks
kepuasan siswa terhadap pelayanan akademik,
rata-rata indeks kepuasan siswa terhadap
pelayanan non akademik, rata-rata indeks
kepuasan alumni dan/atau masyarakat
terhadap pelayanan, prosentase daya serap
kurikulum yang sesuai dengan perkembangan
kebutuhan, prosentase kelulusan yang diterima
di sekolah lanjutan.
Dari penjelasan di atas kerangka berpikir
penelitian dituangkan dalam Gambar 1.
Hasil Penelitian
Implementasi BSC di sekolah swasta A dan
sekolah negeri B yang berakreditasi A dan berada
pada gugus yang sama di kota Bandung
disajikan dalam 4 (empat) tabel . Data perspektif
anggaran keuangan dapat dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1 menunjukkan, kedua sekolah
tersebut belum transparan dalam anggaran
keuangan dan belum menggunakan TIK dalam
menjalankan anggaran keuangan. Anggaran
keuangan masih didominasi oleh pihak
stakeholder dan kepala sekolah. Sarana dan
prasarana untuk menunjang kegiatan belajar
mengajar siswa sudah tersedia namun ada
beberapa sarana yang masih belum ada.
Hasil kajian tersebut menunjukkan beberapa
kebijakan perlu direvisi dan dikembangkan agar
pelayanan terhadap customer (siswa dan orang
tua) dapat terpenuhi.
Data perspektif guru ditampilkan dalam
Tabel 2, kedua sekolah sudah memiliki guru
tetap lulusan S1 PGSD untuk guru kelas 1-6 SD
dan menggunakan sistem mata pelajaran untuk
pelajaran tertentu.Pengembangan profesional
guru belum ada dan masih fokus pada tugas
rutin seperti menyusun Silabus/RPP, mengajar
<
Visi dan Misi
Kondisi SD yg diharapkan
<
Kondisi SD
<
<
Lingk. Strategik
<
Siswa & Ortu
<
<
Kurikulum
<
<
Guru
<
<
Anggaran
<
<
Formula Strategi Balance Score Card
Peningkatan Mutu
Gambar 1: Kerangka Berpikir
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
31
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
Tabel 1: BSC dalam Perspektif Anggaran Keuangan SD di Bandung
SD di Bandung
Perspektif Anggaran Keuangan
SD
Swasta A
SD
Negeri B
Sarana dan alat media pembelajaran
ada
ada
Sarana dan buku perpustakaan
ada
ada
Sarana dan alat olahraga
ada
ada
Sarana dan alat kesenian
ada
ada
Sarana dan alat ekstrakurikuler
ada
tidak
Sarana dan alat bahasa
ada
tidak
Sarana dan alat teknologi informatika
ada
tidak
Sarana dan alat pramuka
ada
ada
Sarana dan alat keagamaan
ada
ada
tidak
tidak
Sarana dan alat kesehatan (UKS)
ada
ada
Pendapatan dari siswa (bulanan iuran)
ya
tidak
Pendapatan di luar siswa
ya
ya
Pendapatan dari bantuan Yayasan/Instansi
ya
ya
Pendapatan dari bantuan Pemda/Pemkot
tidak
ya
Anggaran untuk pengembangan SDM
ada
tidak
Anggaran untuk beasiswa berprestasi
ada
tidak
Anggaran untuk beasiswa miskin
ada
ada
Anggaran untuk studi banding
ada
tidak
Anggaran untuk field trip
ada
tidak
tidak
tidak
Kontrol anggaran keuangan dari stakeholder
ya
tidak
Pemeriksaan (audit) keuangan dari kepala sekolah
ya
tidak
Pemeriksaan (audit) keuangan dari stakeholder
ya
tidak
Pengembangan SDM bagian adm. keuangan
tidak
tidak
Arus keuangan menggunakan TIKon line
tidak
tidak
Sarana dan alat bimbingan konseling
Transparasi anggaran keuangan untuk semua staf
32
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
Tabel 2: BSC dalam Perspektif Guru SD di Bandung
SD
Swasta A
SD
Negeri B
ya
ya
tidak
tidak
ya
ya
Pendidikan Guru S1 Non PGSD> dari 50%
tidak
tidak
Pendidikan Guru S2 PGSD> dari 20%
tidak
tidak
Pendidikan Guru S2 Non PGSD> dari 20%
tidak
tidak
Melanjutkan ke Jenjang S2 PGSD > dari 20%
tidak
tidak
Melanjutkan ke Jenjang S2 Non PGSD >dari 20%
tidak
tidak
Rasio Guru : Siswa di kelas = 1: 35
ya
tidak
Guru sesuai dengan keahliannya > dari 50%
ya
ya
sebahagian
tidak
Monitoring oleh supervisi / koord. Kurikulum tiap minggu
tidak
tidak
Monitoring oleh kepala sekolah setiap 2 minggu
tidak
tidak
Monitoring oleh pengawas ( dinas kota) setiap 2 minggu
tidak
tidak
Kepuasan guru terhadap prestasinya >dari 50%
tidak
tidak
Pembinaan guru oleh bagian kurikulum
ya
tidak
Pembinaan guru oleh pengawas dinas kota
ya
ya
Pembinaan guru dari luar sekolah/dinas
ya
ya
Hubungan guru dengan siswa
ya
ya
Hubungan guru dengan orang tua siswa
ya
ya
Hubungan guru dengan kepala sekolah
ya
ya
Hubungan guru dengan yayasan/dinas
tidak
ya
Hubungan guru dengan masyarakat sekitar
tidak
ya
Hubungan guru dengan instasi terkait
tidak
tidak
Guru membahas materi per minggu (rapat juru/lesson studi)
ya
ya
Guru memberi masukan/saran keuangan kepada kepala sekolah
tidak
tidak
Guru memberi masukan/saran kurikulum kepada kepala sekolah
tidak
tidak
Guru memberi masukan/saran sarana-prasarana kepada kepala sekolah
tidak
tidak
ya
ya
Perspektif Guru
Jumlah guru tetap>dari 50%
Jumlah guru tidak tetap >dari 50%
Pendidikan Guru S1 PGSD>dari 50%
Guru terampil menggunakan TIK
Guru memberi masukan/saran kesiswaan kepada kepala sekolah
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
33
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
Tabel 3: BSC dalam Perspektif Kurikulum SD di Bandung
SD
Swasta A
SD
Negeri B
Varian buku di perpustakaan > dari 200 judul buku
ya
tidak
Pengunjung ke perpustakaan > dari 20% jumlah anak per hari
ya
ya
Jumlah buku memenuhi jumlah siswa di sekolah
ya
tidak
Kebutuhan buku pelajaran yang dipergunakan saat belajar di kelas
memenuhi
ya
tidak
tidak
tidak
ya
tidak
tidak
tidak
Menggunakan metode belajar variasi
ya
tidak
Ceramah dan latihan soal masih dominan
ya
ya
Penilaian kelas digunakan sebagai asesmen
ya
ya
Kurikulum sesuai perkembangan siswa
tidak
tidak
Jumlah beban belajar sesuai perkembangan siswa
ya
ya
Menyusun Silabus dan RPP dibuat sesuai kurikulum
ya
ya
Guru menerapkan manajemen kelas
tidak
tidak
Penilaian kelas dengan bantuan TIK yang sudah diprogram
tidak
tidak
Kepala sekolah menerapkan manajemen sekolah
tidak
tidak
Memberdayakan masyarakat sekitar untuk mutu sekolah
tidak
tidak
Ekstra kurikuler sesuai kebutuhan masyarakat
ya
ya
Belajar menggunakan lingkungan sekitar
ya
ya
Belajar secara kelompok
ya
ya
Belajar di luar kelas
tidak
tidak
Guru mengujicobakan dulu praktikum sebelum dilakukan di kelas
tidak
tidak
Aturan kedispilinan diterapkan siswa > dari 90%
ya
tidak
Kedispilinan didukung dari pihak orang tua
ya
tidak
Kedispilinan didukung dari pihak staf dan kepala sekolah
ya
tidak
Perspektif Kurikulum
TIK dipergunakan saat belajar di kelas
Alat peraga dipergunakan saat belajar di kelas
Mengundang nara sumber ke kelas
34
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
dan memeriksa hasil ulangan anak yang
dilakukan secara rutin tanpa ada evaluasi/
refleksi untuk perbaikan. Dengan demikian,
perlu menciptakan kondisi yang merangsang
guru untuk berkompetisi secara sehat untuk
mengembang-kan diri secara profesional.
Data perspektif kurikulum pada Tabel 3
menunjukkan, kedua sekolah tersebut menekankan produk kurikulum yaitu jumlah lulusan
dengan nilai kognitif tinggi. Metode pembelajaran yang digunakan di kelas masih dominan
pada ceramah dan latihan soal. Dalam hal ini
Tabel 4: BSC dalam Perspektif Siswa dan Orang Tua SD di Bandung
SD
Swasta A
SD
Negeri B
ya
ya
tidak
ya
ya
tidak
tidak
ya
ya
ya
Tingkat kepuasan siswa terhadap layanan non akademik>dari 50%
tidak
tidak
Tingkat kepuasan orang tua terhadap layanan akademik>dari 50%
ya
tidak
Tingkat kepuasan orang tua terhadap layanan non akademik>dari 50%
ya
ya
tidak
tidak
Jumlah siswa yang lulus rata-rata> dari 50%
ya
ya
Jumlah siswa yang tidak lulus < dari 10%
ya
ya
Jumlah siswa yang melanjutkan ke SMP>dari 80%
ya
ya
Jumlah siswa yang tidak mampu (bantuan)> dari 10%
tidak
ya
Jumlah siswa yang berprestasi (wakil SD)> dari 30%
tidak
tidak
Komunikasi guru dan siswa di kelas
ya
ya
Komunikasi guru dan orang tua
ya
ya
Komunikasi siswa dengan siswa
tidak
tidak
Siswa memberi masukan/saran kepada guru/kepala sekolah
tidak
tidak
Orang tua memberi masukan/saran kepada guru/kepala sekolah
tidak
ya
Jumlah siswa yang ikut lomba akademik > dari 20%
tidak
tidak
Jumlah siswa yang ikut lomba non akademik > dari 20%
tidak
tidak
Aturan kedispilinan diterapkan siswa > dari 90%
ya
tidak
Kedispilinan didukung dari pihak orang tua
ya
tidak
Kedispilinan didukung dari pihak staf dan kepala sekolah
ya
tidak
Perspektif Siswa dan Orang tua
Jumlah siswa mendaftar> dari 250 anak
Jumlah siswa yang diterima>dari 100 anak
Jumlah siswa di kelas< dari 35 anak
Rasio siswa laki-laki : perempuan = 2:1
Tingkat kepuasan siswa terhadap layanan akademik> dari 50%
Jumlah siswa yang lulus di atas rata-rata>dari 50%
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
35
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
siswa belum diajak untuk berlatih berpikir kritis,
kreatif, dan pemecahan masalah. Perencanaan
dalam manajemen kelas seperti menyusun
persiapan untuk mengajar hanya sekedar
administrasi saja, malah terkadang setelah
pelaksanaan baru disusun.
Data perspektif siswa dan orang tua pada
Tabel 4 menunjukkan, kedua sekolah tersebut
diminati oleh banyak orang tua siswa untuk
menyekolahkan anaknya. Siswa dan orang tua
merasa puas ditinjau dari kelulusan hampir
100% dengan nilai di atas rata-rata serta
melanjutkan ke SMP favorit. Pihak sekolah perlu
meningkatkan pelayanan agar tetap bertahan
menjadi favorit. Upaya ini berkaitan dengan
peningkatan anggaran keuangan yang menjadi
roda dalam menjalankan organisasi.
Pembahasan
Suatu organisasi dikatakan baik dan maju
apabila memiliki kinerja yang terukur untuk
mencapai tujuan (Dally Dadang, 2010:31). Untuk
mengetahui pencapaian kinerja, perlu dilakukan
penilaian kinerja melalui suatu pengukuran
kinerja secara periodik. Proses pelaksanaan
tersebut merupakan bagian kegiatan manajemen
yang terdiri atas merencanakan, mengorganisasi,
melaksanakan, dan monitoring indikator kinerja
secara kualitatif dan kuantitif, sehingga pencapaian tujuan organisasi tergambarkan secara jelas.
Manajemen pendidikan sejalan dengan
tujuan dari Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas
20 Tahun 2003) bahwa pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar
siswa secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa,
dan negara. Pendidikan dilakukan dalam
kondisi sadar antara guru dan siswa dalam
sebuah perencanaan yang matang sebelum
kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dan
mengevaluasi kegiatan belajar mengajar tersebut
baik dari segi guru maupun siswa. Artinya,
pendidikan tidak terlepas dari manajemen
36
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
pendidikan yang baik agar menghasilkan mutu
pendidikan yang dapat mengikuti perubahan
zaman dengan cara memberdayakan sumber
pendidikan secara optimal melalui proses
pembelajaran yang baik dan kondusif (Bell dan
Rhodes, 1996:22-23).
Untuk mencapai sekolah bermutu secara
efektif dan efiesien diperlukan sarana (tools) yaitu
men, money, materials, machines, methods, dan
markets. Salah satunya yang akan dibahas
adalah metode BSC yang tepat untuk membantu
sekolah mengukur kinerja dan menerapkan
strategi untuk mencapai visi dan misinya. Awal
mulanya BSC diterapkan dalam dunia bisnis di
USA sebagai implementasi strategi bisnis yang
mendapatkan uang/laba sebanyak-banyaknya
(Kaplan & Norton, 2006:23). Namun, seiring
waktu terjadi perubahan pada metode tersebut.
BSC tidak hanya menekankan pada aspek
keuangan kuantitatif, tetapi juga aspek kualitatif
dan nonkeuangan. Hal tersebut sejalan dengan
sektor publik yang menempatkan laba bukan
sebagai ukuran kinerja utama, namun
pelayanan yang cenderung bersifat kualitatif dan
nonkeuangan. Oleh karena itu, metode BSC
dapat diterapkan dalam dunia pendidikan yang
notabene bentuk organisasi sosial nonkeuangan
yang mengutamakan pelayanan maksimal.
Cullen, Joyce, Hassal, dan Broadbent (2003: 45)
mengusulkan bahwa metode BSC digunakan di
lembaga pendidikan untuk memperbaiki
manajemen, bukan sekedar memantau kinerja.
Sanusi (2014:36-38) berpendapat BSC
merupakan sistem manajemen strategis yang
menerjemahkan visi dan strategi suatu
organisasi ke dalam tujuan dan pengukuran
kinerja yang berfokus pada 4 (empat) perspektif
yaitu perspektif keuangan (dana dan srana
prasarana), pelanggan (siswa dan orang tua),
proses bisnis internal (kegiatan kurikuler), serta
pembelajaran dan pertumbuhan (guru dan staf).
Hasil pengukuran dan penilaian kinerja tersebut
dapat dijadikan materi pemetaan dalam
membuat perencanaan strategik dan
pengambilan keputusan pimpinan serta
pengelola sekolah untuk mengembangkan
sekolah tersebut menjadi lebih baik, unggul, dan
mampu bersaing.
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
Perspektif anggaran keuangan menjelaskan
apa yang diharapkan oleh penyedia sumber
daya terhadap kinerja keuangan sekolah. Seperti
apa yang dikemukakan oleh Kaplan & Norton
(2006:21), “ What are our share holder expectations
for financial performance?” Apa harapan pemegang saham untuk kinerja keuangan? Komponen
ini memfokuskan bagaimana sekolah menerjemahkan hasil operasional ke dalam kesejahteraan dalam bidang keuangan. Meskipun
sekolah sektor publik tidak mengejar laba,
sekolah perlu memikirkan bagaimana
meningkatkan pendapatan dan mengurangi
biaya secara berkelanjutan. Perspektif keuangan
dalam organisasi sektor publik terkait dengan
upaya untuk meningkatkan kinerja keuangan
dengan cara meningkatkan pendapatan dan
sekaligus mengurangi biaya. Upaya untuk
meningkatkan pendapatan dan mengurangi
biaya dimaksudkan untuk meningkatkan
kemandirian anggaran keuangan yang dapat
digunakan untuk meningkatkan pelayanan.
Kaplan menjelaskan, pada masa lalu
organisasi mengonsentrasikan diri pada
kemampuan internal dan kurang memperhatikan kebutuhan konsumen. Sekarang strategi
organisasi telah bergeser fokusnya dari internal
ke eksternal. Suatu produk akan semakin bernilai
apabila kinerjanya semakin mendekati atau
bahkan melebihi dari apa yang diharapkan dan
persepsikan konsumen. Pendidikan bermutu jika
sekolah sebagai penyelenggara pendidikan
dapat memenuhi kebutuhan dan harapan
khususnya orang tua dan siswa dan secara
umum masyarakat. Pelayanan yang maksimal
seperti sarana prasarana yang memadai, dan
pengembangan SDM, pada akhirnya akan
meningkatkan mutu pendidikan sebagai output
dari sekolah.
Hasil kajian keempat perspektif ke dua
sekolah yang diteliti menunjukkan perlunya
perubahan guna memaksimalkan proses setiap
perspektif. Setiap sekolah mengusulkan strategi
kebijakan untuk memperbaiki kondisi yang
kurang maksimal. Strategi apa yang digunakan
untuk meningkatkan mutu SD berdasarkan BSC
akan dibahas setiap perspektifnya di bawah ini.
Data penelitian Tabel 1 menunjukkan,
kedua sekolah tersebut sudah menyediakan
sarana prasarana untuk kegiatan belajar
mengajar di luar dan di dalam kelas namun
beberapa hal masih perlu diperhatikan agar
aspek sarana prasarana dapat lebih
ditingkatkan lagi oleh kedua sekolah. Untuk itu
perlu ada strategi kebijakan mengatasi kondisi
sekolah . Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5
berikut untuk strategi kebijakan prespektif
keuangan sekolah A dan B.
Tabel 5 menunjukkan, kepala sekolah dan
stakeholder kedua sekolah tersebut perlu fokus
pada pengembangan SDM (memberikan
pembekalan TIK dan paket pembelajaran yang
terkait dengan keuangan) khususnya bagian
keuangan dan menyusun sistim anggaran
keuangan secara on line (membuat program flow
chart keuangan khusus untuk sekolah) sehingga
dapat lebih transparansi untuk semua staf di
sekolah. Pengauditan dapat dengan mudah dan
cepat dilakukan.oleh berbagai pihak yang
berkepentingan (pihak yayasan, kepala sekolah,
pengawas pendidikan) Di samping itu, perlu
pemberdayaan masyarakat sekitar, termasuk
instansi yang dapat membantu penyediaan
sarana prasarana sekolah. Anggaran keuangan
yang transparan dan up to date akan membuat
regulasi sistim manajemen sekolah lebih baik
sehingga kebutuhan dan kepuasan pelanggan
(siswa dan orang tua) terpenuhi. Sekolah B
belum mengganggarkan dana untuk kegiatan
siswa dan guru maka akan dilakukan banyak
kerjasama dengan berbagai instansi yang terkait
untuk memberikan bantuan baik moril maupun
materiil guna membantu kegiatan siswa dan
guru lebih maksimal. Memberdayakan peran
masyarakat sekitar juga dilakukan untuk
memaksimalkan proses kegiatan belajar
mengajar di sekolah.
Perspektif kedua, guru perlu melakukan
perbaikan secara terus-menerus dan
menciptakan pertumbuhan secara berkelanjutan
karena target dan ukuran kesuksesan akan terus
berubah seiring dengan berjalannya waktu. Oleh
karena itu, organisasi harus memfasilitasi guru
berinovasi, berkreasi, dan belajar (Mahmudi,
2013:146). Aspek ini dimaksudkan untuk
menjawab pertanyaan “ How do we align our
intangible assets (people, systems, and culture) to
improve the critical processes?” (Kaplan & Norton,
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
37
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
2006:21). Komponen aspek ini mefokuskan pada
keberlanjutan agar menjamin dan meningkatkan
kemampuannya memuaskan para pelanggan.
Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan di
sekolah berkaitan dengan pengembangan
professional dari guru sebagai ujung tombak
pemberian layanan kepada siswa yang
merupakan pelanggan utama pendidikan.
Sekolah
berfokus
pada
perbaikan
pengembangan guru secara terus menerus
(Mohamad Mahsun, 2009:160).
Ujung tombak keberhasilan pendidikan ada
di tangan guru. Hal ini sejalan dengan sistem
Tabel 5: Kondisi dan Strategi Kebijakan Perspektif Keuangan
No
SD
1
Swasta A
2
38
Negeri B
Kondisi
Strategi Kebijakan
Sarana untuk kegiatan akademik
dan nonakademik tersedia
kecuali BK (dilakukan di ruang
guru/kelas)
Meningkatkan sarana yang belum ada
seperti ruang bimbingan konseling
siswa
Tidak menggunakan TIK secara
on line untuk sistem keuangan
dan administrasi keuangan tidak
pernah ada pengembangan untuk
keahlian
Menggunakan TIK sebagai alat bantu
untuk mempermudah sistem keuangan dan administrasi yang dilakukan
secara on line serta memberi
pendidikan kelanjutan untuk staf
administrasi
Belum transparan keuangan
untuk semua staf yang ada di
sekolah karena pihak stakeholder
sangat dominan untuk anggaran
Menyusun strategi kebijakan yang
transparan antara stakeholder, kepala
sekolah dan staf yang di sekolah
bersama-sama
Sarana untuk kegiatan akademik
dan nonakademik sudah ada,
yang belum tersedia seperti TIK,
lab bahasa, BK, dan ekskul.
Meningkatkan sarana yang belum ada
seperti ruang bimbingan konseling
siswa, TIK, lab bahasa dan ekskul
misalnya dengan kerjasama dengan
instansi lain jika tidak memungkinkan
untuk menyediakan ruangan lagi
Tidak menggunakan TIK secara
on line untuk sistem keuangan
dan administrasi keuangan tidak
pernah ada pengembangan untuk
keahlian
Menggunakan TIK sebagai alat bantu
untuk mempermudah sistem keuangan dan administrasi yang dilakukan
secara on line serta memberi
pendidikan kelanjutan untuk staf
administrasi
Belum menganggarkan untuk
kegiatan siswa dan guru baik
akademik dan nonakademik
tetapi kerjasama dengan instansi
Melakukan kerjasama lebih banyak
dengan instansi untuk kegiatan siswa
dan guru
Belum transparan keuangan
untuk semua staf di sekolah
karena pihak kepala sekolah
sangat dominan untuk anggaran
Menyusun strategi kebijakan yang
transparan antara stakeholder, kepala
sekolah dan staf di sekolah bersamasama
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
among Ki Hajar Dewantoro yaitu ing ngarso sing
tulodo artinya guru memberikan teladan dengan
sikap bukan dengan ceramah. Ing madya mangun
karso artinya guru membangun keinginan siswa
dan memberi kesempatan untuk mau mencoba
berbuat sendiri. Tut wuri handayani artinya guru
memberikan dorongan dan memantau agar
siswa mampu bekerja sendiri. Oleh karena itu,
guru perlu terus menerus mengembangkan
keprofesionalannya sesuai tuntutan zaman.
Dari hasil kajian Tabel 2, kondisi guru di
kedua sekolah belum maksimal baik pelayanan
maupun kompetensinya. Oleh karena itu perlu
ada strategi kebijakan baru untuk perspektif guru
di kedua sekolah tersebut, sebagaimana terlihat
pada Tabel 6.
Tabel 6 menunjukkan, di sekolah swasta A
semua kebijakan diatur oleh stakeholder
(yayasan) sehingga ada kesinambungan antara
pemasukan anggaran dengan rasio guru dan
siswa di kelas. Guru sebagai ujung tombak yang
memberi pelayanan kepada siswa dan orang
tua hanya pelaksana rutinitas dan kurang
banyak dilibatkan dalam berbagai hal seperti
penyusunan
kebijakan
kurikulum,
pengembangan profesional, atau mengenal
masyarakat sekitar sekolah. Keterbatasan
peranan guru disebabkan oleh banyaknya jam
mengajar serta tugas administrasi lainnya.
Selain itu, jam kerja guru juga penuh (fulltime)
yaitu dari 06.45 pagi sampai pukul 16.00 sore.
Sebagian besar guru sudah dapat mengoperasikan komputer guna mempermudah dan
memperlancar pekerjaan guru seperti
administrasi dan media di kelas. Monitoring
guru dalam bentuk supervisi kelas dilakukan
oleh yang membidangi kurikulum dan kepala
sekolah tanpa terjadwal. Program Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) hanya program tahunan
insidentil saja sehingga tidak berdampak pada
pengembangan profesional guru. Lesson study
belum optimal pada perbaikan guru mengajar.
Di sekolah negeri B semua kebijakan
termasuk anggaran keuangan diatur oleh kepala
sekolah sehingga rasio guru dan siswa kurang
ideal merupakan kebijakan kepala sekolah.
Tabel 6: Kondisi dan Strategi Kebijakan Perspektif Guru
No
SD
Kondisi
Strategi Kebijakan
Guru kelas adalah guru tetap yayasan
dan sudah lulus S1 PGSD (60% yang
terampil TIK)
Meningkatkan keterampilan
menggunakan TIK untuk menunjang
administrasi dan mengajar di kelas
Pengembangan untuk keahlian/
pendidikan lanjutan untuk guru
belum ada
Meningkatkan pengembangan SDM
misalnya membuka lowongan untuk
melanjutkan pendidikan S2 PGSD
Pembinaan guru dilakukan oleh
koord. kurikulum, kepala sekolah,
yayasan, dan dinas pendidikan dalam
bentuk seminar, rapat atau supervis.
Menjadwalkan pembinaan guru
sebagai program utama untuk
pengembangan profesional guru
dalam bentuk perkuliahan, kursus
singkat atau seminar
Guru tidak pernah dilibatkan dalam
menyusun kebijakan (keuangan,
kurikulum, sarpras) kecuali kesiswaan
saja oleh yayasan dan kepala sekolah
Melibatkan guru dalam menyusun
kebijakan (keuangan, kurikulum, sarpras, kesiswaan, pengembangan SDM)
sekaligus memberi masukan dari guru
Komunikasi guru dengan kepala
sekolah, orang tua,dan siswa baik
namun komunikasi dengan yayasan
dan masyakarat sekitar belum ada
Menciptakan suasana agar guru lebih
komunikatif dan lebih berkomunikasi
dengan masyarakat sekitar dengan
membuat berbagai program yang
melibatkan masyarakat sekitar
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
39
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
No
SD
Kondisi
Strategi Kebijakan
Guru jarang dimonitoring sehingga
lesson studi belum optimal
Monitoring guru terjadwalkan agar
mendapatkan hasil optimal
Guru hanya menjalankan tugas saja
secara rutin seperti menyusun
administrasi sekolah, mengajar di
kelas, dan tugas lainnya yang
diberikan oleh kepala sekolah
Menciptakan kondisi yang merangsang
guru untuk berkompetisi dalam
bidang mengajar secara profesional
sehingga ada kepuasan dari guru
dalam bentuk prestasi
Guru kelas adalah guru tetap (PNS)
dan lulus S1 PGSD (10% yang terampil
TIK)
Meningkatkan keterampilan
menggunakan TIK untuk menunjang
administrasi dan mengajar di kelas
Rasio guru dan siswa kurang ideal
sesuai dengan aturan pemerintah
Menambah ruang kelas atau
menambah guru bantu agar rasio siswa
dan guru menjadi lebih ideal
Pengembangan untuk keahlian/
pendidikan lanjutan untuk guru
belum ada
Meningkatkan pengembangan SDM
misalnya membuka lowongan untuk
melanjutkan pendidikan S2 PGSD
Pembinaan guru dilakukan oleh
Menjadwalkan pembinaan guru sebakoord. kurikulum, kepala sekolah, dan gai program utama untuk pengemdinas pendidikan dalam bentuk
bangan profesional guru dalam bentuk
seminar, rapat atau supervisi
perkuliahan, kursus singkat atau
seminar
Guru tidak pernah dilibatkan dalam
menyusun kebijakan (keuangan,
kurikulum, sarpras) kecuali kesiswaan
saja oleh kepala sekolah
Melibatkan guru dalam menyusun
kebijakan (keuangan, kurikulum, sarpras, kesiswaan, pengembangan SDM)
sekaligus memberi masukan dari guru
Guru jarang dimonitoring sehingga
lesson studi belum optimal
Monitoring guru terjadwalkan agar
mendapatkan hasil optimal
Guru hanya menjalankan tugas saja
secara rutin seperti menyusun
administrasi sekolah, mengajar di
kelas, dan tugas lainnya yang
diberikan oleh kepala sekolah
Menciptakan kondisi yang merangsang
guru untuk berkompetisi dalam
bidang mengajar secara profesional
sehingga ada kepuasan dari guru
dalam bentuk prestasi
Berbeda dengan sekolah swasta A, jam mengajar
guru lebih sedikit yakni mulai dari pukul 07.00
sampai pukul 12.00 dan guru mendapat
kesempatan komunikasi dengan masyarakat
sekitar. Hanya sedikit guru yang bisa
mengoperasikan komputer sehingga pekerjaan
administrasi masih dikerjakan manual. Sama
halnya dengan sekolah swasta A, monitoring
guru dalam bentuk supervisi tidak terjadwal
sehingga guru kurang mendapatkan manfaat
40
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
untuk memperbaikinya. Lesson study dan PTK
dikerjakan guru sekedar memenuhi administrasi
sehingga kurang optimal untuk pengembangan
diri dan guru berfungsi sebagai pelaksana
rutinitas mengajar saja. Padahal, pengembangan
guru harus dilakukan secara terus menerus dan
berkelanjutan. Dengan kata lain, guru dapat
memberikan pelayanan maksimal kepada siswa
dan orang tua jika memiliki tingkat profesional
yang tinggi sehingga menghasilkan produk
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
(mutu lulusan) yang bermutu sesuai dengan
harapan dan kebutuhan pengguna.
Perspektif ketiga, kurikulum, sebagai motor
penggerak proses internal terjadi untuk
menghasilkan produk sesuai kebutuhan dan
kepuasan siswa dan orang tua, pada akhirnya
berdampak pada peningkatan anggaran
keuangan. Perspektif ini dimaksudkan untuk
menjawab pertanyaan “ What processes must we
excelat to satisf your customers and share holders?”
(Kaplan & Norton, 2006:21). Pada perspektif ini,
organisasi pada dasarnya memiliki tujuan yang
sama, yaitu untuk membangun keunggulan
organisasi melalui perbaikan proses internal
organisasi secara berkelanjutan (Mahmudi,
2013:145). Kurikulum mencakup tujuan
pendidikan, isi pendidikan, pengalaman belajar
dan penilaian yang digunakan sebagi tolok ukur
penilaian kinerja oleh sekolah. Hal ini sejalan
dengan pendapat Miller and Seller (1985:175)
“curriculum components consist of: 1) aims and
objectives, 2) content, 3) teaching strategis/learning
experiences, 4) organization of content and teaching
strategies”.
Secara tertulis, kurikulum dapat berbentuk
suatu dokumen yang berisikan berbagai
komponen seperti pikiran tentang pendidikan,
tujuan yang akan dicapai oleh kurikulum
tersebut, konten (isi) yang dirancang dan harus
dikuasai siswa untuk menguasai tujuan, proses
yang dirancang untuk menguasai konten (isi),
metode, serta evaluasi yang dirancang untuk
mengetahui penguasaan kemampuan yang
dinyatakan dalam tujuan. Secara tidak tertulis,
kurikulum dapat juga berbentuk proses
pengalaman belajar yang dilakukan siswa dan
guru di sekolah sehingga dapat diamati secara
langsung seperti: proses berpikir, proses
penyimpanan informasi, proses pembentukan
sikap, dan proses pembentukan karakter.
Terkait dengan kurikulum di sekolah, yang
perlu difokuskan antara lain: proses inovasi,
yang diukur output sesuai dengan tuntutan
zaman dan perkembangan anak; proses
operasional, yang diukur dengan peningkatan
mutu lulusan; dan proses pelayanan, yang
diukur dengan pelayanan saat mengajar, waktu
yang dibutuhkan untuk memberikan pelayanan
kepada siswa, penanganan keluhan siswa dan
lainnya. Tabel 3 menunjukkan bahwa guru
mengajar masih cenderung teacher centered walau
sudah mulai melangkah ke paradigma student
centered. Guru tidak pernah dilibatkan dalam
penyusunan kurikulum. Strategi kebijakan untuk
perspektif kurikulum di kedua sekolah tersebut
ditampilkan pada Tabel 7.
Tabel 7 menunjukkan, sekolah swasta A
menerapkan kurikulum ‘gemuk’ dengan
harapan anak menjadi pandai dari segi kognitif
sehingga anak bisa diterima di SMP favorit.
Sekolah negeri B menggunakan kurikulum
sesuai dengan pemerintah yang menekankan
pada segi kognitif saja. Masih banyak orang tua
dan masyarakat beranggapan, sekolah favorit
itu menghasilkan jumlah dan nilai lulusan yang
tinggi. Padahal, sekolah yang bermutu menurut
UU Sisdiknas menghasilkan manusia yang
unggul dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor.
Jika ditilik lebih dalam, alasan guru dan sekolah
lebih menekankan pada segi kognitif saja ialah
ujian sekolah dan ujian nasional yang masih
dilihat dari skor nilai setiap siswa dan sekolah
dari setiap mata pelajaran. Fakta ini secara tidak
langsung membuat guru melakukan kegiatan
mengajar bersifat drill soal latihan untuk
mempersiapkan siswanya siap menghadapi
ujian tertulis. Fakta kedua, perkembangan siswa
dengan mudah dilihat dari segi kognitif
daripada kinerja dan afektif. Selain itu, teknik
penilaian kedua aspek itu lebih rumit dan butuh
waktu lama serta juga bukan sasaran utama
penilaian. Fakta ketiga, pandangan orang tua/
masyarakat yang mendambakan anaknya
meraih juara dengan skor nilai tertinggi dan
masuk ke sekolah favorit yang mengharuskan
mengikuti tes potensi akademik untuk mata
pelajaran seperti Matematika, IPA, IPS dan
Bahasa Indonesia dan melampirkan Nilai Ujian
Nasional (NUN) murni sebagai bahan
pertimbangan diterima atau tidaknya. Oleh
karena pada umumnya jumlah yang mendaftar
ke sekolah favorit banyak sekali (lebih dari batas),
persaingan skor sangat berpengaruh.
Guru sebagai manajer di dalam kelas perlu
menerapkan keterampilan mengatur pekerjaannya agar maksimal. Namun kenyataannya,
manajemen sekolah dan kelas belum maksimal
diterapkan di sekolah dan kelas oleh kedua
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
41
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
Tabel 7: Kondisi dan Strategi Kebijakan Perspektif Kurikulum
No
1
SD
Swasta
A
Kondisi
Di perpustakaan buku tersedia
mencukupi kebutuhan dan jumlah
siswa di sekolah/kelas
Meningkatkan pelayanan dengan
sistim digital
Kurikulum yang digunakan "gemuk"
kurang relevan dengan perkembangan anak SD dan masih menekankan
produk (tes tertulis saja)
Mengaplikasikan PAIKEM agar siswa
tidak merasa bosan dan stres dan
perbanyak kegiatan proses
pembelajarannya
Guru belum menerapkan manajemen
kelas (merencanakan,
mengorganisasi, melaksanakan dan
mengevaluasi) namun tugas rutin
seperti menyusun RPP, silabus,
mengajar, dan memeriksa hasil
ulangan anak dilaksanakan secara
rutin.
Memperkenalkan manajemen kelas
pada guru untuk dapat diterapkan di
kelas sehingga rutintas pekerjaan
menjadi tidak membosankan karena
termotivasi dengan kegiatan
manajemen kelas yang kreatif. Jadi
materi praktikum akan diujicobakan
dulu oleh guru
Keterampilan guru mengajar di kelas
belum maksimal seperti TIK dan
mengundang nara sumber belum
digunakan sebagai media
pembelajaran (metode variasi seperti
study field, bercerita, bermain peran,
bermain, praktikum, diskusi, kerja
kelompok dan menggunakan alam
sekitar untuk media pembelajaran
sudah dilaksanakan) masih
menekankan pada ceramah dan
latihan soal
Meningkatkan kemampuan guru
mengajar dalam segi metode
mengajar yang student centered
sehingga mutu lulusan dapat
meningkat bukan dari segi kognitif
tapi afektif dan psikomotor. Jadi
bukan sekedar pandai mengerjakan
soal ulangan saja tapi memecahkan
permasalahan yang ditemui seharihari dapat terpecahkan sesuai
perkembangan anak.
Belum maksimal menggunakan TIK
untuk administrasi guru seperti
penilaian kelas yang sudah diprogram namun menyusun silabus/RPP
sudah dengan bantuan TIK
Meningkatkan kemampuan
keterampilan menggunakan TIK
dengan mengikutsertakan kursus
komputer
Guru tidak dilibatkan dalam
menyusun kebijakan kurikulum
sehingga guru tidak pernah diminta
masukan/saran dalam revisi/riviu
kebijakan kurikulum (guru hanya
sebagai pelaksana kebijakan
kurikulum yang sudah disusun
kepala sekolah/yayasan)
Melibatkan guru dalam perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan
penilaian pada kebijakan terutama
kurikulum
Kepala sekolah menerapkan
manajemen sekolah sebatas
administrasi (buku KTSP 1 dan KTSP
2) masih menekankan pada segi
produk (nilai ulangan tertulis/
kognitif dan jumlah lulusan)
42
Strategi Kebijakan
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Mengubah paradigma sekolah favorit
karena jumlah dan nilai ujian
(kognitif) kelulusan yang tinggi.
Mutu lulusan baik jika aspek
kognitif, afektif dan psikomotor baik.
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
No
2
SD
Negeri
B
Kondisi
Strategi Kebijakan
Di perpustakaan buku yang belum
mencukupi kebutuhan dan jumlah
siswa di sekolah/kelas
Menambah jumlah buku di
perpustakaan dengan
memberdayakan masyarakat sekitar
Kurikulum yang digunakan sesuai
dengan aturan pemerintah
(penekanan pada produknya dalam
bentuk hasil ulangan tertulis walau
ada penilaian kelas hanya sekedar
administrasi kelas saja)
Kurikulum sesuai dengan
pemerintah namun outputnya belum
sesuai harapan pemerintah
melakukan penilaian kinerja (produk
dan proses) bukan sekedar
adminitrasi kelas saja.
Guru belum menerapkan manajemen
kelas (merencanakan, mengorganisasi, melaksanakan dan mengevaluasi)
namun tugas rutin seperti menyusun
RPP, silabus, mengajar, dan
memeriksa hasil ulangan anak
dilaksanakan secara rutin
Memperkenalkan manajemen kelas
pada guru untuk dapat diterapkan di
kelas sehingga rutintas pekerjaan
menjadi tidak membosankan karena
termotivasi dengan kegiatan
manajemen kelas yang kreatif. Jadi
materi praktikum akan diujicobakan
dulu oleh guru
Keterampilan guru mengajar di kelas
belum maksimal seperti TIK, materi
praktikum diujicobakan dulu oleh
guru, dan mengundang nara sumber
belum digunakan sebagai media
pembelajaran (dominan pada
ceramah dan latihan soal)
Meningkatkan kemampuan guru
mengajar dalam segi metode
mengajar yang student centered
sehingga mutu lulusan dapat
meningkat bukan dari segi kognitif
tapi afektif dan psikomotor. Jadi
bukan sekedar pandai mengerjakan
soal ulangan saja tapi memecahkan
permasalahan yang ditemui seharihari dapat terpecahkan sesuai
perkembangan anak.
Belum maksimal menggunakan TIK
untuk administrasi guru seperti
penilaian kelas yang sudah
diprogram dan menyusun silabus/
RPP yang masih ditulis tangan.
Meningkatkan kemampuan
keterampilan menggunakan TIK
dengan mengikutsertakan kursus
komputer
Guru tidak dilibatkan dalam
menyusun kebijakan kurikulum
sehingga guru tidak pernah diminta
masukan/saran dalam revisi/riviu
kebijakan kurikulum (guru hanya
sebagai pelaksana kebijakan
kurikulum yang sudah disusun
kepala sekolah.
Melibatkan guru dalam perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan
penilaian pada kebijakan terutama
kurikulum
Kepala sekolah menerapkan
manajemen sekolah sebatas
administrasi (buku KTSP 1 dan KTSP
2) masih menekankan pada segi
produk (nilai ulangan
tertulis/kognitif dan jumlah lulusan)
Mengubah paradigma sekolah favorit
karena jumlah dan nilai ujian
(kognitif) kelulusan yang tinggi.
Mutu lulusan baik jika aspek
kognitif, afektif dan psikomotor baik.
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
43
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
sekolah tersebut sehingga ukuran kinerja masih
dominan pada administrasi. Menurut Bell dan
Rhodes (1996: 90-92), perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kurikulum tidak hanya
menjadi tanggung jawab guru dan kepala
sekolah, tetapi semua instansi yang terlibat
seperti pengawas dan pemerintah pusat.
Walaupun demikian, dalam pelaksanaannya
guru serta kepala sekolah menjadi ujung tombak
keberhasilannya. Kegiatan manajemen kurikulum dan pengajaran meliputi pernyataan
kurikulum, kebijakan kurikulum, skema kerja,
rencana mingguan, rencana semester, penilaian,
evaluasi, dan revisi. Pihak yang terlibat adalah
pemerintah pusat, kepala sekolah, staf senior,
koordinator kurikulum, dan guru dengan
tanggung jawab yang berbeda untuk setiap
pihak dalam kegiatan tersebut.
Tanggungjawab pemerintah pusat dalam
pernyataan kurikulum adalah memberikan
mandat kepada kepala sekolah. Pemerintah
pusat memberikan dukungan kebijakan teknis
pelaksanaan dan memantau penilaian, evaluasi,
dan revisi kurikulum. Jadi, pemerintah pusat
bertanggung jawab mengatur kurikulum secara
efektif terutama pada biaya. Sedangkan kepala
sekolah sebagai manajer sekolah bertanggung
jawab pada penulisan visi dan misi sekolah serta
menjadi komisaris pemantau saja pada
kebijakan dan teknis pelaksanaan. Untuk
penilaian, evaluasi, dan revisi kepala sekolah
memantau. Kepala sekolah dibantu oleh staf
senior dan koordinator kurikulum dalam
perencanaan dan pelaksanaan teknisnya, seperti
memberi masukan ketika kepala sekolah
menyusun visi dan misi. Namun, kebijakan
teknis operasionalnya disusun oleh koordinator
kurikulum dibantu oleh staf senior dapat
dilaksanakan di sekolah dengan baik. Dalam
penyusunan rencana semester dan mingguan
serta kegiatan penilaian dan evaluasi,
koordinator kurikulum memberi dukungan
kepada guru yang menjadi pelaksana.
Guru sebagai ujung tombak pelaksanaan
harus memiliki keterampilan dalam mentransfer
kebijakan kepala sekolah agar dapat terlaksana
dengan baik di kelas. Dalam kegiatan, pernyataan kurikulum harus mendukung visi dan misi
yang disusun oleh kepala sekolah sesuai mandat
44
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
dari pemerintah pusat. Dalam kegiatan evaluasi
dan revisi, peranan guru yang paling penting
karena mereka memiliki banyak informasi
tentang kegiatan yang sudah dilakukan. Oleh
karena itu, guru perlu dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kurikulum.
Pembagian tanggung jawab dalam
manajemen kurikulum terlihat pada Tabel 8.
Selain itu, guru dan kepala sekolah menerapkan
manajemen sekolah dan kelas yang baik sehingga ukuran kinerja setiap langkah dapat terukur
dan dapat diperbaiki guna peningkatan mutu
kinerja. Pengembangan profesionalme guru
sangat diperlukan guna memenuhi aspek
kurikulum. Sebagai pelaksana kurikulum, guru
perlu dibekali berbagai metode mengajar yang
sesuai dengan visi dan misi kurikulum. Baik
KTSP maupun K-13 menggunakan metode
‘student centered’ artinya melibatkan siswa
dalam berpikir serta bertindak menggunakan
sikap dan emosi yang menjadikan manusia
unggul dan mampu bersaing. Bermain sambil
belajar untuk kelas 1 dan 2 SD, sedangkan
bekerja sambil belajar untuk kelas 3-6 SD.
Pembekalan guru dalam menggunakan TIK
sebagai sarana media atau administrasi perlu
dikembangkan guna meningkatkan mutu
pendidikan. Guru dapat memberikan saran dan
masukan untuk kebijakan kurikulum dari
pelaksananya selama mengajar 1 semester yang
dipantau oleh koordinator kurikulum dan
kepala sekolah.
Siswa sebagai subyek, bukan obyek artinya,
siswa terlibat baik jamani dan rohani dalam
pembelajaran sementara guru sebagai fasilitator
dan motivator. Kedudukan dan peran siswa dan
guru ini selaras dengan ungkapan Ki Hajar
Dewantara yang menempatkan siswa sebagai
subyek dan pada usia tersebut guru memberikan
anjuran/nasihat/dorongan bukan memaksakan
kehendaknya (1962:156). Memberikan pengalaman langsung pada siswa akan memberikan
penjelasan konsep abstrak dari benda kongkrit
yang disodorkan. Hal ini diungkapkan oleh
Mulyasa bahwa proses belajar terjadi jika siswa
menambah terus pengalamannya yang akan
tumbuh lebih banyak sehingga akan terbentuk
gagasan/ide baru. Pengetahuan diperoleh
melalui pengalamannya, bukan dijejali oleh guru
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
Tabel 8: Tanggung Jawab Dalam Manajemen Kurikulum
Curriculum
Plan
Head Teachers
Senior
Staff
Subject
Coordinator
Class Teacher
Governors
Curriculum
statement
Originator
Advisers
Advisers
Supporter
Mandate giver
Reporter
Curriculum
policies
Commissioner
Monitor
Supporter
Writer
Implementer
Supporter
Schemes of work
Commissioner
Monitor
Supporter
Writer
Implementer
Supporter
Termly plans
Monitor
Monitor
Supporter
Implementer
Supporter
Weekly plans
Monitor
Monitor
Supporter
Implementer
Supporter
Assessment
Commissioner
Monitor
Monitor
Writer
Supporter
Implementer
Supporter
Evaluation
Monitor
Monitor
Supporter
Information
giver
Monitor
Review/Revision
Monitor
Supporter
Writer
Information
giver
Monitor
(2013:98). Dave Meier dalam Suderajat (2011:60)
mengungkapkan, bila individu dirangsang
dengan belajar yang menyenangkan maka lymbic
system sebagai social emotional brain akan mentrigger neocortex untuk berpikir cerdas dan
reptilian brain untuk mengatur detak jantung
sehingga daya tahan (endurance) individu yang
belajar meningkat hingga 6 sampai 8 jam dalam
sehari. Dampaknya, individu belajar dengan
cepat karena motivasi tinggi. Selanjutnya, Herr
dan Larson (2000: 22) mengungkapkan, dalam
proses pembelajaran yang dibutuhkan oleh
siswa adalah belajar untuk berpikir, belajar
untuk memberikan alasan, belajar untuk
mengambil keputusan melalui bermain sambil
belajar dan bekerja.
Dalam proses belajar terjadi interaksi antara
guru dan siswa. Menurut prinsip konstruktivisme, seorang guru berperan sebagai mediator
dan fasilitator yang membantu agar proses
belajar siswa berjalan dengan baik. Contoh, guru
menyediakan atau memberikan kegiatan yang
merangsang keingintahuan siswa, membantu
mereka mengekspresikan gagasan dan
mengkomunikasikan ide ilmiahnya, menyediakan sarana yang merangsang berpikir siswa
secara produktif dan mendukung pengalaman
belajar siswa. Selain itu guru juga memonitor,
mengevaluasi, dan menunjukkan apakah
pemikiran siswa itu jalan atau tidak. Kedua
sekolah tersebut belum memaksimalkan potensi
guru untuk mengembangkan kemampuan siswa
dalam 3 (tiga) aspek: kognitif, afektif dan
psikomotornya. Guru masih mendominasi
dengan ceramah dan latihan soal. Bahkan orang
tua memasukkan anaknya dalam bimbingan
belajar agar siswa dapat berlatih banyak soal
lagi. Siswa hafal soal latihan tanpa memaknai
arti dalam soal. Soal yang diberikan pada anak
dalam bentuk C1, C2 dan C3 saja dan kurang
melatihkan C4, C5 dan C6
Buku sebagai salah satu media pembelajaran yang terbuka sifatnya, artinya ketika siswa
ingin mencari sesuatu dari keinginantahuannya,
melalui buku dapat terjawab dengan sendirinya.
Oleh karena itu, jumlah dan varian buku di
perpustakaan perlu diperhatikan. Sekolah negeri
B masih perlu menambah jenis dan jumlah buku
dengan cara antara lain melibatkan masyarakat
sekitar untuk menambah jumlah buku seperti
sponsor dari instansi, komite sekolah, sumbangan sukarela dari siswa atau mengalokasi
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
45
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
keuangan untuk pembelian buku. Sekolah
swasta A, yang sudah memiliki jumlah dan
varian buku yang cukup, sebaiknya mengembangkan koleksi bukunya menjadi sistim digital
yang mempermudah siswa untuk membaca.
Perspektif keempat, siswa dan orang tua
sebagai pihak pelanggan sekolah. Organisasi
sektor nonpublik (sekolah) dalam perspektif
pelanggan (orang tua dan siswa) berfokus untuk
memenuhi kepuasan pelanggan melalui
penyediaan jasa dan pelayanan yang bermutu
dengan harga yang terjangkau. Perspektif ini
dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan
Kaplan & Norton (2006:21) “To reach our financial
objectives, how do we create value for our customers?”
Untuk memuaskan pelanggan, guru, kurikulum,
dan anggaran keuangan akan saling terkait dan
memberikan kontribusi.
Harapan pelanggan (orang tua dan siswa
SD) adalah untuk mendapatkan pelayanan
maksimal dan produk bermutu. Pelayanan
termasuk bagaimana guru mengajar di kelas,
fasilitas apa saja yang diterima oleh siswa dan
orang tua, dan infrastruktur apa saja yang
disiapkan sekolah guna menunjang proses
belajar mengajar. Sedangkan produk yang
dihasilkan siswa dapat mengembangkan
potensi seperti penanaman nilai dan norma
kehidupan, pembentukan dan pembiasaan
perilaku yang diharapkan, pengembangan
pengetahuan dan keterampilan dasar, serta
pengembangan motivasi dan sikap belajar yang
positif. Fungsi pendidikan dasar mengembangkan sikap kreatif, antusias untuk bereksplorasi,
bereksperimen, berimajinasi, berani mencoba,
dan mengambil resiko seperti yang tercantum
dalam UU No. 20 Thn 2003 tentang Sisdiknas.
Jadi, pendidikan dasar khususnya SD merupakan pondasi pendidikan sebagai sarana utama
untuk menggali potensi diri dan membentuk
Tabel 9: Kondisi dan Strategi Kebijakan Perspektif Siswa dan Orang Tua
No
1
46
SD
Kondisi
Strategi Kebijakan
Swasta
A
Sekolah favorit akibatnya banyak
berlomba mendaftar tetapi yang diterima
sesuai bangku tersedia (3 kelas)
Meningkatkan pelayanan agar tetap
bertahan jadi sekolah favorit yang
bukan saja menekankan segi kognitif
Siswa dan orang tua puas dengan
layanan akademik tetapi untuk non
akademik masih belum optimal
Meningkatkan pelayanan non
akademik kerjasama dengan instansi
lainnya
Siswa sangat disiplin didukung
orang tuanya (budaya sekolah)
Mempertahankan budaya sekolah
(disiplin)
Pengembangan potensi diri anak baik
akademik maupun non akademik
hanya terbatas pada beberapa anak
saja untuk ikut perlombaan antar
kelas/sekolah atau gugus
Memperbanyak program
pengembangan akademik dan non
akademik sehingga setiap siswa bisa
ikut terlibat dengan kerjasama
dengan instansi atau sekolah lain
Tidak ada anak yang kurang mampu
dalam segi ekonomi (tidak ada
beasiswa untuk anak miskin)
Membuka beasiswa bagi siswa yang
berprestasi namun kurang mampu
Komunikasi antar siswa belum
optimal tetapi dengan guru sudah
baik
Mengoptimalkan komunikasi siswa
dengan siswa melalui program yang
diadakan di sekolah
Siswa dan orang tua tidak pernah
dilibatkan dalam menyusun berbagai
kebijakan di sekolah
Melibatkan perwakilan siswa daa
orang tua untuk menyusun kebijakan
sekolah
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
No
2
SD
Kondisi
Strategi Kebijakan
Negeri
B
Sekolah favorit akibatnya banyak berlomba mendaftar tetapi yang diterima
Meningkatkan pelayanan agar tetap
bertahan jadi sekolah favorit yang
bukan saja menekankan segi kognitif
sesuai bangku tersedia ( 5 kelas)
Siswa dan orang tua puas dengan
layanan akademik tetapi untuk non
akademik masih belum optimal
(kadang guru tidak ada)
Meningkatkan pelayanan non
akademik kerjasama dengan instansi
lainnya
Siswa kurang disiplin belum didukung orang tuanya (budaya sekolah)
Menyusun program disiplin aturan
agar jadi budaya sekolah
Pengembangan potensi diri anak baik
akademik maupun non akademik
hanya terbatas pada beberapa anak
saja untuk ikut perlombaan antar
kelas/sekolah atau gugus
Memperbanyak program
pengembangan akademik dan non
akademik sehingga setiap siswa bisa
ikut terlibat dengan kerjasama
dengan instansi atau sekolah lain
Komunikasi antar siswa belum
optimal tetapi dengan guru sudah
baik
Mengoptimalkan komunikasi siswa
dengan siswa melalui program yang
diadakan di sekolah
Siswa tidak pernah dilibatkan dalam
menyusun berbagai kebijakan di sekolah
Melibatkan perwakilan siswa untuk
menyusun kebijakan sekolah
Orang tua kadang dilibatkan dalam
menyusun berbagai kebijakan di
sekolah (komite orang tua)
Meningkatkan kerjasama dengan
komite orang tua untuk menyusun
kebijakan sekolah
karakter agar menjadi manusia seutuhnya.
Untuk memenuhi harapan pelanggan, aspek ini
menunjukkan bagaimana baiknya sekolah
menjalankan kegiatan dan mencapai hasil sesuai
harapan pelanggan. Perspektif keempat dalam
BSC mengembangkan pengukuran dan tujuan
untuk mendorong sekolah agar berjalan dan
tumbuh.
masyarakat khususnya orang tua siswa yang
anaknya bersaing masuk SMP favorit dengan
skor nilai tinggi. Oleh karena itu, guru akan
melakukan kegiatan belajar mengajar yang
bukan menekankan PAIKEM tapi lebih ceramah
dan drill soal. Keterkaitan kebutuhan (orang tua
dan siswa) dan pelayanan (guru dan sekolah)
menjadi sangat erat.
Tabel 4 menunjukkan orang tua dan siswa
SD sebagai pelanggan utama belum mencapai
tingkat kepuasaan yang tinggi. Perpektif orang
tua dan siswa sangat erat terkait dengan
perspektif kurikulum, guru, dan keuangan. Hal
ini terlihat pada Tabel 9 yang menunjukkan,
kedua sekolah tersebut sebagai sekolah favorit
bagi siswa SD karena mampu meluluskan siswa
dengan skor nilai tertinggi serta masuk ke Sekolah
Menengah Pertama (SMP) favorit. Sekolah
sebagai penyelenggara pendidikan mengupayakan semaksimal harapan dan keinginan
Hal lain, kedua sekolah tersebut belum
memaksimalkan semua potensi siswa baik dari
segi akademik maupun nonakademik. Hanya
beberapa siswa saja sebagai perwakilan sekolah
yang ikut perlombaan sehingga membuat siswa
yang tidak terpilih menjadi perwakilan menjadi
minder dan tidak termotivasi. Guru dan sekolah
lebih fokus pada siswa yang sudah terlihat bakat
atau prestasi akademiknya dan guru hanya
memberi bimbingan sekedarnya untuk
mempersiapkan ajang perlombaan. Padahal,
setiap siswa punya potensi yang perlu digali dan
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
47
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
diasah agar potensi diri dapat muncul pada diri
siswa. Guru kurang menggali optensi yang
tersembunyi dari setiap siswanya, padahal
kesempatan setiap siswa untuk ikut ajang
perlombaan merupakan hak setiap siswa.
Strategi kebijakan untuk perspektif ini, sebaiknya
melakukan kerjasama dengan berbagai sekolah
atau instansi lain sehingga setiap siswa dapat
mengikuti ajang perlombaan, bukan sekedar
piala yang dicari siswa tetapi rasa bangga bisa
ikut lomba dan memotivasi potensi dirinya
menjadi lebih berkembang. Sebaiknya, sekolah
memilih siswa secara bergantian untuk ikut
perlombaan. Adakan lomba antarkelas paralel
atau lomba antarkelas di sekolah untuk mencari
bakat setiap siswa dan memberikan kesempatan
setiap siswa untuk menunjukkan prestasi baik
akademik maupun non akademik.
Kerinduan siswa mengasah potensi nonakademik terlihat pada Tabel 9. Kedua sekolah
tersebut lebih menekankan pengembangan
aspek kognitif semata (yang mengacu pada nilai
rapor dan ijazah serta diterimanya di SMP
favorit), padahal siswa merindukan pengembangan aspek nonakademik. Kegiatan
nonakademik di sekolah dalam bentuk ekstra
kurikuler 2 jam pelajaran, olahraga 2 jam
pelajaran, dan SBDP (keterampil-an dan seni) 2
jam pelajaran serta pramuka 2 jam pelajaran. Jika
dilihat dari jumlah jam pelajaran di SD sekitar
40 jam pelajaran (Permendiknas 57/2017),
hanya 20% pengem-bangan potensi untuk
nonakademik. Strategi kebijakannya adalah
membuat program yang dapat mengembangkan
aspek nonakademik sesuai dengan kondisi dan
visi sekolah seperti paguyuban angklung, pencak
silat, gamelan Sunda, dan seterusnya dalam
bentuk kegiatan kemasyarakatan dimulai dari
kegiatan di kelas lalu diundang semua
orangtuanya untuk melihat pentas anaknya.
Kegiatan ini dapat dijadikan ujian akhir sekolah
sebagai proyek dengan penilaian kognitif,
psikomotor, dan afektif. Selain bangga dengan
proyeknya yang dapat dilihat oleh orang tua dan
temannya, siswa juga secara tidak langsung
sudah melakukan ujian akhir.
Pandangan orang tua sebagai pelanggan
masih memiliki paradigma, nilai tinggi dalam
aspek akademik menunjukkan anak pandai dan
hebat. Mengedukasi orang tua melalui komite
48
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
sekolah dengan melibatkan psikolog, pakar
pendidikan dan kepala sekolah untuk
mengubah paradigma yang salah tersebut
dengan berbagai kegiatan, bukan hanya seminar
saja tetapi kegiatan yang bisa membuka pikiran
para orang tua. Di lain pihak, sekolah
membutuhkan pelanggan (orang tua dan siswa)
sehingga interaksi antara produsen dan
pelanggan harus harmonis dan selaras.
Mengajak komite orang tua dalam menyusun
kebijakan sekolah merupakan salah satu strategi
meningkatkan tingkat kepuasan pelanggan.
Siswa sebagai pelanggan utama dalam
dunia pendidikan belum pernah diajak
komunikasi antarsiswa itu sendiri untuk
meningkatkan tingkat kepuasaannya. Umumnya, siswa menjadi objek pelaku kebijakan yang
disusun. Kedua sekolah tersebut baru melibatkan perwakilan siswa dan belum mengikutsertakan banyak siswa dalam forum komunikasi
untuk menyusun kebijakan sekolah. Siswa
diwakili satu orang dari kelasnya untuk mengemukakan pendapatnya. Diskusi antar-siwa
kelas 1-3 dipimpin guru dan untuk kelas 4-6 dipimpin ketua kelas. Setiap perwakilan kelas dapat mengemukakan pendapatnya dalam forum
komunikasi antarsiswa di sekolah dari kelas 16 SD. Dipilih dari perwakilan kelas 1-6 beberapa
siswa untuk ikut dalam rapat kebijakan sekolah.
Sekolah swasta A yang notabene sekolah
favorit sehingga banyak siswa yang orangtuanya dikatagorikan mampu yang menyekolahkan
anaknya di sekolah tersebut. Alangkah baiknya
jika memberikan kesempatan untuk anak yang
kurang mampu namun berprestasi secara
akademik atau nonakademik untuk bersekolah
di sekolah tersebut melalui program beasiswa,
sehingga kondisi heterogen siswa dapat lebih
banyak membelajarkan siswa untuk hidup
dalam dunia nyata.
Sekolah negeri B, yang belum membudayakan aturan disiplin baik dari siswa maupun
orang tua, sebaiknya membuat program untuk
membudayakan disiplin dalam kehidupan
sehari-hari melalui tindakan nyata. Pembentukan karakter dimulai dari pola pembiasaan anak
sehari-hari. Oleh karena itu, bukan siswa dan
orang tua saja yang melakukan budaya disiplin
tetapi pihak staf sekolah dan kepala sekolah
harus menjadi model untuk siswa dan orang tua.
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
Setelah menyusun BSC dari aspek anggaran
keuangan, guru, siswa, dan kurikulum maka
langkah selanjutnya adalah menyusun dan
mengimplementasikan strategi kebijakan.
Langkah pertama dalam menyusun BSC adalah
memprioritaskan kebijakan mana yang akan
dilakukan secara bertahap dan terukur kinerjanya dengan mengacu pada data yang sudah
diperoleh. Menggunakan teknologi informatika
untuk membantu mengimplementasikan BSC.
Selanjutnya, stakeholder dan kepala sekolah
menyelaraskan dengan visi dan misi sekolah.
Implementasi BSC tidak bisa langsung dilakukan pada setiap unit organisasi secara bersamaan, tetapi harus dilakukan secara bertahap. Oleh
karena itu, disusun secara tingkatan birokrasi
seperti dibuat pada tingkat Yayasan/stakeholder,
yang kemudian diterjemah-kan ke dalam BSC
tingkat kepala sekolah dan selanjutnya diterjemahkan lagi ke tingkat guru. Pada tahapan ini
tim yang dibentuk mengomunikasikan inisiatif
strategis dan ukuran yang dibutuhkan untuk
setiap perspektif kepada ketua/manajer masing
unit organisasi. Terakhir, pemantauan dilakukan oleh tim audit internal secara terus menerus
untuk memberi masukan. Jika memungkinkan,
tim audit eksternal seperti konsultan pendidikan
memberi masukan dari kinerja yang sudah
dilakukan. Kegiatan ini dilakukan secara terus
menerus dan bersinam-bungan.
Simpulan
Kesimpulan
Output manajemen pendidikan dikatakan
bermutu jika hasil akademik dan nonakademik
yang diperoleh siswa sesuai dengan kebutuhan
dan berguna bagi masyarakat. Oleh karena itu,
perlu ada proses pengendalian dan pengawasan mutu yang baik oleh penyelenggara pendidikan melalui metode BSC. Empat kajian BSC
meliputi perspektif anggaran keuangan, guru,
kurikulum, dan siswa pada SD Negeri B dan
Swasta A di Kota Bandung. Untuk mengimplementasikan BSC ada 6 langkah yaitu: (1)
menyusun BSC dari aspek anggaran keuangan,
guru, siswa, dan kurikulum; (2) mengidentifikasi
data dan prioritas (bertahap); (3) menyesuaikan
dengan visi, misi sekolah; (4) mengordinasikan
setiap bagian jadi kegiatan terintegrasi; (5)
menyusun strategi sesuai data tersebut oleh
kepala sekolah, guru dan staf masing-masing;
(6) melakukan pemantauan oleh tim audit.
Hasil kajian implementasi kedua SD untuk
setiap perpektif sebagai berikut: perspektif
anggaran keuangan, belum transparan dalam
anggaran keuangan dan belum menggunakan
TIK dalam menjalankan anggaran keuangan.
Anggaran keuangan masih didominasi dari
pihak stakeholder dan kepala sekolah. Hasil
kajian implementasi perspektif guru yaitu
menggunakan sistim guru kelas, status tetap,
lulusan S1 PGSD untuk guru kelas 1-6 SD,
namun untuk kelas 4-6 menggunakan sistem
mata pelajaran untuk pelajaran tertentu.
Pengembangan profesional untuk guru belum
ada dan masih fokus pada tugas rutin seperti,
menyusun Silabus/RPP, mengajar dan memeriksa hasil ulangan siswa dilakukan secara rutin
tanpa ada evaluasi/refleksi untuk perbaikan.
Hasil kajian implementasi Perspektif kurikulum
antara lain: produk lulusan menekankan pada
banyaknya lulusan diterima di sekolah favorit
dengan nilai kognitif yang tinggi. Metode
pembelajaran yang digunakan di kelas masih
dominan pada ceramah dan latihan soal bentuk
hafalan. Manajemen sekolah dan kelas diterapkan di sekolah dan kelas sekedar adminitrasi
saja. Hasil kajian implementasi perspektif siswa
dan orang tua adalah tergolong sekolah favorit
deng banyak peminat. Belum memaksimalkan
potensi diri setiap siswa baik dari segi akademik
maupun nonakademik dan pandangan orang
tua bahwa nilai yang tinggi dalam aspek
akademik menunjukan siswa pandai.
Adapun strategi kebijakan yang disusun
untuk memperbaiki kondisi yang ada, hasil
kajian implementasi BSC adalah: perpektif
keuangan, fokus pada pengembangan SDM
khususnya bagian keuangan, dan menyusun
sistem anggaran keuangan secara on line
sehingga dapat lebih transparansi untuk semua
staf di sekolah. Dengan demikian pengauditan
oleh berbagai pihak yang berkepentingan dapat
dengan mudah dan cepat dilakukan. Meningkatkan sarana dan prasarana untuk menunjang
kegiatan belajar mengajar siswa dengan
kerjasama dengan instansi lain. Strategi
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
49
Meningkatkan Mutu Sekolah Metode Balance Score Card
kebijakan perspektif guru, menciptakan kondisi
yang merangsang guru untuk berkompetisi
secara sehat untuk mengembangkan diri secara
profesional (pengembangan TIK, lesson study)
serta melibatkan guru dalam penyusunan
kebijakan kurikulum. Strategi kebijakan
perspektif kurikulum, meningkatkan skill guru
dalam manajemen kelas dan kepala sekolah
dalam manajemen sekolah. Guru sebagai ujung
tombak perlu dilibatkan dalam perencaaan,
pelaksanaan dan evaluasi kurikulum.
Strategi kebijakan perspektif siswa dan
orang tua, setiap siswa berhak mengikuti
perlombaan sehingga membuat siswa menggali
potensi diri yang masih tersembunyi. Mengedukasi orang tua untuk mengubah paradigma nilai
tinggi akademik menunjukan siswa pandai.
Melibatkan siswa untuk memberi saran seputar
pelayanan dari pihak guru, staf, dan sekolah.
Memberdayakan masyarakat sekitar untuk
memaksimalkan kegiatan non akademik.
Saran
Dari kajian dua SD di Kota Bandung saran
diberikan kepada stakeholder, kepala sekolah,
dan guru sebagai berikut. Pertama, stakeholder
hendaknya mendukung dan menyusun
kebijakan sekolah bersama dengan kepala
sekolah, guru, siswa dan orang tua dalam forum
diskusi kecil. Kedua, memberi reward bagi kepala
sekolah dan guru yang berhasil meningkatkan
kinerjanya yang mengacu pada metode BSC.
Ketiga, kepala sekolah perlu menyusun strategi
kebijakan yang jadi prioritas secara bertahap
dengan ukuran nilai kinerja terukur untuk
dilakukan oleh kepala sekolah dengan
menerapkan manajemen sekolah. Bagi guru
perlu menyusun strategi kebijakan yang jadi
prioritas secara bertahap dengan ukuran nilai
kinerja detail dan terukur untuk dilakukan oleh
guru dengan menerapkan manajemen kelas.
Keterbatasan penelitian ini untuk
mengungkapkan secara detail informasi secara
kuantitatif dari setiap perspektif, hal ini
dikarenakan pihak sekolah merasa tidak
nyaman dan takut data sekolah diketahui oleh
sekolah lain. Akan lebih baik jika sekolah
melakukan pengukuran secara kuantitatif untuk
dipergunakan secara internal di sekolahnya
50
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Daftar Pustaka
Bell, Les. Dan Rhode, Chris. (1996). The skill of
primary school management. London:
Routledge
Depdiknas. (2007). Kajian kebijakan kurikulum SD.
Jakarta: Badan Penelitian
dan
Pengembangan Pusat Kurikulum
Dally, Dadang (2010). Balance score card suatu
pendekatan dalam implementasi pendidikan.
Bandung: Rosda Karya
Dedi Supriadi. (2000). Reformasi pendidkan dalam
konteks otonomi daerah. Yogyakarta: Adicita
Kaplan, Robert S dan David P. Norton. (1996).
Balanced scorecard: Translating strategy into
action. Boston: Havard Business School
Press
Kitson, Neil dan Merry, Roger. (1997). Teaching
in the primary school. London: Routledge
Lawton, Stephen dan Barlosky, Martin. (1994).
A handbook developing quality school.
Toronto: Institutions Ontario
Machasin, dkk. (2011). Strategi peningkatan mutu
perguruan tinggi agama Islam berbasis
balanced score card. IAIN Walisongo
Semarang Walisongo, Volume 19, Nomor
2, November 2011
Peraturan Pemerintah 19/2006 tentang Standar
Nasional Pendidikan
Peraturan Pemerintah 32/2013 tentang Standar
Nasional Pendidikan
Sallis, E. (2002). Total quality management in
education. London:Kogan Page Ltd
Sanusi, Achmad. (2014). Pembaharuan strategi
pendidikan. Bandung: Nuansa Cendekia
Suderajat, Hari. (2011). Manajemen pembelajaran
tematik. Bandung: Sekar Gambir Asri
Tilaar, H.A.R. (2009). Kekuasaan dan pendidikan.
Jakarta: Rineka Cipta
Undang-UndangRepublik Indonesia No. 20
Tahun2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Sisdiknas). Jakarta
______. (2011). Human development report. United
Nations Development Program, New York
______. Balanced scorecard as a control system for
monitoring and revising corporate strategy,”
http://www.ssrn.com, diakses pada tanggal 12
Februari 2011. Gazperz
Penggunaan Media Gambar Berseri
Opini
Penggunaan Media Gambar Berseri Untuk Meningkatkan
Kemampuan Menulis Teks Prosedur
Sakila
E-mail: [email protected]
SMP Negeri 2 Singkawang
Abstrak
uru sering menemukan kesulitan dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis
teksprosedur. Tulisan ini memberikan sumbangan pemikiran dan gagasan serta
mendeskripsikan proses pembelajaran menulis teks prosedur dengan menggunakan media
gambar berseri pada siswa kelas 8 jenjang SMP. Guru menggunakan media pembelajaran
yang murah dan sederhana tetapi dapat meningkatkan motivasi dan semangat belajar siswa. Dengan
menggunakan media gambar berseri (1) proses pembelajaran berjalan dengan baik dan siswa aktif
dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, (2) tercapainya ketuntasan hasil belajar menulis teks
prosedur bagi siswa kelas 8 jenjang SMP, dan (3) siswa sangat senang terhadap penggunaan
gambar berseri dalam pembelajaran menulis teks prosedur. Berdasarkan hasil kajian ini, guru
disarankan untuk menerapkan penggunaan gambar berseri pada materi pelajaran bahasa Indonesia
yang lain.
G
Kata-kata kunci: media, gambar berseri, kemampuan menulis, teks prosedur
Use of Serial Picture Media to Improve the Ability of Writing Text Procedure
Abstract
The teachers often find diffculties in improving the students’ ability of writing text procedures. This article
shared opinions and experiences in teaching writing text procedures using serial pictures for the grade 8
students of Junior Secondary School. The teacher uses cheap and simple instructional media but can
strengthen the motivation and learning antusiasm of the students. The results are (1) the learning process goes
well and students are active in implementing the learning activities, (2) the achievement of mastery learning
outcomes in writing text procedure, and (3) the students are very happy with the use of images beamed in
learning writing text procedure. Based on the results of this study, teachers are advised to apply the use of
images beamed on the other materials of Bahasa Indonesia subject.
Keywords: media, radiant image, the ability to write, text procedure
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
51
Penggunaan Media Gambar Berseri
Pendahuluan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menjelaskan bahwa pembelajaran adalah proses
interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Selanjutnya menurut Yusufhadimiarso dalam
Nurlaela (2012 : 47), pembelajaran adalah usaha
mengelola lingkungan dengan sengaja agar
seseorang membentuk diri secara positif tertentu
dalam kondisi tertentu. Hal ini sejalan
sebagaimana yang dikemukakan Wiratmajaya
(2015) pembelajaran, pada hakikatnya
merupakan suatu usaha untuk membuat peserta
didik belajar sehingga memperoleh ilmu dan
pengetahuan, penguasaan keterampilan, serta
pembentukan sikap dan perubahan sikap.
Pembelajaran merupakan suatu kumpulan
proses yang bersifat individual yang mengubah
stimulus dari lingkungan seseorang ke dalam
sejumlah informasi yang selanjutnya dapat
menyebabkan adanya hasil belajar dalam jangka
panjang.
Berkaitan dalam proses pembelajaran,
setiap sekolah atau satuan pendidikan
mempunyai kewenangan penuh dalam
mengatur pendidikan dan pembelajaran,
merencanakan, mengorganisasikan, menyesuaikan materi ajar dengan lingkungan setempat dan
pengalaman anak, serta mengawasi jalannya
proses pembelajaran, seperti yang tertuang
dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional yang berimplikasi
terhadap perubahan paradigma pengelolaan
pendidikan dari sentralistik menjadi
desentralistik (Dantes, 2014: 93).
Sesuai implementasi Kurikulum 2013,
pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks.
Pembelajaran seperti ini sangat berbeda dengan
pembelajaran kurikulum sebelumnya. Bila
dalam kurikulum 2006, mata pelajaran bahasa
Indonesia lebih mengedepankan keterampilan
berbahasa (dan bersastra), dalam kurikulum
2013 ini bahasa Indonesia digunakan sebagai
sarana untuk mengembangkan kemampuan dan
keterampilan menalar. Begitu pula dalam
pembelajaran menulis, kegiatan atau aktifitas
dalam melaksanakan kegiatan menulis dan hasil
52
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
produk menulis pada kurikulum sebelumnya
hanya terikat pada lima jenis tulisan, yaitu teks
deskripsi, narasi, argumentasi, eksposisi, dan
persuasi. Akan tetapi, pada Kurikulum 2013 ini,
kegiatan dan hasil pembelajaran menulis lebih
banyak dijumpai karena pembelajaran bahasa
Indonesia saat ini menggunakan pendekatan
berbasis teks (Wiratmajaya, 2015).
Selanjutnya, dalam pendekatan berbasis
teks ini, teks tidak diartikan sebagai bentuk
bahasa tulis. Teks adalah ungkapan pikiran
manusia yang lengkap yang di dalamnya ada
situasi dan konteksnya (Mahsun, 2013: 121).
Teks dibentuk oleh konteks situasi penggunaan
bahasa yang di dalamnya ada ragam bahasa
yang melatarbelakangi lahirnya teks tersebut.
Teks dalam Kurikulum 2013 berbentuk tulisan,
lisan, dan bahkan, multimodal, seperti gambar.
Dalam pembelajaran berbasis teks, Bahasa
Indonesia diajarkan bukan sekadar sebagai
pengetahuan bahasa, melainkan sebagai teks
yang berfungsi untuk menjadi sumber
aktualisasi diri penggunanya pada konteks
sosial budaya akademis (Sucipto, 2014).
Salah satu upaya untuk mewujudkan
tujuan pendidikan adalah melalui Pembelajaran
Bahasa Indonesia di SMP. Adapun empat
keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa
dalam pembelajaran bahasa Indonesia yaitu:
keterampilan membaca, keterampilan menulis,
keterampilan menyimak dan keterampilan
menulis (Aimha, 2013).
Penguasaan keterampilan menulis teks
prosedur tidak diperoleh secara spontan atau
alamiah akan tetapi membutuhkan latihan yang
intensif dan memerlukan tahap pembelajaran
yang membutuhkan waktu yang tidak sedikit
serta proses yang cukup lama. Proses berlatih
menulis tersebut dapat dilakukan oleh siswa
secara formal melalui pembelajaran bahasa
Indonesia yang dimulai sejak di Sekolah Dasar.
Menurut Aimha (2013) keterampilan
menulis berbeda dengan jenis keterampilan
berbahasa lainnya karena keterampilan menulis
merupakan kegiatan berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa tulis sebagai medianya.
Sejalan dengan itu, Abidin (2012: 181)
menyatakan, menulis pada dasarnya adalah
proses mengemukakan ide dan gagasan dalam
Penggunaan Media Gambar Berseri
bahasa tulis. Oleh sebab itu, Akhadiah dalam
Abidin (2012: 181) memandang bahwa “menulis
adalah sebuah proses, yaitu proses penuangan
gagasan atau ide ke dalam bahasa tulis, yang
dalam praktiknya proses menulis diwujudkan
dalam beberapa tahapan yang merupakan satu
sistem yang utuh”. Dengan memiliki kemampuan menulis, siswa dapat mengomunikasikan
ide, dan pengalamannya ke berbagai pihak.
Lebih lanjut Gie dalam Abidin (2012: 181)
menyatakan, “menulis memiliki kesamaan
makna dengan mengarang, yaitu segenap
kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan
dan menyampaikannya melalui bahasa tulis
kepada pembaca untuk dipahami”.
Sejalan dengan pendapat di atas, maka
menulis adalah kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang guna menuangkan gagasan ataupun
pengalamannya dalam bentuk tulisan untuk
disampaikan kepada pembaca, atau dengan kata
lain menulis adalah alat komunikasi non verbal.
Keterampilan menulis salah satu cara dari empat
keterampilan berbahasa, mempunyai peran
yang penting di dalam kehidupan manusia.
Menulis karangan pada prinsipnya adalah
bercerita tentang sesuatu yang ada dalam
imajinasi seseorang. Penceritaan tersebut dapat
dituangkan dalam bentuk lisan maupun tulisan.
Setiap manusia, diciptakan sebagai pengarang.
Berdasarkan hasil observasi dan diskusi
dengan guru di salah satu kelas 8 di Sekolah
Menengah Pertama penulis bertugas, ditemukan
sebuah fakta mengenai kesulitan yang dialami
oleh siswa dalam menulis pada umumnya,
terutama teks prosedur. Terdapat beberapa
kendala yang dihadapi oleh siswa dalam proses
pembelajaran. Pertama, kurangnya pengetahuan
siswa terhadap teks prosedur. Kedua, siswa
kesulitan dalam menentukan langkah-langkah
yang sesuai dengan topik yang diangkat. Ketiga,
masih rendahnya keterampilan siswa dalam
menulis teks prosedur, seperti mengurutkan
peristiwa atau kejadian secara kronologis dan
mengembangkan kalimat-kalimat yang mereka
buat menjadi sebuah paragraf. Keempat,
terbatasnya media atau alat peraga yang
digunakan oleh guru sebagai media pembelajaran. Banyak faktor yang mempengaruhi
kemampuan menulis teks siswa dan diduga
media menjadi salah satu faktor penyebabnya.
Oleh sebab itu, penulis tertarik memfasilitasi
siswa melalui media pembelajaran dengan
asumsi bahwa pembelajaran akan lebih efektif
dan menarik, siswa juga termotivasi untuk
menyelesaikan masalah dengan lebih cepat, dan
hasil belajar akan lebih baik.
Sehubungan dengan kesulitan yang dialami
oleh siswa, penulis mencoba membantu siswa
dalam belajar menulis teks prosedur sesuai
dengan memberikan gagasan cara menerapkan
pembelajaran dengan menggunakan media yang
sederhana. Untuk mencapai tujuan tersebut,
dipilihlah salah satu upaya yang mampu
menggugah minat dan perhatian siswa dalam
menulis teks prosedur, yaitu dengan penggunaan gambar berseri.
Agar pembelajaran menulis teks prosedur
dapat terlaksana dengan baik pada jenjang
pendidikan SMP, diperlukan guru yang terampil
merancang dan mengelola pembelajaran. Salah
satu upaya yang dapat dilakukan oleh seorang
guru dalam proses pembelajaran agar siswa lebih
aktif dan kreatif dalam pembelajaran bahasa
Indonesia khususnya dalam meningkatkan
keterampilan menulis teks prosedur yaitu
dengan menggunakan media gambar berseri.
Gambar berseri mempunyai peranan yang
cukup penting dalam membantu siswa
meningkatkan keterampilan menulis teks
prosedur, karena dengan menggunakan media
gambar berseri, siswa dapat melihat hubungan
antara konsep, peristiwa, dan tokoh yang ada
dalam pelajaran serta siswa dapat melihat
hubungan antara komponen-komponen materi
atau isi pelajaran yang diajarkan. Dengan
bantuan media gambar berseri, guru akan lebih
mudah mengatasi gangguan yang akan menghambat proses pembelajaran dan mengambil alih
perhatian siswa di kelas (Aimha, 2013).
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah
disebutkan, masalah dalam pembahasan tulisan
ini adalah bagaimana langkah-langkah
penerapan media gambar berseri dalam
pembelajaran menyusun teks prosedur pada
siswa kelas 8 SMP?
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
53
Penggunaan Media Gambar Berseri
Tujuan dan Kemanfaatan
Tujuan penulisan ini adalah untuk menyampaikan gagasan langkah-langkah penerapan
media gambar berseri dalam pembelajaran
menyusun teks prosedur pada siswa kelas 8
SMP. Adapun manfaat penulisan tinjauan
ilmiah ini adalah sebagai berikut.
1. Bagi guru
Guru dapat mempunyai kemampuan
menerapkan media gambar berseri. Guru
dapat meningkatkan kualitas pembelajarannya yang sangat berpusat pada siswa.
2. Bagi siswa
Siswa dapat meningkatkan kemampuannya
menulis teks prosedur, bukan suatu hal
yang membosankan, melainkan merupakan
sesuatu yang sangat menyenangkan.
3. Bagi sekolah
Sekolah dapat memperoleh sumbangan
yang baik dalam rangka perbaikan
pembelajaran pada khususnya dan sekolah
pada umumnya.
Kajian Teori
Pembelajaran di setiap jenjang menuntut seorang
guru menguasai materi pembelajaran dan
menyampaikannya melalui media yang dapat
memotivasi siswa aktif, kreatif dan menyenangkan. Hal ini sebagaimana yang disampaikan
Taher (2014), seorang guru profesional tidak
hanya dituntut untuk menguasai materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada anak
didiknya, akan tetapi juga harus mampu
mengembangkan dan memanfaatkan media dan
sumber pembelajaran agar proses pembelajaran
pada tataran mengamati tidak monoton pada
pengamatan buku dan bacaan saja, tetapi dapat
bervariasi pada pengamatan berbagai video
pembelajaran dan gambar yang sesuai dengan
kompetensi dasar dan indikator yang harus
dicapai.
Hakikat Menulis
Sebagai suatu keterampilan berbahasa, menulis
merupakan kegiatan yang komplek karena
menulis dituntut untuk dapat menyusun dan
mengorganisasikan isi tulisannya serta
menuangkannya dalam formulasi ragam bahasa
tulis dan konvensi penulisan lainnya (Suparno,
54
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
2010 : 29). Kata menulis sebenarnya bukanlah
sesuatu yang asing bagi kita. Menulis dapat
didefinisikan sebagai suatu kegiatan
penyampaian pesan (komunikasi) dengan
menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau
medianya (Suparno, 2010 : 3). Selanjutnya
menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia
bahwa kata ‘menulis’ berasal dari kata ‘tulis’.
Tulis adalah ada huruf (angka dan sebagainya)
yang dibuat (digurat dan sebagainya) dengan
pena (pensil, cat, dan sebagainya). Selanjutnya,
menurut Effendy (2012), menulis pada
hakikatnya adalah suatu proses berpikir yang
teratur, sehingga apa yang ditulis mudah
dipahami pembaca. Sebuah tulisan dikatakan
baik apabila memiliki ciri, antara lain bermakna,
jelas, bulat dan utuh, ekonomis, dan memenuhi
kaidah gramatikal. Menulis adalah proses
menggambarkan suatu bahasa sehingga pesan
yang disampaikan penulis dapat di pahami
pembaca (Tarigan,1986:21). Menulis merupakan
kemampuan menggunakan pola-pola bahasa
secara tertulis untuk mengungkapkan suatu
gagasan atau pesan, (Rusyana, 1998:191).
Selanjutnya, menulis juga dapat diartikan
menuangkan gagasan, pendapat, perasaan,
keinginan, dan kemauan, serta informasi ke
dalam tulisan dan kemudian “mengirimkannya” kepada orang lain (Syafi’ie,1988:45). Hal
ini senada sebagaimana yang dikemukakan
Akhadiah dkk (1989:1.3), menulis adalah suatu
aktivitas bahasa yang menggunakan tulisan
sebagai mediumnya. Tulisan itu sendiri atas
rangkaian huruf yang bermakna dengan segala
kelengkapan lambang tulisan seperti ejaan dan
pungtuasi. Sebagai salah satu bentuk komunikasi verbal (bahasa), menulis juga dapat
didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan dengan menggunakan tulisan sebagai
mediumnya.
Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam suatu tulisan. Adapun tulisan
merupakan sebuah sistem komunikasi
antarmanusia yang menggunakan simbol atau
lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakainya. Di dalam komunikasi tertulis
terdapat empat unsur yang terlibat. Keempat
unsur itu adalah (1) penulis sebagai penyampai
pesan, (2) pesan atu isi tulisan, (3) saluran atau
Penggunaan Media Gambar Berseri
medium tulisan, dan (4) pembaca
penerima pesan.
sebagai
Tujuan Menulis
Hugo Hartig dalam Tarigan (1986: 24-25) merumuskan tujuan menulis sebagai berikut.
1. Tujuan penugasan, sebenarnya tidak
memiliki tujuan karena orang yang menulis
melakukannya karena tugas yang diberikan
kepadanya.
2. Tujuan altruistik, penulis bertujuan
menyenangkan pembaca, menghindarkan
kedudukan pembaca, ingin menolong
pembaca memahami, menghargai perasaan
dan penalaranya, ingin membuat hidup
para pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu.
3. Tujuan persuasif, penulis bertujuan
meyakinkan para pembaca akan kebenaran
gagasan yang diutarakan.
4. Tujuan informasional, penulis bertujuan
memberi informasi atau keterangan kepada
para pembaca.
5. Tujuan pernyataan diri, penulis bertujuan
memperkenalkan atau menyatakan dirinya
kepada pembaca.
6. Tujuan kreatif, penulis bertujuan melibatkan dirinya dengan keinginan mencapai
norma artistik, nilai-nilai kesenian.
7. Tujuan pemecahan masalah, penulis
bertujuan untuk memecahkan masalah
yang dihadapi.
Cara Meningkatkan Kemampuan Menulis
Siswa
Untuk mengajarkan menulis kepada siswa
seorang guru dapat menggunakan pendekatan
dalam pembelajaran menulis. Menurut Proett
dan Gill dalam Suparno (2010 : 14) pendekatan
yang kerap muncul dalam pembelajaran menulis
sebagai berikut.
1. Pendekatan frekuensi menyatakan, banyaknya latihan mengarang, sekalipun tidak
dikoreksi (seperti buku harian atau surat),
akan membantu meningkatkan keterampilan menulis seseorang.
2. Pendekatan gramatikal berpendapat,
pengetahuan orang mengenai struktur
bahasa akan mempercepat kemahiran orang
dalam menulis.
3.
4.
Pendekatan koreksi berkata, seseorang
menjadi penulis karena dia menerima
banyak koreksi atau masukan yang
diperoleh atas tulisannya.
Pendekatan formal mengungkapkan,
keterampilan menulis akan diperoleh bila
pengetahuan bahasa, pengalineaan,
pewacanaan, serta konvensi atau aturan
penulisan dikuasai dengan baik.
Pengertian Teks Prosedur
Menurut Kemendikbud (2014: 84) teks prosedur
merupakan teks yang berisi tujuan dan langkah
yang harus diikuti agar suatu pekerjaan dapat
dilakukan. Di dalam teks prosedur diuraikan
bagaimana sesuatu dikerjakan melalui
serangkaian langkah atau tindakan. Teks
prosedur adalah jenis teks yang sering kita
jumpai sehari-hari. Dalam berbagai konteks jenis
teks ini dapat kita jumpai dalam kehidupan
sehari-hari. Misalnya, ketika kita menonton
acara televisi, ada tayangan memasak atau cara
mencuci pakaian dengan mesin cuci.
Pengertian Media Gambar Seri
Menurut Djamarah dan Zain dalam Hasnindah,
(2011: 8), secara umum media dapat digolongkan
ke dalam tiga jenis, yaitu: media auditif
(mengandalkan kemampuan suara), media
visual (mempunyai unsur gambar), dan media
audio-visual (mempunyai unsur suara dan
gambar). Media yang dimaksud dalam kajian ini
adalah media gambar seri dalam pembelajaran
yang hanya mempunyai unsur gambar, berupa
gambar seri sebagai media visual.
Sapari dalam Hasnindah, (2011: 8) mengemukakan, media gambar seri merupakan serangkaian gambar yang terdiri dari dua hingga enam
gambar yang menceritakan suatu kesatuan cerita
yang dapat dijadikan alur pemikiran siswa
dalam mengarang, setiap gambar dapat
dijadikan paragraf.
Pendapat di atas menegaskan media gambar
seri adalah media yang berisi gambar berseri, dan
setiap gambar memiliki kaitan antara satu
dengan yang lainnya. Setiap gambar dalam
media gambar seri mengandung makna adanya
alur dalam suatu cerita secara bergambar yang
harus disusun dengan baik. Jadi, penyusunan
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
55
Penggunaan Media Gambar Berseri
gambar harus sesuai dengan alur cerita yang
seharusnya sehingga mengandung makna
tertentu, dan gambar tersebut dapat dibuat
dalam bentuk cerita atau karangan yang menarik.
3.
Fungsi dan Manfaat Media Gambar Seri
Sebagai Media Visual
Menurut Azhar Arsyad dalam Iskandar (2011:
45), salah satu fung si utama media pembelajaran
adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut
mempengaruhi iklim, kondisi dan lingkungan
belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.
Keberadaan media pembelajaran seperi media
gambar seri memiliki fungsi dan manfaat tertentu
sehingga dapat mendukung proses pembelajaran yang berkualitas. Fungsi dan maanfaat
media pembelajaran akan sangat terkait dengan
bentuk dan jenis media pembelajaran yang
digunakan, seperti media gambar yang sifatnya
berseri atau terdiri beberapa gambar yang
memiliki keterkaitan antara gambar yang satu
dengan yang lainnya.
Media gambar seri merupakan jenis media
visual atau hanya mempunyai unsur gambar.
Adapun fungsi media visual dalam pembelajaran menurut Levie & Lentz dalam Arsyad,
(2011: 16), yaitu: “fungsi atensi, fungsi afektif,
fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris”.
Keempat fungsi media visual tersebut akan
diuraikan sebagai berikut.
1.
2.
56
Fungsi atensi media visual, seperti media
gambar seri yang dapat menarik dan
mengarahkan perhatian siswa untuk
berkonsentrasi terhadap isi pelajaran yang
ditampilkan atau menyertai teks materi
pelajaran. Contohnya, ketika siswa bosan
mendengarkan ceramah guru, maka guru
memperlihatkan gambar beberapa yang
berkaitan dengan materi pelajaran. Ini
dapat menarik perhatian dan konsentrasi
siswa terhadap materi pelajaran karena
adanya media yang dapat dilihat langsung.
Fungsi afektif media visual, seperti media
gambar seri yang diperagakan oleh guru
akan menggugah emosi dan sikap siswa,
misalnya informasi yang menyangkut
masalah sosial atau ras dalam kehidupan
sehari-hari. Kemampuan belajar siswa akan
lebih meningkat melalui penggunaan
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
4.
gambar seri. Penggunaan gambar seri
diupayakan menggugah perasaan siswa
tentang berbagai peristiwa melalui gambar
yang disajikan secara berseri.
Fungsi kognitif media visual, seperti gambar
seri akan dapat memperlancar pencapaian
tujuan untuk memahami dan mengingat
informasi atau pesan yang terkandung
dalam gambar. Jadi, penggunaan media
gambar seri sebagai media visual akan
meningkatkan daya pikir siswa terhadap
materi pelajaran.
Fungsi kompensatoris media visual, seperti
media gambar seri akan memberikan
konteks untuk memahami teks dan
membantu siswa yang lemah dalam
membaca untuk mengorganisasikan
informasi dalam teks dan dapat mengingat
kembali. Hal ini sangat penting dalam
mengakomodasi siswa yang lemah dan
lambat dalam menerima dan memahami isi
pelajaran yang disajikan dengan teks atau
disajikan secara verbal, karena murid dapat
melihat secara langsung dan mengaitkan
dengan materi pelajaran.
Berdasarkan pendapat di atas, jelas bahwa
media memiliki fungsi yang sangat luas dan
penting, terlebih dalam dunia pendidikan,
sebagaimana digunakan guru dalam proses
pembelajaran. Sungguhpun demikian, dalam
pengadaan dan pemanfaatannya senantiasa
masih menghadapi berbagai kendala, baik
karena tidak disiapkan oleh pihak sekolah
maupun keterbatasan kemampuan guru dalam
membuat dan menggunakan media
pembelajaran, seperti gambar seri.
Sudjana dan Rivai dalam Arsyad (2011: 24),
mengemukakan manfaat media pembelajaran
dalam proses belajar mengajar sebagai berikut.
1.
2.
3.
Pembelajaran akan lebih menarik perhatian
siswa sehingga dapat menumbuhkan
motivasi belajar. Bahan pembelajaran akan lebih jelas
maknanya sehingga dapat lebih dipahami
siswa dan memungkinkan siswa menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran.
Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak
semata-mata komunikasi verbal melalui
penuturan kata-kata oleh guru, sehingga
siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan
Penggunaan Media Gambar Berseri
4.
tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada
setiap jam pelajaran.
Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan
uraian guru, tetapi juga aktivitas lain, seperti
mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan memerankan.
Pendapat tersebut di atas, menjelaskan,
begitu besar manfaat media pembelajaran seperti
media gambar seri, karena dapat membantu
tercapainya proses pembelajaran yang optimal,
baik dalam memudahkan bagi guru saat
mengajar maupun bagi siswa dalam memahami
materi pelajaran. Hal ini sesuai dengan peran
guru sebagai mediator dan fasilitator yang
memiliki pengetahuan dan pemahaman yang
cukup tentang media pendidikan untuk lebih
mengefektifkan proses belajar mengajar.
Langkah-langkah Penggunaan Media Gambar
Seri
Menurut Shaoran (2014) berdasarkan model
pembelajaran examples non examples (contoh dari
kasus/gambar yang relevan dengan KD),
langkah-langkah penggunaan media gambar
seri dapat disusun sebagai berikut.
1. Guru mempersiapkan gambar sesuai
dengan tujuan pembelajaran.
2. Guru menempelkan gambar di papan atau
ditayangkan melalui OHP.
3. Guru memberi petunjuk dan memberi
kesempatan pada siswa untuk memerhatikan atau menganalisis gambar.
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa,
hasil diskusi analisis gambar tersebut
dicatat pada kertas.
5. Tiap kelompok diberi kesempatan untuk
membacakan hasil diskusinya.
6. Mulai dari komentar atau hasil diskusi
siswa, guru mulai menjelaskan materi
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
7. Membuat kerangka karangan.
8. Membuat karangan.
Pembahasan
Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan
menulis teks siswa dan diduga media menjadi
salah satu faktor penyebabnya. Paradigma baru
pembelajaran menurut Mi’raj (2014 : 95)
mengharuskan pendidik mampu melaksanakan
pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif,
dan menyenangkan (Paikem). Oleh karena itu,
guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan
alat/media meskipun sederhana dan bersahaja,
tetapi sedikit banyaknya apa yang dilakukan
oleh guru tersebut merupakan upaya mencapai
tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis
tertarik untuk memfasilitasi siswa melalui media
pembelajaran dengan asumsi bahwa pembelajaran akan lebih efektif dan menarik, siswa juga
termotivasi untuk menyelesaikan masalah
dengan lebih cepat, dan hasil belajar akan lebih
baik. Adapun alasan penulis menggunakan
media gambar berseri adalah agar dapat
mendapatkan hasil yang maksimal. Penggunaan
media pembelajaran akan menarik minat belajar
siswa serta memudahkan siswa memahami
materi. Pemakaian media yang tepat dapat
membantu siswa meningkatkan pemahaman,
menyajikan data dengan menarik dan terpercaya,
memudahkan penafsiran data, serta membangkitkan motivasi dan minat siswa dalam belajar.
Berikut ini disajikan bahasan tentang
gagasan/ide penulis dalam upaya memecahkan
masalah yang berkaitan pembelajaran dengan
topik menulis teks prosedur dan menggunakan
media gambar berseri.
1. Media Pembelajaran yang Murah Meriah
Penggunaan media pembelajaran yang sesuai
akan memberikan manfaat yang sangat besar
bagi keberhasilan proses pembelajaran. Pencapaian hasil belajar bahasa Indonesia di sekolah
pada umumnya masih sangat rendah, disebabkan beberapa faktor di antaranya guru dan siswa.
Guru sangat berperan dalam keberhasilan
belajar siswa antara lain faktor pemilihan
strategi, metode dan model pembelajaran yang
tepat dalam proses belajar mengajar di kelas.
Menurut Ginting (2011 : 14), pada hakikatnya
seorang pendidik adalah seorang fasilitator, baik
dalam aspek kognitif, efektif, psikomotor,
maupun konatif. Oleh sebab itu, seorang guru
harus mampu membangun suasana belajar yang
kondusif. Namun, pada umumnya guru masih
menggunakan teknik dan strategi yang masih
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
57
Penggunaan Media Gambar Berseri
konvensional serta kurang kreatif dan menarik
dalam penggunaan media pembelajaran,
bahkan masih banyak guru yang kurang mampu
menggunakan media pembelajaran dengan baik.
Media pembelajaran adalah salah satu faktor
yang mendukung keberhasilan proses
pembelajaran karena media pembelajaran
berfungsi sebagai perantara atau pengantar
pesan dari guru (tenaga pendidik) kepada
penerima pesan (peserta didik). Dengan
penggunaan media yang sesuai dengan karakter
materi pelajaran, pembelajaran akan terasa
menarik dan membuat siswa senang serta
mudah memahami bahan pelajaran (Ngarso,
2012). Salah satu manfaat penggunaan media
pembelajaran ialah memungkinkan adanya
interaksi langsung perserta didik dengan
lingkungannya (sesuai dengan nilai falsafah
CTL/Contextual Teaching Learning). Dengan
demikian, dapat disampaikan bahwa media
pembelajaran merupakan alat bantu yang dapat
dimanfaatkan untuk menghubungkan pesan
dari guru kepada siswa dengan tujuan untuk
meningkatkan proses belajar mengajar
(Iskandar, 2011 : 43)
Selain faktor guru yang mempengaruhi
keberhasilan pembelajaran adalah siswa itu
sendiri. Pengaruh siswa antara lain adalah
bagaimana ketertarikan, motivasi, rasa senang,
respon, dan keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat
Ginting (2011:14) mendidik tidak sekedar
mentransfer ilmu pengetahuan, melatih keterampilan verbal kepada peserta didik, namun
merupakan bantuan agar peserta didik dapat
menumbuh-kembangkan dirinya secara optimal.
Untuk mengatasi masalah kurangnya
kreatifitas guru membuat media pembelajaran
maka penulis mencoba menyampaikan sebuah
bentuk media pembelajaran yang sangat
sederhana dan murah bahkan tanpa mengeluarkan dana sebagai biaya pembuatan media yaitu
media pembelajaran yang berbahan baku
kemasan makan cepat saji atau kardus bekas
refill tinta printer. Menggunakan media
pembelajaran kemasan makanan cepat saji dapat
meningkatkan partisipasi serta keaktifan peserta
didik dalam mengikuti proses pembelajaran
sebab siswalah yang harus menyediakan.
58
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Banyak tenaga pendidik atau guru yang
merasa kesulitan membuat dan menggunakan
media pembelajaran yang sesuai dengan situasi
dan kondisi sekolah. Alasannya terbentur
masalah dana dan bahan. Padahal media
pembelajaran tidak harus sesuatu yang mahal
dan dapat menggunakan bahan yang sangat
sederhana. Media dapat dibuat dengan biaya
rendah atau bahkan tanpa penggunaan dana.
Untuk mengatasi hal ini penulis mencoba
memberi solusi yakni pemanfaatan barang bekas
sebagai sumber belajar sekaligus media pembelajaran bahasa Indonesia. Salah satu materi yang
dituntut dalam Standar Isi Bahasa Indonesia
siswa kelas 8 adalah Teks Prosedur. Informasi
teks prosedur ini terdapat pada kemasan
makanan yang menampilkan informasi sesuai
dengan langkah yang dituntut dalam sebuah
teks prosedur. Langkah tersebut tidak hanya
menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga
dalam bahasa Inggris, bahkan ada juga yang
dilengkapi bahasa Arab (3 bahasa).
Adapun barang bekas yang dapat dipergunakan antara lain kemasan makanan cepat saji
dan kardus bekas refill tinta printer. Di samping
dapat digunakan sebagai media pembelajaran
yang murah meriah serta memperoleh materi
yang bervariasi dan menarik, penggunaan
kemasan makanan atau kardus bekas ini untuk
mengaplikasikan pendidikan karakter cinta
lingkungan hidup kepada siswa.
Untuk memperoleh media ini, mencari di
sekitar tempat tinggalnya. Langkah ini juga
sebagai pembelajaran bagi sisiwa untuk peduli
dengan lingkungannya dan menanamkan nilainilai ‘penemuan’ dan ‘penelitian’ (sesuai falsafah pendekatan inquiri). Siswa akan berlatih
mengidentifikasi kemasan makanan yang
memenuhi kriteria yang diharapkan, karena
tidak semua kemasan makanan layak pakai
untuk digunakan sebagai media pembelajaran
pada genre procedure. Beberapa kemasan yang
dapat digunakan adalah kemasan mie instan,
agar-agar powder, cereal, soft drink, dll. Kemasan
makanan ini sesuai untuk kelas 8, dan kita dapat
menggunakan petunjuk manual dari beberapa
alat elektronik dapat dipergunakan sebagai
penyesuaian tingkat kesulitan kosa kata
(Ngarso, 2012).
Penggunaan Media Gambar Berseri
Media gambar berseri yang dapat kita
gunakan adalah sebagai berikut.
a.
Bungkus Agar- Agar.
Sumber : Agar-agar cap Argapura PT Sinar Kentjana Surabaya
Sumber :
http://liounilovawhite.blogspot.co.id/2011/11/pengertian-dan-berbagai-contoh-petunjuk.html
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
59
Penggunaan Media Gambar Berseri
b.
Kardus bekas isi ulang tinta printer.
c.
Bungkus bekas Mie Instan.
Sumber: https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Indomie_2010.
png&filetimestamp=20131025151310&
60
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Penggunaan Media Gambar Berseri
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Indomie_%28reverse%29.jpg
Langkah-langkah penulisan teks prosedur berdasarkan Resep Membuat Mie Instan Mirip Bungkus
– Mie Kuah Rasa Ayam Bawangyang diambil dari Sumber : http://resephariini.com/3-resepmembuat-mie-instan-mirip-bungkus/sebagai berikut.
Sumber : http://resephariini.com/3-resep-membuat-mie-instan-mirip-bungkus/
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
61
Penggunaan Media Gambar Berseri
Mie instan kuah dengan rasa ayam bawang
merupakan sajian mie instan yang paling
terkenal, karena hampir semua merk mie instan
memiliki rasa ini dan tentunya sangat mudah
ditemukan. seperti di supermarket, minimarket,
alfamart, warung kopi bahkan angkringan. Rasa
ini yang paling banyak tersedia.
Menyajikan mie kuah rasa ayam bawang
yang sama dan mirip sama seperti bungkusnya,
sangat mudah. Bahan dan cara membuatnya
adalah seperti berikut.
Bahan-bahan Mie Kuah :
·
Mie instan rasa ayam bawang 1 buah
·
Telur 1 butir ( rebus lalu belah menjadi 2 )
·
Paha ayam goreng 1 buah
·
Tomat 1 buah ( iris menjadi 4 bagian dan
ambil 4 saja )
·
Bawang merah 1 butir ( cuci bersih dan
biarkan bulat )
·
Irisan daun bawang secukupnya
·
Daun seledri 1 tangkai
1.
2.
3.
4.
Cara membuatmie Kuah rasa ayam bawang:
Langkah awal, rebus mie instan hingga
matang, tuang ke mangkuk lalu campur
bumbu instannya.
Setelah itu, tambahkan bahan-bahan yang
sudah disiapkan tadi dengan garnish
sesuai dengan saran penyajian yang ada di
bungkusan.
Terakhir, tambahkan bawang goreng di
atasnya untuk penambah rasa sedapanya.
Mie kuah rasa ayam bawang sama seperti
bungkusnya siap disantap.
Berdasarkan contoh sederhana tersebut di
atas, siswa dapat tertarik dan berkesimpulan
bahwa tidak terlalu sulit menulis teks prosedur.
Dengan demikian, penggunaan media dapat
meningkatkan keaktifan siswa dalam menulis
teks prosedur dengan benar. Media gambar
berseri yang berasal dari bungkus makanan
instan bekas tepat dipergunakan dalam kasus
seperti ini.
62
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
2.
Penerapan dan Penggunaan Media
Gambar Berseri Dalam Pembelajaran
Menulis Teks Prosedur.
Ciri utama teks prosedur adalah memiliki cara
atau langkah yang urutannya tidak dapat
berubah. Untuk menghasilkan teks prosedur
yang baik, struktur yang menjadi pembangunan
teks tersebut harus diketahui. Proses
pembelajaran menulis teks prosedur dengan
media gambar berseri terdiri atas beberapa
langkah pembelajaran. Langkah-langkah
tersebut cukup sederhana meliputi:
(1) guru memberikan materi mengenai
pembelajaran menulis teks prosedur
kompleks dengan media gambar berseri,
(2) guru memberikan contoh teks prosedur
kompleks,
(3) guru dan siswa melaksanakan tanya jawab,
(4) guru membagikan gambar berseri,
(5) guru memberikan tugas menulis teks
prosedur kompleks sesuai dengan gambar
yang ditentukan,
(6) siswa menulis teks prosedur kompleks
berdasarkan gambar, dan
(7) guru melakukan evaluasi.
Guru yang baik adalah guru yang mampu
melihat situasi dan menerapkan strategi yang
tepat dalam pembelajaran. Langkah kegiatan
pembelajaran secara rinci adalah sebagai
berikut.
Pertemuan Pertama
a. Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
(1) Peserta didik merespon salam dan
pertanyaan dari guru yang berhubungan
dengan kondisi siswa dan kelas
(2) Peserta didik merespon pertanyaan dari
guru tentang keterkaitan pengetahuan
sebelumnya dengan materi yang akan
dipelajari
(3) Peserta didik menerima informasi
kompetensi yang harus dicapai, tujuan pembelajaran dan langkah pembelajaran
yang akan dilaksanakan
(4) Peserta didik membentuk kelompok
diskusi menjadi lima kelompok diskusi
Penggunaan Media Gambar Berseri
b. Kegiatan Inti (60 menit)
Sintak
Stimulasi
Pengolahan Data
Pengumpulan Data
Kegiatan
Mengamati
-
Siswa melihat dan mengamati gambar berseri "Cara memasak ikan
asam pedas"
-
Siswa membaca dua teks yang berbeda dengan cermat mengenai
struktur teks prosedur dan teks eksplanasi berjudul "Cara Menanam
Buah Naga yang Baik dan Benar" di buku siswa halaman 96 dan teks
dan teks berjudul "Gempa Bumi"
-
Siswa membaca informasi mengenai struktur teks prosedur dan teks
eksplanasi
Mengolah Informasi
-
Siswa menanyakan sebanyak mungkin struktur teks prosedur dan
struktur teks eksplanasi
-
Siswa menanyakan sebanyak mungkin ciri-ciri kebahasaan teks
prosedur dan teks eksplanasi
Mengumpulkan Informasi
-
Pengolahan Data
Pembuktian
Siswa secara berkelompok melakukan wawancara pada narasumber
mengenai perbedaan teks prosedur dan teks eksplanasi dari segi
struktur dan ciri-ciri kebahasaan
Siswa membaca literatur dari perpustakaan atau internet sekolah
Mengolah Informasi
-
Siswa mendiskusikan perbedaan struktur teks prosedur dengan teks
eksplanasi
-
Siswa mendiskusikan perbedaan teks prosedur dengan teks
eksplanasi dari segi kebahasaan
-
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memverifikasi
sehingga dapat menemukan konsep tentang struktur dan segi
kebahasaan teks prosedur dan teks eksplanasi
Mengkomunikasikan
Masing-masing kelompok siswa mempresentasikan hasil diskusi
kelompok mengenai perbedaan struktur teks dan ciri-ciri kebahasaan
teks prosedur dan eksplanasi dengan jujur, percaya diri dan
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar kemudian
ditanggapi oleh kelompok lain
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
63
Penggunaan Media Gambar Berseri
c. Kegiatan Penutup (10 menit)
(1) Dengan bimbingan guru. Peserta didik
menyimpulkan materi pelajaran tentang
perbedaan teks prosedur dan teks
eksplanasi dari segi struktur dan
kebahasaan
(2) Siswa melakukan refleksi dengan
mengidentifikasi hambatan-hambatan
yang dialami saat memahai perbedaan
teks prosedur dan teks eksplanasi
(3) Siswa mengerjakan tes tulis
(4) Siswa mendengarkan umpan balik dan
penguatan dari guru mengenai perbedaan teks prosedur dan teks eksplanasi
dari segi struktur dan kebahasaan
(5) Siswa menyimak informasi mengenai
rencana tindak lanjut pembelajaran
Pertemuan Kedua
a. Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
(1) Siswa merespon salam dan pertanyaan
dari guru yang berhubungan dengan
kondisi siswa dan kelas
(2) Siswa merespon pertanyaan dari guru
tentang keterkaitan pengetahuan yang
akan dipelajari, yaitu menyusun teks
prosedur dengan materi yang pernah
dipelajari pada pembelajaran
sebelumnya yaitu perbedaan teks
prosedur dan teks eksplanasi dari segi
struktur dan ciri bahasa
(3) Siswa menerima informasi kompetensi
yang harus dicapai, tujuan pembelajaran dan langkah pembelajaran yang
akan dilaksanakan
(4) Siswa membentuk kelompok diskusi
menjadi 5 kelompok diskusi
Jelli adalah makanan sehat keluarga yang
berasal dari rumput laut dan tidak asing bagi
siswa. Rasanya yang enak disantap ketika
pulang sekolah dan menjadi kegemaran siswa
menjadi inspirasi buat penulis menjadikannya
sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia,
khususnya tentang menulis teks prosedur.
Dengan menggunakan media ini diharapkan
dapat mempermudah pemahaman siswa
tentang materi yang disampaikan.
Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis
membuat desain pembelajaran menulis teks
prosedur yang berbeda dari sebelumnya. Hal ini
bertujuan untuk membangun pemahaman dan
keterampilan
siswa
membuat
teks
prosedur membuat jell melalui gambar berseri
yang telah disiapkan.
Siswa ditantang untuk membuat teks
prosedur tentang cara membuat jell sebagai
kompetensi yang akan mereka capai dalam
pembelajaran ini. Lembar kerja diberikan kepada
siswa yang menuntun mereka menentukan alat,
bahan, dan langkah pembuatan jelli. Guru
mengarahkan siswa menyelesaikan lembar kerja
itu secara berkelompok. Adapun hasil kerja
siswa dapat dilihat pada Lembar Kerja Siswa.
b. Kegiatan Inti
Siswa dalam kelompoknya mulai
mendiskusikan langkah-langkah dengan
mengamati gambar berseri yang disediakan oleh
guru. Hasilnya mereka tulis pada lembar kerja.
Mereka juga menetapkan prosedur atau cara
membuat jell dengan menyusun langkahlangkah kerja yang diberikan oleh guru secara
acak. Langkah yang mereka tempuh sejak awal,
mulai dari gambar seri 1 sampai gambar seri 4 ,
mereka tuangkan pada lembar kerja. Hasil
kelompok ini kemudian dipresentasikan secara
pleno.
Pada kegiatan sebelumnya, penulis melihat
siswa kesulitan memahami dan membuat teks
prosedur dengan memperhatikan struktur teks
dan ciri kebahasaannya. Hal ini disebabkan
guru hanya memberi tugas membaca buku teks
dan menyusun teks prosedur berdasarkan
contoh yang sudah ada di buku teks. Jika hanya
diberi tugas tanpa disertai praktik langsung,
tentu siswa akan cepat bosan. Adapun gambar
berseri yang digunakan pada pertemuan ini
adalah urutan gambar cara membuat jelli.
Berdasarkan temuan kelompok yang telah
disempurnakan, setiap siswa menyusun teks
prosedur tentang cara membuat jelli dengan
memperhatikan struktur dan ciri kebahasaannya. Hasil kerja setiap siswa
dipertukarkan dalam kelompoknya untuk
dikoreksi atau diberi masukan mengenai
ketepatan struktur beserta penggunaan tanda
baca, ejaan, pemilihan dan penggunaan kata
termasuk kata bilangan, dan pengembangan
kalimat perintah.
64
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Penggunaan Media Gambar Berseri
Lembar Kerja Siswa
Nama siswa/kelompok
: Kelompok 1
Kelas, No. Absen
: VIII
1. Bacalah dengan seksama teks prosedur berikut!
2.
Isilah tabel di bawah ini dengan contoh di atas.
Struktur Teks
Kalimat
Tujuan
Jell adalah makanan sehat keluarga dari rumput laut yang
mengundang serat tinggi vitamin, kalsium dan probiotik, baik untuk
kesehatan jika di konsumsi secara benar
Langkah-langkah
1.
Campurkan jelly powder dengan gula satu gelas (200 g) atau sesuai
selera
2.
Tambahkan air sebanyak 31/2 gelas (700ml) panaskan lalu aduk
hingga merata.
3.
Matikan api, diamkan 3 menit. Campurkan fruity acid ke dalamnya
dan aduk merata
4.
Jelli siap dicetak
Berdasarkan masukan dari teman, siswa
menyempurnakan teks prosedur yang mereka
susun. Hasilnya, teks prosedur yang dibuat oleh
siswa tampak lebih baik dan terarah sesuai
dengan struktur teks dan memenuhi ciri-ciri
kebahasaan teks prosedur. Selain itu, siswa juga
dapat mengembangkan kreativitasnya dalam
menyusun teks prosedur dan dapat bekerja sama
dengan baik di dalam kelompoknya.
c. Kegiatan Penutup (10 menit)
(1) Dengan bimbingan guru. Siswa menyimpulkan materi pelajaran tentang
menyusun kerangka teks prosedur dan
mengembangkannya menjadi teks
prosedur yang utuh
(2) Siswa melakukan refleksi dengan
mengidentifikasi hambatan-hambatan
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
65
Penggunaan Media Gambar Berseri
Sintak
Kegiatan
Mengamati
Menanya
Mengumpulkan
Informasi
Mengolah Informasi
-
Peserta didik membaca contoh teks prosedur, dari gambar berseri
yang telah disiapkan tentang memasak jelli
-
Peserta didik memperhatikan kerangka teks prosedur
-
Peserta didik menanyakan sebanyak mungkin tentang kerangka
menyusun teks prosedur
-
Peserta didik menanyakan sebanyak mungkin tentang menyusun
teks prosedur
-
Peserta didik secara berkelompok melakukan wawancara pada
narasumber mengenai menyusun kerangka menyusun teks
prosedur
-
Peserta didik membaca literatur dari perpustakaan atau internet
sekolah
-
Guru memberi kesempatan kepada siswa secara berkelompok
untuk menyusun kerangka teks prosedur dan
mengembangkannya menjadi teks prosedur utuh
-
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memverifikasi
sehingga dapat menemukan susunan teks prosedur yang benar
Mengomunikasi- kan Peserta didik mempresentasikan hasil kelompok berupa susunan
teks prosedur
yang dialami saat memahai perbedaan
teks prosedur dan teks eksplanasi
(3) Siswa mendengarkan umpan balik dan
penguatan dari guru mengenai
perbedaan teks prosedur dan teks
eksplanasi dari segi struktur dan
kebahasaan
(4) Siswa menyimak informasi mengenai
rencana tindak lanjut pembelajaran
(Windiarto, 2014)
Demikian langkah-langkah yang dilakukan
oleh guru dalam pembelajaran menulis teks
prosedur dengan benar, dengan menggunakan
media gambar berseri.
Simpulan
Kesimpulan
Dalam kehidupan sehari-hari manusia
melakukan berbagai kegiatan mulai dari
kegiatan sederhana hingga kegiatan komplek.
66
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Agar tujuan pelaksanaannya terpenuhi, kegiatan
tersebut harus dilakukan berdasarkan prosedur
tepat. Prosedur tersebut berisi perlengkapan dan
langkah untuk mencapai tujuan. Langkah
tersebut dilakukan secara urut, bukan acak.
Pembelajaran menulis teks prosedur di kelas
8 menggunakan media gambar berseri disadari
sangat membantu aktifitas pembelajaran, baik
di dalam maupun di luar kelas. Pembelajaran
dengan menggunakan media yang mudah
didapat, barang bekas, dan lebih menarik bagi
pembelajar dan pencapaian hasil belajar siswa
juga akan maksimal dibandingkan dengan
pembelajaran yang hanya dilakukan dengan
menggunakan pesan yang dituangkan dengan
kata.
Penggunaan media pembelajaran menarik
minat belajar siswa serta memudahkan siswa
memahami materi. Pemakaian media yang tepat
dapat membantu siswa meningkatkan
pemahaman, menyajikan data dengan menarik
dan terpercaya, memudahkan penafsiran data,
Penggunaan Media Gambar Berseri
serta membangkitkan motivasi dan minat siswa
dalam belajar. Satu hal yang terpenting adalah
terlaksananya pembelajaran yang aktif, inovatif,
kreatif, efektif dan menyenangkan antara
pendidik dan peserta didik.
Saran
Beberapa hal yang disarankan agar tidak terjadi
kesalahan besar dalam proses penulisan teks
prosedur, maka hal-hal yang dapat dilakukan
guru, siswa, maupun sekolah antara lain : (1)
siswa hendaknya memperluas pengetahuan
tentang kaidah bahasanya, (2) Siswa hendaknya
aktif bertanya kepada guru jika mengalami
kesulitan,(3) siswa sering berlatih menulis; (4)
guru disarankan memberikan pengetahuan
tentang kaidah bahasa kepada siswa di setiap
proses pembelajaran menulis, menggunakan
pendekatan proses dalam pembelajaran menulis,
dan senantiasa memperluas kosa kata dan
memberi contoh terkait dengan penggunaan
bahasa Indonesia yang baik dan benar baik
secara lisan maupun tertulis; dan (5) pihak
sekolah hendaknya berkenan melengkapi
sumber pustaka terkait yang memadai seperti
buku-buku seputar karang-mengarang, EYD,
media massa, media pembelajaran dan
sebagainya. Hal itu menunjukkan kepada kita
bahwa pihak sekolah pun juga bertanggung
jawab terhadap pembinaan bahasa Indonesia
sebagai bahasa kebanggaan kita.
Daftar Pustaka
Abidin, Yunus. (2012). Pembelajaran bahasa
berbasis pendidikan karakter. Bandung:
Refika Aditama
Aimha, (2013). Peningkatan Keterampilan Menulis.
http://aimhalelet.blogspot. co.id/
2013/12/peningkatan-keterampilanmenulis.html Diakses tgl 7 mei 2016
pukul 10.39
Akhadiah, S., Maidar, G.A., dan Sakura, H.R.
(1989). Pembinaan kemampuan menulis
bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Arsyad, Azhar. (2011). Media pembelajaran.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Dantes, I Nyoman. (2014). Landasan pendidikan.
Singaraja: Undiksha
Effendy, Akip (2012). Keterampilan menulis, http:/
/akipeffendy.blogspot.co.id/2012/03/
hak-i-kat-keterampilan-menulis.html
diakses tanggal 25 Juni 2016
Ginting, Edison (2011). Diklat Regional fokus
integrasi pendidikan budaya, karakter
bangsa dan kewirausahaan dalam
pembelajaran, dalam Majalah Swara
Edisi IX Nopember 2011, Cimahi: Pusat
Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Bidang Mesin dan Teknik Industri
Hasnindah, Abbas. (2011). “Meningkatkan hasil
belajar bahasa Indonesia keterampilan
menulis materi membuat karangan melalui
media gambar seri pada murid kelas V SDN
Sudirman III Makassar”. Skripsi.
Makassar: FIP UNM
Iskandar, Alex. (2011). Manfaat Media
Pembelajaran, dalam Majalah Swara
Edisi IX, Nopember 2011.Cimahi: Pusat
Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Bidang Mesin dan Teknik Industri
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan.
(2014), Bahasa Indonesia wahana
pengetahuan. Jakarta, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan
Mahsun, MS. (2013). Teks dalam pembelajaran
bahasa Indonesia Kurikulum 2013. Jakarta:
Rajawali Press
Mi’raj, Hamidi. (2014). Meningkatkan Perolehan
Kemampuan Membaca Al-Quran
dengan Menggunakan Media CD
Pembelajaran, dalam Jurnal Pendidikan
Agama Islam Maju Bersama Volume 2
Edisi Juni 2014, Sekolah Tinggi Ilmu
Tarbiyah Syarif Abdurrahman,
Singkawang
Nurlaela (2012). Strategi Pembelajaran
Kooperatif, dalam Jurnal PTK Dikmen
Volume 2, No.1 Oktober 2012, Direktorat
Pembinaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Pendidikan Menengah,
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
67
Penggunaan Media Gambar Berseri
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,Jakarta
Ngarso, Den Baguse, (2012).Pendahuluan
Pencapaian Hasil Belajar. http://
mgmpingbara.blogspot.co.id/2012/05/
p en d ah ul u an - pe n c a p ai an - ha s il belajar.html diakses 07 Mei 2016
Rusyana, Yus. (1988). Bahasa dan sastra dalam
gamitan pendidikan, Bandung :
Diponegoro
Tarigan, Henry Guntur. (1986). Menulis sebagai
suatu keterampilan berbahasa. Bandung:
Penerbit Angkasa
Shaoran, (2014), “Media gambar seri,” http://
shaoran1401.blogspot.co.id/2014/01/
media-gambar-seri.html diakses tgl 07
mei 2016 10.37
Sucipto, Maya Gustina., Uti Darmawati, Y.Budi
Artati. (2014). Pegangan guru bahasa
Indonesia, Klaten : PT Intan Pariwara
Suparno, Mohamad Yunus. (2010). Materi pokok
keterampilan dasar menulis. Jakarta :
Universitas Terbuka
Syafi’ie, I. (1988), Retorika dalam menulis. Jakarta:
Depdikbud
68
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Taher. M. (2014). Media yang relevan dalam
pembelajaran kurikulum 2013. http://
sumut.kemenag.go.id/ diakses 27
Oktober 2014
Windiarto, Prito, (2014), “Rencana pelaksanaan
pembelajaran kurikulum 2013 Kelas 8 Teks
Prosedur Dan Teks Eksplanasi” http://
Pritowindiarto.Blogspot.Co.Id/2014/
10/Rencana-PelaksanaanPembelajaran.HtmlDiakses 18 Mei 2016
Pukul 21.06
Wiratmajaya, I Gst. Ngurah Adi, I Wayan Artika,
Ida Ayu Made Darmayanti. (2015).
Penggunaan gambar berseri untuk
meningkatkan kemampuan menulis teks
prosedur kompleks pada siswa kelas X
Akuntansi A Smk Negeri 1 Singaraja,”
dalam e-Journal Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha
Volume : Vol: 3 No: 1 Tahun:2015,
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia, Universitas Pendidikan
Ganesha Singaraja, Indonesia
Taking Learning to Task
Opini
Taking Learning to Task,
Strategi Pembelajaran Orang Dewasa
Yuli Kwartolo
Email: [email protected]
Pengajar freelance di beberapa satuan pendidikan
Abstrak
gar proses pendidikan dapat memberikan kemampuan berpikir tingkat tinggi kepada
peserta didik, berbagai pendekatan dan strategi pembelajaran dikembangkan oleh guru.
Akan tetapi, berbagai kendalaa masih dihadapi dan hasil yang dicapai belum sepenuhnya
seperti yang diharapkan. Tulisan ini membahas taking learning to task sebagai saalah
satu strategi pembelajaran yang sangat tepat untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat
tinggi bagi orang dewasa. Merujuk pada berbagai sumber, tulisan ini membahas dan menganalisis
secara deskriptif teori dan pendapat yang terkait serta menarik kesimpulan bagaimana strategi ini
dapat diterapkan secara efektif dalam pembelajaran orang dewasa. Tulisan ini juga dilengkapi
dengan sejumlah saran bagaimana strtegi ini dapat diterapkan dengan baik.
A
Kata-kata kunci: strategi pembelajaran, berpikir tingkat tinggi, pembelajaran orang dewasa, tugas
belajar, taking learning to task
Taking Learning to Task, Adult Instructional Strategy
Abstract
To provide the students with high thinking order skill, the teachers have been developing a number of
instructional approaches and strategies. However, the teachers and the students still face a lot of problems and
the results have not fully satisfied. This article discussed ‘taking learning to task’ as one of the strategies
appropriate to develop high thinking order skill for the adult. Having describing and analyzing several
theories and opinions, the article concluded ‘taking learning to task’ can be used as an effective instructional
strategy for the adult. This article is also included some suggestions in implementing this strategy.
Keywords: instructional strategy, high order thinking, adult learning, learning task, taking learning to task
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
69
Taking Learning to Task
Pendahuluan
Proses pembelajaran merupakan sebuah
aktivitas yang tidak berjalan di dalam ruang
hampa udara. Artinya, kedalaman pengalaman
belajar, kebermaknaan belajar, dan di ujung
tercapainya tujuan pembelajaran sangat
ditentukan oleh berbagai faktor pendukung serta
kontribusi guru dan peserta didik. Pembelajaran
modern menempatkan guru dan peserta didik
sebagai subjek aktif untuk belajar bersama-sama.
Pada satu titik, guru bisa belajar dari peserta
didik dan pada titik tertentu, peserta didik pasti
belajar dari gurunya. Jadi, guru bukan satusatunya komponen pembelajaran yang paling
diterminan.
Salah satu prinsip belajar yang menjamin
keberhasilan peserta didik dalam mempelajari
sesuatu adalah, adanya keterlibatan langsung
peserta didik. Proses pembelajaran harus
melibatkan partisipasi peserta didik, meskipun
dalam derajad yang rendah. Harus ada respon
bermakna dari peserta didik manakala guru
memberi stimulus. Peserta didik harus memberikan kontribusi yang signifikan, bahkan lebih
supaya transfer of knowladge dan transfer of skill
dapat tercapai. Inilah yang diharapakan.
Namun demikian, apa yang diharapkan
tersebut belum sepenuhnya menjadi kenyataan.
Dalam perspektif ini menarik untuk diperhatikan pernyataan Anies Baswedan, Menteri
Pendidikan dan Kebudayaaan (2014 - 2016),
bahwa materi pembelajaran yang menuntut
kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order
thinking) akan ditingkatkan, bahkan mulai dari
SD (Kompas, 14 Juli 2016). Pernyataan Anies
Baswedan tersebut mengindikasikan, selama ini
secara umum pembelajaran yang mengarah
pada berpikir tingkat tinggi belum terealisasi.
Berpikir tingkat tinggi (Crowl, 1997)
meliputi berpikir kritis, berpikir logis, berpikir
kreatif, dan metakognitif (pengetahuan seseorang mengenai proses dan hasil berpikirnya
atau apapun yang berkaitan dengan proses dan
hasil berpikir tesebut).Disamping itu, Quirk
(2006) mengungkapkan metakognitif adalah “the
ability to think about one’s thinking and feeling and
to predict what others are thinking,” atau kemam-
70
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
puan seseorang untuk berpikir tentang pikiran
dan perasaannya sendiri dan untuk memprediksi apa yang orang lain pikirkan.
Sejumlah metode dan stategi pembelajar-an
terus dicoba untuk memberi dimensi dan
perspektif baru terhadap aktivitas pembelajaran.
Tulisan ini memaparkan sebuah strategi
pembelajaran yang diperuntukkan bagi orang
dewasa (adult learning), yaitu taking learning to
task yang dapat membawa peserta didik (orang
dewasa) pada berbagai tugas belajar yang
menuntut berpikir tingkat tinggi. Oleh karena
dengan menggunakan strategi ini, peserta didik
harus memberi respon yang kritis, logis, dan
kreatif terhadap stimulus (tugas belajarnya).
Dalam hubungannya dengan taking learning to
task, dalam tulisan ini dibahas pengertian tugas
belajar, pembelajaran orang dewasa, karakteristik peserta didik dewasa, konsepsi taking
learning to task, model-model pembelajaran
untuk tugas belajar, dan keunggulan dan
kelemahan taking learning to task akan menjadi
fokus pembahasan.
Pembahasan
Tugas Belajar
Dalam konteks pembelajaran, secara substantif,
‘tugas’ berkaitan dengan berbagai aktivitas yang
harus dilakukan oleh peserta didik. Ada tiga hal
prinsip berkaitan dengan konsep tugas (http://
www.learnersdictionary.com/definition/task),
yaitu: (1) a usually assigned piece of work often to be
finished within a certain time (tugas belajar
diberikan dan diselesaikan dalam waktu
tertentu), (2) something hard or unpleasant that has
to be done (kadang-kadang membutuhkan kerja
keras untuk menyelesaikan bahkan tidak
menyenangkan), dan (3) duty, function (ada tugas
dan fungsi).
1.
Tugas belajar diberikan dan diselesaikan
dalam waktu tertentu
Batasan waktu atau dapat dikatakan
sebagai sebuah ‘rule’ (aturan, ketentuan)
yang diberikan oleh guru dan harus ditaati
oleh peserta didik dalam menyelesaikan
tugas belajarnya. Namun demikian, guru
Taking Learning to Task
2.
3.
harus memahami adanya sebuah prinsip Taksonomi Bloom, baik dari sisi domain kognitif,
pembelajaran yang disebut ‘individual afektif, dan psikomotorik atau pada sisi
differcences’ atau perbedaan individu. kedalamannya (sequences).
Maksudnya, setiap peserta didik memiliki
Dari sisi kedalamannya, berdasarkan
kecepatan belajar sendiri-sendiri. Dengan Taksonomi Bloom versi terbaru peserta didik
kata lain, peserta didik belajar menguasai dapat melakukan aktivitas mengingat (remempengetahuan, keterampilan menurut bering), memahami (understanding), menerapkan
kecepatannya.
(applying), menganalisa, mengurai (analysing),
Membutuhkan kerja keras untuk menyele- menilai (evaluating), sampai mencipta (creating).
saikan, bahkan tidak menyenangkan
Aktivitas yang menunjukkan gradasi dari yang
Prinsip ini ingin menegaskan, peserta didik paling mudah (sederhana) sampai ke yang
kadang-kadang harus mengeluarkan segala paling sulit (kompleks) dapat dirinci lagi ke
kemampuannya untuk menyelesaikan tugas dalam sejumlah kata kerja operasional yang
belajarnya. Bahkan harus melalui hal-hal menunjukkan sejumlah indikator/kompetensi
yang tidak menyenangkan seperti rasa tertentu.
bosan, jenuh, tingkat kesulitan yang tinggi,
Belajar atau learning dalam bahasa Inggris
dan harus melalui prosedur yang ketat
adalah, the activity or process of gaining knowledge
untuk memecahor skill by studying,
kan suatu masapracticing, being
lah. Namun, hal
taught, or experienini bukanlah
Hakikat belajar yang dimaksud
cing something; the
suatu kendala
adalah, proses menemukan dan
activity of someone
menyelesaikan
membangun makna/pengertian
who learns knowtugas belajarnya.
oleh peserta didik terhadap
ledge or skill gained
Ada tugas dan
informasi, pengetahuan,
from
learning
fungsi.
(
h
t
t
p
: / /
pengalaman,
yang
disaring
melalui
Prinsip ini makw
w
w
.
l
e
a
r
ners
persepsi, pikiran, dan perasaan
sudnya adalah
dictionary.com/
peserta didik.
dalam sebuah
definition/task).
tugas belajar, di
Terjemahan bebasdalamnya ternya adalah, beladapat berbagai
tugas yang harus dikerjakan dan ada jar merupakan aktivitas atau proses untuk
berbagai fungsi yang harus diperankan oleh mendapatkan pengetahuan atau keterampilan
peserta didik. Misalnya, seorang guru dengan mempelajari, berlatih, proses berpikir,
memberi tugas belajar kepada sebuah atau mengalami sesuatu oleh seorang peserta
kelompok peserta didik untuk mengumpul- didik yang mempelajari pengetahuan atau
kan data/informasi yang dibutuhkan keterampilan yang diperoleh dari aktivitas
untuk mencari tahu alasan mengapa belajar. Belajar akan berhasil manakala ada
banyak perempuan terpaksa menjadi perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan
Pekerja Seks Komersial (PSK). Maka, setiap langsung/mengalami langsung, pengulangan,
peserta didik di dalam kelompok tersebut tantangan, feedback, penguatan.
memiliki tugas sendiri-sendiri untuk
mencari data/informasi berdasarkan
sejumlah variabel yang sudah dirumuskan,
dan memiliki fungsi sebagai penggali data/
informasi (interviewer).
Tugas merupakan sebuah aktivitas atau
proses untuk mendapatkan pengetahuan atau
keterampilan. Aktivitas ini bisa merujuk pada
Pengertian lain menyebutkan, belajar
esensinya adalah sebuah proses, mencari,
menemukan, melakukan, melalui tahapan yang
teratur dan sistematis. Belajar melibatkan semua
aspek yang ada dalam diri peserta didik, baik
psikis maupun fisik. Hakikat belajar yang
dimaksud adalah, proses menemukan dan
membangun makna/pengertian oleh peserta
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
71
Taking Learning to Task
didik terhadap informasi, pengetahuan,
pengalaman, yang disaring melalui persepsi,
pikiran, dan perasaan peserta didik.
Konsepsi belajar seperti ini, menurut
Brunner dalam Sulaeman (1988), menempatkan
manusia (individu) sebagai pencari, pemroses
dan juga sebagai pencipta informasi. Oleh
karena itu, proses pembelajaran harus bermakna
dan bertujuan. Dengan cara belajar seperti itu,
menurut Smith dalam Sulaeman (1988), otak
manusia dipandang sebagai satu organ yang
mempunyai fungsi utama mencari secara giat,
menyeleksi, mendapatkan, mengorganisasi,
mengolah, menyimpan dan pada saat yang tepat
memperoleh kembali dan menggunakan segala
informasi tersebut.
Menurut Gagne dalam Knowles (1986:9)
terdapat lima domain sebagai tujuan belajar,
yaitu (1) motor skills, (2) verbal information, (3)
intelectual skill, (4) cognitive strategies, and (5)
attitudes. Dari pembahasan di atas dapat
disimpulkan, tugas belajar dalam konteks
pembelajaran merupakan aktivitas bermakna
dan bermanfaat yang dilakukan oleh peserta
didik untuk mendapatkan sesuatu, dengan cara
tertentu, dengan media/alat tertentu. Tugas
belajar merupakan kegiatan mental dan fisik
yang dilakukan peserta didik dalam berinteraksi
dengan sumber belajar melalui pendekatan
pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan
peserta didik.
Tugas belajar tentu memberikan sesuatu
yang bermakna, karena guru telah menentukan
materi untuk mencapai sejumlah kompetensi dan
telah mendesign pembelajaran guna memberikan pengalaman belajar bagi peserta didiknya.
Kebermaknaan merupakan salah satu prinsip
belajar.
Tugas belajar juga memberikan sesuatu
yang bermanfaat bagi peserta didik. Melalui
tugas belajar, peserta didik memperoleh ilmu/
teori, memperoleh keterampilan, memperoleh
nilai-nilai yang derajadnya tergantung
bagaimana guru mendesign pembelajaran.
Kebermanfaatan juga merupakan salah satu
prinsip belajar. Oleh karena itu, dalam
memberikan tugas belajar yang di dalamnya
terkandung sejumlah materi (domain kognitif,
domain psikomotorik, dan domain afektif),
kejelian dan kemampuan guru menentukan
72
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
materi esensial sangat dibutuhkan. Sejumlah
kompetensi dasar yang sudah ditetapkan dalam
kurikulum, tidak semuanya harus diberikan
kepada peserta didik. Jika guru mampu memilah
dan memilih materi esensial sebagai penjabaran
dari kompetensi dasar, maka urgensi
kebermaknaan dan kebermanfaatan dalam
setiap tugas belajar siswa dipastikan ada.
Adult Learning
Adult learning atau pembelajaran orang dewasa,
disebut juga andragogi, adalah suatu proses
untuk melibakan peserta didik dewasa ke dalam
suatu strukur pengalaman belajar (http://
id.wikipedia.org/). Dalam andragogi ada
asumsi dasar, orang dewasa memiliki kebutuhan
belajar tertentu. Selain itu, lingkungan belajar
terbaik bagi mereka adalah orang-orang yang
kolaboratif dan memanfaatkan pendekatan
pembelajaran berbasis masalah.
Menurut Knowles (1984:36), pelopor
andragodi, ada 6 karakteristik utama pembelajaran orang dewasa. Keenam karakteristik
tersebut adalah, (1) mandiri/otonom, (2) menggunakan pengetahuan dan pengalaman hidup,
(3) berorientasi pada tujuan, (4) berorientasi
pada tugas, (5) mementingkan nilai kepraktisan
dan riil, serta (6) mendorong kolaborasi.
1. Mandiri/otonom
Peserta didik dewasa secara aktif terlibat
dalam proses pembelajaran sehingga
mereka membuat pilihan yang relevan
dengan tujuan pembelajaran mereka.
Sebagai seorang guru, penting untuk
memfasilitasi proses penetapan tujuan.
Peserta didik perlu diberi kebebasan untuk
bertanggung jawab atas pilihan mereka
sendiri. Ketika datang ke sekolah, mereka
harus proaktif dan berkontribusi dalam
proses pembelajaran.
2. Menggunakan
pengetahuan dan
pengalaman hidup
Berdasarkan pendekatan ini, guru mendorong peserta didik untuk menghubungkan
pengalaman masa lalu mereka dengan
pengetahuan saat ini. Guru harus memiliki
kemampuan bagaimana membantu peserta
didik menghubungkan pengalaman masa
lalu dengan berbagai pengalaman belajar
saat ini.
Taking Learning to Task
3.
Berorientasi pada tujuan
Motivasi belajar akan meningkat ketika ada
relevansi antara apa yang dipelajari
dengan situasi kehidupan nyata, terutama
dalam kaitannya dengan masalah tertentu
dari peserta didik. Dengan kata lain, ada
tujuan yang ingin dicapai perserta didik.
4. Berorientasi pada tugas
Salah satu cara terbaik membelajarkan
orang dewasa adalah dengan tugas. Mereka
akan terlibat secara mendalam dan
berkontribusi mencapai tujuan pembelajaran. Mereka akan terinspirasi dan
termotivasi untuk terlibat dalam berbagai
proyek dan berhasil menyelesaikannya.
5. Mementingkan nilai kepraktisan dan riil
Pemanfaatan berbagai sarana/fasilitas
pembelajaran untuk membantu peserta
didik menerapkan konsep teoritis di dalam
kelas ke dalam situasi kehidupan nyata dan
praktis. Belajar difasilitasi secara tepat
untuk menerapkan pengetahuan teoritis
dalam situasi kehidupan nyata dan jelas.
6. Mendorong kolaborasi
Pemelajar dewasa akan semakin berkembang dalam hubungan kolaboratif dengan
guru. Ketika guru menempatkan/memandang peserta didik sebagai rekan atau
partner, mereka menjadi lebih produktif.
Ketika kontribusi mereka diakui, maka
mereka akan memberikan karya yang
terbaik.
Secara umum, ketika peserta didik bukan
lagi sebagai ‘objek’ belajar, maka diyakini ada
passion atau keinginan dari peserta didik untuk
menunjukkan kelebihannya. Mereka dengan
sadar mengeluarkan segala daya untuk
menyelesaikan pekerjaan/tugasnya, karena
mereka sebagai subjek. Apalagi guru memberi
apresiasi tinggi, dan memberi reinforcement
terhadap apa yang dihasilkan oleh peserta didik.
Karakteristik Peserta Didik Dewasa
Memahami karakteristik peserta didik
merupakan salah satu kemampuan yang harus
dimiliki oleh seorang guru. Tujuannya adalah,
supaya pendekatan, strategi, metode pembelajaran yang dipilih guru sesuai dengan
karakteristik peserta didik sehingga pengalaman
belajar yang akan diberikan berarti dan berguna.
Peserta didik orang dewasa juga mempunyai beberapa karakteristik. Malcom Knowles
dalam Sutikno (2013:26) menyebutkan ada
sejumlah karakteristik peserta didik orang
dewasa yaitu (1) orang dewasa mempunyai
pengalaman yang berbeda-beda; (2) orang
dewasa lebih suka menerima saran daripada
digurui; (3) orang dewasa lebih memberikan
perhatian pada hal yang menarik bagi mereka
dan menjadi kebutuhanya; (4) orang dewasa
lebih suka dihargai daripada diberi hukuman
atau disalahkan; (5) orang dewasa yang pernah
mengalami putus sekolah, mempu-nyai
kecenderungan untuk menilai lebih rendah
kemampuan belajarnya; (6) apa yang bisa
dilakukan orang dewasa menunjukkan tahap
pemahamannya; (7) orang dewasa secara sengaja
mengulang hal yang sama; (8) orang dewasa
suka diperlakukan dengan kesungguhan itikad
yang baik, adil, dan masuk akal; (9) orang
dewasa sudah belajar sejak kecil tentang cara
mengatur hidupnya, oleh karena itu, mereka
lebih cenderung tidak mau bergantung pada
orang lain; dan (10) orang dewasa menyukai hal
yang praktis.
Sedangkan menurut Syamsu (1994),
karakteristik peserta didik dewasa secara umum
ditandai dengan beberapa hal seperti, (1) konsep
diri peserta didik dewasa bergerak dari seorang
pribadi yang bergantung ke arah pribadi yang
mandiri, (2) peserta didik dewasa mengakumulasi banyak pengalaman yang diperolehnya
sehingga menjadi sumber belajar yang
berkembang, (3) kesiapan belajar peserta didik
dewasa cenderung meningkat, dan (4) orientasi
belajar peserta didik dewasa dari yang terpusat
pada materi beralih menjadi terpusat pada
masalah.
Konsepsi Taking Learning to Task
Secara harafiah, taking learning to task berarti
mengambil tugas belajar (http://id.wikipedia.
org). Namun esensinya adalah, membawa
peserta didik mendapatkan pengalaman belajar
melalui tugas berbagai belajar. Taking learning
to task tidak berpusat pada guru, juga tidak
berpusat pada peserta didik, melainkan berpusat
pada pembelajaran (teaching centered). Maksudnya, strategi ini ingin memfokuskan bahwa
pembelajaran, khususnya untuk orang dewasa
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
73
Taking Learning to Task
akan efektif jika mereka mendapatkan
pengalaman belajar melalui tugas belajar yang
mereka dapatkan. Pembelajaran harus didesain
menarik, ada urgensinya, dan bermakna bagi
peserta didik, sehingga mereka mendapatkan
manfaat.
mempunyai pengetahuan/pengalaman
dalam dirinya, yang tertata dalam bentuk
struktur kognitif. Inilah yang dinamakan
kapasitas. Peserta didik memiliki kapasitas
atau modalitas yang tidak diragukan lagi
untuk terlibat dalam tugas-tugas belajar.
Tanpa keterlibatan peserta didik, sejatinya
Jane Vella (2009) mempertegas, bahwa tugas
tidak ada pembelajaran.
belajar sebagai sebuah pendekatan pembelajaran
Teori belajar menyatakan secara tegas
yang masih ‘segar’ untuk peserta didik dalam
mengenai ‘apa yang seharusnya’ dilakukan
belajar. Menurutnya, belajar hanya terjadi
oleh seorang peserta didik manakala ia
dengan segera jika peserta didik terlibat dalam
berada di kelas, dalam laboratorium,
tugas tugas belajar. Peserta didik tidak hanya
perpustakaan, atau berbagai lokasi tempat
menerima pengetahuan, namun mereka
terjadi proses pembelajaran. Kapasitas
melakukan transfer pengetahuan baru, keteramitulah yang dalam kondisi normal, peserta
pilan. dan sikap kepada peserta didik lainnya.
didik seharusnya memiliki motivasi dan
Sedangkan Hurlock (2006) berpendapat,
passion untuk belajar melalui berbagai pengkarena orang dewasa sebagai peserta didik yang
alaman belajar yang diciptakan oleh guru.
unik dan berbeda dengan anak usia dini dan
2. Peserta didik
anak remaja, maka
belajar, ketika meproses pembelareka secara aktif
jaran
orang
terlibat dengan
Keberhasilan
pembelajaran
karena
dewasa akan
konten, kognitif,
kontribusi yang signifikan antara
berlangsung jika
emosional, dan
mereka terlibat
guru sebagai designer pembelajaran
fisik.
langsung dalam
dan peserta didik sebagai pihak
Asumsi ini didatugas belajarnya.
yang harus mengerjakan,
sarkan pada sebuBeberapa konsemengalami, berbuat, berproses
ah prinsip belajar
psi mengenai
terhadap apa yang sudah didesain
yaitu, belajar akan
tugas belajar
oleh guru.
berhasil jika peseperti tersebut di
serta didik aktif.
atas, diper-kuat
Tugas belajar akan
bahwa, taking
berhasil
manakala
ada
inisiatif
sendiri yang
learning to task didasarkan atas beberapa asumsi
melibatkan pribadi peserta didik seutuhnya,
logis yaitu, (1) peserta didik datang dengan
baik perasaan, intelektual, dan fisik yang
kapasitas untuk melakukan pekerjaan yang
dapat memberi-kan hasil yang mendalam
melibatkan dirinya dalam belajar; (2) peserta
dan lestari.
didik belajar, ketika mereka secara aktif terlibat
dengan konten, kognitif, emosional, dan fisik; (3) 3. Konten baru bisa hadir melalui tugas
belajar.
konten baru bisa hadir melalui tugas belajar; dan
Asumsi ini didasarkan pada salah satu teori
(4) tugas belajar mengarah pada akuntabilitas
belajar konstruktivisme. Teori ini berpenda(pertanggung-jawaban), karena peserta didik
pat, peserta didik telah memiliki apa yang
dituntut untuk mempertanggungjawabkannya.
dinamakan dengan entering behaviour
1. Peserta didik datang dengan kapasitas
berupa pengalaman, pengetahuan, keteuntuk melakukan pekerjaan yang
rampilan, dan sikap. Jika apa yang dimiliki
melibatkan dirinya dalam belajar.
peserta didik tersebut bermanfaat dalam
Asumsi ini menurut penulis didasarkan
membantu menyelesaikan tugas belajar,
pada salah satu teori belajar kognitivisme
maka konten belajar baru muncul dan
dengan tokohnya Piaget, Bruner, dan
peserta didik diperkaya dengannya.
Ausubel. Intinya adalah, setiap orang telah
74
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Taking Learning to Task
4.
Tugas belajar mengarah pada akuntabilitas
(pertanggungjawaban), karena peserta
didik dituntut untuk mempertanggungjawabkan.
13. Tugas belajar menghasilkan dokumentasi
akademis yang lengkap.
14. Tugas belajar membuat manajemen waktu
lebih efisien.
Pembelajaran, atau apapun namanya,
bukan usaha sepihak. Keberhasilan pembelajaran karena kontribusi yang signifikan antara
guru sebagai designer pembelajaran dan peserta
didik sebagai pihak yang harus mengerjakan,
mengalami, berbuat, berproses terhadap apa
yang sudah didesain oleh guru. Oleh karena itu,
belajar yang bermakna diperoleh peserta didik
dengan melakukannya/mengalami. Belajar
menjadi lebih lancar jika peserta didik dilibatkan
dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab
terhadap proses belajar itu. Hasil tugas belajar
kemudian dipertanggungjawabkan kepada guru
dan juga peserta didik lainnya, bahkan juga
kepada orang tua dan masyarakat.
Sedangkan More (2005) menyatakan bahwa,
taking learning to task sebagai sebuah strategi
pembelajaran yang tepat untuk peserta didik
dewasa, karena alasan berikut.
1. Aktivitas guru semakin berkurang (tidak
dominan), namun sebaliknya aktivitas
peserta didik semakin besar dan kompleks;
hal ini semakin baik.
2. Semakin sedikit waktu yang diperlukan
guru untuk mengaktifkan siswa, hal ini juga
semakin baik. Waktu yang banyak
dipergunakan siswa untuk mengambil
tugas belajarnya.
3. Sesuai dengan kesiapan dan kematangan
peserta didik dewasa yang terus bertambah.
Vella (2009) memberikan beberapa alasan
mendasar mengapa taking learning to task
efektif sebagai strategi pembelajaran peserta didik
dewasa. Di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Tugas belajar ‘menghentikan’ guru dan
peserta didik dari hanya berkata-kata.
2. Ada insurance atau jaminan keterlibatan peserta didik yang tinggi dengan tugas belajar.
3. Tugas belajar memberi ruang yang luas
terhadap munculnya pemikiran kritis.
4. Sebuah tugas belajar menjamin kerja peserta
didik yang komprehensif.
5. Tugas belajar juga memastikan penyelesaian semua pencapaian sasaran.
6. Produk tugas belajar menawarkan indikator
(kompetensi) yang substantif.
7. Evaluasi belajar lebih variatif, tidak hanya
hasil namun juga proses.
8. Tugas belajar dapat memanfaatkan formasi
kelompok kecil.
9. Tugas belajar memungkinkan dialog
intragrup yang konstruktif.
10. Peserta didik menjadi subjek pembelajaran
karena terlibat dalam tugas belajar.
11. Tugas belajar dapat beragam untuk semua
jenis peserta didik.
12. Tugas belajar melibatkan semua domain
(fungsi kognitif, fungsi afektif, dan fungsi
psikomotorik).
Model Pembelajaran untuk Tugas Belajar
Moore (2005:257), mendefinisikan model
pembelajaran sebagai prosedur atau langkahlangkah sistematis dalam mengorganisasikan/
mengatur pengalaman belajar yang hendak
dialami peserta didik untuk mencapai tujuan
belajar. Dapat juga diartikan sebagai suatu
pendekatan yang digunakan dalam kegiatan
pembelajaran, sehingga sebenarnya model
pembelajaran sama artinya dengan pendekatan,
strategi, atau metode pembelajaran. Model
pembelajaran merupakan suatu deskripsi
lingkungan belajar yang menggambarkan
perencanaan kurikulum, kursus, desain unit
pelajaran dan pembelajaran, perlengkapan
belajar, buku pelajaran, buku kerja, program
multimedia dan bantuan belajar melalui program
komputer.
Knowles(1986:48), menyebutkan beberapa
model pembelajaran orang dewasa dalam rangka
tugas belajar, seperti small group discussion, role
play and simulation, case study, discovery learning,
self directed learning, cooperative learning,
collaborative learning, contextual instruction, project
based learning, dan problem based learning.
Tabel 1 memberikan gambaran konkrit
keterkaitan antara model pembelajaran sebagai
implementasi taking learning to task dan tugas
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
75
Taking Learning to Task
Tabel 1: Implementasi Taking Learning to Task dan
Kaitannya dengan Model Pembelajaran
Model
Pembelajaran
Small Group
Discussion
Aktivitas Guru
-
Simulation
-
-
Discovery
learning
-
-
Self-Direct
Learning
76
-
Aktivitas Peserta Didik
Membuat rancangan
dan materi diskusi.
Menjadi moderator
sekaligus mengulas
hasil diskusi peserta
didik pada setiap
akhir sesi.
Memilih bahan
diskusi.
-
Merancang situasi
/kegiatan, dapat
berupa bermain
peran, model
komputer, atau
berbagai latihan
simulasi.
Membahas kinerja
peserta didik.
-
Guru memberi
rangsangan berupa
masalah yang harus
dipecahkan
Memeriksa dan
memberi ulasan
terhadap hasil belajar
mandiri peserta
didik.
-
-
-
-
Sebagai fasilitator
Memberi penjelasan
pengertian self direct
learning dan apa
yang harus dilakukan
peserta didik.
-
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Tugas Belajar
Peserta didik
Membentuk kelompok (5-10 orang).
Memilih bahan
diskusi.
Mempresentasikan
makalah/hasil kerja
kelompok dan
mendiskusikannya di
kelas.
- Berdiskusi dan
mempresentasikan hasil diskusi
Mempelajari dan
menjalankan suatu
peran.
Mempraktikkan/mencoba berbagai
model (komputer)
yang telah disiapkan.
- Memerankan
seorang tokoh dalam sosio drama
- Sebagai enumerator
mengumpulkan
data lapangan
- Mensimulasikan
suatu program
komputer hasil
kreasinya
Mencari, mengumpulkan, dan menyusun, informasi yang
ada untuk mendeskripsikan suatu
pengetahuan.
Mempresentasikan
hasil tugas belajar
berupa temuantemuan beserta
analisanya.
- Membuat hipotesa
- Menganalisi masalah yang terjadi
- Mengumpulkan
data (data collection
- Mengolah data
(data processing
- Melakukan pembuktian hipotesa
(verification)
- Menyimpulkan
Merencanakan
kegiatan belajar,
melaksanakan, dan
menilai pengalaman
belajarnya sendiri.
Mempresentasikan
hasil tugas
belajarnya.
- Membuat suatu
schedule untuk
menyelesaikan
sebuah proyek
/portofolio
- Melaksanakan
kegiatan sesuai
schedule
- Memberi penilaian apakah kegiatan
dapat dilaksanakan
dengan baik dan
memberi hasil
yang optimal
Taking Learning to Task
Model
Pembelajaran
Cooperative
learning
Aktivitas Guru
-
-
Collaborative
Learning
-
-
Contextual
Instruction
-
-
Tugas Belajar
Peserta Didik
Aktivitas Peserta Didik
Merancang dan
memantau proses
belajar dan hasil
belajar kelompok
peserta didik.
Menyiapkan suatu
masalah/kasus atau
bentuk tugas untuk
diselesaikan oleh
peserta didik secara
berkelompok
-
Merancang tugas
yang bersifat open
ended.
Sebagai fasilitator
dan motivator.
-
Menjelaskan bahan
kajian yang bersifat
teori dan mengaitkannya dengan
situasi nyata dalam
kehidupan seharihari, kehidupan
dunia kerja.
Misalnya:
profesionalitas dalam
bekerja, manajemen
organisasi, atau
mengenai
entrepreneurship.
Menyusun tugas
peserta didik untuk
studi ke lapangan.
-
-
Membahas dan
menyimpulkan
masalah/tugas yang
diberikan guru secara
berkelompok.
Mempresentasikan
hasil tugas belajar.
-
-
-
-
Bekerja sama dengan
anggota
kelompoknya dalam
mengerjakan tugas.
Mempresentasikan
hasil tugas belajar.
-
Membahas konsep
(teori) berkaitan
dengan situasi nyata.
Melakukan studi
lapangan/terjun di
dunia nyata untuk
mempelajari
kesesuaian teori
dengan kondisi riil.
Mempresentasikan
hasil tugas belajar.
-
-
Menganalisis
masalah/kasus
dari berbagai
sudut pandang.
Misalnya, bagaimana mengurangi
kemacetan saat
mudik lebaran.
Bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil menyelesaikan masalah
/kasus yang ada
Melakukan
praktikum di
laboratorium
secara kelompok
Mengisi Lembar
Kerja Siswa (LKS)
berdasarkan hasil
praktikum
Melakukan studi
lapang kesebuah
perusahaan terkenal
-
-
Membandingkan
antara teori
(misalnya: manajemen organisasi
berpengaruh
terhadap kinerja
perusahaan)
dengan kondisi
riil perusahaan
tersebut
Menganalisis
apakah ada
hubungan yang
signifikan antara
teori organisasi
dengan kinerja
perusahaan
tersebut
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
77
Taking Learning to Task
Model
Pembelajaran
Cooperative
learning
Aktivitas Guru
-
-
Collaborative
Learning
-
-
Contextual
Instruction
-
-
78
Tugas Belajar
Peserta Didik
Aktivitas Peserta Didik
Merancang dan
memantau proses
belajar dan hasil
belajar kelompok
peserta didik.
Menyiapkan suatu
masalah/kasus atau
bentuk tugas untuk
diselesaikan oleh
peserta didik secara
berkelompok
-
Merancang tugas
yang bersifat open
ended.
Sebagai fasilitator
dan motivator.
-
Menjelaskan bahan
kajian yang bersifat
teori dan mengaitkannya dengan
situasi nyata dalam
kehidupan seharihari, kehidupan
dunia kerja.
Misalnya:
profesionalitas dalam
bekerja, manajemen
organisasi, atau
mengenai
entrepreneurship.
Menyusun tugas
peserta didik untuk
studi ke lapangan.
-
-
Membahas dan
menyimpulkan
masalah/tugas yang
diberikan guru secara
berkelompok.
Mempresentasikan
hasil tugas belajar.
-
-
-
-
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Bekerja sama dengan
anggota
kelompoknya dalam
mengerjakan tugas.
Mempresentasikan
hasil tugas belajar.
-
Membahas konsep
(teori) berkaitan
dengan situasi nyata.
Melakukan studi
lapangan/terjun di
dunia nyata untuk
mempelajari
kesesuaian teori
dengan kondisi riil.
Mempresentasikan
hasil tugas belajar.
-
-
Menganalisis
masalah/kasus
dari berbagai
sudut pandang.
Misalnya, bagaimana mengurangi
kemacetan saat
mudik lebaran.
Bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil menyelesaikan masalah
/kasus yang ada
Melakukan
praktikum di
laboratorium
secara kelompok
Mengisi Lembar
Kerja Siswa (LKS)
berdasarkan hasil
praktikum
Melakukan studi
lapang kesebuah
perusahaan terkenal
-
-
Membandingkan
antara teori
(misalnya: manajemen organisasi
berpengaruh
terhadap kinerja
perusahaan)
dengan kondisi
riil perusahaan
tersebut
Menganalisis
apakah ada
hubungan yang
signifikan antara
teori organisasi
dengan kinerja
perusahaan
tersebut
Taking Learning to Task
belajar yang harus dilakukan peserta didik dan
peran/tugas guru.
Keunggulan Taking Learning to Task
Hasan (1996) menyatakan, munculnya berbagai
strategi pembelajaran menunjukkan, tidak ada
sa tupun stategi pembelajaran yang paling
sesuai untuk segala tujuan pembelajaran, jenis
materi, dan proses pembelajaran. Semua strategi
pembelajaran yang ada pada dasarnya adalah
untuk saling melengkapi. Oleh karena itu, setiap
strategi pembelajaran pasti memiliki keunggulan
sekaligus memiliki kelemahan, termasuk strategi
pembelajaran taking learning to task sebagai
strategi pembelajaran bagi peserta didik dewasa.
Fanany (2013) menyebutkan beberapa
kelebihan implementasi strategi taking learning
to task untuk pembelajaran bagi orang dewasa.
Kelebihan itu antara lain adalah, (1) derajad
partisipasi peserta didik sangat tinggi, karena
harus menyelesaikan tugas belajarnya sejak
awal hingga akhir pembelajaran; (2) dalam
situasi tertentu, kemampuan bekerja sama
peserta didik akan meningkat jika mereka harus
menyelesaikan tugas belajar dalam sebuah team
work; dan (3) mengembangkan kemampuan
berpikir tingkat tinggi dan bertindak kreatif.
Sedangkan Sutikno (2013) menyatakan,
beberapa kelebihan strategi pembelajaran ini
bagi peserta didik dewasa ini antara lain adalah,
(1) peserta didik memperoleh pengalaman
langsung ketika mereka harus menyelesaikan
tugas belajarnya di lapangan; (2) peserta didik
mempunyai kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan dalam
menyelesaikan tugas-tugas belajar di sekolah, di
tempat praktek kerja, atau di masyarakat; dan
(3) peserta didik dilatih mengikuti suatu proses
berurutan setahap demi setahap dalam
menyelesaikan tugas-tugas belajarnya, terutama
berkaitan dengan memecahkan suatu masalah,
melakukan eksperimen.
Kelebihan lain menurut penulis adalah, (1)
taking learning to task menciptakan sebuah
lingkungan pembelajaran yang menempatkan
siswa benar-benar sebagai subjek belajar,
menghargai originalitas pemikiran peserta didik,
kontribusinya, dan pengalaman selama menyelesaikan tugas belajarnya; (2) memberi kesempatan kepada peserta didik menjadi partisipan
aktif dalam proses pembelajaran; (3) mengembangkan kemampuan berpikir kritis, keterampilan pemecahan masalah; (4) mengembangkan
kemampuan berpikir divergen dalam memecahkan suatu masalah; (5) menumbuhkan semangat
pantang menyerah, daya juang tinggi, dan sikap
disiplin untuk menyelesaikan tugas-tugas
belajarnya; dan (6) menciptakan manusiamanusia pembelajar.
Kelemahan Taking Learning to Task dan Cara
Mengatasi
Kelemahan penerapan taking learning to task,
menurut penulis terletak pada hal yang sifatnya
teknis dan bukan substantif. Karena, strategi ini
fokusnya menekankan pada proses belajar yang
harus dilakukan peserta didik untuk
menyelesaikan tugas belajarnya. Kelemahan
tersebut di antaranya adalah, (1) membutuhkan
waktu relatif banyak dibandingkan dengan
pembelajaran yang berorientasi pada pencapain
hasil dan sekedar memenuhi target kurikulum;
(2) belum semua guru memahami bagaimana
memberi tugas-tugas belajar yang memiliki bobot
kemaknaan (meaningful), urgensi, dan nilai
kegunaan bagi pesert didik; dan (3) tidak semua
peserta didik datang ke sekolah berbekal
motivasi yang tinggi dan passion untuk belajar,
apalagi harus terlibat dalam tugas belajar yang
menuntut kesiapan, kemauan, dan mentalitas
yang kuat untuk menyelesaikan tugas
belajarnya.
Mencermati kelemahan penerapan taking
learning to task tersebut di atas, maka prasyarat
mendasar supaya strategi ini berhasil diterapkan
adalah:, (1) ada perubahan mind set guru, bahwa
menyelesaikan target kurikulum bukanlah
indikator mutlak keberhasilan pembelajaran,
namun terpenting adalah mengantar peserta
didik melewati proses pembelajaran bermakna
dan bermanfaat dengan membawa anak ke
dalam tugas belajar; (2) menuntut profesionalitas
(kompetensi) guru memilih materi esensial dan
menentukan tugas belajar yang relevan bagi
peserta didik untuk menguasai materi esensial
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
79
Taking Learning to Task
tersebut; (3) guru harus mampu melakukan pra
kondisi atau pengkondisian kelas agar peserta
didik dengan senang hati, penuh motivasi siap
menyelesaikan tugas-tugas belajar; dan (4) harus
ada paradigma baru dari peserta didik, bahwa
keberhasilan belajarnya bukan usaha sepihak
dari guru, namun juga karena partisipasi peserta
didik.
Simpulan
Kesimpulan
Taking learning to task memberikan pengalaman
belajar kepada peserta didik. Tugas belajar
menghasilkan sejumlah kompetensi ketika
peserta didik berinteraksi dengan konten dan
kegiatan belajar. Tugas belajar merupakan
kegiatan mental dan fisik yang dilakukan peserta
didik dalam berinteraksi dengan sumber belajar
melalui pendekatan pembelajaran yang
bervariasi dan mengaktifkan peserta didik. Hal
ini jelas memperlihatkan bahwa berbagai tugas
belajar, baik dari sisi kuantitas dan kualitas
(jumlah, kedalaman) hanya terjadi melalui
strategi pembelajaran yang diterapkan di dalam
proses pembelajaran.
Taking learning to task memberi kesempatan peserta didik untuk bekerja secara nyata
sebagai wujud poses belajarnya. Oleh karena,
itu strategi pembelajaran ini menempatkan
peserta didik sebagai subjek belajar penuh, yang
ditunjukkan dengan aktivitas menyelesaikan
tugas belajarnya. Dalam perspektif ini, guru tidak
lagi dominan; sebaliknya aktivitas peserta didik
semakin besar, maka hal ini semakin baik.
Dengan demikian, guru memiliki sedikit waktu
untuk mengaktifkan siswa, hal ini juga semakin
baik. Waktu yang banyak justru dipergunakan
peserta didik untuk mengerjakan tugas
belajarnya. Taking learning to task sangat sesuai
dengan kesiapan dan kematangan peserta didik
dewasa yang terus bertambah, khususnya dari
sisi kemampuan kognitifnya.
Taking learning to task menghasilkan
sejumlah dokumen akademik dan scientific
document sebagai bukti bahwa peserta didik
telah menguasai sejumlah ilmu dan pengetahuan tertentu sebagai prasyarat menyelesaikan
tugas belajarnya.
80
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Saran
Memperhatikan kelemahan yang ada dari
implementasi strategi pembelajaran orang
dewasa ini, beberapa saran disampaikan
sebagai berikut.
1. Guru tidak perlu khawatir jika target
kurikulum tidak tercapai karena fokus
kurikulum nasional (KBK, KTSP, Kurikulum
2013) lebih menekankan proses, bukan
hasil. Apalagi, hasil Ujian Nasional (UN)
fokusnya sebagai instrumen pemetaan
kondisi pendidikan daerah dan nasional,
dan tidak lagi dijadikan penentu kelulusan.
2. Guru harus memahami dan mampu
menentukan berbagai tugas belajar yang
dapat membawa peserta didik ke arah
higher order thinking. Bukan saatnya lagi
berpikir, yang penting memberi tugas
belajar, tanpa menyadari ada maknanya,
urgensinya, dan manfaatnya atau tidak.
3. Peserta didik harus menyadari, tugas-tugas
belajar, merupakan salah satu bentuk
latihan untuk membentuk pribadi yang
smart, terampil, berpikir kritis, kreatif,
disiplin, dan tidak mudah menyerah.
Daftar Pustaka
Crowl, T. K., Kaminsky, S., & Podell, D. M. (1997).
Educational psychology: Windows on
teaching. Madison, WI: Brown and
Benchmark
Fanany, El. (2013). Guru sejati guru idola.
Yogyakarta: Araska
Hurlock, Elizabeth. (2006). Psikolog perkembangan
(suatu pendekatan sepanjang rentang
kehidupan). Jakarta: Erlangga
Knowles, Malcom. (1986). The adult leaner a
neglected species. London:Gulf Publishing
More, Kenneth. (2005). Effective instructional
strategies; From theory to practice. London:
SAGE Publications
Quirk, M. (2006). Intuition and metacognition in
medical education: Keys to developing
expertise. New York: Springer Publishing
Company, Inc
Taking Learning to Task
Sulaeman, Dadang. (1988). Teknologi/metodologi
pengajaran. Jakarta: Departemen
Keguruan Nasional, Direktorat Jenderal
Perguruan Tinggi
Sutikno, Sobry. (2013). Belajar dan Pembelajaran.
Upaya kreatif mewujudkan pembelajaran
yang berhasil. Lombok: Holistica
Vella, Jane. (2009). Taking learningto task: Creative
strategies for teaching adults. Boston:
Jossey-Bass
http://www.learnersdictionary.com/definition
/task
http://id.wikipedia.org/
Kompas, 14 Juli 2016
Syamsu M. (1994). Teori belajar orang dewasa.
Jakarta: Depdikbud
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
81
Memaknai Dosa melalui Pendidikan Kristiani
Opini
Memaknai Dosa Melalui Pendidikan Kristiani
Paulus Eko Kristianto
Email: [email protected]
S2- STF Driyarkara Jakarta
Abstrak
osa kerap kali dimaknai secara tidak tepat sehingga menjadi teror yang menyerang
keberadaan manusia secara etis. Masalah ini perlu diatasi dengan pemaknaan dosa secara
benar. Tulisan ini membahas makna dosa dan cara manusia membebaskan diri dari dosa
dengan menggunakan pendekatan hermeneutika. Setelah melalui pembahasan yang kritis,
tulisan ini berkesimpulan, Pendidikan Kristiani Transformasi sebagai pendekatan menolong semua
orang beriman untuk hidup sesuai kehendak Tuhan dan mengalami perubahan serta menjadi
agen perubahan itu sendiri. Pendidikan ini diharapkan dapat membangun dan mengembangkan
perubahan yang dapat terjadi apabila orang mampu menjaga hati diri dan sesamanya untuk
menghayati dan memperjuangkan nilai keutamaan agar hidup memiliki kelimpahan berkah. Titik
pijak perubahan yakni berangkat dari konsep diri yang positif.
D
Kata-kata kunci: dosa, hermeneutika, pendidikan kristiani transformatif, konsep diri
Interpreting Sin Through Christian Education
Abstract
Sin often is interpreted incorrectly so that a terror attack human existence ethically. This issue needs to be
addressed with the meaning of sin correctly. This paper discussed the meaning of sin and human way to free
themselves from sin by using hermeneutic approach. After a critical discussion, this paper concluded,
Transformative Christian Education as an approach to help all the faithful to live according to God’s will and
subject to change and become agents of change themselves. This study is expected to build and develop the
changes that can occur when the heart is able to catch ourselves and each other to live and fight for the primacy
of that life has an abundance of blessings. The point of departure changes that depart from a positive self
concept.
Keywords: sin, Hermeneutics, Transformative Christian Education, Self-concept
82
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Memaknai Dosa Melalui Pendidikan Kristiani
Pendahuluan
Sering kali orang lain menuduh kita melakukan
berbagai dosa, tanpa memahami makna dosa
itu sendiri. Dikhawatirkan, kita hanya terjebak
pada pelabelan saja agar semua terlihat eksis
dan ikut arus saja. Secara sederhana, dosa dipahami sebagai sebuah perbuatan yang melanggar
hukum atau perintah Allah sehingga mendukakan hati Allah. Akan tetapi, masalahnya tidak
sesederhana itu, karena pemaknaan dosa
menimbulkan konsekuensi lebih lanjut. Pelanggaran hukum Allah yang disebut dosa itu akan
mendatangkan hukuman, tidak hanya di akhirat
tetapi dapat terjadi di dunia. Begitu besar akibat
dosa itu, sehingga dosa berat dapat memutuskan
hubungan antara manusia dengan Allah.
Akibat dosa dapat mempengaruhi suasana
batin dan tingkah laku orang yang berbuat dosa.
Akan tetapi pemaknaan dosa itu belum tentu
benar dan tidak jarang berbuat salah atau
kelalaian dianggap juga sebagai dosa. Perasaan
berdosa dapat muncul dari diri sendiri atau
diberikan oleh orang lain pada hal belum tentu
pemahaman atas dosa itu tepat. Acuan umum,
melanggar salah satu atau lebih dari Sepuluh
Perintah Allah adalah dosa, tetapi besar kecilnya
atau berat ringannya pelanggaran dapat bersifat
subjektif. Namun, pada dasarnya manusia wajib
menghindari perbuatan dosa dan kalau sudah
melakukannya, segera memulihkan hubungan
dengan Allah melalui pertobatan.
Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
terdapat berbagai contoh dosa yang dilakukan
manusia serta hukuman yang diberikan Allah
serta juga cara bagaimana Allah mengampuni
orang berdosa. Artikel ini mengajak pembaca
memahami makna dosa dan bagaimana
manusia bisa bebas dari dosa. Untuk sampai
pada tujuan tersebut, penulis mengajukan
pendekatan hermeneutika dalam memahami
makna dosa. Pendekatan ini diadopsi dari kajian
filsafat. Manusia harus segera mengambil
tindakan. Manusia tidak boleh terjebak lebih
dalam ke lembah dosa sehingga ia membutuhkan sosok penolong guna melewatinya.
Pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib
dipandang sebagai tindakan penebusan.
Penebusan dilakukan karena perwujudan kasihNya bagi dunia. Hal ini makin diperkuat dengan
ungkapan-Nya sendiri berupa “Sama seperti
Musa meninggikan ular di padang gurun,
demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya
beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3: 14-15).
Pengorbanan Yesus tidak dilalui dari jalan
mulus, melainkan proses peradilan. Peradilan
berjalan begitu rupa sehingga kematian-Nya
benar-benar menggenapi tuntutan hukum. Cerita
akan jadi lain, jika Yesus dibunuh secara diamdiam oleh pembunuh bayaran para imam.
Berkenaan dengan pemahaman tersebut,
penulis mengajukan Pendidikan Kristiani
Transformasi sebagai pendekatan yang
menolong semua orang beriman untuk
menyadari keberadaannya secara utuh dan
otentik, pengorbanan Yesus Kristus di salib, dan
menimbulkan hasrat untuk berubah secara
spiritual dan berani tampil menjadi agen
perubahan bagi dunia dan sekitar. Bagi penulis,
hal ini memang tidak mudah. Namun, kita harus
terus mengupayakannya dengan menanamkan
terlebih dahulu konsep diri yang positif.
Pembahasan
Hermeneutika
Bila ditelaah dalam bahasa Yunani, kata
‘hermeneutika’ berasal dari hermeneunein. Kata
tersebut berarti menafsirkan. Rupanya, upaya
tersebut telah mengingatkan pada tokoh
mitologis yang bernama Dewa Hermes. Hermes
digambarkan sebagai sosok yang memiliki kaki
bersayap dan lebih dikenal dengan sebutan
Mercurius dalam bahasa Latin. Tugas Hermes
yakni menerjemahkan pesan dari dewa di
gunung Olympus dalam berbagai bahasa yang
mudah dipahami manusia. 1 Tugas Hermes
dapat dikatakan vital karena bila terjadi
kesalahan maka menimbulkan kefatalan bagi
seluruh kehidupan manusia. Berpijak pada
tugas dan identitas dewa Hermes, hermeneutika
dipahami sebagai sebuah proses pengubahan
sesuatu dari kondisi tidak tahu menjadi
mengerti.
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
83
Memaknai Dosa melalui Pendidikan Kristiani
Hermeneutika telah dikembangkan dalam teks membakukan wacana yang sifatnya cepat
berbagai bentuk sepanjang perjalanan sejarah berlalu. Kedua, ketika teks dibakukan, teks
dan kronologi waktu. Setidaknya, Hardiman mempunyai otonominya sendiri. Artinya, teks
memetakannya berikut beserta filsuf bisa dipakai orang lain dengan maksud yang
produsennya: Hermeneutika Reproduktif berbeda dengan si pengarangnya. Ketiga, teks
Schleiermacher, Hermeneutika Reproduktif menunjuk ke dunia yang bisa dimengerti secara
Dilthey, Hermeneutika Faktisitas Heidegger, eksistensial. Artinya, ada makna simbolis yang
Hermeneutika Demitologisasi Bultman, hendak disampaikan berkaitan dengan realitas.
Hermeneutika Filosofis/ Produktif Gadamer, Keempat, wacana yang sudah dibakukan
Hermeneutika Kritis Habermas, Hermeneutika dialamatkan kepada siapa saja yang dapat
Kritis Ricoeur, Hermeneutika Radikal Derrida.2 membacanya. 4 Dengan demikian, horizon
Dari berbagai bentuk tersebut, kita bisa pemikiran kita harus luas di mana teks tidak
memahami bahwa pengertian yang sangat luas hanya dimaknai sebagai tulisan melainkan
dari hermeneutika itu merupakan kesibukan tindakan manusia, bahkan narasi kehidupan ini.
filsafat. Dengan demikian, ajaran, asas, nilai,
Teks tersebut dibaca.5 Pembacaan tersebut
dan norma religius yang mengikat dapat melihat adanya sebuah ucapan yang dihubungditafsirkan dengan berbagai cara tertentu, dan kan dengan diskursus, yakni sebuah peristiwa
karena cara tafsir
dan kejadian disbisa berbeda,
kursus. Pada awaltermasuk hermenya, teks hanya
Dengan demikian, horizon
neutika menjadi
memiliki pengerpemikiran kita harus luas di mana
tempat kelahiran
tian, hubungan
aliran
pemainternal atau sebuteks tidak hanya dimaknai sebagai
haman teks yang
ah struktur, kini
tulisan melainkan tindakan
baru.
teks memiliki makna
manusia, bahkan narasi
perwujudan dalam
Dalam kajian
kehidupan ini.
diskursus subyek
h er m e ne u t ik a ,
yang membaca. 6
perlu dipahami
Diskursus mengdua hal penting
giring
adanya
makna.
Makna
muncul karena
yakni antara memahami dan menafsirkan atau
adanya
proses
refleksi
hermeneutika.
Artinya,
interpretasi. Hardiman menunjukkannya secara
kolaboratif demikian, dengan menafsirkan atau memahami teks tidak akan berakhir pada teks
interpretasi, kita mengacu pada kegiatan itu sendiri, melainkan teks memerantarai
memahami melalui menyiratkannya secara hubungan subyek (baca: pembaca) dengan
verbal dan diskursif, sementara kegiatan dirinya sendiri (teks) yang tidak akan menemumemahami tidak harus demikian. Sisi lain, untuk kan makna hidupnya dalam sebuah sirkuit
menafsirkan, perlu dipahami, tetapi memahami pendek refleksi langsung. Oleh karena, refleksi
tidak harus dengan menafsirkan, meski cukup tidak akan berarti tanpa diperantarai tanda atau
kerap melibatkan penafsiran.3 Dengan demikian, karya dan penjelasan juga tidak bermakna kalau
seorang penafsir menunjukkan kompetensi tidak dimasukkan dalam tahap mediasi pada
dalam memahami, tetapi kompetensi seperti pemahaman diri. Langkah ini menandakan
yang dimiliki penafsir tidak perlu dimiliki adanya proses hermeneutika reflektif sebagai
seseorang yang ingin memahami. Namun, perlu pembentukan diri berlangsung bersamaan
diketahui, tujuan akhir dari proses interpretasi dengan pembentukan makna.
ialah memahami.
Ricoeur berpendapat, ‘makna’ tersebut
semakin diperluas, karena baginya praktik
Hermeneutika Sebagai Upaya Memahami hermeneutika bukan saja mencari makna
Teks
tersembunyi berdasarkan simbol melainkan
Bagian utama dari tindakan hermeneutika upaya memperluas perspektifnya, belajar dari
adalah teks. Teks mencirikan empat hal: pertama, simbol, dan memperkaya pengetahuannya.7 Hal
84
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Memaknai Dosa Melalui Pendidikan Kristiani
ini dinamakan hermeneutika rekolektif. Namun,
hermeneutika model ini bergerak kembali pada
sebuah kecurigaan terhadap apa yang tampak
secara langsung dan berusaha mengasalkan
(atau mereduksikannya) kepada yang lain. Pola
ini melahirkan hermeneutika kecurigaan.
Kecurigaan menjadi langkah baik dalam
mengembangkan interpretasi. Oleh karena,
interpretasi mengandung desain gerakan
pendugaan menuju pengabsahan. Dugaan
tersebut bisa dibantu dengan pertanyaan , (1)
siapa yang berbicara, (2) siapa yang bertindak,
(3) siapa yang menceritakan sesuatu, dan (4)
siapa merupakan subyek moral dari tanggung
jawab? 8 Semua pertanyaan tersebut bersifat
identitas dan susah dijawab karena dibutuhkan
proses klarifikasi yang panjang. Maka bagi
Ricoeur, sebuah teks adalah otonom atau berdiri
sendiri dan tidak bergantung pada maksud
pengarang, pada situasi historis karya atau buku
tempat teks tercantum dan pada pembaca
pertama. 9 Dengan dikembangkannya pola
tersebut, hermeneutika tidak lagi mencari makna
tersembunyi di balik teks tetapi mengarahkan
perhatiannya pada makna obyektif sebuat teks.
Hal ini dilakukan melalui interpretasi sebuah
teks dengan membangun hubungan antara dua
diskursus (diskursus teks dan interpretasi).
Hubungan tersebut berujung pada ketercampuran dunia teks dengan interpretator.
Tiga Model Hermeneutika dan Tekstualitas
Fakta Sosial
Haryatmoko memetakan adanya tiga model
hermeneutika dan tekstualitas yang layak kita
ketahui guna melihat lebih jauh peran
hermeneutika dalam kehidupan.10 Ketiga model
tersebut diuraikan berikut. Pertama, hermeneutika telah memerankan fungsi seni pemahaman
yang mampu memberikan aturan metodis
konkrit dalam menafsirkan teks. Dalam proses
operasinya, peran ini agaknya terlihat sangat
teknis dan normatif. Setidaknya, bagian ini dapat
ditemukan dalam pemikiran filsuf hermeneutika
Schleiermacher, Dilthey, dan Droysen. Kedua,
hermeneutika diharapkan mampu beranjak dari
peran seni pemahaman untuk memberikan
tempat kepada refleksi yang lebih bersifat
fenomenologis. Dalam hal ini, penafsiran tidak
lagi terbatasi atas analisis teks pada disiplin
tertentu, melainkan terintegrasi dengan ciri
mendasar dari seluruh keberadaan manusia
dalam dunia sejarah. Pola demikian, bisa
ditemukan pada Heidegger, Gadamer, dan
Ricoeur. Ketiga, hermeneutika turut berkelindan
dengan teori kritis. Hal ini biasanya dipengaruhi
oleh metode mazhab Frankfurt yang
menekankan analisis teori masyarakat. Teori
kritis diharapkan mampu mengevaluasi
masyarakat dan perkembangannya dengan
perspektif nilai tertentu. Setidaknya, kritik ini
telah mengadili tingkat kebebasan masyarakat
sehingga bagi anggotanya telah mendorong ke
pembebasan, perubahan, dan kemajuan. Pola ini
dapat ditemukan pada Habermas, Foucault,
Bourdieu, Derrida, dan Ricoeur.
Berpijak pada deskripsi tiga model di atas,
kita bisa melihat bahwa rupanya Ricoeur banyak
berkelindan dengan teori kritis. Dalam hal ini,
ia banyak bersinggungan dengan ciri
tekstualitas dalam tindakan. Tindakan tidak
dimulai dari nol melainkan kemungkinan dari
meniru, melalui belajar dari yang telah dibuat,
dengan mendengar, melihat, atau membaca.
Dalam uraian pemikirannya, Ricoeur
membawanya pada diskusi tentang mimesis.
Mimesis menyajikan tindakan meniru, mengulang, mengikuti, meneladan, memalsu, dan
menciptakan kembali. Untuk sampai pada
pemikiran tersebut, Ricoeur menggunakan
metode fenomenologi Husserl tetapi tidak
seluruhnya digunakan. Ia banyak memperhatikan kajian tentang mencari eidos atau hakikat
sesuatu. Hal ini dilakukannya karena Ricoeur
ingin memberikan eidetika tentang kehendak
yang tertuang melalui sikap memutuskan,
melakukan, dan menyetujui.
Bagi Ricoeur, ‘memutuskan’ sudah termasuk proyek atau rancangan, pilihan, dan
motivasi. Kalau dilihat sepintas, hal tersebut
tampak ciri khas fenomenologi Husserl tetapi
sebenarnya, pemikiran ini kurang memadai
menurut Ricoeur. Bagi Ricoeur, jika beralih ke
faktor yang tidak dikehendaki berkenaan dengan
bidang ini, misalnya pelbagai kebutuhan,
kesenangan, dan ketidaksenangan, maka
fenomenologi Husserl terlihat kurang memadai.
Hal ini dikarenakan Husserl terlalu membatasi
pada kesadaran murni yang jelas berhubungan
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
85
Memaknai Dosa melalui Pendidikan Kristiani
dengan pengalaman tubuh dan sejarah pribadi
seseorang. Oleh karenanya, Ricoeur mengembangkannya pada uraian partisipasi eksistensial
dengan integrasi dari pemikiran Gabriel Marcel
melalui analisisnya berkenaan tubuh.
Berpindah pada ‘melakukan’, Ricoeur
menunjukkan tindakan paling sering dilakukan
berkenaan dengan pola ini ialah menggerakan
tubuh. Hal ini terlihat sederhana, tetapi Ricoeur
menganggapnya serius karena ia melihat tubuh
dipandang sebagai alat perbuatan yang
dimungkinkan terjadi berbagai kesulitan besar,
di antaranya keterlibatan tubuhnya dalam dunia
material. Ricoeur terlihat sangat memberi catatan
terhadapnya karena ia tidak ingin terjebak pada
pandangan manusia sebagai dua hal tubuh dan
jiwa tanpa memperhatikan kesatuannya. Lagi
pula, Ricoeur merasa kehendak telah melebur
pada berbagai hal yang tidak dikehendaki,
seperti insting, emosi, dan berbagai kebiasaan.
Ricoeur melihat fenomena percobaan menjadi
semacam jembatan antara yang dikehendaki
dan tidak dikehendaki.
Berlanjut pada ‘menyetujui’, Ricoeur turut
melihatnya sebagai tindakan menerima dan
membuat menjadi miliknya sendiri. Dalam hal
ini, menyetujui itu menyangkut faktor yang tidak
dikehendaki sebagaimana biasa disebut
keniscayaan. Keniscayaan yang dimaksud
Ricoeur di sini ialah keniscayaan yang dihayati.
Artinya, keniscayaan yang berhadapan dengan
manusia secara obyektif, melainkan melekat
pada subyektivitasnya. Keniscayaan yang
dihayati ini mencakup watak, ketidaksadaraan
dan apa yang dengan suatu istilah umum dapat
disebut kehidupan, misalnya fase-fase
pertumbuhan dan kelahiran.
Prolog Keberdosaan Manusia
Lukas 7: 36-50 mengulas peristiwa Yesus
diurapi oleh perempuan berdosa. Dalam teks
tersebut, perempuan yang mengurapinya
(membasahi kaki-Nya dengan air matanya dan
menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia
mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan
minyak wangi) dilabel sebagai perempuan
berdosa. Teks tersebut tidak menjelaskan makna
dosa dan tiba-tiba langsung dilabelkan pada
dirinya (ay. 37).
86
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Melalui cuplikan pemahaman di atas,
penulis mencoba merenungkan makna dosa dari
kacamata Ricoeur. Penulis sengaja memilih
pemikirannya karena Ricoeur dengan tegas
membuat distingsi antara noda (defilement), dosa
(sin), dan kesalahan (guilt). 11 Bagi penulis,
distingsi ketiganya dapat memberi sumbangan
positif bagi ketercampuran pemahaman noda,
dosa, dan kesalahan yang biasa dilakukan.
Secara singkat digambarkan, noda atau
kecemaran merupakan kesadaran religius atas
kontaminasi yang mengakibatkan hilangnya
kemurnian etis seseorang. Sedangkan, dosa
digambarkan sebagai ketersesatan dari kehendak
Allah. Lalu, kesalahan lebih mengarah pada
dirinya sendiri sebagai wujud peralihan dari
kesalahan religius ke etis.
Makna Dosa dari Tradisi Kristiani
Teks Alkitab tidak menjelaskan eksplisit
mengenai asal dosa. Bahkan, Allah pun tidak
bisa dilabelkan sebagai sumber dosa sebab Ia
merupakan terang dan sama sekali tidak ada
dosa di dalamnya. Ia malah berinisiasi untuk
memulihkan hubungan manusia dan Allah yang
rusak karena dosa melalui kehadiran dan
pengorbanan Yesus Kristus. Kalaupun asal dosa
dijelaskan, ia biasa dilekatkan dalam iblis.
Iblis dilabel sebagai asal dosa. Cerita
bagaimana Adam dan Hawa jatuh ke dalam
dosa karena bujukan iblis kerap menjadi sumber
pemahaman asal dosa (Kej. 3: 1-7). Kalau diteliti
lebih jauh, manusia jatuh dalam dosa bukan
semata karena iblis, melainkan manusia telah
mengambil keputusan di antara mendengarkan
firman Allah atau kata-kata iblis. Dengan kata
lain, manusia telah kalah dalam pergumulannya
melalui persimpangan etisnya. Maka, penulis
boleh merasa tidak pantas apabila penulis
senantiasa menyudutkan iblis sebagai sumber
dosa.
Melalui gambaran di atas, penulis merasa
kesulitan menemukan asal dosa tersebut, kecuali
menggesernya menjadi apa yang disajikan
Alkitab mengenai dosa. Penulis berkesimpulan,
Alkitab memang tidak menguraikan asal dosa
melainkan pengakuan dosa. Contoh nyata,
kajian tersebut merujuk pada Mamur 32: 5
tertulis, “Dosaku kuberitahukan kepadaMu dan
Memaknai Dosa Melalui Pendidikan Kristiani
kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku
berkata: ‘Aku akan mengaku kepada Tuhan
pelanggaran-pelanggaranku’ dan Engkau
mengampuni kesalahan karena dosaku.”
menceritakan peristiwa yang terjadi pada awal
waktu dan bertujuan memberikan dasar bagi
tindakan ritual manusia sekarang.13 Dalam hal
ini, mitos secara umum dapat dipahami sebagai
bentuk tindakan dan pikiran dengan mana
manusia memahami dirinya di dunia.
Sedangkan, simbol selalu memiliki tujuan
mengutarakan makna. Mitos dan simbol saling
berkaitan dan memiliki arti yang sama. Mitos
bisa dipahami sebagai simbol dalam bentuk
narasi.
Alkitab menunjukkan dua versi dalam
menjelaskan makna dosa. Perjanjian Lama
menunjukkan dosa setidaknya melalui tiga kata
kunci yakni kehilangan, menyimpang, dan
memberontak. 12 Kehilangan berarti manusia
telah kehilangan tujuan karena ketidaktahuannya terkait peraturan yang disampaikan
oleh Allah (Kel. 20: 20; Ams. 8: 36). Sedangkan
Noda, dosa, kesalahan merupakan bagian
kata ‘menyimpang’ dipahami bahwa manusia dari simbol. Noda dan dosa memiliki kesinamtelah melanggar dan menyimpang dari kehendak bungan. Noda yang bersifat eksternal
Allah. Kalau begitu, kata ini dimungkinkan ditransformasikan menjadi bentuk internal
dimaknai kesalaberupa dosa. 14
han bukan dosa.
Secara konkrit,
Lalu, kata ‘membenoda dianggap
rontak’ bisa dipabenda sedangkan
Mereka menghayati dosa
hami pemberondosa menggamdigambarkan sebagai jalan
takan atas kekuabarkan absennya
berkelok, salah sasaran,
saan hukum Allah
Allah. Noda dipapemberontakan dan ketersesatan
dengan sadar (1
hami
sebagai
dari kehendak Allah.
Raja. 12: 9; 2 Raja.
peristiwa yang
8: 20; Hos. 8:1).
menimbulkan
Sedikit
mirip
ketakutan. Dalam
dengan Perjanjian
hal ini, Ricoeur
Lama, Perjanjian Baru menyajikan pemahaman menyebutnya sebagai teror etis pada pelakunya
dosa berupa pelang-garan hukum Allah (1 Yoh. dan menuntut hukuman setimpal untuk
3: 4), perbuatan tanpa kasih (1 Yoh 4: 8), pemurnian kembali yakni memulihkan tatanan.
ketidaktaatan, ketidaksetiaan, dan tidak percaya. Namun, Ricoeur mengingatkan bahwa noda
Bila pemaknaan dosa di atas dikembalikan bukan merujuk pada bentuk kelangsungan
ke Kej. 3 sebagai kisah etiologi (asal usul), kata hidup melainkan model imajinatif pembersihan
15
‘dosa’ dapat dipahami sebagai rusaknya filosofis yang terkonstruksi.
hubungan baik antara Allah dan manusia yang
membuat manusia mengalami banyak penderitaan berikutnya. Dengan kata lain, dosa turut
dipahami sebagai tindakan bukan sekedar tidak
percaya, melanggar, dan tidak menaati Allah
melainkan memusuhi dan memberontak Allah,
hidup tanpa Allah, dan tidak layak disebut anak
Allah.
Noda, Dosa, dan Kesalahan
Ricoeur memulai penjelasannya mengenai noda,
dosa, dan kesalahan dalam bingkai diskusi
mitos dan simbol. Bagi Ricoeur, mitos bukan
suatu penjelasan yang palsu melalui gambaran
dan cerita, tetapi suatu narasi tradisional yang
Noda perlu dibersihkan dan dalam Alkitab,
pembersihan sering digambarkan penyembuhan
atas penyakit dan hati yang tercemar. Ricoeur
menunjukkan noda di sini bukan sekedar noda
kotor (stain), melainkan kecemaran (defilement)
yang membutuhkan pembersihan. Pembersihan
terus dilakukan sampai orang tersebut bersih dan
murni (purity). Murni diindikasikan secara fisik
dan etis. Beranjak ke pembahasan tentang dosa,
pemikiran yang langsung muncul mengenai hal
ini adalah zaman Israel. Mereka menghayati
dosa digambarkan sebagai jalan berkelok, salah
sasaran, pemberontakan dan ketersesatan dari
kehendak Allah.16 Dalam hal ini, dosa juga perlu
dibersihkan dengan adanya penebus.
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
87
Memaknai Dosa melalui Pendidikan Kristiani
Walaupun noda dan dosa perlu dibersihkan, Ricoeur menunjukkan perbedaan keduanya, yakni dalam noda, aku menuduh orang lain,
kemudian dalam dosa aku dituduh. Dengan kata
lain, penulis melihat ada pergeseran posisi
personal di sini. Noda bisa dilekatkan pada orang
lain sebagai obyek, lalu dosa menunjuk pada diri
kita sebagai obyek. Penulis menduga pertanyaan
Yesus pada orang banyak, “Mengapa engkau
melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau
ketahui?” (Mat. 7: 3) menunjuk pada noda bukan
dosa karena kita menyudutkan (menghakimi)
orang lain sebagai obyek penderita.
Berbicara mengenai kesalahan, Ricoeur
menggambarkannya berada dalam relasi
dengan sesama. Artinya, ketika manusia berelasi
dengan sesamanya, ia menuduh diri sendiri
karena kelalaian atau apapun setelah berefleksi
(sadar) atasnya. Kalau demikian, kita bisa
melihat bahwa ada pergeseran pemahaman di
sana. Dosa yang bernada religius bergeser
menuju taraf etis karena kesadaran reflektif yang
dilakukannya. Noda, dosa, dan kesalahan
dipakai Ricoeur guna menggambarkan tentang
memahami simbolisme kejahatan. Artinya,
Ricoeur tidak sekedar menafsirkan simbol
kejahatan, melainkan merefleksikannya secara
filosofis untuk menampilkan kembali isi
kesadaran religiusnya yang sudah dilupakan.17
Hal ini bisa dipahami bahwa kesadaran simbol
kejahatan semata menempatkan pada manusia
dan menjadikannya sebagai penyebab
kejahatan.
Aku Orang Berdosa
Berbicara orang berdosa sebagai perenungan
filosofis, penulis melihat dosa yang melekat pada
diri bukan sekedar berhenti pada kesadaran
religius melainkan dicoba dibawa ke arah etis.
Artinya, ketika berdosa, manusia memang
sedang membutuhkan penebus sebagaimana
pemahaman dalam tradisi Kristiani dengan
merujuk pada Kristus sebagai korban
penebusan. Namun, perlu dilihat bahwa janganjangan manusia itu sendiri penyebab dosa
tersebut. Walaupun dalam hal ini, Ricoeur
menggunakan kata ‘dosa’ dalam ranah
pembahasan mengenai simbolisme kejahatan.
88
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Kalau demikian pemahamannya, penulis
juga melihat interpretasi atas dosa bisa
dikembangkan sama halnya dengan pemahaman dalam Kej. 3 ketika manusia berdosa karena
ia telah gagal dalam persimpangan antara
melakukan kehendak Allah atau manusia.
Ricoeur memang sedikit membawa diskusi ini
dalam relasi dengan Allah. Namun, ia
sebenarnya hendak mengatakan adanya ajakan
untuk memahami terlebih dahulu perenungan
simbol-simbol teks suci melalui fenomenologi
pengakuan kemudian membawanya pada
perenungan secara filosofis. Artinya, uraian
simbolisme kejahatan mengajak pembaca
memahami adanya dua tendensi yang perlu
diinterpretasi. Tendensi ini merujuk pada upaya
melihat kejahatan untuk mendahului pengalaman manusia dalam dirinya dan menempatkan kejahatan dalam dirinya guna menjadikan
manusia sebagai penyebab kejahatan tersebut.
Kejahatan
Setelah meneropong uraian The Symbolism of
Evil, T.M. van Leeuwen mengusulkan bahwa
kajian tersebut garis besar perjalanan pengalaman manusia melalui tiga tahap perkembangan
sejarah melalui kebudayaan kuno, agama
monotheis, dan pengalaman sekular-personal.18
Melalui perkembangan sejarah demikian,
kejahatan tidak hanya dilihat sebagai tindakan
manusia melainkan gambaran kejahatan sebagai
penodaan, manusia berada dalam ‘situasi’ jahat
dan tersentuh oleh kejahatan, yang menular.
Pemahaman kejahatan model demikian
membuat kita menjadi semakin bertanya lebih
dalam mengenai siapakah manusia dan apa
yang membuatnya menjadi semakin terhisap
kejahatan yang menular tadi. Mungkin, manusia
bisa dibedah lebih jauh melalui pisau antinomi
(kenyataan kontroversial) antara pewahyuan
dan rasionalitas, iman dan pengetahuan,
anugerah dan alami, keberanian dan
kegelisahan. 19 Hal ini senada dengan
persimpangan manusia dalam Kej. 3 yang coba
dibahasakan.
Pertanyaan siapakah manusia, mungkin
tidak hanya dilihat dari pisau antinomi saja
melainkan perspektif religius. Perspektif ini
cenderung mengandaikan manusia memang
Memaknai Dosa Melalui Pendidikan Kristiani
dimungkinkan terhisap dalam konversi
pemikiran naturalisme dan dogma sekularisme
yang berlawanan dengan refleksi transendental.
Refleksi transendental memperlihakan bahwa
pencerapan atau persepsi ditandai oleh
keterbatasan yang diakibatkan oleh tubuhku
sebagai pusat orientasi. Dalam hal ini, tubuh
tidak pertama-tama menunjukkan keterbatasan
melainkan keterbukaan kepada dunia dan yang
lain. Melalui langkah ini, tubuh diharapkan
menjadi mediasi guna menjangkau dunia.20
pembatasannya tidak terlalu tajam.22 Clement
melihat adanya kerancuan antara istilah
tersebut. Ia mempertanyakan apakah benar PAK
dapat dilihat sebagai pelayanan gerejawi bagi
semua golongan umur sehingga timbul gagasan
untuk menggantikan PAK dengan PWG. Atau
sebaliknya, PWG merupakan bagian dari PAK23
Menanggapi hal tersebut, PERSETIA mengeluarkan istilah PK guna menghindari kericuhan
yang terjadi pada tahun 1996. Setelah memahami
bagaimana munculnya istilah PK, perlu pula
diketahui pengertiannya secara benar. Menurut
Seymour, PK merupakan percakapan kehidupan
dan sebuah pencarian yang menggunakan
sumber iman dan tradisi budaya yang bergerak
menuju masa depan terbuka bagi keadilan dan
harapan. 24 Berdasarkan pandangan yang
diutarakan oleh Seymour, PK bersifat dialogis
yang membicarakan kehidupan bukan bersifat monolog.
Refleksi transendental bisa diletakkan
dalam keterampilan manusia dalam mencari
Allah. Pencarian ini mengandaikan agama
mendistingsi dengan teologi berkaitan perasaan,
aspirasi, dan tindakan manusia.21 Hal ini turut
mengungkapkan keinginan alamiah manusia
dalam mencari Allah dan sebaliknya. Allah
disinyalir sebagai
subyek pencipta
manusia
guna
mengeksplor asi
Fokus pendekatan ini adalah pada
makna Allah dengMungkin,
diri sendiri dan orang lain untuk
an mengonstitusi
kita bisa meneterjadinya transformasi dalam
sebuah
aspek
mukan banyak
hidup baik komunal maupun
alamiah manusia
salah persepsi
pribadi sehingga dapat
sebagai substansi
dalam memanberpartisipasi dalam masyarakat.
ontologis. Manusia
dang PK, misaldiharapkan
nya PK hanya
berproses dengan
dilihat sebatas
formula untuk
metode yang
berproses kreatif melalui memproteksi diri dari digunakan seseorang atau kelompok untuk
teror eksistensi etis, termasuk distingsi antara menyampaikan suatu hal (contohnya tafsiran
agama dengan sekularisme dan sakral dengan suatu kitab) kepada jemaat. Padahal, PK
profan.
memiliki kaitan yang cukup luas. PK terkait
dengan manusia, Tuhan, dan dunia. Ketiga hal
Dasar-Dasar Pendidikan Kristiani Transfor- tersebut bisa digambarkan seperti segitiga saling
berhubungan. Selain itu, PK juga terkait dengan
matif di Sekolah
Istilah Pendidikan Kristiani (selanjutnya ditulis individu, komunitas, masyarakat, negara,
PK) merupakan hasil diskusi yang panjang. internasional, bumi atau dunia, dan alam
Sebelumnya, dikenal istilah Pembinaan Warga semesta. Tak lepas dari itu, PK juga memiliki
Gereja (selanjutnya ditulis PWG) dan Pendi- kaitan dengan berbagai ilmu lain. Kaitan PK
dikan Agama Kristen (selanjutnya ditulis PAK). dengan ilmu teologi ialah PK membantu seseKeduanya merupakan istilah awal dari istilah orang atau komunitas untuk mampu berteologi
PK. PAK memiliki ranah mulai dari pembinaan secara mandiri dengan cara memberi makna dari
pada anak, misalnya: sekolah minggu dan PAK perspektif iman Kristen atas pengalaman hidup.
di sekolah, kemudian berkelanjutan melalui PK memiliki empat (4) pendekatan. Pendekatan
katekisasi. Kemudian, PWG meneruskannya tersebut yaitu instruksional, perkembangan,
pada usia muda dan dewasa, sekalipun komunitas iman, dan transformasi sosial.
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
89
Memaknai Dosa melalui Pendidikan Kristiani
Meskipun pendekatan yang digunakan dalam
PK berbeda, obyek PK tetap sama yaitu misi gereja
dalam dunia, peranan komunitas iman,
pemahaman seseorang, dan tempat pengajaran
atau pembelajaran. 25 Karakteristik keempat
pendekatan PK berhadapan dengan dunia,
jemaat setempat sebagai setting utama, refleksi
teologis sebagai metodologi, menekankan
terjadinya pembelajaran yang religius dalam
suasana yang ramah, adil, dan terbuka untuk
percakapan dan pengungkapan kebenaran.26
Sebelum berbicara mengenai PK Transformatif, perlu dimengerti terlebih dahulu
mengenai transformasi. Transformasi merupakan perubahan rupa (bentuk sifat), mengubah
struktur inti atau beberapa inti menjadi struktur
lahir. Pendekatan ini bertujuan membantu orang
dan komunitas untuk mempromosikan kewarganegaraan yang setia dan perubahan sosial.
Guru dalam pendekatan ini ialah sponsor yang
mengundang peserta didik dalam kemitraan
untuk refleksi dan aksi. Peserta didiknya agenagen sejarah yang bebas dan bertanggungjawab
mencakup pribadi dan komunitas. Fokus dalam
pendekatan ini adalah pada diri sendiri dan
orang lain untuk terjadinya transformasi dalam
hidup baik komunal maupun pribadi sehingga
dapat berpartisipasi dalam masyarakat. Guru
dan peserta didik bertumbuh bersama dalam
pemuridan yang bertanggungjawab dan
melibatkan visi hidup bersama Tuhan, kebaikan
Kristus, tempat bagi Tuhan.27 Proses pendidikannya dengan melihat, menilai, dan beraksi.
Konteksnya gereja yang berbela rasa dan
pelayanannya di dalam dan bersama dunia.
Implikasi untuk pelayanan dengan mendukung
panggilan gereja untuk jadi cara alternatif dalam
melihat kehidupan, berada, dan hidup.
Ada beberapa hal penting yang masih
berhubungan dengan ini yaitu beberapa
pandangan dari Paulo Freire. Freire telah melakukan transformasi di berbagai tempat, salah
satunya di Guinea Bissau, dengan pemberantasan buta huruf. Jika melihat dan membaca buku
Paulo Freire maka dapat disimpulkan bahwa
Freire menekankan pendidikan yang membawa
pada upaya penyadaran (konsietisasi) tentang
keadaan yang penuh penindasan yang
dilakukan melalui refleksi kritis atas pengalaman hidup manusia. Ia juga mengajukan cara
90
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
pendidikan alternatif (pendidikan hadap
masalah) yang berlawanan dengan pendidikan
gaya bank. Misalnya, pada pendidikan gaya
bank terjadi hubungan yang monolog antara
guru dan murid sedangkan pendidikan hadap
masalah terjadi hubungan yang bersifat dialog
dari guru ke murid dan sebaliknya.
Pendekatan transformasi sosial mengandung diakonia sebagai wujud dari aksi, diakonia
dibagi menjadi tiga yaitu diakonia karitatif,
diakonia reformatif, dan diakonia reformatif.28
Ada empat kondisi yang perlu dalam diakonia
yang berarti yaitu:29
a. Kesediaan untuk menderita dengan melayani dan memberi diri.
b. Kerendahan hati sebagai penentang
superioritas terhadap diri sendiri dan
menghormati terhadap penentang menuju
ke sikap merendahkan diri untuk jadi
pelayan.
c. Tidak menggunakan diakonia sebagai
penyebab untuk dominasi, orang-orang
yang memiliki hak istimewa, dan pangkat
d. Kesediaan untuk identitas pelayan sebagai
poin kehidupan yang jatuh untuk kepentingan.
Dalam pendekatan ini, kita juga mengenal
komunitas basis dan komunitas sel. Komunitas
basis adalah suatu persekutuan umat yang relatif
kecil, saling mengenal, tinggal berdekatan atau
memiliki kepentingan bersama yang secara
berkala mengadakan pertemuan.30 Komunitas sel
memiliki ciri lebih ke arah pembinaan dan persekutuan yang beranggotakan 5-10 orang. Selain
itu, dalam pendekatan ini juga terdapat pendidikan multikulturalisme.
Transformasi Dalam Rahmat Allah
Berdasarkan uraian hermeneutika dosa, bisa
sedikit disimpulkan bahwa dosa merupakan
teror yang senantiasa menyerang keberadaan
manusia secara etis. Teror tersebut bisa ditangkis
melalui relasinya dengan Allah. Relasi dengan
Allah bukan semata perilaku doa saja, melainkan
menekankan keintiman. Keintiman bukanlah
sebuah formula dan ujian, tetapi hubungan.
Keintiman bukan pula berbicara tentang
kompetensi dan kesempurnaan. Keintiman
berbicara tentang keterhubungan. Keintiman
Memaknai Dosa Melalui Pendidikan Kristiani
dimulai saat kita memasuki kekacauan hidup.
Menerima kenyataan bahwa kita lemah,
memiliki kehidupan yang cacat merupakan
awal dari keintiman, bukan karena keintiman
akan menghapus kelemahan kita namun karena
alih-alih mencari kesempurnaan. Kita kini
mencari Allah. Dia yang hadir di tengah
kekusutan hidup kita. Maka, keintiman sekali
lagi bukanlah tentang memperbaiki kerusakan
kita melainkan melihat Allah yang hadir di
dalam kemelut ketidakberesan kita.
Setiap manusia memang rapuh dan berdosa. Namun, ia memiliki Allah yang bertangan
terbuka bila manusia senantiasa berupaya
mencari Dia. Hubungan Allah dan manusia bisa
digambarkan melalui metafora ibu dan anaknya.
Ketika anak itu masih kecil, tangan sang ibu
terbuka untuk memeluk, menggendong,
merawat, mengasuh, dan menyelimutinya dari
dinginnya udara malam. Ketika anak itu sudah
tumbuh besar dan pergi ke tempat yang jauh,
tangan sang ibu terlipat untuk merangkul dan
menyertainya dengan doa-doa. Allah penuh
kasih dan tidak pernah memaksakan pikiran
dan kehendak guru pada para murid. Allah
melihat memberikan masukan dan arahan
memang baik. Namun, memaksakan keinginan
atau kehendak justru bisa melukai hati manusia
itu sendiri. Allah hanya ingin hidup intim
dengan manusia.
Dalam Lukas 5: 8 tertulis, “Ketika Simon
Petrus melihat hal itu, iapun tersungkur di
depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari
padaku karena aku ini seorang berdosa.” Ayat
tersebut menggambarkan bagaimana pengalaman iman mendasar yang menyentak pribadi
Simon. Batinnya masih bergolak antara percaya
dan tidak percaya pada peristiwa yang
dialaminya. Keagungan Allah turun dan
menaungi kesadarannya. Awalnya, Simon dan
teman-temannya terlalu mengandalkan
kekuatan manusia belaka. Mereka berjuang keras
semalam-malaman untuk menangkap ikan.
Hasilnya nihil dan tubuh terasa lelah. Keputusasaan melanda karena mereka tidak mendapatkan
ikan. Tidak mendapat ikan bisa menjadi sebuah
ancaman bagi rejeki hidupnya beserta seluruh
keluarganya. Kesadaran akan jati diri sebagai
insan berdosa menyelimuti dirinya.
PK Transformatif diharapkan dapat
menginspirasi bagaimana manusia bisa
semakin membangun keintiman dengan Allah.
PK transformatif dapat semakin menempatkan
keseluruhan manusia di bawah terang cahaya
Ilahi. Manusia diajak semakin mengalami
bahwa tindakan Ilahi akan menguatkan
tindakan manusiawi.31 Dalam kegelapan, Allah
telah menyinari dan menguatkan dengan Roh
Kudus-Nya. Oleh karenanya, semakin kita
melihat diri di bawah terang penciptaan Allah
dengan kesadaran dosa dan kerapuhan. Kita
bisa semakin masuk dan menikmati daya
penebusan Ilahi dan dikaruniakan kepada
manusia adanya daya keberanian dan kekuatan
untuk bertindak di dalam kebersamaan dengan
Kristus untuk melibatkan diri secara utuh dan
aktif secara transformatif.
Secara global, PK Transformatif mengingatkan bahwa Tuhan ingin menggunakan manusia
sebagai perpanjangan tangannya untuk
menyelamatkan manusia lain dan semesta.
Tuhan memanggil kita untuk ikut membangun
Yerusalem lama menjadi baru melalui
membangun manusia lama menjadi baru dengan
semakin menyerupai citra Allah sendiri. Tuhan
tidak melihat dosa atau kerapuhan manusia.
Sufiyanta mengingatkan, Tuhan lebih optimistis
melihat keutuhan pribadi umat-Nya yang di
dalamnya ada daya dan potensi untuk
diikutsertakan dalam proyek pembangunan
Kerajaan Allah di dunia.32 Perubahan bisa terjadi
apabila manusia mampu menjala hati diri dan
sesamanya untuk menghayati dan memperjuangkan nilai keutamaan agar hidup mereka
memiliki kelimpahan berkah. Tuhan menggunakan pribadi yang lemah untuk dijadikan
perpanjangan tangan-Nya. Pada akhirnya
melalui PK Transformatif ini, manusia diharapkan mampu menyatakan diri secara utuh bahwa
ia telah mengerjakan yang terbaik seturut
kemampuan talenta yang diberikan Tuhan
kepadaku; selebihnya kupercayakan pada Roh
Kudus untuk menyempurnakannya.
Pengembangan Konsep Diri Dalam
Pendidikan Kristiani Transformasi di Sekolah
PK Transformasi tidak mungkin terjadi apabila
peserta didik belum memiliki konsep diri yang
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
91
Memaknai Dosa melalui Pendidikan Kristiani
positif. Namun, kita harus sadar bahwa setiap
manusia memiliki perbedaan dan unik. Namun,
hal ini barulah terlihat setelah mereka masuk
dalam proses interaksi. Yesus turut memiliki
banyak variasi dalam mengajar para murid dan
orang banyak, di antaranya melalui penggunaan
kata-kata dan perumpamaan yang dikaitkan
dengan situasi konkrit kehidupan sekitar. Yesus
melakukannya karena Yesus sepenuhnya
menyadari bahwa manusia itu unik. Hal ini
tergambar ketika Yesus berhadapan dengan
kasus seorang perempuan yang kedapatan
berbuat zinah (Yoh. 8: 2-11). Perempuan itu
dihadapkan kepada Yesus untuk diberikan
pengadilan atau hukuman seturut aturan adat
istiadat yang berlaku. Yesus hanya bangkit
berdiri dan berkata: “Barang siapa tidak
memiliki dosa, dia yang pertama kali melempari
perempuan ini
dengan batu.”
untuk menghadapi masa depan secara mandiri
dan bertanggungjawab. Mengajarkan nilai
kepada sesama tentang hidup berarti, mereka
harus mengenali diri terlebih dahulu dengan
diiringi konsep diri yang positif. Setelah mereka
melakukannya, mereka harus tahu apa yang
ingin dicapai dan bagaimana mencapainya. Hal
ini menjadi penting karena konsep diri positif
berangkat dari adanya kesadaran bahwa mereka
berbeda dan tidak perlu merasa tersaingi dan
harus iri terhadap orang lain, dan sebagainya.
otomatis dapat mendorong setiap pribadi
mengalami perubahan. Secara konkrit, hal itu
dituangkan melalui upaya menanamkan nilai
keutamaan dan visi hidup yang disertai
keteladanan hidup sebagai sarana efektif untuk
melahirkan pilar yang kokoh dalam diri anak
Joyce mengingatkan konsep diri yang kuat
harus diiringi dengan perilaku aktualisasi diri
pula. Hal ini ditandai dengan adanya capaian
menuju lingkungan dengan kepercayaan diri
yang kuat bahwa interaksi yang terjadi akan
produktif.33 Orang yang menerapkan aktualisasi
Bila dilihat lebih jauh, konsep diri positif
biasa hilang karena adanya budaya takut.
Budaya takut rupanya sengaja dibangun guna
terciptanya suasana kesatuan palsu agar identitas pribadi terlebur dalam identitas kelompok.
Sebagai akibat, tidak ada keberanian untuk
menampilkan identitas dan jati diri yang otentik.
Manusia
bisa
tenggelam pada
takut
adanya
Rupanya,
Mengajarkan
nilai
kepada
sesama
perbedaan. Hal ini
tindakan Yesus
tentang hidup berarti, mereka harus
terjadi karena ia
menulis di atas
mengenali diri terlebih dahulu
takut tidak ditepasir membawa
dengan
diiringi
konsep
diri
yang
rima dan disingmakna positif
positif.
kirkan temanberkenaan dengteman. Lingkungan konsep diri.
an yang tidak
Menulis di atas
menghargai
keunikan
dan
perbedaan khas
tanah berarti membiarkan kesalahan dan
kekurangan itu cepat hilang tertiup angin. Yesus pribadi dapat mempertajam rasa takut untuk
ingin mengajar orang banyak itu untuk tidak berani tampil otentik di hadapan umum. Akar
mudah menghakimi, tetapi lebih terintrospeksi. mendasar dari ketakutan tersebut ialah takut
Yesus menggunakan seluruh kemampuan kehilangan identitas di dalam kelompok yang
individual-Nya untuk bertindak dengan tujuan memberinya rasa nyaman dan aman. Ia takut
yang jelas, berpikir secara rasional, dan bahwa diriku yang berjumpa dengan diri yang
semuanya terkait erat dengan lingkungan yang lain akan menantangku bahkan memaksaku
sedang dihadapi-Nya. Dasar utama tindakan untuk melakukan perubahan di dalam hidupku.
Yesus yaitu cinta kasih. Yesus tidak bermaksud Pola ini bisa disebut dengan mentalitas
menghukum perempuan itu, melainkan kemapanan dan tidak mau berubah. Hal ini
mengangkatnya agar memiliki konsep diri yang biasa diungkapkan melalui kalimat “Ya inilah
aku, kalau mau ya terimalah diriku seperti ini
positif.
Pembangunan konsep diri membutuhkan apa adanya …” Mentalitas ini sepintas terkesan
keteladanan. Namun, perlu dimiliki kesadaran menarik, tetapi sebenarnya berbahaya karena
bahwa memberikan keteladanan belum tentu bisa merusak konsep diri yang otentik.
92
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
Memaknai Dosa Melalui Pendidikan Kristiani
diri diharapkan turut melakukan interaksi yang
sarat nilai dengan lingkungan sekitarnya
melalui menemukan kesempatan untuk tumbuh
dan berkembang, dan yang tidak terbantahkan.
Dalam hal ini, memberikan sumbangan berarti
dan membawa dampak pada proses perkembangan orang lain.
Konsep diri dapat terus diutamakan dalam
PK Transformatif di sekolah. Horace Bushnell,
seorang pendidik Kristen mengingatkan
pengasuhan anak di sekolah merupakan bagian
dari jalan Tuhan pada pendidikan. Bagi
Bushnell, sering kali, pengasuhan anak
berkenaan konsep diri merupakan jalan Tuhan
dengan keniscayaan pengembangan metode dan
karakter otentik yang terarah pada Tuhan. Jalan
Tuhan dalam pendidikan menstimulasi hasil
yang dimungkinkan melalui penjangkauan
peserta didik.34 Rasul Paulus pun mengingatkan
bahwa pendidikan harus senantiasa membina
dan mengasuh peserta didik dalam ajaran dan
nasihat Tuhan (Ef. 6: 4). Dalam hal ini, ia
menggunakan kata ‘paidea’ sebagai bentuk
pengasuhan. Pengasuhan harus senantiasa
membangun ketergantungan peserta didik
dengan Allah melalui konsep diri positif melalui
dinamika pembinaan agar peserta didik semakin
tergantung pada Tuhan, interdepensi dengan
sesama, mengasihi Tuhan dan sesama,
mengenal rencana Allah dalam kehidupan, dan
semakin mengalami Allah.
Simpulan
Kesimpulan
Dosa memang merupakan teror yang senantiasa
menyerang keberadaan manusia secara etis.
Teror tersebut bisa ditangkis melalui relasinya
dengan Allah. Namun, hal ini tidak mudah.
Manusia harus memiliki keterbukaan untuk
berelasi dengan Allah dengan menerima
keberadaan diri apa adanya. Tentunya, menerima keberadaan diri ini berkenaan langsung
dengan adanya konsep diri yang positif. Konsep
diri positif dapat dilihat melalui sikap aktualisasi
diri ketika mengembangkan hubungan dengan
sesama dan semesta. Konsep diri bisa dibangun
melalui PK Transformatif. PK Transformatif
mengiring peserta didik makin berjumpa dengan
Allah. Perjumpaan ini ditempuh melalui
berbagai hal berkenaan dengan disiplin
spiritualitas. Dalam perjalanannya, perjumpaan
ini tidak hanya terbatasi dalam ruang spiritual
saja, melainkan tercermin dari bagaimana
mereka bisa berelasi dengan sesama dan dunia.
Namun, hal ini tidak akan terwujud apabila guru
tidak memiliki hati dan senantiasa
mengembangkan pengasuhan peserta didik.
Saran
Pendidikan Kristiani Tranformatif perlu
diterapkan dan dikembangkan dalam setiap
kegiatan pendidikan agama Kristen baik di jalur
pendidikan formal maupun nonformal. Keberhasilan pendekatan ini dapat terwujud antara lain
kalau makna dosa itu dipahami secara benar.
Guru agama diharapkan mendalami pendekatan
pendidikan ini. Dengan demikian, diharapkan
orang Kristen dapat menghindari dosa sedini
mungkin (preventif) dan melakukan pemulihan
hubungan dengan Allah sesegara mungkin
setelah jatuh ke dalam dosa.
Catatan kaki
1
E. Sumaryono. Hermeneutik: Sebuah Metode
Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 1999), h. 23.
2
F. Budi Hardiman. Seni Memahami: Hermeneutika
dari Schleiermacher sampai Derrida (Yogyakarta:
Kanisius, 2015), h. 9.
3
Ibid., h. 21.
4
Wahyu S. Wibowo. Hermeneutika Ricoeur
(naskah tidak dipublikasikan).
5
Pahami bingkai pemikiran Ferdinand de
Saussure yang membedakan antara langue
(bahasa) dan parole (wacana).
6
Paul Ricoeur. Hermeneutika Ilmu Sosial
(Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2006), h. 215.
7
Kees Bertens. Filsafat Barat Abad XX (Jakarta:
Gramedia, 1996), h. 274.
8
Ibid., h. 278.
9
Ibid., h. 274.
10
Lihat Haryatmoko. Membongkar Rezim
Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis
(Yogyakarta: Kanisius, 2016), h. 88-89.
11
Lihat Paul Ricoeur. Symbolism of Evil (Boston:
Beacon Press, 1967), h. 25-150.
12
Harun Hadiwijono. Iman Kristen (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2013), h. 235.
13
Paul Ricoeur. Symbolism of Evil (Boston: Beacon
Press, 1967), h. 5.
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
93
Memaknai Dosa melalui Pendidikan Kristiani
14
M. Sastrapratedja, “Hermeneutika dan Etika
Naratif menurut Paul Ricoeur” dalam Jurnal
Kanz Philosophia Vol. 2 No. 2 Desember 2012,
h. 250.
15
Paul Ricoeur. Symbolism of Evil, h. 34.
16
Pemikiran demikian sedikit banyak sama
seperti yang dituangkan pada bagian
sebelumnya.
17
F. Budi Hardiman. Seni Memahami: Hermeneutik
dari Schleiermacher sampai Derrida, h. 250.
18
T.M. Leeuwen. The Surplus of Meaning: Ontology and Eschatology in the Philosophy of Paul
Ricoeur (Amsterdam: Radopi, 1981), h.144.
dikutip M. Sastrapratedja, “Manusia dalam
Bahasa Mitik-Simbolik: Mircea Eliade dan
Paul Ricoeur” dalam J. Sudarminta dan S.P.
Lili Tjahjadi (ed.). Dunia, Manusia, dan Tuhan:
Antologi Pencerahan Filsafat dan Teologi
(Yogyakarta: Kanisius, 2008), h. 139.
19
Paul Ricoeur. The Symbolism of Evil , h. 358.
20
J. Sudarminta dan S.P. Lili Tjahjadi (ed.). Dunia,
Manusia, dan Tuhan , h. 131.
21
Paul Ricoeur. The Symbolism of Evil, h. 359.
22
Clement Sulleman dalam artikelnya ”Pendidikan Agama Kristen dan Pembinaan Warga
Jemaat “
dalam Andar Ismail (Ed.) Ajarlah Mereka Melakukan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998), h. 3.
23
Ibid, h 4.
24
Jack L. Seymour, “Approaches to Christian
Education” dalam Jack L. Seymour (ed.), Mapping Christian Education:Approaches to
Congregational Learning (Nashville: Abingdon
Press, 1997), h. 18.
25
Ibid, hal.19.
26
Jack L. Seymour dan Donald E. Miller, dalam
artikelnya “Agenda for the Future” dalam Jack
L. Seymour (ed.), Mapping Christian Education:
Approaches to Congregational Learning,
(Nashville: Abingdon Press, 1997). hal. 121.
27
Robert T. O’Gorman dalam artikelnya “The
Faith Community” dalam Jack L. Seymour
(ed.), Mapping Christian Education: Approaches
to Congregational Learning, (Nashville:
Abingdon Press, 1997). h. 30.
28
E.Gerrit S inggih, Teologi Dalam Konteks, (Yogyakarta: Duta Wacana University Press, 2002). h .
46.
29
Paulos Mar Gregorias, The Meaning and Nature
of diakonia , (Geneva: WCC Publications). h. 4.
30
A. Margana, Komunitas Basis: Gerak Menggereja
Kontekstual, (Yogyakarta: Kanisius,2004), h. 12.
31
Apabila kita ingin mengembangkannya lebih
dalam, pola ini bisa dilihat lebih lagi melalui
PK Spiritualitas.
94
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
32
A. Mintara Sufiyanta dan Yulia Sri Prihartini.
Sang Guru Sang Peziarah: Spiritualitas Guru
Kristiani (Jakarta: Obor, 2014), h. 44.
33
Bruce Joyce. Models of Teaching (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2016), h. 494.
34
D. Bruce Lockerbie. A Passion for Learning: A
History of Christian Thought on Education
(Colorado Springs: Purposeful Design, 2007),
h. 297.
Daftar Pustaka
Bertens, Kees. (1996). Filsafat barat abad XX
Jakarta: Gramedia
Budi Hardiman, F. (2015). Seni memahami:
Hermeneutika dari Schleiermacher sampai
Derrida Yogyakarta: Kanisius
Gerrit Singgih, E. (2002). Teologi dalam konteks
Yogyakarta: Duta Wacana University Press
Haryatmoko. (2016). Membongkar rezim kepastian:
Pemikiran kritis post-strukturalis.
Yogyakarta: Kanisius
Ismail, Andar (Ed.) (1998). Ajarlah mereka
melakukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Joyce, Bruce . (2016). Models of teaching
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
L. Seymour, Jack (ed.). (1997). Mapping Christian
education : Approaches to congregational
learning Nashville: Abingdon Press
Margana, A. (2004). Komunitas basis: Gerak menggereja kontekstual Yogyakarta: Kanisius
Mintara Sufiyanta, A. dan Yulia Sri Prihartini.
(2014). Sang guru sang peziarah: Spiritualitas
guru Kristiani. Jakarta: Obor
Ricoeur, Paul. (2006). Hermeneutika ilmu sosial.
Yogyakarta: Kreasi Wacana
Sastrapratedja, M. Hermeneutika dan Etika
Naratif menurut Paul Ricoeur, dalam
Jurnal Kanz Philosophia Vol. 2 No. 2
Desember 2012
S. Wibowo, Wahyu. Hermeneutika Ricoeur (naskah
tidak dipublikasikan)
Sudarminta, J. dan S.P. Lili Tjahjadi (ed.). Dunia,
manusia, dan Tuhan: Antologi pencerahan filsafat dan teologi. (2008). Yogyakarta:
Kanisius
Sumaryono, E. (1999). Hermeneutik: Sebuah metode
filsafat Yogyakarta: Kanisius
_____. (1967). Symbolism of evil Boston: Beacon
Press
Isu Mutakhir
Isu Mutakhir: Kegiatan Bermain: Sarana Mengembangkan Potensi Anak
Kegiatan Bermain: Sarana Mengembangkan Potensi Anak
Mudarwan
E-mail: [email protected]
Bagian Kurikulum dan Evaluasi BPK PENABUR Jakarta
Pendahuluan
ewasa ini minat
masyarakat
memasukkan anaknya
ke pendidikan anak
usia dini (PAUD) semakin
meningkat, khususnya di kota
besar. Keinginan Pemerintah
Indonesia dan masyarakat
memberikan pendidikan
sedini mungkin kepada anak
mendorong Pemerintah dan
masyarakat mendirikan
lembaga PAUD sampai ke
desa di seluruh Indonesia.
Lembaga PAUD meliputi
Kelompok Bermain (KB),
Taman Penitipan Anak (TPA),
dan Taman Kanak-Kanak
(TK). Semakin bertambahnya
jumlah lembaga PAUD yang
didirikan pemerintah atau
masyarakat swasta,
khususnya di kota
menimbulkan persaingan
antarlembaga PAUD yang
dapat berdampak negatif
terhadap perkembangan anak
itu sendiri.
D
Untuk mendapat jumlah
peserta didik lebih banyak,
sejumlah PAUD berusaha
mengikuti keinginan orangtua
dalam menyelenggarakan
pendidikan di PAUD serta
mengabaikan prinsip utama
pendidikan anak usia dini. Di
TK kegiatan bermain sambil
belajar tidak jarang diabaikan
dan proses pendidikan
mengarah pada pembelajaran
formal dengan mengajari anak
membaca, menulis, dan
berhitung (calistung) seperti
yang dilakukan di SD.
Orangtua juga bangga kalau
anaknya yang masih di TK
terampil membaca, menulis,
dan berhitung. Padahal
sesungguhnya proses
pembelajaran di TK dilakukan
dalam bentuk permainan
antara lain untuk mengenal
huruf, angka, dan berhitung
dengan sederhana. Dengan
perkataan lain anak melihat
dan mengenal huruf dan
angka serta berhitung melalui
proses bermain yang
menyenangkan tanpa mereka
menyadari bahwa mereka
‘belajar’. Kesan yang
tertinggal pada diri anak
adalah kesan bermain bukan
belajar. Jadi, jika mereka
ditanya sedang melakukan
apa, jawaban mereka adalah
sedang bermain bukan sedang
belajar.
Kekurangmampuan
kepala TK beserta gurunya
memahami kurikulum
membuat proses pendidikan
semakin jauh dari
sebagaimana seharusnya.
Sejalan dengan hal tersebut
bbc.com1 mengatakan bahwa
anak tidak harus mulai
pelajaran sekolah formal
sampai usia enam atau tujuh
tahun, karena hal yang
demikian dianggap
menciderai hak anak untuk
bermain. Sepatutnya kegiatan
belajar calistung itu tidak
dilakukan dengan cara formal
dan frontal, melainkan
dirangkai melalui kegiatan
bermain. Jadi, belajar melalui
bermain dan bermain seraya
belajar. Kegiatan tersebut
dapat dilakukan dalam
suasana yang menyenangkan,
tanpa paksaan, dan tidak
menjadikan beban bagi anak.
Seorang guru
menanyakan anak SD apa
paling menyenangkan yang
dilakukan mereka di sekolah.
Sebagian besar dari mereka
menjawab, saat sebelum tiba
di sekolah, saat tiba di sekolah
sebelum jam pelajaran
dimulai, waktu istirahat, jam
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
95
Isu Mutakhir: Kegiatan Bermain: Sarana Mengembangkan Potensi Anak
pelajaran olah raga, dan saat
akan pulang dari sekolah.
Ada yang menarik dari
pertanyaan guru dan jawaban
anak itu. Tidak ada seorang
pun yang mengaitkannya
dengan kegiatan
pembelajaran di sekolah.
Seakan-akan bagi mereka
kegiatan belajar di sekolah
tidaklah menyenangkan
dibandingkan dengan waktu
bebas yang digunakan untuk
bermain, seperti pada waktu
istirahat dan juga jam
pelajaran olah raga.
Sesungguhnya, dunia
anak adalah dunia bermain
sehingga ketika ada remaja
atau orang dewasa masih
suka bermain, mereka diolokolok dan diejek, dikatakan
seperti ‘anak kecil’. Anak
tidak dapat dipisahkan dari
kegiatan bermain. Sebelum
bersekolah, sebagian besar
aktifitas anak adalah bermain.
Bermain menjadi prioritas
utama yang dilakukan
berulang-ulang dari hari ke
hari. Pada waktu bermain,
anak tampak ceria dan
gembira. Bandingkan dengan
mereka yang sudah menginjak
remaja atau dewasa yang
kegiatan utamanya belajar
dan bekerja. Namun
demikian, mereka masih suka
bermain dan terlibat dalam
suatu permainan. Hal itu
tidaklah mengherankan,
karena manusia disebut
sebagai homo ludens, makhluk
yang suka bermain. Naluri
manusia secara alamiah
memperlihatkan bahwa
manusia suka bermain dan
terlibat dalam permainan
96
tertentu. Selain bermain pada
beberapa jenis permainan
olah raga (jogging, bersepeda,
renang, outbound, olah raga di
pusat kebugaran, bulu
tangkis, dan bermain bola,
seperti: sepak bola, bola
basket, futsal, tenis, tenis meja,
dan lain-lain), dewasa ini
permainan (game) di PC
(Personal Computer), komputer
jinjing, ataupun permainan
berbentuk digital interaktif di
telepon pintar (smartphone)
dan sabak elektrobik (tablet
PC) dapat dengan mudah
ditemukan pada mereka yang
suka bermain secara digital.
Ternyata penggemar
permainan itu bukan hanya
anak, remaja dan orang
dewasa pun gemar permainan
tersebut. Bermain dapat
menjadi sarana pelepas stres
bagi orang dewasa. Banyak
dari mereka yang
menjadikannya sebagai
sarana rekreasi yang murah
dan menyenangkan. Karena
sejatinya salah satu tujuan
bermain adalah memperoleh
kesenangan, melepaskan diri
dari kepenatan dan rutinitas.
Unsur dan Manfaat
Bermain
Anak yang sedang
memerankan sebuah peran
pada pertunjukan drama,
dikatakan sedang ‘bermain’
sandiwara atau drama.
Seorang teman menanyakan
kepada rekanan bisnisnya,
“Kamu sekarang sedang
‘main’ apa?”. Seorang anak
yang sedang berada di
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
lapangan, diajak ‘bermain’
basket oleh kawan-kawannya.
Jadi apakah bermain itu?.
Menurut Goldstein, J. (2012,
5), bermain dapat diartikan
sebagai segala kegiatan yang
dipilih secara bebas,
dimotivasi, dan diarahkan
dari dalam diri sendiri.
Psikiater Stuart Brown
dalam Brown, S. & Vaughan,
C. (2009, 13) menulis, bermain
adalah dasar dari semua seni,
permainan, buku, olahraga,
film, fashion, kisah yang
dramatik, humor, dan hal-hal
yang menyenangkan.
Singkatnya, bermain adalah
dasar dari apa yang kita
anggap sebagai peradaban.
Menurut Makovichuk, L., et. al
(2014, 98) dalam kegiatan
bermain, anak diberdayakan
untuk belajar dengan cara
mereka sendiri dan dalam
waktu mereka sendiri. Hal itu
merupakan kebebasan yang
membedakan bermain dari
kegiatan lainnya. Bermain
memungkinkan anak-anak
untuk mengambil inisiatif,
menguji mereka dalam batas
fisik dan mentalnya, untuk
mengeksplorasi posisi
kekuasaannya serta
mempertanyakan hal yang
baik dan yang jahat.
Dalam bermain, anak
bebas menggunakan kata dan
simbol untuk mengubah
dunia di sekitar mereka dan
menciptakan dunia mereka
sendiri di mana mereka dapat
menjadi apapun yang
diinginkannya. Bermain
merupakan konteks yang
menyenangkan dan sangat
memotivasi anak untuk
Isu Mutakhir: Kegiatan Bermain: Sarana Mengembangkan Potensi Anak
mengeksplorasi kemungkinan
pemecahan masalah yang
berada di luar jangkauan
mereka dalam kehidupan
sehari-hari.
Stuart Brown dalam
Brown, S. & Vaughan, C.
(2009: 18-19) menyatakan, di
dalam bermain terdapat
beberapa unsur atau elemen,
sebagai berikut. Pertama,
bermain dilakukan tanpa
tujuan tertentu yang spesifik
alias dilakukan hanya untuk
kepentingan bermain itu
sendiri, sehingga kadang
orang mengartikan bermain
itu tidak produktif, hanya
membuang waktu saja, karena
tidak menghasilkan uang
ataupun makanan. Kedua,
bermain dilakukan dalam
kondisi sukarela, karena
bermain bukanlah suatu tugas
atau kewajiban. Ketiga suatu
kegiatan yang menarik untuk
dilakukan, karena bermain
dianggap sebagai obat yang
mujarab untuk membunuh
kebosanan. Keempat, bebas
dari faktor waktu, ketika kita
sepenuhnya tenggelam dalam
sebuah permainan, maka kita
kehilangan rasa akan
berlalunya waktu. Kelima,
berkurangnya kesadaran diri.
Sejalan dengan itu, kita juga
akan mengalami berkurang
kesadaran diri. Kita berhenti
mencemaskan apakah kita
terlihat baik atau buruk,
pintar atau bodoh. Kita
berhenti berpikir tentang fakta
bahwa kita ternyata sedang
berpikir. Keenam, ruang untuk
improvisasi. Mereka yang
melakukan kegiatan bermain,
tidaklah terkunci ke dalam
satu cara yang kaku dalam
melakukannya, kadang
unsur-unsur yang tampaknya
tidak relevan dapat
dimasukkan dalam proses
bermain. Tindakan tersebut
menghasilkan perilaku,
pikiran, strategi, gerakan, atau
cara yang baru. Ketujuh,
keinginan untuk terus
bermain. Memperoleh
kesenangan dalam melakukan
permainan, membuat orang
ingin terus bermain dan tidak
ingin permainan itu berakhir.
Namun ketika permainan
itupun harus berakhir, maka
terdapat keinginan untuk
melakukannya lagi di waktu
lainnya. Itu sebabnya mereka
yang sudah terbiasa dalam
dunia bermain seakan tidak
bisa melepaskan diri darinya.
Menurut Sutton-Smith, B.
(2001, 198) perlu ditanamkan
dalam pemikiran, lawan kata
dari bermain bukanlah
bekerja, melainkan
kebimbangan atau depresi.
Bermain dan bekerja tidak
bertentangan satu sama lain.
Bermain dan bekerja bagaikan
dua buah pilar yang
menyangga rumah.
Keduanya dibutuhkan agar
kehidupan menjadi seimbang.
Bermain pada anak
diyakini mampu
mengembangkan aspek fisikmotorik, sosial-emosional
kognitif, bahasa, dan seni.
Bermain memungkinkan anak
mengolah energi fisik yang
berlebihan serta melepaskan
ketegangan yang terpendam.
Anak membutuhkan kegiatan
bermain yang di dalamnya
terdapat unsur berlari,
melompat, meluncur,
memutar-mutar, dan
melemparkan bola ataupun
kegiatan motorik lainnya.
Menurut Freud dan
Erikson dalam Santrock (2011:
437-438), bermain membantu
mengurangi kecemasan dan
konflik pada anak. Bermain
membuat anak dapat
mengatasi ketegangan,
sehingga mereka akan
menjadi lebih tangguh dalam
mengatasi permasalahan atau
persoalan kehidupan. Anak
akan merasa lebih bebas
mengungkapkan perasaan
yang sebenarnya dalam
konteks bermain. Bermain
juga memungkinkan anak
berlatih kompetensi dan
keterampilan yang penting
dalam suasana kondusif,
santai, dan menyenangkan.
Daniel Berlyne (1960)
dalam Santrock (2011: 438)
menyatakan bahwa bermain
adalah kegiatan yang
menyenangkan yang berguna
sebagai kendaraan untuk
melakukan eksplorasi, karena
di dalam bermain terdapat
unsur rasa ingin tahu dan
keinginan untuk memperoleh
informasi tentang suatu cara
yang baru. Bermain juga
dapat mengembangkan
keterampilan berbahasa dan
kemampuan berkomunikasi
melalui proses diskusi dan
negosiasi di antara mereka
yang bermain mengenai peran
dan aturan yang diterapkan.
Bermain dapat
mengembangkan
keterampilan seni anak,
melalui kegiatan dramatisasi,
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
97
Isu Mutakhir: Kegiatan Bermain: Sarana Mengembangkan Potensi Anak
mewarnai, menggambar,
melukis, menari, dan kegiatan
seni lainnya. Goldstein, J
(2012: 23-24) menyatakan
bahwa anak yang senang
bermain, khususnya
permainan di luar ruangan,
jarang menderita obesitas.
Menurut Play England
(2011) dalam Gleave, J. & ColeHamilton, I. (2012:2) hasil riset
yang dilakukan beberapa
tahun belakangan ini
memperkuat dugaan akan
manfaat bermain bagi
kesehatan khususnya dalam
mengatasi depresi dan
kegunaannya di dalam
memerangi penyakit tertentu
seperti obesitas, rickets, dan
ADHD (Attention Deficit
Hyperactivity Disorder) pada
anak. Menurut Einon, D.
(2004: 76) anak harus
melepaskan energinya setiap
hari. Apabila kita
menghentikannya maka
akibatnya adalah mereka
akan menjadi gelisah, tidak
bisa diam dan mudah marah.
Ketika dibebaskan bermain
maka mereka akan meledak
dengan energi yang tidak
terbatas. Pola kegiatan anak
yang bermain-main, misal:
berlari-larian mengejar bola,
kejar-kejaran dengan teman
adalah proses yang ideal
untuk mendorong
perkembangan otot, tulang
dan pernapasan yang baik.
Kurikulum 2013 PAUD
dan Bermain
Pemerintah, dalam hal ini
Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, telah
98
menerbitkan peraturan
(Permendikbud) untuk satuan
PAUD, yaitu Nomor 137
Tahun 2014 Tentang Standar
Nasional PAUD dan Nomor
146 Tahun 2014 Tentang
Kurikulum 2013 PAUD.
Kedua peraturan tersebut
menegaskan ulang
pentingnya kegiatan bermain
pada Anak Usia Dini (AUD).
Dalam Permendikbud No.
137 Tahun 2014, Bab I
Ketentuan Umum Pasal 1
butir ke-13 dinyatakan,
pembelajaran adalah proses
interaksi antar anak didik,
antara anak didik dan
pendidik dengan melibatkan
orangtua serta sumber belajar
pada suasana belajar dan
bermain di satuan atau
program PAUD. Lalu pada
Bab V Pasal 13 ayat (1)
Pelaksanaan pembelajaran
dilakukan melalui bermain
secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, kontekstual
dan berpusat pada anak
untuk berpartisipasi aktif
serta memberikan keleluasaan
bagi prakarsa, kreatifitas, dan
kemandirian sesuai dengan
bakat, minat, dan
perkembangan fisik serta
psikologis anak.
Berikutnya pada Pasal 15
ayat (4) Kegiatan inti
merupakan upaya
pembelajaran yang dilakukan
melalui kegiatan bermain yang
memberikan pengalaman
belajar secara langsung
kepada anak sebagai dasar
pembentukan sikap,
perolehan pengetahuan dan
keterampilan. Kemudian pada
ayat (5) Kegiatan penutup
merupakan upaya menggali
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
kembali pengalaman bermain
anak yang telah dilakukan
dalam satu hari, serta
mendorong anak mengikuti
kegiatan pembelajaran
berikutnya.
Selanjutnya, dalam
Permendikbud No. 146 Tahun
2014, dalam Pasal 5 ayat (2)
Program pengembangan Nilai
Agama dan Moral (NAM)
mencakup perwujudan
suasana belajar untuk
berkembangnya perilaku baik
yang bersumber dari nilai
agama dan moral serta
bersumber dari kehidupan
bermasyarakat dalam konteks
bermain; (3) Program
pengembangan Fisik-Motorik
(FM) mencakup perwujudan
suasana untuk
berkembangnya kematangan
kinestetik dalam konteks
bermain; (4) Program
pengembangan Kognitif (K)
mencakup perwujudan
suasana untuk
berkembangnya kematangan
proses berfikir dalam konteks
bermain; (5) Program
pengembangan Bahasa (B)
mencakup perwujudan
suasana untuk
berkembangnya kematangan
bahasa dalam konteks bermain;
(6) Program pengembangan
Sosial-Emosional (SE)
mencakup perwujudan
suasana untuk
berkembangnya kepekaan,
sikap, dan keterampilan sosial
serta kematangan emosi
dalam konteks bermain; (7)
Program pengembangan Seni
(S) mencakup perwujudan
suasana untuk
berkembangnya eksplorasi,
ekspresi, dan apresiasi seni
Isu Mutakhir: Kegiatan Bermain: Sarana Mengembangkan Potensi Anak
dalam konteks bermain; (8)
Program pengembangan
diberikan melalui rangsangan
pendidikan yang dilakukan
oleh pendidik dalam kegiatan
belajar melalui suasana
bermain.
Jika dicermati, ternyata
keenam bidang pengembangan anak tersebut, yaitu NAM,
FM, K, B, SE, dan S seluruhnya
diwarnai dan dijiwai dalam
konteks dan suasana bermain.
Selaras dengan Permendikbud
itu, Direktorat Jenderal PAUD
dan Pendidikan
Kemasyarakatan (DIKMAS)
mengeluarkan Surat Edaran
(SE) No. 2519/C.C2.1/DU/
2015 Tentang
Penye!enggaraan PAUD.
Dinyatakan dalam SE tersebut,
“Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD) diselenggarakan
untuk mengembangkan
seluruh potensi peserta didik
secara optimal melalui
kegiatan bermain yang
bermakna dalam suasana
ramah, aman, nyaman dan
menyenangkan. Pengenalan
aksara dan angka (Pra
Keaksaraan) bagi anak usia
dini disesuaikan dengan
tahap perkembangan anak
yakni kegiatan bermain,
mendongeng, membacakan
cerita, mengenalkan buku
bergambar, dan didukung oleh
lingkungan keberaksaraan.
Tidak diperkenankan
mengajar membaca menulis
aksara dan angka di luar
kemampuan anak”.
Dengan demikian
dapatlah dikatakan bahwa
bermain adalah jantung atau
inti dari seluruh kegiatan
belajar AUD. Selaras dengan
pernyataan tersebut pada situs
resmi direktorat jenderal
PAUD-DIKMAS Kemdikbud2
dinyatakan bahwa masa usia
dini adalah masa anak belajar
melalui kegiatan bermain atau
kegiatan yang menyenangkan.
Meski demikian, mengajarkan
calistung kepada anak usia
dini boleh saja dilakukan,
asalkan anak tersebut memang
tertarik dan memiliki
kemampuan. Selain itu,
metode pengajarannya
dilakukan dengan prinsip
bermain dan menyenangkan.
Kategori Bermain
pada Anak
Kegiatan bermain pada
mereka yang remaja dan
dewasa berbeda dengan
kegiatan bermain pada anak.
Menurut Edward Miller and
Joan Almon (2009: 53-54),
terdapat beberapa kategori
utama permainan dalam
dunia anak. Pertama,
permainan motorik kasar
(Large-motor play), contoh:
anak yang melakukan
kegiatan memanjat, berlari,
meluncur, melompat, bermain
ayunan, dan melakukan setiap
jenis gerakan-gerakan yang
mungkin dilakukan anak.
Bermain pada kategori ini
akan mengembangkan
koordinasi dan keseimbangan
tubuh. Bermain motorik kasar
membutuhkan tempat atau
area yang cukup luas, agar
anak dapat menjelajah dengan
bebas. Kedua, permainan
motorik halus (Small-motor
play), contoh ketika bermain
dengan mainan berukuran
kecil dan dalam kegiatan
seperti merangkai manikmanik, bermain dengan tekateki (puzzle), dan menyortir
benda tertentu untuk
mengembangkan ketangkasan.
Ketiga, mastery play, yaitu
kegiatan bermain yang
dilakukan anak secara
berulang-ulang yang
membuatnya menguasai atau
mencapai mastery dalam
permainan tersebut. Contoh
anak yang secara berulang
kali bermain di balok
keseimbangan. Keempat,
permainan berbasis aturan,
anak TK dan SD sangat
menikmati membuat aturan
mereka sendiri. Mereka
menikmati proses saat harus
bernegosiasi serta
bersosialisasi dalam
pembuatan aturan untuk
setiap situasi bermain yang
dilakukan.
Kelima, bermain
konstruksi, contoh:
membangun rumah, kapal,
benteng, dan membuat
struktur lainnya yang
merupakan bentuk dasar
bermain yang membutuhkan
keterampilan dan imajinasi.
Bermain konstruksi dilakukan
menggunakan balok-balok
kayu atau balok yang terbuat
dari plastic. Keenam,
permainan berpura-pura,
kategori permainan ini
menggabungkan jenis-jenis
permainan lain dan sangat
kaya dengan aspek
pengembangan bahasa,
pemecahan masalah, dan
imajinasi. Permainan ini
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
99
Isu Mutakhir: Kegiatan Bermain: Sarana Mengembangkan Potensi Anak
sering dimulai dengan
pernyataan “Mari kita
berpura-pura bermain …”
Titik-titik tersebut dapat diisi
dengan apa pun yang
mungkin untuk dialami dan
dibayangkan oleh anak.
Ketujuh, permainan
simbolis, dilakukan saat anak
menggunakan benda atau
obyek di tangan mereka dan
mengubahnya menjadi
mainan melalui proses fantasi
atau imajinasi. Misalnya ,
seorang anak prasekolah yang
memperlakukan meja seolaholah sebuah mobil dan
berkata, “Aku sedang
memperbaiki mobil,” saat ia
meraih kaki meja tersebut.
Kedelapan, permainan
bahasa, anak dapat
mengembangkan diri dengan
bermain menggunakan kata,
kalimat pendek, sajak, pantun,
dan lagu. Mereka sangat
senang diceritakan kisah,
legenda ataupun fabel dan
melakukan dramatisasi kisah
tersebut. Mereka sangat
terpesona dengan penggunaan bahasa asing, terutama
ketika disajikan dalam bentuk
permainan bercerita,
bersanjak, dan ber-nyanyi.
mengekspresikan gagasan,
perasaan, dan ide-idenya.
Dalam hal ini peran orang
tua, pendidik dan pemerintah
sangat dibutuhkan. Orang tua
Kesepuluh, bermain
dan para pendidik perlu
sensori, sebagian besar anak
memahami peran dan manfaat
menikmati bermain dengan
pasir, lumpur, air, dan bahan- bermain bagi anak. Dengan
membiarkan anak fokus pada
bahan lainnya dengan
berbagai tekstur yang berbeda- permainan digital, maka
kompetensi, keterampilan, dan
beda, suara, dan aromanya.
sikap sosial-emosional yang
Bermain seperti itu berguna
mengembangkan panca indera diharapkan dari permainan
yang dimaksud menjadi tidak
anak. Kesebelas, permainan
tercapai optimal.
mengambil risiko (Risk-taking
playing), anak dapat diperluas
Bagi para pendidik dan
keterampilannya melalui
pemerintah, dalam hal ini
permainan mengambil risiko
Kemendikbud, perlu
dan belajar untuk menguasai
mempertimbangkan
lingkungannya. Secara
menambah jam istirahat atau
umum, anak sudah tahu sebe- waktu bermain bebas bagi
rapa jauh mereka dapat beranak, khususnya pada jenjang
main tanpa melukai dirinya
PAUD dan juga jenjang
sendiri. Namun demikian,
pendidikan SD. Sekolah pun
sebagian besar ruang bermain perlu menyediakan aneka
saat ini sudah dirancang
bentuk Alat Permainan
untuk menjadi bebas risiko,
Edukatif (APE) yang dibutuhsehingga sangat sedikit mem- kan anak untuk bermain
berikan anak kesempatan
bersama-sama.
untuk menilai risiko dan
Ketersediaan ruang
menetapkan batas-batasnya
terbuka publik seperti
sendiri.
lapangan dan tempat-tempat
Kegiatan bermain seperti
diuraikan di atas, dewasa ini
sudah mulai tereduksi dengan
berkurangnya ruang terbuka
publik, khususnya di kota
besar. Kegiatan belajar di
Kesembilan, permainan
seni, anak dapat mengintegra- taman kanak-kanak pun mulai
dibatasi oleh dinding sekolah,
sikan semua bentuk seni ke
seakan terkurung dalam
dalam permainan mereka,
sebuah bangunan beton.
menggunakan kedua tangannya, mereka menggunakannya Kurang mengajak anak mengeuntuk menggambar, membuat nali lingkungan alamiah.
Demikian pula dengan
model, membuat lantunan
kemunculan berbagai
nada-nada atau musik, melakukan pertunjukan panggung permainan digital interaktif
pada perangkat multimedia
boneka, dan lain sebagainya.
ikut mereduksi permainan
Mereka mengeksplorasi seni
serta menggunakannya untuk seperti kategori di atas.
100
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
untuk melakukan kegiatan
bermain dan menjelajah secara
bebas sangat dibutuhkan
anak. Oleh karena itu, peran
pemerintah daerah untuk
menyediakan ruang terbuka
publik tersebut sangat
diharapkan. Ada baiknya
setiap mal yang dibangun oleh
pemerintah maupun swasta
juga dilengkapi dengan
sarana bermain dan arena
bermain bebas yang tidak
fokus hanya pada permainan
digital, namun juga
permainan tradisional yang
mampu meningkatkan
keterampilan anak.
Isu Mutakhir: Kegiatan Bermain: Sarana Mengembangkan Potensi Anak
Penutup
Mari renungkan pendidikan
ala Ki Hajar Dewantara, tokoh
pendiri Taman Siswa. Ki
Hajar Dewantara, memilih
menggunakan kata ‘taman’
untuk sekolah yang
dibangunnya. Hingga kini
dalam dunia pendidikan, kata
taman masih kita temukan,
khususnya pada jenjang
PAUD, yaitu taman kanakkanak. Hal tersebut sangat
selaras dengan filosofi
Friedrich Froebel yang
mewarnai pendidikan barat
dengan menganut dan menggunakan kata kindergarten
untuk taman kanak-kanak,
karena kata ‘kinder’ berarti
anak dan kata “garten” berarti
taman. Kata ‘taman’ sangat
erat kaitannya dengan anak
dan bermain. Anak melakukan kegiatan bermain di
taman. Di taman juga terdapat
proses belajar, anak dapat
melakukan eksplorasi, dan
mengembangkan keterampilan
yang diperlukan dalam
suasana yang menyenangkan.
‘sekolah’ seolah menyiratkan
makna yang lebih serius.
Sekolah terkesan kaku, tidak
fleksibel, karena bentuknya
berupa bangunan buatan
manusia. Sangat berciri
akademis, seakan hanya
untuk kepentingan ilmu dan
pengetahuan, namun
mengabaikan unsur manusia
yang humanis. Manusia yang
juga membutuhkan bermain
dan terlibat dalam suatu
permainan.
Seyogyanya seorang
guru atau pendidik mampu
membuat kondisi pembelajaran di kelas, seolah-olah
seperti kegiatan bermain
dalam suasana yang
menyenangkan. Anak dibawa
dalam suasana seperti
sedang tidak belajar,
melainkan seperti sedang
bermain. Jika desain
pembelajaran seperti itu
dirancang dan
diimplementasikan secara
tepat, niscaya akan meningkatkan produktifitas anak.
Sambil menyelam, minum
air. Kedua-duanya dapat
dicapai, anak mengalami
proses belajar, pada
Namun demikian, pada
jenjang pendidikan yang lebih saat yang sama mereka juga
merasakan senang berada
tinggi, digunakan kata
di sekolah. Hal yang
‘sekolah’ dibandingkan
taman. Kata ‘taman’ menyirat- demikian akan menimbulkan
keinginan untuk terus belajar
kan makna alamiah dan
tanpa henti. Dengan
fleksibel, dapat digunakan
melakukan hal itu, sekolah
sebagai tempat bermain dan
menjadi tempat yang
pada saat yang sama untuk
kondusif untuk belajar,
belajar. Belajar pengetahuan,
kompetensi atau keterampilan menimba ilmu pengetahuan
tertentu, karena proses berma- dan keterampilan yang
in yang dirancang sedemikian dibutuhkan anak untuk
kehidupannya di masa kini
rupa dalam konteks yang
dan masa depan.
edukatif. Pada sisi lain, kata
Catatan kaki:
1
http://www.bbc.com/news/
ed uc at i on -2 405 82 27
diakses pada 13 Juni
2016
2
http: //www.paud -dikmas.kemdikbud. go.id/
berita/909.html diakses
pada 16 Juni 2016
Daftar Pustaka
Brown, S. L., & Vaughan, C. C.
(2009). Play: How it
shapes the brain, opens
the imagination, and
invigorates the soul. New
York: Avery, Penguin
Group, 131
Direktorat Jendral Pendidikan
Anak Usia Dini dan
Pendidikan Kemasyarakatan. Surat Edaran No.
2519/C.C2.1/DU/2015
tentang Penyelenggaraan
pendidikan anak usia
dini (PAUD) diakses
dari http://paudanakbermain belajar.
blogspot.co.id/ 2015/
12/download-suratedaran-dirjen-paud.
html pada 10 Juni 2016
Edward Miller and Joan
Almon. (2009). Crisis in
the kindergarten: Why
children need to play in
school, college park,
MD: Alliance for
Childhood, 71
Einon, D. (2004). Permainan
kreatif untuk anak:
Mengenali dan
merangsang bakat-bakat
alami dalam diri anak
anda. Batam: Karisma
Publishing Group, 157.
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
101
Isu Mutakhir: Kegiatan Bermain: Sarana Mengembangkan Potensi Anak
Gleave, J. & Cole-Hamilton, I.
(2012). A world without
play: A literature review
on the effects of a lack of
play on children’s lives.
United Kingdom: Play
England, 32
Goldstein, J. (2012). Play in
children’s development,
health and well-being.
Brussels: Toy Industries
of Europe, 42
Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. Permendikbud No. 137 Tahun 2014
tentang Standar Nasional
102
Pendidikan Anak Usia
Dini
Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. Permendikbud No. 146 Tahun
2014 tentang Kurikulum
2013 Pendidikan Anak
Usia Dini
Makovichuk, L., Hewes, J.,
Lirette, P., & Thomas, N.
2014. Play, participation,
and possibilities: an early
learning and child care
curriculum framework for
Alberta diunduh dari
Jurnal Pendidikan Penabur - No.26/Tahun ke-15/Juni 2016
http://childcare
framework.com/playpar tic ipat io n-a nd possibilities/ pada 16
juni 2016.
Santrock, John. (2011). Child
developmen:
An
introduction 13th editions.
New York: McGrawHill, 604.
Sutton-Smith, B. (2001). The
ambiguity of play.
Massachusetts:
Harvard University
Press, 276.
Resensi buku: Anak, Sang Peniru Andal
Resensi buku
Judul Buku :
Anak, Sang Peniru Andal
Pengarang :
Christine Wibhowo
Penerbit :
PT. Elex Media Komputindo
Jakarta
Tahun Terbit:
2012
Jumlah Halaman :
xii + 248 halaman
ISBN:
978-602-00-2138-6
Resensi oleh :
Inge Pudjiastuti Adywibowo
E-mail: [email protected]
TKK 11 PENABUR Jakarta
erawal dari kepekaan penulis dalam
menangkap ‘kegalauan’ beberapa
orang tua dalam mendidik anakanaknya, Christine Wibhowo menulis buku ini
untuk menyadarkan dan ‘menguatkan’ orang
tua agar lebih aware
terhadap peran mereka
sebagai ‘model’ yang
pertama dan utama bagi
anak-anak yang dianugerahkan Tuhan kepada
mereka.
B
“Ayo kita pergi ke
dokter dengan memakai
‘baju berangkat!’, seru saya
kepada mereka. Mereka
langsung mau bergegas ke
dokter. Di ruang praktik
dokter, saya tunjukkan
kepada mereka, bahwa
saya bersahabat dengan
sang dokter yang saya pilih
karena memang terkenal
ramah. Ini manfaatnya juga ganda. Selain anak
tidak takut dengan dokter, ia juga akan meniru
Anda yang bisa bersahabat dengan siapa saja,
termasuk gurunya di sekolah, teman, sampai ke
dokter”… (h. 208). ‘Baju berangkat’ adalah istilah
yang digunakan penulis dan anak-anaknya
untuk menyebut baju yang dikenakan untuk
jalan-jalan sore.
Kalimat di atas merupakan cuplikan dari buku
karya Christine Wibhowo
yang berjudul Anak, Sang
Peniru Andal. Dalam’uku
ini, penulis mengajak
pembaca, khususnya para
orang tua yang telahiliki
anak, untuk melihat
beberapa hal yang patut
diketahui mengenai caracara menjadi orang tua
yang baik, serta menjadi
‘model’ yang baik bagi
anak. Pada awal buku,
Christine menuliskan
pentingnya ‘start’ atau
awal yang tepat dalam
membangun keluarga, yaitu memasuki dunia
pernikahan dengan berbagai persiapan yang
matang.
Jurnal Pendidikan Penabur - No. 26/Tahun ke-15/Juni 2016
103
Resensi buku: Anak, Sang Peniru Andal
Buku ini terdiri dari tujuh bab yang tersusun
secara sistematis, dimulai dari ‘Keluarga
sebagai Pendahuluan’pada bab 1. Pada bab ini,
penulis melakukan survey melalui jaringan
sosial tentang makna ‘keluarga’ dalam satu
kata. Jawaban yang diperolehnya beragam,
mulai dari ‘luar biasa’, ‘mengagumkan’,
‘menyenangkan, ‘menyebalkan’, hingga
‘sempurna’. Dari hasil survey tersebut dapat
disimpulkan bahwa pada umumnya kita mudah
sekali menggambarkan tentang keluarga.
Mungkin karena keluarga adalah hal yang
paling dekat dengan kehidupan kita.
Singkatnya, keluarga adalah satu kata dengan
berjuta makna.
Orang tua sebaiknya melakukan
introspeksi diri (biasanya dilakukan setiap
malam / sebelum tidur) untuk mengingat-ingat
kembali ucapan dan perilaku mereka terhadap
anak-anak yang ada di sekitarnya. Kesibukan
kerja dan banyaknya permasalahan yang
dihadapi orang tua dewasa ini seringkali
membuat kita ‘lupa’ atau ‘tidak sadar’ bahwa
anak’membutuhkan stimulus dan contoh yang
baik untuk ditiru. Kurangnya pengetahuan dan
informasi yang dimiliki oleh para orang tua
merupakan salah satu penyebab kekurangsadaran mereka sebagai ‘model’. Beberapa kiat/
tip sederhana dari penulis buku ini dapat
menjadi salah satu referensi yang tepat untuk
menambah wawasan dan informasi tentang
parenting bagi pembaca.
Menurut peresensi, survei yang dilakukan
penulis untuk mendapatkan jawaban atas
‘makna keluarga’ melalui jaringan sosial
Pernikahan merupakan awal dari terben(Facebook) dengan subjek / peserta survey yang tuknya sebuah keluarga. Oleh karena itu,
berasal dari golongan
pernikahan yang
/ status sosial dan
patut ditiru/dibangpendidikan tertentu
un adalah pernikabukanlah merupakan
han yang berawal
Kesibukan kerja dan banyaknya
representasi keseludari NOL, bukan
permasalahan yang dihadapi
ruhan masyarakat
Minus. Di sini juga
orang tua dewasa ini seringkali
kita, karena pada
dijelaskan bagaimamembuat kita ‘lupa’ atau ‘tidak
dasarnya manusia
na peran pernikahan
sadar’ bahwa anak’ membutuhkan
sebagai makhluk
terhadap tingkah
stimulus dan contoh yang baik
sosial ingin ‘terlihat
laku dan kepribauntuk ditiru.
baik / bahagia’ di
dian anak dalam
depan orang lain
kehidupan mereka
(dalam bahasa gaul:
sehari-hari. Selain
jaim / jaga image), sehingga kadang jawaban / itu, beberapa tips dalam pernikahan, termasuk
komentar yang diberikan (dalam hal ini: makna cara menyelesaikan masalah, cara bertengkar
keluarga) cenderung positif. Meski demikian, yang sehat dalam pernikahan juga diungkap
satu hal yang pasti: keluarga adalah tempat dengan sederhana namun jelas pada bab 3 buku
bertumbuh dan berkembang yang pertama dan ini.
utama dalam kehidupan.
Beberapa ‘pasangan muda’ memulai
Pada bab 2 penulis ini memaparkan tentang
keunikan yang dimiliki oleh setiap anak.
Pembaca diajak untuk mengingat kembali
perilaku anak mereka yang ternyata merupakan
hasil meniru dari orang tuanya. Ditekankan,
pentingnya peran orang tua dalam memberikan
stimulasi yang tepat bagi anak-anaknya karena
anak adalah peniru andal. Penulis juga
memberikan motivasi bagi pembaca, bahwa
“tidak ada orang tua yang tidak pantas untuk
menjadi model bagi anak-anaknya”.
104
Jurnal Pendidikan Penabur - No. 26/Tahun ke-15/Juni 2016
pernikahan mereka tidak dari ‘NOL’, bahkan ada
yang menganggap pernikahan sebagai alternatif
jalan keluar, bahkan tempat pelarian dari
permasalahan mereka semasa lajang. Beberapa
pasangan juga menikah karena faktor
lingkungan, seperti: ‘jengah’ dengan pertanyaan orang lain/keluarga saat ditanya penyebab
seseorang belum menikah di usia yang menurut
masyarakat dianggap usia yang matang untuk
menikah. Motivasi yang kurang tepat untuk
memasuki gerbang pernikahan akan membuat
Resensi buku: Anak, Sang Peniru Andal
pasangan tidak siap memiliki momongan dan
pada akhirnya tidak siap juga dalam mendidik
anak-anak mereka, dalam hal ini: menjadi
‘model’ yang tepat bagi anak mereka.
Kiat sederhana yang diungkapkan
Christine pada buku ini bukanlah merupakan
hal baru, bahkan sudah sering kita dengar dan
banyak disarankan oleh para pakar atau
penasihat perkawinan dalam menghadapi
permasalahan dalam pernikahan, seperti:
sebaiknya pasangan ‘tidak mudah ngambek’,
pasangan sumi istri bagaikan sendok dan garpu,
yang meskipun kadang berselisih paham, tapi
tetap bersama, dan lain sebagainya. Meskipun
tampak sederhana, kiat-kiat tersebut tetap
memerlukan upaya dari pasangan suami istri
untuk memberikan teladan yang terbaik bagi
anak-anak mereka. Buku ini dapat berfungsi
sebagai pengingat (reminder) bagi pembaca
untuk tetap kompak bersama pasangannya
meskipun seringkali menghadapi perbedaan
dan permasalahan dalam kehidupan keluarga
mereka.
Bab 4 memaparkan peran gender yang
harus diketahui oleh suami dan istri. Suami dan
istri memiliki peran yang berbeda. Ibaratnya:
suami sebagai kepala dalam keluarga dan istri
sebagai tubuh. Suami dan istri harus memerankan posisi tersebut secara ‘nyata’ dalam
keluarga.
Perubahan zaman dan kebutuhan ekonomi
sekarang ini menjadikan peran suami sebagai
pencari nafkah utama terkadang tergantikan
oleh istri. Meski demikian, sosok suami sebagai
kepala keluarga haruslah tetap berfungsi dan
kewibawaan suami sebagai kepala keluarga dan
ayah bagi anak-anak haruslah tetap dipertahankan. Peran suami-istri dalam menyikapi
pergeseran peran dan menjaga keutuhan posisi
ini sangatlah penting.
Bila salah satu di antara mereka tiada (single
parent) dalam keluarga, sebaiknya peran yang
hilang tersebut segera dicarikan penggantinya.
Selain suami/istri, tokoh yang dapat menjadi
pengganti dalam keluarga antara lain: paman/
bibi, kakek/nenek, serta guru (baik guru di
sekolah formal maupun guru les/kursus).
Sosok pengganti ini seyogyanya adalah
orang yang tulus dan memberi pengaruh positif
terhadap anak, meskipun tidak mungkin
menggantikan peran ayah dan ibu kandung.
Bab 5 tentang “sifat yang menurun”,
mengajak pembaca dan para orang tua untuk
melakukan introspeksi diri dan mengingat-ingat
sifat yang mereka miliki, karena pada dasarnya
sifat tersebut akan menurun pada anak mereka.
Pengalamannya dalam mendidik ketiga
putrinya diceritakan penulis dengan sangat
menarik dan menyentuh pada bab ini.
Teori “Nature and Nurture” menyebutkan
bahwa faktor genetik (keturunan) dan
lingkungan mempengaruhi karakter dan
perilaku anak sehari-hari, hal ini selaras dengan
pendapat penulis saat berhadapan dengan
pertanyaan: apakah gangguan kepribadian
termasuk penyakit keturunan? Melalui kisah
Sybil (seorang anak perempuan dengan
kepribadian ganda / multiple personalities) yang
diceritakan dengan kalimat yang menarik dan
seder hana, Chri st ine menjelaskan bahw a
gangguan kepribadian dipengaruhi oleh banyak
faktor, yaitu: faktor genetik, sosial, peristiwa
traumatis, serta lingkungan sosial (h. 157). Lebih
lanjut penulis menegaskan bahwa gangguan
kepribadian penyebabnya sangat kompleks
sehingga susah dijelaskan dengan singkat.
Pepatah dari Jawa: ‘Bibit, bebet, bobot’ penting
dalam menentukan pasangan suami/ istri dan
teori ‘Belajar Sosial’ dari Bandura sangat selaras
dengan teori ‘ Nature dan Nurture’ yang dikupas
secara implisit oleh penulis dalam buku ini.
Bab 6 memaparkan tiga faktor yang sering
didengar dan memang harus dikenal dalam
bidang kesehatan, yaitu: faktor penyebab, faktor
protektif, dan faktor risiko (h.182). Ketiga faktor
tersebut seringkali diabaikan oleh orang tua,
padahal anak melihat dan merekam hal itu. Bab
yang bertema “Orang tua Sehat, Anak Sehat”
ini juga disertai tabel dan contoh nyata orang
tua sebagai model dalam masalah kesehatan
bagi anaknya.
Salah satu hal yang menarik pada bab ini
adalah: terdapat beberapa teks lagu / lirik lagu
sederhana (yang mudah diingat dan
dinyanyikan) oleh anak bersama orang tua,
antara lain: hal-hal yang berhubungan dengan
merawat tubuh (h.203), waspada terhadap
bencana gempa bumi (h.205), dan lain
Jurnal Pendidikan Penabur - No. 26/Tahun ke-15/Juni 2016
105
Resensi buku: Anak, Sang Peniru Andal
sebagainya. Meski demikian, kebiasaan penulis
untuk pergi tanpa membawa persediaan obatobatan dan kepercayaan akan pendapat bahwa
‘hati yang gembira adalah obat’ akan ditolak
atau diragukan oleh beberapa orang yang ‘wellprepared’ dan cenderung perfeksionis.
Pada bab terakhir, yaitu bab 7 penulis
mengajak pembaca untuk belajar dan
memperoleh energi baru, serta menikmati saatsaat menjadi model dalam kehidupan seharihari bagi anak.
Bab ini menguatkan para orang tua dan
pemerhati anak untuk tetap berbahagia sebagai
‘model. Bukan hanya bagi anak kandung, tapi
juga bagi anak-anak yang ada di sekitarnya. Jadi
kita sebagai orang tua harus waspada dan
memerhatikan perilaku dan kata-kata kita
sehari-hari, karena ada banyak ‘mata’ dan
‘telinga’ kecil di sekitar kita, yang siap ‘merekam’
dan meng ’copy’- nya
Beberapa kalimat bijak dikutip Christine dalam
buku ini, antara lain: kasih ibu adalah bahan
bakar yang memungkinkan manusia biasa
melakukan hal yang luar biasa (Merion C.
Garethy, 2010) pada halaman 112.
Membaca buku yang diterbitkan oleh Elex
Media Komputindo ini menggiring pembaca
pada hal yang sederhana tanpa membuat
pembaca merasa bosan. Banyak hal sehari-hari
yang kadang tidak kita sadari telah kita lakukan
terhadap anak kita dan akhirnya mereka tiru.
Dibandingkan buku sejenis, yaitu Anakku
Peniru Paling Luar Biasa: Bahaya besar apabila
Orang tua tidak memahami masalah ini (karya
Yustina Eka Tjandra, Sinar Ilmu, 2012), tulisan
Christine terlihat lebih ‘berbobot’ baik dari segi
bahasa, materi, maupun cara membahasnya.
Buku karya Yustina banyak sekali memuat
cuplikan dari internet, sehingga pendapat atau
opini penulis kurang
Latar belakang
terlihat ‘nyata’ di
penulis
sebagai
buku ini. Ukuran
Banyak hal sehari-hari yang kadang
Dosen dan pembicatulisan pada buku ini
tidak
kita
sadari
telah
kita
lakukan
ra di berbagai semijuga lebih kecil bila
terhadap anak-anak kita dan
nar parenting membudibandingkan buku
akhirnya mereka ditiru.
at kalimat-kalimat
Anak, Sang Peniru
yang dituangkan
Andal,
sehingga
dalam buku ini terasa
‘agak’ melelahkan
sangat ‘mengalir’. Gaya bahasanya sederhana mata pembaca. Buku ini cenderung teoritis, tapi
dan sebagian besar kalimat berupa kalimat tanpa didasari teori dari buku/jurnal /textbook.
langsung. Bahasa sehari-hari dan kalimatSalah satu kekurangan Anak, Sang Peniru
kalimat sederhana yang digunakan pada buku Andal (kalau boleh disebut sebagai kekurangan)
ini membuat buku ini “terkesan” kurang ilmiah, adalah: buku ini tidak dilengkapi dengan Daftar
meski hal ini tidak mengurangi bobot atau mutu Pustaka, sehingga teori-teori yang dikutip tidak
buku ini sebagai buku parenting yang patut untuk disertai sumber yang dapat kita cari textbook nya.
dibaca. Tanpa membuat kita jenuh, membaca
Sebagai salah satu buku parenting populer,
buku ini kita seakan menyaksikan cerita atau
buku ini patut dijadikan salah satu referensi
membaca catatan harian seorang ibu yang
bacaan bagi para orang tua, calon orang tua,
bahagia dan bangga terhadap keluarganya.
guru, pemerhati anak, dan semua orang yang
Dalam bukunya, tak jarang Christine tertarik pada bidang pendidikan, khususnya
mengutip kata-kata dalam bahasa Jawa, seperti: pendidikan anak usia dini. Buku ini membantu
ngambek (h.78) dan bahasa sehari-hari, seperti: orangtua untuk dapat intropeksi diri dan
ribet (h. 39), dong (h. 39), tidak nyambung amat, menjelaskan bahwa keluarga merupakan hal
sih… (h. 40), nyopirnya (h. 121), dll.
utama yang dapat membentuk karakteristik anak
Buku ini juga dilengkapi dengan ‘gambar serta meyakinkan para orangtua bahwa mereka
serta beberapa foto koleksi pribadi penulis yang merupakan manusia yang tepat untuk menjadi
memperjelas makna yang tersirat dari buku ini. contoh bagi anak mereka.
106
Jurnal Pendidikan Penabur - No. 26/Tahun ke-15/Juni 2016
Resensi buku: Anak, Sang Peniru Andal
Buku ini cukup berhasil mencapai tujuan
diterbitkannya Anak, Sang Peniru Andal sebagai
salah sarana informasi bagi orang tua dan
pemerhati anak untuk lebih menyadarkan orang
tua tentang perannya sebagai ‘model’ serta
ajakan untuk menjadi model yang baik bagi
anak. Satu hal yang perlu disempurnakan bila
buku ini akan diterbitkan ulang adalah: perlu
dilengkapi dengan daftar pustaka atau referensi
pelengkap yang digunakan penulis, sehingga
buku ini akan terasa makin lengkap dan terkesan
makin ilmiah.
Setelah membaca buku ini, pembaca akan
makin diyakinkan bahwa ‘anak adalah peniru
andal’ serta makin takjub melihat kehebatan
anak sebagai psikolog yang andal dalam
merekam, menganalisis, dan mengapilkasikan
perilaku bahkan isi pikiran orang tuanya dalam
kehidupan sehari-hari. Ingat, perilaku dan
perasaan Anda, ‘diamati’ oleh anak (h.42).
Selamat menjadi ‘model’ bagi anak-anak di
sekitar kita. Tuhan Yesus memberkati!
Jurnal Pendidikan Penabur - No. 26/Tahun ke-15/Juni 2016
107
Profil BPK PENABUR Bandar Lampung
Profil BPK PENABUR Bandar Lampung
“Menjadi Sekolah Berkualitas dan Menjadi Berkat Bagi Sesama”
Reno Delison Bakkara
E-mail: [email protected]
BPK PENABUR Bandar Lampung
Sejarah Singkat
PK PENABUR Bandar Lampung yang
yang melayani pendidikan dasar dan
menengah (TKK, SDK, SMPK, SMAK
dan SMKK), saat ini tengah
mengembangkan diri untuk mewujudkan
pelayanan berkualitas dalam bidang pendidikan untuk mendukung pencapaian tujuan
Pendidikan Nasional. Profil BPK PENABUR
Bandar Lampung sudah pernah ditampilkan
dalam Jurnal Pendidikan Penabur – No.10/
Tahun ke-7/Juni 2008.
B
Sejak tahun 2009 Pengurus
Harian BPK PENABUR khususnya
Bidang Pendidikan mendampingi
dan memotori penataan kembali
pengelolaan sekolah BPK PENABUR Bandar Lampung agar
menjadi lebih terarah untuk mewujudkan visi, misi, dan program BPK
PENABUR pada umumnya dan
BPK PENABUR Bandar Lampung
pada khususnya melalui program
Pengembangan
Kurikulum
Sekolah Standar Nasional Plus.
Jurnal Pendidikan Penabur - No. 26/Tahun ke-15/Juni 2016
Bersama Gereja Kristen Indonesia Bandar
Lampung, Pengurus Harian BPK PENABUR
Bandar Lampung berupaya untuk meningkatkan kualitas sekolah melalui peningkatan
mutu kurikulum sekolah, pendidik, karyawan,
mutu siswa, dan sarana prasarana sekolah.
Adapun susunan BPK PENABUR Bandar
Lampung pada masa 2014-2018 dapat dilihat
pada Tabel 1.
Tabel 1: Pengurus Periode 2014-2018
BPK PENABUR Bandar Lampung
No
Nama
1.
Pdt. Budiman
Penasehat
2.
Ir. Rico Simanjuntak
Ketua
3.
Deny Agustinus
Sekretaris
Noerhalim, S.E.,M.M.
4.
Liani Hernawati, S.E.
Bendahara I
Ir. Bambang Tri
Rahardja, MBA
SDM, Pengembangan
Organisasi, Teknologi
dan Pemasaran
Ir. Robinson Sianturi
Sarana dan Prasarana
Vani, S.E.
Bendahara II
5.
Saat ini Pengembangan
Kurikulum Standar Nasional Plus
masih diprioritaskan pada jenjang
6.
Pendidikan Dasar (TKK-SDKSMPK) dan Pendidikan Menengah
7.
(SMAK). Berikutnya BPK PENABUR
Bandar
Lampung
merencanakan mengembangkan jenjang
Pendidikan Dasar lainnya (SMKK). Pengembangan kurikulum ini diharapkan dapat
memenuhi kebutuhan siswa serta kebutuhan
108
lingkungan serta sekaligus menjadi nilai tambah
bagi BPK PENABUR Bandar Lampung.
Jabatan
Secara umum gambaran jumlah siswa
Sekolah BPK PENABUR Bandar Lampung tahun
pelajaran 2012/2013 – 2016/2017) seperti
tertera pada Tabel 2.
Profil BPK PENABUR Bandar Lampung
Tabel 2: Jumlah Siswa Tahun Pelajaran 2012/2013-2016/2017
BPK PENABUR Bandar Lampung
Tahun
Jenajng
2012/2013
2013/2014 2014/2015 2015/2016 2016/2017
TKK
66
55
67
85
107
SDK
312
317
305
304
300
SMPK
139
83
87
151
190
SMAK
89
92
123
156
167
SMKK
260
244
214
241
214
Data di atas menunjukkan kenaikan dan
penurunan jumlah siswa. Beberapa jenjang
pendidikan mengalami kenaikan jumlah siswa
yang signifikan pada tahun 2016/2017
dibandingkan dengan tahun tahun-tahun
sebelumnya.
Jenjang Pendidikan
Jenjang TK
TKK BPK PENABUR Bandar Lampung
merupakan salah satu sekolah favorit pada
jenjangnya di Bandar Lampung sebagai TKK
yang menggunakan program Nasional Plus dan
juga memberikan pelayanan pendidikan
berkualitas baik kepada siswa dengan program:
Christian value
Bilingual program
Modern curriculum
Good and smart teachers
Various extracurricular
Exciting field trip / mini trip
TKK BPK PENABUR juga menenerapkan
PKBN2K di dalam kegiatannya melalui Christian
Value and Character Program:
Friday service (1 time in a week)
On time card
Character reward (HOS : Humble, Obedience &
Self Control day)
Bible morning verse
Social – emotional development for kids
Melalui Program tersebut diharapkan
lulusannya dapat memiki kemampuan sebagai
berikut.
1.
Dapat berdoa dengan sikap yang baik
untuk diri sendiri dan orang lain.
2. Senang bersosialisasi.
3. Bertanggung jawab : menyelesaikan tugas,
mampu mengurus barang miliknya sendiri,
dll.
4. Dapat bersikap ramah, sopan, dan tertib.
5. Berani bertanya dan menjawab.
6. Mau mencoba sesuatu hal yang baru.
7. Senang membaca buku.
8. Dapat berinteraksi dengan bahasa asing
(Inggris dan Mandarin).
9. Mengenal pola hidup sehat : kebersihan diri
dan lingkungan, makanan sehat, dll.
10. Mengenal seni dan kebhinekaan budaya
bangsa Indonesia.
Jenjang SDK
Sejak tahun 2013/2014, SDK BPK PENABUR
Bandar Lampung melaksanakan Kurikulum
2013 secara bertahap yang dimulai dari kelas 1
dan 2. Mulai tahun 2016/2017 kelas 1 sampai
kelas 6 sudah menerapkan Kurikulum 2013.
Dalam pelaksanaan program Nasional Plus,
SDK BPK PENABUR melakukan kegiatan
unggulan sebagai berikut.
1.
2.
3.
English Fun dan English Enrichment : menjadikan siswa lebih fasih dan berani berbahasa
Inggris juga menambah pengetahuan
bahasa.
Math and Science in English : mendalami
matematika dan IPA dalam bahasa Inggris
Mini Trip : Kunjungan belajar ke luar sekolah
setelah MID Semester 1.
Jurnal Pendidikan Penabur - No. 26/Tahun ke-15/Juni 2016
109
Profil BPK PENABUR Bandar Lampung
4.
Field Trip : Kunjungan belajar ke luar sekolah
setelah MID semester 2 dengan tugas akhir
membuat pengalaman yang diperoleh dari
perjalanan kunjungan belajar tersebut.
Tabel 3: Daftar Prestasi SDK
BPK PENABUR Bandar Lampung
No
Tahun
1.
2014
2.
Juara
Tingkat
Story Telling
1
Kota
2104
Voli Mini Putri
1
Kota
3.
2104
Voli Mini Putra
1
Kota
4.
2014
Renang
1
Propinsi
5.
2014
Renang
1
Propinsi
6.
2014
Speech
Terfavorit
Kota
7.
2014
Speech
1
Kota
8.
2015
Spelling Bee
3
Kota
9.
2015
Futsal
3
Kota
10.
2015
Renang
3
Propinsi
11.
2015
Voli Mini Putra
1
Kota
12.
2015
Story Telling
Harapan 1
Kota
13.
2015
Spelling Bee
1, 2, 3
Kota
14.
2015
OSN Matematika
1
Kota
15.
2015
OSN IPA
3
Kota
16.
2015
Story Telling
2, 3
Nasional
17.
2015
Spelling Bee
1. 3
Nasional
20.
2015
Tari Kreasi
2
Nasional
21.
2016
Tari Kreasi
2
Propinsi
22.
2016
Puisi
Harapan 1
Kota
23.
2016
Gambar
Bercerita
Harapan 1
Kota
24.
2016
Voli Mini Putra
1
Propinsi
25.
2016
Renang Putri
1
Kota
110
Jenis Lomba
Jurnal Pendidikan Penabur - No. 26/Tahun ke-15/Juni 2016
5.
Widia Wisata : Kunjungan belajar ke luar
kota (Jakarta-Bogor)
6. Kemandirian : Program bersama kelas 1-4
berisi kegiatan menarik untuk melatih
kemandirian anak
7. Christian Leadership : Program bersama kelas
5-6 berisi kegiatan yang melatih
kemampuan anak dalam memimpin, baik
untuk diri sendiri maupun orang lain sesuai
dengan karakter Kristiani
8. PKBN2K : Pendidikan Karakter Berbasis
Nilai-Nilai Kristiani, menanamkan karakter
Kristiani (Tuhan Yesus) dalam diri siswa/
siswi.
Dengan berubahnya SDK regular menjadi
SDK Nasional Plus maka semakin berkembang
SDK dalam kualitas maupun kuantitas
ditunjukkan dengan prestasi yang diraih sesuai
Tabel 3.
Jenjang SMPK
SMPK BPK PENABUR Bandar Lampung
Menggunakan Kurikulum Nasional yang
diperkaya dengan Academic, English, Entrepreneurship, Character and Life Skills (A-EEC ). SMPK
BPK PENABUR Bandar Lampung menjadi
sekolah yang unggul dan berprestasi. Dengan
tenaga pendidik yang berkualitas, berpengalaman, dan berprestasi, disertai dengan
lingkungan belajar dan fasilitas yang memadai,
siswa SMPK BPK PENABUR Bandar Lampung
berhasil selama memperoleh nilai UN tertinggi
di Kota Bandar Lampung tahun ajaran 2012/
2013. Selain prestasi di bidang akademik, siswa
SMPK BPK PENABUR Bandar Lampung juga
berhasil memperoleh prestasi di bidang olahraga
untuk tingkat Provinsi. Penggunaan bahasa
Inggris dalam kegiatan pembelajaran di kelas
maupun dalam keseharian siswa di lingkungan
sekolah merupakan pembiasaan untuk
mendorong siswa aktif dalam berbahasa Inggris.
Program Unggulan SMPK BPK PENABUR
Bandar Lampung sebagai berikut.
1. Entrepreneurship Event.
Kegiatan yang digunakan untuk mengasah
bakat siswa dalam berwirausaha sekaligus
mengimplementasikan kepedulian terhadap
sesama.
Profil BPK PENABUR Bandar Lampung
2.
Character Camp, pendidikan dan pembentukan karakter bagi siswa agar sesuai
dengan nilai-nilai iman Kristiani .
3. Program ke Luar Negeri
- China (Guangzhou), Summer Camp &
Winter Camp
- Australia (Perth & Melbourne), Summer
Program (October, 1 week) and Winter Program (June, 2 weeks)
- Korea (1 week Study Tour Program to South
Korea).
Selain program unggulan, juga melaksanakan kegiatan ekstra kurikuler (ekskul). Bina
Prestasi Matematika, Bina Prestasi Fisika, Drama
(Teater), Catur, Science Club (KIR), Futsal, Wushu,
Vocal & Akustik, ICT Club, Volley, Basket,
English Club, Pramuka, dan BTA.
Tabel 4 menggambarkan beberapa prestasi
yang sudah diraih SMPK BPK PENABUR Bandar
Lampung.
Jenjang SMAK
Sesuai dengan Visi Misi BPK PENABUR maka
salah satu program kerja utama BPK PENABUR
Bandar Lampung ialah mengembangkan
kurikulum Sekolah Standar Nasional Plus.
Standar yang menggunakan Kurikulum
Nasional yang diperkaya dengan Academic,
English, Entrepre-neurship, Character and Life Skills
(A-EEC). Adapun program A- EEC adalah
sebagai berikut.
A.
Academic
1. Program Bilingual untuk materi
pelajaran Matematika dan Science.
2. Penambahan jam pelajaran untuk
beberapa mata pelajaran : Bahasa
Inggris, Matematika, dan mata pelajaran
khas jurusan IPA dan IPS.
Tabel 4: Daftar Prestasi SMPK
BPK PENABUR Bandar Lampung
No
Tahun
Jenis Lomba
Juara
Tingkat
1.
2014
Speech Contest
2
Kota
2.
2014
Quiz Bee
3
Kota
3.
2014
Futsal Puteri
3
Kota
4. Kelas ekstra buat siswa yang kurang
bisa mengikuti dalam beberapa Mata
Pelajaran
4.
2014
Speech Contest
2
Kota
5. Kelas persiapan Ujian Nasional.
5.
2015
Speech Contest
2
Propinsi
6.
2015
Basket
1
Kota
7.
2015
Spelling Bee
1
Kota
8.
2015.
Speech
1
Kota
9.
2015
Speech
2
Kota
10.
2015
Mading
1
Kota
11.
2015
Quiz Bee
2
Kota
12.
2015
Futsal
1
Kota
13.
2015
Volleyball Putri
1
Kota
14.
2016
Speech
2
Kota
15.
2016
Blog
1
Kota
16.
2016
Volleyball
1
Kota
17.
2016
Speech
1
Kota
18.
2016
Volleyball
3
Kota
3. Kelas bimbingan olimpiade sains.
6. Persiapan memasuki perkuliahan
dengan program GOES TO CAMPUS
untuk mengenal Universitas dan
lingkungan yang akan dimasuki siswa
kelas XII.
7.
B.
Winter Camp China untuk mempersiapkan siswa/siswi yang akan melanjutkan kuliah di China.
English
1.
Bilingual : (a) bahasa pengantar dalam
kegiatan belajar mengajar menggunakan bahasa Inggris,terutama untuk
mata pelajaran MIPA dan Ekonomi; (b)
pembiasaan siswa terhadap terminologi (istilah) keilmuan; (c) pembiasaan
tes tulis berbahasa Inggris, dan (d)
penggunaan buku teks bilingual.
2.
English Day
Setiap Rabu dan Jumat, semua unsur
sekolah berkomunikasi dengan bahasa
Inggris.
Jurnal Pendidikan Penabur - No. 26/Tahun ke-15/Juni 2016
111
Profil BPK PENABUR Bandar Lampung
3.
Immersion Program
Setiap tahun mengirim beberapa siswa
ke University di Australia
C. Entreprepreneurship
1. Pembentukan karakter yang inovatif
dan kreatif
2. Integrated learning: Mengintegrasikan
kompetensi dari beberapa mata
pelajaran dalam suatu kegiatan
intrepreneurship.
D.
Character and Life Skills
1. Psikotes
2. Morning Devotion : Setiap hari yang
dipimpin oleh peserta didik.
3. Chapel Time : Setiap hari Senin minggu
ke-2, peserta didik memimpin ibadah
siswa.
4. Pelayanan pujian ke gereja – gereja.
5. Retreat bagi kelas XI
6. Character Building Camp bagi peserta
didik kelas X di MARINIR sebagai
sarana pembentukan karakter yang
seterusnya akan direalisasikan melalui
pembiasaan selama kegiatan belajar
mengajar, ekstra dan intra kurikuler.
7. Social Day: Mengunjungi Panti Asuhan
dan berbagi sembako ke warga tidak
mampu di sekitas sekolah
8. Ibadah Natal dan Paskah
9. Fieldtrip
10. Winter Camp ke China untuk belajar
kebudayaan, Bahasa dan pendidikan
di China
11. Ajang pembentukan dan apresiasi
kreasi dan kreativitas siswa :
a. Charity Events: Kegiatan Donor
Darah
b. Penabur Language and Sport
Competition (PLC)
12. Ekstra kurikuler (Ekskul)
Ketentuan:
a. Siswa wajib mengikuti satu kegiatan
ekstra kurikuler.
b. Siswa diperkenankan mengikuti
maksimal dua jenis kegiatan.
Jenis kegiatan
:
a. Ekskul olahraga: Badminton, Bola
basket, Futsal, Tenis Meja
112
Jurnal Pendidikan Penabur - No. 26/Tahun ke-15/Juni 2016
b.
Ekskul Seni dan Budaya: Modern
Dance, Tari Lampung
c. Ekskul Pengetahuan : Science Club, ICT,
Olympiad Preparation
b. Ekskul Keterampilan: English Club,
Fotography
13. Mengikuti perlombaan akademik dan
nonakademik.
SMAK BPK PENABUR Bandar Lampung
bertujuan untuk menghasilkan siswa yang
unggul dan berprestasi. Menggunakan sistem
pembelajaran Academic, English, Entrepreneurship, Character And Life Skills (A-EEC), mampu
membuat siswa memiliki prestasi di bidang
akademik, fasih berkomunikasi dalam bahasa
Inggris, pandai dalam menciptakan peluang
usaha dan memiliki karakter sesuai dengan
nilai- nilai iman Kristiani. Tenaga pendidik yang
berkualitas, berpengalaman, dan berprestasi,
membuat siswa mendapatkan pengajaran ilmu
dan keterampilan terbaik. Fasilitas yang lengkap
dan memadai, memungkinkan siswa mendapatkan pendidikan dalam lingkungan belajar yang
menyenangkan. Minat dan bakat siswa
dituangkan dalam berbagai program sekolah
antara lain melalui Musik, Seni, bahasa ( Inggris
dan Mandarin), Olahraga. Siswa juga dibekali
dengan pengetahuan dan praktek kewirausahaan sehingga setiap siswa akan memahami
keragaman tuntutan pasar.
Jenjang SMK
SMKK BPK PENABUR Bandar Lampung salah
satu SMKK terbaik yang ada di kota Bandar
Lampung. Melalui SMKK BPK PENABUR
Bandar Lampung, siswa dibekali ilmu dan
keterampilan. Program keahlian SMKK BPK
PENABUR Bandar Lampung adalah
Administrasi Perkantoran. Siswa dapat
memahami administrasi perkantoran, konsep
dasar manajemen dan akuntansi, keterampilan
komunikasi dan pengetahuan informasi
(Komputer). Siswa juga dididik menciptakan
peluang usaha, dilatih cakap berbahasa Inggris,
dan Mandarin oleh tenaga pengajar yang
berkualitas, berpengalaman, dan berprestasi.
Para siswa SMKK BPK PENABUR Bandar
Lampung juga dipersiapkan untuk masuk ke
dunia kerja dan usaha. Melalui kerjasama SMKK
Profil BPK PENABUR Bandar Lampung
Tabel 5: Daftar Prestasi SMAK
BPK PENABUR Bandar Lampung
No
Tahun
Jenis Lomba
Juara
Tingkat
1.
2014
Speech Competition
1
Kota
2.
2014
Renang Gaya
Bebas
2
Propinsi
3.
2014
Speech Competition
1
Kota
4.
2014
Speech Competition
1
Kota
5.
2014
Seplling Bee
1
Propinsi
6.
2014
Presentation
Competition
2
Kota
7.
2015
Taekwondo
Competition
1
Kota
8.
2015
English Speech
Contest
1, 2, 3
Kota
Accoustic Band
Competition
3
Photogenic
Competition
1
9.
10.
2015
2015
English
Newscasting
Competition
3
Kota
12.
2016
English Speech
Contest
1
Kota
13.
2016
Musikalisasi Puisi
1
Propinsi
2016
English Speech
Contest
1
Kota
15.
2016
Presenting Idea
2, 3
Kota
16.
2016
English Debate
3
Kota
2016
Translation
Competition
1
Kota
English Speech
Contest
3
Kota
18.
2016
Tabel 6: Daftar Prestasi SMK
BPK PENABUR Bandar Lampung
No
Tahun
Jenis Lomba
Juara
Tingkat
1.
2014
Accounting
Umum
Provinsi
2.
2014
Keterampilan
Siswa
2
Kota
3.
2014
Computer
Competition
Umum
Kota
4.
2014
Olimpiade
Sains Terapan
2
Kota
5.
2014
English
Competition
2
Kota
6.
2014
Accounting
National
Championship
1
Nasional
7.
2014
Basket Putri
sekolah Kristen
3
Provinsi
8.
2014
Basket Putra
sekolah Kristen
1
Provinsi
9.
2014
Basket Putra
Univ. Lampung
3
Provinsi
11.
2015
Basket Putra
2
Provinsi
1
Provinsi
Kota
2015
17.
Kegiatan tahunan: Fieldtrip untuk Kelas X,
Praktik Kerja Industri untuk kelas XI, Bina Siswa
untuk kelas XII, dan Latihan Kepemim-pinan
OSIS
Kota
11.
14.
BPK PENABUR Bandar Lampung dengan
beberapa perusahaan, para alumnus disalurkan
untuk mengisi kebutuhan perusahaan akan
tenaga kerja yang kompeten dan terampil.
Didukung oleh kegiatan tahunan dan dan
ekstrakulikuler yang baik seperti kegiatan
berikut.
SMA AL-Kautsar
12.
2015
3 on 3 Basket
Penabur Lacer
Jurnal Pendidikan Penabur - No. 26/Tahun ke-15/Juni 2016
113
Profil BPK PENABUR Bandar Lampung
No
Tahun
Jenis Lomba
Juara
Tingkat
13.
2015
Basket Putra
SMAN 1 Metro
1
Provinsi
14.
2015
Baket Putra
Yamaha
3
Provinsi
15.
2015
Voli Putra SMA
Xaverius
3
Provinsi
Basket Putra
SMAN 12
1
16.
2015
SMKK BPK PENABUR mengukir prestasi
tidak hanya tingkat kota dan propinsi namun
juga sampai ke tingkat nasional sesuai Tabel 6.
Penutup
Kota
17.
2015
Ms. Word
2
Kota
18.
2015
MYOB
1
Kota
19.
2015
Uji Kompetensi
1
Provinsi
20.
2015
Cepat Tepat
Akuntansi
1
Provinsi
21.
2015
Business
Comptetition
2
Provinsi
22.
2015
Accounting
Computer
1, 2
Provinsi
23.
2015
Keterampilan
Siswa
2
Kota
24.
2016
Kompetensi
Akuntansi
1, 2
Provinsi
25.
2016
Olimpiade
Sains Terapan
2
Kota
26.
2016
3 on 3 DBL AHM
1
Provinsi
114
Kegiatan Ekstrakulikuler: Futsal, Akuntansi, Voli, Basket Sekolah, Komputer, Bahasa
Mandarin, dan Paduan Suara
Jurnal Pendidikan Penabur - No. 26/Tahun ke-15/Juni 2016
BPK PENABUR Bandar Lampung akan terus
meningkatkan pelayanannya bersama GKI
Bandar Lampung di bidang pendidikan,
bersama dengan Pengurus Harian BPK
PENABUR Bandar Lampung. Peningkatan
layanan menyeluruh dilakukan secara
terintegrasi, baik secara kualitas maupun
fasilitas. Meningkatkan kualitas mutu pendidik
dan tenaga pendidik serta meningkatkan
kualitas mutu siswa dan lulusan serta mencapai
prestasi akademik atau non akademik yang
memuaskan.
BPK PENABUR Bandar Lampung berkomitmen meningkatkan kualitas fasilitas melalui
pembangunan gedung sekolah, melengkapi
sarana dan prasarana pendukung dengan baik,
sehingga para siswa akan belajar dengan baik
untuk meningkatkan prestasi belajar.
1. Belum diterbitkan/ Belum Pernah dikirim ke Media Cetak Lain.
A. Persyaratan
2. Karya Asli: Dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris
1. Kajian Pustaka
2. Kajian Empiris
3. Kajian/ Studi Kasus
B. Ragam Naskah
4. Evaluasi
5. Kajian Kebijakan
6. Kajian Pengembangan
7. Analisis Deskriptif/Opini
8. Resensi Buku
a. Menggambarkan Isi Naska, Singkat dan Padat
1. Judul
b. Tidak Spesifik/Sempit, Tidak Terlalu Umum
c. Paling panjang 14 Kata
a.Nama Lengkap, Tanpa Gelar
2. Identitas Penulis
b. Alamat e-mail Pribadi
c. Nama Institusi/Lembaga
i. Sifat: Informatif
ii. Latar Belakang Masalah & Masalah
iii. Tujuan
a. Isi
iv. Metode, Tempat & Waktu
v. Hasil & Saran
150 -200 kata
3. Abstrak
b. Panjang
Dalam 1 paragraf
Minimal 3 kata
c. Kata-Kata Kunci
Merupakan istilah/konsep penting
i. Bahasa Indonesia
d. Bahasa
Acuan Penulisan Ilmiah
ii. Bahasa Inggris
i. Latar Belakang Masalah
a. Isi
C. Struktur Naskah
ii. Rumusan Masalah
iii. Manfaat Penelitian
iv. Kajian Pustaka/Teori
4. Pendahuluan
i. Deskriptif
b. Bentuk
ii. Informatif
a. Jenis Penelitian
5. Metode Penelitian
b. Tempat dan Waktu Penelitian
c. Prosedur Penelitian: sumber, teknik pengumpulan & analisis data
i. Kualitatif
a. Hasil/Data
ii. Kuantitatif
i. Interpretasi
6. Hasil dan Pembahasan
b. Pembahasan
ii. Analisis: induktif, deduktif, komparatif
i. Makro/Umum
c. Implikasi
ii. Mikro/Khusus
a. Kesimpulan
7. Penutup
b. Saran
a. Gaya/Style: APA
b. Jumlah referensi minimal 5
8. Daftar Pustaka
c. Dirujuk langsung dlm tulisan
d. Terbitan minimal 5 thn terakhir
1. Format: A4
D. Fisik Naskah
2. Huruf: Book Antique- 10 point,
3. Panjang naskah: 4.000 - 10.000 kata dengan1,5 spasi
4. Wujud: Soft copy dan printout
Download