pemerintah kabupaten muaro jambi

advertisement
1
LEMBARAN DAERAH
KABUPATEN MUARO JAMBI
NOMOR : 13
TAHUN 2009
TLD NO : 12
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUARO JAMBI
NOMOR
13
TAHUN 2009
TENTANG
PENANGGULANGAN PENYAKIT RABIES
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI MUARO JAMBI,
Menimbang : a. bahwa Rabies merupakan penyakit yang sangat berbahaya
dan dapat sangat menular kepada manusia melalui gigitan
hewan yang terserang virus Rabies, baik hewan liar
maupun hewan yang terpelihara oleh masyarakat ;
b. bahwa untuk membebaskan Kabupaten Muaro Jambi dari
penyakit Rabies sebagaimana dimaksud huruf a, perlu
dilakukan kegiatan – kegiatan penanggulangan yang
terkoordinir, terarah dan terpadu melakukan observasi
hewan tersangka, vaksinasi hewan yang tertular Rabies,
pembunuhan, penangkapan, dan penahanan hewan
penyebab Rabies yang berkeliaran serta pengawasan lalu
lintas hewan penular Rabies ;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a dan b, perlu dibentuk Peraturan Daerah
tentang Penanggulangan Penyakit Rabies.
Mengingat
: 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1976 tentang Ketentuan –
ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor
10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 2824 );
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana
(Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3209 );
3. Undang – Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3685), sebagaimana
telah diubah dengan Undang – undang Nomor 34 Tahun
2000 tentang Perubahan atas Undang – undang Nomor 18
Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;
2
4. Undang – Undang Nomor 54 Tahun 1999, tentang
Pembentukan Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tebo,
Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung
Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999
Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3903), sebagaimana telah diubah dengan
Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2000 tentang
Perubahan atas Undang – Undang Nomor 54 Tahun 1999
tentang Pembentukan Kabupaten Sarolangun, Kabupaten
Tebo, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung
Jabung Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2000 Nomor 81, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3969);
5. Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4414);
6. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana
telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang –
Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua
atas Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4438);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1973 tentang
Pembuatan, Persediaan, Peredaran dan Pemakaian Vaksin,
serta Bahan – Bahan Diagnosa Biologis untuk Hewan (
Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 73 );
9. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1977 tentang
Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan
Penyakit Hewan (Lembaran Negara Tahun 1977 Nomor 20,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3101 );
10. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1983 tentang
Kesehatan Masyarakat Veteriner ( Lembaran Negara
Tahun 1983 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3253 );
11. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang
Pelaksanaan Hukum Acara Pidana ( Lembaran Negara
Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3258 );
12. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang
Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor
119, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4159);
3
13. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintah Daerah Propinsi dan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4737);
14. Keputusan Menteri Kehakiman Nomor M.04-P .03 Tahun
1984 tentang Wewenang Penyidik Pegawai Negeri Sipil;
15. Keputusan
Menteri
Pertanian
Nomor
413/Kpts/TN.310/7/1992 tentang Pemotongan Hewan
Potong dan Penanganan Daging serta Hasil Ikutannya;
16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 1997
tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan
Pemerintah Daerah;
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
KABUPATEN MUARO JAMBI
dan
BUPATI MUARO JAMBI
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENANGGULANGAN
PENYAKIT RABIES.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Kabupaten Muaro Jambi.
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah.
3. Kepala Daerah adalah Bupati Kabupaten Muaro Jambi.
4. Instansi
pelaksana
adalah
Perangkat
Pemerintah
Kabupaten
yang
bertanggung dan berwenang melaksanakan urusan di bidang peternakan
dan kesehatan hewan.
5. Pemilik adalah pemilik atau pemelihara hewan penular rabies.
6. Petugas adalah orang yang ditunjuk instansi pelaksana untuk melakukan
kegiatan vaksinasi rabies/eliminasi (pembunuhan hewan penular rabies).
7. Rabies adalah penyakit hewan menular yang akut dari susunan saraf pusat
yang dapat menyerang hewan berdarah panas dan manusia disebabkan
oleh virus rabies.
8. Hewan penular rabies adalah hewan yang dapat menularkan virus rabies
antara lain; anjing, kucing, kera dan hewan sebangsanya.
4
9. Vaksinasi rabies adalah usaha menimbulkan kekebalan terhadap serangan
penyakit rabies.
10. Alat perlengkapan pengamanan adalah rantai, berangus dan tali yang
dipakai/dipasangkan pada hewan tersebut.
11. Observasi adalah kegiatan pengamatan yang dilakukan terhadap hewan
tersangka rabies dengan cara mengurung hewan tersebut di dalam
kandang observasi.
12. Pemasukan/
pengeluaran
hewan
penular
rabies
adalah
memasukan/mengeluarkan hewan penular rabies ke dan dari Kabupaten
Muaro Jambi.
13. Penampungan adalah kegiatan mengumpulkan hewan penular rabies untuk
keperluan diperdagangkan atau untuk dikonsumsi.
14. Laboratorium berwenang adalah Laboratorium Kesehatan Hewan type B
Propinsi Jambi dan Balai Pengujian dan Penyelidikan Veteriner wilayah II,
Bukit Tinggi, Sumatra Barat.
15. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SKRD adalah
surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang.
16. Penyidikan tindak pidana di bidang retribusi adalah serangkaian tindakan
yang dilakukan Penyidik Pegawai Negeri Sipil selanjutnya disebut Penyidik,
untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat
terang tindak pidana di bidang retribusi daerah yang terjadi serta
menemukan tersangkanya.
17. Badan adalah suatu bentuk usaha yang meliputi Perseroan Terbatas,
Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau
Daerah
dengan
nama
dan
dalam
bentuk
apapun,
Persekutuan,
Perkumpulan, Firma, Kongsi, Koperasi, Yayasan atau organisasi yang
sejenis, Lembaga Dana Pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk usaha
lainnya.
18. Retribusi jasa umum adalah retribusi atas jasa yang disediakan atau diberi
oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum
serta dapat dinikmati oleh orang pribadi ataupun badan.
BAB II
PEMELIHARAAN, VAKSINASI DAN OBSERVASI
Pasal 2
(1) Setiap orang pribadi atau badan yang memiliki hewan penular rabies wajib
melapor dan mendaftarkan hewannya ke Instansi pelaksana.
(2) Hewan yang telah didaftarkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
diberikan kartu tanda pendaftaran hewan.
5
Pasal 3
(1) Instansi pelaksana berwenang menangkap dan memasukan ke tempat
pengurungan hewan penular rabies yang berkeliaran di luar pekarangan
pemilik atau pemelihara.
(2) Hewan penular rabies yang ditangkap sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) dapat dikembalikan kepada pemiliknya atau pemeliharanya dengan
membayar biaya pemeliharaan selama dalam penahanan.
(3) Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) hari sesudah hari penangkapan tidak
ada permintaan dari pemilik atau pemeliharanya maka hewan tersebut
dapat dibunuh dan bangkainya dikuburkan.
Pasal 4
(1) Hewan penular rabies yang berkeliaran di luar pekarangan pemilik atau
pemelihara yang tidak dapat ditangkap, dapat dibunuh dan bangkainya
dikuburkan.
(2) Hewan penular rabies sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada saat
dilakukan kegiatan pembunuhan, tidak dapat dimintakan tuntutan ganti rugi.
Pasal 5
(1) Pemilik atau pemelihara hewan penular rabies dapat membawa hewan
penular
rabies
berjalan-jalan
di
jalan
umum
dengan
ketentuan
menggunakan alat perlengkapan pengamanan.
(2) Dalam hal hewan penular rabies menggigit orang dan hasil pemeriksaan
positif tertular virus rabies, maka pemilik atau pemilihara hewan penular
rabies dimaksud wajib menanggung seluruh biaya pengobatan orang yang
digigit hingga sembuh.
Pasal 6
(1) Setiap hewan penular rabies harus dilakukan vaksinasi rabies setiap
setahun sekali.
(2) Vaksinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Dokter
Hewan atau petugas yang ditunjuk dan atau Dokter Hewan yang memiliki
izin praktek dari instansi pelaksana.
(3) Dokter Hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memiliki tempat
penyimpanan vaksin.
Pasal 7
Setiap pemasukan dan pengeluaran hewan rabies ke dan dari luar Kabupaten
Muaro Jambi harus dilengkapi dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan
dan Surat Keterangan Vaksinasi Rabies dari instansi pelaksana atau Dokter
Hewan.
6
Pasal 8
(1) Hewan penular rabies yang telah menggigit manusia wajib diserahkan
kepada instansi pelaksana oleh pemilik atau pemeliharanya.
(2) Hewan penular rabies yang diserahkan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) dilakukan observasi selama 14 (empat belas) hari.
Pasal 9
(1) Hewan penular rabies selama masa observasi, ternyata tidak menunjukan
gejala rabies dapat dikembalikan kepada pemilik atau pemelihara setelah
setelah dilakukan vaksinasi.
(2) Apabila berdasarkan hasil observasi hewan penular rabies menunjukan
gejala terserang rabies, harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
(3) Pemilik atau pemelihara hewan penular rabies sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) wajib membayar biaya pemeriksaan Laboratorium.
BAB III
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 10
(1) Pemerintah Daerah melaksanakan pembinaan, pengawasan, penertiban
dan pengendalian terhadap pelaksanaan penanggulangan penyakit rabies.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan instansi
pelaksana bekerjasama dengan instansi terkait.
(3) Dalam
melaksanakan
pembinaan,
pengawasan,
penertiban
dan
pengendalian dibentuk tim yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati.
BAB IV
RETRIBUSI
Bagian Pertama
Nama, Objek dan Subjek serta Golongan Retribusi
Pasal 11
Dengan nama Retribusi Penanggulangan Penyakit Rabies dipungut biaya
retribusi sebagai pembayaran atas pelayanan pemeliharaan dan pemeriksaan
hewan penular rabies.
Pasal 12
Subjek retribusi adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh pelayanan
pemeliharaan dan pemeriksaan hewan penular rabies.
Pasal 13
Objek retribusi adalah pelayanan pemeliharaan dan pemeriksaan hewan
penular rabies.
7
Pasal 14
Retribusi Penanggulangan Penyakit Rabies digolongkan sebagai Retribusi
Jasa Umum.
Bagian Kedua
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 15
Tingkat penggunaan jasa Pelayanan Penanggulangan Penyakit Rabies
didasarkan atas jenis dan ras hewan, jangka waktu pemeliharaan dan
observasi.
Bagian Ketiga
Prinsip dan Sasaran dalam Penetapan Retribusi
Pasal 16
Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif retribusi dimaksudkan
untuk menutupi biaya pemeliharaan pemeriksaan, observasi, laboraturium dan
pelayanan klinik.
Bagian Keempat
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 17
(1) Struktur dan besarnya tarif dibedakan berdasarkan jasa pelayanan yang
diberikan.
(2) Besarnya tarif retribusi adalah sebagai berikut :
a. Biaya pemeliharaan dan observasi hewan tersangka rabies : Rp. 3.000,/ekor/hari.
b. Biaya Pemeriksaan Kesehatan selama observasi :
Rp. 5.000,-/ekor.
c. Biaya pemeriksaan laboratorium/klinik hewan dan luar klinik hewan.
- Biaya Laboratorium :
1. Pemeriksaan Patologi
Rp. 8.000,-/ekor.
2. Pemeriksaan FAT
Rp. 17.500,-/ekor.
3. Pemeriksaan Histopatologi Rp. 20.000,-/ekor.
4. Pemeriksaan Biologi
Rp. 17.000,-/ekor.
d. Vaksinasi.
1. Anjing/Kucing (ras)
Rp. 5.000,-/ekor.
2. Anjing/Kucing bukan ras
dan Kera
Rp. 2.000,-/ekor.
Bagian Kelima
Wilayah dan Tata Cara Pemungutan
Pasal 18
Wilayah pemungutan adalah Kabupaten Muaro Jambi.
8
Pasal 19
(1) Pemungutan dilakukan dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain
yang dipersamakan.
(2) Pemungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disetor secara bruto ke
Kas Daerah.
(3) Instansi Pemungut adalah Dinas yang membidangi Peternakan Kabupaten
Muaro Jambi.
Bagian Keenam
Tata Cara Pembayaran
Pasal 20
(1) Pembayaran retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus.
(2) Pembayaran retribusi dilakukan di Kas Daerah atau di tempat lain yang di
tunjuk oleh Bupati sesuai waktu yang ditentukan dengan menggunakan
SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
(3) Dalam hal pembayaran dilakukan di tempat lain yang ditunjuk, maka hasil
retribusi harus disetor ke Kas Daerah selambat-lambatnya 1 x 24 jam atau
dalam waktu yang ditentukan oleh Bupati.
BAB V
KEWAJIBAN DAN LARANGAN
Pasal 21
Setiap Pemilik atau Pemelihara hewan penular rabies diwajibkan :
a. memelihara hewan penular rabies di dalam rumah atau pekarangan
rumahnya.
b. melakukan vaksinasi secara teratur sekali dalam setahun.
c. melaporkan kepada instansi pelaksana apabila ada hewan penular rabies,
yang diduga terserang penyakit rabies.
d. menyerahkan hewan penular rabies yang telah menggigit manusia kepada
instansi pelaksana.
e. melaporkan kejadian sebagaimana dimaksud dalam huruf d paling lama 24
(dua puluh empat) jam sejak kejadian.
f. memberikan kemudahan bagi petugas untuk melakukan pemeriksaan dan
vaksinasi hewan penular rabies.
Pasal 22
Setiap pemilik atau pemelihara hewan penular rabies
dilarang :
a. menelantarkan hewan penular rabies.
b. membiarkan hewan penular rabies berkeliaran di luar perkarangan rumah.
c. membawa anjing atau hewan penular rabies keluar perkarangan tanpa
dilengkapi alat perlengkapan pengamanan.
d. memperjualbelikan
atau
memindahtangankan
sebelum dilakukan vaksinasi.
hewan
penular
rabies
9
e. mempersulit/menghalangi petugas dalam melakukan pemeriksaan dan
vaksinasi hewan penular rabies.
f. dengan sengaja atau karena kelalaian pemilik atau pemelihara yang
mengakibatkan orang lain digigit oleh hewan penular rabies.
BAB VI
SANKSI ADMINISTRASI
Pasal 23
(1) Setiap pemilik atau pemelihara hewan penular rabies yang melanggar
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) dikenakan sanksi
administrasi berupa denda sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah).
(2) Setiap pemilik atau pemelihara hewan yang melanggar ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 22 dikenakan sanksi
administrasi berupa denda sebesar Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah).
BAB VII
PENYIDIKAN
Pasal 24
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah
Kabupaten Muaro Jambi diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk
melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Penanggulangan Penyakit
Rabies.
(2) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah :
a. menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau
laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang hewan penular
rabies;
b. meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang
pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan
sehubungan dengan tindak pidana di bidang hewan penular rabies;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan
sehubungan dengan tindak pidana di bidang hewan penular rabies;
d. memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain
berkenaan dengan tindak pidana di bidang hewan penular rabies;
e. melakukan
penggeledahan
untuk
mendapatkan
bahan
bukti
pembukuan, pencatatan dan dokumen-dokumen lain serta melakukan
penyitaan terhadap barang bukti tersebut;
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas
penyelidikan tindak pidana di bidang hewan penular rabies;
g. menyuruh berhenti atau melarang seseorang meninggalkan ruangan
atau tempat pada saat pemeriksaan
sedang berlangsung dan
memeriksa identitas orang atau dokumen yang dibawa sebagaimana
dimaksud pada huruf e;
10
h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana hewan
penular rabies;
i.
memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai
tersangka atau saksi;
j.
menghentikan penyidikan;
k. melakukan tindakan lain yang dianggap perlu untuk kelancaran
penyidikan tindak pidana dibidang hewan penular rabies menurut hukum
yang dapat dipertanggungjawabkan.
(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya
penyidikan dan penyampaian hasil penyelidikannya kepada Penuntut
Umum melalui koordinasi Polisi Republik Indonesia (Polri).
BAB VIII
KETENTUAN PIDANA
Pasal 25
(1) Barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal
22 huruf e dan huruf f dapat diancam pidana kurungan paling lama 6
(enam) bulan atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta
rupiah).
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 26
Hal – hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai
pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Pasal 27
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Muaro
Jambi.
Ditetapkan di Sengeti.
pada tanggal 18 Mei
2009.
BUPATI MUARO JAMBI,
Dto.
H.BURHANUDDIN MAHIR
Diundangkan di Sengeti
pada tanggal 18 Mei
2009
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN MUARO JAMBI,
Dto.
H. SYAIFUDDIN ANANG
LEMBARAN DAERAH
NOMOR 13.
KABUPATEN
MUARO
JAMBI
TAHUN
2009
11
PENJELASAN ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUARO JAMBI
NOMOR 13 TAHUN
2009
TENTANG
PENANGGULANGAN PENYAKIT RABIES
I. PENJELASAN UMUM.
Pemerintah
Kabupaten
dalam
penyelenggaraan
roda
pemerintahan perlu menggali serta meningkatkan sumber Pendapatan Asli
Daerah (PAD) secara maksimal, salah satunya adalah dari penyediaan jasa
dan fasilitas penunjang yang disediakan bagi Penanggulangan Penyakit
Rabies.
Bahwa jasa dan penggunaan fasilitas – fasilitas Penunjang
Pelayanan Kesehatan adalah jasa dan fasilitas penunjang yang disediakan
untuk Penanggulangan Penyakit Rabies yang berkaitan dengan pelayanan
kesehatan yang diberikan pada pasien dan penggunaan fasilitas kesehatan
untuk kegiatan yang berhubungan dengan Penanggulangan Penyakit
Rabies.
Penetapan Peraturan Daerah ini adalah untuk memberikan
landasan hukum yang jelas dalam penggunaan jasa dan fasilitas penunjang
kesehatan dan guna menjamin terlaksananya usaha pemerintah Kabupaten
Muaro Jambi dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup Jelas.
Pasal 2
Cukup Jelas.
Pasal 3
Cukup Jelas.
Pasal 4
Cukup Jelas.
Pasal 5
Cukup Jelas.
Pasal 6
Cukup Jelas.
12
Pasal 7
Cukup Jelas.
Pasal 8
Cukup Jelas.
Pasal 9
Cukup Jelas.
Pasal 10
Cukup Jelas.
Pasal 11
Cukup Jelas.
Pasal 12
Cukup Jelas.
Pasal 13
Cukup Jelas.
Pasal 14
Cukup Jelas.
Pasal 15
Cukup Jelas.
Pasal 16
Cukup Jelas.
Pasal 17
Cukup Jelas.
Pasal 18
Cukup Jelas.
Pasal 19
Cukup Jelas.
Pasal 20
Cukup Jelas.
Pasal 21
Cukup Jelas.
Pasal 22
Cukup Jelas.
13
Pasal 23
Cukup Jelas.
Pasal 24
Cukup Jelas.
Pasal 25
Cukup Jelas.
Pasal 26
Cukup Jelas.
Pasal 27
Cukup Jelas.
TAMBAHAN
NOMOR 12.
LEMBARAN
DAERAH
KABUPATEN
MUARO
JAMBII
Download