hukum acara perdata

advertisement
HUKUM ACARA
PERDATA
DISAMPAIKAN OLEH
JOHANIS TANAK, MH
KASUBDIT BANKUM PERDATA
DIREKTORAT PERDATA
PADA JAM DATUN
KEJAKSAAN AGUNG RI
Sumber Hukum Acara Perdata
Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR) diatur dlm
S.1848 No. 16, S.1941 No. 44 & Reglement
Buitengewesten (Rbg) diatur dlm S.1927 No. 227,
berlaku berdasarkan Ps. 5 ayat 1 UU Dar. 1 Tahun 1951.
Reglement op de Burgerlijke rechtsvordering Rv) atau
Reglemen hukum acara perdata untuk golongan Eropa
(S. 1847 No. 52, 1849 No. 63.
Reglement opde Rechterlijke Organisatie in het beleid
der Justitie in Indonesie (RO) S.1847 no. 23.
BW buku IV dan selebihnya tersebar dlm Burgerijk
Wetboek (BW), Wetboek van Kophandel (WvK) dan
Peraturan Kepailitan.
UU No. 4 Tahun 2004 & UU No. 5 Tahun 2004.
Hukum acara perdata yg mengatur banding untuk
daerah Jawa n Madura diatur dalam UU No. 20/1947,
untuk luar Jawa n Madura diatur dlm ps. 199199-205 Rbg
ASAS ASAS
HUKUM ACARA PERDATA
Hakim bersifat menunggu
Hakim Pasif
Sifat terbukanya persidangan
Asas-asas
Hukum Acara Perdata
Mendengar kedua belah pihak
Putusan harus disertai alasan alasan
Beracara dikenakan biaya
Tidak ada keharusan mewakilkan
Kekuasaan Kehakiman
Bebas dari campur tangan pihak pihak
di luar kekuasaan kehakiman
Badan peradilan negara
Asas obyektivitas
Kekuasaan
Kehakiman
Lingkungan peradilan
MA Puncak Peradilan
Pemeriksaan dalam dua tingkat
Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa
Susunan persidangan
Asas “sederhana, cepat dan beaya ringan”
Hak menguji tidak dikenal
Peninjauan kembali
Tugas hakim perdata dlm lingkungan peradilan umum
Pejabat-pejabat pada pengadilan
Asas Obyektivitas
Asas ini terdapat dalam Pasal 5 ayat (1) UU No. 14
Tahun 1970 yang telah diubah menjadi UU No. 4
Tahun 2004
Dalam memeriksan dan menjatuhkan putusan,
hakim harus obyektif dan tidak memihak.
Untuk menjamin asas ini bagi pihak yg diadili dpt
mengajukan keberatan yg disertai alasanalasan-alasan
thdp hakim yg mengadili perkaranya (hak ingkar
vide Ps. 28 ayat 1 UU No. 14/1970).
Alasannya al. hubungan keluarga sedarah sampai
derajat ketiga atau semenda.
Dasar & Cara Mengajukan
Tuntutan Hak
Hk acara perdata diatur dalam HIR untuk Jawa n Madura; Rbg untuk
luar Jawa n Madura.
Titel IX HIR (titel IV Rbg mengatur tentang pemeriksaan perkara
perdata yang meliputi :
Pemeriksaan di persidangan (ps. 115115-161 HIR; 142142-188 Rbg);
Bukti (ps. 162162-177 HIR; titel V Rbg ps. 288288-314);
Musyawarah dan putusan hakim (ps. 178178-187 HIR; 189189-198 Rbg);
Banding (ps. 199199-205 Rbg, untuk Jawa n Madura berlaku UU No.
20/1947);
Melaksanakan putusan hakim (ps. 195195-254 HIR; 206206-258 Rbg);
Beberapa hal mengadili perkara yang istimewa (ps. 225225-236 HIR;
259--272 Rbg) dan
259
Tentang izin untuk menggugat dengan CumaCuma-Cuma (ps. 237
237--245
HIR; 273273-281 Rbg).
Diantara pasalpasal-pasal tersebut, ada yang sudah tidak berlaku.
Ada beberapa lembaga hukum yang tidak terdapat dalam HIR &
Rbg tetapi diperlukan dlm praktek agar dapat melaksanakan hukum
materiil (BW). Dlm hal demikian Rv dpt diberlakukan.
Tuntutan hak bertujuan untuk memberikan
perlindungan hak dan untuk mencegah
“eigenrichting”. Tuntutan hak yg
mengandung sengketa disebut Gugatan
Syarat untuk mengajukan tuntutan hak al.
harus ada kepentingan yang cukup dan
layak serta mempunyai dasar hukum.
Mahkamah Agung dalam putusannya tgl. 7
Juli 1971 no. 294 K/Sip1971 mensyaratkan
bhw. gugatan hrs diajukan oleh orang yg
mempunyai hubungan hukum.
Gugatan dpt diajukan scr tertulis (ps. 118 ayat 1
HIR, 142 ayat 1 Rbg) maupun scr lisan (ps. 120
HIR, 144 ayat 1 Rbg).
Hal--Hal yang Harus Dimuat Dalam Surat Gugatan
Hal
HIR n Rbg hanya mengatur ttg cara mengajukan
Gugatan, ttp tdk mengatur mengenai persyaratan
mengenai isi Gugatan/yg hrs dimuat dlm gugatan.
Kekurangan tsb diatasi dengan ketentuan ps. 119 HIR
(ps 143 Rbg) yg memberi wewenang kpd Ketua
Pengadilan Negeri untuk memberi nasehat n bantuan
kpd pihak Penggugat dlm mengajukan Gugatan.
Persyaratan mengenai isi gugatan diatur dlm ps. 8 no. 3
Rv yg mengharuskan gugatan pd pokoknya memuat : 1)
Identitas para pihak; 2) dalildalil-dalil konrit ttg adanya
hubungan hk yg mrp dasar serta alasanalasan-alasan tuntutan
(fundamentum petendi); 3) tuntutan (petitum).
Identitas para pihak meliputi, ciriciri-ciri penggut n tergugat,
seperti nama, t4 tinggal, jenis kelamin, status nikah dll.
Fundamentum petendi atau dasar tuntutan, memuat dua hal,
1) bagian yang mengurai tentang kejadiakejadia-kejadian atau
peristiwa--peristiwa dan 2) bagian yang menguraikan tentang
peristiwa
hukum.
Uraian tentang kejadian merupakan penjelasan duduknya
perkara/kasus posisi;
Uraian tentang hukum ialah uraian tentang adanya hak atau
hubungan hukum yang menjadi dasar yuridis dari tuntutan.
yang dimuat disini bukanlah pasal dari peraturan perundangperundangundangan tetapi hak atau peristiwa yang harus dibuktikan di
persidangan yang memberikan gambaran tentang kejadian
materiil yang merupakan dasar tuntutan itu.
Putusan Mahkamah Agung tanggal 15 Maret 1972 No.
547K/Sip/1971, al menyebutkan bahwa perumusan kejadian
materiil secara singkat sudah memenuhi syarat.
Petitum atau tuntutan
tuntutan,, yaitu apa yang diminta oleh
Penggugat atau diharapkanagar diputus oleh hakim.
Oleh karena itu Penggugat harus merumuskan dengan
jelas dan tegas vide ps. 8 Rv.
Mahkamah Agung dalam Putusannya tgl 16 Desember
1970 No. 492K/Sip/1970, al. mengatakan bahwa
Tuntutan yang tidak jelas atau tidak sempurnadapat
berakibat tidak diterimanya tuntutan tersebut.
tersebut.
Selain tutntutan pokok
pokok,, yaitu tuntutan yang diminta,
diminta,
masi ada tutuntan tambahan
tambahan,, yaitu :
(1) Tuntutan agar Tergugat membayar ganti rugi (vide ps.
181 ayat 1 & 3 HIR, 192 ayat 1 & 4 Rbg);
Rbg);
(2) Tuntutan agar putusan dinyatakan dapat dilaksanakan
lebih dulu (uitvoerbaar bij vooraad)
vooraad) vide ps. 128 ayat 1 &
ps. 180 ayat 1 HIR, ps. 152 ayat 1 & 191 ayat 1 Rbg,
Rbg, ps. 84
ayat 2 & 346 Rv
Rv;;
(3) Tuntutan agar Tergugat dihukum untuk membayar
bunga (moratoir)
moratoir) apabila
tuntutan yang dimintakan oleh Pengguat berupa
pembayaran sejumlah uang tertentu (ps. 1250 BW)
berdasarkan S.1848 no. 22 besarnya bunga
berjumlah 6 %);
(4) Tuntutan agar Tergugat membayar uang paksa
(astrinte,
astrinte, dwangsom).
dwangsom). Apabila hukuman itu tidak
berupa pembayaran sejumlah uang,
uang, mk dapat
ditentukan bahwa pihak yang dikalahkan dihukum
untuk membayar uang paksan selama ia tidak
memenuhi isi putusan,
putusan, vide ps. 606 a & b Rv
(5) Tuntutan akan nafkah bagi isteri atau
pembagian harta UU No. 1 Thn 1974.
PIHAK PIHAK DALAM PERKARA
Pihak Penggugat
Sengketa Perdata
Para pihak ini dapat
Pihak Tergugat
bertindak sebagai pihak
materiil maupun formil
Wali atau Pengampu dpt bertindak sebagai
pihak dalam persidangan di pengadilan atas
nama sendiri tetapi untuk kepentingan orang
lain yang diwakilinya karena mereka mempunya
kepentingan secara langsung (vide ps. 383, 446,
452, 403,405 BW).
Pada asasnya setiap orang yang merasa
mempunyai hak dan ingin menuntutnya atau
ingin mempertahankan atau membelanya,
membelanya,
berwenang untuk bertindak selaku pihak,
pihak, baik
selaku Penggugat maupun selaku Tergugat
(legitima persona standi in judicio).
judicio).
Penggugat maupun Tergugat dapat
memberikan kuasa kpd pihak lain untuk diwakili
tetapi harus disertai Su
Surrat Kuasa (Ps. 123 ayat
1 HIR; Ps. 147 Rbg).
Rbg).
PENGGABUNGAN TUNTUTAN
KUMULASI SUBYEKTIF
KUMULASI OBYEKTIF
Dalam perkara Perdata, tidak menutup kemungkinan
penggugat atau tergugat lebih dari satu orang, hal ini
disebut kumulasi subyektif, (ps. 4, 81, 107 Rv; 127
HIR; 157 Rbg; 1283, 1284 BW; 18 WvK).
Terhadap komulasi subyektif ini, tergugat dpt
mengajukan keberatan dgn alasan tidak menghendaki
dirinya digabungkan dgn tergugat lain, tetapi ada juga
yang menghendaki kumulasi subyektif krn ada pihak lain
yg harus diikutkan dlm sengketa tsb (exceptio plurium
litis consortium).
Penggugat mengajukan lebih dari satu tuntutan dlm satu
perkara, hal ini disebut Kumulasi Obyektif
Baik komulasi subyektif maupun kumulasi obyektif, pada
dasarnya merupakan penggabungan (kumulasi) dalam
tuntutan hak.
Hal tsb dpt dijadikan alasan untuk mengajukan eksepsi.
1.
2.
3.
Ada tiga hal yang tidak dibolehkan dlm
kumulasi obyektif :
Kalau untuk suatu tuntutan (gugatan) tetentu
diperlukan suatu acara khusus (gugat cerai)
sedangkan tuntutan yang lain harus diperiksa
menurut acara biasa (gugatan untuk
memenuhi perjanjian), maka kedua tuntutan
itu tidak boleh digabung dalam satu gugatan.
Dalam hal hakim tidak berwenang (secara
relatif) untuk memeriksa salah satu tuntutan
yg diajukan bersamabersama-sama dlm satu gugatan
lain, maka kedua tuntutan itu tidak boleh
diajukan bersamabersama-sama dlm satu gugatan.
Tuntutan ttg “bezit” tidak boleh diajukan
bersama--sama dgn tuntutan “eigendom” dlm
bersama
gugatan (ps. 103 Rv).
Intervensi
intervensi
Menyertai (Voeging)
Menengahi (Tussencomst)
Garantie/penanggung (vrijwaring)
Intervensi diatur dalam pasal 279 – 282 Rv
Prosedur acara;
intervennient mengajukan gugatan kepada Pengadilan Negeri
melawan penggugat dan tergugat yang sedang bersengketa. Dengan Penetapan,
Hakim akan mengabulkan atau menolak. Bila dikabulkan maka pemohon ditarik
Sebagai pihak ketiga dalam sengketa yang sedang berlangsung.
Bentuk acara vrijwaring terjadi apabila pihak ketiga ditarik sebagai pihak dalam suatu
Sengketa yg sedang berlangsung (ps. 70 – 76 Rv).
Wewenang Hakim
Mutlak (absolut)
Pasal 134 HIR.
Wewenang
Nisbi (relatif)
Pasal 118 HIR, Ps. 142 Rbg.)
Upaya Untuk Menjamin Hak
Upaya menjamin hak ini dimaksudkan agar dapat
menjamin dilaksanakannya putusan. Hal ini
dilakukan dengan cara melakukan penyitaan
sebelum perkara diputus, ini berarti barangbarangbarang disimpan (diconserveer) untuk
menjamin tidak dialihkan atau dijual karena itu
penyitaan ini disebut sita conservatoir atau
sita jaminan (Ps. 197 ayat 9, 199 HIR; 212,
214 Rbg).
Sita jaminan ini ada dua macam :
1. Sita jaminan terhadap barang milik sendiri.
2. Sita jaminan terhadap milik debitur.
Sita Jaminan
Sita Jaminanan
Sita Conservatoir
Ps. 197 ayat 9 HIR
Ps. 212, 214 Rbg
Sita Jaminanan
Terhadap Miliknya Sendiri
Sita Revindicatoir
Ps. 226 HIR; 260 Rbg
Sita conservatoir
thdp kreditur
Sita Marital
Ps. 823 – 823 j Rv
Sita gadai
Barang Bergerak
Ps. 227 jo. 197 HIR
Ps. 261 jo. 208 Rbg.
Sita conservatoir atas barang
barang debitur yg tdk mempunyai
t4 tinggal yg dikenal di Indonesia
Barang Tidak Bergerak
Ps. 227, 197, 198, 199 HIR;
Ps. 261, 208, 214 Rbg.
Sita conservatoir
atas pesawat
terbang
Yang dapat disita secara revindicatoir adalah barang
bergerak, termasuk hak reklame.
Yang dapat mengajukan sita revindicatoir adalah
pemilik barang bergerak yg barangnya dikuasai orang
lain (ps. 1977 ayat 2, 1751 BW).
Hak Reklame yaitu hak penjual barang bergerak untuk
meminta kembali barangnya apabila tidak dibayar (ps.
1145 BW).
Penyitaan harus melalui permohonan dan penyitaan
dilakukan oleh Panitera Pengadilan.
Terhadap sita revindicatoir harus dinyatakan sah dan
berharga agar mempunyai kekuatan/titel eksekutorial.
Sedangkan Sita Marital tidak perlu karena hanya
bersifat menyimpan.
Akibat hukum dari sita revindicatoir adalah bahwa
pemohon atau penyita tidak dapat menguasai barang
yang telah disita, sebaliknya yang terkena sita
dilarang untuk mengasingkan.
Penyitaan terhadap barang bergerak, dibiarkan
tetap pada tersita atau pada pengadilan untuk
disimpannya dan dijaga serta dilarang menjual
atau mengalihkannya (ps. 197 ayat 9 HIR, 212
Rbg).
Penyitaan ini dapat dilakukan berdasarkan
perintah Ketua Pengadilan atas permintaan
kreditur atau penggugat (ps. 227 ayat 1 HIR,
261 ayat 1 Rbg), namun dalam praktek
pengajuannyanya disampaikan kpd majelis
hakim yg memeriksa perkara tersebut.
Pengajuan Gugatan
Gugatan didaftarkan di kepaniteraan Pengadilan
Negeri beserta salinannya, tetapi hrs memenuhi syarat
bea materai (ps. 121 ayat 4 HIR, 145 ayat 4 Rbg).
Salinan gugatan disampaikan kepada tergugat beserta
surat panggilan dari Pengadilan Negeri (ps. 121 ayat 2
HIR, 145 ayat 2 Rbg).
Perkara dpt diputus secara contradictoir atau diluar
hadirnya salah satu pihak yg berperkara, dalam hal ini
pokok perkara tetap diperiksa.
Bila penggugat tidak hadir pada hari sidang dan telah
dipanggil secara patut, maka gugatan penggugat
dinyatakan gugur (ps. 124 HIR, 148 Rbg),dlm hal ini
pokok perkara tidak diperiksa.
Gugatan tidak diterima (niet ontvankelijk verklaard)
bilamana gugatan tidak berdasar hukum, dimana
peristiwa sebagai dasar tuntutan tidak
membenarkan tuntutan. Dalam hal ini penggugat
masi dpt mengajukan gugatan lagi.
Gugatan ditolak jika gugatan tidak beralasan, yaitu
apabila tidak diajukan peristiwa yang membenarkan
tutuntan. Dalam hal ini tidak terbuka untuk
mengajukan gugatan (ne bis in idem).
Bila dalam putusan verstek penggugat dikalahkan,
penggugat dapat mengajukan banding (ps. 8 ayat 1
UU No. 20/1947, 200 Rbg)
Bila dalam putusan verstek tergugat kalah, maka
tergugat dapat mengajukan perlawanan (verset)
kepada hakim yang memeriksa perkara tersebut
(ps. 125 ayat 3 HIR, 149 ayat 3 Rbg).
Bila dalam perlawanan Pelawan tidak hadir,
maka untuk yg kedua kalinya perkara tersebut
diputus verstek dgn demikian tuntutan
perlawanan tidak diterima (niet ontvankelij
verklaard/NO, vide ps. 129 ayat 6 HIR, 153
ayat 6 Rbg).
Perdamaian
Pada hari sidang pertama, Hakim harus
berusaha mendamaikan kedua belah pihak (Ps.
130 HIR; 154 Rbg).
Bila mana ada kesepakatandamai diantara
mereka, maka hakim menjatuhkan putusan
(acte van vergelijk) yang isinya menghukum
kedua belah pihak untuk memenuhi isi
perdamaian yang telah dibuat oleh mereka.
Usaha perdamaian terbuka sepanjang
pemeriksaan di persidangan.
Pengaruh Daluarsa terhadap
Tuntutan Hak
Seperti halnya dalam perikatan, dapat lahir atau hapus
karena lampaunya waktu (daluarsa), demikian halnya
dengan tuntutan hak.
Hak yang diberikan berdasarkan peraturan perundangperundangundangan diberi untuk waktu tertentu. Hak tersebut
hapus dengan sendirinya setelah lewat waktu yang
ditentukan (ps. 1520 BW).
Ps. 1967 BW, semua tuntutan hak, baik yg bersifat
kebendaan maupun perorangan, hapus setelah lampau
waktu 30 tahun.
Pasal 1963 menenrukan bahwa lampaunya waktu
menyebabkan seseorang memperoleh sesuatu hak.
Selain Pasal 1963, perhatikan pasal 1968, 1971, 1974
dan 1975 BW.
Putusan MA RI, 17 Juli 1955, H 1956 no. 1
– 2, hal. 88, antara lain menyebutkan
bahwa Seseorang pemberi gadai barang
perhiasan emas yang tidak datang pada
panggilan untuk menghadiri pembagian
harta warisan almarhum pemegang gadai
dan kemudian berdiam selama 7 tahun,
dianggap melepaskan haknya untuk
barang yang digadaikan.
Pengecualia dalam Daluarsa
Putusan MA RI, 22 Desember 1971 No.
802 K/Sip/1971, Yurisprudensi Jawa Barat
1966--1972, hal. 76, antara lain
1966
menyebutkan bahwa Sekalipun penggugat
telah membiarkan suatu keadaan selama
25 tahun lebih, akan tetapi karena hukum
adat tidak mengenal “daluarsa”, maka
gugatan penggugat masih tetap dapat
diterima dan diperiksa serta diputuskan
seperti biasa.
Materi Jawaban
HIR tidak mengatur mengenai materi apa yg harus
dimuat dalam jawaban.
Dalam putusan Raad Justisi Jakarta tgl. 1 April 1938,
antara lain disebutkan bahwa sudah selayaknya jika
jawaban tergugat disertai dengan lasanlasan-alasan karena
dengan demikian akan lebih jelas duduk perkaranya.
Tidak cukup kalau tergugat hanya sekedar menyangkal
gugatannya, tetapi harus disertai alasan apa sebabnya ia
menyangkal dan bila tidak cukup beralasan dapat
dikesampingkan oleh hakim. (vide).
Ps. 13 Rv mensyaratkan agar bantahan tergugat disertai
alasan--alasan (met redenen omkleed).
alasan
Pada hakekatnya jawaban tergugat dapat
memuat mengenai Tangkisan (exceptief
verweer) dan Sangkalan (verweer ten
principale).
Pasal 136 HIR (ps. 162 Rbg) menyebutkan
bahwa jawaban berupa tangkisan (eksepsi),
kecuali tangkisan tentang tidak berkuasanya
hakim, tidak boleh dimajukan dan
dipertimbangkan terpisah, tetapi diperiksa dan
diputus bersamabersama-sama dengan pokok perkara.
Eksepsi tentang kompetensi diatur dalam ps.
125 ayat 2, 133133-136 HIR; 149 ayat 2, 160160-162
Rbg).
Pada umumnya yang diartikan dengan eksepsi
ialah suatu sanggahan atau bantahan dari
pihak tergugat terhadap gugatan penggugat
yang tidak mengenai pokok perkara.
Sangkalan adalah sanggahan yang
berhubungan dengan pokok perkara.
Gugat Balik (Gugat Rekonvensi)
Gugat rekonvensi ini diatur dalam pasal 132 a
dan 132 b HIR atau ps. 157, 158 Rbg.
Gugat balik dalam perkara perdata dapat terjadi
apabila tergugat dalam suatu perkara perdata
yang sedang dalam proses pemeriksaan di
pengadilan (tergugata konvensi), menggugat
kembali kepada pihak penggugat. Dalam hal
demikian, maka kedudukan tergugat awal
(konvensi) akan menjadi Penggugat Rekonvensi
dan penggugat awal (konvensi) menjadi
Tergugat Rekonvensi.
Gugatan dalam rekonvensi diajukan bersama
sama dengan jawaban dalam konvensi.
Demikian halnya dengan tuntutannya.
Gugat rekonvensi tidak dapat dilakukan dalam
hal:
- Penggugat dalam konvensi bertindak dalam
kedudukannya tertentu bukan selaku pribadi
sedangkan gugat rekonvensi adalah mengenai
pribadi penggugat rekonvensi.
- Bila pengadilan yang memeriksa gugat
konvensi tidak berwenang memeriksa gugat
rekonvensi.
- Dalam perkara yang berhubungan dengan
pelaksanaan putusan.
Proses Persidangan
Acara Pemeriksaan
Gugatan
Jawab
menjawab
Eksepsi/Jawaban
Replik
Persidangan
Duplik
Pembuktian
Konklusi/Kesimpulan
Putusan
Pada hari sidang yang telah ditetapkan, ketua
Majelis Hakim yang didampingi panitera
membuka sidang dan menyatakan sidang
terbuka untuk umum (vide ps. 17 ayat 1 dan 2
UU No. 14/1970).
Apabila Putusan diucapkan dalam sidang yang
tidak dinyatakan terbuka untuk umum, maka
putusan tersebut tidak sah dan tidak
mempunyai kekuatan hukum dan dengan
demikian mengakibatkan batalnya putusan
(vide ps. 18 UU No. 14/1970), tetapi bila dalam
berita acara disebutkan sidang dinyatakan
terbuka untuk umum, maka putusan tetap sah.
Pembatasan terhadap asas terbukanya
persidangan untuk umum dapat dilakukan
apabila undangundang-undang menentukan lain atau
berdasarkan alasanalasan-alasan penting menurut
hakim dan dimuat dalam berita acara sidang
(vide ps. 17 ayat 1 UU No. 14/1970; ps. 29
RO).
Sidang ditunda apabila hanya satu pihak yang
hadir, hal ini dilakukan untuk memenuhi asas
audi et alteram partem, karena keterangan
satu pihak saja bukanlah merupakan
keterangan “Eines Mannes Rade, ist keines
Mannes Rade, man soll sie horen beide”.
Bila dalam pemeriksaan pertama kedua pihak yang
berperkara hadir, maka hakim harus mengusahakan
mendamaikan kedua belah pihak (vide ps. 130 HIR;
ps. 154 Rbg).
Putusan perdamaian (acte van vergelijk) dijatuhkan
apabila mereka berhasil berdamai dan menghukum
kedua pihak untuk memenuhi isi perdamain yang yang
telah dicapai.
Terhadap putusan perdamaian tidak dapat dimintakan
banding (ps. 130 ayat 3 HIR; ps. 154 ayat 3 Rbg).
Bila perdamaian tidak berhasil, hal tersebut dimuat
dalam berita acara sidang dan pemeriksaan
dilanjutkan (ps. 131 ayat 1 HIR; 154ayat 1 Rbg).
Rv menganut sistem, hakim adalah pasif.
Sedangkan HIR menganut sistem, hakim aktif.
Dalam hal ini hakim berwenang memberi
nasehat kepada kedua belah pihak serta
menunjukan upaya hukum (ps. 132 HIR;156
Rbg). Selain itu hakim wajib mencari
keterangan--keterangan yang bertentangan satu
keterangan
sama lain untuk menetapkan pokok sengketa.
Bilamana perdamaian tidak tercapai, maka
sidang dilanjutkan dengan acara pembacaan
gugatan.
Tergugat diberi kesempatan untuk memberi
tanggapan/jawaban atas gugatan, hal ini dapat
dijawab secara lisan maupun tertulis (ps. 121
ayat 2 HIR; 145 ayat 2 Rbg).
Bilamana tergugat memandang perlu,
Bilamana
perlu, maka
tergugat dapat mengajukan eksepsi sebelum
memberikan jawaban atau diajukan bersamaan
dengan jawaban.
jawaban.
declinetoir
Prosesuil
disqualifictoir
Eksepsi
dilatoir
Materiil
peremptoir
Eksepsi prosesuil adalah tangkisan yang bersifat
mengelak yang menuju pada tuntutan tidak
diterimanya gugatan berdasarkan alasanalasan-alasan di
luar pokok perkara; meliputi :
- eksepsi deklaratoir seperti eksepsi tentang tidak
berkuasanya hakim, eksepsi bahwa gugatan batal
dan;
- eksepsi disqualificatoir seperti, eksepsi perkara telah
diputus dan pihak penggugat tidak berkapasita.
Eksepsi materiil merupakan bantahan lainnya yang
didasarkan ketentuan hukum materiil; meliputi :
- eksepsi dilatoir seperti tuntutan penggugat belum
dapat dikabulkan karena penggugat memberi
penundaan pembayaran.
- eksepsi peremptoir yang sudah mengenai pokok
perkara seperti eksekusi karena lampaunya waktu
(kadaluarsa) atau karena tergugat dibebaskan dari
membayar.
Penggugat diberi kesempatan untuk memberi
tanggapan terhadap eksepsi/jawaban tergugat,
biasa disebut replik.
Terakhir tergugat diberi kesempatan untuk
memberi tanggapan atas replik penggugat,
biasa disebut duplik
Hukum pembuktian positif diatur dalam HIR
dan Rbg serta BW. Selain itu masi diatur juga
dalam Rv.
Pembuktian
Dengan berakhirnya proses jawab menjawab,
maka acara selanjutnya adalah pembuktian.
Dalam pemeriksaan Pembuktian, para pihak
diberi kesempatan untuk membuktikan dalildalildalil yang telah disampaikan dan kesempatan
pertama diberikan kepada Pengugat, setelah itu
Tergugat.
Hukum pembuktian terdiri dari dua unsur, yaitu
unsur materiil/hukum pembuktian materiil dan
formil/hukum pembuktian formil.
Hukum pembuktian materiil mengatur tentang
dapat tidaknya diterima pembuktian dengan
alat--alat bukti tertentu di persidangan serta
alat
ketentuan pembuktiannya.
Hukum pembuktian formil mengatur tentang
caranya mengadakan pembuktian.
Yang harus dibuktikan dalam persidangan
adalah peristiwa hukum yang penting/relevant
bagi hukum agar diperoleh suatu kebenaran,
misalnya yang harus dibuktikan adalah adanya
perjanjian hutang piutang antara penggugat
dan tergugat.
Selain peristiwa hukum, dalam hukum
pembuktian, hak pun harus dibuktikan karena
dari ps. 163 HIR; 283 Rbg dan 1865 BW,
disebutkan bahwa siapa mengaku mempunyai
hak harus membuktikannya.
Kebanaran yang dicari oleh hakim dalam
perkara perdata adalah kebenaran formil.
Mencari kebenaran formil berarti hakim tidak
boleh melampaui batasbatas-batas yang diajukan
oleh para pihak yang berperkara.
Hal ini relevant dengan ketentuan ps. 178 ayat
3 HIR; ps. 189 ayat 3 Rbg dan ps. 50 ayat 3 Rv
yang melarang hakim untuk menjatuhkan
putusan atas perkara yang tidak dituntut atau
akan meluluskan lebih dari yang dituntut.
Dalam perkara perdata, pihak yang
berkepentingan cq. Penggugat dan Tergugat
yang berkepentingan yang wajib membuktikan
peristiwa yang disengketakan dan atau
mengajukan alatalat-alat bukti.
Ps. 163 HIR; 283 Rbg dan 1865 BW, pada
pokoknya menyebutkan bahwa “Barangsiapa
yang mengaku mempunyai hak, … harus
membuktikan adanya hak atau peristiwa itu”.
Suatu bukti dinilai lengkap atau sempurna,
apabila hakim berpendapat bahwabukti yang
telah diajukan/peristiwa yang harus dibuktikan
itu harus dianggap sudah pasti atau benar.
Teori pembuktian:
1. Pemuktian bebas, menghendaki adanya
ketentuan--ketentuan yang mengikat hakim,
ketentuan
sehingga penilaian pembuktian seberapa dapat
diserahkan kepadanya.
2. ...
2. Pembuktian negatif, menurut teori ini harus ada
ketentuan--ketentuan yang mengikat yang bersifat
ketentuan
negatif, yaitu bahwa ketentuan ini harus membatasi
pada larangan kepada hakim untuk melakukan
sesuatu yang berhubungan dengan pembuktian. Jadi
hakim dilarang dengan pengecualian (ps. 169 HIR,
306 Rbg, 1905 BW).
3. Pembuktian positif, teori ini menghendaki adanya
perintah kepada hakim. Di sini hakim diwajibkan tetapi
dengan syarat (ps. 165 HIR, 285 Hbg, 1870 BW).
Pendapat umum menghendaki adanya pembuktian
bebas, hal ini dimaksudkan agar dapat memberi
kelonggaran bagi hakim dalam mencari kebenaran.
BebanPembuktian
Hakim yang memerintahkan kepada para pihak
untuk mengajukan alatalat-alat buktinya.
Asas beban pembuktian ini diatur dalam ps.
163 HIR, 283 Rbg, 1865 BW) yang berbunyi: “
Barangsiapa yang mengaku mempunyai hak
atau yang mendasarkan pada suatu peristiwa
untuk menguatkan haknya itu atau untuk
menyangkal hak orang lain, harus
membuktikan adanya hak atau peristiwa itu.
Selain ketenuan tersebut, ada beberapa
ketentuan khusus, yaitu ps. 533 BW, ps. 535
BW, ps. 1244 BW.
Alat Bukti
Alat
Alat--alat bukti dalam acara perdata adalah alat bukti
tertulis/surat, pembuktian dengan saksi, persangkaanpersangkaanpersangkaan, pengakuan dan sumpah (ps. 164 HIR,
284 Rbg, 1866 BW).
Alat bukti tertulis/surat, yaitu segala sesuatu yang
memuat tandatanda-tanda bacaan yang dimaksudkan untuk
mencurahkan isishati atau untuk menyampaikan buah
pikiran seseorang dan dipergunakan sebagai
pembuktian.
Alat bukti surat dibagi menjadi akta dan bukan akta.
Akta terdiri dari, akta otentik (ps. 165 HIR, 285 Rbg,
1868 BW) dan akta di bawah tangan (S 1867 No. 29
untuk Jawa dan Madura, luar Jawa dan Madura diatur
dalam ps. 286286-305 Rbg, ps 18741874- 1880 Bw).
Alat Bukti Saksi
Alat bukti ini diatur dalam ps. 139 – 152, 168 –
172 HIR, ps. 165 – 179 Rbg, 1895 dan 1902 –
1912 BW.
Alat Bukti Persangkaan
Alat bukti ini diatur dalam ps. 164 HIR, ps 284
Rbg, 1866 BW.
Alat Bukti Pengakuan
Alat bukti ini diatur dalam ps 174, 175, 176
HIR, 311, 312, 313 Rbg, 1923 – 1928 BW.
Alat Bukti Sumpah
Alat Bukti Sumpah diatur dalam ps 155155-158,
177 HIR, 182182-185, 314 Rbg, 19291929-145 BW.
Pemeriksaan Setempat
Kesimpulan
Putusan
Upaya Hukum Biasa
Eksekusi
Perlawanan Terhadap Penetapan Eksekusi
Upaya Hukum Luar Biasa
Download