plagiat merupakan tindakan tidak terpuji plagiat

advertisement
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PENGARUH PEMBERIAN SEDIAAN BIOMATERIAL SELULOSA
BAKTERI Acetobacter xylinum DARI LIMBAH KETELA RAMBAT
(Ipomoea batatas Poir) DENGAN PENAMBAHAN CHITOSAN SEBAGAI
MATERIAL PENUTUP LUKA PADA TIKUS GALUR WISTAR JANTAN
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Program Studi Farmasi
Oleh:
Michael Raharja Gani
NIM: 098114101
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2013
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PERSETUJUAN PEMBIMBING
ii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PENGESAHAN SKRIPSI BERJUDUL
iii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
IMAGINATION IS MORE IMPORTANT THAN KNOWLEDGE.
KNOWLEDGE IS LIMITED. IMAGINATION ENCIRCLES THE
WORLD
(ALBERT Einstein)
The future belongs to those who believe in the beauty of their
dreams
(Elanor Roosevelt)
AD MAIOREM DEI GLORIAM
(Society of Jesus)
TOGETHER WE CAN
(farmasi ANGKATAN 2009)
Karena aku telah mengawali segala sesuatunya maka aku akan berjuang
untuk menemukan jalanku dan mengakhiri apa yang telah aku awali
(Michael R. Gani)
Karya ini Kupersembahkan bagi :
Papa dan mama tercinta
Teman-temanku terkasih
Almamater
Gereja, Bangsa dan Negaraku
Mereka yang mati karena berjuang mencari kebenaran ditengah
dunia ini
iv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN
v
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
vi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PRAKATA
Penulis mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
karena atas berkat, rahmat dan kasih-Nya yang diberikan, penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pemberian Sediaan Biomaterial
Selulosa Bakteri Acetobacter xylinum dari Limbah Ketela Rambat (Ipomoea
batatas Poir) dengan Penambahan Chitosan sebagai Material Penutup Luka pada
Tikus Galur Wistar Jantan”. Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu Farmasi (S.Farm.), di program studi
Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma,Yogyakarta.
Selama perkuliahan, penelitian dan penyusunan skripsi ini, Penulis telah
mendapatkan banyak bantuan, sarana, dukungan, bimbingan, saran dan kritik dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, perkenakanlah Penulis ingin mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Ipang Djunarko, M.Sc., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
2. Ibu Dr. Eli Rohaeti selaku dosen pembimbing utama dan penguji yang telah
member kesempatan kepada Penulis dalam mengerjakan penelitian payung
ini serta bantuan finansial, dukungan semangat, perhatian, bimbingan,
perhatian serta meluangkan waktu untuk berdiskusi bersama Penulis selama
proses penyusunan proposal hingga penyelesaian skripsi ini.
3. Ibu Phebe Hendra, Ph.D., Apt., selaku dosen pembimbing pendamping dan
penguji yang telah memberikan bantuan, dukungan semangat, bimbingan,
vii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
perhatian serta meluangkan waktu untuk berdiskusi bersama Penulis selama
proses penyusunan proposal hingga penyelesaian skripsi ini.
4. Bapak Yohanes Dwiatmaka, M.Si., selaku dosen penguji yang telah
meluangkan waktu untuk menguji serta memberi beberapa masukan terkait
skripsi Penulis.
5. Ibu Dr. Sri Hartati Yuliani, Apt., selaku dosen penguji yang telah meluangkan
waktu untuk menguji serta memberi beberapa masukan terkait skripsi Penulis.
6. Ibu Christophori Maria Ratna Rini Nastiti, M.Pharm., Apt., selaku Ketua
Program Studi Farmasi yang telah membantu dan memberi dukungan kepada
Penulis dalam menyelesaikan administrasi dosen pembimbing serta
meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan Penulis dalam menyelesaikan
skripsi ini.
7. Ibu Rini Dwiastuti, M.Sc., Apt., selaku Kepala Laboratorium Fakultas
Farmasi Universitas Sanata Dharma.
8. Bapak Jeffry Julianus, M.Si., selaku dosen Metopen.
9. Ibu Dra. MM. Yetty Tjandrawati, M.Si., selaku dosen pembimbing akademik
yang telah membimbing dan mendampingi Penulis sejak selama kegiatan
perkuliahan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.
10. Mas Narto, Mas Dwi dan Mas Sarwanto yang telah membantu dalam
mengurus beberapa administrasi dan surat ijin terkait penelitian bagi Penulis.
11. Dekan dan segenap dosen serta jajaran staf Dekanat Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta yang telah membantu
mengijinkan Ibu Dr. Eli Rohaeti menjadi dosen pembimbing Penulis.
viii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
12. Bapak Mukminin, Mas Ratijo, drh. Nila, Mas Heru, Mas Parjiman, Mas
Kayat, Mas Wagiran, Mas Sigit, Pak Parlan, Pak Mus, Mas Darto beserta
segenap laboran dan karyawan lain yang telah membantu Penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
13. Papa dan mama yang senantiasa selalu memberikan dukungan, doa, nasehat
dan semangat kepada Penulis selama menyelesaikan skripsi ini.
14. Anugerah, David, Laras, Haris dan Arvi selaku partner skripsi Penulis yang
senantiasa menemani dan berjuang bersama serta memberikan masukan,
motivasi dan semangat dari awal hingga penyelesaian skripsi ini.
15. Lauren, Bruri, Ryan, Lisu, Agnes, Reza, Mas Argo dan Mas Widi yang telah
mendukung kepada Penulis selama menyelesaikan skripsi ini.
16. Mas Danang, Pak Puji Santosa, Pak Rahmat dan Bu Eko yang telah
membantu dan membagi ilmu kepada Penulis untuk mengoperasikan
beberapa instrumen yang terkait dengan skripsi Penulis.
17. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
Penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan
yang ada dalam penyusunan skripsi ini. Maka Penulis mengharapkan kritik dan
saran yang dapat membuat karya ini menjadi lebih baik. Akhir kata, semoga
penelitian skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca terutama bagi perkembangan
ilmu pengetahuan.
Penulis
ix
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................... iv
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI.................................. v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................ vi
PRAKATA ............................................................................................................ vii
DAFTAR ISI ........................................................................................................... x
DAFTAR TABEL ................................................................................................ xvi
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xvii
DAFTAR PERSAMAAN .................................................................................... xix
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xx
INTISARI............................................................................................................ xxii
ABSTRACT ....................................................................................................... xxiii
BAB I PENGANTAR ............................................................................................. 1
A. Latar Belakang ..............................................................................................1
1.
Rumusan Masalah ...............................................................................4
2.
Keaslian Penelitian .............................................................................5
3.
Manfaat Penelitian ..............................................................................6
B. Tujuan ...........................................................................................................6
BAB II PENELAAHAN PUSTAKA...................................................................... 7
A. Selulosa Bakteri ............................................................................................7
x
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
B. Aplikasi Selulosa Bakteri dalam Bidang Medis............................................8
C. Karakteristik Selulosa Bakteri.......................................................................9
D. Acetobacter xylinum ......................................................................................9
E. Ketela Rambat .............................................................................................10
F.
1.
Sistematika Tanaman ........................................................................10
2.
Nama Tanaman .................................................................................10
3.
Morfologi Tanaman ..........................................................................11
4.
Golongan Ketela Rambat ..................................................................12
5.
Kandungan Kimia .............................................................................12
6.
Waktu Panen Ketela Rambat ............................................................13
Chitosan ......................................................................................................14
G. Karakteristik Chitosan ................................................................................15
H. Gliserol ........................................................................................................17
I.
Luka.............................................................................................................17
J.
Penutup Luka ..............................................................................................20
K. Analisis Gugus Fungsi dengan Spektrofotometri Infra Merah ...................20
L. Foto Permukaan dengan Teknik Scanning Electron Microscopy ...............24
M. Analisis Sifat Mekanik dengan Uji Tarik....................................................25
N. Analisis Kristalinitas dengan Difraksi Sinar X (XRD) ...............................26
O. Analisis Sifat Termal dengan Differential Thermal Analysis (DTA) .........27
P.
Analisis Sifat Termal dengan Thermal Gravimetric Analysis (TGA) ........29
Q. Landasan Teori ............................................................................................29
R. Hipotesis......................................................................................................30
xi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 31
A. Jenis Penelitian ............................................................................................31
B. Variabel Penelitian ......................................................................................31
1.
Variabel utama ..................................................................................31
2.
Variabel pengacau.............................................................................31
C. Definisi Operasional....................................................................................32
D. Alat dan Bahan ............................................................................................34
E. Tata Cara Penelitian ....................................................................................35
1.
Determinasi Tanaman .......................................................................35
2.
Pemilihan Bahan ...............................................................................35
3.
Preparasi Limbah Cair Ketela Rambat .............................................35
4.
Orientasi Pembuatan Membran Chitosan .........................................37
5.
Pembuatan Membran Chitosan sebagai Kontrol Positif ...................37
6.
Orientasi
Pembuatan
Material
Selulosa
Bakteri+Gliserol+Chitosan dengan Metode Perebusan dan
Memakai Cawan Petri sebagai Tempat Fermentasi ..........................37
7.
Orientasi
Pembuatan
Material
Selulosa
Bakteri+Gliserol+Chitosan dengan Metode Perebusan dan
Memakai Nampan sebagai Tempat Fermentasi ................................38
8.
Orientasi
Pembuatan
Material
Selulosa
Bakteri+Gliserol+Chitosan dengan Metode Pelapisan .....................39
9.
Pembuatan Material Selulosa Bakteri (S) sebagai Kontrol
Karakterisasi Biomaterial .................................................................40
xii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
10.
Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol (SG) .......................42
11.
Pembuatan
Material
Selulosa
Bakteri+Gliserol+Chitosan
(SGK) ................................................................................................43
12.
Analisis Karakteristik Biomaterial....................................................45
13.
Sterilisasi Produk ..............................................................................48
14.
Orientasi Penyembuhan Luka Secara Normal ..................................48
15.
Pengelompokkan Hewan Uji ............................................................49
16.
Pembuatan Luka pada Hewan Uji ....................................................50
17.
Pengamatan Penyembuhan Luka dan Pengukuran Diameter
Luka ..................................................................................................50
F.
Analisis Data ...............................................................................................50
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................. 52
A. Hasil Determinasi Tanaman ........................................................................52
B. Hasil Pemilihan Bahan ................................................................................54
C. Preparasi Limbah Ketela Rambat................................................................54
D. Orientasi Pembuatan Membran Chitosan ...................................................55
E. Pembuatan Membran Chitosan sebagai Kontrol Positif .............................57
F.
Orientasi Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
dengan Metode Perebusan dan Memakai Cawan Petri sebagai
Tempat Fermentasi .....................................................................................58
G. Orientasi Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
dengan Metode Perebusan dan Memakai Nampan sebagai Tempat
Fermentasi ..................................................................................................61
xiii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
H. Orientasi Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
dengan Metode Pelapisan ...........................................................................61
I.
Pembuatan Material Selulosa Bakteri
(S) sebagai Kontrol
Karakterisasi Biomaterial ...........................................................................63
J.
Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol (SG) .................................66
K. Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan (SGK)..............66
L. Analisis Karakteristik Biomaterial ..............................................................67
1.
Analisis Sifat Fisik Secara Makroskopis dan Organoleptis ..............67
2.
Analisis Gugus Fungsi dengan Instrumen FT-IR .............................69
3.
Analisis Struktur Morfologi ..............................................................74
4.
Analisis Sifat Mekanik......................................................................79
5.
Analisis Sifat Termal dengan Differential Thermal Analysis
(DTA)................................................................................................83
6.
Analisis Sifat Termal dengan Thermal Gravimetric Analysis
(TGA)................................................................................................85
7.
Analisis Kristalinitas dengan XRD ..................................................89
M. Sterilisasi Produk ........................................................................................93
N. Orientasi Penyembuhan Luka Secara Normal ............................................94
O. Pengelompokkan Hewan Uji ......................................................................95
P.
Pembuatan Luka pada Hewan Uji ...............................................................95
Q. Pengamatan Penyembuhan Luka dan Pengukuran Diameter Luka ............96
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 111
A. Kesimpulan ...............................................................................................111
xiv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
B. Saran ..........................................................................................................111
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 113
LAMPIRAN ........................................................................................................ 121
BIOGRAFI PENULIS ........................................................................................ 158
xv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR TABEL
Tabel I.
Kandungan kimia ketela rambat ...................................................... 13
Tabel II.
Hasil korelasi dari serapan inframerah selulosan dan chitosan ....... 24
Tabel III.
Hasil sifat mekanik komposit selulosa bakteri nano
kristal/polivinil alkohol .................................................................
26
Tabel IV.
Tabel sifat fisik membran chitosan .................................................. 57
Tabel V.
Hasil pengamatan sifat fisik sampel biomaterial ............................. 67
Tabel VI.
Hasil interpretasi gugus fungsi dari sampel biomaterial .................. 71
Tabel VII.
Hasil absorbansi selulosa bakteri, selulosa bakteri+gliserol
dan selulosa bakteri+gliserol+chitosan .............................................72
Tabel VIII. Hasil pengujian sifat mekanik biomaterial ...................................... 79
Tabel IX.
Hasil pengamatan visual dari luka akibat perlakuan ....................... 97
Tabel X.
Hasil pengukuran diameter luka tiap kelompok perlakuan ........... 100
Tabel XI.
Persentase penurunan luas luka tiap kelompok perlakuan ............. 100
Tabel XII.
Hasil uji statistik persentase penurunan luas luka tiap
kelompok perlakuan ........................................................................101
xvi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.
Struktur selulosa bakteri ................................................................ 8
Gambar 2.
Struktur chitosan ......................................................................... 15
Gambar 3.
Tahapan penyembuhan luka ........................................................ 19
Gambar 4.
Metode mengkonstruksi garis dasar ............................................ 22
Gambar 5.
Spektra inframerah dari selulosa bakteri dan chitosan ............... 23
Gambar 6.
Foto SEM selulosa bakteri .......................................................... 25
Gambar 7.
Difraktogram XRD dari selulosa bakteri dan chitosan ............... 27
Gambar 8.
Termogram DTA untuk polimer semikristalin ........................... 28
Gambar 9.
Termogram dari selulosa bakteri ................................................. 29
Gambar 10.
Hasil pembandingan bagian ketela rambat dengan literatur ....... 53
Gambar 11.
Skema pengelupasan bioplastik .................................................. 57
Gambar 12.
Membran chitosan ....................................................................... 58
Gambar 13.
Skema biosintesis selulosa bakteri .............................................. 65
Gambar 14.
Spektra serbuk chitosan .............................................................. 69
Gambar 15.
Hasil spektra IR biomaterial S, SG dan SGK ............................. 70
Gambar 16.a.
Foto permukaan SEM selulosa bakteri ....................................... 75
Gambar 16.b.
Foto permukaan SEM SGK ……………………………………75
Gambar 17.a.
Foto permukaan SEM selulosa bakteri ....................................... 77
Gambar 17.b.
Foto permukaan SEM membran chitosan ……………………. 77
Gambar 18.a.
Foto penampang melintang SEM selulosa bakteri ...................... 78
Gambar 18.b.
Foto penampang melintang SEM SGK ………………………. 78
Gambar 19.
Kurva termogram DTA biomaterial ............................................ 83
Gambar 20.
Kurva termogram TGA biomaterial ............................................ 86
xvii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Gambar 21.
Kehilangan massa vs suhu .......................................................... 86
Gambar 22.a.
Difraktogram selulosa bakteri ..................................................... 90
Gambar 22.b.
Difraktogram selulosa bakteri+gliserol+chitosan …………….. 90
Gambar 23.
Grafik persentase penurunan luas luka gabungan dari
kelompok SGK, K dan O selama 3, 5 dan 7 hari .......................106
xviii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR PERSAMAAN
Persamaan 1. Rumus perhitungan DD chitosan .................................................... 16
Persamaan 2. Rumus perhitungan absorbansi menurut hukum Lambert-Beer ..... 21
Persamaan 3. Rumus perhitungan absorbansi ....................................................... 21
Persamaan 4. Rumus perhitungan % kristalinitas ................................................. 27
xix
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.
Hasil determinasi tanaman ketela rambat ..............................121
Lampiran 2.
Surat pengesahan determinasi ...............................................122
Lampiran 3.
Formula yang digunakan (per 100 mL) .................................123
Lampiran 4.
Skema jalannya penelitian .....................................................123
Lampiran 5.
Foto bahan yang digunakan ...................................................124
Lampiran 6.
Foto masing-masing sampel hasil karakterisasi secara
makroskopis...........................................................................124
Lampiran 7.
Hasil perbandingan berat ketela rambat dan air yang
digunakan ..............................................................................125
Lampiran 8.
Hasil penimbangan berat basah sampel.................................125
Lampiran 9.
Hasil perhitungan konsentrasi NaOH dan HCl yang
digunakan ..............................................................................125
Lampiran 10.
Hasil spektra IR chitosan untuk perhitungan derajat
deasetilasi (DD) beserta perhitungan nilai DD-nya ..............126
Lampiran 11.
Hasil spektra IR tiap sampel ..................................................127
Lampiran 12.
Hasil penarikan base line spektra IR tiap sampel..................128
Lampiran 13.
Hasil perhitungan absorbansi tiap sampel .............................130
Lampiran 14.
Foto SEM tiap sampel ...........................................................130
Lampiran 15.
Hasil uji sifat mekanik sampel ..............................................131
Lampiran 16.
Hasil statistik uji sifat mekanik tiap sampel ..........................132
Lampiran 17.
Hasil XRD tiap sampel ..........................................................136
Lampiran 18.
Hasil perhitungan luas total di bawah kurva tiap sampel ......137
xx
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 19.
Hasil perhitungan luas background tiap sampel....................138
Lampiran 20.
Hasil perhitungan luas kristal+amorf tiap sampel .................139
Lampiran 21.
Hasil perhitungan luas kristal tiap sampel .............................139
Lampiran 22.
Hasil perhitungan % kristalinitas tiap sampel .......................140
Lampiran 23.
Hasil data massa tersisa (%) akibat perubahan suhu tiap
sampel ....................................................................................141
Lampiran 24.
Hasil perhitungan suhu untuk sampel yang terdekomposisi
/ kehilangan massa 50% ........................................................141
Lampiran 25.
Foto instrumen yang digunakan untuk karakterisasi tiap
sampel ....................................................................................142
Lampiran 26.
Surat keterangan Ethical Clearance ......................................143
Lampiran 27.
Hasil perhitungan dosis ketamine dan xylazine .....................144
Lampiran 28.
Foto pengamatan penyembuhan luka pada hewan uji ...........145
Lampiran 29.
Hasil pengukuran diameter luka pada hewan uji ...................145
Lampiran 30.
Perhitungan luas metode Morton ..........................................147
Lampiran 31.
Hasil statistik persentase penurunan luas luka tiap sampel ...149
xxi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Pengaruh Pemberian Sediaan Biomaterial Selulosa Bakteri Acetobacter
xylinum dari Limbah Ketela Rambat (Ipomoea batatas Poir) dengan
Penambahan Chitosan sebagai Material Penutup Luka pada Tikus Galur
Wistar Jantan
INTISARI
Penelitian dilakukan untuk mempelajari karakter biomaterial yang
dihasilkan dari pemanfaatan limbah cair ketela rambat yang diperoleh dari proses
pembuatan tepung pati dari ketela rambat yang ditambah gliserol dan chitosan
serta aktivitas penyembuhan luka jika diaplikasikan sebagai material penutup luka
pada tikus jantan galur Wistar.
Biomaterial terbuat dari selulosa bakteri sebagai kontrol karakterisasi,
selulosa bakteri+gliserol dan selulosa bakteri+gliserol+chitosan sebagai
perlakuan. Karakterisasi meliputi analisis sifat fisik, gugus fungsional dengan
instrumen spektrofotometer infra merah, morfologi permukaan dengan instrumen
SEM, sifat mekanik dengan instrument Universal Tester, kristalinitas dengan
instrumen XRD dan kestabilan termal dengan instrumen TGA/DTA Analyzer. Uji
penyembuhan luka dilakukan dengan melukai hewan uji lalu luka ditutup dengan
membran chitosan, selulosa yang ditambah gliserol dan chitosan serta tanpa
ditutup lalu didiamkan selama 3, 5 dan 7 hari. Sehari setelah luka dibuat, diameter
luka diukur dengan jangka sorong. Pada hari yang ditentukan, hewan uji
dikorbankan dan diukur kembali diameter lukanya lalu diubah menjadi persentase
penurunan luas luka dan dilihat patologi anatomi lukanya secara makroskopis.
Karakteristik biomaterial yang dihasilkan meliputi peningkatan intensitas
gugus fungsi dan kestabilan termal, perubahan struktur morfologi, penurunan sifat
mekanik dan persen kristalinitas serta perubahan sifat fisik akibat penambahan
chitosan. Pemberian gliserol meningkatkan intensitas gugus fungsi, persen
perpanjangan dan kestabilan termal, menurunkan kuat tarik serta tidak
mempengaruhi sifat fisik, persen kristalinitas, dan struktur morfologi. Pemberian
penutup luka dari biomaterial selulosa bakteri+gliserol+chitosan tidak
berpengaruh terhadap proses penyembuhan luka.
Kata Kunci: biomaterial, chitosan, limbah ketela rambat, penutup luka
xxii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Effect Bacterial Cellulose Acetobacter xylinum toward Biomaterial
Preparation from Sweet Potato Waste (Ipomoea batatas Poir) with Addition
of Chitosan as Wound Dressing in Male Rats
ABSTRACT
The objective of this research was to study the character of biomaterials
from the utilization of wastewater derived from sweet potato starch manufacturing
process of the sweet potatoes and was added with glycerol and chitosan as well as
the healing activity of biomaterials when applied as wound dressing material in
Wistar male rats.
Biomaterials is made from bacterial cellulose as a control characterization,
bacterial cellulose+glycerol and bacterial cellulose+glycerol+chitosan as a
treatment. Characterization included analysis of physical properties, functional
groups with an infrared spectrophotometer instrument, morphology surface with
SEM instrument, the mechanical properties with Universal Tester instrument,
crystallinity with XRD instrument and the thermal stability with TGA / DTA
Analyzer. Wound healing assay performed with the wounding of test animals with
specific diameter and wounds covered with chitosan membranes, biomaterials
cellulose+glycerol+chitosan then allowed to stand uncovered for 3, 5 and 7 days.
A day after the wound was made, the wound diameter was measured with
calipers. On the appointed day, the test animals were sacrificed and the wound
diameter was measured again then converted into a percentage reduction in
injuries and extensive views of anatomic pathology macroscopic wound.
The resulting biomaterial characteristics include increased intensity of the
functional groups and thermal stability, structural changing of in the morphology,
decreasing mechanical properties and percent crystallinity as well as changing in
physical properties due to the addition of chitosan. Adding glycerol can increasing
the intensity of functional groups, percent elongation and thermal stability but
decrease tensile strength and did not affect the physical properties, percent
crystallinity, and morphology structure. Giving of wound dressing biomaterials
from bacterial cellulose+glycerol+chitosan did not affect the wound healing
process.
Keywords: biomaterials, chitosan, sweet potatoes waste, wound dressing
xxiii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB I
PENGANTAR
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil ketela rambat terbesar
di dunia. Menurut salah seorang narasumber yang diliput oleh wartawan Harian
Kompas dalam rubrik liputan khusus pada tanggal 22 Maret 2008, Indonesia
dikatakan menduduki peringkat kedua di dunia sebagai negara penghasil ketela
rambat terbesar. Indonesia pada saat itu kalah dari Republik Rakyat Cina yang
menduduki peringkat pertama. Menurut angka sementara BPS (2012) tentang data
hasil produksi tanaman pangan di Indonesia yang dikeluarkan secara resmi
melalui web BPS, produksi ketela rambat di Indonesia pada tahun 2011-2012
mencapai 2.196.033 ton. Ketela rambat oleh sebagian masyarakat Indonesia
dimanfaatkan sebagai bahan makanan konsumsi, tepung ketela rambat, tepung
pati serta sirup ketela rambat (Richana, 2012).
Menurut Harian Republika pada tanggal 29 Juli 2011 dalam rubrik
kuliner, dikatakan bahwa proses pembuatan tepung pati dari bahan ketela rambat,
saat proses pengendapan dari saripati ketela rambat setelah dicuci dan dikupas,
diparut, ditambah air serta diperas untuk memperoleh pati ini akan menghasilkan
air perasan yang oleh masyarakat akan dibuang sebagai limbah. Adanya
pembuangan air limbah perasan ini jika tidak mengalami proses pengolahan dan
pembuangan yang tepat maka dapat menyebabkan polusi bagi lingkungan sekitar.
Salah satu cara untuk mengurangi polusi tersebut adalah dengan memanfaatkan
1
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2
air limbah perasan ketela rambat sebagai bahan dalam pembuatan selulosa bakteri
(Pratomo dan Rohaeti, 2011).
Menurut Pratomo dan Rohaeti (2011), air perasan ketela rambat ini dapat
digunakan untuk membuat suatu selulosa bakteri. Selulosa bakteri secara umum
dapat dibuat dari bahan alam yang cukup mengandung nutrisi melalui proses
fermentasi yang dilakukan oleh bakteri.
Selulosa bakteri adalah selulosa yang diproduksi oleh bakteri asam asetat
dan memiliki beberapa keunggulan dibandingkan selulosa yang berasal dari
tumbuhan. Keunggulan tersebut di antaranya memiliki kemurnian yang tinggi,
struktur jaringan yang sangat baik, kemampuan degradasi tinggi, dan kekuatan
mekanik yang unik (Takayasu dan Fumihiro, 1997). Selain itu, selulosa bakteri
memiliki kandungan air yang tinggi (98-99%), penyerap cairan yang baik, bersifat
non-alergenik, dan dapat dengan aman disterilisasi tanpa menyebabkan perubahan
karakteristiknya (Ciechańska, 2004).
Penelitian mengenai selulosa bakteri juga telah dilakukan oleh
Tampubolon (2008) mengenai pembuatan material selulosa-chitosan bakteri
melalui fermentasi dengan memanfaatkan pati sebagai sumber glukosa. Selulosa
bakteri banyak diaplikasikan dalam dunia medis, di antaranya untuk memberikan
perawatan pada penderita penyakit ginjal dan juga sebagai subtitusi sementara
dalam perawatan luka bakar. Selulosa bakteri juga dapat di-implant ke dalam
tubuh manusia sebagai benang jahit dalam pembedahan (Hoenich, 2006). Namun,
dalam aplikasinya untuk keperluan medis, penggunaan selulosa bakteri hanya
dalam waktu sementara, disebabkan kekuatan serta sifat bioaktifnya yang rendah
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
3
sehingga untuk memperbaikki serta meningkatkan sifat bioaktif dari selulosa
bakteri dapat ditambahkan dengan polisakarida aktif lain atau modifikasi pada
selulosa bakteri tersebut (Tampubolon, 2008)
Menurut Ciechańska (2004), sangat mungkin dilakukan modifikasi pada
selulosa bakteri melalui penambahan suatu bahan dalam media kultur. Tujuan
modifikasi adalah untuk memperoleh struktur kimia, morfologi, dan struktur
molekuler yang diinginkan. Dalam kasus ini, penambahan bahan lain diharapkan
mampu meningkatkan sifat bioaktif dari selulosa bakteri. Modifikasi tersebut
dapat dilakukan melalui penambahan bahan lain seperti chitosan.
Chitosan merupakan salah satu jenis polisakarida yang bersifat bioaktif,
biokompatibel, dan tidak beracun (Kumar, Joydeep dan Tripathi, 2004). Selain
itu, chitosan juga bersifat antibakteri (Alexandra, Anna, Bogumila, Alojzy dan
Lukasz, 2005). Terkait dengan itu, di Institue of Chemical Fibers (IWCh)
Polandia, telah melakukan modifikasi selulosa bakteri dengan chitosan yang
bertujuan untuk meningkatkan sifat bioaktif dari selulosa bakteri, dimana dengan
meningkatnya sisi bioaktif dari selulosa bakteri maka akan meningkatkan
kemampuan dari selulosa bakteri tersebut untuk digunakan sebagai komponen
bioaktif dari suatu material sementara untuk merawat luka (Ciechańska, 2004).
Namun seiring dengan penambahan chitosan pada selulosa bakteri,
ternyata dengan adanya penambahan chitosan ini masih memiliki kekurangan,
yaitu lapisan chitosan ini seringkali bersifat rapuh (Mourya dan Inamdar, 2008).
Salah satu cara untuk mengatasi kekurangan tersebut adalah dengan
menambahkan bahan pemlastis, salah satu contohnya adalah gliserol. Gliserol
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4
dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan selulosa bakteri
karena efisiensi pemlastisnya yang baik, ketersediaannya yang banyak dan biaya
produksinya yang rendah sehingga gliserol dapat digunakan untuk memperbaiki
sifat plastis dari suatu biomaterial (Epure, Griffon, Pollet dan Avérous, 2011).
Menurut Bourtoom (2006), penambahan bahan pemlastis dapat digunakan untuk
dapat meningkatkan sifat plastis dari suatu biomaterial.
Melalui adanya penambahan bahan tambahan lain seperti chitosan serta
gliserol, tentunya akan berdampak terhadap sifat dan karakteristik (sifat fisik,
gugus fungsi, struktur morfologi, sifat mekanik, kristalinitas dan kestabilan
termal) dari biomaterial selulosa bakteri. Dampak yang diperoleh dapat
memperbaiki karakteristik dari selulosa bakteri atau dampak yang menurunkan
karakteristik dari biomaterial tersebut. Oleh karena itu, melalui penelitian ini,
peneliti ingin melihat adanya pengaruh dari pemberian chitosan serta gliserol
terhadap karakteristik dari biomaterial selulosa bakteri dan melihat kemampuan
kombinasi biomaterial selulosa bakteri yang ditambahkan dengan chitosan dan
gliserol dalam aplikasinya untuk mempercepat penyembuhan luka ketika
digunakan sebagai penutup luka.
1.
Rumusan Masalah
a.
Bagaimana karakteristik (sifat fisik, gugus fungsi, struktur morfologi,
sifat mekanik, kristalinitas dan kestabilam termal) biomaterial selulosa
bakteri dari limbah cair ketela rambat dengan penambahan chitosan dan
gliserol sebagai material penutup luka?
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
b.
5
Bagaimana pengaruh pemberian biomaterial selulosa bakteri dari limbah
cair ketela rambat dengan penambahan chitosan dan gliserol sebagai
material penutup luka pada tikus jantan galur Wistar dilihat secara
makroskopis dan penurunan luas luka?
2.
Keaslian Penelitian
Penelitian yang terkait dengan “Pengaruh Pemberian Sediaan
Biomaterial Selulosa Bakteri Acetobacter xylinum dari Limbah Ketela
Rambat (Ipomoea batatas Poir) dengan Penambahan Chitosan sebagai
Material Penutup Luka pada Tikus Galur Wistar Jantan” pernah dilakukan
oleh Ciechańska, Wietecha, Kaźmierczak dan Kazimierczak (2010), dengan
judul “Biosynthesis of Modified Bacterial Cellulose in a Tubular Form”
Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan Ciechańska et. al.
adalah pada penelitian Ciechańska et.al. tidak menggunakan limbah cair
ketela rambat sebagai medium untuk pertumbuhan Acetobacter xylinum
namun
menggunakan
medium
selektif
untuk
pertumbuhan
bakteri
Acetobacter xylinum, tidak menggunakan penambahan gliserol sebagai
pemlastis, menggunakan guinea pig sebagai hewan uji serta tidak melakukan
uji karakterisasi sifat fisik terhadap biomaterial yang dihasilkan sedangkan
pada penelitian ini digunakan limbah cair ketela rambat sebagai medium
pertumbuhan Acetobacter xylinum, gliserol sebagai pemlastis lalu hewan uji
yang digunakan adalah tikus jantan galur Wistar serta melakukan uji
karakterisasi sifat fisik terhadap biomaterial yang dihasilkan. Penelitian
terkait
“Pengaruh
Pemberian Sediaan
Biomaterial
Selulosa
Bakteri
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
6
Acetobacter xylinum dari Limbah Ketela Rambat (Ipomoea batatas Poir)
dengan Penambahan Chitosan sebagai Material Penutup Luka pada Tikus
Galur Wistar Jantan” sejauh yang peneliti ketahui belum pernah dilakukan.
3.
Manfaat Penelitian
a.
Manfaat teoritis. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu
pengetahuan tentang pembuatan biomaterial selulosa bakteri dari limbah
rumah tangga untuk keperluan biomedis.
b.
Manfaat metodologis. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu
metode pengembangan selulosa bakteri sebagai penutup luka dari
limbah-limbah yang tidak digunakan.
c.
Manfaat praktis. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi alternatif
penutup luka yang dibuat dari limbah ketela rambat yang bersifat ramah
lingkungan.
B. Tujuan
1.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik (sifat fisik, gugus
fungsi, struktur morfologi, sifat mekanik, kristalinitas dan kestabilan termal)
biomaterial selulosa bakteri dari limbah cair ketela rambat dengan
penambahan chitosan dan gliserol sebagai material penutup luka.
2.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian biomaterial
selulosa bakteri dari limbah cair ketela rambat dengan penambahan chitosan
dan gliserol sebagai material penutup luka pada tikus jantan galur Wistar
dilihat
secara
makroskopis
dan
penurunan
luas
luka.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA
A. Selulosa Bakteri
Selulosa yang diperoleh dari proses fermentasi adalah sejenis
polisakarida mikrobial yang tersusun oleh serat selulosa yang dihasilkan oleh
strain xylinum, subspesies dari Acetobacter aceti, bakteri non-patogen, yang
dinamakan sebagai selulosa bakterial atau selulosa yang diperoleh dari fermentasi.
Aplikasi dari selulosa bakteri sangat luas, di antaranya dalam bidang membran,
elektronik, tekstil, dan terutama di bidang biomedis. Hal ini dilatarbelakangi
karena keunggulannya dalam hal porositas, absorbsi terhadap air, sifat mekanik,
dan biokompatibilitas (Chawla, Bajaj, Survase dan Singhal, 2009).
Selulosa bakteri mirip dengan kulit manusia, sehingga selulosa bakteri
dapat digunakan sebagai kulit pengganti dalam luka bakar (Ciechańska, 2004).
Menurut Czaja, Krystynowicz, Bielecki dan Brown (2006), selulosa bakteri
mempunyai beberapa keunggulan antara lain: kemurnian tinggi, derajat
kristalinitas tinggi, mempunyai kerapatan antara 300-900 kg/m3, kekuatan tarik
tinggi, elastis dan terbiodegradasi. Adapun struktur selulosa bakteri ditunjukkan
melalui Gambar 1.
7
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
8
Gambar 1. Struktur selulosa bakteri
(Festucci-Buselli, Otoni, and Joshi, 2007).
B. Aplikasi Selulosa Bakteri dalam Bidang Medis
Jika luka ingin disembuhkan dengan efektif, luka tersebut harus dijaga
agar tetap dalam kondisi yang basah. Penutup luka yang baik adalah tidak
mengiritasi kulit dari pasien tersebut, yang bersifat permeable terhadap uap dan
melindungi jaringan tubuh bagian dalam terhadap cedera mekanis dan infeksi.
Untuk beberapa waktu penutup luka biologis yang berasal dari kulit babi atau
kulit dari jenazah manusia telah digunakan, tetapi bahan tersebut mahal dan hanya
dapat digunakan untuk waktu yang singkat (Ciechańska, 2004).
Selulosa
mikrobial
yang
disintesis
oleh
Acetobacter
xylinum
menunjukkan kinerja yang cukup baik untuk dapat digunakan dalam
penyembuhan luka. Selulosa bakteri juga mempunyai kerangka jaringan yang
sangat baik dan hidrofilisitas yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai
pembuluh darah buatan yang sesuai untuk pembedahan mikro (Hoenich, 2006).
Selulosa bakteri merupakan polimer alam yang sifatnya menyerupai
hidrogel yang diperoleh dari polimer sintetik; selulosa bakteri menunjukkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
9
kandungan air yang tinggi (98-99%), daya serap yang baik terhadap cairan,
bersifat non-allergenik dan dapat disterilisasi tanpa mempengaruhi karakteristik
dari bahan tersebut. Selulosa bakteri dapat digunakan sebagai pengganti kulit
untuk merawat luka bakar yang serius karena karakteristiknya yang mirip seperti
kulit manusia. (Ciechanska, 2004).
C. Karakteristik Selulosa Bakteri
Meskipun selulosa bakteri mempunyai struktur kimia yang sama seperti
selulosa yang berasal dari tumbuhan, selulosa bakteri tersusun oleh serat selulosa
yang lebih baik yang dihasilkan oleh bakteri. Setiap serat tunggal dari selulosa
bakteri mempunyai diameter 50 nm, dan selulosa bakteri terdapat dalam bentuk
kumpulan serat-serat tunggal yang berdiameter sekitar 0,1-0,2 nm. Panjang
seratnya tidak dapat ditentukan karena kumpulan serat-serat tunggal selulosa
saling melilit satu sama lain membentuk struktur jaringan. Diameter dari selulosa
bentuk kristalin adalah 10–30 nm (Philips dan Williams, 2000).
D. Acetobacter xylinum
Bakteri Acetobacter xylinum berbentuk elips atau tongkat yang
melengkung. Kultur yang masih muda merupakan bakteri gram negatif,
sedangkan kultur yang sudah agak tua merupakan bakteri dengan gram yang
bervariasi. Acetobacter merupakan bakteri aerob, yang memerlukan respirasi
dalam metabolisme. Acetobacter dapat mengoksidasi etanol menjadi asam asetat,
juga dapat mengoksidasi asetat dan laktat menjadi CO2 dan H2O (Warisno, 2004).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
10
Bakteri Actobacter xylinum tumbuh baik dalam media yang memiliki pH
3–4. Jika pH lebih dari empat atau kurang dari tiga, proses fermentasi tidak dapat
berjalan sempurna. Suhu optimum untuk pertumbuhan. Acetobacter xylinum
adalah 26–270 C (Warisno, 2004).
E. Ketela Rambat
1. Sistematika Tanaman
Menurut Anonim (2012), ketela rambat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom
: Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi
: Spermatophyta
Divisi
: Magnoliophyta
Kelas
: Magnoliopsida
Subkelas
: Asteridae
Ordo
: Solanales
Famili
: Convolvulaceae
Genus
: Ipomoea
Spesies
: Ipomoea batatas Poir
2. Nama Tanaman
Berikut ini beberapa istilah nama tanaman ketela rambat menurut Anonin
(2012):
Nama latin: Ipomoea batatas Poir
Indonesia: Ketela rambat, ketela, ketela rambat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
11
Nama daerah: Jawa: Telo rambat. Papua: Patatas. Sunda: Mantang
Common name: Inggris: Sweet potato. Melayu: Ubi keledek. Thailand: Phak
man thet. Filipina: Kamote. Jepang: Satsumaimo
3. Morfologi Tanaman
Tanaman ketela rambat merupakan tanaman semusim yang memiliki
susunan tubuh utama yaitu batang, daun, bunga dan akar (umbi). Batang
tanaman ketela rambat berakar banyak, berwarna hijau, kuning atau ungu,
berbentuk bulat tidak berkayu, berbuku-buku dan tipe pertumbuhannya tegak
atau merambat (menjalar) dengan panjang tanaman 1–3 m (Rukmana, 1997).
Daun ketela rambat berbentuk bulat hati, bulat lonjong dan bulat runcing
tergantung varietasnya. Bunga ketela rambat berbentuk terompet, ukurannya
relatif besar dengan warna putih atau putih keunguan pucat dengan warna
ungu di bagian tengahnya (Juanda dan Cahyono, 2000).
Tanaman ketela rambat mempunyai umbi akar yang merupakan
simpanan energi bagi tumbuhan tersebut. Bentuk daunnya sangat bervariasi
dari bentuk lonjong sampai bentuk seperti jari dengan lekukan tepi yang
banyak dan dalam. Ketela rambat dapat berwarna putih, orange sampai
merah, bahkan ada yang berwarna kebiruan, violet atau berbintik-bintik biru.
Ubi yang berwarna kuning, orange sampai merah banyak mengandung
karatenoid yang merupakan prekursor vitamin A (Sediaoetoma, 1993).
Ketela rambat dapat beradaptasi luas terhadap lingkungan tumbuh
karena daerah penyebarannya terletak pada 30º LU dan 30º LS. Daerah yang
paling ideal untuk mengembangkan ketela rambat adalah daerah bersuhu
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
12
antara 21–27º C yang mendapat sinar matahari 11–12 jam/hari dengan
kelembaban udara (RH) 50–60% dan curah hujan 750–1500 mm/tahun.
Pertumbuhan dan produksi yang optimal untuk usaha tani ketela rambat
tercapai pada musim kemarau karena tanaman ini tahan terhadap panas dan
kering (Rukmana, 1997).
4. Golongan Ketela Rambat
Menurut Juanda dan Cahyono (2004), ketela rambat dibedakan
menjadi beberapa golongan sebagai berikut:
a. Ketela rambat putih, yakni jenis ketela rambat yang memilki daging umbi
berwarna putih.
b. Ketela rambat kuning, yakni jenis ketela rambat yang memiliki daging
umbi berwarna kuning, kuning muda atau putih kekuning-kuningan
c. Ketela rambat orange, yakni jenis ketela rambat yang memiliki daging
umbi berwarna orange.
d. Ketela rambat jingga, yakni jenis ketela rambat yang memilki daging umbi
berwarna jingga jingga muda.
e. Ketela rambat ungu, yakni jenis ketela rambat yang memilki daging umbi
berwarna ungu hingga ungu muda.
5. Kandungan Kimia
Contoh komposisi zat gizi ketela rambat disajikan pada Tabel I.
Komposisi zat gizi ketela rambat bervariasi tergantung pada cara penanaman,
iklim, tingkat kematangan dan lama penyimpanan. Ketela rambat memiliki
kadar air yang cukup tinggi berkisar 61,2-89,0% (b/b) sehingga bahan kering
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
13
yang terkandung didalamnya relatif rendah. Kandungan rata-rata bahan
kering ketela rambat yaitu 30% dan sangat bervariasi tergantung pada
kultivar, lokasi, iklim, tipe tanah, serangan hama dan penyakit serta cara
menanamnya (Juanda, 2004).
Tabel I. Kandungan kimia ketela rambat
Komponen
Jumlah
Kadar air (%)
72,84
Pati (%)
24,28
Protein (%)
1,65
Gula reduksi(%)
0,85
Mineral (%)
0,95
Asam askorbat (mg/100 g)
22,7
K (mg/100 g)
204,0
S (mg/100 g)
28,0
Ca (mg/100 g)
22,0
Mg (mg/100 g)
10,0
Na (mg/100 g)
13,0
Fe (mg/100 g)
0,59
Mn (mg/100 g)
0,355
Vitamin A (IU/100 g)
20063,0
Energi (kJ/100 g)
441,0
(Kotecha dan Kadam, 1998).
6. Waktu Panen Ketela Rambat
Waktu panen ketela rambat yang baik berkisar sekitar umur 3-4 bulan
setelah penanaman. Pada umur tersebut ketela rambat telah matang. Ciri fisik
ketela yang matang, antara lain: bila kandungan tepungnya sudah maksimum,
ditandai dengan kadar serat yang rendah dan bila direbus (dikukus) rasanya
enak (Rukmana, 1997).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
14
F. Chitosan
Chitosan merupakan senyawa hasil deasetilasi kitin, terdiri dari unit Nasetil glukosamin dan N glukosamin. Adanya gugus reaktif amino pada atom C-2
dan gugus hidroksil pada atom C-3 dan C-6 pada chitosan bermanfaat dalam
aplikasinya yang luas yaitu sebagai pengawet hasil perikanan dan penstabil warna
produk pangan, sebagai flokulan dan membantu proses reverse osmosis dalam
penjernihan air, aditif untuk produk agrokimia dan pengawet benih (Muzzarelli,
1997; Shahidi, Arachchi dan Jeon, 1999).
Chitosan sebagai bahan yang dapat diperbarui secara alami mempunyai
sifat yang unik seperti biokompatibel, biodegradable, non-toksik, dan
kemampuan untuk pembentukan lembaran yang bagus. Chitosan mempunyai dua
gugus reaktif, yaitu amino dan hidroksil yang secara kimia dapat melakukan
interaksi pada temperatur ruangan. Adanya gugus amino memungkinkan untuk
dilakukan beberapa modifikasi kimia (Xiaoxiao, Wang dan Bai, 2009).
Berdasarkan sifat fisika dan kimia yang dimilikinya, chitosan banyak
digunakan dalam bidang farmasi, produk kosmetik, penyaringan air, perawatan
kulit, dan perlindungan tanaman. Selain itu, chitosan dapat juga digunakan
sebagai pasta gigi, pencuci mulut, dan permen karet kunyah. Hal ini karena
chitosan dapat menyegarkan nafas, mencegah terjadinya plak pada mulut, dan
mencegah kerusakan gigi. Dalam bidang teknologi jaringan, chitosan dan
turunannya diaplikasikan sebagai penutup luka, sistem pengiriman obat, dan
pengisi implant (Kumar, dkk., 2004). Struktur chitosan ditunjukkan melalui
Gambar 2.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
15
Gambar 2. Struktur chitosan
(Pardosi, 2008).
Berdasarkan sifat fisika dan kimia yang dimilikinya, chitosan banyak
digunakan dalam bidang farmasi, produk kosmetik, penyaringan air, perawatan
kulit, dan perlindungan tanaman. Selain itu, chitosan dapat juga digunakan
sebagai pasta gigi, pencuci mulut, dan permen karet kunyah. Hal ini karena
chitosan dapat menyegarkan nafas, mencegah terjadinya plak pada mulut, dan
mencegah kerusakan gigi. Dalam bidang teknologi jaringan, chitosan dan
turunannya diaplikasikan sebagai penutup luka, sistem pengiriman obat, dan
pengisi implant (Kumar, et.al, 2004).
G. Karakteristik Chitosan
Chitosan merupakan padatan putih yang tidak larut dalam air, pelarut
organik, alkali, dan asam mineral, dalam berbagai kondisi. Chitosan larut dalam
asam formiat, asam asetat, dan asam organik lainnya dalam keadaan dipanaskan
sambil diaduk. Chitosan larut dalam asam mineral pekat, apabila dalam kondisi
yang bagus diperoleh dalam bentuk endapan. Namun dengan asam nitrat, chitosan
yang terbentuk adalah chitosan nitrat yang sukar larut (Manskaya, dan Drodzora,
1968). Pelarut yang paling sering digunakan adalah CH3COOH. Menurut Sugita
(2009), kelarutan chitosan yang paling baik adalah dalam larutan asam asetat 2%.
Kelarutan chitosan dalam pelarut asam anorganik adalah terbatas.
Chitosan dapat larut dalam HCl 1% tetapi tidak larut dalam asam sulfat dan asam
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
16
fosfat. Stabilitas larutan chitosan pada pH diatas tujuh adalah rendah akibat dari
pengendapan ataupun pembentukan gel yang terjadi pada range pH alkali. Larutan
chitosan membentuk kompleks poli-ion dengan hidrokoloid anionik dan
menghasilkan gel (Nadarajah, 2005).
Parameter lain yang berpengaruh pada sifat chitosan adalah berat
molekul (BM) dan derajat deasetilasi (DD). Derajat deasetilasi menunjukkan
berkurangnya gugus asetil dari chitin menjadi gugus amino pada chitosan.
Penentuan DD dapat dilakukan dengan beberapa metode, seperti titrimetri HBr,
spektroskopi IR, FDUV-spektrofotometri, X-Ray Diffraction dan spektroskopi 1H
NMR. Penentuan DD dengan spektroskopi IR dilakukan dengan metode base line.
Berikut ini rumus untuk perhitungan DD seperti ditunjukkan oleh Persamaan 1.
DD =
(
)
……………………………………………... (1)
Keterangan:
DD = Derajat Deasetilasi
A1655 = absorbansi pada bilangan gelombang 1655 cm-1 yang menunjukkan
serapan karbonil dari amida.
A3450 = absorbansi pada bilangan gelombang 3450 cm-1 yang menunjukkan
serapan hidroksil dan digunakan sebagai standar internal.
Faktor 1,33 merupakan nilai perbandingan (
100% (Khan, Peh dan Chang, 2002).
) untuk chitosan terdeasetilasi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
17
H. Gliserol
Gliserol adalah senyawa yang netral, dengan rasa manis, tidak berwarna,
cairan kental dengan titik lebur 200 C dan memiliki titik didih yang tinggi yaitu
2900 C. Gliserol dapat larut sempurna dalam air dan alkohol, tetapi tidak dalam
minyak. Sebaliknya banyak zat dapat lebih mudah larut dalam gliserol dibanding
dalam air maupun alkohol. Oleh karena itu gliserol merupakan pelarut yang baik
(Anonim, 1976).
Senyawa ini bermanfaat sebagai anti beku (anti freeze) dan juga
merupakan senyawa yang higroskopis sehingga banyak digunakan untuk
mencegah kekeringan pada tembakau, pembuatan parfum, tinta, kosmetik,
makanan dan minuman lainnya (Austin, 1985).
Demikian juga dalam industri polimer, senyawa poliol banyak digunakan
sebagai pemlastis maupun pemantap. Senyawa poliol ini dapat diperoleh dari hasil
industri petrokimia, maupun langsung dari transformasi minyak nabati dan olahan
industri oleokimia. Dibandingkan dengan hasil industri petrokimia, senyawa
poliol dari minyak nabati dan industri oleokimia dapat diperbaharui, sumbernya
mudah diperoleh, dan juga akrab dengan lingkungan karena mudah terdegradasi
dalam alam (Goudung, 2004).
I. Luka
Luka adalah terputusnya kontinuitas atau hubungan anatomis jaringan
sebagai akibat dari kerja paksa. Luka dapat merupakan luka yang sengaja dibuat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
18
untuk tujuan tertentu, seperti luka insisi pada operasi atau luka akibat trauma
seperti luka akibat kecelakaan (Mann, Breuhahn, Schirmacher, Blessing, 2001).
Penyembuhan luka adalah proses normalisasi integritas kulit dan jaringan
dibawahnya melalui berbagai tahap peradangan akut. Penyembuhan erat kaitannya
dengan peradangan. Peradangan merupakan proses yang sangat awal dari
penyembuhan luka. Sebelum terjadi penyembuhan, produk dari inflamasi seperti
eksudat dan sel mati telah bergerak dari wilayah tersebut. Proses ini disertai
dengan meleburnya jaringan mati. Peristiwa ini terjadi karena enzim autolitik dari
jaringan mati itu sendiri (autolisis) dan juga karena enzim yang dikirim dari
leukosit peradangan (heterolisis). Material cair kemudian siap diabsorbsi ke dalam
pembuluh limfa dan membuka jalan untuk penyembuhan luka (Vegad, 1996).
Perbaikan jaringan meliputi dua proses nyata yaitu perbaikan dengan
regenerasi dan pergantian dengan jaringan ikat (fibroplasias). Perbaikan dengan
regenerasi ditunjukkan dengan tergantinya sel dan jaringan yang rusak dengan
yang baru. Perbaikan dengan jaringan ikat terjadi melalui empat tahap yaitu
migrasi
dan
proliferasi
fibroblast,
dekomposisi
ekstraseluler
matriks,
pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis), dan pematangan jaringan
parut (Vegad, 1996). Penyembuhan luka terdiri atas fase peradangan, fase
fibroblastik, dan fase pematangan serta fase retraksi jaringan (Jones, Hunt, dan
King, 1996). Proses dan tahapan penyembuhan luka dapat digambarkan seperti
pada Gambar 3.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
19
Gambar 3. Tahapan penyembuhan luka
(Shaw dan Martin, 2009).
Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka menurut Taylor (1997)
yaitu: kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi oleh
luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang, respon tubuh pada
luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat tetap dijaga, respon tubuh secara sistemik
pada trauma, aliran darah ke dan dari jaringan yang luka, keutuhan kulit dan
mukosa membran disiapkan sebagai garis pertama untuk mempertahankan diri
dari mikroorganisme, dan penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas
dari benda asing tubuh termasuk bakteri.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
20
J. Penutup Luka
Penutup luka yang ideal menurut Eldin, Soliman, Hashem dan Tamer
(2008) serta Czaja et. al. (2006) seharusnya adalah penutup luka yang mampu
memiliki beberapa fungsi berikut:
1
Menyediakan lingkungan yang lembab bagi luka / permukaan penutup
luka.
2
Melindungi luka secara fisik dari infeksi bakteri.
3
Steril, murah dan mudah digunakan.
4
Menyerap kelebihan eksudat tanpa kebocoran di permukaan penutup luka.
5
Menyerap bau luka.
6
Melindungi luka secara mekanik dan suhu.
7
Mampu menyediakan pori-pori yang digunakan untuk sirkulasi pergantian
udara dan cairan.
8
Secara signifikan mengurangi rasa nyeri pada luka.
9
Tidak toksik, tidak mengandung pirogen, tidak mensensitasi dan tidak
menyebabkan alergi baik pada pasien maupun pada staf medis.
10 Tidak menempel di luka dan ketika dilepas tidak menyebabkan rasa nyeri
atau trauma pada luka.
K. Analisis Gugus Fungsi dengan Spektrofotometri Infra Merah
Spektrum infra merah pada dasarnya merupakan gambaran dari pita
absorbansi spesifik dari gugus fungsional yang mengalami vibrasi karena
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
21
pemberian energi. Interaksi antara gugus dengan atom yang mengelilinginya dapat
menandai spektrum itu dalam setiap senyawa.
Analisis kualitatif, dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya
absorbsi pada frekuensi tertentu dan merupakan penanda ada tidaknya gugus
fungsional tertentu. Penggunaan spektrofotometri infra merah pada bidang kimia
organik menggunakan daerah dari 650-4000 cm-1 (15,4-2,5 μm) (Sastrohamidjojo,
2007).
Gugus fungsional dalam molekul dianalisis secara kualitatif dengan
melihat bentuk spektrumnya yaitu dengan melihat puncak spesifik yang
menunjukkan jenis gugus funsgional. Analisis secara kuantitatif dilakukan
berdasarkan hukum Lambert-Beer, ditunjukkan pada Persamaan 2.
A = log (Io/I) = a c l ……………………………………………..….. (2)
Keterangan :
A = absorbansi
Io = intensitas sinar masuk
I = Intensitas sinar yang ditransmisikan
a = koefisien absorpsi (M-1 cm-1)
c = konsentrasi zat (M)
l = panjang lintasan (cm)
Untuk mengoreksi kesalahan yang timbul akibat adanya overlap puncak
absorpsi, maka garis dasar (base line) dalam spektrum infra merah harus dibuat
seperti ditunjukkan pada Gambar 4, I dan Io ditentukan sebagai intesitas transmisi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
22
pada garis dasar. Absorbansi (A) pada frekuensi yang diberikan (dalam cm-1)
terlihat pada Persamaan 3.
Absorbansi (A) = log (Io/I) = log (AC/AB) ……………………….. (3)
Keterangan :
AC = Io = intensitas sinar masuk
AB = I = intensitas sinar yang ditransmisikan
AC dan AB ditentukan dari spektrum infra merah seperti ditunjukkan pada
Gambar 4.
Gambar 4. Metode mengkonstruksi garis dasar
dalam spektrum infra merah
(Stevens, 2001).
Gambar 5 menunjukkan karakteristik serapan dari selulosa bakteri
menunjukkan puncak di sekitar daerah 3350 cm-1 yang menunjukkan O-H
stretching dan di sekitar daerah 2916,81 cm-1 yang menunjukkan CH stretching.
Adanya pita di sekitar daerah 1649,8 cm-1 yang menunjukkan deformasi vibrasi
dari molekul air yang terabsorbsi (Wonga, Kasapis dan Tan, 2009). Adapun
karakteristik serapan dari chitosan ditunjukkan dengan puncak di sekitar 1559,17
cm-1 yang menunjukkan vibrasi stretching dari gugus amino chitosan dan di
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
23
sekitar daerah 1333,5 cm-1 yang menunjukkan vibrasi dari C-H. Adanya pita di
sekitar 3367,1 cm-1 menunjukkan vibrasi simetrik dari amina NH. Adanya puncak
disekitar daerah 2927,41 cm-1 menunjukkan vibrasi C-H. Adanya puncak disekitar
daerah 896,73 cm-1 dan 1154,19 cm-1 berkaitan dengan struktur sakarida dari
chitosan. Adanya puncak yang melebar di sekitar daerah 1080,91 cm-1
menunjukkan vibrasi stretching C-O (de Souza Costa-Junior, Pereira dan Mansur,
2009; Rao, Naidu, Subha, Sairam dan Aminabhavi, 2006). Gambar 5.
menunjukkan contoh spektra inframerah dari selulosa bakteri dan chitosan.
Gambar 5. Spektra inframerah dari selulosa bakteri dan chitosan
(Anicuta, Dobre, Stroescu dan Jipa, 2010).
Berdasarkan Gambar 5, maka perlu dibuat suatu tabel korelasi serapan
dari spektra IR. Korelasi ini perlu dibuat untuk memudahkan dalam
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
24
menginterpretasikan gugus-gugus fungsi dari spektra IR yang didapatkan. Hasil
korelasi dari gugus-gugus fungsi ini disajikan pada Tabel II.
Tabel II. Hasil korelasi dari serapan inframerah selulosa dan chitosan
Kode
A
B
C
D
E
Serapan
Selulosa (cm-1)
3430
2919
1659
1422
Serapan
Chitosan (cm-1)
3430
2919
1637
1597
1422
F
G
1374
1158
1378
1154
H
1067
1072
Keterangan kode
–OH and –NH stretching
–CH stretching
C=O stretching
–NH bending (amide II)
–CH and –NH bending
vibrations
–CH3 bending vibrations
Anti-symmetric stretching
of the C–O–C bridge
Skeletal vibrations
involving the C–O
stretching
Referensi
Stefanescu,
Daly,
Negulescu
(2011)
L. Foto Permukaan dengan Teknik Scanning Electron Microscopy
SEM bekerja berdasarkan prinsip scan sinar elektron pada permukaan
sampel, selanjutnya informasi yang diperoleh diubah menjadi gambar. Imajinasi
mudahnya, gambar yang didapat mirip sebagaimana gambar pada televisi (Utami,
2007).
Foto SEM dibuat berdasarkan deteksi elektron baru (elektron sekunder)
atau elektron pantul yang muncul dari permukaan sampel ketika permukaan
sampel tersebut di-scan dengan sinar elektron. Elektron sekunder atau elektron
pantul yang terdeteksi, kemudian sinyalnya diperkuat, besar amplitudonya
ditampilkan dalam gradasi gelap terang pada layar monitor CRT (cathode ray
tube). Pada layar CRT tersebut, gambar struktur objek yang sudah diperbesar
dapat terlihat (Utami, 2007).
SEM mempunyai resolusi tinggi dan dikenal untuk mengamati objek
benda berukuran nanometer. Resolusi tinggi tersebut didapatkan untuk scan dalam
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
25
arah horizontal, sedangkan scan secara vertikal atau tinggi rendahnya struktur
memiliki resolusi rendah (Utami, 2007). Contoh foto hasil SEM dari selulosa
bakteri ditunjukkan pada Gambar 6. Foto SEM tersebut menggunakan perbesaran
5000x.
Gambar 6. Foto SEM selulosa bakteri
(Freire, Silvestre, Gandini dan Neto, 2011).
M. Analisis Sifat Mekanik dengan Uji Tarik
Uji tarik merupakan salah satu analisis mekanik dari suatu bahan
polimer. Kekuatan tarik menggambarkan kekuatan tegangan maksimum spesimen
untuk menahan gaya yang diberikan (Billmeyer 1984). Kuat tarik merupakan
ukuran besarnya beban atau gaya yang dapat ditahan sebelum suatu sampel rusak
atau putus. Kekuatan tarik diukur dengan menarik polimer pada dimensi yang
seragam. Tegangan tarik (σ) adalah gaya yang diaplikasikan (F) dibagi dengan
luas penampang (A).
Perpanjangan tarik (elongasi, ε) adalah perubahan panjang sampel yang
dihasilkan oleh ukuran tertentu panjang spesimen akibat gaya yang diberikan
(Billmeyer 1984).
Pengujian kuat tarik akan menghasilkan kurva tegangan-regangan
(stress-strain). Informasi yang diperoleh dari kurva tegangan-regangan untuk
polimer adalah kekuatan tarik saat putus (ultimate strength) dan perpanjangan saat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
26
putus (elongation at break) dari bahan. Kekuatan atau tegangan tarik diukur
dengan menarik sekeping polimer dengan dimensi yang seragam (Rosida, 2007).
Contoh data sifat mekanik dari selulosa bakteri ditunjukkan pada Tabel III.
Tabel III. Hasil sifat mekanik komposit selulosa bakteri nano kristal/polivinil
alkohol
(George, Ramana, Bawa dan Siddaramaiah, 2011).
N. Analisis Kristalinitas dengan Difraksi Sinar X (XRD)
Difraksi sinar X merupakan metode analisis yang didasarkan pada
hamburan cahaya pada kisi kristal yang dikenai sinar X. Metode ini dapat
digunakan dalam penentuan struktur kristal suatu padatan dengan menganalisis
pola difraksinya dan juga digunakan untuk penentuan komposisi bahan penyusun
suatu campuran. Pola difraksi sinar X khas untuk setiap material karena masingmasing komponen terdiri dari susunan atom tertentu.
Morfologi dan struktur polimer dapat diperoleh dari pemeriksaan visual
serta interpretasi matematika terhadap pola dan intensitas radiasi terhambur,
termasuk derajat kristalinitas (Rabek, 1983).
Derajat kristalinitas berhubungan dengan struktur rantai polimer. Apabila
suatu polimer memiliki struktur rantai yang semakin linier maka derajat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
27
kristalinitasnya akan semakin besar sehingga bersifat semakin kristalin, demikan
pula sebaliknya apabila strukturnya bercabang maka akan cenderung bersifat
amorf. XRD sangat penting untuk analisis polimer karena XRD dapat
memperlihatkan indeks dari struktur kristal, dan derajat kristalinitas (Rosida,
2007).
Menurut Anggraeni (2003), derajat kristalinitas dapat ditentukan bila
difraksi kristalin dipisahkan dari difraksi amorf, dengan cara menghitung
perbandingan luas difraksi kristalin terhadap luas total difraksi (amorf dan
kristalin) seperti ditunjukkan oleh Persamaan 4.
Derajat kristalinitas = Luas kristalin
×100% ………………. (4)
Luas (kristalin+amorf)
Contoh hasil difraksi sinar-X dari selulosa bakteri dan chitosan
ditunjukkan pada Gambar 7.
Gambar 7. Difraktogram XRD dari selulosa bakteri dan chitosan
(Stefanescu, et. al., 2012).
O. Analisis Sifat Termal dengan Differential Thermal Analysis (DTA)
Differential Thermal Analysis (DTA) merupakan teknik yang cukup tua
untuk analisis terhadap transisi termal dalam polimer. DTA memiliki kemiripan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
28
dengan Differential Scanning Calorimetry (DSC) karena memberikan tipe
informasi yang sama. Termogram yang dihasilkan keduanya mempunyai kaitan
dengan kapasitas panas ΔT untuk DTA dan
ΔQ/dt untuk DSC, sehingga
termogram-termogram DSC dan DTA memiliki bentuk yang sama.
Instrumentasi alat DTA memiliki perbedaan yang signifikan dengan
DSC. Perbedaannya yaitu dalam DTA, sampel dan referensi keduanya dipanaskan
oleh sumber pemanasan yang sama dan dicatat perbedaan temperatur antar
keduanya. Ketika terjadi suatu transisi dalam sampel tersebut, misalnya, transisi
gelas atau reaksi ikat silang–temperatur sampel akan tertinggal di belakang
temperatur referensi jika transisi tersebut endotermik dan akan mendahului jika
transisi tersebut eksotermik (Stevens, 2001).
Secara
skematik
termogram
DTA
untuk
polimer
semikristalin
ditunjukkan pada Gambar 8.
Gambar 8. Termogram DTA untuk polimer semikristalin
(Stevens , 2001).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
P.
29
Analisis Sifat Termal dengan Thermal Gravimetric Analysis (TGA)
Analisis termal gravimetri merupakan metode analisis yang menunjukkan
sejumlah urutan dari lengkungan termal, kehilangan berat dari bahan dari setiap
tahap, dan suhu awal penurunan (Mc Neil, 1989). Analisis termal gravimetri
dilakukan untuk menentukan kandungan pengisi dan kestabilan termal dari suatu
bahan. Contoh termogram TGA dari selulosa bakteri ditunjukkan pada Gambar 9.
Gambar 9. Termogram dari selulosa bakteri
(Stefanescu, et. al., 2012).
Q. Landasan Teori
Biomaterial dari selulosa bakteri dapat dibuat dari bahan dasar limbah
ketela rambat melalui proses fermentasi yang dilakukan oleh bakteri Actobacter
xylinum. Selulosa bakteri ini memiliki sifat bioaktif rendah sehingga dapat
digunakan sebagai perawatan sementara untuk luka yang terbakar. Oleh karena itu
dilakukan suatu modifikasi pada selulosa bakteri dengan menambahkan bahan
lain tertentu, contohnya adalah gliserol dan chitosan. Gliserol berfungsi untuk
meningkatkan fleksibilitas dari selulosa bakteri karena nantinya selulosa bakteri
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
30
ini akan diaplikasikan pada luka di kulit sehingga jika selulosa bakteri memiliki
fleksibilitas yang rendah maka selulosa bakteri akan mudah putus saat
diaplikasikan khususnya jika diaplikasikan pada luka di daerah persendian.
Chitosan bersifat sebagai bakteriostatik serta mempercepat regenerasi sel pada
kulit yang rusak sehingga dengan penambahan chitosan diharapkan dapat
meningkatkan sifat bioaktif dari selulosa bakteri dan mempercepat proses
penyembuhan luka jika selulosa bakteri ini diaplikasikan pada luka. Namun
seiring dengan adanya penambahan gliserol dan chitosan ini akan mempengaruhi
karakteristik dari selulosa bakteri sehingga perlu dilakukan proses karakterisasi.
Karakterisasi yang dilakukan meliputi analisis sifat fisik secara makroskopis dan
organoleptis; gugus fungsi; struktur morfologi; sifat mekanik; kestabilan termal
serta kristalinitasnya.
R. Hipotesis
1.
Limbah cair ketela rambat dapat membentuk suatu biomaterial.
2.
Pemberian gliserol dan chitosan dapat mempengaruhi karakteristik (sifat
fisik, gugus fungsi, struktur morfologi, sifat mekanik, kestabilan termal dan
kristalinitas) dari biomaterial yang terbentuk.
3.
Pemberian chitosan pada biomaterial yang diaplikasikan pada luka dapat
mempercepat proses penyembuhan luka.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang bersifat eksperimental
murni sederhana dengan rancangan acak lengkap pola searah.
B. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu:
1.
Variabel utama
Variabel utama dalam penelitian ini meliputi:
a. Variabel bebas: Pengaruh lama pemberian biomaterial pada kulit yang
terluka.
b. Variabel tergantung: Kemampuan biomaterial dalam mempercepat
penyembuhan kulit yang terluka.
2.
Variabel pengacau
Variabel pengacau dalam penelitian ini meliputi:
a. Variabel pengacau terkendali: jenis umbi, waktu panen, cara panen, jenis
kelamin subjek hewan uji, galur subjek hewan uji, umur subjek hewan
uji, berat subjek hewan uji, pemberian pakan dan minum dari hewan uji,
kondisi tempat untuk memelihara hewan uji, luka yang dibuat pada
punggung hewan uji
31
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
32
b. Variabel pengacau tidak terkendali: suhu, cuaca, intensitas cahaya
matahari, kelembaban udara, kondisi bakteri, kondisi patologis dan
fisiologis tikus.
C. Definisi Operasional
1.
Biomaterial adalah sediaan yang berupa selulosa bakteri yang merupakan
hasil fermentasi bakteri Acetobacter xylinum.
2.
Selulosa bakteri adalah sejenis polisakarida mikrobial hasil fermentasi yang
tersusun oleh serat selulosa yang dihasilkan oleh strain xylinum, subspesies
dari Acetobacter aceti, bakteri non-patogen.
3.
Ketela rambat adalah ketela yang tumbuh merambat di atas tanah. Pada
penelitian ini ketela rambat yang digunakan adalah ketela rambat dengan
daging umbi yang berwarna putih.
4.
Limbah ketela rambat adalah limbah cair yang dihasilkan dari proses
pemisahan sari pati dari ketela rambat pada saat pembuatan tepung pati ketela
rambat.
5.
Chitosan adalah senyawa hasil deasetilasi chitin, terdiri dari unit N-asetil
glukosamin dan N-glukosamin.
6.
Luka adalah bagian kulit yang jaringannya sobek dan terbuka karena adanya
pengaruh perlakuan dari luar. Proses ini dilakukan dengan pengambilan
komplit dari kulit termasuk epidermis, dermis, lemak subkutan, dan lapisan
otot polos panniculus carnosus dengan cara menyobek area kulit (diameter
sekitar 5 mm) pada punggung hewan uji.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
33
7.
Film adalah lembaran tipis dari biomaterial yang telah dikeringkan.
8.
Analisis mekanik adalah analisis untuk melihat kualitas suatu film yang
meliputi kuat tarik dan persen perpanjangan.
9.
Kuat tarik (tensile strength) adalah gaya tarik maksimum yang dapat ditahan
oleh film selama pengukuran berlangsung sampai film terputus.
10. Nilai elongasi atau persen perpanjangan (persen elongation) merupakan
perubahan panjang maksimal film sebelum putus.
11. Analisis struktur morfologi merupakan analisis untuk melihat bentuk
morfologi/kenampakan dari suatu biomaterial baik kenampakan bentuk
permukaan maupun kenampakan bentuk melintang.
12. Kristalinitas adalah nilai yang menyatakan perbandingan daerah kristal suatu
polimer dengan nilai kristal+amorf yang dapat menunjukkan keteraturan
struktur suatu material.
13. Parameter
penyembuhan
luka
yang
diamati
adalah
pengamatan
makroskopis/patologi anatomi luka dan persentase penurunan luas luka.
14. Patologi anatomi penyembuhan luka yang diamati meliputi ada tidaknya
keropeng, tingkat kekeringan luka dan warna luka.
15. Persentase penurunan luas luka yang diamati merupakan hasil perhitungan
dari diameter luka yang diukur pada luka tikus satu hari setelah luka dibuat.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
34
D. Alat dan Bahan
1.
Alat
Spektrofotometer IR (IR Shimadzu Prestige-21), seperangkat instrumen SEM
(Jeol JSM T300), fine coat ion sputter (Jeol JFC 1100), alat uji tensile strength
(Universal Testing Machine Zwick Z 0.5,) alat pencetak dumbble (Dumb Bell Ltd
Japan Saitama Cutter SOL-100), mikrometer (Mitotuyo MT-485 dial Thickness
Gage 2046F), TGA-DTA Analyzer (Perkin-Elmer Diamond), alat XRD (Rigaku
Multiflex 2 kW), pendingin (Rigaku), timbangan digital (Mettler-Toledo B.V.PC
2000), oven drying (Memmert BE 500), autoklaf (ALP Co.,Ltd. Model KT-40),
magnetic stirrer-hot plate (Heidolph MR 2002), seperangkat alat gelas (Pyrex dan
Duran), Nampan (Lion Star dengan dimensi 230x176x39 mm), spatula, magnetic
stirrer, timbangan, pisau, talenan, gunting (Han Kwang Korea), blender
(Moulinex), baskom, cawan petri (Pyrex), kain mori, kain warna hitam, plastik,
toples, spuit injeksi i.p. ukuran 1 mL (Terumo), seperangkat alat bedah, jangka
sorong (Mitutuyo), Alat cukur dan metabolic cage.
2.
Bahan
Ketela rambat yang bagian daging umbinya berwarna putih, gula pasir, urea
kualitas teknis, alkohol 70 % kualitas teknis, asam asetat glasial kualitas teknis,
gliserol kualitas teknis, chitosan kualitas teknis, kultur bakteri Acetobacter
®
xylinum, NaOH kualitas p.a. buatan E.Merck , HCl kualitas p.a. buatan
®
®
E.Merck , aquadest, pH stik buatan E.Merck , kertas coklat pembungkus, isolasi
bening, kapas, hepafix, koran, tikus jantan galur Wistar, ketamine, xylazine, pakan
®
tikus, silika gel, dan silet buatan Gillette
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
35
E. Tata Cara Penelitian
1.
Determinasi Tanaman
Determinasi tanaman ketela rambat dilakukan dengan bantuan seorang
determinator,
cara
determinasi
yang
digunakan
adalah
dengan
membandingkan ciri-ciri umbi ketela rambat dan tanaman ketela rambatnya
yang ditumbuhkan sendiri dengan ciri-ciri tanaman dan umbi dari ketela
rambat yang ada dalam web botani resmi (www.plantamor.com) serta
mencocokkan dengan buku deskripsi tanaman ketela rambat yang ditulis oleh
Huamán (1991), yang terdapat di Laboratorium Botani Farmasi Fakultas
Farmasi Universitas Sanata Dharma.
2.
Pemilihan Bahan
Umbi ketela rambat yang dipilih ini adalah umbi ketela rambat yang
bagian dalamnya berwarna putih agak kekuningan serta kulitnya berwarna
kekuningan dan dipanen pada waktu ketela rambat berumur tiga bulan. Waktu
pengambilan umbi ini dilakukan di bulan Juni dan November tahun 2012.
3. Preparasi Limbah Cair Ketela Rambat
Preparasi limbah cair ketela rambat dilakukan sesuai prosedur
pembuatan tepung pati dari ketela rambat seperti yang dikutip dari Surat
Kabar Harian Republika pada tanggal 21 Juli 2011. Pada berita tersebut,
disebutkan bahwa “Untuk membuat tepung pati ubi jalar menurut Ratih
Suratih dari Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa. Caranya:
Ubi dikupas dan kemudian dicuci hingga bersih. Ubi jalar diparut
halus,
hingga
membentuk
seperti
bubur.
Tambahkan
air
dengan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
36
perbandingan ubi jalar:air adalah 1:1. Setelah itu, bubur disaring dengan
menggunakan kain. Bubur ubi jalar diperas hingga sari patinya keluar, dan
hanya tertinggal serat sertanya di dalam kain. Biarkan saripati itu
mengendap. Kira-kira tunggu sampai 12 jam. Cairan di atas endapan
dibuang, kemudian endapan yang berupa pasta dijemur, bisa menggunakan
tampah saat menjemurnya. Hasilnya? Tepung pati ubi jalar yang bertekstur
agak kasar. Apabila kita ingin lebih halus, dapat dihaluskan menggunakan
mesin selep, ataupun blender.”
Pada penelitian ini, langkah-langkah yang dilakukan yaitu umbi
dikupas, kemudian dicuci sampai bersih. Umbi lalu ditimbang. Umbi
dipotong-potong menjadi kecil dan ditambah sedikit air lalu diblender
menjadi bubur umbi. Setelah itu, bubur ditambah air (1 bagian bubur
ditambah dengan 1 bagian air), diaduk-aduk agar pati lebih banyak yang
terlepas dari sel umbi. Bubur umbi dimasukkan ke dalam kain mori lalu
diperas dan disaring dengan kain mori sehingga pati lolos dari saringan
sebagai suspensi pati, dan serat tertinggal pada kain saring. Suspensi pati ini
ditampung pada wadah pengendapan lalu bagian cairan hasil penyaringan
pertamanya langsung dipindahkan ke dalam botol plastik sambil dibiarkan
selama 3 jam agar beberapa pati yang belum mengendap ini mengendap di
dalam botol plastik. Pati akan mengendap. Cairan di atas endapan ini diambil
untuk proses pembuatan biomaterial.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4.
37
Orientasi Pembuatan Membran Chitosan
Sejumlah 2 gram chitosan dilarutkan dalam 100 mL asam asetat
dengan konsentrasi 2% di atas hot plate sambil diaduk dengan magnetic
stirrer. Larutan kemudian dimasukkan ke dalam 4 cawan petri bersih lalu
petri ditutup dan dikeringkan dengan diangin-anginkan di udara terbuka.
5.
Pembuatan Membran Chitosan sebagai Kontrol Positif
Sejumlah 2 gram chitosan dilarutkan dalam 100 mL asam asetat
dengan konsentrasi 2% di atas hot plate sambil diaduk dengan magnetic
stirrer. Larutan chitosan lalu dituang ke atas nampan yang telah dicuci
alkohol 70% dan dikeringkan lalu diletakkan selama beberapa hari di udara
terbuka untuk menjamin penguapan solven secara sempurna. Setelah
beberapa hari maka akan terbentuk produk membran yang transparan dan
fleksibel. Membran chitosan yang terbentuk lalu disimpan di dalam toples
yang sebelumnya telah diberi silika gel.
6.
Orientasi Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
dengan Metode Perebusan dan Memakai Cawan Petri sebagai Tempat
Fermentasi
Sebanyak 2 gram chitosan dilarutkan dalam 100 mL air limbah ketela
rambat hasil penyaringan yang dituangkan ke dalam Erlenmeyer yang telah
dilengkapi dengan magnetic stirrer. Selama pelarutan chitosan ini, pH cairan
dicek dengan pH stik agar memiliki pH 3-4, jika pH larutan campuran belum
sesuai dengan yang diharapkan maka larutan campuran diasamkan dengan
penambahan asam asetat glasial hingga pH larutan campuran berkisar 3-4.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
38
Setelah chitosan larut lalu ditambahkan 10 gram gula pasir dan 0,5 gram urea,
selanjutnya diaduk hingga larut.
Selanjutnya campuran didinginkan sebentar dan ditambahkan gliserol
sebanyak 0,5 gram lalu dituangkan dalam keadaan hangat ke dalam cawan
petri yang telah disterilkan dengan alkohol 70% dan masing-masing cawan
petri diisi sebanyak 25 mL larutan campuran lalu cawan petri ditutup sambil
didinginkan hingga sesuai suhu kamar. Setelah dingin, cawan petri dibuka
dan tiap cawan petri yang berisi larutan campuran ditambahkan 5 mL
Acetobacter xylinum secara aseptis dan proses ini dikerjakan di dalam
Laminar Air Flow, setelah bakteri dituang ke dalam cawan petri, cawan petri
ditutup dan difermentasi selama 7-14 hari pada suhu kamar. Setelah 7-14
hari, penutup cawan dibuka dan dilihat apakah terbentuk lapisan pelikel.
7.
Orientasi Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
dengan Metode Perebusan dan Memakai Nampan sebagai Tempat
Fermentasi
Sebanyak 2 gram chitosan dilarutkan dalam 100 mL air limbah ketela
rambat hasil penyaringan yang dituangkan ke dalam Erlenmeyer yang telah
dilengkapi dengan magnetic stirrer. Selama pelarutan chitosan ini, pH cairan
dicek dengan pH stik agar memiliki pH 3-4, jika pH larutan campuran belum
sesuai dengan yang diharapkan maka larutan campuran diasamkan dengan
penambahan asam asetat glasial hingga pH larutan campuran berkisar 3-4.
Setelah chitosan larut lalu ditambahkan 10 gram gula pasir dan 0,5 gram urea,
selanjutnya diaduk hingga larut.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
39
Selanjutnya campuran didinginkan sebentar dan ditambahkan gliserol
sebanyak 0,5 gram lalu dituangkan dalam keadaan hangat ke dalam nampan
yang telah disterilkan dengan alkohol 70% sambil didinginkan hingga sesuai
suhu kamar. Setelah dingin, larutan campuran ditambahkan 20 mL
Acetobacter xylinum secara aseptis lalu nampan ditutup dengan rapat
menggunakan koran dan difermentasi selama 7-14 hari pada suhu kamar.
Setelah 7-14 hari, penutup nampan dibuka dan dilihat apakah terbentuk
lapisan pelikel.
8.
Orientasi Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
dengan Metode Pelapisan
Sebanyak 200 mL air limbah ketela rambat hasil penyaringan
dituangkan ke dalam Erlenmeyer yang telah dilengkapi dengan magnetic
stirrer, ditambahkan 20,0 gram gula pasir dan 1,0 gram urea, selanjutnya
diaduk hingga larut. Bila pH larutan campuran masih berkisar antara 5-6,
campuran diasamkan dengan penambahan asam asetat glasial hingga pH
berkisar antara 3-4. Selanjutnya campuran didinginkan sebentar dan
ditambahkan gliserol sebanyak 1,0 gram lalu dituangkan dalam keadaan
hangat ke dalam nampan yang telah disterilkan dengan alkohol 70% dan telah
ditutup sebagian dengan koran sambil didinginkan hingga tercapai suhu
kamar. Setelah dingin campuran ditambahkan 40 mL Acetobacter xylinum
dan nampan ditutup dengan rapat menggunakan koran dan difermentasi
selama 7-14 hari pada suhu kamar.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
40
Setelah 7-14 hari, penutup koran dibuka dan lapisan pelikel yang
terbentuk diambil lalu dicuci beberapa kali dengan air PAM, lalu dengan
aquadest, lalu dengan air panas, lalu lapisan pelikel ini ditimbang dengan
timbangan digital. Lapisan pelikel lalu direndam dengan larutan NaOH 3%
selama 48 jam dimana tiap 24 jam sekali larutan NaOH 3% ini diganti lalu
setelah 48 jam, lapisan pelikel ini dicuci kembali dengan aquadest setelah
dicuci dengan aquadest lalu lapisan pelikel ini direndam dengan larutan HCl
3% selama kurang lebih 15 menit. Setelah 15 menit, lapisan pelikel ini lalu
dicuci kembali dengan aquadest dan dicek pH-nya dengan pH stik, jika pH
pada pH stik sudah menunjukkan pH mendekati range pH netral, pencucian
dengan aquadest ini dihentikan kemudian air di lapisan pelikel ini dibuang
lalu lapisan pelikel ini ditimbang. Setelah ditimbang, lalu larutan chitosan 2%
yang telah dibuat dituangkan ke atas lapisan pelikel dan dikeringkan di dalam
oven dengan suhu antara 37- 400 C selama kurang lebih 2 minggu.
9.
Pembuatan Material Selulosa Bakteri (S) sebagai Kontrol Karakterisasi
Biomaterial
Sebanyak 200 mL air limbah ketela rambat hasil penyaringan
dituangkan ke dalam Erlenmeyer yang telah dilengkapi dengan magnetic
stirrer, ditambahkan 20,0 gram gula pasir dan 1,0 gram urea, selanjutnya
diaduk hingga larut. Bila pH larutan campuran masih berkisar antara 5-6,
campuran diasamkan dengan penambahan asam asetat glasial hingga pH
berkisar antara 3-4. Selanjutnya campuran didinginkan sebentar lalu
dituangkan dalam keadaan hangat ke dalam nampan yang telah disterilkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
41
dengan alkohol 70% dan telah ditutup sebagian dengan koran sambil
didinginkan hingga tercapai suhu kamar. Setelah dingin, tambahkan 40 mL
Acetobacter xylinum dan nampan ditutup dengan rapat menggunakan koran
dan difermentasi selama 7 hari pada suhu kamar.
Setelah 7 hari, penutup koran dibuka dan lapisan pelikel yang
terbentuk diambil lalu dicuci berturut-turut dengan air PAM, dengan
aquadest, dengan air panas kemudian lapisan pelikel ini ditimbang dengan
timbangan digital. Lapisan pelikel lalu direndam dengan larutan NaOH 3%
selama 48 jam dimana tiap 24 jam sekali larutan NaOH 3% ini diganti lalu
setelah 48 jam, lapisan pelikel ini dicuci kembali dengan aquadest setelah
dicuci dengan aquadest lalu lapisan pelikel ini direndam dengan larutan HCl
3% selama kurang lebih 15 menit. Setelah 15 menit, lapisan pelikel ini lalu
dicuci kembali dengan aquadest dan dicek pH-nya dengan pH stik, jika pH
pada pH stik sudah menunjukkan pH mendekati range pH netral, pencucian
dengan aquadest ini dihentikan kemudian air di lapisan pelikel ini dibuang
lalu lapisan pelikel ini ditimbang. Setelah ditimbang, lapisan pelikel ini lalu
dikeringkan dalam oven pada suhu 400 C selama kurang lebih 2 minggu.
Setelah 2 minggu atau setelah air pada nampan ini kering, lapisan
pelikel ini dikeluarkan dari oven dan dijemur dibawah cahaya matahari
selama kurang lebih 1 minggu dengan sebelumnya nampan yang berisi
pelikel ini ditutup dengan kain hitam. Setelah 1 minggu atau setelah lapisan
pelikel ini membentuk lembaran tipis, lapisan pelikel ini ditimbang lalu
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
42
disimpan di dalam plastik dan diletakkan di dalam toples yang sebelumnya
telah diberi silika gel.
10. Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol (SG)
Sebanyak 200 mL air limbah ketela rambat hasil penyaringan
dituangkan ke dalam Erlenmeyer yang telah dilengkapi dengan magnetic
stirrer, ditambahkan 20,0 gram gula pasir dan 1,0 gram urea, selanjutnya
diaduk hingga larut. Bila pH larutan campuran masih berkisar antara 5-6,
campuran diasamkan dengan penambahan asam asetat glasial hingga pH
berkisar antara 3-4. Selanjutnya campuran didinginkan sebentar dan
ditambahkan gliserol sebanyak 1,0 gram lalu dituangkan dalam keadaan
hangat ke dalam nampan yang telah disterilkan dengan alkohol 70% dan telah
ditutup sebagian dengan koran sambil didinginkan hingga tercapai suhu
kamar. Lalu campuran ditambahkan 40 mL Acetobacter xylinum dan nampan
ditutup dengan rapat menggunakan koran dan difermentasi selama 7 hari pada
suhu kamar.
Setelah 7 hari, penutup koran dibuka dan lapisan pelikel yang
terbentuk diambil lalu dicuci berturut-turut dengan air PAM, dengan
aquadest, dengan air panas kemudian lapisan pelikel ini ditimbang dengan
timbangan digital. Lapisan pelikel lalu direndam dengan larutan NaOH 3%
selama 48 jam dimana tiap 24 jam sekali larutan NaOH 3% ini diganti lalu
setelah 48 jam, lapisan pelikel ini dicuci kembali dengan aquadest setelah
dicuci dengan aquadest lalu lapisan pelikel ini direndam dengan larutan HCl
3% selama kurang lebih 15 menit. Setelah 15 menit, lapisan pelikel ini lalu
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
43
dicuci kembali dengan aquadest dan dicek pH-nya dengan pH stik, jika pH
pada pH stik sudah menunjukkan pH mendekati range pH netral, pencucian
dengan aquadest ini dihentikan kemudian air di lapisan pelikel ini dibuang
lalu lapisan pelikel ini ditimbang. Setelah ditimbang, lapisan pelikel ini lalu
dikeringkan dalam oven pada suhu 400 C selama kurang lebih 2 minggu.
Setelah 2 minggu atau setelah air pada nampan ini kering, lapisan
pelikel ini dikeluarkan dari oven dan dijemur dibawah cahaya matahari
selama kurang lebih 1 minggu dengan sebelumnya nampan yang berisi
pelikel ini ditutup dengan kain hitam. Setelah 1 minggu atau setelah lapisan
pelikel ini membentuk lembaran tipis, lapisan pelikel ini ditimbang lalu
disimpan di dalam plastik dan diletakkan di dalam toples yang sebelumnya
telah diberi silika gel.
11. Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan (SGK)
Sebanyak 200 mL air limbah ketela rambat hasil penyaringan
dituangkan ke dalam Erlenmeyer yang telah dilengkapi dengan pengaduk
magnet, ditambahkan 20,0 gram gula pasir dan 1,0 gram urea, selanjutnya
diaduk hingga larut. Campuran diasamkan dengan penambahan asam asetat
glasial hingga pH berkisar antara 3-4. Selanjutnya campuran didinginkan
sebentar dan ditambahkan gliserol sebanyak 1,0 gram lalu dituangkan dalam
keadaan hangat ke dalam nampan yang telah disterilkan dengan alkohol 70%
dan ditutup dengan koran sambil didinginkan hingga sesuai suhu kamar. Lalu
campuran ditambahkan 40 mL Acetobacter xylinum dan wadah ditutup
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
44
dengan rapat menggunakan koran dan difermentasi selama 7 hari pada suhu
kamar.
Lapisan pelikel yang terbentuk dicuci beberapa kali dengan air kran,
lalu dengan aquadest, lalu dengan air panas, lalu lapisan pelikel ini ditimbang
dengan timbangan digital. Lapisan pelikel lalu direndam dengan larutan
NaOH 3% selama 48 jam dimana tiap 24 jam sekali larutan NaOH 3% ini
diganti lalu setelah 48 jam, lapisan pelikel ini dicuci kembali dengan
aquadest setelah dicuci dengan aquadest lalu lapisan pelikel ini direndam
dengan larutan HCl 3% selama kurang lebih 15 menit. Setelah 15 menit,
lapisan pelikel ini lalu dicuci kembali dengan aquadest dan dicek pH-nya
dengan pH stik, jika pH pada pH stik sudah menunjukkan pH mendekati
range pH netral, pencucian dengan aquadest ini dihentikan kemudian air di
lapisan pelikel ini dibuang dan lapisan pelikel ditimbang.
Setelah ditimbang lalu larutan chitosan 2% yang telah dibuat
dituangkan ke atas lapisan pelikel. Lapisan pelikel+larutan chitosan ini lalu
dikeringkan dalam oven pada suhu 400 C selama kurang lebih 2 minggu.
Setelah 2 minggu atau setelah air pada nampan ini kering, lapisan pelikel ini
dikeluarkan dari oven dan dijemur dibawah cahaya matahari selama kurang
lebih 1 minggu dengan sebelumnya nampan yang berisi pelikel ini ditutup
dengan kain hitam. Setelah 1 minggu atau setelah lapisan pelikel ini
membentuk lembaran tipis, lapisan pelikel ini ditimbang lalu disimpan di
dalam plastik dan diletakkan di dalam toples.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
45
12. Analisis Karakteristik Biomaterial
a.
Analisis sifat fisik secara makroskopis dan organoleptis. Analisis ini
meliputi pengamatan dari warna, tekstur, bentuk dan transparansi dari
masing-masing sampel.
b.
Analisis gugus fungsi menggunakan instrumen FT-IR. Analisis ini
menggunakan seperangkat alat FTIR dan dilakukan di Laboratorium
Kimia Organik Fakultas MIPA UGM. Langkah-langkahnya adalah
lapisan tipis atau pelikel yang diperoleh dari hasil fermentasi dijepit pada
tempat sampel kemudian diletakkan pada alat ke arah sinar inframerah.
Hasilnya akan direkam ke dalam kertas berskala berupa alur kurva
bilangan gelombang terhadap intensitas.
c.
Analisis morfologi menggunakan instrumen SEM. Foto permukaan
diukur ini menggunakan instrumen SEM. Uji ini dilakukan di
Laboratorium SEM di Pusat Balai Konservasi Candi Borobudur.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut material sampel dipotong
sedemikian rupa, lalu sampel diberi dobel tape karbon kemudian sampel
ditempatkan di atas tempat sampel yang terbuat dari tembaga. Sampel
disepuh dengan dengan emas (coating) dengan alat ion coater selama
kurang lebih 5 menit yang sebelumnya dilakukan proses pemvakuman.
Selanjutnya sampel dimasukkan ke unit electron gun melalui bilik
pergantian sampel. Kemudian sampel diset dengan bantuan microstage
sampai mendapatkan fokus yang tepat. Tombol utama pada posisi ON
dan diset detector Accelerate voltage set, 20 kilo volt.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
d.
46
Analisis sifat mekanik. Analisis ini dilakukan di Laboratorium
Bioteknologi 1, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. Sampel material yang telah dikeringkan dipotong dengan
ukuran 11 cm x 2 cm. Hasil potongan/spesimen dimasukkan ke dalam
pemotong dumbble dan dilakukan pencetakan bentuk. Kemudian
dilakukan pemotongan sesuai pola yang terbentuk pada sampel. Lalu
sampel diukur ketebalannya dengan mikrometer Mitutoyo lalu kedua sisi
hasil pemotongan ini lalu dikaitkan pada Universal Testing Machine.
Aktifkan program Test Zwick. Power dan panel pada posisi ON. Isikan
data sampel sesuai ukuran standar. Spesifikasi alat yang digunakan yaitu
memakai pisau dengan standar ASTM. Lalu alat dinyalakan dan diset
dengan test speed = 10 mm/min lalu spesimen diamati sampai putus,
pengujian dihentikan ketika spesimen sudah putus. Data yang diperoleh
berupa persen perpanjangan (percent elongation), kuat tarik (tensile
strength) dan F max.
e.
Uji sifat termal dengan alat Differential Thermal Analysis (DTA). Uji
dengan Differential Thermal Analysis ini dilakukan di Balai Akademi
Teknologi Kulit Yogyakarta. Sebanyak ± 15 mg sampel yang telah
dikeringkan dimasukkan ke dalam krus tempat sampel yang sebelumnya
telah diisi sedikit oleh alumina standar yang diproduksi oleh PerkinElmer untuk analisis DTA-TGA dan dimasukkan pada tempat untuk
meletakkan sampel dalam alat DTA-TGA analyzer. Lalu diisikan pula
alumina standar yang telah dimasukkan ke dalam krus dan diletakkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
47
pada bagian reference dalam alat DTA-TGA analyzer lalu pada
instrumen ini dikalibrasi beratnya dengan menggunakan reference agar
diperoleh berat sampel yang diinginkan. Lalu kondisi alat ukur
dioperasikan pada suhu 30-4000 C dengan kecepatan pemanasan 100 C
per menit dan alat dinyalakan. Pada komputer, diatur ke program untuk
membaca DTA lalu termogram DTA yang dihasilkan lalu dicetak dalam
kertas.
f.
Uji sifat termal dengan alat Thermal Gravimetric Analysis (TGA). Uji
dengan Thermal Gravimetric Analysis ini dilakukan di Balai Akademi
Teknologi Kulit Yogyakarta. Sebanyak ± 15 mg sampel yang telah
dikeringkan dimasukkan ke dalam krus tempat sampel yang sebelumnya
telah diisi sedikit oleh alumina standar yang diproduksi oleh PerkinElmer untuk analisis DTA-TGA dan dimasukkan pada tempat untuk
meletakkan sampel dalam alat DTA-TGA analyzer. Lalu diisikan pula
alumina standar yang telah dimasukkan ke dalam krus dan diletakkan
pada bagian reference dalam alat DTA-TGA analyzer lalu pada
instrumen ini dikalibrasi beratnya dengan menggunakan reference agar
diperoleh berat sampel yang diinginkan. Lalu kondisi alat ukur
dioperasikan pada suhu 300-4000 C dengan kecepatan pemanasan 100 C
per menit dan alat dinyalakan. Pada komputer, diatur ke program untuk
membaca TGA lalu termogram TGA yang dihasilkan lalu dicetak dalam
kertas.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
g.
48
Uji kristalinitas dengan alat X-Ray Diffraction (XRD). Uji XRD ini
dilakukan dengan memakai instrumen X-Ray Diffraction yang dilakukan
di Laboratorium XRD, Jurusan Teknik Geologi UGM. Langkahlangkahnya adalah lembaran film dipotong dengan ukuran 2x2 cm.
Sampel tersebut kemudian dipasang di sample holder dan sampel
diusahakan rata di atas sample holder. Selanjutnya pendingin alat XRD
dihidupkan dan instrumen XRD dihidupkan lalu diatur kondisi alat
dengan sudut putar 2θ = 2° sampai 80°, scan step = 0,04 dan scan speed
= 4 °/menit serta tegangan dan arus pada instrumen disesuaikan dengan
standard measurenment dari instrumen dan dirotasikan agar benar-benar
terorientasi secara acak. Hasil uji ini berupa difraktrogram hubungan
antara intensitas dan sudut 2θ.
13. Sterilisasi Produk
Produk biomaterial yang sudah dikeringkan serta membran chitosan
yang telah dibuat lalu dipotong menjadi beberapa bagian dengan ukuran 1x1
cm lalu dimasukkan ke dalam cawan petri dan selanjutnya dimasukkan ke
dalam autoklaf dan disterilisasi dengan suhu 1210 C selama 15 menit. Setelah
disterilisasi, produk biomaterial ini siap digunakan.
14. Orientasi Penyembuhan Luka Secara Normal
Hewan uji dicukur bulunya terlebih dahulu hingga bersih dengan alat
cukur steril kemudian hewan uji ditimbang. Setelah ditimbang, hewan uji lalu
diberi ketamine dan xylazine secara intra peritonial. Dosis ketamine dan
xylazine yang digunakan adalah dosis yang dapat menimbulkan efek anastesi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
49
pada hewan uji. Setelah hewan uji teranastesi maka dibuat luka eksisi
menggunakan seperangkat gunting bedah steril pada lapisan kulit hewan uji
yang digunakan hingga ini membentuk luka eksisi dengan kedalaman tertentu
dengan diameter kurang lebih satu cm. Luka yang terbentuk lalu diamati
perhari selama empat belas hari untuk menentukan lamanya aplikasi dari
perlakuan pemberian biomaterial pada hewan uji.
15. Pengelompokkan Hewan Uji
Dipilih 24 hewan uji yang diambil secara acak lalu dikelompokkan
menjadi empat kelompok hari perlakuan, yaitu kelompok perlakuan 1, 3, 5
dan 7 hari. Kemudian pada tiap–tiap hewan uji dibuat luka pada bagian
punggung untuk pengamatan kelompok selulosa bakteri+gliserol+chitosan,
kontrol
positif,
dan
kontrol
negatif.
Pada
kelompok
selulosa
bakteri+gliserol+chitosan, luka hewan uji ini ditutup dengan sediaan
biomaterial yang telah dibuat dan ditutup lagi dengan hepafix pada bagian
atas dari sediaan biomaterial ini agar tidak mudah lepas dan penutup pada
luka ini dibuka pada hari yang telah ditentukan sebelumnya. Pada kontrol
negatif, luka hewan uji ini hanya ditutup dengan hepafix dan penutup pada
luka ini dibuka pada hari yang telah ditentukan sebelumnya. Pada kontrol
positif, luka pada hewan uji ini ditutup dengan membran chitosan dan ditutup
lagi dengan hepafix pada bagian atas dari sediaan biomaterial ini agar tidak
mudah lepas.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
50
16. Pembuatan Luka pada Hewan Uji
Hewan uji dicukur bulunya terlebih dahulu hingga bersih dengan alat
cukur steril kemudian hewan uji ditimbang. Setelah ditimbang, hewan uji lalu
diberi ketamine dan xylazine secara intra peritonial. Dosis ketamine dan
xylazine yang digunakan adalah dosis yang dapat menimbulkan efek anastesi
pada hewan uji. Setelah hewan uji teranastesi kulit hewan uji dibersihkan
dengan etanol 70% lalu dibuat luka eksisi menggunakan seperangkat gunting
bedah steril pada lapisan kulit hewan uji yang digunakan hingga ini
membentuk luka eksisi dengan kedalaman tertentu dengan diameter kurang
lebih satu cm lalu diameter lukanya diukur dengan jangka sorong.
17. Pengamatan Penyembuhan Luka dan Pengukuran Diameter Luka
Setelah biomaterial ini diaplikasikan pada luka di kulit hewan uji
sampai pada hari yang ditentukan, maka perlakuan ini dihentikan. Penutup
pada luka hewan uji ini dibuka secara perlahan lalu luka pada punggung
hewan uji ini diamati secara visual dan difoto dengan kamera kemudian
diameter lukanya diukur dengan jangka sorong.
F. Analisis Data
1.
Analisis karakteristik dari biomaterial yang terbentuk ini meliputi analisis
sifat fisik secara makroskopik dan organoleptis, gugus fungsi, sifat mekanik,
uji DTA dan TGA untuk selulosa bakteri, selulosa bakteri+gliserol dan
selulosa bakteri+gliserol+chitosan; uji struktur morfologi dan uji kristalinitas
untuk selulosa bakteri dan selulosa bakteri+gliserol+chitosan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2.
51
Sifat mekanik dari selulosa, selulosa bakteri+gliserol dan selulosa
bakteri+gliserol+chitosan dianalisis secara statistik menggunakan Uji
Normalitas, Uji Kesamaan Varians (Levene’s Test) dan Uji ANOVA Satu
Arah.
3.
Analisis hasil untuk penyembuhan luka dilakukan dengan pengamatan luka
secara visual berupa pengamatan patologi anatomi yang meliputi ada tidaknya
keropeng, kekeringan luka dan warna luka yang kemudian dideskripsikan
beserta mengukur diameter dari luka tersebut dengan jangka sorong untuk
melihat pengaruh dari pemberian biomaterial pada luka.
4.
Hasil pengukuran diameter luka dikonversikan menjadi luas lalu dihitung
penurunan luas lukanya. Penurunan luas luka lalu dianalisis secara statistik
menggunakan Uji Normalitas, Uji Kesamaan Varians (Levene’s Test) dan Uji
ANOVA Satu Arah.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian yang berjudul “Pengaruh Pemberian Sediaan Biomaterial
Selulosa Bakteri Acetobacter xylinum dari Limbah Ketela Rambat (Ipomoea
batatas Poir) dengan Penambahan Chitosan sebagai Material Penutup Luka pada
Tikus Galur Wistar Jantan” bertujuan untuk mengetahui karakteristik biomaterial
selulosa bakteri dari limbah cair ketela rambat (Ipomoea batatas Poir) dengan
penambahan chitosan sebagai material penutup luka dan mengetahui pengaruh
pemberian biomaterial selulosa bakteri dari limbah cair ketela rambat dengan
penambahan chitosan dan gliserol sebagai material penutup luka pada tikus jantan
galur Wistar dilihat secara makroskopis. Penelitian ini merupakan bagian dari
suatu rangkaian penelitian besar yang bertujuan untuk melihat kemampuan suatu
biomaterial selulosa bakteri yang dihasilkan dari limbah cair ketela rambat dengan
penambahan chitosan dan gliserol dapat memiliki aktivitas sebagai antibakteri dan
mempercepat penyembuhan luka.
A. Hasil Determinasi Tanaman
Determinasi
tanaman
merupakan
langkah
awal
apabila
akan
menggunakan bagian dari tanaman sebagai sampel penelitian. Determinasi
bertujuan untuk mengetahui dan memastikan kebenaran identitas tanaman yang
akan digunakan dalam penelitian. Kebenaran dari identitas tanaman ini sangat
penting karena untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam pengambilan
52
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
53
sampel. Pada penelitian ini, determinasi dilakukan dengan bantuan seorang
determinator.
Berdasarkan hasil pengamatan, umbi ketela rambat yang digunakan
berasal dari tanaman ketela rambat. Hal ini dibuktikan dengan membandingkan
hasil foto beberapa bagian tanaman dari ketela rambat yang diperoleh dan
ditumbuhkan sendiri dengan foto dari beberapa bagian tanaman yang terdapat di
dalam literatur. Literatur yang digunakan ada dua buah yaitu: dari web
www.plantamor.com serta buku pustaka yang ditulis oleh Huamán (1991). Bagian
dari tanaman yang dibandingkan adalah pada bagian umbi, petiole serta daunnya.
Gambar 10 menunjukkan hasil pembandingan ketela rambat dengan literatur.
Gambar 10. Hasil pembandingan bagian ketela rambat dengan literatur
Berdasarkan hasil pembandingan dengan literatur seperti yang terlihat
pada Gambar 10, serta bantuan determinator maka dibuktikan bahwa sampel
tanaman yang digunakan memang umbi ketela rambat (Ipomoea batatas Poir).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
54
B. Hasil Pemilihan Bahan
Berdasarkan hasil pemilihan bahan penelitian, ketela rambat yang
digunakan adalah ketela rambat yang bagian dalamnya atau bagian daging
umbinya berwarna putih dan sedikit terdapat bercak kekuningan dan kulit
umbinya berwarna kekuningan. Menurut sumber yang diwawancara oleh
wartawan Surat Kabar Harian Republika pada tanggal 21 Juli 2011 pada bagian
rubrik kuliner menyatakan bahwa “Untuk membuat tepung pati ubi jalar, menurut
Ratih Suratih, dari Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa, menjelaskan pada
dasarnya semua ubi jalar dapat dijadikan tepung pati. “Tapi yang paling bagus
yang putih, dibanding yang kuning atau ungu” Tepung pati ubi jalar juga
menurutnya yang paling mudah dibuat juga dari ubi jalar putih. “Karena
jumlahnya lebih banyak, lebih mudah mencarinya,” ujarnya.” Selain itu menurut
Suprapta, Antara, Arya, Sudana, Duniadji dan Sudarma (2003), kandungan pati
dan gula tereduksi dari ketela rambat yang berwarna putih ini merupakan
kandungan pati dan gula tereduksi yang tertinggi jika dibandingkan dengan ketela
rambat yang lain. Ketela rambat yang digunakan adalah ketela rambat yang telah
matang. Kriteria ketela rambat yang telah matang adalah dapat dipanen bila ubiubinya sudah tua (matang fisiologis).
C. Preparasi Limbah Ketela Rambat
Preparasi limbah ketela rambat ini mengikuti tata cara pembuatan tepung
pati ketela rambat seperti yang dikutip dari sumber yang diwawancara oleh
wartawan Surat Kabar Harian Republika pada tanggal 21 Juli 2011 pada bagian
rubrik kuliner. Preparasi limbah ketela rambat dilakukan sedikit modifikasi yaitu
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
55
pada proses pencucian dan pengupasan ketela, ketela lalu langsung dipotong
kecil-kecil lalu diblender dengan menambahkan sedikit air lalu hasil
pemblenderan dari ketela rambat disaring dengan kain mori. Saat penyaringan
campuran tersebut dilakukan penambahan air kembali lalu hasil saringan
ditampung dalam wadah pengendapan. Cairan pertama hasil penyaringan yang
diperoleh langsung diambil dan dipindahkan ke dalam botol plastik sambil
diendapkan kembali sisa pati selama kurang lebih 3 jam. Alasan digunakan cairan
pertama hasil penyaringan karena cairan pertama hasil penyaringan ini memiliki
kandungan nutrisi yang tertinggi dibandingkan cairan hasil penyaringan
berikutnya. Setelah 3 jam, maka cairan dalam botol plastik ini digunakan sebagai
bahan pembuatan biomaterial.
D. Orientasi Pembuatan Membran Chitosan
Membran chitosan digunakan sebagai kontrol positif. Kontrol positif ini
digunakan untuk melihat kemampuan dari chitosan dalam mempercepat
penyembuhan luka ketika diaplikasikan pada luka yang dibuat pada punggung
tikus. Saat pembuatan membran chitosan digunakan asam asetat dengan
konsentrasi 2% sebagai pelarut dari chitosan. Hasil orientasi menunjukkan bahwa
2 gram chitosan ini dapat terlarut sempurna dalam 100 mL asam asetat 2%. Hal
ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sugita (2009). Adanya interaksi ionik
antara gugus amina pada chitosan yang terprotonasi dengan gugus asetil pada
asam asetat ini akan membentuk garam chitosan yang larut air seperti yang
dikemukakan oleh Dunn, Grandmaison dan Goosen (1997).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
56
Saat orientasi ini, digunakan cawan petri sebagai tempat untuk membuat
membran chitosan. Larutan chitosan yang dibuat dimasukkan ke dalam 4 cawan
petri bersih dan ditutup lalu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan selama
beberapa hari. Namun setelah beberapa hari, larutan chitosan ini tidak dapat
kering dan membentuk membran dengan sempurna. Selanjutnya dicoba cara lain
yaitu dengan memasukkan larutan chitosan yang dibuat oleh peneliti ini ke dalam
cawan petri dan langsung dikeringkan dengan diangin-anginkan di udara terbuka
selama beberapa hari tanpa menutup cawan petri tersebut.
Setelah beberapa hari, ternyata larutan chitosan tersebut dapat mengering
dengan sempurna dalam cawan petri tersebut dan menghasilkan membran
chitosan dengan sempurna. Namun membran tersebut sulit diambil dari cawan
petri karena membran chitosan ini terlalu lengket dengan petri tersebut sehingga
justru merusak membran yang terbentuk. Akhirnya mencoba mengganti cawan
petri dengan tempat lain yang sesuai dan tidak menyebabkan membran chitosan
lengket dan rusak ketika membran yang sudah terbentuk ini akan dikeluarkan dari
tempatnya.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Santoso (2006),
yang menyatakan bahwa untuk melepaskan suatu membran chitosan dari suatu
pelat kaca atau bahan yang terbuat dari kaca maka bioplastik ini harus
dimasukkan dalam suatu bak koagulan yang berisi larutan NaOH 4% sampai
bioplastik terlepas dari kaca. Dalam hal ini larutan NaOH berfungsi sebagai non
pelarut yang dapat berdifusi kebawah lapisan bioplastik sehingga membran
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
57
terangkat ke atas dan mudah untuk dilepas (Santoso, 2006). Berikut ini skema
pengelupasan bioplastik akibat difusi larutan NaOH.
Gambar 11. Skema pengelupasan bioplastik
E. Pembuatan Membran Chitosan sebagai Kontrol Positif
Berdasarkan hasil orientasi yang dilakukan maka dilakukan pembuatan
membran chitosan ini dengan nampan plastik merk Lion Star. Larutan chitosan
dipindahkan ke atas nampan dan diangin-anginkan di udara terbuka selama
beberapa hari. Membran chitosan dapat terbentuk sempurna di atas nampan
plastik dan ketika dikeluarkan dengan mengelupaskan membran chitosan,
membran chitosan ini dapat dikeluarkan dengan mudah dan tidak menempel serta
lengket di wadahnya seperti saat orientasi.
Hasil membran chitosan yang terbentuk dapat dilihat pada Gambar 12
dan digambarkan sifat fisiknya seperti pada Tabel IV.
No
1
2
3
4
Tabel IV. Tabel sifat fisik membran chitosan
Sifat Fisik
Hasil Pengamatan
Warna
Agak kekuningan
Tekstur
Halus
Bentuk
Lembaran seperti kertas
Transparansi
Transparan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
58
Gambar 12. Membran chitosan
F. Orientasi Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
dengan Metode Perebusan dan Memakai Cawan Petri sebagai Tempat
Fermentasi
Berdasarkan hasil orientasi yang dilakukan, ternyata untuk proses
pembuatan selulosa bakteri dengan penambahan gliserol dan chitosan dengan
metode perebusan dan memakai cawan petri sebagai tempat fermentasi sangat
sulitdilakukan. Metode perebusan adalah metode dengan mencampurkan semua
bahan dan nutrisi yang diperlukan oleh bakteri untuk proses fermentasi ke dalam
suatu wadah yang disertai dengan sedikit pengadukan dan pemanasan.
Penggunaan metode dengan memakai cawan petri sangat sulit dilakukan
dikarenakan ada beberapa penyebab. Penyebabnya antara lain adalah masalah
kelarutan dari chitosan. Berdasarkan hasil orientasi yang dilakukan, ketika
mencampurkan air ketela rambat dengan chitosan lalu gula pasir dan urea beserta
gliserol, ternyata chitosan tidak mau larut dalam air ketela rambat ini. Chitosan
merupakan suatu polisakarida dengan bobot molekul tinggi, oleh karena itu sangat
sukar larut dalam air. Ada beberapa kemungkinan penyebab tidak mau terlarutnya
chitosan, yang pertama adalah masalah pH. pH limbah cair ketela rambat yang
terukur saat itu adalah 5. pH yang baik untuk kelarutan chitosan pada pH di
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
59
bawah 6,5. Mat dan Zakaria (1995) melaporkan bahwa chitosan tidak larut dalam
asam-asam mineral pada pH di atas 6,5. Meskipun sudah sesuai dengan teori yang
diungkapkan oleh Mat dan Zakaria namun ternyata chitosan tetap tidak terlarut
dalam limbah cair ketela rambat tersebut. Penyebab kedua dari jenis pelarut yang
digunakan, biasanya untuk melarutkan chitosan digunakan beberapa pelarut asam
organik lemah seperti asam asetat dan asam formiat. Chitosan tidak larut dalam
air, pelarut-pelarut organik, alkali atau asam-asam mineral pada pH di atas 6,5.
Chitosan larut dalam asam-asam organik seperti asam formiat, asam sitrat dan
asam asetat (Mat dan Zakaria, 1995). Sedangkan pada penelitian yang dilakukan,
pelarut yang digunakan adalah limbah cair ketela rambat yang bukan merupakan
suatu asam organik lemah.
Alasan lain metode memakai cawan petri susah dilakukan adalah dari
cawan petri yang digunakan. Ketika menggunakan cawan petri sebagai wadah
untuk proses fermentasi dari selulosa bakteri setelah ditunggu selama 7-14 hari
tidak didapatkan adanya lapisan pelikel pada petri dan pada petri tetap cair.
Berdasarkan hal tersebut diduga kultur bakteri kesulitan mendapatkan oksigen
karena oksigen sukar menembus cawan petri, adanya cahaya yang menembus
petri ataupun kontaminasi dari mikroorganisme lain yang sangat tinggi ini yang
menyebabkan bakteri tidak dapat melakukan proses fermentasi. Adanya oksigen
yang sukar menembus petri ini akan mengakibatkan bakteri kesulitan
mendapatkan
sumber
oksigen
untuk
proses
metabolismenya
sehingga
kemungkinan bakteri di dalam petri tersebut tidak akan hidup. Adanya penetrasi
cahaya juga kemungkinan akan mempengaruhi suhu dan kelembaban udara yang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
60
kurang optimal bagi bakteri dalam melakukan proses fermentasi. Menurut
Purnomo (2009), suhu optimum untuk pertumbuhan bakteri adalah sekitar 350 C
sehingga kemungkinan saat memakai petri, suhu saat fermentasi ini jauh dibawah
atau di atas suhu optimum yang diperlukan oleh bakteri untuk hidup. Adanya
kontaminasi ini sendiri juga akan menyebabkan kegagalan pada proses fermentasi
karena nutrisi yang seharusnya dibutuhkan oleh bakteri Acetobacter xylinum
untuk proses metabolisme bakteri tersebut justru direbut oleh mikroorganisme lain
sehingga bakteri Acetobacter xylinum akan mengalami kekurangan nutrisi dan
akhirnya tidak dapat hidup. Selain itu penyebab yang lain adalah kemungkinan
saat menuang bakteri ke dalam petri, cairan yang ada di dalam petri ini masih
terlalu tinggi suhunya sehingga bakteri langsung mati dan tidak dapat berkembang
dengan baik. Kemungkinan penyebab yang lain adalah karena saat menuang
starter bakteri, tidak didapatkan kultur bakteri karena kultur bakteri mengendap di
bagian bawah akibat botol yang mengandung medium tumbuh bakteri tidak
digojog terlebih dahulu sebelum bakteri dituang sehingga yang dituang ke dalam
petri ini hanyalah cairan medium tumbuh dari bakteri ini sendiri sehingga tidak
ada bakteri yang melakukan proses fermentasi pada petri tersebut. Berdasarkan
beberapa orientasi yang dilakukan serta karena kegagalan dari hasil orientasi yang
dilakukan sebelumnya, maka cawan petri yang digunakan dicoba diganti dengan
nampan sebagai wadah untuk fermentasi. Kemungkinan penyebab yang lain
adalah karena chitosan memiliki aktivitas antibakteri sehingga kemungkinan
dengan adanya penambahan chitosan ini akan menghambat pertumbuhan kultur
bakteri yang digunakan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
61
G. Orientasi Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
dengan Metode Perebusan dan Memakai Nampan sebagai Tempat
Fermentasi
Berdasarkan hasil orientasi, kendala yang dialami tetap sama yaitu dari
masalah kelarutan chitosan dan tidak terbentuknya pelikel walaupun wadah
fermentasi ini sudah diganti dengan nampan yang telah disterilkan dan saat proses
fermentasi ini sudah menggunakan kertas koran sebagai penutup nampan seperti
yang dilakukan oleh industri nata de coco pada umumnya. Alasan penggunaan
kertas koran adalah karena pada kertas koran ini merupakan jenis kertas yang
memiliki banyak pori-pori sehingga akan membantu penetrasi dari oksigen ke
dalam wadah fermentasi sehingga bakteri Acetobacter xylinum dapat tumbuh
dengan baik, selain itu dengan memakai kertas koran ini maka dapat mengurangi
penetrasi cahaya dari luar jika dibandingkan dengan memakai petri yang
transparan.
Berdasarkan analisis yang dilakukan, maka hal ini kemungkinan
dikarenakan akibat adanya pengaruh keberadaan chitosan yang menghambat
pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum akibat adanya kemampuan antibakteri
dari chitosan. Oleh karena itu dicoba diganti dengan menggunakan metode
pelapisan.
H. Orientasi Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
dengan Metode Pelapisan
Metode pelapisan adalah metode yang digunakan untuk melapisi kain
atau serat dengan bahan lain untuk meningkatkan kemampuan bioaktif dari kain
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
62
tersebut. Biasanya bahan lain yang ditambahkan ini berupa larutan yang bersifat
anti bakteri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ariany dan Maharani
(2011), chitosan ini dikombinasikan dengan silika lalu dilapiskan pada kain katun
dengan memakai metode pelapisan. Melalui hasilnya dilaporkan bahwa chitosansilika yang dilapiskan pada kain katun ini mampu memberikan sifat anti bakteri
terhadap bakteri S. aureus dan berikatan kuat dengan selulosa dari katun.
Berdasarkan penelitian tersebut, dicoba metode pelapisan untuk melapisi selulosa
bakteri ini dengan chitosan yang harapannya nanti dapat digunakan sebagai
material penutup luka.
Berdasarkan hasil orientasi, maka dapat terbentuk pelikel selulosa bakteri
yang terbentuk dengan sempurna melalui proses pelapisan lalu setelah pelikel ini
terbentuk, pelikel ini dicuci beberapa kali dengan aquadest, air panas, direndam
dalam larutan NaOH 3% selama 48 jam serta HCl 3% selama 15 menit lalu dicuci
kembali dengan aquadest. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dikemukakan
oleh Chawla et. al. . Menurut Chawla et. al. (2009) setelah pelikel selulosa bakteri
terbentuk, dilakukan proses purifikasi dengan mencuci pelikel tersebut dengan
aquadest, air panas, larutan NaOH 3% selama 48 jam serta HCl 3% selama 15
menit.
Adanya proses purifikasi bertujuan untuk mengurangi kandungan
endotoksin yang terdapat dalam pelikel serta melisiskan sel-sel bakteri karena
nantinya selulosa bakteri ini ini akan digunakan sebagai penutup luka. Setelah
proses tersebut, pelikel bakteri tersebut direndam dengan larutan chitosan 2%
yang telah dibuat lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 400 C selama kurang
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
63
lebih 2 minggu. Suhu yang digunakan untuk pengeringan ini berkisar diantara
suhu 400 C karena jika digunakan suhu yang lebih tinggi untuk proses
pengeringannya maka chitosan akan mengalami Maillard reaction. Maillard
reaction merupakan reaksi kimia yang terjadi antara asam amino dengan gula
pereduksi akibat adanya pengaruh suhu. Umemura, Mihara dan Kawai (2010)
melaporkan efek dari Maillard reaction antara glukosa dengan dalam membran
chitosan ditemukan pada membran yang dilarutkan dalam asam asetat 1% dan
dikeringkan dengan cawan petri pada suhu 500 C. Proses Mailard reaction ini
dapat terjadi jika asam amino dengan gula pereduksi yang terdapat dalam senyawa
berinteraksi secara kimia dengan bantuan suhu dan dalam kondisi yang kering.
Adanya proses Mailard reaction ini dihindari karena jika biomaterial mengalami
Mailard reaction maka biomaterial yang dihasilkan ini akan berwarna coklat
menghitam seperti gula yang dipanaskan berlebih hingga akhirnya gosong
sehingga jika nantinya biomaterial ini hendak akan diaplikasikan ke pasien maka
akan mengurangi penerimaan dari pasien karena warnanya yang coklat kehitaman.
Setelah kering dari kandungan air, biomaterial dikeringkan dengan bantuan sinar
matahari hingga membentuk lembaran tipis, setelah terbentuk lembaran tipis
kemudian biomaterial ini siap untuk digunakan baik untuk proses karakterisasi
maupun untuk proses aplikasi medis.
I. Pembuatan Material Selulosa Bakteri (S) sebagai Kontrol Karakterisasi
Biomaterial
Berdasarkan hasil orientasi, maka dilakukan proses pembuatan
biomaterial selulosa bakteri dengan langkah-langkah yang sama namun tanpa
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
64
tahap pelapisan dengan chitosan. Alasan perlu dilakukan penambahan gula pasir
dan urea karena sebagai sumber nutrisi tambahan bagi kehidupan bakteri
Acetobacter xylinum. Gula pasir digunakan sebagai sumber karbon sedangkan
urea digunakan sebagai sumber nitrogen bagi Acetobacter xylinum. Sumber
karbon penting bagi bakteri karena digunakan oleh bakteri untuk proses
metabolisme dari bakteri tersebut sedangkan nitrogen merupakan komponen
utama penyusun protein yang digunakan untuk metabolisme sel (Chawla et. al,
2009).
Menurut Pratomo dan Rohaeti (2011), penambahan bahan lain
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas biomaterial yang
terbentuk. Suatu biomaterial dapat terbentuk akibat aktivitas bakteri Acetobacter
xylinum, bakteri tersebut menggunakan unsur-unsur hara seperti N, H, O dan C
untuk menyusun lapisan-lapisan selulosa. Berdasarkan komposisi bahan yang
ditambahkan saat penelitian yang dilakukan oleh Pardosi (2008) ternyata
didapatkan biomaterial selulosa bakteri yang terbentuk dengan sempurna.
Berdasarkan penelitian tersebut maka dilakukan pemilihan komposisi pembuatan
bioamaterial selulosa bakteri dari penelitian yang dilakukan oleh Pardosi (2008).
Jalur biosintesis selulosa bakteri dapat dijelaskan melalui Gambar 13.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
65
Gambar 13. Skema biosintesis selulosa bakteri
(Czaja, et. al., 2006)
Gambar 13 menunjukkan bahwa biosintesis selulosa bakteri dari kultur
bakteri Acetobacter xylinum dipengaruhi oleh keberadaan glukosa dan fruktosa.
Adanya glukosa dan fruktosa ini akan digunakan sebagai prekusor pembentukan
selulosa sekaligus sebagai sumber karbon bagi metabolisme dari bakteri
Acetobacter xylinum. Glukosa dan fruktosa sendiri merupakan hasil hidrolisis dari
sukrosa serta dari amilosa serta amilopektin yang terdapat dalam ketela rambat.
Kandungan amilosa dan amilopektin yang terdapat dalam ketela rambat sendiri
pada umumnya adalah 1:3 (Winarno, 1992) sehingga adanya kandungan amilosa
dan amilopektin ini juga dapat sebagai prekusor untuk pembentukan selulosa
bakteri karena amilosa dan amilopektin sendiri ketika terhidrolisis akan
menghasilkan glukosa sehingga akan menyebabkan selulosa bakteri yang
terbentuk juga menjadi semakin tebal. Adanya keberadaaan dari amilosa dan
amilopektin pada ketela rambat ini belum dapat diketahui apakah akan
mempengaruhi karakteristik dari selulosa bakteri yang terbentuk.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
66
Waktu fermentasi yang digunakan untuk membentuk selulosa bakteri
adalah 7-14 hari, namun berdasarkan pengamatan yang dilakukan, pada hari
ketujuh, lapisan pelikel yang terbentuk sudah cukup tebal dan sudah tidak terlihat
adanya cairan ketela rambat pada nampan yang digunakan sebagai sumber nutrisi
saat fermentasi sehingga diputuskan bahwa waktu fermentasi optimum yang
digunakan adalah tujuh hari. Waktu fermentasi optimum selama tujuh hari ini
sendiri sesuai dengan yang dikemukakan oleh Saragih (2004) yang menyatakan
bahwa waktu optimum untuk fermentasi nata de coco adalah tujuh hari.
J. Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol (SG)
Langkah pembuatan SG ini sama dengan pembuatan selulosa bakteri
sebagai kontrol karakterisasi biomaterial. Hal yang membedakan yaitu terdapat
penambahan gliserol sebanyak 0,5 gram untuk 100 mL limbah cair ketela rambat
pada proses ini. Penambahan gliserol sebanyak 0,5 gram ini mengacu pada
penelitian yang dilakukan oleh Pardosi (2008) yang menemukan bahwa dengan
pemberian 0,5 gram gliserol ini sudah mampu memberikan peningkatan sifat
mekanik dari selulosa bakteri.
K. Pembuatan Material Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan (SGK)
Langkah pembuatan SGK ini sama dengan langkah orientasi pembuatan
material selulosa bakteri+gliserol+chitosan dengan metode pelapisan. Hasil yang
didapat menunjukkan tidak ada perbedaan dengan hasil orientasi yang dilakukan.
Chitosan yang digunakan untuk melapisi selulosa bakteri memiliki konsentrasi
2%.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
67
L. Analisis Karakteristik Biomaterial
1.
Analisis Sifat Fisik Secara Makroskopis dan Organoleptis
Analisis ini merupakan uji pendahuluan untuk melihat pengaruh pemberian
gliserol dan chitosan pada selulosa bakteri. Tujuan dari analisis ini adalah melihat
sifat fisik dari masing-masing biomaterial. Melalui sifat fisik ini juga dapat
dibedakan pula karakteristik dari masing-masing biomaterial yang dihasilkan.
Hasil analisis sifat fisik dari masing-masing biomaterial disajikan dalam Tabel V.
No
1
2
3
4
Tabel V. Hasil pengamatan sifat fisik sampel biomaterial
Sifat Fisik
Selulosa Bakteri
Selulosa Bakteri Selulosa Bakteri +
+ Gliserol
Gliserol +
Chitosan
Warna
Kuning
Kuning
Kuning
kecoklatan dan
kecoklatan dan
kecoklatan
agak putih keruh agak putih keruh
Tekstur
Kasar
Kasar
Halus
Bentuk
Lembaran seperti Lembaran seperti Lembaran seperti
kertas
kertas
kertas
Transparansi
Tidak
Tidak
Tidak
Berdasarkan hasil pengamatan sifat fisik dari masing-masing sampel
biomaterial seperti yang ditunjukkan pada Tabel V, maka dapat dilihat bahwa
adanya penambahan gliserol ini tidak begitu mempengaruhi sifat fisik dari
selulosa bakteri karena dilihat dari sisi tekstur, transparansi, warna dan bentuk
baik itu selulosa bakteri maupun selulosa bakteri yang diberi gliserol ini memiliki
karakter yang sama. Berdasarkan pengamatan terhadap sifat fisik selulosa bakteri
yang dilakukan ternyata memiliki kemiripan dengan pengamatan sifat fisik
selulosa bakteri yang dilakukan oleh Pratomo dan Rohaeti (2011).
Selain itu secara makroskopik memang dengan penambahan gliserol ini
tidak akan terlihat adanya perbedaan namun kemungkinan untuk terjadinya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
68
interaksi antar senyawa itu tetap ada. Hal ini akan diperjelas jika membandingkan
profil spektra IR masing-masing sampel.
Adanya tekstur yang kasar pada selulosa bakteri ini kemungkinan
dikarenakan akibat adanya rongga-rongga pada selulosa bakteri akibat adanya
pembentukan mikrofibril yang tidak merata yang dilakukan oleh bakteri
Acetobacter xylinum saat proses fermentasi. Adanya rongga-rongga pada selulosa
bakteri ini akan terlihat jika dilakukan analisis morfologi permukaan
menggunakan SEM.
Adapun penambahan chitosan ini mempengaruhi tekstur dari selulosa
bakteri yang semula kasar menjadi lebih halus. Adanya tekstur yang halus pada
permukaan selulosa bakteri akibat adanya penambahan chitosan ini kemungkinan
dikarenakan adanya pengisian rongga-rongga dari selulosa bakteri oleh material
chitosan. Adanya perubahan tekstur dari selulosa bakteri akibat adanya
penambahan chitosan ini juga dapat menyebabkan kemungkinan adanya interaksi
antara selulosa bakteri dengan chitosan. Interaksi antara selulosa bakteri dan
chitosan dapat terlihat dan teramati dari profil spektra IR-nya. Lalu untuk melihat
adanya pengisian dari rongga-rongga pada selulosa bakteri oleh material chitosan
ini, tidak dapat diamati melalui pengamatan secara makroskopik namun harus
dengan menggunakan suatu instrumen khusus, salah satunya adalah dengan
menggunakan SEM. Melalui analisis dengan SEM ini maka adanya perubahan
tekstur dari selulosa bakteri dari yang semula kasar menjadi lebih halus akibat
adanya penambahan chitosan dapat lebih diperjelas dan diamati dengan mudah
(Freire et. al., 2011).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
69
Adanya warna yang agak putih keruh pada selulosa bakteri dan selulosa
bakteri+gliserol ini kemungkinan dikarenakan pengaruh tumbuhnya jamur pada
permukaan sampel. Namun menurut Pratomo dan Rohaeti (2011), hal ini dapat
diatasi dengan mencuci sampel tersebut dengan larutan alkohol 70%.
2.
Analisis Gugus Fungsi dengan Instrumen FT-IR
Analisis ini bertujuan untuk melihat adanya interaksi antara gliserol dan
chitosan dengan selulosa bakteri seiring dengan penambahan kedua bahan
tersebut. Apabila ada interaksi maka akan terlihat adanya perbedaan dari spektra
masing-masing biomaterial dan melalui spektra-spektra ini dapat diinterpretasikan
gugus-gugus fungsi dari tiap-tiap biomaterial. Berikut ini disajikan spektra IR dari
serbuk chitosan, selulosa bakteri, selulosa bakteri+gliserol dan selulosa
bakteri+gliserol+chitosan.
Gambar 14. Spektra serbuk chitosan
Pemeriksaan gugus fungsi dari chitosan dilakukan karena selama penelitian
ini, hampir seluruhnya menggunakan chitosan. Selain itu spektra serbuk chitosan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
70
ini digunakan sebagai kontrol pembanding antara selulosa bakteri dengan selulosa
bakteri+gliserol+chitosan. Jika terjadi interaksi antara selulosa bakteri dengan
chitosan maka dapat dibandingkan spektranya dengan spektra dari selulosa
bakteri maupun selulosa bakteri+gliserol. Selain itu berdasarkan spektra serbuk
chitosan dapat dihitung pula nilai derajat deasetilasi (DD) dari chitosan yang
digunakan.
Berdasarkan perhitungan dengan metode baseline, chitosan yang digunakan
memiliki DD 73,78%. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Pillai,
Paul dan Sharma (2009) yang menyatakan bahwa chitosan merupakan hasil
deasetilasi chitin dengan derajat deasetilasi 60-90%. Pengaruh pemberian gliserol
dan chitosan terhadap spektra IR dari selulosa bakteri ditunjukkan melalui
Gambar 15.
Gambar 15. Hasil spektra IR biomaterial S, SG dan SGK
Keterangan: S=selulosa bakteri, SG= selulosa bakteri+gliserol, SGK= selulosa
bakteri+gliserol+chitosan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
71
Gambar 15 menunjukkan adanya perbedaan serapan dari masing-masing
sampel. Melalui perbedaan serapan dari masing-masing sampel ini dapat
diinterpretasikan gugus-gugus fungsi yang terdapat dalam masing-masing sampel.
Hasil interpretasi spektra IR dari masing-masing sampel disajikan dalam Tabel
VI.
Tabel VI. Hasil interpretasi gugus fungsi dari sampel biomaterial
No. Sampel
Bilangan
Gugus Fungsi
Gelombang (cm-1)
1
S
3441,01
-OH
2931,80
-CH Alifatik
1627,92
C=O stretching
1350,17
–CH3 bending vibrations
1072,42
β-1,4-Glikosidik
2
SG
3464,15
-OH
2931,80
-CH Alifatik
1342,46
–CH3 bending vibrations
1026,13
β-1,4-Glikosidik
3
SGK
3425,58
-OH and –NH stretching
2931,80
-CH Alifatik
1635,64
C=O stretching
1566,20
–NH bending (amide II)
1342,46
–CH3 bending vibrations
1064,71
β-1,4-Glikosidik
Gambar 15 menunjukkan dengan adanya penambahan gliserol pada selulosa
bakteri ini akan menyebabkan terjadinya pelebaran dan penajaman dari puncak
gugus -OH dari selulosa bakteri di sekitar bilangan gelombang 3400 cm-1, selain
itu pada spektra SG ini tidak ditemukan adanya puncak dengan intensitas kuat di
sekitar daerah 1600 cm-1. Hal ini menunjukkan bahwa dengan penambahan
gliserol ini akan mempengaruhi gugus fungsi dari selulosa bakteri. Selain itu
dengan penambahan gliserol ini akan menyebabkan terjadinya pergeseran puncak
gugus –OH dari selulosa bakteri yang semula berada di sekitar daerah 3441,01
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
72
cm-1 bergeser menjadi di sekitar daerah 3464,15 cm-1. Adanya pergeseran puncak
ini menandakan terjadinya penambahan gugus –OH dari gliserol terhadap gugus
–OH selulosa bakteri.
Adanya pelebaran dan penajaman pada puncak spektra IR selulosa bakteri
yang ditambah gliserol ini menunjukkan bahwa selulosa bakteri ini berinteraksi
dengan gliserol. Pelebaran puncak ini disebabkan adanya penambahan gugus –OH
dari gliserol sedangkan penajaman dari puncak menandakan adanya peningkatan
intensitas dari gugus –OH selulosa bakteri ketika ditambah dengan gliserol. Hal
ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rohaeti dan Rahayu (2012),
yang menyatakan bahwa lebarnya puncak pada spektrum yang terbaca
menunjukkan terjadinya ikatan hidrogen antara gliserol dengan selulosa. Adanya
peningkatan intensitas gugus fungsi –OH dari selulosa bakteri ketika ditambah
dengan gliserol akan berkaitan dengan sifat mekanik selulosa bakteri tersebut.
Hubungan antara intensitas dengan sifat mekanik dari sampel ini dapat diketahui
dengan menghitung nilai absorbansi gugus fungsi dari setiap sampel. Tabel VII
menyajikan nilai absorbansi dari tiap gugus fungsi untuk setiap sampel:
Tabel VII. Hasil absorbansi selulosa bakteri, selulosa bakteri+gliserol
dan selulosa bakteri+gliserol+chitosan
No.
Sampel
Gugus Fungsi
Absorbansi
1
S
-OH
0,17
C=O
0,027
2
SG
-OH
0,35
C=O
8,47 x 10-3
3
SGK
-OH
0,27
C=O amida
0,033
Keterangan: S = selulosa bakteri, SG = selulosa bakteri+gliserol, SGK = Selulosa
bakteri+gliserol+chitosan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
73
Tabel VII menunjukkan terjadinya peningkatan absorbansi dari gugus –OH
dan penurunan absorbansi gugus C=O dari selulosa bakteri ketika ditambah
dengan gliserol. Hal ini akan mendukung terjadinya peningkatan persen
perpanjangan dari selulosa bakteri ketika ditambah dengan gliserol jika
dibandingkan dengan persen perpanjangan dari selulosa bakteri serta peningkatan
stabilitas termal dari selulosa bakteri ketika ditambah dengan gliserol jika
dibandingkan dengan stabilitas termal dari selulosa bakteri.
Gambar 15 menunjukkan dengan penambahan chitosan ini akan
menyebabkan terjadinya pelebaran dan penajaman dari puncak gugus –OH dari
selulosa bakteri di sekitar bilangan gelombang 3400 cm-1. Adanya pelebaran
puncak ini menunjukkan kemungkinan terjadinya overlapping antara gugus –OH
dengan gugus –NH2. Hal ini sesuai dengan penelitian yang diungkapkan oleh
Anicuta et. al. (2010) yang menemukan adanya pergeseran pita absorbansi yang
semula di sekitar 3350,71 cm-1 bergeser menjadi 3349,75 cm-1 dan menjadi
semakin lebar yang mengindikasikan adanya kemungkinan overlapping antara
interaksi hidrogen dari gugus –OH dengan -NH2. Lalu jika dilihat dari Tabel VI,
maka terlihat adanya serapan di sekitar daerah 1635,64 cm-1 dan 1566,20 cm-1
yang menunjukkan adanya C=O stretching (Amida I) dan –NH bending (Amida
II) yang merupakan ciri khas dari gugus C=O amida I dan gugus NH amida II
yang terdapat di chitosan, yang menunjukkan gugus amida dari chitin yang belum
terdeasetilasi sempurna. Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Stefanescu et.
al. (2012) dalam penelitiannya bahwa telah ditemukan pita baru di sekitar daerah
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
74
1640 cm-1 atau 1643 cm-1 dan di sekitar daerah 1565 cm-1 yang menunjukkan
adanya C=O stretching (Amida I) dan –NH bending (Amida II).
Terjadinya penajaman puncak gugus –OH ini menunjukkan adanya interaksi
yang terjadi antara gugus –OH dari selulosa bakteri dengan chitosan yang akan
ditunjukkan dengan meningkatnya intensitas gugus –OH dari selulosa bakteri
setelah ditambah dengan chitosan. Adanya peningkatan intensitas ini ditunjukkan
dengan peningkatan dari absorbansinya.
Tabel VII menunjukkan terjadinya peningkatan absorbansi dari gugus –OH
dan peningkatan absorbansi gugus C=O dari selulosa bakteri ketika ditambah
dengan chitosan. Hal ini menunjukkan terjadinya ikatan hidrogen antara chitosan
dengan selulosa bakteri serta terjadinya penambahan gugus C=O dari chitosan
yang berasal dari chitin yang belum tedeasetilasi dengan sempurna. Adanya ikatan
hidrogen yang terbentuk ini akan mempengaruhi sifat mekanik (nilai kuat tarik)
dan stabilitas termal dari selulosa bakteri. Seiring dengan meningkatnya jumlah
ikatan hidrogen yang terbentuk maka stabilitas termal dari selulosa bakteri yang
ditambah chitosan ini akan meningkat jika dibandingkan dengan stabilitas termal
dari selulosa bakteri dan sifat mekanik dari selulosa bakteri khususnya nilai kuat
tarik dari selulosa bakteri yang ditambah chitosan ini juga akan meningkat secara
teori jika dibandingkan dengan nilai kuat tarik dari selulosa bakteri.
3.
Analisis Struktur Morfologi
Analisis ini bertujuan untuk melihat struktur morfologi dari selulosa bakteri
serta selulosa bakteri yang dilapisi chitosan. Analisis ini dilakukan dengan
menggunakan instrumen SEM. Sampel yang semula tidak bermuatan ini diberi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
75
dobel tape karbon khusus setelah itu sampel dilapisi dengan partikel emas dengan
alat ion coating sputter. Sampel harus dilapisi dengan emas agar sampel ini
memiliki muatan, adanya muatan pada sampel ini akan memantulkan elektron
yang ditembakkan dari instrumen, adanya elektron yang dipantulkan akan
ditangkap dan dideteksi oleh instrumen lalu dihasilkan dalam bentuk gambar yang
ditampilkan melalui monitor. Melalui analisis struktur morfologi ini, dapat dilihat
struktur permukaan dan melintang dari selulosa bakteri, bentuk mikrofibril dari
selulosa bakteri, diameter dari mikrofibril selulosa bakteri maupun struktur
permukaan serta melintang dari selulosa bakteri yang telah dilapisi dengan
chitosan. Melalui analisis morfologi permukaan juga dapat memperkuat
perbedaan hasil analisis sifat fisik secara makroskopis dan organoleptis dari
masing-masing sampel.
Berikut ini disajikan Gambar 16 yang merupakan foto permukaan SEM dari
selulosa bakteri maupun selulosa bakteri+gliserol+chitosan dengan perbesaran
500x.
Gambar 16.a. Foto permukaan SEM
selulosa bakteri
Gambar 16.b. Foto permukaan SEM
SGK
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
76
Gambar 16.a menunjukkan beberapa rongga serta bentuk berlekuk yang
menyerupai serat pada sampel sehingga menyebabkan bentuk permukaannya
menjadi tidak merata. Hal ini juga yang menyebabkan tekstur dari sampel menjadi
kasar. Selain itu bentuk yang tidak merata ini dapat disebabkan juga karena
kondisi dari sampel membran yang sedikit terlipat sebelum dianalisis dengan
menggunakan instrumen SEM ini. Bentuk serat dari selulosa bakteri kurang dapat
terlihat dengan jelas karena perbesaran yang digunakan kurang dapat untuk
melihatnya. Hal ini disebabkan karena keterbatasan dari instrumen SEM yang
digunakan. Selain itu jika digunakan perbesaran yang lebih besar lagi maka
gambar yang dihasilkan menjadi sedikit kabur dan tidak jelas, sehingga
diputuskan hanya menggunakan perbesaran 500x saja sedangkan untuk melihat
serat-serat mikrofobril pada selulosa bakteri, paling tidak harus digunakan
perbesaran hingga 5000x (Freire et. al., 2011).
Gambar 16.b menunjukkan bagian foto yang berwarna putih dan berbentuk
partikel kecil adalah partikel dari chitosan yang kurang terdispersi homogen saat
melarutkan chitosan dan melapiskannya pada selulosa bakteri namun melalui hal
ini dapat dibuktikan bahwa chitosan ini telah mampu melapisi selulosa bakteri.
Selain itu jika dibandingkan dengan Gambar 16.a, maka Gambar 16.b memiliki
permukaan yang tidak sekasar permukaan dari Gambar 16.a, beserta tidak adanya
bentuk berlekuk yang menyerupai serat seperti yang terdapat pada Gambar 16.a,
namun tetap masih memiliki sedikit lekukan-lekukan. Adanya sedikit lekukanlekukan
pada
foto
kemungkinan
dikarenakan
membran
selulosa
bakteri+gliserol+chitosan ini sedikit terlipat sebelum dianalisis dengan instrumen
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
77
SEM. Selain itu dari Gambar 16.b. tersebut tidak ditemukan adanya ronggarongga kosong pada sampel sehingga hal ini dapat digunakan untuk membuktikan
bahwa adanya perubahan tekstur dari selulosa yang semula kasar menjadi selulosa
bakteri+gliserol+chitosan lebih halus ini dikarenakan partikel-partikel chitosan ini
telah mengisi rongga-rongga dan melapisi selulosa bakteri. Hal ini yang akan
menguatkan adanya perbedaan hasil pengamatan tekstur dari selulosa bakteri dan
selulosa bakteri+gliserol+chitosan secara makroskopis dan organoleptis.
Gambar 17 merupakan gambar hasil analisis morfologi permukaan SEM
dari selulosa bakteri beserta chitosan yang dilakukan oleh Zhijiang et. al. (2011)
serta Eldin et. al. (2008) dengan menggunakan perbesaran 5000x.
Gambar 17.a. Foto permukaan SEM
selulosa bakteri
Gambar 17.b. Foto permukaan SEM
membran chitosan
Pada Gambar 17.a, dapat dilihat bentuk mikrofibril dari selulosa bakteri.
Selain itu terlihat adanya rongga-rongga pada mikrofibril-mikrofibril dari selulosa
bakteri tersebut yang merupakan salah satu karakteristik dari selulosa bakteri.
Pada Gambar 17.b, dapat dilihat bentuk permukaan dari membran chitosan
dimana pada gambar tersebut terlihat bahwa permukaan dari membran chitosan
ini sangat halus dan tidak kasar serta tidak nampak adanya rongga-rongga kosong
seperti pada penampang permukaan dari selulosa bakteri.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
78
Penampakan melintang dan menggunakan perbesaran 500x untuk sampel S
dan SGK menghasilkan foto hasil analisis SEM seperti pada Gambar 18.
Gambar 18.a. Foto penampang
melintang SEM selulosa bakteri
Gambar 18.b. Foto penampang
melintang SEM SGK
Gambar 18.a menunjukkan hanya terdapat satu jenis lapisan dengan
karakteristik yang sama, yaitu menyerupai mikrofibril-mikrofibril. Selain itu
terlihat juga adanya beberapa rongga-rongga yang menunjukkan bahwa
kemungkinan mikrofibril dari selulosa bakteri ini tidak merata pembentukannya.
Gambar 18.b. menunjukkan adanya tiga lapisan dari SGK yang terdapat
dalam gambar tersebut. Lapisan yang berada ditengah ini memiliki karakteristik
yang menyerupai dengan Gambar 18.a, sehingga dapat disimpulkan lapisan yang
berada di tengah tersebut merupakan lapisan selulosa bakteri lalu kedua lapisan
yang berada di paling atas dan paling bawah dari gambar ini menunjukkan lapisan
chitosan yang telah melapisi selulosa bakteri. Hal ini diperkuat dengan adanya
kemiripan satu sama lain antara lapisan yang paling atas dengan lapisan yang
paling bawah, hanya saja pada lapisan bagian bawah ini chitosan yang melapisi
selulosa bakteri ini ketebalannya lebih banyak dibandingkan dengan lapisan yang
berada di bagian atas.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4.
79
Analisis Sifat Mekanik
Analisis ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian gliserol dan
chitosan terhadap karakterisitik sifat mekanik dari selulosa bakteri. Sifat mekanik
suatu biomaterial dapat ditentukan dari nilai kekuatan tarik dan persen
perpanjangannya. Menurut Iskandar dkk. (2010), kualitas suatu biomaterial sangat
tergantung pada kekuatan tarik dan persen perpanjangannya. Berikut ini disajikan
data hasil uji mekanik dari masing-masing sampel.
No.
1
2
3
Tabel VIII. Hasil pengujian sifat mekanik biomaterial
Parameter
Tensile strength
Strain at Fmax
(MPa)
(%)
Sampel
S
16,71 ± 0,66A,B
19,75 ± 3,27C,B
A,D
SG
16,31 ± 4,46
27,36 ± 5,28C,D
SGK
5,67 ± 1,61B,D
4,70 ± 2,28B,D
Keterangan: A = S dan SG berbeda tidak bermakna, B = S dan SGK berbeda bermakna,
C = S dan SG berbeda bermakna dan D = SG dan SGK berbeda bermakna, data berbeda
bermakna jika (p < 0,05)
Masing-masing sampel diuji sifat mekaniknya menggunakan lima kali
perulangan. Hal ini sesuai dengan persyaratan yang dipersyaratkan oleh American
Standard Testing Material (ASTM) D-638 tentang pengujian sampel Plastic
mengenai jumlah sampel minimal yang digunakan, yaitu lima kali perulangan.
Tabel VIII menunjukkan penambahan gliserol ini dapat mempengaruhi sifat
mekanik selulosa bakteri. Seiring dengan adanya penambahan gliserol ini dapat
meningkatkan persen perpanjangan dari selulosa bakteri namun menurunkan nilai
kuat tarik dari selulosa bakteri. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai
strain at Fmax (persen perpanjangan) selulosa bakteri dari 19,75% menjadi
27,36% dan perhitungan nilai ini secara statistik memiliki nilai yang berbeda
bermakna. Nilai tensile strength (kuat tarik) dari selulosa bakteri ini juga
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
80
mengalami penurunan dari 16,71 MPa menjadi 16,31 MPa setelah ditambah
gliserol walaupun secara statistik dibuktikan penurunan nilainya ini berbeda tidak
bermakna. Adanya perbedaan nilai kuat tarik yang tidak bermakna tersebut
menunjukkan karakter biomaterial yang digunakan sebagai penutup luka adalah
biomaterial yang memiliki nilai persen perpanjangan tinggi namun nilai kuat
tariknya juga tetap tinggi. Hal ini disebabkan gliserol sebagai pemlastis mampu
merenggangkan jarak antar rantai dari polimer karena gliserol ini mampu
memutus interaksi-interaksi yang terjadi antar rantai-rantai polimer sehingga
mampu mengurangi kekakuan yang ditimbulkan akibat struktur tiga dimensinya
dari rantai-rantai polimer yang terbentuk. Hal ini sesuai dengan postulat mengenai
mekanisme kerja dari plasticizer (teori gel) (Suyatma, Tighzert, dan Copinet,
2005). Akibat adanya pemutusan interaksi-interaksi dan berkurangnya kekakuan
dari rantai polimer maka ketika polimer ini diberi beban maka polimer tersebut
akan kurang kuat dalam menahan bebannya sehingga secara tidak langsung akan
mengakibatkan turunnya nilai kuat tarik dari selulosa bakteri.
Terjadinya peningkatan persen perpanjangan ini merupakan kebalikan dari
menurunnya nilai kuat tarik suatu polimer. Hal ini disebabkan karena adanya
perenggangan jarak antar rantai-rantai polimer yang diakibatkan adanya
pemberian gliserol sebagai pemlastis sehingga merenggangkan interaksi-interaksi
dari rantai polimer sehingga mampu mengurangi kekakuan dari rantai polimer
yang terbentuk. Akibat berkurangnya kekakuan dari rantai polimer yang terbentuk
maka akan menyebabkan polimer ini akan semakin mudah ditarik sehingga secara
tidak langsung nilai strain at Fmax atau persen perpanjangannya akan meningkat.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
81
Selain itu gliserol dapat berperan juga sebagai pemlastis internal karena gliserol
ini mampu berinteraksi dengan beberapa gugus fungsi yang terdapat dalam rantairantai polimer. Hasil ini diperkuat dengan spektra IR dari selulosa bakteri+gliserol
yang menunjukkan adanya penambahan gugus –OH yang ditandai dengan
pelebaran dan penajaman puncak dari spektra IR-nya pada daerah bilangan
gelombang untuk gugus –OH.
Tabel VIII menunjukkan penambahan chitosan juga dapat mempengaruhi
sifat mekanik dari selulosa bakteri. Seiring dengan penambahan chitosan maka
nilai tensile strength dan strain at Fmax dari selulosa bakteri ini menurun dari
16,71 MPa menjadi 5,67 MPa dan nilai strain at Fmax dari selulosa bakteri ini
menurun dari 19,75% menjadi 4,70% dan secara statistik telah dibuktikan bahwa
penurunan nilai kuat tarik dan persen perpanjangan ini memiliki nilai yang
bermakna. Penurunan nilai kuat tarik ini disebabkan karena seiring dengan
penambahan chitosan maka akan menyebabkan peningkatan daerah amorf pada
selulosa
bakteri.
Adanya
peningkatan
daerah
amorf
ini
menyebabkan
meningkatnya ketidakteraturan susunan rantai polimer dari selulosa bakteri,
adanya ketidakteraturan rantai polimer ini yang menyebabkan nilai kuat tariknya
menurun (Aji, 2008).
Terjadinya penurunan persen perpanjangan ini disebabkan seiring dengan
penambahan chitosan maka akan menyebabkan struktur rantai polimer dari
selulosa bakteri menjadi semakin rigid dan kaku karena adanya interaksi hidrogen
yang terbentuk antara gugus -OH selulosa bakteri dengan gugus -NH dari
chitosan.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
82
Adanya struktur rantai polimer yang rigid ini akan menyebabkan rantai
polimer menjadi semakin susah bergerak ketika ditarik sehingga nilai persen
perpanjangannya akan mengalami penurunan (Aji, 2008). Hal ini diperkuat
melalui
hasil
analisis
XRD
dari
selulosa
bakteri
dan
selulosa
bakteri+gliserol+chitosan yang menunjukkan terjadinya penurunan nilai persen
kristalinitas dari selulosa bakteri apabila ditambah dengan chitosan jika
dibandingkan dengan selulosa bakteri. Adanya penurunan nilai kristalinitas
menunjukkan adanya penambahan daerah amorf pada selulosa bakteri. Menurut
Zhijiang et. al. (2011), chitosan mampu menurunkan kristalinitas dari selulosa
bakteri karena adanya keberadaan chitosan yang bersifat amorf dan selulosa
bakteri yang memiliki kristalinitas tinggi memiliki hubungan dengan tingginya
sifat mekanik dari selulosa bakteri. Hal ini diperkuat dengan penelitian dari Cai,
Jin dan Kim (2009) dan Zhijiang et. al. (2011), yang menemukan bahwa seiring
dengan penambahan konsentrasi chitosan pada selulosa bakteri dari 12 persen
menjadi 45 persen maka nilai tensile strength-nya cenderung menurun dari 130
MPa menjadi 54 MPa sedangkan nilai persen perpanjangannya turun dari 12%
menjadi 6,8%.
Adanya penambahan gliserol belum mampu memperbaiki sifat mekanik dari
selulosa bakteri yang telah ditambah dengan chitosan. Hal ini kemungkinan
disebabkan pengaruh daerah amorf dari chitosan pada selulosa bakteri yang lebih
dominan dibandingkan dengan perenggangan rantai-rantai dari polimer yang
disebabkan adanya penambahan gliserol.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
5.
83
Analisis Sifat Termal dengan Differential Thermal Analysis (DTA)
Uji ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian gliserol dan chitosan
terhadap sifat termal dari selulosa bakteri. Uji DTA tidak dapat dipisahkan dengan
uji TGA karena dengan melihat kurva sifat termal pada termogram DTA, dapat
dilihat terjadinya proses perubahan sifat termal yang terjadi pada sampel yang
secara tidak langsung akan mempengaruhi terjadinya perubahan massa pada
termogram TGA sampel tersebut.
Langkah-langkah pengujian menggunakan instrumen ini adalah sampel
yang telah dikeringkan ini lalu dimasukkan ke dalam chamber bagian sampel dan
pada chamber reference diisi dengan alumina. Penggunaan alumina sebagai
reference karena alumina merupakan senyawa yang memiliki titik lebur yang
sangat tinggi (mencapai 10000 C), sehingga jika digunakan sebagai reference ini
tidak akan mudah mengalami degradasi akibat perubahan suhu sehingga dapat
digunakan sebagai faktor koreksi dari persen kehilangan massa dari sampel.
Gambar 19 menyajikan termogram DTA dari selulosa bakteri (S), selulosa
bakteri+gliserol (SG) beserta selulosa bakteri+gliserol+chitosan (SGK).
Keterangan:
SG
S
SGK
Gambar 19. Kurva termogram DTA biomaterial
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
84
Gambar 19 menunjukkan di sekitar suhu 90-1200 C pada masing-masing
sampel terdapat puncak ke bawah yang menandakan adanya reaksi endotermik.
Adanya reaksi endotermik pada ketiga sampel ini menunjukkan adanya pelepasan
kandungan air dari masing-masing sampel. Hal ini akan diperkuat dengan kurva
termogram TGA biomaterial S, SG dan SGK dimana pada kurva TGA-nya akan
terlihat adanya penurunan massa dari masing-masing sampel. Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Saputro, Kartini dan Sutarno (2009) serta
Fernandes, Oliveira, Freire, Silvestre, Gandini dan Neto (2009).
Termogram DTA selulosa bakteri menunjukkan di sekitar suhu 270-3000 C
muncul puncak ke atas yang menandakan adanya reaksi eksotermik. Adanya
reaksi eksotermik ini menunjukkan terjadinya kristalisasi atau proses perubahan
fase kristalin dari selulosa bakteri dari fase kristalin yang satu menjadi fase
kristalin yang lain seperti yang dilaporkan oleh Pratomo dan Rohaeti (2011).
Adanya perubahan fase kristalin ini akan diperkuat dengan difraktogram XRD
dari selulosa bakteri pada Gambar 22.a, yang menunjukkan keberadaan suatu
daerah kristalin dengan intensitas puncak yang sangat tajam (sekitar 159).
Sedangkan pada selulosa bakteri+gliserol muncul puncak eksotermik di sekitar
suhu 285-3200 C yang menandakan terjadi pergeseran puncak ke atas
jika
dibandingkan dengan puncak dari selulosa bakteri. Adanya pergeseran ini
kemungkinan disebabkan karena SG ini terdapat kandungan gliserol yang
kemungkinan akan menguap terlebih dahulu di sekitar suhu 2500 C namun
kemungkinan tidak dapat terdeteksi oleh instrumen karena kandungan gliserolnya
sangat kecil kemudian baru terjadi proses kristalisasi dari selulosa bakteri. Adanya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
85
penguapan dari gliserol ini sesuai dengan hasil penelitian dari Yunos dan Rahman
(2011), yang menyatakan bahwa gliserol akan mulai menguap pada suhu 2000 C
dan akan menguap dengan sempurna pada suhu 3000 C. Penambahan chitosan
menyebabkan munculnya puncak ke atas di sekitar suhu 200-2500 C yang
kemungkinan menandakan perubahan base line atau adanya dua kemungkinan
lain yang berjalan secara bersamaan, kemungkinan pertama terjadi pemutusan
ikatan antar gugus fungsi yang dimiliki antara chitosan dengan gliserol atau
selulosa bakteri dan kemungkinan kedua terjadi penguapan dari gliserol. Lalu
pada suhu di sekitar 310-3300 C muncul puncak ke atas lagi yang menandakan
terjadinya proses perubahan fase kristal dari selulosa bakteri.
6.
Analisis Sifat Termal dengan Thermal Gravimetric Analysis (TGA)
Analisis TGA bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian gliserol dan
chitosan terhadap kestabilan termal dari selulosa bakteri. Kestabilan termal dari
masing-masing sampel ini dapat terlihat dari perubahan massa yang terjadi. Selain
itu, uji ini berkaitan langsung dengan uji DTA karena dengan mengamati
perubahan massa yang terjadi pada termogram TGA maka dapat diamati pula
perubahan sifat termal yang terjadi pada termogram DTA-nya. Berikut ini
disajikan Gambar 20 yang merupakan termogram TGA dari selulosa bakteri (S),
selulosa bakteri+gliserol (SG) beserta selulosa bakteri+ gliserol+chitosan (SGK).
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
86
Keterangan:
S
SG
SGK
Gambar 20. Kurva termogram TGA biomaterial
Gambar 20 menunjukkan dengan penambahan gliserol serta chitosan ini
akan meningkatkan kestabilan termal dari selulosa bakteri. Hal ini dilihat dari
persen kehilangan massa dari masing-masing sampel. Gambar 21 menyajikan
kurva kehilangan massa lawan suhu dari masing-masing sampel.
60
50
M
a
s
s
a
(
%
)
K
e
h
i
l
a
n
g
a
n
40
SGK
30
S
20
SG
10
0
0
50
100
150
200
Suhu
250
300
350
400
(0 C)
Gambar 21. Kehilangan massa vs suhu
Gambar 21 menunjukkan penambahan chitosan pada selulosa bakteri ini
memiliki persentase kehilangan massa paling kecil mulai dari suhu 300 C hingga
sekitar suhu 2500 C namun setelah melewati suhu tersebut terjadi ketidakstabilan
persen kehilangan massa dari SGK jika dibandingkan dengan SG seiring dengan
kenaikan suhu hingga akhirnya mencapai suhu 4000 C. Adanya ketidakstabilan ini
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
87
kemungkinan disebabkan terjadinya proses pemutusan rantai bercabang pada
polimer menjadi monomer-monomernya setelah selulosa bakteri kehilangan
interaksinya dengan chitosan akibat adanya suhu yang tinggi. Lalu adanya
penambahan gliserol pada selulosa bakteri ini memiliki persentase kehilangan
massa lebih rendah dari selulosa bakteri namun lebih tinggi daripada SGK mulai
dari suhu 300 C hingga sekitar suhu 2500 C namun setelah melewati suhu tersebut
terjadi ketidakstabilan persen kehilangan massa dari SG jika dibandingkan dengan
SGK seiring dengan kenaikan suhu hingga mencapai suhu 4000 C. Adanya
ketidakstabilan ini dimungkinkan karena adanya ketidakteraturan rantai polimer
dari selulosa bakteri yang menjadi renggang karena adanya penambahan gliserol
sehingga setelah gliserol ini menguap di sekitar suhu 2500 C maka rantai polimer
selulosa bakteri yang merenggang ini akan putus dengan cepat menjadi monomermonomernya. Sementara selulosa bakteri memiliki persentase kehilangan massa
yang paling tinggi mulai dari suhu 300 C hingga suhu 4000 C.
Gambar 20 menunjukkan adanya penurunan massa yang cukup banyak
mulai dari suhu 300 C hingga di sekitar suhu 1000 C seperti yang ditunjukkan dari
termogram
masing-masing sampel
ini
menunjukkan adanya
kehilangan
kandungan air dari masing-masing sampel. Hal ini diperkuat dengan munculnya
puncak ke bawah pada termogram DTA masing-masing sampel di sekitar suhu
1000 C yang mana puncak ke bawah tersebut bersifat endotermik. Hal ini sendiri
sesuai dengan penelitian yang dikemukakan oleh Saputro, Kartini dan Sutarno
(2009) serta Fernandes, Oliveira, Freire, Silvestre, Gandini dan Neto (2009), yang
menyatakan bahwa baik pada selulosa bakteri, komposit selulosa bakteri-chitosan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
88
maupun chitosan murni akan mengalami kehilangan kandungan air akibat adanya
pada proses penguapan air pada suhu di sekitar 1000 C.
Jika dilihat pada Gambar 21, maka sampel selulosa bakteri, selulosa
bakteri+gliserol dan selulosa bakteri+gliserol+chitosan secara berurutan akan
mengalami kehilangan massa sebanyak 50% pada sekitar suhu 294,910 C; 331,350
C dan 330,150 C. Terjadinya pergeseran suhu dekomposisi (50% kehilangan
massa) dari selulosa bakteri ketika ditambahkan gliserol ini kemungkinan
disebabkan gliserol ini mampu menarik kandungan air dari udara di sekitar
selulosa bakteri karena sifat dari gliserol hidrofilik sehingga kandungan airnya
akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan selulosa bakteri, selain itu terjadinya
ikatan hidrogen antara gugus fungsi pada selulosa bakteri dan gugus fungsi pada
gliserol juga akan menyebabkan energi yang dibutuhkan untuk memutus ikatan
tersebut lebih besar sehingga suhu yang dibutuhkan juga akan semakin tinggi
sehingga stabilitas termalnya akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan stabilitas
termal dari selulosa bakteri. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh QuijadaGarrido, Iglesias-González, Mazón-Arechderra dan Barrales-Rienda (2007) yang
menyatakan bahwa adanya pengamatan peningkatan kehilangan massa pada
konsentrasi gliserol yang lebih tinggi terkait dengan kehilangan air yang
terabsorbsi secara kimiawi melalui ikatan hidrogen karena kandungan air dari
selulosa bakteri akibat penambahan gliserol ini meningkat maka akan
menyebabkan interaksi hidrogen antar molekul dalam rantai selulosa bakteri ini
meningkat sehingga akan menyebabkan stabilitas termalnya meningkat.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
89
Terjadinya pergeseran suhu dekomposisi (50% kehilangan massa) dari
selulosa bakteri ketika ditambahkan chitosan ini sesuai dengan yang dilaporkan
oleh Zhijiang et. al. (2011) yang menyatakan terjadinya pergeseran suhu
dekomposisi (50% kehilangan massa) dari selulosa bakteri yang semula suhunya
sekitar 2630 C ketika dibentuk komposit selulosa bakteri-chitosan suhu
dekomposisinya menjadi sekitar 3800 C. Adanya pergeseran suhu dekomposisi ini
menunjukkan terjadinya peningkatan stabilitas termal dari selulosa bakteri ketika
selulosa bakteri tersebut ditambah chitosan. Adanya peningkatan stabilitas termal
ini kemungkinan disebabkan terbentuknya ikatan hidrogen intermolekular yang
sangat kuat antara gugus -OH dengan gugus -NH2 dari selulosa bakteri dengan
chitosan sehingga stabilitas termalnya akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan
stabilitas termal dari selulosa bakteri (Zhijiang et. al., 2011). Hal ini diperkuat
dengan melihat profil spektra IR-nya. Selain itu, ketika selulosa bakteri ditambah
dengan gliserol dan chitosan maka secara tidak langsung stabilitas termalnya akan
semakin lebih meningkat jika dibandingkan dengan selulosa bakteri. Hal ini
disebabkan adanya interaksi hidrogen intermolekulernya yang akan semakin
meningkat seiring dengan penambahan gliserol dan chitosan.
7.
Analisis Kristalinitas dengan XRD
Uji ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian gliserol dan chitosan
terhadap kristalinitas dari selulosa bakteri. Kristalinitas dari suatu polimer ini akan
berkaitan erat dengan sifat mekanik yang dimiliki oleh polimer tersebut.
Selulosa bakteri dan chitosan merupakan suatu polimer alam sehingga
memiliki nilai kristalinitas tertentu. Selulosa bakteri merupakan suatu polimer
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
90
yang memiliki nilai kristalinitas yang tinggi. Menurut Cai et. al. (2009), selulosa
bakteri memiliki kristalinitas tinggi (70-90%) sedangkan chitosan merupakan
suatu polimer yang bersifat semikristalin (Saputro dkk., 2009), sehingga melalui
uji ini apabila ada pengaruh maka akan terlihat adanya perbedaan dari
difraktogram
yang
dihasilkan
dari
selulosa
bakteri
maupun
selulosa
bakteri+gliserol+chitosan beserta adanya perbedaan dari kristalinitas masingmasing sampel. Berikut disajikan Gambar 22., yang merupakan difraktogram dari
masing-masing sampel.
Gambar 22.a. Difraktogram selulosa bakteri
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
91
Gambar 22.b. Difraktogram selulosa bakteri+gliserol+chitosan
Gambar 22.a menunjukkan adanya empat buah puncak dengan intensitas
tinggi pada sudut 2θ = 18,10; 22,80; 31,70 dan 33,80. Adanya puncak-puncak
tertinggi pada sudut 2θ ini sesuai dengan penelitian yang dikemukakan oleh
Meshitsuka dan Isogai (1996) beserta Hon (1996) yang menyatakan bahwa signal
difraksi yang utama dari selulosa bakteri terdapat di sekitar daerah 2θ = 16,80;
22,60; 33,70; 34,90 dimana pada daerah tersebut selulosa bakteri ini memiliki fase
kristalin pada bidang 101,002 dan 040 sedangkan perkiraan nilai persen
kristalinitas dari selulosa bakteri ini adalah 72%. Persen kristalinitas selulosa
bakteri dihitung dengan pendekatan luas segitiga. Luas kristal + luas amorf
diperoleh dari luas total dibawah kurva – luas background lalu luas kristal
dihitung dengan mengalikan tinggi puncak dengan FWHM yang diperoleh.
Setelah mendapat luas kristal maupun luas kristal+luas amorf, lalu persen
kristalinitas dihitung menggunakan Persamaan (4). Perhitungan ini sesuai dengan
teori yang dikemukakan oleh Purmana dan Firman (2006), yang menyatakan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
92
bahwa dengan penghilangan background dikurangi dengan penghilangan amorf
akan mendapatkan fraksi luas kristalin.
Gambar 22.b menunjukkan adanya puncak dengan intensitas lemah pada
sudut 2θ = 14,20. Adanya puncak ini menunjukkan adanya chitosan yang
berinteraksi dengan selulosa bakteri, hal ini sesuai dengan penelitian yang
dikemukakan oleh Samuels (1981), yang menyatakan bahwa chitosan dengan BM
rendah maupun tinggi ini memiliki puncak pada difraktogram di sekitar daerah 2θ
= 120. Selain itu adanya puncak dengan intensitas tinggi di sekitar daerah 2θ =
22,80; 31,80 dan 32,20 ini menunjukkan adanya fase kristalin dari selulosa bakteri
pada bidang 002 dan 040 sedangkan perkiraan nilai kristalinitas dari selulosa
bakteri+gliserol+chitosan adalah 63%.
Adanya penurunan nilai kristalinitas dari 72% menjadi 63% menunjukkan
bahwa chitosan berinteraksi dengan selulosa bakteri, hal ini akan diperkuat
dengan melihat profil spektra IR-nya selain itu hal ini sesuai dengan penelitian
yang dikemukakan oleh Zhijiang et. al. (2011) chitosan mampu menurunkan
kristalinitas dari selulosa bakteri karena adanya keberadaan chitosan yang bersifat
amorf dan ternyata penambahan gliserol ternyata tidak mampu menaikkan
kristalinitas dari selulosa bakteri, hal ini bertentangan dengan penelitian yang
dikemukakan oleh Suyatma dkk. (2005), yang menyatakan bahwa dengan sedikit
penambahan plasticizer ini dapat meningkatkan kristalinitas dari suatu polimer,
sehingga dengan penambahan gliserol ini seharusnya akan meningkatkan
kristalinitas dari selulosa bakteri. Hal ini kemungkinan disebabkan karena daerah
amorf dari chitosan berperan sangat dominan dalam menambah daerah amorf
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
93
pada selulosa bakteri sehingga hal ini akan berpengaruh terhadap struktur tiga
dimensi dari rantai polimer selulosa bakteri yang sangat kompleks jika
dibandingkan dengan pemutusan rantai polimer yang terjadi pada selulosa bakteri
akibat adanya gliserol yang kemungkinan terjadi beberapa pemutusan rantai hanya
di beberapa rantai sehingga ketika terjadi interaksi antara gliserol dan chitosan
dengan selulosa bakteri ini, kristalinitas dari selulosa bakteri ini tetap turun.
Namun adanya pemberian gliserol yang dapat meningkatkan kristalinitas dari
selulosa bakteri ini masih perlu dilakukan kajian dan penelitian lebih lanjut.
Adanya penurunan kristalinitas ini juga akan berpengaruh terhadap sifat
mekanik dari selulosa bakteri sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Zhijianget. al. (2011), yang menyatakan bahwa selulosa bakteri yang memiliki
kristalinitas tinggi memiliki hubungan dengan tingginya sifat mekanik dari
selulosa bakteri tersebut.
M. Sterilisasi Produk
Proses sterilisasi ini bertujuan untuk membunuh mikroorganismemikroorganisme yang kemungkinan akan mengkontaminasi biomaterial yang
dibuat. Adanya kontaminasi dari mikroorganisme lain pada biomaterial yang
dibuat sangat berpotensi dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada luka yang
akan ditutup oleh biomaterial. Oleh karena itu, sebelum diaplikasikan maka
biomaterial ini harus disterilisasi terlebih dahulu. Sterilisasi yang digunakan untuk
suatu material penutup luka biasanya menggunakan proses sterilisasi dengan
radiasi sinar gamma. Alasannya adalah karena sinar gamma merupakan suatu
sinar yang sifatnya inert sehingga tidak akan mengubah komposisi penyusun dari
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
94
material. Selain itu energi yang dihasilkan juga cukup tinggi sehingga energi ini
dapat digunakan untuk merusak struktur sel suatu makhluk hidup. Namun karena
keterbatasan dari peralatan yang ada maka proses sterilisasi yang dipilih adalah
sterilisasi dengan panas basah. Proses sterilisasi yang digunakan adalah dengan
menggunakan panas basah atau autoklaf dengan suhu 1210 C selama 15 menit.
Prinsipnya adalah uap panas dari autoklaf akan mengkoagulasi protein-protein
penyusun dari mikroorganisme sehingga mikroorganisme akan mati.
N. Orientasi Penyembuhan Luka Secara Normal
Orientasi ini bertujuan untuk melihat jangka waktu yang dibutuhkan oleh
hewan uji untuk proses penyembuhan lukanya tanpa pemberian perlakuan
biomaterial atau membran chitosan atau dapat dikatakan penyembuhan secara
alami. Sebelum pembuatan luka, tikus disuntik dengan kombinasi ketamine dan
xylazine sebagai anastesi. Dosis yang digunakan adalah dosis yang dapat
menimbulkan efek anastesi. Hal ini sesuai dengan langkah kerja yang
diungkapkan oleh Frank dan Kämpfer (2000). Selain itu langkah kerja ini juga
sesuai dengan proposal yang diajukan dan disetujui oleh Komisi Kode Etik
(Ethical Clearance).
Jangka waktu pengamatan semula direncanakan selama empat belas hari
namun ternyata berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, ternyata pada hari
yang ketujuh sejak luka pada hewan uji ini dibuat sudah menunjukkan pengecilan
diameter luka yang cukup signifikan dibandingkan dengan diameter awal ketika
luka dibuat dan secara patologi anatomi luka pada hari ketujuh ini sudah kering
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
dan
warnanya
sudah
kecoklatan,
sehingga
diputuskan
jangka
95
waktu
pengaplikasian biomaterial sebagai penutup luka ini adalah selama tujuh hari.
O. Pengelompokkan Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan ini sebanyak 24 ekor dengan pembagiannya
menjadi 4 kelompok hari, yaitu hari ke-1, 3, 5 dan 7. Pemilihan kelompok hari
berdasarkan hasil orientasi serta melihat teori yang diungkapkan oleh Price dan
Wilson (2001), mengenai proses penyembuhan luka yang terdiri dari empat fase,
yaitu fase vascular response, inflamasi, proliferasi dan maturasi. Berdasarkan
teori tersebut, maka pada hari ketujuh sejak luka terjadi itu telah terjadi proses
penyembuhan hingga tahap proliferasi sehingga kemungkinan ketika akan dibuat
preparat histonya maka sudah akan terlihat pembentukan jaringan kembali.
Setelah pengelompokan berdasarkan kelompok hari lalu pada punggung
satu ekor hewan uji ini dibagi menjadi lima perlakuan penutupan luka, yaitu tiga
kelompok ditutup dengan biomaterial selulosa bakteri+gliserol+chitosan, satu
kelompok ditutup membran chitosan sebagai kontrol positif dan satu kelompok
tanpa penutupan sebagai kontrol negatif. Lalu kelimanya ditutup kembali dengan
hepafix agar lebih merekatkan penutupan dari masing-masing perlakuan kecuali
kontrol negatif.
P. Pembuatan Luka pada Hewan Uji
Proses pembuatan luka pada hewan uji ini sama dengan orientasi
penyembuhan luka yang dilakukan. Langkah kerjanya pun sama dengan langkah
kerja pada saat orientasi. Hal yang membedakan dengan orientasi adalah sesaat
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
96
setelah pembuatan luka, luka sesegera mungkin ditutup dengan masing-masing
kelompok perlakuan lalu ditutup dengan hepafix.
Q. Pengamatan Penyembuhan Luka dan Pengukuran Diameter Luka
Parameter proses penyembuhan luka dapat diamati secara visual,
pengukuran diameter luka yang akan dikonversi menjadi penurunan luas luka
serta secara mikroskopis. Parameter penyembuhan luka yang digunakan adalah
secara pengamatan visual dan pengukuran diameter luka. Pengamatan visual serta
pengukuran diameter luka dilakukan satu hari setelah pembuatan luka.
Pengukuran diameter dilakukan satu hari setelah pembuatan luka karena diameter
awal yang menjadi dasar perhitungan persentase penyembuhan luka adalah
diameter satu hari setelah tikus dilukai, bukan pada saat hari tikus dilukai. Hal ini
disebabkan ketidakstabilan luka hingga 24 jam setelah tikus dilukai. Setelah 24
jam perlukaan terjadi perubahan sedikit dan selanjutnya stabil (Kusmiati,
Rachmawati, Siregar, Nuswantara dan Malik, 2006).
Berdasarkan penelitian Kusmiati dkk. (2006) maka pengukuran diameter
luka tidak dilakukan pada kelompok satu hari pemberian perlakuan SGK, kontrol
positif dan kontrol negatif sebagai penutup luka karena diameter luka yang
terbentuk satu hari setelah pembuatan luka masih belum stabil. Pengukuran
diameter luka mulai dilakukan pada kelompok tiga hari dan dilakukan dengan
menggunakan jangka sorong. Pengamatan visual luka dapat diamati secara kasat
mata dan menggunakan kamera.
Melalui pengamatan secara visual maka dapat didapatkan hasil berupa
data patologi anatomi dari luka tersebut yang meliputi kekeringan luka, ada
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
97
tidaknya keropeng serta warna dari luka. Hasil pengamatan visual dari masingmasing kelompok perlakuan dapat dilihat pada Tabel IX.
Tabel IX. Hasil pengamatan visual dari luka akibat perlakuan
Hari
1
3
SGK
Basah
Basah
Kelembaban
K
Basah
Kering
O
Basah
Basah
SGK
T
A
5
Kering
Kering
Kering
A
7
Kering
Kering
Kering
A
Keropeng
K
T
A
O
T
T
SGK
Merah
Kuning
A
A
Cokelat
A
A
Cokelat
Warna Luka
K
O
Merah
Merah
Kuning
Kuning
terbentuk
pus / nanah
Cokelat
Kuning
kecoklatan
Cokelat
Coklat
Keterangan: SGK = Selulosa bakteri+gliserol+chitosan, K= Kontrol Positif, O = Kontrol
Negatif, A = ada keropeng, T = tidak ada keropeng, warna kuning menunjukkan kesamaan
pengamatan patologi anatomi pada tiap kelompok perlakuan.
Tabel IX menunjukkan perbandingan hasil pengamatan antara perlakuan
penutupan luka menggunakan biomaterial selulosa bakteri+gliserol+chitosan ini
ternyata memiliki hasil patologi anatomi yang sama dengan perlakuan penutupan
luka dengan membran chitosan serta hasilnya lebih baik jika dibandingkan dengan
luka yang tanpa diberi perlakuan apapun. Hal ini dibuktikan pada kelompok hari
kelima untuk selulosa bakteri+gliserol+chitosan yang memiliki hasil yang sama
dengan kelompok hari kelima dari membran chitosan sebagai kontrol positif
sedangkan pada kelompok kontrol negatif ternyata pada hari ketujuh baru
ditemukan hasil yang sama dengan kelompok perlakuan kontrol positif hari
kelima. Dengan demikian pemberian selulosa bakteri+gliserol+chitosan secara
patologi anatomi mempengaruhi proses penyembuhan luka jika diberikan selama
lima hari.
Pada hari pertama tiap kelompok perlakuan, luka masih berwarna merah
karena kapiler yang awalnya kosong atau sedikit merenggang kini mulai terisi
darah dengan cepat (Price dan Wilson, 1992) sedangkan luka yang masih basah
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
98
terjadi karena bertambahnya jumlah cairan secara abnormal di kompartemen
ekstraseluler akibat adanya pergeseran keseimbangan osmotik cairan akibat
percepatan pergerakan cairan yang cepat melalui dinding pembuluh darah ke
jaringan peradangan (Spector dan Spector, 1993).
Adanya keropeng yang terbentuk pada hari ketiga pengamatan kelompok
selulosa bakteri+gliserol+chitosan dan kontrol positif serta hari kelima kelompok
kontrol negatif menunjukkan terjadinya proses penggumpalan darah dari luka.
Pada hari ketiga pengamatan pada perlakuan kontrol negatif, ditemukan adanya
pus atau nanah. Adanya nanah ini menunjukkan adanya antibodi dari tubuh yang
mati karena terjadinya infeksi pada luka akibat bakteri sedangkan pada kelompok
pemberian kontrol positif dan selulosa bakteri+gliserol+chitosan ini tidak
ditemukan adanya pus. Hal ini menandakan bahwa chitosan yang terkandung baik
sebagai membran murni ataupun sebagai lapisan pada selulosa bakteri dapat
berfungsi juga sebagai antibakteri. Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dikemukakan oleh Simmons et. al. (2010) yang menyatakan chitosan yang
ditambahkan pada selulosa dapat berpotensi sebagai antibakteri.
Pengamatan hari kelima perlakuan membran chitosan dan selulosa
bakteri+gliserol+chitosan warna luka sudah berubah dari merah menjadi coklat.
Adanya perubahan warna ini disebabkan pembuluh darah mulai bertambah dan
serat fibrin dari kolagen bertambah banyak memperkuat jaringan parut (Kurniati,
2008) sedangkan luka menjadi kering pada pengamatan hari ketiga pada
perlakuan
kontrol
positif
dan
hari
kelima
pada
perlakuan
selulosa
bakteri+gliserol+chitosan disebabkan karena telah terjadinya proliferasi dari sel
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
99
yang ditandai dengan terbentuknya fibroblas. Fibroblas bertanggung jawab pada
persiapan menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan pada
konstruksi jaringan (Kurniati, 2008). Perbaikan dari sistem sirkulasi menyebabkan
tekanan hidrostatik menjadi seimbang sehingga menyebabkan luka mulai
mengering.
Chitosan dipilih sebagai kontrol positif sebagai pembanding karena
membran chitosan telah banyak dibuktikan mampu mempercepat proses
penyembuhan luka seperti yang diungkapkan oleh Eldin et. al. (2008), yang
menyatakan bahwa dengan pemberian membran chitosan 2% ini sudah mampu
mempercepat proses penyembuhan luka. Hal ini pula yang menjadi dasar
pemilihan konsentrasi chitosan yang digunakan adalah 2%.
Melalui pengukuran diameter luka yang dilakukan setiap hari,
pengukuran diameter luka ini dapat dikonversikan menjadi luas daerah lukanya.
Lalu dengan membandingkan luas daerah luka pada tiap pengamatan dan
pengukuran diameter lukanya pada hari-hari yang telah ditentukan maka akan
didapatkan persentase penurunan luas lukanya. Melalui persentase penurunan luas
luka maka dapat diduga kemampuan biomaterial dalam mempercepat proses
penyembuhan luka. Metode pengukuran diameter ini sesuai dengan metode yang
dilakukan oleh Morton dan Malone dalam penelitiannya sehingga lebih dikenal
dengan metode Morton (Morton dan Malone, 1990).
Hasil pengukuran diameter luka serta persentase penurunan luas luka
pada masing-masing kelompok perlakuan disajikan secara berurutan pada Tabel X
dan Tabel XI.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
100
Tabel X. Hasil pengukuran diameter luka tiap kelompok perlakuan
Hari
Diameter 1 Diameter 2 Diameter 1 Diameter 2 Diameter 1 Diameter 2
Kelompok
Kelompok
Kelompok
Kelompok
Kelompok
Kelompok
SGK (cm)
SGK (cm)
K (cm)
K (cm)
O (cm)
O (cm)
3
1,03 ± 0,07 0,82 ± 0,04 1,08 ± 0,05 0,88 ± 0,04 1,05 ± 0,10 0,95 ± 0,08
5
1,05 ± 0,09 0,79 ± 0,11 1,04 ± 0,09 0,66 ± 0,08 1,09 ± 0,10 0,81 ± 0,11
7
1,10 ± 0,07 0,76 ± 0,18 1,12 ± 0,08 0,72 ± 0,11 1,08 ± 0,06 0,61 ± 0,12
Keterangan: diameter 1 = pengamatan diameter satu hari setelah pembuatan luka,
diameter 2 = pengamatan diameter pada hari saat penutup luka dibuka dari kulit hewan
uji. SGK = selulosa bakteri+gliserol+chitosan, K = kontrol positif, O = kontrol negatif
Tabel XI. Persentase penurunan luas luka tiap kelompok perlakuan
Hari
Penurunan Luas Luka Penurunan Luas Luka Penurunan Luas Luka
Kelompok SGK (%)
Kelompok K (%)
Kelompok O (%)
3
36,53 ± 2,72
34,29 ± 4,74
17,73 ± 4,24
5
42,78 ± 8,90
57,85 ± 14,91
43,96 ± 9,20
7
51,83 ± 17,37
57,47 ± 12,72
67,00 ± 12,51
Keterangan: SGK = selulosa bakteri+gliserol+chitosan, K = kontrol positif,
O = kontrol negatif
Tabel XI menunjukkan terjadinya peningkatan persentase penurunan luas luka
pada masing-masing kelompok perlakuan seiring dengan peningkatan lama waktu
pengaplikasian masing-masing kelompok perlakuan pada luka yang dibuat di
punggung hewan uji. Adanya peningkatan persentase penurunan luas luka
menunjukkan seiring dengan bertambahnya lama waktu pengaplikasian perlakuan
menunjukkan terjadinya proses penyembuhan luka pada hewan uji tersebut baik
akibat pengaruh pemberian perlakuan kontrol positif dan perlakuan SGK atau
akibat kemampuan penyembuhan dari hewan uji itu sendiri.
Tabel XI menunjukkan hampir sebagian besar nilai standar deviasi dari
masing-masing kelompok perlakuan memiliki persentase yang besar, yaitu di atas
20%. Adanya nilai standar deviasi yang tinggi ini merupakan salah satu
kekurangan dari metode Morton. Kekurangan dari metode ini kemungkinan
dikarenakan ketidakseragaman diameter luka saat pemotongan awal pada saat
pembuatan luka pada punggung hewan uji serta diameter luka akhir saat sudah
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
101
terjadi proses penyembuhan luka. Ketidakseragaman diameter luka saat
pemotongan awal pada proses pembuatan luka dikarenakan pemotongan awal
pada pembuatan luka dilakukan secara manual dan menggunakan peralatan bedah
sederhana dan tidak menggunakan alat seperti Punch Plier sehingga untuk
mendapatkan keseragaman diameter luka sangat sulit. Selain itu teknik
pengukuran serta pengamatan yang dilakukan secara manual yaitu dengan
menggunakan jangka sorong kemungkinan juga akan mempengaruhi nilai SD
yang tinggi. Disini teknik pengukuran dan pengamatan yang dilakukan adalah
mengukur diameter luka sebanyak tiga kali pada tiga macam posisi diameter luka
yang diusahakan selalu sama pada tiap luka individu serta kelompok hari lalu
hasilnya dirata-rata namun karena luka yang dibuat bentuknya tidak lingkaran
sehingga kemungkinan pergeseran posisi pengamatan saat mengukur diameter
luka. Ketidakseragaman dari diameter akhir dari luka saat sudah terjadi proses
penyembuhan luka akan mempengaruhi hasil perhitungan dari persentase
penurunan luas luka sehingga hal ini yang menyebabkan tingginya nilai standar
deviasi dari persentase penurunan luas lukanya. Hasil uji statistik dari persentase
penurunan luas luka disajikan pada Tabel XII.
Tabel XII. Hasil uji statistik persentase penurunan luas luka tiap kelompok
perlakuan
Hari
3
5
7
Perlakuan
P
e
r
l
a
k
u
a
n
SGK
K
O
SGK
K
O
SGK
K
O
SGK
BTB
BB
BTB
BTB
BTB
BTB
K
BTB
BB
BTB
BTB
BTB
BTB
Keterangan: SGK = selulosa bakteri+gliserol+chitosan, K = kontrol positif,
O = kontrol negatif, data berbeda bermakna jika (p < 0,05)
O
BB
BB
BTB
BTB
BTB
BTB
-
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
102
Tabel XII menunjukkan nilai persentase penurunan luas luka pada hari
ketiga, dari kelompok SGK dan K secara statistik memiliki nilai yang berbeda
bermakna terhadap kelompok O. Hal ini menunjukkan bahwa persentase
penurunan
luas
luka
yang
diakibatkan
pemberian
perlakuan
selulosa
bakteri+gliserol+chitosan dan membran chitosan untuk menutup luka memiliki
hasil yang lebih baik dibandingkan dengan luka yang tanpa diberi perlakuan
penutup. Adanya perbedaan nilai persentase penurunan luas luka yang signifikan
menunjukkan bahwa adanya chitosan baik dalam bentuk membran atau dalam
bentuk terlapis pada selulosa bakteri dapat mempercepat proses penyembuhan
luka yang teramati melalui persentase penurunan luas lukanya. Adanya penurunan
luas
luka
yang
signifikan
pada
luka
yang
ditutup
dengan
selulosa
bakteri+gliserol+chitosan serta membran chitosan ini diakibatkan karena
terjadinya proses regenerasi kulit yang dipercepat akibat pemberian chitosan. Hal
ini sesuai dengan penelitian yang dikemukakan oleh Eldin et. al. (2008) yang
menyatakan bahwa pemberian chitosan ini akan meningkatkan proses regenerasi
kulit normalnya.
Pada hari kelima dan ketujuh, ternyata nilai persentase penurunan luas
luka secara statistik dari kelompok SGK terhadap kelompok K dan O memiliki
nilai yang berbeda tidak bermakna serta kelompok K terhadap kelompok O juga
memiliki nilai yang berbeda tidak bermakna. Adanya hasil yang berbeda tidak
bermakna ini kemungkinan dikarenakan pola makan dari hewan uji tersebut. Pola
makan ini sendiri akan berpengaruh terhadap kebutuhan nutrisi dari hewan uji
tersebut dalam proses penyembuhan luka serta akan mempengaruhi bobot dari
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
103
hewan uji. Bobot hewan uji ini akan mempengaruhi ketebalan kulit dari hewan uji
sehingga kemungkinan akan mempengaruhi proses penyembuhan luka serta
teknik pengukuran dari diameter luka hewan uji. Kemungkinan lain penyebab
hasil yang berbeda tidak bermakna antara kelompok SGK dan K terhadap
kelompok O pada hari kelima dan ketujuh karena kemungkinan terjadinya
inflamasi akibat pemberian kedua kelompok perlakuan ini. Namun secara pasti
hal ini belum dapat dibuktikan sehingga perlu dilakukan kajian lebih lanjut
mengenai uji inflamasi ini. Salah satu metode uji inflamasi yang mungkin dapat
dilakukan yaitu dengan pengamatan metode draize. Selain itu adanya residu dari
pelarut selama proses pembuatan biomaterial ini juga kemungkinan akan
menyebabkan hasil yang berbeda tidak bermakna ini namun hal ini masih perlu
dikaji melalui penelitian selanjutnya. Hal lain yang dapat mempengaruhi hasil
yang berbeda tidak bermakna ini adalah dari nilai DD (derajat deasetilasi) dan
MW (molecular weight) chitosan, disini chitosan yang digunakan memiliki nilai
DD sekitar 73% atau jika dikaji bahwa nilai DD ini termasuk nilai DD yang
rendah dan nilai MW-nya belum dapat dihitung karena keterbatasan instrumen
yang ada. Alsarra (2009) melaporkan bahwa nilai DD dan MW yang tinggi
meningkatkan aktivitas penyembuhan dari chitosan sehingga karena nilai DD
yang digunakan ini rendah dan nilai MW-nya belum dapat diketahui maka
kemungkinan aktivitas penyembuhan dari chitosan yang digunakan ini rendah.
Walaupun secara statistik nilai persentase penurunan luas luka antar kelompok
perlakuan berbeda tidak bermakna namun jika dilihat dari angka persentasenya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
104
maka terdapat perbedaan hasil penurunan luas luka antar masing-masing
kelompok perlakuan.
Pada hari kelima, persentase penurunan luas luka kelompok SGK
memiliki persentase penurunan luas luka yang paling kecil jika dibandingkan
dengan kelompok K dan O sedangkan kelompok K memiliki persentase
penurunan luas luka yang terbesar. Hal ini disebabkan pada kelompok K, penutup
luka yang digunakan merupakan membran chitosan murni sehingga jumlah
chitosan yang mampu mempercepat proses regenerasi luka jika diaplikasikan
pada luka semakin banyak jika dibandingkan dengan luka yang tidak diberi
perlakuan. Jika dibandingkan dengan SGK maka ada kemungkinan jumlah
chitosan yang menutupi luka pada SGK jumlahnya tidak sebanyak jumlah
chitosan yang menutup luka pada membran chitosan. Hal ini kemungkinan
disebabkan jumlah chitosan yang melapisi selulosa bakteri tidak merata sehingga
ada kemungkinan saat selulosa bakteri yang telah ditambah chitosan diaplikasikan
pada luka, chitosan yang berinteraksi dengan luka jumlahnya tidak seragam jika
dibandingkan dengan membran chitosan murni sehingga percepatan proses
regenerasi pada luka ini juga tidak sama.
Pada hari ketujuh, persentase penurunan luas luka dari kelompok O
memiliki persentase penurunan luas luka yang terbesar jika dibandingkan dengan
kelompok SGK dan K sedangkan kelompok SGK memiliki persentase penurunan
luas luka yang terkecil. Kelompok O memiliki persentase penurunan luas luka
yang terbesar disebabkan karena jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh sel kulit
untuk proses penyembuhan lukanya jumlahnya mencukupi jika dibandingkan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
105
dengan kelompok SGK dan K. Pada kelompok O, luka hanya ditutup oleh
hepafix, hepafix sendiri merupakan suatu penutup luka yang memiliki pori-pori
cukup banyak sehingga oksigen dapat masuk ke luka. Pada kelompok SGK dan K,
luka hanya ditutup dengan membran selulosa bakteri+gliserol+chitosan serta
membran chitosan yang kemudian ditutup dengan hepafix. Adanya penutupan
menggunakan membran selulosa bakteri+gliserol+chitosan serta membran
chitosan kemungkinan akan menghambat oksigen untuk masuk ke luka. Oksigen
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka
karena oksigen ini dibutuhkan untuk proses metabolisme dari jaringan kulit
seperti yang diungkapkan oleh Black dan Hawks (2005), sehingga salah satu
syarat suatu penutup luka yang ideal menurut Eldin et. al. (2008) adalah penutup
luka tersebut harus mampu menyediakan pertukaran udara dan cairan. Namun
adanya penghambatan masuknya oksigen ke luka pada luka yang ditutup
membran selulosa bakteri+gliserol+chitosan serta membran chitosan ini masih
perlu dikaji lebih lanjut mengenai ukuran pori serta jumlah pori yang dimiliki oleh
selulosa bakteri+gliserol+chitosan serta membran chitosan melalui uji porositas
untuk mengetahui kemampuan oksigen untuk menembus membran selulosa
bakteri+gliserol+chitosan serta membran chitosan.
Berikut secara berurutan disajikan grafik persentase penurunan luas luka
akibat pemberian selulosa bakteri+gliserol+chitosan, kontrol positif dan kontrol
negatif pada luka selama selang waktu tiga, lima dan tujuh hari.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
106
Gambar 23. Grafik persentase penurunan luas luka gabungan dari kelompok SGK,
K dan O selama 3, 5 dan 7 hari, keterangan warna hitam menunjukkan kelompok
SGK, warna merah menunjukkan kelompok K dan warna biru menunjukkan
kelompok O
Gambar 23 menunjukkan seiring dengan peningkatan lama waktu
pemberian selulosa bakteri+gliserol+chitosan pada luka maka persentase
penurunan luas luka juga meningkat. Berdasarkan hasil uji statistiknya, perubahan
persentase
penurunan
luas
luka
pada
pemberian
selulosa
bakteri+gliserol+chitosan pada luka seiring dengan peningkatan lama waktu
pemberiannya memiliki nilai yang berbeda tidak bermakna antar kelompok hari.
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh besarnya nilai standar deviasi dari
persentase penurunan luas luka akibat adanya pengaruh pemotongan awal serta
cara pengukuran luka pada hewan uji serta akibat adanya jumlah chitosan yang
tidak merata pada saat pelapisan selulosa bakteri sehingga efek percepatan proses
regenerasi luka yang ditimbulkan oleh chitosan juga tidak seragam pada antar
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
107
hewan uji. Adanya jumlah chitosan yang tidak merata diperkuat melalui hasil
analisis struktur morfologi permukaan dari selulosa bakteri+gliserol+chitosan.
Secara statistik persentase penurunan luas lukanya berbeda tidak
bermakna namun persentase penurunan luas luka dari kelompok SGK ini
mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan lama waktu pemberian SGK.
Adanya peningkatan persentase penurunan luas luka seiring bertambahnya lama
waktu menunjukkan terjadinya proses penyembuhan luka membutuhkan waktu
yang bertahap. Hal ini sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Price dan
Wilson (2001) yang menyatakan tahapan penyembuhan luka terdiri dari empat
fase yang masing-masing fase sendiri membutuhkan waktu tertentu untuk proses
penyembuhannya.
Gambar 23 menunjukkan seiring dengan peningkatan lama waktu
pemberian membran chitosan pada luka maka persentase penurunan luas luka
juga meningkat. Berdasarkan hasil uji statistiknya, perubahan persentase
penurunan luas luka pada pemberian membran chitosan pada luka seiring dengan
peningkatan lama waktu pemberiannya memiliki nilai yang berbeda bermakna
pada kelompok lima dan tujuh hari terhadap kelompok tiga hari sedangkan pada
kelompok lima hari terhadap kelompok tujuh hari memiliki nilai yang berbeda
tidak bermakna. Adanya perbedaan nilai yang bermakna pada kelompok lima dan
tujuh hari terhadap kelompok tiga hari akibat pemberian membran chitosan
sebagai kontrol positif disebabkan membran chitosan diduga mempercepat tahap
inflamasi dari proses penyembuhan luka pada hari-hari awal luka terbentuk dan
diduga tidak mempengaruhi tahap selanjutnya dari proses penyembuhan luka
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
108
yaitu tahap proliferasi. Pada kelompok lima hari dan tujuh hari, tahapan
penyembuhan luka sudah memasuki tahap proliferasi (Ueno, Mori dan Fujinaga,
2001), sehingga diduga chitosan tidak akan berpengaruh pada tahapan tersebut.
Adanya nilai yang berbeda tidak bermakna pada kelompok lima hari terhadap
kelompok tujuh hari kemungkinan disebabkan membran chitosan sebagai penutup
luka diduga hanya mempercepat tahap inflamasi dari proses penyembuhan luka.
Proses inflamasi sendiri berlangsung pada hari-hari awal saat luka terjadi. Hal ini
sesuai dengan penelitian Ueno et. al. (2001). yang menyatakan keberadaan
chitosan akan mempertinggi keberadaan polymorphonuclear leukocytes (PMN)
dan makrofag-makrofag pada luka yang terbuka. Adanya keberadaan jumlah
PMN dan makrofag ini menjadi salah satu ciri dari tahap inflamasi pada proses
penyembuhan luka sehingga dengan keberadaan PMN dan makrofag dalam
jumlah banyak maka proses inflamasi juga akan semakin cepat terjadi. Tahap
inflamasi terjadi pada hari-hari awal terjadinya luka maka lima dan tujuh hari
setelah luka terjadi maka chitosan sendiri diduga sudah tidak memiliki aktivitas
dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Lima sampai empat belas hari
setelah luka terjadi, luka akan memasuki tahap proliferasi (Ueno et. al., 2001).
Hal ini yang menjelaskan persentase penurunan luas luka pada kelompok lima
hari terhadap kelompok tujuh hari setelah luka dibuat ini memiliki perbedaan nilai
yang tidak bermakna.
Gambar 23 menunjukkan seiring bertambahnya lama waktu, pada luka
yang dibiarkan dan tanpa ditutup dengan perlakuan biomaterial maka persentase
penurunan luas luka juga meningkat. Berdasarkan hasil uji statistiknya, perubahan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
109
persentase penurunan luas luka pada perlakuan kontrol negatif kelompok tiga,
lima dan tujuh hari memiliki nilai yang berbeda bermakna antar kelompoknya.
Hal ini disebabkan penyembuhan luka berjalan dengan kondisi alami dan tanpa
pengaruh pemberian benda asing sehingga tahapan penyembuhan luka akan
berjalan sesuai dengan teori penyembuhan luka yang dikemukakan oleh Price dan
Wilson (2001). Selain itu karena luka hanya ditutup dengan hepafix sehingga
proses sirkulasi oksigen juga berjalan dengan lancar sehingga proses
penyembuhan luka dapat berjalan dengan baik tidak seperti pada luka yang
ditutup dengan membran SGK atau membran chitosan yang pada hari ketujuh
penyembuhan lukanya sedikit terhambat yang belum dapat dipastikan ukuran dan
jumlah pori yang terdapat pada kedua membran tersebut sehingga proses
pertukaran oksigennya belum diketahui dapat berjalan dengan baik atau tidak.
Secara patologi anatomi, ternyata hasil pemberian biomaterial SGK ini
akan terlihat lebih baik pada pemberian selama lima hari jika dibandingkan
kontrol negatif dan secara persen penurunan luas luka, pemberian biomaterial
SGK ini akan memberikan pengaruh terhadap proses penyembuhan jika dilihat
dari hasil yang berbeda bermakna terhadap kontrol negatif pada pemberian selama
3 hari namun jika dilihat secara keseluruhan proses penyembuhan luka maka
pemberian biomaterial SGK tidak berpengaruh terhadap proses penyembuhan
luka. Hal ini dibuktikan dengan hasil yang berbeda tidak bermakna terhadap
kontrol negatif pada pemberian biomaterial SGK ini selama lima dan tujuh hari.
Pemberian biomaterial SGK ini memiliki potensi terhadap proses penyembuhan
luka karena dapat mempercepat terjadinya proses inflamasi walaupun pada kedua
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
110
fase proses penyembuhan luka yang lain belum dapat dipastikan apakah
pemberian chitosan yang dilapis pada selulosa bakteri akan mempengaruhi kedua
fase penyembuhan luka yang lain. Selain itu, waktu yang digunakan untuk melihat
proses penyembuhan luka secara sempurna dimana luka telah menutup dengan
sempurna juga kurang lama karena ternyata pada hari ketujuh setelah pembuatan
luka, luka belum dapat menutup dengan sempurna sehingga hal ini kemungkinan
dapat menjadi salah satu alasan mengapa pemberian biomaterial SGK ini tidak
berpengaruh terhadap proses penyembuhan luka.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1.
Pemberian chitosan mempengaruhi perubahan sifat fisik selulosa bakteri,
meningkatkan intensitas gugus fungsi dari selulosa bakteri, merubah struktur
morfologi permukaan dari selulosa bakteri, menurunkan sifat mekanik
selulosa bakteri, meningkatkan kestabilan termal dari selulosa bakteri serta
menurunkan kristalinitas dari selulosa bakteri. Pemberian gliserol tidak
berpengaruh terhadap perubahan sifat fisik, kristalinitas dan struktur
morfologi permukaan dari selulosa bakteri. Pemberian gliserol meningkatkan
kestabilan termal, intensitas gugus fungsi dari selulosa bakteri dan
meningkatkan persen perpanjangan serta menurunkan nilai kuat tarik dari
selulosa bakteri.
2.
Pemberian biomaterial selulosa bakteri dari limbah cair ketela rambat dengan
penambahan chitosan dan gliserol sebagai material penutup luka pada tikus
jantan galur Wistar tidak berpengaruh terhadap proses penyembuhan luka.
B. Saran
1.
Perlu dilakukan optimasi penambahan gliserol agar dapat meningkatkan sifat
mekanik dari selulosa bakteri+chitosan.
111
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2.
112
Pembuatan luka pada hewan uji sebaiknya dilakukan dengan alat Punch Plier
agar diameter luka yang dibuat seragam.
3.
Sebagai material penutup luka, perlu melihat pengaruh dari pemberian
biomaterial pada luka terhadap kecepatan penyembuhan suatu luka secara
histopatologi.
4.
Perlu dilakukan uji GPC untuk mengetahui berat molekul biomaterial yang
dihasilkan dan porositas untuk mengethui distribusi dan ukuran pori dari
biomaterial yang dihasilkan sesuai standar ASTM untuk material penutup
luka.
5.
Perlu dilakukan uji penyembuhan luka dengan penutup dari selulosa bakteri
untuk mengetahui kemampuan selulosa bakteri dalam mempengaruhi proses
penyembuhan luka.
6.
Perlu dilakukan uji inflamasi dengan metode draize untuk mengamati
kemungkinan adanya inflamasi yang terjadi akibat pemberian biomaterial
sebagai material penutup luka.
7.
Perlu dilakukan uji penyembuhan luka dengan waktu uji yang lebih dari tujuh
hari untuk dapat melihat proses penyembuhan luka secara total atau hingga
luka menutup 100%.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
113
DAFTAR PUSTAKA
Aji, Z. R., 2008, Studi Pengaruh Kondisi Pengujian Tarik Pada Film Plastik
BOPP (Biaxial Oriented Polypropylene), Skripsi, Jakarta: Fakultas
Teknik, Universitas Indonesia.
Alexandra, B. R., Anna, P. W., Bogumila, P., Alojzy, R., and Lukasz, L., 2005,
Antibacterial And Antifungal Activity of Chitosan, Isah, Vol. 2, pp.
406-408.
Alsarra, I. A., 2009, Chitosan topical gel formulation in the management of burn
wounds, International Journal of Biological Macromolecules, 45, pp.
16-21.
Anggraeni D., 2003, Kajian biodegradasi Bioplastik Poli-β-hidroksialkanoat
dengan Penambahan Pemlastis Dietil Glikol dan Dimetil Ftalat pada
Media Cair Buatan, Skripsi, Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
Anicuta, S-G, Dobre, L., Stroescu, M. and Iuliana Jipa, I., 2010, Fourier
Transform Infrared (FTIR) Spectroscopy For Characterization of
Antimicrobial Films Containing Chitosan, Research, Faculty Applied
Chemistry and Material Science, University Politehnica of Bucharest,
Romania.
Anonim, 1976, The Merck Index, Ninth Edition, New Jersey: Merck and Co.Inc.
Anonim,
2008,
http://lipsus.kompas.com/grammyawards/read/2008/03/22/10513155/
Republik.Telodiaksestanggal 6 November 2012.
Anonim,
2010,
http://tanamanpangan.deptan.go.id/doc_upload/Luas%20Tanam,%20L
uas%20Panen,%20Produktifitas%20&%20Produksi%20Ubijalar%20
Tahun%202010.pdf diakses tanggal 23 April 2012.
Anonim, 2012, http://www.plantamor.com/index.php?plant=711 diakses tanggal 5
November 2012.
Ariany, F. dan Maharani, D. K., 2011, Aktivitas Antibakteri Komposit KitosanSilika Sebagai Bahan Antibakteri Pada Kain Katun Dengan Variasi
Suhu Cure, Prosiding Seminar Nasional Kimia Unesa 2011,
Surabaya.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
114
ASTM, 2008, Standard test methods for Tensile Properties of Plastics, D638-10,
In Annual book of ASTM, Philadelphia, PA: American Society for
Testing and Materials.
Austin, 1985, Shereve”s Chemical Proses Industries, Mc. Graw, Hill Book
Co.Tokyo.
Billmeyer, F. W., 1984, Textbook of Polymer Science, New York: Resslear
Polytechnique Institute Troy.
Black and Hawks, 2005, Medical - Surgical Nursing, Clinical Management For
Positive Outcomes, 7th Edition, Missouri: Elsevier Saunders.
BPS, 2012, http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php diakses tanggal 5 November
2012.
Cai, Z., Chen, P., Jin, H-J. and Kim, J., 2009, The effect of chitosan content on
the crystallinity, thermal stability, and mechanical properties of
bacterial cellulose-chitosan composites, Journal of Mechanical
Engineering Science, Vol. 223, pp. 2225-2230.
Chawla, P. R., Bajaj, I. B., Survase, S. A. and Singhal, R. S., 2009, Fermentative
Production of Microbial Cellulose, Food Technol. Biotechnol., 47, (2), pp.
107–124.
Ciechańska, D., 2004, Multifunctional Bacterial Cellulose/Chitosan Composite
Material for Medical Applications, Fibres & Textiles in Eastern
Europe,Vol. 12, No. 4, pp. 48.
Ciechańska D., Wietecha J., Kaźmierczak D., Kazimierczak J., 2010, Biosynthesis
of Modified Bacterial Cellulose in a Tubular Form, Fibres & Textiles
in Eastern Europe, Vol. 18, No. 5, pp. 98-104.
Czaja, W., Krystynowicz, A., Bielecki, S. and Brown, R. M. Jr., 2006, Microbial
cellulose-the natural power to heal wounds, Biomaterials, 27, pp. 145151.
De Souza Costa-Junior, E., Pereira, M. M., Mansur, H. S., 2009, Properties and
biocompatibility of chitosan films modified by blending with PVA
and chemically crosslinked, J. Mater. Sci.: Mater. Med., 20, pp. 553–
561.
Dunn, E. T., Grandmaison, E. W. and Goosen, M. F. A., 1997, Applications of
Chitin and Chitosan, Technomic Publication, pp. 3-30.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
115
Eldin, M. S. M., Soliman, E. A., Hashem, A. I. and Tamer, T. M., 2008, Chitosan
Modified Membranes for Wound Dressing Applications: Preparations,
Characterization and Bio-Evaluation, Trends Biomater. Artif. Organs,
Vol. 22, (3), pp. l58-168.
Epure, V., Griffon, E., Pollet, E. and Avérous, L., 2011, Structure and properties
of glycerol-plasticized chitosan obtained by mechanical kneading.
Carbohydrate Polymers,Vol.83, No.2, pp. 947-950.
Fernandes, S. C. M., Oliveira, L., Freire, C. S. R., Silvestre, A. J. D., Neto, C. P.,
Gandini, A. and Desbrieres, J., 2009, Novel transparent
nanocomposite films based on chitosan and bacterial cellulose, Green
Chem., 11, pp. 2023–2029.
Festucci-Buselli, R. A., Otoni, W. C. and Joshi, C. P., 2007, Structure,
Organization, and Functions of Cellulose Synthase Complexes in
Higher Plants, Braz. J. Plant Physiol., Vol.19, No.1.
Frank and Kämpfer, 2000, Methods in Molecular Medicine, vol. 78: Wound
Healing: Methods and Protocols,Edited by: Luisa A. DiPietro and
Aime L. Burns ©, Totowa, NJ: Humana Press Inc., pp. 4,7-9.
Freire, C. S. R., Silvestre, A. J. D., Gandini, A. and Neto, C.P., 2011, New
materials from cellulose fibers. A contribution to the implementation
of the integrated biorefinery concept, O PAPEL,Vol. 72, Num. 9, pp.
91–96.
George, J., Ramanaa, K.V., Bawa, A. S. and Siddaramaiah, 2011, Bacterial
cellulose nanocrystals exhibiting high thermal stability and their
polymer nanocomposites, International Journal of Biological
Macromolecules, 48, pp. 50–57.
Goudung, D.U., 2004, Catalytic Epoksidation On Methyl Lindeate, J. Am.Oil,
Chem. Soes.
Gupta L. A., 2010, Polymer Chemistry, Meerut: Pragati Publications, pp. 244-245.
Hoenich, N., 2006, Cellulose for medical applications: past, present, and future.
BioRes,1, pp. 270-280.
Hon, D. N. S., 1996, Cellulose and its derivatives, In: Dumitriu S (ed)
Polysaccharides in medicinal applications., New York: Marcel
Dekker.
Huamán, Z., 1991, Descriptors for Sweet Potato, Rome: International Board for
Plant Genetic Resources, pp. 55-66.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
116
Iskandar, Zaki, M., Mulyati, S., Fatinah, U., Sari, I. dan Juchairawati, 2010,
Pembuatan Film Selulosa dari Nata de Pina, Jurnal Rekayasa Kimia
dan Lingkungan,Vol.7, No. 3, pp. 105-111.
Juanda, D. dan Cahyono, B., 2004, Ubi Jalar, Budidaya dan Analisis Usaha Tani,
Yogyakarta: Kanisius.
Jones T. J., Hunt, R. D., King N. W., 1996, Veterinary Pathology, 6th Ed.,
London: Williams and Wilkins.
Khan, A., Peh, K. and Chang, S., 2002, Reporting degree of deacytelation values
of chitosan : the influence of analytical methods, J. Pawn
Pharmaceut. Sci., 5, 3.
Kotecha, PM., and Kadam, S. S., 1998, Sweet Potato, in Handbook of Vegetable
Science and Technology (Salunkhe, D.K and S.S Kadameds). New
York: Marcel Dekker Inc.
Kumar, D. P., Joydeep, D., and Tripathi, S. V., 2004, Chitin and Chitosan;
Chemistry, Properties and Applications, Journal of Scientific and
Industrial Reserch,Vol. 63, pp. 20-31.
Kurniati, W., 2008, Kajian Aktivitas Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit (Curcuma
longa Linn.) Dalam Proses Persembuhan Luka Pada Mencit (Mus
musculus Albinus.), Skripsi, Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, IPB.
Kusmiati, Rachmawati, F., Siregar, S., Nuswantara, S. dan Malik, A., 2006,
Produksi Beta-1,3 Glukan dari Agrobacterium dan Aktivitas
Penyembuhan Luka Terbuka pada Tikus Putih, Makara Sains, Vol.
10, No. 1, April, pp. 24-29.
Mann, A., Breuhahn, K., Schirmacher, P., Blessing, M., 2001, Keratinocytederived granulocyte–macrophage colony stimulating factor accelerates
wound healing: stimulation of keratinocyte proliferation, granulation
tissue formation, and vascularization, J Invest Dermatol, 117, pp.
1382–1390.
Manskaya, S. M. and Drodzora, T. V., 1968, Geochemistry of Organic Substance,
Oxford: Pergamon Press.
Mat, B. and Zakaria, 1995, Chitin and Chitosan, Malaysia: University
Kebangsaan Malaysia.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
117
Mc Neil, I.C., 1989, Thermal degradation,In: Comprehensive polymer science,
Volume 6, The synthesis, characterization, reactions & applications of
polymers, Edited by Allen, G. and Bevington, J. C., Oxford:
Pergamon Press.
Meshitsuka, G. and Isogai, A., 1996, Chemical Structures of Cellulose,
Hemicellulose and Lignin, New York: Marcel Dekker.
Morton, J. P. and Malone, M. H., 1990, Archieves Int. Pharmacodynamic et de
Therapie, 196, pp. 117.
Mourya, V. K. and Inamdar, N. N., 2008, Trimethyl Chitosan and Its Application
in Drug Delivery, J. Mater Sci. : Mater Med, 20, pp. 1057-1079.
Muzzarelli, R. A. A., 1997, Chitin, Oxford: Pergamon Press.
Nadarajah, K., 2005, Devolopment and Characterization of Antimicrobial Edible
Films from Crawfish Chitosan, Disertation, Louisiana, USA:
Louisiana State University and Agricultural and Mechanical College.
Pardosi, D., 2008, Pembuatan Material Selulosa Bakteri Dalam Medium Air
Kelapa Melalui Penambahan Sukrosa, Kitosan dan Gliserol
Menggunakan Acetobacter xylinum, Tesis, Medan: Sekolah Pasca
Sarjana Universitas Sumatra Utara.
Philips, G.O. and Williams, P.A., 2000, Handbook of Hydrocolloids, Cambridge:
Woodhead Publishing Limited.
Pillai, C. K. S., Paul, W. and Sharma, C. P., 2009, Chitin and chitosan polymers:
Chemistry, solubility and fiber formation, Progress in Polymer
Science, Volume 34, Issue 7, pp. 641–678.
Pratomo, H. dan Rohaeti, E., 2010, Pembuatan Bioplastik dari Limbah Rumah
Tangga sebagai Bahan Edible Film Ramah Lingkungan, Laporan
Penelitian, Yogyakarta: UNY.
Price, A. dan Wilson, L. Mc Carty, 1992, Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit, Brahm U. Pendit, penerjemah: Huriawati Hartono,
editor, Jakarta: EGC, Terjemahan dari: Pathophisiology: Clinical
Concept of Disease Processes), pp. 57-76.
Price dan Wilson, 2001, Patofisiologi, Jakarta: EGC.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
118
Purmana dan Firman, E., 2006,Pengaruh Suhu Reaksi Terhadap Derajat
Kristalinitas dan Komposisi Hidroksiapatit Dibuat dengan Media Air
dan Cairan Tubuh Buatan (SyntheticBody Fluid), Skipsi, Bogor:
Institut Pertanian Bogor.
Purnomo, D. S. A. N. P., 2009, “Pembuatan dan karakterisasi edible film dari pati
ubi kayu dan ganyong dengan penambahan sorbitol dan gliserol”,
Skripsi, Malang: Universitas Negeri Malang.
Quijada, I.-Garrido, Iglesias, V.-González, Mazón, J. M.-Arechderra and Barrales,
J. M.-Rienda, 2007, The role played by the interactions of small
molecules with chitosan and their transition temperature. Glassforming liquids: 1, 2, 3-Propantriol (glycerol), Carbohydrate
Polymers, Volume 68, Issue 1, pp. 173-186.
Rabek J. F., 1983, Experimental Method of Polymer Chemistry, New York:
Wiley.
Rao, K. K. S. V., Naidu, V. K. B., Subha, M.C.S., Sairam, M., Aminabhavi, T.M.,
2006, Novel chitosan-based pH-sensitive interpenetrating network
microgels for thecontrolled release of cefadroxil, Carbohydrate
Polymers, 66, pp. 333–344.
Richana, N., 2012, Ubi Kayu dan Ubi Jalar, Botani, Budidaya, Teknologi Proses,
Teknologi Pasca Panen, Bandung: Nuansa, pp. 31–50.
Rohaeti, E. dan Rahayu, T., 2012, Sifat Mekanik Bacterial Cellulose dengan
Media Air Kelapa dan Gliserol sebagai Material Pemlastis, Prosiding
Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA,
Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta.
Rosida, A., 2007, Pencirian Poliblend Poliasamlaktat Dengan Polikaprolakton,
Skripsi, Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Institut Pertanian Bogor.
Rukmana, H. R., 1997, Ubi Jalar, Budi Daya Dan Pascapanen, Yogyakarta:
Kanisius.
Samuels, R. J., 1981, Part B: Polym. Phys., J. Polym. Sci., 19, pp. 1081-1105.
Santoso, B., 2006, “Effect of plasticizer type and concentration on the properties
of edible film from water-soluble fish proteins in surimi wash-water”,
Food Science and Technology International, Vol. 12, No. 2, pp. 119126.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
119
Saputro, A. N. C., Kartini, I., Sutarno, 2009, Pengaruh Penghilangan Tahap
Deproteinasi Dalam Metode Preparasi Kitosan Terhadap Sifat Termal
dan Kristalinitas Kitosan, Proseding, FMIPA, UNY, Yogyakarta.
Saragih, 2004, Membuat Nata de Coco, Jakarta: Puspa Swara.
Sastrohamidjojo, H., 2007, Spektroskopi, Yogyakarta: Liberty.
Sediaoetama, A. D., 1993, Ilmu Gizi, Jakarta: Dian Rakyat.
Shahidi, F., Arachchi, J. K. V. and Jeon, Y-J., 1999, Trends in Food Science and
Technology, 10, pp. 37-51.
Shaw, T. J. and Martin, P., 2009, Wound repair at a glance, Journal of Cell
Science, 122, pp. 3209-3213.
Simmons, T. J., Lee, S. H., Miao, J., Miyauchi, M., Park, T. J., Bale, S. S., et. al.
2010, Preparation of synthetic wood composites using ionic liquids.
Wood Science and Technology.
Spector, W. G. and Spector, T. D., 1993, Pengantar Patologi Umum, Ed ke-3,
editor: Soetjipto, N. S., Harsoyo, Hana, A., Astuti, P., penerjemah:
Moelyono M.P.E., Yogyakarta: Gajah Mada University Press, pp. 72144.
Stefanescua, C., Dalya, W. H. and Negulescu, I. I., 2012, Biocomposite films
prepared from ionic liquid solutions of chitosan and cellulose,
Carbohydrate Polymers, 87, pp. 435– 443.
Sugita, P., 2009, Kitosan: Sumber Biomaterial Masa Depan, Bogor: IPB Press.
Suprapta, D. N., Antara, M., Arya, N., Sudana, M., Duniadji, A. S. and Sudarma,
M., 2003, Study on the improvement of quality and diversification of
root crops as sources of alternative food in Bali, Research, Faculty of
Agriculture, Udayana University, Bali.
Suyatma, N. E., Tighzert, L. and Copinet, A., 2005, Effects of Hydrophilic
Plasticizers on Mechanical, Thermal, and Surface Properties of
Chitosan Films, J. Agric. Food Chem., Vol. 53, pp. 3950-3957.
Takayasu, T. and Fumihiro, Y., 1997, Production of Bacterial Cellulose by
Agitation Culture System, Pure & Appl. Chem.,Vol 69, No 11, pp.
2453-2458.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
120
Tampubolon, L., 2008, Pembuatan Material Selulosa-Kitosan Bakteri dalam
Medium Air Kelapa dengan Penambahan Pati dan Kitosan
Menggunakan Acetobacter xylinum, Tesis, Medan: Sekolah Pasca
Sarjana Universitas Sumatra Utara.
Ueno, H., Mori, T., and Fujinaga, T., 2001, Topical formulations and wound
healing applications of chitosan, Advanced Drug Delivery Reviews,
52, pp. 105–115.
Umemura, K., Mihara, A. and Kawai, S., 2010, Development of new natural
polymer-based wood adhesives III: effects of glucose addition on
properties of chitosan, Journal of Wood Science, Volume 56, Issue 5,
pp. 387-394.
Utami, H. P., 2007, Mengenal Cahaya dan Optik, Jakarta: Exact Ganeca, pp. 7172.
Vegad, J. L., 1996, A Textbook of Veterinary General Pathology, 1st Ed., New
Delhi: Vikas Publishing.
Warisno, 2004, Mudah & Praktis Membuat Nata de Coco, Cetakan kedua, Depok:
Agromedia Pustaka.
Winarno, 1992, F. G., Kimia Pangan dan Gizi, Jakarta: Gramedia.
Wonga, S. S., Kasapis, S., and Tan, Y. M., 2009, Bacterial and plant cellulose
modification using ultrasound irradiation, Carbohydrate Polymers, 77,
pp. 280–287.
Xiaoxiao, J.,Wang, J., and Bai, J., 2009, Synthesis and Antimicrobial Activity of
the Schiff Base from Chitosan and Citral, Carbohydrate Research,
344, pp. 825-829.
Yunos, M. Z. B. and Rahman, W. A.W. A., 2011, Effect of Glycerol on
Performance Rice Straw/Starch Based Polymer. Journal of Applied
Sciences, 11, pp. 2456-2459.
Zhijiang, C., Chengwei, H., Guang, Y., 2011, Preparation and Characterization of
a Bacterial Cellulose/Chitosan Composite for Potential Biomedical
Application, Journal of Polymer Research,Volume 18, Number 4, pp.
739-744.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil determinasi tanaman ketela rambat
121
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 2. Surat pengesahan determinasi
122
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 3. Formula yang digunakan (per 100 mL)
No.
1
2
3
4
Komposisi
Sampel
Membran Chitosan
S
SG
SGK
GulaPasir
Urea
Gliserol
Chitosan
10 gram
10 gram
10 gram
0,5 gram
0,5 gram
0,5 gram
0,5 gram
0,5 gram
2 gram
2 gram
Lampiran 4. Skema jalannya penelitian
Determinasi Tanaman
Pengumpulan Bahan
Preparasi Limbah Cair Ketela Rambat
Pembuatan Selulosa Bakteri, Selulosa
Bakteri + Gliserol, Selulosa Bakteri +
Gliserol + Chitosan
Pembuatan Selulosa Bakteri + Gliserol +
Chitosan sebagai membran perlakuan,
Membran Chitosan sebagai kontrol positif,
kontrol negatif
Karakterisasi sifat fisik (makroskopik
dan organoleptis, IR, SEM, sifat
mekanik, TGA, DTA, XRD)
Pengaplikasian membran perlakuan, kontrol
positif dan kontrol negatif pada tikus yang telah
dilukai selama 1, 3, 5 dan 7 hari
Analisis hasil
Pengamatan makroskopis pada luka tikus dan
pengukuran diameter luka setelah didiamkan
selama 1, 3, 5 dan 7 hari
Analisis hasil
123
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
124
Lampiran 5. Foto bahan yang digunakan
a. Ketela Rambat
b. Air ketela rambat
c. Serbuk Chitosan
d. Chitosan yang dilarutkan
dalam asam asetat 2%
Lampiran 6. Foto masing-masing sampel hasil karakterisasi secara
makroskopis
a.
Selulosa bakteri sebelum
pengeringan
b.
Selulosa bakteri + gliserol
setelah pengeringan
c. Selulosa bakteri +
gliserol + chitosan setelah
pengeringan
d.
Selulosa bakteri setelah
pengeringan
e.
Selulosa bakteri + gliserol
setelah pengeringan
f. Selulosa bakteri +
gliserol + chitosan setelah
pengeringan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
125
Lampiran 7. Hasil perbandingan berat ketela rambat dan air yang
digunakan
No.
1
2
3
4
5
Pembuatan
I
II
III
IV
V
Berat (gram)
500
300
250
800
700
Jumlah air (mL)
500
300
250
800
700
Lampiran 8. Hasil penimbangan berat basah sampel
Nomor
1
2
3
4
5
6
Pembuatan
I
I
II
II
III
III
Berat (gram)
236,20
230,29
248,46
238,61
241,20
244,32
Lampiran 9. Hasil perhitungan konsentrasi NaOH dan HCl yang digunakan
a. NaOH 3%
Hasil Penimbangan : 3,00 gram
Pelarut yang digunakan = 100 mL aquadest
Konsentrasi = massa/volume
Konsentrasi = 3,00 gram/100 mL
Konsentrasi = 0,03 gram/mL = 3 %
b. HCl 3%
C1x V1= C2xV2
37% x V1= 3% x 100 mL
V1= 8,11 mL
Volume HCl yang diambil 8,11 mL dari HCl 37 % lalu di ad dalam
100 mL aquadest.
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
126
Lampiran 10. Hasil spektra IR chitosan untuk perhitungan derajat
deasetilasi (DD) beserta perhitungan nilai DD-nya
DD =
(
)
A 1655 =
A 3450 =
DD =
(
DD =
(
DD = 100 – 26,22
DD = 73,78%
)
)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 11. Hasil spektra IR tiap sampel
a.
Selulosa Bakteri
b. Selulosa Bakteri+Gliserol
127
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
c.
Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
Lampiran 12. Hasil penarikan base line spektra IR tiap sampel
a.
Selulosa Bakteri
128
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
b. Selulosa Bakteri+Gliserol
c.
Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
129
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 13. Hasil perhitungan absorbansi tiap sampel
Absorbansi = log (Io/I)
No. Sampel
1
S
2
SG
3
SGK
Gugus
Fungsi
-OH
C=O
-OH
C=O
-OH
C=O
amida
Io/I
Absorbansi
1,481
1,066
2,249
1,019
1,889
1,081
0,17
0,027
0,35
8,47 x 10-3
0,27
0,033
Lampiran 14. Foto SEM tiap sampel
a. Morfologi Permukaan
Selulosa Bakteri
b. Morfologi Permukaan Selulosa
Bakteri+Gliserol+Chitosan
c. Morfologi Melintang Selulosa d. Morfologi Melintang Selulosa
Bakteri
Bakteri+Gliserol+Chitosan
130
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 15. Hasil uji sifat mekanik sampel
a. Selulosa Bakteri
Series
a0
b0
(mm)
(mm)
Rerata
SD
0,34
0,0123
5
0
Lc
(mm)
50
0
b. Selulosa Bakteri + Gliserol
Series
a0
b0
Lc
(mm)
(mm)
(mm)
Rerata
SD
0,368
0,0477
5
0
50
0
Fmax
(N)
Tensile
Strain
Strength at Fmax
(MPa)
(%)
28,41896 16,7125 19,7504
1,67496
0,655
3,2720
Fmax
(N)
Tensile
Strain
Strength at Fmax
(MPa)
(%)
29,3071 16,3096 27,3593
5,1117 4,4560 5,2812
c. Selulosa Bakteri + Gliserol + Chitosan
Series
a0
b0
Lc
Fmax
Tensile
Strain
(mm)
(mm)
(mm)
(N)
Strength at Fmax
(MPa)
(%)
Rerata 0,442
5
50
12,3540 5,6708 4,70144
SD
0,0763
0
0
3,5769 1,6147 2,27941
131
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 16. Hasil statistik uji sifat mekanik tiap sampel
a. Normality test Kelompok tensile strength
Keterangan: data berdistribusi normal jika (p > 0,05)
b. Normality test kelompok strain at Fmax (elongasi)
Keterangan: data berdistribusi normal jika (p > 0,05)
132
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
133
c. Levene’s Test dan One Way ANOVA Kelompok tensile strength
Keterangan: data homogen jika (p > 0,05) dan berbeda bermakna jika (p < 0,05)
d. Bar Chart Kelompok tensile strength
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
134
e. Means Plot (SD as Error) Kelompok tensile strength
f. Levene’s Test dan One Way ANOVA Kelompok strain at Fmax
(elongasi)
Keterangan: data homogen jika (p > 0,05) dan berbeda bermakna jika (p < 0,05)
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
g. Bar Chart Kelompok strain at Fmax (elongasi)
h. Means Plot (SD as Error) Kelompok strain at Fmax (elongasi)
135
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 17. Hasil XRD tiap sampel
a. Selulosa Bakteri
b. Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
136
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
137
Lampiran 18. Hasil perhitungan luas total di bawah kurva tiap
sampel
a. Selulosa Bakteri
b. Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 19. Hasil perhitungan luas background tiap sampel
a. Selulosa Bakteri
b. Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
138
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
139
Lampiran 20. Hasil perhitungan luas kristal+amorf tiap sampel
No.
Sampel
Luas total
AUC
Luas
Background
Luas kristal
+ amorf
1
Selulosa Bakteri
1866,26
1555,202
311,058
2
Selulosa
Bakteri+Gliserol+Chitosan
1872,08
1690,96384
181,116
Lampiran 21. Hasil perhitungan luas kristal tiap sampel
a. Selulosa Bakteri
Luas kristal = FWHM x Intensitas (height)
2-Theta
9,077
16,854
18,16
19,6
22,839
25,36
26,165
27,29
27,882
29,118
31,721
33,881
35,8
36,762
39,16
39,969
44,681
45,443
46,474
48,471
52,487
55,16
56,404
66,121
69,842
75,24
Total
Luas kristal
12,789
3,619
17,158
1,629
23,775
0,7
5,148
7,491
7,232
24,272
36,729
18,91
0,7
8,262
2,464
6,105
6,11
10,101
1,632
2,144
4,862
3,968
4,41
8,064
1,825
5,445
225,544
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
b. Selulosa Bakteri + Gliserol + Chitosan
Luas kristal = FWHM x Intensitas (height)
2-Theta
14,201
22,8
27,841
28,28
30,8
31,879
32,282
33
33,84
35,32
38,12
38,909
41,438
44,72
45,643
56,761
58,635
75,439
Total
Luas kristal
2,975
16,632
7,23
0,7
0,5
14,322
15,232
0,6
0,7
0,6
0,7
5,216
2,241
0,3
28,161
11,362
1,41
6,084
114,965
Lampiran 22. Hasil perhitungan % kristalinitas tiap sampel
a. Selulosa Bakteri
% Kristalinitas = Luas kristalin
× 100%
Luas (kristalin+amorf)
% Kristalinitas = 225, 544 × 100%
311,058
% Kristalinitas = 72, 51% jika dibulatkan menjadi 73%,
b. Selulosa Bakteri + Gliserol + Chitosan
% Kristalinitas = Luaskristalin
× 100%
Luas (kristalin+amorf)
% Kristalinitas = 114,965 × 100%
181,116
% Kristalinitas = 63,48% jika dibulatkan menjadi 63%
140
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
141
Lampiran 23. Hasil data massa tersisa (%) akibat perubahan suhu tiap
sampel
No,
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Suhu (0C)
S
100,00
98,88
90,44
75,56
65,78
62,22
61,11
60,22
59,11
57,11
51,11
46,22
45,11
43,77
42,44
41,11
30
50
75
100
125
150
175
200
225
250
275
300
325
350
375
395
Massa Tersisa (%)
SG
100,00
98,88
91,11
78,44
72,67
68,00
67,11
66,67
65,56
64,00
58,89
52,22
48,89
48,00
46,89
45,56
SGK
100,00
100,00
93,77
84,44
79,55
77,33
75,54
74,22
71,11
63,11
58,00
53,33
46,44
44,88
43,56
42,88
Lampiran 24. Hasil perhitungan suhu untuk sampel yang
terdekomposisi/kehilangan massa 50%
a. Selulosa Bakteri
Persamaan regresi yang didapatkan setelah membuat kurva regresi antara
kehilangan massa (%) vs suhu (0 C) adalah Y= 0,154 x + 4,584
Jika Y = 50 maka 50 = 0,154 x + 4,584
x = 294, 910 C
b. Selulosa Bakteri+Gliserol
Persamaan regresi yang didapatkan setelah membuat kurva regresi antara
kehilangan massa (%) vs suhu (0 C) adalah Y= 0,144 x + 2,285
Jika Y = 50 maka 50 = 0,144 x + 2,285
x = 331, 350 C
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
142
c. Selulosa Bakteri+Gliserol+Chitosan
Persamaan regresi yang didapatkan setelah membuat kurva regresi antara
kehilangan massa (%) vs suhu (0 C) adalah Y= 0,165 x - 4,474
Jika Y = 50 maka 50 = 0,165 x - 4,474
x = 330,150 C
Lampiran 25. Foto instrumen yang digunakan untuk karakterisasi tiap sampel
a.
c.
e.
g.
IR
b. Ion Coating Spuiter
SEM
d.
Universal Testing
Dumb Bell
f.
Pendingin XRD
XRD
h.
DTA – TGA analyzer
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 26. Surat keterangan Ethical Clearance
143
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 27. Hasil perhitungan dosis ketamine dan xylazine
Dosis Ketamine = 0, 2 mL/250 gram BB
Dosis Xylazine = 0,075 mL/250 gram BB
No,
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
Hari
1
3
5
7
Replikasi
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
1
2
3
4
5
6
Ketamine
(mL)
0,162
0,157
0,158
0,164
0,160
0,151
0,167
0,168
0,190
0,159
0,181
0,185
0,178
0,164
0,167
0,165
0,169
0,192
0,166
0,155
0,167
0,142
0,167
0,160
Xylazine
(mL)
0,06
0,05
0,05
0,06
0,06
0,05
0,06
0,06
0,07
0,05
0,06
0,06
0,06
0,06
0,06
0,06
0,06
0,07
0,06
0,05
0,06
0,05
0,06
0,06
144
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
145
Lampiran 28. Foto pengamatan penyembuhan luka pada hewan uji
Waktu
Kontrol Positif
Selulosa
bakteri+gliserol+
chitosan
Kontrol Negatif
a. Hari ke-1
b. Hari ke-3
c. Hari ke-5
d. Hari ke-7
Lampiran 29. Hasil pengukuran diameter luka pada hewan uji
Hari I
Replikasi
1
2
3
4
5
6
SGK
(cm)
1,05
1,07
1,16
1,05
1,10
1,12
Hari I
C (+)
(cm)
1,05
1,12
1
1,12
1,07
1,14
C (-)
(cm)
0,96
1,03
1,05
1,07
1
1,14
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
146
Hari III
Replikasi
Hari III Pengamatan 1
SGK (cm)
C (+)
C (-)
(cm)
(cm)
Replikasi
1
1,07
1,03 1,02
2
1,02
1,02 0,96
3
1,07
1,15 1,13
4
1,05
1,12 1,05
5
0,91
1,05 0,9
6
1,04
1,07 1,17
Keterangan : warna abu-abu menunjukkan data tidak
metode Mourton beserta uji statistiknya
Hari III Pengamatan 2
SGK (cm)
C
C (-)
(+)
(cm)
(cm)
1
0,84
0,84 0,93
2
0,91
0,92 0,93
3
0,85
0,9
1
4
0,82
0,92 0,94
5
0,75
0,82 0,85
6
0,83
0,91 1,05
digunakan untuk perhitungan menggunakan
Hari V
Replikasi
1
2
3
4
5
6
Hari V Pengamatan 1
SGK(cm)
C (+)
C (-)
(cm)
(cm)
0,98
0,95
1,08
1,06
1,08
1,05
0,95
0,97
1,18
1,03
1,07
0,85
1,14
1,2
1,05
1,12
0,94
1
Replikasi
1
2
3
4
5
6
Hari V Pengamatan 2
SGK (cm)
C
C (-)
(+)
(cm)
(cm)
0,65
0,76
0,79
0,81
0,96
0,57
0,73
0,71
0,56
0,59
0,7
0,84
0,81
0,98
0,7
0,83
0,75
0,97
Keterangan : warna abu-abu menunjukkan data tidak digunakan untuk perhitungan menggunakan
metode Mourton beserta uji statistiknya
Hari VII
Replikasi
Hari V Pengamatan 1
SGK (cm)
C (+)
C (-)
(cm)
(cm)
Replikasi
Hari V Pengamatan 2
SGK (cm)
C
C (-)
(+)
(cm)
(cm)
1
1
1,12
1,19 1,03
0,9
0,86 0,6
2
2
1,16
1,07 1,14
0,75
0,63 0,45
3
3
0,98
1,08 1,1
0,45
0,83 0,78
4
4
1,17
1,31 1,05
0,63
0,58 1,05
5
5
1,16
1,05
1
0,85
0,65 0,6
6
6
1,1
1,22 1,11
0,85
0,65 0,6
Keterangan : warna abu-abu menunjukkan data tidak digunakan untuk perhitungan menggunakan
metode Mourton beserta uji statistiknya
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 30. Perhitungan luas metode Morton
Luas = 0,7854 x D2
Penurunan luas (%) = (D12 – D22) x 100
D12
Hari
Perlakuan
Replikasi
Selisih
Diameter
(cm)
Penurunan
Luas (%)
1
2
3
4
5
0,23
0,22
0,23
0,16
0,21
0,21
0,19
0,25
0,2
0,23
0,16
0,206
0,09
0,13
0,11
0,05
0,12
0,1
38,37016
36,89405
39,01134
32,07342
36,30732
36,5313
33,49043
38,75236
32,52551
39,01134
27,67054
34,29
16,86851
21,68533
19,85488
10,80247
19,46088
17,7344
SGK
Rerata
1
2
3
4
5
3
K
Rerata
1
2
3
4
5
O
Rerata
147
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Hari
Perlakuan
Replikasi
Selisih
Diameter
(cm)
Penurunan
Luas (%)
1
2
3
4
5
0,33
0,19
0,29
0,25
0,22
0,236
0,22
0,26
0,62
0,44
0,37
0,382
0,33
0,22
0,35
0,29
0,19
0,276
56,00791
36
46,49348
41,60733
20,98765
40,2193
40,95291
46,42364
77,47774
67,18824
57,2015
57,8488
49,51524
33,30556
55,55556
45,08131
36,33997
43,9595
Replikasi
Selisih
Diameter
(cm)
Penurunan
Luas (%)
1
2
3
4
5
0,22
0,41
0,53
0,31
0,25
0,344
0,33
0,44
0,25
0,4
0,57
0,398
0,43
0,69
0,32
0,4
0,51
0,47
35,4273
58,19709
78,91504
46,30648
40,28926
51,827
47,77205
65,33322
40,93793
61,678
71,61381
57,467
66,06655
84,41828
49,71901
64
70,78159
66,9971
SGK
Rerata
1
2
3
4
5
5
K
Rerata
1
2
3
4
5
O
Rerata
Hari
Perlakuan
SGK
Rerata
7
1
2
3
4
5
K
Rerata
1
2
3
4
5
O
Rerata
148
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran 31. Hasil statistik persentase penurunan luas luka tiap sampel
a. Normality Test Kelompok SGK
Keterangan: data berdistribusi normal jika (p > 0,05)
b. Normality Test Kelompok K
Keterangan: data berdistribusi normal jika (p > 0,05)
149
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
c. Normality Test Kelompok O
Keterangan: data berdistribusi normal jika (p > 0,05)
d. Levene’s Test dan One Way ANOVA Kelompok Hari 3
Keterangan: data homogen jika (p > 0,05) dan berbeda bermakna jika (p < 0,05)
150
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
e. Bar Chart Kelompok Hari 3
f. Means Plot (SD as Error) Kelompok Hari 3
151
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
152
g. Levene’s Test dan One Way ANOVA Kelompok Hari 5
Keterangan: data homogen jika (p > 0,05) dan berbeda bermakna jika (p <
0,05)
h. Bar Chart Kelompok Hari 5
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
i. Means Plot (SD as Error) Kelompok Hari 5
j. Levene’s Test dan One Way ANOVA Kelompok Hari 7
Keterangan: data homogen jika (p > 0,05) dan berbeda bermakna jika
(p < 0,05)
153
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
k. Bar Chart Kelompok Hari 7
l. Means Plot (SD as Error) Kelompok Hari 7
154
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
m. Levane’s Test dan One Way ANOVA Kelompok SGK
Keterangan: data homogen jika (p > 0,05) dan berbeda bermakna jika
(p < 0,05)
n. Bar Chart Kelompok SGK
155
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
o. Levane’s Test dan One Way ANOVA Kelompok K
Keterangan: data homogen jika (p > 0,05) dan berbeda bermakna jika
(p < 0,05)
p. Bar Chart Kelompok K
156
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
q. Levane’s Test dan One Way ANOVA Kelompok O
Keterangan: data homogen jika (p > 0,05) dan berbeda bermakna jika
(p < 0,05)
r. Bar Chart Kelompok O
157
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
158
BIOGRAFI PENULIS
Penulis skripsi dengan judul “Pengaruh
Pemberian Sediaan Biomaterial Selulosa
Bakteri Acetobacter xylinum dari Limbah
Ketela Rambat (Ipomoea batatas Poir)
dengan Penambahan Chitosan Sebagai
Material Penutup Luka pada Tikus Galur
Wistar Jantan” memiliki nama lengkap
Michael Raharja Gani, Penulis lahir tanggal
11 Maret 1991 di Semarang, Penulis
merupakan anak tunggal dari pasangan
Engelbertus Gani dan Endang Widjajanti,
Penulis menyelesaikan pendidikan di TK
Tarakanita
Bumijo
(1995-1997),
SD
Tarakanita Bumijo (1997-2003), SMP Stella
Duce 1 (2003-2006), SMA Kolose De Britto
Yogyakarta
(2006-2009)
kemudian
menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi
Universitas Sanata Dharma (2009-2013),
Selama menempuh kuliah, penulis pernah menjabat sebagai koordinator
Divisi Public Relation di Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas periode 20112012, Ketua Panitia Seminar Kanker Ismafarsi dan JMKI tahun 2010, Humas
Titrasi (2010), serta Divisi Pendaftaran Insadha (2011), Selain kegiatan internal
kampus, penulis juga pernah mewakili Universitas Sanata Dharma dalam lomba
ON-MIPA tingkat Kopertis tahun 2010, peserta Pekan Ilmiah Mahasiswa
Nasional XXIV bidang Kewirausahaan tahun 2011, peserta Kampanye Informasi
Obat tahun 2009 serta delegasi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma
dalam acara Pra Musyarawarah Nasional Ismafarasi tahun 2010, Selain kegiatan
non akademik, penulis juga terlibat dalam kegiatan akademik seperti asisten dosen
Pratikum Kimia Dasar (2010), Kimia Organik (2011), Farmasi Fisika (2011),
Kromatografi (2012), serta Toksikologi Dasar dan Farmakologi-Toksikologi
(2012),
Download