Penilaian Nilai Intrinsik Saham (Valuation)

advertisement
Bahan ajar digunakan sebagai materi penunjang
Mata Kuliah: Manajemen Investasi
Dikompilasi oleh: Nila Firdausi Nuzula, PhD
Penilaian Nilai Intrinsik Saham (Valuation)
Ada beragam cara yang digunakan manajemen untuk menganalisa sekuritas, dalam hal ini saham.
Berikut adalah uraiannya.
1. Active versus passive management
Active portfolio management bermakna bahwa investor melakukan analisa sekuritas sebagai
metode utama untuk mengetahui sekuritas mana yang memiliki harga tidak wajar. Sementara
passive management cenderung menganggap bahwa harga saham dapat diterima (sebagai price
taker), dan melakukan pengelolaan investasi secara efisien dengan cara menghindari biaya
analisa sekuritas dan cenderung membentuk portofolio. Meskipun begitu, ada investor yang
mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut.
2. Quantitative versus traditional fundamental analysis
Dalam perspektif ini, analisa sekuritas terbagi menjadi analisis teknikal dan fundamental. Analisa
fundamental bermaksud untuk mengutamakan analisa sekuritas berdasarkan nilai pasar sekuritas
saat ini dibandingkan dengan proyeksi penerimaan earnings dan cash flow di masa mendatang.
Analisa ini didasarkan pada informasi yang diperoleh dari hasil accounting analysis, financial
analysis dan prospective analysis (forecasting).
Di sisi lain, quantitative analysis bertujuan untuk melakukan screening terhadap saham, dengan
menggunakan beragam indikator seperti price-earnings ratio, price-book ratio, dan sebagainya.
Pendekatan kuantitatif juga menggunakan model prediksi return saham, dengan menggunakan
analisis regresi dan probit analysis, atau bahkan neural network analysis.
3. Formal versus informal valuation
Formal valuation mengarahkan investor untuk mengestimasikan nilai pasar saham. Formal
valuation bermanfaat untuk mengambil keputusan apakah perusahaan dapat didaftarkan sebagai
perusahaan public (dari private firm to public firm), untuk mengevaluasi proposal merger atau
buyout, untuk mengeluarkan opini atau review atas kinerja manajerial.
Sementara, informal valuation mengarahkan investor membandingkan proyeksi earnings dalam
jangka panjang (long-term earnings projection) dengan nilai consensus yang diperoleh
berdasarkan forecast, untuk memberikan rekomendasi pembelian atau penjualan sekuritas.
Alternative lain dalam pendekatan ini adalah investor merekomendasikan pembelian suatu
saham karena hasil perkiraan laba (earnings forecast) terlihat lebih besar dibandingkan dengan
harga saham saat ini.
4. Present Value of Cash Flow (PVCF) versus Relative Valuation Techniques
Terdapat tiga jenis pendekatan berdasarkan PVCF, yaitu present value of dividends atau dividend
discount model (DDM), present value of free cash flow to equity (FCFE), dan present value of free
operating cash flow to the firm (FCFF). Sementara berdasarkan Relative Valuation Techniques,
terdapat empat jenis pendekatan yaitu: Price/Earnings Ratio (P/E), Price/Cash Flow Ratio (P/CF),
Price/Book value ratio (P/BV), dan Price/Sales Ratio (P/S).
Produk akhir dari analisa atau penilaian sekuritas adalah rekomendasi untuk mengambil keputusan
membeli, menjual atau menahan (hold) sekuritas tersebut. Untuk itu, analis sekuritas perlu
mempertimbangkan periode waktu yang dibutuhkan untuk mengkapitalisasikan rekomendasi
tersebut. Hal ini penting untuk menjawab pertanyaan: apakah kinerja suatu sekuritas dapat
dikonfirmasikan akan terjadi dalam waktu dekat ini, sehingga investor perlu merealisasikan
rekomendasi tersebut dalam waktu dekat. Atau, apakah kinerja atau profitabilitas yang diharapkan
akan terjadi dalam waktu yang lama, sehingga investor tidak perlu merealisasikan rekomendasi
tersebut karena realisasi expected return masih akan terjadi di beberapa waktu lagi? Pada dasarnya,
semakin panjang periode investasi, makin besar risiko yang harus ditanggung investor karena
kemungkinan terjadinya perubahan kondisi ekonomi yang tidak dapat diantisipasi analis semakin
besar. Hal ini dapat mengurangi ‘nilai’ atau validitas suatu rekomendasi pembelian atau penjualan
sekuritas. Untuk itu, analisa harga saham yang baik perlu memasukkan faktor potensi terjadinya
harga saham, tidak hanya mengenali apakah harga pasar saham adalah wajar atau tidak.
Berikut ini adalah dua metode penilaian harga intrinsic saham.
Metode Nilai Sekarang (Present Value)
Metode ini dimaksudkan untuk mengevaluasi nilai sekarang dari arus kas yang akan terjadi di masa
datang. Arus kas dari investasi utamanya berasal dari dividen. Dengan kata lain, dividen digunakan
sebagai dasar penilaian saham biasa, mengingat dividen merupakan cashflow yang dibayarkan
perusahaan bagi investor.
Perhitungan nilai sekarang dari dividen yang akan diterima di masa datang adalah sebagai berikut.
𝑃0 =
𝐷1
𝐷2
𝐷𝑛
+
+ β‹―+
(1 + π‘˜)1 (1 + π‘˜)2
(1 + π‘˜)𝑛
dimana Dn adalah estimated dividend, dan k adalah tingkat pengembalian yang diharapkan.
Perhitungan estimated dividend dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu dari beberapa
pendekatan, yaitu:
1. Model zero growth
Model ini mengasumsikan bahwa besarnya dividen yang dibayarkan perusahaan tidak mengalami
pertumbuhan. Jumlah dividen yang dibayarkan adalah sama dari tahun ke tahun. Rumusan model
zero growth adalah sebagai berikut.
𝐷0
𝐷𝑑 =
π‘˜
Dimana:
π‘˜ : required rate of return atau discount rate
𝐷𝑑 : Dividend pada tahun ke-t
𝐷0 : Dividend pada saat ini
2. Model constant growth
Model ini disebut juga sebagai Gordon Growth model atau Gordon’s model. Pendekatan ini
mengasumsikan bahwa dividen yang dibayarkan perusahaan akan tumbuh secara konstan dari
tahun ke tahun. Rumusan model ini adalah:
𝐷0 (1 + 𝑔)1 𝐷0 (1 + 𝑔)2
𝐷0 (1 + 𝑔)𝑛
𝑃0 =
+
+
β‹―
+
(1 + π‘˜)1
(1 + π‘˜)2
(1 + π‘˜)𝑛
Dimana:
𝑔 : expected growth rate
𝑃0 : besarnya dividend yang akan dibayarkan pada tahun saat ini
Rumus tersebut dapat disederhanakan dengan:
𝐷0 (1 + 𝑔)
𝑃0 =
(1 − 𝑔)
atau
𝐷
𝑃0 =
(π‘˜ − 𝑔)
3. Model pertumbuhan tidak konstan
Pendekatan ini mengasumsikan bahwa dividen kas yang dibayarkan akan tumbuh dari tahun ke
tahun dengan tingkat yang tidak konstan, sesuai dengan ketersediaan kas dan kebijakan dividen
perusahaan.
Metode Laba atau Price Earnings Ratio (PER)
Metode ini menggunakan nilai earnings untuk mengestimasi nilai intrinsik. Metode PER ini disebut
juga dengan metode multiplier, karena investor akan menghitung berapa kali (multiplier) nilai
earnings tercermin dalam harga saham. Dengan demikian, metode PER menggambarkan rasio atau
perbandingan antara harga saham dengan earnings per lembar saham perusahaan.
π‘ƒπ‘Ÿπ‘–π‘π‘’ π‘‘π‘œ πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘”π‘  π‘…π‘Žπ‘‘π‘–π‘œ =
π‘†β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’ π‘π‘Ÿπ‘–π‘π‘’
πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘”π‘  π‘ƒπ‘’π‘Ÿ π‘†β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’
Semakin tinggi nilai PER, makin kecil keuntungan yang didapat untuk setiap lembar saham, karena
harga pasar dinilai semakin mahal. Sebaliknya, makin rendah nilai PER menunjukkan makin besar
keuntungan yang akan didapat untuk setiap lembar saham karena harga dinilai semakin murah. Nilai
PER suatu saham 5 kali artinya investor harus membayar Rp 5 untuk memperoleh setiap satu rupiah
earnings perusahaan. Jadi, semakin tinggi PER suatu saham, makin kurang bagus karena keuntungan
per lembar saham relative kecil.
Tahapan penggunaan PER dalam menentukan nilai intrinsic suatu saham:
1. Menentukan tingkat laba ditahan (b)
Tingkat laba ditahan atau rasio plowback atau retention ratio (b) dapat dihitung dengan rumus:
𝑏 = 1 − 𝐷𝑃𝑅
Dividend Payout Ratio merupakan salah satu ukuran kebijakan dividen dan bertujuan untuk
memberikan informasi kepada masyarakat bahwa perusahaan mampu untuk memberikan laba
bagi para pemegang saham. Rumusan DPR adalah:
πΆπ‘Žπ‘ β„Ž 𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛𝑑𝑠 π‘ƒπ‘Žπ‘–π‘‘
𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛𝑑 π‘ƒπ‘Žπ‘¦π‘œπ‘’π‘‘ π‘…π‘Žπ‘‘π‘–π‘œ =
𝑁𝑒𝑑 π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘“π‘–π‘‘
2. Menghitung tingkat pertumbuhan expected earnings (earnings growth rate atau g)
Data hasil perhitungan dalam tahap pertama digunakan untuk menghitung pertumbuhan
expected earnings atau g.
πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘”π‘  π‘”π‘Ÿπ‘œπ‘€π‘‘β„Ž π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘’ (𝑔) = 𝑅𝑂𝐸 π‘₯ 𝑏
atau,
𝑔 = 𝑅𝑂𝐸 π‘₯ (1 − 𝐷𝑃𝑅)
3. Menentukan estimated cash Dividend per Share (DPS)
𝐷1 = 𝐷0 π‘₯ (1 + 𝑔)
Dimana, D1 merupakan estimated DPS dan D0 merupakan nilai dividen tahun sebelumnya, dan g
adalah tingkat pertumbuhan earnings yang diharapkan.
4. Menentukan estimated Earnings per Share (EPS)
Rumus yang digunakan untuk menghitung estimated EPS adalah:
𝐸𝑃𝑆1 = 𝐸𝑃𝑆0 π‘₯ (1 + 𝑔)
5. Menentukan nilai expected return (k)
Return yang diinginkan investor dihitung dengan rumus berikut:
𝐷1
π‘˜=
+𝑔
𝑃0
Dimana, D1 merupakan nilai dividen yang diestimasikan terjadi di masa mendatang, P0 adalah
harga saham periode sebelumnya, dan g adalah expected earnings growth.
6. Menghitung estimated PER
𝐷1
⁄𝐸𝑃𝑆
1
π‘ƒπΈπ‘…π‘’π‘ π‘‘π‘–π‘šπ‘Žπ‘‘π‘’π‘‘ =
π‘˜−𝑔
Dimana D1 merupakan nilai estimated dividen, EPS1 merupakan nilai estimated EPS, k adalah
expected return dan g adalah expected earnings growth.
7. Menghitung nilai intrinsic saham
Perhitungan nilai intrinsic saham dilakukan dengan cara:
π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘–π‘›π‘‘π‘Ÿπ‘–π‘›π‘ π‘–π‘˜ = πΈπ‘ π‘‘π‘–π‘šπ‘Žπ‘‘π‘’π‘‘ 𝐸𝑃𝑆 π‘₯ πΈπ‘ π‘‘π‘–π‘šπ‘Žπ‘‘π‘’π‘‘ 𝑃𝐸𝑅
Tahap selanjutnya adalah membandingkan nilai intrinsic saham hasil perhitungan dengan rumus di
atas dengan nilai saham atau harga pasar yang sesungguhnya. Prosedur penilaian kewajaran harga
saham dilakukan dengan cara berikut:
Keterangan
Bila nilai intrinsic > harga pasar
Bila nilai intrinsic < harga pasar
Kondisi Harga saham
Harga saham terlalu murah (undervalued)
Harga saham terlalu mahal (overvalued)
Bila nilai intrinsic = harga pasar
Harga saham wajar atau normal (correctly valued)
Keputusan investasi hasil perhitungan nilai intrinsic adalah sebagai berikut.
Kondisi harga saham
Undervalued
Overvalued
Correctly valued
Keputusan investasi
Membeli karena dimungkinkan harga akan naik
Menjual karena dimungkinkan harga akan jatuh
Menahan (tidak menjual atau membeli) hingga ada waktu
dimana terjadi estimated earnings bagi investor
Download