Perbedaan Bersihan Jalan Napas Sebelum Dan Sesudah Terapi

advertisement
PERBEDAAN BERSIHAN JALAN NAPAS SEBELUM DAN SESUDAH TERAPI
INHALASI UAP AIR PADA PENDERITA INFLUENSA USIA PRASEKOLAH DI
DESA NYATNYONO
Lisa Yuliastuti*
Eko Susilo S. Kep., Ns., M. Kep**) Priyanto,S.Kep.,Ns.M.Kep.,Sp.KMB**)
*) Mahasiswa Program Studi Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo Ungaran
**) Dosen Program Studi Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo Ungaran
Email : [email protected]
ABSTRAK
LatarBelakang : Anak penderita influenza yang mengalami ketidakefektifan bersihan
jalan napas ditandai dengan hidung tersumbat dan suara tambahan.
Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan bersihan jalan napas
sebelum dan sesudah diberikan terapi inhalasi uap air pada anak usia pra sekolah dengan
influenza
Metode : Rancangan penelitian ini adalah one group pretest-posttest design dengan jumlah
sampel 15 responden menggunakan metode accidental sampling. Responden menghirup
uap air panas ke dalam saluran pernapasan selama ± 15 menit pagi dan sore hari. Alat
pengambilan data menggunakan kuesioner. Analisis bivariat menggunakan uji wilcoxon.
Hasil : Bersihan jalan napas sebelum diberikan terapi inhalasi uap air pada penderita
influensa anak usia pra sekolah semuanya tidak efektif yaitu sebanyak 15 orang (100,0%).
Bersihan jalan napas sesudah diberikan terapi inhalasi uap air sebagian besar tidak efektif
yaitu sebanyak 11 orang (73,3%). Ada perbedaan bersihan jalan napas sebelum dan
sesudah diberikan terapi inhalasi uap air pada penderita influensa usia prasekolah, dengan
p value sebesar 0,046 < α (0,05). Simpulan :Ada perbedaan bersihan jalan napas sebelum
dan sesudah diberikan terapi inhalasi uap air pada usia pra sekolah dengan influensa di
Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang.
Saran : sebaiknya masyarakat memanfaatkan terapi inhalasi uap air pada penderita
influensa usia prasekolah yang dapat dilakukan di rumah sebagai terapi komplementer
sebagai upaya membersihkan jalan napas.
Kata Kunci
Kepustakaan
: bersihan jalan napas, terapi inhalasi uap air, anak usia pra
influensa
: 35 (2006-2015)
Perbedaan Bersihan Jalan Napas Sebelum Dan Sesudah Terapi Inhalasi Uap
Air Pada Penderita Influensa Usia Prasekolah Di Desa Nyatnyono
sekolah,
1
ABSTRACT
Background: Children with influenza who suffered ineffective Airway clearance
characterized by nasal congestion and additional sound.
Objective: This study aims to determine the differences in airway clearance before and
after therapy of inhalation using water vapor in pre-school age children with influenza.
Methods: The study design was one group pretest-posttest design with the samples of 15
respondents using accidental sampling method. Respondents inhaling steam into the
respiratory tract during ± 15 minutes morning and evening. Data collecting tool used a
questionnaire.
The
bivariate
analysis
used
the
Wilcoxon
test.
Results: Airway clearance before being given water vapor inhalation therapy in pre-school
age children with influenza was all ineffective as many as 15 people (100.0%). Airway
clearance after the therapy of inhalation using water vapor in pre-school age children with
influenza was mostly ineffective as many as 11 people (73.3%). There were differences in
airway clearance before and after water vapor inhalation therapy in pre-school age
children, with p value of 0.046 <α (0.05).
Conclusion: There are differences in airway clearance before and after the therapy of
inhalation using water vapor in pre-school age children with influenza in Nyatnyono
village District of West Ungaran Semarang Regency
Suggestion: People should use water vapor inhalation therapy in pre-school age children
with influenza at home as a complementary therapy as an effort to clear the airway.
Keywords
: airway clearance, water vapor inhalation therapy, preschool, age children a
influenza
Bibliographies: 35 (2006-2015)
PENDAHULUAN
Anak-anak dibawah lima
tahun mudah sekali terkena penyakit
karena kekebalan tubuh yang
dimiliki masih rendah atau imunitas
yang dimiliki belum terbentuk
sempurna terutama penyakit infeksi
(Meadow & Simon, 2006). Anak
dibawah lima tahun atau anak masa
prasekolah adalah dimana anak
sedang
aktif-aktifnya,
ingin
mengetahui segala bentuk dan segala
rupa yang dilihat olehnya, senang
bermain air, bermain diluar rumah
dan banyak sekali yang ingin
dilakukannya, selain itu anak dengan
usia
prasekolah
memiliki
kecenderungan nafsu makan yang
menurun. Anak pada masa usia
prasekolah ini juga sudah mengenal
berbagai macam permainan dan
ingin bermain dengan teman-teman
seumurannya diluar rumah, sehingga
dengan berbagai aktifitas yang ingin
dilakukannya dan napsu makan
menurun atau asupan nutrisi tidak
terpenuhi
membuat
usia
anak
prasekolah lebih rentan terhadap suatu
penyakit terutama penyakit infeksi
(Hidayat, 2008).
Influensa merupakan sinonim dari
flue atau influensa. Influenza merupakan
infeksi saluran pernapasan atas yang
disebabkan oleh virus yang menyerang
pasien pada semua tingkat usia. Istilah
“common cold” lebih menjelaskan suatu
kompleks gejala daripada suatu penyakit
tertentu, yang memilki ciri seperti hidung
tersumbat (nasal congestan), suara serak
(sore throat) dan batuk. Influensa
menunjukkan rhinitis akut yang disebabkan
oleh virus “selesma”. Rhinitis berarti
“iritasi hidung” dan adalah derivative dari
Perbedaan Bersihan Jalan Napas Sebelum Dan Sesudah Terapi Inhalasi Uap
Air Pada Penderita Influensa Usia Prasekolah Di Desa Nyatnyono
2
rhino, berarti “hidung”. Selaput lendir
pada hidung yang terkena iritasi atau
radang akan memproduksi lebih banyak
lendir dan mengembang, sehingga
hidung
menjadi
tersumbat
dan
pernafasan jadi sulit (Somantri, 2007).
Penumpukan sekret merupakan
suatu hasil produksi dari bronkus yang
keluar bersama dengan batuk atau
bersihan tenggorokan. Penumpukan
sekret menunjukkan adanya bendabenda asing yang terdapat pada saluran
pernapasan sehingga dapat mengganggu
keluar dan masuknya aliran udara.
Sekret atau sputum adalah lendir yang
dihasilkan karena adanya rangsangan
pada membrane mukosa secara fisik,
kimiawi maupun karena infeksi hal ini
menyebabkan proses pembersihan tidak
berjalan secara adekuat, sehingga mukus
banyak tertimbun (Djojodibroto, 2009).
Ketika seseorang mengalami suatu
ancaman yang nyata atau potensial pada
status pernafasan sehubungan dengan
ketidak mampuan untuk batuk secara
efektif maka dikatakan bersihan jalan
nafas tidak efektif (Juall & Carpenito
2006).
Bersihan
jalan
napas
menunjukkan saluran pernapasan yang
bebas dari sekresi maupun obstruksi dan
bersihan jalan napas tidak efektif adalah
terdapatnya benda asing seperti sekret
pada saluran pernapasan sehingga
menghambat
saluran
pernapasan.
Bersihan jalan napas tidak efektif
merupakan suatu keadaan dimana
seorang individu mengalami suatu
ancaman yang nyata atau potensial pada
status pernapasan sehubungan dengan
ketidakmampuan untuk batuk secara
efektif (Juall & Carpenito, 2006).
Salah
satu
upaya
untuk
mengatasi hidung tersumbat dapat
dilakukan dengan pemberian obat secara
dihirup, obat dapat dihirup untuk
menghasilkan efek lokal atau sistemik
melalui saluran pernapasan dengan
menghirup menggunakan uap, nebulizer,
atau aerosol semprot (Gabrielle, 2013).
Terapi inhalasi uap adalah pengobatan
efektif untuk mengatasi hidung tersumbat,
metode alami yang baik dengan uap dan
panas. (Ashley, 2013).
Berdasarkan
hasil
studi
pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti
di Desa Nyatnyono, Kab. Semarang
didapatkan 7 anak yang mengalami
influensa (batuk pilek), terdapat 5 anak
mengalami ketidakefektifan bersihan jalan
napas yaitu hidung tersumbat, untuk
mengatasi hidung tersumbat penderita
influensa orang tua membelikan obat di
apotik, apabila tidak kunjung sembuh, anak
dibawa ke bidan desa untuk diperiksa.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah rancangan praeksperimen.
Desain
penelitian
yang
digunakan dalam penelitian ini berbentuk
one group pretest-posttest design. Populasi
dalam penelitian ini adalah 50 anak usia
prasekolah di Desa Nyatnyono Kecamatan
Ungaran Barat Kabupaten Semarang,
dengan minimal sample 15 anak usia
prasekolah. Metode pengambilan sampel
dalam penelitian ini adalah accidental
sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada
tanggal 1-20 September 2016 di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat
Kabupaten Semarang. Alat pengumpulan
data adalah dengan menggunakan lembar
observasi. Analisis data menggunakan
distribusi frekuensi.
HASIL
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Bersihan Jalan
Napas
Sebelum
Diberikan
Terapi Inhalasi Uap Air Pada
Penderita Influensa Usia Pra
Sekolah
Bersihan
jalan napas
Tidak efektif
Frekuensi
(f)
15
Perbedaan Bersihan Jalan Napas Sebelum Dan Sesudah Terapi Inhalasi Uap
Air Pada Penderita Influensa Usia Prasekolah Di Desa Nyatnyono
Persentase
(%)
100,0
3
Efektif
Jumlah
0
15
0,0
100,0
Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui
bahwa bersihan jalan napas sebelum
diberikan terapi inhalasi uap air pada
penderita influensa usia pra sekolah di
Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran
Barat Kabupaten Semarang semuanya
tidak efektif yaitu sebanyak 15 orang
(100,0%).
Tabel
4.2
Distribusi
Frekuensi
Responden
Berdasarkan
Bersihan
Jalan
Napas
Sesudah Diberikan Terapi
Inhalasi Uap Air pada
Penderita Influensa Usia Pra
sekolah
Bersihan
jalan napas
Tidak efektif
Efektif
Jumlah
Frekuensi Persentase
(f)
(%)
11
73,3
4
26,7
15
100,0
Berdasarkan Tabel 4.3 tersebut dapat
diketahui bahwa skor rata-rata bersihan jalan
napas sebelum diberikan terapi inhalasi uap
air pada anak usia prasekolah penderita
influenza di Desa Nyatnyono Kecamatan
Ungaran Barat Kabupaten Semarang sebesar
1,0000, sedangkan skor rata-rata bersihan
jalan napas sesudah terapi inhalasi uap air
pada anak usia prasekolah penderita
influenza di Desa Nyatnyono Kecamatan
Ungaran Barat Kabupaten Semarang sebesar
1,2667, sehingga terlihat ada perbedaan ratarata sebesar 0,2667. Diperoleh pula nilai Z
hitung sebesar 2,0000 dan p value sebesar
0,046 < α (0,05) sehingga dapat disimpulkan
bahwa ada perbedaan bersihan jalan napas
sebelum dan sesudah diberikan terapi
inhalasi uap air pada penderita influensa usia
prasekolah di Desa Nyatnyono Kecamatan
Ungaran Barat Kabupaten Semarang.
PEMBAHASAN
A. Bersihan Jalan Napas Sebelum
Diberikan Terapi Inhalasi Uap Air
Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui
pada Penderita Influensa Usia Pra
bahwa bersihan jalan napas sesudah
sekolah
di
Desa
Nyatnyono
diberikan terapi inhalasi uap air pada
Kecamatan
Ungaran
Barat
penderita influensa usia pra sekolah di
Kabupaten
Semarang
Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran
Hasil penelitian menunjukkan
Barat Kabupaten Semarang sebagian
bahwa bersihan jalan napas sebelum
besar tidak efektif yaitu sebanyak 11
diberikan terapi inhalasi uap air pada
orang (73,3%).
penderita influensa usia pra sekolah di
Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran
Barat Kabupaten Semarang semuanya
tidak efektif yaitu sebanyak 15 orang
(100,0%). Responden dalam penelitian
Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi
ini
mengalami
sumbatan
napas
Inhalasi Uap Air pada Anak
(diperiksa,
adanya
sputum
yang
keluar
Usia Prasekolah Penderita
dari jalan napas).
Influensa
Alergen (virus) yang masuk
Bersihan
tubuh melalui saluran pernafasan, kulit,
Z
pJalan
n
Mean
SD
value
hitung
saluran pencernaan dan lain-lain akan
Napas
ditangkap oleh makrofag yang bekerja
Sebelum
15
2,000
0,046
1,0000
0,00000
sebagai Antigen Presenting Cells
Sesudah
15
(APC). Setelah alergen diproses dalam
1,2667
0,45774
sel APC, kemudian oleh sel tersebut,
alergen dipresentasikan ke sel Th. Sel
Perbedaan Bersihan Jalan Napas Sebelum Dan Sesudah Terapi Inhalasi Uap
Air Pada Penderita Influensa Usia Prasekolah Di Desa Nyatnyono
4
APC
melalui
penglepasan
interleukin I (II-1) mengaktifkan sel
Th. Melalui penglepasan Interleukin
2 (II-2) oleh sel Th yang diaktifkan,
kepada sel B diberikan signal untuk
berproliferasi menjadi sel plasthma
dan membentuk IgE. IgE yang
terbentuk akan segera diikat oleh
mastosit yang ada dalam jaringan
dan basofil yang ada dalam sirkulasi.
Hal ini dimungkinkan oleh karena
kedua
sel
tersebut
pada
permukaannya memiliki reseptor
untuk IgE. Sel eosinofil, makrofag
dan trombosit juga memiliki reseptor
untuk IgE tetapi dengan afinitas
yang lemah. Bila orang yang sudah
rentan itu terpapar kedua kali atau
lebih dengan alergen yang sama,
alergen yang masuk tubuh akan
diikat oleh IgE yang sudah ada pada
permukaan mastofit dan basofil.
Ikatan tersebut akan menimbulkan
influk Ca++ ke dalam sel dan terjadi
perubahan
dalam
sel
yang
menurunkan kadar cAMP. Kadar
cAMP yang menurun itu akan
menimbulkan
degranulasi
sel
(Muttaqin, 2008).
Dalam proses degranulasi sel
ini yang pertama kali dikeluarkan
adalah
mediator
yang sudah
terkandung dalam granul-granul
(preformed) di dalam sitoplasma
yang mempunyai sifat biologik,
yaitu
histamin,
Eosinophil
Chemotactic Factor-A (ECF-A),
Neutrophil Chemotactic Factor
(NCF), trypase dan kinin. Efek yang
segera terlihat oleh mediator tersebut
ialah obstruksi oleh
histamin.
Histamin menyebabkan Vasodilatasi,
penurunan tekanan kapiler dan
permeabilitas,
sekresi
mucus.
Sekresi mukus yang berlebih itulah
yang menghasilkan pilek (Muttaqin,
2008).
Influensa
atau
selesma
merupakan infeksi virus yang
menyerang saluran pernapasan atas
(hidung sampai tenggorokan) dan
menimbulkan gejala ingus meler atau
hidung mampet dan batuk, sering
disertai demam, sakit kepala, nyeri otot
dan nyeri telan. Virus yang paling
sering pada selesma adalah rhinovirus
(terdapat 100 jenis rhinovirus berbeda
yang dapat menginfeksi manusia),
diikuti dengan respiratory sincytial
virus (RSV), dan adenovirus. Virus yang
masuk ke tubuh dan menginfiltrasi
saluran napas di hidung sampai
tenggorokan akan memicu rangkaian
reaksi sistem imun (pertahanan tubuh)
dan bermanifestasi sebagai gejala-gejala
yang dialami (batuk, pilek, demam, dan
lainnya) (Arifianto, 2012).
Responden juga menunjukkan
adanya suara napas tambahan (diperiksa
dengan
menggunakan
stetoskop).Ketidakefektifan
bersihan
jalan
nafas
yang
merupakan
ketidakmampuan untuk membersihkan
sekresi atau obstruksi dari saluran nafas
untuk mempertahankan bersihan jalan
nafas dengan batasan karakteristik
meliputi: tidak ada batuk, suara nafas
tambahan, perubahan frekuensi nafas,
sianosis, kesulitan mengeluarkan suara,
penurunan bunyi nafas, dyspnea,
sputum dalam jumlah yang berlebih,
batuk yang tidak efektif,ortopnea,
gelisah, serta mata terbuka lebar
(Herdman, 2011). Masalah keperawatan
bersihan jalan nafas harus diatasi
apabila tidak segera ditangani akan
terjadi resiko aspirasi atau sufokasi
(bekuan darah yang tidak dapat
dikeluarkan dengan batuk) yang
berlanjut pada tersumbatnya jalan nafas,
asfiksia dan kematian (Muttaqin, 2008).
Hidung tersumbat (rhinitis)
adalah peradangan pada saluran hidung
dengan
produksi
mukus
yang
berlebihan. Penyebab paling umum
adalah rhinovirus yang dikenal sebagai
common cold atau flu biasa, penyebab
lain dapat berupa rhinitis alergi atau
Perbedaan Bersihan Jalan Napas Sebelum Dan Sesudah Terapi Inhalasi Uap
Air Pada Penderita Influensa Usia Prasekolah Di Desa Nyatnyono
5
pengaruh musim (Bajaj, 2011).
Hidung tersumbat terjadi karena
pelebaran pembuluh darah hidung
yang merupakan gejala Influensa
yang
meningkatkan
keparahan
selama minggu pertama. Hidung
tersumbat disebabkan oleh pelebaran
pembuluh darah kapasitansi besar
yang terkadang disebut sebagai
“jaringan ereksi” karena dapat
membengkak dan menghalangi
hidung. Jaringan ereksi vena sangat
baik dikembangkan di akhir anterior
konka inferior dan septum hidung.
Bengkak ini terjadi pada (katup
hidung) bagian untuk mengatur
resistensi saluran napas hidung untuk
aliran udara. Ostia sinus paranasal
juga dikelilingi oleh jaringan ereksi
vena, dan pembengkakan pembuluh
darah ini dalam hubungan hidung
tersumbat
dapat
menyebabkan
sinusitis (Bajaj, 2011).
B. Bersihan Jalan Napas Sesudah
Diberikan Terapi Inhalasi Uap Air
pada Penderita Influensa Usia Pra
Sekolah di Desa Nyatnyono
Kecamatan
Ungaran
Barat
Kabupaten Semarang
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa bersihan jalan napas sesudah
diberikan terapi inhalasi uap air pada
penderita influensa usia pra sekolah
di Desa Nyatnyono Kecamatan
Ungaran Barat Kabupaten Semarang
sebagian besar tidak efektif yaitu
sebanyak 11 orang (73,3%).
Rhinorrea atau pilek mengacu
pada hidung berair yang berkaitan
dengan influensa, ini merupakan
gejala awal yang berhubungan
dengan bersin dan aktivasi reflek
saraf parasimpatis dari yang
merangsang sekresi pada kelenjar
hidung. Terkait dengan hidung yang
terkena infeksi saluran pernapasan
atas adalah terdapat campuran
kompleks unsur-unsur yang berasal
dari hidung dan kelenjar lakrimal, sel
goblet, sel plasma, dan eksudat plasma
dari kapiler serta kontribusi relatif dari
sumber yang bervariasi dengan waktu
infeksi dan keparahan respon inflamasi
(Bajaj, 2011).
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa bersihan jalan napas sesudah
diberikan terapi inhalasi uap air pada
penderita influensa usia pra sekolah di
Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran
Barat Kabupaten Semarang sebagian
efektif yaitu sebanyak 4 orang (26,7%).
Ibu responden mengatakan mengalami
kesulitan bernapas dimana hal tersebut
merupakan gejala nyata adanya
gangguan trakeobronkial, parenkim
paru dan rongga pleura. Saat terjadi
sesak napas, ada peningkatan kerja
pernapasan
akibat
bertambahnya
resistensi elastik paru (seperti pada
pneumonia, atelatasis dan penyakit
pleura), dinding dada (obesitas,
kifoskoliosis)
atau
meningkatnya
resistensi non elastisitas (emfisema,
asma dan bronchitis) (Muttaqin, 2014).
Responden
juga
terlihat
mengalami batuk ada ronchi diposterior
sinistra. Batuk adalah refleks protektif
yang disebabkan oleh iritasi pada
percabangan
trakheobronkhial.
Kemampuan untuk batuk merupakan
mekanisme
penting
dalam
membersihkan jalan napas bagian
bawah ronchi merupakan bunyi gaduh
yang dalam yang terdengar selama
ekspirasi. Penyebabnya diantaranya
gerakan udara melewati jalan napas
yang menyempit akibat obstruksi napas.
Obstruksi merupakan sumbatan akibat
sekresi, odema, atau tumor (Asih dan
Effendy, 2014). Ronchi merupakan
suara napas tambahan yang terdengar
selama fase inspirasi dan ekspirasi.
Karakter suara terdengar perlahan,
nyaring, suara mengorok terus-menerus
(Somantri, 2007).
Terapi
inhalasi
merupakan
pemberian obat secara langsung ke
Perbedaan Bersihan Jalan Napas Sebelum Dan Sesudah Terapi Inhalasi Uap
Air Pada Penderita Influensa Usia Prasekolah Di Desa Nyatnyono
6
dalam saluran napas melalui
penghisapan (Potter & Perry, 2007).
Inhalasi
sederhana
berarti
memberikan obat dengan cara
dihirup dalam bentuk uap ke dalam
saluran pernapasan yang dilakukan
dengan bahan dan cara yang
sederhana serta dapat dilakukan
dalam
lingkungan
masyarakat.
Steam inhalation (inhalasi uap)
adalah menghirup uap hangat dari air
mendidih
(Akhavani,
2005).
Penguapan tersebut menggunakan
air panas dengan suhu 42 C-44 C
(Hendley, Abbott, Beasley &
Gwaltney, 2004). Tindakan ini
memiliki sejumlah efek terapeutik,
di
antaranya
berguna
untuk
mengencerkan lendir di saluran
hidung dan sinus serta dibawah
saluran pernapasan. Penguapan ini
juga berguna sebagai ekspektoran
alami dan penekan batuk.
Inhalasi merupakan salah satu
cara yang diperkenalkan dalam
penggunaan metode terapi yang
paling sederhana dan cepat. Cara
kerja dari inhalasi ini adalah uap
masuk dari luar tubuh kedalam
tubuh, dengan mudah akan melewati
paru-paru dan dialirkan ke pembuluh
darah melalui alveoli (Buckle, 2015).
Uap dari air panas tersebut dapat
bermanfaat sebagai terapi. Selain itu
juga uap air panas juga dapat
membantu tubuh menghilangkan
produk metabolisme yang tidak
bermanfaat bagi tubuh. Uap air
panas dapat membuka pori-pori,
merangsang keluarnya keringat,
membuat pembuluh darah melebar
dan mengendurkan otot-otot (Horay,
Harp, & Soetrisno, 2006). Adapun
efek terapi uap adalah dapat
meningkatkan konsumsi oksigen,
denyut jantung meningkat dan dapat
terjadi pengeluaran cairan yang tidak
diperlukan
tubuh
seperti
mengencerkan
lendir
yang
menyumbat
saluran
pernapasan
(Crinion, 2007).
Terapi inhalasi uap sangat
membantu
untuk
menghilangkan
sumbatan seperti pilek, bronkitis,
pnemonia dan berbagai kondisi
pernapasan lainnya, inhalasi uap
membuka hidung tersumbat dan bagian
paru-paru yang memungkinkan untuk
melepaskan atau mengencerkan lendir,
bernapas lebih mudah dan lebih cepat
sembuh. Untuk membuat uap, dapat
menggunakan air saja atau dapat
menambahkan minyak herbal untuk
meningkatkan efek dari pengobatan
(Phylis, 2006).
C. Perbedaan Bersihan Jalan Napas
Sebelum dan Sesudah Diberikan
Terapi Inhalasi Uap Air pada
Penderita Influensa Usia Prasekolah
di Desa Nyatnyono Kecamatan
Ungaran Barat Kabupaten Semarang
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa skor rata-rata bersihan jalan
napas sebelum diberikan terapi inhalasi
uap air pada anak usia prasekolah
penderita influenza di Desa Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten
Semarang sebesar 1,0000, sedangkan
skor rata-rata bersihan jalan napas
sesudah terapi inhalasi uap air pada
anak
usia
prasekolah
penderita
influenza
di
Desa
Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten
Semarang sebesar 1,2667. Diperoleh
pula nilai Z hitung sebesar 2,0000 dan
p value sebesar 0,046 < α (0,05)
sehingga dapat disimpulkan bahwa ada
perbedaan bersihan jalan napas sebelum
dan sesudah diberikan terapi inhalasi
uap air pada penderita influensa usia
prasekolah
di
Desa
Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten
Semarang.
Pada dasarnya terapi inhalasi
merupakan bagian dari fisioterapi
dada/paru (chest physioteraphy). Terapi
inhalasi adalah cara pengobatan dengan
Perbedaan Bersihan Jalan Napas Sebelum Dan Sesudah Terapi Inhalasi Uap
Air Pada Penderita Influensa Usia Prasekolah Di Desa Nyatnyono
7
memberi obat untuk dihirup agar
dapat langsung masuk menuju paruparu sebagai organ sasaran obatnya.
Terapi inhalasi merupakan cara
pengobatan dengan memberi obat
dalam bentuk uap secara langsung
pada alat pernapasan menuju paruparu. Tujuan terapi inhalasi adalah
menormalkan kembali pernapasan
yang terganggu akibat adanya lender
atau karena sesak napas. Terapi
inhalasi lebih efektif, kerjanya lebih
cepat pada organ targetnya, serta
membutuhkan dosis obat yang lebih
kecil, sehingga efek sampingnya ke
organ lain pun lebih sedikit.
Sebanyak 20-30% obat akan masuk
disaluran napas dan paru-paru.
Sedangkan 2-5% mungkin akan
mengendap
di
mulut
dan
tenggorokan. Ilustrasinya, obat akan
jaln-jalan dulu kelambung, ginjal
atau jantung yakni paru-paru
sehingga ketika sampai paru-paru
obat relatif tinggal sedikit.
Terapi
inhalasi
dapat
digunakan pada proses perawatan
penyakit saluran pernafasan yang
akut maupun yang kronik, misalnya
asma. Penyakit asma paling sering
dijumpai pada anak-anak. Saat
bayi/anak terserang batuk berlendir.
Pada asma penggunaan obat secara
inhalasi dapat mengurang efek
samping yang sering terjadi pada
pemberian parenteral atau peroral,
karena dosis yang sangat kecil
dibandingkan dengan jenis lainnya.
Terapi inhalasi aman bagi segala usia
termasuk bayi. Dengan terapi ini bayi
cukup bersikap pasif ( bernapas saja )
kalaupun menangis tak perlu
khawatir karena efeknya malah
semakin bagus karena obatnya akan
terhirup.
Bersihan
jalan
napas
merupakan ketidakmampuan untuk
membersihkan sekresi/obstruksi dan
saluran
napas
untuk
mempertahankan bersihan jalan napas .
Kebersihan saluran nafas yang terhindar
dari sekret yang dinilai dari kemudahan
bernapas,
frekuensi
dan
irama
pernapasan, pergerakan sputum keluar
dari jalan napas, pergerakan sumbatan
keluar dari jalan napas (Nanda, 20122014).
Diagnosis keperawatan berikut
merupakan kondisi yang berupa
masalah-masalah aktual atau potensial
atau diagnosis sejahtera yang mengacu
pada NANDA (The North American
Nursing Diagnosis Association) 20122014.
Salah
satu
diagnosis
keperawatannya yaitu ketidakefektifan
bersihan
jalan
napas.
Batasan
karakteristik terdiri dari subyektif yaitu
dispnea dan obyektif yaitu tidak ada
batuk, suara napas tambahan (misalnya
role, crackle, ronchi dan mengi),
perubahan pada irama dan frekuensi
pernapasan, batuk yang tidak ada atau
tidak efektif, sianosis, kesulitan untuk
berbicara, penurunan suara napas,
ortopnea, sputum berlebihan, gelisah
dan mata terbelalak.
Faktor yang berhubungan terdiri
dari lingkungan yaitu merokok,
menghirup asap rokok dan perokok
pasif. Obstruksi jalan napas yaitu
spasme jalan napas, retensi sekret,
mukus berlebih, adanya jalan napas
buatan, terdapat benda asing dijalan
napas, sekret di bronki dan eksudat di
alveoli. Fisiologis yaitu disfungsi
muskular, hiperplasia dinding bronkial,
PPOK (Penyakit Paru Obstruksi
Kronis), infeksi, asma, jalan napas
alergik (trauma). Salah satu upaya untuk
mengatasi hidung tersumbat dapat
dilakukan dengan pemberian obat
secara dihirup, obat dapat dihirup untuk
menghasilkan efek lokal atau sistemik
melalui saluran pernapasan dengan
menghirup
menggunakan
uap,
nebulizer, atau aerosol
semprot
(Gabrielle, 2013). Terapi inhalasi uap
adalah pengobatan efektif untuk
Perbedaan Bersihan Jalan Napas Sebelum Dan Sesudah Terapi Inhalasi Uap
Air Pada Penderita Influensa Usia Prasekolah Di Desa Nyatnyono
8
mengatasi hidung tersumbat, metode
alami yang baik dengan uap dan
panas. (Ashley, 2013).
Terapi inhalasi uap sangat
membantu untuk menghilangkan
sumbatan seperti pilek, bronkitis,
pnemonia dan berbagai kondisi
pernapasan lainnya, inhalasi uap
membuka hidung tersumbat dan
bagian
paru-paru
yang
memungkinkan untuk melepaskan
atau mengencerkan lendir, bernapas
lebih mudah dan lebih cepat sembuh.
Untuk
membuat
uap,
dapat
menggunakan air saja atau dapat
menambahkan minyak herbal untuk
meningkatkan efek dari pengobatan
(Phylis, 2006).
Setelah bayi/anak diinhalasi,
lendir yang ada di paru-parunya akan
mencair. Lendirnya terkadang tak
bisa keluar dengan sendirinya karena
lemahnya reflek/kemampuan batuk
anak / bayi, sehingga biasanya
diperlukan
tahapan
fisioterapi
selanjutnya. Perkusi, vibrasi atau
dadanya dihangatkan dengan sinar
infra merah bila dianggap perlu.
Setelah melanjutkan proses ini
biasanya anak akan muntah. Jangan
panik karena muntah merupakan efek
yang wajar dari terapi inhalasi.
Setelah muntah biasanya anak akan
merasa lega. Sebaliknya kalau tidak
muntah orang tua tidak perlu risau,
yang
penting
lendir
yang
mengganggu napasnya sudah keluar
dan paru-paru dan pemeriksaan
dengan stetoskop akan diketahui
masih ada tidaknya lendir di paruparu. Bila sudah tidak ada berarti
inhalasi berjalan efektif (Phylis,
2006).
Keterbatasan Penelitian
Hasil penelitian ini tidak lepas
dari adanya keterbatasan dalam
pelaksanaan penelitian. Beberapa
keterbatasan yang dialami peneliti
diantaranya peneliti kesulitan untuk
menjaga suhu air yang digunakan untuk
penelitian dimana karena proses merebus
air yang tidak berada di rumah
responden sehingga dimungkinkan ada
panas yang terbuang di saat perjalanan.
Guna mengantisipasi hal tersebut
peneliti membawa air mendidih tersebut
dalam tremos untuk air panas. Peneliti
juga tidak menyamakan jarak antara air
dengan wajah anak dimana hal tersebut
juga mempengaruhi optimalisasi dalam
penyerapan uap air. Guna mengatasi hal
tersebut peneliti memberikan handuk
diatas kepala dari anak sehingga
diharapkan penyerapan uap air menjadi
optimal.
PENUTUP
Kesimpulan
1. Bersihan jalan napas sebelum diberikan
terapi inhalasi uap air pada penderita
influensa usia pra sekolah di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat
Kabupaten Semarang Semuanya Tidak
efektif
yaitu sebanyak 15 orang
(100,0%).
2. Bersihan jalan napas sesudah diberikan
terapi inhalasi uap air pada penderita
influensa usia pra sekolah di Desa
Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat
Kabupaten Semarang sebagian besar
Tidak efektif yaitu sebanyak 11 orang
(73,3%).
3. Ada perbedaan bersihan jalan napas
sebelum dan sesudah diberikan terapi
inhalasi uap air pada penderita influensa
usia prasekolah di Desa Nyatnyono
Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten
Semarang, dengan
p value
sebesar 0,046 < α (0,05).
Saran
1. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa penelitian ini memberikan hasil
sehingga diharapkan masyarakat dapat
memanfaatkan terapi ini sebagai
komplementer dari pemberian obat bagi
anak yang mengalami influenza
Perbedaan Bersihan Jalan Napas Sebelum Dan Sesudah Terapi Inhalasi Uap
Air Pada Penderita Influensa Usia Prasekolah Di Desa Nyatnyono
9
sehingga
mempercepat
proses
penyembuhan.
2. Bagi Keperawatan
Tenaga kesehatan hendaknya
dapat merekomendasikan terapi ini
sebagai
penunjang
pengobatan
secara medis sehingga dapat
membantu
mempercepat
membersihkan jalan napas pada
penderita influensa usia prasekolah.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Mengingat masih adanya
beberapa
keterbatasan
dalam
penelitian ini sebaiknya peneliti
selanjutnya
melakukan
atau
mendidihkan air dilokasi penelitian
dan menentukan jarak yang sama
ketika responden menghirup uap air
sehingga diperoleh hasil yang
optimnal.
DAFTAR PUSTAKA
Akhavani, M. A. (2005). Steam
Inhalation treatment for children.
British Journal
General
Practice
Arifianto (2012). Hasil Penelitian
Tentang Manfaat Hijamah atau
ODT
(Oxidant
Drainage
Therapy). Diunggah pada tanggal
23
Maret
2016.
http://4171472146widget_css_bundel.css.
Crinion (2007). Clean, Green and Lean,
John Wiley and Sons Inc, New.
Jersey,
Djojodibroto
(2009).
Respirologi
(Respiratory Medicine). Jakarta :
EGC.
Gabrielle (2013). Fisika
Jakarta: EGC
Kedokteran.
Hidayat, A. A. (2008). Pengantar Ilmu
Keperawatan Anak 1. Jakarta
Salemba
Medika
Horay, Harp, & Soetrisno, (2006). Buku
Pintar Terapi Pasan Panduan
Lengkap Perwatan dan Pengobatan
dengan Air Panas. Jakarta : Restu
Agung & Tara Media
Juall & Carpenito (2006). Buku Saku
Diagnosa
Keperawatan.
Alih
Bahasa. Yasmi Asih, Edisi ke -10.
Jakarta : EGC.
Meadow, Roy & Simon J. (2006). Lecture
Notes : Pediatrika Edisi Tujuh.
Jakarta : Erlangga Medical Sience
(EMS)
Nanda, (2012). Diagnosis Keperawatan
2012-2014. EGC : Jakarta.
Perry & Grifin (2005). Nursing Skills &
Procedures. Seventh Edition. USA :
Elsevier
Ashley K. Willington. 2013. Natural
Cure for Sinus without Drugs :
Permanent
Sinus Relief. Lulu :
Noah Publishing
Phyllis A. Balch, CNC. (2006). Prescription
for Nutritional Healing. New York :
A member of Penguin Group (USA)
Bajaj,
Somantri, (2007). Asuhan Keperawatan
pada Pasien Gangguan Sistem
Pernafasan. Jakarta: Salemba
Medika
Hambidge, Kerby, Nyquist.
(2011).
Berman’s
Pediatric
Decision Making.
Fifth
Edition. USA : Elsevier
Perbedaan Bersihan Jalan Napas Sebelum Dan Sesudah Terapi Inhalasi Uap
Air Pada Penderita Influensa Usia Prasekolah Di Desa Nyatnyono
10
Download