abstrak - Pascasarjana Universitas Negeri Malang

advertisement
Kumpulan Abstrak Disertasi
Semester Gasal 2009/2010
Teknologi Pembelajaran (TEP)
226 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2009/2010
Program Studi S3 TEP 227
Strategi Pembelajaran Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada
SMA di kota Makassar
Pattaufi
Pattaufi, 2009. Strategi Pembelajaran Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada SMA
di kota Makassar. Disertasi program studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana,
Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. M. Dimyati, (II) Prof. Dr. H. Punadji
S.,M.Ed.,M.Pd. dan (III) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd.
Abstrak
Strategi pembelajaran merupakan bagian penting dari tindakan pembelajaran. Penggunaan strategi
pembelajaran yang tepat dan optimal akan dapat mendorong prakarsa dan memudahkan belajar siswa. Oleh
karena itu, kajian tentang strategi pembelajaran dan implementasinya merupakan kebutuhan yang amat
mendesak untuk dilakukan. Titik awal upaya ini diletakkan pada perbaikan proses pembelajaran atau pada
variabel metode pengajaran yang diklasifikasi menjadi strategi pengorganisasian (organization strategy),
strategi penyampaian (Delivery strategy), dan strategi pengelolaan (Management strategy). Strategi
pengorganisasian mengacu pada suatu tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi, dan pembuatan diagram,
format dan lainnya. Strategi penyampaian adalah metode untuk menyampaikan pengajaran kepada siswa dan
atau untuk menerima masukan dari siswa. Strategi pengelolaan merupakan metode untuk menata interaksi
antara siswa dengan variabel metode lainnya.
Masalah umum penelitian ini adalah bagaimanakah strategi pembelajaran mata pelajaran Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) dilaksanakan di SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, SMA Negeri 11 dan SMA
Negeri 14 kota Makassar?. Secara khusus, masalah penelitian ini difokuskan pada empat hal, yaitu: (1)
Bagaimana strategi penyampaian pembelajaran mata pelajaran TIK pada SMA di kota Makassar? (2)
Bagaimana strategi pengelolaan pembelajaran mata pelajaran TIK pada SMA di kota Makassar?. (3) Faktorfaktor apa saja yang mempengaruhi pelaksanaan strategi penyampaian dan strategi pengelolaan pembelajaran
pada mata pelajaran TIK pada SMA di kota Makassar? (4) Bagaimana gambaran penerapan TIK oleh siswa
dalam kehidupan sehari-hari?.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan mengunakan pendekatan fenomenologis dengan
rancangan studi multi situs. Sesuai dengan pendekatan fenomenologis, penelitian ini menggunakan tiga jenis
reduksi data, yaitu reduksi fenomenologis, reduksi eiditis dan reduksi transendental. Pendekatan ini
digunakan karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur universal dari strategi
pembelajaran guru mata pelajaran TIK, bukan untuk memberikan gambaran umum tentang dunia objektif.
Dengan demikian penelitian ini berusaha mencari dan menemukan gejala-gejala atau hal-hal apa saja yang
nampak serta mencari makna dari apa yang nampak dalam strategi pembelajaran mata pelajaran TIK di setiap
situs.
Data penelitian ini dipilah menjadi dua kelompok, yaitu: (1) bentuk perilaku sosial dan interaksi
sosial sebagai akibat dari aktivitas guru dalam penerapan strategi penyampaian (pemanfaatan media
pembelajaran, interaksi siswa dengan media pembelajaran, bentuk/struktur pembelajaran), dan strategi
pengelolaan pembelajaran (penjadualan penggunaan strategi pembelajaran, pembuatan catatan kemajuan
belajar siswa, pengelolaan motivasional, dan kontrol belajar) dalam proses pembelajaran mata pelajaran TIK
di SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, SMA Negeri 11 dan SMA Negeri 14 kota Makassar. Data-data tentang
faktor yang mempengaruhi dalam strategi pembelajaran mata pelajaran TIK di SMA juga masuk dalam
kelompok ini. (2) Data tentang aksi perilaku sosial meliputi (a) tanggapan balik siswa dengan penerapan
strategi pembelajaran, (b) reaksi siswa dengan tugas yang diberikan guru. Kedua jenis data tersebut diperoleh
peneliti melalui observasi yang dituangkan dalam catatan lapangan, wawancara mendalam dan dokumentasi,
dan (c) data tentang penerapan TIK oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari diperoleh melalui angket.
Analisis data yang dilakukan ada dua macam, yaitu analisis situs dan analisis antarsitus. Analisis
data situs di dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai analisa data terhadap setiap sekolah yang dijadikan
situs penelitian. Penganalisisan datanya dilakukan sejak atau bersamaan dengan pengumpulan datanya.
Penganalisisannya meliputi kegiatan-kegiatan (1) penyusunan paparan data tentang tipologi sekolah pada
masing-masing situs penelitian; (2) menganalisis data dari setiap situs penelitian yang didasarkan pada hasil
observasi, angket, wawancara dan dokumentasi untuk masing-masing rumusan masalah; (3) menganalisis
dan membahas serta mengelompokkan data dari masing-masing situs; (4) membahas temuan yang ada pada
masing-masing situs. Sedangkan analisis data antar situs dilakukan dengan 7 tahapan.
Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Pemanfaatan media pembelajaran dalam proses penyampaian
pembelajaran mata pelajaran TIK (guru, pesan, bahan, alat, teknik dan latar) di keempat situs terteliti, tampak
227
228 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2009/2010
sangat membantu proses pencapaian tujuan pembelajaran. (2) Pengelolaan motivasional dilakukan dengan
cara memberikan penilaian secara langsung, memberikan kebebasan untuk mengakses internet, memberikan
bimbingan secara individual, memanfaatkan software “PowerPoint” dan memberikan penghargaan terhadap
kegiatan positif yang dilakukan oleh siswa. Dalam proses pembelajaran TIK kontrol belajar yang dilakukan
guru adalah dengan cara mengaktifkan semua siswa dalam mengerjakan tugas-tugas praktek yang diberikan,
mendampingi siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung, dan memanfaatkan software “Net Op
School/Net Support School”. (3) Faktor internal yang mempengaruhi strategi pembelajaran dari sisi guru
adalah keterbatasan kemampuan dan keterampilan guru dalam bidang TIK, minat dan motivasi guru dalam
mengajar mata pelajaran TIK. Dari sisi siswa adalah kemampuan, motivasi dan minat siswa yang sangat
bervariasi dalam mengikuti proses pembelajaran mata pelajaran TIK. Sementara faktor eksternal yang
mempengaruhi strategi pembelajaran adalah fasilitas laboratorium yang ada pada setiap sekolah serta
karakteristik mata pelajaran TIK yang lebih banyak praktek. (4) Sebagian besar siswa SMA di kota Makassar
telah menerapkan mata pelajaran TIK dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan itu dilakukan untuk
kepentingan hiburan maupun kepentingan mata pelajaran lain.
Temuan penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu referensi untuk mengembangkan
strategi pembelajaran mata pelajaran TIK di masa-masa yang akan datang. Dengan strategi pembelajaran
yang direncanakan, diterapkan dan dilaksanakan secara baik, maka pencapaian tujuan pembelajaran dapat
tercapai secara optimal.
Kata kunci: strategi pembelajaran, strategi penyampaian, strategi pengelolaan, teknologi informasi dan
komunikasi.
Instructional Strategy of Information and Communication Technology (ICT) at Senior High
School in Makassar
Pattaufi
Pattaufi, 2009. Instructional Strategy of Information and Communication Technology (ICT) at Senior High
School in Makassar. Dissertation, Instructional Technology Department, Postgraduate Program,
State University of Malang. Advisor: (I) Prof. Dr. H. M. Dimyati,M.Pd., (II) Prof. Dr. H. Punadji S.,
M.Ed.,M.Pd. and (III) Prof. Dr. I Nyoman S. Degeng, M.Pd.
Abstract
Instructional strategy is one of the important part of instructional activities. The right and optimal
application of instructional strategy could promote effort and facilitate student in learning. Therefore, a study
on the strategy and the application is an emerging need to carry out. The study was started from improving
the instructional process or the instructional method variable which is classified into organizational strategy,
delivery strategy, and management strategy. The organizational strategy refers to an activity in selecting
contents, arranging contents, designing a figure and format, and so on. The delivery strategy is a method of
delivering an instruction to students and or of receiving an input interaction between students and other
method variables.
The general problem of this study “how is the instructional strategy of ICT conducted at SMAN 1,
SMAN 2, SMAN 11, and SMAN 14 Makassar?”. Specificaly, the research problem is focused on four
problems: (1) How is the instructional management strategy of ICT at Senior High Schools in Makassar? (2)
How is the instructional management strategy of ICT at Senior High Schools in Makassar? (3) What factors
effecting the application of the instructional delivery and management strategy of ICT at Senior High
Schools in Makassar? (4) How is the students application of ICT in their daily lives?.
The study applied a qualitative study using phenomenological approach with multi sites study
design. In accordance with the approach, this study applied three types of data reduction, namely
phenomenological reduction, eidetic reduction, and transcendental reduction. This approach is applied due to
the objective of this study that is to describe a universal structure of the instructional strategy of teachers of
ICT, not to generally describe an objective world. Hence, this study attempts to find out visible sign and to
find out meaning of the signs during the application of the instructional strategy of ICT at each site.
The data was classified in two types were as follows: (1) type of social behavior and social
interaction as a result of teachers activities in implementing the delivery strategy (the use of instructional
media, the interaction between the students and the media, instructional structur), and the instructional
management strategy (scheduling the implementation of the instructional strategy, recording the students
Program Studi S3 TEP 229
learning progress, motivational management, and learning control) in the instructional process of ICT at
SMAN 1, SMAN 2, SMAN 11, and SMAN 14 in Makassar. Data on the factors affecting the teaching of ICT
at the Senior High Schools also belong to this type, and (2) Data on the social behavior cover (a) the students
feedback towords the application of the instructional strategy, (b) The students reaction towards the given
assignments. Both types of data are obtaines through a systematic observation applying field notes,
systematic interview, and documentation, (c) data on the students application of ICT in their daily lives are
obtained through questionnaire.
Two kinds of data analysis were used: site analysis and inter-sites analysis. The site analysis in this
study is aimed at analyzing data of each school as the setting of this study. The data collection and analisys
are conducted at the same time. The analysis comprises activities (1) arranging data on the school typology of
each setting, (2) analyzing data of each setting on the basis of the results of observation, questionnaire,
interview, and documentation according to each research problem, (3) analyzing, discussing, and classifying
the data of each setting, (4) discussing the findings of each setting. Meanwhile, the inter-site analysis is
conducted through 7 stages.
The findings of this study revealed (1) the use of instructional media indelivering material of ICT
(teachers, messages, materials, techniques, and settings) at the four settings under research seem very helpful
in achieving the instructional objectives. (2) motivational management is done through direct assessment,
free internet access, and individual guidance, use of “power point” software, and appreciation of any positive
behavior students do. In the instructional process of ICT, the learning control done by teachers is by
activating students in doing the provided practice tasks, guiding students during the teaching and learning
process, and using “net op school/ net support school” software. (3) Internal factors affecting the instructional
strategy from the teachers side is the lack of competence and skill of the teachers in ICT, the teachers interest
and motivation in teaching ICT. From the students side is the students competence, interest, and motivation
are various in attending the ICT class. Meanwhile the external factors are the laboratory facility in each
school and the characteristics of ICT subject which emphasize more on practices. (4) Most of the students of
the Senior High Schools in Makassar have applied the ICT in their daily lives for their school assignments
and for entertainment as well.
The research findings were expected to be a reference of developing the instructional strategy of
ICT subject in the future. Throgh a well-planned and applied instructional strategy, the instructional
objectivies can be achieved optimally.
Key words: instructional strategy, delivery strategy, management strategy, Information and Communiation
Technology.
Pengaruh Model Pembelajaran dan Tingkat Kemampuan Perseptual Motorik Siswa
Terhadap Hasil Belajar Keterampilan
Johanis Julius Leimena
Johanis Julius Leimena. 2009. Pengaruh Model Pembelajaran dan Tingkat Kemampuan Perseptual Motorik
Siswa Terhadap Hasil Belajar Keterampilan. Disertasi Program Studi Teknologi Pembelajaran,
Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang
Abstrak
Selama ini model pembelajaran untuk pendidikan jasmani lebih lebih diarahkan kepada model tugas
gerak dalam bentuk teknik gerakan yang standart atau baku. Model ini menngakibatkan anak pada tingkat
sekolah dasar menjauhi kegiatan pendidikan jasmani karena tidak sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan
jasmani anak. Model ini dinamakan model pembelajaran tradisional, dimana guru yang lebih banyak
berperan dalam kegiatan pendidikan jasmani. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi dalam model pembelajaran
pendidikan jasmani yang teknik geraknya telah dimodifikasikan sesuai dengan kebutuhan anak. Model ini
dirancang untuk mempermudah anak menguasai teknik gerakan mulai dari tingkat penguasaan gerak yang
sederhana sampai pada tingkat penguasaan gerak yang kompleks.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh utama dan pengaruh interaksi variabel
perlakuan (model pembelajaran) terhadap prestasi belajar keterampilan teknik dasar permainan bola voli
siswa sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan mempergunakan
rancangan versi nonequivalenat control group design. Sampel penelitian sebanyak 80 anak pada sekolah
230 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2009/2010
dasar di kecamatan Saparua, Maluku Tengah. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan teknik
analisis varian (anava) dua jalur 2 x 2.
Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) tidak ada perbedaan hasil belajar keterampilan teknik dasar
permainan bola voli antara kelompok siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran modifikasi, dan
kelompok siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran tradisional, (2) tidak ada perbedaan hasil belajar
keterampilan teknik dasar permainan bola voli antara siswa yang memiliki tingkat kemampuan perseptual
motorik tinggi dan kelompok siswa dedngan tingkat kemampuan perseptual motorik rendah, (3) tidak ada
interaksi antara model pembelajaran dan tingkat kemampuan perseptual motorik siswa terhadap hasil belajar
keterampilan teknik dasar permainan bola voli siswa sekolah dasar.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan kepada para guru pendidikan jasmani di sekolah
untuk menggunakan model pembelajaran modifikasi dimana model ini menawarkan pentahapan tugas gerak
sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga anak akan lebih mudah memahami
teknik gerakan dan menguasai tekni gerakan dasar tersebut dengan baik.
Kata kunci: model pembelajaran, perseptual motorik, hasil belajar
Pengaruh Model Pembelajaran dan Tingkat Kemampuan Perseptual Motorik Siswa
Terhadap Hasil Belajar Keterampilan
Johanis Julius Leimena
Johanis Julius Leimena. 2009. Pengaruh Model Pembelajaran dan Tingkat Kemampuan Perseptual Motorik
Siswa Terhadap Hasil Belajar Keterampilan. Disertasi Program Studi Teknologi Pembelajaran,
Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang
Abstract
Nowadays, model instruction for physical education is more directed to movement exercises model
in the form of standard movement techniques. This model resulting children in elementary school run way
from physical activities because it is not suitable with their needs and physical demands. This model is called
traditional instruction in which teachers have more pay role in physical activities. Therefore, it is needed an
innovative model in physical education that movement techniques can be modified base on students’ needs.
The model is designed to make children easy in mastering movement techniques from simple phase to
complex phase.
This research is aimed to find out major impact and interaction of treatment variable (model
instruction) towards children skill performance in bases techniques in volley ball game at children in
elementary school. Quasi experiment with nonequivalent control group design is used in this research. The
sample is 80 children in elementary schools in Saparua district, Maluku Tengah. Analysis variance line two x
two ( anava 2x2) is used in analyzing datum.
The results of the study shows that 1) there is no significant difference of students’ physical
education achievement by using traditional or modified learning model; 2) and there is also no significant
difference of students basic physical skill both for students who have high and low level of perceptual
motoric skills; 3) there is no interaction between l model instruction and students perceptual motoric skill
level towards skill performance basically in volleyball learning technique.
Based on the findings above, it is suggested for elementary teachers particularly physical teachers to
use model modification in their instruction in which this model can offer the level of movement technique
based on children growth and develop in order children are easier in comprehend movement techniques and
mastering the techniques better.
Kata kunci: model pembelajaran, perseptual motorik. hasil belajar
Program Studi S3 TEP 231
Pengaruh Model Pembelajaran (Modifikasi Direct Instruction dan Menggambar
Konvensional) dan Tingkat Kreativitas Terhadap Perolehan Belajar Menggambar Ornamen
Kelas V Sekolah Dasar
Tumurang Hetty, J
Tumurang Hetty, J. 2009. Pengaruh Model Pembelajaran (Modifikasi Direct Instruction dan Menggambar
Konvensional) dan Tingkat Kreativitas Terhadap Perolehan Belajar Menggambar Ornamen Kelas
V Sekolah Dasar. Disertasi, Jurusan Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas
Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd., (II) Prof. Dr. Punaji
Setyosari, M.Ed., (III) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, MA.
Abstrak
Pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK) di sekolah dasar selama ini masih terbatas pada
materi buku paket dan kegiatan berolah senirupa yang masih terpusat pada contoh gambar yang ada pada
buku paket tanpa melakukan elaborasi. Pembelajaran yang dimaksud dikenal dengan sebutan pembelajaran
menggambar konvensional. Jenis pembelajaran ini belum mampu memfasilitasi potensi kreativitas anak
dalam kegiatan menggambar. Pembelajaran menggambar konvensional diterapkan dengan langkah-langkah
sebagai berikut: (1) menyampaikan tujuan pembelajaran, (2) kegiatan apersepsi, (3) penyajian materi, (4)
kegiatan demonstrasi, (5) memberikan latihan terbimbing, (6) memberikan umpan balik, dan (7) evaluasi.
Pembelajaran dengan model tersebut tidak menumbuhkan potensi kreativitas anak dalam menggambar
ornamen. Dengan demikian dibutuhkan sebuah model pembelajaran yang inovatif yang dapat menciptakan
suasana menyenangkan dan mampu mengembangkan potensi kreativitas pada anak. Pembelajaran inovatif
yang dimaksud adalah model modifikasi Direct Instruction yang terdiri atas sepuluh langkah, yaitu: (1)
menyampaikan tujuan, (2) riview dan perkenalan, (3) menanamkan nilai-nilai estetis, (4) mendemonstrasikan
pengetahuan dan keterampilan, (5) memberikan latihan bebas, (6) kegiatan ekspresi, (7) mengecak
pemahaman dan memberikan umpan balik, (8) memamerkan hasil karya, (9) memberikan kesempatan untuk
latihan lanjutan dan penerapan, dan (10) evaluasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh utama dan pengaruh interaksi variabel
perlakuan terhadap perolehan belajar menggambar ornamen kelas V sekolah dasar. Kegunaan atau manfaat
penelitian ini dipilah menjadi dua yaitu: (1) manfaat teoritis berhubungan dengan pelaksanaan kebijakan
dalam pendidikan dan (2) manfaat praktis yakni untuk menambah pengetahuan guru seni terhadap modelmodel pembelajaran.
Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group
design. Subjek penelitian adalah anak-anak kelas V SD yang terdiri dari empat SD. Pemilihan sampel
dilakukan dengan menggunakan teknik sampel kelompok acak, di mana yang diacak adalah empat sekolah di
lokasi penelitian. Dari hasil kelompok yang diacak maka ditentukan subjek perlakuan eksperimen SD
GMIM II Tomohon (20 anak) dan SD Katolik 1 St.Yohanes Tomohon (20 anak) sebanyak 40 anak, dan
perlakuan kontrol SD GMIM VII Tomohon (20 anak) dan SD Gmim IV Tomohon (20 anak) sebanyak 40
anak (40 anak untuk perlakuan eksperimen dan 40 anak untuk perlakuan kontrol). Pengambilan data
dilakukan dengan pretes kreativitas dan postes perolehan belajar menggambar ornamen pada model
modifikasi direct instruction dan model menggambar konvensional. Data yang dikumpulkan diolah secara
statistik inferensial dengan menggunakan teknik analisis varian (ANAVA) dua jalur 2 x 2. Pengujian
hipotesis nol dilakukan pada taraf signifikansi  = 0.05
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kelompok anak-anak yang menggunakan model
modifikasi direct instruction berbeda perolehan belajar menggambar ornamen motif cengkih dengan
kelompok anak-anak yang menggunakan model menggambar konvensional kelas V SD, dengan nilai
probabilitas 0.000 (<0.05). (2) Kelompok anak-anak yang memiliki kreativitas tinggi berbeda perolehan
belajar menggambar ornamen motif cengkih dengan kelompok anak-anak yang memiliki kreativitas rendah
kelas V SD, dengan nilai probabilitas 0.009 (<0.05) (3) Model pembelajaran (modifikasi direct instruction
dan menggambar konvensional) dan tingkat kreativitas tidak menunjukkan adanya interaksi terhadap
perolehan belajar menggambar ornamen motif cengkih kelas V SD, dengan nilai probabilitas 0,823 (> 0.05).
Saran yang disampaikan, dalam penelitian ini adalah bagi guru seni sebaiknya menggunakan model
modifikasi direct instruction dalam kegiatan pembelajaran menggambar ornamen motif cengkih kelas V SD
agar pembelajaran dapat lebih menyenangkan dan dapat mengembangkan potensi kreativitas anak.
Kata kunci: model modifikasi direct instruction, model menggambar konvensional, tingkat kreativitas.
232 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2009/2010
The Influence of Instructional Models (Modification Direct Instruction and Drawing
Conventional) and the Level of Creativity through Learning Work Performance on Drawing
Ornament of class V at Elementary schools
Tumurang Hetty, J
Tumurang Hetty, J. 2009. The Influence of Instructional Models (Modification Direct Instruction and
Drawing Conventional) and the Level of Creativity through Learning Work Performance on
Drawing Ornament of class V at Elementary schools. Unpublished dissertation, Instructional
Technology Department, Postgraduate Program, State University of Malang. Advisors: (1) Prof. Dr.
I Nyoman Sudana degeng, M.Pd., (II) Prof. Dr. Punaji Setyosari, M.Ed., (III) Prof. Dr. I Wayan
Ardhana, MA.
Abstract
Until now, SBK instructional still focuses on materials in packet book and art activity is oriented in
giving picture’ examples from packet book and from teacher without doing originally activity and
elaboration. This instruction be called conventional; not doing innovation in instruction that can facilitate
students to have fun in learning art particularly in drawing and raising students’ creativity in elementary
schools. This conventional instruction can be done in several ways such as follows; (1) displaying istructional
aims, (2) aperseption activity, (3) displaying materials, (4) demonstration activity, (5) giving quided
trainning, (6) giving feedback, and (7) evaluation. The kind of this instructional can not grow creativity
potency of children in drawing ornament. Therefore, it is needed an inovation instructional that can create
enjoyable learning and develong creativity potency of chidren. The model of instruction is called model
modification Direct instruction which can be applied in ten phases as following: (1) determining aims, (2)
review and introduction, (3) ecstatic values, (4) knowledge and skill demonstrating, (5) free exercising, (6)
expressing activity, (7) checking understanding and feedback, (8) showing art work, (9) giving chance to
further practice and implementing, and (10) evaluation.
This research is aimed to find out the influence of modification direct instruction model through
learning performance. The significance of this research are ;1) theoreticaly, it is related with the education
policies, and 2) practicaly, it is useful for the teacher to enrich their knowledge about model instructional.
Quasy experiment with non equivalent control group design is used in this research. The sample has
taken from four elementary schools and lottery technique is used in deciding treatment group. From the result
of lottery technique, it is reported that for experiment groups are SD GMIM II Tomohon (20 children) and
SD Chatolic 1St. Yohanes Tomohon (20 children), and as control groups are SD GMIM VII Tomohon (20
children) and SD GMIM IV Tomohon (20 children). In collecting data, creativity pre-test is done in
beginning and post test after treatment. The datum is analyzed by inferensial statistic with the varians
analysis technique (ANAVA) two line 2 x 2. The testing hypothesis is done in the significance level at  =
0.05
The findings show that (1) the children who have been treat by modification drawing instruction
model with the clove motif are difference in their work performance in drawing ornament with the children
who have been treat with conventional model , with the probability value in 0.000 (<0.05). (2) The children
who have high creativity have difference in their work performance in drawing ornament with the children
who have low creativity in class V at elementary schools with the probability value in 0.009 (<0.05). (3)
Drawing instructional model and creativity do not show the interaction through children’ work performance
in drawing ornament at elementary schools in class V with the probability value in 0.823 (>0.05).
The suggestion in this research forwarded to art teachers who teach SBK in elementary school. They
are suggested to apply modification direct instruction model in drawing ornament activities in class V in
elementary schools in order the instructional activities are more enjoyable and raise students’ creativity.
Keywords: modification direct instruction model, drawing conventional the level of creativity.
Program Studi S3 TEP 233
Pengaruh Metode Pembelajaran (Penemuan Terbimbing vs Ekspositori), dan Motivasi
Berprestasi terhadap Hasil Belajar Matematika pada Siswa Kelas IX SMP
Bendot Tri Utomo
Tri Utomo, Bendot. 2009. Pengaruh Metode Pembelajaran (Penemuan Terbimbing vs Ekspositori), dan
Motivasi Berprestasi terhadap Hasil Belajar Matematika pada Siswa Kelas IX SMP. Disertasi.
Program Studi Teknologi Pembelajaran PPS Universitas Negeri Malang. Promotor Utama: Prof. Dr.
H.M. Dimyati, Ko-Promotor I: Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A, Ko-Promotor II: Prof. Dr. H.
Punadji Setyosari, M.Ed.
Abstrak
Keprihatinan yang peneliti temui di lapangan berkenaan dengan pembelajaran mata pelajaran
matematika di Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah (1) hasil belajar siswa untuk memecahkan soal
matematika masih rendah, (2) guru lebih menekankan pada siswa untuk menerima apa yang disampaikan dan
tidak memberikan kesempatan pada siswanya untuk memproses apa yang diterimanya, (3) guru matematika
di SMP dalam mengajar di kelas jarang menggunakan media pembelajaran. Kenyataan tersebut
mencerminkan bahwa hasil belajar mata pelajaran matematika yang diperoleh oleh siswa ketika selesai
mengikuti pelajaran kurang memuaskan sehingga masih perlu ditingkatkan. Salah satu alternatif
pemecahannya adalah dengan penggunaan metode pembelajaran yang tepat antara lain dengan metode
penemuan terbimbing.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji (1) perbedaan hasil belajar antara kelompok siswa yang
diajar dengan metode penemuan terbimbing dan kelompok siswa yang diajar dengan metode ekspositori (2)
perbedaan hasil belajar antara kelompok siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dengan kelompok
siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah (3) interaksi antara penerapan pembelajaran (metode
penemuan terbimbing dan metode ekspositori) dengan tingkat motivasi berprestasi terhadap hasil belajar
matematika pada siswa kelas IX SMP.
Penelitian ini termasuk penelitian kuasi eksperimen. Dengan desain eksperimen nonequivalent
control group design. Rancangan pembelajaran dikembangkan oleh peneliti berupa program pelaksanaan
pembelajaran beserta LKS dan tes. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan menerapkan pembelajaran
dengan metode penemuan terbimbing dan metode ekspositori dengan menggunakan rancangan penelitian
kuasi eksperimen factorial 2 x 2. Subjek penelitian ini adalah SMP Negeri 1 Rambipuji Jember dan SMP
Negeri 3 Tanggul Jember. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling,
dimana yang dirandom adalah kelas. Sampel penelitiannya adalah siswa kelas IXA SMP Negeri 1 Rambipuji
dan kelas IXB SMP Negeri 3 Tanggul ditetapkan sebagai tempat pelaksanaan pembelajaran dengan metode
penemuan terbimbing, sedang kelas IXD SMP Negeri 1 Rambipuji dan kelas IXD SMP Negeri 3 Tanggul
ditetapkan sebagai tempat pelaksanaan penerapan metode ekspositori. Jumlah sampel yang dilibatkan dalam
penelitian ini adalah 145. Data dikumpulkan diolah secara statistik inferensial dengan menggunakan teknik
analisis varian (anava) dua jalur 2 x 2.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hasil belajar siswa berbeda secara signifikan jika diajar
dengan menggunakan metode penemuan terbimbing dari pada metode ekspositori, (2) hasil belajar siswa
yang memiliki motivasi berprestasi tinggi berbeda secara signifikan dari pada siswa yang memiliki motivasi
berprestasi rendah, (3) tidak ada interaksi antara metode pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil
belajar siswa. Statistik diskriptif menunjukkan bahwa ada pengaruh penerapan metode penemuan terbimbing
(rerata 76.00) terhadap hasil belajar siswa dibandingkan dengan penerapan metode ekspositori (rerata 70.07).
Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa metode penemuan terbimbing dan tingkat motivasi berprestasi
berpengaruh terhadap perolehan hasil belajar matematika SMP.
Berdasarkan temuan penelitian, disarankan kepada para guru untuk menggunakan metode penemuan
terbimbing dalam mata pelajaran yang diampu pada pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan hasil
belajar siswa. Dalam penelitian ini motivasi berprestasi berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar,
untuk itu perlu penelitian lebih lanjut terkait dengan adanya variabel moderator selain motivasi berprestasi
(misalnya minat, bakat, gaya kognitif, intelegensi, sikap dan lain-lain) yang juga berpengaruh terhadap hasil
belajar.
Kata kunci: metode penemuan terbimbing, metode ekspositori, motivasi berprestasi, hasil belajar.
234 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2009/2010
The influence of learning method (guided discovery vs expository), and Achievement
Motivation against of Learning Outcomes Mathematics in Students Junior High School
Class IX
Bendot Tri Utomo
Tri Utomo, Bendot. 2009. The influence of learning method (guided discovery vs expository), and
Achievement Motivation against of Learning Outcomes Mathematics in Students Junior High School
class IX. Dissertation, Departement of learning Technology, Graduate Program, Malang State
University. Main promotor: Prof. Dr. H.M. Dimyati, Co-Promotor I: Prof. Dr. I Wayan Ardhana,
M.A, and Co-Promotor II: Prof. Dr. H. Punadji Setyosari, M.Ed.
Abstract
Concern that researchers encounter in the field related to mathematics teaching in junior high school
(SMP) are as follows: (1) students' math problem solving is still low, (2) teachers put more emphasis on
students to accept what is delivered and does not give students the opportunity to process what it receives, (3)
mathematics teachers in junior high school seems to teach in the classroom do not use learning media.
Reflects the fact that the results of mathematics learning acquired by students when finished unsatisfactory
lessons that still need to be improved. One alternative solution is to use appropriate learning methods
including guided discovery method.
This study aims to examine (1) the differences of learning outcomes between groups of students
taught with guided discovery method and a group of students who are taught with expository method, (2) the
differences of learning outcomes between groups of students who have high achievement motivation with a
group of students who have low achievement motivation, (3) the interaction between the application of
learning (guided discovery method and expository method) with the level of achievement motivation for
learning outcomes mathematics in students junior high school class IX.
This study includes quasi-experimental research. Experimental design with nonequivalent control
group design was employed. The design of learning developed by researchers in the form of learning
programs and their implementation worksheets and tests. Implementation research is done by applying the
methods of learning with guided discovery and expository methods using quasi-experimental research design
factorial 2 x 2. The subjects of the research were SMP Negeri 1 Rambipuji and SMP Negeri 3 Tanggul
Jember. The selection was done by using a sample of random sampling technique, which is a class that
random. Research sample is IXA SMP Negeri 1 Rambipuji and class IXB SMP Negeri 3 Tanggul Jember set
as the implementation of learning with guided discovery method, while the class IXD SMP Negeri 1
Rambipuji and class IXD SMP Negeri 3 Tanggul Jember defined as the implementation of expository
methods. The subjects involved in this study were 145. Data collected is processed by inferential statistics
using analysis technique variants (anava) two-way 2 x 2
The results showed that (1) there is significantly differences of student learning outcomes between
two groups of guided discovery method and the expository method, (2) student learning outcomes that have
high achievement motivation are significantly difference from the students who have low achievement
motivation, (3) there is no interaction between learning methods and achievement motivation of students'
learning results. Descriptive statistics show that there is influence the application of guided discovery
methods (average 76.00) for students' application of the method compared with expository (average 70.07).
These findings indicate that the guided discovery method and level of achievement motivation affect the
acquisition of junior high school mathematics learning outcomes
Based on research findings, recommended to the teachers to use guided discovery methods in which
subjects taught on certain subjects to improving students learning outcomes. The research of achievement
motivation are significantly influence of learning outcome, for it needs further research related to the
existence of moderator variables other than achievement motivation (eg, interests, talents, cognitive styles,
intelligence, attitude, etc.) that also influence learning outcomes.
Keywords: guided discovery method, expository method, achievement motivation, learning outcome
Program Studi S3 TEP 235
Pengaruh Strategi Pembelajaran (Kooperatif Model Learning Together dan Langsung)
terhadap Pemahaman Konseptual dan Algoritmik Kimia pada Siswa SMA dengan
Kemampuan Matematika Berbeda
Muntari
Muntari. 2009. Pengaruh Strategi Pembelajaran (Kooperatif Model Learning Together dan Langsung)
terhadap Pemahaman Konseptual dan Algoritmik Kimia pada Siswa SMA dengan Kemampuan
Matematika Berbeda. Disertasi, Program Studi Setingkat Jurusan Teknologi Pembelajaran, Program
Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wayan Ardhana, M.A, (II)
Prof. Dr. H. M. Dimyati, dan (III) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd.
Abstrak
Strategi pembelajaran kimia yang diterapkan guru di SMA sampai saat ini belum banyak membantu
siswa dalam meningkatkan pemahaman kimia siswa baik yang bersifat konseptual maupun algoritmik.
Strategi pembelajaran konvensional yang selama ini dijalankan lebih banyak dikembangkan dari paradigma
bahwa keberhasilan siswa lebih merujuk pada kompetisi dan proses belajar masih lebih bersifat individual
daripada kolaborasi. Pembelajaran pemecahan masalah kimia di sekolah menengah yang dicermati melalui
pendapat para ahli dan didukung dengan hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran
pemecahan masalah kimia masih berkutat pada cara belajar dengan menghafal dan latihan-latihan soal.
Proses pembelajaran di sekolah-sekolah menengah masih berorientasi pada target pencapaian materi yang
ditetapkan kurikulum.
Kemampuan matematika siswa diindikasikan sebagai salah satu penyebab kurang berhasilnya siswa
dalam menyelesaikan masalah kimia. Sebagaimana diungkapkan oleh Tobias (dalam Nakhleh, 1993), banyak
siswa gagal dalam memecahkan masalah kimia yang terkait dengan hitungan-kimia bukan karena lemah
dalam pemahaman konseptual akan tetapi diduga lemah dalam melakukan operasi matematika.
Kegagalan siswa dalam pemecahan masalah kimia diindikasikan disebabkan pula oleh kurang
mampunya siswa menghubungkan konsep-konsep kimia sebelumnya dengan masalah kimia yang dihadapi.
Penerapan strategi pembelajaran kooperatif model Learning Together (LT) diduga dapat meningkatkan
kemampuan siswa dalam pemecahan masalah kimia dengan cara menggali dan menghubungkan pengetahuan
siswa untuk memecahkan masalah kimia yang dihadapi secara kolaboratif.
Penelitian bertujuan untuk menguji: (1) pengaruh penerapan strategi pembelajaran yang dilakukan
secara kooperatif model LT dan melalui pembelajaran langsung terhadap pemahaman konseptual dan
algoritmik siswa, (2) pengaruh kemampuan matematika siswa terhadap pemahaman konseptual dan
algoritmik siswa, dan (3) pengaruh interaktif antara penerapan strategi pembelajaran dan kemampuan
matematika siswa terhadap pemahaman konseptual dan algoritmik siswa SMA.
Penelitian menerapkan eksperimen semu (quasi experiment) di mana rancangan pretest-posttest
nonequivalent control group digunakan dengan teknik pengukuran dua faktor versi 2 x 2. Subjek penelitian
yang dilibatkan sebanyak 182 siswa kelas XI SMA Negeri 1 Mataram. Ada dua kelompok subjek yang
masing-masing terdiri atas dua rombongan belajar dikenai perlakuan penelitian, yaitu (1) strategi
pembelajaran kooperatif model LT dan (2) strategi pembelajaran langsung. Pemecahan masalah kimia
dengan teknik pathway diterapkan pada kedua kelompok subjek. Dari masing-masing kelompok
pembelajaran, subjek dikelompokkan berdasarkan kemampuan matematikanya, yaitu kemampuan tinggi dan
rendah. Instrumen tes yang sama digunakan untuk mengukur pemahaman kimia siswa sebelum dan sesudah
perlakuan penelitian diberikan. Hipotesis penelitian diuji dengan Multivariate Analysis of Variance
(MANOVA) menggunakan program SPSS 10 for Windows XP pada taraf signifikansi 0,05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tidak ada perbedaan dalam pemahaman konseptual antara
kelompok siswa yang belajar dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dan kelompok siswa yang
belajar dengan menerapkan strategi pembelajaran langsung (F = 2,177, p = 0,142 > 0,05); (2) kemampuan
matematika yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda dalam pemahaman konseptual siswa (F =
12,855, p = 0,000 < 0,05). Siswa yang memiliki kemampuan matematika tinggi lebih baik pemahaman
konseptulnya bila dibandingkan dengan siswa yang memiliki kemampuan matematika rendah; (3) tidak ada
pengaruh interaksi dalam penerapan strategi pembelajaran dan kemampuan matematika siswa terhadap
pencapaian pemahaman konseptual kimia (F = 0,150, p = 0,699 > 0,05); (4) penerapan strategi pembelajaran
kooperatif dan strategi pembelajaran langsung memberikan pengaruh yang berbeda dalam pencapaian
pemahaman algoritmik siswa (F = 59,537, p = 0,000 < 0,05). Strategi pembelajaran kooperatif lebih unggul
bila dibandingkan dengan strategi pembelajaran langsung dalam pencapaian pemahaman algoritmik kimia
siswa; (5) kemampuan matematika yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda dalam pencapaian
236 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2009/2010
pemahaman algoritmik kimia (F = 19,485, p = 0,000 < 0,05). Siswa yang memiliki kemampuan matematika
tinggi lebih baik pemahaman algoritmiknya bila dibandingkan dengan siswa yang memiliki kemampuan
matematika rendah; (6) tidak ada pengaruh interaksi dalam penerapan strategi pembelajaran dan kemampuan
matematika siswa terhadap pencapaian pemahaman algoritmik kimia (F = 0,531, p = 0,467 > 0,05).
Berdasarkan pada temuan penelitian di atas, sejumlah saran dapat diberikan untuk pemanfaatan dari
temuan penelitian ini, yaitu: (1) pembelajaran kooperatif model LT tepat diterapkan dalam pembelajaran
kimia dengan menekankan pemecahan masalah kimia dengan teknik pathway; (2) guru perlu menggali
kemampuan matematika siswa yang berhubungan dengan hitungan-kimia, dan (3) untuk pencapaian mastery
threshold agar dilakukan pengujian ulang model penelitian ini dengan lebih mengoptimalkan proses
pembelajaran sesuai dengan rancangan pembelajaran dalam rangka pencapaian kriteria belajar.
Kata kunci: pembelajaran kooperatif, pembelajaran langsung, kemampuan matematika, teknik pathway,
pemahaman konseptual, pemahaman algoritmik.
The Effect of Instructional Strategy (LT model of Cooperative Learning and Direct
Instructional) to Chemistry Conceptual and Algorithmic Understanding of Senior High
School Student with Different Level of Mathematic Ability
Muntari
Muntari. 2009. The Effect of Instructional Strategy (LT model of Cooperative Learning and Direct
Instructional) to Chemistry Conceptual and Algorithmic Understanding of Senior High School
Student with Different Level of Mathematic Ability. Dissertation, Department of Instructional
Technology, Postgraduate Program, State University of Malang. Advisor: (I) Prof. Dr. Wayan
Ardhana, MA, (II) Prof. Dr. H. M. Dimyati, and (III) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd.
Abstract
The chemistry instructional strategy that teacher usually applies at the senior high school have not
much help student in improving the chemistry neither conceptual nor algorithmic understanding.
Conventional instructional strategy which usually applies is developed much more from the paradigm that
student’s success is more depending on competition, and learning process is still more individualistic than
collaborative. According to the experts and supported by some researches, learning in chemistry problem
solving at high school shows that learning strategy in chemistry problem solving still oriented on learning by
memorizing and problem practices. Learning process in high school is still oriented on the material
achievement which is stated in the curriculum.
Student’s mathematic ability was indicated as one of the causes of limiting student’s success in
solving chemistry problem. According to Tobias (in Nakhleh, 1993), there are many students fail in solving
chemistry problem which is related to chemistry-calculation not caused by low in conceptual understanding
but it is predicted low in mathematic operation.
A number of student fail in chemistry problem solving is indicated also caused by low in the ability
to connect the previous chemistry concepts with problem that student faced. Implementation of instructional
strategy through cooperative learning with employed Learning Together (LT) model was predicted can
improve student’s ability in solving chemistry problem with exploring and connecting student’s knowledge
to solve chemistry problem that student faced through collaboration.
The purposes of the study were: (1) to examine the effect of implementation of instructional strategy
through LT model of cooperative learning and through direct instruction to student’s conceptual and
algorithmic understanding, (2) to examine the effect of student’s mathematic ability to student’s conceptual
and algorithmic understanding, (3) to examine the interactive effect between the implementation of learning
strategy and student’s mathematic ability to student’s conceptual and algorithmic understanding of senior
high school student.
The study used quasi experiment which was pretest-posttest nonequivalent control group design was
selected with two factor 2 x 2 version measurement technique. Subjects included in this study were 182
students of grade XI State Senior High School 1 of Mataram. There were two groups of subjects that were
employed in this study, which were: (1) group employed with LT model of cooperative learning strategy and
(2) group employed with direct instruction strategy. Chemistry problem solving with pathway technique was
employed in both subject group. From each group, subject was grouped according to the student’s
mathematic ability, which was high and low. The same instrument was used to measure the student’s
Program Studi S3 TEP 237
understanding in chemistry before and after study conducted. The study hypothesis was examined by
Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) using SPSS 10 program for Windows XP in the signification
of  = 0,05.
The results of the study were as follow: (1) there was no difference in the student’s conceptual
understanding between group of student employed with LT model of cooperative learning strategy and group
of student employed with direct instruction (F = 2,177, p = 0,142 > 0,05); (2) the difference in the student’s
mathematic ability gave difference effect in the student’s conceptual understanding (F = 12,855, p = 0,000 <
0,05). Students who have higher mathematic ability were better in the conceptual understanding than students
who have lower mathematic ability; (3) there was no interactive effect in the implementation of learning
strategy and student’s mathematic ability to the student’s conceptual understanding (F = 0,150, p = 0,699 >
0,05); (4) the implementation of LT model of cooperative learning strategy and direct instruction strategy
gave difference effect in the student’s algorithmic understanding (F = 59,537, p = 0,000 < 0,05). Cooperative
learning strategy was better than direct instruction strategy in the achievement of student’s algorithmic
understanding in chemistry; (5) the difference in the student’s mathematic ability gave difference effect in the
student’s algorithmic understanding (F = 19,485, p = 0,000 < 0,05). Students who have higher mathematic
ability were better in the algorithmic understanding than students who have lower mathematic ability; (6)
there was no interactive effect in the implementation of learning strategy and student’s mathematic ability to
the student’s conceptual understanding (F = 0,531, p = 0,467 > 0,05).
Based on research finding described above, a number of suggestions can be proposed as follow: (1)
the cooperative learning with employed LT model can be implemented in the chemistry instructional that
stressed in the chemistry problem solving with pathway technique; (2) teacher need to explore student’s
mathematic ability that related to chemistry-calculation, and (3) in order to achieve the academic mastery
threshold, it need to conduct the same study with more optimize the learning process according to the
instructional design in order to accomplish the learning criteria.
Key word: cooperative learning, direct instructional, mathematic ability, pathway technique, conceptual
understanding, algorithmic understanding.
Strategi Pembelajaran Moral dalam Mata Pelajaran PKn, di SDN Buring 1, SDK
Mardiwiyata 2, dan SD Taman Muda 2 Kota Malang
Mukiyat
Mukiyat. 2009. Strategi Pembelajaran Moral dalam Mata Pelajaran PKn, di SDN Buring 1, SDK
Mardiwiyata 2, dan SD Taman Muda 2 Kota Malang. Disertasi, Program Studi Teknologi
Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H.M.
Dimyati, (2) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd. (3) Prof. Dr. Wayan Ardhana, MA.
Abstrak
Salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas moral bangsa Indonesia adalah melalui pendidikan,
khususnya melalui pembelajaran moral dalam mata pelajaran PKn, dengan cara memperbaiki kualitas proses
pembelajaran. Perbaikan kualitas proses pembelajaran ini dimulai dari strategi pengorganisasian isi, dan
strategi penyampaian isi. Strategi pengorganisasian isi dalam penelitian ini mengacu pada integrasi nilai-nilai
moral dan budi pekerti ke dalam silabus PKn, serta penyusunan Rancana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Tujuan integrasi nilai-nilai moral dan budi pekerti ke dalam silabus ini adalah: agar materi PKn sarat
mengandung nilai-nilai moral dan budi pekerti. Sedang tujuan penyusunan RPP adalah agar pelaksanaan
pembelajaran dapat berjalan secara sistematis dan efektif.
Strategi penyampaian isi pembelajaran moral dalam PKn diacukan pada model-model pembelajaran
moral, metode, media dan alat/cara penilaian yang digunakan dalam proses pembelajaran. Jika kedua strategi
tersebut direncanakan secara matang dan benar akan menghasilkan kualitas proses pembelajaran yang efektif.
Kualitas proses pembelajaran yang efektif berpengaruh positip terhadap keberhasilan pembelajaran moral
dalam PKn yaitu: sikap, perilaku dan moral pebelajar yang berbudi luhur, berkarakter sesuai dengan budaya
dan falsafah Pancasila.
Masalah umum penelitian ini adalah bagaimanakah pelaksanaan strategi pembelajaran moral dalam
PKn di SDN Buring 1, SDK Mardiwiyata 2, dan SD Taman Muda 2 Kota Malang? Masalah penelitian ini
difokuskan pada tiga masalah, yaitu: (1) bagaimanakah pelaksanaan strategi pengorga-nisasian isi
pembelajaran moral dalam PKn yang diterapkan oleh pembelajar untuk membina sikap, perilaku dan moral
238 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2009/2010
pebelajar di kelas V SDN Buring1, SDK Mardiwiyata 2, dan SD Taman Muda 2 Kota Malang? (2)
bagaimanakah pelaksanaan strategi penyampaian isi pembelajaran moral dalam PKn yang diterapkan oleh
pembelajar untuk membina sikap, perilaku dan moral pebelajar di kelas V SDN Buring 1, SDK Mardiwiyata
2 dan SD Taman Muda 2 Kota Malang? (3) bagaimanakah kualitas pembelajar dalam melaksanakan proses
pembelajaran moral dalam PKn di kelas V SDN Buring 1, SDK Mardiwiyata 2 dan SD Taman Muda 2 Kota
Malang?, yang didukung oleh data hasil analisis (a) perbedaan antara prestasi awal dengan prestasi akhir
pebelajar dalam pembelajaran moral dalam PKn di kelas V SDN Buring1, SDK Mardiwiyata 2 dan SD
Taman Muda 2 Kota Malang (b) perbedaan antara sikap awal dengan sikap akhir pebelajar dalam
pembelajaran moral dalam PKn di kelas V SDN Buring1, SDK Mardiwiyata 2 dan SD Taman Muda 2 Kota
Malang? (c) hubungan antara prestasi akhir dengan sikap akhir pebelajar dalam pembelajaran moral dalam
PKn di kelas V SDN Buring 1, SDK Mardiwiyata 2 dan SD Taman Muda 2 Kota Malang?
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan pendekatan Mixed yaitu menggabungkan
penelitian kualitatif dan kuantitatif dengan memprio-ritaskan penelitian kualitatif. Subyek penelitian adalah
pebelajar dan pembelajar PKn kelas V SDN Buring 1, SDK Mardiwiyata 2 dan SD Taman Muda 2 Kota
Malang. Analisa data yang digunakan adalah: (1) analisis diskriptif kualitatif untuk menganalisis data
kualitatif and (2) analisis diskriptif kuantitif dan analisis statistik untuk menganalisis data kuantitatif. Analisis
statistik untuk mencari perbedaan menggunakan metode uji-t sampel berpasangan (paired sample t-test),
sedang untuk mencari hubungan digunakan Product Moment (Pearson Correlation). Analisis statistik
menggunakan alat bantu SPSS PC 13.
Hasil temuan penelitian ini adalah: (1) kelima pembelajar kelas V di 3 SD terteliti melaksanakan
strategi pengoranisasian isi yaitu: membuat silabus, mengintegrasikan nilai-nilai moral dan budi pekerti serta
membuat RPP, (2) kelima pembelajar kelas V di 3 SD diteliti melaksanakan strategi penyampaian isi yaitu
menggunakan model-model pembelajaran moral dan media dalam melaksanakan pembelajaran moral dalam
PKn. Model pembelajaran sikap/moral yang sering digunakan adalah Human Modeling dan VCT, (3) kualitas
kelima pembelajar kelas V di 3 SD bervariasi, yaitu: tiga pembelajar berkualitas baik dan dua pembelajar
cukup baik. Kualitas yang paling baik dalam melaksanakan proses pembelajaran adalah pembelajar kelas V
B SDK Mardiwiyata 2.
Pembelajaran dan kegiatan yang memberi dukungan terhadap keberha-silan pembelajaran moral
dalam PKn adalah: a) pembelajaran pendidikan agama, (b) pembelajaran Pendidikan Ketamansiswaan di SD
Taman Muda 2, (c) pembe-lajaran Pendidikan Budi Pekerti di SDK Mardiwiyata 2, sedangkan untuk
kegiatan adalah: (a) kegiatan keagamaan, (b) upacara, (c) pramuka, dan (d) kegiatan sosial.
Hasil analisis uji perbedaan dan hubungan adalah: (1) ada perbedaan antara prestasi awal dengan
prestasi akhir di lima kelas terteliti. Tingkat signifikan perbedaan tersebut bervariasi, perbedaan paling tinggi
taraf signifi-kannya adalah kelas V A SDN Buring 1, sedang paling rendah adalah kelas V A SDK
Mardiwiyata 2. (2) ada perbedaan antara sikap awal dengan sikap akhir di tiga sekolah terteliti. Tingkat
signifikan perbedaan bervariasi, perbedaan paling tinggi taraf signifikansinya adalah kelas V A SDN Buring
1, sedang paling rendah adalah kelas V SD Taman Muda 2. (3) ada hubungan antara prestasi akhir dengan
sikap akhir pebelajar. Tingkat signifikan hubungan tersebut bervariasi, hubungan yang paling tinggi taraf
signifikansinya adalah di kelas V B SDK Mardiwiyata 2, sedangkan paling rendah adalah di kelas V A SDN
Buring 1.
Model pembelajaran moral dalam PKn SD yang direkomendasikan adalah: (1) Model Human
Modelling, (2) penggunaan model, strategi, metode dan media pembelajaran yang bervariasi di setiap
pertemuan dapat menciptakan pembelajaran moral dalam PKn yang menarik, menyenangkan dan efektif, (3)
pelaksanaan pembelajaran moral dalam PKn harus dapat menyentuh hati/perasaan dan pikiran pebelajar agar
sadar dan mau merubah sikap, perilaku dan moralnya ke arah yang lebih baik. Teori yang dapat ditarik dari
hasil penelitian ini adalah: ”kepandaian memberi sumbangan terhadap sikap, perilaku, dan moral yang baik,
tetapi tidak semua orang yang pandai memiliki sikap, perilaku dan moral yang baik.”
Kata kunci: strategi pembelajaran, moral, PKn.
Program Studi S3 TEP 239
Moral Learning Strategy on Civics Education at Elementary Schools of SDN Buring 1, SDK
Mardiwiyata 2, and SD Taman Muda 2 Malang
Mukiyat
Mukiyat. 2009. Moral Learning Strategy on Civics Education at Elementary Schools of SDN Buring 1, SDK
Mardiwiyata 2, and SD Taman Muda 2 Malang. Disertation, Instructional Technology Department,
Postgraduate Program State University of Malang. Advisors: (1) Prof. Dr. H.M. Dimyati, (2) Prof.
Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (3) Prof. Dr. Wayan Ardhana, MA.
Abstract
One the efforts to improve moral quality of the Indonesian people is through education, especially in
moral learning as taught in Civics education by improving quality of the learning process. Quality
improvement on of learning process is started from content organitation strategy and delivery conveying
strategy. Content organization strategy on this research refers to the integration of moral values and conduct
of life into Civics Education syllabus, and construction of lesson implementation plan. The objective of
integration of moral values and conduct of life in the syllabus is to provide the Civics Education materials
contained with moral values and conduct of live. While, the objective of construction of lesson
implementation plan is that the learning implementation will go systematically and effectively.
The strategy in delivery content of the moral learning in Civics is referred to learning models of
moral, metode , media and assessment tools used in learning process. If both of the strategies are done were
well and correct planned, it will result high quality and effective learning. The effective learning process will
have positive influence on the moral learning success in Civics, such as: attitudes, behavior and learner moral
which character conforms to culture and ideology of Pancasila.
The general problem of this research is how the implementation of moral learning strategy in Civics
Education at SDN Buring 1, SDK Mardiwiyata 2, dan SD Taman Muda 2 in Malang. The focus of the
research pproblems are as the following (1) how is the implementation of content organizing strategy of
moral learning in Civics that were implemented by the teacher to build attitude, behavior, and moral of the
fifth grade students at Elementary Schools of SDN Buring 1, SDK Mardiwiyata 2, and SD Taman Muda 2 in
Malang, (2) how is the implementation of content conveying strategy of moral learning in Civics that were
implemented by teacher to build attitude, behavior and moral of the fifth grade students at Elementary
Schools of SDN Buring 1, SDK Mardiwiyata 2 and SD Taman Muda 2 in Malang, (3) how is the quality of
the teacher in performing moral learning process in Civics over the fifth grade student at Elementary Schools
of SDN Buring1, SDK Mardiwiyata 2, and SD Taman Muda 2 in Malang?, this data is sport finding analisis
(a) differen-ces between pre-achievement and post-achievement of learners in moral learning on Civics over
the fifth grade student at Elementary Schools of SDN Buring 1, SDK Mardiwiyata 2, and SD Taman Muda 2
in Malang, (b) differences between pre-attitude and post-attitude of the learner in moral learning on Civics
over the fifth grade student at Elementary Schools of SDN Buring 1, SDK Mardiwiyata 2 and SD Taman
Muda 2 in Malang, (c) relationship between post-achievement and post-attitude of the learner in moral
learning on Civics over the fifth grade student at Elementary Schools of SDN Buring 1, SDK Mardiwiyata 2,
and SD Taman Muda 2 in Malang.
This research is categorized as qualitative research, with used Mixed approach that is a combination
of qualitative and quantitative research, with give priority to qualitative research. Subjects of the research is
the learners and teachers on Civics of the fifth grade student Elementary Schools of SDN Buring 1, SDK
Mardiwiyata 2, and SD Taman Muda 2 in Malang. The data analysis used: (1) qualitative descriptive analysis
for data qualitative and (2) quantitative descriptive analysis and statistical analysis for data quantitative. The
tecnique analysis to find the differences used Paired Sample t-test, and analysis for correlation used Product
Moment (Pearson Correlation). Statistic analysis used data assisting device of SPSS PC 13.
The research finding as fallows: (1) five teachers of the fifth grade at three observed Elementary
Schools applied content organitation strategy, such as establishing syllabus, integrating moral values and
conduct of life as well as constructing Lesson Implementation Plan, (2) five teachers of the fifth grade at
three observed Elementary Schools applied content delivery strategy, using moral learning models and media
in implying moral learning on Civics. The well known model that frequently used is Human Modeling and
VCT, (3) the quality of the five teachers at the three Elementary Schools were vary as follow: three teachers
have high quality and two teachers have low quality. The highest quality of teacher in implementing learning
process was teacher at V B grade SDK Mardiwiyata 2. Learning subjects and activities which have supported
the success of moral learning on Civics were: (a) learning in religion education, (b) learning in
Ketamansiswaan education at SD Taman Muda 2 (c) learning in conduct of life education at SDK
240 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2009/2010
Mardiwiyata 2, meanwhile, for activities were: (a) religion activities, (b) ceremony, (c) boy scouts, and (d)
social activities.
The results of analysis the differences and relationships were: (1) there was a difference between pre
and post-achievement in Civics at fifth grade observed learners. The significance level of such differences
were varied, the highest one was the fifth grade learners of class A at SDN Buring 1, and the lowest one was
the fifth grade learners of class A at SDK Mardiwiyat 2, (2) there was a deference between pre and postattitude at three observed schools. The significance level of such differences were varied, the highest one was
the fifth grade learners of class A at SDN Buring 1, and the lowest one was the fifth grade learners of class A
at SD Taman Muda 2, (3) there was a relationship between post-achievement and post-attitude of the
learners. The significance level of such relationship were varied, the highest one was the fifth grade learners
of class B at SDK Mardiwiyata 2, and the lowest one was the fifth grade learners of class A at SDN Buring 1.
The recommended moral learning model on Covics at Elementary School is derived from result of
the research, as follow: (1) “Human Modelling” model, (2) the application of varied learning media, method,
strategy and models in every lesson could create an interesting and effective moral learning in Civics, (3) the
implementation of such moral learning should be able to “touch the heart and mind of the learners” in order
to make them to better direction. Theory which can be draw from result of the research is: intelligence makes
more contribution to the good attitude, behavior and moral, but not all intelligent person always have good
attitude, behavior and moral.
Keywords: learning strategy, moral, civics.
Pengembangan Model Pengajaran Conductive untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa
Berpikir Kritis dan Bekerja Berkolaborasi pada Pembelajaran Fisika di SMK (SMK
Kelompok Teknologi dan Industri Bidang Keahlian Teknik Listrik)
Euis Ismayati
Ismayati, Euis. 2009. Pengembangan Model Pengajaran Conductive untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa
Berpikir Kritis dan Bekerja Berkolaborasi pada Pembelajaran Fisika di SMK (SMK Kelompok
Teknologi dan Industri Bidang Keahlian Teknik Listrik). Disertasi, Program Studi Teknologi
Pembelajaran Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. I
Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. M. Dimyati, (III) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, MA.
Abstrak
Berdasarkan kajian empirik, pembelajaran fisika di SMK Kelompok Teknologi dan Industri
menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Pelajaran fisika terabaikan, seakan-akan dipaksakan harus
dilaksanakan untuk memenuhi syarat dalam pelaksanaan kurikulum. Kenyataan ini berpengaruh terhadap
hasil belajar siswa yang rendah, siswa kurang tertarik dan termotivasi pada pelajaran fisika. Hal ini
disebabkan (1) Tidak ada buku paket Fisika yang terstandar untuk SMK Kelompok Tekonologi dan Industri.
(2) Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru jarang menggunakan alat peraga fisika meskipun materi pelajaran
yang disajikan menuntut adanya kegiatan demonstrasi dari alat-alat peraga. Kondisi ini menyebabkan siswa
dihadapkan pada dunia khayalan tentang fisika. (3) Rata-rata guru menyajikan materi pelajaran fisika dengan
metode yang sama dan monoton, yaitu: ceramah, tanya jawab, dan mengerjakan tugas. (4) Isi materi fisika
disajikan dengan banyaknya rumus-rumus yang harus dihafalkan oleh siswa. (5) Materi fisika yang diajarkan
kepada siswa tidak diaplikasikan pada peralatan kelistrikan atau teknologi yang ada di lapangan kerja siswa.
Kemampuan siswa beradaptasi dengan teknologi di lingkungan pekerjaan, dipengaruhi oleh proses
pembelajaran di sekolah. Peran guru bergeser dari menentukan apa yang akan dipelajari, ke bagaimana
menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa. Berdasarkan kebutuhan pembelajaran fisika,
kondisi sekolah, karakteristik dan latar belakang kemampuan siswa, maka metode yang sesuai dengan
konteks pembelajaran fisika di SMK adalah Contextual Teaching and Learning, Direct Instruction, dan
Collaborative Learning. Ketiga model pengajaran tersebut diintegrasikan menjadi satu kesatuan yang utuh,
yaitu Model Pengajaran Conductive.
Dengan demikian masalah penelitian pengembangan: Bagaimana cara mengembangkan model
pengajaran conductive yang dapat menyampaikan pesan materi pelajaran kepada siswa dengan tepat,
sehingga dapat meningkatkan wawasan pengetahuan dan kemampuan siswa untuk beripikir kritis dan bekerja
berkolaborasi sesuai dengan tuntutan dunia usaha/industri. Pengembangan ini bertujuan: (1) Merancang
model pengajaran Conductive, yaitu suatu model pembelajaran fisika yang sesuai dengan isi materi pelajaran,
Program Studi S3 TEP 241
sesuai dengan kebutuhan siswa di kelas dan di lapangan kerja. (2) Menghasilkan suatu produk pembelajaran
yang berkualitas untuk dimanfaatkan sebagai model pembelajaran Fisika di SMK. (3) Mengetahui
peningkatan kemampuan berpikir kiritis pada siswa. (4) Mengetahui peningkatan kemampuan siswa dalam
bekerja berkolaborasi. Dalam pengembangan ini dikembangkan suatu produk pembelajaran, yaitu (1) Buku
Ajar Siswa, (2) Buku Panduan Guru, (3) Buku Panduan Siswa, (4) Buku RPP, dan (5) Buku RPPS.
Model pengembangan pengajaran Conductive merupakan gabungan dan modifikasi dari model
perancangan pembelajaran Dick and Carey (1990) dan model Thiagarajan Semmel and Semmel (1974).
Materi pelajaran fisika yang dikembangkan adalah materi Magnet dan Elektromagnetik. Hasil pengembangan
terdiri dari 4 tahapan yaitu tahap: define, design, develop, dan disseminate. Sedangkan yang dilakukan dalam
pengembangan ini hanya sampai tahap develop. Tahap pengembangan dilakukan ujicoba produk, yaitu: (1)
validasi para ahli, (2) ujicoba kelompok kecil, dan (3) ujicoba lapangan. Pada ujicoba lapangan dilakukan
pengamatan kegiatan guru dan siswa pada kelas conductive (sebagai data pendukung), dan pengamatan
kegiatan guru dan siswa pada kelas konvensional (sebagai data pembanding). Subyek ujicoba pada: (1)
Validasi para ahli, 5 orang ahli yaitu ahli desain, ahli media, ahli isi fisika, ahli isi kelistrikan, dan ahli
bahasa. (2) Ujicoba kelompok kecil, yaitu 2 orang guru fisika dan 6 orang siswa kelas 3 SMK Jurusan Listrik
pada SMKN 2 dan SMKN 7 Surabaya. (3) Ujicoba lapangan, yaitu 2 orang guru fisika termasuk peneliti
sebagai guru, 31 orang siswa SMKN 2 dan 29 orang siswa SMKN 7 Surabaya, kelas 3 jurusan Listrik. (4)
Pengamatan ujicoba lapangan, selain subyek pada kelas conductive juga subyek pada kelas konvensional,
yaitu 2 orang guru fisika, 22 orang siswa SMKN 2, dan 34 siswa SMKN 7 kelas 3 Jurusan Listrik. Instrumen
pengumpul data: Catatan lapangan, angket, lembar pengamatan kegiatan guru, lembar pengamatan kegiatan
siswa, lembar respons siswa, dan peneliti sendiri. Data hasil ujicoba diolah menggunakan analisis isi dan
analisis deskriptif.
Berdasarkan hasil analisis, kajian produk dan pembahasan, diperoleh kesimpulan: (1) Dalam
pengembangan model pembelajaran fisika untuk SMK Kelompok Teknologi dan Industri, dihasilkan suatu
rancangan pembelajaran yaitu Model Pengajaran Conductive yang sesuai dengan isi materi pelajaran,
kebutuhan siswa di sekolah dan di lapangan kerja. (2) Produk perangkat pembelajaran fisika: Buku Ajar
Siswa, Panduan Guru, Pedoman Siswa, Buku RPP, dan Buku RPPS, memliki kualitas yang baik dan
kegunaan yang tepat dengan kebutuhan siswa dan guru fisika. (3) Model pengajaran conductive memiliki
kelebihan jika dibandingkan dengan pengajaran konvensional. Model pengajaran conductive dapat
meningkatkan kemampuan siswa berpikir kritis dan bekerja berkolaborasi. Hal ini ditunjukkan dari nilai ratarata kemampuan berpikir kritis pada kelas conductive lebih tinggi dari pada kelas konvensional. Nilai ratarata kemampuan bekerja berkolaborasi pada kelas conductive lebih tinggi dari pada kelas konvensional (4)
Pembelajaran conductive dapat menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, kondusif, komunikatif, dan
interaktif. Teori dan praktek fisika dapat menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan wawasan
berpikir siswa. (5) Seluruh kegiatan pengajaran conductive disukai siswa, karena dapat menyediakan segala
fasilitas yang dibutuhkan siswa, diantaranya: guru pengajar, perangkat pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
peralatan praktek, demonstrasi, dan diskusi kolaborasi. Maka pembelajaran conductive dapat dipertahankan
dan ditingkatkan.
Kata kunci: model pengajaran conductive, berpikir kritis, bekerja berkolaborasi, perangkat pembelajaran.
242 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2009/2010
Conductive Instruction Model Development to Increase Student’s Ability to Think Critically
and Work Collaboratively on Physics Instructional in Vocational High School (SMK).
(Vocational High School of Technology and Industry Group Majoring in Electrical
Engineering)
Euis Ismayati
Ismayati, Euis. 2009. Conductive Instruction Model Development to Increase Student’s Ability to Think
Critically and Work Collaboratively on Physics Instructional in Vocational High School (SMK).
(Vocational High School of Technology and Industry Group Majoring in Electrical Engineering),
Dissertation, Study Program of Instructional Technology of Post Graduate Program of State
University of Malang. Advisor: (I) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (II) Prof. Dr. H. M.
Dimyati, (III) Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A.
Abstract
Based on an empirical observation, physics instructional in vocational high school of technology
and industry group showed less satisfying output. Physics subject is ignored, as if it is imposed to be carried
out to meet the condition in curriculum implementation. This reality affect low student’s learning output, in
which they are not interested and motivated to physics subject. This is caused (1) There is no standard
physics dictate for vocational high school of technology and industry group. (2) In instructional
implementation, the teacher rarely uses visual aids of physics even though the instruction material provided
demands demonstratin activity from these visual aids. This condition causes the students are conduced on
fantasy world about physics. (3) In average, the teacher provides physics instruction material by using the
same and monotonous methods, i.e. lecturing, question and answer, and completing task. (4) The content of
physics material is provided with many formulations that must be memorized by the student. (5) Physics
material taught to the student may not be applied on electrical or technology tools available in the student’s
employment field.
The student’s ability to adapt with technology in working environment is affected by instructional
process in their school. The teacher’s role shifts from establishing what will be studied to how to provide and
enrich the student’s learning experience. Based on physics instructional requirement, school condition,
characteristic and background of student’s ability, so the method in accordance with physics instructional
context in vocational high school is Contextual Teaching and Learning, Direct Instruction, and Collaborative
Learning. These three instruction models are integrated into a whole unit, i.e. Conductive Instruction Model.
Therefore, the problem of development research is: How to develop conductive instruction model in order
that can deliver subject material message to the student appropriately, so it can increase knowledge insight
and student’s ability to think critically and work collaboratively in accordance with demand of
manufacture/industry world. This development aims to: (1) Design conductive instruction model, i.e. a
physics instructional model in accordance with subject material content, and student’s requirement in
classroom and employment field. (2) Produce a qualified instructional product to be utilized as physics
instructional model in vocational high school. (3) To know student’s ability increase for thinking critically.
(4) To know student’s ability increase for working collaboratively. In this development, an instructional
product is developed, i.e. (1) Student’s Teaching Book, (2) Teacher’s Manual Book, (3) Student’s Manual
Book, (4) RPP Book, and (5) RPPS Book.
Conductive instructional development model is unification and modification from Dick and Carey’s
(1990) instructional design model and Thiagarajan Semmel and Semmel’s (1974) model. Physics subject
material developed is Magnet dan Electromagnetic materials. The development output consists of 4 phases:
define, design, develop, and disseminate. Whereas, what is done in this development is only development
phase. Development phase is carried out by implementing product trial, i.e: (1) Validation by experts, (2)
Trial to small group, and (3) Trial in a field. On the field trial, it is done an observation for teacher and
student’s activities in conductive classroom (as supporting data), and observation for teacher and student’s
activities in conventional classroom (as comparative data). The subject for this trial is on: (1) Validation by
experts consisting of 5 experts, i.e. design expert, media expert, physics content expert, electrical content
expert, and language expert. (2) Trial to small group, i.e. 2 physics teachers and 6 students of grade 3 of
vocational high school of electric department at SMKN 2 and SMKN 7 Surabaya. (3) Trial in a field, i.e. 2
physics teachers, included the researcher as teacher, 31 students of SMKN 2 and 29 students of SMKN 7
Surabaya of grade kelas 3 of electric department. (4) The observation on field trial, beside the subject in
conductive classroom, is that subject in conventional classroom, i.e. 2 physics teachers, 22 students of SMKN
2, and 34 students of SMKN 7 of grade 3 of electric department. The instrument of data collector is: the field
Program Studi S3 TEP 243
transcript, questionnaire, observation sheet of teacher’s activity, observation sheet of student’s activity,
student’s response sheet, and the researcher. Data of trial output is processed by using content analysis and
descriptive analysis.
Based on analysis output, product investigation and discussion, it can be concluded that: (1) In
developing physics instructional model for vocational high school of technology and industry group, an
instructional design is produced, i.e. Conductive Instruction Model in accordance with subject material
content, student requirement in school and employment field. (2) Product of physics instructional set:
Student’s Teaching Book, Teacher’s Manual Book, Student’s Manual Book, RPP Book, and RPPS Book,
have good quality and the appropriate usefulness with the requirement for student and physics teacher. (3)
Conductive instruction model has excess compared with conventional instruction. Conductive instruction
model can increase student’s ability for thinking critically and working collaboratively. These was shown by
the average mark of ability for thinking critically in conductive classroom is higher than conventional
classroom. The average mark of ability for working collaboratively in conductive classroom is higher than
conventional classroom. (4) Conductive instruction can create classroom situation comfortably, conducively,
communicatively, and interactively. Physics theory and practice can add and develop knowledge and insight
of student’s thought. (5) The student like all activities of conductive instruction, because it can provide all
facilities required by the student, is that: teacher, instructional set, instructional activity, practice equipment,
demonstration, and collaboration discussion. Therefore, it is better to maintain and increase conductive
instructional.
Keyword: Conductive Instruction Model, to think critically, to work collaboratively, and a set instructional.
Pembelajaran dengan Bermain dan Pengembangan Kecerdasan Majemuk Anak Prasekolah: Kajian Kualitatif pada Beberapa Kelompok Bermain di Kota Malang
Soenaryo, Siti Fatimah
Soenaryo, Siti Fatimah. 2009. Pembelajaran dengan Bermain dan Pengembangan Kecerdasan Majemuk
Anak Pra-sekolah: Kajian Kualitatif pada Beberapa Kelompok Bermain di Kota Malang. Disertasi
Doktor, Program Studi Teknologi Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.
Abstrak
Memetik pelajaran dari konsep dan teori kecerdasan majemuk, keberhasilan individu bisa datang
dari satu atau lebih kecerdasan. Karena itu, optimasi keberhasilan seseorang di masa depan sangat ditentukan
oleh optimasi jenis-jenis kecerdasan yang dia miliki semasa kanak-kanak.
Berkenaan dengan optimasi kecerdasan majemuk di kalangan anak-anak pra-sekolah, penelitian ini
bertujuan: (1) memaparkan proses pembelajaran dengan bermain oleh guru kelompok bermain, (2)
memaparkan proses belajar dengan bermain oleh siswa kelompok bermain, (3) mengenali manfaat
pembelajaran dan belajar dengan bermain bagi pengembangan kecerdasan majemuk di kalangan siswa
kelompok bermain, dan (4) mengembangkan teori lapangan baik deskriptif maupun preskriptif tentang
hubungan antara pembelajaran dan belajar melalui bermain dan pengembangan kecerdasan majemuk di
kalangan siswa kelompok bermain.
Penelitian multi-situs ini menerapkan rancangan induksi analitik yang dimodifikasi dengan tiga situs
kelompok bermain yang berlokasi di Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia sebagai situs kajiannya. Data
penelitian ini dikumpulkan dengan telaah dokumen, pengamatan berperan-serta, wawancara mendalam,
perekaman audio, visual, dan video. Hasil penelitian dipaparkan secara naratif realis, dianalisis secara
kualitatif, dan dikonseptualisasi untuk menghasilkan suatu teori lapangan deskriptif dan preskriptif.
Pembelajaran dan belajar dengan bermain dimulai dengan peyambutan dan berdoa, penetapan
pijakan bermain, bergiat dalam kegiatan belajar dengan bermain, mengikuti kegiatan pasca bermain,
pengingatan kembali pesan belajar, berdoa bersama, dan kemudian pulang secara tertib.
Penelitian ini menghasilkan beberapa proposisi deskriptif-eksplanatori: (1) bermain dan belajar
merupakan dua kegiatan yang berlangsung secara simultan dalam diri anak-anak usia dini, (2) belajar dengan
bermain merupakan perubahan tingkahlaku pada diri seorang anak yang terjadi melalui kegiatan bermain, (3)
pembelajaran dengan bermain merupakan upaya membantu perubahan tingkahlaku pada diri seorang anak
yang dilakukan melalui perlibatan dalam kegiatan bermain, (4) interaksi pembelajaran dengan bermain
melibatkan secara serentak tubuh, indera, otak, jiwa, dan bahasa seseorang anak, (5) semakin banyak aspek
pada diri seorang anak yang dilibatkan dalam interaksi pembelajaran dengan bermain, semakin banyak jenis
244 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2009/2010
kecerdasan yang terangsang, terlatih dan berkembang, (6) semakin tinggi intensitas pelibatan satu atau lebih
aspek pada diri seorang anak, semakin tinggi intensitas ransangan terhadap satu atau lebih jenis kecerdasan
anak, dan (7) semakin luas dan mendalam pengetahuan guru terhadap jenis-jenis kecerdasan anak, semakin
merata dan seimbang aspek diri anak yang dilibatkan dalam interaksi pembelajaran dengan bermain.
Proposisi tersebut selanjutnya ditransformasi menjadi proposisi preskriptif bahwa dalam rangka
mengembangkan kecerdasan majemuk anak-anak, guru pendidikan pra-sekolah harus: (1) cakap
mengintegrasikan antara kegiatan kegiatan belajar dengan bermain, (2) cakap mengevaluasi proses dan hasil
pembelajaran dengan bermaik untuk menguji dan memperbaikinya, (3) cakap melibatkan semua anak dalam
proses belajar dengan bermain, dan (4) cakap mengatur pengalaman belajar sehingga menjangkau semua
aspek diri anak-anak pra-sekolah.
Dalam rangka mengembangkan kecerdasan majemuk anak melalui pembelajaran dengan bermain,
kurikulum eksperiansial pendidikan pra-sekolah harus: (1) mencakup aspek tubuh, indra, otak, jiwa, dan
bahasa anak-anak, dan (2) mengoptimasi jenis kecerdasan yang penting tetapi terabaikan seperti kecerdasan
logis-matematis. Akhirnya, visi dan misi baru pembelajaran dengan bermain harus didukung oleh kebijakan
pendidikan yang berpihak pada pengembangan kecerdasan majemuk anak.
Kata kunci: bermain, belajar, kecerdasan majemuk, anak pra-sekolah
Teaching through Playing and the Development of Pre-School Children’ Multiple
Intelligences: A Qualitative Study at Some Play-Groups Located in Kota Malang
Soenaryo, Siti Fatimah
Soenaryo, Siti Fatimah. 2009. Teaching through Playing and the Development of Pre-School Children’
Multiple Intelligences: A Qualitative Study at Some Play-Groups Located in Kota Malang.
Unpublished Dissertation, Department of Educational Technology, Post-Graduate Program, the
State University of Malang. Promoters: (I) Prof. Dr. H. M. Dimyati, (II) Prof. Dr. I. Nyoman S.
Degeng, M.Pd., (III) Prof. Dr. I. Wayan Ardhana, MA.
Abstract
Taking a lesson from the concepts and theory of multiple-intelligence, the success of an individual
may come from one or more intelligences. Consequently, the optimization of their success in the future will
depend on the optimization of the types of intelligence they have during their childhood period.
In relation to the optimization of multiple-intelligences among the pre-school children, the
objectives of this study is: (1) to describe the process teaching through playing performed by the preschool’s
teachers, (2) to describe the process of learning through playing engaged by the preschool’s children, (3) to
identify the uses of teaching and learning through playing to develop the multiple-intelligences among the
pre-school children, and (4) to generate both a grounded descriptive and prescriptive theory on the
relationship between teaching and learning through playing and the development of the multiple-intelligences
among the pre-school children.
This multi-sites study applies the modified inductive analysis as its design with three play groups
located at Kota Malang, East Java, Indonesia, as its studied sites. The data were gathered by the techniques of
documentary study, participatory observation, in-depth interviews, and audio, visual, and video recordings.
The findings were narrative-realist described, qualitatively analyzed, and conceptualized to generate a
grounded both descriptive and prescriptive theories.
The process of teaching and learning through playing begins with welcoming and praying,
establishing the grounds, engaging in learning through playing, engaging in post-playing activities, recalling
the lessons, praying together, and going home. The children’s intelligence which is stimulated, trained, and
developed through the activities is linguistic, interpersonal, kinesthetic, intrapersonal, emotional, visualspatial, musical, logical-mathematic, natural, and spiritual intelligences. The important but disregarded type
of intelligence found in this study is the logical-mathematic intelligence.
This study results in some descriptive-explanatory propositions: (1) playing and learning are two
simultaneous activities for the pre-school children, (2) learning through play is a change in behavior that
occurs through playing activities, (3) teaching through play is an intended effort to help the process of change
in behavior that occurs through playing activities, (4) the interaction of teaching through play simultaneously
involves a child’s body, sense, brain, soul, and language, (5) the more a child’s aspects involved in the
instructional processes, the more types of intelligence are stimulated, trained, and developed, (6) the higher
Program Studi S3 TEP 245
intensity of involvement for one or more child’s aspects, the higher the intensity stimulated to one or more
types of child’s intelligences, and (7) the broader and deeper teacher’s knowledge about types of child’s
intelligences, the broader and more balance the child’s aspects which are involved in the interaction of
teaching through play.
These propositions are then transformed into prescriptive propositions that in order to develop
children’s multiple intelligence, the teacher of pre-school education should be: (1) competent in integrating
between the activities of learning and playing, (2) competent in evaluating the processes and the results of
teaching through learning both for proving and improving them, (3) competent in involving all of children in
the process of learning through playing, and (4) competent in arranging the learning experiences which reach
all of the aspects of the children.
In order to develop children’s multiple intelligence by using teaching through playing, the
experiential curriculum of pre-school education should: (1) cover the aspect of body, senses, brain, mind, and
the language of the children, and (2) optimize the important but disregarded type of intelligence such as
logical-mathematic intelligence. Finally, the new vision and mission of teaching through playing should be
supported by the affirmative educational policy to develop children’s multiple intelligence.
Key words: playing, learning, multiple intelligences, pre-school children
Strategi Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan Bidang Studi Ilmu
Pengetahuan Sosial Berbasis Kecakapan Hidup pada Sekolah Dasar Negeri Tulungrejo 04
Bumiaji dan Sekolah Dasar Muhammadiyah 04 Batu
Ichsan Anshory AM
Ichsan Anshory AM. 2009. Strategi Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan Bidang Studi
Ilmu Pengetahuan Sosial Berbasis Kecakapan Hidup pada Sekolah Dasar Negeri Tulungrejo 04
Bumiaji dan Sekolah Dasar Muhammadiyah 04 Batu. Disertasi, Program Studi Teknologi
Pembelajaran, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang.
Abstrak
Salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dimulai dari perbaikan proses
pembelajaran atau lebih fokus pada strategi/metode pembelajaran. Strategi/ metode pembelajaran ini lebih
lanjut diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu (1) strategi pengorganisasian (organizational strategy), (2)
strategi penyampaian (deli- very strategy), dan (3) strategi pengelolaaan (management strategy). Strategi
pengor-ganisasian pembelajaran mengacuh pada suatu pembuatan seperti pemilihan isi, penataan isi,
pembuatan diagram, dan format belajar. Strategi penyampaian pembe- lajaran kepada peserta didik dan
strategi pengelolaan pembelajaran mengacuh pada upaya menata interaksi antara peserta didik dengan
komponen strategi yang lainnya atau kapan strategi dipakai dalam suatu situasi pembelajaran.
Masalah umum penelitian ini adalah bagaimanakah strategi pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan
menyenangkan bidang studi ilmu pengetahuan sosial berbasis ke- cakapan hidup dilaksanakan di SDN
Tulungrejo 04 dan SD Muhammadiyah 04 Batu. Secara khusus, masalah penelitian itu difokuskan pada tiga
hal, yakni, (1) Bagaimana strategi pengorganisasian pembelajaran akatif, kreatif, efektif dan menyenangkan
di SDN Tulungrejo 04 dan SD Muhammadiyah 04 Batu. (2) bagaimana strategi penyam- paian pembelajaran
akatif, kreatif, efektif dan menyenangkan bidang studi ilmu penge tahuan sosial berbasis kecakapan hidup,
dilihat dari (a) bagaimana kegiatan awal pembelajaran, (b). bagaimana kegiatan inti pembelajaran dan (c)
bagaimana kegiatan penutup, (3) Strategi pengelolaan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif fenomeno logis dalam
pelaksanaan strategi pembelajaran akatif, kreatif, efektif dan menyenang- kan. Pendekatan ini menggunakan
tiga tahap reduksi, yaitu reduksi fenomenologis, eidetis dan transendental. Alasan menggunakan
fenomenologis adalah (1) perolehan data faktual dalam kondisi berlangsungnya proses pembelajaran, (2)
penelitian meng- ungkapkan pemaknaan perilaku guru dengan peserta didik dalam proses pembe- lajaran,
dan (3) fokus penelitian mengungkapkan interaksi, komunikasi dan relasi antara guru dengan peserta didik
dalam dimensi strategi pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Pengumpulan data terdiri dari data verbal dan nonverbal diperoleh dari latar alamiah pada saat guru
mengajar bidang studi ilmu pengetahaun sosial berbasis kecakapan hidup yang diteliti. Untuk memperoleh
data menggunakan teknik observasi /pengamatan langsung, wawancara mendalam, angket dan dokumentasi.
246 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2009/2010
Teknik ob- servasi digunakan untuk memperoleh gambaran yang sesungguhnya perilaku guru dalam proses
pengorganisasian, penyampaian dan pengelolaan pembelajaran akatif, kreatif, efektif dan menyenangkan
dikelas/luar kelas, (2) teknik angket untuk mem- peroleh gambaran umum data aktivitas-aktivitas yang
berkaitan dengan persiapan, penyapaian dan pengelolaan serta penilaian yang diemban oleh seluruh guru, (3)
teknik wawancara mendalam digunakan untuk mengungkapkan dan menguatkan pemaknaan perolehan data,
dan (4) dokumentasi digunakan untuk mendukung data yang diperoleh dari observasi, angket dan wawancara
mendalam.
Adapun analisis data menggunakan model analisis interaktif, yaitu perolehan data dari lokasi
penelitian di dalamnya melibatkan kegiatan pengumpulan data, sajian dan paparan data, reduksi data dan
penarikan kesimpulan.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran akatif, krea- tif, efektif dan
menyenangkan bidang studi IPS berbasis kecakapan hidup pada SDN Tulungrejo 04 dan SD Muhammadiyah
04. Strategi pengorganisasian pembela- jaran sudah menjadi tugas pokok guru dalam membuat program
tahunan, program semes- teran, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Strategi penyampaian dan pengelolaan pembelajaran akatif, kreatif, efektif dan menyenangkan, guru
kelas bidang studi ilmu pengetahuan sosial berbasis kecakapan hidup. Buku tematik belum ada, buku
penunjangnya masih menggunakan buku bidang studi. Materi pelajaran dikembangkan melalui pemanfaatan
lingkungan seko- lah, media dan sumber belajar sudah dirancang, baik dibuat oleh peserta didik sendiri
maupun yang sudah disiapkan oleh guru.
Sementara itu, hasil temuan bahwa penggunaan jam efektif pembelajaran dalam kegiatan intra dan
ekstra kurikuler selama enam hari di SDN Tulungrejo 04 bahwa kegiatan pembelajaran jam efektif untuk
kelas I, II dan III= 32 jam, dan kelas IV, V dan VI=38 jam, sesuai dengan standar jam dalam kurikulum.
Sedangkan penggunaan jam efektif pembelajaran dalam kegiatan intra dan ekstra kurikuler selama enam hari
di SD Muhammadiyah 04, bahwa kegiatan pembelajaran jam efektif kelas I dan II=38 jam, kelas III= 40 jam,
kelas IV, V dan VI= 42 jám, penambahan jam dimanfaatkan untuk menyalurkan bakat dan minat peserta
didik dalam rangka pengembangan diri.
Strategi penyampaian pembelajaran,guru dengan peserta didik dalam interaksi dan komunikasi
diciptakan suasana agar peserta didik memiliki motivasi belajar, mata pelajaran dikemas untuk mampu
menciptakan peserta didik bisa aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, sehingga peserta didik secara tidak
langsung tertanam pem- biasaan, keberanian dan ketrampilan pada dirinya. Strategi penyampaian pembela
jaran guru sebagai komponen utama sebagai sumber belajar, mengggunakan metode pembelajaran yang
bervariasi dan flesibel; yaitu ceramah, tanya jawab, pemberian tugas kelompok/individu, diskusi, eksperimen,
pengamatan lingkungan, presentasi individu maupun kelompok, orientasi pembelajaran kontekstual. Strategi
pengelolaan dan hasil pembelajaran, yaitu produk karya individu berupa pajangan, pemberian motivasi, quis,
penguatan berupa refleksi, pesan moral, kesimpulan, penutup dengan doa. Hasil belajar peserta didik
berbentuk laporan tertulis, catatan harian dan raport, dan menyusun rencana tindak lanjut pembelajaran, yaitu
dengan mengadakan remidi.
Hasil dan temuan penelitian ini,bahwa strategi pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan
menyenangkan, guru masih menerapkan strategi pembelajaran aktif dan menyenangkan untuk kelas rendah
(kelas I,II dan III), dan untuk kelas tinggi sudah mencakup aktif,kreatif,efektif dan menyenangkan.
Kata kunci: strategi pembelajaran, aktif kreatif efektif dan bidang studi ilmu pengetahuan sosial berbasis
kecakapan hidup.
Program Studi S3 TEP 247
Active, Creative, Effective and Joyful Learning Stra- tegies in Teaching Social Studies Study
Which With Life Skills Base at Sekolah Dasar Negeri Tulungrejo 04 Bumiaji and Sekolah
Dasar Muhammadiyah 04 Batu
Ichsan Anshory AM
Ichsan Anshory AM, 2009. Active, Creative, Effective and Joyful Learning Stra- tegies in Teaching Social
Studies Study Which With Life Skills Base at Sekolah Dasar Negeri Tulungrejo 04 Bumiaji and
Sekolah Dasar Muhammadiyah 04 Batu. Dissertation, Instructional Technology Department,
Postgraduate Program, State University of Malang.
Abstract
One of effort to improve learning quality is started from the improvement of learning process or
focus on learning strategy/method. The learning strategy/method is classified further into three kinds,(1)
organizational strategy, (2) delivery strategy, and (3) management strategy. Organizational learning strategy
refers to a making of content selection, diagram, and form of study. Delivery learning strategy to learners and
management learning strategy refer to an effort to organize interaction between learners with other
component strategy or when the strategy is used in a learning situation.
The focus of the research was how did active, creative, effective and Joyful learning strategies was
the implementation of life skills base conduct in Sekolah Dasar Negeri Tulungrejo 04 Bumiaji and Sekolah
Dasar Muhammadiyah 04 Batu. Specifically, the research problems were focused on three things: (1) How
was orga- nizational strategy covered in detail (a) making design of annual program, semester program,
syllabus and lesson plan ( b) how to develop and organize the main material contexts base, and (c) how to
select resources and teaching media (2) How was deli- very strategy social science field of study life skills
base; seen from (a) how the first learning activity; (b) how the core learning activity and (c) how the closing
activity (3) organizational learning strategy Strategies in Teaching Social Studies Study Which With Life
Skills Base at Sekolah Dasar Negeri Tulungrejo 04 Bumiaji and Sekolah Dasar Muhammadiyah 04 Batu
The phenomenological qualitative approach was used in the study. The ap- proach used three steps
of reduction, they were phenomenological, eidetic, and transcendental, The reasons of using the approach
were (1) getting factual data in which learning process was taking place (2) the research explained the
meaning of teacher’ behavior with the learners in the process of active, creative, effective and Joyful, and (3)
focus of the research revealed interaction, communication, and relationship between teacher and learners in
the dimension of organizational, delivery, and management strategy of active, creative, effective and Joyful
learning.
Data collection which consisted of verbal and nonverbal data taken from natural setting, teacher
phenomena in the active, creative, effective and Joyful learn- ing process social science field of study life
skills base. To collect the data used direct, depth interview, questionnaire and documentation. Observation
technique was used to get a description of teacher real behavior in the organizational, delivery and
management process of active, creative, effective and Joyful in or out class, (2) ques- tionnaire technique was
used to get description of general data about activities related to preparation, delivery, management and also
evaluation held by all teachers, (3) depth interview technique was used to explain and strengthen the meaning
of data col- lected, and (4) documentation was used to support the data taken from observation,
questionnaire, and interview as well as the making of video record of active, creative, effective and Joyful
learning strategy social science field of study life skills base.
Furthermore, data analysis used was interactive analysis, in which the data collection were taken
from the location of the research through observation, questionnaire, interview and documentation will be
presented in the explanation and finding, discussion and verification.
The research finding showed that active, creative, effective and Joyful learning strategy social
science field of study life skills base at SDN Tulungrejo 04 and SD Muhammadiyah 04. Organizational
learning strategy had already been the main duty of teacher in doing annual program, semester program,
syllabus, and teaching plan.
Delivery and management learning strategy of active, creative, effective and Joyful learning,
classroom teacher of social science field of study life skills base. The thematic books didn’t exist, the
supporting book still used field of study book. The learning material was developed by using school
environment, media and learning sources that already been designed and prepared either by learners
themselver or teacher.
Meanwhile, the finding about the use of effective learning hour in the intra and extra curriculer
activity during six days in SDN Tulungrejo 04 was the efffective hour for learning activity in class I, II and
248 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2009/2010
III = 32 hours, and in class IV, V and VI = 38 hours, appropriate with hour standard in curriculum. Whereas,
the use of effective learning hour in the intra and extra curriculer during 6 days in SD Muhammadiyah 04
was that effective hour for learning activity class 1 and II = 38 hours; class III= 40 hours; class IV,V and VI=
42 hours, the additional hour was used to accomoditing learners’ aptitude and interest.in the framework of
self building.
Delivering learning strategy, teacher with learners in the interaction and communication was created
nuance in order the learners had learning motivation, the lessons were arranged to make the learners active,
creative, affective and fun, so that learners indirectly engaged to the habit, bravery and skills on them.
Teacher learning delivery strategy as the main component, used various and flexible learning; such as
lecturing, question and answer, gave individual or group assignment, discussion, experiment, environment
obsevation, individual or group presentation, and comtexs- tual learning orientation. Management strategy
and learning result, were individual product in the form of display, giving motivation, quiz, reinforcement;
reflection, moral message, conclusion, and closing with praying. The result of the learners’ study in the form
of written report, daily note, and raport, as well as making plan to follow- up learning by conducting remedy.
The result and finding of the research showed that in active, creative, effective and Joyful learning
strategy, teacher still applied actaive and fun strategy for lower classes (I,II,III), and for higher classes
already covered active, creative, effective and joyful.
Key words: active, creative, effective and joyful , learning strategy, in teaching social studies study which
with life skills base
Pengaruh Musik dan Gaya Belajar terhadap Hasil Belajar Puisi Matapelajaran Bahasa
Indonesia Siswa Kelas X Sma Bakti Ponorogo
Agung Pramono
Pramono, Agung. 2009. Pengaruh Musik dan Gaya Belajar terhadap Hasil Belajar Puisi Matapelajaran
Bahasa Indonesia Siswa Kelas X Sma Bakti Ponorogo. Disertasi Program Studi Teknologi
Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing 1. Prof. Dr. H. M.
Dimyati, 2. Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A. 3. Prof. Dr. I Nyoman S. Degeng, M.Pd.
Abstrak
Pembelajaran merupakan proses pengembangan sikap dan kepribadian siswa melalui berbagai tahap
dan pengalaman. Dalam pencapaian sasaran memerlukan metode dan media sebagai alat untuk menjelaskan
pokok bahasan dalam pengembangan sikap dan kepribadian siswa tersebut. Metode yang digunakan haruslah
sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan. Guru bisa melakukan kombinasi metode dan melengkapi
dengan media tertentu termasuk di dalamnya musik.
Musik merupakan bahasa yang universal. Musik merupakan bahasa yang melintasi batas-batas usia,
jenis kelamin, ras,agama, dan kebangsaan. Musik muncul di semua tingkat pendapatan, kelas sosial, prestasi
pendidkan. Dengan multi modal stimulus yang dimiliki musik, maka musik mudah diterima oleh indera
pendengaran setiap orang. Dengan demikian musik mampu memberikan motivasi bagi siswa dalam proses
pembelajaran.
Setiap siswa mempunyai gaya belajar yang berbeda. Terdapat tiga modalitas gaya belajar, yaitu:
auditori, kinestetik, dan visual. Berdasarkan jenis gaya belajar yang dimiliki oleh siswa peneliti akan
membandingkan pengaruh dari kedua jenis musik pada ketiga gaya belajar dalam pencapaian hasil belajar
puisi siswa. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana musik dan gaya belajar mampu mempengaruhi
hasil pembelajaran puisi.
Penelitian ini melibatkan kelompok siswa kelas X SMA Bakti Ponorogo yang terpilih secara
random dari enam kelas yang seimbang. Dari enam kelas terpilih secara random dua kelas perlakuan yaitu
kelas X1 sabagai kelas perlakuan musik lagu dan kelas X4 sebagai kelas perlakuan musik instrumental
Sebelum pelaksanaan eksperimen, terlebih dulu dilakukan tes untuk menentukan gaya belajar setiap
siswa baik di kelas X1 maupun kelas X4. Model tes gaya belajar yang dipakai mengacu pada instrumen yang
dibuat oleh Bobbi de Porter.
Sejalan dengan hipotesis, penelitian ini menggunakan desain eksperimen kuasi dengan rancangan
pretes-postes, nonequivalent control group desain. Selain menguji perbedaan dalam penelitian, penelitian ini
juga berusaha mengungkapkan adanya hubungan sebab akibat dari satu perlakuan terhadap hasil belajar.
Program Studi S3 TEP 249
Analisis varian yang digunakan dalam penelitian ini dapat dijelaskan dengan desain faktorial 2x3.
Desain faktorial ini diartikan sebagai struktur penelitian yang di dalamnya terdapat dua variabel bebas atau
lebih yang diperhadapkan untuk menguji akibat-akibat yang mandiri yang interaktif terhadap variabel bebas.
Penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara siswa yang diajar dengan media
musik instrumental dan lagu. Pada analisis uji beda gaya belajar terhadap hasil belajar ternyata terdapat
perbedaan yang signifikan. Hipotesis mengenai adanya perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan
lagu dan yang diajar dengan musik instrumental menunjukkan nilai Fhitung =82,641 > F tabel =4,01 dengan
taraf signifikan kurang dari 0,05. Mengenai perbedaan hasil belajar puisi siswa dengan gaya belajar yang
berbeda Uji hiipotesis menunjukkan nilai Fhitung =13,974 > Ftabel=4,01 dengan taraf signifikan kurang dari
0,05 (p<0,00) sehingga dapat dikatakan ada perbedaan hasil belajar puisi siswa dengan gaya belajar yang
berbeda. Adanya perbedaan hasil belajar puisi siswa dengan gaya belajar dan perlakuan yang berbeda
ditunjukkan dengan nilai Fhitung =8,524>Ftabel=4,01 dengan taraf signifikan kurang dari 0,05 (p<0,00).
Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dikatakan terdapat Interaksi antara pemberian musik instrumental
dan lagu dengan ketiga gaya belajar yang dimiliki siswa. Siswa dengan gaya belajar auditorial yang diajar
dengan musik instrumental mampu memperoleh hasil belajar yang lebih baik.
Kata kunci: musik, gaya belajar, hasil belajar, puisi
The Effect of Music and Student Learning Styles Towards Poetry Learning Outcome of
Indonesian at Tenth Grade Student in SMA Bakti Ponorogo
Agung Pramono
Pramono, Agung. 2009. The Effect of Music and Student Learning Styles Towards Poetry Learning Outcome
of Indonesian at Tenth Grade Student in SMA Bakti Ponorogo. Dissertation, Instructional
Technology Program, Post of Graduate Program, State University of Malang. Advisor I. Prof. Dr. H.
M. Dimyati, Advisor II. Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A. Advisor III. Prof. Dr. I Nyoman S.
Degeng, M.Pd.
Abstract
Learning is a process of attitude and personality development of student through various stage and
experiences. In reaching these targets and the method requires the media as a tool to describe the subject of
attitude and personality development of students. The methode used must be in accordance with the subject
being taught. Teachers can combine methode and certain media as complementary including music
Music is the language containing elements of universal language that crosses boundaries of age,
gender, race, religion, and nationality. Music comes in all levels of income, social class, education
achievement. so that the multi-stimulus owned capital, the music was so easily accepted by our hearing
sense. Hence, music can provide motivation for students in the learning process.
Each student has different learning styles. There are three modalities of learning styles, namely:
auditory, kinesthetic, and visual. Based on the types of learning styles possessed by students, the reseacher
will compares the effects of both types of music on all three learning styles in learning achievement of
students of poetry. This is done to determine how far the music can influence the three types of learning
styles in learning poetry by the method of instrumental music and songs.
The study involved groups of tenth grade students of High School Bakti Ponorogo randomly
selected from six classes. Of the six classes then randomly selected two classes as treatment classes, X1 as
the music treatment classes and class X4 as instrumental treatment classes.
Test of learning style was carried out to determine the type of student learning style between the two
group of subyects.
In line with the hypotheses be tested, this research used quasi-experiment desaign with pretestposttest nonequivalent control group design. In addition to examining differences in the research, this study
also tried to reveal the existence of a causal relationship from one treatment of study results.
Variant analysis employed in this study can be explained by the factorial desaign 2x3 is defined as
the study structure in which there are two or more independent variables are confronted to the effect of
independent interactive variable.
In the study of poetry which indicated significance of differences between students who are taught
by the media instrumental music and songs. In the analysis of different learning styles test for learning
outcomes there was a significance difference. Where the hypotheses of the existence of differences in
250 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2009/2010
learning achievement of students taught with songs and instrumental music are taught with the value
indicated by F = 82.641> F table = 4.01 with a significant level of less than 0.05. Regarding the discrepancy of
students studying poetry with different learning styles to show the value hypotheses Test F = 13.974> Ftabel =
4.01 with a significant level of less than 0.05 (p <0.00) so that it can be said there are differences in learning
outcomes of students with poetry different learning styles. The result of differences in students' learning
poetry with learning styles and different methods are shown F value = 8.524> F tabel = 4.01 with a significant
level of less than 0.05 (p <0.00). Based on these analysis results can be said there is interaction between the
provision of both instrumental music and songs with the three learning styles students possess. Students with
auditory learning style is taught with the instrumental music is able to obtain results better learning.
Key word: music, learning style, result of learning, poem.
Strategi Pembelajaran Tematik di Kelas Awal Sekolah Dasar: Studi Fenomenologis
Pengalaman Pelaksanaannya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Malang I
Agus Wedi
Wedi, Agus. 2009. Strategi Pembelajaran Tematik di Kelas Awal Sekolah Dasar: Studi Fenomenologis
Pengalaman Pelaksanaannya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Malang I. Disertasi. Malang: Program
Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I)
Prof. Dr. H. Mohammad Dimyati, (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, dan (III) Prof. Dr.
Wayan Ardhana, M.A.
Abstrak
Siswa yang berada pada kelas awal sekolah dasar berada pada rentangan usia dini. Sesuai
dengan tahapan perkembangannya, siswa yang masih belia itu melihat sesuatu secara keseluruhan dengan
pemahaman secara holistik yang berangkat dari hal-hal konkrit, serta memahami hubungan antara konsep
secara sederhana. Kondisi-kondisi tersebut seyogyanya menjadi landasan bagi pengembangan pola dan
strategi pembelajaran yang tepat, tidak saja agar tujuan-tujuan instruksional dapat tercapai, melainkan
juga agar tujuan program pendidikan di sekolah dasar dapat terpenuhi, yaitu meletakkan dasar
kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti
pendidikan lebih lanjut.
Pembelajaran tematik yang melibatkan berbagai mata pelajaran untuk memberikan pengalaman
yang bermakna kepada siswa, merupakan model pembelajaan inovatif yang dapat menjadi solusi bagi
pembelajaran terpisah yang selama ini digunakan di kelas-kelas awal sekolah dasar, termasuk juga
untuk sekolah-sekolah di wilayah Kota Malang. Dengan sudah diterapkannya pembelajaran tematik di
MIN Malang I, kasus ini menjadi patut dan penting diteliti secara mendalam sebagai bahan referensi.
Salah satu dimensi penting dari pembelajaran tematik tersebut adalah strategi pembelajarannya.
Penetapan strategi pembelajaran yang tepat dan optimal akan mendorong prakarsa dan memudahkan
belajar siswa. Titik awal upaya ini diletakkan pada perbaikan proses (variabel metode). Oleh karena itu,
penyelidikan yang cermat tentang strategi pembelajaran tematik menjadi penting dan mendesak di
tengah kebingungan banyak sekolah menemukan sosok utuh strategi pembelajaran tematik, teristimewa
melalui kajian empirik.
Masalah umum penelitian ini adalah bagaimanakah strategi pembelajaran tematik di kelas awal MIN
Malang I. Secara rinci, penelitian ini difokuskan pada empat hal, yaitu: (1) bagaimana strategi
pengorganisasian isi pembelajaran tematik?, (2) bagaimana strategi penyampaian pembelajaran tematik?, dan
(3) bagaimana strategi pengelolaan pembelajaran tematik?, serta (4) faktor-faktor apa saja yang berpengaruh
terhadap pelaksanaan strategi pembelajaran tematik kelas awal di MIN Malang I?.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan rancangan studi kasus.
Sesuai dengan pendekatan tersebut, penelitian ini menggunakan tiga jenis reduksi data, yaitu reduksi
fenomenologis, eiditis, dan transendental. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini mencari dan menghasilkan temuan gejala-gejala apa saja yang
tampak serta pemaknaan terhadap gejala tersebut. Selanjutnya deskripsi dan hasil pengolahan data secara
keseluruhan sebagai satu keutuhan, dianalisis dan dikaji secara mendalam yang bermuara pada kajian
terhadap struktur dasar atau nilai-nilai esensial dalam pelaksanaan strategi pembelajaran tematik di kelas
awal SD.
Program Studi S3 TEP 251
Penelitian menghasilkan temuan sebagai berikut: (1) Strategi pengorganisaian isi dilaksanakan
dengan mengadaptasi dan memilih isi pembelajaran berupa tema. Tema-tema yang digunakan dekat dengan
keseharian siswa antara lain; diri sendiri, keluarga, makanan, kegemaran, pengalaman, lingkungan, hewan
dan tumbuhan. Keterpaduan yang diterapkan adalah keterpaduan sebagian (campuran), terkadang masih
menggunakan pendekatan bidang studi. Terhadap isi pembelajaran yang tidak dapat dipadukan, ditetapkan
pembelajarannya secara terpisah. Cara mengorganisasi isi pembelajaran dengan tema adalah: menentukan
tema, membuat jaring laba-laba dengan tema, menjabarkan isi bahan terjaring, dan mengurutkan isi pelajaran
menjadi isi sub tema perminggu. (2) Strategi penyampaian pembelajaran tematik dilaksanakan dengan
memanfaatkan semua dimensi sumber belajar (orang, bahan, pesan,alat, teknik, dan setting); penugasan guru
wali kelas sebagai guru tematik; interaksi siswa dengan dimensi media terjadi secara intensif dan wajar
sepanjang proses pembelajaran melalui berbagai metode. Bentuk pembelajaran yang dilakukan adalah
klasikal, kelompok kecil, dan individual. (3) Strategi pengelolaan dilaksanakan dengan menjadikan salah
satu matapelajaran terkait sebagai senter bagi mata-mata pelajaran yang lain dengan penyesuaian jadwal dan
waktu yang tersedia. Pencatatan kemajuan belajar ditulis secara berkala dan rapi. Guru mengelola motivasi
siswa dengan berbagai cara, dan yang khas adalah pemberian simbol penghargaan “tanda poin bintang” atas
keberhasilan yang ditunjukkan siswa. Kontrol belajar yang dilakukan dengan berbagai cara antara lain
memberi perhatian serta kebebasan-kebebasan tertentu dalam menentukan aktivitas belajarnya secara
bertanggung jawab. (4) Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pembelajaran tematik antara lain: Dari sisi
guru (persepsi, pemahaman dan artikulasi, semangat, kiat, dan keterampilan); kebijakan-kebijakan terkait,
baik yang bersifat nasional maupun institusional; karakteristik mata-mata pelajaran yang sangat bervariasi
dan sulit dipadukan; ketersediaan fasilitas pendukung; kemampuan siswa yang bervariasi; jadwal waktu dan
tempat pembelajaran; jumlah rombongan belajar dalam kelas.
Temuan penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu referensi untuk mengembangkan
strategi pembelajaran tematik di masa yang akan datang. Dengan perencanaan dan pelaksanaan strategi yang
baik, pencapaian tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
Kata kunci: pembelajaran tematik, strategi pembelajaran, pengorganisasian, penyampaian, pengelolaan,
kelas awal Sekolah Dasar.
Thematic Instruction Strategy in the Early Elementary Classes. A Phenomenology Study of
Thematic Implementation at Public Madrasah Ibtidaiyah Malang I
Agus Wedi
Wedi, Agus. 2009. Thematic Instruction Strategy in the Early Elementary Classes. A Phenomenology Study
of Thematic Implementation at Public Madrasah Ibtidaiyah Malang I. Dissertation. Malang:
Instructional Technology Program, Postgraduate Program, State University of Malang. Advisors (I)
Prof. Dr. H. Mohammad Dimyati, (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (III) Prof. Dr.
Wayan Ardhana, M.A.
Abstract
Early grade students are commonly in the early age. According to the steps of their growth, students
who are in the early age see something as a holistic way based on concrete problems, and understand the
relation between concepts simply. These conditions should be a base for development of correct instructional
pattern and strategy, not only to achieve instructional objectives, but also to achieve targets of education
program in elementary school, for instance to strengthen the knowledge base, personality, good behavior, and
also skill for self-supporting life and for continuing education. The thematic instruction involves various
subjects that will give a meaningful experience for students, it represents innovative instructional model that
becomes a solution to separate subject approach which during the time used in the early elementary school
classes, for in case elementary schools in Malang. The thematic instruction applied at Public Madrasah
Ibtidaiyah Malang I (MIN Malang I), to be an important and proper to research as reference. One of the
important parts of the thematic instruction study is its instructional strategy. Stipulate optimal and correct
instructional strategy will encourage student’s initiative and facilitate student’s learning. Starting points of
this effort is stressed to improve the process (method variable). Therefore, exhaustively investigation about
strategy of thematic instruction become an urgent and important in the middle of fuzziness of schools in
finding a good pattern of thematic instruction strategy, through study of empiric.
252 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2009/2010
The question of this research was how the thematic instruction strategy in early classes at MIN
Malang I implemented. In detail, the research is focused in four cases, these are: (1) how an organizational
strategy of thematic instruction implemented? (2) how a delivery strategy of thematic instruction
implemented? (3) how a management strategy of thematic instruction implemented? and also (4) what are
factors that effect the implementation of thematic instruction strategy in early classes at MIN Malang I?. This
research used phenomenology qualitative approach with case study design. According to the approach, this
research used three types of data reductions that consists of phenomenology, eidetic, and transcendental
reductions. Technique of data collecting used an observation, interview, and documentation. This research
looked for and yielded visible symptoms and its meaning. Then, the whole data-processing result was
analyzed and studied exhaustively which produced study to essential structure or value in implementing the
thematic instruction strategy in early classes of elementary school.
The result of this research yielded the following inventions: (1) organizational strategy implemented
with adaptation and chosen instructional content in the form of themes that close to student’s daily-life; for
instance, the themes were “ownself, family, food, hobby, experience, environmental, plant and animal”.
Integrity that applied was some integrity (mixture), which still sometime used separate subject approach.
Concerning contents that cannot be integrated, the instruction was implemented separately. Organizing
content with the themes taken was taken with several steps: determining theme, making spider net with
theme, formulating material’ netted content, and sorting instructional’s content to become sub-theme weekly;
(2) delivery strategy of thematic instruction, implemented by exploiting all dimensions of learning resources
(people, materials, message, tool, technique, and setting); to assign a responsible teacher in a class as a
thematic teacher; students interaction with learning resources conducted intensively through various
methods; instructional’s form was taken by classical, small group, and individual; (3) management strategy
implemented by making one of the relevant subjects as centre of other Iessons with adjustment of available
time and schedule; recorded learning progress to be written periodically. Learning control was conducted
variously for instance by giving attention and also certain freedoms in determining student’s learning
activities by holding responsible; (4) the factors that influencing thematic instruction strategy for instance:
from teacher side (perception, articulation and understanding, spirit, and skill); related/relevant policies both
from national and also institutional; characteristics of Iesson which was various and difficult to integrated;
availability of facilities or learning resources; variety of student’s ability; the schedule of instruction; and
amount of learners in a class. The intentions this research are expected to be references to develop thematic
instruction strategy in the future. By planning and implementing the good strategy, the instructional’s dan
educational’s targets can be achieved optimally.
Keywords: thematic instruction, instructional strategy, organizational strategy, delivery strategy, management strategy, early elementary classes.
Download